Loading
13

0

0

Genre : Inspirasi
Penulis : Habibah Syarifah
Bab : 8
Pembaca : 6
Nama : Habibah Syarifah
Buku : 3

Dua Belas Jari

Sinopsis

Ya, hidup terasa tidak adil bagi si miskin dan penderita cacat bawaaan lahir. Bagi orang-orang, uang dan kesempurnaan fisik adalah segalanya. Ketika mereka berbuat kesalahan, tak ada yang peduli. Namun, jika kami yang miskin dan tak sempurna ini berbuat salah, maka seperti tak ada ampun bagi mereka; harus makin ditindas sampai puas. "Salah sendiri miskin!" Begitu alasan mereka.
Tags :
#nulisdibukulaku #olimpiademenulis #kmoclub

Bab 1 Sepeda Tua dan Taman Kanak-Kanak

4 1

 

Ummah mengusap kedua bahuku lembut. Ia memandangku dengan senyuman paling manis. Membuatku ikut tersenyum sembari menatap manik matanya.

“Fudhla senang akhirnya bisa sekolah?” Aku mengangguk cepat. Rambutku yang sama pendeknya dengan telinga, ikut bergerak. Dadaku bergejolak, saking senangnya hendak berangkat ke sekolah.

Abah telah siap dengan kendaraan satu-satunya milik kami di pinggir lapangan panti. Ya, sepeda tua berwarna merah menyala. Aku pun mencium tangan Ummah. Lalu, berusaha naik sendiri ke tempat duduk di belakang Abah.

“Hati-hati di jalan, Sayang!” Ummah menyerukan hal itu pada Abah. Lalu, menatap mataku dengan cepat dan mengatakan, “Ingat pesan Ummah, ya? Kaki Fudhla jangan sampai menyentuh jeruji sepeda. Dilebarkan, ya, Nak.”

“Iya, Ummah,” jawabku, setelah mengangguk pelan. Pesan itu memang selalu diucapkan oleh ibuku setiap kali hendak menaiki sepeda. Hal paling menakutkan memang kalau kaki sampai terjepit di sana.

“Fudhla sudah siap?” tanya Abah. Aku pun memegang erat kedua pinggang ayahku, melebarkan kaki, lalu berujar, “Sudah, Bah.”

“Jangan lupa berdoa!”

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim. Subhanalladzi, sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinina wa inna ila rabbina lamungqolibun.

Tak lama, Abah mengayuh sepeda tua kami, keluar dari gerbang kecil panti. Ya, kami memang tinggal di panti asuhan khusus anak yatim. Abah dan Ummah menjadi pengasuh yang diutus oleh pesantrennya dahulu. Abah pernah bercerita bahwa empat tahun lalu, satu bulan setelah aku lahir, kami pindah ke tempat ini dari Pulau Sulawesi ke Pulau Jawa.

Aku sangat menikmati embusan angin pagi yang menerpa wajahku dan perjalanannya. Ya, mata ini tak henti menatap pemandangan di kanan, kiri, depan, dan belakang. Sejak keluar dari gerbang, berbelok ke barat menyusuri gang kecil, belok kiri ke arah selatan, keluar ke jalan lumayan besar, bersambung lagi di jalan kecil dengan polisi tidur berdekatan, hingga sampai di mulut gang yang mempertemukan kami dengan jalan utama.

Hal paling menarik di mataku sepanjang perjalanan tadi adalah ayam kalkun yang dipelihara salah seorang warga di perkampungan. Abah yang menunjukkannya padaku ketika hewan tersebut sedang mengembangkan ekor dan bulu-bulunya di dalam kandang yang lebar. Ah, menyenangkan sekali bisa melihatnya.

“Untuk seterusnya, apa kita akan lewat sini terus, Abah?” tanyaku, kemudian. Ya, berharap setiap hari dapat memperhatikan hewan unik tersebut.

“Tentu,” jawab Abah yang masih mengayuh sepeda dengan kecepatan normal. Meski tak tampak ekspresi wajahnya, aku bisa merasakan nada bicara yang ramah dari lisannya. “Kenapa? Fudhla suka, ya, lihat ayam kalkun?”

“Iya, Bah. Suka sekali.”

Saat tiba di mulut gang hendak menyeberang, mulai tampak anak-anak sebaya mengenakan seragam merah putih. Tidak satu pun terlihat memakai kemeja putih dibalut rompi motif kotak kecil berwarna campuran hijau muda dan tua, seperti seragamku. Padahal, kata Abah, “Sebentar lagi kita sampai, Nak.”

Bukankah biasanya, jika hampir mendekati sekolah, akan terlihat banyak anak yang sama seragamnya denganku? Mengapa ini sama sekali tak terlihat? Aku hanya mengerutkan dahi dan tetap memandang sekitar.

Tak lama, kami pun tiba di sebuah sekolah yang penuh warna. Itu pasti sekolahku. Namun, keadaannya masih sangat sepi. Abah dengan gagah masuk hingga berhenti di lapangan berhiaskan batako segi enam.

“Yuk, sudah sampai.”

Aku pun turun dengan hati-hati. Kemudian berdiri terpaku di samping Abah yang sedang memarkirkan sepeda. Abah lalu berjongkok dan memegang kedua pundakku.

“Fudhla, ini hari pertamamu sekolah. Abah dan Ummah tidak ingin membiasakanmu ditunggui. Kamu bisa, ‘kan, ditinggal di sini?” Aku tersenyum dan mengangguk, menanggapi perkataan ayahku tersayang. Sempat merasa heran, mengapa mereka mengatakan itu? Bukankah memang anak sekolah tidak perlu ditunggu orang tuanya?

“Nanti Abah akan jemput pukul sepuluh. Fudhla tunggu di dalam, ya? Jangan di luar gerbang,” ucapnya lagi. Setelah berpamitan pada guru perempuan yang sudah berada di depan kelas, Abah akhirnya pulang.

Setelah menaruh tas di dalam kelas, aku keluar dan mencoba permainan pertama yang seru. Ya, perosotan kayu. Ada tangga tinggi untuk menaikinya dari belakang. Mumpung masih sepi, aku bermain sendiri. Kalau sudah ramai nanti, pasti sulit menikmati.

Sayangnya, tak lama kemudian, satu per satu anak yang sebaya denganku datang. Dadaku berdebar kencang. Nyali seketika ciut dan heran.

Ya, sebagian besar dari mereka datang diantar menggunakan sepeda motor. Beberapa di antaranya menggunakan mobil. Sedikit yang diantar menggunakan sepeda sepertiku.

Penampilan mereka juga tidak sama. Anak-anak perempuan, ada yang rambutnya tergerai panjang, ada pula yang dikepang dengan karet warna-warni. Tidak sepertiku yang hanya memiliki rambut pendek model mangkuk.

Sebenarnya, bukan itu semua yang membuatku gemetar. Namun, yang membuatku makin merasa takut … mereka memandangku tajam!

***

Sejak sekolah mulai ramai, aku berhenti bermain di perosotan kayu. Lalu, memilih berdiri di depan kelas nol kecil, kelasku.

Aku makin heran dengan keadaan sekitar. Banyak orang dewasa yang datang, tetapi tidak pulang. Mereka duduk di bangku panjang yang disediakan di pinggir koridor dekat jendela kelas. Beberapa dari mereka menyuapi putra-putrinya.

Hal yang membuatku lebih heran lagi ketika para orang dewasa memperhatikan kedua tanganku. Begitu pula yang dilakukan dengan teman sebaya. Bahkan, ada di antara mereka yang takut, bergidik, dan menunjukkan ekspresi jijik.

Saking banyaknya yang memperhatikan, aku menunduk. Lalu, secara diam-diam menyembunyikan keanehan yang aku miliki. Untung saja, kemeja putih yang aku kenakan ini berlengan panjang. Sehingga, aman dan bisa dipakai menyembunyikan kedua jari tak bersalah milikku.

Kalian tahu? Aku yang tadinya begitu percaya diri, berubah malu dan takut. Apalagi saat menyadari bahwa takada satu pun teman yang mendekat dan ingin berkenalan denganku. Mereka memilih teman-teman yang terlihat sempurna.

Aku teringat pesan Ummah semalam sebelum tidur, “Fudhla, nanti di sekolah, kamu harus berani berkenalan, ya? Jangan menunggu orang mendekat kalau ingin punya teman. Fudhla yang harus mau memulai. Bisa, ‘kan?”

Saat itu, aku pun menjawab dengan percaya diri, “Bisa dong, Ummah. Fudhla ‘kan anak pemberani dan salihah.”

Maka, setelah meneguhkan hati mengingat itu, aku mencoba untuk mendekati salah satu teman yang aku rasa bisa menjadi teman pertama. Cara yang aku gunakan adalah ikut bermain di perosotan tadi, yang kini dipakai bermain olehnya dan teman-teman lain. Sayangnya, belum sampai di perosotan, seseorang telah menabrakku. Anak laki-laki.

Kami berdua terjatuh. Namun, ia segera bangkit setelah melihat sesuatu yang aneh menyembul dari ujung lengan bajuku. Bahkan, anak laki-laki itu berteriak histeris, “Hi! Apa itu? Bunda! Bunda! Tolong! Hi!”

Lantas, seluruh anak-anak di perosotan kayu memandang ke arahku. Bahkan, para orang dewasa juga ikut melihat. Takada satu pun yang membantuku bangkit. Mereka hanya membiarkan serta menatap dengan tatapan aneh dan jijik.

Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan jariku? Aku terus melontarkan pertanyaan itu dalam hati. Takada kekuatanku untuk mengeluarkan suara, menanyakan langsung pada mereka. Entah di mana rasa percaya diri yang aku bawa dari panti tadi?

“Abah, Ummah!” Aku hanya dapat memanggil mereka dalam hati. Makin lara terasa saat menyadari, hanya aku yang tak ditunggui. Ke mana tempat bertanya? Siapa yang mau mendengarku bersuara?

Maka, hari itu menjadi awal dari perubahan hidupku. Ya, tentang sepeda tua, seragam kotak hijau, dan taman kanak-kanak yang tampak mengerikan. Sesak dadaku takada yang tahu. Aku menahannya sendirian hingga bel masuk berbunyi.

user

06 December 2021 23:19 Ismi Nuri Ya Allah, merinding aku bacanya.

Bab 2 Obat Penawar Kelabu

4 0

Hari itu, aku tak banyak bersuara. Hanya mampu terdiam di sudut ruangan tanpa teman yang mau duduk di kanan, kiri, dan depanku. Ya, meja kami didesain per kelompok. Satu kelompok meja berisi empat sampai enam anak, duduk melingkar.

Berulang kali guru kelas nol kecil ini membujuk teman-teman. Namun, hasilnya nihil. Saat aku diminta pindah ke meja lain, takada yang bersedia. Ada yang bahkan menangis ketika aku baru mendekat.

“Tangannya menakutkan, Ustazah! Makanya, pada enggak mau duduk bareng dia.” Seorang gadis yang sebaya denganku tiba-tiba berkata begitu. Aku melirik sesaat. Gadis berkulit cokelat, bermata sipit, dan berambut pendek di kelompok meja depan yang tadi bersuara pun membalas tatapanku. Aku pun segera menunduk.

“Wiwin! Enggak boleh begitu!” Ustazah membela. Namun, percakapan hanya berhenti sampai di sana. Aku dibiarkan duduk sendiri. Takada lagi solusi selain itu. Selanjutnya, Ustazah Ani mengalihkan pembicaraan. Saatnya perkenalan.

Hingga tiba giliranku yang terakhir. Ustazah mempersilakanku maju. Sayangnya, takada satu pun yang mau memperhatikan keberadaanku. Meski begitu, Ustazah Ani tetap memintaku menyebutkan nama. Ia mengangguk tanda agar aku segera melakukannya meski terbata-bata.

“A-Assalamualaikum. Hai, teman-teman … perkenalkan. Namaku … Ummu Fudhla. Aku biasa dipanggil Fudh-”

“Ustazah! Hari ini kita mau belajar apa?” Wiwin menyela. Mataku tiba-tiba berair. Perkataannya menunjukkan seakan-akan aku takada. Lagi-lagi, aku menunduk. Terus menunduk makin dalam.

“Wiwin! Temanmu sedang berbicara. Hargai, ya.” Ustazah Ani kembali membela. Sayangnya, aku tak berminat lagi untuk melanjutkan.

“Sudah, Ustazah. Aku sudah selesai,” ujarku seraya kembali ke tempat duduk.

“Baik. Tepuk tangan yuk untuk Ummu.”

Hening. Takada yang mau mengikuti perintah. Hanya Ustazah Ani yang bertepuk tangan sendirian. Aku pun kecewa dengan panggilan yang diberikannya padaku. Kalimat itulah yang menjadi awal mula nama “Fudhla” tidak pernah bersinar dan tersiar. Semua berubah. Tidak sesuai dengan harapanku dulu.

***

Ketika teman-teman lain bermain di jam istirahat, yang aku lakukan hanya berdiri di depan kelas. Ya, memandangi mereka. Aku sudah mencoba bergabung di wahana bangku berputar. Sayangnya, mereka mendorong dan melarangku ikut.

Begitu pula yang terjadi di taman bermain. Wahana ayunan, komedi putar, jungkat-jungkit, tidak ada yang bisa aku coba. Bahkan, permainan memanjat jaring yang paling aku suka, tak bisa. Jadilah, hal yang aku lakukan hanya berdiri memandangi mereka yang bersuka cita menikmati indahnya masa kecil.

“Ummu tidak jajan?” Suara Ustazah Ani mengejutkanku. Aku menggeleng. Aku pun tidak tahu jika di sekolah ada kegiatan jajan. Kupikir hanya belajar dan bermain.

“Ummu tidak bermain?” tanyanya lagi. Aku kembali menggeleng. Bukan tidak mungkin Ustazah Ani melihat peristiwa yang aku alami.

Setelahnya, Ustazah Ani pergi. Beberapa saat kemudian, kembali dengan membawa tiga buah bungkusan kecil bermotif bola. Aku mengerutkan dahi saat Ustazah Ani menyodorkan tangannya beserta bungkusan itu.

“Ini buat Ummu,” ujarnya seraya tersenyum. Aku bimbang. Tak memegang uang. Abah dan Ummah pun sering berpesan, “Jangan menerima pemberian orang lain yang baru dikenal, ya. Apalagi memberi permen atau cokelat.”

“Tenang saja. Ini cokelat. Ustazah juga bukan orang jahat. Jadi, Ummu bisa mencobanya,” sahut Ustazah Ani seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

Akhirnya, aku menerima pemberian itu dengan ragu-ragu. Lalu, mulai membuka bungkusnya saat Ustazah Ani meninggalkanku. Ternyata, bungkusan itu berisi biskuit berbalut cokelat yang berbentuk bulat. Meleleh ketika dimasukkan ke mulut. Enak sekali.

“Hi! Miskin! Kamu enggak dikasih uang jajan, ya, sama ibumu?” Suara familiar itu terdengar saat aku sedang menikmati enaknya jajanan cokelat itu. Aku membuka mata dan menemukan Wiwin berada tepat di sampingku.

“Kamu mencuri, ya, dari kantin?” tuduhnya. Ia lalu merampas dua bungkusan yang diberi Ustazah Ani tadi. Aku tak bisa berbuat apa pun. Apalagi ketika ia pergi menuju ruangan yang baru kutahu merupakan tempat para ustazah berjualan.

Aku mendengar dari jauh saat Wiwin berkata, “Ustazah, Ummu mencuri dua cokelat ini.” Aku hanya mampu menunduk sangat dalam. Ya, kebiasaan yang tak bisa dilepaskan saat menghadapi hal-hal tersulit hari itu.

Air mataku mengalir tanpa suara. Aku mengusapnya dengan tangan kanan. Hampir sesenggukan. Namun, aku menahannya.

Aku berhenti menangis ketika guru penjual jajanan itu mendatangiku. Ia menanyakan hal yang sama. Namun, dengan bahasa yang lebih halus dan lembut, “Apa benar tadi kamu mengambil dua cokelat ini, Nak?” Aku menggeleng jujur.

“Bohong!” Wiwin berteriak. “Dia pasti mencuri, Ustazah! Kata Mamah, orang miskin itu suka mencuri karena pengin jajan, tapi enggak punya uang.”

Aku hanya mampu memanggil Abah dan Ummah dalam hati saat menghadapi situasi genting itu. Namun, tiba-tiba berkelebat perkataan Abah, “Hanya Allah yang bisa menolongmu, Nak. Abah dan Ummah tidak bisa selalu bersamamu.” Untung saja, mereka memang sering memperkenalkanku tentang Allah, Tuhan yang menciptakanku dan manusia lain.

Aku pun memejamkan mata. Kemudian, berbisik dalam hati, “Ya, Allah, tolong aku.” Tak lama, Ustazah Ani datang setengah berlari dari arah kantor guru yang tak jauh dari tempatku berdiri.

“Ustazah Labibah, ini tadi saya yang memberi ke Ummu. Kasihan dia tidak punya uang jajan, tidak bisa jajan seperti anak yang lain.” Meski berbisik, aku dapat mendengar yang diucapkan Ustazah Ani kepada penjaga kantin tadi. Pada saat yang sama, Wiwin perlahan bergerak mundur dan lari. Wajahnya menunjukkan ekspresi takut dimarahi.

***

Bel pulang pun berbunyi. Seluruh anak-anak di sekolah ini menggendong tasnya di pundak. Beberapa dari mereka berlarian menghampiri orang tuanya di depan kelas. Ya, sebagian besar temanku memang ditunggui. Tidak sepertiku.

Lingkungan sekolah pun menjadi sepi dalam sekejap. Hampir seluruhnya sudah pulang. Hanya bersisa aku sendirian.

Sambil menunggu Abah datang, aku menggunakan kesempatan itu untuk mencoba berbagai wahana di taman bermain. Betapa menyenangkan bisa merasakan naik ayunan yang memacu adrenalin saat terayun ke depan dan belakang. Jika orang-orang memainkan permainan ini dengan cara didorong oleh teman lain, maka tidak denganku. Ya, aku berinisiatif mundur dan berjinjit ke belakang dengan jarak yang jauh, baru duduk dan menghempaskan tubuh beserta ayunan ke depan.

Hanya dengan cara itu, aku menghibur diri yang sedih karena pengalaman buruk hari pertama di sekolah. Begitu pula caraku tidak iri dengan orang lain yang ditunggui orang tuanya dan bisa pulang cepat. Ya, menaiki ayunan, menyatu dengan langit, menghilangkan segenap kelabu yang terus menghantui.

Hingga bel sepeda berbunyi. Aku tahu ciri khas dari bunyi bel itu. Siapa lagi kalau bukan Abah dengan sepeda tuanya yang berwarna merah menyala?

“Fudhla, ayo pulang!” panggil Abah, lembut.

Aku pun menghentikan laju ayunan. Lalu, segera turun, mengambil tas yang aku taruh di depan kelas, dan menghampiri Abah. Aku menoleh ke belakang sesaat ketika telah sampai di depan gerbang. Ya, sekolahku sudah sepi. Sebagian besar ustazah pun telah pulang dari tadi.

“Maafkan Abah, ya, Nak, karena jemput terlambat.” Aku mengangguk. Takada alasanku untuk marah. Lagi pula, ada manfaatnya dijemput saat seperti ini. Ya, bisa merasakan serunya wahana di taman bermain sebagai obat penawar hariku yang kelabu.

Bab 3 Panti Asuhan

2 0

Abah mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh di bawah terik mentari. Aku menyipitkan mata dan memegang pinggangnya erat sekali. Embusan angin sesekali menerpa wajah dan mengibaskan rambutku yang pendek ini.

Saat telah tiba di dalam gang kecil yang sama dengan tadi pagi, Abah bertanya, “Bagaimana sekolahmu tadi, Nak Fudhla?”

Ah, apakah Abah khawatir dengan yang terjadi padaku? Aku bimbang antara menceritakannya atau tidak. Tak ingin membuatnya makin khawatir atau merasa kasihan dengan putri kecilnya ini.

Aku menggigit bibir bagian bawah sembari mengenang yang tadi terjadi di sekolah. Hari itu benar-benar menyadarkanku tentang kekurangan yang ada dalam diri. Terutama, perihal jari tidak normal, lebih dari sepuluh.

“Fudhla?” Abah kembali memanggil. Mungkin heran karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Iya, Bah,” jawabku.

“Adakah hal buruk yang terjadi tadi, Nak?” ujarnya lagi saat keadaan perkampungan yang dilewati sangat sepi. Ayam kalkun yang aku lihat tadi pagi pun tidak tampak di kandangnya saat kami lewat sana. Mungkin sedang merunduk atau tertidur.

“Fudhla senang sekali bisa bersekolah hari ini, Bah.” Hanya kalimat itu yang mampu aku ucapkan. Tidak sepenuhnya berbohong karena saat berangkat dan pulang, ada kebahagiaan yang aku rasakan.

“Alhamdulillah. Semangat, ya, Nak. Semoga kamu betah dan selalu senang berada di sana.”

Aku tersenyum getir. Abah tak melihat bayangan masa depan yang gelap di kepalaku. Terasa tidak mungkin terjadi perkataan ayahku itu. Kecuali, aku selalu berpura-pura ketika pulang ke rumah.

Bukan sekolah yang membuatku tidak betah. Namun, keberadaan teman-teman yang menganggapku tiada, yang membuatku merasa paling menyedihkan. Aku tak bisa membayangkan jika guru-guru di sana berbuat hal yang sama.

***

Kami akhirnya tiba di tempat tinggal tercinta. Ya, seperti yang pernah aku bilang, kami tinggal di panti asuhan di Kelurahan Klego, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Sebelumnya, berdasarkan cerita Abah dan Ummah, kami sempat tinggal di pesantren di Jalan Surabaya, Kelurahan Sugihwaras, masih di kecamatan dan kota yang sama. Namun, ingatan itu tak begitu jelas sebab usiaku masih belia. Ingatanku sadar sepenuhnya ketika sudah tinggal di sini, panti asuhan.

Panti asuhan ini cukup luas. Sebenarnya, ada dua gedung, yakni untuk putra di depan dan putri di belakang. Abah dan Ummah mengurus keduanya, tetapi tinggal di gedung putra.

Panti asuhan untuk putra ini berlantai dua. Bentuknya leter O. Pada bagian selatan, terdapat ruangan khusus para pengasuh yang hanya berlantai satu. Setiap pengasuh mendapat tempat satu ruangan. Setiap ruangan tersebut lumayan besar. Ada dua kamar yang disekat tripleks, ruang tengah, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Di tempat seperti itulah aku tinggal.

Adapun asrama putra berada di lantai satu sisi utara dan barat. Masjidnya berada di lantai dua bagian barat. Pada bagian lain di lantai dua, dijadikan sebagai ruang belajar anak-anak. Sedangkan bagian timur merupakan aula, ruang tamu panti, dan kantor pengurus. Nah, di tengah-tengahnya terdapat lapangan luas yang biasa digunakan kakak-kakak santri bermain basket, sepak bola, atau sepak takraw.

“Fudhla, sudah pulang? Bagaimana sekolahmu hari ini?” Ummah menanyakan hal yang sama saat aku mencium tangannya.

“Alhamdulillah, Ummah,” jawabku.

Aku melirik Abah yang melepaskan baju kemeja dan menggantungnya di paku yang tertempel di ruangg tengah. Sedangkan Ummah masih menatapku dengan tatapan yang dalam. Aku tahu itu saat mengalihkan pandangan dari menatap Abah menuju Ummah.

“Kenapa, Mah?” tanyaku, tak nyaman dipandangi seperti itu. Begitukah naluri seorang ibu?

“Fudhla yakin tadi tidak ada yang terjadi di sekolah?” Aku menghela napas. Lalu, menatap dahi Ummah yang berkerut dan berkeringat. Kemudian, tiba-tiba tanganku refleks memeluk pinggang ibuku yang tengah berdiri.

Napasku naik turun. Tanpa berbicara, aku pun terisak-isak. Sulit memang rasanya menyembunyikan kesedihan dan kesenduan dari ibu sendiri. Saat sedang meluapkan tangis, aku menyadari kehadiran Abah yang baru saja selesai berwudu dari kamar mandi.

“Fudhla kenapa, Ros?” Abah bertanya pada Ummah dengan panggilan khasnya. Ya, Rosalina adalah nama ibuku. Sedangkan ‘Ros’ adalah panggilan sayang Abah ke Ummah.

“Lho, tadi Fudhla bilang tidak ada yang terjadi di sekolah.” Abah melanjutkan. Lalu, tiba-tiba aku rasakan telapak tangannya mengelus punggungku yang kurus. Kemudian, mengatakan, “Menangislah, Nak. Sepuasmu. Jangan kau sembunyikan kesedihanmu dari keluarga sendiri. Kami berhak tahu apa yang terjadi. Jangan takut untuk bercerita.”

***

Azan zuhur berkumandang. Hatiku kembali tenang. Meski belum sempat bercerita, setidaknya hatiku merasa lega. Abah dan Ummah pun mengajakku salat berjemaah bersama para santri di masjid lantai dua.

Aku berdiri menghadap kiblat di sebelah Ummah, memakai mukena kecil berwarna putih tanpa motif. Salah seorang santri diminta mengumandangkan ikamah tanda salat akan dimulai. Pandanganku lurus mengarah tempat sujud lalu bertakbir saat Abah lebih dahulu mengangkat kedua tangan di posisi imam. Aku menikmati setiap gerakan indah dan syahdu itu.

Meski usiaku baru empat tahun, aku sudah diperkenalkan dengan Tuhan yang menciptakanku. Tentu saja Abah dan Ummah yang mendidik itu padaku. Sehingga, segala bacaan salat, Al-Fatihah, dan surah pendek sudah mampu aku kuasai. Jadilah, salat Zuhur yang kami lakukan terasa amat bermakna. Apalagi sebelumnya telah puas terisak-isak di pelukan Ummah karena menangisi kejadian menyedihkan hari itu di sekolah.

Selepas salat, berzikir, dan berdoa bersama, Ummah merangkulku dari samping. Ia lalu mendudukkanku di pangkuan. Tak lama, saat para santri sudah turun menuju kamar masing-masing, Abah ikut duduk di hadapanku dan Ummah. Ia mengelus kepalaku yang masih berbalut mukena.

“Fudhla, apakah sekarang kamu sudah menyadari tentang anugerah yang Allah berikan?” Abah memulai pembicaraan, menatap mataku sangat dalam. Namun, tetap menunjukkan keteduhan. Aku pun memperhatikan wajahnya yang berkulit gelap khas orang timur yang tetap bercahaya karena berpadu dengan peci putih.

Abah mengambil kedua telapak tanganku. Lalu, meremas halus kedua jari yang berada di ibu jari tangan kanan maupun tangan kiri. Sejenak, ia tersenyum.

“Ingat, Nak. Ini bukan kekurangan. Ini kelebihan yang Allah berikan. Untuk itulah, kami memberimu nama ‘Ummu Fudhla’, sebagai seorang pemilik anugerah berlebih.” Abah bercerita seakan-akan tahu penyebabku menangis tadi. Padahal, sedikit pun aku tak mengungkapkan.

“Tidak semua orang memiliki apa yang Fudhla miliki. Fudhla istimewa. Orang-orang yang memandang sinis dan hina, mereka iri dengan kelebihanmu,” ujar Ummah, menimpali.

Mereka pun memelukku bersamaan. Kehangatan ini sungguh membuatku nyaman. Tak apa jika dunia seolah-olah menolak keberadaanku yang begini. Asalkan, Abah, Ummah, dan keluargaku tetap berada di sisi. Ya, meski harus berada di panti asuhan ini. Aku bersyukur, para santri di sini tidak pernah merasa jijik dengan apa yang aku miliki.

Bab 4 Kamis Pagi

0 0

 

Sudah hari keempat, aku bersekolah di taman kanak-kanak yang terletak di daerah Kintamani. Keadaan yang aku alami tetap sama. Berangkat paling pagi, jam istirahat terus berdiri, dan pulang terakhir sendiri.

Tak jauh beda dengan hari ini. Abah mengantarku dengan sepeda tuanya yang berwarna merah menyala. Jalan yang dilalui pun sama, gang demi gang kecil yang makin terpatri dalam kepala. Bisa jadi, nanti di masa depan, aku mengingatnya dengan jelas tanpa sekadar menerka. Ya, tentang ayam kalkun, embusan angin yang menerpa wajah, dan polisi tidur di sepanjang jalan kecil yang ada.

Aku pun mulai melupakan perlakuan teman-teman yang menganggapku takada. Untuk itulah, aku tetap berdiri di tempat yang sama pada setiap jam istirahat tiba. Ya, berpura-pura menghilang tak terlihat karena memang begitulah teman-temanku mengangggap.

Ternyata, hari itu ada yang berbeda. Aku baru tahu jika setiap hari Kamis, sekolah ini mengadakan jalan pagi. Setelah berdoa di awal jam pelajaran, mengulang hafalan surah-surah pendek, dan mendengar untaian hikmah ustazah, kami pun digiring ke tengah lapangan sekolah.

Ustazah Ani membagi kami menjadi tiga anak pada setiap barisnya. Semua anak diperbolehkan memilih pasangan yang diinginkan. Aku menunggu, tak berani meminta siapa pun ingin bersamaku. Hingga barisan anak-anak telah rapi dan mengular, sedangkan aku sendirian tanpa teman di barisan paling belakang.

Sebenarnya, sebelumku, ada satu baris berisi dua anak perempuan. Mereka tidak menawariku untuk bersama. Aku pun tak berani memulainya. Apalagi, salah satu dari mereka adalah Wiwin, salah seorang anak yang di hari pertama tanpa ragu mengejekku.

“Ummu, kok belum berpasangan dengan yang lain?” Ustazah Ani yang tadi sibuk memastikan anak-anak di barisan depan, tiba-tiba datang menghampiriku. Aku menunduk tanpa menjawab apa pun. Bukan mengabaikan, melainkan tak tahu jawaban apa yang bisa diberi.

“Yuk, sini, Ummu.” Ustazah Ani mengambil telapak tanganku. Kemudian, aku diajaknya menuju barisan paling akhir sebelumku tadi.

“Wiwin, Lala, boleh, ya, Ummu bergabung dengan kalian?” tanyanya.

“Hi! Enggak mau, Ustazah! Itu Ummu jarinya ada yang menjijikkan. Tidak bisa buat gandengan, Us,” seru Wiwin. Sudah kuduga jika jawabannya akan seperti itu.

“Adakah di antara kalian yang mau berganti pasangan dengan barisan di belakang dan menukarnya dengan Ummu?” Ustazah Ani mencoba memberikan solusi. Sayangnya, anak-anak merespons dengan geleng kepala dan ucapan serempak, “Tidak, Us!”

Aku menghela napas diam-diam. Bagaimana bisa jariku ini membuat mereka enggan berteman? Ah, kalaupun pindah sekolah, bukankah keadaannya tetap akan ada yang mem-bully seperti ini?

Tiba-tiba, Lala berganti posisi. Ia memutuskan berada di tengah. Kemudian, mengajakku bergabung bersamanya. Betapa senang hatiku mendapati bahwa masih ada teman yang mau peduli. Ya, meski tindakan Lala ini tidak sejalan dengan keputusan Wiwin. Maka, wajah Wiwin pun memerah seperti kepiting rebus, seakan-akan sedang menyimpan amarah.

“Baik, anak-anak, ikuti perintah Ustazah, ya!” Ustazah Ani kembali bersuara dari depan. “Sekarang, gandeng teman kalian masing-masing, yang erat, ya!”

Lala pun bergegas menarik telapak tanganku bagian kanan. Ia menggenggamku erat. Aku merasa sangat terharu dan membalas dengan genggaman yang erat pula. Sempat kulirik Wiwin, tetapi wajahnya seakan-akan menunjukkan sedang menyimpan banyak masalah.

“Sebelum berangkat, yuk, kita baca doa dulu … bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyil adzim.” Kami bersorak bersama melafalkan doa hendak berjalan tersebut.

Kami keluar dari kompleks sekolah menuju jalanan kecil yang berisi banyak rumah mewah. Nama jalan itu adalah Jalan Kintamani. Dari gerbang sekolah, kami berbelok ke arah selatan lalu berputar hingga kembali lagi ke sekolah. Sepanjang jalan, kami tetap tertib. Ustazah pun selalu mengingatkan agar kami tetap berpegangan tangan.

Tiba-tiba … Wiwin memaksa melepas genggaman tanganku dan Lala. Ia juga menarik Lala agar mengubah posisi menjadi di sebelah kanannya. Tanpa pikir panjang, Wiwin berkata, “Anak seperti kamu itu tidak pantas punya teman! Ngaca dong! Orang-orang tuh jijik lihat tanganmu yang ada lebihnya. Apalagi menggenggam erat seperi itu.”

Setelah mengatakan itu, ia menggandeng erat tangan Lala dan meninggalkanku. Mereka pun menyusul barisan yang tertinggal. Sedangkan aku mengikuti barisan dengan perlahan, tanpa ada gairah lagi. Lala sempat menatapku sekilas, tetapi kemudian ia membuang muka.

Aku kira, Lala berbeda. Ternyata sama saja. Lalu, siapa yang harus kupercaya? Jawabannya hanya satu: Allah!

Aku pun menyeret kakiku dengan perlahan. Keadaan itu membuat Ustazah Ani dengan segera menghampiri. Wajahnya menyiratkan tanda khawatir.

“Lho, kok Ummu terpisah dari rombongan? Lala dan Wiwin ke mana?” Aku hanya menunjukkan barisan di depan. Maka, terlihat Lala dan Wiwin sedang bersenda gurau. Ah, menyedihkan.

“Yuk, gandengan dengan Ustazah saja kalau tidak ada yang mau,” ujarnya menawarkan diri. Karena ekspresinya yang ramah dan tidak ada pilihan lain, maka aku menyetujui hal itu. Kami pun bergandengan tangan di pertengahan jalan.

Saat tiba di sekolah, Ustazah Ani meminta kami beristirahat. Beberapa kue sus isi moka ini dibagikan kepada kami. Aku menikmatinya sendirian di meja melingkar.

Saat jam istirahat tiba, sebelum berdiri di depan kelas, aku pergi ke kamar mandi untuk membuang hajat. Ketika kembali kelas, betapa terkejutnya aku melihat teman-teman dengan asyiknya menendang tas kecilku ke sana kemari hingga bentuknya lusuh.

Aku terpana, terkejut tak tahu harus berbuat apa? Jika tas itu sampai rusak, bagaimana untuk memiliki yang sama lagi? Abah dan Ummah pernah mengatakan jika kondisi keuangan mereka juga tak sebebas orang lain yang bisa digunakan kapan pun. Aku tak tega jika harus meminta untuk membeli yang baru.

Maka, aku pun tetap melangkah masuk kelas. Mencoba mengambil tas yang sudah kotor dan berada di lantai. Untungnya, saat aku masuk, mereka berlari menjauh. Ya, karena takut jika aku menyodorkan dua jari tambahan ini.

Meski begitu, ternyata mereka tidak berhenti. Ada saja ulah yang dibuat. Semua itu dipimpin oleh Wiwin.

“Ummu jarinya dua belas! Ummu enggak punya uang jajan!”

Aku mencoba untuk tidak mengacuhkannya. Biarlah mereka mengejek seperti itu sampai lelah. Dalam hati, aku terus menyebut nama-Nya sebagaimana yang sering diajarkan Abah dan Ummah. Ya, Abah pernah bilang, “Adukanlah segalanya kepada Allah meski hanya tentang sandal yang putus.”

Aku memeluk tas yang kotor itu sembari tetap memohon pertolongan pada-Nya. Tak terasa, buliran bening mengalir di pipi, tanpa suara. Hingga bel pulang berbunyi dan Ustazah Ani masuk, Wiwin dan kawan-kawan pun berhenti.

“Ummu, tasmu kenapa kok jadi seperti itu?” tanya Ustazah Ani saat telah lama duduk di meja dan kursi guru.

Belum sempat aku menjawab, Wiwin lebih dulu menyela, “Tas orang miskin memang begitu, Bu, kotor dan lusuh!”

“Astagfirullah! Enggak boleh begitu,” ujar Ustazah Ani. Mungkin, terbawa emosi.

“Apa yang saya bilang kenyataan kok, Us,” bantahnya. Aku menunduk sangat dalam. Lagi-lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan.

“Tapi, tadi pagi Ustazah lihat tas Ummu masih baik dan bagus. Apakah benar tidak ada yang mau mengaku siapa yang melakukan semuanya?

Bab 5 Tas Kesayangan

0 0

Tasku sayang, tasku malang. Warnanya merah gelap dengan gambar tokoh kartun di depan yang tak kukenali. Ada pegangannya di belakang beserta roda di bawah. Ya, jenis tas viral di tahun 1999 masehi.

Tas tersebut bukan bekas apalagi rongsok. Benar-benar baru dibelikan Abah dan Ummah untukku sekolah. Aku sangat menyukainya karena pemberian itu persing dengan keinginanku.

Sayang seribu sayang, nasib tas kesayangku sangat malang. Pegangan yang bersambung dengan rodanya telah terlepas. Bagian pinggirnya telah kotor ditendang oleh sepatu-sepatu tak berperasaan.

Aku memeluknya dengan sejuta rasa tak karuan. Berharap masih bisa dipakai untuk bersekolah besok hari. Tak mungkin memaksa Abah dan Ummah untuk beli lagi. Aku tak mau merepotkan orang tua.

“Siapa yang merusak tas Ummu, ya?” Ustazah Ani kembali bersuara di tengah senduku yang hening.

Sebenarnya, aku heran. Ustazah Ani pasti sudah melihat peristiwa itu. Mengapa bertanya lagi? Mengapa tidak langsung menghukum mereka yang telah tega melakukan hal itu padaku?

Aku melirik ke arah teman-teman yang tadi merusak. Mereka diam dan tidak merasa bersalah. Ya, duduk bersama melingkar di bawah kepemimpinan Wiwin.

“Yakin ini tidak ada yang mau mengaku?” Ustazah Ani kembali melemparkan pertanyaan. “Jika tidak ada, Ustazah akan melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah dan memberi tahu orang tua kalian.”

Akhirnya, dengan malas, Wiwin pun berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya sangat menyebalkan. Seakan-akan terpaksa mengakuinya. Ia pun berkata, “Biar kita tahu, Ustazah, Ummu itu memang miskin atau pura-pura miskin!”

“Baik, Wiwin. Terima kasih sudah mengakuinya. Apakah kamu bersedia meminta maaf kepada Ummu dan mengganti tasnya?” Ustazah merespons perkataan itu dengan tenang.

“Buat apa? Dia harus membuktikan kalau dirinya tidak miskin dengan cara beli tas baru! Saya tidak sudi menggantinya!” bantah Wiwin.

“Baik, setelah ini, Ustazah akan memanggilmu ke ruangan, ya, Wiwin.”

Terpaksa Ustazah melakukan hal tersebut karena bel pulang telah berbunyi. Jika dilanjutkan, kami akan pulang terlambat. Apalagi para orang tua telah berdatangan semua dan berkumpul di depan kelas.

Entah setelah itu apa yang terjadi, aku tak tahu. Apa yang dikatakan Ustazah Ani kepada Wiwin saat diminta bertemu di kantor dan perkataan Wiwin kepada ustazah, aku benar-benar tak mengetahuinya. Hal yang aku tahu, Ustazah Ani menemui Abah saat kami hendak pulang. Ia meminta maaf dan mengabarkan hal tersebut.

“Tak apa, Ustazah, semoga ke depan tidak terulang lagi, ya.” Hanya itu respons ayahku.

***

“Fudhla.” “Abah.”

Kami saling memanggil di perjalanan saat hening menyelimuti. Ah, rupanya, aku dan Abah sama-sama ingin menyampaikan atau menanyakan sesuatu. Maka, aku membiarkan Abah yang berkata terlebih dahulu.

“Fudhla tidak apa-apa di sekolah?”

“Iya, Bah.” Aku langsung menjawabnya. Lalu bergantian melontarkan pertanyaan, “Abah tidak marah?”

Abah menjawab, “Marah kenapa?”

“Itu … tas yang Abah beli dengan hasil jerih payah, harus rusak seperti itu.”

Abah belum bersuara. Hanya terdengar bunyi-bunyian gerakan sepeda saat melewati polisi tidur. Juga, kayuhan sepeda yang tak lambat, tak juga cepat. Seperti biasa, embusan angin pun tak lupa menemani perjalanan kami.

“Itu hanya barang, Nak. Hal paling penting buat kami adalah perasaanmu,” jawab Abah.

Mendengar kalimat itu, terasa mataku berair. Aku pikir Abah akan marah dengan peristiwa ini. Padahal, aku sudah siap jika Abah dan Ummah akan memarahi habis-habisann karena tidak bisa menjaga tas kesayangan yang mungkin harganya tidak murah.

“Fudhla nyaman bersekolah di sana?” Abah kembali bersuara.

Tumpah sudah air yang mendesak ingin mengalir. Aku mencoba untuk tak bersuara. Terisak-isak saja tanpa suara sesenggukan. Hal itu sudah mewakili perasaanku selama ini.

“Fudhla mau pindah?” tanyanya lagi.

Aku tetap tak menjawab. Bukan tak ingin, melainkan aku berpikir tentang biaya yang harus mereka keluarkan. Bisa saja dengan egois aku meminta pindah. Namun, aku ingat dengan perkataan Ummah bahwa sekolah ini lebih murah dan mutunya bagus. Sekolah lain belum tentu.

Pindah sekolah juga tak mesti bisa mengubah keadaan. Ya, selama jariku ini tetap ada, pem-bully-an pasti tidak akan berhenti. Di sekolah berlatar belakang agama saja masih ada tindakan seperti itu, apalagi jika pindah ke taman kanak-kanak biasa.

“Atau, jarinya dioperasi saja, dipotong?”

Pilihan itu juga berat. Saat menyadari kelebihan jari ini, aku terlanjur sayang dengan pemberian Tuhan yang amat menakjubkan. Semua itu karena Ummah yang selalu menguatkan. Ummah sering berkata, “Jariku istimewa.” Jadi, mengapa harus dibuang.

Ketakutan juga menjalar di kepala. Padahal, hanya membayangkannya. Sebab, kata Ummah juga, jari ini jika dipotong dapat mengganggu syaraf yang lain. Aku takut menjadi gila jika memutuskan untuk membuangnya.

“Tidak, Bah. Insyaallah Fudhla bisa bertahan di sana, jawabku dengan mantap.”

“Tetapi, maaf, ya, Nak, Abah belum bisa mengganti tasmu yang baru. Abah dan Ummah belum ada rezeki ke sana.”

Aku mengangguk paham, padahal Abah tak melihatnya, lalu menjawab, “Iya, Bah, tak apa. Tasnya masih bisa digunakan kok untuk sekolah nanti.”

Untung saja, besok adalah hari Jumat. Ya, sekolahku libur. Begitulah ciri khasnya. Di saat sekolah lain libur hari Ahad, sekolahku libur hari Jumat. Inilah yang membuatku tidak ingin pindah. Ya, sebab hari Jumat adalah hari istimewa, hari yang biasa dihabiskan bersama Ummah untuk membaca Al-Kahf dan menikmati suasananya yang syahdu.

***

Nasib tas kesayangku itu akhirnya dicuci oleh Ummah dan kembali bersih. Pegangan dan rodanya benar-benar telah dipisah dan disimpan. Mau tak mau, aku harus merelakannya.

“Fudhla, jangan dendam terhadap Wiwin dan teman-teman, ya?” Ummah tiba-tiba memulai percakapan ini saat aku menemaninya menjemur tas kesayangan di bawah terik matahari.

“Dendam itu apa, Ummah?” tanyaku, benar-benar tidak tahu.

“Dendam itu sikap dan rasa yang ingin membalas perbuatan mereka.” Ummah menjelaskan dengan singkat. “Fudhla tidak boleh menyimpan dendam pada mereka. Tidak boleh membalas perbuatan jahat mereka.”

“Meski mereka keterlaluan?” tanyaku, menimpali.

“Ada batasannya. Jika sampai melukai tubuhmu, maka Fudhla boleh melawan. Namun, untuk hal seperti ini, tidak perlu melawan. Jangan membalas dengan perbuatan yang sama, tapi balas dengan kebaikan-kebaikan yang Fudhla lakukan.”

Aku mengangguk paham. Lagi pula, keadaan itu memang tak mendukungku untuk melakukan pembalasan. Aku tak punya keberanian dan kekuatan. Aku tak punya rasa percaya diri yang tinggi untuk membuktikan kebenaran.

“Kita memang miskin, Nak. Namun, hanya miskin harta. Jangan sampai karena dendam kita juga jadi ikut miskin hati. Fudhla paham, ‘kan?” lanjut Ummah.

“Iya, Mah, Fudhla paham.”

“Ummah tahu hati Fudhla pasti sakit diperlakukan seperti ini. Jiwa Fudhla juga merasa tak mampu melawan, ‘kan?” Ummah menoleh, menunggu jawabanku. Aku mengangguk saja. Kami masih berdiri di dekat jemuran, menjemur baju-baju yang airnya masih menetes ke tanah.

“Dalam Islam, memang boleh membalas, Nak. Namun, Allah akan memberikan karunia yang besar jika kita mau memaafkan. Kalau memang tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu, cukup balas dengan prestasi. Bukan caci maki.”

Bab 6 Roda Berputar

1 0

Berkat Ummah, hatiku lega. Terutama tentang luka yang menganga, sirna seketika. Ya, aku harus bisa melepaskan segala emosi negatif yang ada. Jangan sampai jika ditahan, akhirnya menjadi dendam.

Maka, hari-hari berikutnya, aku tetap tenang. Bersikap seperti biasa seolah-olah tak terjadi apa-apa adalah caraku melepaskan dendam itu. Biar Tuhan yang balas, itulah bisikan dalam hati yang tak pernah berhenti agar aku tak coba-coba membalaskan hal yang sama.

“Betul ternyata, ya? Ummu itu miskin!” Seseorang berbisik dengan teman yang lain sambil memandang sinis mataku. Siapa lagi kalau bukan Wiwin dan kawan-kawan? Saat itu, aku baru tiba di sekolah. Kebetulan, untuk pertama kalinya, Abah mengantar terlambat.

“Iya, tas sudah rusak begitu dipakai lagi. Enggak malu dia, ya?” balas temannya.

“Bapaknya aja pakai sepeda lho!” teman yang lain menimpali, diiringi dengan tawa mengejek.

“Iya, kayaknya, ya, enggak punya motor tuh, cuma punya sepeda tua. Jelek lagi.”

Aku menghela napas. Memang, rasanya merinding dan tiba-tiba hendak meningkat emosi dalam diri. Namun, aku menutup mata untuk mencegahnya. Mencari celah mengingat kata-kata Ummah, “Malu memang sebagian dari iman. Kita boleh merasa malu jika melakukan dosa. Malu kepada Allah, bukan kepada orang lain karena miskin.”

Ya, terkadang, sesuatu yang tadinya bagi kita biasa saja, karena perkataan orang lain, akhirnya seakan-akan menjadi sesuatu yang memalukan. Salah satunya, diantar naik sepeda. Aku akhirnya mengerti mengapa Abah selalu berusaha mengantarkanku di awal waktu saat teman-teman lain belum datang. Ternyata, ini alasannya, agar aku tidak malu.

Jujur, awalnya, aku tidak tahu jika diantar naik sepeda adalah sesuatu yang hina. Makanya, terasa biasa saja. Namun, karena perkataan mereka pagi itu, hampir membuatku mulai mengerti artinya malu dan rendah diri. Apalagi, memang benar Abah dan Ummah tidak punya kendaraan bermotor. Sepeda pun hanya satu.

“Kita hidup sesuai kemampuan, Fudhla. Memang begini kemampuan kita. Hanya mampu punya satu sepeda. Fudhla malu?” tanya Ummah saat pulang sekolah kutanyakan tentang mengapa mereka tidak punya motor atau mobil seperti orang-orang. Aku tidak menjawabnya lagi.

“Fudhla harus tahu bahwa roda itu berputar. Ada manusia yang diizinkan Allah berada di atas. Ada manusia yang diizinkan berada di bawah. Bisa lama di tempat atau berubah-ubah. Semua itu ujian, bukan untuk saling membanggakan diri dan merasa paling mulia.” Ummah kembali melanjutkan kalimatnya.

Memang itu yang aku suka. Ya, mendengar celoteh Ummah tentang ajaran agama yang diselipkan dalam setiap jawaban atas pertanyaanku. Selain menambah wawasan, dapat membuatku lebih tenang.

“Biarkan saja teman-teman yang menghina kita miskin. Memang itu kenyataannya, Fudhla. Kita harus menerima keadaan yang Allah takdirkan. Asal Fudhla tahu, miskin itu tidak hina. Di mata Allah semua sama, yang terpenting adalah hatinya,” lanjut Ummah seraya menepuk halus dada kiriku.

Aku tersenyum. Berterima kasih pada Tuhan adalah caraku bersyukur. Ya, meski keadaan kami seperti ini, aku beruntung memiliki kedua orang tua yang bijaksana. Mereka selalu menguatkan dan tak pernah menjatuhkan. Keluarga memang segalanya.

***

Hidup terus berjalan. Aku tak peduli dengan ocehan atau hinaan teman. Terus saja maju dan fokus pada masa depan. Hingga satu tahun telah berlalu.

Ustazah Ani tidak lagi menjadi wali kelasksu di TK nol besar. Namun, anggota kelas masih tetap sama. Ya, masih ada Wiwin dan kawan-kawan.

Aku sempat khawatir tentang wali kelas baru. Takut jika ia tak memedulikanku karena miskin. Namun, ternyata dugaanku salah. Ustazah Rina sama baiknya dengan Ustazah Ani.

Setiap kali pembelajaran, ia tak lupa mengecekku di tempat duduk. Ah, iya, kini, aku tak lagi sendiri. Ada teman yang bersedia duduk melingkar di grup mejaku. Kurang lebih empat orang. Mereka adalah Ahmad, Izul, Rafi, dan Tinan

Izul adalah anak laki-laki yang waktu itu pernah berteriak dan memanggil bundanya di hari pertama masuk sekolah. Dulu, Izul memang jijik dan takut dengan tanganku. Namun, di kelas baru, ia berubah karena ibunya mulai dekat dengan ibuku.

Begitu juga dengan Ahmad, Rafi, dan Tinan. Ahmad mau duduk di dekatku dengan alasan, “Kamu mirip dengan adikku, Umm.” Sedangkan Rafi juga tidak takut karena ternyata Mbahnya—nenek dalam bahasa Jawa—memiliki jari yang hampir sama denganku. Adapun Tinan, orang tuanya sangat akrab dengan Ummah. Jadilah, mereka bertiga tak lagi merasa risih, jijik, atau takut padaku.

Ketika ada agenda jalan pagi, aku tak lagi kesulitan mencari teman. Tinan dengan antusias bersedia menggenggam tanganku. Ia bahkan mulai terbiasa memegang jemariku, terutama jari yang berlebih.

Tak disangka, Lala juga kini ikut bergabung dan bergandengan dengan Tinan setiap kali ada agenda itu. Kami bertiga pun makin akrab. Apalagi ketika Lala sering dijemput terlambat.

Pernah suatu ketika, saat sedang menungu jemputan di ayunan, aku bertanya, “Mengapa kamu enggak main lagi bareng Wiwin?”

Ia menjawab, “Wiwin nakal. Aku sering dicubitin terus padahal enggak pernah berbuat salah.”

Aku mengerutkan dahi. Padahal, Lala adalah gadis kecil cantik berkulit putih dengan rambut panjang terurai. Apalagi dibandingkan dengan yang dulu, Lala makin cantik, lucu, dan menggemaskan. Apa karena itu Wiwin mencubitnya atau karena hal lain, yakni iri karena Lala lebih cantik? Entahlah.

“Maafin aku, ya, Ummu, dulu pernah berbuat yang enggak menyenangkan. Aku sadar ternyata kamu baik. Mau, ya, berteman denganku? Aku izin bergabung menjadi temanmu dan Tinan, ya?”

Aku tersenyum lebar. Lalu, mengangguk tanda setuju. Aku menjawabnya, “Silakan, La. Kami menerimamu.”

“Berarti mulai hari ini kita resmi berteman, ya, Ummu?” tanyanya, memastikan dengan wajah yang antusias.

“Iya,” jawabku, “tapi, mulai sekarang panggil aku ‘Fudhla’, ya? Nama panggilanku yang asli itu ‘Fudhla’, bukan ‘Ummu’.”

“Oke, siap!” jawabnya.

Tak lama, mobil berwarna ungu berhenti di depan sekolah kami. Ya, itu mobil Lala. Ia memang putri orang kaya. Setiap hari selalu diantar dan dijemput dengan mobil. Jadi, wajar jika dulu ia sempat menjadi teman-teman yang berpihak pada Wiwin.

Beberapa menit kemudian, Abah pun datang dengan sepeda tuanya. Ah, iya, aku tak lagi malu dijemput hanya dengan kendaraan sepeda. Bisa jadi, suatu saat merindukan hal seperti ini. Hidup ke depan tidak ada yang tahu. Jika memang berubah lebih baik, aku tak ingin melupakan kenangan pernah berada di roda terbawah.

***

Hari-hari menjelang kelulusan, aku, Tinan, dan Lala terus bersama. Kami saling mendukung satu sama lain. Banyak prestasi yang diperoleh bersama untuk membuktikan bahwa kami tidak pantas disakiti.

Satu hal yang kami sukai bersama, yakni kesenian. Aku, Lala, dan Tinan sering diminta menjadi penari anak-anak pada acara yang diadakan sekolah maupun yayasan. Beberapa kali pula, ikut dalam ajang mewarnai. Aku juara dua, Lala juara tiga, dan Tinan juara harapan satu.

Hal-hal seperti itu membuatku terus bersyukur dan sejenak menghilangkan rasa rendah diri. Aku tak menyangka di taman kanak-kanak ini akan memiliki teman juga yang hobi, bakat, dan minatnya sama. Apalagi, orang tua kami pun beberapa kali saling mengakrabkan diri.

Aku pun berdoa pada Tuhan, “Ya Allah, izinkan kami terus bersama mengarungi hari demi hari dengan kebahagiaan dan keakraban seperti ini. Amin!”

Bab 7 Berjualan

1 0

Persahabatanku dengan Lala dan Tinan harus terhenti saat kami lulus dari sekolah itu. Abah dan Ummah memasukkanku ke sekolah dasar yang letaknya persis di samping TK. Rupanya, Lala dan Tinan tidak ikut masuk ke sana.

Abah tidak lagi mengantarku dengan sepeda tuanya di sekolah baru. Aku dan kakak perempuanku, Kak Shafiya, berangkat bersama, berjalan kaki dari panti ke sekolah. Ya, kami sekolah di tempat yang sama. Kak Shafiya kelas empat, sedangkan aku kelas satu.

Aku pikir, sekolah baru akan membuat nasibku berubah. Ternyata, semua hanya impian dan harapan. Meski Wiwin tidak melanjutkan di sekolah yang sama, ada penggantinya yang melanjutkan bully-an terhadapku. Lagi-lagi, karena aku berjari dua belas.

Hari pertama di kelas, takada yang mau duduk di sampingku. Awalnya, ada. Namun, setelah melihat dan tahu aku memiliki sesuatu yang berbeda, tanpa basa-basi langsung pergi.

Pada jam istirahat, di saat teman-teman lain bermain permainan tradisional di taman sekolah, aku memilih memperhatikan di pinggir pintu. Ya, sekadar melihat mereka. Pernah mencoba bergabung, tetapi mereka menganggapku takada. Jadi, bisa dibilang bahwa di sekolah dasar lebih kejam lagi perlakuan mereka daripada ketika masih TK.

Meski begitu, aku tetap menjalankan pendidikan dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Ya, seperti selalu menjawab pertanyaan guru dan aktif di kelas. Juga, berusaha untuk mendapat nilai maksimal. Itu terbukti dengan nilai-nilai di semester pertama seratus semua. Namun, hal itu tidak mampu menghentikan mereka mengabaikanku.

Hal yang paling menyedihkan, ketika peringkatku di kelas hanya berada di tingkat tiga. Nilai seratus di seluruh ulangan harian dan ujian setiap catur wulan tidak bisa membuatku berada di puncak. Hal ini makin membuatku tidak percaya diri.

Ditambah lagi, ketika terjadi suatu peristiwa di depan kelas Kak Shafiya. Saat aku menunggunya keluar, ada anak lain yang juga menunggu kakaknya keluar. Ternyata, teman-teman Kak Shafiya lebih memilih memuji dan mendekati anak itu daripada aku. Memang, saat diperhatikan, anak itu berkulit putih, bermata sipit, dan kesatuan wajahnya menggemaskan. Berbeda denganku yang jika takada matahari, berwarna gelap. Sedangkan jika dipenuhi cahaya, akan bersinar terang.

Aku menunduk. Lalu, beringsut mundur. Merasa bahwa aku tidak cantik dan lucu sepertinya. Ya, hal itu menambah daftar panjangku menjadi seorang yang pemalu dan tidak percaya diri. Berjari dua belas, miskin, tinggal di panti asuhan, tidak cantik, dan tidak lucu, adalah pemicuku merasa rendah dari orang lain.

***

Saat naik di tingkat dua, Abah dan Ummah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pengasuh. Ada fitnah yang terjadi sehingga membuat mereka harus keluar. Karena peristiwa itu, kami sekeluarga harus pindah ke rumah kontrakan.

Rumah tersebut tidak jauh dari panti. Masih masuk di daerah Klego dan berada di pinggir jalan. Karena letaknya yang strategis, Ummah membuka usaha sembako dan jasa menjahit di sana. Adapun Abah, diminta oleh Yayasan Mafatihul Ilmi untuk mengajar di lembaga SMP-nya.

Ternyata, fitnah tersebut membawa berkah. Kehidupan kami lebih meningkat dari sebelumnya. Abah dan Ummah bisa memiliki sepeda motor bekas keluaran Jepang. Bahkan, kendaraan sepeda kami bertambah satu lagi. Aku dan Kak Shafiya sudah jarang berangkat dengan jalan kaki. Selalu diantar dengan motor atau berangkat bersama dibonceng Kak Shafiya.

Meksi meningkat, semua tetap sama. Maka, aku melakuka suatu satu kegiatan yang dapat mengendalikan rasa maluku. Ya, menjual sesuatu menggunakan barang milik Ummah di tokonya.

“Yakin Fudhla mau menjual permen ini?” tanya Ummah, ragu.

“Iya, Mah. Fudhla ingin mengatasi rasa tidak percaya diri ini dengan menjual sesuatu,” jawabku.

Akhirnya, aku pun diizinkan menjual permen karet “Yasson”. Setiap hari, aku membawanya ke sekolah. Kebetulan, permen itu memang sedang viral. Anak-anak berlomba-lomba membelinya agar berhasil mengumpulkan enam huruf tersebut. Berkat usaha ini, teman-teman akhirnya mendekat padaku.

Saat aku asyik melayani pembeli di jam istirahat, satu kumpulan melirikku dengan tatapan tajam. Salah satunya adalah Sulis. Sebenarnya, mereka juga berjualan sebelumku. Ya, jualan mainan. Namun, karena aku berjualan permen karet viral, teman-teman lebih memilih membeli daganganku dan berkumpul lama, membicarakan banyak hal.

Dampak dari tatapan itu, Ustazah Nisa memanggilku. Rupanya, aku diadukan oleh seseorang. Dugaanku, ya, salah satu di antara mereka. Bahkan, Sulis yang paling kuat rasa irinya.

Hal itu terbukti keesokan harinya, di jam istirahat, ia mengambil gunting saat jualanku sudah habis. Gunting itu dihadapkan dan terus didekatkan hingga berada pas di depan hidung. Wajah Sulis yang putih cantik bersinar, mengekspresikan mimik wajah penuh amarah.

“Aku bilangin kamu ke Ustazah Nisa kalau kamu jualan di sekolah!” ancamnya. Aku ingin sekali membalas dan membalikkan perkataan itu sebab Sulis dan kawan-kawan lebih dulu berjualan. Namun, kuurungkan karena aku tak punya keberanian.

Untung saja, saat gunting hampir mengenai hidungku, bel isitrahat berbunyi. Anak-anak berhamburan masuk ke kelas. Hal itu membuat Sulis menghentikan tindakannya. Namun, ternyata, ia langsung melaporkan hal tersebut kepada ustazah. Aku pun dipanggil di ruang guru.

“Ummu benar jualan di sekolah?” tanyanya, saat aku telah masuk ke ruangan. Aku terdiam. Dalam hati berpikir, ini pasti memang aduan Sulis.

“I-iya, Ustazah,” jawabku setelah beberapa lama. “Tapi, saya hanya menjual permen karet, bukan mainan.”

“Tetap saja, Ummu. Ini adalah tempat sekolah. Bukan berjualan. Ini tempat menuntut ilmu, bukan untuk mencari uang. Paham, ‘kan?” tanya Ustazah, dengan nada yang lembut, tetapi tegas. Aku hanya terdiam dan menunduk. Sangat malu.

“Jadi, besok tolong jangan jualan lagi di sekolah, ya?”

“I-iya, Ustazah.”

Ustazah Nisa pun menyampaikan hal yang sama di kelas. Ya, mengingatkan agar takada yang berjualan di kelas. Sulis dan teman-temannya pun tersenyum puas.

***

Sejak saat itu, aku tak lagi berjualan permen karet “Yasson”. Teman-teman kembali tidak mendekatiku. Mereka lebih memilih menghampiri Sulis dan kawan-kawan. Ternyata, masih berjualan. Hanya saja kali ini dengan sembunyi-sembunyi.

Ingin sekali aku mengadu. Namun, apa daya? Aku tak punya cukup keberanian. Aku pun kehilangan cara untuk melatih diriku agar tidak lagi merasa malu dan mampu berkomunikasi dengan banyak orang. Ingin pula kembali berjualan dengan sembunyi-sembunyi. Sayangnya, hatiku terlalu takut dengan ancaman Sulis. Aku takut ia melakukan hal yang sama lagi.

“Awas kalau kamu sampai mengadukan kami ke ustazah!” bentak Sulis di jam istirahat setelah memergokiku memandang dengan tatapan tajam. Ia kembali menodongkan gunting kecil seperti waktu itu.

Aku pun hanya terdiam, tak berani menjawab apa pun. Apalagi membalas atau menepis perlakuannya. Orang miskin dan memiliki bagian tubuh yang tidak normal, mana punya hak untuk melakukan hal yang sama? Aku menghela napas, menunduk amat dalam, membiarkannya terus menindasku.

Bab 8 Dua

1 1

Saat naik ke kelas tiga, kami memiliki dua teman baru yang dulunya merupakan kakak kelas. Namanya, Mayang dan Eni. Eni duduk sebangku denganku. Sedangkan Mayang bergabung dengan Sulis dan kawan-kawan. Inilah awal hidupku makin sengsara.

“Kamu harus hati-hati, Umm. Dulu, Mayang itu nakal. Suka sekali mengganggu anak-anak yang aneh dan miskin seperti kita,” ujar Eni saat aku sedang memperhatikan Mayang yang asyik tertawa dengan Sulis dan kawan-kawannya.

“Mayang sudah dua kali ini tidak naik kelas.” Aku menoleh, mengernyit heran. Apakah itu berarti sebenarnya ia satu kelas dengan Kak Shafiya? Eni mengangguk. Padahal, aku belum menanyakan apa pun.

“Kalau aku, tetap di kelas ini karena orang tuaku meminta wali kelas agar mengulang dulu satu tahun,” ujarnya, tanpa kutanya.

“Kenapa kamu mau duduk denganku?” tanyaku, kemudian.

“Sepertinya, hanya kamu yang mau menerima keadaanku sama seperti aku bisa menerima keadanmu. Orang tua kita juga bekerja di tempat yang sama, lo.”

“Oh, iya? Kamu kenal dengan Abahku?”

“Tentu. Kalau pulang sekolah, aku selalu menunggu di SMP tempat ayahku mengajar. Jika Abahmu itu guru agama, ayahku bagian tata usaha.”

“Oh, begitu.” Aku menganggukkan kepala.

Kami pun bercerita banyak hal setelah itu. Bahkan, saat jam pulang, ia mengajakku untuk menunggu bersama di SMP yang letaknya hanya di belakang gedung ini. Kebetulan, itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat kerja Abah. Aku dan Eni akhirnya menjadi sangat akrab, tidak hanya sekadar teman sebangku.

***

Sayangnya, kebahagiaanku harus terganggu beberapa hari kemudian. Seperti kata Eni, Mayang benar-benar berulah. Sebelum itu, ia sudah lebih dulu sering menatapku.

Saat jam istirahat tiba, ia duduk di atas meja, tepat di hadapanku. Aku menunduk, tak berani bersuara. Apalagi ketika menyadari bahwa tubuhnya lebih tinggi dan besar daripada aku.

Mayang tiba-tiba mengambil kasar tangan kananku. Ia lalu memencet dengan kuat satu jari istimewa yang kumiliki. Kemudian, melepasnya dengan kasar dan berteriak jijik, “Hi! Kamu tuh punya apa sih? Kamu manusia bukan sih? Teman kita yang lain, lo, mana ada jari kecil kayak mangga dan penguin seperti ini? Hidih!”

Aku tak berani melawan. Seperti biasa, hanya menunduk dan mendengarkan. Apakah jariku bermasalah untuknya? Apa yang membuatnya terganggu hingga melakukan hal seperti itu? Aku sibuk berpikir dalam hati.

“Kamu kalau dijemput pakai motor jadul, ya? Terus minta sama orang tua biar dijemput paling akhir biar enggak menampakkan kemiskinanmu, ya?” ujarnya lagi, seakan-akan sengaja hendak membuatku merespons dengan emosi yang tinggi.

“Hi, Mayang! Kamu jangan dekat-dekat dengan Ummu. Dia itu lusuh banget bajunya. Udah jarinya dua belas, miskin, enggak pernah jajan. Enggak punya juga kendaraan bagus,” ucap Sulis.

“Santai aja, Lis. Aku juga ogah main sama Ummu. Mana orangnya enggak asyik. Bisu kali itu, enggak bisa ngomong.”

“Dia itu udah biasa jadi bulan-bulan kita di kelas, May. Wajahnya itu lho yang enggak pernah senyum. Terlihat menjengkelkan.”

Aku pun mencoba untuk bangkit dari tempat duduk. Eni sudah lebih dulu keluar dan izin hendak ke kamar mandi sebelum Mayang datang. Sayangnya, saat aku hendak berdiri, Mayang menekan bahuku. Adapun Sulis menyentuh dahiku dan mendorongnya ke belakang.

Aku menggigit bibir bawah. Menahan buliran air mata yang ingin segera tumpah. Dalam hati terus bertanya, “Kapan penderitaan ini akan berakhir?” Untung saja, ketika Mayang dan Eni hendak melanjutkan aksinya, ustazahku datang. Aku pun bisa bernapas lega sejenak.

***

Hal yang membuatku heran, keesokan harinya, Mayang dan Sulis datang padaku dengan wajah yang semringah. Mereka mendekatiku dengan manis. Seakan-akan tak pernah melakukan apa pun padaku kemarin.

“Ummu, kita main bareng, yuk!” Mayang memulainya. Aku pun menutup mata, mencoba mengingat kenangan peristiwa seperti ini yang pernah ada. Ah, apakah kalimat ini maksudnya sebagai cara mereka berbasa-basi sebelum minta contekan? Kalau iya, pantas saja Mayang dan Sulis tiba-tiba berubah baik.

Ya, saat cukup lama berbincang denganku, mereka berhasil mengambil hatiku untuk meminjamkan PR pada mereka. Karena aku terlalu polos, aku pinjamkanlah buku matematika tersebut kepada Mayang dan Sulis. Namun, menjelang ustazah matematika hendak masuk, buku tersebut tak kunjung dikembalikan.

“Assalamualaikum wa rahmataullah wa barakatuh!” Jantungku berdegap. Ustazah Risa, guru matematika, benar-benar telah datang dan mengucapkan salam. Aku pun melirik ke arah Mayang dan Sulis. Ternyata, mereka sedang asyik mengobrol dan tidak menulis. Apakah mereka sudah selesai? Mengapa bukuku tak dikembalikan?

Hingga sampai pada perintah diminta mengumpulkan buku PR. Semua anak, termasuk Mayang dan Sulis mengumpulkan PR ke depan. Aku tak berani meminta bukuku pada mereka. Padahal, saat mengumpulkan PR ke meja, mereka melewati bangkuku terlebih dahulu.

“Ini sudah semua?” tanya Ustazah Risa. Aku terdiam tak berani bersuara.

Tiba-tiba, “Ada, Ustazah!”

 Aku menoleh. Ternyata Mayang yang bersuara di belakang. Ia tersenyum menang menatapku. Lalu, menjulurkan lidah seakan-akan sedang mengejekku.

“Siapa?”

“Ummu, Bu! Dia belum mengerjakan,” sambung Sulis. Mataku memelotot. Tidak percaya dengan apa yang mereka katakan. Apakah ini berarti tadi aku kena tipu? Mereka berpura-pura baik hanya untuk mengerjaiku? Astagfirullah!

“Benar begitu, Ummu?” Ustazah Risa mendekat. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan saat hendak menjawab.

“B-Buku PR saya tadi pagi dipinjam teman, tetapi belum dikembalikan hingga sekarang, Ustazah.” Aku mengucapkan hal ini sambal melirik tajam Mayang dan Sulis.

“Bohong, Ustazah! Coba periksa tasnya.”

Ustazah Risa pun menggeledah tasku. Betapa terkejutnya aku saat mendapati buku matematika berada di antara buku yang lain. Perasaan, aku belum memasukkannya. Tas ini pun tidak jauh-jauh dariku.

Ustazah Risa lalu membuka buku matematikaku berulang kali. Lalu, berkata, “Kamu benar-benar tidak mengerjakan, Umm? Bahkan, soalnya saja tidak kamu tulis!”

“Ustazah, sumpah demi Allah, saya benar-benar telah mengerjakan PR matematika. Tadi malam saya belajar sendiri dan mencobanya berkali-kali.”

Ustazah Risa pun menyodorkan bukuku. Aku memeriksanya dengan cermat dan perlahan. Benar-benar tidak ada PR yang semalam kukerjakan. Adanya, bekas sobekan satu lembar kertas. Apakah PR-ku ada yang menyobek dan membuangnya? Siapa? Mayang dan Sulis? Kalau memang mereka berdua, mengapa tega melakukan itu padaku?

“Ustazah, tadi buku saya dipinjam Mayang dan Sulis. Saya pun tidak tahu kalau buku matematikaku sudah dikembalikan dan berakhir hilang satu halaman penting.”

“Bohong, Ustazah! Ummu memfitnah kami!” teriak Sulis.

“Baik, Ummu, karena kamu belum mengerjakan, silakan keluar dari kelas ini, bawa buku matematikamu dan kerjakan PR kemarin!”

Ya, akhirnya Ustazah Risa memilih menghukumku daripada memeriksa kebenaran yang ada. Ia hanya mengusirku keluar dan memberikan selembar kertas berisi soal matematika yang beberapa waktu lalu ditugaskan kepada murid-murid kelas tiga.

user

15 December 2021 08:47 Rindiantika Seru, di tunggu kelanjutannya ya... Singgah juga di aku ya "SHEVA" terimakasih kak..

Mungkin saja kamu suka

Hasan Komarudin
Salik
Binar Bestari
Setan Pun Butuh Rehat
Alnayra
ONE
Anita alhafidz
Peri bunga
Dina yasyfa nur...
Is Okay Not To be Okay

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil