Loading
2

1

12

Genre : Keluarga
Penulis : Salwa Safarina
Bab : 30
Pembaca : 9
Nama : Salwa Safarina
Buku : 1

Serpihan Hati yang Tak Utuh

Sinopsis

Namaku salsa. Seorang putri dari keluarga yang sederhana. Peristiwa yang terjadi di dalam keluarga ibu membuat aku belajar banyak tentang kehidupan yang sesungguhnya. Ternyata tidak semua kebaikan di balas dengan kebaikan. Tidak semua amanah yang diberi mampu diemban dengan baik oleh seseorang. Salah satu pesan dari kedua orang tuaku yang selalu ku ingat, bahwa berbuatlah baik kepada siapa pun bukan karena orangnya melainkan berbuatlah baik hanya karena Allah. Niatkan untuk ibadah dan meraih pahala serta ridhoNya.
Tags :
Keluarga, Kepercayaan

Bagian 1

2 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 38

- Kelompok 24

- Jumlah Kata 338

***

Pagi itu udara di sekitarku terasa sangat dingin menusuk kedalam tulangku, hingga membuat tidurku yang lelap terbangun. Tepat jam tiga dini hari aku terbangun. Mataku yang masih setengah sadar melihat setiap sudut kamar mencari satu barang yang aku cari untuk membantuku menghangatkan tubuh yakni selimut. Selimut berwarna biru tua dengan corak pulkadot putih itu berada tepat di bawah tempat tidurku. Tanganku mulai meraih selimut yang tepat berada di bawah kasur, terjatuh karena posisi tidurku yang tidak bisa diam di tempat. Ketika aku hendak mengambil selimut terdengar suara gonggongan anjing dari arah luar rumahku.

“Berisik sekali” ucap diriku di dalam hati.

Suara anjing itu terus menggonggong di depan rumahku. Sehingga aku tak bisa melanjutkan tidurku lagi. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur dan kuberanikan diri untuk mengusir anjing di luar rumah yang sedang menggonggong itu.

Aku berjalan turun dari kasur dan melangkahkan kaki keluar kamar membuka pintu kayu berwarna putih sambil mengusap kedua mataku agar aku dapat melihat dengan jelas. Anjing itu terus menggonggong, kali ini gonggongannya terdengar lebih keras dari sebelumnya. Kulihat keluar dari balik gorden ruang tamu, anjing itu menoleh kearah jendela tepat melihat ke arahku dan mata kami saling beradu diikuti dengan suara gonggongannya yang ikut terhenti. Seketika bulu kudukku merinding saat anjing yang berwarna hitam kecoklatan itu melihat kearahku.

Astagfirullahalazim” Ucap diriku kaget sambil menutup gorden.

“Aduh, takut gimana ini usir jangan ya”

Selagi pikiranku berkutat antara mengusir dan tidak, anjing itu melanjutkan gonggongannya di depan rumahku kali ini gonggongannya semakin keras seperti hendak memberitahukan kepadaku sebuah informasi.

Akhirnya setelah bergelut dengan perasaan, aku memutuskan untuk tidak mengusir anjing itu dan kembali ke kamar.  Aku kembali pergi ke kamarku yang berukuran lima kali empat meter cukup luas dan ada kamar mandi di dalamnya. Ketika aku beranjak pergi ke kamar tak sengaja kulihat tulisan yang ku tempel di dinding kamar dekat meja belajar yang isi tulisannya berbunyi. 

“Hey ingat! Allah gak akan mengubah siapapun kecuali kita itu mau berusaha untuk mengubah diri kita sendiri!” Masih males aja? Hey ingat apa impianmu! Lakukan sekarang atau menyesal kemudian!”

Bersambung...

 

Bagian 2

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 38

- Kelompok 24

- Jumlah Kata 388

***

Seketika hatiku pun terusik dengan kalimat yang telah aku tulis dikala itu. Kemudiaan ku lihat jam di dinding masih menunjukkan angka tiga lewat lima belas menit. Dalam benakku terfikir.

“Alhamdulillah masih ada waktu untuk solat tahajud”

Akhirnya kakiku melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dan akupun melaksanakan solat tahajud sebanyak empat rakaat. Memanjatkan doa, memohon ampunan, mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan karunianya kepadaku di kehidupan ini, ketika itu pula suara anjing yang menggonggong itu akhirnya menghilang.

Tak terasa waktu berlalu, aku yang duduk sambil berzikir setelah solat tahajud mendengar suara adzan subuh berkumandang. Aku yang duduk di atas sajadah bulu berwarna coklat bangkit untuk mengerjakan solat subuh, dan setelahnya aku melanjutkan tilawahku. Ketika aku sedang asik dengan bacaan al-qur’an yang ku baca, tiba-tiba terdengar langkah kaki berlari ke arahku dan membuka pintu kamarku yang berukuran lima kali empat meter itu.

“Dek, dek! Nenek dek! ayo cepat kita pergi ke rumah uwa!” Dengan nada cemasnya kakaku memberitahu.

Tak pikir panjang akupun langsung menaruh al-quran di atas meja belajarku dan langsung berlari di belakang kakakku menuju rumah uwa. Saat kami sampai di depan rumah uwa, terdengar suara teriakan dan tangisan dari dalam rumah. Deg! Jantungku berdebar sangat kencang, kakiku gemetar mendengar suara tangisan dan teriakan dari dalam rumah uwa. Kakakku yang berada di depanku kini sudah masuk kedalam rumah uwa.

Aku yang berada di depan pintu rumah perlahan melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah, semakin aku masuk kedalam rumah uwa suara tangisan dan teriakan itu semakin keras. Dan akhirnya aku melihat semua keluarga berada di ruang tengah dengan suara isak tangis dan raut wajah sedih yang mereka tampakkan terlihat sangat jelas. Mereka saling berpelukan dan menenangkan satu sama lain. Di sisi lain aku melihat bibi menangis histeris sampai akhirnya pingsan dan dibawa oleh pamanku ke kamar untuk dibaringkan, dan pada akhirnya sudut mataku melihat seseorang yang terbaring di ruang tengah. Seseorang yang tak asing lagi bagi kami. Ia ditutupi oleh selembar kain samping berwarna cokelat. Kulihat wajahnya terlihat sangat pucat dan matanya terpejam. Ia dipeluk oleh kakakku yang sejak tadi sudah berada di dalam rumah mendahuluhiku. Dengan perlahan aku mendekati mereka jantungku berdetak lebih kencang, rasanya seperti adanya tombak yang menusuk kedalam jantungku, sakit. Air mataku pun tanpa komando keluar dengan sendirinya, dan akhirnya aku mulai berteriak.

“Nenek! Ya Allah nenek! Innalillahi wainnailaihi rojiun”.

Bersambung...

Bagian 3

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 353

***

Dengan berlinang air mata aku dan kakakku memeluk jasad nenek kami yang sudah terbujur kaku. Dingin ku rasa di seluruh tubuh nenekku itu. Namun, terlihat raut wajahnya yang tersenyum, dan tercium wangi dari tubuh jasad nenekku itu.

“Masyaallah, insyaallah nenek husnul khotimah, ahli surga ka, aamiin..” Ucap diriku pada kakaku sambil menenangkannya yang masih belum menerima kenyataan bahwa nenek sudah tiada.

Benar di hari itu keluarga besar kami merasakan sakit yang luar biasa seperti tersambar petir di pagi hari kehilangan seseorang yang kami cintai. Di hari itu, putra dan putri nenek yang tinggal cukup jauh belum tiba, termasuk dengan ibuku. Di sisi lain pengeras suara masjid mulai terdengar mengumumkan ke pulangan nenek ke Rahmatullah, banyak orang yang mulai berdatangan silih berganti untuk mendoakan almarhumah nenek. Hari itu semua orang sangat sibuk.

Keranda dan tempat pemandian jenazah sudah di ambil oleh mang Asep dan beberapa orang lainnya dari masjid. Kemudian nenekku yang sudah tak bernyawa digotong ke halaman belakang rumah untuk  segera dimandikan. Si sisi lain pun aku melihat semua  saudaraku sibuk menelepon keluarga kami yang tinggal di luar kota sambil menangis mereka memberitahukan bahwa nenek kami sudah tiada. Tak lama setelah dimandikan, nenek dibalut oleh kain ihram yang sebelumnya menjadi wasiat nenek ketika sudah tiada, barulah setelah itu nenek dibalut oleh kain kafan.

Kami yang berada di ruangan itu tak hentinya meneteskan air mata sambil membaca al-qur’an dekat dengan jenazah nenek yang sudah rapi dibalut dengan kain kafan dan ditutupi oleh kain samping yang berwarna cokelat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, keluarga jauh mulai berdatangan namun ibu dan ayahku belum juga tiba. Akhirnya kakakku menelepon ibu untuk menanyakan keberadaan mereka sekarang

“Assalamu’alaikum, bu sudah sampai mana? nenek mau segera di makamkan” ucap kakaku.

“Waalaikum’salam, ibu dan ayah sekarang masih di perjalanan kak, masih jauh, tunggu ibu dan ayah sebentar lagi ya tolong sampaikan.” ucap ibuku dengan nada lirih dan terdengar isak tangis dari kejauhan sana.

“Baik bu, kakak sampaikan pada semua anggota keluarga. Hati-hati ya bu di jalan, assalamu’alaikum.”

“Iya ka, waalaikum’salam.” kakakku menutup telepon dan memberitahukan kepada keluarga besar kami untuk menunggu sebentar lagi.

Keluarga pun mengiakan permohonan kakakku.

Bersambung...

Bagian 4

0 0

-Sarapan Kata KMO Bacth 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 307

 

Tepat pukul 12 siang dan azan zuhur berkumandang, dari luar terdengar suara motor ayahku. Aku langsung menghampiri kedua orang tuaku yang baru saja tiba dari perjalanan jauhnya sambil membawa segelas air putih hangat untuk mereka. Namun, air hangat yang kubawa tidak sedikit pun disentuh.
 
Mereka langsung berlari menuju jenazah nenek terutama ibuku. Aku melihat dengan jelas pertama kalinya ayahku menangis, terlihat raut wajah sedihnya, matanya merah dan mengeluarkan air. Ibuku yang sudah berada dekat dengan jenazah nenek menguatkan dirinya untuk tidak hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Ibuku meminta untuk di bukakan kain penutup wajah nenek untuk melihat wajah terakhir ibunya, ibuku berkata.
 
"Teh, hoyong ningali sekedap we. insya allah abdi kiat."
ucap ibuku kepada kakaknya
"Hegae, tapi tong dugika eta cai soca adeug ka umi".
"Muhun". timpal ibuku.
Ketika kain cokelat yang menutupi wajah nenek kami di buka. Sontak ibuku dengan raut wajah yang sedih itu tersenyum melihat nenek sambil berkata.
"Masyaallah, umi meuni bersih, geulis, hapunteun umi abdi teu acan tiasa ngabagjakeun umi, insya allah umi husnul khotimah".
"Aamiin" semua keluarga serentak mengaminkan ucapan ibuku itu.
 
Kemudian nenek pun di pindahkan ke dalam keranda dan ditutupi oleh kain keranda yang berwarna hijau berbahan beludru yang halus, bermotifkan ayat suci Al-Quran yang dibordir dengan warna kuning keemasan. Akhirnya nenek di bawa ke masjid untuk di salatkan. Semua anggota keluarga menyalatkan nenek di masjid dekat dengan rumah kami bersama beberapa tetangga.
 
Setelah selesai menyalatkan nenek, kami pun melangkah bersama mengantarkan nenek ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saat kami baru saja keluar dari masjid, dari arah jalan saudaraku yang bersekolah di Bandung tiba dengan kondisi yang membuat kami sekeluarga kembali menangis. Ia tak sempat melihat wajah terakhir nenek kami. Ia berkata kepada ibunya dengan nada lirihnya dan menangis,
 
"Ibu nenek bu, nenek". sambil mengulurkan tangannya.
Namun, tanpa disadari ia kehilangan keseimbangan dan kesadarannya dan akhirnya ia jatuh pingsan.
 
Bersambung...

Bagian 5

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 358

 

Kemudian saudaraku dibawa oleh orang tuanya ke depan teras masjid untuk di baringkan. Selagi saudaraku di bawa ke teras, untuk mengembalikan kesadarannya. Kami melanjutkan perjalanan kami untuk mengantarkan almarhum nenek kami ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
 
Di perjalanan kami menuju pemakaman yang berada di atas gunung. Semua orang yang mengantarkan nenek mengucap kalimat tauhid "La illah illallah". Kami yang berada tepat di belakang keranda nenek terus mengucap kalimat tauhid itu. Dua puluh menit berlalu, akhirnya kami telah sampai di pemakaman. Di sana sudah ada beberapa orang yang telah menunggu yaitu mang Cecep dan mang Aris tukang gali kubur dan beberapa orang lainnya.
 
Akhirnya keranda nenek pun di turunkan oleh beberapa orang yang menggotong keranda tersebut. Dan perlahan jasad nenek kami yang sudah di balut dengan kain kafan di angkat dan di keluarkan dari dalam keranda untuk di masukkan ke dalam liang kubur. Terlihat uwa kami anak laki-laki satu-satunya nenek mengangkat nenek untuk di baringkan di dalam kubur. Saat itu, banyak sekali orang-orang yang mengantarkan nenek ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
 
Saat nenek mulai di turunkan ke liang kubur, semua orang mengucap kalimat tauhid termasuk dengan diriku dan semua anak serta cucu-cucunya. Seketika air mata kami kembali menetes, kembali rasa sakit dalam dada terasa sangat sesak. Kami saling memeluk satu sama lain sambil melihat terakhir kalinya tubuh nenek kami.
 
Setelah itu nenek di adzani dan perlahan tanah pun menutupi jasad nenek kami. Prosesi pemakaman akhirnya selesai. Di tutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh Pak ustad. Beberapa orang satu per satu meninggalkan tempat pemakaman. Semua keluarga kami menghampiri makam nenek kami, dan kembali mendoakan nenek yang sudah berada di alam yang berbeda.
 
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore hari. Dari kejauhan terdengar suara adzan. Kami pun akhirnya meninggalkan makam nenek untuk pergi kembali ke rumah uwa. Sesampainya di rumah kami semua saling menatap satu sama lain. Terasa sekali ada sesuatu yang hilang dari dalam hati kami semua. Kenangan kami bersama nenek silih berganti dalam pikiran kami. Di sisi lain aku melihat ibuku dan adik perempuannya berada di kamar tempat nenek kami menghabiskan masa hidupnya saat sedang sakit. Mereka saling berpelukan dan tak hentinya mengeluarkan air mata.
 
Bersambung...

Bagian 6

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 346

 

Aku beranjak dari tempatku duduk melihat keadaan di luar untuk mencari suasana baru, agar hatiku merasa sedikit tenang. Saat itu waktu menunjukkan pukul empat sore hari. Udara di sekitarku terasa dingin, angin berhembus membawa dedaunan kering. Ku dongkakkan kepalaku ke atas, langit terlihat mulai gelap dan awan-awan hitam keabu-abuan mulai berkumpul menjadi satu. Siap untuk mengeluarkan berton-ton air hujan yang akan membasahi bumi.
Dalam hati aku berkata,
 
"Hari ini langit pun menyaksikan ke pergian nenek kami dengan rasa sedih. Semoga nenek selalu bahagia di sisi Allah, aamiin".
Tak lama kemudian tetesan air mulai berjatuhan dari langit. Membasahi setiap tumbuhan, benda dan makhluk yang Allah ciptakan. Aku yang sedang berada di luar rumah uwa asik menikmati suasana ini. Namun, tak lama hujan semakin deras, dan angin semakin kencang. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah agar terhindar dari rasa dingin.
 
Akhirnya aku masuk ke dalam rumah uwa dan kembali berkumpul dengan keluargaku. Tak ada banyak perbincangan di antara kami semua. Karena kami masih sangat berduka atas wafatnya nenek kami di hari itu.
"Allahu Akbar Allahu Akbar" terdengar suara adzan magrib berkumandang dari beberapa masjid di sekitar rumah.
Kudengar dari arah luar suara kaki ibu-ibu berdatangan ke dalam rumah uwa dengan mengucap salam,
 
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, silahkan bu masuk ke dalam" Ku jawab dari dalam rumah.
"Iya neng" jawab salah seorang ibu-ibu.
Kemudian mereka membentangkan sajadahnya merapihkannya agar tidak ada celah untuk syaitan mengganggu ibadah kami. Setelah adzan magrib telah selesai berkumandang dan seluruh ibu-ibu siap melasakan shalat magrib. Akhirnya kami pun melaksanakan shalat magrib berjamaah. Di pimpin oleh uwa ku sebagai imamnya.
 
Tiga rakaat shalat magrib telah selesai kami laksanakan. Kemudian kami berdiri kembali untuk melaksanakan shalat sunah gaib. Setelah itu dilanjutkan membaca Al-Quran surat yasin bersama-sama dengan mengkhususkan pada almarhumah nenek kami. Setengah jam berlalu, ibu-ibu yang telah selesai membaca al-quran satu persatu berpamitan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Diikuti oleh beberapa anaknya yang ikut pula datang ke rumah uwa untuk shalat berjamaah. Aku bersama kakak, ayah dan ibu pun berpamitan pada keluarga yang ada di rumah uwa untuk pulang ke rumah kami untuk beristirahat.
 
Bersambung...

Bagian 7

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 377

 

Sesampainya kami di rumah, ayahku berkata pada ibuku.
“Bu, ayah lapar, masak sesuatu ya.”
“Iya yah, mau makan apa?” jawab ibu
“Apa aja bu untuk mengganjal perut” ayahku menjawab sambil memegang perutnya yang sudah kelaparan.
“Baik yah, ibu masak ya.” timpal ibu.
Akhirnya ibu pergi ke dapur untuk memasak dibantu olehku dan kakakku.
“Bu mau masak apa sekarang?” tanya diriku.
“Enaknya masak apa ya de?
“Mie aja bu, yang simpel gak harus cape masaknya hehe.” jawab kakakku .
“Setuju bu.” jawabku.
“Baiklah kalau begitu, ambilkan mie di dalam lemari tiga bungkus ya de, kakak ambilkan telur di kulkas, ibu motongin bawangnya ini.”
“baik bu” ucap aku dan kakakku.
 
Ibu pun memasak mie untuk makan malam kami hari itu, tercium aroma bawang yang di goreng oleh ibuku. Kemudian telur dan beberapa potong sayur di masukkan ke dalam wajan .
 
“Emmm, wangi sekali bu, ayah sudah tidak sabar nih untuk cepat makan.” sahut ayah dari arah ruang tengah yang dari tadi mengoceh terus meminta makan.
“Iya yah, sebentar lagi matang.” teriak ibu agar suaranya terdengar oleh ayah yang sedang asik nonton televisi di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian masakan ibu sudah matang. Aku di suruh ibu untuk membawanya ke ruang tengah.
“De, tolong ini mie nya di bawa ke sana ya, hati-hati panas. Kakak juga tolong ambilkan piring dan sendok ya. Ibu akan bawa nasinya.” pinta ibu kepada kami.
“Baik bu, laksanakan!” jawab kami serentak, dengan memperagakan sikap siap layaknya seorang tentara.
 
Ibu yang melihat itu tertawa melihat perilaku aku dan kakakku. Aku senang ketika melihat ibu kembali tersenyum, sedikit melupakan kejadian duka hari ini.
 
Dari ruang tengah ayah terdengar suara ayah memanggil kami, memotong percakapan kami di dapur. Akhirnya kami pun membawa makanan malam kami ke ruang tengah. Ayahku berkata.
 
“Masyaallah wangi sekali, ayah sudah tak sabar untuk menyantapnya, bu sini ambilkan piring dan nasi untuk ayah.”
“Baik yah sebentar, yang sabar yah, jangan lupa berdo’a dulu. Jangan sampai syaitan ikut makan makanan yang kita makan. Ayah pimpin do’anya ya.” Ujar ibu sambil memberikan sepiring nasi kepada ayah.
“Siap bu. Anak-anak mari kita baca do’a dulu sebelum makan, berdo’a di mulai, bismillahirohmanirohim allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaawa qinaa’adzaa bannar, aamiin.”
Kami pun menyantap makanan yang telah ibu masak. Namun, ada rasa yang kurang saat kami berempat makan bersama.
 
Bersambung...

Bagian 8

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 359

 

Ya, saat itu kami teringat kembali sosok nenek. Ketika menyantap makanan yang telah di masak oleh ibu. Di ruang tengah mata kami semua tertuju pada sebuah kursi sofa berwarna hijau tosca yang ditaruh di samping dekat jendela. Sofa itu mengingatkan kami pada almarhumah nenek, karena semasa hidupnya sofa ini menjadi tempat duduk favorit nenek kami dalam segala aktivitasnya, mulai dari makan, membaca, sampai tilawah al-qur’an. Ayahku berkata sambil terlihat wajahnya yang sedih.
 
“Bu, lihat sofa ini ayah jadi teringat nenek. Semua kegiatan nenek sehari-hari selalu di sofa ini kan, ayah merasa nenek ada di sini bersama kita bu.”
“Iya yah, ibu pun merasakan hal yang sama. Bahkan ibu merasa nenek sekarang ini sedang tersenyum melihat ke arah kita semua. Menertawakan setiap perilaku anak-anak kita bahkan lawakkan ayah.”
“Hemm ayah jadi rindu suasana itu bu, setelah makan kita semua do’akan nenek ya, semoga nenek tenang dan selalu bahagia di sisi Allah Swt. Aamiin.”
“Aamiin Ya rabbalalamin.”
 
****
Hari-hari pun berlalu, kami kembali melakukan rutinitas kami masing-masing. Ibu dan ayahku yang tinggal merantau untuk bekerja di luar kota kembali bekerja di sana. Sudah satu bulan setelah ke pergian nenek. Aku pun yang masih menempuh pendidikan di bangku kuliah mulai kembali di sibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Begitu pula dengan kakakku yang sudah bekerja mulai kembali bekerja dan sibuk dengan semua kerjaannya. Serta keluarga lainnya yang sibuk pula dengan aktivitasnya masing-masing.
 
Dua bulan telah berlalu, kondisi dan suasana hati kami kembali normal, namun tetap rasa kehilangan itu masih membekas di dalam hati kami. Untuk mengobati hati kami, setiap minggunya keluarga besar selalu berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi, mengadakan acara setiap bulannya dengan berziarah ke makam nenek, kakek dan sanak saudara lainnya. Kemudian setelah itu kami mengadakan acara masak dan hiburan lainnya. Kami semua berkumpul, bercengkerama, membicarakan banyak hal, membuat rencana dan lain sebaginya. Tak lupa sebelum memulai acara yang kami lakukan adalah mengaji terlebih dahulu mendo’akan nenek dan semua sanak saudara yang telah tiada.
 
Kebiasaan ini adalah salah satu ajaran yang diberikan oleh nenek. Untuk sama-sama selalu menyayangi, menghormati dan menjaga satu sama lain. Sehingga ketika nenek dan anggota keluarga tertua sudah tiada, kebersamaan dalam mempererat tali silaturahmi ini tetap ada dan terjaga.
 
Bersambung...

Bagian 9

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 326

 

Pada suatu hari aku di sibukkan dengan adanya program KKN dari universitas yang harus di ikuti oleh semua mahasiswa. Saat itu program yang aku dapatkan adalah MLH Manajemen Lingkungan Hidup di suatu desa yang tak jauh dari desaku. Program yang kami rencanakan yakni di antaranya membuat pupuk kompos, menanam sayur dan bumbu dapur, membuat kerajinan dari sampah/barang bekas dan juga beberapa program yang di adakan di desa salah satunya mengajarkan kesenian pada anak-anak di desa tersebut.
 
Aku mengajarkan kesenian bersama teman kkn ku yang bernama Reihan, ia adalah salah satu partnerku di Universitas dan ia pun adalah sahabatku di desa. Jadi sudah tidak asing lagi bagi kami melakukan tugas ini dalam kegiatan KKN. Reihan adalah sahabatku yang lihai dalam kesenian terutama dalam bidang alat musik tradisional dan modern juga pandai dalam menyanyi. Saat kami ditugaskan sebagai pelatih kesenian di desa tersebut ternyata di desa itu pun akan melaksanakan perlombaan kesenian antar desa.
 
Aku dan Reihan pun bersemangat dalam melatih anak-anak desa tersebut, karena antusiasme anak-anak yang luar biasa. Setiap hari kami berlatih, selama tiga minggu dan tibalah hari di mana perlombaan antar desa dilaksanakan. Karena jerih payah dan kesungguhan anak-anak dalam berlatih, akhirnya desa tempat kami kkn mendapatkan juara pertama. Kami semua merasa senang dan bersyukur.
 
“Alhamdulillah aa teteh kita juara satu” seru salah seorang anak yang kami latih dan memeluk kami diikuti beberapa anak yang kami latih.
“Masyaallah Alhamdulillah ya dek, selamat ya. Ini adalah hasil dari kerja keras kalian dalam berlatih. Aa dan teteh bangga sama kalian.” Ucap Reihan kepada semua anak-anak sambil tersenyum.
“Tapi, jangan pernah puas ya, kalian harus tetap berlatih. Mencari dan mengeksplor hal yang baru, okey?” Ucap diriku.
“Insyaallah teteh aa, kami akan terus belajar. Terima kasih ya atas ilmu yang aa dan teteh berikan kepada kami.”
“Dengan senang hati adik-adik”. Ucap diriku dan reihan.
 
Akhirnya waktu KKN kami telah selesai. Pada saat perpisahan dengan para aparat desa aku dan reihan di panggil ke ruangan pa kades untuk membicarakan sesuatu.
 
Bersambung...

Bagian 10

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 348

 

“Nak Reihan dan Salsa, terima kasih banyak bapak ucapkan pada kalian berdua karena sudah melatih anak-anak di desa kami, hingga mendapatkan juara.”
“Sama-sama bapak, dengan senang hati kami senang melakukan hal ini pa.” Ucap reihan sambil menundukan sedikit kepalanya.
“Alhamdulillah kalau begitu. Jadi maksud bapak mengajak kalian berdua ke sini untuk membicarakan tentang program kalian dalam bidang kesenian. Apakah kalian tertarik untuk mengembangkan dan mengelola sanggar di desa ini? dan bapak percayakan untuk ke pengurusannya oleh kalian berdua, bagaimana?.”
 
Aku dan reihan saling lirik satu sama lain, bingung untuk menjawab permintaan bapak kepala desa tempat kami kkn. Sambil mengirim sandi siapa yang akan menjawab pertanyaan pak kades. Akhirnya reihan yang menjawab pertanyaan pak kades.
 
“Emm.. bagaimana ya pak, sebenarnya kami mau saja pak, tapi apa tidak akan menjadi masalah jika kami yang mengelola sanggar yang akan bapak buat nanti di desa ini?”
“Hahaha, tidak akan nak reihan, tenang hal ini sudah saya bicarakan dengan jajaran saya dan mereka setuju. Untuk gajih kalian melatih anak-anak akan di bayar setiap satu bulan sekali. Insyaallah tidak akan telat dan lumayanlah untuk menambah jajan kalian hehe.” ucap pak kades dengan nada ramahnya sambil tersenyum kepada kami.
“Emm. Kalau begitu bisa saya diskusikan ini terlebih dahulu pak dengan teman saya? dan apakah bapak bisa memberi kami waktu untuk menjawab pertanyaan bapak?” pinta reihan.
 
“Oh iya tentu nak reihan. Silahkan kalian pikirkan dulu. Kalau sudah menemukan jawabannya silahkan beri tahu bapak ya. Ini nomor telepon bapak. Kalian bisa langsung hubungi bapak kok.” jawab pak kades.
“Baik kalau begitu pak, terima kasih atas pengertiannya. Kami pamit, nanti akan saya kabari ya pak tentang hal ini.” sanggah reihan.
“Iya nak reihan. Hati-hati ya kalian semua di jalan, sampaikan salam dan terima kasih bapak pada keluarga kalian.” ucap pak kades.
“Iya pak insyaallah akan kami sampaikan. Baik pak kami pamit, Assalamu’alaikum”.
“Waalaikum’salam”
 
Kami pun bersalaman dengan pak kades dan menuju pada teman-teman yang sudah menunggu di luar.
 
Di perjalanan menuju rumah kami masing-masing. Aku dan reihan sibuk membicarakan tentang tawaran pak kades untuk mengelola sanggar kesenian di desanya. Sedangkan teman-temanku yang lain sudah terlelap karena merasa lelah.
 
Bersambung...

Bagian 11

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 404

 

“Sa, gimana tawaran pak kades ambil aja ga nih?” tanya reihan.
“Ayo aja rei aku mah. Itung-itung menyalurkan hobi kita ga sih?”
“Betul banget sa, apalagi ini kan lumayan kita di bayar. Lumayan kan jadi kita gak akan nganjuk lagi di warung bu enok hahaha.” timpal reihan tertawa sambil menepuk bahuku.
“Stttt reihan! tong gandeng ih. Bisi barudak kaganggu.” ucap diriku.
“Iya sa, iya khilaf aku teh.” ucap reihan sambil menghentikan tawanya dan terlihat pipinya memerah tanda malu.
“Yaudah besok langsung konfirmasi aja ke pak kades. Biar si bapak gak nunggu lama ya rei.”
“Okey, siap bu bos hehe”.
 
Akhirnya tak terasa kami pun sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Keesokan harinya reihan memberi kabar kepadaku bahwa ia sudah menghubungi pak kades. Dan pak kades terdengar senang. Pembangunan sanggar seni pun di laksanakan di desa tersebut aku dan reihan pun ikut serta dalam melihat dan membantu ibu-ibu yang memberi makan pada pegawai bangunan yang bekerja.
***
 
Satu bulan berlalu, gedung sanggar seni yang di buat oleh pak kades akhirnya selesai. Semua warga di desa tersebut terlihat sangat antusias karena anak-anak mereka akan belajar dan berlatih di sangar seni yang di buat oleh pak kades dengan tanpa adanya biaya sepeser pun alias gratis. Kemudian semua warga tersebut mengadakan syukuran gedung sanggar seni baru di desa itu, termasuk aku dan reihan ikut pula dalam acara syukuran tersebut.
Setelah acara syukuran di adakan, pak kades menghampiri kami.
 
“Nak reihan dan nak salsa. Alhamdulillah nih sanggar sudah selesai kita bangun. Kalian bisa mulai mengajar minggu depan. Untuk satu minggu sekarang bapak akan mengisi sanggar dengan alat-alat musik dan atribut lainnya ya.” Ucap pak kades.
“Oh iya baik pak, insya allah kami akan datang minggu depan.” Jawab reihan.
“Kalau begitu kami pamit ya pak. Karena hari sudah mulai gelap. Khawatir pak ini salsa nanti di cariin mamahnya. Saya yang di omelin nanti hihi.” Ucap reihan mengejekku.
“Reihan atuh kamu mah ih” ucap diriku dengan nada yang pelan sambil menyikut tangan reihan.
Reihan hanya tertawa melihat tingkahku.
“Haha, sudah-sudah, iya betul nih kata nak reihan. Lagi pula sebentar lagi kan malam. Pegawai bapak yang akan mengantar kalian kali ini ya. Karena bus jam segini sudah jarang ada. Dan bapak juga khawatir dengan keselamatan kalian.” Ucap pak kades.
“Oh iya pak baik. Dengan senang hati. Terima kasih banyak bapak.” Ucap aku dan reihan.
“Iya sama-sama nak.”
Akhirnya aku dan reihan di antar pulang oleh pegawai desa yang di tunjuk oleh pak kades.
 
Bersambung...

Bagian 12

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 361

 

Hari-hari pun berlalu, tak terasa sudah enam bulan lamanya aku dan reihan menjadi pelatih di sanggar itu. Hari-hari yang kami lewati bersama anak-anak sungguh menyenangkan. Semangat mereka setiap harinya tak pernah padam. Membuat aku dan reihan yang terkadang lelah karena tugas kuliah yang menumpuk terhibur dengan segala keceriaan dan semangat yang di beri oleh anak-anak sanggar.
 
Pada suatu hari angin semilir datang dengan menyentuh lembut kulitku, membuat peluh yang ada di tubuhku sedikit demi sedikit menghilang dengan sentuhannya. Siang ini sang surya bersinar begitu terangnya. Aku yang berada di sisi jalan raya menunggu bus tak hentinya mengucap syukur kepada sang pencipta atas nikmat sehat yang diberikan kepadaku.
 
Aku yang duduk di halte bersama dengan temanku reihan menunggu kedatangan bus yang sudah dua jam tak kunjung tiba, Karena udara yang cukup panas, reihan yang berada disampingku telah menghabiskan tiga kaleng teh botol yang di beli dari tukang asongan.
 
“Ah panas sekali udara hari ini ya sa” ucap reihan sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang di bawanya.
“Iya, rei udah enam bulan ini hujan gak turun-turun kan, udah masuk musim kemarau juga sih ini.” jawabku.
“Huaaa iya, mana lama banget ini bus gak dateng-dateng udah dua jam kita nunggu disini sa.” Serunya terlihat jengkel.
“Sabar rei, bentar lagi juga sampai busnya.”
Memang akhir-akhir ini cuaca di daerah tempat tinggalku sedang tak bersahabat. Kucuran hujan enam bulan lalu yang terakhir mengguyur kampungku.
 
Hari ini aku bersama reihan akan pergi ke tempat sanggar kami yang berada tak jauh dari pusat kota. Setelah reihan hendak membeli teh botol yang ke empat bus pun tiba, aku langsung memanggil reihan karena tak ingin ketinggalan bus dan harus menunggu dua jam kembali.
 
Reihan pun berlari dan langsung masuk ke dalam bus. Saat aku dan reihan masuk ke dalam bus, aku tak melihat ada bangku yang kosong dan terpaksa berdiri dan berpegangan pada sisi-sisi kursi bus bersama reihan dan bersama penumpang lainnya yang tidak mendapat tempat duduk, dan kami saling berdesakan. Tak lama kenek bus meminta ongkos bus, aku pun mengambil uang yang ada di dalam saku tasku yang ku gendong di depan sebesar tujuh ribu rupiah. Bus yang kami tumpangi berbeda dengan bus yang ada di kota-kota besar.
 
Bersambung...

Bagian 13

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 401

 

Bus ini termasuk bus yang bebas. Para penumpang bebas membawa hewan ternaknya seperti kambing maupun ayam, diperbolehkan untuk naik ke dalam bus. Ada juga penumpang yang membawa sayur-mayur, barang-barang dagangan, sembako, rumput pakan hewan-hewan ternaknya dan masih banyak lagi. Bau yang menyerebak di dalam bus sudah bersahabat denganku dan reihan. Namun, bau itu tak terlalu membuat aku terganggu, karena angin dari luar sedikit membuat bau di dalam bus berkurang.
 
Kecepatan bus lama-kelamaan semakin kencang, karena amang tukang bus mengejar setoran. Aku yang tak kebagian tempat duduk bergoyang ke kanan ke kiri ke depan ke belakang sambil memegang dengan erat sisi kursi. Satu jam berlalu, akhirnya bus yang kami tumpangi tiba di daerah tempat tujuan kami.
 
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ya sa. Huaaa aku pegel banget nih sa. Mana perjalanan kita masih jauh harus jalan kaki dulu.” Keluh reihan.
“Iya yang sabar atuh rei. Niatkan untuk ibadah coba, biar rasa lelahnya jadi berkah dan pahala. Jangan jadi ngeluh gitu atuh, masa kamu kalah sama aku yang perempuan hehe.” Ucap diriku sedikit mengejek.
“Hemm, iya iya sa. Tapi, sebentar dong istirahat dulu tuh di warung mang abay. Kita beli minum dulu, aku haus nih”
“Oke rei. Hayu aku juga haus nih.”
Aku pun mengikuti reihan dari arah belakang menuju warung mang abay untuk membeli minuman.
“Assalamu’alaikum, mang abay sehat?” Ucap reihan sambil melambaikan rangannya dari kejauhan.
“Eh jang reihan neng salsa. Waalaikum’salam. Alhamdulillah sehat amang. Kumaha ujang neng daramang atuh?” Jawab mang abay sambil menghampiri kami.
“Alhamdulillah mang damang sehat wal’afiat. Tingali atuh mang meuni jagjag kieu abdi hahaha.” Jawab reihan sambil bersalaman dengan mang abay. Diikuti dengan aku yang ikut bersalaman juga.
“Alhamdulillah mang abdi oge damang. Ah mang si rehan mah titatadi ngeluh wae cape. Eta mah sepik we hoyong kapeunteun ku amang hihihi” Ucap diriku mengejek reihan.
“Naon sih kamu mah sa. Ngaledek aku wae” Ucap reihan terlihat kesal.
“Iya atuh maaf aa reihan nu kasep sejagat raya tea hahaha.”
“Ih naon sih ai kamu pikasebeleun!”
“Atos-atos atuh, hayoh wae lamun kadieu teh sok pasea. Kade ah bisi keteh raresep geur hahahaha.” Ucap mang abay mengejek kami.
“Ih amit-amit da!” ucap kami serentak.
“Adeuhhh, geuningan bener nya meuni kompakkan ngajawabna hahaha.”
“Atos ah mang hereuyna. Abdi hoyong cai kalapa di es an nya mang.” ucap reihan.
“Neng salsa bade?” ucap mang abay.
“Muhun, samikeun we mang sareng reihan.”
“Adeuhhh, selalu kompak euy hihihi.” Ucap mang abay tak berhenti mengejek kami.
 
Bersambung...

Bagian 14

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 371

 

Mang abay pun membuatkan dua gelas es kelapa yang kami pesan. Aku memesan es kelapa dengan campuran gula merah, sedangkan temanku reihan memesan air kelapa dengan campuran gula putih. Kemudian kami pun meneguk air kelapa yang di buatkan oleh mang abay tersebut.
 
“Alhamdulillah, nikmat pisan.” Ucap diriku.
“Seger neng?”
“Iya mang, seger pisan. Cocok untuk udara yang panas ini.”
“Betul betul betul. Nuhun mang.” Ucap reihan.
“Siap sami-sami”.
 
Lima belas menit berlalu, aku dan reihan yang sudah selesai menghabiskan es kelapa di warung mang abay, beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke sanggar. Akhirnya kami berpamitan dan hendak membayar es kelapa yang kami minum.
 
“Mang jadi sabaraheun es kalapa teh?” Tanya reihan.
“Ahh teu kedah jang. Gratis buat kalian mah.” Jawab mang abay.
“Eh, tong kitu atuh mang, kan amang nuju usaha.”
“Wios jang.” Jawab mang abay sambil tersenyum ramah.
“Sa, gimana atuh ini ih gak enak aku mah.”
“Sama aku oge, pokoknya kita harus bayar rei. Emm atuh gini aja we, kamu simpan uangnya di tangan mang abay, terus kita langsung lari aja. Gimana hihi?” Jawab diriku pada reihan berbisik.
“Ide bagus, aba-aba dari aku ya, hitungan ke tiga kita lari. Ok?”
“Siap!”
“Satu, dua, tiga! ini mang abay uang untuk es kelapa yang kita minum. Hatur nuhun pisan mang abay. Assalamu’alaikum” Tangan reihan yang cekatan menaruh uang di tangan mang abay kemudian berlari menjauhi mang abay, sambil melambaikan tangan.
“Eh, Waalaikum’salam, eleuh budak teh nya! aya-aya wae kalakuanna. Nuhun atuh nya, kin mah amang moal tertipu. Hahaha. Hati-hati di jalan sing salamet.” Teriak mang abay sambil melambaikan tangan.
“Muhun mang, hapunteun nya hihi.” Teriak reihan sambil berlari.
 
Aku dan reihan pun sudah berada cukup jauh dari warung mang abay. Langkah kaki kami pun berjalan dengan normal. Reihan yang jarang sekali olahraga mengeluh kembali, karena perutnya merasa sakit setelah minum langsung di ajak berlari oleh diriku.
”Sa, sa, sa bentar ih. Istirahat dulu, jalannya pelan-pelan aja, sakit perutku kalikiben ini.” Ucap reihan sambil memegang perutnya yang sakit.
“Eh, iya rei. Sok atuh duduk dulu di sini. Nih pake minyak kayu putih biar angket perutnya.”
“Iya sa, makasih ya.”
“Iya sama-sama rei.”
 
Akhirnya kami berhenti sejenak, untuk mengembalikan kondisi rei yang sakit perutnya akibat berlari setelah selesai banyak minum di warung mang abay.
 
Bersambung...

Bagian 15

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 336

 

Setelah sepuluh menit kami beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sanggar dengan berjalan santai. Kudongkakkan kepalaku ke atas dan kulihat matahari kini sudah tidak terlalu terik dari sebelumnya, ada beberapa awan yang berada di bawahnya sedikit mengurangi udara panas yang menghampiri kami.
 
Dan juga terasa tiupan angin yang membuat keringat kami menghilang dari tubuh. Kulihat jam tangan yang ku pakai yang berwarna hitam dengan plat silver, jarum jam menunjukkan angka dua lewat lima menit.
 
“Rei, kita udah telat 30 menit nih.” Ucap diriku pada reihan dengan cemas.
“Eh iya ya sa. Gak apa-apa atuh, kan kita telat juga karena nunggu bus yang datangnya telat.”Jawab reihan menenangkan.
“Iya sih, kira-kira anak-anak sanggar masih nungguin kita gak ya rei?”. tanya diriku masih merasa cemas.
“Yaelah, masih atuh pastinya sa. Gak mungkin mereka pulang pasti nunggu kabar dari kita dulu. Yaudah aku telepon si diyo ya biar kamu tenang.”
“Iya rei.”
“Halo, assalamu’alaikum yo?”
“Waalaikum’salam a reihan? masih dimana? ini anak-anak udah nungguin a reihan sama teh salsa.” Jawab diyo.
“Eh iya maaf ya bilangin ke anak-anak ini sebentar lagi kita sampai. Tadi ada masalah sedikit di perjalanan hehe.”
“Oh iya a siap. Diyo kasih tahu anak-anak. Hati-hati di jalan a.”
“Iya yo. Makasih ya, aa tutup dulu ya, assalamu’alaikum.”
“Sama-sama a, waalaikum’salam.”
“Gimana rei?” tanya diriku.
“Aman.” jawab reihan sambil menunjukkan jempol tangannya.
“Alhamdulillah.”
 
Perjalanan kami menuju sanggar tinggal lima belas menit lagi dengan berjalan kaki. Jarak yang lumayan masih jauh. Di sepanjang jalan menuju tempat sanggar kami mengajar, terdapat pohon-pohon duku yang sudah berusia puluhan tahun yang berderet rapi di sepanjang jalan dengan jarak yang teratur sekitar 6-10 meter jaraknya. Pohon duku itu sedang berbuah, terkadang aku dan reihan memungut buah duku yang jatuh dan yang masih bagus. Sebagai camilan saat kami dalam perjalanan.
 
Akhirnya aku dan reihan tiba di sanggar kecil kami, disana sudah ada beberapa anak didik kami yang datang dan duduk di lantai menunggu kami yang datang terlambat. Saat kami datang mereka langsung menyambut kami, dan bersalaman. Aku pun langsung menyapa anak-anak dengan bersemangat.
 
Bersambung...

Bagian 16

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 337

 

“Assalamu’alaikum anak-anak”
"Waalaikum’salam”
“Maaf ya hari ini teteh sama a reihan datang terlambat. Karena tadi ada sedikit masalah di perjalanan.”
“Iya teh gak apa-apa kok, tadi a diyo udah ngasih tahu kita kok hehe.” Jawab salah seorang murid sanggar.
“Syukur deh kalau begitu.”Aku pun lega mendengarnya.
“Emm.. gimana nih semangat hari ini untuk latihan?."
“Semangat! pastinya dong ka!” ucap mereka serentak.
“Sudah siap?”
”Sudah sangat siap dong teh hehe! lihat kita membawa sesuatu untuk teteh dan aa loh.”
“Apa-apa, bawa apa kalian dek?” Ucap reihan dari arah belakang, menyerobot masuk untuk melihat apa yang dibawa oleh anak-anak.
 
Reihan yang berada di belakangku dan terlihat lemas sejak tadi, tiba-tiba menjadi bersemangat mendengar hadiah. Dan mendesak maju kedepan. Aku yang melihat perubahan ekspresinya yang berubah drastis setelah mendengar hadiah langsung menyikut lengannya sambil melotot. Reihan yang tahu ekspresiku langsung mengontrol antusiasmenya, dan tersenum malu. Menandakan bahwa ia memita maaf.
 
“Ini teh, a kita bawa tas yang satu buat teh salsa yang ini buat aa reihan.”
“Waahh, hebat bagus banget dek! bener kalian yang buat?" Ucap diriku.
“Iya teh kita semua yang buat ini pakai cinta dan kasih sayang hihi.”
“Masyaallah makasih yaa de” ucap diriku sambil memeluk anak-anak.
“Dengan senang hati teh.” Mereka pun membalas pelukanku.
 
Aku yang menerima hadiah tas selempang rajut berwarna cokelat muda kehitaman dengan renda berwarna cokelat tua merasa senang sekali, karena sudah lama tidak menerima hadiah dari siapa pun.
Reihan pun merasa senang sekali, matanya berkaca-kaca dan ikut memeluk anak-anak sambil mengucapkan terima kasih. Ya, memang sahabatku yang satu ini orangnya selalu gampang tersentuh, walaupun ia seorang lelaki tapi hatinya lembut. Di samping itu, walaupun reihan adalah sahabatku yang punya sisi jail dan kadang membuatku sebal atau marah, aku tetap menyayanginya. Dia adalah sahabat terbaik yang sampai sekarang ku miliki.
***
 
Setelah anak-anak memberikan hadiah. Aku dan reihan langsung membuka pintu sanggar. Di dalam sanggar hanya terdapat satu ruangan yang lebarnya sekitar 10 kali 12 meter dengat tinggi atap lima meter. Terdapat satu ruang ganti dan dua kamar mandi. Serta satu ruang peyimpanan alat-alat kesenian.
 
Bersambung...

Bagian 17

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 391

 

Kami pun langsung memulai latihan. Kali ini jadwal latihan menari dan bernyanyi. Aku mengajarkan menari, sedangkan reihan temanku mengajarkan anak-anak bernyanyi. Murid kami selama satu tahun ini baru ada 35 orang anak. Dari yang masih berumur lima tahun sampai yang berumur delapan belas tahun. Aku sangat menikmati pekerjaan ini. Di samping kesibukan aku dan reihan yang sedang berkuliah. Ternyata kami masih bisa membagi waktu antara kuliah dan melatih anak-anak dalam kesenian.
 
Tak terasa waktu berlalu, jam dinding yang berada di ruang sanggar menunjukkan angka empat lewat tiga puluh menit. Sesuai dengan jadwal latihan, pukul empat lewat tiga puluh menit adalah waktu latihan selesai. Aku dan reihan pun berpamitan pada anak-anak.
 
“Nah, latihan hari ini kita sudahi dulu ya adik-adik. Insya allah kita bertemu lagi tiga hari kedepan jangan lupa pr yang sudah aa dan teteh berikan untuk kalian ya. Tetap berlatih di rumah.” Jelas reihan.
“Baik aa dan teteh, insya allah kami semua akan berlatih dengan giat biar nanti ketika jadwal latihan kami semua sudah siap dan hafal setiap gerakan dan nyanyian yang sudah aa dan teteh ajarkan.” Ucap salah seorang anak.
“Terima kasih ya aa dan teteh untuk hari ini.” Ucap diyo.
“Iya sama-sama. Tetap jaga kesehatan ya kalian, tiga hari kedepan kita ketemu lagi ya insya allah, aamiin.” Ucap diriku.
“Insyaallah teh, aamiin.”
“Yasudah, aa dan teteh pamit pulang duluan ya.”
“Iya a, teh hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai rumah. Waalaikum’salam.”
 
Aku dan reihan pun meninggalkan sanggar, dan berjalan pulang menuju rumah kami. Sesampainya di depan gang besar ternyata bus yang akan kami tumpangi sedang mengetem di sana. Tanpa aba-aba kami pun langsung masuk ke dalam bus, karena takut tertinggal lagi seperti tadi siang.
Warung mang abay yang terlihat di sebrang jalan sudah terlihat tutup karena sudah pukul lima sore hari.
 
Tak lama bus pun melaju, di perjalanan aku dan reihan tertidur karena merasa lelah. Kali ini kami mendapatkan kursi untuk duduk. Sehingga kami bisa beristirahat dengan nyaman. Satu jam berlalu, reihan mengguncangkan badanku dan memanggil namaku.
 
“Sa, bangun sa, sebentar lagi kita sampai.”
“Huaa.. ohiya rei. Makasih udah bangunin.” Ucap diriku setengah sadar.
“Iya sama-sama. Awas itu ketinggalan keresek bawaan kamu.”
“Iya rei, tenang aku inget kok hehe.”
Dari arah depan dekat dengan pintu bus, amang kenek berteriak.
“Abis, abis, abis!” sambil mengetuk kaca bus dengan uang koin lima ratusan.
Aku dan reihan pun bergegas untuk turun.
 
Bersambung...

Bagian 18

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 314

 

Hari-hari pun berlalu, sudah satu tahun lebih aku dan reihan mengajar anak-anak dalam bidang kesenian. Saat itu aku dan reihan sudah memasuki semester akhir, dimana kami sudah di sibukkan dengan kegiatan penelitian dan penyusunan tugas akhir kami atau yang sering di sebut dengan skripsi.
Selama satu tahun ini pula murid di sanggar tempat kami mengajar juga bertambah dan juga anak-anak akan mengikuti perombaan di kabupaten. Sehingga kami kewalahan hanya mengajar berdua saja. Akhirnya kami berdua berdiskusi dengan pak kades terkait hal ini untuk mencari solusi.
 
“Pak, jadi begini karena murid di sanggar semakin hari bertambah kami berdua kewalahan pak untuk mengajar hanya berdua saja. Disamping itu pula kami sekarang sulit untuk membagi waktu dengan tugas kuliah. Karena kami sudah masuk di semester akhir pak.” Jelas reihan kepada pak kades.
“Oh begitu ya nak reihan. Emm.. bagaimana kalau kalian rekrut teman, saudara atau siapa sajalah yang menurut kalian berpotensi dan layak untuk dijadikan pengajar disini. Bapak percaya kalian ahli dalam bidang ini.” Ucap pak kades.
“Kalau seperti itu baik pak, kami akan mencari orang untuk membantu mengajar di sanggar ya pak.”
Akhirnya aku dan reihan pun membicarakan orang yang akan membatu kami mengurus sanggar.
“Jadi gimana rei, siapa yang akan kamu ajak bergabung disanggar kita?” ucap diriku.
“Emm.. siapa ya, aku juga masih belum tahu sa. Kalau kamu gimana?”
“Aku juga belum kepikiran siapa orangnya.”
“Gimana kalau kita pikirkan dulu siapa orang yang tepat dan bisa dipercaya. Kita ketemu lagi minggu depan sudah ada keputusan ya sa.”
“Okey rei, aku setuju.”
 
Akirnya kami pun mencari orang yang tepat untuk menjadi pengajar di sanggar kami. Dan aku memutuskan untuk membawa uwa ku menjadi salah satu orangnya. Alasan aku memilih uwa, karena uwa adalah salah seorang dari keluargaku yang juga ahli di bidang kesenian, dan juga saat ini, uwa memiliki waktu luang yang cukup banyak. Sedangkan reihan membawa temannya seorang perempuan yang juga ahli di bidang kesenian.
 
Bersambung...

Bagian 19

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 435

 

Hari ini adalah hari pertama uwa dan teman perempuan reihan yang bernama Kia mengajar di sanggar kami. Anak-anak terheran- heran melihat aku dan reihan membawa orang lain ke sanggar, karena sebelumnya tidak ada satu orang asing pun yang pernah kami ajak ke sanggar. Akhirnya aku pun menjelaskan kepada anak-anak bahwa mereka akan di latih oleh uwa ku dan kia.
 
“Nah, jadi adik-adik perkenalkan ini adalah ibu rani dan ini teh kia, mereka akan membantu teteh dan a reihan melatih kalian.” Ucap diriku.
“Assiiiikkk... sanggar kita tambah seru ya teman-teman.” Ucap seorang murid dengan wajah yang gembira.
“Iyaa horeeee....” Ucap anak-anak sanggar serentak sambil bertepuk tangan.
“Nah, untuk beberapa hari ke depan teteh dan a reihan tidak akan datang dulu ke sanggar, karena ada tugas kuliah yang tidak bisa ditinggal. Jadi kalian akan di latih oleh bu rani dan teh kia ya adik-adik.” Jelas diriku.
“Oh begitu teh. Baik teh siap! semoga urusannya lancar”
“Aamiin.”
“Jangan nakal-nakal ya kalian dek! kalau kalian gak nurut sama bu rani dan teh kia aa dan teh salsa gak akan datang ke sanggar lagi pokoknya!” Ancam reihan dengan nadanya yang bercanda pada anak-anak sanggar.
“Ihhh atuh jangan gitu a reihan mah. Iya kita semua gak akan nakal kok, janji.”
“Bagus! anak pinter. I love you all hehehe.” Ucap reihan sambil membuat tanda hati dengan kedua jari tangannya. Sontak anak-anak meneriakinya.
“Huuuuuuu... a reihan mah aya-aya wae hahaha.”
“Sudah-sudah sekarang kalian bersalaman dulu ya dengan ibu rani dan teh kia, setelah itu di lanjut kita mulai latihannya. Ingat jangan kebanyakan main-mainnya ya. Sebentar lagi kita akan menghadapi perlombaan oke!” Ucap diriku.
“Asiaaappp teh!”
Kemudian anak-anak pun bersalaman dan memperkenalkan dirinya kepada uwa ku dan kia.
 
Setelah bersalaman, kami pun mulai berlatih untuk perlombaan yang akan kami hadapi satu bulan lagi. Kali ini aku di bantu oleh uwa ku melatih vokal anak-anak. Sedangkan reihan dan kia melatih gerak tarian anak-anak.
***
 
Waktu pun berjalan dengan cepat. Tiga pekan aku dan reihan tidak datang ke sanggar untuk melihat perkembangan anak-anak, karena di sibukkan dengan penelitian dan bimbingan tugas akhir. Hanya lewat video call saja kami berdua bisa memantau mereka. Setiap kali kami melihat mereka lewat video call, mereka terlihat sangat bersemangat berlatih untuk menghadapi perlombaan yang tinggal hitungan hari.
 
Aku dan reihan sangat senang karena kami berdua tidak salah dalam memilih orang untuk mengurus sanggar.
Uwa ku dan kia adalah orang yang tepat dalam bidang kesenian ini, mereka berdua memaksimalkan potensi yang dimiliki dan mentransfernya pada semua anak-anak yang akan ikut berlomba. Pak kades pun ikut senang melihat perkembangan anak-anak walaupun dalam tiga minggu ini aku dan reihan tidak datang untuk melatih mereka.
 
Bersambung...

Bagian 20

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 510

 

Waktu perlombaan pun tiba, sebelum berangkat aku, reihan, uwa, dan kia menyiapkan segala keperluan pentas anak-anak. Mulai dari kostum, peralatan yang akan di pakai saat pentas, riasan wajah, dan peralatan lainnya. Sebelum berangkat kami bersama-sama berdoa agar perlombaan yang akan di ikuti oleh anak-anak dapat berjalan dengan lancar dan dapat menampilkan yang terbaik. Kami semua berkumpul di dalam sanggar dengan pak ustad, pak kades, dan para orang tua anak-anak sanggar yang akan ikut berlomba. Kali ini doa di pimpin oleh pak ustad.
 
Doa pun selesai di lantunkan, kami pun berpamitan dengan pak kades dan semua orang tua yang hadir saat itu. Kami semua berangkat dengan menggunakan mobil berwarna hitam yang telah di sediakan oleh pak kades lengkap dengan supirnya.
 
Sesampainya di tempat perlombaan dan tiba waktunya anak-anak tampil, mereka terlihat sangat tegang. Karena ini kali pertama mereka mengikuti perlombaan. Aku, reihan, uwa dan kia menyemangati mereka semua serta memberikan arahan pada mereka ketika akan tampil. Mereka pun akhirnya merasa tenang.
 
Waktu mereka tampil pun tiba, kami yang melihat dan menunggu mereka tampil ikut merasakan ketegangan. Beberapa menit pun berlalu, akhirnya penampilan mereka selesai, di tutup dengan tepuk tangan para juri, dan saat itu aku pun melihat ada dua orang juri yang berdiri saat penampilan mereka selesai. Kami yang melihat itu pun merasa bangga pada anak-anak sanggar kami, karena mereka terlihat sangat kompak, tidak ada satu pun kesalahan gerakan yang sudah mereka pelajari, dan juga tidak terlihat sedikit pun raut wajah tegang yang nampak pada saat mereka tampil.
 
Setelah itu, mereka pun keluar dari panggung dan menghampiri kami.
“A reihan, teh salsa gimana tadi penampilan kita? maaf ya kurang maksimal.” Ucap amel.
“Gak ada yang kurang mel. Teteh bangga banget sama kalian.” Ucapku sambil memeluk mereka.
“Iya, masya allah keren banget pokoknya kalian tadi tampil tuh! sampai-sampai aa, teh salsa, ibu rani dan teh kia meneteskan air mata, terharu melihat penampilan terbaik kalian.” Ucap reihan menjelaskan.
“Ini adalah berkat kerja keras kalian dalam berlatih.” Sambung uwa ku.
“Iya betul apa kata ibu rani. Setiap hari kalian dengan gigih berlatih tanpa mengeluh, kami bangga dengan kalian.” Ucap kia.
“Tinggal kita tunggu pengumuman pemenang sore ini ya. Semoga hasilnya yang terbaik untuk kita semua. Jangan bersedih kalau pun nanti pengumumannya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Yang terpenting adalah kalian sudah menampilkan yang terbaik.” Jelas uwa ku.
“Iya betul sekali apa yang di katakan oleh ibu rani, kalah menang dalam perlombaan itu hal yang biasa dek. Tapi, semoga kita juara pertama yah hihihihi.” Ucap reihan pada anak-anak.
“Aamiin Ya Allah.” Ucap kami semua serentak penuh harap.
 
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, sore hari pun tiba dan tiba saat nya pengumuman pemenang perlombaan kesenian sekabupaten. Ketika di umumkan sempat kami putus harapan, karena dari juara tiga dan dua tidak ada nama dari grup kami. Tapi ternyata hal yang tidak kami duga sebelumnya, nama sanggar kamilah yang mendapatkan juara pertama. Sontak kami pun bersorak ria, saling berpelukan merasa bahagia mendapatkan juara pertama. Dan sebagai perwakilan pembina dan peserta, aku dan diyo lah yang mengambil piala dan beberapa hadiah lainnya untuk diberikan kepada anak-anak.
 
Bersambung...

Bagian 21

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 368

 

Anak-anak merasa senang karena telah mendapatkan juara pertama dalam perlombaan yang mereka ikuti untuk pertama kalinya. Semua warga desa pun ikut senang termasuk orang tua anak-anak yang mengikuti lomba. Begitu pun dengan pak kades ikut merasakan senang dan bangga terhadap anak-anak yang sudah meraih juara dalam perlombaan yang telah mereka ikuti. Untuk merayakan kejuaraan yang telah di raih oleh anak-anak, kami semua mengadakan acara syukuran di sanggar kami sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur kami kepada Allah SWT, yang telah memudahkan segala urusan kami.
***
 
Hari-hari pun berjalan dengan cepat, tak terasa aku sudah melaksanakan sidang skripsi dan dinyatakan lulus dengan nilai
terbaik dengan gelar sarjana di kampusku. Begitu pun dengan sahabatku reihan, ia pun lulus dengan nilai terbaik.
 
Kami berdua melaksanakan wisuda bersama, dan kembali mulai mengajar dengan rutin di sanggar kami. Siswa di sanggar kini sudah berjumlah 100 orang. Jadwal mengajar pun sudah mulai padat. Setiap harinya kami datang ke sanggar untuk melatih anak-anak. Di bantu juga oleh uwa ku dan kia.
 
Satu tahun pun berlalu. Sangar kami sudah mulai terkenal di berbagai desa. Bahkan anak-anak kota mulai berdatangan untuk menjadi murid di sanggar kami. Hal ini terjadi karena sanggar kami sudah memiliki banyak prestasi, sehingga di kenal oleh banyak orang. Selama kurun waktu satu tahun ini, sanggar kami memenangkan kejuaraan demi kejuaraan dalam bidang kesenian.
 
Dimulai dari seni tarik suara, seni tari, permainan alat musik tradisional modern, dan lain sebagainya. Sudah banyak sekali berjejer piala, piagam, dan medali penghargaan yang di berikan kepada anak-anak sanggar kami.
Ini semua tidaklah lain karena semangat anak-anak dalam berlatih dan juga karena mereka semua mencintai kesenian budaya indonesia. Sehingga walaupun semakin hari perkembangan zaman semakin maju, dan banyaknya budaya asing yang masuk tidaklah membuat anak-anak memutar haluan. Namun tetap dengan teguh mencintai dan melestarikan budayanya agar tidak hilang tergerus oleh zaman yang semakin berkembang.
 
Karena semakin banyaknya murid di sanggar kami, akhirnya aku dan reihan pun kembali merekrut teman kami yang juga ahli di bidang kesenian, dan mereka adalah orang yang kami percaya untuk melatih anak-anak di sanggar. Di tahun ini pula uwa ku yang usianya sudah menginjak 65 tahun sudah sering sakit-sakitan dan tidak kuat lagi untuk mengajari anak-anak. Sehingga uwa ku kembali dengan rutinitasnya di rumah.
 
Bersambung...

Bagian 22

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 408

 

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Aktivitas kami masih sama dari sebelumnya mengajar anak-anak di sanggar yang kini siswanya mencapai 150 orang. Setiap hari, ku habiskan waktu ku untuk mengajar di sanggar. Tak ada yang aneh, semua berjalan dengan normal. Namun, ketika tahun akan berganti, kami semua mendengar kabar bahwa akan adanya wabah yang datang ke negeri kami Indonesia, yakni covid-19.
 
Dengan begitu cepat wabah covid-19 itu datang ke Indonesia. Banyak orang-orang yang tumbang akibat wabah yang menyerang ini. Semua kegiatan dalam bentuk apapun untuk sementara waktu tidak di perbolehkan oleh pemerintah. Termasuk pelatihan anak-anak di sanggar. Kami semua tidak bisa kemana-mana dengan keadaan yang normal. Kini semua pertemuan serba di batasi. Sehingga untuk sementara waktu sanggar kami pun di liburkan dengan tanpa batas. Kami hanya memberikan tugas dan mengajari anak-anak lewat video yang kami kirim.
 
Banyak pula para pekerja di PHK karena perusahaan tidak bisa menggaji karyawannya di karenakan pemasukan perusahaan berkurang. Dengan adanya wabah covid-19 ini semua bidang perekonomian, kesehatan, pendidikan terkena dampaknya. Dalam hal ini a rio, putra uwa ku juga ternyata terkena PHK perusahaan, sehingga ia tidak dapat lagi bekerja. Dan sekarang menetap di desa kami.
Keadaan ini membuat semua orang mengalami dampaknya. Terutama krisis ekonomi yang membelit setiap orang terutama pada kalangan menengah ke bawah.
 
Uwa ku yang mengandalkan penghasilan dari anaknya kini sudah tidak dapat mengandalkannya karena putranya sudah di PHK oleh perusahaan. Sehingga uwa ku meminjam uang kepada kami keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
 
Setiap minggu uwa ku rutin meminjam uang kepada kami. Namun, dengan kondisinya saat ini yang tidak berpenghasilan membuatnya tidak dapat membayar hutangnya. Putranya tidak mengetahui bahwa ibunya sudah banyak meminjam uang untuk kebutuhan sehari-harinya dari mulai makan, bayar listrik, rokok, kuota dan lain sebagainya. Banyak hal yang di tutupi oleh uwa ku itu kepada anaknya.
 
Suatu hari aku sudah terdesak untuk memenuhi kebutuhanku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menagih uang yang telah uwa pinjam dariku.
 
“Uwa, udah ada belum uang teh? Aku butuh untuk keperluanku. Uang darurat dan simpanan ku sudah habis terpakai.” Ucap diriku.
“Belum ada hari ini mah. Besok lusa ya uwa bayar.” Jawab uwa.
“Oh iya uwa kalau begitu aku tunggu ya.”
“Iya, tenang aja. Itu si aa udah ada proyekkan lagi katanya.”
“Oh udah kerja lagi?”
“Iya, besok lusa udah ada uangnya ya.”
“Alhamdulillah kalau begitu uwa, siap.” Ujar diriku sambil kembali ke rumah.
 
Dengan tenang aku pun mendengar kabar ini, sehingga aku dapat membayar cicilan motor yang sudah menunggak dua bulan ini.
 
Bersambung...

Bagian 23

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 362

 

Dua hari pun berlalu, janji uwa untuk membayar uang yang ia pinjam padaku tak kunjung ada. Pikirku mungkin besok. Sampai beberapa bulan berlalu uwa belum juga mengembalikan pinjamannya. Ketika aku bertanya padanya, banyak sekali alasan yang di lontarkan. Dan terkadang juga sering sekali ketika kami berpapasan uwa seperti tidak melihatku. Dalam hatiku berkata “yasudah, mungkin memang belum ada”.
 
Karena adanya covid-19 ini membuat banyak kalangan yang mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan dan tak kunjung membaik, akhirnya pemerintah membuat program untuk membantu kalangan menengah ke bawah dalam memberikan bantuannya kepada kami dalam bentuk uang. Dan aku pun akhirnya bisa membayar cicilan motor yang menunggak beberapa bulan itu dengan bantuan pemerintah serta memenuhi kebutuhanku juga.
 
Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Namun, kali ini kondisi sedikit membaik, dan pemerintah memperbolehkan aktivitas di laksanakan namun terbatas. Sehingga aku bisa kembali melatih anak-anak sanggar, walaupun hanya dengan 10 orang saja per harinya.
 
“Alhamdulillah rei hari ini kita bisa melatih anak-anak lagi di sanggar ya.” Ucap diriku.
“Iya sa, Alhamdulillah pisan. Setidaknya kita bisa keluar rumah dan melepas kerinduan melatih anak-anak di sanggar.” Jawab reihan.
“Iya rei, walaupun latihan kali ini tidak seramai saat belum adanya covid-19. Kita harus tetap bersyukur ya.”
“Yapss. Harus dong sa.”
 
Kali ini, kami melatih anak-anak hanya berdua saja. Karena teman-teman yang lain mengundurkan diri dan beralih profesi membuka usaha sendiri.
***
 
Siang ini sangat terasa panas, terik matahari membuat kulitku terasa terbakar. Aku yang sedang menuju perjalanan untuk pergi ke sanggar meneduh di sebuah pohon besar. Kali ini reihan tidak bisa ikut denganku ke sanggar, karena reihan sedang ada urusan lain yang tidak bisa ia tinggalkan. Motorku pun sedang di pinjam oleh kakakku yang hari ini kembali memulai harinya untuk bekerja. Sehingga aku pergi ke sanggar menggunakan bus.
 
Saat aku berteduh sementara di bawah pohon besar. Tiba-tiba handphone ku bergetar. Langsung aku merogoh tas yang ku pakai untuk mengambil handphoneku itu. Saat ku lihat, terdapat dua pesan yang terlihat dari layar handphone. Pesan itu dari teh tika tetanggaku.
 
“Assalamu’alaikum neng salsa. Ini dengan teh tika.” Tulisnya di pesan whatsapp.
“Waalaikum’salam, iya teh tika ada apa?” Jawab diriku membalas pesan dari teh tika sambil terheran, karena jarang sekali teh tika mengirimkan pesan kepadaku.
 
Bersambung...

Bagian 24

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 352

 

"Maaf ya tiba-tiba ngirim pesan sama neng salsa. Teteh gak tahu harus ke siapa lagi minta tolong."
“Eh, emang kenapa teh, ada apa?” Jawab diriku khawatir.
"Jadi gini neng salsa. Sudah satu bulan ini uwa rani meminjam uang ke teh tika lima ratus ribu, janjinya satu bulan ini mau di bayar.
Teteh tenang aja karena mau di bayar. Tapi, pas teteh tagih ke uwa rani belum ada terus, dan setiap uwa rani lewat depan rumah teteh, uwa rani selalu menghindari teteh. Teteh bingung mau ke siapa lagi bilang ini. Karena teteh butuh uangnya sekarang untuk biaya pengobatan anak teteh. Suami teteh juga bingung karena gajiannya masih lama. Sedangkan kami membutuhkannya sekarang.” Balas teh tika dengan mengetik pesannya yang cukup panjang.
 
Setelah membaca pesan teh tika. Aku pun kaget bahwa uwa rani sudah meminjam uang kepada orang lain dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Aku merasa malu mendengar kabar ini.
 
“Ya Allah banyak teh. Emm.. sebentar ya teh nanti salsa tanyakan ke uwa semoga uangnya sudah ada. Maaf yah teh tika sudah menunggu lama.” Balas diriku.
“Iya neng salsa gak apa-apa, teteh juga terpaksa nanyain ini ke neng salsa. Karena bingung mau ke siapa lagi bilangnya.”
“Iya teh tika gak apa-apa, di tunggu ya kabarnya. Nanti aku hubungi lagi teh tika.”
“Iya neng salsa, makasih ya sebelumnya sudah mau di repotkan.”
“Enggak repot kok teh. Iya sama-sama teh.”
 
Akhirnya percakapan kami di whatsaap pun berakhir. Aku mendongkakkan wajahku ke atas. Melihat langit yang berwarna biru cerah dan terlihat burung-burung melintasi langit yang ku pandang terbang kesana-kemari dengan bebas. Sambil melihat itu aku melamunkan tentang masalah ini. Karena setelah uwa rani tidak lagi mengajar di sanggar dan anaknya di PHK. Sudah banyak pinjaman yang uwa ku itu lakukan pada semua keluarga termasuk aku dan selalu berjanji akan membayarnya dengan jangka waktu yang telah ia tentukan sendiri. Namun juga tidak pernah uwa ku tepati.
 
Dan kali ini uwa rani sudah mulai meminjam ke tetangga bahkan dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Aku pun memberi tahu ibuku tentang hal ini. Untuk mencari solusi agar masalahnya cepat terselesaikan. Selagi berteduh di bawah pohon aku langsung menelepon ibuku.
 
Bersambung...

Bagian 25

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 358

 

“Assalamu’alaikum bu.”
“Waalaikum’salam dek. Iya kenapa?” Jawab ibuku.
“Ibu lagi dimana? ada yang mau salsa bicarakan.” Ucapku serius.
“Ibu lagi di rumah dek, baru saja pulang dari sekolah.”
“Oh yaudah nanti aja deh salsa telepon lagi. Ibu istirahat dulu aja ya hehe.” Jawab diriku.
“Eh kenapa? kamu itu dimana?”
“Ini bu, salsa lagi di perjalanan menuju sanggar. Berteduh dulu ini di bawah pohon, soalnya udara disini sedang panas-panasnya.”
“Pakai payung dek, biar gak kepanasan atuh.”
“Lupa gak bawa bu hehe.”
“Eleuh kamu mah kebiasaan. Yaudah atuh hati-hati ya di perjalanan. Ini ibu ingin ke kamar mandi mau pipis dek udah gak kuat. Udah dulu ya nanti kita sambung lagi.
"Assalamu’alaikum”
“Eh iya bu. Waalaikum’alam.”
 
Kami pun mengakhiri percakapan kami di telepon. Tak terasa sudah dua puluh menit aku berteduh di bawah pohon besar itu. Ku lihat jam tanganku yang berwarna hijau army yang ku pakai, terlihat jarum jam menunjukkan pukul 12.50 tinggal sepuluh menit lagi jadwal latihan di mulai. Aku pun bergegas pergi dari pohon yang sudah membantuku dari serangan terik matahari yang cukup lebih panas dari hari biasanya.
 
Aku pun berjalan menuju sanggar dengan menaruh tas di atas kepalaku yang sedikit membuat kepalaku tidak langsung tersorot oleh sinar matahari. Walaupun peluh di wajahku mulai kembali membasahi tubuh dan wajahku. Akhirnya aku pun sampai ke sanggar tepat waktu, dan di sambut oleh anak-anak sanggar yang hari ini akan berlatih. Dari kejauhan anak-anak berlarian keluar untuk menyambutku.
 
“Eh itu teh salsa teman-teman.” Ucap amel.
“Teh salsa... Akhirnya dateng.” Ucap anak-anak yang lain sambil berlari menghampiri diriku.
“Eh anak-anak. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum’salam teh salsa ayo masuk kita sudah gak sabar nih mau latihan.”
“Iya dek siap ayo!”
“Eh, kalian mah baru aja teh salsa sampai. Biar dulu teh salsanya istirahat. Pasti lelah karena hari ini udara di luar cukup panas. Ini teh salsa minum dulu.” Ujar amel sembari memberikan satu gelas air putih kepadaku.
“Eh iya mel. Makasih ya mel.” Ucap diriku sambil menyeruput air yang diberikan oleh amel.
 
Setelah aku beristirahat selama lima menit, kami pun memulai latihan. Kali ini aku tidak ditemani oleh reihan, dan anak-anak sanggar pun sudah ku beri tahu sebelumnya sehingga mereka tidak menanyakan keberadaan reihan.
 
Bersambung...

Bagian 26

0 0
-Sarapan Kata KMO batch 38
-Kelompok 24
-Jumlah Kata 339
 
Latihan pun selesai. Seperti biasa aku pulang dengan menaiki bus yang harus aku tempuh terlebih dahulu dengan berjalan kaki melewati pohon duku yang berjejer sepanjang jalan selama 15 menit lamanya. Kali ini udara sudah terasa bersahabat dengan tubuhku. Angin sepoy-sepoy menemani perjalananku menuju bus. Membuat pejalananku yang sendiri tidak membosankan.
 
Aku pun menaiki bus yang sudah terparkir di depan gang. Dari sebrang jalan, warung mang abay terlihat masih belum tutup. Aku melambaikan tangan tanda berpamitan. Satu jam lebih berlalu aku pun sampai di rumah dengan selamat. Hari ini aku pulang tepat waktu, karena bus yang ku naiki tidak terlalu lama mengetem dan jalanan pun tidak macet. Aku yang baru sampai di rumah langsung mandi dan menyiapkan makan malam.
 
Malam pun tiba. Aku yang sudah mengisi perutku yang sejak sore meminta makan sudah terpenuhi keinginannya. Dan aku pun teringat ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan dengan ibu. Akhirnya aku pun mengambil ponselku yang ku taruh di atas meja belajarku yang berwarna cokelat muda untuk menelepon ibu. Suara nada sambung pun terdengar. Tak lama telepon ku di angkat oleh ibu.
 
“Halo, assalamu’alaikum. Iya dek gimana?” Jawab ibuku.
“Waalaikum’salam. Eh ibu sempat terpotong pembicaraan tadi siang ya hehe.”
“Iya dek. Sok mau cerita apa ke ibu teh?” Tanya ibu penasaran.
“Bentar ibu lagi apa dulu sekarang? Udah makan belum?”
“Sekarang mah ibu lagi istirahat aja di kamar. Makan ibu udah kok dek tadi sebelum magrib sama si ayah.” Jawab ibu.
“Oh iya syukur atuh kalau sudah makan mah. Ayah lagi apa bu?”
“Tuh lagi nonton tv kesukaannya. Yah nih di tanya adek.”
“Oyy, dek sehat sehat ya!” Ucap ayah terdengar dari kejauhan.
“Iya yah, ayah ibu juga sehat-sehat di sana.”Jawab diriku.
“Iya aamiin, jadi gimana dek?” Tanya ibu.
“Jadi gini bu, tadi siang tuh pas salsa lagi di perjalanan menuju sanggar, teh tika mengirim pesan lewat whatsapp. Bilang kalau uwa rani pinjam uang ke teh tika yang jumlahnya gak sedikit bu.” Jelas diriku.
“Ya Allah, berapa emangnya yang dipinjam sama uwa rani dek?”
“Lima ratus ribu bu.”
“Astagfirullah!” Jawab ibuku kaget.
 
Bersambung...

Bagian 27

0 0
-Sarapan Kata KMO atch 38
-Kelompok 24
-Jumlah Kata 461
 
“Iya bu. Salsa juga kaget pas baca pesan dari teh tika. Kata teh tika, uwa rani tuh janji kalau uang yang di pinjamnya mau di bayar setelah satu bulan. Dan pas teh tika butuh uangnya untuk pengobatan anak teh tika, uwa rani gak bisa nepatin janjinya, terus kalau papasan sama teh tika selalu buang muka si uwa teh bu. Tapi, kita semua tahu kan bu, uwa rani mau bayar pakai apa. Karena penghasilannya pun tidak ada. Salsa mau bantu, tapi salsa gak ada uang sebesar itu bu.” Jelas diriku.
 
“Ya Allah. Ibu jadi merasa malu dek. Kasian juga sama uwa kamu. Yaudah gini aja, besok ibu transfer uang ke rekening adek. Terus bayarin langsung yah ke teh tika. Alhamdulillah kemarin ibu ada rezeki.” Ucap ibuku memberi solusi.
 
“Oh iya baik bu. Besok langsung salsa kasih uangnya ke teh tika.”
“Iya dek. Terus pesan ibu, bilangin juga sama si teteh, kalau ada rezeki lebih atau makanan kasih yak ke uwa rani. Ibu jadi sedih denger kabar ini. Uwa rani harus kita bantu, karena si aa juga kan belum ada kerjaan lagi. Siapa lagi atuh yang bisa bantu selain kita sebagai keluarganya.”
“Iya bu, insya allah salsa sampaikan juga ke teteh.”
 
Keesokkan harinya aku pun membayarkan uang yang telah di pinjam oleh uwa rani ke teh tika dengan uang yang telah ibuku transfer. Teh tika terlihat sangat bahagia dan segera membawa anaknya pada saat itu juga ke rumah sakit bersama suaminya.
 
Setelah membayarkan hutang uwa rani. Aku pun memberi tahu uwa bahwa hutangnya sudah di bayar oleh uang yang telah ibuku kirim. Dan uwa rani mengucapkan terima kasih sudah membantunya.
***
 
Satu bulan berlalu, keseharian ku sama seperti bulan-bulan yang lalu. Pergi ke sanggar untuk melatih anak-anak. Namun, kali ini karena kondisi pandemi sudah sedikit membaik. Kegiatan masyarakat pun mulai berjalan dengan normal.
 
Di sore hari setelah aku pulang dari sanggar. Kakakku sudah tiba di rumah terlebih dulu. Karena terlihat sepeda motor beat berwarna hitam dengan plat F yang dimiliki oleh kakaku sudah terparkir rapi di halaman rumah. Aku pun datang dan membuka pintu sambil mengucapkan salam.
 
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum’salam.” Terdengar suara kakakku yang menjawab dari dalam rumah.
“Tumben teh pulang cepat. Biasanya isya baru sampai rumah.” Tanya diriku.
“Iya nih dek, alhamdulillah kerjaan hari ini di kantor gak begitu banyak jadi teteh bisa pulang cepet.” Jawab kakakku.
“Oh iya syukur atuh. Teh itu apa di keresek putih?” Tanyaku penasaran.
“Oh ini donat dek kesukaan kamu. Tadi pas teteh lewat keingetan adek. Yaudah teteh beliin buat kamu.”
“Alhamdulillah.Wah tumben-tumbenan baik sama aku teh ada angin apa nih, eh tapi makasih ya teh udah inget sama adikmu satu-satunya ini hihi.” Ucap diriku.
“Ih kan teteh mah emang baik hihi. Iya sama-sama dek.”
“Dek dek, tahu gak kabar sekarang tentang uwa rani.” Ucap kakakku membuat penasaran.
 
Bersambung...

Bagian 28

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 469

“Apa emangnya teh?”
“Itu, tadi teteh pas lewat rumah bibi dikasih tahu katanya uwa rani ingin segera menjual rumah nenek yang dipinggir jalan dek.”
“Wah yang bener teh? Kan itu peninggalan nenek dan kakek satu-satunya.”
“Iya dek, mungkin karena terdesak dengan kebutuhan sehari-harinya. Jadi jalan satu-satunya ya itu mengandalkan peninggalan dari nenek.”
“Terus udah ada yang mau belinya teh?” Tanya diriku.
“Belum dek, kata bibi santi masih nawar-nawarin ke orang lain.”
“Oh gitu teh.”
“Iya dek. Ya semoga terjual dengan harga yang sesuai.”
“Aamiin.”
 
Setelah membicarakan tentang itu, aku pun melanjutkan memakan donat dengan topping cokelat kacang keju yang sudah di belikan oleh kakakku.
***
 
Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar bahwa rumah nenek sudah terjual dengan harga yang sudah di sepakati bersama. Pembagian harta warisan hasil dari penjualan rumah nenek pun dibagikan dengan rata pada kesepuluh orang anak nenek.
 
Hari-hari pun berlalu, kali ini setelah uwa rani mendapatkan hasil warisan nenek. Uwa rani tidak pernah datang ke rumah kami lagi, bahkan untuk menyapa pun sekarang tidak pernah. Sering kali aku melihat uwa rani pulang pergi dengan membawa barang belanjaan. Di rumahku uwa nani, bi santi, cika, vani, dimas, dan yang lainnya berkumpul terkecuali dengan uwa rani untuk makan bersama. Sambil kami berkumpul kami semua membicarakan atas perubahan sikap uwa rani setelah mendapatkan warisan nenek.
 
“Bi, kenapa ya itu si uwa rani jadi berubah gitu?” Tanya diriku pada bi santi.
“Iya sama bibi juga ngerasa gitu, sekarang udah jarang pisan main ke rumah. Biasanya juga tiap hari ke rumah.” Ujar bi santi.
“Emm.. kenapa setelah uwa sudah mendapatkan uang warisan nenek jadi berubah gini ya sikapnya?” Ucap kakakku.
“Mungkin udah gak butuh kita kali teh.” Ucap cika saudara sepupuku.
 
“Bisa jadi tuh. Jadi inget apa kata orang, uang bisa merubah kepribadian seseorang.” Timpal vani yang juga merupakan saudara sepupuku.
“Ya, mungkin kemarin tuh sering ke rumah kita karena lagi butuh uang aja. Sekarang udah punya uang banyak jadi udah gak perlu sama kita lagi tuh bi. Lihat aja nanti sok kalau uangnya habis dan kalau gak di pakai untuk investasi atau buat usaha lihat aja balik lagi sama kita minta bantuannya.” Ucap dimas sedikit culas.
“Ih iya tuh bener apa kata dimas!” Ucap cika dan vani serentak mengiakan pernyataan dimas.
 
“Huss! udah jangan gitu kalian teh. Sikap uwa rani seperti itu mungkin sedang di butakan oleh gelimang harta sementara waktu aja. Biar, yang penting kita tetap berbuat baik sama uwa rani ya anak-anak. Bagaimana pun itu uwa kalian, keluarga kita yang ketika mengalami kesusahan kita sebagai keluarga harus membantunya. Dan ingat banyak kebaikan yang sudah uwa rani lakukan pada kita semua. Jangan kalian lupakan itu ya!” Ucap uwa nani sebagai anak tertua dari almarhumah nenek.
“Iya uwa baik.” Ucap kami semua.
 
Percakapan kami tentang uwa rani pun diakhiri. Kami pun langsung menyantap makanan yang sudah ada di meja makan.
 
Bersambung...

Bagian 29

0 0

-Sarapan Kata KMO Batch 38

-Kelompok 24

-Jumlah Kata 641

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan tak terasa sudah memasuki musim penghujan. Setiap harinya setelah adzan dzuhur awan-awan besar berwarna hitam memenuhi langit dan siap untuk menumpahkan milyaran air untuk menyirami bumi. Aku yang pergi untuk mengajar di sanggar setiap harinya tak lupa membawa jas hujan sebagai pelindung diri agar tubuhku tidak kebasahan. Begitu juga dengan temanku reihan. Ia pun selalu memakai jas hujan walaupun hujan belum turun, karena menurutnya memakai jas hujan saat di perjalanan akan membuatnya merasa hangat.

Perjalanan kami ke sanggar beberapa bulan ini sudah tidak menggunakan bus lagi. Karena motorku sudah bisa di pakai kembali, yang mana beberapa bulan terakhir ini rusak dan masuk bengkel langgananku.

Kali ini kami sampai di sanggar selalu tepat waktu. Dan sampai ke rumah sebelum malam tiba. Seperti biasa kegiatanku dan reihan di sanggar melatih anak-anak dalam menyanyi, menari, bermain alat musik, bermain drama dan lain sebagainya. Karena kondisi saat ini masih belum normal, yang disebabkan adanya covid-19. Di tahun ini semua perlombaan di tunda sampai kondisi membaik. Namun, walaupun demikian anak-anak sanggar tetap berlatih dengan semangat. Dan itulah yang membuat aku dan reihan setiap harinya selalu bersemangat untuk mengajar anak-anak di sanggar.

Begitu pun dengan kondisi keluargaku. Sudah satu bulan ini setelah percakapan terakhir di rumahku mengenai uwa rani yang mengubah sikapnya setelah mendapatkan harta warisan dari nenek masih belum terlihat perubahan yang terjadi. Walaupun demikian, kami sebagai anggota keluarganya selalu menyapa serta mengajak uwa rani dan putranya untuk ikut dalam setiap acara yang keluargaku adakan. Namun, sampai saat ini masih belum terlihat keinginan uwa rani dan putranya ikut serta dalam setiap kegiatan yang keluargaku adakan.

Dua bulan pun berlalu. Saat aku dan a dimas saudara sepupuku hendak pergi ke pasar, aku dan a dimas melihat ada empat orang bertubuh tinggi besar berwajah garang dengan memakai jaket dan pakaian serba hitam berjalan menuju rumah uwa rani. Kami berdua penasaran apa yang hendak dilakukan keempat orang tersebut.

“A dimas lihat kan itu ada orang yang tadi lewat dan sekarang masuk ke rumahnya uwa rani?” Ucap diriku.

“Iya sa. Aa lihat juga, ngapain ya mereka ke rumah si uwa. Penasaraan aa sa, kesana yuk lihat dari jauh.” Ajak a dimas kepadaku.

“Gak apa-apa nih a beneran? Takut ih, dari wajah dan penampilannya mereka bikin serem.” Jawab diriku sedikit ragu akan ajakkan a dimas namun merasa penasaran.

“Eh gak apa-apa sa kan ada aa. Kita lihat dari jauh aja. Okey? Yuk!” Ajak a dimas lagi

“Emm... yaudah hayu a.”

Kami pun bergerak dan berjalan menuju rumah uwa rani yang jarak rumahnya sekitar tujuh meter dari rumahku. Sesampainya di depan rumah uwa rani, aku dan a dimas mengintip dan bersembunyi di belakang pagar rumahnya uwa rani agar tidak ketahuan. Sambil mendengarkan apa yang di bicarakan oleh mereka jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, hal ini baru aku lakukan karena ajakan a dimas yang penasaran apa yang terjadi di rumah uwa rani.

“Brak! Hei bu! Sudah dua minggu ini ibu tidak bayar hutang ibu kepada kami! Mana janji ibu hah?” Terdengar suara pintu yang di banting dari arah rumah uwa.

Sontak aku dan a dimas yang mendengar kaget dan menahan jerit dengan menutup mulut agar kami tidak ketahuan sedang mendengarkan mereka berbicara.

“Iya pak tenang dong pintu saya rusak di banting-banting seperti itu! Tenang pak saya sudah punya uangnya sebentar saya ambil dulu!” Ucap uwa rani terdengar emosi.

“Alah cepat! Jangan banyak omong! Ambil uangnya!” teriak salah satu pria berwajah paling seram diantara yang lainnya.
“Yaelah sabar dong! yang penting saya sudah bayar! Nih uangnya! Saya sudah tidak ada urusan lagi ya dengan kalian! Sudah kalian pergi dari rumah saya!” Ucap uwa rani emosi sambil mengusir keempat orang tersebut.

Kami yang melihat dan mendengar keempat orang berwajah garang itu berjalan keluar dari rumah uwa rani, tanpa aba-aba aku dan a dimas bergegas pergi menjauh dari tempat kami bersembunyi dan kembali ke rumah dengan perasaan kaget dan penasaran. 
 
Bersambung...

Bagian 30

0 0
-Sarapan Kata KMO batch 38
-Kelompok 24
-Jumlah Kata 810
 
Kami masuk ke dalam rumah sebelum ke empat orang berwajah garang itu lewat berpapasan dengan kami. Di dalam rumah perasaanku masih sama seperti saat bersembunyi di balik pagar tembok rumah uwa rani. Keringat dingin di tubuhku mulai bercucuran, dan jantungku masih berdetak dengan kecang. Aku dan a dimas saling tatap. Dan tak lama kami membuka pembicaraan.
 
“Sa, kamu gak apa-apa?” Tanya a dimas.
“Hah, iya enggak apa-apa a dim.” Jawabku.
“Wajahmu sa lihat deh di cermin, pucat pisan. Serius kamu gak apa-apa?” Tanya a dimas terdengar khawatir.
“Masa sih a?” Seketika aku pun melihat wajahku di cermin dan benar apa yang di katakana a dimas padaku bahwa wajahku terlihat pucat.
 
“Eh iya a dim. Salsa cuma kaget aja a lihat kejadian tadi, sebelumnya aku gak pernah lihat uwa rani seperti itu a.” Ucap diriku sambal mengelap keringat dingin yang sejak tadi membasahi wajahku.
“Sebentar aa ambilin minum dulu biar kamu tenang.” A dimas pun pergi berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minum untukku.
“Nih sa minum dulu air hangat ini, tenangin diri kamu.” Ucap a dimas sambil menyodorkan segelas air teh manis hangat yang dibawanya dari dapur. Akupun meminumnya.
 
“Gimana? Udah enakkan belum sa?”
“Alhamdulillah udah a. Makasih ya a dimas.”
“Alhamdulillah, iya sama-sama sa.”
“A dim, kok uwa rani sampai segitunya ya pinjam uang ke rentenir? Apa si a rio putranya tahu tentang ini?” Tanya diriku pada a dimas.
“Gak tahu aa juga sa. Pasti sama kaya dulu uwa rani tutup-tutupi semua masalah dari anaknya. Nanti deh a dimas kasih tahu si a rio, takutnya bisa jadi masalah besar kalau anaknya uwa gak tahu tentang ini.”
“Iya a. Tapi a dimas juga hati-hati kalau ngomong harus pilih kalimat yang enak di dengarnya. Jangan buat si a rio tersinggung ya a dim, tahu sendiri si aa kalau tersinggung bakal kaya gimana.”
“Iya sa, insya allah a dimas bakalan hati-hati ngomongnya kok. Sekarang udah enakkan bukan?”
 
“Iya a udah.”
“Yaudah jadi gak nih ke pasar? Nanti si bi santi marah-marah lagi sama kita. Yuk ah udah jangan di pikirin lagi kejadian tadi. Mending kita minum es cendol mang ucup di pasar, terus makannya di deket danau. Refreshing dikit lah yuk, dari kejadian barusan hehe.”
“Okelah siap a dim! Gaskeuunnn!!”
Kami pun berangkat ke pasar untuk membeli barang yang disuruh oleh bi santi, menggunakan sepeda motor scoopy milikku.
***
 
Beberapa minggu pun berlalu, setelah kejadian di pagi hari itu, aku melihat dari kejauhan saat uwa rani melintas depan rumahku, terlihat wajahnya cemberut seperti ada masalah yang dihadapinya. Aku yang melihatnya dari dalam rumah hanya diam dan tak berani menyapa uwa rani karena takut di anggap mencampuri urusannya.
 
Sore pun tiba, hari ini langit sore nampak terlihat cerah. Burung-burung berterbangan kesana-kemari dengan bebasnya di udara. Anak-anak usia tiga sampai belasan tahun bermain di lapangan sepak bola dekat dengan rumahku. Hari ini sungguh menyenangkan, aku yang berada di bawah pohon manga menikmati setiap karunia yang diberikan oleh Allah.
 
Saat aku menikmati suasana di sore hari itu. Aku mendengar dari arah jalan teriakan orang-orang. Dan salah satu suara teriakan itu aku mengenal salah satu suaranya yaitu suara reihan sahabatku.
“Ayo kita bawa aja ke kantor polisi!” Seru salah satu orang.
 
Dari kejauhan belum terlihat jelas siapa orang yang di bawa oleh warga. Semua orang yang saat itu sedang menikmati suasana di sore hari yang damai langsung melihat ke arah keramian yang di buat oleh warga. Begitu pula dengan semua saudara-saudaraku yang juga keluar rumah untuk melihat apa yang telah terjadi.
 
Tak butuh waktu lama reihan dari arah keramaian berlari ke arahku.
“Sa! Sa! Itu sa! Uwa kamu!” Ucap reihan terlihat cemas.
“Iya kenapa rei, ada apa? uwaku? Uwa yang mana maksud kamu?” Aku yang ikut cemas bingung maksud dari reihan.
“Itu uwa mu sa! Uwa rani! Sedang di hakimi oleh warga!”Jelas reihan.
“Astagfirullah! Kenapa rei kok bisa?” Seru diriku kaget mendengar bahwa uwa rani sedang di hakimi oleh warga.
“Jangan banyak tanya sa. Ayo cepetan kita bantuin uwa rani kasian.” Ucap reihan sambil menarik tanganku.
“Sebentar rei! Aku kasih tahu dulu semua keluarga dan saudaraku!”
“Iya cepetan sa!”
 
Aku pun langsung memberitahukan kepada semua anggota keluarga dan saudara-saudaraku apa yang telah terjadi. Sontak semua keluarga kaget mendengar hal ini. Kami pun langsung berlari menuju arah keramaian. Sesampainya disana, kami melihat uwa rani terduduk dan dipeluk oleh a rio anaknya uwa. Dan semua warga mengelilingi mereka.
 
Uwa dani yang merupakan anggota tertua di keluarga kami menghentikan kegaduhan itu. Dan tak lama bapak kepala desa datang, sehingga kegaduhan pun mereda.
 
“Ada apa ini bapak-bapak? jangan main hakim sendiri!” Ucap pak kades dengan tegas.
“Ini pak kades, bu rani dan anaknya sudah berani menucuri di toko saya pa!” Ujar salah seorang dengan wajah merah terlihat sangat marah.
 
Aku yang mendengar itu kaget bukan main. Begitu juga dengan anggota keluarga dan saudara-saudaraku yang melihat kejadian ini. Wajah mereka terlihat pucat karena terkejut mendengar kebenaran tentang uwa rani dan a rio.
 
Bersambung.....

Mungkin saja kamu suka

Malak Senja
Senja 17
Nurwening FS
Januari di Bulan Juni
Aisya Khumaira
Aleyya
aiwinda
melupakan asa
Diki sanji
Waiter Or Employee

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil