Loading
84

1

0

Genre : Romance
Penulis : Nyai Yunghe
Bab : 30
Dibuat : 06 Januari 2022
Pembaca : 14
Nama : Nyai yunghe
Buku : 1

Tisyabina Adhisti

Sinopsis

Terlahir sebagai penderita thalasemia membuat seorang Adhisti ingin merasakan hidup sebagai orang normal pada umumnya, Hingga dia membuat daftar apa saja yang ingin dia lakukan sebelum ajal menjemputnya. Kali ini ada yang membuatnya lebih semangat dalam mewujudkan keinginan yang sudah ia rangkai. Seseorang yang tiba-tiba mengetuk pintu hatinya yang bertahun-tahun terkunci karena ketakutan. Seolah-olah tanpa sadar ia mulai mendekati pintu memutar kunci dan menarik ganggang pintu hatinya hingga terbuka lebar. Menampakkan semburat cahaya semangat. Caraka Nararya sosok cahaya yang mampu mendobrak ketakutan Adhisti. Mengajak Adhisti keluar dari rasa takut dan lelah berjuang.
Tags :
#Sarapankata #KMOBatch41 #Thalasemia

1.1 Lelah

9 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok 12

#FosStylo

#Jumlahkata323

#Day1

***

 

Embusan angin malam beberapa kali menerpa wajah gadis cantik yang tengah duduk di bawah pohon tabebuya yang ada di belakang rumahnya.Berkali-kali pula rambut gadis itu ikut bergerak seolah sedang menari mengikuti irama angin, tetapi sang empunya enggan beranjak dari duduknya.

 

Tisyabina Adhisti Rahandika, ya dia adalah Adhisti. Gadis bertubuh mungil dengan kulit seputih susu yang mulai menampakkan warna kekuningan itu sedang berdiam dengan pikirannya yang sedang berandai-andai entah kemana.

 

“Tuhan ... Aku ingin melakukan semua hal tanpa batasan. Bisakah untuk kali ini berikan aku semangat baru?” Adhisti bergumam sambil menengadahkan wajahnya, memejamkan matanya menikmati embusan angin yang diharapkan mampu membawa rasa lelah yang bertumpuk ditubuhnya. Rasa yang setiap hari selalu menggerogoti semangatnya sedikit demi sedikit.

 

Menjadi putri tunggal keluarga Rahandika membuat Adhisti tak bisa bebas melakukan semua keinginannya. Pandu Rahandika, Ayah Adhisti selalu membatasi kegiatannya. Hal ini dilakukan karena sang ayah tak ingin anak semata wayangnya merasa kelelahan.

 

“Sayang, masuk, yuk! Kamu sudah terlalu lama di luar. Nanti masuk angin, apalagi anginnya agak kencang gini.” Suara Maya Pramudhita sang ibunda memecahkan angan Adhisti.

 

Gadis itu membuka matanya dan menoleh ke sumber suara, nampak sang ibu tengah bersandar di kusen pintu belakang dengan senyum manis di wajah yang sudah nampak tak muda lagi, namun tak menghilangkan kecantikannya. Tanpa menolak, ia beranjak menghampiri sang bunda yang mengajaknya masuk ke rumah.

 

Sesampainya di dalam sang ayah tengah menonton acara tv di ruang Keluarga langsung menoleh dan menatapnya. Menepuk sofa di sampingnya memberi kode untuk Adhisti duduk di sana.

 

"Hobby banget kamu ngadem di bawah pohon itu sampai lupa waktu. Emang gak kerasa dingin sayang?" Tanya Pandu pada anaknya sambil mengelus bahu sang putri yang terasa dingin.

 

"Mas ... Sudahlah, biarkan anakmu istirahat ini sudah malam." Maya berbicara sebelum anaknya membuka mulut.

 

"Kamu pasti capek kan, lebih baik kamu istirahat saja ya sayang. Jangan dengarin ucapan ayahmu." Adhisti langsung beranjak dari duduknya menuruti ucapan sang ibu. Dia mencium pipi ayah dan ibunya dan berlalu pergi ke kamarnya.

 

 

***

 

 

user

08 January 2022 07:01 nanda malamsyah Anak bersama buu jgn di monopoli sendiri donk

1.2

12 2

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok 12

#FosStylo

#Jumlahkata361

#Day2

 

 

 

***

 

Wouw ... wouw ... wouw ... wouw ... wouw  ... wouw  ah-huh! ...

 

Wouw ... wouw ... wouw ... wouw ... wouw  yeah! ...

 

Tell me am I going crazy? Ah-huh! ...

 

Tell me have I lost my mind? Yeah! ...

 

 

 

Suara lagu Can’t Sleep Love yang dipopulerkan oleh Pentatonix mengalun indah memenuhi ruangan bernuansa monochrome itu. Tampak seorang laki-laki menggeliat dibalik selimut berwarna abu-abu, dengan tangan yang menyusuri nakas di samping tempat tidurnya untuk menemukan sumber suara.

 

Klik, dia menekan tombol off di bagian belakang alarm untuk menghentikan lagu yang memenuhi kamarnya.

 

Caraka Nararya, laki-laki yang biasa di panggil Raka itu bangkit dari tidurnya. Melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Raka keluar dari kamar dengan memakai kaos polos warna putih dan sarung hitam merk ternama yang merupakan brand milik orang tuanya.

 

Raka menuruni tangga menuju mushola kecil yang berada di rumahnya. Di sana sudah nampak Abi Faruq Nararya, Umi Dalila Haniya, dan keempat pekerjanya yang sudah siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.

 

“Raka! duduk sini.” Panggil Abi Faruq yang sudah duduk di ruang keluarga dengan ditemani berita dini hari.

 

“Nggih, abi ... Ada apa?” Raka mendudukkan dirinya di kursi bersebelahan dengan sang abi.

 

“Tolong bantu abi menghendel semua kerjaan di kantor, sepertinya abi ingin kembali mengunjungi rumah Allah bersama umi,” Ujar abi serius menatap putranya.

 

Caraka Nararya, laki-laki yang cuek terhadap apapun termasuk bisnis keluarganya. Diumurnya yang sudah menginjak 25 tahun, bisa di bilang matang. Dia memilih mengabdikan diri di salah satu kampus swasta Jakarta. Menjadi dosen muda yang terkenal killer dikalangan mahasiswa.

 

“Nggih abi ... Cuma sementara kan?”

 

“Abi itu ingin Mas Raka mulai membantu abi menjalankan bisnis keluarga. Kalau tidak mau meninggalkan kampus, setidaknya kurangi jam mengajarmu.” Abi Faruq merangkul putra kesayangannya itu.

 

“Kalau bukan Mas Raka, siapa yang mau mengurus bisnis abi? Tolong mulai besok Mas Raka datang ke kantor. Bantuin abi mengurus semuanya.” Lanjut Abi Faruq.

 

“Inggih, bi.” Raka menghela napasnya berat.

 

Raka beranjak dari duduknya setelah ngobrol banyak dengan sang abi. Abinya menceritakan apa saja yang akan dia lakukan besok ketika di kantor.

 

Raka sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan bisnis keluarganya, tapi siapa lagi yang akan melanjutkan bisnis keluarganya kalau bukan dia. Adiknya perempuan, dan masih kuliah semester 3. Jadi Raka memutuskan untuk mulai terjun menggeluti bisnis keluarga.

 

..........

user

08 January 2022 07:05 nanda malamsyah Mas Raka ???????? kenalan yukkk aku sigle lhoo

user

08 January 2022 19:16 Eka zevi Mas rakkaaa yuhhuuu

2.1 Tempat Magang

6 2

 

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata591

#Day3

 

 

 

***

 

Nampak seorang gadis sedang berlarian di koridor kampus dengan napas tersengal-sengal. Entah apa yang membuatnya sampai panik seperti itu, yang jelas banyak tumpukan kertas ditangannya yang dijepit menggunakan klip berukuran besar.

 

Tok tok tok!

 

Gadis itu membuka pintu kelas. Dia ingin masuk kemudian duduk untuk mengikuti mata kuliah. Tapi nyatanya suara bariton yang memanggilnya membuatnya sadar kalau yang ia hadapi saat ini adalah dosen killer di kampusnya.

 

“Adhisti!” Raka memanggilnya singkat dengan tatapan penuh intimidasi.

 

“I- iya, Pak?” Adhisti melangkah menghampiri Raka yang awalnya sedang menjelaskan materi.

 

Tatapan tajam Raka membuat Adhisti hanya menundukkan wajahnya. Tak berani menatap wajah sang dosen, ia malah menatap perut dosennya.

 

Biasanya ketika takut ia akan menunduk memandangi sepatu yang ia kenakan. Namun Pak Raka pernah menegurnya.

 

“Perhatikan lawan bicaramu! jangan menunduk terus, kamu pikir sepatu bisa berbicara denganmu?" maka hari ini ketika berhadapan dengan Raka ia putuskan untuk melihat perutnya, karena untuk menatap matanya yang tajam Adhisti tidak mampu.

 

“Kenapa telat?” tanya Raka basa-basi untuk mengetahui alasan apa yang dipakai mahasiswi di depannya ini. Padahal Raka sudah mengetahui alasan Adhisti terlambat hari ini.

 

Pagi-pagi sekali Raka mendapat telpon dari nomor yang tidak ia kenali dan ternyata ayah dari mahasiswinya Tisyabina Adhisti. Sebenarnya Ayah Adhisti meminta izin kepada Raka bahwa Adhisti tidak bisa mengikuti matkulnya siang ini disebabkan Adhisti harus melakukan transfusi darah di pagi harinya, tetapi ternyata Adhisti muncul di hadapannya dengan muka pucat membuat Raka penasaran.

 

“Maaf Pak, tadi ada urusan penting.” Jawab Adhisti tetap mempertahankan pandangannya di perut Raka.

 

“Wajah saya di sini, kamu lihatnya kemana?” Adhisti langsung tersentak mendengar suara Raka yang ternyata memperhatikan arah pandangnya.

 

Belum sempat mengucapkan maaf, Raka sudah lebih dulu menyuruh Adhisti duduk dan mengikuti perkuliahan. Matkul dengan 3 SKS itu selesai sekitar 2.5 jam.

 

“Adhisti, kamu ikut saya ke ruang dosen!” ucap Raka sambil berlalu keluar kelas.

 

Adhisti mengekor langkah Raka, hal itu membuat semua pasang mata yang berada di koridor kelas menatapnya. Ada yang menatapnya dengan tatapan ingin seperti Adhisti bisa mengikuti Raka ke ruang dosen, ada pula yang menatap dengan tatapan kasian karena Pak Raka tidak akan segan-segan menghukum mahasiswanya yang tidak disiplin dalam mengikuti matkulnya.

 

Sampai di ruang dosen Adhisti dipersilahkan untuk duduk di kursi yang ada di depan meja dengan papan bertuliskan Caraka Nararya, S.M., MMG.

 

Pikiran Adhisti masih menimbang-nimbang alasan apa lagi yang harus ia buat untuk lari dari hukuman dosen killer yang ada di depannya ini.

 

Raka berdehem untuk menyadarkan Adhisti dari lamunannya. Sekali lagi Raka menanyakan alasan Adhisti terlambat mengikuti kelasnya. Padahal Raka sudah menegaskan tidak ada keringanan untuk mahasiswa yang tidak disiplin.

 

Jawaban yang diharapkan seorang Raka dari Adhisti ternyata tak sesuai. Raka berharap Adhisti menjawab jujur seperti yang dikatakan ayahnya di telpon tadi. Adhisti mengidap Thalasemia dan pada kondisi tertentu harus melakukan transfusi darah. Kondisinya saat ini memang nampak pucat dengan kulit sedikit kekuningan. Padahal Adhisti mempunyai kulit seputih susu.

 

“Ma-maaf, Pak Raka.” Lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari bibir mungil itu.

 

“Untuk skripsi kamu, saya yang akan menjadi dosen pembimbingnya dan magang kamu yang semester kemaren terlewat, saya juga sudah menentukan perusahaan untuk tempatmu magang.” ucapan Raka sukses membuat wanita cantik di depannya melongo. Hal itu membuat Raka menarik sudut bibirnya sedikit. Ingat, hanya sedikit. Bahkan Adhisti yang di depannya tidak menyadari itu.

 

Adhisti keluar dari ruang dosen dengan linglung. Padahal ia ingin magang di perusahaan ayahnya untuk meminimalisir terjadinya kecapekan yang melanda. Kata ayahnya kalau kondisinya kurang fit bisa istirahat sesuka hatinya. Tapi nyatanya keadaan tidak sesuai yang Adhisti inginkan. Menolakpun juga tak bisa ia lakukan karena ia sadar sudah melewatkan batas kompensasi keterlambatan magang.

 

***

 

 

user

10 January 2022 11:35 Eka zevi Kasian ya Adhisti ????

user

10 January 2022 14:33 nanda malamsyah Pak Raka jan nackhallll

2.2

4 2

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata328

#Day4

***

Raka mengendari mobil Audi R8nya, membelah jalanan ibu kota. Sesekali Raka berhenti karena lampu menyala berwarna merah di perempatan atau pertigaaan.

 

Percakapan di telepon tidak sesuai yang dia harapkan, oleh sebab itulah ia pergi untuk menemui ayah mahasiswinya setelah jam mengajarnya habis hari ini. Menjelaskan bahwa dia bisa menjamin kondisi Adhisti ketika magang di kantornya.

 

Sebenarnya Raka tidak cukup perhatian untuk menyodorkan diri menjadi pembimbing skripsi ataupun menentukan tempat magang anak didiknya. Hal ini tidak luput dari permohonan sang ayah dari mahasiswinya yang meminta tolong untuk benar-benar memberikan posisi magang yang tidak terlalu melelahkan untuk anaknya.

 

Dua puluh lima menit perjalanan yang dilalui Raka, akhirnya dia tiba di sebuah restoran seafood yang lumayan terkenal. Bukan ia yang memilih tempat ini, melainkan ayah dari mahasiswinya.

 

Setelah Raka masuk, ternyata di sana, sofa paling ujung dengan sekat penjalin sudah terdapat pria paruh baya yang sedang duduk menunggunya.

 

"Assalamualaikum, Pak Pandu Rahandika." Raka menjabat tangan pria baruh baya tersebut.

 

"Waalaikumsalam, Pak Raka. Mari silahkan duduk." Ajak Pak Pandu kepada Raka.

 

Mereka menyelesaikan makan terlebih dahulu sebelum memulai obrolan serius menyangkut keadaan Adhisti ketika magang nanti.

 

"Bapak tidak perlu khawatir, insya Allah saya yang akan menjamin bahwa Adhisti akan baik-baik saja. Untuk posisi magang, saya akan mengaturnya. Dia akan saya tempatkan di kantor milik Abi saya." Raka berusaha meyakinkan Pak Pandu bahwa Adhisti akan baik-baik saja.

 

"Apa tidak bisa Adhisti magang di kantor saya sendiri?" Pak pandu masih mencoba bernegosiasi dengan Raka.

 

"Mohon maaf untuk ini tidak dianjurkan, karena mahasiswa yang magang membutuhkan nilai yang benar-benar mutlak dengan apa yang dia kerjakan." jawab Raka tegas.

 

Setelah hampir satu jam Raka mengobrol dengan Pak Pandu membicarakan bagaimana kondisi Adhisti mulai dari apa saja pantangan dan bagaimana penanganan ketika Adhisti mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya, bahkan mereka membicarakan hal-hal kecil tentang Adhisti, akhirnya Raka beranjak meninggalkan restoran tersebut setelah berpamitan dengan pak ...

 

Kembali Raka membelah jalanan yang lumayan ramai karena waktu menunjukkan angka dimana kebanyakan para pekerja dan karyawan pulang setelah bekerja seharian.

 

***

user

10 January 2022 11:39 Eka zevi Baca ini itu kek, siap gak siap????????

user

10 January 2022 14:39 nanda malamsyah Emmmm emmmmm pak Raka repot amat pak sampe cari tau tentang dishti segitunya

3.1 Hari Pertama Magang

6 2

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata345

#Day5

 

"Mba Dhisti, sudah siang Mba. Katanya hari ini hari pertama magangnya Mba Dhisti." Suara Sari terdengar di balik pintu kamar Dhisti disertai dengan ketukan bertempo.

 

"Iya Mba Sari, Dhisti udah bangun kok." Suara dari balik pintu membuat Mba Sari undur diri dari depan kamar anak majikannya itu.

 

Dhisti rupanya sudah siap di depan kaca dengan bathrobe putih melekat di badannya. Masih bingung memilah-milah pakaian apa yang kira-kira akan ia kenakan untuk hari pertamanya magang.

 

"Ini formal gak sih?" tanya Dhisti pada diri sendiri sambil memperhatikan pantulan kaca yang menampakkan gadis bercelana jeans dengan kemeja hitam, dan mulai melepaskan lagi ketika dirasa tidak cocok. "Enggak deh kayaknya."

 

Setelah empat pasang baju yang ia coba, akhirnya Dhisti memilih rok sepan peach diatas lutut dengan atasan blazer berwarna broken white. Dhisti mengayunkan kakinya yang terbalut sneakers berwarna abu peach keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya sebelum berangkat.

 

Saat menuruni tangga bisa dilihat Maya tengah menatapnya dengan senyum kagum.

 

"Ya Allah inikah anak yang ku lahirkan dua puluh satu tahun lalu? tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dia begitu cantik meski berbeda dengan yang lain, Kecantikannya bahkan bisa menutupi kekurangannya." Gumam Maya dalam hati.

 

Dulu saat pertama kali Maya mengetahui anaknya berbeda. Dia begitu sedih dan syok. Menangis setiap hari adalah kegiatan yang selalu ia lakukan sampai dia menyalahkan takdir kenapa harus  anaknya? padahal dari keluarga besar dia ataupun sang suami tak ada yang mengidap penyakit mengerikan itu, tetapi lambat laun dia mulai menerima dan mengerti bahwa anaknya istimewa keluarganya istimewa, Tuhan tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya. 

 

Sejak saat itu dia dan Pandu suaminya mulai semangat untuk terus menjaga dan memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.

 

Suara langkah kaki membuyarkan semua lamunan Maya. Anaknya sudah berada di hadapannya dengan semangat penuh. Dia lalu mengajak Adhisti ke meja makan untuk sarapan.

 

Adhisti menghabiskan sarapannya, meneguk air putih hingga tandas. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.

 

Bersama sang ayah, Adhisti berangkat menuju Narart Company. Mobil Pajero Sport milik ayah Adhisti membelah jalanan Ibu kota yang masih lenggang di pagi hari ini.

 

***

 

 

user

12 January 2022 18:51 Eka zevi Sedih banget si????????, apalagi pas bagian mamaknya dhisti

user

13 January 2022 17:08 nanda malamsyah Dhistii kuat yaa.... ehh dhisti nanti slam untuk kang sarung yaa

3.2

6 2

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata373

#Day6

 

***

 

 

 

 

Nampak bangunan kokoh menjulang tinggi dengan lalu-lalang karyawan di sekitar bangunan itu. Meskipun jam kantor belum mulai, tetapi sudah banyak karyawan yang berdatangan. Entah mereka saking rajinnya atau saking takutnya akan potongan gaji.

 

Adhisti memasuki lobby kantor dengan langkah santai, ia tiba 10 menit lebih awal dari jam yang ditentukan kantor untuknya. Hari ini ia akan ada sedikit wawancara kemudian pengarahan dari bagian HRD untuk penempatannya.

 

"Selamat pagi Mba." Adhisti menyapa kedua wanita yang berada di balik meja resepsionis, bermaksud menyampaikan tujuannya datang kesini.

 

"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" Jawab salah satu resepsionis dengan name tag Tika Wulansari.

 

"Begini Mba, saya Adhisti dari Universitas Bagaspati." Adhisti mulai menjelaskan semua keperluannya datang ke kantor ini secara detail.

 

Resepsionis bernama Tika tadi kemudian menghubungi pihak terkait dan menyuruh Adhisti untuk menunggu beberapa saat di sofa yang berada di depan meja resepsionis.

 

Adhisti melihat-lihat sekelilingnya, banyak karyawan yang mulai berdatangan. Ada beberapa yang terus memperhatikan ia duduk di sofa lobby. Berbisik-bisik dengan melihat ke arahnya membuat Adhisti beranjak dari duduknya.

 

"Adhisti, Universitas Bagaspati?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Adhisti ketika ia beranjak dari duduknya.

 

"I-iya pak." Adhisti menyambut uluran tangan pria tersebut.

 

"Saya Rendy sekertaris di Narart Company dan ini Bu Risa Manager di bagian business development. Beliau yang akan memberitahu pekerjaanmu dan akan mengajakmu berkeliling kantor ini."

 

Setelah mengucapkan itu orang yang memperkenalkan diri bernama Rendy itu meninggalkannya begitu saja. Adhisti melirik wanita di sebelahnya lalu tersenyum.

 

"Salam kenal bu. Perkenalkan nama saya Adhisti." Ucapnya canggung sambil mengulurkan tangan. Tanpa diduga Bu Risa yang mempunyai wajah sedikit tidak ramah itu menyambut uluran tangannya dan tersenyum.

 

"Saya Risa. Oke Adhisti mari ikut saya." Adhisti mengikuti langkah Bu Risa memasuki lift.

 

Adhisti terus mengikuti langkah Bu Risa sambil terus mendengarkan apapun yang Bu Risa ucapkan.

 

"Kamu akan di tempatkan di bagian riset pasar, jadi tugas kamu nanti mencari peluang pelanggan baru dan menjaga relasi antar pelanggan atau klien. Mengerti?"

 

 

"Mengerti bu ..." Jawabnya, setelah menjelaskan pekerjaannya Bu Risa mulai mengajaknya untuk berkeliling kantor yang sangat luas itu dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya, hingga rasa lelah mulai menyerang tubuhnya. Ingin rasanya ia meminta ijin kepada Bu Risa untuk beristirahat sejenak, namun di urungkan karena dia sadar ini bukan kantor ayahnya. Dia tak bisa seenaknya.

 

 

user

12 January 2022 18:53 Eka zevi Semangat dhisti semangat nyaiii

user

13 January 2022 17:12 nanda malamsyah Emm emmm apakah maksd dan tujuan kang sarung pada anda dhisti

3.3

6 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata369

#Day7

 

***

 

Di pagi yang sama seorang pria yang sudah memakai kemeja berwarna navy dengan celana jeans berwarna gelap dan arloji yang bertengger manis di lengan kirinya itu tengah mengotak-atik ponselnya mencari nama seseorang untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.

 

Tuuut ... tuuut ... tuuut ...

 

Tiga kali nada sambung terdengar, hingga muncul suara seseorang disebrang sana.

 

"Halo ..."

 

"Assalamualaikum Ren ..." 

 

"Waalaikumsalam ya ahli sarung ... Angin apakah ini yang membawa seorang calon CEO menelpon saya pagi-pagi seperti ini?" Jawab Rendy yang tak lain sahabat sekaligus sekertaris sang abi.

 

"Kamu sudah baca pesan saya?, ingat laporkan semua apapun tentang dia. Dan jangan berikan posisi yang membuat dia sampai kelelahan."

 

"Iya Ka, iya. Masya Allah banget, seorang Caraka Nararya kok bisa banyak omong begini. Emang dia siapa sampe kamu sebegitu perhatiannya?" Rendy mulai penasaran, sebab bertahun-tahun dia mengenal Raka belum pernah dia banyak bicara. Apa lagi ini hanya untuk seseorang yang dia sebut mahasiswinya itu mustahil, sangat tidak mungkin.

 

"Sejak kapan kamu menjadi orang yang ingin tau urusan orang lain?" Bukannya menjawab Raka malah balik bertanya.

 

"Apa salahnya? Di lihat dari fotonya saja sudah cantik apa lagi aslinya. jika dia bukan pacarmu, lebih baik aku jadikan pacar saja." Pancing Rendy. Dia semakin penasaran karena Raka lebih memilih mengalihkan pembicaran alih-alih menjawab pertanyaannya.

 

"Jangan macam-macam kamu!" Raka mulai meninggikan nada suaranya, ia geram dengan ucapan Rendy. Siapa yang tak kenal Rendy Bimayu sang cassanova yang sudah melanglang buana di dunia persilatan. Sejak dulu Rendy bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, sekali lirik saja wanita akan langsung menyerahkan diri. Berbeda dengan Raka yang memang sejak dulu belum pernah berdekatan dengan wanita manapun. Alhasil saat Raka sedikit saja memberikan rasa peduli pada seorang wanita Rendy dengan mudah bisa menyimpulkannya. 

 

"Haha ... Aku makin yakin dia bukan sekedar mahasiswimu Mas dosen. Akhirnya, anak Abi Faruq akil baligh juga. Jujur saja padaku atau aku cari tau sendiri."

 

"Kau ... -" 

 

Tok ... tok ... tok ...

 

Belum sempat Raka melanjutkan ucapannya untuk menyumpahi sahabatnya itu, terdengar suara pintu diketuk dan di susul suara cempreng sang adik menghentikan ucapan Raka.

 

"Mas, dipanggil tuh sama umi sama abi. Udah di tungguin di bawah buat sarapan." 

 

"Iya dek ... Duluan saja, nanti mas nyusul." Teriak Raka, lalu melanjutkan percakapannya dengan Rendy tentunya membahas pekerjaan dan sedikit peringatan kepada Rendy tentang Adhisti

 

...

 

 

user

13 January 2022 17:16 nanda malamsyah Alhi satung ???????????????? auto ngakak yaa Allah

3.4

4 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata365

#Day8

 

***

 

Raka berjalan mendekati meja makan, terlihat sang abi, umi dan adiknya tengah menyantap sarapannya masing-masing dengan khidmat. Raka langsung duduk di kursi yang biasa dia duduki.

 

"Masih pagi udah sibuk aja Mas." Ucap sang umi sembari menyodorkan piring sarapan milik Raka.

 

"Nggih umi ... " Hanya itu yang keluar dari mulut Raka, dia lebih memilih memulai memakan makanannya. Raka bukan orang yang pemilih soal makanan, apapun yang uminya masak akan Raka makan. 

 

Sejak kecil, Abi Faruq selalu mendidik anak-anaknya untuk menghargai dan mensyukuri apapun yang menjadi rejeki mereka hari ini, termasuk tak memilah-milah makanan.

 

"Habiskan sarapannya, Mas. Setelah sarapan abi tunggu Mas Raka di teras depan, ada beberapa hal yang ingin abi bicarakan." Abi Faruq pergi terlebih dahulu ke teras depan meninggalkan anak sulungnya yang masih menyuapkan sarapannya.

 

Raka tak menjawab ucapan sang abi, hanya anggukan kepala yang di jadikan jawaban, meski penasaran Raka tetap menghabiskan sarapannya terlebih dahulu. Setelah itu baru menyusul abinya ke teras depan.

 

Sesampainya di teras Raka melihat ada beberapa tumpukan map dan ada sebuah amplop coklat di atas meja, entah kenapa dia curiga dengan isi amplop cokat itu. Semoga apa yang ada dalam benaknya salah besar.

 

 

"Abi mau bicara apa?" Tanya Raka setelah mendudukan diri di kursi yang bersisian dengan abinya.

 

"Kamu pasti sudah tau mas, seminggu lagi adalah tanggal keberangkatan abi dan umimu untuk ke rumah Allah. dan abi ingin mas sudah mulai menengok perusahan." Abi mulai berbicara. Entah kenapa ucapan sang abi sekarang lebih seperti angin surga yang menyejukan di telinga Raka.

 

Saat mendengar kata perusahaan tiba-tiba terbayang wajah cantik dan gigi seperti kelinci milik sang mahasiswi yang mungkin sekarang sudah berada di perusahaan abinya. Senyuman pun terbit dari bibir pria bermata tajam itu. Hanya sedikit bahkan sang abi pun tak bisa melihatnya. Sungguh Raka adalah salah satu mahluk ciptaan Allah yang bisa menyembunyikan segala sesuatu dengan wajah datarnya.

 

" Nggih abi ... Insya Allah nanti Raka ke sana."

 

 

"Ini semua berkas-berkas penting milik perusahaan jaga baik-baik ya mas, saat abi nggak ada." Abi Faruq menyerahkan setumpuk map itu kepada Raka dengan senyum lega, namun belum sempat Raka menarik tangan abinya sudah menyodorkan sebuah amplop coklat yang di curigai Raka.

 

"Dan ini ada titipan dari ustad Anwar dan gus Yusuf untuk mas."

 

 

user

14 January 2022 07:36 nanda malamsyah Ayoo mas Raka mau pilih2 isi map atau yg sudah jelas di depan mata ada Adishti

4.1 Bertemu

3 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata404

#Day9

***

 

 

Audi R8 hitam milik Raka tengah melaju membelah jalanan ibukota menuju bandara internasional Soekarno Hatta. Hari ini tepat seminggu setelah percakapannya dengan sang abi di teras depan rumah mereka.

 

Di sampingnya terlihat seorang gadis imut berhijab dusty tengah menatap lurus ke depan, sedangkan di kursi belakang abi duduk berdampingan dengan umi yang tengah memberi wejangan kepada sang adik sepanjang jalan hingga mereka tiba di bandara.

 

 

"Inget ya dek pesan umi ... Jaga diri baik-baik saat umi dan abi gak ada." Umi Dahlia masih saja memperingati anak gadisnya meski sekarang sudah waktunya mereka cek-in. Ini bukan kali pertama untuk Umi Dahlia dan Abi Faruq meninggalkan anak gadisnya, tetapi rasa khawatir tentu selalu ada di hati umi.

 

"Sudah umi, sudah ..., insya Allah mereka akan saling menjaga. Lagipula ada Raka yang pasti akan jagain Delia. Abi sama umimu pergi dulu ya ... Assalamualaikum." 

Abi Faruq mengulurkan tangannya dan di sambut oleh kedua anaknya.

 

"Waalaikumsalam ... Hati-hati abi umi." Ucap keduanya, Sambil bergantian mencium tangan orang tuanya.

 

 

 

Saat kembali ke mobil Raka teringat jika abinya sudah tiga hari tak datang ke perusahaannya. Itu berarti hari ini dia yang harus ke kantor untuk memantau dan tentunya melihat keadaan seseorang.

 

 

 

"Mas mau ke kantor abi sebentar, adek mau mas antarkan kemana?"

 

"Adek ikut aja mas, cuma sebentar kan?, adek gabut di rumah sendirian."

 

Raka melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sebentar lagi sudah waktunya adzan dzuhur. Lebih baik dia mengajak sang adik makan siang di salah satu kedai atau cafe terdekat lalu melaksanakan kewajibannya, setelah itu baru ke kantor sang abi.

 

"Kita cari tempat makan dulu, sebentar lagi juga udah masuk waktu dzuhur."

 

Ucapan Raka hanya mendapat anggukan dari Delia.

 

Sikap Delia tak jauh berbeda dari sang kakak berbicara hanya seperlunya saja, namun ketika dia kesal suara cempreng itu tak akan berhenti berbicara hingga rasa kesalnya hilang, dan itu hanya ia tunjukan kepada sang umi, abi dan juga Masnya.

 

 

 

Setelah makan siang, melakukan solat dzuhur dan sedikit bermacet-macetan akhirnya kedua anak Abi Faruq sampai di Narart Company.

 

 

Raka dan Dela mulai memasuki lobby kantor dengan berjalan bersisian, petugas resepsionis dan semua karyawan yang berpapasan mencoba menyapa mereka dengan sapaan, memberi salam bahkan memberikan senyuman. Namun hanya Delia yang memberi senyuman sebagai tanda balasan untuk sapaan mereka, Raka? Jangan di tanya, dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi dan terus berjalan hingga ada seseorang menabrak dadanya.

 

 

Dukk ...

 

"Aduh! Maaf saya tidak sengaja, saya minta maaf." Cicit seseorang yang menabraknya.

 

user

15 January 2022 09:17 Ume Humaedah Duk...Duk..Duk...

4.2

2 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata359

#Day10

***

 

"Aduh! Maaf saya tidak sengaja ... Saya minta maaf." Cicit seseorang yang menabraknya.

 

Pupil mata Raka tiba-tiba melebar saat mengetahui siapa yang menabraknya. Sedikit tersenyum lalu berubah datar kembali.

 

"Kenapa kebiasaan kamu tidak pernah berubah?, memangnya sekarang sepatu sudah bisa di ajak bicara?" Raka membuka suaranya ketika melihat Adhisti meminta maaf dengan cirikhasnya yaitu menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.

 

"Hah?" Adhisti mendongak mendengar suara bariton dan kata-kata yang tak asing di telinganya, dalam keadaan seperti ini Raka bisa leluasa menatap wajah cantik didepannya yang mulai memucat.

 

Baru seminggu dia magang disini kenapa bisa sangat pucat, pekerjaan apa yang di berikan Rendy padanya.

 

Tatapan Raka langsung berubah tak lagi datar seperti tadi, nampak jelas kemarahan di raut muka Raka. Niat hati ingin mengamati bagaimana sang mahasiswi bekerja, namun yang di dapat Raka adalah wajah pucat yang terlihat lelah dengan kulit mulai kekuningan. Ia kepalkan tangannya, lalu melirik sang adik.

 

"Dek, kamu ajak dia ke kantin atau ke ruangan abi ya ... Mas ada urusan sebentar." Perintah Raka dingin dan tak terbantahkan.

 

Dia melangkah pergi ke arah lift meninggalkan Adhisti dan Adelia yang heran melihat Raka tiba-tiba berubah marah.

 

Sepanjang jalan pria itu merutuki sikap lalainya. Kenapa bisa kulit Adhisti berwarna kekuningan seperti itu, apa dia belum transfusi darah, Bagaimana jika Pak Pandu mengetahuinya, Bagaimana jika sampai Adhisti drop. Isi kepalanya sekarang penuh oleh Adhisti dengan segala pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya. 

 

Didepannya sekarang sudah nampak pintu coklat bertuliskan sekertaris. Tanpa mengetuk ia langsung membuka pintu. Terlihat seorang pria yang tengah menerima telepon dan duduk di kursi kerjanya.

 

Pria itu memakai kemeja berwarna maroon serta jas hitam dan celana hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rambutnya di sisir rapi dan nampak basah oleh gel rambut. Di tambah wajah yang tampan bak Robert Pattinson Bagaimana wanita tak tergila-gila jika sang pemangsanya berpenampilan semenarik ini.

 

Dia menyambut sahabatnya dengan senyuman yang sangat manis, apa dia tak tahu kalau sahabatnya sekarang sudah berubah menjadi singa yang kelaparan dan siap mencabik-cabiknya. Kenapa dia begitu santai padahal Raka sudah menunjukan wajah tak ramahnya.

 

"Assalamualaikum ... Orang yang sedang jatuh cinta sampai lupa mengucap salam. Kalo umi tau kamu di marahin nanti." Rendy menampilkan senyum smirk.

 

 

user

16 January 2022 09:05 Ume Humaedah Mas dosen jan mamarahan dongs... Hihi

4.3

3 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata479

#Day11

 

***

 

Judul: Tisyabina Adhisti

Penulis: Nyai Yunghe

PJ:

Abang Jaga:

Ketua kelompok:

 

***

 

 

 

 

 

Raka tetap menatap tajam pria di depannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh lelucon yang di buat-buat oleh sahabatnya. Perasaan marahnya masih butuh di lampiaskan lebih tepatnya dia butuh penjelasan.

 

"Pekerjaan apa yang kamu berikan kepada dia?" tanya Raka langsung to the point, dia saat ini sedang tidak ingin berbasa-basi.

 

Rendy yang tau arah pertanyaan Raka nampak mengerutkan dahinya. Ternyata benar gadis itu yang sudah menarik Raka dari zona nyamannya, namun yang membuatnya bingung kenapa Raka marah, apa yang membuatnya marah, siapa yang membuat Raka marah. Apa dirinya, tetapi apa salahnya sampai Raka marah padanya. Padahal ia telah menempatkan gadis itu di bagian yang Raka inginkan.

 

"Bagian businnes development sesuai keinginanmu, lalu apa yang salah?" Rendy mulai berjalan mendekati Raka. Mengajak sang sahabat duduk.

 

"Siapa penanggung jawab divisi itu?" Raka menuruti sahabatnya untuk mendudukkan dirinya di kursi panjang yang berada tak jauh dari meja kerja Rendy.

 

"Nanti ku panggil kesini ... come on Ka, kamu baru datang ke sini dan sudah marah-marah gak jelas gini cuma gara-gara gadis itu?, Bu-cin." Ejek Rendy. Dia kesal sungguh kesal. Kemana hilangnya Caraka Nararya yang menyikapi segala sesuatu dengan tenang tanpa emosi. Yang di depannya matanya saat ini sungguh bukan sahabatnya.

 

"Siapa yang bucin?" Tanya Raka tak terima jika pria di depannya itu menyebutnya bucin.

 

"Kamu, siapa lagi?, masa iya cicak yang sembunyi di balik lemari." Rendy mulai memutar matanya, merasa jengah dengan Raka. Sudah ketahuan masih tidak mau jujur.

 

"Bukan begitu, tetapi dia berbeda." Raka mencoba terbuka kepada Rendy. Mungkin setelah Rendy tau dia bisa ikut mengawasi Adhisti, karena Raka tak mungkin bisa mengawasi setiap hari. Adakalanya dia harus ke kampus. Apalagi saat nanti abinya sudah pulang dia tak punya alasan lagi untuk datang ke perusahaan ini.

 

"Iya dia berbeda. Dia sedikit diam dan penurut, pasti umi akan suka. tidak seperti perempuan yang mengejarmu dulu. Selalu bikin umi sakit kepala." Rendy salah menafsirkan ucapan Raka. 

 

"Dia berbeda karena suatu hal Ren." Raka mulai menceritakan semua yang ia ketahui dari Pak Pandu tanpa terkecuali.

 

"Jadi, kamu peduli padanya karena rasa suka atau sekedar rasa kasian?" 

 

"Entahlah, aku tidak tau." Raka menghela nafas panjang. Dia tidak mengerti tentang rasa pedulinya pada Adhisti. Jika boleh jujur Raka belum pernah merasakan rasa itu sebelumnya.

 

"Jangan jadi pengecut men, jangan pernah kasih harapan kalo kamu sendiri belum paham dengan perasaanmu. Aku cuma bisa bilang Berhenti dari sekarang kalo memang rasamu hanya sekedar kasian. Karena dia sama sekali gak butuh rasa kasian darimu, dan bertahan sampai akhir jika memang rasamu bener-bener tulus. Kasih dia support, kamu harus selalu ada untuknya meski mungkin kedepannya jalan kalian takkan mudah dan kamu harus siap jika kapan saja Mas Izrail mengajaknya pergi." Rendy menepuk bahu pria yang tengah termenung memikirkan ucapannya.

 

"Tapi ... sebelum kamu melakukan semuanya yang harus kamu lakukan saat kamu sudah sadar dengan perasaanmu adalah bilang ke dia kalo kamu suka sama dia. Berani gak? Di jamin kamu gak akan berani. Haha."

 

 

4.4

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata480

#Day12

 

***

 

Sesi curhat berjalan lumayan lama hingga dua jam, entah apa yang di bicarakan dua pria itu hingga memakan waktu begitu lama.

 

Satu jam yang lalu, Bu Risa keluar dari ruangan Rendy dengan lemas, bukan tanpa sebab wanita yang sudah berkepala tiga sampai seperti itu. Tiga puluh menit dia di interogasi di dalam ruangan Rendy.

 

Macam tersangka yang telah melakukan kejahatan Bu Risa tak bisa berkutik, bahkan saat menjawab pertanyaan dari Rendy pun terdengar gemetar. Tatapan seseorang di samping tangan kanan Abi Faruq itu terlalu mengintimidasi begitu tajam dan dingin. Yang membuatnya begitu gugup.

 

Di ruangan Abi Faruq terlihat dua gadis yang usianya hanya terpaut beberapa tahun tengah duduk bersebrangan. Hawa canggung mengeruak mengisi seluruh ruangan yang begitu luas.

 

Adhisti diam karena bingung harus mulai percakapan dari mana, sedangkan Delia tengah sibuk memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Dalam benaknya penuh tanda tanya. Siapa wanita ini kenapa sang kakak menyuruhnya membawa dia ke ruangan abi.

 

Ckleeek ...

 

Suara pintu terbuka membuat Adhisti dan Delia refleks menengok ke arah pintu secara bersamaan. Terlihat Raka dan Rendy masuk ke ruangan.

 

 

Raka langsung mendudukan diri di samping sang adik dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Adhisti, lalu di ikuti Rendy yang duduk di samping Raka.

 

 

"Kenapa muka kamu pucat?" Raka langsung bertanya dengan muka datarnya. 

 

 

 

"Hah?" Alih-alih menjawab, hanya itu yang keluar dari mulut Adhisti.

 

 

 

"Huh-hah, huh-hah ... Kalo kakanda nanya itu di jawab neng." Rendy yang gemas langsung refleks berbicara seperti itu. Dan langsung mendapat injakan di kakinya dari Raka. Rendy hanya meringis menahan sakit. Tidak mungkin dia sampai berteriak hanya karena kakinya di injak Raka. Bisa-bisa turun harga dirinya di depan Delia.

 

Adhisti yang melihat Rendy berbeda 180 drajat makin bingung. Biasanya laki-laki itu cool dan tak banyak bicara. Kenapa saat di depan dosennya dia begitu nyeleneh. Dan lagi siapa sebenarnya Pak Raka, kenapa bisa ia berada di kantor ini, dan bisa seenaknya membawa dia ke ruangan direktur.

 

 

"Sa-saya tidak apa-apa pak." Jawab Adhisti. Ia tidak mau sampai orang-orang tau penyakitnya. Dia bahkan sudah memakai foundation untuk menyamarkan pucat di wajahnya, namun kenapa Pak Raka masih saja mengetahuinya. 

 

 

Seharusnya memang dia sudah melakukan transfusi darah dari tiga hari yang lalu, namun karena sibuk mengurus sekripsi dan juga sedang magang Adhisti selalu bilang nanti saat orang tuanya mengajaknya untuk ke rumah sakit. Karena tak mungkin ia datang terlambat ke kantor atau bahkan bolos.

 

 

Pandu dan Maya sudah sangat khawatir dan selalu memaksa Adhisti untuk meminta izin saja. Bahkan Pandu sendiri sudah hendak menelpon Raka, tetapi anaknya selalu meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa. Dia kuat, dia masih bisa menahannya.

 

 

 

"Hm ya sudah, kamu bisa kembali ke divisimu." Ujar Raka. Mempersilahkan Adhisti keluar.

 

 

 

Gadis itu menurut, ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun saat tangannya baru memegang handle pintu mata Adhisti berkunang-kunang pandangannya sedikit demi sedikit mulai kabur lalu gelap ia tak bisa melihat apapun dan suara teriakan yang awalnya terdengar kencang lambat laun mulai tak terdengar.

 

 

5.1 Kamu Kuat

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata473

#Day13

 

***

 

"Adhisti!" Teriak Raka berlari merengkuh tubuh yang sedikit lagi menyentuh lantai.

 

Memang sejak masuk ke ruangan sang abi, mata Raka tidak pernah lepas dari Adhisti. Saat gadis itu melangkah menuju pintu pun Raka tetap menatapnya, dan ketika Adhisti mulai kehilangan kesadarannya Raka langsung berlari.

 

"Aduh ini gimana Mas?" Tanya Delia panik.

 

"Bawa ke rumah sakit. Ayo buruan bro!" Rendy tak kalah paniknya, Raka dengan sigap menggendong Adhisti dan langsung membawanya ke rumah sakit.

 

Sesampainya di rumah sakit, Rendy langsung berlari ke dalam dan sesaat kemudian ia sudah kembali bersama tiga orang petugas dan sebuah brankar. Raka yang masih menggendong Adhisti langsung menidurkannya di brankar lalu ia dan Delia mengikutinya dari belakang. Sedangkan Rendy kembali ke mobil dan mencari lahan parkir yang kosong.

 

 

 

Di IGD Raka tak bisa ikut masuk, namun ada seorang perawat yang keluar lalu mendekatinya.

 

 

 

"Bapak suami dari pasien?" tanya si perawat. Tentu saja Raka bingung harus menjawab apa.

 

 

 

"Bukan, saya walinya." Jawab Raka. Rasanya ia ingin mengiyakan saat sang perawat tadi bertanya, namun dia sadar di sampingnya ada sang adik. Jika dia mengiyakan otomatis gadis itu akan melaporkannya kepada sang umi.

 

 

 

 

"Pasien pingsan sejak kapan, Pak?"

 

 

 

 

"Setengah jam yang lalu."

 

 

 

"Apa pasien punya riwayat sakit atau ada benturan di kepala saat jatuh tadi?"

 

 

 

"Kalo benturan sepertinya gak ada, tapi dia punya riwayat sakit thalasemia."

 

 

 

 

"Baik, terimakasih pak. Kami akan segera mengecek darahnya." Ucap suster lalu beranjak memasuki ruangan IGD.

 

 

 

Setengah jam kemudian, perawat tadi menghampirinya kembali. Dia mengucapkan kata-kata yang membuat Raka semakin bingung dan cemas, bagaimana tidak perawat itu bilang kalau hasil tes darah Adhisti sudah keluar. Dan transfusi darah sudah bisa dilakukan sejam setelah hasil tes keluar, namun pihak rumah sakit tidak memiliki stok golongan darah yang Adhisti butuhkan. Cara satu-satunya Raka harus mencari golongan darah yang Adhisti butuhkan ke PMI terdekat dan sekarang Adhisti tengah mengalami penurunan kesadaran.

 

 

"Dek, Adek sendirian dulu di sini gak apa-apa'kan?, Mas mau nyari PMI terkdekat dulu." Tanya Raka kepada sang adik. Meski pikirannya sedang kalut Raka mencoba tetap memasang wajah tenang di hadapan adiknya.

 

"Gak apa-apa, Mas. Asal setelah semua ini beres mas harus cerita." Delia mencoba mengerti. Walaupun di dalam hatinya dia sungguh sangat penasaran.

 

"Iya ..." Raka tersenyum mengusap ujung kepala adiknya yang di tutupi hijab lalu melangkah pergi, ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon sang sahabat yang entah kemana.

 

***

 

Disisi lain rumah sakit Rendy tengah sibuk mencari lahan parkir untuk mobilnya. Entah kenapa parkiran rumah sakit selalu penuh. Padahal ini rumah sakit bukan mall atau tempat wisata.

 

Ketika mobil sudah terparkir dan hendak keluar, ponsel miliknya berdering. Nampak nama sang sahabat yang muncul di layar. Rendy yang berjalan dengan mata yang fokus menatap ponselnya tanpa sengaja menyenggol seseorang.

 

"Aduhh! Jalan tuh pake mata." Ucap seseorang yang di senggol olehnya, lalu pergi meninggalkan Rendy.

 

"Dimana-mana jalan pake kaki neng, bukan pake mata. Cantik-cantik galak bener, kepincut pesona abang baru tau." 

 

 

 

 

 

 

5.2

1 0

 

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata518

#Day14

 

***

 

Raka bisa bernafas lega, saat jam menunjukan pukul tujuh malam dia mendapatkan golongan darah yang diinginkan. Ia kaget saat mendapati ponselnya berdering dan nampak nama ayah dari Adhisti di layar, pria itu langsung mengangkat dan memberitahu kondisi Adhisti.

 

Satu jam kemudian transfusi darah sudah bisa dilakukan, Adhisti sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Raka menyuruh Delia pulang dengan Rendy, namun adiknya menolak. Lebih memilih ikut menunggu di rumah sakit bersama sang kakak.

 

Raka pamit kepada sang adik, akan ke musola sekaligus kantin rumah sakit untuk membeli makanan. karena ternyata Delia belum memakan apapun sejak siang tadi. Ketika Raka kembali terlihat kedua orang tua Adhisti sudah berada di sana dengan seorang dokter dan seorang perawat.

 

"HB awalnya berapa?" Tanya sang dokter

 

"6.1 dok."

 

"masukkan darah 1 kantor perhari ya, hari ke 3 cek ulang."

 

"Baik dok." 

 

Setelah itu, dokter dan perawat pamit. Delia dan Raka nampak tidak mengerti apa yang di katakan sang dokter tadi. Berbeda dengan kedua orang tua Adhisti yang sudah paham, karena tidak sekali dua kali Adhisti seperti ini.

 

Maya nampak menangis melihat sang anak yang tengah menutup matanya. Mendekatinya lalu mengusap lembut kepala anak semata wayangnya.

 

Kenapa harus kamu nak, kenapa bukan bunda saja. Andai bunda bisa menggantikanmu sayang. Pasti akan bunda lakukan. Asal kamu terbebas dari segala rasa sakit ini.

 

Banyak kalimat dalam benaknya, ia juga ingin menjerit sekencang-kencangnya, namun yang dia lakukan hanya diam memandangi wajah anaknya dengan air mata yang terus menetes.

 

Pandu yang tidak tega melihat istrinya menangis dalam diam, lalu mengajak Raka untuk ke luar dari ruangan. Meninggalkan sang istri dan adik dari dosen anaknya.

 

Kantin rumah sakit adalah tujuan Pandu. Dua pria berbeda usia itu sekarang sedang duduk di sudut kantin yang dekat jendela, Pandu memesan dua cup americano.

 

Terdengar helaan nafas yang sangat panjang, namun Raka tetap diam tak berani membuka pembicaraan. Ia merasa bersalah karena sudah lalai menjaga amanah yang di berikan Pak Pandu bahkan lupa mengabari saat anaknya masuk rumah sakit. Pria macam apa Raka ini.

 

Lima belas menit kemudian Pandu baru membuka mulutnya, dengan wajah yang menampakan kesedihan ia mengeluarkan semua sesak di dalam dadanya kepada Raka yang bisa di bilang bukan siapa-siapanya, bahkan bukan pacar atau calon suami dari anaknya.

 

"Adhisti adalah anak yang periang. Dia nggak pernah ngeluh saat teman-teman seusianya puas bermain, sedangkan dia harus fokus mengikuti pengobatan. Harusnya dia juga bisa ikut bermain bersama teman-temannya." Pandu bercerita dengan  wajah yang menunduk menatap cup kopinya.

 

"Dulu saat masih kecil Adhisti sangat semangat untuk berobat, karena ingin segera sembuh dan bermain dengan teman sebayanya. Tapi lama kelamaan Adhisti yang beranjak remaja mulai lelah berobat hingga ia berusaha menyerah. Tak ingin melakukan pengobatan lagi." 

 

Ayah Adhisti yang awalnya menunduk  berubah menatap Raka, dia menceritakan semuanya secara detail. Bagaimana dulu Adhisti memiliki cita-cita yang sederhana bahkan membuat list keinginannya jika sembuh nanti, namun semuanya Adhisti kubur bahkan perihal menikah pun Adhisti sudah memutuskan untuk tidak akan menikah.

 

Raka hanya menunduk tatapannya tertuju pada  americano miliknya, hatinya teriris mendengar kenyataan tentang Adhisti. Rasa ingin menjaga dan melindunginya semakin besar. Rasa ingin menariknya keluar dari semua rasa sakitnya. Rasa ingin mewujudkan semua keinginan dan mimpinya dulu.

 

 

5.3

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata476

#Day15

 

***

 

 

 

 

"Mas harus cerita sekarang juga, Delia gak mau tau." Kalimat itu yang keluar dari mulut Delia, saat mereka baru saja memasuki rumah. Pemuda itu tadinya akan menginap di rumah sakit, tetapi kedua orang tua Adhisti menyuruhnya pulang. Jadi di sinilah mereka berada sekarang rumah kediaman Abi Faruq Nararya.

 

"Gak bisa besok aja dek? Mas cape banget ini ...." Raka mencoba tawar-menawar dengan sang adik.

 

"Gak bisa, Mas." Delia tak mau mendengar alasan.

 

" Oke ... Sini!" Raka duduk di sofa dan menepuk-nepuk sisinya agar Delia duduk di sana. Gadis itu menurut saja, ikut mendaratkan tubuhnya di samping masnya.

 

"Apa yang kamu ingin tau, hmm?, Jangan sampai rasa penasaran kamu menghilangkan nyawamu dek."

 

"Astaghfirullah, Mas. Gitu amat, aku cuma kepo sama mas doang ko."

 

"Yakin?" Raka mengangkat alisnya.

 

"Udah ah ... Ayo jawab siapa mba-mba tadi, kenapa mas nyuruh dia masuk ke ruangan abi?, kenapa mas khawatir banget sama dia?, ayo ngaku mas!" Delia mulai kesal masnya terlalu bertele-tele.

 

 

Raka menarik nafas dia bingung harus menjawab apa, jika dia jujur adiknya pasti akan langsung bercerita kepada uminya. Jika berbohong, itu bukan pilihan karena uminya tidak pernah mengajarkan hal itu. Dan dia selalu menuruti ucapan umi nya. Catat itu, Raka tidak pernah membatah sang umi.

 

 

"Dia mahasiswi mas, dia sedang magang di kantor abi, dan kamu liat sendiri dia sakit. Mas di beri amanah oleh ayahnya untuk menjaganya." Raka mencoba bersikap biasa dan tidak banyak bicara, sedikit lagi dia bicara adiknya pasti akan memiliki celah untuk mengorek lebih dalam.

 

 

"Oooh ...." Delia ber-oh, Raka berdiri ingin segera membaringkan tubuhnya ketika Adelia menarik bahunya.

 

"eh tapi bukannya di kantor abi nggak boleh ada yang magang ya mas?, Mas sendiri kan yang bilang ke abi, mas gak mau kantor jadi ribet gara-gara mahasiswa yang magang, hayo ... hayo." Pupil mata Delia menyipit, Dia mulai mencium bau tidak beres.

 

 

"Ah sudahlah, mas mau tidur cape." Hanya itu yang bisa Raka ucapkan, langkah selanjutnya adalah berlari pergi menjauh dari adiknya, mengabaikan panggilan adiknya yang semakin lama semakin melengking. Ia sudah kehabisan kata-kata, Bodohnya dia melupakan aturan di kantor yang dia buat sendiri hanya demi seorang tisyabina Adhisti Rahandika.

 

 

 

Di rumah sakit Adhisti mulai membuka matanya ketika sang dosen sudah pulang, badannya sungguh sangat lemas bagai tidak memiliki tulang. 

 

 

Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya untuk melihat sekitar, nampak ruangan yang sangat asing baginya, namun aroma yang ia cium sudah bersahabat baik dengannya, aroma rumah sakit dan obat-obatan memliki cirikhas tersendiri.

 

 

Di pandanginya sang ibu sudah terlelap di sofa, sedangkan sang ayah tidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya. Adhisti meneteskan air matanya sungguh dia sudah lelah, dia tak tega harus terus menyiksa dan merepotkan kedua orang tuanya.

 

Tuhan andai boleh aku meminta ajaklah pulang aku sekarang, aku sudah tak sanggup melihat raut kesedihan di wajah kedua orang tuaku, tubuhku pun sudah lelah selalu di tusuk jarum-jarum yang menyakitiku setiap saat. Semangat hidupku sudah tergerus habis oleh rasa lelah ini.

 

 

5.4

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata638

#Day16

 

***

 

Subuh kali ini berbeda, biasanya Raka yang akan mengimami shalat, tetapi sampai matahari mengintip dia tidak kunjung menunjukan batang hidungnya. Bukan hanya Adelia yang bingung, seluruh pekerja rumah pun heran tumben sekali anak sulung dari majikannya ini tidak melaksanakan shalat subuh di musola kecil rumahnya. 

 

Pemuda itu baru keluar dari kamar sekitar pukul delapan pagi, melangkahkan kaki keluar rumah untuk menyalakan mobilnya. Sang adik sampai berlari karena takut ditinggalkan sang kakak.

 

"Mas kenapa sih aneh banget hari ini?" Tanya Delia saat sudah mendudukan diri di kursi samping kemudi, Raka diam tak menjawab ucapan adiknya.

 

"Ih di tanya diem aja, aku tau ko ... Mas pasti ngehindarin aku gara-gara takut di tanya soal mba Adhisti'kan iya'kan ngaku gak?" Delia terus mengoceh hingga Raka tidak tahan lagi.

 

"Adelia Nararya!" Ucapan Raka yang menyebut nama lengkapnya langsung membuat Delia diam. Dia tau jika Raka marah atau tidak suka dia akan langsung menyebut nama lengkapnya.

 

Kesunyian itu berlangsung selama sisa perjalanan mereka, hingga sampai di kampus Delia mencium tangan kakaknya kemudian turun dari mobil. Raka tidak ikut turun, dia melajukan kembali kendaraannya menuju Narart Company.

 

Raka bergegas ke ruangan Rendy, pria bermata hanzel dan bertubuh tinggi itu tak ada di sana. Ia mencari ke sana kemari hingga berakhir di ruang rapat, suara pria yang sedang menutup rapat terdengar menggema sampai keluar.

 

Raka menunggu hingga sang pemilik suara keluar, lalu ia tarik begitu saja. Ia abaikan semua tatapan karyawan yang menatapnya heran.

 

"Astaghfirullah ...." Rendy kaget melihat tangannya di tarik oleh seseorang.

 

"Gak perlu main tarik bisa?, udah dateng telat, gak mimpin rapat sekarang dateng maen tarik. Lu pikir gue layangan di tarik-tarik." Rendy mulai emosi.

 

Harusnya hari ini memang Raka yang memimpin rapat, tetapi ketika subuh Raka mengiriminya pesan untuk menggantikannya memimpin rapat karena dia belum siap.

 

"Kita ke rumah sakit sekarang, perasaanku gak enak Ren." Ujar Raka.

 

"Gak ada yang namanya rumah sakit, masuk ruang direktur sekarang dan kerjain tugas kamu!" Rendy geram. Dia tau Raka pasti mencemaskan Adhisti, tetapi kantor ini juga tanggung jawabnya. Bagaimana jika Abi Faruq pulang dan Raka masih belum menguasai medan. Bisa-bisa dia yang di ceramahi.

 

"Setelah kerjaan beres baru kita ke rumah sakit, tenang saja di sana ada orang tuanya . Insya Allah dia gak akan apa-apa." Rendy akhirnya memberikan solusi.

 

Jam makan siang digunakan dua pria itu untuk pergi ke rumah sakit, memuaskan rasa penasaran Raka yang selalu bilang perasaannya tidak enak.

 

Di dalam lift, dia melirik seorang wanita cantik yang menggunakan dress selutut di balut snelli putih yang menandakan dia seorang dokter itu terkesan sangat anggun. Rambutnya di biarkan tergerai membuat mata Rendy tidak bisa berpaling untuk terus menatapnya. Insting pemangsanya langsung bekerja, namun takdir belum berpihak padanya Lift sudah terbuka sebelum Rendy memulai aksinya dan mereka melangkah berlainan arah.

 

Raka membuka pintu ruang rawat inap Adhisti di sambut dengan suara ibu dari sang gadis.

 

Selang transfusi darah masih menempel di lengannya, semangkuk bubur terlihat masih belum tersentuh di atas meja. Apakah ini yang Bu Maya lakukan sejak tadi membujuk Adhisti untuk makan. Raka terus berfikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

 

Akhirnya dia memberanikan diri mendekati ranjang gadis itu. Tatapan mata mereka bertemu. Ada sedikit getaran aneh di hati Raka saat dia menatap manik mata indah milik Adhisti.

 

"Bapak ngapain ke sini?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir pucat milik.

 

Rendy di depan pintu sungguh ingin tertawa, mendengar pertanyaan yang di ucapkan Adhisti. Bagaimana tidak, Raka sudah uring-uringan sejak pagi menghawatirkan gadis itu, sedangkan yang di khawatirkannya malah bersikap seperti ini. Ah sepertinya Raka harus berjuang ekstra.

 

"Saya ke sini hanya kebetulan saja, lebih baik kamu segera makan. Atau kamu menunggu saya agar menyuapi kamu?" Ujar Raka.

 

Pupil mata Adhisti melebar, dia kaget dengan ucapan sang dosen. Bukan hanya Adhisti, tetapi Rendy dan Maya pun tidak kalah terkejutnya.

 

"Mungkin kamu tidak seberuntung orang lain, tapi orang lain belum tentu sekuat kamu. Kenapa harus kamu?, Karena kamu mampu."

 

***

6.1 Sudah waktunya

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata344

#Day17

 

***

Kejadian di rumah sakit hampir dua minggu berlalu, Adhisti juga sudah mulai beraktivitas seperti biasa dari seminggu lalu. Meski banyak selentingan, tatapan yang menunjukan permusuhan bahkan ada beberapa karyawan yang berani bertanya langsung padanya soal hubungan dia dengan Pak Raka, kenapa bisa dia di gendong anak pemilik perusahaan. Dan dari situ Adhisti tau bahwa Raka adalah penerus Narart Company. Raka mencoba profesional jika sedang di perusahaan, tidak pernah mendekati Adhisti, hanya memantau dari cctv, tetapi karena kehadiran Adhisti di kantor Raka menjadi semangat, dia mulai paham tentang perusahaan. Dan bisa di bilang sudah siap menggantikan abinya.

 

Siang tadi Abi Faruq dan Umi Dahlia sudah kembali dari tanah suci, sesuai yang Raka takutkan Delia pasti akan langsung bercerita kepada sang umi tentang Adhisti.

Delia bahkan tidak mengenal waktu dan tempat, ia langsung bercerita saat mereka masih di dalam mobil sepulang dari bandara internasional.

 

Umi sangat antusias mendengarkan, karena akhirnya Raka mau peduli terhadap wanita selain ia dan Delia. Jelas terlihat Umi Dahlia berharap cerita Delia ini benar-benar nyata dan hubungan Raka dengan sang gadis berlanjut, umi sudah rindu suara tangisan bayi di dalam rumahnya, umi ingin merasakan bagaimana rasanya memasak, berkebun atau pergi ke pengajian bersama seorang menantu. Berbeda dengan istrinya, Abi Faruq justru terlihat datar, tidak antusias sama sekali.

 

Setelah shalat isya dan makan malam Raka di panggil sang abi, mereka duduk di teras depan menikmati embusan angin malam yang entah kenapa terasa kencang malam ini.

 

"Bagaimana perusahaan, Mas?" Abi Faruq bertanya dengan raut wajah yang masih datar, jika sedang seperti ini sangat mirip dengan Raka.

 

"Alhamdulillah bi ..." Raka menjawab seperlunya.

 

"Apa benar yang di bilang adikmu tadi?" Inilah yang Raka takutkan, abinya akan tahu dan akan mengintrogasinya.

 

"Dia hanya mahasiswi Raka, tidak lebih bi ... Raka tidak akan berani berpacaran, sesuai keinginan abi." Abi Faruq menganggukan kepalanya.

 

Raka diam, dia bingung haruskah ia berkata jujur pada sang abi. Apakah abi akan mengerti tentang Adhisti. Apakah ini waktu yang tepat. Apakah dia harus bercerita kepada sang umi yang selalu mengerti dirinya.

 

"Lalu, bagaimana dengan isi amplop dari ustadz Anwar tempo hari? apa sudah kamu pertimbangkan?"

 

 

6.2

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata383

#Day18

 

***

Rembulan tengah menunjukan keindahannya, terbukti ia bersinar sangat terang dengan bentuk bulat sempurna tanpa ada awan yang berani menutupi.

 

Seorang pria tengah berdiri di balkon kamarnya menatap sang rembulan, pikirannya entah sudah bercabang berapa banyak. Ucapan Abi Faruq masih terngiang sangat jelas.

 

"Abi tidak memaksa mas untuk menerimanya, tapi mas harus mengerti, abi dan umi sudah tua, sudah saatnya mas kasih kami cucu. abi ingin mas memiliki istri yang baik dalam agamanya selebihnya terserah mas. Tolong hargai mereka, weekend ini. Datanglah kesana, temui mereka."

 

"Mas harus tau, tidak semua berjalan sesuai alur cerita kita. Takdir memiliki jalannya sendiri untuk ada, Hingga pada akhirnya ikhlaslah yang menjadi pilihan terbaik meski terkadang dengan air mata"

 

***

 

Pohon Tabebuya sedang menari-nari terbawa embusan angin, tetapi tidak dengan gadis yang tengah duduk di bawahnya. Dengan semangkuk es batu dan sebuah earphone yang berada di telinganya, Adhisti menikmati angin malam ini merilekskan pikirannya.

 

Bukan badannya yang terasa lelah, tetapi pikiran dan jiwanya yang butuh di refresh. Matanya menatap secarik kertas bertuliskan keinginan-keinginan Adhisti sejak dulu.

 

Adhisti mencoba menutup matanya, meresapi lagu yang sedang mengalun indah beriringan dengan suara sang dosen yang memberinya petuah tempo hari terus terngiang di pikiran Adhisti. Tiba-tiba wajah tampan dengan sorot mata tajam dan rahang yang tegas milik sang dosen melintas begitu saja dalam pikirannya.

 

Adhisti yang kaget sontak membuka mata, dia langsung menampar pipinya sendiri.

 

Pikiran macam apa barusan itu. Kenapa bisa dia punya pikiran begitu.

 

"Tidak ... Tidak!" Ucap Adhisti sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

"Apanya yang tidak sayang?" Tanya Pandu yang sedari tadi memperhatikan anak gadisnya.

 

"Eh ... Sejak kapan ayah berada di sini?" Tanya Adhisti.

 

"Sejak putri ayah senyum-senyum sendiri lalu menampar pipinya sampe merah seperti ini." Pandu tersenyum tangannya terulur mengusap pipi Adhisti dengan penuh kasih sayang.

 

"Ada apa sayang?" Tanya Pandu.

 

"Tidak ada apa-apa, Yah." Adhisti memasukan es batu kedalam mulut lalu mengunyahnya. 

 

Kebiasaan Adhisti yang lain, adalah menjadikan es batu sebagai cemilan dikala pikirannya butuh di refresh. Sensasi yang timbulkan sungguh berbeda.

 

Pandu mencoba, mengerti mungkin harus Maya yang bertanya baru Adhisti mau terbuka. Memang Adhisti lebih dekat dengan sang bunda dari pada dengannya.

 

"Ayah ingin mengajakmu bertemu dengan teman ayah weekend nanti. Kamu bisa?" 

 

"Bisa yah ...."

 

Setelah mendapatkan jawaban dari anaknya, Pandu masuk kembali ke rumah meninggalkan Adhisti dan memberi pesan jangan terlalu lama berada di sana tidak baik untuk badannya.

 

 

6.3

1 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata525

#Day19

 

***

Sebuah lagu mengalun indah di kamar yang bernuansa putih, sang empunya tengah asyik memilah sepatu mana yang akan ia kenakan hari ini sembari terus mengikuti suara sang penyanyi. Entah kenapa Adhisti jadi menyukai lagu itu.

 

 

Flat shoes sudah terpasang cantik di kaki jenjang nan mulus miliknya, Adhisti melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.

 

Bulu mata yang lentik, hidung yang mungil, bibir yang pink karena memakai lipbalm menjadi cirikhasnya. Tak ada make up yang tebal dan berlebihan.

 

Blouse berwarna putih dan celana panjang hitam sudah melekat pada tubuhnya, dia langsung memakai jam tangan kesukaannya tidak lupa ia semprotkan parfum yang memiliki wangi lembut ke belakang telinga dan lengan bawahnya. 

 

"Beres ... udah cantik tinggal berangkat." Ujar Adhisti.

 

Saat sampai di kantor, Adhisti langsung melangkah ke arah divisinya. Sepanjang jalan dia merasa ada hawa yang berbeda dari karyawan yang lain, tetapi dia tidak mau ambil pusing dan langsung mulai bekerja.

 

 

Di lain ruangan tanpa sepengetahuan Raka, Abi Faruq tengah mengorek informasi soal Adhisti. Sebenarnya Umi Dahlia yang memaksa sang suami mencari tahu tentang gadis yang di ceritakan anak bungsunya itu. mulai hari ini juga Abi Faruq sudah kembali ke perusahaan karena Raka bilang masih belum siap. Namun dia berjanji akan sering ke kantor abinya.

 

Abi Faruq tengah membaca kertas yang berisi data diri seorang gadis. Matanya yang fokus ke kertas beralih menatap Rendy, dengan sedikit senyuman.

 

"Ini yang sahabatmu bilang hanya mahasiswinya?, mau main kucing-kucingan dia," Rendy yang awalnya tegang langsung menghembuskan nafas leganya. Ia kira Abi Faruq akan marah karena hal ini namun ternyata tidak.

 

***

 

Jam pulang kantor sudah lewat lima belas menit yang lalu, namun adhisti belum menampakan batang hidungnya. Pria di dalam mobil yang berada di sebrang jalan sudah hampir tiga puluh menit menunggu. Ia mencoba menelpon seseorang, tetapi tidak di ada jawaban.

 

Akhirnya dia putuskan untuk masuk ke dalam kantor. Baru memasuki lobby kantor ia berpapasan dengan abinya.

 

"Mas ngapain di sini?" Tanya sang abi, sudah seperti pencuri yang ketahuan Raka terkejut bercampur gugup bukan main.

 

"A-ada urusan sama Rendy sebentar, bi."

 

Abi Faruq mengiyakan saja ucapan anaknya, tanpa raka sadari abi Faruq mengulas senyum.

 

"Umi, anakmu sudah mulai berani berbohong hanya demi seorang wanita." Ucap Abi Faruq sambil berjalan ke basement.

 

Raka menuju divisi bussnies development mencari Adhisti yang ternyata tengah berbicara serius dengan atasannya.

 

"Kenapa lama?, saya sudah menunggu kamu di bawah dari tiga puluh menit yang lalu." Bukannya mengucap salam, Raka datang-datang langsung mengoceh.

 

Adhisti terlonjak kaget, karena tiba-tiba ada suara pria di depannya. Di ruangan itu memang hanya ada dia dan Bu Risa yang tengah asyik membahas kelanjutan cara menarik minat konsumen dengan memasarkan sarung untuk anak-anak.

 

"Waalaikumsalam Pak, maaf saya tidak tau kalo bapak menunggu saya." Adhisti berucap dengan perasaan yang tidak menentu. Bukan rasa takut seperti biasanya. Ada perasaan lain yang membuat adhisti gugup bertemu Raka. 

 

"Saya sudah mengirimimu pesan." Ucap Raka.

 

Adhisti mengambil ponselnya dan benar saja di sana ada pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.

 

Ia langsung meminta maaf, sejak makan siang tadi adhisti tidak memegang ponselnya.

 

 

Hari ini memang jadwal Adhisti cek up ke rumah sakit, tetapi seingatnya sang ayah yang akan mengantar. Lalu kenapa bisa Raka yang muncul di hadapannya sekarang, kemana ayahnya.

 

 

user

25 January 2022 17:25 Ume Humaedah Ecieee mau nganter ke dokter nih mas dosen??

6.4

0 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata633

#Day20

 

***

Setelah menemani Adhisti cek up, Raka mengajaknya untuk mampir sebentar ke sebuah masjid untuk melaksanakan shalat Isya sebelum mengantarkan pulang. 

 

 

"Kamu gak sholat?" tanya Raka.

 

"Lagi nggak pak, Bapak aja saya tunggu di mobil aja." Jawab Adhisti.

 

Raka mengangguk dan mulai melangkah ke masjid, dua puluh menit kemudian Raka telah selesai. Dia langsung berjalan ke arah mobilnya, namun saat raka membuka pintu mobil dia tidak melihat keberadaan Adhisti.

 

Raka mulai di serang rasa panik, apa Adhisti kabur karena ia tinggalkan terlalu lama. Raka mulai mencari Adhisti ke sekitar masjid, dan ekor matanya menangkap sesosok wanita yang ia kenal tengah duduk di kursi pelastik milik penjual bakso keliling di pelataran masjid.

 

Raka mendekat, lalu duduk di samping si wanita dengan tangan terus mengusap rambutnya.

 

Adhisti menoleh, langsung di suguhi pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pemandangan seorang pria tampan dengan rambut basah oleh air wudhu, sungguh sangat menggoda indera penglihatan milik kaum hawa termasuk Adhisti.

 

Mata itu enggan untuk berkedip, detak jantung pun mulai tidak bisa di kendalikan. Adhisti yakin ada yang salah dengan jantungnya, setiap berdekatan dengan sang dosen kenapa selalu seperti ini.

 

" Ba-bapak mau bakso?" Adhisti bertanya untuk mengalihkan kecanggungan.

 

"Boleh ... tapi tunggu, memang kamu boleh memakan makanan seperti ini?" 

 

"Sepertinya tidak boleh pak, tapi saya penasaran dengan rasanya. Ini tuh salah satu keinginan saya waktu kecil pak." Adhisti bercerita sambil menyuapkan bakso kedalam mulutnya dengan penuh semangat.

 

Raka tertegun, ia jadi ingat cerita Pak Pandu saat di kantin rumah sakit tempo hari. Dengan kata lain hari ini Raka berhasil mengabulkan satu keinginan Adhisti. Ia berdoa dalam hati semoga Adhisti tidak apa-apa setelah memakan bakso ini.

 

Raka tersenyum sebentar, ia tatap wajah gadis di sampingnya terlihat guratan bahagia di sana. Tidak lama kemudian abang bakso datang mengantarkan pesanan, Raka mulai memakannya.

 

 

Perjalanan pulang mereka lalui dengan hening, Adhisti mengeluarkan suara hanya saat memberi tahu jalan, dari situ Raka tahu di mana rumah Adhisti. Cerdik bukan, bagai pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Raka yang berniat menolong Pak Pandu yang tidak bisa menemani putrinya cek up, malah mendapat bonus makan bersama, mengabulkan satu keinginan gadisnya bahkan mengetahui alamat rumah Adhisti. Rejeki anak soleh memang seperti itu.

 

 

Raka menolak dengan halus, saat Bu Maya menawarinya untuk mampir sejenak. Ia tidak enak dan tahu batasan, dia bukan siapa-siapa Adhisti mana berani dia sampai menerima tawaran mampir. Ketika harus satu mobil hanya berdua dengan gadis itu saja, sudah membuat Raka merasa sangat berdosa. Jika abinya tau bisa-bisa dia di coret dari data ahli waris. Ampuni Raka abi, Raka khilaf.

 

 

Mobil milik Raka berbelok ke arah kanan di lampu merah,yang dekat dengan pintu gerbang kawasan perumahan tempat keluarganya tinggal.

 

Setelah memasukan mobilnya ke dalam carport, Raka berjalan kearah pintu utama. 

 

"Assalamualaikum ...." Raka langsung mengucap salam saat membuka pintu.

 

"Waalaikumsalam, Mas." Umi Dahlia langsung menyambut anak sulungnya. Raka mencium tangan uminya.

 

"Udah sholat belum mas?" Tanya Umi Dahlia, karena memang waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Abi Faruq menerapkan larangan tidak boleh menunda-nunda sholat kepada anak istrinya.

 

"Udah umi, tadi di jalan. Umi udah makan?" Yang di jawab anggukan oleh uminya.

 

"Mas izin langsung masuk ke kamar ya umi ...." Raka meminta izin lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

 

Jam menunjukan pukul sepuluh malam Raka sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, akan tetapi matanya susah sekali terpejam. Ia sudah beberapa kali merubah posisi tidurnya mencari yang paling nyaman tetap saja tidak menemukannya.

 

Raka putuskan untuk mengambil wudhu lalu turun mencari sang umi, Terlihat Umi Dahlia tengah mengaji di musola kecil rumahnya. Raka menunggu hingga uminya selesai, lalu dia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang umi.

 

"Ada apa mas?" Umi Dahlia mengusap rambut anaknya. Memang benar adanya setiap anak akan selalu menjadi anak kecil di hadapan ibunya.

 

"Umi ... Apa salah jika Raka menyukai seorang gadis?" Raka berbicara dengan posisi tetap tidur di pangkuan sang umi. 

 

 

6.5

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata436

#Day21

 

***

 

"Le ... Setiap manusia berhak untuk mencintai dan di cintai, bahkan Allah saja menciptakan kita secara berpasang-pasangan. Jadi tidak salah jika kamu memiliki rasa suka atau rasa ingin memiliki, tapi harus dengan cara yang tepat le." Umi Dahlia mulai memberi masukan kepada anaknya.

 

 

Umi Dahlia tersenyum, inilah yang dia tunggu Raka bercerita soal perasaannya.

 

 

 

Tadi sore suaminya memberikan sebuah data diri beserta foto gadis yang bisa membuat Raka berani berbohong dan bermain kucing-kucingan dengan sang suami.

 

"Abi kurang setuju mi ... sampeyan delok iko, arek e ora nutup aurat iku lo." (Abi kurang setuju mi ... umi lihat itu, anaknya tidak menutup aurat). Itulah jawaban Abi Faruq saat Umi Dahlia meminta pendapat.

 

"Niku saget didandosi toh bi... Seng paling penting niku larene sae. Abi yoknopo toh, mboten angsal ningali tiyang dugi penampilane mawon." (Itu bisa diperbaiki kan bi. Yang penting anaknya baik. Abi gimana sih, ga boleh lihat orang dari penampilannya saja). Umi Dahlia mencoba memberi solusi.

 

"Terserah umi saja." Abi Faruq menutup pembicaraan.

 

Dengan masih mengusap kepala Raka, Umi Dahlia sabar menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir putranya. 

 

 

"Raka bingung umi, Raka harus bagaimana?".

 

 

"Istikharah Le, libatkan Allah dalam setiap langkahmu."

 

 

"Nggih mi, Abi tetap menyuruh Raka untuk tetap menemui mereka." 

 

 

"Abimu benar, mau kamu menerima atau menolak kamu tetap harus temui mereka. Bersikaplah sebagai seorang pria bertanggung jawab." Terdengar tarikan nafas Raka yang sangat berat.

 

 

 

 

"Umi setuju dengan dia?" Tanya Raka.

 

 

"Siapa?" Umi balik bertanya.

 

 

"Adhisti." Gumam Raka

 

 

"Bagaimana dia?" Umi tersenyum lagi

 

 

"Dia penakut, terlalu penurut, pendek, sangat mungil, di depan semua orang dia orang yang sangat kuat, tapi sebenarnya dia sangat rapuh mi." Raka bercerita dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya.

 

 

"Lalu?"

 

 

"Dia berbeda umi, dia tak seperti mereka yang mengirimiku CV ta'aruf, dia hanya wanita akhir zaman yang terlalu jauh melangkah tanpa tau jalan kembali, Mi ... Apa abi akan setuju?" 

 

 

 

"Asal anaknya baik. Insyaallah abi akan setuju, Mas."

 

 

 

"Tapi dia sakit mi." Raka mulai menceritakan sakit yang di derita Adhisti pada sang umi.

 

 

 

 

"Takdir manusia sudah di atur oleh Allah Le, kematian pun begitu. Kematian tidak akan menunggu orang menjadi baik, jadi ajaklah dia menjadi baik dan tunggulah kematian itu datang."

 

 

 

"Umi percaya dia gadis yang baik, dia akan menurut jika di arahkan dengan cara yang benar. Dan tugas kamu adalah menuntunya kembali mendapatkan jalan, bimbing dia, jadilah guru untuknya bukan hanya dalam hal dunia tetapi juga dalam hal akhiratnya."

 

 

"Ingat mas! Lakukan dengan cara yang benar. Umi tidak setuju jika mas mengajaknya untuk berpacaran, kalo mas memang suka dan yakin. Minta dia langsung kepada orang tuanya untuk di jadikan menantu umi."

 

 

 

"Inggih umi. Terimakasih." Raka langsung memeluk sang umi.

 

 

7.1 Layaknya Majnun yang mencintai Laila

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata546

#Day22

***

 

Raka menuruti ucapan sang Umi, sekitar pukul tiga sore Raka pergi ke sebuah pesantren milik teman sang Abi yang berada di pinggiran kota. Di temani Rendy yang memaksa ikut, karena ingin bertanya soal jati diri pada ustadz Anwar. Entah jati diri seperti apa yang Rendy maksud.

 

Langit tampak murung sejak pagi tadi, tidak ada matahari yang menghangatkan. Awan yang biasanya berseri dengan warna birunya, kini menampakan warna abu yang sendu.

 

"Kenapa melamun?" tanya Rendy, yang tidak mendapat jawaban apapun dari sahabatnya.

 

"Bisu ini orang kayanya, lama-lama kamu gak asik men. Tidak perlu berlebihan memikirkan masalah. Kamu tampan, kamu mapan dan keluargamu juga baik. Jika Adhisti menolakmu di luar sana masih banyak wanita yang akan jadi jodohmu, santai saja."

 

Raka refleks menengok Rendy yang sedang menyetir, menghunus tatapan tajamnya. "Sembarangan banget kamu kalo ngomong, jika nanti cintamu ditolak jangan pernah datang padaku,"

 

"Haha ... siapa yang bisa menolak pesona seorang Rendy, yang tampan mapan penuh karisma ini. Mungkin kamu unggul dalam hal ilmu agama tapi ingat aku unggul dalam hal ilmu wanita." Rendy mulai membanggakan keahliannya.

 

"Yakin sekali anda ini, ah sudahlah bicara denganmu malah membuatku makin pusing." Ucap Raka.

 

"Bucin." Ejek Rendy.

 

"Brisik."

 

"Bucin."

 

"Diem Ren,"

 

"Ini kenapa langit sedih begini ya?, Hari-hari biasanya cerah ko. apa ini salah satu pertanda ya, Ka?" Raka enggan menanggapi ucapan Rendy yang hanya ingin mengejeknya.

 

"Udah deh Ka, jangan begitu terus. Kita bereskan masalah di sini dulu. Abis pulang dari sini kita ke mall, beli cincin buat kamu ngelamar Adhisti." Mendengar nama Adhisti hati Raka selalu menghangat. Semoga ia di beri kesempatan oleh Allah untuk memiliki Adhisti.

 

Ba'da Asyar Raka baru sampai di pesantren milik ustadz Anwar, setelah memarkirkan mobil di pelataran masjid Raka dan Rendy berjalan menuju bangunan di sisi kiri dengan pagar hidup dari tumbuhan bunga bougenville yang terlihat sangat asri.

 

Tok tok tok.

 

" Assalamualaikum ...." Raka mengucap salam sambil mengetuk pintu.

 

"Waalaikumsalam ... MasyaAllah! Pak, Pak ... Bapak." Seorang wanita paruh baya membuka pintu langsung kaget melihat kehadiran Raka.

 

"Ono opo toh Bu?" terdengar suara dari dalam.

 

"Niki loh pak, wonten Nak Raka, ayo ayo masuk, Nak." Ajak Bu Hasnah istri dari ustadz Anwar.

 

Raka dan Rendy langsung masuk dan duduk di ruang tamu, tidak berselang lama ustadz Anwar dan anak sulungnya Yusuf ikut duduk. Bu Hasnah kembali, untuk menyuguhkan teh hangat serta pisang aroma buatan Maharani anak bungsunya. tanpa menunggu lama Raka langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke sana.

 

Raka meminta maaf, karena tidak bisa menerima cv taaruf yang di titipkan kepada abinya tempo hari. Ia tidak tahu jika ada dua orang wanita berbeda usia di balik ruangan itu yang ikut mendengarkan ucapannya.

 

Pembicaraan mereka dihentikan karena sebentar lagi akan memasuki waktu Magrib, Ustadz Anwar dan Yusuf pamit hendak ke masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib. Raka dan Rendy pun memutuskan untuk ikut berjamaah di masjid pesantren.

 

Saat keluar rumah, Raka dan Rendy di kejutkan oleh sosok Adhisti dengan hijab peach dan kedua orang tuanya yang baru keluar dari mobil. Yusuf berlari mendekat ke arah Pak Pandu menyalami lalu berbincang, terlihat jelas kedekatan di antara mereka.

 

"Maaf Pak, mereka siapa?" Raka memberanikan diri bertanya kepada ustadz Anwar, Raka sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya padahal dia sendiri yang mengucapkan rasa penasaran lama-kelamaan bisa menghilangkan nyawa.

 

"Oh itu keluarga Pak Rahandika, InsyaAllah yang akan jadi calon mertua Yusuf, Nak." Ucap ustadz Anwar.

 

 

7.2

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata324

#Day23

 

***

 

 

Raka tiba-tiba mematung, dunianya seakan runtuh. Seketika dadanya di serang oleh rasa yang teramat nyeri. Baru saja ia menyakiti hati seorang wanita, tanpa menunggu lama Allah langsung berikan balasan untuknya.

 

Shalat Maghrib pun ia kerjakan dengan sangat berat, di tambah hujan turun begitu deras membuat suasana hatinya semakin buruk. Rasa penyesalan muncul begitu saja. Kenapa tidak sejak dulu Raka mendekati Adhisti. Kenapa rasa ini baru ada sekarang. Kenapa dia dengan bodohnya tidak berfikir jika di luar sana banyak pria yang menginginkan Adhisti.

 

Raka memaksa Rendy untuk pulang saat hujan tidak kunjung reda, Rendy yang awalnya ingin mendapat wejangan dari ustadz Anwar mengerti dengan kondisi temannya. Ia langsung mengiyakan dan mulai berlari menuju mobil.

 

Perjalanan pulang mereka di hiasi dengan keheningan, hanya terdengar suara lagu milik Judika yang Rendy nyalakan.

 

'Andai aku bisa memutar waktu ...

'Aku tak ingin mengenalmu ...

 

Rendy merutuki kebodohannya, kenapa dia harus menyalakan musik. Sekarang ia malah membuat raut muka sahabatnya semakin dingin. Ketika Rendy mencoba untuk mematikan, Raka malah mencegah.

 

'Mengapa ada pertemuan itu ...

'Membuatku mencintaimu ...

 

Raka jadi teringat saat ia pertama kali memarahi Adhisti di kampus dulu, gadis itu ketakutan sampai hendak menangis. Semua kejadian antara dirinya dan Adhisti mulai muncul di benaknya. Rasanya baru kemarin ia merasakan bahagia bisa mewujudkan keinginan gadis itu, namun sekarang ia malah harus merasakan sebalikannya.

 

'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja ...

'Terus mengingatmu ...

'Memikirkanmu ...

'semua tentang dirimu ...

 

"Sabar, Ka. Mungkin dia memang bukan jodohmu." Rendy tidak tega melihat sahabatnya diam saja. Ini pertama kalinya Raka jatuh cinta tapi langsung patah sebelum mekar.

 

"Nanti aku carikan penggantinya untukmu." Lanjutnya.

 

'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja ...

'Tak seperti kamu ...

'Yang mampu tanpa diriku ...

'Bagaimana ...

 

"Bukannya salah satu tanda jodoh itu adalah mudahnya mendapat restu, Ren? Tapi kenapa jadi seperti ini?" Raka mulai mau berbicara. Pikirannya masih tertuju pada Adhisti. Apa lagi melihat Adhisti berhijab seperti tadi sungguh sangat cantik, tetapi kenapa harus pria lain yang memilikinya.

 

"Bodoh! Kamu baru mendapat restu dari umimu, sedangkan abimu, bagaimana?"

 

 

7.3

2 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata518

#Day24

 

***

Waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan kesakitan yang belum ada obatnya untuk Raka. Selama dua bulan lebih dia sama sekali tidak pergi ke Narart, segala sesuatu yang menyangkut Adhisti sengaja Raka titipkan kepada Rendy. 

 

Rasa peduli Raka terhadap Adhisti tidak bisa hilang begitu saja, ia hampir setiap hari menanyakan kondisi Adhisti pada Rendy. Apa dia sudah makan, apa dia kelelahan bahkan Raka sampai bertanya kepada Rendy apakah Adhisti sudah transfusi darah. 

 

Rendy yang awalnya memaklumi malah di buat emosi "Emang gue ini bapaknya hah?  Sana tanya sendiri sama orangnya. Gue sibuk!"

 

Ada rasa rindu ingin bertemu dan melihat wajah ayu milik gadis itu, namun ia tahan karena ia tau Adhisti sudah akan menjadi milik orang lain.

 

Malam begitu sunyi, Raka terjaga dari tidurnya sebab tenggorokannya meminta di aliri air. Setelah minum, Raka melirik jam di nakas yang menunjukan angka dua dini hari. 

 

Raka mengambil wudhu dan mulai melaksanakan shalat tahajud. Doa serta dzikir ia panjatkan meminta yang terbaik kepada Allah, jika dia bukan jodohnya maka Raka meminta agar rasa ini cepat di hilangkan. Sungguh sakit ini sangat menyiksa. Bagaikan nikotin yang membuat candu dan sakau si pemakai, begitulah Adhisti bagi Raka.

 

Ting ...

 

Terdengar suara pesan masuk dari ponsel di atas nakas. Raka yang sedang melipat sarung dan baju koko itu langsung melangkah ke arah nakas.

 

"Tadi siang Adhisti mencarimu." Isi pesan dari Rendy membuat Raka termenung. Raka mulai menggerakan jari untuk membalas pesan.

 

"Ada apa? Apa dia baik-baik saja? Kamu tidak macam-macam padanya'kan?"

 

"Entahlah, mungkin dia ingin bertemu denganmu. Tadi hari terakhir dia magang, yang ku lihat dia baik-baik saja." Raka menghembuskan nafas lega.

 

"Kami bertemu atau tidak, tapi dia selalu ada di setiap do'aku. Meski aku tidak berani menyebut namanya. Semoga dia selalu dalam lindungan Allah ...." Setelah membalasnya Raka langsung menekan tombol on off di sisi kanan seketika layar ponselnya pun mati.

 

Tidak lama layar kembali menyala menampilkan pesan dari sahabatnya yang mengatakan bahwa Raka sudah gila.

 

"Aku memang layaknya Majnun yang mencintai Laila." Raka bergumam sambil berlalu pergi mengambil buku untuk mengalihkan pikirannya dan menunggu waktu subuh tiba.

 

Raka selalu ingin menghindar, namun takdir selalu menariknya agar berdekatan dengan Adhisti. Terbukti pagi ini Raka yang sedang mengancingi kemeja di kejutkan dengan pesan singkat dari Adhisti. Ia ingin memberikan laporan hasil magangnya, Waktu magang Adhisti memang sudah habis dan itu berarti mereka akan bertemu di kampus. Raka menyesal kenapa kemarin-kemarin ia malah menyodorkan diri sebagai dosen pembimbing bagi Adhisti.

 

"Ya Allah aku harus menghindar seperti apa lagi?" ujarnya sambil menyugar rambut, ia terlihat sangat frustasi. 

 

 

7.4

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata440

#Day25

 

 

 

***

 

"Jangan di hindari, Mas. Tapi di hadapi." Ucapan sang abi membuat Raka kaget. Ia menengok dan terlihat Abi Faruq sedang berdiri di pintu.

 

"Abi ...."

 

"Kadang apa yang kita lihat dan dengar belum tentu itu adalah kebenarannya Mas." Abi Faruq berjalan dan duduk di tempat tidur sang anak.

 

"Maksud abi?" Raka ikut duduk di samping abinya.

 

"Mas bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud abi'kan?" bukannya menjelaskan Abi Faruq malah balik bertanya dan menepuk bahu Raka.

 

"Tapi bi ... sulit, Raka tidak ingin menerima kabar buruk untuk yang kedua kalinya."

 

Abi Faruq tersenyum "Mematahkan hati anak gadis orang sudah sering kamu lakukan dengan menolak CV mereka, dan sekarang Mas takut untuk patah hati?"

 

Raka diam ia menunduk, apa abi sudah tau soal Adhisti, kenapa abi berbicara seperti ini.

 

"Apa Abi setuju dengan dia?" Tanya Raka sedikit takut.

 

"Umimu sudah bercerita, ya mungkin abi harus mengalah agar segera mendapatkan seorang cucu." Abu Faruq berucap sambil tersenyum penuh arti.

 

Harusnya Raka senang mendengar ucapan sang abi, tetapi kenapa hatinya semakin sakit.

 

"Apa Mas kemarin bertemu dengan Maharani anak dari ustadz Anwar?"

 

"Tidak, bi ...."

 

"Bagaimana tanggapan ustadz Anwar saat Mas menolak CV anaknya?"

 

"Jadi yang kemarin mengirimiku CV adalah Maharani, Bi?"

 

"Iya, jangan bilang Mas sama sekali tidak membuka amplop itu," Raka tidak berani menjawab karena yang di ucapkan sang abi benar adanya, Raka sama sekali tidak menyentuh amplop itu setelah menerimanya dari Abi Faruq tempo hari.

 

"Astaghfirullah, Mas!" Abi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak sulungnya.

 

***

 

Adhisti kembali melihat ponselnya, di hitung-hitung sudah sepuluh kali ia bolak-balik melihat ponsel tetap saja tak ada pesan masuk dari dosennya. Ia tatap default picture milik Raka, disana nampak foto dua wanita berbeda usia yang sedang memegang bunga. Salah satunya pernah ia lihat di Narart Company. "Apa Pak Raka belum punya kekasih ya?" pikir Adhisti.

 

Adhisti mengetuk-ngetuk kuku jarinya di meja kantin ia sungguh sangat kesal , ada apa dengan dosennya, ia merasa sang dosen menghindarinya. Apa kah dia membuat kesalahan atau pak Raka sedang sibuk. Terakhir kali ia melihat Raka di pesantren, entah apa yang pria itu lakukan di sana Adhisti mengubur semua rasa penasarannya saat itu. Ia berharap bisa melihat Raka kembali, namun guru sang ayah kembali ke rumah tanpa Raka.

 

Gadis itu melirik jam tangan miliknya, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sungguh gila, ia sudah hampir dua jam menunggu kabar Raka, berharap Raka akan membalas pesan. Adhisti yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya mengirimkan pesan kembali.

 

Pak Dosen

 

Assalamualaikum Pak ...

Bapak bisa ke kampus sebentar? ...

Saya hanya ingin meminta waktu Bapak sebentar saja ...

 

Begitulah isi rentetan pesan yang Adhisti kirim, tidak butuh waktu lama Raka terlihat sedang online, namun sama sekali tidak membuka pesan darinya.

 

 

8.1 Usaha

1 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata601

#Day26

 

***

 

"Bagaimana ini Ren? Dia mengirim pesan lagi," Raka bertanya pada Rendy yang tengah menyuruh karyawan menyiapkan dua box makan siang, ya Raka memang sedang bersama dengan Rendy di sebuah cafe. Lebih tepatnya cafe milik Rendy.

 

"Pusing gue ngurusin elu, udah kek anak perawan. Punya masalah tuh di beresin, mau sampai kapan di hindarin terus itu anak orang? udah temuin sono bila perlu tikung, janur kuning belum melengkung usaha perjuangin. Gara-gara ngurusin elu, teh punya gue jadi gak nyelup-nyelup."  Rendy uring-uringan karena hampir tiga bulan ini dia sampai melupakan kencan dengan wanita-wanitanya.

 

Raka menarik nafas panjang, meski ucapan Rendy kasar tapi ada benarnya juga. Mau sampai kapan dia menghindar, Akhirnya Raka membuka chat room milik Adhisti. Setelah mengucapkan basmallah Raka mulai mengetik balasan.

 

Saya:

 

Waalaikumsalam ...

Maaf hari ini saya tidak ke kampus ...

Kamu bisa datang ke cafe yang dekat lampu merah sebelum kampus ...

 

Liebe:

 

Ok ...

 

Mendapat balasan dari Raka suasana hati Adisti langsung berubah, entah karena laporannya akan di periksa atau karena bisa bertemu dosen pembimbingnya. Lima belas menit kemudian Adhisti sudah sampai di cafe yang di maksud Raka. Ia berjalan menuju tempat duduk sang dosen.

 

"Assalamualaikum, Pak." Adhisti mengucap salam dengan senyum lebar terukir di bibirnya, terlihat gigi kelinci yang menjadi cirikhas. Meski tampak jelas wajahnya mulai memucat, tetapi tidak mengurangi kecantikannya.

 

"Wa-walaikumsalam." Raka sempat tergagap karena kaget dan terpesona oleh senyuman Adhisti. Sungguh ia rindu senyuman itu, andai Adhisti belum di khitbah pria lain. Dia akan langsung mengajak Adhisti untuk menikah saat ini juga.

 

Hampir tiga puluh menit Raka dan Adhisti membahas laporan magang milik Adhisti. Raka mencoba profesional meski hatinya sudah tidak karuan. 

 

Adhisti pun demikian, ia mencoba biasa saja padahal jantungnya sudah ingin terjun payung karena tatapan Raka. Ia alihkan rasa gugupnya dengan memakan dessert yang di pesankan Raka untuknya.

 

"Kalian masih lama kencannya?" Rendy tiba-tiba datang dengan membawa dua box makan siang.

 

"Bapak mau kemana? Apa gaji di Narart kurang Pak, sampe kerja sampingan di sini?" Adhisti bertanya karena bingung melihat Rendy keluar dari dapur cafe sambil membawa box. Raka yang mendengar hanya bisa tersenyum samar.

 

"Sembarangan banget ini cewe. Muka begini di bilang bapak. Panggil saya Mas, dan ini cafe milik saya catet itu. Gak lakinya gak bininya bikin gue emosi mulu. Lama-lama darah gue naik." Rendy mengomel karena sudah kelewat kesal, Raka melotot mendengar ucapan Rendy.

 

"Hah? Laki bini siapa Pak?" Adhisti bingung mulai mencoba mencerna ucapan Rendy.

 

"Au ah gelap, Adhisti kamu ke sini naik apa?" Rendy mengalihkan pembicaraan.

 

"Taksi online Pak ... eh Mas."

 

"Abis ini mau kemana?" Rendy geram karena Raka hanya diam tidak berusaha sama sekali.

 

"Paling nungguin ayah saya pak, soalnya hari ini saya ada jadwal ke rumah sakit." Ucap Adhisti.

 

"Oke ... kalian berdua ikut, kita ke rumah sakit sekarang. Biar sekalian soalnya saya juga mau ke rumah sakit." Rendy mulai berjalan keluar dari cafe miliknya.

 

"Tunggu Ren, saya harus menjemput Delia." Raka mencegah Rendy saat pria itu hendak memasuki mobil.

 

"Lu mau gue berdua doang sama mahasiswi lu ini? lu bisa jamin gak akan ada setan di antara kita? Delia biar jadi urusan gue, sekarang masuk!" Rendy mulai kesal kembali. Apa-apaan Raka ini sudah ada kesempatan untuk menikung dia malah sempat-sempatnya memikirkan Delia. Raka mungkin bisa menikung lewat sepertiga malam, tetapi Rendy bisa langsung menikung tiap ada kesempatan. Itulah perbedaan mereka.

 

"Kayanya bapak emang udah kerasukan setan, dari tadi sewot terus." Adhisti menimpali karena kasian melihat sang dosen yang di bentak-bentak. Sebenarnya di sini siapa yang bosnya kenapa malah lebih galak Rendy dari pada Raka.

 

"Diem kamu Adhisti, lebih baik kamu masuk sekarang! dari pada saya bawa kalian berdua ke KUA." Wajah Adhisti memerah, dia langsung menuruti ucapan mantan atasannya.

8.2

2 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata466

#Day27

 

***

 

Mobil milik Rendy sudah terparkir di area rumah sakit, dia menyuruh Raka dan Adhisti langsung ke ruangan dokter yang menangani Adhisti kemarin. Sedangkan ia sendiri menuju pos satpam, dengan niat hati menitipkan satu box makan siang untuk wanita yang sudah sering kali Rendy lihat di RS ini. Sejak pertemuan pertama di lift beberpa waktu lalu, Rendy jadi sering mendatangi rumah sakit ini hanya untuk melihat wanita tersebut.. Rendy yakin bahwa wanita itu salah satu dokter disini.

 

Ia mulai menyebutkan ciri-cirinya kepada satpam, setelah sang satpam tahu wanita yang di maksud Rendy ia langsung menyampaikan tujuannya dan langsung pergi untuk menjemput Delia.

 

Rendy sampai di kampus Delia tepat sehabis adzan Zuhur, ia mengambil ponsel di saku celananya lalu mencari nomor Delia dan langsung mendialnya.

 

"Assalamualaikum dek, kamu dimana?" Rendy bertanya dengan nada bicara yang sangat lembut.

 

"Oh oke, tunggu sebentar Mas ke sana sekarang ya. Kita shalat bareng." Rendy mematikan telponnya langsung menuju ke tempat Delia berada.

 

"Ko Mas bule yang jemput aku, Mas Raka kemana?" Pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut Delia.

 

"Masmu sedang menjalankan misi." Ucap Rendy.

 

"Misi apa Mas?" Delia penasaran.

 

"Misi mendapatkan kakak ipar untukmu, udah ayo cepat shalat. Habis itu makan, Mas bawa makan siang untuk kamu. Atau mau Mas imamin?" Rendy berucap dengan senyum penuh arti. 

 

Rendy memang diam-diam mengidamkan Delia, namun ia sadar dia bukan pria yang tepat untuk Delia. Dia fakir ilmu tidak tahu apa-apa soal agama islam, bahkan dia sekarang masih mencicil ruangan di neraka untuk tempatnya tinggal. Mana bisa sebanding dengan Delia yang bahkan seorang Hafidzah.

 

***

 

Di rumah sakit, Raka dan Adhisti sedang berjalan ke musola untuk melaksanakan kewajibannya sambil menunggu darah yang di butuhkan Adhisti datang. Tanpa di duga mereka bertemu dengan Umi Dahlia dan Abi Faruq yang baru selesai shalat.

 

"Mas sedang apa di sini?" Tanya Umi Dahlia sambil melirik Adhisti.

 

"U-umi ...." Raka kaget, ia langsung mencium tangan kedua orang tuanya. sedangkan Umi dan Abi masih menunggu jawaban anaknya.

 

"Assalamualaikum Abi Umi, kenalkan ini Adhisti Umi." Raka bingung harus bagaimana menghadapi situasi yang tidak Raka bayangkan sebelumnya. 

 

"Assalamualaikum Pak, Bu ... Perkenalan saya Adhisti. Mahasiswi Pak Raka." Adhisti langsung memperkenalkan diri mencium tangan Umi Dahlia lalu mengangguk kepada Abi Faruq.

 

"Waalaikumsalam, Nak. Panggil Umi saja." Umi Dahlia langsung memeluk Adhisti.

 

"Sedang apa Mas di sini?" tanya Abi Faruq.

 

"Mengantar Adhisti transfusi darah Abi." Raka mencoba menjelaskan.

 

"Hanya berdua?" 

 

"Tadi bersama Rendy, Bi, tapi Rendy sedang ada urusan sebentar." Raka tidak mau Abinya salah paham, yang akan memperumit semuanya.

 

 

"Abi dan Umi sedang apa di sini?" Lanjut Raka, ia bingung karena yang dia tahu orang tuanya sehat walafiat.

 

 

"Ini temen Abimu ada yang sedang dirawat disini, jadi Abi mengajak Umi menjenguknya." Terang Umi Dahlia.

 

 

 

"Sudah ya, Bi ... biarkan mereka shalat dulu. Nanti kita bicarakan lagi di rumah." Ucap Umi Dahlia menengahi sambil terus memeluk Adhisti.

 

 

user

03 February 2022 08:02 Ume Humaedah Uhuuuy udah ketemu camer nih..

8.3

2 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata545

#Day28

 

***

 

 

Abi Faruq mengikuti saran sang istri, ia menyuruh Raka untuk segera melaksanakan kewajibannya. Sebelum pergi Umi Dahlia memberi pesan bahwa ia akan menunggu Raka dan Adhisti di kantin rumah sakit untuk makan siang bersama.

 

Saat Adhisti dan Raka tiba, sudah tampak hidangan di meja yang di duduki Abi Faruq dan Umi Dahlia. mungkin umi sudah memesankan makanan untuk Adhisti dan dirinya, Adhisti langsung di ajak duduk di samping Umi Dahlia, sedangkan Raka tentu saja duduk di samping Abi Faruq.

 

Raka termenung melihat menu makanan yang uminya pesankan. Mungkin bagi Raka itu tidak masalah, tetapi bagi Adhisti apa ini tidak akan apa-apa.

 

Raka melirik sekilas kepada Adhisti. merasa ragu untuk bertanya "Apa kamu bisa memakan ini?" 

 

Adhisti ikut menatap makanan di hadapannya. ia belum pernah memakan makanan ini sebelumnya, tetapi apa salahnya jika mencoba. Lagi pula jika dia menjawab tidak bisa, ia takut menyakiti hati ibu sang dosen yang sangat baik padanya.

 

"Bisa Pak." Jadi kata itu yang keluar dari bibir Adhisti.

 

Umi Dahlia tersenyum melihat perhatian Raka pada Adhisti "InsyaAllah ini aman untuk Adhisti, Mas tenang saja umi sendiri yang memesankannya. Hanya Nasi milik Mas dan Abi yang memakai daging kambing, sedangkan milik Umi dan Adhisti memakai daging ayam."

 

Siang ini Umi Dahlia memesan nasi kebuli untuk makan siang mereka, makanan kesukaan sang suami tentunya. Karena Raka sendiri kurang menyukai apa lagi Delia.

 

"Coba dulu sedikit aja, Nak ... Kalo gak bisa makan jangan di paksain ya, nanti Umi pesankan yang lain." Umi Dahlia mengusap punggung Adhisti dengan penuh sayang,

 

Semua perlakuan itu tidak luput dari pandangan Raka dan Abi Faruq, membuat kedua pria yang hampir memiliki rupa yang sama itu melihatnya dengan tatapan haru, Raka berandai-andai jika saja Adhisti memang calon istrinya pemandangan seperti ini tentu yang di idamkannya. Sedangkan Abi Faruq menatap haru karena dia merasakan perasaan istrinya yang sudah menginginkan seorang menantu.

 

"Bagaimana ... enak?" Umi Dahlia bertanya lagi, saat melihat Adhisti mulai menyuapkan sendok yang berisi nasi itu kedalam mulutnya.

 

Adhisti mengangguk, ia sedikit tidak suka dengan aroma rempah-rempah yang menyengat dari nasi itu, tetapi perutnya masih bisa menerima.

 

"Enak Umi. Tapi rempah-rempahnya kerasa banget ya Umi." Adhisti berucap pelan.

 

"Hihi ... iya, apalagi yang memakai daging kambing. Karena itu pula Raka kurang suka, apalagi Delia, dia sama sekali tidak suka." Umi tertawa mendengar ucapan Adhisti yang takut-takut.

 

"Nasi kebuli ini makanan kesukaan Abinya Raka, jadi kadang kalau bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri atau Idul Adha suka bikin di rumah. Kadang kalo lagi pengen ya pesen begini." Umi Dahlia berbicara sambil terus mengusap punggung Adhisti.

 

"Umi, lebih baik makan dulu nanti keburu dingin," Abi Faruq mencoba mengingatkan sang istri.

 

Darah yang Adhisti butuhkan belum tersedia. Jadi setelah makan siang Umi Dahlia mengajak Adhisti ke sebuah taman yang berada di area rumah sakit, sedangkan Abi Faruq memutuskan untuk ke kamar inap temannya. Umi Dahlia bercerita tentang hal apapun, mulai dari Raka kecil, Delia yang susah memakai hijab saat masih duduk di bangku paud dan kisah-kisah yang bisa menginspirasi. Adhisti sendiri sudah tidak canggung lagi. Ia antusias mendengarkan cerita, ia merasa nyaman dengan Umi Dahlia, bahkan ikut tertawa saat Umi Dahlia menceritakan hal yang lucu.

 

Raka hanya melihat dari kejauhan dua wanita yang ia sayangi sedang bercengkrama. Kadang ia ikut tersenyum saat melihat tawa Adhisti, meski dia sendiri tidak tahu apa yang membuat Adhisti tertawa.

 

 

8.4

2 0

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata384

#Day29

 

***

 

Orang tua Raka sudah pulang sejak ba'da Magrib, Adhisti sendiri sudah masuk ruang rawat inap sejak ba'da Asyar tadi. Raka dengan setia menemani Adhisti, mengajaknya bicara apapun agar Adhisti tidak merasa bosan.

 

Ketika orang tua Adhisti sudah datang, Raka mulai menghubungi Rendy agar bisa menjemputnya. Karena ulah Rendy tadi siang, Raka meninggalkan mobilnya begitu saja di cafe. Saat Raka mengakhiri panggilan, tatapan mata Raka dan Pak Pandu bertemu. Ada rasa canggung dan tidak enak pada diri Raka. Pasalnya dia tahu Adhisti calon istri pria lain, tetapi dengan beraninya Raka menemani Adhisti tanpa sepengetahuan calon suaminya. Mengingat kata calon suami hati Raka kembali berdenyut nyeri.

 

Ia putuskan untuk pamit dari ruangan itu dan berniat menunggu Rendy di luar saja, namun sebuah tangan mungil memegang lengan Raka yang terbalut kemeja. Raka yang penasaran menengok, ternyata tangan Adhisti yang menahannya.

 

"Terimakasih sudah menemani saya, Pak. Tolong sampaikan juga rasa terimakasih saya kepada Umi, karena sudah mau menceritakan hal-hal luar biasa kepada saya bahkan ikut menemani saya sampai magrib." Ucap Adhisti dengan wajah yang sudah kembali memancarkan kesegaran, Raka hanya membalas dengan anggukan. Ia sudah tidak sanggup mengeluarkan suara dari mulutnya. Ada rasa senang karena Adhisti sudah mulai terbuka padanya, tetapi rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan lebih mendominasi.

 

Belum sempat Raka menjauh dari ruang rawat Adhisti, Pandu sudah mengikuti dan memanggilnya.

 

"Terimakasih Pak Raka selalu membantu saya untuk menjaga putri saya." Ucap Pandu, pria paruh baya itu seperti hendak berbicara namun ragu.

 

Raka yang melihat ada keraguan di mata Pak Pandu langsung berucap "katakan saja Pak, jika saya bisa Insyaallah akan saya bantu."

 

"Dua bulan yang lalu saya pergi ke pesantren guru saya, Pak. Saya membawa Adhisti untuk dikenalkan dengan putra pemilik pesantren, namun Adhisti menolak. Ia tetap tidak ingin menikah, saya bingung harus bagaimana?" ujar Pandu.

 

Ucapan Pandu bagai obat mujarab untuk hati Raka. Seketika aura bahagia terpancar di muka tampannya. Jika tidak malu ingin rasanya Raka berteriak karena saking bahagianya.

 

"Lalu?" Raka mencoba sedatar dan sebiasa mungkin.

 

"Saya lihat Adhisti sudah mulai terbuka dengan Pak Raka, apa bapak bisa memberi pengertian kepada anak saya soal pernikahan, Pak? saya kadang berpikir bagaimana jika nanti saya tiada dan Adhisti belum memiliki suami. Siapa yang akan menggantikan saya menjaga dia?" keluh Pandu.

 

"Jika saya meminta Adhisti untuk saya jadikan sebagai pendamping hidup, apa Pak Pandu akan memberikannya?"

 

 

8.5

1 1

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#Kelompok12

#FosStylo

#Jumlahkata674

#Day30

 

***

"Jika saya meminta Adhisti untuk saya jadikan sebagai pendamping hidup, apa Pak Pandu akan memberikannya?"

 

Pandu menatap Raka tidak percaya, namun sorot mata Raka menunjukan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

 

"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu? Saya bukannya tidak tahu kamu ini keturunan siapa, dan saya juga menyadari anak saya memiliki banyak kekurangan. Dia bukan anak dari seorang kiayi atau ustaz, dia bahkan tidak menutup auratnya. Apa keluargamu bisa menerima? atau jika nanti hal paling buruk terjadi, bahkan Adhisti tidak bisa memberikan penerus untuk keluargamu. Apa yang akan kamu lakukan? Adhisti sudah sakit raganya sejak kecil, saya tidak mau batinnya juga sakit di kemudian hari."

 

"Insyaallah saya yakin, Pak. Keluarga saya pun sudah menyerahkan perihal pendamping hidup kepada saya sepenuhnya. Tentang Adhisti yang belum menutup auratnya, do'akan saja semoga Adhisti mendapat hidayah pak, karena do'a orang tua sangat mustajab dan soal keturunan itu kuasa Allah Pak. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa bersabar, berserah dan berusaha yang terbaik." Raka menjawab semua pertanyaan Pak Pandu dengan menatap wajah Pandu. Entah Raka dapat keberanian dari mana bisa berbicara begitu panjang tanpa ada rasa takut sedikitpun.

 

"Saya sendiri terserah pada Adhisti, semua keputusan ada pada Adhisti, kamu tau sendiri Adhisti bagaimana?"

 

 

Raka mengangguk "Adhisti biar jadi urusan saya Pak, terimakasih atas restunya."

 

***

 

Pagi ini sekitar pukul sembilan, Umi meminta Raka mengantarnya ke rumah sakit. Raka yang sedang fokus pada laptopnya langsung menoleh, di lihatnya Umi Dahlia sudah rapih dengan gamis berwarna abu-abu dan kerudung lebarnya. Di tangan kanannya terlihat paperbag yang menggantung cantik, entah apa Raka sendiri tidak tahu isinya.

 

"Ayo Mas!" ajak Umi Dahlia

 

"Umi ... ini masih pagi, Raka belum mandi, masih banyak kerjaan."

 

"Ya udah sana mandi, terus anterin Umi. Kemarin umi udah janji mau buatin Adhisti cheesecake sama puding bunga telang".

 

Melihat sang Umi yang sangat bersemangat akhirnya Raka menutup laptopnya dan bangun "Mas mandi dulu sebentar ya, Mi."

 

Umi Dahlia dengan setia menunggu anak bujangnya yang sedang mandi, hingga Abi Faruq datang dengan membawa gelas di tangannya.

 

"Umi mau kemana?" tanya Abi Faruq.

 

"Umi mau ke rumah sakit, Bi ... boleh kan?"

 

"Apa Umi memang sudah mantap dengan ini Umi? Abi merasa belum sreg dengan dia."

 

"Apa yang membuat Abi ragu?"

 

"Entahlah Mi, Abi masih berharap Maharani yang menjadi menantu Abi."

 

"Abi ... Insyaallah dia anak yang baik. Umi sudah merasakannya, dan Insyaallah juga dia yang terbaik. Tinggal bagaimana Raka mau membimbingnya, Bi."

 

Umi Dahlia mengerti jika harapan Abi Faruq terlalu besar pada Maharani anak temannya yang seorang Hafidzah, siapa yang tidak kenal Ning Maharani yang terkenal dengan hatinya yang lembut, tutur katanya yang sangat halus memang idaman semua orang, namun jika bukan takdirnya Raka kita tidak bisa memaksa.

 

Raka keluar dari Audi R8 miliknya, ia menggunakan kaos polos berwarna hitam dengan celana jeans berwarna senada. Raka lantas berjalan ke sisi lain mobil, membuka pintu untuk sang umi dan langsung menggandeng tangannya.

 

Sesampainya di ruang rawat inap Adhisti, Umi Dahlia mengetuk pintu dan langsung mengucap salam. Tampak di sana hanya ada Adhisti dan Bundanya Maya, Adhisti sangat senang melihat kehadiran Umi Dahlia. Entah karena nyaman atau karena terbawa perasaan Adhisti tidak segan langsung mencium tangan dan memeluk Umi Dahlia. 

 

Maya yang melihat kedekatan itu sungguh kaget, Adhisti belum pernah sedekat ini sebelumnya dengan orang lain.

 

Umi Dahlia langsung memperkenalkan diri kepada Maya. Tidak lama Raka masuk dengan membawa paperbag yang tertinggal di mobil.

 

"Sudah makan, Nak?" Tanya Umi Dahlia

 

"Sudah Umi."

 

"Umi bawakan pudding bunga telang dan cheesecake mudah-mudahan Adhisti suka ya." Umi Dahlia menyodorkan paperbag berisi makanan itu kepada Maya.

 

"Wahh terimakasih Bu, Adhisti memang sangat suka cheesecake." Ucap Maya.

 

Tiga wanita itu larut dalam obrolan, sampai melupakan keberadaan Raka yang hanya diam mengotak-atik ponselnya. Adhisti bahkan meminta Umi Dahlia menceritakan kisah Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

 

"Apa aku bisa menjadi seperti Sayyidah Fatimah untuk seseorang, Umi?" Adhisti tiba-tiba bertanya.

 

"Kamu tidak perlu menjadi Sayyidah Fatimah hanya untuk mendapatkan seseorang, karena di jaman sekarang tidak ada orang yang seperti Sayidina Ali bin Abi Thalib. Cukup menjadi dirimu sendiri dan biarkan aku yang melengkapimu." Ucap seseorang yang sedari tadi hanya diam menyimak.

 

 

user

06 February 2022 07:10 Ume Humaedah Wah wah wah kali ini langsung di depan Ibunyaa... Ahiiiww

Mungkin saja kamu suka

Nurul Huzaimah
Telapak Kaki Ibu
Aisyah humayroh...
Ana uhibukum fillah

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil