Loading
0

0

16

Genre : Romance
Penulis : Nailatul Mutmainnah
Bab : 34
Dibuat : 05 April 2022
Pembaca : 2
Nama : Nailatul mutmainnah
Buku : 1

Sebuah Perjalanan

Sinopsis

Siang itu sangat panas, tetapi tidak menghalangi langkah Bella dalam menyusuri jalan sempit di sebuah gang. Diraihnya handpone yg ada di dalam saku celananya yg dari tadi berdering. Entah siapa yang menelponnya. ["Hallo, assalamualaikum ... lagi di mana Bell?"] ["Nich aku lg di kost-mu."] ["Oh, iya bentar aku balik kost.”] Ditutup telpon genggamnya lagi lalu dimasukkan kembali ke dalam saku celananya. Bella masih terus berjalan menyusuri gang kecil untuk menemui seseorang. Sampai di depan sebuah kost, ditemuinya seorang ibu tengah baya yang sedang menyapu halaman rumah sebelah kostnya. "Assalamualaikum, Bu maaf mau tanya apa benar ini kost mas Zena?” tanya Bella sambil membetulkan jilbabnya yang terasa kurang pas di wajah. "Oh iya, mas Zena baru saja keluar.” jawab ibu setengah baya tadi, yang tidak lain adalah ibu kost Zena. "Oh, iya buk terimakasih ... kalau begitu saya pamit dulu.” Bella berpamitan. Dengan perasaan kecewa Bella membalikkan langkah kakinya kemudian menuju pangkalan angkot. Lalu dia naik angkot dan menuju kembali ke kostnya. Ditemuinya Sita yang sejak tadi menunggu di depan kostnya. "Ya Allah ... lama banget, aku sudah dari tadi menunggumu lho ....” "Oh ya?” Bella mengerutkan jidatnya. "Ada apa tumben kesini?" lanjut Bella setengah lesu. "Anu, aku mau pinjem tugas makalah Ilmu Sosial Dasar.” Ujar Bella. Dengan agak lesu, Bella memberikan tugas makalah Ilmu Sosial Dasar kepada Sita. Lesunya bukan karena Sita pinjam makalah, akan tetapi karena kekecewaannya semenjak seminggu lalu ingin menemui Zena yang sudah hampir dua minggu tidak mengunjunginya. **** Hari semakin larut, suara jangkrik dan kodok pun saling bersautan di pinggir sawah belakang kost Bella. Namun, mata Bella masih saja belum terpejam. Padahal sepertiga malam nanti harus bangun karena kebetulan esok hari jam keenol. Bella masih merasakan kekecewaannya atas kejadian tadi siang. Sungguh kekasihnya itu, kini tak ada kabar. Tepat pukul 03.00 wib, bunyi alarm berdering sangat keras. Tetapi, tidak bisa menghentikan pelayaran Bella di pulau kapuk. Sampai bunyi alarm ketiga kalinya baru Bella tersadar bahwa ia harus segera ambil wudhu untuk mencurahkan segala isi hatinya pada sang Illahi. Sudah menjadi kebiasaan Bella bahkan ia merasa kecewa melebihi kekecewaanya pada Zena jika waktu yang mustajabah itu terlewatkan. Dalam curhatannya ia memohon. “Ya Allah ... berikanlah yang terbaik untukku.” Gadis mungil itu menghiba memohon kepada Tuhannya. Setelah itu, ia segera melantunkan ayat-ayat-Nya hingga hari menjelang pagi. Hari menjelang pagi, Bella pun bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk jam keenol nanti. Waktu menunjukkan pukul 05.45 WIB, tandanya harus segera berangkat ke kampus untuk mengikuti jam keenol pada mata kuliah bahasa Inggris. Walaupun jarak antara kost dan kampus dekat untuk ditempuh jalan kaki, namun Bella tidak suka terburu-buru. Sesampai di kampus, terlihat dari jauh tampak dari belakang seorang sosok yang mirip Zena bersama cewek yang mirip banget dengan Sita. Mereka sedang menikmati hidangan pagi di kantin kampus di sebuah perguruan tinggi. Bella bergegas menyelinap di balik pohon beringin yang rindang. Supaya keberadaannya tidak terlihat oleh mereka. Pelan-pelan ia mengamati mereka yang memang sedang menikmati hidangan pagi. Ternyata memang benar mereka adalah Zena dan Sita. Bella benar-benar syok melihat mereka tampak mesra. Tangan Zena yang sedang memegang tangan Sita, yang entah apa yang mereka omongkan. Namun, ia tetap tidak mau berburuk sangka pada mereka. Tetapi mengapa mereka pagi-pagi sudah berada di kampus, ada hubungan apa mereka berdua. "Ah, mungkin kebetulan saja mereka tak sengaja ketemu di kantin dengan tujuan yang sama," gumamnya. “Tetapi mengapa mereka tampak mesra?" Gumamnya lagi bingung. "Ah, tidak mungkin, aku tahu Sita adalah sahabatku yang baik." Bella menghibur dirinya sendiri. **** Hidup ini penuh misteri, orang yang kita anggap sebagai sahabat, bahkan melebihi dari saudara kadang rela menikam dari belakang. Sebaliknya terkadang orang yang seakan jahat sama kita, ternyata hatinya lembut dan sayang sama kita. Begitu pun sama halnya dengan Sita sahabat Bella bahkan seperti saudara kandungnya. Diam-diam Sita punya hubungan spesial sama Zena yang sudah sejak semester 3 resmi menjadi boyfrend Bella. Walaupun Bella belum punya bukti-bukti yang valid mengenai hubungan mereka, tetapi perasaan mengatakan begitu. Sampai saat inipun Zena masih menghilang tanpa kabar. Sakit hati yang dialami Bella sudah menggunung. Zena sudah tidak mempedulikan telpon dan whatsapp dari Bella. Entah apa salah Bella hingga Zena setega itu. Apa karena Bella anak orang biasa-biasa saja, sedangkan Sita anak orang jaya yang bergelimang harta. Bella tidak merasa punya kesalahan terhadap Zena. Tetapi Bella yakin bahwa Allah maha Tahu segalanya
Tags :
Romantika remaja

Cinta Segitiga

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day1 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Cinta Segitiga Siang itu sangat panas, tetapi tidak menghalangi langkah Bella dalam menyusuri jalan sempit di sebuah gang. Diraihnya handpone yg ada di dalam saku celananya yg dari tadi berdering. Entah siapa yang menelponnya. ["Hallo, assalamualaikum ... lagi di mana Bell?"] ["Nich aku lg di kost-mu."] ["Oh, iya bentar aku balik kost.”] Ditutup telpon genggamnya lagi lalu dimasukkan kembali ke dalam saku celananya. Bella masih terus berjalan menyusuri gang kecil untuk menemui seseorang. Sampai di depan sebuah kost, ditemuinya seorang ibu tengah baya yang sedang menyapu halaman rumah sebelah kostnya. "Assalamualaikum, Bu maaf mau tanya apa benar ini kost mas Zena?” tanya Bella sambil membetulkan jilbabnya yang terasa kurang pas di wajah. "Oh iya, mas Zena baru saja keluar.” jawab ibu setengah baya tadi, yang tidak lain adalah ibu kost Zena. "Oh, iya buk terimakasih ... kalau begitu saya pamit dulu.” Bella berpamitan. Dengan perasaan kecewa Bella membalikkan langkah kakinya kemudian menuju pangkalan angkot. Lalu dia naik angkot dan menuju kembali ke kostnya. Ditemuinya Sita yang sejak tadi menunggu di depan kostnya. "Ya Allah ... lama banget, aku sudah dari tadi menunggumu lho ....” "Oh ya?” Bella mengerutkan jidatnya. "Ada apa tumben kesini?" lanjut Bella setengah lesu. "Anu, aku mau pinjem tugas makalah Ilmu Sosial Dasar.” Ujar Bella. Dengan agak lesu, Bella memberikan tugas makalah Ilmu Sosial Dasar kepada Sita. Lesunya bukan karena Sita pinjam makalah, akan tetapi karena kekecewaannya semenjak seminggu lalu ingin menemui Zena yang sudah hampir dua minggu tidak mengunjunginya. **** Hari semakin larut, suara jangkrik dan kodok pun saling bersautan di pinggir sawah belakang kost Bella. Namun, mata Bella masih saja belum terpejam. Padahal sepertiga malam nanti harus bangun karena kebetulan esok hari jam keenol. Bella masih merasakan kekecewaannya atas kejadian tadi siang. Sungguh kekasihnya itu, kini tak ada kabar. Tepat pukul 03.00 wib, bunyi alarm berdering sangat keras. Tetapi, tidak bisa menghentikan pelayaran Bella di pulau kapuk. Sampai bunyi alarm ketiga kalinya baru Bella tersadar bahwa ia harus segera ambil wudhu untuk mencurahkan segala isi hatinya pada sang Illahi. Sudah menjadi kebiasaan Bella bahkan ia merasa kecewa melebihi kekecewaanya pada Zena jika waktu yang mustajabah itu terlewatkan. Dalam curhatannya ia memohon. “Ya Allah ... berikanlah yang terbaik untukku.” Gadis mungil itu menghiba memohon kepada Tuhannya. Setelah itu, ia segera melantunkan ayat-ayat-Nya hingga hari menjelang pagi. Hari menjelang pagi, Bella pun bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk jam keenol nanti. Waktu menunjukkan pukul 05.45 WIB, tandanya harus segera berangkat ke kampus untuk mengikuti jam keenol pada mata kuliah bahasa Inggris. Walaupun jarak antara kost dan kampus dekat untuk ditempuh jalan kaki, namun Bella tidak suka terburu-buru. Sesampai di kampus, terlihat dari jauh tampak dari belakang seorang sosok yang mirip Zena bersama cewek yang mirip banget dengan Sita. Mereka sedang menikmati hidangan pagi di kantin kampus di sebuah perguruan tinggi. Bella bergegas menyelinap di balik pohon beringin yang rindang. Supaya keberadaannya tidak terlihat oleh mereka. Pelan-pelan ia mengamati mereka yang memang sedang menikmati hidangan pagi. Ternyata memang benar mereka adalah Zena dan Sita. Bella benar-benar syok melihat mereka tampak mesra. Tangan Zena yang sedang memegang tangan Sita, yang entah apa yang mereka omongkan. Namun, ia tetap tidak mau berburuk sangka pada mereka. Tetapi mengapa mereka pagi-pagi sudah berada di kampus, ada hubungan apa mereka berdua. "Ah, mungkin kebetulan saja mereka tak sengaja ketemu di kantin dengan tujuan yang sama," gumamnya. “Tetapi mengapa mereka tampak mesra?" Gumamnya lagi bingung. "Ah, tidak mungkin, aku tahu Sita adalah sahabatku yang baik." Bella menghibur dirinya sendiri. **** Hidup ini penuh misteri, orang yang kita anggap sebagai sahabat, bahkan melebihi dari saudara kadang rela menikam dari belakang. Sebaliknya terkadang orang yang seakan jahat sama kita, ternyata hatinya lembut dan sayang sama kita. Begitu pun sama halnya dengan Sita sahabat Bella bahkan seperti saudara kandungnya. Diam-diam Sita punya hubungan spesial sama Zena yang sudah sejak semester 3 resmi menjadi boyfrend Bella. Walaupun Bella belum punya bukti-bukti yang valid mengenai hubungan mereka, tetapi perasaan mengatakan begitu. Sampai saat inipun Zena masih menghilang tanpa kabar. Sakit hati yang dialami Bella sudah menggunung. Zena sudah tidak mempedulikan telpon dan whatsapp dari Bella. Entah apa salah Bella hingga Zena setega itu. Apa karena Bella anak orang biasa-biasa saja, sedangkan Sita anak orang jaya yang bergelimang harta. Bella tidak merasa punya kesalahan terhadap Zena. Tetapi Bella yakin bahwa Allah maha Tahu segalanya.

Sebuah Balasan

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day 2 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 715 Sebuah Balasan Orang baik pasti akan mendapat kebaikan dan sebaliknya. "Hai, ngapain di sini sendirian... hari sudah larut... ayo pulang!" Tiba-tiba Sita membuyarkan lamunannya. "Oh, iya aku lagi ga enak badan.” Jawab Bella. "Bagaimana kalau kita ke dokter, kuantar kamu priksa agar cepet baikan.” Ajak Sita. "Ke dokter? gak ah, aku baik-baik saja ... nanti juga sembuh,” tolak Bella. Sebenarnya Bella ingin menanyakan tentang hubungannya dengan Zena, akan tetapi mulutnya kalut ketika akan memulai pembicaraan. Bingung mulai dari mana ia bertanya. Akhirnya mereka membisu menuju pulang ke kost masing-masing. Serasa hening suasana perjalanan saat itu. Tempat kost mereka berdekatan dan searah. Hanya butuh waktu 10 menitan perjalanan menuju kampus dan ditempuh dengan jalan kaki. **** Siang itu hujan sangat lebat, suara petir menggelegar menyambar berkali-kali seakan mengenai tubuhnya yang hampir basah kuyup terkena derasnya hujan. Di saat Bella baru keluar dari ruang kelas perkuliahan, menuju masjid tuk menunaikan ibadah sholat dhuhur. Sementara teman-temannya masih pada ngobrol, ada yang bercanda sambil menunggu hujan reda. Mereka kelihatan bahagia. Namun, Bella lebih suka menyendiri, apalagi kali ini kuliahnya tidak barengan sama Sita. Sita belum mengambil mata kuliah Bahasa Arab II. Ia masih mengharap cinta yang sejati dari Zena. Setelah sholat selesai, entah mengapa ia masih betah di kampus. Tetapi untuk apa, sudah tidak ada kegiatan lagi. Dengan tak bersemangat, ia duduk di bawah pohon ringin yang berada di taman Fakultas. Diraihnya buku bahasa Arab yang ada di dalam tasnya sembari dibolak balik seolah dia membacanya, padahal fikirannya melayang masih memikirkan Zena. Sesekali ia melihat lalu kalang mahasiswa yang lewat. Ketika hari menjelang sore kampus sudah tidak ramai lagi seperti tadi. Kampus sudah agak sepi. Bella pun berniat untuk pulang ke kost. Tiba tiba melihat dua sijoli yang bergandengan tangan di pertigaan jalan kampus. Kali ini kepergok di depan mata Bella. "Zena.....!" " Sita....!" " Apa-apaan kalian". Zena dan Sita saling pandang terkejut tak sadar kalau perbuatan mereka terlihat Bella. "Oh, jadi ini jawaban dari kamu, Zena.... kenapa lama menghilang". "Dan kamu Sita, tega benar kau menyakiti aku?". Bella bagaikan harimau yang sedang kelaparan. "Bella, dengarkan penjelasanku....!" Jelas Zena. Sedangkan Sita hanya tertunduk malu. Lalu Bella membalikkan langkah dan berlari menuju persimpangan jalan kampus. Sementara Zena mengejar Bella untuk menjelaskan semuanya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Bella lari membawa duka dan lara. Bella kehilangan kepercayaan. Tak lama kemudian terdengar braak....! Sebuah mobil menyrempet tubuh Bella. Bella terpental dan tergeletak, tangan kirinya penuh darah segar. **** Langit sudah menunjukkan kegelapannya, seakan ikut merasakan kesedihan yang tertimpa oleh Bella. Bella tertidur lemas di pembaringan ranjang rumah sakit. Tangan kirinya luka akibat menahan tubuhnya ke arah kiri. Sementara kepalanya terbentur pohon di pinggir jalan pertigaan kampus yang mengakibatkan dia pingsan. Sebuah mobil menyrempetnya dari arah kanan. Tampak seorang lelaki bertubuh tinggi kurus, kulit hitam berkumis tipis sedang mondar mandir di balik jendela ruang Dahlia nomor 2. Sesekali lelaki itu menengok keberadaan Bella yang sampai detik ini belum membuka matanya. Ia cemas, merasa bersalah karena kekurang hati-hatiannya dalam mengendarai mobil. "Emmh... auw..." keluh Bella kesakitan. "Aduh, tanganku..." rintih Bella kemudian. "Bella, kamu sudah sadar, Nak!" Sapa mama Bella yang sejak tadi duduk di sampingnya. "Iya mah, kepalaku sakiiit," teriak Bella menghela nafas. "Sejak kapan mama di sini?" Tanya Bella. "Sejak mas Opix menelpon mama," jawab mama Bella. "Siapa mas Opix, Ma?" tanya Bella lagi. Lalu Opix memperskenalkan diri pada gadis mungil yang lemah lunglai di atas kasur itu. Sambil mengulurkan tangannya .... "Kenalkan saya Opix, tempo hari yang menyrempetmu dan membawa ke sini, maafkan aku ya ..." pinta Opix. Bella pun membalasnya sambil mengangguk. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya. Dia masih teringat kejadian kemarin sore. "Ya ... di manàkah Zena dan Sita .... Tak tahukah mereka aku berada d sini, atau mungkin mereka yang membawa aku ke sini". Gerutu Bella dalam hati. Tiba-tiba ada yang bergetar di atas selimut yang dipakainya. Disambarnya benda kotak bercasing merah yang berada di dekat tangan kanannya lalu dilihatnya .... ["Hallo, Assalamualaikum .... "] Terdengar suara Zena dari dalam handphonnya. ["Gimana kondisimu, Bella?"] lanjut Zena sebelum mendapatkan jawaban pertanyaan yang pertama. ["Iya, alhamdulillah sudah agak mendingan"] singkat Bella. ["Bell, aku mau ke sana .... "] bisik Zena. ["Buat apa ...?"] cetus Bella sembari menutup telpon genggamnya. Opix diam-diam memperhatikan gerak gerik Bella yang kelihatan gelisah. Lalu mohon pamit kepada mama Bella. "Maaf tante, saya pamit dulu ... nanti kalau ada apa-apa tolong saya dikabari" jelas Opix sembari mengambil kontak mobilnya di atas meja.

Di antara gemerlapan lampu

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day3 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 707 Di antara gemerlapan lampu "Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit." Lanjut Opix. "Iya Nak, trima kasih ..." jawab mama Bella. Opix meninggalkan ruang tempat Bella dirawat, tanpa berpamitan dengan Bella. Dia seakan tahu apa yang dirasakan Bella saat ini. Bergegas ia membunyikan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Ia kembali ke rumah kontrakan, di mana ia tinggal untuk sementara. Letak kontrakannya tak jauh dari rumah sakit. Tak lama kemudian, Zena datang bersama Sita. Kali ini, kedatangan Zena bukannya sebagai pengobat rindu yang sekian lama tak mengunjunginya. Namun, kedatangannya hanyalah memberikan sesak di dalam dada. Bagaimana tidak? Laki-laki berpostur tubuh atletis itu datang bersama kekasih barunya. Dia adalah sahabat dekat Bella, yaah ... Sita sahabat Bella yang sering diajak ngobrol tentang berbagai masalah apa pun melebihi saudara. • Kali ini Zena menjumpai Bella dalam keadaan sendirian. Rena, mama Bella pamit keluar untuk membeli obat. Sedangkan papanya sudah meninggal sejak Bella duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2. Kini, Bella duduk di semester enam di sebuah universitas Islam di Semarang. "Assalamu'alaikum ...." salam Zena sambil mengetuk pintu kamar ruang Dahlia. Tak ada yang menjawab salam Zena .... Lalu .... Zena dan Sita membuka pintu kamar ruang Dahlia nomor 2 yang tidak terkunci. Lalu masuk tanpa dipersilakan, dan mereka duduk di samping pembaringan Bella. Sembari menyapa. "Bell, gimana keadaanmu, baik-baik sajakah?" tanya Zena. Gadis kecil itu tak mau menatap wajah mereka, dia hanya terdiam membisu. Betapa hancur hatinya, di hadapannya mereka sudah terang-terangan bagaikan sepasang kekasih. "Bell, aku ke sini hanya ingin tahu keadaanmu.” Lanjut Zena. "Buat apa?" bentak Bella. "Pergi ...! teriak Bella tak kuasa membendung air matanya yang ingin mengalir di pipi manisnya. Lalu, mereka pergi. 9Mereka bergegas pergi dengan ketakutan akan disangka macem-macem karena teriakan Bella. **** Suara musik alunan lagu-lagu kenangan semakin syahdu, sesyahdu hatinya Sita malam ini yang berada di pelukan Zena. Lampu-lampu Cafe Pinggir Kali berkedip senada dengan lantunan lagu-lagu kenangan. Hujan rintik-rintik pun mengiringi syahdunya malam itu. Kemudian tiba seorang pelayan Cafe sedang menghampiri menyodorkan menu Cafe. "Silahkan dipilih, Tuan," seorang pelayan menawarkan. "Mas Zena mau makan apa, sayang ...." tanya Sita sambil menunjukkan menu Cafe. "Ini saja," sambil menunjuk di buku menu, Zena memilih. Zena memilih burger dan juice jeruk hangat kesukaannya, sedangkan Sita memilih pizza hut dan es juice jambu. Lalu seorang pelayan pergi meninggalkan mereka. Tak lama kemudian seorang pelayan kembali lagi mengantar pesanan yang mereka pesan. "Silahkan, Tuan,” pemuda berseragam putih biru dan berdasi kupu-kupu mempersilahkan sambil meletakkan makanan dan minuman di meja Cafe. "Trimakasih," balas Zena. Sambil menikmati hidangan ala Cafe, mereka saling pandang, saling bicara tentang cinta, bak sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Hari semakin larut .... Namun, Sita masih ingin bersama Zena. Zena pun tak ingin melepaskan pelukannya. Mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet yang sedang melayang terbang ke angkasa luas. "Sita ...." bisik Zena mesra. "Iya sayang ...." Sita semakin erat memeluk Zena. "Hari sudah semakin larut. Tapi aku masih ingin bersamamu". Rayu Zena. "Iya sayang .... Tapi, aku besok kuliah jam keenol. Kita harus pulang sekarang.” Pinta Sita. "Tapi aku masih ingin dekat denganmu ... dan lebih dekat lagi ...." rayu Zena lagi dengan tangan nakalnya yang menelusup di bagian dada Sita yang tertutup jilbab birunya. Setan-setan yang berkeliaran di sekitar Cafe seakan masuk ke otak Zena. Sepasang laki-laki dan perempuan yang bukan mukrimnya sedang berduaan, orang ketiga adalah setan. Jika tidak dapat mengendalikan, maka akan terjerumus ke dalam api neraka. "Iii ... eeeh ... jangan sayang ...." tolak Sita agak risih, karena baru kali ini ada lelaki yang berani hinggap di hatinya. "Ayo, kita pulang sekarang ...." Sita mengendalikan diri. Namun, Sita menikmati semua pemberian Zena yang belum pernah diberikan kepada Bella. "Bentar lagi kuantar kamu pulang, sayang ... ". Jawab Zena sambil menciumi kening Sita. "Bagaimana kalau Bella tahu kita berada di sini?" tanya Sita dengan nada manja. "Ah, biarkan saja dia tahu, aku tetap mencintaimu ...." jawab Zena. Mendengar kata-kata Zena, Sita semakin dimabuk asmara. Sita masih ragu pada Zena, karena Sita tahu Zena masih ada hubungan kasih dengan sahabatnya itu. Walaupun akhir-akhir ini hubungan mereka semakin renggang saja, sejak Bella memperkenalkan Sita ke pada Zena. Sita yang berpenampilan aduhai, dan serba berkemewahan. Karena memang dia anak seorang kaya raya di kampungnya. Waktu cinderella telah berdering, tandanya hari hampir pagi. Sita menuju kasir dan membayar semua jajanan yang mereka santap tadi. Wajah bulat, postur tubuh tinggi berbodi aduhai itu tak perhitungan jika Zena yang meminta.

Ku Obati Lukaku

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day4 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 704 Kuobati Lukaku Entahlah, mungkin karena Sita sudah terlanjur mencintainya. Karena saking cintanya hingga membutakan matanya. Lalu Zena membunyikan motor vario milik Sita yang selalu dibawa ke manapun Zena pergi. Mereka berdua pun meninggalkan Cafe Pinggir Kali. Mengantarkan Sita pulang ke kost. **** Dua kali matahari terbenam sudah, Bella menikmati pembaringan di rumah yang penuh cat warna serba putih ini. Bersama mama Rena tercinta. Bella adalah anak satu-satunya yang selalu mengisi hari-harinya. Sejak suami meninggalkannya menghadap sang Pencipta. Namun, dia tidak pernah memanjakan anak semata wayangnya itu. Ia tanamkan pendidikan agama sejak kecil, melatihnya hidup mandiri, bahkan dilatih anaknya itu untuk berdagang dan berbisnis. Jadi tidak ada kata memanjakan untuk anak gadisnya itu. Rena, yang kesehariannya adalah sebagai pedagang kecil, dia menjual baju-baju jadi di sebuah pasar tradiaional. Perempuan cantik tengah baya itu mempunyai cita-cita untuk menjadikan anak gadisnya menjadi seorang sarjana. Setelah menunaikan ibadah shalat maghrib dan tak lupa memohon agar diberikan yang terbaik untuknya. Bella lanjutkan dengan lantunan ayat-ayat Al -Qur'an. Al-Qur'an sudah tersedia di setiap sudut atas kamar rumah sakit, sehingga mempermudah bagi yang membutuhkannya. Tak lama kemudian seorang petugas gizi datang membawakan jatah makan malam buat Bella. "Silahkan, Non" kata petugas yang berpakaian serba putih itu sambil meletakkan makanan dan minuman di atas meja sebelah ranjang. "Trima kasih mbak," jawab Bella sambil membetulkan jilbabnya yang sedikit acak-acakan setelah bangun dari pembaringan. Lalu Bella menyantap makanan dan minuman jatahnya, dengan bantuan sang mama. Karena tangan kirinya masih terbungkus rapih oleh kain perban. Hari semakin gelap, tak lama kemudian terdengar suara hentakan kaki di balik pintu kamar, semakin dekat semakin keras suaranya. Suasana hening dan sunyi saat itu. "Assalamu'alaikum ...." Terdengar suara Opix memberikan salam. "Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh" Bella dan mamanya serentak menjawab salam. "Oh, Nak Opix, sillahkan masuk!" mama Bella mempersilahkan Opix, lalu Opix pun masuk dan memberikam buah tangan untuk Bella. Opix datang membawa sebuah parcel buah-buahan, yang kebetulan buah kesukaan Bella. "Ini untuk Bella, Tante," ujar Opix. "Iya, terima kasih, Nak ... kok repot-repot," balas Rena. "Oh, ya Tante ... bagaimana kondisi Bella saat ini?" tanya Opix. "Alhamdulillah, sudah agak lumayan. Tangannya sudah bisa digerakkan sedikit-sedikit," jelas Rena. Opix dan Rena sibuk mengobrol tentang bagaimana kelanjutan medis Bella, sementara Bella sibuk memainkan ponselnya. Dia sibuk update status dagangan online yang merupakan kegiatan sambilannya di luar kegiatan kuliah. Lumayan, bisa untuk menyambung hidup di daerah perantauan. Daripada menggantungkan mamanya dia lebih suka mencari penghasikan sendiri. "Maaf, Nak Opix ... mumpung Nak Opix di sini, bolehkah saya minta tolong sebentar saja? Tante ada keperluan di luar sana.” Kata Rena sambil bersiap-siap ke luar untuk mencari nasi bungkus buat mengganjal perutnya yang bernyanyi keroncongan. "Iya, Tante ... dengan senang hati saya akan jaga Bella di sini," tutur Opix. Mereka lalu asyik mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Sepertinya, Opix merasa tertarik kepada gadis kecil mungil ini. Diam-diam ia merasakan sesuatu yang sangat sesak jika tidak diungkapkan. Namun, ia tahan terlebih dahulu karena mungkin belum saatnya. "Biarlah waktu yang menentukan ... biarkan seperti air mengalir saja". Gumamnya dalam hati di sela-sela cerita Bella. Entah apa yang diceritakan oleh gadis itu. Yang jelas cerita itu bukanlah hal yang penting bagi mereka. "Oh, ya, Bell ... berarti kamu gak masuk kuliah berapa hari?" tanya Opix memecahkan suasana. Sesekali Opix mencuri pandang. "Betapa manisnya anak ini .... "batinnya mengatakan bahwa ia menyayanginya. " Yaaa ... dua hari ini". Jawab Bella. "Kalau kak Opix sich, kuliahnya di mana?" Bella balik menanya. "Kalau kakak sudah bekerja, adik manis ...." rayu Opix. "Oooh ...." sela Bella tersipu malu. Masih penasaran sich, sebenarnya .... Namun, Bella malu jika menanyakan lagi. "Bella kalau kuliah naik apa?" Opix penasaran. “jalan kaki, Kak.” Jawab Bella. “Kan jarak ko Bella st sampai kampus cuma dekat ...” jelas Bella, sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Emang Bella di mana kostnya?” tanya Opix lagi. “Di perumahan Griya Utama Permai blok C nomor 41, Kak. Perumahan belakang kampus itu lho ....” Bella menjelaskan. “Kapan-kapan kakak mau main ke sana.” Tegas Opix. “Boleh, Kak.” Kata Bella sambil membuka-buka ponselnya yang dari tadi bergetar. Sepertinya banyak orderan masuk. Namun, kali ini lebih asyik ngobrol sama Opix. Lelaki yang baru dikenalnya tetapi lebih menarik untuk direspon daripada pelanggan-pelanggan dagangan onlinenya. Pelanggan bisa ditunda responnya, sedangkan Opix sangat disayangkan jika hanya dilewatkan begitu saja. Sepertinya, Bella pun mulai memperhatikan Opix daripada mengingat-ingat Zena yang telah menyakitinya.

Pemuihan

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day5 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 708 Pemulihan Jarum jam di dinding menunjukkan pukul delapan kurang seperempat malam. Rena belum juga datang dari warung mencari nasi bungkus. Mungkin banyak pembeli jadinya ia harus mengantri. Saking asyiknya Bella mengobrol dengan Opix hingga tak terasa sudah lama mama Rena meninggalkannya. Padahal biasanya ia selalu ingin mama ada di sampingnya. Mereka melanjutkan perbincangan yang tidak begitu penting. Tepat jam delapan malam, dokter jaga datang bersama seorang perawat asistennya yang membawa catatan perkembangan pasien. "Mbak Bella, tensinya normal ... coba lihat tangannya," dokter jaga memegang memeriksa tangan kiri Bella. "Tangannya dilatih untuk bergerak sedikit-sedikit, ya," lanjut dokter. "Iya, Dok! jawab Bella sambil mengangguk. "Lha kamu siapa?" Dokter menunjuk lelaki yang bersama Bella sambil tersenyum. "Sa ... saya ka ... kaknya, Dok," jawab Opix sambil gugup. Bella menutup mulutnya menahan tawa. "Sudah, ya ... " dokter bersama asistennya berpamitan. "Trimakasih, Dok," Bella dan Opix serentak menjawab. Sesaat kemudian, Rena datang membawa barang se-tas kresek hitam buat mengganjal perutnya yang keroncongan sedari tadi. "Assalamu'alaikum," Rena memutar gagang pintu hingga terbuka. "Wa'alaikumsalam," sontak Bella menjawab. "Ini, Nak ... pisang goreng, silahkan diincipi!" Sembari menyodorkan sepiring pisang goreng kepada Opix. "Trimakasih, Tante ... saya mau pamit dulu sudah malam," pungkas Opix. "Assalamu'alaikum," ucapnya kemudian. "Wa'alaikumsalam," balas Bella dan Rena. "Hati-hati, Nak!" seru Rena. "Iya, tante, trimakasih." Tegas Opix. Opix pun ke luar menuju tempat parikir, dan membunyikan mesin mobilnya dan melaju ke kediamannya. **** Suasana di kampus seperti biasanya, waktu istirahat begini ada yang asyik ngobrol ngalor ngidul, ada yang serius baca buku ada pula yang hanya pegang buku sementara mulutnya ngecipris bagaikan burung beo. Ratna, Berna, Udin, dan Sandi, mereka sedang sibuk membicarakan masalah antara Bella, Sita, dan Zena. Kini mereka menjadi buah bibir di antara mereka. Antara cinta segitiga, musuh dalam selimut, cinta bertepuk sebelah tangan, dan aku mencintai karena hartamu. Mereka bak pengarang buku yang sedang menggali cerita melalui kisah Bella, Sita, dan Zena. Sudah hampir seminggu ini Bella belum lagi bergabung dengan mereka. Bella masih bersemedi di rumah mewah tempat orang sakit itu. Kemarin, mereka juga sudah menjenguk Bella di rumah sakit. Sedangkan Sita sudah sibuk dengan Zena kekasih barunya itu. Tak lagi sempat bergabung dengan mereka. "By the way, hampir seminggu Bella dan Sita ga gabung sama kita, kan?" ujar Ratna sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang turun hampir menyentuh pipinya. "Bella, kasihan kamu ... hatimu sudah sakit hati, tanganmu juga patah gegara Zena," Mata Berna berkaca-kaca menunduk sedih, seakan ikut merasakan. "Sedangkan Sita ... yaaa, Sita. Teman karibnya begitu tega menyakiti Bella." sambung Udin. "Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk mereka." sahut Sandi. Jarum panjang menunjukkan di angka 12 sedangkan jarum pendek di angka 9. Tandanya mereka harus duduk kembali di kursi perkuliahan lagi. Lalu mereka bubar menuju kelasnya masing-masing sesuai mata kuliahnya yang diambilnya. Sementara di rumah sakit, Rena dan Opix sedang sibuk dengan urusan administrasi dan segala macamnya. Hari ini Bella diperbolehkan pulang dengan ketentuan rawat jalan. Opix menanggung semua biaya pengobatan Bella.Tangan kanan Rena membawa tas sedangkan tangan kiri menggandeng putrinya yang sedang menggendong tangan kirinya menuju parkir mobil di mana mobil Opix beristirahat. Opix juga membantu barang bawaan Rena yang lain lalu dimasukkan ke dalam mobil. Sore ini Opix mengantar sampai ke kost Bella. Selama Bella belum sembuh total terpaksa Rena harus bolak balik rumahnya dan kost Bella. Untung saja Rena mempunyai lumayan buat bertahan hidup di kost. Beruntung lagi biaya rumah sakit ada yang nanggung, dan sedikitpun Rena tidak mengeluarkan kecuali jika ada obat dari apotik yang harus ditebus. Opix memang orangnya baik hati, selain itu ia orang yang dermawan. Wajar saja kalau semua keperluan Bella di rumah sakit ia tanggung. Apalagi ia juga menaruh hati pada gadis manis itu. Selama satu pekan putri semata wayang Rena dirawat, hatinya seperti hampir terobati. Opix selalu mengisi hari-harinya dengan penuh perhatian. Walaupun begitu, Bella masih belum bisa melupakan Zena. Bella masih teringat kenangan-kenangan manis bersama Zena. Zena yang dulu ... yah, dulu ia perhatian sama kekasihnya selalu menemani hari-hari. Bercanda tawa, menemani kemana kekasihnya pergi. Sejak diperkenalkan dengan Sita, teman teman karib Bella itu, Zena menjadi berubah fkiran. "Saya pamit dulu tante, dan kamu Bella baik-baik saja ya ...." Opix menjulurkan tangannya. "Iya, Kak, trimakasih ya ... jangan lupa main ke sini!" pesan Bella. "Siap anak manis ..." Opik mengangkat ujung jarinya ke pelipis. "Hati-hati, Nak Opix" "Trimaksih, Tante." Kini tinggal Rena merawat anak satu-satunya sendirian di kost sampai penyembuhan.

Kembali

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day6 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 707 bab 6. Kembali Hari itu, kali pertama Bella masuk kuliah semenjak masa perawatan. Namun, tangannya masih berada dalam gendongan. Kini, ada antar jemput sewaktu ia ada jadwal kuliah. Opix berjanji akan mengantar dan menjemput Bella sewaktu ada perkuliahan sampai tangannya sembuh betul. Bella menyetujuinya. Bukannya dia sudah menerima cinta Opix. Opix belum mengungkapkannya. Bella menganggap Opix adalah seorang kakak yang selalu memperhatikan keadaan Bella. Sedangkan Opix sudah lama menaruh hati padanya. Sejak pertemuan pertama di pertigaan jalan kampus dalam keadaan tergeletak. Laki-laki tirus ini terpesona akan keluguan Bella. Selain parasnya yang mungil nan manis Bella juga rajin dalam beribadah. Itulah yang membuat Opix jatuh hati padanya. Bagi Opix Bella adalah seorang gadis yang cantik luar dan dalamnya. Sungguh sayang jika ada seseorang yang tega menyakitinya. "Turun sini aja kak," Tangan Bella menepuk pundak Opix. "Loh, kan masih jauh dari kelas tempat kuliahmu, adik manis ..." rayu Opix. "Bella ingin melemaskan kaki kak, biar ga' kaku. Dah lama gak jalan kaki." tolak Bella. Bella tak ingin teman-temanya tahu jikalau sekarang sudah ada ojeg pribadinya. Bella tak ingin ada isue baru yang menimpa dirinya. "Oh, okelah kalau begitu," pungkas Opix. Dengan perasaan kecewa Opix pun memutar arah menuju tempat di mana ia bekerja. "Jangan lupa ya, nanti wa atau telpon kalau sudah selesai kuliahnya!" teriak Opix. "Siap Kakak," balas Bella. Sesampai di depan kelas tempat ia mengkaji ilmu-ilmu perkuliahan, terdengar suara yang tak asing lagi. "Hey Bella!" teriak Ratna. "Sudah sembuhkah?" sambungnya. "Allhamdulillah, sudah baikan," Bella tersenyum. "Mana teman-teman?" lanjut Bella. "Tauk tuh ... jam segini mereka belum pada nongol." ujar Ratna sambil membetulkan kacamaga bulatnya yang mlorot. Pukul delapan tepat waktu pak dosen datang memasuki ruang kuliah dan diikuti sekelompok mahasiswanya. Termasuk Berna, Udin, dan Sandi. "Saudara-saudara, kuliah Fiqih III kali ini saya akan memberikan tugas saja, karena hari ini saya ada acara", papar pak Faqih. "Tugas membuat makalah dengan tema Macam-macam makanan yang halal dimakan dan dikumpulkan paling lambat tanggal 20 September ini", lanjut beliau. "Okey perkuliahan pagi ini saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh" pungkas laki-laki setengah baya itu. "Siap pak ...!" teriak para mahasiswa serentak. ""Jangan lupa ya, tugas segera dikumpulkan," pesan pak dosen sambil melangkah meninggalkan ruangan. "Sering-sering aja pak, kuliah singkat begini," celoteh Udin. "Tapi tugasnya tuh, yang bikin pusing," lanjut Sandi. "Tenang sobat, 'kan ada Bella," celoteh Udin. Bella hanya tersenyum, dan merasa bahagia, bakal mendapatkan mereka kembali di hari-harinya. Sita, Zena di mana mereka sekarang. Seharusnya hari ini Sita mengikuti kuliah bersama dengannya. Zena, entahlah di mana dia juga tak tahu keberadaannya. Menurut teman-temannya akhir-akhir ini Sita jarang sekali masuk kuliah. Padahal mereka sering melihat Sita dan Zena mojok di kampus. Namun, saat perkuliahan si gadis berwajah bulat yang berbody aduhai itu tidak sempat hadir. Mungkin dia sudah kerasukan cintanya, hingga melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa. Bella dan teman-temannya menuju taman seperti biasa, sambil menunggu jam kuliah selanjutnya. Hari ini serasa cepat sekali, tak terasa matahari sudah tepat di atas kepala. Pantas kalau perut sudah keroncongan tandanya minta diisi. Grup Bella berjalan menuju kantin kampus. Mereka memilih menu sesuai kantong masing-masing. Bella hanya memesan es teh saja, di kost mamanya sudah memasak menu kesukaannya. Hanya demi kebersamaan dia rela hanya sekedar memesan es teh. Tiba-tiba handphone berdering, terdengar dari dalam tasnya. ["Assalamu'alaikum, anak manis pulang jam berapa?"] suara Opix yang akan memenuhi janjinya. ["Sebentar lagi kak, Bella siap-siap jalan. Tunggu di pertigaan saja ya ...."] papar Bella. "Aku duluan ya ... " Tangan kanannya menyangkolng tas ke pundak kirinya. "Hati-hati ya, Bel ...." pesan Ratna yang sebentar-sebentar membetulkan kacamatanya yang sudah tepat pada posisinya. Bella menyruput es teh yang hampir habis itu, lalu bergegas melangkah menuju pertigaan tempat ia kencan sama Opix. Tanpa mempedulikan Ratna yang masih mengkhawatirkannya. Sampai di pertigaan ternyata Bella tak menemukan siapa pun. Ia pikir sudah ada Opix yang sedang menunggunya. Ternyata yang ditunggunya belum juga nongol. Lima menit ia menunggu, 10 menit bahkan sampai setengah jam ia menunggu. Ia sudah mulai gelisah, dan menghawatirkan Opix. "Ya Allah, kemana kak Opix ya ... sampai sekarang belum juga datang," gumamnya. "Ya Allah, kumohon jangan sampai terjadi apa-apa dengan kak Opix" Tangannya gemetar sambil memohon menengadah ke atas. Ia kini semakin gelisah. Segera ia raih benda kotak berwarna merah yang ada di dalam tasnya. "Hallo, kak ... ini kak Opix, 'kan?" Suaranya lirih gemetar. Ia ragu jangan-jangan .... Ah, pikirannya mulai tidak enak.

Kembali

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day6 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 707 bab 6. Kembali Hari itu, kali pertama Bella masuk kuliah semenjak masa perawatan. Namun, tangannya masih berada dalam gendongan. Kini, ada antar jemput sewaktu ia ada jadwal kuliah. Opix berjanji akan mengantar dan menjemput Bella sewaktu ada perkuliahan sampai tangannya sembuh betul. Bella menyetujuinya. Bukannya dia sudah menerima cinta Opix. Opix belum mengungkapkannya. Bella menganggap Opix adalah seorang kakak yang selalu memperhatikan keadaan Bella. Sedangkan Opix sudah lama menaruh hati padanya. Sejak pertemuan pertama di pertigaan jalan kampus dalam keadaan tergeletak. Laki-laki tirus ini terpesona akan keluguan Bella. Selain parasnya yang mungil nan manis Bella juga rajin dalam beribadah. Itulah yang membuat Opix jatuh hati padanya. Bagi Opix Bella adalah seorang gadis yang cantik luar dan dalamnya. Sungguh sayang jika ada seseorang yang tega menyakitinya. "Turun sini aja kak," Tangan Bella menepuk pundak Opix. "Loh, kan masih jauh dari kelas tempat kuliahmu, adik manis ..." rayu Opix. "Bella ingin melemaskan kaki kak, biar ga' kaku. Dah lama gak jalan kaki." tolak Bella. Bella tak ingin teman-temanya tahu jikalau sekarang sudah ada ojeg pribadinya. Bella tak ingin ada isue baru yang menimpa dirinya. "Oh, okelah kalau begitu," pungkas Opix. Dengan perasaan kecewa Opix pun memutar arah menuju tempat di mana ia bekerja. "Jangan lupa ya, nanti wa atau telpon kalau sudah selesai kuliahnya!" teriak Opix. "Siap Kakak," balas Bella. Sesampai di depan kelas tempat ia mengkaji ilmu-ilmu perkuliahan, terdengar suara yang tak asing lagi. "Hey Bella!" teriak Ratna. "Sudah sembuhkah?" sambungnya. "Allhamdulillah, sudah baikan," Bella tersenyum. "Mana teman-teman?" lanjut Bella. "Tauk tuh ... jam segini mereka belum pada nongol." ujar Ratna sambil membetulkan kacamaga bulatnya yang mlorot. Pukul delapan tepat waktu pak dosen datang memasuki ruang kuliah dan diikuti sekelompok mahasiswanya. Termasuk Berna, Udin, dan Sandi. "Saudara-saudara, kuliah Fiqih III kali ini saya akan memberikan tugas saja, karena hari ini saya ada acara", papar pak Faqih. "Tugas membuat makalah dengan tema Macam-macam makanan yang halal dimakan dan dikumpulkan paling lambat tanggal 20 September ini", lanjut beliau. "Okey perkuliahan pagi ini saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh" pungkas laki-laki setengah baya itu. "Siap pak ...!" teriak para mahasiswa serentak. ""Jangan lupa ya, tugas segera dikumpulkan," pesan pak dosen sambil melangkah meninggalkan ruangan. "Sering-sering aja pak, kuliah singkat begini," celoteh Udin. "Tapi tugasnya tuh, yang bikin pusing," lanjut Sandi. "Tenang sobat, 'kan ada Bella," celoteh Udin. Bella hanya tersenyum, dan merasa bahagia, bakal mendapatkan mereka kembali di hari-harinya. Sita, Zena di mana mereka sekarang. Seharusnya hari ini Sita mengikuti kuliah bersama dengannya. Zena, entahlah di mana dia juga tak tahu keberadaannya. Menurut teman-temannya akhir-akhir ini Sita jarang sekali masuk kuliah. Padahal mereka sering melihat Sita dan Zena mojok di kampus. Namun, saat perkuliahan si gadis berwajah bulat yang berbody aduhai itu tidak sempat hadir. Mungkin dia sudah kerasukan cintanya, hingga melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa. Bella dan teman-temannya menuju taman seperti biasa, sambil menunggu jam kuliah selanjutnya. Hari ini serasa cepat sekali, tak terasa matahari sudah tepat di atas kepala. Pantas kalau perut sudah keroncongan tandanya minta diisi. Grup Bella berjalan menuju kantin kampus. Mereka memilih menu sesuai kantong masing-masing. Bella hanya memesan es teh saja, di kost mamanya sudah memasak menu kesukaannya. Hanya demi kebersamaan dia rela hanya sekedar memesan es teh. Tiba-tiba handphone berdering, terdengar dari dalam tasnya. ["Assalamu'alaikum, anak manis pulang jam berapa?"] suara Opix yang akan memenuhi janjinya. ["Sebentar lagi kak, Bella siap-siap jalan. Tunggu di pertigaan saja ya ...."] papar Bella. "Aku duluan ya ... " Tangan kanannya menyangkolng tas ke pundak kirinya. "Hati-hati ya, Bel ...." pesan Ratna yang sebentar-sebentar membetulkan kacamatanya yang sudah tepat pada posisinya. Bella menyruput es teh yang hampir habis itu, lalu bergegas melangkah menuju pertigaan tempat ia kencan sama Opix. Tanpa mempedulikan Ratna yang masih mengkhawatirkannya. Sampai di pertigaan ternyata Bella tak menemukan siapa pun. Ia pikir sudah ada Opix yang sedang menunggunya. Ternyata yang ditunggunya belum juga nongol. Lima menit ia menunggu, 10 menit bahkan sampai setengah jam ia menunggu. Ia sudah mulai gelisah, dan menghawatirkan Opix. "Ya Allah, kemana kak Opix ya ... sampai sekarang belum juga datang," gumamnya. "Ya Allah, kumohon jangan sampai terjadi apa-apa dengan kak Opix" Tangannya gemetar sambil memohon menengadah ke atas. Ia kini semakin gelisah. Segera ia raih benda kotak berwarna merah yang ada di dalam tasnya. "Hallo, kak ... ini kak Opix, 'kan?" Suaranya lirih gemetar. Ia ragu jangan-jangan .... Ah, pikirannya mulai tidak enak.

Galau

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day7 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 727 bab 7 Galau Tak ada jawaban yang terdengar dari handphone itu. ["Hallo ... hallo ..., ini kak Opix bukan?" ]Suaranya tegas mengulangi pertanyaan. ["Iya Bella, tunggu di situ dulu ... maaf ini lagi di bengkel"] jelas Opix. Lega rasanya mendengar suara Opix. Sempa dia cemas dibuatnya. ["Memangnya mobil kenapa, Kak?"] Bella penasaran. ["Ga papa kok, hanya saja saatnya minta diservis. Maaf kakak lupa kasih kabar ke kamu. Ni sebentar lagi selesai kok, sabar, tunggu saja ya ... "] papar Opix. ["Siap kak"] tegas Bella. Satu jam tepat ia menunggu sang pangeran. Kini sang Pangeran akhirnya datang juga. Andaikan tak ada tempat duduk dan pohon yang besar, tak mungkin dia betah menunggu. Disibukkan pula ia dengan chat para pelanggan yang akan pesan barang. Alhamdulillah, banyak pesanan masuk. Sebagai pedagang online, ia harus rajin pegang ponselnya. Sesekali melihat whatsapp yang masuk. Lalu, membalas pelanggan dengan cepat supaya konsumen tidak lari ke tempat lain. "Silahkan masuk nona manis," rayu Opix seraya membukakan pintu mobil. "Trimakasih, kakak yang baik hati" Senyum Bella sambil mengangkat kaki kanannya, lalu menaruh bokongnya di jok mobil depan. Opix pun masuk dalam mobil tempat ia mengendalikannya sesuai dengan tujuan. Mobil melaju dengan pelan menuju tempat kost Bella. Sampai di kost, disambut hangat oleh mama Bella. "Silahkan masuk, Nak Opix" sambut Rena. "Ini es jeruk manis sekedar penghilang rasa haus" lanjut Rena sambil meletakkan segelas es jeruk di meja ruang tamu. "Trima kasih, Tante" Setelah menyeruput es jeruk, Opix pun tak lama duduk lalu berpmitan. "Maaf tante, saya tidak bisa lama-lama di sini. Karena harus kembali ke kantor. Masih ada yang harus saya selesaikan." kata Opix seraya meraih kontak mobilnya di atas meja. "Iya, Nak hati-hati ... maaf merepotkan." "Gak kok Tante, saya justru malah senang diberi kesempatan menemani Bella." sahut Opix. "Bella, kakak pamit dulu ya ... jaga kondisi baik-baik." seru Opix "Siap kakak, hati-hati." Sementara di atas meja sudah siap menu makanan kesukaan Bella. "Lapar banget rasanya hari ini," gumamnya. "Jam segini baru makan siang" gerutunya. Lalu ia menyantap makanan yang berada di atas meja. Saking laparnya ia baru ingat mamanya.Padahal nasi yang ada di piringnya sudah hampir habis ia makan. "Ma, mama sudah makan apa belum?" tanya Gadis itu. "Makanlah Nak, mama sudah kenyang." terdengar suara Rena menjawab dari dapur. Selesai makan siang Bella merebahkan tubuhnya sejenak sekedar pelepas lelah. Tiba-tiba angannya melayang ke seeorang berbody atletis itu. Ia teringat masa-masa bersama Zena. Ya, ia masih mencintai lelaki itu. Rindu dan benci campur aduk jadi satu. Sampai detik ini Bella pun tak tahu permasalahannya. Apa sebab ia ditinggalkan begitu saja oleh Zena. Bella tak punya keberanian untuk menanyakan. Ia selalu mengalah jika ada beda pendapat dengan Zena demi keutuhan hubungannya. Ia rasa ingin bertemu dengan Zena, ingin diselesaikan secara baik-baik apa maunya Zena. Bella masih berharap Zena kembali bersamanya. Lalu tangan kanannya bergerak ke arah ponsel merah seraya mencari aplikasi whatsapp. Jemarinya mencari nama Mas Zena di kontak ponsel itu. Lalu seraya ia mengirim pesan kepada Zena. "Mas, Bella ingin bertemu bisakah? ... " lalu ia tekan tombol sent. Pesan yang singkat dan padat. Sekejap langsung dibalas. "Di mana dan kapan?" "Di kampus jam 9 ya" "Oke aku tunggu di sana." **** Esok hari telah tiba, seperti kemarin Bella dijemput Opix jika hendak ke kampus. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampui. Sekalian berangkat kerja, Opix sekalian mengantar Bella ke kampus. Bella turun di pertigaan jalan menuju kampus. Lalu jalan ke arah tempat yang dituju.Dalam perjalanan, ponselnya berdering. ["Haloo, aku sudah nunggu di taman"] ujar Zena. ["Ya, tunggu sebentar ... masih di jalan"]jawab Bella. Hati bella berdebar kencang, hatinya dag dig dug. Rindunya sudah menggunung, tetapi rasa sakit dalam hatinya belum juga terobati. Harapannya inilah saatnya untuk mengobati. Tetapi perasaannya mengatakan tidak mungkin, tak mungkinia mau diduakan. Sudah ada Sita di samping Zena. Walaupunia yang pertama, tetapi Zena sudah tergoda oleh kegenitan Sita. Di taman, Zena sudah menunggu. Ya benar Zena sudah duduk di banngku taman. "Hallo mas, apa kabar? Suaranya lirih bergetar. "Alhamdulillah, baik." jawab Zena. "Kamu sendiri bagaimana? sambung Zena. "Aku juga Alhamdulillah, ini tinggal pemulihan saja" Bella mengangkat sedikit ke atas tangan yang digendong itu. Suasana hening. Mendung menyelimuti langit, hingga dunia terasa gelap gulita. Seakan langit segera meneteskan airnya untuk menyirami bumi. Kini keduanya membisu, Zena hanya memandangi wajah mungil nan manis itu. Dia belum berkata apapun. Entah apa yang ada dalam fikirannya. Sedangkan Bella bingung mau berkata-kata, mulai dari mana ia akan bicara. Ingin rasanya Bella memulai membuka pembicaraan. Namun bibirnya kalut. Suasana hening.

AkuTak Sendiri

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day8 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 710 bab 8. Aku Tak Sendiri Akhirnya Bella memaksakan dirinya untuk memecahkan suasana. Walau dengan nada gemetar tak kuasa membendung rasa. Namun, ia tetap menguatkan hatinya untuk menjaga keutuhan cintanya dengan Zena. "Begini mas, kita sudah lama menjalin hubungan ini. Aku ingin hubungan ini kita lanjutkan ke jenjang yang lebih serius" pinta Bella dengan nada yang serak-serak basah menahan rasa. "Lalu bagaimana menurut mas Zena?" lanjut Bella. "Ya, aku masih tetap mencintaimu." tegasnya. "Tapi kemana dan kenapa mas menghilang tak pedulikan aku?" nada Bella agak tinggi. "Lha, aku kan sibuk ... aku lagi ngerjakan skripsi sampai sekarang belum di ACC, pusing aku," jawab Zena. "Lha mas kan bisa kasih aku kabar atau apa kek, bisa lewat telphone atau whatsapp," bantahnya. "Bell, aku gak punya pulsa, beli pulsa pakai duit" kata Zena dengan nada agak tinggi. Kalau sama Zena memang apa-apa alasannya bilang gak punya duit. Sering kali Bella yang mengeluarkan duit duluan jika hendak ke kantin atau sekedar beli es teh ataupun jika potocopi makalah atau tugas kuliah. Tetapi kalau cewek sering-sering keluarin duit ya .... Tetapi karena saking cintanya ya dilakonin aja. Sudah kadung mencintai, bagaimana lagi. Mendengar kata-kata Zena, Bella pun diam, dia juga tidak mau keluar uang terusan. Emang uang dari mana, ya memang benar sich, Bella dapat uang hasil jualan online, tetapi bukan untuk ntraktir Zena terus-terusan. "Mas, sudah lama aku curiga ada apa antara mas dengan Sita?" ungkapnya. "Mas tahu 'kan kalau Sita itu teman karib aku," lanjutnya. "Sejak aku memergoki kalian, dia tidak mau ketemu aku, aku telpon aku wa juga di tidak respon." lanjutnya lagi. "Ada apa mas dengan Sita, jawab mas?" teriak Bella. Kebetulan di taman lagi sepi, mahasiswa pada sibuk masuk kuliah masing-masing. Sedangkan Sita saat ini tak ada kuliah, jadi kebetulan bisa membicarakan hubungannya dengan Zena. Mendengar teriakan Bella, Zena pun kelihatan gelagapan. Alasannya tadi tidak masuk akal, dia ketahuan berbohong. Manusia sekali berbohong akan diulangi dengan kebohongan yang kedua kalinya, ketiga dan seterusnya. Kebohongan sekali tak ketahuan, kedua juga tidak, tetapi lama kelamaan akan ketahuan juga. Bangkai yang busuk lama-lama akan tercium juga. "Ya, memang aku mencintai Sita ..." katanya dengan nada lirih. "Lha aku terus mau dikemanakan mas? Bella meraung. Dengan spontan tangan Zena membungkam mulut Bella, malu jika terdengar orang. "Iya, iya aku mencintai kamu, tetapi aku tidak bisa meninggalkan Sita ...." terangnya lirih. "Jadi ... jadi ... kau tega mas ...." Bella menahan isak tangisnya. "Di sini dulu kau ungkapkan perasaanmu padaku, di sini pula kau jelaskan sakiti aku" Tak tahan ia menumpahkan air matanya. Mereka lalu diam tanpa kata-kata. Bella berusaha mengendalikan diri, berusaha untuk kuat. Semua akan dikembalikan pada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kuat. Dia tidak mau diduakan. Mumpung masih belum terlalu jauh berhubungan dengan Zena, Bella pun memutuskan untuk mundur saja. Lebih baik sakit sekarang daripada teralu lama, toh akhirnya akan sakit juga. Lalu ia berusaha memutuskan dengan tanpa isak tangis. "Begini saja mas, aku tidak mungkin kau duakan, aku tidak bisa" nadanya pelan dan datar. "Tidak, Bella ... aku tetap mencintaimu, aku akan berubah." kata Zena. "Berubah bagaimana, Mas?" tanya Bella dengan nada agak tinggi. "Aku akan mengerti keadaanmu," jelas Zena. "Lalu, kau akan tinggalkan Sita demi aku?" "Ga bisa Bell, aku ga bisa ninggalin Sita, dan kamu" seru Zena kebingungan. "Kenapa mas, aku yang pertama mencintaimu," Bella menghiba menangis di hadapan Zena. "Karena Sita banyak sekali jasanya padaku, dan kau ...." "Ya, aku tak ada berjasa padamu, mas" potongnya. "Berarti benar kata mereka .... Tetapi aku tidak percaya jika aku tidak membuktikan sendiri. Maaf mas, aku ini gak punya apa-apa. Bukan seperti Sita, orang kaya." "Lebih baik aku mundur saja" putus Bella. "Lebih baik aku sendiri, dan masih banyak teman yang baik padaku" lanjutnya pula. "Maafkan aku selama ini ...! Zena hanya tertegun bagai patung yang tak bisa bergerak. Dia sebenarnya masih mencintai Bella. Jujur saja, kalau dibandingkan antara Bella dan Sita ia lebih suka Bella. Tetapi ia juga butuh fasilitas kemewahan. Bella hidupnya sederhana, sedangkan Sita hidupnya glamor. "Sudah mas, aku pamit dulu, selamat berbahagia dengan kekasih barumu itu. Dialah sahabat karibku yang kini telah mengkhinati aku." "Jangan Bell, dengarkan penjelasanku," "Tidak, Mas ... tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Sudah jelas." tegasnya sambil berlalu meninggalkan Zena sendirian. Tak perlu memgemis cinta pada seorang Zena. "Aaach ...! Zena melempar batu kecil ke arah pohon yang rindang. "Busyeet! teriak Zena keras. Untung tak ada orang di sekitar yang mendengarnya.

Bersamamu

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day9 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 714 bab 9 Bersamamu Di perjalanan, Bella berniat untuk jalan kaki sampai kost. Hatinya kalut, kacau, sedih, ingin marah dan sebagainya. Ingin ia menjerit sekeras-kerasnya untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Ia berusaha untuk menguatkan dirinya. "Ya Allaaah, ampunilah hambamu ini," desah Bella. "Kuatkanlah hamba-Mu ini ... aku yakin semua ini adalah yang terbaik. Aku yakin engkau akan memiihkan yang terbaik bagiku." dalam hati ia memohon. Lalu ia berfikir, kenapa ia begitu mencintai Zena. Yah, selain wajahnya yang ganteng, Zenalah yang pertama kali mengungkapkan perasaan cinta kepdanya. Perhatiannya pada Bella sungguh luar biasa, kesetiaannya dalam menemani kemana Bella pergi. Tetapi itu dulu, saat belum mengenalkan Sita padanya. Hatinya dibolak balik, semua akan dikembalikan kepada yang Maha Kuasa. Akhir-akhir inilah di saat Bella membutuhkan Zena, malah tak kunjung datang, komunikasi lewat handphone pun susah nyambungnya. Dengan alasan tak punya pulsa, tak punya kuota. Pernah Bella mengisikan pulsa untuknya, baru komunikasi lewat HP lancar. Namun, hanya sebentar saja. setelah menghilang. Seperjalanan dari kampus ternyata ia melamun. Sesampai di pertigaan kampus tempat ia menunggu Opix kemarin, terdengar suara nada dari handphonenya. ["Hallo, dik Bella sudah selesai urusan kampusnya?"[ tanya Opix. ["Iya, Kak, ini Bella berniat jalan untuk melemaskan kaki yang sudah lama tidak berjalan. "] jelas Bella. ["Jangan sayang ... eh, Bell ... nanti kamu capek lho ...."] ledek Opix. ["Ga papa, biar saja aku sakit,"] ujar Bella putus asa. [Jangan, Dik ... nanti kakak temannya siap?"] ungkap Opix. ["Tunggu kakak aja ya ... ?" lanjutnya. Bella tidak membalas, dan ia hanya diam membisu, lalu menutup telphone merahnya. Tak lama kemudian, datanglah seorang Opix di belakang dengan mobil xania putihnya. Berhenti tepat di sampingnya. Dalam keadaan menangis tersedu-sedu, Opix menemuinya. "Kenapa menangis, Cantik?" Tangan Opix meraih tangan Bella lalu diangkatnya sejajar dengan dada. "Jangan bersedih ..., ada kakak yang akan selalu menemanimu." Opix melempar senyuman. "Ayo cerita pada kakak, kenapa kamu menangis?" Bella masih terdiam membisu. Lalu Opix menggandeng Bella dan membuka pintu mobil mempersilhkan Bella duduk di sebelah sopir. Dibunyikan mesin mobilnya itu. Mobil melaju dengan kecepatan rendah. "Kakak haus, Dik ... temani kakak yuk!" tangan kiri Opix menggenggam jemari Bella sedangkan tangan kanan mengendalikan kemudi. Bella hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Mobil berhenti di depan warung bakso pak Dandung. Lalu mereka masuk dan memilih tempat yang nyaman buat ngobrol berdua. "Pak, mie bakso dua, es jeruk dua ya, Pak!" pesan Opix. "Oke, Mas." jawab pak Dandung. Bakso pak Dandung ini terkenal enak dan murah, jadi, tak heran kalau pelanggannya luar biasa. Setiap hari ramai dikunjungi para pelanggan. Sementara itu, Bella masih diam membisu sambi melihat lalu lalangnya para pelanggan yang sedang asyik mengantri bakso dan mie ayam. "Bella ...." Opix memecahkan suasana. Bella masih diam dan menaruh kepalanya di atas meja. Tak terasa air mata membasahi meja. Lalu kedua tangan Opix meraih pipi kanan dan kiri Bella sambil diangkat di hadapan wajahnya. "Bell, coba lihat kakak" ajaknya Bella masih terdiam. "Tolong ceritakan pada kakak, apakah yang sebenarnya terjadi padamu?" tanyanya. Air mata Bella keluar semakin deras, lalu Opix mengusapnya dengan tissue. "Bella sudah sholat dhuhur, belum?" priksa Opix. Bella menggelengkan kepalanya. "sekarang sudah jam dua, kalau begitu, yuk kakak antar dulu ke musholla." "Pak, maaf saya mau ke musholla dulu, pesan baksonya kasihkan orang dulu ya, sebentar lagi saya ke sini lagi." terang Opix pada pak Dandung. Akhirnya Opix mengantar Bella melaksanakan sholat dhuhur di musholla sebelah warung bakso pak Dandung. Sambil menunggu Bella, Opix meminta ijin kepada Rena lewat telpon wa. Bahwa saat ini Bella sedang bersamanya. Takutnya Rena kepikiran anak semata wayangnya itu. Selesai sholat, Opix mengajak kembali ke tempat semula tadi sambil memesan mie bakso kembali. "Pak, mie bakso yang tadi saya pesan ya ...." kata Opix. "Ya, Mas ... ini sama es jeruknya ya ...." kata pak Dandung. "Sebentar saya siapkan" tambah pak Dandung. Tak lama kemudian karyawan pak Dandung datang membawa dua mangkuk dan dua gelas es jeruk segar. "Silahkan, Mas" "Trimakasih" jawab Opix. Dengan tidak bersemangat Bella mengunyah mie bakso yang ada di depannya. Opix selalu memperhatikan, memandangi wajah Bella. Lama kelamaan Opix tak bisa memendam rasa. Namun, masih ia tahan. Menunggu saatnya yang tepat buat mengungkapkannya. Yang penting saat ini proses pendekatan terlebih dahulu ia lakukan. Ia yakin bahwa Bellalah yang akan menjadi pendmpingnya kelak. Saat itu suasana menjadi senyap. Opix berusaha memecahkan suasana. "Dihabiskan tuh makanannya, mubadzir lho kalau enggak," seru Opix. "Iya, kak. Trimakasih sudah memawa aku ke sini" jawab Bella masih belum bersemangat.

Dalam pelukan mama

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day10 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 700 bab 9 Dalam Pelukan sang Mama Senja semakin kelabu, menemani si gadis manis mungil itu yang sedang berdiam diri. Merenungi semua yang telah terjadi. Merenungi segala kekuasaan illahi. Berusaha mengobati hati diri sendiri. "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku selama ini," Bella berdoa.lanjutnya "Kuatkanlah hati hamba Ya Allah," . Melihat dan memperhatikan putri semata wayangnya itu, Rena lalu menghampiri Bella dan bertanya. "Sayang, mama perhatikan akhir-akhir ini kamu selalu murung, kenapa?" tanya Rena sambil menggantikan perban yang melekat di siku Bella. "Gak kok mah, Bella hanya kecapaian aja," jawab Bella. "Oh ya bagaimana tadi, katanya habis makan-makan sama kak Opix?" "Iya, Mah" jawabnya singkat. "Opix itu orangnya baik ya ..." hibur mama. "Iya, Mah ... tadi sebenarnya Bella mau pulang ke kost jalan kaki saja, eh malah gak boleh." ujar Bella. "Terus ...?" tanya Rena kepada gadisnya. "Ceritanya begini, tadi itu Bella lagi patah hati, Ma ..." curhat Bella. "Patah hati?" "Emangnya Bella patah hati sama siapa?" "Kok mama gak tahu?" lanjut Rena. "Ceritanya begini ma, Bella sudah menjalin hubungan cinta sama kakak angkatan yang namanya Zena." papar Bella. "Suatu saat kekasih Bella berkunjung ke sini. Nah, waktu itu Sita ikut nemui, skalian Bella kenalkan sama teman akrab Bella itu." lanjut Bella. "Lalu?" tanya Rena penasaran. "Lalu, Ma ... " Cerita Bella terputus oleh isak tangisnya. Rena memeluk anak tunggalnya itu dan segera menenangkan. "Sayang, kamu tidak sendirian, ada mama yang selalu mencintai dan menyayangi sepenuh hati." kata Rena. "Boleh mencintai seseorang dengan tujuan untuk menjadi pasangan hidup. Tetapi, mencintailah dengan sewajarnya saja. Agar suatu saat jika cinta itu terbang terbawa angin, kamu tidak terlalu kecewa dan putus asa." terang Rena. "Kata Rasulullah bahwa sesuatu itu yang sedang-sedang saja," papar Rena lagi. Sementara Bella masih menangis tersedu-sedu, air mata mengalir tak henti-henti hingga membasahi baju Rena. Kemudian, Rena menidurkan gadisnya di atas ranjang kamar kost yang sangat sederhana itu. "Sudah berapa lama kau menjalin cinta dengan si Zena itu, Sayang?" tanya Rena. "Se ... jak semester tiga, Ma ..." jawab Bella sambil menahan isak tangisnya. Rena tidak mengetahui sebab musababnya terjadi kecelakaan yang menimpa putrinya. Hanya yang dia tahu adalah Bella mau menyebrang dan karena kekurang hati-hatian Bella akhirnya dia terserempet sebuah mobil. Yang tak lain adalah Opix, hingga sekarang malah menjadi baik. "Sejak semester tiga hingga sekarang?" tanya Rena. "Tidak, Maaa ...." "Zena sekarang sudah punya yang baru, dia adalah Sita sahabat Bella." "Bella gak mau diduakan." "Sita mengkhianati Bella ..." teriak Bella sambil menutup mulutnya dengan bantal. Sehingga teriakannya tak terdengar dari luar. "Sabar, Sayang ... Allah telah menyayangmu, Allah akan memilihkan untukmu seseorang yang jauh lebih baik. Ambil saja hikmah dari peristiwa yang kamu alami. Selalu ada hikmah di balik semua kejadian." Rena menasihati anaknya. "Kamu masih beruntung, Zena belum sampai melamarmu, atau menikahimu. Banyak pasangan yang sudah ke jenjang serius yaitu proses lamaran tetapi karena suatu hal entah tergoda sama perempuan lain atau lain sebab. Akhirnya semua batal. Ada juga yang sudah menikah dan sudah punya anak, hanya karena perselingkuhan akhirnya pernikahan kandas." papar Rena memberikan nasihat. Bella hanya mengangguk-angguk tandanya mengerti. Nasihat demi nasihat diberikan terus oleh Rena kepada anak satu-satunya itu. Lama kelamaan akhirnya Bella mengerti dan terobati. Tidak mudah terbawa oleh perasaan yang terkadang membutakan mata hatinya. Sehingga tidak mudah putus asa. "Dulu, ketika papamu meninggal, mama juga hampir putus asa, menurut mama tak ada lagi yang bisa mengerti mama, tak ada lagi yang menemani mama, tak ada lagi yang bisa menghidupi mama dan kamu. Tetapi mama salah besar. Padahal ada kamu yang akan selalu menghibur mama, ada om, tante yang selalu menemani. Tetapi mereka tidak selalu berada di dekat mama, karena mereka punya urusan sendiri. Hanya Allahlah yang bisa membuat mama kuat. Ada Allah di setiap saat tempat mengadu segala permasalahan mama. Kepada Allahlah mama selalu mendoakan papamu selepas sholat fardhu dan di sepertiga malam mama." Kini Bella semakin mengerti dan mulai membuka lembaran baru untuk melalui hari-hari ke depan dengan cerah. Keduanya lalu berpelukan sambil meneteskan air mata mengenang Fadholi almarhum yang telah lama mendahului mereka menghadap sang kholik. Mereka bersyukur, karena masih diberikan kesempatan bernfas untuk mempebaiki kehidupan yang lebih baik. Setelah melaksanakan sholat Isya lalu makan malam, mereka segera beristirahat untuk bangun di sepertiga malam nanti. Tak ada kata lain selain bersabar dan bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Akhirnya mereka pun terlelap oleh mimpi-mimpi indah mereka.

Saatnya Pulang

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day11 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 705 bab 11 Saatnya Pulang Hari berganti hari, tak terasa sudah sudah dua minggu Rena meninggalkan aktifitasnya untuk menemani putri kecilnya. Kini seiring dengan pulihnya raga Bella, saatnya sang mama melanjutkan perjuangan untuk menyambung hidup untuk diri beserta putri semata wayangnya. Kini, tinggal Bella sendiri di kost. Selain Bella, ada banyak anak yang kost di tempat Bella nge-kost. Mereka berasal dari berbagai daerah dan propinsi yang berbeda. Namun, juga ada yang berasal dari satu daerah. Hari telah pagi, jarum jam membentuk seperempat lingkaran. Saatnya Bella dan mamanya mencurahkan segala isi hati kepada sang Illahi. Di sepertiga malam yang sudah biasa mereka lakukan itu hampir tidak pernah absen. Bahkan hampir menjadi sebuah kewajiban bagi mereka. Lalu dilanjutkan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Tak lama kemudian, terdengarlah suara seruan sholat yang dikumandangkan oleh mu'adzdzin yang tak jauh dari kost. Sehingga memungkinkan Bella dan teman-temannya untuk melaksanakan jamaah shalat shubuh di masjid. Setelah sholat subuh, Rena dan Bella ke dapur, mereka membuat sesuatu untuk mengganjal perut yang masih kosong. Mereka membuat menu yang sangat sederhana. Nasi dan sambel terong beserta lauk tempe goreng. Selesai membersihkan badan dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kegiatan masing-masing, mereka lalu berkemas-kemas dan saling berpamitan. Rena berpamitanterlebih dahulu untuk pulang ke kampungnya. "Mama pamit dulu ya, Nduk ... jaga diri baik-baik," pamit Rena. "Iya ma, hati-hati ya ma ... nanti kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabar-kabar lewat wa ya ..." pinta Bella. Bella menemani mamanya nyegat bis Semarang - Jepara di halte bis dekat kampus. Tiba-tiba handphone berdering. ["Hallo dik Bella, kakak baru saja mau berangkat. Hari ini kakak bangun kesiangan tunggu sebentar ya ..."] terang Opix. ["Iya, Kak ... ni Bella juga lagi nemenin mama nyegat bis mau pulang hari ini," ujar Bella. ["Lho kok gak ngasih tahu kakak sich, harusnya kakak juga ikutan nemenin," kata opix. Tanpa berkata apapun, Opix langsung menutup ponselnya. Ia bergegas menyusul Bella. Segera ia bunyikan mesin motor supra X25 nya menuju ke arah halte depan kampus. Kali ini ia ke kantor pakai motor supaya cepat mengejar mama Bella untuk berpamitan. "Alhamdulillah, bisa ketemu tante," Opix segera menyelipkan sebuah amplop ke dalam tas Rena. "Lho apa ini, Nak?" tanya Rena. "Maaf tante, itu hanya sekedar untuk ongkos naik bis aja kok!" tutur Opix dengan lirih. "Oh, Nak ... kok repot-repot. Terima kasih, semoga Allah segera membalasnya." doa Rena. Sementara Bella hanya memandangi mamanya, karena sebentar lagi tak ada yang menguatkan hatinya. Ia sangat sedih melepaskan kepergian Rena untuk pulang kampung. Sebagaimana anak kecil yang sedang mondok yang baru saja ditinggal oleh kedua orang tuanya waktu besuk. Bis Semarang-Jepara sudah tiba, saatnya Rena menaikinya. Bella salim sama mamanya seraya berkata : "Hati-hati ya, ma ...." Rena hanya mengangguk dan tersenyum manis. Bis melaju meninggalkan Bella dan Opix. Tak terasa air mata Bella keluar membasahi pipi Bella. Opix yang berada di sampingnya berusaha menghibur. "Cup cup sayang ... kan ada kakak di sampingmu," ledek Opix sambil memberikan tisue kepada Bella agar mengusap air matanya. "Yuk, naik!" ajak Opix Bella menurut saja apa perintah Opix. Kali ini Bella diantar Opix sampai ke depan kelas tempat masuk kuliah. Bella turun dari motor, lalu Opix segera pergi. "Duh, pacar baru nich yee ...! ledek Sita tiba-tiba datang dari arah belakang. "Eh, kamu ... ngapain ngurusi orang lain, hai pengkhianat!" cerca Bella. "Enggak, aku hanya ikut senang aja karena sudah dapat yang baru," sambung Sita "Huh dasar tak tahu malu" maki Bella. "Ngrebut pacar orang," lanjutnya. "Emang kenapa dia juga lebih memilih aku," cibir Sita. "Kamu sich ... kalau diajak kemana-mana pasti ada aja alesan," ledek Sita sambil mencubit hidungnya sendiri. "Coba aku, aku kan selalu siap untuk mas Zena, makanya dia lebih memilih aku." lanjut Sita. Bella hanya bisa terdiam mengelus-elus dadanya. "Semoga engkau segera mendapatkan hidyah, Sita," doa Bella. "Hidayah apa?" cibir Sita sambil membuang muka. Ternyata Ratna dan teman-temannya menyaksikan Bella dan Sita yang sedang adu mulut. Mereka geleng-geleng kepala mendengar perkataan Sita. Mereka merasa iba kepada Bella dan muak melihat kelakuan Sita. Walaupun disakiti, tetapi Bella malah mendoakan Sita. Bukankah itu sifat Rasulullah? Berkali-kali Rasulullah disakiti fisik maupun batin, tetapi Rasulullah membalasnya dengan doa. Memang sih, Bella sering kali menolak jika Zena mengajak ke suatu tempat yang sekiranya merugikan harkat dan martabat seorang wanita. Bella selalu menjaga diri dari hal-hal yang melanggar agama. Takut terjerumus dalam godaan-godaan syeitan yang selalu menggoda manusia dari arah manapun.

Demi Cinta

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day12 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 712 bab 12. Demi Cinta Kemudian Sita pergi meninggalkan Bella seakan di takut dimaki oleh Ratna dan kawan-kawan. "Sabar Bell, tenangkan hatimu," ungkap Ratna sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang terasa bergeser ke bawah. "Iya Rat, aku tidak apa-apa." hibur Bella untuk diri sendiri. Sita sudah berubah menjadi 180 derajat, yang dulunya setia dan sayang sama Bella, sekarang seakan- akan menjadi musuh yang paling berat. Atau mungkin dulu baiknya karena tugas kuliah selalu nyontek Bella. Namun, sekarang dia sudah tidak butuh lagi menyontek. Hanya karena cinta dia rela memutuskan tali persahbatan dan tega menyakiti hati. Begitulah dunia ini serba mungkin. *** Setelah bertemu dengan Bella, Sita berniat menemui kekasihnya. Ya, Zena saat ini sedang berada di kampus untuk bimbingan skripsi yang hampir kena drop out. "Mas ... mas ... " teriak Sita dengan manjanya memaggil sang pacar. "Hey ... ngapain kamu ke sini!" desus Zena. "Gimana sich, Mas kok ngapain." ujar Sita centil. "Kan lagi nyari kekasih aku," lanjutnya tanpa malu-malu. "Iyaa, tapi aku di sini kan lagi bimbingan ..." sahut Zena dengan nada agak kasar. "Iya aku tahu, emang kenapa?gak boleh?" tanya Sita ngeyel. "Ganggu, tahu ...." ujar Zena. "Apa katamu?" bentak Sita. "Enggaak sayang, maksud aku kita ketemunya nanti aja kalau sudah selesai bimbingan." bisik Zena. "Okeylah aku nungguin kamu aja di sini," lirih Sita. "Eh, Yang ... aku haus tuh bisa ga beliin minum untukku?" kata Zena. "Oh ... mas mau minum, okey yuk kita ke kantin dulu!" ajak Sita. "Lhah, aku kan lagi nungguin dosen. Jadi, kamu aja yang beliin minum bawa ke seni!" seru Zena. "Huh! kok malah aku disuruh nyari minum sich!" gerutu Sita. "Ya sudahlah mas, demi kamu aku akan cari minum untukmu." muka Sita mengkerut gara-gara kekasihnya itu. Sita melangkah tampak letih dan lesu untuk mencari sesuatu demi kemauan kekasihnya. Sampai di kantin, Sita menjumpai sekelompok Bella dan teman-temannya. "Hey cewek .... kok sendirian ...! ledek Udin. "Mana pacar barumu?" sambungnya. "Apa urusanmu?" bentak Sita. "Sudah-sudah, ga usah urusin hal yang gak penting." kata Berna, sok nasihati temannya. Mereka kalau sudah bertemu pasti ada aja yang mereka obrolkan. Jika salah satu di antara mereka ada yang tersakiti, maka yang lainnya ikut merasakan sakit. Begitu juga sebaliknya jika di antara mereka ada yang sedang berbahagia, maka yang lainnya juga berhak ikut merasakan kebahagiaannya. Mereka berlima bagaikan sebuah bangunan yang kokoh. Udin, Ratna, Berna, Sandi dan Bella sejak awal masuk kuliah sampai sekarang sudah semester tujuh. Jika ada tugas mereka saling berdikusi dan bekerja sama. Beda dengan Sita yang sukanya hanya menyontek dan tidak mau berusaha. Dia mengandalkan uang sakunya yang banyak setiap bulan untuk membayar siapa saja yang mau membantu dia. Atau sekedar menyenangkan keinginannya. Seorang anak orang kaya raya yang bergelimng harta, tak pernah sedikitpun merasakan perihnya kekurangan. "Air mineral dua botol, donat dua,siomay dua dan kacang dua, berapa buk?" tanya Sita sambil menggenggam uang lima puluh ribuan. "Enam ribu tambah empat ribu tambah sepuluh ribu tambah lima ribu, total dua puluh lima ribu rupiah, Mbak." jawab pegawai kasir di kantin. "Okey, Buk." " Ini kembanliannya," kata pegawai kasir. "Trimakasih buk" Tangan Sita menerima uang kembalian. Lalu kembali nyamperin si Zena dengan langkah terburu-buru. Entah kenapa jika Zena yang meminta, dia sepertinya harus buru-buru segera menuruti keinginannya. Seperti takut kehilangan seorang Zena yang gagah dan perkasa. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Memang cinta itu bisa mengalahkan segalanya, cinta itu bisa membuat orang lemah menjadi kuat, cinta itu bis membuat orang kuat menjdi lemh, dn cinta itu bisa membuat orang waras menjadi gila. Tetapi cinta itu tidak akan kekal selamanya kecuali cinta Allah. Jadi, segala sesuatu harus dikembalikan kepada Allah yang maha segalanya. Sita mencari Zena di tempat bimbingan skripsi tadi, ia tengok ke kanan, ke kiri, depan dan belakang tak juga Sita menemukan. Ternyata si Zena sedang bersama pembimbingnya di dalam ruang dosen pembimbing. Ia menunggu sampai sang kekasih keluar dari ruagan. Lama ia menunggu hingga waktu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh menit baru Zena selesai bimbingan. "Huft ... busyeeet ... begitu sulitnya mau jadi seorang sarjana." keluhnya. "Tahu kayak gini, mendingan jualan bakso dapat banyak uang," ujarnya. "Emang mas Zena mau jualan bakso?" ledek Sita.. "Ya enggak sich, masa jadi tukang bakso ... malu ah," Wajahnya mendadak jelek mulutnya nyuwewek kayak monyet. "Lha habis gimana dong ... revisi, revisi, revisiii ... teruuuus. Bosan aku." Sambil membanting berkas yang ada di tangan kanannya hingga berantakan. Lalu Sita yang memungutnya dan merapikan kembali seperti semula.

Akrifitasku

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day13 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 1.009 bab 13. Aktifitasku Betapa repotnya Sita kali ini, sudah mencarikan makanan dan minuman buat kekasihnya itu, lalu merapikan berkas-berkas yang baru saja berantakan. Namun demikin, Sita masih tetap saja nempel kayak perangko. Setelah semua beres, lalu mereka berjalan menuju parkir motor dan bergegas ke perpustakaan mencari buku yang telah dinjurkan pembimbing skripsi. "Ayo naik, temani aku cari buku!" perintah Zena. "Sayang, sebentar lagi aku masuk kuliah" tolak Sita. "Aah, nanti kuantar lagi ke sini." seru Zena. Tanpa membantah lagi, Sita naik ke punggung motor vario miliknya. Menuruti apa kemauan sang kekasih. Akhirnya merekn menemukan buku yang dicari untuk kutipan skripsi Zena. Waktu menunjukkan pukul dua siang, tandanya perkuliahan akan segera dimulai. Namun, kali ini Sita bolos lagi. Zena menginginkan untuk refrehing, sebab kejenuhannya tadi waktu menghadapi berkas yang belum ada tanda-tanda finish. "Say, kamu gak usah masuk kuliah saja ya ..." ujar Zena. "Kita ke puncak sekarang, kepalaku pening." keluhnya. "Okey sayang, aku setuju," sambut Sita kegirangan. Kemudian, kedua sijoli itu pergi memuncak untuk menghilangkan penat. Bagaikan panci yang ketemu tutupnya. Sita dan Zena seakan jodoh yang pas. Sama-sama suka kesenangan tanpa memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi. Hari semakin siang, mereka baru saja sampai ke puncak. Zena memarkirkan motornya, sementara itu Sita memesan es teh untuk menghilangkan rasa haus mereka. Suasana di puncak, kali itu agak sepi karena bukan hari libur. Jadi mereka berdua bisa menikmati keindahan alam serta menghilngkan sejenak rasa penatnya. Sesekali Zena memeluk Sita, kemudian menciumnya. Sita pun merasakan kehangatan tubuh Zena yang kekar. Udara di puncak, semakin sore semakin dingin. Mereka semakin terlena saja, tak ada satupun orang yang mengenal mereka, sehingga membuat mereka semakin santai. "Sayang, sini mendekat padaku," kata Zena. "Aku mencintaimu," balas Sita sambil memeluk Zena dari depan. Setan-setan nakal segera merasuk ke otak Zena, sehingga tangan nakal Zena langsung menyergap dada Sita yang tertutup jilbabnya. "Mas, jangan ah ..." larang Sita. "Cuma itu sayang, ga apa-apa," Zena berusaha menenangkan Sita yang selalu khawatir. "Aku berjanji tidak akan membuat kamu hamil sebelum aku menikahimu," Zena meyakinkan hati kekasihnya. "He'em ...," Sita memejamkan matanya menikmati tangan Zena yang menyusuri sebagian tubuhnya. Sita masih tergolong polos, karena sebelum dengan Zena, dia belum pernah disentuh oleh laki-laki. Dengan Zenalah dia baru mengenal hal-hal yang tidak patut dilakukan. Namun, dia tetap menikmati karena saking cintanya sehingga lupa akan segalanya. Jarum jam di tangan kiri Zena menunjukkan pukul lima lebih, sementara mereka belum melaksanakan sholat ashar. Walaupun setan sudah menyusup di tubuh mereka berdua, masih beruntung mereka ingat sama Tuhannya. "Sayaaang ... sudah ya, kita kan belum sholat asar," Sita mengingatkan. Dengan sigap Zena menghentikan seluruh aktifitasnya. Hampir setengah enam mereka baru menjalankan kewajibannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Masih beruntung keduanya masih diberikan iman sehingga walau bagaimanapun masih tetap bisa menjaga diri masing-masing. Langit sudah berwarna merah pekat, tanda waktu maghrib segera tiba. Tetapi kedua sijoli itu masih berada di puncak baru akan meluncur turun. Zena mengemudikan varionya dengan kecepatan 70 km per jam sehingga tak membutuhkan waktu lama sudah sampai ke kost kembali. Zena mengantarkan Sita terlebih dahulu, kemudian ia segera balik ke kost dengan membawa motor vario milik Sita itu. Setelah sampai kos, Sita pun segera memasak air untuk mandi dan bersih-bersih. Badannya kotor terkena debu dan asap di jalan. Sementara itu, di tempat kediaman Bella sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah yang baru saja diberikan oleh dosen tadi siang. Sita tidak tahu akan hal itu. Dia lebih mementingkan bersenang-senang terlebih dahulu. Tanpa memikirkan apa yang terjaadi di esok kemudian. "Uufh... ngantuk sekali, padahal baru jam delapan." gumamnya. "Kriuk, kriuk, kriuk" Mulut Bella menggoyang-goyang untuk menghancurkan sesuatu yang ada di dalam mulutnya sebagai pengobat kantuk. Dia harus segera menyeleaikan tugasnya karena esok pagi garus segera dikumpulkan. Kalau tidak, dia tidak akan lulus dalam mata kuliah itu. Atau lulus dengan nilai minim. Hingga pukul sepuluh malam ia menyelesaikan tugasnya. Untuk menghilngkan kejenuhan dia pun mengambil ponsel untuk membuka watsapp. Ternyata banyak sekali pesan yang masuk, baik dari pelanggannya maupun dari yang lain. Di antara pesan-pesan itu yang dibuka pertama kali adalah pesan dari Opix. ["Lagi ngapain, Dik?"] sapa Opix. ["Lagi ngerjakan tugas, Kak. Ini belum selesai."] jawab Bella. ["Oh,kirain sudah persipan pergi,"] Ledek Opix. ["Loh, emangnya mau pergi ke mana malam-malam begini,"] tangkas Bella. ["Pergi ke pulau kapuk."] canda Opix. ["Ha ha ha ... kakak bisa aja,"] Bella tertawa lepas, sampai kesengaran dari balik pintu kamar. ["Ya, sudah met ngerjakan tugas, moga cepat kelar ... dan have nice dream. Jangan lupa mimpikan akak ya ????????...." canda Opix. ["???? ...,"] balas Bella. Tak terasa, Bella pun mulai menanggapi perasaan Opix. Walaupun Opix sampai saat ini belum pernah mengungkapkan rasa sayangnya lewat lisan, tetapi lewat tulisan watsapp sudah berulang kali. Namun, bagi Bella itu dianggap seperti biasa saja. Dinggapnya layaknya laki-laki yang sedang iseng. Malam semakin larut, jarum jam pendek menunjuk di angka tengah-tengah 9 dan 10. Untung saja tugas yang dikerjakan hampir kelar. Tepat pukul sepuluh malam, tugas yang dikerjakan Bella selesai. Sekarang tinggal tugas rutinitas pribadi Bella yang akan dikerjakan. Sembari berbaring di tempat tidur. Diambilnya benda kotak berwarna merah. Saatnya update status whatsapp, instagram, facebook, untuk menawarkan barang-barang dagangan online-nya. Setelah itu dia belum berniat tidur, tetapi malah tertidur lelap. Suasana sunyi dan sepi menemani mimpi-mimpi indah Bella. Burung hantu mulai bersuara, terdengar dari belakang rumah kost. Biasanya jam 10 malam, suasana di dalam kost masih ramai oleh anak-anak semester muda. Ada yang sedang belajar bahan kuliah untuk esok hari, ada yang sekedar membolak balik buku saja. Ada pula yang terdengar hanya memutar musik sambil menirukan lagu-lagunya. Tiba-tiba Bella terbangun oleh alarm di ponselnya ada sebuah pesan masuk dari seorang konsumen yang baru saja lihat status di whatsappnya. Dia menanyakan harga baju, celana, gamis. Namun, tidak dibalas oleh Bella, karena sudah saatnya istirahat jadi hanya di read aja. Biasanya dia membalas para konsumen pada pagi hari setelah subuh. Kemudian ponsel di letakkan di atas meja dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu kembali lagi untuk melanjutkan perjalanannya menuju pulau kapuk. Tak lupa melantunkan doa-doa sebelum tidur, agar mendapatkan keberkahan dalam tidurnya nanti. Dan akhirnya ia pun langsung tertidur pulas. Untuk bangun di sepertiga malam nanti. Begitulah aktifitas Bella setiap hari yang ia lakukan.

Sudah Jelas

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day14 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 703 Bab 14. Sudah Jelas Kriiing ..., Kriiing ..., Kring .... Ponsel Bella berbunyi. Jarum jam menunjuk pada pukul lima pagi, rupanya mama Bella yang menelponnya. ["Hallo, assalamu'alaikum ...."] Suara Rena serak, karena gangguan tenggorokan. ["Walikumsalam, mama?"] Bella tersentak medengar suara Rena yang berat dan serak. ["Kamu gak pulang, Nak?" terdengar suara Rena dari dalam ponsel. ["Ini kan hari Jum'at, mama agak kurang sehat." lanjut Rena. [Iya, Ma ... Insya Allah besok sepulang dari kuliah Bella akan segera pulang ke rumah."] tutur Bella. ["Sudah dulu ya Nduk, mama mau istirahat."] Suara Rena gemetaran. ["Assalamu'alaikum,"] Rena menutup ponselnya. ["Waalaikumsalam,"] pungkas Bella sembari menaruh telponnya di atas meja. Hari ini Bella kuliah jam keenol. Ia berniat berangkat jalan kaki saja sembari menikmati udara pagi yang sejuk. Kini tangan kiri Bella sudah normal seperti bisa. Kali ini, Bella yang memulai menghubungi Opix, takutnya dia nanti akan kecelik, jika hendak menjemput Bella seperti biasanya. Padahal tugas Opix sudah purna dalam antar jemput selama pemulihan. Namun, karena sudah terbiasa antar jemput jadi susah bagi Opix untuk meninggalkan Bella. "[Hallo Kak, Assalaualikum ... Bella sudah on the way kampus jalan kaki, kali ini kakak gak usah antar ya ... Bella lagi pingin melemaskan kaki"] tukasnya. ["Waalaikumsalam. Oh gitu, ya sudah gak apa."] kata Opix. ["Iya, Kak. Bella minta maaf. Assalmu'alikum,"] Bella mengakhiri telponnya. Bella berjalan kaki menelusuri jalan setapak menuju ke kampus. Gadis ini memang mempunyai hobby jalan kaki. Sudah hampir sebulan ia tidak melakukan hobinya itu. Jadi, tak ada salahnya jika kali ini kembali mengulang hobi yang telah lama ditinggalkan. "Bella! Kamu jalan kaki?" teriak Berna. "Ssssttt ...diem. Aku kangen sama daun-daun yang bergoyang di sepanjang jalan. Aku ingin menghirup udara segar di pinggir jalan setapak." papar Bella. "Emang grab mu kemana?" goda Udin. "Ish .... ngaco kamu." bantah Bella "Jam enam, masuk yuk!" ajak Berna. Perkuliahan sebentar lagi dimulai. Para mahasiswa segera memasuki ruangan kuliah mengikuti dosen pengampu. Kurang lebih satu jam setengah perkuliahan jam keenol berlangsung. Setelah selesai, Bella berkeinginan ke perpustakaan, ia kepingin mencari sebuah buku untuk dipinjam. Ia ditemani oleh Berna dan Udin. Kebetulan mereka juga ingin baca-baca. Sampai di sana ia melihat Zena dan Sita juga sedang bertujun yang sama. Sita dan Berna sudah berusaha untuk tidak menampakkan diri. Eh, tetapi ternyata Zena malah melihatnya. "Bell, tunggu!" ujar Zena. Bella dan Sita langsung berjalan menelinap di balik rak buku. Keduanya saling diam membisu agar keberadaannya tidak terlihat oleh Zena. "Bell," Tangan Zena memegang erat tangan Sita sehingga Sita tak bisa berkutik. Zena meraih dari punggung Bella saat Bella fokus ke depan. "Apa-apaan, Mas," lirih Bella. "Bell, tolong maafkan aku, aku ingin kembali padamu." sahut zena. "Sudahlah, Mas ... lupakan saja!" Berna memalingkan mukanya. "Tidak, Bell ... aku masih menyayangimu" "Sekali lagi maaf mas, sudahlah lupakan saja. Kau sudah ada Sita, 'kan? Bagaimana kalau Sita tahu kau ada di sini? Tolong lepaskan, Mas!" ungkap Zena. "Tapi, Bell tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya" Zena melepaskan tangan Bella. "Semuanya sudah jelas dan tidak perlu ada penjelasan lagi. Jadi fokus sajalah sama pacar barumu itu." cetus Bella. Bella tidak ingin sakit kedua kalinya. Sudahlah cukup sekali saja. Bella tetap menolak penjelasan Zena, walaupun hatinya masih ingin menerima. Sementara Berna yang sejak tadi pura-pura membaca buku, dia merekam semua pembicaraan Zena dan Bella. Lalu, di mana Sita sejak tadi kok sampai bisa melepaskan Zena berkelana kemana-mana. Sita sedang asyik membaca sebuah novel, sehingga tak menyadari bahwa Zena sedang tidak ada di depannya. Baru ia menyadari ketika ia akan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Akhirnya ia mencari keberadaan kekasihnya itu. Ditemukannya Zena sedang berada di depan mntannya. "Oh, jadi dari tadi kalian di sini. Awas kamu, Mas!" ancam Sita. "Makanya punya cowok itu dijaga, jangan dilepaskan!" ledek Bella. "Diam, kamu!" Sita menarik tangan Zena. Zena pun tak menolak. Zena seperti boneka yang bisa dikuasai Bella. Zena dan Sita akhirnya pergi meninggalkan Bella dan Berna. Sementara Bella dan Sita masih melanjutkan membaca buku tanpa ada gangguan. Sita dan Zena yang masih berlanjut perang mulut. "Kalau mas masih mencintai Bella, tinggalkan saja aku!" ancam Sita. "Ya enggaklah sayang ... mana mungkin aku bisa meninggalkanmu. Kamu lebih cantik dibanding Bella. Tenang saja aku ga akan macem-macem." ungkap Zena berdalih. "Lha tadi ngapin?" "'Kan aku hanya sekedar menyapa, masa gak boleh." "Tapi awas ya ... kalau ketahuan. Aku ga akan memaafkan." "Oke bos cantik" rayu Zena.

Lukaku Belum Kering

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day14 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 1.077 Bab 14. Lukaku Belum Kering Udara di luar sana sangat panas. Sedangkan di dalam ruang perpustakaan sangat sejuk dan segar oleh fasilitas AC. Membuat para pembaca betah menghabiskan waktunya di situ. Terutama Bella yang memang diberi julukan kutu buku. "Pulang yuk!" ajak Berna sambil mringis memegang perutnya yang keroncongan. "Okey, sebentar lagi," Mata Bella masih berjalan tertuju pada tulisan-tulisan di buku setebal lima sentimeter. Berna sudah tidak sabar, perutnya sudah bergoncang minta diisi. Tak lama kemudian Bella pun selesai membaca. Merek berdua berjalan menuju tempat parkir di mana motor Berna diistirahatkan. "Yuk naik." perintah Berna. "Siap." Kelima jari Bella di letakkan dipelipis. Tanpa menawarkan terlebih dahulu, Berna membelokkan motornya ke depan warung makan dekat perpustakaan. Lalu memesan nasi bungkus untuk bekal makan siangnya. "Kamu mau lauk apa?" tanya Berna. "Tempe mendoan aja, sama es teh." jawab Bella. Lalu Berna membayar semua yang dipesan. Baru saja mereka keluar dari warung, Opix menelpon. ["Kakak mau jemput ya ... Adik di mana?"] tanya Opix. ["Masih di kampus, Kak. Di depan perpustakaan."] jawab Berna. Tandanya ia menyetujui untuk dijemput. Tak lama kemudian, datanglah si putih xenia sudah berada di depan perpustakaan. Opix menoleh ke arah kanan, kiri tak menemukan seseorang yang sedang dicari. Sedangkan gadis manis itu melihat keberadaan Opix yang sedang mencari keberadaannya. Bella pun segera menghampirinya meninggalkan Berna. "Ber, aku duluan ya. Makasih sudah ditraktir." Berna mengangguk. "Hati-hati ya ...." teriak Berna. Laki-laki tinggi kurus itu lalu membukakan pintu mobil untuk Bella. Bella pun masuk dan duduk di samping kursi sopir. "Tadi dari mana?" Mata Opix tertuju pada plastik kresek hitam yang ada di pangkuan Bella. "Cari makan, Kak. Tadi beli nasi bungkus." jawabnya sambil menunjuk plastik kresek hitam. "Sudah makan?" tanya Opix sambil melihat jarak jauh ke depan. "Belum, Kak. Nanti sampai di kost saja Bella makannya." Bella melempar senyum yang membuat Opix selalu terpesona. "Kakak sudah makan belum?" tanya Bella dengan nada centil. "Em, kebetulan kakak belum makan, temani kakak makan yuk!" pinta Opix sambil memegang tangan kanan Bella. "Tapi kak, Bella sudah punya nasi. Eman dong kalau gak dimakan." tolak Bella. "Gini aja, nasi bungkusnya buat makan nanti malam. Sekarang temanin kakak, bagaimana?" rayu Opix. "Emmm, oke dech. Demi kakak yang baik hati" Tak sengaja Bella mengucapkan kata-kata yang membuat Opix Ge Er. "Nah, gitu dong ... nona manis," bisiknya. Mobil melaju dengan pelan sambil mencari rumah makan yang cocok. Opix memancat rem, membelokkan ke halaman rumah makan Padang yang letaknya di dekat laut pantai utara. "Silahkan, tuan putri," tutur Opix membukakan pintu mobil. Bella tersenyum manis. Tak terasa mereka sudah kelihatan sepasang kekasih yang serasi. Padahal mereka belum mengutarakan isi hati masing-masing. Opix belum berani karena menurutnya masih belum pas waktunya. Bella pun masih belum siap untuk kecewa lagi. "Minumnya apa, Mas?" tanya pelayan rumah makan padang itu. "Es jeruk ya, dua." Opix terus memandangi wajah mungil nan manis yang ada di depan mata. Dadanya berdegup semakin kencang. Serasa tak tahan memndm rasa semakin lama. Hingga Bella menjadi salah tingkah. "Kak, kakak kenapa?" Telapak tangan Bella melambai-lambai di depan mata lelaki di depannya. "Ketahuilah Bella, kakak sangat sayang padamu" Tangannya gemetar sembari meraih tangan Bella. Kakak sudah lama memendam rasa ini. Tak tahan rasanya kalau kakak pendam berlama-lama." keluhnya. Bella hanya bisa melongo, badannya gemetar adem panas raasanya, ketika mendengarkan ungkapan semua isi hari Opix. Hatinya berdegup kencang. Seakan tak kuasa untuk menegakkan tubuhnya yang sedang duduk di kursi rumah makan Padang. Entah perasaan senang atau sedih ketika ia mendengarkan ungkapan tadi. Tak terasa air mata mengalir deras membasahi pipinya. Sementara nasi Padang sudah hampir dingin, sudah sejak sepuluh menit yang lalu si pelayan menghidangkannya. Namun, mereka tidak memperdulikan. Rasa lapar Opix sudah melayang bersama rasa yang ada di dalam dadanya yang telah diungkapkan kepada yang berhak. Luka Bella masih belum kering. Rasa kecewa terhadap mantan kekasihnya begitu dalam. Gadis itu terlalu berharap agar kelak Zena yang akan menjadi teman hidupnya. Tanpa melalui proses terlalu lama. Tetapi harapan itu sirna oleh sahabatnya sendiri yang tega mengkhianatinya. Andaikan sang kekasih menginginkan hubungan dengannya diresmikan, Bella pun sudah siap. Walau program studinya belum kelar. "Kak, lukaku belum kering," Wajahnya menunduk sedih mengenang masa lalu. "Siapakah yang telah melukaimu?" Kedua tangan membingkai wajah manis yang ada di depannya. "Ceritanya panjang, Kak." katanya lirih membiarkan kedua tangan yang telah memingkai pipinya. "Lalu, bagaimana menurutmu ungkapanmu tadi, sayang ...?" tandas Opix. "Tetapi lukaku belum kering." Bella menurunkan kedua tangan yang telah membingkainya. "Biarkan aku yang menyembuhkan lukamu." Kembali tangan Opix memegang kedua tangan Bella. "Tetapi aku takut bertambah parah." sahut Bella. "Aku masih belum bisa menjalin hubungan dengan siapapun." lanjutnya. Suasana semakin tegang. "Okeylah, aku mengerti." tegas Opix tak mau memaksakan kehendak. "Oh, ya dimakan dulu yuk! "ajaknya. Bella menurut saja menyantap makanan yang telah dingin. Opix akan bersabar menunggu keputusan dari Bella. Yang paling penting bagi Opix, Bella masih bisa menemai hari-harinya. Ia yakin suatu saat nanti pasti ada jawaban yang sesuai dengan kehendak hatinya. Setelah menghabiskan makanannya, Opix masih memesan untuk di bawa pulang Bella. "Buk, bungkus 1 ya." pesannya kepada ibu penjual. "Iya, mas. Sebentar ya ...." jawab ibu tadi tanpa menghiraukan wajah Opix yang agak kusut. Kemudian ia membayar semua pesanan. "Sudah selesai, yuk kita pulang sekarang!" ajak Opix. Lagi-lagi Bella hanya mengangguk saja. Opix memberikan bungkusan plastik berwarna putih yng isinya sebungkus nasi Padang dan sebungkus plastik es jeruk kepada Bella. "Ini buat makan malam nanti." tutur Opix. "Trimakasih, Kak. Bella selalu merepotkanmu. Bella sudah punya nasi bungkus tadi siang belum dimakan. Eman kan?Itu buat kakak saja untuk makan malam nanti." papar Bella. "Oh, ya kalau begitu kasih ke teman se-kost mu saja. Kakak sudah ada untuk nanti malam." jelas Opix. Lalu mereka berjalan menuju tempat parkir. Tak disaadari tangan kiri Opix lagi-lagi disampirkan di pundak kanan Bella. Bella pun tak menyadarinya. Hatinya masih berdegup kencang gegara ungkapan Opix tadi. "Masuk!" perintah Opix sambil membukakan pintu mobil untuk tuan putrinya. "Trimakasih kakak yang baik hati," balas Bella. Lalu Opix mengemudikan mobilnya untuk mengantar pulang ke kost. "Besok masih ada acara ke kampus?" tanya Opix. "Ada kak, tapi rencna Bella mau bolos saja, Bella mau pulang. Ibu sakit." ujar Bella. "Oh, bolehkah kakak mengantar? Besok kan hari sabtu. Kakak libur ngantornya." tawar Opix. "Tidak, kak trimakasih. Bella mau nge-bis aja." "Hati-hati jaga dirimu baik-baik." pesan Opix. Tak terasa, perjalanan sudah sampai di depan kost Bella. Bella turun dari mobil dengan dilepas oleh Opix. Lalu Opix pun menjalankan mobilnya untuk kembali ke kontrakan.

Penantian

0 0

SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day16 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 739 Bab 16. penantian Turun dari mobil, Bella langsung masuk ke kamarnya. Waktu menunjukkan pukul tiga seperempat sore. Dilempar tubuhnya ke atas kasur yang empuk, matanya menatap langit-langit. Masih tergiang di telinganya semua yang diungkapkan Opix tadi. Hampir dia tak percaya orang sehebat Opix bisa jatuh hati padanya. Seperti mimpi di siang bolong. Tetapi ia bingung harus bagaimana, kebaikannya tak bisa dipungkiri. Sementara luka yang ia derita sampai kini belum kering juga. Andai saja gadis itu tidak sering menjumpai Zena dan kekasih barunya Sita mungkin dengan mudah bisa melupakan. Karena memang satu kampus dan satu fakultas, jadi kemungkinan kecil untuk tidak menjumpai mereka. Tetapi ia masih bisa berfikir bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya. Dengan pengalaman yang sangat pahit itu, menjadiakannya lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan teman, terutama dengan lawan jenis. Menjadikannya lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Bahwa semua akan dikembalikan kepada-Nya. "Kalau ku terima niat kak Opix, tapi aku takut lukaku bertambah parah." gumamnya. "Huh, bingung aku. Ah, untuk sementara biarlah begini adanya. Andai saja dia mau, bisa langsung nikahi aku aja." gerutunya lagi. "Astaghfirullahalb'adziiim ... hari sudah petang, ternyata aku belum sholat ashar." tambahnya. Betapa lama ia melamun, hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Lalu ia bergegas mandi skaligus ambil air wudhu untuk shalat ashar. **** Sementara di kontrakan Opix pun juga sedang melamunkan apa yang telah terjadi. Ia gelisah, galau, akankah diterima oleh Bella maksud hatinya itu. Lelaki itu juga bertanya dalam hati, siapakah laki-laki yang tega melukai hati seorang gadis polos dan berbaik hati seperti Bella. Apakah yang dulu pernah menelpon Bella waktu dirawat di rumah sakit. "Ah, aku jadi pusing memikirkannya," Kedua tangannya memegang kepalanya yang pening. "Tumben pix, kau lemes, sakit?" tanya Rudi. "Kepalaku pening, Rud, " ujar Opix yang masih pijat-pijat kepalanya. "Tumben punya kepala pening." lirih Rudi. "Iya, ga tahu tuh tiba-tiba jadi begini." jelasnya. "Oh, jangan-jangan kau ini lagi jatuh cinta." goda Rudi. "Pengalaman pribadi mesti," balas Opix. Rudi hanya menjawab dengan muka nyengir saja. Rudi adalah teman Opix satu kontrakan dan satu kantor. Laki-laki berbadan agak gendut itu hobinya makan melulu. Tak jarang meja kerjanya penuh dengan makanan atau cemilan. Orangnya humoris tak mudah marah. Namun, sebentar lagi ia akan mengakhiri masa lajangnya. Bulan ini ia akan menikah dengan gadis desanya hasil perjodohan kedua orang tuanya. Walaupun perjodohan, mereka saling cocok hingga hampir saja ke pelaminan. Demikian itu membuat Opix menjadi iri. Maka dari itu Opix inginnya langsung menikahi Bella tanpa mengenalnya lebih lama. Cukup mengenal Bella dari aura wajah dan tingkah laku serta sopan santunnya. Mengenal lebih jauh bisa dilakukan setelah menikah nanti. Pacaran setelah menikah lebih nikmat, dan dihalalkan serta mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, dibanding pacaran sebelum menikah, selain selalu timbul masalah juga akan menanggung resiko karena pacaran sebelum setanlah yang akan selalu membisikkan di dada manusia. "Ya, Allah ... begini rasanya jatuh cinta. Berilkanah yang terbaik untukku. Dekatkanlah dia padaku ya Allah, andaikan dia adalah jodohku. Dan jauhkanlah dia dariku andai dia bukan jodohku." Tangan Opix diangkat mukanya menengadah memohon kepada Yang Maha Kuasa. Setelah sholat maghrib, tangannya serasa gatal ingin menyentuh ponselnya. Keinginannya untuk menghubungi Bella sangat kuat. Dadanya semakin berdegup kencang. Ditekannya tombol whatsapp lalu mencari nama Bella manis. Lalu ditekanlah nama itu. Kemudian dilanjutkan video call. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Lalu diulang panggilan kedua. Bella belum juga mengangkatnya. Dada Opix semakin berdegup kencang. Ketika panggilan ketiga .... ["Ya, hallo assalmu'alikum, kak,"] terdengar suara Bella. Namun, Opix malah bengong dan kaget ketika suara Bella terdengar dari balik Handphonenya. Sehingga kaku dan gugup dalam menjawab telponnya. ["Kak, ini kak Opix bukan ya?"] Suara Bella kembali terdengar. ["I-iya ini kakak, Bell,"] jawabnya dengan nada gugup. ["Tumben malam-malam telpon, ada apa kak? Kakak baik-baik saja, 'kan?"] tanya Bella. ["Kakak baik-baik saja, cuman kakak kepikiran ungkapan kakak yang tadi siang. Bagaimana menurut Bella?"] lirih Opix. ["Kak, maaf berikan waktu untuk berfikir kembali ya ...."] pinta Bella. ["Oke-oke, oh ya, besok mau pulang jam berapa?"] tanya Opix. ["Pagi, Kak. Jam 6 an."] jawab Bella. ["Oh, ya ... hati-hati di jalan."] pesan Opix. ["Iya Kak, trimakasih,"] ["Met, istirahat. Wassalamu'alaikum,"] ["Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh."] Bella menutup ponselnya. Setelah itu Bella pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan shalat isya,. Tak lupa juga berdoa memohon kepada Allah agar selalu mendapatkan petunjuk. "Ya, Allah, ampunilah dosa-dosaku dosa kedua orang tuaku, sayagilah mereka sebagaiana mereka menyayangiku waktu kecil. Ya, Allah berilkanlah petunjuk bagiku bahwa yang benartampaklah kebenarannya, dan yang batil tampak kebatilannya. Berikanlah yang terbaik untukku. Andaikan mas Opix jodohku, dekatkanlh dia padaku, andaikn bukan jauhkanlah di dariku." Amiiin.

Pulang Kampung

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day17 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 785 Bab 17. Pulang Kampung Pagi-pagi buta, Bella sudah siap dengan segala bawaan pergi pulang kampung. Dibawkannya segudang rindu untuk mama. Pulang kampung dengan berkendara bis umum. "Bismillahi tawakkaltu 'alallah la haula walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziiim." doanya ketika keluar kamar kost. Lalu ia berjalan menuju halte bis depan kampus. Menunggu datangnya bis menuju kampungnya. "Alhamdulillaah, akhirnya datang juga bis yang kutunggu." gumamnya. "Bismillahirrahmaanirrahiiim, subhanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunna lahuu muqriniin." Mulutnya komat kamit layaknya mbah dukun sedang baca mantra. Pulang kampung di waktu pagi, udara masih segar orang-orang penumpang pun belum begitu banyak. Tempat duduk masih banyak yang kosong, sehingga bisa leluasa untuk memapakkan badan. Perjalanan pun masih lancar sehingga dapat cepat sampai ke tempat tujuan. Bella mencari tempat duduk yang masih kosong. Satu deret hanya dia yang duduk, karena belum banyak penumpang. Tempat duduknya persis di belakang sopir. Mata Bella tertuju pada pohon-pohon yang berada di pinggir jalan. Pohon itu seakan berjalan berlawanan arah denganl dirinya. Di situ selalu terbayang wajah lelaki tinggi kurus berkumis tipis, seakan mengajak bicara pada dirinya. "Hai manis, sampai di manakah kau sekarang?" tanya suara gaib itu. "Ya, aku tak tahu sampai mana ini, kak." kata dia sambil menatap pohon-pohon yang berada di jalanan dengan mata berkaca-kaca. "Neng, neng ...." sapa seorang nenek yang duduk di sampingnya. Bella masih termenung. Ternyata dia melamun. Baru sadar setelah si nenek menepuk pundak kirinya. "Eneng mau kemana?" Tangan nenek itu menepuk pundak kirinya. "Saya mau pulang, Nek" jawab Bella sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Maaf Neng, nenek sudah dua hari tidak makan," Kedua tangan nenek ditumpuk disodorkan ke depan pangkuan Bella. "Oh, iya Nek. Ini hanya sedikit," Bella memberikan selembar uang kertas lima ribuan. "Trimakasih, Neng." Nenek itu langsung berdiri meninggalkan Bella. Sekarang fikiran Bella tertuju pada mama Rena yang dari kemarin kabarnya sakit. Rasanya ingin terbang cepat agar segera sampai ke rumah. Namun, lamunannya buyar seketika saat ponselnya berdering. Rupanya Opix yang sedang menelponnya. ["Ya, hallo ...,"] sahut Bella. ["Bella sampai mana?"] Suara Opix tidak begitu jelas. Dikalahkan oleh suara-suara bising banyak kendaraan. ["Ya, Kak. Bella hampir sampai rumah." teriak Bella. ["Hati-hati ya cantik, salam buat mama," balas Opix dengan teriakan pula. Bella menutup telponnya. Dan langsung berdiri, karena sebentar lagi sampai di kampung halaannya. "Pak, pak kiri ..., berhenti pak!" teriak Bella. Sopir bis pun memberhentikan kemudinya tepat di gang depan rumah Bella. Lalu Bella pelan-pelan turun dari bis itu. Tampak perempuan tengah baya duduk di teras depan rumah, beratributkan jaket tebal. Dia sudah sejak pagi duduk di situ. Rupanya perempuan itu telah menunggu sang putri datang. "Mamaaa ....," Bella segera memeluk mamanya. "Bagaimana keadaan mama?" bisik Bella. "Sudah agak mendingan, Nduk." jawab Rena. "Alhamdulillah kalau begitu," Bella merangkul mamanya masuk ke dalam rumah. Bella lalu meletakkan tas rangselnya, dilanjut melepas sepatu catnya. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan dan cuci kaki. Perjalanan dari kost ke rumah, kira-kira membutuhkan tiga sampai empat jam. Ia berangkat dari kost jam enam pagi lebih seperempat. Sampai rumah setengah sepuluh. "Ma, mama dapat salam dari kak Opix." ujar Bella. "Oh ya, 'alaiki wa 'alaihis salam." balas Rena. "Mama juga belum sempat cerita ke kamu, Nduk." bisik Rena kepada anaknya. "Cerita apa, Ma?" tanya Bella sambil sesekali memainkan ponselnya. "Kemarin waktu mama pulang, dikasih amplop sama Opix. Tahu kan?" lirih Rena "Iya, Ma. Tahu, emang isinya berapa?" "Satu juta, Nduk." "Banyak sekali. Kok kak Opix ngasihnya banyak sekali ya, Ma." tanya Bella sambil melongo. "Mama juga kaget waktu itu. Masa untuk transport saja segitu banyaknya. Mama jadi gak enak." Garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Hehe, anggap aja rejeki nomplok, Ma." ledek Bella. "Mama merasa gak enak, kok tiba-tba dapat uang segitu banyaknya." lanjut Rena lagi. Opix memang orangnya dermawan, selain itu dia ringan tangan terhadap siapapun, dan tak pandang bulu. Bagi yang membutuhkan bantuannya ia selalu siap. Selain itu, orangnya juga ramah dan gaul. "Ma," panggil Bella sambil bangkit dari tempat tidurnya. "Hemh." Rena tak mempedulikan anaknya yang akan serius berbicara. Rena asyik memainkan jarum pada baju yang lepas kancingnya. "Barusan kemarin mas Opix telah mengungkapkan perasaanna pada Bella." ungkap Bella. "Terus?" Mamanya penasaran. "Bella belum bisa kasih jawaban mah," jawab Bella. "Bella masih minta waktu untuk berfikir," lanjutnya. "Bella masih trauma mah, takut. Takut terlalu berharap nantinya malah kecewa." sambungnya. "Ya sudah, tidak usah berpacaran. Kalau ada yang mau biar saja bilang sama mama. Mama pinginnya kamu langsung saja menikah, tanpa harus lama bermain-main." jelas mama Rena. Rena tidak ingin anak semata wayangnya itu larut dalam kesedihan. "Dulu mama dan papa juga hanya melalui proses ta'aruf sebentar, lalu menikah." kata Rena. "Iya, Mah. Bella kepingin kayak mama saja, gak perlu pacaran." sahut Bella. Hari sudah siang Rena tiba-tiba merasa badannya enakan, dan tidak sakit lagi. Mungkin akibat menahan kangen dn kepikiran sama gadisnya itu, hingga mengakibatkan sakit.

Kembali lagi

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day18 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 701 bab 18. Kembali Lagi "Hari ini mama belum masak untuk kamu, Nak. Tadi pagi mama masih gak enak badan. Bagaimana kalau siang ini kita pesan grabfood aja?" terang Rena kepada anak gadisnya. "Ya udah terserah mama aja," bisik Bella. "Mama sudah tiga hari ini gak jualan di pasar, jadi bahan-bahan masakan pun mama ga ada. Cuma seorang saja kadang mama juga malas untuk makan," papar Rena. Sejak sepeninggal papa Bella, Bapak Fadholi, S. Ag, beliau adalah seorang guru agama di sebuah Sekolah Menengah Pertama di tempat tinggalnya. Beliau meninggal karena serangan jantung. Mendadak Alllah memanggilnya tanpa ada tanda-tanda yang bisa memperingatkan keluarganya. Betapa shoknya Rena waktu itu, Bella yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar punjuga harus menjadi seorang anak yatim. Sejak itu rumah besar namun sederhana yang telah dibangun oleh Fadholi untuk keluarganya, kini hanya Rena dan anak gadisnya yang bisa menjadi penghuni. Manusia hanyalah merencanakan saja. Selanjutnya rencana Allahlah yang paling indah, dan tidak ada yang isa menandingi-Nya. Tak ada kata lain selain pasrah dan tawakkal. Rena berusaha menguatkan dirinya demi anak semata wayangnya. Berusaha untuk bangkit, demi masa depan Bella. Bella pun harus kuat hidup tanpa seorang ayah yang selalu menemani hari-harinya. Kurang lebih sebelas tahun yang lalu rumah itu penuh dengan kebahagian. Sebuah keluarga yang lengkap dengan seorang ayah, ibu dan anak. Kini semua tinggal kenangan. Pedih rasanya jika mengenang semuanya. Hanya doa yang selalu dipanjatkan oleh Rena dan Bella ketika rindu pada seorang Fadholi. Semoga arwahnya diterima Allah dan dimpuni semua dosa-dosanya. Hanya doa anak yang sholihah yang bisa meringankan beban Fadholi ketika menghadap-Nya. Saat pertama ditinggal, sakit rasanya. Namun, lama kelamaan jadi terbiasa hidup tanpa suami ataupun ayah. Begitupun sama halnya dengan Bella yang putus hubungan dengan Zena. Pertama kali sakit tentunya, tetapi lama kelamaan akan terbiasa. Terbiasa melihat Zena berduaan dengan sahabatnya Sita, terbiasa melakukan semua sendiri. Pasti rencana Allah jauh lebih indah dibandingkan rencana-rencana manusia yang sering mleset dari perkiraan. "Ma, besok Bella balik kost sore ya ... mama ga pa pa kan?" Bella memastikan kesehatan mamanya. Seperti biasanya, Sabtu pulang, Minggu sore balik lagi. Biasanya pulang Sabtu siang sehabis kuliah. Berhubung mendengar mamanya sakit, akhirnya pulang pagi dan bolos kuliah. "Mama ga priksa ke dokter aja?"tanyanya. "Mama ga papa kok Bell, paling cuma kecapean." "Besok juga mama akan mulai ke pasar. Sudah tiga hari toko tutup." tambahnya. "Oh, ya sudah besok Bella ikut ke pasar ya ...," Kedua tangannya bergelayut di punggung mamanya. "Baiklah, Nak." jawab Rena menyetujui permintaan gadisnya. *** Esok harinya, dua orang yang tampak seperti kakak beradik itu berangkat pagi-pagi buta mengendarai scoupy merahnya. Si gadis yang mengemudikan scoupy sedangkan perempuan tengah baya itu sebagai pembonceng. Di pasar, mereka menjajakan dagngannya. Ada gamis, stelan anak, sarung, baju koko, pakaian bayi dan masih banyak lagi. Sambil menawarkan dagangan mamanya kepada orang yang lewat di depan tokonya, Bella memotret juga gamis-gamis yang ada di patung untuk diuploud dibikin stori wa, facebook, instgram. Sebagai pedagang online, Bella memang rajin memposting dagangan. Sehingga tak heran kalau banyak yang memesannya. Lumayanlah bisa untuk menmbah uang saku bulanannya selama di in the kost. Hari sudahlah siang, Rena mamesan nasi soto kudus kesukaan anak gadisnya untuk makan siang. Sementara itu Bella yang memberesi barang dagangan mamanya setelah didasarkan sejak pagi tadi. "Sudah selesai, Nduk? Yuk kita pulang sekarang, ini mama pesankan nasi soto," ujar Rena sambil membantu Bella memberesi barang dagangan mamanya. "Bentar lagi, Ma." jawab Bella yang masih memberesi baju-baju Yang ada di gantungan luar toko. Setelah beres semua, mereka lalu pulang ke rumah dengan membawa belanjaan buat bekal masakan esok hari. Sampai rumah Bella langsung prepare untuk balik kost. Ada beras, bawang merah, bawang putih, cabe, tempe dll buat dibawa masak di kost. Gadis berkulit sawo matang ini lebih suka memasak untuk bekal hidup di kost daripada harus jajan di warung makan tiap mau makan. Namun, sesekali ia juga membeli di warung. Tepat pukul 15.30 WIB setelah shalat ashar, ia pun bersiap-siap ke depan rumah untuk memghadang bis menuju Semarang. Matanya menatap jauh memandang, menanti kedatangan alat transportasi yang akan membawanya menuju ke suatu tempat yang bakal membuat dia menjadi sukses. Kini bis yang ditunggu telah tiba. Diciumi pipi kanan dan kiri mamanya lalu dikecup punggung tangannya penuh hormat dan tawaddu'. "Doakan Bella, ya Ma ...." singkat ia memohon doa restu.

Lelah

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day19 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 704 bab 19. Lelah Sore ini banyak penumpang, hingga berdesakan. Gadis berkemeja pink, bercelana jeans, berjilbab merah maroon itu tak mendapatkan tempat duduk. Dia berdiri di antara dua tempat duduk deretan paling depan. Di punggung ada tas rangselnya sementara di tangan kanan ada sebuah tas jinjing besar yang berisi bekal untuk hidup di kost. Betapa repotnya kalau pas balik kost. Namun bisa mengurangi beban biaya untuk bertahan selama beberapa minggu. Terlintas di benaknya seorang lelaki yang hendak memburu cintanya. Baru saja ia akan mengambil ponsel dari saku celananya tiba-tiba benda itu bergetar kencang. Untung saja ada seorang laki-laki muda memberikan tempat duduknya pada Bella. "Monggo mbak, silahkan duduk." katanya sambil berdiri meninggalkan tempat duduknya. "Trimakasih, Mas'" ujar Bella. Lalu Bella duduk di kursi pemberian laki-laki tadi, dan melanjutkan bermain ponselnya yang sudah terdiam. Tak lama kemudian, benda kotak berwarna merah itu kembali bergetar. Diperiksanya muncul nama Kak Opix memanggil. Bukannya diterima, akan tetapi panggilan itu dicancel. Lalu dibalasnya dengan pesan whatsapp. [Maaf kak, telponnya Bella cancel. Soale Bella lagi di bis, jadi daripada gak kedengeran mending Bella cancel saja]. Setelah nulis pesan lalu ditekan tombol sent. Kemudian pesan itu langsung diread oleh Opix. Lalu lngsung dibalasnya. [Oh, ya. Kakak hanya mau nanya, balik kost kapan?] tanya Opix lewat pesan whatsappnya. [Ini Bella on the way balik kost kak, gimana?] Bella balik tanya. [Ya udah, kakak tunggu ya.] Bella hanya membaca balasan Opix tadi. Bella gak tahu harus ngomong apa. Bis melaju sangat kencang, sehingga tak perlu membutuhkan waktu yang lama sudah sampai tujuan. Perjalanan hanya ditempuh selama dua jam. Padahal biasanya sampai dua setengah atau tiga jam waktu perjalanan. Sesampai di kost, ia langsung masuk ke kamarnya. Dan ambil air wudhu untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Setelah itu bersih-bersih badannya yang bau keringat dan bau asap serta bau bensin. Lalu mandi dan mengenakan longdres, segera ia membanting badannya ke atas springbed yang empuk. Ia mencoba melepaskan lelahnya. Seharian penuh aktifitas, mulai pergi ke pasar untuk membantu orang tuanya yang tinggal satu, kemudian istirahat sejenak dan juga waktu balik ke kost sudah tiba yang mengharuskan ia segera bersiap-siap. Di raihnya ponsel yang tadi tergeletak di meja saat baru saja datang dari kampung. Ia buka aplikasi whatsapp yang banyak sekali pesan di situ, diantaranya adalah para konsumen jual beli online. Ada yang menanyakan barang yang dipesan, ada juga yang konfirmasi transfer. Menandakan bahwa konsumen fix membeli barang yang sudah ditawarkan melalui media sosial. Ia lalu membalasnya satu per satu dari bawah. Ada pesan paling bawah tertulis nama Opix, lalu ia baca terlebih dahulu. [Dik, kakak pingin ketemu kamu. Kapan ya kira-kira kita bisa ketemu?] Bella membaca diiringi ekspresi senyuman. "Bella juga pingin ketemu kok kak, Bella ingin melupakan si Zena bangsat itu. Semoga kakak bisa mengobati lukaku" gumamnya dalam hati. [Besok pagi Bella ke kampus, Kak.] balas Bella dalam chat whtsappnya. Opix langsung membaca balasan itu. Opix pun segera membalas dengan pesan di whatsapp. [Oh, ya. Besok pagi kakak jemput.] [Ya, Kak.] Baru saja istirahat, sudah terdengar suara adzan Isya'. Gadis berkulit kuning langsat itu beranjak menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ditunaikanlah ibadah sholat Isya' munfarid. "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, ampunilah dosa kedua orang tuaku, berikanlah kemudahan bagi mama dalam mencari rizqi yang hall dan barakah. Berikanlah kesehatan baginya. Berikanlah yang terbaik untukku. Andaikan Opix jodohku, dekatkanlah dia padaku. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzaban nar. Subhana rabilizzati amma yashifun wa salmun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil alamim. A fatihah. Seperti biasa setelah shalt fardhu, walaupun sedikit, Bella melanjutkan dengan lantunan ayat-ayat Al qur'an. Kebiasaan waktu di pondok pesantren dulu sudah mendarah daging di tubuhnya. Sehingga jika tidak dilaksankan, hidup ini serasa hampa. Tak sebanding hampanya saat ditinggal selingkuh oleh Zena kekasihnya dengan Sita sahabatnya itu. Jadi ketika hatinya sedang gundah, galau, ataupun tidak tenang, maka dibukalah aplikasi al-qur'an terjemah yang ada di ponselnya. Kemanapun ia pergi selalu dibawa, jadi fungsi handphone bagi dia tidak sekedar alat komunikasi saja. Namun, ponsel baginya adalah sarana untuk mencari rizki yang halal dan berkah. Selain itu untuk membuka-buka aplikasi Al-Qur'an agar hatinya tenang dan hidupnya jadi terarah sesuai dengan syariat Islam. Saking lelahnya, Bella tertidur saat membaca Al-Qur'an. Ia terbangun saat alrm berbunyi tanda shalat tahajud. "Ya, Allah. Ternyata aku tertidur." gumam Bella sambil mengucek-ucek matanya.

Aktifitas Dia

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day20 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 720 bab 20. Aktifitas Dia Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya dan memungut Al-Qur'an yang tergeletak di kasur saat Bella tertidur tadi. Bergegas ia mengambil air wudhu lalu segera mencurahkan isi hatinya pada sang Illahi Rabbii. Dan seperti biasa melanjutkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hingga fajar menyingsing kemudian terdengarlah suara adzan subuh. Bella pun memperbarui wudhunya untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah itu diraihnya sebuah baskom untuk diisi segelas beras, kemudian dicuci bersih. Lalu ia jadikan sebakul nasi untuk bekal hidup sehari. Dengan segala kegiatannya di pagi hari, tiba-tiba matahari sudah menampakkan dirinya dari ufuk timur. Bergegas ia masuk ke kamar mandi untuk ritual pagi membersihkan diri. Tepat pukul enam pagi gadis manis berkulit kuning lansat itu mengenakan kemeja biru, celana jeans biru dan jilbab biru muda. Tak lupa mengenakan sepatu catsnya warna hitam. Sungguh manis, centil dan cekatan, pantas saja kalau Opix terpesona dengan penampilannya. Mbrem, mbremm ciet. Terdengar suara mobil xenia putih berhenti tepat di depan kost-nya. "Tok tok tok! Assalamu'alaikum" Opix memberi salam kepada seluruh isi rumah. Namun, hanya Bella yang mampu mendengar suara Opix. Buktinya, hanya dia yang membalas salam dan keluar menemui lelki itu. "Wa'alaikum salam, silahkan duduk dulu, Kak! kata Bella menjawab salam dari Opix. "Trimakasih, " balasnya. Kemudian Bella sudah siap. Dia menyangklong tas kecil warna merah hati. Seperti biasanya Opix membukakan pintu untuk pujaan hatinya. "Silahkan, Nona manis." rayunya. Bella hanya membalas dengan senyuman. Dalam perjalanan ke kampus yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Namun, Opix tetap bisa membuka mulutnya. Wajahnya tampak berseri-seri, seakan tahu bakalan diterima niat sucinya itu. "Gimana kabar mama?" tanpa basa basi menanyakan Rena dengan sebuah panggilan "mama". "Alhamdulillah, sudah sembuh. Mungkin hanya kangen sama putrinya yang cantik ini." Bella membungkam mulutnya sendiri setelah menjawab pertanyaan Opix. Opix pun spontan mencubit pipi kanannya. "Bella cantiiiik!" teriak Opix gemes. "Kakak ..., gak boleh. Ini buat suami Bella besok. Jangan kau nodai." Balas Bella sambil memegang pipinya dengan agak cemberut. "Maaf-maaf, suaminya siapa kelak?" tanya Opix. Belum ada balasan dari Bella, mobil tak terasa sudah sampai di depan kantin kampus. Tak seperti biasanya, kali ini gadis manis centil itu diantar sampai dalam kampus. Padahal, biasanya hanya sampai pertigaan jalan menuju kampus saja. "Stop stop stop, kok ngantarnya sampai sini sich." protes Bella. "Gak apalah cantik, biar kamu gak ada yang nyulik." ledek Opix. "Ish, kakak," Nada Bella agak marah. Tetapi Opix tak peduli. Toh dia masih mau dijemput dan diantar olehnya. Setelah mengantar Bella, Opix langsung meng-gas mobilnya menuju kantor, rumah ketiganya selain rumah keduanya yaitu kontrakan. Sedangkan rumah pertamanya adalah rumah tempat dia dilahirkan. Sampai di kantor dia berjalan menuju ruangannya. Dia satu ruang dengan Hida, gadis kota yang berpenampilan modis bak peragawati, dandananya pun juga mirip artis. Bau badannya wangi semerbak memenuhi ruangan yang agak sempit. Di kantor pengadilan agama ini, Opix berkedudukan sebagai panitera pengganti, sedangkan Hida sebagai sekretarisnya. Jadi tak jarang mereka selalu berdua dengan urusan kantornya. Hingga Hida diam-diam menaruh hati pada pak Taufiq yang waktu berkenalan dengan Bella menyebutnya dengan nama Opix. Namun, Opix tidak tertarik sama sekali dengan Hida, karena kesombongannya. Bukan kriterian Opix untuk mempersunting gadis yang sombog seperti Hida. "Ini, Pak berkas perkara yang kemarin masuk." lapor Hida setengah genit, sambil menaikkn pundak kanannya ketika melapor. "Iya, terimakasih." jawab Opix sambil menerima berkas dari Hida tanpa melihat sosok yang ada di depannya. "Eh, pak." ujar Hida tak meneruskan kata-katanya sambil memandangi wajah Opix. "Ya, gimana?" balas Opix dengan aura dingin. "Ehm, ga pa pa pak, maaf." jawab Hida sambil meninggalkan meja Opix. Sebenarnya Opix sudah tahu gelagat Hida yang menaruh hati padanya, tetapi ia pura-pura tak merasa. Lelaki itu masih mengharapkan dan menunggu keputusan dari Bella. Ia selalu berkomat kamit memohon pada yang Kuasa agar tidak tergoda oleh setan manapun. "Masya Allah, banyak sekali kasus rumah tangga hingga sampai ke pengadilan." gumamnya sambil membolak balikkan berkas-berkas permohonan perceraian. "Bakal banyak janda-janda baru nantinya." gerutunya sambil senyum-senyum sendiri. "Ya, Allah. Hindarkanlah saya dari hal-hal semacam ini." bisiknya kepada sang Khalik. "Pak Taufiq kok senyum-senyum sendiri kenapa?" tanya Hida yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Opix dari tempat duduknya yang berjarak kurang lebih lima meter. "Oh, gak apa-apa." jawab Opix sambil tersenyum sedikit terpaksa. Lalu Hida dan Opix kembali melanjutkan aktifitas masing-masing. Tak terasa hari sudah siang. Jarum pnjang dan pendek jam kantor menunjukkan angka 12. Pertanda sebentar lagi jam istirahat. Yang biasanya digunakan untuk memantau Bella lewat ponselnya.

Aktifitas Dia

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day20 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 720 bab 20. Aktifitas Dia Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya dan memungut Al-Qur'an yang tergeletak di kasur saat Bella tertidur tadi. Bergegas ia mengambil air wudhu lalu segera mencurahkan isi hatinya pada sang Illahi Rabbii. Dan seperti biasa melanjutkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hingga fajar menyingsing kemudian terdengarlah suara adzan subuh. Bella pun memperbarui wudhunya untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah itu diraihnya sebuah baskom untuk diisi segelas beras, kemudian dicuci bersih. Lalu ia jadikan sebakul nasi untuk bekal hidup sehari. Dengan segala kegiatannya di pagi hari, tiba-tiba matahari sudah menampakkan dirinya dari ufuk timur. Bergegas ia masuk ke kamar mandi untuk ritual pagi membersihkan diri. Tepat pukul enam pagi gadis manis berkulit kuning lansat itu mengenakan kemeja biru, celana jeans biru dan jilbab biru muda. Tak lupa mengenakan sepatu catsnya warna hitam. Sungguh manis, centil dan cekatan, pantas saja kalau Opix terpesona dengan penampilannya. Mbrem, mbremm ciet. Terdengar suara mobil xenia putih berhenti tepat di depan kost-nya. "Tok tok tok! Assalamu'alaikum" Opix memberi salam kepada seluruh isi rumah. Namun, hanya Bella yang mampu mendengar suara Opix. Buktinya, hanya dia yang membalas salam dan keluar menemui lelki itu. "Wa'alaikum salam, silahkan duduk dulu, Kak! kata Bella menjawab salam dari Opix. "Trimakasih, " balasnya. Kemudian Bella sudah siap. Dia menyangklong tas kecil warna merah hati. Seperti biasanya Opix membukakan pintu untuk pujaan hatinya. "Silahkan, Nona manis." rayunya. Bella hanya membalas dengan senyuman. Dalam perjalanan ke kampus yang hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Namun, Opix tetap bisa membuka mulutnya. Wajahnya tampak berseri-seri, seakan tahu bakalan diterima niat sucinya itu. "Gimana kabar mama?" tanpa basa basi menanyakan Rena dengan sebuah panggilan "mama". "Alhamdulillah, sudah sembuh. Mungkin hanya kangen sama putrinya yang cantik ini." Bella membungkam mulutnya sendiri setelah menjawab pertanyaan Opix. Opix pun spontan mencubit pipi kanannya. "Bella cantiiiik!" teriak Opix gemes. "Kakak ..., gak boleh. Ini buat suami Bella besok. Jangan kau nodai." Balas Bella sambil memegang pipinya dengan agak cemberut. "Maaf-maaf, suaminya siapa kelak?" tanya Opix. Belum ada balasan dari Bella, mobil tak terasa sudah sampai di depan kantin kampus. Tak seperti biasanya, kali ini gadis manis centil itu diantar sampai dalam kampus. Padahal, biasanya hanya sampai pertigaan jalan menuju kampus saja. "Stop stop stop, kok ngantarnya sampai sini sich." protes Bella. "Gak apalah cantik, biar kamu gak ada yang nyulik." ledek Opix. "Ish, kakak," Nada Bella agak marah. Tetapi Opix tak peduli. Toh dia masih mau dijemput dan diantar olehnya. Setelah mengantar Bella, Opix langsung meng-gas mobilnya menuju kantor, rumah ketiganya selain rumah keduanya yaitu kontrakan. Sedangkan rumah pertamanya adalah rumah tempat dia dilahirkan. Sampai di kantor dia berjalan menuju ruangannya. Dia satu ruang dengan Hida, gadis kota yang berpenampilan modis bak peragawati, dandananya pun juga mirip artis. Bau badannya wangi semerbak memenuhi ruangan yang agak sempit. Di kantor pengadilan agama ini, Opix berkedudukan sebagai panitera pengganti, sedangkan Hida sebagai sekretarisnya. Jadi tak jarang mereka selalu berdua dengan urusan kantornya. Hingga Hida diam-diam menaruh hati pada pak Taufiq yang waktu berkenalan dengan Bella menyebutnya dengan nama Opix. Namun, Opix tidak tertarik sama sekali dengan Hida, karena kesombongannya. Bukan kriterian Opix untuk mempersunting gadis yang sombog seperti Hida. "Ini, Pak berkas perkara yang kemarin masuk." lapor Hida setengah genit, sambil menaikkn pundak kanannya ketika melapor. "Iya, terimakasih." jawab Opix sambil menerima berkas dari Hida tanpa melihat sosok yang ada di depannya. "Eh, pak." ujar Hida tak meneruskan kata-katanya sambil memandangi wajah Opix. "Ya, gimana?" balas Opix dengan aura dingin. "Ehm, ga pa pa pak, maaf." jawab Hida sambil meninggalkan meja Opix. Sebenarnya Opix sudah tahu gelagat Hida yang menaruh hati padanya, tetapi ia pura-pura tak merasa. Lelaki itu masih mengharapkan dan menunggu keputusan dari Bella. Ia selalu berkomat kamit memohon pada yang Kuasa agar tidak tergoda oleh setan manapun. "Masya Allah, banyak sekali kasus rumah tangga hingga sampai ke pengadilan." gumamnya sambil membolak balikkan berkas-berkas permohonan perceraian. "Bakal banyak janda-janda baru nantinya." gerutunya sambil senyum-senyum sendiri. "Ya, Allah. Hindarkanlah saya dari hal-hal semacam ini." bisiknya kepada sang Khalik. "Pak Taufiq kok senyum-senyum sendiri kenapa?" tanya Hida yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Opix dari tempat duduknya yang berjarak kurang lebih lima meter. "Oh, gak apa-apa." jawab Opix sambil tersenyum sedikit terpaksa. Lalu Hida dan Opix kembali melanjutkan aktifitas masing-masing. Tak terasa hari sudah siang. Jarum pnjang dan pendek jam kantor menunjukkan angka 12. Pertanda sebentar lagi jam istirahat. Yang biasanya digunakan untuk memantau Bella lewat ponselnya.

Salah Jadwal

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day21 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 704 bab 20. Salah Jadwal Ponsel Bella berdering tanda ada telpon masuk. Bergetar di saku celana biru. Tangan mulus milik si gadis manis itu ditenggelamkan dalam saku untuk memungut ponsel yang berdering tadi. Muncul nama Opix memanggil. Lalu ia mengusap layar ponsel dan menekan tombol terima. [ya, hallo. Assalamu'alaikum,] Bella mulai membuka percakapan. [Waalaikumsalam, Bell, kakak jemput jam berapa nanti?] tanya Opix. [Jam dua-an, Kak] jawab Bella. [Okey, Wassalamualaikum] [Waalaikumsalam]. Bella mengeluarkan mukena yang ada di tasnya. Bella sedang berada di masjid bersama Ratna dan Berna. Mereka akan melaksanakann shalat berjamaah di masjid kampus. Setengah jam lagi akan mengikuti perkuliahan hingga jam dua nanti. Sita, ya Sita sudah lama tak muncul di hadapan mereka sejak menjadi kekasih Zena. Di manakah dia sekarang? Ia sering absen, sering kali ia bolos kuliah. Sepertinya ia sibuk membantu menyekesaikan skripsi sang kekasih.Hingga lupa mengurus dirinya sendiri. "Kurang lima menit, yuk kita masuk kelas dulu!" ajak Ratna, sambil membetulkan posisi kacamtanya yang tebal. Sudah kurang lebih satu setngah jam kuliah berlangsung, tandanya sudah hampir jam dua. Pak dosen akan segera menyudahi mata kuliah yang diampunya kali ini. "Saya rasa perkuliahan kali ini kita akhiri, dan jangan lupa belajar sebentar lagi kalian akan melaksanakan test tengah semester." pesan pak dosen yang sudah usia hampir pensiun itu. "Sekian dari saya wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." lanjutnya sambil berkemas meninggalkan ruangan, dan diikuti seluruh mahasiswanya. "Waalaikumsalam warahmatulli wabarakatuuuh." teriak para mahasiswa serentak. Kemudian seluruh isi ruangan keluar meninggalkan ruagan hingga kosong. Tampak Sita baru turun dari boncengan Zena, entah mau apa dia. Ketika dosen menabsen dianya ga ada, giliran kuliah sudah selesai, baru nongol dia. "Mas, tunggu aku ya sampai selesai." pintanya dengan manja pada kekasihnya, Zena. Zena pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala, dan meninggalkan Sita sendiri menuju ruang kuliahnya. Sementara Bella, Sita, dan Ratna hanya tertawa melihat Sita yang celingukan tanpa ada satupun mahasiswa yang masuk ke dalam ruangan itu. "Ngapain dia masuk ruangan yang sudah selesai kegiatannya." ujar Ratna. "Ngimpi kali dia, atau salah jadwal," sahut Bella. "Biarkan saja, kita lihat aja dari sini." sambung Berna. Mereka melihat dari sudut taman yang tak jauh dari ruang kuliah tadi. Sita masih kelihatan kebingungan dan seringkali melihat jam. "Ya, Allah. Ternyata aku salah jadwal." gumam Sita sambil menepuk jidatnya. "Aku harus menelpon mas Zena, agar segera menjemputku." gerutunya. Para mahasiswa masih lalu lalang di sekitarnya, masih banyak yang ikut kuliah jam selanjutnya sesuai jadwal mereka masing-masing. Kemudian Sita merogoh saku celananya. Dicariny benda pipih berbentuk kotak. Lalu dia mengusap layar dan mencari kontak yang bernama Zena my honey. Ditekannya tombol video call. Tak ada jawaban. Ditekannya kembali tombol itu, tak ada jawaban juga sampai yang kelima kalinya. Rupanya HP Zena dimatikan, atau batrainya habis. Entahlah tak ada rasa curiga di dalam benaknya. Karena selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Lalu ia menulis pesan padadinding whatsapp. [Mas, jemput aku sekarang dong! Ternyata aku salah jadwal nich!] tulisnya. Lalu dikirim, dan hasilnya hanya centang satu. Sita memsukkan kembali benda pipih yang berbentuk kotak itu ke dalam saku celananya. Ternyata benar HP dimatikan atau batreinya habis. Akhirnya Sita celingukan sendiri, berjalan ke sana kemari tak arah tujuan. Laluia pergi ke kantin untuk melepskan penat, sambil memesan es teh, ia kembali melihat ponselnya. Namun, masih saja tak ada perubahan pada aplikasi whatsappnya. Masih centang satu. "Kemana kau, Mas ... kenapa HP dimatikan?" gumamnya. *** Di sebuah taman tengah kota, Kebanyakan muda mudi sedang berkencan untuk menumpahkan gejolak asmaranya di sana. Zena bersama seorang gadis yang tak kalah cantiknya dengan Sita. Mereka duduk berdua di sebuah bangku warna coklat keemasan. Tangan kiri Zena bergelayut di pundak Fera, sedangkan Fera memeluk pinggang Zena dengan manja. "Aku sungguh mencintaimu, Mas." kata Fera sambil bermanja, meletakkan kepalanya di dada lebar Zena. Zena pun membalas dengan kecupan pada kening Fera. "Aku juga sangat mencintaimu," balas Zena dengan senyuman. Dasar Zena buaya daratan. Sudah punya Bella, di belakang main dengan perempuan lain dengan alasan tidak mau diajak begini begitu. Lalu berpindah ke Sita yang sudah mau diajak memuaskan hasrat laki-lakinya. Namun belum sampai sejauh layaknya suami istri. Masih beruntung si Sita. Beruntung lagi Bella, yang selalu menolak setiap ajakan yang tidak seronoh yang dilarang agama. Sita masih menunggu balasan dari Zena hampir setengah jam ia berada di kantin seorang diri. Hingga menghabiskan beberapa jajanan yang ada di situ.

Salah Jadwal

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day21 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 704 bab 20. Salah Jadwal Ponsel Bella berdering tanda ada telpon masuk. Bergetar di saku celana biru. Tangan mulus milik si gadis manis itu ditenggelamkan dalam saku untuk memungut ponsel yang berdering tadi. Muncul nama Opix memanggil. Lalu ia mengusap layar ponsel dan menekan tombol terima. [ya, hallo. Assalamu'alaikum,] Bella mulai membuka percakapan. [Waalaikumsalam, Bell, kakak jemput jam berapa nanti?] tanya Opix. [Jam dua-an, Kak] jawab Bella. [Okey, Wassalamualaikum] [Waalaikumsalam]. Bella mengeluarkan mukena yang ada di tasnya. Bella sedang berada di masjid bersama Ratna dan Berna. Mereka akan melaksanakann shalat berjamaah di masjid kampus. Setengah jam lagi akan mengikuti perkuliahan hingga jam dua nanti. Sita, ya Sita sudah lama tak muncul di hadapan mereka sejak menjadi kekasih Zena. Di manakah dia sekarang? Ia sering absen, sering kali ia bolos kuliah. Sepertinya ia sibuk membantu menyekesaikan skripsi sang kekasih.Hingga lupa mengurus dirinya sendiri. "Kurang lima menit, yuk kita masuk kelas dulu!" ajak Ratna, sambil membetulkan posisi kacamtanya yang tebal. Sudah kurang lebih satu setngah jam kuliah berlangsung, tandanya sudah hampir jam dua. Pak dosen akan segera menyudahi mata kuliah yang diampunya kali ini. "Saya rasa perkuliahan kali ini kita akhiri, dan jangan lupa belajar sebentar lagi kalian akan melaksanakan test tengah semester." pesan pak dosen yang sudah usia hampir pensiun itu. "Sekian dari saya wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." lanjutnya sambil berkemas meninggalkan ruangan, dan diikuti seluruh mahasiswanya. "Waalaikumsalam warahmatulli wabarakatuuuh." teriak para mahasiswa serentak. Kemudian seluruh isi ruangan keluar meninggalkan ruagan hingga kosong. Tampak Sita baru turun dari boncengan Zena, entah mau apa dia. Ketika dosen menabsen dianya ga ada, giliran kuliah sudah selesai, baru nongol dia. "Mas, tunggu aku ya sampai selesai." pintanya dengan manja pada kekasihnya, Zena. Zena pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala, dan meninggalkan Sita sendiri menuju ruang kuliahnya. Sementara Bella, Sita, dan Ratna hanya tertawa melihat Sita yang celingukan tanpa ada satupun mahasiswa yang masuk ke dalam ruangan itu. "Ngapain dia masuk ruangan yang sudah selesai kegiatannya." ujar Ratna. "Ngimpi kali dia, atau salah jadwal," sahut Bella. "Biarkan saja, kita lihat aja dari sini." sambung Berna. Mereka melihat dari sudut taman yang tak jauh dari ruang kuliah tadi. Sita masih kelihatan kebingungan dan seringkali melihat jam. "Ya, Allah. Ternyata aku salah jadwal." gumam Sita sambil menepuk jidatnya. "Aku harus menelpon mas Zena, agar segera menjemputku." gerutunya. Para mahasiswa masih lalu lalang di sekitarnya, masih banyak yang ikut kuliah jam selanjutnya sesuai jadwal mereka masing-masing. Kemudian Sita merogoh saku celananya. Dicariny benda pipih berbentuk kotak. Lalu dia mengusap layar dan mencari kontak yang bernama Zena my honey. Ditekannya tombol video call. Tak ada jawaban. Ditekannya kembali tombol itu, tak ada jawaban juga sampai yang kelima kalinya. Rupanya HP Zena dimatikan, atau batrainya habis. Entahlah tak ada rasa curiga di dalam benaknya. Karena selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Lalu ia menulis pesan padadinding whatsapp. [Mas, jemput aku sekarang dong! Ternyata aku salah jadwal nich!] tulisnya. Lalu dikirim, dan hasilnya hanya centang satu. Sita memsukkan kembali benda pipih yang berbentuk kotak itu ke dalam saku celananya. Ternyata benar HP dimatikan atau batreinya habis. Akhirnya Sita celingukan sendiri, berjalan ke sana kemari tak arah tujuan. Laluia pergi ke kantin untuk melepskan penat, sambil memesan es teh, ia kembali melihat ponselnya. Namun, masih saja tak ada perubahan pada aplikasi whatsappnya. Masih centang satu. "Kemana kau, Mas ... kenapa HP dimatikan?" gumamnya. *** Di sebuah taman tengah kota, Kebanyakan muda mudi sedang berkencan untuk menumpahkan gejolak asmaranya di sana. Zena bersama seorang gadis yang tak kalah cantiknya dengan Sita. Mereka duduk berdua di sebuah bangku warna coklat keemasan. Tangan kiri Zena bergelayut di pundak Fera, sedangkan Fera memeluk pinggang Zena dengan manja. "Aku sungguh mencintaimu, Mas." kata Fera sambil bermanja, meletakkan kepalanya di dada lebar Zena. Zena pun membalas dengan kecupan pada kening Fera. "Aku juga sangat mencintaimu," balas Zena dengan senyuman. Dasar Zena buaya daratan. Sudah punya Bella, di belakang main dengan perempuan lain dengan alasan tidak mau diajak begini begitu. Lalu berpindah ke Sita yang sudah mau diajak memuaskan hasrat laki-lakinya. Namun belum sampai sejauh layaknya suami istri. Masih beruntung si Sita. Beruntung lagi Bella, yang selalu menolak setiap ajakan yang tidak seronoh yang dilarang agama. Sita masih menunggu balasan dari Zena hampir setengah jam ia berada di kantin seorang diri. Hingga menghabiskan beberapa jajanan yang ada di situ.

Selingkuh

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day22 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 717 bab 22. Selingkuh "Huh, jenuh rasanya. Menunggu seseorang yang tak pasti." keluh Sita. "Aku coba lagi video call dia." gerutunya. Berkali-kali dia mem-video call, tetapi muncul hanya tulisan memanggil saja. Itu tandanya HP sang pacar tidak aktif. Akhirnya Sita beranjak dari tempat duduknya mengarah ke kasir. Dikayar semua jajanan dan minuman yang dia habiskan saat menunggu. "Berapa buk semuanya?" tanyadia pda ibu yang seusia kurang lebih empat puluh tahunan itu. "Apa aja, Mbak?" tanya ibu tadi. " Mie ayam satu, juz apulkat satu, gorengannya lima, krupunya dua." jawab Sita. "Dua puluh lima ribu, Mbak." jawabnya sambil menunjukkan nota kepada Sita. Tanpa merinci Sita langsung membayarnya. Begitulah dia kalau sedang galau, semrawut, malah menghaabiskan banyak makanan. Pantes saja jika se-dudukan seorang diri habis banyak makanan. Untung saja tak ada yang memperhatikannya. Saat itu yang banyak pengunjung hanyalah adik-adik ngkatannya. Jadi tak banyak yang mengenalnya. Lagi pula dia bukanlah aktifis kampus sehingga membuat dia tak begitu dikenal banyak mahasiswa. Beda dengan Bella, Ratna, Bella, Udin dan Sandi, mereka adalah satu organisasi, yakni pecinta alam. Makanya tak heran jika mereka begitu akrab dan setia satu sama lain. Mereka sudah seperti saudara. Jika salh satu di antara mereka ada yang sakit, maka yang lainnya ikut merasakan dan memperjuangkannya. Begitu pula jika ada salah satu du antara mereka ada yang bahagia, sudah tentu mereka anak ikut merasakan kebahagiaannya. Sita lalu keluar kantin dengan fikiran tak karuan, yang ia fikirkan tak merasa. Waktu menunjukkan pukul dua siang kurang seperempat. Lalu ia tekan tombol pada layar ponselnya lagi. Saat itu bukan video call yang ia tekan. Tetapi hanya telpon suara saja. Kali itu Zena mengangkatnya. Dalam pembicaraan di telephone, terdengar suara perempuan yang sedang berbicara pada Zena. Terdengar di telinga Sita walaupun hanya suaranya kecil, seperti berbisik. "Hallo, Mas kamu di mana?" tfanya Sita dalam telpon.v "Sudah selesai kuliahnya?" Bukannya jawab pertanyaan, Zena malah balik bertanya, di sampingnya kedengaran jelas namun lirih perempuan itu berbicara padanya. "Siapa itu mas, siapa itu, kok ada perempuandi samping?" Sita kembali bertanya. "E, ga ada siapa-siapa tuh?" jawab Zena. "Lah, itu kok ada suara perempuan?" Sita kembali bertanya. "Oh, itu hanya orang lewat. Jemput sekarang?" Zena mengalihkan pembicaraan. "Ya," jawab Sita singkat. Sita masih mondar mandir di sekitar taman kampus, sambil menunggu kedatangan kekasihnya. Bola mata bulat itu hampir saja menumpahkan airnya yang tak tahan untuk dibendung. Tak lama kemudian, pukul dua lebih sepuluh menit Zena datang menghampirinya. "Loh, kenapa sayang?" sapa Zena pada gadis itu. "Kenapa bagaimana? Kenapa jadi begini? Sita mengusap air matanya. "Aku salah lihat jadwal, jadinya kuliah sudah selesai ku baru datang." adunya sambil merengek. "Lho, kok bisa? Lalu satu setengah jam yang lalu ngapain?" lagi-lagi pertanyaan keluar dari mulut Zena. Sita hanya terdiam. Tak mau menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki berpostur tubuh atletis itu. Dia masih terngiang suara perempuan yang terdengar lewat telpon tadi. Akankah kekasihnya berbohong padanya? ataukah memang benar orang lewat, tapi kenapa seperti lagi berbicara pada kekasihnya itu? "Mas, jawab pertanyaanku. Siapakah perempuan tadi?" Pertanyaan Sita dengsn nada agak tinggi. "Yang mana? Sudah aku bilang tadi, 'kan, dia hanya orang lewat. Jawab Zena berdalih. "Okey, awas ya kalau ketahuan kamu selingkuh, Mas! ancam Sita pada kekasihnya. "Aku tak kan memaafkanmu!" tambahnya. "Tak mungkinlah, Sita-ku sayang ..." rayu Zena. "Sudahlah, yuk kita ke kantin dulu. Mas haus." ajak Zena. Sita hanya menurut saja, walaupun perutnya sudah terasa buncit akibat kebanyakan makanan yang sudah dimasukkan tadi. Lalu mereka berjalan menuju kantin. Zena memesan menu makan siang yang ia suka. Sedangkan Sita enggan memesan karena perutnya sudah terasa kenyang. Dia hanya memndangi Zena yang sedang menikmati nasi ramesnya dengan lauk ayam goreng. Sambil memainkan benda pipih berbentuk kotak miliknya. Sesekali ia melirik lelaki yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ponsel milik Zena bergetar. Video call dengan gambar seorang perempuan tampak pada layarvdengan benamakan Fera. Dengan gerakan cepat, Sita menyambar ponsel itu tatkala Zena sedang menikmati benda yang ada di depannya. Sita langsung mengangkat panggilan itu. Tampak seorang perempuan yang sama sekali Sita mengenalnya. Dan sesaat video call itu nyambung, lalu langsung dimatikan pemiliknya dari jauh sana. "Siapa itu, Mas?" tanya Sita dengan nada yang tinggi. "Ah, paling salah sambung." jawab Zena dengan nada santai dan tak merasa bersalh sedikitpun. "Apa kamu bilang mas? Kamu gak kenal Fera? Kamu bilang salah sambung? Sedangkan nama Fera ada di dalam kontak ponselmu?" Tangan Sita memegang ponsel milik Zena dengan gemetaran.

Selingkuh

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day22 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 717 bab 22. Selingkuh "Huh, jenuh rasanya. Menunggu seseorang yang tak pasti." keluh Sita. "Aku coba lagi video call dia." gerutunya. Berkali-kali dia mem-video call, tetapi muncul hanya tulisan memanggil saja. Itu tandanya HP sang pacar tidak aktif. Akhirnya Sita beranjak dari tempat duduknya mengarah ke kasir. Dikayar semua jajanan dan minuman yang dia habiskan saat menunggu. "Berapa buk semuanya?" tanyadia pda ibu yang seusia kurang lebih empat puluh tahunan itu. "Apa aja, Mbak?" tanya ibu tadi. " Mie ayam satu, juz apulkat satu, gorengannya lima, krupunya dua." jawab Sita. "Dua puluh lima ribu, Mbak." jawabnya sambil menunjukkan nota kepada Sita. Tanpa merinci Sita langsung membayarnya. Begitulah dia kalau sedang galau, semrawut, malah menghaabiskan banyak makanan. Pantes saja jika se-dudukan seorang diri habis banyak makanan. Untung saja tak ada yang memperhatikannya. Saat itu yang banyak pengunjung hanyalah adik-adik ngkatannya. Jadi tak banyak yang mengenalnya. Lagi pula dia bukanlah aktifis kampus sehingga membuat dia tak begitu dikenal banyak mahasiswa. Beda dengan Bella, Ratna, Bella, Udin dan Sandi, mereka adalah satu organisasi, yakni pecinta alam. Makanya tak heran jika mereka begitu akrab dan setia satu sama lain. Mereka sudah seperti saudara. Jika salh satu di antara mereka ada yang sakit, maka yang lainnya ikut merasakan dan memperjuangkannya. Begitu pula jika ada salah satu du antara mereka ada yang bahagia, sudah tentu mereka anak ikut merasakan kebahagiaannya. Sita lalu keluar kantin dengan fikiran tak karuan, yang ia fikirkan tak merasa. Waktu menunjukkan pukul dua siang kurang seperempat. Lalu ia tekan tombol pada layar ponselnya lagi. Saat itu bukan video call yang ia tekan. Tetapi hanya telpon suara saja. Kali itu Zena mengangkatnya. Dalam pembicaraan di telephone, terdengar suara perempuan yang sedang berbicara pada Zena. Terdengar di telinga Sita walaupun hanya suaranya kecil, seperti berbisik. "Hallo, Mas kamu di mana?" tfanya Sita dalam telpon.v "Sudah selesai kuliahnya?" Bukannya jawab pertanyaan, Zena malah balik bertanya, di sampingnya kedengaran jelas namun lirih perempuan itu berbicara padanya. "Siapa itu mas, siapa itu, kok ada perempuandi samping?" Sita kembali bertanya. "E, ga ada siapa-siapa tuh?" jawab Zena. "Lah, itu kok ada suara perempuan?" Sita kembali bertanya. "Oh, itu hanya orang lewat. Jemput sekarang?" Zena mengalihkan pembicaraan. "Ya," jawab Sita singkat. Sita masih mondar mandir di sekitar taman kampus, sambil menunggu kedatangan kekasihnya. Bola mata bulat itu hampir saja menumpahkan airnya yang tak tahan untuk dibendung. Tak lama kemudian, pukul dua lebih sepuluh menit Zena datang menghampirinya. "Loh, kenapa sayang?" sapa Zena pada gadis itu. "Kenapa bagaimana? Kenapa jadi begini? Sita mengusap air matanya. "Aku salah lihat jadwal, jadinya kuliah sudah selesai ku baru datang." adunya sambil merengek. "Lho, kok bisa? Lalu satu setengah jam yang lalu ngapain?" lagi-lagi pertanyaan keluar dari mulut Zena. Sita hanya terdiam. Tak mau menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki berpostur tubuh atletis itu. Dia masih terngiang suara perempuan yang terdengar lewat telpon tadi. Akankah kekasihnya berbohong padanya? ataukah memang benar orang lewat, tapi kenapa seperti lagi berbicara pada kekasihnya itu? "Mas, jawab pertanyaanku. Siapakah perempuan tadi?" Pertanyaan Sita dengsn nada agak tinggi. "Yang mana? Sudah aku bilang tadi, 'kan, dia hanya orang lewat. Jawab Zena berdalih. "Okey, awas ya kalau ketahuan kamu selingkuh, Mas! ancam Sita pada kekasihnya. "Aku tak kan memaafkanmu!" tambahnya. "Tak mungkinlah, Sita-ku sayang ..." rayu Zena. "Sudahlah, yuk kita ke kantin dulu. Mas haus." ajak Zena. Sita hanya menurut saja, walaupun perutnya sudah terasa buncit akibat kebanyakan makanan yang sudah dimasukkan tadi. Lalu mereka berjalan menuju kantin. Zena memesan menu makan siang yang ia suka. Sedangkan Sita enggan memesan karena perutnya sudah terasa kenyang. Dia hanya memndangi Zena yang sedang menikmati nasi ramesnya dengan lauk ayam goreng. Sambil memainkan benda pipih berbentuk kotak miliknya. Sesekali ia melirik lelaki yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ponsel milik Zena bergetar. Video call dengan gambar seorang perempuan tampak pada layarvdengan benamakan Fera. Dengan gerakan cepat, Sita menyambar ponsel itu tatkala Zena sedang menikmati benda yang ada di depannya. Sita langsung mengangkat panggilan itu. Tampak seorang perempuan yang sama sekali Sita mengenalnya. Dan sesaat video call itu nyambung, lalu langsung dimatikan pemiliknya dari jauh sana. "Siapa itu, Mas?" tanya Sita dengan nada yang tinggi. "Ah, paling salah sambung." jawab Zena dengan nada santai dan tak merasa bersalh sedikitpun. "Apa kamu bilang mas? Kamu gak kenal Fera? Kamu bilang salah sambung? Sedangkan nama Fera ada di dalam kontak ponselmu?" Tangan Sita memegang ponsel milik Zena dengan gemetaran.

Berbohong

0 0

#SarapanKata #KMOIndonesia #KMOBatch43 #Kelompok013 #GoresanAksara #Day23 PJ: Kirana Neng Jaga: Alma Cho Ketua Kelas: Nasir Hamid Jumlah kata 716 bab 23. Berbohong "Oh Fera, dia teman mas. Paling dia mau minta contoh tugas kuliahnya aja." dengan santainya Zena berdalih. "Ow, betulkah?" tanya Sita dengan nada agak marah. "Mana mungkinmas bohong sama kamu, Sayang," Zena merayu sambil membingkai kedua pipi Sita. "Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja" bisik Zena. Sita hanya mengangguk saja, diakan luluh ketika Zena menggombal. Setelah seesai makn, Zena ke kasir untuk membayar makanan yang telah dimakannya. Lalu mereka berjalan menuju parkiran motor untuk mengambil motor vario milik Sita yang dipercayakan kepada Zena. "Ayo naik, sayang." Rayu Zena, sambil mengusap air mata Sita dengan jari-jari kekarnya. "Usap air matamu, malu tuh dilihat orang," ujar Zena. Lalu Sita duduk di belakang Zena layaknya tas rangsel. Sita memeluk Zena dari belakang. Dadanya berdesir kencang. Tubuhnya disandarkan ke tubuh Zena yang kekar. Motor melaju dengan kencang. Mereka pergi ke suatu pantai tempat muda mudi yang sedang di mabuk cinta. Aura mesum Zena kembali bangkit untuk Sita. Entah apa makanan Zena tiap hari hingga selalu menonjolkan aura-aura mesum ketika bersama kekasihnya itu. Makanan halalkah? Setelah memarkirkan motor, Zena merangkul tubuh Sita yang ramping sambil berjalan di suatu tempat yang aman dan nyaman untuk mereka bercinta. Mereka duduk di pinggir pantai di samping tumbuhan-tumbuhan bakau yang runggut. Sehingga keberadaan mereka tak tampak oleh mata dari jauh. Zena mulai menggerakkan tangannya sambil menggombal. Setan-setan di sekeliling kedua sijoli itu mulai beraksi. Mereka jatuh dalam lautan cinta terlarang. Walaupun tak tampak dari jauh, punggung mereka masih tampak dari belakang. Sehingga masih dalam hal keterbatasan. Hanya gerakan-gerakan tangan nakal Zena yang dapat beraksi menyerang milik Sita untuk memuaskan hawa nafsunya. Sita pun menikmati semua itu. Bahkan Sita makin lengket saja. Bagaikan panci ketemu tutupnya. Sungguh pasangan yang yang serasi. Sita merasakan ada cairan yang keluar dari miliknya akibat rangsangan dari tangan nakal kekasihnya itu. Tak lama mereka beraksi, tiba-tiba mereka dikagetkan seseorang yang sengaja melempar batu di samping mereka. Sepertinya adalah orang setengah tidak waras, sosok perempuan yang berpakaian setengah rapi tetapi dia selalu senyum sendiri dan bicara sendiri sambil melempari batuke laut. Seperti sengaja melihat pemandangan yang tidak sedap itu. Tetapi setelah diamati kedua manusia yang sedang asyik dimabuk asmara itu, ternyata sosok perempuan yang aneh itu adalah orang gila. "Huh, sialan. Dasar orang gila, mengganggu orang saja." gerutu Zena. "Mas aku takut, dia tetus melempari batu ke arah laut. Aku takut dia berpindah melempar ke sini." desis Sita. Dengan spontan Zena mengakhirinya aktifitas asusila tadi. Masih beruntung ada orang mengingatkan. Meskipun orang gila, tak selamanya orang gila itu berbuat salah. Namun, ternyata bisa mengingatkanorang yang khilaf di bawah kesadarannya. Kalau tidak maka setan akan terus menggoda. Lalu, kedua sijoli itu pindah tempat. Dan berjalan-jalan di sekeliling pantai. Zena merangkul pundak kanan Sita, sedangkan Sita memeluk pinggang kiri Zena. Sambil berjalan-jalan mengikuti irama sambil mengikuti alunan musik di sekitar wisata di pantai itu. Perasaan bahagia menyelimuti hati Sita, lupa tentang Fera yang baru saja diributkan. Tak terasa hari sudah sore, Adzan asar sudah mulai terdengar ditelinga mereka. Namun, mereka masih menikmati indahnya taman di pantai. Mereka sengaja mengukir kenangan manis rupanya. Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Benda pipih berbentuk kotak, bergetar hingga kaki Zena gemetaran. Dirogohnya benda itu, muncul panggilan video call dari seorang peempuan. Zena lalu menekan pada tombol hijau dan menjauh dari Sita. "Fera, kamu ngapain telpon-telpon sekarang. Ada apa?" bisik Zena pada gambar yang muncul di layar ponselnya. "Kamu, di mana, Mas? kok seperti di pantai, sama siapa? Muncul rasa curiga pada seorang Zena. "Sssttt, mas lagi meeting sama teman-teman, nanti saja mas hubungi." kilah Zena. Klek! Zena menutup panggilan itu. Dengan celingukan, Zena langsung memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celananya. "Siapa mas yang baru saja video call. Kenapa mas menjauh dari Sita saat menerima panggilan itu"? protes Sita. "Oh, itu saudara mas yang dari kampung. Mas menjauh bukan menghindar dari kamu, sayang. Tetapi mas mencari sinyal dan mencari tempat agar suara bisa terdengar tanpa gangguan musik, kan kamu tahu sendiri sih, alunan musik ini mengganggu apalgi suara dag dig dugnya sangat keras." Suara Zena memberi alasan palsu dan menenangkan Sita agar bisa percaya omongan gombalnya. "Oke, dech. Tapi awas kalau memang benar mas ternyata selingkuh!" ancam Sita. "Aku gak mau dikhianati, kapan kau melamarku, Mas? sebuah pertanyaan yang membuat Zena kebingungan untuk menjawab. Tetapi dengan tegas dia menjawab pertanyaan Sita. "Besok kalau mas sudah lulus." jawab Zena.

menunggu jawabn

0 0

SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day24

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 482

menunggu jawbnmu

Bella merogoh saku celananya. Benda pipih berwarna merahnya terasa bergetar. Diusapnya layar ponsel, lalu ditekan tombol pesan masuk.
[Aku jemput kamu sekarang, ya?] Tawaran Opix melalui pesan whatsappnya.

Bella segera membalasnya, dirasa sudah tidak ada kegiatan lagi di kampus. Akhirnya gadis bertubuh kecil itu membalas pesan.
[Boleh, Kak.] Singkat ia membalas pesan itu. Ia melanjutkan bermain ponselnya. Bella mulai mengunggah foto-foto dagangan melalui media sosial yang ia miliki. Sementara itu, Ratna dan Berna sudah pulang terlebih dahulu. Kedua temannya itu bertempat tinggal jauh dari kampus, sehingga tidak memungkinkn untuk berjalan kaki. Mereka berboncengan dengan kendaraan roda dua milik Berna. Karena tak mungkin berbonceng tiga, Bella memilih untuk ditinggalkan oleh mereka. Tak lama kemudian, lelaki bermobil xenia putih pun datang menghampiri. Bella pun menyudahi permainan dengan ponselnya. Opix mempersilahkan Bella masuk ke dalam mobil. Kali ini Opix memberi kode kepada Bella untuk membuka pintu mobil sendiri tanpa dibukakan Opix.
"Masuk! perintah Opix sambil memberi kode buka pintu sendiri.
"Trimakasih, Kak." Diiringi anggukan kepala, Bella masuk ke dalam mobil xenia putih itu.
Lalu Opix pun mengemudikan dengan pelan seraya bertanya pada puteri yang ada di sampingnya.
"Sudah makan belum?" tanya Opix sambil sesekali memandangi wajah mungil yang duduk sejajar demgannya.
"E...e belum, Kak." Mulut Bella terasa susah untuk berbicara jujur.
Terasa sungkan jika nantinya akan diajak masuk warung makan. Namun, ia tak berani berbohong toh akhirnya juga tetap diminta untuk menemani makan siang.
Tanpa tawaran lagi, mobil membelokkan ke arah rumah makan. Kemudian Opix langsung memarkirkan si putih. Tanpa disuruh, Bella pun segera turun. Diikuti Opix dari arah kanan mobil. Lalu mereka berjalan berdampingan mencari tempat duduk yang enak dan nyaman.
Opix masih berdiri untuk memesan makanan. Ada nasi soto, rames, rawon, ada juga sate kambing dan sate ayam. Lelaki itu memesan nasi soto ayam dan sate telur puyuh beserta tempe goreng. Dengan minuman es jeruk kesukaannya. Kemudian kembali duduk di tempat yang semula. Sepasang bola mata memandang membuat Bella menjadi salah tingkah. Sejak dari kemarin Lelaki berpostur tubuh tinggi kurus itu menunggu nunggu jawaban dari Bella. Tetapi hanya sikap Bella saja yang membuatnya agak tenang. Namun, ia masih bimbang karena Bella belum menjawab secara pasti. Menerima atau menolak cinta darinya. Kini saatnya Opix menagih jawaban itu.
"Bell, aku masih menunggu jawaban darimu. Bagaimana?" Tangan Opix menyentuh punggung tangan Bella yang diletakkan di atas meja.
Dada Bella berdegup kencang ketika mendengar tagihan itu.
"Kakak seharusnya sudah tahu bagaimana sikapku terhadap kakak," jawab Bella dengan nada lirih.
"Tapi kakak tidak mau menebak nebak. Takut salah tebakan kakak. Kalau tebakan kakak gak sesuai dengan jawabanmu, nanti kakak kecewa dong!" Opix menatap mata Bella yang memandang jauh ke depan.
"Kak, aku trauma telah menjalin hubungan dengan kakak angkatanku, mas Zena memilih selingkuhannya. Dia teman akrabku, Kak. Makanya aku memilih untuk tidak menjalin hubungan khusus dengan laki-laki." jawab Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu, kau nggap apa kakak ini di hadapanmu, Bella?" ungkap Opix sambil menggenggam kedua tangan Bella.

melamarmu 1

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day25

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 402

Melamarmu 1

Tatapan matanya membuat gadis bertubuh mungil itu menjadi salah tingkah. Opix perlahan melerai pegangan tangannya. Dadanya berdegup kencang. Menatap sepasang bola mata di depannya. Dag dig dug hatinya berdebar menunggu jawaban yang belum pasti.
"Entahlah, Kak. Aku ingin jika ada yang mau denganku. Kuharap dia langsung melamarku, dan segera menikah dengan aku. Andaikan mama merestui. Jika tidak aku juga tidak akan menerimanya.
"Kamu serius Bella?" Tanyanya penuh harap.
Bella tak menjawab. Kembali lelaki berambut tipis di atas bibirnya itu memegang punggung tangan Bella.
Hanya anggukan kepala yang mewakili jawaban Bella terhadap pertanyaan yang telah dilontarkan oleh lelaki itu. Lalu lelaki itu melempar senyuman kepada puteri di hadapannya. Seraya membalas jawaban yang diwakili oleh anggukan kepala.
"Okey, kalau begitu besok sore aku akan membawa orang tuaku untuk melamarmu" ucap Opix pada Bella.
Mendengar ucapan yang di dengar, gadis bertubuh kecil itu tersentak kaget. Setenga tidak percaya. Rupanya Opix bukan main-main. Ia sudah membulatkan tekatnya untuk melamar lalu mempersunting gadis pujaan hatinya. Dibingkainya pipi mulus itu seraya mengatakan sesuatu pada gadis itu.
"I Love you" bisiknya. Ia melerai tangannya ke atas meja ketika pelayan menghampirinya dengan membawa dua piring nasi dan dua gelas es jeruk.
"Monggo, Mas." Pelayan itu meletakkan benda-benda pesanannya.
"Trimakasih, mbak" sahut Opix.
Dihirupnya segelas es jeruk hingga tinggal setengah tinggi gelas. Kini tenggorokannnya sudah mulai basah. Dipungutnya segelas untuk Bella yang sedari tadi memandang jauh lurus ke depan. Isyarat mempersilahkan si gadis itu untuk meghirup minuman yang ia pesankan. Bella pun menurut, lalu mengurangi isi gelas hingga seperempatnya.
"Kak, sepertinya aku belum siap untuk dilamar.." Tiba-tiba Bella mengagetkan lelaki di depannya.
"Jangan pernah kau bilang masih mencintai Zena. Bukankah Zena telah menyaktimu? Bukankah dia sekarang menjadi kekasih sahabatmu itu?" Beberapa pertanyaan dilontarkan Opix kepada Bella.
"Bukan begitu, Kak. Tetapi apakah kakak sudah berpikir jauh? Kakak baru saja mengenaliku. Mengapa terburu-buru akan melamarku?" Bella balik bertanya.
Opix menghentikan sejenak makanan yang sedang ia kunyah. Gegara kalimat yang diutarakn Bella.
"Kakak sudah cukup mengenalmu, Nona manis. Tak perlu lebih lama lagi untuk mengenalmu untuk menjadikan pendamping hidupku. Setelah kakak menikahimu kakak bisa lebih bebas untuk mengenalmu lebih jauh. Kakak tak mau terjerat ke dalam lautan dosa. Kakak sudah sering melakukan dosa tanpa kakak sadari, dan itu spontan kakak lakukan sesuai hati nurani kakak sebagai seseorang yang mencintaimu. Jangan sampai kita lanjutkan perbuatan tak halal yang tak disengaja, termasuk kakak sering menyentuhmu. Maka akan segera kakak halalkan." Panjang lebar Opix memberikan ceramah kepada Bella.

Melamarmu 2

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day6

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 419

Mendengar ucapan Opix yang panjang lebar, Bella hanya tertunduk. Diangkatnya segelas es jeruk manis lalu diminum beberpa tegukan hingga membasahi tenggoroknnya yang kering. Lalu diletakkan lagi ke tempat semula. Dilanjutkan mengambil beberapa sendok nasi dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Perutnya yang tadi keroncongan sekarang sudah mendiam oleh beberapa suapan nasi. Opix pun juga melakukan hal yang sama hingga habis tak tersisa.
"Bagaimana menurutmu, Bella? Dengan rencanaku besok sore yang akan membawa orang tuaku ke rumahmu?" Opix meminta pendapat tentang kapan niat sucinya bisa dipenuhi.
Bella terdiam sejenak, sepasang bola matanya menatap Opix hingga jantung Opix mendesir.
"Begitu cepatnya, Kak?" tanya Bella belum percaya akan niat suci Opix.
"Kenapa, kamu keberatan?Jujur saja Bella, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Tetapi cepat atau lambat kakak akan tetap melamarmu." terang Opix panjang.
"Tidak, kak. Aku tidak keberatan. Hanya saja aku belum percaya bahwa kakak begitu serius padaku." Bella memberi jawaban ucapan spontan yang keluar dari hati nuraninya.
"Baiklah, tunggu orang tuaku Insya Allah akan datang besok Minggu sore."
"Saya bilang mama dulu ya Kak" jawab Bella sambil membetulkan jilbabnya yang terasa berubah posisi, akibat gerakan mulut mengunyah makanan.
Setelah mereka menghabiskan makanan, Opix beranjak dari tempat duduk untuk membayar makanan dan miumanyang telah mereka makan.
Lalu keduanya melngkah menuju tempat oarki, di mana mobil xenia putih itu terparkir.
Opix menyalakan mesin, dan mobil melaju perlahan hingga sampai ke tempat kost Bella. Opix menginjak rem, hingga mobil berhenti tepat didepan rumah kost Bella. Lalu Bella menurunkan kaki menginjakkan tanah satu per satu. Lalu mengucapkan terimakasih kepada lelaki berkumis tipis itu yang telah resmi menjadi kekasihnya. Entah kenapa dorongan dalam hatinya begitu kuat untuk mengangkat tanganya hingga menjulurkan ke arah tangan Opix. Lalu Opix pun menyambutnya dengan hati yang berdebar. Diciumnya punggung tangan Opix tanda hormat kepada seseorang yang akan segera menjadi calon suaminya.
"Maafkan Bella ya, Kak. Yang selalu merepotkan kakak. Terimakasih yang tak terhingga. Semoga Allah meridhoi langkah kita selanjutnya," ungkap Bella diiringi air mata membasahi punggung tangan Opix yang kini masih digenggamnya. Tak terasa keua netra Opix pun berkaca-kaca merasa terharu dan kasihan pada Bella mengingat masa lalunya.
"Amiiin, semoga Allah mengabulkan rencana kita." Opix memeluk Bella penuh dengan perasaan cinta dan sayang. Segera ia leraikan pelukannya tadi ketika sadar bahwa Bella belum apa-apanya dan mengingat itu di depan rumah kost Bella, tak enak jika ada orang yang melihatnya. Lalu Opix melangkah masuk ke dalam mobil. Dinyalakannya mesin xenia putih miliknya, kemudian melaju dengan pelan. Sementara Bella berdiri tepaku mengikuti jalannya si putih hingga menghilang dari pandangan.

Menyampaikan Pesan

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day27

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 519
Menyampaikan Pesan


Melangkah masuk ke kamar kost, gadis bertubuh mungil itu langsung merebahkan tubuhnya di springbed yang empuk.
"Mengapa aku tiba-tiba jatuh cinta pada lelaki itu. Sosok krempeng tinggi berkumis tipis. Perhaatiannya padaku membuat aku jatuh hati, keseriusannya membuat aku semakin teringat padanya. Membayangkan wajahnya kini sungguh pekerjaan yang mengasyikkan sekaligus menjadikan aku rindu padanya. Lalu benarkah dia akan melamarku minggu depan?" panjang lebar ia bergumam. Sebelum ke kamar mandi diteguknya segelas air putih untuk sekedar membasahi tenggorokan. Hari sudah mulai sore pertanda adzan asar berkumandang melalui toa prangkat masjid. Lalu diraihnya ponsel yang berada di atas meja setelah berada di dalam saku celana Bella memindahkannya. Diusapnya benda pipih berwarnamerah itu lalu ditekan aplikasi whatsapp. Lalu ia menulis pesan untuk orang tua tengah baya yang telah melahirkannya itu.
[Assalamu'alaikum, mama lagi ngapai?] tulisnya.
Pesan itu tak langsung dibaca apalagi dibalas. Mungkin sore itu Rena sedang membersihan halaman belakang hingga tak mendengar suatu apapun. Setelah membersihkan halaman belakang, Rena mengecek handphone miliknya yang tergeletak di looker buffet ruang dapur. Diusap layar benda pipih itu diamatinya ada sebuah pesan yang tertulis gadisku sayang. Lalu ia menulis balasan pada dinding whatsapp.
[Waalaikumsalam, barusan mama bersihkan halaman belakang rumah, Nduk. Gimana kabar kuliahnya? Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting ya, Nduk. Ingat tugas utamamu adalah belajar. Tuntaskan studimu dulu baru pikirkan yang lain. Pengalaman yang lalu jadikanlah sebuah pelajaran yang berharga.] tulisnya panjang lebar ditujukan gadis semata wayngnya itu.
Langsung tampak centang dua berwarna biru. Tandanya tulisan itu langsung dibaca oleh genduk satu-satunya yang jauh dari pandangan mata.
Supaya lebih jelas Bella langsung menekan tombol yang bergambar telepon pada pojok kiri atas, lalu diletakkan menempel telinga kanannya.
Terdengar Rena langsung menangkap telepon ibu.
[Gimana, Nduk? kabarnya baik-baik sajakah?] suara Rena terdengar ditelinga dari ujung sana.
[Alhamdulillah, baik. Mamah sendiri bagaimana sehat?]
[Alhamdulillah, tadi mama habis mbersihkan halaman belakang rumah]. Diulanginya kalimat yang btelah ditulis pada pesan di dinding whatsapp tadi.
[Mah, anu. e anu mah,] ujar Bella setengah gagap, bingung bagaimana menyampaikan pesan Opix.
[Anu bagaimana, Nduk? Ayo bilang sama mama. Apa yang terjadi pada dirimu Nduk?Kamu baik-baik saja kan?] Rena setengah gemetar mendegar kata-kata Bella setengah gagap.
[E, gini mah, kemarin kak Opix mengungkapkan perasaannya pada Bella, bahwa dia ingin menjalin hubungan khusus ____] belum selesai Bella melanjutka kata-kata, langsung mamanya memotong pembicaraan Bella.
[Untuk saat ini tidak menjalin hubungan khusus pada laki-laki. Fokus dulu pada kuliahmu dulu. Mama khawatir, Nduk] Rena menasihati anak satu-satunya.
[Iya, Ma. Tapi dengarkan Bella dulu. Kemarin Bella sudah mengatakan bahwa Bella tidak mau gitu-gituan. Kalau ada yang mau sama Bella ya langsung aja menikah. Itupun Bella mengatakan tidak begitu serius.]
[Terus?]
[Terus kak Opix setuju dan besok Minggu depan akan datang ke rumah beserta kedua orang tuanya.] jelas Bella
[Apa?Opix mau datang ke rumah beserta orangtunya?] Rena mengulangi kalimat Bella dengan nada bertanya.
[Iya Mah] jawab Bella terdengar suaranya yaang riang.
[Alhamdulillah, kalau begitu Sabtu besok kamu juga hrus pulang] seru Rena kepada gadisnya.
[Iya, Ma. Bella akan pulang terlebih dahulu sebelum kak Opix datang ke rumah bersama mama papanya, ya udah dulu ya, Ma. Bella mau segera mandi. Assalamu'alaikum.] Klek, Bella memutuskan sambungan teleponnya.
[


Chat sama kamu

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day28

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 420
Chating sama kamu

Saat itu langit sudah tampak memerah, waktu menunjukkan pukul setengah enam sore setelah membersihkan diri dari kamar mandi, Bela lalu berpakaian. Sambil menunggu adza n maghrib berkumandang, gadis bertubuh mungil itu membuka kitab sucinya untuk dikumandangkan dipahami dan dicermatinya. Tak lama kemudian, terdengar menggelegar suara adzan maghrib. Suara itu tak jauh dari kost. Bergegas ia melaksanakn shalat maghrib berjamaah di masjid yang terletak tak jauh dari tempat kost. Seperangkat alat shalat dikenakannya lalu melangkah menuju sumber suara yang sedang melantunkan senandung puji-pujian.
Sepulang dari rumah Allah, kembali ia lantukan firman-firman Allah sekejap saja. Tenggorokan terasa kering, dituangkannya air dari dalam teko ke sebuah gelas. Lalu ditegukknya air itu hingga habis tak tersisa. Selesai menunaikan kewajibannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa lalu direbahkannya tubuh yang mungil berkulit sawo matang itu di atas springbed yang empuk untuk sejenak mengendorkan otot-otot yang telah menegang gegara perbincangan tadi siang bersama Opix. Ditariknya sebuah benda pipih berbentuk kotak berwarna merah miiknya yang sedari tadi tergeletak di kasur. Banyak pesan masuk melalui aplikasi whatsappnya. Kemudian ia balas chat dari yang paling bawah. Salah satu pesan di antara banyak pesan adalah pesan daari Opix.
[Sayang, lagi ngapain? sudah makan belum?] Dengan percaya diri kini Opix memanggil dengan sebutan "sayang" dalam tulisannya.
[Ini lagi ngetik kakak, Say. Belum tuh, belum makan] balas Bella dalam tulisannya.
[Ngetik apaan?] tanya Opix lagi dalam tulisannya.
[Ngetik balasan WA dari kakak.]
[Oh, kirain ngetik apa]
[Besk pagi ke kampus gak, Sayang. Kalau ke kempus jam berapa?nanti kakak jemput ya ...]
[Bella ingin jalan kaki saja kakak sayang, gak enak terus-terusan diantar jemput. Kita kan masih belum apa-apa. Terutama sama sekeliling kost Bella gak enak juga.] tulisnya pada dinding whatsappnya.
Membaca tulisan Bella seperti itu, rasanya Opix sudah gak sabar ingin segera meminangnya. Ingin segera menghalalkan hubungannya dengan Bella.
[Oh, oke. Kakak ngerti.] tulis Opix disertai gambar emotji daun waru yang tertusuk panah.
Lalu Bella menyudahi chat itu. Segera ia isya'an lanjut makan malam yang sudah ia bikin sendiri hasil masakan dari megic com. Malam ini hanya berlaukkan tempe goreng dan sambel trasi. Maklum anak kost, jadi menu makannya sangat sederhana dan praktis. Ia mengambil nasi lalu diletakkan di piring dan sepotong tempe goreng beserta sambel trasinya. Diraihnya ponsel kemudian mengambil gambar pada sepiring nasi beserta lauknya tadi. Lalu diunggah pada status WA. Disertai keteragan pada gambar. [Dinner yuk gaaes]
Seketika status langsung dibaca oleh kekasihnya yang telah diresmikan sejak kemarin siang. Lalu dikomentari oleh Opix.
[Wenaknya ... kok kakak gak dibagi sich. Mu dong!] tuisnya.
[He he he] tulisnya disertai emotjion kepala bergmbar orang ngakak.

Gadis Pejalan Kaki

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day28

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 412

Gadis pejalan kaki


Malam semakin larut, Bella masih bergelut dengan ponselnya, meng-update dagangan melalui status WA, facebook, daan instagram. Setelah itu ia wudhu lalu menata bantal dan selimut siap-siap untuk berlayar menuju pulau kapuk. Mengukir mimpi yang indah, melaju bersama angan-angan.
Seperti biasanya, alarm untuk bangkit di sepertiga malam, hampir tak pernah terlewatkan. Kecuali kalau dia lagi sakit. Di tempat kost yang memang satu kamar ditempati hanya satu orang itu, harus dapat mengatur dan berjanji pada diri sendiri agar bisa menjadi lebih baik. Karena semuanya serba dilakukan sendiri. Tidak ada satupun orang yang mau mengingatkan jika berbuat tidak sesuai dengaan keinginan. Misalnya tidur sehabis subuh, atau tidur sampai matahari berada dipucak.
Selepas ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhannya dan melantunkan kalam-kalam Illahi, bergegas ia mengambil beras yang dibawanya dari rumah kemudian dibersihkan terlebih dahulu sebelum masuk majic com. Lalu ditekan tombol cook untuk memasak nasi.Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam, beras akan menjadi nasi. Pagi itu gadis pecinta nada-nada sholawat itu akan membeli sayur matang saja untuk bekal sehari ini. Setelah Bella membersihkan diri, lalu ia berpakaian rapih bersiap untuk pergi ke kampus. Namun, sebelumnya membeli sayur dan lauk matang untuk sarapan pagi. Diambilnya sepiring nasi yang ditumpangi sayur serta lauknya. Lalu ia menyendok kemudian memasukkan ke dalam mulut, begitu seterusnya sampai habis.
Gadis berkemeja biru muda bercelana jeans warna navy dan dipadukan dengan jilbab motif kebiruan bersiap berangkat dengan jalan kaki bersepatu cads warna hitam. Selain mengendurkan otot-otot pada kaki, sejauh mata memandang alam di sekitar jalanan setapak, sejenak melupakan problema, melakukan perjalanan menuju sebuah kampus. Itulah hobby Bella sejak dulu. Hari ini ia masuk kelas jam pertama, yakni jam delapan tepat. Kini jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi.                                            
Setengah jam lagi masuk kelas. Ia duduk di sebuah taman, sambil menyibukkan diri untuk menulis yang kini merupakan hobby barunya. Dua puluh lima menit kemudian datanglah seorang Sita yang tengah sendirian melangkahkan kaki menuju depan kelas dengan wajah sendu, tak seperti biasanya ia selalu ceria. Ada apakah gerangan yang menimpa Sita.
"Hai cewek cantik, kok tumben sendirian. Di mana lelakimu itu?" sapa Bella dengan wajah yang terpancar senyuman untuk sahabatnya itu. Sita hanya membuang muka tak mau melihat Bella yang berada tak jauh darinya. Ia melewati Bella begitu saja menuju kelas tempat ia kuliah nanti. Tak lama kemudian datanglah Berna dan Ratna menghampiri.
"Yuk masuk kelas! ajak Ratna.
"Nanti ah, masih ada waktu sebentar" tunda Bella yang masih asyik menulis sebuah cerita.
"Sini duduk dulu." lanjut Bella seraya menarik tangan Ratna untuk duduk di sampingnya.

Obrolan Menjelang Kuliah

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch43
#Kelompok013
#GoresanAksara
#Day30

PJ: Kirana
Neng Jaga: Alma Cho
Ketua Kelas: Nasir Hamid

Jumlah kata 529

Obrolan menjelang kuliah


"Eh, da pa kok nyuruh-nyuruh aku duduk, kok kayaknya ada yang penting." ucap Ratna.
"Oh ga kok, cuman aku mau bilang, tadi aku lihat Sita. Gak biasanya Sita jalan kaki. Lah kemana lelakinya?" papar Bella.
"Trus?" tanya Berna.
"Trus aku sapa dan kutanya dimana lelakimu? sambung Bella.
"Jawabnya gimana?" tanya Ratna.
"Dia cuman buang mukanya, sepertinya lagi ada masalah sama si play boy itu," ujar Bella sambil melirik jam tangaannya.
Jarum jam di tangan Bella menunjuk di ngk 12 dan 8.
"Eh, sudah jam delapan. Yuk masuk! Ajak Bella.
"Lho, ceritanya belum selesai." keluh Ratna.
Lalu mereka bertiga masuk ruangan di mana mereka mengikuti perkuliahan.
Tampak Sita duduk di kursi paling belakang. Sesekali Ratna dan Bella menengok ke belakang, untuk mengetahui keberadaan Sita. Sepertinya dia gelisah, entah apa yang sedang dipikirkannya. Sejak jadian sama Zena, Sita tak pernah kelihatan jalan kaki. Entah apa yang menyebabkan gadis berkulit putih itu sebagai pejalan kaki. Wajah yang ayu itu, hari ini tampak kusut dan tak bersemangat. Hingga membuat penasaran Ratna dan Berna serta Bella. Mereka tahu bahwa Zena adalah cowok matrei sekaaligus playboy.
"Jangan-jangan Sita jadi korban keganasan Zena." Bisik Ratna pada Berna.
Bella hanya sebyum-senyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Setelah satu setengah jam lamanya mengikuti perkuliahan, pak dosen menyudahi materi perkuliahannya. Sembari mengucapkan salam disertai dengan langkah meninggalkan ruag kelas.
"Saya kira perkuliahan hari ini cukup sekian, dan jangan lupa tugas makalahnya dikerjakan. Minggu depan langsng didiskusikan, wassalamualikum warhmatullhi wabrakatuh." pesan pak dosen diikuti salam penutup.
"Waalaikumsalam warahmatullaahi wabarakaatuh," jawab serentak para mahasiswa.
Semua mahaiswa menunggalkan ruangan hingga ruangan kosong tanpa seorang mahasiswa satu pun. Berna, Ratna, dan Bella melangkah menuju taman yang biasa mereka duduki sewaktu menunggu jam kuliah selanjutnya. Udin dan Sandi mengekor dari belakang.
"Hai, ikut juga kalian sama kami." ucap Ratna sambil membetulkan kacamatanya yang tebal.
"Boleh dong kita ikut," tukas Udin.
Diam-diam Udin kepincut sama Ratna sedangkan Sandi juga menaruh hati pda Berna. Mereka sepertinya pasangan yang serasi. Namun keduanya belum berani mengungkapkan perasaan mereka pada gadis idola masing-masing. Entah kapan mereka akan berani mengungkapkannya. Hanya waktu yang dapat menentukan.
Sementara di lain tempat, Sita sedang sendiri terpaku melihat pemandangan di sekitar kampus sambil melamunkan tentang Zena yang telah menyakitinya. Bagaimanakah kisah hubungannya dengan Zena selanjutnya. Apakah bertahan atau kandas di tengah jalan. Di rogohnya benda pipih yang ada di dalam tas kecil lalu diusap dan jemarinya mengarah ke aplikasi whatsapp. Ditekannya tombol kontak yang bernama Zena-ku. Kemudian ia melakukan video call. Video call hanya menyatakan memanggil, sampai pemanggilan kelima. Masih saja informasi pada benda pipih berbentuk kotak itu hanya bertuliskan memanggil. Kemudian ia menulis pesan pada dinding whatsappnya.
[Yang, di manakah kamu sekarang? Tolong dong jemput aku setelah kuliah jam kedua nanti.] tulisnya.
[Yang, aku kangen sama kamu, tidakkah kau merasakan yang sama?] lanjutnya dalam tulisan pesannya.
[Maafkan aku ya, atas kejadian lusa. Maafkan jika aku cemburu pada suara perempuan yang muncul di ponselmu.]
Namun, lagi-lagi centang satu. Yang membuat kesalahan Zena, kenapa Sita yang meminta maaf? Begitulah kalau seorang gadis berparas ayu berkulit putih itu, selalu mangalah dalam segala hal. Tak beda jauh dengan yang dialami Bella. Zena selalu marah jika melakukan kesalahan. Kemarahannya itu hanyalah menutupi kesalahannya. Agar dapat dipercaya oleh siapapun.

Mungkin saja kamu suka

Hanifah Deriska...
Ayah Ibu, Tolong Baca ini !
Licorrie Whatso...
Umtyholi
dimdim
kucing
Catur Untari
MENITI RINDU
Azzahra Aulia M...
Semua Serba Daring

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil