Loading
2

0

2

Genre : Teenlite
Penulis : Amalia A.
Bab : 30
Pembaca : 3
Nama : Amalia Amraini
Buku : 1

Sembilan Tahun

Sinopsis

Adhiya, seorang wanita yang terjebak dalam perasaan cintanya kepada David. David, seorang laki-laki yang penuh misteri, ia bisa datang sesuka hati, meraih hati Adhiya, lalu pergi meninggalkannya tanpa ada kata pasti. Sembilan tahun Adhiya terjebak dalam kisah yang dibuat oleh David. Ditinggalkan, sampai menghadirkan orang-orang ketiga diantara mereka. Hingga akhirnya, Adhiya memberanikan diri untuk mencari titik akhir dari kisah ini.
Tags :
#kisahcintaremaja

Bab 1

1 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2
  • Jumlah kata 514

                                                      

 

Maret, 2014.

 

Kumandang adzan subuh membangunkanku. Dengan sedikit malas aku membuka mataku. Sayup-sayup terdengar suara Weli dan Triya bercengkrama diruang tamu. Aku duduk dipinggir tempat tidur, mengumpulkan tenaga untuk segera menunaikan kewajibanku.

 

Pagi itu, seperti biasa, aku dan dua rekanku bersiap untuk berangkat ke kampus. Kami bertiga adalah anak rantau yang sedang mengasah ilmu di ibukota. Berjumpa disatu kampus dan menetap disatu rumah yang kami sewa bersama. Weli yang tertutup namun dewasa diantara kami, Triya yang umurnya paling muda dan paling manja, dan aku, Adhiya si tukang galau.

 

Suara riuh anak-anak menggema di selasar ruang kelas. Seperti biasa, bila tak ada dosen yang hadir, maka semua akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sedang asik duduk di kursi taman depan kelas sambil memainkan handphoneku. Tiba-tiba, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Ku diamkan telfon itu, tak ku hiraukan. Namun deringnya tak berhenti.

 

Dengan sedikit malas, kupencet tombol jawab, terdengar suara laki-laki yang tak asing bagiku. Iya benar, ini suara David. Dua tahun lalu aku mengenal David, melalui kawan sekolahku. David, bertubuh tinggi, dengan wajah yang lumayan, kuliah di salah satu universitas swasta di ibukota ini. Satu bulan berkenalan, kami semakin dekat, dan dia menyatakan cinta kepadaku. Enam bulan kemudian dia menghilang tanpa kata, tanpa penjelasan, bahkan nomor handphone nya pun tak bisa dihubungi lagi. Aku bingung, salahku dimana sampai David pergi hilang tanpa jejaknya. Semua kawan-kawannya aku hubungi pun tak bisa. Hanya Enam bulan, tapi membuatku galau ber-tahunan.

 

Harus ku akui, wajahku sumringah saat tau David menghubungiku lagi. Jantungku berdegup kencang tak henti. Senyumku tak memudar satu hari itu. Apalagi saat tau, David akan datang menemuiku sore nanti, setelah jam pulang kuliah.

 

Anganku bergerilya kemana-mana, mengingat-ingat kisah satu tahun lalu, yang walau hanya enam bulan bersama, tapi mengukir cerita yang cukup terkesan indah. Apakah dia masih suka membawa coklat seperti dulu, atau menelpon berjam-jam tanpa putus bila tak bertemu, ataukah tiba-tiba datang saat aku sedang berantakan?, entahlah. Aku hanya berharap dia tak kan pergi meninggalkanku lagi. Namun tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Ega. Dia adalah seseorang bak pahlawan yang menyelamatkan masa kelamku setelah ditinggal David pergi. Saat ini sudah hampir enam bulan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana ini? Bukankan aku sudah mengutuk diriku sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan David, dan saat ini aku merasakan bahagia yang teramat sangat ketika David menghubungiku lagi, bahkan ingin menemuiku. Perasaanku mulai bercampur aduk. Hatiku mulai tak tenang, pikiranku mulai menjalar kemana-mana. Aku ingin bercerita dengan Weli dan Triya, apa tanggapan mereka mengetahui David ingin menemuiku lagi. aku ingin bertanya, salahkah aku ingin menemuinya lagi???

“Kenapa, Ya?” suara Weli membangunkan lamunanku. Ternyata dia sudah duduk di depanku sedari tadi tanpa ku sadari. Aku menggeleng.

“Bener?” tanyanya sekali lagi.

“Wel ... kalo seandainya ada orang yang lo tunggu-tunggu tiba-tiba dateng, gimana perasaan Lo?” aku bertanya lirih.

Weli memandangku. “Ya pasti seneng lah ... udah ditunggu-tunggu lama, ehh tiba-tiba nongol, gak kebayang bahagianya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Ohh, iya. Pasti bakal seneng banget ....”

“Terus, Lo mau ketemu siapa?” tanyanya sambil memandangku dengan senyum penuh curiga, seolah-olah tahu apa yang terjadi denganku.

Aku tersenyum. Mataku memandang jauh.

“David,” ucapku dalam hati.

Bab 2

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 749

 

Sore itu, suasana kontrakan tampak seperti biasa. Hening, sepi, penghuninya sibuk dengan rutinitas masing-masing. Weli yang sibuk dengan tugas kuliah, Triya yang asik tidur, dan aku yang sedang sibuk menata perasaanku yang sedang tidak karuan. Ku lihat jarum jam sudah mengarah ke pukul empat sore. Degupan jantungku semakin tak menentu.

 

“Kenapa, Ya?” tanya Weli yang ternyata memperhatikan kegelisahanku dari tadi.

 

“Eeemmm ....” Weli mendekatiku, memegang keningku dengan telapak tangannya.

 

“Gak panas, gak demam,” ucapnya seraya memperhatikan wajahku.

 

“Wel, lo masih inget David gx?” tanyaku serius.

 

“David? David Egatama?” tanya nya balik. Aku mengangguk.

 

“Hahaha ... ya ingetlah, Ya. Masa gak inget sama orang yang buat sahabat gue ini galau berkepanjangan bermusim-musim.”

 

“Kenapa dengan David?” tanyanya lagi.

 

“Dia mau ketemu gue sore ini,” ucapku lirih. Weli memandang wajahku, lalu tersenyum.

 

“Jadi, sahabat gue ini lagi gelisah dari tadi siang di kampus karena,  mau ketemu mantan, ehh belum mantan ya kan belum ada kata putus, pacar juga bukan, jadi nyebutnya apa donk?” ledeknya.

 

“Weli!” kucubit lengannya dengan gemas.

 

“Hahaha ... udah siap ni?. Pantes udah mandi,” ledeknya lagi sambil berlalu menuju kamar.

 

“Weli ... tenangin gue kenapa?”

 

“Semangat!!!” tangannya mengepal keatas dan kemudian melanjutkan lagi tugasnya di depan laptop.

 

“Tring ... tring ...” suara panggilan masuk handphoneku berbunyi.

 

Terlihat jelas di layar handphone tertulis nama David.

 

“Halo ...”

 

“Halo, Ya. Gue udah di depan Masjid yang kata lo tadi ni ....” jelas David.

 

“Oh, iya. Tunggu sebentar ya ....”

 

Aku mengambil tas kecilku, lalu melirik ke arah Weli. Weli hanya mengepalkan tangannya keatas, memberi tanda semangat untukku. Aku hanya menghela nafas dan berlalu.

Aku berjalan menyusuri jalan kecil menuju Masjid yang tak jauh dari rumah kontrakanku. Karena jalan masuk ke rumah yang cukup sulit kujelaskan, maka ku minta David menunggu di depan masjid. Sampai di masjid, ku lihat seorang laki-laki menggunakan motor matic merah dengan gaya casual sedang sibuk memainkan handphonenya. Jelas wajahnya tak asing bagiku, tidak berubah seperti dulu.

 

“David?” sapaku. Dia menoleh, memberikan senyum termanisnya. Senyum yang tak pernah bisa membuatku move on dari satu tahun lalu.

 

“Dhiya?” balasnya.

 

“Kontrakan lo jauh ya dari sini?” tanya nya. Aku masih terdiam. Masih merasa ini seperti mimpi. Bertemu dengannya lagi menurutku adalah takdir. Takdir yang sangat aku ingini.

 

“Enggak kok, di belakang masjid ini, cuma agak susah aku jelasin jalan nya,” jawabku.

 

Dia menyodorkan helm untuk ku.

 

“Yuk!” ajaknya.

 

“Mau kemana?’ tanyaku.

 

“Jalan-jalan.” Tiba-tiba langsung dipakaikannya helm berwarna putih itu di kepalaku sambil tersenyum.

 

“David, jangan buat aku bergetar terus,” gumamku dalam hati.

 

Kami masih banyak terdiam diperjalanan.

 

“Dhiya, gue mau tanya.”

 

“Iya, apa?”

 

“Lo, udah punya pacar?”

Aku terdiam.

 

“Kok diem???” tanyanya lagi.

 

“Sudah,” jawabku.

 

“Ohhh ... boleh tau namanya siapa?”

 

“Ega.”

 

“Kok, namanya sama kaya gue? Lo sengaja ya nyari pacar yang namanya sama kaya gue?” ledeknya.

 

“Gak sengaja!” Dia tertawa kecil seraya menambah kecepatan laju motornya. Kamipun terdiam lagi. Tak lama kami tiba di sebuah mall.

 

“Ya, tunggu disini sebentar ya,” ujar David sambil menunjuk sebuah kursi pengunjung.

 

“Lo mau kemana?.”

 

“Bentar aja,” sambil tersenyum dia berlalu pergi. Aku duduk di kursi menunggunya. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, sebuah panggilan masuk. Ku lihat nama si penelpon.

 

“Ega ...” gumamku. Buru-buru ku angkat panggilan itu.

 

“Halo ... assalamuallaikum Adhiya.”

 

“Waalaikumsalam, Kak.”

 

“Lagi dimana sayang? Kok berisik?”

 

“Aku lagi ke mall sebentar kak, maaf lupa mau ngabarin kakak tadi ...” jawabku berbohong.

 

“oke, sama Weli?,”

 

“I—iya, Kak,” jawabku agak ragu.

 

“Yaudah hati-hati ya! Kakak belum pulang, masih harus lembur dulu nih. Jangan lupa makan ya! Kalo udah selesai yang dicari, langsung pulang. Assalamuallaikum ....”

 

“Iya Kak, siap! Waalaikumsalam ...” buru-buru ku matikan panggilan itu.

 

“Hayo! Telpon dari cowoknya ya?” Aku tersentak kaget, tba-tiba David ada di belakangku.

 

“Nih ...” dia menyodorkan sebuah boneka lumba-lumba warna biru.

Aku terdiam, bingung.

 

“Maaf ...” ucapnya.

 

“Untuk??” tanyaku.

 

“Maaf, karena buat lo susah setahunan ini ...” lanjutnya. Aku masih diam memandanginya.

 

“Gue tau gue salah, boneka ini juga bukan apa-apa kok. Cuma gue pengen ngasih aja buat lo.” Ku raih boneka itu.

 

“Makasih ...” jawabku lirih.

 

“Makan yuk! Lo mau makan apa?” tanya nya sambil berjalan kehadapanku.

 

“Apa aja, asal bukan racun.”

 

“Hahahaa ... ya gak lah, masa gue mau kasih lo racun si?”

 

“Kita ke kafe Exmil aja, enak loh disana, udah pernah makan disana belum lo?” tanyanya sambil menarik tanganku untuk berdiri dari tempat duduk. Aku diam, pasrah ia menarik tanganku, menggandengku.

 

“Oke!” jawabku sambil berusaha melepas genggamannya.

 

“Ehh, sorry. Lupa,” dia melepas genggamannya dan berdiri disebelahku sambil tersenyum. Sore itu kuhabiskan waktuku dengannya. Ingin kuucap maaf sebanyak-banyaknya kepada Ega, pacarku saat ini.

 

 

Bab 3

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 353

           Sore yang melelahkan. Aku merebahkan badanku diatas karpet di ruang tengah. Weli asik dengan musiknya, yang sengaja ia putar dengan volume keras, agar seisi rumah bisa mendengarnya.

           “Ya, gimana kencan sama David kemarin?” tanya Triya yang ikut rebahan disebelahku.

           “Yaaaa ... gitu lah ...” jawabku sambil asik mengutak-atik handphoneku.

           “Bisa CLBK donk???” lanjut Triya.

            “Gak si kalo bersemi kembali.”

            “Iya emang bukan bersemi kembali, tapi belom kelar oneng, hahaha ...” ledek Triya sambil menoyor kepalaku.

            “Apaan si Tri!”

           “Ehhh, merah mukanya dia, Weli ... ada yang celebek celebek nih ...” teriak Triya memanggil Weli yang berada di dalam kamarnya.

Weli berlari keluar terburu-buru.

            “Ada apaan???” tanya Weli serius.

            “Ada yang celebek,” sahut Triya cepat sambil berdiri.

            “Celebek? Apaan tuh?” tanya Weli dengan memasang raut wajah bingung.

            “Cinta Lama Belom Kelar, Wel, hahaha ...’” Triya berlari menghindariku yang sudah siap melemparnya dengan bantal.

            Weli masih berdiri lama terdiam.

            “Ohh, Dhiya sama David maksudnya ya? Gue baru nyambung. Hahahaha ...” Weli pun ikut berlari ke arah Triya menjauh dariku.

            “Terus aja ledekin gue!” kataku dengan wajah cemberut.

            “Eitz, jangan lupa sama Kakak Ega ya ...”

            “Apaan si, Tri. Ya enggaklah, gak mungkin gue—”

            “Tring ... tring ... tring ... tring ...” suara handphonke memutus percakapan.

            “Dari siapa tu? Kakak Ega apa David tuh?” tanya Weli sambil berusaha mendekatiku untuk melihat nama di layar handphoneku.

            “David,” jawabku singkat.

            “Ciyeee ...” ledek mereka berdua lagi.

            “Halo ...” jawabku mengangkat telpon itu.

            “Ya, lagi dimana?” tanya David di telpon.

            “Kontrakan, kenapa?”

            “Oh, yaudah gak apa-apa, nanya doank. Yaudah ya ...” langsung dimatikannya telpon itu.

            “Orang aneh, langsung matiin aja telponnya,” gerutukku.

            “Aneh-aneh juga lo suka, bikin galau setahunan, hahahaha ...” Triya dan Weli berlari langsung masuk ke dalam kamar menghindari lemparan bantalku.

            “Ting tong. Ting tong,” suara bel rumah berbunyi.

            “Wel, Tri, ada tamu tuh, buka si! Lagi males nih gue bangun,” ujarku sambil melanjutkan berselancar di sosial media tanpa merubah posisiku sedari tadi.

            “Iya bentar,” sahut Triya.

            Triya membuka pintu. Tampak seorang laki-laki asing yang membawa seikat bunga mawar putih dan sekotak coklat.

            “Cari siapa mas?” tanya Triya.

            “Mbak Adhiya nya ada?” tanyanya.

            “Ada.”

            “Yaudah Mba, nitip ini untuk mba Adhiya, dari David gitu ya,” laki-laki itu menyerahkan bunga dan coklat kepada Triya.

           

 

bab 4

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 359

 “Makasih ya, Mba,” ia langsung bergegas pergi berlari menuju seseorang yang menunggunya di depan gerbang rumah.

Aku bangun dan berjalan mendekati Triya, karena penasaran siapa tamu yang datang.

            “Siapa Tri?,” tanyaku.

            “Nih, buat lo,” dia menyerahkan seikat bunga mawar putih dan sekotak coklat.

            “Buat gue? Dari?”

            “David, kata yang nganter tadi.”

            “Hah?”

Bergegas aku berlari ke depan gerbang, berharap masih bisa melihat orang yang mengirimkan ini, namun sudah tak terlihat lagi.

            “Ciyeee ... celebek ... celebek ...” Triya melanjutkan ledekannya sembari masuk ke dalam rumah.

Aku mengikutinya, sambil memandangi buket mawar putih segar itu.

Weli yang kebetulan keluar dari dalam kamar, melihat aku dan Triya masuk berbarengan.

            “Waaahhhh! cantik banget mawarnya. Beli, Ya?”

            “David donk yang ngasih,” jawab Triya dengan nada meledeknya.

            “Beneran???” Weli melihat ke arahku.

Aku cuma mengangguk dan masih dalam keadaan perasaan yang campur aduk. Antara senang, kaget, malu, semuanya.

            “Asiiik ... Taruh di toples, Ya. Biar gak cepet layu,” ujar Weli.

Ku jawab lagi dengan anggukan.

 

 “Tring ... tring ... tring ... tring ...” suara handphonku berbunyi lagi.

“Halo, David,” jawabku cepat.

“Bunganya udah sampe ya?”

“Apaan si, ngirim-ngirim bunga ini?”

“Lo gak suka? Kalo gak suka buang aja gapapa.”

“Bukan gitu, tapi ...”

“Gue bakal lakuin apa aja, buat dapetin hati lo lagi, Ya,” David langsung memutus panggilan telpon itu.

“Deg!!!” jantungku berdegup tak berirama lagi.

Aku memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Ku pandangi buket bunga mawar dan coklat yang ku pegang.

            “Ya Tuhan, bukan begini mauku ...” ucapku dalam hati.

Aku memang berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk dipertemukan kembali dengan David. Dalam doaku, aku ingin bertemu dengannya untuk meminta penjelasan darinya. Apa alasan dia meninggalkanku. Tapi, pertemuan pertamaku kemarin, membuatku lupa semuanya. Tak ada yang bisa kutanyakan kepadanya. Aku sangat menikmati pertemuan itu. Bahkan aku sangat merasa bahagia. David memang romantis dan selalu bisa membuatku merasa nyaman berada didekatnya. Aku lupa dengan kegalauanku yang menahun. Aku lupa emosiku yang ingin kuluapkan kepadanya. Aku lupa itu semua. Bahkan aku lupa kalau aku sudah punya Ega. Dan hari ini, dia memperlakukanku seolah-olah aku masih kekasihnya.

            “Aku punya kamu, dan kamu punya aku.”

Kalimat itulah yang selalu dia ucapkan, membuatku semakin bingung dengan keadaan.

 

 

bab 5a

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 313

 

Ega Fahreza, lelaki berusia 22 tahun itu adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Aku mengenalnya tanpa sengaja. Saat itu ia sedang menghadiri ulang tahun rekan kantornya di sebuah cafe, ia melihat ku yang sedang duduk sendirian di bagian pojok cafe. Menurutnya, aku mirip dengan kerabat jauhnya, karena itu ia menghampiri untuk menyapa. Pertemuan tanpa sengaja di bulan Juni 2013 itu pun berlanjut. Perlahan-lahan hariku kembali bersinar. kurang lebih sudah satu tahun hari-hariku suram, sejak David meninggalkanku tanpa penjelasan. 19 Agustus 2013, aku menerima Ega sebagai kekasihku.

"Dhy ... kok bengong?" suara Ega membangunkan lamunanku.

"Ehh, enggak kok, Kak"

"Kamu tu dari tadi aku perhatiin gx fokus kalo diajak ngobrol, kenapa? Ada masalah di kampus?"

"Gak ada apa-apa kok, Kak. Adhiya cuma emang lagi mikirin tugas akhir ini aja." Ega yang duduk disebelahku, membelai lembut rambuku.

"Gak usah terlalu kamu pikirin. Nanti yang ada kamu malah sakit. abisin dulu makanannya, abis itu kita nonton!"

Aku menatap wajah yang lembut itu. Aku benar-benar beruntung bertemu dengan Ega, seorang laki-laki yang baik, lembut, dan penuh perhatian. Tidak seperti David, yang hanya memberi kebahagiaan sesaat hanya untuk membuat perasaanku tersesat.

"Kenapa gue mikirin David si!" umpatku dalam hati. Ega membaca ekspresi diwajahku.

"Hei!" tegur Ega, sambil mengacak-acak rambutku.

"Apaan si, Kak" aku menggerutu.

"Dari tadi kamu itu aneh, bentar-bentar senyum, bentar-bentar cemberut, mirip orang gila pinggir jalan"

"Dih, masa nyama-nyamain aku sama orang gila si, Kak. Sungguh tega dirimu padaku."

"hahaha ... kamu tuh lucu banget si ...." Ega mencubit pipiku.

"Aww!! Sakit tau ...." Gantian aku mencubit lenganny. Dia berusaha mengelak.

"Iya, ampun ... Ampun ..." Dia memegangi kedua tanganku.

"Kalo cubitannya Adhiya ini gx ada lawan pokoknya, cabe rawit aja kalah."

Aku masih berusaha melepaskan tanganku untuk mencubitnya lagi.

"Sst ... Udah ah! Keburu filmnya mulai. Cepet abisin makanannya! Aku mau ke toilet sebentar ya." Dilepaskannya tanganku dari genggamannya. Aku cuma mengangguk. Ku lanjutan lagi menikmati bakso yang ku pesan tadi.

 

Bersama Ega

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 326

 

"Tring ..." Suara pesan BBM masuk di handphoneku. Terlihat nama David si pengirim pesan itu. Buru-buru ku buka dan baca pesannya.

 "Lagi apa?" isi pesan itu. Buru-buru kubalas singkat dan jelas.

"Lagi sama Ega.” Tak lama tanda pesan dibaca dan mengetik.

"Oh! Selamat senang-senang," balasnya lagi. Ku baca dan tak ku balas lagi, tapi langsung ku hapus pesan tersebut.

"Udah belum?" tiba-tiba Ega sudah ada didepanku.

"Udah, Kak. Kenyang ...."

"Kebiasaan gak di abisin, takut gendut?"

"Kenyang loh, Kak ... Beneran ... Ciyus ..." aku membalas dengan nanda manja.

"Sok manis deh! Hayuk! Keburu filmnya mulai" dia mendekatiku dan menarik tanganku. Aku hanya tersenyum mengikutinya. Ku gandeng tangannya dengan erat.

"Kamu kenapa? Kayanya hari ini manja banget?" tanyanya sambil membalas gandengan tanganku.

"Emang gak boleh ya ...." Ega tertawa kecil.

"Boleh banget, kangen ya sama aku? Mau ditinggal lagi nih seminggu ...."

"Tuh kan ... Udah mau berangkat lagi ...."

"Minggu depan, aku ajak kamu ke rumah aja ya. Kebetulan Kakek mau dateng, jadi aku mau kenalin kamu ke dia"

"Wah! Aku harus dandan cantik donk, Kak," jawabku sumringah.

"Gak usah senyum-senyum. Aku tau apa yang ada di kepala kamu."

"Masa ?? Apa coba?"

Ega menghentikan langkahnya, lalu memutar bahuku ke arah sebuah toko perhiasan.

"Aku mau beliin kamu itu ..." matanya menuju ke arah sebuah sepasang cincin putih berkilau. Aku terdiam.

"Untuk apa, Kak?" tanyaku pura-pura polos.

"Biar kamu gak hilang, diambil orang," jawabnya sambil tersenyum. Dia menggandeng kembali tanganku.

"Ayok! Filmnya mau mulai ini." Dia menarikku.

Aku masih terdiam kaku. Pikiranku kacau. Perasaanku pun tak menentu. Apakah aku harus senang dengan pernyataan Ega tadi, atau aku harus sedih karena mengingat David yang sekarang menghantui hari-hariku lagi. Di dalam tas, ratusan panggilan dan pesan masuk ke dalam handphoneku. Sengaja ku senyapkan nada dering handphoneku sejak David tadi menghubungi. Aku tak mau pertemuan ku dengan Ega terganggu karenanya.

"Aku langsung pulang ya ..." pamit Ega ketika selesai mengantarku kembali ke kontrakan.

"Iya, Kak. Hati-hati ya ...."

 

Bersama Ega 2

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 385

 

"Iya, yaudah masuk!"

"Oke. Aku masuk dulu. Jangan lupa nanti kabarin aku ya, Kak!"

"Siap bos!"

Aku masuk ke dalam rumah. Suara deru mobil Ega pergi meninggalkan halaman.

Ku lihat Triya dan Weli sedang asik menonton televisi.

"Udah kangen-kangenan sama kakak Ega nya?" Tanya Weli sambil tersenyum-senyum.

"Senyumnya ngeledek ya?" Aku menghempaskan badanku ke karpet.

"David gangguin gak tuh?" Tanya Triya.

"Eh, iya. Hp aku silent"

Buru-buru ku ambil handphone ku di dalam tas. Benar saja, hamlir 200 panggilan dan BBM dari David. Aku terperangah. Ku baca satu-satu isi pesan itu. Rangkaian kalimat marah, kecewa, sedih semua bercampur. Aku menghela nafas.

"David?" Tanya Weli karena melihat ekspresi wajahku saat membuka handphone.

"Siapa lagi" jawabku sambil mengetik pesan.

"Kalo dia ganggu, mending gak usah lo ladenin, Ya" lanjut Triya.

 

"Ia, bener itu. Lo jelas-jelas udah punya Ega. Cakep, udah kerja, orang tuanya suka lagi sama lo. Lah David? Rumahnya aja lo gak pernah tau dimana" tambah Weli.

"Lo pikirin lagi deh, Ya. Lo tu beruntung udah ketemu Ega. Jangan karena hanya seorang David yang tiba-tiba muncul, lo jadi ragu lagi. Bener kata Weli barusan"

Aku diam. Aku menghargai saran dari sahabat-sahabat ku ini. Mereka lah saksi hidup saat aku benar-benar dibuat sedih dan galau karena ditinggal kan David.

"Iya ..." Jawabku lirih.

Tapi sayangnya, puluhan chat itu ku balas dengan kata maaf. Perasaanku mulai meragu. Pikiranku mulai kacau. Entah apalagi yang akan terjadi besok.

 

“Gue duluan ya ....” pamitku pada dua sahabatku.

 

Mereka berdua hanya mengangguk. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Ku hempaskan badanku diatas kasur. Lalu tanpa sengaja ku melihat boneka lumba-lumba biru yang diberikan David waktu itu.

 

“Kenapa si vid, lo dateng lagi? Kenapa lo gak hilang bener-bener hilang. Tapi ... gue juga yang berharap ketemu lo lagi. Sayangnya, lo dateng disaat yang bener-bener gak tepat,” aku berbicara kepada boneka itu. Ku raih handphoneku. Ku lihat galeri fotoku, belum ku hapus fotoku bersama David sore itu. sore dimana pertama kali aku bertemu dengannya lagi. Tiba-tiba, ada sebuah pesan masuk.

 

“Dhy, aku udah sampe rumah. Aku mau langsung istirahat ya, jangan lupa bangunin aku besok subuh. Gudnite Dhy, Love you”

 

Aku tersenyum membaca pesan itu.

 

“Siap bos! Gudnite Kak, Love you too ....” balasku.

 

Aku menatap langit-langit kamar. Anganku melayang kembali. Sehingga tanpa sadar membuatku tertidur lelap. Memimpikan dua sosok pria yang kini ada didekatku.

Bersama David

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 326

 

 “Dimana, Ya?” tanya David dengan suara terburu-burunya.

            “Di kampus, kenapa?”

            “Selesai kuliah jam berapa?”

            “Ini udah selesai, gue mau balik”

            “Yaudah, gue udah di depan kontrakan lo sekarang”

            “Hah???”

            “Gue tunggu ya ....”

            “Halo! David! Kok ditutup si telponnya!”

            “Kenapa, Ya?” tanya Weli yang duduk disebelahku.

            “David uda sampe rumah ...”

            “Lah??? Udah nongol aja tuh orang.”

            “Bingung gue, Wel ...”

            “Gak usah bingung-bingung. Kita ikutin dulu maunya David ini gimana. Gue Cuma bisa kasih saran . Yang jalanin Lo, yang ngerasain Lo. Apapun yang terjadi nantinya, itu pasti udah Lo pikirin baik-baik. Inget ya, semua ada konsekuensinya.”

            “Makasih, Wel. Lo sama Triya udah baik banget sama gue. Mau nemenin gue saat kapanpun.”

Aku memeluk Weli dengan hangat.

“Eh, si Triya mana ya? Mau balik gak dia itu ...” mata Weli mencari sosok Triya di sekeliling kelas.

“Weli ... Dhiya ....” Triya berlari ke arah aku dan Weli sambil melambai-lambaikan kertas ditangannya.

“Hasil UTS kemarin nih!” Triya menyerahkan kertas itu kepada ku dan Weli.

“Alhamdulillah gak remed kita, hahaha ....” lanjutnya.

“yaudah yuk, balik. David uda di kontrakan nih!” ajakku.

“Weh, uda sampe rumah aja dia. Emang dia gak kuliah?” tanya Triya.

“Entah deh ...” jawabku sambil mengangkat bahu.

Aku menyusuri jalan menuju rumah kontrakann. Tampak dari kejauhan sebuah motor terparkir di depan gerbang. Aku mempercepat langkahku. Triya dan Weli mengikuti di belakang.

Ku buka gerbang. David menyambutku dengan senyum sumringah di teras rumah.

“Lama banget ...” ujar David seraya mendekatiku.

“Hai Wel, Tri ...” sapa David.

“Hai!” jawab Weli dan Triya kompak, sembari membuka pintu rumah, masuk meninggalkan kami berdua.

“Mau ngapain kesini?” tanyaku sedikit ketus.

“Gue laper ...”

“Terus???”

“Makan yuk! Lo belum makan kan?”

“Gue kenyang.”

Aku berjalan menuju teras. David mengikutiku dari belakang.

“Tapi gue laper, gue pengen makan.” Lanjut David.

“Yaudah makan. Gitu aja kok repot!”

“Temenin ...’

“Dih, manja!”

“Hayuk lah!” David menarik tanganku dan tersenyum.

“Ya Tuhan, perasaan apa ini?” ucapku dalam hati.

 

Bersama David 2

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 374

 

Aku diam, tidak melepaskan genggaman tangan David. Dia menarikku ke arah motornya. Dipasangkannya helm dikepalaku. Dengan senyum termanisnya iya memperlakukanku bak kekasihnya. Antara senang dan kesal, aku menurutinya.

Kami tiba di sebuah rumah makan sederhana tak jauh dari Kampus David. Suasana yang cukup ramai. Cukup asing aku berada disitu. tak cukup lama kami menunggu makanan sampai terhidang diatas meja.

“Ayuk makan!” ajak David.

“OK!” jawabku.

Kami saling diam, menikmati hidangan sampai selesai.

“Ya, mampir kampus gue bentar ya. Gue mau kumpul tugas”

“Gak lah, gue tunggu disini aja”

“Kenapa? Lo malu?”

“Iyalah, disitu kan kampus elit”

“Elit? Ekonomi sulit maksud Lo? Hahaha ....”

“Apaan si, Vid!”

“Ya, gue gak akan lagi nutup-nutupin tentang gue. Gue bakal terbuka semua sama Lo. Makanya, gue mau ngajak Lo ke kampus gue. Biar kalo nanti Lo nyari gue kan gampang”

“Apaan? Siapa yang mau nyariin Lo?”

“Gak mau ngaku Lo? Perlu gue kasih bukti apa kalo lo nyariin gue lewat Riyan?”

“Ehhh?”

David tertawa lepas. Sedangkan aku, terdiam menahan malu.

“Merah kan mukanya? Hahaha ...”

Aku menunduk terdiam menutupi wajahku yang memerah.

“Yuk, Sayang ....”

“Ehh, siapa yang lo panggil sayang? Nama gue Adhiya, bukan sayang!”

“Galak amat, lebih galak dari dosen gue.”

“Bodok amat!”

            David mengajakku masuk ke dalam kampusnya. Aku mengikutinya. Benar-benar terasa asing. Riuh hiruk pikuk mahasiswa kesana kemari. Kampus David adalah salah satu kampus swasta yang terkenal di Kota ini. David merupakan salah satu mahasiswa manajemen informatika. Kami sama-sama duduk di semester lima. Hanya bedanya, aku mengambil program ahli madya, sedangkan dia sarjana.

            “Tunggu disini sebentar ya!”

David meninggalkanku di sebuah lorong kelas. Aku duduk di kursi tunggu yang tersedia. Tak berapa lama, ia datang lagi bersama temannya.

            “Yan, masih inget dia gak?” tanya David kepada temannya yang ternyata adalah Adriyan.

            “Siapa ya?”

            “Adhiya loh ....” jelas David.

            “Ohh, Adhiya? Ini Adhiya? Adhiya pacar lo dulu itu kan, Vid? Kok beda? Nambah cantik ....” goda Adriyan.

            David menyikutnya. Aku tersenyum tersipu.

            “Ya, ditemenin dia dulu ya sebentar, gue mau ngurus absen dulu” jelas David.

            “Gak ditemenin juga gakpapa kok ...”

            “Ntar lo ilang, bingung David nyarinya ....” goda Adriyan lagi.

            “Paan si Lo! Awas ya, jangan lo apa-apain! Gue tinggal dulu sebentar ya.”

Tanpa menunggu jawabku, David langsung berlalu pergi meninggalkan aku dan Adriyan. 

 

Cerita Adriyan

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 348

 

Suasana hening seketika.

            “Ya, Maaf ya ...” ucap Adriyan memecah keheningan diantara kami.

“Emm?? Maaf kenapa, Yan?”

            “Maaf, waktu itu Lo nyari David, gue gak ngasih tau lo ....”

            “Ohh ... ia gue paham kok, Yan. Tapi, lo tau gak apa alasan David ninggalin gue?”

            Adriyan menggeleng.

            “Setiap gue tanya tentang Lo, dia selalu menghindar. Kadang malah marah, hahaha ... lucu!”

            “Ohh, gitu ....”

            “Bukan gue gak mau kasih tau lo David dimana. Tapi gue bingung. Disatu sisi dia kawan deket gue. Tapi, dia juga tertutup sama gue. Dia jarang cerita apa masalah dia.tapi beneran kok, selama ini dia gak pernah deketin cewek manapun,” jelas Adriyan.

            “Masa???”

            “Serius, Ya! Dia pernah ngajak gue ke kosan lo, tapi lo gx ada. Terus dia pernah nelponin lo, tapi nomer lo gx pernah aktif. Beberapa kali kesana. Tapi dia malu mau mampir kampus lo.”

            “Beneran, Yan?”

            “Ya Ampun, Ya. Masa gue bohong. Lah lo kemana, kok kosan lo kosong terus?”

            “Satu bulan abis David hilang gak dateng-dateng nemuin gue, nomernya juga gak aktif, gue pindah ke kontrakan gue yang baru ... nomer dia juga gak pernah aktif!”

            “Terakhir dia abis ketemu lo, dia sempet jatoh dari motor. HP nya jatuh, terus dibenerin karena gak bisa hidup. Luka dia juga lumayan parah. Hampir dua minggu dia gak ngampus ... nomer lo gak aktif juga kenapa?”

            “Gue benerin HP gue, kartunya gue inget gue simpen di dalem dompet, tapi hilang ....”

            “Yaudah, lo sama dia juga udah ketemu sekarang. Gue Cuma cerita sesuai yang gue tau. Selebihnya lo bisa tanya dia. Tuh orangnya uda nongol!”

            David berjalan ke arah aku dan Adriyan. Dari jauh dia sudah memberikan senyum termanisnya.

            “Hayo! Ngobrolin apa kalian?” tanya David.

            “Gak ada, cuma gue tanya, kalo David hilang lagi, jadi pacar gue aja mau gak? Hahaha ....”

Adriyan berlari menghindari pukulan David.

            “Awas Lo, Yan!” David mengejar Adriyan.

Aku Cuma tertawa melihat tingkah laku mereka berdua. Dalam hati, aku bersyukur bisa mendapatkan sedikit informasi dari Adriyan. Sekarang tinggal bagaimana aku menyikapi David dan memikirkan hubunganku dengan Ega. Apakah aku harus mempertahankan hubungan baruku, atau kembali ke cinta lalu.

Ada Apa Dengan Ega?

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 315

 

Aku memasukkan baju-baju ke dalam tas. Sudah satu bulan aku tak pulang ke rumah,  karena sibuk bimbingan untuk tugas akhir. Minggu ini aku berniat untuk pulang. Weli dan Triya sudah lebih dulu berangkat pulang. Kami bertiga memang tak searah jalan pulang. Weli ke arah selatan, Triya ke timur sedangkan aku ke arah tengah. Selesai membereskan pakaian, aku segera mengunci kamar, lalu mengunci pintu utama. Aku melangkahkan kakiku ke luar gerbang rumah. Tiba-tiba David datang.

 

            “Ojek Mba?” goda David.

 

            “Lo ini bisa nongol kapan aja ya ... udah kaya jelangkung ....” Dia tertawa terkekeh.

 

            “Yuk gue anter sampe terminal!”

 

            “Gratis ya mang ojek!”

 

            “Bayar donk!”

 

            “Yaudah deh males kalo bayar, gue jalan aja ke depan ...” aku melangkahkan kakiku. David menarik tanganku dengan cepat.

 

            “Tuan putri gak boleh ngambek, nanti jadi cepet tua ....”

 

Aku menghentikan langkahku. Menoleh ke arah David yang sudah pasti menunjukkan senyum termanisnya.

 

            “Terus bolehnya?” tanyaku sedikit ketus.

 

            “Bolehnya pergi kemanapun sama gue ....”

 

David turun dari motornya, mengambil helm dan memakaikannya ke kepalaku. Diambilnya tas jinjing yang aku pegang.

 

            “Mari tuan putri ....” Aku tersenyum tersipu malu.

 

Sampai terminal, aku langsung berpamitan dan menaiki mobil bis jurusan kota ku.

 

            “Kabarin gue ya, kalo udah sampe rumah!” pesan David saat aku hendak menaiki mobil.

 

            “Ok!” balasku.

 

Bis yang ku tumpangi berjalan santai. Ku nikmati perjalananku di sore Sabtu ini. Tiba-tiba aku teringat Ega. Dia berjanji akan menjemputku di terminal kota nanti. Ega kebetulan memang bekerja di daerah Kota tempat tinggal orangtuaku. Ku ambil handphoneku, dan mencari kontak namanya untuk segera ku hubungi.

 

            “Tuut ... tuut ... tuut ....”

 

Lama telponku tak diangkatnya. Beberapa kali kucoba untuk menghubungi lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Aku mulai merasa aneh, sudah beberapa minggu ini, Ega memang jarang sekali menghubungiku. Dia beralasan sedang sibuk dengan kerjanya. Aku paham, sebagai karyawan yang bisa dibilang termuda dan mempunyai keahlian, dia memang lebih sering diberi banyak tugas oleh atasannya.

 

 

Ada Apa Dengan Ega 2

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 359

Lima belas menit lagi aku akan tiba di terminal kota. Ega masih belum juga bisa ku hubungi. Telpon dan pesanku tak ada jawaban. Entah untuk keberapa kali akhirnya telponku dingkat olehnya.

 

“Halo, Kak. Kok lama banget angkat telponnya? Lagi rapat? Lagi sibuk? Atau-“

 

“Tadi kakak ketiduran, Dhy. Kamu udah sampe mana?” dia memotong pertanyaanku.

“lima belas menit lagi aku sampe terminal ....”

 

“Ok. Tunggu ya, aku kesana sekarang” dia menutup telpon.

 

Aku menaruh handphoneku ke dalam tas. Aku mulai berfikir lagi, sepertinya Ega memang sedikit lebih cuek dari biasanya. Apakah aku ada salah? Atau apakah dia mengetahui aku sering berhubungan dengan David? Aku mulai menakut-nakuti diriku sendiri.

 

Laju bis terhenti di sebuah terminal kecil. Setelah turun, aku mencari sosok Ega. Biasanya dia menungguku di pintu masuk terminal, namun tak ku temui sosok itu. aku mencoba menelpon kembali, tapi tak aktif. Pikiran jelekku mulai bergerilya. Ada apa dengan Ega?

 

Hampir 10 menit aku menunggu, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Ega. Aku mulai resah. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Aku memutuskan untuk menaiki mikrolet yang ada. Tak kusangka Ega tega membiarkanku menunggunya lama tanpa ada kabar berita.

 

Tak sampai 10 menit, aku sudah sampai di rumah. Pas sekali saat adzan maghrib berkumandang. Aku melangkahkan kaki, menemui kedua orangtuaku. Lalu masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, tak lupa menunaikan tiga rakaatku. Selesai, aku berkumpul bersama kedua orang tuaku.

 

Tiba-tiba suara handphoneku berbunyi.

 

            “David ...” gumamku.

 

“Ahh iya, aku lupa mengabarinya,” ucapku dalam hati.

 

            “Halo ....”

 

            “Halo, Ya! Lo dah sampe?”

 

            “Iya, udah.”

 

            “Kok gak ngabarin gue?”

 

            “Sory, lupa ....”

 

            “Hmmm ... yaudah, gue kira lo belum sampe. Takut lo kenapa-napa di jalan. Salam ya buat bapak ibu lo, dari calon mantu, hahaha ....” Aku tertawa.

 

            “Emang bapak ibu gue nerima lo jadi mantunya? PeDe banget!”

 

            “Nerima lah, masa gak. Udah ganteng, baik, calon orang sukses, ya gak?”

 

            “Aamiin ....”

 

            “Alhamdulillah, di aminin ... seneng gue dengernya ....”

 

            “Ehhh ... maksud gue-“

 

            “Iya, gue tau maksud lo, Ya. Lo mau kan punya suami gue ....”

 

            “Ampun ni orang ....” David tertawa terbahak-bahak.

 

            “Yaudah, lo istirahat. Gue mau ngerjain tugas dulu ... Assalamuallaikum ....”

 

            “Waalaikumsalam ....”

 

 

 

Ada Apa Dengan Ega 3

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 364

 

Aku masih memegangi handphoneku. Lalu aku menekan tombol kontak mencari nama Ega. Aku masih penasaran. Sampai jam 7 malam ini belum menghubungiku. Masih belum aktif juga ternyata.

 

Tak lama terdengar suara deru mobil berhenti di depan gerbang rumah. Aku berlari ke ruang tamu untuk menintip siapa yang datang.

 

            “Ega ...’ gumamku.

 

Aku membuka pintu, menghampiri Ega yang berdiri di depan gerbang. Terlihat ditangannya sebuah kotak berwarna pink. Dia tersenyum, seperti tanpa ada tanda bersalah. Aku membuka gerbang dan memandanginya dengan sorot mata tajam.

 

            “Maaf, Dhy ....”

 

            “Kakak kemana? Hp nya gak aktif!”

 

            “Gak boleh masuk dulu nih?”

 

Aku membalik badan dan melangkah menuju teras. Ega mengikutiku, lalu duduk dihadapanku. Dia menyodorkan kotak warna pink itu kepadaku. Aku melihatnya sekilas.

 

            “Maaf ya ... tadi abis kamu telpon, aku madi. Terus tau-tau di telpon atasanku, karena ada laporan yang urgent dan harus dikirim malam ini juga ...” Ega menjelaskan.

 

            “Tapi kan, Kakak bisa ngabarin aku ....”

 

            “Nah, itu dia! Hp ku ngedrop abis ditelpon itu. aku ke kantor terus ngecas, ehh lupa ngabarin kamu ... karena fokus ngerjain laporan ... maaf ya sayang ...” Ega meraih tanganku.

 

            “Ini, kemarin aku ikut temenku ke butik, terus liat tas, kayanya cocok buat kamu. Kamu kan suka koleksi tas,” dia mengambil kotak pink itu, dan membukanya. Terlihat sebuah tas kecil berwarna coklat muda.

            “Makasih, Kak ... temen Kakak yang mana yang Kakak temenin ke butik?” tanyaku dengan pandangan curiga.

 

            “Alfi, dia mau beliin cewek nya kado, karena ultah besok,” jelas Ega cepat.

 

            “Ohh ....”

 

            “Curiga nih? Tanggepannya cuma ohh doang!” Aku menggeleng.

 

            “Kakak mau minum apa?”

 

            “Gak usah, Dhy. Aku mau langsung ke kantor lagi ya. Belum selesai yang tadi. Ini tadi izin bentar buat nemuin kamu.”

 

            “Ohh, gitu ....”

 

            “Besok aku jemput ya, aku mau ajak kamu ke Cafe baru punya bos ku ....”

 

            “Jam berapa?”

 

            “Besok aku kabarin. Aku pamit dulu ya. Kamu istirahat aja!”

 

Aku mengantar Ega sampai depan gerbang. Lalu setelah ia pergi, aku masuk ke dalam kamarku, merebahkan badanku, mengistirahatkan otakku. Tapi tetap hati ini tak bisa tenang. Aku masih memikirkan sikap Ega sekarang ini. Aku masih curiga, apa yang disembunyikan Ega dibelakangku. Lama-lama, akupun terlelap dalam mimpi dengan membawa berjuta pertanyaan di benakku.

 

Makan Siang

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 350

Aku melangkahkan kaki menuju gerbang kampus. Dari jauh tampak seorang pria muda menggunakan jaket biru tua duduk diatas sebuah motor merah. Sudah bisa ditebak itu siapa.

            “Lo ngapain si, nelpon gue buru-buru. Lumayan tau jalannya dari kantin kesini!” ujarku sambil mengatur nafasku. David menoleh dan menertawaiku.

            “Ya abisnya, kalo gak kayagitu, gue bakal kepanasan nunggu lo disini.”

            “Lo udah gx ada kuliah lagi kan?” lanjutnya sembari mengambilkan helm dan memakaikan di kepalaku. Aku cuma maenggeleng. Nafasku masih naik turun.

            “Let’s go!” david menarik tanganku memberi isyarat untuk segera naik keatas motor.

            “Mau kemana si?”

            “Makan!”

            “Astaga David!” aku memukulnya pundaknya.

            “Ya emang mau ngapain? Kalo gak makan?”

            “Ya ... gue kira hal yang mendesak, penting, apa lo kenapa ada apa, sampe buat gue lari-lari dari kantin belakang ....”

            “Udah, buruan naek ... kita makan di warteg langganan gue ya ....”

David melajukan dengan pelan motornya. Dalam hati, aku menggerutuk. Kenapa juga aku mau mengikuti dia. Aku kan bisa saja menolak. Aku dan dia pun tak ada hubungan spesial. Ahh! Entahlah.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam. David banyak bercerita,  kadang bertanya, aku hanya menanggapinya dengan singkat. Dia mengerti kalau aku sedikit kesal dengannya. Kurang lebih sepuluh menit kami tiba di sebuah warung makan sederhana.

“Lo mau makan pake apa, Ya?” tanya David saat kami sudah berada di depan etalase. Disana tersedia banyak sekali menu, dari lauk sampai sayur dan sambal. Aku melihat-lihat, semuanya tampak menggiurkan.

“Pake telor dadar aja” jawabku setelah memandangi semua makanan.

“Hah?” mata David terbelak memandangku.

“Dari sekian banyak, lo Cuma milih telor dadar? Itu ada cumi, udang, ikan bakar, apa lo gak suka?”

“Suka si ... tapi gue lebih suka telor dadar” aku melangkah mengambil piring, mengambil nasi, sayur, sambal goreng hijau, tak lupa telur dadar, lalu menuju meja. David mengikutiku. Dia mengambil lauk ayam bakar dan sayur tumis kacang panjang.

“Lo ini unik ya, apa gak pernah makan telor dadar dirumah?” ledek David.

“Ngeledek Lo? bukan gak pernah, tapi gue emang suka banget sama telor dadar!” jelasku.

Aku dan David memilih tempat duduk di dekat jendela, agar bisa menikmati suasana luar yang sejuk penuh dengan pepohonan.

Hujan

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 347

Baru hendak menyendok nasi, tiba-tiba handphoneku berdering. Aku lihat nama si penelpon, Ega. Aku melihat ke arah David yang sedang asik menikmati ayam bakarnya. David melihatku, lalu melihat handphone ditanganku.

“Angkat aja, gapapa ...” ujar David sambil melanjutkan menikmati ayam bakarnya. Namun aku tau, raut wajahnya sudah berubah. Tak sebahagia tadi. Aku berjalan menjauh. Aku mengangkat telpon di depan pintu masuk.

“Halo ....”

“Halo, Dhy. Lagi dimana?”

“Lagi makan, Kak. Gimana Kak?”

“Ohh, gakpapa. Aku tiba-tiba kangen kamu aja. Kamu lagi makan? Lanjutin aja gakpapa. Aku temenin.” Aku terdiam kaku seketika. Mulutku seperti terkunci. Tubuhku bergetar.

“Kakak udah makan?” tanyaku mengalihkan.

“Udah tadi. Kamu makan dimana?”

“Di kantin, Kak” jawabku bohong.

“Biasanya ada suara Weli atau Triya, pada kemana?”

“Mereka tadi udah selesai Kak, langsung nemuin dosen pembimbing masing-masing”

“Ohh, gitu ... jadi kamu sendirian dong?”

“Iya, Kak”

Tiba-tiba David ada di belakangku.

            “Lo mau makan apa telponan?” tanyanya dengan pelan tapi dengan tatapan mata tajam penuh amarah. Aku terdiam kaku. David pergi meninggalkanku.

            “Halo, Kak. Sebentar ya ini ada pesan masuk dari dosbing, takutnya penting, nanti aku hubungi lagi, assalamuallaikum” tanpa mendengar jawaban Ega, aku memutus sambungan telpon. Aku berlari mengejar David, tapi sudah tidak terlihat lagi. Mataku sibuk memandangi sekitar, tapi sosok David sudah tak terlihat. Aku lihat motornya masih terparkir rapi di depan warung. Bergegas aku masuk ke dalam, mengambil barang-barangku. Makananku masih utuh, ku tengok piring David sudah habis tak tersisa. Ku raih kunci motor yang tergeletak diatas meja. Aku menuju kasir, dan ternyata makanan sudah dibayar semua oleh David. Aku bergegas keluar, mengambil motor dari parkiran lalu mencari David, mungkin masih tak jauh dia berjalan.

            Pikiranku kacau, langit yang tadi cerah pun tiba-tiba mendadak gelap, seperti menandakan suasana hati David saat ini. Aku menambah laju kecepatan motor David yang ku kendarai sambil melihat sekitar, namun tak juga aku menemukan sosok David. Sejenak aku berhenti untuk menelponnya, tidak aktif. Aku mulai risau. Titik air hujan pun mulai turun. Aku tak perduli ribuan tetes air menyerangku, tetap ku melaju melawan derasnya air hujan yang turun. “David, Lo dimana?” teriak ku dalam hati sambil memnangis.

 

Masalah Hati

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 410

 

            Dalam perjalanan pulang ke kontrakan, inginku menjerit sekuat-kuatnya. Pikiranku benar-benar kacau. Disatu sisi aku bersalah dengan Ega, karena aku berhubungan lagi dengan David diam-diam, disatu sisi aku menyalahi diriku sendiri, kenapa aku melakukan hal yang seharusnya bisa aku hindari. Iya, aku menyalahkan diriku yang masih mau berhubungan lagi dengan David.

Sampai di rumah kontrakan, Triya yang melihatku datang dengan mengendarai motor David langsung menyambutku. Dengan sigap iya mengambilkan handuk untukku. Badanku sudah basah kuyup sampai menggigil. Tanpa ku minta, air mataku sudah jatuh daritadi, bersama dengan jatuhnya air hujan.

“Lo mandi dulu, nanti baru cerita ya ... sambil tenangin dulu diri lo ...” Triya memapahku ke dalam. Aku masih dengan tangisanku yang belum terhenti. Weli yang mendengar suara tangisku datang menghampiri.

“Kalo masih mau nangis, nangis aja dulu, biar tenang ...” dia memegangi pundakku. Tangiskupun semakin menjadi. Aku terduduk. Triya dan Weli menyelimuti  badanku dengan handuk, lalu mereka memelukku. Setelah ku rasa puas menangis, aku terdiam sesunggukan.

“Mandi dulu ya, nanti cerita ...” ujar Weli. Aku mengangguk. Pelan-pelan aku berjalan menuju kamar mandi. Sayup-sayup  ku dengar suara panggilan handphoneku di dalam tas. Aku berhenti dan mengambil handphoneku. Ku lihat nama penelpon adalah David. Aku menoleh ke arah Triya dan Weli. Dengan sigap Weli mengambil handphoneku, membaca nama si penelpon, lalu menekan tombol jawab.

“Halo!” ujar Weli ketus.

“Halo, Ya”

“Ini bukan Dhiya, ini Weli. Lo apain temen gua?”

“Ohh, Weli. Gak gue apa-apain, sumpah!”

“Dia pulang sampe basah kuyup, matanya bengep. Kan dia pergi sama lo, pasti gara-gara lo ini!”

“Sumpah, Wel. Gue gak ngapa-ngapain dia ....”

Aku merebut handphoneku kembali.

            “Gak usah hubungin gue lagi, motor lo nanti ambil aja kesini!” aku matikan panggilan itu, tak lupa ku tekan daya mati handphoneku. Aku berjalan kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badanku.

Selesai membersihkan diri, aku duduk di ruang tengah, menceritakan semua yang terjadi kepada Triya dan Weli. Mereka tak banyak bicara, hanya mendengarkanku sambil sesekali memberi tanggapan.

“Udah terlanjur, Ya. Lo yang harus ambil keputusan. Mau begini aja atau mengakhiri, biar gak ada kejadian lagi kaya hari ini ...” ujar Weli.

“Gue gak tau, gue masih bingung sama perasaan gue ....” Aku menyeruput teh hangat yang dibuatkan Triya.

“Yang  jelas, jangan sampe lo salah ambil langkah ya ... apapun keputusan yang lo pilih, pasti ada konsekuensinya, dan lo harus terima” lanjut Triya.

Aku mengangguk. Aku tau apa yang ku lakukan ini salah. Aku harus segera mengakhiri keadaan ini. Jauh disana, seorang laki-laki tampak risau karena tak dapat menghubungiku lagi.

Masalah Hati 2

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 444

 

Aku duduk melamun dalam kamarku. Dering telponku tak berhenti sedari tadi. Tak sedikitpun aku hiraukan. Mungkin sudah ratusan kali David mencoba menelponku, mengirim pesan, dan tak satupun ku tanggapi.

            “Ada David di depan ...” suara Triya dari ambang pintu sedikit membuatku terkejut. Aku Cuma diam sambil memalingkan pandanganku.

            “Yaudah kalo gak mau nemuin, kunci motornya gue kasih langsung ya ...” Triya menutup pintu kamarku. Sayup-sayup ku dengar David berbicara kepada Triya. Tak lama, ku dengar suara deru motornya meninggalkan halaman rumah. Tak terasa, menetes lagi air mataku, seperti tetesan rintik hujan yang datang lagi membasahi bumi.

            Jam dinding menunjuk ke angka 10. Malam itu seperti malam yang sangat panjang untuk ku lalui. Tidurku tak tenang, mataku terasa berat karena menangis sedari siang tadi, kepalaku pun terasa berat. Oh ya, aku lupa, aku belum makan sedari kejadian siang tadi. Makanan yang ku pesan tak jadi ku nikmati. Aku berangsur bangun dari tempat tidurku, menuju dapur, untuk mencari apa yang bisa mengisi perutku ini. Tiba-tiba mataku tertuju pada martabak bangka yang terhidang diatas meja makan. Tanpa berfikir panjang, ku ambil sepotong martabak rasa coklat keju itu.

            “Laper, Non?”

            “Ehh, Wel. Belum tidur?” tanyaku sambil masih menyantap martabak yang sudah sebagian ku makan.

            “Belum, nungguin lo keluar dari pertapaan, hahaha ....” Aku pun ikut tertawa kecil mendengarnya.

            “Siapa yang beli martabak?” tanyaku.

            “Aris”

            “Ohh, gebetan nya si Triya? Widih, sering-sering aja ....”

            “Kalo yang beli David? Gimana?” ledeknya. Aku langsung berhenti makan.

            “Jadi ini dari Aris apa bukan?” tanyaku dengan muka cemberut. Weli tertawa terbahak mendengar pertanyaanku.

            “Udah ... udah ... makan aja, daripada laper. Gak penting siapa yang beliin, yang penting makanannya halal ... gue duluan ya, mau bobok cantik ....” Weli pergi meninggalkanku. Tanpa banyak berfikir, tetap ku lanjutkan menyantap martabak itu.

            Selesai menyantap beberapa potong martabak, aku masuk kembali ke dalam kamarku. Merebahkan badanku diatas tempat tidur. Ku ambil handphoneku dan mulai membuka satu persatu pesan yang masuk. Salah satunya ada dari David. Awalnya aku malas membukanya, tapi aku penasaran. Ada satu pesan suara diantara ratusan pesan dari David. Ku coba dengarkan pesan suara itu.

            “Dalam lamunan aku terdiam, menanti kabar seorang yang ku sayang, tiada henti doa ku panjatkan, semoga Tuhan menjaganya dalam kebahagiaan. Hari demi hari, waktu telah panjang ke lalui, tak pernah ada kabar pasti, hatiku menangis sendiri, selalu bertanya, dimana engkau wahai pujaan hati. Duniapun tak mau berpihak padaku, tak mempertemukan kita walau sekejap saja, doa ku terus terucap bahkan sampai tak bersuara, apakah tak pernah ada jodoh kita? ‘Kan Ku coba menanti sampai akhir nanti”

            Diam aku mendengarkan pesan suara itu. aku paham, ini adalah tulisanku di sebuah sosial media satu tahun lalu. Sejauh itukah David mencari tahu tentangku?

Sarapan Pagi

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 383

 

Minggu pagi yang cerah. Matahari sedang menunjukkan aura nya. Aku berjalan sendiri menuju sebuah kios kecil tak jauh dari rumah kontrakan. Seperti biasa, bila hari libur dan tak pulang ke kota masing-masing, aku dan rekanku membagi tugas. Pagi ini tugasku adalah membeli sarapan pagi.

            Sampai di kios, memesan nasi uduk lengkap dengan telur sambal, dan membeli beberapa gorengan tahu dan tempe. Tak butuh waktu lama, aku sudah selesai dan segera bernajak pulang. Di pertengahan jalan, aku merasa seperti ada yang mengikutiku.

            “Ojek, Mba!” tiba-tiba motor merah sudah berhenti disebelahku.

            “David!” kataku.

            “Beli sarapan ya? Boleh ikut makan bareng gak?” tanyanya. Aku tak bisa menutupi ekspresi wajahku yang masih kesal dengannya dari kejadian makan siang tiga hari yang lalu.

            “Udah tiga hari loh marahnya ...” ucapnya ketika melihat ekspresi wajahku.

            “Hmmm ...” aku hanya menghela nafas. David tetap tenang dan tersenyum.

            “Yuk, sini! Gue anter ...” ajaknya.

            “Makasi, deket kok. Gue jalan aja!” aku melangkah pergi. Hal itu takkan menggoyahkan David. Dia tetap mengikutiku dari belakang dengan motornya. Aku malas berdebat dengannya di tengah jalan. Ia mengikutiku sampai rumah kontrakan.

            “Ehh ada David ...” ujar Triya yang sedang menyapu halaman.

            “Hai Tri!” sapa David.

            “Ayok masuk!” ajak Triya.

Aku tak menanggapi sedikitpun. David akhirnya masuk ke dalam ruang tamu, mengikuti Triya. Aku mengambil piring dan gelas, lalu menyiapkan semua makanan.

            “Lah? Cuma tiga?” tanya Weli saat melihat aku mengeluarkan bungkusan nasi uduk dari dalam plastik.

            “kita kan bertiga?” jawabku.

            “Ono, si laki itu?” Weli menunjuk ke arah David yang sudah santai duduk di ruang tamu.

            “Suruh aja beli sendiri!” jawabku ketus. Weli tertawa kecil mendengar jawabanku.

            “Gak boleh marah-marah terus, nanti makin cinta!” ledeknya sembari berjalan ke arah ruang tamu.

            “Vid, lo beli sarapan juga gak?” tanya Weli menghampiri David.

            “Gue udah sarapan kok, tadi dirumah”

            “Bener???”

David hanya mengangguk. Tiba-tiba Triya muncul dari luar, membawa plastik nasi uduk.

            “Nih buat lo!” Triya meletakkan bungkusan itu di depan David.

            “Cepet amat lo ngilang tau-tau bawa nasi uduk, Tri?” tanya David terheran.

            “Biar kita sarapan bareng!” jawab Triya.

Aku datang menuju ruang tamu membawa piring dan gorengan yang aku beli tadi.

            “Piringnya satu lagi, Non” ujar Weli.

Aku melihat bungkusan plastik diatas meja. Dengan malas aku kembali ke dapur mengambil piring satu lagi untuk David. David tersenyum. Aku tau sedari tadi dia memperhatikan setiap gerakku.

Luluh Kembali

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 510

 

Selesai sarapan, David mengajakku berbicara berdua di teras rumah.

            “Gue tau, lo marah sama gue ... gue mau minta maaf ...” ucap David. Aku masih diam.

            “Jangan diem aja, Ya! Gue bukan dukun yang bisa baca hati sama pikiran lo!” ucapnya lagi.

            “Hmmm ....” Hanya itu yang selalu keluar dari mulutku.

            “Gue tau, gue dateng disaat yang bener-bener salah. Gue terlambat. Tapi gue masih bisa kan deket sama lo?” tanyanya lagi.

            “Vid, mungkin gue butuh waktu buat berfikir ... “ ucapku tanpa melihat ke wajahnya.

David tak puas dengan jawabanku. Ditariknya kedua pundakku menghadapnya, agar dia bisa melihat wajahku dengan jelas.

            “Gue tau, lo tuh nyaman sama gue, Ya. Lo gx usah bohong?”

Aku terdiam. Mata kami saling memandang. terlihat jelas wajah David yang penuh dengan harapan. Aku memalingkan pandanganku.

            “Gue tunggu!” ucap David tegas.

            “Gue tunggu sampe lo bener-bener yakin sama gue lagi, Ya! Gue tunggu lo ngelepasin pacar lo! karena gue yakin, lo bakal milih gue!” lanjutnya. Dia melepas pundakku. Aku melihat ke arahnya.

            “Kenapa Lo hilang?” tanyaku.

            “Ada hal yang mungkin belum bisa gue jalsin, Ya. Gue minta maaf.”

            “Kalo emang Lo beneran sayang sama gue, beneran Lo mau hubungan ini baik, salah satunya Lo harus jujur dan terbuka, Vid.”

            “Oke! Gue akan terbuka sama Lo.”

            “Terus, apa alsan Lo hilang yang sebenernya? Lo bisa nyari gue di kampus.”

            “Gue malu, Ya.”

“Malu? Alasan apa itu, Vid?”

“Oke. Gue bakal cerita satu persatu permasalahan gue, tapi janji, Lo gak bakal ngetawain gue.”

“Iya, janji!”

            David mulai menceritakan tentang dirinya, tentang keluarganya yang tinggal di kampung. Perlahan-lahan dia mulai membuka dirinya. Aku mendengarkan ceritanya dengan serius, terkadang ku tanggapi dengan canda.

            “Jadi, karena alasan keluarga Lo yang lagi terkena musibah, Lo ngilang dari gue?”

            “Maaf. Mungkin terdengar aneh. Tapi, gue emang gak bisa bagi fokus gue kalo udah menyangkut masalah keluarga. Gue takut Lo ngerasa gue cuekin, gak gue peduliin, makanya gue gak nyari Lo. Sempet gue ke kampus Lo, tapi gue tanya satpam, waktu itu jadwal kampus Lo lagi praktek di luar. Hp Lo juga gak aktif. Ini gue dapet nomer Lo dari Adriyan.”

            “Tau darimana Adriyan nomer gue?”

            “Dari Santi, temen kampus Lo.”

            “Santi? Kok kenal Adriyan?”

            “Mereka dulu satu sekolah di SMA.”

            “Ohh, gue baru tau ....”

            “Jadi, Gue udah di maafin kan?” tanya David sambil tersenyum.

            “Gak semudah itu, Bro!”

            “Wah! Sulit ini perkaranya ....”

David memandangku. Di pegangnya kedua tanganku.

            “Yang jelas, gue minta maaf. Gue sadar gue salah besar. Tapi, gue gak akan patah semangat buat buktiin kalo gue bener sayang sama Lo, Ya. Kalo gue gak sayang, ngapain gue nyariin Lo lagi. mungkin perjuangan gue gak sebanding sama rasa kecewa Lo. Tapi, gue yakin, kalo Lo punya gue.”

Kalimat itu meruntuhkan tembok kecewaku. Iya, aku kalah. Hatiku mulai luluh kembali. Rasa nyaman ini yang telah meruntuhkan semua tekadku untuk tak menemuinya lagi. Rasa nyaman ini memang tak pernah ku dapat dari Ega. Ega memang membuatku bahagia, tapi belum kudapati rasa senyaman ini seperti bersama David. Entah bius apa yang dimiliki David, sehingga membuatku terus merasa nyaman tanpa ada ragu bersama dengannya.

 

 

Selingkuh

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 375

 

Sudah hampir dua bulan ini aku menjalin hubungan dekat dengan David, tanpa sepengetahuan Ega. David pun tak pernah pantang menyerah untuk menungguku. Terkadang aku yang merasa bersalah, ketika bersama David, tiba-tiba Ega menghubungiku, ataupun sebaliknya, ketika bersama Ega, aku tak menghiraukan David. Ya, itu konsekuensi yang harus diterima dan dijalani.

Namun akhiar-akhir ini, sikap cuek Ega semakin terlihat jelas. Beberpa kali dia pernah membatalkan janji denganku, dan akhirnya David lah yang selalu ada untukku. Kecurigaanku benar adanya. Malam itu, entah akun siapa yang mengirim pesan di sosial media ku, mengirim postingan foto Ega mesra dengan seorang wanita di sebuah kafe. Akun itupun memberikan nama akun sosial media milik wanita tersebut.

Dengan perasaan yang tak karuan, aku membuka akun wanita itu. benar saja, tertulis jelas disitu status berpacaran dengan Ega Fahreza. Tapi, bukan akun sosial media Ega yang ku punya, melainkan akun baru. Aku membuka akun dengan nama Ega itu. Astaga, ini benar akun milik Ega, akun yang dia buat tanpa sepengetahuanku. Tubuhku bergetar, perasaanku seketika kacau, aku ingin menangis tapi seperti tertahan.

Aku berjalan menuju kamar Weli dengan terburu-buru. Langsung ku buka pintu kamar, Weli yang sedang santai diatas kasurnya terkejut. Aku berlari ke arahnya. Tangisku tumpah.

“Ehh, kenapa, Ya?” Weli memelukku dan menepuk-nepuk punggungku seraya menenangkan.

“E-e-ga ...” jawabku sesunggukan.

“Kak Ega kenapa? Yaudah tenangin dulu ...” Weli memelukku dengan erat.

Lama aku menangis dipelukan Weli. Triya yang tidur di kamar sebelah ikut masuk menenangkanku. Setelah cukup tenang, aku mulai bercerita tentang apa yang terjadi.

“Jadi, Kak Ega selingkuh?” tanya Triya. Aku mengangguk.

“Udah lo tanya langsung sama Ega?” tanya Weli. Aku menggeleng.

“Coba tanya langsung dulu, minta penjelasan dari apa yang Lo terima ini ...” lanjut Weli.

Aku diam. Mataku terasa berat. Aku tak sanggup berfikir.

“Besok gue mau ketemu Ega, gue bakal tanya semuanya,” jawabku lemas.

“Sekarang Lo istirahat, biar besok fresh ketemu Ega, oke!”

Weli mengantarku ke kamar.

“Wel, apa ini karma buat gue?” tanya ku sesaat sebelum Weli meninggalkan ku sendiri.

“Karma atau bukan, yang jelas setiap perbuatan pasti ada balasannya. Jadi sekarang Lo istirahat ya, jawabannya besok lo dapet dari Ega langsung” Weli beranjak pergi dan menutup pintu.

Aku masih tak bisa tidur, dadaku sesak, hatiku terasa sangat sakit. Besok aku harus segera menyelesaikannya dengan Ega. Apapun yang terjadi.

 

Instropeksi Diri

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 351

 

Juni 2014

Siang itu aku akan bertemu dengan Ega. Niatku ingin menanyakan tentang apa yang ku dapat dan kulihat dari akun sosial media yang dikirim seseorang tanpa nama kepadaku. Ega memang telah berjanji akan menjemputku di kampus siang ini, untuk makan siang bersama. Kebetulan ia sedang mendapat cuti dari kantornya, karena baru selesai melaksanakan perjalanan dinas ke luar daerah.

“Mau makan apa, Dhy?” tanya Ega di perjalanan.

“Ayam bakar aja Kak, di tempat biasa”

“Oke!”

“Kamu kenapa sih, kok kayanya lemes banget? Kamu kurang tidur ya? Matanya sembab?” Ega mencoba menyentuh wajahku. Aku menghindar.

“Gapapa kok Kak, Cuma kecapean aja.”

“Yaudah kalo gitu ....”

Ega melajukan mobilnya. Tak lama kami tiba di sebuah rumah makan ayam bakar kesukaanku. Setelah selesai menyantap makanan, aku pun membuka pembicaraan.

“Kak, aku boleh tanya?”

“Tanya aja ....”

“Helen itu siapa?”

Ega terdiam. Ku perhatikan ekspresi wajahnya yang sedikit terkejut.

“Helen? Helen siapa, Dhy?”

Ku buka sosial media ku. Ku buka akun milik Helen. Ku tunjukkan kepada Ega.

“Ini!” Ku tunjukkan foto profil akun tersebut. Foto bergambar Ega dan seorang wanita duduk berdua dengan mesra dan berpegangan tangan. Ega diam.

“Itu ....”

“Gak perlu Kakak panjang jelasin. Aku tanya, Kakak kenal dengan wanita di akun ini yang bernama Helen?” nada suaraku mulai sedikit meninggi. Ega masih diam.

“Kalo Kakak diam, aku simpulkan jawabannya iya!”

“Sudah lama punya hubungan dengan Helen?” tanyaku lagi. Ega masih diam.

“Kalo Kakak masih diam, aku simpulkan jawabannya sudah!”

“Dengerin aku dulu, Dhy”

“Apa yang perlu aku denger Kak?” nada suaraku semakin meninggi.

“Aku memang masih kaya anak-anak, aku masih kuliah, apalagi aku gak sebanding dengan dia yang udah kerja, S2, cantik, anak orang kaya!” jelasku sambil menahan tangis. Suaraku mulau parau. Orang-orang disekitar mulai memperhatikan.

“Gak gitu, Dhy ... aku-”

“Mungkin bener, sekarang aku butuh waktu untuk intropeksi diri, kurangnya aku dimana ....” Aku berdiri, mengambil tas ku.

“Dhy ...” Ega meraih tanganku, mencoba menahan agar aku tak pergi.

“Maaf kak, aku gak sempurna ...” Ku lepaskan genggaman tangan Ega, lalu berjalan cepat meninggalkannya. Tak perduli semua orang melihat ke arahku, dalam fikiranku, aku ingin lari sejauh mungkin, menjauh dari Ega.

 

Lari

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 367

 

Aku berjalan secepat mungkin sampai depan pintu masuk rumah makan. Ega berusaha mengejarku, namun terkendala harus melakukan pembayaran di kasir. Aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat depanku. Segera mungkin aku masuk dan pergi dari tempat itu. Ku toleh ke belakang, terlihat Ega berdiri ditepi jalan melihat mobil taksi yang ku tumpangi berlalu.

“Mau kemana, Mba?” tanya supir taksi.

“Ke Mall Kota Tengah, Pak ...” jawabku. Dering Hp ku berbunyi tak henti. Aku malas melihatnya. Itu pasti Ega. Aku menyandarkan badanku di kursi. Tetes air mataku tak terbendung lagi.

Sampai di Mall, aku menuju tempat permainan anak-anak. Ku bermain sepuasnya, melupakan segala kejadian yang baru ku alami. Puas bermain, ku mencari tempat makan. Ku pesan menu dengan rasa coklat, kata orang coklat dapat memperbaiki mood kita.

Aku mengambil Hp ku. Terlihat ratusan panggilan dari Ega, dan ada beberapa panggilan dari David. Mata ku seketika bersinar melihat nama David. Buru-buru ku telpon dia.

“Halo Vid, dimana?”

“Lo yang dimana, dari tadi gue telpon juga.”

“Jemput gue bisa?” tanyaku.

“Tumben minta jemput. Dimana?”

“Mall Kota Tengah, sekarang!”

“Siap Bos!”

Aku melanjutkan menyantap eskrim coklat di depanku. Tak butuh waktu lama, David sudah ada duduk di depanku.

“Lo kenapa? Ada masalah?” tanya David ketika melihat seisi meja di depanku penuh dengan makanan dengan rasa coklat. Aku menggeleng.

“Lo gak mau makan?” tanya ku.

“Ngeliat Lo aja gue udah kenyang. Hati-hati gendut,” jawabnya sambil terkekeh.

“Kalo gue gendut, kira-kira Lo masih suka gak sama gue?”

David mendekatkan wajahnya ke depan wajahku.

“Mau Lo gendut, kurus, item, asal hati Lo gak berubah, gue tetep suka sama Lo” jawabnya sambil tersenyum. Aku mendorong bahunya agar wajahnya tak terlalu dekat dengan wajahku.

David mengambil Hp nya, lalu menyalakan kamera. Dengan gaya coolnya, dia mengambil gambarku.

“Cantik ...” ujarnya.

“Gak usah buat GR!” balasku. Aku tak mau kalah, ku ambil HP ku, lalu mengambil gambar David.

“Kalo mau foto gue bilang aja kalik, gak usah diem-diem moto, sini!” David mengambil HP ku, lalu mengambil gambar kami berdua.

“Seneng kan jalan sama gue?” tanyanya sambil melihat-lihat hasil foto kami tadi. Aku hanya tersenyum.

“Abis ini, kita ke taman kota, yuk! Mengenang masa pertama kita kenal dulu, makan jagung bakar ...” ajaknya.

“Ayuk!” tanpa ragu ku terima ajakannya.

Galau

1 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 414

 

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, mataku belum juga bisa terpejam. Pikiranku masih teringat kejadian tadi siang bersama Ega. Aku tak tau, apakah yang ku lakukan ini benar atau salah. Sama sekali aku tak mau mendengar penjelasan dari Ega. Aku mengambil keputusan sendiri. Namun perkataan Weli tadi masih sangat menggangguku.

“Ya, Lo marah sama Ega karena dia ketauan selingkuh? Tapi, Lo gak mau sama sekali denger penjelasan dari dia?” ucap Weli saat aku menceritakan kejadianku bersama Ega di tempat makan.

“Iya ... gue tadi pokoknya langsung kabur. Dada gue kerasa sesek banget waktu liat ekspresi Ega yang Cuma diem, dan seolah-olah mengiyakan ....”

“Kalo menurut gue, Lo harus denger dulu penjelasan Ega. Orang melakukan suatu hal itu pasti ada sebabnya ... Lo belum tau kan sebabnya apa?”

Aku menggeleng. “Gue gak mau tau Wel, yang jelas dia selingkuh dan ketauan!”

“Maaf Ya, bukan gue mau terlalu ikut campur. Gue sekarang mau tanya, kalo Ega tau Lo sering bareng David, gimana menurut Lo?”

Aku menatap ke arah Weli yang sedang berbicara dengan serius. Rasanya aku seperti tertampar dengan kata-kata Weli. Iya, apa bedanya dengan diriku, bila Ega tahu aku berhubungan dengan David, dengan perlakuan David yang menganggap aku kekasihnya, dan aku pun melakukan hal sebaliknya. Bila orang menilaiku pun sama, aku selingkuh.

Aku menunduk. Weli mengusap kepalaku dengan lembut.

“Coba Lo ngobrol lagi dengan Ega, nanti Lo pasti ketemu jawabannya. Jangan membuat keputusan Lo sendiri. Dia dimata Lo salah, tapi apa bener cuma dia yang salah?”

Aku memandang ke arah Weli kembali. Untuk kedua kalinya aku merasa tertampar dengan ucapan Weli.

Tamparan kata-kata Weli itulah yang tak membuatku tenang malam ini. Aku mengambil HP ku. Ku buka satu persatu pesan dar Ega yang beruntun dari siang kemarin. Perlahan-lahan ku baca untuk mencari jawaban dari penjelasan Ega.

Dalam rangkaian pesannya, Ega meminta maaf kepadaku karena kesalahannya bermain dengan wanita lain dibelakangku. Bahkan sampai membuat akun sosial media baru untuk menutupi semua dariku. Dia berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dia tak mau aku pergi meninggalkannya. Pesan terakhirnya, dia ingin tetap denganku menjalin hubungan dan berharap besar aku adalah jodoh dari Tuhan untuknya.

Aku tak menghiraukan semua pesan darinya. Aku masih menata hati dan pikiranku. Ribuan pertanyaan yang belum ada jawaban. Apakah benar Ega tak akan mengulangi kesalahan ini lagi? apakah benar Ega benar-benar ingin aku menjadi jodohnya?. Lalu David, apakah dia juga benar-benar mencintai dan menginginkanku lagi? apakah dia tak akan melakukan hal yang sama seperti dulu lagi?. Semua masih dalam tanda tanya besar untukku.

Putus

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 404

 

Aku memutuskan untuk bertemu dengan Ega, menyelesaikan masalah yang terjadi diantara kami. Dia ingin menjemputku, tapi aku menolaknya. Aku mengajaknya bertemu di Kafe tempat dimana kami pertama kali berjumpa.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kafe. Ku lihat Ega telah menungguku di dalam. Aku mendekatinya. Dia menyambutku dengan senyuman.

            “Naik apa tadi kesini?” tanya Ega membuka pembicaraan kami.

            “Bis,” jawabku singkat.

            “Kamu pucet? Sakit?” tanya Ega lagi. Aku hanya menggeleng.

            “Kakak mau jelasin apa sama aku? Aku siap mendengarkan ...” ujarku.

            Ega diam, lalu menatapku. “Pesen makan dulu aja, kamu mau akan apa?” Ega mengambil buku menu dipinggir meja.

            “Eskrim coklat sama roti bakar isi pisang coklat,” kami mengucap menu bersama. Ega memang selalu ingat menu favoritku. Dia tersenyum. Sepuluh menit kami hanya saling bertanya kabar, sambil menunggu makanan yang kami pesan tadi datang.

            “Maafin aku ya Dhy ... aku salah ... aku gak bisa jaga kepercayaan kamu ... sekarang terserah kamu mau gimana ...”

            “Terserah aku? Gitu aja, Kak?”

            “Yaaa ... aku salah, aku sudah minta maaf, sekarang kamu mau nya gimana?”

            Aku menyandarkan badanku ke kursi. Ega mengaku salah, dan sekarang menyerahkan hubungan ini kepada ku.

            “Kakak mau hubungan ini sampai disini atau mau kita lanjutkan kembali dari awal?” tanyaku dengan nada suara meninggi.

            “Aku ...” Ega tak melanjutkan ucapannya. Aku memandanginya.

            “APA?” tanyaku dengan suara tinggi.

            “Aku mau kita tetap melanjutkan hubungan kita, Dhy ....”

            “Terus wanita itu?”

            “Akan aku selesaikan dengan dia ....”

            “Akan Kak? Jadi satu minggu ini Kakak belum menyelesaikannya?”

            “Tenang dulu Dhy. Semua itu gak segampang kaya kamu pikir. Dia itu ngejer aku, aku gak mau sebenernya, tap-“

            “Tapi akhirnya Kakak mau kan? Kalau emang Kakak gak mau, dari awal kakak gak akan membuat hubungan sama dia!”

Amarahku memuncak. Semua orang melihat ke arah ku. Mataku mulai terasa panas, bulir-bulir air mata mulai tak dapat kubendung. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ega mendekatiku. Dia berusaha untuk memelukku, namun aku menolaknya.

“Dhy, terserah kamu ... aku ikut mau mu ....”

Wajahku sudah basah dengan air mata. Aku mengelapnya dengan tangan. Aku menatap Ega yang menunduk, duduk di sebelahku.

            “Kalo emang Kakak udah bosen sama aku, aku yang pergi! Silahkan Kakak lanjutkan hubungan dengan wanita yang ngejer-ngejer Kakak itu!”

Ega mengangkat wajahnya. Ekspresi bersalah dan bingung terlihat jelas. Dia mengambil tanganku, digenggamnya erat. Aku melepaskannya. Dengan perasaan marah aku beranjak pergi meninggalkannya. Dia tak mengejarku lagi. Aku menangis lagi. Dadaku terasa sesak. Sakit yang tak bisa aku jelaskan.

 

Zona Nyaman

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 561

 

Juli, 2014

Aku sudah memutuskan hubungan dengan Ega. Perasaan sedih, kecewa, marah, bercampur menjadi satu. Namun rasa itu mulai memudar, karena hadirnya David yang selalu bisa membuatku nyaman. Aku tak pernah menceritakan detail masalahku dengan Ega kepada David. Baginya, aku yang sudah tak memiliki hubungan lagi dengan Ega, sudah cukup membuatnya bahagia.  Iya, dia berhasil merebut posisinya kembali di hatiku.

“Gue mau bimbingan dulu nanti jam 3,” kataku di telpon siang itu kepada David.

“Yaudah bawa aja motor gue kalo mau bimbingan, daripada naek angkot,” ujar David.

“Terus Lo nya gimana? Katanya jam satu ada kuliah.”

“Nebeng Adriyan ntar. Yaudah, gue anter motor ke kontrakan ya ...” David menutup telpon. Aku tertegun sejenak. Sikap David yang seperti ini yang membuatku merasa istimewa. Tanpa aku minta, tanpa aku bicara, terkadang dia sudah tau keinginanku.

Lima belas menit kemudian, David tiba bersama Adriyan.

“Nih kuncinya, STNK nya, hati-hati ya!” David mengusap kepalaku.

“Ehm! Please, jangan romantis didepan orang jomblo!”

“Makanya punya pacar, Yan! Betah amat jomblo,” balas David kepada Adriyan. Aku tertawa kecil.

“Gue berangkat kuliah dulu ya Sayang... Assalamuallaikum ...” pamit David seraya duduk di jok belakang motor Adriyan.

“Waalaikumsalam ....”

“Bye Adhiya ...” Adriyan melambaikan tangannya. Aku pun bersiap untuk menemui dosen pembimbingku.

Aku memulai hari-hari baruku bersama David kembali. David seperti kebahagiaan yang Tuhan kirimkan untukku. Romantis, lucu, terbuka, itu yang kusuka darinya. Masih seperti dulu, aku didepannya bisa menjadi aku apa adanya tanpa berpura-pura. Genggaman tangannya yang tak pernah lepas saat bersamaku, membuatku merasa benar-benar tak bisa lepas darinya. Senyumannya, selalui menghantui hari-hariku. Kesal, marah, kecewaku, seperti hilang saat ia tersenyum, dengan sorot matanya yang teduh dan penuh kasih sayang.

“Gue mau ngajak Lo ke rumah kakak gue ...” jelas David saat kami berada diperjalanan sore itu.

“Kakak Lo?” tanyaku.

“Iya, kakak sepupu gue. Rumahnya deket laut ....” David menambah laju kecepatan motornya.

Aku tampak sumringah saat melihat pemandangan laut yang berada di sisi jalan. Angin laut tampak menyapaku.

“Senengnya ...” ujar David.

“Seneng banget ... udah lama banget gue gak liat laut ... makasih ya, udah ajak gue kesini ....” David mengambil lenganku, dikalungkannya di pinggangnya.

“Pegangan, nanti jatuh!” ucapnya. Aku langsung memeluknya erat.

Kami tiba disebuah rumah kecil. Tampak sepi, seperti tak ada penghuni. David mengambil kunci dari dalam tas nya. Ia membuka rumah itu dan mengajakku masuk. Ada tangga menuju ke atas, David langsung mengajakku menaiki tangga itu. Sampai atas, David mengajakku ke arah belakang, dibukanya pintu, tampak jelas laut yang kulihat sepanjang jalan tadi.

“Wah! Keren banget, Vid!”

“Lo suka?” Aku mengangguk.

David mengajakku duduk, tak lupa iya membawakan minuman dingin dari dalam kulkas.

“Kakak Lo kemana?”

“Kerja. Dia kerja di Polda.”

“Polisi?”

“Iya. Biasanya jam 10 nanti baru pulang.”

“Ohh ....”

“Nanti sebelum dia pulang, kita pulang duluan kok.”

“Kenapa? Kok gak ngenalin gue ke kakak Lo?”

“Dia lebih ganteng dari gue, ntar Lo kepincut sama dia kan repot!”

“Haaa?” Aku tertawa terkekeh.

David mendekat ke arahku. Dipegangnya tanganku seperti biasa.

“Gue bersyukur bisa ketemu sama Lo lagi. Gak tau kenapa, waktu yang gue habisin bareng Lo itu beda, gue bener-bener ngerasain nyaman, bahagia, semuanya. Makasih ya Adhiya, udah mau nerima gue lagi.”

“Gue juga. Entah kenapa hari gue berasa bahagia banget ketemu sama Lo. Lo pake ilmu apa sih?” David tertawa mendengar ucapanku. Dia lebih mendekat ke arahku. Dikecupnya keningku.

“Lo punya gue, gue punya Lo!”

Kalimat sakti itu lagi yang keluar dari mulutnya.

 

Aku Pulang

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 586

 

Oktober, 2014

Perasaanku risau. Bolak balik aku melihat handphoneku. Tak ada balasan pesan dari David. Sudah hampir setengah hari ini dia tak menjawab pesan dan telponku. Aneh, sesibuk-sibuknya dia, dia selalu menyempatkan membalas pesanku.

“Maaf, Ya. Tadi gue ada kuliah, gue persentasi, jadi gak bisa bales pesen Lo. Gimana?” isi pesan David sore itu. Tanpa fikir panjang, aku langsung menekan tombol panggilan.

“Halo ...”

“David Egatama! Ngapain aja sih? Lama banget balesnya?” David hanya menjawab dengan tawa.

“Yaampun, kangen sama gue gak usah sampe segitunya kalik, Ya,” ledeknya.

“Bukan kangen, tapi-“

“Tapi rindu, sama aja Adhiya Maharani.”

“David! Gak lucu tau!” David masih tetawa.

“Iya, iya. Udah gak usah marah-marah, lima menit lagi gue sampe kontrakan Lo. tunggu ya!” Dia mematikan panggilan telpon ku.

“Lima menit?” gumamku. Aku segera masuk ke kamar mandi. Benar, lima menit kemudian David sudah duduk manis di teras rumah menungguku.

“Halo cantik ...” sapanya ketika melihat aku keluar menemuinya.

“Hmmm ...” jawabku sambil duduk disampingnya.

“Dih, marah loh ... gak boleh marah-marah tau ... ntar gak cantik lagi ...”

“Bodok!”

David tertawa kecil.

“Makan, yuk!” ajaknya.

“Lo ini ya Vid, ngajak makan terus, gendut tau gue ntar ...”

“Gue laper, abis persentasi seharian, belum makan. Ayoklah ....”

“Yaudah, gue ganti baju dulu,” aku beranjak masuk ke dalam.

“Gak usah dandan cantik ya!” jeritnya. Aku cuma tersenyum.

Kegiatanku bertemu David, kalau tidak makan, mencari buku untuk tugas akhirku, atau saling bantu mengerjakan tugas. Dia sangat senang mengajakku makan. Entah apa alasannya, bila bertemu denganku, dia selalu ingin makan bersama.

“Makan nasi goreng cinta aja yuk!” ajaknya ketika kami sudah diperjalanan.

“Iya, makan itu aja.”

“Tapi nanti kita makannya di taman ya!” ajaknya lagi.

“Kenapa?”

“Seru aja!”

“Terserah Lo deh, Vid!”

Akhirnya kami tiba di taman, dengan membawa dua bungkus nasi goreng dan dua botol air mineral.

“Vid, bulan depan selesai ujian akhir, gue langsung balik ke rumah.”

“Uhukk!” David yang sedang menikmati nasi goreng sedikit tersedak.

“Minum dulu!” aku memberikan botol minum air mineral kepadanya.

“Kita, gak bisa ketemu setiap hari lagi ...” ujar David sambil melanjutkan menikmati nasi gorengnya

“Lo bisa kan?” tanya ku.

“Bisa apa?”

“Bisa tetap jaga hubungan ini Vid....”

David menghentikan makannya. Dia tersenyum memandangku.

“Gue tau Lo takut. Tapi, jangan buat jadi beban fikiran Lo. Gue gak kemana-mana. Lo udah tau rumah gue, rumah kakak gue, kampus gue, bahkan kelas gue pun Lo tau. Gampang kan nyari gue?”

“Udah, lanjutin dulu makannya, keburu dingin nasi nya!” David mengambil sesendok nasi milikku, lalu disuapkannya kepadaku. Aku sedikit lega dengan penjelasan David. Semoga ketakutanku akan kehilangan sosoknya lagi , tak kan pernah terulang lagi.

Awal November 2014, ujian akhirku selesai dengan baik. Sesuai dengan ucapanku, aku kembali ke rumahku, sambil menunggu jadwal wisuda. Barang-barangku sudah diambil oleh kurir yang dipesan ayahku. Weli dan Triya pun sama. Kami saling berpamitan. Dua tahun kebersamaan kami, suka duka kami lalui bersama di urumah kecil ini. David mengantarku siang itu.

“Ayok!”

Aku langsung duduk di belakang David. Dia mengantarku pulang kerumah hari ini dengan motor merahnya. Aku memang sudah mengenalkan David kepada kedua orangtua ku. Ibu ku sempat terkejut saat mengetahui aku sudah tak mempunyai hubungan lagi dengan Ega. Satu jam perjalanan menuju rumahku. Sampai dirumah, David disambut hangat oleh orangtua ku. Mereka mengobrol bersama. Suasana hari itu sungguh tak pernah terfikirkan olehku.

“Gue pamit pulang dulu ya ....”

“Iya, hati-hati dijalan ya ... jangan lupa kabarin gue ....”

Aku mengantar David sampai depan gerbang. Aku menunggu sampai motornya benar-benar tak terlihat lagi. Aku menghela nafas, sebuah perjuangan baru akan ku mulai, batinku.

Dua Tahun

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 632

 

Hari-hariku sudah sedikit berbeda. Biasanya pagi, siang, sore, malam, sosok David selalu menghantuiku. Kini sosoknya jauh dariku, hanya pesan atau telfonnya saja yang menemani.

Namun perlahan-lahan intensitas komunikasi kami mulai berkurang. David yang sibuk dengan kegiatan kuliahnya, dan aku yang terlalu sibuk untuk menghubunginya, sehingga seringkali kesalahpahaman antara kami terjadi.

“Gue gak bisa Ya, kalo terus-terusan Lo curigain. Gue juga punye kehidupan. Kan Lo udah tau gue, udah tau semua hidup gue. Bedanya sekarang Lo disana gue disini,” jelas David malam itu di telfon. Aku diam.

“Sorry ....”

“Yaudah Lo istirahat gih! Udah malem. Gue juga mau istirahat. Assalamuallaikum.”

David menutup telfon itu. Aku menunduk lesu. Aku sadar aku salah. Aku terlalu berlebihan. Karena terbiasa dengannya, aku jadi overprotektif. Aku merebahkan badanku diatas kasur, menutup mataku, dan tidur. Berharap besok pagi, suasana hatiku sudah membaik.

Keadaan saling berjauhan ini yang membuatku tak pernah tenang. Hingga suatu hari, aku pernah memaksakan diriku untuk menemui David. David pun terkejut, saat aku datang sampai di depan rumahnya.  Namun lama-lama akhirnya kami menyerah dengan keadaan. Sampai saat aku wisuda, David tak menemuiku lagi.

Aku mencoba menghubunginya, hanya beberapa pesanku yang dibalasnya. Aku tahu, mungkin dia kesal dengan sikapku yang terlalu berlebihan. Aku sendiripun kesal dengan diriku sendiri, yang sulit percaya dengan orang lain, apalagi setelah kejadian dengan Ega, aku benar-benar memiliki rasa takut dibohongi.

“Gue bakal pergi jauh dari Lo. Maaf kalo selama ini gue banyak salah sama Lo. makasih untuk waktu yang udah Lo kasih ke gue,” isi pesan terakhirku ke David, dan tak ada tanggapan apapun dari dia.

Maret 2015, aku diterima kerja di Pemerintah Daerah Kota Utara. Iya, kota dimana kampung halaman David. Bukan aku sengaja, tapi karena peluang kerja disana yang ada. Aku memulai hari baruku sebagai seorang pegawai. Aku tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari tempat aku bekerja. Disini aku benar-benar sendiri.

Ku langkahkan kakiku menuju sebuah gedung Rumah Sakit Umum. Tempat yang sangat asing bagiku. Aku bersyukur bisa diterima kerja disini, berjumpa dengan orang-orang baru, namun masih menyimpan harapan aku bertemu dengan David, di kota ini.

“Dhy, gak pulang?” tanya bu Siti, atasanku.

“Iya Bu, sebentar lagi.”

“Duluan ya, jangan lupa di kunci ruangannya!”

“Iya Bu.”

Aku melihat jam ditanganku, sudah pukul dua siang. Ku bereskan semua barang-barangku, lalu bersiap untuk pulang.

Setiap hari, jadwal kerjaku dari pukul 07.30 sampai pukul 14.00, dari hari Senin sampai Sabtu. Terkadang Sabtu sore aku pulang kerumah, dan berangkat lagi esok sore nya. Perjalanan yang cukup panjang dari rumah menuju kota tempatku bekerja sekarang. Kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan Bis umum.

Tak terasa sudah dua tahun aku bekerja di kota ini. Perlahan sosok David pun sudah mulai aku lupakan. Namun, sore hari itu, saat aku di dalam bis hendak pulang menuju rumah ku, ada yang menghubungiku melalui pesan di sosial media.

“Hai cantik!” sapa seseorang melalui pesan itu. Aku perhatikan foto profilnya tak ada, hanya foto animasi.

“Tambah cantik aja sekarang, sombong loh, gak mau negor gue lagi,” lanjut pesan itu.

“Ini siapa?” balasku.

“Orang ganteng.”

“Sorry, mungkin Lo salah kirim pesan.”

“Gak mungkin lah gue salah. Adhiya Maharani.” Dia menyebut nama lengkapku. Berarti dia kenal denganku.

“Siapa sih Lo?”

“Orang ganteng yang Lo kenal siapa?”

“Gak ada!”

“Masa? Inget-inget lagi, yang sering bawain Lo coklat.”

Aku memutar otakku, mengingat-ingat siapa orang yang menghubungiku ini. Tiba-tiba aku teringat seseorang.

“DAVID!”

“Apa kabar Adhiya? Tambah cantik ya sekarang. Udah lama kita gak ketemu.”

Aku melihat sekitar. Mencari sosok laki-laki yang mungkin bisa ku kenali. Sayangnya aku harus segera turun di halte pemberhentian bis untuk berganti bis menuju Kota ku.

“Lo dimana?” balasku sesaat setelah turun di pemberhentian bis.

“Di hati mu. Hati-hati ya.”

Aku diam tak membalas pesan itu. sudah dua tahun aku mencoba melupakan David. Tapi sekalinya dia menghubungiku, menggoyahkan hatiku kembali. Setelah lama berfikir, ku balas pesan itu.

“Lo dimana? Gak pernah ngubungin gue lagi?”

Lama pesanku tak dibalasnya. Kurang lebih tiga puluh menit baru ada pesan balasan.

“Gue gak kemana-mana. Gue ngubungin Lo, tapi gak pernah Lo angkat telfon gue.”

“Kapan Lo nelpon?”

Tiba-tiba suara telfon ku berbunyi, nomor yang tak dikenal, dan tak ada nama di kontakku.

“Halo ...” jawabku.

“Ini nomer gue. Akhirnya Lo angkat juga telfon gue ...” jawab seseorang, yang sudah pasti suaranya ku kenal dengan jelas.

“Nomor Lo ganti?”

“Iya, nomor gue yang lama Lo blokir, jadi gue ganti nomor untuk ngubungin Lo lagi,” jelasnya.

“Sorry ....”

“Lo udah sampe mana?”

“Udah di terminal kota. Lo tadi dimana liat gue?”

“Kita satu bis.”

“Kok gak liat gue?”

“Cukup gue aja yang liat Lo tadi ... gue udah seneng bisa liat Lo lagi. kapan Lo mau ke Kota Pusat?”

“Gak tau, kenapa?”

“Pengen ketemu.”

“Kan Lo bisa ke rumah gue ....”

“Malu. Masa anak kuliah ngapelin cewek yang udah kerja, hahaha ....”

“Gak banget alasan Lo ....”

“Yaudah, nanti gue hubungin lagi, hati-hati ya, calon istriku ....”

“Gak usah buat gue GR!”

David tertawa. “ Assalamuallaikum!”

“Waalaikumsalam,” aku menutup panggilan itu.

 

Berjumpa Lagi

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 918

 

Januari 2019.

Aku mendatangi Taman Kota, dimana dulu pertama kali bertemu dengan David. Saat itu sedang ada acara Festival Ulang Tahun Kota dan aku sengaja mampir kesana bersama rekan kerjaku sebelum pulang ke rumah. Aku terkenang saat bersama David. Tempat itu tak berubah, hanya saja saat ini sudah lebih ramai dan diperbaiki fasilitasnya.

“Dhy, kesana yuk! Rame banget tuh di depan panggung, ada artis nya!” ajak seorang rekanku.

“Oke” jawabku, sambil mengikutinya dari belakang.

Aku berjalan dibelakang rekan-rekanku. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang membeli eskrim di salah satu booth. Aku berhenti. Ku perhatikan dengan lebih jelas.

“David” gumamku. Aku menghampirinya. Ku tepuk pundaknya. Dia menoleh ke arahku. Terlihat wajahnya terkejut melihatku. Tampak seorang wanita berdiri disebelahnya. Aku tersenyum.

“Beli apa?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan senyum palsuku.

“Lo sama siapa?” tanya David dengan ekspresi kagetnya.

“Gue duluan ya ...” aku berjalan menyusul rekan-rekanku yang menungguku di depan. Perasaanku sudah tak karuan. Fikiranku mulai kacau.

“Siapa Dhy?” tanya seorang rekanku.

“Temen kuliah gue dulu, ayuk kita lihat, siapa artis yang dateng hari ini,”

Aku melangkahkan kakiku menuju tempat panggung pentas. Terdengar suara musik menggelegar, memecahkan teriakku malam itu. Aku seperti orang gila, mengikuti alunan musik sore itu. Melepaskan semua sesak di dadaku.

Malam hari saat perjalanan pulang ke rumah, David berusaha menghubungiku. Entah berapa kali dia menelpon dan mengirim pesan kepadaku. Aku hanya tersenyum melihat itu semua.

“Angkat loh Dhy telfonnya, siapa tau penting,” ujar seorang rekanku.

“Gak penting kok!” jawabku seraya mematikan tombol daya handphoneku.

November 2019.

Aku melangkahkan kakiku menuju gedung kantor berwarna coklat muda. Ku langkahkan kaki dengan tegap menuju ruang yang terletak di ujung lorong. Saat ini aku sudah kembali ke kota ku. Aku mengajukan pindah dinas, dan akhirnya November ini menjadi bulan terbaikku. Aku berhasil pindah dinas ke kantor pemerintah daerah di kota ku.

“Dhy, besok selasa ada pertemuan di Kota Pusat, kamu hadir ya!” ucap Bu Andin, atasanku saat ini sambil menyerahkan surat undangan.

“Siap Bu!” Aku membaca undangan itu. tempat pertemuan di sebuah hotel di dekat Taman Kota yang biasa aku datangi dulu bersama David. Aku mencoba menghubungi David. Sejak pertama kali dia menghubungiku saat di bis umum waktu itu, aku mulai sering berkomunikasi dengannya, walaupun tak sesering dulu. Seperti masih ada batas diantara kami. Aku sempat menjauhinya karena kejadian bertemu dengannya saat bersama wanita lain.  Namun lama-lama ku berfikir, kenapa aku harus cemburu, aku dan dia saat itu sudah tak ada hubungan apa-apa lagi.

“Gue mau pertemuan di Hotel A besok, ketemuan yuk!” ajak ku melalui WhatsApp kepada David.

“Jangan Ya! Gak baik kalo lo ngajak gue ke hotel!” balas David.

“Gak usah pikiran jelek. Gue gak ngajak Lo ketemu di hotel. Tapi ketemu di Taman.”

“Hahaha kirain mau ngajak gue ketemu di hotelnya. Yaudah kabarin aja besok bisa ketemu jam berapa.”

“Oke!”

Aku menyudahi percakapan itu. aku tak sabar bertemu kembali dengan David. Sudah hampir 10 bulan kami tak berjumpa, terlebih setelah kejadian malam acara Festival di Taman Kota. Anganku sudah melayang jauh untuk hari esok.

Pagi hari aku sudah sampai di Hotel A. Aku akan menginap selama satu malam. Sore hari selesai acara aku menghubungi David. Dia akan datang menjemputku pukul tujuh malam nanti.

Aku bersiap-siap untuk bertemu dengan David. Pukul tujuh tepat, ada pesan masuk di handphoneku.

“Gue udah di lobi. Lo dimana?” isi pesan yang ternyata dari David.

“Ok, tunggu sebentar, gue turun” balasku.

Aku bergegas keluar dan menuju lift. Sampainya di lobi, aku mencari sosok David. Tampak dari belakang seorang laki-laki, menggunakan kemeja biru muda sedang duduk menghadap ke arah luar. Aku mendekatinya.

“David?” sapaku.

Dia menoleh dan berdiri. Aku merasa seperti mengulang pertemuan tahun 2014 lalu.

“Hai Ya!” balasnya. Aku tersenyum.

“Lo gak berubah ya Vid? Masih kaya yang dulu aja.” David tertawa kecil.

“Lo yang tambah cantik, tambah keliatan dewasa” ujarnya memujiku.

“Makan yuk!” ajaknya.

“Gak bisa ya kalo keluar itu gak makan?” tanyaku.

“Habisnya, kalo ketemu Lo, bawaannya mau makan melulu ....”

Aku tertawa kecil. “Yaudah, ayok!”

David berjalan sejajar disebelahku, kami menuju tempat parkir. Malam ini dia tak membawa motor merahnya dulu, tapi sudah berganti menjadi mobil sedan warna hitam. Kami menuju tempat makan, setelahnya kami menuju Taman Kota, tempat kenangan kami dulu.

“Ya, kalo gue mau ngelamar Lo, gimana?” tanya David, disela-sela obrolan kami.

Aku terkejut, menatap ke arah David.

“Ngelamar?” tanyaku. David mengangguk.

“Cewek yang waktu itu di taman? Apa udah Lo tinggalin?” nada suaraku terdengar jelas mengisyaratkan aku cemburu. David tertawa.

“Dia Cuma temen kok, kebetulan aja lagi jalan bareng mau nonton festival, ehh ketemu Lo. Belum sempet gue kenalin, Lo udah kabur duluan.”

“Gak percaya gue.”

“Nih! Periksa aja HP gue, ada gak cewek-cewek yang gue hubungin,” David menyerahkan HP nya kepadaku.

“Gak perlu!” aku mengambil HP miliknya dan menaruhnya di samping kursi.

“Lo yakin mau ngelamar gue?” tanyaku lagi.

“Yakin lah. Lo gak yakin ya sama gue?”

“Bukan gak yakin, tapi ... apa bener Lo udah siap? Nikah itu bukan pacaran loh Vid. Lo gak bisa nikah terus ninggalin gue kaya dulu-dulu ...” jelasku.

“Gue mau nikah karena gue gak mau ninggalin Lo lagi!”

“Bener?”

“Iya, Adhiya. Ngapain gue bohong? Tapi nunggu gue ngumpulin tabungan dulu ya ... Lo masih mau nunggu gue kan?”

Aku tersenyum. “Lo gx sadar, empat tahun aja Lo masih gue tunggu Vid!” jelasku.

“Maaf ... Tapi selama itu, gak mungkin Lo gak punya pacar kan?”

“Ada, tapi udah putus. Lo juga kan?”

David tertawa kecil. Dia menggenggam tanganku.

“Gue masih percaya, Lo punya gue, gue punya Lo. Buktinya, sampai sekarang kita masih ketemu lagi.”

“Gue tunggu niat baik Lo ngelamar gue,” jawabku sambil tersenyum penuh harap.

 

Mantan

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 687

 

Mei, 2020

“Mba Adhiya ...” panggil seseorang.

“Iya, siapa ya?” tanyaku.

“Radit, dari dinas depan” jawabnya.

“Oh,iya. Ada perlu apa?”

“Mau mengumpulkan laporan Mba.”

“Oke, saya terima, makasih ya Mas.”

“Boleh minta nomer HP nya Mba? Siapa tau laporannya ada yang kurang.”

“Oke boleh, catet ya Mas!” aku menyebutkan nomer HP ku.

Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Radit. Pertemuan tanpa sengaja yang membuat kami semakin akrab dan dekat. Semakin lama aku semakin merasa nyaman dengan Radit. Kami tidak memilik hubungan khusus, hanya sebagai rekan kerja.

Aku melanjutkan pendidikanku, mengambil gelar sarjana. Radit sering membantuku mengerjakan tugas kuliah. Akupun merasa senang terbantu olehnya. David masih suka menghubungiku, walau tak sesering dulu. Hingga suatu hari, tak sengaja aku melihat sosial media seorang wanita yang menampilkan foto David sedang bekerja. Dadaku tiba-tiba sesak kembali. Aku jadi teringat kejadianku bersama Ega dulu.

Aku mencoba menghubungi David, dan pelan-plan menanyakan terkait wanita yang memposting fotonya.

“Dia siapa Vid?” tanyaku lewat telpon malam itu.

“Ohh, itu temen gue,” jawab David santai.

“Apa iya? Temen tapi posting foto Lo sendirian?” David tertawa kecil.

“Lo cemburu ya? Berarti Lo cinta sama gue ...” ledeknya.

“Bukan masalah cemburu, gue aja gak pernah posting foto Lo, tiba-tiba ada perempuan lain yang posting, kan gue curiga!”

“Dia mantan gue. Udah jelas kan? Apa lagi yang mau Lo tanya?”

“Mantan?”

“Iya, mantan gue. Selama kita gak berhubungan, gue deket sama beberapa cewek, salah satunya yang posting foto gue itu.”

“Jadi, ada berapa mantan Lo waktu kita jauh?”

“Udah Ya, ngapain si di bahas? ‘Ntar Lo malah jengkel sama gue. Yang jelas, gue yakin, Lo itu punya gue, gue itu punya Lo. Buktinya, sekarang kita ketemu lagi kan?”

“Iya, tapi masih ganggu pikiran gue aja. Sejauh apa hubungan Lo sama mantan Lo itu? Gue liat dia posting Lo dateng ke wisuda dia, sedangkan gue? Malah lo tinggalin dulu.”

“Kalo Lo ada dideket gue sekarang, udah gue acak-acak rambut Lo, gue cubit-cubit pipi Lo biar tambah tembem, gemes banget gue denger Lo cemburu kayagini, hahaha ....”

“Please Vid, kalo emang Lo niat hubungan kita ini dibawa ke pintu pernikahan, jangan buat gue risau dengan adanya info-info tentang dimana saat kita jauh. Itu bener-bener buat gue berfikir negatif ....”

“Iya sayang ... Gue gak bakal aneh-aneh kok! Ehh, waktu itu minta mas kawinnya apa?”

“Seperangkat alat sholat dan emas 13 gram.”

“Dengerin ni, gue udah belajar. Saya terima nikah dan kawinnya Adhiya Maharani binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 13 gram dibayar tunai ... gimana? Keren gak gue?” Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Semoga terkabulkan ya Vid.”

“Aamiin, sabar ya nunggu gue lagi ....”

David memang sedang berusaha mengumpulkan tabungan. Tapi sudah beberapa kali ini ku lihat wanita yang sama memposting foto David di sosial medianya. Foto terakhir tampak dia menulis keterangan di foto itu, sebuah ucapan dan harapan untuk hubungan dia dan David selanjutnya. Aku menangis saat membacanya. Menangis sampai tak keluar lagi air mataku. Dadaku sesak, fikiranku melayang. Apa sebenarnya hubungan David dengan wanita itu. jika memang sudah menjadi mantan kekasih, kenapa wanita itu selalu posting foto David? Aku ingin bertanya langsung dengan wanita itu, tapi keberanianku tak ada. Aku takut. Aku takut kecewa lagi.

Disaat yang sama, Radit semakin mendekatkan dirinya kepadaku. Aku pun merasa nyaman dengan hadirnya. Dia mau menemaniku kapan pun aku butuh.

“Kalo nikah, kamu mau minta mas kawin apa sama calonmu, Ya?” Pertanyaan yang tiba-tiba Radit lontarkan kepadaku.

“Memang kenapa, Dit?”

“Gakpapa, siapa tau aku bisa beliin ....”

Aku melihat ke arahnya. Dia tersenyum.

“Seperangkat alat sholat dan emas 17 gram,” jawabku.

“17 gram? Ada artinya?”

“Jumlah rakaat sholat wajib dalam satu hari.”

“Ooh ....”

Radit tersenyum. Sedangkan aku, fikiran dan perasaanku sedang ku tata kembali. Masih berharap, David yang akan datang melamarku.

“13 gram? Kenapa 13 gram?” tanya David saat dia menanyakan permintaan mas kawin kepadaku saat kami bertemu di Taman Kota waktu aku melakukan perjalanan Dinas di Hotel A.

“Tanggal kita pertama kali ketemu.”

“Ohh ... 13 Januari maksudnya?”

“Masih inget juga Lo, Vid?”

“Inget donk! Apa yang gak gue inget kalo tentang Lo dan gue?”

Saat ini, aku hanya menunggu waktu. Waktu yang akan memberikan jawaban dari akhir penantianku.

 

Titik Akhir

0 0
  • Sarapan kata KMO Club Batch 37
  • Kelompok 2 Goresan Makna
  • Jumlah kata 1.060

 

Januari, 2021

“Sudah 9 tahun ya kita kenal. 13 Januari 2012, gue inget banget di Taman Kota waktu itu. Gue masih pake motor hitam, kita sama-sama masih mahasiswa baru. Pengen ngulang lagi gue rasanya,” David membuka obrolan kami sore itu, saat dia menjemputku pulang kuliah.

“Lo bilang apa waktu itu di taman? Inget gak?”

“Inget lah, Ya. Gue bilang, Adhiya mau gak jadi pacar gue? Terus Lo bengong, tapi muka Lo merah, hahaha ....”

“Ngeledek Lo?” Aku mencubitnya.

“Aww! Sakit tau!” David memegangi lengan tangan kirinya. Aku hanya tertawa.

“Kalo sekarang, gue mau tanya. Adhiya mau gak jadi istri gue? Ibu dari anak-anak gue?” Aku melihat ke arah David yang duduk dibangku supir sebelahku.

“Terus kapan mau ngelamar gue?” David menoleh ke arahku.

“Secepatnya!”

Aku menghempaskan tubuhku ke kursi mobil, menatap jauh ke depan.

“Bener kan, mas kawin yang Lo minta itu aja?” tanya David.

“Iya, gue gak mau minta apa-apa lagi kok.”

“Gue lagi nabung untuk acaranya, gak mungkin gue cuma dateng bawa mas kawin aja.”

Aku tersenyum. Namun tiba-tiba aku teringat dengan Radit. Teringat pertanyaannya tentang mas kawin saat itu.

Setelah pertemuan itu, lama aku tak berjumpa dengan David. Aku sibuk dengan kuliah dan kerjaku. Dia pun sama, sibuk dengan bekerja. Kami hanya komunikasi melalui telfon dan whatsapp, itupun tak terlalu sering. Hanya sekedar bertanya kabar dan kegiatan hari-hari.

Radit semakin dekat denganku. Hampir setiap hari kami makan siang bersama. Kadang iya mengantarku kuliah di hari Jumat dan Sabtu. Semua orang pun sudah mengira, kalau kami memiliki hubungan khusus.

Sabtu sore, aku pulang kuliah dan berencana menuju toko buku untuk mencari buku referensi tugas akhir ku. Radit menjemputku sore itu di kampus. Aku sempat menolaknya, namun dia memaksa ingin menjemput dan mengantarku mencari buku. Untungnya, hari ini David tak bisa menemaniku, karena ada pekerjaan.

“Gue udah di parkiran Ya,” isi pesan Radit sore itu.

“Oke, tunggu gue turun.” Aku berjalan menuju parkiran.

“Adhiya!” Radit melambaikan tangannya. Aku menuju ke arahnya.

“Nunggu lama ya?” tanyaku.

“Enggak kok, yuk!” Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Kami mengobrol santai di perjalanan. Sampai akhirnya tiba di sebuah toko buku.

“Gue ke toilet dulu ya, nanti gue susul ke dalem!”

“Ok, Dit. Gue masuk duluan ya ....”

Aku melangkahkan kaki ku masuk ke dalam toko. Berjalan kesana kemari mencari buku yang sesuai dengan tema tugas akhirku. Tak pernah ku sangka aku melihat David sedang memilih buku di salah satu rak di seberang tempatku berdiri. Aku mulai curiga, tadi dia menjelaskan kalau sedang lembur di kantor karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Aku ingin menghampirinya. Namun saat ingin melangkah, ku lihat seorang wanita mendekati David dan langsung menggandeng tangannya, David pun membalasnya. Ku amati wajah wanita itu, seperti tak asing. Iya, dia wanita yang mengunggah foto David di sosial media. Ku lihat jelas wajah David tampak bahagia. Pandangan kami bertemu. Aku masih terdiam kaku melihat kejadian di depanku. David pun langsung terkejut melihatku. Aku ingin berlari, namun kaki ku sepertinya berat untuk melangkah. Aku membalikkan badanku.

“Bruk!” ada tubuh yang ku tabrak.

“Adhiya ....” Aku menongak, melihat wajah tubuh yang ku tabrak.

“Radit ...” ucapku lirih. Dia tersenyum. Seperti malaikat penyelamat dia datang saat itu. Aku tak berani menoleh ke belakang.

“Buku nya udah ketemu?” tanyanya.

“Gak ada Dit. Kita cari toko lain aj yuk!” dengan cepat aku menggandeng tangan Radit untuk keluar segera dari toko itu. Aku tak tahu apa yang terjadi di belakangku. Saat itu rasaku seperti sudah hilang tiba-tiba. Aku seperti sudah sampai di titik akhir. Mungkin ini jawaban atas semua kerisauan ku selama ini terhadap David.

Malam itu, tidurku tak nyenyak lagi. masih terbayang wajah David siang tadi. senyum yang biasa ku lihat saat bersamaku, genggaman tangan yang tak pernah dilepasnya ketika bersamaku, kini sudah ia berikan kepada wanita lain. Namun aku beruntung, ada Radit didekatku tadi. Tak bisa kuhilangkan sesak di dadaku, tapi setidaknya Radit mampu membuatku tertawa sore tadi dengan lelucon yang dibuatnya.

“Tring!” suara pesan membuyarkan lamunanku. Aku mengambil handphone ku. Terlihat nama David di layar. Ku buka pesan itu. Panjang sekali penjelasan David malam itu. Aku hanya tersenyum membacanya. Mungkin benar, Tuhan telah menghilangkan rasaku. Aku benar-benar seperti tak perduli lagi. Aku membalasnya dengan mengirimkan sebuah lagu.

“Tak perlu kau katakan isi hatimu, semua telah tersirat di dua matamu, simpan segala upaya tuk buat ku percaya, semua baik adanya, terluka sendiri ku pendam segala rasa, karena aku tak bisa, mengharapkan cinta yang, takkan pernah ada, sudah kini ku melepaskan, cinta yang dulu kubanggakan, aku sadari semua ini, memang bukan salahmu, aku tahu, kamu bukan untukku, ku kan melupakanmu, walau tak bisa mudah, ku kan bertahan sudah” (Sudah, Afgan)

Terdengar lantunan suara merdu Afgan menyanyikan lagu yang berjudul Sudah  miliknya. Aku meyadari, ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri hubunganku dengan David. Sudah cukup aku bermain dalam kisah yang dibuat olehnya. Aku berhenti sampai disini.

Beberapa kali David menelfonku, namun tak ku tanggapi. Ku letakkan HP ku diatas meja riasku, tak lupa ku matikan nada panggilan dan pesan. Aku beranjak tidur, berharap esok pagi aku terbangun dengan semua keadaan ini hanyalah mimpi.

            September 2021.

            “David, bisa ke rumah gue besok?” tanyaku melalui pesan.

            “Ada apa, Ya? Kangen ya sama gue?” balasnya.

            “Lo lupa, besok gue ulang tahun.”

            “Oh iya, mau kado apa?”

            “Lo dateng aja kesini gue udah seneng.”

            “Oke! Nanti gue dateng ya!.”

            “Iya.”

Setelah kejadian di toko buku, aku sudah memutuskan untuk menghindari David. Apapun yang dia lakukan sudah tak meluluhkan kembali hatiku. Dia masih menghubungiku, namun tak pernah ku tanggapi dengan serius. Ku biarkan dia menemuiku, namun perasaanku sudah tak seperti dulu lagi.

            “Adhiya, rombongan udah dateng Nak,” panggil ibuku. Aku merapihkan pakaianku. Tak lama aku berjalan keluar menuju ruang tamu. Disana sudah tampak ramai keluarga besarku menunggu.

            “Saya terima nikah dan kawinnya Adhiya Maharani binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 17 gram dibayar tunai!”

            “Sah!” teriak orang-orang.

            Aku memandang ke arah Radit yang duduk di sebelahku saat ini. Iya, Radit. Dia berhasil meraih hatiku, membuat rasa baru dalam hidupku. Aku mengganti profil Whatsapp ku bersama Radit. Esoknya adalah hari acara resepsi pernikahanku, tepat di hari ulang tahunku. Aku melihat handphoneku untuk menghubungi David, memastikan dia akan datang atau tidak. Sayangnya, untuk saat ini nomorku yang telah di blokirnya.

            “Adhiya, ayok foto dulu!” ajak Weli dan Triya.

Aku memeluk mereka, dan tak lupa menampilkan senyum bahagiaku di hari itu. terimakasih David untuk kisah sembilan tahun ini, ucapku dalam hati.

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Wella Triana
Kumpulan Cerpen
siti fatmawati
SERPIHAN SENJA
IKA YUSTHICIA P...
Masa Depan Kita Yang Tentukan
Rian kristina
You Are My Destiny
Han Achmad
Adeleine's Crown
Khanifatul Aeni...
Titik Semu

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil