Loading
4

0

7

Genre : Inspirasi
Penulis : Delfira
Bab : 30
Pembaca : 5
Nama : Delfira
Buku : 1

Terbatas garis takdir

Sinopsis

Batas-batas ketentuan-Nya telah Dia gariskan jauh sebelum insan itu wujud dalam episode kehidupan. Rasa sakit, kecewa, jatuh, dan serangkaian keperihan lainnya adalah episode yang pasti terjadi dalam hidup, dan Fitrah sebagai manusia untuk menemukan jalan sembuh dan bertumbuh. Kisah dua insan yang mengalami badai berbeda sebelum keduanya disatukan dalam garis Takdir Penikahan. Sabila wanita yang memegang teguh prinsipnya, dihadapkan pada kejadian pahit setelah satu artikel menyeruak ke permukaan yang akhirnya mengantarkannya pada satu rahasia yang telah lama disimpan oleh Ayahnya. Pertemuan yang intens dengan lelaki bernama Mizan, membuka satu ruang baru dalam hidupnya. Dalam perjalanan mengarungi samudera rumah tangga dengan segala Kejutannya, membuat keduanya memahami, bahwa semua yang Allah kirimkan dalam paket episode beragam rasa itu, adalah hadiah. Perjalanan mereka ke berbagai tempat, mempertemukan mereka dengan jiwa-jiwa tangguh yang menang mengalahkan keputusasaan. Tidak ada pelayaran tanpa gelombang, ia akan mengikuti kemana arah mata angin membawanya. Takdir pasti terjadi, entah datangnya dalam bentuk bahagia ataupun kecewa. pilihannya adalah sabar, syukur ,Ikhlas dan ridha. Hakikatnya dunia, manusia, cinta dan segalanya, mempunyai garis takdirnya, karena jika semua sempurna maka bukan dunia namanya.
Tags :
#takdir #journeyoflife #destiny #traveling #basedtruestory #inspiringstory #dunia

Malam di Malioboro

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelomok6Dawaiaksara

#Jumlahkata570

#Day1

#Sarkatjadibuku

               Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan anda temui. Maka, jangan biarkan diri anda larut dalam kesedihan. Jangan mengira diri anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua itu dapat terjadi dengan paksaanku ataupun paksaanmu. Karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Demikianlah "orang bebas memilih; boleh percaya dan tidak".

 (Dr, Aidh Al Qarni)

***

          Malioboro dengan udaranya yang menusuk tulang, terasa lengkap dengan suara syahdu penyanyi jalanan, melantunkan bait-bait lagu melukis senja. Terlihat beberapa crew sibuk mengatur properti di lokasi syuting. Malioboro, selain sebagai destinasi wisata, tempat ini menjadi icon Yogyakarta.

 

          Mizan, 29 tahun.  Pria tampan, berkulit putih dengan senyum khas menampakkan gigi putih rapi, ditambah lagi dengan proporsi tubuh ideal, terlihat nyaris sempurna. Lelaki yang begitu menyukai aroma laut itu,  memulai debut pertamnya di entertainment sebagai figuran drama.

      

           Sambil Menikmati  bir pletok, Mizan melirik sembunyi-sembunyi pada wanita berjilbab biru yang duduk tak jauh dari lokasi syuting. Ia  tersenyum dan mengalihkan pandangan jika, wanita itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Wanita bermata cokelat dengan ciri khas tahi lalat cantik disamping hidung mancungnya dari tadi sibuk dengan buku baca ditangannya, Sabila namanya.

 

          Sabila yang masih betah dengan buku baca, tidak menyadari kehadiran lelaki itu. Tanpa sepatah kata yang terlontar dari bibirnya, Mizan terpaku menatap kearah Sabila. Tersadar jika ada yang sedang memperhatikannya, ia menoleh ke samping. Lelaki itu tiba-tiba jadi salah tingkah.

 

          "Hmmm," gumam Sabila melirik bingung.

 

           Lengkingan suara dari belakang, memotong pembicaaran keduanya. Suara dengan nada khasnya, lelaki  bergaya nyentrik  yang akrab disapa Bang Ogy, si Sutradara.

           "Cut.,Cut," teriak Bang Ogy dari balik kamera. "fokus, fokus," ocehnya diiringi hembusan nafas panjang dengan langkah yang dipercepat. Ia menghampiri Mizan, lalu memberikan beberapa arahan.

 

           "Oke kita break 15 menit," imbuhnya.

       

          Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Masih ada scene yang belum selesai. Mbak Pipuy si astrada terlihat sibuk memberikan arahan kepada para pemeran untuk kembali bersiap dilokasi. Meskipun lelah, namun Sabila dan Mizan tetap harus menyelesaikan scene demi scene malam ini juga.


          "Camera, rolling, and action," teriak Bang Ogy dengan penuh semangat.

 

          "Jika ini ketetapan Tuhan, kita sebagai manusia tak punya pilihan, maafkan aku." Ungkap Azreen menunduk.

 

           "Tapi, kita bisa usahakan yang terbaik?" bujuk Riana

 

            "Terbaik? Jalan mana lagi? Tunjukan padaku!" pinta Azreen. "takkan ada bahagia, jika awalnya saja pintu keberkahan itu tertutup rapat?" Azreen yang berusaha tegar tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dari raut wajahnya.


        Azreen tahu, ia takkan mampu menerobos tembok yang bernama restu. Lelaki itu pasrah tanpa ada pilihan. Riana hanya mampu berairmata dengan tangisan yang ia tahan sekuat mungkin. Keduanya  menemui jalan buntu ketika orang tua riana secara terbuka menolak rencana lamaran Azreen.


       "Cut. Okey semuanya." Bang ogy mengangkat jempol kepada Sabila dan Mizan , ia terlihat puas dengan hasil Syuting malam ini.

 

           Proses Syuting  drama berjudul bahagia bukan milik kita, telah berjalan selama dua bulan yang mengambil lokasi di Yogyakarta. Dua karakter utama dalam drama berjumlah tujuh belas episode itu adalah Azreen yang diperankan oleh Mizan dan Riana oleh Sabila.
      

         Beberapa menit kemudian, Mizan berjalan mendekati wanita cantik berdarah campuran, Pakistan-Melayu-Indonesia itu.


          "Ila," sapanya.

 

          "Ya," jawabnya singkat, lalu melirik sebentar pada lelaki yang mematung didepannya.

 

           "Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan!" ungkap Mizan yang nampak kaku berhadapan dengan Ila kali ini, bak aktor baru yang sedang beradu akting dihadapan artis senior.

 

       Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah Mizan. Lalu tiba-tiba, terdengar  suara dering handphone-nya.

 

       "Tunggu sebentar," ujarnya. Ia  mengangkat handphone yang berdering berulang-ulang.

 

       "Selamat pagi, Anda keluarga Tn. Ali Hisyam?" tanya seseorang dari seberang handphone.

 

        "Ya benar, aku sabila, anaknya." Terdengar suara Sabila gemetar, ia mulai merasakan sesuatu yang lain menjalar kehatinya. "bagaimana itu bisa terjadi," batinnya.


   

 

Jiwa yang pergi

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelomok6Dawaiaksara

#Jumlahkata565

#Day2

#Sarkatjadibuku

          Pada sebuah jiwa yang sadar dan menginsyafi siapa dirinya dan arah mana ia hendak mengarahkan langkahnynya, dan kemana pada akhirnya ia bermuara.

***

          Saat berpamitan siang tadi dengan sang ayah, ia sudah merasakan firasat yang buruk. Namun takpasti bahwa firasat itu benar akan terjadi.

 

           Bagai petir di siang bolong. Sabila mendapat kabar bahwa ayahnya mengalami kecelakaan.  Segera ia meminta bantuan Mizan. Mobil yang mereka kendarai, berpacu dengan kecepatan tinggi menunju RS Bhayangkara Polda DIY, yang berjarak tidak jauh dari lokasi syuting.  Mereka tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam puluh menit.

 

          "Abah, Abah," panggil Sabila dari balik jendela kaca ruang ICU.

 

         Mizan mengorek informasi dari seorang polisi yang sedang berjaga, dari keterangannya, kecelakaan yang dialami Pak Ali Hisyam adalah kecelakaan yang disengaja oleh oknum yang masih dalam proses pencarian, karena menurut seorang saksi mata, ada sebuah mobil yang sengaja menyerempet mobil korban.

 

        Lelaki itu, mengembuskan napas terakhirnya, setelah berjuang beberapa jam dalam penanganan tim medis. Wajahnya teduhnya seolah-olah berpesan pada keluarga bahwa kelak mereka akan berjumpa kembali ditempat yang lebih indah.

 

       Suara  Sabila memecahkan keheningan di penghujung malam ini, dadanya sesak, air matanya menganak sungai membentuk garis panjang di pipinya.

 

        "Innalillahi wa innailaihi rojiun," ucap tim medis yang sedang bertugas.

 

       "Semoga Allah mengampuni segala kesalahannnya, menerima amal baik semasa hidupnnya, dan menggantikan dengan keluarga yang lebih baik dikehidupan berikutnya." Mizan berbisik lirih.


      Tak ada yang bisa dilakukan Mizan. Ia hanya mampu melihat Sabila dan ibunya yang sedang berupaya menerima kenyataan, bahwa nahkoda rumah mereka telah dahulu berlayar di alam keabadian.

 

       Kali ini, lelah yang berkepanjangan itu, sejenak tidak ia rasakan, padahal  syuting memakan waktu yang lama dari beberapa hari sebelumnya. Lokasi yang sering berpindah-pindah dan cuaca yang tidak bisa ditebak menambah deret daftar pemutus tenaga.

 

          Semua letih itu, tak bermakna dibandingkan dengan hilang separuh nyawanya, Ayah. 

 

         "Sampai jumpa Abah, Semoga Allah merahmatimu." Sabila melangitkan harap dalam suasana paling sunyi.

 

           Kematian menjadi pemutus segala angan dan memapas segala cita. Datang tanpa dijangka, tanpa diduga. Setelah itu hanya ada dua nikmat, surga atau azab neraka. Berbahagialah bagi mereka yang hidup berbekal takwa.

***

            Ia belum pulih dari perih yang maha dahsyat itu. Bukan hal mudah untuk siapa pun, ketika ditinggal pergi seorang yang bermakna dalam hidup. Kecelakaan yang dialami ayahnya telah meninggalkan luka yang menganga. Hampir setiap malam, disekitar jam yang sama dengan kejadian tragis itu, seolah menjadi satu trauma dan mimpi ngeri untuknya.

 

            "Ila, dalam hidup ini, setiap orang harus punya prinsip, apa yang dianggap benar, pertahankan,  jangan mudah mengikuti arus kehidupan," tutur Abah sembari tersenyum.

 

             Sontak Sabila terbangun, ia mengucap kalimat istighfar berkali-kali. Ayahnya kerap kali muncul dalam mimpi. Perasaan rindu itu  selalu ada, tak berkurang sedikitpun.

 

            Butuh masa untuk sembuh, dengan mengumpulkan kembali puing-puing hati yang retak.  Awalnya ia mengingkari apa yang telah menimpanya. Namun, berjalannya waktu, rasa yang berkecamuk itu, sebisa mungkin ia tata.  Sehingga harus menelan segalanya dengan lapang dada. Ia tahu, tak bisa menyalahi ketetapan-Nya yang berlaku. Apapun yang menimpa setiap insan tidak terlepas dari kehendak Sang Maha Perancang.

 

          "Seorang muslim harus mempunyai kepribadiaan yang konsisten, tak pernah goyah karena badai kehidupan. Berlandaskan akidah yang benar, ia tak mudah jatuh karena bencana dan kejadian apapun. karena itulah kita melihat seorang muslim yang benar aqidahnya dalam setiap pekerjaan serta perkataannya maka ia akan selalu konsisten." Sabila membaca kata-kata Abah yang tersimpan dalam selembar kertas di dinding kamarnya.

 

***
"Tiap-Tiap yang berjiwa akan merasakan mati". (Al-Qur’an, Surah Ali Imran :185)

 

 

 

 

Prinsip

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day3

# Jumlahkata567

#Sarkatjadibuku

 

           Setiap insan dalam kehidupan ini, diuji oleh Allah dengan karunia terkait hal yang paling dijunjung tinggi oleh jiwanya. Bukankah karunia itu mengandung ujian? Dan ujian itu sendiri mengandung karunia? Begitulah hakikatnya.

***

          Hari ini tepat enam bulan kepergian sang ayah. Sabila  menziarahi  makam ayahnya. Tampak ia sangat khusuk berdoa, sesekali ia mengusap genangan air matanya.

 

         "Ya Allah. Ya Ghafur, ampunilah segala kesalahannya, sayangi ia, dan tempatkan ia bersama orang-orang shalih di surga-Mu. Aamiin." Sabila mengakhiri doanya.

 

         Waktu berjalan terasa lebih lambat, setelah tragedi itu terjadi.  Sabila berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja dan berusaha bangkit dengan  kembali pada aktivitasnya di entertainment. Ia tahu kesedihan tidak akan pergi semudah itu, tetapi ia harus terus melanjutkan hidup dan karirnya.

 

          "Meski tak lagi sama, tapi aku tahu aku mampu," ucapnya sembari tersenyum pada refleksi wajahnya di cermin.

 

           Tangan  terampil itu mulai membuat olesan bedak ke wajahnya, membuat garis alis, menyapu eye shadow dan menambah beberapa riasan warna di pipinya, tidak lupa ia mengoles bibirnya dengan  lip cream  yang baru saja diberikan oleh salah satu jenama ternama. Setelah merasa cukup, ia lalu memilih baju dan khimar yang akan dia gunakan untuk menghadiri meeting bersama tim management.

 

        Khimar biru yang ada dalam genggamanya, seketika membuat gurat senyumnya berubah. Ada kenangan dalam potongan khimar biru yang diberikan ayahnya saat ulang tahunnya ke 21. Sekuat mungkin ia menahan rasa yang bisa saja dengan tiba-tiba berubah jadi air mata.

 

          "Tenang sabila, tenang," pintanya sambil meletakkan tapak tangan di dadanya.

        

            Setelah beberapa saat, ia berhasil menekan rasa yang hampir saja melunturkan make up di wajahnya. Dengan mengenakan atasan berwarna latte dengan khimar warna senada yang dipadu padan bawahan berwarna putih, ia terlihat sangat cantik, modis dan elegant.

 

          Pukul 14.00 WIB Ia ada jadwal meeting dengan PH Prima Karya, membahas projek untuk mendapatkan kesepakatan bersama.

 

        "Dua kali lipat?" tanyanya, lalu tatapannya terhenti pada poin ke enam sambil mengeryitkan dahi.

 

         "Jika setuju, kamu boleh langsung Sign," usul Pak Benny menyodorkan pulpen.

 

       "Terima kasih  untuk penawarannya,  tapi ini berlawanan dengan prinsipku. Rasanya tak perlu menggulang penjelasan yang sama, mengapa proyek semacam ini tidak pernah aku terima," jelas Sabila setelah membaca teks perjanjian kontrak kerja.

 

        "Kita boleh revisi kembali poin yang tidak sesuai," tawar Pak Benny memberi solusi.

 

        "Masalahnya ada pada naskah. Apakah pihak bapak mau untuk revisi naskah dramanya?" Sabila melontarkan pertanyaan kembali, lalu menutup map berisi kontrak kerja itu.

 

        "Rasanya tak perlu membuang banyak waktu, hanya untuk meyakinkanku," jelasnya lagi.

 

        "Semoga kamu tidak menyesal menolak tawaran yang diinginkan oleh banyak selebriti diluar sana," tutur Pak Benny.

 

        "Ya, aku pun berharap demikian," jawab Sabila dengan bangga.

 

           Pak Benny selaku manager PH Prima Karya, merasa tersinggung ketika tawaran yang diajukannya ditolak mentah-mentah. Lelaki itu menutup pertemuan, lalu ia permisi meninggalkan Sabila yang tersenyum manis padanya. Ini kali kedua Sabila menolak penawaran untuk proyek drama dan film. Menurutnya menjadi selebriti tidak sepenuhnya harus mengikuti permintaan market. Ia sebisa mungkin bertahan dengan prinsipnya itu.

 

            Meskipun baru 2 tahun di industri entertaiment, Sabila berani tampil dengan idealismenya. Menurutnya ia tidak perlu ikut-ikutan, untuk mendapatkan ruang dan panggung didunia entertainment, karena tidak sedikit pendatang baru sepertinya, yang rela menjual idealismenya, bahkan ada yang sampai menjual Body-nya, hanya untuk sekedar mendapatkan nama dalam dunia industri yang menggiurkan.

 

        "Aku harap,  setelah ini tak ada lagi tawaran serupa," gerutunya

 

       "Ya, dan semoga, kita tetap bertahan dalam menghadapi badai berikutnya,"ujar Shila.

 

         Sering terlupa bagi penganggum dunia, ada yang lebih utama dari sekadar banyaknya pundi rupiah yang dikumpulkan, berkahnya.

 

 

          

 

Syarat Tertolak

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Jumlahkata552

#Day4

#Sarkatjadibuku

***

        Pak Kamal Dira, direktur utama PH Prima Karya. Lelaki berusia 55 tahun dengan penampilan rapi dan gaya rambut belah samping itu sepertinya tidak puas hati mendengar syarat yang diletakkan oleh Sabila, jika mereka ingin berkerjasama. Memang terdengar aneh untuk seseorang yang berkecimpung di entertainment tetapi semua orang punya pilihan terhadap apa yang diyakininya.

 

         Untuk menembus rumah produksi seperti PH Prima Karya, bukanlah hal yang mudah. Mereka sangat selektif dalam memilih,  selebriti yang akan terlibat dalam setiap projeknya, sehingga jika ada yang menolak tawaran kerjasama dengan pihaknya, lelaki itu merasa tersinggung. Apatah lagi pendatang baru yang terbilang seumur jagung di entertainment. Sepertinya kejayaan yang dimiliki oleh PH Prima Karya, membuat Kamal Dira terlalu mendongak ke langit, Ia  mengira semua bisa dibeli dengan uang dan kuasanya.

      

         "Dia meletakan syarat untuk tidak ada adengan sentuhan dalam drama dan film," ungkap  Benny.

 

           Kamal Dira yang mendengarkan ungkapan Benny seketika bangkit dari duduknya, nampak raut wajahnya berubah, telinganya memerah.

 

         "Baginya bersentuhan kulit dengan kulit bisa disiasati dengan trik kamera. Jika tidak memungkinkan dengan cara itu, maka berlapis kain dapat dilakukan dalam adengan sentuhan  tangan, bisa menjadi jalan keluarnya", sambung Benny memberikan penjelasan.

 

          "Hahaha. Kalau tidak mau bersentuhan dalam adengan, jangan jadi artis. Sombong juga dia sebagai artis baru." Kamal Dira  gregetan mendengar penjelasan Pak Benny.

        "Lihat saja, sejauh mana ia akan bertahan dengan syarat dia yang tak masuk akal itu,". Ketusnya.

 

        Sepertinya Kamal Dira sedang merencanakan sesuatu. ia menelepon seseorang, lalu terlihat senyum sinis merekah dibibirnya.

 

         Pak Benny hanya bisa mendengarkan ketakpuasan hati pimpinannya itu, tanpa berani menyambung percakapan.

 

        "Aku akan pastikan Sabila jatuh dan memohon kerjasama denganku nanti, ia pikir sedang bermain-main dengan siapa," gerutunya dengan tangan menghantam meja.

 

          Wanita bermata teduh itu,  berani melawan arus untuk mempertahankan prinsipnya. Memang semua membutuhkan keberanian dan konsistensi. Ia yakin jika tidak seperti itu, maka, nantinya  ia akan hanyut juga.

 

          Bagi Sabila, ia tidak akan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan nuraninya.  Inilah yang membedakan sabila dengan pendatang baru lainnya.

 

          Tanpa penyesalan diwajah keduanya, Sabila dan Shila menikmati makanan yang telah dingin,  karena terlalu lama berunding dengan Pak Benny.

 

        "Cepat habiskan, kita masih ada satu agenda lagi hari ini," anjur Shila yang juga tengah berusaha menghabiskan makanannya.

 

        "Ini makan, atau sedang lomba?" Sabila menimpali.

 

         Dunia entertainment memang misteri dengan berbagai konflik didalamnya, siapa yang berjuang dia akan menang, siapa yang memilih jalan instant, dia bak bunga yang mekar beberapa saat, lalu kemudian layu dan terbuang. Siklus seperti itu sudah bak jamur di dunia entertainment.

***

         Beberapa minggu terakhir,  Mizan menjalani Syuting di Bandung  untuk sebuah drama serial TV.  Menandakan sudah selama itu dia belum bertemu Sabila, bahkan untuk bertanya kabar lewat udara dia tangguhkan. Mizan benar-benar harus menggumpulkan banyak energi untuk mengungkapkan semuanya, ia harus meyakinkan dirinya terlebih dahulu  sebelum ia meyakinkan sabila.

 

       "Sebelum dia diambil orang," bisiknya dalam hati.

 

       "Hmmm, lalu bagaimana kalau dia menolak, apa mungkin dia sudah memiliki seseorang dihatinya?" batin Mizan bertanya dan seribu tanya lain yang bergelayut dalam pikirannya.

 

         Telah lama Mizan memperhatikan Sabila, ia menaruh hati pada wanita itu. Namun ia belum berani menunjukkan signal tersebut. Nampaknya ia harus memastikan bahwa sabila juga memiliki signal yang sama, sehingga ia tidak bertepuk sebelah tangan.

 

***

          "Dilangit terdapat sebab rezekimu dan janji Tuhanmu. Maka demi Tuhan Langit dan Bumi. Sungguh yang dijanjikan itu benar-benar akan terjadi tanpa dapat dipungkiri." (AL-Qur’an Surah Ad Dzariat: 22-23)

 

 

 

 

 



 

Resign

0 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelomok6Dawaiaksara

#Day5

#Jumlahkata579  

#Sarkatjadibuku

 

           Setiap tantangan adalah bagian dari proses. Semakin besar yang diiginkan maka semakin mahal harga yang harus dibayar. Bukankah kapal yang besar, rute perjalannya dilautan lepas dengan gelombang yang besar? Seperti itulah kehidupan berjalan.

***

          Hiruk pikuk kota dengan kendaraan lalu lalang, disepanjang mata memandang, mengabarkan bahwa kota ini tidak pernah menutup kelopak matanya untuk rehat sejenak.         Kota kembang, begitu sapaan yang melekat.

 

           Mobil Alphard berwarna putih, menambah deret jumlah kendaraan yang memadati jalan. sedang  melaju menuju Bandara International Husein Sastranegara, tiba-tiba dipaksa berhenti oleh si merah yang tak mengenal waktu di perempatan  samsat kircon. inilah lampu merah yang katanya, memegang rekor sebagai lampu merah dengan durasi paling lama se-Indonesia yaitu 12 menit, sehingga ia mendapat julukan perempatan lampu merah susah move on.


          Dari balik kaca mobil, Mizan memperhatikan seorang ibu berjualan roti. Bergegas keluar dan mendekati ibu separuh baya itu. Tampak wajahnya di penuhi peluh, ia kelelahan menenteng sekeranjang roti dagangan, tampak belum banyak terjual.

 

         "Assallamu’alaikum, permisi Bu, rotinya," sapa Mizan sambil membuka dompet dan mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.

 

           Ibu berkerudung cokelat itu, menampakkan gurat senyumnya, lalu dengan cekatan ia menyiapkan plastik pembungkus roti.

 

        "Alhamdulillah, Mas pembeli pertama hari ini, berkah ya, Mas mau berapa potong roti?" tanya Ibu dengan tatapan matanya yang menunjukan ia kurang tidur.

 

       "Satu saja Bu, untukku. Selebihnya, tolong Ibu bagikan pada anak-anak yang ada diseberang sana ya," jawab Mizan sambil memberikan uang pembayaran.

 

          Nampak jelas keriput disudut matanya. Kulitnya berdebu,  matanya sendu. Harusnya  di usia seperti itu, ia tidak lagi bekerja, di bawah terik dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Namun realita hidup tidak seindah teori.

 

         Wanita itu menyambut dua lembar uang seratusan yang di ulurkan Mizan. Ia dengan senang hati dan penuh syukur menerimanya. Rotinya habis terjual, padahal belum setengah hari berjualan. berkali-kali ia mengucapkan terima kasih pada Mizan, hingga nampak matanya mulai tergenang.

 

           Tatapan Mizan lekat pada roti yang ada dalam gengamannya. Ia mengigit tepi roti, tak terasa air matanya menetes. Bak membuka kotak memori. Ingatannya terhempas jauh pada keputusan enam tahun silam. Ia resign dari zona nyamannya, sebagai seorang Pramugara di disalah satu maskapai penerbangan nasional. Keputusan itu diambil agar ia bisa memulai karirnya sebagai seorang entertainer. Menurutnya, di entertaiment harapan memiliki kehidupan lebih baik sangat besar.

 

          Keputusan itu mendapatkan penolakan dari sang ayah, sehingga ia memulai hidup mandiri dengan modal nekat dan doa sang ibu. Lebih separuh uang tabungan selama dua tahun bekerja di maskapai tersebut harus ia relakan untuk mengganti penalti dan sisanya untuk membayar pinjaman keluarga.

 

         Perjalanan di entertainment dimulai dari mengikuti casting iklan sampai figuran. Proses itu memupuk kesabaran dan kegigihan dalam berjuang karena menunggu sebulan, dua bulan belum mendapatkan panggilan dari pihak rumah produksi.

 

          “Ma, Mizan minta doanya ya,”

 

         “Mama selalu mendoakanmu, Nak. Pencapaian yang besar memang tidak dijual dengan pengorbanan yang murah, doakan juga untuk Ayah, agar ia berlembut hati, hingga ia setuju dengan jalanmu saat ini,”

 

         Berkali-kali Mizan menghubungi ayahnya namun tidak mendapatkan respon. Pernah satu hari ia berpapasan, tetapi lelaki itu buru-buru berlalu seolah menghindari putranya.

 

         Kondisi ekonomi keluarga Mizan berada dibawah rata-rata, tinggal dirumah yang sudah dua puluh tahun belum tersentuh renovasi. Keadaan semakin sulit ketika Mizan hampir delapan  bulan tidak memiliki penghasilan seperti sebelumnya. Desakan hidup memaksanya mengambil kerja sebagai pramusaji di gerai makan. Gaji memang tidak seberapa, tapi masih bisa untuk menopang kebutuhan perut setiap hari. 

        

        Berani mencoba, berarti berani mengambil risiko. Melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya memang akan membuat tidak nyaman.  Namun dari ketidaknyaman itu, akan tumbuh proses adaptasi dan  menemukan cara baru menaklukan tantangan.

 



 

Ridha dan Kenangan sepotong roti

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day6

#Jumlahkata647

#Sarkatjadibuku

 

       Keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum hingga meninggal dunia. (HR. Ibnu Majah No. 3337)

***

          Tidak terasa, memasuki minggu ke-tiga perutnya hanya diisi dengan dua gelas air mineral dan sepotong roti setiap paginya. Lalu malam hari lambungnya akan kembali berjumpa dengan si gluten yang ia beli seharga seribu lima ratus rupiah setiap bungkusnya. Terkadang ia memilih berpuasa namun tetap saja dengan menu yang sama saat berbuka.

 

         "Pagi ini kita akan coba lagi, entahlah mungkin kali ke 50 atau sampai 100, sampai kita dapat," gumamnya sambil memandang wajahnya didepan cermin dengan senyum selebar mungkin, "hari ini, hanya aku yang memandangmu, tapi nanti akan banyak pasang mata yang tertuju padamu."

 

         Mizan tak langsung menuju ke tempat casting, ada yang harus dia selesaikan sebelum ia benar-benar menjemput mimpi-mimpinya, menemui ayahnya. Delapan bulan menjadi bukti myakin sekeras apapun ia berjuang, jika sang Ayah tak memberikan restu ,maka sama halnya berjalan pada jalur yang dihadang tembok besar.

 

          Perjumpaan kembali setelah 8 bulan tidak bertegur sapa. Membawa pada satu titik, mengalah. Sekeras-kerasnya sang Ayah akhirnya luluh juga. Kesalahan Mizan sebelum itu adalah tidak melakukan musyawarah terlebih dahulu sebelum memutuskan resign dari pekerjaan yang telah menjadi ujung tombak keluarga.


         Musyawarah akan memberikan dampak yang baik bagi keharmonisan anggota keluarga, tidak ada yang merasa pendapatnya paling benar ataupun tersisih karena usulannya ditolak. Masing-masing individu dalam keluarga bisa memberikan pendapat sesuai porsinya. Setiap keputusan dari setiap anggota keluarga dapat dibicarakan bersama, guna menghindari dampak buruk dari akibat pengambilan keputusan secara perseorangan.

 

         Ya, benar saja saat restu keduanya didapat, pintu-pintu kemudahan itu bak dibentangkan tanpa diduga. Memang ajaib, koneksi antara ridha orang tua dengan ridha-Nya. Casting hari itu yang diikuti mizan, tak perlu menunggu waktu lebih lama untuk mendapatkan peran pertamanya sebagai figuran dalam sebuah serial televisi.

 

        “Masih mau menatap roti itu berapa lama lagi? Enggak mau ke Jogya nih?” tanya  Emil yang membuat lamunan Mizan terhenti.

 

        “ohh..., aaa.” Mizan melongo.

 

        “ohhhh, aaa, kalau mau, lanjutkan lagi sebentar saat flight,“ sambung Emil mengangkat tas keluar mobil.


          Roti mempunyai kenangan tersendiri bagi Mizan. Makanan yang menjadi rezekinya dimasa-masa sulit untuk bertahan hidup.

 

          Dalam sejarah, makanan ini termasuk makanan kuno yang hingga kini masih diproduksi dan menjadi hidangan favorit banyak orang. Roti bahkan menjadi salah satu makanan favorit Rasulullah. Menu olahan yang kini telah bervariasi dalam penyajiannya, merupakan makanan olahan tertua di dunia. Para Arkeolog menemukan bukti dari 30.000 tahun lalu, di Eropa ditemukan residu tepung di permukaan bebatuan yang digunakan sebagai alat penumbuk tepung tersebut. Tanmur adalah nama lain dari makanan yang pertama kali dikembangkan di daerah Mesopotamia dan Mesir ini. Roti juga dikenal sebagai makanan pokok umat islam pada saat itu. Ya, Roti adalah makanan terbaik penduduk dunia dan akhirat kata Rasulullah.

 

          Perjalanan jatuh bangun lelaki itu, selama dua tahun pertama diawal karir adalah proses yang mampu membentuknya menjadi seperti saat ini. Pengalaman istemewa,  memberikan dampak besar baginya untuk sebuah proses perjuangan.

        Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Yogyakarta  International Kulon Progo.

 

"...,atas nama Garuda indonesia kapten Ali Husein dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat jalan, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami.” Mizan menyimak sambil mengikuti ucapan pramugari itu, hari ini ia merasa kembali bernostalgia dengan kenangan masa-masa saat menjadi pramugara di maskapai penerbangan waktu dulu.


        Menjadi Pramugara ataupun menjadi seorang pekerja seni seperti saat ini, keduanya sama-sama adalah sebuah peluang. Mau sukses atau tidak dengan peluang tersebut  kembali kepada individu itu sendiri begitu pendapat pria yang sangat menyukai Suasana Pantai. Yang paling penting adalah semuanya patut disyukuri.

 

 ***

         Islam menyandingkan orang-orang bekerja demi menghidupi keluarganya setara dengan orang yang berjihad. Bekerja termasuk jihad fii sabilillah. Dengan berjuang menafkahi orang yang menjadi tanggungannya. Bekerjalah semata-mata mencari ridha Allah. Bukan hanya sekedar menumpuk harta dan tahta. Orang-orang yang bekerja dengan akhlak baik akan disamakan seperti orang yang berjihad.

 

        "Ridha Allah itu tergantung ridha kedua orang tua, dan murka Allah juga tergantung kepada murka orang tua" (HR. Tirmidzi)

 

Fitnah ujung jari

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day7

#Jumlahkata601

#Sarkatjadibuku      

  

           Sabila mendapat berita gembira. PT Harapan Utama memilihnya untuk menjadi brand ambassador produk terbarunya. Kontrak kerja akan difinalkan pada pertemuan berikutnya.. Bisa bekerjasama dengan perusahaan sekelas itu adalah impian banyak orang termasuk Sabila.

 

          Keadaan dengan cepat berubah. Tiba-tiba saja media digital dihebohkan dengan sebuah artikel, "Selebriti ternama: Sabila, anak  hasil hubungan gelap ibunya bersama lelaki lain 22 tahun silam". Artikel yang mencantumkan namanya sebagai anonym itu dengan cepat beredar di media sosial.

 

         Sabila dan manajemen sampai pusing dibuatnya. Notice ke akun Sabila pun tak henti-hentinya masuk meminta klarifikasi terhadap berita yang entah dari mana sumbernya. Komentar para netizen bervariasi mulai dari yang memberikan dukungan, hingga yang nyinyir bersorak ria, bahkan menyakitkan lagi  saat netizen mengaitkan  issue berita itu terhadap ikon wanita berhijab.

 

        "Gaya sok alim, berhijab. Ehh, nyatanya hanya menutup kebusukan dia dan ibunya selama ini." Tulis akun @is_isMouth 

 

       "Sok suci deh, selama ini sangat memilih peran, padahal anak dari hubungan terlarang. Ternyata sungguh berbeda 360°," komentar akun @real_is_The

 

       "Kok diam. Diam artinya benar, kan?" tanya akun @gosip_nyinyir

 

        Lalu akun @merak_kayangan menimpali "Pagi-pagi sudah menyebar kabar yang belum tentu kebenarannya, kalian gk takut dosa?

 

        Sederet komentar netizen membanjiri setiap laman dalam postingan artikel itu dimedia sosial. Bak perang dua kubu terjadi di sana.  Pihak yang mendukung dan pihak yang nyinyir, menjatuhkan dan lainnya yang menambah panas situasi.


        Sementara Sabila harus mengunci laman komentar semua postingannya di instagram, komentar-komentar itu bagai toxic. Mereka yang tidak mengenalnya dengan semudah itu menjatuhi dakwaan.

          Langkah itu adalah keputusan yang tepat, setidaknya bisa meminimalisir hal-hal negatif yang bisa ia dengar dari cuitan netizen yang merasa tidak berdosa itu untuk menghakimi dirinya.


         Manajemen Sabila sampai kewalahan menerima pertanyaan yang masuk, telepon tak henti-hentinya berdering. Mbak Lestari menghubungi artis yang direkrutya dua tahun silam itu untuk membahas jalan keluar kasus yang mencemarkan nama Sabila dan manajemen. Sabila mendapatkan dukungan dari teman-teman dekatnya, Begitupun Mizan yang  sepenuhnya memberikan dukungan dan percaya bahwa, apa yang ditulis artikel itu tidaklah benar.

 

          Kejadian yang membuat Sabila tak bisa menyembunyikan kesedihan, rasa marah dan stress yang hinggap dipikiran dan hatinya. Apalagi sang Mama yang tidak tahu menahu terhadap artikel palsu yang memaksa dirinya  tidak keluar rumah selama kasus itu belum terselesaikan. Wanita separuh baya itu tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Sabila dan Aiman jika kedua anaknya menanyakkan kejelasan artikel yang kini menjadi trending topik.  

 

           Sabila  yakin  ada orang yang bermain dibelakang berita yang tidak berasas itu, namun siapa dan apa tujuannya belum mendapatkan gambaran. Ia juga ingin mengetahui dari mamanya benarkah berita yang tersebar itu.

 

          Beberapa hari kemudian issue semakin panas, Berita itu bagai api yang terus disiram bensin. Kini lebih banyak opini yang masuk dari berbagai pihak dan mulai memberikan pandangannya terhadap artikel tersebut.

 

          Selama Sabila dan mamanya tidak melakukan klarifikasi, berita itu takkan padam, sampai semua jelas faktanya.  

 

         Media sosial dengan mudah mengangkat nama seseorang. Tetapi sebaliknya dengan mudah menjatuhkan. Pengguna media sosial juga beragam orang, ada yang menggunakan dengan bijak, namun tak sedikit menggunakan tanpa menggolah dengan hati dan pikiran terlebih dahulu.

 

         "Kita harus buat jumpa pers, clear-kan semuanya. Secepatnya kita  harus tahu siapa yang menerbitkan artikel itu!" ujar Mbak Lestari.

 

         "Ketika kita pulang dari sini, aku harus mendengar cerita sebenarnya dari mama. Aku yakin mama tidak seperti itu," kata Sabila dengan yakin.


         "Kamu merasa aneh enggak? Aku mencurigai seseorang. Tapi tidak baik berburuk sangka tanpa ada bukti," sambung Shila.


         "hmmm, aku tahu siapa yang kamu maksud, Pak Kamal Dira, kan?" tanya Sabila yang mencoba menguatkan dugaannya.


        "Atas dasar penolakan kita pada hari itu, mungkin saja. Namun sebelum terbukti, jika kita menuduhnya sama halnya mencemarkan nama baiknya. Bisa-bisa pihak kita yang kena tuntutan," tutur Mbak Lestari dengan bijak.



 

Siapa di balik Fitnah?

0 0

  #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day8

#Jumlahkata502

#Sarkatjadibuku

 

         Mbak Lestari bersama tim Green Managamen baru saja menyelesaikan projek pemotretan di luar Jakarta. Projek itu lumayan memakan waktu hingga berhari-hari.

 

         Benar dugaan Mbak lestari, ketika selebriti terjerat isu yang berkaitan dengan nama baik maka, akan ada masalah baru yang muncul, terhadap karir artis maupun manajemen yang dikelolanya.

 

         Kontrak kerja yang akan difinalkan bersama PT Harapan Utama akhirnya dibatalkan secara sepihak. Tidak ada perusahaan yang mau ambil risiko untuk menjadikan seorang public figure menjadi brand ambassador saat nama baiknya sedang di ujung tanduk.  Itu sama saja mereka mempertaruhkan hidup dan mati produk tersebut, bahkan mungkin mengancam integritas perusahaan. Meskipun berita itu ditolak kebenarannya oleh pihak Sabila, tapi bagi pihak PT Harapan Utama, jika tetap melanjutkan kontrak kerjasama itu, maka perusahaannya juga akan berdampak pada kerugian, mereka tidak mau ambil resiko.

 

         Mizan tidak tenang berdiam diri. Ia memikirkan jalan keluar dengan mulai menyusuri siapa orang-orang di sekeliling Sabila. Ia merasa artikel seperti itu, hanya hadir dari ujung jari orang yang dalam hatinya dipenuhi rasa iri dan dengki.

 

        "Tapi siapa?" tanya Mizan dalam hati.

 

***

          Lagi dan lagi, Sabila dihadapkan pada kondisi yang menguji kesabarannya. Fitnah ini bisa saja menghancurkan hidup dan karirnya jika ia tidak mampu melaluinya. Apalagi sudah berkaitan dengan harga diri dan keluarga.

          Ia merasa tidak mempunyai musuh, karena tidak pernah bersalahpaham dengan orang-orang disekelilingnya. Aiman yang mendengar berita itu, langsung menghubungi adiknya, baginya ini sudah kelewat batas.

 

        "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, jika harus jalur hukum, kita akan tempuh jalur itu," Tukas Aiman dari seberang handphone.

 

         "Saat ini, pihak manajemen juga sedang mencari informasi. bagaimana bisa artikel itu ada dan siapa dalangnya," kata Sabila.

 

         "Abang belum bisa pulang. Proyek di damansara  harus diselesikan dulu," imbuh Aiman "kira-kira sampai minggu depan. Secepatnya abang akan balik ke Jakarta. Stay strong girls. Titip mama juga, jangan sampai mama stress berat," tutur aiman pada adiknya.


         Kemarahan Aiman sangat tergambar dari wajahnya. Pemberitaan yang menyeret nama keluarga sangat menganggu konsentrasinya. Beberapa sejawat juga bertanya-tanya tentang artikel itu.  Ia tahu semua hanya mampu ditepis jika ada bukti kuat untuk mematahkan berita palsu tersebut. Ia akan pastikan, penyebar berita itu menyesali perbuatannya.

 

         "Siapapun kamu, cepat atau lambat, pasti akan ketemu juga," geramnya dengan wajah yang merah padam.

 

           Aiman harus menyelesaikan projek damansara secepatnya, keluarga di tanah air pasti sangat membutukan kehadirannya di samping mereka.

 

          Semenjak kematian ayahnya, Aiman mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pekerjaan yang berjarak jauh dari tanah air, membuat lelaki yang hobi bersepeda itu harus bisa membagi waktu dan prioritas antara keluarga dan pekerjaan.

 

          Lelaki dalam keluarga layaknya nahkoda. Jika ia kuat dengan kemudinya maka selamatlah  penumpangnya. Mengarungi samudera kehidupan dengan berbagai gelombang, memaksa pemimpin pelayaran, harus punya strategi dan kemampuan untuk melewati itu semua.

 

***

           "Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa perbuatan mereka itu membawa akibat buruk bagi kamu, bahkan itu adalah baik bagi kamu. Setiap orang akan mendapat hukuman dari sebab dosa yang dibuatnya itu. Dan siapa yang mengambil bagian terbesar akan mendapat siksaan yang besar pula." (Al-Qur’an Surah  An-Nur :11)

 

Bersambung.

 

Rahasia

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day9

#Jumlahkata536

#Sarkatjadibuku

 

          Apaaa? Tes DNA?" Sabila kaget dengan mata belonya terbelalak.

 

         "Ya, hanya itu pilihan yang ada saat ini. Hmm, kecuali jika telah menemukan dalang artikel itu dan dia klarifikasi bahwa, artikel itu bohong," terang Mbak lestari.

 

           "Bukankah, dengan akta kelahiran sudah cukup  membuktikannya!" ujar Sabila.

 

          "Akta kelahiran dari Dinas Catatan Sipil, enggak akan memberikan pengaruh besar untuk kasus seperti ini," jelas Mbak Lestari lagi.

 

          "Abah sudah meninggal!" kata Sabila dengan suara parau akibat menanahan tangisnya

"mungkin, jika aku tidak berada pada industri ini, masalahnya tak akan serumit ini, orang-orang pun enggak bakal  peduli, aku ini  mau jadi anak siapa, kan?"


           Menanggung beban pikiran, membuat mamanya jatuh sakit, tekanan darahnya naik, dan menjadi susah tidur. Namun ia menolak jika Sabila akan membawanya ke rumah sakit. Sabila berusaha membujuk tapi belum berhasil. Sabila meminta bantuan dr.Amyra untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan pada mamanya dirumah. Ia harus menunggu kondisi mamanya benar-benar stabil untuk menyampaikan maksud pemeriksaan tes DNA itu.


            Ada tamu istemewa datang. Seorang lelaki dengan janggut, brewok dan kumis tipis.  Memakai kaos kerah berwarna cokelat, membawa serangkaian bunga wanginya tercium dari jarak sekian meter. Ia  mengucapkan salam dan membunyikan bel berkali-kali.

 

           Dari arah dapur tampak Bik Nuni berjalan terburu-buru, lalu membukakan pintu.

          "Alhamdulillah, Abang Aiman" Bik Nuni nampak terkejut.

 

          "Assallamu’alaikum Bik Nuni, apa kabar, sehat?"

 

         "Wa’alaikumsallam, iya, bik sehat, Tetapi Ibu yang enggak. Ibu pasti senang lihat Abang Aiman datang"

 

           Setelah mengangkat semua barang masuk. Aiman langsung menuju kamar mama. Ia  mencium tangan wanita itu lalu memberikannya bunga.

 

        Betapa bahagianya ia melihat Aiman, anak lelaki yang sudah 3 bulan berada jauh dari matanya. Aiman bekerja di Kuala Lumpur sejak setahun belakangan, ini kali kedua ia balik ke Indonesia setelah kematian ayahnya. Selain karena kondisi mamanya yang drop, Aiman merasa bertanggung jawab terhadap issue yang sedang menyerang keluarganya.

 

         Tugas abah sepenuhnya berada pada pundak Aiman, sebagai seorang kakak ia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya.

 

         "Abang sudah dengar semuanya, dari berbagai berita, dimedia sosial juga abang ikuti" kata aiman pada Sabila.

 

        "Lalu, menurut abang, apa aku harus melakukan tes DNA itu? Dengan apa? Abah sudah meninggal." Sabila tidak mungkin kita menggali kubur abah hanya untuk menjernihkan nama baikku, nama baik keluarga, nama baik mama, nama baik abah." Sabila menangis.

 

         "Allah takkan beri ujian yang tidak mampu ditanggung hamba-Nya. Cepat atau lambat semua akan sampai pada titik takdirnya. Akan ada jalan menyelesaikan masalah ini. Percaya," tuturnya menenangkan Sabila.

 

          Mizan Nampak menunggu seseorang di sebuah coffe shop, tidak lama kemudian datang seorang lelaki menggunakan topi dan berpakaian gelap. Keduanya berbincang dengan serius. Tanpa sengaja, Shila melihat kedua lelaki itu dan memperhatikannya dari jauh. Namun ia tidak bisa mendengarkan isi pembicaraan mereka. Shila bertambah curiga ketika diakhir pertemuan Mizan memberikan sebuah amplop berisi uang pada lelaki yang wajahnya tidak terlihat jelas, disebabkan topi yang ia pakai.

 

          "Aku harap Kau bisa selesaikan dengan cepat" ucap Mizan.

 

         "Ok," jawab lelaki itu sambil pamit dan berlalu dari coffee shop.

 

         Kondisi Bu Qanita semakin membaik. Ia tidak ingin berlama-lama hanya berbaring di tempat tidur. Memang sejak kematian suaminya, kondisi kesehatannya menjadi sering tidak stabil. Wanita itu memikirkan sesuatu, membuka lemari dan mengambil sebuah kotak yang terbuat dari kayu hitam. Seperti ada yang disembunyikan oleh wanita yang masih nampak cantik itu, meskipun wajahnya mulai menunjukkan garis-garis keriput.

kotak kenangan

0 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day10

#Jumlahkata533

#Sarkatjadibuku

 

          Sabila membawakan segelas teh mint hangat, lalu menyodorkan pada mamanya. Lama wanita itu teremenung "Haruskah hari ini?" lirihnya. Tatapannya seolah jauh bak menembus dimensi lain. Tiba-tiba ia tersadar dengan suara didekatnya. Lamunan yang seketika runtuh terhempas kembali ke ruang nyata, dalam sisi kamar yang didominasi warna putih.

 

         "Ma, coba diminum selagi hangat"

 

         "Terima kasih Nak. Selama ini kamu sangat baik pada mama dan  Abah," ucapnya terharu.

 

         "Itu sudah menjadi tugas kami sebagai anak, melakukan bakti dengan sebaik-baiknya kepada Mama dan Abah,"

 

          "Ada yang ingin mama sampaikan, Padamu dan Aiman,"

 

          "apa yang ingin mama sampaikan padaku?

 

          "Panggilah Ia ke sini, nanti mama akan ceritakan apa yang seharusnya kalian tahu."

 

          Segera Sabila menuju halaman belakang. Ada Aiman di sana. Lelaki yang terpaut setahun lebih dengan Sabila itu, tampak sibuk dengan kelinci peliharaan yang telah berbulan tidak pernah berjumpa. Sabila menyampaikan maksudnya. Adik beradik itu penasaran, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh ibu mereka.

 

          Tidak lama kemudian Wanita berkulit putih itu mulai membuka  kotak berisi sepucuk surat, foto dan beberapa dokumen yang terbungkus rapi di plastik. Bu Qanita perlahan menarik napas panjang, dengan berusaha tegar ia mulai bercerita. Sesekali ia menyeka air mata. Sabila mendengarkan, tanpa berucap sepatah kata. Ini bagai mimpi yang lebih buruk dibanding dengan kejadian tujuh bulan silam saat kematian ayahnya. begitupun Aiman, apa yang ia dengar seperti pisau yang menyayat-nyayat kulit. Sabila tidak pernah menyangka kemunculan artikel palsu itu telah membuka satu rahasia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Kejadian 22 tahun silam terjawab sudah hari ini. Tak ada lagi rahasia. Seolah langit runtuh menimpa. Ia merasa aliran oksigen keparu-paru semakin berat, tubuh Sabila jatuh, ambruk. Kekuatannya hilang seperti debu beterbangan. Aiman tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sedih dan bercampur aduk itu.

 

"Sabila,, Nak...Anakku" panggilnya ia menepuk dan megoyangkan tubuh putrinya itu.


         Tidak ada manusia didunia ini yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim ibu pilihannya sendiri. Tak pernah terlintas pada pikiran setiap anak bahwa kelak nanti ia mendengarkan sebuah pengakuan jika dirinya berasal dari orang tua yang lain.

 

         Beberapa orang tua angkat mempunyai ketakutan dan kekhawatiran sendiri terhadap status anak yang mereka rawat, apabila suatu hari nanti anak yang dibesarkan itu akan marah dan kecewa serta meninggalkan mereka saat mengetahui status diri yang sebenarnya. Bahkan yang mengerikkan adalah jika orang tua itu tetap kukuh menyembunyikan status anak angkat mereka seumur hidup.

 

         Ketika seseorang berniat mengangkat anak untuk diadopsi, sebelumnya ia harus mengerti hukum hakamnya, sehingga dikemudian hari, niat baiknya itu menjadi kebaikan baginya bukan sebaliknya.

 

        Kekhawatiran terbesar adalah tentang nasab anak tersebut. Jika orang tua yang mengadopsi itu tidak memahami, maka bisa jadi ketika anak yang diadopsi adalah perempuan, ayah angkat itu akan melantik dirinya sebagai wali nikah. Padahal ia tidak berhak menjadi walinya. Dengan berbuat begitu ia telah menanggung dosa atas sebuah pernikahan yang statusnya secara islam tidak sah dan itu akan menjadi zina seumur hidup  bagi pasangan itu. Itulah mengapa islam dengan indah mengatur semua lini kehidupan. Semua ada aturannya dan semua indah dengan pengaturannya.


         "Telah ku sampaikan semuanya, amanatmu yang tersimpan," bisik wanita itu.

 

         Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)” (Al-Qur’an Surah Al-Ahzaab: 4).


 

 

titipan berharga

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day11

#Jumlahkata584

#Sarkatjadibuku

Terbatas Garis Takdir

 

Desember 1998

 

          Krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia pada tahun 1997-1998 sebagai akibat dari krisis finansial Asia yang awalnya bermula di Thailand pada Juli 1997. Saat itu Pemerintahan Thailand memutuskan untuk menghapus kebijakan nilai tukar mata uang tetap dan membiarkan mata uang Thailand, Baht, untuk diperdagangkan secara bebas di pasar mata uang. Hal ini kemudian menyebabkan Baht mengalami devaluasi besar-besaran.

 

          Kondisi itu menyebabkan jatuhnya mata uang Baht, sehingga memberikan dampak yang sangat besar di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara. Akibatnya  negara- negara di kawasan ini termasuk Indonesia ikut masuk dalam pusaran krisis  finansial. Krisis tersebut memberikan dampak terhadap para pebisnis dan investor ditanah air, banyak dari mereka yang mengalami kerugian.


           Hal serupa juga dirasakan oleh Nukman Ibrahim dan istrinya. kehidupan dalam krisis yang mencekam banyak manusia, membuat setiap orang berusaha untuk survive.

 

           Nafisah Usman baru saja melahirkan anak kedua yang diberi nama Sabila Ibrahim. Dibawah pengasuhannya Sabila dan Aiman tumbuh dengan baik dalam dekapan hangat keluarga. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ketika Nukman mendapatkan tawaran serta bantuan dari sahabatnya dan meminta lelaki itu bekerja sama dibidang perdagangan multinasional yang Berada di Turki.


            Setelah perbincangan antara kedua suami istri itu didapatkan kesepakatan mereka akan menerima penawaran tersebut. Nukman  menemui Ali Hisyam yang merupakan Sepupunya. Orang tua keduanya adalah saudara seayah namun berbeda ibu.

 

           "Cantik sekali putrimu, akhirnya bisa bertemu langsung," ungkap Qanita memuji Sabila yang masih bayi.

 

           "Dia sangat mirip dengan Ibunya" imbuh Nukman.

 

          "Aiman juga sangat mirip kakeknya, lihat mata dan bentuk wajahnya yang oval, persis kan? ujar Qanita, yang duduk sambil memangku Aiman.

          "Lalu bagaimana, Bang Nukman jadi ke Turki?" tanya Ali.

 

          "Kondisi krisis seperti ini, ada yang menawarkan bantuan," jawab Nukman "ya, hanya itu pilihan yang ada,"

 

          "Bagaimana dengan anak-anak?" Qanita menimpali.

 

          "Aku hanya punya satu saudara sedarah, hanya Ali," tutur Nukman lalu terdiam sejenak.

 

          Nukman dan Ali keduanya merupakan saudara sepupu. Keduanya merupakan cucu dari Pak Syarifuddin. Meskipun keduanya berpisah sejak SMA tetapi hubungan keduanya tetap erat.

 

         "Tidak ada orang lain yang bisa kami percaya untuk menjaga keduanya selama kami di Turki, untuk membawa mereka kesana sangat beresiko, apalagi Sabila dan aiman masih sangat kecil khawatir mereka berdua belum bisa beradaptasi dengan negara empat musim itu." jelas Nukman lagi.

 

         "Insya Allah tak sampai setahun, setelah dipastikan semua berjalan lancar disana, kami akan kembali dan membawa mereka bersama kami nantinya," sambung Nafisah dengan mata berkaca-kaca.


         Perbincangan dua pasang suami istri yang penuh keakraban. Selesai menikmati makan siang bersama, terlihat Nukman dan Ali berbicara serius di ruang tamu.

 

        "Simpanlah," Nukman menyodorkan satu kotak kayu.

 

        "Apa ini?" tanya Ali.

 

       "Kita tidak pernah tahu situasi kedepan akan seperti apa." Nukman membuka kotak itu "foto, dokumen dan surat wasiat. Sebulan lalu, kami telah melakukan tes DNA. Hasilnya ada dalam dokumen ini" jelasnya.

 

           Nukman memang mengambil keputusan yang berat untuk kebaikan keluarganya, dan menaruh harapan kepada Ali saudara sepupunya itu.

 

           Kebahagiaan paling terlihat dari wajah Qanita. Betapa tidak, sebentar lagi di rumahnya akan terdengar suara anak kecil. Lama ia merindukan suara bayi, suara renggekan, gelak tawa dan hal lainnya tentang anak. Namun semua itu telah dia pasrahkan  setelah dua tahun  lalu keadaan memaksanya untuk menjalani operasi penganggkatan rahim setelah perdarahan hebat pasca melahirkan, ia mengalami HPP ( Hemoragic Postpartum). Pilu hatinya. Tak hanya itu, dua bulan setelahnya, ia harus kembali mengikhlaskan putrinya yang mengalami gagal nafas diakibatkan Pneumonia.

 

          Paket ujian datang silih berganti yang membuatnya mengalami depresi. Suaminya menjadi penopang dimasa-masa sulit,  menemani selama ia menjalani terapi pada Psikiater. Lelaki yang selalu memberikan dukungan sehingga ia benar-benar pulih, setelah hampir setahun batin dan pikirannya saling bergolak berusaha berdamai dengan segala Takdir-Nya.

 

.

 

Agustus dalam duka

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day12

#Jumlahkata519

#Sarkatjadibuku

 

April 1999

 

         Langit Jakarta pagi ini tidak secerah biasanya. Cakrawalanya seakan turut merasakan kegundahan dan kesedihan di hati suami istri itu. Sabila dalam gendongan juga merasakan hal yang sama bahwa, ia akan berpisah dengan orang tuanya. Keputusan dan persiapan keduanya telah matang. 

 

        Hari ini, mereka akan terbang ke Turki. Sabila yang berusia 5 bulan dan Aiman berusia 1 tahun 4 bulan  dititipkan kepada Ali dan Qanita.

 

        "Semoga Allah menjaga kalian pergi dan kembali nantinya," ucap Ali.

 

        "Aamiin, semoga Allah membalas kebaikanmu saudaraku," bisik Nukman memeluk Ali.

 

          Perpisahan dipenuhi air mata itu, tidak bisa dihindari. Pesawat yang ditumpangi Nukman dan Nafisah meninggalkan landasannya, membawa mereka menuju kota Muhammad Al Fatih.

 

Juni 1999

 

           Turki adalah salah satu Negara Transkontinental  karena berada pada Negara lintas benua.  Wilayahnya terbentang dari semenanjung Anatolia di Asia barat daya, hingga daerah Balkan di Eropa Tenggara.

        

           Dua bulan di Turki tepatnya di izmit. Keduanya berusaha beradaptasi dengan baik dengan segala aktivitas. Sebulan ini Nukman sibuk dengan pekerjaan di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang elektronik. Nafisah juga turut mengambil bagian membantu pengembangan usaha itu. Di waktu luang baik Nukman Ataupun Nafisah akan bertanya dan  bertukar kabar kepada keluarga Ali di Jakarta.

 

           Sabila dan Aiman nampak telah beradaptasi dengan Paman dan Bibinya. Keduanya begitu disayangi seperti anak sendiri. Tak berkurang kasih sayang yang diberikan oleh Ali dan Qanita. Apalagi Qanita yang memang sangat menginginkan kehadiran anak-anak dalam dekapannya. Ia benar-benar mensyukuri keberadaan mereka. Bagai hadiah tak terduga yang menjadi jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan selama ini.



Agustus 1999

 

           Gadis kecil itu menangis sepanjang malam. Ia sangat gelisah. Qanita memberikan dot susu tapi ia tidak mau meminumnya. Qanita mengecek suhu badan Sabila  tapi temperaturnya dalam batas normal, lalu mengecek popok tapi tak ditemukan sesuatu di sana. Qanita berusaha menenangkan Sabila, hingga bayi itu tertidur dalam pelukannya.

 

         "Firasatku tak baik, tidak biasanya ia menangis seperti ini," lirihnya sambil memandang gadis kecil itu.

 

          Keesokan paginya Tepat tanggal 17 Agustus Pukul 03.01 waktu Turki terjadi gempa berkekuatan 7,4 Skala richter yang menewaskan kurang lebih 17.000 jiwa yang berada di sana dan begitu banyak korban luka. gedung-gedung luluh lantak dan begitu banyak penduduk yang kehilangan tempat tinggal.

 

          Berita duka itu bertepatan dengan hari proklamasi Indonesia ke 54th.  Beberapa hari kemudian Kedutaan Indonesia merilis sejumlah nama warganya yang menjadi korban . Nama Nukman Ibrahim dan Nafisah Usman juga termasuk dalam daftar korban gempa tersebut.

 

           Kesedihan sangat terasa pada Ali dan keluarganya. Remuk hati mereka dengan berita itu. Apalagi ketika melihat Sabila dan Aiman yang menjadi yatim piatu di usia mereka yang belum memahami dunia.

 

          "Akan kami jaga amanah ini," janji Ali sambil memeluk Aiman.


Februari  2000


         Ali Hisyam memboyong keluarganya pindah ke Yogyakarta setelah mutasi kerja dari Kantor pusat pajak Jakarta. Ia juga membuat akta baru untuk Sabila dan Aiman sehingga keduanya memiliki status hukum sebagai anaknya.

 

       "Kita akan memulai kehidupan baru disini," ucap Ali.

 

       Lalu Qanita dengan air mata haru berujar "Bersama dua cahaya mata ini."

***

      "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan apabila Allah cinta pada suatu kaum dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barang siapa yang murka maka baginya murka-Nya Allah (HR. Tirmidzi)

 

 

Terkuak

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day13

#Jumlahkata719

#Sarkatjadibuku

                                                       

          Pemberitaan terus bergulir dimedia sosial, saling reetwet di twitter, unggahan di instagram, hingga  rentetan broadcast di whatsapp.  Sehingga opini makin berkembang. Para penjajal berita makin suka jika artikel-artikel itu menjadi hot news, artinya pundi-pundi rupiah mereka kian berisi.

 

          Sabila tersadar. Ia tidak bisa menahan perasaan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana campur aduknya kesedihan, kecewa dan marahnya pada keadaan. Lalu tiba-tiba isak tangisnya  pecah, menangisi kedua orang tua yang tidak ia kenal rupanya seperti apa.

 

           Melalui  beberapa hari yang sulit ini, membuat Sabila harus menggumpulkan energinya, mencari kembali puing-puing semangat dan mengendalikan pikirannya bahwa, ini hanya bagian yang harus ia lalui dalam babak hidupnya. Semua akan baik-baik saja pikirnya. biarlah hati yang remuk ini menemukan sembuh dengan cara-Nya.

 

          "Duhai Yang Maha Pengasih, Segala Puji bagi-Mu, bahkan hamba-Mu ini tidak tahu harus berdoa seperti apa, satu yang aku pasti, sembuh. Itu saja" ucapnya lirih dalam doa.

 

            Keputusan telah diambil, Sabila dan Aiman akan melakukan tes DNA bersama Ibunya. Test DNA memakan waktu  lebih dari 48 jam. Meskipun mereka telah mengetahui hasil akhirnya seperti apa. Namun hasil test itu diperlukan untuk kelengkapan dokumen saat konfrensi press nantinya.  

 

            Ada rasa lega akan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu, bagaimana memposisikan keadaan itu dalam hatinya.

 

                  ***

           Penyelidikan oleh Mizan yang dibantu seseorang ahli IT, pada  akhirnya membuahkan hasil. Mizan menemukan siapa penyebar artikel palsu itu. Akun tersebut adalah milik Alissa, selebriti baru yang berada dalam satu managemen dengan Sabila. Rasa iri Alissa terhadap  Sabila karena lebih berjaya dibandingkan dengannya. Beberapa projek yang ia inginkan tidak menjadi miliknya. Terutama terkait menjadi brandssador dari PT Harapan Utama.

 

           Beberapa bukti terkait penyebaran artikel itu Mizan  serahkan kepada green management sebagai bahan penyelidikan lanjutan. Di tempat lain, ada pihak yang berbahagia dengan artikel yang berhasil menarik perhatian banyak publik tersebut. Siapa lagi kalau bukan pemilik PT Prima Karya, Kamal Dira. Ia merasa tidak perlu membuang banyak energi untuk menjatuhkan Sabila, karena ternyata ada orang lain yang telah memulai pekerjaan itu.

           Sebagai Pemilik dan pendiri Green Managemen, Lestari  tidak menyangka hal ini akan terjadi dalam satu wadah selebriti yang dinaunginya. Ia dan staff akan mengadakan konfrensi pers menjernihkan semua persoalan yang dihadapi artis naungannya. Mungkin jika bukan Sabila, Alissa pasti sudah mendekam dalam penjara akibat perbuatannya itu. Kebesaran hati membawa Sabila memaafkan tindakan Alissa tersebut. Namun Sebagai hukumannya,  Lestari memutuskan kontrak dengan Alissa dan mengeluarkannya dari Green Management.

          "Permintaan Maaf kami, selaku Green Managemet, atas segala kericuhan yang terjadi  belakangan ini, diberbagai media yang mencemarkan nama artis kami Sabila," tutur Lestari    "adapun artikel itu, adalah satu kebohongan. Kami selaku pihak Sabila menolak pernyataan yang dimuat dalam artikel tersebut," imbuhnya lagi kepada para wartawan sambil menunjukkan bukti yang ia dapatkan dari Mizan.

           "Jika artikel tersebut palsu, apakah bermaksud bahwa Sabila juga anak kandung dari Alm.Bpk Ali Hisyam dan Ibu Qanita?" tanya wartawan dari Harian Cari Tahu. Com.

 

           Sabila mengambil alih untuk menjawabnya, tampil dengan senyum terbaik dihadapan publik, ini kali pertama ia menampakkan dirinya setelah seminggu menghilang dari sorotan kamera, bak ditelan bumi.

 

           Sabila memohon maaf atas ketidaknyamanan banyak pihak. Ia berusaha bersikap tenang. Lalu perlahan ia membuka pembicaraan didepan publik. Sorot kamera berfokus padanya. Satu per satu ia ungkapkan. Terkadang terdengar suaranya bergetar karena menahan tangis agar tidak pecah. Sesekali ia harus berdiam sejenak. Namun ia tetap meneruskan klarifikasi dan peryataan.

 

         "Sebelum ini, Aku tak bisa membela diri, karena percuma tanpa ada bukti. Meskipun Aku tahu ini semua hanya fitnah," kata Sabila dengan suara tegas.

 

         "Kalian tahu, apa yang lebih perih dari fitnah ini?" tanya Sabila, kali ini dengan derai air mata "aku harus menerima kenyataan, Aku tidak terlahir dari rahim Ibu yang selalu ada depan mataku. Aku juga harus merelakan bahwa kedua orang tuaku, tidak bisa lagi aku jumpai dalam kehidupan ini."

 

           Keperihan itu terlihat dari ekspresinya. Bagaimana tidak, ia harus menerima dua kenyataan sekaligus yang menyakitkan.

 

          "Terima kasih atas perhatian teman-teman semua, atas dukungan dan doa selama bergulirnya masalah ini. Aku telah memaafkan siapa yang patut menerima kata maaf itu," ungkap Sabila yang duduk didampingi Shila "setelah ini kami berharap masalah ini bisa selesai, tanpa ada yang menyudutkan pihak manapun." Sabila mengakhiri klarifikasi dan menutup konfrensi pers itu.

 

          Ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan lebih jauh lagi. Fitnah itu membawanya pada rahasia yang tersimpan lama. Kesedihan itu pasti ada. Namun ia tidak mengingkari ada setitik syukur yang harus ia langitkan dari kenyataan pahit yang terungkap.

 

 

Hutang Nyawa

1 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day14

#Jumlahkata506

#Sarkatjadibuku

    

            "Alhamdulillah," ungkapnya  pada pemilik semesta.

 

           Kegembiraan belum lama dirasakan tiba-tiba berubah. Kamal Dira tidak menyangka apa yang ia lihat di siaran televisi sore itu, pernyataan yang dilontarkan Sabila dihadapan pers membuatnya terkejut.

 

         “Nukman Ibrahim?? Sabila anak mereka?" Kamal Dira terperanjat.

 

          “Jadi selama ini...,” katanya terbata.

 

           Penyesalan memenuhi ruang hatinya. Seperti menyayat kulit sendiri. Lelaki itu pernah memberi hutang nyawa kepadanya. Kecelakaan menyebabkan ia kehilangan banyak darah. Nukman Ibrahim saat itu berada di sana. Ia melihat kepanikan istri Kamal Dira yang sedang mengandung, begitu nampak kesedihan di wajahnya. Wanita itu menelepon berulang-ulang, entah kepada siapa saja orang yang dikenalnya, untuk mencari empat kantong darah pertama, dimasa-masa kritis kehidupan suaminya.

 

            Nukman Ibrahim dengan rasa kemanusiaan dan tulus hati menawarkan darahnya. Semenjak kejadian itu, mereka jadi saling mengenal. Ia juga  menjadi yang berkontribusi di masa awal bisnis rumah produksi PH Prima Karya, 27 tahun silam. Perjalanan jatuh bangun dalam bisnis bersama, makin mempererat tali persahabatan keduanya. Berjalan dua tahun rumah produksi itu mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Namun Nukman beralih pada bidang bisnis lainnya, perusahaan multinasional.

 

            Pintu rezeki keduanya mengalir deras. Bisnis  yang dirintis menancapkan kukunya hingga ke posisi yang diperhitungkan. Usaha yang semakin besar, sehingga kesibukan  menyita waktu yang berujung pada loss contact.

 

              Kamal Dira mendapat kabar terakhir tentang Nukman saat pemberitaan gempa Izmit tahun 1999. Ia tidak menyangka tidak akan bisa berjumpa lagi dengan lelaki berhati mulia itu, yang telah menjadi malaikat penyelamat yang Allah kirimkan untuknya.

 

               Hampir saja ia menanam penyesalan seumur hidup.  Rencana yang telah is susun untuk menghambat karir Sabila, harus ia hentikan setelah melihat konfrensi pers Sabila.

***

          "Awalnya aku marah, perih yang mendidih. Namun Allah punya cara menyembuhkanku dan ini lebih cepat dari yang aku duga." Tulis Sabila dalam  Whatsapp story.

 

           Selesai Konfrensi pers, Sabila menuju jalan pulang, ada banyak hal yang ingin ia ketahui tentang orang tua yang menjadi pintu penghantarnya ke dunia. Ia  tak sabar ingin  menemui wanita yang selama ini merawat dan membesarkannya. Rasa campur aduk itu telah ia ramu menjadi sebuah harapan untuk lebih membahagiakan Wanita yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Belum juga ia masuk kedalam rumah, ia dikejutkan dengan sebuah kotak yang terparkir rapi depan teras rumahnya. Kotak biru yang dialamatkan untuknya.

           “Perasaan aku tak order barang. mungkin salah alamat, Tapi, alamat dan  nama yang ditujupun sesuai namaku!” Sabila bingung dengan kotak biru penuh misteri itu.

***

            Di zaman era digital yang penuh fitnah, betapa sukarnya menahan diri untuk tidak ikut dalam putaran ghibah hingga Fitnah. Jika orang-orang terdahulu melakukan penyebaran berita hanya dari mulut-ke mulut, dan tidak luas jangkauannya. Berbeda dengan hari ini. Berada pada zaman yang semua ada dalam satu genggaman, lalu dengan ujung jari, siapa saja dengan mudahnya masuk dalam arus putarannya. Sekejap satu berita yang belum pasti kebenarannya, meluas. Lalu dengan itu seseorang sadar atau tidak dengan bangga, bak memakan bangkai saudaranya.

            "Ingatlah Ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu mengangapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar". (Al-Quran Surah An Nur : 15)

 

 

kado biru dan hakikat rezeki

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day15

#Jumlahkata545

#Sarkatjadibuku

 

              Manusia tidak pernah tahu, tentang apa yang akan terjadi esok dalam hidupnya, karena masa depan sifatnya rahasia. Tidak ada yang mampu menerobos tembok itu, sebelum harinya tiba. Episode rahasia perjalanan setiap manusia tidak ada yang bisa menebak.

 

            Ketika suatu peristiwa menimpa, janganlah langsung berburuk sangka terhadap-Nya. Bisa jadi sesuatu yang dianggap buruk itulah yang mengantarkan pada tangga demi tangga menuju kebaikan. Karena boleh jadi seseorang menyukai sesuatu padahal, ia buruk baginya, begitupun sebaliknya.

 

            Seminggu belakangan ini, aroma kopi akan sering tercium setiap paginya. Mungkin, disebabkan mesin pembuat kopi yang dengan tiba-tiba muncul, dalam balutan kado berwarna biru diteras rumah kala itu. Bingkisan tanpa nama pengirim yang dialamatkan untuknya. Entahlah siapa yang telah mengirimkan hadiah yang jauh dari kesan romantik itu. Namun kesannya jadi berbeda.

 

              "Mesin kopi?" Sabila bertanya-tanya lalu tersenyum tersipu malu hingga pipinya tampak merona "dari banyakknya yang bisa dijadikan hadiah ,kenapa Mesin kopi? Kopi? Lalu tanpa identitas pengirim. Hmmmm, siapa ya?" pikirnya lagi.

 

              Sabila memiliki teka teki baru untuk menemukan siapa penganggum misterinya itu. Apakah Fans, atau lebih dari itu. Ia sudah menanyakan pada Bik Nuni, barangkali sempat melihat seseorang yang menaruh kotak itu di teras depan, tapi Bik Nuni tidak mengetahui juga siapa yang telah mengirimkan kado biru tersebut

.

***

              Banyak orang bilang menjadi selebriti itu menyenangkan, banyak uang, terkenal, apa saja mudah didapat, punya barang-barang branded, bisa kemana saja dan berbagai keinginan lainnya. Namun mereka lupa bahwa sesuatu yang menyenangkan itu tidak didapat dengan mudahnya, jalan terjal berliku adalah medan yang harus ditempuh. Orang-orang selalu hanya melihat yang enaknya saja tanpa tahu resiko dan kepayahan di baliknya. Berapa banyak waktu tidur yang hilang? berapa banyak waktu bersama keluarga yang tergadaikan?  Mereka menukar semua itu dengan hasil yang hanya dilihat orang dari satu sisi saja, menyenangkan. Padahal ada harga mahal setiap pengorbanan yang mereka bayar  untuk mencapai semua itu.              

            Belum lagi serentetan cobaan lainnya seperti bully, hina hingga Fitnah yang datang silih berganti sepanjang berada di entertaiment. Ibarat belum reda angin bertiup, badai topan turut menghantam.

 

           “Orang-orang hanya tahu enaknya saja, dia enggak tahu hidup kita ini semua serba dipangkas” celetuk shila.

 

          “Pangkas waktu, pangkas tidur, Pangkas kebebasan, pokoknya semua terpangkas” sambung Sabila dari  balik fitting room.

 

           “Hahaha." Shila menyambutnya dengan tertawa.

 

           "Cukuplah, kita yang tahu bagaimana rasanya,, biarlah mereka tahu bagian yang menyenangkan saja," sambar Sabila diikuti tawa khasnya.

 

           Sebagai manager, Shila telah menemani Sabila selama dua tahun di entertaiment, sehingga ia sangat memahami situasi yang dilalui oleh Sabila sepanjang karirnya.

 

           Ketika PT Harapan utama membatalkan kontrak sepihak terhadapnya maka, bermakna rezeki Sabila tidak ada disana. Beberapa pihak menyalahkan kejadian artikel palsu tersebut, namun baginya, justru itu rezeki dalam bentuk lain untuknya. Rezeki yang tidak bisa dibeli dengan apapun, karena telah membuka sebuah cerita yang tersimpan rapi dan rahasia selama ini.

           Bagi Sabila, hakikat rezeki memang sudah di atur oleh Allah. Besar maupun kecil tidak akan kurang maupun lebih, semua sesuai takaran yang sudah ditentukan-Nya. Saat sesuatu terlepas dari genggaman manusia maka, pastilah ia bukan bagian dari rezekinya, karena rezeki itu akan mencari di manapun tuannya berada.

           Semenjak konfrensi pers yang digelar hari itu, nama Sabila makin sering dibicarakan. Kata orang semacam aji mumpung. Maksud hati menjatuhkan, tapi kenyataan malah naik daun. Dunia entertainment dengan segala pernak pernik dan kepelikannya, menjdikan ia dunia bentuk lain yang penuh kontroversi dan rahasia.

 

Ketika kebaikan dibawa mati

0 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day16

#Jumlahkata530

#Sarkatjadibuku

         

            Kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya, bak perigi yang takkan pernah kering, mengalir dan memberi kebermanfaatannya lagi dan lagi.

***

 

          "Permisi Mbak Sabila, ada yang ingin bertemu," kata seorang staf Green Management.

 

           "Ohh ya, siapa? sudah ada janji sebelumnya? tanya Sabila.

 

           "Kurang tahu Mbak, untuk yang itu coba tanyakan pada Shila" jawab staf itu lagi.

 

           "Oke, terima kasih," ucap Sabila kemudian menuju ke ruangan Shila.

 

            Sabila meminta manager sekaligus personal assisten-nya itu mengecek jadwal dan pertemuannya, tidak ada janji dengan pihak manapun. Jadwal yang telah masuk list agenda hanya pemotretan dan meeting internal saja.

 

            Terkejutnya ia ketika mendapati lelaki itu yang menunggu. Sabila tidak menyangka sekelas direktur utama seperti Pak Kamal Dira datang menemuinya, biasanya lelaki itu hanya mengirim utusan sebagai perwakilan. Tapi kali ini situasinya berbeda.

 

           "Entah angin apa yang telah menerbangkannya ke ruang ini," gumamnya.

 

          "Assallamu’alaikum, Pak Kamal. Ada apa ya?" tanya Sabila curiga."jika bukan sesuatu yang sangat penting, aku yakin Bapak tidak akan sampai kesini, kan?" imbuhnya.

 

           Beberapa saat Kamal Dira menatapnya, membuat wanita itu menjadi kikuk. Lelaki yang telah nampak uban di sebagian kepalanya, masih terlihat gagah dengan balutan jas berwarna abu. Wajahnya berubah, matanya berkaca-kaca seolah ada Sesuatu yang ingin dia sampaikan.

 

          "Wa’alaikumsallam, Sabila," jawab Kamal Dira "atas apa yang berlaku sebelum ini, Bapak benar-benar mohon maaf," pintanya.

 

           "Sebenarnya ini ada apa? hingga bapak tiba-tiba datang dan memohon maaf!" Sabila bingung dengan sikap Pak Kamal.

 

             Pada kematian yang tidak mampu menutup dan memutus segala kebaikan insan ketika hidupnya, adalah kondisi yang diharapkan, di saat raga tak lagi mampu merubah apapun.

 

            Pak Kamal Dira mulai membuka kisah lama antara ia dan Ayah kandung Sabila, Nukman Ibrahim. Ia bercerita awal pertemuan mereka hingga membangun bisnis bersama. Dari cara pak kamal dira berbicara  Sabila dapat merasakan betapa Ayahnya dulu adalah seseorang yang begitu baik dengan orang lain. Betapa tidak, hingga jasanya kini masih dikenang , bahkan oleh seorang seperti Pak Kamal Dira yang terkenal keras dan sedikit angkuh itu.

 

           "Tak perlu meminta maaf Pak, Bapak tidak salah" sergahnya.

 

           "Kamu memang seperti Ayahmu, selalu rendah hati," ungkap Pak Kamal Dira " sekarang Bapak paham, mengapa kamu punya prinsip kuat yang sangat kamu pertahankan itu."

 

           "Bapak Terlalu memuji. Namun dengan apa yang Pak Kamal ceritakan hari ini tentang Ayah, membuatku bangga padanya. Pak Kamal Terima kasih" ucap Sabila sambil tersenyum.

 

             Selain datang dengan maksud meminta maaf, Kamal Dira hendak membalas kebaikan budi Sahabatny. Ia menawarkan beberapa kontrak kerja pada Sabila yang semua isi kontraknya sudah di atur sedemikian rupa seperti apa yang pernah Sabila minta sebelumnya,    tetapi  permintaan terakhir dari pemilik PH Prima Karya itu yang membuat Sabila lebih terkejut lagi, ia akan melamar Sabila untuk putra tunggalnya, Syafiq Izzad sang pewaris kekayaan.

 

              Pemeran Riana itu, agak rumit juga memikirkan. Betapa seseorang dengan cepat berubah ketika berhadapan dengan hutang budi di masa lalu. Tetapi menurutnya ini bukanlah caranya.

 

               Hutang budi memang akan dibawa mati, bahkan hingga telah tiada, ia bisa diturunkan ke generasi berikutnya untuk membalas setiap kebaikan yang pernah diperoleh.

***

              "Seandainya Kalian bertawakal kepada Allah, dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya ia pulang dalam keadaan kenyang." (HR, Tirmidzi)

 

 

Maaf dari masa lalu

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day17

#Jumlahkata580

#Sarkatjadibuku

      

           Hanya yang  berani memulai yang akan tahu, seperti apa jalannya. Hanya yang berani mencoba yang tahu, bagaimana rasa menang dan kalah .Hanya yang mau berjuang yang nantinya, akan sampai pada tujuan.

***

           Perbincangan panjang siang itu, tidak mampu merubah keputusan Sabila. Kontrak kerja yang ditawarkan Kamal Dira, dengan berat hati ditolak olehnya. Bagi Sabila, cukuplah kebaikan yang pernah Ayahnya lakukan dahulu, semoga menjadi asbab yang dengan izin-Nya, sebagai pemberat timbangan lelaki yang tak pernah ia lihat wajahnya itu. baginya menerima tawaran kerja tersebut, bagaikan hidup di bawah bayang-bayang hutang budi Kamal Dira terhadap Ayahnya.

 

            Lalu permintaan terakhir, untung saja tak ada perjanjian antara Pak Kamal Dira dan Ayahnya, seperti cerita-cerita perjodohan dalam drama-drama Melayu. Mungkin bagi beberapa wanita, ketika ditawarkan untuk menikah dengan lelaki pewaris tunggal kekayaan keluarga, tidak perlu berpikir lama untuk mengatakan, ya. Tapi tidak bagi wanita yang berpendirian teguh, seperti Sabila.

 

           Kamal Dira sepertinya salah orang. Ia menyangka kekayaan yang akan dia wariskan nanti kepada putranya itu, bisa menyilaukan mata semua wanita. Terlebih lagi wanita itu Sabila.

 

          "Mungkin Pak Kamal Salah orang, kedua tawaran itu, tidak bisa aku terima," kata Sabila.

 

          "Coba dulu berkenalan, siapa tau ada arah ke sana, kan?" tawar Pak Kamal dira.

 

          "Ada hal yang bisa dicoba, namun ada yang tidak. ini soal hati, Pak," ungkapnya "semoga Pak Kamal mau memahamiku kali ini. Aku akan sangat berterimakasih jika, Bapak berhenti  memaksa permintaan itu," pinta Sabila lagi.

 

            Sampai di sini, Kamal Dira memahami jika, ia terus menyodorkan permintaannya maka, Sabila akan lebih menjauh dan membuat jarak dengannya, sehingga kecil kemungkinan untuk ia menyatukan Syafiq dan Sabila nantinya.

 

             Terkait persoalan hati dan jodoh ini memang misteri, ia mempunyai alur jalan yang rumit untuk memilih. Namun Yang Mahacinta itu, telah mengatur setiap tahap demi tahap bagi insan yang yakin bahwa,  hanya dengan jalan dan cara yang baik maka, akan mendapatkan ridho dan berkah-Nya.

 

***

             Syafiq Izzad, putra tunggal Kamal Dira. Lelaki 29 tahun dengan penampilan rapi, sederhana namun tidak bisa menutupi aura dirinya yang memang memesona. Ia seorang dokter bedah saraf, lulusan Ege University Turki. Ini menginjak tahun pertama ia bertugas di salah satu Rumah Sakit swasta di kawasan Semanggi Jakarta.

 

            Ketertarikan Syafiq pada dunia medis, berawal dari rasa simpatinya melihat para korban perang dan jajahan, di tanah Al-Quds. Kisah pilu yang terus berlarut, bak film yang dibentangkan kepada khalayak. Memperlihatkan betapa bengis tak berperikemanusiaan, para penjajah yang berlindung dibalik seragam negara itu. Berapa banyak anak-anak, telah membayar dengan harga yang mahal, sebagai akibat kekejaman tirani tanpa nurani.

 

             Negeri last khilafah, sang kota tangguh yang sebelum penaklukkannya bernama Konstantinopel itu, memang memiliki daya tarik tersendiri. Syafiq memilih Turki sebagai tempat menuntut ilmu, karena dia menyukai suasana di sana, jika dibandingkan suasana di Amerika ataupun di Inggris. Selain beberapa hal itu, ia memang sudah menempatkan Ege University sebagai universitas pertama dalam daftar pilihannya

 

          Universitas tersebut adalah unggulan di Turki yang letaknya berdiri di kota Izmir sejak Mei 1955. Pada masa awal pembukaan universitas ini, hanya tersedia 2 fakultas yakni, kedokteran dan pertanian, hingga kini telah berkembang menjadi 17 fakultas dengan 37 pusat aplikasi dan penelitian dan menjadi universitas nomor wahid di Turki untuk jurusan kedokteran.

 

            Syafiq memiliki latar kehidupan yang berbeda dengan Sang ayah, ia lebih tertarik dalam aksi sosial kemanusiaan. Itu sebabnya dia lebih memilih menjadi seorang dokter dibandingkan menjadi seorang pengusaha seperti permintaan Ayahnya.

 

            "Maaf, Ayah. Aku tidak langsung balik. Selesai shift, langsung ke RSCM." Pesan yang ia hantar pada Kamal Dira.

 

            "Tak habis-habis dengan kerja kemanusiaannya itu," gerutu Kamal Dira sembari menyeruput segelas kopi.

 

 

jauh dari layak

0 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day18

#Jumlahkata552

#Sarkatjadibuku

       

          Kamal Dira tetap dengan keinginannya untuk memperkenalkan Syafiq dengan anak mendiang sahabatnya, Sabila.

 

         "Besok pagi, kamu ada jadwal kosong, kan?" tanya Ayahnya dengan pandangan tajam.

 

          Syafiq nampak berpikir, mengingat-ingat sesuatu "Nanti, aku cek dulu ya, Ayah,"

 

          "Ayah tidak mau tahu, besok kamu harus menemui seseorang, ayah tidak mau mendengar alasan," jelas Ayahnya tegas dengan nada otoriter.

***

          Mizan dilema, apakah perasaannya pada Sabila adalah sebuah cinta, ataukah sebuah rasa yang datang menyapa lalu akan berlalu seiring waktu?. Hampir 2 tahun Mizan mengenal Sabila di dunia entertaiment, sehingga ia tahu bagaimana sifat luaran wanita itu.

 

         “Tipe lelaki seperti apa ya, yang dia impikan?" gumam Mizan.

 

         “Seperti kamu,” celetuk Ibunya dari belakang.

 

         “Ehh, Ibu,” katanya dengan malu-malu.

 

         “Dia tahu enggak, kalau kamu suka?" tanya Ibu Aida "biasanya sih, wanita sukanya dengan lelaki yang berani, gentleman. Kalau kebanyakan diam, jangan nyesel ada yang masuk melamar duluan,” Ibu Aida menggoda anaknya.

 

          “Ibu kenal Sabila, kan!"  serunya.

 

           “Kenal dari layar kaca. waktu itu, kan kamu ada project satu drama dengan dia," ujar Ibu Aida "itu dramanya kapan tayang?" tanya Ibu Aida, lagi lagi menggoda anaknya.

 

          “Menurut ibu, apa yang patut aku lakukan saat ini?" tanya mizan meminta saran.

 

          “Pastikan dia belum ada ikatan apa-apa dengan lelaki lain, jika tidak ada, coba sholat Istikhara. Biar ada petunjuk. Kamu paham maksud ibu?" tanya Ibunya kali ini serius.

 

          “Ya ya." Mizan mengangguk tanda mengerti.

 

          Mizan memang buka tipe lelaki romantis. Sebelum ini, ia pernah menghantar kado biru misteri ke depan rumah Sabila. Bentuk hadiahnya pun entahlah, dia dapat ide dari mana. Tapi yang ia tahu kopi dan mesin kopi adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena mesin kopi sampai kapanpun takkan bisa menghasilkan hal lain selain cairan kopi itu sendiri. Baginya, ia seperti bijikopi, keras, dan penuh rahasia. Biji Kopi hanya akan menjadi nikmat ketika ia telah melalui prosesnya. Nampaknya Mizan mempunyai filosofi kopi tersendiri menurut versinya.

 

            Selebriti sekelas Mizan pasti banyak diimpikan wanita diluar sana, bukan? Kaya, tampan, perhatian, bersih, rapi, disiplin tinggi, pokoknya perfeksionis  kata warga net. Meskipun, jauh dari romantis. Barangakali karena terlalu perfeksionis inilah hingga kini ia masih belum menemukan wanita yang cocok untuknya.

 

           Memilih adalah satu keniscayaan, sebab yang dicari bukanlah sebuah barang. Namun seseorang yang bisa menerima segala ketiadaan pada diri seseorang.

 

            Ia sadar, dirinya bukanlah tipikal seorang lelaki shalih sebagaimana yang disebut dalam Al-Quran. Bukanlah pekerjaan mudah untuk merenovasi diri menuju perbaikan, menjadi kriteria yang dirindukan oleh bidadari surga. Namun, ia tahu jika didampingi wanita berbudi nan shalihah maka pekerjaan menuju perbaikan akan lebih mudah. Tapi, apakah ada wanita shalihah yang mengiginkan lelaki dengan iman seadanya?

 

           Sabila benar-benar membuat tanda tanya besar dalam benaknya. Tak ada jalan lain ungkapnya. Ia mulai berselancar di google mencari sesuatu yang ia perlukan.

 

           Tata cara melamar wanita dalam islam. Terlihat lucu kan, "Bagaimana bisa seorang lelaki muslim di usia matang, tapi memerlukan google untuk hal basic seperti itu, lalu bagaimana ia akan memimpin rumah tangganya nanti jika bekal pengetahuan sebagai suami shalih pun ia tak punya?. Ringkasan kutipan  artikel dalam google itu seketika menjadi tamparan yang membuat matanya terbelalak.

 

           "Betapa jauhnya aku dari kata layak," bisiknya

 

***

           "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki- laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik...." (Al-Quran Surah An-Nur 26)



Makanan harian

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day19

#Jumlahkata536

#Sarkatjadibuku

         

           Munajat malam telah membuatnya memahami satu hal bahwa, pandangan dan pujian manusia bukan menjadi satu tolak ukur seseorang terlihat sempurna.

 

            Dunia entertainment  mempunyai arus pusaran yang mampu membawa pelakunya terhanyut dalam kemegahan dan kemewahan dunia bahkan, jika semakin jauh dan semakin dalam hingga membuat lupa.

 

           Kepadatan jadwal yang selalu menjadi alasan, padahal ia bisa dibatasi, alih-alih jangan menolak rezeki, padahal Yang Mahapemberi rezeki, bukankah telah mengariskan; jika belum sempurna rezeki seorang hamba maka takkan habis napasnya?

 

            Mizan menatap sederet agenda yang telah terjadwal, "Bahkan sampai dua tahun kedepan," Ia menarik napas panjang.

 

             Banyak yang menginginkan berada pada posisinya, karir yang cemerlang, wara wiri depan televisi dan berbagai program acara lainnya. Mizan  memang beruntung, sebagai seorang entertainer ia terbilang sukses dalam pencapaiannya, walaupun belum genap sepuluh tahun. Sementara yang lain di luar sana, ada yang memerlukan waktu lebih lama untuk pencapaian tersebut. Jalan rezeki setiap orang memang berbeda takarannya, Allah melebihkan bagi siapa yang dikehendaki, begitu juga sebaliknya. Pembedanya ada pada keberkahan, bagaimana setiap orang mengambil dan menyambut rezeki itu menjadi penentunya.

***

              Bagi sebagian orang, mereka memandang dunia entertainment sebagai sesuatu yang mengerikan bahkan menjijikan. Betapa tidak, lihatlah televisi hari ini maka, yang dijumpai adalah berbagai ghibah, tentang aib, rahasia rumah tangga hingga sengketa ibu dan anak yang dijajakan dengan bebas untuk dikonsumsi. Lalu, berapa banyak lagi pelaku di dalam entertaimen itu sendiri, masih terjerat dengan kasus yang sama, narkoba dan sejenisnya, bak menjadi kebutuhan hidup. Padahal tidak semua seperti itu, masih banyak dari mereka yang mengeluti entertainment sesuai dengan fungsinya, berkarya tanpa merekayasa dan yang menebar kebaikan kepada sesama dengan cara pilihannya.

 

             "Namanya juga program gosip. Ya, jual gosip lah untuk nyari makan" celetuk seorang OB "plus yang mau nyimak acaranya juga dapat bonus, ghibah,” imbuhnya.

               “Lucu juga sih warga net, seperti enggakpunyai kesibukan lain kali ya? hari-hari makannya gosip, trus kesel sendiri sama beritanya,” sambung Staf lainnya.

 

              “Lha, ini kenapa jadi bahas gosip sih? Sini, ada hot news, dan bukan gosip. Ini fakta."  Mbak yang di pojok buka suara.

 

              Seketika mereka berkerumun bak semut mendapati gula, sesekali mereka tersenyum sambil berbisik-bisik. Tanpa mereka sadar, dua sepasang kaki sedang melangkah menuju tempat itu.

 

           “Hayo ,kalian lagi bahas apa?” kejut Sabila.

 

            Kehadiran Sabila mengejutkan, spontan mereka langsung kocar kacir kembali ke meja masing-masing. Sambil ketawa kecli, beberapa staf memulai kerjanya kembali.

 

            Kenyataannya, di mana pun berada, semua punya potensi untuk melahirkan ghibah, gossip dan membahas hal-hal yang semestinya menjadi simpanan rahasia. Namun inilah manusia, lingkungan yang menfasilitasi, lalu di tambah rasa keingintahuan yang tinggi, maka lahirlah wacana-wacana itu, ada ataupun tanpa disadari.

 

            "Ada apa sih dengan mereka?" Sabila berpikir sambil melirik teman-temannya itu.

 

            "Mikirin apa?" Tanya Shila yang tiba-tiba muncul di depannya.

 

           "Ehh Shil, itu jadwal syuting yang akhir pekan nanti di Bandung, jadi kan?" Sabila langsung mengalihkan pertanyaan.

 

           "Iya, itu jadi jadwal penutup bulan ini, harap-harap bisa ambil cuti dulu, refreshing gitu. Gimana menurutmu?"

 

            "Aku sih, ikut jadwal yang sudah kamu atur, jika bisa, yukk jalan. Suntuk juga sih sebenarnya, tapi ya namanya juga kerja, kita nikmatin saja prosesnya" ujar Sabila lagi.

 

        "Yuhuuu, Alhamdulillah," sambut Shila dengan menyapukan kedua telapak tangan kewajahnya sebagai rasa syukur. Lalu Sabila mengikuti apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.

       

        "Libur akan tiba, akan tiba!"  serunya sembari memandang ke luar jendela.      

 

Wanita tanpa rahim

0 0

 #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day20

#Jumlahkata571

#Sarkatjadibuku

     

 

            Sabila bersama Ibu Qanita telah pindah ke Jakarta, 3 bulan setelah kematian Ayahnya. Sebelumnya ia selalu bolak balik Yogyakarta-Jakarta untuk keperluan pekerjaan. Kini ia bisa menghemat banyak waktu. Ia tahu pekerjaan yang ia jalani sangat beresiko. Namun selama ia tahu batasannya, maka Allah takkan menyia-nyiakanya. "Sesungguhnya Tuhanku adalah Mahamemelihara." Sepotong ayat yang selalu menghilangkan kecemasannya jika rasa khawatir muncul tiba-tiba.

 

         “Nak, Mama percaya padamu. Selama kamu bisa jaga Allah maka, Dia akan menjagamu.”

 

          “Aamiin, Insya Allah, Ma. doakan selalu ya.”

 

          “Betapa Maha Baiknya Dia, mengatur segala urusan makhluk-Nya." Sepasang matanya basah "ketika Dia mengambil Sesuatu maka, Dia gantikan dengan yang lebih baik," sambungnya lagi kali ini sembari mendekap erat putrinya.

 

          “Jika saja setiap manusia tahu bahwa, perancangan Allah selalu baik, maka, meskipun mengalami titik terendah dalam hidup ,ia takkan berputus asa dari Rahmat-Nya.” Tutur  Qanita.

 

          “Ma, semoga aku dan Abang, bisa melakukan bakti terbaik padamu. Besar jasa mama pada kami, pada Ayah, Ibu kami," bisik Sabila masih dalam pelukan sang Mama "Mama telah merawat kami dengan sebaik mungkin, dengan setulus hati, padahal kami tidak keluar melalui tulang sulbimu, Ma” Sabila terisak.

 

          "Mama telah menjalani perkara sulit, sebelum kalian hadir di tengah hidup Mama,"  balasnya.

 

          "Semua menunjukkan betapa Allah sangat sayang pada Mama, tidak banyak wanita yang diuji seperti apa yang Mama alami." ungkap Sabila.

***

          “Kau tahu, betapa sulitnya aku saat itu. Kehilangan rahim bagi seorang perempuan adalah sebuah mimpi buruk sepanjang hidup. Bukankah Rasulullah menganjurkan untuk menikahi perempuan yang subur dan bisa melahirkan banyak anak, sehingga dapat membanggakan banyaknya jumlah umatnya kelak? Lalu beberapa perempuan digariskan oleh-Nya untuk tidak mendapatkan kemuliaan itu. Bagaimana rasanya berjihad mulai dari mengandung, melahirkan dan membesarkan amanah besar dari pemilik langit. Kemudian ketakutanku bertambah apabila nanti, ada bayang-bayang hadirnya perempuan lain yang bisa memberikan generasi penerus untuk belahan jiwaku, Sanggupkah berbagi cinta? Keresahan jiwa itu hadir. padahal Tuhan Yang Maha Pengasih itu, sudah menetapkan bagian-bagiannya. Ada Pahala bagi mereka yang bersabar, ada pahala bagi mereka yang bersyukur lalu ada juga pahala bagi mereka yang ridho dan ikhlas dengan musibah yang menimpa.

 

          Duhai Yang Maha Cinta, hadirkan selalu cinta kasih diantara kami, dalam kondisi tersulit apapun yang Kami hadapi. Aku hanya takut jika, tak mampu melalui semua ini sendiri. Duhai Yang Maha Pengampun, Maafkan hamba-Mu, yang sebelum ini menolak ketetapan-Mu, marah pada keadaan hingga akal sehat tidak mampu mengendalikan perasaan ,betapa sungguh, manusia memang sangat ingkar kepada Tuhannya .(Qanita, 1996)

 

           Masih lekat dalam ingatannya tentang apa yang  ia ditulis saat itu. Berada dalam kondisi titik terendah hidupnya. Bertuah ia karena didampingi belahan jiwa yang penyabar, dan penuh kasih. Tak kenal lelah, terus memberikan support untuk tetap ikhlas dan menggantungkan segala harap hanya pada Allah.


            "Sungguh sumber kekuatan itu dekat. Menopang segala kelemahan, ketidakberdayaan, bahkan Dia lebih dekat dari urat leherku sendiri," ucapnya lirih.

 

            Qanita menjalani kehidupan yang mungkin bagi orang lain, ia tidak beruntung. Wanita tanpa rahim. Namun, demikian ia telah di amanahi dua orang anak, tumbuh dewasa dengan segala bakti padanya. Hal ini belum tentu dirasakan oleh wanita  lain, yang memiliki rahim diluar sana.

 

           Ya, Qanita wanita beruntung, ia telah menemukan hikmah, mengapa dulu Allah timpakan ujian berat itu padanya.

 

           Hikmah memang terlihat di belakang, baik itu cepat atau lambat, tapi semua kejadian pasti ada hadiah indah, bagi mereka yang terus berbaik sangka dan ridha pada-Nya.

 

***


         "Jagalah Allah niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah...," (HR.  Tirmidzi).




Niat Mizan dan ridha sang porter

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day21

#Jumlahkata990

#Sarkatjadibuku

           

           Mizan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan niat baiknya telah ia rencanakan sebelumya. Ia pun menghubungi Sabila, meminta nomor handphone Aiman. Sabila merasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba meminta nomor kontak Abangnya. Namun tanpa bertanya lagi, Sabila mengirimkan nomor kontak itu.  Bukan mudah untuk membuka pembicaraan melalui telepon, sepertinya Mizan harus bertatap muka langsung dengan Aiman.

 

            Suasana Bandara International Soekarno-Hatta masih tetap dengan khas ibu kota, sibuk.  Terlihat di pintu kedatangan maupun pintu keberangkatannya.

 

            Helper-Air nama baru porter bandara, bekerja antusias membantu para penumpang. Beruntung bagi pencari rezeki di bandara sekelas SOETA, karena mendapat UMR dari PT Angkasa Pura II. Berbeda  dengan porter di beberapa bandara dan tempat lainnya,  seperti di pelabuhan, serta terminal, hanya mengandalkan pemberian dan tip dari penumpang, setelah mereka menguluran jasa bantuannya. Bahkan ada pemberlakuan bagi hasil, porter menyetor Rp.40.000 ke pihak pengelola bandara. "Ahhh, ragam wajah di Indonesia. Sudahlah." Pikir Mizan.

 

            Pukul 15.30 WIB, ia melakukan check-in pesawat  keberangkatan menuju Kuala Lumpur, lalu seorang porter separuh baya menawarkan bantuan.

 

            "Salam, Mas butuh bantuan?" tanya Bapak porter ramah.

 

            "Ohh, boleh, silahkan," jawab Mizan.

            Senyum sumringah Bapak porter, kemudian menggotong tas bawaan Mizan. Bapak itu berjalan di bagian depan. Mizan memperhatikan, lalu mempercepat langkah menyusulnya, beriringan.

 

     "Sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Mizan dengan memperhatian lelaki yang sudah terlihat gurat asam garam kehidupan itu.

 

         "Kira-kira sudah 31 tahun, sudah mulai kerja jadi porter saat usia 26 tahun, alhamdulillah ada rezeki kerja" seru Lelaki itu.

 

          "Anak-anak bapak? maksudku anak-anak Bapak tidak ikut kerja juga?

  

          "Alhamdulillah. Rezeki Allah bagi, hidup berdua saja dengan istri dirumah" jawabnya.

 

         "Maaf Pak. Enggak bermaksud begitu," kata Mizan merasa bersalah karena mengajukan pertanyaan yang kurang tepat. Padahal Mizan hanya bermaksud megajak porter itu berbincang.

 

           "Kenapa Mas? enggak ada yang salah kok, dari pertanyaan tadi. Mungkin, bagi orang lain, mendapat pertanyaan kayak gini akan tersinggung atau malu, tapi bagi Bapak itu soalan biasa." Bapak itu menurunkan tas bawaan, mengaturnya di depan counter check-in "itu hanya masalah keridhaan hati dengan batasan takdir-Nya aja kok, Toh nanti di sana, kami  tidak akan ditanya kenapa tidak punya anak, kan!" tuturnya lagi dengan senyum yang mendarat di wajahnya.

 

           "Aku doakan Semoga tetap bahagia bersama istri ya," ucap Mizan masih dengan haru akan keridhaan hati Bapak porter yang masih kuat bekerja itu.

 

           "Aaminn, untuk Mas juga, semoga dilancarkan urusannya," lontar Bapak porter.

 

          "Terimakasih" ucap Mizan lalu melangkah masuk ke ruang tunggu.

          Burung  besi itu bertolak dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Memakan waktu sekitar 2 jam 20 menit untuk sampai di Negeri Jiran yang terkenal dengan ikon menara kembar Petronas-nya.

 

            Kuala Lumpur menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan Malaysia. Dalam sejarahnya, di hujung abad ke-19 Seorang saudagar Melayu yang berasal dari Minangkabau , Mohamed Taib Bin Haji Abdul Samad membuka kawasan Chow kit dan kampung Bahru sebagai kawasan pemukiman masyarakat Myang kini telah berkembang pesat menjadi pusat perdagangan.

 

             Dua jam berehat, sebelum Mizan menuju tempat yang telah disepakati oleh Aiman, Islamic Arts Museum. Museum yang berada di Ibu Kota Malaysia ini, menjadi daya tarik tersendiri, khususnya untuk pendatang muslim. Tempat ini menjadi museum seni islam terbesar di Asia Tenggara. Koleksi yang dimilikinya berupa lebih dari 7.000 artefak yang dipajang dalam 12 galeri. Mizan menikmati kedaan di museum itu, ia berkeliling dari satu galeri ke galeri lain, hingga tidak terasa Aiman sudah berada di sampingnya.

 

            "Assallamu’alaikum Mizan, maaf menunggu lama," sapa Aiman.

 

            "Wa’alaikumsallam, aku juga baru sampai beberapa saat," ujarnya.

 

           "Sepertinya ada yang sangat penting, hingga sampai jauh-jauh menemuiku di sini?" tanya Aiman dengan nada serius.

 

             Keduanya lalu menuju kedai kopi yang berada tidak jauh dari kawasan museum tersebut. Obrolan keduanya dimulai ketika Mizan mengutarakan apa yang menjadi hajat kedatanganya ke Kuala Lumpur. Aiman dengan seksama mendengarkan. ia sangat terbuka dengan niat baik Mizan tersebut. Namun, sebagai seorang yang menghargai hak perempuan yang berada di bawah perwaliaannya, Aiman harus meminta pendapat dan persetujuan Sabila. Sebab berbicara mengenai penyatuan dua insan ini harus didapatkan persetujuan antara kedua belah pihak.

 

            "Baiklah, aku akan coba, bicara dan mendengar pendapat Sabila terhadap niat baik kamu ini," tutur Aiman.

 

            "Terimakasih, aku tunggu kabarnya," ujar Mizan lalu menyeruput segelas kopi.

 

              Perbincangan berlanjut pada pekerjaan, keduanya hanyut dalam keakraban.

 

            Malam harinya Aiman menghubungi Sabila, menyambung hasil pembicaraan sore tadi antara ia dan mizan. Aiman tahu jika Sabila tidak memiliki kekasih atau ikatan hubungan dengan lelaki manapun.

 

            "Lalu bagaimana menurutmu"? tanya Aiman.

 

            "Haloooo, Kamu dengar apa yang Abang sampaikan tadi kan!" seru Aiman dari seberang telepon.

 

            "Eehh oooo, dengar, dengar kok Bang." Sabila kembali terkoneksi dengan dunia nyata, setelah hilang dalam alam imajinya beberapa saat.

 

           "Trus?" Tanya Aiman lagi.

 

          "Belum tahu mau jawab apa. tiba-tiba gini." Sabila menarik napas panjang, hingga terdengar di seberang telepon "tak beri tanda dulu, langsung ke sana menanyakanku, sudah ada yang punya atau belum, hmmm," gumam wanita itu.

 

          "Abang lihat, Mizan benar-benar serius. Memangnya selama kalian kenal, dia tak pernah bilang apa sebelumnya?" Aiman mencoba menggorek hati adiknya itu.

 

          "Enggak ada. Ajak makan keluar sih pernah, beberapa kali, tapi ada Shila dan Kak Emil waktu itu.  Sering juga pas syuting makan ramai-ramai di lokasi, itu aja sih," ungkap Sabila.

 

         "Abang tahu dia baik. Tapi mungkin bagimu, baik saja tidak cukup. Abang hanya memberikan gambaran saja, seorang lelaki kalau dia serius, dia akan buktikan." Aiman memberi masukan "enggak ada pembuktian apapun di dunia ini, untuk urusan cinta kecuali menikah!"

           Aiman juga tidak bisa memihak pada Mizan. Ia berikan keputusan itu kepada adik semata wayangnya. Keputusan tetap ia kembalikan pada Sabila.

 

          "Abang tau, kamu enggak suka dijodohkan, seperti cerita dalam drama Melayu, kan?  selorohnya. Aiman terkekeh menggoda adiknya itu.

 

          Sabila butuh waktu untuk memberikan jawaban. Ia  terdiam, tidak menjawab lagi setelah itu.

 

         Ada harap yang ia tunggu, ada cinta yang ia simpan dalam segenggam doa yang ia langitkan malam ini, menautkan hati pada keyakinan terhadap takdir yang sudah digariskan, akan seperti apa kedepannya, biarlah menjadi urusan Rabbnya.

***

          Tidak ada kekuasaan Wali atas perempuan janda dan gadis yatim, jika hendak dinikahkan maka hendaklah seizinnya. Dan, diam adalah tanda dia suka. (HR.Abu Dawud).



 

Istikhara

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38  #Kelompok6Dawaiaksara 

#Day22

#Jumlahkata503

#Sarkatjadibuku

Kamal Dira mendesak putranya, menemui putri mendiang Nukman Ibrahim. Ia menaruh harapan untuk menyatukan dua insan yang belum saling mengenal itu.

       “Aku tidak mengenalnya, dia pun sebaliknya,” Syafiq menghindar.

       “Justru itu, Ayah menyuruhmu untuk menemuinya," desak sang Ayah.

        "Baiklah, akan ku coba, tapi tidak dengan cara Ayah," katanya sedikit mengalah.

       

        Bermodalkan nama lengkap Sabila, Syafiq melakukan pencarian di google dan media sosial, nampak foto seseorang.

       “Cantik. Tapi, selebriti,” gumamnya.

        Tidak pernah terlintas di benaknya untuk ada kaitan dengan dunia entertaiment sebagai mana yang Ayahnya geluti selama ini. Baginya, dunia itu penuh misteri dan penuh kebohongan.

                              ***

          Sebulan lagi peluncuran drama terbaru "Bahagia bukan milik kita" yang menampilkan peran Mizan dan Sabila akan digelar di Gandaria City, Jakarta. Drama 17 episode yang akan ditayangkan di Netflix itu menjadi drama yang ditunggu-tunggu penggemar mereka, apalagi setelah terlilit pemberitaan palsu, nama Sabila menjadi lebih dikenal publik.

           “Cutinya jangan kelamaan, apalagi sampai telat hadir” ujar Emil.

           “Oke, bentar lagi aku balik, sekalian tolongin aku, siapkan list yang aku kirimkan ke whatsapp, terima kasih kak emil” ujarnya sambil menutup handphone. “List ini untuk apa sih sebenarnya?” Pikir Emil "hmm, mungkin," gumamnya menerka-nerka.

Tidur tak tenang, pikiran melayang entah kemana, ingin rasanya ia memerintah bayangan mengetuk pintu rumah Sabila. Tapi tak mungkin. Menunggu jawaban ternyata meresahkan. Sesekali ia mengecek handphone-nya, nihil. Sempat terpikir untuk menghubungi, tapi di urungkan keinginannya itu. Beberapa hari berada di Kuala Lumpur ia gunakan sebaik mungkin untuk mengenal sabila lebih jauh dari informasi yang didapatkan dari abangnya.

          “Aiman, Terimakasih, sudah menerimaku, tinggal menunggu keputusan Sabila,” urai Mizan. “Sama-sama. Enggak nyangka sih, ternyata kamu lebih gentleman dibanding peranmu dalam drama" Ungkap Aiman "aku yakin, Allah akan mudahkan urusanmu. Ekstra sabar aja.” katanya lagi membesarkan hati Mizan.

       

           Suasana Kuala Lumpur tidak berbeda jauh dengan Jakarta, mungkin karena keduanya adalah ibu kota negara. Namun ada yang menarik perhatian Mizan di sana siang itu, tidak terlihat pengemis ataupun gelandangan di sepanjang jalan. Ternyata di Kuala Lumpur punya aturan dan surat perizinan yang diberlakukan pemerintah, sehingga mereka tidak lalu lalang sesuka hati. Menarik pikirnya. Ia lalu bertolak kembali ke Jakarta. Perjuangan cinta Mizan membawanya hingga ke tanah Melayu.

                      ***

           "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon kepada-Mu dari anugerah-Mu yang Agung. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib," lirihnya melangitkan harap .

 

           Ia sudah memantapkan hatinya untuk memberikan jawaban, atas niat Mizan. Seminggu ini ia berusaha menimbang keputusan dalam munajatnya melalui istikharah, dengan harapan mendapatkan pilihan terbaik, bukan karena keinginan sendiri. Pilihan oleh Sang Maha Mengetahui hakikat setiap kebaikan adalah satu hal yang paling diharap. Pipinya memerah. Putik cintanya bersambut. Tak ada seorang pun yang tahu, sejak setahun lalu, ia telah menaruh hati pada lelaki itu. Pertemuan dalam beberapa drama, ternyata mampu mendatangkan rasa pada hatinya. Namun, ia menolak sekeras mungkin membangun harapan sebelum waktu yang tepat.

         Bukankah setiap jiwa yang memiliki kesamaan rasa, kesatuan tujuan, akan dikumpulkan bersama? Entah kini atau nanti.

Sel abnormal

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day22

#Jumlahkata855

#Sarkatjadibuku

               

                Dalam Musnad Imam Ahmad dari Hadits Saad Bin Abi Waqqash, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : Di antara ( sebab) kebahagiaan seorang anak adam adalah istikharahnya dia kepada Allah dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan kepadanya. Dan dianatara kesengsaraan anak adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka terhadap apa yang Allah tetapkan baginya.

***

           Jawaban yang ditunggu pun tiba, Sabila menjawab Iya, lampu merah tanda diterima menyala rupanya. Aiman dengan cepat memberi tahu pada Mizan kabar gembira itu. Cahaya kebahagian itu kian dekat nampaknya.


             Suasana peluncuran drama terbaru keduanya, berjalan dengan lancar di Gandaria City Mall. Animo penonton begitu besar. Ekspresi kebahagiaan turut terlihat di wajah Sabila. Melayani permintaan wartawan untuk wawancara, sesi meet and great bersama fans dan berbagai agenda lainnya. Namun, dari itu semua yang lebih membahagiakan, suprise untuknya, seorang datang dengan bucket bunga lalu bertanya "You Marry Me"

 

             Momen itu sempat diabadikan beberapa wartawan yang ada di sana, meskipun acara telah usai. Media mendadak ramai, mereka banjir ucapan, teriring doa agar dimudahkan segala.

 

           "Manusia merancang. Allah juga merancang, dan perancangan Allah-lah yang akan terjadi." Tulis akun @Cinta_DalamDiam dalam  caption feed instagram.

 

            "Semoga segera halal, dan dimudahkan prosesnya," komen akun @WargaBumi.

 

             Beragam komentar lainnya, terus mengalir memenuhi ruang postingan Sabila di instagram.

 

             Ada yang sedang berbunga-bunga, setelah kejadian malam yang tak terduga itu, waktu terasa cepat, sekejap saja terjadi dan meninggalkan kesan yang tak biasa.

 

***

            "Akhirnya," Senyumnya sumringah "terbebas dari permintaan Ayah," celetuknya saat melihat beberapa postingan yang tengah hangat di media sosial.

 

            Belum usai menikmati lega, Syafiq sepertinya harus kembali berhadapan dengan Sang Ayah. Direktur utama PH Prima Karya itu baru saja sampai di rumah setelah perjalanan bisnisnya. Obsesi Kamal Dira belum surut rupannya. Ia masih tetap kukuh dengan niat awalnya.

 

            "Ayah mau, kita jadi perusak hubungan mereka?" Syafiq memberikan pendapatnya.

 

           "Baru Lamaran versi kacangan, belum resmi," katanya  dengan jemawa.

 

           "Tak habis pikir, apa yang ada di kepala Ayah!" ujarnya.

 

           Memutus niat baik orang lain, hanya karena niat dan obsesi kita sama halnya, memutus jalan rezeki dan jalan baik pihak lain. Dan ini tidak dibenarkan. Seperti halnya  larangan jual beli diatas jual beli orang lain dan larangan melamar seorang wanita atas lamaran saudaranya.

 

             Setelah berbincang bersama keluarga, akhirnya didapatkan kesepakatan bersama. Mizan dan keluga mengantar rombongan ke kediaman Sabila, agar kukuh ikatan pertunangan itu, secara resmi ia melamar Sabila. Suasana ramai di kediaman Sabila juga diikuti para pemburu berita, namun acara lamaran itu berlangsung tertutup khusus anggota keluarga saja, sehingga pihak media tidak mendapat bagian yang sedang dicarinya.

 

              "Acara tertutup gini, pasti ada yang sedang dirahasiakan," gerutu wartawan berbaju merah.

 

             "Jangan-jangan...," sambung Wartawan yang satu lagi.

 

             "Kita ini memang cari makan, tapi enggak dengan menghalakan semua berita, kan? dijadikan artikel lalu dijual," seru wartawan dari harian kata hati.

***

               Semenjak kepulangannya dari Kuala Lumpur, aktivitas Mizan tak ada habisnya. Sejak awal karirnya naik, pihak Manajemen sudah berupaya membatasi job yang masuk. Namun, setahun  lalu, Mizan kukuh mengambil semua tawaran itu. Besar  impian yang tengah ia bangun.

 

              Dua kali ia tiba-tiba jatuh di lokasi syuting. Emil dan pihak manajemen telah menyarankan untuk check-up, tetapi menurutnya, ia hanya kelelahan. Makin lama keadaan itu jadi lebih sering berulang, akibatnya menganggu aktivitas dan jadwal. Sakit kepala sering muncul dan menetap beberapa waktu, sehingga konsentrasinya selalu buyar.

 

             Setiap serangan datang, ia minum obat penghilang nyeri. Semakin hari nyeri kepala itu semakin bertambah. Menyerah juga, sehingga diam-diam ia menemui dokter yang dahulu menanganinya saat mengalami Thypoid.

 

             Banyak pertanyaan yang diajukan sang dokter untuk meneggakan diagnosisnya sehingga dokter menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit yang fasilitasnya memadai karena klinik kesehatan sejauh ini hanya menangani kasus-kasus ringan.

 

           "Tn. Mizan, berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan, maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan yang lebih spesifik di Rumah sakit yang memadai fasilitasnya," kata dokter.

 

            "Sampai tahap itu, dok?" tanyanya heran.

 

            "Ya, sebaiknya begitu, untuk meneggakkan diagnosis medis," jawab dr.Faizal.

 

           "Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" Mizan penasaran dengan hasil pemeriksaannya.

 

          "Sabar dulu ya, ini baru diagnosis sementara. Kami mencurigai ada tumor di kepala dan untuk memastikan itu perlu pemeriksaan MRI," Jelas dr.Faizal.

 

          "Tumor?" tanyanya ,meyakinkan apa yang ia dengar.

 

         "Ya. Tumor, Pasien-pasien dengan keluhan serupa, akan diperiksa lebih lanjut dengan MRI,  selama pemeriksaan mungkin akan merasa kurang nyaman. Namun pemeriksaan ini sangat aman. Pemeriksaan tersebut juga bisa menentukan jenis tumor ini jinak atau tidak, dan pemeriksaan selanjutnya bisa dilakukan biopsy," urai dokter berkacamata itu.

 

          Pandangan Mizan terasa gelap, dadanya seakan sempit mendengar diagnosis itu. Kondisi yang ia anggap biasa ternyata, tanpa disadari hasilnya mengejutkan. Ada sel abnormal tumbuh di dalam tengkorak kepalanya. Ia mulai menimbang-nimbang bagaimana mengabarkan berita itu nantinya pada keluarga. Ia mulai cemas, ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan dengan kalimat.

 

            Emil, managernya, menghubungi berkali-kali. Ada agenda menjadi pengisi di salah satu acara stasiun televisi malam ini. Mizan melihat panggilan telepon itu, tapi tidak digubrisnya. Emil merasa ada yang aneh, tidak seperti biasanya, ia kenal Mizan seorang professional. Namun, kenapa kali ini dia tidak memberi informasi jika, berhalangan hadir.

 

          Emi menelepon Sabila, mungkin wanita itu mengetahui sesuatu. Sama saja ternyata, ia tidak mengetahui apa-apa.

 

         "Apa sebenarnya terjadi?" Pikir Sabila "mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui, tapi apa?" Tanya bergelayut di kepalanya.

 

       

 

 

 

Pagi, Kopi dan sejarahnya.

0 0

   #Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day24

#Jumlahkata868

#Sarkatjadibuku

   

 

             Aiman baru tiba, semalam. Sepertinya, Mizan dan Aiman telah janjian untuk  bertemu, ini pertama kali Mizan bertandang setelah ia bertunangan.

 

             Sehari menghilang, tanpa berita, dan ia muncul dengan gagahnya di depan rumah Sabila. Membawa sepaket lengkap kapsul kopi, mulai dari rasa mocha, cappuccino hingga torabica.  

 

           "Kopi special pagi ini," kata Aiman.

 

            "Mau mocha atau torabica?" tanya Sabila.

 

            "Mocha," jawab Aiman sambil mengunyah kacang almond.

 

           "Aku mau expresso," order Mizan.

 

          Mengawali hari bersama kopi memang istemewa, suasana terasa akrab, perbincangan lebih hangat. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa kado biru dahulu berisikan mesin kopi, bukan bucket bunga, ataupun bingkisan romantic lainnya.

 

          Mizan pun mulai berkisah tentang sejarah dan filosofi kopi yang ia dapat dari sebuah artikel di salah satu website.

 .

          "Budidaya kopi dimulai sejak abad ke-6 Masehi di daerah Yaman. Konon penemu pertama kali oleh as-Syaikh Ali bin Umar Asy-Syazili, dan Syaikh Abu Bakar bin Abdillah as-Syadzili adalah orang pertama yang menjadikan kopi sebagai bahan campuran pada minuman. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kopi akhirnya popular di kalangan orang Islam. Sehingga ikon kopi dan muslim menjadi kesatuan yang tak terpisahkan saat itu. Di awal abad ke-9, Al-Razi menulis dalam literatur medis kaum muslim, ia mengatakan kopi sebagai buncham yang dalam ensiklopedi dikenal sebagai zat-zat yang dipercaya menyembuhkan penyakit. Namun, literatur tersebut sayangnya sudah musnah. Selanjutnya di abad ke-11 Ibnu Sina mengatakan bunchum dapat membentengi tubuh, membersihkan kulit, dan memberikan kelembaban serta memberikan bau yang enak pada badan. Dan Eropa baru mengenal kopi pada abad ke-17. Ada kekhawatiran dari pihak gereja ketika para pedagang Venesia membawa masuk kopi ke Eropa, mereka meminta Paus Clament VIII untuk melarang peredarannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, bukannya melarang, ia terkesan dengan cita rasa kopi yang kuat. Baginya, sangat disayangkan jika kopi hanya menjadi minuman ekslusif orang muslim saja, semua orang boleh menikmatinya."

 

          "Betapa peradaban Islam sudah lebih dahulu mengenal kopi dan khasiatnya , luar biasa kan peradaban islam dahulu," ungkapnya takjub dengan peradaban islam saat itu.

 

           Tidak terasa pagi hampir berakhir. Selesai berbincang panjang dengan Aiman dan Sabila, Mizan meminta diri.

***

           Menyerah juga akhirnya. Mizan mengikuti saran untuk melakukan pemeriksaan lanjutan pada rumah sakit yang sudah direkomendasikan oleh dr.Faizal.

 

            Jalanan Jakarta dengan segala aktivitas yang  menjadi ikon ibu kota. Bunyi klakson orang-orang yang bersahutan, seolah memberi tanda bahwa, kesabaran saat berkendara di jalan raya sudah tergerus pada sebagain orang, hingga  menimbulkan bising di telinga.

 

            Setiba di rumah sakit dengan mengikuti  segala prosedur,  selanjutnya ia menuju poli bedah saraf  sesuai rekomendasi dokter sebelumnya. Dokter bedah saraf menjelaskan semua prosedur terkait pemeriksaan MRI ( Magnetic Resonance Imaging) dan hal lainnya yang dibutuhkan oleh mizan, ini terkait tentang hak pasien terhadap pelayanan yang akan dia terima. Mizan bersedia mengikuti anjuran dokter spesialis bedah saraf  tersebut.

 

             Sebelum proses pemeriksaan dilakukan Mizan tampak cemas, ia merasa degup jantungnya lebih cepat, gugup serta ada rasa takut. Hinggap  berbagai tanya  di benaknya "Bagaimana kalau nanti hasilnya tidak seperti yang diharapkan, bagaimana kalau ternyata ada sesuatu di sana." Ia mulai berpikir jauh padahal pemeriksaan belum dimulai.

 

              Memakan waktu  sekitar 40 menit untuk kembali lega dari prosedur yang tidak menyenangkan itu, ketika berada dalam kondisi yang terasa seperti di dunia berbeda saat tubuh dimasukan kedalam tabung besar. Menakutkan rasanya. Ia harusnya tetap berada di rumah sakit untuk istirahat hingga hasil pemeriksaan keluar, apalagi dengan keluhan yang ia rasakan belakangan ini. Namun, seperti biasa ia keras kepala. Ia memilih istirahat di rumah dari pada berada di tempat yang menurutnya begitu mengerikan. Ya, rumah sakit baginya sesuatu yang tidak menyenangkan.

            Mizan menyembunyikan hal itu dari keluarga, manajemen dan Sabila, ia tak ingin mereka cemas.

 

             Mizan merasakan selasar rumah sakit seolah-olah menyapanya "hallo kita berjumpa lagi" entahlah, itu sapaan tanda gembira atau malah ungkapan turut berduka. Sepertinya ia, harus mulai membina hubungan saling percaya dengan apa saja yang ada ditempat itu. Selasar rumah sakit selalu menjadi tempat yang lebih baik dibanding kamar perawatan bagi setiap pasien yang menjalani dalam jangka waktu yang lama.

 

              Kali ini dia benar-benar mendengar suara sapaan untuk pertama kalinya setelah kali ketiga ia melewati selasar itu.

 

            "Halo Paman." Suara itu nyata di telinga.

 

            "Halo," jawab Mizan, sambil mencari sumber suara.

 

            Nampak di hujung kanan selasar, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 11 tahun, berkepala plontos, tersenyum sampai kelihatan giginya yang seperti kelinci. Perlahan ia bergerak mendekati mizan dengan bantuan kursi roda. Sekarang ia tepat berada didepan lelaki yang masih terdiam itu, bocah itu sedikit mengejutkan mizan hingga nyawa dan tubuh Mizan sontak terkoneksi kembali dengan alam nyata.

 

           "Paman melamun, ya?" sergapnya.

 

          "Enggak." Cepat Mizan menjawab.

 

            Ingin menolak sapaan panggilan paman itu, menurutnya ia terlalu muda untuk panggilan yang cocoknya disematkan pada lelaki berusia mencapai 35 tahun. Bocah ini mungkin tidak memiliki televisi dirumahya sampai ia tidak mengenaliku pikir mizan seketika. lalu Mizan tertawa seketika karena baru sadar kalau ia sedang menggunakan masker yang menutupi separuh wajahnya.

 

           "Dik, nama kamu siapa,"

 

           "Nazim Ihsan, tapi ramai yang panggil Azim,"

 

           "Paman lagi mengantar atau menjengguk siapa?"

 

          "Paman enggak mengantar atau menjengguk siapa-siapa, Paman lagi ada keperluan lain"

 

          "Kalau begitu, Paman sakit juga ya,  sepertiku?"

 

           Kali ini Mizan terdiam, taktahu harus menjawab apa. Hasil pemeriksaan akan keluar hari ini.

***

           “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR.Muslim)

 

 

Telan saja

0 0

 

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Jumlahkata578

#Day25

#Sarkatjadibuku

         "Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapat keburukan.

                         ***

       "Paman, kenapa diam?” tanya bocah itu.

         "Paman enggak tau, mau jawab apa,” katanya “Azim, sudah lama di sini?” Mizan balik bertanya sambil berjongkok di depan kursi roda bocah, yang dari tadi mengajaknya berdialog itu.

        "Enam bulan. Lumayan lama sih,” keluhnya “ugh, Azim rasa, teman-teman mungkin sudah lupa dengan Azim," ungkapnya dengan wajah yang tertekuk.

         “Enam bulan? Lama juga ya! Sekolah bagaimana?” Kali ini Mizan mencoba empati pada bocah yang baru ia kenal.

         “Jagankan sekolah. Balik ke rumah saja jarang, bisa seminggu sekali. Lalu Azim harus datang lagi ke sini. Malah Azim pernah sebulan baru pulang ke rumah,” tutur Azim.

        “Tetap sabar dan semangat ya Azim, yakin, Insya Allah akan sembuh. Nanti, kita jumpa lagi, Paman pergi dulu ya.” Mizan pamit dan berlalu menyusuri selasar panjang itu, dengan tanya yang memenuhi ruang kepalanya "Mengapa anak sekecil Azim, di uji dengan cobaan seberat itu?"

            Kursi tunggu pasien pagi ini hampir penuh. Beberapa sedang sibuk bercerita dengan orang di sebelahnya. Entahlah mereka sebelumnya sudah saling mengenal, atau hanya kebetulan bertemu hari ini, karena keperluan yang sama, mencari kesembuhan.

             Mizan mencari tempat yang agak jauh dari keramaian yang bisa ia tempati. Sesuai temu janji ia masuk ke ruang poli Saraf bedah .

            “Pagi Tn.Mizan,” sapa dokter dengan ramah.

             “Pagi, Dok. Hari ini bukankah, aku harus konsul dengan dr.Ilyas, kan?” tanya Mizan.

             “Iya, benar, tapi beliau ada keperluan mendesak, sehingga batal ke sini. Jika Tn.Mizan ingin tetap konsul dengan dr.Ilyas, nanti bisa mengatur ulang jadwal pertemuan dengan beliau di hari berikutnya. Bagaimana?” tawar dokter muda itu.

              “Baiklah, Dok. Sama saja, di ambil hari ini, ataupun nanti, hasilnya belum berubah kan?" ujar Mizan "lalu, bagaimana hasinya?" tanyanya dengan penasaran.

              “Setelah membaca hasil pemeriksaan MRI, menunjukkan ada tumor seukuran 3 cm di kepala Tn.Mizan,” Ungkap dokter “melihat riwayat perjalanan penyakit Tn.Mizan, kemungkinan, tumor ini sudah ada sejak setahun belakangan,” tambahnya lagi.

 

            Betapa terperanjat Mizan mengetahui hasil yang dibacakan dokter. hatinya bertanya "mungkin hasilnya keliru? Tapi jika benar? Kenapa harus aku, kenapa?" .

 

            Vonis dokter itu, ibarat batu besar yang menindih kepalanya, lebih sakit dirasakan dibanding penyakit itu sendiri. Ia sedang berusaha meredam rasa yang tengah bergejolak. Terdiam sejenak, lalu perlahan menarik napas, meskipun pada kenyataan hatinya tengah goyah, koyak. Detik yang sangat sulit baginya. Serangan denial mengepung batinnya. Ia mengalami pergolakan jiwa.

 

         “Kami dapat merasakan apa yang anda alami, cobalah untuk tenangkan hati, tak ada sakit yang tidak bisa diobati ,kan?” Dokter memberikan semangat kepada pasiennya.

            "Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sembuh?" Mizan menggali mencari tahu “atau, berapa lama lagi waktuku?” Seketika suaranya tercekat di tenggorokan.

              "Proses penyembuhan setiap orang berbeda-beda, kami tidak bisa memprediksi, tapi selama pasien mengikuti prosedur pengobatan dengan baik, insya Allah, akan menunjukkan hasil yang baik," jelas dokter.

             "Prosedur pengobatan?" Mizan melemparkan pandangannya lekat pada dokter.

             Dokter kemudian menjelaskan semua protab pengobatan di rumah sakit untuk penanganan kasus tumor otak, mulai dari tahap persiapan, operasi, hingga berbagai kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.

             Setelah mendengar penjelasan dokter, Ia mencoba tawar-menawar terkait waktu pengobatan. Meminta penundaan hingga sebulan atau dua bulan kedepan. Namun, dokter menyarankan untuk mengambil langkah lebih awal guna, menghindari hal lainnya yang tidak diinginkan.

              Nampaknya ia butuh waktu untuk mengambil keputusan. Mizan sadar sebulan hingga bahkan sampai akhir tahun, jadwalnya benar-benar padat. Bagaimana ia harus reschedule semua jadwal itu? Bukan hanya itu, bagaimana persiapan pernikahannya dengan Sabila yang dijadwalkan berlangsung beberapa bulan lagi? Apa yang harus ia katakan pada tunangannya itu? ia benar-benar mengalami dilema.

Ikatan batin

0 0

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day26

#Jumlahkata547

#Sarkatjadibuku

 

        Tak ada lagi rahasia bisa disembunyikan, ketika masalah menggerogoti pertahanan diri.

        Firasat seorang ibu, ibarat sebuah sistem yang akurasinya mencapai 99,9%. Sistem ajaib yang Allah ciptakan dalam ikatan batin ibu dan anak.

         Sejak belakangan ini, Mizan selalu pulang lebih awal, padahal jarum jam belum bergeser dari jam 9. Ibunya mengamati. Ada yang aneh. Tidak biasa seperti itu. Jika setiap pagi selalu menyempatkan berbagi cerita, khususnya persiapan pernikahannya dengan Sabila. Namun, kali ini ia hanya menjawab sepatah dua patah kata jika ditanya, tanpa menjelaskan lebih panjang.

         “Nak, kalau ada masalah, cerita, mungkin ibu bisa bantu.”

         “Pekerjaan banyak, Bu. Apalagi kalau nanti ambil cuti, jadi harus diselesaikan lebih cepat,” jelas Mizan sambil meneguk teh hangat buatan ibunya.

           “Biasanya kalau kerja, di atas jam 12 baru balik, kan? belakangan sering balik lebih awal, bukannya malah lebih lambat selesainya?" Tanya ibunya, kali ini sambil memandang serius wajah Mizan.

           “Bu, enggak usah khawatir. Aku dah besar. Hehe," tawanya "Ibu selalu kayak gini, khawatir berlebihan, doakan saja semua berjalan lancar,” pinta Mizan.

           "Jangan menutupi sesuatu,’' ujar Ibunya dengan tatapan lekat.

           "Entahlah, Bu. Enggak tau mau cerita darimana." ucapnya.

           Berat awalnya. Namun perlahan Mizan mulai bercerita, dengan berusaha terlihat kuat di depan wanita yang telah melahirkannya itu.

           Reaksi ibu mana yang tidak sedih dan gundah ketika mendengar pengakuan seperti itu dari anaknya. Air mata Bu Aida tumpah seketika. Pelukan kasih mendarat pada anaknya. Ia tidak bisa menahan perasaan yang membuat hatinya terasa ngilu. Itu sebabnya, mengapa Mizan belum menceritakan masalah yang mendera itu pada Ibunya. 

         Perbincangan ibu dan anak yang penuh drama air mata, terjeda seketika, saat handphone Mizan berbunyi. Sabila rupanya.

          Mizan tak langsung mengangkatnya, ia biarkan handphone-nya berdering berulang-ulang. Perlu waktu beberapa saat untuk menenangkan diri, menunggu fibra suaranya stabil, dan getaran isak itu benar-benar tidak terdengar lagi.

           Setelah merasa tenang, ia menelpon balik. Ternyata ada kabar gembira. Sabila digandeng sebagai brand Ambassador PT Paragon Technology and innovation , untuk produk wardah. Seminggu Ia akan berada di Kuala Lumpur untuk mengisi launching produk terbaru wardah di sana.

       Mizan merasa lega, karena Sabila akan ke luar Jakarta, sehingga ia tidak perlu bersembunyi seminggu ini jika, akan melakukan check-up ke rumah sakit.

        Sekitar pukul 10 pagi, Mizan menuju ke kantor untuk menemui  Emil managernya, meminta jadwal disortir, untuk yang tidak terlalu urgent ditunda beberapa waktu, jadwal yang melibatkan ganti rugi besar ketika reschedule ia minta untuk dimajukan, agar bisa segera diselesaikan prosesnya.

        “Hei, kamu enggak mimpi, kan?" sergah Emil "mengganti jadwal ini tidak bisa semau-maunya kita, kecuali ada alasan yang kuat yang bisa mereka terima, baru pihak sana memberikan penangguhan atau kebijakan, karena ini menyangkut bisnis mereka juga.” Urai managernya itu.

      “Kak Emil cari alasan gitu, mungkin bisa mereka terima,” tawar Mizan.

        "Jangan ngarang!" seru Emil.

        “kamu tahu aku, kan? aku juga kenal kamu lebih tujuh tahun. Orang suka kerja dengan kita karena disiplin dan profesionalitas. Kita melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin, bukannya sejak awal kamu yang kukuh menerima job semua ini?" sergah Emil memutus permintaan Mizan.

         Mizan lalu terdiam, bukan karena peryataan Emil. Tapi karena tiba-tiba ia merasa kondisi yang tidak baik sedang menyerangnya.

                           ***

         "Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka. Dan kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap pribadi terikat dengan apa yang diperbuatnya.(Al-Qura'an ,Surah Ath-Thuur :21)

Hospital

0 0

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day27

#Jumlahkata707

#Sarkatjadibuku

 

        Sekuat mungkin Mizan menopang badan dengan sisa tenaganya. Kali ini keluhan menyerang lebih berat, rasa; mual, muntah dan pandangannya yang tiba-tiba kabur. Ia tidak ingin Emil tahu kondisinya.

           Secepat mungkin ia menghindar. Berlari ke bilik kerja, mencari wastafel, lalu, sebagian yang ia makan siang tadi meluncur keluar; muntah. Ruangan berputar,  pusing dan nyeri kepala semakin tak bisa di ajak kompromi. ia berusaha berpegangan pada tembok, lalu berjalan keluar toilet. Namun, belum sempat ia mencapai kursi, tubuhnya lebih dahulu menyentuh lantai.

           “Ada yang lihat Mizan?" tanya Emil ke beberapa staf yang duduk melingkar sedang menikmati es boba.

           “Coba lihat ke biliknya. Tadi dia masuk ke sana.” Staf berkacamamata menimpali lalu melanjutkan aktivitas mengetiknya.

            “Oh, oke thanks,” ujar Emil berlalu menuju bilik Mizan.

             Baru selangkah masuk, mata Emil tertuju pada sudut bilik, Mizan tergeletak di sana, dengan tangan dan kaki yang dingin. Emil menepuk-nepuk memanggil Mizan. Ia mencoba menyadarkannya. Namun usahanya gagal. Emil panik dan segera berlari ke luar meminta bantuan Staf untuk menghubungi rumah sakit.

             “Mizan, Mizan. Hei.” Emil tetap kukuh membangunkannya. Lelaki itu khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Mizan.

              Bantuan medis tiba beberapa saat kemudian. Nurse dengan cekatan memasang oksigen dan mengukur tanda-tanda vital. Mizan belum menunjukkan aksi, masih betah di bawah alam sadarnya. Tak ada pilihan, Mizan harus segera mendapat penaganan lanjutan.

             Setelah satu jam di UGD, mendapat penanganan prima dari tim medis rumah sakit, akhirnya Mizan membuka mata. Kepalanya masih pusing, rasa mual masih ikut betah bersarang di mulutnya.

             Emil berbincang dengan dokter. Mengajukan beberapa pertanyaan terkait kondisi artis sekaligus sahabatnya itu. Tatapan Emil teralihkan, melihat Mizan yang memberikan kode panggilan. Mereka menghampiri lelaki yang masih terkapar di bed pasien itu.

             “Perkenalkan saya dr.Livy, " kata dokter ramah "apa yang Tn.Mizan Rasakan saat ini,” tanya dokter perempuan yang berusia sekitar 30 tahun itu.

              “Masih pusing, kepala rasa mau pecah, dan ingin muntah,” jawabnya sambil memegang kepala dengan wajah yang meringis menahan sakit.

               “Tn.Mizan sering mengalaminya sebelum ini? Atau ada riwayat penyakit lain yang pernah diderita?" dr.livy mulai melakukan anamnese pada Mizan.

               Mizan terdiam, tak menjawab. Khawatir Emil akan mengetahui kondisi yang sebenarnya. Ia coba mencari cara mengalihkan.

               “Maaf Dokter, nanti saja, ya! aku tidak mampu bicara panjang,” keluh Mizan menghindari pembicaraan.

                 “Baiklah, nanti anamnese akan dilanjutkan sebentar ya, istirahatlah,” kata dr.livy yang sejurus kemudian berlalu pergi.

                 “Kak Emil balik saja dulu, tolong hubungi ibu, nanti Ibu yang akan menjagaku di sini,” pinta Mizan.

                 Emil mengabarkan pada Ibu Aida, menceritakan sedikit kondisi anaknya itu. Sambil menunggu Ibu Aida tiba. Ia coba mengajak Mizan bicara. Emil penasaran , seperti ada yang sedang Mizan sembunyikan.

                   "Apa yang terjadi?" tanyanya "ada, kan, yang sedang kamu sembunyikan?" Emil berprasangka.

                    “Enggak ada apa-apa , aku hanya butuh rehat,” jawab Mizan kemudian membalikan badan.

                     Emil tidak bisa memaksa mizan, ia paham kondisi orang sakit, menjadi tidak stabil dan lebih sensitive. Membiarkan sementara Mizan beristirahat, Setelah observasi beberapa jam di UGD, dr.Livy menyarankan Mizan masuk ruang perawatan karena kondisinya belum stabil. Selain itu Mizan memerlukan pemeriksaan selanjutnya yang lebih spesifik.

 

                     “Bagaimana kondisinya?” tanya Bu Aida yang baru saja sampai dengan napas terengah-engah.

                     “Pasien harus manjalani perawatan, sambil menunggu pemeriksaan selanjutnya,” jawab dr.livy.

                     “Silahkan lakukan, Dok,” setuju Bu Aida dengan air muka khawatir.

 

                  Ruang perawatan III kelas Vip, tidak nampak sebagai sebuah ruang pesakit, desain dan interior yang ditawarkan sangat berbeda, nyaman, sesuai kelasnya.

                  “Emil, terimakasih sudah jaga Mizan," ungkap Bu Aida "balik aja dulu, nanti ibu yang jaga, kamu juga perlu istirahat. Sekalian jangan bicara apa-apa dulu ke Sabila, ia lagi di KL," pinta Wanita itu.

               “Nanti ada apa-apa, tante jangan sungkan telpon aku saja,” ucap Emil menawarkan diri , lalu kemudian pamit pulang.

                Emil menduga-duga bahwa, ada sesuatu yang mereka coba tutupi darinya. Ada kerisauan yang melanda hati Bu Aida, air mata menganaksungai di tengah ketidaktentuan rasa. Wanita itu mengadukan pada Rabb yang mengenggam hidup mati manusia.

                 "Ya Allah, Tuhan manusia, angkat sakitnya. Di Tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau."

               Kasih seorang ibu, tidak peduli anaknya besar atau kecil, baginya tetap sama. Wanita itu bermunajat dalam sujud panjangnya, mengadukan kegundahan yang hinggap di sanubarinya.

                "Tidaklah Engkau menimpakkan sesuatu, kecuali itu sebuah kebaikan." Wanita itu berusaha tetap berprasangka baik kepada ketentuan-Nya. Sesegukan dalam doanya.

                "Bu, sudahlah, jika ibu bersedih terus seperti ini, aku lebih sedih," pinta Mizan yang masih terbaring lemah.

Sukses itu...,

0 0

 #KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day28

#Jumlahkata978

#Sarkatjadibuku

 

         Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan,  kekhawatiran dan kesedihan dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)

                        ****

         Opname memang tidak menyenangkan, bedrest tanpa melakukan aktivitas dan di bawah kontrol protab. Hal ini bertujuan agar hasilnya lebih maksimal, jika dibandingkan pasien harus bolak balik dari rumah ke rumah sakit untuk melakukan kontrol rutin dan pengobatan.

         Anamnese berjalan lancar, Mizan menguraikan segala keluhannya, sehingga dr. Livy bisa menyimpulkan diagnosis awalnya, persis apa yang di ungkapkan oleh dokter yang menangani Mizan sebelum ini.

        "Lebih cepat, lebih baik," anjur dr.Livy.

         "Semua pasien sepertiku, apakah harus berujung di kamar operasi?" tanya Mizan dengan nada putus asa.

         "Beberapa kasus serupa, akan di ambil tindakan yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan, setelah pasca operasi ada tindakan selanjutnya. Semua tergantung pasiennya dalam melawan sel tumor yang bersarang dalam kepala atau tubuhnya. " jelas dr. Livy "dan cara ini tingkat keberhasilan untuk kesembuhan pasien, jauh lebih baik."

 

         Tentang operasi, pisau bedah dan sejenisnya terdengar menakutkan. Memang banyak yang berhasil keluar dari cengkeraman sel abnormal dengan cara itu. Namun tidak terhitung juga yang akhir perjuangannya harus berakhir setelah tindakan tersebut.

          Serangkaian ketakutan Mizan, akhirnya terpatahkan. Mizan memilih kembali ke rumah sakit di daerah kawasan semanggi, dan tidak ada yang bisa menahan, karena ini terkait hak pasien untuk memutuskan ia akan ditangani oleh dokter dan rumah sakit pilihannya.

                      ***

          Sabila mengirimkan beberapa pesan lewat Whatsapp. Namun pesan tidak terkirim, tidak terlihat kode dua centang di handphone-nya.

          "Mungkin dia lagi off handphone, sibuk." Sabila mencoba berpikir positif.

          "Sudahlah. Kamu kayak enggak kenal Mizan, ia kalau kerja kan, emang kayak gitu, sampai handphone bisa lupa untuk on-kan kembali," ujar Shila yang ternyata dari tadi memerhatikan temannya itu.

 

         Perjalanan ke Negeri jiran, sudah kesekian kali bagi Sabila. Tapi kali ini berbeda dan lebih istemewa, karena ia akan berada di sana sebagai brand ambassador dari skincare ternama Indonesia, Wardah. Produk itu akan memulai debutnya di pasar international.

                         ***

          Sabila dan Shila baru saja tiba di Kuala Lumpur pukul enam petang. Aiman telah menunggu mereka di bandara. Tak lama azan menggema, mereka singgah di surau yang terletak di kawasan Mid Valley. Setelah itu menikmati makan malam di cabang resto Sari Ratu dengan menu yang selalu bersahabat di lidah, apalagi kalau bukan masakan padang. Makanan satu ini memang sudah tekenal seantero negeri.

          "Jauh-jauh ke Kuala Lumpur, yang dicari si Padang juga," ujar Shila diikuti gelak kecil.

          "Aku sih, makan apa saja enggak masalah, yang penting halal dan enggak ada kaitannya dengan semua junk food dan japannese food. Entahlah daging atau ikan mentah tuh, susah masuk." sambung Sabila.

         "Mau bincang sampai besok? enggak pesan makan nih?" tanya Aiman yang sudah siap dengan list yang akan dipesannya.

         Dengan cepat keduanya memilih menu yang akan disantap.

        "Kalian tahu enggak, Pemilik resto ini, orang Indonesia. Ia sukses dengan bisnisnya di sini?" tanya Aiman.

        "Siapa?" tanya Shila.

         "Pak Junaidi. Beliau berasal dari Padang Sibusuak Sumatera Barat," jawab Aiman "sejak kecil beliau memang pekerja keras."

         "Baru dengar namanya, sih." Sabila menimpali "itu gimana ceritanya, sampai Pak Junaidi buka resto makan di sini?" tanyanya serius.

          Aiman melanjutkan ceritanya sambil menunggu makanan tersaji.

         "Saat usia Pak junaidi 14 tahun, dengan semangat, kejujuran dan keyakinannya ia merantau ke Riau bekerja serabutan di sana sebagai tukang perabot dan menjual kacang goreng." Lalu lanjutnya lagi "beliau kerja berpindah-pindah, dari jenis kerja yang satu ke pekerjaan lain, ia akan coba pekerjaan itu. Bayangin saja, dari Dumai, Bagansiapiapi hingga pindah kerja di kapal orang Tionghoa, semua ia geluti."

           Sabila dan Shila memerhati dengan seksama topik yang diceritakan Aiman.

           Lelaki itu dengan semangat membagikan kisah Pak Junaidi. Pengusaha yang kini memiliki banyak cabang restoran di Negeri menara kembar itu adalah seorang pekerja tangguh, karena kejujuran dan kegigihannya, akhirnya ia mendapat kepercayaan di setiap pekerjaannya.

          Titik pertemuan kesuksesan kian dekat, ketika Junaidi remaja dipercayakan untuk mengantar hasil tangkapan ke Singapura. Sering bolak-balik Singapura mempertemukannya dengan Herman, dan akhirnya Junaidi berpindah kerja membersihkan kapal dan mengambil tambahan mencuci pakaian para bule yang menggunakan jasa kapal tersebut. Ia mendapatkan banyak tip dari kerjanya kali ini dan sebagaian besar ia tabung. Beberapa waktu kemudian Junaidi berpindah kerja dengan pengusaha tekstil asal Bombay, bahkan, mendapat kepercayaan untuk belajar desain baju ke Korea, Jepang dan Taiwan. Menggeluti Pekerjaan barunya, beliau akhirnya mempunyai beberapa toko, usahanya terus berkembang, tokonya tersebar di kota-kota besar di Malaysia. Tapi pada tahun 1994 ketika krisis moneter melanda Malaysia, usaha Pak Junaidi juga kena dampak, ia harus menjual tokonya hingga hanya tersisa dua unit.

Setelah itu mulai mencari usaha yang bisa bertahan terhadap krisis. Dari sinilah ia mulai membuka usaha restoran. Garis takdir membawanya bertemu dengan pengusaha restoran bernama Auwines asal Agam, pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Mereka pun bersepakat untuk bekerja sama membuka restoran dengan menu makanan khas minang. Usaha ini telah membawa Pak Junaidi menjadi pengusaha makanan yang sukses di Malaysia.

          Takdir telah membawa Junaidi dari tempat satu ke tempat lain, dan bertemu banyak orang, lalu Nasib berpihak, akibat kegigihan dan kejujuran yang ada padanya.

          "Makan dulu, nanti kita sambung lagi kisah Pak Junaidi dan nasi padangnya" ujar Aiman sesaat setelah Pramusaji menghidangkan makanan.

          Mereka makan dengan lahap, memang benar hidangan masakan padang adalah menu yang disukai oleh hampir banyak orang di berbagai tempat, bahkan negara.

          "Jadi inti dari kisah Pak Junaidi, menjadi sukses itu, modal utama adalah kejujuran dan kegigihan, dalam apapun usaha yang kita geluti, jika itu dimiliki, maka kebaikan lainnya akan mengikuti, benar kan?" sambung Sabila.

          "Yaps, doa dan sedekah menjadikan Pak Junaidi menyempurnakan itu semua," tambah Aiman sambil mengajak adiknya dan Shila beranjak dari sana, lalu mengantar keduanya ke citytell untuk istirahat, sebelum melanjutkan rutinitas panjang seminggu ke depan.

           "Pas sampai hotel, langsung istirahat. ingat, kalian ke sini punya jadwal yang padat, jaga kondisi, agar bisa bekerja dengan sebaiknya" pesan Aiman.

            "Oke Pak Boss kesayangan" sambar Sabila dengan penghormatan sambil terkekeh.

               "Tenang, ada aku yang mantau, jika bandel, nanti jatah makannya aku pangkas," sambung Shila tertawa.

Selasar, Searah.

0 0

#KMOIndonesia

#KMOBatch38

#Kelompok6Dawaiaksara

#Day29

#Jumlahkata800

#Sarkatjadibuku

            Perjalanan melelahkan antara Jakarta-Malaysia. Menjadi orang ternama, harus punya energi ekstra, karena aktivitasnya melebihi harian orang biasa. Mungkin terlihat biasa saja, tetapi nyatanya, menenggok ke balik layar, sederet agenda begitu menguras tenaga.

           Citycell hotel, menjadi tempat rebah. Keduanya sangat menikmati keindahan malam Kuala Lumpur dari balik jendela kaca.

          "Sebab Dia telah memberikan rezeki, hingga kita bisa berada di sini," ucap Sabila.

          "Bahkan, kita bisa mengunjungi banyak tempat dengan pekerjaan yang kita geluti, dan ini benar-benar anugerah yang patut kita syukuri," sambung Shila haru.

          Lama keduanya berbincang, bahkan, hingga dari balik selimut masih juga saling melempar kata.

          "Event pertama nanti, tamu undangannya lumayan banyak, harap-harap kamu enggak demam panggung lagi, apalagi sesi tanya jawab bersama Ibu Nur," seru Shila.

         Tak ada respon dari balik selimut Sabila, yang terdengar hanya sebuah dengkuran halus.

          "Sudah ke alam kapuk rupanya," ujarnya. Shila kemudian menarik selimut lalu terdengar ia berucap "Semoga Allah menjagamu dari orang-orang yang iri dan dengki, semoga kebaikan senantiasa menyertaimu."

         Keduanya bukan hanya sebatas rekan kerja, ataupun manajer dan artis, tapi sudah seperti saudara. Baik Sabila ataupun Shila mereka saling menjaga, support dan menghibur antara satu dan lainnya, karena sejatinya persaudaraan itu, bukan karena terikat berdasarkan rupiah. Namun karena kasih sayang tanpa pamrih. Allah selalu mempertemukan orang-orang yang memiliki hati yang baik dengan sesama mereka, lalu Dia mencurahkan kasih-Nya hingga mereka terus berkasih sayang.

                      ***

         Emil menerima informasi bahwa, Mizan telah dipindahkan ke RS di kawasan Semanggi. Segera ia menuju ke sana dan berharap tidak mendapatkan sesuatu yang buruk.

          “Tante, apa kata dokter? dokter mendiagnosis apa?" tanya Emil sedikit panik.

          “Ia harus dirawat dan mendapatkan pengobatan lebih lanjut, sehingga itu dipindahkan ke sini,” terang Bu Aida “dokter mendiagnosis ada tumor di otaknya.” dengan suara yang mulai bergetar karena menahan tangisnya.

            “Tumor otak?" Sontak Emil terkejut dengan peryataan Wanita itu.

            Emil baru memahami, mengapa belakangan ini, Mizan meminta jadwal untuk disortir dan reschedule. Ia merasa bersalah terhadap apa yang menimpa artisnya itu. Sebagai manajer yang mendapat royalti 30% dari kontrak kerja sang artis, sehingga ia bisa memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Apalagi ia sudah mengangap Mizan seperti adiknya sendiri, karena telah bekerja sama selama 7 tahun.

           Ya, di mana ada Mizan maka ada Emil. Simbiosis mutualisme antara artis dan manajer.

          Pagi yang tidak pernah ia mimpikan sebelumnya. Di selasar ini lagi, sembari menarik napas panjang menikmati udara yang tidak seberapa segar, "Maklumlah udara di tengah ibu kota," gumamnya. Mizan nampak mencari seseorang “kemana ia” tanyanya dalam hati.

           Lalu tiba-tiba tangan kecil itu menepuknya dari belakang. Segera kepalanya menoleh.

      “Hallo Paman,” sapanya, masih tetap sama seperti ekspresinya pertama kali berjumpa.

        “Heiiii, Azim. Pagi ini nampak handsome” Mizan menggodanya. “Aku memang handsome, kata Mama Azim orang paling handsome di seantero jagat ini,”

         “Waahhhh, Om Christiano Ronaldo lewat dong?” canda Mizan lagi.

         “Hahaha.” Tawanya renyah.

          “Azim, Paman mau nanya, boleh?"

          “Asal enggak susah, mungkin Azim akan jawab,” katanya polos.

          “Azim, sakit apa?"

          “Sama macam paman,” jawabnya cepat.

           “Lha, kok sama kayak Paman? memangnya Azim tahu, Paman sakit apa?"

           “Kalo enggak tumor, ya kanker, bener kan!" ujarnya yakin.

            “Kok Azim jawab seperti itu?" tanya Mizan dengan heran.

             “Kata Mama sih gitu. orang yang termenung dan berlama-lama di selasar ini, sakitnya sama kayak Azim, jadi Azim bisa tebak kalau Paman juga sama kayak Azim, benar kan?” Azim balik bertanya.

             “Waktu dulu, pertama Azim sampai di sini, ada seorang kakak yang suka main ke tempat ini," cerita Azim "pertama Azim takut lihat kakak itu, kepalanya macam alien, Azim nangis, tapi mama beri tahu, kalau kakak itu sakit dan dia tidak mau minum obat,”

            “Lalu Kakak itu ke mana?” tanya Mizan penasaran.

             “Akibat enggak mau minum obat, kata Mama, ia sudah tidak lagi di sini. Entahlah ke mana perginya” ujarnya ”paman nanti harus kayak Azim, rajin minum obat, dan ikut apa kata Mama dan dokter ,ya” nasihat Azim yang mirip orang tua.

          Keduanya nampak akrab pada perjumpaan kedua, dan selasar itu akan menjadi tempat mereka berbagi kisah dihari-hari berikutnya.

           Sekembalinya ke ruang perawatan, ia menatap wajahnya di cermin, lalu tersenyum hingga gigi putih yang tersusun rapi itu nampak jelas.

            “Setelah ini, apakah orang-orang akan tetap menyukaiku? Lelaki yang akan menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, yang akan kehilangan rambutnya, yang kata anak kecil seperti; alien. Entahlah, rambut ini, apakah akan tumbuh kembali sediakala atau tidak! Lalu dengan obat-obatan itu, aku akan kurus atau malah jadi gemuk?" ungkapnya dalam ketidakberdayaan sembari menatap bayangan diri pada cermin.

                       ***

          Karena Ia tempat kita mengantung harap segala hajat yang kita ingin. Ia suka kita merayu tak berdaya di hadapan-Nya. Sebanyak apapun itu selama yang diminta adalah kebaikan, maka tak ada batasan. Apapun hajat kita, besar atau kecil, berat ataupun ringan, maka Dia lah: tempat mengantung dan berharap untuk meminta pertolongan. "Sesungguhnya Allah Ta’ala Malu bila seorang hamba membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan pada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan Hamba itu dalam keadaan hampa/gagal. (HR. Ahmad)

Menakar Ujian

0 0

#KMOIndonesia

#KMObatch38

#Kelompok6dawaiaksara

#Jumlahkata706

#Day30

#Sarkatjadibuku     

 

          Berbagai tanya yang menggantung di minda, semua terjawab atas penjelasan dr. Ilyas yang sangat bersahaja. Lelaki yang telah bergelut tiga puluh tahun dalam dunia medis itu, memberikan gambaran lain terkait tingkat emosi dan stress pasien pengidap tumor.

        “Pasien-pasien seperti Mizan, emosi mereka kadangkala tidak stabil. Semua tergantung penerimaan terhadap kondisi yang sedang dialaminya," ungkap dr. Ilyas "support system sangat mereka perlukan, semakin baik support yang mereka terima, tingkat stress akan terkontrol dan mekanisme koping menjadi adaptif, sehingga prosedur pengobatan berjalan sesuai yang diinginkan,” jelasnya sambil mengharap apa yang ia terangkan dapat diaplikasikan oleh keluarga.

         Ibu Aida akan berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya itu "Sebisa mungkin hindarkan ia dari rasa tertekan atau merasa tidak dibutuhkan " ingatnya terhadap pesan dr. Ilyas.

         “Permisi Nurse, Pasien atas nama Mizan di kamar 16, kemana ya?” tanya Emil terengah.

          “Sekitar satu jam yang lalu, ia pergi ke selasar depan sana,” tutur perawat sambil menunjuk arah selasar.

           “Ok, terimakasih Nurse.” Emil dengan cepat berlalu menuju selasar.

Emil tidak menemukan Mizan di sana “kemana dia” pikirnya. Lalu ia balik ke kamar Mizan.

         “Emil, coba lihat ini!” Ibu Aida memperlihatkan seragam pasien yang tergantung di kamar mandi.

          “Sepertinya ia keluar,” ujar Emil.

           “Tante jangan khawatir, aku akan mencarinya,” Emil coba menenangkan Ibu Aida.

           Mizan keluar dari rumah sakit tanpa ada yang tahu. Emil mulai menyusuri jalan-jalan sekitar rumah sakit, lalu menuju rumah Mizan. Namun ia tidak menemukannya.

        “Jangan-jangan ia pergi ke sana?” pikir Emil sambil memutar arah mobil.

         Pantai, deburan ombak dan desiran anginnya membuat jiwa tenang, itu yang Mizan rasakan setiap berada di sana. Ia akan memilih pantai sebagai tempat menenangkan pikiran. Pantai Anyer menjadi pilihan, mengingat jarak tempuh yang tidak jauh dari ibu kota, hanya memakan waktu sekitar dua jam. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan ia melakukan perjalanan jauh untuk menemukan pantai dengan landscape sempurna.

          “Aku tak tahu, mengapa Engkau pilih aku untuk menjalani situasi ini?" tanyanya melayangkan pandangan tajam ke bumantara, lalu tenggelam dalam suasana yang ia cipta.

         Puas matanya memandang, lalu beralih jauh ke samudera yang tanpa tepi.

        Setelah menempuh perjalanan yang dipenuhi drama, mulai dari ban bocor hingga hampir menabrak kucing. Akhirnya Emil sampai  juga di Pantai Anyer. Matanya memandang jauh di sudut-sudut pantai, mencari Mizan. Pandangannya lalu berhenti pada satu titik.

          “Akhirnya ketemu,” ucapnya sambil melangkah cepat mendekati lelaki yang duduk termenung itu.

           “Lain kali, kalau pergi, cari tempat yang lebih jauh lagi!” seru Emil sambil mengatur posisi duduknya.

           “Kak Emil lagi!" tukasnya “buat apa kesini? Bukannya kak Emil enggak suka pantai? tuturnya.

           “Lupa ya, kan kita bagaikan sepasang sepatu, hehehe?" Tawa Emil coba menghibur.

           “Kak Emil balik saja, enggak perlu menungguku. Nanti kabarkan ke ibu, aku oke di sini,” pintanya.

            “Jangan keras kepala, saat kau senang siapa yang di sampingmu, aku! Jadi saat susah gini, masa kamu hadapi sendiri.” Emil coba cairkan situasi.

            “Terserah,” ujar Mizan.

             “Dalam hidup ini, situasi tidak selalu seperti yang kita harapkan, karena ia adalah dua sisi yang terbolak balik, sukar-mudah, sedih-bahagia, sehat-sakit. Namun apa yang terjadi, pasti ada hadiah di balik itu semua,” urai Emil.

               “Kak Emil bisa bilang gitu, karena enggak di posisiku!" serunya.

               “Siapa bilang?" Emil memandang lekat "aku pun enggak tahu seperti apa rumus pastinya. Namun yang aku pahami adalah, ketika Tuhan kirimkan suatu ujian, bukankah ukurannya pas? Dia menakar ujian itu untuk setiap hamba-Nya!" Emil coba menyalurkan opininya "enggak ada orang yang binasa karena ujian, justru ketidak-ridaan diri yang membinasakan seseorang," imbuhnya.

         Level ujian yang diterima setiap orang sesuai tingkat keimanan, jika pun seseorang merasa imannya tidak cukup level untuk menerimanya, maka barangkali ada dosa yang hendak Dia hapuskan melalui ujian itu .

           Mizan terdiam, menimbang-nimbang apa yang diucapkan Emil. Belum usai ia menjabarkan “Mungkin kamu lupa, kejadian sepuluh tahun silam, yang menyebabkan aku trauma terhadap pantai dan laut selama beberapa tahun, saat Dia mengujiku dengan kehilangan Ibu dan Bapak akibat kapal yang kami tumpangi karam dihantam ombak. Lalu kau mungkin lupa ini,” Emil menunjuk kaki kanannya yang menggunakan pin “ketika Dia mengambil sesuatu dari kita, berarti ada kejutan hadiah berikutnya yang sudah disiapkan-Nya, lantas apakah Dia akan menyia-nyiakan Hamba-Nya padahal Hamba itu telah berserah diri dan sabar atas apa yang menimpanya?" Emil menarik napas dalam, suaranya yang mulai bergetar akibat tangis yamg tertahan.

          “Maaf,” ucap Mizan yang merasa bersalah.

          “Dont worry, kita kan sepasang sepatu.” Tawanya sambil bernyanyi.

                            ***

        Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya (HR.Muslim) 

Mungkin saja kamu suka

Citra Auliya
Lukisan Hati
Ani Maryani
Miss Dream
Nancy Rahmawati...
Rasa yang tak terbalas
Umdzatul Khasan...
Menunggumu di Kerang Mas

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil