Loading
2

0

1

Genre : Romance
Penulis : Nezbrebie
Bab : 6
Dibuat : 06 Januari 2022
Pembaca : 7
Nama : Nezbrebie
Buku : 4

Dalam Sujud

Sinopsis

Cinta yang hadir karena pernikahan yang dipaksakan. Namun, cinta itu bertepuk sebelah tangan. Akankah Brepinna mendapatkan cinta suaminya? Atau harus menelan pil pahit ditolak?
Tags :
#cinta #kasih #romantis #kekasih

Merasakan Jatuh Cinta

1 1

 

Part 1

 “Ra, tolong tinggalkan suamiku.” Brepinna memohon kepada Mara, kekasih suaminya.

 “Tidak mungkin. Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu. Aku bertemu Pinto jauh sebelum kamu menikah dengannya.” Mara menatap Brepinna tajam. Dia terlihat sangat marah akan permohonan Brepinna. 

“Biar bagaimana pun, dia suamiku. Ikatan pernikahan itu suci.” Brepinna masih mencoba memberi pengertian. 

“Kamu tahu, kan? Aku sudah mengalah saat Pinto menikahimu. Sekarang, biarkan kami bahagia. Pernikahanmu terjadi hanya karena kesalahanmu dengan Rangap. Jadi, bersyukur saja kalau saat ini, kami ingin menggapai bahagia kami. Biarkan kami menikah. Kamu yang seharusnya mundur. Pergilah.” Mara mengusir Brepinna.

 “Aku masih berharap agar kamu meninggalkan suamiku. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Brepinna menatap Mara penuh harap. 

“Iya, kamu mencintainya. Tapi, dia tidak mencintaimu. Jelas!” ketus Mara.

 Brepinna pulang dengan perasaan serba salah. Baru semalam Pinto menginginkan cerai darinya. Sekarang, Mara pun sepertinya tidak ingin melepaskan hubungan mereka dan memilih untuk merebut suaminya. 

Brepinna tetap melaksanakan kewajiban sebagai istri walaupun Pinto sudah meminta berpisah. Brepinna tidak pernah mengharapkan bisa berada di posisi ini. Namun, setelah hidup bersama Pinto sebagai pasangan menikah, rasa itu muncul begitu saja. Sehingga, Brepinna ingin terus melanjutkan hidup menjadi istri Pinto. 

“Aku sudah mendaftarkan perceraian kita. Kita menikah hanya agar kamu dan calon bayi Kakakku ada yang merawat. Sekarang, biarkan aku bahagia dengan cintaku, apalagi kamu pun sudah mengetahui hubunganku dengan Mara. Aku akan segera menikahinya. Karena kalau tidak, dia akan dinikahkan dengan pria lain.” Pinto membuka dasinya, dan segera diterima oleh Brepinna. 

“Aku mencintaimu.” Hanya itu yang sanggup dia ucapkan dengan bibir bergetar. 

“Apa kau sudah melupakan Rangap, Kakakku?” tanya Pinto datar.

 “Dia punya posisi istimewa di hatiku. Namun, kini kaulah suamiku.” Air matanya menetes begitu saja. 

“Mara juga punya tempat yang istimewa di hatiku. Menikah denganmu hanya untuk menjaga nama baikmu, serta bertanggung jawab atas kelakuan Kakakku, serta ....” Pinto meninggalkan Brepinna begitu saja tanpa melanjutkan kalimatnya menuju kamar mandi.
 
Brepinna menangis, dia menyesal karena dulu tenggelam dalam bujuk rayu Rangap sehingga dia terjerumus ke dalam dosa, dan hamil di luar nikah. Namun, setelah hidup bersama Pinto, wanita cantik itu sungguh tidak rela membiarkan Pinto menikah dengan Mara. Dia mulai egois setelah merasakan takut kehilangan Pinto. 

Dia sudah pernah kehilangan sebelumnya, kehilangan Rangap, pria yang sangat dia cintai. Dari semua duka nestapanya, Pinto yang selalu menemani dan menghiburnya. Tentu dia takut kehilangan. Tidak adil memang, tetapi sebagai manusia biasa, Brepinna tetap ingin mempertahankan pernikahannya dengan Pinto.

 Dia yakin, suatu saat hati suaminya itu akan berubah. Dia akan terus bersabar, dan akan selalu menyebut namanya di dalam sujudnya.

“Tidak bisakah kau urungkan niatmu menikahi Mara?” tanya Brepinna gugup saat makan malam.

“Apa maksudmu?” tanya Pinto meletakkan sendoknya di piring, lalu menatap tajam ke arah istrinya.

“Kana sudah besar, dan saat ini aku sedang mengandung anakmu.” Brepinna tunduk meletakkan sebuah alat tes kehamilan di depan suaminya. Benda mungil yang tadinya berada dalam saku gamis, kini berpindah ke atas meja samping piring Pinto. 

Pinto melirik sekilas garis dua yang jelas terlihat di alat tersebut, kemudian meninggalkan Brepinna begitu saja tanpa sepatah kata. Nasi di dalam piringnya pun belum sempat dia habiskan. Brepinna merapikan piring tanpa mengeluarkan air mata lagi. Di dalam hati, dia terus berdoa agar Allah membalikkan hati suaminya. 

Di tempat lain, Pinto menemui Mara, tetapi enggan membicarakan kehamilan istrinya kepada perempuan di depannya. Gadis berhidung mancung serta bibir merah tersebut pasrah saja ketika tangan Pinto meremas jemarinya lembut. Jelas tersirat ada nafsu setan di sana. 

Saat akan menempelkan bibirnya dengan bibir merah tersebut, sekilas bayangan Kana dan wajah sendu Brepinna terlintas di pikirannya. Dia menarik mundur tubuhnya, mengusap wajah kasar, lalu berdiri.

“Ada apa?” tanya Mara manja memeluk Pinto dari belakang.

“Tidak ada apa-apa, belum halal. Aku takut kelepasan.” Pinto melepas tangan Mara yang melingkar di perutnya, lalu berbalik menatap wanita tersebut dalam. Ingin menyudahi saja, tetapi dia ragu.

Benarkah anak yang dikandung Brepinna adalah buah hatinya? Atau hanya alasan wanita itu saja agar tidak berpisah darinya? Benarkah wanita tersebut mencintainya? Pikiran Pinto mulai terusik. Dia menggeleng keras. 

“Ada apa, sih, Sayang? Cerita ….” Mara menggoda Pinto. 

“Tidak apa-apa. Aku sedang membayangkan, kalau aku tidak bisa menikahimu, lalu kamu dinikahkan dengan lelaki tua, buncit, kumisan, dan ubanan.” Pinto terbahak membuat Mara melemparkan tas kecil di tangannya ke arah Pinto. Pria berhidung bangir tersebut sigap dan menangkap tas kekasihnya dan masih tertawa terbahak.

“Doanya jelek banget.” Mara cemberut, lalu duduk kembali di kursi.

“Iya, karena aku enggak ikhlas kamu menikah dengan orang lain.” 

“Kalau begitu, segera lamar aku,” pinta Mara.

“Sepertinya akan butuh waktu.” Pinto menatap Mara dalam.

“Laki-laki harus tegas. Tidak perlu juga cerai dulu baru menikah lagi. Pologami juga boleh. Tapi aku enggak mau dipoligami. Harus aku satu-satunya.” Mara menatap Pinto dan mengangkat telunjuknya menyatakan bahwa dirinya bersungguh-sungguh.

Pinto tertawa bahagia sekali. “Bukan begitu, Kana anak Bang Rangap masih tanggung jawabku.” 

“Aku tidak masalah dia kamu beri uang setiap bulan, tetapi aku tidak mau kalau harus berbagi kasur. Titik!” Mara melipat tangan di dada, menatap ke bawah, dengan bibir yang semakin cemberut.

“Tidak bisa begitu, Sayang. Anak pasti butuh sosok ayahnya juga. Apalagi Kana, dia hanya tahu aku ayahnya. Maka aku ingin tetap seperti itu.” 

“Jadi, kamu akan terus bersamanya dan menikah denganku. Begitu?” Mara berdiri hendak meninggalkan Pinto.

“Bukan, bukan begitu, aku harus tetap meluangkan waktu bersama Kana.” Pinto mencoba memberi penjelasan. Mara menghentikan langkahnya, lalu menoleh.

“Kalau begitu, ambil hak asuh Kana. Aku akan merawatnya. Bersamamu.” Mara kembali duduk di kursi yang sempat dia tinggalkan.

“Brepinna itu ibunya, aku bahkan bukan ayahnya. Bagaimana aku bisa mengambil hak asuhnya?” tanya Pinto.

“Sebagai kepala keluarga, kamu bisa. Lagian, tidak ada yang tahu Kana itu anak Abangmu.” Mara menatap memohon.

“Tetapi, ada anak lain yang kemungkinan adalah anakku. Anak kandungku. Bagaimana bisa aku tega memisahkannya dari ibunya?” batin  Pinto.

 Walau dia masih ragu, dia tahu Brepinna tidak pernah macam-macam. Dia tahu istrinya itu selalu di rumah, tidak pernah pergi jauh kalau bukan bersamanya. 

Pernikahan mereka menginjak tahun ke tiga, dua tahu sudah Mara kembali menjalin hubungan dengan Pinto. Satu tahun terakhir sudah jelas ketahuan oleh Brepinna. Dia memilih diam, hingga akhirnya dia mengandung anak Pinto. Inilah saatnya dia ingin memiliki Pinto seutuhnya. Selain karena cinta, Brepinna juga harus memperjuangkan kasih sayang suami untuk anaknya.

Dia menyesal memilih diam saat pertama kali tahu hubungan terlarang Pinto dan Mara. Karena posisinya saat itu belum kuat. Dia tahu, dia hanyalah sebuah tanggung jawab yang diambil alih oleh Pinto. Tanggung jawab atas kesalahan dirinya dengan Rangap, sang mantan kekasih.

Brepinna mulai meminta kepada Mara, tetapi malah ditolak mentah-mentah. Pinto pun sama. Bukannya memilih istri, malah memilih selingkuhannya. Brepinna akan terus memohon kepada Pinto agar tidak meninggalkannya. Apapun yang terjadi, Pinto juga tidak bisa menjatuhkan talak karena saat ini, dirinya sedang mengandung.

“Benarkah kamu sedang mengandung?” tanya Pinto pagi hari saat akan berangkat bekerja.

“Iya,” jawab Brepinna singkat.

“Baiklah, setelah aku pulang kerja, kita ke dokter kandungan. Aku hanya ingin memastikan kamu benar-benar hamil. Bukan karena ingin mengacaukan rencana pernikahanku.” Pinto meninggalkan Brepinna yang masih diam membisu di depan pintu kamar.

Bersambung.

user

06 January 2022 23:49 Rani Iriani Safari Mantap, keren kak kisahnya

Kilas Masa Lalu

0 0

Part 2

“Bapak.” Kana menghampiri Pinto, lalu salim dan Pinto mencium pipi keponakannya tersebut sayang.

“Jangan nakal, jaga Mamak.” Pinto meninggalkan Kana setelah mengacak rambut bocah kecil tersebut.

“Mak, makan.” Kana mendatangi Brepinna yang masih berdiri di depan pintu kamar. Untung saja bulir bening itu tidak sempat menetes begitu saja. Brepinna segera menatap dan menggendong Kana, mencium kedua pipinya, lalu membawanya ke dapur.

“Mak, turunkan. Kata Bapak, Kana harus menjaga Mamak. Jadi jagoan, tidak boleh membuat Mamak lelah.” Kana kemudian turun dari gendongan Brepinna dan langsung duduk di kursi meja makan.

“Anak mamak sudah besar ternyata.” Brepinna tersenyum, mengusap lembut pipi anaknya, dan menatap ke luar jendela dapur.

Dia membayangkan keluarga yang bahagia bersama Pinto, tetapi hati lelaki itu masih terpaut kepada mantan kekasih, yang kini menjadi selingkuhannya. Andaikan saja pelukan hangat yang dia dapatkan bukan hanya di kasur saja, mungkin saat ini dialah wanita paling berbahagia.

“Mak, lapar.” Kana menyadarkan Brepinna dari lamunan, lalu segera menyiapkan makanan dan menyuapi Kana. Putranya itu makan dengan sangat lahap. Mengingatkan Brepinna kepada Rangap.

***

Flas Back

“Na, besok aku ada pertandingan, datang, ya.” Rangap menggenggam jemari Brepinna lembut.

“Baik.”

“Kalau aku menang, kita akan merayakannya. Kamu mau kasih aku hadiah apa?” tanya Rangap menggoda Brepinna. Inna adalah nama kesayangan yang sering disebut Rangap untuknya. Rangap juga merupakan cinta pertamanya, sehingga Brepinna merasa sangat tersanjung saat dipuji sedikit saja, atau digoda sedikit saja.

“Apa saja.” Senyum Brepinna lalu tunduk.

“Sungguh?” pikiran Rangap mulai ke arah yang tidak-tidak. Dia memang ingin menikahi Brepinna setelah pertandingan akhir tahun selesai. Namun, tidak masalah kalau unboxing sekarang. Pertandingan akhir tahun tinggal tiga bulan lagi. Seperti biasa, Rangap selalu menang. Hadiahnya, ingin dia berikan kepada Brepinna sebagai mahar pernikahan.

“Sungguh. Kapan aku bohong?” tanya Brepinna merona.

“Kalau aku meminta sesuatu yang sangat berharga, bagaimana?” pancing Rangap.

“Apapun, kalau untukmu, aku ikhlas.” Brepinna menoleh dan menatap Rangap dengan tatapan orang sedang mabuk cinta.

Rangap semakin terobsesi untuk menang pertandingan balap besok. Maka Rangap pun mulai memperisapkan segalanya dengan matang mulai dari kesiapan motor, ban, oli, mesin, bahkan cat motornya pun dia atur lebih bagus dan menarik lagi agar menang. Padahal cat motor tidak menentukan pemenag.

Sudah menjadi kebiasaannya sebenarnya memeriksa segala kesiapan motor sebelum pertandingan balap. Namun kali ini, harus lebih baik dari sebelumnya. Rangap sangat berharap bisa menikahi Brepinna, wanita pujaan hatinya tersebut. Brepinna adalah anak dari keluarga broken home maka dengan sangat mudah bagi Rangap mendapatkannya.

Rangap juga tahu, Brepinna itu kekurangan kasih sayang seorang ayah. Maka saat rayuan maut dia gencarkan, Brepinna langsung mengikuti semua kemauannya. Brepinna pun tidak pernah mengingkari janjinya. Rangap semakin yakin, bisa segera memiliki Brepinna secara utuh besok.

Hari yang dinanti tiba, Brepinna sudah siap di kursi penonton. Rangap yang memberikan tiket khusus untuknya agar dia bisa menonton di bagian paling depan. Ini hanyalah pertandingan balap motor antar daerah saja, jadi tidak sekeren dan semewah pertandingan balap motor sekelas tingkat provinsi apalagi motoGP.

Brepinna sangat bahagia kala mengetahui kekasih hatinya kembali menjadi juara. Dia melompat-lompat dan bersorak saat Rangap menaiki podium dan menerima hadiah, piala serta penghargaan. Setelah selesai menerima hadiah, Rangap turun, memeluk seluruh temannya bergantian dan bersorak atas kemenangan sang jagoan.

Ketika semua sudah dia peluk, kini tiba giliran Brepinna yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan keseruan Rangap dan teman-temannya dengan tatapan berkabut. Air mata kebahagiaan. Dia terharu karena semua teman Rangap sangat mendukungnya.

Rangap mendekat, memeluknya erat, kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu lama. Hingga sorak teman-temannya menghentikan aksinya. Brepinna yang malu, wajahnya merona. Rangap kemudian mengajak teman-temannya makan di rumah makan terdekat dari lokasi balapan. Rangap makan dengan sangat lahap. Apapun menu makanannya selagi halal, dia tidak pernah memilih. Brepinna sangat bahagia menatap kekasihnya seperti itu. Bayangannya, ketika menikah nanti, tidak akan sulit membuat perut suaminya kenyang.

Selesai merayakan kemenangan, teman-teman Rangap pulang, kemudian meninggalkan Rangap dan Brepinna yang masih asyik berbincang. Tak lama kemudian, Brepinna pun ikut Rangap ke rumah pribadinya yang dia beli dari hasil balapan serta bisnis makanan ringan. Tidak besar, hanya sebuah rumah sederhana, namun cukup nyaman untuk mereka tempati nantinya.

“Aku mau minta hadiah, boleh?” tanya Rangap duduk di sebelah Brepinna yang sedang fokus menatap layar televisi.

“Apa? Aku belum beli apa-apa,” jawab Brepinna polos.

“Ini tidak perlu uang, kok.” Rangap mendekat dan memeluk Brepinna dari samping. Mulai mencium pipi hingga bibirnya. Brepinna hanya diam saja karena ini pertama kali untuknya. Sensasi aneh, malu, takut serta penasaran membuat otaknya berhenti berpikir.

“Mau lebih, boleh, ya,” pinta Ragap.

“Tapi, kita belum menikah.” Brepinna meremas jemari takut.

Namun, rasa penasaran lebih mendominasi kala sentuhan dan kecupan yang terus dihadiahi oleh Rangap.

“Kita akan menikah, begitu pertandingan akhir tahun selesai. Hadiahnya untuk mahar pernikahan kita.”

“Aku takut.” Brepinna jujur.

“Ada aku, tidak akan terjadi apa-apa,” bisik Rangap. Hembusan napasnya di dekat telinga membuat Brepinna akhirnya lupa diri dan menyerahkan kesuciannya saat itu juga.

Setelah kejadian itu, setiap bertemu mereka pasti mencuri waktu untuk melakukan hal terkutuk bagi pasangan yang belum sah menikah tersebut. Perlakuan dan sikap Rangap justru semakin baik dan semakin melindungi Brepinna. Bagi Rangap, Brepinna akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Dia sangat mencintai Brepinna, terlepas dari apa yang sering kali mereka lakukan adalah dosa besar.

Rangap semakin banyak waktu bersama Brepinna. Rangap pun sudah mengutarakan isi hatinya kepada keluarga besar Brepinna, terutama sang ibu. Setelah pertandingan terakhir, dia ingin menikahi Brepinna, dan berhenti balapan.

Dia ingin membangun usaha bengkel serta membuka toko spare part motor untuk menghidupi anak dan istrinya nanti. Tentu saja sebagai wanita, Brepinna sangat bahagia. Ketakutan awalnya akan ditinggalkan Rangap sirna sudah.

Hubungan mereka semakin banyak yang mengetahuinya, bahkan Pinto pun sudah tahu ketika dia pulang kampung sesaat setelah pulang kampung untuk merayakan wisudanya.

Pertandingan terakhir akan berlangsung tinggal satu hari lagi, perasaan Brepinna sudah tidak enak. Dia mulai merasakan yang namanya morning sicknes. Awalnya dia tidak yakin, tetapi setelah melihat kalender di meja riasnya, dia yakin dia sedang mengandung anak Rangap. Dia merencanakan kejutan untuk kekasihnya tersebut.

Dengan perasaan yang sangat bahagia, dia pergi ke apotik terdekat membeli alat tes kehamilan. Dia pun tergesa memeriksa karena ingin memastikan. Setelah mendapatkan hasilnya, dia bersorak riang. Dia akan segera menikah dengan pria pujaan hatinya, serta mereka akan segera memiliki keturunan.

Pertandingan tiba, seperti biasanya, Brepinna selalu di kursi terdepan. Hanya saja kali ini, dia sedikit lesu. Meski demikian, dia menunjukkan keceriaannya kepada Rangap agar kekasihnya tersebut fokus dan kembali memenangkan pertandingan.

Tidak lupa, Rangap selalu mencuri pandang bila tiba di barisan kursi Brepinna. Gadis cantik itu pun selalu memeri tepuk tangan, ketika Rangap melewatinya. Namun, di putaran ke lima, Rangap tidak menemukan Brepinna di kursinya. Brepinna yang tiba-tiba mual memilih ke kamar kecil. Fokus Rangap terbagi, dan kecelakaan terjadi begitu saja.

Brepinna masih mendengar teriakan penonton serta dentuman keras saat tubuh Rangap terpelanting dan dilindas oleh salah satu pebalap yang kebetulan berada di belakang Rangap, dan dinyatakan meninggal di tempat. Pun pembalab yang melindas Rangap ikut meninggal di tempat karena kepalanya terbentur tembok pembatas.

Brepinna yang mendengar nama Rangap disebut-sebut saat keluar dari kamar kecil, segera menghampiri tempat kecelakaan, dan memeluk tubuh yang bersimbah darah tersebut. Hingga pertugas datang kemudian membawa tubuh kaku Rangap ke rumah sakit.

Flas Back Off

 

Cek Kandungan

0 0

Part 3

“Sudah siap?” tanya Pinto begitu selesai berganti baju setelah pulang bekerja. Brepinna hanya mengangguk.

“Baiklah, ayo.” Pinto menggendong Kana dan segera menaiki mobil miliknya diikuti oleh Brepinna setelah pria berhidung bangir tersebut membukakan pintu untuknya.

Bagaimana tidak jatuh hati bila lama-lama tinggal dalam satu atap, kalau sikap Pinto semanis itu. Terlebih lagi, hubungan mereka sah menjadi suami istri setelah kelahiran Kana. Pinto kembali mengucapkan janji suci pernikahan di depan penghulu, walau itu dia lakukan secara rahasia. Hanya dihadapan ibu dan ayahnya serta dua orang saksi. Mengucapkan kembali janji suci pernikahan juga karena desakan sang ibu, yang jelas tahu bahwa Brepinna hamil anak Rangap sebelum pernikahan mereka.

Hal itu dia lakukan dua minggu sebelum kembali menjalin kasih dengan Mara. Pinto jelas tahu, menjalin hubungan di luar nikah jelas haram baginya, apalagi saat ini dia sudah sah dan resmi menjadi suami Brepinna walau awalnya hanyalah sebuah keterpaksaan. Keterpaksaan karena ulah kakak dan istrinya tersebut. Membuat dirinya harus terjebak, dan mengambil tanggung jawab besar dengan menikahi Brepinna. Setahun pernikahan tidak ada sentuhan suami istri. Hanya sentuhan yang terjadi kala Brepinna benar-benar membutuhkan bantuannya karena hal tertentu. Seperti saat harus menuntunnya karena kesulitan berjalan dengan perut besar, atau mengelap keringatnya saat dia kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah.

Pinto selalu membantu kala ada waktu, meski demikian, sebagai wanita Brepinna tidak ingin memberatkan Pinto atas pekerjaan rumah. Itu adalah tanggung jawabnya sebagai istri.

Meski demikian, dia tidak pernah membenci Brepinna. Justru sikapnya sangat manis di mata Brepinna, walau hal-hal romantis terjadi hanya di peraduan saja. Namun, bantuan kecil seperti mengangkat galon, membantu mengangkat jemuran kering saat dirinya sibuk menyusui Kana, atau membantu mencuci piring ketika repot mengurus Kana saat bocah itu demam, membuat nilai tambah dalam hati Brepinna.

Tiba di sebuah rumah sakit, Brepinna turun setelah Pinto membukakan pintu untuknya. Serta menggendong Kana agar dirinya tidak kelelahan. Mendampingi Brepinna hamil, Pinto sudah paham betul. Karena saat hamil Kana, Brepinna sangat mudah lelah. Bahkan, sebagian ibu hamil mengalami hal tersebut. Tetapi, Pinto merupakan suami yang siaga dan selalu siap membantu kala dibutuhkan.

“Duduk dulu, aku yang mendaftarkan dan mengambil nomor antrean.” Pinto mendudukkan Kana di samping Brepinna yang langsung duduk karena memang kelelahan.

“Jangan nakal, jaga Mamak sebentar. Oke, Jagoan?” Pinto mengusap wajah Kana, dan meninggalkannya bersama Brepinna begitu mendapatkan senyuman dan anggukan bocah itu, lalu menuju antrean pendaftaran.

Saat sedang antre, Pinto mulai mencuri pandang kepada Brepinna.  Wajahnya terlihat sangat tenang, namun sedikit tirus dan agak pucat.

“Sepertinya, dia memang hamil.” Batin Pinto mengingat pertemuannya saat pemakaman Rangap tiga tahun silam..

Dia menatap dalam istrinya tersebut karena antrean masih panjang. Kemudian menoleh ke arah lain saat mata Brepinna tidak sengaja bertabrakan dengan netranya. Wanita cantik itu menjadi sosok yang berbeda. Dahulu, wanita itu bahkan tidak menutup kepalanya, kini sudah berhijab dan selalu menundukkan padangan.

Dia yang dulu kekanak-kanakan, lebih dewasa dalam mengambil sikap serta tindakan. Pinto mulai merencanakan pembatalan pernikahan dengan Mara. Dia sedang memikirkan cara lepas dari kekasihnya itu. Pria berhidung mancung itu terkesiap saat petugas menanyakan kepentingan apa dia datang ke rumah sakit tersebut. Namun, dengan cepat dia bisa menguasai dirinya kembali. Lalu mengutarakan keinginannya datang ke rumah sakit, yaitu memeriksakan kehamilan Brepinna.

Setelah mendaftarkan diri, dia diberikan nomor antrean dan disuruh menunggu di depan ruangan dokter kandungan. Pinto semakin salah tingkah kala Kana menanyakan kenapa mereka harus ke rumah sakit.

Berbeda dengan Brepinna yang sangat tenang, lalu menceritakan adanya kehidupan di dalam rahimnya. Tentu dengan bahasa sederhana yang bisa dipahami oleh anak-anak.

“Bapak, Kana mau punya adik?” tanya Kana riang.

“Sabar dulu, Sayang. kita tanya dulu dokternya memastikan,” ucap Pinto gugup.

“Tapi, kata Mamak ada, Pak. Mamak enggak pernah bohong.” Kana merajuk.

“Baiklah, kalau Mamak yakin ada adik, bapak juga yakin. Tetapi, kita pastikan dulu di dalam, ya. Nanti, dokter akan menunjukkan kepada kita.” Pinto memeluk Kana yang kini beralih duduk di pangkuannya.

“Oke,” jawabnya dengan menunjukkan jempol tangan kanannya.

Mereka dipanggil perawat yang membantu dokter kandungan memeriksa pasien.

“Silakan, Bu. Duduk dulu,” ucap Perawat dengan ramah.

“Sudah tes, Bu?” tanya Dokter yang duduk di hadapan mereka. Brepinna tersenyum dan mengangguk.

“Alhamdulillah, sudah, Bu,” jawabnya tenang kemudian menatap dokter di depannya.

“Baiklah, naik, yuk. Biar diperiksa secara keseluruhan,” ucap Perawat, membimbing Brepinna naik ke atas brankar yang disediakan. Lalu menutupi kaki hingga pinggang. Selagi dirinya memeriksa tekanan darah, dokter membawa sebuah cairan yang biasa digunakan untuk USG (Ultrasonography).

Tubuh Pinto mulai terasa panas saat menyaksikan perut istrinya yang masih rata tersebut diolesi gel untuk USG. Ini pertama kalinya dia memperhatikan perut mulus, bersih dan putih itu dengan seksama. Naluri lelakinya seketika bangkit, namun kembali harus turun ketika dokter menunjukkan bakal bayi di dalam rahim istrinya.

“Selamat, Pak, Bu. Usianya sekitar enam minggu, sebulan setengah. Masih berbentuk gumpalan, karena memang masih embrio. Tiga bulan lagi, akan mulai terlihat dengan lebih jelas. Walau tidak sejelas aslinya, tetapi bentuk mata, hidung, kepala, serta kakinya sudah akan terbentuk seperti tangan dan kaki kita,” jelas Dokter. Tak terasa bulir bening menetes begitu saja di pipi Brepinna.

“Air mata bahagia, Dok.” Brepinna tersenyum getir kala mengingat kembali niat Pinto ingin menceraikannya karena dokter menatapnya lekat.

“Benar, kan, Pak? Mamak enggak bohong, itu calon dedek bayi.” Kana gembira menunjuk layar monitor, membuyarkan lamunan Pinto.

“Iya, Jagoan. Benar, tetapi, kita harus tahu kesehatan Mamak sama calon adek bayinya Jagoan.” Pinto mencubit hidung Kana gemas.

“Alhamdullillah sehat keduanya, Pak. Tensi Ibu normal, bayinya juga terlihat normal, serta sehat perkembangannya. Kita doakan, lancar terus hingga persalinan, ya,” ucap Dokter senyum. Semua orang di ruangan tersebut mengucap amin bersamaan.

Brepinna, Pinto dan Kana meningalkan ruangan dokter setelah mengucapkan terima kasih, lalu menebus vitamin kehamilan yang harus Brepinna konsumsi setelah pulang nanti.

Kana terdengar mengoceh sepanjang jalan di gendongan Pinto. Dia bercerita banyak hal serta harapannya saat adiknya lahir nanti. Pinto sendiri bingung dengan keputusannya menceraikan Brepinna. Haruskah kembali dia batalkan atau lanjutkan. Secara agama, itu tidak sah, karna Brepinna kini mengandung.

Dia merenung saat tiba di rumah, Bepinna pun tidak ingin terus mengingatkan kehamilannya kepada Pinto. Wanita cantik tersebut hanya terus berdoa dalam sujudnya agar hati Pinto terbuka dan memilih kembali melanjutkan rumah tangga dengannya.

Setelah menidurkan Kana di kamarnya, Brepinna ke kamar mereka. Melihat Pinto belum ada di kamar, Brepinna memutuskan untuk salat malam, dan menyerahkan hidupnya kepada Allah.

“Ya Allahku, ya Tuhanku, hamba mohon, lembutkanlah hati suami hamba. Pernikahan ini, hamba serahkan hanya kepadamu. Jangan biarkan anak-anakku tidak memiliki ayah atau ibu di masa yang akan datang, hamba hanya ingin keluarga yang semestinya, keluarga yang bahagia. Jika terjadi kehidupan di dalam rahim ini, itu semua berkat ridha-Mu. Aku tidak ingin, anak-anakku merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan dahulu. Tumbuh tanpa kasih sayang ayah, membuatku terjerumus dlam dosa besar. Kasih sayangku, dan kasih sayang suamiku, sangat dibutuhkan anak-anak ini. Allahku, Tuhanku, kabulkanlah doa hamba yang hina ini. Hamba yang penuh dosa ini, memohon kepadamu, ya Allah.”

Pinto tidak dapat membendung air matanya mendengar doa yang dipanjatkan oleh Brepinna. Dia yang tadinya hendak memasuki kamar dan istirahat, memilih kembali keluar dan menghidup udara segar di malam yang cerah tersebut.

Dia menatap telepon genggamnya, di sana ada gambar dirinya bersama Mara yang sedang duduk di sebuah kursi taman. Dia tersenyum kecut. Hati dan pikirannya kini bertarung. Tangannya bersiap menghapus gambar tersebut, namun terhenti karena lampu dapur sudah terlihat padam. Bayangan perut rata, mulus, putih dan bersih milik Brepinna kembali terukir jelas di benaknya.

 

Bersambung.

 

Bimbang

0 0

Part 4

Hatinya tetap memilih menikahi Mara, namun pikirannya menuntutnya tetap melanjutkan pernikahan dengan Brepinna. Anak itu menjadi alasannya untuk bertahan. Benih cinta, dia tidak merasakannya sama sekali. Atau, dia membohongi dirinya sendiri akan hal itu. Malam semakin larut, Pinto akhirnya memutuskan kembali ke kamar setelah lampu ruang tengah dimatikan oleh Brepinna. Artinya, ibu dari anaknya itu akan segera tidur.

Pinto yang membuka pintu kamar terkejut melihat Brepinna yang sedang berdiri di depan lemari baju karena baru saja memasukkan baju yang telah dia setrika tadi sore. Pinto mengajaknya ke dokter, Brepinna meletakkan saja baju itu di atas kasur agar tidak membuat lelakinya itu lama menunggu. Pinto ingin sekali memeluk tubuh ramping tersebut. Tetapi, urung karena panggilan di telepon genggamnya menampilkan nama Mara.

Brepinna tersenyum, lalu tunduk dan kembali ke peraduan bersiap tidur. Entah kenapa, kali ini Pinto tidak ingin menerima panggilan itu dan memilih berbaring di belakang istrinya setelah meletakkan gawai di atas nakas. Sejenak, Pinto hanya bisa menatap punggung istrinya tersebut, Brepinna memunggunginya, dan mulai memejamkan mata dengan selimut menutupi hingga leher. Rambut hitam milik Brepinna membuat naluri lelakinya kembali memuncak. Apalagi, membayangkan perut rata, mulus dan bersih tadi di rumah sakit.

Kali ini, pikirannya menang dibanding hatinya yang terus menginginkan Mara. Dia mendekat, dan memeluk Brepinna dari belakang. Kecupan mesra mulai dia lancarkan di bagian belakang leher istrinya.

Di tempat lain, Mara sangat kesal. Bagaimana tidak, ayahnya mendesaknya menikah secepatnya, sedangkan Pinto malah mendiamkannya juga tidak mengangkat telepon darinya.

“Ayah tidak mau tahu, kalau besok pacar kamu itu tidak melamar kamu, kamu harus bersedia menikah dengan lelaki pilihan Ayah.”

Kata-kata itu terus terngiang di benak Mara, sehingga amarahnya memuncak begitu saja saat puluhan panggilan telepon serta pesannya diabaikan oleh Pinto.

“Ini mendesak, Pinto. Angkat.” Mara melemparkan telepon genggamnya begitu panggilan ke tiga puluh tidak juga diangkat oleh Pinto. Mara menarik rambutnya kencang dan menangis ketika kesal, marah, sedih, dan merasa diabaikan bercampur menjadi satu.

Sedangkan, Pinto memilih tidur bersama Brepinna dan memeluknya hingga pagi menyapa. Pinto kemudian membersihkan diri kala adzan subuh berkumandang. Ternyata, Brepinna sudah selesai mandi.

“Aku akan membatalkan perceraian kita,” ucap Pinto tanpa menatap wajah istrinya tersebut.

“Terima kasih,” jawab Brepinna datar. Dia bahagia, tetapi tidak ingin menunjukkannya di depan Pinto. Dia tahu, hal itu Pinto lakukan karena kehamilannya. Bukan karena cintanya.

“Sama-sama,” ucap Pinto. Menatap Brepinna lekat, tetapi wanita itu berpura-pura tidak melihatnya dan berlalu. Pinto pun akhirnya pergi membersihkan diri, kemudian ke masjid melaksanakan salat.

Brepinna menyiapkan sarapan di dapur dengan perasaan bahagia dan penuh syukur, setidaknya dia tidak akan berpisah hingga anaknya lahir. Meski harapannya adalah sampai akhir hayat mereka nanti.

Pinto tidak segera ke dapur setelah menyelesaikan salat subuh di masjid. Pria berhidung bangir, beralis tebal tersebut memilih ke kamar mengecek telepon pintar miliknya. Dia sangat terkejut saat membaca puluhan pesan yang dikirim oleh Mara. Belum sempat dia membalasnya, panggilan video dari Mara berkedip di layar gawainya. Dengan malas dia mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamualaikum,” ucap Pinto dengan senyuman paling menawan walau dipaksakan.

“Kamu ke mana saja, sih? Ayah akan menjodohkanku kalau kamu tidak ke sini, sekarang.” Bukannya menjawab salam, Mara malah marah dan terlihat sangat memaksa.

“Sekarang? Ini masih setengah enam pagi, Sayang.” Pinto sedikit kesal.

“Jam sembilan harus sudah sampai di sini. Apapun yang terjadi. Atau aku akan dinikahkan dengan pria lain.” Mara terlihat memohon dan memelas.

Pinto hanya mengangguk karena mendengar suara Kana yang berlari ke arah kamarnya.

“Aku tunggu, kalau terlambat, aku jemput ke rumah.” Mara mematikan panggilam sepihak.

“Bapak, ayo sarapan. Mamak sudah masak ayam goreng sambal tomat kesukaan Bapak.” Kana memeluk dan mencium Pinto dengan gembira.

“Oke, ayo. Bapak juga sangat lapar.” Pinto menggendong Kana, meletakkan gawainya di atas nakas dan menuju dapur.

Brepinna berniat mengambil Kana dari gendongan Pinto tetapi tidak diizinkan karena dirinya sedang mengandung.

“Jangan, biarkan aku saja. Kasihan kamu, kalau kelelahan bagaimana, kasihan yang di dalam perut.” Pinto mendudukan Kana di kursi meja makan, lalu duduk di sampingnya.

Brepinna menyiapkan piring dan makanan di meja makan. Menyiuk nasi serta melengkapi lauknya untuk Pinto, kemudian membuat untuk dirinya dan Kana. Brepinna menyuapi Kana, bocah tersebut makan dengan sangat lahap. Pinto pun mempercepat makan agar bisa menyuapi Kana dan Brepinna bisa makan juga.

Baru saja beberapa suap yang masuk ke dalam mulutnya, Brepinna malah muntah-muntah lagi. Pinto dengan sigap membantu, memijit lehernya bagian belakang, lalu mengoleskan minyak kayu putih di kening Brepinna. Entah apa tujuan Pinto, tetapi berhasil membuat Brepinna terpesona. Mereka bersitatap beberapa saat dan teralihkan begitu Kana bangun dan menghampiri Brepinna.

“Mak, Kana suapin?” tanyanya polos.

“Tidak usah, Sayang. Memang begini kalau mau punya adik.” Pinto menggendong kembali Kana dan membawanya ke meja makan.

“Enggak jadi punya adik saja. Kasihan Mamak.” Bocah polos itu menatap Brepinna dengan tatapan kasihan.

“Tidak apa, Nak. Tidak akan lama, hanya sampai empat bulan.” Brepinna mengikuti keduanya ke meja makan.

“Empat bulan itu berapa lama, Pak?” tanya Kana kepada Pinto.

“Kana tidur, bangun, tidur, lalu bangun lagi selama seratus dua puluh kali.” Pinto tersenyum.

“Lama,” ujarnya sedikit kesal.

“Tidak apa, Sayang. Waktu mengandung kamu juga dulu Mamak begitu.” Brepinna tersenyum, lalu duduk di samping Kana di tempat duduknya semula.

“Maafkan Kana, Mak.”

“Tidak apa-apa, Sayang. Mamak sayang Kana, kamu anugerah terindah yang mamak miliki hingga saat ini.” Brepinna mencium kepala Kana lembut.

Pinto yang menatapnya lekat memilih menoleh ke arah lain saat Brepinna melihat ke arahnya sekilas. Entah kenapa, perasaan Pinto kini berubah kalut. Satu sisi, hatinya mulai nyaman dan betah dengan kebersamaan ini. Sisi lainnya, dia telah berjanji kepada Mara.

Pinto akhirnya bangkit, dan mencium Kana lembut, kemudia pamit dan meninggalkan keduanya di meja makan. Pria berambut cepak tersebut mulai bimbang, harus menemui Mara atau tidak. Bila tidak, kemungkinan wanita itu akan mendatangi rumah dan membuat keributan. Ke kantor, pasti akan disusul juga. Mara perempuan yang nekat, kalau pernikahan Pinto dan Brepinna tidak secara rahasia, mungkin Mara juga akan mengacaukannya bila tahu.

Pinto menarik rambutnya kasar. Dia sangat kacau saat ini. Bingung harus memilih yang mana. Walau lebih merasa berat meninggalkan Mara, tetapi Brepinna adalah istri dan sedang mengandung buah hatinya.

Pinto akhirnya memutuskan ke kantor saja, tetapi meminta asisten pribadinya untuk tidak memberitahukan dia ada di kantor bila Mara datang. Pinto tidak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya, dia sangat kacau saat ini. Akhirnya dia memilih untuk terus menatap gambar Brepinna dan Kana di gawainya.

Tidak berselang lama, Pinto mendengar ada keributan di luar ruangannya. Dia jelas mendengar suara Mara yang berteriak ingin bertemu dengannya. Pinto segera memasuki ruangan rahasia yang dia siapkan di belakang lemari berkas miliknya.

Benar saja, beberapa menit kemudian Mara memasuki ruangan dan melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Mara mendengus kesal, dia menatap layar telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Pinto.

Gawai yang sempat Pinto masukkan ke laci meja kerjanya pun berbunyi. Mara menatap asisten Pinto nyalang.

“Katakan, di mana dia? Tidak mungkin dia pergi meningalan telepon genggamnya!”

“Maaf, Bu. Bapak pergi terburu-buru. Kalau tidak salah dengar, istrinya hamil.” Siti asisten Pinto takut-takut membeberkan rahasia tersebut.

“Aaah! Awas saja kau perempuan perebut laki orang!” Mara meninggalkan ruangan Pinto.

“Bukannya Ibu yang merebut, ya?” tanya Siti polos membuat Mara menghentakkan kakinya lalu bergegas meninggalkan kantor Pinto.

Tujuannya kini adalah rumah Pinto, untung saja Kana sudah tertidur saat wanita berambut sedikit pirang tersebut tiba. Pintu yang sedikit terbuka memudahkan Mara langsung saja masuk dan melabrak Brepinna.

“Wanita pembohong, perebut kekasih orang, sekarang kau berpura-pura hamil demi mendapatkan Pinto, hah!” Mara menatap nyalang, namun untuk berbuat kasar, menampar, menjambak dia tidak berani. Kalau saja Brepinna benar-benar hamil, posisinya akan sangat terjepit. Belum lagi kalau dilaporkan, bisa sangat memalukan baginya.

“Jawab, kamu berpura-pura hamil, kan?” Mara kini bertolak pinggang. Brepinna hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Mara. Meski jujur, Mara belum tentu mau meinggalkan Pinto. Kalau tidak jujur pun, terlihat dari wajahnya, Marah akan semakin murka.

“Kenapa diam saja? Kamu pikir aku bodoh? Pernikahanmu dengan Pinto tidak sah, karena kamu menikah dengannya saat kamu hamil anak Rangap. Kalaupun kamu sampai hamil, berarti kamu berzina dengan Pinto!” Ucapan yang keluar dari mulut Mara membuat wanita cantik itu tak tahan dan menangis seketika.

Masalalu yang ingin sekali dia buang, kini diungkit lagi oleh Mara. Lalu, penikahan. Dia dan Pinto sudah menikah kembali tiga bulan sejak kelahiran Kana. Pun sebelum itu, Pinto selalu berbuat sopan dan tidak pernah menyentuhnya dengan nafsu. Hanya membantunya saja, selebihnya tidak ada kontak fisik berlebihan.

Mara akhirnya meninggalkan Brepinna yang terus tersedu. Bukannya membalasnya, Brepinna mala diam seribu bahasa. Mara semakin emosi dan pergi meninggalkan rumah Pinto. Mara pergi ke rumah sahabatnya, Erik. Seperti biasa, saat sedang galau seperti ini, mereka akan minum minuman alkohol dan bercinta layaknya suami istri. Rahasia yang Pinto tidak pernah tahu.

 

Bersambung.

Mara Nekat

0 0

Part 5

Pinto segera meninggalkan kantor setelah menyelesaikan beberapa berkas yang harus dia tanda tangani. Tidak lupa menitip pesan kepada asisten. Jangan pernah mengatakan dia pulang ke rumah pada siapapun terutama Mara. Dengan tergesa, Pinto membuka pintu rumah. Dia tidak menemukan Brepinna di dapur. Pinto menuju kamar, benar saja istrinya tertidur dengan duduk di lantai kasur memegang kepala Kana, namun jejak air di kerudung serta di pipi menandakan bahwa Brepinna habis menangis.

Dia mendekat, mengusap lembut kepala istrinya tersebut. Brepinna seketika sadar dan mengangkat kepalanya.

“Abang sudah pulang? Maaf, aku ketiduran.” Brepinna berusaha bangkit dan saat itu juga Pinto merengkuh tubuh kurus istrinya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya menikmati aroma tubuh sang istri sudah membuatnya nyaman.

Ada penyesalan yang menyusup ke dalam hatinya, kenapa baru sekarang menyadari bahwa dirinya mulai jatuh cinta. Pinto mengusap punggung Brepinna lembut. Wanita cantik tersebut hanya bisa menahan isak tangisnya. Hatinya bersyukur, namun ketakutannya lebih besar.

Mara tidak akan membiarkannya tenang bersama anak dan suaminya, hanya Allah satu-satunya tempat Brepinna bisa meminta agar hati Mara kembali lembut dan mau menerima kenyataan. Brepinna tunduk saat Pinto menyentuh dagunya lembut, dan mengangkat wajahnya. Lama mereka saling bertatapan menyelami hati masing-masing. Tidak ada kata yang terucap di antara ke duanya.

Pinto semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah sang istri. Brepinna memejamkan mata ketika merasakan napas sang suami menerpa kulit wajahnya. Hampir saja bibir ke duanya bersentuhan saat Kana terbangun.

“Bapak, sudah pulang?” Pinto kikuk, lalu melepaskan pelukan perlahan dan menghampiri Kana.

“Iya, bapak ingin menghabiskan waktu bersama Kana dan Mamak. Malam ini, kita makan di luar, ya. Mamak, enggak usah masak.” Pinto melirik sekilas ke arah isrtinya yang tunduk dan masih memilin ujung kerudung karena gugup.

“Mak, jangan masak.” Pinto mengusap wajah istrinya lembut saat sudah menggendong Kana dan berdiri di hadapan Brepinna. Brepinna mengangguk, lalu tersenyum. Biar bagaimanapun, ini pertama kalinya baginya sangat dekat dengan Pinto penuh perasaan.

Biasanya, terjadi hanya begitu saja, menunaikan kewajiban tanpa merasa dicintai. Namun, kali ini berbeda. Senyum terukir di wajahnya yang manis, dia sangat bahagia kali ini. Meski demikian, dia tidak lupa sujud syukur karena mulai merasa diterima oleh Pinto.

Brepinna ke luar kamar setelah debaran jantungnya mulai normal kembali, sembari terus mengucapkan syukur di dalam hatinya. Dia berdiri di depan pintu kamar menatap indahnya kebersamaan Pinto dan Kana. Mereka bermain mobilan di ruang tengah sekaligus penghubung dapur dan kamar Kana. Pinto menoleh karena merasa diperhatikan.

“Mak, sini,” panggil Pinto. Brepinna ragu, tetapi akhirnya mendekat setelah mendapatkan senyum termanis dari Pinto.

“Duduklah, jangan berdiri terus.” Pinto menepuk sofa di sampingnya.

Brepinna duduk perlahan, ini pertama kali baginya setelah bertahun-tahun sedekat ini duduk dengan Pinto. Jantungnya kembali berdegup tidak karuan saat Pinto melingkarkan lengan di pinggang ramping milik istrinya tersebut.

“Pak, aku senang sekali,”  ucap Kana tidak menoleh, terus saja memainkan mobilannya.

“Kenapa?” tanya Pinto penasaran.

“Aku sering melihat orang tua di televisi duduk seperti kalian ini, tetapi aku baru melihat kalian seperti ini. Aku pikir kalian bertengkar,” ucapnya polos.

“Mungkin, Bapak terlalu sibuk, Nak. Kami tidak pernah bertengkar,” ucap Brepinna. Kana menoleh sekilas ke arah ibunya, lalu melanjutkan bermain.

“Kemarin itu ngomong cerai-cerai itu, apa?” tanyanya lagi terus fokus ke mobilan di tangannya.

“Orang tua biasa berbeda pendapat. Kemarin itu, bapak yang salah.” Pinto mendekati Kana, lalu memeluknya.

“Cerai itu apa, Pak?” tanya Kana menatap mata Pinto.

Pinto diam sesaat, dia bingung mau menjelaskannya kepada anak sekecil ini. Apalagi Brepinna tampak tidak nyaman membicarakan hal tersebut.

“Cerai itu, kalau dua orang yang sudah menikah memutuskan untuk berpisah.” Pinto melirik istrinya yang tertunduk dalam. Perasaan Brepinna mendadak tidak nyaman, perutnya terasa seakan diaduk saat Pinto menjelaskan hal tersebut kepada Kana.

Brepinna berdiri dan menuju westafel. Muntah-muntah lagi, dan Pinto segera mengikutinya, lalu memijit pundaknya lembut. Setelah muntah dan meminum air hangat buatan Pinto, Brepinna memilih kembali ke kamar dan berbaring, kali ini wajahnya terlihat sangat pucat.

“Maafkan aku.” Pinto menyelimuti istrinya hingga dada. Kana menatap Brepinna sangat kasihan, dia bingung harus berbuat apa. Akhirnya, dia hanya terus diam memperhatikan dua orang dewasa di depannya.

“Tidak apa-apa, Bang.” Brepinna memejamkan mata hendak tidur. Tubuhnya sangat lelah pun pikirannya. Masih terus terngiag ucapan Mara tadi siang di benaknya.

Siapa sangka, satu kecupan lembut dan lama mendarat di keningnya, membuat Brepinna membuka kembali matanya.

“Jangan dipaksakan, Bang. Aku tidak apa-apa. Nanti juga membaik.” Brepinna menoleh ke arah lain. Meski sangat bahagia, dia tidak berani berharap lebih. Dia sangat takut. Apalagi dirinya sempat melihat layar gawai milik Pinto kembali berkedip menampilkan nama Mara di sana, membuat Brepinna semakin tidak nyaman.

“Aku akan meninggalkannya, dan mulai kembali dari awal bersamamu. Bersama Kana dan anak kita.” Pinto meraih Kana dan mengangkat ke pangkuannya. Tangan kirinya memegang kuat perut Kana dari belakang agar tidak jatuh, tangan kanannya mengenggam tangan kanan istrinya. Brepinna menatap dalam netra sang suami. Tidak ada kebohongan di sana.

“Kita ke dokter saja, kamu sangat pucat,” ucap Pinto.

”Tidak usah, aku hanya butuh istirahat.”

“Baiklah, silakan tidur. Kami di luar bermain.” Pinto akhirnya meninggalkan Brepinna.

Sepeninggal suaminya, Brepinna menangis kembali. Dia sangat takut berpisah dari Pinto, rasa cintanya yang telah tumbuh subur membuatnya ingin terus memiliki suaminya itu seutuhnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus berpisah dari Pinto.

Kana asyik bermain video game, sayup Pinto mendengar suara isak tangis dari kamar mereka. Dia yakin sekali istrinya tersebut menangis.

“Jagoan, main dulu sebentar, ya. Bapak mau ganti baju.” Kana hanya mengangguk karena asyik sekali dengan permainannya.

Pinto membuka pintu perlahan, kemudian menutupnya kembali. Brepinna tergesa mengusap wajahnya dan membalikkan badannya saat menyadari suaminya datang.

“Aku tahu kamu menangis” Pinto menyentuh bahu istrinya lembut.

Brepinna hanya diam, bingung harus menjawab apa.

“Jangan menagis lagi, perceraian kita sudah aku batalkan. Kita akan terus bersama---”

“Hanya sampai anak ini lahir?’ potong Brepinna cepat.

Pinto menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar.

“Kata siapa?” tanyanya akhirnya setelah diam beberapa saat.

“Bukan kata siapa-siapa, Abang memang tidak mencintaiku. Sakit ….” Brepinna kembali menangis.

“Aku memang belum mencintaimu, tetapi aku akan berusaha.”

“Bagaimana dengan Mara, bukankah Abang akan menikahinya?”

Pinto kembali terdiam, sudah susah payah dirinya menghindari wanita tersebut satu hari ini, telepon serta panggilan video juga pesannya dia abaikan. Namun, mendengar ucapan istrinya, dia kembali bimbang. Dia memang mencintai Mara, tetapi dia juga bertanggung jawab atas Brepinna dan anaknya. Dia pernah memiliki mimpi bersama Mara hingga maut memisahkan, tetapi dia malah menanam benih di rahim Brepinna.

“Dengar, untuk saat ini, aku hanya ingin bersama kalian. Jangan membahas itu lagi saat bersamamu, oke?” Pinto membalikkan tubuh istrinya hingga kini mereka saling berhadapan.

“Aku tidak akan sanggup berpisah darimu, Bang. Aku mencintaimu.” Brepinna menjatuhkan wajahnya di dada bidang sang suami.

“Aku juga tidak berniat meninggalkan kalian,” lirih Pinto.

Suara ketukan pintu yang cukup kencang membuat keduanya melepaskan pelukan. Terdengar teriakan dari Mara di luar sana memanggil Pinto dengan amarah.

“Aku akan menjelaskan kepadanya.” Pinto menatap Brepinna lembut, lalu mengecup pipinya sekilas.

Pinto melewati Kana yang tidak terpengaruh dengan teriakan Mara dari depan rumah, Pinto mengacak rambutnya sekilas.

“Tidak usah berisik,” ucap Pinto begitu pintu terbuka.

“Kamu ini, sengaja menghindari aku?” teriak Mara.

“Bukan begitu, aku sibuk.” Pinto menyeretnya ke halaman rumah.

“Sibuk dengan wanita itu?” kilatan amarah Mara membuat Pinto serba salah.

“Pulanglah,” ucap Pinto menatap dalam netra kekasihnya tersebut.

“Tidak mau, ayo temui ayahku.” Mara balik menyeret Pinto ke arah gerbang. Pinto melihat Erik di kemudi mobil Mara.

“Siapa dia?” tanya Pinto.

“Teman, ayo.” Mara terus menyeret Pinto. Hampir sampai gerbang, Pinto menatap ke arah jendela kamarnya, dia melihat bayangan istrinya di sana, lalu mengentakkan tangan Mara.

“Kalau Ayahmu tidak bisa menunggu, menikahlah dengannya.” Tunjuk Pinto ke arah Erik. Erik mengangkat bahunya seakan mengejek.

“Pinto!” panggil Mara saat lelaki berkemeja putih itu kembali menuju rumah. Langkahnya terhenti saat itu juga dan berbalik.

“Jangan bilang dia benar hamil.” Mara menatap Pinto mengintimidasi.

“Dia benar hamil, dan itu anakku.” Pinto meninggalkan Mara, lalu mengunci pintu rumah.

Mara akhirnya membawa Erik menemui ayahnya dan menjadikannya calon suami bohongan. Tetapi, Erik malah memiliki rencana jahat terhadap dirinya.

 

 

Bersambung.

Cinta Erik

0 0

Part 6

Mara membanting pintu mobil dengan sangat kencang. Erik menatapnya dalam, mendekat dan mengelus lembut pundaknya.

“Sabar, ada aku.” Mara bersandar di pundak Erik sebelah kiri. Erik mendekapnya dari samping dan mengecup pucuk kepalanya lembut.

“Apa kamu mau menjadi calon suamiku? Calon suami pura-pura tepatnya hingga aku bisa memisahkan Pinto dan wanita itu?” isaknya lemah.

“Apa, sih, yang enggak buat kamu?” tanya Erik. Mara masih betah dalam dekapan Erik, sedangkan pria itu mulai memikirkan rencana menjebak Mara agar bisa menjadi suami sungguhan untuknya. Dengan demikian, ayah Mara akan sangat terluka. Calonnya adalah Erik, pria yang pernah dia hina dahulu. Erik sudah tidak sabar bertemu dengan ayah Mara, ingin sekali membalaskan dendam kepadanya. Padahal saat itu, hubungan Mara dan Erik hanya sebatas teman biasa. Namun, karena Erik hanya orang miskin, membuat ayah Mara menghinanya habis-habisan serta mempermalukannya.

Erik sudah mendapatkan kesucian gadis itu, tetapi Erik belum puas karena dendamnya. Sesungguhnya, dia nyaman dengan Mara, dia menyayangi gadis itu. Dia juga merasa bersalah telah merusak gadis itu. Tetapi, kebenciannya terhadap ayah Maralah yang membuat dia selalu ada untuk Mara. Rencannya dia ingin menghancurkan ayahnya melalui anaknya. Semakin dalam dia mengenal Mara, hatinya justru semain terpaut dengan gadis itu.

“Jadi, kapan kita bertemu ayahmu?” tanya Erik. Mara kembali ke tempat duduknya, dan menegakkan tubuhnya. Menatap ke depan, memperbaiki riasan dan mulai tersenyum.

“Sekarang, yuk.”

“Di mana?” tanya Erik tidak sabar.

“Di rumah. Ayah menunggu di rumah.”

“Bagaimana kalau ayahmu tidak setuju?”

“Itu urusanku, lagian ini hanya pura-pura,” ucap Mara menoleh ke arak Erik.

“Kalau ayahmu justru ingin menikahkan kita segera, bagaimana?” tanya Erik lagi.

“Dia pasti meminta itu, kita ulur saja waktunya. Katakan saja proyekmu sedang dalam proses, tidak bisa menikah dalam enam bulan ke depan. Lagian, Ayah hanye memintaku memperkenalkan, bukan langsung menikahkan. Daripada harus dijodohkan.” Mara menggigit bibir bawahnya. Erik yang mentapnya malah sulit mengalihkan perhatian.

“Ayo, kita berangkat.” Mara mengambil telepon genggam dari saku celananya dan menghubungi ayahnya. Erik menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.

Dalam waktu sepuluh menit perjalanan, mereka tiba di rumah Mara. Erik keluar dari mobil dan menatap pagar rumah itu. Saksi bisu saat ayah Mara menghinanya beberapa tahun silam. Erik terpekur sejenak, kemudian segera tersadar dan melajukan mobil begitu satpam membukakan pintu.

“Ayo, langsung saja masuk. Ayah sudah menunggu.” Erik mengikuti Mara dengan tidak sabar. Dia ingin tahu reaksi ayah Mara.

“Ayah ….” Mara dengan ceria memeluk Adi, ayahnya.

“Kenapa lama seka---” ucapannya terpotong saat menatap senyum manis milik Erik.

“Dia?” tanya Adi melepas pelukan Mara.

“Iya, Ayah. Sebenarnya dia belum siap menikah, karena proyek yang di kerjakan masih butuh waktu enam bulan ke depan.” Mara membawa Erik kepada Adi agar bersalaman. Sedangkan tangannya tetap menggandeng Erik.

“tetapi, kalau Om mau, saya bisa meluangkan waktu untuk pernikahan ini.” Ucap Erik cepat saat Adi akan berbicara.

“Untuk membuktikan keseriusan saya terhadap Mara, Om.” Erik mengambil tangan Adi, dan mencium punggungnya lembut.

“Ayah ,erestui hubungan kalian. Sebaiknya resmikan saja dulu, agar ayah tenang.” Hanya itu yang sanggup Adi ucapkan. Dia masih sangat terkejut menyadari Erik yang dibawa oleh Mara ke rumah. Dia sesungguhnya berharap lelaki itu adalah Pinto, namun sepertinya dia telah salah. Dia tidak ingin anak gadisnya terlalu lama melajang, sehingga walaupun Erik yang dia bawa, kini dia merestuinya begitu saja.

Erik lega sekaligus kesal. Harapannya agar Adi kecewa, pupus sudah. Meski demikian, sudut hatinya bahagia karena akan menikahi Mara. Walau Mara tidak menginginkannya, dia sudah merencanakan hal yang membuat gadis itu tidak dapat lagi mengelak untuk menikah dengannya.

Memang terkesan jahat, tetapi demi dendamnya, demi rasa sakit di hatinya di masa lampau, dia akan melakukannya juga. Lagian, selama ini Mara tidak pernah keberatan saat dia sentuh.

“Silakan duduk.” Adi menyuruh Erik duduk walau dalam hatinya masih gelisah. Mengingat ucapan putrinya, bahwa pria itu sedang mengerjakan sebuah proyek, artinya pri itu sudah berubah. Setidaknya tiidak sekere dulu. Toh, harta miliknya juga tidak akan habis hingga tujuh turunan untuk Mara. Belum lagi perusahaan, beberapa usaha minimarket, dan juga beberapa hotel yang sedang berkembang saat ini.

Erik tersenyum sangat manis, Mara pun duduk di dekat Erik, serta terus memegang lengan pria berjambang tipis tersebut.

“Jangan terlalu dekat dulu. Belum sah,” ucap Adi tidak nyaman melihat anaknya sedekat itu dengan pria. Mara menggeser duduknya, lalu tersenyum kepada Erik. Seolah-olah, dia sangat mencintai priia tersebut. Ada ngilu di sudut hati Erik saat menngingat bahwa Mara begitu memuja Pinto, tetapi dia segera melupakannya dan terus merencakan dalam pikirannya agar bisa memiliki Mara seutuhnya.

“Inilah kenapa ayah ingin kalian segera menikah, ayah tidakmau terjadi hal yang tidak diinginkan. Hamil sebelum menikah, misalnya.” Adi menatap putrinya lembut. Biar bagaimanapun, dia tidak ingin Mara tersinggung, dia terlalu memanjakan Mara, namun juga terlalu keras kepadanya. Mara sudah yatim sejak kecil, jadi Adi tidak ingin gadisnya itu kekurangan kasih sayang walau sedikitpun.

“Jadi, kapan kita akan menikah?” tanya Erik kepada Mara.

“Setelah proyekmu selesai,” ucap Mara menatap tajam ke arah Erik.

“Tetapi, Om ingin agar kita segera meresmikannya. Aku juga ingin selalu bersamamu.” Erik jujur akan perasaannya.

Mara menatap tajam ke arah Erik. Dia tidak menyangka Erik akan berkata seperti itu. Mara bangkit, menarik tangan Erik dan membawanya ke halaman rumah.

“Kenapa kamu berubah pikiran?’ tanya Mara berbisik.

“Aku tidak berubah pikiran, aku hanya ingin membuat Ayahmu yakin.”

“Ayah akan meminta kita menikah secepatnya.” Mara mendengus kesal.

“Tinggal menikah saja. Apa sulitnya?” Erik santai.

“Aku tidak mencintaimu.” Mara menekankan kata tidak. Erik menoleh dan menatapnya tajam.

“Kalau begitu, jalankan rencanamu sendirian, aku tidak mau terlibat lagi.” Erik mengangkat kedua tangannya dan meninggalkan Mara yang masih kebigungan. Takut kehilangan jejak, Mara mengejar Erik dan meraih tangannya.

“Kita harus meluruskan beberapa hal.” Mara menatap dalam manik coklat milik Erik.

“Apa?’ tanya Erik mulai jengah.

“Kalau kita harus menikah, maka kita akan menikah dengan perjanjian. Begitu aku berhasil memisakha Pinto dan wanita itu, maka kita akan bercerai.” Mara menatap Erik memohon. Erik mengangguk.

“Terima kasih.” Mara memeluk Erik erat.

“Tidak perlu,” ucap erik tersenyum.

“Aku mau pulang, pamit dulu kepada Ayahmu. Calon ayah mentuaku.” Erik menjawil hidung Mara dan memasuki rumah.

“Bisakah kita bicara sebentar? Empat mata?” tanya Adi kepada Erik.

“Tentu saja.” Erik mengikuti Adi ke ruangan kerja miliknya.

“Ada apa, Om?” tanya Erik begitu tiba di ruangan nyaman tersebut.

“Aku tahu, Mara terobsesi dengan Pinto. Kenapa dia membawamu sebagai calonnya?” tanya Adi.

“Dia ingin aku menikahinya pura-pura dan di atas perjanjian.” Erik jujur.

“Aku minta maaf tentang masa lalu. Aku hanya ingin melindungi putriku. Dia tidak punya ibu sejak kecil, aku hanya ingin agar dia terus bahagia. Aku tahu aku khilaf di masa lampau, tetapi itu semua terjadi semata-mata karena aku sangat menyayanginya. Aku takut dia terluka, aku taku kalau kamu tidak bisa memenuhi kebutuhannya secara materi. Namun termyata aku salah. Maafkanlah aku.” Adi menyatukan kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Erik dengan sungguh-sungguh menyesal.

Erik mulai iba dan luluh. Benar kata Adi, sebagai seorang ayah dan anaknya hanya memiliki dirinya, tentu saja Adi sangat melindungi putrinya itu. Kalaupun Erik berada di posisinya, dia juga kan melakukan hal yang sama. Erik mendekat dan memeluk Adi.

“Sudhalah, Om. Lupakan saja, itu sudah lama berlalu.” Erik melepas pelukan dan menatap Adi. Dia pun bersungguh-sungguh memaafkan dan tulus hendak menikahi Mara.

“Aku tidak ingin ada perjanjian pernikahan itu.” Erik membuka suara setelah keduanya terdiam beberapa saat.

“Tetapi, Mara sangat menginginkannya. Aku ingin menikahinya dengan bersungguh-sungguh. Aku mencintainya.” Erik tunduk menatap lurus ke bawah.

“Ayah akan membantumu. Kita buatkan saja surat palsu.” Adi mengusap punggung Erik lembut. Erik menoleh dan mengangguk.

“Aku percaya kepada Om.”

“Mulai sekarang, biasakan panggil ayah.” Adi tersenyum tulus.

Mereka keluar setelah berpelukan lagi dan merencakan segalanya dengan matang. Kini, Adi sudah tidak peduli apa pekerjaan Erik, dia berencana akan menyerahkan beberapa perusahaan untuk dia kelola setelah menikah dengan Mara.

“Aku pulang, ya?” Erik menggenggam jemari Mara saat akan berpamitan.

“Ayah enggak ngomomg macam-macam, ‘kan?” tanya Mara.

“Aman,” ucap Erik tersenyum meyakinkan Mara.

“Syukurlah.” Mara lega.

“Aku antar?” tanya Mara.

“Tidak usah, sudah persan taksi daring.” Erik berjalan ke arah gerbang, dan menunggu di depan. Mara menunggunya hingga pria tersebut pergi dan meninggalkan kediaman Mara yang nyaman.

“Ayah tahu kamu tidak mencintainya.” Adi menatap tajam putrinya.

“Permainan apa yang akan kamu buat? Pernikahan itu ibadah seumur hidup. Kenapa ada perjanjian pra nikah segala?” tanya Adi. Mara menggigit bibir bawahnya dan tertunduk. Dia kesal karen Erik memberitahukan kepada ayahnya.

“Jangan berpikir Erik yang memberitahuku, aku mendengar percakapan kalian di depan tadi. Menurutmu, bagaimana aku bisa ada di depan pintu saat kalian kembali masuk?”

 

 

Bersambung.

 

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Rai Sasda
Quinnsha
Titien Suprihat...
My Chemistry teacher 'Raksa Al
Azzahra MSN
MEMELUK DIRI
Ai Komariah
Serba-serbi Ramadan
Annisa Nursholi...
My Graduation

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil