Loading
3

1

8

Genre : Religi
Penulis : Enis Santika
Bab : 8
Dibuat : 06 Juli 2022
Pembaca : 15
Nama : Enis Santika
Buku : 2

Sahabat Until Jannah

Sinopsis

Definisi sahabat adalah mereka yang selalu ada dimanapun dan kapanpun. Berbeda dengan persahabatan Ainun dan Fiqoh, mereka saling menyayangi, namun tidak bisa untuk selalu ada.
Tags :
#Sahabat #Remaja

Pertemuan yang tidak di Inginkan

2 1

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 01

- 497 Kata




   Aku menyaksikan sendiri, bagaimana ibu adu mulut dengan mantan suaminya, Pak Aryo. Mereka tidak sengaja bertemu di sebuah cafe.



   Aku ingin menengahi. Namun, takut malah menjadi sasaran. Kutarik baju ibu dari belakang. Dan tiba-tiba satu dorongan keras terjadi. Beliau tersungkur, begitupun aku yang ada di belakang ibu. Aku langsung bangun kembali, dan berteriak histeris. 



   "Jahat! Kamu jahat. Seorang laki-laki seharusnya menjaga perempuan. Siapapun itu. Tak kenal mantan istri, orang lain, ataupun anaknya!" Aku pun mendorong bapak berumur tiga puluh tahunan itu, penuh benci. Karena bagaimanapun ia telah menyakiti ibu. Ia tidak tahu cara memperlakukan seorang wanita. Pantas saja, dulu ibu pergi darinya. Namun sayangnya aku tidak mampu menggemingkan tubuh kekarnya. Dorongan lemahku tidak ada arti untuknya. 



   Pak Aryo tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Bahkan ketika aku menyeringainya berkali-kali, ia terlihat tidak ingin meladeniku. Hanya menatapku, lalu pergi meninggalkan cafe. 



   Perlahan, kubangunkan ibu untuk duduk di kursi. "Ibu gak apa-apa, kan?" Air mataku berlinang. 



   "Gak apa-apa, Ainun. Ibu hanya sedikit pusing," jawab ibu, sambil mengusap pipiku. Aku membersihkan bajunya yang sedikit kotor. 



   Pelayan datang membawa makanan. "Ini pesanannya, Bu," ucapnya sambil menaruh makanan di meja. 



   Aku terkadang heran, apa yang menyebabkan ibu sangat benci kepada Pak Aryo. Seharusnya, mereka menjaga hubungan baik. Ini malah sebaliknya. Pertemuan tadi sama sekali tidak diharapkan. Ibu, kulihat memang ibu yang lebih dulu melabrak Pak Aryo. 



   Kusuapi beliau, sesekali makanan itu masuk ke mulutku. Setelah selesai, aku dan ibu beranjak membayar ke kasir. Lalu keluar meninggalkan kafe, pulang. 


"Hati-hati, Bu, jalannya," ucapku pelan. Beliau terlihat masih pusing. Kugenggam tangannya erat. 



   Ketika sudah berada di dalam mobil, raut kesedihan di wajah ibu nampak jelas. Aku tahu, ibu sedang memikirkan kejadian tadi. Sebetulnya banyak yang ingin aku tanyakan tentang Pak Aryo. Ah, sudahlah. Hanya akan membasahi luka masa lalu ibu. 



   Ibu menjalankan mobil pelan, kutatap suasana di luar mobil, penuh dengan manusia, yang notabenenya aku tidak mengenal mereka. 



   "Bu," panggilku pelan. 



   "Iya, Ainun?" Ibu menaikan alis sebelah kanannya. 



   "Em, kenapa dulu pisah dari Pak Aryo?" celetukku. Rasa ingin tahuku kian meronta-ronta. 



   Sambil menyetir, beliau memicingkan bola mata. Wajahnya terlihat kaget dengan pertanyaan yang kulontarkan. 



   "Dulu, dia melakukan KDRT, habis badan ibu dipukulinya. Diamnya ibu, malah menjadikannya semakin melunjak. Hingga berani membawa wanita gila ke rumah," jawab ibu, sesekali ia menyeka air matanya. 



   "Tapi ibu sangat beruntung, dipertemukan dengan suami yang luar biasa seperti Ayahmu, sekarang. Ia sungguh lihai memperlakukan ibu dengan baik, tidak pernah memukul, meskipun amarahnya sedang memuncak," lanjut ibu. 



   Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala, rasanya tidak tega jika harus terus mempertanyakan masa lalunya, hanya demi jawaban dari rasa penasaranku. Aku pun mengalihkan pembicaraan. 



   Ponselku berdering, ku ambil dari dalam saku. Sebelum kuangkat, kubaca terlebih dahulu nama kontaknya. Ayah, ia menelponku.



   "Hallo, Sayang, kamu sedang sama ibu?" Suaranya panik. 



   "I-iya, yah," jawabku singkat. 



   "Ya Allah, kalian kok keluar gak izin, bikin ayah khawatir aja." Suara ayah memelas. 



   "Hehe, maaf yah. Ini ibu sedang nyetir." Kusodorkan ponsel kepada  ibu. 



   "Iya sayang, ini kita sebentar lagi sampai, kok," ucap ibu, ia tersenyum mendengar suara panik Ayah. 





user

14 July 2022 07:13 Erni Endang Semangat sarkaaat

Dulu Dia, Sekarang Ayah

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 02

- 403 Kata


"Yasudah ya, jangan mampir ke mana-mana, langsung pulang," pesan suara di sebrang ponsel. 



"Baik, yah," jawabku singkat. Lalu ayah memutuskan telepon. 



"Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana ayahmu memperlakukan kita, sangat berbeda dengan dia saat ibu bersamanya. Kemanapun ibu, dia tidak pernah ingin tahu." Tiba-tiba ibu mengulas pembahasan yang sudah aku close. 



Memang, semua wanita butuh kelembutan, Kasih sayang, juga perhatian lebih dari pasangannya. Adalah tembok penguat sebuah hubungan pernikahan. Tak jarang ketika badai menghantam, mereka bertahan karena kenyamanan. Juga tidak jarang, tanpa ada angin ataupun badai, mereka tiba-tiba berpisah karena masalah kenyamanan juga. 



Pernikahan bukan sebuah lelucon, yang bisa digapai lalu di putuskan. Pengecut, manusia yang mempermainkan pernikahan adalah manusia yang sangat tidak toleran. Beraninya mempermainkan agama dan janji suci yang diucapkan. 



"Alhamdulillah, Allah tidak pernah tidur, Bu. Allah tidak akan menguji ibu, melainkan ia akan memberikan jalan dan pengganti yang lebih baik kepada ibu. Dulu ainun belum lahir, itu sebabnya Ainun tidak bisa menjaga ibu. Tetapi sekarang, ada Ainun yang akan selalu ada di samping ibu didalam keadaan apapun." Aku memegang tangan kiri ibu. 



"Terima kasih ya, Sayang," ucap Ibu, Pundakku di elus oleh beliau. 



Akhirnya perjalanan pun berakhir, mobil sudah memasuki halaman rumah, ibu memasukan ke dalam garasi. 



Kami disambut oleh ayah, seperti biasa aku dan ibu di peluk, perasaan baru tadi pagi ketemu, tapi Ayah sudah seperti ditinggalkan bertahun-tahun. 



Aku di gandeng masuk ke dalam rumah yang lumayan besar, aku membaringkan tubuh di sofa yang sangat empuk. Sedangkan ibu dan ayah masuk ke kamarnya. 



Bibi– Asisten rumah tangga, membawakanku segelas teh manis. "Di minum, Nun," ucap bibi. 



Meskipun ia bekerja di rumahku, aku tidak pernah mengijinkannya memanggilku dengan sebutan yang terlalu berlebihan, aku sering mengingatkannya agar memanggil namaku saja. Bi Idah bekerja dari waktu aku masih kecil. Sehingga aku sudah sangat dekat dengannya. 



"Makasih ya, Bibi," ucapku juga. "Sini dong temani Ainun," ajakku kepada bi Idah. 



"Bibi masih ada kerjaan di dapur, Non. Eh non, tuh. Nun!" Bibi tertawa dan salting atas kekeliruan ucapannya. 



Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Tanpa bibi, sepertinya rumah ini sepi. Setelah beberapa saat, tanpa sadar aku tertidur pulas, dengan tas kecil yang masih menempel di tubuhku. 



"Nun, bangun nun." tiba-tiba ada sosok yang mengoyak-oyak tubuhku. "Bangun, Nun. Sebentar lagi maghrib." Remang-remang aku mendengar kata 'sebentar lagi maghrib' spontan mataku terbuka dan badanku terbangun. 



Aku memlihat di sekelilingku, sangat terang benderang oleh lampu. "Astaghfirullah bi, Terima kasih," ucapku lalu berlari ke kamar mandi untuk mandi. 





Jangan Pergi - Part 1

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 03

- 455 Kata


Malam telah berganti siang, aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah. 


"Ainun pingin di antar Ayah," bujukku. 



"Yasudah ayo, sayang." Ayah mengangambik kunci mobilnya. 



Aku tahu, papa sibuk dan seharusnya gak sempat untuk nganterin. Tetapi karena aku yang minta, membuatnya tidak bisa menolak. Aku berpamitan kepada Ibu, menjabat tangan lembutnya. "Berangkat, ya, Bu," ucapku pelan. 



"Iya, Hati-hati ya," jawab ibu, mengecup keningku. 



"Jangan ngebut, yah." Teriakku, karena ayah mengendarai mobil sangat cepat. 



Dia tertawa. "Enggak dek, biasa ini." Ia mulai memperlambat laju. 



"Adek di sekolah jangan punya pacar lho, ya. Awas aja kalau ketahuan punya, tak nikahkan langsung," celetuk Ayah. 



"Ih apaan sih, yah. Enggak dong," jawabku sedikit menyeringai manja. 



"Kan Ayah cuma warning aja, dek. Siapa tahu nanti tergoda anak pak Rt, tuh," ucap ayah. 



Mulai nih kalau ngobrol sama ayah, pak RT mana punya anak laki-laki, hanya perempuan itu pun masih lima tahunan. 



"Enggak, yah. Saat ini hanya ayah lelaki spesial yang ada di hati Ainun," lontar Ainun, membuat hidung Ayahnya terbang.



"Bagus! Ini baru anak Ayah," Tegasnya dengan suara tinggi. Ia mengusap ubun-ubun kepalaku. 



Sepertinya aku memang tidak akan menemukan pria yang sama seperti sosok ayah, beliau benar-benar sudah menjadi cinta pertamaku kepada seorang pria. Bahkan di dalam hatiku, ada ketakutan pendamping hidupku tak seperti sosok ayah, malah seperti mantan suami ibu. Ah, tidak. Aku tidak boleh berpikir negatif. Aku pasti menemukan dia yang seperti sosok ayah. 



Tibalah aku di sekolah. Ayah melarangku keluar sebelum ia membukakan pintu mobil dari luar. 



"Semangat ya, belajarnya. Semoga hari ini lancar semua urusan adek. Nanti pulang, sopir yang jemput, ya. Ayah masih di kantor," papar Ayah. Aku langsung memeluknya erat, tak mempedulikan orang sekitar. Pasti banyak orang yang menganggapku alay, sudah kelas dua belas, masih manja. 



"Terima kasih, yah. Ainun sayang Ayah," ucapku di dalam dekapannya. 



"Ndang, masuk," ucap Ayah. "Ayah pulang ya, sayang," lanjutnya. Sambil masuk kedalam mobil. Ia melaju, melambaikan tangannya. Mobil Ayah kian semakin menjauh dari pandangan. 



Aku sudah berada di kelas, mataku menyusuri setiap sudut kelas, mencari keadaan Fiqoh– sahabatku. Namun tidak kutemukan. 



[Fiq, masih di mana?] aku mengirimkan pesan kepadanya. 



"Selamat pagi, Anak-anak. Gimana kabarnya hari ini?" Bu Irda masuk. 



"Baik bu," jawab kami serentak. 



Badannya yang lumayan gemuk, membuatnya agak lambat berjalan. Namun menurutku Fisik bukan segalanya, kecerdasan mampu mengalahkan Fisik bu Irda. 



"Hari ini Fiqoh gak masuk, ya. Ayahnya sudah ijin," ujar Bu Irda. Hatiku kaget, kenapa Fiqoh tidak memberiku kabar? Mungkin terlalu sibuk. 



Setelah selesai belajar, aku mengambil HP di rak tempat penyimpanan sekolah.


 


[Maaf, Nun. Aku tiba-tiba dibawa Ayah ke Bandung. Doakan, ya. Semoga aku gak di pindahkan.] 


Seketika membuat Ainun kaget. Jika Fiqoh pindah, lantas bersama siapa lagi ia akan berbagi cerita. Sedangkan di sekolah satupun tidak ada teman yang bisa membuatnya merasa nyaman, kecuali Fiqoh. 






Jangan Pergi - Part 2

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 04

- 415 Kata


Fiq, kamu jangan pindah ya, tolong] balasku, dengan emotion sedih. 



Aku melangkah kembali ke kelas, dengan kaki yang sangat berat. Membayangkan jika Fiqoh jadi pergi. Hatinya benar-benar tidak rela. 



"Fiqoh ke mana, Nun," tanya Ikbal–lelaki yang dekat dengan Fiqoh. Ia duduk di atas mejaku.



"Anu, Bal. Di ajak jalan-jalan Ayahnya," jawabku tanpa basa-basi. 



Lagipula Fiqoh belum tentu pindah, itu kan hanya ketakutan dia aja. Jadi seharusnya aku bisa menenangkan diri. Jangan membatin seperti ini. Fiqoh akan kembali, aku yakin pasti akan kembali. 



Sebenarnya, aku melihat dalam diri Fiqoh ada yang aneh padaku. Ia tidak pernah mengajakku main ke rumahnya. Begitupun sebaliknya, ketika aku mengajaknya main ke rumah, ia selalu menolak. Sebetulnya aku bingung, ada apa? Apakah keluarganya tidak mengijinkan ia membawa teman ke rumah? Atau mungkin dia menganggapku tak seperti aku menganggapnya? 



"Hei, Jangan bengong." Rian menyadarkanku. "Denger gak aku nanya barusan?" lanjutnya. 



Nanya? Kapan dia bertanya kepadaku. "Nanya apa Rian?" Aku mengerutkan alis. 



Ia menepuk dahinya, pelan. "Mikirin apa sih, pasti kamu gak dengerin aku ngomong?" tanyanya. 



Aku hanya mengangguk. Jari telunjuknya tiba-tiba menusuk lesung pipiku. 



"Fiqoh jalan-jalan ke mana?" Ia menyodorkan wajahnya kepadku. Membuat aku beranjak dari kursi. 



"Belum di jawab, udah pergi," teriaknya. 



Setelah jam sekolah selesai, aku menunggu supir di depan gerbang. Duduk bersama Anita, teman sekelasku.



Ia pun sama seperti yang lain, menanyakan keberadaan Fiqoh kepadaku. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan yang sama kepada orang yang berbeda. 



"Aku sudah di jemput, duluan ya, Nit," pamitku, lalu berlari masuk ke dalam mobil yang sudah terbuka. 



Yang menjemputku ternyata adalah Ibu, bukan sopir pribadi ayah. Penampilannya yang peminim, menyejukkan mataku. 



Ya, ibuku belum berhijab. Begitupun aku, hanya berhijab sesekali, itupun jika di suruh Fiqoh. Ia selalu mengingatkan untuk memakai hijab ketika akan jalan bersamanya. Ia sosok perempuan yang sudah istiqomah berhijab, sepertinya dari keluarga yang taat agama. Seberuntung itu aku bertemu dia. 



Sambil ngobrol dengan ibu, aku membuka ponsel. 


[Gak, Nun. Insyaa Allah kita akan selalu bersama, persahabatan kita akan tetap aman.] aku bahagia membaca pesan yang dikirimkan Fiqoh.



[Aku rindu Kamu, Fiq.]



"Ibu, wajar gak sih seorang sahabat selalu ngelak ketika kita ingin bermain ke rumahnya? Kita kan hanya mau mengenal keluarganya dan ingin tahu rumahnya juga."



"Sahabat kamu?" tanya Ibu. 



"Em, ya sahabat semuanya, yang punya kasus seperti itu dengan sahabatnya." Aku mencoba menutupi. 



"Ibu gak bisa mastiin wajar dan gak wajar, itu tergantung situasinya di rumah, Nun. Bisa aja dia gak di ijinkan orang tuanya membawa teman ke rumah." 



Jawaban ibu ternyata sama seperti yang ada di dalam hatiku. 




Jangan pergi - Part 4

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- Day 05
- 402 Kata

Setelah dua minggu, ternyata Fiqoh tidak kembali ke sekolah, bahkan untuk sekedar memberiku kabar pun tidak. Pesan yang aku kirimkan tidak kunjung centang dua. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia? Menurutku pindah dadakan tanpa pamit adalah sesuatu yang kurang wajar. Aku rindu kamu Fiq, aku selalu merindukan kebersamaan-kebersamaan kita.


Hanya Foto di ponsel yang bisa aku jadikan sebagai obat. 'Dirimu kapan pulang.' Tanpa sadar aku menjatuhkan buliran bening di pelupuk mata.


"Permisi, Nun." Terdengar suara bibi di balik pintu, aku segera membuka kunci. Ia masuk membawa sarapan untukku, padahal tidak terbesit di pikiranku untuk sarapan.


"Terima kasih, Bi," ucapku, sambil mengajaknya makan bareng.


"Masih banyak kerjaan, Nun. Bibi makan di dapur aja, ya. Habiskan lhoo, nanti Ibunya marah," tolak bibi. Aku tahu, ini masih pagi. Dan tentu pekerjaan bibi masih menumpuk. Beliau adalah seorang singgle perent yang hebat, merantau demi dua anaknya di kampung.


Sesekali orang tuaku mengundang anak-anaknya untuk main ke rumah kami, seperti keluarga yang sedang bersilaturahmi.


Aku bangkit dari tempat tidur, memakan sepotong roti, lalu keluar dari kamar.


Hari Ahad, semuanya ada di rumah, termasuk ayah.

"Ayaaah," teriakku manja.


"Sini," ajak Ayah, ia menggun-ayun tangannya. Duduk di sofa menonton televisi.


Aku duduk dibsebelahnya, tangannya berada di belakang leherku.


"Sudah sarapan?" Aku tahu, keluargaku pasti akan bertanya, itu sebabnya aku mengigit sepotong roti.


"Kita jalan-jalan yuk, ya hari ini," ajak ayah, yang membuatku semakin senang.


Aku meng-iyakan, dan segera bersiap untuk dolan.


Kita pun berangkat bertiga, karena bibi tidak mau di ajak jalan-jalan. Perjalanan yang sangat singkat, dari kota Malang ke Jogjakarta. Membutuhkan waktu beberapa jam saja.


Hingga perjalananpun hampir selesai, aku sangat terkagum-kagum dengan daerah istimewa ini. Disini banyak sejarah para pahlawan, bahkan disini adalah kota pelajar pertama sebelum Malang. Destinasi wisatanya yang banyak, membuat banyak manusia yang menginjakkan kakinya ke daerah ini. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


Aku turun di sebuah restoran, untuk makan terlebih dahulu, ibu belum makan.


Ada beberapa orang yang aku kenal, namun tidak aku sapa. Aku sangat bersyukur bisa sering menapaki kota Jogja ini.


Tiba-tiba teringat saat bersama Fiqoh, kita pernah main kesini berdua, Naik motor.


Bahagianya kami waktu itu, mengunjungi beberapa kampus di sini, merencanakan masa depan dengannya. Kita berjanji untuk kuliah satu kampus, namun sepertinya, rencana itu tidak akan terjadi. Hanya akan menjadi sebuah kenangan.


[Fiq, aku di jogja, teringat kita saat di sini berdua]

[Kamu kemana saja, Fiq]

Aku kembali mengirimnya beberapa pesan, meskipun tahu tidak akan ada jawaban.




Jogjakarta - Part 1

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 06

- 402 Kata


"Adek mau pesan apa?" tanya Ayah. Dia menyodorkan sebuah menu untukku.


"Ainun belum lapar lagi, Yah. Tadi kan sebelum ke sini sudah makan," jawabku sambil menyerahkan kembali menu.


"Tidak sedang diet, kan?" tanya Ayah yang mengundang tawa geli. Diet? Aku diet? Gak mungkin badan sekecil ini masih mau diet.


"Weleeeh," jawabku singkat. Ayah dan ibu serentak tertawa.


Setelah menyelesaikan makan, kami pergi mengelilingi malioboro. Tidak seperti dahulu, tidak seperti pas pertama aku datang ke tempat ini. Yang membuat aku suka dengan jogja salah satunya adalah pedagang kaki lima. Ketika menyusuri jalan di malam hari, kita merasa tidak sendiri karena adanya mereka.


Sekarang? Mereka sudah tertata di teras Jogja.

"Mau beli apa?" tanya Ayah kepadaku dan ibu. Ibu memilih-milih sebuah hiasan rumah. Padahal di Malang pun banyak.


Aku memfoto bagian malioboro sini, untuk dikirim kepada Fiqoh. Di tempat ini kita pernah menghabiskan waktu bersama.


"Bengong aja we, Dari tadi. Gak seneng?" gertak ayah menggodaku.


"Ada yang dipikirkan?" tanya ibu.


Aku tertawa menyembunyikan. "Gak Yah, Bu. Ainun dari tadi sakit perut pingin ke toilet, tapi sekarang udah gak papa," jawabku.


"Aduuuh, gak kebayang deh gimana rasanya kalo ke sini bareng Suami Ainun nanti," celetukanku seketika membuat ayah dan Ibu menoleh ke arahku. Mereka sedang memilih kerajinan tangan.


"Wah anaknya udah pingin nikah pak," sahut pedagang yang sedang melayani. Membuat aku sedikit malu. Tak tidak apa-apa, aku senang karena mampu membuat mereka tertawa dengan canda recehku.


"Ada-ada aja, kamu mah dek." Ayah mencubit pipi tirusku.


Ingin rasanya menetap di sini. Mereka beruntung bisa lahir di tanah ini. Weeeh, tapi kurasa orang sini tinggal di sini biasa saja. Layaknya aku di malang. Sebetulnya malang kota pelajar juga, dan banyak di minati wisatawan. Udah lah, aku juga beruntung kok.


Setelah dari Dari malioboro, kami langsung jalan ke Taman Pintar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari akhir kilo meter.


Ketika kami mau masuk, tiba-tiba, "Tolong scan pak, atau tunjukan bukti surat vaksin," seru petugas yang berjaga di depan.


"Weleeh, ternyata masih harus gini-ginian." Aku mendengus pelan. Scan peduli lindungi.


"Silahkan masuk." Mereka membuka palang yang sengaja ditutup agar tidak ada yang sembarangan masuk.


Ketika diriku masuk, berjalan beberapa langkah, sudah disuguhkan dengan air mancur. Aku berjalan di tengah-tengahnnya, meminta tolong ayah untuk video dan memfotokanku. Biasa lah, untuk update status.


"Sini-sini, sekarang Ibu dan Ayah Ainun Fotokan," teriakku, mengambil paksa ponsel.


Mereka maju untuk berfoto. "Geseran ke samping kanan bu, papa angkat kepalanya." Aku kian semakin cerewet mengatur mereka.





Jogjakarya - Part 2

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 07

- 456 Kata


Setelah puas jalan-jalan, kami pun kembali pulang. Saat perjalanan, aku menutup mata dengan rapat, rasanya lelah meskipun di balik itu ada kesenangan. Membahagiakan rohani ternyata bisa membuat jasmani lelah juga, ya. 



"Ainun, bangun. Sudah sampai rumah," ucap Ibu, membangunkanku. 



Bibi sepertinya mendengar suara mobil kami masuk, ia sudah menyambut di teras. "Huh, Bibi. Nun cape," keluhku kepadanya. 



"Tadi ada yang kirim paket, Nun." Bibi mengambil sebuah kotak dari kamarnya. 



Kuterima. 'Pengirim : Fiqoh.' Sontak membuat batinku kaget. "Ini siapa yang nganter, bi?" tanyaku penasaran. 



"Ya kurir lah, Nun," jawab Bibi. 



Bunda dan ayah masuk, ia menenteng beberapa tas belanjaan. Ribet sih menurutku, emak-emak di mana-mana sama kalau pergi-pergi mesti beli barang-barang yang sebenarnya tidak penting. Mereka melihat box yang yang ada di tanganku. 



"Itu apa, sayang?" tanya ibu. Aku hanya menjawab paket dari teman. Karena tidak ingin bertele-tele untuk bercerita panjang lebar kepada beliau. 



Kusimpan paket itu di kamar, nanti malam aku unboxing, beranjak ke dapur membuat teh untuk Ibu dan Ayah. Bibi sepertinya lupa, atau mungkin lagi cape. 



Kusuguhkan teh hangat, aromanya yang wangi mampu menggoda hidung mereka. Akhirnya langsung mereka teguk. 



"Terima kasih, ya. Rajin banget anak Ayah," puji ayah. 



"Iya dong, anak ayah harus rajin, gak ada kata memangku tangan kalau Ainunasih mampu." Aku merebahkan tubuh di atas sofa. 



"Nanti lanjut kuliah mau di mana? Beberapa bulan lagi Ainun kan akan lulus, Cie." Tiba-tiba ayah membahas tentang kuliah. Aku bingung, karena aku ingin kuliah bareng Fiqoh. 



"Em, Nun belum tahu, Yah. Ada beberapa pilihan," jawabku. 



"Di tata lho ya. Jangan sampai nanti kebingungan. Ini menyangkut masa depan lho nduk." Ayah memijit-mijit kakiku. 



Ya aku pasti tata kok, aku pasti kuliah. Tapi, aku sedang menunggu kepastian Fiqoh. Apakah kita akan kuliah satu kampus atau tidak. Kurasa tidak, ya. Hm, ya sudahlah, aku manut takdir aja. 


___


Kotak itu membuatku sangat penasaran, ku ambil gunting, lalu membukanya. Aku sudah di sambut oleh sebuah surat di kertas berwarna cokelat muda. 



"Ainun, Assalamu'alaikum. 


Kamu apa kabar? Fiqoh rindu. Padahal baru beberapa bulan berpisah denganmu, rasanya seperti di tinggalkan untuk selama-lamanya. Rindu ini terus mengerumuni dinding hatiku. 


Aku mau minta maaf, Nun. Ponselku disita ayah, jadi belum bisa menghubungimu meskipun hanya menyapa kabar. 


Jangan lupa shalat ya, kamu jaga kesehatan, dan teruslah tersenyum. Fiqoh yakin, kita akan di pertemukan kembali di hari yang sudah di rencanakan Allah."



'Fiqoh, sebenarnya ada apa?' batinku. Sepertinya ayah Fiqoh menyita ponsel agar Fiqoh fokus belajar, supaya bisa meraih nilai bagus untuk masuk pergurian tinggi. Ya, mungkin begitu dan aku rasa begitu.



Waktu bersamaku saja, Fiqoh sering bercerita, ayahnya menuntut Fiqoh untuk menjadi juara umum di sekolahnya. Semua itu tercapai, karena kerja kerasnya. Apalah aku? Masuk tiga besar saja tidak pernah. Kedua orang tuaku tidak pernah menuntut itu, yang penting aku belajar. Hanya itu. 



Sepi - Part 1

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 08

- 451 Kata



.

Mungkin saja kamu suka

Hasan Komarudin
Salik
Bety Herlin
Rindu itu masih ada
Shofie Widdiant...
Tujuh Hari Bersamamu
Elin roslina
Anak Rantau
Sekar Prahmi
Hirap

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil