Loading
1

0

5

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Nezbrebie
Bab : 1
Dibuat : 02 Februari 2022
Pembaca : 4
Nama : Nezbrebie
Buku : 4

Zalim

Sinopsis

Kisah Renata yang berjuang keras mempertahankan rumah tangga bersama laki-laki yang sangat dia cintai. Laki-laki yang dalam ucapannya selalu mengedepankan tanggung jawab, tetapi kenyataannya dia adalah pria pemalas dan banyak menuntut. Dapatkah Renata mempertahankan rumah tangganya? Atau harus berakhir karena keegoisan sang suami yang terlalu banyak menuntut? Sejatinya, setiap manusia pasti punya titik jenuh dan rasa bosan. Apalagi dalam rumah tangga harus berjuang sendirian.
Tags :
#cinta #wanitatangguh #sakithati #egois

Egois

1 0

Part Satu

Renata masih merenung di gelapnya malam. Sudah sejak pagi dia tidak menyapa Aidil, suaminya. Perdebatan pagi tadi, sungguh membuat Rena marah dan kesal. Selalu saja seperti itu, Aidil selalu saja menuntut banyak darinya. Padahal pengeluaran harian sangat banyak. Bagaimana seorang Renata harus mengatur keuangan, sedangkan bekerja dia tidak pernah diizinkan Aidil.

Mereka menikah karena cinta, dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Yang pertama bernama Aisyah Ramadhani, yang ke dua bernama Agi Bimantara. Renata tidak jelas tahu arti nama tersebut, hanya saja Aidil yang memberi nama, takut istrinya memberi nama mantan kekasih terhadap anaknya. Rena pasrah menerima semua keinginan Aidil. Asal tidak ada pertengkaran dan rumah tangga mereka adem.

“Ma, lapar.” Aisyah mendatangi ibunya di kamar.

“Ayo, kita makan.” Renata menuntun Aisyah ke luar kamar dan mencoba menyiapkan makanan.

“Makan sama sayur bawang lagi, Bu?” tanya Aisyah pelan.

“Ia, Nak. Ayo, dimakan.” Renata mengisi piring kecil, lalu menuangkan kuah beraroma bawang di atasnya. Tersenyum, Aisyah makan dengan lahap. Sedangkan Agi, Renata tidak melihatnya sejak keluar kamar bersama Aisyah.

Renata duduk di hadapan purtrinya, hatinya bagaikan diiris menatap lahapnya Aisyah makan. Sesungguhnya, Renata sangat sedih. Kalau saja bisa, dia masih mampu bekerja. Suaminya bisa menjaga anak-anak di rumah kalau tidak ingin menjadi karyawan orang lain. Yang penting, anak-anaknya tidak seperti saat ini. Jajan dibatasi, makan seadanya, baju semua sudah kekecilan, bahkan ada beberapa baju mereka yang sudah robek masih saja tetap dipakai.

Renata menoleh ke arah lainnya, menyembunyikan air mata yang luruh begitu saja. Renata bangkit, berdiri di depan kompor gas dengan tatapan kosong. Air matanya terus saja menetes membasahi pipi. Tidak bisa dia hentikan sama sekali. Dia yang memiloh menikah dengan Aidil, dia harus menerima semua resiko dan perlakuan Aidil terhadapnya.

“Ma, Mama nangis?” tanya Aisyah mendekati Renata membawa piringnya yang telah kosong.

“Eng-enggak, Sayang. Mama hanya kelilipan.” Renata meniup kompor beberapa kali sehingga menganggap Aisyah percaya dengan debu yang bertebaran di sana. Gadis kecil itu menyodorkan piring plastik kepada Renata.

“Nasinya habis, Ma. Tambah, boleh?” tanya Aisyah polos.

“Oh, tentu saja, sini mama tambahkan.” Renata meraih piring lembut, tetapi tidak berani menatap Aisyah. Walaupun dia baru berusia empat tahun, dia mulai paham. Apalagi dengan seringnya Renata dan Aidil berdebat, bahkan bertengkar.

Aisyah kembali makan dengan lahap. Renata kembali duduk di hadapan Aisyah. Mengusap rambut putrinya lembut dan tersenyum. Bayangan Renata kembali pada peristiwa pagi tadi

“Berapa kali harus aku bilang? Aku tidak suka kamu berbicara atau bercanda dengan pria lain.” Aidil menunjuk wajah istrinya penuh amarah.

“Bang, aku tidak bercanda. Aku hanya memberikan belanjaa yang dititipkan oleh Rini.”

Renata berusaha menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Sepulangnya Renata dari warung membeli garam serta penyadap rasa makanan, Rini menitipkan belanjaannya karena warga mengatakan anaknya terjatuh ke selokan. Rini tahu kalau Renata tidak berani melihat darah, menitipkan belanjaan kepada Rena. Kebetulan di rumah ada Dian, suami Rini yang menerimanya.

Tentu saja Dian heran kenapa harus Rena yang membawa belanjaan, Rena menjelaskan bahwa anaknya sedang terjatuh ke selokan, dan dia dititip belanjaan oleh Rini. Hanya karena Dian tersenyum kepada Rena, dan Rena membalasnya, emosi Aidil memuncak. Padahal, setelahnya Dian pun langsung berlari menghampiri anak dan istrinya.

“Senyum-senyum itu apa artinya kalau tidak bercanda? Begitu kelakuan kamu di belakangku?”

“Bang, kalau orang lain tersenyum, lalu aku balas apa? Marah? Atau cemberut?” Rena masih berusaha meredam amarah dalam dadanya.

“Aku tidak suka, tetap tidak suka. Titik!” Aidil membanting pintu dapur karena marah.

Rena menarik napas dalam, menenangkan debaran di dalam dadanya. Bukan sekali dua kali sikap Aidil seperti ini, tetapi Rena selalu memaafkan. Itu juga alasan Aidil tidak mengizinkannya bekerja, cemburu buta yang berlebihan.

Renata segera mengiris dua biji bawang merah, lalu memanaskan sedikit minyak goreng di atas katel. Setelah panas, dia memasukkan bawang merah hingga wangi. Setelahnya, dia menambahkan secangkir besar air dan membiarkannya hingga mendidih. Menambahkan sedikit penyedap rasa serta garam secukupnya. Mengecap perlahan setelah meniupnya di sendok kecil. Setelah dirasa pas di lidah, Rena mematikan kompor.

Wanita cantik itu menyuapi Agi karena Aisyah sudah bisa makan sendiri. Setelahnya, membiarkan Agi dan Aisyah bermain di dalam rumah. Rumah kontrakan kecil yang mereka sewa sebesar enam ratus ribu sebulan. Ruang tengah mereka jadikan kamar, sedangkan ruang depan hanya ada lemari kecil yang sudah reyot. Lemari itu adalah bekas pemberian adik ipar Rena, miris memang harus menerima barang bekas dari orang lain. Lemari itu dia gunakan untuk menyimpan baju Aisyah dan Agi.

***

“Ma, lihat. Agi bawa kue dari Nenek.” Agi berlari ke dapur menghampiri Rena dan Aisyah. Renata tersenyum, kemudian menggendong Agi dan mencium bocah dua tahun itu dengan gemas. Aidil masuk ke dlam rumah, lalu duduk di ruangan depan. Menyadari suamiya ada di sana, Rena memilih kembali ke kamar, dan rebahan.

Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi pikirannya jauh lebih lelah. Lelaki yang menikahinya lima tahun yang lalu itu makin lama semakin egois. Bahkan semakin keterlaluan kala Rena mulai memiliki sedikit uang masuk dari berjualan keripik singkong dan menitipkannya di warung.

Penghasilan Rena belum seberapa, tetapi pertengkaran hampir setiap pagi. Dulu, Aidil tidak seperti ini. Sejak bergabung dengan pemuda setempat dan terpilih menjadi ketua pemuda tersebut, membuat Aidil lupa diri serta sering merasa gampang segala hal.

Rena kemudian kembali ke dapur. Mengupas kembali singkong yang dia simpan di bawah meja kompor, kemudian mencuci bersih. Daripada haus menunggu hari esok, lebih baik dia kerjakan hari ini. Siapa tahu nanti ada pesanan dan bisa menambah uang masuk untuknya. Penghasilannya pas-pasan. Jarang sekali dia bisa memasak daging ayam untuk anak-anaknya, walau bisa membeli sedikit.

Bila membeli tahu lima ribu, bisa cukup dari pagi hingga sore, sedangkan bila membeli ayam seperempat hanya untuk satu kali makan. Rena selalu berusaha meminimalisir pengeluaran. Agar besok masih bisa beli beras, maka dia harus rela anak-anaknya makan dengan sayur kuah bawang.

Renata mendengar Aidil membuka pintu pukul sebelas malam. Renata diam saja, karena masih marah kepada suaminya. Dengan meneruskan membungkus semua kripik singkongnya. Hampir jam satu dini hari, barulah semua kripik selesai dia bungkus dan siap dititipkan lagi besok.

Aidil pulang dengan membawa bungkusan, dia menghampiri Renata di dapur yang sedang menyatukan semua keripik singkog ke dalam plastik hitam berukuran besar. Aidil memeluk istrinya dari belakang setelah meletakkan bungkusan itu di samping kompor.

“Maafkan aku, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kamu terlalu dekat dengan pria lain,” bisik Aidil lembut. Rena menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu melanjutkan memasukkan bungkus demi bungkus keripik singkongnya hingga semua selesai.

“Sudah, dong. Jangan marah lagi, ayo kita makan. Aku bawa nasi bungkus dari luar, pemberian teman-teman.” Aidil membalikkan tubuh Rena pelan.

Tatapan mata keduanya saling mengunci. Masih dangat besar cinta di antara keduanya. Renata memilih mengalah dan memaafkan suaminya. Senyumnya mengembang seketika. Mereka kemudian makan dengan lahap sebungkus berdua. Walau hanya dengan sebutir telur mata sapi dan sambal serta kuah yang sedikit dituang di atasnya, keduanya makan dengan lahap.

“Anak-anak makan hanya dengan kuah bawang,” ucap Renata pada suapan ke tiga saat mengingat lahapnya Aisyah makan tadi.

“Sabar,” jawab Aidil tanpa merasa berdosa.

“Cobalah cari pekerjaan, Bang.” Renata menatap suaminya lembut penuh permohonan. Aidil berhenti mengunyah makanan di mulutnya, tatapan matanya mulai terlihat tajam kepada Renata. Tangannya mengepal keras, dengan susah payah dia menelan makanan yang sudah terlanjur ada di dalam mulutnya.

 

Bersambung.

Mungkin saja kamu suka

Nur Vauziah
Dhila
Junika Darul Pi...
3 penjuru
Bansa Yosak Sar...
Menatap Masa Depan Visioner
Raudhatul Janna...
Seutas Benang Rajut di Tangank
Irba Tsabita
Kandas
Febby Aminoora
Anneisha Putriku!

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil