Loading
777

7

46

Genre : Keluarga
Penulis : Yovanie Rinenza
Bab : 26
Pembaca : 30
Nama : Yovanie Rinenza
Buku : 1

Bahagia itu Dusta

Sinopsis

Kumpulan cerita yang mengisahkan harapan kebahagiaan yang ingin dicapai. Namun semuanya semu, kebahagiaan yang diidamkan hanyalah sebuah dusta. Mengejar angan berharap semua ujian ini hanyalah mimpi. Hidup memang tak semulus dan selancar jalan tol yang bebas hambatan. Selalu penuh dengan lika-liku ditengah perjalanan itu.
Tags :
#Keluarga #bahagia #insecure #harapan #konflik #persahabatan

Tragedi Kacamata Part 1

75 36

Tragedi Kaca Mata

 

"Oli!" Terdengar teriakan papa memanggil namaku dari teras rumah. Aku segera menghampiri arah suara tersebut. Kulihat raut wajah papah menahan marah. Aku bingung dan panik, ada apa ini sebenarnya. 

"A, ada apa, Pa?" Aku bertanya ketakutan dan juga bingung. 

" ini siapa yang patahin kaca mata, Papa?" tanyanya emosi.

Aku menggelengkan kepala tak tahu perbuatan siapa. Apakah perbuatan adik-adikku, mereka tidak mau mengakuinya karena ketakutan dimarahi papa. 

Papaku memang galak, super galak malah. Disiplinnya luar biasa. Kami, anak-anaknya tak berani membantah setiap perkataannya. Setiap perkataannya adalah perintah. 

Sebagai anak tertua Aku dituntut untuk bisa menjadi contoh ketiga adikku. Mereka menaruh harapan tinggi padaku, agar Aku menjadi teladan untuk adik-adik. 

Adikku dua lelaki, Amar dan Aris. Sedangkan adikku  yang perempuan, Arinda namanya. Dia di bawahku persis. Arin kesayangan orang tuaku. Boleh dibilang anak emasnya Papa dan Mama. Saking disayangnya, Arin tumbuh menjadi anak manja. Aku terkadang gemas melihatnya. 

"Amar, Aries, Arin!" Teriak papa berteriak memanggil ketiga adikku. 

Terdengar langkah mendekat tergesa-gesa. Wajah adik-adikku terlihat pucat ketakutan. Sepertinya mereka sudah tahu ada amarah yang bergejolak pada ayahnya. 

"Siapa yang mematahkan kacamata, Papa?" tanya papa tegas. 

Ketiga adikku diam menunduk, mereka tak berani menjawab. 

"Jawab!" bentak papa. 

Kulihat Arinda badannya gemetar ketakutan mendengar suara papa yang menggelegar. Gadis  berusia lima belas tahun itu akhirnya membuka suara dengan terbata-bata. 

"Kak Oli, Pa, yang patahin kacamata, Papa." 

Aku terperangah mendengar jawaban adikku. Kupelototi dia, sementara Arinda melengos ketika kupelototi. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Anak manja itu menjadikan aku tumbal kemarahan papa. 

Aku pun pasrah kena omelan papa. Itu sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku sering mengalah demi adik-adik, dan rela menerima amarah papa untuk menutupi kesalahan ketiga adikkku. 

Akhirnya papa menampar pipi kananku. Perih dan panas terasa menyengat. Aku diam menunduk, memegang pipiku tak berani membantah. 

"Papa paling tidak suka dengan anak yang berbohong!" Suara papa tegas terdengar seantero rumah. 

Para tetangga yang lewat sudah maklum dengan tabiat papa. Pria yang keras dan tegas terhadap anak-anaknya, namun lembut dan ramah terhadap orang lain. 

Aku tak menangis mendapatkan tamparan yang entah sudah keberapa kalinya aku terima. Aku hanya kesal dengan Arin, gara-gara ucapannya aku harus kembali menerima hadiah di pipi. 

"Oli, nggak bohong, Pa," jawabku membela diri. 

"Diam, Kamu! Nggak usah membantah dan banyak alasan!". 

Di teras itu kami berlima berdiri, dengan aku yang masih menunduk memegangi pipi kanan yang ditampar papa. 

Papa masih saja terus mengomeli, tapi aku tak ambil pusing. Kuabaikan saja, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.  Karena isi omelannya sama, aku sudah hapal setiap perkataannya. 

"Kamu lagi, Kamu lagi. Selalu Kamu yang jadi gara-gara. Tidak bisa kah, Kamu bicara terus terang saja jika memang Kamu yang mematahkan kaca mata, Papa?"

"Memang bukan, Oli, Pa yang patahin kacamata, Papa." Aku tetap pada pendirianku, bahwa aku tak melakukan apa yang diucapkan Arin.

"Nggak usah menyangkal lagi! Arin jelas-jelas bilang, kalau kamu yang patahin kacamata, Papa," ucap papa lagi.

Sia-sia rasanya menjelaskan pada papa, dia tetap tidak akan mempercayai perkataan puteri sulungnya ini.

Kutatap wajah adiku-adikku satu persatu meminta penjelasan dari mereka. Amar dan Aris menggelengkan kepala, sebagai jawaban bahwa bukan mereka pelakunya. sementara Arin balas menatapku tajam. Adikku yang satu ini memang berani melawan kepadaku. Sebagai kakak aku merasa direndahkan olehnya 

Kutinggalkan saja ketiga adikku dan papa di teras. Aku masuk kamar mandi, kunyalakan keran air dengan deras. Kuteriak dan menangis  sampai puas di sana. Tak ada yang mendengar teriakanku karena suaranya kalah dengan suara air keran. 

Setelah puas, aku keluar kamar mandi dan menuju kamar.  Aku lelah dengan perlakuan tak adil orangtuaku, aku ingin tidur sejenak. 

Memasuki kamar kulihat Arin sedang rebahan di kasur sambil memainkan ponselnya. sekilas dia melirik ke arahku ketika aku masuk kamar.

'Dasar kaum rebahan.' Tatap ku sengit padanya. 

"Kamu, kan yang matahin kacamata, Papa?" tuduhku langsung tanpa basa basi dengan emosi. 

"Sembarangan aja nuduh," jawabnya. 

"Terus kenapa tadi, Kamu bilang ke Papa kalau Kakak yang mecahin. Emang, Kamu lihat pas Kakak mecahin?

"Rin, cobalah belajar untuk bertanggung jawab dari setiap perbuatan yang, Kamu buat." Aku mengatur diriku untuk tidak lagi emosi pada Arinda dan menasihati dirinya. 

"Jangan jadikan, Kakak sebagai tumbal dari perbuatan kalian. Tidak adakah rasa kasihan setiap kali, Papa memukul Kakak gara-gara menutupi perbuatan kalian?" tanyaku sendu.

Kulihat Arinda sedikit gelagapan untuk menjawab. Namun nyatanya dia lebih memilih keluar kamar dengan membanting pintu yang suaranya membuat seolah rumah akan runtuh akibat perbuatannya seraya berkata, "bukan urusan aku!"

Aku menghela nafas melihat kelakuan adik perempuanku satu-satunya. Sebagai kakak tertua, rasanya jatuh harga diriku dimaki dan ditampar  papa di depan adik-adik. Menangis hanya menambah daftar runtuhnya harga diri. 

Mama pun tak bisa berbuat apa-apa bila aku sudah dimarahi papa. Lagi pula aku juga enggak tega bila melihat mama kena imbas dari perbuatan anak-anaknya. Papa dan mama terlalu menganak emaskan Arinda. Aku selalu diminta mengalah padanya.

Terkadang ada rasa iri yang menyelimuti hati, melihat keharmonisan teman-temanku dengan orang tuanya. Iri melihat mereka yang selalu kompak dan rukun dengan adik-adik atau kakaknya. 

'Kapan aku bisa seperti mereka yang punya keluarga harmonis, saling menyayangi?  Bukan seperti aku yang selalu disalahkan dan dimaki-maki karena perbuatan yang tidak aku lakukan.' 

"Oli!" Suara papa lagi-lagi mengejutkanku. Rupanya aku tertidur tadi. 

"Oli." Kembali suara papa memanggil karena aku tidak menjawab panggilan pertamanya. 

"Iya, Pa," jawabku.

'Duh ada apa lagi ini?' ada rasaa cemas menyelimuti sebelum mendatangi papa.

Kuhampiri papa yang sedang berbalas pesan di ponselnya.

"Ada apa, Pa?" tanyaku dengan badan sedikit gemetar ketakakutan. Khawatir ada kesalahan lagi yang membuat papa kembali marah padaku.

"Kamu tidur tadi?" mata dan tangannya masih tetap fokus pada ponselnya.

"Iya, Pa. Tadi Oli ketiduran." masih dengan tangan gemetar, tanpa sadar aku memilin-milin ujung baju.

"Hmm." Papa hanya menganggukan kepala.

"Makan dulu sana! Kamu belum makan, kan?"

"I, iya, Pa." terbata-bata aku menjawab.

Papa akhirnya melepaskan pandangan pada ponselnya dan menatap heran ke arahku. aku pun sama herannya dengan tatapan matanya.

"Ya, udah sana makan! Tunggu apa lagi? Emangnya nggak lapar?"

Tanpa banyak kata, gegas aku menuju ruang makan. Khawatir papa berubah pikiran melarangku makan. Hari ini mama masak menu kesukaan papa jengkol balado. Kuambil secukupnya saja, bisa ada tragedi kembali nanti kalau papa lihat balado jengkolnya sisa sedikit. sudah pasti Aku yang jadi tersangka, karena Aku orang yang terakhir makan.

Sambil menguyah makan siang yang terlambat, Aku merenungi nasib yang selalu diperlakukan beda. Kepalaku sering dipenuhi pertanyaan, mengapa perlakuan papa beda terhadapku dengan ketiga adikku. Aku sering dibuat tak nyaman dengan sikap papa. Aku sulung, tapi tidak seperti anak sulung pada umumnya.

 

Bersambung

 

 

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:02 Rani Iriani Safari Keren, semangaaat ... lanjuuut kak

user

06 December 2021 21:38 Asha Raya Lanjutkan kakak...

user

07 December 2021 01:23 Yusniar Keren, Kak. Lanjut thor

user

07 December 2021 09:11 Titi Ariswati Lanjut, lancar jaya sukses bwrkah Mbak Vani

user

07 December 2021 09:11 Titi Ariswati Lanjut, lancar jaya sukses bwrkah Mbak Vani

user

07 December 2021 09:11 Titi Ariswati Lanjut, lancar jaya sukses bwrkah Mbak Vani

user

07 December 2021 21:42 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak bunda Rani, selalu setia menyemangati

user

08 December 2021 09:31 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak kak Wildan, ikutin terus ya ceritanya

user

08 December 2021 09:32 Yovanie Rinenza Bu Titi daan kak Yusniar terima kasih sudah mampir

user

08 December 2021 17:11 Asmarani Syafira Luar biasa dalsm banyak hal

Tragedi Kacamata part 2

28 7

Ya Tuhan, jangan salahkan aku bila nanti aku memperlakukan hal yang sama seperti papa memperlakukan anak-anaknya.

“Kak.” Suara Amar, anak bungsu papa dan mama menyadarkan lamunanku.

“Iya, Mar. Ngagetin Kakak aja, Kamu nih,” protesku.

“Amar, udah panggil-panggil Kakak, dari tadi. Kakak aja yang nggak denger. ngelamunin apa sih, Kak?”

Aku menggeleng lemah. “Amar, sudah makan? Sini, makan temenin, Kakak!” ajakku untuk mengalihkan pertanyaanya.

“Amar, sudah makan tadi. Jengkolnya jangan dihabisin, Kak nanti, Papa marah lagi sama, Kakak!” matanya melihat ke arah piring nasi di depanku. Wajah Amar sedikit ketakutan saat mengatakannya.

“Enggak kok, tuh masih banyak.” Daguku mengarahkan ke piring berisi balado jengkol.

“Eh, Mar, sini deh, Kakak mau tanya sesuatu sama, Kamu. Tapi janji ya, Kamu harus jujur!” ucapku setengah berbisik dan sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya.

“Apa, Kak? Serius banget,” jawab Amar.

“Yang patahin kacamata, Papa siapa? Ayo jawab jujur! Kamu udah janji tadi sama, Kakak.” Kutowel ujung hidungnya.

“Amar, nggak tahu,Kak.”

“Bohong!” ucapku tak percaya.

“Beneran, Amar nggak bohong!” mengangkat tangan dua jarinya berbentuk huruf ve.

“Terus siapa dong, yang patahin?” tanyaku penasaran.

Amar hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban atas ketidak tahuannya.

“Kak, Amar minta maaf ya, sering nyusahin. Kakak sering kena marah, Papa gara-gara Amar.”

Aku menghentikan kunyahanku, kuletakan sendok, dan menatap wajah adik bungsu kesayangan. Amar adik yang paling dekat denganku, kami sering berbagi cerita dan bercanda.

“Nggak apa-apa,” jawabku tersenyum, “Kakak hanya minta agar, Amar selalu bertanggung jawab dengan segala perbuatan yang Amar perbuat. Kalau Amar salah, harus berani minta maaf.” Kutepuk pelan bahunya.

“Amar, sayang, Kakak kan?” Amar mengangguk. “Jangan jadi laki-laki  cengeng dan pengecut! Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.”

Amar terlihat dewasa diumurnya yang baru sebelas tahun. Dia memahami apa yang dirasakan kakak sulungnya.

“Amar lanjut main ya, Kak.” Pergi meninggalkan setelah mendapat izin dariku.

 

***

 

Pulang sekolah aku mampir ke optik, sekadar berrtanya-tanya dulu sebelum membeli. Aku berencana untuk membelikan kacamata baru untuk papa, menggantikan yang kemarin patah. Kasihan juga beliau jadi sedikit terganggu kalau membaca.

Aku sudah mendapatkan yang sedikit mirip dengan punya papa. Ketika akan melakukan transaksi, terselip keraguan di hati. Apakah papa mau menerima dan suka? Karena sudah beberapa kali kejadian, papa protes dan komplen dengan semua pemberianku. Selalu salah di matanya. Aku jadi takut salah lagi, dan tak jadi membeli kacamatanya.

“Beli baju kok warnanya begini, emang nggak ada warna lain?” Aku gugup sehingga spontan menggeleng

“Kamu nggak tahu warna kesukaan, Papa?”Matanya tajam memandangku. Aku membeli karena kupikir papa belum punya kemeja warna merah. Ternyata beliau tak suka. Namun tersenyum sumringah kala Arinda memberikan kemeja warna biru.

Padahal atas saran Arinda, aku membelikan kemeja warna merah, rupanya dia tahu papa nggak suka warna tersebut.

Aku keluar optik dengan langkah gontai, sedikit memikirkan nasib mata papa yang kesulitan membaca. Namun aku ragu untuk membelikan, takut papa marah karena tidak sesuai dengan seleranya. Aku jadi galau, dan serba salah.

Walaupun sering kena marah, bukan berati aku tak perhatian. Aku  pun tak dendam sama papa. Sejelek dan sejahatnya papa, beliau tetap orangtuaku yang harus selalu dihormati. Kemarahannya salah satu bukti kasih sayangnya, walau terkadang aku tak terima. Mungkin begitulah cara dia menunjukan rasa sayangnya yang berbeda-beda terhadap semua anaknya.

Walau efek sering disalahkan dan dimarahi membuat aku tumbuh menjadi orang penakut dan tak percaya diri. Sedikit-sedikit takut salah, sedikit-sedikit takut dimarahi. Aku hanya berusaha menghindari setiap kesalahan dan juga omelan dari orang-orang. Namun akhirnya aku tumbuh menjadi jiwa yang tidak cengeng, mungkin itu yang papa inginkan dari sosok puteri sulungnya. Semoga suatu saat nanti aku bisa tumbuh percaya diri.

 

 

Kenapa Harus Iri?

 

 

Kenalkan, aku Olivia Yuniar, putri pertama dari pasangan bapak Joni  dan ibu Anida, teman-teman sekolah biasa memanggil Oliv. Saat ini aku duduk di kelas sebelas di salah satu SMA favorit di kota B.

Mayoritas teman-temanku dari kalangan orang berada, kalangan menegah ke atas. Sementara aku hanyalah anak dari seorang aparatur sipil negara golongan tiga.

Ada rasa minder saat aku bersekolah di SMA itu. Kalau bukan karena nilaiku yang dikategorikan lumayan, belum tentu aku bisa bersekolah di sana. Kawan-kawanku selain berprestasi, mereka juga golongan orang berada. Bisa dibayangkan bagaimana tidak bertambahnya minder aku.

Teman-teman sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan keadaan ekonomi keluargaku.  Namun tetap saja ada rasa tak percaya diri, minder dalam diriku.

***

 "Liv, jalan, yuk!" Firda salah satu teman yang paling dekat denganku mengajak jalan-jalan ke mol sepulang sekolah.

"Males ah. Gue capek mau langsung pulang," tolakku.

Bukan tanpa alasan aku menolak, sudah beberapa kali Firda mengajak. Namun berkahir dengan penolakan. Keadaan keuanganku tak bisa diajak kompromi untuk menerima ajakan jalan Firda. Kalau sekadar jalan saja tanpa beli ini dan itu aku pasti tak menolak, tapi hal itu mustahil.

Firda pasti mengajak makan di restoran, ya walaupun hanya restoran cepat saji. Namun sekali makan di tempat itu menguras uang jajanku selama satu minggu. Tak mungkin juga bila Firda harus mentraktirku terus menerus. Nanti dikira orang aku berteman dengannya karena memanfaatkan kekayaannya.

"Elo, mah begitu." Tangannya mengibas di depan wajahku. "Setiap diajak pasti nggak mau terus. Ayo lah, gue traktir deh." Menarik tangan kananku memaksa ikut.

"Lah katanya mau jalan, kok malah traktir segala. Yang bener mau jalan apa mau beli-beli?" candaku.

"Ya, sekalian laah," jawabnya mencubit lenganku.

"Aaw, sakit tahu." Kuusap lenganku yang dicubitnya.

"Lagian, jalan nggak makan kan bikin kelaparan. Mau yaa?" Rayunya lagi.

"Aduh, Fir, jadi enak nih, gue." Senyumku

Firda sumringah mendengar jawabanku.

"Ok, lets go." Menarik tanganku menuju parkiran mobil tempat supirnya yang sudah menanti.

"Enggak." Aku menggeleng, menolak ajakannya. Dua hari lalu dia baru saja mentraktirku. Aku tak mau dia terlalu sering mentraktirku. Khawatir aku ketergantungan.

Aku hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang ibu yang sederhana. Kehidupan keluargakua biasa-biasa saja, ekonomi keluarga kami hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tak pernah kami memikirkan hari libur hendak berlibur kemana. Berkumpul secara komplit dengan anggota keluarga saja sudah menjadi kebahagian hakiki bagiku.

Aku jarang pergi jalan-jalan ke mol bersama keluarga, karena kehidupan ekonomi yang tak berlebihan.  Jadilah kami kalau mau pergi ke mol masing-masing. Jalan bersama teman, berdua dengan adik atau ibu. Tak pernah kami pergi dengan formasi lengkap sekeluarga.

Sebenarnya aku iri dengan orang-orang yang bisa pergi menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Namun hendak dikata apa, beginilah keadaan kami. Aku pun tak pernah menuntut pada orang tua ingin ini dan itu. Bagiku bisa bersekolah di sekolah favorit saja sudah bahagia dan bersyukur.

 

Bersambung

 

user

07 December 2021 18:44 Asha Raya Nyesek kak rasanya. Lanjutkan, semangat kak... Jangan lupa mampir di karya saya berjudul " Insecure Twins." Terima kasih...

user

07 December 2021 19:45 Rani Iriani Safari Bacanya sedih, lanjuuut .. semangaaat

user

07 December 2021 19:49 Ini Ami Kak Ya Allah mantap sekali

user

08 December 2021 09:33 Yovanie Rinenza Kak Ami, terima kasih sudah mampir

user

08 December 2021 09:34 Yovanie Rinenza KAk Yulfi, Bunda Rani terima kasih untuk selalu setia menyemangati

user

08 December 2021 17:14 Asmarani Syafira Kok aku kurang ngeh ya baca ceritanya?

user

09 December 2021 19:42 Asmarani Syafira Great

Kenapa Harus Iri?

35 5

Aku  bukan gadis yang cantik, kepintaranku  biasa aja. Nilai tertinggi selama ini yang pernah kuraih di SMA hanya rangking lima besar di kelas. Di sekolah banyak yang usil padaku. Mulai dari merundungi keadaan fisikku sampai keadaan ekonomi. Aku memang pendek dan hitam, makanya banyak yang sering memanggilku si minion, karena ukuran tubuhku yang mini. Tinggiku Cuma serratus tiga puluh senti meter. Masih kalah tinggi dengan ukuran anak esde.

Aah biar saja, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku nggak mau ambil pusing dengan setiap perkataan teman-temanku. Aku sudah pusing dengan segala permasalahanku. Sekolah adalah tempat hiburanku yang bisa membuatku bahagia. Meski dengan cara yang terkadang menyakitiku, tapi aku tetap tersenyum. Itu menandakan bahwa mereka memang perhatian padaku.

Di sekolah aku memang banyak teman, ya hanya sekadar teman saja, bukan sahabat. Entah karena memang tulus ingin berteman denganku atau karena kasihan dengan kondisiku.

Teman yang paling dekat denganku hanya Firda. Walaupun dekat dengannya aku tak pernah curhat padanya. Aku tak terbiasa untuk menceritakan masalah pribadiku pada orang lain. Aku takut orang itu menyampaikan pada orang lain lagi. Aku malu.

Meski begitu banyak yang sering curhat padaku, sebisa mungkin aku memberikan solusi pada mereka. Walau tak dipungkiri, mereka hanya datang pada saat membutuhkanku saja. Setelahnya mereka seolah lupa padaku.

Aku lebih banyak bergaul dan akrab dengan teman lelaki di sekolah. Menurutku lebih asyik aja, nggak ada beban dengan kesibukan mempercantik diri biar diperhatikan lawan jenis. Bebas juga tanpa harus saling iri dengan segala yang kita punya. Selain itu sih, sebenarnya aku minder bergaul dengan teman perempuan yang cantik-cantik

Aku seperti mencari sosok lelaki yang hilang dalam diriku. Aku mencari pelindung, lelaki yang mampu menjagaku, karena Papa sering sibuk dengan pekerjaanya. Meski begitu aku sadar diri siapa aku, aku tak berani jatuh cinta pada mereka. Aku takut mereka akan menjauhiku bila tahu aku naksir salah satu dari mereka. Jadi biarlah seperti ini, aku lebih nyaman begini.

Tanpa kusadari keakrabanku dengan banyak teman lelaki membuat iri teman-teman perempuanku. Mereka iri karena tak bisa akrab dengan laki-laki keren idola di sekolah.

Terkadang aku pun heran, kok bisa aku akrab dengan idola para wanita itu? Sementara dengan teman perempuan aku biasa saja tak terlalu akrab. Kembali aku tak mau ambil pusing.

"Oliv." Suara yang familiar memanggil. Aku menoleh ke arah suara tersebut.

"Iya, Kak?" Ryan kakak kelasku, idola perempuan satu sekolah rupanya yang memanggilku.

"Ada apa?"

"Pulang bareng yuk!" ajaknya.

"Hah, bareng? Rumah kita kan beda arah. Di mana barengnya?" tanyaku menahan tawa.

"Aku anterin Kamu pulang, maksudnya."

Aku melihat sekeliling sekolah, beberapa pasang mata menatap tak suka, termasuk Firda.

"Enggak ach! Enakan naik angkot." Aku Segera keluar gerbang sekolah. Di sana sudah ada angkot yang ngetem menunggu para siswa pulang sekolah.

Tanpa menengok lagi, Aku langsung naik angkot. Sempat kulihat dari dalam angkot Ryan menatapku jengkel. Aku segera berpaling seolah tak melihatnya.

Suara ponselku berdering, nama Firda muncul di layar. Segera kugeser tombol hijau untuk menjawab panggilanya.

"Halo, Fir. Ada apa?"

[" Tadi kenapa nolak diantar pulang Ryan?"] Dapat kutangkap dari nada suaranya ada sedikit ejekan.

"Males, ah. Kenapa bukan Elo aja sih yang bareng Ryan?” tanyaku balik.

[“Lah, doi kan nggak ngajak gue,”] protesnya.

"Lo nelpon cuma mau tanya begitian doang? Lo cemburu?" tanyaku to the point.

Hening, tak ada jawaban dari seberang sana.

[Halo, Fir. Lo, masih hidup kan?"

["Gue dah mati, Oliv,"] jawabnya ketus.

"Syukur deh, tinggal dikubur doang," jawabku sekenanya sambil tertawa. Tawaku menjadi pusat perhatian penumpang angkot. Seketika aku berhenti tertawa, sepertinya mukaku merah bagai kepiting rebus menahan malu.

“Udah ya, ntar sambung lagi kalau udah sampe rumah.”

[“Ya, dadah, bye bye”]

Aku tak langsung pulang ke rumah, aku ingin menenangkan pikiran dengan jalan-jalan sebentar ke taman kota. Sebuah taman yang dibangun oleh pemerintah kota untuk keseimbangan tata ruang kota yang penuh dengan perumahan dan bangunan-bangunan toko. Lumayan lah untuk rekreasi gratis bagi kami, kaum ekonomi  yang uangnya tak seberapa ini.

Aku menyusuri taman yang tak terlalu ramai siang ini. Taman yang lumayan luas, ditumbuhi dengan aneka warna-warni bunga juga pohon-pohon ynag rindang yang berfungsi sebagai peneduh. Ada beberapa mainan juga yang diperuntukan bagi anak-anak.

 Sungguh, seandainya aku tak punya malu, ingin rasanya aku main perosotan itu bersama dengan beberapa anak yang sedang bermain disana. Bisa kubayangkan kebahagiannku saat meluncur bebas dari atas perosotan itu. Bahagia sekali anak-anak yang memainkan itu. Bebas lepas tanpa beban, tidak seperti orang dewasa yang pikirannya penuh dengan tanggung jawab tugas-tugas sekolah, tugas-tugas rumah tangga, rasa minder, persaingan dan sebagainya. Rasanya aku ingin kembali menjadi anak-anak lagi. Masa dimana papa dan mama penuh kasih sayang menyayangiku, jarang memarahi. Tidak seperti sekarang papa sibuk dengan pekerjaanya, mama sibuk dengan adik-adik. Sementara aku, dituntut untuk bisa mandiri, bertanggung jawab terhadap adik-adik.

Menyepi seperti ini memang asyik, tapi kalau keseringan rasanya hampa juga. Begini nasib jadi orang yang tak punya banyak teman.

“Eh, di sini, Lo rupanya. Katanya mau pulang.” Suara yang tak asing ditelingaku menegur dan menepuk bahu kananku saat sedang asyik memerhatikan anak-anak yang sedang asyik bermain perosotan.

Aku terkejut dengan tepukannya, dan menoleh. Firda, mau ngapain juga dia di taman ini, pikirku.

“Gara-gara, Elo telpon tadi, gue kelewatan buat turun. Ya udah, bablas aja ke sini sekalian.” Aku terpaksa berbohong, “Elo, sendiri ngapain di sini?” tanyaku balik.

Bosen di rumah,” jawabnya malas.

Alasan yang tak masuk di akalku. Setahuku Firda anak orang kaya. Ayahnya pengusaha retail dan property, ibunya seorang pebisnis juga. Apa orang kaya memang begitu ya, bosenan? Hatiku bertanya dan jaddi tergeletik dengan tingkahnya.

Gue, boleh ke rumah, Elo nggak?” tatapannya penuh harap.

Mau ngapain ke rumah gue? Lagian, Lo kenapa juga bisa bosen di rumah segede istana dengan fasilitas yang bis ague bilang ‘waw’? tanyaku heran.

“Fasilitas lengkap, kalau nggak ada penghuninya juga percuma.” Merengut.

“Boleh ya plis,” mohonnya.

Aku tak langsung menjawab keinginannya. Aku malu dengan kondisi rumahku. Luas kamar Firda bisa jadi seluas rumah orangtuaku, belum lagi ruangan-ruangan lain di rumah Firda. Bisa dibayangkan betapa luasnya rumah Firda.

“Boleh nggak? Lama amat sih jawabnya,” tanyanya lagi tak sabar.

Aku ragu-ragu untuk mengiyakan, walau akhirnya aku mengizinkan. Selama dalam mobil Firda menuju rumahku, ada perasaan tak tenang dan tak enak hati. Khawatir Firda tak nyaman selama bertamu nanti.

 

 

Bersambung 

user

08 December 2021 16:57 Asha Raya Semangat kakak... Ditunggu lanjutannya. Jangan lupa mampir di karya saya ya berjudul " Insecure Twins" terima kasih kakak...

user

08 December 2021 17:15 Asmarani Syafira Lanjuut. Semakin greget lagi di esok hari

user

08 December 2021 17:22 Rani Iriani Safari Ceritanya bikin penasaran, semangaat

user

08 December 2021 21:25 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak supportnya kakak semua

user

09 December 2021 11:26 Rani Iriani Safari Oliveeee, semangaaat ... sedeehana tapi keren. Lanjuuut

Kenapa Harus Iri? part 2

31 7

Difollow dulu kakak-kakak sayang, jangan lupa tinggalkan jejak manisnya di kolom komentar. selamat membaca

###

Lo, kenapa diem aja? Tenang selama, gue di rumah, lo nanti nggak bakalan nyusahin.”

“Bukan gitu, Fir. Rumah gue jelek banget, kecil lagi.” Aku menjelaskan alasan diamku, “rumah gue luasnya sekamar, Lo kali luasnya.”

“Udah nggak usah dibahas!” tukasnya.

Aku mengangguk setuju. Tak lama kami tiba di rumah mungil milik orangtuaku.

“Yuk, masuk, Fir! Aku mempersilakan.

Tanpa ragu Firda mengikuti ajakanku masuk ke halaman rumah. Dalam hati terbesit sedikit pertanyaan,’orang kaya kalau masuk rumah dibuka enggak ya sepatunya?’

“Mau di teras apa di dalam?”

“Bebas di mana aja,” jawabnya dengan tangan mengibas-ngibas di depan lehernya kemudian langsung duduk di teras.

“Panas ya? Tanyaku setelah tadi kutinggal sebentar untuk mengambil air minum. Tanpa banyak kata, Firda menandaskan air dalam gelas. Aku terperagah melihatnya. Sehaus itu, lo, Fir? tanyaku dalam hati

“Lagi minumnya?” Kasihan melihatnya kepanasan dan kehausan sepereti itu.

“Boleh, kalau ada air es ya.”

Dasar orang kaya, nggak kena ac sebentar aja udah gerah. Aku tertawa melihat tingkahnya.

“Siap nyonya!”

Ketika mengambilkan air yang kedua kali, aku kabarkan pada mama bahwa ada temanku Firda datang. Mama pun ikut ke teras bersamaku untuk menemui Firda.

“Fir, kenalin ini Mama, gue.” Firda tersenyum dan mencium tangan mama.

“Firda, Tante.” Firda memperkenalkan diri.

Mama mengangguk dan tersenyum lalu mengobrol sebentar menanyakan tempat tinggal Firda. Kemudian kemabali masuk untuk melanjutkan aktivitas.

“Ajak temennya makan, Kak!” ucap mama sebelum masak.

“Terima kasih, Tante,” jawab Firda sungkan.

Kami melanjutkan obrolan, kadang obrolan kami terhenti karena gangguan adikku yang super jahil. Hal tersebut membuat Firda betah dan nyaman

"Enak ya di sini, rame. Adek Lo, lucu. Siapa tadi namanya?” Firda berusaha mengingat nama Amar diperkenalan singkat tadi.

“Amar,” jawabku megingatkan.

“Oh, iya Amar.” Firda mengambil sepotong gorengan buatan mama,”nyokap, lo  juga pinter bikin makanan. Beda sama rumah gue." Ada kesedihan di raut wajahnya saat mengucapkan kalimat tersebut

"Kenapa sama rumah, Lo? Bukannya sama, rame juga."

"Rame sama pembokat gue. Nyokap gue super sibuk banget. Hampir nggak ada waktu buat anaknya, apalagi bokap gue." Firda mengeluh, menceritakan nasibnya.

"Gue, iri sama, lo. Di sini terasa hangat. Ada interaksi antar penghuni rumah. Seandainya rumah gue bisa seperti ini." Air mukanya berubah saat mengatakannya, ada mendung di matanya yang akan mengalirkan air di ujung netranya.

Seharusnya gue yang iri sama, lo. Lo punya segalanya, fasilitas rumah lengkap. Kurang apa lagi coba?"

"Kurang kasih sayang," jawabnya cepat, "udah ah, gue pulang dulu ya. Ada jadwal les soalnya." Beranjak dari duduknya dan meraih tas.

"Besok-besok, gue boleh main ke sini lagi ya!"

Aku menggangukan kepala dan tersenyum sebagai jawaban.

Firda tak lama main di rumahku. Dia sebenarnya betah dan kerasan, tapi dia ada jadwal les bimbingan belajar jadilah dia harus pamit.

Manusia selalu saja iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Dibilang kurang bersyukur, tidak juga. Hanya saja selalu ingin sama seperti apa yang orang punya.

Aku begegas masuk rumah setelah mengantar Firda naik mobilnya dan bayangannya hilang dari hadapanku. Tersenyum miris dengan apa yang kami miliki berdua. Firda punya banyak harta, namun merasa kurang kasih sayang. Sedangkan aku? Kurang harta tidak juga, hanya tidak berlebih saja harta yang kami punya. Soal kasih sayang? Ah, biar menjadi rahasiaku saja.

 

***

Gadis Sederhana

 

            Kedekatanku dengan teman-teman lelaki di sekolah menimbulkan kecemburuan. Semakin sedikitlah jadinya teman perrempuanku. Aku lebih memilih menghindar, karena rasa cemburu mereka berakibat sangat buruk padaku. Mereka senang mengejek aku, dan merundung secara verbal.

Padahal bukan aku yang mendekati kaum Adam itu, mereka dulu yang menghampiri. Awalnya lelaki-lelaki itu sering iseng dan mengejek diriku, tapi aku tak tinggal diam. Kubalas ejekan mereka, bukannya marah karena aku balas justru tertawa. Aku pun demikian tidak marah dengan ejekan mereka. Di situlah awal mula kami mulai akrab. Coba kalau giliran kaum Hawa yang mengejekku, ketika kubalas malah semakin marah. Akhirnya aku malas meladeni ejekan mereka.

Waktu istirahat pagi sekolah sering kuisi dengan sholat dhuha. Rupanya hal tersebut menjadi perhatian Ryan, kakak kelasku.

“Oliv, the minion, rajin banget ya sholat duhanya.” Dia menyapa ketika aku baru saja keluar dari mushola. Aku terheran dengan ucapannya. Apa mungkin dia selama ini sering memperhatikan aku saat istirahat?

“Ha?” Aku terpana mendengar ucapannnya.

“Hei, kok malah bengong?” tangannya mengibas di depan wajahku. Aku pun tersadar dan sedikit gelagapan.

“Kak Ryan, selama ini merhatiin saya?”

“Kalo iya, kenapa? Ada yang salah?”

“Saya jadi tersandung, Kak,” candaku. Kami berdua tertawa karena jawabanku.

“Dasar, lu ya.” Menjitak kepalaku

            Interaksi kami pagi itu menjadi tontonan beberapa pasang mata milik kaum Hawa. Aku yang menyadari hal tersebut segera mengusir Ryan agar menjauh dari hadapanku.

            “Dih ngusir,” protesnya.

            Aku pelototi dia agar segera menuruti perintahku, bukannya nurut malah ngajak ke kantin. Nih orang cari gara-gara aja ih.

Duluan aja, nanti nyusul,” jawabku. Aku sengaja menghindari tatapan tidak suka dari banyak mata milik perempuan-perempuan penggemar Ryan.

“Bareng aja,” ajaknya setengah memaksa.

“Mau naroh mukena dulu ke kelas,” ujarku beralasan.

“Beneran ya, nyusul ke kantin,” ancamnya. Lalu meninggalkan aku.

“Heem.” Mengangguk. ‘In syaa Allah’ ucapku pelan setelah Ryan menjauh, setengah tesenyum miris.

Aku melangkah menuju kelas. Bisa kurasakan tatapan tak suka mengarahku, tapi aku pura-pura tak tahu.

“Oliv!” suara Firda memanggil keras, saat aku hampir mencapai pintu kelas.

Kulihat dirinya setengah berlari  menghampiri tersenyum sumringah. Kubalas senyum indahnya.

“Kenapa, Fir?” tanyaku setelah posisi kami sudah berhadapan.

“Dari mushola, ya?” Firda tahu rutinitas pagiku, “rajin banget sih, lo.”

“Harus dong,” jawabku dengan mengangkat kedua alisku. “Lo, dari kantin?

“Heem,” jawabnya.

Kami beriringan masuk kelas dan duduk di kursi masing-masing

Lo,kenapa sih, gue lihat hampir nggak pernah jajan, ?”

“Kan, lo tahu, gue sholat.” Tak perlu dijelaskan secara rinci alasanku jarang ke kantin. Sholat duha bisa dikatakan pelarianku dari rasa iri melihat teman-teman yang bisa jajan, beli ini dan itu tanpa memikirkan sisa uang di kantong. Uangku hanya cukup untuk ongkos, kalaupun ada lebih biasanya kusimpan untuk membeli pulsa dan segala hal-hal tak terduga urusan sekolah.

“Istirahat siang juga, lo nggak ke kantin.” Muka cemberutnya terpasang.

“Siang jadwal, gue ke perpustakaan.” Untungnya bel berbunyi, sehingga kami tak perlu melanjutkan pembahasan tak penting ini.

‘Save by the bell,’ hatiku bersorak.

Istirahat kedua, siang itu Firda langsung menarik tanganku sebelum aku menghilang dari pandangan matanya.

 

Bersambung

mau ngapain ya, tarik-tarik tangannya si minion?

tunggu kelanjutannya besok ya

user

09 December 2021 17:34 Ini Ami Semangat kakak, keren nih. Jangan lupa mampir di Ami ????

user

09 December 2021 17:41 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak, kak Ami juga keren loooh

user

09 December 2021 19:30 Asha Raya Makin keren... Semangat kak. Jangan lupa mampir di karya saya "Insecure Twins." terima kasih kakak

user

09 December 2021 19:43 Asmarani Syafira Pasti ditungguin. Apalagi kalau upload sebelum Asyr. Jam 2

user

09 December 2021 20:54 Rani Iriani Safari Semangat luar biasa, keren ..lanjuut

user

09 December 2021 21:06 Yovanie Rinenza Terima kasih sudah mampir kak Ikriima, Kak Yulfi, bunda Rani. Lope sekebon buat kalian????????

user

10 March 2022 05:46 Galuh Duti Paramita Keren, sangat menginspirasi.

Gadis Sederhana.

93 4

Jangan lupa tombol tombol like, dan tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar. Semoga tulisan ini bisa menghibur pembaca semuanya. Selamat membaca!

###

Istirahat kedua, siang itu Firda langsung menarik tanganku sebelum aku menghilang dari pandangan matanya.

“Apa-apaan sih, Fir narik-narik segala. Sakit tahu tangan, gue.” Firda melepaskan cengkeramannya.

“Sorry, sorry, Liv.” Kedua tangannya ditangkup di depan dada memohon maaf. Sementara aku, mengusap-usap tangan bekas cengkeramannya.

“Mau ngapain, sih,” tanyaku sedikit kesal.

“Ikut, gue ke kantin ya?” mohonnya.

“Solat dulu!” jawabku sengit, mengingat sudah pukul 12.30 lewat, waktunya untuk solat zuhur.

“Oke, habis itu temenin, gue ke kantin ya?” pintanya dengan senyum meringis.

“Heem,” jawabku malas.

Selesai sholat, aku sudah siap-siap melarikan diri ke perrpustakaan. Namun apesnya ada Ryan di dekat pintu mushola sedang memakai sepatu. Aku sudah ingin berbalik badan menghindarinya, tapi terlambat.

“Oliv, the minion!” panggilnya.

“Eh, Kak Ryan,” jawabku gugup.

“Tadi katanya mau nyusul ke kantin, lu bohong ya.” ucapnya kesal.

“Ayo, Liv!” ajakan Firda menyelamatkanku dari tatapan kecewa Ryan.

“Gara-gara, dia nih tadi jadi nggak bisa nyusul ke kantin.” Aku menyalahkan Firda dan menjadikannya tumbal alasanku tak menyusul Ryan ke kantin.

“Apaan, lo main tunjuk  gue aja?” protes Firdaa tak terima disalahkan.

Merasa serba salah dan jadi tak enak hati, aku meringis di antara dua orang itu.

“Ayo, tunaikan janji, lo tadi!” Ajak Firda.

“Pada mau kemana?” tanya Ryan curiga.

Aku berharap Firda tak menjawab kalau kami akan ke kantin. Namun aku salah, Firda malah menjawabnya. Lemas lah aku jadinya.

“Kantin.”

“Bareng!”

Akhirnya kami bertiga beriringan menuju kantin dengan posisi aku di tengah. Aku merasa seperti anak yang sedang berjalan dengan kedua orang tuaku, ditambah lagi postur tinggi Ryan yang menurutku amat sangat menjulang. Benar-benar seperti seorang ayah bagiku.

Sepanjang perjalanan Ryan banyak mencelaku. Aku tak mau tinggal diam kubalas segala ejekan dia. Sementara Firda hanya diam saja. Sampai di kantin pun masih tak banyak kata.

"Fir, kenapa?" Tanyaku heran, kok tumben diem aja, biasanya kayak petasan cabe rawit." Ryan dan aku tergelak dengan ucapanku.

"Nggak kenapa-kenapa?" jawabnya sengit dengan wajah sedikit merengut.

"Kok dari tadi nggak banyak ngomong?" tanyaku curiga, "grogi ya deket cowok ganteng, idola satu sekolah?" candaku.

"Apaan, sih lo?" Melempariku rengan gumpalan tisu bekas.

"Kalo ngomong yang bener, Marimar." Kembali aku dihadiahi jitakan dari Ryan.

"Aduh!" teriakku, mengusap-usap kepala bekas jitakan Ryan.

Interaksiku dengan Ryan tak luput dari tatapan tak suka Firda. Aku jadi serba salah.

"Udah buruan mau pesen apa?" ucap Ryan.

Aku yang jarang datang ke kantin bingung mau pesan apa. Lebih repatnya, bingung bagaimana bayarnya. Kepikiran nanti pulang jalan kaki jika aku jajan.

“Apa, ya?" Aku berlagak bingung. Kepalaku menoleh ke sana kemari memperhatikan makanan dan minuman yang tersedia di kantin.  Akhirnya aku memilih minum teh tawar saja.

"Lo, cuma pesen minum teh tawar doang?" Firda terkejut dengan pesananku.

"Gue masih kenyang." Terpaksa berbohong lagi.

Meski keduanya tak percaya, tapi aku berhasil meyakinkan. Berkali-kali aku menelan air liur melihat Ryan dan Firda memasukan nasi ayam geprek pesanan mereka yang sangat menggoda.

"Buruan makannya! Gue, mau ke perpus, ntar keburu bel masuk," perintahku.

"Sekali-kali libur ke perpus nggak dosa kan?" tanya Firda.

Aku hanya tak tahan saja melihat kenikmatan kalian makan. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Kalian enggak tahu aja, aku iri lihat kalian makan enak.

"Nih, buat, lo." Ryan menyodorkan bungkusan plastik padaku disaksikan Firda ketika kami keluar kantin.

"Apa nih?

"Sama kayak yang gue makan tadi."

“Ayam geprek?" tanyaku tak percaya, mataku membulat melihatnya. Ingin menolak, tapi Ryan memaksaku untuk menerima.

“Dah terima aja, enggak baik tahu nolak rezeki.” Firda menimpali.

Aku masih ragu untuk menerima.

Lo sih pake ngomong kenyang segala, padahal kan gue yg bayar." Aku merasa terhina dengan ucapannya. Semiskin itu kah aku dipandangannya?

“Maaf, jangan, tersinggung!” menyadari ucapannya, Ryan meminta maaf, “biar adil aja, karena temen lo tadi gue bayarin.

Ryan langsung meninggalkan aku dan Firda, setelah aku meneriman bungkusannya. Padahal aku belum mengucapkan terima kasih.

Bukan baru sekali ini Ryan memberikan sesuatu padaku. Tanpa sungkan dia kerap memberikana di depan teman-temannya. Sebenarnya sih aku nggak masalah, tapi kalau keseringan begini jadi nggak enak juga. Akubtakut tiba-tiba ada yang datang menjambak rambuku karena cemburu.

Firda menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti.

"Makanya jangan sok gengsi dan jaim, pake nggak mau makan segala," omel Firda.

Aku hanya terdiam mendengar omelan Firda.

"Lumayan kan tuh tadi dibayarin." Firda menjawil keningku.

"Dasar, cewek gratisan,"sindirku.

Firda menjulurkan lidahnya.

“Jadi ke perpus, enggak?”

“Enggak. Udah mau bel masuk,” jawabku setengah kesal, “lo, sih maksa-maksa ke kantin.”

Pulang sekolah, kembali Firda mengajakku ke pusat pertokoan. Untuk kesekian kali aku menolak ajakannya.

“Ya udah, kalo lo enggak mau, kita ke taman aja. Sekalian lo makan tuh pemberian Ryan.”

Belum sempat menjawab ajakan Firda, panggilan dari orang yang membuat banyak patah hati para wanita mengalihkan pembicaraanku.

“Pulangnya, Abang anter yuuk!” ajaknya dengan gaya menggombal

“Abang, abang. Abang ojek?” sindirku.

“Nggak apa-apa deh, asal jadi abang ojek pribadinya, Neng Olip.” Gombalan recehnya mulai keluar.

“Enggak bisa, udah janji sama Firda mau pergi. Iya kan, Fir? Kita jadi pergi kan?” jawabku tegas.

“Nolak mulu, lu minion.” Menginjak gas motornya kencang, dan segera meninggalkan kami dengan kesal.

“Kalo Ryan tadi nggak ngajak lo pulang bareng, lo passti nggak mau kan terima ajakan gue ke taman?” tanyanya saat kami sudah berada di mobil Firda.

“Gue tadi mau jawab iya. Tapi keburu datang tuh mahluk.” Aku berbohong lagi, benar apa yang dikatakan sahabatku, aku akan menolak ajakannya. Namun demi menyenagkan hatinyaaku terima ajakannya, karena sudah terlalu sering aku menolak.

Gue mau ngomong dan nanya sesuatu sama, lo.” Suaranya memecah kebisuan dia antara kami selama perjalanan, dan wajahnya terlihat serius saat mengatakannya.

Perasaanku mulai tidak enak dengan perubahan wajahnya. Dalam hati menduga-duga hal apa yang akan dibicarakan Firda, sampai seserius itu.

“Ya, udah ngomong aja,” ucapku.

“Nanti aja deh, di taman.” Tertawa kecil.

“Bikin penasaran aja,lo. Kenapa nggak di sini aja, sama aja kan di taman atau di sini?” ucapku setengah tak sabar. Firda hanya tertawa kecil mendengar gerutuanku.

 

Bersambung

###

Kira-kira apa sih yang mau diomongin Firda? Sampai Oliv penasaran begitu. Tunggu kisah selanjutnya besok ya

user

10 December 2021 15:33 Asha Raya Asiap kakak.. Ditunggu kelanjutannya. Jangan lupa mampir di karya saya "Insecure Twins" terima kasih kak...

user

10 December 2021 17:58 Rani Iriani Safari Mantap, semangaaat ... lanjuuut

user

10 December 2021 18:08 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak ka Asha dan bunda Rani

user

10 December 2021 21:32 Asmarani Syafira Subhanallah hari ini likenya membludak. Bagaimanacresepnya Kak Vanie?

Perhatian Ryan

36 4

 

Kami sudah di taman, dan mencari tempat duduk yang nyaman. Firda menyuruhku untuk memakan pemberian Ryan.

Lo, mau ngomong apaan? Cepetan!” ucapku tak sabar.

“Sabar. Habisin dulu aja makanannya!”

Sahabatku ini, memang menguji kesabaranku. Di rumah papa dan adik-adikku, khususnya Arinda yang menguji kesabaran, di sini Firda. Hidupku dikelilingi orang-orang yang menuntutku untuk selalu sabar. Jika aku tak sabar berhadapn dengan Firda, mungkin aku tak punya teman. Gadis moody  satu-satunya yang mau main lebih akrab denganku.

Kalau bukan Firda yang mau berteman dengan si minion, gadis sederhana yang berukuran mini siapa lagi? Aku harus bersyukur, Firda gadis kaya yang tidak sombong mau berteman denganku.

“Sambil gue, makan kan bisa lo ngomong. Kuping gue bakal dengerin,” protesku.

Firda tak menuruti kata-kataku, dia dengan sabar menunggu aku menghabiskan makan siang yang kesorean. Tak lupa di menyodorkan minum untukku.

Dalam hati aku mengumpat akan kenikmatan ayam geprek ini, dan sedikit menyesal karena tadi menolak karena gengsi. Aku pun meminta Firda mengatakan hal yang ingin ditanyakan juga dibicarakan.

Lo, suka enggak sama, Ryan?” tanyanya langsung ke inti persoalan.

“Hah?” aku terperangah dengan pertanyaanya.

“Pertanyaan ,lo nggak ada yang lain? Gue, harus tahu diri kalau suka sama orang, Fir.”

“Berati, lo suka sama Ryan kan?” tanyanya meminta jawaban pasti.

“Normal, kan kalo semua cewek suka dia? Ryan ganteng, baik, pinter, tajir. Kurang apa lagi tuh cowok?” jawabku diplomastis.

“Nah, berati bener kan, lo juga suka sama Ryan?” tanyanya ulang. Membuat aku kehilangan akal untuk menjawab.

“Terserah, lo deh,” jawabku pasrah.

Munafik rasanya bila aku tak suka dengan Ryan, tapi aku cukup sadar diri siapa aku, dan siapa lelaki yang aku suka. Bisa berdekatan dengan Ryan aja luar biasa rasanya. Apalagi sampai akrab dengannya. Banyak perempuan yang ingin bisa sekadar berdekatan dengannya, tapi Ryan malah menjauh bila didekati.

“Kalau emang benar lo nggak naksir Ryan, tapi kayaknya dia suka deh sama, lo.” ujarnya meyakinkan.

Aku membelalakan mata pada Firda mendengar penuturannya. Mana mungkin Ryan mau sama gadis sederhana macam aku, yang kalau jalan bersisian lebih mirip bapak dan anak.

“Sok tahu, lo.” Aku menyanggah ucapan Firda.

Emang,lo enggak merasa?” tanyanya penuh selidik.

“Enggak, gue Cuma menganggap teman dan kakak aja,” jelasku.

Sejujurnya ada rasa sayang yang terselip, tapi aku cukup tahu diri siapa aku, siapa Ryan. Aku takut rasa nyaman yang selama ini kudapat akan hilang jika Ryan mengetahui perasaanku padanya. Hubungan kami tak lebih dari sebatas teman. Biarlah begini saja hubungan ini berjalan. Biarlah rasa nyaman ini aku rasakan lebih lama tanpa harus ada status lebih dari sekadar teman.

“Syukur deh, kalau begitu.” Menarik nafas lega dan menyandarkan punggungnya pada bangku taman.

“Syukur kenapa?” Aku menatapnya heran.

Gue, naksir Ryan dah lama. Sempat cemburu melihat keakraban kalian.”

“Kok, baru ngomong sekarang.” Aku memotong kalimatnya.

“Yang suka sama dia kan satu sekolah. Gue enggak mau kayak perempua-perempuan lain yang mencari perhatian Ryan dengan gaya yang nggak elegan begitu.”

“Terus hubungannya sama gue apa?”

“Tolong comblangin gue. Lo kan akrab sama dia.”

“Kenapa enggak pedekate sendiri aja sih?”

Gue nggak pede.”

Orang kaya dan secantik Firda bisa juga mersakan krisis percaya diri. Kirain hanya kaum miskin macam aku yang punya krisis itu.

Gue takut diserang penggemar garis keras Ryan,” pungkasnya

Aku tak berani menjanjikan, hanya sebatas senyuman yang bisa kuberikan sebagai jawaban.

***

  Perhatian Ryan

 

Tiba di rumah aku mendapat omelan papa karena terlambat pulang.

"Jam berapa ini? Kemana aja, kamu baru pulang jam segini?" Matanya melotot tajam ke arahku, sementara aku hanya menunduk tak berani membalas tatapannya.

"Oli, habis nganterin temen ke toko buku, Pa," jawabku jujur.

"Alasan saja kamu. Selalu begitu, seenaknya saja main, pulng semaunya sendiri enggak inget-inget waktu." Papa terlihat marah besar. Aku pasrah bila akan mendapat tamparan Salahku memang pulang saat hari sudah gelap. Papa pasti sangat mengawatirkan anak perempuannya yang belum pulang.

"Maaf, Pa. tadi habis kerjain tugas kelompok lanjut ke toko buku, untuk kelengkapan tugas sekolah." jawabku bohong dan gugup.

Terpaksa aku berbohong, berharap papa bisa memaklumi dan tidak marah besar.

Plak! Suara tangan papa menempel di pipiku sangat keras sekali. Aku merasakan panas yang luar biasa. Aku terus menunduk, ketiga adikku menatap iba, kecuali Arin. Mama pun tak bisa berbuat banyak untuk menolong anaknya. Papa tak bisa dibantah.

Aku merasakan ada tetesan mengalir dari ujung bibir, dan terasa perih. Ujung jemariku menyekanya, betapa terkejut aku begitu melihat cairan merah menpel di jati telunjuk.

Tamparan papa kali ini luar biasa. Jiwaku ingin berontak tak terima dengan perlakuan ini, rasanya ingin membalas semua perbuatan papa saat itu juga. Namun kulihat kembali adik-adikku, aku tak ingin mereka mencontoh kakaknya. Aku tak ingin mereka menjadi pembangkang karena melihatku melawan papa.

Aku anak sulung, harus kuat dan menjadi teladan bagi mereka. Kutahan air mata ini agar tidak menetes.

"Lihat, kelakuan kakak kalian ini!" ucapnya jepada ketiga adikku dengan jari menunjuk ke arahku. "Pulang sekolah keluyuran sampai malam begini, alasan kerja kelompok!"

Aku sudah tak tahan, mendengarnya. Aku segera berlari ke kamar dan menangis. Hal yang sangat aku lakukan bila dimarahi.

Ini sudah keterlaluan, kelewatan.! Aku tak terima. Hatiku menjerit, ingin menumpahkan segala keluh kesahku, tapi kemana dan pada siapa?

Aku terisak di bawah bantal. Tak kuhiraukan lelah dan lengketnya tubuhku yang sehatian beraktivitas.

Keasyikan mendengar curhatan Firda membuat kami tak ingat waktu. Obrolan kami berlanjut di kedai kopi, dan toko buku. Aku merasa lepas dan tak ada beban saat berjalan dengan Firda. Aku seakan lupa dengan kemarahan papa yang akan menghukumku bila terlambat pulang.

Aku tertidur dengan keadaan masih memakai seragam lengkap.

 

***

Bangun tidur, kepala terasa berat dan panas. Kupaksa xiriku bangun, aku harus sekolah.  Melangkah perlahan aku menuju kamar mandi. Kubasuh tubuhku yang sejsk semalam belum mandi. Guyuran airnya  terasa amat sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Aku mengigil.

Setelah sarapan bersama, masing-masing kami berangkat menggunakan ojek on line. Kecuali Amar yang diantar papa.

"Kak Ryan ngapain sih pagi-pagi ke sini?" Protesku karena tiba-tiba dia sudah berada di depanku, menghalangi langkahku masuk  kelas.

"Yaa mau ketemu, lo lagi," jawabnya santai seraya merapikan rambutnya yang sudah rapi.

"Iih, ngapain? Udah sana balik ke kelas!" usirku, tapi dia tak mengindahkan kata-kataku.

"Tumben, lu pake jaket. Sakit?" Tangannya ingin menyentuh keningku, beruntung aku segera menghindar sebelum tersentuh.

 

 

bersambung

user

11 December 2021 17:05 Asmarani Syafira All the best wishes for Ryan

user

11 December 2021 18:18 Asha Raya Mantap kak lanjutkan... Jangan lupa mampir "Insecure Twins" terima kasih...

user

11 December 2021 18:54 Rani Iriani Safari Ryaaan semangaaaat ....

user

11 December 2021 21:42 yenipalamia Lanjut kak. Samangat!

Perhatian Ryan (part 2)

85 5

 

"Tumben, lu pake jaket. Sakit?" Tangannya ingin menyentuh keningku, beruntung aku segera menghindar sebelum tersentuh.

“Dingin," jawabku singkat.

"Bohong. Itu juga kenapa pipi lu merah-merah gitu sama ujung bibir juga?" tangannya kembali hendak menyentuh ujung bibirku, tapi segera kutepis tangannya.

"Apaan sih mau megang-megang segala?" Protesku sengit.

Aku lupa menyamarkan luka bekas tamparan papa tadi malam, otakku berpikir cepat untuk memberi alasan yang masuk akal.

“Semalam kepeleset di dapur, kena ujung meja.” Dengan gugup aku memberi alasan berharap Ryan mau percaya. Walau awalnya dia tak percaya, tapi aku dapat meyakinkannya, dan akhirnya dia percaya juga.

“Udah sana balik ke kelas!" usirku. Untungnya dia menurut. Aku ingin tiduran sebentar di mejaku sebelum kelas dimulai.

Tatapan sinis memandang ke arahku dari teman-teman seangkatan Ryan dari depan kelas mereka. Kakak kelas yang satu ini menurutku selalu saja mencari gara-gara. Keselamatanku bisa terancam kalau sudah begini. Aku nggak mau lagi kejadian-kejadian yang lalu terulang lagi

 

***

Aku merasakan sesuatu yang dingin di dahiku, kubuka mata. Betapa terkejutnya aku ketika melihat kadaan sekeliling. Aku bukan berada di ruangan kelas, saat ini terbaring di ruang Kesehatan sekolah. Siapa yang membawa ke sini? Seingatku tadi hanya tiduran di atas meja saja sambil menunggu bel masuk masuk.

Kulihat waktu sudah menunjukan pukul 10.30 pada jam dinding berbentuk lingkaran yang menempel di depan kasur tempatku berbaring. Waktunya istirahat pertama, seharusnya aku solat duha , tapi kondisiku tak memungkinkan. Kepalaku terasa berat untuk diangkat.

“Udah sadar, Liv?” suara sahabatku memecah lamunanku. Aku hanya menjawab dengan seyuman.

“Siapa yang bawa, gue ke sini, Fir?” tanyaku lirih.

“Temen-temen sekelas. Tadi pas lagi belajar lo dibangunin nggak bangun-bangun, tapi malah ngigo.” Firda melepaskan kompres dan menempelkan punggung tangannya di keningku.

Aku terkejut mendengar penuturannnya. Benar kah aku mengiggau, separah itu kah sakitku?

Gue, ngigo, Fir? tanyaku tak percaya, “serius gue ngigo, lo enggak bohong kan?” Aku mengulang peertanyaanku untuk meyakinkan diri.

“Serius, beneran,” jawab Firda meyakinkan.

Aku termenung sedih, kejadian saat ditampar semalam terulang dalam kepalaku. Untuk pertama kalinya aku merasa marah, kesal dan tak terima dengan perlakuan papa. Apa itu yang membuat aku sakit? Hatiku berusaha mencari jawaban.

“Tadi pagi sarapan, enggak?” suara Ryan memecah lamunanku, kehadirannya yang tiba-tiba membuat aku mengernyitkan dahi. Rupanya dia menyusul ke sini.

“Kalau tahu sakit, harusnya tadi nggak usah berangkat,” ujarnya lagi dengan sedikit kesal.

Aku hanya diam, tubuhku terasa lemas meski hanya untuk menjawab iya. Ada rasa heran akan sikap Ryan yang tidak seperti biasanya.

Lo, tadi sarapan nggak, Liv sebelum berangkat?” tanya Firda mengulangi pertanyaan Ryan.

“Sarapan.” Aku mengangguk.

“Kalian, istirahat ke kantin aja, dulu. Gue nggak apa-apa kok. Gue mau tiduran lagi, kepala masih terasa pusing.” Aku memijit-mijit pelan keningku.

Mereka memaklumi kondisiku, dan bersiap meninggalkanku.

“Hubungin gue ya kalau perlu apa-apa!” ucap Firda sebelum meninggalkan ruang kesehatan.

“Ntar pulangnya, gue anter!” sambung Ryan.

Aku mengangguk menanggapi ucapan mereka dan tersenyum melihat mereka beriringan keluar meninggalkanku. Langkah awal untuk mendekatkan Firda pada Ryan mulai berjalan. Semoga aja mereka cocok dan bisa jadian. Aku pun mulai memejamkan mata kembali.

 

***

Aku pulang lebih awal menggunakan ojek online, mengabaikan janji pada Ryan yang akan mengantar pulang.  Kepulanganku yang lebih awal membuat mama heran dan panik begitu mengetahui aku sakit

“Kakak, istirahat dulu ya, Mama bikinin teh manis dulu!” memapahku berbaring di kamar.

“Iya, Ma. Terima kasih ya, Ma, maaf Oli ya bikin repot Mama,” ucapku sedih.

Mama tersenyum kemudian mengecup kening dan mengusap kepalaku sebelum meninggalkan kamar. Tak lama mama datang dengan segelas besar teh panas, lalu memintaku meminumnya. Dengan dibantu mama menggunakan sendok aku menyeruput sedikit demi sedikit. Keadaanku berangsur-angsur mulai lebih baik, peluh membanjiri tubuhku. Mama dengan sabar menghapus keringat di kening dan leherku.

Mama satu-satunya orang yang memahamiku di rumah ini. Meski aku jarang bertukar cerita, namun aku sedikit mengetahui kegundahan hati beliau. Tak tega bila harus ditambah dengan segala permasalahanku. Itulah mengapa aku jarang bercerita dan terbuka padanya. Aku tak ingin menambah beban pikirannya. Perlakuan papa padaku pun juga membuat sedih di hati mama. Aku tak menampakan kesedihan di depannya, khawatir mama menjadi kepikiran.

Aku tertidur setelah meminum obat yang disodorkan mama.

“Kak, bangun! Ada Firda di depan.” Suara mama membangunkan istirhatku.

“Suruh masuk aja, Ma! Oli nggak kuat bangun,” pintaku.

Tak lama firda masuk dengan membawa buah tangan aneka buah dan roti.

“Hai, sudah baikan?” tanyanya langsung begitu masuk kamar.

“Lumayan,” jawabku.

“Ada Ryan juga di depan.” Tersenyum.

“Cie, berduaan nih datengnya. Gue keluar deh kalau begitu.” Aku perlahan beranjak dari kasur dibantu Firda yang kasian melihatku kepayahan untuk berdiri.

Sebelum keluar kamar, kutahan tangan Firda yang membuatnya sedikit heran.

“Kenapa?”

Gue, mau nanya.”

“Apa?”

“Tadi, di kelas, gue ngiggo apaan?” tanyaku cemas. Aku khawatir bila menginggau tadi keluar al-hal yang kurahasiakan selama ini dan bisa saja terkuak saat aku mengiggau.

“Tadi, lo ngigo minta ampun-ampun begitu sambil nangis sesegukan. Emang mimpi apaan sih sampai begitu?” tanya Firda curiga.

“Nggak tahu, nggak inget. Yuk ah keluar, kasian Ryan sendirian di depan!” ucapku mengalihkan.

Rupanya mama menemani Ryan dan menghentikan perbincangan dengan mereka ketika melihatku keluar menemuinya. Mama beranjak dan pamit ingin melanjutkan pekerjaannya.

“Udah mendingan?” tanyanya khawatir.

“Udah.” Aku tersenyum

“Kok tadi main pulang aja sih, nggak ngabarin. Kan bisa gue nganter,” ucapnya setengah kesal.

“Kasian, lo kan masih belajar tadi. Lagian juga gue udah enggak kenapa-kenapa kok.” Kulihat raut kekecewaan di wajah Ryan.

Hening sekejap menyelimuti kami bertiga, kehadiran mama yang membawakan minuman dan camilan buatannya memecahkan kebisuan diantara kami. Setelah mempersilakan tamuku untuk menikmati hidangan, mama kembali masuk.

“Kalian berdua datang bareng?” tanyaku.

Firdaa mengangguk, “tadi gue yang ajak Kak Ryan buat nengokin lo.”

“Boncengan berdua?” tanyaku menahan senyum.

Firda terlihat tersipu-sipu, sementara Ryan hanya diam saja. Selanjutnya kami mengobrol santai tentang banyak hal. Hingga akhirnya waktu bagi mereka pamitan undur diri.

“Terima kasih, ya sudah datang,” ucapku tulus

Firda memeluku sebelum naik ke motor Ryan, “banyak makan, biar kuat menghadapi hidup,” candanya.

“Betul tuh,” timpal Ryan.

Aku hanya tertawa menanggapi gurauan sahabatku.

“Besok-besok gue jemput aja ke sekolahnya!”

“Aku dan Firda membelalakan mata dan saling tatap tak percaya dengan ucapan Ryan barusan.

“Kabarin gue!”

Belum sempat kujawab, motor Ryan sudah melaju kencang meninggalkan rumahku.

 

Bersambung

user

12 December 2021 16:12 Rani Iriani Safari Ryaaan, semangaat ... lanjut kak

user

12 December 2021 21:03 Asmarani Syafira Masya Allah like-nya Dhoom Machale

user

12 December 2021 21:03 Asmarani Syafira Masya Allah like-nya Dhoom Machale

user

12 December 2021 22:43 Asha Raya Semangat kak... Banyak makan biar kuat menghadapi kenyataan kak kalau slogan saya hihi... Lanjutkan kak... Jangan lupa mampir ke part terbaru "Insecure Twins" terima kasih...

user

12 December 2021 23:58 yenipalamia Semangat kak Vanie. Mampir ke ceritaku juga iya. Menembus Kabut ????

Cemburu

30 2

 

Cemburu

 

Setelah istirahat dua hari dan benar-benar merasa pulih, aku sudah mulai masuk sekolah. Suara klakson motor terdengar di depan rumahku, kupikir ojek yang datang. Rupanya Ryan benar-benar menepati ucapannya menjemputku.

Aku terkejut melihatnya, sementara dirinya hanya tersenyum. Ingin menolak, kasihan padanya. Arinda yang melihat Ryan menjadi terpesona dengan ketampanannya.

“Pacar lo ya?” tanyanya ketus.

“Bukan,” jawabku tak kalah ketus.

Gue bilangin, Papa ya, lo pacaran! Salamin ya, Li!” adikku yang satu itu memang tak ada sopan santunnya, selalu memanggil namaku langsung tanpa embel-embel ‘kakak.’ Mau ngadu ke papa tapi nitip salam.

Ryan menyodorkan helem dan memakaikan padaku tanpa sungkan. Selama di perjalanan aku sedikit was-was bila sudah sampai sekolah. Pasti akan terjadi kehebohan melihat kedatanganku si minion dengan Ryan idola para gadis satu sekolah.

“Jangan ngebut-ngebut ya!” pintaku memohon pada Ryan.

“Kenapa? Takut jatoh? Peluk gue aja yang kenceng biar nggak jatoh.” tertawa menggoda.

Tanpa ragu aku mencubit pinggangnya setelah duduk di jok penumpang.

“Aduh,” jeritnya.

“Kalo ngomong yang bener, Alfredo!”

Benar saja begitu sampai di sekolah, kelebohan terjadi. Decakan dan tatapan tak suka tertuju padaku. Motor Ryan juga berpapasan dengan mobil Firda ketika akan memasuki gerbang.

Perasaan tak enak langsung menghampiri.

"Terima kasih banyak ya, Kak." Menyodorkan helem padanya, "besok enggak usah dijemput lagi. Enggak enak sama yang lain."

"Enggak enak sama siapa?" Menerima helem yang kusodorkan.

"Sama temen-temen perempuan kakak, khususnya penggemar garis keras Kakak," ucapku menjelaskan.

"Biarin aja, enggak usah dipikirin."

"Gue, duluan ya, Kak." Aku berlari meninggalkan Ryan dan menghampiri Firda 6ang tatapannya tak lepas ke arah Ryan.

Aku harus menjelaskan pada Firda, biar enggak salah faham.

"Jadi juga dijemput Ryan?" ucapnya setelah aku sudah mendekat.

”Heum." Menganggukan kepala.

Kami berbincang sepanjang jalan menuju kelas sampai duduk di kursi masing-masing

"Dia, tiba-tiba datang. Padahal semalam gue dah kirim pesen nggak usah dijemput. Eeh dia malah nekat datang." Aku menjelaskan berharap Firda tidak marah.

"Eh tapi, misi lo buat comblangin gue gimana? Jadi kan?" tanyanya memastikan.

"Jadi dong." jawabku mantap.

“Awas aja ya kalau tiba-tiba sampai kejadian temen makan temen, malah lo yang jadian sama Ryan!" ancamnya.

"Enggaklah." ucapku berjanji padanya.

"Gue bakal diemin lo dan enggak bakal kenal lagi selamanya sama lo!"

Seram sekali ancamannya, aku jadi meringis dibuatnya.

Seperti biasa istirahat pertama selalu kuisi dengan sholat duha. Ternyata ada Ryan juga di mushola. Dia telah menyelesaikan ritualnya ketika aku masuk mushola. Selesai aku solat kulihat Ryan masih duduk di atas ubin teras mushola. Kupikir dia akan segera pergi setelah selesai solat, ternyata dia masih duduk di dekat pintu.

"Kirsin udah pergi dari tadi." Suaraku membuatnya memutar tubuh untuk melihatku dengan tangan kanan menggenggam ponsel.

"Nungguin, lu! Panjang amat doanya ya," ucapnya menyindir. "Gue capek tahu nungguin."

"Yang minta ditungguin siapa?" Protesku tak terima disalahkan. "Sekarang rajin ya duhanya." Mengalihkan pembicaraan.

"Alhamdulillah, karena sering merhatiin lu. Temen-temen gue juga jadi ketularan soleh sekarang. Terima kasih ya."

Aku terperangah mendengar penuturannya. Selama ini dia merhatiin aku?

"Kakak, selama ini merhatiin, gue?"

"Jangan geer, lu. Gue cuma heran aja, ngapain cewek mini kayak lu gini kalo isitirahat bukan ke kantin malah ke mushola." Menjelaskan.

Aku tergelak mendengar ucapannya, tetap aja selalu ada ejekan di tengah-tengah kalimatnya. Seperti itulah teman-teman di sekolahku, bicara apa aja pasti ada body shamming di tengahnya.

"Alhamdulillah kalau ketularan soleh," ucapku.

"Gue mau traktir, lu ke kantin. Yuuk!" ajaknya

"Udah mau bel masuk, ntar lagi enak-enak makan tahu-tahu bel masuk." Menggeleng menolak ajakannya.

"Lu, selalu aja ada alasan."

"Dih, marah. Ntar gantengnya hilang tahu kalo ngambek begitu. Ga ada yang naksir lagi loh," candaku dan tertawa.

Aku tak mungkin menerima ajakannya Sementara di sudut lapangan sempat tertangkap mataku, bila Firda sedang menatap interaksi kami dengan tatapan cemburu. Aku sudah berjanji padanya untuk mendekatkannya dengan Ryan.

Tanpa kusadari Firda sudah ada di belakangku.

"Liv, masih di sini? Gue tungguin di kelas enggak dateng-dateng." Dapatkulihat dari rautnyq senyum yang dipaksakan.

"Sori, Fir kalo kelamaan nunggu," ucapku bersalah.  Seketika terbersit ide untuk.menjalankan misiku.

"Yuk, ke kantin," ajakku.

"Tadi katanya nggak mau." Protes Ryan.

"Sekarang mau," jawabnya tertawa kecil.

"Kalian duluan ya, aku ambil dompet dulu di kelas,"alasanku.

Untungnya mereka berdua percaya. Sesuai rencanaku, aku tak menyusul mereka ke kantin. Saat bel tanda istirahat usai, kulihat Firda masuk kelas dengan sumringah. Aku tahu arti senyumnya itu.

“Terima kasih ya,” ucapnya setengah berbisik setelah duduk di kursinya. Aku hanya tersenyum dan mengacungkan jempol.

 

***

            Sudah tiga bulan ini hubungan Firda dengan Ryan kian hari semakin akrab, aku senang melihatnya. Aku kerap menolak ajakan mereka, karena hanya ingin memberi ruang untuk mereka lebih dekat saja. Walau akhirnya aku harus tersisih, tak pernah jalan bersama lagi dengan Firda. Namun aku lega, setidaknya berkurang satu masalah di hidupku. Pengemar garis keras Ryan tak lagi sinis dan meremehkan dalam memandangku. Aku mulai tenang berinteraksi dengan teman-teman yang lain.

            Firda makin lengket dengan Ryan, tapi semakin jauh denganku. Aku tak boleh egois untuk kebahagiaan sahabatku. Bukankah dia sudah lama menginginkan Ryan, akau hanya memberi jalan saja bagi mereka.

            Namun bagaimana dengan Ryan ya? Dia tak berkabar sama sekali denganku sejak dekat dengan Firda. Apa mungkin dia juga menikmati saat-saat berduanya. Aku ingin menanyakan pada Ryan, tapi sungkan. Sejak mereka semakin dekat, Firda jarang berkabar meski hanya mengirim pesan saja.

[gue dah jadian sama Ryan] pesan dari Firda malam ini mengabarkan kabar bahagianya. Aku senang mendengarnya.

[Selamat ya. Kapan dia nembaknya?] pesan balasan kukirimkan.

[tadi siang, pulang sekolah]

[akhirnya, harapan lo terkabul buat jadi pacar Ryan]

[iya. Udah ya, gue mau telpon Ryan dulu. Bye, sampe ketemu besok]

Aku hanya membalas dengan symbol jempol saja. Ada rasa yang sulit kucerna saat mendengar kabar Firda dan Ryan telah resmi pacaran. Seperti takut kehilangan Ryan. Apa aku cemburu?

Tak lama berkirim pesan dengan Firda, Arin mengabarkan ada teman lelaki yang mencariku. Aku panik, takut papa marah lagi. Beberapa bulan ini aku sudah merasakan ketenangan. Jangan karena tamu lelaki, aku mendapat masalah kembali.

“Cowok, yang waktu itu jemput,” ucap Arin saat kutanya siapa yang datang.

Ryan? Mau ngapain malam-malam datang? Apa dia mau ngasih kabar bahagia ini?

'Mau ngapain sih tuh orang? cari masalah aja deh' sungutku berjalan ke luar untuk menemuinya

 

Bersambung.

 

 

 

 

user

13 December 2021 18:09 Asmarani Syafira Lanjut Kak Vanie. Monday is a busy day

user

13 December 2021 19:22 Rani Iriani Safari Ayo Ryaaan, semangaat ...

Kecewa

32 3

Kecewa

 

Aku keluar menemuinya, dia sedang berbicara di telpon membelakangiku. Mungkin Firda yang telpon. Ryan memutuskan perbincangannya ketika berbalik badan dan melihatku berdiri memerhatikannya. Kulihat wajahnya sedikit kusut. Ada apa dengannya? Bukan kah harusnya bahagia dengan hubungan yang baru diresmikan.

“Hai,” ucapnya dengan senyum yang telah lama tak kutemui dan kurindu, karena waktunya sekarang lebih sering Bersama Firda.

“Apa kabar?” tanyanya kikuk.

Baik,” jawabku.

Aku mempersilakan duduk, dan kami bebincang santai tanpa membahas soal hubungan dirinya dengan Firda yang sudah resmi berpacaran. Terselip sedikit rasa rindu dengan momen seperti ini saat kami di sekolah.

Aku tak berani dekat dengan Ryan lagi, Firda cemburu bila melihatku berbincang dengan Ryan.

Ditengah perbincangan aku mengucapkan selamat atas hubungannya.

“Selamat ya, udah jadian sama Firda.” Ryan membuang napas kasar ketika mendengarnya.

“Terima kasih,”jawabnya singkat dengan senyum yang dipaksa.

Rupanya dia habis mengantar Firda pulang dan singgah ke rumahku, itupun tak lama. Kemudian pamit pulang. Aku merasa ada hal yang disembunyikan.

“Kak, kalau ada masalah ngomong aja! Nggak usah dipendam sendiri begitu.”

Ryan hanya diam tak menanggapi, lalu masuk ke mobilnya. Sempat kunasihati sedikit sebelum mobilnya bergerak.

“Ajak diskusi Firda bila ada masalah apa-apa.”

Gue,kecewa!” ucapnya singkat sebelum kakinya menginjak gas.

Kemudian dia meninggalkanku sendiri di depan rumah dengan perasaan bingung. ‘Dia kecewa karena apa dan dengan siapa?’  

Ada ruang hampa setelah kepulangannya. Sementara aku masuk rumah dengan perasaan tak menentu, rasa takut menyelimuti kembali. Takut akan amarah papa yang berimbas sakit di hatiku. Benar saja, begitu masuk rumah, seluruh pasang mata menatap tajam kepadaku.

“Siapa dia?” tanya papa dingin.

“Kakak kelas, Oli, Pa.” jawabku takut-takut.

“Pacar kali,”timpal Arin.

“Bener itu?” tanya papa

Bukan, Pa. dia sudah punya pacar. Oli Cuma temenan aja.” Untungnya papa percaya dan tak banyak tanya lagi.

Aku meninggalkan ruangan tempat berkumpulnya keluargaku dengan persaan lega. Kecuali Arin, yang sepertinya tak senang aku didatangi teman lelaki.

 

***

Di sekolah Firda sekarang berubah semenjak pacarana dengan Ryan. Dua orang itu menurutku sekarang berubah. Mereka seakan tak mengenal diriku, padahal Firda semeja denganku.

“Fir, gue boleh ngomong nggak sebentar?” tanyaku saat istirahat kedua. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mumpung aku sempat.

Ngomong apa? Buruan! Cowok gue dah nungguin tuh!” ucapnya tak ramah. Aku seperti mengenal Firda di awal-awal masuk sekolah dulu. Firda dengan sikap ketus dan congkaknya.

Aku tak mau membuang waktu lagi, kuungkapkan perasaan yang selama ini mengganjal.

“Kenapa lo, sekarrang jadi seperti nggak kenal gue gitu? Salah gue apa sama, lo?”

“Salah, lo? Banyak!” membentakku, lalu berdiri meninggalkanku.

“Apa aja? Sebutin! Biar gue nggak mengulang lagi.” Langkah kakiku yang pendek tak mampu menyeimbangi langkahnya yang Panjang, sehingga membuat aku jatuh.

“Aduh!” Aku mengaduh menahan sakit pada lututku, Firda hanya menyeringai melihatku jatuh tanpa menolong. Teman-teman yang lain sebagian besar menertawakanku, tapi tak sedikit juga yang membantuku. Setelah ditolong dan dibawa ke ruang Kesehatan, Lukaku diobati. Aku masih merenungi ucapan Firda tadi.

“Emang bener ya?” pertanyaan Dina petugas piket kesehatan dari kelas sebelahku memecah lamunan.

“Bener apanya?” tanyaku penasaran.

Lo deket sama Firda, karena dia kaya. Terus lo ngedeketin dia biar bisa ditraktir.”

Aku menggeleng tak percaya dengan pendengaranku.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Satu sekolah kan rame bahas gituan. Emang, lo nggak denger desas-desusnya?” tanya Dina.

“Enggak. Dari kapan beritanya?” tanyaku penasaran.

Karena jarang berkumpul , dan seringnya aku menjadi bahan omongan, sehingga membuat anggapanku itu sebagai hal lumrah. Sebenarnya aku tak mau ambil pusing, tapi untuk masalah ini aku tak bisa diam begitu saja. Harus aku klarifikasi semuanya.

“Udah dua bulanan deh, kira-kira.” Dina tampak berpikir sebelum menjawab.

Otakku berpikir keras, dua bulan adalah waktu berpacaran Firda dan Ryan. Apa selama masa itu, Firda memfitnahku atau semenjak pendekatan?

“Terus, lo percaya, Din?”

Dina hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.

Apa Ryan termakan fitnah Firda juga. Pantas saja dia beerubah sejak mulai pendekatan lima bulan lalu. Firda aku enggak sangka tega sekali fitnah yang diucapkannya. Betapa tertipunya aku.

Tak terasa air mata menetes, kecewa atas sikap teman yang kukira sahabat, nyatanya dia menikam dari belakang. Pantas saja setelah naik kelas sebelas, mendadak Firda baik dan mulai mendekatiku. Ternyata ada niat trselubung, mengapa aku tak menyadarinya.

 

***

 

 “Oliv, kita sekelas loh. Lo duduk bareng, gue ya?” aku terheran dengan sikapnya yang mendadak baik.

Dengan aku menjawab iya, tak percaya dengan ucapannya. Seperti mimpi, perempuan yang sering mengejek kekuranganku, tapi mau semeja denganku.

“yang dulu-dulu, nggak usah diinget ya. Gue minta maaf sudah menghina lo. Gue juga dah bilang ke teme-temen yang lain untuk nggak menghina lagi”

Aku senang dengan permintaan maafnya yang tulus. Aku senang akhirnya mulai banyak yang mau bermain dengannku meski tak terlalu akrab.

sejak saat itu Firda benar-benar berubah, tak pernah menghinaku lagi. Pun demikian juga teman-teman yang lain. Firda selalu hadir saat aku sedang berrbincang dengan Ryan

 

***

Rasa kecewaku tak terbendung. Aku biasa tersakiti, namun rasa kecewa ini sulit terobati.

Apa mungkin ini yang dimaksud Ryan beberapa bulan lalu ketika datng ke rumah setelah jadian? ungkapan kecewa yang sampai saat ini aku belum menemukan jawabannya.

Siang ini sepulang sekolah, sebelum keluar kelas aku menghubungi Ryan

[Kak, apa kabar?] Kukirimi pesan basa-basi padanya.

Kuihat centang biru dua pada pesanku. Dia sudah membacanya, hanya membaca dan tak ada balasan setelah lima menit aku menunggu balasan. Tak sabar menunggu, kukirim kembali pesan kedua.

[Ada yang mau gue omongin, Kak. Ada waktu kapan?]

Pesanku tak dibaca, tapi tak berapa lama panggilan telpon masuk dengan nama Ryan menghubingiku. Senyumku merekah melihat namanya, sudah lama kami tak berkirim pesan dan saling berbincang di telpon.

"Halo, Kak. Apa kabar?" tanyaku dengan tak bisa menutupi rasa gembira.

["Baik, lu mau ngomongin apa?"]

"Bisa ketemu enggak?"

["Ngomong di telpon aja sih!"]

Khawatir ada yg nenguping, aku menolak permintaannya. Sambil berjalan keluar kelas aku jelaskan penolakanku

"Nggak enak ngomong di sekolah. Kita bisa ketemua?"

Betapa terkejutnya aku, begitu keluar kelas Firda sudah menunggu dan menghadangku di samping pintu. Masih dengan ponsel di telingaku, aku terperangah melihatnya. Sementara di seberang sana Ryan berteriak halo dan memanggil namaku. Segera kuputuskan pembbicaraanku.

“Fir, lo, belum balik?” ujarku berrusaha tenang.

 Firda menatap tajam dan tersenyum sinis dengan kedua tangan bersedekap di dada.

 

Bersambung 

 

dukung author ya dengan komentar terbaik, biar makin semangat nulisnya. jangan lupa juga likenya! terima kasih

user

14 December 2021 21:21 Rhea Ilham N Lanjut, Thor. Semangat! ????

user

14 December 2021 21:33 Rani Iriani Safari Ryaaaanmenghubungiku, ntat ta lanjuuut ya. Semangaaat

user

14 December 2021 23:16 Asha Raya Selalu kakak..semangat...lanjutkan...jangan lupa singgah di "Insecure Twins" terima kasih...

Kecewa (part2)

30 4

“Fir, lo, belum balik?” ujarku berrusaha tenang.

 Firda menatap tajam dan tersenyum sinis dengan kedua tangan bersedekap di dada.

”Lo, habis janjian sama Ryan? Lo, mau coba ngerebut cowok gue?” telunjuknya menyentuh dan sedikit mendorong dadaku.

“Bu, bukan begitu, Fir! Ada hal yang mau gue lurusin.” Dengan gugup aku mecoba menjelaskan, tapi Firda tak mau tahu.

“Halah, nggak usah banyak alasan! Nggak mungkin, lo nggak naksir cowok seganteng Ryan! Tahu diri aja ya, siapa lo, siapa Ryan. Udah miskin, pendek pula mau coba-coba ngedeketin idola satu sekolahan,” ucapnya sarkas.

Aku tak mengira, Firda akan berrkata seperti itu. Dia yang kuanggap sahabat, pada akhirnya akan menghinaku juga setelah lama tak mengeluarkan kata-kata itu. Jika dulu aku tak mengambil hati, namun saat ini hatiku bagai teriris sembilu.

Bibirku sulit berkata-kata untuk membalas semua perkataanya.

“Sayang!” suara Ryan menghentikan hinaan Firda.

“Aku tungguin di parkiran, malah masih disini. Yuk pulang!” menggandeng tangan Firda.

“Awas, lo ya!” Ancamnya pelan sebelum meninggalkanku.

Ryan segera membawa Firda menjauhiku tanpa sedikitpun memandangku. Dengan tatapan nanar aku melihat mereka bergandegan mesra meninggalkanku.

 

***

Curahan hati Ryan.

 

Minion, julukan buat adik kelasku yang tubuhnya super mungil. Ukuran tubuhnya yang mencolok menarik perhatian. Berbeda dengan para perempuan di sekolah yang selalu berusaha mencari perhatian, si minion tampak tak acuh. Tak pernah sekalipun kulihat dia mencoba cari-cari perhatian. Aku jadi semakin penasaran sama gadis itu. Setahun aku perhatikan dia tanpa berani mendekat. Sering terlihat saat istirahat pagi, selalu pergi ke mushola. Rupanya dia solat duha. Serajin itu si minion ternyata.

Sejak kelas dua belas ini, kucoba dekati dan mengenal dirinya. Aku ikutin jejaknya untuk solat duha. Teman-teman sepermainanku yang lain pun tertular juga. Disitulah awal mula bisa mengenalnya. Ternyata anaknya asyik juga, apa adanya. Ceria, tertawa lepas terlihat tanpa beban. Sejak itu aku dan teman-teman akrab sama dia.

Namun siapa sangka kedekatanku dengannya berimbas pada dirinya, tidak sedikit teman-teman perempuan seangkatanku sering membullynya. Untuk mencegah dirinya yang sering mendapat perundungan, aku mulai jaga jarak. Walau sebenernya agak tersiksa juga, gadis itu bikin kangen.

Beberapa bulan mencoba mendekati dia, namun tak membawa hasil. Si minion agak susah juga ditaklukin. Beda dengan perempuan lain yang selama ini mencoba mendekatiku. Digombalin receh pun mereka sudah tersipu dan geer. Dia sama sekali tak terpengaruh dengan segala gombalan yang aku dan teman-teman ungkapkan. Aku jadi penasaran padanya.

Minion memang unik. Ditraktir tak pernah mau, diajak pulang bareng pun selalu menolak. Gadis aneh pikirku, disaat yang lain berlomba-lomba untuk dekat denganku, tapi yang ini malah menolak.

Sakitnya dia beberapa waktu itu membuat aku panik. Ada memar di pipi kanannya, dan sudut bibir. Jatuh terkena sudut meja, alasannya.  Apa iya sampai seperti itu memarnya? Aku nggak percaya dengan ucapannya. Tapi dia tak mau menceritakan, biarlah aku tak mau memaksa.

Aku penah dibuat terkejut dengan pernyataannya, yang mengatakan bahwa sahabatnya jatuh cinta padaku. Bukan hal aneh sebenarnya, karena bisa dibilang hampir satu sekolah mengidolakan aku. Bukannya sombong, tapi kenyataannya memang seperti itu.

“kenapa bukan lu yang suka sama, gue. Malah temen lu?”

“Gue, nggak mau pacarana, Kak!”

“Kenapa?”

"Enggak kenapa-kenapa."

 Sampai saat ini jawaban itu belum juga kudapat, alasan yang tak masuk akal. Aku semakin penasaran dan tertantang mendekatinya.

Usaha dia menyomblangi aku dengan sahabatnya, yang baru kutahu namanya setelah pertemuan sekian, mendapat penolakan besar dariku. Sebenarnya aku tahu, Firda suka denganku dengan hanya melihat bahasa tubuhnya. Namun aku selalu menghindar bila dia mencoba mendekat.

Aku tak bisa menerima cara Oliv, untuk mencomblangi dengan Firda. Aku tahu pasti dia mengorbankan perasaanya demi sahabatnya.

"Liv, lu jangan ngorbanin perasaan lu sendiri demi orang lain. Gue tahu pasti lu suka juga sama gue kan?"

"Enggak, kak, gue nggak naksir lu. Gue selama ini cuma menganggap lu teman dan kakak aja. Nggak lebih. Gue kan nggak punya kakak. Jangan kegeeran deh, Kak!" ucapnya tersenyum.

Alasan yang sulit kuterima sebenarnya. Firda selalu hadir di tengah aku dan Oliv, sepertinya sengaja untuk menghalangi kebersamaan dengan Oliv. Membuat quantitasku menjadi sedikit.

Bisa kulihat kesengajaan Oliv untuk mendekatkan Firda. Sudah beberapa kali janjian, tapi nyatanya yang datang selalu Firda. Harusnya aku tahu itu dan enggak mengajak janjian lagi. Kalau pun sekalinya dia bisa, pasti lebih dulu pulangnya.

"Gue pulang duluan ya, takut diomelin bokap." Selalu begitu alasannya. Entah benar atau bohong.

Di hari aku jadian, lebih tepatnya terpaksa jadian. Karena Firda mengancam akan menyakiti Oliv, bila aku menolak cintanya. Dengan terpaksa aku bersedia jadi pacarnya, dengan syarat tidak menyakiti dan mengganggu Oliv.

Sejujurnya aku lebih mencintai si minion, gadis mini sederhana yang tidak banyak polah. Gadis bersahaja yang diam-diam membuat perubahan dalam hidupku. Demi keselamatan dan rasa sayang  padanya, aku rela menjadi pacar Firda.

Malamnya setelah resmi aku menjalin hubungan Firda, aku mampir ke rumahhnya untuk melihat senyumnya sebagai penawar sedih. Untuk mengobati lara di hati dan juga kekecewaanku. Namun rupanya obat tersebut tak mampu menawar rasa sedih dan kecewa. Aku segera pamit pulang, dengan masih menyimpan rasa kecewa. Pertemuan itu menjadi interaksi terakhirku dengan Oliv.

Kutahan rasa rindu ini untuk tidak berinteraksi dengan Oliv selama di sekolah. Hanya mampu memandang dari jauh secara diam-diam. Tak pernah juga aku menghubunginya walau sekadar menanyakan kabar. Aku sungguh tersiksa.

Namun puncak kecewaku adalah tadi saat melihat Firda mengintimidasinya ketika pulang sekolah. Dia telah mengingkari janjinya untuk tidak mengganggu Oliv. Kuancam akan memutuskannya bila kembali menyakiti Oliv.

Dasarnya perempuan, diancam seperti itu malah nangis-nangis memohon untuk tidak diputuskan. Aku benar-benar marah pada Firda, tapi tidak tahan melihatnya menangis.  Biarpun tidak ada rasa sama sekali terhadapnya, aku paksakan hubungan ini demi keselamatan Oliv.  Paling tidak sampai kelulusan sekolah, aku akan mencoba bertahan.

Sekarang, aku berada di depan rumahnya tanpa berani menemuinya. Ingin kuberteriak mengatakan bahwa aku kangen.

[Hai] kukirimi pesan untuknya. Tak lama centang biru dua terlihat di layer. Sabar kutunggu balasannya, tapi minionku tak juga mengirimi balasan.

[Gue, di depan rumah, lu. Bisa ketemu?] pesan kedua kukirim, hanya centang dua abu. Dia tak membacanya.

Aku pasrah dan putus asa, akhirnya kunyalakan mesin mobil untuk meninggalkan rumah itu. Baru saja aku mengoper persneling gigi satu, pintu pagar terbuka. Minionku keluar dengan memakai piyama berwarna ungu motif bunga warna senada. Tampak semakin imut dilihatnya. Aku mengurungkan niat untuk pergi dan mematikan mesin.

***

user

15 December 2021 15:13 Yovanie Rinenza ditunggu kritik dan sarannya

user

15 December 2021 19:39 Rani Iriani Safari Minion, kebayang imut dan mungil. Semangaat ...

user

15 December 2021 23:30 Asha Raya Semangat kakak... Lanjuttttt

user

15 December 2021 23:55 yenipalamia Ditunggu kelanjutan cerita nya kak. Semangat!

Denial

16 34

Bab 7. Denial

 

Sebuah notifikasi percakapan masuk berbunyi di ponselku lalu kubuka dan membacanya.

[Hai] pesan dari Ryan rupanya. Tak kubalas pesan itu, aku tak ingin kejadian serupa di sekolah tadi siang terulang kembali.

Tak berapa lama, kembali dirinya mengirimkan pesan kedua. Tak kubuka pesannya, namun bisa kulihat dan kubaca isinya dari notifikasi bar, bahwa dia ada di depan rumah meminta untuk bertemu.

Aku bimbang. Lama memutuskan, akhirnya aku bersedia menemui setelah mendapat izin dari papa.

“Pa, Oli izin ke luar sebentar. Ada teman, Oli di depan.”

 Kudengar suara mesin mobil di luar, saat kubuka pagar rupanya Ryan hendak meninggalkan rumah. Namun urung, ketika melihatku menyambutnya, dia segera keluar dari mobil.

Kupersilakan  untuknya duduk di teras. Keheningan menemani kami malam itu. Ryan, yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya, tapi sudah mulai sedikit berantakan dan juga wajah yang lelah.

Dirinya yang lebih banyak menunduk memainkan kunci mobil, dan sesekali menatapku, tapi sengaja aku membuang muka ketika dia memandangku.

“Belum pulang ke rumah dari tadi?” ucapku membuka perbincangan.

“Habis, bimbel tadi. Terus langsung ke sini.”

“Ada apa?”

“Soal tadi siang.”

“Lupakan!” kupotong ucapannya, “Enggak usah dibahas lagi, biarin aja,” lanjutku.

Kembali kami terdiam. Aku ke dalam mengambilkan minum, untuk menghilangkan kebekuan di antara kami dan mempersilakan dirinya minum. Ryan langsung menandaskan air segelas besar itu.

Kudengar dia mengembuskan napas kasar, terasa mencoba untuk melepaskan beban penat dirinya.

Gue minta maaf?”

“Untuk?” keningku berkerut, dan kedua alisku menyatu mendengar permintaan maafnya.

“Soal Firda.”

Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapannya.

“Firda? Dia memang seperti itu kan sifat aslinya. Selalu ingin lebih unggul dari orang lain. Tak ada yang boleh melebihi dirinya. Firda yang gue kenal sebenernya, ya memang seperti itu. Kasar, angkuh dan jutek,” ujarku Panjang lebar.

“Tapi, lu deket sama dia.”

“Ya, itu karena kepolosan gue aja yang menganggap dia bener-bener berubah. Enggak tahunya ada maksud di balik kedekatan itu. Dia memanfaatkan gue untuk mendapatkan lo. Meski akhirnya gue tahu, kalau dia sering memfitnaha gue selama jalan sama lo. Iya, kan?”

Ryan hanya diam menyimak setiap perkataanku, tanpa sedikit pun menyanggahnya.

“Iya, memang selama ini dia selalu memfitnah dan mencoba mengadu domba, tapi lu nggak usah takut! Gue nggak percaya sepenuhnya yang dia omongin dan sering gue bantah kecuali satu hal.” Ryan menggantung perkataanya.

“Apa?” tanyaku cepat.

“Dia sering bilang, kalau, lu sebenernya suka sama gue. Bener, kan?” netranya memandang tajam mataku, mencari kejujuran.

Aku terdiam sejenak, napasku terasa sesak. Bibirku kelu untuk berkata-kata.

“Dan, lu percaya begitu aja?” hanya kalimat itu yang mampu keluar dari lisanku.

“Untuk kalimat itu.” Jeda sejenak. ”ya, gue percaya,” sambungnya.

Aku mentertawakan dirinya yang terlalu percaya kata-kata pacarnya itu.

"Jangan polos kayak gue, yang mudah percaya ucapannya itu!"

"Udah, gue bilang kan. Untuk kalimat itu gue percaya seratus persen, yang lain tidak!" ucapnya tegas.

"Dan, lo salah besar." Senyumku sinis, "jangan karena lo merasa ganteng, jadi idola satu sekolah terus menganggap bahwa semua cewek naksir lo,termasuk gue. Jangan kegeeran, Kak! Gue cukup tahu diri siapa gue, siapa orang yang gue taksir."

"Sori, Liv. Bukan maksud gue begitu," ucapnya menyesal.

" Gue cuma pengen, lu nggak mengorbankan perasaan lu demi orang lain. Gue nggak mau lihat lu menderita gara-gara orang lain yang sering nyakitin perasaan lu."

"Kak Ryan, nggak usah khawatir, gue baik-baik aja kok. Gue bahagia lihat kalian akhirnya jadian. Soal perasaan gue yang selalu menderita gara-gara orang lain, itu salah."

Ryan menatapku intens, aku tak kuasa melawan tatapannya. Aku mengalihkan pandanganku pada tanaman adenium yang sedang berbunga warna marun di sudut teras.

"Gue selalu bahagia melihat orang bahagia. Kebahagiaan mereka tertular ke diri gue, meski gue harus diejek dan dihina. Tawa mereka membuat gue bahagia, setidaknya kekurangan gue bisa membahagiakan orang lain."

"Tapi nggak mesti begitu caranya kan?" bantahnya tak terima.

"Terus, maunya bagaimana caranya?" tanyaku menantang.

Netra kami saling beradu, aku tak kuasa melawan tatapannya. Aku kalah dan menyerah. Ada amarah tersembunyi dari tatapannya.

"Udah malam, Kakak pulang ya. Enggak cape emangnya seharian beraktivitas dan belum mandi pula?" usirku untuk mengalihkan pembicaraan.

Untungnya dia mau menuruti kataku untuk segera pulang.

Dia menatapku tajam sebelum masuk mobil, dapat kutangkap ada rasa cinta dan rindu di balik matanya. Aku bisa merasakan itu.

"Dah, pulang ya!" Bibirku bergerak tanpa mengeluarkan suara dan tanganku bergerak mengusirnya untuknya supaya segera pergi.  

Ada rasa bersalah pada Firda karena kehadiran Ryan malam ini, tapi di sudut hatiku ada sedikit rasa bahagia. semoga Firda tidak mengetahui kedatangan Ryan malam ini.

Di dalam kamar aku tak kuasa membendung tangisku.  Di bawah bantal aku tersedu, meratapi luka hati yang harus selalu membohongi diri sendiri, membohongi perasaan sayang terhadap seseorang.

Kamu benar Ryan, aku memang suka dan sayang sama kamu. Aku hanya takut kehilangan momen saat-saat kita bisa tertawa lepas seperti ini lagi, bila suatu hari nanti kita tak bersama karena suatu ikatan yang pernah terjalin di antara kiat. Jadi, biarkanlah seperti ini mengalir apa adanya. Semoga kamu bisa memahami itu.

 

***

Hari baru, semangat baru yang lebih menggebu harus kusambut dengan energi yang positif. Kejadian semalam biarkanlah, anggap saja tak pernah ada. Pagi ini ritual di rumah seperti hari-hari kemarin, penih dengan drama dan huru-hara dari adik-adikku.  Aris yang susah bangunny, Arin yang lama mandi, dan Amar yang selalu ngambek bila dibangunkan, padahal sudah kelas lima. Suara papa dan mama yang menggelegar bergantian, mengingatkan anak-anaknya untuk bergerak cepat. Suatu aktivitas pagi yang suatu saat kelak akan selalu dirindukan.

Pagi ini ada yang berbeda, papa yang biasanya tak pernah absen memarahiku, tumben sekali hari ini tidak bersuara kepadakau. Ada apay a? aku jadi serba slah. Dimarahi aku sedih, tidak dicereweti aku heran. Omelan papa ternyata membuat rindu. Batiku berkata, ‘mungkin papa bosan mengomeliku setiap waktu.’

Motor-motor tukang ojek sudah menunggu kami di depan rumah dengan setia untuk mengantarkan kmai ke tujuan masing-masing. Setelah berpamitan dan mencium tangan papa dan mama, satu persatu kami meninggalkan rumah menuju tempat kami menuntut ilmu.

“Oli, berangkat, Ma, Pa. Assalamualaikum.” Aku melambaikan tangan pada orang terkasihku. Orang yang telah susah payah berjuang untuk keempat anaknya. Meski kadang kelakuan kami membuat amarah mereka meledak, tapi aku yakin ada cinta dan kasih dibalik kemarahan mereka. 

 

Jangan lupa like dan komentar terbaiknya, supaya penulis tetap semangat berjuang hingga garis finish.

user

16 December 2021 15:43 Yovanie Rinenza semangat menantikan komentar dari teman-teman, dan krisarnya juga

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:54 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

17 December 2021 19:55 Rani Iriani Safari Iya kasih sayang orang tua termasuk kemaeahan karena sayang anak2nya. Semangaat ... kak

user

19 December 2021 18:53 Asha Raya Tertinggal kisahnya karena signal kemarin otw maraton kakak... Semangat....

Fakta Baru

17 14

 Fakta Baru

 

Tiba di sekolah, guru-guru sudah menyambut para siswa dengan senyum dan penuh  semangat. Beberapa guru memeriksa stribut kelengkapan kami.  Yang tidak lengkap maka akan diberi sanksi sesuai dengan kesalahannnya. Aku menyalami para guru dengan senyum terbaikku. Mereka semua mengenaliku, karena postur tubuh yang lain dari para siswa. Tubuh mungilku menjadi ciri khas yang mudah dikenali oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang baru pertama berjumpa sekali pun.

Menuju kelas aku berpapasan dengan Firda, senyumku sudah siap kupersembahkan untuknya. Tapi tidak dengannya, dia membuang muka ketika melihatku. Kami pun sudah tidak semeja lagi. Dia sengaja pindah, menukar tempatnnya dengan Santi. Aku sedih meliihat sikapnya, aku mengalah.

Istirahat pertama selalu kuisi dengan solat duha. Rutinitas yang tak pernah kutinggalkan, kecuali sedang datang bulan. Aku bertemu Ryan dan kawan-kawannya. Tak perlu kaget seharusnya, karena memang itu sudah rutinitasnya sama seperti aku. Yang membuat aku terkejut, justru sikapnya. Dia seperti tak mengenaliku, padahal malam tadi kami masih berbincang. Kemarin-kemarin masih ada senyum untukku, walau tak sering, tapi sekarang tidak lagi.

Sikap Ryan dan Firda hari ini sama, seperti orang asing di mataku. Baiklah, aku ikuti mau kalian. Sampai kapan kalian akan bersikap seperti itu?

Aku tak ambil pusing dengan sikap pasangan asing itu, selagi tak merasa terganggu aku tak mempermasalahkan.  aku juga tak ambil pusing tentang kelanjutan hubungan mereka, itu bukanlah urusanku. Urusanku sudah terlalu banyak, orang-orang pun tak peduli dengan permasalahanku. Aku ingin menjadi egois kali ini

 

***

 

Permasalahanku di sekolah sudah tak serumit dulu, kini bisa kulalui dengan sedkit penuh ketenangan. Sedikit? Ya memang sedikit, tapi itu jauh lebih baik dibanding dulu, dimana setiap pergerakanku selalu salah dimata orang-orang, utamanya para senior perempuan.

Ujian kelas dua belas membuat aku jarang bertemu dengan kakak-kakak kelas, mereka sibuk mempersipakan diri. Sekolah pun diliburkan untuk dipakai kelasnya buat ujian.

Pagi ini hanya ada aku dan mama di rumah.  Libur seperti ini biasa kupakai untuk selalu membantu mama di dapur menyiapkan camilan untuk addik-adikku. Lumayankan daripada harus selalu jajan. Keadaan ekonomi kami memaksa untuk berhemat, membuang semua pengeluaran yang tak terlalu penting.

“Mama, seneng nih, kalau Kakak sering di rumah,” ucapnya disela-sela kegiatanku menimbang bahan-bahan untuk membuat bolu.

“Kan, Oli memang sering di rumah, Ma, jarang pergi kemana-mana.”

“Iya, tapi kan pulangnya selalu menjelang sore,” protes mama.

“Pulang hampir sore juga kan dari sekolah, bukan habis keluyuran nggak jelas gitu.”

“Kakak, nggak dendam dan sakit hati kan atas perlakuan Papa selama ini?” nada pertanyaan mama terdengar sedih dan khawatir.

Aku menghentikan kegiatan menimbang bahan-bahan kue, dan menghampiri mama. Kupeluk  erat dari belakang.

“Oli, nggak marah dan dendam. Biar bagaimanapun Papa dan Mama adalah orang tua yang harus selalu dihormati. Oli bisa mengerti kenapa papa sering marah kepada anak-anaknya, khusunya Oli.” Mama melepas pelukanku dan membalik tubuhnya menatapku.

“Semua, Papa lakukan karena begitu besar rasa khawatir dan sayang Papa terhadap anak-anaknya.” Mama terharu mendengar ucapanku.

“Dewasa sekali pemikiran kamu.” Tersenyum

“Malu sama Amar dong kalau kayak anak-anak pemikirannya,” ucapku menggoda

“Baik dan mulia sekali hati, Kakak.” Menangis dan memelukku errat.

“Udah, jangan nangis, Ma. Malu udah tua masih suka nangis.” Mama tergelak dengan ucapanku kemudia melepas pelukan.

Kami kembali melakukan aktivitas kami di dapur pagi ini, agar nanti saat ketiga adikku pulang kue ini sudah bisa disantap.

Sebenarnya masih ada hal yang mengganjal di hati, dan ingin kutanyakan. Namun selalu urung kulakukan, karena aku merasa ragu untuk menanyakan.  Entah mengapa, saat ini hasrat untuk menanyakannya sangat besar di saat sedang berdua saja dengan mama.

"Hmm, Ma," ragu-ragu aku memanggil mama.

"Iya, kenapa?" Mama masih terus asyik meracik bumbu masakan opor ayam dan telur balado untuk makan siang sekaligus malam.

"Oli, boleh tanya sesuatu? Tapi kalau mama enggak mau jawab, enggak apa-apa."

“Tanya apa, kok tumben minta izin segala. Biasanya juga langsung nanya." Mama tersenyum kecil.

Mamaku sosok sederhana yang sabar, tak terlalu cerewet seperti ibu-ibu lain pada umumnya. Selalu menuruti apa perkataan papa. Pintar menjahit dan jago masak, kelezatan masakannya juara banget menurut aku. Beliau juga jarang keluar rumah untuk melakukan hal-hal tak bermanfaat, walau sekadar berbincang dengan tetangga. Mama juga tak pernah kulihat sibuk membicarakan keburukan orang lain. Beliau benar-benar wanita luar biasa di mataku.

“Enggak jadi deh." Kembali keraguan meliputi hatiku. Aku tak mau merusak suasana hati mama yang sedang bahagia hari ini.

"Laah, kok enggak jadi, gimana sih?" Mama menepuk lembut kepalaku dengan gagang sodet.

"Nanti aja. Takut adonannya gagal." Aku hanya tertawa dan beralasan sambil terus mengaduk bahan adonan kue bolu coklat favorit kami sekeluarga.

Kami  pun masing-masing melanjutkan aktivitas. Kurang lebih pukul sebelas, masakan mama matang. Sementara aku masih harus menunggu kue yang masih dipanggang beberapa menit lagi. Sambil menunggu kue matang, aku mencuci perkakas membuat adonan dan memasak mama.

"Adek-adek pasti seneng ya, Ma pulang sekolah nanti ada bolu coklat. Apalagi Amar, dia kan paling doyan." Mataku berbinar membayangkan raut bahagia ketiga adikku.

"Iya, pasti. Apalagi kalau Amar tahu itu bikinan kakaknya, makin tambah seneng dia." Jawabnya sambil merapikan makanan di meja makan.

Aku tersenyum mendengar pernyataan mama. Amar, adik kesayanganku yang sangat luar biasa menyayangi kakaknya yang mungil ini.  Tinggi Amar tak seberapa jauh dengan tinggi tubuhku. Sebentar lagi pasti akan mengalahkan aku.

Benar saja, adik-adikku lahap menimati bolu buatanku setelah menyantap makan siang buatan mama. Apalagi, Amar berkali-kali mengambil potongan kue.

"Enak banget. Kue buatan kakak selalu enak, enggak kalah sama buatan, Mama." Jempol kirinya diangkat dan diayun-ayun, sementara tangan kanannya memegang bolu. Padahal pipinya masih penuh dengan bolu.

“Amar, belum kenyang? Dari tadi makan terus?” tanyaku yang melihat makannya tak berhenti setelah makan nasi.

Sore-sore waktu santai aku bercengkerama dengan mama di teras. Banyak hal kami obrolkan, mulai dari gosip selebritis terkini hingga isu-isu politik yang sedang hangat. Kesempatan ini kupakai untuk menanyakan hal yang masih mengganjal di hati dan tertunda pagi tadi.

"Ma." Jeda sejenak, "hmm." Aku terdiam lagi.

"Apa? Kenapa sih, dari tadi mau ngomong kok begitu terus sikapnya?" Mama mulai tak sabar.

"Ada yang mau, Oli tanya.  Sebenarnya udah lama, tapi Oli cari waktu yang pas buat nanyanya." Aku mulai memberanikan diri.

“Ya udah tanya aja,” ucap mama tak sabar.

“Tapi, mama jangan marah ya?”

“Iya.” Mengangguk cepat.

“Kenapa Oli, lain sendiri?

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:52 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:53 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:53 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:53 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:53 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 19:53 Rani Iriani Safari Semangaat, lanjuuut kak

user

17 December 2021 21:05 Asmarani Syafira Apa sebabnya Oli berbeda?

user

17 December 2021 21:06 Asmarani Syafira Apa sebabnya Oli berbeda?

user

19 December 2021 18:54 Asha Raya Kasih sayang orang tua selalu ada buat anak anaknya... Semangat kakak...

Asal Usul

16 4

Asal Usul

 

“Kenapa Oli, lain sendiri, Ma?” tanyaku.

Mama memandangku heran dan penuh tanya.

“Maksudnya, kenapa nama Oli enggak seperti adek-adek yang berawalan A?” Aku menarik napas lega setelah mengeluarkan pertanyaan tersebut

“Apa itu jadi masalah buat, Kakak?” Aku menggeleng.

“Kalau tidak jadi maslah, seharusnya tak perlu ditanyakan. Nama yang berawalan ‘O’ enggak banyak. Susah nyarinya.”

Aku mengangguk. Alasan yang masuk akal, dan benar adanya tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hati.

“Tapi, Ma.”

“Apalagi?” mama memotong perkataanku.

“Kenapa, badan Oli pendek sendiri? Padahal Mama dan Papa tinggi.”

Mama terkejut mendengarnya dan terdiam lama, tampak berfikir.

“Itu, karena Oli bukan anak kandung mama dan papa. Makanya lain sendiri ukuran badannya?” suara Arin membuat aku dan mama menoleh. Kedatangannya yang ikut bergabung duduk Bersama di teras membuat aku menatap lekat netra mama.

Mama terlihat kikuk dan salah tingkah.

“Arin!” hardik mama.

“Emang bener kan, dia bukan anak Mama, Papa. Bukan saudara kandung Arin,” ucapnya santai tanpa memperhatikan perasaanku.

Aku diam dan bingung, takt ahu harus berkata apa.

“Terus, Oli anak siapa, Ma?”

“Enggak usah didengerin ucapan adik kamu!” meninggalkan teras dengan marah.

Aku pandangi Arin yang sedang asyik dengan gadgetnya, sementara kedua kakinya diangkat ke kursi. Tak peduli dengan tatapanku yang penuh tanya.

“Benar itu, Rin? Gue bukan anak Mama, Papa, bukan kakak kandung,lo?” mecari kebenaran jawaban pada Arin.

“Menurut, lo gimana? Wajah kita mirip nggak? Wajah Mama dan Papa ada kemiripannya enggak di wajah lo?”

Aku merenungi perkataannya. Benar yang diucapkan Arin. Aku memang tidak mirip dengan adik-adik dan juga mama papa. Kulitku putih bersih, padahal sering kepanasan. Sementara mama papa berkulit coklat. Kulit putihku menurun dari siapa?

“Terus, gue anak siapa, Rin? Lo tahu orang tua kandung gue?” Arin hanya menggedikan bahunya sebagai jawaban ketidak tahuannya. Entah benar-benar tidak tahu atau tidak mau memberi tahu.

Kepalaku mendadak pusing, segera aku menuju kamar untuk mengistirahatkan pikiranku. Di dalam kamar aku tak benar-benar istirahat, karena isi kepalaku penuh dengan berbagai perrtanyaan yang menuntut jawaban. Aku berniat menanyakan hal ini pada papa. Pasti papa tahu semuanya. Terselip rasa takut bila papa marah ketika aku menanyakannya, tapi aku harus coba menanyakan padanya.

Sudah dua bulan sejak kejadian itu, aku masih belum berani lagi bertanya-tanya lebih jauh pada mama, apalagi papa. Walau dalam hati sangat ingin tahu kebenaran tentang itu.

Aku menunggu waktu yang tepat untuk berbicara npada papa untuk menghindari amarahnya. Sabtu sore ini kulihat papa sedang santai, kesempatan ini tak kusia-siakan. Kubawakan bolu coklat andalanku dan segelas the manis hangat di hadapannya.

“Makan, Pa. buatan, Oli loh ini bolunya.” Basa basi mulai kulakukan.

Papa mengambil sepotong, dan mulai menikmatinya. Tak banyak kata keluar dari lisannya untuk sekadar memuji atau mencela kue buatanku. Papa memijat-mijat lehernya sendiri, terlalu banyak menunduk membuat lehernya kaku. Ideku pun muncul.

“Pegel, Pa? Oli pijit ya?” tanpa menunggu jawaban, gegas kupijat perlahan leher papa.

“Enak ya, Pa?” tanyaku yang melihat papa seperti menikmati sentuhan tanganku.

Papa hanya mengangguk, kemudian mengarahkan bagian yang sakit lainnya yang ingin dipijat.

“Sebelah kanan, Li. Sakit banget tuh.” Aku menuruti perintahnya.

“Pa.” aku diam mengatur strategi untuk mengajukan pertanyaan yang akan kulontarkan sambil terus memijat lehernya.

“Hmm.” Hanya menggumam

“Oli mau tanya, tapi maaf sebelumnya bila pertanyaannya membuat gusar Papa.” Aku mengatur napas, sebelum berbicara lagi.

“Hmm.” Kembali hanya gumaman sebagai jawaban yang kuterima.

"Oli, anak kandung Papa Mama bukan sih?" Tanyaku hati-hati.

Papa hanya diam saja.

"Maaf, kalau pertanyaan Oli jadi bikin Papa marah." Masih terus memijat leher papa.

"Oli, hanya penasaran dengan semua perbedaan yang ada di Oli. Berbeda secara fisik, nama bahkan perlakuan papa ke Oli sangat berbeda dibandingkan ke adek-adek." Aku terus saja memberanikan diri mengeluarkan semua ganjalan di hati, karena melihat tak ada reaksi darinya.

Papa masih bergeming tanpa mengeluakan kata-kata untuk menjawab  semua unek-unekku.

"Pa?" Aku memanggilnya karena papa tak bereaksi sama sekali.  Kuhentikan pijatanku, aku bergerak ke hadapannya. Rupanya papa tertidur. Pantasa saja dipanggil-panggil sampai kutepuk bahunya diam saja.

Aku mengembuskan napas, tergelak sendiri dibuatnya. 'Pantas saja diem nggak marah. Tidur rupanya, batal lagi deh untuk tahu siapa aku sebenernya.'

Aku lupakan pertanyaanku pada papa, lebih tepatnya menunda. Mungkin lebih baik aku tak mengetahui asal usulku saat ini.

 

***

 

Aku sudah tak memikirkan asal-usulku lagi. Hari-hari terlewati seperti biasa, papa masih seperti biasa sifatnya. Selalu menjadikan aku kambing hitam dari segala kesalahan. Sementara aku sudah terbiasa dengan perlakuannya. Tak perlu lagi ada air mata, kering sudah air mata ini.

Tinggal beberapa bulan lagi aku akan naik kelas duabelas, berati sebentar pula waktuku sekolah bareng dengan Ryan. Apa kabarnya orang itu ya? Di sekolah aku jarang melihatnya, di mushola pun juga demikian. Aku tak mungkin melupakannya begitu saja. Selama satu semester, di kelas sebelas, aku cukup akrab dengannya. Namun karena suatu hal, kami menjadi renggang. Akan melanjutkan sekolah kemanakah dia? Sekilas aku tersenyum meringis, mengapa aku harus memikirkan dirinya yang bukan siapa-siapaku?    

Istirahat pertama kuisi dengan mengelilingi halaman sekolah. Kususuri taman belakang sekolah, di sana tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak saja yang sedang berdiskusi dan memakan bekal yang dibawa dari rumah masing-masing. Istirahat begini lebih ramai kantin dibanding taman. Padahal taman belakng sekolah itu tempatnya tenang dan nggak terlalu ramai, tapi sedikit panas. Itu sebabnya tak banyak yang datang ke halaman belakang.

Aku menikmati suasana taman ini, hal yang jarang kulakukan bila sedang istirahat. Bibirku tersenyum meratapi nasibku yang jarang singgah ke tempat yang tenang ini. Pandanganku terhenti pada pasangan yang akrab denganku. Sang pria membelakangiku, sementara perempuan itu beradu pandang denganku. Senyumku terhenti seketika, tat kala pria yang membelakangiku memutar tubuhnya kemudian menatapku.

Ryan, aku tahu pria itu adalah Ryan yang duduk membelakangiku. Aku segera beranjak meninggalkan taman, tak ingin kembali terjadi sesuatu hal di luar kendaliku. Lebih baik aku menghindar, daripada harus mendapatkan tatapan kebencian dari orang terdekatnya.

Menjauh dari taman belakang kususuri tempat lain di sekolah ini. Ngapain aja ya aku di sekolah selama ini? Banyak tempat-tempat bagus, tapi baru tahu sekaraang.  Mungkin aku selama ini aku terlalu sibuk menenggelamkan diri, menghindar dari berbagai celaan orang-orang yang membuat aku abai pada fasilitas yang ada di sekolah ini.

Sudah seharusnya sedari dulu aku fokus pada perbaikan diri dan tidak pura-pura bahagia.

***

user

18 December 2021 13:20 Asmarani Syafira Ehmm konflik drngan batin itu sulit dihindari, Oli. Setiap saat adkan selalu ada yang berontak dalam diri.

user

18 December 2021 17:43 Asha Raya Semangat kak.. Izin krisan dikit ada beberapa typo kak... Kaya npada - > pada, the - > teh, coklat - > cokelat. Lanjutkan kakak... Jangan lupa mampir di "Insecure Twins" terima kasih...

user

18 December 2021 17:47 Yovanie Rinenza Terima kasih Asha dan Asmarani untuk krisarnya. Berarti sekali untuk saya. Tetap semangat ya buat kita

user

19 December 2021 21:03 Rani Iriani Safari Semangaaat Oliii

Fakta Terungkap

16 4

selamat datang pembaca setia, selamat membaca. terima kasih telah setia membaca tulisan saya. jamgan lupa tinggalkan jejak terbaik di kolom komentar berupa kritik ataupun saran dan juga jempolnya. terima kasih.

 

 

 Fakta Terungkap

 

"Pa, beberapa bulan lalu, Oli pernah tanya status dia." Meletakan secangkir teh di atas meja.

"Terus, mama bilang apa?"

"Mama, nggak bilang apa-apa, tapi Arin yang bilang kalau Oli anak pungut."

Sebuah percakapan di ruang keluarga saat mendekati tengah malam tak sengaja kudengar. Aku ketika itu terbangun dan  hendak kamar mandi. Namun urung kulakukan ketika mendengar namaku disebut.

Hasrat untuk mendengar kelanjutan pembicaraan orangtuaku lebih besar dibanding pergi ke kamar mandi.

Sempat kutangkap raut geram wajah papa ketika mendengar Arin mengatakan aku anak angkat mereka.

"Mulut ,Arin tuh harus diajarin dulu," ucap papa geram.

"Waktu itu Oli, juga pernah tanya hal yang sama."

"Terus Papa jawab apa?" Potong mama tak sabar.

"Nggak jawab apa-apa. Papa pura-pura tidur, aku nggak mau ngerusak suasana hati yang sedang adem saat itu." Menyeruput teh manis hangat buatan mama.

Aku teringat peristiwa itu, saat aku memijat leher papa yang ternyata malah tidur saat kutanya.

“Oli mau tanya, tapi maaf sebelumnya bila pertanyaannya membuat gusar Papa.” Aku mengatur napas, sebelum berbicara lagi.

“Hmm.” Kembali hanya gumaman sebagai jawaban yang kuterima.

"Oli, anak kandung Papa Mama bukan sih?" Tanyaku hati-hati.

Papa hanya diam saja.

"Maaf, kalau pertanyaan Oli jadi bikin Papa marah." Masih terus memijat leher papa.

"Oli, hanya penasaran dengan semua perbedaan yang ada di Oli. Berbeda secara fisik, nama bahkan perlakuan papa ke Oli sangat berbeda dibandingkan ke adek-adek."

‘Ooh papa pura-pura tidur waktu itu.’

Aku masih setia menguping dari balik pintu kamar tidurku.

"Mungkin sudah saatnya dia tahu asal usulnya. Anak itu sepertinya penasaran sekali dengan jati dirinya." Mama memberi saran.

"Nanti saja! Belum saatnya sekarang!" jawab papa tegas, ”kalau Arin nggak asal ngomong saat itu Oli juga nggak akan penasaran dan tanya macam-macam!”

"Tapi, pasti anak itu akan terus menanyakannya," jawab mama cemas.

"Mama, tinggal cari alasan yang membuat anak itu tidak banyak tanya."

Aku masih setia berdiri dibalik pintu. Mungkin mereka masih akan melanjutkan pembicaraan.  Namun setelah kutunggu agak lama mereka menyudahi percakapan mengenai diriku.

Aku pun mulai keluar kamar solah-olah tidak mengetahui percakapan mereka. Aku berpura-pura terkejut melihat keberadaan orangtuaku di ruang keluarga. Mereka pun sama terkejutnya.

"Loh, Mama, Papa belum tidur? Udah malam banget ini." Ucapku berusaha tetap tenang.

"Oli?" Papa yang memunggungiku berbalik arah melihatku.

"Kamu belum, tidur?" tanya papa.

"Kebangun, Pa. Kebelet." Aku bergegas menuju kamar kecil.

Selesai melakukan ritual di kamar kecil, aku masih melihat orangtuaku sedang asyik menonton televisi.

"Mama, Papa kenapa kok tumben belum tidur. Udah jam setengah dua belas ini," ucapku sambil menunjuk pada jam dinding yan terpasang di atas televisi.

"Iya, sebentar lagi tanggung ini filmnya sebentar lagi selesai. Kakak tidur lagi sana." Mama menanggapi ucapanku, sementara papa netranya tetap asyik memandangi kotak tabung bergambar, tanpa mempedulikan aku.

"Oli, tidur lagi ya, Ma." Aku pamit padanya, mama hanya mengangguk saja. Kulirik sekilas pada papa, dia bergeming serius pada filem yang ditontonnya.

Sampai di kamar aku tak bisa memejamkan mata. Masih terngiang-ngiang ucapan mama dan papa tentang asal usulku. ‘Siapa sih sebenarnya orangtua kandungku, kenapa mereka sepertinya menyembunyikan dan menutup-nutupi seperti itu? Aku harus tahu dan harus secepatnya mendapatkan jawaban!’

Malam itu kututup dengan pengharapan agar dimudahkan untuk mengetahui siapa orang tua kandungku dan juga keberadaan mereka. Setelah dengan susah payah memaksa mataku akhirnya terpejam juga.

Sepekan lebih setelah mencuri dengar pembicaraan mama dan papa malam itu, aku memberanikan diri untuk menanyakan langsung di hadapan keduanya. Akhir pekan ini, moment yang tepat, karena kami sedang berkumpul semua di ruang keluarga. Dengan menikmati acara akhir pekan yang menyajikan suguhan filem-filem gratis yang telah banyak disensor pastinya.

Kegiatan menonton filem diselingi dengan kegiatan maasing-masing penghuni rumah ini. Mama yang sedang asyik merajut, papa yang sedang serius dengan ponselnya untuk saling berbalas pesan. Arin sibuk dengan sosial medianya. Hanya Aris dan Ammar yang fokus dengan tontonannya.

”Ma,” aku memecah kebisuan kami malam ini.

“Minggu lalu, saat mama dan papa sedang nonton filem sampai hampir tengah malam.” Aku diam sejenak, “masih inget, kan?" aku coba membantu ingatannya.

“Yang Oli kebangun karena kebelet.” Kuberikan waktu mama untuk menjawab.

“Iya, kenapa memangnya?” tanya mama heran.

“Oli, dengar semua obrolan, Mama dan Papa, tentang asal usul Oli.”

“Nggak percaya banget sih, lo udah dibilangin juga kalau bukan anak kandung Mama Papa,” sahut Arin sinis. Perkataanku memantik emosinya.

“Arin! Tutup mulut kamu!” bentak papa.

Arin memandangku sinis setelah mendapat bentakan papa, netranya seakan ingin menerkamku.

“Masih kurang bersyukur kamu, Oli, sampai harus menanyakan asal-usul kamu segala?” tanya papa dengan sarkas.

Aku diam dan mencoba memberanikan diri untuk menatapnya, lelaki yang kuhormati selama ini. Meski perlakuannya kepadaku sangat tidak baik.

“Oli hanya ingin mencari kebenaran, Pa. karena perlakuan yang Oli dapat selama ini selalu berbeda dengan adek-adek,” jawabku lantang tanpa rasa takut seperti biasanya.

“Darimana bedanya? Kamu dapat sama apa yang sodara kamu dapatkan.” Intonasi suara papa mulai meninggi, dan menyebabkan Amar juga Aris mengalihkan pandangannya dari televisi. Sementara mama menghentikan kegiatan merajutnya.

“Arin, bawa adek-adek ke luar!” perintah mama.

Tinggal kami bertiga saja di ruangan ini. Suasana mulai memanas dengan emosi papa yang semakin meninggi.

“Enggak, Pa. Semua enggak sama. Perlakuan, Papa jelas berbeda.” Aku semakin berani mengeluarkan isi hati yang selama ini aku pendam.

Papa mulai mengatur napas untuk mengendalikan emosinya agar tidak meledak. Sementara mama mencoab menenangkan papa.

“Sudahlah, Kak. Enggak usah kamu pikirkan anak siapa kamu sebenarnya. Kamu tetap anak Mama dan Papa sampai kapan pun,” ucap mama mencoba menkondisikan keadaan supaya tetap tenang.

“Biarkan, Ma kalau dia ingin mengetahui dari mana dia berasal.” Papa mulai bisa mengendalikan dirinya, “seberapa dalam keingintahuan, kamu tentang asal usul kamu?” tanya papa.

“Sangat dalam, sampai ke dasar-dasarnya,” jawabku

“Kamu memang bukan anak kandung kami.” Akhirnya fakta yang sebenarnya terungkap keluar dari mulut papa sendiri.

“Anak siapa, Oli, Pa?” Aku bertanya dengan cemas.

 

 

Dan pada akhirnya bangkai yang tertutup rapat lama kelamaan akan tercium juga baunya. begitupun halnya dengan sebuah rahasia, serapat apapun kita  menutupnya akan terbuka juga dan terbongkar yang sebenarnya. Anak siapa Oli sebenarnya?

 

 

Bersanbung

 

user

19 December 2021 18:26 Asmarani Syafira Lanjuuut. Makin gak sabar nunggu kisah Oli

user

19 December 2021 18:55 Asha Raya Ternyata oli bukan anak kandung... Hemmmm.... Semangat kakak... Lanjutkan...

user

19 December 2021 21:00 Rani Iriani Safari Oli anak siapa? Penasaran ... lanjuuut. Ohya, sedikut krisan ... ada beberapa kata tipo dan tidak ada subjek dalam narasi keterangan setelah dialog

user

19 December 2021 21:30 yenipalamia Penasaran, Oli anak siapa kak. Lanjut kak.

Alasan

28 4

Selamat datang pembaca setia, selamat menikmati suguhan cerita saya. semoga menghibur. Jangan lupa like dan ditunggu juga  komentarnya, bisa berupa kritik dan saran. Terima kasih

###

Alasan

 

“Anak siapa, Oli, Pa?” tanyaku menuntut jawaban.

“Kamu anak yang terlahir dari Rahim orang yang Papa cintai sebelum Mama.”

Papa mulai menceritakan kisah cintanya dulu pada masa sekolah dulu. Rahma Linda, adalah kekasihnya saat itu, sahabat dari Anida wanita yang merawatku hingga kini. Perempuan bertubuh mungil yang menarik perhatiannya. Kebaikannya dan keimutannya membuat Joni jatuh hati. Mereka menjalin hubungan sejak kelas dua SMA, hingga kuliah jalinan asmara itu terus berlanjut.

Namun, entah karena apa tiba-tiba Linda menghilang. Joni mencari kemana-kemana. Rumah orang tua Linda didatangi, setiap ditanya selalu tak tahu jawaban yang Joni dapat. Sepuluh bulan mencari terus menerus, tapi selalu tak ada hasil. Hingga akhirnya Joni menegetahui keberadaan Linda di rumah orangtuanya, dan segera mendatanginya dengan ditemani Anida.

Betapa terkejut Joni ketika datang, yang dilihatnya adalah wanita yang dicintai sedang menggendong bayi perempuan. Linda pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Joni. Linda mengusir Joni. Namun Joni tak patah semangat, setiap hari mendatangi rumahnya meminta penjelasan. Begitu pula Anida sebagai sahabat baik Linda, tapi setiap kali datang, Linda selalu berteriak mengusir dan mengucap kata-kata tidak jelas.

Orang tua linda pun akhirnya buka suara perihal masalah puterinya. Linda diperkosa oleh kakak sepupunya sendiri. Kejadiannya berlangsung tidak sekali saja, Linda berada dibawah ancaman lelaki itu yang bernama Herman jika mengadukan perbuatannya orang tuanya akan dibunuh. Peristiwa tersebut membuatnya hamil, akhirnya Linda membuka suara pelaku yang membuatnya hamil setelah dipaksa buka suara oleh ayahnya.

Keluarga akhirnya sepakat menikahinya, meski Linda menolak dan menuntut agar Herman dihukum. Karena Herman masih ada hubungan saudara dan bersedia tanggung jawab, akhirnya disepakati untuk menikahkan Herman dan Linda. Hal itu dilakukan untuk menutup aib yang bisa mencoreng nama baik kedua keluarga.

 Keinginanya supaya Herman dihukum berat tak didapat sehingga membuat Linda mulai terguncang jiwanya, dan semakin terguncang karena Herman meninggalkan dirinya setelah melahirkan. Linda menolak anaknya di awal-awal setelah melahirkan. Tidak mau menyusui dan hampir membunuhnya. Atas bujukan orang tuanya, Linda mau menyusui anaknya.

Namun itu tak lama, Linda sering kedapatan ingin mencelakai anaknya bila sedang berdua. Atas inisiatif sahabatnya, Anida bersedia merawat bayi itu.   Beruntung orang tua Linda mengizinkan. Bayi cantik yang diberi nama oleh kakeknya Olivia Yuniar, karena lahir di bulan Juni itu memiliki wajah yang mirip dengan ayah biologisnya.

Joni geram dan murka pada Herman, dicarinya lelaki tak bertanggung jawab itu, tapi sampai sekarang jejaknya belum juga ditemukan. Itulah yang menjadi salah satu alasan Joni begitu murka dan tak suka pada Olivia setiap kali melakukan kesalahan.

Joni ingin membalas dendam atas kejahatannya pada Linda melalui Olivia. Karena lelaki itu, Linda menjadi hilang ingatan. Hubungannya pun ikut kandas. Anida dan Joni akhirnya memutuskan menikah dan merawat Olivia yang saat itu sudah berumur sembilan bulan. Kulit putih dan ukuran tubuhnya menurun dari Linda, sementara wajahnya mirip sekali dengan Herman. Setiap melihat wajah tanpa dosa Olivia, timbul rasa benci di hati Joni.

Hingga berimbas pada kemarahan Joni dengan sering menyakiti Olivia melalui pukulan-pukulan ditubuhnya. Joni merasa sedang menghajar Herman saat marah pada Olivia.

Aku hanya bisa menangis sesegukan mendengar cerita dari orangtua angkatku. Aku ingin bertemu dengan mereka, ayah dan ibu kandungku secepatnya.

“Maafkan, Ayah kandung Oli, Pa. Karena dia akhirnya hubungan, Papa dan Ibu Linda kandas.” Sambil menangis aku meminta maaf atas nama Herman, ayah biologisku. Mama Nida memelukku erat, mama terbaik yang merawat dengan penuh kasih sayang dan keihklasan.

“Maafkan Oli, juga jika karena wajah Oli mengingatkan luka di hati papa terhadap Ayah Herman.”

Papa terdiam, mendengar permintaan maafku, lelaki yang selalu tegas dan sangar ini kulihat menahan air matanya. Beliau tak menjawab permintaan maafku, dia pergi begitu saja meninggalkan ruangan.

Perasaanku saat ini, ingin segera keluar dari rumah yang telah menaungiku selama ini. Aku ingin bertemu dengan ibu kandungku, ingin memeluknya dan meminta maaf padanya.

“Mama, maafkan Oli.” Masih dipelukan mama Nida aku menangis, mama pun ikut menangis.

"Sampai kapan, Papa akan membenci Oli, Ma? Sampai kapan Oli harus menerima hukuman papa karena perbuatan Ayah Herman?" Aku menatap tajam netra mama.

Mama hanya menggeleng, "tolong maafkan, Papamu, Nak!" mama memohon.

Aku tak tahu harus menjawab apa, hidupku terasa berantakan.

"Ma, Oli mau keluar dari rumah ini." Mama menggeleng kuat, menolak keras keinginanku.

"Enggak, Kak. Kakak, enggak boleh keluar dari rumah apapun juga alasannya! Mama enggak izinkan, kamu harus tetap di rumah ini!" Mama semakin kuat menangis dan mengencankan pegangan pada lenganku.

"Kehadiran Oli di sini hanya membuat Papa bertambah benci dan marah."

"Sabar, Kak. Tahan keinginan itu, setidaknya sampai Kakak lulus sekolah." Pinta mama.

Aku masih terus menangis. Benar kata mama, aku harus sabar dan bertahan sampai lulus sekolah. Kurang lebih setahun lagi aku lulus dan bisa keluar dari sini. Mama memberi kesempatan untukku menunggu sampai setahun lagi

Cukup sudah aku merepotkan keluarga ini, aku tak ingin lagi menyusahkan mereka.

Setelah fakta tentang siapa aku terungkap, aku mulai menjaga jarak terhadap papa. Sebisa mungkin aku menghindari interaksi dengannya. Aku hanya tak ingin beliau semakin membenciku. Aku pun berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang dapat membuatnya murka.

Adik-adik kuminta untuk tidak membuat masalah, karena bisa berimbas padaku. Khusus kepada Arin juga kuminta pengertiannya dan tidak memancing-mancing hal yang bisa menjadi masalah besar.

“Arin, udah tahu dari kapan Oli bukan anak kandung Mama dan Papa?” tanyaku beberapa hari setelah papa menguak asal-usulku saat kami sedang di kamar.

“udah lama tahu.” jawabnya dengan tanpa melepas pandangannya pada ponselnya.

Aku terkejut sekaligus bingung dengan jawabannya.

“Kok, lo nggak bilang-bilang sebelumnya kalo Oli bukan kakak kandung kalian.” jawabku menuntu kepastian.

“Mama enggak ngijinin!” jawabnya ketus.

“Apa karena itu yang bikin, lo benci banget sama, gue?” tanyaku menatap tajam ke arahnya yang masih asyik rebahan sambil memainkan ponselnya.

“Karena, Mama lebih sayang sama lo dibanding gue anak kandungnya sendiri! Mama selalu lebih mementingkan lo daripada anak-anak kandungnya sendiri!” Arin berdiri dari rebahannya dan jari telunjuknya menunujuk-nunjuk mukaku serta mendorong-dorong dadaku.

“Paham,  sekarang kenapa gue benci banget sama, Io?” teriaknya dan berlalu keluar kamar.

Ucapan Arin, sungguh menusuk kalbuku. Mungkin benar dia merasa terabaikan dan merasa tak disayang oleh mama Arin cemburu. Sepenglihatanku, mama tidak seperti itu. Dia selalu berusaha adil tehadap anak-anaknya. Bahkan mama sering membiarkan bila papa sedang menghukumku.

user

20 December 2021 19:31 Asmarani Syafira Aku bersamamu, Oli. Jangan hanya bertahsn sampai lulus sekolah. Tetapi tetap bersama Paoa dan Mama karena tidak ada yang namanya bekas orang tua

user

20 December 2021 19:31 Asmarani Syafira Aku bersamamu, Oli. Jangan hanya bertahsn sampai lulus sekolah. Tetapi tetap bersama Paoa dan Mama karena tidak ada yang namanya bekas orang tua

user

20 December 2021 22:35 Rani Iriani Safari Oliii, semangaaat ...kuat ya bisa lalui semuanya

user

23 December 2021 02:33 yenipalamia Semangat Oli

Perpisahan

40 5

Perpisahan

Hari-hari berjalan terasa amat lambat dan aku mulai tak bersemangat. Kondisiku berantakan, meski terlihat biasa saja, tapi di dalam hati ini sungguh sangat kacau. Ingin rasanya cepat-cepat lulus sekolah, agar bisa mencari keberadaan orang tua kandungku. Ada rasa bersalah pada ketiga adikku, karena aku mereka menjadi kurang diperhatikan orangtua angkatku.

Dalam kondisi seperti ini aku sangat membutuhkan teman curhat untuk berbagi keluh kesah yang menghimpit dada. Teringat pada Firda dan Ryan seandainya mereka masih menjalin pertemanan dengan baik padaku, bisa kujadikan tempat mencurahkan segala gundahku.

Aku perempuan kesepian yang telah hancur hatinya. Kesepian di antara ribuan orang yang mengelilingiku. Tersenyum kecut melihat orang-orang yang tertawa lepas bersama dengan keluarga atau teman-teman yang saling menyayangi mereka. Sedangkan aku? Hanya berkawan dengan kesedihan berbungkus kebahagian palsu. Aku hancur berkeping-keping, tapi tak seorang pun menyadari. Begitu rapi aku membungkus kepingan hati yang hancur ini dengan senyum dusta. 

 

***

 

Perpisahan kelas duabelas menambah daftar kesedihan. Lelaki yang selama ini kupandangi dalam diam, benar-benar akan menghilang dari pandanganku. Ryan akan melanjutkan kuliahnya. seandainya kami masih berteman, tentu tak segan aku menghampiri dan berbincang akrab seperti dulu. Dimana ada Ryan, sering kulihat Firda selalu di sampingnya.

Hari ini  di aula sekolah sedang diadakan perpisahan untuk kakak-kakak kelasku. Aku diminta bantuan sebagai panitia yang bertugas mengatur-atur konsumsi untuk para tamu yang.

Tugasnya tidak terlalu berat, karena konsumsi itu dibagikan saat tamu akan memasuki aula. Selesai tugas sebenarnya bisa saja pulang, tapi aku lebih memilih untuk menikmati rangkaian acara perpisahan. Karena setelah ini mungkin aku tak bisa berjumpa dengannya lagi.

 

*Merajut mimpi*

 

Telah usai masamu di sini

Namun cita-citamu belum berakhir

Masih panjang perjalananmu, sepanjang cintaku

Aku di sini akan selalu merindumu

 

Ingatlah terus aku  yang selalu menatapmu

Menatap masa depan dengan indah

Di sini kita kerap bercerita tentang indahnya mimpi

Merajut angan bersama

 

Sadarkah kamu, kita akan berpisah?

Perpisahan yang membuat kita merana

Jangan lupakan aku begitu saja

Jangan pula kau mengabaikannya

 

Kasih, pergilah mengejar mimpimu

Pergilah membawa cintamu

Pulanglah dengan membawa impian yang kau kejar

Pulanglah, di sini cintamu menanti dengan sabar

 

Puisi singkat sarat makna yang dibacakan oleh Dita, siswa kelas sepuluh saat acara perpisahan mampu menggetarkan hatiku. Aku yang berdiri di pintu masuk, dapat melihat ekspresi Ryan kala Dita membacakan puisi itu. Entah apa yang ada dipikirannya ketika mendengar bacaan puisi tersebut.

“Dalem banget ya, isi puisinya. Singkat, tapi bikin sedih.” Dewi teman sesama panitia berkomentar.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, takut bibirku kelepasan bicara kalau puisi tersebut adalah karyaku.

“Gue pulang duluan ya, Wi,” pamitku.

“Nggak nunggu sampe selesai? Temenin gue sekalian,” ajaknya.

“Kelamaan.” Aku menggeleng, menolak permintaanya.

Selesai Dita membaca puisi aku berniat meninggalkan tempat acara. Aku hanya ingin mendengar Dita membacakan puisi tersebut. Puisi yang sengaja kubuat untuk acara ini, dan kuminta Dita tidak mengatakan pada siapa pun pengarang syair tersebut.

Ungkapan kerinduanku pada Ryan, tapi aku malu untuk mengatakan dan mengakui. Terlampau besar rasa tak percaya diri ini, takut kalau dia akan semakin menjauh. Rindu saat bersenda gurau padanya. Kelakar kami dulu mampu mengobati sedihku.

“Aduh.” Seseorang menabrak dan menahan tanganku agar tidak terjatuh ketika aku berbalik badan akan meninggalkan aula.

“Kak Ryan?” panggilku dengan terkejut.

“Mau kemana?” tanyanya dengan tangan masih memegang lenganku.

Ini merupakan pertemuan kedua kami setelah pagi tadi aku menyerahkan kotak makanan padanya.

“Pulang,” jawabku singkat, ‘tapi bukan ke rumah.’ Sambungku dalam hati.

“Hati-hati,” ucapnya tanpa melepaskan pegangan tangannya dengan mata yang masih lekat menatapku.

Aku tak membalas ucapannya, kami masih terpana dengan pandangan kami.

“Lepasin tangannya, biar gue bisa pulang.”

Menyadari dirinya yang masing mencengkeram erat lenganku, segera dilepasnya. Aku segera menjauh darinya tanpa menengok ke belakang lagi. Aku tahan kepalaku untuk tidak menoleh ke belakang, walau sebenarnya aku ingin melihatnya sekali lagi.

Aku menepi sebentar ke taman kota. Taman yang selalu kusinggahi ketika hati sedang galau. Tak banyak yang kulakukan di taman ini, hanya sekadar duduk-duduk memperhatikan orang-orang yang lalu Lalang, melihat indahnya bunga-bunga yang bermekaran.

Teringat saat terakhir datang ke taman ini, ketika aku habis dimarahi papa kemudian bertemu Firda. Sekarang di sini lagi bukan habis dimarahi, aku hanya butuh ketenangan. Jiwaku butuh untuk penyegaran akan segala kemumetan masalah hidup.

“Ada apa?” suara lelaki berdiri di sampingku tiba-tiba, dan mengejutkan diriku yang sedang asyik memotret langit cerah siang.

Terkesiap aku menoleh pada suara yang tidak asing tersebut.

“Enggak ada apa-apa,” jawabku masih tetap terus memotret keindahan ciptaan Tuhan.

“Rumahnya udah pindah ke sini ya?” ejeknya.

“Iya,” jawabku singkat tanpa menanyakan darimana dia tahu aku ada di taman ini.

“Hebat ich, bisa tahu kalo udah pindah ke sini. Ngintip ya pas gue pindahan?” aku meledeknya.

Dia hanya tertawa mendengar jawabanku. Suara tawa yang telah lama tak terdengar. Hal yang selalu kusuka bila bersamanya, seketika hilang semua permalahan yang menumpuk. Ryan selalu membuat aku membalas asal setiap ucapannya.

“Kenapa enggak pulang? Tadi bilangnya mau pulang, malah kelayapan.” Tertawa mengejek.

“Mendadak berubah pikiran.” Aku masih tetap asyik pada kamera ponselku dan mengacuhkan dirinya.

“Terima kasih ya,”

“Untuk?”jawabku heran, dan menoleh sebentar padanya, lalu kembali pada ponselku.

“Puisinya.”

Aku terkesiap mendengarnya, dalam hati bertanya darimana dia mengetahui puisi yang dibacakan Dita.

“Puisi? Puisi yang mana?” pura-pura tak tahu.

“Enggak usah berlagak enggak tahu.” Menarik ujung rambut belakangku.

“Aduh,” teriakku memegang kepalaku yang sakit.

“Apaan sih?” memukul tangannya yang menarik rambutku.

“Puisinya bagus.” Masih terus membahas puisi

Aku tak menanggapi ucapannya, masih pura-pura sibuk dengan foto-foto alam yang kuambil.

“Enggak apa-apa kalo enggak mau mengakui puisi yang baca Dita tadi. Tapi gue suka isinya. Singkat dan sarat makna,” ucapnya santai.

Kini kami duduk bersebelahan, dan saling diam dengan pikiran kami masing-masing.

Gue pulang duluan ya.” Ucapnya tiba-tiba memcah kesterdiaman kami, “lo jaga diri baik-baik.” Beranjak dari duduknya.

Aku menengadahkan kepala melihatnya yang akan meninggalkanku. Dia selalu mengajak pulang bersama, tapi tidak kali ini. Ada yang lain darinya.

 “Gue di terima kuliah di Bandung. Semoga perpisahan ini enggak membuat kita merana.” Tanpa menunggu jawaban, Ryan pergi begitu saja. Dia mengutip sebaris kalimat pada puisiku.

Aku ingin mengejarnya, tapi entah mengapa kaki ini terasa berat untuk melangkah. Netraku hanya bisa menatapnya berjalan menjauh hingga hilang dari pandangan.

‘Semoga sukses, Kak meraih cita dan cintamu. Aku merana tanpamu.’ Airmataku turun tanpa bisa kucegah.

Aku hanya perempuan kesepian yang sedang terluka. Yang mengharapkan pertolongan sebelum hancur berkeping-keping. Hati ini tak dapat dipungkiri. Nyatanya aku memang sayang pada kakak kelasku yang sekarang meninggalkanku. Siapa sangka itu adalah pertemuan terakhir kami.

 

user

21 December 2021 22:02 Asha Raya Kombinasi yang sangat apik kak... Sukaa... Lanjitkaan....

user

21 December 2021 22:38 Rani Iriani Safari Puisinya nyeees, lanjuuut

user

22 December 2021 15:22 Yovanie Rinenza serasa lagi ikut kelas puisi dan direview jaddinya. hehehe. terima kasih bun Rani sudah mampir

user

22 December 2021 15:22 Yovanie Rinenza Terima kasih banyak Kak Asha selalu rajin mampir dan menyemangati

user

23 December 2021 02:29 yenipalamia Keren puisinya kak

Putus

17 2

Putus

 

“Kamu masih nggak ngomong sama, Oliv?" tanyaku pada perempuan yang kuanggap sebagai kekasih, meski aku tak menaruh hati padanya.

"Kenapa?" Mukanya menunjukan ketidaksukaaan atas pertanyaanku.

"Kamu sekelas, bahkan semeja bareng dengannya."

"Udah enggak lagi. Aku dah nggak duduk semeja sama dia," jawabnya santai. Mulut  penuhnya yang berisi dimsum menjawab perkataanku ketika kami berada di kantin.

"Nggak baik, dieman lama-lama gitu," nasihatku.

Firda tak menggubris ucapanku, dia tetap asyik menikmati makanannya.

Aku sudah jengah dan bosan padanya. Berharap hubungan ini segera berakhir. Gara-gara ulah dia, teman-teman baikku sering mengejek. Gara-gara dia pula, aku terpaksa menjaga jarak dengan minion

Hubungan yang hanya sebuah kepura-puraan demi melindungi orang yang kusayang sesungguhnya.

Ya, ini semua demi my minion. Aku sampai tak bisa menanyainya, sekadar say hello menanyakan kabar masing-masing lewat pesan. Firda kadang mengecek ponselku, posesif sekali orang itu. Nomor minion diblokirnya.

"Fir, pulang sekolah kita bisa ketemu," aku menghubunginya sebelum berangkat sekolah.

"Bisa dong, Sayang." Terdengar bahagia nada bicaranya.

"Istirahat nanti, jangan ketemu dulu ya," pintaku.

Firda menuruti keinginanku untuk tidak bertemu seharian ini di sekolah hingga waktu pulang. Aku sedang malas dengannya. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padanya setelah sekolah nanti

Aku menghampiri kelasnya, Firda terlihat semringah dengan kedatanganku. Sempat kutatap minion sebelum Firda menggandeng tangan meninggalkan kelasnya.

"tadi sengaja jemput ke kelas mau ketemu aku atau ketemu..." diam agak lama, “Oliv?” lanjutnya.

“Menurut kamu?” jawabku kesal ketika kami sudah sampai di restoran cepat saji.

"Pasti ketemu aku dong.” Senyumnyaa bahagia.

“Terus, kenapa masih menghubung-hubungkan dengan, Oliv?”

“Karena, aku tahu kamu masih mengharapkan dia. Begitu juga, dia menginginkan kamu.” Nadanya mulai meninggi.

Aku terbawa emosi dengan perkataannya.

“Hak dia, kalau menginginkan, aku.” Masih berusaha santai dengan ucapannya.

“Aku nggak akan tinggal diam, kalau sampai dia merebut kamu dariku!” Emosinya tak terkontrol. Makanan yang baru saja disentuhnya dihentakan kembali olehnya.

Sungguh, aku tak mengerti dengan jalan pikiran Firda. Tekad bulatku untuk mengakhiri hubungan ini sudah semakin tak terbendung.

“Kamu keterlaluan, selalu mengait-ngaitkan dia dalam hubungan kita. Bawaan kamu selalu saja curiga terhadap teman kamu sendiri. Bahkan kamu sampai memblokir nomornya dari handphoneku, iya kan?” aku sudah tak bisa lagi meredam emosi ini.

Firda hanya membisu menatapku lekat.

“Sudah banyak aku mengalah dan selalu mengikuti kemauan, kamu, tapi malah begini kamunya, semakin ngelunjak.”

“Kenapa, kamu selalu membela dia sih? Kamu suka sama dia, kan?” tanyannya sinis.

“Bukan urusan kamu aku suka atau tidak dengan dia.” Pertemuan kami dipenuhi dengan perdebatan penuh emosi.

“Jelas urusanku, dong. Kamu pacar aku,” jawabnya tegas.

“Sudah tidak lagi! Kita putus!” ada perasaan lega saat mengatakan itu. Walau Firda tak menerima dan protes dengan apa yang kuucapkan, tapi itu jauh lebih baik. Hatiku sudah tidak bisa dipaksakan terus bersamanya.

“Aku enggak mau putus!” Suaranya membuat beberapa kepala menoleh ke arah kami.

“Aku akan menyakiti, Oliv kalau kamu benar-benar menutuskan aku!” ancamnya.

“Jangan kayak anak kecil!” bentakku,”ini enggak ada hubungannya dengan dia. Aku minta kamu jangan macam-macam sama Oliv!” aku balik mengancamnya.

“Aku nggak main-main, Ryan!” ancamnya lagi.

“Sori, Fir. Kita udahan! Jangan paksakan hubungan ini!” Aku sudah tidak peduli padanya lagi dan kutinggalkan dirinya begitu saja.

Aku menancapkan pedal gas motor dalam-dalam. Pergi dengan perasaan kesal sekaligus bahagia telah terlepas dari jerat Firda. Meski di dalam hati terselip rasa waspada jika Firda serius dengan ucapannya.

Firda masih saja terus mengubungi dan merengek untuk balikan. Aku tak merespon perrmintaannya. Ancamannya pada Oliv pun juga tak terjadi. Aku bersyukur untuk itu. Semoga Firda bisa menyadari kesalahannya dan bersikap dewasa.

 

***

Kini merupakan hari-hari terakhirku di sekolah. Kesempatan untuk bertemu my minion juga semakin tipis. Gadis yang merebut hatiku ini, apa kabarnya ya? Aku hanya mampu menatapnya dalam diam dari  jauh.

Sering terlihat merenung sendiri dipelataran teras mushola dengan tatapan sendu. Dia akan beranjak jika bel masuk sudah berbunyi.

Sungguh aku merindukannya, rindu tawa cerianya yang tanpa beban, rindu celaannya yang tak pernah kehabisan kata membalas tiap ucapanku.

"Terima kasih." Senyumku tulus saat dia menyodorkan kotak makanan diacara perpisahan. Dia membalas, senyumnya manis sekali

"Sama-sama." 

Acara perpisahan yang sangat membosankan. Hanya berisi rangkaian kata-kata, mulai dari kepala sekolah, ketua panitia, ketua OSIS dan diakhiri dengan hiburan dari adik-adik kelas.

Rasanya ingin kabur saja dari ruangan ini, tapi pembacaan puisi yang dibawaka anak kelas sepuluh membuat hatiku berdegup.

Kudengarkan seksama bait demi bait yang dibacakannya.

Seolah Ada resah yang merindu karena akan ditinggalkan. Entah siapa yang membuatnya, aku jadi merinding dibuatnya.

"Aduh." Aku menahan tubuh mungilnya yang tak sengaja kutabrak.

"Mau kemana?" Aku mencengkram lengannya agar tidak jatuh.

"Pulang."

Tumben sekali dia ingin cepat-cepat pulang. Bukan dirinya sekali yang suka meninggalkan sekolah demi bisa pulang cepat.

Aku tak mempercayai ucapannya, kulepaskan cengkeraman pada lengannya dan membiarkan pulang.

Benar saja, dia tidak pulang ke rumah setelah diam-diam aku mengekori angkot yang ditumpanginya berhenti di depan taman kota.

Kuperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Hanya memotret bunga-bunga dan langit. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

“Ada apa?” kuhampiri tiba-tiba dirinya yang sedang asyik memotret langit cerah siang  ini.

Dia terkejut dengan kedatanganku, namun ditutupinya 

“Enggak ada apa-apa.”

Jawaban yang aku tahu pasti sebuah kebohongan yang keluar dari bibirnya. Setelah sedikit kucandai dia, sifat humornya ternyata belum hilang. Kangen ngerjain dia jadinya. Selalu saja ada jawaban jika dikatain.

Tak lupa kuucapkan terima kasih untuk puisi karyanya.

“Puisi yang mana?” elaknya.

Hayolah minion, enggak usah pura-pura sok nggak tahu begitu. Aku dah tahu semuanya. Puisi itu buatannya, tapi kenapa dia mengingkarinya.

“Nama kamu siapa?” tanyaku pada perempuan yang membacakan puisi tadi.

Aku sengaja menghampiri setelah selesai membacakan.

“Dita, Kak.”

“Puisinya, karangan kamu?” tanyaku penuh selidik.

“Oh bukan.” Tangannya melambai di depan dada. “Ini titipan dari kakak kelas sebelas. Dia nggak mau orang-orang tahu dan namanya disebut, makanya minta tolong saya yang bacain.”

“Orangnya kayak gimana?” tanyaku lagi curiga.

“Yang pendek kecil itu loh, Kak,” urainya menjelaskan dengan gerakan tangan.

Aku paham siapa orang yang dimaksud, sudah pasti itu si minion yang membuat puisinya. Itu pasti suara hatinya.

Aku tak memaksa untuk mengakuinya. Kami terdiam cukup lama, sampai akhirnya aku pamit pulang dan mengucapkan selamat tinggal.

Lo, jaga diri baik-baik ya!” nasihatku.

“Semoga kita nggak merana karena perpisahan ini!” aku pun pergi meninggalkannya tanpa mengajaknya pulang Bersama. Mungkin dia merasa heran dengan sikapku kali ini. Aku pergi meninggalkannya dengan membawa luka di hati.

Kesombonganku sebagai lelaki tak bisa menaklukan dirinya merasa terkoyak. Setelah ini aku tak akan menemuinya lagi, berat buatku melupakan dirinya begitu

user

23 December 2021 02:27 yenipalamia Jadi ikut sedih, ayo Ryan perjuangankan cintamu. Semangat!

user

29 December 2021 18:07 Rani Iriani Safari Semangaat

Tidak tahu Diri

10 1

Tidak Tahu Diri

 

Kini resmi aku menjadi siswa kelas dua belas. Tahun terakhirku di sekolah ini. Pelajaran sudah semakin bertambah sulit. Sudah tak sabar rasanya untuk segera lulus, agar bisa cepat keluar rumah.

 Rumah yang tak lagi memberi kehangatan padaku. Hanya Amar, bungsunya mama dan papa yang membuat aku selalu tertawa dan  mampu bertahan selama ini.

“Dari mana aja kamu, Oli jam segini baru pulang?” papa melihat jam di pergelangan tangan kirinya saat mengurku pulang yang melewati waktu maghrib.

Papa Joni, selalu penuh perhatian padaku. Marahnya adalah bentuk perhatiannya, aku senang karena itu. Namun tak suka dengan sikap kasarnya yang terlalu berlebihan.

“Maaf, Pa. mulai kelas dua belas ini ada pengayaan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Jadi pulangnya agak lama,” ucapku memberi alasan.

“Seberapa lama memangnya, sampai pulang lewat maghrib begini?” omelnya lagi.

“Tadi nunggu hujan berhenti dulu, Pa,” jawabku menunduk.

Hujan deras menahanku lebih lama untuk berada di sekolah, bila dipaksakan pulang sangat tak memungkinkan. Hujan yang disertai angin kencang membuat Sebagian orang yang tak berkendara roda empat lebih memilih untuk menunda perjalanannya.

Sejak kelas dua belas aku lebih sering pulang jalan kaki, itulah mengapa aku sering terlambat sampai rumah. Aku sedang melakukan penghematan, untuk persiapan saat lulus nanti.

Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri setelah papa selesai mengomel. Hampir dekat kamar mandi, mama ikut  marah-marah juga.

“Kamu tuh bisa nggak sih, nggak bikin Papa marah-marah sehari aja?”

“Maaf, Ma,” ucapku penuh sesal.

“Ditelponin dari tadi nggak diangkat-angkat.” Aku ingat, kalau tadi saat pelajaran mematikan volumenya dan lupa mengaktifkannya kembali.

Setelah fakta terungkapnya asal usulku, mama mulai sering memarahi. Semua yang kukerjakan selalu salah di mata orangtua. Pergerakanku jadi serba salah. Melakukan yang diperintahkan dibilang nggak becus, berinisiatif sendiri disalahkan. Aku harus bagaimana jadinya?

Perubahan sikapku berdampak pada pelajaran di sekolah. Guru BK menegur dan memanggil orangtuaku. Aku cemas dibuatnya. Hal buruk setelah pemanggilan ini terbayang jelas dibenak. Sudah pasti papa akan marah besar. Tamparan keras papa sudah terasa meski belum terjadi.

Benar saja, papa marah besar saat itu juga di ruang BK. Di depan guru aku  dimarahi, meski tak sampai dipukul atau di tampar seperti biasanya. Papa masih menjaga wibawanya di hadapan guru.

Tak terbendung betapa besar rasa malu ini. Bu Indah, sebagai guru BK mencoba berusaha  meminta papa tenang dan sabar, tapi tak digubrisnya.

Papa pun pulang dengan kemarahan besar. Aku hanya pasrah dan bersiap-siap jika di rumah akan mendapati hal yang sama atau bahkan lebih besar.

Bu Indah menenangkan dan menghiburku yang menangis.

"Apa ini penyebab nilai kamu turun? Karena sering dimarahi orangtua di rumah?" Bu Indah memeluk penuh kehangatan.

Aku tak bisa menjawabnya. Bu Indah tak memaksa untuk dijawab pertanyaannya. Dia paham dengan  apa yang kualami.

Sebelumnya aku memang memohon agar orangtuaku tidak dipanggil, tapi tak dihiraukan karena aku tak memberi alasan yang tepat dan masuk akal. Aku malu jika mengutarakan yang sebenarnya, tapi akhirnya bu Indah bisa melihat semua yang sebenarnya ingin kuihindari.

Beliau hanya meminta aku tetap fokus pada ujian yang akan kuhadapai sebentar lagi, dan tidak perlu terlalu memikirkan hal lain.

Ya, benar. Aku harus fokus pada pendidikan saat ini agar bisa lulus dan segera meninggalkan rumah itu untuk mencari keberadaan orang tua kandungku beserta keluarnya.

Sejak saat itu bu Indah selalu memantau perkembangan psikologisku. Akhirnya, sesuai nasihat bu Indah, aku dapat fokus dan serius belajar tanpa mempedulikan hal lain. Dimarahi mama dan papa tak kuambil hati, karena sudah terbiasa.

Aku hanya menjaga hati agar tidak timbul dendam pada mereka yang sudah berbaik hati menampung dan merawat sedari kecil.

Ada Amar yang selalu menghibur hati kakaknya yang sedang gundah.

“Kak, kalau sudah lulus sekolah kakak mau kuliah dimana?” pertanyaan Amar membuatku merenung dan berpikir. Saat ini kami sedang duduk-duduk santai di teras depan di di hari Sabtu yang katanya hari libur dan santai buat sebagian orang, tapi buatku sama saja. Karena aku selalu sibuk mengurus rumah, terasa lebih melelahkan malah kalau libur sekolah begini.

Tak tepikirkan olehku akan melanjutkan kemana setelah lulus nanti. Memikirkan biaya yang akan dikeluarkan papa, pastilah tidak sedikit. Sementara masih ada tiga orang lagi anaknya yang harus diperhatikan biaya pendidikannya.

Pasti terasa berat bagi seorang aparatur sipil negara yang bekerja seorang diri di rumah ini. Sementara mama hanyalah ibu rumah tangga biasa yang penghasilannya di dapat dari hasil terima jahitan baju-baju tetangga. Itupun tak seberapa dan tak menentu hasilnnya.

“Belum tahu, Mar. Kira-kira enaknya kemana ya?”

“Sekolah masak aja, Kak. Biar bisa jualan makanan,” jawabnya polos.

Aku tergelak mendengar jawabannya.

“Amar, Amar, kamu tuh yang dipikirin cuma makanan aja.” Menyentil pelan keningnya.

“Makanan buatan Kakak enak, pasti laku kalo dijual.”

Entahlah akan kemana setelah lulus nanti, mungkin lebih baik bekerja saja agar tidak memberatkan orangtua angkatku. Namun yang pasti harus kulakukan pertama kali adalah mencari keberadaan ayah dan ibu kandungku.

***

Hari penentuan itu akhirnya tiba, aku lulus dengan nilai memuaskan. Senyum kecutku mengembang, mengingat kepada siapa nilai ini kupersembahkan. Papa tak pernah peduli dengan nilai-nilaiku selama ini. Baginya, kewajiban menyekolahkan dan menghidupiku itu sudah cukup.

“Ma, Alhamdulillah, Oli lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan.” Kutunjukan  lembar nilai ujian pada mama ketika sedang menjahitkan baju tetangga.

Mama meraih kertas yang kusodorkan, dan menelisik nilai-nilai di lembar pengumuman tersebut. Mama walaupun akhir-akhir ini juga sering memarahiku, tapi masih mau menghargai usaha yang kudapat.

“Selamat ya, udah lulus,” ucapnya tersenyum, “selanjutnya mau kemana?”

            Aku terdiam, memikirkan kembali rencana yang akan kubuat setelah ini.

“Oli, akan cari Mama Linda dan Ayah Herman.”

Mama tertegun mendengar jawabanku, dan kembali menjadi gusar.

“Kakak, udah siap nantinya kalau ketemu mereka?”

Aku mengangguk, Apa pun aku harus menerima resiko yang terjadi. Mencari dan menemui keluarga mama Linda dan papa Herman. Mereka juga harus mengetahui keberadaanku selama ini.

“Apa keluarga sana mengetahui keberadaan Oli, Ma?” tanyaku hati-hati.

“Mereka tahu dengan siapa selama ini, tapi tidak tahu keberadaan kakak.” Menjawab sambil terus menjahit.

“Mama dan papa enggak pernah kasih tahu?” tanyaku mulai gusar.

Mama menggeleng, “mereka, enggak pernah nanya.”

Ah, sepertinya aku mulai tak tahu diri, merasa kesal pada keluarga ini karena keberadaanku disembunyikan.

“Kenapa harus tunggu ditanya sih, Ma? Kenapa nggak kasih tahu aja langsung?” nada bicaraku mulai sedikit meninggi.

 

Bersambung

user

29 December 2021 18:07 Rani Iriani Safari Lanjuuuut, semangaat

Rumah Sakit Jiwa

13 3

Selamat datang pembaca setia, dan selamat menikmati tulisan sederhana saya. Jangan lupa berikan semangat pada penulis dengan memberi komentar, kritik saran dan like

            ###

Rumah Sakit Jiwa

“Kenapa harus tunggu ditanya sih, Ma? Kenapa nggak kasih tahu aja langsung?” nada bicaraku mulai sedikit meninggi.

Mama menghentikan kegiatan menjahitnya, memutar badan, dan memelototiku.

“Kamu mikir, kenapa kita nggak mau kasih tahu mereka?” mama tersulut emosi, nada bicaranya meninggi.

Aku merasa bersalah karenanya. Aku merubah posisi berdiri di samping mama kemudian duduk terpekur di lantai di samping mesin jahit. Aku tak bisa berpikir alasan orangtua angkatku menyembunyikan bayi yang dulu mereka asuh hingga dewasa kini..

“Tahu, kenapa kita nggak biarkan mereka menemui kamu?” kembali mama berucap dengan emosi.

Aku menggeleng lemah, dan mulai menangis.

“Ada apa ini? Kamu, kenapa nangis begitu?” tiba-tiba papa pulang, dan aku sedikit panik. Takut tangannya akan menempel keras di pipi hingga menimbulkan bekas berhari-hari.

“Nih.” menyerahkan lembar kertas kelulusan

Aku tak berani menjawab, bila salah jawab bisa dipastikan akan marah besar.

“Sedih, lulus sekolah dapat nilai bagus. Nggak sangka dia bakal dapat nilai tinggi.”

Aku terkejut, mama berani berbohong pada papa. Membohonginnya demi aku. Aku semakin sesegukan dibuatnya.

Papa menerima kertas yang disodorkan mama dan membaca hasilnya. Raut wajahnya tanpa ekspresi, dingin dan datar.

“Nilai bagus malah nangis!” menyerahkan kertas pada mama, “emang maunya dapat nilai berapa biar nngak nangis?” Meninggalkan kami.

Aku terhenyak dan terharu mendengar ucapan papa. Meski beliau tak memnuji, tapi ada rasa menghargai jerih payahku selama ini. Segera kuberanjak dan memeluk mama.

“Terima kasih ya, Ma. Mama rela bohong demi, Oli,” bisikku agar tak menimbulkan kemarahan papa.

“Jadi, apa alasan Mama dan Papa enggak kasih tahu keluarga orang tua kandung, Oli?” bisikku, kembali  menanyakan perihal yang membuat penasaran.

“Nanti aja, kecuali kalo kakak mau buat mood Papa yang lagi baik berubah jadi singa lagi.” Tawanya menghibur dan mengusap punggung lenganku.

Aku mengangguk dan akan menagih janji itu sebelum kepergianku dari rumah ini. Rumah yang telah menaungiku bertahun-tahun, menjadikan aku pribadi yang keras, dan kuat serta tahan banting dari segala kekurangan juga cercaan orang-orang selama ini.

Aku masih mencari waktu yang tepat untuk menagih perkataan mama waktu itu. Sekarang adalah saat yang tepat ketika di rumah hanya ada aku dan mama.

“Ma,” panggilku pada mama yang masih setia dengan jahitannya.

“Hem,” jawabnya bergumam.

“Mama, janji kan waktu itu mau kasih tahu kenapa keluarga kandung, Oli enggak mama biarkan tahu keberadaan kita di sini?” tanyaku hati-hati.

“Terus…?”

“Kok terus sih? Ya, Mama certain dong alasannya.” Mukaku merengut, protes dengan jawaban mama yang pendek itu.

“Ntar dulu, tanggung ,” jawabnya masih sambil terus asyik menjahit.

Beliau seperti sengaja mengulur-ulur waktu, membuat kesabaranku teruji. Aku menyodorkan segelas es sirup jeruk, berusaha mengambil hatinya lebih dalam. Berharap tak berlama-lama mengulur waktu.

“Minum dulu, Ma. Berhenti aja dulu, kalo capek. Kita ngobrol-ngobrol santai dulu lah,” candaku untuk mempercepat mama bercerita. Seolah tahu isi kepalaku, mama tertawa melihat kelakuan anak angkatnya.

“Nggak sabar ya?” meledek.

Sudah lama juga, tidak melihat senyum dan tawanya yang dulu sering menghias bibir mungil wanita berusia empat puluh lima tahun tersebut. Senyumnya mulai berkurang setelah asal usulku terbongkar, berganti dengan omelan yang sering berbunyi di telingaku.

Akhirnya mama menuruti keinginanku untuk istirahat sejenak dengan bercerita alasan menyembunyikan aku.

Aku duduk tak tenang, bersiap-siap mendengarkan ceritanya. Mama mengikutiku duduk berselonjor di lantai. Diembuskannya napas, sebelum memulai cerita.

“Semoga tidak ada kebencian di hati, Kakak setelah mendengar cerita ini.” Menggenggam erat jemari tanganku sebagai permohonan.

Aku menatapnya sendu, dan menganggukan kepala.

Mama pun memulai ceritanya.

***

“Lin, anak kamu nangis aja dari tadi. Kenapa didiemin begitu?” Linda hanya diam duduk di tubir ranjang dengan tatapan kosong, memandang entah ke arah mana.

“Haus mungkin, Lin. Coba kamu susuin dia.” Kugendong bayi mungil tak berdosa yang baru bermur tiga minggu, dan kuserahkan pada ibunya untuk disusui.

Namun Linda tetap bergeming, tak merespon. Anaknya tetap menangis, lalu kuserahkan bayi itu ke neneknya yang kemudian diberikan susu botol. Suara bayi itu tak terdengar setelah kenyang minum susu botol.

Aku coba menghibur Linda, kuajak dia bercakap-cakap. Usaha itu sia-sia, Linda tetap tak mau membuka suara.

Joni dan aku sering mengunjungi untuk menghibur hatinya. Orang tua Linda mengatakan bahwa jiwa Linda terguncang paska kejadian pemerkosaan itu, dan bertambah berat setelah melahirkan.

Harapan supaya Linda tidak depresi setelah dinikahkan oleh Herman rupanya membawa hasil. Depresinya perlahan mulai berkurang, Linda mulai menerima kehamilannya, dan menjaga baik kandungannya.

Namun di masa-masa akhir kehamilannya, Herman pergi meninggalkannya. Terdengar kabar jika diamenjalin hubbungan dengan perempuan lain. Linda kembali mulai terguncang. Kelahirannya maju tiga minggu dari perkiraan dokter. Darah tingginya naik, hingga akhirnya diambil tindakan untuk operasi cesar demi menyelamatkan sang bayi.

Akhirnya bayi tersebut lahir dengan sehat, tapi Linda tak mau melihat apalagi menyentuhnya. Rupanya saat kedatanganku dengan Joni pertama kali, Linda baru mulai  menerima bayinya dan mau menyentuhnya.

Tetapi itu tidak berlansgsung lama, Linda membenci bayinya karena wajahnya yang mirip Herman, lelaki yang sangat dia benci yang telah menginggalkan begitu saja.

Ibunya Linda mengatakan, bahwa bayi itu pernah kedapatan hampir dibunuh dengan cara dibekap di bawah bantal. Sejak itu Linda tidak pernah dibiarkan tinggal berdua dengan bayinya.

Dengan sabar ibu selalu meminta Linda untuk mau menyusui bayinya, tapi selalu ditolak, dan sering menjerit marah-marah tak menentu.

Keadaan emosional Linda menjadi tak stabil, terkadang marah-marah, berteriak dan menangis. Atas dasar itu, aku berinisiatif mengasuh bayi tersebut. Demi menjaga keselamatan dan juga psikologis anak Linda.

Beruntung orang tua Linda merestui niatan tersebut. Akhirnya bayi itu aku rawat. Saat berusia empat bulan, Joni menikahiku. Kami merawat bersama bayi itu. Linda terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa, untuk mendapatkan perawatan dan mengobati depresinya.

 

***

Aku hanya bisa menangis sesegukan selama mendengarkan cerita. Mama beberapa kali menghentikan ceritanya untuk menghapus air mataku dan juga memeluk. Ternyata, aku anak yang tak diinginkan oleh orang tuaku sendiri.

“Mama, pernah nengokin mama Linda di RSJ?” tanyaku masih dengan sesegukan.

“Sebelum menikah dengan, Papa, sempat sekali menjenguk untuk mengabarkan perihal rencana penikahan kami. Berikutnya ketika mau pindah, setelah tiga bulan menikah.”

“Sampai sekarang, belum pernah nemuin lagi ke RSJ?” tanyaku menggebu.

Mama menggeleng. Hati ini nelangsa, membayangkan ibu kandungku yang dirawat di RSJ. Sementara aku di sini enak-enakan.

“Lalu kenapa keberadaan Oli diumpetin?”

 

bersambung

user

26 December 2021 00:45 yenipalamia Semangat terus sampai hari terakhir

user

27 December 2021 19:16 Yovanie Rinenza Aamiin. Semangat juga buat kakak

user

29 December 2021 18:06 Rani Iriani Safari Semangaaat

Pamit

32 3

Selamat datang pembaca setia, selamat menikmati bacaan sederhana ini. jangan lupa berikan support positifnya, biar penulis semakin semangat.

###

 

Pamit

 

“Lalu kenapa keberadaan, Oli diumpetin?”

“Karena kata kakek dan neneknya, Kakak, Herman dan keluarganya mencari anaknya dan akan diambil. Papa marah mendengar niat Herman, lalu memutuskan pindah rumah, rumah yang kita tempati sekarang ini.”

Tiba-tiba seseorang memeluk dari samping kiriku. Tak kusangka, orang yang selama ini sering membentak dan memukul, kini kedapatan berlinang air mata. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini.

Pria yang terlihat kasar dan sangar ini, ternyata begitu dalam menyayangiku. Aku membalas pelukannya ketika dia mengucapkan kata maaf.

“Maaf, kalo selama ini, Papa sering menyakiti Oli. Ada dendam di hati Papa terhadap Herman. Terasa tak rela kalau Oli diasuh dia, sebab ulah dia ibumu jadi depresi dan kamu hampir mati di tangan ibu sendiri.

Setiap melihat kesalahan Oli, papa inget Herman. Makanya papa suka nggak sadar kalau mukul, kamu." Masih dalam dekapan, papa mengucapkan kalimat panjang itu.

Papa kah itu yang bicara dan menangis. Sepanjang hidupku, baru kali ini melihat papa menangis.

Sebesar itu rasa sayangnya, sayang dalam sentuhan berbeda. Keyakinanku tak salah selama ini, beliau memang menyayangiku dan anak-anaknya yang lain. Papa melepaskan pelukannya, berat bagiku melepaskannya. Pelukan yang hampir tak pernah kudapat saat kau mulai tumbuh besar. Aku masih ingin merasakan hangat dekapannya lebih lama lagi.

"Maafin, Oli juga kalau selama ini sering bikin papa marah-marah." Menghapus air mata yang sulit untuk dibendung.

Setiap melihat kesalahan Oli, papa inget Herman. Makanya papa suka nggak sadar kalau mukul." Masih dalam dekapan, papa mengucapkan kalimat panjang itu.

Papa kah itu yang bicara dan menangis. Sepanjang hidupku, baru kali ini melihat papa menangis.Aku masih belum percaya dengan sisi melankolis papa.

Menjelang akhir-akhir aku berada di rumah ini, sifat papa mulai membaik, meski masih suka marah-marah, tapi masih dapat dikendalikan. Mama sudah jarang marah. Kemarahan mereka kumaklumi, ada kecemasan berlebih dalam diri mereka yang mengkhawatirkan diriku.

Tibalah aku harus pergi dan berpisah dengan keluarga yang menyayangiku. Dengan berat hati akan meninggalkan rumah yang telah menaungiku, orang tua yang telah membesarkanku dan adik-adik yang menyayangi selama ini.

Satu persatu kupeluk mereka. mama menangis tak berhenti, papa memeluk lama sekali.  Pelukan kedua yang kudapat di bulan ini, setelah kemarin kudapati dia meminta maaf.

"Hati-hati!" Hanya kata itu yang diucapkannya.

Papa tak bisa mengantar dengan alasan tidak ingin Herman dan keluarganya tahu diriku adalah anaknya yang papa asuh selama ini. Keselamatan papa pun akan terancam bila terlihat oleh keluarga besar Herman.

"Hati-hati dengan keluarga Herman,

Sementara Arin, adik perempuanku satu-satunya santai saja dengan kepergian kakaknya. Tidak ada raut sedih di wajahnya, terlihat senang malah. Demikian pula dengan Aris, dia biasa saja melepasku, tidak terlalu sedih dan pula tidak senang dengan kepergianku. Entahlah sulit menggambarkan perasaan cowok cool yang satu ini.

Sedangkan Amar? Bisa dipastikan, dia yang paling sedih kehilanganku. Dia merengek melarangku pergi, kalau aku tetap pergi Amar memaksa minta ikut.

Adik kesayanganku ini, tak mau melepas pelukannya. Aku tak kuasa membendung air mata yang tadi sudah berhenti turun.

"Amar, lelaki ganteng enggak boleh cengeng." Kuhibur dirinya, untuk berenti menangis.

"Kakak nanti pulang lagi kok ke sini."

Amar masih terus menangis, pelukannya semakin kencang dan sulit dilepaskan. Ketika taksi on line sudah datang, Amar baru mau melepas pelukannya.

Setelah mengantongi alamat rumah kakekku, aku berangkat diantar supir taksi menuju terminal.

Amar menangis histeris dan mengejar mobil yang mulai membawaku. Aku menoleh ke belakang dengan derai air mata. Meninggalkan mereka yang telah membersamaiku hingga saat ini sungguh terasa berat.

Taksi yang mengantarku hanya membutuhkan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai ke terminal dengan keadaan jalan yang tidak macet.

Dengan bawaan yang tidak terlalu banyak, tidak terlalu menyulitkan ketika aku mencari bus yang akan membawa tujuan ke rumah kakek dan nenek.

Setelah menemukan bus dan duduk di nomor yang telah ditetapkan, aku bernapas lega. Meninggalkan kota dengan berjuta rasa yang bercampur aduk. Penuh dengan suka duka yang sulit dilupakan. Kenangan yang akan selalu kuingat.

Sedikit perasaan gugup menggelayuti hati. Kalimat apa yang akan kuucapkan pertama kali nanti bila bertemu mama Linda. Ditambah bus yang akan membawa tujuanku terasa lamban bergerak, diriku sudah tak sabar untuk segera sampai dan bertemu mama. Aku terkantuk dan terlelap akhirnya. Namun sentuhan tangan seseorang membangunkanku.

“Udah sampe terminal akhir, Neng.” Kondektur bus memberitahukan posisi kami saat ini.

Aku menoleh kiri dan kanan, untuk melihat keberadaanku. Kucek semua barang bawaanku, masih utuh semua untungnya.

Semua penumpang telah turun, tinggal aku seorang di bus. Dibantu pak kondektur, aku menurunkan barang-barang. Suasana terminal sangat hiruk pikuk. Suara klakson bus dan angkot silih berganti. Membuat kepalaku pening, ditambah lagi dengan teriakan para kenek angkot.

Supir-supir angkot menawari untuk kutumpangi, sebelum naik aku bertanya dahulu lokasi alamat yang diberikan papa. Setelah diarahkan aku menaiki angkot tersebut. Otaku berpikir keras untuk mengambil langkah pertama yang harus kulakukan di kota ini.

Kuputuskan untuk mencari kontrakan kamar, untuk mengistirahatkan diri sebelum mendatangi alamat yang akan kutuju.

“Pak, dekat-dekat sini, maksud saya sepanjang rute angkot, Bapak ada kos-kosan enggak ya?” tanyaku karena sedang bingung memikirkan tempat tinggal selama berada di sini.

 Beruntung supirnya sangat baik, mau memberi tahu kamar yang bisa kusewa di sepanjang rute trayek angkotnya. Mujurnya tinggal aku sendiri penumpangnya, jadi pak supir bersedia mengantar. Biarlah nanti kuberi ongkos lebih padanya.

“Ini, Neng barangkali cocok dengan yang Neng mau.” Supir angkot yang kuketahui namanya pak Rusdi menginformasikan, setelah tiga kali kami mencari kamar kosong.

Di lokasi keempat ini aku merasa cocok dengan harga dan standar kamarnya. Lokasi yang tidak terlalu dekat dengan jalan raya, namun tidak terlalu jauh juga. Jadi masih ssangguplah aku bila turun darri angkot untuk berjalan kaki.

“Terima kasih, Pak Rusdi sudah repot-repot mengantarkan saya.” Kuserahkan ongkos yang sengaja kulebihkan padanya.

Pak Rusdi membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih setelah menerima ongkosnya.

“Saya pamit dulu, Neng semoga betah. Kalo ada butuh apa-apa, bisa menghubungi saya.”

Aku menerima niat baiknya dengan meminta nomor ponselnya. Kami bertukar nomor sebelum beliau meninggalkanku di tempat yang masih asing buatku.

Kurebahkan diri, memandang langit-langit kamar baruku. Menyusun rencana untuk bisa bertemu keluarga mama Linda. Menurut pak Rusdi, alamat yang akan kucari tidak seberapa jauh dari tempat kosku.

‘Semoga kakek dan nenek mau menerima baik kedatangan cucunya ini.’

 

***

user

26 December 2021 00:45 yenipalamia Lanjut terus kak. Gaskeun

user

26 December 2021 23:25 Asha Raya Semangat kak.. Keren.. Mampir di karya saya ya kak "Insecure Twins" terima kasih kakak

user

29 December 2021 18:06 Rani Iriani Safari Go go goooo

Pencarian

16 2

Pencarian

 

Hari telah berganti, pagi pertamaku di kota kelahiran orangtuaku yang juga tempat kelahiranku dulu. Udara bersih dan sejuk membuat tenang pikiranku. Aku harus segera menemui kakek.

Kuhubungi pak Rusdi untuk mengantarkan. Beliau bersedia, satu jam lagi menjemputku, saat ini sedang narik katanya.

“Hai, penghuni baru ya?” Suara perempuan asing menyapaku ketika sedang asyik menatap langit pagi yang cerah. Langit pagi yang jarang kunikmati selama ini, karena harus berburu waktu pergi ke sekolah dan berkutat di dapur membantu mama Nida.

Aku menoleh terkejut dengan sapaannya, lalu cepat tersenyum dan menerima uluran tangan perempuan yang tingginya kira-kira serratus enam puluh lima senti meter. Selisih empat puluh senti denganku. Ya ampun gue pendek amat ya.

“Kenalin, aku, Rima. mahasiswa semester tiga jurusan arsitek.” Senyumnya ramah.

“Olivia,” jawabku malu-malu.

“Masih sekolah?” tanyanya karena melihat ukuran tubuhku yang mirip anak kelas enam SD.

Aku menggeleng

“Kuliah?” tanyanya lagi.

Lagi aku menggeleng. Aah, iya mau ngapain ya di sini selain mencari mama, kuliah enggak, sekolah udah selesai, kerja juga enggak. Aku merutuki kebodohanku dalam hati. Aku harus mencari kerja  selama di sini untuk menopang biaya hidupku.

“Enggak, eh belum maksudnya. Mau kerja dulu, baru kuliah,” jawabku gugup.

“Kerja dimana?” matanya menilisik dari ujung kepala hingga kakiku.

Mungkin dia aneh melihat orang imut alias pendek begini mau bekerja. Hatiku meringis membayangkan apa yang dipikirkan Rima.

Aku kok merasa seperti sedang diinterogasi dengan pertanyaan teman baruku ini.

“Belum tahu, masih nyari-nyari.”

“Ooh, kirain udah dapet kerjaan.”

“Kak Rima, mau berangkat kuliah?” pertanyaan bodoh sebenarnya, melihat dirinya yang masih memakai baju tidur.

Rima tergelak mendengar pertanyaanku.

“Masa kuliah pake daster begini.”

Aku meringis mendengar ucapannya, dalam hati membenarkan perkataanya.

“Aku mau cari sarapan. Kamu udah sarapan?

Aku menggeleng. Aku baru ingat belum makan sejak datang kemarin. Rasa gugup untuk bertemu keluarga mengalahkan rasa laparku.

Rima mengajak ke warung nasi kuning yang lokasinya  berada di sisi barat tak jauh dari tempat kos. Warung yang menyediakan aneka menu khas sarapan itu sangat ramai diserbu para perantau yang bekerja dan juga kuliah.

Aku memilih untuk dibungkus saja. Aku tak nyaman dengan beberapa pasang mata yang menatapku. Sepertinya aneh bagi mereka melihat makhluk mini yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Atau bisa saja ini hanyalah perasaanku saja, karena terlalu sering mendapat perlakuan seperti ini. Semoga aku salah.

Kami menyantap sarapan kami di teras rumah kos. Sambil makan kami saling bercerita asal usul kami. Rima rupanya gadis Surabaya yang merantau karena diterima kuliah di sini. Beruntungnya dia bisa melanjutkan sekolahnya. Dalam hati aku berdoa semoga dimudahkan rezeki untuk bisa melanjutkan sekolah lagi.

Perempuan bungsu dari tiga bersaudara adalah anak dari pasangan dokter special kandungan dan dokter special anak. Beruntung sekali dirinya yang terlahir dari orang-orang berotak cerdas daan berekonomi mampu.

“Tadinya orangtuaku meminta untuk jadi dokter juga mengikuti jejak mereka, tapi nasibku ditolak di kedokteran. Akhirnya malah masuk ke dunia arsitek,” jawabnya ketika kutanya alasan tidak masuk kedokteran seperti orangtuanya.

Aku lalu masuk kamar untuk bersiap-siap ke rumah kakekku, setelah mengucapkan terima kasih telah membayari sarapan. Sebenarnya tidak enak juga baru pertama bertemu sudah dibayari, tapi Rima memaksa.

“Terima kasih banyak ya, Kak untuk traktirannya. Aku jadi enak, besok lagi ya,” candaku.

Rima tergelak mendengarnya.

“Kamu, lucu juga ya orangnya.”

Aku hanya tersenyum dengan ucapannya.

Tak lama pak Rusdi datang untuk mengantar ke alamat yang akan kutuju.

Begitu sampai di depan halaman tersebut aku ragu untuk masuk. Rumah sederhana bernomor 38, yang mengarah utara dengan halaman luas berukuran kira-kira tiga ratus meter. Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu. Setelah beberapa kali mengetuk dan mengucap salam, belum ada yang membuka pintunya. Aku mulai gelisah.

"Alamatnya bener kan ini, Pak?" Tanyaku memastikan pada pak Rusdi.

"Bener kok, Neng," jawabnya mantap.

"Saya coba tanya tetangganya dulu ya, Pak." Aku meninggalkan pak Rusdi dan menuju ke tetangga  rumah yang berada di sebelah timur.

"Adek, ini siapanya pak Anwar?" ucap pria paruh baya dengan rambut putih yang memenuhi kepalanya, ketik aku menanyakannya penghuni rumah nomor 38, sebelah rumahnya.

Bapak itu memperhatikan diriku rinci dari atas hingga bawah. Wajahnya penuh tanya.

"Saya keluarganya," jawabku setengah gugup.

"Kok saya belum pernah lihat sebelumnya," ucapnya menyelidik.

Aku terdiam, bingung antara ingin menjawab jujur atau tidak memeberitahu sebenarnya siapa orang yang baru kutahu benama Anwar adalah kakekku.

"Hmm, saya baru tahu keberadaan keluarga saya di sini beberapa hari lalu. Jadi baru bisa datang sekarang," ucapku menjelaskan.

Pak Burhan menganggukan kepala.

"Bentuk badan adek ini, mirip dengan Linda. Apa ada hubungannya dengan dia?"

Aku terkejut dengan pertanyaannya dan tersenyum tanpa menjawab. Lelaki paruh baya yang kutahu bernama pak Burhan tidak memaksa pertannyaanna untuk dijawab.

Dari pak Burhan baru kutahu, bahwa kakek Anwar sudah lama pindah, lima tahun sejak Linda dirawat di RSJ. Alasan kepindahannya karena rumahnya terpaksa dijual untuk biaya pengobatan Linda.

"Bapak tahu, kemana keluarga pak Anwar pindah?" tanyaku sedikit cemas, tapi aku berusaha untuk tenang.

"Bapak tidak tahu alamat pastinya. Karena ketika berpamitan tidak bilang kemana pindahnya.

"Sudah lama sekali ya, Pak."

“Iya, cukup lama juga.”

"Sekarang siapa yang menempati rumahnya?" Mungkin aku bisa mencari tahu dari penghuni baru setelah kakek Anwar.

“Sempat ada yang menempati, tapi tak lama. Rumah itu sudah beberapa kali berganti penghuni. Sekarang kosong sudah empat bulan.”

Ucapan pak Burhan sedikit meruntuhkan harapan untuk bisa bertemu dengan keluarga ibu kandungku.

"Oh ya, Pak, kalau anaknya pak Anwar dirawat di RSJ karena apa?" Aku pura-pura tak tahu dan ingin menkroscek perkataan mama Nida.

Kurang lebih apa yang diucapkan pak Burhan tidak jauh berbeda. Linda depresi karena diperkosa dan ditinggalkan paska melahirkan oleh Herman suaminya yang masih ada hubungan saudara.

Aku juga menanyakan alamat tinggal Herman, ayah kandungku.

"Kalau pak Herman? Apa pak Burhan tahu di mana tinggalnya sekarang?” tanyaku terus mengorek informasi.

Kembali gelengan yang kudapat sebagai jawaban atas ketidak tahuannya. Aku terus menggali informasi dari pak Burhan.

Aku tanyakan keberadaan anak kandung Linda, dan alamat RSJ tempatnya dirawat. Siapa tahu dari situ bisa kudapat informasi tempat tinggal kakek dan nenekku. Rupanya beliau tidak mengetahui sama sekali bayi yang telah tumbuh dewasa itu, yang kini duduk berhadapan dengannya.

Aku keluar dari rumah pak Burhan dengan mengantongi alamat RSJ yang sebenarnya sudah kudapat, karena hanya itu satu-satunya RSJ yang ada di kota ini. Lokasinya cukup jauh dari tempat kosku. Langkah kaki ini terasa lunglai saat menuju angkot pak Rusdi.

 

user

26 December 2021 23:25 Asha Raya Hampir finish kak.. Semangat mampir yuk ke "Insecure Twins" terima kasih Kak...

user

29 December 2021 18:05 Rani Iriani Safari Lanjuuut

Kenyataan

9 1

Kenyataan

 

Pencarian hari ini kuhentikan sampai di rumah pak Burhan. Tubuh dan pikiranku Lelah. Lelah memikirkan keluargaku yang entah dimana keberadaanya sekarang. Beruntung pak Rusdi sigap membantu mengantarkan. Aku bersyukur untuk itu.

“Besok mau kemana lagi, Neng?” tanyanya ketika kami sedang dalam perjalanan pulang.

“Alamat ini jauh nggak, Pak?” aku menunjukan kertas yang berisi alamat RSJ tersebut.

 “Lumayan jauh, Neng.” Pak Rusdi membaca sekilas, “mau ketemu siapa di sana?” sambungnya lagi.

“Ibu saya katanya dirawat di sana.” Raut pak Rusdi sedikit terkejut dengan jawabanku.

“Besok mau berangkat jam berapa? Biar bapak bisa pastiin mau narik apa enggak.”

Setelah diberi tahu perkiraan jarak tempuh dari tempat kos ke RSJ, di sepakati kami akan berangkat pukul delapan pagi.

Waktu sudah menunjukan pukul dua lewat dua puluh menit ketika anhkot pak Rusdi tiba di tempat kos.

Pak Rusdi menolak bayaran untuk jasanya hari ini.

"Besok aja sekalian, Neng." Tangannya mengembalikan uang yang telah kuserahkan.

Aku segera sholat zuhur, karena telah lewat waktunya terlalu lama. Sambil menunggu masuk waktu asar, aku merenung untuk segera mencari pekerjaan.

Di atas ranjang berukuran single aku berbaring memikirkan perusahaan mana yang mau menerima karyawan bertumbuh mini seperti aku. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Tak mungkin terus menerus menganggur, sementara pengeluaran terus berjalan.

'Kira-kira kerjaan apa ya yang pantas buatku? Barangkali mbak Rima punya info-info lowongan pekerjaan.'

Aku tak kuasa menahan kantuk, waktu ashar tinggal lima belas menit lagi. Kupaksakan mata ini untuk tidak terpejam. Untuk mengusir kantuk aku berselancar di sosial media. Aku membuka-buka akun Instagram yang sudah lama tak dikunjungi. Banyak tersebar foto teman-teman sekolahku yang sedang menjalani masa orientasi perkenalan mahasiswa baru.

Ikut bahagia hati ini melihat mereka yang diterima di universitas dan jurusan sesuai minat yang mereka harapkan.  Terbesit rasa iri, ingin seperti mereka bisa melanjutkan kuliah, tapi lagi-lagi aku harus tahu diri dengan kondisi orang tua angkatku.

Kutinggalkan Instagram yang hanya membuat hati menjadi sakit, karena iri melihat teman-teman bisa kuliah. Aku mencari-cari info RS yang akan kukunjungi besok. Meski sudah ada pak Rusdi yang akan mengantar, tapi aku ingin lebih dulu tahu tentang RS itu.

Rumah sakit yang terletak di pusat kota, sangat jauh dari tempat kosku ini. Aku memutuskan untuk membatalkan pak Rusdi yang akan mengantar besok, demi menghemat onkos. Beruntung pak Rusdi menerima alasanku, setelah meminta maaf karena membatalkan jasanya lewat telepon seluler.

Pagi-pagi sehabis subuh aku berangkat ke rumah sakit dengan menumpanng bus. Setelah memakan waktu dua jam akhirnya sampai.

Kepada petugas administrasi yang berjaga di meja depan, aku menyampaikan maksud kedatanganku.

“Tidak ada nama pasien dengan nama Rahma Linda,” ucap petugas berseragam biru muda yang kuketahui bernama Amalia dari papan nama di dada kanannya.

“Yakin, bu, nggak ada nama pasien itu?” tanyaku ulang untuk memastikan.

“Iya benar, Mbak. Tidak ada nama pasien itu di sini.” Matanya tetap awas pada layar computer mencari-cari nama yang kumaksud.

“Apa mungkin sudah keluar, Bu?” tanyaku lagi gelisah, “bisa dicarikan datanya, dulu dia pernah dirawat di sini.”

“Sebentar, saya cari.”

Aku menunggu dengan gelisah, berharap petugas tersebut bisa menemukan nama ibuku. Akhirnya peetugas itu menemukan nama ibuku.

“Ibu Rahma pernah dirawat di sini lama, dan meninggal lima tahun yang lalu.” Ibu Amalia menjelaskan di depanku yang sedang gelisah menunggu dengan gamblang.

“Apa? Sudah meninggal?” aku terkejut dengan penjelasannya.

“Iya, betul.”

Pikiranku sempat kosong sekejap ketika mendengar informasi terbaru perihal ibuku.

“Kalau boleh tahu meninggalnya karena apa?”

“Mohon maaf kami tak bisa memberitahukan begitu saja data-data pasien kepada pihak luar. Kalau boleh tahu, Mbak ini siapanya Ibu Rahma?”

“S-saya masih ada hubungan keluarga dengan ibu Rahma,” ucapku terbata-bata.

Dengan menahan tangis aku menanyakan dimana letak kuburnya.

“Maaf, kalau masalah pemakaman bukan tanggung jawab kami, itu sudah sepenuhnya hak keluarga pasien.” Lagi petugas itu tidak bisa memberi informasi lebih tentang Rahma Linda.

Namun aku tak kehabisan akal, kutanyakan lagi alamat dan nomor telepon pihak keluarga yang bisa dihubungi. Beruntung pihak rumah sakit berbaik hati padaku, mau memberikan alamat keluarga pak Anwar, orang tua Rahma Linda.

Aku keluar dengan langkah gontai. Kupandangi kertas berisi alamat yang akan kutuju, pemberian dari petugas meja depan rumah sakit. Air asin itu akhirnya keluar deras dari pelupuk mata, tanpa bisa kucegah. Cepat kuhapus air mata ini, sebelum menjadi tontonan gratis.

Menurut informasi dari ibu Amelia, alamat Pak Anwar cukup jauh dari rumah sakit yang sekarang kudatangi. Khawatir tiba di tempat kos sudah gelap, aku memutuskan untuk pulang.

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu tiga jam karena macet, aku meratapi nasibku yang sendirian. Ach, bukan sendirian, lebih tepatnya merasa sendiri.

“Baru pulang, Liv?” Rima menyapaku, tepat ketika aku hendak membuka kunci pintu.

“Iya, Mbak. Udah rapi, mau pergi ya?”

Sapaannya membuat urung masuk kamar, kami akhirnya ngobrol sebentar.

“Iya. Ini lagi nunggu temen.” Logat medok khas Surabayanya membuat aku menahan senyum.

“Temen apa temen? Pacar kali,” godaku.

Rima hanya tersenyum, “Bisa aja, kamu nih”

“Gimana, udah dapat kerja?” mengalihkan pembicaraan.

Aku menurunkan bahu, menggeleng. Rima hanya tahu aku keluar untuk mencari kerja, bukan untuk tujuan yang lain. Aku belum siap menceritakan padanya.

“Aku malah mau tanya sama, Mbak Rima, barangkali ada info lowongan kerja buat cewek mini seperti aku.” Tersenyum menutup mulutku malu.

“Kerja sama aku aja deh mendingan,” tawarnya

Aku mengerjapkan mata, mendengar tawarannya. Tak kusangka semudah itu mencari pekerjaan. Padahal aku belum pernah sekali pun mencoba melamar kerja.

 “Kerja apa, Mbak?” jawabku antusias.

Nyuci dan seterikain baju-bajuku. Mau nggak? Pembantu sini kerjanya nggak bener,” keluhnya, “nyucinya nggak bersih, dan ga rapi seterikanya. Enggak kelihatan habis diseterika,” lanjutnya.

Aku diam memikirkan tawarannya.

“Berani bayar berapa?” jawabku bercanda, karena kupikir dia hanya main-main.

“Tergantung hasil kerjanya. ntar banyak kok yang pake jasa kamu, kalo hasilnya memuaskan.”

“Nggak setiap hari kan?” aku masih harus mencari keberadaan pak Anwar dan isterinya. Itulah mengapa aku masih tawar menawar pekerjaan ini dengan Rima.

“Beres.” Mengacungkan ibu jari.

“Mulai kapan nih kerjanya?” tanyaku semangat.

“Secepatnya,” jawabnya cepat.

“Bayarannya jangan pelit-pelit ya,” ucapku tertawa, dan berlari ke kamar.

Lemparan tisu yang digulung-gulung kecil mendarat di kepala akibat lemparan Rima, sebab ucapan bayaran yang akan kuterima.

Baru dua hari kenal dan bertemu dengan Rima tapi kami sudah seakrab ini, tak ada kecanggungan dalam obrolan kami.

Tak lama masuk aku mendengar suara lelaki yang berbincang dengan Rima, aku coba intip pelan-pelan dari balik tirai jendela. Namun sayang mereka telah meninggalkan tempat berjalan menuju motor yang terpakir di halaman.

user

29 December 2021 18:05 Rani Iriani Safari Pelan tapi pasti menuju titik ujung, lanjuuut

Cemas

22 1

Cemas

 

Aku mendengar suara yang tak asing di telingaku sedang berbincang dengan Rima. Suara yang meskipun cukup lama tak terdengar lagi, tapi masih selalu kuingat hingga kini. Aku mencoba mengintip dari balik tirai jendela untuk memastikan. Sayangnya mereka telah berjalan menuju parkiran motor.

Aku terus mengintip, menunggu lelaki itu membalikan tubuhnya. Harapanku terkabul, lelaki itu membalikan tubuhnya, tapi masker dan helem menutupi wajahnya. Aku tidak bisa memastikan siapa orang tersebut.

‘Apa mungkin dia orang yang kukenal selama ini? Nggak mungkin!’ aku menggeleng keras, menyangkal.

Aku semakin penasaran dibuatnya. Sampai malam aku menunggu untuk memastikan, tapi hingga aku tertidur Rima belum pulang juga. Paginya aku berharap bisa menemui Rima, untuk sekadar berbasa basi perihal lelaki yang menjemputnya kemarin sore. Lama  menunggunya keluar dari kamar, namun hingga pak Rusdi datang untuk mengantar ke rumah pak Anwar, Rima belum keluar kamar juga.

Aku segera melupakan tentang lelaki yang jelas-jelas bukan urusanku. Gegas menaiki angkot, dan meminta pak Rusdi untuk melaju cepat. Aku sudah tak sabar untuk menemui keluargaku.

Kecemasan meliputi wajahku, keringat dingin tak berhenti mengalir. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa bahagia ini tak bisa ditutupi.

Pak Rusdi banyak bercerita sepanjang perjalanan. Lelaki itu masih tetap semangat mengais rezeki diusianya yang tak lagi muda. Kulit keriput dan warna putih di seluruh rambutnya tak menghalangi tekadnya untuk bekerja. Kuperkirakan usia beliau sekitar enam puluhan, namun semangatnya tak kalah dengan yang usia muda jauh dibawahnya..

Dia banyak berkisah tentang keluarganya, mulai dari kehilangan cucu, ditinggal mati anak perempuannya, kemudian menyusul isterinya yang meninggal juga. Kini dia tinggal menumpang dengan anak dan menantunya.

Menarik angkot dilakoninya untuk menopang biaya hidup juga membantu perekonomian anak dan cucunya. Walaupun sudah dilarang untuk bekerja, dia tetap melakukannya.

“Malu, kalau harus bergantung sama anak.” Alasannya

Kisah yang menginspiratif, batinku. Semangatnya perlu dicontoh.

“Masih jauh ya, Pak?” tanyaku, karena pak Rusdi terlihat santai membawa mobilnya.

“Sebentar lagi, Neng.”

“Bisa lebih cepat, Pak!” perintahku tak sabar untuk segera tiba.

“Kalau boleh tahu, rumah siapa yang akan kita datangi?” pak Rusdi melirik sekilas dan menambah kecepatanya.

“Rumah keluarga saya, Pak. Sudah lama tidak saya kunjungi.”

Pak Rusdi hanya menganggukan kepala dan tidak banyak bicara lagi hingga kami tiba di depan rumah yang kami cari.

“Sudah sampai, Neng. Ini rumahnya.”

Aku memandangi seksama rumah tersebut. Rumah sederhana berukuran kurang lebih sembilan puluh meter persegi, dengan dominan warna biru muda menutup tembok nya. Ada empat buah kursi plastic serta satu buah meja menghiasi teras. Di belakang kursi plastic juga terdapat bale-bale bambu, yang aku yakini sebagai tempat kakek Anwar  saat istirahat siang, karena suasana rumahnya begitu teduh.

Pohon rambutan yang belum berbuah menghiasi halaman rumah yang tak begitu besar.  Di bawah pohon rambutan, di lahan yang masih kosong ditanami pohon cabai dan terung. Kakek memang pintar mengolah lahan sempit ini menjadi produktif, batinku.

Dengan perasaan berdebar-deba dan keringat dingin yang tak berhenti mengalir sedari tadi di perjalanan, langkah kakiku memasuki halaman rumah tak berpagar itu. Ketukan pintu dan ucapan salam mengawali sebelum si pemilik rumah keluar. Setelah menunggu, tak lama seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun keluar dengan menggendong anak perempuannya yang masih balita. Matanya membola ketika melihatku

Sempat terdengar olehku wanita tersebut menyebut nama Linda.

“Cari siapa?” tanyanya.

“Apa betul ini rumah, Pak Anwar?” ucapku menjawab pertanyaannya.

“Iya, betul. Mbak ini siapa?” matanya memicing menatapku.

“S-saya, Oliv,” jawabku ragu, “Olivia Yuniar.” Kuulurkan tangan untuk menjabatnya.

“Olivia!” setengah berteriak, perempuan itu menutup mulutnya, seolah tak percaya.

“Beneran ini, kamu, Oliv?” tangan kanannya mengguncang bahu kiriku. Air mata mulai turun di pipinya.

Aku mengangguk dan menangis ketika perempuan itu menarik tubuhku untuk dipeluk. Kami menangis lama dalam pelukan. Perempuan yang membukakan pintu itu ternyata bibiku, namanya Maya. Dia adalah adik kandung dari ibu Linda.

“Kamu kemana aja, Oliv? Kami selalu menunggu kedatangan kamu,” tanyanya ketika kami sudah duduk di teras.

Kuceritakan semua aktivitas dan juga dimana saja  berada selama ini, termasuk kisah yang baru kuketahui akhir-akhir ini termasuk keberadaan ibu kandungku. Aku meminta maaf atas nama ibu Anida dan bapak Joni, karena tidak pernah memberi kabar.

“Memang saat itu, Teh Linda seperti depresi berat karena diperkosa. Lalu dipaksa menikah dengan si pemerkosanya, kemudian ditinggal begitu saja beberapa hari setelah kamu lahir,” cerita Bi Maya.

“Melihat kondisinya yang seperti itu, sahabatnya, Anida bersedia merawat. Dia itu ibu asuh kamu selama ini.”

“Keberadaan Ayah Herman sampai saat ini belum diketahui ya, Bi?”

“Kami sudah tidak mau tahu tentang dia lagi. Dia pernah mau membawa kamu pergi, memisahkan kamu dan Teh Linda. Itu juga yang menjadi sebab the Linda sempat ingin membunuh anaknya. Dia berpikir daipada dibawa Herman, lebih baik mati saja anaknya.”

Fakta baru yang kuketahui tentang ini. Ibu Linda tidak ingin membiarkan bayina dibawa dan dirawat oleh orang yang telah merusak masa depannya.

Aku baru sadar, sedari tadi belum bertemu dengan kakek dan nenekku. Kutanyakan keberadaan mereka. Bibi Maya tertunduk dan terlihat sedih ketika ditanya perihal tersebut.

“Ninik sudah meninggal, tak lama setelah Teh Linda. Kira-kira lima bulanan, karena terus-menerus kepikiran cucunya. Nenek kangen, kepengen ketemu, tapi nggak tahu dimana.”

Tak kuasa aku meneteskan air mata, menyesali keadaan yang mebuat aku tak peranh bisa bertemu nenek selamanya.

“Kalau kakek, dimana?” tanyaku masih dengan linangan air mata.

“Aki, kerja narik angkot. Sebenernya udah dilarang buat kerja, tapi tetep aja bandel. Alasannya biar ada kegiatan, nggak mau nyusahin saya katanya.”

Kok sama seperti pak Rusdi ya alasannya. Apa semua orang tua selalu punya alasan yang sama?

“Jam berapa biasanya, Kakek pulang?”

“Nggak pasti, tergantung kondisi Aki aja. Aki sekarang sakit-sakitan. Harusnya rutin periksa, tapi ya gitu. Aki susah dikasih tahunya.”

“Udah lama sakitnya? Sakit apa?”

Ada perasaan nyeri dan kasihan membayangkan kakek yang sudah renta masih harus bekerja, dan mengabaikan kesehatannya.

“Ya, biasalah penyakit orang tua,” ucapnya sambil menyusui anaknya dipangkuan.

“Saya mau bertemu, Kakek. Akan saya tunggu sampai pulang!” jawabku.

Sambil menunggu kami menikmati hidangan sederhana yang disuguhkan Bi Maya dan berbincang seputar aktivitas kami selama ini. Banyak hal yang kami bicarakan, termasuk kesukaan dari ibu Linda. Aku memang tidak tahu banyak soal ibu kandungku, karena mama dan papa tidak pernah menceritakannya.

“Eh, tadi kamu ke sini naik apa?”

Pertanyaan Bi Maya membuat aku ingat pak Rusdi yang sedari tadi dibiarkan menunggu. Segera kuhubungi ponselnya, hanya terdengar nada panggilan tanpa dijawab. Aku berniat mencari, tapi suara bibiku menahan niatanku.

“Nah itu, Aki sudah pulang.” Pandangannya mengarah pada jalan masuk menuju rumah yang membelakangiku.

Aku bahagia mendengar kepulangannya dan menoleh. Mataku membola melihat sosok yang menghampiri kami

 

Bersambung

user

29 December 2021 18:04 Rani Iriani Safari Peetahankan semangaat ...

Orang Yang Sama

15 1

Orang Yang Sama

 

Aku bahagia ketika bibi mengabarkan kepulangan ayahnya. Aku memutar tubuh untuk menyambutnya. Senyum manis telah kusiapkan, tapi betapa terkejut aku ketika melihat sosok lelaki yang berjalan menghampiri kami.

“Pak Rusdi?!” pekikku heran, sekaligus bertanya-tanya.

“Pak Rusdi? Tanya Bibi heran, “Ini, Aki kamu, Oliv!” ucapnya lagi.

“Bapak ini yang mengantarkan saya kesini, dia juga yang menemani saya kemana-mana ketika saya baru datang kesini nyari keberadaan keluarga, Kakek.” pekikku tak kuasa menahan haru.

“Jadi sebenernya pak Rusdi ini Pak Anwar, atau bagaimana? Saya nggak ngerti,” ucapku bingung. Aku mengusap wajah berkali-kali dan membuang napas kasar.

“Ini Aki Anwar,” jelas Bibi Maya yang mulai ikut bingung.

“Bapak, ngebohongin saya? Pura-pura jadi Pak Rusdi?” tanyaku kecewa.

“Maaf, Neng, waktu lihat pertama kali di terminal, bapak langsung ingat Linda anak Bapak yang sudah meninggal.”

Aku mengingat kejadian beberapa hari lalu di terminal, dimana seorang supir menghampiri dan menanyaiku.

“Mau ke mana, Neng?” tanyanya ramah karena melihatku yang sedang kebingungan.

“Mau ke sini.” Kusodorkan kertas berisi alamat yang ingin kudatangi.

Supir angkot itu sedikit terkejut membaca alamat yang kuperlihatkan.

Ketika kutanyakan kenapa, dia hanya menjawab tidak apa-apa.

“Ayo Neng, Bapak anterin!” tawarnya.

Aku menerima tawaran baiknya.

Pantaslah pak Rusdi menolak bayaran, ketika kusodorkan uang kemarin, batinku berkata.

"Waktu pertama kali lihat, Aki seperti melihat Linda. Mau, panggil nama Linda saat itu juga, tapi Aki sadar kalau Linda sudah tidak ada. Mau tanya, tapi takut."

"Takut kenapa, Kek?" Tanyaku dengan airmata yang madih mengalir deras.

"Takut kamu marah sama Aki, karena membiarkan kamu dirawat orang lain." Kakek mengusap air yang keluar di sudut matanya.

"Kakek!" Aku menghampiri tubuh ringkihnya dan memeluk erat lelaki tua yang kurindukan.

Lelaki yang kucari beberapa hari ini, ternyata sudah sangat dekat keberadaanya. Hanya saja aku tak menyadarinya. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan beliau dan juga meminta maaf, karena baru bisa menemui sekarang.

Pelukan kakek pun tak kalah eratnya, seperti enggan untuk melepaskan.

“Maafkan, Aki juga, karena sudah tahu kalau, Neng cucu Aki, tapi tidak  langsung bilang,” ucapnya masih dalam dekapan.

Kakek masih saja memanggilku ‘Neng.’ Panggilan yang membuatku merasa disayang teramat sangat.

Tangisan kami berhenti karena suara Anggi, anak dari Bibi Maya yang juga sepupuku terjaga dari tidurnya. Bayi itu ikut menangis pula. Bi Maya dengan menggendong Anggi tak sanggup menahan haru melihat interaksi kami.

Hati ini diliputi perasaan canggung setelah tahu bahwa pak Anwar adalah orang yang sama dengan pak Rusdi. Bingung harus memulai percakapan dari mana. Padahal sebelum semuanya terungkap, aku biasa saja berbincang dengan beliau dengan santai.

“Kek,” sapaku membuka keheningan di antara kami.

Kakek menoleh mendengar Namanya kupanggil.

“Kenapa, Kakek enggak bilang atau tanya-tanya asal usul, Oliv? Padahal kan, Kakek sempat yakin kalau, Oliv adalah cucu, Kakek yang selama ini menghilang.”

“Enggak tahu lah, Neng. Begitu lihat Neng Oliv, Aki langsung teringat ibumu, Linda. Badan Linda persis banget sama, kamu.” Kakek menutup mulutnya karena batuk.

Aku menyodorkan gelas besar berisi air putih yang sedari tadi disuguhkan Bi Maya, memintanya untuk minum sebelum lanjut bercerita. Batuk kakek membuat ceritanya terputus. Tangannya menahan dada yang sesak karena batuk yang sudah diderita sejak lama.

Gaya hidup tak sehat kakek menyebabkan dirinya terkena sakit TBC. Diusianya yang sudah tak muda, masih saja sering merokok, dan mengabaikan kesehatannya.

“Kakek enggak enak kan tiba-tiba nanya asal usul, Neng. Sementara, Neng masih asing dengan Aki.”

“Oliv senang akhirnya bisa bertemu dengan keluarga, Mama. Khususnya, Kakek setelah tahu mama dan nenek sudah meninggal.” Aku masih belum terbiasa memanggil Aki, mesikupun beliau menyebut dirinya Aki.

Kakek mengetahui alamat yang kudapat dari pihak RSJ, tapi lagi-lagi dia tidak banyak bertanya. Dia membiarkan aku mencari tahu semua sendiri. Hanya ada satu hal yang belum kudapati jawabannya, penyebab kematian mama.

“Kalau boleh tahu, apa penyebab kematian, Mama? Kemarin, Oliv tanya ke rumah sakit jiwa penyebab meninggalnya, tapi enggak dikasih tahu.” Tatapan mataku tak lepas pada untuk mendapatkan jawaban.

Kakek terdiam cukup lama, seperti memikirkan kalimat yang pas untuk disampaikan pada cucunya yang baru saja beerkunjung ke rumahnya.

“Aki, juga bingung mau menjelaskan dari mana.” Napasnya terasa berat saat berbicara.

Bukan karena mengingat kepergian anaknya, tapi karena menahan penyakitnya yang terasa sesak di dadanya.

“Kakek istirahat dulu ya, lanjut ceritanya nanti saja!”

Aku terpaksa menahan diri untuk menanyai kakek lebih jauh, dan memintanya beristirahat.

Mungkin aku bisa tanya-tanya ke Bibi Maya lebih banyak soal mama.

“Neng, nginep di sini aja ya! Aki nggak bisa nganter pulang kalau, Neng pengen pulang hari ini,” pintanya penuh harap dengan napas yang tersengal-sengal.

“Aki, juga nggak tega ngebiarin, Neng pulang sendiri,” lanjutnya lagi.

Untungnya tadi pagi sebelum berangkat aku sudah berjaga-jaga jika akan menginap. Aku sudah mempersiapkan baju salin untuk dua hari. Karena tak mungkin bila baru bertemu langsung ditinggal pulang begitu saja.

“Iya, Kek,” jawabku tersenyum.

Kakek dan bibi senang mendengar kesediaanku untuk tinggal di rumah ini beberapa hari. Aku dan kakek diminta makan siang dulu sebelum istirahat. Perutku memang lapar, sedari pagi hanya sempat diisi air putih. Kembali aku lupa belum makan apa pun, karena begitu gembira ingin bertemu kakek.

Selesai makan kurapihkan sisa makan kami. Rumah yang baru pertama kukunjungi sudah seperti rumahku sendiri. Melakukan aktivitas di dalamnya tanpa harus menunggu perintah dari tuan rumah

“Udah, Neng nggak usah dicuci piringnya! Biar, Bibi aja yang ngerjain!” pintanya.

Tetapi aku tak menggubris perintahnya, piring bekas makan terus aku cuci.

Sementara kakek istirahat di kamar dan Bibi Maya sibuk mengurus anaknya aku menyusuri rumah ini. Walau pun bukan rumah masa kecil ibuku, karena beliau tidak pernah tinggal di rumah ini hingga akhir hidupnya.

Lingkungan rumah tidak terlalu ramai, berbeda dengan rumah orang tua angkatku. Kukirimkan gambar rumah kakek pada mama Nida. Pesan kedua yang kukirim semenjak kedatanganku kemarin. Kuceritakan juga, bahwa supir yang mengantarku sejak kemarin adalah kakek. Mama menitipkan salam untuk kakek dan juga Bibi Maya. Kusampaikan salam tersebut.

Aku sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum istirahat siang menanyakan kondisi kakek yang batuk parah. Karena setahuku kemarin saat bersamanya, batuk kakek tidak separah hari ini. Hanya sesekali saja, itupun terasa ringan.

“Begitulah, Aki. Sudah dilarang dokter merokok, masih aja terus merokok. Suami Bibi juga meminta berhenti, tapi Aki suka ngumpet-ngumpet. Belum lagi ditambah minum kopi, capek ngasih tahunya.” Tangannya memukul-mukul dada emosi.

Aku hanya tersenyum, memaklumi bibiku yang letih memperingatkan kakek untuk berhenti merokok demi menjaga kesehatannya.

user

29 December 2021 18:04 Rani Iriani Safari Masya Allah, semangat luar biasa ...

Ziarah

14 2

Ziarah

 

Pagi pertama di rumah ini, aku membantu-bantu di dapur setelah tadi malam sempat berbincang santai dengan penghuni rumah dan beristirahat dengan nyaman. Kegiatan yang sudah biasa kulakukan saat di rumah mama Nida.

“Bi,” panggilku hati-hati, ketika dia sedang mengulek sambal untuk makan kami hari ini.

“Ya.” Tolehnya sekilas.

“Mama meninggal karena apa?” tanpa basi-basi aku bertanya langsung.

Bibi menghentikan kegiatannya dan mulai bercerita.

“Pihak rumah sakit waktu itu mengabari kami, katanya Teh Linda kritis. Kami panik dan segera menuju rumah sakit. Benar saja, di sana Mamamu sedang dalam penanganan dokter. Ninik menangis melihat kondisi anaknya. Rupanya Teh Linda mencoba bunuh diri.” Bibi  menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya.

Aku mendengarkan ceritanya dengan menahan nyeri di dada.

“Pihak rumah sakit mengatakan bahwa sebelumnya ada tamu yang datang menemuinya. Dia melempari tamu itu dengan segala benda yang ada dalam jangkauannnya.

“Siapa tamunya?” tanyaku tak sabar.

“Herman!”

“Laki-laki yang menghamili, Mama?” tanyaku untuk memastikan.

“Iya,” jawabnya menganggukan kepala.

“Mau ngapain dia nemuin, Mama? Apa dia sering datang ke rumah sakit, untuk nengok?” tanyaku bertubi-tubi.

“Bibi, juga nggak tahu. Menurut cerita perawat, Mamamu mengancam akan bunuh diri dengan pecahan kaca jendela yang kena lempar kursi, bila Herman tak mau pergi.”

Aku mendesis geram, dan bisa kurasakan juga getaran menahan emosi dari cerita bibi.

“Petugas berusaha untuk menenangkan dengan memberi suntikan penenang, tapi terlambat,” lanjutnya lagi.

“Teh Linda sudah terlebih dulu menancapkan kaca itu ke perutnya. Tamu tersebut diminta pulang, Teh Linda dibawa ke ruang gawat darurat. Sampai kami datang kondisinya tidak semakin baik.” Aku mulai terisak mendengar bagian tragis dari cerita bibi

“Jiwanya tak tertolong. Akhirnya Teh Linda dinyatakan meninggal oleh dokter. Ninik histeris, tak percaya.”

Kurasakan bibi memeluk untuk memberi ketenangan. Aku tak tahu siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini. Apakah aku harus menyalahkan Herman dan juga membencinya. Karena akibat perbuatannya, aku terlahir di dunia ini.

“Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah pada nangis?”

Suara kakek yang datang ke dapur, mengurai pelukan kami. Kuhapus cepat air mata yang turun deras di pipi.

“Aki, mau makan?” tawar bibi.

“Nanti saja!” jawabnya meninggalkan dapur.

Kuikuti langkahnya yang keluar rumah, menuju angkotnya yang terparkir di bawah pohon rambutan. Aku ingin dekat denganya lebih lama, untuk membayar masa-masa kehilangan sosok kakek ketika kecil dulu.

“Kakek, hari ini libur dulu ya narik angkotnya!” pintaku manja.

Kakek tak menanggapi ucapannya. Langkah kakinya terus melaju, kemudian berhenti tepat di pintu penumpang. Kakek merapikan kursi penumpang dan membersihkannya.

“Kalau, Aki nggak narik nggak dapat penghasilan,” ucapnya masih terus membersihkan angkotnya.

“Oliv, ke sini kan mau ketemu, Kakek. Eeh, Kakek malah ninggalin. Sehari ini aja ya, Kek,” bujukku terus merayu.

“Lagian kan, kakek masih kurang sehat. Harus istirahat.” Aku terus membujuk kakek untuk istirahat hari ini.

“Tuh kan, batuk lagi,” omelku ketika kakek menutup mulutnya karena batuk.

Kakek masih saja terus diam, tak mempedulikan ocehan cucunya yang merindukan kasih sayang lelaki tua tersebut.

“Kek,” panggilku.

Dia menjawab panggilanku dan menatapku sekilas, kemudian melanjutkan lagi kegiatannya.

“Oliv, mau ke makam Mama dan Nenek,” pintaku lirih.

Berharap dengan permintaan itu, kakek mau libur kerja hari ini.

“Aki, bersihin angkot ini juga mau bawa, kamu ke makam hari ini,” jawabnya tersenyum.

Mendengar tanggapannya membuat aku terkejut bercampur senang.

Beneran, Kek?” tanyaku antusias.

“Masa iya, Aki bohong sama cucu kesayangan Aki,” jawabnya tersnyum

“Terima kasih ya, Kek.” Kupeluk tubuh rentanya.

Selesai sarapan, kami berangkat ke makam. Dengan menaiki angkot yang dikendarai oleh mang Didin, suami bibi Maya yang sengaja tidak masuk kerja untuk mengantar kami. Anak pertamanya Junaedi duduk di samping ayahnya.

Sementara aku di kursi penumpang belakang bersama kakek, bibi dan kedua anaknya. Sepanjang perjalanan rangkulan kakek tak pernah lepas dari bahuku. Aku merasakan, kakek tak ingin kehilangan cucunya lagi. Sesekali batuknya terdengar, kusodorkan botol minuman padanya setiap kali batuk.

“Enggak apa-apa, udah biasa batuk begini,” seperti itu selalu jawabnya setiap kuminta untuk minum.

“Kita cek ke dokter dulu ya, Kek! Ke makamnya besok-besok aja!” pintaku.

“Nanti aja, pulang dari makam ke dokternya,” tolaknya.

Aku mengalah dan menuruti keinginannya.

Kami tiba di pemakaman setelah menempuh waktu tiga puluh menit. Posisi makam nenek dan mama saling berdampingan, ditutupi dengan rumput manila dan batu nisan bertuliskan nama masing-masing perempuan yang belum pernah kujumpai selama ini.

“Assalamualaikum, Ma. Ini, Oliv datang. Maafkan Oliv yang baru bisa datang sekarang, dan kita belum sempat bertemu,” ucapku terisak menyapa pada nisan yang tak dapat kudengar jawabannya.

Kuusap dan peluk nisan bertuliskan nama Rahma Linda binti Anwar, lalu menangis di atasnya. Ada rasa sesal yang sulit diungkapkan dalam hati ini.

Setelah puas menangis, kutaburi kedua pusara tersebut dengan bunga-bunga yang kami beli di pintu masuk makam. Kuusap sekali lagi kedua nisan itu sebelum pulang.

Sesekali aku menoleh ke belakang, memandang tempat peristirahatan terakhir mereka. Kaki ini berat untuk meninggalkan tempat. Air mata pun sulit untuk dibendung.

“Doakan, mereka. Jangan ditangisin terus menerus.” Kakek menasihati ketika kami sudah di angkot dalam perjalanan pulang.

Aku tak bisa berkata-kata, tangan ini terlalu sibuk menghapus air mata yang tak terbendung. Dering panggilan ponsel, menghentikan tangisku. Nama Mbak Rima tertera di layar.

“Halo, Mbak,” sapaku membuka percakapan.

“Kapan pulang? Pergi kok nggak ngasih kabar.”

“Rencananya besok baru pulang, Mbak,” jawabku.

“Jangan lama-lama! Bajuku banyak yang belum diseterika nih.”

Aku menepuk keningku, teringat pekerjaan yang ditawarkannya kemarin.

“Kalo bisa sekarang deh pulangnya!” pintanya memohon.

Masih dengan handphone yang kugenggam dan menempel di telinga kanan, aku melirik ke arah kakek yang duduk disebelah kiri.

“Oke, Mbak, aku otewe pulang nih.”

“Oke, aku tunggu ya.”

“Iya, Mbak!” jawabku mengakhiri percakapan.

Aku meminta maaf pada kakek dan bibi tidak bisa ikut pulang ke rumahnya, dan meminta mang Didin mengantarkan ke tempat kos. Setelah memberi alasan yang tepat, kakek mengizinkan.

Aku berjanji akan datang besok, karena bajuku masih ada di rumah kakek. Kakek menawarkan untuk menjemput besok, tapi aku tolak. Mengingat kondisi kakek yang kurang sehat. Aku bisa naik angkot sendiri ke rumahnya.

“Ke dokternya besok aja ya, Kek. Maaf hari ini nggak jadi periksa, Kakek,” ucapku penuh sesal ketika kami sudah tiba di rumah kos.

Kakek mengangguk dan tersenyum. Kuberikan sedikit uang untuknya, tapi ditolak.

“Buat pegangan, kamu aja,” ucapnya.

Aku terharu dengan penolakannya.

“Kakek, tunggu kamu besok!” ucapnya sebelum angkot meninggalkan tempat tinggalku.

Aku melangkah masuk pelataran rumah kos setelah angkot terrsbut hilang dalam pandangan. Terlihat Rima sedang berbincang dengan tamu lelakinya yang kulihat selumbari. Mereka asyik bercanda, sambil sesekali berpeganagn tangan.  Dia duduk membelakangi arah datangku

Rima yang duduk menyamping menoleh melihat kepulanganku.

“Akhirnya, kamu pulang juga,” ucapnya semringah dan melepas pegangan tangan pada lelaki yang kusimpulkan sebagai kekasihnya.

Lelaki itu menoleh ke belakang, ketika Rima menyambut kedatanganku.

“Kamu?” Dia berdiri dan jarinya mengarah padaku terkejut.

user

30 December 2021 19:10 Yovanie Rinenza Alhamdulillah bisa sampai ditahap ini

user

31 December 2021 00:03 Des Ditariani semangat kak... masih ada besok... saling suport mampir ke noktah hitam

Kehilangan Lagi

21 1

Kehilangan Lagi

“Akhirnya, kamu pulang juga,” ucapnya semringah dan melepas pegangan tangan pada lelaki yang kusimpulkan sebagai kekasihnya.

Lelaki itu menoleh ke belakang, ketika Rima menyambut kedatanganku.

“Kamu?” Dia berdiri dan jarinya mengarah padaku terkejut.

Kami sama-sama terkejut. Aku terpana melihatnya, tak menyangka bertemu dengannya lagi, di sini.

“Kamu ngapain di sini?” Nadanya meninggi karena terkejut.

Rima merasa heran bercampur tanya melihat interaksi kami.

“Kalian sudah saling kenal?” jarinya menunjuk kepadaku dan Ryan bergantian.

Bibir kami membisu. Aku takut salah jawab, jadi kubiarkan teman Rima untuk menjawab lebih dulu.

“Dia adik kelas, aku,” jawabnya pelan. Netranya tak berkedip sekalipun memandangku.aku yang dipandangnya seperti itu menjadi risih

“Bener gitu, Liv?” tanyanya memastikan.

“I-iya.” Dengan senyum yang kupaksa.

“Wah, kalau gitu, enggak usah repot-repot dikenalin ya,” ucapnya tertawa.

“Ryan, ini pacarku, Liv. Kami baru jadian tujuh bulan.” Rima memberi tahu dengan bangga.

Apa? Pacar? Pacar barusan katanya? Kak Ryan pacaran sama mbak Rima? Firdha, bagaimana? Dari kapan putus sama Firdha? Hatiku dipenuhi tanda tanya tentang hubungan mereka.

Ada senyum bahagia yang terpancar dari perkatan Rima tentang jalinan kasihnya dengan Ryan. Sementara aku lirik Ryan agak kikuk dengan informasi yang disampaikan kekasihnya.

“Apa kabar?” mengulurkan tangannya.

“Baik.” Kubalas uluran tangannya.

Tangan yang selalu kurindu untuk mengacak-acak rambutku bila sedang usil.

Rindu. Rasa itu yang pertama kali menghampiri kala berjumpa kembali dengannya. Ingin memeluk dirinya, tapi siapa aku baginya? Ada kekasih hati yang berdiri mengamati di sampingnya.

"Kamu capek nggak?" Suara Rima memecahkan kebisuan.

Aku tersadar dan menjawab kikuk.

"Eng-enggak, Mbak. Mau dikerjain sekarang?"

"Iya tuh, ada di kamar, ambil aja!" Dagunya mengarah ke kamarnya.

"Mau ngapain?" Tanya Ryan bingung.

Aku bergegas ke kamar Rima menghindari pertanyaan Ryan.

"Oliv, kerja sama, aku," jawab Rima

“Kerja ngapain?" Nada tanya Ryan terdengar gusar.

"Nyuci dan nyeterikain baju aku."

Percakapan mereka masih terdengar jelas olehku saat berada di kamar Rima.

"Ade kelas spesial atau biasa aja?" Pertanyaan yang berselimut cemburu keluar dari lisan Rima.

Tidak terdengar Ryan menjawab pertanyaan Rima.

“Permisi,” kehadiranku menghentikan percakapan mereka.

“Langsung saya kerjain ya, Mbak. Semoga bisa selesai malam ini,” ucapku dengan kedua tangan memegang keranjang berisi segunung pakaian Rima yang akan kuseterika.

 Setelah mendapat jawaban Rima aku meninggalkan sepasang kekasih yang salah satunya sedang diliputi rasa cemburu.

Dari balik pintu kamar tidak lagi terdengar percakapan mereka, yang kudengar kemudian hanya Ryan pamit pulang. Tak lama, Rima mengetuk pintu kamar.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku di depan pintu.

“Hmm, kamu dulu pernah ada hubungan sama, Ryan?” tanyanya penuh selidik.

Aku menggeleng, “hubungan dengan Kak Ryan hanya sebatas adik dan kakak kelas saja, Mbak. Enggak ada yang special,” jawabku menenangkan hatinya yang mulai terbakar cemburu.

“Aku harap kamu enggak bohong, karena aku sayang banget sama dia,” ucapnya agak khawatir.

Aku tersenyum dan memaklumi kekhawatiran yang melandanya. Rima meninggalkan kamarku dan membiarkanku menyelesaikan pekerjaan.

Tanpa menunda lagi, langsung kukerjakan baju-baju yang akan diseterika. Aku ingin cepat selesai, supaya besok bisa berangkat ke rumah kakek lagi lebih awal.

Pagi-pagi sekali aku baru sempat mengantarkan pakaian yang telah selesai diseterika. Aku terlalu Lelah, sehingga langsung tidur setelah selesai menyeterika.

Pintu kamar Rima terbuka setelah kuketuk berkali-kali. Mukanya terlihat masih mengantuk dan rambutnya acak-acakan ketika membuka pintu.

Kuserahkan keranjang berisi pakaiannya, kemudian pamitan untuk kembali pergi ke rumah kakek. Rima kembali melanjutkan tidurnya dan aku kembali masuk kamar.

Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu, Ryan sudah berdiri depan kamar.

“Ngapain?” tanyaku terkejut.

“Aku kepengen ngobrol.”

Aku? Aneh banget dengernya. Biasa juga gue elu.

“Mau ngobrol apa? Oliv, buru-buru, udah ditungguin!”

“Mau kemana? Ntar aku anterin!”

“Nggak usah, bisa sendiri.”

“Makan dulu kalo begitu! Aku tahu kamu pasti belum sarapan. Kebiasaan jelek masih aja di simpen,” cibirnya.

“Nih, aku bawain bubur.” Tangannya menunjukkan bungkusan dua kotak plastik makanan berisi bubur ayam.

Dia masih tahu aja kebiasaan aku, yang selalu menunda dan menganggap remeh makan pagi. Kami makan dalam diam, aku cepat-cepat menghabiskannya. Sudah tak sabar ingin segera bertemu kakek.

“Pelan-pelan aja makannya! Aku nggak minta kok.” Ryan mengingatkan.

 Aku tunda sebentar keberangkatanku, untuk menemani keinginannya berbincang

“Di sini kamu ngapain? Kerja atau kuliah? Aku mau nanya kemarin, tapi keadaan nggak memungkinkan.”

“Takut pacarnya cemburu ya,” ledekku.

Ryan hanya tertawa. Tawa yang telah lama tak kutemui sejak dia menjalin kasih dengan Firda.

“Oliv, mau ke rumah kakek.”

Kuceritakan singkat kronologis kehidupanku yang sebenarnya.  Belum lama aku cerita ponselku berdering, nama bibi tampak di layar. Aku mengangkat tangan kiri memberi kode, meminta Ryan untuk tidak bicara.

“Halo, Bi.”

“Liv, Aki, Liv.” Suara bibi terdengar putus dan terisak saat menelpon.

Aku dibuat panik dengan tangisannya.

“Kakek kenapa, Bi?”

“Aki, udah enggak ada.” Bibi menangis histeris.

“Apa?” aku menangis tak percaya mendengarnya.

Samar-samar aku mendengar teriakan Ryan memanggil namaku dan menanyaka apa yang terjadi. Pandanganku tiba-tiba terasa gelap, aku tidak sadarkan diri.

Aku tersadar dan sudah berada di kamar yang kuyakini kamar Rima. Ryan dan Rima menatapku sedih. Mereka sudah mengetahui apa yang menyebabkan aku tak sadar diri. Ryan mengambil alih ponselku dan berbicara dengan bibi.

Ditemani Ryan dan Rima aku diantar ke rumah kakek menggunakan mobil sewa. Sepanjang perjalanan aku tak berhenti menagis. Teringat pertemuan singkat dengan kakek yang tak lebih dari tujuh hari. Rima tak hentinya pula menenangkan hatiku.

“Kakek!” jeritku ketika tiba dan melihat tubuh rentanya terbungkus kain kafan.

Jasadnya telah siap dikubur, hanya menunggu kedatanganku saja kakek akan dibawa ke pemakaman.

Aku memeluk tubuh kakunya, meraung di atasnya. Terbayang perlakuan kakek selama pertemuan kami baru-baru ini. Penyesalanku tiada habis, karena belum sempat membawanya periksa ke dokter.

Bibi menarik paksa tubuhku, meminta untuk melepas kepergian kakek dengan hati lapang dan ikhlas. Aku menolak melepasnya, aku tak terima dengan pertemuan singkat kemarin. Aku belum puas.

Kulepaskan pelukan pada kakek setelah beberapa orang membujuk dan menasihati. Beberapa orang membawa keranda kakek ke masjid untuk disholatkan. Dalam satu liang yang sama dengan nenek, kakek dimakamkan. Kembali aku menangis dan memeluk nisannya, setelah satu persatu pengantar meninggalkan pemakaman.

“Kakek, kenapa cuma sebentar ketemu Oliv? Oliv masih kangen, Kakek.”

Aku tak mau pergi dari tempat itu. Baru kemarin aku mengunjungi makam mama dan nenek, hari ini aku kembali untuk mengantar kakek ke tempat terakhirnya.

Mengapa aku tak ditakdirkan bahagia lebih lama? Mengapa aku harus selalu merasakan sakit? Kebahagiaan yang aku punya selama ini hanyalah sebuah kepura-puraan saja. Semuanya bohong, semuanya palsu. Kebahagiaan itu dusta!

Aku marah, kecewa dan kesal pada diriku.

user

03 January 2022 22:26 Kristal Sedih

Mungkin saja kamu suka

Yajma Sadida
Nenek Uci
Afkar Althaf
Cinta di atas sajadah
Diannita Ratna ...
Bunga di Hati Nara
Afifah Kirani M...
KIRANIKA
Dimas Ardiansya...
My Cat

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil