Loading
0

0

4

Genre : Keluarga
Penulis : Ervina Liliana
Bab : 2
Dibuat : 02 April 2022
Pembaca : 6
Nama : Ervina Liliana
Buku : 2

KARNA

Sinopsis

Karna adalah nama seorang pemuda dalam masa gap year yang sedikit insecure dengan namanya. Di bulan Ramadan tahun ini, dia memutuskan untuk memulai podcast-nya sendiri. Karna ingin berbagi kisah-kisah yang dia dapatkan secara random di jalanan sepanjang ramadan. Ummi Hawa dan kedua kakaknya mendukung kebaikan yang ingin dia sampaikan melalui podcast-nya.
Tags :
#NULISDIBUKULAKU #OLIMPIADEMENULISRAMADAN

Prolog dan Eka

0 0

Prolog 

Aku adalah netra 

Meneropong jagad mengenakan jiwa

 

Aku adalah Karna

Bukan anak si Dewi Kunti 

Menyimak ujaran tutur memakai teliti

 

Aku adalah lisan

Tak pernah merasa bosan

Tak mungkin akan diam

Membisingkan narasi berbagai sabda

 

Aku adalah grahita

Bersirkulasi 

Berpindah haluan

Beranjak

Beredar di seantero 

 

Aku adalah rasa

Mengecap

Mereguk 

Menduga

Menyimpul

Menafsir gulana

 

Eka

"Um, kenapa sih namaku Karna?" protes Karna sambil memberengutkan wajahnya. 

"Kamu mau namanya gimana?" Ummi Hawa bertanya. 

"Ya… yang islami, gitu."

"Namamu Karna Mujahid. Ada mujahid-nya loh. Gak cukup?"

"Temen-temen tu lah, Mi .…" Ummi Hawa menunggu kelanjutan ucapan Karna. 

Karena masih menggantung juga, Ummi Hawa yang sedang menyediakan makan malam memalingkan kepalanya. Ummi Hawa melihat sang anak bujang seperti menerawang. Beliau bergerak menuju Karna dan melambaikan tangannya di depan wajah anak lelaki satu-satunya. 

Karna tersadar, "Eh?" 

"What's wrong with your friends?" Ummi Hawa adalah guru Bahasa Inggris terbaik bagi Karna. 

"Nama Karna selalu jadi olok-olok. Kalau ada kejadian di kelas, mereka selalu bilang, it's all because of Karna." Wajah Karna makin kusut. 

Ummi Hawa yang tidak ingin putranya semakin terluka, menahan diri untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Beliau kembali menuju Karna dan memeluknya dari belakang. Karna paling suka posisi ini karena seakan-akan umminya leans on him

"Berarti anak Ummi terkenal dong ya… Berarti semua temanmu di sekolah mengakui keberadaan Karna. Kurang apa lagi coba? Mengapa peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, apalagi kalau pikiran mereka itu salah. Peduli saja sama Ummi yang menyayangimu more than anybody else." Ummi memeluk Karna lebih erat lagi. 

"Tapi, Ummi mencintai Rosul," goda Karna yang hatinya menghangat berkat Ummi Hawa. 

"Well, it's an absolute act toward our prophet. Kamu nggak boleh cemburu sama Rosul." Ummi Hawa juga "cik gu" pertama yang mengajarkan Karna tentang Islam. 

"Apa-apaan ini! Kenapa anak laki-laki saja yang dapat pelukan Ummi? Ummi nggak suka sama anak-anak perempuannya." Mbak Afsana sudah berada di ruang makan dan pura-pura marah melihat adegan Karna dan Ummi Hawa. 

"Fida! Cepat kemari!" Terdengar suara kaki yang melangkah cepat setelah itu. 

"Ck, ck, ck … kita harus berbuat sesuatu sepertinya." Mbak Afsana dan Mbak Fida menyerbu Karna dan Ummi Hawa setelah memutuskan sesuatu dengan saling berpandangan. 

Mereka mencoba melerai tangan Ummi Hawa dengan segala cara. Mbak Afsana memegang siku Ummi Hawa dan menarik-nariknya. Mbak Fida menggelitik sisi-sisi badan Karna supaya dia bereaksi dan melepaskan diri dari Ummi Hawa. Kedua kakaknya tahu kalau Karna tidak akan bertahan lama karena dia sangat penggeli. Ketika akhirnya mereka berhasil, mereka langsung menyerbu Ummi Hawa dan memberikan pelukan erat dengan wajah penuh kemenangan. Karna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. 

Mereka duduk mengelilingi meja makan hari ini. Kalau hari-hari lain, mereka lebih banyak makan malam sendiri-sendiri. Ummi Hawa selalu berada di meja makan. Mbak Afsana biasanya membawa piring makanannya ke dalam kamar dan makan sambil bekerja dengan laptop-nya. Mbak Fida lebih suka makan sambil menonton acara kesayangannya dan selalu paling lambat selesai. Sedangkan Karna, dia akan makan di teras belakang. Dia lebih suka ruang terbuka dan bertemu alam. 

"Apa rencana ramadan tahun ini?" Ummi Hawa bertanya dan memandang putra-putrinya satu per satu. 

"Badra bakalan sibuk dengan translating, Mi. Menjelang ramadan malah makin meningkat orderan. Mana Badra bertanggung jawab di finishing. I have double jobs." 

Afsana Badra adalah nama lengkapnya. Dia selalu minta dipanggil Afsana tetapi dia menyebut dirinya sebagai Badra. Mbak Afsana bekerja di sebuah biro terjemahan. Bironya kecil saja. Namun, berafiliasi dengan perusahaan penerbitan besar sehingga mereka juga mengerjakan tugas-tugas akbar. 

Mbak Fida menjawab sambil mengunyah, "Fidkyk@#$÷?==@:#tan."

"Mbak, selesaikan dulu makannya lah … menjijikkan banget kedengarannya." Karna memandang kakak perempuan ke-duanya dengan risi. 

Mbak Fida menelan makanannya dan hampir tersedak, "Fid banyak pesanan jahitan. Fokus ke situ sih. Tapi masih bisa bantu-bantu kerja rumah kalo Ummi butuh."

Ummi tersenyum. Fida Dima' memang anak nomor dua tetapi dia sudah membantu keuangan keluarga sejak duduk di SMK. Tangan dinginnya menghasilkan pakaian dan karya-karya lain yang berhubungan dengan jahit-menjahit dengan sempurna. Sekarang, Mbak Fida mempunyai butik dengan lima orang karyawan. 

"Anak bungsu Ummi gimana?"

Karna menjawab sambil berpikir, "Boleh nggak Karna adventuring selama ramadan?"

Semua memperhatikan Karna, "Karna ingin mencari pengalaman baru dengan mengamati aktivitas orang dan mendapatkan hikmah dari kejadian-kejadian di sekitar kita."

"Apakah Karna tidak akan pulang selama ramadan?" Ummi Hawa menyelidik. 

"Pulaaang. Tapi mungkin nggak pasti pukul berapa nyampe rumah lagi karena nggak tahu apa yang akan dialami di hari itu." 

"Kamu sengaja gap year tahun ini buat ngelakuin ini ya?" Mbak Afsana memastikan pikirannya. 

Karna menggeleng, "Karna memang belum yakin akan kuliah atau tidak. Kalau apa yang ingin Karna mulai ini berhasil, insyaallah Karna tidak akan memasuki perguruan tinggi."

Mbak Fida menghela napasnya lumayan keras. Semua menanti kelanjutan helaan napas tadi. Mbak Fida sepertinya akan berbicara tetapi dia ragu dan menelan kembali kata-katanya. 

"Kalau ada yang mengganjal, diomongin aja, Fida," ujar Mbak Afsana, "biar nggak ada beban di hati."

"Mbak sudah menyiapkan dana buat kamu kuliah. Ummi juga sepertinya punya tabungan buat Karna. Iya kan, Mi?"

"Hm … itu juga uangnya Karna. Ummi hanya mengumpulkan semua hadiah dari kemenangan Karna di lomba-lomba yang diikuti. Kalau Ummi lihat terakhir kali, tabungannya sudah cukup membiayai kuliah sampai selesai." Ummi melirik Karna.

"Memang kamu mau ngapain sih?" Mbak Afsana mulai sengit, "Jangan kamu seperti Abi, ya." 

Mendengar perkataan Mbak Afsana, Mbak Fida merespon dengan mencubit lengannya yang terdekat. Ummi menundukkan kepala. Karna mendelikkan matanya. 

Setelah beberapa saat, Ummi kembali menegakkan kepalanya dan berkata, "Kita hargai saja keputusan Karna. Toh, dia sedang berusaha mencari jalan yang ingin dia tempuh. About Abi, kalau memang menjadi luka bagi kalian, tidak usah diungkit-ungkit lagi ya, Nak."

Makan malam hari itu berakhir dalam diam. Mbak Afsana mungkin menyesali ucapannya dengan membawa luka itu kembali. Ramadan kali ini adalah tahun ketiga setelah mereka kehilangan Abi Ardhi.

~***~

"Allahumma bariklana fi rojaba wa sya'ban wa balighna romadhon." Ummi Hawa membaca doa di awal Bulan Rajab tahun ini. "Yaa Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan Ramadan. Aamiin Ya Robbal'alamiin." 

Karna mengambil tangan Umminya, menciumnya dan menggenggamnya. Ummi mengelus kepala Karna dengan lembut. Mereka baru selesai mengerjakan salat magrib. Karna tidak sempat ke masjid karena terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi. 

"Apa itu siniar?" Ummi tiba-tiba bertanya. 

"Ummi pasti nyuri baca artikel-artikel di atas meja Karna, kan?"

Ummi menyernyih karena ketahuan, "He-eh. What's that?"

"Karna mo bikin acara yang sedang naik daun. Mungkin kalau dengan video akan lebih menarik tapi Karna hanya akan menggunakan kekuatan suara saja." 

"Memang suaramu persis seperti suara Yeo Jin Goo yang dari Korea Selatan itu tu. Berat tapi memberi dampak mengesankan." 

 

 

 

 

 

Dwi

0 0

Dwi

Karna sedang berlatih membaca manuskrip yang sudah dipersiapkannya dua hari yang lalu. Dia meminta bantuan Mbak Afsana buat mengedit kata-kata yang dirangkainya. Karna juga "menodong" Mbak Fida membelikannya mikrofon yang pantas untuk merintis podcast-nya. 

Karna berlatih keras untuk menghasilkan rekaman yang bagus. Pada awalnya, dia lumayan tersendat membaca rangkaian tulisan di naskah. Semakin dia mencoba semakin lancar lidahnya bergerak. Dia juga belajar memakai intonasi yang benar dan menarik. Suaranya memang cocok untuk melakukan siaran tetapi jika tidak pandai mengolah vokalnya, rekamannya akan menjadi kaku dan tidak luwes. 

"Ooh … siniar itu podcast toh. Ummi baru tahu kalo itu padanan katanya." Ummi Hawa membawakan Karna salad buah yang baru saja selesai dibuatnya. 

"Iya, orang lebih kenal bahasa Inggrisnya. Sama kayak online-offline, nggak banyak yang tahu padanannya daring-luring." Karna merespons pernyataan Ummi Hawa. 

"Kapan sih kamu mulai menyiapkan semua ini?" Ummi Hawa menunjuk barang-barang yang Karna kumpulkan. 

"Well, about six months ago. Karna tertarik dengan podcast karena bisa show tunggal gitu dan bisa dikerjakan sendiri semua-muanya. Mungkin kalau sudah punya nama bisa ngebentuk tim, but now, I'll be doing it alone."

Karna bercerita kalau dia mencari informasi tentang siniar di internet. Dia melakukan riset apa saja yang harus disiapkan sebagai pemula. Karna mengacungkan mikrofon portabel yang dibelikan Mbak Fida. Kemudian membuka lemari belajarnya dan mengambil sebuah mikrofon lagi. 

Karna menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, "Karna sudah beli yang ini buat solo karir tapi trus pengen punya yang bisa dibawa kemana-mana. Who knows, I'm going to need it someday."

"Nakal ya … ," Ummi berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. 

Karna menaruh kembali mikrofon jack-of-all-trade miliknya. Dia membeli produk itu karena dananya yang terbatas. Dia tidak mau meminta ke Ummi Hawa dan belajar menabung untuk kebutuhannya sendiri. 

"Gimana? Sudah dicobakah mike yang Mbak beliin?" Karna setengah terkejut dengan kedatangan Mbak Fida yang mulus tanpa suara. Untung dia sudah menutup pintu lemarinya. Ummi Hawa pun sedikit menarik diri karena terperanjat. 

"Ketuk pintu dulu, napa?" Ummi Hawa menegur Mbak Fida sambil memegang dada. 

Mbak Fida hanya nyengir kuda dan mendudukkan dirinya ke atas dipan Karna. Dia mengambil lembaran-lembaran kertas yang tersusun rapi dengan penanda yang berwarna-warni dan mulai membacanya. 

"FortodayIwanttotalktoyouaboutme …." Mbak Fida membaca dengan kecepatan kilat. 

"Kalau begitu siarannya, nggak mungkin ada yang mo dengerin." Ummi Hawa berbisik keras ke Karna sambil mengerling ke arah Mbak Fida.  

"Kan cuma melafalkan yang tertulis. I'm not the speaker." Mbak Fida mengelak.

Karna mengambil manuskrip awal podcast-nya. Karena ini yang pertama, dia tidak mau melakukan kesalahan terlalu banyak biar tidak kehabisan waktu untuk merekam lagi dan lagi. Bila sudah terbiasa, mungkin dia hanya perlu membuat kerangka naskah atau bullet point saja. 

"Mic dari Mbak berfungsi dengan sangat baik. Kemaren Karna cobain buat merekam si Endut lagi tidur. Coba dengar!" Suara dengkuran kucing terdengar sangat jernih. 

"Masya Allah. Boleh nih buat pengantar tidur kalau Ummi lagi insomnia." Ummi Hawa menikmati lengkuran Endut dengan memejamkan matanya. 

Karna tersenyum melihat Ummi Hawa yang sedang merasa nyaman dengan "senandung" kucing kesayangannya. Si Endut selalu mencari Ummi Hawa setiap kali ingin tidur. Dia tidak peduli dengan berat tubuhnya yang membuat siapapun terbebani untuk menggendong atau memangkunya. Ummi Hawa pasti mengeluarkan suara "Hek" ketika Endut melepaskan bobotnya dan menumpang pulas di atas perut tipisnya. 

"Kok nggak heboh gitu ya? Cuma ini persiapannya?" Mbak Fida mengitari pandangannya. 

"Iya. Yang agak repot kerjanya tu pas editing dan mixing. Yang jelas, Karna harus menghasilkan rekaman yang jernih tanpa noise biar proses berikutnya juga mudah. Kalau cepat selesai, tinggal upload deh." 

"Kalau gitu, kamu butuh ruangan kedap suara, nggak sih?" komentar Mbak Fida. 

"Nggak mesti kok, Mbak. Too much money kalau harus menyiapkan ruangan khusus pula. Yang penting pas ngerekam, nggak ada gangguan suara yang berlebihan. Mudah-mudahan bisa tertutupi dengan background melodi atau lagu yang ditambahkan sewaktu mixing." Karna menjawab dengan yakin. 

"Suara mesin jahit Mbak bisa ngganggu tuh. Kamar kita nggak jauh-jauh amat. Trus, belum lagi suara teriakan Mbak Afsana kalo lagi nonton film kesukaannya." Mbak Fida kembali ragu. 

"Diakali saja dengan menutup pintu rapat-rapat atau kalau perlu dilapisi sesuatu biar lumayan kedap suara. Kalau harus dijadwalkan waktunya, ntar nggak pernah kelar rekamannya karena kita semua beraktivitas dan kadang memang bersuara." Ummi Hawa memberikan masukan.

Karna, Ummi Hawa, dan Mbak Fida mendiskusikan how to seal kamarnya Karna dari kebisingan, paling tidak mengurangi volumenya. Bagian-bagian kamar yang memiliki lubang mungkin akan coba dilapisi atau disisipi sesuatu yang bisa menahan noise dari luar. Ummi Hawa bilang akan menambah karpet di kamar Karna. Karpet yang tebal dapat meredam suara sekaligus mempercantik suasana. 

"Loh, pada di sini ternyata. Bad sempet bingung kok nggak ada orang. Lagi ngapain?" Mbak Afsana mengambil tangan Ummi Hawa dan menciumnya. 

Fida kemudian mengajukan tangannya. Mbak Afsana yang sedikit latah, tanpa berpikir panjang menarik tangan Fida dan akan mengecupnya. Dia tersadar dan seketika punggung tangan Fida sudah menjadi korban gigitannya. 

"Aduh … aduh, duh, duh, duh." Mbak Afsana tidak mau melepaskan "mangsanya".

"Sorry … sorry … Mbak, please!" 

Drama keduanya berakhir. Dengan cepat Mbak Afsana mengedarkan pandangan dan berkata, "Kok nggak ada yang berubah? Mana dia podcast-nya?" 

"Lah, Mbak membayangkan apa? Apanya yang harus berubah?" Karna melebarkan kedua lengannya mewakili pertanyaannya. 

"Apa gitu. Kayak yang di Youtube itu loh. Ada mejanya, pake mikrofon gaya, dindingnya diapain gitu." Mbak Afsana memakai gerakan badan untuk menambah efek omongannya.

"Itu sih vodcast, video podcast. Kalau itu memang persiapannya lebih mendetail dan dana yang dikeluarkan tidak sedikit. Perlu kerja tim kalau itu sih." Karna bicara sambil mengumpulkan bahan-bahan yang akan digunakannya. 

"Jadi, kalau kamu apaan?" tanya Mbak Afsana. 

"Karna ingin memulai podcast audio saja. Kayak radio gitu. Dan yang mau Karna tampilkan adalah cerita-cerita yang Karna dapat di jalanan." 

"Bilang aja kamu mau traveling terus." Mbak Fida menyenggol Karna dengan sikunya. Karna tersenyum lebar. 

"Apakah kamu akan meminta Mbak untuk mengedit naskahmu terus?" Mbak Afsana menaikkan alis matanya menggoda Karna, "Kalau iya. Mbak akan minta fee-nya."

"Kamu ini. Belum juga mulai, sudah minta bayaran. Don't count your chicken before the eggs hatch." Ummi Hawa menyela Afsana dan ….

"Jangan menghitung ayam-ayammu sebelum dia menetas." Mbak Afsana mendahului Ummi Hawa biar tidak berbicara lebih jauh. 

"So, kapan mulainya, Dik Karna? Mbak Fida mengulurkan tinjunya seakan mewawancarai Karna. 

"Insyaallah sepuluh hari sebelum puasa ramadan. Karna mau orang-orang terbiasa dulu. Jadi pas bulan ramadan, mereka akan tetap mencari setelah selesai salat tarawih. Doakan semoga apa yang Karna lakukan berkah dan bermanfaat bagi semua." 

"Aamiin Ya Robbal'alamiin." 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Arie Windiasari
Bidadari Tiga Sayap
Felita Sukanti
Dua Sisi
dimdim
cat
Zumrotus Sholih...
Sama dalam tapak

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil