Loading
1

0

0

Genre : Romance
Penulis : Ifdloliyah Muharromah
Bab : 1
Dibuat : 01 April 2022
Pembaca : 5
Nama : Ifdloliyah Muharromah
Buku : 1

Ikhtiyar Memilikimu

Sinopsis

Pasangan adalah citra dua rasa yang dipikul bersama sampai ujung masa, hingga menjadi insani bergelar bidadari dan bidadara syurga yang mencinta tanpa ada kata orang ketiga. Memiliki pasangan seperti memilih antara syurga dan neraka, kalau menjaga cinta dengan baik bisa dijadikan bekal masuk dikehidupan kekal yang bertitel idaman (syurga). Bila tidak bisa menjaga cinta alamat bikin surat masuk kehidupan yang murni kekal dengan pedih dan penuh sengsara untuk keabadian yang merugi (neraka). Maka tanam cinta tidaklah mudah perlu cara yang cerdas sehingga memilih pasangan juga perlu pertimbangan, bukan ngasal. Cerita Dzulfikri Hanza dan Anisa Fikza membuat kita tahu utuhnya menjaga cinta dari awal memilih rasa suka hingga menjalin hubungan untuk hidup bersama, namun bagaimanakah cara mereka berdua memilih alur cinta mereka? Dan apakah pilihan cinta mereka bisa membuai tinta cerita masuk syurga, ataukah malah sebaliknya. Jadi silahkan dibaca kelanjutan ceritanya ya!
Tags :
#ifdlorindu_liya

Ikhtiyar Memilikimu

1 0

Berpisah

Pagi menghangatkan tubuh, busur harap menyentuh keluarga Hasan Firdaus kepala keluarga dan Fatimah Azzahra Ibu rumah tangga yang ingin memasukkan anak semata wayangnya kedalam Pondok Pesantren. Dzulfikri Hanza alumni Sukodadi dan kini ingin menghabiskan waktunya diPondok Ashabul Kahfi di Bangkalan Madura, menggerakkan niat dengan penuh keyakinan yang kuat untuk menghabiskan waktu didunia dengan utuhnya mencari Ridha-Nya. Dengan begitu sebelum mendapatkan pasangan hidup Hanza memilih untuk menetapkan jalan waktunya untuk sepenuhnya hidup besama orang-orang yang disentuh hati mencari ilmu Agama.

Untuk menetapkan tirakad dalam menghabiskan waktu jauh dari orang tua tidaklah semudah makan dan minum, perlu niat yang khusus agar mendapatkan apa yang diharapkan “Hanza, jangan lupa kamu diPondok niatnya tirakad untuk meluangkan waktu sebelum mendapatkan pasangan hidup. Disana perbanyaklah melakukan sunnah Nabi dan kalau bisa membantu keluarga Dalem (keluarga pengasuh pesantren)”.

Hanza yang sedang sarapan terdiam dengan menunggu respon dari ayahnya “Semoga Ayah mengucapkan sesuatu sebelum aku menjawab perkataan Ibu” dalam hati Hanza, namun sampai Ibunya melihat Hanza dengan tatapan tidak menyenangkan belum juga Ayahnya bicara jadi membuat Hanza menggarukkan rambutnya dengan perasaan agak bimbang merelakan orang tuanya berdua dirumah. Sebenarnya Hanza ingin bekerja namun Ayahnya ingin memasukkan dirinya kedalam Pondok Pesantren, persoalannya Hanza memikirkan sehari-hari orang tuanya dia berfikir untuk memenuhi keluarganya dengan menggantikan tugas Ayahnya untuk menafkahi keluarga. Namun apalah dayanya tidak bisa menggau gugat niat Ayahnya itu

“Kok diam aja sih nak,” Ucap Ibu dengan agak kesal

“Ayah,,, Hanza tuh butuh ketenangan setelah lulus dari Sukodadi, lagian Hanza laki-laki jadi bisa mondok lagi kapan-kapan. Hanza” Kata Hanza belum menjawab ucapan Ibunya

“Nak udahlah jangan banyak bantah keinginan Ayah tuh tidak lain pengen buat kamu punya sesutau yang buat kamu bisa cari jodoh dengan mendapatkan ilmu yang banyak dari para guru Ayah, siapa tahu ada ilmu beliau yang buat kamu bisa lebih matang menjadi suami” Tegas Ayahnya

 

Berjalan untuk membasuh tangan dengan memikirkan matang apakah sanggup meninggalkan orang tuanya lagi dengan keadaan sudah matang membuahkan hasil untuk kehidupan keluarga, Hanza hanya ingin menghasilkan keputusan terbaik dengan dia yang hanya anak tunggal dan sudah besar untuk menghasilkan uang sendiri namun juga belum kunjung membuat orang tuanya bangga meskipun lulus dengan nilai IPK yang sempurna. Bagaimana tidak memikirkan situasi keluarga nantinya, dia tidak mengerti apa yang akan terjadi bila dia berada jauh dari keluarganya, dengan ekonomi yang tergolong menengah tidak kaya atau miskin itu.

Hujan gerimis merusuhi pandangan Hasan yang sedang menyupir, pesan singkat diterima dengan deringan dan tulisan atas nama Hasna diponsel Hanza “Haiii apakabar, lupa sama aku gak?” entah merasa apa, pesan yang dibaca hanya sebatas angin yang lewat Hanza hanya memikirkan apakah bisa dia berada didalam pondok tapi menghasilkan sesuatu yang bisa membuat ekonomi keluarga terpenuhi. Tidak ada keinginan untuk membalas pesan dari Hasna, karena dia hanya iseng-iseng melihat handphon semasa perjalanan. Namun deringan pesan berubah menjadi telpon, hanya saja ditolak begitusaja tidak ada niatan untuk menghubungi siapapun. Hanza hanya mengirim pesan maaf tidak menerima telpon dan menutup handphon dengan sedikit melihat cendela.

Merelakan hati yang masih dirundung pilu dengan ketakutan yang merugikan, tidak terarah dan bimbang, namun do’a dan sisa niat masih tetap dipanjat sambil melihat satu dua bahkan sampai ratusan kaki dengan sandal dan ditangan dengan kitab yang menumpuk. Tibalah keluarga Hanza diPondok Pesantren Ashabul Kahfi dengan perasaan yang purnama dan awang-awang pudar, juga dengan Bismillahirrahmanirrahim Hanza membuka pintu mobilnya. Suasana sejukpun terasa kemudian salah satu santri menghap dirinya dengan bertanya.

“Bisa saya bantu kak?”

“Dimana tempatnya Bunyai dan Pak Yai ya? Saya mengantarkan anak saya mondok dek” kata Ayah Hanza

“Ohhh baiklah saya bantu antarkan”

 

Deretan kitab kuning tertata dirak ruang tamu, foto keluarga besar yang terdapati Bunyai Kamila dan Kiyai Buniyah, lalu disampingnya terlihat sosok perempuan yang anggun memakai gamis berwarna hitam putih dan hijabnya berwarna putih terlihat indah memukau pandangan para tamu yang melihatnya. Suara bisikan Ayah dan Ibunya tidak terdengar dan Hanza hanya melihat-lihat seisi ruangan yang ada dirumah Pak Yai, disebelah kirinya terlihat seorang gadis yang sedang berjalan sambil menunduk dan dalam hatinya berkata mungkin itu Neng yang ada didalam foto itu. Meskipun tidak terlihat jelas Hanza menerka-nerka apa yang terlintas dihadapannya.

Kemudian tibalah secangkir teh dan makanan yang bisa dibuat cemilin terbuka dari toplesnya, dan tidak berapa lama dari santri yang menyiapkan hidangan datang Kiyai Buniyah dan Istrinya Kamila, mereka sedikit berbincang-bincang tentang dimana asal tamunya yang jaraknya tidaklah dekat dengan dimana kota metra politan itu tamunya berasal dan juga tidak tertinggal membicarakan darimana keluarga calon santri tahu tentang Pondok Pesantren Ashabul Kahfi.

“Anak saya lulusan Pondok juga diSukodadi Bunyai, Pak Yai. Namun saya dan Istri saya memutuskan untuk memasukkan pondok bulan Ramadhan disini agar ilmunya lebih manfaat apalagi ilmu nahwu shorofnya, sayangat disayangkan bila hafalan terutama alfiyahnya tidak diasah lagi ditakutkan hilang jadi mungkin dengan adanya teman sesama penghafal bisa membuat hafalannya terjaga sekaligus mungkin ada tambahan ilmu dari Pondok barunya. Meskipun umur anak saya sudah mencapai 28 yang sudah dikatakan sanggup menjalani hidup rumah tangga namun sudah satu tahun setelah lulus kuliah masih belum menemukan calon Istri sampai sekarang”

 

“Berarti kelahiran 93 ya Pak, Bu?” Ucap Pak yai

 

“Hiya benar, anak saya kelahiran 93 telat sekolah diMts dua tahun dan Aliyahnya dua tahun juga, soalnya ada kendala saat itu. Oh hiya untuk menunggu bulan suci Bulan Ramadhan yang kurang satu bulan lagi, mungkin Pak Yai dan Bunyai bisa jadikan anak saya Khaddam (pembantu) jadi apa-apa tidak masalah mengutus anak saya melakukan apasaja. Anak saya bisa nyupir loh” tegas Ibunya Hanza.

 

“Hiya semoga anak Ibu dan Bapak betah disini dan bisa

Setelah dua jam berbincang-bincang dengan sedikit wejangan dari Pak Yai, keluarga Hanza beranjak pulang, dengan desiran angin sore dan suara dentuman mobil yang baru menyala dan sentuhan tangan dari kedua orang tua membuat bayang-bayang rasa kerinduan terpintas dipikirannya. Namun seperti biasa Hanza buang jauh-jauh tidak ingin membuat jarak yang memisahkan dan keinginan orang tuanya membuahkan hasil yang mengecewakan, Hanza hanya bisa berusaha mengingat pesan Pak Yai Buniyah. Jagalah pikiran yang merugikan waktu, jangan sampai membuatmu tidak menjaga ilmu yang sudah dimiliki. Tidak ada harga bacaan yang tebal bila kerugian masih terbentang, merugilah bila ilmu yang banyak namun tindakan dan ucapan tidak pernah mengeluarkan sedikit isi dari bacaan yang terekam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Dan Dia Aly Nab...
Naya dan Kisah Kasihnya
Gusti Ayu Putu ...
Kepingan Puzzle
Lafi Tauchida
Rumah Besar Dua Pilar
zylanesa
Hiraeth
Kamila Raissa K...
Srikandi Langit

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil