Loading
31

1

4

Genre : Romance
Penulis : Tyka Fryie
Bab : 30
Dibuat : 06 Januari 2022
Pembaca : 37
Nama : Tyka Fryie
Buku : 1

Catatan Luka

Sinopsis

Mengagumimu? Itu adalah perasaan ku sebelum menyukaimu. Perasaan itu benar-benar diluar kendali diriku sendiri. Seketika kejadian selalu terulang tayang di pikiranku. Hingga akhirnya aku benar-benar memiliki perasaan padamu.
Tags :
#Trauma #Penelusurankisah #Keluarga

#1 Catatan Luka

2 0

Berharap sepotong hati pada manusia adalah cara paling indah untuk menyakiti diri sendiri.

Berani mencintaimu adalah sebuah luka yang berani ku buat sendiri.

Kita adalah rasa yang dipaksa untuk melupa. Tak ada lagi debaran rasa yang tersisa hanyalah luka yang tinggal di dada. Dengan keras kita mencoba agar semua cerita yang pernah kita lukis berlalu begitu saja.

Ceritanya singkat...

Namun kehadirannya sangat bermakna. Walaupun sementara tapi dia cukup memberikan kenangan yang indah. Dia datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Seperti masuk tanpa mengetuk dan pulang tanpa berpamitan.

Perasaan itu? Kamu? Kenangan? Semuanya tenggelam bersama masa lalu dan menua bersama waktu. Yang tersisa hanyalah rasa trauma dan takut untuk kembali membuka hati dan mulai mencintai orang baru.

Hari ini aku bilang sama diri aku sendiri untuk tak perlu punya ekspektasi tinggi lagi ke manusia lain. Aku hanya trauma dan takut akan merasakan hal yang sama lagi sebab dahulu, dia yang ku kira berbeda dan akan bertahan lama ternyata pergi juga dengan cara yang tak pernah ku sangka.

Bukan karena tak bertemu orang baik tapi ada rasa trauma yang membuat aku di hantui rasa takut. Takut untuk nyaman dengan orang baru, takut untuk menaruh hati dengan orang baru, takut kehilangan untuk kesekian kalinya.

Alasan mengapa sampai saat ini aku lebih memilih sendiri adalah karena setiap kali aku fokus kepada seseorang, setiap kali aku berani membuka hati untuk seseorang mencoba menghilangkan trauma aku kepada seseorang, setelah itu mereka menunjukan sikap yang membuat aku berfikir ternyata aku lebih baik sendiri.

Aku adalah sosok yang sulit dipahami. Sosok yang memiliki segudang rasa trauma akan suka dan cinta. Sosok yang memiliki perubahan emosi secara cepat. Sosok yang dalam keadaan tertawa pun bisa saja tiba-tiba menangis dalam waktu bersamaan hanya karena masalah sepele.

Mungkin setiap orang bisa untuk berdamai dengan luka nya. Tapi, tak semua orang mampu untuk sembuh dari traumanya.

#2 Catatan Luka

1 0

Ini tentang seseorang yang menanti kepulangan tuan nya. Setelah ia dijadikan tempat pelampiasan yang membuatnya memiliki rasa trauma hebat. Sosok yang sudah menunggunya begitu lama hingga akhirnya ia memilih pergi dan menghilang. Tapi, tanpa ia sadari ia adalah tokoh utama dalam cerita ini, cerita yang baru di mulai tapi sudah berakhir tanpa kata akhir.

Bagaimana caraku untuk memulainya dari awal? Sedangkan untuk dekat dengan seseorang saja tidak bisa kulakukan. Cerita dengan mu membuat ku menjadi trauma saat ini. Seakan-akan menyamakan semuanya dengan dirimu.

Ini tentang trauma...

Ingin sekali ku menghilangkan rasa trauma yang ada didalam diriku. Tetapi, ketika aku berusaha menghilangkan rasa trauma itu rasanya sangat sulit dan tidak mudah.

Rasa trauma akan hubungan kemarin masih ada. Hingga sekarang, hatiku masih tertutup untuk siapa saja yang ingin membukanya.

Saat ini, tidak ada nama yang ingin aku letakan didalam doa. Tidak ada hati yang ingin aku jaga. Tidak ada tangan yang ingin aku genggam. Yang datang aku terima hanya sebagai teman dekat. Yang dekat aku tidak berharap terikat, bukan karena takut untuk berdua tetapi belum siap untuk kembali kecewa dan kembali trauma

Banyak dari kita yang hidup berdampingan dengan rasa trauma. Membawanya setiap hari didalam kepala, membiarkan bias, seperti tak terjadi apa-apa. Sementara, pikiran kita adalah tanah lapang yang saat ini mulai terasa sesak, penuh, dengan kecemasan dan dengan wajah yang pucat dan mata yang sembab kita kembali bertanya "Kapan yaa sembuhnya?".

Rasa suka terkadang membuat rasa trauma hingga mati rasa. Memang membuat bahagia tapi pasti ada air mata yang membasahi pipi. Tak ada yang menyangka, bagaimana akhirnya? Entah itu kebersamaan atau kepergian.

Rasanya sudah tak lagi sama. Ketika aku kembali dengan perasaan yang lebih besar dari sebelumnya. Justru orang baru datang dengan banyak nya keraguan. Aku harus apa? Begitu aku berharap bahwa orang barulah obat dari segala trauma dan sakit hatiku. Aku harus bagaimana lagi? Saat aku menginginkan orang barulah tujuan akhir penjelajahan ku selama ini.

#3 Catatan Luka

1 0

Rasa nya sudah sangat berbeda. Ketika orang baru berucap, "kau tak tahu apa yang tengah kau rasa". Hatiku seketika tersentak, begitu mendengar pernyataanmu. Tersayat beribu-ribu pisau. Tertusuk berjuta-juta jarum. Perih rasanya. Namun aku bisa apa? Saat aku sendiri tak dapat menghakimi perasaanmu. Kau begitu jujur soal perkataan itu. Hingga kejujuranmu, membawa ku tersentak ke alam sadar. Bahwa aku tak bisa selamanya berharap pada orang baru.

Entah kenapa, aku enggan membuka hati untuk siapa pun.

Aku tidak tahu alasannya

Sebenarnya ada dua kemungkinan...

Entah aku yang belum bisa melupakanmu...

atau aku yang trauma karena mu...

Semua kemungkinannya berhubungan dengan mu...

Di sini aku yang salah

Karena tetap menaruh harapan kepada mu, yang belum tentu memikirkanku.

Perpisahan itu menjadikan ku berada pada titik trauma yang sangat mendalam. Bagaimana kepercayaan, perasaan, di kecewakan pada waktu yang bersamaan. Tak lagi mudah bagiku jika harus mengembalikan semuanya seperti semula. Karena mu semua penilaian ku terhadap orang baru yaang mencoba mendekati ku hampir sama. Meski aku tau tak seharusnya menyamakan semuanya. Teringat sepintas tentang mu membuat ku selalu meneteskan air mata, menjadikan ku lebih dekat berteman dengan kesedihan, senyum yang ku perlihatkan hanyalah kepalsuan untuk menutupi keadaan yang kurasakan, agar mereka menilai ku baik-baik saja. Mungkin sudah banyak waktu yang ku habiskan hanya untuk menangis, karena terkadang menangis pun bisa membuat ku tenang, meski itu keseringan kulakukan. Aku percaya tak selamanya aku akan terus seperti ini, akan ada fase dimana aku bisa benar benar baik-baik saja, tapi untuk saat ini biarkan aku melakukan hal yang bisa ku lakukan, sekalipun itu harus terus-terusan menangis.

Almaira Zaahira adalah seorang gadis berusia 21 tahun. Almaira atau biasa lebih dikenal dengan panggilan Maira adalah Mahasiswi Fakultas Teknik Arsitektur di Universitas Indonesia, Depok. Beberapa bulan yang lalu Maira baru saja wisuda kelulusan D3 dan mendapatkan gelar A.Md. Maira berencana melanjutkan kuliah nya ke jenjang S1.

Maira adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayah Maira berprofesi sebagai Dokter di salah satu rumah sakit di Depok, sedangkan Ibu Maira berprofesi sebagai Dosen disalah satu universitas swasta di Depok. Maira ingin merasakan hal beda dari orang tua nya hingga ia memutuskan untuk tidak mengikuti jejak keduanya di dunia kedokteran ataupun perguruan, Maira lebih memilih terjun di dunia arsitektur.

Maira dikenal sebagai gadis yang memiliki paras yang cantik nan indah, ia juga di kenal pintar dan cerdas. Namun, sayang ia juga di kenal sebagai gadis yang trauma akan rasa mencintai.

#4 Catatan Luka

1 0

“Maira, kamu jadi lanjut kuliah jenjang S1?” Tanya Jessica sahabat dekat Maira.

“Jadi dong bestih.” Ujar Maira.

“Rencana S1 di mana? Luar negeri yaa?” Kepo Clarissa.

“Ngga dehh, kayaknya di UI lagi.” Sebelumnya Maira memang berencana melanjutkan kuliah S1 nya di luar negeri. Tetapi, setelah memikirkannya matang-matang, ia berubah pikiran dan mantap tetap melanjutkan di UI Depok.

“Loh kenapa? Katanya mau di luar negeri S1 nya?” Lanjut Jessica yang sedikit terkejut mendengar pernyataan Maira.

“Iya, tapi ngga jadi. Soalnya kalau di Indo dan tetap di UI. Aku bisa sambil cari pengalaman kerja. Kebetulan ada Om aku yang mau mulai proyeknya, aku diajakin kerjasama. Jadi nanti yang desain proyeknya itu aku.” Jelas Maira.

“Bukannya kamu udah cari-cari universitas yang arsitekturnya bagus di luar negeri bahkan yang arsitekturnya lebih bagus dari UI.” Ujar Clarissa.

“Iya. Tapi yaa itu tadi alesannya.” Dalih Maira.

“Ohh iya Maira, nanti kalau Om kamu proyeknya udah mulai, ajak aku yaa. Aku juga mau cari pengalaman kerja.” Rengek Clarissa. Clarissa adalah temen satu jurusan Maira.

“Iya, kamu tenang aja nanti aku ajak. Nanti aku rekomendasi kamu ke Om aku supaya Om aku mau ajak kamu” Jelas Maira. “Jess, kamu ikut juga?” Gurau Maira.

“Yaa enggaklah kan aku Jurusan Psikolog bukan arsitektur.” Ujar Jessica

Ketika Jessica dan Clarissa sibuk mengerjakan tugas kuliah. Sedangkan Maira sibuk menonton film series kesukaannya. Tiba-tiba...

* * *Pov: New Message* * *

[Reffal: "Maira besok kamu sibuk engga?"]

“Siapa yang chat kamu? Kok kamu langsung diem gitu?” Clarissa yang kepo langsung merampas handphone Maira yang sedang dipegangnya.

“Siapa yang chat sih?” Tanya Jessica yang ikut kepo.

“Nih Reffal yang chat.” Clarissa langsung menyodorkan handphone Maira di depan wajah Jessica.

“Ohh Reffal. Yaudah bales dong Maira, siapa tau penting.” Ucap Jessica.

“Tapi... Aku takut...” Ucap Maira dengan suara terbata-bata.

“Takut apa sih Maira? Reffal itu engga ada sangkut pautnya sama masalalu kamu.” Desak Clarissa sambil mengembalikan handphone Maira.

“Cepetan jawab Maira.” Desak Jessica dan Clarissa.

[Maira: "Engga, Ffal. Ada apa emangnya Ffal?"]

[Reffal: "Besok bisa kita ketemuan ngga? Ada yang mau aku omongin sama kamu."]

[Maira: "Ketemuan dimana?"]

[Reffal: "Ketemuannya di Mall deket kampus aja."]

[Maira: "Ehm yaudah. Tapi, aku bisanya jelang sore. Gimana?"]

[Reffal: "Yaudah gapapa, sekalian aku pulang ngampus juga."]

“Reffal ngajak ketemuan?” Kepo Clarissa.

“Iya. Kalian berdua ikut yaa! Sekalian kita triple date, udah lama kan kita ngga triple date?” Bujuk Maira.

“Kalau kita berdua ikut takut ganggu privasi Reffal yang mau diomongin sama kamu.” Jelas Jessica.

“Tapi, kalau aku perginya sendiri aku takut.” Ucap Maira dengan nada suara lesu.

“Maira apasih yang kamu takutin dari Reffal. Reffal itu bukan masalalu kamu justru dia itu masa depan kamu.” Geram Clarissa.

“Please temenin aku. Kalau kalian ngga nemenin aku ketemuan sama Reffal aku ngga akan pergi.” Maira terlihat merajuk.

“Iya deh kita temenin.” Ucap Jessica dan Clarissa dengan nada suara terpaksa.

“Gitu dong bestih. Makacihhh.”

“By the way, besok kita triple date-nya. Jalan bareng atau ketemuan di mall aja?” Tanya Clarissa.

“Aduhhh bestih, cuma gini aja kok nanya. Ni ya aku jelasin supaya kamu engga nanya-nanya lagi” Geram Jessica. “Kan kita bertiga mah mau triple date jadi jalannya bareng dong. Nah, kalau Maira sama Reffal ketemuan di Mall nya dong kan emang janjiannya ketemuan, Bestih.” Sambung Jessica.

#5 Catatan Luka

1 0

“Nahh ini baru bestih aku yang paling peka plus pengertian.” Dalih Maira sambil memeluk gemes Jessica.

“Nahh berarti aku bukan bestih kalian dongg.” Clarissa terlihat cemberut.

“Bestih juga dong. Sini pelukk!” Rayu Jessica.

“Peyukkk...” Ucap kompak mereka bertiga.

“By the way, jalan barengnya mau naik apa? Taksi online?” Tanya Jessica.

“Ehm, jangan taksi online dehhh.” Papar Maira.

“Terus mau naik apa? Naik sendal gitu ke Mall?” Tutur Clarissa.

“Naik mobil Nyokap aku aja gimana? Besok Nyokap aku libur, lagi ngga ngajar.” Papar Maira.

“Siapa yang mau bawa mobilnya? Emang kamu bisa bawa mobil?” Ragu Jessica.

“Aku bisa nyetir kok, diajarin sama Bokap sama ikut kursus nyetir juga.” Jelas Maira.

“Emang kamu udah punya SIM?” Tanya Clarissa.

“Udah. Baru tiga bulan yang lalu aku dapet SIM-nya.” Tutur Maira.

“Tiga bulan yang lalu? Kok kamu baru cerita sekarang sih.” Tanya Clarissa.

“Sorry, aku lupa cerita sama kalian. Soalnya kan sibuk persiapan sidang akhir sebelum wisuda bulan lalu.” Jelas Maira.

“Yaaudah gapapa kali, kita juga maklumin kok. Yaudah berarti besok kita jalannya naik mobil Nyokap kamu terus kamu yang nyetir.” Papar Jessica.

* * * * *

“Bay bestih, aku sama Clarissa pulang dulu yaa.” Pamit Maira.

“Bay, besok jangan lupa yaa.” Papar Maira.

“Jangan sedih dong bestih, besok kan kita ketemu lagi.” Gurau Clarissa.

“Siapa yang sedih? Justru aku tuhh bersyukur, karena kamu udah mau pulang. Jadi, rumah aku tenang sepi, coba kalau ada kamu rumah aku jadi berisik.” Ejek Jessica.

“Nahh bener banget.” Gurau Maira.

“Ehh awas yaa, nanti aku engga main lagi kerumah kalian berdua.” Clarissa terlihat merajuk.

“Jangan gitu dong bestih, kan aku cuma bercanda.” Lantas Jessica langsung memeluk Clarissa yang terlihat merajuk.

“Yaudah aku sama Clarissa pulang dulu yaa.” Pamit Maira.

“Sebelum pulang, peyukk dulu dong!” Rayu Jessica.

“Peyukk.”

“Dahh ahh pamitannya jangan kelamaan. Kasihan sopir taksi online nya udah nungguin dari tadi.” Papar Maira.

“Dahh bestih. Emuanch.” 

“Dahh.”

“Kita duluan yaa bestih” Pamit Maira.

“Hati-hati di jalan yaa.” Papar Jessica.

Setelah mobil berjalan dan pergi menjauh Jessica bergegas menutup gerbang rumahnya dan bergegas masuk.

“Maira anterin aku dulu yaa. Kerumah aku dulu” Gagap Clarissa.

“Iya tenang aja” Ucap Maira. “Aku tau, kenapa kerumah kamu duluan. Karena supaya taksi online nya aku yang bayar kan semuanya.” Papar Maira.

“Heheheh bisa nih Maira.” Rayu Clarissa.

“He-he-he.” Ejek Maira.

“Maira jangan gitu dongg. Yaa yaa kerumah aku duluan.” Bujuk rayu Clarissa.

“Iya tenang aja bestih.” Ucap Maira.

“Nahh gitu dong bestih. Makacihh yaa.” Tutur Clarissa.

“Sama-sama.” Ucap Maira. “Pak, kita puter rute yaa. Kerumah temen saya dulu.” Sambung Maira.

“Siapp Kak.” Ucap Sopir taksi online.

* * * * *

“Makasih yaa bestih.”

“Iya. Dah yaa aku duluan.” Pamit Maira.

“Dah bestih. Hati-hati dijalan yaa.”

“Ayok Pak jalan, ke rute pertama yaa Pak.” Tutur Maira.

“Okehh Kak.” Jawab Sopir taksi online.

Selama perjalanan menuju rumah, Maira memikirkan hal apa yang ingin diomongin Reffal sampai mau ngajak ketemuan.

“Apa yang ingin diomongin sama Reffal? Apakah masih hal yang sama seperti bulan lalu?” Pikir Maira.

#6 Catatan Luka

1 0

Ttinnn... Ttinnn...

“Hallo bestih.” Sapa Maira sambil membuka kaca mobil.

“Wiihhh beneran lohh bisa nyetir mobil.” Kagum Jessica yang tak menyangka ternyata Maira benar-benar bisa nyetir mobil.

“Maira gitu lohh.” Ucap Maira.

“By the way kapan-kapan ajarin aku nyetir yaa.”

“Kita langsung jemput Clarissa nih?” Tanya Maira.

“Iya, dari tadi si Clarissa chatin aku terus sampe di spam, minta jemput jangan tinggal dia mau ikut katanya.” Tutur Jessica.

“Ohh yaudah kita langsung otw kalau gitu.” Papar Maira.

* * *Pov: Calling* * *

["Hallo, ada apa sih?" Geram Jessica.]

“Lost spiker.” Bisik Maira.

["Jemput aku." Rayu Clarissa.]

["Iyaudah kamu tenang aja, aku sama Maira udah otw ke rumah kamu." Jelas Jessica.]

["Ohh gitu yaudah."]

["Aku udah otw ke rumah kamu. Kamu jangan-jangan kemana, stand by yaa." Jelas Maira.]

["Okehh bestih."]

“Clarissa tuhh kalau belum di jawab berkali-kali pasti rewel banget.” Geram Jessica.

“Namanya juga Clarissa. Yang sabar-sabar aja ngadepinnya.” Ejek Maira.

“By the way kamu izin sama Nyokap mau pergi kemana?”

“Ke toko buku sekalian mau triple date sama kamu sama Clarissa.” Jelas Maira.

“Bukan izin mau ketemuan sama Reffal?” Gurau Jessica.

“Yaa engga lah.”

* * * * *

“Hai bestih.” Sapa Clarissa yang baru masuk mobil.

“Haiii.”

“Sorry yaa lama.” Ucap Maira.

“Gapapa kali santai aja.”

“Yaudah langsung otw ke Mall nya aja.” Ucap Jessica.

“Ehm.. Ehm.. Yang sore ini mau ketemuan, setelan oufit nya cantik banget.” Ejek Clarissa.

“Tuhkan Maira bukan aku aja yang bilang hari ini penampilan kamu beda.” Dalih Jessica.

“Engga ahh biasa aja kali.” Sanggah Maira yang merasa penampilan seperti biasanya.

* * * * *

Jessica dan Clarissa menemani Maira yang masih menunggu Reffal datang.

“Reffal masih lama sampainya?” Tanya Jessica.

“Engga tau juga tapi katanya selesai dia ngampus.” Jelas Maira.

“Emang Reffal kuliah nya fakultas apa?” Tanya Clarissa.

“Fakultas Manajemen Bisnis jenjang S1.” Jelas Maira.

“Baru mulai S1 nya?” Tanya Jessica.

“Engga udah mau selesai. Katanya lagi skripsi.” Jelas Maira.

“Wiihhh... Berarti bentar lagi wisuda S1 dong.” Ucap Clarissa

* * *Pov: New Message* * *

[Reffal: "Maira, aku udah sampe di tempat yang kamu tentuin."]

[Maira: "Yaudah kamu diem, tunggu disitu."]

“Bestih aku ke situ dulu yaa. Sebentar kok, kalian berdua tunggu sini jangan kemana-mana, okehh. Aku cuma sebentar kok.” Ucap Maira.

“Reffal udah sampai?” Tanya Jessica.

“Iya dia udah sampai.” Setelah mengetahui Reffal sudah sampai air muka Maira terlihat berubah.

“Yaudah sana temuin Reffal nya. Tunggu apa lagi.” Desak Clarissa.

“Yaudah sana bestih.” Papar Jessica.

“Yaudah aku temuin Reffal dulu. Bay...”

“Bay...”

* * * * *

Setelah beberapa menit menunggu...

“Reffal.” Sapa Maira.

Mendengar suara Maira, Reffal langsung membalikkan badan.

“Hay Maira.”

“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Maira dengan suara terbata-bata.

“Hari ini kamu cantik.” Rayu Reffal.

“Ffal, langsung to the point aja.”

“Ohh yaudah, sambil duduk aja ngomongnya. Engga enak juga ngomong sambil berdiri.” Reffal langsung berjalan ke arah kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

#7 Catatan Luka

1 0

“Kamu mau ngomong apa? Masih sama seperti bulan lalu?”

 

“Ehm... Sekali lagi aku mau ngungkapin perasaan aku ke kamu, Mai. Aku sayang sama kamu Mai bahkan lebih dari sayang.” Ungkapan Reffal membuat raut wajah Maira berubah.

 

“Terus mau kamu apa Ffal.” Maira benar-benar bingung harus berbuat dan berkata apa.

 

“Will you be my lover?” Reffal benar-benar sangat serius dengan ungkapannya.

 

* * * * *

 

Jessica dan Clarissa mengawasi tindakan Maira ke Reffal dari kafe. Mereka berdua takut Maira melakukan hal yang sama ke Reffal setelah melakukannya ke laki-laki lain.

 

“Bestih, Mereka berdua ngomongin apa sih? Serius banget kayaknya.” Kepo Clarissa.

“Aku juga ngga tau.”

 

* * * * *

 

Maira tidak menjawab apa-apa, ia hanya terdiam membisu. Setelah mendengar ungkapan Reffal.

 

“Kamu tau, beberapa bulan lagi aku wisuda kelulusan S1. Aku janji sama kamu Mai, setelah selesai acara wisuda, malamnya aku langsung ke rumah kamu ketemu sama Papa kamu.” Dalih Reffal.

 

“Kamu mau ngapain ketemu Papa aku?” Tanya Maira dengan suara lemah dan terbata-bata.

 

“Buktiin kalau aku serius ke kamu Mai. Aku akan langsung ketemuin Papa kamu. Dan disitu juga aku akan melamar kamu di depan Papa kamu langsung Mai.” Jelas Reffal.

 

“Emang kamu cukup berani untuk ketemu Papa aku?” Tetapi Maira masih meragukan ke seriusan Reffal.

 

“Aku berani karena aku serius!” Tegas Reffal.

 

“Aku bukan laki-laki yang cuma kasih kamu janji Mai. Aku berani kasih kamu bukti dan kepastian.” Ucap Reffal dengan terus menatap tajam mata Maira.

 

Hhuuu...

 

Maira menghela nafas sambil merubah posisi duduknya...

 

“Reffal, I can't be your lover. And once again I apologize profusely.”

 

“Kenapa Maira? Kalau aku bisa kasih kamu kepastian. Kenapa kamu ngga bisa kasih aku jawaban yang pasti?” Hati Reffal tergores setelan mendengar pernyataan Maira.

 

“Untuk yang masalah ketemu sama Papa aku dan melamar pasti akan berujung menikah. Aku belum siap untuk menikah. Aku masih mau kuliah, belum mau menikah.” Setelah memberi jawaban seperti itu Maira langsung bergegas pergi dan tidak kembali mendatangi sahabatnya.

#8 Catatan Luka

1 0

#PRSarkatDay_8

 

“Maira, kalau masalah kuliah kamu setelah menikah bisa kita bicarakan Mai.” Ucap Reffal setelah beberapa langkah mengejar Maira.

 

Mendengar ungkapan Reffal, Maira sempat berhenti berlari. Maira terdiam dengan ungkapan Reffal dan tindakannya meninggalkan Reffal tanpa jawaban yang pasti.

Setelah beberapa menit Maira terdiam membelakangi Reffal. 

 

Dan Reffal terdiam berharap Maira berubah pikiran. Tetapi, Maira justru melanjutkan perginya dari Reffal.

 

Jessica dan Clarissa yang melihat Maira meninggalkan Reffal sendiri bergegas mendatangi Reffal.

 

“Arghhhh...” Reffal terlihat bergerutu dan kesal karena lagi-lagi cintanya ditolak oleh Maira. Ini adalah kelima kalinya cinta Reffal ditolak oleh Maira.

Dan ini juga kelima kalinya Maira menolak cinta Reffal tanpa alasan dan jawaban yang pasti.

 

“Reffal, Loe kenapa?” Tanya Jessica yang mendatangi Reffal setelah Maira pergi menjauh.

 

“Reffal, bestih, kayaknya lebih baik aku kejar Maira yaa. Engga mungkinkan disaat kayak gini Maira sendirian.”

 

“Yaudah Loe kejar Maira, tenangin dia. Jangan sampai Maira berbuat hal yang macem-macem.” Ujar Reffal.

 

“Jess... Kita duduk dulu disana yaa. Ada yang mau Gue tanya ke Loe?” Ucap Reffal.

 

“Yaudah ayo.”

 

* * * * *

 

Setelah sampai diparkiran mobil, Clarissa bergegas mencari Maira. Ia melihat Maira berlari ke arah parkiran.

 

“Mai kamu dimana?” Teriak Clarissa setelah mengecek mobil Maira yang ternyata Maira tidak ada didalamnya. Tetapi, Clarissa mendengar suara perempuan menangis entah dari arah mana.

 

____________________________________________

 

“Jess... Gue mau nanya sesuatu.” Ucap Reffal

 

“Nanya apa? Tentang Maira?”

 

“Iya. Pernah engga sih Maira cerita atau curhat ke Loe tentang perasaannya?” Selidik Reffal.

 

“Perasaan? Maira Engga pernah cerita atau curhat tentang perasaan. Biasanya Maira kalau curhat tentang kuliahnya atau keluarganya engga pernah tentang perasaannya. Kenapa emangnya.” Jelas Jessica.

 

Reffal hanya terdiam membisu setelah mendengar pernyataan Jessica.

 

* * * * *

 

Clarissa mencoba mencari sumber suara perempuan menangis. Setiap sudut parkiran diperiksa Clarissa.

 

“Maira, kamu kenapa.” Tanya Clarissa yang menemukan Maira menangis di pojok parkiran.

Maira bergegas menghapus air matanya setelah Clarissa mendatanginya.

#9 Catatan Luka

1 0

#PRSarkatDay_9

 

“Aku gapapa.” Ucap Maira berusaha menutupi segalanya.

“Kalau kamu gapapa. Kenapa kamu nangis disini? Nanti kalau ada orang yang ngeliat gimana?” Ucap Clarisa.

“Aku mau pulang. Tadi nyokap nelpon aku, aku disuruh pulang.” Ucap Maira berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Tapi Jessica masih diatas.”

“Yaudah kamu telpon.” Ucap Maira.

“Yaudah bentar.”

“Aku tunggu di mobil yaa.”

* * *Pov: Calling* * *

["Hallo bestih kamu dimana?" Tanya Clarissa.]

["Aku masih diatas. Kenapa emangnya?”]

["Maira tadi ditelpon sama Nyokap nya katanya disuruh pulang." Jelas Clarissa.]

["Ehm kamu sama Maira pulang duluan aja, aku masih ada urusan. Nanti aku pulangnya naik taksi online aja." Jelas Jessica]

["Ehm yaudah kalau gitu, aku sama Maira duluan yaa." Pamit Clarissa]

["Iya iya kamu duluan aja. Hati-hati dijalan, bay.".]

“Hai bestih.” Ucap Clarissa yang baru masuk mobil.

“Jessica mana?” Tanya Maira.

“Jessica belakangan katanya dia masih ada urusan. Kita di suruh pulang duluan.” Jelas Clarissa.

“Nanti dia pulang naik apa?”

“Naik taksi online katanya.” Jelas Clarissa.

* * * * *

“Jess, Loe ngerasa ada yang aneh ngga si ada perilakunya Maira terutama ke cowo?” Heran Reffal.

“Iya, Gue juga ngerasa. Maira anaknya kurang terbuka.”

“Bukannya Luh kuliah jurusan psikolog?” Tanya Reffal.

“Iya. Kenapa emangnya.”

“Berarti bisa dong Lue dikit-dikit mah baca sikapnya Maira.” Tutur Reffal.

“Bisa kalau Maira nya terbuka. Kan tadi Gue bilang Maira anak nya kurang terbuka.” Jelas Jessica.

“Biasanya tempat yang sering dipake buat meluapkan isi hati sama menyimpan banyak rahasia apa sih?” Tanya Reffal.

“Kalau nyimpan rahasia biasanya handphone kalau meluapkan isi hati biasanya buku dairy.” Jelas Jessica. “Tapi Ffal, Gue sering mainin minjem hp nya Maira tapi engga ada apa-apa. Kalau di hp nya Maira ada banyak rahasia pasti gw minjem bakalan engga boleh sama dia.” Sambung Jessica.

“Berarti di buku dairy. Maira meluapkan semua isi hatinya, perasaannya, masalahnya.” Papar Reffal.

“Bisa jadi. Maira itu anaknya suka nulis, bisa jadikan dia nulis semuanya di buku dairy.”

#10 Catatan Luka

1 0

PRSarkatDay_10

“Jess, Lue mau engga bantuin Gue ngambil buku dairy nya Maira?” Tanya Reffal.

 

“Gw sih mau aja. Tapi, buat apaan Lue buku dairy nya Maira?”

 

“Udah aja. Entar kalau Lue udah dapet buku dairy nya baru Gue jelasin rencana Gue selanjutnya” Papar Reffal.

 

“Gue rasa sih Maira itu trauma dehh Ffal.” Jessica melontarkan pernyataan itu setelah beberapa kali melihat sikap Maira ke laki-laki lain.

 

“Trauma?”

 

“Iya, Gue ingetin ni yaa Ffal.” Ucap Jessica.

 

Tidak ada laki-laki yang tulus dimata perempuan yang trauma.” Tegas Jessica.

 

“Maksud Lue?” Heran Reffal.

 

“Ya kalau emang bener si Maira trauma. Sebaik apapun Lue setulus apapun Lue. Lus akan tetep sama di mata Maira.” Ucap Jessica. “Sama kayak laki-laki yang pernah nyakitin dia sebelumnya.” Sambung Jessica.

 

Reffal hanya terdiam membisu setelah mendengar penjelasan Jessica.

Reffal takut kalau Maira benar-benar trauma, maka perasaannya akan bertepuk sebelah tangan sampai Maira benar-benar sembuh dari luka dan traumanya.

 

* * * * *

 

* * *Pov: Calling* * *

 

["Hallo Gan." Sapa Jessica.]

 

["Hallo Kak Jess, ada apa?" Tanya Reggan.]

 

["Kakak mau minta bantuan sama kamu. Bisa engga?"]

 

["Bisa kak. Mau minta bantuan apa kak?" Tanya Reggan.]

 

["Tapi kamu jangan bilang-bilang Kak Maira yaa, kalau kakak minta bantuan sama kamu."]

 

["Okeh Kak. Bantuan apa?" Tanya Reggan.] 

 

* * * * *

 

“Semoga Jessica berhasil mendapatkan buku dairy Maira.” Ucap Reffal sambil menatap langit malam dari balkon kamarnya.

 

Harapan terbesar Reffal sekarang ada pada Jessica yang mencoba mendapatkan buku dairy Maira.

 

“Reffal.” Panggil Ibu Sarah.

 

“Iya, Bu ada apa?”

 

“Turun ke bawah ada yang mau Ayah dan Ibu dibicarakan.” Jelas Ibu Sarah.

 

“Okehh.”

 

“Duduk Ayah mau bicara.”

 

“Apa yang mau Ayah bicarakan?” Tanya Reffal yang penasaran dengan hal yang ingin di bahas Ayah Bagas karena air muka Ayah Bagas terlihat serius.

 

“Nanti selesai S1, selesai wisuda. Kamu mau ngapain?” Tanya Ayah Bagas. “Mau lanjut kuliah S2? atau mau mulai ambil alih usaha Ayah atau perusahaan Ayah?” Tanya Ayah Bagas.

 

“Aku mau ke Bandung.” Tutur Reffal.

#11 Catatan Luka

1 0

PRSarkatDay_11

“Bandung? Kamu mau ngapain di Bandung?” Tanya Ibu Sarah.

 

Nama asli Reffal adalah Reffal Farhanoel Bahtera. Reffal adalah putra bungsu dari dua bersaudara.

Reffal memiliki kakak perempuan bernama Ella Noermala Bahtera. Reffal dan kakak perempuannya mendapatkan nama Bahtera dari Ayahnya yakni Bagas Bahtera.

 

* * * * *

 

["Okeh Kak, aku ngerti sama rencananya. Nanti kalau aku udah dapet bukunya, aku kabarin kakak. Kita ketemu di belakang sekolah aku yaa."]

 

["Okeh. Nanti kabarin lagi yaa."]

 

Jessica langsung mematikan sambungan telponnya.

 

Reggan adalah adik laki-laki Maira. Reggan duduk di bangku kelas 3 SMP. Usia Maira dan Reggan terpaut 7 tahun.

 

“Maira kamu mau kemana?” Tanya Papa Irwan yang melihat Maira berpakaian rapi malam-malam.

 

“Mau ke minimarket Pa, ada yang mau aku beli.”

 

“Berani sendiri? Ini udah malam loh.” Tanya Papa Irwan.

 

“Berani kok Pa.”

 

Sementara Reggan yang melihat Maira keluar rumah dari Jendela kamarnya dilantai dua rumah.

 

“Ini kesempatan bagus untuk aku jalanin rencana Kak Jessica.” Ucap Reggan.

 

Setelah Maira menghilang dari pandangan Reggan. Reggan bergegas menyelinap masuk ke dalam kamar Maira.

 

Ketika Reggan ingin membuka pintu kamar Maira ternyata...

 

“Huu benarkan. Pintu kamarnya dikunci, pasti kuncinya dibawa.” Gerutu Reggan.

 

Setelah mengetahui kamarnya dikunci Reggan langsung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

 

“Untung aku udah ambil kunci serepnya dari Bi Unah.” Sambung Reggan.

 

Setelah berhasil membuka pintu kamar, Reggan bergegas ke meja belajar Maira. Tempat dimana Maira menyimpan semua bukunya.

 

Reggan mengecek setiap sudut meja dan rak buku tanpa terlewatkan satupun. Setelah lima menit mengecek dan dalam situasi tegang takut ketauan akhirnya Reggan mendapatkannya.

 

Setelah mendapatkan yang ia cari dari kamar Maira. Reggan bergegas keluar kamar. Reggan keluar kamar dengan sangat hati-hati agar tidak ketauan orang rumah lainnya.

 

BAB 4

 

“Reggan, kamu ngapain?” Tanya Mama Rahma.

 

“Ehh Mama” Mendengar Mama Rahma memanggilnya Reggan terlihat salah tingkah.

 

Reggan langsung mengumpatkan bukunya di belakang tubuhnya agar tidak dilihat oleh Mama Rahma.

#12 Catatan Luka

1 0

“Kamu ngapain didepan kamar Kakak?” Tanya Mama Rahma yang melihat aneh sikap Reggan.

 

“O-hh eng-ga. O-hh i-ni, tadi aku mau minta ajarin pr sama kakak. Ternyata kakak nya engga ada, kamarnya dikunci.” Jelas Reggan dengan suara terbata-bata.

 

“Ohh Kakak nya lagi ke minimarket, katanya ada yang mau dibeli. Kenapa engga minta ajarin sama Mama aja? Kan ada Mama.”

 

“Engga aku pikir takutnya Mama sibuk.” Tutur Reggan.

 

“Engga, Mama lagi ngga sibuk. Justru kakak yang lagi sibuk, lagi nyiapin pendaftaran kuliahnya.” Jelas Mama Rahma.

 

“Ohh yaudah kalau gitu aku minta ajarin sama Mama aja.” Tutur Reggan.

 

“Ohh yaudah, cepet ambil bukunya. Mama tunggu di ruang keluarga.”

 

“Okehh.”

 

Setelah Mama Rahma berjalan turun ke lantai bawah. Reggan merasa lega. Ia langsung bergegas masuk kembali ke kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya.

 

* * * * *

 

Ketika Maira berjalan sendirian ditengah sepinya kompleks.

 

“Kok aku jadi merinding gini.” Gumam Maira dalam hati.

 

Ketika Maira sampai ditaman kompleks yang sangat sepi yang biasa jadi tempat nongkrong malam para laki-laki trouble maker. Maira mempercepat langkahnya.

 

“Ehh liat si Maira tuh. Lagi jalan sendirian.” Ucap salah satu laki-laki trouble maker yang melihat Maira berjalan sendirian malam-malam

 

“Bro, katanya Lue mau bales dendam sama Maira. Gihh sana waktu yang tepat nihh.” Desak yang lain.

 

“Tenang-tenang.” Laki-laki berjalan mendatangi Maira yang sedang berjalan sendirian

Laki-laki itu muncul dari semak yang membuat Maira terkejut.

 

“Astaga.” Kaget Maira.

 

“Kok kaget gitu sih. Ngga usah kaget dong sayang.” Rayu Laki-laki itu. Laki-laki itu terus maju kearah Maira.

 

“Kamu mau ngapain?” Maira benar-benar takut. Ia mencoba mundur untuk menjauh.

 

“Engga ngapain-ngapain cuma main sebentar.” Rayu Laki-laki itu.

Maira terus mundur mencoba menjaga jarak. Ketika laki-laki itu semakin brutal, Maira hendak lari dan pergi menjauh tetapi usahanya gagal.

 

“Eitss mau kemana? Mau lari yaa?” Ujar laki-laki itu sambil menggenggam erat tangan Maira yang hendak lari.

#13 Catatan Luka

1 0

Ketika menggenggam tangan Maira, kebrutalan laki-laki memuncak. Laki-laki itu terus mendekat ke arah Maira. Laki-laki itu hendak melakukan sesuatu pada Maira, Maira hanya bisa pasrah menunggu keajaiban Tuhan. Tiba-tiba...

 

Bbraaakkkk...

 

Seseorang datang langsung memukul laki-laki itu sampai tersungkur ke aspal.

 

“Kamu mundur dulu.” Ucap Orang itu dengan suara lembut seolah-olah mengenal baik Maira.

 

Laki-laki itu langsung berdiri bangun dan membalas pukulan orang itu. Perkelahian pun tak bisa dielakkan.

 

Laki-laki dan orang itu terus main pukul dan balas pukul. Ketika kesabaran orang itu sudah sampai pada puncaknya. Orang itu langsung membuka helm nya dan memukul laki-laki memakai helmnya. Laki-laki itu langsung lari menghampiri temen-temennya setelah habis babak belur.

 

Orang itu mengambil helm nya. Dan dia berbalik ke arah Maira sambil mensasak rambutnya.

Ketika melihat orang itu, Maira terkejut. Ternyata orang yang menolong Maira adalah...

 

“Reffal...” Maira terkejut setelah mengetahui orang yang menolongnya adalah Reffal.

 

“Mai kamu gapapa?” Panik Reffal.

 

“Engga aku gapapa. Kamu gapapa Ffal?” Tanya Maira sambil melihat tangan Reffal yang berdarah.

 

“Engga aku gapapa. Malam-malam gini kamu mau kemana? Sendirian lagi.” Ucap Reffal.

 

“Gapapa gimana itu tangan kamu luka!” Tegas Maira.

 

“Beneran gapapa cuma luka sedikit aja kok.” Dalih Reffal. “By the way kamu mau kemana? Ini udah malem.” Ulang Reffal dengan suara lebih sedikit keras.

 

“Aku mau ke minimarket. By the way kamu dari mana?” Tanya Maira.

 

“Dari rumah temen, minjem buku. Mau aku anter ke minimarket nya?” Ajak Reffal.

 

“Ehm engga usah dehh aku sendiri aja.” Papar Maira.

 

“Nanti kalau kamu ketemu laki-laki kayak tadi gimana?” Ucap Reffal.

 

“Ehm yaudah dehh.” Terpaksa Maira.

 

* * * * *

 

* * *Pov: Calling* * *

 

["Hallo Kak Jess." Sapa Reggan.]

 

["Hallo Gan. Gimana? Berhasil?" Antusias Jessica.]

 

["Berhasil Kak."]

 

["Ohh bagus dehh. Yaudah besok kita ketemuan dibelakang sekolah kamu yaa. Nanti kakak tungguin kamu disana jam istirahat."]

 

["Okehhh."]

 

Setelah menutup telpon. Jessica merasa lega, itu artinya Reffal bisa menjalankan rencananya untuk meluluhkan hati Maira yang penuh dengan rasa trauma dan takut mencintai orang baru.

 

* * *Pov: New Message* * *

 

[Jessica: "Reffal, gw punya kabar baik buat Lue!"]

#14 Catatan Luka

1 0

Ketika Maira sudah masuk kedalam minimarket. Dengan situasi memerhatikan Maira agar Maira tidak mengetahui bahwa Reffal dan Jessica kerja sama, dengan terburu-buru dan was-was Reffal menjawab pesan Jessica.

[Reffal: "Kabar baik apa, Jess?"]

[Jessica: "Kabar baik kalau... Reggan adiknya Maira berhasil dapetin buku dairy nya Maira."]

[Reffal: "Wihhh bagus tuh... Bukunya bisa diambil kapan."]

[Jessica: "Besok, jam istirahat di belakang sekolahnya Reggan."]

[Reffal: "Gue temenin Luh ngambil bukunya."]

“Reffal.” Panggil Maira.

“Ehh iya.” Kaget Reffal ternyata Maira sudah keluar minimarket.

Mengetahui Maira sudah keluar minimarket, Reffal bergegas menyimpan hp nya.

“Aku beli tissue, obat merah, sama plaster.” Jelas Maira.

“Buat apa?”

“Buat apa? Yaaa buat obatin luka kamu biar ngga infeksi.” Jelas Maira.

Maira langsung mengeluarkan barang-barang P3K yang dibelinya di minimarket.

Melihat Maira dan P3K nya sudah siap, Reffal langsung mengulurkan tangannya untuk di obati. 

Dengan cekatan Maira langsung mengobati luka di tangan Reffal.

Melihat Maira mengobati luka ditangannya dengan sangat lembut dan hati-hati membuat dada Reffal berdetup kencang.

“Ternyata aku ngga salah mencintai wanita Mai. Walaupun kamu memiliki trauma tapi aku beruntung karena mencintai wanita seperti kamu.” Gumam Reffal dalam hati.

“Dah selesai.” Lega Maira.

“Ohh udah selesai.” Tutur Reffal. “Yaudah kalau gitu ayo aku anter kamu pulang. Nanti kalau lama-lama takutnya Papa kamu nyariin kamu.” Sambung Reffal.

“Kamu yakin bisa bawa motor dengan tangan kamu yang lagi luka?” Ragu Maira.

“Tenang aja, aku bisa.”

* * * * *

“Kok Maira cuma ke minimarket aja lama banget Bun?” Tanya Papa Irwan.

“Mana Mama tau. Mungkin Maira jajan dulu atau ada keperluan lain.” Ujar Mama Rahma.

“Dek susul kakak sana.” Suruh Papa Irwan.

“Engga ahh males. Aku lagi belajar sama Mama, nanti juga kakak pulang."

“Papa mau kemana?” Tanya Mama Rahma yang melihat Papa Irwan yang meninggalkan ruang keluarga.

“Mau nunggu kakak di balkon atas.” Jelas Papa Irwan.

Sebagai Orang tua jelas sangat khawatir mengetahui anak gadis perempuan nya keluar rumah sendirian apalagi di malam hari seperti sekarang. Apalagi akhir-akhir ini sedang marak kasus kejahatan seksual yang di lakukan para laki-laki bejad hanya untuk memuaskan nafsunya.

#15 Catatan Luka

1 0

“Reffal aku turun dideket pertigaan depan aja.” Pinta Maira. “Aku takut kalau sampai depan rumah nanti Papa lihat.” Sambung Maira.

Tetapi Reffal tidak menjawab apa-apa. Reffal hanya diam dan terus melajukan motornya.

“Ffal aku turun disini aja, Ffal.“ Pinta Maira yang melihat Reffal sama sekali tak berhenti, ia terus melajukan motornya.

Hingga akhirnya Reffal benar-benar menurunkan Maira didepan gerbang rumahnya. Sekarang yang ada dipikiran Maira adalah bagaimana jika Papa nya mengetahui nya.

“Reffal, maksud kamu apa nurunin aku di depan rumah aku? Nanti kalau Papa aku tau, gimana?” Gerutu Maira.

Reffal membuka kaca helm nya untuk memperjelas jawabannya.

“Maira, ini adalah awal dari bukti keseriusan aku.” Jelas Reffal.

“Maksud kamu?” Heran Maira.

Reffal tidak menjawab pertanyaan Maira. Justru ia malah melambaikan tangan ke arah balkon rumah Maira sebagai tanda pamit dan ia juga terlihat mengklakson.

Melihat sikap Reffal yang melambaikan tangan dan mengklakson membuat Maira langsung menoleh ke arah balkon. Ternyata dibalkon ada...

“Om duluan...” Pamit Reffal.

“Iya hati-hati dijalan.” Sahut Papa Irwan.

“Reffal.” Panggil Maira yang terkejut ternyata Reffal berpamitan dengan Papa Irwan.

Reffal tidak menjawab, ia langsung melajukan motornya dan meninggalkan Maira di depan rumahnya.

Melihat Reffal yang sudah pergi, Maira langsung bergegas masuk sambil terus menatap takut ke arah balkon.

Papa Irwan bergegas turun dan menunggu Maira di dekat pintu.

“Pulang di anter siapa Kak?” Tanya Papa Irwan setelah melihat kejadian tadi.

“Ehh Papa.” Kaget Maira.

“Papa tanya, pulang di anter siapa?” Walaupun Papa Irwan membawa santai pertanyaannya tetapi Maira tetap terlihat takut.

“Di anter sama Reffal.” Jelas Maira dengan suara terbata-bata.

“Ngga sengaja ketemu atau sengaja ketemuan?” Selidik Papa Irwan.

“Ngga sengaja ketemu tadi di taman.” Jelas Maira dengan perasaan serba salah.

“Kok ngga sengaja ketemu nya di taman?”

“Oh-hh i-ni tadi Reffal nolongin aku ditaman. Aku di kejar anjing yang lepas malem-malem. Kan Papa tau rumah yang deket taman punya anjing, terus kebetulan Reffal lewat abis dari rumah temennya.” Jelas Maira.

“Ohh gitu, yaudah langsung masuk kamar, tidur. Udah malem jangan begadang.” Ucap Papa Irwan yang kemudian meninggalkan Maira.

* * * * *

Jessica sudah terlihat mundar-mandir di pinggir jalan. Entah apa yang sedang dilakukan Jessica tetapi dia terlihat rapi dengan style pakaian tertutup.

Jessica terlihat menunggu seseorang di belakang sekolah.

[ * 09:40 WIB. Senin, 10 Mei 2027 * ]

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu Jessica datang.

“Hallo Kak Jess.” Sapa Reggan dengan nafas terbata-bata setelah berlari memutar sekolah.

“Haii Reggan.”

“Maaf yaa Kak, lama soalnya ada materi pelajaran tambahan tadi.” Jelas Reggan.

“Ohh gapapa kok. By the way mana bukunya?” Jessica benar-benar sangat penasaran dengan buku itu.

“Ini Kak Jes.” Reggan langsung memberikan buku yang diinginkan Jessica.

“Ohh iya, imbalannya udah kakak kirim yaa.”

“Iya Kak udah masuk tadi pagi udah aku lihat.” Papar Reggan. “Yaudah Kak aku duluan yaa takut masuk.” Sambung Reggan.

“Iyaaa dah.” 

Reggan langsung berlari meninggalkan Jessica. Ketika Reggan sudah kembali ke sekolah Jessica bergegas mendatangi mobil putih di seberang jalan.

“Haii Ffal.” Sapa Jessica.

“Haii Jess, tadi itu adek nya Maira yang namanya Reggan.”

“Iya. Ohh iya ini bukunya. Buku yang lagi Loe butuhin.” Jessica langsung menyerahkan buku itu pada Reffal.

#16 Catatan Luka

1 0

“Sekarang Loe mau Gue anter kemana? Kampus?” Tanya Reffal.

 

“Ga usah. Ke Grandmedia aja ada buku yang mau Gue beli.”

 

“Ohh iya, Gue mau nanya. Sebelum tinggal di Depok, Maira tinggal dimana?” Tanya Reffal.

 

“Di Bandung.”

 

“Kira-kira Loe tau ga. Waktu di Bandung, Maira tinggal didesa apa?” Tanya Reffal.

 

“Kalau desa nya Gue kurang tau juga yaa. Tapi kalau itu penting buat Loe nanti Gue tanyain ke Maira.” Tutur Jessica.

 

“Ehm yaudah tolong tanyain yaa tapi jangan kata Gue.” Dalih Reffal.

 

“Iyaaa. Yaudah ayo jalan.”

 

* * * * *

 

Malam ini pukul 23:15 WIB...

 

Reffal baru saja selesai mengerjakan skripsi nya dan siap melakukan tahap selanjut untuk wisuda kelulusan yaitu sidang akhir.

Reffal merapikan semuanya, dan memasukkan beberapa buku ke dalam tas. Ketika Reffal membuka tas, ia melihat buku dairy hitam milik Maira. Sekarang harapan terbesar Reffal ada pada buku itu. Apapun yang tertulis dan tercatat di buku itu maka itulah kisah dan kenyataan yang harus Reffal selidiki dan cari tau lebih jauh. Dan buku itu pula harapan terakhir untuk hubungan Reffal dan Maira kedepannya. Reffal bersama Maira atau Reffal harus mengikhlaskan Maira. Buku itu menyimpan semua kisah lalu Maira suka atau duka.

Reffal berjalan ke arah balkon kamar sambil membawa buku itu. Reffal membuka buku itu...

Kertas halaman pertama buku itu berwarna hitam. Dan bertuliskan...

 

"Dear me Maira"

 

Dengan tinta putih.

Dan bertempelkan foto Maira waktu kecil dan waktu semasa SMP. Di pojok atas buku itu tercantumkan jam, hari, dan tanggal.

20:40 WIB Selasa, 17 Agustus 2021.

Reffal sempat bingung, kenapa di hari HUT Republik Indonesia Maira menulis buku ini. Apakah ada kejadian yang memaksakan Maira harus menulisnya.

Di tahun 2021 usia Maira 14 tahun dan duduk di bangku kelas 9 SMP. Sedangkan sekarang Usia Maira 21 tahun. Buku itu sudah 6 tahun menyimpan banyak rahasia.

 

“Aku benar-benar lancang. Membaca buku dairy seseorang tanpa izin nya.” Gumam Reffal. “Tapi, aku harus berbuat apa tanpa buku ini.” Sambung Reffal.

Halaman kedua buku itu masih dengan tanggal yang sama. Halaman kedua buku itu bertuliskan nama sekolah Maira dan beberapa tempel foto bersama teman-temannya.

Disalah satu wajah di foto terdapat tulis tangan dua anak panah dan nama. Anak panah pertama berwarna pink bertuliskan "Maira" yang menunjukkan bahwa itu Maira dan anak panah kedua berwarna biru bertuliskan "Azrieq" yang menunjukkan bahwa itu Azrieq.

“Azrieq? Dia siapa?” Heran Reffal.

“Reffal.” Panggil Ibu Sarah.

“Iya Bu?”

“Tidur, udah malem. Besok kamu ada skripsi kan.” Ujar Ibu Sarah.

“Iya Bu.”

“Yaudah tidur, jangan begadang.” Papar Ibu Sarah sambil menutup lampu dan menutup pintu.

“Kayak nya buku dairy ini ngga usah di bawa ke kampus. Takutnya nanti anak-anak ada yang liat, kan bahaya.” Gumam Reffal.

Reffal menyimpan buku dairy itu di laci meja belajarnya dan menguncinya. Reffal menyimpan kunci laci nya di paku lalu menutup dengan lukisan yang ada di kamarnya.

#17 Catatan Luka

1 0

Dimata anak-anak setongkrongan Reffal. Reffal adalah anak yang royal dan tidak pelit.

“Ffal gimana skripsi Loe?” Tanya Rendi teman satu kampus Reffal.

“Lancar bro.” Ucap Reffal.

“Traktir dong.” Timpal Ezza.

“Yaudah mau makan atau diminum ambil, ntar Gue yang bayar.” Ucap enteng Reffal.

“Wahh mantap ini.” Gurau Riki. “Mang, kopi satu sama mie rebus. Reffal yang bayar.” Sambung Riki.

“Mang, aku juga yaa.” Papar Ezza.

“Wihh berarti jadi kita touring ke Bromo selesai Loe wisuda.” Papar Rendi

“Gue kayaknya ngga ikut.” Ucap lirih Reffal.

“Lah kenapa? Bukannya Loe yang paling ngga sabar.” Heran Rendi.

“Selesai wisuda, Gue ada urusan di Bandung.” Ucap Reffal.

“Yaudah pulang Loe dari Bandung. Masa ini rencana ngga jadi, kan kita sama anak-anak yang lain udah rencana lama.” Jelas Riki.

“Kalau Loe sama anak-anak lain mau touring ke Bromo yaudah jalan, tapi Gue ngga ikut.” Dalih Reffal.

“Engga ada Loe ngga seru.” Timpal yang lain.

“Nahh bener itu engga ada yang traktir.” Gurau Ezza.

“Eitss bisa ae Loe.” Jawab Reffal.

“Emang Loe ada urusan apa sih Bro? Berapa lama Loe di Bandung?“ Serius Rendi.

“Urusan pribadi. Kalau berapa lamanya Gue ngga tau juga, yaa intinya sampe selesai urusannya.” Dalih Reffal.

“Pasti urusan si Maira, Si Pujaan Hati.” Gurau Ezza.

“Apaan sih bukan.” Sanggah Reffal.

“Aku yakin pasti urusan Maira. Kalau urusan bisnis Bokap pasti kau usahain ikut ngga mungkin kau ngga ikut.” Tutur Ezza.

“Bukan urusan Maira.” Reffal berusaha menyanggahnya agar rencananya ke Bandung tidak ada yang mengetahui.

“Kalau kau bohong, kau bilang ke Bandung urusan lain bukan urusan Maira. Tapi, ternyata urusan Maira, pulang dari Bandung kau melihat Maira menikah dengan pria lain, mau kau?” Ucap Ezza sambil mengulurkan tangan ke arah Reffal pertanda sumpah.

“Yaa jangan gitu dong doa nya. Doa in Gue yang baik supaya Gue berjodoh sama Maira gitu, baru temen.” Panik Reffal takut ucapan Ezza benar-benar terjadi.

“Tuhkan bener, pasti si Reffal ini ke Bandung urusan Maira.” Ejek Ezza.

“Iya Gue jujur, Gue ke Bandung urusan Maira. Tapi, Loe semua jangan bilang sama Maira. Kalau bilang sama Maira ngga bakalan Gue traktir lagi.” Pekik Reffal.

“Iyaa bro tenang aja, kita ngga bakal bilang ke Maira kok.” Ujar Rendi.

“Semoga perjuangan Loe membuahkan hasil bro.” Ucap Riki.

“Dan semoga kau dan Maira benar-benar berjodoh sampai maut yang memisahkan.” Ucap Ezza.

“Aamiin, thanks broo.” Ucap Reffal.

“Tapi nanti kalau bener kau menikah dengan si Maira si Pujaan hati, jangan lupa traktir kita-kita yaa.” Gurau Ezza.

“Tenang, Gue traktir Loe semua makan sebulan di Mang Asep. Oke mang?” Ujar Reffal.

“Okehhh atuh.” Jawab Mang Asep tukang warkop yang tempatnya menjadi tongkrongan Reffal dan teman-temannya.

#18 Catatan Luka

1 0

“Bestih, aku di suruh pulang ni sama Bokap Nyokap.” Papar Clarissa yang baru kembali setelah mengangkat telpon.

“Tumben baru jam segini udah di suruh pulang.” Ujar Jessica.

“Iya, Bokap Nyokap mau pergi ke acara pernikahannya Partner Bokap. Aku di suruh pulang, di suruh jagain rumah.” Papar Clarissa.

“Yaudah kalau emang begitu. Bisa sendiri? Atau mau aku anterin?” Tanya Maira.

“Ga usah aku bisa sendiri. Udah pesen taksi online juga.” Tutur Clarissa. “Peluk duluu dong.” Sambung Clarissa.

“Dahh bestih.”

“Mai, aku mau nanya sesuatu sama kamu boleh ngga?” Tanya Jessica.

“Mau nanya apa? Mukanya jangan serius banget.” Ucap Maira yang melihat air muka Jessica sangat serius.

“Sebenernya pertanyaan ini ngga penting-penting banget si buat aku. Tapi, aku penasaran aja gitu.” Dalih Jessica.

“Apaan sih langsung to the point aja.”

“Kan sebelum tinggal di Depok, kamu tinggal di Bandung. Nahh waktu tinggal di Bandung kamu tinggal di desa apa.” Tanya Jessica

“Di desa Ciwidey”

“Desa nya ada di kayak dataran tinggi gitu?” Jessica terus mencari tahu alamat tempat tinggal Maira di Bandung agar Reffal lebih mudah mencarinya.

“Iya, desa nya ada di perbukitan. Dan di sekelilingnya banyak banget kebun teh. Asri banget pokoknya.” Jelas Maira.

“Kalau nama sekolah SMP kamu?” Jessica mencari tahu semuanya selagi Maira tidak curiga.

“Namanya SMP Negeri 2 Ciwidey.”

“Kayaknya seru yaa jadi kamu saat itu. Tinggal di perbukitan, keluarga harmonis, sama temen sekolah yang baik-baik pastinya.” Pujian mungkin itu kata yang keluar dari mulut Jessica tetapi sebenarnya Jessica sedang mencari tahu informasi lebih dengan cara halus agar Maira tidak curiga.

“Seru? Iya itu buat tinggal di perbukitan dan keluarga harmonis. Kalau buat temen sekolah sih engga.” Air muka Maira berubah ketika melontarkan kata teman sekolah.

“Lohh kenapa? Kamu ada masalah sama temen sekolah kamu?” Jessica sempat terkejut setelah mendengar pernyataan Maira.

“Engga semua dan selamanya temen sekolah aku baik, Jess.” Suara Maira melirih saat membahas itu.

#19 Catatan Luka

1 0

“Seru? Iya itu buat tinggal di perbukitan dan keluarga harmonis. Kalau buat temen sekolah sih engga.” Air muka Maira berubah ketika melontarkan kata teman sekolah.

“Lohh kenapa? Kamu ada masalah sama temen sekolah kamu?” Jessica sempat terkejut setelah mendengar pernyataan Maira.

“Engga semua dan selamanya temen sekolah aku baik, Jess.” Suara Maira melirih saat membahas itu.

“Emang kamu ada masalah sama mereka?” Tanya Jessica.

“Panjang ceritanya Jess.”

“Gapapa, kamu bisa cerita ke aku.” Ujar Jessica.

“Ngga usah bahas itu yaa, bahas yang lain aja.” Maira berusaha mengelak dari pembahasan itu.

“Kenapa Mai? Kita sahabat udah 3 tahun. Tapi, aku belum pernah denger kamu cerita tentang masa-masa SMP yang selalu kamu ceritain masa-masa SMA terus.” Timpal Jessica.

“3 tahun? Tapi, 6 tahun buat aku lupain masa-masa itu Jess. Aku ngga mau nginget masa-masa itu lagi. Sakit Jess buat aku nginget masa-masa itu lagi.” Suatu Maira melirih dengan sedikit serak-serak basah. Maira benar-benar ingin melupakannya.

“I'm sorry. Aku ngga tau itu Mai.” Jessica sangat merasa 

bersalah pada Maira. Tapi, Jessica akan sangat bersalah kalau tidak mencari tau informasi apapun, karena Jessica sudah berjanji pada Reffal.

“Its okay, tapi jangan pernah bahas itu lagi yaa.” Maira belum seratus persen berubah. Maira masih sama seperti Maira yang dulu, yang pandai dalam hal menyembunyikan seribu luka. Walaupun sebenarnya Maira sedang tidak baik-baik saja tapi ia tetap harus terlihat baik-baik saja.

Karena menurut Maira...

Perempuan kuat adalah Perempuan yang mampu berdiri di kakinya sendiri, mampu mengobati lukanya sendiri, mampu menghapus air matanya sendiri, dan tidak pernah kalah dengan keadaan.

* * * * *

“Jess, ada apa?” Tanya Reffal yang sangat terburu-buru.

“Duduk! Gue punya informasi penting buat Loe.” Seru Jessica sambil melihat kondisi resto yang tidak terlalu ramai.

“Informasi apa? Tentang Maira? Gw ngga punya banyak waktu.”

“Gue juga sama. Engga punya banyak waktu! Gue hampir berantem sama Maira gara-gara urusan Loe.” Pekik Jessica.

“Maksud Loe?” Reffal tercengang setelah mendengar pernyataan Jessica.

#20 Catatan Luka

1 0

Malam ini dikamarnya Maira benar-benar lesu karena pertanyaan Jessica tadi sore.

Ketika Maira benar-benar ingin melupakannya. Kenapa semesta selalu punya cara untuk mengingatkannya?

“Stop Mai! Kamu ngga boleh galau lagi, ngga boleh nangis-nangis lagi. JANGAN JADIKAN 6 TAHUN ITU BENAR-BENAR SIA-SIA MAI!” Maira berusaha menguatkan dirinya sendiri, karena Maira sudah terbiasa melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain dan tanpa sepengetahuan orang tua nya.

Karena tidak mau kembali menangis hanya karena masa lalu, Maira langsung mematikan lampu kamarnya dan berusaha untuk membawa itu tidur.

* * * * *

“Gue udah dapet sedikit informasi tentang Maira.”

“Informasi apa?” Reffal sangat antusias dengan pernyataan Jessica. Karena sekarang itu sangat penting baginya.

“Waktu di Bandung, Maira tinggal di desa Ciwidey Dan sekolah SMP di SMP Negeri 2 Ciwidey.” Jelas Jessica.

“Desa Ciwidey ? Kalau nama sekolah SMP nya Gue udah tau soalnya ada di buku.”

“Iya, desa Ciwidey. Adanya di perbukitan gitu.” Jessica membantu Reffal karena ia merasa Maira punya luka yang begitu parah. Dan feeling Jessica mengatakan hanya Reffal yang bisa mengobatinya secara permanen.

“Ada lagi?”

“Ada. MAIRA SANGAT TAKUT UNTUK MENGINGAT ATAU MENGENANG MASA-MASA SMP NYA!” Tegas Jessica.

“Ada apa sama masa-masa SMP nya?”

“Yaaa Gue juga ngga tau kenapa. Maira ngga mau ngomong penyebab dia sangat takut mengingatnya.” Papar Jessica.

“Semoga jawabannya ada di buku dairy itu.”

“Semoga. Tapi, rencana Loe selanjutnya apa?” Tanya Jessica yang dari awal memang kepo dengan rencana Reffal.

“Gue mau ke Bandung, mau cari tau plus nelusurin masa lalu nya Maira lebih tepatnya masa-masa SMP nya.” Tegas Reffal yang sangat mantap dengan rencananya.

“Owhh, semoga berhasil yaa Ffal. Ada yang perlu Gue bantu lagi?”

“Untuk sekarang ini sih engga ada. Udah cukup bantuan Loe, Gue engga enak juga minta bantuan sama Loe terus.” Ujar Reffal.

“Yaa gapapa kali Ffal. Gue bantuin Loe buat kebaikan Maira juga. Kalau Loe butuh bantuan, Loe langsung hubungin Gue aja. Kalau Gue mampu Gue bantu kok.” Ucap Jessica yang siap di repotkan jika perlu. “Udah kan? Gue pulang yaa”

#21 Catatan Luka

1 0

“Iyaudah, Loe duluan biar minuman Loe, Gue yang bayar.”

“Engga usah Ffal, Gue bayar sendiri aja.”

“Enggapapa udah biar sekalian. Rezeki ngga boleh ditolak.”

“Its okay, Thanks yaa Ffal.”

“Yang harusnya bilang makasih tuhh Gue, Jess.”

“Yaelah santai aja kali Ffal. Yaudah Gue duluan yaa.”

* * * * *

“Hallo bro” Sapa Reffal yang mendatangi Rendi dan Riki dan kebetulan disitu ada Jessica, Clarissa, dan Maira.

“Haii Ffal.”

“Sorry yaa telat, materinya ternyata nambah tadi.” Jelas Reffal.

“Gapapa bro. Yaudah sini duduk, di depan pujaan hati biar tatapan gitu.” Gurau Riki.

Mendengar gurauan Riki, Maira langsung menginjak kaki Riki dengan kencang dan langsung menatap Riki dengan tajam.

“Aaauuuu!!” Rintih Riki yang kesakitan setelah kakinya di injak Maira

“Loe kenapa?” Panik Reffal.

“Gapapa-gapapa.” Riki takut jika ia bilang ia ke sakitan karena di injak Maira, takut Maira tambah marah.

“Mai, Loe jadi kuliah jenjang S1? Di luar negeri?” Tanya Rendi.

“Jadi, tapi di UI lagi bukan di luar negeri.”

“Owhh bagus dong.” Ucap Riki.

“Bagus?!” Pekik Maira langsung menatap tajam mata Riki.

“Bagus jadi kita bisa ketemu setiap hari.” Ucap Riki dengan suara terbata-bata.

“Ohhh itu bener bagus.” Ucap Maira.

“Haii ayang.” Seorang perempuan datang dan langsung memeluk Reffal dari belakang.

Mereka semua yang sedang ngobrol bareng tercengang termasuk Maira setelah mendengar perempuan itu memanggil Reffal sayang.

“Waww siapa ni?” Kaget Rendi.

“Carina?” Reffal terkejut ternyata perempuan itu adalah Carina mantan pacarnya waktu SMA.

“Carina?” Mereka yang ada di situ kompak mengulang nama Carina kecuali Maira. Maira tetap terlihat fokus dengan bukunya.

“Kok kaget gitu sih ayang.” Carina langsung duduk di sebelah Reffal dan membuat yang lain terkejut tetapi Maira terlihat acuh.

“Maksud Loe apaan sih?!!” Hardik Reffal.

“Kok kamu jadi gini sih ayang. Ohh ini pasti kerjaan si PHO itu si PERUSAK HUBUNGAN ORANG itu. SI MAIRA!” Tegas Carina yang langsung me mention Maira.

#22 Catatan Luka

1 0

“Apaan kata Loe?!! Barusan.” Maira sangat terkejut mendengar pernyataan Carina. Maira langsung menatap tajam Carina dan menatap kecewa Reffal.

“Kan emang bener Loe itu perusak hubungan orang, kan Loe emang cewek kegatelan. Buktinya Reffal jadi gini gara-gara Loe.” Papar Carina.

Maira yang kecewa langsung bangun dari tempat duduknya dan melempar bukunya ke meja.

“Asal Loe tau yaa. Yang deketin Gue duluan tuhh dia, cowok Loe bukan Gue. Dan apa tadi? Cewek kegatelan? Sorry kata itu ngga berlaku buat cewek kayak Gue.” Maira langsung bergegas pergi meninggalkan mereka dengan emosi masih meluap-luap.

“Apaan sih maksud Loe.” Pekik Reffal yang langsung mengejar Maira.

“He maksud Loe apa tadi gituin sahabat Gue?” Rendi membela Maira karena Rendi mengetahui bagaimana perjuangan Reffal untuk mendapatkan hati Maira. Karena perkataan tadi bisa membuat Maira menjadi sekeras batu lagi.

“Gue ngga punya urusan sama Loe semua! Urusan Gue sama Maira si PHO itu.” Pekik Carina yang langsung pergi.

“Mai... Tunggu dulu” Reffal masih mengejar Maira yang terus berlari. “Aku bisa jelasin semuanya.”

“Jelasin? Yaudah kamu mau jelasin apa?” Maira berhenti karena alasan Reffal tidak bersalah yang bersalah Carina.

“Carina bukan siapa-siapa aku, dia cuma mantan pacar aku waktu SMA. Aku sama Carina udah lama putus bahkan sebelum lulus SMA, aku udah putus sama dia.”

“Kelas?”

“Aku putus sama dia kelas 2 SMA kelas 11.”

“Nahh aku mau tanya sama kamu. Kamu putus sama dia kelas 2 SMA, nah pas kamu kelas 2 SMA berarti aku kelas 2 SMP. Waktu SMP aku masih di Bandung. Aku nginjek Depok pas mau masuk SMA dan kamu sendiri udah kuliah kan. Terus kenapa aku di bilang PHO? Aku aja ngga tau kalau Carina mantan pacar kamu lohh.” Papar Maira.

“Yaa aku ngga tau kan yang bilang gitu Carina. Tapi, kamu jangan marah sama aku, Mai.”

“Engga, aku ngga marah sama kamu Ffal. Aku cuma butuh waktu untuk sendiri.” Capek dengan keadaan itu wajar. Dan itu yang kembali di rasakan Maira.

#23 Catatan Luka

1 0

“Kamu mau kenapa?”

“Kenapa aja asalkan aku sendiri.” Maira langsung pergi meninggalkan Reffal tanpa kata pamit.

“Hee Gue duluan yaa ada urusan.” Reffal kembali mendatangi temannya setelah mendengar beberapa pernyataan Maira.

“Loe mau kemana Bro?” Tanya Rendi yang melihat sikap Reffal berubah seketika.

“Terus Maira mana?” Panik Jessica.

“Maira butuh waktu sendiri katanya. Dan Gue mau ngurusin persiapan buat wisuda Minggu depan. Dan kan Loe juga tau kalau selesai wisuda Gue mau ke Bandung. Dahh yaa Gue duluan.” Reffal pergi meninggalkan teman dengan wajah sedikit kecewa dengan apa yang terjadi.

____________________________________________

“Semoga kejadian itu tidak terulang lagi.” Gumam Maira yang butuh waktu sendiri.

Ketika Maira sedang berjalan sendirian di Mall, ia melihat toko perlengkapan kado yang lumayan besar.

“Siang Kak.” Sapa pelayanan toko yang sedang menata barang.

“Siang.” Maira kagum setelah memasukinya toko, karena barang-barang di toko sangat lengkap.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu bisa bantuin aku pilih kado yang bagus buat acara wisuda gitu?” Tanya Maira.

“Temen kakak ada yang mau di wisuda?” 

“Ohh iya, kira-kira ada ngga kado yang bagus?”

“Ada kak, banyak yang bagus dan cocok banget. Mari kakak ikut saya, kakak bisa pilih sendiri kado mana yang bagus dan cocok untuk temen kakak.”

Ketika sampai di koridor khusus kado kelulusan Maira sempat bingung ingin memilih kado apa karena banyak sekali kado yang bagus-bagus.

Ketika beberapa menit melihat-lihat, tiba-tiba pandangan Maira tertuju pada boneka mini teddy bear yang memakai toga dan memegang tabung kelulusan.

“Kak, biasanya yang dipakai untuk bungkus kado boneka ini selain kertas kado atau kotak itu pakai apa?” Maira ingin kado pemberiannya terlihat cantik dan berkesan sangat istimewa untuk sangat penerima.

“Selain kertas kado sama kotak biasanya di bikin buket kak. Dan belakangan ini banyak yang di bikin buket.” Jelas Pelayan Toko.

“Ohh gitu, yaudah aku mau boneka ini satu di bikin buket.”

“Tapi, ngga bisa langsung jadi kak. Biasanya nunggu satu sampai dua harian kak.”

“Ohh gitu yaa, yaudah kak gapapa acaranya juga Minggu depan.”

“Ohh yaudah kalau kakak langsung ke meja kasir aja.”

“Ohh gitu yaaa kak, makasih kak.

#24 Catatan Luka

1 0

“Reffal... Reffal...” Panggil Ibu Sarah.

“Iya Bu, ada apa?”

“Mampir ke toko perhiasan langganan Ibu, sebentar aja kok. Ibu mau beli perhiasan, siapa tau ada model terbaru.”

“Yaudah ayooo.”

Ibu Sarah sibuk memilih perhiasan pilihannya. Reffal yang sedang menemani Ibunya memilih emas, ia melihat seorang laki-laki yang sedang memilih cincin.

“Mbak, cincin yang bagus untuk lamaran yang mana yaa?”

“Ohh ini bagus Kak, ini juga bagus.”

“Ehm kayaknya yang ini lebih bagus dehh. Yaudah saya ambil yang ini Mbak.”

“Okehh sebentar yaa kak.”

“Bu aku kesitu bentar yaa.” Setelah laki-laki tadi selesai memilih cincin, Reffal mendatangi Mbak yang menjaga koridor cincin.

“Hallo Kak, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Pelayan Toko.

“Saya mau cari cincin lamaran yang paling bagus dan paling cantik.” Suara Reffal memelan ketika menyebut cincin, ia takut Ibu nya dengar. Karena rencana ingin melamar Maira belum di ketahui kedua orang tua nya.

“Ohh ini kak, banyak pilihannya kakak bisa pilih sendiri mana yang paling bagus.”

Ketika Reffal bingung memilih cincin yang mana, tiba-tiba pandang matanya tertuju pada cincin berwarna silver dengan hiasan love dan huruf 'RM' yang dihiasi permata putih.

“Kak, coba saya mau lihat cincin yang ini.” Reffal tertarik dengan cincin RM itu.

“Ohh ini Kak.” Pelayan Toko mengeluarkan cincin RM itu.

“Tapi, saya ngga tau ukuran jarinya perempuannya. Kira-kira ukuran jarinya itu kayak kakak, kira-kira kakak mau ngg cobain cincin buat saya.” Sesuai keinginan Reffal, pelayanan toko itu mencoba cincin nya karena ukuran jari pelayanan toko sama dengan ukuran jari Maira.

“Cincin nya pas Kak tapi agak longgar sedikit aja.” Jelas Pelayan Toko.

“Ohh yaudah kalau longgar sedikit gapapa kak. Saya ambil yang ini. Di pakaikan kotak yaa kak.”

“Untuk kotaknya ada beberapa pilihan ada kotak cincin clasic beludru hitam dan merah, kotak cincin mika cristal, dan kotak cincin rustic.”

“Yang kotak rustic aja kak.”

“Ini total harganya Kak.” Pelayan Toko itu menunjuk struk harga.

#25 Catatan Luka

1 0

“Pakai credit card bisa?”

“Bisa Kak.”

“Ini Kak. Terima kasih” Pelayanan toko itu menyerahkan cincin RM yang sudah dibeli Reffal.

“Reffal, kamu ngapain?” Tanya Ibu Sarah yang sudah selesai memilih perhiasan.

“Engga, kan nungguin ibu.”

“Ohh yaudah ayo, kita makan siang dulu. Baru habis itu pulang.”

“I'ts okay, let's go.”

* * * * *

“Kak, yang kayak kakak tadi itu apa namanya.” Tanya Maira.

“Ohh itu plakat wedding Kak.”

“Kalau plakat wisuda ada ngga kak?”

“Di sini tersedia tiga plakat ada plakat wedding, plakat birthday, dan plakat wisuda.”

“Ohh yaudah saya mau satu plakat wisuda sama ini buket boneka nya kak.”

“Tapi, ngga langsung jadi kak harus nunggu satu sampai dua harian kak.”

“No problem.”

“Dan ini nomer toko kami untuk kakak kirim foto nya.”

“Ohh sebentar.” Maira langsung mengirimkan foto wisuda S1 Reffal yang diam-diam ia menyimpanyan. “Nahh udah kak sudah saya kirim.

“Kalau boleh tau nama kakak siapa? Supaya nanti kalau buket dan plakat nya sudah jadi, kami bisa hubungi kakak langsung.” Jelas Kasir Toko.

“Maira.”

“Untuk buket nya mau di taroin surat?” Tanya Kasir Toko.

“Boleh.”

“Ini kak kertasnya, kakak bisa tulis disini.”

"Congratulations on your Graduation REAL MAN. And sorry, I haven't been able to reciprocate your feelings -Your woman-" Tulis Maira.

* * * * *

“Maira” Panggil Ibu Sarah.

“Hai Tan.”

Reffal terkejut ketika ia sedang berjalan di belakang Ibu nya tiba-tiba Ibu nya memanggil nama Maira.

“Maira, kamu apa kabar?” Tanya Ibu Sarah yang lantas memeluk Maira.

“Aku baik. Tante sendiri gimana kabarnya? Lama lohh kita ngga ketemu.” Ketika memeluk Ibu Sarah tatapan Maira justru menatap tajam Reffal yang tercengang.

“Tante baik. Ohh iya, Maira kenalin ini anak bungsu Tante, namanya Reffal.” Ibu Sarah mengira Reffal dan Maira belum saling mengenal.

“Bu, aku sama Maira udah saling kenal. Jadi, ngga usah dikenalin lagi.” Gurau Reffal.

#26 Catatan Luka

1 0

“Lohh kalian berdua udah saling kenal. Ibu kira kamu ngga kenal sama Maira, Ffal.” Jelas Ibu Sarah.

“Justru aku yang ngira Ibu ngga kenal Maira. Ternyata saling kenal bahkan deket. Maira itu...” Ujar Reffal.

“Aku itu... bisa dibilang adek kelas Kak Reffal di kampus Tan.” Timpal Maira.

“By the way kamu lagi ngapain sendirian di Mall gini?” Tanya Ibu Sarah.

“Tadi habis dari toko buku. Tapi, bukunya udah habis edisi terbatas soalnya” Papar Maira.

“Kamu udah makan siang?” Tanya Ibu Sarah.

“Belum sih Tan.”

“Yaudah kalau gitu ikut Tante sama Reffal makan siang yoo, kita makan siang bareng.”

“Engga usah deh Tan, aku makan di rumah aja.”

“Jangan gitu dong Sayang. Tante udah lama ngga ketemu kamu, Tante ini kangen banget sama kamu.” 

“Ehm yaudah dehh aku ikut makan siang bareng.”

Walaupun Reffal sempat terkejut karena ternyata Ibu nya dan Maira saling mengenal tapi Reffal sangat senang karena bisa makan siang bareng Maira walau ada Ibu nya.

____________________________________________

“Ini Bu dan kakak pesanannya.” Pelayan restoran mengantarkan makanan yang sudah di pesan Maira, Reffal, dan Ibu Sarah.

“Ohh terima kasih.”

“Bentar-bentar sebelum makan kita foto bareng dulu ini kan momen langka.” Ujar Ibu Sarah.

“Foto? Buat?” Reffal dan Maira tercengang mendengar permintaan Ibu Sarah.

“Buat update status.”

“Yaa ampun.” Lirih Maira.

Ciisss....

“Udahkan fotonya Bu?” Tanya Reffal.

“Udah kok. Kalian berdua makan duluan, Ibu mau update status dulu.”

"Happy lunch time to all of you?..." Tulis Ibu Sarah dilaman statusnya.

“Ibu, apaan sih kayak gitu-gitu? Lebay! tau Bu.” Pekik Reffal.

“Ihh biarin, Ibu ini ibu-ibu sosialita jadi harus update status.” Papar Ibu Sarah. “Bukan begitu Maira?” Sambung Ibu Sarah.

“Iyaa he-he-he.”

* * * * *

“Bro, lihat dahh stori Nyokap nya Reffal.” Ujar Ezza yang sedang nongkrong bersama yang lainnya.

“Stori apaan sih?” Mereka langsung mengerubungi hp Ezza untuk melihatnya.

“Mana ngga keliatan.” Timpal yang lain.

“Yaa iyalah ngga keliatan orang hp satu di kerubungin bareng-bareng. Kan pada punya hp, lihat di hp masing-masing dong.” Pekik Ezza.

“Lahh, ini bukannya si Maira.” Timpal Riki.

“Wahh iya ini mah si Maira. Ini ceritanya tuhh si Reffal sama Nyokap nya makan siang bareng sama Maira.” Tutur Rendi.

“Yaa mana Gue tau.” Ucap Ezza.

“Coba... Coba telpon Reffal.”

#27 Catatan Luka

1 0

* * *Pov: Calling* * *

“Bu... Aku ke situ bentar yaa, mau angkat telpon.” Ujar Reffal.

“Siapa yang telpon?” Tanya Ibu Sarah.

“Temen.”

“Siapa?!”

“Ezza, Bu.”

“Angkat disini!” Seru Ibu Sarah.

“Hah?”

“Angkat disini! Dan lost speaker!” 

["Hallo." Sapa Reffal yang terpaksa mengangkat telpon di dekat Ibu Sarah dan Maira.]

["Itu stori Nyokap Loe beneran?" Ezza terdengar langsung to the point.]

["Stori apaan?" Reffal berusaha berdelit dari pembahasan Ezza.]

["Itu stori Nyokap Loe yang makan siang bareng si Maira. Loe sama Maira udah jadian?"]

Reffal terdiam setelah mendengar pernyataan Ezza. Reffal hanya menatap datar Maira yang beberapa kali terlihat menatap juga. Maira sempat tercengang setelah mendengar pernyataan Ezza.

["Storinya bener, tapi jadiannya engga." Dalih Reffal.]

["Maksudnya gimana Ffal?"]

["Ehm udah dulu yaa." Reffal langsung menutup telpon.]

“Reffal, Maira, Ibu mau nanya sesuatu sama kalian berdua.” Air muka Ibu Sarah terlihat serius.

“Mau nanya apa?”

“Ehm...” Tiba-tiba hp Ibu Sarah berdering. “Bentar yaa, Ibu angkat telpon dulu. Nanti Ibu sambung lagi pertanyaan nya.” Ibu Sarah pergiencari tempat yang agak jauh dari Reffal dan Maira.

“Mai...” Reffal terlihat canggung untuk memulai percakapan dengan Maira.

“Ehm kenapa?”

“Sorry yaaa.” Gugup Reffal.

“Sorry? Buat apa? Kamu ngga punya salah sama aku, Ffal.”

“Sorry buat pertanyaan Ezza yang di telpon tadi.”

“I'ts okay gapapa. Aku maklumin, pasti temen-temen kamu juga kaget pas lihat stori Ibu kamu.” Ujar Maira. “By the way temen-temen kamu tau kalau ka-mu.. su-ka.. sama a-ku..” Tanya Maira dengan suara terbata-bata.

“Mereka tau. Awalnya aku ngga cerita ke mereka, tapi salah satu temen aku ada yang ngeliat plus denger pas pertama kali aku ngungkapin plus nembak kamu.” Jelas Reffal.

“Aku juga ngga pernah cerita ke Jessica dan Clarissa tentang kamu suka sama aku dan nembak aku buat jadi pacar kamu. Tapi, lama-lama mereka tau juga, karena mereka juga pernah lihat kamu nembak aku, sebelum yang di Mall itu.” Papar Maira.

“Okeehhh, kita lanjutkan pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan ke kalian berdua.” Ucap Ibu Sarah setelah kembali dari mengangkat telpon.

“Tante mau nanya tentang apa?” Tanya Maira.

“Reffal, jujur sama Ibu. Kamu suka sama Maira?”

Reffal dan Maira hanya terdiam membisu setelah mendengar pertanyaan Ibu Sarah. Reffal yang sedang kebingungan ingin menjawab apa 

Maira justru merasa tidak enak dengan Reffal, karena dirinya kini Reffal berada di titik sudut perasaannya sendiri.

“Engga penting juga buat aku jawab pertanyaan itu.” Timpal Reffal.

“Reffal, Ibu bisa baca sikap kamu dari pertama kamu ketemu Maira tadi dan itu apa maksud Ezza tentang jadian itu? Kalau kamu ngga suka sama Maira, ngga mungkin Ezza nanya gitu dan ngga mungkin feeling ibu sekuat ini.” Jelas Ibu Sarah.

“Tante... Kayaknya Tante ngga perlu paksa Reffal buat ngejawab pertanyaan tentang itu. Cepat atau lambat Tante pasti tau jawaban dari lisan atau tindakannya Reffal. Untuk saat ini Tante kasih Reffal sedikit ruang privasi. Mungkin Reffal perlu waktu buat ceritain semuanya.” Maira sangat mengerti posisi Reffal sekarang, karena sebelumnya ia pernah merasakan berada di posisi itu.

“I'ts okay ibu kasih kamu waktu. Tapi, inget! Kamu itu laki-laki, kalau kamu mau sesuatu harus berjuang. Jangan cuma berharap dan menunggu.” Lirih Ibu Sarah.

#28 Catatan Luka

1 0

“Dari mana Kak?” Tanya Mama Rahma.

“Dari Mall ke toko buku.”

“Terus stori nya Tante Sarah, itu apaan? Nanti kalau Papa tau atau Papa lihat gimana?” Timpal Mama Rahma.

“Ohh itu tadi aku pas mau jalan pulang, tiba-tiba ketemu Tante Sarah sama Reffal, aku diajakin makan siang bareng. Aku ngga enak nolaknya jadi yaudah aku mau.” Jelas Maira.

“I'ts okay Mama ngerti. Tapi, kalau Papa lihat beda lagi ceritanya yaa Kak.” Dalih Mama Rahma.

Sebelum benar-benar menerima ajakan makan siang tadi, Maira sudah memikirkan bahwa akan ada fresekuensi lain yang akan diterimanya dari kedua orang tuanya. Orang tua Maira termasuk dalam golongan orang tua stitch parents.

Stitch parents adalah orang tua yang selalu mengatur semua hal tentang anaknya. Tanpa menghargai perasaan dan 

pendapat anaknya. Dan itu adalah kedua orang tua Maira, tetapi orang tua Maira punya alasan kuat kenapa mereka melakukannya.

* * * * *

“Kalau kamu benar-benar ada rasa sama Maira bahkan ada niat untuk melamarnya. Ibu sih setuju banget.” Langkah dan rencana Reffal ingin melamar Maira sudah mendapat lampu hijau dari Ibu Sarah.

“Maksud Ibu?” 

“Kamu pasti mengerti apa maksud Ibu. Kalau masalah restu Ayah, Ibu jamin pasti Ayah setuju juga. Karena, Maira itu baik, sopan, pinter, dan cantik. Apalagi Ayah itu kenal baik dengan Ayahnya Maira.” Jelas Ibu Sarah.

“Ayah kenal sama Papa nya Maira?” Reffal kembali di buat tercengang setelah mengetahui Maira dan Ibu nya saling kenal bahkan sangat akrab dan dekat. Dan sekarang ia tercengang setelah mengetahui bahwa Ayah nya dan Papa Maira kenal baik.

“Iyaaa, Papa nya Maira, Dokter Irwan Sunjaya itu partner bisnis nya Ayah. Selain berprofesi sebagai Dokter, Papa nya Maira juga punya beberapa bisnis sampingan. Dan, Mama nya Maira, Dosen Rahma Cahyania itu temen sosialita Ibu, satu rombongan.” Jelas Ibu Sarah.

____________________________________________

* * *Pov: Video Call* * *

["Congratulations on your graduation, my little brother." Ucap Mbak Ella dari sambungan video call.]

["Thank you very much, my dear sister." Ucap Reffal yang baru saja tiba di rumah setelah mengikuti serangkaian acara wisuda di gedung yang telah di tentukan.]

["By the way bilangin Ayah sama Ibu, Mbak baru bisa pulang ke Indonesia tahun baru nanti." Mbak Ella tinggal di Singapura karena suaminya salah satu anggota kedutaan Indonesia untuk Singapura.]

["Iyaaa, Mbak tenang aja nanti aku sampein ke Ayah sama Ibu." Ucap Reffal.]

["By the way Mbak bangga banget sama kamu. Karena, bisa lulus dengan predikat mahasiswa terbaik di Fakultas Manajemen Bisnis." Haru Kak Ella.]

["Aku juga bangga sama diri aku sendiri. Masih ngga nyangka aja bisa lulus dengan predikat terbaik. Ehm udah dulu yaa Mbak, lanjut nanti aku udah cape banget."]

["Ehm yaudah Mbak juga masih ada urusan lain. Salam buat Ayah sama Ibu yaa." Mbak Ella langsung menutup sambungan video call nya.]

Reffal yang langsung masuk kamar dan berniat rebahan karena lelah tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Ada apa Mbak Sekar?" Mbak Sekar adalah salah satu ART di rumah Reffal.

“Tadi siang ada ojek online kirim ini, katanya buat Mas Reffal.” Jelas Mbak Sekar.

“Buket? Dari siapa Mbak?” Reffal terkejut karena kiriman itu adalah buket boneka teddy bear memakai toga dengan plakat foto wisudanya saat S1 kemarin.

“Dari siapa? Aduuhh, Mbak lupa nanya nama pekirimnya siapa. Soalnya pas ngambil paket nya dari ojek online nya Mbak buru-buru lagi nyetrika soalnya.” Jelas Mbak Sekar.

“Ohhh yaudah dehh gapapa. Makasih yaa Mbak.”

“Ohh iyoo Mas.”

#29 Catatan Luka

1 0

Reffal kebingungan siapa yang mengirimkan buket itu ke rumahnya. Yang jelas si pengirim bukan orang sembarangan karena dia tau alamat rumah Reffal dan bahkan menyimpan foto wisuda Reffal, padahal Reffal tidak pernah sama sekali memasang foto itu di laman medsos nya.

Ketika Reffal sedang bingung siapa yang mengirimkan buket itu, tiba-tiba ia melihat seuntai surat kecil yang diselipkan di belakang boneka.

"Congratulations on your Graduation REAL MAN. And sorry, I haven't been able to reciprocate your feelings -Your woman-" Yang tertulis di surat itu.

“Real Man? Your woman?” Yang ada dipikiran Reffal adalah apa arti dari kata-kata itu. Dan siapa pengirim yang sebenarnya.

Setelah beberapa menit gundah karena bingung, tiba-tiba pikiran Reffal tertuju pada satu orang.

“Jangan-jangan dia yang ngirim buket ini...” Gumam Reffal.

* * * * *

["Maira, kamu udah dimana?" Tanya Papa Irwan dari sambung telpon.]

["Aku udah jalan pulang, Pa. Bentar lagi masuk gerbang perumahan, bentar lagi juga sampai." Jelas Maira yang habis datang ke acara pernikahan teman SMA nya."]

["Yaudah kalau gitu hati-hati bawa mobilnya."]

["Iyaaa Pa."]

“Sebentar lagi Maira nya sampai. Jadi, Nak Reffal bidang langsung ngomong ke Maira tentang maksud dan niat Nak Reffal yang sebenarnya." Jelas Papa Irwan.

“Kalau Pak Irwan sendiri merestui?” Tanya Ayah Bagas yang mewalikan Reffal untuk menyampaikan niat nya dan ini

“Kalau restu saya tergantung Maira nya sendiri. Kalau Maira menerimanya, jelas saya akan sangat merestui. Tapi, kalau Maira menolaknya, maka saya juga tidak akan merestuinya.” Jelas Papa Irwan.

Ketika Maira sudah sampai rumah, Ia kebingungan karena di halaman rumah nya terparkir satu mobil. Sedangkan mobilnya Mama nya di bawanya ke acara pernikahan dan mobil Papa nya sedang di bengkel untuk jadwal servis.

“Mobil siapa hitam pekat gini?” Bingung Maira.

Maira berjalan ke arah plat mobil. Berharap ia mengenali dari plat nya.

“B 0330 RFL.” Maira terkejut setelah melihat plat mobil itu. “Reffal?!” Kaget Maira yang langsung bergegas masuk untuk memastikan.

Maira tercengang setelah melihat siapa tamu yang datang dan sedang ngobrol serius dengan kedua orang tuanya. Ternyata tamu dengan mobil hitam berplatkan B 0330 RFL itu adalah Reffal dengan kedua orang tua nya.

“Maira kamu sudah sampai? Kapan sampainya?” Tanya Mama Rahma yang melihat Maira.

“Ohh baru sampe, belum lama.” Maira masih tidak percaya ternyata Reffal seserius itu dengan ucapannya.

“Kok kamu kayak kaget gitu, Mai?” Tanya Ibu Sarah.

“Iyaaaa, aku kaget ternyata mobil di depan mobilnya Reffal."

“Reffal dengan keduanya orang tua nya datang kesini itu ada perlu sama kamu. Dan untuk maksud dan niatnya biar Reffal yang jelasin langsung ke kamu.” Jelas Papa Irwan.

“Yaudah ngobrolnya di depan aja, berdua.” Maira langsung berjalan menuju teras samping rumahnya dan di ikuti Reffal dibelakangnya.

“Kamu darimana? Malem-malem pergi-pergi sendiri? Kok tumben di bolehin sama Papa kamu, bukannya stitch parents.” Gurau Reffal yang berusaha mencairkan suasana.

“Engga lucu.”

“Engga-engga aku cuma bercanda. Gimana kamu masih ragu? Aku udah seserius ini ke kamu.” Jelas Reffal.

“Aku kira kamu ngga bakal seserius dan senekad itu.” Yang ada dipikiran Maira adalah kenapa Reffal bisa seserius itu.

“Aku udah terima buket nya. Buketnya cantik kayak kamu.” Rayu Reffal.

“Apaan sih. Tapi, kamu suka buketnya?”

“Suka banget kan dari kamu.”

“Kok kamu tau buket itu dari aku, padahal aku ga cantumkan nama pas nganter buket nya pake ojol.”

“Taulah karena disitu ada tulisan Your Woman artinya wanitamu. Sedangkan wanitaku itu kamu. Berarti itu kamu dan kamu nganggep diri kamu itu wanita aku.” Jelas Reffal.

Ini pertama kalinya Reffal dan Maira seakrab itu. Karena sebelumnya Maira selalu bersikap dingin ke Reffal.

Reffal langsung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan langsung bersimpu mengadah di depan Maira.

“Will you marry me my love?” Ucap Reffal yang menatap tajam mata Maira.

Maira tertawa melihat tindakan Reffal.

“Kok ketawa sih, aku serius loh ini.”

“Bangun dulu kamu nya.”

“Mai...”

“Bangun dulu aku bilang bangun-bangun.”

Suasana Reffal dan Maira kembali hening.

“Kamu kan pernah bilang ke aku, kamu bisa kasih aku kepastian tapi aku ngga bisa kasih kamu jawaban yang pasti. Nahh sekarang aku pengen banget kasih kamu jawaban yang sepasti-pastinya. Tapi, aku perlu waktu untuk memikirkan jawabannya. Karena, keputusan ini menyangkut hidup aku, hidup kamu, hidup orang tua kita. Dan masa depan aku, masa depan kamu, dan masa depan orang tua kita” Jelas Maira.

“I'ts okay, aku kasih kamu waktu. Besok aku mau berangkat ke Bandung ada urusan penting disana. Aku belum tau berapa lama aku di Bandung. Mungkin satu atau dua harian, kalau urusan nya banyak dan rumit pastinya aku akan lebih lama di Bandung. Jadi, selama aku di Bandung kamu bisa mikir jawaban yang terbaik buat kamu buat aku.” Jelas Reffal. “Dan ini cincinnya kamu pegang. Kalau kamu nerima lamaran aku dan siap menikah dengan aku. Kamu temuin aku selepas aku pulang dari Bandung tapi cincin udah melingkar di jari manis kamu. Kalau sebaliknya yaaa sebaliknya.” Reffal langsung menyerahkan cincin RM itu ke Maira.

#30 Catatan Luka

1 0

["Bestih, besok Nyokap Bokap aku mau pulang kampung ke Medan." Ucap lesu Jessica.]

["Sama besok juga Papi Mami mau pulang kampung dan aku dipaksa harus ikut." Timpal Clarissa.]

["Kok mendadak kalian mau pulang kampung gini. Emangnya ada apa?" Tanya Maira.]

["Engga ada apa-apa sih, tapi kan kalian tau aku udah dua tahun ngga pulang kampung. Besok Papi Mami dapet cuti seminggu jadi dipake buat pulang kampung." Jelas Clarissa.]

["Nenek aku yang di Medan lagi sakit. Sedangkan Papah aku anak tunggal jadi Mamah harus ikut buat bantuin Papah rawat Nenek." Jelas Jessica.]

["Terus kamu ikut ke Medan, Jess?" Tanya Clarissa.]

["Engga, di suruh jaga rumah. Ada Mbok Asih juga yang nemenin. Mai, kan kamu ngga pulang kampung, mending kamu nginep aja di rumah aku, temenin aku sama Mbok Asih sampe Papah Mamah aku balik ke Depok lagi. Yaaaa please" Ujar Jessica.]

["Yaudah nanti aku coba minta izin ke Papa Mama kalau di izinin aku nginep ke rumah kamu." Timpal Maira.]

["Maaf yaa Jess, aku ngga bisa ikut nemenin kamu." Ujar Clarissa.]

["Gapapa kok, aku tau pasti kamu kangen sama kampung halaman." Ucap Jessica.]

* * * * *

“Pa, boleh ngga aku nginep di rumah Jessica?” Tanya Maira walaupun kemungkinan kecil untuk di bolehin.

“Berapa lama?”

“Engga tau juga. Tapi, kalau orang tuanya Jessica udah balik lagi ke Depok, aku balik juga kok cuma sampe orang tuanya balik. Aku mau nemenin dia, kasihan cuma berdua doang di rumah sama Mbok Asih." Dalih Maira.

“Emang orang tuanya Jessica mau kemana?” Tanya Papa Irwan.

“Pulang kampung ke Medan. Nenek nya Jessica sakit mau ngerawat Nenek nya yang sakit.” Jelas Maira.

“Yaudah boleh tapi jangan macem-macem.”

Maira tidak menyangka akan di izinin oleh Papa nya. Walaupun sempat berfikir tidak akan di izinin.

“Serius Pa boleh?”

“Beneran boleh. Tapi, soal lamaran Reffal gimana?”

“Ehm aku di kasih waktu kurang lebih satu atau dua harian buat pikir sama Reffal.”

“Terus udah kamu pikirin?”

“Belum, tapi nanti aku pikirin kok Pa secepatnya. Tapi, kalau aku terima, Papa Mama restuin?”

“Kalau kamu terima pasti Mama restuin. Karena, kamu tau mana yang terbaik buat diri kamu sendiri.” Jelas Mama Rahma.

“Papa juga sama kayak Mama. Tapi, kalau Papa boleh kasih penilaian. Reffal itu anak yang baik dan sopan, walaupun Papa bukan pakar ekspresi tapi Papa bisa baca ekspresi dan sikap kalau Reffal sangat mencintai kamu. Jadi, kalau kamu menikah dengan Reffal, Reffal bisa Papa percaya buat jagain kamu, memimpin kamu, dan yang paling penting ngebahagiain kamu.” Jelas Pada Irwan.

Maira hanya diam membisu, penilaian dari Papa nya tidak sama sekali membantu justru ia semakin bingung untuk memutuskannya. Sekarang Maira ibaratkan dengan berapa di persimpangan jalan dan ia bingun ingin berjalan ke arah mana.

* * * * *

Dipagi-pagi buta Reffal sudah siap dengan tas dan barang-barangnya. Dan di pagi buta ini juga tekad Reffal sangat mantap ingin pergi ke Bandung untuk menelusuri kisah Maira dari buku hitam itu.

Tempat yang pertama yang akan Reffal datangi adalah sekolah Maira, SMP Negeri 2 Ciwidey.

“Reffal sebenarnya kamu ada urusan apa sih di Bandung?” Tanya Ibu Sarah.

“Urusan masa depan Bu.”

“Masa depan apa?”

“Yaudah intinya urusan masa depan Bu.”

“Yaudah kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.”

“Yaudah aku jalan yaa Bu. Tutup salam buat ayah yang belum bangun tidur yaa.”

Reffal dengan Mobil Jeep putih miliknya berjalan menjauh dari rumah.

* * * * *

Pagi ini Maira sudah siap dengan tas nya yang hendak menginap di rumah Jessica. Ke gundahannya tentang lamaran Reffal membuatnya ingin bercerita banyak ke Jessica.

Karena pola pikir Jessica jauh lebih dewasa dari Maira dan Clarissa.

“Haii bestih...” Sapa Maira selepas sampai di rumah Jessica.

“Haii, apa kabar? By the way kamu naik apa ke sininya.” Tanya Jessica.

“Baik dong. Bareng sama Papa sekalian mau ke rumah sakit.”

“Yaudah ayo masuk. Barang-barang kamu taro di kamar aku aja. Kamu tidur di kamar aku aja.”

“Jess, aku mau cerita boleh ngga?” Tanya Maira.

“Boleh dong. Mau cerita tentang apa emangnya?”

“Tentang Reffal...” Lirih Maira.

“Tentang Reffal? Emangnya ada apa sama Reffal?” 

“Semalam Reffal sama orang tuanya ke rumah aku.”

“Ada acara apa mereka ke rumah kamu? Kok aku ngga di bilangin.”

“Engga ada acara apa-apa. Semalam Reffal ngelamar aku, dia langsung ngomong ke Papa.”

“Hah serius? Terus kamu terima lamarannya?” Jessica terkejut mendengar pernyataan Maira.

“Iya serius. Tapi, belum aku kasih jawaban lamarannya.”

“Lah emangnya kenapa? Kasihan Reffal Mai dia udah berjuang 4 tahun masa harus nunggu lagi.”

“Iya aku tau, tapi...”

“Tapi apa? Dari sikap Reffal, Reffal itu sangat mencintai kamu, Mai.” Dalih Jessica.

“Aku masih takut. Tapi, kalau aku terima lamarannya Papa Mama restuin, semuanya tergantung sama aku. Orang tuanya Reffal juga udah restuin.” Jelas Maira.

“Kamu mau alesan apalagi buat nolaknya Mai? Orang tua kamu udah restuin, orang tuanya Reffal juga udah restuin apalagi Reffal cinta banget sama kamu. Dan cowok seusia Reffal udah mateng buat menikah, pikirannya udah dewasa dan jauh kedepan.” Jessica berusaha meyakinkan sahabatnya walau ia tau kalau sahabat punya rasa trauma berat.

“Dan orang tuanya Reffal udah ngomong, katanya kalau aku terima lamarannya Reffal. Orang tua Reffal bakal tanggung semua biaya pernikahannya mulai dari, akad, resepsi, wedding organizer, mua, wedding dress, bahkan pihak Reffal bakal kasih mahar 50 gram emas putih asli dan mobil plus rumah dengan seisinya sebagai bawaan pernikahan.” Jelas Maira.

“Waduhh itu sih bukan maen lagi Mai. Kalau aku di posisi kamu tanpa pikir panjang lagi aku langsung terima lamarannya. Urusan cinta atau kuliah itu urusan belakangan.” Papar Jessica.

“Sekarang tuh aku benar-benar bingung harus berbuat gimana. Tapi, Reffal kasih aku waktu satu atau dua harian buat pikir jawabannya. Soalnya Reffal ke bandung.” Jelas Maira.

“Reffal ngapain ke Bandung?”

Mendengar pernyataan Maira bahwa Reffal pergi ke Bandung disitulah Jessica pura-pura tidak tahu padahal ia mengetahui lebih dahulu daripada Maira.

“Ngga tau, tapi katanya ada urusan disana. Tapi, Reffal pergi ke Bandung aku ngerasa ada yang aneh gitu.”

“Aneh gimana?”

“Yaaa ngga tau aneh aja gitu kayak ada sesuatu.” Dalih Maira.

“Perasaan kamu aja kali. Mungkin dia ke Bandung urusan bisnis kan Bokap nya pembisnis.” Elak Jessica.

Mungkin saja kamu suka

Eti Suryani
Hujan Bulan Desember
Sindy Alfiana D...
Healing is not Killing
L K Malika
Selamat Pagi Hati
Maesaroh
Renjanasa
Dimas Ardiansya...
beruang

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil