Loading
50

2

28

Genre : Religi
Penulis : Tazzatia
Bab : 26
Pembaca : 17
Nama : Tazzatia
Buku : 2

Forget Me Not

Sinopsis

Hari esok akan selalu menjadi misteri. Yang mencuri hati tidak selalu tentang dia yang membuat dada bergetar, tetapi tentang seorang kupu yang kemanapun dia pergi selalu kuikuti. Dia yang selalu sabar dalam menghadapi segala hal. Membuat aku selalu bertanya apakah batas kesabaranmu sudah tidak lagi? Namun, ketika dia pergi aku jadi meragukan diriku. Semua pilihan yang telah aku tempuh terasa mengabur. Rasa insecure menghantui aku di manapun. Bayangan hitam selalu ada ke manapun kakiku melangkah. Apakah aku boleh meminta agar kamu tetap ada di sini? Kamu bilang padaku aku tidak akan terlupakan, tetapi kenyataanya mereka lebih dari sekedar menganggapku hantu. Aku hanyalah lelucon bagi mereka atas kepercayaan yang dari awal aku tidak pernah berpikir untuk mempermainkannya.
Tags :
#mualaf #friendship #insecure #beconfident #sad #happy #gamers #englishstudent #cosplayer #bebettermuslimah #loveyourself #nevergiveup #sliceoflife #choice

1. Kepergian Kupu-Kupu

11 5

Novita lari tergopoh-gopoh menuju rumah sahabatnya dengan air mata yang tidak terasa telah menetes deras. Gadis keturunan Cina itu tidak pernah menyangka hari ini akan tiba. Sejak hampir dua belas tahun lalu dia mengenal Lisa di bangku Sekolah Dasar (SD), dia merasa Lisa adalah bagian yang akan mengubah hidupnya dan itu benar. Lisa telah mengenalkannya pada Islam. Sayangnya Lisa belum bisa melihatnya dalam mengucap dua kalimat sahadat karena Lisa telah lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Memasuki rumah kediaman keluarga angkat Lisa, Novita langsung menuju ke tubuh Lisa yang sudah terbaring kaku. Novita merasakan dinginnya tubuh itu, berharap tubuh itu kembali menghangat dan bisa bergerak lagi kesana-kemari. Novita tidak bisa lagi membendung air matanya yang ada dirinya semakin berderai air mata. Dia memeluk tubuh Lisa erat, menangis tanpa suara. Dia masih sangat tidak percaya dan rasanya begitu sesak untuk menerima kenytaan yang ada. Namun, Desinya yang melihat situasi akan semakin buruk langsung membujuk Novita agar melepaskan pelukannya dari Lisa dan membawanya bersama kumpulan Golden Tree yang lain. Golden Tree sendiri adalah sebuah perkumpulan yang mayoritas anggotanya merupkan teman-teman SMP Novita.

“Udah Nov, ikhlasin Lisa, ya!” ucap Desi meski dirinya pun masih belum siap melepaskan kepergian Lisa.

“Semua gak semudah itu, Des. Gue kenal Lisa lebih dulu dari kalian semua.”

“Aku ngerti, tetapi kita semua janji buat gak terlalu larut dalam kesedihan ketika Lisa pergi.”

“Gue gak pernah mengiyakan janji itu. Gue masih pengen Lisa di sini. Gue masih belum nepatin janji gue buat ngucapin syahadat di hadapin Lisa.”

“Bismillah dulu, kamu pasti bisa menepati janji kamu itu. Aku tahu kamu gak main-main untuk itu.”

‘Apa aku bisa?’ batin Novita ragu.

Setelah Lisa tidak ada, mungkin semuanya akan terasa berbeda, termasuk untuk dirinya belajar soal Islam. Entah mengapa dirinya tidak pernah begitu dekat dengan yang lain. Dirinya sejak SMP sering dianggap antara ada dan tiada bagi orang-orang. Bagi Novita, Lisa itu begitu sabar dan mengerti dirinya. Novita bukan gadis yang suka aktif di sosmed atau dalam membalas pesan Whatsapp. Namun, Lisa selalu mengiriminya pesan hanya demi membuktikan bahwa Novita tidak secuek kata orang-orang yang tidak mau membalas pesan. Ya, Lisa berhasil membuatnya nyaman. Makanya hari ini merupakan salah satu hari yang sangat berat buatnya. Novita takut saat belajar Islam bersama yang lain rasanya akan sangat berbeda. Bisa saja yang lain malah menjadi menghakiminya karena yang lain tidak mengerti dirinya sebaik Lisa mengerti dirinya.

“Eh itu, tubuh Lisa mau dibawa ke mana?” tanya Novita setelah mengusap air matanya.

“Mau dimandikan,” jawab Desi.

“Gue boleh lihat gak atau ikut mandikan?”

“Kayaknya jangan deh, nanti kamu makin nangis. Lebih baik juga keluarganya saja.”

“Oke deh, tapi gue masih sedih, Des. Gue belum bisa bacain yasin buat Lisa.”

Desi langsung memeluk tubuh gadis it uke dalam dekapannya, “Gak apa-apa nanti kalau sudah syahadat insyaallah bisa.”

* **

            Lisa dimakamkan setelah waktu Zuhur. Kepergian Lisa meninggalkan kesedihan dan duka mendalam untuk banyak orang. Lisa adalah anak yang ceria, positif vibes, pintar dan super baik. Lisa memang tampak tidak memiliki celah, tetapi kenyataannya tidak begitu. Lisa memiliki banyak masalah dalam hidupnya termasuk soal kesehatan. Lisa mengidap Leukimia. Sesuatu yang selama ini sangat rapi dirinya sembunyikan dari banyak orang termasuk Novita. Lisa baru memberi tahu gadis itu sebulan terakhir.

Flashback On

            Saat itu Lisa bersama Novita berjanjian untuk pergi membeli bahan yang kosong untuk bisnis makanan anak Golden Tree. Setelah lelah berbelanja mereka berhenti ke salah satu tempat makan bernuansa Jepang. Mereka berdua memesan pesanan yang sama.

            “Ih Novi, main game mulu.”

            “Tanggung Lis, udah mau menang, Nih.”

            “Yaudah deh, gak apa-apa. Soalnya nanti pasti bakal susah cari waktu buat main game.” Novita memasang wajah keponya.

            “Karena kalau kita sudah lebih mencintai Tuhan kita, kita akan lebih fokus ke Dia.” Novita tertegun dengan ucapan Lisa. Memang benar apa yang gadis itu katakan.

            “Lis jawab yang jujur deh, gue pantas gak jadi hamba Tuhanmu?”

            “Eh, kenapa tanya begitu?” Lisa tidak habis pikir dengan sahabatnya satu itu.

            “Ya, guekan masih suka ngegame. Gue merasa masih kurang dalam belajar mencintai Tuhanmu.”

            “Eh jangan salah, game juga bisa lho jadi ajang dakwah. Yang salah itu ketika main game malah lupa waktu dan lupa ibadah. Novita yang sekarang sudah jauh lebih tahu waktu, sih”

            “Wah, parah kalimat terakhir.” Lisa tertawa lepas dengan ucapan Novita

“Eh, by the way gimana buku sirah nabawinya bagus?”

“Bagus, gue suka, Lis. Gue suka banget kisah Umar. Hidayah itu gak ada yang tahu ya, bisa datang kapan saja. Gue bersyukur ketemu lo.”

“Alhamdulillah, gue juga.”

Pesanan kedua sahabat itu datang. Keduanya berterima kasih kepada pelayan yang mengantar dan keduanya langsung menyantap pesanan mereka setelah itu. Lisa menghabiskan makanannya lebih dahulu meninggalkan Novita yang agak lambat dalam urusan makan. Lisa malah ingin memesan lagi.

“Dasar ruminansia,”

“Ye biarin aja.” Lisa menjulurkan lidahnya kepada Novita.

“Lis besok Senin gue mau coba ikutan puasa, ya.”

“Eh, yakin?” Novita mengangguk yakin.

“Boleh dong, sekalian biar gue puasa sunnah. Hitung-hitung melatih diri juga buat kamu pas jadi mualaf ntar.”

“Iya, gue juga mikir gitu.”

“Nov,” ucapan Lisa yang ini jauh terdengar lebih serius. “Kalau nanti gue udah gak bisa ngajarin lo tentang Islam lagi lo akan terus belajar Islamkan?”

“Ya iyalah, gue kan udah dari setahun lalu mau masuk Islam. Lagipula itu pilihan gue bukan karena lo juga, kan lo perantara.”

“Nah, gitu dong bagus.”

“Tapi, kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?”

“Gue tahu gue harusnya bilang dari lama tapi gue gak mau buat lo jadi kepikiran. Gue sakit Leukimia,” ucap Lisa sendu di kalimat terakhir. “Gue merasa umur gue mungkin gak lama lagi. Gue gamau lo berhenti belajar tentang Islam kalau gue udah gak ada.”

“Lis, lo bilang apa sih! Gak! Lo pasti sembuh.” Novita mengambil tangan Lisa dan menggenggamnya erat. “Gue janji akan terus belajar Islam kok. Lo harus lihat gue syahadat ya ntar.”

“Insyaallah,”

Flashback Off

            “Nov, ayo pulang!” ajak Desi. Suasana pemakaman sudah mulai sepi. Hanya menyisakan keluarga inti dan sahabat-sahabat Lisa.

            “Gue masih mau di sini, boleh gak?”

            “Selama apapun kamu di sini. Seberusaha apapun kamu mengobrol sama gundukan tanah ini, Lisa gak akan lagi bisa balas suara kamu.” Novita meneteskan air matanya lagi.

            “Oke, aku pulang, tapi aku belum mau pulang ke rumah. Tolong telepon Mama aku, aku pulang telat. Ada suatu tempat yang mau aku kunjungi dulu.”

            Desi mengangguk, menuruti keinginan Novita. Novita pun meninggalkan pemakaman sesuai janjinya. Dalam perjalanan ke suatu tempat pikirannya bercabang, untung dia tidak menyetir sendiri melainkan menaiki ojek online. Novita jadi kurang percaya diri, dan dia menjadi insecure tentang keteguhan dirinya dalam mendalami Islam dan menjadi seorang muslimah.

***

#NULISDIBUKULAKU

#OLIMPIADEMENULIS

#KMOCLUB

user

07 December 2021 08:36 Ini Ami Mampir di aku Sa

user

07 December 2021 09:21 Asha Raya Semangat Kak Asa...

user

10 December 2021 18:31 a Keren, Kak Asaa

user

13 December 2021 00:36 Asmarani Syafira Kak Asa. Mampir juga ke cerita saya judulnya https://bukulaku.id/listsarkat/06122021083633/Alif-Kecil-dan-Mimpi-Pelangi

user

13 December 2021 00:36 Asmarani Syafira Kak Asa. Mampir juga ke cerita saya judulnya https://bukulaku.id/listsarkat/06122021083633/Alif-Kecil-dan-Mimpi-Pelangi

2. Mesin Waktu

5 2

“Waktu tidak akan bisa tergantikan. Hidup terus melaju ke depan, tetapi karenamu aku bisa merasakan rasanya mempunyai mesin waktu. Persahabatan ini tidak akan pudar oleh waktu, meski ragamu tak lagi bisa kupeluk.”

***

“Berhenti di sini saja, Bang!” pinta Novita pada si abang ojol dan bergerak cepat langsung membuka helmnya.

“Mau ngapain ke SD, Neng? Sudah sore, lho, kan gak ada orang lagi.”

“Ada misi rahasia, Bang,” ucap Novita gambling sementara si abang ojol penuh tanda tanya.

“Ah, si Neng mah aya aya wae. Gak mau melakukan hal anaeh-aneh kan, Neng?”

“Ya enggaklah, Bang. Saya orang baik-baik, kok.”

“Lah, jadi Neng bawa sekop buat apa?”

“Buat gali sesuatu, Bang.”

“Nah, kan makin aneh.”

“Ih Bang jangan negative thinking dulu, saya ke sini mau gali mesin waktu saya sama sahabat saya. Udah, abang mending narik lagi aja. Nih, uang ongkos saya, lebihnya buat abang aja.”

Novita memberikan selambaran serratus ribu kepada si abang ojol. Abang ojol tersebut kemudian langsung pergi setelahnya dan tidak mau mencampuri urusan Novita lagi. Novita memasuki SD lamanya dengan Lisa dulu dengan sudah meminta izin kepada satpam yang ada di SD tersebut. Bahkan Novita meminta si satpam membantunya mengeruk tanah di belakang gedung sekolah yang ada di bawah pohon di sana.

“Neng, kemarin sebulan lalu yang Neng Novi sama Neng Lisa kubur di sini apa sih, Neng? Duit? Atau malah emas?” tanya si satpam kepo.

“Bukan kok, Pak, Cuma barang-barang kita berdua saja sih.”

“Terus kok cuma Neng yang datang? Neng lisanya mana?” tanya si satpam lagi. Ekpresi wajah Novita yang tadinya sudah mulai stabil seketika berubah sendu lagi.

“Lisa sudah gak ada, Pak. Bahkan saya baru pulang dari pemakamannya.”

“Innalillahi, maaf ya Neng, Bapak gak bermaksud.”

“Gak apa-apa, Pak.” Novita menahan tangisnya agar tidak jatuh lagi.

Penggalian sesuatu dari dalam tanah pun berhasil dilakukan. Sebuah kotak berbentuk kotak harta karun berhasil terkeluarkan. Kotak itu masih kotor dengan tanah. Bersama si satpam, Novita menuju pos satpam dengan mengangkut kotak yang tadi digali. Novita meminjam kain bekas dari si satpam untuk membersihkan permukaan kotak dari tanah yang menempel.

“Makasih ya Pak, ini ada uang untuk beliin anak Bapak jajan.” Uluran tangan Novita yang ingin memberikan uang ditolak oleh si satpam.

“Neng, tidak usah. Uangnya diberikan sama yang lebih membutuhkan saja. Dan sabar ya Neng, jangan sedih terus. Kalau Neng sedih nanti Neng Lisa pasti sedih juga. Semoga Allah memudahkan proses Neng menuju Islam ya.”

“Lisa yang kasi tahu ya, Pak.” Si satpam mengangguk lembut. “Aamiin …, makasih ya, Pak. Saya permisi dulu.”

“Sama-sama Neng, hati-hati.”

***

Novita membuang napasnya berat sebelum membuka kotak mesin waktu milik dirinya dan Lisa. Dia baru saja selesai mandi. Novita mengucap bismillah sebelum membuka kotak di hadapannya. Meskipun, belum menjadi seorang mualaf Novita sudah mempercayai bahwa hanya Allah Tuhan bagi alam semesta beserta isinya, dia hanya perlu meyakinkan dirinya.

Benda yang pertama diambilnya adalah jepit rambut berbentuk topi yang sering dipakai Lisa waktu di SD sehingga dijuluki “Ratu Belanda”. Novita ingat betul betapa Lisa kecil tampilannya benar-benar seperti anak perempuan feminin pada umumnya tetapi gaya jalannya sangat berkebalikan dari tampilannya. Novita jadi teringat kenangan mereka ketika SD.

Hari itu hari pertama masuk sekolah, semua anak diantar oleh orang tuanya, Lisa pun begitu, tetapi setelah mengantar Lisa orang tuanya langsung pulang. Sejak kecil memang Lisa tidak begitu mendapat perhatian, dia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Adegan memalukannya adalah Novita kecil menangis tidak mau masuk ke kelas saat itu.

“Mei, jangan nangislah! Di sini kan ada banyak teman.”

“Gamau Ma, dede gamau sekolah.”

Lisa kecil mendatangi Novita kecil yang menangis. Lisa berniat membujuk Novita agar tidak menangis lagi.

“Hei kamu, kenapa menangis?” Lisa tidak mendapat jawaban dan Novita masih menangis. “Jangan nangis, yuk masuk ke kelas kita duduk bareng. Sekolah seru lho, nanti ada juara-juaranya.” Lisa berucap polos.

Berkat bujukan Lisa, Novita pun berhenti menangis. Mama Novita berterima kasih kepada Lisa kecil. Lisa menggandeng tangan Novita untuk masuk ke dalam kelas.

Selesai dengan flashback di masa SD, Novita kembali mengambil barang dari kotak. Barang kedua yang diambilnya dari kotak itu adalah hijab pertama yang digunakan Lisa untuk pertama kalinya. Novita mengenakan hijab itu di kepalanya, Novita mengibaskan tangannya di depan matanya agar tidak menangis. Kemudian, Novita juga mengambil ketupat mainan dan kotak pensil Lisa yang penuh tanda tangan Novita dari kotak itu. Ada percakapan konyol semasa SMP yang masih diingatnya.

“Ketupat bukannya warna-warni ya,” ucap Novita polos.

“Eh, mana ada. Polos banget sih,” Gilang anak lelaki di kursi belakang menimpali.

“Baby bear, Baby bear, ketupat apa yang warna warni.” Lisa sudah tertawa puas. “Itumah buat hiasan jalan yang warna-warni. Gak pernah makan ketupat ya.”

“Yak an gak tahu, gak pernah makan juga. Habis cacing kalau didatangi pas lebaran ke rumahnya gak ada orang.”

“Ya, namanya ke tempat saudara.”

Panggilan khusus antara keduanya pun terdengar aneh, Lisa memanggil Novita Baby Bear cukup logis dan tidak ada niatan terselubung. Namun, panggilan Novita untuk Lisa malah terkesan menghina. Lisa sendiri pun tidak masalah dipanggil begitu.

Novita tidak kuat lagi membendung air matanya dan meneruskan membongkar isi mesin waktu mereka. Novita tidak bisa membayangkan lagi di dalam hidupnya dia kehilangan satu warnanya. Dia tidak bisa menjahili Lisa lagi dengan mencoreti buku outlinenya atau memoto wajah tidur Lisa. Dia tidak akan lagi mendapat pesan dari Lisa untuk belajar mengaji. Dan yang parahnya dia tidak akan lagi punya tempat cerita saat dikucilkan oleh orang-orang sekitarnya, tidak ada lagi sahabat yang siap memeluknya dikala butuh pelukan.\

“Lisa …, gue masih mau lo di sini.” Novita sedikit berteriak dan tangisnya pecah lagi.

Bagaimana mungkin semuanya akan terasa mudah bila kehilangan sahabat yang sejak kecil sudah bersama dengan kalian? Mengingat dari semua teman, Cuma Lisa yang sampai Novita sudah sebesar ini yang selalu ada di saat suka maupun duka. Tak lama pintu kamar Novita terbuka, ibunya masuk ke dalam dengan kunci cadangan, takut anaknya kenapa-napa.

“Mei udah, jangan nangis lagi. Kalau kamu nangis terus apa Lisa bakal balik, kan enggak.”

“Limei takut gak ada yang mau temenan lagi sama Limei, Ma.”

“Jangan bilang gitu, pasti ada. Kamu daoakan saja Lisa agar dia tenang. Mama pun merasa kehilangan, Nak. Lisa anak yang baik.”

Mama Novita memeluk anaknya. Novita merasa agak aneh pada awalnya karena Mamanya pun sudah lama tidak memeluknya.

“Kamu harus bisa meneruskan semangat Lisa, Mei. Jangan terlalu banyak insecure kamu gak bakal punya teman. Mama percaya kamu hanya butuh waktu agar bisa lebih terbuka sama teman-teman kamu di Golden Tree.”

“Iya Ma, maaf tadi Mei teriak.”

“Tidak apa-apa, Mama tahu kamu sedih.”

Tidak lebih berat putus cinta dari kehilangan sahabat. Apalagi saat dia sudah seperti saudaramu sendiri. Kehilangan pacar ataupun kekasih cepat atau lama akan tergantikan, tetapi sahabat dengan jiwa yang sama, sulit tergantikan.

***

#NULISDIBUKULAKU

#OLIMPIADEMENULIS

#KMOCLUB

#BATCH30

user

07 December 2021 21:40 Ini Ami Semangat

user

10 December 2021 18:36 Arum Aisyah Semangaat

3. Sebuah Kabar Kosong

4 1

Novita sedang berlatih gerakan sholat. Dia membentangkan sajadahnya luruh searah kiblat. Dia juga tengah menutupi semua auratnya dari hal-hal yang dapat membatalkan sholat. Meskipun hanya berlatih, Novita mengerahkan penuh konsentrasinya pada bacaan sholat. Tentu bacaannya masih terbata, hanya saja itu tidak menjadikannya alasan untuk menyerah.

Lima menit berlalu saat latihan sholat, ada ketukan pada pintu kamarnya. Itu adalah ketukan pintu dari Mamanya yang mengkhawatirkan anaknya belum sarapan pagi. Novita yang masih merasa insecure akan apa yang ia lakukan langsung berhenti berlatih sholat serta menyembunyikan sajadah dan mukenanya. Namun sayang, Mamanya sudah melihat lebih dahulu apa yang ingin dia sembunyikan.

“Mei, tidak perlu kamu sembunyikan lagi. Kamu pikir Mama tidak tahu apa yang selama ini kamu lakukan?”

“Ma, Limei mau minta maaf kalau apa yang Mei lakukan menyakiti hati Mama.”

Mama Novita menggeleng, dia membawa anaknya untuk duduk di ranjang. Dia menatap anak bungsunya itu lembut.

“Mama gak akan marah atas apapun hal baik yang mau Mei lakuin. Mama Cuma agak kesal mengapa Mei tidak bilang dari awal pada Mama?”

“Mei takut Mama akan marah, dan Mama tidak akan menyetujui keputusan Mei.”

“Tidak, Nak. Meskipun selama ini Mama sering marah-marah itukan karena Mama sayang sama kamu. Tentang kamu yang akan masuk Islam Mama menyetujui, kok.”

“Mama benar-benar tidak masalah dengan itu? Mama tidak masalah jika nanti Mei tidak bisa mengikuti perayaan Budha?” Mama Novita menggeleng lembut.

“Tidak, bagaiamanapun keyakinan Mei itu tidak akan mengubah hubungan darah yang terikat di antara kita kan.”

“Benar sih, tetapi bagaimana dengan keluarga besar? Pasti mereka akan tidak setuju.”

“Kamu jangan khawatir, Mama yang akan pasang badan.”

“Thanks, Ma.” Novita langsung memeluk Mamanya lembut.

Dari dulu, sejak Papa Novita meninggal memang cuma Mama yang paling bisa mengerti dirinya di keluarga ini. Hanya saja, selama ini Novita tidak pernah menyadari itu. Sejak kecanduan game dirinya memang jauh lebih mudah emosi, Lisa yang membantunya agar bisa mengontrol emosinya itu, hingga dirinya bisa menjadi Novita yang sekarang ini.

“Tapi Mama mau tanya deh,” ujar Mama Novita pada anak gadisnya.

“Iya Ma, tanya saja.”

“Kamu memutuskan semua ini bukan karena orang lainkan? Bukan karena Lisa? Mama gak mau kamu malah mempermainkan agama, Nak.”

“Ma, aku mau masuk Islam yak arena diriku sendiri, untuk apa aku lakukan karena orang lain. Kan, aku yang membawa diriku sendiri, bukan orang lain. Doakan ya Ma, supaya Mei bisa istiqomah.”

“Iya, Nak, Aamiin.”

***

Novita sedang di Fastco Company. Fastco Company adalah best camp-nya Golden Tree, yang juga merupakan tempat mereka melancarkan bisnis makanan mereka. Dulu tempat makan itu hanya bangunan biasa pada umumnya untuk orang berjualan, sekarang karena usaha mereka telah laris dan terkenal, kini gedung Fastco Company sudah menjadi tingkat dua dengan tiga lantai. Memang rasanya mustahil anak-anak remaja yang baru tamat SMA seperti mereka bisa seberhasil itu dalam membangun bisnis. Namun, tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. Bagaimanapun niat awal mereka berbisnis untuk membantu orang-orang di sekitar juga dan agar mereka tidak perlu lagi jajan di tempat lain. Tidak disangka bisnis mereka berjalan lancer, bahkan beberapa karir dari anggota Golden Tree sudah mulai bersinar. Kalau Novita masih jauh ketinggalan. Makanya gadis satu itu mudah insecure.

Novita saat itu sedang ada di lantai dua di gedung Fastco Company, khususnya di perpustakaan yang baru saja dibentuk, bahkan buku-bukunya masih banyak yang baru. Namun, Novita tidak ingin membaca buku di sana melainkan ingin bermain game, atau lebih tepatnya lagi ada kerjaan untuk menaikkan rank akun game orang lain. Sebenarnya tidak hanya main game, ada sedikit rasa penasaran juga di hatinya mengenai pengumuman kelulusannya perguruan tingginya.

“Ngegame lagi?” tanya Desi mendatangi Novita sambil membawa laptop duduk di sebelahnya memantau hasil pengumuman perguruan tingginya.

“Gue sih gak yakin gue keterima. Sastra Inggris UI lho itu, dikira gampang. Kalau lo sih udah pasti lulus, Des. Lo juga suka masakkan, dan masakan lho enak lagi.”

“Ih kamu ini, harus yakin lulus dong.”

“Lagi pula lulus juga buat apa, udah gak ada Lisa.”

“Kenapa?” Takut gak ada temen?” Novita mengangguk sambil masih fokus menatap layar handphonenya. “Kamu tuh, insecure mulu deh. Banyak kok yang mau berteman sama kamu pasti, kamu aja yang menutup diri.”

“Siapa coba yang mau temenan sama gue?”

“Aku,” ucap Desi lantang. “Maksudku, aku mau lebih dekat sama kamu. Tapi kamu tuh gak peka. Aku bukan tipe teman yang kamu mau ya?”

Novita speechless sesaat, apa selama ini dia emang tak sadar ada beberapa orang yang mau lebih dekat dengannya. Novita memang terlalu merasa orang lain akan menolak kehadirannya, “Ya, gak gitu, Des. Lo teman yang baik kok, tapi mungkin gue butuh waktu buat dekat sama lo atau orang lain yang mau lebih dekat sama gue.”

“Oke, kalau gitu, kalau ada apa-apa cerita ya sama aku. Aku emang bukan Lisa dan gak akan bisa gantikan Lisa, tapi aku bisa kok jadi pendengar yang baik.”

“Thanks, Des.”

“Anytime,”

Selanjutnya keduanya fokus pada layar masing-masing, sampai tiba-tiba Desi memeluk Novita refleks. Novita agak terkejut karena belum pernah dipeluk Desi sebelumnya, tetapi Novita sudah paham bahwa dengan refleks begitu sudah dipastikan Desi lulus di perguruan tinggi khusus jurusan Tata Boga. Jurusan yang sangat cocok sekali denga napa yang Desi gemari.

“Selamat ya, nanti kalau jadi chef terkenal jangan sombong.”

“Makasih Nov, oh iya kamu gimana?”

“Sudah pasti gak lulus.”

“Eh masa, sini deh aku lihat.”

Novita memberikan akses masuk Desi ke pengumuman perguruan tinggi yang ia tuju. Dirinya melanjutkan bermain gamenya. Lima menit kemudian dirinya selesai bermain game, dan Novita pun telah mendapatkan transferan uang karena telah berhasil menaikan rank akun game yang punya akun.

“Nov, lulus alhamdulillah.” Desi agak berteriak mengatakan itu.

“Eh, masa?” Novita tidak percaya kemudian langsung melihat ke layar laptop.

Saat melihat ke layar laptop benar saja dia diterima di UI jurusan Sastra Inggris. Antara percaya dan tidak dia bisa lulus di perguruan tinggi favorite itu, padahal menurut Desi itu pantas Novita dapatkan karena saat test masuk pun Novita belajar keras meski dirinya tidak begitu pintar. Namun, Desi tidak melihat raut bahagia pada wajah Novita.

“Des, aku ke kamar duluan ya,” ujar Novita pamit begitu saja pada Desi.

Handphone Novita bergetar saat dia menaiki tangga menuju lantai tiga. Ada pesan whatsapp. Novita baru membuka pesan itu saat telah merebahkan badan di kamar.

[“Selamat Nov atas kelulusannya di UI]”

Novita menutup handphonenya sambil membuang napas setelah membaca pesan barusan. Dia tidak berniat membalas pesan itu. Tidak penting juga. Dia hanya merasa kosong. Dia melirik tempat tidur di sebelahnya, hanya menyisakan bayang-bayang Lisa yang tertidur dengan muka lelah di sana.

***

#NULISDIBUKULAKU

#OLIMPIADEMENULIS

#KMOCLUB

#BATCH30

user

13 December 2021 00:38 Asmarani Syafira Selamat juga buat Novuta

4. Bukan Untuk Dikejar

4 0

“Kamu tidak perlu mengejarku terlalu keras karena akan ada tembok besar yang memisahkan kita.”

***

            Hari pertama kuliah berjalan biasa bagi Novita. Malah menjadi hal yang sangat membosankan. Novita memanfaatkan waktu istirahat ospeknya dengan duduk di teras musala yang ada di fakultasnya. Dia saat ini masih belum bisa bergabung di deretan barisan salat. Dia hanya bisa menyaksikan dari luar untuk saat ini dan merasakan atmosfernya. Dia jadi dulu teringat Lisa lagi karena sering menunggui gadis itu menunaikan salatnya.

            “Nov, ngapain kamu di sini?” seorang pria tidak asing menegurnya. Pria itu agak heran juga melihat Novita duduk di sana.

            “Bukan urusan kamu,” jawab Novita dengan nada datar.

            Pria itu heran, sejak satu tahun terakhir Novita seperti menghindar darinya. Padahal dulu keduanya sangat dekat bahkan terbilang teman tapi mesra. Novita juga makin menghindarinya saat dia telah mengungkapkan perasaan sukanya kepada Novita. Entahlah, gadis satu itu memang penuh misteri.

            “Chat aku kok gak dibalas?” Pria tadi tiba-tiba duduk di samping Novita.

            Novita langsung bangkit berdiri, tidak nyaman dengan yang dilakukan pria tersebut “Apa sih lo? Gak ada capek-capeknya deketin gue. Harusnya dengan gue menghindar lo sadar dong.” Novita berucap sejujur-jujurnya. Dia malas memberikan harapan apa-apa.

            “Aku ada salah ya sama kamu, kalau ada ya bilang dong.”

            “Salah lo itu Cuma satu, lo masih tetap deketin gue padahal lo tahu gue udah gak nyaman. Joan cewek bukan gue aja kan, ada banyak yang lain, please jangan gue.”

            “Kenapa?”

            “Pertama gue udah gak suka lo. Yang kedua lo gak perlu tahu,”

            “Tapi gue cintanya sama lo, Nov.”

            “Bulshit, every boy can say it. Tapi ini bukan soal itu saja. Selain perasaan yang gak bisa dipaksa akan ada tembok besar yang akan menghalangi hubungan apapun di antara kita.”

            Novita segera meninggalkan Joan, tetapi Joan meraih tangan Novita dan menahannya. Melihat kejadian itu dan telah menyaksikan perdebatan Joan dan Novita tadi, dirinya membantu Novita agar tangan terlepas dari pengangan Joan.

            “Udah kak, cewek itu kalau gak mau jangan dipaksa. Kakak bilang cinta sama mbaknya tapi kok maksa. Cinta itu gak pernah ada yang memaksa.”

            “Siapa sih lo, datang-datang ganggu.”

            “Oh kenalin, aku Juki.” Juki mengulurkan tangannya kepada Joan untuk bersalaman.

            “Apa sih SKSD banget,” desis Joan.

            “Udah Jo, lo tuh yang gak ngaca SKSD. Jangan ikutin gue lagi. Dan lo Juki, Gue Novita bukan mbak-mbak dikira gue penjaga toko.”

            Novita pun pergi meninggalkan dua orang pria tadi. Dia lagi tidak mood untuk berdebat dan diganggu. Novita memanfaatkan sisa waktu istirahatnya untuk membaca panduan cara membaca Al-qur’an. Novita memang merasa masih sangat kurang percaya diri, tetapi kalau ia begitu terus mungkin niatnya untuk bersyahadat malah nanti akan berubah. Dia tidak mau menunda-nunda kebaikan. Urusan percintaan dan masalah pria bukanlah menjadi hal yang penting buatnya lagi. Intinya mulai sekarang Novita bahkan tidak ingin disukai orang lain karena akan ribet urusannya.

***

            Novita beserta para anggota Golden Tree lainnya duduk di mengelilingi meja bundar di ruangan bawah tanah. Ruangan itu merupakan tempat rahasia yang ada di gedung Fastco Company yang hanya anggota Golden Tree saja yang tahu. Ada sesuatu yang akan disampaikan Arez, pria yang sempat mencintai Lisa. Mungkin sampai saat ini dia pun masih mencintai gadis yang raganya sudah tidak dapat menyertai mereka itu.

            “Di sini ada beberapa hal dari Lisa yang akan aku sampaikan ke kalian semua,” ucap Arez mencoba setenang mungkin mengatakan itu kepada teman-temannya. “Sebelumnya aku ingin menyampaikan bahwa bagi Lisa kita semua adalah orang yang special bagi hidupnya. Urutan nama yang aku panggil lebih dulu bukanlah diurut dari orang yang paling besar porsinya dalam hidup Lisa. Bagi Lisa kalian punya porsi special masing-masing di hidupnya.

            “Untuk Novita Cuan Lius,” Arez menyebutkan nama Novita sebagai yang pertama. “Ini ada surat dari Lisa buat kamu dan ini kotak biru ini juga ditujukan untuk kamu. Jangan tanya aku apa isinya karena aku pun takt ahu.”

            Novita menerima surat dan kotak biru yang diberikan Arez, “Thanks Rez.”

            Arez mengangguk lembut sebagau gesture balasan dari ucapan terima kasih Novita. Arez juga tidak mungkin membalasi ucapan terima kasih teman-temannya satu persatu karena masih ada banyak surat dan kotak yang harus dia bagikan.

            “Semua orang sudah mendapat surat dan kotakkan?” Arez mengkonfirmasi pada teman-temannya dan mereka semua mengangguk. “Baik, ada kabar lain sebenarnya dari Lisa yang lagi-lagi akan membuat kita terkejut. Nah, untuk hal satu ini karena Desi juga kebetulan sudah tahu, aku persilahkan untuk Desi agar menyampaikan ke teman-teman yang lain.”

            Novita sudah berharap-harap cemas banget dengan kabar yanga akan disampaikan. Novita takut jika dia belum siap menerima kabar itu. Namun, mau tidak mau Novita harus siap untuk menerima apapun itu.

            “Duh … aku benar-benar bingung mau mulainya dari mana.” Desi sengaja membatukkan dirinya lebih dahulu agar tenggorokannya lebih plong. “Oke, langsung ke intinya saja deh. Lisa sebenarnya punya kembaran.”

            Semua orang yang sedang mengelilingi meja bundar itu tampak terkejut kecuali Arez dan Desi. Novita bahkan menggigit bibir bagian dalamnya karena saking terkejutnya.

            “Sekarang keluarga angkat Lisa sedang berusaha mencari kembaran Lisa itu,” tambah Arez. “Aku berharap ketika nanti dia sudah ada di sini mohon perlakukan dia dengan baik. Meskipun nanti orang itu akan sangat berbeda dari Lisa.”

            “Novita tiba-tiba mengangkat tangannya, “Kemungkinan secara fisik, berapa persen kemiripan antara Lisa dan saudara kembarnya?”

            Arez dan Desi saling berpandangan, mereka juga bingung dan tidak bisa memberikan kepastian. Mengingat orangnya saja belum pernah mereka temui.

            “Kita gak tahu Nov, karena kembar bisa identic dan tidak kan ya.”

             Novita memahami jawaban dari Desi. Dia hanya penasaran kemungkinan mirip anatar Lisa dan kembarannya. Novita hanya takut jika terlalu mirip bisa saja dia tidak sengaja melukai hati kembaran Lisa itu karena mengangap dirinya Lisa.

            “Oh iya, dan satu hal lagi kata Arez,” ucap Arez menjeda kalimatnya. “Karena Gilang masih amnesia, jangan beri tahu kabar ini. Kalau dia tahu mungkin itu akan berdampak pada proses penyembuhannya.”

             Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk setuju. Novita kasian juga melihat Gilang jadi seperti itu sepeninggal Lisa. Novita merasa dia tidak boleh sampai tidak ikhlas juga atas kepergian Lisa. Novita rasa Gilang sudah melewati batas wajar mencintai seseorang.

             Setelah itu rapat selesai, Novita izin tidak ikut makan malam bersama. Novita langsung masuk ke kamar tidur khusus wanita dan naik ke ranjangnya. Dia duduk di sana dan membuka surat dari Lisa.

 

Dear, Baby Bear

Tak banyak yang ingin kusampaikan padamu. Hanya beberapa hal yang menurutku harus aku sampaikan padamu. Nov, aku memang sudah tidak ada, tetapi kamu masih bisa menjalani hari-hariku bersamamu. Di kotak biru itu ada mukena dan Al-qur’an milikku, itu kuberikan padamu. Selain itu juga ada piyama Mitsuki kesukaanku, aku berikan untukmu agar kamu selalu merasa aku peluk.

Jika kamu bertemu kembaranku nanti, aku tidak minta kamu akrab dengnnya karena mungkin kami akan banyak perbedaan. Aku hanya minta perhatikan dia dari jauh, jangan berharap dia kan sepertiku, jangan pernah kasih dia dekat-dekat sama orang toxic. Sayangi dia seperti adikmu sendiri. Kalau kamu rindu bentuk fisikku, lihat saja dia tapi jangan dijailin seperti kamu jailin aku. Btw, maaf, di sini aku sok pakai aku kamu.

Love, your Wormy

 

           Novita tidak menangis malam itu, dia tersenyum sendu sambil memeluk barang-barang yang Lisa berikan. Novita tidak mau menangis saat hari ini ketulusan Lisa benar-benar terasa lagi olehnya. Dia sadar cinta tidak memandang persoalan beda alam, karena kamu hanya perlu mengingat soal ikatan dan kenangan yang tersisa.

***

#NULISDIBUKULAKU

#OLIMPIADEMENULIS

#KMOCLUB

#KMOBATCH30

5. Diragukan

3 1

           Novita merasa ada yang tidak beres saat dia baru tiba ke rumahnya sepulang dari kampus. Ada banyak asap dari halaman belakang. Tadi saat di depan juga dia melihat ada alas kaki perempuan yang pastinya bukan miliknya. Sampai di halaman belakang Novita terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Semua buku islaminya dibakar habis oleh Helen kakaknya.   “Maksud Kakak apa sih bakar semua buku gue?”

            “Bagus, kamu ya. Mau ikut-ikutan aja kamu ya, mau masuk Islam segala. Jangan jadi anak durhaka kamu. Kamu gak mikirin perasaan Mama.”

            “Gue masuk Islam gak ada hubungannya sama gue durhaka sama Mama. Mama juga sudah menerima kok apa yang menjadi keputusan gue.” Novita mengatakan kebenarnnya kepada kakaknya, tetapi kelihatannya gadis itu tidak mempercayai adiknya.

            “Iya Helen, Mama gak masalah kok Mei masuk Islam.”

            “Ma jangan gitulah, masa Mama begitu mudah membiarkan dia masuk Islam dan meninggalkan agama kita. Ma, nanti kalau dia ikut-ikutan ngebom-ngebom itu gimana. Mama mau?”

             Novita memelototkan matanya kepada kakaknya, “Kak jangan asal ngomong ya. Islam gak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat seperti itu. Oknum-oknum itu saja yang seenaknya mengatas namakan Islam. Kakak keterlaluan, hanya karena rumah tangga kakak hancur karena wanita yang kebetulan beragama Islam, lalu Kakak benci Islam. Kak manusia itu gak ada yang sempurna, tetapi Islam tidak pernah mengajarkan hal-hal yang tidak baik. Manusianya saja yang tidak mengikuti pada aturan dan mau seenaknya.

            “Novi, kamu kayak gini pasti gara-gara Lisakan, sampai kamu berani menentang keluarga kamu sendiri. Seberapa jauh otak kamu dicuci sama dia?”

             Novita geram, rasanya ia ingin menampar kakaknya itu, tetapi Mamanya menggenggam tangan anak bungsunya itu. Dari gesture itu Mamanya meminta agar Novita menahan amarahnya.

            “Helen kamu keterlaluan, Nak. Kamu sudah membakar semua buku Mei, lalu kamu bawa-bawa nama Lisa. Mama tidak mungkin mengizinkan Mei masuk Islam kalau dia sendiri tidak ada keseriusan mengikuti syariatnya, tetapi Mama melihat ada keseriusan di dalam diri adikmu.”

           “Ma, kenapa sih Mama selalu bela dia? Dia Cuma benalu di rumah ini. Sejak dulu pun aku yang membiayai sekolah dia, Dan sekarang dia sudah berani begini, nanti apa Ma.”

           “Oh Kakak pamrih, oke mulai sekarang gue yang akan urus urusan pendidikan gue sendiri.”

           “Bagus, tetapi lebih bagus lagi kamu jangan tinggal di sini kalau masih mau jadi mualaf. Ini rumah aku, dan semua kebutuhan di rumah ini aku yang biayai, jadi aku berhak mengeluarkan siapa saja dari rumah ini.”

           “Oke,” ucap Novita lugas. Lagi pula mungkin sudah saatnya dia belajar mandiri sekarang.

           “Helen, jangan, Nak.” Mama membujuk anak tertuanya. “Bagaimanapun dia adik kamu.”

           “Kalau adik harusnya selalu menuruti apa kata kakaknya, Ma.”

           “Ma, it’s okay, Mei bisa kok mandiri. Nanti, kalau Mama kangen Mei telepon aja Mei, ya, nanti kita ketemuan. Mei gak mau jadi benalu di rumah ini.”

           “Gak yakin sih aku, kalau kamu bisa mandiri. Tapi kalau kamu mau balik jangan bawa-bawa Islam ke rumah ini.”

           “Gue gak akan narik kata-kata gue. Lo gak tahu apa-apa tentang gue, Kak.”

           Mama Novita memohon agar anaknya tidak pergi, tetapi Novita tetap pada keputusannya. Dia tidak mau jika dia di rumah dia akan terus berdebat dengan Helen bahkan bisa saja jadi berdebat juga dengan keluarga besarnya. Novita tidak mau hal-hal seperti itu terjadi. Soal nanti dia kan bagaimana akan dia pikirkan nanti.

***

            “Are you okay?” tanya Desi kepada Novita.

            Desi bertanya begitu karena menyadari Novita menggendong tas ransel yang tampak begitu penuh isinya. Desi seperti sudah bisa menerka apa yang terjadi.

            “Gak apa-apa kok, gue gak mau tinggal di rumah lagi aja.” Novita menjawab gambling dan langsung mengeluarkan isi di dalam tasnya ke lemari kecil di dekat tempat tidurnya di gedung Fastco Company lantai tiga.

            “Itu namanya kenapa-napa, Nov. Ada apa sih?”

            “Kakak gue gak terima gue mau jadi mualaf. Dan dia bilang kalau gue masih kekeuh lebih baik gue keluar dari rumah, ya gue jabanin aja.”

            Novita bersyukur melihat kotak biru yang ada di nakas, untung dia belum membawanya pulang kemarin.

            “Oh I see, Kakak kamu emang kelihatan gak suka sama hal-hal yang berbau Islam sih, beda sama Mama kamu dan kamu. Kayaknya kamu harus meyakinkan dia bahwa Islam tuh gak kayak yang dia pikir.”

            “Percuma Des, dia tuh udah benci banget sama Islam.”

            “Belum dicoba jangan insecure duluan, dong. Insyallah bisa, kamu harus yakin.”

            Novita mengangkat bahunya lalu menjatuhkannya lagi, tanda ia tidak yakin. Entahlah Novita sering kali tidak percaya diri. Mungkin karena selama ini semua potensi yang ada dalam dirinya belum diakui oleh banyak orang.

            “Udah ah, gak usah bahas itu dulu. Gue laper mau cari makan dulu.

            Novita meninggalkan Desi yang sudah merebahkan badannya bersiap untuk tidur. Gadis itu memang tidak tahan kantuk, jam tidurnya pun terbilang cepat. Setidaknya Desi baru tidur setelah melakukan kewajibannya.

            Desi sendiri sering ada di Fastco Company untuk bereksperimen menemukan resep baru. Salah satu alasan lainnya karena tentu alat masak dan masak di sini sangat lengkap ketimbang di rumahnya.

            “Hei, Nov, sini!” Tasya mengajak gadis itu duduk di meja bersamanya dan beberapa teman lain.

            “Iya, ntar gue ke situ, mau ambil makanan dulu.”

            Novita sebenarnya bukan dinner person, tetapi satu harian ini dia belum ada makan karbohidrat sama sekali. Tadi pagi dia hanya makan sebuah pisang dan minum segelas susu. Semenjak tidak ada Lisa, napsu makannya pun menurun karena biasa melihat Lisa makan membuatnya jadi ingin makan juga.

            Novita membawa nampan yang di atasnya ada ramen dan segelas teh hijau tawar dingin. Suasana malam itu cukup gerah jadinya dia ingin minum yang dingin-dingin. Dia tidak terlalu suka yang manis. Seperti janjinya dia ikut duduk bersama Tasya dan yang lain.

            “Lis, gue sms lo kok gak dibales-bales sih,” ucap Gilang di meja seberang kepada Ara. Semenjak amnesia Gilang selalu menganggap Ara adalah Lisa. Jujur Novita agak sedikit risih.

            Jika bukan karena suatu perjanjian untuk bersandiwara, Novita ingin rasanya berteriak di hadapan Gilang bahwa Lisa sudah tidak ada. Di sisi lain Novita merasa iba pada Ara yang selalu dianggap sebagai Lisa oleh pria itu.

            “Handphone Lisa gue sita,” ucap Novita dengan pandangan mengarah Gilang. “Udah deh Lang, kan ikan di laut bukan Cuma Lisa aja. Cari yang lain gih.”

            Tasya, Ara, dan Anel yang ada di sana merasa paham jika Novita berusaha membuat Gilang untuk tidak menyebut nama Lisa. Mendengar nama Lisa membuat Novita berharap jika gadis itu masih ada bersama mereka.

            “Gak bisa, kan cinta gue cuma buat Lisa doang,” tambah Gilang.

            Novita meletakkan sumpitnya di meja denga keras. Novita tidak bisa terus bersandiwara. Refleks Novita mengatakan sesuatu kenyataan yang saat itu bagi Gilang tampak tidak masuk akal.

            “Lang, sadar Lisa udah gak ada.” Novita mengatakan itu agak keras dengan tubuh yang bergetar. “Maaf,” ucap Novita kemudian lalu pergi.

            “Novi kenapa, sih?” tanya Gilang aneh. “Kok tiba-tiba dia bilang lo udah gak ada, Lis.” Tatapan Gilang mengarah ke Ara.

            “Mungkin lagi ada masalah, dan kecapean. Gue susul dulu deh,” ucap Ara masih berpura-pura sebagai Lisa.

            Ara menyusul Novita bersama dengan Tasya dan Anel. Mereka memaklumi jika Novita melakukan hal itu, tetapi mereka juga khawatir dengan Novita. Gadis itu masih sensitif jika nama Lisa disebut.

            “Iya udah gak apa.” Desi berusaha menenangkan Novita. Gadis itu terbangun saat Novita agak keras membuka pintu kamar dengan air mata mengalir.

            “Nov, I know what you felt,” ucap Ara ikut menenangkan. Ara, Tasya dan Anel baru saja masuk ke kamar.

            “Kayaknya kamu harus hindari Gilang, Nov,” saran Tasya.

            “Iya Nov, kamu gak salah kok. Di sini Gilang yang sebenarnya keterlaluan, gara-gara dia gak ikhlasin Lisa dia jadi amnesianya pun gitu. Buat beberapa orang tersakiti. Tapi kita harus sabar dulu, harus pura-pura Ara itu Lisa di depan dia.” Anel juga bisa merasakan rasa tidak nyaman Novita.

            “Makasih ya guys, udah berusaha menenagkan”

            Para gadis kemudian memeluk Novita. Novita saat itu merasa yang lain tak buruk-buruk juga. Mungkin selama ini dia hanya takut berbaur dengan yang lainnya. Selama ini ada banyak keraguan dalam diri Novita yang kerap kali membuatnya insecure dan takut tidak diterima.

***

user

13 December 2021 00:39 Asmarani Syafira Aku tunggilu kunjungan Kak Asa bersama krisannya di

6. Transformasi

3 2

“Melangkah dari batas gelap ke batas terang memang tidak mudah. Tantangannya adalah bukan kita diminta untuk menjadi bersinar, tetapi bagaimana kita bertahan untuk ada di dekat cahaya itu. Bagai hari, dia tidak selalu cerah kadang kala dia hujan dan mendung.”

***

       Satu semester kuliah sudah dilalui. Sebagian nilai Novita sudah keluar. Novita tidak berekspektasi apa-apa sih soal nilainya. Hanya saja uangnya sudah menipis. Uang untuk membayar UKT semester ini baru setengahnya ia kantongi. Bekerja menaikkan rank game orang-orang dan berharap dari hasil penanaman sahamnya di Fastco Company saja masih belum cukup. Kemungkinan dia akan mencari kerjaan lain, tetapi dia bingung apa yang dia bisa. Dia tidak mau meminta uang pada Mamanya.

       “Hai, Nov.” Desi baru saja memasuki kamar yang ada di Fastco Company.

       “Hai, Des, selamat ya lo terpilih mewakili kampus kamu untuk pergi ke Thailand kan. Kayaknya bakal asyik di sana.”

       “Thanks, oh iya kamu mau aku bawain apa nanti?” tanya Desi pada gadis itu.

       “Gak usah, yang penting lo pulang dengan selamat.

       “Kalau kamu gimana, udah siap besok?”

       “Insyaallah.” ucap Novita dengan pelafalan yang masih kaku.

       “Guys, VC time.” Suara teriakan Tasya dari luar terdengar sampai ke dalam kamar.

        Novita keluar lebih dahulu karena Desi mau ke kamar kecil terlebih dahulu, ada panggilan alam katanya. Novita menuju ruang keluarga di lantai tiga itu, duduk di sebelah Ara. Mereka ada agenda Video Call dengan Anel malam itu. Anel sudah ada di Paris, Prancis untuk sekolah fashion design-nya. Gadis itu berhasil mendapat beasiswa di sana.

       Anel banyak bercerita soal pahitnya hidup di negeri orang. Dia sering diremehkan di sana, bahkan karena dia seorang muslim dan memakai hijab beberapa diskriminasi sering dia dapatkan. Seperti susahnya dia mencari kerja karena karyawan dilarang pakai hijab. Anel juga bercerita bahwa dia tidak punya teman di sana. Sedih rasanya mendengar beratnya pengalaman gadis itu hidup di sana. Novita jadi merasa bahwa setiap mimpi atau keinginan yang besar maka cobaannya juga akan sama besar.

       “Nov,” tegur Beby pada gadis itu. Pria itu barusan saja menuju ruang tengah. “Joan nyariin lho tuh di bawah.”

        Novita sebenarnya sudah malas meladeni pria itu, tetapi mau gimana lagi, “Dia lagi, dia lagi, makasih ya Beb udah dikasi tahu.”

       “Sama-sama,” Novita mulai bergegas

       “Guys, Novi mana?” tanya Desi yang baru selesai dari panggilan alamnya. Berasa bertapa, lama banget Desi di kamar kecilnya.

       “Udah ke bawah, Des,” jawab Tasya. “Joan nyariin dia.”

       “Oh yaudah, aku susulin deh. Bisa bahaya kalau dibiarin berdua.”

        Novita turun ke lantai satu menuju Fastco Restaurant. Suasana restoran ramai saat itu. Wajar saja karena sedang malam Minggu. Banyak pengunjung yang datang dengan keluarganya. Fastco Restaurant tidak menerima pasangan yang belum halal alias pacaran, jadi wajar jika di sekeliling restoran yang terlihat banyak pengunjung yang sudah berkeluarga. Pasutri baru bisa dihitung paling hanya satu sampai tiga pasang, selebihnya kumpulan anak-anak muda yang kepengen makan saja. Biasanya meja cowok dan cewek cenderung terpisah kecuali jika yang datang memang sekelompok komunitas atau orgaisasi tertentu, setidaknya di sini jika ada sepasang muda-mudi yang mencurigakan pasti akan dikeluarkan dari restoran atau diberi option agar duduk terpisah.

       “Ada apa?” tanya Novita langsung ke intinya saat sudah di hadapan pria itu. Bahkan Novita tidak berniat untuk duduk.

       “Duduk dulu kali, Nov.”

       “Gak perlu, udah ngomong aja kali. Ada apa sih?”

       “Nov, you know that I really love you. Please give me a chance.”

       “Gak,” ucap Novita cepat. Novita begitu karena ini akan menjadi rumit jika Novita memberi harapan pada pria itu. “Jo, lo bisa cari yang lebih dari gue. Lagian semua bakal lebih rumit kalau gue kasi lo kesempatan.”

       “Nov tapi kenapa? Bukannya dulu kamu nyaman aja sama aku, bahkan aku bisa lihat kamu mulai baper sama aku.”

       “Itu dulu Jo, sebelum gue kenal Islam. Gue mau jadi mualaf Jo, gue udah gak mikirin soal cinta-cintaan sekarang. Emang lo tetap mau sama gue kalau gue mualaf?”

       Joan terdiam, dirinya baru mengetahui jika Novita ingin masuk Islam. Ada rasa kecewaa dalam dirinya, juga ada perasaan seolah-olah harga dirinya dipermainkan. Harusnya gadis itu bisa bicara baik-baik padanya dari awal.

      “Kok diam? Benarkan lo gak akan bisa nerima ini. Lo gak mungkin mau ngorbanin yang lebih buat gue.”

      “Nov, jangan ngomong gitu,” ucap Desi yang baru datang, langsung menegur Novita mengenai ucapnnya. “Begini Joan, kalau kamu mencintai Novi, kamu harus hargai keputusan dia. Sebenarnya dia tidak bermaksud tidak menghargai kamu. Tapikan kamu tahu Novi memang begini anaknya.

      “Ya kalau dari awal dia ngomong baik-baik, ya it’s okay Des. Dia tuh dari awal udah kelihatan gak ada respectnya gitu. Aku kecewa jujur. Makasih Nov, untuk semua kenangan manisnya. Makasih juga atas penolakannya. Aku pamit.”

        Mendengar ucapan terakhir Joan, Novita sadar dia sudah keterlaluan. Seharusnya dia tidak memperlakukan Joan seburuk yang sudah-sudah, bagaimanapun juga Joan sudah pernah mengisi hari-hari bahagianya di masa lalu.

       “Nah, dijadikan pelajaran ya, Nov. Meski kamu gak cinta sama seseorang, coba tetap tolak dia sehalusnya dan hargai perasaan orang itu.”

       “Iya Des, aku sadar aku salah.”

 ***

            Hari yang dinanti tiba. Liburan semester telah dimanfaatkan Novita untuk lebih banyak belajar tentang Islam dan hari ini harinya. Hari di mana dia akan menjadi seorang muslimah. Sejak subuh Novita sudah terbangun karena azan subuh, meski belum sah menjadi mualaf dia melaksanakan salat subuh, hitung-hitung sebagai latihan. Dia selalu merasa tenang setelah melakukan salat, seperti berbicara langsung dengan Tuhan.

            Novita melihat dirinya di pantulan cermin. Hijab instant menutupi rambutnya, ia mengenakan baju gamis berwarna cokelat muda bekas Lisa. Tidak banyak polesan di wajah, dia hanya memakai bedak bayi dan pelembab bibi saja. Dia sudah berwudu, juga tidak lupa sedikit memakai wewangian. Matanya terlihat begitu berbinar.

            “Nov, udah ready?” Desi speechless melihat penampilan Novita. “Subhanallah, ukthi, kok cantik.”

            Novita mengulas senyum mendengar pujian dari Desi, “Terima Kasih.”

            “Yuk, berangkat!” Novita mengangguk semangat.

            Para anggota Golden Tree turut bahagia dengan keputusan Novita yang sudah mantap. Mereka berbondong-bondong pergi ke masjid tempat di mana Novita akan mengucap dua kalimat syahadat. Hitung-hitung menyenagkan hati gadis itu dan memberinya semagat dengan mereka ikut hadir menjadi saksi.

            “Ayshadu An-la ilaha illallah, Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah,” ucap Novita lancar di depan Ustad yang memimpinnya untuk bersyahadat. Wajar pelafalan syahadat Novita sudah lancar, dia sangat mempersiapkan banyak hal untuk moment ini. Kalau belajar Islam sendiri sudah ditekuninya sejak awal mula masuk SMA.

            Para anggota Golden Tree yang cewek sehabis itu memeluk Novita. Para anggota Golden Tree yang pria juga ikut senang dan mengacungkan jempol pada gadis itu. Novita sendiri merasa senang karena ini sesuatu yang dia mau sejak lama. Hal lain yang membuat Novita senang adalah ketika doa Novita yang dulunya tidak akan bisa sampai untuk Lisa kini bisa sampai karena dia sudah menjadi muslimah.

            “Lisa will be proud of you, Nov,” ucap Arez.

            “Alhamdulillah Rez, and Lisa will be proud of you too Rez, karena sudah berhasil mengiklaskannya.”

            “That’s not easy, but we must.” Novita mengangguk.

            Hari itu gadis yang beragama Budha cantik Bernama Novita Cuan Lius itu sudah bertransformasi. Dia memilih nama Novita Az-zahra sebagai nama islaminya. Ada banyak yang harus dia perbaiki baik dari segi ilmu dan sikap. Novita juga berharap dia tidak lagi insecure yang berlebihan. Sebab, hal seperti itu dapat membuatnya goyah.

***

user

13 December 2021 00:42 Asmarani Syafira Kalau diawali dengan quotes ternyata sangat menarik. Jangab lupa mampir pada tulisan https://bukulaku.id/listsarkat/06122021083633/Alif-Kecil-dan-Mimpi-Pelangi saya

user

13 December 2021 09:57 LilBee Quinque Akhirnya Novita, aku turut bahagia ????????

7. Tampilan Baru

3 4

Novita melihat pantulan dirinya dicermin, masih kurang percaya diri mengenakan pakaian tertutup. Kurang percaya dirinya di sini dalam konteks dimana dia takut jika kelakuan atau sikapnya berbeda 180 derajat dengan pakaian yang ia kenakan. Ada ketakutan besar dalam dirinya seolah-olah dia akan mengotori hijab yang ia kenakan. Meskipun pakaiannya belum syar’i, Novita bertahap mencoba untuk mengikuti syariat Islam tentang cara berpakaian.

Kebetulan hari itu liburan semesternya sudah hampir usai. Ada banyak hal yang dia pikirkan, dalam waktu dekat dia harus bisa mendapatkan pekerjaan demi membayar UKT-nya semester depan. Jika tidak mungkin dia akan mengambil surat non-aktif kuliah dulu di kampusnya. Menjadi mandiri memang tidak semudah itu, tetapi dia tidak mau merepotkan orang tuanya.

Hari ini ada suatu hal yang harus dia selesaikan. Dia sudah membuat janji dengan Joan. Gadis itu akan meminta maaf pada Joan untuk semua sikap buruk yang pernah dia berikan pada Joan. Desi juga sudah bersedia menemaninya untuk mengobrol dengan Joan.

“Ya ampun dingin banget telapak tangan kamu, Nov.” Desi bisa merasakan hal itu saat menggenggam tangan Novita dan ingin mengajaknya turun ke lantai satu.

“Gue takut, Des. Kalau Jo gak mau maafin gue gimana?”

“Gini deh, Joan balas pesan kamu atau enggak?”

“Balas,”

“Dia jawab apa pas kamu minta ketemuan?”

“Katanya, iya. Gitu aja sih. Dia jadi dingin. Ya, wajar sih, kan salah gue juga.”

“Lihat aja deh ntar, kalau dia datang berarti kemungkinan besar dia maafin, insyaallah.” Novita mengangguk, apa yang dikatakan Desi ada benarnya juga.

Desi dan Novita kemudian turun menuju lantai satu. Mereka sudah duduk di ruang khusus berukuran kecil yang dibuat untuk menyambut tamu-tamu para anggota Golden Tree. Sebenarnya tidak bisa dibilang ruang juga karena hanya dipisahkan oleh sekat dengan satu bagian yang tidak diberi sekat. Joan belum datang juga ketika sudah lewat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan, hal itu membuat Desi mendadak lapar dan berniat mengambil cemilan serta mengambil minuman untuk dirinya dan Novita.

Tak lama Desi pergi mengambil makanan, Joan tiba. Saat Desi Kembali ke ruangan kedua orang itu masih terdiam, sunyi, senyap. Tidak ada yang berani memulai percakapan. Desi pun berinisiatif untuk mengambil cemilan dan minuman untuk Joan juga.

“Apa kabar Jo?” Novita memulai perckapan dengan menanyakan kabar Joan. Situasinya memang sangat akrab. Apalagi melihat Joan yang sepertinya tampak belum terbiasa melihat dirinya dalam balutan hijab.

“Baik, kamu.”

“Gue baik,” Novita tidak serratus persen menatap ke arah Joan. Selain karena harus menjaga pandangan juga karena Novita merasa risih. “Jo, gue mau minta maaf soal sikap dan semua hal buruk yang pernah gue lakuin ke lo. Dan makasih untuk semua hal manis dan pengorbanan yang pernah lo lakuin buat gue. Gue juga mau minta maaf kalau untuk sekarang gue mungkin bakal jadi lebih menjaga jarak sama lo. Sekarang gue hanya ingin fokus untuk lebih dekat ke Tuhan.”

“Iya gak apa-apa, aku bisa paham kok. Selamat yak amu sekarang sudah menjadi apa yang kamu inginkan, semoga kamu bisa istiqomah.”

“Aamiin,”

“Jujur, kamu kelihatan jauh lebih bersinar gitu, lebih cantik,” ucap Joan jujur membuat Novita yang sedang minum tersedak. “Ups, sorry.” Novita menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia tidak apa-apa.

Desi baru saja Kembali dengan nampan berisi biscuit dan lemon the dingin. Sementara itu, Novita izin pamit ke kamar kecil sebentar. Bukan karena grogi apalagi nervous. Novita murni izin karena kebelet buang air kecil. Dipuji bukanlah suatu hal yang baru baginya, dan lagi dia sudah benar-benar tidak punya perasaan pada Joan.

“Kamu ngomong apa ke Novi, Jo? Kok dia izin ke toilet?”

“Muji dikit doang, kok.”

“Aelah, kang Gombal.” Desi menyeruput minumannya yang sudah mencair batu esnya.

“Des, aku gak punya kesempatan ya buat bisa sama Novi?” Desi speechless mendengar pertanyaan itu. “Jujur Des, move on mana mungkin semudah itu. Tapi di sisi lain aku juga tahu tembok di antara kami juga tinggi. Aku serius sama dia Des.”

“Duh … gimana ya, Jo. Berat lho ini. Di agama kami itu gak boleh nikah beda agama Jo.”

“Aku tahu Desi, kamu pikir aku sebodoh itu.”

“Terus kamu mau masuk Islam hanya demi Novi? Itu sama saja bohong Jo. Belum tentu juga kalian jodoh. Terus keluarga kamu gimana? Pasti akan ada perdebatan nantinya. Bahkan gara-gara keputusan yang sudah bulat Novi ambil, dia harus keluar dari rumahnya. Jo, berpindah keyakinan bukan hanya soal cinta, tetapi harus bersal dari tekadmu sendiri.”

“Iya sih Des, kalau gitu aku akan belajar Islam, karena diriku sendiri.”

Novita kembali tak beberapa lama. Desi merasakan akan banyak hal berat yang dihadapi Novita kedepannya. Desi hanya berharap dia ada di saat Novita down. Mereka bertiga berlanjut naik ke lantai tiga setelah obrolan mereka selesai. Desi dan Novita masuk ke kamarnya dan Joan bermain game bersama para anggota cowok Golden Tree.

***

            “Lisa, kangen.” Gilang menyeru sebuah nama yang membuat semua orang mengarah pada gadis yang baru menginjakkan kakinya di lantai tiga bersama Beby.

            “Eits, Lang, jangan dekat-dekat!” Beby memperingati pria itu.

            Semua anggota Golden Tree menatap kearah gadis yang secara fisik hampir mirip dengan Lisa, bedanya dia jauh lebih kurus dan tinggi. Novita sendiri speechless, tidak menyangka ada gadis yang semirip itu dengan Lisa. Namun, secara personal mereka belum tahu bagaimana sikap dan karakter dari gadis itu.

            “Perkenalkan, nama aku Daisha Tazzania Sastra. Memang rasanya agak shock, but ya aku kembaran Lisa. Dan untuk Gila atau siapapun nama kau, udah aku bilang namaku Daisha bukan Lisa.” Yang Daisha maksudkan pada kalimat terakhirnya adalah Gilang.

            Novita bisa menganalisis dari cara berkenalan saja sudah terlihat bahwa Daisha ini tipe anak yang pemberani dan juga tegas. Dia juga sepertinya tidak suka ada sandiwara dan drama dalam suatu perkumpulan atau hubungan. Kalau dari segi penampilan Daisha itu tipikal cewek yang secara fashion itu netral. Dibandingkan Lisa, Daisha mungkin akan terlihat lebih jutek dan galak. Berbanding terbalik dengan Lisa yang lemah lembut dan tampak selalu ceria.

            “Kalau kalian mau aku kenalan lebih jauh, aku punya satu permintaan. Tolong si Gilangnya diamankan dulu, dia terlalu goyanh kayak stang becak.” Logat Daisha begitu khas logat Medan. Beberapa anggota Golden Tree dibuat bingung oleh diksi gadis itu.

            Mereka mengabulkan apa yang Lisa mau, dengan kocaknya para anak cowok anggota Golden Tree mengikat Gilang di dekat sebuah kursi. Tentu saja mereka mengawasi pria itu. Daisha meminta hal itu bukan tanpa sebab, Gilang masih saja tampak denial. Padahal Lisa sudah tiada sejak enam bulan yang lalu.

            Selanjutnya Daisha mulai memperkenalkan lebih jauh tentang dirinya. Para anggota Golden Tree juga mempunyai kesepakatan memanggil Daisha dengan sebutan Asa. Panggilan yang maknanya cukup berat dan dalam, tetapi semoga bisa menjadi doa buat Daisha sendiri.

            “Asa,” tegur Novita dengan nama panggilan baru Daisha.

            “Iya, Bear,” Novita menahan air matanya agar tidaka jatuh dan mengibaskan tangannya di depan wajah. Novita tidak menyangka Daisha tahu.

            “Aku boleh peluk.”

            “Oh, pastilah boleh, sini.”

            Daisha membuka tangannya lebar-lebar. Novita segera memeluk kembaran Lisa itu. Di dalam hatinya, Novita benar-benar akan siap untuk menjaga Daisha untuk Lisa. Novita juga merasa bisa menerima Daisha karena diri Daisha bukan karena Lisa yang memintanya untuk menerima Daisha. Novita merasa punya satu kesamaan baik pada diri Lisa dan Daisha, yaitu ketulusan.

***

user

13 December 2021 00:44 Asmarani Syafira Ehmm ada tokoh Asa juga? Bolehjah aku peluk? Boleh dong , Masa Enggak?

user

13 December 2021 00:45 Asmarani Syafira Ehmm ada tokoh Asa juga? Bolehjah aku peluk? Boleh dong , Masa Enggak?

user

13 December 2021 00:45 Asmarani Syafira Ehmm ada tokoh Asa juga? Bolehjah aku peluk? Boleh dong , Masa Enggak?

user

13 December 2021 09:58 LilBee Quinque Novita, baik banget nolak Joan ????

8. Mencari Pekerjaan

1 0

“Hidup itu adalah sebuah misteri tidak berkesudahan. Jangan mudah putus asa, sebelum kamu setidaknya menjemput secercah Asa."

***

Tiga hari lagi adalah batas pembayaran UKT di kampus Novita. Dia hanya perlu satu juta lagi untuk menggenapkan uang pembayaran UKT-nya. Sebenarnya dia bisa saja meminjam uang kepada salah satu anggota Golden Tree, tetapi dia memilih tidak melakukannya. Alasannya sederhana, dia berpikir jika dia berhutang hari ini maka selanjutnya dia akan ketagihan berhutang. Lagi pula berhutang adalah jalan sementara saja. Selanjutnya Novita tetap memerlukan pekerjaan untuk menghasilkan uang lebih.

Novita sudah berusaha mengajukan komiknya ke salah satu platform komik online, tetapi nihil dia ditolak mentah-mentah. Novita juga berusaha melamar kerja di beberapa tempat, hasilnya tetap sama, rata-rata karena dia bukan tidak memenuhi satu atau dua syarat. Di antara semua anggota Golden Tree dirinya lah yang paling terlihat tidak berbakat. Untuk itu berkali-kali dirinya minder dengan yang lainnya.

“Halo Mbak, selamat siang,” sapa seorang wanita kepada Novita yang sedang berhenti sejenak, duduk di sebuah salah satu bangku taman. “Senang banget bisa ketemu Mbak Novita di sini.”

“Lho, Mbak kenal saya?”

“Duh Mbak, siapa sih yang tidak kenal para anggota Golden Tree. Kalian inikan para anak-anak muda yang berbakat, termasuk Mbak Novita.”

“Saya?” Novita meragukan dirinya sendiri. “Saya mah beban di kelompok saja, Mbak.”

“Tapi saya lihat-lihat, Mbak Novita bisa bersinar lho di dunia modelling. Wajah Mbak cantik, tingginya pas, postur badan juga oke. Sayang banget aja sekarang Mbak sudah memakai hijab. Kalau Mbak mau, dan kayaknya Mbak juga lagi nyari pekerjaan jugakan, Mbak bisa lo bekerja di agensi kami. Cuma ya syaratnya Mbak harus buka hijab.”

Novita tidak habis pikir dengan ucapan wanita tersebut. Bisa-bisanya dia menyayangkan Novita yang sekarang memilih memakai hijab. Dia pikir hijab itu mainan yang bisa digunakan sesukanya apa. Untuk Novita sampai ke tahap ini saja dia butuh perjuangan sangat keras, dan lagi dia akan sangat insecure dengan para anggota Golden Tree yang cewek lainnya, yang meskipun masih banyak kekurangan pada sikap dan masih kurangnya ilmu mereka tetap istiqomah memakai hijab mereka.

“Maaf Mbak, lebih baik saya semester ini off dulu kuliahnya ketimbang saya harus membuka hijab saya, permisi.”

Novita menunjukkan gesture sesopan mungkin sebelum benar-benar pergi meninggalkan wanita tadi. Saat berjalan menuju sepeda motornya, Novita tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang terlihat high class.

“Wow, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Novita.”

‘Siapa lagi ini?’ Novita membatin.

“Ada hubungan apa kamu sama Joan?” Tatapan mata gadis asing tadi begitu menusuk.

“Hubungan? Maksudnya apa?” Novita benar-benar tidak paham apa maksudnya.

“Gak usah pura-pura gak tahu, deh.”

“Maaf ya, aku kenal kamu aja enggak. Tiba-tiba kamu tanya begitu kan aneh banget.”

“Pokoknya jauh-jauh dari Joan. Jangan harap cewek muslim kayak kamu bisa dapatin dia.” Novita tercengang dengan ucapan gadis itu.

“Maaf ya, kamu kalau mau minta aku jauhin Joan bisa gak gausah bawa-bawa muslim atau apapun tentang Islam. Lagian aku juga selama ini sudah menjauhi Joan kali.”

“Rina, apa-apaan sih kamu.” Joan baru saja tiba dan langsung menegur gadis tadi.

“Jo, gue pamit. Gak mau ikut campur sama urusan kalian.”

Novita pamit dari sana. Hari itu memang agak melelahkan untuk Novita. Sementara Joan terlihat masih berdebat dengan gadis tadi. Entah siapa pun gadis tadi, Novita tidak peduli. Novita sudah capek masuk ke drama-drama melelahkan lagi.

***

            Novita baru saja memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus anggota Golden Tree. Novita  menghembuskan napas berat, sepertinya dia harus mencari pekerjaan lagi besok. Novita tidak boleh menyerah sampai batas ketidakmampuannya.

            Novita mulai menuju lantai tiga dari tangga luar. Dari tangga itu dia tidak harus melewati Fastco Restaurant, apalagi hari ini restoran kelihatan begitu ramai. Novita benci keramaian karena itu dia menghindarinya.

            “Eh Novi, baru pulang,” tegur Daisha pada gadis itu. “Makan dulu, yuk! Pasti kamu absen jam makan siangkan kan.” Daisha kemudian menawarkannya makan.

            Novita hanya tertawa kecil menanggapinya, tebakan Daisha benar. Untuk menghargai Daisha dan memang karena lapar Novita ikut saja saat Daisha membawanya ke meja makan. Di sana ada Juki, pria yang tempo hari pernah menolongnya saar berdebat dengan Joan.

            “Oh iya, sebelumnya kenalin Nov, ini Juki teman seunit aku.”

            “Udah kenal kok, waktu itu gak sengaja.” Novita berucap seadanya.

            “Kirain kamu lupa sama aku,” Juki terlihat SKSD sekali yang berujung tidak ditanggapi Novita. Daisha tertawa tanpa suara meledek Juki.

            Beby tidak lama ikut bergabung untuk makan, pria itu sepertinya baru selesai mengajar matematika kepada anak-anak secara sukarela. Novita mengambil nasi ke piringnya juga tanpa diminta mengambilkan Beby nasi.

            “Thanks, Nov.” Novita mengangguk santai.

            “Nov, Juki boleh diambilin juga gak?” Juki tidak bermaksud modus, hanya saja memang bakul nasinya dekat dengan Novita.

            Novita mendekatkan nasinya ke dekat Juki, “Noh, ambil sendiri.” Daisha kembali menertawai Juki tanpa suara. Beby sendiri memang bukan orang yang mudah tertawa dan banyak basa-basi.

            “Gimana Beb, enak?”

            “Enak, jago lo masak.” Beby memuji masakan Daisha dengan tulus.

            “Gue baru ini makan daun singkong ditumbuk dikasi kecombrang, enak ternyata.”

            “Paten kan Nov, ini sambal teri Medan sama daun singkong tumbuk gulai emang khas sekali untuk makanan rumahan di sana.”

            “Sering-sering masak aja, Sa. Kan lumayan gue gak usah masak lagi,” ucap Novita kasual.

            “Insyaallah kalau aku tidur di sini, urusan masak biar gue aja yang handle.”

            Selesai makan keempat orang itu mulai berpencar. Daisha dan Juki melanjutkan tugas kelompok mereka di dekat Beby yang sedang membaca buku di sofa. Novita masuk ke kamarnya, berniat ingin membersihkan badan. Namun, niatnya tertunda karena handphonenya berdering menandakan ada panggilan masuk. Novita segera mengangkat panggilan telepon itu.

            “Halo, selamat sore, saya Suho dari Lee Company. Apakah benar saya berbicara dengan saudari Novita Cuan Lius?”

            “Halo, selamat sore, benar dengan saya sendiri.”

            “Begini Mbak Novita, saya dengar Mbak Novita lumayan jago bermain game dari salah seorang teman Mbak. Dan katanya juga Mbak juga suka membuat karakter animasi, apakah benar demikian?”

            “Kalau bermain game ya katanya saya jago sih, tetapi saya rasa untuk membuat karakter animasi saya masih dalam proses belajar.”

            “Pas banget, kebetulan perusahaan kami sedang mencari karyawan freelance, kalau tidak keberatan, besok silahkan datang ke perusahaan kami untuk wawancara.”

            “Eh, ini seriusan, Pak?”

            “Seriusan, Mbak. Jangan lupa membawa berkas-berkas yang diperlukan besok!”

            “Baik, terima kasih, Pak. Selamat sore.”

            “Selamat sore,” sambungan telepon terputus. Novita langsung bersujud syukur denga napa yang barusan terjadi.

            Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung karena aneh. Cuma Lisa yang tahu dia bisa membuat karakter animasi, itu pun Novita meminta agar gadis itu merahasiakannya. Siapa kira-kira salah satu anggota Golden Tree yang mengetahuinya? Dan siapa pula yang merekomendasikan dirinya ke perusahaan game dan animation yang cukup terkenal yaitu Lee Company?

***

8. Mencari Pekerjaan

1 1

“Hidup itu adalah sebuah misteri tidak berkesudahan. Jangan mudah putus asa, sebelum kamu setidaknya menjemput secercah Asa."

***

Tiga hari lagi adalah batas pembayaran UKT di kampus Novita. Dia hanya perlu satu juta lagi untuk menggenapkan uang pembayaran UKT-nya. Sebenarnya dia bisa saja meminjam uang kepada salah satu anggota Golden Tree, tetapi dia memilih tidak melakukannya. Alasannya sederhana, dia berpikir jika dia berhutang hari ini maka selanjutnya dia akan ketagihan berhutang. Lagi pula berhutang adalah jalan sementara saja. Selanjutnya Novita tetap memerlukan pekerjaan untuk menghasilkan uang lebih.

Novita sudah berusaha mengajukan komiknya ke salah satu platform komik online, tetapi nihil dia ditolak mentah-mentah. Novita juga berusaha melamar kerja di beberapa tempat, hasilnya tetap sama, rata-rata karena dia bukan tidak memenuhi satu atau dua syarat. Di antara semua anggota Golden Tree dirinya lah yang paling terlihat tidak berbakat. Untuk itu berkali-kali dirinya minder dengan yang lainnya.

“Halo Mbak, selamat siang,” sapa seorang wanita kepada Novita yang sedang berhenti sejenak, duduk di sebuah salah satu bangku taman. “Senang banget bisa ketemu Mbak Novita di sini.”

“Lho, Mbak kenal saya?”

“Duh Mbak, siapa sih yang tidak kenal para anggota Golden Tree. Kalian inikan para anak-anak muda yang berbakat, termasuk Mbak Novita.”

“Saya?” Novita meragukan dirinya sendiri. “Saya mah beban di kelompok saja, Mbak.”

“Tapi saya lihat-lihat, Mbak Novita bisa bersinar lho di dunia modelling. Wajah Mbak cantik, tingginya pas, postur badan juga oke. Sayang banget aja sekarang Mbak sudah memakai hijab. Kalau Mbak mau, dan kayaknya Mbak juga lagi nyari pekerjaan jugakan, Mbak bisa lo bekerja di agensi kami. Cuma ya syaratnya Mbak harus buka hijab.”

Novita tidak habis pikir dengan ucapan wanita tersebut. Bisa-bisanya dia menyayangkan Novita yang sekarang memilih memakai hijab. Dia pikir hijab itu mainan yang bisa digunakan sesukanya apa. Untuk Novita sampai ke tahap ini saja dia butuh perjuangan sangat keras, dan lagi dia akan sangat insecure dengan para anggota Golden Tree yang cewek lainnya, yang meskipun masih banyak kekurangan pada sikap dan masih kurangnya ilmu mereka tetap istiqomah memakai hijab mereka.

“Maaf Mbak, lebih baik saya semester ini off dulu kuliahnya ketimbang saya harus membuka hijab saya, permisi.”

Novita menunjukkan gesture sesopan mungkin sebelum benar-benar pergi meninggalkan wanita tadi. Saat berjalan menuju sepeda motornya, Novita tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang terlihat high class.

“Wow, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Novita.”

‘Siapa lagi ini?’ Novita membatin.

“Ada hubungan apa kamu sama Joan?” Tatapan mata gadis asing tadi begitu menusuk.

“Hubungan? Maksudnya apa?” Novita benar-benar tidak paham apa maksudnya.

“Gak usah pura-pura gak tahu, deh.”

“Maaf ya, aku kenal kamu aja enggak. Tiba-tiba kamu tanya begitu kan aneh banget.”

“Pokoknya jauh-jauh dari Joan. Jangan harap cewek muslim kayak kamu bisa dapatin dia.” Novita tercengang dengan ucapan gadis itu.

“Maaf ya, kamu kalau mau minta aku jauhin Joan bisa gak gausah bawa-bawa muslim atau apapun tentang Islam. Lagian aku juga selama ini sudah menjauhi Joan kali.”

“Rina, apa-apaan sih kamu.” Joan baru saja tiba dan langsung menegur gadis tadi.

“Jo, gue pamit. Gak mau ikut campur sama urusan kalian.”

Novita pamit dari sana. Hari itu memang agak melelahkan untuk Novita. Sementara Joan terlihat masih berdebat dengan gadis tadi. Entah siapa pun gadis tadi, Novita tidak peduli. Novita sudah capek masuk ke drama-drama melelahkan lagi.

***

            Novita baru saja memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus anggota Golden Tree. Novita  menghembuskan napas berat, sepertinya dia harus mencari pekerjaan lagi besok. Novita tidak boleh menyerah sampai batas ketidakmampuannya.

            Novita mulai menuju lantai tiga dari tangga luar. Dari tangga itu dia tidak harus melewati Fastco Restaurant, apalagi hari ini restoran kelihatan begitu ramai. Novita benci keramaian karena itu dia menghindarinya.

            “Eh Novi, baru pulang,” tegur Daisha pada gadis itu. “Makan dulu, yuk! Pasti kamu absen jam makan siangkan kan.” Daisha kemudian menawarkannya makan.

            Novita hanya tertawa kecil menanggapinya, tebakan Daisha benar. Untuk menghargai Daisha dan memang karena lapar Novita ikut saja saat Daisha membawanya ke meja makan. Di sana ada Juki, pria yang tempo hari pernah menolongnya saar berdebat dengan Joan.

            “Oh iya, sebelumnya kenalin Nov, ini Juki teman seunit aku.”

            “Udah kenal kok, waktu itu gak sengaja.” Novita berucap seadanya.

            “Kirain kamu lupa sama aku,” Juki terlihat SKSD sekali yang berujung tidak ditanggapi Novita. Daisha tertawa tanpa suara meledek Juki.

            Beby tidak lama ikut bergabung untuk makan, pria itu sepertinya baru selesai mengajar matematika kepada anak-anak secara sukarela. Novita mengambil nasi ke piringnya juga tanpa diminta mengambilkan Beby nasi.

            “Thanks, Nov.” Novita mengangguk santai.

            “Nov, Juki boleh diambilin juga gak?” Juki tidak bermaksud modus, hanya saja memang bakul nasinya dekat dengan Novita.

            Novita mendekatkan nasinya ke dekat Juki, “Noh, ambil sendiri.” Daisha kembali menertawai Juki tanpa suara. Beby sendiri memang bukan orang yang mudah tertawa dan banyak basa-basi.

            “Gimana Beb, enak?”

            “Enak, jago lo masak.” Beby memuji masakan Daisha dengan tulus.

            “Gue baru ini makan daun singkong ditumbuk dikasi kecombrang, enak ternyata.”

            “Paten kan Nov, ini sambal teri Medan sama daun singkong tumbuk gulai emang khas sekali untuk makanan rumahan di sana.”

            “Sering-sering masak aja Lis. Kan lumayan gue gak usah masak lagi,” ucap Novita kasual.

            “Insyaallah kalau aku tidur di sini, urusan masak biar gue aja yang handle.”

            Selesai makan keempat orang itu mulai berpencar. Daisha dan Juki melanjutkan tugas kelompok mereka di dekat Beby yang sedang membaca buku di sofa. Novita masuk ke kamarnya, berniat ingin membersihkan badan. Namun, niatnya tertunda karena handphonenya berdering menandakan ada panggilan masuk. Novita segera mengangkat panggilan telepon itu.

            “Halo, selamat sore, saya Suho dari Lee Company. Apakah benar saya berbicara dengan saudari Novita Cuan Lius?”

            “Halo, selamat sore, benar dengan saya sendiri.”

            “Begini Mbak Novita, saya dengar Mbak Novita lumayan jago bermain game dari salah seorang teman Mbak. Dan katanya juga Mbak juga suka membuat karakter animasi, apakah benar demikian?”

            “Kalau bermain game ya katanya saya jago sih, tetapi saya rasa untuk membuat karakter animasi saya masih dalam proses belajar.”

            “Pas banget, kebetulan perusahaan kami sedang mencari karyawan freelance, kalau tidak keberatan, besok silahkan datang ke perusahaan kami untuk wawancara.”

            “Eh, ini seriusan, Pak?”

            “Seriusan, Mbak. Jangan lupa membawa berkas-berkas yang diperlukan besok!”

            “Baik, terima kasih, Pak. Selamat sore.”

            “Selamat sore,” sambungan telepon terputus. Novita langsung bersujud syukur denga napa yang barusan terjadi.

            Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung karena aneh. Cuma Lisa yang tahu dia bisa membuat karakter animasi, itu pun Novita meminta agar gadis itu merahasiakannya. Siapa kira-kira salah satu anggota Golden Tree yang mengetahuinya? Dan siapa pula yang merekomendasikan dirinya ke perusahaan game dan animation yang cukup terkenal yaitu Lee Company?

***

user

14 December 2021 10:07 LilBee Quinque Kaget aku, Novita di telpohone Suho dari Lee Company, kirain Suho Lee beneran. Cha Eun woo ???? lanjut kak Asa

9. Tidak Sendiri

3 1

“Gimana Beb, benar ya?” Desi bertanya kepada pria itu di ruang kerja Beby yang ada di basement. Hari itu tepat satu hari sebelum Novita ditelepon oleh Suho dari Lee Company.

Beby masih serius dengan layar komputernya, ada kode-kode aneh di sana yang tidak Desi ketahui. Level kecerdasan Desi dan Beby sangat kentara berbeda. Beby tampak lebih serius setelah computer itu memunculkan layar ponsel seseorang. Dia juga membuka sebuah galeri foto yang isinya ternyata banyak file gambar animasi ala anime dan webtoon.

Tidak lama kemudian, Beby mematikan komputernya. Desi menyiksakan dalam kebingungan. Pria satu itu memang tidak banyak omong, Beby lebih banyak beraksi. Pria itu tampak menelepon seseorang. Bahkan Desi tidak paham arah pembicaraannya kemana. Masalahnya mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris. Alamat, mana pula Desi paham, yang ada ingin menangis.

“Udah, lo tenang saja Des, semua beres.”

“Jadi amankan, Novi bakal dapat kerjaan?”

“Hmm,” Beby berdehem serius yang berarti iya.

Desi ingin mengucapkan terima kasih, tetapi Beby sudah mengkodenya agar tidak mengatakan hal itu. Bersama Beby kita harus banyak belajar bahasa isyarat versi dirinya. Dingin-dingin begitu Beby adalah orang yang rasa kepeduliannya tinggi. Beby bisa ingat detail-detail kecil yang bahkan orang lain sering lupakan. Ada satu hal yang paling keren dari dirinya. Meskipun dia tertidur saat jam pelajaran, dia selalu bisa menjawab pertanyaan yang ditanyakan guru.

“Lo mau tidur?” Beby mengangguk.

“Sebelum azan Ashar bangunin gue.”

“Aman,”

Desi amat senang saat itu, semoga Novita senang ketika sudah ditelepon oleh perusahaannya. Desi juga sengaja tidak membicarakan ini dengan Novita karena biar menjadi kejutannya buatnya. Tidak disangkanya Beby juga sedang berusaha mencarikan pekerjaan untuk gadis itu. Seperti yang sudah dikatakan, pria dingin seperti Beby adalah pria dengan kepekaan tinggi.

***

            Di meja makan sore itu ada Novita, Beby dan Desi. Beby meminta Desi agar dibuatkan smoothie. Novita tanpa meminta pun sudah dibuatkan jus jeruk oleh Desi. Desi juga memotong buah untuk dijadikan salad buah. Ketiganya belum ada yang membuka percakapan sampai Novita yang membuka percakapan lebih dahulu.

            “Why didn’t you guys tell me that you was looking for job to me?’

            “Why we have to tell you?” tanya Beby balik. “Lagian lo juga lagi kesusahan diam aja.”

            “Nah iya, ya kita jadinya diam-diam juga dong nyariin pekerjaannya,” tambah Desi.

            “Nov, we are your family. Just tell us whenever you struggle with something that you can’t handle.”

            “I was sorry, that’s my bad. To be honest I always thought that I was nothing here, you are guys stars.”

            “Eh, stop-stop, udahlah gak usah pakai bahasa Inggris. Aku menelan kepedihan karena tidak paham.”

            “Gini ya Nov, lo itu juga seorang bintang.”

            “Iya Nov, kamu itu selalu gak pede soal kemampuan kamu. Padahal aku pikir kemampuan kamu bakal sangat berdampak, lho. Jangan kamu pikir kamu gak bakal dengarin kamu, atau nganggap kamu gimana, apa lagi gak peduli sama kamu. Justru kalau ada salah satu anggota Golden Tree yang punya masalah tapi malah kami gatau itu rasanya sad.”

            “Yeah, kita-kita cuma mau lo ngomong Nov, as simple as that.”

            “Okay, ma---,” Desi meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Novita.

            “Udah gak usah maaf mulu, udah kayak lebaran aja.”

            Ketiga orang itu kemudian menikmati minuman dan makanan mereka masing-masing. Novita iseng memotret Beby karena ada noda di bibirnya saat baru menyendok dua sendok smoothie ke mulutnya. Desi tertawa melihat itu, tetapi tetap menyodorkan tisu kepada Beby. Pria itu sih santai saja masih dengan ke-cool-annya.

            “Eh gimana tadi?” tanya Desi pada Novita mengenai interview-nya

            “Udah pasti keterima.”

            “Kok lo tahu sih Beb?”

            “Alhamdulillah,” Desi ikut senang.

            “Orang emang Kak Suho itu lagi nyari kriteria karyawan kayak lo, Nov.”

            “Alhamdulillah ya, berarti emang rezeki gue.”

            Setelahnya Novita mencuci piring bekas makan mereka bertiga. Desi masih lanjut memasak untuk makan malam. Beby membantu memotong-motong sayur. Terdengar suara tertawa dari arah tangga. Mereka bisa menerka jika itu suara Daisha, tetapi sepertinya suara tertawa itu tidak datang dari satu orang saja.

            “Assalamualaikum, akhirnya sampai juga.” Daisha langsung mengambil tempat duduk di sebelah Novita dan Juki duduk di sebelah Desi.

            Ternyata suara tawa lain tadi adalah suara Juki. Novita jadi penasaran kenapa beberapa hari terakhir Juki sering mampir ke basecamp Golden Tree. Apakah dia tidak punya rumah atau tempat kos? Namun, rasanya tidak mungkin.

            “Beb, Juki boleh nginap di sini satu hari aja gak?” Daisha berusaha meminta izin kepada Beby selaku leader Golden Tree.

            “Gue okay aja,” jawab Beby singkat.

Daisha kemudian menatap Desi, “Boleh, tapi ingat jangan modus, tetap jaga jarak, ikutin rules di sini.

“Siap, Des.”

“Eh tapi ada acara apa Sa, si Juki pakai menginap segala?” Sebenarnya Novita ingin protes tetapi akhirnya dia hanya bisa melontarkan pertanyaan.

“Kau jawablah Juk, aku udah lapar, mau makan dulu.”

“Aku dikeluarkan dari kostan lama karena nunggak bayar uang kost.” Juki mengatakan itu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Oh,” ucap Novita ber-oh ria.

“Mau kerja jadi waiter di sini?” tawar Beby.

Novita tidak bisa berkata-kata, alih-alih Beby akan meminta Juki agar tidak berlama-lama menginap di basecamp mereka, ini malah dia menawarkan pekerjaan. Beby mungkin memang peka, tetapi tidak peka pada isi hati temannya. Novita bukan tidak suka Juki. Hanya saja dia agak sulit menerima orang baru, apalagi yang menetap tinggal di situ kan hanya Novita, yang lainnya hanya menginap jika ingin saja. Otomatis dia akan sering bertemu dengan Juki dan pasti akan akward sekali.

“Serius Beb?”

“Hmm,” Beby berdehem.

“Tandanya iya, Juk,” jelas Desi sambil terus fokus memotong sayur di talenan. “Ya, untuk sementara kamu bisa tinggal di sini. Tapi ingat ya, sementara,” pertegas Desi.

“Di sini cctv ada di mana-mana, jadi kalau lo macam-macam tamat riwayat, lo.” Beby tampak memperingati Juki.

“Iya, Juk. Soalnya Novi yang tinggalnya permanen di sini. Jadi ingat lho, Allah maha melihat.”

“Iya, insyaallah tujuan Juki di sini baik. Novita juga kalau merasa ada sesuatu hal yang Juki lakukan buat Novita gak nyaman bilang aja, ya.” Novita mengangguk ragu.

Novita izin ke kamar setelah selesai membantu Desi memasak bersama Daisha. Novita berniat selama Juki tinggal di sini dia tidak akan keluar jika tidak penting-penting banget. Handphonenya berdenting, menandakan ada pesan masuk dari salah satu aplikasi chatting.

“[Nov, ternyata sulit move on dari kamu.]” Chat barusan dari Joan.

Novita tidak membalas pesan itu dan hanya membacanya saja. Novita merasa heran, mengapa Joan bisa mencintainya sebesar itu? Padahal Novita sudah berusaha tidak terlalu merespon pria itu.

***

user

15 December 2021 08:44 Rindiantika Seru, di tunggu kelanjutannya ya... Singgah juga di aku ya "SHEVA" terimakasih kak..

10. Rasa

1 0

“Jangan pernah bermain soal rasa karena rasa sulit dirasa. Kalau terasa berat ikhlaskan saja.”

***

            Joan baru tiba di rumahnya, sudah ada Rina dan ibunya yang mengobrol di depan televisi. Gadis itu mengapa selalu menempel padanya sih? Sudah seperti lalat yang menempel pada makanan saja. Padahal Joan sudah menolak gadis itu mentah-mentah.

            Memang kecantikan Rina lebih di atas Novita. Namun, kalau bicara soal hati jika sudah tertambat oleh satu hati mana bisa berpaling ke yang lain. Joan Cuma ingin mencintai tanpa paksaan. Bersama Novita, perasaan itu mengalir begitu saja.

            “Jo, kemari sebentar!” pinta si ibu pada putranya. “Benar ya, kata Rina kamu masih suka sama si Cina Muslim itu?”

            Joan benci pertanyaan itu. Joan pikir orang tua tidak berhak mengatur soal asmaranya. Joan juga benci ketika ibunya bertindak rasis seperti itu. Novita itu cantik luar dalam menurut Joan. Semua yang ada pada dirinya tidak dibuat-buat.

            “Ma, memang salah ya Jo masih suka Novita?” Joan bertanya balik. “Cinta gak bisa dipaksa, Ma.”

            “Mama gak setuju kamu sama dia Jo. Jangan bilang kamu juga sudah dicuci otaknya buat masuk Islam.”

            “Ma!” Joan agak berteriak kepada ibunya. “Gini ya, Ma. Novita itu gak seperti itu. Lagi pula kalau Joan pun tertarik dengan Islam itu gak ada hubungannya sama Novita. Ada dua hal menurut Jo yang gak bisa dipaksakan, Ma. Yang pertama keyakinan seseorang yang kedua perasaan seseorang.” Joan selanjutnya pergi dari sana.

            “Jo,” tegur ibunya.

            “Joan ma uke kamar, Ma, capek.”

            “Rin, tenang saja. Tante janji akan membuat Joan suka sama kamu.”

            Joan tahu rasanya tidak mungkin jika dirrinya bersama Novita yang sekarang tidak akan bisa bersatu. Di satu sisi Joan juga tidak mau masuk Islam hanya karena seorang cewek. Keyakinan itu bukan untuk dipermainkan seperti itu.

            Rina memang satu keyakinan dengan Joan. Sayangnya Joan tidak akan mungkin pernah melekatkan nama Rina di hatinya. Terlalu banyak hal yang membuat Joan jengah dengan Rina. Rina itu adalah tipikal cewek berbahaya yang jika kemauannya tidak dituruti makai a akan melakukan segala hal untuk mendapatkannya. Semoga hal-hal yang Joan pikirkan soal Rina tidak akan terjadi kedepannya.

***

            Novita terbangun pukul empat pagi. Dia punya kebiasaan baru sejak menjadi mualaf, yaitu mandi sebelum azan berkumandang. Novita berusaha menahan dinginnya udara pagi itu yang begitu menelusup sampai ke kulit. Hari ini adalah hari terakhirnya liburan, besok dia sudah masuk kuliah.

            Setelah mandi dan mengambil air wudhu tak terasa azan Subuh pun berkumandang. Suara azan selalu membuat Novita merasa aman. Bagi dirinya, waktu subuh adalah waktu yang paling ia sukai karena hiruk pikuk dan berisiknya dunia luar belum terdengar. Selesai salat, Novita mengaji, meskipun masih terbata-bata dan suaranya tidak cantik. Juki tidak sengaja mendengar lantunan bacaan Al-qur’an Novita. Dia tahu bacaan gadis itu masih banyak yang harus diperbaiki, tetapi niatnya patut diacungi jempol.

            Juki jadi terpikir membuat sarapan tidak hanya untuk dirinya tetapi juga Novita. Hal itu dia lakukan sebagai ucapan terima kasih dan juga sebagai bentuk iktikad baik dari dirinya karena sudah diberikan tempat tinggal untuk sementara. Tanpa berlama-lama dia pun langsung menanak nasi, meracik bumbu nasi goreng dan kemudian memasak nasi goreng. Dia meninggalkan nasi goreng untuk Novita di meja makan yang ditutupi tudung saji. Juki berharap Novita setidaknya tidak memuntahkan makanan yang ia buat. Juki sendiri setelah ini akan beres-beres di lantai satu.

            “Laper,” celetuk Novita saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Gadis itu sudah rapi bersiap untuk kerja. “Eh, what is this?” ucap Novita saat dia melihat ada note di meja makan.

To Novita

I make a plate of fried rice for you, hope you like it.

            Novita membuka tudung saji yang ada di meja makan dan benar ada sepiring nasi goreng di sana. Novita sih kalau dapat rezeki tidak bisa menolak, apalagi dia sedang lapar. Novita juga tidak mau ceroboh dengan tidak sarapan di hari pertama kerja. Novita langsung duduk di meja makan dan menyuap sesendok nasi.

            “Not really bad,” celetuknya.

            Saat suapan terakhirnya dia dikejutkan oleh Beby yang tiba-tiba sudah menuangkan air ke gelas untuk diminum. Anak itu sudah seperti jin saja, mucul tiba-tiba.

            “Kenapa Beb, kok kayak lagi dikejar-kejar setan?”

            “Bukan setan tapi biasalah.”

            “Iya, biasalah artis kita ini.”

            Novita sudah selesai makan dan dia langsung mencuci piring. Tinggal di sini membuat Novita lebih mandiri dan lebih teratur.

            “Wanna go with me?”

            “Nop, thanks.”

            Novita sebisa mungkin menolak ajakan apapun dari seorang pria. Ini bukan soal sudah mengenal lama orang itu atau belum. Hanya saja kalau tidak dalam kondisi yang sangat genting Novita tidak akan mau pergi bersama dengan seorang pria, kecuali memang ramai. Beby juga menghargai setiap apapun keputusan dari teman-temannya, dia menawarkan tumpangan juga hanya sekedar basa-basi. Meski basa-basi adalah hal yang paling dia benci, Beby selalu berusaha berbasa-basi jika berinteraksi dengan anggota Golden Tree.

            Novita pamit dahulu kepada Beby sebelum berangkat kerja. Pria itu pasti setelah ini akan tertidur. Kantong matanya pun sudah sangat tebal. Selain harus manggung bersama Tiga Rap kegiatan Beby memang super padat. Tidak bisa dibandingkan dengan Novita yang super gabut.

            “Juk, makasih ya nasi gorengnya,” ucap Novita pada juga yang sedang mengelap meja.    “Sama-sama, semoga gak buat mules, ya. Dan maaf kalau gak seenak masakan Lisa, Desi atau Tasya.”

            “Santai saja, kayaknya juga masakan lo lebih enak dari masakan gue. Gue pergi dulu ya.”

            “Okay, hati-hati.”

            Joan melihat percakapan Juki dan Novita itu merasa cemburu. Jatuh cinta dan bucin itu memang membuat orang jadi aneh. Joan jadi lebih mudah cemburu bahkan jika Beby dan Novita tidak sengaja duduk bersebelahan saat ada rapat atau acara makan bersama, padahal posisi duduk keduanya sangat berjarak.

            “Jo, mau ngapain kamu ke sini?” tanya Novita saat baru pertama keluar dari pintu restoran.

            “Gak, ini Cuma mau bawain kamu bekalan aja.” Joan menyerahkan paper bag kepada Novita. “Semangat kerjanya.”

Novita mau tidak mau menerimanya untuk menghargai, “Makasih ya, tapi lain kali gak perlu repot-repot. Gue pergi dulu, ya.”

Novita pamit kepada Joan. Menuju garasi khusus milik anggota Golden Tree, Novita berpikir. Apa dengan menerima pemberian dari Joan tindakannya salah atau tidak? Novita jadi takut malah seperti memberi harapan lagi, padahal hatinya sudah kosong. Novita rasa belum saatnya mengisi rasa baru di sana saat ini.

***

11. Dipertanyakan?

3 0

Orang-orang menatap Novita aneh saat dirinya sedang menuju kelas. Novita sudah mengetahui apa penyebabnya dan dirinya rasa wajar jika orang-orang menatap ke arahnya. Dari dulu tampilan Novita yang tidak memakai hijab kini berubah berpenampilan berhijab. Novita tidak punya teman atau lebih tepatnya belum mempunya teman di kampus. Selama enam bulan bersama teman seunitnya Novita belum merasa ada yang cocok dengannya, bahkan tidak ada yang mau mendekatinya. Orang-orang belum mencoba sudah menyerah saja mendekatinya.

“Eh, Nov, kamu kok pakai hijab?” tanya salah satu teman seunitnya.

“Cosplay ya?” tanya teman lainnya.

“Gue udah jadi mualaf.”

“Eh, yakin tuh? Gak prank kan?”

Jujur hati Novita terasa tergores. Bisa-bisanya mereka berpikir seperti itu. Seolah keyakinan yang Novita pilih adalah sebuah candaan belaka. Belum lagi Novita dikira nge-prank. Novita mengerti mungkin mereka berpikir Novita itu adalah orang yang tidak peduli-peduli banget soal keyakinan karena tidak terlihat begitu religius. Namun, Novita merasa tidak semua hal dari dirinya harus dia tunjukkan ke orang-orangkan.

“Gak kok, masa gue ngeprank. Kan keyakinan bukan buat dimainin.”

“Iya benar sih, tapikan kalau semisalnya kamu masuk islam Cuma karena Lisa bagus gak usah aja. Sama aja dengan kamu mempermainkan agama.”

Novita ingin rasanya merutuki orang-orang di hadapannya satu-satu. Mereka tahu apa soal Novita. Mudah sekali mereka men-judge Novita seperti itu. Ini juga termasuk salah satu alasan mengapa Novita tidak akan bisa berteman dengan teman-teman seunitnya. Mereka semua terlalu toxic. Sayang sekali dirinya tidak seunit dengan Daisha. Kebetulan gadis itu ada di unit satu, sama dengan Juki. Novita hanya bisa beristigfar dengan kelakuan teman-temannya.

“Ya enggaklah, aku masuk Islam karena pilihan aku sendiri kok. Permisi, aku mau duduk dulu.”

Novita malas memperbesar masalah dengan berdebat. Terkadang berusaha menjelaskan pada orang yang tidak tepat pun percuma. Memang diam itu lebih baik. Biarlah Allah yang saja yang tahu apa yang sudah kita niatkan di dalam hati.

Namun, Novita menjadi insecure lagi. Apa memang dia tidak pantas ya menjadi seorang mualaf melihat dirinya dulu. Novita memang cewek yang lumayan nakal dulu, tetapi bukan berarti dia pernah mengunjungi club malam juga. Jujur saja, dia pernah meminum minuman keras, pernah mencoba merokok, intinya pernah jadi bandel. Di sisi lain di dalam Islam Novita belajar bahwa Allah Maha Pemaaf. Dia rasa dia juga sudah berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.

***

            Novita menghela napasnya, dia agak kesal terhadap dirinya sendiri yang lupa membawa mukena. Tidak mungkin dia tidak memakai mukena sementara pakaiannya belum sepenuhnya menutup aurat karena Novita masih belum terbiasa mengenakan rok. Padahal perasaan tadi Novita sudah memasukkan mukenanya ke dalam tasnya. Namun, apalah daya itu hanya perasaannya saja. Novita pikir dia akan meminjam mukena milik Daisha saja.

            [“Sa, lo udah sholat?”] Novita mengirimi pesan melalui Whatsapp kepada Daisha.

            [“Udah, Nov,”] balas Daisha seperkian detik berikutnya. Gerak cepat juga gadis itu. [“Mau minjam mukena, ya?”]

            [“Iya, kok tahu?”]

            [“Kebetulan saja benar itu tebakannya. Sebentar kuantar ke kelas kamu.”]

            Novita tidak membalas pesan Daisha lagi. Novita pun beranjak keluar dari kelasnya. Namun, dirinya dihadang oleh para pria yang suka membuat onar di unitnya. Novita sepertinya harus banyak bersabar hari ini.

            “Minggir! Gue mau lewat.” Novita berucap tegas. Masalahnya Novita juga masih ada wudhu, jadi dia menjaga wudhunya.

            “Eh, ukhti jangan galak-galak dong.”

            “Iya nih, ukhti. Baru jadi ukhti aja udah belagu. Nanti ukhti kw lagi, di depan umum aja pakai hijab eh ternyata di sosmed buka-bukaan.”

            “Nah, main sama abang aja mau gak?”

            Byur, tiba-tiba ada air yang mengenai tubuh ketiga pria yang sedang menghadang Novita. Syukurnya Novita tidak ikutan kena. Daisha dan Juki sudah ada di hadapan para lelaki yang terlihat marah itu.

            “Kurang ajar, lo pada ya!” ujar salah satu dari pria bandel itu.

            “Ngaca Mas, yang kurang ajar itu ya kalian. Kalau masih belum bisa menghargai wanita kalian semua ini gak ada harganya.” Daisha berucap dengan lirikan mata tajam. “Juk, siniin hape kamu.”

            Juki menurut dan memberikan handphonenya pada Daisha. Daisha memperdengarkan suatu audio kepada tiga pria bandel itu.

            “Sa, kalau audio ini sampai ke ruang Dekan seru juga ya, Sa.”

            “So pasti Juk, beuh kita jadi punya hiburan baru bakal ada yang kena surat peringatan nih.” Daisha tersenyum miring.

            Secara fisik, Daisha memang hampir mirip dengan Lisa, tetapi secara mental Daisha jauh lebih kelihatan keren. Gadis itu punya caranya sendiri untuk menjatuhkan mental lawannya. Tentu kelebihannya itu hanya dia gunakan untuk hal-hal yang baik saja.

            “Rese ya lo pada, cabut guys,” ucap salah satu dari pria bandel itu dan mereka pun cabut dari sana.

            “Nov, kamu gak apa-apa kan?” tanya Juki pada gadis itu.

            “Gak apa-apa, makasih ya, Sa, Juk.”

            “Santai, mulai sekarang kalau kamu digangguin lagi lapor aja sama kita, Nov. Atau kalau memang lagi ada jam kosong kita barengan kayak sekarang kamu sama kita aja.”

            “Iya, Asa.”

            “Cakep, nih mukenanya.” Daisha menyerahkan mukena miliknya kepada Novita. “Kuylah ke musola, kita anterin.”

            “Iya yuk, Nov. Takut kamu diisengi lagi nanti.”

            Novita ikut saja, dia tidak menolak untuk diantar karena memang posisinya bukan hanya Juki yang mengantarkannya. Juki sendiri meski ke mana-mana sering dengan Daisha dia selalu menjaga jarak saat berjalan dengan Daisha. Daisha juga hanya bisa klop dengan Juki di unitnya. Wajar jika di daerah kampus mereka sering terlihat berdua. Untuk di Golden Tree sendiri Daisha paling akrab dengan Beby. Baik Daisha maupun Beby sama-sama misterius, ada saja sesuatu dari mereka berdua yang membuat orang-orang terkejut.

            “Sip, udah sampe. Sholat yang khusuk ya, Nov. Entar aku pulangnya nebeng ya.” Daisha menggaruk tengguknya yang sama sekali tidak gatal dengan cengiran khasnya. Novita mengangguk mengiyakan.

            Selanjutnya Lisa dan Juki menuju kelas mereka selanjutnya. Novita sedang membuka sepatunya saat tiba-tiba Joan muncul di hadapannya dalam keadaan ngos-ngosan.

            “Nov, kamu gak apa-apa kan? Katanya kamu tadi diganggu sama tiga brandalan di kelas kamu.”

            “Gue gak apa-apa kok. Gue juga bisa jaga diri sendiri.” Novita beralibi agar tidak membuat Joan mengkhawatirkannya seperti saat ini lagi.

            “Bohong, kalau gak ada Daisha pasti mereka udah ngerendahin kamu lebih dari itu.”

            “Jo, udah ya, lo gak perlu segitunya khawatir sama gue. Gue okay, gue salat dulu ya.”

            Novita memasuki musala, meninggalkan Joan yang masih di sana, memastikan Novita masuk musala tanpa ada yang menganggunya. Rina melihat itu semua, kertas di tangannya sudah lecek karena diremas olehnya.

***

12. Awal Mengenal

1 0

Novita remaja sangat insecure sekali saat Golden Tree pertama kali dibentuk. Tidak ada suatu kelebihan menonjol di dalam dirinya seperti anggota Golden Tree yang lain. Novita juga menyadari jika memang seharusnya dia tidak layak untuk bergabung dalam Golden Tree. Hanya saja, Lisa selalu meyakinkannya jika suatu hari nanti dia akan ikut mengharumkan nama Golden Tree juga.

“Kamu tuh gak sadar diri ya jadi bagian dari Golden Tree.” Helen kakaknya meremehkannya.

Dan ada banyak lagi kata-katanya menyakitkan yang membuatnya down. Semua ucapan-ucapan menyakitkan itu terekam di otaknya dan membuatnya sesak.

“Gamers doang mah beban,”

“Novita jadi bagian Golden Tree? Gak salah tuh? Apa sih keahliannya?”

“Modal tampang sama body doang di amah,”

“Di sekolah aja gak pernah juara sok mau jadi bagian dari Golden Tree, ngaca dulu kali.”

“Kalau dibandingin dengan Lisa, Novi itu hanya tong kosong saja.”

Novita menyadari semua kekurangannya. Mereka tidak perlu berkata hal-hal seperti itu. Novita tidak tahu mereka mengatakan itu semua dengan tujuan apa. Hatinya sudah terlanjur sakit dan dia dirundung insecure akut.

Novita sempat menghilang cukup lama dari perkumpulan Golden Tree. Saat itu Novita melampiaskan semua yang dia rasakan dengan meminum-minuman keras dan merokok. Novita yang dulu memang sangat nekad, padahal saat itu dari segi umur pun dia belum bisa meminum-minuman keras.

Sampai ada di saat di mana dirinya ketahuan oleh Lisa saat sedang minum bir dan merokok, “Hei, what did you do?” Lisa merampas botol bir yang ada di tangannya.

Lisa lalu membuang botol minuman keras tadi ke tempat sampah dan merampas rokok yang gadis itu sembunyikan.

“Lis, siniin rokok gue.”

            Lisa menggeleng, “Memangnya setelah lo mabuk dan merokok begitu hati lo bakal  lebih tenang?” Enggak, Nov”

            Novita diam, secara tidak langsung dia setuju dengan ucapan Lisa. Ketenangan yang dia dapatkan hanya sementara. Lisa langsung memeluk sahabat yang sudah sedari kecil menemaninya itu. Dia mengerti apa yang dirasakan Novita karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Bedanya meskipun bagi anggota Golden Tree Lisa hampir sempurna, bagi keluarga kandungnya Lisa selalu memiliki cela, selalu saja keluarganya merasa kurang atas apapaun yang Lisa lakukan.

            “Nov, jangan tambah rasa sakit untuk diri lo sendiri. Kalau orang lain menyakiti lo, lo gak boleh menambahi dengan menyakiti diri sendiri. Lo itu berharga, karena itu lo harus percaya sama diri lo sendiri.”

            “Apa aku bisa Lis?”

            “Belajar mencintai diri sendiri ya,” Novita mengangguk. “ Eh udah azan. Gue salat dulu ya.”

            “Tunggu, gue ikut. Gue mau temenin.” Lisa merasa senang dan langsung menggandeng Novita.

            Tadinya mereka berada di tempat rahasia mereka, cuma mereka berdua yang tahu. Kini keduanya sedang menuju masjid terdekat di sana. Lisa mengambil wudhu, Novita duduk di teras masjid setelah sampai di masjid.

            “Hai, Dek tidak salat?” Novita disapa seorang gadis yang lebih tua darinya. Novita hanya berharap bau alcohol tidak menguar keluar dari mulutnya.

            “Ah, tidak kak, saya non muslim. Saya sedang menunggu teman saya.” Novita berucap sopan.

            “Oh I see, Kakak masuk dulu ya.”

            “Iya kak.” Novita tersenyum.

            Saat Lisa salat, Novita sangat memperhatikan gadis itu. Entah mengapa rasa adem ketika melihat Lisa salat atau mengaji. Padahal Novita tahu Lisa juga memiliki banyak masalah, tetapi gadis itu selalu terlihat tenang dan masih bisa tersenyum, bahkan pengontrolan emosinya sangat baik.

            “Lis gue boleh tanya?” Lisa tertawa karena Novita izin bertanya kepadanya.

            “Ya bolehlah, ada-ada aja lo ini.”

            “Salat itu benar-benar bisa buat kita setenang itu ya?”

            “Alhamdulillahnya si iya, karena kan dalam salat ini kita seperti bicara kepada Sang Pencipta. Memangnya saat lo ibadah lo gak ngerasain itu?”

            “Entahlah, jujur ya gue gak ngerasain apa-apa. Dan semenjak itu gue jadi males ibadah.”

            “Kalau lo tuh gitu emang, mager parah.” Lisa tertawa.

            Dari sana, Novita mulai kepo tentang Islam. Dia mulai mempelajari Islam dan semakin ia belajar tentang Islam dia semakin ingin tahu tentang Islam. Dia mencoba puasa seperti Islam dan banyak merasakan perubahan dalam dirinya, termasuk dia yang mengurangi kebandelannya.

***

            Novita hari ini pergi ke pemakaman Lisa. Masuk ke TPU (Tempat Pemakaman Umum) dia melihat sosok seorang pria dekat makam Lisa. Semakin dekat ke makam Lisa, Novita baru sadar bahwa pria tadi adalah Gilang. Syukurnya setelah semua usaha Daisha menyadarkan pria itu, Gilang telah sadar dari amnesianya. Meskipun Gilang masih denial dengan kenyataan yang ada.

            “Lang, gimana? Sudah sadarkan Lisa gak ada?” Novita langsung memberikan pertanyaan pada Gilang saat sudah berada di makam Lisa.

            “Eh, Nov. Gue masih gak percaya, Nov. Gue masih benar-benar belum siap ditinggal Lisa.”

            “Kalaupun lo gak ditinggal Lisa, lo juga akan sedih kok. Karena Lisa tanpa sadar udah suka sama Arez. Lo mau?”

            “Sejujurnya gue gak mau, tetapi cinta kan gak bisa dipaksa, Nov. Lagian Arez sama Lisa gak akan pacaran. Jodoh juga belum tentu. Tapi it’s okay sama siapapun Lisa nanti, gue hanya belum siap Lisa ninggalin gue.”

            “I see, gue tahu lo cinta banget juga sama Lisa. Tapi lo harus ikhlasin. Kalau lo terus-terusan gak ikhlas lo akan nyakitin hati banyak orang. Dan sebelum ini lo juga udah nyakitin Ara karena menganggap dia Lisa. Kalau Asa sih sepertinya bukan orang yang mudah baper. Lisa kalau masih ada di sini pasti marah kalau lo nyakitin Ara.”

            “Iya Nov, gue emang salah. Insyaallah gue akan berubah.” Novita lega, setidaknya Gilang mengakui kesalahannya. “Tapi lo juga berat banget kan ya ditinggal Lisa.”

            “Berat itu pasti, sudah hampir 12 tahun gue temenan sama Lisa. Gue juga hancur, tapi gue juga sadar Lisa pasti gak suka kalau gue terus-terusan murung.”

            “Iya juga ya, oh iya lo mau gue tungguin biar kita pulang bareng?”

            “Gak usah,”

            “Yakin?” Novita mengangguk. “Ya sudah gue duluan ya.”

            Gilang meninggalkan Novita agak ragu. Sampai di parkiran dia melihat sepeda motor milik Novita. Gilang memutuskan untuk menunggu gadis itu saja. Gilang takut juga kalau terjadi apa-apa pada gadis itu di jalan.

            Novita melihat sekeliling makam Lisa sudah bersih. Ternyata Gilang telaten juga dalam membersihkan yang seperti ini. Novita tidak perlu membersihkan lagi. Novita berjongkok di dekat batu nisan dan berdoa. Tangisnya seketika luruh. Novita rindu pada gadis itu, sangat rindu. Namun, kini hanya doa yang bisa dirinya panjatkan.

            “Lis, gue akan berjuang penuh buat istiqomah. Karena gue ingat banget doa lo yang kepengen ketemua gue di surga Allah. Bismillah ya Lis. Btw gue kayak orang bodoh ngomong sama kuburan.” Novita berbicara begini setelah selesai berdoa.

            Novita bangkit dari jongkoknya, keluar dari TPU masih melihat Gilang di parkiran. Dalam bayangan Novita, Gilang adalah sosok yang dia pikira hanya memperdulikan Lisa. Ternyata dirinya salah.

            “Kok gak pulang, Lang.”

            “Sumpah gue takut lo digangguin, ini udah mau maghrib juga. Mana lo cantikkan. Eh ini gue gak gombal ya.” Novita tertawa kecil. “Kitakan udah kayak keluarga.”

            “Iya deh iya. Gue jalan duluan ya. Lo mantau gue dari belakang.”

            “Sip,”

            Novita makin ke sini makin sadar bahwa dirinya tidak sendirian. Selama ini dia hanya terlalu merasa hanya numpang nama saja di Golden Tree. Namun pada kenyataannya, hampir semua anggota Golden Tree peduli kepadanya.

***

13. Duri Kecil

1 0

“Jika duri kecil aku mungkin masih sanggup menahan sakitnya. Jika duri besar dan tajam, apakah aku akan bisa menahan sakitnya?”

***

Malam itu Mama Novita pergi ke kamar Novita. Helen anak pertamanya belum pulang kerja. Kalau dia sudah pulang kerja pasti Mama Novita akan dilarang masuk ke kamar Novita.

Di kamar Novita, Mama Novita duduk di ranjang Novita. Kamar yang dulunya tidak pernah rapi, kini rapi dan bersih. Mama Novita merasa kangen dengan anaknya. Rasanya hanya dengan menelepon dan berjumpa sesekali saja tidak akan cukup. Mama Novita kangen atas suara-suara berisik yang membuat tenang tengah malam, suara Novita belajar mengaji. Mama Novita juga kangen Novita yang akhir-akhir ini belajar memasak. Mama Novita mudah kangen dengan anak bungsunya sekarang jelas karena gadis itu sudah lebih lembut dan terlihat menyayangi Mamanya lebih.

            Satu-satunya hal yang dia takutkan dari Novita bukan karena Novita masuk Islam, tetapi seorang ibu pastinya akan sangat takut jika anaknya tidak dianggap lagi menjadi bagian dari keluarga mereka. Tentu Mamanya mencemaskan tentang Novita yang berpikir bahwa dia kesepian dan sendirian.

            Setelah seminggu setelah kepergian Novita dari rumah, Mama Novita rutin masuk ke kamar anak bungsunya itu. Di kamar itu Mama Novita menemukan sebuah kotak di atas lemarinya yang tampak disembunyikan. Ternyata isi kotak itu adalah buku-buku tentang Islam. Novita cukup pintar juga karena Sebagian dari sumber belajarnya dia sembunyikan.

            Dari sanalah Mama Novita juga mulai rutin membaca bacaan tetang Islam. Selama ini Helen tidak tahu, karena saat Helen pulang kerja Mamanya sudah di kamar sendiri. Jika anak pertamanya tahu habislah sudah riwayat Mama Novita dan pasti anak pertamanya itu akan memarahi Novita.

            “Mama ngapain Mama di sini?” Mama Novita terkejut. Mengapa Helen sudah ada di rumah? Tadi katanya dia lembur.

            “Kamu bukannya lembur?”

            Helen tidak menjawab. Dia langsung merampas sebuah buku dari tangan Mamanya. Helen membaca judul buku, yang ternyata berjudul “Sejarah Peradaban Islam”. Helen merobek buku itu tanpa ba-bi-bu. Mamanya kembali shock. Apa yang dia duga terjadi sekarang.

            “Mama pasti didoktrin sama Mei, buat masuk Islam kan, Ma?”

            “Enggak Helen, Mama cuma pengen baca saja.”

            “Bohong! Mulai sekarang jangan nelepon atau ketemu lagi sama Mei. Kalau sampai ketahuan, awas aja nanti. Helen kecewa sama Mama.”

            “Helen, dengerin Mama dulu,” Helen sudah lebih dulu pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Mamanya.

***

            Novita sedang di tempat dia bekerja pagi ini. Untuk saat ini pekerjaannya masih mendesain karakter game saja. Sebagai seorang gamers pastinya dia bisa mempertimbangkan karakter apa yang akan disukai oleh para gamers di luar sana. Hanya saja sebentar lagi jam istirahat dan kebetulan shiftnya selesai. Shift Novita tidak teratur karena menyesuaikan dengan jam kampusnya. Suho sebagai orang yang merekrutnya masuk ke perusahaan sendirilah yang mengatur shift untuk Novita.

            Novita masih sulit beradaptasi di tempat kerjanya. Lagi pula para karyawati di sini suka menggosip dan Novita tidak nyaman dengan itu. Mungkin dia belum bertemu teman kerja yang klop saja. Tiba jam istirahat, Novita mendahulukan untuk salat terlebih dahulu. Selesai salat, dia heran karena salah satu satpam mengantarkan paket makanan untuknya. Perasaan dirinya tidak ada memesan di aplikasi online pesan makanan.

            “Siapa yang kasih satu lagi Pak? Kalau satu lagi sih dari restoran saya pasti diperintahkan oleh salah satu teman.”

            “Gak tahu Mbak, kalau satunya dari siapa. Tadi dipesan lewat gofood dan abang yang anter juga gak bilang dari siapa.”

            “Oalah, Pak. Kayaknya kalau buat saya semua, saya bisa kekenyangan, Pak. Yag satunya buat Bapak saja, saya makan yang dari restoran saya saja.”

            “Benar nih, Mbak?”

            “Iya, Pak. Ambil aja. Bapak pasti laper jugakan.”

            “Makasih banyak ya, Mbak.”

            “Sama-sama, Pak.”

            Novita makan lebih dahulu di kantin yang ada di perusahaan. Sebenarnya makanan sudah ada disediakan dari perusahaan. Meskipun tidak banyak, tetapi setidaknya perusahaan sudah menggratiskan makan siang. Novita saja yang baru tahu. Namun, dia juga akan tetap lebih memilih makanan dari restorannya sih. Lagi pula yang dikirimkan dari Fastco Restaurant adalah makanan yang sering dia makan.

            Novita terkejut saat melihat jam tangganya, bisa-bisa dia terlambat masuk kampus jika tidak buru-buru. Lima belas menit lagi kelasnya dimulai. Novita segera menuju ke parkiran. Namun, sayangnya saat di parkiran dia menemui jika ternyata ban belakang sepeda motornya bocor halus.

            “Ya, Allah bagaimana ini,” ucapnya cemas.

            “Kenapa Novi?” tanya Suho pada dirinya yang tampak cemas.

            “Ban sepeda motor saya bocor, Pak.

            “Ya sudah sama saya saja berangkat ke kampusnya. Sekalian saya sedang mau menuju ke daerah kampus kamu.”

            Novita tampak menimbang sejenak, kalau dia naik kendaraan umum atau memesan gojek pasti akan membuang waktu saat menunggu. Akhirnya dengan terpaksa dirinya menerima tawaran Suho, “Boleh Pak, kalau tidak keberatan.”

            “Santai,”

            “Saya duduk di belakang gak apa-apa kan, Pak?”

            “Iya tidak apa-apa, saya paham kok.”

            “Terima kasih ya, Pak.”

            “Sama-sama,”

            Sesuai permintaan Novita, dia duduk di belakang. Novita beruntung karena menadapati Suho sebagai bosnya. Selain tampan, iabadahnya rajin, dia juga tampak sangat menghargai wanita. Banyak para karyawati maupun cewek lain yang tergila-gila padanya. Namun, untuk Novita itu pengecualian. Novita mengakui pendapat orang soal Suho, tetapi maaf dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta.

            “Terima kasih ya, Pak.”

            “Sama-sama, kamu yang rajin belajarnya.”

            “Iya, Pak.”

            Suho kemudian pergi menuju tujuannya. Novita juga segera masuk ke gedung fakultasnya. Belum sampai menuju kelas, dirinya ditarik oleh dua orang gadis dan yang satunya seolah bertindak sebagai bos. Novita ditarik menuju salah satu kamar mandi khusus wanita yang ada di fakultasnya. Novita melihat melotot kea rah Rina, ternyata Rina dan ajudannya yang menyeretnya ke sini. Rina tampak menyudutkan Novita ke tembok, sementara kedua teman lainnya menjaga pintu.

            “Lo itu gak ada takutnya ya gue peringatin. Gue bilang jauhi Joan.”

            “Hei, Mbak. Gue gak ada yang deketin Joan. Gue udah nolak dia kok.”

            “Alasan, buktinya tadi siang Joan aja masih ngirim makanan ke Lo.”

            Novita saja tidak tahu jika makanan itu dari Joan. Dia juga tidak memintanya, “Aduh, Rina, iya Rinakan nama Lo. Gue gak tahu itu dari Joan, dan bahkan itu gak gue makan. Gue kasiin it uke satpam, soalnya gue dikirimin teman gue juga.”

            “Alah, gak usah munafik deh, lo.” Rina tiba-tiba menumpahkan air dari botol air minumnya ke wajah Novita.

            “Eh apa-apaan nih main siram-siram.”

            Ada suara gedoran dari pintu kamar mandi tiba-tiba, Rina berhenti melakukan acara melabraknya. Gadis itu dan dua temannya segera keluar dari kamar mandi.

            “Apaan sih kalian main gedor-gedor pintu,” Rina merasa sebal. Ada Gilang dan Beby di depan pintu kamar mandi itu. “Mau ngintip ya.”

            “Najis,” ucap Gilang. “Novi mana?” tanya Gilang pada gadis itu.”

            Gilang dan Beby tahu Novita dibawa ke kamar mandi secara tidak sengaja. Kebetulan kedua pria it uke fakultas itu untuk makan bersama dengan Daisha dan teman-teman lain yang sekampus. Rina yang ditanya soal Novita bersamaan temannya malah kabur. Novita tak lama keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah basah.

            “Nov, are u okay?” tanya Beby pada gadis itu.

            “Okay kok, Cuma disiram air saja sama Mak lampir.”

            “Siapa sih tuh cewek? Rese amat.”

            “Orang yang suka sama Joan.”

            “Lang, lo banyak omong. Telepon Ara, minta bawa baju ganti buat Novita!,” pinta Beby galak.

            “Okay, jangan galak-galak, dong.”

            Novita bersyukur dua pria itu datang. Dia juga bersyukur baju yang dikenakannya meski kena air tidak tembus pandang. Kalau tembus pandang, alamat Novita malu menampakkan diri di hadapan Pria itu.

***

14. Pria Aneh

1 0

Memasuki bulan November tidak ada lagi yang Novita harapkan. Jika dulu dia paling menanti-nanti bulan ini, kini tidak. Dia juga tidak ingin memperingati hari ulang tahunnya. Memang di dalam Islam sendiri pun tidak ada perayaan ulang tahun.

Dua bulan terakhir Novita selalu berusaha menghubungi Mamanya, tetapi tidak pernah diangkat. Novita juga mencoba datang ke rumahnya juga tidak ada sambutan. Novita kangen Mamanya, kangen keponakannya. Dia ingin pulang, tetapi tidak bisa. Berpikir lagi soal semua keanehan ini, Novita jadi overthinking. Apakah dirinya sudah dilupakan?

Hembusan angin kencang menerpa wajahnya. Novita sedang duduk di tepi rooftop. Sungguh tidak terlihat ketakutan pada dirinya terhadap ketinggian. Tanggal sembilan belas November bulan ini, Novita hanya berharap semuanya baik-baik saja. Dia tidak mau muluk-muluk. Dia juga meminta para anggota Golden Tree agar tidak merayakan ulang tahunnya.

“Hei, Nov, ngapain duduk di situ? Nanti jatuh lho.” Juki menyapa gadis itu. Juki melihat betapa santainya gadis itu mengayunkan kakinya di atas lantai empat begini. Juki saja seram melihat ke bawah.

“Gak ada Juk, nyari angin aja.”

“Angin jangan dicari, ntar masuk angin.” Juki berusaha bercanda meskipun receh.

Juki kemudia fokus menyirami pot-pot kecil yang sudah tertata rapi di sebuah rak khusus tanaman. Bibit yang banyak ditanam adalah bibit bunga dan kaktus mini. Juki juga merapikan beberapa tumbuhan yang terlihat kurang cantik. Juki bukan pria yang berkelakuan feminine, hanya saja ada beberapa hal yang biasa disukai para cewek malah dia juga suka. Contohnya seperti gardening ini. Novita selesai dengan mencari anginnya, dia melihat Juki sibuk mengurus tanaman.

“Lo suka gardening ya?” yang ditanya mengangguk takjim.

“Aneh ya?”

“Bukannya aneh, ya walaupun menurut gue aneh. Tapi gue juga aneh kan, masa cewek sukanya ngegame. Jadi ya selama lo suka denga napa yang lo lakukan selagi gak berlebihan ya sah-sah aja.”

“Yaps betul, tapi ya gara-gara itu aku sempat beberapa kali dibilang bencong.” Juki tertawa.

“Gak sih, kalau personal lo normal kok. I mean gak lenjeh kayak bencong. Oh iya btw lo ngomong sama Asa kan lo gue, ngomong sama gue pakai lo gue juga gak apa kok.”

“Sip,” Juki mengacungkan jempol.

Novita kemudian kembali ke kamarnya, menemukan banyak kotak dan paper bag di atas tempat tidurnya. Ada satu kertas dengan tulisan di sana. Anggota Golden Tree memang beda.

To: Novita

From: GT

Ini bukan hadiah lho ya. Kita-kita Cuma kelebihan duit saja, jadi pengen ngasi lo sesuatu aja. Semoga bermanfaat ya. Stay happy, stay istiqomah dan stay halal. Oh iya dan kita mau challenge lo mala mini buat masakin kita makan malam.

Novita syok, padahalkan mereka tahu Novita gak bisa masak. Memang paling bisa deh anak-anak Golden Tree. Mana mereka banyak dan masa cuma Novita sendiri yang masak. Kelar sudah, dijamin makan malam kali ini sungguh menyiksa.

Novita segera keluar dari kamar menuju dapur. Novita duduk di meja makan, termenung beberapa lama. Dia hanya tahu masak nasi, mie instant dan telur goreng, selebihnya wasalam.

“Kenapa, Nov?

“Disuruh masak,”

“Kan tinggal masak.”

“Gue gak bisa juga,” Novita menunjukkan ekspresi sedih.

“Yaudah, kamu masak nasi sama buat minuman saja. Biar aku yang buat lauk.”

“Tapi malam ini mereka kayaknya bakal datang semua Juk, gaka apa-apa.”

“Santai, di rumah juga gue udah biasa masak. Soalnya yang cewek di rumah gue Cuma adek gue yang masih kelas 6 SD.”

“Makasih banyak lho,”

“Anytime.”

Berkat dibantu oleh Juki, Novita merasa lega. Novita juga tidak meragukan masakan Juki, meskipun tidak selevel masakan Desi ataupun Daisha, Novita rasa masakan yang dibuat oleh pria punya rasa enak yang khas. Jadi kalau dibandingkan dengan Desi yang memang ranahnya di sana ya tidak fair. Dibandingkan dengan Daisha juga tidak bisa karena Daisha itu apapun yang dimasaknya walaupun resepnya asal-asalan tetap enak.

 “Nov, handphone lo bunyi tuh.”

 “Ha, apa?” Novita agak berteriak karena suara Juki tidak kedengaran. Kebetulan dia sedang mem-blender sesuatu.

 “Handphone lo bunyi,” Novita baru paham saat Juki juga menaikkan satu oktaf intonasi suaranya.

Novita mengambil handphonenya, tetapi panggilan teleponnya sudah keburu mati. Kemudian ada sebuah pesan dari Joan. Isi pesan dari pria itu mengatakan dia sudah menaiki tangga ke lantai tiga. Novita panik, segera menuju ke dekat tangga. Masak dengan Juki saja rasanya kurang nyaman walaupun keduanya berjarak, mengapa kini Joan malah datang dan menambah rasa dimana Novita ingin menghilang saja. Lagi pula Novita takut malah si Rina akan muncul juga.

“Happy birthday, Nov.” Joan berucap dengan senyuman lebar di bibirnya.

“Gue gak ngerayain ulang tahun Jo, dan kenapa ke sini? Gue gak mau lagi lho dilabrak Rina.”

“Aku ke sini sebagai teman kok. Aku tahu kamu gak suka aku lagi. Soal Rina tenang aja, dia gak tahu aku ke sini.”

Meskipun demikian, tetap saja Novita merasa cemas. Namun, karena Joan juga sekarang posisinya sebagai tamu, Novita mau tidak mau mempersilahkannya masuk.

“Ya sudah, duduk di dekat pintu dulu ya. Lo baru boleh masuk kalau udah ada anak cewek lain yang datang.”

Joan mengangguk dan menuruti apa kata Novita untuk duduk di dekat pintu. Tak lama Bil datang. Bil adalah salah satu anggota cewek di Golden Tree. Dengan perantara Bil, Joan sudah diperbolehkan masuk. Hanya saja Joan terkejut saat masuk ke ruangan, ternyata sudah ada Juki di dalam. Apakah mereka tinggal bersama? Atau Juki hanya tamu? Tapi kalau hanya tamu mengapa Juki diperbolehkan masuk. Anehnya lagi saat Juki memakai celemek yang sama dengan yang Novita pakai. Jujur Joan tidak suka dan dia cemburu.

Tidak lama para anggota Golden Tree yang lain mulai berdatangan satu persatu. Sampai pada anggota yang terakhir datang, Novita benar-benar terkejut karena Desi membawa serta Mama Novita untuk datang ke basecamp Golden Tree.

“Ma, Novi kangen.” Novita langsung memeluk Mamanya erat.

“Mama juga. Maafin Mama ya, belum bisa meyakinkan Kakak buat memahami kamu yang menjadi mualaf, Nak.”

“It’s okay, Ma.”

“Happy Birthday, Nak.”

“Thanks, Ma.” Novita tersenyum bahagia.

Juki baru menyadari jika Novita ternyata berulang tahun. Pantas saja dia melihat Joan dan Mama Novita membawa kado. Juki pikir yang berulang tahun orang lain. Juki merasa tidak enak jika tidak memberikan apa-apa. Juki merasa perlu juga memberikan sesuatu pada gadis itu.

Kemudian tidak beberapa lama, dia terpikirkan apa sesuatu yang akan dia berikan kepada Novita. Novita berniat memberikannya setelah makan malam mereka. Makan malam mereka diadakan di rooftop dengan menggelar karpet yang di bawahnya sudah dilapisi sesuatu agar karpet tidak kotor. Selesai Novita makan, Juki memanggil Novita sebentar. Juki ingin memberikan sesuatu. Sementara itu Joan terus memperhatikan keduanya.

“Nah, ini buat kamu,” Juki memberikan Novita pot mini yang masih terlihat tanah kosong di sana.

“Juk, lo jangan ngaco. Masa gue dikasi tanah sama pot.”

“Eh bukan, itu sudah ada bibitnya. Coba deh itu baca di potnya kan ada label.”

“Forget me not,”

“Jangan gombal Juk,”

“Lah geer,” Juki tertawa. “Itu nama bunganya forget me not. Maaf cuma bisa ngsi itu, habis mendadak.”

Novita merasa agak malu karena telah mengira Juki gombal. Dia menunduk karena malu, “Makasih banyak Juk, makasih juga tadi lo udah bantuin masak.”

“My pleasure. Dijaga baik-baik ya bunganya.” Novita mengangguk.

Novita kemudian meletakkan bung aitu di rak yang telah dilabeli dengan namanya. Rak itu dibuat oleh Daisha agar dirinya tahu masing-masing anggota Golden Tree suka bunga apa. Karena Novita tidak tahu bunga apa yang dia suka, maka dia meletakkan hadiah dari Juki tadi di sana. Namun, Joan salah menyangka dengan pembicaraan Juki dan Novita tadi. Joan mengira bahwa Juki menyatakan perasaannya kepada Novita dan Novita merasakan hal yang sama.

***

15. Helen dan Rasa Benci

1 0

“Entah bagaimana caraku untuk membuktikan kepadamu, bahwa hal yang aku pilih adalah hal yang benar. Mengapa kamu membenciku hanya karena aku memilih jalan ini? Katakan saja harus denga napa aku membayar, kecuali meninggalkan apa yang sudah kupeluk erat.”

***

Cinta hanya bisa mendatangkan dua hal, yaitu rasa sakit dan kebahagiaan. Ketika kamu mencintai seseorang, akan selalu ada resiko baik maupun buruk. Entah itu dipilih atau memilih, cinta sejati tidak akan pernah menuntut. Kamu tidak bisa memaksa seseorang yang kamu cinta harus memilihmu atau harus bersamamu. Kadang kala kenyataan pahitnya kita ada di pihak yang tidak dipilih. Pilihan kita selanjutnya hanya dua mengikhlaskan atau menunggunya, yang dalam hal menunggu itu tidak pasti.

Joan memilih menunggu, tidak berpikir untuk mengalah sama sekali. Namun, sampai titik ini Joan tidak bisa menunggu. Apalagi melihat gadis yang dicintainya tadi bersama orang lain, hatinya begitu sakit. Joan juga tidak tenang tentang apa pembicaraan Juki dan Novita tadi. Yang Joan tangkap, Juki seperti sedang menyatakan perasaannya pada Novita.

Acara makan malam itu telah usai. Para anggota Golden Tree sedang membereskan bekas mereka makan, menggulung karpet dan sebagainya. Joan memanfaatkan moment itu untuk berbicara dengan Juki.

“Hei, lo, kemari!” Joan memanggil Juki. Pria itu mendekat kepadanya.

“Ada apa ya?”

“Gue mau ngomong sama lo,” mata Juki menyipit sebelah. Dirinya merasa heran mengapa si Joan ini mau bertanya padanya?

“Ya sudah, ngomong aja,” ucap Juki kasual.

“Lo ada hubungan apa sama Novi?” Juki tertawa dengan pertanyaan itu. Aneh saja, mana ada apa-apa dia dengan Novita.

“Kenapa? Kalau ada apa-apa juga bukan urusan lo kan?” Juki membalas pertanyan Joan dengan pertanyaan lain. Kalau memang keduanya ada apa-apa pun Juki rasa Joan tidak perlu mempertanyakannya. Novita berhak mau melakukan apapun yang dia mau dan menjalin hubungan dengan orang lain, kecuali Joan suami Novita.

“Gue gak suka aja lo dekat-dekat sama dia. Lagian lo juga gak selevel sama Novita.” Juki tertawa tanpa suara mendengar ucapan Joan. Dia siapa berani-beraninya berkata begitu dan merendahkan Juki. Sombong sekali.

“Eh, sorry, gue rasa setiap orang berhak kok kalau mau dekatin Novita. Gue juga gak dekatin dia gimana-gimana. Lagian Novi bukan hak milik lo kali.” Apa yang dikatakan Juki jelas tidak salah. Di sini obsesi Joan terlihat sekali.

“Jadi benar tadi lo nembak Novita? Lo suka sama dia?”

Sebenarnya Juki ingin tertawa terbahak-bahak. Menembak gimana kalau Novita aja gak mau pacarana. Kalau pun Juki suka sama Novita, Juki pikir dia tidak akan mengajak Novita pacarana karena menghargai prinsip gadis itu, bagus langsung diajak nikah saja. Lagian pacarana menurut Juki adalah sesuatu hal yang sangat membuang-buang waktu.

“Bukan urusan lo. Lagian daripada itu mungkin gue adalah tipe orang yang mementingkan perasaan dan kenyamanan orang gue cinta. Cinta gak bisa dipaksa bro, mending lo move on aja.”

Juki pergi setelahnya karena merasa tidak ada hal yang penting lagi yang perlu dibicarakan. Joan mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih. Joan tidak akan biarkan Novita menjadi milik orang lain.

***

            “Mbak jangan masuk, Mbak. Memangnya Mbak sudah aja izin sebelumnya?”

            “Peduli apa soal izin, saya cuma mau bawa Mama saya pulang.” Helen memaksa naik ke lantai tiga sementara dirinya masih dihalangi satpam. “Minggir, Pak!” pinta Helen.

            Terlihat amarah di wajah wanita itu. Saat dia pulang kerja tadi Mamanya sudah tidak ada di rumah dan anak-anaknya sudah tertidur anteng. Helen yakin sekali jika Mamanya sedang menemui Novita. Makanya dia ke Fastco Company.

            Beby diberi tahu tentang kegaduhan yang dibuat Helen, pria itu segeta turun ke bawah. Dia melihat Helen sedang marah dan memaki-maki satpam. Perasaan Beby sudah tidak enak. Namun, mau tidak mau dia harus mengantar Helen ke atas.

            “Mbak, ayo naik sama saya. Mohon jangan ribut!” pinta Beby kepada wanita itu.

            “Mana Mama saya?” Helen berteriak dengan emosi yang masih memuncak. Kalau tidak dikasi apa yang wanita ini mau pasti dia akan semakin marah.

            “Ada di atas, Mbak. Mari saya antarkan.”

            Helen melepaskan tangannya kasar dari si satpam. Dia mengikuti Beby menuju lantai tiga. Beby rasanya ingin tidak memberi tahu Helen yang sebenarnya, tetapi nanti masalahnya pasti akan semakin kacau. Benar saja, saat sudah berada di hadapan Mamanya dan Novita, Helen menampar Novita keras. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Novita refleks memegang pipinya yang ditampar.

            “DASAR ADIK KURANG AJAR, GAK TAHU DIRI,” Helen berucap dengan nada keras serta penuh emosi. “Berani kamu ya ketemu Mama. Mau kamu cuci otak Mama, hah.”

            “Helen, cukup!” Mama dari dua orang itu ikut berteriak. “Mama yang ke sini. Mama yang mau.”

            “Oh, hebat ya, Ma,” ucap Helen. “Mama pikir aku gak tahu kalau teman-teman Novita ini yang bawa Mama ke sini. Kalian ini apa udah gak cukup memisahkan ibu dan anak, kini mau mencuci otak ibunya juga.” Desi benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir Helen.

            “KAK, CUKUP!” Teriak Novita. “Teman-teman aku gak salah. Kalau Kakak mau salahkan aku silahkan, tapi jangan mereka. Mau bagaimana caranya aku menjelaskan ke Kakak kalau apa yang aku pilih gak salah.”

            “Aku gak butuh penjelasan, Mei. Aku Cuma minta kamu balik ke agama kita. Karena sampai kapan pun aku akan membenci Islam.” Perih, itu yang Novita rasakan. Para anggota Golden Tree yang lain pun merasakan hal yang sama.

            “I will show you, and I will proof to you that Islam is a great religion. Islam doesn’t deserve to be hate.”

            “Just try, and I will never believe it. Jangan temui Mama, lagi atau aku akan mengurung Mama. Ma, ayo pulang!”

            Helen menarik lengan Mamanya kasar dan terburu-buru. Hati seorang ibu pastilah sakit melihat anaknya berdebat seperti itu. Mama mereka menangis, tidak tahu harus berbuat apa.

            “Udah, Ma. Ngapain nangisin dia. Dia udah gak ada urusan sama kita.”

            Sepeninggal Helen dan Mamanya, Novita tidak kuat lagi menahan sesak di dada dan tangisnya pecah. Gadis itu langsung masuk ke kamar, diikuti beberapa anggota Golden Tree yang cewek. Anggota Golden Tree yang cewek dan semua cowok melanjutkan berberes, berusaha melupakan apa yang barusan terjadi. Setelah ini, mereka akan bersama-sama menguatkan hati Novita.

            “Jo, sudah waktunya kamu pulang,” ucap Beby kepada pria itu.

            “Tapi Beb, gue khawatir sama Novi.”

            “Please, ini urusan personal dan maaf lo bukan bagian dari Golden Tree.”

            Joan pulang dengan perasaan kesal. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun Joan cemas dengan keadaan Novita.

            Novita—di kamarnya ditenangkan oleh Desi, Daisha dan Tasya. Desi tengah memeluk gadis itu, Daisha menggeggam tangannya dan Tasya yang memberi semangat lewat kata-kata. Membayangkan di posisi Novita mereka pun tidak akan kuat.

            “Yang sabar ya, Nov. Mungkin ini ujian dari Allah supaya Novi naik level keimanan. Bismillah, cepat atau lambat kamu pasti bisa membuktikan ke kakak kamu. Ingat, kami ada di sini.”

            Tangis Novita yang sudah reda kini deras lagi. Bukan karena sedih, Novita percaya Allah Maha Baik. Novita bersyukur punya teman-teman yang sudah seperti keluarga. Seketika rasa insecure dalam diri Novita berkurang.

            “Makasih guys, rangkul aku ya.”

            “Pasti,” ucap Desi, Daisha dan Tasya serentak.

***

16. Sebuah Kepercayaan

0 0

???Novita sedang banyak beban pikiran. Semenjak kejadian kemarin, Novita jadi tidak nafsu melakukan apa-apa. Ada banyak hal yang memenuhi kepalanya. Mau melakukan apapun rasanya pun tidak enak. Di satu sisi, Novita harus bersikap professional.

          Suho mengajaknya bertemu. Suho mengatakan bahwa dirinya akan datang ke Fastco Restaurant. Novita yakin suasana restoran akan menjadi semakin ramai. Meski selama ini Fastco Restaurant sudah sangat ramai, tetapi kali ini pasti akan lebih ramai. Sehari-harinya saja para fans Gilang dan Tiga Rap sering berkunjung ke restoran. Tiga Rap merupakan grup rap yang terdiri dari Beby, Yazid dan Dicky. Keempat orang pria itu memang yang paling terkenal dari Golden Tree terutama Beby. Beby tidak hanya pintar, dirinya juga multi talenta.

          Berbicara soal talenta dan bakat, Novita memang jauh dari yang lainnya. Novita tidak pintar, tidak punya keahlian yang menonjol, bahkan sangat kurang di bidang seni. Dia hanya gadis yang secara kebetulan jago di dunia game. Soal kegemaran menggambarnya akhir-akhir ini dia lakukan hanya untuk mengisi kegabutan. Dia masih perlu banyak belajar.

          “Novita di sini,” sapa Suho yang tengah duduk di meja nomor sembilan.

          Novita bisa melihat semua mata para kaum wanita mengarah terpesona pada sosok Suho. Bayangkan saja wajah pria itu sebelas dua belas dengan wajah Cha Eun Woo dan kebetulannya lagi dirinya ada keturunan Korea.

          “Maaf, Pak karena telah membuat menunggu lama.” Novita duduk di hadapan Suho. Sebenarnya risih sih, hanya saja Novita berusaha biasa saja karena di sekitar mereka juga ada banyak orang.

          “Santai saja, saya juga ke sini niatnya juga mau makan dulu. Eh, besok-besok jangan panggil Pak ya, sebenarnya kan kita cuma berbeda tiga tahun.” Novita agak terkejut, dirinya baru mengetahui jika jarak umur mereka tidak berbeda jauh.

          Novita pikir umur Suho kisaran dua puluh lima tahun atau sedikit tua lagi dari umur itu. Novita bilang begitu bukan karena muka Suho ketuaan. Justru karena wajah orang Korea yang terlihat baby face, Novita jadi berpikiran umur Suho sudah jauh di atasnya. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa Suho sudah menjadi salah satu pimpinan di perusahaanya saat usia muda. Benar-benar definisi pria yang mendekati sempurna.

          “Oh, I see, Kak.” Suho mengacungkan jempolnya saat Novita memanggilnya tidak dengan sebutan “Pak” lagi.

          “Begini Novi, saya punya ide untuk mengembangkan sebuah game di mana kita juga bisa belajar Islam di dalamnya. Nah, saya mau kamu yang mengkonsep gamenya, kamu yang tentuin para karakternya mau siapa.” Tidak ada keraguan pada diri Suho saat dia menyampaikan itu pada Novita.

          Novita sendiri malah meragukan dirinya, “Atas dasar apa Kakak percayakan project ini ke saya? Maksud saya, saya merasa saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain.”

          “Kamu hanya tidak tahu potensi kamu. Saya percayakan ini ke kamu karena saya tahu potensi kamu. Dan sudut pandang kamu sebagai seorang gamers sangat dibutuhkan.”

          Setelah pembicaraan itu, Suho pulang. Sejak awal Novita sudah insecure. Saat pria itu pulang, Novita semakin insecure. Novita bertanya-tanya. Apakah Suho memilihnya memang murni karena dia terpilih atau Suho memilihnya karena Novita adalah bagian dari Golden Tree?

***

          Novita kepikran suatu konsep game yang menurutnya sangat dibutuhkan untuk generasi muslim di zaman sekarang. Novita bisa merasakan dan sadar jika para anak muda sekarang sangat jauh sekali pengetahuannya tentang Islam. Para anak muda sekarang lebih tahu dan hapal nama-nama karakter dari game ketimbang nama para Nabi dan para sahabat Nabi. Apalagi kalau ditanya sejarah soal Islam pasti mereka mundur. Sangat disayangkan dan begitu miris.

          Dikarenakan hal-hal tersebut Novita jadi kepikiaran untuk membuat karakter game berdasarkan nama-nama para sahabat Nabi, juga sedikit banyak mengambil karakteristik sahabat Nabi. Dia tidak mungkin membuat karakter dengan nama-nama Nabi yang rasanya tidak pantas dilakukan, dalam artian bahwa kita itu dilarang untuk mengilustrasikan bentukan fisik dari para Nabi.

          Untuk menambah wawasan pemainnya, selain menggunakan karakter yang terinspirasi dari para sahabat Nabi, Novita akan menyisipkan pertanyaan islami jika pemain ingin naik ke level selanjutnya. Pertanyaannya pun bervariasi, baik pertanyaan Fiqih, Aqidah, Sejarah dan apapun pertanyaan yang merujuk kepada wawasan Islam. Novita mengeluarkan buku-bukunya seputar Islam. Dia menuliskan list pertanyaan yang sekiranya akan dia pakai di sebuah note book khusus. Selama dua jam dia membolak-balik bukunya dan terus membaca dia telah mengumpulkan tiga puluh pertanyaan beserta jawaban. Pertanyaanya itu pun ia kelompokkan dari yang termudah hingga tersulit.

          Seseorang memanggilnya dari luar kamar dengan suara agak besar, “Nov, sini yuk! Keluar dulu buat ngemil time.”

          “Iya Des, sebentar. Gue beresin meja gue dulu.” Novita menjawab dengan nada yang serupa.

          “Okay,” Desi kemudia kembali ke dapur untuk mem-plating apa yang tadi telah dibuatnya.

          Cemilan yang dia buat hari ini bertema buah naga. Dia membuat cake buah naga tiga layer dengan selai stroberi segar, bahkan bentuk cakenya dihias sangat mirip dengan buah naga. Tangan calon chef professional memang berbeda. Minumnya ia membuat jus buah naga dengan tambahan susu kental manis dan stroberi potong, agar rasa manisnya tidak terlalu dominan jadi dia menambahkan rasa asam natural dari buah stroberi yang dipotong. Jus buah naganya bukan tipikal kental, Desi memblender buahnya dan hanya mengambil airnya saja. Menurut Desi konsentrasi minuman yang lebih cair jauh lebih menyegarkan. Tak lupa tahap terakhir Desi memasukkan es batu berbentuk kotak ke dalam mangkok minuman racikannya tadi.

          “Des, buat apa?” Yazid bertanya saat dirinya sudah duduk di depan meja makan. Kemudian Gilang dan Beby tampak ikut duduk di samping kanan dan kiri Yazid.

          “Kalaupun gue jelasin gak paham juga lo. Udah makan ajalah.” Mengabaikan Desi yang berbicari Gilang sudah mengambil piring dessert miliknya dan telah siap memotong cake buah naga yang telah dihias cantik. “Eits, biar gue aja yang motong.” Desi menghentikan apa yang Gilang hendak lakukan.

          Desi memotong dengan hati-hati lalu meletakkan ke piring Gilang. Desi juga mengambilkan bagian dirinya, Yazid, Novita dan Beby. Yazid melihat ke piringnya agak sedih, lalu melihat ke piring Novita. Dia bertanya-tanya mengapa potongan cake milik Novita lebih besar dari punyanya.

          “Des, curang, masa Cuma Novita yang dapat potongan besar? Kita-kita juga mau.”

          “Iya, gue juga.” Gilang menimpali.

          “Gak, gue gak mau. Gue cukup.” Beby sanga bersyukur dengan potongannya dan menikmatinya dengan santai.

          “Ya suka-suka gue, kan gue yang buat. Lagi pula Novita lagi ada project, dia butuh asupan lebih. Beby aja terima-terima aja tuh.”

          “Beby terima kan karena dia gak terlalu suka buah naga.”

          “Ribut terus,” ujar Novita saat baru saja datang ke meja. Dia mengambil piring desert miliknya, membelah lagi cake miliknya jadi tiga bagian.

          “Nov, ih jangan. Nanti mereka keenakan.”

          “Gpp Des, biar gak ribut.” Novita meletakkan masing-masing satu potongan ke piring Yazid dan Gilang.

          “Thanks Nov,” ucap Yazid dan Gilang berbarengan.

          “Anytime, oh iya gue mau tanya nih. Kira-kira jumlah level game yang wajar itu berapa ya?”

          “Lo kalau tanya itu ke gue yang ada sesat, Nov.” Yazid menjawab tepat setelah menghabisi cake di piringnya.

          “Gue cuma tahu main aja.” Gilang kemudian meneguk minumannya sekali tegukan, terlihat haus sekali.

          “Menurut gue sih 100 level aja dulu, karena kalau aplikasi gitukan nanti bisa diupdate terus, jadi untuk sementara ya segitu wajar.” Novita mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan pendapat Beby. Kedepannya pasti akan banyak update lagi.

          “Btw gue dari tadi mau tanya, tapi lupa. Kalian ma uke mana sih rapi-rapi bertiga?”

          “Jemput Dicky,” Beby berujar sambil membereskan piling milik Yazid dan Beby serta dirinya. Di antara mereka terlihat jelas siapa yang paling rajin.

          “Oh jemput Dicky,” Novita berujar, Desi pun mengangguk. “Eh kok jemput? Bukannya jenguk?” Novita tersadar akan sesuatu.

          “Maksud kalian Dicky sudah boleh keluar dari penjara?”

          Gilang menyenggol Yazid agar pria itu yang menjawab karena dirinya sedang menambah minuman. “Iya, istrinya cabut tuntutan. Ya, kita semua tahu Dicky yang dulu terlalu bad sampai gue aja pusing. Tapi sekarang kita bisa lihat, sejak dia jatuh cinta sama istrinya, tujuannya untuk balas dendam udah gak ada. Allah memang Maha membolak-balikkan hati.”

          “Alhamdulillah deh, gue turut seneng.”

          “Iya alhamdulillah ya Des, semoga juga dia bisa cepat rujuk sama istrinya dan saling memaafkan. Kalau bicara soal masa lalu, gue pun punya masa lalu yang buruk.”

          “Gak usahkan lo, Nov, gue juga.” Gilang telah menghabiskan minuman yang tadi sempat nambah. “Gue pikir masa lalu seseorang bukan kita yang berhak hakimi tapi Allah.”

          “Setuju,” Yazid mengacungkan jempol.

          “Logikanya aja gak ada manusia yang cuma baik doang, kita semua punya sisi jahat juga.”

          Ucapan terakhir dari Beby disetujui oleh semua teman yang ada di meja makan tersebut. Masa lalu adalah sesuatu yang tidak dapat di rubah. Fokus saja pada apa yang kita punya saat ini untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

          Selesai Beby mencuci piring, ketiga pria itu pergi untuk menjemput Dicky, menyisakan Novita dan Desi di meja makan. Mereka sempat terdiam dengan pikiran masing-masing. Desi sendiri sempat memeriksa beberapa nontifikasi di handphonenya.

          “Nov, apapun hal buruk yang terjadi sama lo, gue harap lo cerita ya. Gue atau siapapun anak Golden Tree di sini tentu gak ada yang bisa gantiin Lisa. Tapi setidaknya jangan tanggung beban lo sendiri. You have us. You are part of us no matter what people said about you.”

          “I’ll try, thank you Des.” Desi tersenyum dengan tangan yang mengelus tangan kanan Novita.

***


17. Darimana Cinta Bermula

0 0

“Jika hari itu senyum manismu tidak kau suguhkan padaku, mungkin tidak akan ada benih cinta yang tumbuh di hatiku. Namun, di lain hari kulihat senyummu jauh lebih cerah ditujukan untuk orang lain.”

***

            Rina sangat tidak suka jika diajak pergi ke perkumpulan orang tua yang merepotkan atau bisa disebut sebagai agenda rutin pertemuan para rekan bisnis orang tuanya. Seperti biasa dalam perkumpulam seperti itu ajang baper tentu tidak akan ada habisnya. Segala hal bisa dipamerkan mulai dari harta hingga pamer kelebihan anak masing-masing.

Rina sebenarnya tidak dituntut untuk selalu terlihat sempurna. Bahkan Rina terlalu dimanja oleh orang tuanya. Apa pun yang dia inginkan selalu dituruti, hanya satu hal yang tidak bisa dituruti orang tuanya yaitu memberikan perhatian layaknya orang tua pada umumnya. Orang tuanya terlalu sibuk sehingga mereka mengganti semua perhatian itu dengan menuruti semua keinginan Rina.

Namun tetap saja, semua yang Rina dapatkan tidak bisa membuatnya merasa senang. Rina iri pada anak-anak lain yang begitu diperhatikan orang tuanya. Untuk mendapat perhatian orang tuanya, Rina berusaha untuk menunjukkan bahwa dia sempurna dan dia berhak dibanggakan oleh kedua orang tuanya. Sederhananya, Rina hanya ingin dilihat lebih oleh orang tuanya. Itu pun tidak berhasil Rina dapatkan.

“Keren ya Rina Jeng, dia dapat juara umum lagi kan. Terus dalam waktu dekat ini dia mau recital biola kan, duh keren banget.”

“Ah hal itu biasa, keluarga kami memang terlahir berbakat.”

Rina yang mendengar percakapan ibunya dan temannya tersenyum pias. Selalu saja begitu, yang memulai memuji dirinya adalah orang lain bukan dari kedua orang tuanya sendiri. Apa pun piala dan piagam penghargaan yang Rina dapatkan ketika ia tunjukkan ke orang tuanya selalu mendapat respon klasik yang bertujuan hanya untuk basa-basi.

“Ma, Rina menang lomba debat lho, Ma. Nih, lihat pialanya gede.” Rina menujukkan pialanya kepada sang ibu.

“Oh iya, selamat ya, Nak. Nanti Mama lihat lagi, Mama mau pergi arisan.”

“Pa, Rina menang lomba debat lho, Pa.”

“Iya … iya, Papa tahu kok. Sudah ya, Papa mau istirahat.”

Mengingat apa yang sudah terjadi membuat Rina semakin malas berada di acara pertemuan tersebut. Bahkan Rina sangat yakin teman-teman di sekitarnya juga fake. Jika bukan karena harta dan kecerdasan yang dimiliki Rina, mungkin dialah orang yang akan menjadi bulan-bulanan di sekolahnya.

“Hai Rin, sombong amat sih gak mau gabung,” seru Kayla yang merupakan rivalnya saat SMA. Kayla juga merupakan salah satu anak dari rekan bisnis Papa Rina.

“Bukannya gue gak mau gabung. Buat apa juga gue jadi nyamuk lo sama teman-teman lo yang pada bawa pasangan ini. Gue juga tahu ujung-ujungnya lo bakal ngehina gue.”

“Ya gimana ya, percuma almost perfect kalau pasangan aja gak punya. Prihatin gue sama lo. Kayaknya orang lain gak ada yang mau sama lo karena lo terlalu angkuh.”

“Lo aja yang gak tahu kalau lo itu dipecarin dia--,” Rina menujukkan ke arah pacar Kayla dan ucapannya terjeda sementara, “Karena dia cuma mau manfaatin lo. Bentar lagi lo juga bakal nyesal.”

            Kayla kesal mendengar ucapan Rina yang menuduh pacarnya begitu. Bagi Kayla pacarnya tidak mungkin melakukan hal seperti itu kepadanya. Kayla yang kesal pun sengaja menjegal kaki Rina yang ingin meninggalkan kerumunan Kayla dan teman-temannya, alhasil Rina terjatuh.

            “Ops sorry, gue sengaja.” Kayla berucap dengan angkuh kemudian dia berjongkok di sebelah Rina untuk membisikkan sesuatu. “Lihat aja semester depan pasti akan kurebut posisi lo sebagai juara satu umum.”

            Kemudian Kayla dan teman-temannya berlalu pergi, meninggalkan Rina yang sedang membersihkan pakaiannya. Saat menekuk lututnya, Rina baru sadar jika lututnya berdarah. Rina akan pastikan Kayla akan mendapatkan yang lebih parah dari ini.

            “Hei, kamu gak apa-apa?” seorang pria menghampiri Rina. Pria itu sudah berjongkok di hadapan Rina.

            Melihat pria itu Rina merasa tidak asing dengannya. Rina merasa mereka seperti pernah bertemu sebelumnya, “Ya jelas gue kenapa-napa, namanya juga jatuh.”

            “Bisa berdiri sendiri gak? Atau mau gue bantu.” Rina tidak menjawab ucapan pria tersebut dan langsung berdiri tanpa menerima bantuan pria tersebut. Pria tersebut juga ikut berdiri.

            “Gak usah sok baik kalau ada maunya.” Rina berucap ketus dengan wajah datar.

            “Manusia itu gak semua sama Rina, lagian gue kan tadi emang berniat mau bantu. Tapi kalau lonya gak mau yaudah deh.”

            “Wait, kok lo tahu nama gue?”

            Pria tersebut tersenyum, “Mana ada orang yang gatau Rina Paramitha Wijaya, satu sekolahan juga tahu lo kali. Siswa kebanggan sekolah yang selalu dielu-elukan guru-guru.” Rina baru ingat siapa pria di hadapannya. Pria ini selalu menjadi perwakilan sekolah untuk perlombaan E-sport yang menurut Rina tidak ada gunanya sama sekali.

            Rina belum tahu namanya, bukan sekedar tidak ingat. Pria tersebut tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, kemudian dia berjongkok. Rina sudah ingin berteriak karena Rina pikir pria tersebut ingin mesum. Ternyata tanpa meminta persetujuan Rina pria itu merekatkan plester ke lutut Rina yang berdarah. Rina speechless, ada detak aneh yang terasa ganjil di dadanya.

            “Kalau luka jangan dibiarin aja, ntar infeksi lo. Apalagi yang gue tahu lo bakal masuk kedokteran. Oh iya lo pasti bertanya-tanya nama gue kan, Gue Joan.” Joan tersenyum menyodorkan tangannya kepada Rina, tetapi gadis itu tidak juga menyambut tangannya untuk berjabat tangan. Joan ingin merasa sedikit malu dan ingin menurunkan tangannya tetapi Rina baru mulai buru-buru untuk berjabat tangan dengannya.

            “Gue Rina, ya meskipun lo udah tahu nama gue. Makasih plesternya.”

            “Anytime, kalau ketemu di sekolah jangan sombong kayak biasa ya.” Joan tersenyum lagi kepada gadis itu, kemudian jabat tangan mereka berakhir. “Ya udah, gue mau ngegame lagi, see you in the school.”

***

            Sejak perkenalan itu entah kebetulan atau takdir Rina jadi sering bertemu dengan Joan. Joan menjadi orang yang selalu tulus tersenyum kepadanya setiap berpapasan. Bahkan mereka sempat dihukum bareng karena terlambat. Sampai Rina merasa ada perubahan pada dirinya. Rian yang dulunya sangat ketus kini kadar ketusnya berkurang, dengan Joan sendiri Rina serasa bisa menceritakan apa saja kepada pria itu.

            “Joan, hari ini mau pulang bareng lagi?”

            “Untuk hari ini, kayaknya enggak dulu.”

            “Kenapa?” Rina yang tadinya semangat seketika semangatnya menurun, tetapi ia berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Joan.

            “Gue udah ada janji sama orang. Mau ngegame bareng. Bye Rina, gue duluan ya.”

            Rina hanya bisa melambaikan tangan dengan lesu melihat kepergian Joan. Rina terus memikirkan dengan siapa Joan akan bertemu. Memikirkan itu membuat Rina tidak tenang. Karena itu, Rina mengikuti ke mana Joan pergi. Rina mengbaikan bahwa dia harus pergi les saat itu.

            Ternyata setelah diikuti Joan mendatangi sebuah tongkrongan remaja yang saat itu lagi hit. Tongkrongannya bukan sebuah toko maupun cafe, tetapi berbentuk food truck, hal itu menandakan bahwa tongkrongan itu bisa berpindah-pindah tempat setiap harinya. Kebetulan hari itu food truck tersebut memilih berhenti di sekitar taman yang dekat dengan SMA Rina. Rina membaca tulisan di food truck tersebut, “Fastco’s Food and Baverage.” Dengan itu Rina bisa menebak bahwa truk itu menjual makanan dan juga minuman.

            Rina melihat Joan duduk di salah satu meja. Tatapan pria itu terus mengarah kepada gadis yang masih sibuk melayani pelanngan. Gadis yang terlihat berwajah oriental keturunan Cina itu memang cukup cantik, Rina mengakui itu. Rina jadi semakin penasaran dan ikut menjadi pelanngan. Rina memakai topi agar kehadirannya tidak disadari, tidak lupa juga dia memakai jaket agar seragam sekolahnya tidak dikenali.

            “Sorry Jo, gue lama ya.”

            “It’s okay Nov, lagian kan emang kita bakal ngegamenya kalau Lisa udah datang. Untung Lisa udah datang ya.”

            “Tapi kita main gamenya jangan lama-lama ya, kasian Lisa kalau sendirian. Habis Gilang lama amat datangnya, padahal hari ini jadwal dia juga buat bantuin di truck. Gue yang aturan jaga di toko jadi dimutasi deh.” Novita kelepasan curcol pada Joan.

            “Yaudah gapapa yang penting kangen aku terobati.”

            “Idih, najis banget kangen segala.” Novita terlihat membatah meski sebenarnya dia juga kangen pria itu.

            “Yee geer, aku tuh kangennya ngegame bareng bukan kangen sama kamu.”

            “Ih resek banget sih.” Novita memukul bahu Joan. Kedua remaja itu pun terlihat tertawa lepas.

            Rina masih memantau keduanya, bahkan ikut memesan makan dan minum. Rina akui makanan dan minuman yang dijual cukup enak. Beberapa kali saat main game Rina menangkap Joan tersenyum menatap wajah gadis yang Rina ketahui namanya adalah Novita. Rina merasa kesal bukan hanya karane Joan lebih enjoy, tetapi juga karena Rina tahu Joan mencintai gadis itu. Entah sejak kapan yang pasti perasaan Rina sudah terlalu besar. Hingga rasanya dia tidak rela Joan dengan yang lain dan dari sana perasaan itu mulai menjadi ambisi.

            “Okay girl, I officially hate you now. Gak akan aku biarkan Joan jadi milik kamu. Karena Joan cuma milik aku.”

***


18. Gosip dan Skandal

0 0

Novita merasa aneh dengan tatapan orang-orang pagi ini saat menapaki koridor kampus. Namun, tatapan orang-orang tidak sama seperti tatapan yang dulu mereka berikan saat Novita baru pertama kali memakai hijab dan mulai menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslimah. Tatapan kali ini lebih sinis dan mencekam, bahkan beberapa dari mereka menatapnya hina.

‘Sebenarnya ada apa?’ Novita membatin di dalam hati karena tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.

Novita melihat ke arah mading dengan tatapan orang-orang yang semakin menusuk di sekitarnya. Dia penasaran apa kira-kira berita yang ada di mading sehingga orang-orang menatapnya seperti itu. Dirinya semakin overthinking ketika Daisha dan temannya yaitu Queen menghadangnya saat ingin mendekati mading.

“Lo lebih baik gak usah lihat deh, Nov.”

“Emangnya kenapa? Ada muka gue ya di sana?” tembak Novita langsung mengutarakan kekhawatirannya.

“Duh, lo tinggal gak usah lihat bisakan!” Queen tampak gemas dengan Novita.

“Kayaknya kalau kalian berdua sangat melarang, gue jadi semakin yakin itu berita tentang gue.”

Novita menyingkirkan tangan Daisha dan Queen yang menahannya. Apapun yang ada di mading, meskipun itu benar tentang dirinya, dia harus tetap menghadapinya. Sebab, mau pura-pura tidak tahu pun rasanya percuma. Tentu ada ketakutan yang mendalam pada diri Novita, tetapi Novita yakin orang yang tulus dan setia padanya akan tetap bertahan.

Novita merasa biasa saja melihat foto-foto masa lalunya yang dipajang di sana. Novita biasa saja karena memang benar jika dirinya dulu suka berpakaian terbuka, merokok bahkan mencuri-curi kesempatan untuk meminum minuman beralkohol. Satu hal yang membuat Novita terkejut bukan foto-foto itu, melainkan satu foto di mana jika dilihat hanya dari foto itu orang-orang bisa mengira jika Novita sedang menggoda Suho—bosnya sendiri.

Novita merasa marah,kesal dan tidak tahu harus berbuat apa. Ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pun percuma saja. Melihat orang-orang sudah termakan oleh gosip murahan yang ada di mading tersebut. Novita tidak tahu siapa orang yang tega melakukan ini kepadanya. Masalahnya adalah apa kesalahan yang Novita pernah buat sehingga dirinya harus diperlakukan seperti ini?

“Nov,” Daisha menepuk pelan Pundak Novita. “Everything’s gonna be alright. You have us, you have Golden Tree.” Daisha mencoba menenangkan gadis itu.

Novita sedikit merasa tenang, gadis itu mengangguk. Novita juga dapat melihat Juki melepas semua poster dirinya yang ada di mading dan merobeknya.

“Bubar gak lo semua!” Pinta Juki masih dengan intonasi yang tidak begitu kuat. Namun, melihat orang-orang tidak juga pergi Juki kali itu tidak segan untuk berteriak. “GUE BILANG BUBAR YA BUBAR. BUDEK YA LO PADA!” Seketika kerumunan orang yang tadi terlihat ramai di depan mading kini telah bubar karena gertakan Juki.

“Thanks Juk,”

“You don’t need to do it. Gue merasa miris aja, kenapa ya orang-orang suka banget pengen tahu aib orang lain? Punya masa lalu buruk wajar kok sebagai manusia. We are all not perfect, is it?”

“Bener banget Juk,” tambah Queen. “Orang-orang kurang ngaca kayaknya. Lagian ya kali orang modelan anti romantic kayak lo suka sama Suho oppa. I mean Joan aja sering makan hati sama lo.” Juki menginjak kaki Queen atas ucapan terakhir gadis itu membuat Queen meringis dan memasang gesture wajah tanpa dosa.

“Santai Nov, kita percaya lo kok.” Queen dan Daisha mengangguk atas pernytaan Juki. Apalagi ketiga orang itu punya prinsip yang sama.

Mereka berpikir bahwa normal saja jika manusia punya sisi baik dan buruk dalam dirinya. Menghakimi masa lalu orang lain juga tidak berhak kita lakukan. Setiap orang berhak berubah, dan sejahat apapun seseorang pastinya masih ada sisi baik dalam diri orang tersebut meskipun secuil. Jadi lihatlah manusia dari berbagai sisi, yang jahat belum tentu jahat dan yang baik bisa saja aslinya jahat. Hidup ini penuh konspirasi.

***

            “Pak, di depan sedang ramai wartawan yang mencari Bapak.” Suho agak kaget mendengar penuturan sekretarisnya. “Sebenarnya ada apa, Cait?”

            “Apakah Bapak tidak memeriksa sosmed hari ini?” Suho menggeleng.

            “Kamu kan tahu saya sibuk mengurus ini itu, belum lagi kuiah S2 saya. Mana sempat saya melihat sosial media.”

            Caitlyn—sekretaris Suho segera mengambil handphone dari saku roknya. Dia segera menuliskan sebuah tagar di pencarian instagram miliknya. Hanya butuh beberapa detik gosip tentang bos mudanya itu telah tersebar luas di sosial media.

            “Ini Pak, setelah digosipkan belok tahun lalu kini ada gosip pula yang mengabarkan Bapak tengah menjalin hubungan dengan Novita.”

            “What?” Suho terkejut.

            Suho melihat postingan instagram di handphone milik sekretarisnya. Melihat fotonya saja Suho tidak begitu terkejut. Namun saat melihat video saat menggulir layar ke samping, Suho jelas kaget. Ya orang yang melihat hal itu normal langsung berpikil hal negatif.

            “Siapa kira-kira orang yang iris ama saya Cait?”

            “Ya mana saya tahu Pak, Bapak kira saya cenayang.”

            “Sudah lupakan saja itu, saya akan urus nanti. Kamu sudah siapkan berkas buat rapatkan?”

            “Maaf Pak sebelumnya, client kita membatalkan rapatnya.” Suho tidak terlalu terkejut. Hanya saja dia sedikit menyayangkan hal itu.

            “Yaudah deh kalau gitu. Berarti jadwal saya selanjutnya kosongkan?” Suho bertanya pada Caitlyn. Wanita itu memeriksa jadwal yang sudah dibuatnya di ponsel sebagai wallpaper agar memudahkan pekerjaannya. Wanita satau itu memang agak unik.

            “Iya Pak, jadwal Bapak kosong setelah ini.”

            “Well, saya mau pulang saja. Kamu juga jangan sering lembur, sesekali belilah makanan yang enak jangan mengirit terus.”

            “Bapak tahu saja, siap Pak.”

            Suho segera keluar dari ruangannya setelah pamit pada Caitlyn. Suho memang terlihat baik kepada semua cewek bukan karena ingin tebar pesona atau bertingkah seperti lelaki buaya. Namun, sifatnya yang demikian adalah sifat alamiah yang dia miliki. Bahkan meskipun Caitlyn sekretarisnya, Caitlyn tidak harus selalu mengikuti ke mana dia pergi. Kadang-kadang malah Caitlyn yang merasa tidak berguna sebagai sekretaris karena Suho sudah menyelesaikan banyak hal. Caitlyn beruntung sekali mendapati Suho sebagai bosnya.

            “Rena why are you here?” Suho mendapati tunangannya di depan kantor. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah Suho.

            Tanpa aba-aba, wanita itu menampar Suho. Suho refleks terkejut. Belum lagi wartawan masih berkrumun di sana, sudah dipastikan berita buruk lain tentangnya akan muncul.

            “Ren, aku tahu kamu marah. Tapi aku bisa jelasin. Ayo kita masuk dulu.”

            “Gak perlu!” ujar Rena ketus. Rina membuka cincin di jari manisnya, lalu dia mengambil satu tangan Suho dan mengembalikan itu kepada Suho. “Hubungan kita gak perlu dilanjutkan lagi. Makasih udah berusaha dengan keras untuk pura-pura dalam hubungan ini.”

            Rena lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Saat Rena pergi wartawan semakin menggila untuk mendekati Suho. Suho yang awas situasi segera masuk lagi ke kantornya. Suho memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Caitlyn yang sedang makan mie instan terkejud karena Suho balik lagi. Pasti dia akan dimarahi lagi karena ketahuan makan mie instan.

            “Bapak kenapa balik lagi?”

            “Rena balikin cincin tunangannya ke saya.”

            “Hah?” Caitlyn masih tidak paham.

            “Rena mengakhiri hubungannya dengan saya. Sebelum balikin cincin dia sempat nampar saya sih. Terus dia balikin cincin, terus pergi eh para wartawan malah berbondong-bondong mau dekatin saya.”

            “Kasian banget ya Bapak, ganteng tapi hidupnya ngenes.” Suho tertawa, menyetujui ucapan Caitlyn. “Lah Bapak malah ketawa. Aneh ih.”

            “Ya habis bener. Lucu hidup ya, Cait.” Caitlyn mengangguk polos.

            “Tapi kan Pak, Bapak aslinya gak suka Mbak Ren. Bapak tunangan sama dia juga kan karena permintaan Kakek Bapak. Bagus dong udah end, jadi Bapak gak perlu lagi pura-pura baik sama cewek ular itu. Dia juga lihat Bapak dari ganteng dan kayanya aja.”

            “Iya sih Ren, bagus yakan. Tapi tetap aja saya malu digampar. Kayaknya saya harus selesaikan dulu gosip sama Novita.”

            “Setuju Pak, biar Novita juga gak setres lagi mikirin gosipnya.”

            “Ya sudah Cait, saya mau sholat dulu. Habis ini kita pulang bareng aja, nanti saya juga belikan kamu makanan enak, mie instan mulu ih.”

            “Hehehe, thanks in advance Pak. Habis juga usaha penghematan demi married, Pak.”

            Suho menggengkan kepalanya heran dengan wanita itu. Menurut Suho calon suami Caitlyn pasti beruntung banget punya Caitlyn. Soalnya dia mau berbagi susah dengan pasangnnya dan tidak segan membantu pasangan soal mencari uang.

***

            Novita duduk di salah satu meja cafeteria di depan kampusnya. Dia menunggu Daisha serta anggota Golden Tree yang telah berjanji untuk kumpul di sana sepulang kuliah. Tentu saja untuk membahas dan mencari solusi untuk gosip dan skandal tentangnya. Kadang Novita merasa lucu dengan hal-hal seperti ini. Dia bukan idol saja sudah mendapat gosip seperti ini, apalagi kalau dia jadi artis kayaknya bakal lebih banyak gosip sih.

            “Gak mau pacarana tapi sama bos sendiri nempel. Munafik banget.” Novita melihat meja di belakangnya, ternyata Joan ada di sana. Novita sendiri tidak menyadari keberadaan pria itu tadi.

            Novita berdiri lalu menghadap ke Joan, “Haha, katanya cinta sama gue tapi nyatanya gak tahu apa-apa soal gue. Cintanya palsu kali ya.” Novita menyindir balik Joan, sepertinya di situasi ini Novita kembali ke mode julidnya.

            “Gue tulus sama lo, tapikan lo juga udah berkali-kali nyakitin gue, gue bisa maafin. Tapi sekarang gue malah ilfeel sama cewek yang mudah banget goda atau tergoda sama pria kaya.”

            Beby sudah tiba di sana saat Joan mengatakan hal yang tidak pantas kepada Novita. Dengan sengaja Beby mengambil minuman Novita yang sudah ia pesan duluan dan menyiramnya ke Joan.

            Joan terkejut, Novita lebih lagi, “Gue sengaja,” ucap Beby dengan nada datar. “Yang munafik kan lo, katanya tulus suka Novita tapi tahu jeleknya dikit udah ilfeel. Tahu apa lo soal Novi.” Tatapan mata Beby begitu tajam pada Joan.

            Desi dan Gilang yang datang berbarengan buru-buru menuju lokasi Beby yang terlibat pertengkaran kecil dengan Joan. Sebenarnya Desi dan Gilang agak sedikit malu karena semua tatapan mengarah kepada Beby. Pria itu kalau sudah salah satu temannya disentil pasti tidak bisa menahan emosi.

            “Beb udah,” ujar Desi. “Malu dilihatin orang.” Beby menurut dan segera duduk.

            “Joan maaf ya Beby emang mudah emosi. Ya tapi pasti karena ada yang mancing emosinya. Soalnya biasa dia sabar. Jadi daripada gimana-gimana nih, lo pulang aja deh. Dan lagi kayaknya mulut lo harus dikontrol kapan-kapan. Kalau tadi gue yang dengar udah gue tonjok lo.” Gilang awalnya bernada santai tetapi makin ke akhir nadanya semakin menyeramkan. Gilang begitu karena dia tahu Beby tidak sepenuhnya salah.

            Joan pun segera pergi dari cafeteria tersebut. Daisha sempat berpapasan dengan Joan di pintu masuk. “Kenapa tuh cowok? Sawan kali ya?” batin Daisha.

***


19. Puncak Kebencian Helen

0 0

“Terkadang kenyataan pahitnya, keluarga yang katanya rumah bisa menjadi seseorang yang paling membencimu.”

***

            “Guys kita ke restoran lain aja yuk?” Helen menarik salah satu tangan temannya untuk beralih tempat. Pasalnya Helen malas kalau harus makan di Fastco Restoran. Pasti nanti dia ketemu adiknya. Dia akan malu soal itu, melihat berita yang beredar pagi ini di internet.

            “Kenapa sih Len, di sini kan emang langganan kita. Selain makanannya enak suasana juga enak,” ujar salah satu temannya.

            “Lagian mana tahu juga ketemu adek lo kan. Udah lama deh gue gak lihat dia. Pasti dia makin cantik.”

            Justru Helen tidak mau bertemu Novita. Mereka juga tidak akan tahu jika Novita sudah menjadi mualaf karena Helen jarang sekali membahas keluarga bersama teman-temannya. Lagi pula menurut Helen hal itu tidak harus diceritakan. Lagian Helen juga hanya sebulan sekali saja ketemu teman-temannya ini. Hal itu terjadi karena setelah menikah dua teman Helen itu tinggal di luar kota.

            Helen pasrah dan mengikuti kemauan teman-temannya. Memang setiap sebulan sekali mereka berkumpul rutin di Fastco restoran dan memesan ruangan khusus yang lebih private. Jadi mereka bisa berbicara tentang apa saja dengan puas dan tanpa dicampuri apalagi diinterupsi pihak lain.

            “Wait, Len, is that your sister?” Salah satu teman Helen melihat Novita yang sedang keluar menuntun nenek yang tampak sudah rentan. “Eh, tapi kok dia pakai hijab.”

            “Itu bukan dia, ayo cepat masuk!” pinta Helen kepada kedua temannya.

            “Kayaknya memang Novi Len, mirip banget kok.”

            Terkaan kedua teman Helen terjawab saat Novita memanggil Helen, “Kak Helen,” tegur Novita yang sudah selesai dari mengantar seorang nenek ke depan gerbang Fastco restoran. “Eh ada Kak Ema, sama Kak Hana juga.” Lanjut Helen setelah semakin dekat jaraknya dengan ketiganya.

            “Hai Nov,” sapa Ema dan Hana barengan pada gadis itu. “Btw, kenapa kamu pakai hijab nih?”

            “Oh, Novi mualaf kak.” Ema dan Hana seketika pandangannya mengarah kepada Helen. Sepertinya mereka meminta penjelasan.

            “Udah nanti gue jelasin, mending kalian masuk dulu. Gue perlu ngomong sama Novi.”

            Ema dan Hana pun menurut saja dengan permintaan Helen. Sebenarnya Hana sedikit merasa aneh. Helen seperti menutupi banyak hal dari mereka. Jujur Hana curiga Helen dan suaminya bercerai dengan cara yang tidak baik. Namun, Helen selalau mengatakan kepada keduanya bahwa dia dan suaminya bercerai dengan cara baiak-baik.

            “Ngapain lo muncul di depan gue NOVITA?” Helen senagaja menekankan nama gadis itu. Kuping Novita belum terbiasa dengan panggilan Helen yang seperti itu, membuat ada sedikit goresan di hatinya.

            “Kan Cuma kebetulan. Lagian kakak tahu juga aku tinggal di sini.”

            “Gue gak peduli alasan lo apa. Gue juga udah minta ke Ema dan Hana buat pindah restoran tapi mereka gak mau. Tapi apapun itu, kalau kita ketemu lagi, gue harap lo gak usah sok kenal sama gue. Lagian hubungan saudara kita udah putus semenjak lo masuk Islam, ngerti!”

            “Apapun yang Kakak bilang, Mei juga gak akan peduli. Bagi Mei, Kakak tetap kakak Mei.”

            “Rese banget lo ya. Lo tuh sama cewek muslim itu sama aja bedanya, munafik. Percuma tahu lo pakai hijab kalau ujung-ujungnya lo jual diri juga sama Bos lo.” Novita bisa menahan emosinya saat hal-hal seperti itu keluar dari mulut orang lain, tetapi kali itu karena hal itu keluar dari mulut kakaknya Novita refleks menampar Helen. “Aww, sakit.” Helen mengaduh kesakitan.

            Novita yang merasa bersalah segera meminta maaf kepada Helen, “Maaf Kak, aku gak maksud gitu.” Novita mencoba mengarahkan tangannya pada pipi Helen, tetapi langsung ditepis wanita itu.

            “PERGI!” bentak Helen. “GUE BENCI SAMA LO DAN GUE GAK MAU LIHAT MUKA LO LAGI!”

            Dibentak seperti itu dengan intonasi tinggi, Novita cukup tahu diri untuk pergi dari hadapan kakaknya. Dadanya terasa sesak, air matanya mulai menetas. Novita tidak membayangkan jarak dirinya dan Helen akan sejauh ini. Padahal dulu keduanya saling menyayangi meski tidak begitu dekat. Novita tahu Helen begitu patah hati karena diselingkuhi mantan suaminya hingga bercerai, tetapi Novita juga tidak menyangka dengan Novita yang menjadi mualaf membuat Helen makin teraskiti karena selingkuhan suaminya dulunya seorang Muslimah.

            Novita tidak bisa menyalahkan Helen. Wajar kakaknya itu salah paham tentang Islam. Kakaknya hanya belum tahu bahwa Islam memang sempurna, tetapi penganutnya belum tentu. Novita juga tidak mengerti kenapa selingkuhan kakak iparnya seorang Muslimah. Harusnya seorang Muslimah menjaga diri, tetapi terkadang memang tidak bisa dipungkiri bahwa wanita ketika sudah sangat cinta pada seseorang akan lupa soal segalanya. Jadi sulit baginya membedakan mana yang baik dan buruk, hingga dosa pun sudah tidak dipikirkan lagi.

***

            Suho mengadakan konfrensi pers terkait gosip dan skandal yang sehari lalu memintanya. Bukti dan saksi juga sudah aman. Jujur saja, kali itu adalah konfrensi pers pertama Suho setelah begitu banyak gosip yang beredar dengannya. Dahulu Suho malas melakukan hal seperti ini dikarenakan dia merasa tidak penting. Namun semakin ke sini rasanya dia harus melakukan hal yang merepotkan ini karena gosip dam skandal itu telah melibatkan orang lain. Belum lagi bisa-bisa perusahaannya akan mendapatkan kerugian besar-besaran karena para client pada membatalkan kerja sama mereka.

            Suho mengklarifikasi gosip tentang dirinya satu persatu, dimulai dari gosipnya tahun lalu. Maklum orang ganteng kalau tidak ada gosip begini serasa hampa hidupnya. Hingga gosip terbaru kemarin. Suho menunjukkan bukti CCTV dari kantornya saat kejadian di mana hal yang disalahpahamI orang-orang terjadi. Jika dilihat sekilas yang ada di CCTV terlihat jelas jika di awal Novita sedang berjalan di depan Suho dan sekretarisnya Caitlyn yang saat itu baru pulang dari kantor. Namun, lama kelamaan jalan Novita terlihat melambat sehingga Suho sudah menyamai posisi di mana Novita awalnya berjalan. Novita langsung terhuyung dekat dengan Suho karena itu Suho pun refleks menahan tubuh Novita agar tidak jatuh. Namun, melihat saat itu kesadaran Novita telah hilang dirinya langsung bergegas menggendong Novita masuk ke dalam mobilnya, bahkan Caitlyn ikut mempercepat langkah Suho dan masuk ke mobil Suho di belakang untuk memangku kepala Novita, sementara Suho cepat kembali ke kursi kemudi.

            “Lucu aja kalau kalian itu mudah tertipu oleh editan begitu, sementara di CCTV juga ada saya di sana. Ya kalaupun Bos Saya sama Novita mau macam-macam ya gak mungkin di depan saya. Ya tapi Boss saya gak gitu sih, anti romantis orangnya.” Caitlyn menambahi sekaligus menyindir orang-orang yang mudah termakan gosip.

            “Saya mau menambahi kalau saya suka nih sama Novita, mungkin saya udah gak mau lama-lama, sat set sat set aja kali langsung lamar, malas saya pacar-pacaran soalnya saya gak punya waktu untuk itu.”

            “Baiklah, konfrensi persnya sampai di sini saja dikarenakan kami ada kegiatan lain, terima kasih untuk semua wartawan yang telah berhadir.” Caitlyn menutup konfrensi pers dengan perasaan lega, karena tidak tahan blitz dari kamera wartawan yang membuatnya pusing.

            “Semoga gak ada lagi gosip aneh-aneh tentang saya ya, Cait.” Suho mengatakan hal tersebut setelah meninggalkan podium konfrensi pers kepada Caitlyn.

            “Not sure, Pak, tapi semoga gak ada lagi. Saya juga capek lho Pak kalau Bapak ada gosip saya dikejar-kejar wartawan juga. Makanya Pak cepat nikah aja deh.”

            “Kamu kira nemuin jodoh itu semudah beli chiki.” Caitlyn tertawa kemudian mengangguk setuju bahwa mencari jodoh itu tidak semudah yang dikatakan orang-orang.

 

***

            Sementara itu di Fastco Company, Novita dan beberapa anggota Golden Tree telah berkumpul di ruang rahasia mereka. Mereka berencana untuk melakukan siaran langsung di akun youtube milik Golden Tree. Novita sudah mendapat support penuh dengan berkumpulnya anggota Golden Tree di ruangan itu. Desi bahkan menggenggam tangan Novita untuk menguatkan dan tatapan yang lainnya seolah mengatakan, “Kami percaya padamu, Nov.”

            Siaran langsung dimulai dengan fokus kamera kearah Novita. Novita berusaha memperlihatkan wajah tenangnya. Novita sudah menduga juga yang akan menonton live ini ada banyak karena itu dia juga harus tampak rileks. Dengan mengucap basmallah dia memulai untuk melakukan klarifikasi versi dirinya.

            “Halo semuanya, gue Novita Cuan Lius. Mungkin di antara anggota Golden Tree, akulah orang yang paling tidak kalian sangka adalah bagian dari mereka. Itu bukan masalah besar, karena aku juga sering mendengar aku tidak pantas ada bersama teman-temanku di sini. Tetapi komentar kalian tidak akan mengubah pilihan teman-temanku yang sudah menganggapku bagian dari mereka. Bagiku yang terpenting adalah mereka memang sudah menerimaku.” Novita tampak berhenti berbicara sejenak, mengambil napas, lalu minum minuman yang telah didekatkan Desi padanya.

            “Oke lanjut, maaf gue minum dulu tadi, seret juga soalnya. Soal hal-hal yang beredar tentang aku akhir-akhir ini ada benar dan tidaknya.”

            Komentar pada siaran langsung mulai ramai, biasalah ada yang pro dan kontra. Tasya bahkan samapai merutuki orang-orang yang mulai mengatai Novita dengan gencar, bahkan dia ikut komentar di siaran langsung mereka itu. Sementara yang lain tampak memantau saja komentar orang-orang, sepertinya tangan Tasya sudah tidak tahan.

            “Kalian maunya dengar yang mana dulu nih, hal yang benar atau tidak benar? Oh, tapi sepertinya gue aja yang putuskan. Mari kita mulai dengan hal yang benar dulu. Benar bahwa gue merokok, meminuman keras, memakai pakaian seksi tapi itu adalah apa yang sudah lama terjadi di masa lalu. Ya, semasa SMP gue cukup bandel. Gue tidak perlu mengatakan alasannya kenapa bukan, karena gue rasa kalian tidak perlu tahu. Namun, untuk minum minuman beralkohol itu hanya gue lakukan dua kali semasa SMP dan gue bisa mendapatkan itu karena mencuri punya kakakku dan karena dulu aku bukan seorang muslim. Untuk kalian yang merasa itu adalah gue yang sekarang ya silahkan saja. Pertumbuhan gue sepertinya terbilang lambat semakin bertambahnya dewasa, sehingga tubuh dan wajah gue masih terlihat seperti saat gue SMP, kan tandanya gue awet muda.”

            Teman-teman Novita yang ada di sana berusaha menahan tawa saat itu dikarenakan mereka merasa lucu dengan hal yang belum pasti dan mudah banget termakan gosip yang tidak jelas. Lagian soal bandel-bandelan mereka juga SMP banyak yang bandel juga. Bahkan mayoritas pria di Golden Tree pernah coba-coba merokok di akhir masa SMP, saat itu mereka ketahuan oleh Lisa dan dimarahi habis-habisan. Itu tidak baik untuk ditiru, peanasaran itu boleh, tetapi jangan untuk hal yang lebih banyak negatifnya.

            “Untuk gosip yang bilang gue ada sesuatu sama Boss gue, mohon maaf nih yak, gosip ini agak ngadi-ngadi. Masalahnya gue aja baru kenal sama Boss gue, yakali gue main api sama Boss gue. Udah ya, udah jelas itu gak benar kalau gak percaya lihat aja konfrensi persnya. Susah jadi orang ganteng emang. Gini ya, gue kan alhamdulillah udah mualaf nih kan, jadi gue sendiri berusaha jadi pribadi yang lebih baik, bukan berarti gue sudah baik. Sekian, terima gaji.” Novita mengakhiri klarifikasi itu dengan cengiran.

            Selanjutnya siaran langsung itu diambil alih oleh yang lain. Mereka berpura-pura ingin melakukan klarifikasi juga. Siaran langsung yang tadinya tegang berubah suasana menjadi lawak. Mereka juga tidak lupa merayakan keluarnya Dicky dari penjara. Semua orang pasti pernah salah, tinggal bagaimana kita berusaha menjadi yang pribadi yang lebih baik kedepannya.

***


20. Permintaan Maaf

0 0

Hari minggu yang cerah, Novita berniat untuk turun ke bawah membantu di restoran untuk menjaga kasir. Sebelum itu dirinya membereskan kamar terlebih dahulu dan merapikan apa yang perlu dirapikan. Novita menuju meja makan sebelum turun ke bawah, dilihatnya di meja makan sudah tersedia semangkuk bubur ayam dan teh hijau yang sudah mulai mendingin. Sepertinya Juki menyiapkan sarapan lagi untuknya kali ini. Novita merasa mulai tidak enak hati jika Juki menyiapkan sarapannya terus sepertinya Novita harus mengatakan kepada Juki bahwa dia tidak perlu dibuatkan sarapan.

Setelah sarapan, Novita langsung turun ke bawah. Satu dua orang pelanggan mulai berdatangan. Novita pergi ke rest room terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian karyawan. Hal itu sudah biasa dilakukan para anggota Golden Tree jika ingin membantu di restoran. Tak lama setelah berganti pakaian, Novita langsung menuju ke depan kasir, menggantikan Reda yang kebetulan sedang izin karena sakit. Reda sendiri merupakan karyawan tetap di Fastco Company Restaurant.

Pukul 9.30 pengunjung restoran sudah semakin ramai. Pengunjung yang tadinya memesan makanan ringan dan menu sarapan pun telah beralih memesan makanan yang lebih bervariasi. Di antara para pengunjung, Novita tidak menyadari jika Joan berkunjung di sana, duduk di meja nomor sepuluh. Juki yang mengetahui kedatangan pria itu pun tidak mengabari Novita. Sepertinya Juki merasa tidak berhak mencampuri apapun urusan yang terjadi di antara mereka berdua.

“Wah Novi, rajin benar pagi-pagi udah jaga kasir.” Aisyah—istri dari Dicky menyapanya dengan senyum manis. Novita dapat melihat perut wanita itu semakin besar. Bahkan aura pada diri wanita itu semakin bersinar.

“Eh iya nih Ai, dari pada gabut juga kan ya gak tahu mau ngapain. Hari ini juga aku lagi gak ada panggilan kerja dari Kak Suho soalnya.”

“Oh iya katanya kamu bakal ada project ya, semoga lancar ya.”

“Aamiin, terima kasih Ai. Btw tumben kamu hari minggu ke FC juga, kan hari ini penitipan anak-anak libur kan ya.” Aisyah mengangguk, memang benar setiap hari minggu penitipan anak libur.

“Aku mau mengajar mengaji, kemarin sudah janjian sama ibu-ibu yang tinggal di sekitar sini. Nanti tolong ya Nov, bukain ruang biasa?”

“Siap, gue panggil karyawan lain dulu biar jagain kasir sebentar ya.” Aisyah mengangguk, sembari menunggu Novita, dirinya duduk di meja yang paling dekat dengan kasir.

Novita mendatangi Aisyah kembali setelah lima belas menit. Juki menggantikan Novita menjaga kasir. Bersama-sama kemudian Aisyah dan Novita menuju lantai dua. Novita membuka ruangan yang biasa khusus digunakan untuk pengajian dan belajar mengaji. Syukurnya ruangan sudah terlihat bersih dan tertatat rapi.

“Perasaan terakhir kali aku lihat ruangan ini masih berserakan deh Nov, kok sekarang udah rapi aja. Kamu yang bersihin ya?”

“Bukan gue kok, gue aja gatau kalau lo mau ngajar ibu-ibu ngaji hari ini.” Novita tampak mengerutkan keningnya, bingung. Namun dia sadar, Novita siapa tahu orang yang mungkin membersihkan ruangan ini. “Maybe Juki, tuh cowok rajin banget sih Ai. Gue yang cewek aja insecure. Atau karena dia merasa hutang budi ke kita karena numpang di tempat kita?”

“Kayaknya enggak, memang rajin aja anaknya. Kan kita husnudzhon aja kali.”

“Iya Ai gue juga kagak maksud mau suudzhon, lagian gue takut aja kalau dia jadi merasa hutang budi, lagian kan syarat dia juga kerja di sini. Gue Cuma gak mau dia mikir gitu.”

“Ah iya paham sih, kita yang jadi gak enak ntar kan ya.”

“Nah itu maksud gue. Btw gue mau ikutin juga bolehkan?”

“Boleh banget, dong.”

Aisyah tampak senang melihat Novita yang juga semangat dalam belajar Islam. Sepertinya orang-orang terlalu salah jika menilai Novita masuk Islam karena Lisa atau apapun itu. Menurut Aisyah itu apa yang udah gadis itu pilih dalam hidupnya.

***

            Sudah memasuki waktu Zuhur, seluruh karyawan restoran seperti biasa untuk salat dan makan. Pemberitahuan terkait waktu istirahat pun sudah ada di layar-layar yang ada di sekitar restoran, menandakan bahwa restoran tidak akan menerima pesanan atau order selama waktu itu. Juki melihat Joan masih ada di sana saat selesai salat Zuhur. Dia berencana ingin makan siang terlebih dulu, hanya saja niatnya dia urungkan untuk menemui Joan. Kira-kira alasana apa yang membuat Joan bertahan dari tadi pagi di restoran?

            “Hai Jo,” sapa Juki pada pria itu yang sepertinya betah mengaduk-aduk minuman miliknya.

            “Hai, ngapain lo ke sini?”

            “Gak ada sih, gue penasaran aja betah banget lo dari tadi pagi di sini. Lagi ada yang lo tunggu ya?” Juki bertanya baik-baik, tanpa maksud apa-apa. Kalau memang sekiranya ada yang ditunggu atau ada sesuatu hal lain siapa tahu Juki bisa bantu.

            “Bukan urusan lo. Lo sendiri betah banget ya kayaknya numpang.” Juki hanya terkekeh tanpa suara, dia sempat lupa kalau mulut Joan ini lemes banget, seperti mulut tetangga.

            “Bukan urusan lo juga sih buat tahu berapa lama gue akan tinggal di sini. Yaudah deh, mending gue makan siang dulu. Habis niat hati gue mau bantu tadi eh malah dijudesin, yaudah deh udah gak minat buat bantu.” Juki meninggal Joan santai. Dari pada Juki makin emosi juga, mending menjauh.

            Sementara itu, tampaknya acara mengaji dimana Aisyah sebagai pengajarnya sudah selesai. Tampak dari rombongan ibu-ibu yang ramai-ramai keluar dari lift. Novita dan Aisyah baru terlihat lima menit setelahnya. Novita terlihat mengobrol santai dengan Aisyah sambil berjalan. Niat hati Novita ingin mengantar Aisyah sampai depan. Namun, tiba-tiba Aisyah menunda kepulangannya.

            “Kayaknya aku gak pulang dulu deh, Nov.”

            “Kenapa Ai?”

            “Katanya Dicky mau ke sini, dia mau makan siang bareng di sini.”

            “Oh gitu, yaudah deh, gue juga ngantuk nih. Mau tidur siang dulu kayaknya. Makasih lho ya udah ngajari gue sama ibu-ibu tadi.”

            “Santai aja kali, aku senang kok ngajarin kalian.”

            Keduanya pun berpisah. Aisyah mencari meja yang kosong untuk Dicky dan dirinya nanti yang akan makan siang bersama, sementara Novita ingin kembali ke lift. Langkah Novita yang ingin menuju lift terhenti dikarenakan seseorang memanggil namanya. Novita sudah tidak asing dengan suara ini. Semoga dia bisa menahan emosinya agar tidak memuncak kali ini.

            Novita berbalik badan, berusaha tersenyum dengan anggun, “Iya, ada apa?” ucap Novita kalem.

            Joan terlihat seperti menarik napas lalu membuangnya, “Aku tahu aku udah mengatakan banyak hal jahat ke kamu, dan aku tahu seharusnya malu untuk menemui kam, tapi---,” Novita menahan ucapan Joan dengan mengangkat telapak tangannya ke hadapan Joan.

            “Santai aja, gak usah pakai aku kamu. Kayak special aja. Gue lo aja ya, kayaknya lebih santai,” pinta Novita pada pria di hadapannya.

            “Okay, gue cuma mau minta maaf karena perkataan gue ke lo tempo hari. Gue benar-benar menyesal dan seharusnya gak ngomong itu ke lo. Gue sadar gue hanya termakan api cemburu melihat gosip yang beredar, karena gue masih suka sama lo.”

            “Oh soal minta maaf, gue udah maafin lo, kok. Bukan salah lo juga kalau mikir gitu, kan terserah orang-orang sih mau mikir gimana soal gue. Dan please, bisa gak kalau minta maaf ya minta maa faja, gak usah pakai segala bilang masih suka. Kalau pun lo masih suka gue, memangnya gue masih suka balik sama lo. Move on ya Jo, please.” Novita benar-benar berucap dengan nada yang lembut kali ini. Dia juga tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan Joan. Urusan percintaan begini sudah tidak penting baginya.

            “Terima kasih sudah maafin gue, kalau gitu gue pamit.”

            “Okay, hati-hati di jalan.” Novita berucap santai lalu pergi menuju lantai tiga.

            Novita menuju meja makan, dia sedikit terkejut karena sudah ada Gilang dan Beby di sana, “Sejak kapan lo pada di sini?”

            “Kayaknya sejak lo ngobrol sama Jo tadi,” jawab Gilang lalu menyuap kebab ke mulutnya.

            “Kalian tahu Joan ada di sini?” Beby memangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

            “Lah tahulah, orang dia kayaknya udah ada di sini dari tadi pagi. Gue dengar gitu sih dari Juki.” Gilang menambahi keterangan dari anggukan Beby. Beby sepertinya lagi mode malas mengeluarkan suara. Bahkan Beby hanya menyodorkan gelas kosong ke Gilang tanda minta diisi. “Apa sih Beb, tinggal tuang juga airnya.” Meski mengomel, pria itu tetap menuangkan air ke gelas Beby.

            “Berarti gue yang gak sadar ya tuh anak ada di sini dari pagi. Lagian gue tadi belajar ngaji.”

            “Alah tuh anak gak ada gunanya juga lo sadari kedatangannya. Belum menyerah juga tampaknya tuh anak sama lo. Emang lo mau sama lelaki labil macam gitu?” Gilang menanggapi obrolan Novita dengan serius setelah menghabiskan kebab miliknya.

            “Boro-boro, Lang. Gue aja merasa bodoh karena pernah cinta sama tuh anak dulu. Emang ya cinta bisa buat kita bodoh.”

            “Bener, Nov.” Gilang sepertinya juga menyadari kebodohannya seputar cinta. Mana dirinya pernah menganggap Daisha itu Lisa lagi. Sampai Daisha mengamuk dan perang dingin dengan Gilang beberapa waktu yang lalu.

            Beby yang mendengar obrolan kedua temannya yang membahas percintaan merasa terganggu akan pembahasan itu. Novita dan Gilang yang melihat kepergian Beby menuju kabar hanya saling mengakat bahu, sepertinya moodnya sedang jelek.

            “Kayanya ini soal Arash deh,” ucap Novita.

            “Ih iya kali, lagian Arash betah amat sih suka sama Beby. Manusia kutub gitu disukain.”

            “Lah lo buaya, Lang,” ucap Novita dengan senyum jahil.

            “Oh iya lupa gue, tapikan dulu. Sekarang kan gue baik.”

            “Iya deh si paling baik, gue masuk kamar juga yak.” Gilang mengacungkan jempolnya. Novita pergi ke kamar dengan membawa segelas air.

            “Beb, kebab sisa punya lo gue makan ya?” sepertinya perut Gilang masih minta jatah. Beby tidak menyahut menandakan bahwa kebab itu boleh dimakan. Padahal itu akal-akalannya sendiri.”

                                                                        ***


21. Percobaan Melunakkan Hatinya

0 0

“Aku percaya jika kutub saja bisa meleleh, maka hatimu juga. Aku akan mengupayakan apapun demi melanjutkan tali persaudaraan kita. Tidakkah kamu tersiksa dengan jarak ini?”

***

            Novita merasa stuck untuk projectnya, risetnya berhenti tanpa arah. Dia benar-benar bingung dan ada perasaan tidak tenang melingkupinya. Novita juga tidak tidur satu malaman, mata pandanya terlihat dengan jelas. Beberapa anggota Golden Tree yang berkunjung ke basecamp mereka pagi itu pun agak terkejut dengan penampilan Novita.

            “Ih comellah awak tu, biasa beruang madu ini udah panda pulaklah.” Daisha mengomentari penampilan Novita sambil mengoles beberapa lembar roti.

            “Cocok emamg lo jadi dubber sa, logat mana aja masuk, heran deh.” Novita ingin mengambil roti yang tadi dioleskan selai oleh Daisha, tetapi tangan Daisha langsung menjauhkan piring rotinya.

            “Cuci muka dulu sana!” Perintah Daisha pada gadis itu. “Noh, tangan lo juga masih ada tinta pulpennya.” Daisha menunjuk tangan Novita dengan gesture bibirnya yang maju ke depan. Ciri khas orang Indonesia sekali.

            “Hai …hai,” ucap Novita dalam bahasa Jepang, menandakan dirinya menurut dengan perkataan Daisha.

            “Kenapa si Novi?” Juki yang tadi entah dari mana-mana tiba-tiba datang dan menanyakan apa yang terjadi dengan Novita kepada Daisha. Namun Daisha berpikir Juki berbicara pada orang lain.

            “Lo ngomong sama gue Juk?”

            “Yaiyalah Asa, masa hantu dapur.”

            “Ih rese banget, masa gue dibilang hantu dapur, mentang-mentang gue suka habisin makanan. Lo kalau mau tanya gitu ke orangnya langsung kali, takut lo.”

            “Apa sih, kan gak enak kalau gue yang nanya.”

            “Gak enak, apa gak siap aja gitu. Takut kan lo doki-doki.” Doki-doki adalah bahasa Jepang yang dapat diartikan deg-degan.

            “Terserah lo,” ucap Juki sekenanya lalu duduk di meja makan.

            Daisha dapat melihat pipi Juki agak memerah. Daisha tidak mudah dibohongi. Daisha adalah orang yang paling peka di Golden Tree. Namun, baginya terlalu peka juga menjadi kelemahan baginya. Untuk itu Daisha lebih sering bertindak tsundere seperti Beby. Daisha tipikal yang akan memantau dulu semuanya dari awal, kalau dirinya sudah tahu semuanya barulah dia akan memikirkan tindakan selanjutnya.

            Novita balik ke meja makan sudah dengan wajah bersih nan kinclong. Matanya berbinar menatap roti bakar yang baru saja dihidangkan. Kadang dirinya iri dengan Asa yang sudah terbiasa menyiapkan hal-hal seperti ini. Sungguh beruntung pria yang nantinya dapat memenangkan hati gadis ini.

            “Nov kayaknya lo suntuk banget, begadang ya?” Novita baru saja menggigit satu gigitan dari roti bantal yang diambilnya.

            “Iya, gue ngestuck, Sa. Gue merasa resah aja sama situasi gue sekarang. Gue mikir kalau kakak gue belum juga maafin gue, project game gue gak akan berjalan lancar. Gue harus gimana ya?”

            “Berarti usaha lo harus lebih lagi buat dapat maaf kakak lo. Lo masa mau nyerah begitu aja.”

            “Ya gak mungkin gue nyerah, Sa. Gue mau coba apapun asal kakak gue mau maafin gue dan nerima gue sebagai mualaf. Gue harus perjuangan identitas baru gue biar diakui dong.” Novita tampak serius dengan ucapannya. Melihat itu Juki agak senang karena dirinya pikir masalah yang dihadapi Novita membuatnya stress.

            “Bagus, tapi juga pas lo gamers, sering mata panda ginikan.” Novita mengangguk, tanpa ragu dirinya mengambil, satu roti bakar lagi. Untungnya Daisha membuat banyak.

            “Nov, gimana kalau untuk permulaan lo berikan saja kiriman sarapan pagi untuk kakak lo.” Juki memberi saran mengingat dia pernah mendengar kakak Novita bekerja kantoram.

            “Ide bagus, soalnya kakak gue jarang sempat sarapan. Tapi kalian bantuin gue ya. Kna tahu sendiri gue gak bisa masak.” Novita tampak semangat mendengar ide dari Juki. Juki pun tampak senang idenya diterima.

            “Btw Nov, nanti kita nebeng mobil lho ya. Antar makanan buat kakak lho dulu baru kita ke kampus. Nati gue yang isi bensinnya.” Daisha sepertinya tidak dijemput dan diantar Doni hari ini, karena itu dia berniat menebeng.

            “Santai aja kali, kayak sama siapa aja. Ayo masak!” seru Novita.

            “Let’s go,” jawab Juki dan Asa serentak.

***

            “Kak Monic,” tegur Novita pada wanita dengan baju kantoran rapi berambut pendek seperti Dora.

            Monica sempat terperanjat dengan penampilan Novita saat melihat gadis itu. Monica sudah mendengar sih kabar Novita yang sudah menjadi mualaf. Bahkan gosip Helen yang membeci adiknya karena masuk Islam sudah menyebar ke mana-mana. Hanya saja Monica pikir, Novita tidak langsung bernampilan tertutup seperti yang dia lihat di hadapannya. Meskipun tidak berpakaian syar’i tetap saja Monica kaget.

            “Novi rupanya, ada apa?” Monica tersenyum kepada ramah kepada Novita. Monica memang bukan seorang muslim, tetapi dia dapat melihat bahwa vibes Novita sekarang menjadi lebih positif.

            “Mau nitip makanan buat Kak Helen. Dia pasti belum datang dan belum sempat sarapan.”

            “Ih iya, tahu aja kebiasaan Helen. Tapi wajar kan ya, kakak sendiri. Yaudah siniin deh makanannya.” Novita menyerahkan paper bag kepada Monica.

            “Makasih ya, Kak. Novita pamit dulu, ya.”

Novita tampak sedikit membungkuk sebelum pamit. Monica agak tersentuh melihat itu, karena adiknya tidak pernah melakukan hal yang dilakukan Novita kepadanya, apalagi membawakan bekal. Monica tidak paham mengapa Helen bisa membenci saudara sebaik itu. Soal keputusan pindah agama itu adalah hak pribadi yang harusnya tidak dicampuri oleh siapapun.

Monica segera masuk ke kantornya. Dirinya jadi berpikir untuk tidak memberi tahu Helen jika bekalnya diberikan oleh Novita. Suasana kantor kemarin saja jadi kurang nyaman ketika beberapa karyawan menyebut nama Novita. Helen langsung meminta beberapa karyawan itu untuk diam dan tidak membahas adiknya. Awalnya Monica kira Helen belum datang, sampai saat dia melihat kubikel di sebelahnya Monica terkejut dengan Helen yang sudah duduk manis di kubikelnya.

‘Tumben banget,’ batin Monica di dalam hati. “Eh Helen, tumben datang pagi, kesambet apa kamu?”

“Shut up, do not talk to me!” Helen berucap ketus dengan tangan yang memegangi perutnya.

            “Lapar ya kamu, ini aku ada makanan, makan saja.” Monica meletakkan paper bag yang tadi diberikan Novita di hadapan Helen. “Kamu sih, kebiasaan gak sarapan pagi.”

            “Makasih,” ucap Helen cepat lalu membuka isi yang ada di dalam paper bag-nya.

            Tanpa ba-bi-bu, Helen menyantap makanan yang diberikan. Monica tersenyum penuh arti. Jika dia tahu itu makanan dari Novita pasti makanannya sudah dimuntahkan olehnya, atau sebelum dimakan sudah dibuang. Monica akan memberitahukan darimana makanannya berasal ketika Helen sudah menghabiskan semuanya saja. Semoga setelah diberi tahu dari Novita dia tidak membenci Monica lebih dari biasanya. Helen tidak membenci Monica, hanya saja hubungan keduanya tidak begitu dekat. Apalagi Helen cukup iri dengan Monica yang selalu disanjung-sanjung oleh si Bos. Bisa dibilang Helen menganggap Monica rivalnya.

            “Btw itu bekal siapa yang buat, lo ya?” Helen bertanya kepada Monica yang saat itu sudah memantau layar laptopnya. “Masakan lo gak banget tahu. Gak pinter masak ya lo.” Monica tidak bisa menahan tawanya. Helen menatap Monica aneh karena itu.

            “Gue emang gak pinter masak, karena itu gue belum pernah masak. Itu tadi bekal dari adek kamu, Novita.” Raut muka Helen yang tadinya clueless mulai memerah. ‘Duh, mati aku,’ batin Monica.

            “Kenapa lo gak bilang?” Nada suara Helen meninggi, membuat beberapa karyawan yang baru saja datang mengarahkan perhatian pada dirinya.

            “Anggap aja itu balasan karena kamu gak bilang kalau aku dipanggil Bos sekarang. Lagian dengan kamu benci adik kamu semuanya bisa balik kayak yang kamu mau. Wake up Helen, seandainya kamu yang diatur-atur memang kamu mau. Dunia gak selalu berpusat buat kamu, orang lain juga berhak mendapatkan yang mereka mau.”

            Helen mau saja mendebat Monica lebih dari itu, tetapi dia tidak mau menjadi bahan pembicaraan orang yang lebih dari ini. Helen bisa-bisa semakin stress jika gosip lain muncul tentangnya. Lagi pula akhir-akhir ini sudah berapa kali dirinya membuat keributan di kantor. Helen mengalah kali itu. Dia harus menemui Novita setelah bekerja. Sepertinya adiknya itu harus diancam agar tidak masuk lagi ke hidupnya yang sudah kacau.

***

            Novita hanya memiliki satu mata kuliah di kampusnya hari itu. Untuk itu dia pulang lebih cepat. Teringat dan rindu dengan keponakannya Leo, Novita sudah ada di depan TK-nya. Leo keponakannya baru saja masuk TK, umur keponakannya juga baru saja menginjak umur lima tahun. Leo sangat mirip sekali dengan ayahnya. Wajah masih mungil seperti batita dengan mata bulat dengan rambut hitam lembut dan selalu tertata rapi. Sejak Helen bercerai dengan ayah Leo, sikap Helen kepada anaknya berubah. Helen memang masih mengurus Leo, tetapi Helen kerap kali menghindari untuk menatap wajah anaknya itu. Novita merasa itu bukan kebencian, hanya saja ada perasaan takut di sana, ketika Helen menatap wajah Leo. Menurut Novita sendiri, Helen terlalu banyak menyembunyikan sesuatu bahkan saat masih bersama ayah Leo.

            Satu persatu anak TK sudah mulai berkeluaran karena memang sudah waktunya jadwal pulang. Semenjak Leo tidak diperbolehkan untuk bertemu ayahnya oleh Helen, bocah lelaki yang tadinya ceria kini menjadi lebih pendiam. Perceraian orang tua memang berdampak kuat dalam pertumbuhan seorang anak. Leo juga tampak semakin murung ketika Novita sudah tidak ada di rumah. Bocah itu merasa semakin kesepian. Di saat tema-temannya yang lain begitu ceria saat keluar dari kelas, Leo tampak muncul paling belakang. Leo tidak menyadari Novita ada di depan pintu kelasnya, mungkin karena Novita sudah pakai Jilbab. Leo bahkan menabrak Novita.

            “Maaf tante, saya tidak sengaja,” ucapnya dengan pandangan menunduk. Novita langsung berjongkok di hadapan bocah itu.

            “It is okay, Leo. Ini tante, tante Mei.” Leo langsung menatap wajah Novita. Dia tampaknya speechless, menatap Novita lumayan lama. Sampai air mata tiba-tiba keluar dari matanya, dia langsung memeluk Novita.

            “I miss you, Aunty,” ucap Leo lirih. Membuat Novita juga ikut meneteskan air mata. Pelukan Leo yang begitu erat, membuat Novita sadar dan mengerti betapa selama ini sudah banyak beban yang ditanggung bocah itu di umur yang begitu muda.

            “What are you doing here, Novita?” Leo yang mendengar suara ibunya langsung melepaskan pelukan dari ibunya. Novita pun refleks berdiri.

            “Kak, hari ini aja, kita bisakan bicarakan baik-baik.” Helen menatap Novita tajam.

            Melihat situasinya, Helen tampak tidak mau menunjukkan amarah di depan sang anak, “Leo kamu di sini dulu ya, sayang!” pinta Helen kepada anaknya. “Mama gak lama kok, mau ngobrol sama tante, Mei.” Leo mengangguk patuh.

            “Mama jangan marah-marah sama Tante Mei, ya!” pinta Leo dengan suara lembut, yang diangguki ibunya.

            Helen menarik tangan Novita, membawanya agak jauh dari Leo. Sebenarnya kadang juga sudah lelah dengan semua hal ini. Entah dari mana semuanya bermulai. Helen seperti tidak menemukan titik terangnya. Apakah ini semua terjadi karena kebodohan dan kesalahannya di masa lalu atau apa?

            “Lo kayaknya gak mudah menyerah ya. Lo pikir semua ini bisa buat gue luluh. Bawain makanan, datang ke sekolah Leo. Apapun gak akan bisa mengubah kebencian gue karena lo seorang Muslim.” Helen yang biasa aku-kamu, kini bahkan menggunakan lo-gue pada Novita. Bagi Novita ini bukan masalah besar. Semuanya ada proses, setidaknya Helen sudah mau sedikit kooperatif.

            “Aku tahu kok Kak, sangat tahu. Orang kayak Kak Helen mana mungkin mudah memaafkan orang yang sudah dibencinya, sebut saja Ko Raihan.”

            “Jangan sebut namanya lagi, paham!”

            “Oke, fine. Tapi tolong kak, satu hari ini aja, karena ini ulang tahun Leo, izinkan aku bermain sama dia sebentar saja, setidaknya sampai dia bisa melepaskan sedikit kangen dengan tantenya.”

            “Well, fine, tapi jangan harap gue ikut.”

            “Thanks, Kak.” Tidak ada balasan dari Helen.

            Helen membuang mukanya dan kembali menemui anaknya, “Leo sayang, maaf ya, hari ini kamu mainnya sama Tante Mei dulu, Mama mau balik ke kantor. Nanti malam pas pulang Mama bawain kue ulang tahun buat Leo, ya.”

            “Beneran Leo boleh main sama, Tante?” Ternyata Leo lebih penasaran dengan Helen yang tiba-tiba memperbolehkannya bermain dengan Novita. Helen mengangguk. “Terima kasih, Mama.” Leo memeluk Helen sebentar, kemudian berlari ke arah Novita.

            Helen menyadari jika hubungan dirinya dan Leo pun sudah lama merenggang. Wajar jika Leo lebih senang mendengar kabar barusan ketimbang mendapatkan kue ulang tahun. Semoga Leo tidak membencinya ketika hal itu nanti didengar olehnya, ketika dia sudah besar. Bahwa perceraian antara ibunya dan ayahnya juga dikarenakan keegoisannya. Helen tidak mau dibenci anaknya sendiri. Sekarang baginya, hanya Leo satu-satunya yang tersisa. Meski kadang ketika melihat wajah anaknya, begitu banyak rasa bersalah yang menumpuk.

***


22. Fakta yang Sebenarnya

0 0

Novita tidak membawa Leo ke tempat yang aneh-aneh. Dia membawa Leo ke Fastco Company di lantai tiga. Tadi sebelum ke sana, Novita sudah meminta bantuan teman-temannya agar mendekor sedikit untuk pesta kejutan ulang tahun Leo. Selama proses itu pun Novita membawa Leo jalan-jalan ke taman bermain. Mereka hanya bermain satu jam di taman bermain, karena Desi mengabarinya bahwa semuanya telah disiapkan dengan baik.

Leo sedikit terkejut saat sampai di lantai tiga ruangan begitu gelap. Sepertinya teman-temannya Novita sengaja mematikannya. Novita sendiri tidak tahu apa yang teman-temannya telah persiapkan dalam waktu satu jam itu. Namun, dia hanya me-request untuk memunculkan apa pun itu yang berhubungan dengan singa. Sesuai namanya Leo sangat suka singa, tetapi yang dia suka adalah singa yang imut. Namanya juga anak-anak pastinya lebih suka yang imut-imut.

“Tante, takut gelap,” Ucap Leo sambil menggenggam tangan Novita erat.

“Tidak apa, paling ini hanya mati lampu. Ada Tante, jangan takut.” Novita merasakan tubuh Leo bergerak, sepertinya bocah itu mengangguk.

Dalam hitungan detik, lampu menyala. Confeti bertaburan di mana-mana. Kemudian teman-teman Novita mulai menyanyikan lagu happy birthday versi anak anak untuk Leo, dengan Gilang yang mengiringi lagu dengan ukulele. Leo tampak senang dinyanyikan seperti itu, apalagi semuanya serempak memakai bando singa, ala idol-idol Korea gitu. Kemudian semuanya membuka jalan untuk Leo dan Novita lewat menuju meja di mana mereka telah mempersiapkan kue ulang tahun dan beberapa hadiah.

“This is for your special birthday Leo. Hope you enjoy it boy.” Desi mengatakan itu kepada Leo dengan senyum gemas. Ingin sekali rasanya mencubit pipi gembulnya. Sayangnya itu anak orang, jadi dia tidak boleh sembarangan dalam mencubitnya. Kalau itu adiknya sendiri pasti sudah habis dia unyel-unyel.

“Yuk, Leo, tiup lilin dulu!” pinta Novita saat dirinya telah membawa Leo ke hadapan meja yang terdapat gue bergambar singa lucu di sana.

Leo berusaha meniup lilin miliknya dengan sekuat tenaga meniup lilin dengan bibir kecilnya. Lilin itu baru mati ketika Novita membantu keponakannya itu meniup lilinnya. Saat meniup lilin, Leo berharap agar keluarganya akur kembali. Karena Leo kecil pun sudah paham jika ayah maupun ibunya tidak akan bisa bersama lagi. Setidaknya mereka bisa hidup rukun dan damai. Leo bisa berpikir begitu, karena sebenarnya Leo adalah anak yang sangat cerdas. Di umurnya yang sekarang bahkan dia sudah bisa membaca. Hitung-hitungan pun sudah tidak diragukan lagi. Hanya saja semua itu tertutup oleh sikap diamnya sekarang.

Hari itu baik Novita dan teman-teman lainnya berusaha menyenangkan Leo. Novita bersyukur bisa memiliki Golden Tree di sisinya. Juki bahkan rela menjadi kuda-kudaan buat Leo. Teman-teman cowok yang lain pun ikut bermain bersama Leo, melihat mereka begitu seperti sedang simulasi menjadi seorang ayah. Lucunya meski bermain dengan Leo wajah Beby masih konsisten datarnya. Leo sampai mengoloknya karena wajah Beby sungguh datar seperti Squidward. Yang terpenting Leo senang hari ini.

“Mama Papa, Leo mana, kok mereka gak ikut?” Juki bertanya pada Novita yang sedang mengambil gelas di dapur. Sepertinya Juki tidak tahu situasinya.

“Mama Papa Leo sudah bercerai tiga tahun yang lalu.”

“Sorry, aku gak bermaksud.” Raut wajah Juki jadi tidak enak karena telah menanyakan hal itu.

“It is okay, tapi kalau soal Mama Leo yang gak ikut ya karena dia masih males aja lihat Gue.”

“Oh I see, sabar ya.”

“Wajar kok, kakak gue cuma butuh waktu buat proses menerima. Syukurnya gue masih dikasi bawa Leo ke sini. Gue sebenarnya lebih gak tega lihat Leo. Dia pasti kangen Papanya.” Novita jadi tidak sengaja curhat.

“Jangan bilang Kakak lo gak ngizinin Leo buat ketemu papanya.”

“Unfortunately, yes.” Wajah Novita berubah sendu. “Gue juga bingung gimana. Gue aja masih belum baikan sama Kakak gue. Gimana gue bisa ketemuin Leo sama ayahnya.”

“Iya sih, posisi lo emang gak enak banget. Tapi kalau lo butuh bantuan, jangan sungkan buat bilang ke gue ya.”

“sure,” ucap Novita, lalu kembali menuju kerumunan teman-temannya.

***

Leo tertidur karena kelelahan di depan televisi yang masih menayangkan kartun kesukaannya. Selagi Novita mengambil selimut Beby yang masih terbangun mematikan televisi. Beberapa teman lelakinya pun tertidur pulas di dekat Leo. Leo berada di tengah sementara teman-teman Beby mengelilingi Leo. Tipikal bapak-bapak banget memang, kalau disuruh mengurus anak malah tidur.

“Sini gue aja yang selimutan Leo,” inisiatif Beby saat Novita sudah kembi dengan selimut ditanyan. Lagi pula terlalu banyak cowok yang mengelilingi Leo. Novita menyerahkan selimutnya pada Beby. “Lo tidur aja kalau mau tidur. Biar gue yang jaga. “

“Thank you Beby.” Novita tersenyum pada pria itu. Meskipun dingin seperti kutub, Beby sangat perhatian, apalagi kepada anak-anak.

Novita tidak ingin tidur sih, sepertinya dia butuh kopi. Jadi dia turun ke bawah. Tepat saat Novita memesan kopi untuknya, dilihatnya meja nomor sebelas sebentar, dia merasa tidak asing. Setelah pesanan kopinya selesai, Novita segera mendekat ke meja nomor sebelas. Benar saja, Raihan dan istri barunya ada di sana.

“Ko Raihan,” tegur Novita.

“Mei, how are you? You look different. Terlihat lebih cantik dengan hijab.”

“Baik, Ko. Koko baikkan.”

“Alhamdulillah baik,” Novita belum sadar saat Raihan mengucapkan hamdalah. Saat sadar Novita agak mengerutkan keningnya. “Pasti name bingung ya. Singkatnya Koko juga sudah mualaf.” Novita makin shock mendengar kenyataan itu.

“Lho, kok?” Kening Novita semakin berkerut, sementara istri Raihan sekarang tampak terus menunduk meski sudah menyelesaikanmakannya.

“Kebetulan karena ketemu kamu, Koko ingin bicara dengan kamu. Ini mengenai Leo juga.”

“Oh kalau begitu, sepertinya tidak enak kalau kita bicara di sini Ko. Leo sebenarnya juga sedang bersama Mei.”

“Beneran?” tanya Raihan meyakinkan, Novita mengangguk.

“Ayo Ko, Kak, ikut saya!” pinta Novita.

“Aku tinggal saja Mas,” ucap istri Raihan kepadanya.

“Hei kenapa? Kamu bilang ingin ketemu Leo juga.”

“Kakak jangan khawatir soal saya yang mungkin membenci Kakak. Justru sekarang ada banyak hal yang mau saya tanyakan pada Kakak dan juga Ko Raihan, jadi Novi harap Kakak juga ikut ya.”

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, istri Raihan memutuskan untuk ikut. Dia pikir dia juga harus menjelaskan banyak hal agar tidak terjadi kesalahpahaman. Namun, melihat dari cara Novita berbicara dan juga tampak santai saat tadi menyapa Raihan, dia sadar Novita adalah gadis yang tidak akan sembarangan men-judge seseorang.

Novita mengajak keduanya naik ke lantai tiga setelah mereka membayar pesanan mereka. Di lantai tiga keduanya dipersilahkan Novita untuk duduk dan Novita memohon agar keduanya menunggu untuk beberapa saat juga. Desi kebetulan saat itu sedang ada di dapur. Desi membantu Novita membuat minum dan menyediakan kudapan. Lalu keduanya mengantarkan minuman dan kudapannya kepada Raihan dan istrinya.

“Silahkan dinikmati ya Kak, Bang.” Desi berucap dengan sopan, lalu pamit undur diri setelah sang tamu mengucapkan terima kasih, meninggalkan Novita bersama sang tamu.

“Mei, sebelumnya Koko mau minta maaf,” ucap Raihan membuka percakapan. “Koko minta maaf karena sudah menyakiti dan memilih meninggalkan Kakak kamu. Koko juga minta maaf karena sudah lama tidak dapat bertemu dengan Leo. Koko tahu Leo pasti kangen banget sama Koko. But dibalik semua itu semua ada alasannya Mei.”

“Kalau gitu certain aja pelan-pelan Ko. Sepertinya ini juga bukan cerita yang singkat.”

“Kamu mungkin akan bilang Koko mengada-ada, tapi yang sebenarnya terjadi adalah bukan Koko yang selingkuh di awal tetapi kakak kamu.” Novita speechless, dia agak tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. “Kamu pasti tahu Kak Nathan, teman kerja Kakak kamu yang lumayan sering ke rumah.” Novita mengangguk, terbayang muka Nathan yang memang terbilang cukup tampan. “Kamu tahukan aku dan kakakmu dijodohkan?”

“Iya aku tahu, dan yang aku tahu kakak juga tidak nampak mempermasalahkan perjodohan itu. Tapi mengapa bisa Kakak selingkuh? Yang aku tahu setelah cerai Koko tuh yang langsung menikah dengan istri baru Koko. Jujur malah aku awalnya mengira Koko yang selingkuh.”

“Ya Koko akui, Koko juga salah besar, tetapi sejak awal Helenlah yang ternyata belum selesai dengan masa lalunya dengan Nathan. Koko mulai curiga Helen dan Nathan punya hubungan lagi dengan Nathan setelah kerap kali Koko tidak sengaja melihat mereka sering kedapatan bersama, saat itu Koko pikir ya mungkin karena sesame rekan kerja. Koko juga tidak mau berprasangka buruk. Tapi tepat saat hari kelulusan SMA kamu, di mana kita buat pesta untuk sedikit menghibur kamu dari kehilangan Lisa, Nathan juga datangkan?”

“Iya aku ingat, Kak Nathan juga bawain hadiah buat aku. Tapi karena aku merasa gak mood karena masih belum bisa melupakan Lisa, aku hanya merayakan kelulusanku bersama keluargaku secukupnya, lalu aku malah pergi ke Fastco Company. Memangnya ada kejadian apa lagi di hari itu?”

Raihan pun menceritakan semua kejadian yang dia ketahui saat itu. Sebuah cerita yang harusnya tidak didengar, tetapi demi mengungkapkan kebenarannya semua harus diceritakan tanpa terkecuali. Meskipun Raihan harus membongkar masa lalu Helen, demi menemui titik terang dan agar Novita juga bisa damai memeluk agamanya yang sekarang.

Novita baru saja lima belas menit dari rumah saat itu. Sementara itu Ibu Novita sedang membawa Leo pergi ke minimarket karena ingin membeli cokelat berbentuk telur yang di dalamnya terdapat hadiah berupa mainan. Sepertinya semua anak-anak sangat menyukai cokelat itu. Raihan sendiri baru saja keluar dari kamar mandi saat itu, meninggalkan Helen dan Raihan di ruang keluarga. Namun hal yang tidak pernah Raihan duga saat dia kembali dari kamar mandi dia mendengar percakapan yang seharusnya tidak didengarnya.

“Helen, jawablah dengan jujur! Leo itu anak aku kan?” Raihan yang mendengar ucapan itu speechless dan dia memilih untuk tidak langsung ke ruang keluarga itu. Dia berusaha untuk menguping percakapan antara Helen dan Nathan.

“Maaf Nath, tetapi itu benar-benar anak Rai.” Terlihat raut kecewa di wajah Nathan. Nathan merasa dikhianati oleh wanita itu.

“Kamu kan sudah janji padaku, meskipun kamu menikah dengan dia, kamu tidak akan pernah punya anak dengan dia. Aku pikir Leo adalah anakku, tega kamu Helen.” Nathan sudah membuang pandangannya kearah lain, Helen tampak begitu takut. Helen takut jika hubungannya dengan Nathan akan berakhir. Hubungan yang tidak seharusnya ada.

“I am really sorry Nath, aku tidak bermaksud begitu. Tetapi keluargaku terus meminta aku punya momongan.”

“Okay, tapi kenapa di awal kamu bilang kalau Leo anak kita? Aku tidak akan semarah ini jika kamu tidak bohong padaku dari awal.” Nada suara Nathan meninggi. “Lagipula kupikir sepertinya kamu udah jatuh cinta sama suamimu itu. Sepertinya kamu pun sudah sulit untuk menceraikannya kan.”

“Bukan seperti itu Nath, aku sama sekali tidak mencintai Raihan. Aku hanya tidak sampai hati jika aku menceraikan Raihan terlalu cepat Leo akan tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Aku memang tidak cinta Rai, tapi aku tidak mungkin tidak mencintai anakku sendiri.”

“Sudahlah Helen, selesaikan saja urusanmu itu dengan suamimu itu, jika belum selesai jangan pernah temui aku lagi.”

“Nath, tunggu Nath.” Helen mencoba mengejar Nathan tetapi pria itu menepis tangan Helen yang berusaha meraih tangannya. Nathan juga sesegera mungkin pergi dengan mobilnya.

Saat Helen berbalik badan dia terkejut, mendapati Raihan sudah ada di sana, “jadi begitu ceritanya ya. Aku tidak pernah dicintai oleh istri sendiri.” Raihan tertawa miris. “Karena itu juga kah kamu selalu menolak jika kusentuh atau bersikap romantic padamu bukan? Aku tidak percaya jika kamu manusia biasa, seharusnya kamu jadi aktris saja, kamu sangat berbakat untuk akting. Seharusnya kamu bisa batalkan perjodohan ini dari awal jika kamu tidak suka.”

“Kamu pikir mudah untuk menolak perjodohan yang diharapkan Papaku, mengingat Papaku pun sudah tidak ada, aku hanya berpikir untuk sekali saja mengabulkan permintaannya karena selama ini aku selalu tidak patuh padanya.”

“Pantas jika Novita menjadi anak kesayangan Papamu. Karena dia tidak pernah melakukan sesuatu yang diminta secara terpaksa.”

Helen tidak membalas ucapan Raihan. Dari sanalah perang dingin di antara keduanya dimulai. Leo yang saat itu masih kecil saja bingung dengan orang tuanya yang sudah jarang mau untuk berkumpul bareng dengannya. Kedua orang tuanya masih perhatian, tetapi kalau mereka ingin mengajak Leo jalan saat itu hanya berdua saja, tidak pernah bertiga lagi.

***


23. Merasa Dikhianati

0 0

Novita tidak sanggup berkomentar apapun setelah mendengar cerita Raihan. Dia tidak percaya kakaknya dapat menyepelekan urusan pernikahan, tetapi Novita juga merasa posisi Helen juga serba salah jika tidak melaksanakan wasiat ayah mereka, ketika dirinya masih sangat mencintai Nathan. Namun bukankah hal ini juga tidak adil untuk Raihan? Raihan yang awalnya juga tidak mencintai Helen, mengusahakan hal terbaik untuk bisa mencintainya. Raihan sangat merasa sakit dan hancur begitu mengetahui istrinya yang selama ini dia pikir benar-benar mencintainya malah mencintai orang lain, bahkan dia mendengar istrinya minta maaf kepada orang yang dia cintai karena memiliki anak darinya.

“Mei gak tahu harus ngomong apa-apa. Apalagi cerita yang beredar Koko, yang menyelingkuhi Kak Helen. Maaf ya Ko, kalau Mei pernah berpikiran begitu juga.”

“Kamu tidak perlu minta maaf Mei. Koko juga salah kok dalam perceraian Koko juga dengan kakakmu.”

“Maksudnya gimana, Ko?”

“Sejak perang dingin itu kesalahan terbesar Koko adalah Koko jatuh cinta sama istri Koko yang sekarang. Mungkin alasannya karena Koko tidak pernah mendapat perhatian dari istri Koko seperti yang Kakak kamu berikan. Sejak perang dingin itu Koko padahal berusaha memaafkan Helen, tetapi dia terus saja bersikap dingin. Kala itu Kak Wina merupakan karyawan baru di kantor Koko, dan dia selalu mendengarkan keluh kesah Koko soal hubungan rumah tangga Koko yang buruk.”

“Maafkan kakak juga Novita, karena Kakak secara tidak langsung semakin memperkeruh hubungan rumah tangga Kakakmu dan Ko Raihan.”

“Gak begitu sayang, memang Helenlah yang menggugat cerai aku. Katanya tidak ada gunanya aku dan dia melanjutkan hubungan rumah tangga ini, karena kami tak saling cinta. Ditambah dia tahu akhir-akhir itu kamu dan aku seringa da projek bareng. Mungkin dia pikir hubungan kita seperti dia dan Nathan dan dia dulu, padahal kan meski aku mulai suka pada kamu saat itu, aku masih berusaha untuk menjaga hatiku karena aku masih istri orang. Kamu sendiri juga masih selalu menjaga jarak denganku.”

“Tapi tetap aja,” ucap Wina. “Aku merasa bersalah dengan Leo. Gara-gara kamu menikahi aku, sejak itu juga kamu tidak diberi izin bertemu Leo.” Novita menjadi bingung mendengarkan perdebatan suami-istri di depannya ini.

“Sudah … sudah, apapun itu Novita gak ada hak juga buat marah. Masa lalu juga gak bisa diulang. Novita rasa ini hanya kesalahpahaman yang harusnya sejak awal diselesaikan. Tapi Mei jadi penasaran Ko, Koko masuk Islam karena mau menikah atau gimana? Terus kenapa Kak Helen bilang istri Koko yang ikut agama kita dahulu?”

“Jujur ya Mei, Koko malah sudah tertarik dengan Islam sejak temanmu Lisa sering kamu ajak main ke rumah. Koko pernah lihat dia salat di kamar kamu, rasanya adem banget, belum lagi sifatnya yang down to earth banget. Koko jadi paham kenapa kamu sangat kehilangan dia. Koko juga pernah gak sengaja tahu kalau kamu lagi belajar Islam, Koko mau pinjam apa gitu saat itu di kamar kamu. Eh kamunya sudah ketiduran dengan buku yang masih kamu pegang, buku tentang Islam. Koko pikir apa yang membuat kamu membacanya, sampai Koko penasaran dan beli buku yang sama, dan sejak itu Koko juga jatuh cinta sama Islam.”

“Masyaallah, aku kira Koko masuk Islam karena mau nikah sama istri Koko. Alhamdulillah Ko, hidayah bisa datang dari mana saja.”

“Iya alhamdulillah, dan hal ini juga yang membuat Koko gak dibolehin ketemu Leo. Dan sejak itu kakakmu Helen jadi benci banget sama Islam. Karena itu mungkin dia bilang kalau Wina masuk Budha supaya kamu goyah untuk masuk Islam. Kakak kamu itu sebenarnya sangat takut kehilangan. Itu kenapa Koko juga tidak menuntut atas hak asuh Leo. Koko sayang sama Leo tetapi Helen sekarang cuma punya Leokan. Karena itu Koko Cuma bisa ketemu Leo diam-diam misalnya saat sekolah. Namun sebulan ini Koko tidak bisa bertemu Leo karena Helen juga jadi rutin menjemputnya.”

“Oh iya juga, mungkin benar kata Koko. Kak Helen sepertinya berusaha untuk lebih perhatian sama Leo karena dia cuma punya Leo sekarang.”

“Kakak berharap kamu bisa baikan sama kakakmu. Dan makasih karena sudah begitu baik untuk tidak benci ataupun memikirkan hal aneh tentang Kakak.”

“Aamiin. Kak Wina, mungkin semua ini sudah Allah rencanakan. Bukan tugas aku juga untuk menjudge seseorang. Kakak juga kan memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Ko Raihan saat dia masih menjadi suami Kak Helen, jadi itu harusnya bukan masalah besar.”

“Oh iya Leo mana? Kata kamu tadi ada Leo.” Wina tampak semangat.

“Oh ada kok, yuk mari ikut Novi!”

Novita mengajak Wina dan Raihan menuju ruang televisi. Sebagian dari para anggota lelaki Golden Tree sudah bangun, menyisakan Gilang dan Juki yang masih terlelap. Juki tampak memegang kepala Leo, sepertinya pria itu mengelus-elus kepala Leo. Sementara itu Gilang memegang tangan bocah itu. Situasi seperti itu terlihat seperti kedua orang pria itu sedang bucin banget dengan Leo.

“Ih kok gemes banget teman-teman kamu,” komentar Wina.

“Cih gemes apanya,” bantah Novita. “Lagi tidur aja kalem, kalau udah bangun pada reog.”

“Kan bagus, Mei.” Kemudian Raihan melihat Beby. Dia cukup mengenal Beby karena sempat beberapa kali mengantar Novita pulang. “Wah ada Beby juga. Apa kabar kamu?”

“Baik Ko,” jawab Beby singkat. Dia langsung berjongkok, ingin membangunkan Juki dan Gilang yang kalau dibiarkan tidura akan semakin membuat dirinya malu. Masa tamu disodori wajah tidur mereka. Kalau Leo sih beneran gemas. “Gilang, Juki bangun,” Keduanya hanya mengerang dan melanjutkan tidur.

“Eh tidak apa-apa kok Beby, santai saja.” Raihan merasa kasian kepada Gilang dan Juki jika harus dibangunkan.

“Masalahnya itu si Juki enak aja tidur mulu, restoran lagi rame. Gilang katanya ada latihan vocal.”

“Sini biar gue aja yang bangunin,” ucap Novita. Kebetulan dia memegang dia membawa tumblr.

Novita memercikkan air ke wajah keduanya, barulah mereka bangun, “Ih Novi, gue kira banjir.”

“Udah jam tiga lewat nih, gak latihan lo.” Gilang menepuk jidatnya, buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci muka. “Lah jambu, main pergi aja. Juk lo juga, cepetan kumpulin nyawa, mau dipotong gaji lo.”

“Siap Bos,” ucapnya. Sebelum pergi dia sempat menaikkan selimut Leo.

Leo ternyata tidak lama juga terbangun, mungkin sedikit terkena percikan air tadi. Leo sempat agak kaget melihat wajah ayahnya sudah ada di depannya. Begitu kesadarannya sudah 100% persen, Leo langsung memeluk ayahnya, melepaskan rindu. Setelah itu reuni antara ayah, anak dan ibu tiri pun dimulai. Novita pun meninggalkan mereka untuk melepas rindu.

***

 Kak Helen: Gue udah ada di depan Fastco Company.

Desi yang tadi meminjam handphone Novita tidak sengaja membuka pesan dari Helen. Desi segera keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Novita. Menurut penuturan Raihan gadis itu sedang ada di bawah mengambil sesuatu. Desi menepuk jidatnya. Dia segera ke bawah untuk menemui Novita.

Belum sempat ke bawah, pintu lift tidak bisa dibuka. Sepertinya ada seseorang yang naik ke lantai tiga. Desi terpaksa menggunakan tangga untuk turun. Sayangnya ternyata orang yang naik ke lantai tiga tadi adalah Helen. Dia segera keluar dari lift dan menekan bel untuk masuk ke tempat berkumpulnya anggota Golden Tree. Helen dibukakan pintu oleh Beby. Beby yang paham situasi langsung menahan Helen untuk masuk.

“Leo di mana Beby?”

“Oh gak ada di sini kok Kak, tadi udah di bawah sama Novita.” Terpaksa Beby harus berbohong. Namun, Helen ragu atas pernyataan Beby karena samar-samar dia mendengar suara Leo.

“Jangan bohong Beby, kamu mau menghalangi saya untuk ketemu anak saya sendiri?”

“Bukan begitu Kak, tapi ….” Helen memaksa masuk dan Beby pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Betapa terkejutnya Helen melihat Raihan, Wina dan Leo bermain bersama. Hatinya sakit, dia merasa dikhianati. Apakah Raihan mau mengambil Leo darinya setelah semua ini? Tentu Helen tak mau kehilangan Leo.

“Helen,” wajah Raihan tampak terkejut. “Kamu jangan salah paham dulu.” Helen hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Kak Wina, ini ada bingkisan buat Kakak dan Koko.”

Novita baru saja masuk saat itu. Sepertinya Novita juga belum bertemu dengan Desi. Melihat ada Helen, refleks Novita menjatuhkan paper bag yang dia bawa. Tersirat kekecewaan di wajah Helen. Bahkan Novita dapat melihat tangan wanita itu mengepal.

“Lo gak bisa dipercaya ya ternyata. Maksud lo apa Mei?” Helen berteriak sudah tidak memikirkan rasa malu. “Lo tahu gue udah sedikit bisa menerima kalau lo mualaf, gue berusaha buat gak benci lo. Tapi apa balasan lo? Gini yang lo maksud saudara? Gue muak sama lo! JANGAN HARAP HUBUNGAN KITA BISA KAYAK KAKAK ADIK LAGI.”

Helen pergi sambil menabrak bahu Novita keras. Padahal ini hanya salah paham kesekian kalinya. Mengapa Helen selalu tidak mau mendengar ucapan orang lain terlebih dahulu? Tentu saja, Novita dengan sigap mengejar kakanya itu. Dia memakai tangga manual untuk turun. Dia berharap bisa menghentikan Helen dan memberi penjelasan.

Helen sendiri tadi berangkat ke Fastco Restaurant dengan menggunakan taksi. Tangisannya sudah tidak dapat dibendung. Dia sudah kehilangan semua yang dia punya. Dia sudah kehilangan Nathan—orang yang dia cintai, dia kehilangan suami yang mencintainya, kehilangan kasih sayang ibunya, kehilangan adik, lalu apakah sekarang dia harus kehilangan anak juga? Helen merasa Tuhan tidak adil terhadapnya.

Pikiran Helen sudah sangat kacau sekali saat itu. Bahkan dia mencoba menyebrang dengan pandangan kosong. Novita berlari terengah-engah. Begitu melihat Helen ada di depannya dia cukup lega, tetapi dia berubah begitu cemas saat Helen menyebrang. Saat itu ada mobil yang melaju dengan kencang, sementara Helen mungkin karena melamun tidak memperhatikan jalanan. Novita yang sudah kehabisan napas, secepat mungkin berlari agar bisa menyelematkan Helen. Dirinya berhasil menolak tubub Helen ke seberang jalan, tetapi naas saat dirinya ingin berlari ke seberang jalan, mobil yang dalam kecepatan kencang tadi sudah menabrak tubuhnya. Kecelakaan terjadi di depan mata Helen. Dia menyaksikan tubuh adiknya terpental cukup jauh. Mobil tadi sudah berusaha mengelak, tetapi timingnya tidak pas. Mobil yang menabrak Novita berakhir dengan menabrak dinding salah satu gedung di sana.

Tubuh Helen bergetar. Orang-orang mulai mengerumuni Novita. Helen sangat shock, dia bahkan tak sanggup meneriaki nama adiknya. Dia menoros keremunan, mencoba memangku kepala adiknya yang mengeluarkan banyak darah. Kesadaran Novita masih tersisa sedikit, “Ma—af,” ucapnya Novita sebelum kesadarannya menghilang. Setelah itu Helen hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

Desi yang juga menyaksikan kejadian Novita tertabrak langsung shock dan menangis. Namun dia segera menguasai dirinya dan menelepon ambulans. Anggota Golden Tree yang lain, Juki, Raihan dan Wina juga shock berat atas kejadian itu. Wina segera mendekati Helen saat Novita sudah dibawa oleh ambulans, Desi yang mendampingi Novita menuju perjalanan ke rumah sakit.

“Helen tenang ya, kita doakan Novita baik-baik saja. Kamu juga jangan menyalahkan diri kamu. Ayo kita ke rumah sakit bersama.”

Helen sudah tidak peduli siapa Wina. Saat itu dia hanya mengangguk atas apa yang diucapkan Wina. Di pikiran Helen saat itu, dia tidak mau kalau Novita kenapa-napa. Helen tidak pernah berpikir jika Novita harus menyusul ayahnya ataupun Lisa. Karena jika begitu Helen bukan saja kehilangan raga, tetapi kehilangan jiwa dan raga sang adik untuk selamanya.


24. Pulih

0 0

“Ternyata benar bahwa musibah selalu membawa hikmah. Ketika percakapan saja tak cukup untuk memilihkan, maka biarkan alam yang beraksi.”

***

          Novita koma karena kehabisan banyak darah. Semua orang berharap cemas, berharap Novita cepat bangun. Anggota Golden Tree merasa trauma dengan situasi ini. Banyak dari mereka yang overthinking. Mereka tidak siap kehilangan satu anggota lagi. Kepergian Lisa saja menyebabkan banyak luka dan ketidakberdayaan untuk ikhlas, apalagi jika kalau harus kehilangan Novita juga. Keluarga Novita pun sama khawatir dan cemasnya. Siapa pula yang akan siap dengan kehilangan dan perpisahan?

            Di dalam komanya, Novita malah merasa senang. Dia bertemu Lisa di tempat yang sangat indah. Dia mendapati Lisa memeluknya erat, sangat erat tetapi begitu nyaman. Akhirnya setelah sekial lama, mereka bertemu lagi, walaupun hanya di dalam mimpi.

            “Bagaimana? Apakah semuanya berjalan baik?” tanya Lisa setelah melepaskan pelukannya dari Novita. Pakaian Lisa berwarna putih bermotif Daisy, membuatnya terlihat begitu cantik.

            “Berat rasanya tidak ada kamu, tetapi tidak buruk juga. Kamu benar aku tidak sendiri. Hanya saja kakakku membenciku?”

            “Syukurah, ternyata perginya aku juga ada hikmahnya ya. Kamu kan jadi bisa dekat dengan yang lain. Soal Kak Helen yang membencimu itu pasti akan cepat berakhir.” Lisa menggangam tangan Novita meyakinkan.

            “Bagaimana jika Kak Helen terus membenciku? Apa seharusnya aku ikut kamu saja?”

            “Hei, bicara apa sih. Kamu yakin mau ikut aku tanpa menyelesaikan projekmu dan tanpa berbaikan dengan Kak Helen? Bukannya itu sangat disayangkan.”

            “Ah benar juga, tetapi aku selalu rindu padamu.”

            “Ah, aku sudah bisa menebaknya, bahkan setiap hari pun kamu pasti merindukanku. Kalau kamu rindu aku lagi nanti, salatlah! Sampaikan rindumu padaku lewat sang Pencipta. Sekarang kembalilah, hidupmu masih harus berlanjut. Kapan-kapan aku temui lagi lewat mimpi.”

            Lisa bangkit berdiri, melambaikan tangannya dengan senyum hangat. Kali itu, Novita sudah tidak berat hati ditinggalkan oleh Lisa. Novita bisa melihat Lisa tidak harus menahan sakitnya lagi. Dia dapat melihat Lisa sudah banyak tersenyum dan tidak menahan ekpresinya. Rasanya lega melihat Lisa bahagia, untuk itu dia pun tidak boleh menyia-nyiakan hidupnya.

            Tepat sehari semalam, Novita bangun dari komanya. Matanya terbuka perlahan-lahan. Pandangannya diawal masih buram, wajar saja efek baru bangun dari koma. Dia sayup-sayup mendengar, lantunan al-qur’an dari sekelilingnya. Dia juga merasakan ada yang mengenggam tangannya. Dia melirik ke orang yang mengenggam tangannya, ternyata itu Helen.

            “Mei, akhirnya kamu bangun. Maafin Kakak,” ucap Helen tulus, meneteskan air matanya. Novita mengeleng, tatapannya teduh menatap Helen.

            “Tidak apa-apa, Kak.”

            “Alhamdulillah, Novita sudah bangun,” ucap beberapa anggota Golden Tree serentak.

            Ibu Novita juga langsung mendekati anak bungsunya itu dan mencium kening anaknya, “Hebat anak Mama.”

            Perasaan semua orang yang ada di sana lega. Setidaknya Novita sudah sadar, meskipun kondisi tubuhnya butuh waktu untuk pulih. Kecelakaan itu juga menyebabkan kaki sebelah kanan Novita tidak berfungsi dengan baik. Novita juga menyadari itu dan menerima semua kondisi dengan ikhlas. Ibunya juga menjelaskan bahwa nanti dirinya bisa memasang pen di kaki. Jadi semoga dengan itu Novita bisa berjalan lagi. Untuk sementara ini mungkin dia akan memakai kursi roda ataupun tongkat bila nanti sudah keluar dari rumah sakit.

            “Nov, Bos ganteng kamu datang tuh.” Tasya mengabari Novita saat dirinya baru selesai minum obat yang dibantu oleh Helen. “Apalagi Nov, sikatlah.” Ucapan Tasya membuat Novita tertawa, ada-ada saja anak itu. Lagi pula memang tidak ada rasa dengan Suho.

            “Bukan tipe gue itu, yang begitu mah kalau gak tipe Anel ya tipe lo.” Tasya tertawa mendengar itu. Siapa sih yang mau menolak orang ganteng?

            “Saya terharu mendengarnya masih ada orang yang menganggap saya bukan tipenya,” ucap Suho saat sudah masuk ke ruangan Novita. Novita ingin bangkit dari tidurnya, tetapi sepertinya dia lupa jika dia masih sakit. “Sudah kamu rebahan saja, orang sakit juga tidak bisa banyak diajak mengobrolkan.”

            Helen sedikit mengatur tempat tidur Novita agar kepalanya agak naik. Suho menyerahkan keranjang buah pada Helen. Seperti biasa Suho selalu bersama sekretarisnya Caitlyn. Mendengar kabar Novita siuman dari Beby membuat Suho berinisiatif menjenguk karyawan termudanya itu. Novita sendiri malah berpikir Suho akan menanyai seputar pekerjaan.

            “Soal project kita gak usah kamu terlalu pikirkan, yang penting kamu pulih dulu ya. Tapi saya sudah melihat draft yang kamu kirimkan beberapa waktu yang lalu dan saya setuju dengan konsepnya.”

            “Thanks Pak, eh … maksud saya Kak.”

            “Nah Kakak aja, soalnya kalau dipanggil Bapak itu sebenarnya saya gak suka, ya tapi apa boleh buat, namanya juga tuntutan pekerjaan. Manggil nama aja juga gak apa apa kok, kan biar jadi bestie. Kayaknya enak masuk circle Golden Tree.” Suho tampak tersenyum kecil karena itu.

            “Boleh banget.” Tasya tampak semangat mengucapkan kalimat barusan, sontak dia mendapat tatapan sinis dari Gilang.

            “Mentang-mentang ganteng sikit, angku terus ya. Slot Golden Tree gak ada bukaan baru kali.”

            “Bercanda kali Tasya Gil, sensi amat lo,” ucap Daisha dengan mulut yang tidak henti-henti mengunyah makanan. Padahal seharusnya makanannya untuk orang yang sakit.

            “Guys, Anel VC nih,” seru Beby. Pria itu juga sudah menyambungkan laptopnya ke proyektor agar terlihat besar. Teman-teman Novita juga segera sibuk mengatur posisi dekat dengan ranjang Novita, mengabaikan Suho yang masih bertamu.

            Suho dan Caitlyn malah merasa enjoy melihat tingkah mereka. Hidup mereka terasa lebih menyenangkan ketimbang hidup yang Suho jalani. Meskipun setiap orang memiliki titik berat pada hidupnya masing-masing. Suho juga merasa orang-orang yang sekarang berada satu ruangan dengannya adalah orang-orang yang bisa menyebarkan energi positif pada orang lain. Untuk pertama kalinya Suho melihat sosok Anel meski hanya melalui layar dan bahkan tidak ada pembicaraan di antara mereka, dan untuk pertama kalinya Suho merasa tertarik dengan seorang wanita.

***

            Malam harinya Novita ditemani English department geng, yaitu: Daisha, Queen, dan Juki. Para anggota Golden Tree sudah pulang dan mereka akan datang kembali besok. Ibu Novita dan Helen pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan serta menjemput Leo. Daisha, Queen dan Juki terlihat asyik bermain Uno, sedangkan Novita hanya menyaksikan ketiganya bermain karena untuk ikutan pun tidak bisa, diakibatkan tangannya yang masih lemah untuk memegang sesuatu dalam jangka waktu yang lama.

            Saat itu masih pukul tujuh malam, ada ketukan pintu dari luar ruangan, “Juki itu kayaknya Mama Novi, bukain gih!” pinta Daisha pada temannya itu.

            Juki beranjak untuk membuka pintu, “Kirain Mama Novita, ternyata lo.” Juki mendapati sosok Joan di sana.

            “Ngapain lo di sini?”

            “Jagain Novita,” jawab Juki jujur.

            “Halah jagain apanya, mau modus kan lo,” tuduh Joan padanya.

            “Shttt,” Daisha memberi isyarat pada Joan untuk diam.

            “Ini rumah sakit, bukan ajang buat cari ribut.” Queen menambahi dengan tatapan agak sinis kepada Joan.

            Juki padahal tidak mencari ribut. Juki mempesilahkan Joan masuk tanpa dendam sama sekali. Juki sendiri sudah tahu Joan orang yang seperti apa, jadi tidak perlu berdebat jauh dengan pria itu, yang ada tidak aka nada selesainya. Joan tampak meletakkan keranjang buah di nakas, sementara English department geng kembali bermain Uno.

            “Apa kabar Novi?” tanya Joan kepada Novita.

            “Setidaknya sudah sadar dan jauh lebih baik.”

            “Syukur deh,” ucap Joan lega.

            “Gue harap lo ke sini gak ada maksud apa-apa ya. Ya kita masih bisa berteman kok. Gue juga udah maafin lo. Tapi gue harap lo gak berharap lebih.”

            “Iya gue ngerti, gue cuma mau jenguk kok.”

            Benar saja beberapa menit kemudian Joan pamitan. Bahkan Rina menjemput pria itu sampai ke rumah sakit. Rina juga sempat melihat Novita sebentar, ikut meminta maaf dan mengaku bersalah atas gosip tentang Novita waktu itu. Novita pun sudah melupakannya. Novita berharap Rina bisa menjadi pribadi lebih baik lagi dan Joan bisa melupakannya. Novita ingin memulai semuanya dari awal.

***


25. Hari Dimana Kamu Diakui

0 0

Hari ini adalah hari yang tidak pernah Novita bayangkan. Hari di mana dia diwisuda. Novita pikir dia tidak akan menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Novita merasa cukup puas denga napa yang sudah dia usahakan untuk pendidikannya sehingga dia dapat diwisuda. Nilainya pun cukup memuaskan. Dia juga senang atas Daisha yang lulus dengan gelar camlaude. Novita tidak merasa iri sama sekali, Daisha dan Lisa memang tidak jauh berbeda soal kecerdasan otak. Kedua saudara kembar itu memang pintar di bidangnya masing-masing.

“Juk, lo jongkok ya Juk!” pinta Arez pada Juki yang merupakan salah satu anggota Golden Tree.

Arez memotret Daisha, Queen, Novita dan Juki dengan fokus dan mencoba mencari angle paling bagus. Arez tidak hanya memotret sekali, tetapi dia memotret keempat temannya itu sampai lima kali. Niatnya nanti biar teman-temannya saja yang memilih mana foto yang paling bagus. Selesai memotret keempatnya, kini gilirin sesi foto anggota Golden Tree bersama Novita dan Daisha yang sedang memakai toga saat itu. Semuanya berbaris rapi dan menempatkan diri di posisi yang telah ditentukan. Giliran Queen dan Juki yang tidak ikut dalam sesi foto itu. Juki berusaha memotret mereka sebaik mungkin, sampai dia benar-benar tidak peduli posenya saat megambil foto yang terlihat absurd. Orang-orang yang difoto terlihat kompak tersenyum, bahkan Beby yang biasanya jarang tersenyum.

“Kuy guys ice cream party!” ajak Yazid kepada semuanya.

“Kuy,” seru mereka serentak.

“Dimana Zid partynya?” tanya Dhiba polos.

“Ya dimana lagi, Fastco camponylah.”

Semuanya sontak tertawa, melihat wajah polos Dhiba yang kecewa. Lagi pula mau di mana lagi, kalau ada basecamp sendiri ya mending di basecamp sendiri. Selain gratis, juga mereka bisa lebih nyaman mau nagpain aja karena di basecamp sendiri. Tahu sendiri tingkahnya pada seperti reog, kalau di tempat lain yang ada di usir.

Bersama-sama mereka menuju Fastco Company. Baru-baru ini juga Fastco Company membuka cabang baru yaitu Fastco Factory. Jadi mereka memperluas gedung mereka, yang tadinya usaha mereka hanya berupa restoran kini ada Fastco Factory juga. Fastco Factory menghasilkan produk-produk snack maupun minuman kemasan, jadi semacam ada pabrik kecil di sebelah Fastco Restaurant. Produk-produk yang sudah tersedia di Fastco Factory yaitu: cokelat, biskuit, es krim, mie instant, dan minuman teh dan kopi dalam botol kemasan.

Baru saja dibuka sebulan yang lalu, produk-produk tersebut sudah meluas di kalangan masyarakat. Best seller dari produk Fastco Factory sendiri adalah cokelat dan es krimnya. Antrian pembeli saat ingin membeli produk-produk tersebut begitu panjang. Untuk sekarang, bahkan jika pelanggan ingin membeli cokelat dan es krim harus mengikuti PO terlebih dahulu. Gilang dan Dicky pun merasa bangga atas pencapaian itu. Ternyata ada gunanya juga mereka belajar bisnis dan terjun langsung di perusahaan bersama.

Biasanya saat para Trees—sebutan untuk para penggemar Golden Tree melihat kehadiran anggota Golden Tree, mereka kerap kali melupakan Novita sebagai bagian dari Golden Tree. Namun kini, baru saja Novita turun dari mobil sudah banyak Trees yang menunggu untuk menandatangani postcard karakter game mereka. Novita merasa masih belum terbiasa menangani situasi itu, jadi dia dibantu oleh teman-teman lainnya.

“Oke baris dulu yuk, yang mau foto sama tanda tangan Novi! Nanti dipanggil satu-satu.” Arez mengarahkan para Trees untuk berbaris rapi di depan mini tenda yang telah disediakan untuk Novita melayani para penggemarnya.

Para penggemar itu berasal dari orang-orang yang memainkan game yang dirancang Novita. Projectnya kali itu bersama Suho berhasil. Novita berhasil merancang game yang tidak hanya untuk hiburan tetapi ada pelajaran di dalamnya. Semua karakter yang ada pada game memiliki ciri khas unik dengan masih mempertahankan budaya Indonesia. Setelah melihat peluang ini, Novita jadi tertarik untuk mempelajari coding dan programming. Jadi kedepannya dia tidak hanya bisa merancang game, tetapi juga bisa membuatnya sendiri.

            “Terima kasih, kak Novita.”

            “Sama-sama,” ucap Novita dengan senyum tulus.

            “Nov mending lo buruan masuk deh, sebelum ada lagi fans lo, yang ad akita gak jadi es krim party!” pinta Gilang kepada Novita.

            “Iya …iya, makasih ya udah jadi bodyguard gue hari ini semuanya,” canda Novita. Sontak Novita mendapat sorakan dari semua temannya.

            Mereka segera naik ke lantai tiga untuk melakukan rencana pesta es krim mereka tadi. Suasana yang cerah sangat mendukung mereka untuk pesta es krim. Mereka mengadakan pesta di rooftop dengan angin sepoi-sepoi yang membelai tubuh. Mereka juga mengingat masa kecil mereka dengan memainkan beberapa permainan masa kecil. Tim cowok sibuk bermain gundu, sedangkan tim cewek sibuk bermain congklak. Memang terkadang kelakuan mereka sungguh random.

            “Gue tebak abis ini pasti Tasya nikah.” Lihat saja di waktu istirahat mereka, mereka malah main tebak-tebakan soal siapa yang menikah duluan.”

            “Enak aja lo Lang, bukannya lo yang bakal duluan.”

            “Gue mau aja sih duluan, tapikan calon pasangan gue mau kejar impian dulu.”

            “Aduh siapa tuh? Kode banget.” Mata semua orang tertuju pada Ara.

            “Lah kok aku,” ucap Ara malu-malu dengan pipi merona.

            “Yuadah biar jadi kita doain aja deh guys, semoga Gilang dan Ara berjodoh.” Daisha semakin meledek keduanya.

            “Aamiin,” ucap semua orang kecuali Ara dan Gilang yang lagi salting.

            “Eh tapia da benarnya lho Tasya mungkin yang nikah duluan.” Anel berpendapat lewat video call yang sedang berlangsung.

            “Woy itu sih namanya puncak komedi.”

            “Aminkan yuk gaes,” seru Desi kali itu.

            “Aamiin,” ucap mereka semua kompak.

            Bahagia itu kadang sesederhana obrolan random bersama sahabat. Novita tidak menyangka dia aka nada di fase di mana dia bisa jadi begitu dekat dengan para anggota Golden Tree. Sekarang Novita sudah tidak canggung lagi, dan sekarang akhirnya orang-orang menyadarinya sebagai bagian dari sahabat-sahabatnya itu. Awan mendung kini telah berganti dengan pelangi yang membentang. Novita ingin terus hidup seperti ini, hidup bersama orang-orang yang selalu mendukungnya.

            “Novi, ada yang gue mau bicarain sama lo?” Novita yang sedang menyirami bunga forget me not-nya langsung menoleh kepada seseseorang yang mengajaknya bicara.

            “Iya, ada apa Juki?”

            “Kira-kira kapan kamu siap dilamar?” tanya Juki tanpa keraguan. Tentu hal itu membuat Novita terkejut sekaligus takut. Novita takut kalau harus menyakiti orang lain.

            “Juk, jujur gue terkejut sih. Tapi gue gak tahu kapan gue siap buat nikah, yang jelas bukan sekarang. Dan selama ini gue cuma anggap kamu sahabat, karena itu aku terkejut. Juk, gue gak mau nyakitin lo. Tetapi gue sekarang udah merasa bahagia banget denga napa yang gue punya sekarang. Gue rasa lo juga gak perlu nunggu gue, soalnya itu bukan hal yang pasti. Jangan tunggu gue ya. But kalau kita nanti jodoh pasti kita akan dipersatukan dengan cara terbaik. Maaf banget ya.”

            “Nov, jangan minta maaf. Bukan salah lo kalau gak punya perasaan ke gue, atau karena lo belum siap nikah. Gue menghargai keputusan lo. Tapi soal menunggu lo atau enggak itu juga jadi bagian dari pilihan gue. Gue gak perlu khawatir. Dan gue berharap lo bisa jadi seperti bunga forget me not.”

            “Soal bunga forget me not, lo benar. Sepertinya memang ada waktunya orang itu diakui sama kayak bunga forget me not ini. Makasih ya untuk semuanya.”

            “Nov, Ayo! Nanti kita kesorean ziarahnya.” Desi mengingatkan Novita untuk bersiap-siap. Novita mengangguk.

            “Juki, gue pamit ya.”

            “Iya, hati-hati.”

            Juki merasa senang melihat Novita senang walaupun dia ditolak. Definisi paling dalam untuk mencintai adalah mengikhlaskan. Lagipula jika Juki tidak terima dengan keputusan Novita, itu berarti dia telah dibutakan obsesi. Juki merasa lega setelah semuanya.

***

            “Lis, kami datang,” ucap Novita saat sudah berada di hadapan makam Lisa.

            Novita dan teman-teman lainnya membersihkan makam Lisa yang sebenarnya tidak begitu berserakan karena mereka rajin berkunjung. Tidak lupa mereka menabur bunga dan mendoakan Lisa dengan penuh penghayatan. Mereka-mereka ini juga merupaka gambaran orang yang telah mengikhlaskan dan menerima kehilangan. Tidak ada lagi tangisan meratapi, yang ada hanya ada tangis haru karena sampai detik itu pun, mereka masih bersama-sama.

            Novita sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menghadirkan Lisa dalam hidupnya. Berkat mengenal Lisa, Novita juga akhirnya dapat mengenal Allah. Novita juga akhirnya dapat menyebarkan tentang Islam dengan cara sendiri. Perjalanan hidup Novita sudah Allah atur begini, meskipun dia pada akhirnya harus kehilangan Lisa. Namun, Novita berjanji tidak akan berhenti mencintai gadis itu. Gadis yang membawa perubahan besar dalam hidupnya.

            “Guys, kalian duluan saja!” pinta Novita kepada yang lain selesai mereka berziarah.

            “Kenapa?” tanya Dhiba.

            “Aku nanti dijemput Kak Helen.”

            Mendengar ucapan terakhir Novita, teman-temannya tidak ada yang bertanya lagi. Mereka pun langsung menuju mobil dan berniat pulang ke rumah masing-masing. Terlihat juga mobil Helen sudah ada di parkiran saat Novita keluar dari pemakaman. Novita masuk ke dalam mobil Helen setelahnya.

            “How was your day?”

            “I am so happy today, how about you Sister?”

            “Of course, happy too. Kan kamu hari ini wisuda. Maaf ya tadi kakak gak bisa datang, cuma Mama dan Leo yang bisa datang.”

            “Gak apa-apa, kan lagian Kakak kerja.”

            “Senangnya punya adek pengertian. Btw, udah lama kita gak siblings time ya, kita beli bahan makanan dulu yuk!”

            “Setuju,” seru Novita semangat.

            Happy ending tidak harus selalu berakhir dengan peran utama yang bersatu dengan lawan jenis yang dia cintai bukan? Inilah happy ending versi Novita. Novita berakhir akur lagi dengan kakaknya, Helen juga sudah bisa menerima Novita sebagai mualaf. Hubungan Raihan dan Helen pun membaik sebagai orang tua Leo. Novita juga sangat bahagia karena dia masih bisa mengejar mimpinya bersama teman-teman yang lain. Toh jodoh sudah ada yang mengatur. Bukan karena Novita terlalu santai atau menyepelekan pernikahan. Namun, menikah juga bukan sebagai pelarian. Jadi Novita rasa dia harus benar-benar siap untuk itu.

                                                                        ***      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Epilog

            Tamat kuliah Novita resmi bekerja di Lee Company dengan jam kerja sama seperti karyawan lainnya. Sejauh ini juga Novita semakin mendalami programming dan dia akan membuat game versi cewek lagi tahun depan. Tidak ada yang berubah dari pertemanannya. Juga tidak ada yang berubah dari statusnya. Dia masih jomlo. Di antara para anggota Golden Tree, hanya dia dan Anel saja yang belum menikah. Namun kalau Anel, orang yang ingin melamarnya sudah ada, kalau Novita boro-boro ada, dia terlalu mencintai pekerjaannya.

            Semenjak bekerja dia tidak punya waktu untuk mengenal pria secara intens. Beberapa kali juga ditawari untuk ta’aruf dia menolaknya. Ada beberapa orang yang sempat menyatakan perasaannya kepada Novita, wanita berdarah China itu langsung menolak mereka. Novita memang tidak begitu tertarik soal percintaan. Mungkin bisa dibilang Novita yang paling anti romantis di antara anggota Golden Tree. Di pikirannya bahagia itu tidak harus menikah. Bahkan sekarang dia pun sudah bahagia. Dia terlalu takut berperan sebagai seorang istri dan ibu nantinya. Dia merasa dirinya belum bisa dan belum siap untuk menjadi seorang istri. Masih banyak hal yang harus dia perbaiki.

            “Novi,” tegur Anel. Sepertinya wanita itu ada urusan dengan Suho.

            “Eh hai, mau ngapain?” tanya Novita pada Anel.

            “Ada urusan sama Bos lo.” Novita mengangguk, tersenyum penuh arti.

            Suho sudah bisa menebak jika mood Suho satu harian ini akan berakhir baik. Pasalnya dia ditemui oleh orang yang dia suka. Namun, Anel ini sulit untuk peka dikarenakan dia juga masih bucin juga dengan calon tunangannya. Padahal kalau dipikir-pikir Novita akan senang jika Suho berakhir bersama Anel. Lagian si calon tunangan Anel juga tidak muncul-muncul.

            “Hei,” seseorang menegur Novita saat dirinya tengah menuju ruang salat. Orang itu adalah Juki.

            “Juki, apa kabar lo?”

            “Alhamdulillah baik, lo?”

            “Gue juga baiklah, kalau gak baik ngapain gue kerja.”

            “Iya juga. Btw lihat Anel gak?” Novita mengernyit, sedikit bingung.

            “Gue sekarang kerja sama Anel. Baru sebulan sih. Gue manajer, sekaligus translator dia. Lo kan tahu meski Anel bisa berbahasa Inggris tetap saja dia tidak semahir kita.”

            “Oh i see,” Novita melirik jam di tangannya. Dia sepertinya tidak bisa menunda lagi waktu salatnya. “Gue duluan ya, Juk.”

            “Tunggu Nov,” Juki menahan Novita sebentar. Juki juga sempat bingung ingin mengucapkan apa, yang keluar malah bukan yang seharusnya. “Kirim salam sama keluarga kamu ya.”

            “Sure,” Novita tersenyum lalu, meninggalkan Juki.

***


Mungkin saja kamu suka

Rida Septia
Beban
Yusriwiati Yose
Perjalanan
Dian AL~Ma'wa
Jejak Indigo
Muhammad fahrul
Antara Aku & Tuhan
CHINTIA GIANA
Rasa yang tak terungkap

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil