Loading
1634

68

120

Genre : Romance
Penulis : Vega Galanteri
Bab : 26
Pembaca : 90
Nama : Vega Galanteri
Buku : 3

Ostinato Asmaradahana

Sinopsis

"Aku takut akan mengulangi peristiwa masa lalu sehingga membuat ada sosok perempuan yang akan kembali terluka jiwanya. Orang hanya memandang diriku dari luar saja. Akulah yang setiap waktu bercermin dengan bayanganku. Semakin aku melihat diriku, semakin tampak aku seperti dia. Dia yang telah membuat seorang perempuan bagaikan seonggok daging tanpa nyawa," kata Arjuna. "Semua orang selalu pernah menapaki jalan masa lalu. Ada jejak yang akan mudah terhapus, ada pula jejak yang melekat di sana. Namun, langkah kaki tetap ke depan. Bekas jejak di jalan belakang tak perlu kita injak lagi. Bila pun terlihat, cukuplah sebagai pengingat bahwa kita pernah melewati jalan itu."
Tags :
#philopobia#rahasiamasalalu#bangkitdariketerpurukan#insecure

1. Luka Masa Lalu

91 8

“Jangan, Mas Heru! Jangan kamu sakiti dia! Dia tidak salah apa-apa. Dia hanya membela diri,” Rosa menahan kaki suaminya yang hendak menendang bocah lelaki 10 tahun.

“Anak kurang ajar ini tidak bisa dibiarkan. Harus dengan apa Papa mendidik kamu? Kenapa kamu selalu cari masalah. Plak...plak.”

Tamparan bertubi-tubi segera bersarang di pipi Arjuna. Ia tidak memperisai dirinya dengan kedua lengan seperti biasa saat ayahnya melayangkan tinju. Ia hanya menatap dengan tubuh kaku dan gigi yang gemeretak.

“Mas, cukup....Sudah. Aku mohon,” Rosa mulai kehabisan suara.

Heru menggerakkan kakinya dengan kasar hingga terlepas dekapan tangan Rosa yang sejak tadi sekuat tenaga menahannya.

“Istri tidak berguna. Begini saja tidak bisa kau mendidik anakmu. Mau jadi apa dia, preman pasar?”

Heru mengambil jaket kemudian mengempaskan pintu dengan kasar. Gelegar suaranya mengejutkan Rosa yang masih terisak. Sementara Arjuna hanya terdiam memandangi punggung ayahnya.

“Kenapa kamu berkelahi lagi, Juna? Hari ini, apa lagi yang mereka katakan tentangmu?” tanya Rosa sembari menggoyang tubuh Arjuna.

Suara-suara masa lalu menggema di telinga Arjuna. Peristiwa pemukulan oleh ayahnya yang bertubi-tubi terus berkelebat setiap kali ia melihat dirinya di cermin. Ia ingin membenci dirinya sebanyak ia membenci ayahnya. Alisnya yang bertemu di pangkal hidung adalah ciri khas ayah di wajahnya. Begitu pula dengan batang hidungnya yang tinggi, tulang rahang yang jelas, semua milik ayahnya. Lelaki itu membenci wajahnya sendiri.

Suara ketukan pintu membuyarkan kelebat bayangan lampau dari cermin. Arjuna menarik sudut bibirnya ke kiri dan ke kanan dengan simetris, lalu memastikan sekali lagi di cermin.

“Dokter, pasien yang kemarin ingin melakukan vaginoplasti hari ini datang untuk kontrol kembali dan meminta jadwal operasinya dipercepat,” kata seorang perawat.

Belum sempat Arjuna menjawab perkataan perawat, seorang perempuan usia 45 tahunan masuk tanpa dipersilakan dan langsung duduk di kursi konsultasi.

“Dokter, saya mau dipercepat saja operasinya. Saya sudah tidak bisa menahan lagi,” perempuan itu terisak.

Arjuna mendekati pasien yang sudah sangat dikenalnya itu. Perempuan itu sudah dua kali memindahkan jadwal operasi. Terkadang ia mengatakan bahwa ia tidak ingin melakukan operasi hanya untuk menyenangkan suaminya. Namun, di lain waktu ia datang kembalii mendesak untuk dioperasi karena mengetahui suaminya main serong dengan perempuan muda.

“Nyonya sudah berkonsultasi dengan Dokter Fahri?”

“Tidak ada gunanya aku mendatangi dokter itu. Ia hanya memberikan petuah-petuah saja. Terlalu sering aku mengunjunginya, orang-orang akan mengira aku gila.”

“Untuk melakukan operasi, selain persyaratan medis, Nyonya perlu memantapkan hati.”

“Aku sudah mantap. Kalau memang suamiku bisa mendapatkan perempuan yang lebih muda, aku pun ingin bisa mendapatkan lelaki muda. Jadi aku perlu kembali menjadi seperti perawan.”

Arjuna menatap saksama wajah pasiennya kemudian menghela napas panjang. Pasien yang datang kali ini sangat spesial bagi Arjuna. Bukan karena ia adalah pasien VVIP, melainkan tatap matanya yang mengingatkan Arjuna pada sosok berharga dalam hidupnya. Ia sadar bahwa ia bukan dokter jiwa, tetapi ia dengan senang hati mendengarkan keluh kesah sang nyonya.

“Nyonya tahu kalau main serong itu akan melukai siapa pun, mengapa Nyonya ingin begitu?”

“Aku ingin balas dendam.”

“Banyak cara balas dendam yang lebih baik daripada melakukan hal yang sama dengan apa yang menyakiti kita.”

“Aku ingin dia tahu bahwa aku bisa mendapatkan lelaki muda. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku pun bisa menjadi lebih legit dari perempuan muda itu.”

“Baiklah, kalau begitu, Nyonya bisa memilih jadwal operasi.”

Nyonya itu kembali memilih tanggal untuk melaksanakan operasi kemudian Arjuna mengiyakan saja karena ia yakin bahwa nyonya itu tidak akan melakukannya.

“Dokter, apakah nyonya  itu akan dioperasi?” tanya perawat sesaat setelah sang nyonya pergi.

“Rasanya tidak.”

“Mengapa Dokter masih melayaninya?”

“Aku paling memahami bagaimana perasaan Nyonya itu. Matanya memancarkan kedukaan yang teramat dalam. Kedukaan yang hampir setiap hari aku tatap sejak dulu di mata....” Arjuna tidak melanjutkan kalimatnya karena ia tidak mampu mengontrol desir-desir darahnya.

***

Arjuna berbaring di sofa berwarna mocca, sedangkan Dokter Fahri duduk di hadapannya.

“Jadi, bayangan-bayangan itu terus berkelebat? Sudahkah Anda mencoba menghapusnya?”

“Aku sudah melakukan semua hal seperti yang Anda katakan. Aku memberanikan diri menatap wajahku berlama-lama di cermin. Tetapi, setiap kali aku melihat alis, hidung, dan keseluruhan wajahku, aku tiba-tiba seperti berada dalam ruang hampa udara dengan tembok yang terus menghimpit. Ketika aku semakin terjepit, tiba-tiba ada guncangan dahsyat yang membuat sesuatu dalam perutku bergejolak.”

“Seberapa sering Anda merasakan hal itu?”

“Sesering aku melihat cermin. Kadang aku berpikir, perlukah aku mengubah wajahku?”

“Anda harus memastikan terlebih dahulu, ketidakberterimaan Anda terhadap diri sendiri apakah benar bersumber dari wujud yang terpantul di cermin? Atau dari sesuatu yang memang terpendam dalam hati.”

“Saya juga tidak begitu yakin. Dulu, aku kerap berkelahi dengan teman-temanku karena mereka mengolok-ngolok aku yang tidak mirip dengan ayah maupun ibuku. Setiap mereka mengatakan itu, ada api yang berkobar dari dada hingga kepalaku. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menjuruskan tinju. Namun, sekarang aku merasa membenci diriku yang begitu mirip dengan ayah.”

“Sudahkan Anda mencoba memaafkan ayah Anda?”

“Aku sudah memaafkannya. Yang belum aku lakukan adalah tidak membencinya.”

“Bagaimana mungkin itu bisa berbeda. Kalau begitu, Anda belum memaafkannya.”

Saran untuk memafkan sudah sering kali didengungkan di telinga Arjuna. Dengan berbagai dalil, orang-orang memintanya memaafkan ayahnya. Kata maaf pun sudah pernah dilontarkan Arjuna pada sang ayah. Namun, ada sebuah lorong gelap antara ia dan ayahnya yang tidak dapat ditempuh Arjuna. Ia tidak punya cahaya menempuh lorong itu. Lorong yang dinding-dindingnya dipenuhi sketsa-sketsa kehidupan mereka.

“Apakah Anda pernah mencoba membagi kesakitan dengan orang lain?”

“Saya tidak punya orang lain untuk dibagi.”

“Mungkin kekasih Anda?”

Arjuna bertambah risih mendengar kata kekasih. Seumur hidup ia tidak pernah dekat dengan lawan jenis. Bahkan ia tidak tahu bagaimana rasanya menyukai lawan jenis.

“Anda punya segala yang disukai perempuan. Mengapa Anda tidak mencoba untuk menjalin suatu hubungan yang dapat membuat Anda membagi suka dan duka.”

“Aku takut.”

“Apa yang Anda takutkan?”

“Aku takut akan menjadi monster yang menyakiti orang lain?”

“Kalau Anda jadi monster, tentulah monster yang tampan. Banyak perempuan yang bertekuk lutut pada monster-monster tampan.”

Arjuna hanya tersenyum mendengar candaan Dokter Fahri. Bukan kali pertama, Dokter Fahri menyarankan Arjuna untuk segera berkeluarga di usianya yang sudah kepala tiga. Namun, Arjuna tidak memiliki keberanian untuk mencintai orang lain karena ia masih sibuk untuk berusaha mencintai dirinya sendiri.

Baginya, romansa percintaan hanyalah jemari halus dengan kuku-kuku runcing dan tajam yang siap mencengkeram jantung dan membuat manusia terkukung duka. Menurutnya, cinta hanya membuat orang-orang menanggalkan logika.  Lantas, ketika hati terluka, tidak ada rumus logika mana pun yang dapat menyembuhkannya.

 

 

 

 

 

 



 

user

07 December 2021 11:35 Asha Raya Semangat Kakak ...

user

09 December 2021 20:47 Des Ditariani Chayoo kak vega???? mampir balik ya kak ke noktah hitam

user

11 December 2021 15:48 hafshahmuslimah Keren kak

user

12 December 2021 18:49 a Semangat kakak

user

13 December 2021 02:29 Vega Galanteri Terima kasih kak Hamidah....sudah mampir ke sini.....sampai sebegituny ya Ostinato Asmaradahana ini tersesat...heheheh

user

13 December 2021 02:29 Vega Galanteri terima kasih kak hafshahmuslimah sudah berkenan mampir....

user

17 December 2021 18:01 Wina sulastri Semangat kak Vega .... Fight!

user

26 December 2021 10:09 Rina Dianita Sukaa bangeett, ceritanya ngalir, enak banget dibaca...

2. Gadis Kopi

85 2

 

Setelah memasukkan biji kopi pilihan dalam grinder, Hazal menyiapkan cangkir, gelas V60. Filter alas, dan ketel berleher panjang. Ia meletakkan V60 di atas cangkir. Biji kopi yang telah menyerbuk itu ditaruh pada V60 yang sudah dilapiisi filter. Dengan terampil, Hazal menuangkan air panas dari ketel dengan gerangan tangan memutar agar kopi teraduk sempurna. Selama dua menit 15 detik kemudian, secangkir kopi dengan rasa yang lembut segera siap disajikan di meja pelanggan.

Kopi dan aromanya adalah rutinitas yang membahagiakan bagi Hazal. Dua tahun sudah, gadis 20 tahun itu menjajadi barista di Kafe “Filosofi Kopi”. Kepiawaiannya dalam memilih biji kopi terbaik serta latte art yang tak biasa membuat pelanggan setia kecanduan pada kopi racikannya.

“Tangan kamu gemulai dan sangat lentik saat meracik kopi. Tiap lihat kamu bikin kopi, seperti lihat orang menari,” kata Vivian pada Hazal sembari menopang dagu.

Hazal hanya tersenyum menanggapi pujian sahabatnya itu.

“Aku ingin bisa begitu. Nanti ajari aku ya!”

Lagi-lagi Hazal hanya tersenyum dan memberi mengode dengan jempolnya tanda setuju.

Vivian melihat jam tangan kemudian serta merta matanya melotot pada Hazal. Ia memukul pundak Hazal dengan pelan kemudian mengarahkan Hazal  untuk melirih jam tangannya. Seketika raut wajah Hazal berubah. Ia kemudian melihat daftar pesanan yang masih berderet dan pengunjung yang masih ramai.

“Cepat, sana ke toilet atau ke ruang istirahat. Nanti aku akan panggilkan Bang Rayhan segera,” ucap Vivian panik.

Kepanikan yang sama terpancar juga di wajah Hazal. Ia hanya mengangguk kemudian segera berlari kecil menuju ruang istirahat sembari melepas celemek.

“Bang Rayhan, tolong gantikan Hazal. Masih banyak kopi pesanan yang antre. Abang tahu kan ini jam berapa?”

“Oh.Iya. Hazal sudah tidak di situ lagi?” tanya Rayhan sembari melirik ke arlojinya.

“Aman.”

Vivian dan Rayhan yang sudah sangat mengenal Hazal paham benar bahwa pada pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, Hazal tidak boleh melayani pembeli. Pada saat itu, Hazal sedang mengendalikan kebiasaan yang tidak mudah diterima orang banyak.

“Hazal di tempat biasa?” tanya Rico, sang manajer kafe.

“Iya, Bang Rico. Ini sudah jam nya dia,” jawab Vivian.

“Sayang sekali anak itu. Cantik, tetapi punya kebiasaan aneh.”

“Dia sudah berobat, Bang. Namun, belum ada hasil.”

“Nanti, Abang rekomendasikan dokter yang terbaik untuk dia.”

Kebaikan hati Rico dan rekan kerja merupakan suatu berkah yang belum tentu didapatkan Hazal di tempat lain. Mulanya, Rico tidak dapat menerima syarat yang diajukan Hazal pada waktu pertama melamar menjadi barista. Ia tidak dapat bekerja pada waktu tertentu sekalipun saat itu sedang banyak pembeli. Rico sempat ingin menolak saja lamaran pekerjaan Hazal, tetapi rupanya lidahnya termanjakan oleh kopi racikan Hazal. Kopi yang dibuat Hazal memiliki rasa khas. Selain itu, Hazal mengusai berbagai teknik penyajian kopi hingga mampu membaui kopi dengan sempurna.

Di ruang istirahat, Hazal masih terdiam. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin padahal ia sedang ada dalam ruangan ber-AC. Perutnya mulai mulas dari level rendah hingga klimaks. Ia duduk sambil menggoyangkan lututnya kemudian menghentak-hentakan kaki dengan ritme tak beraturan. Ia berdiri lalu mondar-mandir. Tak lama kemudian, ia duduk kembali sambil mengetatkan lengan pada tubuhnya. Seiring keringat yang makin mengucur, bibirnya mulai mengeluarkan suara.

Bungbeobuyungbeo bungbeobuyungbeo bungbeobuyungbeo.”

Susunan suku kata tak beraturan itu terus meluncur dari mulutnya. Ia melipat tubuhnya hingga wajah menyentuh lutut untuk menahan keluarnya kata-kata. Tetap saja, deretan huruf-huruf konsonan dan vokal itu tergumam.

Hazal mengatupkan bibir, menahannya dengan jempol dan telujuk. Suara hilan sejenak. Namun, tak lama, otaknya kembali mengirim perintah pada bibirnya untuk kembali membuka dan bersuara.

***

“Kopi ini rasanya beda,” komplain seorang pembeli kepada Vivian.

“Maaf, Pak. Beda bagaimana? Ini sesuai dengan pesanan Bapak.”

“Pesanannya benar, tetapi rasanya berbeda. Ini bukan dibuat oleh orang yang biasa,” sahut sang pembeli dengan nada ketus.

Vivian menoleh kepada Rico untuk memberi tanda. Rico lalu mendatangi pelanggan yang wajahnya mengindikasikan kekesalan.

“Ada yang bisa saya bantu, Bapak.”

“Saya tidak suka rasa kopi yang ini.”

“Ini sudah sesuai dengan pesana Bapak.”

“Iya, tapi saya tidak suka. Rasanya tidak enak. Apakah kafe ini sudah menurunkan kualitas kopinya? Sungguh tidak profesional,” keluhnya dengan suara meninggi.

Pelanggan yang ada di meja lain mulai mengarahkan mata ke sumber suara.

“Kalau begitu, kami akan meramunya kembali,” kata Rico.

“Rayhan, katanya kopinya beda. Bagaimana ini?”

“Kita harus menunggu Hazal kalau begitu.”

“Tapi, masih setengah jam lagi. Bagaimana? Nanti malah bapak itu mencak-mencak,” ujar Vivian.

Rayhan kemudian berusaha membuat kopi pesanan pelanggan itu. Tak lama disajikan, Vivian kembali membawa kopi tersebut ke meja bar.

“Bapaknya tidak mau. Katanya aromanya tidak sama.”

“Astaghfirullah. Habis kesabaran dibuatnya kalau begini,” kata Rico.

“Iya, Bang. Kalau tidak kita ikuti kemauannya, bisa-bisa dia bikin kekacauan di sini. Kita juga yang repot,” timpal Rayhan.

Rico meminta Vivian untuk mendatangi Hazal. Saat Vivian datang, Hazal masih mondar-mandir sambil bersuara tak beraturan.

“Sudah belum ritual mantranya? Di depan ada pelanggan yang sudah dua kali dibuatkan kopi, katanya tidak enak. Tidak sama seperti buatan kamu.”

Hazal menoleh kemudian memberi kode dengan kelima jarinya.

“Oke, lima menit lagi ya? Cepat ke depan kalau sudah selesai baca mantra ya!” goda Vivian.

Kelegaan terpancar dari wajah Rico dan Rayhan saat Hazal tiba. Ia kemudian membuatkan kopi pesanan. Vivian membawa kopi tersebut dengan wajah tegang kalau-kalau pelanggan itu akan komplain kembali.

“Ini baru kopi yang nikmat,” katanya bapak itu sambil membaui aroma kopi.

Hazal menempelkan kedua telapak tangan kemudian membungkukkan separuh tubuh ke arah Rico.

“Iya, sudah. Tidak apa-apa. Kebetulan kita dapat pelanggan fans berat kamu,” kata Rico sambil terkekeh.

Hazal merasa bersalah terhadap peristiwa yang dialami oleh rekan kerjanya. Ia kemudian melempar senyum kepada Rayhan.

“Kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Rayhan.

Hazal menggelengkan kepala.

“Tadi Bang Rico bilang mau merekomendesaikan dokter terbaik untuk kamu. Cobalah tanya dan jangan putus asa berobat ya!”

Anggukan Hazal yang diiringi senyum membuat hari Rayhan berbunga-bunga. Sejak lama Rayhan mengagumi Hazal, tetapi ia tidak pernah mengutarakannya. Ia tidak ingin perasannya justru membuat jurang yang dalam di antara mereka. Dari Vivian, Rayhan tahu bahwa Hazal tidak sedang ingin menjalin hubungan percintaan.

“Jangan sampai nanti perasaan kamu ke dia malah bikin perasaannya tidak nyaman. Jika ia tidak nyaman, kebiasaan buruknya akan lebih sering kambuh. Bisa-bisa nanti 24 jam penuh dia bakal baca mantra. Kan kasihan dia,” kata Vivian kala itu.

Sejak itu, Rayhan memutuskan untuk menahan perasannya pada Hazal. Ia hanya akan tetap bersikap sebagai seorang kawan yang siaga membantunya kapan saja.

 

 

 

 

user

17 December 2021 23:40 Des Ditariani galfok aku sama suara Hazal :)

user

27 December 2021 14:04 Yajma Sadida Hazal kenapa nih?

3. Ketakutan Menjadi Buah yang Jatuh Tak Jauh dari Pohon

94 3

 

“Juna, kamu sudah dengar kabar bahwa kita akan kedatangan dokter baru?” tanya Andre yang sekonyong-konyong datang ke ruangan Arjuna.

“Iya, aku sudah dengar.”

“Kita bakal kedatangan berlian. Kau tahu kan siapa dia?”

“Aku tidak mau terlalu mencari tahu.”

“Dia putri tunggal Pak Direktur.”

“Oo.”

“Namanya Violeta. Wajah rupawan, pembawaan menawan.”

“Semua perempuan selalu menawan di matamu.”

“Tetapi yang ini jelas berbeda. Bibit, bobot, bebet premium. Kamu yang akan beruntung karena bisa lebih sering bertemu Violeta. Kalau sampai bisa jadi menantu Pak Direktur, karier kita semakin cerah.”

“Dasar matrealistis,” ejek Arjuna kemudian menyeruput kopinya.

“Juna, apa kamu masih tertarik pada perempuan?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak pernah melihat kamu berpacaran atau dekat dengan perempuan. Kamu masih normal kan?”

“Sepertinya aku mulai merasakan getaran-getaran kepada seseorang yang sangat ingin tahu tentang kehidupanku. Aku juga suka dengan orang yang matrealistis. Kebetulan orang itu juga dekat denganku,” Arjuna menggoda Andre.

“Gila. Jangan macam-macam, Juna. Aku masih normal,” kata Andre sambil berlari kecil dan bergidik meninggalkan Juna yang terkekeh.

“Dokter Arjuna diminta ke ruangan Pak Direktur sekarang,” kata seorang perawat.

Arjuna mengetuk pintu ruang direktur dengan pelan kemudian masuk saat telah dipersilakan. Di dalam, ia melihat perempuan berkemeja coklat duduk dengan kaki kanan di atas kaki kiri. Perempuan itu melempar senyum ramah pada Arjuna.

“Dokter Arjuna, ini kenalkan Dokter Violeta.”

Violeta segera berdiri dan mengulurkan tangan pada Arjuna. Namun, ia harus menelan pil kecewa karena Arjuna menyambutnya dengan menangkupkan telapak tangan. Dengan kikuk Violeta menarik uluran tangannya.

“Vio, ini Dokter Arjuna yang akan menjadi rekan kerjamu. Dokter Arjuna cukup populer di RS ini. Pasien VVIP biasanya selalu memilih berkonsultasi dengan Arjuna.”

Arjuna hanya tersenyum tanpa suara. Ia merasa pujian Pak Direktur terlalu berlebihan.

“Dokter Arjuna, Vio ini anak tunggal saya. Dia baru lulus dari Amerika spesialis bedah plastik.”

Lagi-lagi Arjuna hanya tersenyum mendengar penjelasan tentang Violeta. Sementara itu, diam-diam Violeta mengamati gerak-gerik Arjuna dengan saksama.

“Papa, kenapa Dokter Arjuna tampak kaku begitu?”

“Dia memang begitu. Selalu kaku apalagi dengan perempuan.”

“Kalau dia kaku dengan perempuan, bagaimana dengan pasiennya?”

“Entahlah. Mungkin para pasien menyukai gayanya yang demikian.”

Sikap dingin Arjuna memantik rasa penasaran dalam benak Violeta. Tidak biasanya ada lelaki yang tidak memandangnya dengan tatapan istimewa. Di manapun berada, Violeta selalu ditatap penuh kekaguman oleh lelaki. Namun, Arjuna bahkan tidak mau berjabat tangan dengannya.

Violeta melenggok menuju ruangan praktiknya. Heels sepatu hitam Sergio Rossi mengeluarkan bunyi teratur saat menyentuh lantai. Setiap mata menatapnya bagai model yang sedang show di catwalk. Kecanggungan sepertinya tidak ada dalam kamus hidup Violeta. Buktinya, meski banyak mata memandang, ia tetap melangkah dengan pasti sembari terus menebar senyum ramah.

Saat ia berlalu, beberapa perawat mulai berbisik-bisik membicarakannya. Ada yang mengomentari merek baju dan sepatunya. Ada yang kagum dengan tas hitam yang ditentengnya. Ada juga yang menakar harga aksesorisnya.

“Anak Pak Direktur pakai skincare apa ya?” celetuk seorang perawat.

“Yang jelas bukan skincare yang didiskon 50 persen,” sahut seorang lagi sambil tertawa kecil.

“Aku merasa menjadi orang paling kerdil di dunia kalau berdiri di sebelah Dokter Violeta.”

Violeta berhenti sejenak di depan ruangannya. Ia melihat papan nama Dokter Arjuna terpasang di ruang sebelahnya. Ia tersenyum puas lalu masuk ke ruangan.

***

“Aku belum pernah mengatakan ini kepada siapa pun, Dok. Apakah aneh jika pada usia ini aku sama sekali belum pernah mengalami...,” ujar Arjuna tanpa menyempurnakan kalimatnya.

“Mengalami apa?” tanya Dokter Fahri.

“Mengalami mim...pi... yang membuat orang menjadi baligh.”

Dokter Fahri berusaha menahan perubahan raut wajahnya. Sebagai psikiater tentu ia harus pandai menyembunyikan emosi pribadinya terhadap keluhan pasien. Meskipun sebenarnya ia merasa lucu dengan hal yang disampaikan Arjuna.

“Hal itu tidak berbahaya, selama organ reproduksi sekunder normal seperti selayaknya pria dewasa.”

“Aku tidak tahu dengan pasti, Dok.”

“Maksudnya?”

“Entahlah, bagaimana cara menjelaskannya. Aku rasa Dokter Fahri paham tanpa harus aku jelaskan detail.”

“Semua bersumber dari sini,” kata Dokter Fahri sembil menyentuhkan telapak tangan ke dada Arjuna.

“Ada yang belum tuntas dari masa lalumu sehingga memengaruhi banyak hal dalam tubuhmu.”

Kali ini Dokter Fahri bersikap seperti seorang bapak bagi Arjuna.

“Aku rasa tidak perlu menjelaskan padamu tentang bagaimana pikiran dan suasana hati akan sangat memengaruhi tubuh. Kau pasti tahu itu. Kau harus lebih membuka diri untuk dirimu sendiri dan orang lain.”

“Aku merasa kesendirianku menjadi masalah pelik bagi orang lain. Aku sangat menikmati hidupku yang sekarang, tetapi semua orang sepertinya risih. Mami dan Papi juga terus mendesak agar aku segera punya pendamping.”

“Wajar saja kalau mereka punya tuntutan begitu. Kalau aku jadi orang tuamu, tentu akan bersikap begitu. Bahkan lebih ekstrem. Aku sendiri yang akan mencarikan jodoh untukmu. Jangan sampai punya anak ganteng tapi bujang lapuk,” kata Dokter Fahri sambil terkekeh.

“Aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing dalam hidupku. Ketidaknyamanan itu sudah muncul bahkan jika aku hanya membayangkan.”

“Aku hanya berpesan, sempurnakan agamamu! Apa kau tidak ingin menyempurnakan keimananmu?”

“Aku ingin, tapi....”

Beberapa kali Arjuna mencoba untuk memaksakan diri agar tertarik pada perempuan. Namun, selalu tidak pernah berhasil. Beberapa rekan mencoba mengenalkannya dengan banyak gadis, tetapi ia sama sekali tidak ada getar-getar di hatinya. Bahkan, ada kawan yang mengenalkannya dengan lelaki karena berpikir ia tidak normal. Hal itu membuat Arjuna murka karena bukan bukan penyimpangan yang ia alami. Arjuna hanya selalu merasa terpenjara oleh cermin. Penjara kebencian dan penjara kebohongan.

“Setiap orang punya masa lalu. Aku pun begitu. Bahkan, jika kukisahkan masa laluku padamu, pasti kamu tidak akan lagi berkonsultasi denganku. Kamu akan merasa jijik. Namun, setiap orang punya hak untuk bangkit. Setiap manusia wajib untuk berjalan ke arah yang baik seberat apa pun itu. Aku yakin bahwa terkadang orang yang memiliki masa lalu paling kelam dapat menjadi orang dengan masa depan paling cerah,” kata Dokter Fahri memecah lamunan Arjuna.

“Aku tahu, Dok. Semua kalimat-kalimat renyah  sudah aku kunyah untuk memotivasi diri agar kakiku bisa bergeser dari masa lalu. Namun, semakin aku mencoba bergeser, selalu ada kekuatan yang menarik kakiku untuk tetap tinggal.”

“Aku teringat perkataan khalifah Umar bin Khatab bahwa tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan. Sesungguhnya, apa yang kamu khawatirkan adalah masa depan yang belum terjadi. Sama sekali tidak beralasan kalau kamu tidak dapat mencintai orang lain hanya karena takut mengulangi luka masa lalu yang dirimu sendiri pada waktu itu adalah korban.”

“Itulah yang mengikatku selama ini. Aku takut kalau membuat orang lain menjadi korban sepertiku. Bagiamana pun darah orang itu mengalir deras dalam diriku. Wajahku begitu persis dengan dia. Bagaimana kalau sampai tingkahku pun persis seperti dia? Bukankah buah selalu jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku adalah buah yang takut tumbuh menjadi seperti pohon itu, Dok.”

 

 

 

 

 

 

user

09 December 2021 09:18 Asha Raya Setampan apa Dr. Arjuna ini huaa... Lanjutkan kak say...

user

17 December 2021 23:44 Des Ditariani wah dokter arjuna, benarkah itu? semnagat kak vega

user

27 December 2021 14:14 Yajma Sadida Semangat Pak Dokter!

4. Album Kenangan

97 2

 

Bagus : [Arjuna, bagaimana dengan reuni SMP kita? Kamu pergi? Pihak panitia ingin mengonfirmasi kehadiaran]

Lama Arjuna merenung memutuskan tentang kepergian untu reuni. Reuni artinya memasuki gerbang masa lalu secara resmi. Meskipun tatapan mata rekan-rekan SMP Sudah berbeda padanya kini. Arjuna yang sekarang bukan lagi yang dulu kerap mereka bully dengan sebutan “giant” atau “gajah bengkak”.

Arjuna yang gemuk dan pendiam selalu menjadi bulan-bulanan kawan SMP. Meski tubuhnya tergolong paling besar di kelas, tak serta merta orang takut padanya. Justru ia menjadi korban pemerasan rekan sekelas. Bukan tak ada keinginan untuk melawan, tetapi ia tidak ingin membuat ibunya dalam masalah. Jika ia berkelahi, ibunya juga akan perang dengan sang ayah di rumah.

Saat SD, berkelahi sudah menjadi jadwal wajib bagi Arjuna setiap hari. Itu artinya setiap ia akan dipukul oleh ayah dan ibu akan mengiba-iba memohon pada ayah dengan air mata. Kala itu, Arjua tidak terima karena dikatakan sebagai anak adopsi lantaran tidak mirip dengan ayah maupuni ibunya. Ia selalu melihat cermin dan tidak menemukan kemiripan apa pun dengan ayah yang berwajah tampan juga ibu yang jelita. Sejak itu ia selalu merasa minder.

Setiap kali Arjuna mengalami tekanan, ia tidak mampu mengontrol keinginan untuk makan. Karena itu, berat badannya pun tidak terkontrol. Bobot tubuhnya semakin bertambah seiring usianya. Sejak itu pula, panggilan raksasa melekat padanya.

Namun, sekarang, kawan-kawan SMP banyak yang berdecak kagum dengan kesuksesan Arjuna sebagai dokter bedah plastik di salah satu rumah sakit swasta ternama. Tidak ada lagi lemak-lemak berlebih di tubuhnya. Ia selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa yang ingin menjadi pendampingnya.

Arjuna :[Perlukah aku hadir?]

Bagus  :[Harus hadir. Kamu salah satu alumni kita yang sukses. Kamu harus berbagi tentang kesuksesan itu]

Membaca kata sukses membuat Arjuna merasa geli. Ia sendiri tidak tahu tentang kesuksesan yang dimaksud. Sampai pada titik ini, ia sama sekali tidak mengetahui apakah sesungguhnya ia telah mencapai sesuatu yang digadang-gadang sebagai kesuksesan.

Setelah negosiasi panjang dengan Bagus, Arjuna luluh dan menyatakan akan datang pada acara reuni SMP. Bagus mengompori bahwa reuni merupakan salah satu ajang untuk mengapresiasi jasa guru-guru mereka.

Arjuna punya ingatan indah tentang Pak Arman, sosok seorang guru yang selalu mendatanginya di belakang sekolah tiap ia menyendiri. Kepada Pak Arman mengalirlah kisah-kisah kepedihan dan kesepian. Arjuna menemukan sosok “ayah pengganti” dalam diri pak Arman.

“Orang dewasa mengalami kerumitan yang sulit dipahami anak-anak. Namun, percayalah, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Hanya saja, cara mereka seringkali tidak dapat dipahami oleh sang anak,” pesan Pak Arman tiap kali Arjuna mengeluhkan tentang ayahnya.

Ponsel Arjuna berdering dan seketika wajahnya tegang melihat nomor penelepon yang tertera di layar.

“Den Arjuna, Nyonya berteriak-teriak histeris?”

“Ada apa? mengapa bisa begitu?”

“Den Arjuna datang saja dulu. Saya juga sudah menelepon Nyonya Diana.”

Arjuna melepas jas putihnya kemudian berlari kecil menuju parkiran mobil. Ia menekan gas mobil dengan kuat hingga melaju dengan kecepatan tinggi dalam malam yang baru saja mulai.

***

“Belum pulang?” tanya Rayhan pada Hazal.

Hazal membalas dengan senyuman.

“Mau diantar pulang?”

Hazal hanya menggeleng sembari terus menyeduh kopi.

“Dari semua kopi, kamu paling suka yang mana?” tanya Rayhan.

Hazal kemudian menunjuk pada toples kaca berukuran besar.

“O, kita sama. Aku juga suka Gayo arabika. Aku penasaran bagaimana kamu bisa begitu pandai memilih kopi terbaik. Padahal aku sudah melakukan seperti yang sering kamu lakukan.”

“Jelas saja Hazal pandai memilih kopi terbaik, dulu dia anak juragan kopi?” celetuk Vivian yang tiba-tiba menyela pembicaraan.

Wajah Hazal berubah seketika saat Vivian mengungkap kebenaran tentang dirinya. Vivian sadar bahwa telah melakukan kesalahan dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kalau mau bisa jeli harus banyak latihan. Benar kan ya?” kata Vivian.

Hazal lalu meminta Vivian dan Rayhan berbalik badan. Ia kemudian mengambil biji kopi yang telah di-roasting sebanyak 8,25 gram. Ia lalu memasukan ke kedalam masing–masing gelas cupping. Setelah biji kopi di-grinder ia melakukan pembekaman kemudian menyeduh kopi dengan 150 ml air mendidih.

Rayhan dan Vivian mulai mengendus aroma, tetapi Hasal belum mengizinkan mereka berbalik. Hazal meminta mereka menunggu selama lima menit hingga suhu air mencapai 93?C lalu. Hazal terus mengaduk permukaan kopi dan membersikan buih dengan dua sendok. Setelah yakin bahwa suhu kopi mencapai 73?C –78 ?C barulah ia meminta Vivian dan Rayhan mengecapnya.

“Co...ba tebak,” kata Hazal dengan gagap.

Vivian berkali-kali salah menyebutkan jenis kopi yang diminumnya hingga tak menghadirkan tawa di antara mereka.

“Pantas saja kamu jadi barista andalan Bang Rico. Kopi buatannya enak begitu. Betul tidak Rayhan?”

Rayhan mengangguk sambil terus menyeruput kopi dan menikmati senyum Hazal. Kenikmatan yang dirasakan Rayhan bukan hanya terletak pada kopi, melainkan sang pembuat kopi.

Rayhan kembali memandang Hazal yang ada di depannya. Banyak orang yang menyayangkan sosok Hazal yang memiliki kekurangan. Kekaguman kepada gadis berkulit putih berhidung tinggi itu kerap berubah ketika orang-orang mendengarnya bicara. Selain memiliki kebiasaan latah pada waktu-waktu tertentu, Hazal juga gagap. Namun, bagi Rayhan Hazal tetaplah gadis istimewa. Ia kerap melihat Hazal berlatih bicara saat sendiri untuk mengurangi gagapnya. Gadis itu pun hampir tidak pernah marah tiap kali rekan-rekan lain mengoloknya dengan berpura-pura gagap.

***

“Mami baru datang?” tanya Arjuna dengan napas tersengal.

“Iya, tadi Bi Narsih menelepon Mami katanya mama kamu histeris.”

Arjuna segera bersimpuh di hadapan perempuan berkursi roda. Ia menggenggam tangan perempuan itu lalu menatapnya dalam.

“Ada apa, Mama?”

Tidak ada sahutan, anggukan, atau respons apa pun. Perempuan itu hanya diam memandang dengan tatap mata kosong.

“Maafkan Arjuna yang belum punya waktu banyak untuk bersama Mama. Tiga hari ini Juna banyak sekali pekerjaan sehingga belum bisa datang.”

“Bagaimana Mama bisa histeris, Bi?” tanya Arjuna.

“Tadi saya sedang bersih-bersih gudang belakang. Saya menemukan album ini dan meletakkan di meja ruang tengah. Saat melihat ini, Nyonya langsung berteriak sambil menangis.”

Dengan sigap Arjuna mengambil album foto dari tangan Bi Narsih. Matanya membelalak saat membolak-balik halaman demi halaman album foto usang itu.

“Bagaimana bisa ada album ini? Perasaan Mami sudah buang semua hal yang berkaitan dengan papamu.”

Arjuna melirik pada perempuan yang melahirkannya itu. Ada rasa iba yang mendesak-desak. Ia memahami kepedihan yang dirasakan mamanya. Sebuah album foto yang menampilkan dua sosok manusia dewasa mengapit bocah lelaki penuh senyum. Di depan mereka ada kue ulang tahun dengan lilin angka 3 .

 

user

10 December 2021 03:50 Nona Icha Wah, semangat, Kak ...

user

10 December 2021 13:00 Asha Raya Lanjutkan kakak. Jangan lupa mampir ke karya saya ya, berjudul Insecure Twins. Terima kasih.

5. Rasa yang Tertinggal

87 1

Dari segelas kopi aku belajar bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. (Gadis Kopi)

Arjuna membaca quotes yang tertera di gelas plastik kopi Americano yang ia pesan melalui jasa online. Arjuna bukan penikmat kopi, tetapi ia penasaran dengan cerita Andre tentang rasa kopi yang biasa dikonsumsinya di Kafe Filosofi Kopi.

“Bagaimana? Percaya kan kalau memang enak?” tanya Andre.

“Aku tidak tahu bagaimana membandingkan karena belum mencoba semua kopi. Perasaan rasanya sama saja, rasa kopi. Ada pahit-pahitnya.”

“Minum kopi itu ada seninya, Bro. Coba rasakan sensasinya. Itulah mengapa minum kopi perlu diseruput,” ujar Andre sambari mempraktikkan teknik menyeruput kopi.

Arjuna mengikuti cara Andre kemudian mencoba mengecap rasanya.

“Rasa kopi.”

“Ya, memang kopi. Begini, nikmati perlahan. Aromanya, keasamannya, tekstur, dan aftertaste. Kopi juga bisa mencerminkan kepribadian kita. Kalau ingin lebih menikmati, harus sering-sering ngopi. Lain waktu kita langsung ke tempatnya.”

Arjuna hanya mengangguk. Lebih dari itu ia mulai tertarik dengan tulisan yang muncul di gelas kopi. Kembali ia menyeruput kopi dan mengizinkan lidahnya untuk menjelajah rasa. Ada sensasi pahit yang tertinggal di lidah dan tenggorokan. Baginya, rasa pahit yang tertinggal di lidah adalah manifestasi  hidup. Selalu ada rasa yang tertinggal di setiap peristiwa. Rasa yang pernah ada dan bersumber dari pengalaman kehidupan tidak sepenuhnya hilang.

“Selamat pagi! Boleh bergabung di sini?” sapa Violeta ramah.

“Boleh. Silakan!” sahut Andre.

Violeta menoleh pada Arjuna berharap mendapatkan izin serupa. Namun, sekali lagi Violeta harus kecewa karena Arjuna sama sekali tidak menoleh atau menjawab.

“Apakah ada yang keberatan kalau aku duduk di sini juga?”

Andre menendang pelan kaki Arjuna dari bawah meja kemudian mengangkat sebelah alis dengan lirikan mata ke arah Violeta.

“Oke,” jawab Arjuna singkat.

“Suka kopi juga?” tanya Violeta pada Arjuna dengan senyum ramah.

“Awalnya dia tidak suka, tetapi sepertinya akan suka karena baru mencoba kopi yang nikmat.”

Violeta mengembuskan napas panjang karena yang menjawab pertanyaannya adalah Andre bukan orang yang ditanya.

“Suka kopi apa?”

“Kalau tadi dia pesan Americano.

Violeta berdiri dari kursi dengan menahan amarah karena Arjuna tidak menjawab satu pun pertanyaannya melainkan Andre.

“Apakah dokter di rumah sakit ini kalau berbicara harus menggunakan juru bicara?”

Andre terbatuk kecil karena merasa kalimat yang diucapkan Violeta bertujuan untuk menyindirnya.

Anu...itu...maaf. Saya tidak bermaksud menjadi juru bicara.”

Violeta pergi meninggalkan Arjuna dan Andre.

“Aduh, jadi tidak enak sama anak Pak Direktur. Bagaimana ini?”

“Ya sudah biarkan saja. Jangan dipikirkan.”

“Ini salah kamu. Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaannya?”

“Aku tidak meminta kamu jadi juru bicara. Wajar saja dia marah.”

“Aduh, gawat,” keluh Andre sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Dokter Fahri!” panggil Arjuna yang melihat Dokter Fahri melintas.

Arjuna berjalan tergopoh-gopoh mendatangi Dokter Fahri.

“Apakah dokter punya waktu sebentar. Ada hal yang harus aku bicarakan tentang Mama.”

“Silakan, 30 menit lagi aku tunggu di ruangan.”

 

Arjuna memasuki ruangan Dokter Fahri dengan wajah gusar. Dokter Fahri sudah dapat menebak masalah yang menyebabkan kegelisahan Arjuna.

“Kemarin Mama histeris, Dok. Hal itu dipicu karena Mama melihat album foto keluarga kami di masa lalu. Mama terus menangis hingga malam hari. Sesekali, tangisan Mama bertambah kencang. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna.”

“Kita sudah berusaha selama bertahun-tahun untuk mengobati mamamu. Namun, tidak ada perubahan yang signifikan. Setidaknya, meskipun sama sekali tidak ada respons, mamamu tidak sampai melukai diri sendiri.”

“Aku benar-benar ingin melihat Mama sembuh dan tersenyum seperti dulu.”

“Guncangan yang dideritanya mengganggu mentalnya. Mamamu masih belum bisa menerima lukanya sehingga ketika ada yang membangkitkan kembali memori yang berhubungan dengan masa lalu, ia pasti histeris.”

“Aku kecolongan, padahal semua foto dan barang-barang yang mengingatkan Mama pada lelaki itu sudah aku musnahkan.”

Lagi-lagi Arjuna harus berhadapan dengan kebencian terhadap ayahnya. Tidak ada maaf yang sempurna untuk ayahnya. Bahkan lidah Arjuna terasa kelu untuk mengucapkan panggilan “Papa”.

“Kau harus lebih sering berbincang dengannya. Itulah cara agar dapat mengoneksikan pikirannya dengan kenyataan sehingga ia tidak berada dalam dunia masa lalu.”

Rentetan peristiwa kelam kembali mengisi ruang ingatan Arjuna. Bukan hanya kekerasan yang ia terima dari sang ayah, melainkan perlakuan lelaki itu pada ibunya. Ayahnya, Heru adalah pemuda biasa tanpa harta yang menjadi karyawan di perusahan kakek Arjuna. Pemuda biasa itu jatuh cinta pada anak pemilik perusahaan__Rosa, ibu Arjuna. Gelora cinta darah muda tak terbendung membuat Rosa rela menentang keluarga demi bersama Heru. Rosa menanggalkan segala yang melekat padanya sebagai orang berada. Ia belajar hidup sederhana mendampingi Heru.

Keluarga kecil itu merasa sempurna ketika Arjuna hadir sebagai buah cinta. Mereka terus menyulam harapan masa depan yang cerah hingga lima tahun pernikahan. Rupanya, ombak menghantam biduk rumah tangga mereka. Heru kehilangan pekerjaan sehingga perekonomian keluarga oleng. Rosa berusaha membantu Heru dengan mencari pekerjaan dan diterima sebagai staf adminstrasi di sebuah perusahaan. Namun, hal itu membuat harga diri Heru tercoreng. Ia yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan terpaksa berganti peran dengan Rosa. Heru menjaga Arjuna, sedangkan Rosa bekerja.

Lelaki itu merasa terhina dengan posisinya dan mulai mencari-cari kesalahan Rosa sebagai pelampiasan. Meski sekuat baja Rosa meyakinkan dan menunjukkan rasa hormat kepada Heru, tetaplah lelaki itu merasa hina. Perasaan rendah diri dan terhina yang muncul dari dalam dirinya membuat ia cepat tersinggung dan emosional. Sedikit saja kesalahan dapat membuatnya murka hingga melakukan kekerasan fisik. Rosa bertahan dengan sikap kasar Heru sebagai konsekuensi cinta. Tak hanya kepada Rosa, Arjuna pun menjadi sasaran pelampiasan emosi yang tak terkendali. Hingga sebuah peristiwa besar mengguncang mental Rosa. Ia menjadi seperti seonggok daging bernyawa tanpa jiwa.

Dada Arjuna terasa sesak. Seketika telinganya seperti mendengar denging yang semakin nyaring. Ia berusaha mengakses udara ke rongga dada berkali-kali. Dadanya turun naik dan keringat dingin mulai keluar di dahinya. Melihat itu, Dokter Fahri segera mengambil segelas air putih dan menenangkan Arjuna.

 “Berusahalah untuk menerima luka. Berhenti mengenang saat itu terasa sakit.”

“Selalu ada rasa yang tertinggal meski aku sudah menghapus banyak file dari memoriku. Kalau saja aku seperti komputer, aku akan meminta untuk di-instal ulang.”

“Manusia pun bisa meng-instal ulang dirinya sendiri. Berserah diri. Bersabarlah dan pasrah para ketetapan sang pemilik skenario hidup ini. Ingatlah, bersama kesulitan selalu ada kemudahan.”

“Apakah aku tergolong manusia yang lemah, Dok?”

“Semua manusia adalah insan yang lemah. Yang terpenting adalah bagaimana manusia tidak meratapi kelemahannya terlalu lama dan mengelolanya menjadi kelebihan. Kalau kau adalah lelaki yang lemah, tidak mungkin kau bisa ada di sini bersamaku, menjadi dokter spesialis.”

“Tapi aku belum mampu membuat orang  yang paling berharga dalam hidupku bahagia.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

27 December 2021 14:33 Yajma Sadida Peristiwa apa sih? Kepo:)

6. Gadis Aneh

85 1

 

Sirine ambulans meraung memasuki pelataran rumah sakit. Empat perawat berlari kecil sambil mendorong brankar menyambut pasien yang siap diturunkan dari perut ambulans. Terdengar erangan dari mulut pasien berkali-kali sambil terus memegangi wajahnya. Di belakang pasien, seorang ibu paruh baya terus menangis sembari berzikir. Wajah tegang para perawat yang mendorong brankar memancing banyak mata melirik pada pasien.

“Pasien remaja terkena siraman air keras di wajah. Wajahnya meleleh hampir separuh,” kata seorang perawat kepada rekannya.

“Baik, saya akan segera menelepon Dokter Arjuna.”

Arjuna yang menerima telepon berlari sesegera mungkin menuju UGD. Dengan sigap ia memeriksa area yang terkena luka bakar. Arjuna memastikan kondisi organ-organ penting lainnya. Wajahnya menegang saat melihat kelopak mata kanan yang lengket sehingga mata sulit membuka. Begitu juga dengan cuping telinga kanan yang telah meleleh.

Arjuna lalu membuka sebelah mata pasien kemudian memeriksa dengan senter kecil untuk memastikan respons pupil terhadap cahaya dan mengecek tingkat kesadaran. Ia juga melakukan pengecekan patensi jalan napas. Dengan saksama ia memerhatikan gerakan napas dan pengembangan dada. Arjuna lalu menempelkan pipinya untuk mendengar dan merasakan aliran udara pernapasan pasien.

Dengan hati-hati, Arjuna mengangkat dagu gadis remaja itu kemudian mengangkat sudut rahang bawah. Ia meminta perawat memeriksa tekanan darah serta mengambil sampel darah untuk dibawa ke laboratorium.

“Pindahkan pasien segera ke ruangan perawatan untuk observasi lebih lanjut,” kata Arjuna pada perawat.

“Tapi, Dokter....”

“Tapi apa?”

Perawat berbicara dengan pelan seperti berbisik kepada Arjuna.

Apa-apaan begitu. Pasien sudah pada kondisi gawat darurat rumah sakit ini masih sibuk mengurusi persoalan adminsitrasi? Kita perlu menyelamatkan pasien segera?” ujar Arjuna berang.

“Sa...sa...ya hanya menyampaikan pesan dari bagian administarsi, Dok,” sahut perawat gelagapan.

Arjuna segera mendatangi meja administrasi. Seorang ibu paruh baya yang tadi mendampingi pasien tampak membeku di muka meja administrasi. Matanya bengkak dengan gelinang air mata yang tak surut sambil memegang secarik kertas bertuliskan angka-angka.

“Kenapa pasien itu belum boleh masuk ruang perawatan? Apa kalian tidak lihat kondisinya?” kata Arjuna dengan nada tinggi.

“Maaf, Dokter, kami hanya menjalankan sesuai dengan SOP rumah sakit.”

“SOP rumah sakit yang mana yang kalian maksud. SOP penanganan pasien dan memberikan pertolongan itu yang lebih penting.”

 Suara Arjuna semakin meninggi sehingga mengundang perhatian orang-orang.

“Ta...pi...,Dok.”

Arjua mengeluarkan kartu dari dompetnya kemudian menyerahkan kepada staf adminstrasi dengan setengah melempar.

“Bebankan semua biaya pada saya. Saya yang akan menanggungnya.”

Mendengar itu, Arjuna tiba-tiba didekati ibu yang langsung menggenggam tangannya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Dokter. Saya akan anggap ini sebagai utang. Tolong selamatkan gadis itu. Ia anak saya di panti asuhan. Ia tidak punya orang tua. Ia sebatang kara di dunia ini. Tolong selamatkan dia. Tolong selamatkan dia, saya mohon, Dokter,” ujar ibu itu dengan mengiba-iba.

“Rupanya rumah sakit ini punya pahlawan,” terdengar suara dari belakang Arjuna.

Arjuna menoleh dan menatap sosok yang sedang berbicara dengan mata tajam.

“Selamat datang kembali Dokter Denis,” ujar Arjuna dengan sinis.

“Semoga saja kedatangan saya kembali tidak akan menjadi duri di kaki Anda.”

“Semua tergantung bagaimana pilihan Anda, mau menjadi duri atau tidak. Saya orang yang tidak suka menginjak duri, tetapi jika duri itu menempel di kaki dan melukai, saya harus membuangnya.”

Terlihat perawat dan staf adminsitrasi berbisik-bisik tentang Arjuna dan Denis. Sudah sejak lama terjadi perang dingin antara kedua dokter itu. Denis adalah adik tingkat Arjuna di kampus. Sedari dahulu ia selalu menganggap Arjuna sebagai saingan. Saat Denis mengibarkan bendera perang, Arjuna menyambut dengan tangan terbuka. Ia sengaja mengambil spesialisasi bedah plastik juga demi membuktikan diri lebih hebat dari Arjuna. Denis baru saja menyelesaikan studinya dan siap menjadi saingan Arjuna kembali.

Violeta datang saat Arjuna dan Denis masih terpaku dalam tatapan yang dingin.

“Selamat datang Dokter Denis. Senang dapat melihat Anda kembali bergabung,” ujar Violeta dengan ramah.

“Terima kasih Dokter Vio. Senang juga dapat bekerja sama kembali dengan Anda.”

Arjuna meninggalkan Denis dan Violeta tanpa permisi. Wajah kecewa Violeta saat Arjuna pergi tertangkap oleh mata Denis.

“Apakah Pak Direktur ada di ruangan sekarang?” tanya Denis.

Violeta masih menatap kosong ke arah Arjuna sehingga tidak mendengarkan pertanyaan Denis.

“Dokter Vio....Dokter Vio,” kata Denis sembari menggerakan tangan di hadapan Violeta untuk menyadarkan lamunan.

“Ah, iya. Maaf. Ada apa?”

“Saya bertanya apakah Pak Direktur ada di ruangan.”

“Oh. Iya. Papa ada di ruangan. Papa sudah menunggu. Mari kita ke sana.”

***

“A...ku ha...rus segera ke rumah sa...kit,” kata Hazal cemas pada Vivian.

“Ada apa?”

“Ki...nan.”

“Ada apa dengan Kinan?”

Hazal kemudian menunjukkan foto yang dikirim oleh Bu Ratih padanya. Vivian terpekik melihat wajah Kinan.

“Ada apa? kenapa Kinan seperti itu?”

“E...e...ntahlah. A...ku harus ke...sana.”

“Tapi, Hazal. Sebentar lagi jam tiga sore. Bagaimana?”

Hazal melihat jam tangan kemudian mulai merasa cemas.

“Aku tidak bisa menemanimu ke sana karena tidak mungkin kita berdua izin karena kafe sedang ramai pembeli.”

Hazal kemudian memesan jasa transportasi online. Pilihan yang sulit baginya karena sebentar lagi ia memasuki waktu rawan. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Bu Ratih sendirian menghadapi musibah itu. Hazal menunggu taksi online sekaligus menunggu waktu dengan cemas. Berkali-kali ia melongok ke jalan dan melirik jam tangannya. Saat taksi yang dipesan tiba, Hazal segera masuk.

Di dalam mobil, tak henti-henti Hazal menggoyang-goyangkan kakinya. Ia juga meremas perutnya dan membungkukkan tubuh. Ia mengambil tisu dari tas kemudian menyeka keringat yang mulai mengalir dari dahi.

Sopir taksi memerhatikan gerakan Hazal dari spion depan.

“Ada apa,Neng?” tanyanya.

Hazal hanya menggeleng saja tanpa menyahut.

Neng sakit? Apa perlu kita tancap gas?” tanyanya lagi dengan khawatir melihat wajah pias Hazal.

“O...ke, Pak. Bungbe....bungbe....”

Sopir taksi mengoleh ketika Hazal mulai bersuara. Hazal menutup mulutnya dengan tangan dan berusaha menghentikan keluarnya suara-suara.

Bungbeobuyungbeo bungbeobuyungbeo,” Hazal terus mengulanginya berkali-kali.

Neng, ada apa? Neng ngomong apa?”

Bungbeobuyungbeo bungbeobuyunbeo bungbeobuyungbeo.”

Neng, jangan bikin saya takut.”

Berkali-kali sopir taksi bertanya, tetapi Hazal tidak menjawab. Ia hanya terus mengujarkan suku kata secara beraturan dan berulang. Tiba-tiba sopir taksi menghentikan mobil. Ia turun dan membuka pintu penumpang dengan ketakutan.

Neng, turun saja di sini ya. Cari taksi yang lain. Biar saja tidak usah bayar.”

Hazal tidak mau turun dan menatap sopir dengan penuh pengharapan agar diantarkan hingga tujuan sembari terus mengeluarkan suara-suara aneh. Melihat Hazal yang tidak mau turun, sopir taksi menarik lengan Hazal dan memaksanya turun.

Neng, saya mohon turun ya. Saya tidak mau ada masalah,” katanya dengan memohon.

Hazal terpaksa turun dari taksi kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan melihat orang-orang yang berseliweran. Level kecemasan mulai meningkat, begitu juga frekuensi ucapannya semakin klimaks.

Hazal berlari kecil menuju halte sambil terus membekap mulutnya agar suara-suara aneh tak terdengar oleh orang-orang. Namun, semakin tinggi kecemasan Hazal, semakin nyaring dan sering susunan suku kata terujar dari mulutnya. Orang-orang mulai melihatnya dengan tatapan aneh. Beberapa malah bergidik ketakutan karena mengira ia orang gila. Luruhlah bulir-bulir bening di pipi sehingga serak suaranya. Tatapan aneh orang-orang yang melintas membuatnya merasa seperti makhluk yang datang dari planet lain. Ia terus menangis dan terus mengujarkan kata-kata yang terdengar seperti mantra.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

27 December 2021 14:41 Yajma Sadida Hazal... :-(

7. Pertemuan

76 1

Hazal berlari tergopoh-gopoh setelah membayar ongkos ojek. Ia segera menuju resepsionis rumah sakit untuk menanyakan ruangan Kinan. Setelah mencermati berbagai petunjuk arah di sepanjang lorong rumah sakit, sampailah ia di muka kamar rawat inap. Ia mengatur napasnya yang tersengal kemudian mengetuk pintu lalu masuk dengan perlahan. Ia menutup pintu dengan pelan agar tak tak terdengar derit yang dapat mengganggu kekhusyukan salat Bu Ratih.

Hazal melihat Kinan terlelap. Selang kecil terpasang di hidung dan infus di lengannya. Ia belum berani mendekat karena Bu Ratih salat tepat di sisi tempat tidur. Setelah melihat Bu Ratih menoleh ke kanan dan kiri sembari mengucapkan salam, barulah Hazal mendekat. Berondongan air mata Bu Ratih menyambut pelukan Hazal. Keduanya lalu larut dalam tangis yang dibungkam-bungkamkan.

“Ba...gaima...na bi...sa terjadi, Bu?” tanya Hazal tergagap.

“Ibu tidak tahu bagaimana kejadian persisnya. Seseorang yang menolong Kinan mengatakan Kinan sedang duduk di taman menunggu kedatangan teman. Tiba-tiba Rizki datang bersama kawan-kawannya mengganggu Kinan. Saat itu rupanya Rizki sudah membawa air keras....,” kata Bu Ratih tercekat.

Hazal hanya menangis kemudian kembali memeluk Bu Ratih.

“Rizki melakukan itu karena Kinan menolak cintanya berkali-kali. Ibu sangat sedih melihat kondisi Kinan begini. Dia sama sekali belum melihat wajahnya. Tadi dokter sudah memberinya obat penahan nyeri hingga terlelap.”

Hazal bangkit kemudian berdiri di sisi Kinan. Dipandanginya wajah Kinan. Ada kegeraman yang medesak-desak di dadanya terhadap Rizki yang telah melakukan kebiadaban pada Kinan.

“Bu Ra...tih, ba...gaimana pen...dapat Dokter?”

Belum sempat Bu Ratih menjawab, seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Kinan.

“Bagaimana keadaannya, Sus?” tanya Bu Ratih.

“Untuk saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan. Besok, tim dokter akan melakukan pertemuan untuk membahas tindakan yang tepat bagi pasien. Besok pagi Dokter Arjuna akan datang untuk mengecek kondisi pasien.”

“Sus, apakah Dokter Arjuna adalah dokter yang kemarin bersedia membayar biaya pengobatan Kinan?”

“Iya, Bu.”

Hazal mengernyitkan kening mendengar bahwa ada dokter yang akan membiayai pengobatan Kinan. Melihat ekspresi Hazal, Bu Ratih menceritakan segala yang terjadi.

“Ibu belum bicara banyak dengan dokter itu. Ibu akan menganggap bantuannya sebagai utang meskipun Ibu sendiri tidak tahu bagaimana harus melunasinya.”

Hazal tercenung memandang wajah Bu Ratih. Matanya yang menyipit serta kantung mata yang gelap menandakan air mata telah tumpah tak terhingga. Bagi Hazal, Bu Ratih seperti ibu kandung. Hazal tidak dapat mengingat dengan tepat bagaimana kisah masa kecilnya. Ia hanya mendengar cerita dari Bu Ratih bahwa ayah dan ibunya adalah perantau dari Lampung. Mereka memutuskan hijrah ke Jakarta membawa Hazal yang baru berusia empat tahun. Di Jakarta yang gemuk, mereka berusaha menata kembali perekonomian yang remuk setelah rentenir menyita kebun kopi yang mereka miliki. Namun, bukannya untung yang diraih melainkan kemalangan yang bertubi-tubi. Ayah Hazal terjatuh saat bekerja sebagai buruh bangunan hingga meninggal dunia. Sang ibu menjadi buruh cuci untuk menyambung hidup. Mereka berkali-kali diusir dari rumah kontrakan karena tak sanggup membayar. Saat mereka terlunta-lunta di jalan, Bu Ratih menolong dan menawarakan untuk tinggal di panti asuhan yang dikelola orang tuanya. Sejak itu, Hazal dan ibunya tinggal di sana.

Kedukaan rupanya belum enggan pergi dari Hazal. Setahun setelah sang ayah meninggal, ibunya terserang penyakit yang merenggut nyawa. Sejak itu, Hazal menjadi yatim piatu pada usianya yang belum genap enam tahun. Bu Ratih lah yang telah mengairi kegersangan hati Hazal dengan kasih sayang seorang ibu.

Kesedihan demi kesedihan yang menghantam Hazal kecil membuatnya menjadi sosok yang pendiam. Ia sulit bergaul dengan teman sebaya di panti asuhan. Tubuh kecilnya sering ditemukan meringkuk di dalam lemari pakaian oleh Bu Ratih. Gadis mungil itu selalu menunjukkan ekspresi ketakutan. Ketakutan yang berlebihan itu membuat Hazal mengalami gangguan berbicara. Ia gagap. Kegagapan itu kerap menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Karena itu, Bu Ratih memberikan porsi kasih sayang yang lebih besar bagi Hazal agar jiwanya tak semakin terguncang.

Sedangkan Kinan tak lebih beruntung dari Hazal. Bahkan mungkin lebih malang. Kinan tidak pernah melihat orang tuanya juga tidak punya kenangan apa pun tentang orang tuanya. Ia ditinggalkan di muka pintu panti asuhan hanya berbalut selimut dengan pusar yang bahkan belum lepas. Ia bertekad ingin mencari orang tuanya. Ia sangat ingin menjadi model atau artis di televisi. Ia ingin orang tuanya mengenalinya jika ia sering muncul di televisi. Namun, bagaimanakah cita-cita itu akan diraihnya dengan wajah yang sudah tersiram air keras?

Hazal kembali sesenggukan membayangkan perasaan Kinan saat mengetahui tentang wajahnya. Meski tak terlahir dari rahim yang sama, Kinan adalah adik Hazal. Mereka sama-sama beribukan Bu Ratih di panti asuhan.

Hazal terlelap di sisi Kinan dalam posisi duduk setelah berjam-jam matanya siaga menunggui Kinan. Perlahan Kinan membuka mata kemudian menyentuh kepala Hazal. Namun, Hazal tidak merespons. Kinan berusaha membuka mulut menyebut nama Hazal tetapi bibirnya terkatup kuat. Ia tidak dapat membuka bibirnya sempurnya. Hanya sebagian bibir kiri atas yang dapat terangkat. Kinan mencoba sekali lagi, tetapi tetap tak bisa. Ia lalu menyentuhkan telapak tangan ke pipinya dengan perlahan. Tak lama, terdengar gumaman parau.

Bu Ratih yang sedang mengaji tersentak mendengar gumaman itu kemudian segera bangkit dari sofa mendekati Kinan. Gumaman semakin keras tetapi parau disertai kaki Kinan yang menghentak-hentak di tempat tidur. Bu Ratih berusaha menahan tubuh Kinan yang meronta. Semaki ditahan, Kinan semakin kuat meronta hingga membangunkan Hazal. Hazal yang masih separuh sadar segera membatu Bu Ratih menenangkan Kinan. Gerakan Kaki Kinan mulai melambat tetapi dadanya naik turun tak beraturan. Hazal memeluk Kinan yang menangis. Ia membelai rambut Kinan perlahan.

Hazal mendekatkan telinga ke bibir Kinan untuk mendengarkan kalimat Kinan dengan jelas. Namun, ia tak dapat sepenuhnya menangkap ucapan Kinan. Ia hanya mengangguk kemudian kembali larut dalam tangis bersama.

Dua orang perawat masuk saat tangis belum lah surut. Mereka memberitahukan bahwa Dokter Arjuna akan datang. Hazal melirik arlojinya dan terkejut melihat waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam.

“Kalau kamu harus bekerja, pulang saja dulu. Tidak apa-apa Ibu di sini menunggui Kinan,” kata Bu Ratih yang menerka kecemasan Hazal.

Hazal mengangguk cepat meskipun sebenarnya ia sangat ingin menemani Bu Ratih. Ia lalu bergegas mengambil ponsel. Matanya terbelalak saat melihat banyak panggilan juga pesan dari Vivian. Salah satu pesan Vivian mengatakan agar Hazal segera ke kafe karena ada peristiwa penting dan mendesak. Hazal bergegas mengambil tas, membuka pintu dengan tergesa, dan memasang sepatu sambil setengah berlari.

Pandangan Hazal yang tidak fokus ke depan membuat ia tidak mengetahui seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan segaris lurus dengannya. Tabrakan tak terelakkan. Hazal merasa tubuhnya membentur seseorang yang sedang membawa segelas kopi.

Oh No,” terdengar suara bernada berat.

Dengan ragu Hazal mengangkat kepalanya 30 derajat dan melihat seorang lelaki sedang sibuk membersihkan noda tumpahan kopi di jas putihnya.

“Ma...af. Sa...ya bu...ru bu...ru,” kata Hazal terbata.

 

 

 

 

 

user

28 December 2021 03:38 Yajma Sadida Yuhu.. Pertemuan pertama!

8. Perkara Baru

68 3

 

Arjuna sibuk membersihkan jasnya yang terkena tumpahan kopi, sementara Hazal masih belum berani mengangkat kepala. Ia hanya memandang lurus dan melihat sesosok berdada bidang.

“Lain kali kalau jalan hati-hati ya. Bisa bahaya kalau mata Anda tidak sinkron dengan kaki. Ini rumah sakit. Ada pasien, keluarga pasien, dan staf medis hilir mudik.”

Hazal tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala lalu membungkuk. Ia mengira akan mendengar kata-kata bernada tinggi. Ternyata Arjuna menyilakan Hazal pergi tanpa amarah, tanpa kata-kata pedas. Hazal membungkukkan tubuh sekali lagi kemudian berlalu dari hadapan Arjuna.

Hmm...Tidak bilang terima kasih. Tidak ada basa-basi,” gerutu Arjuna.

Arjuna melepas jas dan menyampirkan di lengan kiri kemudian berjalan menuju kamar rawat Kinan. Ia melempar senyum ramah pada remaja itu. Meski bukan kali pertama Arjuna melihat pasien dengan luka serupa Kinan, hatinya tetap terenyuh. Setelah melakukan pemeriksaan intensif pada Kinan, Arjuna meminta Bu Ratih datang ke ruangannya.

“Kami akan melakukan tindakan operasi pada Kinan. Namun, tentu saja tidak dapat mengembalikan wajahnya seperti sedia kala. Kami hanya berusaha melakukan bedah rekonstruksi pada wajahnya dan mengembalikan fungsi organ-organ lain seperti hidung agar Kinan dapat bernapas normal. Begitu juga dengan bagian bibirnya agar ia bisa bicara dan makan dengan baik.”

“Dokter, saya benar-benar bingung harus bagaimana dengan kondisi ini. Anak itu bercita-cita menjadi artis televisi. Saat ini ia belum melihat wajahnya. Bagaimana mengatasi tekanan jiwanya? Saya benar-benar khawatir.”

“Tentunya Kinan akan didampingi oleh psikolog. Dukungan dari orang-orang terdekat juga sangat dibutuhkan Kinan.”

Bu Ratih diam sejenak. Sudut bibirnya ke bawah dengan rahang terangkat. Alisnya tertarik ke dalam sementara kulit di bawah alis membentuk segitiga dengan sudut dalam terangkat.

“Kinan sudah tidak punya orang tua, Dok. Dia tinggal di panti asuhan bersama saya. Sejak lama ia berkeinginan mencari orang tuanya. Ia ingin masuk televisi agar dapat dikenali orang tuanya. Ia yakin wajahnya mirip dengan ayah atau ibunya. Ia sangat yakin bahwa dengan kemiripan itu, ia dapat berjumpa orang tuanya. Bisa Dokter bayangkan bagaimana perasannya?” ujar Bu Ratih yang mulai terisak.

Arjuna menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan cepat. Ia kehabisan kata-kata untuk memotivasi Bu Ratih. Ia sadar, mudah saja bagi orang lain memberi nasihat agar berdamai dengan musibah. Namun, tak semudah itu bagi orang yang mengalami musibah.

“Dokter, kalau boleh saya bertanya. Bagaimana dengan biaya pengobatan Kinan?”

“Sejak awal saya sudah katakan agar Ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Saya akan menanggung biayanya.”

“Tapi, Dok. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Saya tidak janji kapan akan mengganti uang Dokter, tetapi saya pastikan utang itu akan saya bayar.”

“Saya tidak menganggapnya sebagai utang.”

Bayangan Kinan sekelebat muncul di benak Arjuna. Entah mengapa ia merasa hatinya terkoneksi dengan Kinan. Kinan yang begitu yakin pada kemiripan dengan orang tuanya harus kehilangan wajah. Sedangkan Arjuna belum selesai dengan kebencian pada wajah yang mirip ayahnya.

***

“Bagaimana kondisi Kinan? Apakah dia baik-baik saja? Apa tindakan yang akan dilakukan dokter?” Vivian memberondong Hazal dengan banyak pertanyaan sebelum ia sempat menormalisasi napas.

“Su...su...lit aku ce...ce...ritakan,” sahut Hazal.

“Semoga saja ada kemudahan pengobatan Kinan. Kamu pasti lelah menjaganya semalaman. Pagi ini kamu harus menyediakan hati untuk mendengar kabar buruk berikutnya.”

Terlihat kerutan di antara dua alis Hazal yang terangkat. Kelopak matanya meninggi membuat putih mata tampak di atas pupil. Mulutnya terbuka dan cuping hidung mengembang.

“Bang Rico dipecat oleh Bos Besar.”

Mendengar itu, mulut Hazal semakin terbuka dan kelopak mata kian naik.

“Kamu tahu kan kalau Bang Rico dekat dengan anak Bos Besar. Hubungan mereka tidak disetujui. Bos marah besar mengetahui anaknya berhubungan dengan Bang Rico.”

Mendengar cerita Vivian, hati Hazal meradang. Ia mempertanyakan mengapa cinta harus berbenturan dengan kasta dan tahta. Tak bisakah cinta yang adalah urusan hati dinilai dengan hati pula? Baginya Bang Rico adalah orang baik yang mendukungnya selama ini di kafe. Sebagai supervisor, Bang Rico telah bertindak sebagai seorang kakak kepada adik ketimbang atasan kepada bawahan.

“Hari ini, kita akan kedatangan penggantinya Bang Rico. Semoga saja, penggantinya bisa sebaik Bang Rico. Sangat disayangkan, kamu tidak sempat mengucap salam perpisahan padanya.”

Hazal semakin cemas. Beragam pertanyaan melintas di benaknya. Tentang bagaimana orang baru dapat mengerti kekurangannya. Tentang bagaimana cara mengungkapkan kekurangannya pada pengganti Bang Rico.

Saat Hazal dan Vivian masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba pemilik kafe_seorang lelaki tambun yang mereka panggil Bos Besar datang bersama seorang perempuan berpakaian rapi serba hitam. Semua karyawan diminta berkumpul.

“Perkenalkan, ini adalah pengganti Rico. Namanya Helena.”

“Selamat pagi semua. Perkenalkan saya Helena. Saya akan menggantikan posisi supervisor sebelumnya. Saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik untuk memajukan kafe ini. Saya orang yang punya prinsip bahwa segala sesuatu harus dilakukan sesuai prosedur. Saya juga orang yang perfeksionis,” ujar Helena dengan tegas.

Kata-kata Helena menyiratkan bahwa Hazal akan berhadapan dengan orang yang sulit memahami kondisinya.

“Sekarang saya ingin semua karyawan memperkenalkan diri,” pinta Bos Besar.

Tiba giliran Hazal memperkenalkan diri, suasanya berubah tegang. Helena menatap keheranan dengan satu sudut bibir diangkat. Dengan tangan yang dilipat di dada, ia mendekati Hazal.

“Kamu gagap?”

Dengan ketakutan Hazal mengangguk pelan.

“Bagaimana mungkin orang dengan ganguan komunikasi bisa bekerja di kafe ini?”

“Dia ahli meracik kopi dan pandai memilih biji kopi terbaik. Makanya dia masih dipertahankan di sini,” kata Bos Besar.

“Saya rasa di seantero Jakarta ini banyak orang yang piawai meracik kopi sekaligus memiliki kemampuan komunikasi yang baik,” sahut Helena sinis.

Kalimat-kalimat yang diucapkan Helena membuktikan bahwa kekhawatiran Hazal benar. Hazal terus menunduk dengan melengkungkan bahunya.

“Sudahlah. Kita maksimalkan saja dulu tenaga yang ada. Saya yakin kamu pasti bisa,” kata Bos Besar pada Helena dengan semringah.

Saat Helena dan Bos Besar pergi, kaki Hazal tiba-tiba melemah dan tak dapat menopang tubuhnya. Ia terduduk dengan tatapan mata kosong.

“Kamu jangan terlalu khawatir. Bos besar tidak mempermasalahkan itu,” hibur Rayhan.

“Iya, Hazal. Kamu harus tetap semangat karena kalau tidak ada kamu, kafe kita tidak seterkenal ini,” timpal Vivian.

Tatapan mata Hazal masih kosong. Upaya Rayhan dan Vivian untuk menenangkannya tidak terlalu berhasil.

“Kamu pasti tahu kan, banyak pelanggan kita yang menyukai kopi buatanmu. Bahkan ada yang ngotot hanya ingin minum kopimu. Kamu adalah barista andalan kafe ini. Kamu Si Gadis Kopi,” ujar Rayhan sembari terkekeh.

Hazal menoleh pada Rayhan dan memaksakan untuk tersenyum.

“Jangan menyerah Gadis Kopi. Fighting,” kata Vivian sambil mengepalkan tangan.

Hazal terharu melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, ada sesuatu yang terus menggelayuti pikirannya. Ia berada pada pilihan yang sulit antara jujur atau menyembunyikan tentang “mantra” yang akan diucapkannya pada rentang waktu tertentu.

 

 

 

user

14 December 2021 13:05 Dayu Woori Gadis kopi, semangat semangat! Lanjuut kak

user

14 December 2021 20:04 Vega Galanteri Terima kasih kak Dyah ayu... Sudah mampir...

user

28 December 2021 03:56 Yajma Sadida Musuh baru

9. Kedua Kali

87 1

 

“Saya akan memaparkan bagian-bagian wajah pasien yang perlu direkonstruksi,” kata Arjuna sambil memperlihatkan gambar di layar presentasi.

Tujuh dokter yang lain memerhatikan dengan saksama termasuk Denis dan Violeta.

“Untuk melakukan pembuangan jaringan kulit mati diperlukan waktu sekitar tujuh hari. Pada bagian ini kita akan melakukan tandur alih kulit untuk menutup bagian luka dengan kulit dari bagian tubuh lain. Kita bisa menggunakan kulit bagian paha,” Arjuna menjelaskan.

“Kalau dilihat dari gambar itu, bagian dengan tingkat keparahan tinggi ada di bagian wajah sebelah kanan. Kelopak mata juga sudah setengah menutup. Begitu pula dengan hidung, mulut, dan daun telinga. Bagaimana hasil pemeriksaan terhadap fungsi yang berhubungan dengan organ-organ tersebut, Dokter Arjuna?” tanya Violeta.

“Saluran pernapasan dan pendengaran tidak mengalami masalah serius. Air keras tidak sampai masuk ke telinga. Untuk bagian hidung, kita dapat memasangkan penyangga silikon. Namun, ada dua bagian yang perlu menjadi fokus utama kita adalah mulut dan mata. Bibir pasien mengatup sehingga tidak dapat terbuka sempurna. Hal itu membuatnya kesulitan makan juga bicara. Selain itu, bagian mata mengalami lelehan yang cukup parah. Kemungkinan terburuk pasien akan mengalami kebutaan permanen pada mata kanan.”

Seisi ruangan hening sejenak. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke pintu. Saat pintu terbuka, terbit keheranan dari wajah-wajah tim dokter melihat kedatangan direktur rumah sakit.

“Papa,” kata Violeta.

“Pak Anton, silakan duduk. Kita sedang membahas prosedur bedah pasien Kinan,” kata Dokter Denis.

“Iya. Karena itu saya datang ke sini. Kasus yang kita hadapi bukan sekadar persoalan bedah rekonstruksi wajah pasien. Pelaku penyiraman air keras terhadap pasien ternyata adalah anak salah satu petinggi negeri ini.”

“Pak, kita hanya melakukan tugas kita sebagai tenaga medis untuk mengobati pasien. Tidak ada kaitannya dengan orang yang Bapak sebut petinggi negeri ini,” kata Arjuna.

“Persoalannya, petinggi itu adalah karib dari Pak Irawan, pemegang saham utama Rumah Sakit Mitra Sehat ini. Sudah jelas kita akan bermasalah kalau membantu mengobati pasien Kinan. Pak Irawan tidak ingin rumah sakit ini terseret pada persoalan hukum. Jika kita menangani pasien itu, media massa akan mengepung meminta keterangan dari kita, begitu juga aparat hukum.”

Hmm, rupanya niat baik seseorang memang tidak selalu berbuah baik pula. Kalau saja kemarin tidak ada seseorang yang sok menjadi pahlawan untuk menolong pasien, tentu saat ini kita tidak akan terjebak pada kepelikan ini,” sindir Denis.

“Saya rasa kita belum terlambat. Kita bisa merujuk pasien ke rumah sakit lain,” ujar Anton.

“Tapi, Pak. Rumah sakit kita adalah rumah sakit terbaik untuk tindakan bedah plastik. Bagaimana mungkin kita merujuk pasien ke rumah sakit lain. Lagi pula, saya sudah berjanji kepada keluarga pasien untuk menolongnya,” sahut Arjuna.

“Dokter Arjuna, sepertinya Anda mulai mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Anda jangan jadi dokter yang tidak profesional! Janji pada keluarga pasien adalah urusan Anda. Mengapa harus melibatkan kami dalam kesulitan hanya untuk memenuhi janji Anda tersebut?” Denis berkata ketus.

“Anda yang sepertinya lupa dengan sumpah jabatan dokter bahwa kita harus mengedepankan perikemanusiaan. Bagaimana bisa kita menolak menolong pasien karena alasan pribadi pemegang saham? Jadi, siapa yang sesungguhnya tidak profesional?”

“Sudah, kita di sini bukan untuk adu argumen. Kita perlu mencari solusi yang terbaik. Papa, tidak bisakah kita tetap melakukan tindakan pada Kinan di rumah sakit ini?” tanya Violeta.

“Papa pesimis itu bisa kita lakukan.”

Arjuna masih terdiam sementara matanya menjelajah pada rekan-rekan sejawat yang ada di ruangan. Sorot mata balasan dari rekan-rekannya mengisyaratkan sebuah penolakan.

“Kalau rekan-rekan yang terhormat tidak dapat mengambil sikap, saya akan menemui Pak Irawan. Jangan sampai hati nurani kita dikalahkan oleh kekuasaan.”

“Dokter Arjuna, saya akan mendukung Anda. Kita akan menemui Pak Irawan bersama,” kata Violeta.

“Dokter Vio, jangan terlalu gegabah,” kata Denis.

“Vio, Papa tidak ingin kamu terlibat masalah,” timpal Anton.

“Aku merasa malu dengan jas putih ini kalau ternyata hati kita tidak seputih jas yang kita kenakan.”

***

“Dokter Arjuna!” panggil Violeta pada Arjuna yang berjalan tergesa di lorong rumah sakit.

“Terima kasih, Dokter Violeta, karena Anda sudah mendukung saya saat pertemuan tadi.”

“Jangan terlalu kaku begitu. Panggil saja nama saya dengan sebutan Vio. Saya bukan mendukung kamu, tetapi hanya ingin menjunjung tinggi sumpah yang sudah saya ucapkan.”

Arjuna membalas dengan senyuman yang memercikkan getaran-getaran di hati Violeta. Ia merasa senyum Arjuna adalah gerbang yang terbuka lebar baginya untuk mengenal Arjuna lebih dekat.

“Dokter mau berkunjung ke kamar Kinan? Boleh saya ikut?” tanya Violeta.

Arjuna mengangguk kemudian Violeta berjalan di sisinya menuju kamar perawatan Kinan.

Di dalam ruangan yang hening, Arjuna berjalan pelan lalu duduk di sisi Kinan.

“Apa kabar, Kinan?” tanyanya ramah.

Kinan hanya menjawab dengan berdeham karena tidak dapat membuka mulutnya dengan sempurna. Ia lalu melirik pada Violeta yang berdiri di belakang Arjuna.

Halo, Kinan. Perkenalkan aku Dokter Vio yang akan merawatmu juga.”

Sekali lagi Kinan hanya berdeham kemudian tetes demi tetes air mata luruh di pipinya. Violeta mendekat kemudian menggenggam tangan Kinan.

“Jangan khawatir. Percayalah, aku dan Dokter Arjuna akan melakukan yang terbaik untukmu,” katanya.

Violeta melihat Kinan berusaha membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata, tetapi kondisi bibirnya tidak memungkinkannya melakukan itu. Ia lalu berinisiatif untuk mengambil buku dan alat tulis agar Kinan dapat berkomunikasi melalui tulisan.

Sesaat setelah Violeta pergi, Arjuna melirik arlojinya. Ia lalu mengatakan pada Kinan akan kembali lagi malam hari setelah memeriksa pasien lainnya. Arjuna beranjak dari duduknya menuju pintu.

Saat membuka pintu dan hendak ke luar kamar, tiba-tiba seorang gadis yang sedang membawa segelas kopi menabrak Arjuna. Gadis itu adalah Hazal yang tidak melihat Arjuna di pintu karena ia sibuk memasukkan ponsel ke tas dengan tangan kanan sementara tangan kiri membawa kopi.

Benturan yang cukup keras membuat Hazal terduduk di lantai dengan isi tas yang terbongkar. Sedangkan segelas kopi yang dibawanya kembali mendarat mulus di jas Dokter Arjuna.

Astaghfirullah,” ucap Arjuna sambil mengibas-ngibaskan tangan ke jasnya.

“Kamu lagi?” kata Arjuna membelalak.

Hazal bersegera membereskan isi tasnya yang berserakan di lantai kemudian bangkit dan membungkukkan badan.

Bung....bung....bungbeo.”

Hazal menyadari bahwa sebentar lagi ia akan mengeluarkan rentetan suku kata tak beraturan. Ia menutup mulutnya sekuat tenaga untuk menahan suara-suara yang keluar. Tanpa mempedulikan Dokter Arjuna, ia menerobos masuk ke kamar hingga bahunya menyenggol dada Arjuna. Arjuna melongo melihat tingkah Hazal yang tiba-tiba pergi tanpa basa-basi.

Hai, Hey. Kamu! Nona!” panggil Arjuna yang dibalas dengan bantingan pintu.

Allahuakbar. Ada apa dengan orang itu?” gerutu Arjuna.

Violeta datang dan terkejut melihat noda kopi di lantai dan jas Arjuna.

“Ada apa, Dokter? Kenapa ada tumpahan kopi?”

“Hari ini sudah dua kali aku ketumpahan kopi karena ditabrak oleh orang yang sama.”

Kening Violeta berkerut mendengar hal itu.

“Orang yang menabrak tidak minta maaf, tidak basa-basi dan langsung saja pergi. Apakah sudah hilang etika dan kesopanan di zaman ini?” kata Arjuna.

Arjuna kemudian melihat gelas kopi yang masih teronggok di lantai. Ia mengambilnya untuk kemudian dibuang ke tempat sampah. Ia tertegun sejenak membaca tulisan yang tertera di gelas kopi.

“Aku ingin seperti kopi yang tetap dicintai tanpa menutupi kepahitan diri”. (Gadis Kopi)

“Hmm, Gadis Kopi,” gumam Arjuna.

 

 

 

 

 

user

28 December 2021 03:57 Yajma Sadida Bibit cinta mulai terlihat

10. Penelepon Gelap

69 1

 

Hazal segera berlari masuk ke kamar mandi yang ada di kamar rawat Kinan. Ia terus menutup mulutnya agar rentetan suku kata yang ia ucapkan tidak terlalu terdengar oleh orang lain. Saat ia masih di kamar mandi sembari “bersenandung”, tiba-tiba Dokter Violeta masuk untuk memberikan buku dan alat tulis pada Kinan. Mendengar suara-suara dari kamar mandi, Violeta mengerutkan kening lalu melirik pada Kinan dengan mengangkat alis.

[Itu kakak saya, Dokter. Kakak saya punya kebiasaan “istimewa” pada waktu-waktu tertentu.]

Kinan menulis itu pada secarik kertas. Violeta membacanya kemudian menoleh ke arah kamar mandi lalu tersenyum.

“Apakah memang sudah sejak lama?”

[Iya, Dokter]

Violeta terus mendengarkan suara Hazal dari dalam kamar mandi yang mengucapkan rentetan-rentetan suku kata. Ia mencoba menangkap makna ucapan Hazal.

Bungbeobuyunbeo,” apa itu yang diucapkannya?” tanya Violeta pada Kinan.

Kinan mengangguk pelan dan berusaha tersenyum melihat ekspresi Violeta yang menurutnya lucu.

Hazal baru ke luar kamar mandi saat Violeta telah meinggalkan ruangan. Ia lalu duduk di sisi Kinan lalu mengembuskan napas kuat.

“Rasanya Kakak ingin menyublim, menguap di udara. Kakak benar-benar malu. Sudah dua kali Kakak menabrak dokter yang keluar dari ruangan ini.”

[Dokter Arjuna?]

“Apa maksudmu dokter yang datang ke ruangan ini adalah Dokter Arjuna yang membiayai pengobatanmu?”

[Iya, Kak]

“Astaghfirullah. Bagaimana ini? Bagiamana kalau Dokter itu marah lalu membatalkan untuk mengobatimu?” Hazal merasa cemas.

Ketakutan jiika Arjuna tidak mau mengobati Kinan menjajah pikiran Hazal. Ia terus monda-mandir sambil menggigit kuku jempolnya.  Ia tersentak mendengar derit pintu yang dibuka.

“Maaf, Ibu membuatmu terkejut,” kata Bu Ratih melihat Hazal yang terkejut.

“Ah. Ti...dak, Bu. A...ku, a...ku, a...ku.”

“Ada apa? Kenapa kamu tampak begitu cemas.”

Hazal lalu menceritakan tentang peristiwa yang ia alami. Ia merasa takut jika Dokter Ajruna akan membatalkan untuk menolong Kinan.

“Jangan khawatir. Dokter Arjuna bukan orang seperti yang kamu pikirkan. Ibu yakin ia tidak akan begitu mudah menarik janjinya hanya karena hal itu.”

Meski Bu Ratih telah meyakinkan Hazal berkali-kali, kecemasan tetap saja menghantui. Ia melirik pada Kinan. Ia merasa sangat bersalah jika Kinan tidak diobati.

***

“Apakah Papa benar-benar tidak bisa meyakinkan Pak Irawan?” tanya Violeta saat makan malam di rumah.

“Papa tidak ingin terlibat dengan hal ini. Pak Irawan itu orang bisnis. Ia akan memperhitungkan segala sesuatu dari sudut bisnis. Semua ditimbang berdasarkan untung rugi. Ia tentu akan merasa rugi jika sampai berurusan dengan petinggi negeri. Bisa-bisa terhambat urusannya.”

“Tapi, Pa. Setidaknya kita harus mencoba dulu. Kalau Papa tidak bisa mengatakannya langsung, bisakah Papa membantu kami untuk bertemu Pak Irawan?”

“Mengapa kamu begitu ngotot ingin membantu Arjuna? Apakah ini hanya sebatas profesionalisme atau lebih dari itu?”

Violeta memahami arah pembicaraan papanya. Namun, ia meyakinkan papanya bahwa yang ia lakukan hanya karena ingin memperjuangkan kemanusiaan. Ia akan melakukan hal yang sama pada siapa pun, bukan hanya Arjuna.

Sebagai orang tua yang telah makan asam garam kehidupan terutama percintaan, tentu Anton tak serta merta percaya pada apa yang dikatakan anak perempuannya. Ia dapat menangkap pesan tersirat dari sorot mata Violeta. Ia yakin Violeta menyukai Arjuna.

“Oke, akan Papa usahakan.”

Tanpa sadar Violeta berjingkrak kemudian memeluk papanya.

“Terima kasih, Papa terbaik.”

Violeta segera menuju ke kamar dan mengambil ponselnya untuk menelepon Arjuna. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar baik itu.

“Setidaknya satu pintu sudah terbuka untuk kita. Semua tergantung bagaimana kita mengeksekusi percakapan dengan Pak Irawan. Semoga kita berhasil,” kata Violeta pada Arjuna melalui telepon.

Violeta tersenyum sendiri kemudian meletakkan ponsel di dadanya. Dokter spesialis lulusan luar negeri itu sedang berbunga-bunga karena sikap Arjuna yang dingin mulai melunak padanya.

Berbanding terbalik dengan Violeta yang merasa bahagia, Arjuna justru merasa tidak nyaman. Bantuan Violeta membuatnya merasa memiliki utang budi kepada orang lain. Terlebih lagi Violeta juga meminta bantuan Pak Anton. Ia tidak menyukai hal tersebut. Namun, ia tidak punya pilihan lain karena sangat ingin menolong Kinan.

 ***

Hazal menatap Bu Ratih yang terlelap di sofa. Ia lalu menyelimuti Bu Ratih. Hazal dapat membaca kelelahan di wajah Bu Ratih. Sudah empat malam Bu Ratih dan Hazal bergantian menjaga Kinan di rumah sakit. Saat Hazal bekerja, Bu Ratih yang menjaga Kinan. Saat sedang tidak menjaga Kinan, Bu Ratih harus ke panti asuhan untuk memastikan anak-anak di panti baik-baik saja. Memang ada pengurus lain di panti, tetapi hati Bu Ratih tidak tenang jika tidak melihat anak-anaknya. Hatinya sudah begitu terikat dengan panti juga anak-anak asuhnya.

Sejak lulus SMA, Hazal tidak lagi tinggal di panti asuhan karena ia memilih untuk belajar mandiri. Karena alasan biaya, Hazal tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Ia mengikuti kursus keterampilan menjadi barista. Saat diterima bekerja di Kafe Filosofi Kopi, ia tinggal di kos-kosan bersama Vivian_rekan kerja yang baru dikenalnya.

Bu Ratih membuka mata perlahan dan sedikit terkejut.

“Ya Allah, Ibu ketiduran. Jam berapa sekarang, Hazal?”

“Sekarang pukul sembilan, Bu.”

“Ibu harus pulang ke panti sekarang.”

“Tapi, ini sudah malam, Bu. Ibu tidur di sini saja.”

“Kalau Ibu tidur di sini, besok ibu harus ke panti. Nanti tidak ada yang menjaga Kinan. Kamu kan bekerja?”

“Besok aku ambil shift sore, Bu. Jadi bisa menjaga  Kinan di pagi hari.”

Bu Ratih lalu menelepon pengurus panti asuhan untuk memastikan kondisi di sana. Kerut di kening Bu Ratih mengisyaratkan kekhawatiran yang tinggi. Hazal menatap Bu Ratih. Beragam kenangan tentang masa kecil dalam asuhan Bu Ratih membuatnya haru.

“Terima kasih, Ibu, untuk semua cinta yang sudah Ibu curahkan bagi kami semua,” ucap Hazal sambil memeluk erat Bu Ratih.

Derai air mata Hazal yang tak terbendung membasahi kerudung Bu Ratih.

“Aku sayang Ibu.”

“Ibu juga sangat menyayangi kalian semua.”

Isakan Hazal membangunkan Kinan. Adegan Hazal yang memeluk Bu Ratih dengan erat membuat Hazal berdeham. Mendengar dehaman itu, Bu Ratih dan Hazal segera mendekat pada Kinan. Kinan mengangkat kedua tangannya meminta untuk dipeluk. Lalu, berpelukanlah tiga orang yang tidak terikat darah itu dalam lautan cinta yang dahsyat.

Saat masih berpelukan, ponsel Bu Ratih berdering. Ia lalu bergegas mengambil ponsel kemudian melihat sebuah nomor tak dikenal tertera di layar. Bu Ratih menggeser tanda menerima telepon tanpa ragu.

“Cabut laporan kasus kalau Anda tidak ingin hancur,” terdengar suara berat dari seberang telepon.

Wajah Bu Ratih memucat. Bibirnya bergetar begitu juga tanggannya. Tatap matanya menerawang jauh, tungkai kakinya melemah hingga ia terduduk di sofa.

“Ada apa, Bu?” Hazal mendekati Bu Ratih.

Tak ada kata-kata keluar dari mulut Bu Ratih. Hanya air mata dan isakan yang terdengar sebagai jawaban pertanyaan Hazal.

 

 

 

 

 

 

user

28 December 2021 15:58 Yajma Sadida Ih apasih mendadak nyuruh batalkan gugatan, gak jelas :-\

11. Jantungku Tak Keruan Saat Melihat Dia

69 1

 

Ketegangan menyergap Hazal yang menyaksikan Bu Ratih teramat ketakutan. Bu Ratih yang tidak juga menjawab dengan bibir dan tangan gemetar membuat Hazal penasaran. Hazal tak mau memaksa, ia menunggu Bu Ratih buka suara.

“Ada yang mengancam Ibu. Katanya akan menghancurkan Ibu kalau tidak mencabut laporan di kantor polisi. Ibu takut, Hazal. Mungkinkah orang yang menelepon Ibu adalah keluarga Rizki,” ucap Bu Ratih terbata.

Hazal sebenarnya dihinggapi rasa takut serupa, tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya di depan Bu Ratih. Ia meyakinkan Bu Ratih bahwa mereka melakukan sesuatu yang benar dengan membawa peristiwa yang menimpa Kinan ke jalur hukum. Ia juga berusaha menguatkan diri dan menganggap bahwa si penelepon hanya orang iseng dan tidak ada hubungannya dengan kasus Kinan.

“Kita orang kecil yang tidak punya kuasa. Kita semut yang berani melawan gajah. Seandainya ibu terima saja permintaan damai dari keluarga mereka, kita tidak akan kena masalah. Mereka bersedia menanggung penuh pengobatan Kinan asalkan kita tutup mulut,” kata Bu Ratih.

Hazal hanya terdiam membayangkan peristiwa yang akan terjadi ke depan. Ia ikut merasa bersalah karena mendorong Bu Ratih mengadu ke kantor polisi. Saat itu, Hazal hanya berpikir bahwa keadilan tetap harus ditegakkan dan tidak bisa ditukar apa pun. Sekalipun pelaku penyiraman air keras mau membiayai pengobatan Kinan, hukum harus tetap berjalan. Namun, sepercik penyesalan hinggap di benak Hazal. Ia takut kalau Bu Ratih akan mendapatkan masalah besar. Mereka adalah orang-orang yang sedang melawan gelombang.

Telepon dari orang tak dikenal itu membuat Hazal dan Bu Ratih tak tertidur lena. Mereka berusaha memejamkan mata, tetapi kantuk telah hilang berganti dengan ketakutan. Hingga keduanya pasrah dalam sujud dengan mata basah, barulah mereka merasa tenang.

Pagi sekali Bu Ratih bersiap untuk kembali ke panti asuhan. Keinginannya untuk melihat panti lebih menggebu setelah menerima telepon semalam. Sebenarnya Hazal merasa cemas kalau-kalau ada yang mengganggu Bu Ratih di jalan, tetapi ia tidak punya pilihan. Saat ini, mereka harus tetap berani menapaki waktu.

Tak berapa lama setelah Bu Ratih pergi, Vivian datang menjenguk Kinan. Ia menyapa Kinan dengan ramah.

“Ada apa kamu minta aku datang sepagi ini? Untung aku sedang tidak shift pagi. Oh iya, ini kopi dari Bang Rayhan. Katanya kamu pesan kopi.”

Hazal semringah melihat kopi yang dibawa Vivian. Ia lalu mengambil secarik kertas dan menulis permintaan maaf. Ternyata Hazal ingin memberikan kopi itu pada Dokter Arjuna. Ia meminta Vivian menunggui Kinan sebentar karena ia ingin mengantarkan kopi.

Hazal berjalan di lorong rumah sakit sambil membaca papan nama dokter yang tertera di pintu ruangan. Ia berhenti di muka ruangan bertuliskan nama Dokter Arjuna. Hazal celingak-celinguk mencari seseorang untuk menitipkan kopi. Seorang cleaning service yang melihatnya termangu menyapa dengan ramah.

“Dokter Arjuna belum datang. Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.

“Sa...ya mau antar ko...pi untuk Dok...dok...ter.”

Cleaning service itu terkejut mendengar Hazal bicara. Dengan keheranan yang belum usai, ia menerima kopi dan secarik kertas dari Hazal kemudian mengatakan akan meletakkan di meja Dokter Arjuna.

“Cantik-cantik tapi gagap, sayang sekali,” gumam cleaning service saat Hazal membalik badan.

Kalimat itu sekali lagi memorakporandakan kepercayaan diri Hazal. Bukan pertama kali ia mendengar orang mengatakan hal yang sama. Kegagapannya selalu menjadi sesuatu yang disayangkan oleh orang lain. Orang-orang membicarakannya dengan iba karena memiliki paras yang cantik tetapi tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

Saat Dokter Arjuna tiba di ruangan, ia tertegun melihat segelas kopi Americano menongkrong di mejanya. Matanya lantas terfokus pada tulisan di gelas kopi.

Kopi adalah cinta yang diracik dari ketulusan serta keikhlasan biji kopi dan air mengubah wujud demi menjadi sesuatu yang beraroma wangi dan nikmat.(Gadis Kopi)

Sedetik kemudian, mata Arjuna tertuju pada secarik kertas di sisi gelas kopi. Kertas itu bertuliskan permintaan maaf dari seseorang karena telah dua kali menumpahkan kopi di jasnya. Segeralah Arjuna mengenali si pengirim kopi.

Arjuna menyeruput kopi yang masih meninggalkan sedikit kehangatan. Saat cairan hitam pekat itu sudah melewati tenggorokan, ia mencoba mengecapi rasa yang tertinggal di lidahnya. Ia merasa ada perbedaan dengan kopi yang biasa dipesannya.

Terdengar suara ketukan pintu saat Arjuna menyeruput kopi sekali lagi. Sosok Violeta muncul dari balik pintu ketika telah disilakan masuk.

“Sore ini Pak Irawan akan datang ke sini. Kita bisa menemuinya dan mengatakan tentang Kinan,” kata Violeta dengan wajah ceria.

“Oh, begitu,” Arjuna menjawab dingin.

Mendengar jawaban Arjuna yang singkat, Violeta merasa usahanya sia-sia.

“Kamu tidak senang?”

“Ah. Bukan. Aku hanya....”

“Tegang?” serobot Violeta.

Hmm, sedikit,” kata Arjuna berbohong.

“Jangan tegang. Aku akan mendampingi di sana. Atau perlukah kita mengajak Papa?”

“Jangan,” sahut Arjuna cepat.

Arjuna kembali merasa tidak nyaman dengan Violeta. Ia merasa seolah tidak punya kekuatan dan daya sehingga harus didampingi oleh Violeta sekaligus papanya. Tindakan Violeta membuat Arjuna merasa bahwa ia sedang menggantungkan harapan kepada orang lain.

Arjuna berharap agar Violeta segera meninggalkan ruangan, tetapi yang terjadi ia malah duduk di hadapan Arjuna. Matanya menjelajah setiap sudut ruangan dan terhenti pada tumpukan gelas kopi.

“Kamu koleksi gelas kopi?” tanya Violeta.

Arjuna segera menoleh ke arah benda yang dimaksud Violeta.

“Aku suka quotes yang ditulis di sana, jadi aku menyimpan gelasnya.”

“Unik juga ya kamu,” kata Violeta sembari mengambil gelas-gelas tersebut.

Violeta membaca nyaring quotes yang tertera di gelas-gelas itu. Arjuna merasa tindakan Violeta terlalu lancang mengingat mereka bukan kawan dekat.

“Bagus kata-katanya, membuat kita jadi semangat. Pantas saja kamu menyimpan gelas bekas ini.”

Hmm,” Arjuna mendeham tanpa menoleh pada Violeta.

Violeta menyadari ketidaknyamanan Arjuna kemudian memutuskan untuk berpamitan lalu ke luar ruangan. Usai kepergian Violeta, Arjuna mendatangi kamar Kinan. Arjuna menghentikan langkah di depan kamar Kinan. Dari kaca di pintu kamar, Arjuna melihat Hazal sedang berbicara sambil tersenyum pada Kinan. Tiba-tiba Arjuna merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia lalu menyentuh dadanya dengan telapak tangan. Keringat dingin mengucur seiring kecemasannya yang meningkat. Belum usai dengan gejolak jantungnya, rasa mual datang mendera. Arjuna mengurungkan niat untuk mengunjungi Kinan. Ia berjalan cepat kembali ke ruangannya.

Arjuna mengatur napas perlahan kemudian menyeka keringatnya. Ia menenggak segelas air putih untuk menghilangkan mual. Bayangan senyum Hazal melintas di benaknya dan tiba-tiba jantungnya kembali merespons dengan detak yang lebih cepat.

Setelah memutakhirkan perasaanya, Arjuna kembali menuju kamar Kinan. Saat melihat Kinan hanya sendiri, ia masuk dengan langkah pasti.

“Selamat pagi, Kinan. Bagaimana tidur semalam? Nyenyak?” Arjuna menyapa ramah.

Kinan berusaha tersenyum, tetapi bibirnya tidak terangkat sempurna. Kinan lalu mengambil kertas dan menulis sesuatu untuk Arjuna.

Alhamdulillah kalau tidurnya nyenyak. Tidur yang cukup akan cepat membantu tubuh mendapatkan kekuatan. Kamu perlu tenaga ekstra untuk menghadapi operasi,” kata Arjuna usai membaca tulisan Kinan.

Terdengar derit pintu kamar mandi dibuka dan Arjuna refleks membalikkan badan untuk melihat. Hazal mematung di depan pintu kamar mandi melihat Arjuna. Mata Arjuna dan Hazal bersirobok memancarkan gelombang yang menembus ke dalam hati. Arjuna segera mengalihkan pandang ketika ia merasa paru-parunya kesulitan mengakses oksigen. Perutnya kembali terasa mual. Wajahnya memerah dan berkeringat karena menahan mual.

“Nanti saya datang lagi ya, Kinan,” katanya terbata sembari berjalan cepat ke luar ruangan.

Ekspresi wajah Dokter Arjuna yang seolah ketakutan menciutkan hati Hazal. Ia berpikir bahwa Arjuna jijik melihatnya. Kesedihan menyergap di hati Hazal. Ia takut kalau-kalau Arjuna marah besar padanya.

“Dokter itu bahkan tidak mau melihat wajahku. Seburuk itukah aku?” bisik hati Hazal.

Arjuna merasa tidak enak hati kepada Hazal karena tindakannya. Ia tahu hal itu akan menyinggung perasaan orang lain. Namun, Arjuna benar-benar tidak dapat mengontrol dirinya. Ada sebuah rasa yang belum pernah ia alami. Ada kecemasan yang merangkak klimaks seiring dengan kekagumannya pada Hazal. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ia rasakan.

 

 

 

 

 

 

user

28 December 2021 16:05 Yajma Sadida Ekhm Ekhm ... Ciaa ... Prikitiw!

12. Tamu yang Tak Diharapkan Datang

73 1

 

Ekspresi Arjuna telah menyita tenaga dan pikiran Hazal. Ia terus merasa sesuatu telah menjatuhkan mentalnya hingga ke titik nadir. Berkali-kali ia mencoba untuk berpikir positif tentang sikap Arjuna, tetapi ia terjatuh kembali. Selama ini orang-orang hanya membicarakan soal kegagapannya. Akan tetapi, kali ini Hazal merasakan sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang bahkan begitu ketakutan melihat sosoknya. Bagaimana ekspresi Arjuna jika mendengarnya bicara?

Kinan melihat kemurungan di wajah Hazal. Ia menegakkan badan kemudian Hazal mendekat. Kinan mengenggam tangan Hazal untuk memberi semangat.

“Te...te...ri...ma ka...ka...sih,” kata Hazal sambil tersenyum.

Kinan membalas senyuman Hazal kemudian mengambil alat tulis.

[Kakak jangan sedih. Kakak punya wajah cantik, tidak seperti aku, manusia tanpa wajah]

Tulisan Kinan membuat iba hati Hazal. Ia mengenggam tangan Kinan lebih erat. Ia mengatakan pada Kinan bahwa apa pun yang terjadi, Kinan tetap adiknya yang menawan. Kebaikan dan kekuatan hati adalah kecantikan yang sejati. Kata-kata Hazal sebenarnya tak hanya ia sampaikan untuk Kinan, melainkan dirinya sendiri. Meskipun ia meragukan ucapan itu.

Pintu ruangan perawatan Kinan didatangi dua orang berbadan tegap berambut cepak. Mereka memperkenalkan diri sebagai penyidik dari kepolisian. Saat menyebutkan identitas mereka, seketika Hazal dan Kinan ketakutan. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan kepada Kinan. Kinan menceritakan semua kejadian yang menimpanya melalui tulisan. Seorang perawat yang mendampingi kedua polisi itu memanggil Dokter Arjuna karena mereka membutuhkan pendapat ahli.

Arjuna ragu untuk datang ke kamar Kinan. Bukan karena takut menghadapi polisi, melainkan karena belum mampu menyinkronkan pikiran dengan tubuhnya. Tak hanya Arjuna yang kebingungan, Hazal pun demikian. Ia takut kalau sampai Dokter Arjuna kembali mengalami kekacauan saat melihatnya.

Saat Arjuna memasuki ruangan, Hazal segera mencari posisi yang tidak terlihat jelas oleh Arjuna. Begitu juga Arjuna yang berusaha tidak melihat ke arah Hazal. Namun, semua tidak sesuai dengan Rencana mereka. Kinan ingin tetap didampingi oleh Hazal saat menuliskan keterangan kepada polisi. Hazal dan Arjuna berdiri berhadapan. Keduanya sama-sama berusaha untuk tidak saling melihat. Namun, Arjuna justru tersiksa dengan rasa penasaran. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melirik Hazal. Arjuna memalingkan pandang sejenak pada Hazal yang tetap menunduk. Deg, jantung Arjuna seperti dihantam sesuatu. Konsentrasinya mulai pecah dan tidak fokus mendengarkan pertanyaan polisi hingga harus diulang dua kali. Melihat Arjuna yang gelagapan, giliran Hazal yang mencuri pandang. Dua manusia itu sama-sama sibuk menentramkan huru-hara di hatinya.

Setelah mendapatkan beberapa jawaban, polisi mengatakan akan datang kembali untuk meminta keterangan. Kelegaan mencuat di hati Hazal, setidaknya tidak ada tekanan kepada mereka seperti yang diujarkan penelepon kepada Bu Ratih.

Usai memberikan keterangan kepada polisi, Arjuna dipanggil oleh direktur rumah sakit. Ia sudah dapat menebak hal yang akan dibahas oleh direktur.

“Seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya. Kita akan mulai kewalahan menanggapi pemeriksaan polisi dan media massa. Hari ini saja sudah lima wartawan yang menghubungiku untuk menanyakan kasus Kinan. Sementara itu, Pak Irawan terus menekanku untuk tidak terlalu terbuka pada media,” ujar direktur saat Arjuna tiba di ruangannya.

“Sore ini saat bertemu Pak Irawan, aku akan bernegosiasi dengannya. Aku yakin ia akan memaklumi keputusanku.”

“Jangan terlalu percaya diri. Jangan sampai kau mengorbankan kariermu demi anak itu.”

Arjuna hanya terdiam mendengarkan kata-kata direktur. Masalah kariernya sama sekali tidak menjadi pertimbangan penting. Ia hanya ingin menolong Kinan. Ia ingin menyelamatkan kepercayaan diri dan identitas gadis itu. Ia tidak ingin seorang gadis yang karena kejahatan orang lain harus kehilangan kehidupan sosialnya.

Violeta melihat Arjuna keluar dari ruangan papanya. Ia lalu berlari kecil mengejar Arjuna.

“Apakah hari ini kamu sudah mengosongkan jadwal? Kita akan bertemu dengan Pak Irawan pukul 15.30,” kata Violeta dengan napas tersengal.

“Sudah.”

“Kamu sudah menyiapkan hal-hal yang harus disampaikan pada Pak Irawan?”

“Sudah.”

Wajah Violeta berubah cemberut. Lagi-lagi Arjuna menjawab dengan singkat semua pertanyaannya. Padahal, ia berharap Arjuna memberi umpan balik sehingga percakapan mereka lebih mengalir. Kenyataannya Arjuna tidak menyukai pertanyaan Violeta yang seolah-olah meragukannya. Pertanyaan Violeta membuatnya merasa dicap sebagai seorang yang lemah dan tidak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

“Apakah aku tampak seperti seseorang yang tidak akan berhasil bernegoisasi sehingga ia bertanya begitu padaku?” bisik hati Arjuna.

Violeta berhenti mengiringi Arjuna dan membiarkannya berjalan sendirian di lorong. Arjuna membalikkan badan lalu menganggukkan kepala tanda permintaan izin untuk mendahului. Violeta membalas dengan anggukan pula kemudian menatap punggung Arjuna yang berlalu.

“Sesulit inikah untuk mendekatimu, Dokter Arjuna?” gumam Violeta sembari mengembuskan napas perlahan.

Saat memasuki ruangan, Arjuna melihat seorang pasien yang sangat dikenalnya. Seorang nyonya yang berkali-kali me-reschedule tindakan vaginoplasti. Pasien yang kerap datang tak hanya konsultasi medis, melainkan tentang masalah kehidupan rumah tangganya. Arjuna sudah berkali-kali mengatakan pada nyonya itu agar berkonsultasi dengan Dokter Fahri, tetapi sang nyonya merasa lebih nyaman dengan Arjuna.

“Bagaimana kabar Nyonya Elsye?” tanya Arjuna.

“Kalau aku datang ke sini berarti aku sedang tidak baik-baik saja,” katanya dingin.

Arjuna tersenyum mendengar jawaban Nyonya Elsye. Dia sudah dapat menebak peristiwa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan kembali mendengarkan keluh kesah tentang suaminya yang terjerat cinta perempuan muda. Ia juga akan berkisah tentang keinginannya untuk kembali menjadi seperti gadis perawan di usianya yang sudah tidak muda.

Ada alasan khusus yang membuat Arjuna rela mendengarkan keluh dan kesah Nyonya Elsye. Ia membayangkan perasaan ibunya. Ibunya yang juga menjadi korban cinta. Ibunya yang seperti mayat hidup lantaran ayahnya yang tak hanya main tangan, melainkan juga main gila dengan perempuan lain.

Banyak pasien yang datang pada Arjuna untuk melakukan vaginoplasti dengan tujuan untuk menyenangkan suami. Para istri itu beranggapan bahwa dengan kembali seperti gadis perawan, suami mereka tidak akan berpaling kepada wanita lain. Banyak pasien yang kembali padanya dan mengisahkan tentang keharmonisan rumah tangga yang kembali usai melakukan tindakan tersebut. Namun, banyak pula yang akhirnya berakhir dengan perpisahan. Cerita dari para pasiennya membuat Arjuna semakin takut untuk memulai hubungan percintaan. Ia tidak yakin dapat menjadi lelaki yang tidak menyakiti pasangan.

Kenangan pahit tentang kehidupan rumah tangga orang tuanya diramu dengan cerita para pasien menjadi formula yang sangat kental memengaruhi jiwanya. Ia takut kemiripan wajahnya dengan sang ayah berujung pada kemiripan tingkah laku. Ia yakin, cepat atau lambat ia akan menjadi monster yang mengerikan seperti ayahnya. Ketakutan itu pula yang membuatnya memilih menjadi dokter spesialis bedah plastik. Ia ingin membantu orang-orang yang mengalami krisis kepercayaan diri karena kerusakan pada wajah. Ia juga ingin tahu lebih banyak tentang pembedahan wajah karena mulanya berniat mengubah wajahnya. Namun, hingga saat ini ia tidak juga melakukannya lantaran larangan Dokter Fahri.

“Menurut Dokter, apa perlu aku melakukan vaginoplasti? Atau, perlukah aku mengoperasi wajahku menjadi cantik dan muda?” pertanyaan Nyonya Elsye membuyarkan lamunan Arjuna.

“Kalau suami Nyonya laki-laki yang baik, ia tidak akan menilai Nyonya hanya karena hal itu. Ia seharusnya dapat melihat jauh ke dalam hati Nyonya,” kata Arjuna.

“Dulu ia sangat mencintaiku. Waktu itu wajahku cantik dan mulus. Tidak ada kerutan-kerutan. Tubuh ini pun masih mulus dan langsing. Namun, sejak kecantikanku dimakan usia, ia pergi meninggalkanku bersama perempuan lain. Aku tidak bisa berpisah darinya. Aku tidak kuat membayangkan akan hidup tanpa dia. Aku ingin mengembalikan cintanya padaku seperti dulu. Bagaimana menurut Dokter? Apakah jika aku melakukan operasi wajah, ia akan kembali padaku?”

Arjuna kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Nyonya Elsye. Sekali lagi ia hanya meminta pada nyonya Elsye untuk berkonsultasi dengan Dokter Fahri karena selain kesiapan secara medis, pasien yang akan melakukan bedah plastik harus siap secara mental.

 

***

Jadilah kopi yang mewarnai air, menjadikannya wangi dan nikmat. (Gadis Kopi)

Kopi yang kau pilih saja bisa mencerminkan karaktermu, apalagi kata-katamu. (Gadis Kopi)

Belajarlah dari Kopi, air, gula bekerjasama menghasilkan rasa yang menggugah selera dan menenangkan jiwa. (Gadis Kopi)

 

Arjuna membaca tulisan-tulisan yang tertera di gelas-gelas kopi yang ia kumpulkan. Ada semangat yang menyusup relung hatinya. Ia seperti sedang berkomunikasi dengan sosok Gadis Kopi. Violeta mengetuk pintu saat Arjuna masih merasapi makna tiap kalimat-kalimat itu.

“Sebaiknya kita yang menunggu Pak Irawan di ruang pertemuan. Dengan begitu kita dapat mengefesienkan waktu.”

Arjuna memberi anggukan sebagai jawaban. Ketidaksukaan kembali menghampiri Arjuna. Ia merasa, ajakan Violeta lebih seperti perintah padanya. Arjuna beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan beriringan dengan Violeta menuju ruang pertemuan. Arjuna dan Violeta melangkah dengan beragam kata-kata yang berebutan keluar dari kepalanya. Kata-kata yang ingin mereka sampaikan pada Pak Irawan.

Beberapa langkah sebelum sampai di muka ruang pertemuan, terdengar dering ponsel. Arjuna memeriksa ponselnya dan melihat nama maminya tertera di layar. Seketika wajah Arjuna berubah lalu mengangkat telepon.

“Arjuna, kamu harus pulang sekarang juga. Ada masalah yang sangat genting dengan mamamu.”

“Ada apa Mami?” tanya Arjuna yang panik mendengar nada suara Mami.

“Papamu datang ke sini memaksa bertemu mamamu sehingga mamamu histeris dan tak terkontrol.”

“Apa? Papa?”

Tanpa permisi Arjuna membalikkan badan dan berlari meninggalkan Violeta yang penasaran. Violeta memanggilnya berkali-kali, tetapi Arjuna mempercepat larinya.

Pikiran Arjuna dibombardir oleh kecemasan saat mengetahui orang yang datang menemui ibunya. Bagaimana bisa lelaki itu datang lagi setelah sekian lama menghilang. Mengapa lelaki itu datang kembali mengusik kehidupan mereka?

Beragam pertanyaan memilin kepala Arjuna. Ia segera menuju parkiran mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah dan menghalau kekacauan yang lebih besar lagi.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

28 December 2021 16:14 Yajma Sadida Hadeuh ... Jadi histeris kan mamanya :(

13. Memburu Waktu

112 1

 

Di kepala Arjuna masih bersarang berbagai peristiwa masa lalunya. Kenangan pahit lebih mendominasi memorinya saat ini. Kenangan tentang pertengkaran hebat orang tuanya musabab perselingkuhan sang ayah. Tanpa perasaan sang ayah tega mengusir ia dan ibunya hingga terlunta-lunta di jalan. Dengan berkalang malu, ibunya meminta tolong kepada Rena, adik kandungnya.

Kembali ke pelukan keluarga tidak berarti masalah tuntas. Kakek Arjuna malah memaki-maki ibunya lantaran kebodohan mencintai Heru. Tekanan demi tekanan yang diterima membuat ibu Arjuna depresi berat.  Melihat ibunya seperti mayat hidup, sang kakek merasa menyesal. Namun, penyesalan itu sudah terlambat karena ibunya tak juga membaik bahkan hingga kakek meninggal dunia. Sejak itu, Arjuna diasuh oleh Rena_yang sekarang ia panggil Mami.

Rena dan Baskoro, suaminya yang belum memiliki anak menyambut Arjuna dengan senang hati. Rena mencurahkan kasih sayang seperti ibu kandung. Akan tetapi, Arjuna tidak dapat membuka hati untuk Baskoro yang menggantikan peran ayahnya. Bukan lantaran Baskoro tak baik, melainkan ada ketakutan menghantui Arjuna. Ia takut membuat kesalahan di mata Baskoro. Ia takut Baskoro akan memperlakukannya dengan kekerasan yang sama seperti ayahnya. Arjuna selalu menghindar setiap Baskoro mendekatinya. Beruntungnya, Baskoro sosok yang workaholic sehingga Arjuna tak merasa ketidakdekatan mereka semata karena dirinya.

Arjuna memarkirkan mobilnya dengan tak rapi. Ia segera berlari menuju ruang tamu. Saat kakinya akan melangkah masuk, terhenyaklah ia melihat sesosok berperawakan tinggi dengan rambut, kumis, dan jenggot yang berantakan. Wajah lelaki itu lusuh, selusuh jaket yang dikenakannya. Tanpa menyapa, Arjuna berlalu menuju kamar ibunya. Rena mengiringi di belakang Arjuna dengan wajah penuh amarah kepada Heru.

Arjuna bersimpuh di sisi tempat tidur dan memandang wajah perempuan kesayangannya itu terlelap dengan sisa air mata. Ia membelai rambut ibunya kemudian mengecup kening dengan lembut.

“Tadi perawat sudah berikan obat penenang. Cukup lama mamamu histeris. Mami juga tidak tahu bagaimana bisa lelaki itu datang ke sini. Saat itu, mamamu sedang berjalan di taman bersama perawat. Tiba-tiba Mami mendengar teriakan dan tangisan mamamu.”

Arjuna begitu geram mendengarkan cerita maminya. Ia segera berlari menuju ruang tamu, tempat ayahnya duduk dengan wajah kusut. Arjuna berdiri beku di hadapan Heru yang menunduk. Heru lalu mengangkat kepala dengan ragu. Jantung Arjuna tak keruan melihat jelas wajah lelaki yang sekian lama menghuni ruang kenangan kelam di kepalanya.

“Ar...juna,” ucap Heru terbata.

“Untuk apa Anda datang ke sini mengganggu ketenangan hidup kami?” Arjuna berujar dengan nada tinggi.

“Papa ingin minta maaf, Nak.”

“Minta maaf?”

“Iya, Papa salah karena telah meninggalkan kamu dan mamamu.”

“Kalau sudah selesai minta maaf, pergilah! Aku rasa tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan dengan Anda.”

“Papa mohon, Arjuna. Jangan bicara demikian.”

“Anda mengharapkan aku bicara dengan seperti apa? Mendayu-dayu sambil memeluk penuh keharuan? Begitukah?”

Heru kembali menunduk lesu mendengar kata-kata Arjuna yang  bagaikan peluru menusuk jantungnya.

“Papa ingin kita kembali seperti dulu?”

“Seperti dulu? Seperti dulu yang mana yang Anda maksud? Seperti ketika Anda membabibuta memukuliku tanpa ampun dan tidak mendengarkan penjelasanku. Atau seperti dulu ketika Anda pulang dalam keadaan mulut bau alkohol di malam buta lalu memukul Mama? Atau seperti dulu ketika Anda mengusir kami karena lebih memilih perempuan murahan daripada Mama? Seperti dulu yang mana yang Anda inginkan?” teriak Arjuna.

“Hentikan! Hentikan, Papa mohon!” pinta Heru sambil menutup telinga.

“Apakah dulu Anda akan langsung berhenti ketika Mama memohon agar Anda berhenti memukuliku? Apakah dulu Anda juga akan berhenti saat Mama mengiba-ngiba untuk tidak mengusir kami? Apakah dulu Anda akan berhenti mabuk dan main perempuan lalu mencari kami yang terlunta di jalanan?”

“Arjuna, mohon maafkanlah Papa,” Heru berkata diiringi derai air mata.

“Air mata Anda sama sekali tidak ada maknanya saat ini. Air mata Anda tidak akan pernah bisa menggantikan ribuan menit penderitaan yang dilalui Mama. Air mata Anda hari ini tidak akan pernah mampu mengembalikan Mama seperti dulu. Sekarang, sebaiknya Anda pergi sebelum aku menjadi manusia yang tak punya hati.”

Heru menekan sofa dengan kedua tangan untuk menumpu tubuhnya yang berusaha bangkit dari duduk. Ia tidak berdiri sempurna kemudian berjalan tertatih dengan menyeret kaki kananya. Arjuna melihat kepincangan Heru, lalu mengalihkan pandang. Ia tak ingin punya alasan untuk mengasihani ayahnya. Heru berhenti di muka pintu lalu menoleh sejenak berharap Arjuna akan mendekat. Namun tak dinyana, Arjuna malah memunggunginya.

Arjuna melihat nama Violeta di layar ponselnya. Ia segera menjawab telepon sembari berjalan menuju mobil.

“Arjuna, kita cuma punya satu kesempatan lagi untuk meyakinan Pak Irawan. Ia akan berangkat ke London dengan penerbangan sekitar satu jam lagi. Kalau sampai bandara dengan cepat, kamu bisa bertemu Pak Irawan sebelum ia masuk ruang tunggu. Aku akan menyusul ke sana,” kata Violeta.

Arjuna memasukkan ponsel ke saku celana dengan tergesa kemudian membuka pintu dan menyalakan mobil. Terdengar derit akibat gesekan ban saat mobil digas dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi Arjuna harus berkejaran dengan waktu. Arjuna terus menyetir sambil melihat arlojinya berkali-kali.

Mobil Arjuna terhenti di tengah kemacetan. Ia melihat puluhan kendaraan di depannya merayap perlahan. Arjuna memanjangkan leher untuk memantau keadaan kemudian kembali melirik arlojinya dan berharap masih punya waktu untuk bertemu Pak Irawan. Rupanya kemacetan masih menjadi musuhnya. Arjuna lalu membuka aplikasi ojek online di ponselnya dan memastikan ada pengemudi terdekat.  Ia kemudian mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya tanpa mengganggu pengguna jalan lain. Saat pengemudi ojek tiba, Arjuna meminta untuk mencari jalan tercepat menuju bandara. Motor yang ditumpangi Arjuna meliuk-liuk dengan piawai di antara barisan kendaraan roda empat.

Tiba di bandara, Arjuna mempercepat lari menuju pintu keberangkatan. Matanya mencoba mencari Pak Irawan di antara kerumunan.

“Dokter Arjuna!” panggil Violeta sambil berlari kecil.

Violeta menepuk pundak Arjuna saat melihat Pak Irawan sedang diperiksa oleh petugas bandara dan bersiap masuk. Violeta dan Arjuna berusaha memanggil, tetapi Pak Irawan tak menoleh. Ia terus berjalan diiringi dua ajudannya.

Arjuna berjalan lunglai lalu mengempaskan tubuhnya di salah satu pilar bandara. Violeta menatap Arjuna yang putus asa. Ia lalu berdiri di sebelah Arjuna dan memandang Arjuna yang sedang menarik rambutnya. Tiba-tiba Violeta merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia mengenali orang itu adalah ajudan Pak Irawan. Violeta lalu mencubit lengan kemeja Arjuna untuk memberitahu.

“Pak Irawan menunggu Anda berdua di situ,” katanya seraya menunjuk ke arah Pak Irawan.

Dengan semringah keduanya berlari kecil mendatangi Pak Irawan yang langsung melihat arloji ketika mereka tiba.

“Saya tidak punya banyak waktu. Tadi Anda telah membuang waktu saya dengan percuma,” kata Pak Irawan dengan sinis.

“Beri saya waktu lima menit untuk menyampaikan sesuatu yang penting,” sahut Arjuna dengan napas tersengal.

Hmm.”

“Saya berharap Bapak mengizinkan saya melakukan tindakan operasi pada Kinan secara profesional. Saya hanya ingin bertindak atas dasar kemanusian. Saya sangat memahami hubungan Bapak dengan petinggi itu, tetapi saya yakin, Bapak adalah orang yang sangat bijak dalam mengambil keputusan.”

“Apa yang dapat menjadi pertimbangan saya untuk menyetujui permintaan Dokter?”

Arjuna mengatur napas sejenak untuk memikirkan kata-kata yang dapat menggugah Pak Irawan.

“Sebagai pemilik rumah sakit, saya percaya Bapak dapat menjadi seperti kopi yang melebur bersama air dan gula menjadi sesuatu yang beraroma dan menghangatkan. Kopi tidak pernah kehilangan nama meski ia telah berubah wujud.”

Pak Irawan tak menaggapi dengan kata-kata. Bahkan air mukanya datar seolah Arjuna tidak mengatakan apa pun. Pak Irawan lalu beranjak pergi meninggalkan Arjuna yang terlihat kehilangan harapan. Violeta menarik napas pelan lalu mengembuskannya dengan cepat. Mereka berjalan dengan gontai.

“Kita sama-sama ke rumah sakit lagi?” tanya Violeta memecah keheningan.

“Iya.”

Penyesalan dan kekesalan memangsa Arjuna dengan buas. Ia kesal karena kehadiran seseorang dari masa lalu yang sama sekali tidak pernah ia harapkan. Ia menyesal karena kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Pak Irawan tentang Kinan.

user

29 December 2021 10:35 Yajma Sadida Semangat pak dokter!

14. Mumi Tisu Toilet

60 3

Violeta mengambil ponsel dari tasnya ketika terdengar nada panggilan. Penelepon tak lain adalah Pak Anton, ayahnya yang memberitahu kabar gembira bahwa Pak Irawan mengizinkan Kinan dioperasi di Rumah Sakit Mitra Sehat.

“Dokter Arjuna, kita berhasil,” kata Violeta semringah.

“Maksudnya?”

“Baru saja Papa menelepon. Katanya, Pak Irawan telah menghubungi Papa dan mengizinkan Kinan dirawat di  Mitra Sehat.”

Kalimat terakhir Violeta membungakan kelegaan di dada Arjuna.

Alhamdulillah, terima kasih, Dokter,” ucap Arjuna.

Arjuna dan Violeta meninggalkan bandara menuju rumah sakit. Violeta menyetir mobil sedangkan Arjuna menyandarkan tubuh di kursi sebelahnya sembari menoleh ke luar jendela. Ia terlalu serius dengan pikirannya sehingga tidak memerhatikan Violeta yang berulang kali memandangnya.

Arjuna senang karena berhasil meyakinkan Pak Irawan. Mulanya ia ragu karena merasa tak mempunyai formula untuk berbicara dengan Pak Irawan. Arjuna teringat teori komunikasi yang pernah dibacanya bahwa untuk membangun komunikasi yang baik, seseorang perlu mengenal kerangka acuan orang lain. Arjuna telah mencari banyak informasi tentang Pak Irawan yang ternyata pencinta kopi. Bahkan, dari artikel yang Arjuna baca, Pak Irawan kerap menjadi juri pada kompetisi kopi tingkat internasional. Akhirnya, kata-kata motivasi Si Gadis Kopi yang sering dibaca Arjuna menjadi senjata pamungkas untuk menaklukkan “pertempuran”.

“Juna, kita langsung ke rumah sakit?” panggil Violeta.

Arjuna terkejut karena Violeta memanggilnya dengan sapaan akrab.

“Bisa antarkan aku ke tempat tadi memarkirkan mobil? Kita bisa belok ke arah sana!” jawab Arjuna sembari menunjuk arah.

Violeta memutar setir ke arah yang ditunjuk Arjuna. Tiba di sana, Arjuna segera menuju mobilnya dan mengatakan pada Violeta akan langsung menuju rumah sakit.

“Oke, sampai bertemu di rumah sakit ya, Jun,” kata Violeta dengan senyum lebar.

***

“Perkenalkan saya Boby, pengacara dari pihak Rizki,” kata seorang lelaki berjas hitam kepada Hazal.

“A...a...da a...aa...pa, Pak?”

“Kedatangan saya ke sini untuk memastikan kondisi Kinan sekaligus mengatakan bahwa kami punya bukti-bukti dan saksi yang menunjukkan bahwa Rizki tidak bersalah. Kejadian yang menimpa Kinan hanya sebuah kecelakaan.”

Hazal dan Kinan geram mendengar kata-kata Boby serta sikapnya yang tidak bersahabat. Kinan bangkit dari tempat tidur kemudian meronta ke arah Boby. Hazal berusaha menahan Kinan, sementara Kinan bersusah payah untuk bicara, tetapi tak satu huruf pun keluar dengan sempurna.

“Ba...ba...gai...ma...ma...na mungkin ii...tu ke...ke...ce...lakaan?” jerit Hazal dengan terbata.

Boby hanya tertawa melecehkan Hazal yang kepayahan berkata-kata.

“Sebentar lagi berkas perkara akan naik ke persidangan. Saya harap Anda menyiapkan pengacara terbaik.

Saat ketegangan masih berlangsung, Arjuna masuk ke ruangan. Ia tersentak melihat sosok yang sangat dikenalnya. Wajah yang tidak mungkin bisa hilang dengan mudah dari ingatannya.

“Boby? Ada apa ke sini?” tanya Arjuna.

“Saya pengacara dari pihak keluarga Rizki yang telah difitnah melakukan pernyiraman air keras kepada Kinan. Tapi, tunggu dulu, bagaimana Dokter bisa mengenal saya?”

“Saya sangat mengenal Anda. Anda adalah orang yang tidak mungkin saya lupakan.”

Boby masih berusaha menarik-narik ingatannya sembari memerhatikan wajah Arjuna dengan saksama. Namun, ia sama sekali tidak mampu mengenali Arjuna.

“Cobalah ingat teman sekelas di SMP yang sering Anda bully dan hina dengan sebutan gajah bengkak, raksasa, dan lain sebagainya.”

Boby masih berusaha mengenang. Tiba-tiba ia mendapatkan ingatannya kembali.

“Tidak mungkin kalau kamu Arjuna kan?”

“Iya. Ini aku, Arjuna.”

Boby kehilangan kata-kata untuk melanjutkan percakapan. Ia tidak mempercayai bahwa lelaki bertubuh atletis yang berdiri di hadapannya adalah Arjuna, remaja gemuk yang sering disebutnya sebagai gudang lemak.

 “Jadi, kamu sekarang mewarisi profesi ayahmu?” sindir Arjuna.

“Karier bukan warisan, saya membangunnya sendiri dengan kerja keras.”

“Iya, tetapi setidaknya itu menjadi lebih mudah karena ayahmu pemilik firma hukum terkemuka.”

“Tidak semudah yang kamu bayangkan,” sahut Boby yang menunjukkan ketersinggungan terhadap ucapan Arjuna.

“Baiklah, saya rasa masih banyak urusan yang harus saya selesaikan. Saya harap kita akan berjumpa lagi dalam situasi yang lebih santai. Oh, iya, jangan lupa untuk hadir pada acara reuni kita nanti. Kamu adalah orang yang kehadirannya paling kami tunggu,” kata Boby dengan nada mengejek.

Usai kepergian Boby, Arjuna melihat Kinan yang menunduk lesu di tempat tidur. Mata Arjuna mencari sosok Hazal ke seluruh ruangan, tetapi ia tak melihat siapapun. Arjuna yakin bahwa tidak ada yang ke luar kamar selain Boby.

“Apakah gadis itu semacam makhluk astral yang bisa menghilang?” bisik Arjuna dalam hati.

Bu Ratih datang saat Arjuna masih kebingungan. Melihat Kinan yang menunduk, Bu Ratih segera mendekat. Dari air mata Kinan, Bu Ratih mencium aroma kesedihan.

“Ada apa, Dokter?” tanya Bu Ratih pada Arjuna.

“Tadi ada seseorang yang mengaku sebagai pengacara dari pihak Rizki datang, Bu.”

“Pengacara Rizki?” tanya Bu Ratih sambil kemudian menutup mulutnya dengan tangan.

“Jangan cemas, Bu. Semua pasti akan baik-baik saja.”

Giliran Bu Ratih yang menjelajahkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mencari Hazal.

“Hazal di mana?” tanya Bu Ratih pada Kinan.

Kinan lalu menunjuk ke arah kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Hazal gelisah. Ia ingin ke luar, tetapi takut jika Dokter Arjuna akan jijik melihatnya. Hazal menempelkan telinga di pintu untuk memastikan tidak ada lagi suara Dokter Arjuna. Namun, harapannya berbanding terbalik dengan kenyataan. Dokter Arjuna masih menjelaskan prosedur operasi yang akan dijalani Kinan. Sementara itu, Bu Ratih seolah tak kehabisan stok pertanyaan untuk Dokter Arjuna. Curiga dengan Hazal yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, Bu Ratih mendekat.

“Hazal, kamu sedang apa? Ibu mau ke kamar mandi juga.”

Hazal gelagapan mendengar suara Bu Ratih. Ia bingung harus melakukan apa. Refleks ia mengambil tisu toilet dan melilitkan di wajah hingga hanya terlihat bagian mata.

Astaghfirullah,” pekik Bu Ratih yang terperanjat melihat Hazal saat membuka pintu.

Arjuna dan Kinan serentak menoleh lalu sama terperangahnya seperti Bu Ratih.

“Ada apa dengan kamu, Hazal? Mengapa melilitkan tisu toilet seperti mumi begitu? Untung Ibu tidak jantungan,” ujar Bu Ratih sambil memukul lengan Hazal dengan pelan.

Kinan mengangkat sudut bibir sebelah kiri karena merasa lucu melihat Hazal, sedangkan Arjuna sekuat tenaga menahan tawa. Ia lalu berpamitan pada Kinan kemudian terbahak-bahak di luar kamar. Sudah lama Arjuna tidak tertawa lepas tanpa beban. Banyak kepenatan yang ia hempaskan bersama tawanya yang menggema di lorong rumah sakit. Komplikasi peristiwa yang ia alami seharian dituntaskan dengan tawa karena ulah Hazal.

Violeta keheranan kemudian mengejar Arjuna yang masih mengulum sisa tawa.

“Kenapa tertawa sendiri, Juna?” sapa Violeta.

Arjuna menoleh ketika mendengar suara Violeta.

“Aku melihat mumi hidup hari ini.”

“Mumi?”

“Iya, mumi yang terbungkus tisu toilet.”

Violeta mengernyitkan kening karena tidak memahami maksud Arjuna. Ia memandangi Arjuna  yang terus tersenyum geli. Keduanya tidak menyadari bahwa sepasang mata milik Dokter Denis sedang mengamati mereka dari jauh.

“Apakah aku tidak lebih baik dari Arjuna? Sampai-sampai Violeta pun menaruh perhatian lebih padanya?” gerutu Dokter Denis.

Denis hanya menelan pil kecemburan karena gadis yang disukainya mendekati orang lain. Malangnya lagi, orang yang didekati Violeta adalah Arjuna yang selama ini selalu dianggapnya sebagai saingan.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

20 December 2021 10:07 Ratih Rosalina Wah keren kak.. sekali baca langsung nyandu. suka aku yang cepet gini alurnya.. lanjut terus ya kak..

user

21 December 2021 01:41 Vega Galanteri Alhamdulillah, terima kasih kak Ratih Rosalina atas dukungannya.

user

29 December 2021 10:42 Yajma Sadida Ah elah, Denis lu bikin risih aja sih:)

15. Mimpi Buruk

76 1

 

“Mama, Arjuna mohon tenanglah! Ini Juna, Ma,” Arjuna memeluk ibunya yang terus meronta usai melemparkan vas bunga ke arahnya.

“Pergi, pergi, pergi, pergi,” teriak ibunya sambil berusaha melepaskan pelukan Arjuna.

Arjuna tersentak mendengar kata pertama terucap dari bibir ibunya setelah sekian lama bungkam.

“Mama,” ujar Arjuna pelan sembari terus memeluk sekuat tenaga.

“Pergi, pergi, pergi.”

Teriakan demi teriakan terdengar semakin lantang. Arjuna berusaha menahan kepiluan saat mendengar kata-kata ibunya. Selama ini, Arjuna hanya melihat sang ibu membeku tanpa kata atau berteriak histeris ketika sesuatu mengusiknya.

Mendengar teriakan dan suara barang-barang yang dilempar, Rena datang lalu membantu Arjuna menenangkan Ibunya. Rosa menghambur ke arah Rena dan bersembunyi di balik tubuhnya. Terlihat sekali ketakutan yang luar biasa di mata Rosa saat melihat Arjuna. Rena lalu meminta Arjuna meninggalkan ruangan.

Dengan kepiluan yang dahsyat, Arjuna melangkahkan kaki ke luar kamar. Dengan ragu Arjuna menoleh, tetapi ibunya semakin rapat bersembunyi di punggung Rena. Arjuna duduk di ruang tengah menunggu Rena. Setengah jam diam dalam gelisah, barulah Rena datang menghampiri.

“Ada apa dengan Mama, Mi? Mengapa begitu histeris melihatku. Ini kali pertama Mama begitu padaku.”

“Entahlah. Mami juga tidak tahu. Sekarang Mamamu sudah tenang dan tidur.”

“Mungkinkah ini terjadi karena kedatangan Papa? Mungkinkah Mama masih terkenang Papa?”

Rena ragu mengiyakan asumsi Arjuna. Sesungguhnya pikirannya persis seperti Arjuna. Ia yakin bahwa kakaknya melihat sosok Heru dalam diri Arjuna. Arjuna dan Heru bagaikan orang dengan bayangan cermin. Hanya keriput di kulit yang membedakan mereka, selebihnya benar-benar persis.

“Sepertinya malam ini aku menginap di apartemen saja, Mi. Aku tidak ingin kalau Mama melihatku lalu histeris lagi.”

Rena mengangguk pelan penuh penyesalan karena terpaksa menyetujui keinginan Arjuna.

“Kamu jangan cemas, Mami akan menjaga mamamu. Setidaknya kita melihat ada kemajuan pada mamamu. Mamamu bisa berbicara lagi meskipun hanya mengucapkan satu dua kata.”

“Iya, Mi. Walau kata-kata itu bermakna kebencian padaku. Setidaknya aku kembali mendengar Mama bicara,” ujar Arjuna terbata menahan pilu.

Lelah dan penat menggerayangi Arjuna. Peristiwa demi peristiwa bertubi-tubi menyita energinya. Setiba di apartemen, ia mengempaskan tubuhnya di tempat tidur. Meski begitu lelah, ia tak dapat beristirahat dengan sempurna. Ia terbaring dengan merentangkan tangan sementara otak memerintah matanya untuk menerawang langit-langit kamar menyaksikan banyak peristiwa tampil di sana. Arjuna lalu memadamkan lampu kamar agar kelenjar pineal dalam otak dapat menghasilkan hormon melatonin yang akan membuatnya mengantuk. Setelah berkali-kali mengganti posisi tidur, akhirnya Arjuna direngkuh oleh lelap.

“Jangan pukuli aku lagi. Aku mohon. Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Aku tidak menyangka sama sekali, di balik wajahmu yang rupawan rupanya ada monster yang sedang bersembunyi,” rintih Hazal.

Plak, sebuah tamparan mendarat di pipi Hazal membekaskan rona merah. Hazal mengusap pipinya yang perih.

“Apa kamu baru menyadari bahwa aku adalah monster? Sudah sejak lama aku seperti ini, kamu saja yang tidak jeli melihat. Matamu telah ditipu oleh kulit luarku. Inilah aku yang sesungguhnya. Aku monster. Aku memang monster.”

Astaghrifullah,” ucap Arjuna kemudian membuka mata seketika.

Rupanya mimpi buruk telah datang bertamu merusak tidurnya. Arjuna bangkit untuk mengambil air putih di meja yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur kemudian mencengkeram rambutnya.

“Mengapa gadis itu masuk di mimpiku?” gumamnya.

Arjuna merasa tak dapat lagi melanjutkan tidur. Ia menuju kamar mandi kemudian menyalakan keran wastafel dan membiarkannya mengalir tanpa digunakan. Setelah beberapa detik, barulah ia membasuh wajah kemudian menghadap cermin dengan poni basah. Ia menatap wajahnya di cermin lalu kembali membenci bayangan yang dipantulkan. Arjuna menunduk lebih dalam ke wastafel kemudian membasuh wajah berkali-kali dengan kasar. Diangkatnya wajah yang makin kuyup ke cermin. Ada kebencian yang mengaliri hatinya.

***

Helena menatap dengan sinis pada Hazal yang duduk seperti pesakitan di hadapannya. Ia melipat lengannya di dada kemudian menyandarkan tubuh di kursi.

“Sejak awal aku sudah sanksi dengan kualitasmu di sini. Kamu mengalami gangguan bicara dan seenaknya mengatur waktu istirahat yang berbeda dengan orang lain. Akhir-akhir ini kamu justru menambah rentetan kesalahan dengan sering datang terlambat ke kafe,” ujar Helena.

Hazal hanya menunduk tanpa menjawab. Ia tidak punya keberanian untuk berkata karena takut akan membuat Helena tambah mengolok-olok kekurangannya.

“Kalau kamu diam berarti apa yang aku katakan itu benar. Kamu tidak punya pembelaan? Oh iya, aku lupa kalau kamu sulit bicara,” katanya dengan nada mengejek.

Hazal ingin membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia punya alasan datang terlambat. Lagi pula, keterlambatannya tidak mengurangi jam kerja karena ia pulang lebih lama dari yang seharusnya. Namun, ada bisikan lain yang membuatnya mengurungkan pembelaan diri. Sebagian dari hatinya menyarankan untuk bicara, sedangkan sebagian lagi menyarankan untuk diam. Akhirnya, diam yang menjadi pilihan Hazal.

“Ini peringatan keras dariku. Sekali lagi kamu membuat masalah di kafe ini, kamu harus mencari pekerjaan lain. Mohon maaf, kafe ini butuh orang yang kompeten. Kamu benar-benar telah merusak pagiku.”

Hazal mengangguk kemudian meninggalkan ruangan Helena dengan murung. Rayhan mendekat dan memberi semangat padanya. Helena menyambut Rayhan dengan seutas senyum yang dipaksakan. Satu hal yang sangat mengusik Hazal adalah rahasia yang belum diketahui Helena. Jika Helena mengetahui keanehannya itu, pastilah ia akan ditendang dengan sempurna dari kafe ini. Kehilangan pekerjaan adalah efek susulan yang menakutkan bagi Hazal. Bagaimanapun, ia membutuhkan pekerjaan untuk menopang kehidupannya. Dengan kekurangan yang dimilikinya, ia merasa tak akan mudah untuk mendapat pekerjaan lain.

“Aku rindu keceriaanmu yang dulu. Jangan patah semangat, kamu harus kuat,” kata Rayhan.

“Te...te...ri...ma ka...ka...sih, Bang.”

Hazal mengganti pakaiannya dengan seragam kerja berwarna hitam pekat. Tak lupa, ia mengikatkan celemek berwarna coklat tua dengan aksen pita kotak-kotak. Ia melangkah gontai menuju meja bar kopi kemudian melakukan rutinitas seperti biasa. Sederet pesanan telah menunggu untuk disajikan.

Tangan Hazal memiringkan dan memutar perlahan secangkir espresso. Ia lalu menggerakan teko berisi susu dengan gaya memutar yang bertumpu pada pergelangan tangan. Ia membentuk pola bunga di secangkir kopi. Dengan terampil Hazal membuat beraneka pola-pola unik. Ia sedang menyalurkan kegelisahannya melalui pola-pola late art tersebut.

“Hazal, ada telepon dari Bu Ratih,” ucap Vivian sambil menyerahkan ponselnya.

Hazal menghentikan kelincahan tangannya kemudian menyambut telepon Bu Ratih. Vivian berusaha mencuri dengar pembicaraan Hazal dengan ikut menempelkan telinga.

“Hazal, Ibu tidak tahu harus bagaimana. Ibu kembali mendapat telepon ancaman. Bukan hanya telepon saja. Tadi, Mbak Devi bilang kalau ada dua lelaki datang ke panti kemudian mengancamnya. Mbak Devi sangat ketakutan karena selain mengamcam, mereka juga mengobrak-abrik berkas-berkas di panti asuhan. Anak-anak yang melihat sangat ketakutan. Kita harus bagaimana Hazal? Apa kita menyerah saja dengan kasus Kinan. Kita hanya orang kecil yang tidak punya kekuatan apa pun,” kata Bu Ratih sambil terisak.

Vivian dan Hazal saling pandang sembari terus mendengarkan cerita Bu Ratih. Wajah keduanya berubah geram. Mereka sama-sama berpendapat bahwa keadilan harus ditegakkan. Tindakan Rizki terhadap Kinan tidak dapat dibenarkan. Hazal dan Vivian tidak rela jika Rizki bebas tanpa mendapatkan hukuman.

“Kasihan Kinan. Sudah jatuh tertimpa tangga. Apakah orang-orang berkuasa kebal hukum? Apakah hukum seperti pisau yang hanya tajam ke bawah?” keluh Vivian usai menutup telepon.

Hazal melihat jam dinding yang menunjukkan bahwa waktu kerjanya masih tersisa empat jam. Namun, waktu itu terlalu panjang baginya. Ia ingin segera mendatangi dan menenangkan Bu Ratih. Hazal kembali dilanda bingung karena tidak mungkin pulang kerja lebih cepat setelah baru saja ia diberi peringatan oleh Helena. Akan tetapi, ia juga tidak dapat fokus pada pekerjaannya.

Pelanggan kafe semakin ramai berdatangan, begitu juga dengan pesanan kopi. Kepanikan Hazal memuncak. Tangannya gemetar saat memutar teko susu hingga ia menjatuhkan cangkir kopi. Bunyi cangkir yang pecah mengundang perhatian para pelanggan, tak terkecuali Helena. Helena murka melihat kekacauan yang dibuat Hazal.

“Ada apa denganmu? Rupanya kata-kataku tadi sama sekali tidak engkau indahkan. Aku sudah mengatakan bahwa jika sekali lagi ada kesalahan, silakan kamu angkat kaki dari kafe ini.”

Seluruh mata pelanggan kafe tertuju pada Hazal yang sedang dibentak oleh Helena. Hazal tidak berani mengangkat wajah karena ia tidak siap melihat banyak mata yang memandangnya. Ia tidak dapat mengenali dengan jelas rasa yang menghuni dadanya. Rasa malu dan kecewa bekerja sama mencabik-cabik benteng pertahanan hatinya.

“Mbak Helena boleh marah, tetapi jangan mempermalukan Hazal di muka umum,” kata Rayhan.

“Kamu jangan sok jadi pahlawan kesiangan.”

“Aku bukan jadi pahlawan kesiangan, tetapi tindakan Mbak Helena akan membuat buruk citra kafe kita.”

Helena melayangkan pandang dan menyadari bahwa para pelanggan sedang berbisik-bisik membicarakan mereka. Helena berpura-pura membenarkan kemejanya lantas meninggalkan Hazal yang membisu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

29 December 2021 10:57 Yajma Sadida Ih Helena...

16. Karena Netizen

106 1

 

Arjuna mendatangi Dokter Fahri untuk berkonsultasi tentang ibunya. Setelah konsultasi dan menjadwalkan terapi untuk sang ibu, Arjuna mengisahkan tentang mimpi dan keanehan yang ia rasakan setiap bertemu Hazal. Dokter Fahri menilai bahwa perasaan itu adalah respons ketertarikan pada orang lain.

“Dokter membuatku bergidik dengan mendefinisikan itu sebagai ketertarikan. Aku rasa itu terlalu berlebihan?” protes Arjuna.

“Bagaimana bisa aku berlebihan? Aku sudah cukup lama mengenalmu. Bahkan hampir semua kisah kehidupanmu aku tahu. Baru kali ini aku dengar kamu menceritakan tentang sesuatu yang terjadi setiap bertemu dengan seorang gadis. Bisa saja kan kalau hatimu telah siap terbuka untuk menerima sesorang masuk di dalamnya?

“Sepertinya tidak, Dok. Mana mungkin hatiku tiba-tiba terbuka untuk orang lain yang bahkan nama lengkapnya tidak aku ketahui. Lagi pula, mengapa tubuhku harus merespons berlebihan seperti itu? sampai-sampai ada rasa mual dan tidak nyaman.”

“Sebelum mencapai pada rasa manis, cinta memang kerap menghadirkan rasa yang aneh seperti yang kamu rasakan itu.”

“Cinta? Aku tidak percaya pada romansa cinta seperti yang dokter katakan. Hal yang terjadi pada pasangan bukan cinta menurutku. Itu hanya sebuah hubungan saling menguntungkan dan menyakiti satu sama lain.”

“Jangan terlalu skeptis!”

“Aku tidak skeptis, hanya bicara fakta. Coba saja kita lihat dari banyaknya kisah cinta yang fenomenal, rata-rata diakhiri dengan sakit hati dan duka. Misalnya, Romeo dan Juliet, Laila Majnun, Titanic, dan masih banyak lagi. Terutama kisah cinta orang tuaku sendiri, Dok. Semua berakhir dengan kedukaan. Mencintai seseorang akan membuat kita memberi ruang yang bebas baginya mengontrol penuh diri kita.”

“Tidak selalu berakhir duka, contohnya Habibie dan Ainun. Ada juga kisah cinta yang tidak tertandingi, yaitu kisah cinta Rasulullah dengan Khadijah dan Aisyah. Begitu juga kisah cinta putri Rasulullah, Fatimah dan Ali. Tidak ada kisah cinta yang lebih dahsyat dari itu bukan? Cinta yang dilandasi kecintaan kepada Allah.”

Arjuna hanya terdiam mendengarkan kata-kata Dokter Fahri. Ia tidak punya alasan untuk menentang pernyataan itu. Namun, bukan berarti Arjuna telah mengubah pemahamannya tentang cinta. Keraguan yang muncul berikutnya adalah ketidakyakinan bahwa semua orang dapat mencintai seperti Rasulullah, termasuk dirinya. Ia juga tidak yakin dapat menemukan perempuan seperti Khadijah, Aisyah, atau Fatimah.

“Allah sudah menciptakan kita berpasang-pasangan. Cepat atau lambat jodoh pasti datang dengan cara yang sempurna,” kata Dokter Fahri.

***

Apakah aku hidup di negeri antah berantah?

Apakah memang hukum yang berlaku di negeri ini seperti pisau yang tumpul ke atas?

Kami ingin keadilan untuk adik kami, Kinan. Remaja yang wajahnya rusak karena disiram dengan air keras oleh lelaki yang cintanya ditolak. Bukannya merasa bersalah, pelaku malah menyangkal seolah-olah kejadian tersebut hanya kecelakaan dan adik kami telah memfitnahnya. Hanya karena punya orang tua berkuasa dan banyak uang, pelaku malah melakukan intimidasi.

#savekinan

#butuhkeadilan

#nkrihargamati

Vivian menuliskan kisah yang menimpa Kinan di media sosialnya. Dalam waktu singkat, kolom komentar media sosialnya dipenuhi oleh netizen yang bersimpati. Komentar-komentar yang menyatakan dukungan terus membanjiri. Bahkan postingan Vivian dibagikan hingga ribuan kali dengan tagar savekinan. Tak hanya membagikan postingan Vivian, netizen bahkan membuat tulisan-tulisan baru dari kisah Kinan. Tak butuh waktu lama, Kinan menjadi trending topik pencarian di twiter, instagram, facebook, dan google. Bahkan, banyak juga yang membuat video tiktok berdasarkan kisah Kinan. Vivian tidak menyangka, postingan yang tadinya hanya keluhan menjadi begitu viral hingga ia kewalahan membalas komentar netizen.

“Hazal, coba lihat Kinan jadi viral begini,” kata Vivian saat menjenguk Kinan di rumah sakit.

“Iya, ko...kok bi...bi...sa be...be...gitu ya? Aa...ku ti...ti...dak tahu harus se...se...nang atau sedih.”

“Harus senang. Kamu baca sendiri kan komentar para netizen. Mereka semua memberi dukungan pada Kinan. Bahkan sudah ada yang DM aku minta persetujuan untuk menggalang donasi.”

Hazal menoleh pada Bu Ratih karena tidak dapat memutuskan sendiri. Sementara Bu Ratih yang dilirik hanya menarik napas panjang.

“Bagai buah simalakama. Ibu senang banyak yang peduli pada Kinan, tetapi Ibu takut kalau justru kita akan semakin mendapatkan tekanan.”

“Aku rasa, mereka tidak akan lagi berani menekan kita karena banyak rakyat Indonesia yang sedang memantau mereka. Ibu tahu kan bagaimana kekuatan netizen Indonesia? Kalau zaman dulu orang merebut kemerdekaan dengan bambu runcing, sekarang menegakkan keadilan bisa lewat media sosial, Bu,” ucap Vivian berapi-api.

Kinan mengambil kertas kemudian menulis ucapan terima kasih untuk Vivian. Ia merasa bahwa tindakan Vivian sudah benar.

Dokter Arjuna masuk ke kamar saat ketiganya masih serius berbicara. Ia tidak sendiri, seorang lelaki berpenampilan rapi berdiri di sisinya.

“Bu Ratih, perkenalkan ini Feri, seorang pengacara yang ingin menyampaikan sesuatu kepada Ibu.”

Mendengar kata pengacara, nyali Bu Ratih dan Hazal menciut. Mereka berpikir bahwa Feri datang dengan alasan yang sama seperti Boby.

“Saya Feri, perwakilan dari kantor hukum Ferdinand. Saya ingin mengucapkan rasa simpati dan memberi dukungan bagi Kinan. Saya dan tim dari kantor hukum Ferdinand mengajukan diri untuk menjadi pengacara Kinan.”

Semua mata terbelalak dan terkejut mendengar hal itu kecuali Dokter Arjuna yang tersenyum manis. Tidak ada kata-kata yang keluar karena Bu Ratih, Hazal, dan Vivian masih mencerna kata-kata Feri. Setelah menoleh pada Hazal dan Vivian dengan keheranan, barulah Bu Ratih buka suara.

“Bapak mau membantu kami?” tanya Bu Ratih.

“Iya, Ibu. Kami sudah menyiapkan tim yang diketuai langsung oleh Pak Ferdinand.”

“Pak Ferdinand, pengacara yang sering muncul di televisi itu?”

“Iya, Ibu,” sahut Feri tersenyum ramah.

“Pak Ferdinand, pengacara para artis itu?”

“Iya, Ibu.”

“Pak Ferdinand yang pengoleksi berlian dan mobil mewah itu?” tanya Bu Ratih sekali lagi.

Feri menjawab pertanyaan Bu Ratih berkali-kali dengan senyum lebar. Sementara Vivian dan Hazal masih tidak percaya bahwa mereka akan dibantu oleh pengacara kondang tersebut.

“Pak Ferdinand sudah membaca kisah Kinan di media sosial. Beliau merasa bahwa Kinan perlu mendapatkan bantuan hukum. Ibu jangan khawatir, kami tidak meminta biaya sepeser pun. Kami tulus membantu Kinan.”

Alhamdulillah.” Serentak seisi ruangan mengucapkan pujian kepada Allah termasuk Dokter Arjuna. Bu Ratih segera memeluk Hazal dan Kinan. Mereka larut dalam lautan haru. Air mata bahagia menetes membasahi pipi.

“Terima kasih, Pak Feri. Terima kasih Vivian,” kata Bu Ratih.

Arjuna ikut merasakan kebahagiaan saat melihat wajah Bu Ratih dan Hazal. Ia merasakan ada kehangatan yang membuatnya betah ada di ruangan. Ia melirik pada Hazal yang hidungnya masih memerah karena menangis. Tiba-tiba, perasaan Arjuna kembali gonjang-ganjing. Mukanya memucat seiring keringat dingin yang mulai tumbuh di dahi. Hazal yang menyadari perubahan itu segera menyembunyikan diri dari tatapan Arjuna. Ia memilih keluar ruangan dan duduk di kursi tunggu. Arjuna merasa bersalah karena tidak mampu mengontrol respons tubuhnya, sedangkan Hazal merasa bersalah karena telah membuat Arjuna “jijik” melihatnya. 

 

user

29 December 2021 11:07 Yajma Sadida #savekinan

17. Kuncup yang Tak Diizinkan Berbunga

70 1

 

Dua perawat mendorong Kinan yang terbaring di brankar memasuki ruang operasi setelah menjalani berbagai pemeriksaan. Tim dokter akan melakukan operasi pertama pada Kinan. Fokus bedah adalah transplantasi wajah, pemasangan silikon penyangga hidung, dan memperbaiki bagian mulut Kinan.

Saat Arjuna akan memasuki ruang operasi, Hazal memberanikan diri mendekat. Arjuna berusaha keras mengatur napasnya dan menyugestikan diri agar otaknya tidak memberi perintah yang aneh pada tubuhnya saat Hazal mendekat.

“Do...dok...ter, to...to...long a...a...dik saya,” ucap Hazal sambil menyusun sepuluh jari tanpa menatap Arjuna.

Hampir saja paru-paru Arjuna tidak memandapatkan pasokan udara sempurna lantaran terkejut mendengarkan Hazal yang bicara terbata. Aneka rasa yang tak terdefinisikan mengitari benak Arjuna, tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi terkejut.

Insya Allah. Doakan yang terbaik untuk Kinan,” jawab Arjuna dengan tenang.

Hazal tersenyum hingga menampakkan gigi putihnya yang rapi kemudian membungkukkan badan pada Arjuna. Jantung Arjuna seperti disengat listrik saat matanya menatap senyum Hazal. Tubuhnya mulai di luar kendali. Namun, responsnya berbeda kali ini. Ia tidak merasakan mual atau berkeringat dingin. Ada dorongan di dalam dirinya untuk terus  menikmati senyum Hazal.

“Dokter Arjuna, tim dokter yang lain sudah siap di dalam,” panggil seorang perawat.

Arjuna segera memasuki ruang operasi setelah melempar senyum pada Hazal. Senyum itu ditangkap Hazal sebagai pancaran ketulusan. Ia merasa tatapan Arjuna berbeda dari orang lain saat pertama mendengarnya bicara. Hazal merasa Arjuna tidak melihatnya sebagai orang aneh.

“Jangan terlalu berbesar hati, Hazal. Jangan mengira dokter itu memerhatikanmu,” kata Hazal dalam hati.

Hazal terus menatap Arjuna hingga punggungnya menghilang ke dalam bilik operasi. Tiba-tiba kuncup  bersemi di hati Hazal. Namun, secepat kilat Hazal mencabut akar-akar bunga itu dari hatinya sebelum benar-benar bermekaran. Ia merasa harus pandai mengukur bayangan setinggi badan. Baginya, sangat tidak tahu diri jika gadis sepertinya menaruh hati pada Dokter Arjuna.

Selama kurang lebih 10 jam tim dokter akan melakukan transplantasi wajah Kinan. Bu Ratih dan Hazal menunggu dengan gelisah. Dalam kegelisahan itu, tak sesuap pun makanan masuk ke perut Hazal. Ia benar-benar berada pada puncak kecemasannya.

“Hazal, bagaimana Kinan?” tanya Vivian yang baru datang.

“Be...be...lum se...le...le...sai.”

“Mohon doakan ya, Vivian,” kata Bu Ratih.

Vivian melihat wajah Hazal memucat serta bibirnya yang pecah-pecah. Ia memaksa Hazal untuk makan sesuatu, tetapi Hazal menolak. Ia mengatakan baru akan makan ketika operasi Kinan selesai.

“Hazal, aku sebenernya tidak ingin menceritakan ini padamu. Tapi, aku tidak bisa lagi menahannya.”

“A...a...pa?”

“Ini tentang Nenek Sihir di Kafe. Si Helena. Ternyata, ada alasan khusus mengapa dia ngotot ingin kamu keluar dari kafe sampai-sampai mencari-cari kesalahan kamu. Belum lama kamu diberhentikan dari kafe, dia bawa barista baru yang ternyata adalah pacarnya. Jadi, itulah alasan dia menyingkirkan kamu. Karena menurutnya cuma kamu yang lemah dan bisa disingkirkan dengan mudah. Kalau Bang Rayhan kan sulit dicari kesalahannya.”

Hazal menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia mencoba mengiklaskan yang terjadi pada dirinya. Meskipun, ingatannya tentang peristiwa seminggu lalu masih membekas. Sehari setelah ia membuat kekacauan karena memecahkan gelas kopi, Helena memanggil ke ruangannya. Helena mengonfirmasi tentang kebiasaannya istirahat pada rentang waktu antara pukul 14.00 WIB hingga 15.00 WIB. Rupanya Helena telah mendapatkan info bahwa Hazal memiliki gangguan latah pada rentang waktu itu. Bahkan, Helena juga tahu bahwa pernah terjadi kekacauan karena kebiasaan Hazal itu.

Kala itu, Hazal tidak punya alasan untuk berbohong. Ia mengatakan kebenaran dengan harapan Helena akan memahami itu. Namun, bukannya memahami, kekurangan itu malah dijadikan kartu utama untuk memecat Hazal.

“Aku tidak menyangka kalau ada orang yang seperti itu. Sungguh tega ia kepadamu,” kata Vivian.

Hazal tersenyum mendengarkan Vivian kemudian meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja. Hazal berusaha untuk memahami Helena. Jika ia pada posisi Helena, mungkin akan melakukan hal yang sama. Jika ada barista yang memiliki keahlian sekaligus kemampuan komunikasi yang baik, tentulah itu yang akan dipilih. Dibandingkan dengan dirinya yang tidak dapat bicara dengan baik, tentu pacar Helena adalah pilihan tepat.

“Tapi soal kopi, kamu tidak ada tandingannya bagiku. Teknikmu, gayamu, dan rasa kopimu sangat khas. Berbeda dari orang lain meskipun menggunakan bahan yang sama.”

Hazal tertawa kecil mendengar pujian Vivian yang dirasa sangat berlebihan. Tawa kecil Hazal dibalas pelukan erat Vivian.

“Aku sedang berusaha cari pekerjaan buat kamu, tapi belum ketemu lowongan yang pas.”

“Te...te...rima ka...sih.”

Hazal kemudian mengatakan bahwa Rayhan menawarinya pekerjaan di SPBU untuk menggantikan kakak iparnya yang sedang cuti melahirkan. Mulanya Vivian terkejut dan tidak setuju jika Hazal bekerja di SPBU. Namun, Hazal meyakinkan bahwa pekerjaan itu hanya sementara sembari menunggu kabar tentang lowongan pekerjaan lain.

“Aku mengerti kamu butuh uang. Semoga segera mendapatkan pekerjaan sesuai bidang keahlianmu, ya,” ucap Vivian.

Pintu kamar operasi dibuka dan beberapa dokter keluar. Bu Ratih segera mendekat untuk mengetahui kabar Kinan. Dokter mengatakan bahwa operasi pertama berjalan dengan baik dan Kinan akan dibawa ke ruang perawatan intensif untuk pemulihan.

Kata-kata dokter itu bagaikan air hujan yang membasahi tanah gersang. Senyum mengembang di bibir Hazal, Bu Ratih, dan Vivian. Mata Hazal berkelana mencari sosok Dokter Arjuna. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada Dokter Arjuna. Sosok yang dicari ditangkap sempurna oleh netra Hazal. Ia berlari kecil ingin mendekat pada Arjuna. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Violeta berjalan di sisi Arjuna. Hazal melihat keduanya saling melempar senyum. Hazal membalikkan badan agar tak terlihat oleh Arjuna. Akan tetapi, hatinya diserang keinginan untuk menoleh kembali. Saat pandangan ia tujukan kembali pada Arjuna, hatinya terasa panas. Ia melihat Violeta menyentuh poni Arjuna dengan jari-jari lentiknya. Hatinya seperti pasir yang luruh dihantam ombak. Ia membalikkan badan kembali lalu bersembunyi di balik Bu Ratih dan Vivian yang kemudian menyapa Arjuna dan Violeta dengan ramah. Arjuna memanjangkan lehernya dan melirik Hazal yang bersembunyi di balik Bu Ratih dengan memalingkan wajah. Kepala Arjuna dipenuhi tanda tanya melihat perubahan sikap Hazal. Arjuna lalu berjalan melewati Bu Ratih dan Vivian. Setelah beberapa langkah, Arjuna menoleh kembali berharap dapat melihat Hazal. Namun, hingga Arjuna tiba di ujung lorong, Hazal masih menyembunyikan diri.

“Kamu cari siapa, Juna?” tanya Violeta yang keheranan melihat Arjuna menoleh ke belakang berkali-kali.

“Ah, tidak. Hanya melihat apakah tim dokter yang lain sudah keluar ruang operasi.”

“Rasanya tadi kita berdua yang terakhir keluar.”

“Oh, iya.”

Arjuna masuk ke ruangannya dengan rasa penat. Saat ia menyandarkan tubuhnya di sofa kemudian matanya mengarah ke langit-langit, sekelebat bayangan senyum Hazal muncul. Ia menolak senyuman itu masuk ke pikirannya. Ia tidak ingin ada orang asing yang menempati ruang-ruang kosong yang sengaja ia kunci sekian lama. Namun, usahanya berbanding terbalik dengan kenyataan. Semakin keras ia membuang senyum Hazal, semakin nyata membayang di pelupuk mata. Mata Hazal yang menyiratkan ketakutan sekaligus keberanian telah membakar sebagian prinsip Arjuna. Sesuatu selain tentang senyum Hazal menggelitik untuk hadir juga dalam pikiran Arjuna. Arjuna menyadari kembali kegagapan Hazal.

“Gadis itu...,” gumamnya.

Arjuna beranjak kemudian membuka laci mejanya dan mengambil surat permintaan maaf yang pernah ditulis Hazal. Ia juga membaca tulisan pada gelas kopi yang diberikan Hazal. Seketika Arjuna menyadari sesuatu bahwa telah lama ia tidak membaca kata-kata motivasi di gelas kopi yang dipesannya. Arjuna lalu menelepon Andre dan mengajaknya ke Kafe Filosofi Kopi.

***

“Tumben kamu mengajak aku ke sini? Sedang punya waktu kosong?” tanya Andre pada Arjuna saat telah tiba di Kafe Filosofi Kopi.

“Mana ada waktu kosong. Tadi aku baru mengoperasi pasien Kinan hampir 10 jam. Jadi aku ingin istirahat sejenak di sini. Aku ingin melihat warna selain putih.”

“Ya, sangat tepat kita di sini. Warna interiornya coklat, warna minumanya hitam,” jawab Andre tergelak.

Arjuna tersenyum tipis sambil mengaduk kopinya sementara matanya mengembara ke seisi kafe. Tujuannya datang ke kafe bukan hanya karena kopi, melainkan penasaran dengan sosok Gadis Kopi.

Setelah berbincang cukup lama, Arjuna mengajak Andre pulang. Sebelum pulang, ia memesan segelas kopi untuk dibawa ke rumah sakit. Tiba di muka kasir dan mengambil pesanan, ia melihat tidak ada tulisan motivasi di gelas kopinya.

Mas, sudah seminggu saya tidak melihat ada tulisan motivasi di gelas kopi yang dibawa pulang, kenapa ya?” tanya Arjuna pada Rayhan.

“Penulisnya sudah tidak bekerja lagi di sini, Mas.”

“Sudah berhenti?”

“Iya, Mas.”

“Kalau boleh tahu, penulisnya itu Gadis Kopi?”

“Iya, Gadis Kopi julukannya. Nama aslinya Hazal.”

“Hazal?” tanya Arjuna dengan keheranan.

“Iya, Hazal. Mas kenal dengan Hazal?” tanya Rayhan yang juga keheranan dengan respons Arjuna.

“Saya punya teman bernama Hazal. Teman saya itu agak... anu... agak...,” ucap Arjuna terbata.

“Agak gagap maksudnya?”

Hmm, iya.”

“Iya, Hazal itulah Gadis Kopi kami dulu.”

Percakapan itu ditutup dengan pertanyaan di benak masing-masing. Arjuna merasa tidak percaya dengan hal yang baru didengarnya. Begitu juga Rayhan yang memerhatikan Arjuna dengan saksama dan tak yakin bahwa Hazal berteman dengannya.

 

 

 

 

 

 

user

29 December 2021 11:16 Yajma Sadida Ekhm.. cia mulai cemburu sama mulai terbayang-bayang nih yeh :-D

18. Sengkarut

62 2

 

Hazal memandangi Kinan yang masih terlelap karena pengaruh obat bius. Hidung hingga sebagian wajahnya masih diperban. Usai salat Maghrib, lamat-lamat terdengar suara merdu Bu Ratih melantunkan Surah Ar-Rahman. Firman Allah Swt. itu mengetuk pintu Hati Hazal tentang rasa syukur. Ia mengingat betapa banyak kenikmatan yang telah diberikan Allah Swt. padanya. Salah satu nikmat yang tak terkira adalah keberhasilan operasi Kinan.

Tangan Kinan bergerak membalas genggaman Hazal. Lirih kesakitan terdengar pelan dari mulut Kinan. Hazal mendekatkan telinganya dan bertanya pada Kinan. Namun, Kinan masih belum dapat bicara sempurna. Air mata Kinan luruh di pipi, tetapi Hazal tidak dapat memaknai air mata itu sebagai kebahagiaan atau kesakitan.

Tubuh Kinan menggelepar pelan kemudian tangannya menggapai wajahnya. Rupanya ia mulai merasakan perih setelah efek bius habis. Bu Ratih mendekat pada Kinan lalu menyemangatinya.

“Kinan sayang, Alhamdulillah operasimu sudah berhasil. Tinggal kamu kuatkan diri agar segera pulih,”  katanya dengan senyum lembut.

Kinan meringis pertanda masih merasakan keperihan tak tertahankan. Hazal kemudian memanggil perawat jaga. Perawat memeriksa kondisi Kinan dan mengatakan bahwa perih yang dirasakan adalah sesuatu yang wajar pascaoperasi. Ia kemudian memberikan obat pereda nyeri pada Kinan.

Sebuah pesan WA masuk dari Vivian untuk Hazal. Dalam pesan itu, Vivian mengirimkan tangkapan layar dari komentar netizen di akun instragramnya. Hazal tidak dapat merapatkan bibirnya saat melihat tangkapan layar tersebut. Melihat ekspresi Hazal, Bu Ratih mendekat dan bertanya padanya. Hazal menyerahkan ponselnya pada Bu Ratih.

Astaghfirullah, kenapa bisa begini? Bagaimana bisa orang-orang menyudutkan Kinan?”

Tidak hanya satu tangkapan layar yang dikirim oleh Vivian. Komentar-komentar dari netizen itu sangat menyakitkan. Mereka mengatakan bahwa Kinan sengaja mengarang cerita tentang Rizki untuk mendapatkan simpati banyak orang. Ada pula yang mengatakan bahwa Kinan adalah gadis tidak baik yang ingin memeras harta Rizki. Bahkan ada yang mengutuk Kinan dan mengatakan bahwa kerusakan wajahnya adalah hal yang pantas diterima.

“Vivian, bagaimana bisa begitu?” tanya Bu Ratih via telepon.

“Aku juga tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja ada tulisan tandingan yang menyudutkan Kinan. Bahkan tulisan itu tersebar di halaman komunitas-komunitas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Ada yang di halaman resep masakan, halaman kepenulisan, ada juga yang di halaman pecinta drama Korea. Aku sedang berusaha menelusuri akun-akun itu. Beberapa di antaranya akun baru, Bu.”

“Kinan tidak bersalah. Kinan adalah korban, tetapi mengapa justru diarahkan seperti Kinan lah yang salah.”

“Iya, Bu. Ada penggiringan opini publik seolah-olah Kinan pantas diperlakukan seperti itu. Ini pasti ulah buzzer, Bu.”

“Jangan sampai Kinan tahu hal ini. Ibu takut dia akan syok.”

Sebelum menutup telepon, Vivian juga mengatakan bahwa banyak yang memarodikan adegan penyiraman air keras Rizki pada Kinan di aplikasi TikTok. Mirisnya, peristiwa dibuat kebalikannya seperti lelucon.

Hazal dan Bu Ratih lalu mencari video TikTok yang dimaksud Vivian. Dada mereka dipalu kekecewaan yang dahsyat.

Astaghfirullah....Astaghfirullah, mengapa ada orang yang tidak punya hati begitu. Apa yang harus kita lakukan. Kamu tahu kan, bagaimana pengaruh media sosial itu? Masyarakat kita masih mudah percaya pada sesuatu yang viral, terlepas itu benar atau tidak?”

Hazal termangu melihat video parodi tentang Kinan berkali-kali. Ia menyadari bahwa pihak Rizki sedang melawan mereka dengan media sosial—senjata yang sebelumnya mereka gunakan untuk membuka pintu keadilan. Sekarang, telah terbentuk kubu-kubu yang membela dan membenci Kinan.

Ferdinand, pengacara yang akan membela Kinan datang bersama timnya. Kedatangan pengacara kondang itu memancing perhatian orang-orang di rumah sakit. Terlebih lagi, beberapa wartawan telah menunggu di lobi untuk mewawancarainya.

Bu Ratih dan Hazal memberikan keterangan yang dibutuhkan oleh Ferdinand. Ferdinand menenangkan dan memastikan mereka akan melakukan yang terbaik untuk menolong Kinan. Mereka lalu mulai menyusun daftar saksi mata dan bukti-bukti yang dapat menguatkan posisi Kinan.

Dokter Arjuna masuk ruangan saat Hazal dan Bu Ratih berpelukan penuh kepasrahan sembari berbicara dengan Ferdinand. Langkah Arjuna terhenti sejenak melihat kaca-kaca bening melapisi bola mata Hazal. Sesuatu yang menyakitkan menyerang hati Arjuna.

Ferdinand lalu menanyakan kondisi Kinan pada Arjuna. Ia ingin memastikan bahwa Kinan siap mengikuti sidang perdana yang tak lama lagi akan digelar di pengadilan. Arjuna mengatakan bahwa Kinan membutuhkan waktu seminggu untuk pemulihan. Namun, kesiapan mental Kinan juga perlu menjadi perhatian.

Saat Ferdinand hendak ke luar ruangan, Bu Ratih mengajaknya berbicara di luar. Ia lalu menceritakan tentang upaya penggiringan opini di media sosial yang membuat buruk citra Kinan. Bu Ratih sengaja mengatakan hal itu tanpa sepengetahuan Kinan karena tidak ingin memembuatnya terluka.

Arjuna yang tidak sengaja mendengar percakapan itu merasa geram.

“Itu benar-benar dusta. Mana mungkin ada orang yang mau mengorbankan wajahnya supaya viral. Sudah jelas yang menjadi korban dan mengalami kerugian adalah Kinan, bagaimana bisa dia yang diposisikan sebagai pihak yang salah. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang  itu,” gerutu Arjuna.

“Karena itu, Dokter, kita perlu menghadirkan saksi-saksi yang kuat dan dapat membuktikan bahwa Rizki bersalah. Kesaksian Dokter sebagai ahli juga diperlukan pada persidangan nanti. Hukum tidak boleh pandang bulu,” jawab Ferdinand.

Insya Allah, Pak. Aku akan melakukan yang terbaik. Aku benar-benar tidak suka orang yang mempermainkan hukum dan menganggap enteng kehidupan orang lain,” kata Arjuna berapi-api.

Bu Ratih merasa lega karena dikelilingi orang-orang baik. Ia kemudian mencoba menghubungi Pak Alif, orang pertama yang menghubunginya pada hari kejadian. Berkali-kali Bu Ratih menelepon, tidak ada jawaban dari Pak Alif. Hingga akhirnya yang terdengar hanya suara operator mengatakan bahwa nomor tujuan sedang berada di luar jangkauan.

 

Bu Ratih tampak putus asa, tetapi ia mencoba menghubungi saksi lain. Ada dua orang lagi yaitu Priono dan Rendra yang menemani Pak Alif membawa Kinan ke rumah sakit. Sama halnya dengan Pak Alif, Priono juga tidak mengangkat telepon. Bu Ratih sedikit lega ketika ada jawaban saat menekan nomor ponsel Rendra. Namun, si penjawab telepon mengatakan ia bukan Rendra melainkan orang lain yang telah membeli ponsel Rendra. Hati Bu Ratih mulai kecut. Ia merasa ada kejanggalan dari jawaban itu. Menurutnya, tidak mungkin seseorang menjual ponsel beserta nomor yang digunakan.

Bu Ratih dan Hazal mulai menerka-nerka bahwa para saksi telah diintimidasi oleh pihak Rizki. Namun, mereka segera membuang pikiran itu dan berniat mendatangi rumah Pak Alif yang merupakan saksi utama.

***

Dengan sengkarut pikirannya, Hazal berangkat bekerja ke SPBU. Pada hari pertamanya menggantikan kakak ipar Rayhan, ia tidak ingin datang terlambat. Tiba di SPBU, seseorang mengajarinya cara menggunakan nozzle untuk mengisi bahan bakar. Dengan cepat, Hazal memahami prosedur pengoperasian alat tersebut.

Banyaknya kendaraan yang mengisi bahan bakar membuat Hazal tak sempat duduk. Namun, meski belum terbiasa dengan aroma bahan bakar yang menyengat, Hazal menikmati pekerjaannya dengan gembira. Senyum ramah tak sekalipun sirna dari wajah lelahnya. Hazal juga ikhlas dengan cemoohan dan tawa bernada ejekan dari pelanggan saat mendengar ia bicara dengan gagap.

Mobil Honda Accord warna putih tiba di depan Hazal untuk mengisi bahan bakar. Setelah tutup tangki bensin terbuka, Hazal memasukkan mulut selang ke dalamnya.

“Di...di...mu...lai da...da...ri nol ya, Pak,” katanya dengan senyum lebar.

Hazal terkejut saat melihat pengemudi membuka kaca jendela mobil. Rasanya ia ingin berubah wujud menjadi gas saat itu juga agar tak terlihat.

“Kamu kenapa di sini?” tanya pengemudi itu pada Hazal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

25 December 2021 00:17 Des Ditariani Oh Hazal kegagapanmu membuatku kelu heheh semangat kak

user

29 December 2021 18:16 Yajma Sadida Siapa tuh?

19. Mencari Saksi

32 6

 

Hazal tidak menjawab pertanyaan Arjuna yang terkejut melihatnya bekerja di SPBU. Setelah selesai mengisi bahan bakar mobil Arjuna, Hazal meletakkan kembali selang pada nozzle. Ia lalu mengambil mesin EDC karena Arjuna akan membayar via aplikasi mypertamina. Setelah transaksi berhasil, Arjuna tidak langsung beranjak. Ia masih menunggu jawaban dari Hazal.

“Kamu sudah tidak bekerja lagi di kafe? Kenapa? Kenapa harus bekerja di SPBU?”

Hazal kebingungan mendengar berondongan pertanyaan Arjuna. Ia heran karena Arjuna mengetahui bahwa ia pernah bekerja di kafe. Pertanyaan Arjuna dan keheranan Hazal pasti akan terus berlanjut andaikan mereka tidak mendengar rentetan klakson mobil yang antre di belakang Arjuna. Beberapa pengemudi bahkan mengeluarkan kepala dari jendela dan mulai menggerutu. Hazal lalu memberi kode memohon Arjuna segera melaju. Arjuna melirik ke spion dan melihat wajah-wajah marah. Hazal terseyum kikuk dan meminta maaf kepada para pengemudi.

Arjuna telah  jauh dari SPBU tetapi pikirannya masih ia tinggalkan di sana. Ia tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling ingin tahu tentang Hazal. Namun, seketika bagian lain dari otaknya memerintahkan untuk berhenti memikirkan Hazal.

“Ini gila. Tidak mungkin. Tidak mungkin kalau aku peduli dengan dia. Aku tidak peduli dia kerja di mana. Apa urusannya denganku?” gumamnya sendiri.

Ia kemudian meraba dadanya dan mencoba merasakan debarannya lalu menarik napas panjang hingga perut dan dadanya naik turun. Ia bercermin di spion depan sembari terus menarik napas. Satu kancing kemeja ia buka dan berharap tubuhnya akan lebih nyaman. Ia mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di rumah. Arjuna rindu pada ibunya.

“Juna, mengapa kamu datang ke sini? Mami belum yakin kalau mamamu tidak histeris lagi saat melihatmu?”

“Aku rindu  Mama, Mi. Apakah Papa masih berani datang ke sini?”

“Tidak. Hanya saja, semalam mamamu masih histeris dan berteriak seperti mengusir seseorang padahal tidak ada siapa-siapa selain perawat,” kata Rena yang kemudian mengajak Arjuna sarapan.

“Boleh aku lihat Mama sebentar?”

Rena mengangguk ragu  lalu berjalan di belakang Arjuna menuju kamar Rosa

Perlahan Arjuna membuka pintu agar tak menimbulkan suara brisik. Arjuna melihat ibunya terlelap seperti bayi. Ia ingin mendekat dan membelai wajah ibunya, tetapi Rena mencegahnya.

“Jangan dulu, Juna. Mami khawatir kalau ternyata mamamu belum ingin melihatmu.”

Kata-kata Rena terdengar memilukan bagi Arjuna. Kesakitan yang ia rasakan teramat berat karena tidak dapat mendekati perempuan yang paling dicintainya. Dengan pelan Arjuna menutup pintu kamar kemudian berjalan menuju ruang makan. Di sana, Baskoro sudah menunggu.

“Selamat pagi, Papi,” sapa Arjuna.

“Selamat pagi, Jun. Semalam menginap di apartemen atau rumah sakit?”

“Aku menginap di rumah sakit, Pi. Kemarin ada dua operasi yang melelahkan.”

“Kalau kamu tidak sibuk, malam ini Papi ingin mengajak kamu menemui kolega Papi. Anak gadisnya baru pulang dari luar negeri, dokter juga. Papi ingin kamu berkenalan dengannya.”

Kata-kata Baskoro membuat tenggorokan Arjuna gagal meluncurkan gigitan roti bakar dengan sempurna ke lambung. Arjuna meraih segelas air putih kemudian menghabiskannya.

“Kenapa, Juna?” tanya Rena.

“Tidak, Mi.”

“Jangan tegang begitu. Papi tidak ada maksud apa-apa, cuma ingin mengenalkan saja,” kata Baskoro sambil terkekeh.

“Oo,” sahut Arjuna lega.

“Tapi kalau memang cocok dan berjodoh, lebih bagus,” goda Baskoro.

Arjuna kembali meraih gelas dan menenggak air putih. Baskoro dan Rena menggelengkan kepala lalu tersenyum melihat tingkah Arjuna.

***

“Pak Alif, saya mohon Bapak bersedia menjadi saksi pada persidangan nanti. Bapak yang melihat kejadian itu langsung. Bisakah Bapak menceritakan di pengadilan seperti yang Bapak ceritakan kepada saya tempo hari?” ucap Bu Ratih penuh harap.

Pak Alif memandang istrinya yang duduk di sebelah. Istrinya mengubah posisi duduk dan membenarkan daster batiknya.

“Saya ini bukannya tidak mau jadi saksi, Bu. Tapi, waktu kejadian sebenarnya saya juga tidak begitu jelas,” ucapnya sambil memutar bola mata ke langit-langit.

Lho, kok bisa begitu? Bukankah waktu itu Bapak mengatakan bahwa melihat Rizki dan teman-temannya mendatangi Kinan di taman lalu Rizki mengganggunya?” kata Bu Ratih dengan suara meninggi.

Istri Pak Alif mendeham dan menunjukkan ekspresi tidak suka pada sikap Bu Ratih. Kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan ke bawah. Lagi-lagi Pak Alif menoleh ke arah istrinya dan mulai salah tingkah. Ia membenarkan peci hitamnya, memperbaiki sarungnya yang masih rapi, kemudian mencondongkan badan ke depan.

A...anu, Bu Ratih. Waktu itu saya juga panik, jadi tidak begitu jelas dengan kejadiannya. Waktu itu yang ada di pikiran saya hanya ingin menolong Neng Kinan.”

Bu Ratih kecewa dengan jawaban Pak Alif yang berbeda dari sebelumnya. Akan tetapi, ia tidak dapat bersikeras kepada Pak Alif karena sikap istrinya yang kurang bersahabat. Bu Ratih masih berharap Pak Alif mau menjadi saksi pada persidangan nanti. Dalam keheningan, Bu Ratih melihat foto keluarga Pak Alif yang terpajang di dinding.

“Anak Pak Alif perempuan semua ya? Masya Allah,” ucap Bu Ratih.

Ah, Iya, Bu. Ini foto waktu masih kecil, sekarang yang paling besar sudah kuliah semester dua,” jawab Pak Alif.

“Anak Bapak cantik-cantik. Semoga Allah melindungi keluarga Bapak. Andaikan saja Kinan punya orang tua yang lengkap dan tidak tinggal di panti asuhan, pastinya tidak ada orang yang berani menzaliminya karena ayahnya akan menjadi orang pertama yang menolong.”

Ekspresi wajah Pak Alif dan istrinya berubah seketika usai mendengar perkataan Bu Ratih. Bu Ratih lalu berpamitan pulang setelah merasa bahwa “panahnya” sudah tepat mengenai papan sasaran. Sebelum pulang, Bu Ratih meminta kepada Pak Alif untuk menghubunginya jika bersedia menjadi saksi.

“Aku jadi tidak enak sama Bu Ratih, Dek,” ujar Pak Alif pada istrinya setelah Bu Ratih pergi.

“Tidak enak bagaimana, Pak? Terus Bapak maunya bagaimana? Kita kan sudah janji pada orang yang kemarin itu untuk tutup mulut. Lagi pula, uang dari orang itu sudah kita pakai untuk beli motor.”

“Tapi, hatiku kok rasanya lain. Seperti tidak nyaman, Dek.”

“Bapak kan tau sendiri, Rizki itu anak siapa. Kalau sampai kita terlibat, bisa-bisa keluarga kita yang jadi sasaran. Sudahlah,Pak. Biarkan saja. Apa Bapak mau mengorbankan keluarga kita demi orang lain.”

“Aku cuma berandai-andai, kalau kita yang ada di posisi Bu Ratih dan anak kita di posisi Kinan lalu tidak ada yang menolong. Rasanya pasti....,”

“Sudahlah, Pak. Jangan dipikirkan,” potong istri Pak Alif lalu berlalu pergi.

Dalam keadaan hampir putus asa, Bu Ratih mencoba mendatangi Priono. Ia membawa sedikit harapan di hatinya bahwa Priono mau menjadi saksi. Meskipun sebenarnya, Priono tidak benar-benar melihat kejadian. Ternyata, senada dengan Pak Alif, Priono pun menolak menjadi saksi dengan alasan tidak ingin terlibat dan pada saat kejadian ia hanya mengantarkan Kinan ke rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

 

user

25 December 2021 00:18 Des Ditariani lanjutkan kak...

user

25 December 2021 11:22 Ratih Rosalina Bikin penasaran Kak... pengen cepet baca kisah romance arjuna sama hazal.. gemes pula sama kasus kinan... sukses selalu kak..

user

26 December 2021 01:22 yenipalamia Semangat kakak. Mampir juga di karyaku "Menembus Kabut" Yuk saling suport. Makasih

user

26 December 2021 10:11 Rina Dianita Setia nunggu kelanjutannya...

user

26 December 2021 12:08 Bintun Semangat Kakak, lanjutkan ya! ????

user

27 December 2021 14:16 Vega Galanteri terima kasih kak des, kak ratih, kak yeni, kak rina, dan kak bintun atas dukungannya. Siap meluncur ke kisah kakak-kaka semua.

20. Perjodohan

23 1

Kemuning senja merangkak pergi meninggalkan langit Jakarta setengah jam menjelang gelap. Bintang di langit mengundurkan diri karena gerimis akan menjejakkan kaki-kakinya di bumi. Dua gadis di tempat yang berbeda sedang bersiap untuk sebuah pertemuan penting. Gadis pertama sedang mematut diri di depan cermin dengan gaun Gucci berwarna putih. Sebuah clucth warna nude pink brand yang sama siap ditentengnya. Penampilannnya semakin paripurna dengan riasan minimalis khas idola Korea Selatan.  Sementara itu, gadis ke dua berdiri di depan cermin bukan untuk memantaskan penampilannya dengan barang bermerek, melainkan mencoba berlatih berbicara dengan baik untuk meyakinkan orang yang akan dia temui.

Violeta, gadis pertama turun dari mobil sedan mewah bersama ayahnya di muka restoran Italia. Pintu kaca yang jangkung membelah diri saat mereka mendekat. Violeta dan ayahnya melangkah masuk dengan pasti. Suara hak sepatu Violeta berdetak-detak diiringi alunan musik mendatangi meja yang memang sudah direservasi sebelumnya. Mereka melempar senyum paling ramah kepada tiga orang yang duduk melingkari meja. Pendaran cahaya lampu gantung besar nan mewah di langit-langit restoran mengantarkan kekaguman kepada sosok Violeta kecuali bagi seseorang di situ, Arjuna.

Di saat semua memandang kagum pada Violeta, Arjuna malah menyipitkan mata. Ia terkejut karena gadis yang akan dikenalkan Baskoro padanya ternyata adalah Violeta. Setelah Violeta dan ayahnya duduk, terjadilah percakapan akrab antara Baskoro dan Pak Anton. Baskoro juga menyapa Violeta seperti sudah lama mengenalnya. Arjuna melirik pada Violeta dan menangkap tanda bahwa Violeta sudah mengetahui pertemuan ini. Arjuna merasa bahwa hanya ia yang tidak tahu.

“Arjuna, ini Dokter Vio yang mau Papi kenalkan padamu,” kata Baskoro sambil tersenyum.

“Kita sudah kenal, Om. Kita kerja di rumah sakit yang sama,” kata Violeta.

Arjuna merasa bahwa papinya hanya berpura-pura tidak mengetahui bahwa ia dan Violeta bekerja di rumah sakit yang sama.

“Kalau sudah kenal sebelumnya, berarti langkah pertama sudah dilewati. Tinggal melanjutkan ke langkah berikutnya.”

Arjuna terhenyak mendengar kata-kata Baskoro, sementara wajah Violeta memerah dilengkapi dengan senyum yang malu-malu.

Percakapan terus bergulir tentang berbagai tema. Ternyata Baskoro dan Pak Anton adalah teman semasa SMA yang sudah lama hilang kontak. Keduanya bertemu lagi di lapangan golf saat keduanya sama-sama sedang menjamu klien. Sejak itu, komunikasi yang lama putus pun terjalin kembali. Hingga sampai pada keinginan untuk menjodohkan anak-anak mereka, Arjuna dan Violeta.

Jakarta yang basah malam itu tidak mampu melembapkan hati Arjuna yang kering akan cinta. Violeta dengan seperangkat keanggunannya tak cukup mampu menggugah Arjuna untuk beranjak dari paradigmanya tentang cinta. Di matanya, Violeta hanya rekan kerja biasa. Bagaimana mungkin tiba-tiba mereka dijodohkan?

Meski demikian, Arjuna tidak dapat menghambur-hamburkan ekspresi ketidaksukaannya. Ia menahannya karena menghargai Rena dan Baskoro. Bagaimanapun mereka adalah orang tua Arjuna. Ada tanggung jawab yang dipikul Arjuna untuk tidak membuat mereka malu.

Dalam suasana itu, tiba-tiba Arjuna diinvasi ingatan tentang Hazal. Mata, senyuman, serta ekspresi wajahnya saat di SPBU terus-menerus datang dengan royal di benak Arjuna. Arjuna kemudian menyentuh dadanya  karena huru-hara seperti sebelumnya kembali terjadi.

“Ada apa Dokter Arjuna,” tanya Violeta yang melihat keringat dingin di kening Arjuna.

“Tidak apa-apa, aku permisi ke belakang sebentar.”

***

Gadis ke dua, Hazal yang ditemani Bu Ratih duduk dengan resah dalam perut kendaraan umum menuju rumah Rendra—orang terakhir yang dapat mereka minta menjadi saksi di persidangan. Baik Bu Ratih maupun Hazal mencoba merangkai kata-kata yang dapat menggugah Rendra. Jika Rendra menolak, mereka akan kehilangan harapan untuk menang pada persidangan kelak.

Hazal dan Bu Ratih berlari kecil melindungi kepala dengan telapak tangan untuk menghalau gerimis. Hentakan kaki pada jalanan becek membuat ujung roknya basah. Mereka segera mencari tempat berteduh sebelum memastikan arah rumah Rendra. Dengan jeli mereka mencari alamat Rendra. Tibalah mereka di depan deretan rumah kontrakan yang kumuh. Jemuran bergelantungan hampir menutupi pintu masuk. Bu Ratih dan Hazal terpaksa harus menundukkan kepala sedikit untuk masuk rumah.

Di dalam mereka disambut dengan suasana riuh empat anak kecil yang berebut mainan. Anak yang paling kecil menangis nyaring disertai ingus yang terus meleleh hingga hampir tertelan olehnya. Terdengar teriakan dan omelan perempuan dari dalam. Dapat dipastikan suara itu milik istri Rendra, ibu anak-anak itu.

Rendra keluar menemui mereka dengan mengenakan kaus dalam dan celana pendek. Di lengannya terlihat jelas tato naga dan beberapa nama. Dari jumlahnya, Hazal menebak itu adalah nama istri dan anak-anaknya. Renda menyilakan Bu Ratih dan Hazal duduk di lantai tanpa alas. Setelah Bu Ratih dan Hazal duduk, Rendra menyalakan rokoknya. Asap mengepul memenuhi ruang tamu berukuran 3x3 meter itu. Hazal dan Bu Ratih sesekali menghalau asap rokok dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Rendra semakin aktif menyemburkan asap meski tahu ketidaknyamanan tamunya. Sementara itu, angin sibuk menampar-nampar jendela dan menggoyangkan baju-baju yang dijemur di beranda.

Bu Ratih dan Hazal masih bungkam karena anak-anak Rendra belum dapat dikondisikan. Hingga akhirnya Rendra bersuara keras dengan mata melotot menyuruh anak-anak itu masuk ke kamar. Dari kamar, sayup-sayup terdengar omelan istri Rendra pada anak-anaknya.

“Kami datang ingin minta Pak Rendra menjadi saksi pada persidangan Kinan nanti,” kata Bu Ratih.

Rendra tidak memandang Bu Ratih. Ia mengambil kembali sebatang rokok dan menyalakannya. Matanya tertuju pada ujung rokok untuk memastikan api menyala sempurnya. Setelah dua isapan, barulah Rendra menjawab.

“Sebenarnya aku tidak terlalu tahu tentang kejadian itu. Pak Alif dan Priono yang lebih tahu,” jawabnya cuek tanpa melihat Bu Ratih dan Hazal.

“Kami juga butuh kesaksian Pak Rendra dalam persidangan ini. Mohon kiranya Bapak dapat membantu kami.”

Rendra kembali mengembuskan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Bu Ratih dan Hazal saling menoleh menunggu jawaban Rendra. Istri Rendra keluar membawa secangkir kopi dan dua cangkir teh. Setelah menyilakan mereka minum, ia kembali ke kamar.

“Sebenarnya ini agak berat bagi saya. Saya tidak mau terlibat dengan urusan orang-orang besar. Saya ini hanya semut yang bisa dengan mudah mati diinjak gajah. Tapi, semut bisa juga terpaksa menggigit kalau...,” Rendra menggantung kalimatnya.

“Kalau apa, Pak?” tanya Bu Ratih mengernyitkan kening.

“Ya kalau semut punya alasan yang menguntungkan untuk itu.”

Bu Ratih dan Hazal langsung memahami maksud Rendra. Mereka lalu saling menoleh kembali seolah-olah sedang menentukan giliran bicara.

“Ba...ba...pak ma...ma...u berapa?” tanya Hazal.

Sotak Rendra terbahak mendengar Hazal bicara. Ia tidak menyangka gadis manis yang duduk di depannya ternyata gagap.

“Cantik-cantik kok gagap, Neng. Kasihan amat. Ya sudah, karena sudah ditanya, saya langsung jawab tanpa basa-basi. Saya bisa saja jadi saksi asalkan ada uang 30 juta. Bagaimana?” tanya Rendra cuek.

Astaghfirullah, 30 Juta?” Bu Ratih terbelalak.

“Itu juga murah, Bu, jika dibandingkan dengan risiko yang harus saya tanggung. Ibu lihat sendiri anak-anak saya masih kecil.”

 

 

 

 

user

26 December 2021 21:04 Ratih Rosalina Lanjut kak... makin penasaran...

21. Tentang Rahasia

22 1

 

“Maaf kalau pertemuan kemarin membuatmu tidak nyaman,” kata Violeta pada Arjuna.

“Tidak perlu minta maaf, tidak ada yang salah dengan pertemuan kemarin.”

“Kalau tidak ada yang salah, mengapa kamu menghindariku tadi. Aku tahu kamu segera berbalik badan saat kita akan berpapasan di koridor.”

Kata-kata Violeta membuat Arjuna merasa tepergok melakukan kesalahan. Ia mencoba merapikan ekspresinya agar tak menampakan pembenaran terhadap ucapan Violeta.

“Bukan menghindari. Tadi aku tiba-tiba teringat ada kunjungan pasien, jadi aku berbalik,” kata Arjuna tanpa melihat Violeta.

Violeta hanya mendeham kemudian tersenyum meskipun menyangsikan perkataan Arjuna.

Oh iya, maaf aku tinggal dulu ya karena ada ada janji dengan Bu Ratih. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan terkait kasus Kinan.”

“Oh, apakah kamu akan melibatkan diri selain sebagai saksi ahli pada kasus tersebut?”

“Sepertinya mereka dalam masalah. Aku merasa wajib membantu mereka.”

“Bukankah kamu sudah banyak membantu mereka?” Bantuan apa lagi yang perlu kamu berikan? Aku harap bantuan itu tidak membuatmu terlibat masalah.”

Arjuna tidak senang dengan sikap yang ditampakkan Violeta melalui kata-katanya. Ia merasa Violeta terlalu jauh memasuki ranah pribadinya tanpa permisi.

“Saya rasa Dokter Violeta tidak pada kapasitas untuk mempertanyakan hal itu pada saya.”

Violeta terhenyak mendengar Arjuna berbicara dengan bahasa formal.

“Maafkan aku, Juna. Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu terlalu jauh. Aku hanya tidak ingin kamu terlibat masalah.”

“Oke, aku mengerti. Aku pergi dulu,” kata Arjuna kemudian meninggalkan Violeta sendiri di ruangannya.

Arjuna datang ke kamar Kinan. Hanya ada Kinan di ruangan karena Bu Ratih sedang menebus obat di apotek. Melihat kedatangan Dokter Arjuna, Kinan segera bangkit dari tempat tidurnya.

Alhamdulillah, besok perbannya sudah bisa dibuka. Kalau sudah dibuka, Insya Allah kamu sudah tidak kesulitan bicara dan makan lagi,” kata Arjuna ramah.

Kinan mengangguk kemudian mengambil buku dan alat tulis untuk menanyakan tentang kemungkinan wajahnya kembali seperti semula. Kinan juga tidak sabar ingin mengetahui tentang operasi lanjutan untuk mengembalikan fungsi matanya.

Arjuna hanya terdiam membaca pertanyaan-pertanyaan Kinan. Ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat agar Kinan dapat menerima kondisinya.

“Kamu tahu, penampilan menarik bukan satu-satunya kelebihan yang wajib dimiliki seseorang. Kekuatanmu bertahan hingga hari ini dengan penuh semangat melewati operasi adalah kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Untuk matamu, aku dan tim dokter berjanji akan berusaha semaksimal mungkin pada operasi ke dua nanti. Namun, semua tetap tergantung pada ketetapan Allah, maka mintalah pada Allah setiap waktu, ya,” kata Arjuna.

[Aku takut semua orang menghindariku hanya karena takut melihatku. Wajahku akan menyeramkan seperti monster]

“Kau harusnya merasa beruntung kalau orang-orang yang hanya memandang fisik menjauh darimu. Biarkan hanya orang-orang tulus saja yang berada di dekatmu.”

[Dokter bisa bicara begitu karena punya wajah tampan dan kekasih berwajah cantik.]

“Kekasih?”

[Dokter Violeta yang cantik adalah kekasih Dokter, kan?]

Arjuna tergelak membaca tulisan Kinan tentang kekasih.

“Dia bukan kekasihku. Meskipun dia cantik, bukan berarti aku langsung jatuh cinta. Cantik bukan satu-satunya syarat seseorang untuk dicintai. Aku juga tidak suka wajahku. Kalau saja bisa memilih, aku tidak ingin berwajah seperti ini.”

[Dokter punya pacar atau naksir orang lain?]

Wah, apakah sekarang aku sedang diinterogasi? Aku tidak punya pacar, tetapi ada seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku.”

“Apa kabar, Kinan?” suara Dokter Violeta menghentikan percakapan Arjuna dan Kinan.

Keduanya sama-sama salah tingkah karena melihat kedatangan Dokter Violeta yang tiba-tiba. Mereka menduga-duga sejauh mana Violeta sudah mendengar pembicaraan mereka.

“Dokter Violeta, sudah lama datang?”

“Aku datang saat Dokter Arjuna mengatakan ada seseorang yang menggangu pikirannya akhir-akhir ini. Aku penasaran siapakah orang itu?”

Jakun Arjuna turun naik mendengar pertanyaan Violeta. Ia kemudian menoleh pada Kinan dan mengalihkan pembicaraan.

Okeh, Kinan, kamu harus lebih semangat dan optimis karena kamu akan menghadapi persidangan kelak.”

Arjuna meninggalkan Kinan dan Violeta di kamar. Violeta menatap punggung Arjuna yang menghilang di balik pintu. Setelah menutup pintu, Arjuna menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan cepat.

Baru beberapa langkah berjalan, ia kembali mendengar suara Violeta memanggil.

“Aku benar-benar penasaran siapa orang yang mengganggu pikiranmu? Apakah itu bukan aku?”

Arjuna terhenyak mendengar pertanyaan Violeta yang terlalu lugas.

“Abaikan saja itu. Aku hanya sedang menghibur Kinan karena dia terus bertanya tentang kekasih.”

“Aku rasa itu tidak bisa diabaikan, Juna. Jangan bilang kalau kamu tidak tahu bahwa aku berusaha mendekatimu.”

Keterusterangan Violeta lagi-lagi membuat Arjuna tidak nyaman. Ia tidak suka berada pada situasi sulit  yang membuatnya harus mengonfrontasikan keinginannya untuk jujur atau menjaga perasaan orang lain.

“Dokter Violeta, sebaiknya kita tidak bicara hal-hal yang terlalu bersifat pribadi saat jam kerja. Aku masih ada pasien yang harus dikunjungi,” kata Arjuna sambil berlalu meninggalkan Violeta yang mematung.

Sepeninggalan Arjuna, Violeta berjalan dengan wajah cemberut menuju kafetaria rumah sakit. Ia duduk sendiri kemudian memesan jus jeruk. Dari kejauhan, Denis melihat Violeta duduk sendiri dengan wajah muram. Denis mendatangi lalu duduk di depan Violeta.

“Ada apa Dokter Vio? Mengapa tampak muram hari ini?”

Violeta tidak menggubris perkataan Denis. Ia hanya menyeruput jus jeruknya kemudian mengambil ancang-ancang untuk berdiri.

“Tunggu dulu, Vio, ada apa?” tanya Denis menarik tangan Violeta.

Mendung di wajah Violeta semakin menjadi. Kaca bening di bola matanya sesaat lagi akan turun menjadi gerimis di pipi.

“Ada apa?” tanya Denis yang semakin khawatir.

“Belum pernah aku merasakan sesakit ini karena orang lain. Belum pernah aku merasa begitu kecewa karena orang lain. Apakah aku begitu buruk sehingga sama sekali tidak pantas untuk diperhatikan?”

“Siapa bilang kamu buruk? Kamu cantik, berpendidikan, dan dari keluarga terpandang. Aku sama sekali tidak menemukan kekuranganmu.”

“Entahlah. Aku merasa bahwa semua itu percuma. Kecantikan, pendidikan, semuanya aku rasa tidak berharga sama sekali karena Arjuna tidak pernah menganggap hal itu penting.”

Mendengar nama Arjuna disebut oleh Violeta sebagai sebab kekecewaannya, mendidihlah darah Denis. Kecemburuan yang masih membara kian berkobar di hatinya. Denis yang sejak semula memang tidak menyukai Arjuna semakin punya alasan untuk membencinya. Arjuna telah melukai gadis pujaan hatinya.

“Apakah hanya pandangan seorang Arjuna yang paling penting bagimu?” tanya Denis.

“Aku merasa bukan apa-apa di mata Arjuna. Aku merasa semua hal yang aku banggakan selama ini menguap bagai debu di depannya.”

“Kalau bagi Arjuna kamu seperti debu, bagi seseorang yang lain bisa jadi kamu adalah dunianya. Cobalah untuk tidak menilai dirimu serendah itu. Kamu adalah berlian yang sangat berharga.”

Denis berusaha menghibur, tetapi kesedihan belum benar-benar hijrah dari wajah Violeta. Denis berencana menemui Arjuna untuk menggugat sikapnya yang melukai Violeta. Akan tetapi, langkah kaki Denis terhenti di muka pintu ruangan saat mendengar Arjuna bicara pada seseorang dengan nada marah.

“Sudah kukatakan, jangan mengusik kehidupan kami. Sekarang Papa sudah berani datang ke tempat kerjaku. Apa maksud Papa?” kata Arjuna dengan marah.

“Papa ingin minta maaf. Papa tidak tenang sebelum mendapatkan maaf darimu dan mamamu.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Apakah jika kami memafkan Papa, waktu akan berputar kembali? Apakah dengan kata maaf itu semua peristiwa dapat terhapus?”

“Arjuna, Papa mohon!,”

“Apakah Papa tahu, gara-gara kedatangan Papa kemarin, Mama selalu histeris setiap melihatku. Mama mengira aku adalah Papa karena kemiripan kita. Sejak lama aku membenci wajahku karena begitu mirip dengan Papa. Sekarang, aku lebih membenci hal itu karena wajah ini membuat Mama tidak ingin melihatku. Sekarang, aku mohon pergilah! Jangan datang lagi ke kehidupan kami!”

Denis menguping pertengkaran Arjuna dengan papanya hingga selesai. Ia segera membalikkan badan saat terdengar bunyi gagang pintu ditarik. Denis tercengang melihat lelaki tua yang keluar dari ruangan Arjuna. Lelaki itu berpenampilan lusuh dan berjalan pincang. Denis menebak, itu tidak mungkin Baskoro, papi Arjuna yang selama ini ia kenal.

“Pak, tunggu dulu,” panggil Denis dengan berlari kecil.

“Saya sahabat Arjuna. Saya tadi mendengar pertengkaran Bapak dan Arjuna. Saya perlu bicara karena ada hal penting yang mungkin dapat mendamaikan Bapak dan dia. Kebetulan saya adalah teman curhatnya dan sangat mengetahui permasalahan antara Bapak dan Arjuna,” kata Denis berbohong.

Mendengar hal itu, Heru merasa bahwa ia akan mendapatkan jalan keluar bagi permasalahannya dengan Arjuna. Ia menurut saja saat Denis mengajaknya ke parkiran mobil kemudian pergi ke sebuah rumah makan Padang tak jauh dari rumah sakit.

“Sebenarnya saya sudah sering mendengarkan cerita tentang Bapak dari Arjuna. Saya sangat tidak setuju dengan sikap Arjuna. Bagaimanapun, Bapak adalah orang tuanya. Tidak pantas seorang anak bersikap kasar kepada bapaknya,” Denis memancing percakapan.

“Jangan salah paham. Arjuna tidak salah. Wajar saja dia bersikap begitu. Aku yang salah karena telah meninggalkan mereka hingga ibu Arjuna mengalami gangguan jiwa.”

Denis terkejut mendengar pengakuan Heru, tetapi ia berusaha menyembunyikannya karena masih banyak informasi tentang Arjuna yang perlu digali.

Kepiawaian Denis yang mengaku sebagai sahabat Arjuna dalam mengorek informasi membuat Heru membuka halaman demi halaman buku masa lalu Arjuna. Wajah Denis menyiratkan rasa iba, padahal hatinya menyeringai karena berhasil mendapatkan rahasia Arjuna. Rahasia itu menjadi kartu AS bagi Denis untuk menjatuhkan Arjuna di mata Violeta dan Pak Anton.

 

 

 

user

27 December 2021 17:17 Ratih Rosalina Waduh... semakin runyam cerita kehidupan Arjuna...

22. Di Antara Dua Rasa

19 1

 

Hazal datang tergopoh-gopoh ke rumah sakit karena Bu Ratih menelepon. Bu Ratih mengatakan bahwa Feri menemuinya dan membahas soal Rendra. Hazal tidak sabar ingin segera mendengar kabar itu.

“Ma...ma...af, Bu, ta...ta...di aku ma...ma...sak dulu,” kata Hazal dengan napas tersengal.

“Tidak apa-apa. Ibu sudah menceritakan tentang keinginan Rendra pada Pak Feri. Katanya, mereka yang akan bernegosiasi dengan Rendra. Uang 30 juta itu sangat banyak. Ibu sudah mencoba cari pinjaman ke saudara-saudara dekat dan menjual perhiasan yang tak seberapa, baru dapat 10 juta.”

“I...ni, aa...ku pu...pu...nya se...se...dikit uu...ang, Bu,” kata Hazal sambil menyerahkan uang Rp1.000.000.

“Tidak perlu, Hazal. Simpan saja uang ini. Kamu lebih butuh. Ibu tahu, kamu baru saja kehilangan pekerjaan, tentunya uang ini sangat kamu butuhkan.”

Hazal tetap memaksa Bu Ratih menerima uang itu. Ia ingin memberi konstribusi walau tidak banyak. Melihat kesungguhan di mata Hazal, Bu Ratih menerima juga uang itu.

“Oh, iya, kamu bawa apa Hazal? Dari aromanya sepertinya kamu bawa gulai balak,” kata Bu Ratih melihat rantang yang dijinjing Hazal.

Hazal kemudian membuka rantangnya kemudian tersenyum ke arah Bu Ratih.

Masya Allah, Ibu suka sekali masakan ini,” kata Bu Ratih.

Hazal sudah lama berniat ingin membuat makanan enak untuk Bu Ratih karena ia sering kali melihat Bu Ratih yang tak selera makan. Ia tahu pasti makanan kesukaan Bu Ratih, yaitu gulai balak dan seruit—makanan khas Lampung. Menurut cerita Bu Ratih, ibu Hazal dulu kerap memasakkan itu untuknya.

Aroma gulai daging berkuah kaya rempah itu sangat menggugah selera. Perpaduan kapulaga, bunga lawang, pala, cengkih, kemiri, dan lada benar-benar dapat menyajikan “Indonesia” dalam mangkuk. Hazal tersenyum lebar melihat Bu Ratih yang menelan ludah berkali-kali.

“Sudah lama sekali ibu tidak makan seruit. Harum sekali aroma terasi dan kuweninya. Cabenya juga ramai melimpah,” kata Bu Ratih terkekeh.

Hazal menggoda Kinan yang hanya bisa menatap sambil menelan ludah. Wajah Kinan cemberut karena Hazal sengaja memamerkan lauk-pauk penggugah selera itu padanya yang hanya boleh makan menu rumah sakit. Bu Ratih dan Hazal tergelak melihat Kinan.

“Ini masaknya banyak sekali. Kamu antar saja untuk Dokter Arjuna. Dokter Arjuna sudah banyak membantu kita. Mungkin ia suka makanan ini.”

Hazal terbatuk seketika saat Bu Ratih memintanya mengantar makanan untuk Dokter Arjuna. Jauh di lubuk hatinya ia ingin melakukan itu, tetapi logikanya mengatakan hal yang berbeda. Ketidaksinkronan antara pikiran dan perasannya membuatnya kikuk.

“Antar saja, Hazal! Ini kan ada dua rantangnya. Antar yang ini ya untuk Dokter Arjuna. Sepertinya dia belum pulang,” kata Bu Ratih sambil menyerahkan rantang pada Hazal.

“Ta...tapi, Bu. Aa...ku ti...ti...dak enak. Aa...ku ma...ma...lu.”

Meski Hazal telah menolak, Bu Ratih tetap memaksa. Akhirnya dengan langkah ragu, Hazal membawa rantang berisi nasi hangat, gulai balak, dan seruit. Hazal berdiri di muka ruangan Dokter Arjuna. Ia melihat lampu di dalam masih menyala. Itu artinya Dokter Arjuna belum pulang. Hazal mengangat tangannya untuk mengetuk pintu. Belum sempat terketuk oleh jemarinya, seseorang membuka pintu dari dalam. Sontak Hazal menunduk kemudian mundur dua langkah. Dokter Arjuna yang membuka pintu sama terkejutnya dengan Hazal. Ia tidak menyangka sosok yang baru saja mampir di benaknya, kini sedang berdiri di hadapannya.

“Kamu, ada apa?” tanyanya dengan keterkejutan yang belum hilang.

Aa...nu a...nu.”

“Ada apa dengan si Anu?”

“Do...dok...ter aa...nu.”

“Saya Dokter Arjuna bukan Dokter Anu,” kata Arjuna terkekeh.

“Ini da...da...ri Bu...Rat...rat...tih,” kata Hazal sambil menyerahkan rantang makanan kepada Arjuna tanpa menatap wajahnya.

Alhamdulillah, kebetulan saya belum makan malam. Ayo, ikut makan juga. Saya khawatir kalau makanan ini ada racunnya. Jadi, harus ada yang memastikan kalau makanan ini aman,” canda Arjuna.

Dengan ragu Hazal masuk ke ruangan Arjuna lalu duduk berhadapan.

“Buka!,” pinta Arjuna.

Hazal menurut saja permintaan Arjuna tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia tetap menunduk dan menyajikan makanan kepada Arjuna. Arjuna mengamati gerak-gerik Hazal. Merasa kikuk karena diperhatikan Arjuna, Hazal melirik perlahan. Lirikan itu ternyata bertemu dengan tatapan mata Arjuna. Keduanya merasakan ada sesuatu yang menyengat dada mereka. Hampir saja Hazal menjatuhkan makanan karena salah tingkah.

“Ini apa? sepertinya enak.”

“Ii...ni gu...lai ba...ba...lak. Ka...ka...lau yang ini se...se...ruit,” jawab Hazal tanpa menatap Arjuna.

Arjuna mulai mencicipi makanan yang disajikan Hazal. Tiba-tiba Arjuna mengernyitkan kening karena kepedasan. Hazal panik kemudian berangkat dari kursi untuk mengambil air minum tak jauh dari Arjuna. Karena terburu-buru dan panik, Hazal menumpahkan air itu di baju Arjuna. Sontak Arjuna berdiri kemudian tertawa ringan sambil mengibas-ngibaskan kemejanya yang basah.

“Apakah memang harus selalu ada adegan ketumpahan air setiap kita bertemu?”

Wajah Hazal memerah menahan malu. Ia mengutuki kecerobohannya yang sudah ke sekian kali menumpahkan air di baju Arjuna.

Arjuna semakin tertawa melihat ekspresi ketakutan Hazal.

“Sudah, aku tidak marah. Ayo duduk lagi. Aku masih mau makan.”

Arjuna makan dengan lahap sembari menahan pedas dengan meneguk air putih berkali-kali. Ujung hidung dan bibirnya memerah. Hazal merasa bersalah karena telah membuat Arjuna seperti itu.

Hazal merapikan rantang makanan kemudian berpamitan pada Arjuna. Ada rasa tak rela menyelinap dalam diri Arjuna. Namun, ia tidak membiarkan rasa itu menguasai dirinya.

“Sampaikan pada Bu Ratih, terima kasih untuk makanannya,” kata Arjuna.

Hazal mengangguk kemudian berjalan meninggalkan Arjuna yang berdiri di pintu.

“Hazal, aku suka kopi di pagi hari. Kopi dengan sedikit gula. Satu lagi, perutku tidak terlalu bisa bersahabat dengan pedas. Lain kali mungkin cabainya bisa dikurangi,” teriak Dokter Arjuna.

Hazal menoleh dan mengangguk. Barulah setelah ia membalikkan badan, bibirnya mengembangkan senyum semringah. Arjuna menatap Hazal kemudian menyentuh dadanya dengan telapak tangan. Ia mengusapnya berkali-kali untuk menetralkan gemuruh yang semakin menjadi. Arjuna kesulitan mengatupkan bibirnya karena dorongan untuk tersenyum terlalu kuat. Kalau saja bukan karena seorang perawat menyapanya, senyumnya akan terus mengembang.

Saat kembali ke kamar Kinan, Hazal kesulitan tidur. Ia terus membolak-balikkan badan ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Ia menarik selimut hingga ke leher, kemudian menurunkannya lagi ke perut.

“Ada apa Hazal? Kenapa dari tadi kamu gelisah?” tanya Bu Ratih.

“Bu Rat...rat...tih, Do...dok...ter Ar...juna itu ba...baik ya.”

“Iya. Ibu merasa banyak sekali berhutang budi padanya.”

Cerita Hazal tentang Dokter Arjuna terus mengalir pada Bu Ratih. Meski terbata, bola mata Hazal terus berbinar tiap menyebut nama Arjuna.

“Hazal, kamu suka Dokter Arjuna?”

Pertanyaan Bu Ratih seperti peluru yang melesat saat pelatuk pistol ditarik. Ia lalu terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ti...tidak mung...mungkin, Bu. Aa...ku sa...sa...dar diri. Ma...na be...be...rani aa...ku be...be...gitu.”

“Rasa suka itu hak semua orang. Rasa suka itu misterius. Kita tidak tahu kapan dia datang, tiba-tiba kita merasa bahwa orang itu penting. Kadang, siang hari kita masih merasa biasa-biasa saja, tetapi sore hari tiba-tiba benak kita dipenuhi oleh orang itu, bahkan cicak di dinding pun wajahnya mirip orang yang kita suka. Begitulah rahasia rasa,” kata Bu Ratih.

Hazal tersenyum manja kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bu Ratih. Bu Ratih mengusap pundak dan kepala Hazal dengan lembut.

“Aa...ku ha...ha...nya pu...nguk me...me...rindukan bu...bulan, Bu,” kata Hazal pesimis.

***

Perban di wajah Kinan dibuka perlahan. Ia diminta untuk mencoba menggerakkan bibir. Ketika membuka mulut mengeluarkan vokal “A”, Kinan meringis. Sisa-sisa nyeri di bibirnya masih terasa. Ia kemudian mencoba lagi mengucapkan beberapa kata. Mulanya kata-kata yang diujarkan belum terdengar jelas. Namun, Kinan terus berusaha hingga kata-kata mulai terdengar jelas. Ia tersenyum tipis sembari menoleh pada Bu Ratih yang menangis terharu. Bu Ratih memeluk Kinan kemudian menghamburkan kecupan di keningnya. Keduanya larut dalam keharuan yang dalam. Keharuan itu menulari perawat di ruangan.

“Adegan ini sungguh mengandung bawang,” kata seorang perawat kepada rekannya.

“Kinan, sebentar lagi Dokter Arjuna akan datang untuk memeriksa. Kalau hasil pemeriksaan kamu sudah baik-baik saja, kamu bisa segera pulang untuk selanjutnya rawat jalan saja,” kata perawat.

Alhamdulillah, akhirnya Kinan bisa pulang. Kinan rindu kamar di panti, Bu,” kata Kinan.

Dokter Arjuna datang saat senyum Kinan masih mengembang.

“Selamat pagi, anak cantik. Bagaimana rasanya sekarang, sudah lega?”

Alhamdulillah, Dokter, terima kasih.”

“Kamu anak yang kuat. Luar biasa. Aku salut,” kata Arjuna sambil mengacungkan dua jempol.

Arjuna memeriksa Kinan dengan saksama kemudian meminta catatan kesehatan Kinan dari perawat. Setelah membolak-balikkan beberapa laporan, Arjuna memutuskan Kinan sudah bisa rawat jalan.

“Semuanya aman. Kamu sudah bisa pulang hari ini. Tapi ingat jangan lupa untuk selalu kontrol sesuai jadwal karena masih operasi lain yang harus kamu jalani.”

Arjuna menatap Kinan yang penuh semangat seperti seorang kakak lelaki pada adiknya. Ia merasa bahagia atas progres kesembuhan Kinan. Namun, ada sisi lain di hatinya yang terasa sakit. Kepulangan Kinan berarti ia akan kehilangan momen pertemuan dengan Hazal.

 

Catatan

Seruit : makanan khas Lampung yang dibuat dari ikan yang dibakar kemudian dicampur dengan beberapa bumbu seperti bawang merah, cabai, terasi, garam, gula putih, mangga kuweni serta tomat.

Gulai balak : Gulai balak ialah masakan khas daerah Lampung yang dibuat dari campuran santan kelapa, cabai serta daging sapi atau kambing.  Bumbu yang digunakan adalah kapulaga, pekak, biji pala, cengkeh hingga cabai, bawang merah dan bawang putih.

 

 

 

 

user

28 December 2021 19:42 Ratih Rosalina Orang lampung apa penggemar kuliner lampung nih kak? aku penggemar keripik pisang aneka hahahahaha... arjuna sama hazal bikin senyum- senyum sendiri... lanjut kak ku tak sabar menunggu...

23. Dilema

18 1

 

Hazal, Bu Ratih, dan Kinan datang ke pengadilan lebih awal didampingi Ferdinand dan Feri. Pashmina yang dikenakan Kinan dibentuk sedemikian rupa hingga menutupi bekas luka di wajahnya. Ia juga mengenakan kacamata hitam agar orang-orang tidak terfokus pada mata kanannya yang masih lengket.  Mereka siap mengikuti sidang ke empat kasus Kinan. Hari ini mereka akan mendengarkan Putusan Sela majelis hakim setelah sebelumnya penuntut umum membacakan tanggapan atas eksepsi yang diajukan Rizki dan penasihat hukumnya.

Para wartawan yang sudah membanjiri pengadilan memberondong mereka dengan banyak pertanyaan. Sebenarnya sejak sidang perdana, Hazal, Bu Ratih, dan Kinan sudah dikerumuni wartawan. Namun, tetap saja bagi mereka situasi kali ini sedemikian asing. Tubuh mereka menciut— bersembunyi di balik Feri dan Ferdinand untuk menghindari wartawan. Mereka terus menunduk tanpa suara karena tidak ingin salah bicara.

Beberapa media televisi bahkan menggelar siarang langsung dengan sosok reporter yang piawai memainkan kata-kata. Ferdinand dan Feri mencoba menenangkan para awak media dan meminta agar Kinan diberikan keleluasaan. Mereka juga berjanji akan menggelar konferensi pers usai persidangan.

Ketegangan kian memuncaki wajah-wajah mereka yang gelisah duduk di ruang tunggu. Bu Ratih dan Kinan tidak bisa tertib pada satu posisi. Berkali-kali mereka duduk kemudian berdiri sambil membaca pengumuman-pengumuman yang ada di papan informasi pengadilan. Sementara itu, Feri melihat arjolinya sembari sesekali berbisik kepada Ferdinand. Kinan duduk pasrah menyaksikan rupa-rupa gerak tubuh orang di sekelilingnya. Ada Bu Ratih yang tak henti komat-kamit sambil menengadahkan tangan. Ada Hazal yang mondar-mandir sambil menggigit kuku jempol. Sedangkan Feri dan Ferdinand terus berbicara dengan berbagai istilah hukum yang tidak dipahami Kinan.

 “Seharusnya sidang sudah dimulai. Namun, kita belum juga dipanggil ke ruang sidang,” gerutu Ferdinand.

Feri sekali lagi melirik arlojinya kemudian melongok ke beberapa arah seperti mencari seseorang. Tepat saat Feri masih memanjangkan leher, panitera pengadilan menghampiri mereka. Panitera mengatakan bahwa persidangan akan diundur selama satu jam karena hakim masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan putusan.

Kelimanya serentak mengembuskan napas kasar kemudian mulai menunujukkan ekpsresi kesal. Sembari menunggu panggilan panitera kembali, mereka sibuk aktivitas masing-masing.

Selang beberapa waktu, panitera datang kembali dan meminta mereka masuk ke ruang persidangan. Tak lama setelah Kinan dan pengacara duduk di kiri meja hakim, tiga hakim memasuki ruang sidang dan duduk di kursi yang letaknya lebih tinggi dari lainnya. Aura tiga hakim bertoga hitam dengan simare beludru warna merah, dan bef putih begitu terpancar membuat seisi ruangan hening sejenak menyambut kedatangan mereka.

Persidangan Kinan menyedot perhatian masyarakat karena pelaku adalah anak orang terpandang. Terlebih lagi kejadian itu telah viral di media sosial. Banyak orang yang datang ke pengadilan untuk menyaksikan persidangan terbuka itu. Kedatangan masyarakat menjadi pemompa semangat Kinan yang sedang dirundung keraguan. Ia takut hakim akan menyetujui eksepsi Rizki hingga akhirnya kasus ditutup. Dalam pikirannya, jabatan dan uang orang tuanya pastilah membuat Rizki berada pada posisi lebih beruntung.

Kegaduhan terjadi saat Rizki dibawa ke ruang sidang kemudian duduk di kanan meja hakim didampingi pengacara. Kinan tak dapat mengelola emosinya sehingga tiba-tiba terisak saat melihat Rizki duduk di hadapannya. Terdengar bisik-bisik cemooh dari orang-orang yang ikut menyaksikan sidang terbuka itu. Tangisan tak kalah dramatis ditampilkan oleh keluarga Rizki, terutama ibunya. Dandanannya yang memesona serta seperangkat penunjang penampilannya yang ekslusif membuat orang-orang menatapnya lekat. Sementara itu, ayah Rizki sibuk menenangkan istrinya.

“Bapak dan Ibu  yang saya hormati, dimohon dapat menjaga kekondusifan di ruang sidang. Hakim akan segera membacakan Putusan Sela,” kata panitera menenangkan pengunjung sidang.

Semua orang yang ada di ruang persidangan tegang berjamaah dan memasang perangkat pendengaran dengan apik karena tak ingin melewatkan satu pun kata-kata hakim.

“Alhamdulillah,” terdengar kalimat pujian serentak dari pengunjung sidang saat hakim memutuskan menolak eksepsi terdakwa. Itu artinya sidang akan berlanjut pada tahap pembuktian.

Kinan menutup wajahnya dengan tangan dan membiarkan air matanya terjun bebas tanda kebahagiaan yang tak terkira. Jalannya untuk mendapatkan keadilan akan terbuka lebar.

***

“Arjuna, Papi ingin bicara padamu. Ada hal penting yang harus Papi bahas. Bisakah kamu menemui Papi di kantor? Kebetulan Papi juga sudah meminta Mami untuk datang,” kata Baskoro via telepon.

Arjuna menyanggupi permintaan itu karena ia menangkap keseriusan dari nada bicara Baskoro. Selama 30 menit mengendarai mobil, Arjuna tiba di kantor Baskoro. Ia bisa langsung menuju ruangan Baskoro tanpa harus singgah di resepsionis karena baik tim sekuriti maupun resepsionis sudah mengenal Arjuna.

“Ada apa, Pi, Mi? Sepertinya sangat mendesak sampai-sampai kita harus bicara di kantor Papi,” tanya Arjuna sesaat setelah duduk di sofa.

“Maaf ya, Juna, harus meminta kamu mendadak untuk datang ke sini. Rasanya lebih leluasa bicara di sini dari di rumah. Mami masih takut kalau-kalau mamamu belum bisa melihatmu.”

“Begini, Juna. Semalam, Papi dihubungi oleh Pak Anton, ayah Violeta. Dia menanyakan kelanjutan hubungan kalian.”

“Hubungan? Maksudnya, Pi? Hubungan yang bagaimana?” tanya Arjuna mengernyitkan kening.

“Pak Anton menelepon Papi lama sekali. Ia menceritakan bahwa belum pernah putri tunggalnya terlihat murung dan sangat menginginkan seseorang. Pak Anton meminta Papi untuk membantu agar kamu dan Vio dapat menjalin hubungan serius.”

Arjuna diam dengan wajah yang berubah dari tegang ke geram. Ia kemudian memijat alisnya dengan menjengkalkan jempol dan telunjuk. Napasnya menderu sementara Baskoro dan Rena masih hening menunggu jawaban.

“Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku benar-benar tidak punya perasaan apa pun pada Violeta. Kami hanya rekan kerja biasa. Tidak ada yang spesial.”

“Iya, bagimu mungkin tidak. Tapi, Violeta benar-benar mengharapkan dirimu. Bahkan, beberapa kali ia mogok makan karena memikirkan kamu yang tidak meresponsnya,” kata Baskoro.

“Kamu sudah punya pacar? Atau mungkin ada orang yang kamu cintai?” tanya Rena.

“Tidak, Mi.”

“Lantas, apa yang menghalangimu menerima Violeta?” tanya Baskoro dengan nada tinggi.

“Hanya satu alasan, aku tidak punya rasa apa pun padanya.”

“Apa yang kurang dari Violeta. Dia cantik, pintar, dan punya karier yang baik. Dia juga dari keluarga terpandang . Satu hal yang paling utama adalah ayahnya teman karib Papi.”

“Karena dia begitu sempurna di mata orang-orang maka aku tidak menyukainya. Siapalah aku ini, Pi. Aku hanya seorang dengan masa lalu yang jauh dari kata sempurna.”

“Bagaimana bisa kamu bicara demikian. Kamu adalah anak kami. Kamu dokter spesialis bedah yang kompeten.”

“Bagaimana kalau mereka tahu aku bukan anak Papi? Bahkan ibuku mengalami gangguan mental sedangkan ayahku tidak jelas rimbanya?” Arjuna berujar dengan nada tinggi.

“Kamu anak kami. Papi mau kamu menerima perjodohan ini.”

“Aku tidak mau, Pi.”

Jawaban Arjuna membuat Baskoro geram. Ia mengepalkan tangan kemudian berdiri. Rena menarik lengan suaminya dengan lembut dan memintanya duduk.

“Papi, tenanglah,” kata Rena.

“Kamu tahu, Juna. Apa yang membuatmu sangat mirip dengan papamu? Tatapan mata seperti ini. Tatapan mata saat menentang kehendak orang lain. Papi masih ingat saat Heru menentang keinginan kakekmu yang melarang  menikahi mamamu. Waktu itu, papamu juga bersikeras sepertimu. Ia bersikeras memperjuangkan cintanya pada mamamu. Meskipun pada akhirnya, ia meninggalkan mamamu hingga menderita seperti sekarang. Tatapan papamu puluhan tahun yang lalu persis seperti kamu hari ini. Papi merasakan seperti kembali pada malam itu.”

Kata-kata Baskoro seperti runtuhan stalaktit di hatinya. Ujung-ujung stalaktit yang runcing merobek-robek sebongkah kekuatan yang telah ia susun untuk bertahan dari ketakutan tentang kemiripannya dengan Heru, papanya. Pertahanannya lebur hingga yang tersisa adalah puing-puing putus asa karena ia telah menjadi “buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya.”

“Baiklah, Pi. Aku akan ikuti keinginan Papi. Aku terima perjodohan ini,” kata Arjuna pelan.

Ia beranjak meninggalkan ruangan Baskoro dengan lunglai. Sementara Baskoro merasa bungah karena taktiknya untuk menaklukkan Arjuna berhasil.

 

Catatan :

Putusan Sela adalah putusan yang belum menyinggung mengenai pokok perkara yang terdapat di dalam suatu dakwaan. Dalam hal ini berkaitan dengan suatu peristiwa apabila terdakwa atau penasihat hukum mengajukan suatu keberatan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan. Dalam hukum acara pidana perihal mengenai putusan sela ini dapat disimpulkan dari Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Eksepsi adalah tangkisan atau pembelaan yang tidak menyinggung isi surat tuduhan (gugatan), tetapi berisi permohonan agar pengadilan menolak perkara yang diajukan oleh penggugat karena tidak memenuhi persyaratan hukum.  

 

 

 

user

29 December 2021 20:44 Ratih Rosalina Ngewakilin patah hatinya hazal...

24. Aku, Kamu, dan Masalah (Bagian 1)

18 0

 

Vivian dan Hazal duduk di rooftop indekos yang berada di lantai empat. Lantai empat  biasa digunakan oleh penghuni kos untuk menjemur pakaian. Di sana, Hazal dan Vivian  duduk  di bangku panjang sambil mengayunkan kaki. Mereka memandangi langit ibu kota yang sepi dari bintang karena kalah bersaing dengan lampu-lampu gedung pencakar langit.

“Sepertinya minggu depan kakak ipar Rayhan sudah selesai cuti. Berarti kamu tidak lagi menggantikan dia,” kata Vivian.

“Ii...ya. Aa...ku bi...bi...ngung. Sam...sam...pai hari ini be...belum da...dapat pe...pe...kerjaan,” Kata Hazal.

“Aku juga sudah coba tanya-tanya ke teman-teman, kalau-kalau mereka ada informasi, tetapi masih nihil.”

Hazal tersenyum karena perhatian Vivian yang begitu besar padanya. Sejak mereka kos bersama, Vivian sudah seperti saudara kandung baginya. Hampir tidak pernah mereka cekcok, apa lagi bermusuhan. Vivian sangat memahami Hazal, begitu pula sebaliknya.

“Oh, iya, bagaimana kabar Kinan? Masih sering kontrol?”

“Ma...masih, dia di...diantar Bu Ratih.”

“Kontrolnya masih sama Dokter Arjuna?”

“Ii...ya.”

“Dokter itu baik ya. Selain baik, wajahnya juga tampan. Yang paling penting, masih single,” kata Vivian tergelak.

Hazal ikut tertawa kecil mendengar kata-kata Vivian. Senyum Arjuna bertandang di benak Hazal. Akibatnya, ia teringat pada permintaan Arjuna.

“Aa...ku ma...ma...sih ada uu...tang sa...sa...ma dia,”

“Utang apa? Banyak? Wah, bagaimana kamu akan membayarnya?”

“Bu...bukan uu...tang uang, ta...tapi utang ko...kopi.”

Hazal menceritakan tentang peristiwa saat ia mengantarkan makanan khas Lampung pada Arjuna.

“Berarti itu kode ya, Dokter Arjuna minta kamu bikinkan kopi dan makanan itu lagi. Jangan-jangan dia naksir kamu, Hazal.”

Hazal tertawa kecil mendengar kata-kata Vivian. Ia merasa prediksi itu terlalu berlebihan karena tidak mungkin Arjuna menaruh hati padanya.

“Kalau dia tidak ada rasa suka, tidak mungkin meminta kamu membuatkan lagi walaupun tidak secara langsung. Kamu harus peka. Kenapa tidak langsung dibuatkan saja waktu itu. Sudah hampir satu bulan baru ingat.”

“Aa...ku ki...kira ha...nya  bercanda.”

“Kamu membuang kesempatan emas untuk dekat dengan dokter itu. Aduh, Hazal,” ujar Vivian menyayangkan.

“Aku dan di...dia se...per...ti kos ki...kita de...dengan ge...dung itu. Terla...lalu ja...jauh berbeda,” kata Hazal sambil menunjuk gedung pencakar langit yang megah.

Mereka lalu saling pandang kemudian tersenyum lalu menatap penuh kekaguman pada gedung-gedung tinggi di ibu kota. Mereka sibuk dengan pikiran dan mimpi masing-masing.

Pada waktu yang sama Arjuna sedang bersandar pada jendela apartemen mewahnya sambil melihat mobil-mobil berderet di jalan raya bagaikan semut berbaris. Sesekali ia melemparkan pandangan ke langit mencoba menerka-merka bentuk gumpalan awan. Percakapan dengan Baskoro tentang Violeta masih mengusik pikirannya. Ia sudah telanjur menyetujui sedangkan hatinya seolah terikat pada orang lain.

Sudah hampir sebulan Arjuna disiksa rasa ingin berjumpa dengan Hazal. Ia begitu bersemangat setiap jadwal kontrol Kinan tiba karena mengira akan bertemu Hazal. Namun, kenyataannya belum sekali pun Hazal mengantar Kinan kontrol. Dalam kekecewaannya, ia kerap membaca kembali tulisan-tulisan motivasi di gelas kopi yang masih disimpannya. Setiap membacanya, ia merasa ada energi yang tumbuh dalam dirinya.

Setelah bosan berdiri menatap kemerlap cahaya lampu, Arjuna menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia membuka ponselnya mengecek catatan agenda penting yang harus ia lakukan. Matanya berbinar seketika saat membaca bahwa empat hari lagi ia akan mengikuti persidangan Kinan sebagai saksi ahli. Itu artinya ia akan bertemu dengan Hazal. Satu hal yang sangat ia sesalkan adalah tidak pernah meminta nomor ponsel Hazal. Sebenarnya ia punya berkali-kali kesempatan untuk meminta nomor ponsel Hazal pada Bu Ratih atau Kinan. Namun, setiap kali ada keinginan untuk mengetahui tentang Hazal, di hatinya selalu muncul dorongan yang lebih kuat untuk tidak melakukan apa pun.

***

Arjuna, Bu Ratih, Kinan, dan Hazal menunggu di ruangan khusus yang disiapkan untuk para saksi. Bersama mereka ada pula empat orang saksi dari pihak Rizki. Dari cerita Kinan, Hazal tahu bahwa pada saat kejadian ada lima orang yang datang bersama Rizki. Hal itu membuat Hazal penasaran. Mengapa Rizki tidak menghadirkan kelimanya?

Hazal melihat Feri menelepon seseorang berkali-kali tetapi tidak bicara. Sepertinya orang tersebut tidak mengangkat telepon Feri. Feri kemudian mendekati mereka bertiga dan mengatakan bahwa Rendra tidak mengangkat teleponnya. Sontak hal itu membangkitkan kecemasan Bu Ratih dan Hazal. Padahal, sebelumnya Rendra telah menyetujui akan datang pada persidangan tepat waktu.

Ferdinand datang dan terkejut mendengarkan informasi bahwa Rendra belum tiba sekaligus tidak mengangkat telepon. Terlihat kerutan kening Ferdinand saat berbicara dengan Feri. Namun, hal itu tidak membuatnya frustasi meskipun ia tahu bahwa Rendra adalah salah seorang saksi penting. Ferdinand kemudian mengajak mereka berembuk untuk mengatur strategi kembali jika terjadi kemungkinan terburuk—Rendra tidak datang. Keempat saksi dan penasihat hukum Rizki menatap sinis dan tajam kepada mereka.

Saat mereka masih berdiskusi, panitera datang dan mengatakan bahwa persidangan yang seharusnya berlangsung pukul 10.00 WIB akan diundur pada pukul 13.00 WIB. Semua orang tampak tidak senang dengan pengunduran itu, kecuali Arjuna. Ia merasakan hal yang sebaliknya karena pengunduran waktu sidang artinya penambahan waktu bertemu Hazal.  

Boby, pengacara Rizki mendatangi Arjuna. Ia menepuk pundak Arjuna yang sebenarnya mencoba bersikap pura-pura tidak tahu padanya.

“Akhirnya, kita bertemu di sini. Saya rasa kamu harus sigap mencari psikiater kalau-kalau ada di antara kalian yang depresi menerima kekalahan di persidangan. Klien kami tidak bersalah, dan kami dapat membuktikan itu,” kata Boby dengan nada mengejek.

Arjuna berusaha menahan amarah agar tak menguasainya. Ia menarik napas teratur untuk mengontrol emosinya.

“Sidang pembuktian baru dimulai. Itu artinya Kinan dan Rizki sama-sama punya peluang 50 persen untuk menang. Dan saya selalu yakin bahwa kebenaran akan terungkap dengan cara apa pun. Allah tidak pernah tidur. Dia akan menolong hamba-Nya yang benar,”  jawab Arjuna Bijak.

Hazal menatap Arjuna sedetik setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Arjuna membalas tatapan itu dengan lirikan bermakna sejajar—kekaguman. Baik Hazal maupun Arjuna merasakan seperti ada utang yang lunas. Utang pertemuan pada perasaan rindu mereka. Rindu yang mereka pendam sekian lama dalam diam akhirnya terbayar.

Sambil menunggu waktu datang, mereka terus berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan. Saat berdiskusi, Hazal dan Arjuna sesekali mencuri-curi pandang. Ketika tatap mata mereka bertemu pada satu titik, mereka mulai salah tingkah. Bu Ratih memerihatikan pemandangan itu dan tersenyum dalam hati. Wajah Arjuna sama meronanya dengan Hazal saat mereka salah tingkah.

Setelah azan Zuhur berkumandang, mereka bergegas ke musala pengadilan. Hazal, Bu Ratih, dan Kinan melangitkan doa dengan khusyuk agar diberikan kemudahan oleh Allah Swt. Hazal melihat Arjuna keluar musala dengan sisa-sisa air wudu di wajahnya. Pesona Arjuna semakin menggoyahkan hati Hazal. Secepatnya ia beristigfar kemudian menundukkan pandangan. Ia tidak ingin pesona Arjuna menguasai seluruh hatinya.

Mendekati waktu sidang, suasana semakin tegang. Panitera lalu menyilakan mereka masuk ruang sidang. Pengunjung sidang kali ini lebih banyak karena rasa penasaran masyarakat terhadap pembuktian kasus Kinan semakin tinggi. Saat Rizki memasuki ruang sidang dengan pengawalan, suara riuh rendah membicarakannya pun bergulir. Rizki menoleh kepada empat saksi yang tak lain adalah rekan-rekannya.

 

 

 

25. Aku, Kamu, dan Masalah (Bagian 2)

17 2

Hazal bertanya kepada Feri perihal waktu dan gilirannya memberi kesaksian. Wajah Hazal memucat ketika mendengar jawaban Feri. Ia memperkirakan bahwa saat memberikan kesaksian bertepatan dengan waktunya diserang gangguan latah. Ia tidak ingin mengacaukan persidangan karena akan berakibat fatal bagi Kinan. Ia tidak ingin Kinan tambah tertekan. Ketidakhadiran Rendra sudah cukup membuat Kinan tertekan.

Hazal menggoyangkan kaki kemudian menggigit kuku jempolnya. Ia duduk dengan gelisah dan mulai berkeringat dingin. Arjuna memerhatikan hal itu, tetapi tidak berani bertanya.

Setengah jam berlalu, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada Antonio, salah seorang saksi pihak pelaku terus berlanjut. Belum ada tanda-tanda bahwa pertanyaan itu akan segera berakhir. Antonio menjawab pertanyaan dengan berbelit-belit sehingga memancing banyak pertanyaan lanjutan.

Kecemasan Hazal semakin klimaks. Ia melihat pada Bu Ratih dan Kinan yang kemudian melihat jam dinding. Keduanya serentak berwajah tegang. Arjuna mencoba memaknai tanda-tanda yang ditujunjukkan oleh Hazal, Bu Ratih, dan Kinan.

Lima belas menit sebelum pukul 14.00 WIB, giliran Hazal dipanggil untuk memberikan kesaksian. Ia masih berharap bahwa waktu 15 menit cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Setelah mengambil sumpah, Hazal mulai dicecar beragam pertanyaan. Ruang sidang menjadi lebih bergemuruh saat mendengar Hazal bicara dengan gagap. Kumpulan suara tawa berjamaah orang-orang yang ada di ruang sidang terdengar garang seperti deburan ombak yang menghantam batu karang.

Nyali Hazal mulai menciut. Ia seperti sedang ditelanjangi di muka umum. Arjuna tak memalingkan pandangannya semenit pun dari Hazal. Ia terus memberikan motivasi dengan gerak bibir dan kepalan tangan. Tepat ketika jarum panjang di angka 12, dan jarum pendek di angka 2, keringat dingin yang mengucur dari dahi Hazal semakin deras sehingga membuat hijabnya lepek.

“Apakah Anda yakin bahwa Rizki yang mengejar Kinan bukan sebaliknya? Karena berdasarkan bukti yang kami dapatkan, Kinan yang tergila-gila pada Rizki sehingga mau melakukan apa saja untuknya,” tanya Boby, pengacara Rizki pada Hazal.

Kinan berdiri dari tempat duduknya karena tidak terima dengan pertanyaan itu, tetapi Bu Ratih segera menarik lengannya agar duduk kembali. Hazal menatap lekat wajah Kinan. Kegeraman mulai menguasai hatinya karena tidak terima dengan fitnah yang disebutkan Boby. Ketika Hazal hendak membuka suara membela Kinan, yang keluar dari mulutnya bukanlah kata-kata pembelaan melainkan rentetan suku kata seperti mantra.

Bungbeobuyunbeo, bungbeobuyungbeo.....”

Hazal segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, sementara seisi ruang sidang semakin menertawakannya. Mereka memperlakukan Hazal seperti pelawak yang sedang beraksi. Tawa terus bergulir meksipun hakim sidang sudah meminta pengunjung tenang. Hazal tak juga berhenti mengeluarkan bunyi-bunyi aneh.

Hazal diminta turun dari podium saksi karena ia tidak juga bisa menghentikan suaranya. Dengan sigap Arjuna mendatangi Hazal kemudian menggamit lengan dan membawanya ke luar ruang sidang. Hakim lalu memutuskan sidang ditunda minggu depan karena situasi yang tidak kondusif.

Sepanjang koridor pengadilan, Hazal terus bersuara. Isak tangis penyesalan mengiringi keluarnya bunyi-bunyi itu. Arjuna membimbing Hazal menuju parkiran kemudian masuk ke mobil. Ia menunggu tanpa bertanya apa pun pada Hazal. Ia hanya memberikan Hazal tisu untuk menyeka air mata. Tangis Hazal semakin tak terkendali, begitu juga dengan kelatahannya. Arjuna ingin memberikan bahunya sebagai tempat sandaran bagi Hazal, tetapi ia mengurungkannya karena menghormati Hazal. Ia tidak ingin sembarangan menyentuh perempuan. Menarik lengan Hazal ke luar ruang sidang pun sudah menyisakan penyesalan dalam hati Arjuna.

Panggilan telepon dari Denis menambah kekisruhan suasana dalam mobil. Arjuna keluar mobil kemudian menjawab telepon Denis.

“Juna, kamu harus segera datang ke rumah sakit. Papamu ada di UGD sekarang,” kata Denis dari seberang telepon.

Wajah Baskoro segera terbayang di benak Arjuna. Beragam pikiran buruk melintas-lintas. Arjuna segera menelepon Rena usai menutup percakapan dengan Denis. Berkali-kali Arjuna menelepon, tak ada jawaban dari maminya. Dengan panik, Arjuna mengegas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menatap Hazal yang belum berhenti dari kelatahan. Cara Arjuna memandang sedikit menenangkan Hazal. Tak ada sinyal penghinaan yang ditangkap dari tatapan Arjuna. Ia tidak menemukan tatapan seperti itu dari setiap orang yang melihatnya latah. Arjuna tetap bersikap tenang, bahkan tidak membuat  dirinya merasa sebagai orang aneh.  

“Maafkan aku harus agak ngebut, karena orang tuaku masuk UGD,” kata Arjuna pada Hazal.

Hazal tidak dapat menjawab, ia hanya melihat Arjuna yang diliputi kegelisahan hingga tiba di parkiran rumah sakit. Arjuna membukakan pintu mobil untuk Hazal kemudian mengajaknya berlari kecil. Arjuna meminta Hazal segera menuju ke ruangannya sementara ia mempercepat lari menuju UGD.

Hazal yang telah berhenti dari kelatahan melihat Arjuna menghilang dengan cepat dari hadapannya.Ia yakin telah terjadi sesuatu yang buruk pada orang tua Arjuna. Ia seperti dapat merasakan kecemasan Arjuna.

Hazal berjalan menuju ruangan Arjuna. Beberapa perawat menanyakan kepentingannya. Namun, saat mengatakan bahwa Arjuna yang memintanya, mereka menyilakan Hazal masuk. Pikiran Hazal diserang ketakutan dan penyesalan silih berganti. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada orang tua Arjuna. Ia juga menyesal karena telah mengacaukan persidangan Kinan. Ia mengutuki diri dan merasa menjadi manusia yang tidak berguna dan hanya merepotkan orang lain. Kembali matanya yang masih sembab mengalirkan bulir-bulir bening.

Di muka pintu UGD, Arjuna dapat melihat Denis dan Violeta berdiri di sisi seorang lelaki dengan wajah penuh luka. Ia segera mendekat pada Denis dan Violeta. Denis dan Violeta sama-sama memberi ruang bagi Arjuna untuk melihat pasien. Mata Arjuna membelalak. Ia mundur dua langkah dengan gontai saat melihat jaket lusuh berlumur darah yang dikenakan pasien. Ia yakin benar, tidak mungkin Baskoro mengenakan jaket itu.

“Pasien ini bukan Papi, Denis,” kata Arjuna.

“Iya, ini memang bukan Pak Baskoro, ini Pak Heru, papamu.”

Jawaban Denis mengejutkan Arjuna. Violeta tak kalah terkejutnya dari Arjuna. Denis menyeringai melihat perubahan ekspresi Arjuna dan Violeta.

“Ba...bagaimana kamu...” tanya Arjuna terbata.

“Aku tahu kalau ini papamu. Aku sangat mengenalinya karena pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu.”

“Tunggu dulu, ada apa ini? Siapa Pak Heru? Siapa pasien ini? Apa hubungannya dengan Arjuna?” tanya Violeta.

Saat Denis akan menjawab pertanyaan Violeta, tiba-tiba Heru terlihat kesulitan bernapas. Violeta lantas segera memasangkan oksigen, kemudian meminta perawat mendorong Heru ke ruang tindakan. Diagnosis awal yang terlihat, Heru mengalami patah tulang hidung dan keretakan tulang rahang serta luka sayatan di hampir di seluruh wajah.

Denis berlari mengikuti perawat dan Violeta. Hanya Arjuna yang bergeming. Violeta berkali-kali menoleh padanya, tetapi Arjuna hanya menatap hampa pada brankar dorong yang membawa Heru. Ia membalikkan badan menujur ruangannya. Ia tidak mampu mengenali berjuta perasaan yang sedang menyerang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

15 January 2022 12:40 Moh eko Semoga tulisan kakak, menginspirasi pembaca dan penulis lainnya.

user

17 January 2022 18:36 Vega Galanteri Terimakasih kak Moh Eko... Aamiin

26. Tapis Jung Sarat Belambangan

18 0

 

Hazal menunggu di ruangan Dokter Arjuna. Ia mengamati seisi ruangan yang dipenuhi peralatan medis. Tiba-tiba matanya tertuju pada gelas-gelas kopi bekas yang bertuliskan kalimat-kalimat motivasi. Ia mendekat, kemudian mengambil gelas-gelas itu. Ia sangat kenal dengan gelas dan tulisannya. Hazal bertanya dalam hati, mengapa Arjuna menyimpan gelas-gelas itu?

Arjuna masuk ruangan saat Hazal masih berdiri sambil memegang gelas kopi. Karena terkejut, ia menjatuhkan gelas-gelas itu hingga berserakan di lantai.

“Maaf, aku membuatmu terkejut,” kata Arjuna.

“Ti...tidak,” balas Hazal sambil memunguti gelas-gelas yang berserakan.

“Aku sengaja menyimpan gelas bekas kopi ini karena ada tulisan-tulisan yang sangat bermakna. Aku kagum dengan penulis kalimat itu, juga kecanduan dengan rasa kopinya,” kata Arjuna sambil melirik Hazal.

Kata-kata Arjuna membuat perasaan Hazal melambung setinggi 8.848.86 m—tinggi puncak Gunung Everest. Pujian Arjuna terdengar berbeda di telinganya. Sementara itu, Arjuna bergetar melihat Hazal tersipu.

“Ba...bagai...ma...na kabar o...orang tu...tua Dok...dokter?”

Arjuna diam sejenak, kemudian menjawab dengan tenang bahwa semua baik-baik saja.

“Kalau aku boleh bertanya, apa yang terjadi padamu tadi?”

Hazal tidak terkejut dengan pertanyaan Arjuna karena ia sudah memprediksi sebelumnya bahwa pertanyaan itu akan diajukan Arjuna. Ia lalu menceritakan bagaimana gangguan latah itu mulai menyerangnya.

Kala itu, setelah kedua orang tuanya meninggal, Hazal menjadi pribadi yang introvert. Ia sulit bergaul dengan teman-teman sebaya karena merasa minder meskipun ia bukan satu-satunya anak yatim piatu di panti asuhan. Suatu ketika, Hazal diajak bermain ke permukiman warga tak jauh dari panti asuhan. Mereka bermain petak umpet. Rupanya, Hazal sembunyi terlalu jauh sehingga terpisah dari kawan-kawan yang lain. Hingga sore menjelang, kawan-kawannya tidak juga menemukan Hazal, lalu akhirnya pulang ke panti asuhan tanpa dia.

Hazal menangis karena merasa ditinggalkan oleh teman-temannya. Dalam pikirannya, teman-temannya sengaja meninggalkan karena tidak suka padanya. Ia sangat ketakutan karena tidak mengetahui jalan pulang. Ia terus menangis sambil memanggil nama ayah dan ibunya.

Hazal terus berjalan tanpa arah hingga hari mulai gelap. Ketika tiba di sebuah gang sempit, Hazal melewati rumah yang di terasnya tergantung sarang burung beo. Burung itu terus mengeluarkan suara “aku beo, aku beo, burung beo” berkali-kali. Hazal semakin ketakutan karena melihat burung yang bisa bicara. Kepanikan meningkat seketika. Perasaan kehilangan orang tua yang belum sembuh, ditambah dengan ditinggalkan teman-temannya hingga berjalan tanpa arah membuatnya terduduk di jalan sambil terus menangis. Tanpa sadar, ia mengikuti kata-kata burung beo itu. Ia terus menangis dan mengucapkan kata-kata itu.

Warga yang mendengar tangisannya bertanya tentang identitasnya, tetapi Hazal tidak dapat mengatakan apa pun hingga akhirnya pingsan. Ia tidak ingat hal yang terjadi berikutnya. Menurut Bu Ratih, warga membawa Hazal ke panti asuhan karena tidak ada yang mengenalnya di daerah itu. Menurut cerita Bu Ratih, saat sadar dari pingsan, Hazal hanya termenung dengan tatapan kosong dan ketakutan. Ia tidak mau bicara, juga makan. Ia hanya duduk melipat kaki dan memeluk lutut sambil menggoyang-goyangkan badan. Hazal kemudian tertidur pulas dan bangun pada pukul 14.00 WIB. Saat bangun, Hazal terus mengucapkan “bungbeobuyungbeo” selama satu jam. Sejak itulah, Hazal mengalami kelatahan.

Arjuna mendengarkan cerita Hazal dengan saksama. Ia sama sekali tidak risih mendengarkan Hazal yang kesulitan bercerita karena gagap. Ia sabar menunggu Hazal menyelesaikan kata demi kata dengan susah payah. Semakin banyak Arjuna mendengar kisah Hazal, semakin ia merasa iba. Kisah pilu masa kecil Hazal membuatnya ingin menjadi sosok pelindung. Semakin tahu kekurangan Hazal, Arjuna semakin menyukainya. Ketidaksempurnaan Hazal membuatnya merasa menemukan kecocokan. Arjuna merasa Hazal adalah orang yang tepat untuk berbagi luka dan bergandeng tangan bersama untuk saling menyempurnakan.

“Kamu sudah pernah periksa ke dokter?”

“Su...sudah. Ka...katanya harus te...terapi meng...meng...hilangkan trauma.”

“Aku akan bawa kamu ke Dokter Fahri. Psikiater di rumah sakit ini. Mungkin, beliau bisa membantumu.”

Mulanya Hazal menolak karena tidak ingin merepotkan Arjuna. Sudah terlalu banyak Arjuna membantu pengobatan Kinan hingga persidangan. Namun, Arjuna memaksa sehingga membuat  Hazal tidak dapat menolak.

Arjuna tidak langsung mengajak Hazal bertemu Dokter Fahri karena Hazal ingin pulang ke panti asuhan menemui Bu Ratih dan Kinan. Arjuna memutuskan untuk mengantarnya meskipun Hazal menolak. Ia khawatir kalau Hazal kembali latah di jalan.

***

Bu Ratih mendengar derum mobil memasuki pelataran panti asuhan. Ia segera memfokuskan pandangan pada orang yang ke luar dari mobil. Senyum lega mengembang di wajahnya  saat melihat Hazal keluar bersama Dokter Arjuna.

Alhamdulillah, Hazal. Ibu sudah sangat cemas dengan keadaan kamu. Hp kamu tidak bisa dihubungi.”

“Ma...maaf, Bu. Ta...tadi Hp-ku ha...habis baterai. Ma...ma...af, Ibu ja...jadi khawatir.”

“Terima kasih Dokter sudah mengantar Hazal.”

Arjuna segera berpamitan dan menolak tawaran untuk mampir karena kejadian di rumah sakit masih menyita pikirannya. Hazal dan Bu Ratih tetap berdiri di pelataran hingga mobil Arjuna menghilang dari gerbang panti asuhan. Sementara itu, Arjuna terus melihat Hazal dari spion mobil.

Hazal memutuskan menginap di panti asuhan. Ia merasa sangat lelah untuk kembali ke kos-kosan. Ia mendatangi kamar Kinan untuk meminta maaf. Remaja itu sedang asik membaca buku pelajaran. Karena kasus yang menimpanya, Kinan terpaksa putus sekolah. Padahal tinggal satu tahun lagi ia akan menyelesaikan pendidikan menengah atas. Kinan lalu memutuskan untuk mengikuti program paket C.

“A...pa Ka...ka...kak gangu?” tanya Hazal.

“Tidak, Kak.”

“Ma...ma...af ya, Ka...kak bi...bikin ka...ka...cau sidang.”

“Kakak tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf. Sidang bukan dibatalkan, hanya ditunda. Kita masih punya peluang untuk menang,” kata Kinan.

Saat mereka bicara, Bu Ratih masuk sambil membawa sehelai kain. Ia lalu duduk di antara Kinan dan Hazal.

“Itu apa, Bu?” tanya Kinan penasaran.

“Ibu tadi membereskan lemari pakaian lama untuk mengeluarkan barang-barang yang tidak terpakai. Ibu menemukan kain tapis ini. Ibu sampai lupa bahwa kain ini adalah milih Hazal dan harus Ibu berikan lagi,” jawab Bu Ratih menoleh pada Hazal.

“Ka...kain a...apa itu, Bu?” tanya Hazal keheranan.

“Ini adalah kain peninggalan ibumu. Ibumu pernah cerita bahwa kain ini digunakan saat akad nikah dengan ayahmu. Ini kain tapis Lampung, namanya Tapis Jung Sarat Belambangan,” ucap Bu Ratih sambil membentangkan kain itu.

Hazal dan Kinan sama-sama menyentuh kain itu dengan lembut. Mereka menunggu Bu Ratih melanjutkan kalimatnya.

“Kalian lihat, ini adalah motif hias tajuk besarung atau pucuk rebung. Kalau yang ini, motif iluk keris dan sasab dengan mato kibau. Motif ini memilik makna khusus.”

“Makna apa, Bu?” tanya Kinan penasaran.

“Pucuk rebung bermakna hubungan kekeluargaan yang tidak dapat dipisahkan dan tolong-menolong, serta menjaga silaturahim. Sedangkan motif sasab ini bermakna bahwa manusia harus memiliki ilmu pengetahuan yang bermanfat baik lahir maupun batin sesuai dengan norma adat dan agama. Sedangkan mata kibau artinya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melihat dan mencontoh perilaku baik. Kita juga harus belajar dari pengalaman agar hal buruk tidak terulang kembali.”

Hazal dan Kinan terkesima mendengar penjelasan Bu Ratih. Mereka mendapatkan petuah yang berharga bagi kehidupan.

“Kain ini, Ibu serahkan padamu, Hazal. Petiklah makna dari setiap motifnya. Anggaplah, pesan yang tersirat dari motif kain ini adalah pesan dan harapan ibumu.”

Hazal menerima kain itu dengan rintik air mata. Ia tidak dapat menahan kerinduan kepada ibu yang kasih sayangnya tak lama ia nikmati. Kinan mengenggam tangan Hazal disusul dengan pelukan. Keduanya menangis terisak. Bu Ratih yang melihat pemandangan itu tak kuasa menahan tangis pula. Ia lalu memeluk dua gadis yang sangat ia sayangi itu.

***

Vivian datang ke panti asuhan menemui Hazal karena ia tak sabar ingin mengabarkan informasi penting.

“Vivian, ayo sarapan dulu!” kata Bu Ratih.

Alhamdulillah, kebetulan belum sempat sarapan di kos tadi.”

“Ada apa? tumben pagi-pagi ke sini?”

“Ini, Bu, Hazal. Aku mau mengabarkan tentang ini,” katanya sambil memperlihatkan layar ponselnya.

“Apa itu?” tanya Bu Ratih.

“Begini, Ibu, Hazal. Ada kawasan terpadu terbesar dan terluas di Jakarta baru dibangun. Di kawasan itu, ada perumahan, perbelanjaan, dan pusat kuliner nusantara. Nah, pemiliknya memberikan kesempatan kepada UMKM yang unik dan memiliki khas tradisional untuk memiliki gerai di situ. Ini adalah lomba bagi UMKM yang memiliki produk khas dan unik untuk mendapatkan gratis sewa gerai selama satu tahun. Gerainya juga akan dilengkapi dengan fasilitas sesuai kebutuhan,” jelas Vivian berapi-api.

“Te...te...rus?”

“Ya, maksudnya ini adalah peluang bagi Hazal untuk ikut. Kamu bisa ikut lomba itu dengan menampilkan olahan kopi khas Indonesia. Kamu kan paling pandai meracik kopi.”

“Ide bagus itu?” timpal Bu Ratih.

Respons Hazal tidak sesuai ekspektasi Vivian. Ia terlihat tidak tertarik dengan tawaran itu. Ia merasa bahwa hal itu terlalu sulit untuk digapai oleh mantan barista sepertinya.

“A...aku bu...bukan pe...pelaku UMKM. Ba...bagaimana bi...bisa ikut? Lagi pu...pula a...ku ti...tidak pu...punya modal.”

Vivian dan Bu Ratih terdiam sejenak karena memikirkan hal yang sama dengan Hazal.

“Ibu masih punya uang yang kemarin tidak jadi diberikan pada Rendra. Kamu bisa pakai uang itu untuk membeli perlengkapan. Setidaknya, ada modal awal untuk mengikuti lomba itu.”

Hazal tidak langsung menyetujui karena ia khawatir tidak dapat mengembalikan uang Bu Ratih. Bagaimana jika ia tidak menang? Bagaimana akan mengembalikan uang itu? Sedangkan Hazal tahu uang itu adalah uang pinjaman dan hasil menjual perhiasan Bu Ratih.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Indah Wulan
Perempuan Terbuang
Anita Nur Oktav...
Eksamen Cinta Buah Hatiku
Puti Novanda Pe...
Air Mata Ini, Haruskah Menetes
Ayu Maidiyanti
Bertumbuh VS Menyerah

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil