Loading
5

0

3

Genre : Teenlite
Penulis : Wina Elfayyadh
Bab : 3
Dibuat : 01 Januari 2022
Pembaca : 6
Nama : Wina Elfayyadh
Buku : 2

Andini Bukan Andina

Sinopsis

Andina dan Andini adalah anak kembar indentik yang sama persis di fisik tapi berbanding 180 derajat dalam karakter. Hingga suatu kejadian membuat Andini bertekad harus berubah. Akankah ia berhasil menjadi Andini yang baru?
Tags :
#Andini #Andina #Sibling

Kita Tak Bisa Mengukir Takdir

4 2

Semilir lembut sang bayu mengantarkan kepergian Andina menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Rombongan pengantar sudah bubar sejak beberapa jam yang lalu. Namun Andini masih enggan beranjak. Ia masih tak percaya malaikat Izrail begitu cepat menjemput saudara kembarnya yang sangat ia sayangi. Andini masih merasa tak terima dan sangat menyesal karena Andina pergi gara-gara menyelamatkan dia dari gangguan "The Broker", sekelompok anak yang sering mengganggunya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, hatinya benar-benar remuk tak berbentuk. Ia bahkan membenci dirinya sendiri yang tak mampu unjuk gigi saat " The Broker" mulai beraksi. "Nak, sudah, ikhlaskan, Andina sudah tenang di sana." Lembut suara Bu Indah membelai telinga Andini. Gurat kesedihan dilengkapi dengan mata yang sembab tak mampu menutupi rasa kehilangan dalam hati Bu Indah. Namun, saat menyaksikan Andini yang lebih terpuruk, ia mencoba menegakkan bahu agar menjadi sandaran buat anak kesayangannya. Bu Indah sangat memahami apa yang Andini rasakan. Mereka kembar identik, memiliki gurat wajah yang sama persis, tinggi badan, berat badan, hingga bentuk potongan rambut tak ada yang beda. Semua orang akan kesulitan membedakan mana Andina dan mana Andini. Bahkan lesung di pipi dan lentik bulu matanya tak ada yang berbeda. Maka, wajar jika ikatan batin di antara mereka patut diacungi jempol. Andini bergeming, hanya beberapa bulir air mata yang menjawab ajakan sangat bunda. "Sayang, kamu harus istirahat dan minum obat. Ayo, kita pulang dulu, nanti kita sering berkunjung ke sini untuk mendoakan saudaramu." Bu Indah berusaha membujuk kembali dengan suara bergetar. Bu Indah merangkul pundak Andini yang memiliki tinggi hampir sama dengannya. Dengan lembut, ia membimbing gadis berkacamata itu agar mau meninggalkan pemakaman. Akhirnya, meskipun langkahnya sangat gontai gadis itu mau bergerak diikuti oleh Dea sang sahabat yang tak pernah jauh darinya. Belum genap sepuluh hitungan, tubuh Andini merosot karena kehilangan tenaga. Untung Dea dan Bu Indah menangkapnya dengan sigap sebelum Andini menyentuh tanah. "Pah! Tolong!" jerit Bu Indah memanggil Pak Harsono yang berdiri tak jauh darinya. Setengah berlari laki-laki paruh baya itu mendekati Bu Indah dan anaknya. Lalu menggendong Andini menuju Pajero yang terparkir tak jauh dari situ. Ya, Andini dan Andina adalah saudara kembar. Sayang, karakter mereka berbeda 180 derajat. Jika Andina anaknya pintar, periang, pemberani, dan tak takut siapa pun. Andini berkebalikan. Ia memiliki kecerdasan biasa-biasa saja malah cenderung di bawah rata-rata, bahkan nilai matematikanya paling tinggi hanya sampai angka 6. Andini pemurung, hemat bicara, dan gerak geriknya serba lambat. Hal ini terjadi karena proses lahiran Andini tak selancar Andina. Bu Indah mengalami sedikit masalah hingga berefek pada fisik dan psikis Andini. Jika Andina lahir dengan sangat lancar, Andini sebaliknya. Ia perlu waktu hampir satu jam hanya untuk melahirkan Andini. Perjuangan yang panjang membuatnya kelelahan dan sang bayi akhirnya terlahir dengan kondisi badan membiru. Tidak ada lengkingan tangis seperti Andina bayi yang lahir pertama. Beruntung dokter sigap menangani sehingga bayi mungil itu masih bisa diselamatkan.  Perbedaan karakter itulah yang menyebabkan Andina dan Andini sekolah di tempat yang berbeda. Andina berhasil masuk SMA Favorit sementara Andini cukup puas menikmati sekolah sederhana dan ala kadarnya. Jika selama SMP Andini merasa aman karena ada Andina yang selalu melindunginya, di SMA dia harus merasakan perjuangan yang luar biasa. Karakter yang ia miliki menjadi bumerang yang mau tak mau ia harus hadapi sendiri.  Andina sangat menyukai matematika. Ia pernah ikut olimpiade hingga tingkat internasional. Dalam sekejap ratusan soal bisa habis ia lahap. Sementara bagi Andini, matematika adalah musuh bebuyutan yang harus dihindari. Setiap ada pelajaran itu, ia selalu tegang dan ketakutan.  Namun di balik itu semua, mereka adalah dua saudara yang saling menyayangi. Tak pernah ada sedikit pun pertengkaran di antara mereka meskipun dalam hal-hal yang kecil. Pak Harsono dan Bu Indah tak pernah membedakan kasih sayang mereka kepada kedua anaknya. Curahan kasih sayang dan limpahan harta tak membuat mereka menjadi anak yang sombong.  Mobil yang mereka tumpangi segera menuju rumah sakit Sekar Kinayah, tempat biasa Andini dirawat. *** 10 Tahun sebelumnya "Dini, mau ikut keluar main sepeda gak?" tanya Andina yang sudah siap dengan pakaian sport-nya. Rambut panjangnya dikepang dua dan topi berwarna abu-abu bertengger manis di kepala. Andini hanya menggelengkan kepala, pandangan matanya tak lepas dari novel Harry Potter. "Oke deh, eh aku pinjem sepeda ya, punyaku ban belakangnya bocor!" teriak Andina dari garasi. Andini tak terpengaruh, ia semakin hanyut dalam cerita yang sedang dia baca. Bu Indah geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang sama-sama menggemaskan. Ia membawa segelas jus jambu dan sepiring pisang goreng kesukaan Andini. "Nak, ini pisang gorengnya ya!" kata Bu Indah sambil tersenyum manis. Namun, belum sempat tersimpan rapi di meja pisang goreng itu berhamburan, untung saja piringnya berbahan melamin jadi tak turut pecah. "Allahu Akbar!" Bu Indah berteriak sambil menepuk pipi Andini yang terlihat pucat sementara darah mengalir dari hidung telah mengotori novel di tangannya. Bu Indah lalu meminta Pak Gun mengantar ke rumah sakit karena Pak Harsono masih di kantor. Sepanjang perjalanan ia berzikir, tak lupa untuk mengabari sang suami. Mbok Yan diminta tetap menunggu rumah karena khawatir Andina nanti mencari mereka. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani Andini. Tak lupa ia juga mengambil sampel darah untuk pengecekan di laboratorium. Ketika Pak Harsono tiba di rumah sakit, dokter lalu menjelaskan kondisi kesehatan Andini yang komplikasi. Gadis kecil itu mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. "Pantas saja dia gampang sekali lelah, dok. Beda banget dengan kembarannya," gumam Bu Indah lirih. "Selain mudah lelah, Andini juga untuk beberapa saat harus rutin transfusi darah dan makanan serta minuman harus benar-benar dijaga karena ginjalnya pun bermasalah." Dokter menjawab tegas dengan roman wajah yang sangat kaku. "Tapi, Bapak dan Ibu jangan khawatir, kita akan berusaha mengobati Andini agar bisa sehat, meskipun pengobatannya akan memakan waktu yang cukup panjang." Dokter kembali menjelaskan setelah menarik nafas panjang. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, Bu Indah kembali ke ruangan rawat dan duduk di kursi seraya memandangi gadis kecilnya yang kini tertidur. Pemaparan yang disampaikan oleh dokter merupakan sebuah pukulan berat buat Bu Indah dan Pak Harsono. Namun, mereka berusaha ikhlas menerima takdir yang telah Allah tetapkan. Mereka masih bersyukur, dari bayi hingga sebelum kejadian ini Andini tidak terlalu banyak keluhan kesehatan meskipun dari kecil ia tidak selincah Andina.

user

01 January 2022 21:45 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuut kak ...

user

02 January 2022 18:00 Wina Elfayyadh Makasih support-nya, Akak

Takdir yang Berbeda

0 0

POV Andina Hai, perkenalkan, namaku Andina Clarissa Harsono Putri. Aku sekarang berada di kelas 2 Sekolah Menengah Atas, tepatnya di SMA Khairun Nisa, salah satu sekolah favorit di kota ini. Umurku baru 17 tahun, tetapi badanku terlihat seperti anak kuliahan. Oh iya, aku punya saudara kembar. Namanya Andini Clarissa Harsono Putri. Kalau kalian bertemu dengan kami pasti akan kesulitan membedakan mana Andina dan mana Andini karena wajah kami sama persis, hampir tak bisa dibedakan. Apalagi saat kami memakai pakaian yang serupa, pasti bisa tertukar memanggil nama, dan hal itu sudah tidak aneh lagi karena sering banget terjadi. Sebenarnya kalau kalian perhatikan dengan seksama, ada sedikit perbedaan. Kulit Andini lebih pucat daripada kulitku. Sejak kelas 3 SD ia sering sakit, eh salah, sejak kecil dia sering sakit tapi mulai terlihat sering banget saat dia berumur 8 tahun. Dalam seminggu pasti ada sakitnya minimal satu hari. Sakit yang dialami dia kadang fluktuatif, kadang hanya sakit kepala ringan, sedang, hingga berat. Kadang perutnya yang bermasalah, kadang juga pernafasannya yang tiba-tiba sesak, dan parahnya tiba-tiba kejang atau pingsan yang tak mengenal waktu dan tempat. Hal ini membuat kami sangat ekstra dalam menjaganya. Aku malah dapat julukan "bodyguard cantik" dari dia gara-gara selalu menjadi pelindungnya dari berbagai gangguan.  Aku tak rela kalau Andini terluka walaupun hanya seujung kuku. Terlebih setelah melihat bagaimana dia berjuang untuk kembali pulih setelah sakit dadakan yang ia rasakan. Aku sangat sedih saat sepulang main sepeda di taman, tak kutemukan Andini, si kutu buku. Kata Mbok Yan, Andini dilarikan ke rumah sakit karena pingsan disertai mimisan parah. Apalagi kalau ada orang yang mengganggu fisiknya yang ringkih, aku bisa meradang dan tak dapat diampuni pasti ilmu bela diriku keluar. Pernah suatu saat aku memergoki Andini sedang diisengin sama cowok kelas sebelah, refleks tangan ini melayang memberikan bogem mentah hingga si cowok babak belur. Betapa bar-barnya aku kalau sudah menyangkut keamanan dan keselamatan Andini.  Andini mengalami masalah dalam fokus dan mengingat sesuatu. Ia juga sering terlihat lesu dan ngantuk. (Kadang aku julukin dia si putri tidur karena bawaannya ingin tidur mulu), ia juga sangat sulit berkonsentrasi dan kesulitan untuk berkata-kata. Pada umur 9 tahun, tepatnya satu tahun setelah dia dilarikan ke rumah sakit karena pingsan, ia mulai mengalami kejang. Hingga sekarang kejang itu masih muncul walaupun frekuensinya tidak sebanyak dulu. Namun, kondisinya mengkhawatirkan karena kadang kejangnya tidak mengenal tempat, situasi, dan kondisi.  Nah, saat pertama kali dia mengalami kejang di usia sekecil itu, dia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif karena kejangnya cukup lama. Kejang paling parah saat Andini kelas 2 SMP. Masih teringat saat aku dan dia pulang sekolah sambil jalan kaki. Tiba-tiba di tengah perjalanan ia kejang. Betapa paniknya aku saat itu, untung ada beberapa orang yang membantu membawanya ke rumah sakit.  Tak lama ayah dan ibu menyusul setelah aku kabari. Dokter memeriksa dan melakukan pengecekan, kami sangat shock. Kata dokter gejala yang dialami Andini mengarah ke Ensefalopati. Kabarnya, penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Walau begitu, penanganan tepat dapat membantu mengendalikan gejala dan mencegah kondisi semakin memburuk.  Allahu Akbar ...  Aku dan ibu menangis tersedu, sementara ayah hanya diam terpaku. Kami sepakat Andini tidak boleh tahu sakit ini agar mentalnya tidak menjadi down juga. Aku pun bertekad, akan menjadi perisainya, melindungi dia dari hal-hal yang akan mengganggunya.  *** POV Andini Halo teman-teman, namaku Andini Clarissa Harsono Putri. Aku punya saudara kembar yang sama persis. Kalian akan kesulitan membedakan kami. Dia bernama Andina Clarissa Harsono Putri. Dia adalah kakakku karena aku lahir belakangan dan terpaut agak lama karena tali pusatku melilit indah di leher. Alhamdulillah atas izin Allah akhirnya aku bisa menikmati dunia walaupun badan sempat membiru dan sempat diberi pernafasan buatan (aku dapat cerita heroik ini dari ibu).  Walau badan kami sama persis, tapi tidak dengan karakter kami. Sungguh berbanding terbalik. Andina anaknya pemberani, kalau aku klemar-klemer alias penakut. Beneran deh, aku takut gelap, takut dengar suara keras apalagi petir (bisa pingsan lho kalau tidak ada orang di sekitarku saking takutnya), takut kecoa (ini sih gara-gara pernah kejatuhan kecoa dan si dia bergerilya di punggungku hiyyy ... menceritakan ini saja merinding semua nih bulu romaku). Aku juga takut kucing gara-gara pernah dicakar hingga mukaku terluka. Aku mudah trauma ya hiks ... hiks ... Lebih parah lagi, aku takut ketemu orang baru (gara-gara apa ya? gak tahu sih penyebabnya apa, tapi kalau melihat orang baru rasanya ingin menjauh, ambil selimut, dan menutup pintu kamar rapat-rapat).  Aku juga sering iri sama Andina, dia itu pinter banget dalam segala bidang. Kalau mau ujian dia mah gak pernah menyentuh buku tapi nilai paling kecil 95. Bayangkan Guys, aku belajar mati-matian, tak berhenti siang malam, nilai matematika mentok di angka 60. seringnya sih dapat nilai 10 atau 20, bahkan seringnya dapat bonus telor bulet di lembar jawaban ujian. Etapi kalau masalah seni lumayanlah, aku masih bisa bersaing dengan dia. Andina sering frustasi kalau lagi belajar piano, katanya mending dikasih soal matematika daripada ngapalin tangga nada.  Kalau aku sangat menikmati semua pelajaran seni. Menyanyi, menari, dan berkreasi adalah hal yang paling mudah aku lakukan. Jadi, kalau udah stress lihat angka-angka, diem-diem aku otak-atik lirik lagu atau bikin puisi syahdu. Hehe, jangan bilang-bilang orang tuaku ya, pleaseeee ... Ini aku lakukan demi menjaga kewarasanku agar tidak oleng.  Satu lagi yang membedakan aku dengan Andina. Aku merasa badanku ringkih banget, sering sakit, suka keleyengan, jalan rasanya gak seimbang dan suka tiba-tiba mau jatuh. Seminggu sekali pasti aku absen sekolah, tapi beneran lho ini bukan alasan karena aku malas sekolah, suka tiba-tiba saja sakit perut, sakit kepala, sesak nafas, nyeri dada, dan udah ah, malu aku nyeritainnya. Hal yang paling memalukan adalah saat aku kejang di jalanan sepulang sekolah. Aku gak sadar bagaimana ceritanya, tahu-tahu aku sudah berada di rumah sakit dengan infus sudah menancap di tangan. Memalukan 'kan? Sejak saat itu, semua orang di keluargaku bersikap aneh, sangat hati-hati, dan sangat menjagaku. Apalagi Andina, ia tak pernah jauh dariku. Ia benar-benar menjadi malaikat pelindung dan aku menjulukinya "bodyguard cantik". Akan tetapi, kalau boleh jujur, aku tidak bahagia dengan semua ini. Aku merasa merepotkan semua orang, agak tertekan, walaupun tidak terdengar larangan tapi aku selalu melihat gurat kekhawatiran di wajah semua orang. Hal ini menjadikan aku anak rumahan yang kegiatan hanya rumah-sekolah dan sekolah-rumah saja. Aku bahkan tak pernah dapat izin main ke rumah teman, selalu temanku yang harus ke rumah. By the way, aku juga gak punya banyak teman sih, hahaha, bukan antisosial tapi ya begitulah, aku kesulitan untuk bersosialisasi. Aku tahu sih, semua itu karena keluargaku sangat sayang. Tapi kok aku ngerasa  hidupku gini amat ya? 

Sekolah Baru

0 0

Kecerdasan IQ-ku sangat jauh di bawah Andina. Aku sempat ragu daftar bareng dia karena menyadari kemampuanku tak sebanding dengannya. Tapi ayah, ibu, dan juga si kembaran memaksaku untuk daftar di sekolah yang sama. Katanya biar bisa terus bersamaku. Aku faham sih, Andina kan kayak bodyguard pribadi, dia selalu sigap siaga untuk membuatku aman dan nyaman.  Demi menghormati mereka aku pun pasrah, walaupun sudah yakin tidak akan lolos seleksi tapi berkas pendaftaran tetap diikutsertakan. Ujiannya tidak hanya seleksi berkas, tapi banyak banget. Dari psikotes, tes matematika, bahasa Inggris, pengetahuan umum, dan juga tes fisik. Andina mengikuti semua tes dengan penuh semangat sementara aku penuh kegamangan.  Dan hasilnya sesuai dugaan. Aku terdepak otomatis sementara Andina masuk 5 besar dan mendapatkan beasiswa dari sekolah tersebut. Sedih? Nggak juga sih, karena aku sudah tahu ending-nya pasti akan begini. Karena tidak lolos di SMA itu, mau tidak mau aku daftar di sekolah lain. Beberapa sekolah negeri sudah full. Ayah dan ibu gak setuju aku daftar di sekolah yang terlalu jauh. Akhirnya memilih sekolah swasta yang lumayan dekat. Katanya kalau dekat sesekali bisa jalan kaki. 'Kan enak, jadi nggak merepotkan terus Pak Gun, sopir pribadi keluarga kami. Gak apa-apalah, insya Allah ini yang terbaik buatku. Btw, aku seneng sebenarnya bisa lepas dari bayang-bayang kembaranku. Aku sudah bisa membayangkan bisa melakukan apa pun yang aku sukai tanpa ada "security" yang akan menghalangi. Walaupun ada perasaan was-was, apakah aku bisa mandiri dalam melakukan segala sesuatunya? Apakah aku bisa adaptasi dengan baik? Akankah aku bisa meredam ketakutan saat bertemu orang-orang baru.  Tapi, easy going ajalah. Aku yakin pasti bisa melalui semuanya. Matahari pasti akan terbit setelah hadirnya kelam malam. Saatnya bilang, "Yeaaayy ... Akhirnya aku menghirup udara bebas .... " *** Gaes, hari ini aku mulai belajar di sekolah baru. Senangnya! Mulai hari ini tak Ada Andina yang selalu ngatur ini dan itu, kali ini aku akan bisa bebas berekspresi. Yeaaayyy ....  Kalian tahu ga, sekolahnya ternyata keren lho. Gedung 3 lantai bercat hijau pupus ini mengingatkanku pada musala di belakang rumah, hehehe. Walaupun demikian, fasilitasnya lumayan lengkap. Bentuk kelas melingkari sebuah lapangan yang cukup luas. Pembagian kelasnya cukup adil, lantai 1 untuk kelas 1, lantai 2 untuk kelas 2, dan lantai 3 untuk kelas 3.  Yang lebih keren lagi, Masa Orientasi Sekolah nggak diizinkan buat ajang balas dendam senior ke junior. Jarang banget 'kan yang begini. Apalagi ini 'kan sekolah swasta. Jadi, aku bebas dari bentakan dan teriakan para senior. Justru di sini kakak-kakak kelas diajarkan untuk bersikap ramah pada adik-adik kelas. Di sudut lapangan terpampang spanduk larangan untuk melakukan tindakan bullying dalam bentuk apa pun. Di sisi lain ada spanduk berisi slogan "Sekolah ramah anak dan anti bullying" terpampang dengan tulisan yang sangat besar seolah menegaskan bahwa tidak boleh ada nuansa bullying di area ini. Gimana? Keren 'kan sekolahku? By the way, kalau boleh jujur, aku sedikit bosan sih, masa orientasi hanya diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, terus materi motivasi, pengenalan ekskul yang sama sekali tak menarik minat, pengenalan para pengurus OSIS yang membosankan. Namun, meskipun demikian, aku tetap mengikuti semua kegiatan dengan malas, hehehe. Oh iya, aku adalah anak introvert, nggak bisa dan nggak berani memulai pembicaraan lebih dulu. Sungguh aku takut ditertawakan, takut diejek, takut dijauhi dan berbagai ketakutan lainnya. Percaya nggak, sejak awal aku datang hingga saat ini aku masih asyik menyendiri di pojok ruangan. Bangku di sebelahku tak berpenghuni tapi aku tak ambil pusing. Kalau waktu di SMP kursi samping kananku selalu berisi Andina, nah, sekarang malah dia gak bertuan.  Saat sesi perkenalan tadi, suaraku nyaris tak keluar. Tersangkut di tenggorokan hingga mengeluarkan suara yang sangat aneh. Otomatis semua teman sekelas menjadi riuh dan itu membuatku semakin gugup. Seandainya aku punya kantong Doraemon, rasanya ingin menghilang saat itu juga.  Anehnya, tak ada satu pun teman perempuan (satu kelas cuma ada lima anak perempuan) yang mau mendekati aku. Mereka berempat bergerombol di pojok dekat pintu sementara aku berada di pojok yang berlawanan arah. Aku jadi mikir, apakah ada yang aneh dengan penampilanku hari ini? Perasaan tadi aku biasa saja, hanya saja untuk hari rambut yang biasanya tergerai aku kepang dua. Andina sempat ngeledekin dan nyuruh kepangannya dilepas, tapi aku bilang ingin mencoba penampilan baru, biar bisa menjadi new Andini. Dengan dikepang dua malah jadi terasa lebih enteng dan bisa mengurangi kegerahan. Aku juga sengaja memakai kacamata mainan untuk mempermanis penampilan. Kata Andina terlihat aneh, tapi biarin aja, 'kan sekarang dia udah nggak jadi bodyguard-ku lagi. So, bebas dong aku mau berpenampilan apa saja.  *** Hari pertama terlewati dengan baik. Ternyata gak ada Andina terasa garing juga ya. Apa-apa sendiri hiks ... hiks ...  Tahu gak, kemarin aku menahan lapar seharian. Biasanya Andina yang ngajak jajan ke kantin atau kalau aku lagi males dia yang belikan makanannya. Aku gak berani berada di keramaian sendiri. Rasanya semua orang menatap aneh kemudian keluar caci maki dari mulut-mulut mereka. Padahal itu semua hanya halusinasi. Jadi aku lebih memilih jalan paling aman, MENYENDIRI.  Ini hari kedua Gaes, masih masa orientasi, pelajaran belum dimulai. Yes, aku masih bebas dari hantu matematika yang menakutkan. Aku belum ketemu dengan angka-angka yang suka ngejek dan ngeledek. Tapi jadwal hari ini harus mencari kenalan baru dan tanda tangan sebanyak-banyaknya. Tidak hanya sesama siswa baru tapi juga semua kakak kelas dan guru. Katanya ada hadiah bagi siswa yang berhasil mendapatkan tanda tangan terbanyak.  Aduh, ini PR paling berat. Gimana caranya aku bisa mendapatkan tanda tangan ya? Dulu waktu SMP saat acara kayak begini semuanya Andina yang mengerjakan. Lha, sekarang aku harus nyari sendiri.  Semua orang sibuk mencari kenalan baru sementara aku tetap terpaku di pojok ruangan. Kakiku terikat beban yang sangat berat sehingga ia susah bergerak. Jangankan berdiri, menggeser sedikit saja sulit.  Dalam kebingungan, tiba-tiba datang seorang perempuan berjilbab rapi dan langsung duduk di kursi kosong sampingku. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya, manis sekali.  "Hai, namaku Delia." Suaranya sangat renyah saat menyapaku.  "Boleh aku duduk di sini ya? Hanya ini kursi yang kosong," katanya lagi.  Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.  Kalau diperhatikan gadis yang duduk di sebelahku ini cantik juga. Kulit kuning langsat, netranya berwarna hitam gelap, tatapan matanya tajam penuh percaya diri, dan pakaiannya yang pas di tubuh semampainya membuat ia terlihat sangat manis. Bulu mata lentik, hidung mancung dengan gigi putih berbaris rapi. Suaranya juga renyah banget.  Sssttt ... Aku bisa menggambarkan dia karena aku diam-diam memperhatikan padahal dari semenjak duduk tak ada satu pun kalimat yang aku keluarkan. Jiwaku seolah membangun benteng otomatis yang tidak mudah ditembus siapa saja, apalagi orang asing yang baru pertama kali bertemu. 

Mungkin saja kamu suka

Devi Eka Yulita...
Ramadan journey to find love
Desbinta Fitria
Geraldan Bintang
Indah Annisa Di...
Wanita Dunia Perindu Surga
Atifa Nur Nazir...
Rinai Sendu Milik Nona
Tegar Ponco Ari...
Dilama Anak SMP

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil