Loading
2

0

0

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Dwyne
Bab : 2
Pembaca : 3
Nama : Dwina Mei Ekowati
Buku : 2

180 Degrees

Sinopsis

Maya baru lulus sekolah menengah atas. Ia berusaha menerima nasibnya. Menikah diusia yang masih belia. Dia ingin menjadi anak yang berbakti. Ia berusaha mengenal dan menggali kebaikan-kebaikan suaminya. Ternyata perbedaan usia yang mencolok membuat badai rumah tangga diambang kehancuran. Bisakah Maya menumbuhkan cintanya dan menjadi istri yang solehah? atau gagal adalah kata yang tepat?
Tags :
#durrahmumtazah

Day 1: Pernikahan Dini

1 0

 

  • Sarapan Kata
  • KMO Indonesia
  • KMO Club Batch 37
  • Kelompok31
  • KLAsik
  • Jumlah Kata 954
  • Sarkat Jadi Buku
  • Day 1


    Part 1

    Pernikahan Dini

 

Aku ingin protes tapi yang keluar cuma kata ‘astaghfirullahaladziim’. Suaraku tertahan jika berhubungan dengan kedua orang tuaku. Dari kecil aku diajarkan nilai-nilai agama yang kuat. Berbakti pada orang tua artinya tidak menyakiti hati mereka. Itu yang aku pahami. Tapi tetap saja dibelahan lain dari hatiku ada sesuatu yang mengganjal. Sepertinya aku belum pernah berkata ‘ya’ tapi pernikahanku sudah di depan mata. Surat-surat sebagai administrasi pernikahan sudah lengkap. Kabar bahwa aku akan menikah sudah tersebar sekecamatan. Seminggu lagi, kantor urusan agama menjadwalkan pernikahanku. Aku tidak percaya tapi waktu terus berjalan. Kenapa semua seperti serba cepat? Siapa yang memutuskan hidupku?

Aku tidak mau dianggap menjadi anak yang tidak berbakti. Kalau aku menolak menikah, maka ini akan menjadi aib bagiku juga bagi keluargaku. Aku bisa menjadi perawan tua. Dan keluargaku akan menanggung malu karena pernikahan yang batal. Kami dari keluarga pas-passan sehingga pasti akan disalah-salahkan. Ada saja orang-orang yang akan mencibir. Pasti akan tersiar kabar anak perempuannya batal dinikahi karena dia anak yang nggak bener. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi. Aku tidak rela orang tuaku menanggungnya.

 Maka aku ikuti seperti aliran air. Berbekal kata-kata ibuku “InsyaAllah dia jodohmu yang dikirimkan Allah SWT, nduk. Dia meminta kamu sebagai istrinya kepada kami dengan sopan ketika kamu masih di kos-kosan. Dia berjanji memperbolehkan kamu berkarir, mendukung pendidikan kamu setinggi-tingginya. Dia tidak memaksa kamu segera punya anak. Dia sudah mempunyai profesi yang jelas. Maka kami percaya dia jodohmu.”

Mungkin kedewasaanku datang lebih lambat. Sehingga aku tidak menolak menikah diusia yang masih belia. Aku baru lulus SMA betapa masih panjang perjalananku untuk berjuang dengan tanganku sendiri. Aku tidak memikirkan bagaimana hidup setelah menikah. Aku hanya memikirkan orang tuaku. Aku ingin membahagiakan mereka. Aku ingin menjadi anak yang berbakti. 

Hari pernikahan tiba. Mulai matahari terbit aku sudah diantarkan kakakku pergi ke salon untuk dirias. Baju ijab-qobulku juga sudah disiapkan oleh salon kecantikan tersebut. Aku masih tidak sadar bahwa ini batas statusku dari gadis menjadi menikah. Aku masih belum membayangkan seperti apa kehidupan setelah menikah. 

Normalnya, hari pernikahan adalah hari yang sangat memorable bagi mereka yang menjalaninya. Sepasang kekasih akan mengikat janji seumur hidupnya bersama dengan yang dicintainya, bertatapan dengan penuh perasaan yang tercampur aduk.

Namun hal yang sama tidak terjadi padaku. Aku tidak bahagia, tidak pula sedih. Seluruh prosesi kuikuti begitu saja tanpa ada rasa sedikitpun. Pernikahan kami hanya dihadiri beberapa anggota keluarga mempelai laki-laki dan keluarga dekat dari ibu bapakku saja. Hari pernikahan itu berlalu begitu saja.

Hari Sabtu kami menikah di rumah orang tua. Hari kemudian, tepatnya di sore hari, kami pulang ke rumah kami sendiri di kota tetangga. Azan maghrib berkumandang tepat saat kami sampai di rumah. Saat membuka pintu, pandanganku tertuju pada benda putih yang tergeletak di bawah pintu. Itu adalah sepucuk amplop.

“Dari mana, Jeng?” Ia bertanya, penasaran dengan suratu yang baru saja kutemukan.

“Sebentar, nyalain lampu dulu dong!” Aku mengomel, melihat dia yang tidak sabaran dengan isi surat. Manakala lampu telah kunyalakan, mataku sedikit melebar, terkejut dengan perihal surat tersebut. “Waduh mas, gawat.”

“Heeh, jangan menakut-nakuti gitu. Dari siapa?”

“Dari Mabes POLRI.” Kataku dengan lirih.

“Surat tentang apa?”

Sampean besok pagi diharapkan sudah di mabes untuk apel persiapan Pasukan Garuda.”   

Suamiku terlihat terkejut sekaligus bingung, mengapa harus di saat seperti ini? Di sisi lain, tatapannya juga memancarkan kebahagiaan karena ini sudah kelima kalinya dia ikut seleksi pasukan setelah sebelumnya empat kali gagal.

Biasanya, ada beberapa tes untuk bisa lulus berangkat pasukan garuda. Tes pertama berupa pengetahuan dasar dan Bahasa Inggris. Kalau yang ini, nilai suamiku cukup bagus. Biasanya dia gagal di tes mengemudi. Kalau di Indonesia letak pengemudi mobil berada di sebelah kanan, lain halnya dengan tes kali ini yang menggunakan standar luar negeri sehingga saat tes butuh adaptasi yang cukup lama. Yang cukup menantang yaitu saat parkir harus sekali sudah pada posisi. Kalau masih maju mundur maka sudah dihitung gagal. Dan yang terakhir, mengemudi saat jalanan licin diumpamakan saat bersalju dan jalan tanjakan. Banyak anggota yang gagal disini karena mobil mundur di tanjakan.

Suamiku mondar-mandir sambil membaca ulang telegram tersebut. Sudah tidak ada transportasi dari kota kami langsung ke ibu kota. Kalau mau berangkat sekarang artinya harus estafet. Beberapa kali ganti bis dan kereta. Yang terberat, kami ini masih sehari menikah! Tentunya berat untukku memulai kehidupan sendiri di lingkungan baru.

Kami duduk saling berhadapan sambil berpegangan tangan.

Jeng, ini kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Empat kali saya tes dan gagal. Kali ini bisa dikatakan misi ini adalah kado pernikahan kita.”

“Kado?” aku mempertanyakan kata kado yang dia maksud. Kado itu adalah hadiah. Sedangkan kalau dia pergi artinya aku akan sendiri. Apakah indah kalau sendiri?

 “Saya bilang kado karena ini kebanggan bisa menjadi Pasukan Garuda. Dibawah bendera PBB maka kesejahteraanya cukup.”

“Tapi bukannya Kangmas beberapa bulan lagi akan ambil British Cheveningnya?” Aku masih berusaha mendiskusikannya, berharap ia memikirkan matang-matang keputusannya.

“Masa berlaku IELTS itu dua tahun. Nanti sesampai di Jakarta, saya akan ke British Council untuk mendiskusikannya.”

Aku sudah tidak punya tenaga untuk diskusi lagi, tekadnya begitu kuat sehingga aku hanya bisa mengiyakan semua keputusannya dan berharap ini adalah pilihan yang terbaik meskipun jauh di lubuk hati sebenarnya aku tidak setuju.

Aku beranjak ke dapur untuk membuat teh hangat, sedangkan dia masih duduk memandangi telegram di tangannya. Sembari membuat teh, aku merasakan tenagaku tiba-tiba tersedot entah ke mana ketika membayangkan perpisahan kami dan bagaimana dengan diriku kedepannya, beradaptasi di lingkungan baru sendirian.

Teh sudah jadi dan aku membawanya ke ruang tamu. Dua langkah mendekati dia tak terasa tanganku miring sehingga satu gelas meluncur ke lantai dan prang.g….jatuh berantakan di lantai.

Suamiku dengan cepat mendekatiku.

“Awas, jangan pakai tangan!”

Tapi terlambat, aku sudah reflek menaruh baki di meja dan segera mengambil pecahan-pecahan gelas yang berserakan di lantai. Meski sudah berhati-hati tapi salah satu pecahannya menggores jari telunjukku dan darahnya tidak berhenti mengalir.

 

 

Day 2: Pernikahan Dini Part 2

1 0
  • Sarapan Kata
  • KMO Indonesia
  • KMO Club Batch 37
  • Kelompok31
  • KLAsik
  • Jumlah Kata 636
  • Sarkat Jadi Buku
  • Day 2

PART 2

Pernikahan Dini

Diraihnya tanganku dan dipapahnya aku menuju ke sofa. Kami duduk bersebelahan. Dia memegang tanganku yang terluka dan mengangkatnya lebih tinggi dari dadaku. Sempat ada sedikit darah yang mengalir membasahi tangannya juga. Tapi sekarang sudah berhenti. Ia berkata kepadaku jika terluka usahakan untuk memposisikan lebih tinggi dari jantung maka akan cepat berhenti.

Setelah dia mengambilkan peralatan P3K dan membebatkan kain kasa di jari telunjukku. Kami bicara lagi.

“Aku sudah memutuskan Jeng untuk berangkat besok pagi.”

“Lho, kan terlambat sekali.”

“Iya tidak apa-apa, kalau memang rizki maka alasanku nanti pasti akan diterima.”

“Berangkat besok akan lebih baik untuk kita. Malam ini saya memulihkan tenaga dan besuk setelah subuh antarkan saya ke stasiun. Meski estafet kemungkinan sore saya sudah tiba di Jakarta.”

Setelah membersihkan pecahan gelas dengan sapu dan sekop sampah, kami pun bersih-bersih badan. Dia mempersiapkan beberapa lembar pakaian dan surat-surat kelengkapan untuk ke ibukota esok hari, dan berangkat tidur.

Suara mengaji di Masjid terdekat membangunkanku. Aku menyipit, menajamkan penglihatan untuk melihat jam di dinding. Pukul 04.00 pagi. Masih lima belas menit lagi masuk waktu subuh. Aku mengelus pipi suamiku dan dia menggeliat. Bukannya segera bangun dia malah memperbaiki letak selimutnya. Maklum musim hujan di daerah pegunungan rasanya cukup menggigit. Aku ajak bicara bahwa kita harus segera ke stasiun untuk naik kereta pertama. Baru matanya langsung membulat dan segera dia ke kamar mandi.

Dari dalam kamar mandi, aku mendengar suaranya meminta bantuanku.

“Jeng, minta tolong handuk.”

Dalam hatiku aku berpikir, hmm mulai deh drama minta perhatian. Tapi aku tetap saja berangkat memgambilkan handuknya juga. Parah, ternyata aku bingung mau diambil dimana karena di jemuran belakang tidak ada. Aku kan penghuni baru belum tahu dimana letak barang-barangnya dia.

“Handuknya di mana, Mas?”

“Oh, iya aku lupa. Masih dalam lemari kamar…coba tolong carikan yang warnanya coklat.”

Tidak butuh waktu lama, aku sudah bisa menemukannya dan segera menyerahkan kepadanya.

“Makasih.”

Sesaat, aku lupa bahwa aku baru saja menikah. Rasa geli mengalir ke sekujur tubuhku, mengetahui bahwa kini diriku tanggal bersama orang asing dan minta tolong ini dan itu. Mana saat dia mandi lagi.

Sambil menunggu dia di kamar mandi, aku merapikan tempat tidur dan menyapu rumah. Setelah dia selesai, aku secepat kilat menerobos masuk ke kamar mandi setelah ia keluar, berharap bisa bersama-sama pergi ke masjid untuk salat subuh berjamaah. Dari kamar mandi, aku mendengar suara sendok yang beradu dengan gelas khas suara orang yang sedang mencairkan gula. Dalam hati aku berpikir, pasti dia sedang membuat teh.

Keluar dari kamar mandi, aku tersenyum mengetahui dugaanku benar. Di meja ruang tamu sudah tersaji dua gelas teh panas dan dua tangkup roti isi. Suamiku sudah duduk memakai baju koko, sarung dan kopiah. Sebagai polisi, dia selalu terlihat rapi. Baju apa saja melekat sempurna di badanya yang atletis. Terlihat sekali dia menjaga kesehatan dan kebugaran badannya.

“Ayo minum tehnya biar hangat badannya.”

Aku masih malu-malu dan menjaga jarak dengannya. Terlebih lagi, kami saling menjaga wudu kami. Beberapa saat kemudian, suara imsak dari masjid terdengar. Kami pun berangkat ke masjid.

Letak masjid sekitar dua ratus meter dari rumah. Kami berjalan dalam diam, menikmati aroma pagi yang segar tanpa pura-pura. Setiap hirupan nafas dengan dzikir dan do’a. Semua serba pertama kali. Seperti sebuah mimpi bahwa statusku sekarang sudah berubah. Aku sudah menjadi seorang istri. Aku hanya berharap pernikahanku akan baik-baik saja kedepannya.  Kokok ayam ikut serasa sebuah pujian kepada Tuhan bersyukur dengan damainya pagi ini.

Selesai sholat subuh kami segera siap menuju stasiun. Vespa dipacu dengan kecepatan maksimal membelah sepinya jalanan pagi. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, diam tidak berkata-kata. Sengaja kami ke stasiun yang ada di pusat kota karena disitu tempat parkir kereta-kereta lintas propinsi. Jaraknya setengah jam perjalanan dari rumah. Kereta api sebagai sarana transportasi yang terjangkau untuk kami jika mau bepergian. Kereta kelas ekonomi selalu menjadi pilihan utama. Pas dengan kemampuan isi dompet kami, meski harus rela berdesakan dan bahkan kadang tanpa kursi.

 

Mungkin saja kamu suka

Muhammad Abid A...
SANG PISAU DINGIN
Maesaroh
Renjanasa
Salisatur Rosik...
WASAL
Maryanah Manaf
Cahaya Kehidupan

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil