Loading
4

0

0

Genre : Inspirasi
Penulis : Zuraida NS
Bab : 1
Pembaca : 7
Nama : Ismi siti zuraida
Buku : 2

Kita Terlalu Istimewa

Sinopsis

Kisah 5 orang sahabat yang masing-masing memiliki kekurangan baik dari segi fisik maupun materialistik. Di tengah alur persahabatan mereka yang terlihat akur tanpa memandang segi kekurangan masing-masing, ada sebuah kejadian yang harus membuat mereka terpecah belah. Bahkan, merelakan persahabatan mereka runtuh. Namun, apakah mereka bisa bersatu kembali? Atau mereka tetap memilih untuk menyudahi ikatan persahabatan yang sudah dibangun 3 tahun silam?
Tags :
#insecure #inspirasi #perjuangan #persahabatan #olimpiademenulis #nulisdibukulaku #kmoclub

Bab 1

4 2

Bukan Firtous namanya kalo upacara hari senin ajah masih dikejar-kejar waktu. Seperti halnya pagi ini. Meta, Nayla, Mira, Tia dan Ais berlari terpogoh-pogoh menuju gerbang yang sebentar lagi hampir tertutup rapat dengan tembok di sampingnya. Pak Dion selaku satpam penjaga gerbang itu, sudah paham melihat tingkah mereka berlima berduyun-berduyun berlari ke hadapannya. Bukan untuk minta nasi uduk untuk sarapan, melainkan minta dispen agar gerbangnya tidak untuk ditutup. 

Ais yang body nya bisa dibilang lebih kecil dari pada keempat sahabatnya itu, mencoba untuk berlari sekuat mungkin untuk mencegah aksi Pak Dion menutup gerbang sekolah agar mereka bisa mengikuti upacara hari senin. Yah, meskipun jarang sekali mereka memiliki kemauan untuk mengikuti upacara, namun entah mengapa hari ini beda dari hari senin lainnya. 

"Pak Diooon... Tunggu..!!" Ais berteriak sekuat mungkin sambil membawa tubuhnya yang ringan seperti angin. 

Tangan mungil Ais langsung menghimpit di antara celah lubang antara pagar dengan tembok. Yaps! Ais berhasil menghentikannya. Pak Dion yang melihat aksi Ais barusan, menatapnya dengan rasa setengah iba karena keringat yang terus mengucur di sebagian wajahnya. Juga setengah rasa kesal lantaran kelakuan ini bukan yang pertama kalinya. 

"Huft..! Akhirnya bisa juga.." Ais menghela nafas panjang. 

"Neng, ngapain di sini. Kan, Neng, udah telat," ujar Pak Dion. 

" Plis, Pak. Untuk kali ini, yah, bantuin Ais.. Ais janji, Ais sama temen-temen Ais nggak bakal telat lagi. Tapi untuk kali ini, kasih kesempatan untuk kita, yah..." Ais memohon kepada Pak Dion agar mengizinkan dirinya dengan sahabatnya itu bisa masuk ke sekolah. 

"Tapi, Neng, ini bukan pertama kalinya. Neng sama temen-temen neng itu udah sering telat kaya gini. Bapak nggak berani ngizinin masuk lagi," jelas Pak Dion. 

"Kan, Ais udah janji, Pak. Ais orangnya baik, kok, nggak bakal ngelanggar janji. Untuk hari iniii aja, yah, Pak... Pliisss..." Ais kembali memohon kepada Pak Dion. 

Meta, Tia, Mira dan Nayla masih berusaha untuk menyusul Ais yang dulu sampai di gerbang. Wajar saja jauh, jarak dari tempat pemberhentian angkot ke gerbang sekolah lumayan untuk naik ojek. Tapi mereka memilih untuk jalan kaki. Itung-itung olahraga juga. 

Pak Dion yang beberapa menit tadi terdiam memikirkan jawaban, akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Ais dan sahabatnya itu. 

"Ya udah, deh. Bapak izinin kamu masuk. Tapi inget, yah. Kalo ada apa-apa di dalem sekolah, jangan salahkan bapak. Karena bapak bertugas untuk jaga gerbang, bukan jadi orang tua kamu dan teman-teman kamu," ucap Pak Dion. 

"Siap, Pak." 

"Meta.. Nayla.. Tia.. Mira.. Ayuk cepetan. Udah diizinin sama Pak Dion, Nih.." teriak Ais memanggil keempat sahabatnya yang sebentar lagi akan sampai. 

Lantas, mereka berempat lari sekencang mungkin. Meta, Mira dan Nayla sudah masuk ke gerbang. Sedangkan, Tia terlihat begitu kelelahan. Napasnya terengah-engah. Dengan bobot badan yang berbeda dengan keempat sahabatnya itu, ia memperlambat lajuannya. Ia tak sanggup lagi untuk lari padahal jarak hampir dekat. Kemudian, Ais yang melihat Tia yang sudah tak sanggup lagi berjalan, menarik lengannya sekuat mungkin untuk masuk ke dalam sebelum gerbang di tutup lagi oleh Pak Dion. 

"Ayo Tia.. Kamu bisa.. Sebentar lagi kita akan sampai finish.." Ais memberikan semangat kepada Tia. 

Nayla, Meta dan Mira tampak cemas, dan sesekali mereka melihat ke arah arlojinya. Takut waktu upacara sudah di mulai dan mereka baru datang. Alhasil, mereka akan dapat hukuman. 

"Ayo Tia... Kamu pasti bisaa.." teriak mereka serentak. 

Tidak menunggu lama, akhirnya Tia pun ikut masuk ke dalam gerbang dan gerbang pun kembali ditarik oleh Pak Dion. Tanpa jeda nafas sedikitpun, mereka langsung berlari menuju kelas sambil merangkul Tia agar bisa untuk berlari bersamanya. 

"Makasih, Pak.." teriak Nayla kepada Pak Dion. 

                                 ***

"Baiklah anak-anak. Mungkin itu saja yang dapat ibu sampaikan pada amanat upacara kali ini. Semoga kalian tetap semangat belajar dan aktifitas lainnnya. Ibu akhiri, wass--" 

Gubrak! 

Belum selesai Ibu Kepala Sekolah mengucapkan salam untuk menutup amanat pada upacara hari ini, terdengar suara orang yang jatuh dari barisan belakang. Suara itu terdengar lumayan keras, sehingga siswa dibarisan paling depan dan pojok kanan menengok ke arah sumber suara tersebut. 

"Suara apa itu?"

"Siapa itu?"

"Tiaaa...." 

Nayla yang di samping Tia tidak bisa untuk menopang tubuh sahabatnya itu. Karena gerakannya secepat kilat, alhasil tubuh Tia tergeletak begitu saja. 

Firtous yang mengetahui bahwa salah satu dari sahabatnya itu pingsan, langsung menghampiri Tia. Begitupun dengan murid lainnya yang mulai berkerumun di sekitar lokasi Tia pingsan. Tim kesehatan langsung membawa Tia ke ruang UKS. Dibantu oleh keempat sahabatnya itu. 

Sesampainya di ruang UKS, yang diperbolehkan untuk masuk ke ruang itu hanya Tia dan dokter saja, selebihnya menunggu di luar, termasuk firtous. 

"Ya Allah.. Tia... Kamu kenapa bisa begini... " ucap Ais lirih. 

"Kayaknya, karena kejadian tadi pagi, deh." Meta mengangkat suara. 

"Yang katanya kita kejar-kejaran sama gerbang itu?" tanya Mira. 

"Iya, Mir. Aku juga mikir ke situ. Kalian liat juga, kan, gimana capeknya Tia pas lari-lari tadi. Kalian tau sendiri juga, kan, kalo Tia nggak kuat lari sejauh itu, apalagi di kejar-kejar waktu," ujar Nayla menambahkan. 

"Hmm, aku jadi nggak enakan sama Tia..." ucap Meta. 

"Sama, Met. Apa lagi aku yang udah narik-narik dia biar larinya cepet. Aku ngerasa bersalah sama dia," sambung Ais. 

"Aku juga."

"Aku juga." 

Selang beberapa waktu, akhirnya dokter keluar dari ruang UKS dan memberikan kabar kepada mereka berempat bahwa Tia sudah siuman. Kemudian mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. 

"Ya Allah, Tia... Kamu nggak kenapa-napa, kan? Ada luka parah, nggak?" tanya Ais cemas. 

"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Tia?" 

"Ada yang cedera, Nggak?" 

"Santai ajah kali, Bep. Aku nggak papa, kok. Kata dokter juga aku cuman kecapean, dan nggak ada luka sama sekali. Yah, paling nyeri badan sedikit. Hehe.." Tia mencoba untuk tetap tersenyum meskipun pada kenyataannya ia betul-betul merasa sakit dan pusing berat. Tetapi ia tidak mau sahabatnya itu menjadi khawatir karenanya. 

"Tia... Aku minta maaf, yah, sama kamu. Gara-gara aku maksa kamu. Terus narik-narik tangan kamu buat cepet-cepet lari, akhirnya kamu kecapean kaya gini, dan pingsan, deh.." Ais meemegang tangan sebelah kanan milik Tia dan mengelus nya. 

"Iya, Tia.. Aku juga minta maaf, yah sama kamu. Seharusnya aku nggak ninggalin kamu dibelakang sendirian," ucap Nayla dengan wajah polosnya. 

"Kami semua minta maaf. Kejadian tadi, bener-bener buat kita sadar, bahwa segala sesuatu itu tidak harus dipaksakan. Dan sifat terburu-buru itu akan berakhir dengan penyesalan, yah seperti ini akibatnya." Meta mencoba menjelaskan. 

"Kalian itu nggak ada yang salah, dan nggak perlu minta maaf juga. Sekarang, aku baik-baik ajah, kok. Kalian bisa liat sendiri, kan? Tapi aku disuruh istirahat dulu sama dokter sampai aku benar-benar pulih. Jadi, aku nggak bisa ikut pelajaran hari ini. Nanti ijinin aku, yah.." 

"Tia...--" 

Setelah kalimat itu dilontarkan oleh Tia, keempat sahabatnya langsung memeluk Tia dengan erat. Terasa bukan? Persahabatan yang tidak memandang kekurangan serta kelebihan akan membuat suatu hubungan menjadi harmonis meskipun dalam keadaan yang sulit. 

Bagi mereka, kekurangan adalah hal yang istimewa, yang patut mereka syukuri. Juga, saling melengkapi adalah bentuk kesempurnaan daripada kekurangan tersebut. 

 

#olimpiademenulis #nulisdibukulaku #kmoclub

 

 

 

 

 

 

 

user

07 December 2021 11:23 Asha Raya Semangat Kakak...

user

07 December 2021 11:24 Asha Raya Mampir di tulisanku yaa... Insecure Twins

Mungkin saja kamu suka

Nur Wiji Sholik...
Math Inspiration
Putri Hidayatun...
Syerra's Life Story
Norma Irnawati
LANGIT MENTARI
Arini Aprianti
Zahira (sebuah novel)

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil