Loading
18

2

12

Genre : Psikologi
Penulis : Key Uthamy
Bab : 30
Dibuat : 06 Januari 2022
Pembaca : 11
Nama : KUAT MUGI UTAMI
Buku : 1

Senja Diujung Kota

Sinopsis

Aku, Zeezee Annisa seorang anak tunggal dengan kehidupan awal yang berlimpah kasih sayang orang tua dan penuh kebahagiaan, harus mengalami perjalanan hidup yang amat pahit setelah kedua orang tuaku meninggal. Bersamaan dengan itu pula seseorang yang selama ini ada disampingku, membantu dan menguatkanku pun ikut menghilang. Kehidupanku terasa begitu terjal dilalui, hingga depresi menghampiriku. Kepercayaanku terhadap Tuhan pun mulai goyah bahkan bisa dibilang menantang kebesaranNya. Seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan sosok lelaki yang terlihat seperti mempunyai dua sisi kejiwaan yang amat berbeda. Namun dengan semua nasehat dan bimbingan darinya lah aku menemukan titik balik dalam hidup. Rasa penerimaan, tenang, dan damai begitu merasuk dalam hidupku juga merubah mindsetku tentang kehidupan. Terutama prasangkaku terhadap Allah yang makin hari makin berubah menjadi lebih positif. Senja menawarkan keindahan yang mempesona, namun tidak setiap harinya kita kan temukan warna yang sama. Ketika kebahagiaan hanya bagai secercah cahaya senja. Bukan berarti kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan, kita akan merasakan kebahagiaan dalam hal sekecil apapun itu apabila kita lebih banyak bersyukur. Biarlah senja diujung kota ini menjadi saksi betapa aku mencintaiNya.
Tags :
#Zeean #Senja #Rey #kepercayaan #frustasi #depresi #hikmah #titikbalik #kebahagiaan #quote #sedih #bahagia

Rey si Tukang Protes

3 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 622

- Day 1

- Sarkat Jadi Buku

 

Namaku Zeezee Annisa. “Zeean”, begitu teman-teman memanggilku. Aku putri tunggal dari Ibu Hana Dharmawan yang merupakan seorang guru kesenian di SMA ternama dikotaku dan Bapak Rahmat Dharmawan, seorang pelukis dan pengusaha. Hari ini, seperti biasanya ketika hati lelah dan penuh dengan sedu sedan, aku pergi ke tempat yang selalu membuatku nyaman dengan berbagai keadaan hatiku. Suatu tempat yang mungkin bagi orang lain itu hal biasa, tetapi bagiku amat bermakna bersama seseorang yang mampu menjadi segalanya bagiku setelah kedua orang tuaku. Tempat dimana kutumpahkan segala rasaku, segala tentangku, yang darinya kudapatkan sebentuk rasa nyaman dengan diriku sendiri dan merasa lebih baik.

Sebuah pantai dengan bebatuan yang terukir kenangan. Di pasirnya tersimpul harapanan lautnya sungguh bagai obat penenang. Senja kali ini tak berubah dalam 3 tahun terakhir. Hanya kehampaan, tanpa tujuan, dan hidup dengan kenangan pilu. Waktu 3 tahun bukanlah proses yang singkat, tetapi menjadi sebuah titik awal perubahan segala kehidupanku. Waktu yang memaksaku menjadi dewasa, memandang berbagai sisi diumurku yang masih belia. Memaknai hidup dengan pandangan luas, terbata-bata dalam membaca keadaan, merangkak menyusuri jalan berbatu terjal demi menyusun kembali puing-puing harapan pada kehidupan agar lebih berpihak padaku.

***

Di Pantai ini hanya ada beberapa pasang muda-mudi yang sedang berjalan-jalan menikmati lukisan langit senja hari. Di sebelah kanan, aku melihat ada segerombol remaja laki-laki yang sedang bermain gitar dan bernyanyi, seakan hidup mereka begitu ceria. Agak jauh di sebelah kiri ada sepasang suami istri yang sedang bermain pasir dengan kedua buah hatinya. Terlihat sekali mereka keluarga yang bahagia dan harmonis. Di sisi lain, aku berdiri termenung. Kusunggingkan senyum tipis sembari melihat keluarga itu. Tak lama kutatapi kembali lautan dan lukisan senja di langit. Kubentangkan tanganku sejurus kemudian menutup mata, merasakan angin dan hangatnya mentari senja yang perlahan merasuk dalam ragaku. Kubuang segala penat dan sedih hingga terasa nyaman setelahnya.

Alam mengajarkanku ketenangan sejati dan seperti itulah cara pendekatanku dengannya dan caraku berdamai dengan keadaan yang selama ini mengujiku. Setelah sekian detik merasakan hawa damai yang merasuk, aku buka kembali mataku. Hati terasa lebih baik dan damai dari sebelumnya.

“Zee Zee” terdengar suara yang memanggilku dari kejauhan. Aku menoleh kearah suara itu dan ternyata Rey teman sekampus beda jurusan, aku di Fakultas Kesenian, sementara dia di Fakultas Teknik. Usianya satu tahun lebih tua dariku, tapi sikapnya seperti seumuranku. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa kita bisa kenal, bukan? kami dipertemukan dalam Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA). Kecintaan kami terhadap kegiatan yang berhubungan dengan alam menjadikan kami dekat sampai sekarang.

“Zee kamu ngapain sendirian gitu?” tanya Rey sambil meledek.

“Kamu sendiri ngapain disini?” jawabku ketus.

“Dih ditanya kok malah balik tanya sih, ketus lagi.” celetuk Rey sambil memonyongkan mulutnya.

“Eh girls sudah lama kita enggak muncak (bahasa gaul mereka untuk naik gunung/camping)” Rey menyenggol bahu kiriku dengan bahunya.

“Ayo, dong! Kemana gitu?” tambahnya sementara aku masih tetap terdiam.

***

“Hei!” Rey berseru dan memposisikan dirinya berada tepat di depanku, hingga matanya bisa melihat pandangan kosongku.

“Zee, kamu kenapa sih. enggak biasanya kamu kayak gini? nggak seru ah” Rey mulai mengeluarkan jurus manjanya agar diperhatikan olehku. Sambil membalikan badannya.

Dia bisa dibilang sahabat, teman dan saudara terdekatku saat ini. Meskipun demikian ada hal tersembunyi yang belum dia ketahui tentang diriku, tentang kehidupanku sebelum mengenalnya, tentang sebuah janji, tentang harapan yang selalu tumbuh tunas-tunasnya setiap hari, atau bahkan tentang beku nya hatiku atas sebuah rasa yang dijuluki dengan kata ‘CINTA’.  Dia hanya tahu aku adalah seorang anak yatim piatu yang satu tahun ini baru pindah dan kini tinggal dengan tanteku, karena 2 tahun lalu ayah ibuku meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang. Dia tak tahu perjuanganku selama 2 tahun itu. Yang dia tahu hanyalah satu tahun terakhir kepindahanku di kampusnya dan bergabung pula di MAPALA. Itu pun atas dasar saran dari tanteku agar aku bisa lebih banyak teman dan tidak kesepian lagi.

 

Rey si Tukang Protes 2

4 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 511

- Day 2

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

“Rey” setelah sekian menit kita berdua saling diam akhirnya aku memulai untuk membuka obrolan.

“Memangnya kamu pengen muncak ke mana?” tanyaku masih dengan sikap enggan.

“Yang deket aja, yang penting refresh gitu” jawab Rey membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum.

“Anak-anak yang lain mau?” tanyaku lagi

“Ya ayo makanya kita ngumpul dulu.” ajak Rey sambil memegang pergelangan tanganku.

“Sekarang?” tanyaku menegaskan.

“Ya engga sih.” jawab Rey tersenyum senang.

“Secepatnya yaa?” lanjut Rey mengerlingkan mata tanda merayu.

“Ya kondisikan dulu anak-anak yang lain lah, kamu tanya dulu mereka mau nggak gitu?” kataku

“Lho, kok cuma aku yang nanya emang kamu nggak mau?” tanya Rey sambil mengerutkan dahi lalu melepaskan pegangannya.

“Ya sudah kamu atur aja, aku ikut deh apa hasilnya.” jawabku memberi harapan.

Sebenarnya aku enggan menuruti ajakan Rey, karena itu sama saja akan membuka semua kenangan itu, luka itu, dan seseorang itu. Tapi, Kalau aku tidak menyetujui ajakan Rey, dia pasti akan terus nyerocos tak ada hentinya dan aku sebal kalau Rey sudah begitu. Jadi aku ikut saja meskipun dengan setengah hati.

***

Malam ini malam minggu, belum selesai aku melepaskan mukena, ponselku berdering. Aku membereskan mukenaku sebelum melihat siapa yang sedang memanggilku di ponsel. ‘Rey’ tertulis jelas di layar ponselku sedang memanggil.

“Assalamu’alaikum.” sapa ku

“Wa’alaikumsalam wr.wb ” Rey menjawab

“Iya, ada apa Rey?” tanyaku

“Zee aku udah kasih tau anak-anak untuk kumpul besok setelah pulang dari kampus. Sekitar jam 3 sore harus sudah ada di basecamp. Biar selesainya nggak kesorean.” jelas Rey

“Ooh, yaa.” jawabku malas.

“Terus aku juga sudah jelasin kalau kita bakal muncak.” lanjutnya.

“hm, iya.” jawabku masih dengan ogah-ogahan.

“Sebagian anak-anak ok katanya, jadi besok tinggal bahas sebagian yang belum ok, juga sekalian nentuin tempatnya.

“Iya.” jawabku lirih

“Zee kamu kenapa sih, dari tadi Cuma iya iya iya, ngomong apa kek gitu?” protes Rey

“Aku harus ngomong apa? kalo aku nggak setuju nanti kamu marah, giliran di iya kan protes juga. Terus aku harus gimana?” sekarang aku yang mulai protes.

“Hehe iya deh. Yang penting kamu mau ikut”.

“Ya udah makanya jangan protes mulu, nanti aku gak jadi ikut lho kalau kamu protes terus.” ancamku pada Rey

“Iya deeh iya, aku nggak protes lagi.” Rey menyerah.

“Kalau kamu nggak protes, bukan Rey namanya.” ejek ku pada Rey.

“Hmm, iya deh iya aku Rey si tukang protes” tukas Rey Pasrah.

Kami larut dalam obrolan di telfon beberapa menit. Setelah Rey memutuskan sambungannya aku bergegas ke ruang makan karena dari pagi hanya sarapan roti saja. Nafsu makanku memang sedang buruk saat ini. Kebetulan tanteku sudah pulang dari kantor tempat dia bekerja dan bersiap untuk makan malam juga.

Tanteku Affina Az Zahwa  adalah adik ibuku satu satunya. Dia seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Semenjak suaminya meninggalkannya, dia kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alhamdulillah ayah sudah mempersiapkan dana dalam bentuk asuransi pendidikan untuk kelanjutan pendidikanku dan ibuku yang seorang PNS juga mempunyai dana pensiun untuk kebutuhanku setiap hari. Jadi aku tidak terlalu merepotkan tanteku. Selain itu juga ada dana jasa raharja untuk para korban kecelakaan pesawat dari pihak maskapai penerbangan. Dan uang itu di tabung oleh tanteku untuk keperluanku yang lain.

***

 

 

Eksekusi Ide Rey

3 0

-Sarapan Kata

-KMO club Batch 41

-Kelompok 9 Aksera Daffodil

-Jumlah Kata 718

-Day 3

-Sarkat Jadi Buku

 

***

Jam sudah menunjukan pukul 3. Beberapa anggota MAPALA sudah berkumpul di basecamp kami termasuk aku dan Rey. Rey memulai acaranya, dalam struktur organisasi Rey tertera sebagai ketuanya. Namun pada saat ada kegiatan tak ada formalitas struktur itu, semua sama tidak ada ketua tidak ada wakail dst yang ada hanyalah persahabatan, saling menolong dan solidaritas. Itu point utama mereka.

“Jadi gimana nih teman-teman, kalian setuju ideku nggak. Udah lama juga kan kita nggak muncak?” kata Rey memandangi semua anggota MAPALA yang sudah berkumpul.

“Iya nih, aku juga lagi ingin refresh. Jenuh banget rasanya.” Adit menimpali

“Yang lain bagaimana?” tanya Rey

“Oke, ayoo…” seru beberapa anggota lainnya

“Ta, Fa kalian ikut kan?” tanya ku pada Lita dan Sofa

“Mm…aku belum bisa dipastikan Zee, soalnya belum pamit sama ibu sedangkan ibuku lagi di luar kota.” jawab Lita

“Lalu kamu bagaimana Fa?” tanyaku lagi pada Sofa

“Iya Zee, insyaAllah aku ikut.” jawab Sofa

“Kamu Mil?” giliran aku mengabsen Mili

“Aku ikut Zee.” jawab  Mili pasti

“Oke, jadi yang fix ikut baru ada aku, Adit, Rury, Fiko, Zeean, Sofa, Mili. Nanti kalau masih ada yang mau ikut, ngomong aja sama aku ya.” jelas Rey

“Iya Rey.” Jawab Lita

“Oke Rey…kalau gitu sekarang kita tentuin mau muncak kemana Rey?” tanya Mili

“Mm, gimana kalau Semeru? kayaknya bagus.” usul Sofa bersemangat

“Iya tuh boleh juga.” Sahut Rury

“Yang lain bagaimana, adakah usul lain?” tanya Rey

“Aku idem deeh.” jawab Fiko

“Aku juga…kemana aja ayo yang penting ada Dia.” Jawab Adit sambil tersenyum melirik ke arah Sofa dibarengi sorak dari teman yang lain. Sofa sebagai orang yang jadi focus utama salahtingkah. Zeean hanya tersenyum tipis, sedangkan Rey terbahak.

Adit memang sedang menjalankan aksi pendekatan dengan Sofa, cewek yang berparas kearaban, tomboy dan jago karate itu. Namun Sofa risih dengan aksi Adit dan kekonyolannya.

“Gimana Zee?” tanya Rey masih ekspresi tawanya menengok ke arahku.

“Aku ikut aja.” jawabku tidak bersemangat.

“Ya, kalau begitu fix ya kita ke Semeru saja?” Rey memastikan

“Oke.” sahut yang lain bersamaan

“Kita berangkat minggu depan, setelah selesai mid semester. Kalau ada yang mau nyusul kabarin aku aja ya, secepatnya tapi. Biar aku mengurus izinnya sekalian.” kata Rey memandang ke arah Lita sejurus kemudian pandangannya mengabsen satu per satu anggota MAPALA yang lain tak terkecuali Zeean. Rey dibuat bingung dengan sikap Zeean yang lebih kalem daripada biasanya. Tapi Rey enggan untuk bertanya.

“Ya, ok. Nanti kalau ibuku sudah di rumah dan kasih izin, aku buruan kabarin kamu Rey.” Lita memberi kepastian.

“Ok kalau gitu. Ya udah berati sekarang udah fix tempat dan waktunya. Anak-anak yang lain coba di calling ya guys. Biar kalau mau nyusul ikut nggak telat ya.” pinta Rey

Sambil memperhatikan Rey yang sedari tadi nyerocos mengatur ini itu, aku bergumam dalam hati

“Rey memang aneh. Ketika di depan forum atau acara, sikap nya bener-bener tegas, macho, nggak ada manja-manja nya sama sekali. Pokoknya perfect banget, tapi kenapa ketika bareng aku kok bisa gitu ya? bertolak belakang banget. Meskipun baru kurang lebih setahun deket sama aku, Rey tak pernah jaim di depanku. Rey menunjukan apa adanya dirinya. Suatu ketika dia putus dengan cewe nya, dia langsung nyamperin aku ke rumah dan dia nangis di depanku saat menceritakan semua kisahnya.” monolog Zeean dalam hati  memperhatikan Rey.

Rey adalah sahabat terdekatku selama ini. Yang tau segala keluh kesahku, tahu segala keadaan emosi dan bahkan keuanganku. Hanya satu hal yang belum Rey tahu, yaitu kehidupan asmaraku. Yang Rey tahu, aku adalah high quality jomblo, dan aku belum pernah jatuh cinta. Karena aku tak pernah cerita apapun tentang asmara dalam hidupku 2 tahun lalu yang hidup seorang diri tanpa kedua orang tua.

Entah kenapa, aku belum bisa untuk menceritakan segalanya padanya. Dan hal satu itu, karena aku tak mau dengan aku bercerita, itu sama artinya aku membuka lagi luka itu karena aku kembali mengenangnya. Orang yang selama ini berusaha aku lupakan meskipun tidak akan pernah bisa. Untuk saat ini setidaknya aku sedikit bisa berdamai dengan keadaan hatiku.

“Ya udah untuk hari ini cukup segini aja dulu, besok kalau ada hal lain lagi aku akan kabarin kalian ya guys. Sementara aku urus surat perizinan dan lain-lain dulu. Bro, bantu aku ya” kata Rey menjelaskan dan meminta bantuan dengan ke tiga temen cowonya.

Rey menutup acara nya. Karena  rumah kami searah, aku dan Rey pulang bareng. Dan ini bukan pertama kalinya kita pulang bareng.

***

 

Ikutilah Arus

2 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1032

- Day 4

- Sarkat Jadi Buku

 

***

Dijalan aku dan Rey masih ngobrol tentang rencana kita yang akan camping ke Gunung Semeru. Ketika aku dan Rey asik ngobrol di depan ada massa yang berkerumun di trotoar. Sepertinya telah terjadi kecelakaan beberapa menit lalu. Tak tahu kenapa aku ingin melihat apa yang terjadi. Ketika aku memandang kearah kerumunan orang itu, aku seperti melihat seseorang yang selama ini ada di hidupku, yang merubahku menjadi seperti sekarang ini. Seseorang yang selama ini ku cari dan ku tunggu kabarnya. Dia adalah Senja Nanda Atmaja, sejenak aku terpaku melihatnya.

“Benarkah itu Dia?” monologku dalam hati dengan pandangan masih kearahnya. Aku ragu dengan keadaan dirinya sekarang.

"Ah…itu mungkin mirip saja atau bisa jadi halusinasiku. Mana mungkin Dia ada di kota ini?” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku melamun menerka-nerka sosok itu.

“Zee…” Rey memanggilku dengan keras yang membuatku kaget.

“Mmm…iya Rey, kamu tadi bilang apa?” tanyaku langsung gugup menggerakan kepalaku mendekat ke kepala Rey untuk lebih jelas mendengar perkataannya.

“Kamu ngantuk Zee?” tanya balik Rey.

“Ooh nggak kok, itu tadi liat yang kecelakaan, jadi aku gak fokus sama kata-kata mu Rey” Jelasku

“Kirain, orang dari tadi aku nyerocos kok kamu diem aja, aku pikir kamu ngantuk.” Kata Rey memalingkan wajahnya sedikit ke arahku.

“Nggak kok…aku nggak ngantuk.” Kataku

Tak berapa lama sampailah di rumahku. Aku persilahkan Rey untuk mampir, tapi Rey bergegas pamit pulang. Sebelum melesat dengan motor nya Rey titip salam untuk tante Fina. Ketika aku masuk tante Fina sedang nonton TV sendirian karena semenjak berpisah dari suaminya tanteku belum mau untuk menikah lagi. Dan mereka pun belum di karuniai anak.

“Rey nggak mampir Zee?” tanya tante

“Nggak tan, udah sore katanya. Oh iya, Rey nitip salam tan.” Jawabku

“Wa’alaikumsalam wr.wb “ kata tante menjawab salam Rey.

“Zee mandi dulu ya tan.” pamitku sama tante sambil ngeloyor ke kamar

“Iyaa” jawab tante agak teriak karena aku udah di kamar

Ketika makan malam aku menceritakan tentang rencana Rey dengan tante Fina sekalian meminta izin. Tante Fina orang modern tidak kolot, jadi dia selalu mengizinkan kalau aku sedang ada kegiatan kampus. Yang penting satu yang harus di perhatikan mengenai izinnya, yaitu tanggung jawab. Artinya aku tidak boleh mengecewakan kepercayaannya padaku. Aku harus tanggung jawab dengan segala yang aku jalani. Dan itu hal pertama yang harus aku pegang. Karena memang itu semua demi kebaikanku juga pada akhirnya. Dan Alhamdulillah, aku selalu berusaha menjaga kepercayaan tante Fina terhadapku selama ini dan semoga selamanya. Karena dialah orang tuaku sekarang.

“Tan, tante gak papa nanti kalau Zee tinggal camping?” tanyaku sambal mengunyah makanan yang bar uku suap.

“Ya elah zee…kayak tante ini anak kecil saja kamu cemasin gitu, kan ada bibi juga dirumah?” jawab tante sambil ketawa

“Hehe…ya kali aja tan, tante kesepian gitu gak ada Zeean. Apa…tante ikut aja ayo biar rame?” ajak ku

“Hahaha…Zee…Zee…nanti temen-temen kamu bilang apa sama tante? tantenya Zeean gaul euy ikutan camping. Dikira kecentilan iya zee?” kelakar tante Fina memeragakan dengan logat gaul ala anak muda.

“He…” senyumku mengoda tante

“Kamu itu ada-ada saja Zee” tanteku balas tersenyum

“Sebenernya Zee juga agak males tan, itu sama aja membuka luka lama.” kataku lirih

“Zee, kamu nggak boleh gitu, hidup harus terus berjalan. Kalau kamu selalu menengok kebelakang, kamu akan selalu tersandung karena kamu tidak melihat apa yang ada di depan mu. Masih untung kalau tersandung coba, kalau kamu jatuh ke jurang siapa yang merasakan sakit? kamu juga kan?” kata tante menasehati dan aku hanya bisa diam.

Tante membereskan makananya. Sambil melihat ke arahku yang tak lagi melanjutkan makan, justru diam.

Tante Fina beranjak dari kursinya, kemudian berjalan kearahku dan berdiri di samping kiriku dengan tangan kanannya mengusap rambutku yang hitam legam dan berombak. Aku mulai menitikan air mata mengenang sosok itu.

“Zee, cobalah untuk mengikuti arus kehidupan yang telah Allah gariskan untukmu. Jika kamu melawan arus justru kamu yang akan terluka. Tenagamu akan habis untuk melawannya. Cobalah untuk move on, masih banyak hal indah di depan. Kamu masih muda, jangan sia-siakan masa depanmu hanya untuk meratapi nasib dan takdir yang ada di hidupmu.” Kata tante Fina menasehati.

Tante Fina mendekatkan kursi ke arahku kemudian duduk. Sejurus kemudian memegang kedua bahuku untuk berhadapan dengannya kemudian melanjutkan perkataannya tetap intens memandangku dengan pandangan iba dan sayangnya.

“Zee, tante tahu kamu begitu terluka. Tapi, kamu belum sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya terjadi karena semua belum jelas Zee. Kamu belum tahu apa alasan dibalik Senja meninggalkanmu. Bukan semata-mata tidak menepati janjinya Zee. Tante yakin pasti ada alasan kuat Senja melakukan ini, bukan tanpa alasan. Karena tante lihat Senja begitu menyayangimu Zee. Jadi untuk sekarang yang harus kamu lakukan adalah mencari tahu apa alasan itu dulu, baru kamu bisa menyimpulkan semuanya. Udah, sekarang nikmati saja liburan kalian. Rey juga baik sama kamu kan Zee, tante lihat dia juga perhatian sama kamu kok.” kata tante Fina menghapus air mataku yang menetes dipipi.

Aku pun menyeka pipiku. Tante Fina kembali duduk di kursinya.

“Rey memang baik tan, dia thau dan bisa ngertiin sikap Zee saat Zee lagi nggak mood, saat zee marah. Tapi, kadang-kadang kalau manjanya lagi datang itu tan, uh nyeblin banget. Udah gitu tukang protes lagi…hehehe” selorohku berusaha memperbaiki suasana hati

“Sifat orang memang beda-beda Zee, tante harap kamu bisa bersikap baik dengan berbagai karakter orang Zee.” sahut tante

“Tapi aneh deh tan, kalau didepan zee. Rey itu nggak jaim menunjukan sifat manja-manja nya itu, bahkan pernah tuh tan sampe nangis di depan Zee. Hehehe.” Kataku sambal tertawa mengenang tingkah lucu Rey.

“Masa sih?” sahut tante penasaran.

“Iya tan, gara-gara di putusin ceweknya.” Jelasku masih dengan tawa.

“Ya ampun, si Rey ternyata bisa mellow juga yah.” kata tante sambil tertawa.

“Tapi kalau di depan temen-temen tuh beda tan, dia berwibawa gitu. Tegas dan kelihatan nggak ada mellow-mellow nya. Rey seorang pemimpin yang baik tan.” Kataku mengakhiri tawa dan timbul kekaguman terhadap Rey.

“Kayak punya dua karakter gitu jadinya ya Zee?” Kata tanta menyimpulkan ceritaku tentang Rey.

“Hehehe, iya tan. Zee juga berfikir gitu sih.” jawabku

“Aneh si Rey itu. Ya udah kamu selesaikan makannya. Tante ke depan dulu ya.” kata tante

“Iya tan, Zee udahan kok makannya.” Sahutku.

Malam ini aku belajar satu hal dari tanteku. Walaupun begitu pahit kehidupan yang harus dia jalani, dia masih punya semangat untuk melanjutkan hidup ini.

***

Mid Semester

2 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata

- Day 5

- Sarkat Jadi Buku

 

***

Matahari bersinar cerah pagi ini. Memberikan semangat dan harapan baru lagi di hidupku. Hari ini adalah hari pertama Mid semester.

“Zee, itu Rey di depan. Nungguin kamu, mau berangkat bareng katanya.” panggil tante dari depan kamar.

“Iya tan, sebentar lagi Zee keluar.” Jawabku cepat sambal bergegas menyelesaikan persiapanku berangkat kuliah.

Tak berapa lama aku bergabung dengan mereka di ruang tamu. Setelah berpamitan aku dan Rey pun berangkat. Seperti biasa Ninja hitam jadi andalan Rey melesat membelah jalanan kota. Setelah selesai mengerjakan mid semester seperti biasanya aku dan Rey pulang bareng. Rey sudah menunggu di depan ruanganku. Dia 30 menit lebih cepat menyelesaikan ujiannya dari pada aku. Di jalan kami membahas berbagai keperluan camping.

“Udah selesai belum izinnya Rey?” tanyaku

“Udah kok Zee, tinggal kurang dikit doank. Anak-anak bagaimana ada yang nyusul nggak nih, biar sekalian nanti aku beresin ijinnya.” kata Rey

“Belum ada yang ngomong ke aku sih.” kataku

“Terus Lita gimana, jadi ngga?” tanya Rey

“Belum ngomong juga, belum pulang kali ortunya.” jawabku

“Hm, ya udah aku kasih 3 hari lagi deh buat mastiin fix nya berapa yang akan ikut muncak.” kata Rey

“Ok, nanti aku sampaikan ke temen-temen.” kataku.

***

Pagi ini mentari menyembunyikan dirinya di balik awan namun tak juga mendung, hanya berawan. Ini membuat lebih nyaman, karena cuaca tak sepanas hari kemarin. Aku dan anak-anak MAPALA sedang asik ngumpul di kantin karena satu hari lagi mid semester selesai, ada jeda libur satu mingguan. Itu artinya ide Rey akan segera terealisasi.

Lita yang tadinya belum ada kepastian ternyata bisa ikut juga. Otomatis bertambah ramai nantinya. Tapi, aku masih seperti biasa ‘setengah hati’ untuk ambil bagian dalam acara kali ini. Cuma biar Rey nggak selalu merengek-rengek minta aku untuk ikut terus. Artinya untuk ini aku harus menyiapkan hati, ya hati. Karena semua ini erat kaitannya dengan satu organ tubuh yang amat vital bagi kehidupan. Organ yang secara kasat mata mampu memberhentikan segala semangat hidup pemiliknya apabila telah terserang virus ‘patah hati’. Hati yang di dalamnya penuh dengan asa, semangat, dan kekuatan luar biasa bila telah mengenal sebuah kata ‘cinta’. Hal diluar nalar pun bisa dilakukan jika cinta itu telah merasuk kuat mendiami hati.

“Zee…kamu kenapa dari tadi bengong sii?” tanya Sofa

Sofa termasuk cewe tomboy, bisa dibilang sebelas dua belas denganku. Hidungnya yang mancung, muka ke arab-araban. Tak lantas membuat dia kemayu dengan tampang menawan yang dimilikinya. Justru dia lebih sangar dari cewe kebanyakan yang cantiknya jauh di bawahnya. Dia pun jago karate. “sebagai pelindung diri Zee, kita cewe nggak mungkin selalu bergantung sama orang lain. Ada kalanya kita sendiri dan itu diperlukan” kata Sofa dulu saat aku bertanya alasan dia ikut karate. Dan itu sangat nalar dengan kondisi di zaman modern seperti sekarang.

“Tahu tuh Fa, akhir-akhir ini entah virus apa yang nyerang dia. Sekarang kerjaannya bengong terus. Terlebih lagi pas kita liat kecelakan di jalan, makin sering deh bengongnya.” kata Rey ketus. Aku tak menjawab apapun, hanya ku simpulkan senyum tipis pada mereka

“Ada apa si zee?” tanya Mili mengulang

“Cerita aja ke kita kalau ada masalah, mungkin kita bisa bantu. Atau setidaknya bebanmu sedikit berkurang” tambah Mili

“Iya zee, kamu kenapa?” tanya Lita kemudian

“Gak papa kok guys, lagi kurang mood aja. Kalian kan tahu sendiri aku orangnya moody’an.” Jawabku masih dengan senyum  tipis.

“Jangan-jangan gara-gara kamu Rey, Zeean jadi begini.” kelakar Fiko

“Enak aja, aku juga gak tau apa-apa kenapa jadi aku yang disalahin si!” jawab Rey ketus.

“Gak papa guys, I’m okey.” Jawabku kali ini dengan senyum agak lebar untuk meyakinkan mereka memang tak ada apa-apa.

“Ya udah, kasih tau kita aja kalau ada apa-apa ya zee” pinta Sofa

“Okey Fa, Thanks ya semuanya.” kataku

Hari itu berlalu begitu saja tanpa keluar sepatah katapun tentang apa yang sebenernya aku rasakan. Lidahku kelu untuk bicara, hati bagai tersayat mengingat semuanya. Serasa amat perih, tapi otakku bekerja untuk tak lagi mengingat rentetan peristiwa yang terjadi padaku.

***

Box Kenangan

2 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 521

- Day 6

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Dalam perjalanan pulang Rey Kembali bertanya mengenai apa yang jadi alasan akhir-akhir ini aku lebih banyak diam dan bengong. Entahlah semenjak kejadian kecelakaan itu aku pun lebih sering memikirkannya. Tapi aku masih enggan untuk bercerita dan memutuskan untuk tetap diam. Rey ternyata jera juga terus-terusan bertanya dan tidak bisa membuatku menceritakan alasannya. Setelah mengantarku Rey langsung pulang, aku bergegas ke kamar untuk mencari foto lama Senja yang aku simpan.

         Cukup lama aku mencarinya, karena aku lupa dimana terakhir kali aku menyimpan foto itu. Karena terlalu sakit rasanya sehingga semua barang-barang yang bisa mengingatkanku dengannya ku simpan dengan sangat rapi. Beberapa menit aku tidak menemukannya, aku berjalan mondar-mandir dikamar sambil mengingat dimana aku meletakannya. Setelah agak lama aku ingat bahwa semuanya aku simpan dalam box kecil berwarna cokelat bergambar pemandangan langit senja di sebuah kota, dan ku simpan box itu dalam almari baju paling bawah. Aku berjalan perlahan mendekat kearah almari, ku buka pelan pintunya dan berjongkok membuka helaian baju yang tergantung hanger. Kuambil box cokelat itu menutup kembali pintu almari lalu berjalan ke tempat tidur. Aku duduk bersila diatasnya dengan box yang masih kupegang dengan kedua tanganku dan pandangan mata yang tak lepas dari box cokelat itu.

           Perlahan ku letakkan box itu diatas Kasur, membukanya dengan amat perlahan diiringi dengan degup jantung yang semakin bertalu-talu, nafas memburu dan mata yang tergenang air. Ku ambil satu foro dirinya yang sedang tersenyum lepas yang dulu kuambil diam-diam lewat ponselku dan ku cetak. Mata itu, sungguh terpancar keceriaan, kasih sayang, dan wibawa. Setetes air jatuh dari mata dan membasahi celanaku yang tak lama kemudian disusul deraian deras dari keduanya. Rasa sesak di dada sungguh terasa, lembaran file kenangan seakan terbuka helai demi helai. Ku letakkan foto itu sejurus kemudian kuambil selembar kertas yang berisi goresan tangannya.

 

Annisa, tetap semangat yah! Nisa anak yang kuat, Nisa anak yang hebat

Berusahalah untuk selalu ikhlas dengan segala takdir Allah

Karena nya kita akan lebih mengerti untuk apa kita hidup di dunia ini

Takdir akan tetap terjadi bagaimanapun kau berusaha menghindar

Ujianpun akan selalu datang dalam setiap kehidupan manusia

Ketahuilah Nisa, Allah menyayangimu amat sayang terhadapmu

Allah tidak akan memberi ujian melampaui kemampuan Nisa

Aku yakin Nisa bisa menghadapi ini semua, yang sabar ya

Aku tahu kata-kata dalam kertas ini mungkin takkan mampu membuat semuanya kembali

Tapi satu yang pasti penulisnya akan selalu ada untuk pembaca setia

Tetap tersenyum, sabar dan ikhlas

                                                  

                                                                                  Dariku

                                                                                  Senja N.A

 

 

         Seketika air mataku kembali deras mengalir, bahkan menimbulkan suara yang lebih keras. Aku mendekap erat kertas itu, begitu terasa sesak dada ini.

          “Kenapa…? kenapa kakak ninggalin aku sendirian. Kakak sendiri tahu aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa kakak tega terhadapku. Lalu mana buktinya kata-katamu ini.” monologku lirih bercampur tangis.

         “Tahukah kak, hanya kakak kekuatanku tapi kau pun pergi menjauh. Nggak ada yang bener-bener sayang sama aku. Ayah, ibu semua ninggalin aku sendirian. Kakak satu-satunya harapanku, semangatku hidup tapi tanpa sepatah katapun pergi begitu saja meninggalkanku. Lalu untuk apa aku hidup di dunia ini?” lanjutku.

         Tubuhku terasa amat letih, ku baringkan tubuhku dengan kertas dalam genggaman tangan kananku dan air mata yang masih terus menetes. Tanpa ku sadari lama kelamaan aku pun tertidur.

Bertemu Ibu

2 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 649

- Day 7

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

           Aku berjalan dalam lautan kabut tak bertepi, semuanya putih kecuali pakaianku. Aku berjalan perlahan mencari keberadaan orang-orang yang ku sayangi dan telah lama pergi meninggalkanku.

          “Ayah…Ibu…” panggilku tak henti-hentinya dengan tetap berjalan kesana-kemari

          “Ayah dimana, Bu…Ibu dimana. Nisa ikut Bu…” aku masih mencari dengan gelisah dan penuh air mata. Ku tengok kanan kiriku hanya ada hamparan luas serba putih. “Dimanakah aku” batinku berbicara.

 

          Setelah begitu lama mencari, tapi tak ada satupun orang yang ku temui aku begitu merasa putus asa. Hingga akhirnya duduk tersungkur menangis sejadi-jadinya. Berteriak begitu kencang, sampai akhirnya ku rebahkan tubuhku dalam posisi menelungkup. Tangis mereda tapi putus asa semakin menggema dalam dada.

          “Untuk apa aku hidup? Tak ada satu orang pun yang menyayangiku. Aku rindu Ibu, aku rindu Ayah. Apakah kalian tidak merindukanku? setidaknya temui aku sebentar saja.” kataku amat lemah. Beberapa menit kemudian aku menggerakkan kepalaku menoleh ke atas langit.

          “Hei, apakah Kau juga sama sekali tidak kasihan terhadapku? kenapa Kau memberiku semua ini aku tidak sanggup menjalaninya. Semua terasa sangat berat untukku. Kenapa Kau tidak matikan aku saja agar aku bisa bersama ayah dan ibuku?” protesku pada-Nya.

          Beberapa menit aku tergolek lemas tiba-tiba cahaya putih menyilaukan mataku yang kemudian semakin terang hingga membuat mataku terpejam. Sekian detik mataku terbuka, sungguh amat bahagia kurasakan karena aku melihat sosok yang kucari. Ya…Ibuku. Beliau tersenyum sangat damai, berpakaian serba putih duduk disampingku. Aku yang terperanjat kaget serta merta bangun dengan seketika mendekap tubuhnya erat sambil menangis tersedu.

          “Ibu…?” teriakku langsung medekap tubuhnya. Ibuku tak hentinya menebar senyum yang begitu damai ku rasakan.

          “Iya sayang, kamu kenapa nak? Ibu tidak suka Nisa seperti ini.” jawab ibu lembut membelai rambutku.

          “Bu, aku ingin ikut Ibu sama Ayah. Nisa takut bu, Nisa takut sendirian. Nisa nggak tau mau ngapain lagi untuk melanjutkan hidup ini. Tidak ada Ibu dan Ayah untuk semangatku hidup. Kak Senja juga pergi ninggalin Nisa Bu. Nggak ada yang sayang sama Nisa sehingga semua pergi meninggalkan Nisa.” Ocehanku tumpah ruah dalam dekapan Ibuku. Ibuku mengangkat kepalaku, mensejajarkan wajahku didepan wajanya memandangku penuh dengan iba dan sayang sejurus kemudian mencium kedua pipi serta keningku. Setelahnya kembali memandangku dengan intens tanpa meninggalkan sedikitpun senyuman di wajahnya.

          “Nisa…Nisa tidak boleh berkata seperti itu, tidak baik nak. Allah sangat sayang terhadap Nisa, makanya Nisa dikasih semua ujian ini. Karena Nisa anak yang kuat, Nisa anak yang hebat. Suatu saat nanti kamu akan mengerti mengapa Ibu memberi nama ‘Zeezee Annisa’ untukmu. Do’a dan harapan Ibu suatu hari nanti Nisa menjadi perempuan yang mempunyai keinginan kuat untuk menolong orang, baik hati, pemberi, penuh semangat serta mudah beradaptasi terhadap perubahan. Itulah makna dari nama mu nak. Jadi, berproseslah untuk semua itu.” Ibu berbicara begitu lembut dan penuh keyakinan.

          “Nisa tidak bisa Bu, Nisa takut…Nisa sendirian. Bagaimana Nisa bisa mewujudkan harapan Ibu?” tanyaku ragu dan memilih meletakkan kepalaku di pangkuan Ibu.

          “Sayang…kamu ngga sendirian, banyak orang yang sayang terhadapmu. Percayalah…suatu saat nanti kamu akan mengerti.” jawab Ibuku membelai-belai rambutku.

          “Nak, sekarang kembalilah. Sudah ada orang yang menunggumu, yang akan menemanimu mencari jawaban atas segala pertanyaanmu.” pinta Ibuku

          “Aku tidak mau Bu, aku ingin disini saja bersama Ibu!” jawabku tegas. Ibuku membangunkanku menjadi posisi duduk kembali.

          “Nak, Ibu sudah harus pergi. Disini bukan tempatmu, ada hal yang harus kamu lakukan. Berproseslah nak, Ayah dan Ibu sangat sayang sama Nisa. Jangan pernah berfikir tidak ada orang yang sayang terhadap Nisa.” pamit Ibu berdiri dari duduknya

          “Bu, Nisa masih rindu Bu…tolong jangan pergi.” pintaku. Tapi Ibu tak mau menghiraukannya tetap berjalan menjauh. Aku masih tetap memegang tangannya, tak lama tautan tangan kami pun lepas. Dan kalimat terakhir yang ibu sampaikan adalah

          “Kembalilah nak, berproseslah. Ibu akan tersenyum amat bangga Ketika melihat itu semua terjadi.” pesan terakhir Ibuku.

          Aku masih belum meronta meminta Ibu Kembali, aku sama sekali tidak mengerti semua perkataan Ibu. Akupun berhenti berteriak setelah sadar bahwa Ibuku tak mungkin kembali lagi. Tersungkur kedua kalinya hingga mataku terpejam.

         

 

Hanya Mimpi

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 537

- Day 8

- Sarkat Jadi Buku

 

****

         Tubuhku yang tadinya dingin, berangsur-angsur hangat. Suasana yang tadinya sepi mulai berubah, terdengar samar dari telingaku orang-orang berbicara dan memanggil-manggil namaku. Mataku masih enggan terbuka kesadaranku masih belum pulih sempurna, sepersekian menit kurasakan ada yang menggenggam tanganku dan memanggil namaku lembut.

          “Zee…Zeean...bangun sayang.”

          “Tante disini, tante akan selalu disampingmu sayang…ayo bangun. Rey juga ada disini.”

          “Jangan begini Zee…kasihan ayah dan ibu, pasti sedih melihatmu seperti ini.”

          Suara tanteku mulai terdengar agak jelas, tapi jauh dilubuk hati aku enggan untuk membuka mataku sungguh malas sekali rasanya. Bahkan yang terfikir olehku adalah aku ingin menyusul ayah dan ibuku saja. Rasa ini kembali hadir setelah sekian lama.

          “Zee…aku disini, aku yakin kamu kuat. Kamu cewek yang hebat Zee, ayo dong semangat. Banyak hal yang belum kita lakukan, jadilah pemenang untuk hidupmu sendiri Zee.”

          Mendengar salah seorang berbicara demikian yang kukenali sebagai suara Rey sedikit jadi pemicu semangat dalam diriku. Karena kata-kata yang dia sampaikan mirip dengan kata-kata Kak Senja yang selalu jadi penyemangatku dulu. Hatiku mulai tergerak. Setetes air mata mengalir dari metaku yang masih tertutup. Setelahnya kurasa Rey semakin memacu semangatku.

          “Menangislah Zee, keluarkanlah semua beban yang tersimpan di hatimu, menangislah…keluarkan segala sampah emosi yang kau tahan selama ini. Menangislah agar hatimu sedikit lega.”

          Kata-kata Rey lama kelamaan mempengaruhiku, sampai pada akhirnya aku menangis dengan keras. Membuang segala rasa yang sulit ku ungkap pada siapapun. Benar kata Rey, setelah aku puas menangis hatiku sedikit lega. Pelan-pelan aku membuka mataku, samar terlihat wajah tante fina yang sembab berada dibelakang Rey duduk di kasur tempatku berbaring. Sedang Rey duduk di kursi yang didekatkan ke dipanku, tangannya menggenggam erat tanganku seolah mengalirkan semangat luar biasa.

          Aku merasa bingung menengok kanan kiri, kenapa posisiku berubah. “Bukankah posisiku tadi tidak seperti ini? kenapa aku berbaring begini. Lalu dimana box cokelatku beserta foto dan kertas yang tadi ku pegang?” batinku berbicara. Rupanya tante Fina mengerti kebingunganku. Lantas dia pun menjelaskan kejadian yang telah aku alami.

          “Kamu tadi tertidur tapi kadang terdengar suara mengigau, berhenti lalu mengigau lagi, tante takut kamu kenapa-napa jadi tante telfon Rey. Box kamu sudah tante rapihkan, tante simpan. Kamu kenapa sih Zee?” tanya Tante Fina bingung. Aku terdiam, bingung mau jawab apa. Tangan Rey tiba-tiba menggenggam tanganku lebih erat seolah menegaskan “Ada aku”. Genggaman itu sontak membuatku mengalihkan pandanganku dari tante Fina yang kemudiaan menatap Rey. Rey mengangguk tegas disertai senyum mengembang di bibirnya. Aku hanya bisa memperlihatkan senyum tipisku. Aku masih belum bisa interaksi langsung, selain masih malas rasanya juga tubuhku serasa tidak bertenaga. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke tante Fina. Rey melepas genggaman tangannya dan berinisiatif untuk meminta tante Fina membuatkan teh hangat untukku. Rey sungguh seperti bisa membaca pikiranku dan mengerti apa yang aku butuhkan sekarang.

          “Tante maaf, bisa minta tolong buatkan teh manis untuk Zeean tante?” pinta rey.

          “Oh…iya Rey, sebentar tante buatkan.” balas tante Fina.

          Tante Fina berlalu ke dapur untuk membuatkan the manis untuk Zeean. Pandangan Rey mengekor kemana tante Fina Pergi, setelah keluar dari pintu kamar rey beralih menatap Zeean dengan tatapan penuh tanya tapi tak keluar kata sedikitpun. Lama Rey memandangiku, aku merasa sedikit keki jadinya. Aku mengalihkan pandanganku menatap jendela kamar. Rey menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sejurus kemudian kedua tangannya bersedekap memasang wajah serius.

***

 

Nano-nano Rasanya

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 633

- Day 9

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***         

           “Zee…kamu kenapa bisa sampai seperti ini? kamu bisa ceritakan sama aku, atau kamu nggak percaya sama aku?” Rey bertanya dengan muka cukup serius dan bisa dibilang setengah marah.

         “Apa karena sikapku yang mungkin menurutmu tidak pantas menerima curhatmu?” tanya Rey kembali sambil menampakkan wajah tak percaya nya, orang yang sudah Rey anggap sahabat tidak mau berbagi sedikitpun akan kesedihannya.

          “Bukan begitu Rey, aku masih belum bisa cerita sama kamu bukan berarti aku nggak percaya atau bahkan menganggapmu demikian. Sama sekali bukan!” jawab Zeean tegas tapi masih dengan suara lemah dan kembali meneteskan air mata. Karena aku tak mampu lagi melanjutkan perkataanku lebih baik aku  memilih diam dan menahan air mataku agar tak menetes lagi.

          Rey mendekat kembali ke arah ku, memegang sebelah kiri telapak tangan ku dengan kedua telapak tangannya. Rey merasa bersalah karena membuat ku meneteskan air mata.

          “Maaf Zee…maaf banget, bukan maksud aku membuat kamu nangis tapi aku kecewa sama kamu. Kamu punya beban sebesar ini aku sama sekali nggak tahu? aku merasa bodoh dengan diriku sendiri membiarkanmu memikul beban itu sendirian. Lalu apa gunanya aku sebagai sahabatmu? tapi aku pun berfikir aku tidak salah, karena kamu sendiri nggak pernah cerita apapun sama aku.” ucap Rey

          “Sekali lagi aku minta maaf ya Zee…aku tunggu sampai kamu siap untuk menceritakan semuanya.” Lanjut Rey.

          “It’s ok Rey.” balas Zeean lirih.

          “Kenapa kamu bisa ada disini Rey?” tanya Zeean

          “Tadi pas aku baru sampai rumah, ngga berapa lama tante Fina telfon pakai handphone kamu. Tadinya ku pikir itu kamu, eh malah tante Fina. Tante suaranya kedengeran panik banget, bilang kamu pingsan katanya tapi air matamu menetes terus. Makanya tante Fina panik, nah pas aku datang kesini badanmu lemah sekali. Entahlah aku bingung itu pingsan apa bukan.” jelas Rey

          “Sepulang kuliah kamu belum makan memang nya Zee?” tanya Rey kemudian.

          Zeean tak menjawab apapun hanya dengan gelengan kepala saja. Tak berapa lama tante Fina datang membawa secangkir teh manis Bersama sepiring nasi dan lauk-pauknya. Feeling tante Fina tepat sekali, karena aku sepulang dari kampus siang tadi belum makan dan pagi harinya hanya memakan sepotong sandwich saja. Dan aku juga mempunyai riwayat asam lambung yang cukup parah.

       “Zee, ini minum dulu teh nya.” Ucap tante Fina sambil memberikan teh nya pada ku. Sebelumnya Rey telah membantu ku untuk duduk bersandar. Aku meminum teh nya perlahan, tenggorokanku seketika menghangat hingga ke perut. Setelah menurutku cukup aku menyudahinya. Cangkir teh nya diambil Rey yang kemudian diletakkan di meja kecil dekat tempat tidurku. Tante Fina duduk berseberangan denganku dan memandangku dengan iba dengan mata sembabnya sudah berangsur menghilang.

          “Makan dulu Zee, kamu pasti belum makan siang kan?” tanya Tante Fina mngusap lembut kakiku.

          “Iya tante.” jawabku singkat.

          Rey mengambil piring nasi yang sudah diletakkan tante Fina di meja yang sama untuk meletakkan teh. Niat hati Rey ingin menyuapi Zeean. namun eean lebih dulu mencegahnya.

          “Nggak usah Rey, sini…aku bisa sendiri.” jawabku

          “Ya sudah, terserah kamu saja.” jawab Rey mempersilahkan pirinya untukku.

          Hanya beberapa suap aku masukkan, rasanya perutku sudah tak mau lagi menampung. Ku sudahi makanku. Tante Fina dan Rey masih intens memandangiku yang malas untuk makan.

          “Habiskan Zee biar tubuhmu lebih bertenaga lagi.” ucap tante Fina.

          “Bener kata tante Zee, habiskan makannya itu tinggal sedikit kok.” Ucap Rey menimpali.

          “Sedikit apaan, banyak gini juga.” kataku setengah sewot. Tante Fina langsung tertawa mendengar jawabanku begitupun Rey. Aku bergantian memandangi mereka berdua. Apa alasannya mereka bisa tertawa begitu, apa jawabanku lucu?

          “Kenapa tertawa?” tanyaku heran

      “Kamu lucu Zee…” jawab tante Fina. Aku justru makin bingung kenapa dibilang lucu. Rey mengerti ekspresi kebingunganku. Dengan tersenyum Rey menjelaskannya.

         “Zeean ku sudah kembali, kamu sudah bisa sewot gitu.” Jelas Rey. Seketika pipiku memerah, aku merasa malu setelah tahu alasan mereka tertawa. Ekspresiku terlihat oleh mereka, tante Fina kembali tertawa sedang Rey hanya tersenyum. Hari ini berlalu dengan rasa nano-nano.

***

 

Biar Waktu Yang Menjawab

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 683

- Day 10

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

Pagi ini udara begitu cerah, mid semester telah selesai jadi aku masih bisa bermalas-malasan tiduran dikamar. Setelah kejadian kemarin siang aku masih mencerna apa yang Ibu katakan dan sampai pagi ini pun aku belum bertanya apa-apa kepada tante Fina tentang kejadian kemarin siang. Apa saja yang terjadi, lalu kenapa tante Fina sampai berpikir untuk menelfon Rey dan kemana tante Fina menyimpan box itu. Aku masih penasaran siapa orang yang dimaksud Ibuku itu? sehingga yang lainnya tidak aku hiraukan.

“Berdamai? apa maksudnya. Lalu berproses, berproses untuk apa? argh…kenapa penuh teka-teki sekali sih!” ucapku dalam hati sambil bangun dari posisi tidur dan duduk dengan rasa malas. Kulipat kedua kakiku ke posisi bersila, dengan tangan kananku menyangga dagu. Melihat dengan pandangan kosong ke arah jendela. Tante Fina menetok pintu kamarku sambil memanggilku.

“Zee…kamu sudah bangun? ini tante bawain susu sama sandwich kesukaanmu.” sapa tante Fina.

“Iya tante, aku sudah bangun. sebentar aku bukain kuncinya dulu.” jawabku cepat sambil bangun dan berjalan setengah berlari ke arah pintu. Ketika pintu terbuka tante Fina menyunggingkan senyumnya, lalu masuk mengikutiku meletakkan nampan isi susu dan sandwich di meja kecil dekat tempat tidurku. Sedangkan aku langsung duduk diatas kasur lagi.

“Bagaimana keadaan kamu Zee… sudah enakan?” tanya tante Fina sambil membelai rambutku dalam posisi tante Fina berdiri berhadapan denganku. Aku tersenyum menerima semua perlakuan dan perhatian tante Fina.

“Sudah kok tan, aku sudah enakan. Terimakasih ya tan, sudah repot-repot bawain sarapan ke kamar.” jawabku memandang tane Fina dengan teduh. Aku merasa beruntung rasanya masih ada tante Fina yang memperhatikan dan menyayangiku, jjika tante Fina ngga ada entahlah nasibku seperti apa sekarang.

Tante Fina duduk disampingku, aku merubah posisiku untuk berhadapan dengannya. Tante Fina menggenggam tanganku dengan tangan kirinya.

“Zee…sebenarnya apa yang terjadi sama kamu kemarin? tante bingung, tante panik banget saat tante melihat keadaanmu. Untung saja tante pulang lebih awal kalau sampai sore bagaimana keadaanmu coba. Ya Allah Zee, tante takut. Tante takut terjadi apa-apa sama kamu. Tante takut depresi kamu kambuh lagi, jangan kayak gitu lagi ya Zee. Kalau perlu buang saja semua benda-benda yang bisa mengingatkanmu dengan Senja. Cuma kamu yang tante punya Zee.” ucap tante Fina yang kemudian memelukku dan menghujani punggungku dengan air matanya.

Aku membelai punggung tante Fina agar memberikan efek tenang padanya. Aku belum bicara apapun menjawab semua kata-katanya. Setelah tante Fina lebih tenang dan melepaskan pelukannya. Giliran aku menggenggam erat kedua tangannya menguatkan tante Fina bahwa aku baik-baik saja.

“Tante, aku ngga papa. Aku baik-baik saja kok tan. Iya memang kemarin hampir kambuh lagi tapi entahlah tan. Aku sendiri merasa aneh dengan kejadian kemarin. Tante tahu ngga, kemarin tuh aku mimpi Ibu tan. Singkatnya Ibu ngomong katanya akan ada seseorang yang menemani aku untuk mencari semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku selama ini. dan Ibu berpesan supaya aku berdamai dengan keadaan dan berproses. Aku bingung tan, dengann semua yang dibicarakan Ibu. Kira-kira siapa orang itu tan?” jelasku.

Tante Fina mendengar dengan seksama apa yang aku ceritakan dan mengangguk-anggukan kepalanya seolah sudah mengerti apa yang dimaksud Ibuku. Semasa hidup Ibu, mereka berdua memang sangat dekat. Ibu sebagai tempat curhat tanteku. Makanya saat Ibu sudah tiada tan pun sangat merasa kehilangan.

“Kenapa tan, tante tahu siapa orang itu. Siapa tan, siapa?” tanyaku penasaran sambil memegang lengan atas tanteku sambil menggerak-gerakannya.

“Ya ampun Zee, semangat banget ingin tahu orangnya sih. Tante juga nggak tahu Zee…” balas tante. Seketika aku menyudahi aksi ku.

“Lah kok tadi tante manggut-manggut gitu? aku kira tante sudah tahu siapa orangnya.” ucapku

“Tadi tante mengangguk itu, tante paham dengan kata-kata Ibumu. Maksud Ibumu kamu itu harus berdamai dengan keadaan itu adalah kamu harus bisa menerima setiap keadaanmu.Perubahan-perubahan apapun yang terjadi dihidupmu, yang membawa dan menghadirkan rasa sedih, kehilangan, marah, hampa serta yang lainnya. Hingga tahap akhirnya kamu bisa ikhlas dengan apapun keadaanmu. Dan untuk itu kamu akan berproses, dalam prosesnya nanti kamu akan didampingi oleh seseorang. Seseorang yang bisa dan mampu mengarahkan, yang mampu menunjukkan semua hal agar kamu bisa mencapai proses berdamai mu dengan keadaan.” jelas tante Fina.

Aku paham sekarang dengan apa perkataan Ibuku kemarin. Tapi aku masih pesimis dengan diriku sendiri aku bisa melakukannya. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

 

Persiapan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 681

- Day 11

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

Setelah berbincang cukup lama tante Fina berpamitan untuk bersiap pergi ke kantor tempatnya bekerja. Sedangkan aku memilih untuk mandi dan kemudian menyantap menu sarapan yang sudah dibuatkan oleh tante Fina, di kursi yang tersedia di balkon teras kamarku. Satu porsi sandwich telah ku habiskan. Belum selesai aku meminum susu ponselku berdering, aku meletakkan gelas di meja dan kemudian mengambil handphoneku yang tergeletak di Kasur.

Setelah kulihat ada nama Sofa di layar aku langsung menjawab telfonnya.

“Hallo, Assalamu’alaikum…Sofa?” sapa ku

“Hallo, wa’alaikumsalam wr.wb Zee. Kamu lagi ngapain Zee…bagaimana keadaan kamu? semalem Rey kasih kabar aku, katanya kamu sakit dan belum pasti bisa ikut apa engga. Kamu sakit apa sih Zee?” tanya Sofa beruntun

“Dasar orang itu, ngapain sih pake acara kasih tau ke Sofa segala malu kan jadinya kalua sampai ketahuan” kata ku membatin

“Mm…nggak papa kok Fa. Aku baik-baik saja, mm…ini aku…aku cuma pusing aja.” jelasku agak gugup takut dan malu kalau sampai ada orang lain yang tahu keadaanku.

“Oh…ku kira kenapa, dari nada bicaranya Rey khawatir gitu soalnya jadi kepikiran juga.” balas Sofa.

“Gak papa kok Fa, aku baik kok.” kataku meyakinkan.

“Oh iya, besok bisa temenin aku nggak Zee, cari perlengkapan yang kurang. Jaketku juga kurang tebal deh rasanya, apalagi sekarang kan musim dingin takut hipotermia.” ajak Sofa

“Boleh Fa, ajak yang lain sekalian biar rame.” jawabku menerima ajakan Sofa

“Ok deh, nanti coba aku telfon. Besok aku kasih kabar lagi ya.” kata Sofa

“Siap…aku tunggu kabarnya.” balasku

“Ya udah ya Zee, kamu istirahat aja yang cukup biar nanti pas muncak fit.” pamit Sofa

“Iya Fa, makasih ya perhatiannya…” balasku

“Sama -sama Zee, aku juga makasih kamu mau temenin aku besok. Ya udah ya Assalamu’alaikum.” pamit Sofa kembali

“Wa’alaikumsalam.” jawabku.

Ku letakkan kembali ponselku di Kasur, kembali menuju balkon untuk menghabiskan sarapanku. Ketika hari menjelang siang aku mulai mempersiapkan perbekalanku sebagai langkah awal aku membuat list barang-barang apa saja yang akan aku bawa. Berkali-kali aku mengeceknya supaya tidak ada yang tertinggal, minimal barang yang vital sudah tercover seperti jaket, pakaian hangat, sepatu, sleeping bag, matras, senter, jas hujan. Setelah dirasa cukup aku mencari satu persatu barang yang terdapat di list, ku taruh diatas Kasur dan mencontreng list. Aku mempersiapkan lebih awal karena aku tipe orang yang perfect sehingga sebisa mungkin semua sesuai yang direncanakan, kalau misalnya dilapangan tak sempurna setidaknya tidak terlampau jauh dari persiapan awal karena di gunung kadang menemukan hal yang di luar rencana.

Besok rencananya aku akan menemani Sofa untuk mencari perlengkapan yang diperlukan, hal itu juga bisa aku gunakan untuk melengkapi kekuranganku juga. Rasanya sungguh berbeda, kali ini tidak se-semangat dulu diawal pertama aku bergabung dengan kelompok pecinta alam di SMA. Saat pertama kali pergi camping dengan kak Senja. Darinya-lah aku bisa memahami arti pentingnya kelestarian alam bagi kita, dan benar apa yang dia katakan ada kenikmatan tersendiri ketika kita berdekatan dengan alam. Apa yang kita berikan terhadap alam, alam pun akan meresponnya. Sebagai contoh, ketika kita seenaknya sendiri menggunduli hutan tanpa penanaman kembali, hutan pun akan memberikan feedback atas apa yang kita berikan pada mereka berupa tanah longsor dan banjir. Tapi, sebaliknya jika kita memberi perhatian lebih terhadap alam contohnya, mengadakan penanaman 1.000 pohon maka respon alam terhadap kita juga berbeda. Kita akan merasakan efek lebih sejuk, dan juga terhindar dari banjir serta tanah longsor.

Banyak sekali kenikmatan-kenikmatan lain yang kurasakan dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang paling utama adalah kita bisa ber-Tafakur akan kebesaran Allah. Tafakur adalah ibadah yang dilakukan melalui pikiran dengan merenungi tanda kebesaran Allah. Selain itu, tafakur adalah salah satu hobi Rassullullah SAW karena dapat lebih mengenal Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Orang-orang yang mengingati Allah, ketika berdiri dan duduk, ketika berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi, sambil berkata: Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan ini dengan sia-sia.” (QS Al-Imran: 191).

Menurut para ulama, tafakur merupakan cara beribadah dalam diam yang dianggap lebih utama dari Tahajjud. Para Sufi juga mengatakan bahwa tafakur merupakan cara manusia untuk mendapatkan ilmu tentang Allah SWT yang hakiki. (Dikutip dari orami.co.id Mengenal Tafakur, Cara Meningkatkan Kecintaan Pada Allah SWT Dengan Melihat Ciptaannya, MasyaAllah!

***

 

Siapakah Kita ?

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 694

- Day 12

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

          Perlengkapan yang sudah ku siapkan dan ku contreng dalam list perbekalan yang akan dibawa ku masukkan ke dalam tas ranselku. Baju aku susun menurut prioritas, yang akan dipakai diawal ku siapkan di paling atas, begitu juga dengan perlengkapan yang lainnya. Perlengkapan yang akan sering digunakan ku letakkan di bagian terdepan ransel sehingga memudahkan aksesku untuk mengambilnya.

          Meskipun aku tipe orang yang perfect tapi aku tidak ribed seperti seorang anak cewek pada umumnya dalam berpenampilan. Sifat perfectku lebih ke actionnya atau ke tindakannya. Ingin selalu membuat sesuatu dengan baik, minim kesalahan dan minim masalah. Tapi, sifat inilah yangn kadang menyusahkanku sendiri karena jika sedikit saja melakukan kesalahan pasti akan merasakan panic attact atau cemas berlebih yang ujung-ujungnya sangat mengganggu psikisku sendiri.

          Sebenarnya aku lumayan mengenal siapa dan seperti apa diriku sendiri, namun untuk merubah karakter yang dimiliki itu bukanlah hal yang mudah. Perlu proses yang panjang untuk menemukan jati diri kita sendiri. Untuk dapat mengetahui siapa dan bagaimana diri kita yang sebenarnya, kita bisa melakukan langkah awal yaitu dengan introspeksi diri. Tulis kelebihan-kelebihan yang kita miliki apa saja, lalu di sampingnya tulis juga kekurangan-kekurangan yang menurutmu ada di dalam dirimu. Sering-seringlah kamu ingat tulisan-tulisan itu.

          Yang namanya koreksi diri itu kadang tidak semudah yang kita bayangkan juga tidak semudah ketika mengoreksi orang lain, karena didalam diri kita terdapat sifat ego yang akan selalu mempengaruhi cara berfikir kita. Dan pada dasarnya setiap manusia mempunyai ego yang selalu menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, yang paling baik, dan paling-paling lainnya. Sehingga ini akan menghambat introspeksi itu sendiri.

        Sebagai contoh, menurut kita selama introspeksi diri, kita itu tergolong orang yang terbuka dan pemaaf. Namun, orang lain melihat dan berpendapat bahwa kamu memiliki sifat yang susah untuk menerima kritikan, menerima saran serta pendendam. Karena ada sifat ego dalam dirimu pasti kamu tidak terima dibilang seperti itu. Bahkan kamu marah dengan orang yang mengutarakan penilaiannya itu. Ini yang akan menghambat proses pencarian siapa dan bagaimana diri kamu.

          Setelah kamu menemukan kebenaran pendapat orang itu tentang dirimu dan kamu menerima pendapatnya, juga membenarkannya bahwa kamu mempunyai sifat yang demikian, berarti kamu satu tahap bisa mengenal siapa jati diri kamu yang sebenarnya. Dari situ kita bisa belajar treatmen apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan se-minimal mungkin sifat yang buruk itu timbul dalam diri kita. Kita tidak bisa menghilangkan atau bahkan merubah sifat itu, tapi kita bisa meminimalisirnya.

          Kalau aku sendiri awalnya tidak menyadari bahwa aku mempunyai sifat cemas berlebihan. Aku bisa mengetahui hal itu dari temanku semenjak kejadian di SMA dulu. Saat itu aku tercatat sebagai panitia acara PENSI di sekolah, aku mendapat tugas dari seorang guru untuk membuat id card untuk para tamu undangan khusus sejumlah 50 orang. Otakku langsung berpikir keras, tamu undangan khusus itu merupakan tamu terhormat untuk pihak sekolah. Aku harus mengerjakan tugas ini dengan baik dan sebisa mungkin untuk perfect. Aku kerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh dan sesempurna mungkin. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, tugasku selesai dan menurutku perfect. Tetapi tidak terduga ketika aku sedang berjalan di lorong kelas menuju ruang OSIS ada temanku yang kejar-kejaran dan menyenggol teman didepanku yang berpapasan denganku, kebetulan temanku itu sedang membawa minuman bersoda berwarna cokelat dan tumpah ke arahku mengenai id card yang ada dalam genggamanku.

            Id card yang ku pegang paling atas basah mengenai kertas yang ada didalamnya. Aku seketika panik, karena tidak lama lagi kartu itu sudah harus diserahkan ke panitia untuk segera didistribusikan ke alamat yang di tuju. Aku segera berbalik arah menuju kelas dan meminta temanku Rini untuk menemaniku membetulkan Id card itu. Terlihat sekali aku cemas dalam pandangan Rini, yang kurasakan saat itu adalah aku takut jika sampai dimarahi guru gara-gara hal ini. Saat itu aku tidak sadar dan belum mengerti bahwa aku punya sifat cemas yang berlebih. Tapi, temanku yang menilai bahwa aku terlalu cemas untuk hal seperti itu.

          Sebenarnya untuk kejadian seperti ini ada baiknya laporkan saja kepada panitia apa yang terjadi, mungkin saja ada solusi atau cara untuk mengatasi hal itu. Sehingga kita tidak lagi merasa cemas. Namun karena aku juga punya sifat yang perfect sehingga aku tidak berani melapor karena nanti aku bisa malu jika dimarahi guru. Jadilah rasa cemas digabung dengan sifat yang ingin selalu perfect menimbulkan sikap cemas berlebih.

Tahap Awal

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 568

- Day 13

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

          Hari ini mentari cukup redup, namun bukan mendung. Kondisi ini mempermudah aku dan Sofa untuk mencari barang yang kami perlukan. Setelah semuanya lengkap kami pulang. Kami hanya berdua saja, karena teman-teman yang lain persiapannya sudah lengkap. Aku merasakan hal yang aneh setelah kejadian mimpi bertemu ibu waktu itu, kenapa aku merasa ingin berbagi mengenai apa yang aku rasakan selama ini, meminta cara bagaimana aku keluar dari ini semua dan merasakan ketenangan hakiki.

           Aku termenung seorang diri duduk di balkon depan kamarku, memandang hamparan langit yang berawan cerah sore itu. burung-burung bergerombol terbang ke satu arah. Pikiranku dibawa menyelami kegiatan siang tadi ketika pergi bersama Sofa. Di sepanjang kami berburu perlengkapan, aku dan Sofa berbincang mengenai banyak hal. Sampai pada titik dimana aku mulai ingin untuk menceritakan kisah hidupku.

          “Fa, mm…aku mau tanya boleh?” tanyaku ketika Sofa sedang memilih-milih jaket sesuai keinginannya. Menghentikan aksinya memilah-milah jajaran jaket yang tergantung di depannya kemudian menggenggam tanganku.

          “Ya ampun Zee, kamu tuh yah mau tanya pakai izin segala sih. Tanya ya tanya aja Zee. Kayak orang lain saja. Memang mau tanya apa sih?” Sofa balik bertanya

          “Kalau suatu saat aku ingin curhat ke kamu boleh?” tanyaku kembali.

          Sofa sedikit kaget mendengar pertanyaan ku tapi tak begitu menampakkan rasa kagetnya didepan ku, dari yang tadinya hanya menggenggam tangan, Sofa memegang pundak ku dan memberi sentuhan lembut.

          “Zee…kalau kamu mau curhat atau cerita apapun aku siap jadi pendengarnya, kapanpun kamu siap, ketika kamu butuh aku hubungi aku aja ya Zee. InsyaAllah aku akan dengan senang hati menjadi pendengar untukmu. Jika suatu saat kamu butuh bantuanku dan memungkinkan aku untuk membantumu pasti akan aku bantu Zee.” ucap Sofa yang amat melegakan ku.

          Aku merasa heran, kenapa aku demikian. Ini adalah kali pertama aku ingin bercerita pada seseorang, sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali untuk berbagi hal apapun dengan orang lain kecuali keluargaku. Rasanya hatiku sudah beku, tak ada yang bisa mencairkannya lagi. Dan aku menganggap orang lain itu tidak penting dan tidak perlu tahu apapun.

           “Kenapa ya, kok aku bisa gini yah?” kataku membatin

          Aku merasakan Sofa itu berbeda dari teman-temanku yang lainnya, dia dewasa dan sepertinya berpandangan luas akan suatu hal.

          “Apakah Sofa, orang yang Ibuku maksud?” gumamku

          “Ibu kenapa tidak menceritakan ciri-cirinya sih, biar aku gampang mengenalinya.” lanjutku

          “Pusing ah mikirin itu melulu. Bodo amat deh siapa orangnya.” ucapku kesal

          Aku masuk kedalam kamar, tak berapa lama ada pesan masuk dari Rey.

 

Rey

Zee bagaimana persiapanmu

Sudah lengkapkah

Aku

Udah lengkap Rey

Rey

Lusa kumpul di mana yah kira-kira biar berangkatnya enak

Aku

Terserah aku ikut aja Rey

Rey

Kamu mah gitu, apa-apa terserah

Pasrah banget kaya nggak punya pegangan aja

 

          Aku terdiam tak langsung membalas pesan Rey. Ada benarnya juga sih omongan Rey. Tapi aku masih tidak mau menanggapi hal itu.

Rey

Woi, balas dong

Ye malah ngilang

Aku

Aku ngga ngilang

Kenapa sih

Rey

Ya itu ayo dong usul dimana gitu

Jangan cuma terserah

          Sudah katam sekali dengan sifat Rey ini, yang tukang Protes. Jadi, mending aku yang ngalah deh.

Aku

Kalau dirumahku gimana

Lumayan lebar juga kan tempat parkirnya

Rey

Ok lah kalau begitu

Aku

Dah puas

Rey

Puas lagi kalau kamu mau cerita soal kejadian tempo hari

Aku

Nggak usah di bahas

Nggak penting

Rey

Mungkin menurutmu nggak penting tapi kalau disitu ada jawaban soal-soal dalam kehidupanmu bagaimana Zee

Aku

Tau ah

Rey

Ye ni orang

Aku

Udah ya aku mau mandi

Rey

Ya udah situ mandi

***

 

Keberangkatan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 786

- Day 14

- Sarkat Jadi Buku

   

       

***

           Akhirnya waktu telah membawaku ke dalam hal yang aku hindari selama ini tapi tak kupungkiri aku tak bisa menjauh dari kegiatan ini. Karena aku sudah terlalu cinta dengan segala hal tentang gunung dan pantai. Cinta pada damainya suara gemericik aliran sungai di gunung, merdu suara burung liar bersendau gurau, deburan ombak memecah karang, gemerisik pasir terkena angin, memberikan efek healing luar biasa untuk jiwaku.

            Waktu yang ditentukan untuk camping telah tiba, beberapa peserta camping sudah berdatangan dirumahku. Halaman rumah tante memang cukup luas sehingga memudahkan kami sebagai titik kumpul. Aku, Rury, Fiko, Sofa, Lita, dan Mili sudah berada di ruang tamu. Kami masih menunggu beberapa teman lagi yang belum datang termasuk Rey. Aku heran kenapa Rey dan Adit belum juga datang. Teman yang lainpun saling bertanya kenapa mereka belum datang.

            “Zee, Rey kenapa kok malah belum datang sih? Nanti keburu siang dong.” Ucap Rury

            “Si Adit juga kenapa lagi tuh bocah, nggak ngabarin apa-apa juga sama aku.” timpal Fiko

            “Coba aja di telfon biar tau dimana.” ucap Mili

            “Iya bener tuh telfon aja.”

            “Coba Zee telfon Rey dimana.” perintah Sofa

            “Aku telfon Adit deh.” sergah Fiko

            “Aku coba telfon ya.” ucapku

            Beberapa kali ku telfon taka da jawaban satu pun dari Rey, begitupun juga dengan Fiko, Adit tak menjawab telfonnya.

            “Nggak diangkat nih.” ucap Fiko

            “Sama, Rey juga nggak jawab telfonku.” Ucapku

            “Terus gimana dong ini, kalau kita tungguin kira-kira dating nggak mereka?” tanya Lita

            “Lagi dijalan mungkin.” ucap Sofa.

            Sofa memang selalu berpikiran positif dalam setiap hal. Makanya aku melihat Sofa cocok untuk jadi tempat curhatku. Setidaknya sedikit mengurangi beban, pikirku. Dan apa yang Sofa katakan memang menjadi kenyataan. Rey dan Adit datang bersamaan karena ternyata mereka berangkat bareng-bareng.

             “Maaf ya teman-teman, kami datang telat. Ada yang mesti aku urus dulu dan Adit juga tuh lama banget kaya mau ke pluto aja, mandinya 2 jam.

             “Dih enak aja kamu Rey, jangan salah kebersihan itu sebagian dari iman. Kalau badan kita bersih berarti iman kita bersih.” ucap Adit menjelaskan sambil cengengesan

             “Kan aku nggak mau nanti manisku kabur gara-gara aku bau badan dong.” Seloroh Adit

             “Kayak mau aja sama kamu Dit, manis-manis gula kali manis.” sindir Fiko puas meledek Adit

             “Mau lah, masa nggak. Bukan begitu bebeb Sofa?” kembali Adit berseloroh memancing tawa seisi ruangan. Si empunya nama yang jadi incaran Adit menampakkan muka garangnya pada Adit. Alhasil menimbulkan tawa lebih ramai lagi serta ledekan untuk Adit dari yang lain.

             “Hahaha…Dit, Dit…tuh udah dikasih sambutan hangat loh dari Sofa.” ledek Mili dengan tawa khas nya.

             “Ayang embeb Sofa, jangan gitu donk. Kasihan atuh a’a Adit.” Rury menimpali. Aku hanya tertawa tanpa ingin ikut meledek Adit dan Sofa karena aku tahu posisi Sofa bagaimana. Ketika ku lihat Rey yang berdiri disampingku, dia hanya tersenyum seperti tak berniat untuk ikut meledek Adit juga, wajahnya tak seceria biasanya. Aku heran kenapa dia hari ini agak berbeda. Ku coba beranikan bertanya ada apakah hingga merubah moodnya. Dalam suasana yang lain masih saling meledek Adit dan Sofa

             “Kamu kenapa Rey, kayaknya ada yang dipikirkan?” tanyaku pada Rey

             “Ha, Mm…nggak papa kok Zee. Ini tadi ada sedikit hal yang membuat aku kaget aja.” jelas Rey

             “Apa memang?” tanyaku kembali

             “Kakakku, sekian lama nggak ketemu tadi pagi nelfon dan kasih tau kalau dia habis kecelakaan dan kakinya patah. Jadi sekarang ini hanya bisa duduk di kursi roda saja. Aku masih kaget aja denger kabar ini Zee.” jelas Rey

             “Lho, bukannya kamu cuma dua bersaudara ya, dan itu adik bukan kakak?” tanyaku bingung

             “Iya Zee, ini kakak angkatku kok bukan kakak kandung. Aku yang sudah anggap dia sebagai kakak karena berkat dia aku bisa menjadi seseorang seperti sekarang.” jelas Adit padaku

             “Udah Zee aku tahu kamu penasaran, hehe…sekarang siap-siap aja yuk tuh mobilnya udah nunggu. Tenang…nggak akan merubah mood aku kok, aku cuma kaget aja tadi.” Rey dengan tenang menjelaskan dan kembali ke mood ceria lagi.

              Aku hanya menganggukan kepala sambil tersenyum, heran dengan kepribadian Rey. Kok bisa secepat itu move on dari yang tadinya nggak mood kembali ceria seperti biasanya seperti taka da apapun yang terjadi.

              “Teman-teman, udahan becandanya. Yuk kita siap-siap berangkat aja, cek barang-barang kalian jangan sampai ketinggalan." komando Rey

              Mereka semua bersiap dan berpamitan dengan tante Fina yang sengaja berangkat siang karena ingin melihat keberangkatan Zeean dan teman-temannya. Mobil mini bus tour and travel yang mereka sewa untuk mengantar mereka telah penuh dengan barang-barang yang di tata di bagasi ada pula yang di bawa ke depan karena tidak muat di belakang. Rey duduk di paling depan bersama pak supir. Zeean, Sofa, Mili dan Lita duduk di bagian belakang supir. Sedangkan cowok-cowok di belakang lagi beserta tas-tas ransel yang tertata rapi. Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah Zeean. Perjalanan menuju posko pendakian kurang lebih 12 jam.

***

Ranu Pani

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 777

- Day 15

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Aku dan rombongan berangkat pukul 5 sore, sampai di pasar tumpang pukul 7 pagi. Mini bus yang kami sewa hanya bisa mengantar kami sampai di Pasar Tumpang. Pasar tumpang merupakan titik awal berkumpulnya para pendaki pada umumnya, di tempat ini tersedia banyak jeep yang siap untuk di sewa dan mengantarkan para pendaki ke Pos Ranu Pani, yang merupakan titik awal pendakian. Selain itu, di sekitar Pasar Tumpang juga banyak terdapat klinik-klinik sebagai tempat cek kesehatan untuk pembuatan surat keterangan sehat sebagai salah satu prosedur yang harus dijalani para pendaki untuk bisa lolos pendakian ataukah tidak. Kami berdelapan turun dari mini bus, karena dirasa masih cukup pagi sehingga aku dan rombongan mencari tempat untuk mandi dan sarapan, kemudian lanjut mencari klinik terdekat untuk melakukan cek kesehatan. Setelah berjalan sekitar 50 m, kami menemukan satu klinik, tanpa membuang waktu kami secara bergantian melakukan cek kesehatan.

            “Sini Zee tasnya taruh sini saja, udah gih kamu cek duluan aja.” perintah Rey padaku

            “Temen-temen, Ladies First ya. Biar yang cewek-cewek dulu aja yang cek, kita nanti gantian.” lanjut Rey memerintah yang lain

            “Ok, Rey.” balas Fiko

            “Iya, siap.” balas Adit

            “Ok…” balas Rury

            Setelah para cewek selesai tiba giliran para cowok untuk Check Up. Aku masih belum begitu semangat melakukan perjalanan ini. mungkin bagi Rey sikapku jelas terlihat karena apapun aktivitas yang kulakukan tak luput dari pandangannya yang kadang membuatku tersenyum keki. Begitu keluar dari ruang check up pandangan Rey langsung menuju kearahku. Tak ada senyum terpancar di wajahnya, tegas dan bisa dibilang misterius. Ia berjalan dan duduk disampingku sambil menunggu yang lain selesai. Sofa, Mili, dan Lita sibuk dengan ponselnya masing-masing.

            “Kamu kenapa Zee, kayaknya nggak mood banget ikutan muncak. Apa ada masalah?” tanya Rey serius, kali ini Rey amat berbeda dengan biasanya.

            “Apakah pengaruh kabar dari kakaknya itu bisa merubah dia jadi kayak gini ya? beda banget cara ngomong dia kali ini.” kataku membatin

            “Mm, nggak Rey nggak papa kok. Cuma keinget sesuatu aja.” jelasku

             Rey memandang dengan tatapan lebih tajam kearahku. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku yang tak biasa dipandang dengan pandangan demikian dan baru pertama kali ini jadi makin bingung.

            “Ada yang salah denganku?” tanyaku sambil mellihat tampilanku dari atas ke bawah.

            “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku Zee?” tanya Rey lembut yang membuatku bengong dengan sikapnya kali ini.

            “Haha, ah…ngarang aja kamu sih Rey. Aku nggak menyembunyikan apapun dari kamu kok. Kamu kenapa sih?” jawabku dengan ekspresi kubuat lebih ceria menutupi gemuruh dalam dadaku.

            “Aku tunggu hingga kamu siap untuk cerita Zee.” ucap Rey tegas dan pasti

            “Dih Rey, apaan deh. Kamu kesambet setan apa coba, jadi berubah kayak gini?” elak ku yang ku buat agar Rey tidak lagi membahas sikapku

            “Kalian berdua kenapa sih dari ku denger-denger debat terus.” timpal Sofa yang berjalan mendekat ke arahku dan Rey. Kata-kata Sofa yang agak keras membuat Lita dan Mili menoleh ke arahku juga. Aku celingukan malu rasanya.

            “Nggak papa kok Fa, biasa nih Rey suka gitu becandanya.” kataku ngeles, semnetara Rey tak berkata apapun hanya diam denngan pandangan dingin. Sofa pun terdiam melihat kearahku kemudian kearah Rey.

             Sejauh ini aku mengenal Rey baru kali ini aku melihat Rey berubah 180 derajat. Bertolak belakang sekali dengan biasanya. Feelingku benar, Rey seolah mempunyai k2 kepribadian. Kesimpulan finalku atas sikap Rey kali ini.

             “Eh, bebeb Sofa. Nungguin aku ya?” kelakar Adit begitu keluar dari ruangan Check Up langsung melihat Sofa. Yang membuat suasana lucu menyeruak masuk, Lita dan Mili seketika tertawa lebar. Rey hanya tersenyum tipis, akupun demikian. Sofa yang sebal langsung berbalik dan kembali ketempat duduknya semula.

              “Udah selesai semua bro?” tanya Rey pada ketiga temen cowonya yang baru keluar dari ruangan.

              “Udah.” Jawab mereka serentak

              “Ok. Kalau gitu kita lanjutkan perjalanan ya.” komando Rey

              “Ok.” jawab mereka bersahutan

              Dari pasar tumpang kami melanjutkan perjalanan ke titik awal pendakian dan merupakan pos terakhir untuk melakukan pemeriksaan yaitu Ranu Pani. Dari pasar tumpang menuju Ranu Pani memakan waktu sekitar 2-3 jam menggunakan Jeep. Aku dan rombongan sampai di Ranu Pani pukul 11 siang, rombonganku melakukan pemeriksaan dan pengecekan peralatan, lanjut makan siang dan shalat. Setelah semua persiapan selesai kami berkumpul kembali.

               “Gimana teman-teman, perlengkapan kalian aman?” tanya Rey sebagai leader rombongan

               “Sip, aman Rey.” jawab Rury

               “Aman donk…” jawab Adit

               “Aman Rey…” jawab Lita dan Mili

              “Aman kok.” jawab Fiko

            Aku yang hanya tersenyum tanpa mnjawab pertanyaan Rey membuat Rey menegaskan kembali.

            “Zee…?” tanya Rey

            “Aman.” jawabku sambil menganggukan kepalaku tanda memberi penegasan

            “Ok, siap eksekusi?” tanya Rey kembali

            “Siap.” jawab semua serentak

            “Sebelum berangkat marilah kita berdoa dahulu, agar perjalanan kita nanti lancar tak ada rintangan yang berarti dan target sampai di Ranu Kumbolo pukul 4-5 sore biar kita bisa pasang tenda dan bermalam disana. Berdoa dimulai…selesai.” jelas Rey

            ***

 

Berawal Dari Kecelakaan Pesawat

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 115

- Day 16

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

             Setelah melalui perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan akhirnya pukul 16.00 WIB, aku dan rombongan sampai di pos 4 di Danau Ranu Kumbolo. Setelah beristirahat sebentar kami pun mulai memasang tenda, membuka perbekalan dan mulai menyusun tungku untuk memasak air serta menu makan malam. Tim cowok bersama-sama mendirikan tenda-tenda kami, sedangkan aku dan tim cewe menyiapkan makan malam serta beberes perbekalan sekitar tenda.

             4 tenda sudah terpasang rapi, 2 tenda cowok 2 lagi tenda cewek. Kebetulan aku memang sudah meminta Sofa untuk setenda denganku, sehingga nantinya aku bisa cerita semuanya. Tendaku tepat didepan tenda Adit dan Rey menghadap ke Danau Ranu Kumbolo. Kenapa kami memilih Ranu Kumbolo sebagai tempat mendirikan tenda? Ini karena Ranu Kumbolo memiliki keindahan alam yang luar biasa, banyak dari para pendaki yang menjuluki Ranu Kumbolo sebagai “Surganya Semeru”. Ada aturan khusus disini. Para pendaki yang hendak mendirikan tenda, dilarang untuk mandi, mencuci, apalagi buang air di danau. Maka dari itu aku dan rombongan mendirikan tenda dengan jarak sejauh 15 m dari tepi danau sesuai aturan yang berlaku, juga membuat lubang kecil untuk tempat pembuangan cuci piring. Ranu Kumbolo juga mempunyai pesona Sunset dan Sunrise yang sangat menawan.

            “Zee… Zee lihat, lihat… Sunsetnya muncul Zee. Ya Allah, indah banget.” kata Sofa antusias melihat sunset yang begitu mempesona. Aku terpaku melihat warna itu, yang nampak sempurna, jingga keemasan membentang mengelilingi sang surya. Tiba-tiba dadaku sesak bagai tertimbun bebatuan, air mata berdesakkan ingin keluar. Namun ku tahan dengan sekuat tenaga dengan mencoba mengatur nafasku. Kutarik nafas dalam-dalam aku keluarkan lewat mulut perlahan. Beberapa kali ku ulangi hingga dada ini lebih ringan. Aku coba untuk memandang kembali sunset itu perlahan. Aktivitasku ternyata tak luput dari pantauan Sofa. Dia memandangku dengan pandangan mata heran,kedua alis matanya berkerut saling beradu. Memegang pundaku tanpa melepas pandangannya.

            “Zee…kamu kenapa, kok gugup gitu?” tanya Sofa

            “Mm…nggak…nggak papa Fa, nggak papa.” Jawabku terbata. Saat pandanganku berpaling dari Sofa untuk menyembunyikan raut mukaku yang mungkin terlihat gugup, saat itu pula bertemu pandang dengan Rey. Ternyata Rey juga sedang memperhatikanku jauh di belakangku. Rey masih terus memandangku dalam diam, sikapnya masih belum berubah. Aku mengalihkan pandanganku dan pura-pura mengambil ponselku di tas. Sofa masih saja memperhatikan gelagatku. Aku duduk kembali menghadap arah sunset itu diikuti Sofa disampingku memandang kearah yang sama.

            “Aku tau ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari kita semua kan Zee? aku bingung harus bagaimana, aku ngga mau memaksa kamu untuk cerita. Yang jelas kapanpun kamu siap aku akan dengarkan. Dan yang perlu kamu ingat, apapun beban yang sedang kamu hadapi jangan kamu simpan sendiri Zee, nggak baik untuk psikis kamu. Ceritakanlah kepada orang yang bisa kamu percaya, setidaknya jiwamu akan lebih lega. Dan siapa tahu bisa menolongmu. Cobalah untuk sedikit berbagi Zee, masalah yang kamu sembunyikan tidak akan menemukan jalan keluarnya bila kamu pendam terus.” ucap Sofa memperingatanku, setelah itu menengok ke araku yang ku ikuti pula menengok kearah Sofa. Tangan Sofa membelai pundakku sambil mengangguk perlahan menegaskan pernyataannya. Aku hanya bisa tersenyum tipis tanpa berminat untuk mengucapkan kata sedikitpun.

Kidung sang bayu menelisik tellingaku

Membangkitkan resah yang mengharu biru

Raguku datang tak kenal waktu

Menyelinap masuk pada tekad yang telah terpaku

Bagai nyanyian Firdausi rambahi hati-hati yang sepi

Pancaran rona purnama mengendap rindu dipalung hati

Aku disini dengan harap kembali pada misi

Tuntaskan gulanaku demi hidup yang pasti

            Setelah drama sunset selesai aku bersama Sofa,Lita dan Mili menyiapkan makan malam. Nasi liwet, sosis goreng dan mi rebus. Sungguh sudah sangat istimewa menu ini ketika muncak seperti ini. Semua makan dengan riang, sambil bercanda di bawah sinar rembulan yang tampak terang sempurna. Acara makan malam yang telah usai tak lantas membuat kami langsung beristirahat, kami masih berkumpul dan bercanda di luar tenda. Aku memberanikan diri untuk mengajak Sofa masuk ke tenda duluan karena ada yang ingin aku sampaikan.

            “Fa, ada yang ingin aku omongin. Kita masuk tenda duluan ya?” ucapku berbisik pada Sofa yang duduk di sebelahku.

            “Oh, ok Zee, aku pamitan yang lain dulu ya?” balas Sofa

            “Guys, aku sama Zeean masuk tenda duluan ya biar besok fit muncaknya.” pamit Sofa.

            “Ya udah nggak papa Fa, duluan aja.” balas Rey sambil mengangguk perlahan kea rah Sofa seperti sebuah tanda isyarat. Entahlah aku tidak terlalu memahaminya.

            “Kalau gitu kita juga masuk duluan ya.” timpal Lita dan Mili

            “Ok…istirahat yang cukup semuanya.” komando Rey

            Para cowo masih berkumpul hanya pindah ke depan tenda Rey saja. Aku dan Sofa yang telah masuk lebih dulu tak lantas tidur. Kata-kata Sofa sore tadi selalu terlintas, dan mungkin inilah saatnya kuberanikan diri.

            “Fa, entah dari mana aku bisa mulai bercerita yang pasti selama ini aku tidak baik-baik saja. Ini berawal dari saat kedua orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat, saat itu ayah dan ibuku akan menemui orang tua dari ayahku di luar kota tetapi pesawat yang di tumpangi ayah dan ibuku gagal take off karena ada masalah di mesinnya. Pesawat itu menabrak pembatas dan mengakibatkan beberapa korban berjatuhan. Ayah ibuku selamat dengan penuh luka-luka. Aku yang saat itu masih SMA tidak tahu apa yang mesti aku perbuat. Aku hanya tinggal bertiga dengan, tidak ada family yang terdekat. Sehingga aku tak punya siapapun yang kuanggap kerabat dekat, kecuali satu orang yang sudah begitu dekat dengan keluarga kami, namanya Kak Senja. Dia mahasiswa seni yang sedang mendalami seni lukis pada ayahku. Akhirnya hanya dia yang ku mintai pertolongan.” Aku mulai menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu.

            “Lho, tante Fina dimana saat itu?” tanya Sofa penasaran

            “Tante Fina tinggal dibali saat itu. Suami tante Fina terlalu posesif sampai-sampai ingin bertemu keluarga saja tidak diperbolehkan.” jawabku

            “Lalu…keluarga dari Ayahmu?” Sofa kembali bertanya. Aku tersenyum miris mendengar pertanyaan Sofa.

            “Ya, keluarga dari Ayahku tidak ada satupun yang tahu keberadaan kami. Karena Ayahku saat menikah dengan Ibuku tidak disetujui oleh kakekku. Sehingga Ayahku pergi dari rumah. Kakekku yang dominan dikeluarga memberi ultimatum untuk tidak sama sekali mendekat apalagi bertemu dengan ayah dan ibuku. Dari situ kami memang lebih menjaga satu sama lain. Karena kita sadar kita hanya hidup bertiga, jauh dari kerabat dan saudara. Kakek dan nenekku dari pihak Ibu sudah meninggal semua. Jadi, saat itu Kak Senja lah yang mengurusi semuanya. Aku yang masih syok dengan kejadian itu tidak bisa berpikir apapun. Aku terlalu takut dengan bayang-bayang kematian dan kemungkinan-kemungkinan setelahnya. Karena otomatis aku akan hidup sendiri.” lanjutku dengan air mata yang sudah tidak dapat ku bendung lagi. Sofa mendekat ke arahku memelukku dan membelai punggungku.

            “Mm…Ok.” respon Sofa masih terus memeluk dan membelai punggungku. Setelah air mataku reda, Sofa melepaskan pelukannya. Aku melanjutkan ceritaku.

            “Ayah dan Ibuku dibawa kerumah sakit, dalam perawatan di rumah sakit hanya kak Senja yang menemaniku. Dia menguatkanku, menjagaku, hingga aku merasa hanya dia yang aku punya didunia ini. 3 hari Ibuku bertahan, keempat hari dari kecelakaan itu Ibuku menghembuskan nafas terkhirnya di depan mataku, belum sempat aku menguasai emosiku karena Ibu meninggalkanku, Ayahku menyusul ibuku. Mereka benar-benar mempunyai cinta sejati. Hingga mautpun tak menghalangi kebersamaan mereka.” Aku tersenyum dalam tangis mengingat kisah cinta kedua orang tuaku.

 

Apa Dosaku...?

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1100

- Day 17

- Sarkat Jadi Buku

 

***  

           Aku terdiam setelah menceritakan semua itu, suasana dingin, sepi dalam dekapan Ranu Kumbolo membawa ingatanku kembali ke suasana 3 tahun lalu. Dalam dinginnya malam menjelang pagi suasana rumah sakit, aku duduk disamping Ibuku yang sedang dalam perawatan masa kritis, dengan ditemani Kak Senja disebelahku. Air mata berderai luruh ke pipi tak dapat ku cegah.

            “Bu…Ibu yang kuat ya, Ibu harus sembuh. Nisa tidak punya siapa-siapa lagi bu selain Ayah sama Ibu. Jangan tinggalin Nisa Bu…Nisa mohon sama Ibu…” pinta ku dalam diamnya Ibuku. Kak Senja membelai rambutku jelas sekali terlihat dimatanya betapa ia iba sekali melihatku.

            “Nisa…kita berdo’a saja ya, semoga Allah sembuhkan Ayah dan Ibu Nisa. Nisa nggak boleh berpikir yang enggak-enggak. Nisa harus kuat, Nisa harus tabah.” ucap Kak kak Senja memberi nasehat untuk menguatkanku.

            “Nisa sudah tidak punya siapa-siapa lagi kak selain mereka, jika mereka tidak tertolong Nisa sama siapa?” tangisku meledak mengingat semua itu. Usiaku yang masih belia belum bisa berpikir dewasa saat itu.

            “Ya Allah Nisa, ada Kakak! Kakak akan selalu menjagamu, kakak akan selalu ada untukmu. Kamu jangan pernah berfikir tidak punya siapa-siapa.” ucap Kak Senja sedikit keras. Aku hanya bisa menangis tersedu saat Kak Senja menggenggam erat tanganku. Entahlah aku tak bisa berpikir apapun.

            Disaat yang bersamaan Elektrokardoigram yang terpasang tadinya stabil dengan grafik naik turun mulai berbunyi aneh ditelingaku dan grafik berubah menjadi lurus. Aku belum sadar penuh dengan apa yang terjadi, kak Senja memencet tombol panggilan dokter yang tersedia di sebelah bangsal Ibu dirawat. Suster datang, stelah melihat kearah elektrokarsiogram langsung kembali keluar dengan terburu-buru untuk memanggil dokter. Tak berapa lama dokter datang beserta suster yang lain membawa alat pacu jantung. Aku semakin panik, aku di bawa untuk mundur oleh Kak Senja karena dokter akan melakukan tindakan.

            “Kak, Ibu kenapa. Ibu nggak papa kan?” tanyaku yang pura-pura tidak tahu dan menepis kemungkinan yang terjadi.

            “Biarkan dokter melakukan tindakan Nisa, kita berdo’a saja.” ucap Kak Senja.

            Dokter melakukan segala tindakan usaha kedokteran namun ketika dokter berhenti melakukannya dan melepas segala perlengkapan yang ia gunakan. Dadaku mulai bergemuruh, air mataku berdesakan keluar. Suster melepas semua alat yang ada ditubuh ibuku. Hal itu semakin membuatku sesak. Dokter kemudian berbalik dan berbicara dengan kak Senja.

            “Maaf Mas, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi pasien tidak bisa kami selamatkan.” ucap Dokter. Seketika tangisku meledak, suster menutup tubuh ibuku dengan kain putih. Aku langsung berlari memeluk tubuh Ibuku yang sudah terbujur kaku.

            “Innalillahi wa innaillaihi roji”un. Baik Dok, terimakasih.” kata Kak Senja pada dokter. Dokter keluar ruangan beserta suster. Tubuhku lemas, taka da pikiran apapun saat itu. aku benar-benar terpukul dengan kenyataan ini. Kak Senja memegang lengan atasku yang masih memeluk tubuh ibuku.

            “Nisa…yang sabar ya. Ini yang terbaik untuk Ibu, Nisa harus kuat biar Ibu juga tenang disana.” ucap Kak Senja dengan suara bergetar menahann tangisnya.

            “Bagaimana Nisa kuat Kak…sedangkan orang yang membuat Nisa kuat sudah nggak ada.” jawabku

            “Jangan ngomong begitu Nisa…masih ada Ayah, ada Kakak, yang akan selalu bersamamu.” balas Kak Senja. Aku hanya diam. Masih dengan tangis Kak Senja mengangkat tubuhku agar bangun berdiri.

            “Sudah Nisa…sudah…jangan beratkan langkah Ibumu dengan kamu seperti ini. kasihan Ibu Nisa.” nasihat Kak Senja. Aku berdiri dengan lemah di papah Kak Senja. Suara tangisku mereda namun masih meneteskan air dari mataku.

            “Nisa duduk dulu, kakak akan mengurus administrasinya ya.” ucap Kak Senja. Ketika kak Senja akan keluar pintu terbuka lebih dulu dengan suster yang gugup memberi kabar yang sungguh tak mengenakan hatiku.

            “Maaf Mas, pasien atas nama Rahmat Dharmawan kritis. Mas diminta dokter ke ruangan.” ucap suster itu. seketika tenagaku kembali pulih dan langsung berdiri. Kak Senja melihat ke arahku.

            “Iya suster saya akan segera kesana. Terimakasih informasinya.” balas Kak Senja

Aku bersama kak Senja langsung menuju ruangan ayahku. Disana aku melihat suasana seperti De Javu. Suasana yang sudah ku alami belum lama ini kembali terulang. Dokter dengan alat pacu jantungnya dan para suster yang sibuk membantu dokter. Aku berdiri agak jauh untuk memantau semuanya.

            “Oh Tuhan…apa ini…?” ucapku dalam batin.

            “Ya Allah…aku mohon, selamatkan Ayahku. Engkau sudah mengambil Ibuku, janganlah Kau ambil ayahku juga. Setidaknya ada satu orang yang menemaniku didunia ini.” ucapku masih dalam batin dengan air mata mengalir. Kak Senja masih memegangi kedua lenganku dan berdiri disampingku.

            Kembali dokter menyudahi semua tindakannya, kulihat ke alat elektrokardiografnya sudah lurus. Itu berarti Ayahku juga tak terselamatkan. Dokter berbalik sekali lagi aku mendengar permintaan maafnya. Dan melihat ke arah Ayahku suster sudah menutupi tubuh Ayahku dengan kain putih lagi.

            “Maaf mas, kami sudah berusaha tapi pasien tidak bisa kami selamatkan.” ucap Dokter.

            “Innalillahi wa innaillaihi roji’un. Baik dok, terimakasih.” balas Kak Senja

            Tubuhku meluruh seketika, aku sudah tidak bisa mengeluarkan suara lagi hanya tangis dan kekecewaan yang menggunung. Kekecewaan terhadap Tuhan, mengapa tidak mendengarkan permohonanku, do’a-do’a ku. Aku terduduk dilantai, tubuhku amat lemas. Tak ku hiraukan lagi apapun kata kak Senja. Aku amat marah pada Tuhan.

            “Kenapa…kenapa Kau ambil semuanya! Apa salahku hingga Kau lakukan ini padaku!” kataku dalam batin pada Allah merasa kecewa dengan apa yang menimpaku.

            “Aku sudah berdo’a dan memohon pada Mu, kenapa Kau tidak mengabulkan do’aku? apa dosaku sampai Kau menghukumku begini? aku benci ini semua aku benci…!” lanjutku membatin

            Aku begitu kecewa dengan semua yang terjadi. Tiba-tiba saja semua hitam, pekat. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

 

***

            Kepalaku terasa berat, tubuhku juga amat lemah. Aku membuka mata perlahan, yang terlihat hanya sebuah atap karena aku dalam posisi berbaring. Ku edarkan pandangan mataku ternyata aku masih dirumah sakit dan sekarang justru aku yang berbaring. Ku alihkan pandanganku orang yang selalu ada disampingku tersenyum. Ya, kak Senja, dia masih menemaniku.

            “Aku kenapa kak?” tanyaku lemah

            “Kamu pingsan Nisa…sudah ya jangan banyak berpikir yang macam-macam dulu. Tenangkan hatimu Nis…” jawab Kak Senja. Aku hanya terdiam dan merenung apa yang harus aku lakukan selanjutnya.

            “Kakak tinggal sebentar ya, Kakak masih harus mengurusi administrasi dan pamakaman Ayah dan Ibu. Kakak sudah menelfon Bi Yanti dan Pak RT untuk urusan dirumah.” jelas Kak Senja. Aku hanya mengangguk lemah, dengan air mata kembali menetes.

            Setelah selesai mengurus semuanya, Kak Senja kembali keruanganku. Memastikan keadaanku sudah membaik. Dan menginformasikan semuanya.

            “Nisa…Kakak sudah mengurus semuanya, sekarang jenazah Ayah dan Ibu Nisa sedang diurusi oelh rumah sakit.” jelas Kak Senja

            “Apakah sudah dimandikan Kak? Nisa ingin lihat Ayah dan Ibu untuk yang terakhir kalinya kak.” ucapku menahan sesak dan air mata.

            “Belum…apa Nisa kuat? Nisa yakin bisa?” tanya Kak Senja meyakinkanku

            “Nisa kuat Kak, Nisa ingin melihat wajah mereka untuk yang terakhir kalinya Kak. Tolong antarkan Nisa ketemu Ayah sama Ibu untuk terakhir kalinya Kak.” Pintaku pada Kak Senja. Akhirnya Kak Senja mengantarku menemui jenazah Ayah Ibuku.

***

Kematian

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1076

- Day 18

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Setibanya di kamar jenazah, aku melihat satu persatu wajah dari kedua orang tuaku. Ku pandangi wajah mereka bergantian, rasa dingin dan hampa menyeruak dalam hati. Entahlah aku tidak bisa berpikir jauh kedepan akan bagaimana dengan nasibku, saat ini yang ada dalam benakku adalah berpisah untuk yang terakhir kalinya dengan kedua orang yang kusayang, kedua orang yang ku punya dalam hidup ini adalah hal yang amat sakit. Andai saja Tuhan izinkan, aku ikut saja dengan mereka. Mengapa aku harus ditinggal sendirian di dunia ini? banyak sekali tanya dalam benak yang tak bisa ku curahkan. Rasanya sudah tak penting lagi, untuk apa pula aku bercerita toh tidak akan menghidupkan yang telah mati, begitu pikiran picikku.

            Hanya bulir air mataku yang menetes, tak keluar sepatah katapun dari bibirku. Sekali lagi bagiku semua itu percuma. Kak Senja membelai lengan atas tannganku sambil terus memegangiku. Aku tahu pasti, dia amat kasihan melihat keadaanku.

            “Nisa…sudah yuk, balik ke kamarmu saja. Biar jenazah Ayah dan Ibumu diurus pihak rumah sakit. Semakin cepat akan lebih baik, jadi nanti bisa langsung di bawa kerumah dan tidak menunggu terlalu lama untuk dimakamkan.” jelas Kak Senja

            “Yuk…balik ke kamar lagi. Kamu masih butuh istirahat.” ajak Kak Senja dan aku tak berselera untuk bicara. Hanya anggukan tanda setuju.

            Cukup lama aku menunggu semua proses itu, Kak Senja bolak-balik untuk mengurusi semuanya. Entahlah aku tidak bisa membayangkan jika dalam kondisi seperti ini tidak ada Kak Senja yang mendampingiku, akan seperti apa keadaanku. Sejenak aku berfikir demikian, karena semua hal memang Kak Senja yang mengurusnya. Aku bisa dibilang tak andil apapun bahkan untuk membawa diri saja aku tak mampu, apalagi semua itu.

            Ketika semua selesai, aku pun sudah dibolehkan untuk pulang. Aku dan Kak Senja segera beberes dan pulang beriringan dengan 2 mobil jenazah yang membawa kedua orang tuaku. Kak Senja masih setia memapahku karena tubuhku benar-benar memang masih lemas. Tak ada air mata menetes selama di perjalanan, namun ketika raungan mobil jenazah itu berhenti dan kedua peti jenazah itu dimasukkan ke dalam rumah hatiku mulai bergetar. Beberapa orang berkumpul disitu dengan berpakaian serba hitam, Bi Yanti menunggu kedatanganku didepan pintu dengan menangis sesenggukan, seketika kami bertemu Bi Yanti memelukku dan tangisku pun kembali pecah bahkan terulang lagi aku tak sadarkan diri.

***

            Aku mendengar sayup-sayup suara dari dua orang yang sedang berbincang. Namun aku masih belum bisa membuka mataku.

            “Bi, Bibi sudah menghubungi semua keluarga Nisa? apa tidak ada satupun keluarga Pak Rahmat atau Bu Hana yang datang?” tanya seseorang yang ku yakin itu suara Kak Senja.

            “Bibi sudah coba hubungi mas, tapi keluarga Bapak tidak ada yang angkat satupun. Ketika Bibi menghubungi Bu Fina, suaminya marah-marah ketika Bu Fina minta izin untuk pulang kesini. Entah apa yang ada dipikiran Pak Anton, Bu Hana kan kakaknya Bu fina kok bisa segitu teganya sih. Kasihan mbak Nisa.” jawab seseorang perempuan yang kuyakini itu Bi Yanti. Suaranya melemah dan bergetar diakhir kalimatnya sambil membelai rambutku.

            “Ya Allah…mbak…mbak. Malang sekali nasibmu, semoga mbak Nisa kuat yah kedepannya.” ucap Bi Yanti terus membelai rambutku sambil menangis.

            Setelah kesadaranku kembali penuh aku membuka mataku, ku edarkan pandanganku. Aku mengenali tempat ini, aku dikamarku sendiri.

            “Mbak…Mbak Nisa sudah sadar?” tanya Bi Yanti. Aku hanya mengangguk.

            “Nisa…bagaimana keadaanmu?” tanya Kak Senja

            “Nggak papa Kak, aku baik-baik saja.” balasku

            “Nanti Nisa tidak usah ikut ke pemakaman ya, istirahat saja dulu. Kondisimu tidak memungkinkan, kamu masih lemah sekali. Biar nanti ditemani Bi Yanti ya disini.” perintah Kak Senja.

            “Iya mbak, mbak nisa dirumah saja sama Bibi.” timpal Bi Yanti

            “Enggak kak, Bi, Nisa mau ikut. Nisa ingin mengantar Ayah dan Ibu sampai tempat peristirahatan terakhirnya.” sanggahku

            “Ya sudah kalau begitu, nanti Bi Yanti jagain Nisa ya Bi. Aku kedepan dulu ya Nisa, mau ketemu sama Pak RT dan warga setempat, koordinasi untuk pemakaman besok pagi. Mm, Nis…apakah ada keluarga yang ditunggu? jika ada nanti Kak Senja tunda pemakamannya nunggu keluarga Nisa yang lain datang.” ucap Kak Senja hati-hati. Aku yang sudah sayup-sayup mendengar pembicaraan mereka langsung bisa mengambil keputusan.

            “Tidak ada yang ditunggu Kak, langsung di makamkan saja. Bukankah kata Kak Senja lebih cepat akan lebih baik?” jawabku penuh kegetiran.

            “Baik Nis, Kakak akan berbicara dengan Pak RT jika seperti itu keputusanmu.” balas Kak Senja. Aku hanya mengangguk lemah. Kak Senja pergi untuk mengurusi pemakaman Ayah dan Ibuku. Aku hanya diam termenung dikamar ditemani Bi Yanti.

***

            Pukul 10.00 semua persiapkan telah selesai dilakukan. Aku sudah berganti pakaian dan duduk di samping kedua peti jenazah, dan menunggu untuk prosesi pemakaman. Kak Senja datang bersama para warga yang hendak membawa peti jenazah. Kedua peti jenazah diangkat dan dimasukkan kedalam mobil jenazah untuk dibawa ke pemakaman. Aku, Kak Senja dan Bi Yanti mengikuti di belakang. Perjalanan tak begitu lama sampailah kami di pemakaman. Ayah dan Ibuku dikubur berdampingan, ketika peti jenazah itu satu persatu dimasukkan aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku. Aku menangis sejadi-jadinya, Kak Senja memapahku dan membawaku untuk duduk di kursi. Bi yanti mengiringiku, duduk disampingku. Aku bersender di pundak Bi Yanti, Bi yanti membelai kepalaku sesekali dengan tangan kirinya menghapus air mataku bergantian dengan menghapus air matanya sendiri.

            Kedua peti telah masuk sempurna, tanah merah sedikit basah sudah menutupi seluruh permukaan. Dua nisan sudah ditancapkan, saatnya tabur bunga telah siap dilakukan. Aku masih di papah Kak Senja dan Bi Yanti dikanan-kiriku, membawa sekeranjang bunga untuk ku tabur menghiasi pusara kedua orang tuaku. Dengan berderai air mata aku berjonngkok untuk menabur bunga di kedua pusara.

            Semua prosesi pemakaman telah usai, orang-orangpun mulai pergi meninggalkan area pemakaman. Aku masih setia berjonggkok, membelai kedua nisan dalam diam namun masih berderai air mata.

            “Nisa…sudah yuk kita pulang. Ayah dan Ibu sudah tenang di surga, Nisa sekarang harus banyak berdo’a untuk Ayah dan Ibu.” ajak Kak Senja

            “Nisa masih ingin disini Kak, Nisa ingin menemani Ayah dan Ibu.” Jawabku

            “Nisa, jangan seperti ini. Nggak baik, Nisa harus ikhlas melepas kepergian Ayah dan Ibu agar jalan mereka ringan.” ucap Kak Senja

            “Lalu jalan Nisa bagaimana kedepan Kak?” tanya Nisa sinis

            “Nisa…ayolah, Kakak yakin Nisa kuat. Kakak akan selalu menemani Nisa, Kakak akan selalu ada buat Nisa. Kakak sayang sama Nisa.” ucap Kak Senja mendekapku diiringi tangis. Baru kali ini aku melihat kak Senja meneteskan air mata seperti itu.

            “Bantu Kakak Nis, bantu Kakak menuntaskan amanah Ayahmu terhadapku. bantu Kakak untuk selalu menjagamu, dan izinkan Kakak untuk bisa membahagiakanmu.” pinta Kak Senja dalam tangisnya. Aku terdiam mendengarkan penuturan Kak Senja.

            “Amanah? ayah memberi Amanah pada Kak Senja untuk menjagaku?” tanyaku dalam batin, hati ini bagai teriris mendengarnya.

***   

     

Siapa Perempuan Itu?

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1002

- Day 19

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Aku berjalan dengan lunglai menuju mobil, sungguh letih tubuh ini seperti tak bertenaga rasanya. Semua pikiran buntu, aku tidak tahu lagi harus menjalani kehidupanku kedepannya akan seperti apa. Bagaimana situasi sekolahku sekarang, setelah lebih dari seminggu aku meninggalkannya demi merawat kedua orang tuaku? teman, sahabat, entahlah tak terpikirkan dalam otakku. Sungguh aku tidak peduli lagi apa yang ada di sekelilingku.

            Ketika dalam perjalanan pulang aku lebih memilih duduk dibelakang dan bersender ke pundak Bi Yanti. Sekarang Bi Yanti lah orang yang paling nyaman buatku sebagai tempat bersandar.

            “Bi, Ayah sama Ibu sudah nggak ada. Bi Yanti jangan tinggalin Nisa sendirian ya? cuma Bi yanti yang Nisa punya sekarang.” pintaku pada Bi yanti dengan pandangan kosong ke arah depan dan berurai air mata. Kak Senja terlihat menyeka matanya, apakah Kak Senja menangis? entahlah.

            “Iya mbak Nisa, Bibi akan temenin mbak Nisa. Mbak Nisa yang sabar ya, yang kuat biar Ayah dan Ibu disana tenang.” jawab Bi Yanti

            “Iya Bi…” balas ku

***

            Seminggu sudah kepergian Ayah dan Ibu, aku masih belum masuk sekolah. Aku lebih sering mengurung diri dikamar, Kak Senja yang selalu menghiburku. Aku tidak tahu juga bagaimana dengan kuliahnya, karena yang ada setiap hari Kak Senja selalu berkunjung kerumahku nanti sore pulang hanya mandi dan berganti pakaian kembali lagi kerumah. Aku lumayan tertolong dengan kehadiran Kak Senja selama ini, rumah tidak terlalu sepi jadinya. Kak Senja yang usianya 4 tahun lebih tua dariku sudah cukup dewasa dan mengerti bagaimana cara untuk menghadapi hal ini dan menghiburku. Setelah beberapa kali Kak Senja membujukku untuk kembali pergi ke sekolah, dengan alasan agar terhibur karena banyak teman dan lainnya akhirnya aku menurutinya. Aku pikir ada baiknya juga, kasihan juga usaha Kak Senja untuk menghiburku selama ini tidak aku hiraukan.

            “Nisa…besok Kak Senja antar ke sekolah ya, kalau pergi Nisa sekolah nanti jadi tidak merasa sendirian. Di sekolah kan banyak teman-teman, Nisa akan merasa sedikit lebih baik pasti tidak seperti sekarang. Kalau Nisa sendirian, Kak Senja jamin Nisa nggak bakal bisa move on dari rasa kehilangan ini. Kakak tahu dan sangat mengerti, bahwa kehilangan dua orang yang paling disayang dan berharga dalam hidup itu nggak mudah. Tapi, Nisa harus selalu ingat. Hidup terus berjalan, Nisa tidak boleh patah semangat seperti ini. Apa Nisa nggak kasihan sama Ayah dan Ibu disana yang sedih melihat Nisa kayak gini? Kakak yakin kalau Nisa seperti ini terus, Ayah dan Ibu akan sedih disana.” ucap Kak Senja memberi nasehat. Aku menengadah melihat wajah Kak Senja yang tadinya hanya duduk termenung di dekat jendela kamar. Aku mulai berpikir apa yang Kak Senja katakana ada benarnya juga, oleh karena itu aku menuruti ajakan Kak Senja untuk pergi ke sekolah.

            “Iya Kak, besok Nisa sekolah.” jawabku singkat. Senyum tersungging di bibir Kak Senja

            “Nah…kalau begini kan Kakak seneng dengernya.” balas kak Senja.

***

            Aku menuruti nasehat Kak Senja untuk berangkat ke sekolah. Sudah seminggu ini aku kembali ke sekolahku. Dewan guru, teman-teman, dan sahabat semua ikut prihatin atas meninggalnya kedua orang tuaku.

            Siang ini ada yang berbeda, Kak Senja menjemputku dengan seorang Wanita. Dari jauh terlihat mereka jalan berdua dan sambil tersenyum satu sama lain, aku yang sedang berjalan kearah parkiran pun agak berpikiran negative. Kemungkinan itu pacar Kak Senja, bisa jadi nanti Kak Senja akan menikah dan kembali meninggalkanku. Ada sedikit rasa berbeda dalam hatiku, setelah beberapa hari ini sering bersama dan perhatian yang Kak Senja berikan membuatku nyaman. Tapi, kali ini melihat ada perempuan disampingnya aku sebal bukan main. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi, yang jelas aku tidak suka Kak Senja dekat-dekat dengan perempuan lain. Ada rasa takut jika Kak Senja meninggalkanku.

            “Siapa perempuan itu, kelihatan akrab banget dengan Kak Senja. Memang sih jika dilihat perempuan itu lebih dewasa dari Kak Senja.” ucapku dalam batin

            Setelah lebih dekat, aku memandang lekat ke wajah perempuan itu karena sepertinya wajah itu tidak asing. Aku mencoba mengingat-ingat wajah itu. Masih saja belum ku temukan siapa dan lebih lagi membuatku sebal.

            “Daripada nanti aku dibuat salah tingkah karena keki melihat mereka pacaran, lebih baik aku kirim pesan saja pada Kak Senja jadi aku bisa jaga sikap nanti.” monolog ku

            Aku

             Itu siapa yang sama Kak Senja, kok kelihatannya akrab gitu. Aku baru lihat Kak Senja bawa cewe. Apa itu cewe Kak Senja?

             Agak lama Kak Senja memandang ponselnya, sepertinya ia sedang membaca pesanku dan berhenti dari berjalan, menengok kesana kemari seperti mencari seseorang lalu kembali memusatkan pandangan kembali ke ponselnya. Tapi anehnya dia justru senyum-senyum nggak jelas.

             “Perasaan aku kirim pesannya nggak lucu, kenapa bacanya senyum-senyum gitu sih.” aku kembali bermonolog sebal.

             Kak Senjaku

             Kalau cewek Kakak kenapa memangnya?

             Balasan Kak Senja membuatku semkin sebal. Ingin rasanya aku pulang sendiri saja tanpa perlu bertemu dengan mereka.

             Aku

             Nggak papa. Tapi ngapain sih dibawa kesini segala, kan bisa pacaran tanpa mengikutsertakan aku. Kalau begini kan aku jadi nyamuk.

             Kak Senja terlihat semakin tertawa lebar, sedangkan perempuan itu terlihat kebingungan melihat tingkah Kak Senja.

             Kak Senjaku

             Lho, kan memang mau bareng-bareng jemput Nisa?

             Aku

             Ya bisa kan nggak usah di bawa jemput Nisa. Nanti kalau udah anter Nisa pulang baru deh tuh ngedate sama dia.

             Kak Senjaku

             Nisa nggak suka Kakak bawa-bawa cewek? apa Nisa cemburu?

             Aku

             Dih cemburu, ngapain cemburu? kan Kak Senja bukan apa-apa ku?

             Kak Senjaku

             Jadi kalau sudah jadi apa-apa Nisa, Nisa baru cemburu?

             Aku

             Ih apaan sih Kak Senja, nggak jelas!

            Aku melihat Kak Senja tertawa terpingkal-pingkal.

            “Kenapa sih dia, malah ngeledek aku gitu sih. udah punya cewek juga genit pakai ngeledek-ngeledek aku segala.” monolog ku sebal

            “Kenapa pula Ayah sampai hati menitipkan aku padanya, agar menjagaku. Mau jagain gimana kalau dia sibuk pacaran sendiri gitu?” lanjutku bermonolog

            “Bu…andai Ibu ada disini. Aku kangen sama Ibu.” ucapku lirih yang kemudian duduk begitu saja dari posisi berdiriku karena kembali down.

            Aku duduk menangkupkan kedua tanganku diatas kedua kakiku, lalu menelungkupkan kepalaku diatas tangan supaya menutupi mukaku yang tengah menangis. Tiba-tiba suara gaduh khas sepatu yang berlari sedang menghampiriku, disusul suara khas sepatu hak tinggi wanita yang berjalan agak cepat dibelakangnya. Aku sesenggukkan dalam tangkupan kedua tanganku yang berada diatas kedua kakiku.

 

Pernyataan Cinta

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1132

- Day 20

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Suara sepatu gaduh itu makin mendekat, bersamaan dengan suara teriakan cemas seorang lelaki memanggil namaku berulang kali. Yang ku yakini itu adalah suara Kak Senja.

            “Nisa…Nisa…! kamu kenapa Nis…?” teriak Kak Senja

            Dan anehnya perempuan itupun ikut memanggil namaku, bahkan dengan suara bergetar karena berurai air mata.

            “Nisa…Nisa…! kamu kenapa sayang?” teriak perempuan itu

            Saking kaget dan penasaran dengan suara perempuan itu aku menengadahkan kepalaku kembali dan menengok ke sumber suara. Setelah dekat aku pandangi muka perempuan itu, dan terperanjat kaget. Ternyata perempuan itu adalah tante Fina, adik kandung Ibuku yang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu. Makanya aku pangling dengan penampilan tanteku itu. Ibu dan tante memang punya selisih usia cukup jauh sehingga pantas saja tanteku terlihat masih muda dan kebetulan juga belum dikaruniai anak sehingga tampak seperti perempuan yang masih single.

            “Tante…?” teriakku, suaraku bergetar menahan gejolak di dada yang membuncah. Aku langsung berhambur memeluknya, tak bisa lagi ku tahan air mataku hingga baju tanteku basah oleh air mataku. Begitupun juga dengan tanteku, ia pun menangis tersedu. Kami bertemu saat usiaku masih 6 tahunan, pantas saja aku pangling dengan wajah tanteku yang ku kira pacar Kak Senja.

            “Udah dong pelukannya…, aku jadi iri nih pengen di peluk juga. Ikut peluk ah…” seloroh Kak Senja sambil merentangkan tangannya seakan mau memelukku dan tante. Tapi, dengan sigap aku dan tante melepaskan pelukan kami dan menghindar, sehingga Kak Senja hampir saja jatuh. Aku dan tante langsung tertawa melihat tingkah Kak Senja, bukannya marah Kak Senja justru tersenyum melihatku.

            “Kakak seneng lihat Nisa bisa tertawa begini, sudah lama sekali Kakak kehilangan tawamu. Teruslah seperti ini Nis, teruslah berbahagia. Lepaskan segala bebanmu, dan terus hadirkan senyum di wajahmu.” ucap Kak Senja yang otomatis menghentikan tawaku, dan menghadirkan senyuman di wajah Tante Fina. Tante Fina bergantian memandangku kemudian memandang Kak Senja dengan ekspresi wajah penuh tanya dan meminta jawaban lewat isyarat matanya kepadaku. Aku salah tingkah dibuatnya, aku betul-betul gugup. Tapi, aku berpura-pura tidak mengerti apa-apa dan mengalihkan pembicaraan demi menyembunyikan rasa gugupku.

            “Udah yuk Tan pulang, aku udah lapar. Dari tadi jemputnya lama banget sih.” ucapku mengalihkan pembicaraan dan menyindir Kak Senja.

            “Hmm…lama kan karena Nisa yang tiba-tiba ngambek gara-gara Kakak bawa cewe? hayo loh…cemburu ya…?” ledek Kak Senja. Sial aku justru kena batunya, yang tadinya mau mengalihkan pembicaraan dan menghindar dari ledekan ini malah justru sebaliknya.

            “Duh…kok malah jadi gini sih, aku yang kena batunya. Sial…!” gerutuku dalam batin dengan muka seperti udang rebus. Tante Fina ikut meledek dengan kontak matanya.

            “Ih apaan sih Kak Senja nggak jelas!” ucapku. Cuma itu senjata balasanku yang bisa keluar dari bibirku.

            “Sepertinya Tante kehilangan banyak info nih?” ledek Tante Fina

            “Info apaan sih Tante…udah ah yuk pulang.” Sanggahku cepat. Langsung menggandeng lengan Tante Fina dan menuntunnya untuk segera berjalan pulang. Kak Senja hanya tersenyum mengejekku, sepertinya hari ini dia puas banget bisa meledekku seperti itu.

            “Aku jangan ditinggal dong!” ucap Kak Senja

***

           Hari demi hari hatiku rasanya mulai sedikit membaik dengan kehadiran Tante Fina dirumah. Usut punya usut kenapa Tante Fina pulang dan kepulangannya itu sendirian pula, itu disebabkan Tanteku akhirnya memutuskan untuk bercerai dari suaminya. Tanteku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan posesif suaminya yang sudah melebihi batas. Sehingga sekarang Tante Fina lebih memilih untuk merawat dan menjagaku.

***

            Aku memberi jeda ceritaku pada Sofa, karena disaat kehadiran Tante Fina disitulah saat-saat dimana Kak Senja meninggalkanku tanpa sepatah katapun apalagi berkabar. Aku menarik nafas panjang sebelum menceritakan hal itu pada Sofa.

            “Kamu baik-baik aja kan Zee?” tanya Sofa padaku

            “Aku baik kok Fa, hanya masih perlu rileks untuk bisa menceritakan cerita selanjutnya.” balasku

            “Baiklah…rileks aja dulu. Atau kalau kamu belum sanggup untuk cerita, kita lanjutin besok lagi aja. Biar kamu nggak beban gitu ceritanya.” ucap Sofa memberi saran

            “Nggak papa kok Fa, aku bisa lanjutin kok.” balasku

            “Ok deh, aku nurut sama kamu pokoknya gimana baiknya aja.” jawab Sofa

            Aku melanjutkan ceritaku yang menjadi pertanyaanku selama ini, dan cerita dimana aku yang baru mengalami namanya rasa cinta dari lawan jenis dalam porsi yang berbeda. Yang tadinya ku anggap hanya sebagai cinta seorang adik terhadap kakaknya, namun pada kenyataannya aku tidak mau ada perempuan lain disisinya.

***

            Dengan kehadiran Tante Fina dirumah mampu menambah kembali semangatku untuk melanjutkan hidup. Terlebih Kak Senja sudah mengutarakan semua perasaannya padaku. Tentang rasa sayang dan perhatiaannya selama ini terhadapku.

            Hari ini hari sabtu, setelah pulang sekolah sore harinya Kak Senja mengajakku ke suatu tempat. Tempat yang menjadi favorit Kak Senja yaitu pantai. Di tempat itulah Kak Senja mengutarakan semua perasaannya dalam suasana senja yang begitu sempurna. Persis seperti suasana senja sore tadi.

            “Nisa…coba deh ikuti Kakak Ya. Rentangkan kedua tanganmu menghadap ke laut lepas, perlahan pejamkan matamu. Nikmati hangatnya mentari dan semilirnya angin menyentuh kulitmu. Tarik nafas teratur dan stabil, rasakan sensasinya yang amat menenangkan hati ini.” ucap Kak Senja sambil memperagakan caranya. Aku mengikuti semua instruksinya. Dan benar apa yang dikatakan Kak Senja, hatiku sedikit lebih baik. Terasa lebih damai dan tenang setelahnya. Hal ini yang akan selalu menjadi obatku ketika rasa-rasa tak menentu menghampiri hatiku.

            Tidak hanya itu, sebelumnya Kak Senja juga telah mengajakku untuk ikut camping bersama teman-teman kampusnya. Kak Senja memperkenalkanku sebagai adiknya saat itu, karena Kak Senja masih belum mengutarakan perasaannya. Apapun yang Kak Senja lakukan adalah demi membangkitkan kesemangatan dalm diriku lagi untuk terus menjalani hidup. Dan camping itu merupakan camping pertama dan terakhirku bersama Kak Senja.

            Setelah selesai merasakan pesona senja dalam ritual berbeda, Kak Senja mengajakku duduk di pasir dengan tetap memandang kearah lautan bebas.

            “Nisa…Kakak ingin jujur sama Nisa, Kakak ingin mengakui perasaan Kakak pada Nisa selama ini. Bahwa sebenarnya Kakak sayang terhadap Nisa bukan seperti rasa sayang seorang Kakak terhadap adiknya, melainkan rasa sayang seorang laki-laki dewasa terhadap seorang lawan jenis. Kakak ingin Nisa selalu bahagia disamping Kakak, Kakak ingin selalu menjaga Nisa. Kakak nggak mau ada kesedihan dalam hidup Nisa. Kakak ingin memenuhi amanah Ayah Nisa terhadap Kakak.” ucap Kak Senja yang kemudian mengalihkan pandangannya dari lautan kepadaku, akupun reflek ikut memandang Kak Senja karena kaget dengan pernyataan Kak Senja yang tiba-tiba.

            “Kakak nggak bisa bohong, Kakak sayang sama Nisa dan Kakak Cintas ama Nisa.” lanjut Kak Senja.

Aku yang masih saling memandang dengan Kak Senja tidak tahu harus berkata apa, hanya tangis haru yang bisa aku ekspresikan sebagai ungkapan rasa dalam hatiku. Kak Senja menghapus air mata di pipiku.

“Jangan nangis dan jangan sedih lagi ya, Kakak nggak mau wajah Nisa di hiasi sedih apalagi tangis. Sudah cukup Kakak melihat itu, mulai saat ini selama ada Kakak , Kakak nggak mau lagi melihatnya, ya…?” ucap Kak Senja sambil menghapus air mataku yang masihi menetes di pipi. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

***

            Aku menghela nafas lagi, aku perlu pasokan oksigen lebih lagi karena rasanya dadaku mulai sesak untuk melanjutkan ceritaku pada Sofa. Sofa dengan sabar menungguku bahkan mengusap-usap punggunggku agar aku lebih rileks lagi.

 

Tentang Kepindahanku

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 953

- Day 21

- Sarkat Jadi Buku

 

 

            Pagi ini langit sungguh cerah, Kak Senja seperti biasa mengantarku ke sekolah sekalian dirinya berangkat ke kampus. Dua hari setelah kejadian di pantai itu hariku sedikit berubah, rasanya cepat sekali berlalu. Aku juga lebih merasa nyaman di dekat Kak Senja, karena aku mengerti bahwa kasih sayang Kak Senja bukan semata karena belas kasihan saja.

            Siang serasa datang begitu lambat, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kak Senja lagi. Bel tanda pelajaran terakhir sudah berbunyi, hatiku amat riang karena itu tandanya sebentar lagi akan bertemu Kak Senja. Setengah jam sudah aku menunggu namun Kak Senja belum juga datang, akhirnya aku menelfonnya. Setelah beberapa kali ku telfon ponselnya tidak aktif, aku bingung dan bertanya-tanya kenapa, ada apa dengan Kak Senja karena tidak biasanya Kak Senja seperti ini. Seandainya tidak bisa jemput biasanya pasti kasih kabar. Lama ku menunggu tak juga datang akhirnya aku pulang naik angkutan umum. Sesampainya dirumah pun Tante Fina menanyakan keberadaan Kak Senja, kenapa aku pulang sendiri tidak dijemput Kak Senja.

            “Lho Nis, Senja mana? kok kamu pulang sendirian?” tanya Tante Fina

            “Nggak tahu Tan, aku berualng kali telfon juga nggak aktif nomernya. Aku jadi khawatir deh tan.” jawabku

            “Udah coba cari tahu ke teman-temannya?” tanya Tante Fina lagi

            “Aku nggak punya nomer temennya Tan.” jawabku

            “Lho bukannya dulu kamu pernah ikut camping bareng mereka? Memang kamu nggak save nomer teman Senja satupun Nis?” selidik Tante Fina

            “Enggak Tan.” jawabku sambil tersenyum tipis menyadari akan kelakuanku, kenapa nggak save satupun nomer mereka.

            “Ya ampun Nisa…kok bisa sih. Itu kamu kenalan nggak sis ama mereka?” ejek Tante Fina

            “Iih Tante, ya kenalan donk masa enggak. Ya kali mainnya cuma sama Kak Senja aja sampe-sampe nggak kenalan sama mereka Tan.” jurus ngeles ku

            “Lagian kenal mereka, main bareng, kok bisa gitu nggak punya contactnya?” ledek Tante Fina

            “Ya bisa aja kan Tan, kan Nisa lupa nggak minta.” ucapku sambil nyengir

            “Nisa…Nisa…kamu tuh ya…” ucap Tante heran

            Makin malam hatiku semakin cemas, karena tak ada kabar sedikitpun dari Kak Senja. Aku mencoba mencari tahu dengan menelfon rumah Kak Senja pun tidak ada jawaban. Paginya aku mencoba pergi ke rumah Kak Senja karena aku sudah betul-betul khawatir, kebetulan sekali sekolahku libur karena tanggal merah. Aku diantar Tante Fina kerumah Kak Senja. Dirumah Kak Senja Nampak sepi, ku coba memencet bel di sebelah pintu rumahnya. Tak berapa lama seorang laki-laki paruh baya keluar membukakakn pintu.

            “Maaf Neng, mau cari siapa ya?” tanya bapak itu

            “Maaf Pak, apa Kak Senja ada dirumah? dari kemarin saya telfon tidak aktif nomernya pak.” jawabku

            “Apa Eneng yang namanya Neng Nisa?” Bapak itu kembali bertanya

            “Iya betul pak, nama saya Nisa.” jawabku

            “Ini bapak sama ibu cuma pesen katanya kalau Neng Nisa kesini suruh di sampaikan kalau semua keluarga sudah pindah ke luar kota termasuk Den Senja, begitu.” jelas Bapak paruh baya itu. hatiku mulai tak karuan rasanya.

            “Kalau boleh tahu, ada acara apa yah pak kok pindah tiba-tiba begini?” tanyaku

            “Waduh neng, Bapak juga tidak tahu. Bapak saja baru dua hari disini, suruh jagain rumah ini.” jawab Bapak paruh baya

            “Oh, ya sudah pak kami permisi.” pamit Tante Fina. Tante Fina tahu aku kaget mendengar pesan dari keluarga Senja. Sehingga Tante Fina berinisiatif sendiri untuk berpamitan. Tante Fina yang berada disampingku memegang tanganku dan membawaku ke mobil.

***

            Aku mulai meneteskan air mata ketika menceritakaan kejadiaan ini pada Sofa, aku berhenti sejenak. Dadaku sudah amat sesak tak lagi bisa membendung desakkan air mata yang ingin keluar.

            “Fa, inilah yang membuatku selama ini berubah. Orang yang selama ini selalu mensupportku, menjagaku dan memberiku semangat pergi begitu saja tanpa sepatah katapun sebagai kata pamit atau alasan dia pergi. Orang yang selalu menguatkan aku sudah tidak ada lagi. Semenjak Kak Senja menghilang aku mulai mengurung diri lagi dikamar. Tidak mau lagi pergi ke sekolah padahal sebentar lagi ujian kelulusan. Semua usaha dilakukan Tanteku demi membuatku kembali seperti sebelum Kak Senja pergi. Aku begitu kecewa dan marah pada Tuhan. Aku selalu bertanya mengapa hal ini terjadi padaku, kenapa bukan orang lain saja? begitu teganya Engkau dengan diriku setelah kedua orang tuaku diambil sekarang orang yang sangat berarti dan aku butuhkan pun pergi. Aku tidak terima dengan keadaanku. Shalat aku tinggalkan karena merasa percuma, padahal aku merasa aku sudah taat dan patuh tapi kenapa justru kecewa yang aku dapatkan.” lanjutku

             “Mm…lalu kenapa kamu pindah?” tanya Sofa bingung

            “Iya Fa, suatu hari aku berpikir bagaimana kalau aku pindah saja dari kota ini. Meninggalkan semua hal yang akan mengingatkan aku pada Ayah, Ibu dan Kak Senja. Dan akhirnya pindahlah aku ke kota ini setelah kelulusanku Fa.” jelasku

            “Oh…aku paham sekarang. Tapi Fa, kalau boleh tahu apakah sampai sekarang kamu masih juga belum menerima itu semua?” tanya Sofa kelihatan sangat hati-hati agar tidak menyinggunggku. Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan Sofa.

            “Aku masih belum mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku pada Tuhan Fa, jauh dalam lubuk hatiku aku masih tidak percaya pada semua janji-janji Tuhan. Bahkan dalam hatiku aku sering marah Fa, dengan keadaanku. Sekarang aku merasa Lelah dengan ini semua, aku ingin segera menemukan jawaban dari semua pertanyaanku selama ini. Mengapa Nenek dan Kakekku tidak pernah setuju dengan hubungan Ayah dan Ibuku? Apakah tidak pernah ingin melihat aku, cucunya sudah sebesar apa? Mengapa Tuhan mengambil kedua orang tuaku sekaligus? Padahal hanya mereka yang kupunya? Tidak kasihankah padaku? Dan sekarang orang yang berarti dan sebagai penyemangat hidupku pun Tuhan ambil dengan pergi meninggalkanku entah kemana.” jelasku pada Sofa

            Aku merasa hidungku penuh oleh lendir karena terlalu lama menangis. Sehingga aku pamit pada Sofa untuk keluar tenda sebentar membawa tisu untuk membuang lendir dalam hidungku. Ketika aku keluar dari pintu betapa kagetnya aku melihat Rey di depan pintu tendaku sedang berdiri mematung sambil memegang handphone.

            “Rey…!” seruku kaget. Rey begitu aneh ekspresinya. Diam dan seolah tajam memperhatikanku

***

 

 

Hal Aneh

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1185

- Day 22

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            “Kenapa? kenapa kamu nggak pernah cerita apapun tentang semua itu? tanya Rey dengan amat tenang

            “Em, Rey…ka…ka…mu, kamu…denger semuanya?” aku balik bertanya

            “Kamu nggak percaya sama aku Zee? lalu selama ini kau anggap akua pa? hanya orang yang bisanya Cuma ngebebanin kamu dengan semua ceritaku, atau hanya sebatas angin lalu saja?” tanya Rey dengan nada sumbang

            “Mm, bukan…Rey…bukan gitu. Sama sekali aku tidak pernah menganggapmu seperti apa yang kamu sebutkan. Aku…aku…merasa aku belum siap dan percuma jika aku cerita.” jelasku terbata

            “Zee…masalah itu butuh penyelesaian, bukan cukup disimpan. Carilah seseorang yang menurut kamu tepat agar bisa mendapatkan ketenangan dan solusi. Masalah harus dihadapi, cobalah setidaknya kamu berbagi, kamu cerita saja itu sudah sedikit membantu meringankan beban yang ada di dadamu. Sekarang aku tanya, apa yang kamu rasakan setelah cerita masalahmu dengan Sofa?” tanya Rey. Sofa yang mendengar kami berdua berbicara didepan tenda akhirnya ikut keluar.

            “Ya…aku sedikit merasa lega Rey sudah bisa cerita ke Sofa.” jawabku. Sofa hanya diam melihatku dan Rey.

            “Nah…itu kamu sduah merasakan perbedaannya, walaupun hanya cerita. Siapa tahu Sofa, atau aku bisa membantumu Zee dengan kamu bercerita ke kita.” ucap Rey

            “Apa yang dibilang Rey bener Zee, masalahmu itu cukup rumit dan bukan sepele. Butuh penyelesaian agar tidak menimbulkan penyakit terutama mentalmu.” timpal Sofa. Tangan kiri Sofa memegang tanganku dan tangannya mengelus pundaku. Setetes air mata kembali jatuh, aku terharu denga napa yang mereka berdua lakukan. Ternyata mereka begitu perhatian dan peduli denganku, dan pikiran picikku selama ini salah.

            “Makasih ya kalian sudah mau mengerti aku selama ini, dan maaf baru kali ini aku bisa cerita. Dan secara nggak sengaja pula kamu dengernya Rey.” ucapku memandang Sofa dan Rey. Sofa semakin mengeratkan genggamannya pada tanganku serta mengelus pundaku dengan ritme yang lebih cepat.

            “Ya sudah Zee, Fa…sekaranng sudah larut malam. Kalian beristirahatlah, siapkan tenaga kalian untuk besok pagi lanjutkan perjalanan ke kalimati, kita akan bikin tenda lagi disana jadi kita harus beres-beres dulu besok pagi.

            “Iya Rey…” jawabku bersamaan dengan Sofa

            “Nih Handphone mu, tadi ketinggalan pas ngumpul.” ucap Rey menyodorkan handphone ku yang tertinggal.

            “Makasih Rey.” balasku

            “Sama-sama. Ya sudah, aku ke tenda dulu. Aku juga mau istirahat.” balas Rey kemudian pergi ke tendanya.

            “Iya Rey.” balasku

            Aku dan Sofa masuk ke tenda dan melanjutkan untuk istirahat. Begitu juga dengan Rey dan teman-teman yang lain. Aku tidak bisa langsung tidur begitu saja, ku coba buka ponselku untuk melihat-lihat foto yang selama perjalanan ku ambil. Aku kaget ketika ku buka ponselku, ternyata layarku sudah membuka dalam mode aplikasi catatan dan disitu ada catatan yang sudah dibuat tapi bukan aku. Feelingku Rey yang telah membuatnya.

Tetaplah berhusnudzon pada Allah, kenyataan pahit yang kamu temui adalah satu sebentuk kasih sayang Allah dan kecintaanNya terhadapmu. Percayalah suatu saat nanti kamu akan menemukan jawaban atas segala pertanyaanmu, kamu akan menemukan hikmah yang dapat kamu ambil dari segala yang terjadi dalam hidupmu. Satu yang perlu kamu lakukan pertama kali adalah ridho atas takdirmu, atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu.

Meskipun kehidupan pada kenyataannya tak seperti yang kita harapkan, tapi kita masih tetap bisa merasakan kebahagiaan. Karena semua adalah pilihan mau tetap mendramatisir keadaan atau berdamai dan memilih mengikhlaskan. Mau tetap merasakan sakit karena kecewa dengan keadaan ataukah memilih untuk berdamai dan menciptakan kebahagiaan.

Perbanyak rasa syukurmu agar kamu bisa merasakan semua nikmat dan cintaNya yang telah diberikan untukmu. Dari masalah kamu akan bisa mengambil hikmah, dari ujian kamu akan bisa merasakan kenikmatan berdekatan denganNya.

Cobalah sebagai langkah awal yang harus kamu lakukan adalah berdamai dengan diri. Bahwa yang terjadi adalah yang terbaik untukmu.

          Setelah semuanya kubaca air mataku kembali menetes, terharu dengan tulisan yang Rey buat. Isak tangisku terdengar juga oleh Sofa, sehingga membuatnya yang memang belum tertidur pulas menengok kearahku.

          “Kamu kenapa Zee, kok nangis lagi?” tanya Sofa sambil mengelus lengan kiriku

          “Nggak papa Fa, aku cuma terharu dengan sikap Rey. Dia membuat ini tadi.” jawabku sambil memperlihatkan catatan yang Rey buat untukku.

          “Rey memang begitu Zee, kelihatannya aja dia kadang konyol begitu, lucu, nggak kelihatan seriusnya. Tapi aslinya dia dewasa banget Zee, sering banget bantuin temen-temen kalau lagi ada masalah. Mungkin pengalaman hidupnya waktu kecil yang banyak banget ngajarin dia, sehingga sekarang dia sedewasa itu pemikirannya.

           “Emang kecilnya dia kenapa Fa?” tanyaku penasaran

           “Dia kan yatim piatu Zee, dia dulu ditolong oleh seseorang dan diangkat jadi adiknya. Nah, karena ada kerabat atau teman dari yang nolong Rey itu tidak mempunyai keturunan, akhirnya Rey di adopsi oleh mereka.” jelas Sofa

           “Serius…! Rey anak yatim piatu?” tanyaku spontan

           “Lho, emang kamu belum tahu Zee?” tanya Sofa balik

           “Asli…aku baru tahu sekarang Fa.” balasku

           “Kamu kan deket sama Rey, Zee? masa baru tahu?” tanya Sofa heran

           “Kan aku baru setahunan kenal dia Fa, ya mana tahu lah. Meskipun deket aku nggak pernah mau tahu urusan orang Fa. Makanya aku nggak pernah nanya apapun ke dia. Kecuali kalau dia cerita sendiri, baru aku tahu.” balasku

           “Hm, Zee…Zee…kamu tuh ya emang. Temenan apa gimana sih bisa gitu yaa?” seloroh Sofa.

           “Jangan gitu donk, kesannya aku yang gak peduli gitu sama temen.” belaku

           “Hahaha…bukan aku lho yang ngomong gitu, kamu sendiri ya yang menarik kesimpulan begitu.” seloroh Sofa

           “Ish…dasar Sofa…” balasku sambil menggelitik pinggang Sofa

           “Aduh…ampun Zee, iya…iya…ampun…nggak kuat gelinya aku Zee.” Sofa memohon aku untuk tak lagi menggelitiknya.

           “Udah deh, yuk tidur aja.Udah malem takut besok kesiangan, nggak bisa lihat sunrise deh kita.” ajak Sofa untuk tidur setelah aku tak lagi menggelitiknya.

           Akhirnya aku dan Sofa melanjutkan istirahatku. Setelah aku menceritakan semua yang terjadi pada Sofa dan tak sengaja Rey pun mendengarnya, apalagi pesan Rey dalam aplikasi catatan di ponselku memberi pengaruh luar biasa di dalam hatiku. Rasanya beban yang ada terasa lebih ringan dan dadaku sedikit merasa lega.

***

            Pagi yang luar biasa cantik menyuguhkan sunrise yang memanjakan mata. Semburat sinar keemasan menyembul dari sela-sela bukit. Pantulan cahaya di atas danaunya melukiskan keindahan tanpa tandingan. Sungguh sempurna ciptaanNya. Ku coba praktekkan ritualku yang biasa di pantai kali ini dalam suasana pegunungan. Ku rentangkan kedua tanganku menghadap sunrise, sejurus kemudian ku tutup mataku merasakan hangatnya mentari yang merambat ke tubuh. Luar biasa nyaman, sama sekali tidak merasakan sedih meskipun ingatan tentanng Kak Senja dipelupuk mata. Aku merasakan hal aneh ini.

              “Apakah ini pengaruh dari semalam yang sebelum tidur aku niatkan untuk mencoba berubah? Mengubah maindsetku, mengupah niatku, dan mencoba mengubah pandanganku mengenai Tuhan. Jika memang karena hal itu, sungguh luar biasa, hanya sekedar niat sudah kurasakan efek yang luar biasa.” monologku dalam batin

              Ku buka perlahan kedua mataku dengan senyuman puas, ternyata ada sensasi berbeda dengan suasana di pantai. Entahlah kali ini benar-benar ada rasa nyaman yang aneh merasuk dalam hatiku, tapi aku suka. Sehingga menimbulkan niatan baru lagi, ingin membuktikan lagi apa kata Rey dalam pesannya.

              Setelah puas bercengkrama dengan sang surya aku dan teman yang lain beres-beres perlengkapan, ada yang membongkar tenda dan menyimpannya kembali untuk dibawa ke kallimati, ada yang mengambil air untuk masak, cuci peralatan dapur dan membuat kopi, seperti biasa aku membantu Mili yang sedang membuat sarapan. Setelah sarapan, bersih-bersih sekitar tenda dan semua perlengkapan beres, aku dan rombongan melanjutkan track ke Kalimati.

***

Sikap Rey

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1070

- Day 23

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Aku dan rombongan berangkat menuju ke Pos Kalimati sebagai tempat pemberhentian terakhir yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Perjalanan menuju Kalimati dari Ranu Kumbolo merupakan perjalanan yang paling seru, karena kita akan disuguhi dua pemandangan yang menarik yaitu Tanjakan Cinta dan Oro-oro Ombo.

            Tanjakan Cinta merupakan sebuah tanjakan curam yang diapit oleh dua bukit yang harus dilewati jika ingin sampai ke Oro-oro Ombo. Tanjakan ini letaknya persis di belakang Ranu Kumbolo. Konon ceritanya ketika melewati Tanjakan Cinta, para pendaki dihimbau untuk tidak menoleh ke belakang, kalau menoleh maka akan mengalami putus cinta.

            Setelah melewati Tanjakan Cinta, sampailah kami di Oro-oro Ombo yang merupakan padang savana. Alhamdulillah kami beruntung bisa menyaksikan cantiknya Bunga Verbena yang bermekaran, membuat savana berubah menjadi lautan ungu. Tak ayal, spot Oro-oro Ombo ini menjadi spot para pendaki untuk berfoto, trmasuk kami. Tapi, dalam keindahannya Verbena dapat menjadi ancaman bagi spesies asli tanaman semeru. Ada 2 jalur untuk melewati Oro-oro Ombo yaitu langsung turun saja ke bawah atau dengan memutarinya dan menikmati pemandangan dari atas. Karena masih penasaran dan ingin menikmati view Verbena disini kami memilih jalur memutar dan bertemu dititik Cemoro Kandang.

            Aku bersama teman-teman yang lain berfoto di area Verbena yang sedang bermekaran, sungguh pemandangan yang eksotik. Ketika aku mengangkat kamera ponselku untuk berselvi. Dengan tiba-tiba Rey berlari dan berpose ceria dibelakangku. Aku yang kaget namun jempol sudah memencet tombol potret menciptakan foto candid yang natural sekali, aku menampakkan wajah terperanjat kaget yang sedang menengok kea rah wajah Rey. Sedanngkan Rey memperlihatkan wajah cerianya namun setengah konyol.

            “Ya ampun Rey bikin aku kaget aja.” ucapku

            “Santai Zee…biar jadi kenangan kita Zee, sapa tau foto ini akan jadi hal yang suatu saat penting bagi kita karena bisa mengingat peristiwa yang pernah ada.” jawab Rey

            “Dih…sok puitis banget si kamu Rey?” ejek ku

            “Konyol salah, serius salah, puitis salah. Apa sih yang nggak salah di mata kamu Zee? gombalin kamu kali ya?” ledek Rey

            “Itu lebih lagi salahnya Rey, aku nggak mempan gombalan kamu lah?” sanggahku

            “Masa sih…?” ledek Rey dengan alis mata yang bergerak naik turun.

            “Iya donk…!” jawabku tegas

            “Kalian tuh sebenernya cocok lho Zee, Rey. Bener nggak beb Sofa?” goda Adit yang berjalan mendekat ke arahku dan Rey

            “Beb, beb, enak aja! nggak usah panggil-panggil aku gitu lagi ya…awas aja nih!” ancam Sofa

            Semua teman-teman yang lain tertawa, kecuali Sofa dan Adit. Adit tampak ngambek sedang Sofa penuh rasa sebal di wajahnya.

            “Yah…Adit cemen gitu aja mlempem.” ledek Rury

            “Halah kayak kamu enggak aja Ry, mana berani tuh sama Lita kalo Lita udah keluar taringnya.” timpal Mili

            “Itu beda kali Mil, aku kan cowok sejati yang nggak bisa nyakitin cewek. Makanya kalau Lita udah ngambek ya mending aku diem, dari pada berantem terus nangis?” gombal Rury

            “Apa-an? bohong…kamu yang justru sering bikin nangis aku tuh!” potong Lita

            “Jiah…ketahuan deh tu Ry.” Seloroh Fiko

            “Jangan gitu donk yank…kan nggak sengaja.” balas Rury menampakkan wajah memelasnya. Semua tertawa melihat tingkah Rury yang justru jadi bahan ledekan yang lain.

            “Haha…sudah…sudah…yuk lanjutin lagi. Oh, iya teman-teman. Setelah melalui Oro-oro Ombo ini hati-hati ya, jalanan akan menanjak terus usahakan kalian kalau merasa capek bilang saja nanti kitab isa istirahat dulu. Jangan di paksakan jalan, karena kita harus siapkan tubuh kita untuk muncak besok.” ucap Rey memberi pengarahan untuk kami

            “Siap…” jawab kami serentak

            Benar apa yang dikatakan Rey, setelah melewati track padang savana Oro-oro Ombo, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pepohonan tinggi dan lebat di kanan dan kiri kami. Jalur Cemoro kendang menuju Jambangan terus menanjak.

            Di tengah perjalanan jalur Cemoro Kandang menuju Jambangan kami beristirahat. Apa kata teman benar, menurut beberapa teman yang sudah sering mendaki semeru, di jalur inilah rombongan paling banyak berhenti untuk beristirahat.

            “Gimana teman-teman masih kuat lanjut atau kita istirahat dulu?” tanya Rey dalam perjalanan

            “Istirahat dulu yuk, aku lumayan capek nih.” pinta Lita

            “Iya aku juga capek Rey.” timpal Mili

            “Ya udah kalau gitu kita istirahat dulu, pilih tempat yang nyaman ya. jangan ditengah jalan takut menghalangi teman pendaki lain yang ingin meneruskan perjalanan mereka.” komando Rey

             “Iya Rey.” jawab kami serentak

             Aku duduk bersama ketiga temen cewekku Sofa, Lita dan Mili. Sambil istirahat kami ngobrol dan sesekali aku membuka-buka foto-foto yang sudah ku ambil. Hingga akhirnya aku berhenti di satu foto dan memandanginya cukup lama. Itu foto candid ku bersama Rey ketika di Oro-oro Ombo. Entahlah aku tersenyum sendiri melihat foto itu.

              “Ciee…ada yang senyum-senyum sendiri nih.” seloroh Mili

              “Hayu…foto apaan sih Zee kok bisa bikin kamu senyum sendiri?” timpal Lita

              “Mm, bukan apa-apa kok, ini foto Verbena nya cantik banget.” jawabku ngeles

               “Verbena yang manis apa orang yang disekitar Verbena itu yang manis?” ledek Sofa yang kebetulan melihat foto yang sedang ku lihat.

               “Dih…Sofa ih, bukan gitu…” balasku malu

               “Ciee…Zeezee…Ciee…” ledek Lita

               “Ehem…ehem…” timpal Mili

               Sofa tertawa puas karena telah berhasil membuat pipiku merah karena malu. Para cowok yang beristirahat agak jauh tidak mendengar dengan jelas percakapan kami, hanya saja ketika aku melihat ke arah Rey pandangan kami bertemu. Dengan cepat aku mengindarinya.

               “Duh…kenapa sih, akhir-akhir ini Rey kok beda banget. Bikin aku keki aja” batinku

               Setelah lelah kami terobati, aku dan rombongan tidak membuang-buang waktu untuk melanjutkan perjalanan kami menuju pos jambangan. Setelah sampai di pos Jambangan pun kami langsung melanjutkan perjalan menuju Kalimati.

             Dari jambangan ini jaraknya sudah lumayan dekat untuk mencapai Kalimati, tempat untuk berkemah kami selanjutnya. Dan dari Jambangan ini juga Puncak Semeru sudah mulai terlihat. Setelah tenaga terkuras melewati jalur Cemoro Kandang-Jambangan semangat kami kembali bangkit ketika melihat Puncak itu dari jauh.

              Track selanjutnya dari Jambangan menuju kalimati cukup menyenangkan karena tidak menanjak lagi melainkan menurun. Pukul 14.00 WIB aku dan rombongan sampai di Kalimati, setelah beristirahat sebentar kami bersiap mendirikan tenda lagi untuk bermalam dan mempersiapkan tenaga menuju puncak.

             “Guys, langsung bikin tenda dan seperti biasa ya siapin untuk makan juga. Karena ambil airnya cukup jauh nanti salah satu dari kita bantuin yang cewe ambil air.” komando Rey

            “Langsung dibagi aja Rey tugasnya biar langsung eksekusi.” jawab Fiko

            “Ok kalau gitu, bro kalian bertiga buat tenda nanti biar aku dan Zeezee sama Mili yang ambil air. Sofa sama Lita bantu-bantu yang disini sambil nyiapin untuk makan malam ya.”

            “Ok Rey.” jawabku

            “Siap…” jawab Adit

            “Ok…” jawab yang lain

            Semua menjalankan tugas yang telah diberikan. Tidak seperti di Ranu Kumbolo yang dekat dengan sumber air, dikalimati harus berjalan jauh dulu baru menemukan sumber air yaitu di daerah Sumber Mani.

***

Sang Pencerah

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1175

- Day 24

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

Malam ini tidak ada aktivitas yang berarti karena mereka butuh istirahat yang cukup untuk mempersiapkan fisik yang prima demi perjalanan ke puncak semeru. Setelah makan malam Rey memberi komando untuk segera beristirahat.

Pukul 24.00 WIB. Aku dan rombongan start dari camp kami menuju puncak semeru. Peralatan yang diperlukan sudah aku persiapkan dengan baik, jaket tebal, tracking pole, sepatu, dll. Sebelum berangkat aku dan rombongan melakukan briefing terlebih dahulu agar perjalanan kami lancar, dan jika ada kendala kami bisa mengantisipasinya dengan cepat. Rey pun memberikan instruksi dan cara-cara untuk antisipasi track.

“Guys, inget ya ketika kita sudah sampai di kelik yang merupakan batas vegetasi kalian harus hati-hati. Karena contour nya adalah pasir dan batu-batu kecil jadi sangat rawan untuk longsor oleh karena itu kalian jalannya nanti zig-zag yah, hal ini sebagai upaya kita untuk terhindar dari batuan yang bisa sewaktu-waktu kita injak akan mengalami longsor.” jelas Rey memberi peringatan.

“Yang cewe jalan di depan aja gimana Rey jangan sampai di belakang, akar kita bisa selalu menjaga.” usul Fiko

“Iya bener tuh.” timpal Rury

“Itu sudah pasti, kita bagi aja biar yang cowok bertanggung jawab pada satu cewek. Tapi nanti ketika ada yang butuhin bantuan pokoknya semua harus saling bantu jangan lantas hanya bertanggung jawab sama satu cewek itu doank ya.” jelas Rey

“Ok...aku setuju.” jawab Adit

Aku dan semua temen cewek hanya mengangguk tanda setuju.

“Langsung di bagi aja Rey kalau gitu.” usul Fiko

“Ok, yang pertama Lita jadi tanggung jawabnya Rury, Mili sama Fiko, Sofa sama Adit, nanti Zeean sama aku.” jawab Rey

“Rey, bisa nggak sih aku nggak sama Adit.” protes Sofa

“Yah, beb...kamu kok gitu sih. Aku kan bakalan jagain kamu banget beb.” timpal Adit merajuk. Sedangkan yang lain tertawa dengan pernyataan Sofa.

“Gimana Dit?” tanya Rey

“Ya udah deh terserah bebeb aja, aku pasrah.” ucap Adit lesu, Sofa tak menghiraukan hal itu. Tetap pada keputusannya

“Ya sudah tukeran aja Adit sama Mili nanti Fiko sama Sofa. Pada intinya semua saling back up tidak harus yang tadi aku umumin ya. itu sebagai tanggung jawab aja. Pokoknya kita berangkat bareng pulangpun harus bareng. Siap guys?” perintah Rey

“Siap!” jawab serentak aku dan yang lainnya

Setelah semua siap dan briefing ditutup dengan do’a bersama meminta keselamatan dan kesehatan agar semua bisa menjejakkan kaki di puncak serta pulang dengan semua rombongan.

Estimasi perjalanan menuju Kelik yang merupakan batas vegetasi, batas tumbuhnya pepohonan kurang lebih 2 jam. Track menuju puncak cukup berat, beberapa saat akan sampai di Kelik jalur mulai berubah dari yang tadinya awal pendakian jalur berupa tanah menjadi pasir dan berbatu.

Apa yang dikatakan Rey terbukti, jalur berpasir konturnya tidak stabil. Jika kita naik 3 langkah, kemungkinan besar kita akan turun satu langkah atau jika kita tidak hati-hati bisa saja turun sampai bawah lagi. Untuk itulah, disiasati dengan berjalan zig-zag.

Berbekal informasi dari para pendaki yang kita jumpai saat mereka turun, di sinilah setiap pendaki akan merasakan syndrome “Kok Nggak sampai-sampai ya”. selain itu, aku dan rombongan juga di peringatkan untuk tidak beristirahat terlalu lama di satu titik apalagi sampai tertidur bisa berakibat fatal karena tidak akan mendengar himbauan dari teman-teman lainnya ketika mungkin ada batu terjatuh atau lainnya.

“Capek nggak Zee, mau istirahat?” tanya Rey di tengah perjalanan menuju puncak semeru

“Lumayan Rey, tapi nanti aja sekalian di puncak aja istirahatnya. Nanggung, sebentar lagi juga sampai puncak kok.” jawabku

“Ok, sip. Luar biasa semangatmu.” balas Rey

“Biasa aja deh Rey, nggak usah berlebihan gitu.” timpalku

“Iya deh iya.”

Perjalanan aku dan rombongan tidak ada halangan berarti karena kami betul-betul patuh pada himbauan Rey dan teman pendaki lain yang sudah mengingatkan kami. Namun naas, karena saking semangatnya dan terbuai akan keindahan pemandangan sekeliling saat sebentar aku mengedarkan pandanganku, karena kurang hati-hati aku terpeleset. Untung saja Rey sigap memegang tanganku dan aku beruntung sekali menjejakkan pada batu pijakkan yang kuat sehingga aku dan Rey tidak sampai turun.

“Zee…hati-hati, nanti saj kamu nikmati pemandanganya kalau sudah dipuncak biar aman.” ucap Rey memperingatkan setengah bersungut-sungut.

“Rey yang ku kenal telah kembali” batinku

“Iya…” jawabku

Setelah berusaha cukup keras akhirnya sampailah aku dan rombongan di atap tertinggi Pulau Jawa, ‘Mahameru’ (3676 MDPL) Puncak Para Dewa. Di sana kita bisa melihat letusan-letusan kecil dari kawah Jonggring Saloka dan merasakan belaian sang bayu. Semua usaha yang kami lakukan terbayar dengan keindahan negeri diatas awan.

Aku dan rombongan kembali mengambil foto disana. Setelah merasa cukup puas aku duduk menikmati keindahan puncak semeru sebelum kami turun.

“Pelajaran apa yang kamu ambil dalam perjalanan ini Zee?” tanya Rey yang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku belum bisa menjawab, ku edarkan pandanganku ke arah teman-teman lain yang masih sibuk berfoto. Kemudian aku kembali menatap Rey.

“Betapa berartinya seorang sahabat Rey.” jawabku singkat, karena itu yang aku rasakan

“Selain itu?” tanya rey kembali

“Betapa Allah luar biasa menciptakan semua ini.” jawabku

“Ada hal yang lebih penting dari pada itu Zee.” ucap Rey kembali mode serius

“Apa?” tanyaku penasaran

“Perjalanan. Perjalanan yang kita lalui bukanlah perjalanan yang ringan, tidak mudah menaklukkan track semeru ini. kamu ingat, dari awal perjalanan kita enak bisa naik mobil, setelahnya naik jeep berbeda lagi kendaraan kita. Nah, setelah itu kita mulai berjalan. Tanjakkan demi tanjakan kita lalui dari track tanah sampai batu berpasir. Semua itu menggambarkan perjalanan hidup kita Zee. Tidak ada perjalanan hidup yang selalu indah, pasti banyak sekali ujiannya. Sesekali kita tersenyum karena menemukan pemandangan indah didalam perjalanan kita, tapi lain kali kita mengeluarkan keringat menyusuri tanjakan yang terjal demi untuk pemandangan yang jauh lebih cantik didepan. Seperti itu pula kehidupan, ketika kita mendapat ujian kita akan mengeluarkan energi yang besar. Gunakanlah energi itu untuk menemukan solusi atas apa yang terjadi, bukan lantas hanya didiamkan saja, berkeluh kesah atau justru mengumpat. Itu sama sekali tidak akan menyelesaikan semuanya. Karena keluh kesahmu hanya akan memberatkan Langkah. Yang paling buruk adalah kamu akan kufur nikmat dan Suudzon terhadap Allah. Jika sudah demikian maka butalah mata hatimu dengan segala kasih sayang yang Allah beri.” ucap Rey memberi nasehat. Aku diam cukup lama mendengarkan Rey berbicara. Apa yang Rey katakana memang ada benarnya.

“Cobalah untuk belajar berdamai dengan keadaan Zee, berdamai dengan diri sendiri. Bahwa apa yang terjadi dalam kehidupanmu memang harus terjadi, karena itu merupakan tanda sayang dan cinta Allah terhadapmu. Allah ingin kamu lebih mendekat padaNya. Allah ingin mendengar rayuan manis dan nyaringnya suara tangisanmu memohon padaNya. Allah ingin jadikan kamu seseorang yang kuat untuk menghadapi ujian yang lebih besar di depan nanti. Karena manusia itu tidak luput dari ujian Zee. dan percayalah Allah memberikan ujian itu tidak akan melebihi batas kemampuan hambaNya. Kamu diberikan ujian seperti ini berarti Allah yakin kamu mampu menghadapinya. Untuk itu, cobalah mulai saat ini usahakan kamu berdamai dengan keadaan, lebih banyak bersyukur atas sekecil apapun kenikmatan yangn Allah beri untukmu. Percayalah suatu saat kamu akan merasakan kenikmatan luar biasa atas usahamu ini.” lanjut Rey

Aku mencerna semua kata-kata Rey. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Rey, selama ini diotakku hanya penuh dengan pertanyaan tanpa melihat sisi lainnya yaitu menarik hikmah dari setiap ujian yang aku alami. Selama ini aku sibuk memprotes Tuhan tanpa mau bersyukur atas apa yang telah Dia beri untukku selama ini.

***

 

 

Merubah Mindset

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1172

- Day 25

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Waktu untuk menikmati indahnya Mahameru, kawah Jonggring Saloka dan pemandangan negeri di atas awan atap Para Dewa sudah habis, saatnya aku dan rombongan kembali pulang menuju perkemahan di Kalimati. Perjalanan pulang tiada hambatan berarti. Rasa puas yang membuancah, bersyukur bisa sampai ke puncak Mahameru membuat energi kami seolah di charge ulang. Setelah sampai di perkemahan aku dan rombongan beristirahat, bermalam kembali dan paginya bersiap untuk pulang dengan start lebih awal. Karena lelah kami memutuskan untuk langsung istirahat agar paginya fresh dan bisa langsung mencapai pos 1 Ranu Pane.

            Pukul 05.00 WIB aku dan rombongan sudah bersiap untuk menyusuri jalan pulang. Dari Kalimati kami mulai begerak ke Jambangan-Cemoro Kandang-Oro-Oro Ombo. Untuk melewati track Oro-oro Ombo yang pada awal perajalanan kami memutar agar bisa melihat keindahan Verbena, kali ini aku dan rombongan memutuskan hanya berjalan lurus lewat bawah. Selanjutnya kami jumpai Tanjakan Cinta dan Ranu Kumbolo. Di Ranu Kumbolo kami beristirahat sebentar sambil berbincang dengan pendaki lain yang bersiap menuju puncak. Kami saling sharing dan berbagi informasi agar supaya perjalanan mereka aman terkendali, selamat dan bisa kembali pulang. Aku yang sedang duduk beramai-ramai di panggil oleh Rey.

            “Zee…ikut denganku sebentar, ada yang perlu aku bicarakan.” ucap Rey yang mendekat ke arahku masih dalam posisi berdiri.

            “Iya Rey, ada apa?” jawabku berdiri dan mengikuti kemana arah Rey berjalan

            Rey mengajakku ke tepi Danau Ranu Kumbolo, Rey duduk jarak 5 km dari bibir Danau. Aku mengikutinya dan duduk disampingnya.

            “Zee…ada yang ingin aku tanyakan. Aku harap kamu bisa jujur dan kita bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanmu selama ini. Kalau boleh tahu, kamu sudah pernah bertemu dengan Kakek dan Nenekmu dari ayah mu belum?” tanya Rey

            “Belum pernah Rey. Saat Ayah dan Ibuku mengalami kecelakaan pesawat itu sebenarnya ingin bertemu mereka Rey, karena Ayah di telfon sama Om ku agar kesana menemui Kakek dan keluarga besar disana. Tadinya aku disuruh ikut, berhubung di sekolah sedang ada kegiatan dan aku memang panitianya jadi tidak memungkinkan aku ikut. Entahlah, tadinya Ayah dan Ibuku ingin pergi lewat jalur darat tapi keterbatasan waktu karena Ayahku juga seminggu kedepannya ada acara di Galery bersama teman-teman pelukisnya jadi akhirnya menempuh perjalanan udara biar cepet. Tapi…” jawabku menjelaskan namun tidak bisa meneruskannya karena bibirku berat, dan air matapun jatuh menetes tak tertahankan. Rey yang memang sedari tadi memandang wajahku seketika menghapus air mataku yang jatuh.

               “Kamu boleh menangis, kamu boleh bersedih karena manusia biasa tapi tidak boleh berlaru-larut apalagi sampai berlanjut berkeluh-kesah. Seketika kamu menangis jadikan tangisanmu sebagai semangat untuk kekuatanmu menghadapi ujian itu agar kamu punya tenaga baru lagi. Ini memang tidaklah mudah, tapi setidaknya cobalah.” ucap Rey sambil menghapus air mataku. Aku hanya mengangguk tidak bisa berkata apapun. Kata-kata Rey seolah mantra yang bisa menghipnotisku. Seketika aku berhenti dari tangisku dan mencoba seperti apa yang dikatakan Rey untuk mengubahnya jadi semangat baru. Untuk tahap awal aku masih belum yakin ini kategori berhasil atau belum. Setidaknya aku sudah berusaha.

              “Kamu tahu alamat Kakek kamu?” tanya Rey kembali. Aku menggelengkan kepala tanda tidak ada jawaban yang Rey tanyakan.

            “Aku nggak tahu Rey, tapi mungkin Tante Fina tahu. Kalau tidak salah sih masih dalam satu provinsi sama kita deh Rey. Cuma di kota mananya aku kurang paham” jawabku mengingat-ingat karena Tante Fina pernah menyinggung keberadaan mereka saat awal pindahku bersama Tante Fina. Ingatanku kembali tertuju pada kata-kata Tante Fina saat kami beberes barang-barang di rumah yang baru kami tempati.

            “Andai Kakekmu tidak terlalu keras sama ayahmu Nis, mungkin sekarang kamu bisa ketemu Kakekmu.” ucap tanteku

            “Memangnya Kakek tinggal dimana Tan, kok tante ngomong gitu?” tanyaku

            “Kakekmu masih satu provinsi sama kita tapi tante tidak pernah kesana.” Jawab Tante Fina         

“Ya sudah Tan, nggak usah dibahas lagi ya. Aku nggak mau tahu juga. Oh iya, Tan. lupa yaa? jangan Nisa donk. Zeean aja. Nama itu bisa mengingatkanku dengan semuanya.” ucapku

            “Oh iya, maaf Tante lupa.” balas tante Fina

            Setelah kembali mode fokus aku memandang ke arah Rey dan bertanya-tanya untuk apakah dia menanyakan alamat Kakekku. Tapi aku hanya diam.

            “Ok, kalau begitu setelah kita pulang nanti kita akan cari tahu dimana alamat Kakekmu dan kita bersilaturahmi kesana.” ucap Rey memberi tahu

            “Buat apa Rey? Nggak usah, udah biarin aja. Aku takut mereka nggak mau ketemu sama aku Rey, kalau nggak mau ketemu mending. Kalau sampai aku tahu mereka tidak mau mengakuiku sebagai cucu mereka, aku akan lebih sakit Rey.” balasku lesu

            “Zee…kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika belum mencobanya. Dan selalu berfikirlah positif dalam hati dan pikiranmu, agar apa yang kamu pikirkan itu ter-realisasi dengan nyata. Ketika kamu negative thinking maka itulah yang bakal terjadi Zee. mulai saat ini tanamkan dalam hatimu untuk selalu berpikir positif. Jika kamu tidak percaya apa omonganku kamu bisa jadikan ini sebagai ajang pembuktian. Tapi dengan satu syarat, kamu ubah cara berpikirmu. Kamu yakinkan dan tanamkan dalam pikiranmu hal-hal yang positif bahwa Kakekmu beserta keluarga besar Ayahmu akan mau menerima mu, mau bertemu denganmu. Udah gitu aja dulu, untuk yang lain kedepannya biar nanti aja. Yang penting untuk sekarang adalah mau bertemu dan mau mengakuimu. Mau berusaha?” pinta Rey padaku dengan memberikan telapak tangannya sebagai tanda deal.

            “Aku akan mencobanya Rey.” jawabku menerima uluran tangan Rey dan berjabatan tanggan dengannya sebagai tanda setuju.

            “Ok…deal. Setelah sampai rumah kemungkinan dini hari, nanti siangnya aku kerumahmu. Kamu siap-siap, kita akan pergi mencari alamat Kakekmu.” ajak Rey

            “Iya Rey…” jawabku

***

            Setelah perbincangan itu aku berpikir keras menimbang-nimbang perkataan Rey. Dalam hatiku seperti perang antara sisi positif dan negative. Dan akhirnya sisi positifku menang. Aku akan mencoba untuk merubah mindsetku selama ini, menerima tantangan Rey.

             Istirahat yang sudah dirasa cukup bagi kami membuat aku dan rombongan izin pamit pada teman-teman pendaki lain di Ranu Kumbolo untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku sudah tidak sabar untuk sampai di pos Ranu Pane bahkan ingin segera sampai dirumah.

             Aku dan rombongan melanjutkan track demi track yang sudah kami kenal sebelumnya sehingga perjalanan tidak begitu lama kami rasakan hingga pada Akhirnya sampailah kami di Pos Ranu Pane. Rey menghadap ke Sekretariat diikuti kami di belakangnya melaporkan bahwa rombongan kami sudah kembali dengan selamat dan lengkap. Setelah semua prosedur dilakukan sambil beristirahat sebentar dan beberes, kami langsung persiapan untuk pulang.

            Mobil jeep yang membawa kami menuju Pasar Tumpang serasa berjalan dengan cepat. Menjadikan jam tempuh menjadi lebih sedikit. Sampai di pasar Tumpang kami sudah ditunggu oleh travel yang memang sudah kami sewa sebelumnya dan Rey sudah telfon janjian untuk kembali menjemput kami.

            Perjalanan dari Pasar Tumpang pun seolah begitu cepat. Ini karena memang benar-benar cepat atau aku yang terbawa suasana semangat untuk cepat sampai ke rumah? pikirku. Entahlah yang jelas aku ingin cepat sampai.

***

            Pukul 01.00 WIB, aku dan teman-teman sampai di rumahku sebagai tempat titik awal kumpul. Beberapa teman cewek sudah langsung diantar menuju rumah masing-masing begitu juga dengan Rury, Fiko dan Adit. Jadi yang masih tertinggal dam travel hanya aku dan Rey karena kebetulan motor Rey berada dirumahku.

            Setelah turun dan mobil travel pergi, bersamaan dengan Tante Fina yang keluar dari garasi Rey langsung pamit pada Tante Fina kemudian mengambil motornya di garasi. Tak lama Rey pun melesat dalam keheningan malam menuju pagi.

***

 

Mencari Jawaban

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1377

- Day 26

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

Rasanya tidurku semalam begitu nyenyak. Badan yang letih membuat istirahatku bener-bener efektif. Sampai-sampai aku bangun kesiangan, itupun karena kaget Tante Fina mengetok pintu kamarku memberi tahu bahwa hari sudah siang. Semalam memang aku sedikit membahas tentang rencanaku dan Rey. Tante Fina pun sudah mencarikan alamat Kakekku. Dan hari ini aku akan berusaha menentang segala rasa pesimisku dengan mengubah mindsetku untuk selalu berpikir positif seperti apa yang di tegaskan Rey.

Tok…tok…tok…terdengar Tante Fina mengetok pintuku beberapa kali.

“Zee…sayang…sudah bangun belum? katanya mau pergi, udah siang ini lho…” sapa Tante Fina membangunkanku. Aku yang masih belum terkumpul nyawanya dan masih dalam dekapan selimut seketika membelalakan mataku teringat rencanaku bersama Rey, apalagi kata Tante hari sudah siang. Akhirnya aku langsung bangun.

“Em…i…iya Tante, Zee sudah bangun kok.” jawabku tergopoh-gopoh bangun dari ranjang dan membukakan pintu kamar sambil mengucek mata. Begitu pintu terbuka senyuman manis Tante Fina menyambutku. Yang ku balas dengan cengiran kuda ala diriku.

“Sudah bangun kok rambut awut-awutan gitu Zee…Zee…” balas Tante Fina terkikik

“Ih Tante…jangan ngeledekin Zeean donk!” pintaku merajuk sedangkan Tante Fina semakin tertawa lebar

“Hahaha…iya Zee…iya…udah kok Tante udahan ketawanya.” balas Tante Fina menutup mulutnya yang masih terkikik.

“Ah…Tante…gitu kan. Suka banget ngeledekin Zeean.” ucapku masih merajuk.

“Iyaa…sudah. Nih, Tante nggak ketawa lagi.” Balas Tante berhenti dari tawanya

“Udah sekarang buru-buru mandi gih, Tante sudah nyiapin sarapan sama alamat yang kamu minta udah ketemu. Nanti keburu Rey kesini kamu masih belum siap.

“Iya Tan, Zeean mandi dulu ya.” pamitku

“Iya…Tante tunggu di meja makan ya, kita sarapan bareng.” balas Tante Fina

“Siap…Tan…!” jawabku

Aku tak membuang waktu, begitu Tante Fina pergi aku langsung menuju kamar mandi dan langsung bersiap. Aku sangat semangat kali ini, di satu sisi aku ingin menguji kata-kata Rey dan disisi lain aku benar-benar ingin bertemu dengan semua keluarga besar dari Ayahku yang selama ini tak pernah ku lihat bagaimana wajah mereka.

Setelah semua persiapanku selesai akupun beranjak ke meja makan. Aku kaget ternyata di meja makan tidak hanya Tante Fina yang menungguku, tetapi Rey juga sudah datang ternyata. Tak tahu entah kenapa aku sedikit gugup dihadapan Rey, dan ini baru pertama kali akku merasakan ini semua.

“Lho…kamu udah datang Rey?” tanyaku basa-basi sebagai usaha melawan rasa gugupku.

“Iya Zee…belum lama kok.” jawab Rey

“Iya Rey belum lama Zee…Ok, kalau gitu kita sarapan bareng ya nanti setelah sarapan Tante kasih alamatnya. Rey belum sarapan kan?” timpal Tante Fina

“Waduh… makasih banyan Tan, Rey kebetulan sudah sarapan.” jawab Rey

“Pokoknya harus tetep sarapan disini meskipun sedikit, cicipin donk masakan Tante…” bujuk Tante Fina

“Tante…kalau Rey sudah sarapan jangan di paksa donk. Kasihan tuh nanti kekenyangan lho.” timpal ku

“Cie…yang sudah mulai kasih perhatian…” ledek Tante Fina. Mendengar hal itu aku malu setengah mati, pipiku rasanya panas sekali. Kalau di perhatiin seperti udang rebus mungkin. Rey hanya tersenyum sambil mencuri pandang ke arahku. Begitu tatapan kami bertemu aku secepat kilat mengalihkannya.

“Iih…Tante…perasaan seneng banget deh ngeledekin aku…” ucapku merajuk. Rey masih tertawa kecil saat aku mencuri pandang ke arahnya.

“Lho…biasa aja donk kalau nggak bener mah, justru kalau kamu salah tingkah berarti bener kamu ada sesuatu…hayo ngaku…” balas Tante fina semakin membuatku salah tingkah jadinya

“Tante…sudah ya…aku mau sarapan nggak jadi-jadi nih, udah siang lho Tan. Jangan ngeledekin aku terus kenapa?” pintaku sebagai upayaku menghindar dari situasi ini.

“Iya…iya…deh. Tante nggak ngledekin lagi. Ayo Rey…cicipin lah sedikit juga nggak papa.” Balas Tante Fina

“Rey…cobain Rey biar nanti Tante nggak ngeledekin aku terus.” Timpalku. Tante Fina tersenyum mendengar celotehku

“Baiklah…aku akan mencicipinya.” jawab Rey

“Nah…gitu donk. Zeean nawarin, kan jadi nggak pake lama kan…” Ledek Tante Fina kembali

“Tan…” ucapku

“Iya sudah, lanjut sarapannya yuk…” potong Tante Fina yang diiringi tawa dari Rey dan Tante Fina sendiri.

Setelah selesai sarapan aku dan Rey bergegas berangkat agar tidak terlalu siang. Hari ini Rey membawa mobil karena perjalanan kami cukup lama jika memakai motor terlalu letih pikirnya. Vios metalik meluncur pergi dari halaman rumahku menuju alamat yang telah Tante Fina beri. Aku sedikit gugup dan nyaliku menciut saat mobil mulai melaju, Rey yang mengetahui itu. Dengan satu tangannya dan tangan lain memegang kemudi setir, Rey menggenggam tanganku seperti menyalurkan energinya untuk memberiku semangat dan percaya diri. Akupun memandang genggaman tangan itu lantas beralih memandang wajah Rey yang sedang memandangku. Anggukan Rey serasa memberi komando “Kamu bisa!” dan seperti teraliri semangat luar biasa akupun mengangguk membalas anggukan Rey sebagai tanda “Ya, aku siap!”. Mobil kami melaju membelah jalanan kota, dalam hati iringan do’a dan pikiran positif selalu membersamaiku. Obrolan ringan aku dan Rey pun menyertai perjalanan kali ini.

Setelah 4 jam perjalanan akhirnya sampailah aku di alamat yang di tuju. Sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas di tumbuhi rerumputan dan berbagai tanaman hias menyambut kedatangan kami. Ketika mobil berhenti tepat dihalaman, ada wanita kisaran 60 tahunan sedang duduk di teras depan rumah. Hatiku berdesir, “apakah itu nenekku?” tanyaku dalam batin. Mataku mulai menggenang, setelah Rey mematikan mobil dia tak lantas membuka pintu melainkan memandang ke arahku

“Zee…” ucap Rey

“Iya…” jawabku singkat memandang ke arahnya.

“Siap…?” tanya Rey pun singkat. Aku hanya mengangguk. Rey kembali menggenggam tanganku kembali menyalurkan semangatnya.

“Kamu bisa Zee.” balasnya tegas. Aku menghirup nafas panjang kemudian mengeluarkan perlahan lewat mulut beberapa kali sebagai upaya meredakan rasa gugupku. Setelah agak tenang, aku mengangguk. Rey melepaskan genggaman tangannya kemudian membuka pintu mobil bersamaan denganku. Aku melangkah keluar bersama Rey, berjalan menuju wanita yang sedang duduk diteras itu.

“Assalamu’alaikum wr.wb. Maaf Bu…apa benar ini kediaman Bapak Aji Dharmawan?” tanya Rey. Aku hanya mengekor dibelakang.

“Benar Nak, kalian siapa? ada perlu apa?” tanya kembali wanita sepuh itu

“Apakah Bapak Aji Dharmawan ada? kami ingin bertemu, sampaikan saja kami dari luar kota ingin bertemu dan bersilaturahmi dengan Bapak Aji Dharmawan beserta keluarga besar.” jawab Rey menjelaskan.

“Kalau begitu mari masuk dulu Nak, nanti Ibu panggilkan Bapak.” balas wanita sepuh itu. Rey bersalaman dengan wanita sepuh itu diikuti aku, lalu kami dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Wanita itu memandangiku dengan pandangan teduh dan cukup lama memperhatikanku. Menurut Sebagian orang yang kenal dengan keluargaku, wajahku memang mirip Ayahku. Mungkin itulah yang membuat Wanita itu cukup lama memandangiku. Setelah mempersilahkan duduk, beliau bergegas ke dalam untuk memanggil suaminya. Aku memandang dinding ruang tamu yang banyak terpampang foto-foto keluarga mereka, dan salah satunya ada foto masa muda Ayahku disitu. Mataku berembun, namun buru-buru langsung ku hapus dan ku tahan segala rasa yang berkecamuk dalam hatiku, aku dominankan pikiran positifku untuk mengontrol semuanya seperti yang Rey ajarkan saat diperjalanan. Tak lama seorang pria sepuh namun fisiknya masih sehat keluar diiringi sang istri dan 2 pria paruh baya. Mereka kemudian duduk berhadapan dengan aku dan Rey. Kemudian yang ku asumsikan sebagai Pak Aji Dharmawan dengan senyum sumringah menyambut kami dan bertanya siapa kami dan apa keperluan kami. Rey membuka obrolan.

“Saya yang bernama Aji Dharmawan Nak, kalian siapa dan ada perlu apa datang kemari?” tanya Pria itu yang benar merupakan Kakekku dengan senyum lebarnya menggambarkan begitu terbuka menerima kedatanganku

“Begini Pak, saya Rey Hardianto dan ini teman saya Zeezee Anisa Dharmawan.” jawab Rey yang ku hadiahi dengan ku injak kakinya karena menyebutkan nama belakang keluarga ayahku. Seketika semua orang kecuali Rey yang berada diruangan itu terperanjat kaget dan saling melempar pandangan. Berbeda dengan istri dari Pak Aji Dharmawan yang merupakkan nenekku. beliau justru memandangku dengan wajah tersenyum dalam sedihnya dan seolah membendung air matanya. Rey yang ku injak kakinya tak menghiraukan hal itu.

“Maaf pak, Bu…mungkin anda kaget dan bertanya-tanya siapa kami sebenarnya. Ya, kami datang dari luar kota pertama untuk silaturahmi dengan Bapak dan Ibu beserta keluarga. Yang kedua saya ingin bertanya. Apakah anda semua mengenal Alm. Bapak Rahmat Dharmawan?” lanjut Rey dengan respon kaget mereka

“Apa…kamu bilang! jangan ucapkan nama itu disini! Aku sudah tidak sudi lagi mendengar nama itu.” ucap Kakek dengan air muka yang berubah penuh emosi. Hatiku mulai berdebar tak karuan, perasaan cemas mengelilingiku, aku menunduk. Rey tahu pasti rasaku, dia kembali menggenggam tanganaku. Sehingga aku berusaha untuk kembali menegakkan kepalaku.

Mendengar semua itu hatiku sakit, sedih campur aduk. nyaliku dan harapanku semakin ciut saja rasanya. Aku mendunduk, Rey kembali menggenggam tanganku namun aku masih tetap saja menunduk.

Keluarga Baru

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1241

- Day 27

- Sarkat Jadi Buku

 

 

Melihat aku yang terus menunduk, kemungkinan hati Nenekku tak tega melihatnya. Sehingga Nenekku menenangkan Kakekku. Wajah kedua pria yang ada disitu mulai menegang.

“Pak…sabar pak. Kita dengarkan dulu apa tujuan mereka datang kemari.” timpal Nenekku. Seperti memandang iba ke arahku. Entahlah perasaanku berkata bahwa nenekku sudah mengetahui siapa aku. karena biasanya perasaan seorang wanita itu lebih kuat

“Tunggu…kamu bilang apa tadi almarhum?” tanya salah seorang pria yang aku belum tahu siapa.

“Iya Pak…Bapak Rahmat Dharmawan sudah meninggal kurang lebih 3 tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat bersama Ibu, yang tujuan mereka adalah bertemu keluarga disini. Namun naas pesawat yang ditumpanginya mengalami gagal take off dan terbakar...” ucap Rey

“Innalillahi wa innaillaihi roji’un…” ucap mereka serentak

“Rahmat…!” ucap Nenekku berteriak dan jatuh lemas menyender ke kursi tak kuasa membendung rasa sedih dan tangisnya. Semua kaget termasuk aku.

“Bu…sabar bu…sabar…istighfar” kata pria yang duduk di sebelah nenekku. Mengusap-usap lengan nenek. Kakek ku diam dengan raut wajah yang tidak dapat ku mengerti apa artinya, seolah ada rasa penyesalan, sedih, kalut, kecewa, semua campur aduk jadi satu. Setelah lama diam dan Nenekku mulai tenang. Kakek mulai bisa menguasai emosinya dan memandang teduh ke arahku

“Lalu…apakah ini cucuku?” tanyanya memandang ke arahku setengah menahan tangisnya. Aku tidak dapat melukiskan perasaanku saat itu.

“Iya Pak, ini adalah putri satu-satunya alm. Bapak Rahmat dan Ibu. Dia saat itu tidak ikut karena ada acara di sekolahnya yang mengharuskan dia hadir. Niatnya setelah selesai akan menyusul, tapi ternyata begini akhirnya.” Jelas Rey. Aku menunduk menahan tangis. Nenekku masih terus menangis dalam pelukan anaknya yang akhirnya ku ketahui sebagai om ku, Nenekku masih kaget menerima kenyataan anaknya sudah meninggal.

“Aku tahu, aku salah selama ini karena menentang pernikahan mereka. Tapi ketahuilah aku hanya menguji seberapa besar cinta mereka. Mereka salah mengartikan kemarahanku, anakku sendiri menganggap aku mengusir mereka. Tanpa menoleh mereka pergi begitu saja. Aku terlanjur sakit karena anggapan dan tuduhan anakku yang mengartikan semua rasa sayangku sebagai kekangannya. Padahal niatku hanya ingin memberikan yang terbaik, jangan sampai menikah lebih dari satu kali. Dalam keluargaku aku terapkan bahwa berumah tangga itu sekali seumur hidup, jadi aku tidak mau anak-anakku mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Tapi mereka salah paham denganku. Mereka menganggapku kejam karena ingin memisahkan mereka, tanpa mencari tahu alasan di baliknya…” jelas Kakekku sambil menunduk menutup muka dengan sebelah tangannya, menangis tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Jadi…sebenarnya anda merestui pernikahan Ayah dan Ibu…?” tanyaku pelan memberanikan diri. Kakekku menegakkan kepalanya kembali. Tak ada kata yang keluar hanya anggukan berkali-kali sambil terus menangis. Aku tak dapat membendung tangisku, air mataku keluar bercucuran. Rey merangkulku, mengusap lembut lengan atasku guna menenangkanku.

“Nak…kemarilah, apakah kau tidak ingin memeluk nenekmu ini?” ucap nenekku sambil mengulurkan tangannya. Aku menengok kea rah Rey, Rey mengangguk tanda setuju. Kemudian aku berjalan ke arah nenekku yang duduk bersebelahan dengan Om ku. Om ku beranjak berdiri mempersilahkanku dan ia mengambil tempat duduk yang lain. Aku duduk di sebelah nenekku yang kemudian merangsek memeluk nenekku yang bersender pada senderan belakang kursi. Nenekku memelukku.

“Kamu disini saja sama Nenek ya…temani nenek sebagai obat kangen nenek pada Ayah dan Ibumu?” pinta Nenekku sambil terus menangis. Aku hanya mengangguk untuk menenangkan Nenekku sementara. Aku membelai pipi Nenekku, menghapus air matanya dan menampakkan senyumku agar Nenek tenang. Setelah reda, Pria di samping Kakekku yang pada akhirnya ku ketahui sabagi Pak De ku mulai mengeluarkan kata-kata.

“Lalu kamu tinggal sama siapa disana Dek…? siapa tadi nama mu?” tanya Pak De ku memandang ke arahku

“Zeezee Anissa…pak. Panggil saja Zeean.” jawabku

“Jangan panggil Pak, aku ini kakak dari Ayahmu. Panggil saja Pak De atau Pak Ganteng gitu…?” balas Pak De ku mencairkan suasana. Pak de ku yang satu ini memang suka humor.

“I…iya Pak De...aku tinggal bersama Tanteku, adik kandung Ibu.” jawabku agak kaku karena masih belum terbiasa.

“Apa cuma Nenekmu yang kamu peluk, kamu nggak mau nerima Kakek sebagai Kakekmu?” seloroh Kakek dengan sorot mata sedih. Aku melihat kea rah Nenekku, yang dijawab anggukkan yang ku tahu maksudnya. Aku berjalan menuju kursi yang di duduki Kakekku. Aku bersalaman kemudian duduk dan Kakekku dengan tangis pecah memelukku. Aku pun kembali meneteskan air mata lebih deras dari sebelumnya.

“Maafkan Kakek Zeean, Kakek yang salah, Kakek salah…huhuhu...” tangis Kakek menyesali perbuatannya yang menjadi titik salah paham diantara ayah dan anak. Aku tidak dapat melukiskan perasaanku saat itu, yang jelas aku begitu bahagia, haru, takjub akan perkataan Rey.

***

            Hari itu merupakan hari yang amat bersejarah untukku. Aku bertemu keluarga Ayahku dan mereka pun menerima kehadiranku. Aku dan Rey tidak boleh langsung pulang oleh Nenek dan Kakekku serta Pak De dan Om ku. Karena mereka telah menelfon seluruh keluarga besar untuk berkumpul demi mengenalkanku pada mereka semua. Berbagai alasan aku utarakan agar aku bisa pulang, dari yang tidak membawa baju ganti dan sebagainya tetap masih tidak kabulkan. Kakekku justru menyuruh Om ku untuk membelikan keperluanku bersama Rey selama menginap. Akhirnya Aku dan Rey mengiyakan.

Aku dan Rey berjalan mengitari pusat perbelanjaan sore itu ditemani Om dan ku dan supirnya, Om ku menyuruh aku dan Rey membeli beberapa baju untuk ganti, sedangkan beliau menunggu di food court agar aku lebih leluasa memilih yang pas buatku dan Rey. Sebelum Aku dan Rey pergi memilih baju, aku di beri kartu kredit untuk membayar semua belanjaan aku dan juga Rey. Tadinya aku menolak, tapi justru dimarahi oleh Om ku. Jadilah akhirnya aku menerimanya. Sambil melihat-lihat dan memilih baju aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Rey, karena sudah memberikan jalan untukku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Dan aku betul-betul takjub dengan Rey, orang yang tadinya menurutku orang yang konyol, humoris tapi suka ngambekan ternyata aslinya punya sikap yang dewasa.

“Zeean…bawa ini.” ucap Om ku sambil memberi kartu kredit padaku.

“Nggak usah Om, aku ada uang ko.” balasku menolak halus.

“Kalau nggak mau Om marah lho ya.” balas Om

“Beneran Om, aku ada uang ko.” jawabku kembali

“Oh…kalau gitu kamu beneran kepingin Om marah nih. Ya sudah, kita tinggal saja mereka disini mang.” balas Om ku

“Udah terima aja Zee…mungkin Om kamu ingin mebmeri kamu sesuatu yang selama ini tidak bisa beliau lakukan. Kasih kesempatan untuk itu, toh menolak rezeki itu juga nggak boleh lho.” ucap Rey menengahi

“Nah…bener kamu Rey. Nih…ambil aja, beli semua keperluanmu sama Rey ya.” balas Om ku

“Mm…iya Om. Terimakasih.” balasku

Selama aku dan Rey jalan dan ngobrol berdua, aku merasa sikap Rey agak berbeda. Beberapa kali ku pergoki dia sedang menatapku dengan tatapan yang dalam. Entahlah apa maksudnya tapi sungguh membuatku salah tingkah jadinya. Akhirnya aku cepat-cepat memilih baju dan keperluan lainnya agar aku tak lagi dalam suasana keki seperti ini

Setelah selesai aku dan Rey langsung menemui Om ku, mengembalikan kartu kredit dan berjalan ke tempat parkir untuk pulang. Sepanjang perjalanan aku, Rey dan Om ku berbincang ringan.

Pukul 04.00 kami sampai dirumah Kakek, aku dan Rey dipersilahkan untuk mandi agar lebih fresh. Setelah selesai mandi aku dan Rey kembali duduk diruang tamu berbincang dengan Kakek, Nenek, Pak De dan Om ku sambil menunggu semua keluarga besar datang. Malam ini akan jadi malam perkenalanku dengan keluarga besar Ayah. Disini kami berbincang hangat menceritakan semua yang telah aku lalui dan bagaimana Rey mengenalku.

Di kesempatan inilah aku pun baru mengetahui cerita lengkap masa kecil Rey langsung dari orangnya. Benar apa yang dikatakan Sofa ketika dalam perjalanan muncak kemarin. Rey adalah anak yatim piyatu yang ditolong oleh seseorang dan dia anggap kakak angkatnya. Setelah beberapa waktu kemudian diadopsi oleh Saudara jauh Kakak angkatnya itu.

***

 

 

 

 

Hikmah

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1520

- Day 28

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

             Sambil berbincang aku merasakan perasaan yang begitu takjub pada jalan hidup yang Rey lalui. Ketika ku bandingkan dengan kehidupanku sungguh belumlah seberapa segala ujian yang ku jalani. Aku mulai sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini adalah perbuatan yang salah. Aku tidak sadar dan bersyukur akan nikmat yang Allah beri untuk hidupku. Sungguh aku telah melakukan dosa besar, nggak pernah berusaha untuk berhusnudzon terhadap Allah. Justru yang ku lakukan sebaliknya, mencela, mencaci, berkeluh kesah bahkan menentangNya.

            Hatiku ingin rasanya menangis menyesali segala perbuatanku dulu. Rey, mungkinkah dia yang Ibu maksud? seseorang yang akan menuntunku dan mendampingiku menemukan segala jawaban atas semua pertanyaan dalam hidupku.

            “Mungkin benar, dialah orangnya.” batinku sambil memandang Rey dari arah samping.

            “Bu…Aku menemukan orang yang Ibu maksud. Ya Allah terimakasih…Engkau telah memberiku seseorang yang mampu membawaku kembali dalam kebaikan.” lanjutku membatin

            “Zee…” panggil Rey…sontak suara itu seketika membangunkanku dari lamunan, dan menyadari aku lah yang jadi pusat perhatian dengan senyuman tersungging pada wajah mereka.

           “Em…i…iya Rey. Kenapa?” tanyaku berbisik pada Rey

           “Dih, ditanya malah ngalamun?” ledek Rey

            “Hee…Kenapa Kek?” tanyaku pada Kakek

            “Kakek nggak tanya apa-apa kok?” jawab Kakek sambil tertawa

           “Kamu ngerjain aku Rey?” tanyaku kembali berbisik

            “Siapa yang ngerjain kamu? orang beneran kok. Makanya fokus donk jangan ngalamun. Bukannya seneng malah ngalamun!” omel Rey

           “Bukan gitu Rey, aku juga seneng kok.” balasku sambil memajukan bibirku tanda sebal

            Semua yang melihat sikapku tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali Rey. Aku semakin sebal melihat sikap Rey yang justru meledekku. Ku cubit lemah pinggangnya agar dia berhenti menertawakanku.

            “Ampun…ampun Zee…iya…iya aku nggak ketawa lagi. Kamu curang ih kalau udah ngambek gitu senjatanya.” ucap Rey meminta ampun karena tak tahan pinggangnya di cubit oleh ku.

            “Itu tadi Nenek yang tanya, katanya kamu suruh pindah sini aja kuliahnya sekalian pindah. Kamu mau nggak? sekalian nemenin Kakek sama Nenek karena beliau Cuma tinggal berdua. Hari ini kebetulan Om dan Pak De mu ini sedang libur kerja jadi berkunjung kesini.” jelas Rey masih diiringi tawa yang mereda dari yang ada disana.

            “Mm…nanti coba Zeean pikirin dulu ya Nek, lagian juga kasihan Tante Fina sendirian Nek, Kek, Om, pak De.” balasku.

            “Lho…bukannya Fina sudah punya suami? memangnya suaminya kemana? Apa belum punya anak juga?” tanya Pak De ku beruntun.

            “Eh…Tante Fina sudah cerai Pak De. Suami Tante Fina posesif sekali sehingga Tante Fina nggak kuat, akhirnya memilih menceraikannya. Kebetulan juga belu di kasih momongan Pak De.” balasku.

            “Ooh… gitu.” balas Pak De.

            Aku memandang Rey dengan tatapan keki karena tadi tertangkap basah sedang memandangnya bahkan sampai melamun.

            “Duh…malu sekali aku ini. Ya ampun…” gerutuku dalam batin.

             Malampun Datang, semua anggota keluarga Ayahku datang. Aku diperkenalkan dengan mereka satu per satu. Aku yang masih awam hanya tersenyum dan menyapa sesekali. Rasanya masih belum bisa langsung cair dengan mereka karena memang aku sedikit berubah menjadi orang yang tertutup dari sifatku yang dulu. Aku lebih tak pernah jauh dari Rey, kalau dilihat justru Rey-lah yang seperti keluarga mereka. Rey bisa begitu saja akrab dengan berbagai karakter orang, inilah yang aku salutkan dari dia.

            Malam ini merupakan malam yang sungguh membahagiakan untukku, rasanya sungguh lengkap semua yang ada pada diriku.

 

***

            Paginya aku dan Rey bersiap untuk pulang. Setelah sarapan bareng, aku da Rey diantar ke depan pintu. Nenekku kembali menangis saat aku berpamitan dan menjadikanku pun meneteskan air mata. Kakekku hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.

             “Kabari kalau sudah sampai ya Zee…” pesan tanteku

             “Iya Tante…” balasku

             “Sering-sering main kesini, nanti Bu De ajak kerumah Bu De, ya…” ajak Bu De

             “Iya Bu De, nanti kalau liburan Zeean kesini lagi.” jawabku

             “Hati-hati di jalan, Nak Rey tidak usah ngebut-ngebut bawa mobilnya ya!” pesan Nenekku.

             “Iya Nek.” jawabku.

             “Iya Nek, Rey nggak ngebuut kok.” jawab rey

            Aku dan Rey berjalan ke mobil dengan masih diiringi yang lain. Setelah Aku dan Rey masuk mobil mereka minggir agar Rey leluasa mengemudikan mobilnya. Mobil yang aku naikki mulai meninggalkan halaman rumah Kakek, Semua keluarga melambaikan tanggannya, aku membuka kaca pintu untuk melihat mereka dan membalas lambaian tangan mereka.

            Di perjalanan aku beranikan diri untuk memulai obrolan, aku merasa canggung sendiri karena Rey kali ini banyak diam. Atau justru sebaliknya, aku yang kini mulai membuka diriku.

            “Mm…Rey, makasih banyak ya kamu sudah banyak banget bantuin aku. Padahal selama ini aku nggak pernah terbuka sama kamu. dan soal kata-kata kamu aku sekarang percaya Rey bahwa Allah tergantung pada apa yang kita sangkakan. Kata-katamu sudah merubah pola pikirku selama ini Rey. Aku sangat salah, tidak pernah bersyukur atas apa yang aku dapatkan. Apakah Allah mau menerima maafku ya Rey?” tanyaku

            Rey sejenak memandang teduh ke arahku, sejurus kemudian tersenyum.

            “Zee…Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Segunung pun dosamu ketika kamu mau meminta maaf, taubat dan kembali ke jalanNya, tidak mengulangi kesalahan yang sama serta yakin dan percaya pada Allah. InsyaAllah Allah akan menerima permintaan maafmu, Allah akan menerima taubat mu. Yakinlah pada janji Allah Zee bahwa sejatinya sesudah kesedihan ada kebahagiaan. Dan ingatlah bahwa kebahagiaan itu berdampingan erat dengan kebahagiaan. Untuk itu, yakinlah dan percaya akan janji Allah. Selalu lah untuk berhusnudzon terhadap apapun yang terjadi atau apapun yang kita alami. Karena pada dasarnya ujian adalah bentuk cinta dari Allah untuk hambaNya. Agar kita kembali mendekat padaNya. Mulailah berproses Zee, berdamailah dengan keadaan. Ambillah hikmah dari setiap masalah atau ujian yang kamu hadapi, karena dari situ kamu akan menjadi lebih yakin dan percaya terhadap Allah dengan segala kuasa-Nya. Dan yang harus selalu kamu lakukan adalah tanamkan pikiran positif dalam keseharian mu agar mempermudah segala hal. Sejatinya apa yang kamu pikirkan itulah yang akan terjadi, oleh karena itu Selalulah miliki pikiran yang positif.” ucap Rey menasehatiku. Aku menyimak perkataan Rey dengan baik.

            “Ditilik dari dari hikmah ujian yang datang. Sejatinya kehidupan di dunia ini adalah tentang apa yang ada dalam mindset kita. Apa yang kita pupuk sudah pasti akan tumbuh subur. Korelasinya adalah tentang bagaimana kita memandang sebuah masalah atau ujian. Ketika kamu pupuk rasa mengeluhmu maka sudah pasti akan memberatkan langkahmu. Tapi jika kau pupuk semangat dan keyakinan bahwa kamu bisa untuk menyelesaikannya sudah pasti banyak sekali kemudahan yang akan kita temu.” Lanjut Rey

            Ucapan Rey kali ini betul-betul membuat hatiku bergetar dan serasa tertampar. Betul sekali bahwa selama ini aku hanya mengeluh dan mengeluh, nyatanya apa yang ku dapat? hanya rasa sakit dan kecewa, bagiku ujian yang ku hadapi sangatlah berat. Tapi mengingat apa yang Rey telah lalui ternyata ujianku belum seberapa. Tak kuasa aku membendung air mataku. Aku yakin sekarang, Rey adalah seseorang yang dibicarakan Ibu dalam mimpiku.

            “Kamu ternyata mempunyai sisi yang berbeda ya Rey, Rey yang ku kira hanya seorang cowok konyol, tukang ngambek dan tukang protes ternyata adalah Rey yang luar biasa dewasa dan bijak dalam memandang setiap hal. Aku salut dengan sikapmu Rey.” balasku.

            “Biasa aja Zee…aku tidak sehebat itu. Aku juga belajar ini dari Kakak angkatku. Dialah yang selalu mengingatkan dan memberiku nasehat serta motivasi luar biasa. Sehingga sekarang aku memiliki sikap seperti ini tak lepas karena bimbingannya. Semangatnya yang luar biasa dalam menghadapi setiap ujian yang hadir dalam hidupnya pun membuat aku ingin menirunya.” ucap Rey

            “Wah…berarti dia hebat donk bisa gitu ya.” ucapku

            “Dia sosok luar biasa Zee…ibaratnya nih ya kalau aku bisa tukar takdir. Aku mau menggantikan takdirnya.” balas Rey

            “Kok kamu ngomong seperti itu Rey? memangnya kenapa?” tanyaku

            “Iya Zee…dia baik…banget…sama aku. Tapi, takdir tak berpihak padanya. Ketika ingin memberikan kejutan untuk gadis yang amat dia cintai. Dia mengalami kecelakaan hebat, kakinya lumpuh sampai sekarang. Akhirnya dia memutuskan untuk menjauh dari gadis itu. sekarang hari-harinya sering sekali melamun, matanya kosong seperti tak ada lagi semangat dalam dirinya. Dan betapa terpukulnya aku yang baru mengetahuinya belum lama ini. kamu ingat Zee, aku telat berangkat ketika mau muncak? itulah alasanku, Kakak angkatku ingin bertemu denganku dan keluarganya mengantarnya. Tapi justru aku pergi, aku tidak bisa menemaninya. Karena aku sudah terlanjur mengurus semua acara muncak kita. Aku nggak mau kalian kecewa.” jelas Rey

            “Ooh jadi itu alasannya, pantesan kamu beda banget dari biasanya. Kelihatannya serius terus.” balasku

            “Ya karena itulah Zee. Ibaratnya aku seperti sekarang ini adalah karena Kakakku yang telah menolongku. Andai saja aku bisa bertemu dengan gadis yang Kakakku ceritakan, aku ingin menjelaskan semuanya. Bahwa kepergiannya yang tanpa pamit adalah semata-mata menjaga perasaannya agar tidak sedih melihat keadaan Kakakku.” ucap Rey

            “Lho…berarti gadis itu belum tahu apapun tentang kecelakaan itu Rey?” tanyaku agak merasakan hatiku yang berdesir aneh.

“Kok sama seperti apa yang aku alami? apakah Kak Senja juga begitu? lelaki yang ada dalam kerumunan kecelakaan itu dulu juga duduk dikursi roda?” tanyaku dalam batin

            Perjalanan kurang lebih 5 jam serasa tak berarti karena banyak sekali hal luar biasa yang aku dapatkan dari kata-kata dan sikap seora Rey Hardianto. Aku sadar kali ini bahwa aku sangat picik dengan setiap hal yang aku pikirkan selama ini. dan Rey telah membukakan pemikiranku menjadi lebih luas lagi.

            “Baiklah mulai detik ini aku harus berubah menjadi lebih baik dari diriku yang dulu. Aku akan berproses, merubah mindsetku, merubah sikapku serta kan ku perbaiki ibadahku menjadi lebih baik lagi. Memandang segala hal dengan lebih bijak, belajar mengambil hikmah dari setiap masalah yang hadir.” tekadku dalam batin

 

 

Teka-teki Dunia

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1074

- Day 29

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

           Pukul 13.30 aku dan Rey sampai dirumah, Tante Fina masih dikantor Rey pun langsung pamit pulang. Setelah mobil Rey tak terlihat lagi aku beranjak masuk ke rumah. Aku membuka tas untuk mencari kunci rumah. Ketika aku mencari kunci tanpa sengaja aku melihat dompet Rey di tasku. Aku lupa kemaren waktu pergi ke pusat perbelanjaan Rey menitipkan dompetnya padaku agar pas mau bayar bisa langsung ambil saja dari dompetnya, tapi justru dibayar oleh Om ku semua.

            Aku berniat untuk menelpon Rey agar balik mengambil dompetnya, tapi aku kasihan. Dia pasti lelah sudah berkendara cukup lama, masa aku ngerjain lagi suruh balik. Kalau aku kesana sekarang aku sendiri juga cukup lelah, ingin segera beristirahat. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang aku putuskan untuk mengembalikannya nanti sore saja atau malam di antar Tante Fina.

            “Ya sudah nanti sore saja dianter tante Fina.” gumamku

            Setelah kunci rumah ku dapat, aku langsung membuka pintu dan berjalan menuju kamarku. Begitu sampai dikamar langsung ku jatuhkan badan ku berbaring di kasur. Senyaman-nyamannya kasur adalah kasur kamarku sendiri bagiku. Sambil berbaring aku menjelajahi anganku selama perjalanan pertemuanku dengan keluarga besar Ayahku. Luar biasa sekali rasanya, sungguh sulit aku lukiskan. Betapa dahsyatnya pikiran positif itu, membuat hal yang selama ini hanya ada dalam anganku menjadi nyata. Bisa berkumpul dengan keluarga Ayahku. Setetes air mata haru menetes membasahi pipiku mengenang itu semua.

               “Tuhan begitu baik padaku, hanya baru keinginan untuk berubah saja sudah dipermudah dengan dihadirkan seseorang untuk membantuku. Bagaimana jika aku bener-bener sudah niat untuk memperbaiki semuanya?” monologku.

               “Ya Allah…maafkan aku yang selama ini sudah kufur terhadap segala nikmat yang Kau beri untuk hidupku. Sungguh aku manusia yang tak tahu terima kasih, sudah diberi begitu banyak kenikmatan namun justru dibalas dengan keluhan, kekecewaan, hingga umpatan ketidak percayaan. Ampuni aku ya Allah…” monologku sambil tersedu

               Aku teringat akan segala hal tidak baik yang sudah ku perbuat. Dari segala pesan-pesan Rey aku berusaha mencerna dan belajar untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena Lelah tak sadar aku tertidur pulas, hingga ketokan pintu kamar membangunkanku dan waktu pun sudah menunjukan pukul 17.00.

               Tok…tok...tok…

               “Zee…ini Tante, kamu sudah pulang?” panggil Tante Fina dari luar kamar.

               “Iya Tante sebentar aku bukain pintu…” jawabku sambil berjalan membukakan pintu.

               “Tante baru pulang.” sapaku melihat Tante yang masih berpakaian ngantornya.

               “Iya Tante baru pulang, Tante lihat sepatu kamu jadi Tante berpikir pasti kamu sudah pulang.” balas Tante.

               “Iya Tan, sampai di rumah jam 13.30an tadi, eh baringan di kasur malah akhirnya tidur.” balasku.

               “Ya sudah, Tante pergi ke kamar dulu ya. Gerah banget nih pengen mandi.” pamit Tante Fina

               “Iya Tan, mandi aja.” balasku.

               “Eh iya, Tante kan nggak masak. Nanti kita makan diluar saja ya, nanggung juga.” ajak Tante Fina.

               “Oh iya…kebetulan Tan, jadi gini…dompet Rey kan ketinggalan di tas aku. Nanti tolongin aku anterin ke tempat Rey buat balikin ya Tan? sekalian kita makan, habis itu ke tempat Rey. Gimana tan?” tanyaku

              “Ok kalau gitu. Ya sudah Tante mandi dulu ya?” pamit Tante Fina kembali

              “Iya Tan, aku juga sekalian mandi deh kalau gitu jadi biar bareng selesainya.” ucapku sambil tersenyum ceria.

              “Ok deh.” jawab Tante Fina sambil berlalu menuju kamarnya.

***

              Kami memilih makan di food court dengan menu sea food kesukaan aku, kepiting lada hitam. Kalau sudah makan kepiting seperti nggak mau berhenti aja kalau belum sampe kenyang. Sedangkan Tante Fina memilih menu udang saus tiram.

              Setelah acara makan malam selesai, aku di temani Tante Fina meluncur ke rumah Rey. Di halaman depan terparkir mobil, tapi aku takt ahu milik siapa yang pasti bukan mobil yang biasa Rey pakai. Mungkin itu mobil ayah Rey pikirku. Aku memang tidak memberi kabar bahwa aku akan datang. Selain karena lupa, aku juga ingin memberi surprise akan kunjunganku kali ini.

              Di jalan aku mampir ke toko buah, membeli buah sebagai buah tangan dan ungkapan rasa terima kasihku karena telah membantuku selama ini. ku buka pintu mobil dengan menenteng sekeranjang parcel buah diiringi Tante Fina disebelahku berjalan ke rumah Rey. Ku ketok pintu rumah Rey, tak berapa lama pintu terbuka aku dan Tante Fina pun masuk. Bi Yanti yang ku kenal membukakan pintu.

              “Bi, Rey ada?” tanyaku.

              “Ada Non, sebentar Bibi cari ya. Silahkan Non Zeean sama Ibu duduk dulu.” jawab Bi Yanti. Tante Fina langsung duduk sedangkan aku masih justru mendekati Bi Yanti karena ingin bertanya.

             “Baik Bi, terimakasih. Eh Bi, di depan ada mobil kayaknya baru aku lihat deh. Lagi ada tamu Bi? Apa itu mobil ayahnya Rey yang sedang pulang?” tanyaku setengah berbisik ketika Bi Yanti mau beranjak pergi.

             “Oh itu, bukan Non…itu teh mobil Kakaknya si kasep.” jawab Bi Yanti

             “Kakak angkatnya Rey maksudnya Bi…? tanyaku kembali.

             “Iya Non…” jawab Bi Yanti

             “Oh, ya sudah makasih ya Bi…” balasku

            “Sama-sama Non. Bibi sampaikan pesan ke si kasep dulu ya…” pamit Bi Yanti

            “Ok Bi, makasih Bi.” balasku.

            “Sama-sama Non.” Balas Bi Yanti.

            Bi Yanti kemudian menyampaikan pesan pada Rey. Aku berjalan meletakkan parcel buah yang aku bawa ke atas meja dan duduk di sebelah Tante Fina.

“Aku penasaran deh Tan sama Kakak angkatnya Rey. Seperti yang tadi aku ceritakan di jalan Tan.” ucapku mengajak ngobrol Tante Fina.

            “Ya semoga saja kamu bisa ketemu, jadi nanti kamu bisa berguru tuh soal bagaimana menghadapi ujian kehidupan, cara bersikap yang baik ketika menghadapi masalah.” balas Tante Fina

            “Iya juga ya Tan?” jawabku

            “Iya lah…” balas Tante Fina

 

***

              Tak berapa lama Bi Yanti kembali, dan menyampaikan pesan agar aku menyusul Rey ke halaman belakang tepatnya di kolam renang.

            “Non, si kasep nyuruh non langsung ke kolam renang saja. Soalnya ada di sana sedang bersama Kakaknya.” ucap Bi Yanti memberi tahu ku sambil membawakan minuman untuk aku dan Tante Fina, kemudian beranjak pergi lagi ke dalam.

            “Ya udah kamu kesana aja Zee, Tante nunggu disini aja.” sergah Tante Fina.

            “Tante nggak papa aku tinggal?” tanyaku

            “Nggak papa…udah sana samperin.” usir Tante Fina.

            “Ya udah aku ke dalem dulu Tan.” pamitku.

            “Ok!” balas Tante Fina.

            Akupun beranjak dari dudukku dan berjalan menuju kolam renang dengan menenteng kembali parcel buah yang ku beli. Ketika aku sampai di halaman belakang ku lihat Rey sedang duduk membelakangi arah datang ku, begitu juga dengan Kakak angkatnya yang duduk di kursi roda di sebelahnya.

            “Rey…” sapa ku dari kejauhan.

             Dua orang disana menoleh bersamaan. Namun, betapa terkejutnya aku. badanku lemas seketika hingga parcel buah yang ku pegang terlepas dari tanganku berhamburan ke lantai. Air mataku tanpa diperintah langsung saja meloloskan diri. Hatiku sesak, ingin marah, kecewa, senang, sedih semua campur aduk jadi satu.

 

Senjaku Di Ujung Kota

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 41

- Kelompok 9 Aksera Daffodil

- Jumlah Kata 1295

- Day 30

- Sarkat Jadi Buku

 

 

***

            Tante Fina yang sedang ngobrol bersama Ibunya Rey panik melihat aku yang setengah berlari dan menangis, begitupun dengan Ibu Rey.

            “Zeean…kenapa…! kok nangis gitu?” Tante Fina panik. Aku tak bisa menjawab apapun.

            “Lho…kok Zeean nangis? diapain sama Rey nak? ya ampun…anak satu itu!” tegur Ibu Rey namun aku masih tetap diam sehingga Ibu Rey pergi ke belakang.

            “Tante…pulang yuk.” ajak ku menarik tangan Tante Fina untuk segera pulang.

            “Sebentar… sebentar. Tante tanya dulu kamu kenapa? nggak sopan ah kamu begini. Datang baik-baik masa pulangnya nggak pamit. Ada apa? kenapa kamu bisa nangis? sini duduk dulu, cerita sama Tante. Kalau ada masalah jangan dihindari tapi diselesaikan. Bicarakan baik-baik dengan Rey. Kenapa sih kamu dengan Rey?” Tante Fina mengajakku untuk kembali duduk dan menenangkanku.

            “Tan…aku lihat orang itu.” jawabku sambil nangis tergugu.

            “Orang itu siapa? yang jelas kalau cerita donk Zee…!” balas Tante Fina.

            “Kak Senja Tan…” balasku menatap wajah Tante Fina. Aku bisa lihat ekspresi Tante Fina yang seketika berubah kaget mendengar pernyataanku.

            “Senja…? Senja yang selama ini kamu cari Zee…?” tanya Tante Fina.

            “Iya Tan…aku nggak tahu harus gimana, aku bingung Tan.” jawabku.

            “Loh kok bingung, justru bukannya bagus kan? kamu ngobrol sama dia, tanyakan kenapa dia pergi selama ini? cari jawabannya Zee, jadi kamu nggak berprasangka yang buruk lagi sama dia.” nasehat Tante Fina.

            “Aku belum siap menghadapi ini Tan, aku…aku bingung harus gimana. Aku terlalu mementingkan egoku Tan, sehingga nggak berpikir untuk mencari jawaban tentang alasan Kak Senja meninggalkanku…ya Allah…” balasku. Aku mengingat ketika Rey bercerita tentang Kakak Angkatnya itu.

             “Loh memangnya kenapa…kok kamu bisa ngomong gitu sih? Tante malah jadi bingung.” ucap Tante Fina.

             “Tante masih ingat yang tadi aku ceritakan ketika makan tentang Kakak angkat Rey itu Tan? yang lumpuh karena kecelakaan yang dialaminya dan itu ketika dia mau kasih surprise pada gadis yang sangat ia cintai?” tanyaku pada Tante Fina.

             “Iya…Tante ingat.” jawab Tante Fina. “Maksud kamu Senja adalah Kakak angkatnya Rey?” lanjut Tante Fina. Aku mengangguk dengan air mata yang mengalir.

              “Ya Allah…alhamdulillah akhirnya kamu bisa mendapat jawaban atas pertanyaanmu selama ini Zee. Nah…itulah hidup Zee. Apa yang kita pikir buruk belum tentu seseorang itu buruk, sebelum kita menjudge seseorang akan lebih bijak lagi cari tahu dulu alasannya kenapa seseorang melakukan sesuatu. Baru kamu bisa menilai bagaimana dia.” Tante Fina mengusap punggungku.

              “Iya Tan…aku yang salah, aku sudah berprasangka buruk sama Kak Senja. Alhamdulillah Allah membukakan mataku sebelum semuanya terlambat.” balasku

              “Syukurlah kalau kamu sudah bisa introspeksi sendiri, sekarang temuilah dia. Dengarkan langsung apa alasan dia…” ucap Tante Fina terpotong karena Rey berlari menemuiku dengan muka paniknya.

              “Zee…kamu nggak papa?” potong Rey masih dalam keadaan berdiri dan muka paniknya.

            “Nggak papa Rey.” jawabku menghapus air mataku.

            “Maaf Zee, aku nggak tahu kamu nangis tadi, jadi nggak langsung nyamperin kamu. Terus Kak Senja kasih tahu aku, bahwa gadis itu kamu. Aku bener-bener kaget mendengarnya. Aku pun meluapkan kemarahanku pada Kak Senja. Lalu kuceritakan kondisimu saat itu padanya, dan di waktu yang bersamaan Ibu datang marah-marah katanya kamu nangis, aku panik dan langsung kesini.” jelas Rey yang kemudian diam sejenak. “Temuilah dia Zee, aku mohon…berikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semua alasan kenapa dia meninggalkanmu dulu.” perintah Rey dengan mimik muka yang beda dari biasanya. Entahlah…aku pun tidak tahu apa artinya.

            “Iya Zee…temui Senja. Bicaralah…selesaikanlah semuanya biar kamu tenang.” timpal Tante Fina. Aku mengangguk menuruti apa kata mereka dan beranjak berdiri untuk menemui Kak Senja. Di temani Rey aku kembali ke tempat dimana Kak Senja berada.

            “Kalian bicaralah…selesaikan masalah kalian, biar semuanya jelas. Kalau kalian mencariku aku bersama Tante Fina.” pamit Rey meninggalkanku dan Kak Senja.

            Aku duduk di kursi yang sebelumnya Rey duduki dan menghadap ke Kak Senja. Kak Senja melihatku tersenyum sejurus kemudian tetesan air mata terlihat mengalir di kedua matanya.

            Sambil menutup muka dengan kedua tangannya Kak Senja mulai mengeluarkan kata-kata. “Maafkan aku Nis…maafkan aku…” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya lalu menangis sesengukan. Aku berdiri, berjalan ke arahnya. Membuka kedua tangan yang menutupi wajah Kak Senja.

            “Kenapa Kakak tidak mengabariku kalau Kakak kecelakaan waktu itu?” tanyaku dengan air mata kembali menetes.

            “Maaf Nis…Kakak bener-bener minta maaf. Kakak nggak mau buat kamu sedih dengan keadaan Kakak. Kakak nggak mau jadi beban pikiran dan beban hidup Nisa. Masa depan Nisa masih panjang. Banyak hal yang harus kamu capai, bukan cuma mikirin aku dengan kondisiku yang seperti ini.” ucap Kak Senja.

            “Kakak salah…Kakak egois. Apa Kakak pernah memikirkan akan bagaimana kondisiku saat Kakak pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas?” tanyaku.

            “Iya Nis…Kakak salah. Kakak down dengan keadaan Kakak sendiri. Kakak mikir Kakak nggak akan bisa bahagiain kamu dengan keadaan Kakak seperti ini. Makanya Kakak mending menjauh tanpa perlu tahu kondisi Kakak begini. Kakak nggak mau Nisa jadi sedih dan kepikiran kondisi Kakak.” jelas Kak Senja dengan tangis yang kian mereda.

            “Bukankah Kakak pernah katakan kalau kebahagiaan itu kita yang ciptakan sendiri? bukan pemberian apalagi mengharap dari seseorang. Andai saja Kakak memberi tahu ku saat itu mungkin aku nggak akan sejauh ini mengalami peperangan batin Kak. Tapi, alhamdulillah Rey sudah menyadarkanku dan mengarahkanku jadi lebih baik sekarang.” balasku menerawang mengingat perjalanan hidupku selama ini. Aku masih berdiri di samping Kak Senja. Menghapus air mataku.

            “Rey kemaren setelah pulang muncak cerita katanya mau bantuin temen deketnya agar bisa berkumpul lagi dengan keluarga dari ayahnya. Dan menceritakan semua yang terjadi disana, dan aku yakin itu kamu Nis?” tanya Kak Senja yang menoleh ke arahku dengan sedikit lebih tenang dan tak lagi menangis. Aku kemudian duduk, pandangan Kak Senja mengekorku.

            “Iya Kak, dengan bantuan Rey alhamdulillah aku bisa bertemu dengan mereka.” jawabku

            “Alhamdulillah ya Nis…Kakak seneng dengernya.” balas Kak Senja. “Kakak minta maaf banget ya Nis…” lanjutnya setets air mata kembali menetes di pipinya. Aku mendekat dan menghapus air mat aitu.

            “Sudahlah Kak, Nisa sudah memafkan Kak Senja, Nisa juga sudah tahu alasannya. Sekarang Kak Senja nggak usah mikirin yang enggak-enggak ya…?” balasku.

            “Makasih ya Nis…Nisaku sudah berubah menjadi dewasa sekarang. Oh iya, aku lupa. Bukan Nisa…Zeean. Zeean adalah Nisa yang terlahir lebih kuat, bijak dan positif.” ucap Kak Senja sambil tersenyum, akupun membalas tersenyum.

             “Semua karena Rey, Kak. Dia yang mengubahku jadi seperti ini.” balasku.

             Setelah drama pertemuan tadi usai dan semua permasalahan jelas, aku ngobrol dengan Kak Senja berbagai hal yang terjadi selama tidak ada dia di sampingku. Aku melihat jam ditanganku yang menunjukan waktu cukup malam sehingga aku pamit pulang. Aku mendorong kursi roda Kak Senja untuk bertemu Tante Fina dan Rey di ruang tamu.

              Kak Senja menyapa Tante Fina dan mengobrol sebentar. Lalu aku dan Tante Fina pamit pulang.

***

            Di dalam kamar aku tak bisa begitu saja tertidur dan melupakan kejadian tadi. Banyak sekali hal yang terjadi diluar apa yang aku pikirkan dan harapanku, yang justru ku temukan kebahagiaan dari kejadian itu. Ternyata benar janji Allah bahwa sesudah kesedihan ada kebahagian. Dan pada dasarnya kesedihan itu berdampingan erat dengan kebahagiaan. Bersedihlah sewajarnya dan bahagialah sewajarnya. Pikiranku menerawang kembali mengingat kata-kata Ibuku.

            “Bu…aku sudah menemukan orang yang Ibu maksud. Ternyata dia adalah Rey Bu…dan Ibu pasti sudah tahu, aku pun sudah menemukan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaaku. Aku sudah bisa berdamai dengan keadaanku, dan aku akan terus berproses menjadi seperti yang Ibu inginkan. Semoga ayah dan Ibu disana bahagia dan bangga pada Nisa…” monologku.

            Aku beranjak dari ranjang, kemudian duduk di meja belajarku. Menarik sebuah buku dimana tertuang segala rasaku.

            Senja menawarkan keindahan yang mempesona, namun tidak setiap harinya kita kan temukan warna yang sama. Ketika        kebahagiaan bagimu hanya bagai secercah cahaya senja. Bukan berarti kita tidak akan merasakan kebahagiaan. Kita akan merasakan kebahagiaan dalam hal sekecil apapun itu dengan lebih banyak bersyukur. Ku temukan Senjaku di ujung kota. Dan biarlah senja diujung kota ini menjadi saksi betapa aku mencintaiNya.

Zeezee Annisa

Selesai

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Jasmine Fatrisi...
Dibalik Kelas Daring
Heri Sugiyanto
Lembayung di Hati Nadia
Jihan Erza Dani...
Kau Pelengkap Imanku
Aulia Du'atusho...
Misteri Bola Bisbol

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil