Loading
1530

6

11

Genre : Inspirasi
Penulis : RiYanti
Bab : 26
Pembaca : 44
Nama : Hariyanti
Buku : 2

Jejak Bertuan

Sinopsis

Jejak Bertuan merupakan buku kumpulan cerpen yang berkisah tentang tokoh-tokoh yang selalu hidup dalam bayangan orang lain dan masa lalu. Merasa tidak pernah nyaman dengan keadaan diri sendiri. Sebagian besar kisah dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penggambaran latar, suasana, pengguna majas dan pemilihan diksi membuat cerpen ini terasa lebih hidup. Kisah-kisah yang disajikan adalah kisah yang sering dialami oleh banyak orang seperti perasaan rindu, cinta, marah, kecewa, dan sebagainya. Kumpulan kisah dalam cerpen ini akan membawa pembaca untuk lebih menghargai hidup kita sendiri. Karena hidup kita akan meninggalkan jejak selamanya.
Tags :
#kumpulancerpen#inspirasi#cinta#persahabatan#keluarga

Bab 1 Jejak Bertuan

51 6

Prolog

            Hidup adalah sebuah perjalanan. Setiap orang memiliki kisah yang tidak akan pernah sama. Kalaupun ada, barangkali hampir serupa. Kita tidak bisa senantiasa membandingkan hidup kita dengan orang lain. Hidup kita adalah garis yang memang sudah ditakdirkan olehNya. Jejak perjalanan hidup kita adalah jejak bertuan yang sudah lama dirancang jauh sebelum kita hadir di dunia ini.  

            Andai saja aku bisa memutar kembali waktu yang sudah berlalu, inginku kembali ke masa di mana kamu selalu ada. Tuhan, adilkah ini? Dia yang sudah lama menghilang, kini tiba-tiba hadir di saat aku sudah tidak punya pilihan. Jejak itu memang akan selalu ada. Jejak bertuan yang tidak akan pernah bisa dipertuan siapa pun.

            Tetapi aku tidak ingin selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Aku mempunyai kehidupan yang harus kujalani saat ini. Masa lalu biarlah akan menjadi bagian dari takdir yang sudah digariskan olehNya. Dan jejak itu biarlah menjadi jejak bertuan yang hanya ada aku dan tuan saja.

Bab 1 Jejak Bertuan

Malam semakin larut. Jam digawai Raya sudah menunjukkan pukul 03.05 pagi. Matanya masih saja enggan membiarkan mimpi mengetuk malam. Pikiran Raya masih tertuju pada sosok yang dia temui siang tadi di depan sekolah. Sosok yang pernah begitu dekat beberapa tahun silam. Senyum khas dengan lesung pipi dan canda lepas yang masih begitu melekat. Entah apa maksud Tuhan mengirim sosok itu diwaktu yang tidak tepat pikirnya. Di saat dia mulai membuka hati untuk Pak Johan, rekan kerjanya.

***

Raya berjalan dengan langkah pelan menuju parkiran. Biasanya ada Pak Johan yang senantiasa menjadi pengawal pribadinya. Pak Johan hari ini pulang lebih awal karena harus mengantar ibunya ke dokter, sehingga dia terpaksa memakai sepeda motor sendiri.

“Sendiri aja, Bu. Mana Bapak Pengawalnya?” canda Bu Dian sambil mencolek pundak Bu Soraya.

“Eh, Bu Dian. Iya ni Bapak Pengawalnya hari ini izin pulang duluan,” jawab Bu Soraya, ”Makanya harus naik motor sendiri deh” lanjutnya sambil menunjukkan kunci sepeda motor ke arah Bu Dian.

“O gitu” timpal Bu Dian, “Ya, udah. Duluan ya, Bu” lanjut Bu Dian pamit kepada Bu Soraya.

“Iya, Bu. Hati-hati” timpal Bu Soraya.

Tampak Pak Mamat, satpam sekolah itu menghampiri Soraya

"Bu, ada titipan" suara Pak Mamat membuat Bu Soraya kaget.

"Eh, Pak Mamat bikin kaget aja," kata Bu Soraya sambil menoleh ke arah Pak Mamat, "Dari siapa, Pak?" tanyanya.

"Katanya dari temen Ibu" jawab Pak Mamat.

"Orangnya mana?" tanya Bu Soraya lagi.

"Tu, masih di warung depan sekolah" sambil menunjuk ke arah laki-laki yang sedang duduk dengan pakaian rapi, persis seperti orang kantoran. Raya tampak mengernyitkan dahi. Merasa tidak pernah punya janji dengan siapa pun.

"Ya udah, Bu. Saya ke pos dulu" kata Pak Mamat.

"Iya, Pak. Terima kasih ya, Pak Mamat" ucap Soraya kepada Pak Mamat.

Soraya melepaskan kembali helm yang sudah menempel di kepalanya. Lalu perlahan membuka tas berisi sebuah kado yang diterimanya dari Pak Mamat tadi. Ia mencari nama si pengirim, namun di sana tertulis "Dari: Penggemar Setiamu". Pikirannya langsung tertuju pada sosok teman laki-lakinya masa SMA dulu. Dia teringat pertama kali menerima hadiah dari laki-laki itu, tertulis nama pengirim yang sama. Raya pun semakin penasaran. Ia lalu membuka kado tersebut. Begitu melihat isinya, matanya tempak berkaca-kaca. Ia berlari ke depan sekolah berharap laki-laki yang ditunjukkan oleh Pak Mamat tadi masih berada di sana. Ternyata laki-laki itu sudah pergi. Tarlihat Soraya menengok ke sana-ke mari.

"Pak Mamat lihat ke mana laki-laki yang titip barang ke saya tadi?" tanya Bu Soraya kepada Pak Mamat.

Dengan wajah bingung Pak Mamat menjawab, "Itu, Bu. Lagi ke belakang". "Tadi numpang ke kamar mandi," lanjutnya. Soraya menghela napas lega.

"Kamu cari saya?" sosok laki-laki yang dicari Soraya tiba-tiba muncul dari arah belakang. Soraya pun kaget dan membuat wajahnya merah merona.

"Kamu" kata Soraya.

"Iya" jawab laki-laki itu singkat, "Kamu gak bahagia liat aku kembali?" lanjutnya. Soraya terdiam, tidak bisa menjawab.

"Hey ... kok malah ngelamun" lanjut laki-laki itu sambil melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Soraya.

Laki-laki itu adalah Bima. Sosok yang pernah sempat memberinya kebahagiaan tujuh tahun silam pada saat masih di bangku SMA. Demi mengejar cita-cita, mereka harus berpisah. Bima melanjutkan pendidikan di luar kota sementara Soraya melanjutkan pendidikan di kota asal mereka, Surabaya. Soraya mengambil jurusan keguruan sedangkan Bima mengambil jurusan Ekonomi Perbankan. Hingga akhirnya Soraya menjadi seorang guru seperti sekarang ini. Persis seperti cita-citanya dulu. Berbeda dengan Bima, begitu selesai menempuh pendidikan S1, ia mendapatkan beasiswa dari universitasnya untuk melanjutkan pendidikan S2.

“Kamu banyak berubah, ya” kata Bima mencoba mencairkan suasana. Raya masih terdiam. “Kok jadi pakai kata aku, kamu, gini sih” sambung Bima sambil terkekeh.

“Kapan kamu balik ke Surabaya?” tanya Raya.

“Nah kan. Masih pake ‘kamu’ lagi,” timpal Bima,”Pake lo, gue aja Ray. Biar kembali kek masa SMA dulu” canda Bima. Raya menatap Bima. Ia masih terpesona dengan senyum dan juga lesung pipi Bima.

“Iya, ya. Maaf-maaf,” kata Bima, “Aku balik ke Surabaya minggu kemarin, Ray” lanjutnya.

“Terus?” tanya Raya singkat.

“Terus, ya aku cari kamu ke sini lah” jawabnya santai.

“Kamu tahu aku di sini dari mana?” tanya Raya lagi.

“Kebetulan aku ketemu sama Lia kemarin,” jawab Bima,”Aku nanya sama dia. Jadinya, Lia yang kasih tahu aku kalo kamu ngajar di sini” lanjutnya. Lia adalah teman sekaligus sahabat Soraya dan Bima waktu SMA dulu.

“Oo …” timpal Soraya sambil menganggukkan kepala.

“Maksud kamu ngasih aku ini apa?” tanya Raya sambil menunjukkan kado yang masih di tangannya.

“Ya. Buat kamu lah, Ray” jawabnya,”Kamu gak suka?”lanjutnya. Raya terdiam.

“Kenapa harus ini,Bim?” tanya Raya lagi. Bima terdiam sejenak.

“Aku masih simpen ini semua, Ray,” jawab Bima,”Sebelum aku berangkat ke luar kota dulu aku memang sengaja akan memberikan ini setelah aku balik” lanjutnya. Bima memberikan Soraya foto-foto kebersamaan mereka dulu waktu sekolah. Saat mereka masih berpacaran.

“Untuk apa, Bim?” tanya Raya, “Kamu ngilang sekian lama, tanpa ngasih aku kabar sama sekali” lanjutnya,”Sekarang tiba-tiba kamu dateng lagi” sambung Raya.

“Kamu sudah tidak mengharapkan aku lagi, Ray?” tanya Bima.

“Maaf, Bim,” jawab Raya, “Aku harus pulang” lanjutnya,”Ini kamu simpan saja sendiri” sambil menyodorkan kembali kado itu kepada Bima. Bima terdiam.

“Apa kamu sudah menemukan seseorang, Ray” tanya Bima.

“Aku rasa, aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu, Bim” jawab Raya.

“Apa kita tidak bisa berteman, Ray” tanya Bima lagi. Raya hanya tersenyum lalu meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung di depan pos satpam. Di satu sisi, tanpa disadari air mata Raya menganak sungai di pipinya yang putih sambil terus berjalan menjauh dari Bima.

user

08 December 2021 18:31 a Baguuuss....

user

08 December 2021 18:38 a Mantap

user

08 December 2021 20:48 Asmarani Syafira Mampir juga di cerita saya. Alif Kecil dan Mimpi Pelangi

user

09 December 2021 06:42 a Semangat mbk

user

14 December 2021 10:44 Nana Budi Riswana Bagus...Semangat berkarya

user

21 December 2021 15:04 a Ceritanya Kereeen...semangat... Sukses selalu

Bab 2 Dara Manis, Jangan Menangis

16 6

“Ma, Dara berangkat dulu, ya” ucap Dara kepada Mama.

“Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya” jawab Mama.

“O iya, Ma. Nanti Dara pulang agak telat ya” sambung Dara.

“Kamu mau ke mana, Sayang?” tanya Mama.

“Dara mau ke rumah Mutia, Ma. Ada tugas kelompok” terang Dara.

“Tapi pulangnya jangan terlalu sore ya, Sayang” pesan Mama.

“Siap, Ma” sambil mengacungkan tangan ke atas kepala memberikan hormat ke arah Mama. Mama hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya itu.

“Sayang … bekel kamu ketinggalan” teriak Mama lalu bangkit mengejar Dara sambil membawa tempat bekal makanya.

“Maaf, Ma. Dara lupa” kata Dara sambil nyengir ke arah Mama.

“Kamu ini. Kebiasaan” timpal Mama. Dara pun kembali bersalaman dengan Mama kemudian mencium kedua pipinya. Tampak Mama melepas kepergian Dara yang sudah ditunggu bus sekolah di seberang jalan.

Dara dan Mama hanya hidup berdua. Papanya meninggal empat tahun lalu karena penyakit jantung. Waktu itu Dara berumur tiga belas tahun dan baru saja duduk di bangku kelas kelas 1 Sekolah Menengah Pertama. Kini dara sudah beranjak remaja. Dia sudah duduk di bangku kelas XI atau kelas 2 Sekolah Menengah Atas, usianya pun sebentar lagi tujuh belas tahun. Dara tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, manis dan juga pintar. Persis seperti sang Ibu.

Beberapa minggu lagi sekolah akan mengadakan acara pelepasan kelas XII. OSIS selaku salah satu bagian dari panitia penyelenggara tampak sibuk mempersiapkan serangkaian acara. Dara juga termasuk salah satu di antaranya. Dia dipilih sebagai ketua panitia  acara tahun ini. Sibuk. Ya tentu saja. Tetapi Dara memang sudah terbiasa dengan rutinitas yang seperti itu.

Di salah satu sudut sekolah.

“Dar, lo lagi ngapain?” tiba-tiba Mutia datang menghampirinya.

“Eh lo, Mut” jawab Dara.

“Berapa sih gue bilangin. Stop panggil gue dengan nama itu,” gerutu Mutia, “Lo kira gue marmut” lajutnya sambil cembertut.

“Nah lagian lo juga panggil gue gitu. Dar, der, dor. Lo kira mau perang apa” balas Dara.

“Iya deh iya,” sahut Mutia,”Dara manis yang cantik, molek, menawan hati, tidak sombong, suka menabung, dan lain lain-lain dah pokoknya” lanjutnya sambil berdiri dengan suara yang cukup kencang sehingga menarik perhatian beberapa temannya yang lewat.

“Apaan sih lo, Mut” kata Dara sambil menarik tangan Mutia.

“Jangan panggil gue gitu lagi” timpalnya sambil pasang muka cemberut lagi.

“Iya maaf-maaf,” ucap Dara sembari merangkul lengan sabahatnya itu, “Mutia sahabatku yang baik hati, suka menolong, imut-imut, dan lain-lain” lanjutnya seolah membalas kalimat sahabatnya tadi.

Seperti itulah kedekatan Dara dan Mutia. Mereka sudah menjalin persahabatan sejak masih kecil. Mereka sama-sama anak tunggal dari keluarga berkecukupan. Ayah Mutia dan mendiang Ayah Dara adalah rekan bisnis. Sehingga tidak heran mereka begitu dekat hingga sekarang.

“Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, Ra” kata Mutia.

“Gue lagi susun rangkaian acara buat besok” jawab Dara.

“Sibuuukk terus lo ya tiep hari. Heran gue,” sambung Mutia, “Sekali-kali sante dong kayak gue” lanjutnya.

“Kan lo tau sendiri. Ini emang sudah tanggungjawab gue” imbuh Dara.

“Ntar siang kita jalan, yuk” ajak Mutia.

Dara tidak menjawab. Matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang berjalan sendiri melewati koridor kelas.

“Ra” panggil Mutia.

Namun Dara tidak merespon. Mutia mengamati sahabatnya itu. Dia mengikuti arah pandangan Dara.

“Hhmm … ada yang lagi terpesona ni rupanya” suara cempreng Mutia membuat Dara terkejut.

            “Lo mulai ada rasa sama Kak Raka ya?” ledek Mutia.

            Raka adalah siswa kelas XII IPA 1 dan menjadi salah satu idola di sekolah. Tubuhnya yang tinggi, kulit putih, rambut sedikit bergelombang ditambah lesung pipit membuat teman lawan jenisnya semakin terpesona. Termasuk Dara.

            “Apa sih, lo. Jangan ngaco ah” sahut Dara.

            Tanpa disadari, Raka sudah tepat berada di belakang mereka.

            “Lo Dara kan?” tanya Raka sambil menunjuk ke arah Dara. Wajah Dara sontak memerah.

            “Iya, Kak” jawab Dara dengan nada terbata-bata.

            “Gue Mutia, Kak” sahut Mutia sambil menyodorkan tangannya seolah ingin berkenalan. Dara dengan spontan menepis tangan Mutia membuat Raka tersenyum sehingga menampakkan lesung pipitnya. Tampak Dara dan Mutia semakin terkesima dengan Raka.

            “Hello …,” kata Raka, ”Kok malah pada diem” sambung Raka. Dara dan Mutia pun kompak tersenyum ke arah Raka.

            “Maaf, Kak” jawab Dara sambil menunduk.

            “Lo ketua panitia acara perpisahan besok, kan?” lanjut Raka.

            “Iya, Kak” jawab Dara.

            “Ntar pulang sekolah kita diskusi bentar,” ajak Raka dengan nada datar, “Lo bisa kan?” lanjutnya.

            Dara langsung menyiyakan ajakan Raka,”Bisa kok, Kak.”

            “Ya udah. Sampai ketemu ntar siang, ya” Raka lalu meninggalkan Dara dan Mutia. Sementara Dara tampak tersenyum bahagia.

            “Yah. Gue jalan sendiri deh” timpal Mutia dengan wajah cemberut.

            “Sorry ya, Mutia,” kata Dara sambil memegang kedua tangan Mutia,”Besok baru gue ikut ya” lanjutnya.

            “Iya deh iya,” timpal Mutia, “Apa sih yang gak buat sahabat gue. Yang penting lo bahagia, Ra” imbuhnya. Dara pun langsung memeluk tubuh Mutia.

            “Lo emang sahabat gue yang paling baik,” kata Dara, “Gak salah pilih gue” lanjutnya.

            “Lo kira gue sayur pake dipilih-pilih” timpal Mutia.

            Mereka pun masuk kelas. Di dalam kelas, wajah Dara begitu berseri-seri. Dia terus-terusan melirik ke arah jam tangannya. Seakan tidak sabar menunggu bel pelajaran berakhir. Akhirnya, bel pulang pun terdengar. Dara langsung memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas dengan tergesa-gesa.

            “Gue duluan ya” katanya kepada Mutia. Mutiaa belum sempat menjawab, Dara sudah langsung berlari ke luar kelas. Mutia hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

            Dara sudah menunggu di ruang OSIS. Sudah 15 menit berlalu, Raka tidak juga muncul. Sesekali Dara melihat ke arah jam di tangannya. Jam sudah menunjukkan hampir jam 3. Raka masih saja belum datang. Dara pun memutuskan untuk meninggalkan ruang OSIS. Baru saja Dara sampai di depan pintu, tiba-tiba Raka muncul dengan napas ngos-ngosan dan keringat mengalir dari pelipis matanya.

            “Sorry, Ra sorry” kata Raka. Dara tampak kesal kepada Raka.

            “Gue lupa kalo ada janji sama, Lo” sambung Raka.

            “Iya gak apa-apa, Kak” jawab Dara singkat.

            “Gue anter Luna dulu tadi. Pas mau balik, baru gue inget kalo ada janji sama lo” terang Raka.

            Seakan Dara disambar petir mendengar penjelasan Raka, “Berarti apa yang gue denger selama ini, kalau Kak Raka sama Kak Luna pacaran itu bener,” ucap Dara dalam hati, “Bego banget sih gue” lanjutnya.

            “Besok aja deh, Kak kita bahas,” kata Dara, “Udah jam 3 lewat juga. Ntar Nyokap gue khawatir” lanjutnya.

            “Sekali lagi sorry ya, Ra” ucap Raka penuh rasa bersalah kepada Dara. Dara hanya tersenyum. Kemudian meninggalkan Raka di depan ruang OSIS.

            “Pliiiss jangan nangis Dara,” gumamnya sambil terus berjalan menjauh dari Raka, “Gak ada gunanya lo nangis” sambungnya. Dara pun tiba di rumah dan langsung mengunci diri di dalam kamarnya.

user

08 December 2021 18:32 a Bimaaaa bimaaa... dasar lu

user

08 December 2021 20:50 Asmarani Syafira Bagus. Alur, bahasa, dan ceritanya.. Saya jadi insecure

user

09 December 2021 06:43 a ????

user

10 December 2021 05:38 Wella Triana Dara????

user

12 December 2021 11:18 Tongkie Semangat kawan

user

16 December 2021 21:13 Lale Bagus isi ceritanya, semangat trus dengan karya2 yang berikutnya

Bab 3 Cinta dan Secangkir Latte

59 3

“Bro, ngopi yuk,” ajak Aria kepada Sakti, ”Udah jam makan siang ni” sambungnya. Sakti melihat ke arah jam tangannya.

“Tanggung ni,” jawab Sakti, “Lo duluan. Ntar gue nyusul” lanjutnya.

“Ya udah. Di tempat biasa ya” kata Aria. Sakti hanya mengacungkan jempol ke arahnya. Aria lalu pergi meninggalkan Sakti yang kembali menyelesaikan pekerjaannya.

Sakti melirik ke arah jam tangannya. Tiba-tiba kaget, “Astaga! Aria.” Sakti baru ingat kalau Aria menunggunya di café seberang kantor.

“30 menit lagi, jam istirahat abis ni” pikirnya. Sakti mengambil ponselnya kemudian menelpon Aria. Sakti mengatakan kepada Aria kalau dia tidak bisa ke café dan meminta Aria agar tidak menunggunya. Setelah selesai menelpon Aria, Sakti menuju ke pentri untuk membuat secangkir kopi.

“Biar saya yang buatin kopinya Pak Sakti” Pak Mul, salah satu OB di kantor itu tiba-tiba muncul dan membuat Sakti sedikit kaget.

“Eh, Pak Mul,” kata Sakti sambil menoleh ke belakang, ”Ngagetin aja” lanjutnya.

“Sini, Pak. Biar saya aja” Pak Mul hendak mengambil toples kopi yang ada di tangan Sakti.

“Udaah, biar saya saja, Pak” ujar Sakti sambil tersenyum, menolak tawaran Pak Mul.

“Bapak gak istirahat makan siang?” tanya Pak Mul.

“Tanggung tadi, Pak” jawab Sakti, ”Ee gara-gara keasyikan lupa waktu” lanjutnya sambil menyeruput kopi yang baru saja dibuatnya.

“Saya ada bawa sedikit cemilan, Pak. Barangkali Pak Sakti berkenan,” kata Pak Mul sambil mengeluarkan sebuah kotak makanan berisi beberapa potong kue, “Itung-itung pengganjal perut sementara Bapak pulang” lanjutnya. Sakti pun tidak menolak pemberian Pak Mul tersebut karena memang perutnya terasa lapar. Sudah dua potong kue masuk ke dalam perut Sakti.

“Ngomong-ngomong Pak Mul beli di mana kuenya,” tanya Sakti sembari mengambil potongan kue yang ketiga, “Enak banget, Pak” lanjutnya.

“Dibuatin sama anak saya, Pak” jawab Pak Mul. Sakti tiba-tiba tersedak. Pak Mul segera mengambilkan Sakti segelas air putih.

“Bapak gak apa-apa?” tanya Pak Mul dengan wajah panik.

“Gak apa-apa, Pak,” jawab Sakti, “Ini beneran anak Pak Mul yang bikin?” tanya Sakti seolah tidak percaya.

“Iya, Pak. Masa iya saya bohong” timpal Pak Mul sambil tersenyum, “Habisin, Pak. Bila perlu besok saya bawakan lagi buat Bapak” lanjut Pak Mul.

“Waduh, bisa-bisa Bapak rugi ntar kalau harus bawain saya kue tiep hari” kata Sakti sambil tertawa, “Terima kasih banyak ya, Pak Mul” lanjutnya.

“Iya, Pak. Sama-sama” jawab Pak Mul sambil tersenyum ramah.

“Ya udah deh, Pak. Saya balik ke ruangan dulu ya” kata Sakti pamit kepada Pak Mul lalu keluar dari pentri.

***

Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Semua karyawan mulai bergegas pulang, termasuk Sakti dan Aria.

"Bro, gue duluan ya" kata Aria pamit kepada Sakti dengan buru-buru seperti biasanya.

"Ok, Bro" timpal Sakti sambil merapikan mejanya. Sakti sudah hafal betul kebiasaan Aria, dia memiliki tugas menjemput sang pacar yang bekerja tidak jauh dari kantor mereka.

Sakti berjalan di area parkir hendak mengambil sepeda motornya, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang duduk sendiri di cafe seberang kantornya. Beberapa hari belakangan ini, Sakti memang kerap melihat perempuan itu duduk sendiri di cafe dengan secangkir latte di hadapannya. Awalnya Sakti tidak perduli, tapi kali ini Sakti merasa penasaran. Ia lalu mengurungkan niat untuk mengambil sepeda motornya, Sakti menuju cafe tempat perempuan itu duduk.

"Eh, Mas Sakti," sapa pelayan cafe yang sudah akrab dengan Sakti, "Tumben ke sini seginia. Ada janji ya" lanjutnya dengan nada menggoda. Sakti tidak tertarik dengan pertanyaan pelayan itu, ia tampak lebih penasaran dengan perempuan yang saat ini sedang manariknya datang ke cafe.

"Lo tau gak perempuan yang duduk sendiri di deket jendela depan" tanya Sakti. Pelayan itu tampak bingung.

"Maksud Mas Sakti?" pelayan itu malah kembali bertanya kepadanya.

"Itu yang duduk di depan, deket pintu masuk" jawab Sakti dengan nada kesal karena ia merasa pelayan itu masih ingin mengajaknya bercanda.

"Iya yang mana, Mas?" tanya pelayan itu lagi.

"Itu yang ..." sambil menunjuk ke arah meja depan, namun perempuan yang dimaksud Sakti itu sudah tidak di sana lagi, hanya ada secangkir latte dan beberapa lembar uang, "Kok gak ada sih" gumamnya lagi.

Sakti pun semakin penasaran. Ia lalu bangkit berlari ke luar hendak mencari perempuan itu. Tetapi ia hanya bisa melihat pungggungnya saja. Wajahnya tampak semakin penasaran. Akhirnya Sakti memutuskan untuk pulang sambil terus memikirkan perempuan itu.

 

Jam baru menunjukkan pukul 15.15. Sakti sudah tampak membereskan meja kerjanya.

"Tumben amat buru-buru, Bro" tanyaAria heran kepada Sakti.

"Ada urusan" jawab Sakti singkat.

"Wuiihh ... kayaknya temen gue udah dapet gebetan nih," goda Aria, "Bentar lagi ada nih temen gue seprofesi, jadi ojek" lanjutnya sambil tertawa.

"Apaan sih, lo," timpal Sakti, "Ya udah deh. Gue duluan ya" lanjutnya lalu meninggalkan ruangan dan seakan tidak memperdulikan Aria.

"Kalo udah berhasil. Jangan lupa kabari, Bro" teriak Aria membuat beberapa rekannya yang masih berada di dalam ruangan ikut tertawa.

Sakti langsung menuju ke cafe, tetapi ia tidak menemukan perempuan itu.

"Eh, Mas Sakti lagi" sapa pelayan cafe itu seperti kemarin, "Mau nanyain perempuan itu lagi?" lanjutnya.

"Kok tau" jawabnya sambil nyengir.

"Tu, baru aja diomongin, sudah nongol" sambung pelayan itu sambil mengangkat alisnya. Sakti pun kaget.

Perempuan itu berjalan ke arah pelayan cafe dan Sakti yang sedang berbincang hendak memesan minuman seperti biasanya, "Kayak biasa ya, Mas" kata perempuan itu kepada pelayan cafe dengan wajah datar dan tidak menghiraukan Sakti yang sedang berdiri di sebelahnya.

"Siap, Mbak" jawab pelayan sambil memberi hormat. Perempuan itu hanya tersenyum lalu menuju ke meja andalannya seperti biasa.

"Lo kenal perempuan itu" tanya Sakti kepada pelayan.

"Kenal sih gak, Mas. Cuma sering ke sini sih, iya" jawabnya sambil meracik kopi pesanan perempuan tadi. Sakti terus saja mengamati perempuan itu.

"Bentar ya, Mas" kata pelayan cafe hendak mengantar kopi yang sudah jadi. Sakti mengangguk.

Tidak lama, pelayan cafe itu kembali lagi menemui Sakti masih menunggunya.

"Perempuan itu siapa?" tanya Sakti lagi.

"Namanya Cinta, Mas," jawab pelayan cafe, "Dari dulu dia emang sering ke sini sama pacarnya" lanjutnya.

"Terus?" tanya Sakti semakin panasaran.

"Mereka sudah sempat tunangan. Tapi pas pulang dari acara lamaran, tiba-tiba pacarnya kecelakaan dan langsung meninggal" terang pelayan cafe itu. Wajah Sakti langsung berubah.

"Sejak saat itu, tiep kali Mbak Cinta ke sini, pasti akan memesan secangkir kopi latte kesukaan almarhum pacarnya dan akan meletakkannya pas di hadapannya, seolah-olah mereka sedang duduk berdua" lanjut pelayan cafe tersebut. Sakti terdiam.

“Kok Mas Sakti malah bengong” ucap pelayan cafe mengejutkan Sakti.

“Eh, iya” timpal Sakti gelagapan.

Sakti terus saja mengamati perempuan yang sedang duduk sendiri itu. Tidak lama, perempuan itu bangkit dari kursinya lalu meninggalkan mejanya dengan tetap membiarkan secangkir latte utuh di atasnya seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini Sakti tidak mengikuti perempuan itu. Dia pun ikut keluar dari cafe dengan sejuta pertanyaan di hati sambil melirik ke arah secangkir latte itu ketika hendak keluar pintu. Sakti tampak tersenyum.

user

08 December 2021 18:33 a Kenapa Sakti gk kejer cinta sih ????

user

08 December 2021 21:27 Vega Galanteri Cerita tentang kopi selalu menarik. Endingnya menggantung... Suka banget. Bikin penasaran. Jika berkenan, baca juga kisahku ya kak Ostinato Asmaradahana.. Terimakasih

user

09 December 2021 06:44 a ????

Bab 4 Sepenggal Kisah di Warung Nasi Bu Mardikun

11 1

Ketika aku sadar jika tangan Tuhan tidak akan pernah salah membawaku ke satu tempat sederhana, tetapi aku bisa menemukan sesuatu yang begitu berharga di sana. Ya. Sesuatu yang barangkali merubah pikiranku selama ini tentang arti sebuah cinta, kasih sayang dan kesetiaan. Semua bermula dari sebuah warung nasi sederhana di pinggir jalan raya.

            ***

            Terik matahari siang ini terasa begitu menyengat. Ku berjalan ke parkiran hendak mengambil sepeda motor dengan langkah kaki sedikit berat. Mataku tertuju ke arah spidometer dan melihat jarum merah penanda bahan bakar yang sudah hampir menyentuh lambang pom bensin. Ku ambil helm lalu ku pasang di kepala, namun entah mengapa enggan ku kaitkan tali pengikatnya dan ku biarkan bergelantungan di bawah dagu.

            Laju sepeda motor sengaja ku pelankan agar menghemat bahan bakar. Sampai aku menemukan pedagang bahan bakar eceran pikirku. Cukup jauh rasanya ku laju sepeda motorku, akhirnya ku menemukan yang aku cari. Penjual bensin eceran. Senyumku pun merekah, karena menemukan nyawa untuk kuda besiku.

            Begitu sepeda motorku berhenti tepat di depan botol bensin yang berjejer rapi di atas sebuah rak kayu, muncul laki-laki yang tidak muda lagi dengan lamban berjalan ke arahku. Dengan cepat aku mengambil botol berisi bansin lalu menuangkannya sendiri ke tangki sepeda motorku. Laki-laki paruh baya itu tersenyum melihatku.

"Kok malah nuang sendiri, Mbak," katanya.

"Gak apa-apa, Pak," jawabku. Kemudian aku keluarkan satu lembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam dompet.

"Waduh, Mbak," kata laki-laki itu dengan nada kaget melihat uang yang kusodorkan, "Kasih uang pas saja," lanjutnya dan tidak mau mengambilnya. Aku pun bingung, karena memang hanya itu yang tersisa uang di dompetku.

“Saya gak punya uang kecil, Pak,” jawabku sambil tetap menyodorkan uang itu kepadanya.

"Ya sudah. Bapak tukar ke sebelah dulu sebentar," imbuhnya sembari meraih uang seratus ribu yang ada di tanganku. Aku hanya mengangguk.

Tidak lama, laki-laki itu kembali masih dengan langkah pelannya.

"Maaf, Mbak. Jadi nunggu lama" ujarnya dengan raut wajah tidak enak kepadaku.

"Gak kok, Pak," timpalku, meskipun aku harus berbohong. Karena memang cukup lama aku menunggunya.

"Terima kasih ya, Mbak," imbuhnya lagi sambil menyodorkan uang kembalianku.

“Iya, Pak,” jawabku.

Aku melirik ke arah lelaki itu, pikiran negatifku tiba-tiba muncul, “Tega sekali anak-anak bapak ini, membiarkannya bekerja meskipun hanya sebagai penjual bensin eceran,” gumamku sembari menghidupkan starter sepeda motor, “Ah, barangkali anaknya istirahat makan, sholat atau apalah,” gumamku lagi mencoba mengganti pikiran negatif yang ada di kepalaku.  Kemudian akupun berlalu meninggalkan laki-laki paruh baya itu dengan keadaan dan apapun masalahnya.

Hari semakin terik. Di tengah perjalanan perutku seakan meronta ingin diisi. Aku pun memperlambat laju sepeda motor sambil melirik ke sepanjang jalan, berharap menemukan tempat untuk mengisi perutku. Benar saja. Tanpa sengaja mataku tertuju pada sebuah warung nasi sederhana. Tidak ada yang spesial di sana karena memang tampak seperti warung nasi pada umumnya. Akan tetapi, ada hal yang membuatku tertarik untuk mampir di sana. Sebuah tulisan yang terpampang di depannya, “Warung Nasi Bu Mardikun”. Barangkali bagi orang lain, tidak ada yang menarik dari nama warung itu, tetapi bagiku tidaklah demikian. Nama pemilik warung itu terasa menggilik di kupingku. Akhirnya aku menepikan sepeda motor dan memarkirnya tepat di depan warung itu.

Begitu masuk, ada sebuah pemandangan yang membuatku tersipu. Di salah satu sudut warung ada dua orang sejoli yang tampak sedang asyik menikmati nasi campur ditemani semangkuk sayur bening dan 2 gelas air teh di sampingnya.

“Makan apa, Mbak?” sapa pemilik warung membuatku sedikit kaget.

“Eh iya,” ucapku, “Nasi campur satu” lanjutku.

“Minumnya apa?” tanyanya lagi.

“Air putih aja, Bu” jawabku.

Tanpa menunggu dipersilakan aku langsung mencari tempat duduk dan mancari posisi yang tidak terlalu jauh dari dua sejoli itu. Tanpa sengaja aku sedikit mendengar percakapan mereka.

“Sekarang anak-anak kita sudah berkeluarga semua, Bu” ucap laki-laki itu, “Kita hanya tinggal berdua di rumah,” lanjutnya. Wajah perempuan itu berubah. Sendok berisi nasi yang hendak ia masukkan ke mulutnya, tiba-tiba diletakannya kembali ke piring.

“Iya, Pak,” jawabnya, “Ibu sebenarnya sudah kangen sekali sama mereka, sama cucu-cucu ibu,” lanjutnya. Tampak matanya berkaca-kaca.

“Sudah sebulan lebih mereka tidak mengunjungi kita,” tuturnya lagi.

“Barangkali mereka sibuk, Bu,” timpal laki-laki itu. Perempuan itu hanya terdiam. Ia tahu kalau laki-lakinya sedang berusaha menghiburnya.

“Iya, Pak. Barangkali mereka sedang sibuk,” imbuh perempuan itu sambil tersenyum ke arah laki-lakinya.

“Ya sudah. Sekarang Ibu lanjutin makannya dulu ya,” ajak laki-laki sambil memegang tangan perempuannya, ”Nanti keburu dingin, jadi gak enak,” lanjutnya. Kemudian mereka melanjutkan makan dengan raut wajah yang masih menyimpan kesedihan masing-masing.

Sungguh terharu aku mendengar percakapan dua sejoli yang sudah tidak muda lagi itu. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Seketika aku teringat orang tuaku yang sudah cukup lama tidak aku kunjungi.

“Apakah ini cara Tuhan menegurku,” pikirku.

Aku pun bangkit dari tempat duduk lalu menghampiri pemiliki warung yang tampak masih menyiapkan nasi campur pesananku.

“Bu. Nasinya dibungkus saja ya.”

“Tapi sudah ibu letakkan di piring, Mbak.”

“Gak apa-apa, Bu. Yang penting masih bisa dimakan,” imbuhku sambil tersenyum.

“Tunggu sebentar ya, Mbak.”

Sambil menunggu pemilik warung itu membungkus nasi, pandanganku masih tertuju pada kedua sejoli itu. Sesekali terlihat sang perempuan memindahkan beberapa sendok lauk yang ada di piringnya ke piring laki-laki itu. Sungguh pemandangan yang membuatku hatiku makin terenyuh.

“Nasinya, Mbak,” kata pemiliki warung menyodorkan nasi bungkus ke arahku.

“Iya, Bu,” sahutku.

“Berapa, Bu?” tanyaku.

“Sepuluh ribu aja, Mbak,” jawabnya.

“Ini, Bu,” sambil kusodorkan uang pecahan dua puluh ribu kembalianku beli bensin tadi.

Lalu aku ke luar dari warung nasi Bu Mardikun dengan sejuta perasaan. Air mata kembali mambanjiri pipiku. Tidak henti-hentinya wajah kedua orang tuaku terbayang tepat di depan mata. Aku berhenti sejenak tepat di bawah tulisan yang membawaku masuk ke tempat ini.

“Warung Nasi Bu Mardikun,” gumamku. Tempat di mana Tuhan membuatku sadar akan dosa-dosaku terhadap kedua orang tuaku di rumah. Aku terlalu sombong dengan kesibukan-kesibukan yang sebenarnya bukan alasanku untuk melupakan mereka.

“Maafkan anakmu, Pak, Bu,” ucapku lalu menyalakan starter sepeda motor meninggalkan warung nasi sederhana itu.

Akhirnya ku putuskan sore itu bergegas pulang ke rumah, menemui kedua orang tuaku. Aku adalah anak rantau yang sedang bekerja di luar kota, jauh dari kampung halaman. Persis seperti kalimat yang dilontarkan perempuan di warung nasi tadi siang, sudah sebulan lebih aku tidak pulang mengunjungi kedua orang tuaku. Beberapa kali mereka menelponku, menanyakan kapan aku akan pulang. Dan aku selalu memberikan jawaban yang sama, “Besok kalau aku sudah tidak sibuk ya.”

Aku baru menyadari betapa sedihnya mereka ketika aku melontarkan kalimat itu, meskipun mereka tampak tidak apa-apa dan baik-baik saja.

“Terima kasih bapak penjual bensin dan dua sejoli di warung nasi Bu Mardikun,” gumamku di tengah perjalanan pulang ke rumah.

 

 

SELESAI

user

09 December 2021 14:31 Sudirman Jadi kangen kalian bapak, ibu... ????

Bab 5 Senyum Semanis Karamel

15 2

            “Put, pulang yuk!” ajak Delia.

            “Duluan aja, Del,” jawab Putri, ”Gue ada latihan ekskul paskib sekarang,” sambungnya.

            “Yakin lo gak apa-apa,” kata Delia dengan nada ragu.

            “Lo kira gue anak TK yang mesti dijagain,” balas Putri sambil tertawa, “Gue udah biasa kali Del dengan suasana baru,” lanjutnya.

            “Ya udah. Kalo gitu gue duluan ya,” kata Delia lalu meninggalkan Putri.

            “Iya, Del. Hati-hati!” imbuhnya.

             Putri berjalan menuju ke lapangan sekolah. Masih sepi. Belum tampak satu pun teman-temannya yang akan latihan di sana. Ia lalu duduk di bawah pohon sambil membaca buku.

Putri adalah siswi pindahan kelas XI IPA di SMA Bina Bangsa. Putri memang sering pindah sekolah karena harus mengikuti kedua orang tuanya yang juga sering dipindah tugaskan di tempat kerja mereka. Dulu ketika masih duduk bangku SMP saja, Putri pindah sekolah sampai dua kali. Sehingga tidak heran dia sudah terbiasa jika harus selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru. Termasuk di sekolahnya yang sekarang. Delia adalah satu-satunya teman dekat Putri di sini sekarang. Rumah mereka berada di satu komplek yang sama. Oleh karena itu, meraka selalu berangkat maupun pulang sekolah sama-sama.

Ketika Putri sedang asyik membaca buku, tiba-tiba ia dihampiri beberapa orang kakak kelasnya.

“Lo yang namanya Putri ya? Anak baru di sini,” tanya salah seorang perempuan dengan wajah jutek. Ia adalah Luna, kakak kelas Putri sekaligus senior ekskul paskib di sekolahnya. Delia pernah cerita kepada Putri kalau Kak Luna adalah senior ekskul paskib yang dikenal jutek.

“Iya, Kak,” jawab Putri.

“Gue denger lo juga anak paskib di sekolah lo yang dulu,” celetuk Santi, teman Luna.

“Iya, Kak,” jawab Putri lagi.

“Berarti lo udah paham dong peraturan sama teknik-tekniknya,” lanjut Luna.

“Iya, Kak,” sahut Putri.

“Perasaan dari tadi lo iya-iya mulu dah,” kata Santi sambil terkekeh.

“Jangan-jangan lo gak bisa ngomong yang laen lagi,” sindir Dafa, yang juga teman Luna. Membuat mereka tertawa.

“Udah, udah …,” teriak Luna, “Anak-anak yang laen mana ni. Kok pada belum kumpul,” lanjutnya.

“Nah, tu meraka,” kata Dafa sambil menujuk ke arah beberapa anggota ekskul paskib yang mulai berdatangan.

Mereka pun mulai latihan. Luna memang tampak sudah ahli dalam bidang ekskul paskib. Tampak dia memberi komado kepada teman-temannya yang lain dengan begitu cekatan. Di tengah mereka sedang latihan, terdengar suara ponsel Luna berdering dari dalam tasnya.

“Lun, ponsel lo bunyi tu,” kata Santi yang kebetulan sedang mengambil air minum di dalam tasnya yang tertidih tas Luna. Luna pun berlari ke arahnya. Ternyata ia mendapat telpon dari Kak Dimas, pembina ekskul paskib dari luar sekolah. Mereka terlihat hanya mengobrol sebentar saja. Kemudian Luna kembali lagi ke tengah lapangan.

Luna memberi aba-aba kepada teman-temannya agar memperhatikan pengumuman yang hendak dia sampaikan.

“Perhatian semuanya!” dengan nada agak keras, “Ada informasi dikit ni,” lanjutnya.

Dan teman-temannya tampak serius memperhatikannya.

“Hari ini Kak Dimas gak bisa dateng,” katanya mengawali pengumuman, “Kak Dimas masih ada kuliah sampe sore,” lanjutnya.

“Yey … kita udah bisa pulang dong,” sahut Dafa kegirangan sehingga membuat teman-temanya bersorak ke arahnya.

“Udah, udah,” teriak Luna menyuruh teman-temannya tenang.

“Jadi, berhubung Kak Dimas gak bisa ngelatih hari ini. Kalian bisa pulang sekarang. Kita lanjutin latihannya minggu depan aja,” terang Luna kepada teman-temannya. Mereka semua pun bubar barisan lalu meninggalkan lapangan sekolah.

Putri berjalan ke depan sekolah menunggu ayahnya menjemput. Sambil menunggu, ia membeli segelas minuman untuk menghilangkan rasa dahaga karena latihan tadi.

“Minum satu, Bang.”

“Rasa apa, Neng?”

“Karamel ada?”

“Ada!”

“Ya udah itu!”

Dari arah belakang muncul seorang laki-laki dengan pakaian seperti anak kuliahan. Baju motif kotak-kotak hitam putih yang tidak dikancing sehingga memperlihatkan kaos putih polos di dalamnya dengan celana jean dan sepatu kets yang begitu serasi, di tambah lagi tas ransel menempel di pundaknya.

“Minum satu, Bang,” ucapnya sama persis seperti Putri.

Putri pun kaget dan langsung menoleh ke arah laki-laki itu dengan wajah polos. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Membuat wajah Putri spontas berubah merah.

“Eh, Nak Juna,” sambut penjual minuman itu dengan ramah, seakan sudah akrab dengannya, “Mau jemput ya,” lanjutnya.

“Iya, Bang,” jawab laki-laki yang memang bernama Juna seperti yang disebutkan penjual minuman tadi.

“Minuman rasa karamel juga kan seperti biasa?” kata penjual minuman itu lagi kepada Juna.

“Masih setia kayak dulu, Bang,” jawabnya sambil tertawa kecil.

“Kok bisa sama ya kayak Neng yang ini,” kata abang penjual minuman itu sambil menunjuk ke arah Putri yang dari tadi terdiam mendengar percakapan mereka. Juna melihat ke arah Putri.

“Jangan-jangan jodoh lagi,” canda penjual minuman itu melirik ke arah mereka. Wajah Putri semakin memerah.

“Ini Neng minumnya,” imbuh penjual itu sambil menyodorkan segelas minuman kepada Putri.

“Makasih, Bang,” timpal Putri lalu meninggalkan Juna dan penjual minuman itu setelah membayar.

Putri duduk di bangku panjang sebelah pos satpam sekolah sambil menikmati minumannya. Tiba-tiba Juna menghampiri Putri lalu duduk tepat di sebelahnya.

“Pemisi ya,” kata Juna dengan nada sopan dibarengi senyum manisnya. Putri mengangguk sambil sedikit bergeser agar tidak terlalu dekat Juna.

Juna adalah alumni SMA Bina Bangsa dua tahun yang lalu dan sekarang sudah duduk di bangku kuliah semester V. Kebetulan saat ini adiknya juga bersekolah di sini. Juna memiliki paras yang tampan, kulit putih, rambut sedikit bergelombang dan senyum yang manis. Tidak heran, dulu dia menjadi salah satu idola di sekolahnya. Paras yang tampan dan  senyum manisnya yang masih sama seperti dulu, kini juga menarik perhatian Putri. Putri begitu terpesona melihat Juna, sehingga sesekali tampak mencuri pandang ke arah Juna yang saat ini sedang duduk di sampingnya.

“Kenapa kamu belum pulang?” tanya Juna kepada Putri yang dari tadi tampak diam. Padahal dia tidak sadar kalau dari tadi Putri memperhatikannya.

“Tunggu jemputan, Kak,” jawab Putri gugup lalu pura-pura memainkan sedotan minuman yang menancap di gelasnya.

“Oo …,” balas Juna mengangguk.

“Kamu ngapain di sini sampe sore?” tanya Juna lagi.

“Latihan ekskul, Kak,” jawab Putri singkat.

“Paskib?” ucap Juna memastikan.

“Iya, Kak,” timpal Putri.

“Berarti sama dong sama adikku,” kata Juna, “Dia juga anggota paskib di sini,” lanjutnya.

“Tadi dia tiba-tiba telpon aku, minta di jemput cepet. Dia bilang pembina paskibnya gak bisa dateng,” terang Juna meskipun Putri sepertinya tidak terlalu ingin tahu, “Emang bener pembina paskib kalian gak dateng?” sambung Juna bertanya kepada Putri.

“Iya, Kak,” jawab Putri, “Kak Dimas bilang, kalo dia ada kuliah sampe sore makanya gak bisa dateng,” lanjut Putri.

“Dimaas, Dimaas … alesan aja lo,” gumam Juna. Dimas adalah teman kuliah Juna tetapi berbeda jurusan. Sehingga dia tahu Dimas berbohong kalau ada kuliah sampai sore. Palingan kencan pikirnya.

“Kakak kenal sama Kak Dimas?” tanya Putri karena samar-samar mendengar gumam Juna. Belum sempat Juna menjawab pertanyaan Putri, tiba-tiba Luna datang.

“Mas Juna!” panggilnya. Juna ternyata kakaknya Luna. Dan tentu saja, adik yang dimaksud Juna tadi itu adalah Luna, kakak kelas Putri, seniornya di ekskul paskib. Juna melambaikan tangan ke arah Luna.

“Maaf lama nunggu, Mas,” kata Luna sambil nyengir ke arah Juna, ”Tadi ganti baju dulu,” sambungnya. Luna melihat ke arah Putri.

“Kalian saling kenal?” tanya Luna kepada Juna dan Putri.

“Kenal nama sih belum,” jawab Juna, “Lo sih keburu nongol,” lanjutnya. Ternyata Putri juga menarik perhatian Juna dari tadi, karena memang Putri pun memiliki paras yang cantik dan manis.

“Mas, kenalin. Putri. Siswi baru kelas XI IPA di SMA Bina Bangsa sekaligus anggota baru ekskul paskib. Put, kenalin. Juna, kakak gue. Jurusan Ekonomi semester V yang terkenal playboy dari jama SMA sampe sekarang,” celoteh Luna membuat Juna dan Putri bengong lalu sama-sama tertawa karena melihat Luna ngos-ngosan. Ternyata tidak sejutek waktu bertemu di lapangan tadi.

“Udah kan kenalnnya. Sekarang pulang, yuk,” rengek Luna dengan manja sambil menarik tangan Juna.

“Duluan ya, Put,” kata Luna pamit kepada Putri.

“Iya, Kak Luna,” jawab Putri.

“Atau mau bareng kita aja,” ajak Juna.

“Gak usah, Kak,” timpal Putri, ”Ayah Putri juga kebetulan udah dateng kok,” sambungnya sambil menunjuk ke arah mobil ayahnya yang baru saja tiba.

“Oo … ya udah,” kata Juna sambil melempar senyum manisnya ke arah Putri. Lalu mereka berjalan beriringan ke luar gerbang sekolah. Putri menuju ke mobil ayahnya,  sedangkan Juna dan Luna menuju ke mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.

Putri tampak tersenyum sendiri di dalam mobil, terbayang-bayang senyum manis Juna. Semanis minuman rasa karamel yang masih ada di tangannya.

“Duh … Putrinya Ayah kayaknya sudah mulai jatuh cinta, ni,” goda Ayah kepada putrinya.

“Apaan sih, Yah,” jawab Putri dengan wajah merah merona sambil menyilangkan tangannya ke lengan Ayah.

Akankah ini menjadi jejak awal kisah Putri dan Juna. Hanya waktu yang bisa menjawab. Biarlah jejak mereka menjadi “Jejak Bertuan” yang hanya akan dipertuan oleh Putri dan Juna.

 

SELESAI

 

user

16 December 2021 21:21 Lale isi ceritanya luar biasa semangat, lanjutkan karya

user

16 December 2021 21:21 Lale isi ceritanya luar biasa semangat, lanjutkan karya

Bab 6 Prahara Sabun Colek

10 2

Tampak seorang perempuan sedang duduk di depan teras rumahnya dengan pandangan menerawang entah ke mana.

Tiba-tiba ia bergumam, ”Ya Allah … kapan corona ini pergi jauh dari sini.”

Terdengar suara laki-laki menjawab dari dalam rumah, “Besok subuh-subuh baru coronanya pergi, Bu.”

“Awas saja, kalo besok subuh-subuh coronanya masih gak mau pergi. Bapak yang Ibu suruh pergi,” ancam perempuan itu.

“Hahaha …,” laki-laki itu terbahak-bahak sambil menghampiri istrinya, “Sudahlah, Bu. Gak usah terlalu dipikirin. Kalo coronanya sudah bosan di sini, ya pasti dia minggat sendiri, gak perlu diusir,” sambungnya lalu duduk di sebalah sang istri.

“Bapak ini becanda mulu ah,” gerutu istrinya sambil melengos.

“Lagian Ibu juga mintanya yang gak-gak aja,” ucap suaminya.

“Emang salah Ibu minta Allah ngusir ni corona,” balasnya.

“Ya gak salah sih, Bu,” jawab suaminya lagi.

“Terus, kenapa Bapak bilang kalo Ibu mintanya yang gak-gak sama Allah,” tanyanya lagi dengan nada kesal.

“Maksud Bapak, ya kita mesti sabar. Barangkali ini ujian dari Allah,” terang suaminya sembari mengambil sebatang rokok kemudian membakarnya. Mereka terdiam sejenak.

“Lagian, bukan kita aja, Bu, yang dibikin susah gara-gara corona ini,” sambungnya.

“Makanya, Bapak jangan cuma diem di rumah saja,” gerutu istrinya, “Cari kerja sampingan apa kek gitu,” lanjutnya, “Jangan cuma andelin gaji yang seupil tu doang,” sambil bangkit dari teras hendak meninggalkan suaminya yang masih asyik menghisap rokoknya.

“Mau kerja apa, Bu” timpal suaminya.

“Ya apa kek. Tu liat tu si Hamid, lakinya Wati. Dia gak malu jualan masker di pinggir jalan. Padahal gajinya lebih gede dari Bapak,” celotehnya lagi sambil mengangkat jemuran yang jatuh tertiup angin, sehingga memancing emosi sang suami.

“Bapak sudah bilang, jangan suka banding-bandingkan Bapak dengan orang lain,” bentak suaminya sembari membanting puntung rokok yang ada di tangannya ke tanah. Tindakan laki-laki itu bukannya membuat sang istri ciut, tetapi justru semakin menjadi-jadi.

“Memang kenyataannya seperti itu kok,” tungkasnya dengan wajah kesal.

“Ibu ini tidak ada syukur-syukurnya jadi orang,” balas suaminya, “Masih untung Bapak bisa kasih Ibu uang belanja,” sambungnya.

“Uang yang Bapak kasih itu gak seberapa, hanya cukup buat beli sabun colek doang,” sahut istrinya lagi. Suaminya terdiam.

“Sejak corona Ibu gak pernah bisa beli deterjen,” celotehnya lagi, “Cuci baju selalu aja pake sabun colek,” sambungnya, “Cuci piring juga pasti pake sabun colek,” tuturnya.

Ia lalu mencium pakain yang masih berada di atas tali jemuran, ”Ni ciumin, pada bau sabun colek semua.”

“Piring-piring, perabotan semua pada bau sabun colek,” lanjutnya, “Lama-lama kita bisa makan sabun colek,” katanya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya. Sementara suaminya masih terdiam. Dia tidak berkata apa-apa lagi.

“Masa iya lama-lama keluargaku makan sabun colek?” gumam laki-laki itu dengan wajah bingung sambil menggaruk kepalanya.

Hari sudah semakin siang. Perempuan itu berjalan ke warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah hendak membeli bahan untuk di masak hari ini.

“Eh, Bu Sari,” sapa Bu Wati, istri Pak Hamid yang dibahas tadi pagi bersama suaminya.

“Iya, Bu,” jawabnya.

“Beli apa?” tanyanya Bu Wati.

“Belum tahu ni, Bu,” jawabnya, “Masih liat-liat saja dulu,” lanjutnya.

Bu Wati memang sudah lebih dulu tiba di warung. Ia tampak membeli bahan makanan cukup banyak. Daging, ikan, tahu, tempe, sayur-sayuran, dan masih banyak lagi yang lainnya menumpuk di sisi meja.

“Ini saja, Bu?” tanya pemiliki warung kepada Bu Wati.

“Sebentar, Bu. Masih mikir-mikir ni,” jawabnya.

“O, ya udah,” timpal pemiliki warung itu lagi.

Sementara Bu Sari masih terlihat memilih-milih.

“Udah, Bu. Beli stok bahan makanan yang banyak di rumah,” ujar Bu Wati sambil mencolek lengan Bu Sari, “Musim corona ni. Kita butuh makan makanan yang sehat dan juga banyak,” sambungnya.

“Ya, kalo ada uang sih, gak masalah, Bu,” timpal Bu Sari sambil memilah-milah sayur yang hendak dibelinya.

“Jangan bilang kalo uang belanja yang dikasih suami Bu Sri hanya cukup buat beli sabun colek ya,” sindir Bu Wati.

Wajah Bu Sari tiba-tiba memerah menahan emosi.

“Maksud Bu Wati apa ngomong kayak gitu,” tungkas Bu Sari.

“Ya, kali aja jatah belanja Bu Sari hanya cukup buat beli sabun colek,” ujar Bu Wati mengulang kalimatnya yang tadi.

“Jangan sembarangan ngomong ya, Bu Wati,” timpal Bu Sari sambil menujuk ke arah wajah Bu Wati.

“Berarti apa yang saya bilang bener dong,” imbuh Bu Wati sambil tersenyum sinis.

Sementara Bu Sari terdiam, tidak bisa menjawab. Jangan-jangan Bu Wati mendengar obrolanku yang tadi pagi sama Mas Dahlan, pikirnya.

“Totalin belanja saya, Bu,” kata Bu Wati kepada pemilik warung sambil melirik ke arah Bu Sari yang masih terdiam.

Tampak pemilik warung langsung menghitung belajaan Bu Wati yang cukup banyak tersebut.

“Jadinya seratus empat puluh delapan ribu, Bu,” jawabnya. Bu wati lalu mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribuan.

“Kembaliannya kasih saya sabun colek saja, Bu,” kata Bu Wati lalu menyodorkan uang tersebut kepada pemilik warung sambil melirik ke arah Bu Sari yang sedikit menjauh darinya. Pemilik warung itu kemudian memasukkan satu bungkus sabun colek ke dalam kresek belanjaan Bu Wati.

“Eee … jangan langsung disatuin sama belajaan saya dong, Bu,” dengan nada sedikit kencang membuat pemilik warung kaget dan Bu Sari menoleh ke arahnya, “Nanti belanjaan saya pada bau sabun coleh semua lagi,” gerutunya, “Pakein plastik kecil aja, biar saya tenteng sini,” sambungnya lagi.

“Maaf, Bu Wati,” ujar pemilik warung lalu menyodorkan sabun colek yang sudah dibungkusnya menggunakan plastik warna putih.

“Makasih ya, Bu,” timpal Bu Wati.

“Duluan ya, Bu Sari,” katanya kepada Bu Sari. Tetapi, Bu Sari tidak menoleh sama sekali ke arahnya.

Baru beberapa langkah meninggalkan warung, Bu Wati kembali melihat ke belakang, “Jangan lupa beli sabun colek juga Bu Sari,” dengan nada mengejek sambil tertawa puas.

Bu Sari hendak menimpalinya, tetapi dihalangi oleh pemilik warung, “Sudahlah, Bu Sari. Gak usah diladeni,” katanya, “Kan tau sendiri kalo Bu Wati emang orangnya kayak gitu,” lanjutnya. Bu Sari menghela napas sambil menahan emosi. Setelah selesai memilih belajanaanya, Bu Sari meminta pemilik warung menghitungnya.

“Jadinya sebelas ribu lima ratus, Bu,” ucap pemilik warung. Bu Sari mengeluarkan uang lima belas biru yang tampak lusuh dari genggemannya.

“Ini, Bu,” kata Bu Sari menyodorkan uang tersebut.

“Kembaliannya, Bu,” timpal pemilik warung memberikan uang kembalian kepada Bu Sari pecahan lima ratusan semua, “Maaf ya, Bu Sari. Receh semua,gak ada uang kecil,” sambungnya.

“Iya, Bu. Gak apa-apa. Kan sama-sama uang,” jawab Bu Sari. Kemudian ia pergi meninggalkan warung itu.

Selama diperjalanan Bu Sari terus memikirkan ucapan Bu Wati.

“Apa iya Bu Wati mendengar percakapanku tadi pagi di teras rumah sama Mas Dahlan?” gumamnya lagi, “Ini semua gara-gara Mas Dahlan. Awas saja ya nanti sampe rumah,” lanjutnya dengan nada emosi lalu mempercepat langkah kakinya.

Begitu masuk rumah, ia disambut suaminya dengan pertanyaan yang semakin membuat Bu Sari jengkel.

“Ibu ada beli sabun colek?” tanya laki-laki itu karena dia tahu istrinya baru pulang dari warung.

“Gak di rumah, gak di warung perasaan sabun colek mulu yang dibahas,” teriak istrinya sambil membanting kresek berisi belanjaan di atas meja dapur, membuat suaminya kaget.

“Apa aku salah nanyain sabun colek?” gumam Pak Dahlan bingung. Lalu pergi meninggalkan istrinya yang masih saja terdengar mengomel sendiri di dapur.

Apakah Pak Dahlan pergi mencari sabun colek? Biarlah, hanya dia yang tahu ke mana langkah kakinya mengukir jejak.

 

SELESAI

 

user

11 December 2021 13:07 Sudirman ????????????

user

11 December 2021 14:56 Des Ditariani Wah, nama tokohnya sama ya, kak dengan cerita ku :D Semangat kak. Saling support mampir ke ceritaku ya kak judul Noktah Hitam.

Bab 7 Pesan Terakhir Dari Ibu

8 1

Genap sudah tiga tahun dia pergi. Tetapi aku masih bisa merasakan cinta dan kasih sayangnya sampai saat ini. Jika saja aku tahu hari itu adalah hari terakhir aku dapat menyentuh tangannya yang masih terasa hangat, tidak akan aku beranjak sedikitpun dari sisinya.

“Pulanglah, Yan. Rawat suamimu dengan baik.” ucapnya kepadaku sambil tersenyum, “Ibu tidak kenapa-kenapa. Ibu baik-baik saja,” sambungnya.

Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dari mulut ibuku sebelum akhirnya dia pergi.

***

Pagi itu aku bergegas lebih awal dari biasanya. Jam baru saja menunjukkan pukul 06.00 aku sudah rapi dengan pakaian kerja. Terdengar suara sepeda motor masuk ke halaman rumah. Ternyata itu suamiku yang baru saja pulang dari rumah sakit. Bapak mertuaku sedang menjalani rawat inap sejak dua hari yang lalu di sana. Kami memang sudah mengatur jadwal secara bergiliran. Aku akan ke rumah sakit siang hari setelah pulang kerja dan anak-anakku pulang sekolah, sore hari atau selepas maghrib barulah giliran suamiku sampai pagi.

“Bu, anak-anak sudah bangun?” tanya suamiku begitu masuk rumah.

“Belum, Mas!” jawabku.

“Kok tumben pagi sekali kamu sudah rapi?” tanya suamiku dengan raut wajah sedikit heran.

“Iya, Mas. Kebetulan hari ini ada kegiatan pagi di kantor!” timpalku, “Jam tujuh harus sudah hadir,” lanjutku.

“Oo gitu” kata suamiku singkat.

“Bapak gimana, Mas?” tanyaku, “Sudah ada perubahan?” imbuhku.

“Belum, Bu. Masih seperti kemarin!” jawab suamiku dengan raut wajah sedih. Aku mengerti perasaan suamiku saat ini.

“Mau aku buatin kopi?” tanyaku lagi.

“Gak usah, Bu,” timpalnya, “Tadi sebelum pulang, aku ngopi dulu sebentar di warung depan rumah sakit,” lanjutnya.

“Aku siapkan sarapan ya,” ucapku sambil menuju ke dapur hendak menyiapkan nasi goreng yang baru saja kubuat.

“Nanti saja di sana, Bu” jawabnya lagi menolak tawaranku, “Tadi Ibu ada bawa sarapan kok di sana,” terangnya.

Suamiku akan pulang dari rumah sakit setelah ibu mertuaku datang ke sana. Itupun hanya pulang untuk mandi saja, lalu pergi lagi. Seperti pagi ini.

“Aku mandi dulu, Bu,” katanya sambil menuju ke kamar mandi, “O iya, bangunkan anak-anak, Bu. Sudah siang ni,” lanjutnya.

“Iya, Mas,” sahutku.

Kemudian aku membangunkan kedua anak-anakku karena mereka juga akan berangkat sekolah. Tidak berselang lama, kami semua sudah rapi dan bersiap untuk meninggalkan rumah. Aku akan berangkat ke kantor dan anak-anakku berangkat sekolah sementara suamiku akan kembali lagi ke rumah sakit. Semenjak Bapak mertuaku dirawat di rumah sakit, suamiku langsung minta cuti, sehingga dia tidak perlu masuk kantor.

Sebelum kami berangkat, tiba-tiba suamiku bertanya, “Ibu di sana gimana keadaannya?”. Sama seperti Bapak mertuaku, Ibuku pun saat ini juga sedang sakit di rumah.

“Dari semalem Kak Hana nelpon terus, Mas,” jawabku sambil menahan air mata. Suamiku terdiam.

“Terus?” tanyanya singkat.

“Aku mau nengokin Ibu, Mas,” jawabku. Air mataku langsung tumpah, tidak bisa lagi kutahan.

Dari tadi malam aku memang tidak bisa tidur. Wajah ibu yang sedang terbaring sakit di rumah terus-menerus ada dipikiranku. Di tambah lagi Kak Hana terus saja menanyakan, kapan aku bisa pulang jenguk ibu. Meskipun sudah coba aku jelaskan bagaimana keadaan keluargaku di sini. Bapak mertuaku yang masuk rumah sakit dan aku harus bergantian dengan Mas Surya menjaganya.

“Bukannya aku tidak mau nengokin Ibu,” kata suamiku, “Kan kamu liat sendiri gimana kondisi Bapak di sini. Bapak sedang kritis, Bu. Aku gak bisa ninggalin dia sekarang!” sambungnya dengan nada sedikit tinggi membuat air mataku semakin deras mengalir. Kami terdiam sejenak.

“Ya, sudah. Nanti setelah Ibu pulang dari kantor dan anak-anak pulang sekolah, baru kita tengokin Ibu,” ujarnya mencoba menenangkanku, “Sekarang kamu berangkat dah. Nanti anak-anak biar aku yang antar ke sekolah,” imbuhnya.

Aku pun mengambil sepeda motor lalu meninggalkan suami dan anak-anakku yang masih berdiri di teras rumah. Selama di perjalanan menuju kantor, air mataku masih saja mengalir. Begitu sampai di depan kantor, kuhela napas yang panjang, berharap hatiku bisa lebih tenang. Setelah kuparkir sepeda motor, ponselku di dalam tas berdering. Belum sempat kuangkat, ponselku sudah berhenti berdering. Aku sangat kaget melihat belasan panggilan masuk dari Kak Hana. Pikiranku semakin tidak tenang. Baru saja aku hendak menelpon Kak Hana, tiba-tiba ponselku sudah berdering kembali.

Kring … kring … langsung kuangkat.

“Assalamualaikum, Kak,”

“Waalaikumsalam …,” jawab Kak Hana dari seberang telpon.

“Gimana keadaan Ibu, Kak?” tanyaku.

“Kapan kamu pulang, Dek?” Kak Hana balik bertanya kepadaku.

“Ibu gimana, Kak?” tanyaku lagi sambil terisak.

“Bisa kamu pulang sekarang, Dek!” pinta Kak Hana dengan nada serak.

“Ibu kenapa, Kak?” aku membentak Kak Hana yang tidak kunjung menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba terdengar isak tangis Kak Hana dan beberapa orang di belakangnya. Aku langsung menutup telpon.

Tanpa pikir panjang, aku mengenakan helm kembali kemudian menghidupkan mesin sepeda motorku meninggalkan parkiran kantor. Baru saja aku sampai di depan gerbang, aku melihat Mila, teman kantorku yang kebetulan baru tiba.

“Mil, minta tolong ijinin aku sekali, ya,” ujarku dari atas motor yang masih menyala.

“Mau ke mana, Yan?” tanyanya.

“Aku harus nengokin ibuku,” jawabku singkat lalu meraik gas sepeda motorku meninggalkan Mila.

Sepanjang perjalanan aku terus bergumam dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir, “Bu, tunggu Yana. Jangan tinggalin Yana!”

Untuk pertama kalinya aku melaju sepeda motor dengan kecepatan yang tinggi, hampir 80 kilometer per jam dan sedikitpun rasa ada rasa takut. Yang ada dipikiranku saat ini adalah bagaimana caranya aku bisa segera tiba di rumah Ayah dan melihat Ibu masih dalam keadaan bernapas. Kurang dari tiga puluh menit, aku sudah sampai di rumah Ayah. Aku melihat sudah ada beberapa orang berkumpul di sana termasuk Ayah dan saudara-saudaraku yang lain. Aku langsung berlari menghampiri Ibu yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

“Bu … Ibuuu …,” aku meraung memeluk tubuh ibu, tetapi Ibu tidak merespon sedikitpun. Sampai akhirnya, Kak Juna, kakakku yang paling besar terlihat berbisik di telinga Ibu.

“Bu, Yana pulang,” kata Kak Juna pelan. Tampak Ibu menoleh ke arahku.

“Pulanglah, Yan. Rawat suamimu dengan baik,” ucapnya kepadaku sambil tersenyum, “Ibu tidak kenapa-kenapa. Ibu baik-baik saja,” sambungnya.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata dan isakan tangis mewakili perasaan bersalah karena merasa belum bisa berbakti kepada Ibu. Aku memang sudah bukan hak kedua orang tuaku lagi sejak menjadi seorang istri. Aku adalah sepenuhnya hak suamiku. Aku seharusnya lebih berbakti kepadanya. Tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa izin darinya. Seperti yang aku lakukan sekarang ini. Aku pulang ke rumah Ayah tanpa meminta izin kepada Mas Surya.

Cukup lama aku berada di rumah Ayah. Mas Surya sudah puluhan kali menelpon, menyuruhku pulang. Kedua anakku, Adit dan Kiki juga sudah pulang sekolah dan sedang bersama Mas Surya di rumah sakit.

“Yana pulang sebentar ya, Yah,” ujarku pamit pulang kepada Ayah, “Yana jemput Adit dan Kiki. Nanti Yana balik lagi sama Mas Surya,” sambungku. Ayah hanya mengangguk.

“Kak, aku pulang sebentar ya,” aku juga pamit kepada Kak Juna dan Kak Hana.

“Kamu balik lagi, kan?” tanya Kak Hana.

“Iya, Kak. Nanti aku balik sama Mas Surya dan juga anak-anak,” jawabku.

“Ya udah,” sahut Kak Hana.

“Kamu pamit sama Ibu juga, Dek,” kata Kak Juna menyuruhku pamit kepada Ibu.

Aku melihat ke arah Ibu yang tampak memejamkan mata, ”Gak usah, Kak. Nanti kan aku balik lagi,” timpalku, “Diemin Ibu istirahat,” sambungku lalu meningglkan rumah Ayah dengan langkah berat.

Sesampainya di rumah, masih dengan helm menempel di kepala, Kak Hana menelpon, “Assalamualaikum, Dek.”

“Waalaikumsalam,” jawabku.

“Ibu pergi, Dek,” terdengar suara raungan Kak Hana dari seberang telpon. Aku terdiam membisau.

***

“Pesan terakhir dari Ibu akan selalu Yana ingat sampai kapan pun,” gumamku lalu meninggalkan pusara Ibu dengan sejuta jejak kenangan bersamanya.

 

SELESAI

user

19 December 2021 05:48 Fendi ????????????

Bab 8 Aku Istrimu

8 0

 

            “Sri, gosok bajuku yang warna merah ni. Aku mau pake sekarang!”

            “Sri, cuci celana yang aku pake kemarin. Besok aku mau pake lagi!”

            “Sri, pergi ke warung. Belikan aku rokok!”

            “Sri, kalo bisa kamu masak yang banyak ya. Temen-temenku mau ke rumah nanti siang!”

            “Sri, buatin aku kopi!”

            “Sri, bensin motorku habis. Kamu ke warung depan sana. Belikan aku satu liter!”

            “Sri, anakmu nangis ni!”

            “Sri, rumah kok berantakan gini. Kamu ngapain aja dari tadi!”

            Kalimat perintah dari Rudi, suami Sri, yang sudah menjadi santapan kupingnya setiap hari. Apakah seorang istri memang harus seperti ini? Tidak ubahnya seperti seorang pembantu di rumah suaminya?

            ***

            Pagi itu tidak seperti biasanya, Sri bangun kesiangan. Hingga matahari sudah naik, dia masih saja terbaring di atas tempat tidur. Terdengar suara langkah kaki Rudi, suaminya tergesa-gesa masuk kamar.

            “Kok kamu gak bangunin aku sih, Sri,” bentaknya, “Heh sudah jam berapa ini! Kamu masih saja enak-enakan tidur!” lanjutnya sambil menarik selimut dari tubuh Sri. Tetapi Sri tidak merespon.

            “Bangun Sri … buatin aku sarapan sana,” serunya lagi lebih keras. Lalu Rudi menarik tangan Sri membuat Sri hampir terjatuh dari atas tempat tidur.

            “Badan aku lemes, Mas,” jawab Sri dengan suara serak.

            “Alasan aja kamu,” timpal Rudi, “Sudah bangun sana. Bikin sarapan buat aku sama anak-anak,” serunya lagi. Sri masih duduk terdiam di atas tempat tidur. Wajahnya memang tampak pucat.

            “Ayo!” pekik Rudi lagi, “Malah bengong lagi,” gerutunya. Ia lalu menuju ke kamar mandi.

            “Pokoknya nanti setelah aku selese mandi. Aku mau sarapan sudah siap,” ancamnya kepada Sri. Dengan langkah sempoyongan Sri beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke dapur.

            “Ibu sakit?” tanya Adit, anaknya.

            “Ibu hanya pusing aja kok, Nak,” timpal Sri, “Adit sudah mandi?” tanya Sri.

            “Adit baru mau mandi, Bu,” jawab Adit.

            “Ya udah. Kamu mandi dulu baru sarapan ya,” tutur Sri, “Mandinya jangan lama-lama ya, nanti kamu terlambat,” pesannya kepada Adit karena memang hari sudah tampak siang.

            Tidak lama, Rudi muncul.

            “Kopiku mana?” decaknya.

            “Iya, Mas. Ini baru aku buatin,” timpal Sri sambil membawa secangkir kopi.

            “Dit, ayo sarapan sama Ayah,” panggil Sri. Adit keluar dari kamar lalu duduk di sebelah Ayahnya.

            “Nanti kamu ke kios Pak Maman ya. Belikan aku kroto,” perintah Rudi sambil menyantap nasi goreng yang dibuat Sri, “Dari kemarin burung-burungku pada mogok bunyi tu,” lanjutnya.

            “Mas aja yang beli nanti sekalian pulang kerja,” timpal Sri.

            “Kalo nanti nunggu aku pulang kerja, keburu Pak Maman pulang dari kiosnya,” kata Rudi.

            “Aku bener-bener lagi gak enak badan, Mas,” lirih Sri.

            “Alasan saja kamu!” seru Rudi.

            “Bu, Yah, Adit berangkat sekolah dulu, ya!” pamit Adit kepada orang tuanya.

            “Ya udah, kamu hati-hati ya!” pesan Sri.

            “Assaalamualaikum,” ucap Adit setelah bersalaman.

            “Ya sudah. Aku berangkat kerja juga ya,” timpal Rudi. Sri mengangguk.

            “Jangan lupa nanti ke kios Pak Maman,” kata Rudi kembali mengingatkan Sri. Sri menghela napas panjang sambil membereskan bekas sarapan di meja makan.

Sri lalu menuju ke dapur hendak mencuci piring. Baru saja ia akan meraih sabun pencuci piring yang ada di sudut wastafel, tiba-tiba pandangannya gelap, ia hampir terjatuh kemudian berusaha meraih sudut wastafel. Tanpa sengaja piring yang kebetulan masih berada di bibir wastafel tersenggol.

Prang! Pecahan piring berserakan di lantai. Sri duduk lemas benar-benar tidak punya tenaga.

“Apakah semua pekerjaan rumah tangga harus dilakukan oleh istri saja?” gumam Sri.

“Mas, aku ini istrimu, bukan pembantumu,” lirihnya sambil berurai air mata.

“Aku tidak pernah menuntut apa-apa, Mas,” imbuhnya, “Aku hanya ingin kamu memperlakukan aku layaknya sebagai seorang istri. Bukan asisten rumah tangga yang seenaknya kamu perintahkan sesuka hati,” sambungnya. Sri sesegukan menangis di dekat pecahan piring yang masih berserakan itu.

“Kenapa kamu tidak pernah mau sedikit saja mengerti perasaan aku, Mas,” Sri terus saja menggerutu sambil sedikit demi sedikit mengangkat pecahan piring di lantai meskipun kepalanya masih terasa berat.

Sri dan Rudi sudah membina rumah tangga hampir sembilan tahun dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Adit yang baru berusia delapan tahun dan sekarang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Sekian tahun mereka hidup bersama, perlakuan Rudi kepada Sri selalu seperti itu. Rudi senantiasa melimpahkan semua pekerjaan rumah tangga hanya kepada Sri. Ia beranggapan jika itu semua adalah memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang istri, bukan suami. Sementara Sri adalah perempuan lugu yang hanya bisa menuruti perintah Rudi tanpa bisa menolak. Ia  hanya akan mengeluh ketika suaminya tidak ada di hadapannya. Seperti yang saat ini sedang ia lakukan.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas siang. Cukup lama ia duduk di kursi meja makan setelah selesai membereskan pecahan piring di lantai tadi. Matanya melihat ke arah jam dinding.

“Astaga! Aku harus ke kios Pak Maman,” ujarnya sambil bangkit dari kursi lalu bergegas menuju ke kios Pak Maman walaupun kepalanya masih terasa pusing.

“Mau ke mana, Sri?” tanya Bu Is tetangganya.

“Eh, Bu Is. Ini mau ke kiosnya Pak Maman,” jawab Sri,

“Bu Sri sakit ya?” tanya Bu Is lagi, “Wajah Bu Sri terlihat pucat,” sambungnya.

“Gak kok, Bu Is,” timpal Sri dengan nada serak, “Aku gak kenapa-kenapa,” terangnya.

“Oo …,” timpal Bu Is dengan wajah ragu.

“Ya udah, Bu Is. Saya ke kios Pak Maman dulu ya. Takut nanti keburu tutup,” ujar Sri kemudian meninggalkan Bu Is.

“Iya, Bu Sri,” sahut Bu Is.

Sesampainya di kios Pak Maman.

“Assalamualaikum,” ucap Sri.

“Waalaikumsalam,” sahut Pak Maman, “Eh Bu Sri. Mau cari kroto ya?” kata Pak Maman. Pak Maman sepertinya sudah hafal, setiap kali Sri datang pasti akan mencari kroto untuk burung-burung Pak Rudi, suaminya.

“Iya, Pak,” timpal Sri.

“Berapa?” tanya Pak Maman.

“Seperti biasa, Pak. Seperempat saja,” timpal Sri. Pak Maman lalu menimbang kroto sesuai permintaan Sri.

“Kok Pak Rudi gak pernah beli kroto sendiri, Bu?” tanya Pak Maman sambil memasukkan kroto ke dalam plastik. Sri hanya tersenyum.

“Kan Mas Rudi kerja, Pak,” sahut Sri, “Jadinya ya gak apa-apa saya yang selalu ke sini,” sambungnya.

‘Ini, Bu,” ujar Pak Maman sambil menyodorkan kroto yang ada di dalam plastik. Sri lalu memberikan sejumlah uang kepada Pak Maman. Sri pun pergi dari kios Pak Maman dengan perasaan sedih karena mendengar pertanyaan dari Pak Maman tadi.

“Mas, aku ini istrimu. Mau sampai kapan kamu akan terus saja menganggapku seperti pembantu,” gumam Sri sambil berjalan pelan.

“Ya Allah, apa aku salah jika ingin diperlakukan layaknya seorang istri oleh suamiku sendiri?” lirih Sri.

“Bukannya aku tidak ingin atau tidak ikhlas melayani suamiku. Tapi aku juga bukan seorang pembantu yang selalu saja disuruh-suruh seenaknya,” sambungnya.

“Ya Allah, aku tahu Engkau tidak pernah tidur. Aku yakin, suatu saat nanti Mas Rudi pasti akan berubah,” batinnya lalu tampak tersenyum melangkah masuk ke dalam rumah.

***

Seorang istri memang bertugas melayani suami. Akan tetapi seorang istri bukanlah seorang asisten rumah tangga.

 

SELESAI

 

Bab 9 Maafkan Mama, Nino!

6 0

Perempuan dengan pakain rapi dan sepatu hak tinggi itu terus saja berjalan menyusuri gang sempit yang masih becek diguyur hujan siang tadi. Ia tidak perduli dengan sepatunya yang tampak mengkilat itu harus kotor terkena cipratan lumpur. Yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana caranya agar ia segera bertemu dengan perempuan yang puluhan tahun lalu pernah bekerja di rumah orang tuanya. Sampai akhirnya perempuan itu tiba di depan sebuah gubuk reot.

“Permisi!”

Tetapi tidak ada jawaban.

“Permisi!” ujarnya untuk yang kedua kali. Masih tidak ada jawaban.

Tiba-tiba datang seorang bocah laki-laki dari belakang membawa beberapa lembar koran di tangannya.

“Ibu mencari siapa?” tanya bocah itu mengejutkan perempuan yang dari tadi berdiri di depan rumahnya. Perempuan itu terdiam.

“Ibu mencari siapa?” tanyanya lagi.

“Kamu Nino?” ujar peremuan itu kembali bertanya kepada bocah laki-laki itu.

“Iya, Bu, saya Nino!” jawabnya, “Ibu tahu nama saya dari mana?” imbuh Nino dengan wajah bingung.

“Mbok Sum!” ujar perempuan itu, “Mbok Sumi ada di dalam?” tanyanya kepada Nino.

Nino kemudian masuk ke dalam rumah.

“Nek, ini Nino,” ucap bocah itu kepada seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur.

“Kamu sudah pulang, Nak?” tanyanya. Nino mengangkat tubuh perempuan itu.

“Tadi Nenek denger, ada yang dateng. Siapa?” tanya Nenek kepada Nino. Nino terdiam karena dia tidak mengenal perempuan yang datang ke rumahnya itu.

Perempuan itu berlari lalu memeluk tubuh perempuan yang masih duduk di atas tempat tidur. Nino semakin bingung.

“Mbok Sum,” panggil perempuan itu sambil berurai air mata.

“Non Mayang!” balasnya. Mereka lalu menangis dalam pelukan satu sama lain.

Mbok Sumi adalah perempuan yang pernah bekerja sebagai pembantu cukup lama di rumah Mayang. Sejak Mayang baru lahir sampai dia masuk kuliah, Mbok Sumi lah yang mengurus semua kebutuhannya. Mayang adalah anak tunggal dari pasangan yang kaya raya. Kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja. Bahkan hampir setiap minggu mereka pergi ke luar kota. Sehingga Mayang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mereka. Mbok Sumi sudah seperti ibunya sendiri. Karena semua hal tentang Mayang pasti Mbok Sumi mengetahuinya. Termasuk teman dekat Mayang yang bernama Tegar. Tegar juga cukup akrab dengannya.

***

“Mbok, Mama sama Papa mana?” tanya Mayang begitu turun dari lantai dua.

“Loh, Mama sama Papa Non Mayang gak ngasih tahu kalo mau ke luar kota lagi?” jawab Mbok Sumi.

Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel Mayang. Itu adalah chat dari Mama.

Sayang, Mama sama Papa harus ke Bandung. Ada urusan mendakak. Maafin Mama sama Papa ya, gak sempat ngasih tahu kamu.

Pesan yang kedua masuk lagi.

Love u sayang.

Tidak lupa disertai emoji cinta.

Mayang hanya membaca chat tersebut, tidak membalasnya.

“Apa susahnya sih ngomong, ngasih tau,” gumam Mayang.

“Sarapan dulu, Non!” kata Mbok Sumi.

“Ntar aja di kampus, Mbok!” timpal Mayang.

“Oalah, padahal Mbok sudah buatin nasi goreng sosis kesukaan Non Mayang lo,!” timpal Mbok Sumi.

“Buat Mbok Sumi aja,” balas Mayang sambil memeluk tubuh Mbok Sumi. Karena Mayang memang sangat menyayangi Mbok Sumi.

“Non Mayang minum jusnya ya,” ujar Mbok Sumi meraih segelas jus jeruk di atas meja.

“Kapan ya, Mbok. Mayang bisa ngerasian di manja dan diperhatiin sama Mama, Papa,” ungkap Mayang sambil duduk di kursi meja makan lalu minum jus jeruk yang diberikan Mbok Sumi tadi.

“Mama sama Papa Non Mayang kan kerja,” hibur Mbok Sumi, “Kan ada Mbok Sumi yang setiap saat ada untuk Non Mayang,” imbuhnya sembari membereskan piring bekas sarapan Mama dan Papa Mayang tadi sebelum berangkat.

“Dari Mayang kecil sampe Mayang segede gini, gak pernah mereka perhatiin, Mbok,” lirih Mayang.

“Mereka seperti itu kan demi Non Mayang juga,” kata Mbok Sumi lagi.

“Mayang gak Cuma butuh uang, Mbok. Tapi Mayang juga butuh perhatian mereka!” seru Mayang. Mbok Sumi memeluk pundak Mayang, Mayang pun menyenderkan kepalanya ke badan Mbok Sumi sambil terisak.

“Ya sudah. Non Mayang berangkat kuliah ya. Nanti terlambat,” ucap Mbok Sumi mengingatkan Mayang sembari mengusap air matanya.

“Iya, Mbok,” timpal Mayang lalu menyeka air matanya dengan selembar tisu. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi.

Baru saja Mayang masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering. Tegas menelponya.

“Hallo, Sayang. Kamu di mana?” tanya Tegar dari seberang telepon.

“Ni baru mau jalan,” jawab Mayang.

“Lo, Sayang. Kamu kenapa?,” tanya Tegar karena mendengar suara Mayang yang sedikit serak, “Kamu gak kenapa-kenapa, kan?” sambungnya memastikan.

“Gak kok. Aku gak kenapa-kenapa, Sayang,” timpal Mayang lagi.

“Ya udah. Aku tunggu di kampus ya,” ujar Tegar lalu menutup teleponnya.

Tidak berselang lama, Mayang tiba di kampus. Seperti biasa, Tegar sudah menunggunya dengan setia di dekat parkiran.

Tegar juga berasal dari keluarga berada. Orang tua mereka sama-sama direktur di beberapa perusahaan. Akan tetapi, hubungan Mayang dan Tegar tidak mendapat restu dari orang tua mereka masing-masing. Orang tua Mayang dan Tegar adalah rival dalam hal pekerjaan.

“Kamu kenapa, Sayang?” sambut Tegar, “Papa sama Mama kamu lagi?” lanjutnya. Mayang mengangguk, mengiyakan pertanyaan Tegar. Tegar dengan spontan memeluk tubuh Mayang dan Mayang pun tidak menolak sama sekali.

Ponsel Mayang berbunyi. Ada pesan masuk dari Mama.

Sayang, kemungkinan Mama sama Papa di Bandung dua hari. Lusa baru balik. Kamu baik-baik di rumah ya. Love you. Tulis Mama. Seperti tadi di rumah, Mayang hanya membaca pesan dari Mama, tidak membalasnya.

“Mama kamu bilang apa, Sayang?” tanya Tegar.

“Mama sama Papa balik dari Bandung lusa,” jawab Mayang.

“Kamu ada kuliah pagi?” tanya Tegar lagi.

“Iya ni,” timpal Mayang.

“Mau ikut aku ke satu tempat gak?” ajak Tegar.

“Ke mana?” tanya Mayang.

“Pokoknya ke tempat yang bakal bikin kamu happy,” timpal Tegar.

“Iya makanya, ke mana?” membuat Mayang semakin penasaran.

“Mau kan?” ujar Tegar lagi.

“Iya deh. Aku ikut!” Mayang akhirnya memutuskan untuk mengikuti ajakan Tegar. Sebelumnya Mayang menelpon Dela, teman kelasnya,

“Del, lo udah di kelas?” tanya Mayang.

“Iya,” sahut Dela dari seberang telepon, “Lo di mana? Dosen sudah di kelas ni!”

Lanjutnya.

            “Gue mau pergi sama Tegar,” jawab Mayang, “Ijinin gue sekali ya. Pliiiiss,” rengeknya kepada Dela. Belum sempat Dela menjawab, Mayang langsung menutup telepon.

            Mayang dan Tegar pergi ke suatu tempat yaitu sebuah penginapan. Mayang tidak menolak sedikitpun ketika Tegar memesan sebuah kamar untuk mereka berdua. Beberapa kali mereka melakukan hal serupa hingga akhirnya Mayang harus menanggung risiko. Mayang hamil. Setelah mengetahui Mayang hamil, bukannya bertanggungjawab, justru Tegar meninggalkan Mayang begitu saja. Mayang harus menanggungnya sendiri.

            Mama dan Papa tentu saja sangat marah dan kecewa kepada Mayang. Mereka sempat meminta Mayang untuk menggugurkan kandungannya. Namun Mayang tetap mempertahankan kandungannnya sampai ia melahirkan. Akhirnya Mayang melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Nino. Akan tetapi Mayang hanya punya kesempatan untuk melihat bayinya hanya beberapa saat saja. Tanpa sepengetahuannya, Mama dan Papa menyuruh Mbok Sumi membawa bayi itu pergi. Sejak saat itulah Mayang tidak pernah bertemu lagi dengan Mbok Sumi dan Nino, putranya.

            ***

            Bertahun-tahun Mayang terus mencari tahu di mana keberadaan Mbok Sumi dan Nino. Sampai akhirnya ia mendapatkan informasi dan alamat tempat tinggal mereka dari seseorang yang memang bekerja untuknya.

            “Nino, ini Mama, Sayang,” kata Mayang hendak memeluk Nino yang mematung dari tadi di dekat Mbok Sumi. Nino menatap Mbok Sumi.

            “Iya, Nak. Dia Mama kamu,” sambung Mbok Sumi sambil menangis. Nino masih terdiam.

            “Maafin Mama, Sayang!” sesal Mayang.

            “Kenapa baru nyari Nino sekarang?” tanya Nino.

            “Mama sudah mencari kamu ke mana-mana, Sayang,” balas Mayang.

            Tidak terasa hari sudah malam. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Mayang membawa Nino dan Mbok Sumi pulang ke rumah. Saat ini Mayang menjadi direktur di perusahaan mendiang Papanya. Mama dan Papa Mayang meninggal dunia beberapa bulan yang lalu dalam kecelakaan mobil ketika hendak pulang dari luar kota. Sementara Mayang sampai saat ini masih hidup sendiri.

Tidak berselang lama, Mbok Sumi pun meningal dunia. Kini Mayang dan Nino hidup bahagia berdua. Menebus kerinduan yang sudah lama mereka dambakan. Tegar memang sudah lama menghilang dari kehidupan Mayang, akan tetapi jejaknya masih ada sampai saat ini dan selamanya dalam diri Nino.

 

SELESAI

Bab 10 Tidak Ada Kata Terlambat untuk Berubah

6 0

Pagi ini, Tania bangun lebih awal dari biasanya karena ini adalah hari terakhir dia tinggal di rumah kontrakan yang sudah ditinggalinya cukup lama. Pak Haris, direktur di perusahaan tempat ia bekerja memberinya sebuah apartemen mewah tidak jauh dari kantor. Dengan alasan agar Tania tidak lagi terlambat masuk kerja. Tania memang belum lama bekerja di perusahaan Pak Haris, tetapi  berkat kepintarannya dalam bekerja membuat Pak Haris bangga kepadanya. Selain pintar Tania juga memiliki paras yang cantik dan menarik, sehingga tidak heran beberapa karyawan berusaha mendekatinya, termasuk Pak Haris. Namun sayang, di balik kepintaran dan  kecantkannya, Tania memiliki sifat yang sombong. Dia jarang mau bergaul dengan teman-teman kantornya yang lain terlebih lagi dia merupakan karyawati yang paling sering mendapat perhatian dari Pak Haris.

            “Neng Tania sudah mau pergi!” tegur Bu Romlah, pemilik kontrakan yang sering dipanggil Romi oleh Tania.

            “Iya, Bu Romi!” jawab Tania sambil menenteng koper.

            “Denger-denger Neng Tania sekarang mau tinggal di apartemen mewah, ya?” tanya Bu Romlah.

            “Iya dong, Bu. Bosen terus-terusan tinggal dikotrakan butek gini,” timpalnya. Membuat Bu Romlah tersinggung.

            “Eh, Neng Tania, jangan mentang-mentang sekarang kamu sudah sukses!” seru Bu Romlah, “Neng Tania ngomong seenaknya begitu,” sambungnya.

            “Emang kenyataanya kayak gitu kok,” balas Tania.

            “Alah, palingan jadi simpenan. Makanya bisa tinggal di apartemen,” sindir Bu Romlah.

            “Jangan ngomong sembarangan ya, Bu,” bentak Tania membuat Bu Romlah kaget dan sedikit takut. Beberapa penghuni kontrakan tampak keluar kamar karena mandengar suara Tania.

            “Mbak Tania jadi pindah?” tanya Widya, salah seorang teman kontrakannya.

            “Iya, Mbak Wid,” timpal Tania lalu pergi seraya menggeret kopernya.

            “Ati-ati, Mbak,” pesan Widya lagi, tetapi Tania tidak menoleh.

            Tin… tin…

            Terdengar suara klakson mobil dari arah belakang Tania. Tania kaget lalu segera menoleh ke belakang, seketika ia langsung tersenyum begitu melihat mobil tersebut. Mobil Pak Haris, bosnya. Pak Haris pun membuka kaca mobilnya sambil tersenyum lebar ke arah Tania.

            “Naik, Tan,” ajak Pak Haris dengan ramahnya.

            “Gak usah, Pak. Nanti saya pakai taksi saja,” tolak Tania.

            “Udaah, gak apa-apa. Kan kita searah,” bujuk Pak Haris. Tania sepertinya tidak bisa menolak sebab Pak Haris sudah turun dari mobil dan menghampirinya.

            “Biar saya bantu,” kata Pak Haris sambil meraih koper yang di tangan Tania.

            “Gak usah, Pak,” ujar Tania lagi berusaha menepis tangan Pak Haris.

            “Gak usah sungkan-sungkan,” sahut Pak Haris tetap mengangkat koper Tania dan memasukkannya ke bagasi. Tania masih berdiri di samping mobil Pak Haris.

            “Kok masih berdiri,” kata Pak Haris, “Masuk!” ajaknya sambil membuka pintu depan mobil. Tania menggangguk lalu masuk ke dalam mobil.

            “Kalo seandainya aku jadi Nyonya Haris pasti aku tidak akan hidup susah lagi. Tinggal di rumah mewah, mau ke mana-mana pake mobil, nyalon tiep hari,” batinnya sambil senyum-senyum sendiri.

            “Kok senyum-senyum,” tanya Pak Haris membuat wajah Tania memerah karena malu.

            “Gak apa-apa kok, Pak,” jawab Tania berbata-bata.

            “Jangan panggil Pak dong,” kata Pak Haris, “Panggil Mas aja kalo lagi berdua. Biar kesannya lebih akrab,” sambungnya membuat Tania semakin besar kepala.

            “Iya, Pak eh .. Mas,” sahut Tania.

            “Nah, gitu kan lebih sante,” canda Pak Haris lagi.

            “Kamu asli mana?” tanya Pak Haris.

            “Saya asli dari kampung, Pak eh … Mas,” timpal Tania.

            “Kamu di sini sudah lama?” tanyanya lagi.

            “Cukup lama sih, Mas. Sekitar satu setengah tahun,” terang Tania.

            Mereka tampak terus berbincang-bincang semakin akrab. Tidak terasa mereka tiba di depan apartemen baru Tania yang merupakan pemberian Pak Haris. Mereka lalu turun dari mobil. Tampak Pak Haris mengeluarkan koper Tania dari dalam mobil.

            “Mas, gak masuk dulu?” tawar Tania.

            “Gak perlu. Lain kali saja,” jawab Pak Haris, “Mas langsung ke kantor aja,” sambungnya.

            “Kamu masuk kantor kan hari ini?” ujar Pak Haris memastikan.

            “Masuk lah, Mas,” timpal Tania yang sudah mulai tidak canggung lagi dengan Pak Haris.

            “Ya udah. Kita ketemu nanti di kantor ya,” kata Pak Haris lagi. Tania mengangguk.

            “O iya, semoga kamu suka dan betah di apartemen ini ya,” tutur Pak Haris lagi kemudian bergegas masuk mobil meninggalkan Tania yang masih berdiri.

            Tania tampak begitu bahagia karena merasa sudah mendapatkan hati bosnya, Pak Haris.

            “Sepertinya, mimpiku untuk menjadi istri seorang direktur bakal jadi kenyataan ni,” gumamnya sambil melangkah masuk ke apartemennya yang baru.

            Tania pun segera mandi dan berganti pakaian karena harus segera berangkat ke kantor. Belum sempat memberesakn barang-barangnya. Tania berdandan semaksimal agar tetap dapat menarik perhatian Pak Haris.

            Tidak berselang lama, Tania pun tiba di kantor.

            “Wow … makin cantik aja, Tan!” puji Dito, teman kantornya begitu melihat Tania yang sedang berjalan di lobi.

            “Ya iyalah. Namanya juga kesayangan bos,” sindir Santi yang berdiri di samping Dito. Santi adalah rekan Tania yang selalu iri kepadanya.

            “Iri tanda tak mampu,” pungkasnya membuat Santi terdiam.

            Tiba-tiba datang seorang perempuan yang tidak kalah cantik dan menarik dari Tania.

            “Mas Haris ada di ruangan?” tanya perempuan itu kepada resepsionis di depan. Tania, Dito dan Santi melongo melihat perempuan itu. Santi tampak menyikut lengan Dito.

            “Ada, Bu!” jawab resepsionis itu ramah, “Saya antar, Bu?” tawarnya lagi.

            “Gak usah. Saya langsung ke ruangannya saja,” timpal perempuan itu lalu berjalan melewati Tania, Dito dan Santi. Tidak lupa perempuan itu melempar senyum ramah ke arah mereka bertiga. Dito dan Santi menyambut senyum perempuan itu sambil sedikit menunduk. Sementara Tania meampakkan wajah tidak suka dengan perempuan tersebut.

Begitu perempuan itu masuk ke dalam lift, Tania bertanya kepada Dito, “Perempuan itu siapa, Dit?”

“Dia itu Bu Yolanda, istri Pak Haris,” jawab Dito. Wajah Tania berubah.

“Kok baru gue liat?” tanya Tania lagi.

“Gimana mau sering liat. Orang Bu Yolanda tinggalnya di luar negeri sono,” timpal Santi dengan nada sewotnya.

“Bu Yolanda tinggal di Singapura, Tan,” terang Dito, “Pak Haris juga punya perusahaan di sana dan Bu Yolanda jadi direkturnya,” tuturnya lagi. Tania terdiam.

“Merasa gak kuat ya saingan sama Bu Yolanda?” sindir Santi membuat Tania geram, “Ya iyalah gak kuat. Secara Bu Yolanda sama Mbak Tania tu kayak bumi sama langit. Beda jauh!” sambungnya sambil tertawa. Kemudian Tania berlari meninggalkan Dito dan Santi sambil menahan air matanya.

“Apa dong maksud Pak Haris ngasih perhatian ke gue, ngasih apartemen ke gue. Kalo ternyata dia sudah istri,” gumam Tania seraya menyeka air matanya.

“Gue memang bermimpi untuk menjadi orang kaya, tapi gue gak akan pernah mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambungnya.

Sejak saat itu Tania mulai menjaga jarak dengan Pak Haris. Bahkan, apartemen pemberian Pak Haris ia kembalikan lagi dengan alasan tidak bisa menerimanya karena tidak merasa tidak enak dengan rekan-rekannya yang lain. Tania kembali lagi ke kontrakan Bu Romlah dan meminta maaf kepadanya. Tania pun mulai berubah. Ia menjadi perempuan yang lebih baik dan tidak lagi menyombongkan diri dengan kecerdasan dan kecantikan yang dimilikinya. Rekan-rekan kerjanya pun berubah, mereka menjadi lebih akrab dan tidak ada yang saling iri. Terutama Santi.

“Biarlah, jejak kelabu yang sudah ku lalui menjadi pelajaran untukku,” ungkap Tania di sela-sela kesendiriannya.

 

SELESAI

 

Bab 11 Antara Cinta dan Perasaan Bersalah

6 5

Sonia duduk di kursi panjang depan perpustakaan seraya memegang tas ransel milik Fatan.

"Nia, lo ngapain di situ?" teriak Rahma. Sonia melihat ke arah Rahma, tetapi dia hanya menggelengkan kepala.

Rahma menghampirinya, "Lo ngapain di sini?" tanyanya lagi.

Sonia menunjukkan tas Fatan yang ada di pangkuannya ke Rahma.

"Kok lo masih aja ngarepin dia sih," ujar Rahma.

"Gue juga gak tau, Ma," timpal Sonia.

"Makan tu cinta," balas Rahma. Sonia nyengir ke arah Rahma.

Tiba-tiba Fatan muncul dari balik pintu perpustakaan.

"Sini tas gue," katanya sambil merenggut tas ranselnya dari pangkuan Sonia.

"Udah?" tanya Sonia. Tetapi Fatan tidak menjawab. Tampak matanya merah dan layu.

Rahma memandang Fatan dengan tatapan sinis, lalu Sonia menyikut lengannya sambil memberi kode agar Rahma tidak menatap Fatan seperti itu. Fatan melihat ke arah Rahma, segera Rahma memalingkan wajah agar tidak beradu pandang dengannya.

"Gue cabut," ujar Fatan lalu meninggalkan Sonia dan Rahma.

"Aduh Niaaa, ngapain sih lo mesti peduli sama cowok kayak gitu,"  sesal Rahma.

"Gue kasian sama Fatan, Ma," lirih Sonia.

“Lo bener-bener cinta ato cuma sekedar kasian doang sih sama Fatan?” seru Rahma. Sonia terdiam sambil memandang punggung Fatan yang semakin menjauh.

"Apa lo gak kasian juga sama diri lo sendiri?" sambung Rahma.

"Gue ngerasa bersalah, Ma!" sesal Sonia, "Gue ngerasa Fatan kayak gini gara-gara gue, gara-gara keluarga gue, Ma," tutur Sonia sambil terisak.

"Itu murni kecelakaan, Nia!" seru Rahma, "Lo gak usah terus-terusan nyalahin diri lo sendiri karena hal yang gak pernah lo lakuin," sambungnya.

***

Sonia, Rahma dan Fatan adalah sahabat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka seakan tidak terpisahkan satu sama lain. Ke mana-mana mereka akan selalu bersama dan tampak selalu ceria. Fatan ibarat pelindung bagi Sonia dan Rahma sampai mereka memasuki usia remaja. Siapa pun yang mendekati Sonia maupun Rahma, Fatan sering kali menjadi tukang seleksi. Jika Fatan mengatakan tidak setuju dengan laki-laki yang mendekati mereka, secara otomastis Sonia dan juga Rahma akan menurutinya. Akan tetapi, persahabatan mereka yang dulu terjalin begitu erat seakan hancur seketika karena sebuah peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa Mama dan Papa Fatan.

Pagi itu Fatan tampak begitu semangat berangkat sekolah.

“Pagi Ma, Pa!” sapa Fatan kepada Mama dan Papanya yang sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan.

“Pagi, Sayang,” sambut Mama.

“Duh, anak Papa sekarang sudah makin gede ya,” ujar Papa.

“Iya dong, Pa,” sahut Fatan.

“O iya, Sonia sama Rahma sekelas lagi sama kamu, Sayang?” tanya Mama sambil mengolesi selai kacang kesukaan Fatan ke selembar roti.

“Masih dong, Ma,” jawab Fatan.

“Rotinya, Sayang,” kata Mama sambil menyodorkan roti ke Fatan.

Dengan segera Fatan meraihnya, “Makasih, Ma,” ujarnya dan langsung makan dengan lahap.

“Pelan-pelan dong, Sayang,” tegur Mama, “Udah gak sabaran sekali ya ketemu sama Sonia,”  ledek Mama membuat wajah Fatan merah. Fatan menjadi salah tingkah.

“Apaa sih Mama ni,” ujar Fatan sambil meraih segelas jus jeruk di depannya.

“Sonia ato Rahma ni?” canda Papa lagi.

“Udah ah,” timpal Fatan, “Ayo berangkat Ma, Pa,” ajak Fatan, “Nanti Fatan terlambat,” imbuhnya.

Papa dan Mama Fatan pun segera bergegas bangkit dari kursi meja makan lalu mengikuti Fatan yang sudah terlebih dulu menunggu di depan mobil.

“Mbok, kami berangkat ya,” pamit Mama kepada Mbok Nah, pembantu di rumah Fatan. Mbok Nah tampak berlari menghampiri majikannya ke depan rumah.

“Mbok Nah, jaga rumah ya,” pesan Mama seperti biasanya setiap kali akan berangkat ke kantor bersama Papa sekaligus mengantar Fatan ke sekolah.

“Iya, Bu,” jawab Mbok Nah.

Mereka pun berangkat.

Jarak rumah Fatan dengan Sonia dan Rahma tidak terlalu jauh, hanya beberapa blok saja.

“Sekalian jemput Sonia juga gak ni?” tanya Papa kepada Fatan.

“Gak usah, Pa,” timpal Fatan, “Udah janjian semalem, langsung ketemu di sekolah aja,” lanjutnya.

“Oo ya udah,” ujar Papa sambil terus melaju mobil.

Tidak berselang lama, Fatan tiba di sekolah. Begitu sampai Papa dan Mama Fatan ikut turun dari mobil.

“Udah, Mama sama Papa berangkat ke kantor aja,” tutur Fatan sambil mendorong mereka masuk ke dalam mobil, “Fatan bukan anak SD lagi. Apa lagi sekarang Fatan udah naik kelas XI,” sambungnya.

“Ya udah. Mama sama Papa ke kantor ya, Sayang,” ucap Mama sambil mencium kening Fatan membuat Fatan agak risih karena dilihat oleh beberapa temannya.

“Iya, ya,” timpalnya.

Mama dan Papa Fatan jalan beriringan hendak masuk mobil. Tiba-tiba dari arah samping, sebuah mobil hilang kendali dan menabrak mereka. Seketika suara riuh terdengar di depan sekolah. Orang-orang berlarian termasuk Fatan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa tragis yang seketika merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Sejak saat itu, Fatan yang dulu ceria dan baik mulai berubah. Ditambah lagi setelah mengetahui kronologis kejadian mobil yang hilang kendali hingga menabrak Mama dan Papanya.

Pagi itu Sonia melihat Fatan dari seberang jalan. Karena terlalu bersemangat Sonia langsung berlari dan dia tidak melihat ada sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah kiri. Mobil tersebut akhirnya banting stir untuk menghindar agar tidak menabrak Sonia, tetapi sayang justru mobil malah menabrak Mama dan Papa Fatan.

Fatan seakan menaruh dendam kepada Sonia. Fatan meminta Sonia untuk mengikuti apapun keinginannya. Fatan melampiaskan kesedihannya dengan minum-minuman beralkohol. Bahkan tidak hanya itu, Fatan mulai memakai narkoba. Sonia merasa semakin bersalah. Sonia merasa hidup Fatan rusak gara-gara dia. Di satu sisi, Rahma justru membenci Fatan karena sikapnya yang seperti itu. Selalu menyalahkan Sonia atas kecelakaan yang menimpa Mama dan Papanya. Rahma menganggap apa yang dilakukan Fatan kepada Sonia sudah keterlaluan.

Kini mereka sudah duduk di kelas XII. Sampai saat ini Fatan masih saja dengan kabiasaan buruknya, yaitu minum-minuman dan memakai narkoba. Itu artinya sudah satu tahun Fatan frustasi dan belum menerima kepergian Mama dan Papanya dengan ikhlas. Hari demi hari Sonia selalu menemani Fatan dalam kesedihannya hingga tumbuh rasa cinta di antara mereka. Bahkan sebenarnya, sudah sejak lama Fatan jatuh cinta kepada Sonia. Dan dia hendak mengungkapkan perasaannya kepada Sonia hari itu, hari pertama masuk sekolah ketika baru naik kelas XI sekaligus hari kepergian Mama dan Papanya. Sonia pun mempunyai perasaan yang sama seperti Fatan. Sonia juga sudah lama memendam perasaan cinta kepada Fatan.

***

“Gue yakin, Ma. Suatu saat nanti Fatan akan berubah,” ujar Sonia.

“Mau sampe kapan?” tanya Sonia, “Lo jangan nyia-nyiain hidup lo dah,” lanjunya.

“Apa yang gue lakuin sekarang, gak akan sia-sia, Ma,” timpal Sonia kekeh dengan pendiriannya untuk tetap berada di samping Fatan.

“Gue sayang sama lo, Nia,” seru Rahma, “Gue mau lo bahagia. Tapi bukan dengan cara kayak gini,” imbuhnya.

“Ma. Lo inget gak, dulu kita pernah berjanji untuk selalu bersama gimana pun keadaan kita!” ungkap Sonia mengingatkan Rahma.

“Tapi itu dulu, Nia,” sahut Rahma, “Sekarang udah beda. Fatan yang sekarang ini, bukan Fatan yang dulu kita kenal,” sambungnya.

Mereka terdiam.

“Ya udah deh. Terserah lo, Nia,” ujar Rahma pasrah, “Yang pasti gue akan selalu ada buat lo,” ungkapnya sambil menggenggam tangan Sonia.

“Thanks ya, Ma,” sahut Sonia sambil memeluk Rahma dengan erat.

Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kesedihan itu akan benar-benar hilang. Yang pasti aku akan tetap berusaha untuk mengembalikan Fatan yang dulu aku kenal. Dan aku yakin, suatu saat nanti Tuhan akan mendengar semua doaku,” batin Sonia seraya meneteskan air mata.

 

SELESAI

 

user

16 December 2021 20:58 Lale Lanjutkan dan tetap semangat untuk berkarya tetap

user

16 December 2021 21:00 Lale Lanjutkan dan tetap semangat untuk berkarya

user

16 December 2021 21:05 Lale Lanjutkan dan tetap semangat untuk berkarya

user

16 December 2021 21:05 Lale Lanjutkan dan tetap semangat untuk berkarya

user

16 December 2021 21:07 Lale Bagus isinya sangat menginfirasi

Bab 12 Luna dan Lelaki Itu

6 0

Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Cika sudah tampak bergegas pulang. Sementara Luna masih terlihat sibuk memainkan jarinya di atas keyboard komputer di atas meja kerjanya.

“Belum kelar juga, Lun?” tanya Cika.

            “Bentar lagi, Cik” sahut Luna sambil tetap fokus dengan layar komputernya.

            “Ini semua pasti ulah si Widya,” gerutu Cika, “Mentang-mentang dia sekretaris Pak Bayu, seenaknya aja ngasih kerjaan,” sambungnya.

            “Udaah gak apa-apa, Cik. Lagian, ini juga kan sudah jadi tanggungjawab gue,” timpal Luna.

            “Iya sih, Lun. Tapi kan ini seharusnya jadi kerjaannya dia. Bukan lo, Lun,” tutur Cika lagi.

            “Itung-itung beramal jariyah lah, Cik,” jawab Luna sambil tersenyum.

            “Terbuat dari apa sih hati lo, Lun,” kata Cika memuji Luna, “Bener-bener heran gue,” lanjutnya.

            “Ya sama lah, Cik. Masa Iya Tuhan bikin hati gue pake intan berlian,” candanya sambil terkekeh.

            “Udah ah. Susah emang ngomong sama lo, Lun,” gumam Cika.

            Luna dan Cika bekerja di salah satu perusahaan jasa properti. Luna baru beberapa bulan bekerja di sana. Sementara Cika udah lebih dulu. Akan tetapi, Luna dan Cika adalah teman masa SMA dulu, sehingga mereka sudah saling kenal dan juga akrab. Cika mengetahui sifat Luna yang baik dan suka membantu. Di samping Luna juga perempuan yang cerdas. Cika kadang-kadang tidak malu bertanya kepada Luna mengenai pekerjaan yang susah dia selesaikan. Namun berbeda halnya dengan Widya.

            Widya tidak terlalu suka dengan kehadiran Luna di perusahaan tersebut. Dia takut akan tersaingi karena kecerdasannya. Oleh sebab itu, Widya sering kali melimpahkan beberapa pekerjaan yang cukup sulit kepada Luna dengan tujuan agar Luna tidak bisa menyelesaikannya. Hal itu lah yang membuat Cika tidak suka kepada Widya. Sebenarnya Luna juga sudah mengetahui bahwa Widya tidak suka kepadanya. Namun, dia memang memiliki sifat yang baik dan tidak terlalu mempermasalahkan semua itu. Karena yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar tetap bisa bekerja di sana demi menghidupi ibu dan dua orang adiknya.

            Hari semakin sore.

            “Udah sore, ni,” ujar Cika mengingatkan Luna.

Luna melihat ke arah jam tangannya.

“Iya ya. Udah jam lima lewat,” imbuh Luna, ”Lo duluan aja, Cik,” lanjutnya.

“Serius lo, gak apa-apa gue tinggal?” tanya Cika memastikan sambil mengernyitkan dahi.

“Ya serius. Daripada lo nungguin gue,” sahut Luna, “Tanggung lagi dikit. Gue gak mau besok masih pagi udah kena semprot Bu Widya,” sambungnya.

“Beneran lo gak apa-apa?” tanya Cika lagi.

“Ya Allah … kok gak percaya amat ni anak,” balas Luna.

“Ya udah deh. Sorry ya, Lun. Gue duluan,” sesal Cika karena tidak bisa menemani Luna menyelesaikan pekerjaannya.

“Iya ya,” ujar Luna, “Buruan sono. Kasian ojek lo kelamaa nunggu di bawah. Ntar ngembek lagi,” tuturnya karena Luna tahu kalau Cika sudah dijemput oleh Yuda, pacarnya.

“Gue duluan ya, Lun,” pamit Cika.

“Iya. Hati-hati,” pesan Luna.

“Lo kali, Lun. Yang mestinya hati-hati di sini,” imbuh Cika lalu meninggalkan Luna yang kembali melanjutkan pekerjaannya.

Prang!

Tiba-tiba Luna dikejutkan suara gelas pecah dari ruangan sebelah. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu berlari ke arah suara itu. Ternyata Pak Aryo, OB di kantor yang tidak sengaja menjatuhkan gelas dari atas meja.

“Pak Aryo!” panggil Luna.

“Eh Bu Luna. Maaf Bu, sudah bikin Bu Luna kaget,” sahut Pak Aryo, “Saya tidak tahu kalo Bu Luna masih di sini” sambung Pak Aryo.

“Bu Luna belum pulang?” tanyanya.

“Belum, Pak,” jawab Luna, ”Masih ada pekerjaan yang belum selesai,” terangnya,

“Pak Aryo ngapain masih di sini?” tanya Luna balik.

“Ya sama seperti Bu Luna. Selesein pekerjaan,” jawab Pak Aryo sambil menunduk.

“Pak Aryo sakit?” tanya Luna lagi. Luna melihat wajah Aryo sedikit pucat.

“Gak apa-apa kok, Bu,” sahut Pak Aryo.

“Permisi ya, Pak!” izin Luna memegang tangan Pak Aryo.

“Pak Aryo demam!” kata Luna sedikit panik, “Tunggu sebentar ya, Pak. Saya ada paracetamol di tas,” lanjutnya sambil berlari ke ruangan kerjanya lalu mengambil obat yang dia maksud. Pak Aryo hanya terdiam seraya menunggu Luna.

Luna pun membawa obat dan segelas air putih.

“Ini, Pak,” Luna menyodorkan obat kepada Pak Aryo, “Minum, Pak,” lalu memberikan segelas air putih.

“Terima kasih, Bu Luna,” ucap Pak Aryo.

“Iya, Pak. Sama-sama,” timpal Luna.

“Bu Luna mengingatkan Bapak dengan Dita, putri Bapak,” kata Pak Aryo. Luna hanya tersenyum.

“Sudah lama sekali Bapak merindukannya,” sambung Pak Aryo.

“Memangnya putri Bapak ke mana?” tanya Luna. Pak Aryo terdiam.

“Maaf, Pak. Kalo pertanyaan Luna membuat Bapak sedih,” ungkap Luna.

“Gak apa-apa, Bu,” balas Pak Aryo, “Putri Bapak sudah lama meninggal, Bu,” laanjutnya.

“Saya minta maaf sekali lagi, Pak,” sesal Luna seakan merasa bersalah karena melontarkan pertanyaan itu kepada Pak Aryo.

“Gak apa-apa, Bu,” kata Pak Aryo untuk kedua kalinya sambil tersenyum.

“Dulu ketika Bapak sakit, Dita yang paling mengkhawatirkan Bapak. Sejak kecil, kami hanya tinggal berdua. Ibunya pergi meninggalkan kami dengan laki-laki lain karena tidak mau hidup susah dengan Bapak,” kenang Pak Aryo. Luna terdiam.

“Yang sabar ya, Pak,” ujar Luna, “Bapak bisa kok anggap Luna seperti Dita, anak Bapak sendiri. Lagian Luna juga sudah lama tidak punya Bapak,” Luna mencoba menghibur Pak Aryo.

“Luna sudah lama ditinggal sama Ayah, Pak,” tutur Luna, “Ketika Luna baru masuk SMP,” lanjutnya.

“Sejak saat itu, Luna berjanji sama diri Luna sendiri, Pak. Untuk menjaga dan merawat Ibu serta adik-adik Luna, Pak,” cerita Luna kepada Pak Aryo, “Eh, kok malah jadi malah Luna yang curhat ke Bapak,” kata Luna sambil terkekeh.

“O iya, gimana Bapak sekarang?” tanya Luna, “Apa sudah mendingan,” sambungnya.

“Alhamdulillah sudah, Bu,” jawab Pak Aryo.

“Bapak kalau lagi sakit. Jangan dipaksain untuk kerja,” pesan Luna dengan nada lembut.

“Bapak takut sama Bu Widya kalo terlalu sering minta izin, Bu,” tutur Pak Aryo.

“Daripada Bapak kenapa-kenapa. Kan makin repot, Pak,” timpal Luna. Pak Aryo tersenyum ke arah Luna.

“Bu Luna memang benar-benar baik. Semoga suatu saat nanti, Bu Luna juga akan bertemu jodoh yang baik seperti Bu Luna,” ujar Pak Aryo membuat Luna tersipu.

“Aamiin ya Robbalalamin,” jawab Luna mengaminkan doa Pak Aryo, “Ya sudah sekarang Bapak pulang ya. Istirahat di rumah, biar Bapak lekas sembuh,” lanjutnya.

“Bapak sudah baikan kok, Bu,” sahut Pak Aryo, “Bapak beresin pecahan gelas ini dulu,” terangnya sambil beranjak hendak mengambil sapu.

“Udah. Biar nanti saya yang beresin, Pak,” kata Luna, “Sekarang Bapak pulang ya,” sambungnya.

“Gak usah, Bu. Biar Bapak saja yang beresin,” balas Pak Aryo.

“Udah … gak apa-apa, Pak,” kekeh Luna membuat Pak Aryo tidak bisa berbuat apa-apa. “Saya telponin grab ya. Biar Bapak gak pulang sendiri,” sambung Luna.

“Sekali lagi. Terima kasih banyak yan, Bu Luna,” ujar Pak Aryo, “Semoga Allah membalas semua kebaikan Bu Luna,” ucap Pak Aryo.

“Aamiin ya Robbalalamin,” balas Luna.

Pak Aryo lalu berjalan meninggalkan Luna yang masih berdiri di dalam ruangan. Setelah Pak Aryo pergi, Luna segera mengambil pengli di koridor lalu membereskan pecahan gelas yang berserakan tadi.

“Bu Luna ngapain?” tanya seorang laki-laki mengagetkan Luna yang sedang menyapu.

“Lo, Pak Aryo!” seru Luna dengan wajah bingung, “Bukannya Pak Aryo sudah pulang tadi?” tanya Luna.

“Saya baru saja naik, Bu,” timpal Pak Aryo.

“Dari tadi kan Pak Aryo sama saya di sini,” tutur Luna semakin bingung, “Tadi Pak Aryo bikin saya kaget gara-gara Pak Aryo pecahin gelas,” terangnya.

“Mungkin Bu Luna menghayal,” goda Pak Aryo. Luna terdiam.

“Dari tadi saya di bawah kok, Bu,” timpal Pak Aryo.

“Kalo bukan Pak Aryo. Terus yang tadi siapa?” tanya Luna.

“Ya mana saya tau, Bu,” sahut Pak Aryo, “Sudah. Ibu pulang saja. Istirahat. Mungkin Bu Luna kecapean,” saran Pak Aryo kepada Luna.

“Iya kali, Pak,” jawab Luna meringis.

Luna kemudian bergegas meninggalkan ruangan kerjanya dengan sejuta perasaan. Ia terus saja memikirkan sosok laki-laki yang mirip dengan Pak Aryo tadi. Luna berjalan melewati koridor kantor dengan membaca ayat kursi. Akhirnya perasaan Luna lega setelah dia tiba di bawah. Begitu Luna hendak keluar dari Lobi, tampak seorang laki-laki tersenyum ke arahnya. Pak Aryo.

 

SELESAI

 

Bab 13 Bintangnya Mama

6 0

“Ma, Bintang jalan dulu ya,” pamit Bintang kepada Mama.

“Kamu hati-hati ya,” timpal Mama.

“O iya, Ma. Nanti Bintang pulang agak sore ya,” ujar Bintang.

“Kamu mau ke mana?” tanya Mama.

“Bintang ada kuliah tambahan, Ma,”  jawab Bintang.

“O ya, sudah,” ucap Mama, “Langsung pulang kan? Gak ke mana-mana lagi?” lanjutnya.

“Insyaallah gak, Ma,” balas Bintang. Mama mengangguk sambil tersenyum.

“Bintang berangkat ya, Ma. Takut telat,” pamit Bintang kedua kalinya, “Assalamualaikum,” ucapnya memberi salam.

“Waalaikumsalam,” balas Mama.

Bintang adalah anakku satu-satunya. Aku dan Ayah Bintang berpisah ketika Bintang masih berusia tujuh tahun, bertepatan ketika dia baru masuk kelas satu sekolah dasar. Sejak saat itu kami hidup berdua. Aku harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dan juga untuk keperluan sekolah Bintang. Kini Bintang sudah masuk kuliah semester dua.

Perjuanganku untuk bertahan hidup memang tidaklah mudah. Sejak aku berpisah dengan suamiku, dia benar-benar melepas tanggungjawab sama sekali terhadap Bintang, anak kami. Akan tetapi aku bukanlah perempuan yang lemah. Allah memberiku hati yang kuat dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Allah selalu mempertemukan aku dengan orang-orang baik di sekelilingku. Sehingga aku bisa terus bertahan sampai sekarang.

Aku kuat. Dan harus tetap kuat terutama untuk Bintang. Aku bertahan dan akan selalu tampak kuat hanya demi satu alasan, yaitu membuat Bintang bahagia. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku tanpa dia. Tidak pernah aku melewati satu malam pun tanpa Bintang.

Bintang tiba di kampus.

“Bintang,” panggil Damar. Bintang melihat ke arah Damar kemudian mengangkat tangannya.

“Tumben masih pagi udah di sini lo,” sindir Bintang. Damar hanya nyengir.

“Haha … lagi pengen jadi anak rajin aja,” timpal Damar, “Masa lo aja yang boleh rajin.ya gue juga mau lah, Bin,” sambungnya.

“Ya Allah terima kasih sudah membuat sahabatku ini insaf,” ucap Bintang sambil menengok ke atas. Bintang dan Damar bersahabat sejak mereka masih duduk di bangku SMA.

“Terus, terus … terus aja lo ledek gue,” balas Damar.

“Gitu aja ngambek. Kayak cewek lagi PMS aj,” ledek Bintang, “Udah ad, masuk yuk. Ntar dosen keburu masuk kelas lagi,” ajak Bintang.

Mereka berjalan memasuki gedung kampus.

“Bin. Bintang,” Hana memanggilnya. Bintang dan Damar menoleh bersamaan. Hana adalah teman satu angkatan dengan mereka, tetapi berbeda jurusan.

“Gue panggil Bintang. Bukan lo, Mar,” ketus Hana kepada Damar.

“Mar. Mar. Lo kiran nama gue Marni,” sahut Damar dengan nada nyolot, “Siapa juga yang pengen dipanggil sama lo,” balas Damar.

“Udah, udah. Lo berdua, kalo ketemu kayak Tom dan Jerry. Gak pernah akur,” tumpal Bintang.

“O iya, ada apa lo panggil gue, Han?” tanya Bintang.

“Ntar pulang kuliah lo ada acara gak?” tanya Hana.

“Gak ada sih,” jawab Bintang, “Emang kenapa?” tanya Bintang lagi.

“Adeknya temen gue lagi nyari guru les,” timpal Hana.

“Lah, terus hubungannya sama gue ?” Bintang pura-pura belum paham.

“Maksud gue. Lo aja yang ngajar adek temen gue tu, Bin” terang Hana, “Lumayan lah itung-itung buat nambah uang bensin,” sambungnya.

“Ngomong tu yang jelas makanya,” canda Bintang.

Sejak masih duduk di bangku SMA, Bintang memang sudah sering mengajar les untuk usia anak SD maupun SMP. Karena memang Bintang anak yang cerdas dan berprestasi. Berbeda dengan Damar.

“Kenapa bukan gue yang lo tawarin sih, Han?” kata Damar yang dari tadi mendengar pembicaraan Bintang dan Hana.

“Lain kali ya, Mar. Kalo yang nyari nenek-nenek,” timpal Hana sambil tertawa.

“Lo kira gue baby sister apa,” balas Damar.

“Ya gak beda jauh sih,” timpal Bintang membuat Hana semakin terbahak-bahak.

“Udah ah. Udah telat ni. Gue masuk kelas dulu ya, Han,” kata Bintang.

“Inget ya ntar selese kuliah,” ujar Hana mengingatkan Bintang.

“Gue gak berani janji ya, Han. Soalnya gue ada kuliah tambahan hari ini,” jawab Bintang, ”Tapi kalo misalnya gak jadi. Ntar gue kabari,” sambungnya.

“Ok, Bin,” timpal Hana. Mereka pun berjalan menuju kelas masing-masing.

“Lo gak ada perasaan sama Hana, Bin?” tanya Damar setelah Hana menjauh dari mereka.

“Perasaan apa maksud lo?” tanya Bintang.

“Ya perasaan suka lah,” tutur Damar.

“Jangan ngaco deh, lo,” balas Bintang.

“Berarti boleh dong buat gue,” kata Damar sambil terkekeh.

“Lo tanya dong sama orangnya langsung. Kok malah minta persetujuan sama gue sih,” sahut Bintang.

“Kan lo tau sendiri gimana gue sama Hana,” balas Damar, “Lo sendiri yang bilang kalo gue sama Hana kayak Tom and Jerry,” sambungnya membuat Bintang tertawa.

“Terus?” tanya Bintang.

“Lo bantuin gue, Bin,” pinta Damar, “Lo comblangin gue sama Hana,” lanjutnya.

“Ntar gue pikirin,” balas Bintang sambil meletakkan ranselnya di samping kursi.

“Makasih ya, Bin,” ujar Damar, “Lo emang sahabat gue yang paling baik dah,” sanjungnya lagi. Bintang tidak menjawab, dia hanya tersenyum ke arah Damar.

Tidak terasa hari sudah siang, jam kuliah pun sudah berakhir. Dan ternyata hari ini Bintang tidak ada kuliah tambahan karena dosennya berhalangan hadir. Itu artinya dia akan menerima tawaran Hana tadi pagi. Bintang pun menguhubungi Hana menyampaikan hal itu.

“Gue kasih lo alamat temen gue ya,” kata Hana begitu bertemu Bintang di parkiran.

“Lo gak ke sana juga?” tanya Bintang.

“Gue ada acara,” jawab Hana, “Gue udah bilang kok ke temen gue kalo lo jadi ke sana,” terangnya.

“O gitu. Ya udah,” imbuh Bintang.

“Damar mana?” tanya Hana.

“Gue heran ya sama kalian berdua. Pas ketemu, berantem. Giliran gak ketemu, ditanyain,” sindir Bintang, “Jangan-jangan kalin jodoh,” candanya.

“Ih amit-amit,” balas Hana sambil mengangkat pundaknya.

“Dia pulang duluan tadi. Ada acara juga katanya,” tutur Bintang, “Ato jangan-jangan acaranya sama lo kali, Han. Kan lo juga ada acara,” sambung Bintang.

“Gak lah. Gue ada acara bareng orang rumah,” terang Hana.

“Oo …,” timpal Bintang sambil mengangguk.

“Ya udah deh, Bin. Gue duluan ya,” pamit Hana, “Gue udah kirimin lo alamatnya tu,” sambung Hana menunjuk ke arah ponsel Bintang yang ada di tangannya.

Bintang mengecek ponselnya, “Ok, Han!”

Hana masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan Bintang yang masih berdiri di samping sepeda motornya. Ia pun menuju ke alamat rumah yang dikirim Hana kepadanya. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit, Bintang sampai di alamat tersebut.

“Permisi!” ujar Bintang ketika sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah.

Tampak seorang perempuan berpakaian seragam seperti asisten rumah tangga menghampirinya, “Mas Bintang, ya?” tanyanya perempuan itu ramah.

“Iya, Mbak,” jawab Bintang.

“Masuk, Mas,” ajak perempuan itu sambil membuka gerbang, “Motornya di parkir di dalam aja, Mas,” lanjutnya. Bintang lalu menggeret sepeda motornya masuk ke halaman rumah tersebut.

Baru saja Bintang hendak duduk di teras depan rumah setelah dipersilahkan oleh perempuan tadi, tiba-tiba keluar seorang laki-laki. Bintang begitu terkejut melihat laki-laki itu. Laki-laki yang tidak asing lagi baginya. Tidak hanya Bintang, laki-laki itu pun tidak kalah terkejut. Dua orang yang sudah terpisah hampir 14 tahun lamanya. Ya. Lai-laki itu adalah Ayah Bintang. Itu artinya, adik dari teman Hana yang hendak dia ajarkan tidak lain ialah saudaranya sendiri, anak dari ayahnya. Sementara teman Hana yang dimaksudkan adalah saudara tiri Bintang.

            Mereka terdiam satu sama lain.

            “Bintang!” ucap laki-laki itu.

            “Anda masih ingat nama saya,” timpal Bintang dengan sinis.

            “Ayah sudah berusaha mencari kamu dan Mamamu, Nak,” tuturnya.

            “Jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi,” kata Bintang dan bergegas meninggalkan rumah Ayahnya tersebut.

            Bintang pun tidak jadi menerima tawaran Hana karena dia tidak ingin mengungkit lagi kesedihan Mamanya. Tentu saja Bintang menyampaikan alasan yang berbeda kepada Hana. Dia benar-benar tidak ingin berhubungan dengan Ayahnya yang sudah begitu banyak membuat hidupnya bersama Mamanya menderita. Bintang berusaha melupakan apa yang baru saja dia temui dan tidak ingin Mama tahu kalau dia bertemu lagi dengan Ayahnya.

“Biarlah jejak masa lalu menjadi kenangan yang untuk dikenang, bukan untuk diulang,” batin Bintang sambil terus melaju sepeda motornya.

 

SELESAI

Bab 14 Penyesalan Mama

7 0

“Gilang … !” teriak Mama begitu masuk pintu rumah.

“Maafin Galang, Ma!” seru Galang sambil terisak, “Galang gak sengaja, Ma!” terangnya.

            “Kamu memang anak tidak tau diri. Anak pembawa sial!” hardik Mama.

            “Galang bener-bener gak sengaja, Ma,” ucapnya lagi mencoba membela diri, “Tadi Galang sudah suruh Adek turun, tapi dia gak mau, Ma,” terangnya. Namun Mama tidak mau mendengarkan sedikitpun penjelasan Galang.

“Jangan banyak alasan kamu. Pergi jauh-jauh dari sini. Aku tidak sudi liat kamu lagi,” teriak Mama sambil mendorong tubuh Galang.

            Mama mengangkat tubuh Gilang yang tergeletak di lantai lalu membawanya ke dalam kamar. Galang mengikutinya dari belakang.

“Ngapain kamu masih di sini ah!” bentak Mama begitu melihat Galang ikut masuk ke dalam kamar. Galang terdiam sambil terisak.

“Aku bilang pergi!” usir Mama. Kemudian Galang berlari ke luar rumah. Ia menangis di teras.

Papa pulang dengan wajah panik. Dia melihat Galang yang sedang menangis di teras.

“Mama sama adikmu di mana?” tanya Papa.

“Di kamar, Pa,” jawabnya. Papa langsung menghampiri Mama dan Gilang.

            “Gimana Gilang, Ma?” tanya Papa.

            “Ini semua gara-gara anak pembawa sial itu, Pa!” timpalnya dengan emosi.

            “Sudah, Ma. Galang kan masih kecil. Dia belum tau apa-apa,” ujarnya mencoba menenangkan Mama.

            “Dia pasti sengaja mau mencelakai Gilang,” sambungnya.

            “Kita bawa Gilang ke dokter aja ya, Ma!” saran Papa.

            Galang dan Gilang adalah saudara kembar. Mereka baru berusia enam tahun. Gilang terlahir tidak seperti Galang. Dia memiliki sedikit kelainan. Gilang memiliki penyakit asma sejak lahir. Hal itu membuat perhatian Mama dan Papa lebih banyak untuk Gilang, terutama Mama. Mama selalu menyalahkan Galang setiap kali penyakit Gilang kambuh. Mama seakan menuduh penyakit Gilang adalah karena Galang. Seperti yang terjadi siang ini.

            ***

            “Galang, Mama titip adik sebentar ya,” pesan Mama kepada Galang, “Mama mau ke swalayan beli obat sama susu,” sambungnya.

            “Iya, Ma,” jawab Galang.

            “Ingat ya, jangan ajak adik main yang macem-macem,” ujar Mama lagi.

            “Iya, Ma,” sahut Galang. Mama pun pergi meninggalkan Galang dan Gilang.

            Sebenarnya Mama juga sayang dengan Galang, sama seperti sayangnya kepada Gilang. Akan tetapi, kadang-kadang Mama tidak bisa menahan emosi ketika melihat Gilang merasakan sakit ketika asmanya kambuh. Sehingga Mama melapiaskannya kepada Galang.

            Galang dan Gilang sedang asyik bermain di depan tv. Ketika sedang asyik bermain, Galang mengambil cemilan kacang di atas meja lalu memakannya.

            “Tunggu Kakak sebentar ya, dek. Kakak mau ambil minum ke dapur bentar,” pesannya kepada Gilang.

            “Iya, Kak,” jawab Gilang.

            “Jangan ke mana-mana, ya!” serunya lagi, “Jangan ke atas,” sambungnya.

            Cukup lama Galang di dapur. Begitu kembali ke depan tv, tempat dia bermain bersama Gilang, Galang tidak menemukan Gilang.

            “Dek! Adek!” panggil Galang. Gilang tidak menjawab.

            “Dek. Adek!” seru Galang lagi melihat ke luar rumah. Dia masih tidak menemukan Gilang.

            “Kakak!” teriak Gilang dari lantai atas, sontak membuat Galang kaget dan berlari menghampiri Gilang.

            “Turun, Dek!” seru Galang tetapi Gilang tampak tidak mengiraukannya. Ia berlari ke sana ke mari menghindari Galang. Tiba-tiba Mama pulang. Gilang semakin kegirangan dan berlari menuruni tangga. Galang pun ikut berlari mengikutinya. Ketika akan menuruni anak tangga terakhir, kaki Gilang tersandung. Galang dengan spontan hendak menarik baju Gilang agar tidak tersungkur, namun belum sempat tangannya meraih punggung baju Gilang, Gilang sudah tersungkur bertepatan dengan Mama yang masuk pintu rumah. Mama langsung histeris melihat Gilang tergelatak di lantai.

***

            “Kenapa Mama selalu nyalahin Galang,” lirihnya masih terisak di teras, “Apa Mama bener-bener gak sayang sama Galang,” sambungnya.

            Papa keluar sambil menggendong Gilang yang masih lemas dengan napas terengah-engah. Mama mengikutinya dari belakang. Galang beranjak dari tempat duduknya mendekati Papa.

            “Pa. Papa. Adek mau dibawa ke mana?” tanyanya.

            “Ke rumah sakit!” jawab Papa singkat.

            “Galang boleh ikut, Pa?” rengeknya.

            “Kamu diem di rumah. Jangan ikut!” bentak Mama, “Kamu cuma bisa bawa sial aja,” sambungnya sambil mendorong Galang menjauh dari mobil. Galang hanya menunduk sambil terusa terisak.

            “Galang diem di rumah ya, Sayang!” pesan Papa sedikit lembut, “Papa bawa adek ke dokter sebentar,” terangnya. Galang mengangguk.

            “Kak Galang!” terdengar suara Gilang memanggil Galang dari dalam mobil.

            “Adek. Adek cepet sembuh ya!” seru Galang dari balik kaca mobil. Mama langsung menutup pintu mobil sambil menatap Galang penuh kebencian. Kemudian mereka pergi meninggalkan Galang yang masih berdiri di depan gerbang rumah.

            “Kakak sayang Adek,” gumamnya.

            ***

            Gilang langsung ditangani oleh dokter. Dan dia tampak mulai membaik. Sehingga membuat Mama dan Papa sedikit tenang.

            “Ma. Jangan terlalu berlebihan sama Galang,” ujar Papa, “Kasihan, Ma. Dia masih kecil. Dia belum ngerti apa-apa,” lanjutnya.

            “Gilang kayak gini gara-gara dia, Pa!” timpalnya tetap kekeh menyalahkan Galang.

            “Mau sampai kapan kamu akan terus-terusan menyalahkan Galang, Ma!” serunya. Mama pun menangis.

            “Dia juga pasti gak pengen liat adiknya seperti ini, Ma!” ujar Papa lagi. Mama terdiam.

            “Mama bukannya gak sayang sama Galang, Pa,” tutur Mama, “Tapi kadang-kadang Mama tidak tahu harus menyalahkam siapa,” imbuhnya.

            “Lalu kenapa Galang?” tanya Papa, “Kenapa Galang yang harus menjadi pelampiasan Mama. Dia msih kecil, Ma,” sambungnya.

            “Galang! Maafin Mama, Sayang!” gumamnya, “Mama yang salah, Sayang,” sambil terus menangis.

            “Kita tidak usah menyalahkan siapa-sapa, Ma. Ini sudah menjadi takdir dari Allah. Mereka adalah anak-anak kita yang harus kita jaga san sayangi,” tutur Papa seraya memeluk pundak Mama.

            “Ma!” panggil Gilang, “Kak Galang mana, Ma?” tanyanya.

            “Kak Galang di rumah, Sayang,” timpal Papa.

            “Gilang mau ketemu Kak Galang, Pa,” pintanya.

            “Iya, Sayang. Kita pulang, ya. Ketemu Kak Galang di rumah,” sahut Papa.

            “Ma. Jangan marahin Kak Galang terus ya,” ucapnya kepada Mama, “Kak Galang gak salah, Ma. Tadi Kak Galang sudah nyuruh Gilang turun. Tapi Gilang gak mau,” terangnya.

            “Iya, Sayang. Mama janji. Mama gak akan marah lagi sama Kak Galang,” tutur Mama sambil mengusap kepala Gilang yang masih terbaring.

            “Permisi, Pak, Bu!” kata Dokter yang hendak memeriksa keadaan Gilang.

            “Gimana, Dok? Apa kami bisa bawa Gilang pulang ?” tanya Papa.

            “Bisa, Pak!” jawab Dokter, “Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Hanya butuh istirahat saja,” lanjutnya.

            “Baik. Terima kasih, Dok!” ucap Papa. Mereka pun bergegas pulang. Gilang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakaknya.

            Tidak berselang lama, Papa, Mama dan Gilang tiba di rumah.

            “Galang!” panggil Mama. Tidak ada jawaban. Mama mencari Galang ke dalam kamar.

            “Galang!” panggil Mama lagi. Tampak Galang sudah tertidur. Mama langsung memeluk tubuh Galang yang terbaring di atas tempat tidur sambil menangis sehingga membuat Galang terbangun.

            “Ma!” kata Galang, “Adek mana?” tanyanya masih setengah sadar.

            “Kak Galang!” seru Gilang dari balik pintu.

            “Adek!” balas Galang, “Adek udah gak apa-apa?” tanyanya. Gilang mengangguk.

            “Maafin Mama, Sayang,” ucap Mama, “Mama sayang sama Galang,” sambungnya sambil memeluk Galang.

            “Mama yang salah, Sayang,” tuturnya, “Mulai sekarang, Mama janji. Mama gak akan beda-bedain Gilang sama Galang. Kalian anak-anak kesayangan Mama sama Papa,” sambungnya.

            “Galang juga sayang sama Mama,” timpal Galang.

            Sejak saat itu Mama mulai berubah. Dia tidak lagi membeda-bedakan kasih sayang terhadap Galang dan Gilang. Mereka hidup dengan damai dan bahagia. Ditambah lagi kondisi kesehatan Gilang berasung-angsur mulai membaik dan penyakit asmanya sudah tidak separah dulu.

 

SELESAI

Bab 15 Posesif

9 0

Ponsel Vanya berdering beberapa kali. Tampak dia memang sengaja tidak mau mengangkatnya.

            “Van, hp lo bunyi terus tu,” ujar Marisa.

            “Biarin aja, Mar,” jawabnya tidak perduli.

            “Alah, palingan dari Yuda,” timpal Bela.

            “Pacar lo yang posesif tu, Van?” sahut Karin.

            “Ngapain sih lo masih pertahanin dia, Van,” sesal Marisa.

            “Lo putusin aja, Van,” saran Karin, “Kayak gak ada laki-laki lain aja,” ledeknya lagi sambil tersenyum.

            “Bukannya gue gak mau mutusin dia,” balas Vanya.

            “Terus!” seru Karin.

            “Gue punya alesan,” timpal Vanya.

            Marisa memegang tangan Vanya.

            “Van, kalo lo ada masalah. Lo cerita dong ke kita,” ucap Marisa.

            “Kita sahabatan sudah lama, Van. Masa lo masih gak percaya sama kita,” sambut Bela.

            “Siapa tau kita bisa bantu lo. Ato paling gak bisa ngurangin beban lo, Van,” tambah Marisa.

            Vanya, Marisa, Bela dan Karin adalah sahabat sejak mereka masih SMA hingga sekarang. Kini mereka sudah sama-sama bekerja. Di waktu libur, mereka masih sering berkumpul, menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukan mereka, seperti sore ini. Bela dan Karin bekerja sebagai karyawati di salah satu bank swasta, sedangkan Marisa bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan. Sementara Vanya berprofesi sebagai seorang guru.

            Marisa dan Bela sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Begitu juga dengan Karin, namun dia belum memiliki anak. Sedangkan Vanya, sampai sekarang belum menikah. Yuda, yang kini sedang menjalin hubungan dengannya sebentar lagi berniat untuk melamarnya. Hanya saja, Vanya masih ragu karena sifat Yuda yang sangat posesif.

            ***

            Lagi di mana, Sayang? Bunyi chat dari Yuda.

            Masih di sekolah Balas Vanya.

            Beneran? Tanya Yuda belum yakin.

            Iya Balas Vanya singkat.

            Coba fotoin biar aku percaya Balasnya lagi.

            Oh. Ok. Sekarang aku percaya Balasnya setelah Vanya mengirim foto seperti yang dia minta.

            Seperti itulah perlakuan Yuda kepada Vanya. Setiap apapun yang dilakukan oleh Vanya, Yuda merasa harus tahu. Hal inilah yang kadang-kadang membuat Vanya berfikir untuk memutuskan hubungannya dengan Yuda. Akan tetapi, Vanya harus berfikir puluhan kali untuk melakukannya. Vanya merasa memiliki banyak hutang budi kepada Yuda karena sudah begitu banyak membantu keluarganya, terutama ketika Ayah Vanya sakit. Yuda lah yang menanggung hampir semua biaya pengobatannya. Sebab waktu itu, Vanya belum bekerja.

            Ayah Vanya seorang pensunan guru dengan gaji yang tidak seberapa. Ditambah lagi Vanya memiliki dua orang adik yang masih sekolah dan membutuhkan biaya. Kehadiran Yuda seakan menjadi jalan Tuhan memberinya keringanan dalam menghadapi ujian ini.

            “Assalamualaikum,” ucap Vanya ketika tiba di rumah.

            “Waalaikumsalam,” sahut Ayah yang sedang duduk di teras.

            “Ayah kenapa di luar?” tanya Vanya.

            “Sumpek di dalem, Nak. Ayah pengen cari angin,” jawabnya.

            “Ibu mana?” tanyanya lagi.

            “Lagi sholat,” timpal Ayah, “Kok gak sama Yuda?” tanya Ayah.

            “Yuda masih di kantor, Yah,” timpal Vanya.

            “Ayah masuk ke dalam aja, yuk!” ajak Vanya, “Anginnya makin kenceng, nanti Ayah masuk angin lagi,” lanjutnya. Ayah menuruti ajakan Vanya.

            “Van. Boleh Ayah bicara sebentar!” ujar Ayah menghentkan langkah Vanya yang hendak masuk ke kamar.

            “Mau bicara apa, Yah?” balas Vanya.

            “Gimana hubungan kamu sama Yuda?” tanya Ayah.

            “Baik kok, Yah,” jawab Vanya singkat.

            “Bagaimana dengan pembicaraan kita kemarin? Apa kamu sudah bisa memberikan jawaban?” tanya Ayah mengingatkan Vanya. Vanya terdiam.

            “Iya, Van,” tiba-tiba Ibu keluar dari kamar dan menyambung pembicaraan Ayah dan Vanya, “Gak enak sama Nak Yuda dan keluarganya, kalo terlalu lama nunggu jawaban kamu,” sambungnya.

            “Kamu pikirkan diri kamu juga, Van. Semua teman-teman kamu sudah berkeluarga dan punya anak,” tutur Ayah.

            Beberapa hari yang lalu Yuda sempat membahas tentang hubungannya dengan Vanya. Yuda berencana untuk melamar Vanya. Tetapi, Vanya belum memberikan jawaban.

            “Apa yang kamu pertimbangkan, Nak?” tanya Ibu, “Dia sudah bekerja, punya penghasilan yang cukup, ditambah lagi keluarganya sudah kenal baik sama kamu, Nak,” lanjutnya.

            “Kasih Vanya waktu dulu, Bu, Yah,” pinta Vanya, “Vanya tidak ingin terburu-buru karena yang akan ngejalaninnya kan Vanya,” terang Vanya.

            “Sampai kapan?” tegas Ayah.

            “Nak Yuda sudah terlalu banyak membantu keluarga kita,” tutur Ibu, “Jangan sampai kita dicap keluarga tidak tahu balas budi, Nak,” sambungnya. Vanya terdiam.

            “Vanya mau sholat dulu, Bu, Yah. Nanti setelah sholat kita bahas lagi,” ujar Vanya lalu meninggalkan Ayah dan Ibu masuk kamar.

            Posel Vanya berbunyi. Chat dari Yuda.

            Sudah di rumah?

            Ping

            Ping

            Ping

            Ping

            Ping …

            Kok gak dibales. Lagi sama coeok lain ya!

            Puluhan kalimat yang sama berjejer di ponsel Vanya. Selain itu, puluhan panggilan juga tampak di ponselnya. Vanya seakan sudah hafal dengan tabiat Yuda. Ia akan langsung menuduh Vanya seperti itu jika terlambat membalas chat atau tidak mengangkat telpon darinya.

            “Ya Allah, apakah aku harus menerima lamaran Yuda?” lirihnya setelah selesai sholat.

            “Apakah aku siap menjadi istri Yuda. Dengan sifat yang sangat posesif itu,” sambungnya.

            “Jika memang dia adalah jodohku. Aku akan menerimanya dengan ikhlas, ya Allah,” ucap Vanya mengakhiri doanya.

            Akhirnya Vanya memberikan jawaban. Ia menerima lamaran Yuda. Tepatnya seminggu dari sekarang ia akan resmi menjadi calon istri Yuda. Sebelum acara lamaran tiba, Vanya mengajak sahabat-sahabatnya, Marisa, Bela dan Karin bertemu. Namun, Vanya tidak memberitahukan kepada mereka jika dia akan dilamar oleh Yuda. Marisa, Bela dan Karin sudah mengenal Yuda.

            ***

            “Minggu depan Yuda ngelamar gue!” ujar Vanya. Marisa, Bela dan Karin kaget.

            Secara bersamaan mereka berseru, “What?”

            “Lo gak lagi becanda kan, Van?” tanya Bela memastikan.

            “Gue serius!” timpal Vanya.

            “Lo udah pikirin mateng-mateng?” tanya Marisa.

            “Lo udah tau kan sifat Yuda kayak gimana!” seru Karin, “Dia posesif banget, Van,” sambungnya, “Apa lo sudah siep hidup sama orang kayak gitu?” pungasnya.

            Vanya tahu kalau sahabat-sahabatnya sangat peduli kepadanya.

            “Gue udah pikirin ini kok,” jawab Vanya singkat.

            “Van, kalo lo nerima lamaran Yuda cuma gara-gara mau bales budi. Jangan, Van!” saran Marisa, “Lo gak akan bahagia,” sambungnya.

            “Gue ngerti maksud kalian. Gue tau kalian peduli sama gue,” balas Vanya, “Tapi gue emang sudah memikirkan ini dengan mateng. Gue yakin, suatu saat nanti Yuda bakalan berubah,” terang Vanya.

            “Kalo itu emang udah jadi keputusan lo. Kita pasti akan dukung lo kok, Van,” ujar Karin.

            “Yang penting lo bahagia,” sambung Marisa.

            “Ya semoga aja Yuda berubah sesuai harapan lo, Van,” lanjut Karin.

            “Yey … akhirnya sahabat kita bakalan melepas status jomblonya,” seru Bela.

            “Kita doain yang terbaik aja buat lo, Van,” ucap Marisa.

            “Thanks ya!” balas Vanya, “Kalian emang sahabat gue yang paling baik,” lanjutnya.

            Mereka pun berpelukan.

            “Semoga ini akan menjadi langkah awalku untuk memulai kehidupan yang baru,” batin Vanya di tengah kebahagiaannya bersama sahabat-sahabatnya.

            “Langkah awalku mengukir jejak bersama Yuda si posesif. Berharap suatu saat akan menjadi jauh lebih baik,” sambungnya dengan senyum penuh harap.

            Vanya pun mengabadikan momen kebersamaannya bersama Marisa, Bela dan Karin lalu mengirimnya kepada Yuda melalui layar poselnya.

 

SELESAI

Bab 16 Papa Tetaplah Papa Nadya

32 0

“Assalamualaikum!” terdengar suara orang memberi salam di luar gerbang.

            “Waalaikumsalam!” jawab Mama Nadya sambil membuka pintu depan, “Eh Nak Windi,” sapanya kepada Windi, teman sekolah Nadya, putrinya.

            “Nadya ada Tante?” tanyanya dari balik gerbang.

            “Ada. Mari masuk!” ujar Mama menyuruh Windi masuk. Windi pun masuk.

            “Nadya di dalem. Nak Windi langsung masuk aja,” sambung Ibu.

            “Gak usah dah, Tante,” tolak Windi, “Windi tunggu di sini aja,” lanjutnya.

            “Sebentar ya, Tante panggil Nadya dulu,” kata Mama lalu masuk ke dalam rumah.

            “Nadya!” panggil Mama, “Ada Nak Windi di depan!” serunya. Terdengar suara langkah kaki Nadya berlari turun dari lantai atas.

            “Windi mana, Ma?” tanya Nadya.

            “Di depan,” sahut Mama, “Tadi Mama suruh masuk, tapi dia gak mau,” lanjutnya.

            “Kalian mau ke mana?” tanya Mama.

            “Mau ke rumah Desi sebentar, Ma,” jawab Nadya, “Mau kerjain tugas kelompok,” imbuhnya.

            “Pulangnya jangan sampe malem ya,” pesan Mama.

            “Gak kok, Ma,” timpal Nadya, “Insyaallah sebelum maghrib Nadya udah pulang kok,”  terangnya.

            “Ya udah. Hati-hati ya,” ucap Mama lagi.

            “Ok, Ma,” balas Nadya lalu mencium pipi sang Mama. Nadya pun keluar menemui Windi yang sudah menunggunya di depan.

            “Yuk!” ajaknya langsung kepada Windi.

            “Pamit dulu sama Mama,” kata Windi.

            “Udah kok tadi aku pamit,” balas Nadya.

            “Tapi, Nad. Aku kan belum,” kekeh Windi.

            “Mama ada kerjaan di belakang. Udah yuk!” paksa Nadya sambil menarik tangan Windi. Windi tidak bisa menolak, ia pun mengikuti langkah kaki Nadya yang berjalan dengan cepat.

            “Pelan-pelan, Nad,” keluh Windi. Tetapi Nadya tidak menghiraukannya. Dia justru semakin mempercepat langkahnya.

            Mobil grab sudah menunggu mereka di seberang jalan. Windi tampak ngos-ngosan. Mereka lalu masuk ke dalam mobil.

            “Jalan, Pak!” ujar Nadya kepada sang driver.

            Ternyata mereka menuju ke sebuah café. Bukan ke rumah Desi seperti yang Nadya katakan kepada Mama. Nadya akan bertemu dengan seseorang.

            Terdengar ponsel Nadya berdering.

            “Hallo,” sapa Nadya begitu mengangkat telepon.

            “Sudah di mana, Nad?” tanya seseorang dengan ramah dari seberang telepon.

            “Masih di jalan,” jawab Nadya, “Sebentar lagi sampe kok,” terangnya. Lalu Nadya menutup teleponnya.

            “Lo udah siap ketemu sama dia, Nad?” tanya Windi.

            “Insyaallah, Wid,” jawab Nadya, “Sudah sukup lama gue menunggu momen ini,” sambungnya.

            “Kenapa lo gak jujur aja sama Mama lo, Nad,” saran Windi. Nadya terdiam.

            “Gue takut, Wid,” balas Nadya, “Lo pasti udah bisa ngebayangin gimana reaksi Mama kalau tau gue ketemu sama dia,” tutur Nadya.

            “Iya, Nad. Terus mau sampe kapan lo akan terus-terusan kayak gini. Terus-terusan sembunyi ketika mau ketemu sama dia,” cecar Windi.

            “Gue juga gak tau, Wid,” balas Nadya menyenderkan kepalanya ke pundak Windi.

            Nadya tinggal bersama Mama dan Ayah tirinya. Mama dan Papa Nadya sudah berpisah empat tahun yang lalu. Ketika dia masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Mama dan Papanya berpisah karena masalah ekonomi.

Awalnya, Papa Nadya adalah seorang pegusaha yang sukses. Hidup keluarganya serba berkecukupan. Namun pada suatu hari Papa Nadya kena tipu sehingga dia terlilit hutang yang cukup banyak. Mau tidak mau semua harta harus direlakan untuk melunasi hutang-hutangnya. Mama Nadya yang sudah terbiasa hidup mewah tidak bisa menerima keadaan suaminya. Oleh karena itu, dia memilih untuk berpisah dengan Papa Nadya. Sejak saat itu Nadya jarang bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Papanya. Sementara Mamanya menikah lagi dengan rekan kerja Papanya Nadya.

Akhirnya, Nadya dan Windi tiba di café tujuan mereka. Mereka pun turun dan segera mencari seseorang yang hendak mereka temui. Nadya menyapu ke segala sudut café, tetapi belum juga menemukan seseorang yang dicarinya. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang memanggilnya.

“Nadya!” sapa orang tersebut membuat Nadya dan Windi kaget.

“Papa!” seru Nadya sambil menangis dan langsung memeluk Papanya. Windi terharu melihat sahabatnya.

“Kamu sehat, Sayang?” tanya Papa. Nadya tidak menjawab, dia masih memeluk tubuh Papanya dengan erat.

“Sayang. Kita duduk dulu, yuk!” ajak Papa. Nadya  melepaskan pelukannya.

“Kamu Windi?” tanya Papa kepada Windi yang berdiri di samping Nadya.

“Iya, Om,” jawab Windi.

“Papa ke mana aja?” tanya Nadya.

“Papa kerja, Sayang,” timpal Papa, “Kamu baik-baik saja kan, Sayang?” sambungnya.

“Iya, Pa,” balas Nadya, “Papa sendiri gimana?” tanya Nadya balik.

“Alhamdulillah Papa juga baik, Sayang,” sahutnya, “Mama kamu gimana?” tanyanya.

“Mama. Mama juga baik kok, Pa,” jawab Nadya.

“Syukur dah,” balas Papa, “Anak Papa sekarang sudah besar ya,” sambungnya.

Mereka pun berbincang cukup lama. Tidak terasa sudah hampir maghrib.

“Nad, pulang yuk!” ajak Windi.

“Astaga!” seru Nadya, “Sudah hampir maghrib,” sambungnya.

“Pa, Nadya harus pulang. Sudah hampir maghrib. Tapi Nadya bilang ke Mama kalo Nadya pulangnya gak bakalan sampe malem,” terangnya.

“Iya, Sayang. Gak apa-apa,” timpal Papa.

“Kita masih bisa ketemu kan, Pa?” tanya Nadya.

“Insyaallah, Sayang. Semoga kita masih bisa ketemu lagi,” jawab Papa. Sebelum mereka berpisah, tidak lupa Nadya memeluk Papanya dengan begitu erat. Beberapa kali Nadya menatap wajah Papa. Berat rasanya kaki melangkah meninggalkan Papa. Akan tetapi hari sudah semakin petang.

“Ya udah, Sayang. Kamu pulang, ya. Kasihan Windi juga capek nunggu,” sambung Papa. Windi hanya tersenyum ke arah Papa Nadya. Mereka pun berpisah.

Sesampainya di rumah, Mama sudah menunggu Nadya di teras dengan wajah cemas.

“Kok baru pulang!” serunya.

“Iya, Ma. Tugas Nadya baru selese,” jawabnya seraya menunduk, tidak berani menatap wajah Mama.

“Nadya!” panggil Mama, “Kamu jangan bohong sama Mama,” ketusnya.

“Nadya gak bohong, Ma,” sahut Nadya.

“Tadi Mama telepon Desi. Katanya gak ada kerja kelompok hari ini. Kamu ke mana?” cecarnya membuat Nadya tidak bisa menjawab.

“Jawab, Nad. Kamu ke mana?” serunya, “Jangan bilang kalo kamu pergi bertemu dengan laki-laki itu,” ancamnya, “Jawab!” teriak Mama.

“Kalo iya emang kenapa, Ma!” balas Nadya seraya berurai air mata, “Apa salah kalo Nadya ketemu sama Papa?” lanjutnya.

 “Berapa kali Mama sudah bilang. Jangan pernah kamu mencari dan bertemu lagi dengan laki-laki itu,” bentaknya.

“Sebenci itukah Mama sama Papa, sampai-sampai Mama gak mau menyebut Papa Nadya?” pungkas Nadya, “Papa salah apa sama Mama? Papa juga gak pernah mau liat hidup kita menderita. Tapi kenapa Mama sebenci itu sama Papa?” teriak Nadya.

“Kamu tidak tahu, Nad,” gumam Mama.

“Apa yang Nadya gak tau, Ma?” balas Nadya, “Nadya tau Mama hanya mementingkan harta dan kemewahan. Mama tidak mau hidup susah,” pungkasnya.

“Cukup, Nadya!” bentak Mama semakin kencang mambuat Nadya terdiam.

“Asal kamu tau. Bukan itu alasan satu-satunya Mama minta pisah sama Papa kamu. Papa kamu bangkrut gara-gara perempuan lain, Nad. Papa kamu rela berhutang sana-sini hanya untuk memenuhi gaya hidup perempuan selingkuhannya itu,” terang Mama sambil menangis histeris. Nadya mematung seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Maafin Nadya, Ma!” serunya sambil memeluk Mama, “Nadya gak tau kalo kejadiannya seperti itu, Ma,!” sambungnya. Mereka menangis sambil berpelikan satu sama lain.

“Sekarang kamu sudah tau cerita yang sebenarnya. Mama gak akan pernah ngelarang kamu untuk ketemu sama Papa kamu lagi, Nad,” imbuh Mama.

Sejuta perasaan berkecamuk di dalam hati Nadya. Akahkah dia akan tetap menemui sang Papa dan tetap menyayanginya sama seperti sebelum dia mengetahui cerita yang sebenarnya. Biarlah hanya Nadya yang tau.

“Papa tetaplah Papa Nadya sampai kapan pun. Tidak akan mungkin dan tidak akan pernah menjadi mantan Papa. Darah Papa akan tetap mengalir di dalam tubuhku,” batinnya.

 

SELESAI

Bab 17 Liburan Ceria Penuh Cerita

136 0

Libur telah tiba

Libur telah tiba

Hore! Hore! Hore!

 

Simpanlah tas dan bukumu

Lupakan keluh-kesahmu

 

Libur telah tiba

Libur telah tiba

Hatiku gembira

 

            Salah satu lirik lagu seorang penyanyi cilik dua puluh satu tahun lalu yaitu Shafa Tasya Kamila atau yang lebih akrab dipanggil Tasya Kmaila. Kini penyanyi cilik tersebut sudah menjadi seorang ibu dengan  satu orang anak. Sama sepertiku. Hehe … Tetapi bedanya kalau aku sudah punya dua orang anak. Kok malah jadi membandingkan diri sendiri dengan artis sih? Maaf … maaf … bukan itu yang ingin aku bahas di sini. Oke! Kita keep dulu tentang penyanyi ciliknya ya karena bukan itu yang aku bahas di sini.

            Liburan. Liburan. Liburan. Kata yang barangkali jarang diterima atau direspon dengan baik oleh suamiku. Dia jarang mengajakku dan anak-anak liburan. Apakah ada yang sama sepertiku? Cukup jawab di dalam hati aja ya! Sebagai seorang istri alangkah bahagianya jika suami sering mengajak liburan. Ya gak sih? Jawab di dalam hati juga ya! Eh malah curhat dan main tebak-tebakan pula aku. Maaf lagi ya! Karena ceritaku ini juga buka tentang curhatan ibu-ibu yang tidak pernah diajak liburan oleh suami.

            Momen liburan sekolah merupakan momen aku dan anak-anak total di rumah, tanpa ada rencana atau acara liburan. Dan aku tidak menuntut kepada suami karena aku sudah terbiasa dan menerima situasi ini. Persis seperti liburan semester anak-anak tahun ini. Temanya masih sama Diam di rumah.

            Dua hari libur berlalu. Begitu masuk hari ketiga aku mendapat chat dari wali kelas kedua anakku. Kebetulan mereka sekolah di tempat yang sama tetapi beda kelas.

            Assalamualaikum. Dalam rangka memperingati hari ibu, silakan anak-anak mengirim foto bersama ibu atau cerita tentang ibu dengan tema “Aku sangat mencintaimu Ibu”. Akan dipilih 3 foto terbaik dan 3 cerita terbaik. Selamat berkarya anak-anakku.

            Kurang lebih seperti itu isi chat tersebut. Seakan tugas sekolah kedua anakku kali ini bisa menjadi alasanku untuk mengajak suami liburan. Pikirku.

            “Mas, anak-anak ada tugas dari sekolah ni!” kataku memberitahukan suami..

            “Tugas apa?” tanyanya dengan nada cuek.

            “Mereka diminta untuk mengirim foto bersama ibu dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh besok tanggal 22 Desember,” terangku.

            “Lalu?” tanya suamiku lagi.

            “Ajak anak-anak liburan yuk, Mas. Jalan-jalan,” jawabku.

            “Apa hubungannya tugas anak-anak sama liburan, Bu?” tanya suamiku dengan wajah heran.

            “Ya ada lah, Mas. Kan nanti kita foto-foto tu di sana. Terus kita kirim deh ke gurunya anak-anak,” beberku dengan semangat.

            “Kan bisa kamu foto di rumah sama ana-anak. Gak mesti jalan-jalan!” imbuh suamiku.

            “Ya beda lah, Mas. Kan biar foto yang dikirim foto terbaru,” balasku.

            “Emang diminta foto terbaru sama gurunya anak-anak?” tanya suamiku lagi.

            “Ya gak juga sih,” jawabku polos.

            “Ya udah. Pake foto yang mana-mana aja,” saran suamiku. Aku pun melongos meninggalkan suamiku masuk kamar.

            “Bu, buatin aku kopi dong,” perintah suamiku. Aku tidak menjawab.

            “Bu!” serunya lagi.

            “Iya!” sahutku dengan wajah masih cemberut.

            “Besok aku cuti, Bu,” ujar suamiku tiba-tiba. Aku tidak meresponya. Aku fokus meracik secangkir kopi yang dia minta.

            “Besok kita jalan-jalan ke Kuta yuk sama anak-anak!” ajaknya, “Kita lihat Sirkuit Mandalika,” sambungnya. Wajahku pun langsung berubah mendengar ajakan suamiku tersebut.

            “Boleh. Boleh!” seruku sumringah.

            “Huh, tadi manyun sekarang kok udah langsung ceria aja,” ledek suamiku. Wajahku memerah.

            “Apa sih!” jawabku sambil meletakkan secangkir kopi di depannya.

            Sebagai penduduk asli Lombok, aku belum pernah melihat Sirkuit Mandalika. Satu-satunya sirkuit balap kelas internasional yang ada di Indonesia. Aku hanya mendengar dari cerita orang-orang yang pernah ke sana. Betapa bagusnya sirkuit tersebut yang resmi dibuka pada tanggal 12 Nopember kemarin. Mendengar suamiku akan mengajak aku dan anak-anak ke sana, tentu saja hatiku gembira seperti lirik lagu di atas. Pun kedua anak-anakku, tidak kalah gembiranya dariku.

            “Yey!” sorak kedua anakku sambil jingkrak-jingkrak, “Kita jalan-jalan!” seru mereka. Sebenarnya aku juga mau ikut bersorak sama seperti meraka, namun aku tahan. Jaim sama suami lah! Tidak sabar rasanya menunggu hari esok.

            Pagi pun tiba. Jam baru menunjukkan pukul 05.30.

            “Kak, bangun!” kataku membangunkan si sulung. Tanpa kuulang lagi, dia pun langsung beranjak dari tempat tidur dengan wajah ceria.

            “Dek, bangun!” ujarnya membangunkan adiknya tanpa kusuruh. Adiknya pun sama. Hanya satu kali perintah dia langsung bangkit dari tempat tidur.

            “Bu, Kakak langsung mandi ya!” ujarnya tidak seperti biasa.

            “Iya ya,” jawabku.

            “Adek juga ikut mansi ya, Bu!” seru ananku yang kedua.

            “Nanti sama Ibu ya mandinya, diemin Kakak duluan,” cegahku.

            “Gak mau!” teriaknya sambil membuka baju.

            “Iya ya ya,” balasku tidak ingin ribut karena masih terlalu pagi. Mereka pun mandi dengan begitu semangat.

            Tepat pukul 08.08 kami pun berangkat menggunakan sepeda motor. Maklumlah belum punya roda empat. Tetapi aku tetap bersyukur kok! Satu sepeda motor membawa empat orang.

“Bismillah, semoga perjalananku dan keluargaku aman sampai tujuan dan pulang kembali ke rumah dengan selamat,” batinku.

Sepanjang perjalanan kami ceria dan bersuka cita. Tidak henti-hentinya kami membahas setiap apa yang kami lihat di jalan. Kami benar-benar menikmati perjalanan liburan kami. Jarak rumah dan tujuan liburan kami cukup jauh menurutku, 79 kilo. Kami menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam.

Pukul 09.40 kami tiba di Sirkuit Mandalika. Kami bingung dengan jalur yang tampak begitu asing. Berbeda jauh dengan jalur belasan tahun yang lalu.

“Permisi, Pak. Kalau mau lihat Sirkuit dari jarak dekat lewat mana ya?” tanya suamiku kepada salah seorang Bapak-bapak penduduk asli juga karena dilihat dari penampilannya.

“Maaf, Pak. Saya juga kurang tau. Karena belum pernah ke situ,” jawab Bapak itu dengan polosnya. Aku begitu kaget mendengar jawaban Bapak tersebut.

“Apakah dia sengaja tidak mau memberitahu kami atau memang benar-benar tidak pernah ke sana,” pikirku, “Tapi masak iya orang yang rumahnya begitu dengan tempat yang amat populer ini belum pernah mendekat atau masuk,” gumamku.

“O iya, terima kasih, Pak,” timpal suamiku lalu kami pun melanjutkan perjalanan dengan meraba-raba.

Kami mengikuti beberapa orang yang tampak memiliki tujuan yang sama dengan kami. Akhirnya kami pun sampai dan tugu utama Sirkuit Mandalika. Kami pun lega.

Begitu kami hendak mendekati tugu tersebut, kami disambut dengan senyum ramah oleh tiga orang pemuda dengan tumpukan baju kaos di depan mereka. Ya. Mereka adalah penduduk asli yang menjajakan baju kaos yang bertuliskan “Mandalika International Street Circuit, Lombok Indonesia” lengkap dengan gambar sirkuitnya.

“Mari Pak saya bantu foto,” ujar salah seorang langsung menawarkan jasanya kepada kami dengan ramah. Kami pun menerima tawaran orang tersebut. Beberapa gambar kamipun langsung tersimpan di ponsel suamiku. Keseruan kami pun dimulai dari sini. Kami berbicang cukup lama dengan ketiga orang tersebut.

“Mas-Mas di sini mah enak. Bisa nonton balapan dari jarak deket,” kata suamiku memulai percakapan, “Gak perlu beli tiket,” sambungnya.

“Orang-orang selalu mikir kayak gitu, Pak!” keluh salah seorang dari mereka sembari memainkan batu kecil di atas aspal tempatnya duduk, “Itu tidak seperti yang Bapak dan orang-orang lain kira. Justru kami tidak nyaman dengan adanya Sirkuit ini, Pak,” terangnya.

Mereka pun bercerita tentang bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan hidup di tengah situasi yang serba dijaga dengan ketat. Mereka tidak bisa bebas bejualan di mana-mana dan lain sebagainya.

Dari cerita mereka aku pun berfikir bahwa tidak selamanya yang indah kita lihat di luar akan benar-benar indah di dalamnya juga. Dalam artian bahwa kita memang harus selalu mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini.

Kami pun berpisah dengan ketiga orang tersebut dan melanjutkan perjalanan liburan kami mengelilingi seputaran arena Sirkuit Mandalika. Dan kami pun mengabadikan momen liburan kami yang langka ini dengan deretan gambar-gambar melalui layar ponsel yang akan selalu kami kenang nantinya dengan berbagai kisah di dalamnya. Mengukir jejak yang hanya akan kami pertuan, aku, suami dan anak-anakku.

 

SELESAI

 

Bab 18 Pertemuan Julia dan Romi

18 0

“Jul, nanti pulang sekolah bisa gak Ibu minta tolong?” tanya Ibu kepada Julia.

            “Minta tolong apa, Bu?” tanya Julia sambil mengikat tali sepatunya di teras.

            “Mampir ke rumah Bu Susi ambil cucian,” jawab Ibu.

            “Yang di komplek sebelah tu ya, Bu?” tanya Julia memastikan.

            “Iya. Yang rumahnya paling ujung,” sahut Ibu, “Masih inget kan?” lanjutnya memastikan.

            “Iya, Bu. Masih kok!” timpal Julia, “Ya udah deh, Bu. Julia berangkat sekolah dulu ya,” pamitnya.

            “Iya. Hati-hati!” pesan Ibu.

            “O iya, Bu. Nanti Julia bilang apa ke Bu Susi!” seru Julia ketika baru hendak keluar gerbang rumah.

            “Tadi Ibu sudah kasih tau Bu Susi kalo kamu yang akan ke sana setelah pulang sekolah,” jawab Ibu dengan nada sedikit tinggi karena jarak dengan Julia cukup jauh. Julia tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jempolnya ke arah Ibu sebagai tanda kalau dia mendengar penjelasan Ibunya. Julia pun berjalan menyusuri gang menuju sekolah. Di tengah jalan, ia melihat Faris, teman sekelasnya baru saja keluar gerbang rumah.

            “Ris!” panggil Julia. Faris melihat ke arah Julia lalu melambaikan tangannya. Julia pun setengah berlari ke arah Faris.

            “Masih pagi udah keringetan aja, lo,” ledek Fahri karena melihat keringat Julia mengalir dari pelipisnya. Julia tidak mengindahkan Fahri dia masih ngos-ngosan.

            “Tapi biarpun keringetan, lo tetep keliatan cantik kok,” goda Fahri.

            “Apaan sih, lo. Masih pagi udah ni. Jangan mancing-mancing emosi dah,” sahut Julia.

            “Iya ya, maaf. Becanda juga,” timpal Fahri.

            “Udah ah. Buruan yuk!” seru Julia meninggalkan Fahri yang masih berdiri, “Ntar telat lagi kayak kemarin,” sambungnya. Fahri pun mengikuti Julia dari belakang.

            Baru saja hendak masuk gerbang sekolah, tiba-tiba mereka berpapasan dengan Lidya dan Niken, teman sekelas mereka juga.

            “Makin lengket aja lo sama tukang laundry tu, Ris,” sindir Lidya kepada Faris.

            “Ya iya lah, Lid. Makin banyak dikasih pengawangi soalnya,” sambung Niken sambil terbahak.

            “Jaga mulut kalian kalo ngomong!” bentak Faris kepada Lidya dan Niken. Bukannya ciut, mereka justru semakin tertawa.

“Ciee … dibelain ni ye!” ejek Niken lagi sambil mencolek lengan Julia.

            “Udah lah, Ris. Gak udah diladenin,” kata Julia sambil menarik tangan Faris agar menjauh dari mereka, “Masih pagi udah bikin dosa aja!” sambungnya.

            “Apa lo bilang!” bentak Lidya. Julia dan Fahri tidak menghiraukannya, mereka terus berjalan masuk ke dalam sekolah. Membuat Lidya semakin kesal.

            “Awas ya kalian!” gerutu Lidya, “Yuk, Ken,” lanjutnya mengajak Niken masuk. Niken pun mengikuti Lidya.

            Julia adalah siswa kelas XI di salah satu SMA di Kota Mataram. Ia termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Selain pintar, ia juga memiliki paras yang cantik, sehingga beberapa teman lawan jenisnya sering rebutan mencari perhatiannya. Termasuk Faris, sahabatnya sendiri. Tetapi Faris tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Julia, ia takut Julia akan kecewa dan tidak mau lagi bersahabat dengannya. Hal itulah yang membuat Lidya dan Niken selalu iri kepada Julia. Terutama Lidya. Dia tidak suka dengan persahabatan Julia dan Faris karena Lidya menyukai Faris.

            Ibu Julia bekerja sebagai tukang laundry. Oleh sebab itu, Lidya dan Niken seringkali menjadikannya sebagai bahan ejekan kepada Julia. Namun, Julia tidak terlalu menghiraukan apapun yang mereka katakan. Justru Faris lah yang sering membelanya ketika Lidya dan Niken mencari gara-gara dengan Julia. Seperti yang terjadi pagi ini.

            Julia memang anak yang baik. Di balik parasnya yang cantik dan juga otak yang cerdas, dia tidak pernah gengsi untuk membantu Ibunya bekerja. Ia sering membantu Ibunya mencuci, gosok bahkan mengambil ataupun mengantar pakaian para pelanggan. Tanpa merasa malu. Ayahnya meninggal dua tahun yang lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Sejak saat itulah, Ibunya harus bekerja keras sendiri agar Julia dapat terus melanjutkan sekolah.

            Tidak terasa, jam sekolah sudah berakhir. Julia tampak buru-buru bergegas pulang. Ia ingat dengan pesan Ibu. Kalau dia harus mengambil baju kotor ke rumah Bu Susi,salah satu pelanggan Ibunya.

            “Kok buru-buru amat, Jul,” tegur Faris.

            “Iya, Ris. Gue harus ngambil cucian ke salah satu pelanggan Ibu,” timpal Julia.

            “Gue temenin ya!” ujarnya menawarkan diri.

            “Gak usah, Ris. Gue bisa sediri kok,” tolak Julia.

            “Gak apa-apa, Jul. Lagian di rumah gue juga gak ada kerjaan,” kata Faris tetap memaksa ingin menemani Julia.

            “Ya udah deh. Terserah lo aja, Ris,” balas Julia karena tidak bisa menolak lagi.

            “Yey!” seru Faris kegirangan. Julia tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

            Ternyata Lidya mengamati Julia dan Faris sejak tadi. Ia semakin membenci Julia.

            “Awas lo, Julia. Gue gak bakalan biarin lo terus-terusan deket sama Faris,” gerutu Lidya seraya mengepalkan tangannya.

            Julia dan Faris pun pergi ke rumah Bu Susi. Sepanjang perjalanan mereka tampak begitu ceria. Tidak henti-hentinya bercanda. Mereka pun sampai di rumah Bu Susi.

            “Permisi!” seru Julia dari luar gerbang. Tidak ada jawaban.

            “Permisi!” serunya lagi.

            “Ya elah, Jul. Itu kan ada bel,” kata Faris menunjuk ke arah bel yang menempel di sudut tembok gerbang.

            “Eh iya. Maaf gak liat, Ris,” timpalnya sambil nyengir.

            “Makanya, punya mata dipake, jangan cuma jadi pajangan doang,” canda Faris.

            “Iya ya!” balas Julia lalu memencet bel tersebut.

            “Kayaknya gak ada orang dah!” kata Faris, “Pulang aja, yuk!” ajak Faris.

            “Tadi siapa yang maksa mau ikut!” ujar Julia melotot ke arah Faris.

            “Iya gue,” balas Faris, “Lagian kita udah nunggu lama ni, Jul. Yang punya rumah gak keluar-keluar kan!” lanjutnya.

            Baru saja mereka hendak meninggalkan rumah Bu Susi. Tiba-tiba keluar laki-laki dengan kulit putih bersih, postur tubuh tinggi, mata sipit seperti artis korea membuat Julia bengong.

            “Mau cari siapa?” tanya laki-laki itu. Julia terdiam dengan mulut sedikit terbuka dan mata melotot.

            “Maaf mau cari siapa?” tanya laki-laki itu lagi. Faris menepuk pundak Julia membuatnya kaget.

            “Mau cari Ibu,” jawabnya gelagapan.

            “Ibu siapa?” tanyanya lagi belum paham.

            “Ibu Susi, Om, eh Mas, eh Pak, eh Kak!” timpalnya lagi semakin salah tingkah.

            “Nak Julia, ya?” sapa Bu Susi dari teras rumah.

            “Iya, Bu!” jawab Julia.

            “Masuk sini!” seru Bu Susi menyuruh Julia masuk gerbang.

            “Tapi gerbangnya belum di buka, Bu,” timpal Julia.

            “Loh, kok belum dibuka sih, Rom!” ujar Bu Susi kepada laki-laki yang membuat Julia terpesona itu, namanya Romi. Romi pun segera membuka gerbang lalu mempersilakan Julia dan Faris masuk.

            “Makasih,” kata Julia. Faris mengikutinya di belakang.

            “Tadi pagi Ibu kamu nelpon, katanya kamu yang akan ke sini ambil cucian,” terang Bu Susi, “Tunggu sebentar ya. Ibu ambil dulu,” sambungnya.

            “Iya, Bu,” timpal Julia. Romi berjalan melewati Julia dan Faris yang masih berdiri di depan teras. Julia membuntuti Romi dengan tatapan tanpa kedipan sekalipun. Sementara Romi sama sekali cuek dan tidak mengidahkan mereka sedikitpun.

            “Woi!” seru Faris mengagetkan Julia, ”Ngapain sih lo dari tadi bengong mulu liatin tu orang,” kata Faris dengan wajah kesal karena merasa cemburu.

            “Ganteng banget, Ris,” katanya sambil merangkul lengan Faris. Untuk pertama kalinya Julia merangkul lengan Faris dengan mesra. Sehingga membuat Faris merasa sangat senang meskipun di dalam hatinya dia kesal karena sikap Julia yang begitu terpesona melihat Romi.

            Bu Susi pun keluar membawa dua kantong plastik cucian.

            “Maaf ya. Agak banyak,” katanya.

            “Iya, Bu. Kan ada temen saya yang bantun bawa,” timpalnya melihat ke arah Faris. Faris tersenyum kecut.

            “Iya ya,” balas Bu Susi lagi.

            “Ya udah, Bu. Saya permisi,” pamit Julia, “Besok saya ke sini lagi ya, Bu,” sambungnya.

            “Iya. Makasih ya!” ujar Bu Susi.

            “Iya, Bu. Sama-sama,” timpal Julia.

            “Hati-hati!” pesan Bu Susi. Julia dan Faris pun meninggalkan rumah Bu Susi.

            “Besok gue bakalan ke sini terus tiep hari, Ris,” pekiknya ketika baru keluar gerbang rumah Bu Susi.

Faris hanya menatap Julia. Ada rasa kesal dan cemburu di hatinya.

“Sebagai sahabat gue juga gak boleh egois. Gue juga harus ikur bahagia melihat Julia bahagia. Meskipun sebenarnya aku sakit,” batinnya.

 

SELESAI

Bab 19 Salah Sangka

128 0

“Kamu ini bagaimana, sih!” bentak Pak Yasin sembari berkacak pinggang, “Kerja gak pernah becus!” sambungnya.

Tampak laki-laki itu dengan segera membersihkan pecahan piring dan gelas yang ia jatuhkan tadi.

“Kalau begini terus, bisa rugi saya!” geramnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak sengaja,” jawab laki-laki itu.

“Maaf, maaf. Kamu pikir dengan maaf bisa menggantikan kerugian saya!” serunya, “Pokoknya sekali lagi kamu seperti ini. Kamu saya pecat!” ancamnya lalu meninggalkan laki-laki itu yang terus mengangkat pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.

“Sini biar Ibu bantu,” tiba-tiba Bu Jum datang dan membantu laki-laki itu mengepal lantai.

“Gak usah, Bu Jum. Biar saya saja,” katanya menolak bantuan Bu Jum.

“Gak apa, Gus. Biar cepet selese,” balas Bu Jum, “Nanti kamu kena marah lagi,” lanjutnya.

“Terima kasih ya, Bu Jum,” ucap Bagus. Mereka pun membersihkan lantai itu bersama-sama.

Pak Yasin adalah pemilik sebuah warung nasi. Dia terkenal sangat pelit dan perhitungan terhadap karyawannya. Ketika warung nasinya sepi pengunjung, dia sering kali memotong gaji karyawanya. Karena sifatnya yang seperti itu banyak karyawannya yang mengundurkan diri, tidak tahan bekerja di sana. Bagus merupakan karyawan baru di warung nasinya. Belum genap satu bulan Bagus bekerja. Sementara Bu Jum satu-satunya karyawan warung nasi Pak Yasin yang bekerja paling lama dan masih bertahan sampai sekarang.

Ketika Bagus hendak mengangkat nampan kecil berisi pecahan beling, tanpa sengaja tangannya tergores.

“Aduh!” jeritnya membuat Bu Jum kaget.

“Kamu kenapa, Gus?” tanyanya panik. Bagus tidak menjawab. Dia langsung menghisap jarinya yang berdarah.

“Tangan Bagus kena beling,” timpalnya.

“Makanya kamu hati-hati,” ucap Bu Jum, “Tunggu sebentar, Ibu ambilkan obat merah,” imbuhnya sambil berlari mencari obat merah di laci meja, tempat biasa Bu Jum menyimpannya.

“Gak usah, Bu Jum. Gak apa-apa kok. Cuma luka sedikit,” kata Bagus. Bu Jum pun kembali dengan membawa obat merah, kapas dan plester.

“Gak apa-apa gimana?” balas Bu Jum, “Liat tu darahnya makin banyak,” sambungnya.

“Lap pake tisu ini,” kata Bu Jum lagi menyodorkan beberapa lembar tisu. Bagus meraih tisu itu dari tangan Bu Jum lalu membersihkan darah yang mengalir dari telunjuknya.

“Kalo sudah, kamu tuang obat merah ini biar darahnya berhenti ngalir,” ujarnya lagi.

“Terima kasih banyak ya, Bu Jum,” ucap Bagus, “Bu Jum baik sekali sama Bagus selama ini,” sambungnya.

“Kamu sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri. Jadi gak usah sungkan-saungkan,” balasnya.

Bu Jum seorang Janda. Sudah lama suaminya meninggal. Semasa hidup, suaminya Bu Jum juga bekerja di warung nasi Pak Yasin. Sejak saat itu lah Bu Jum melanjutkan pekerjaan suaminya menjadi tukang masak di sana. Bu Jum pernah memiliki seorang anak, tetapi dia meninggal ketika baru berumur dua tahun. Seandainya dia masih hidup, barangkali akan seumuran dengan Bagus.

Di satu sisi, baru-baru ini ibu kandung Bagus meninggal. Dia tinggal bersama Bapaknya yang memiliki kebiasaan buruk, suka minum-minuman. Bapaknya lah yang memaksa dia untuk bekerja mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Bu Jum kok betah sekali bekerja sama Pak Yasin?” tanya Bagus sambil membersihkan tisu dan kapas bekas darah serta obat merah tadi.

“Bu Jum mau kerja apa lagi, Gus,” jawabnya, “Kan liat sendiri Ibu sudah tua begini,” lanjutnya.

“Anaknya Bu Jum di mana?” tanya Bagus lagi.

“Anaknya Ibu sudah lama meninggal, Gus. Pada saat dia baru berusia dua tahun,” timpalnya.

“Maaf ya, Bu. Saya tidak tahu,” kata Bagus merasa bersalah.

“Gak apa-apa, Gus,” timpal Bu Jum sambil tersenyum.

“Suaminya Ibu juga dulu bekerja di sini, jadi tukang masak, sama seperti Ibu,” cerita Bu Jum.

“Terus sekarang di mana?” tanya Bagus dengan polos.

“Suami Ibu juga sudah meninggal, Gus,” jawab Bu Jum.

“Maafkan Bagus lagi ya, Bu. Bagus bener-bener gak tahu,” ucap Bagus semakin merasa bersalah. Bu Jum hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Suaminya Ibu meninggal karena serangan jantung, Gus,” kenang Bu Jum.

“Berarti sekarang Bu Jum tinggal sendiri?” tanya Bagus.

“Iya, Gus,” jawab Bu Jum singkat, “Makanya Ibu bertahan di sini,” imbuhnya.

“Kamu sendiri kenapa kerja?” tanya Bu Jum balik, “Bukannya seharusnya kamu masih sekolah?” sambungnya.

“Ibu saya meninggal beberapa bulan yang lalu, Bu,” jawab Bagus.

“Bapak kamu?” sambung Bu Jum.

“Bapak saya di rumah,” timpal Bagus.

“Dia kerja?” imbuhnya lagi.

“Justru itu, Bu. Bapak saya gak mau kerja. Dia lebih suka nganggur dan minum sama temen-temennya,” terang Bagus, “Makanya saya yang harus bekerja, Bu,” lanjutnya.

“Sekolah kamu gimana?” imbuhnya.

“Ya terpaksa saya harus berhenti, Bu. Gak ada biaya,” timpalnya, “Seandainya Ibu masih ada. Gak bakalan hidup Bagus seperti ini, Bu,” keluhnya.

“Yang sabar saja ya, Gus,” saran Bu Jum, “Sebenarnya Pak Yasin tu baik orangnya. Tapi semenjak korona, pengunjung warung sepi, Pak Yasin jadi suka marah-marah, emosian,” ungkap Bu Jum.

“Emang Bu Jum sudah bekerja di sini berapa lama?” tanya Bagus.

“Hampir dua puluh tahun, Gus,” timpalnya.

“Bu Jum bekerja selama itu!” seru Bagus dengan wajah heran. Bu Jum mengangguk.

“Bu Jum gak bosen?” tanyanya lagi.

“Kalo masalah bosen ya bosen lah, Gus,” jawab Bu Jum, “Tapi ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur. Ibu cuma bisa kerja ini,” sambungnya.

“Dulu warung Pak Yasin setiap hari rame, Gus,” tutur Bu Jum, “Kami sering kewalahan melayani pengunjung,” lanjutnya, “Hampir setiap bulan kita dikasih bonus sama PakYasin,” kenangnya lagi.

“Tapi yang saya denger kan, Pak Yasin ini terkenal pelit dan perhitungan sama karyawannya,” sanggah Bagus. Bu Jum tersenyum.

“Itu kan kata orang-orang yang tidak mengerti dengan keadaa, Gus,” jawab Bu Jum.

“Maksud Bu Jum?” tanya Bagus bingung.

“Kayak yang Bu Jum bilang tadi, Gus,” timpalnya, “Pak Yasin seperti itu karena keadaan. Dulu semasa kondisi masih enak, mereka sangat menyanjung Pak Yasin. Tapi sekarang mereka, karyawan-karyawan Pak Yasin yang sudah tidak bekerja lagi di sini berlomba-lomba menjelek-jelekkan Pak Yasin. Mereka melupakan kebaikan orang yang sudah lewat,” tuturnya.

“Gitu ya, Bu,” gumam Bagus mulai paham.

“Udah ah, Gus. Kok malah jadi keenakan ngobrol,” kata Bu Jum sambil berajak dari tempat duduknya, “Kerja lagi yuk, ntar diliat sama Pak Yasin, kena marah lagi,” ajaknya.

“Iya, Bu,” timpal Bagus.

“Jangan kasih kena air dulu tangannya, Gus. Biar cepet kering,” pesan Bu Jum.

“Iya, Bu,” sahut Bagus lagi.

Lalu mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan. Bu Jum kembali ke dapur sementara Bagus merapikan meja bekas beberapa pelanggan makan tadi.

“Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati lagi. Biar gak kena marah Pak Yasin lagi,” gumam Bagus sambil terus mengelap meja. Sejak saat itu, berangsur-angsur Pak Yasin mulai berubah. Dia tidak lagi memarahi Bagus setiap saat. Selain itu, Bagus juga bekerja semakin rapi dan telaten.

 

SELESAI

Bab 20 Ada Apa Denganmu

74 1

Kehidupan Anwar berubah semenjak dia mengenal Kris. Anwar yang dulunya adalah suami dan juga Ayah yang penyayang serta perhatian terhadap keluarganya, kini dia menjadi sosok yang berbeda.

            “Mas, besok Putri ada lomba nari di sekolah. Kita hadir ya!” ajak Ratih.

            “Kamu saja yang ke sana,” timpal Anwar, “Aku udah ada janji,” imbuhnya.

            “Kasihan Putri, Mas!” kata Ratih.

            “Kan sudah ada kamu,” jawab Anwar acuh.

            “Kamu ada janji sama siapa?” tanya Ratih, “Kris?” lanjutnya memastikan.

            Anwar terdiam, “Kalo iya kenapa?” serunya.

            “Sejak kamu kenal sama dia, kamu berubah, Mas!” keluh Ratih, “Kamu lebih perduli dan sibuk dengan urusanmu sama dia,” sambungnya.

            “Sudah lah, jangan mulai lagi!” bentak Anwar, “Berapa kali aku bilang, jangan bawa-bawa orang lain ketika kita ada masalah,” lanjutnya. Ratih terdiam.

            “Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kris,” kata Anwar sambil memasang jasnya, “Lagian gurunya juga tidak akan keberatan kan kalo aku gak datang?” imbuhnya. Lalu Anwar pergi meninggalkan Ratih yang masih terdiam.

            “Kenapa kamu jadi kayak gini, Mas?” gumam Ratih dengan mata berkaca-kaca, “Mas Anwar yang sekarang, bukan Mas Anwar yang aku kenal dulu,” sambungnya.

            “Bun!” panggil Putri. Ternyata dari tadi Putri mendengar pertengkaran Bunda dan Ayahnya.

            “Iya, Sayang,” sahut Ratih mencoba terlihat baik-baik saja di depan Putri.

“Ayah gak mau nemenin Putri lomba nari ya besok?” tanya Putri dengan polosnya.

“Bukannya gak mau Sayang,” jawab Ratih, “Ayah ada kerjaan yang gak bisa ditinggal Sayang,” terangnya. Putri menunduk.

“Kan ada Bunda,” ujar Ratih sambil memegang pundak Putri.

“Ayah gak seperti dulu, Bun,” keluh Putri. Wajah Ratih heran.

“Ayah berubah, Bun,” sesal Putri

“Jadi power ranger, spiderman, batman atau apa dulu ni?” goda Ratih pura-pura tidak mengerti. Putri menggelangkan kepalanya.

 “Sini,” Ratih mengangkat tubuh Putri lalu memangkunya, “Dengerin Bunda,” sambungnya.

“Putri sayang gak sama Ayah?” tanya Ratih.

“Sayang,” jawab Putri.

“Sekarang Ayah lagi banyak kerjaan. Makanya jarang di rumah, Sayang,” terang Ratih.

“Tapi dulu Ayah selalu temenin Putri main, anterin Putri sekolah,” kenangnya, “Ayah sudah gak sayang sama Putri lagi,” gerutunya.

“Gak boleh gitu, Sayang,” ujar Ratih, “Ayah gak mungkin lah gak sayang sama Putri,” rayunya lagi.

“Kalo Ayah sayang sama Putri, pasti Ayah gak kayak gini, Bun,” keluhnya lagi.

“Besok kalo Ayah sudah gak sibuk, pasti Ayah temenin Putri main, anterin Putri ke sekolah, ajak kita jalan,” kata Ratih sambil memeluk tubuh Putri.

“Ya udah, sekarang Putri mandi ya, sudah siang, nanti terlambat ke sekolah lagi,” ujar Ratih.

“Iya, Bun,”  timpal Putri. Dia pun turun dari pangkuan Ratih lalu berlari ke kamar mandi.

“Maafkan Bunda, Sayang,” batin Ratih, “Bunda mengerti perasaan kamu, Sayang,” sambungnya.

***

“Ayah!” seru Putri.

“Duh anak Ayah sudah cantik,” sahut Anwar sambil memeluk lalu mendaratkan ciuman ke pipi putri kesayangannya, “Kita berangkat sekarang,” ajaknya, “Eh Bunda mana?” tanyanya.

“Bunda ayo cepetan!” seru Putri memanggil Ratih, “Nanti mallnya tutup,” imbuhnya tidak sabaran.

“Iya, Sayang,” timpal Ratih, “Yuk!” ajaknya.

Ratih, Anwar dan Putri akan pergi jalan-jalan. Hampir setiap hari libur mereka selalu menghabiskan waktu bersama penuh keceriaan. Anwar senantiasa meluangkan waktunya untuk menemani Putri bermain, mengajak keluarganya berlibur.

Tidak berselang lama, mereka pun tiba di mall.

“Yey …!” seru Putri kegirangan.

“Awas pelan-pelan, Sayang!” ujar Ratih karena melihat Putri hendak turun dari mobil dengan buru-buru karena sudah tidak sabaran.

Baru saja Anwar turun mobil dan hendak menutup pintunya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.

“Anwar!” panggil orang itu. Anwar menoleh ke arahnya, tetapi hanya tersenyum.

“Masih ingat aku gak?” ucap laki-laki itu. Anwar tampak berpikir. Mencoba mengingat-ingat.

“Kris!” serunya sambil menjabat tangannya.

“Kirain sudah lupa,” balas Kris.

“Ya gak lah,” timpalnya, “Kamu apa kabar?” tanya Anwar, “O iya, kenalin, Ratih, istriku dan ini anakku, Putri,” tutur Anwar memperkenalkan Ratih dan Putri. Ratih tersenyum ramah ke arah Kris.

“Kris!” ujarnya memperkenalkan diri kepada Ratih sambil menyodorkan tangannya hendak bersalaman, namun Ratih tidak menyambutnya, dia hanya mengangguk. Ratih memang akan seperti itu, dia tidak akan bersentuhan atau bersalaman dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Wajah Kris berubah.

“Hey, Putri!” sapa Kris. Putri bersembunyi di balik kaki Ratih.

“Gak boleh gitu, Sayang,” ucap Anwar, “Salam sama Om dulu,” lanjutnya. Sama seperti Ratih, Putri pun enggan bersalaman dengan Kris.

“Gimana kabar kamu, Kris?” tanya Anwar coba mencairkan suasana.

“Aku baik,” jawab Kris singkat.

“Ayo, Yah!” rengek Putri menarik tangan Anwar mengajaknya masuk ke dalam mall.

“Iya, ya!” timpal Anwar.

“Kalo kamu buru-buru, lain kali aja kita ngobrolnya,” kata Kris.

“Maaf ya Kris!” balas Anwar karena merasa tidak enak dengan Kris.

“Gak apa-apa,” timpal Kris, “Aku mengerti kok!” sambungnya.

“Ato gini aja, kapan-kapan kamu main ke rumah. Biar kita bisa ngobrol sante sambil ngopi. Gimana?” ucap Anwar.

“Boleh, boleh!” timpal Kris dengan semangat.

“Minta nomor poselmu, biar aku kirim alamat rumah,” lanjut Anwar. Kris pun membacakan nomor ponselnya lalu Anwar menyalin di ponselnya juga.  Mereka pun berpisah. Anwar, Ratih dan Putri meninggalkan Kris.

“Dia siapa, Mas?” tanya Ratih begitu sudah menjauh dari Kris.

“Dia temen SMA aku. Bukan temen sekelas sih,” jawabnya, “Tapi dia temen OSIS,” lanjutnya.

“Oo,” timpal Ratih sambil mengangguk.

***

Tidak pernah terbayang, ternyata pertemuan Anwar dengan Kris merupakan awal dari kehangatan keluarga mereka mulai berkurang. Sejak saat itu Kris sering main ke rumah bahkan hampir setiap hari. Jika Kris tidak ke rumah, maka Anwar lah yang akan mencarinya. Setiap kali Ratih bertanya Anwar hendak ke mana, selalu ia akan memberikan jawabn yang sama, “Ada janji sama Kris.” Anwar mulai jarang memperhatikan Putrinya, tidak lagi meluangkan waktu untuk bermain bersama Putri, tidak pernah mau lagi mengantar Putri ke sekolah. Sifatnya pun mulai berubah, dia lebih sering marah-marah jika di rumah.

Bukannya Ratih tidak pernah protes dengan perubahan sikap Anwar yang seperti itu. Tetapi, setiap kali Ratih mengeluh dan ingin menyampaikan perasaan keberatannya pasti akan berakhir dengan pertengkaran. Hingga saat ini, Ratih masih belum tahu ada apa dengan Anwar dan Kris. Apa yang membuat Anwar bisa berubah seperti ini. Sampai akhirnya Ratih memutuskan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.

“Aku  mau Mas Anwar kembali seperti dulu,” batinnya, “Aku kasihan sama Putri, Mas,” imbuhnya. “Ya Allah berikan aku petunjuk ada apa sebenarnya Mas Anwar sama Kris. Jika memang benar mereka sedang ada hubungan kerja, apakah harus sampai seperti ini? Mas Anwar mengabaikan aku dan Putri,” gumamnya lagi.

Ratih pun beranjak dari kursi lalu bersiap-siap untuk mengantar Putri sekolah. Sembari terus memikirkan Anwar.

 

SELESAI

user

26 December 2021 01:07 yenipalamia Semangat kakak. Mampir juga di karyaku "Menembus Kabut" Yuk saling suport. Makasih

Bab 21 Rahasia Olivia dan Delon

14 0

Suasana kelas XII Bahasa 1 tiba-tiba hening. Tidak seperti biasanya.

            “Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Indah, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas mereka.

            “Pagi, Bu … !” sahut seisi kelas dengan serentak.

            “Hari ini kita kedatangan siswa baru,” ucapnya.

“Silakan masuk!” Bu Indah mempersilakan siswa baru yang dimaksud tersebut masuk ke ruang kelas. Tampak laki-laki dengan penampilan rapi dan juga paras yang tampan muncul dari balik pintu. Sontak membuat seisi kelas histeris terutama yang perempuan.

“Sudah, sudah!” teriak Bu Indah meminta anak-anak untuk tenang.

“Wuuu …!” seru siswa laki-laki yang tampak tidak suka dengan reaksi teman-teman perempuannya.

“Semua tenang!” pekik Bu Indah semakin keras karena situasi kelas semakin ribut. Mereka pun kembali tenang.

“Silakan kamu perkenalkan diri,” perintah Bu Indah kepada siswa baru tersebut.

“Perkenalkan saya Delon Atmajaya Diningrat. Kalian bisa panggil saya Delon,” ucapnya memperkenalkan diri.

“Hai Delon!” seru Winda, siswi yang terkenal centil di kelas, “Gue Winda,” sambungnya memperkenalkan diri membuat teman-temannya bersorak “Huuu … !“

“Gak ada yang nanya juga!” seru Bimo.

“Hai Windah,” balas Delon sambil mengangkat tangannya ke arah Winda.

“Sudah sudah,” ujar Bu Indah lagi, “Silakan Delon lanjutkan,” sambungnya menyuruh Delon melanjutkan memperkenalkan diri.

“Saya pindahan dari salah satu SMA di Bandung,” tuturnya.

“Ooo dari Bandung!” seru mereka lagi dengan serentak, persis seperti paduan suara.

“Bu guru rasa, cukup perkenalannya. Nanti bisa dilanjutkan di belakang,” kata Bu Indah, “Silakan kamu duduk di sebelah Yuda,” lanjutnya menyuruh Delon mengambil posisi duduk di sebelah Yuda, tepat di belakang Winda.

“Terima kasih, Bu!” ucap Delon. Ia pun berjalan melewati beberapa deret temennya. Semua mata tertuju padanya.

“Semoga Nak Delon betah di sini,” sambung Bu Indah.

“Baik sekarang kita lanjutkan pelajarannya,” kata Bu Indah.

“Kirain gak belajar, Bu!” sahut Erik sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas.

“Terus kalo tidak belajar. Kamu mau ngapain?” tanya Bu Indah.

“Tugas yang Bu Guru berikan pada pertemuan sebelumnya, silakan kalian kumpulkan nanti setelah jam pelajaran berakhir,” kata Bu Indah, “Sekarang kalian buka halaman 78. Kita akan membahas tentang kalimat pasif dan kalimat aktif!” imbuhnya. Suasana kelas pun sepi, mereka tampak serius mengikuti pelajaran.

Tidak terasa, jam pelajaran Bu Indah berakhir. Bel istirahat pun sudah terdengar.

Winda menghampiri Delon, “Ke kantin, yuk!” ajaknya.

“Iya, duluan aja,” sahut Delon.

“Lo kan belum tau kantin di mana. Ntar lo nyasar lagi,” ujarnya lagi coba merayu Delon. Delon hanya menggelengkan kepala.

“Win, lo gak ke kantin?” seru Fani.

“Ayo buruan, ntar gak kebagian makanan lagi,” sambung Nia.

“Dasar perut gentong,” timpal Fani, “Ayo, Win!” ajak Fani lagi.

“Ya udah. Gue duluan ya, ntar lo nyusul,” katanya kepada Delon yang tampak tidak terlalu memperdulikannya. Winda pun pergi meninggalkan Delon bersama Fani dan Nia.

Delon menghampiri Olivia yang dari tadi memperhatikannya.

“Lo pasti gak nyangka kan kalo kita bakalan satu sekolah?” ujarnya kepada Olivia, “Satu kelas malah,” sambungnya.

“Jangan sampe anak-anak tau semua tentang hubungan kita,” gertak Olivia, “Kalo sampe anak-anak tau, awas aja lo!” ancam Olivia lagi.

“Tenang aja. Lo gak perlu khawatir. Lagian gue juga gak suka kok kalo anak-anak tau hubungan kita,” balas Delon tidak mau kalah.

Olivia dan Delon adalah saudara tiri. Beberapa bulan yang lalu Papa Olivia menikah dengan Mamanya Delon.  Olivia belum bisa menerima Mamanya Delon sebagai Ibu Tirinya. Begitu pun juga dengan Delon, dia pun belum menerima jika Papanya Olivia harus menjadi Papa Tirinya.

Mamanya Olivia meninggal satu setengah tahun yang lalu karena kanker. Pada saat dia masih duduk di bangku kelas X. Sejak saat itu dia hidup berdua bersama Papanya.

***

“Sayang, besok Papa mau ke Bandung. Ada kerjaan,”  kata Papa kepada Olivia sambil menikmati sarapan.

“Papa nginep?” tanya Olivia.

“Iya, Sayang,” jawab Papa singkat.

“Berapa lama?’ tanya Olivia lagi.

“Kemungkinan satu minggu,” timpal Papa, “Tapi kalo misalnya kerjaan Papa cepet selesai, ya gak sampe seminggu Papa di situ,” terangnya.

“Oo…” balas Olivia.

“Kamu gak apa-apa kan Papa tinggal?” tanya Papa.

“Olivia mau bilang apa-apa juga gak Papa bakalan tetep pergi kan?” sahut Olivia sambil cemberut.

“Duh, anak Papa sudah gede juga masih saja manja, ya,” goda Papa, “Papa janji, pulang dari Bandung, kita liburan,” sambungnya berusaha menghibur Olivia.

“Beneran ya, Pa?” sahut Olivia.

“Iya, Papa janji,” timpal Papa.

“Yey …!” serunya.

“Ya udah, jalan yuk, nanti kamu telat lagi,” ajak Papa.

***

Satu minggu lebih, Papa belum juga pulang dari Bandung.

“Hallo, Pa!” sapa Olivia.

“Iya, Sayang,” sahut Papa dari seberang telpon.

“Papa kapan pulang?” tanyanya.

“Papa masih banyak kerjaan, Sayang.belum bisa pulang,” jawab Papa, “Ya udah. Nanti Papa telpon lagi ya. Papa lagi ada klien,” sambungnya.

Tut … tut … tut …

Telpon pun putus.

“Ma, Oliv kangen sama Mama,” gumam Olivia memeluk bingkai foto Mamanya, “Papa sekarang selalu sibuk. Jarang perhatian sama Olivia,” sambungnya sambil meneteskan air mata.

“Kenapa, Non?” tanya Mbak Tin, pembantu di rumahnya.

“Oliv kangen sama Mama, Mbak Tin,” timpalnya.

“Kali Non Oliv kangen sama Mama. Non kirimkan doa ke Mama. Insyaallah Mama Non Olivia pasti akan seneng sekali di sana,” saran Mbak Tin. Olivia semakin terisak.

“Yang sabar ya, Non,” ujar Mbak Tin lagi.

“Mbak Tin,” kata Olivia.

“Iya, Non,” sahutnya.

“Kalo seandainya Papa menikah lagi gimana?” tanya Olivia tiba-tiba.

“Waduh, Mbak Tin gak tau ya, Non,” timpal Mbak Tin bingung.

“Oliv gak mau punya ibu tiri, Mbak Tin,” serunya.

“Kenapa Non Oliv ngomong seperti itu?” tanya Mbak Tin lagi.

“Mama Oliv cuma Mama. Oliv gak mau punya Mama lagi,” imbuhnya lagi. Olivia pun memeluk Mbak Tin. Mbak Tin sudah seperti keluarganya sendiri.

***

Apa yang Olivia takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Tidak lama setelah Papanya pulang dari Bandung. Tiba-tiba Papa memperkenalan Olivia dengan seorang perempuan yang dia sebut sebagai calon ibu tiri Olivia. Olivia tidak bisa menerimanya begitu saja. Tetapi, Olivia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menerima jika Papanya memang akan menikah lagi. Calon Mama Tirinya juga memiliki seorang anak yang seusia dengannya. Delon, Delon Atmajaya Diningrat, yang kini satu kelas dengannya.

Olivia harus belajar menerima kenyataan dalam hidupnya. Bahwa tidak selamanya apa yang dia miliki saat ini akan berujung tidak baik baginya. Berdamai dengan keadaan adalah pilihan terbaik. Akankah Olivia bisa menerima ibu tirinya? Akankan Olivia bisa menerima Delon sebagai saudara titinya?

“Lambat laun semua akan berjalan normal dan baik-baik saja,” batinnya. Entah sampai kapan Olivia dan Delon akan menyembunyikan status mereka dari teman-teman mereka. Biarlah waktu yang akan menjawab.

Jejak tetap akan berjejak, bagaimana pun usaha kita untuk menghapusnya.

 

SELESAI

Bab 22 Keikhlasan Pak Haris

112 0

“Kopinya, Pak!” ujar Ibu.

            “Terima kasih, Bu!” timpal Bapak, “Anak-anak sudah tidur?” sambungnya.

            “Sudah dari tadi, Pak,” jawab Ibu, “Bapak jadi ke rumah Ibu?” tanya Ibu.

            “Iya,” sahut Bapak singkat.

            “Terus gimana?” kata Ibu penasaran.

            “Bapak gak enak mau ngomong, Bu,” tutur Bapak.

            “Berarti besok Adi gak bisa bayar SPP dong, Pak,” sesal Ibu, “Itu artinya, besok Adi akan dikeluarkan dari sekolah,” lanjutnya. Bapak terdiam.

            “Ini sudah ketiga kalinya kita ditagih sama gurunya Adi, Pak!” gerutu Ibu.

            “Sabar, Bu,” kata Bapak, “Insyaallah pasti akan ada jalan,” imbuhnya.

            “Jalan apa lagi, Pak,” sahut Ibu, “Ibu malu kalo harus ngutang lagi sama tetangga,” keluhnya, “Utang Ibu untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah numpuk di warung,” terangnya.

            “Ato kita jual saja motor itu, Bu,” ujar Bapak.

            “Terus Bapak mau kerja pake apa?” timpal Ibu. Bapak kembali terdiam. Kemudian ia menyeruput kopi panas.

            “Assalamualaikum,” terdengar suara orang mengucap salam.

            “Waalaikumsalam,” sahut Bapak lalu bergegas membuka pintu, “Eh Pak Salim. Tumben malem-malem,” sapa Bapak dengan ramah.

            “Maaf mengganggu, Pak Haris,” kata Pak Salim.

            “Gak apa-apa. Mari masuk, Pak,” ajak Bapak. Pak Salim pun masuk.

            “Mau minum apa?” tanya Bapak.

            “Gak usah repot-repot, Pak. Saya cuma sebentar kok,” tolaknya.

            “Ada apa ya, Pak?” tanya Bapak lagi.

            “Ini Pak Haris. Saya ke sini mau pinjem uang untuk beli susu anak saya, Pak. Dari tadi anak saya terus-terusan nangis, susunya habis,” tutur Pak Salim. Wajah Pak Haris berubah.

            “Insyaallah besok saya ganti,” sambung Pak Salim.

            Ibu sengaja tidak mau keluar. Dia mendengar percakapan suaminya dan Pak Salim dari ruang tengah.

            “Dia pikir kita banyak duit apa. Minjem-minjem ke sini,” gerutunya.

            Pak Haris tidak tega mendengar cerita Pak Salim. Muncul dalam hatinya bagiamana caranya ia bisa membantu Pak Salim. Sementara dia sendiri sedang membutuhkan uang untuk membayar SPP Adi.

            “Pak Salim butuh berapa?” tanya Pak Haris.

            “Berapa aja Pak Haris, yang penting cukup buat beli susu,” timpal Pak Salim dengan penuh semangat.

Pak Haris ingat, uang yang ada di dompetnya saat ini hanya tinggal selembar, pecahan lima puluh ribuan. Uang tersebut adalah hasil dia ngojek sore tadi. Jatah untuk istrinya.

            Pak Haris lalu mengeluarkan uang tersebut dari dalam dompetnta, “Ini Pak!” serunya sambil mengodorkan uang kepada Pak Salim. Pak Salim pun menerima uang tersebut dengan wajah begitu lega.

            “Terima kasih banyak, Pak Haris,” ucapnya, “Insyaallah besok saya ganti,” sambungnya mengulang kaliamtnya tadi. Pak Haris mengangguk sambil tersenyum.

            “Kalau begitu, saya permisi, Pak Haris. Saya mau ke warung dulu beli susu,” ujar Pak Salim.

            “O iya, Pak Salim,” timpal Pak Haris.

            “Sekali lagi terima kasih banyak Pak Haris. Maaf merepotkan,” imbuh Pak Salim sambil bangkit dari tempat duduknya.

            “Iya, Pak Salim. Sama-sama,” timpal Pak Haris,”Gak apa-apa kok,” sambungnya.

            “Assalamualaikum,” ucap Pak Salim lalu meninggalkan rumah Pak Haris.

            “Waalaikumsalam,” jawab Pak Haris.

            “Bener-bener, ya, Pak” tiba-tiba Ibu keluar dari dalam kamar dengan wajah kesal.

            “Kasihan Pak Salim, Bu,” timpal Bapak, “Dia mau beliin anaknya susu,” terangnya..

            “Kan Bapak tahu kalo kita lagi butuh duit,” gerutu Ibu, “Pak, kalo mau nolongin orang mesti liat-liat dulu keadaan kita sendiri,” imbuhnya semakin kesal.

            “Gak boleh begitu, Bu,” timpal Bapak, “Insyaallah kalo kita membantu orang yang benar-benar sedang kesulitan, Allah akan memudahkan juga urusan kita,” terangnya.

            “Sudah lah, Pak. Jangan ceramah,” sanggah Ibu, “Pokoknya Ibu gak mau kalo sampe Adi dikeluarkan dari sekolah,” lanjutnya lalu meninggalkan Bapak.

            “Ya Allah, maafkan istriku,” gumam Bapak. Kemudian Bapak melanjutkan minum kopinya yang sudah tidak lagi panas.

            Tidak terasa hari sudah pagi. Ibu sudah tampak sibuk beres-beres rumah sambil menyiapkan sarapan untuk Bapak dan kedua anaknya.

            “Adi, bangun, Nak! Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah!” seru Ibu membangunkan Adi yang masih tertidur pulas.

            “Adi gak mau sekolah, Bu,” timpalnya .

            “Kenapa?” tanya Ibu.

            “Adi malu, Bu. Adi belum bayar SPP,” timpalnya. Ibu terdiam.

            “Ayo bangun, Di!” seru Bapak, “Insyaallah kalo Bapak ada rezeki hari ini. Bapak bisa bayarkan kamu SPP,” sambungnya. Adi pun bangun dengan malas dan langsung menuju kamar mandi.

            “Bapak jangan cuma bisa janji doang. Kasihan Adi,” kata Ibu.

            Tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam, “Assalamualaikum!”

            “Waalaikumsaam,” jawab Ibu dan Bapak bersamaan.

            “Siapa sih masih pagi sudah bertamu,” gumam Ibu. Sementara Bapak tampak bergegas ke depan untuk membuka pintu.

            “Eh Bu Marni!” sapa Pak Haris, “Ada apa, Bu?” tanyanya.

            “Maaf menganggu pagi-pagi, Pak Haris,” kata Bu Marni.

            “Ada apa ya, Bu?” tanya Pak Haris lagi.

            “Ini ada titipan dari suami saya untuk Pak Haris,” timpalnya sambil menyodoran sebuah amplop.

            “Apa ini, Bu?” tanya Pak Haris heran.

            “Kata suami saya. Kemarin Pak Haris sudah menemukan surat-surat berharga milik suami saya yang terjatuh di jalan,” timpal Bu Marni, “Suami saya belum sempat mengcapkan terima kasih sama Bapak,” tuturnya.

            ‘Gak usah, Bu. Saya ikhlas kok,” balas Pak Haris.

            “Eh Bu Marni,” sapa Ibu keluar menghampiri suaminya dan Bu Marni ke teras rumah.

            “Iya, Bu Nur,” balas Bu Marni, “Ini saya menyampaikan titipan suami saya untuk Pak Haris,” sambungnya.

            “Mari masuk, Bu,” ajak Bu Nur.

            “Gak usah, Bu Nur. Saya mau langsung permisi,” tolak Bu Marni, “Belum selese beres-beres di rumah,” terangnya.

            “Mohon diterima ya, Pak Haris,” kata Bu Marni, “Ini memang tidak seberapa. Tetapi sebagai bentuk ucapan terima kasih suami saya ke Pak Haris,” sambungnya lagi.

            Pak Haris pun menerima amplop tersebut, “Terima kasih ya, Bu Marni!” ucapnya.

            “Iya Pak. Sama-sama,” timpal Bu Marni, “Kalo begitu saya permisi ya, Pak Haris, Bu Nur,” pamit Bu Marni.

            “Iya, Bu,” balas Pak Haris dan Bu Nur.

            “Assalamualikum,” ucapnya lalu meninggalkan rumah Pak Haris.

            “Waalaikumsalam,” sahut Pak Haris dan Bu Nur. Bu Nur melirik ke arah tangan suaminya yang memegang amplop pemberian Bu Marni tadi.

            “Apa itu, Pak?” tanyanya.

            “Bapak juga gak tau, Bu,” jawab Bapak. Mereka pun bergegas masuk rumah.

Bapak kembali duduk di kursi meja makan sambil membuka amplop yang diberikan oleh Bu Marni. Dia tampak kaget melihat beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan yang cukup banyak.

            “Alhamdulillah, Bu!” serunya, “Akhirnya Adi bisa bayar SPP hari ini,” sambungnya.

            “Alhamdulillah,” timpal Ibu juga. Bapak mengeluarkan isi amplop tersebut, ada lima lembar uang seratus ribuan.

            “Allah benar-benar Maha Baik, Bu!” serunya lagi.

            “Memangnya Bapak sudah ngapain dikasih duit sebanyak ini sama suaminya Bu Marni?” tanya Ibu.

            “Dua hari yang lalu, pas Bapak mau jalan ngojek, Bapak temuin plastik berisi surat-surat. Gak tau surat apa itu,” tuturnya, “Nah, Bapak liat ada namanya Pak Jaya di situ. Bapak anterin deh ke rumahnya. Tapi Bapak gak ketemu sama Pak Jaya, Bapak cuma ketemu sama Bu Marni. Dan memang benar itu milik suaminya,” bebernya lagi.

            “Oo gitu ya, Pak!” timpal Ibu sambil mengangguk.

            “Bapak bener-bener gak nyangka kalo Pak Jaya bakalan ngasih imbalan seperti ini,” ujar Bapak, “Padahal Bapak bener-bener ikhlas mengembalikan barang itu,” imbuhnya.

            “Itu namanya rejeki, Pak,” timpal Ibu.

            “Barangkali ini balasan dari Allah karena kita membantu Pak Salim tadi malam, Bu,” kata Bapak seketika mengingat Pak Salim yang datang meminjam uang tadi malam.

            “Maafin Ibu, Pak,”  ucap Ibu, “Ibu salah karena marah sama Bapak ngasih pinjem uang sama Pak Salim tadi malem,” sambungnya.

            “Iya, Bu. Gak apa-apa. Wajar kok Ibu marah. Karena kita juga kan lagi butuh uang,” timpal Bapak, “Tetapi, kalo kita benar-benar ikhlas membantu orang, Insyaallah Allah juga akan selalu memberikan kita kemudahan ketika dalam kesulitan,” imbuhnya.

            “Iya, Pak,” sahut Ibu.

            Akhirnya Adi pun berangkat sekolah dengan semangat karena dia tidak akan ditagih lagi oleh gurunya karena belum membayar SPP.

 

SELESAI

Bab 23 Aku Juga Ingin Disayang Ayah

405 0

“Plak!” telapak tangan Ayah mendarat tepat di salah satu pipi Sandi.

            “Sudah, Yah!” pekik Ibu sambil meraung.

            “Kamu terus saja membela anak tidak tau diri ini!” bentak Ayah, “Kesabaran Ayah sudah hilang sekarang!” sambungnya.

            “Ingat, Yah. Istigfar!” seru Ibu.

            Sandi masih terdiam sambil memegang pipinya yang merah kena tamparan Ayah tadi.

            Sandi adalah anak pertama Ayah dan Ibu. Sekarang dia duduk bangku kelas X. Ayah marah kepadanya karena ia kedapatan merokok di belakang sekolah. Ini adalah untuk kedua kalinya Ayah di panggil ke sekolah karena ulah Sandi tersebut.

            “Mau jadi apa kamu, ah!” teriaknya, “Ayah susah-susah nyekolahin kamu. Kamu malah seperti ini,” imbuhnya. Ayah hendak melayangkan tendangan ke badan Sandi, namun dengan segera Ibu besimpuh dan menarik kaki Ayah.

            “Jangan, Yah!” seru Ibu.

            “Biar saja. Biar dia kapok!” balas Ayah samakin emosi.

            Sandi lari keluar rumah.

            “Sandi!” panggil Ibu. Tetapi sandi sudah menjauh menghilang begitu cepat.

            “Biarkan, Bu!” bentak Ayah, “Anak seperti itu tidak usah diperdulikan. Bisanya cuma bikin malu keluarga saja,” lanjutnya.

            Tiba-tiba Arif muncul.

            “Kak Sandi kenapa, Bu?” tanyanya kepada Ibu.

            “Kakakmu itu, bisanya bikin malu saja!” timpal Ayah geram. Arif tampak bingung. Ia melihat ke arah Ibu yang masih duduk bersimpuh di lantai.

            “Ada apa, Bu?” tanyanya lagi.

            “Kakakmu bikin ulah lagi di sekolah,” jawab Ibu pelan. Arif terdiam.

            “Kamu makan dulu sana!” perintah Ibu. Arif pun mengikuti perintah Ibunya.

            Arif dan Sandi hanya berbeda satu tingkat sekolah. Arif kini duduk di bangku kelas IX. Arif dan Sandi memang memiliki sifat yang berbeda. Sejak sekolah dasar, Arif sudah menjadi siswa teladan dan berprestasi sampai sekarang. Dia selalu tampil menjadi juara umum sekolah. Hal itu membuat Ayahnya senantiasa membanding-bandingkan mereka berdua. Ayah begitu membanggakan Arif sementara tidak dengan Sandi.

            ***

            “Coba kamu liat adikmu itu,” kata Ayah dengan bangganya, “Dia selalu saja membuat Ayah bangga,” sambungnya.

            “Gak boleh begitu, Yah,” timpal Ibu.

            “Memang kenyataannya kan, Bu!” balasnya, “Beda dengan kakaknya yang itu,” sambungnya sambil mencibir ke arah Sandi yang sedang duduk di kursi.

            “Sandi hanya masih perlu banyak belajar, Yah,” ujar Ibu membela Sandi. Tampak wajah Sandi murung.

            “Mau belajar bagaimana pun caranya juga. Kalo memang tidak bisa ya tidak bisa!” seru Ayahnya lagi.

            Perlakuan Ayah terhadap Sandi memang selalu seperti itu. Ayah seperti tidak pernah manghargai apapun yang dilakukan Sandi.

***

Sandi pulang sekolah dengan wajah ceria karena dia mendapat nilai ulangan 100.

“Yah. Ayah!” serunya dari depan pintu.

“Eh anak Ibu sudah pulang,” sambut Ibu, “Seneng sekali kayaknya anak Ibu. Ada apa sih?” imbuhnya.

“Ayah mana, Bu?” tanya Sandi.

“Itu di belakang,” jawab Ibu, “Ada apa? Kok tumben cari Ayah?” tanya Ibu. Sandi berlari ke belakang rumah mancari Ayahnya.

“Ayah!” panggilnya lagi.

“Ada apa?” sahut Ayah dengan ketus sambil sibuk membersihkan kandang burung.

“Yah, Sandi dapat nilai ulangan Matematika 100,” serunya.

“Alah, palingan kamu nyontek jawaban temen,” timpal Ayah.

Ibu yang mendengar kalimat Ayah langsung menimpali dari belakang, “Wah, anak Ibu hebat.”

Wajah Sandi langsung berubah murung. Apa yang dia harapkan dari sang Ayah ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

“Sini coba Ibu liat,” ucap Ibu mencoba menghibur Sandi. Sandi pun menyodorkan kertas hasil ulangannya kepada Ibu.

“Eh iya bener, anak Ibu dapet nilai 100,” kata Ibu dengan bangga, “Coba Ayah liat ni!” sambungnya menyodorkan kertas tersebut kepada Ayah.

“Bukan nilai dia tu, Bu. Palingan dia nyontek punya temennya,” timpal Ayah.

“Gak boleh gitu, Yah,” sahut Ibu.

“Bu, Yah!” panggil Arif yang baru sampei rumah.

“Ibu di belakang,” timpal Ibu. Arif menghampiri Ibu, Ayah dan kakaknya ke belakang.

“Yah, Bu, Arif dapet nilai 80 ulangan Bahasa Indonesia,” ujarnya dengan wajah sedih.

“Gak apa-apa, Rif,” sambut Ayah, “Kan sudah bagus tu. Lain kali kamu belajar lagi ya,” sambungnya.

“Coba liat hasil ulangan kakakmu ni. Dia dapet nilai 100 lo,” ucap Ibu sambil menunjukkan kertas ulangan Sandi kepada Arif.

“Wah, Kak Sandi hebat,” kata Arif. Sandi hanya terdiam. Ia lalu berjalan ke kamarnya. Arif mengikutinya dari belakang.

“Yah, bisa gak Ayah jangan bersikap seperti itu ke Sandi,” ucap Ibu, “Kasihan Sandi, Yah,” sambungnya, “Bagaimanapun juga dia juga anak kita, Yah. Sama seperti Arif,” tuturnya. Ayah tidak menjawab, dia seolah tidak mau mendengar perkataan Ibu.

Sementara Sandi dan Arif di dalam kamar.

“Kak, kakak hebat ya, dapet nilai 100 ulangan Matematika,” katanya kepada Sandi.

“Makasih, dek,” timpal Sandi, “Tapi kakak sedih, dek,” keluhnya.

“Sedih kenapa, Kak?” tanyanya dengan polos.

“Kakak sedih karena Ayah tidak perah sayang sama Kak Sandi,” tuturnya.

“Kakak gak boleh ngomong seperti itu. Mana mungkin Ayah gak sayang sama Kak Sandi,” ujarnya lagi.

“Buktinya tadi, pas Kakak cerita Kakak dapet nilai 100, Ayah gak seneng,” ceritanya, “Tapi pas Adek, Ayah seneng, walaupun Adek gak dapet nilai 100,” sambungnya. Arif tidak tahu harus menjawab apa.

            Sejak saat itulah Sandi mulai berubah. Ia semakin menjadi anak yang pemurung, emosian dan tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Ia merasa tidak mendapat kasih sayang dari Ayahnya. Muncul perasaan tidak suka dengan Adiknya, terutama Ayahnya sendiri. Ketika dia masuk SMA, dia salah pergaulan. Dia ikut berbaur dengan lingkungan yang kurang baik. Hal itu tentu saja membuat Ayahnya semakin tidak suka kepadanya.

            ***

            Sandi duduk di sebuah bangku kecil di pinggir jalan. Dia melihat seorang anak kecil yang sedang digendong Ayahnya berjalan ke arahnya.

            “Pemisi. Boleh numpang duduk,” ujarnya kepada Sandi. Sandi hanya mengangguk.

            “Kamu ngapain di sini sendiri?” tanya laki-laki itu.

            “Gak ada, Pak,” jawab Sandi. Laki-laki itu pun memperhatikan wajah Sandi.

            “Sepertinya kamu sedang ada masalah ya?” tebak laki-laki itu. Sandi mengernyitkan kening.

            “Saya juga dulu seperti kamu, Dek. Saya juga tidak pernah mendapatkan perhatian dari Ayah saya. Dia tidak pernah menghargai apapun yang saya lakukan,” tuturnya membuat Sandi tercengang.

            “Kok orang ini tahu kalo aku sedang ada masalah,” batinnya.

            “Saya juga dulu sempat ingin kabur dari rumah. Tapi lama-lama saya berubah pikiran. Kalau seandainya saya pergi dari rumah, tidak akan mempebaiki keadaan. Justru akan menambah masalah. Akhirnya saya pulang ke rumah. Saya minta maaf kepada Ayah. Saya tanyakan kepada Ayah, kenapa Ayah memperlakukan saya seperti ini. Akhirnya sejak saat itu Ayah berubah. Dia mulai menyanyangi saya,” ceritanya semakin membuat Sandi heran.

            “Ya sudah, Bapak permisi ya, Dek!” pamit laki-laki itu lalu pergi meninggalkan Sandi yang masih duduk di bangku. Ia seperti dihipnotis. Ia bangkit hendak mencari laki-laki yang tadi. Ke sana ke mari ia mencari, namun tidak menemukan siapa pun.

            Sandi pun berpikir, “Apakah ini adalah petunjuk untukku,” batinnya. Ia pun berlari pulang ke rumah menemui Ayahnya. Ia melakukan persis seperti apa yang diceritakan oleh laki-laki itu. Tanpa dia sadari, laki-laki itu mengamatinya dari kejauhan sambil tersenyum.

 

SELESAI

Bab 24 Keluarga Adalah Segalanya

54 0

“Keluarga adalah kompas yang memandu arah kita. Ia adalah inspirasi untuk mencapai puncak, yang menghibur saat kita goyah” – Brad Henry.

            ***

            Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Bapakku seorang guru dan Ibuku adalah seorang pejuang. Pejuang yang rela berkorban dan menghabiskan waktunya untuk mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Aku anak keempat dari lima bersaudara. Saudaraku yang nomor satu laki-laki, sebut saja nanya Jo. Dia adalah seorang kakak yang luar biasa di mataku. Dari dulu. Saudaraku yang nomor dua dan tiga perempuan, Nur dan Diana. Mereka adalah saudaraku yang memiliki tempat khusus di hatiku. Dan adikku yang paling bontot laki-laki, Rian. Adik yang memiliki nilai tersendiri di mataku.

            Meskipun aku terlahir dari keluarga yang sederhana dengan saudara-saudara yang istimewa. Satu hal yang aku sadari bahwa aku sangat bersyukur dan beruntung memiliki mereka semua.

            Saat ini, aku dan keempat saudaraku sudah tidak serumah lagi. Seperti beberapa tahun bahkan belasan tahun yang lalu. Karena kami sudah hidup bersama pasangan kami masing-masing. Ibuku menutup usia tiga tahun yang lalu, tepat diusianya yang ke-58 tahun. Beliau terkena kanker payudara. Sedangkan Bapakku, Alhamdulillah masih terbilang sehat dan bugar untuk usia 76 tahun. Hampir semua rekan-rekan seusia beliau sudah lebih dulu berpulang.

            Sejak ibuku menutup usia, ada begitu banyak perubahan yang kurasakan. Ditambah lagi aku dan saudara-saudaraku sudah memiliki keluarga masing-masing. Kami seakan jauh. Kami sibuk dengan urusan keluarga masing-masing.

Aku merindukan momen-momen di mana ketika Ibuku merindukan kami untuk pulang, berkumpul. Beliau dengan lembut dan penuh kasih sayang akan menelpon kami satu persatu.

“Assalamualaikum,” suara lembutnya terdengar dari seberang telepon.

“Waalaikumsalam, Bu” sambutku.

“Kamu lagi ngapain?” tanyanya.

“Gak ada, Bu,” jawabku singkat.

“Kamu sehat?” tanyanya lagi. Pertanyaan yang senantiasa kudengar ketika awal-awal beliau menelpon. Pertanyaan yang seharusnya keluar dari mulutku terlebih dulu

“Alhamdulillah sehat. Ibu sendiri gimana?” timpalku.

“Alhamdulillah, Ibu juga sehat, Nak,” jawabnya,  “Anak-anakmu ke mana?” imbuhnya.

“Mereka lagi main, Bu,” balasku.

“Kakakmu ada nelpon?” tanyanya lagi. Setiap kali Ibu bertanya seperti itu, aku akan langsung paham jika beliau akan menyuruhku pulang.

“Gak ada, Bu,” jawabku, “Memangnya ada apa, Bu,” tanyaku pura-pura tidak paham.

“Kirain ada mereka telpon kamu, Nak,” imbuhnya.

“Iya, Bu. Makanya ada apa?” tanyaku lagi.

“Minggu depan, kakakmu pulang, mereka mau kumpul-kumpul di rumah,” tuturnya. Tepat seperti dugaanku. Ibu merindukan kami, anak-anaknya.

“Apa kamu bisa pulang?” tanyanya memastikan. Dari kelima anaknya, barangkali aku yang paling jarang bisa ikut kumpul bersama saudara-saudaraku yang lain. Bukan karena aku yang paling sibuk.

“Saya tanya suamiku dulu ya, Bu,” jawabku, “Mudah-mudahan dia bisa,” imbuhku.

“O gitu. Kalo memang suamimu gak bisa, ya gak apa-apa, gak udah dipaksain,” ucapnya dengan nada antara ikhlas dan tidak.

“Insyaallah, saya usahakan pulang ya, Bu,” sambungku coba menghibur Ibu. Meskipun kecil kemungkinan untuk aku bisa memenuhi keinginannya.

“Suamimu ke mana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Belum pulang kerja, Bu,” jawabku, “Bapak mana, Bu?” tanyaku balik.

“Biasa lagi di kebun,” sahut Ibu. Semenjak Bapak pensiun, beliau memang mencari kesibukan dengan berkebun. Kebetulan ada sepetak tanah di samping rumah, aku menyebutnya antara kebun atau sawah. Karena jika disebut kebun, tetapi kadang-kadang ditamani padi sama beliau. Mau kusebut sawah, ada banyak pohon pisang dan juga beraneka buah-buahan beliau tanam di sana. Atau barangkali aku akan lebih tepatnya menyebut lahan itu dengan “lahan suka-suka Bapakku”.

“Bapak sehat kan, Bu?” tanyaku.

“Alhamdulillah sehat,” balas Ibu, “Ya sudah. Ibu tutup dulu ya teleponnya,” izinnya kepadaku.

“Iya, Bu,” timpalku.

“Besok kalo kamu jadi pulang. Telepon Ibu ya,” pesannya.

“Iya, Bu. Insyaallah,” jawabku.

“Ya sudah. Assalamualaiku,” ucapnya.

“Waalaikumsalam,” jawabku. Lalu telepon pun ditutup.

Seperti itulah kasih sayang dan kehangatan yang senantiasa Ibu tunjukkan kepada kami. Meskipun kadang-kadang sebagai anak, aku mengabaikannya. Aku sering mengabaikan rasa rindu beliau. Aku terlalu asyik dengan kehidupanku bersama keluarga baruku.

Kini semua itu tinggal kenangan. Beliau meninggalkan begitu banyak kisah yang tidak akan pernah kulupakan. Seakan Tuhan membalas apa yang aku lakukan dulu kepadanya. Rindu itu kini bebalik kepadaku. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan semua tentangnya. Merindukan segala apa yang selalu mambuat seisi rumah terasa penuh kehangatan dan kasih sayang.

***

Persis seperti yang dikatakan Brad Henry, keluarga itu ibarat sebuah kompas. Keluarga akan selalu memberikan petunjuk ke mana arah kita akan melangkah. Pada saat kita membutuhkan dukungan, keluargalah yang akan senantiasa ada dan bersedia menerima kita. Terutama kehadiran seorang Ibu.

Ketika Ibuku pergi, seakan kompas itu kehilangan mata. Dia ada namun tetap saja tidak bisa berjalan sebagaimana yang dulu. Sekuat apapun aku mencoba untuk menikmati ketiadaannya, semakin aku merasa dia begitu dekat.

Aku masih ingat, pada saat aku berada di titik terendah. Keluarga adalah satu-satunya tempat pelarian yang paling tepat. Di sana aku bisa melepas semua apa yang aku rasakan, apa yang aku alamai. Di sana aku bisa menjadi orang yang paling bahagia dan beruntung.

***

Apa yang aku capai hari ini semua bermuara dari sana, keluarga. Aku manjadi seperti sekarang ini, itu semua karena mereka. Ibu, Bapak dan saudara-saudaraku. Mereka senantiasa menunjukkan rasa cinta , kasih sayang, dan bangganya terhadapku tanpa syarat.

Aku sadar tidak semua orang merasakan apa yang aku rasakan. Banyak orang yang merasa tidak bahagia ketika berada di tengah keluarganya. Apakah atas dasar tidak adanya kasih sayang dan perhatian di antara mereka. Sehingga membuat ikatan itu tidak terlalu kuat.

Akan tetapi, berbeda halnya denganku. Aku merasa tidak ada hal yang dapat menggantikan keluargaku. Aku bisa menjadi orang yang berbeda ketika aku berada di tengah-tengah mereka. Di sana aku merasa bebas melepaskan apapun yang aku rasa tanpa ada perasaan takut.

Tuhan, terima ksih sudah menempatkanku di tengah-tengah keluarga yang sederhana ini. Dari kesederhanaan itu aku banyak belajar. Bagaimana menjadi orang yang kuat, bagaimana menjadi orang yang memang harus tetap semangat walaupun dalam keadaan terpuruk sekalipun. Aku tidak akan mengatakan jika keluargaku selalu baik-baik saja selama ini. Tetapi, ketika kami berkumpul kami berusaha untuk menepikan perasaan-perasaan yang nantinya akan menimbulkan masalah. Kami akan menujukkan bahwa tidak terjadi apa-apa dan semua baik-baik saja.

Jejak yang diukir di tengah kebersamaanku bersama kalian akan selalu ku jaga, kukenang sampai kapanpun. Jejakku bersamamu, Bu. Jejak yang barangkali hanya akan dipertuan oleh keluarga kita tanpa ada orang lain di sana meskipun sudah begitu banyak orang yang hadir. Namun tentu saja tidak akan mampu mengukir jejak-jejak seperti bersamamu. Biarlah orang-orang itu mengukir jejaknya sendiri.

(Cerita tanpa arah)

 

SELESAI

Bab 25 Rahasia Masa Lalu Tiara

189 0

“Pergi kamu dari sini. Aku tidak sudi lagi lihat wajahmu!” teriak Rendy.

“Dengerin penjelasan aku dulu, Mas,” kata Tiara.

“Tidak ada yang perlu kamu jelaskan,” pungkas Rendy, “Semuanya sudah jelas,” imbuhnya. Rendy menarik tangan Tiara lalu menyeretnya keluar. Tiara berusaha melepas pegangan tangan Rendy, namun tidak bisa. Tiara pun tersungkur di teras.

“Pergi kamu!” usir Rendy.

“Dengerin aku, Mas,” Tiara memeluk kaki Rendy sambil menangis histeris.

“Jangan sentuh aku!” bentaknya Rendy seraya mendorong tubuh Tiara dengan kakinya, “Percuma saja kamu menangis. Aku tidak akan pernah percaya lagi sama kamu,” sambungnya.

Rendy meninggalkan Tiara yang menangis bersimpuh. Ia membanting pintu lalu menguncinya.

***

“Sarapan dulu, Mas,” seru Tiara.

Rendy keluar kamar sembari memasang dasi. Dengan segera Tiara menghampirinya lalu membantu Rendy.

“Kamu memang istriku yang paling pengertian,” puji Rendy.

“Kan sudah kewajiban aku, Mas,” ucap Tiara. Cubitan mesra Rendy pun mendarat di pipi Tiara.

“Udah,” kata Tiara begitu dasi sang suami sudah rapi.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Rendy. Tiara mengangguk.

“Ayo, Mas. Nanti terlambat,” Tiara menggandeng tangan Rendy ke meja makan.

“O iya, Sayang. Nanti Mas pulang terlambat,” kata Rendy.

“Mas mau ke mana?” tanya Tiara.

“Mas ada meeting sama klien,” jawab Rendy, “Tapi dia minta meetingnya sore,” tuturnya.

“O gitu,” timpal Tiara.

“Mas berangkat dulu ya. Sudah siang,” ujar Rendy. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor dia akan melakukan ritualnya yaitu mencium kening sang istri. Tiara pun dengan setia mengantar sang suami sampai teras rumah, hingga sang suami hilang dari pandangan, barulah ia akan masuk lagi ke dalam rumah.

Usia pernikahan Rendy dan Tiara sudah genap dua tahun. Namun mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, mereka tetap harmonis.

***

“Mas, besok kita ke rumah Ibu ya,” ajak Tiara.

“Sebenarnya Mas mau ajak kamu ke acara pernikahan temen Mas, Sayang,” ujar Rendy.

“Acaranya jam berapa?” tanya Tiara.

“Siang jam sebelas,” jawab Rendy.

“Kan bisa sore kita pergi ke rumah Ibu,” timpal Tiara.

“Ya sudah,” imbuh Rendy.

“Mau kau buatin, Mas?” tawar Tiara.

“Boleh,” sahut Rendy singkat.

“Sebentar ya, Mas!” Tiara pun menuju ke dapur.

“Assalamualaikum,” terdengar suara orang mengucapkan salam.

“Waalaikumsalam,” jawab Rendy dan Tiara.

“Siapa itu, Mas?” tanya Tiara. Rendy bergegas ke depan.

“Ibu!” seru Rendy, “Tiara. Ada Ibu!” Rendy memberitahukan istrinya jika Ibu datang. Tiara pun segera keluar menemui Ibu mertuanya.

“Ibu!” sapa Tiara dengan ramah, “Masuk, Bu,” ajak Tiara. Ibu mertuanya pun masuk.

“Ayah kok gak ikut, Bu?” tanya Rendy.

“Ayahmu ada kerjaan,” jawab Ibu, “Sepi ya,” lanjutnya.

“Iya, Bu,” timpal Tiara.

“Kapan ya rumah ini rame sama suara anak kecil main,” sindir Ibu. Wajah Tiara pun langsung berubah. Rendy melirik ke arah istrinya.

“Tiara, kamu buatin Ibu minum sana!” perintah Rendy berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Mas,” sahut Tiara dan bergegas ke dapur.

“Bu. Tolong jangan seperti ini,” ujar Rendy dengan suara pelan agar Tiara tidak mendengar.

“Lah! Kan memang kenyataannya seperti itu, Ren,” timpal Ibu dengan suara cukup besar. Dia sengaja agar Tiara mendengarnya.

“Apa kamu tidak iri liat temen-temen kamu sudah jadi Ayah semua!” sindir Ibu.

Tiara pun keluar membawa secangkir teh untuk Ibu mertuanya.

“Apa kalian sama-sama sudah periksa ke dokter?” tanya Ibu. Tiara menunduk.

“Sudah kok, Bu,” jawab Rendy, “Kami berdua sehat dan tidak ada masalah,” tuturnya.

“Terus?” dengan nada kurang yakin.

“Ya Allah belum ngasih kita aja, Bu,” terang Rendy.

“Ibu ada kenalan orang pintar. Kapan-kapan ikut Ibu ke sana ya” ajaknya.

“Gak udah, Bu. Gak baik,” timpal Rendy.

“Itu kan juga bagian dari usaha, Ren,” kata Ibu. Tiara hanya terdiam.

Gimana Tiara. Kamu mau kan?” bujuk Ibu.

“Kalo saya, tergantung Mas Rendy saja, Bu,” jawabnya.

“Tu, istri kamu saja mau!” seru Ibu dengan nada memaksa. Rendy melirik ke arah Tiara. Ia seakan paham perasaan istrinya.

“Tehnya, Bu,” ujar Rendy coba mengalihkan pembicaraan.

Cukup lama Ibu di rumah mereka. Tidak terasa sudah hampir maghrib.

“Ya sudah, Ibu pulang dulu, ya,” pamitnya kepada Rendy dan Tiara.

“Kenapa gak dari tadi, Bu,” batin Tiara.

“Nanti kalo kalian berubah pikiran. Kasih tau Ibu ya!” pesannya. Lalu ia pun pulang.

***

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi.

“Lho, kenapa belum siap-siap?” tanya Rendy karena melihat Tiara masih memakai piyama.

“Aku kepikiran kata-kata Ibu kemarin, Mas,” timpal Tiara dengan wajah sedih.

“Sudah. Gak usah dipikirin,” kata Rendy coba menghibur Tiara, “Barangkali Ibu cuma lagi kangen pengen nimang cucu, Sayang,” goda Rendy.

“Apalagi aku, Mas,” balas Tiara.

“Sudah. Kamu mandi ya. Nanti kita telat lho,” perintah Rendy. Tiara pun beranjak dari sofa mengikuti perintah suaminya.

***

Rendy dan Tiara baru saja tiba di acara pernikahan Adi, teman SMA Rendy.

“Ren!” panggil Yuni, teman Rendy.

“Yuni!” balas Rendy, “Kamu diundang juga?” sambungnya.

“Pake ‘kamu’ segala, biasanya juga ‘lo’,” goda Yuni.

“Itu kan dulu, Yun!” timpal Rendy, “Eh ya kenalin, Tiara, istriku,” tuturnya memperkenalkan Tiara kepada Yuni. Yuni pun menyodorkan tangan hendak bersalaman dengan Tiara. Tiara pun menyambutnya dengan ramah.

“Yuni!” kata Yuni memperkenalkan diri.

“Tiara!” timpal Tiara.

Ketika mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri mereka.

“Kevin!” sapa Yuni kepada laki-laki tersebut.

Betapa kagetnya Tiara. Kevin adalah mantan pacarnya sebelum bertemu dengan Rendy. Ternyata Adi adalah sepupu Kevin.

“Hai, Yun!” balas Kevin.

“Kenalin temen gue,” ujar Yuni memperkenalkan Rendy dan Tiara.

“Rendy,” kata Rendy sambil menyodorkan tangannya hendak bersalaman.

“Kevin,” balas Kevin seraya menyambut tangan Rendy. Sementara Tiara tampak sengaja tidak mau memperhatikan Kevin. Kevin pun melirik ke arah Tiara.

“Kenalin, Tiara, istriku,” ujar Rendy hendak memperkenalkan Tiara kepada Kevin.

“Sepertinya kami tidak perlu kenalan,” timpal Kevin.

“Kalian sudah saling kenal?” seru Yuni.

“Lebih dari sekedar kenal malah,” ucap Kevin dengan tatapan tajam membuat Tiara merasa tidak nyaman. Rendy tampak memperhatikan Tiara.

“Jangan-jangan kalian mantan ya?” goda Yuni. Wajah Tiara memerah.

“Tanya saja langsung ke orangnya,” kata Kevin, “Ya sudah, silakan menikmati acaranya. Saya permisi dulu ya, mau liat tamu yang lain,” tuturnya.

“Iya, ya,” timpal Yuni. Rendy hanya mengangguk.

“Seneng bisa ketemu kamu lagi, Tiara,” ucap Kevin sebelum meninggalkan mereka.

Rendy pun dibakar cemburu mendengar ucapan Kevin kepada Tiara. Rendy menatap Tiara penuh amarah. Tiara pun sadar dengan tatapan suaminya.

Yuni yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres segera mencari alasan untuk meninggakan Rendy dan Tiara.

“Ren, gue cabut duluan ya. Udah siang ni,” katanya.

“Iya, Yun!” timpal Rendy, “Kita juga udah mau pulang kok,” sambungnya.

“Bukannya kalian baru nyampe?” sindir Yuni. Rendy dan Tiara terdiam.

“Ya udah deh. Gue duluan ya, Ren, Tiara,” pamit Yuni lalu meninggalkan mereka berdua.

Rendy dan Tiara tampak dingin. Rendy merasa dibohongi oleh Tiara. Rendy merasa ada yang tidak dia ketahui tentang masa lalu istrinya. Rendy pun kecewa dengan Tiara. Sementara Tiara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia harus bertemu lagi dengan laki-laki yang dulu pernah sangat dia cintai. Namun tiba-tiba meningglkannya tanpa alasan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rendy.

“Pulang!” kata Rendy.

“Tapi, Mas. Kan kita baru dateng,” timpal Tiara.

“Kamu masih mau ketemu sama mantan kamu itu,” Rendy geram. Tiara pun tidak berani manjawab. Rendy pun keluar melewati kerumunan tamu diikuti Tiara. Sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara sedikit pun. Rendy benar-benar kecewa denga Tiara.

Begitu sampai di rumah.

“Ada hubungan apa kamu dengan laki-laki itu!” teriak Rendy. Pertengaran itu pun dimulai.

***

Jejak itu memang akan selalu ada. Bagamanapun kita berusaha untuk menghapusnya, dia akan tetap membekas.

 

SELESAI

Bab 26 Jangan Menilai Orang dari Penampilan

129 0

Jangan Menilai Orang dari Penampilan

 

“Permisi, Pak,” ucap Lelaki dengan pakaian sangat sederhana, bahkan hampir mirip seperti peminta-minta itu kepada Security yang sedang asyik memainkan gawainya di pos jaga.

            Security itupun memperhatikan Lelaki itu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan tidak bersahabat.

            “Maaf, Pak. Kami tidak diberikan izin membiarkan peminta-minta seperti Bapak masuk ke dalam,” sahut Security tersebut dengan angkuh. Lelaki itu tampak memberikan segaris senyuman kepadanya.

            “Jadi, silakan Bapak ke tempat lain saja,” sambungnya. Lelaki itu tidak beranjak sedikitpun dari sana.

            “Apa Bapak tidak dengar saya bilang apa,” bentaknya lagi, “Jangan sampai saya mengusir Bapak dengan paksa ya!” ancamnya, “Mengganggu orang lagi main saja,” gerutunya.

            “Apa Bapak sadar dengan apa yang baru saja Bapak lakukan?” tanya Lelaki itu dengan wajah tetap tersenyum.

            “Apa Bapak bilang?” tanya Security seolah ingin mendengar kembali mendengar ucapan Lelaki tersebut, “Memangnya Bapak siapa? Berani-beraninya ngomong seperti itu” imbuhnya. Lelaki itu pun hanya tersenyum.

            “Kenapa Bapak tidak menanyakan keperluan saya ke mari terlebih dulu?” ucap Lelaki itu.

            “Buat apa saya bertanya seperti itu, Pak,” sahut Security, “Dari penampilan Bapak sudah kelihatan, kalo Bapak pasti peminta-minta,” sambungnya.

            “Apa sebelum Bapak bekerja di sini, Bapak tidak diajarkan untuk bersikap ramah kepada setiap orang yang hendak ke mari?” ujar Lelaki itu lagi membuat Security tersebut semakin emosi.

            Dia lalu mengeluarkan uang pecahan dua ribuan dari dalam dompetnya, “Ini,” katanya sambil memasukkannya ke saku celana Lelaki tersebut.

            “Itu kan yang Bapak perlu?” ucapnya dengan wajah sinis.

            Lelaki itu mengeluarkan uang yang dimasukkan Security tadi ke saku celananya.

            “Apa masih kurang?” sindirnya, “Ni saya tambahin, Pak” sambungnya sambil terkekeh lalu mengeluarkan lagi selembar uang pecahan yang sama, dua ribuan.

“Jangan bilang masih kurang, Pak,” ancamnya sambil menunjuk ke arah Lelaki itu, “Sana, sana,” usirnya kemudian meninggalkannya.

“Semoga Bapak tidak menyesal dengan perlakuan Bapak ini ke saya,” imbuh Lelaki itu. Ia tampak mulai emosi.

Mendengar perkataan Lelaki itu, Security tersebut berbalik menghampirinya, “Silakan Bapak pergi dari sini,” ujarnya seraya menarik dengan paksa tangan Lelaki itu. Begitu sampai di luar gerbang, “Jangan pernah Bapak ke sini lagi. Atau saya bisa lebih kasar dari ini,” gertak Security tersebut.

“Masih pagi sudah bikin emosi saja,” gumamnya sambil berjalan masuk gerbang.

Baru saja dia hendak masuk ke pos jaga, terdengar suara klakson mobil.

Tin, tin …

Ia pun segera berlari membuka gerbang. Dengan penuh ramah ia tersenyum ke arah mobil yang berjalan memasuki gerbang. Begitu bagian pintu mobil belakang berhenti tepat di hadapannya, kaca mobil tersebut pun terbuka.

“Apa ada orang yang ke mari tadi?” tanya Pak Dewa Wijaya, pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Langsung saja ia menjawab, “Tidak ada, Pak!” sambil sedikit membungkuk. Ia tidak mangetahui jika orang yang dimaksud oleh Pak Dewa adalah Lelaki yang dia anggap peminta-minta tadi. Mendengar jawaban Security itu, kaca mobil pun kembali tertutup. Security itupun segera menutup gerbang. Begitu ia hendak menguncinya, tiba-tiba Lelaki yang tadi muncul kembali tepat di tengah-tengah gerbang.

“Bapak mau apa lagi!” teriak Security itu dari dalam gerbang lalu dengan cepat menguncinya. Ia tidak menyadari kalau mobil Pak Dewa berhenti.

“Saya bilang Bapak pergi dari sini!” pekiknya lagi.

Pak Dewa sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Buka gerbangnya!” perintah Pak Dewa. Sontak membuat Security itupun terperanjat.

“Pak Dewa!” ucapnya gelagapan.

“Saya bilang, buka gerbangnya,” ulangnya lagi.

“Baik, Pak,” sahut Security itu lalu membuka kunci gerbang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ayah sudah lama di sini?” sapa Pak Dewa kepada Lelaki yang bediri di depan gerbang tersebut.

Ternyata Lelaki yang dianggap peminta-minta tadi oleh Security tersebut adalah Ayah dari Pak Dewa Wijaya, bosnya. Ia pun merasa seperti disambar petir. Wajahnya matang. Keringat menganak sungai dari pelipisnya.

Pak Dewa menatap ke arahnya, “Apa yang kamu perbuat terhadap Ayah saya!” pekiknya.

“Maafkan saya, Pak!” ucapnya sambil bersimpuh di kaki Pak Dewa.

“Tadi kamu bilang tidak ada yang mencari saya!” bentaknya lagi.

“Maafkan saya, Pak!” ulangnya, “Saya kira …,” imbuhnya.

Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Pak Dewa langsung menyergahnya, “Kamu kira apa?” hardiknya.

“Sekali lagi, maafkan saya, Pak Dewa,” ucapnya yang ketiga kali.

“Sudahlah, Nak!” ucap Lelaki itu. Ia merasa iba melihat Security tersebut begitu ketakutan sambil bersimpuh di kaki Pak Dewa, anaknya.

“Maafkan saya, Yah!” ujar Pak Dewa, “Saya sudah salah memilih pegawai,” imbuhnya.

“Bukan kamu yang salah, Nak,” balas Lelaki itu. Ia lalu mengangkat lengan Security tersebut, menyuruhnya bangkit.

“Maafkan saya, Pak!” serunya sambil menagis kemudian memeluk kedua kaki Lelaki itu.

“Bangun!” ujar Lelaki itu, “Apa yang Bapak lakukan tadi itu salah,” ujarnya. Security tersebut mengangguk sambil terus terisak.

“Tidak seharusnya Bapak bersikap seperti tadi,” imbuhnya.

“Iya, Pak,” sahutnya, “Saya yang salah,” tuturnya.

“Sudah, Yah,” kata Pak Dewa, “Biar nanti saya yang urus dia,” lanjutnya.

“Apanya yang mau diurus, Nak?” tanya Lelaki kepada Pak Dewa.

“Apa Bapak sudah berkeluarga?” tanya Lelaki itu kepada Security tersebut.

“Sudah, Pak!” jawabnya singkat.

“Apa Bapak sudah punya anak?” tanyanya lagi.

“Sudah, Pak!” jawabnya lagi.

“Umur berapa?” lanjutnya dengan nada ramah. Seperti sedang mengintrogasi Security tersebut.

“Yang pertama sudah masuk sekolah dasar kelas 2. Dan yang kedua baru berumur satu sengah tahun, Pak,” terangnya.

“Seandainya kelak, ketika Bapak sudah tua seperti saya. Kemudian diperlakukan seperti Bapak memperlakukan saya tadi. Apa yang akan Bapak lakukan?” tanya Lelaki itu.

Security tersebut tidak bisa menjawab. Ia menangis histeris. Ia merasa begitu tertampar dengan pertanyaan Lelaki itu.

“Maafkan saya, Pak!” serunya sambil terus meraung.

“Sebelum Bapak meminta maaf pun, saya sudah memaafkan Bapak,” ujarnya, “Ya sudah, mulai sekarang Bapak harus merubah pola pikir Bapak,” sambungnya.

“Iya, Pak!” sahut Security tersebut.

“Saya tahu, barangkali Bapak hanya menjalankan perintah dari Pak Dewa, bos Bapak, sekaligus anak saya,” tuturnya, “Tetapi Bapak harus merubah pola pikir Bapak, jangan selalu menilai orang dari penampilannya,” sambungnya lagi.

“Iya, Pak!” timpal Security tersebut.

“Untung saja Ayah saya seperti ini,” bentak Pak Dewa, “Kalau tidak, sudah saya pecat kamu!” ancamnya sambil menujuk ke arah Securitynya.

“Ayo, Yah!” Pak Dewa mengajak Ayahnya masuk ke kantornya. Mereka pun meninggalkan Security tersebut yang masih berdiri tertunduk dan mematung di depan gerbang.

Pak Dewa tampak merangku Lelaki itu dengan penuh kasih sayang seorang anak terhadap Ayahnya yang sudah tidak muda lagi. Baru saja beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Lelaki itu berhenti dan berbalik menghampiri Security tersebut. Ia mengeluarkan dua lembar uang pecahan dua ribuan yang ia terima darinya.

“Uang Bapak saya kembalikan ya!” ujar Lelaki itu seraya menyodorkan uang tersebut yang justru semakin membuatnya malu, “Ini sebagai ungkapan terima kasih saya,” sambungnya sambil mengeluarkan sebuah amplop berisi uang.

“Tidak, Pak!” tolaknya, “Saya seharusnya mendapatkan hukuman atas perbuatan saya ini,” sesalnya.

“Saya hanya kan mengambil uang saya saja, Pak” imbuhnya seraya mengambil uang empat ribu rupiah miliknya, yang ia berikan tadi kepada Lelaki itu.

“Perasaan bersalah yang Bapak rasakan saat ini, sudah cukup menghukum Bapak,” tutur Lelaki itu, “Ini Bapak pakai untuk keperluan anak-anak Bapak!” imbuhnya lalu memasukkannya ke saku baju Security tersebut.

“Terima kasih banyak, Pak!” serunya sambil menangis kemudian mencium tangan Lelaki itu. Lelaki itupun pergi meninggalkannya.

“Ya Allah, ampuni saya,” gumamnya menengadah.

Ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Dan masih menyisakan satu pertanyaan, “Mengapa Lelaki itu berpenampilan seperti itu…?”

Biarlah semua itu akan menjadi jejak yang akan dia ukir selamanya. Jejak yang hanya akan dipetuan olehnya dan Lelaki itu.

 

SELESAI

 

Mungkin saja kamu suka

Yolanda Aryani
Aku Bisa Keluar
Aaf Mahfudli Fi...
Hujan Sore Tadi
Samriyahtul Has...
MENCINTAIMU DALAM DIAM
Halifah Hastuti...
KIRANI SANG PEJUANG WARNA

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil