Loading
31

0

16

Genre : Keluarga
Penulis : Wella Triana
Bab : 14
Pembaca : 18
Nama : Wella Triana
Buku : 2

Kumpulan Cerpen

Sinopsis

Buku ini berisi kumpulan cerita pendek.
Tags :
#OLIMPIADEMENULIS #KMOCLUB #NULISDIBUKULAKU

Bab 1. Dendam

7 2

 

Dan pada akhirnya, mati adalah menjadi sebuah pilihan. Saat beban tak sanggup lagi untuk dipikul, sendirian. Terpaksa jiwa direnggut paksa, keluar dari raga.   

***

Agus menyaksikan rumah ibunya sudah dijilati api. Para tetangga sibuk membantu memadamkan api dengan alat seadanya. Ibunya berteriak histeris, saat melihat rumahnya ludes dilalap si jago merah. Pasalnya, suami yang merupakan ayah tiri Agus, terjebak di dalam saat api sedang berkobar-kobar.

Pada saat kejadian, ayah tiri Agus sedang terlelap. Agus dan ibunya, sedang berada di rumah neneknya. Apa yang menjadi penyebab kebakaran, belum diketahui. Warga sekitar juga baru menyadari, saat api sudah membesar.

***

"Lastri, besok abang berangkat ke Lampung. Mungkin sekitar dua minggu. Namun, abang akan usahakan pulang secepatnya." Alan mengusap kepala istrinya.

"Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama abang. Ntar aku diambil orang." Lastri terkekeh melihat suaminya memajukan bibirnya. "Ingat anak-anak bang, kasihan jika mereka terlalu lama memendam rindu."

"Kau ... atau mereka yang merindukan aku?" goda Alan.

"Ih, abang bisa aja. Aku jadi malu."

Beberapa kali, Alan memeluk dan mencium Lastri. Seolah-olah, itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Pun juga demikian dengan ketiga anaknya, ia memeluk mereka dengan hangat.

Alan dan Lastri, memiliki dua anak perempuan, dan satu anak lelaki. Anaknya yang sulung, baru kelas satu SMP. 

Hanya butuh waktu satu minggu, Alan menyelesaikan pekerjaannya. Kini, saatnya ia kembali ke Bengkulu untuk bertemu anak dan istrinya. Sungguh Alan tak dapat menahan rindu, saat ia harus jauh dari keluarganya. Kadang, bisa sampai berbulan-bulan.

Alan sudah berkemas. Ia bermaksud memberi kejutan untuk istrinya, dengan tidak memberi kabar atas kepulangannya. Senyum tak lepas dari bibirnya, saat membayangkan ekspresi kaget di wajah sang istri.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Alan sampai juga di kota Bengkulu. Mobil truk diesel yang ia bawa, diparkir terlebih dahulu di rumah adiknya.

Setelah berbincang dengan sang adik, ia pamit untuk segera pulang. Kebetulan, letak rumah adiknya tak jauh dari rumahnya.

Dengan rindu yang membuncah, ia bergegas menuju rumahnya. Pelan-pelan, Alan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan miliknya. Ruangan gelap gulita, sepertinya Lastri sudah tertidur.

Saat ia membuka kamar, Alan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Lastri yang tengah bergumul dengan Haris tetangganya, tak kalah kaget. Mereka berbuat mesum di tempat ia biasa berkasih sayang dengan istrinya.

Lastri dan Haris yang tidak menyangka kepulangan Alan, bergegas memakai pakaian mereka. Terluka, itulah yang Alan rasakan. Bagaimana tidak, di depan matanya sang istri tega berbuat zina.

"A-abang, mengapa tidak memberi kabar terlebih dahulu?" tanya Lastri tergagap.

"Biadap kalian," katanya sambil menunjuk keduanya. "Aku kerja banting tulang untuk menghidupimu, tapi kau tega bermain di belakangku."

"Ma-maafkan aku bang. Aku sangat menyesal," isak Lastri. Sedikitpun, ia tak berani untuk menatap wajah suaminya 

"Saat ini juga, kau bukan lagi istriku. Sekarang juga, kau keluar dari rumahku," bentaknya. Lastri yang dalam hal ini memang bersalah, tidak mampu untuk membela diri. Dia sangat mengenal Alan. Jika sudah memutuskan sesuatu, maka tak ada seorang pun yang dapat mencegahnya.

Lalu, Alan melangkah mendekati Haris. Dicengkramnya leher lelaki itu. Dengan amarah yang membara, ditinjunya lelaki yang telah meniduri istrinya itu, secara membabi buta.

Haris tak dapat mengelak. Berkali-kali ia meringis kesakitan saat tinju Alan mengenai wajahnya. 

Peristiwa kelam itu membuat Alan harus berpisah dari istrinya. Kedua anak perempuannya ikut bersama Lastri. Sementara itu, Alan membawa anak lelakinya bersamanya. Ia adalah ... Agus.

Perceraian orang tua, sering membuat anak yang jadi korbannya. Agus yang saat itu masih duduk di bangku kelas empat SD, terpaksa harus berhenti sekolah. 

Tak lama setelah peristiwa itu, ibunya menikah dengan selingkuhannya. Anaknya yang tertua, memilih untuk tinggal bersama pamannya. Sementara itu, anak bungsunya ia bawa. 

***

Kini, Agus sudah berumur tujuh belas tahun. Ia mengikuti jejak ayahnya menjadi sopir truk diesel. Dengan pekerjaan ini, ia bisa pergi keluar kota, bahkan pulau Jawa pun sudah disinggahinya.

Malam itu, ia sangat rindu pada ibunya. Agus pun berniat ingin bermalam di rumah ibunya. Sang ibu sangat senang dengan kehadiran Agus. Mereka bercengkrama hingga larut malam. Kemudian, ibunya pamit tidur karena sudah mengantuk.

Karena di rumah ibunya hanya tersedia dua kamar, untuk ibunya dan adiknya. Maka Agus pun tidur di ruang keluarga. Setiap ia menginap di rumah ibunya, ia sudah biasa tidur di ruang keluarga. Malam itu, entah mengapa Agus susah untuk memejamkan matanya. 

Baru saja kantuk hendak menyerangnya, ia dikejutkan oleh sesosok lelaki yang sedang berjalan mengendap-endap. Diperhatikannya sosok lelaki itu, lalu lenyap masuk ke kamar ... adik perempuannya.

Beribu tanya memenuhi kepala Agus. Apa yang dilakukan ayah tirinya tengah malam begini di kamar adiknya? Ingin sekali ia melangkah ke sana, tapi ia takut. Sampai akhirnya rasa kantuk membawanya ke alam mimpi, ia masih belum bisa mengungkap apa yang dilakukan oleh ayah tirinya di kamar adiknya.

Matahari sudah merangkak naik. Agus tergesa-gesa berlari ke rumah pamannya. 

"Kakak, ada yang perlu aku bicarakan." Agus menarik tangan kakaknya menuju kamar.

"Kau kenapa? Wajahmu kelihatan tegang begitu?" tanya Iren kakaknya.

"Kak, semalam aku melihat ayah tiri masuk ke kamar Lisa. Ia tak tahu jika aku masih terjaga."

"Ah, masa sih? Kamu mimpi kali?"

"Aku nggak bohong kak, aku beneran lihat dia masuk ke kamar itu."

"Baiklah, sekarang sebaiknya kita temui Lisa. Kita cari tahu kebenarannya seperti apa."

Kakak beradik itu, berjalan menuju rumah ibu mereka. Biasanya, di saaat jam segini, ibu dan ayah tirinya tidak berada di rumah. Dengan langkah terburu-buru, mereka masuk untuk menemui adiknya.

"Lisaaa," jerit Irene. Ditepisnya botol yang bertuliskan racun nyamuk dari tangan Lisa. "Kau ini kenapa? Ceritalah pada kami," desak Irene.

"Lisa, semalam aku melihat ayah masuk ke kamarmu. Gerak-geriknya sangat mencurigakan. Apa yang telah diperbuatnya?" tanya Agus.

"Tolong, bicaralah yang jujur. Jangan ada yang disembunyikan." Irene membelai rambut adiknya.

"Kak, aku telah dicabuli ayah. Ini bukan yang pertama kalinya. Ia telah meniduri aku sejak kelas dua SMP. Ia selalu mengancam akan membunuhku, jika aku mengadu pada kalian." 

"Ya Allah, kok kamu nggak pernah cerita sama kakak sih, dek?" Iren mendekap tubuh adiknya. Matanya mulai berair, tanpa bisa ia bendung.

"Aku takut kak. Dia akan menghabisi keluarga kita." 

"Sialan," umpat Agus sembari meninju dinding.

Adik, kau kenapa? Jangan-jangan, racun ini sudah sempat kau minum, ya?" Irene dan Agus terlihat panik melihat kondisi adiknya. Iren menaruh kepala Lisa di pahanya.

Badan Lisa kejang, dari mulutnya keluar busa. "Kak, tolong balaskan dendamku." Kalimat terakhir yang diucapnya, sebelum Lisa menemui ajalnya.

***

Di sana, di dalam kobaran api, ada seorang bajingan yang sedang bergelut dengan maut. Sebelum kebakaran itu terjadi, Agus telah memasukkan obat tidur ke dalam kopi ayah tirinya. 

Karena lampu sedang padam, Agus membiarkan lilin menyambar gorden jendela tepat di dekat ayahnya yang sedang tak sadarkan diri. 

Kini, Agus lega telah menunaikan keinginan Lisa, tepat di hari ke empat puluh kematian adiknya itu. Harapnya, Lisa sudah tenang di sisi yang maha kuasa.

 

user

10 December 2021 12:36 Wella Triana Aku udah melipir ke lapak kakak @hariyanti

user

15 April 2022 11:21 Irianti cool

Bab 2. Sakinah Itu Kau

3 2

Cinta adalah perasaan yang tumbuh tanpa diduga. Cinta tak pernah salah, namun jika manusia tak mampu untuk mengendalikannya, maka ia bisa menjadi buta.

***

Rosario, seorang gadis beragama nasrani, sangat terpukau dengan suara azan yang selalu dilantunkan oleh Ali. Ia penasaran dengan wajah pemilik suara merdu tersebut. Ada desiran aneh yang menjalar di dadanya, setiap kali Ali mengumandangkan seruan azan.

Gadis itu belum lama ini tinggal di Kepahiang. Jadi, semua informasi tentang Ali, hanya ia dengar dari tantenya. Gadis berdarah tionghoa itu, sepertinya memiliki ketertarikan dengan suara milik Ali.

Ia tak berani bertanya lebih jauh lagi tentang sosok Ali. Karena dikhawatirkan, akan menimbulkan kecurigaan oleh tantenya. 

Pagi ini, Rosario bersiap-siap lari pagi. Sebelum berangkat, terlebih dahulu ia berpamitan dengan sang tante.

"Tante, Oca berangkat dulu, ya." Oca adalah panggilan kesayangan dirinya.

"Iya, Ca. Udara seger banget lho pagi-pagi di Kepahiang ini. Kalau si dedek udah gede, Tante mau lho ikut kamu olah raga."

"Nggak apa-apa kok, Tan. Siapa tau, ntar ketemu cowok ganteng di jalan," guraunya.

"Ish, dasar anak gadis. Nanti langsung pulang, ya. Kalau kamu hilang, habis tante dimarah mamamu."

"Tenang aja Tan, kota ini kecil. Mudah-mudahan nggak bakal nyasar." Ia tersenyum memamerkan lesung pipinya, lalu menghilang di tengah kabut pagi.

Kepahiang, daerah yang terletak di provinsi Bengkulu. Daerah ini terkenal dengan sebutan Bandungnya Sumatera. Kepahiang adalah daerah penghasil kopi dan juga teh.

Pagi ini, kabut menyelimuti kota Kepahiang. Selain itu, udara juga terasa sangat dingin. Rosario tampak menahan dingin, tapi niatnya untuk olah raga tetap ia lanjutkan.

"Aduh," rintihnya saat seseorang tanpa sengaja menyenggol tangannya.

"Maaf, kamu nggak apa-apa?" tanya seorang lelaki dalam balutan jaket hodie.

"Ya, aku baik-baik aja kok," jawabnya sembari tersenyum.

"Duh, senyumnya manis banget. Lama-lama menikmati senyum kamu, aku bisa diabetes nih," seloroh lelaki itu.

"Terima kasih, aku sangat tersanjung."

"Mau kemana Mbak?"

"Cari udara segar Bang. Bosen, di rumah terus." 

"Bareng aja yuk, jadi enak kalo ada temennya. Oh, ya, nama Mbak siapa?"

"Rosario, biasa dipanggil Oca." Gadis itu mengulurkan tangannya. Namun, pemuda itu membalas dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Rosario mengangguk tanda mengerti. 

"Namaku Ali." 

"Ali yang sering azan di masjid Husnul Khotimah?" 

"Eh iya, kok tau?" Ali mengernyitkan dahinya.

"Hei, pantas saja dari tadi aku mikir dimana pernah dengar suara kamu."

"Oh, ya?"

"Suara kamu, sangat menggetarkan bagi orang yang mendengarnya. Setiap kali mendengar kamu azan, rasanya begitu syahdu. Langsung kena di hati," ucap gadis itu terus terang. 

Perkataan gadis itu membuat Ali sedikit kikuk. Selama ini, ia melantunkan azan, semata-mata karena Allah. Bukan untuk menarik lawan jenis. Ini semua diluar kehendak Ali. Namun, jika ada yang mengagumi suaranya, apakah ini dosanya?

"Maaf, aku tak ingin kamu salah paham. Aku ingin tau lebih banyak lagi tentang islam, apa boleh?"

"Oh, tentu saja. Nanti, akan ada beberapa teman yang mendampingi kita."

"Woii, lama kali kau Li. Kita udah nungguin dari tadi nih. Lihat si Nisa, dari tadi wajahnya resah dan gelisah." Akbar dan beberapa teman Ali sedang menantinya. Nisa yang disebut namanya pun tampak malu-malu. Namun, senyumnya hilang seketika, saat melihat gadis yang berada di samping Ali.

"Kau jalan sama siapa? Nggak pernah lho ada sejarahnya, Ali berjalan berdua dengan seorang gadis. Mana cantik pula wajahnya," timpal Zikri.

"Kenalin, ini Rosario. Kalian bisa memanggilnya dengan nama Oca." Ali mengenalkan gadis manis di sebelahnya.

"Tumben kau jadi pendiam Nisa. Bukannya sedari tadi kau sibuk nanyanyain pacarmu." 

"Hus, nggak ada yang namanya pacaran Bro," bantah Ali. 

Ucapan Ali sontak membuat Nisa kecewa. Biasanya, mereka memang suka menjodohkan Ali dan Nisa, tapi kali ini lelaki itu menampiknya. Apakah karena kehadiran gadis ini mulai menempati ruang, di hati Ali.

Setelah pertemuan pertama dengan Ali, Rosario jadi semakin sering bergabung dengan Ali dan teman-temannya. Mereka sering membahas tentang agama. Gadis itu tertarik tentang makna yang terkandung di dalamnya.

"Astaga, apa ini Oca?" Sang tante menemukan buku-buka tentang islam di atas nakas. Rosario kaget karena tante masuk secara tiba-tiba. Ia juga lupa untuk mengunci pintu kamarnya. Karena kecerobohannya, kini ia dalam masalah.

"Eh-anu Tan, aku pengen tau aja agama islam itu seperti apa," jawabnya gugup.

"Inilah yang tante khawatirkan, semakin lama kau di sini, nanti tante yang bakal disalahkan orang tuamu. Malam ini, Tante pesankan tiket untuk kau pulang besok."

"Tapi Tante ...."

"Tak ada kata tapi. Bereskan buku-buku itu, kembalikan pada pemiliknya."

Sejak ketahuan oleh sang tante, ia tak pernah lagi bertemu dengan Ali. Rosario bagai hilang ditelan bumi.

***

"Pak Ali, hari ini desa kita akan kedatangan seorang bidan. Ia nanti akan memberi penyuluhan, serta membantu kelahiran bayi di sini."

"Oh, iya, Mbak. Apa beliau ini yang ditunjuk menjadi bidan desa di sini?"

"Benar Pak. Ini biodata beliau, Bapak bisa lihat pendidikan maupun pengalaman kerjanya." Sekretaris desa memberikan sebuah map kepada Ali. 

Ali, sekarang ia sudah menjadi seorang kepala desa. Selain itu, ia juga sering didapuk menjadi khatib. Atau mengisi ceramah di acara pengajian ibu-ibu.

Bidan desa yang mereka tunggu, akhirnya datang juga. Tak seperti yang mereka bayangkan, ternyata sang bidan memakai cadar. Ia pun memperkenalkan diri dengan seluruh jajaran perangkat desa. 

Sudah lama, desa tempat tinggal Ali tidak memiliki bidan. Jika ada warga yang hamil, lalu melahirkan, mereka harus pergi ke desa sebelah. Karena sudah memiliki bidan tetap, warga tak perlu lagi jauh-jauh untuk melahirkan anak mereka secara normal. 

Pagi ini, motor Ali tiba-tiba berulah. Ali lupa mengisi minyak saat berangkat tadi. Alhasil, motornya tiba-tiba mati di jalan. Mau nggak mau, ia pun berinisiatif untuk mendorongnya. 

Saat itu, ia melewati rumah bidan desa mereka, Bu Sakinah. Saat Sakinah memberi penyuluhan kemarin, ia begitu kagum padanya. Seorang wanita yang cerdas, itulah yang terlintas di benaknya.

Kali ini, ia benar-benar ada di depan rumahnya. Mungkin, ia bisa menaruh motornya di sana untuk sementara waktu. Dengan gagah, Ali mendekati rumah Sakinah.

"Eh Bapak, kebetulan saya mau berangkat. Motornya kenapa didorong, Pak?" Sakinah melihat Ali saat ia akan berangkat ke puskesmas.

"Motor saya habis bensin Mbak. Rencananya, mau dititipkan di sini dulu." 

"Terus, Bapak berangkat kerja naik apa?"

"Saya naik ojek aja Mbak."

"Kita berangkat bareng aja, Pak. Lagian kita kan searah. Ini kuncinya, Bapak aja yang bawa motornya."

Dalam sekejap, kunci motor sudah berada di tangan Ali. Mereka berangkat menuju komplek perkantoran milik desa Tebat Monok. 

Akhirnya, mereka sampai juga. Setelah menyerahkan kunci pada Sakinah, Ali tak lupa mengucapkan terima kasih. Pandangan Ali tak lepas dari gadis itu.

"Sakinah ...." Panggilan Ali, membuat Sakinah menghentikan langkahnya. "Beberapa tahun lalu, ada seorang teman yang memiliki mata seperti milikmu. Apakah itu kamu ... Rosario?" Nama itu membuat Sakinah berbalik. Ia nampak terkejut atas ucapan Ali.

"Bagaimana kamu bisa berpikir itu adalah saya?" Ia balik bertanya.

"Terkadang, perasaan yang tak biasa yang kamu rasakan, tak akan mampu untuk menghapus wajah orang yang engkau sukai. Apa tebakanku benar?"

"Ya, Ali. Tebakanmu benar adanya. Maaf, jika kehadiranku mungkin membuatmu tidak nyaman."

"Tentu tidak Sakinah. Saya malah sangat senang, karena dipertemukan kembali denganmu. Sudah lama, saya berharap bisa berjumpa dengan kamu."

"Kini, kita sudah bertatap muka, apa. Apa yang akan kamu katakan?"

"Jika kamu masih sendiri, bersediakah kamu untuk menjadi pendampingku, Sakinah?"

"Ya, Ali. Sejak pertama mendengar kamu melantunkan azan, saat itu pula hatiku telah terpaut oleh seorang muazin, yang bernama ... Ali."

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 07 Desember 2021

user

08 December 2021 20:56 Asmarani Syafira Happy ending ceritanya

user

10 December 2021 05:40 Wella Triana Makasih bund

Bab 3. Calon Suamiku Di Ranjang Adikku

4 2

Menikah, adalah impian setiap insan. Apalagi, jika berjodoh dengan orang yang dicinta. Akan tetapi, sekeras apapun kau memperjuangkan cinta. Jika ia bukan jodohmu, semua akan sirna. Walaupun pernikahan itu, sudah di ambang mata.

***

Bahagia, itu lah perasaan yang sedang aku rasakan. Bagaimana tidak, sebentar lagi aku akan dipersunting oleh lelaki idamanku. Satu bulan yang lalu, ia melamarku di hadapan papa dan mama.

Begitu gagah dan santun. Sampai-sampai, kedua orang tuaku terpukau. Bak terhipnotis akan pesonanya, mereka menerima lamaran Akmal tanpa banyak permintaan. Bahkan, adikku satu-satunya juga ikut bahagia. Ia menawarkan diri, untuk membantu mempersiapkan segala keperluanku.

"Kakak, kita pakai jasa wedding organizer aja," saran Kayla adikku. Kakak tenang aja, aku yang akan membayar mereka." Kayla tampak senang saat berbicara.

"Kay, aku nggak mau ngerepotin kamu. Nanti gimana caranya aku ganti uang kamu lho. Jasa WO itu, sangat mahal," tolakku.

"Ih, pokoknya Kakak nggak usah pikirkan biayanya. Dan satu lagi, aku ikhlas melakukannya. Ini semua aku lakukan, karena aku sayang banget sama Kakak."

"Aku beneran nggak enak Kay. Nanti apa kata papa, masa Kakak nikah dibiayai adiknya."

"Kak, papa pasti ngerti kok. Kakak, selama ini kita selalu bersama-sama. Kakak sudah terlalu banyak berkorban buat aku. Kini, giliran aku yang membalas segala kebaikan yang telah Kakak berikan."

Wajah tulus adikku, membuat aku tersentuh. Ada rasa haru dari sudut hati yang terdalam. Aku tak menyangka, perhatiannya akan sebesar ini.

"Kak, ayo aku antar ke tempat temanku. Di tempatnya, cetak undangan juga bisa. Gimana kalo kita serahkan semua sama dia? Kita, tinggal terima bersihnya."

"Terserah kamu lah Kay, yang penting Kakak tau beres. Terima kasih, ya," ucapku sembari merangkul dirinya. Kami pun berangkat untuk mencari segala keperluan pernikahan.

Kayla, begitu telaten. Dari pelaminan, sampai baju yang akan aku pakai pun, ia yang memilihnya. Hal-hal yang kecil pun tak luput dari perhatiannya. Aku merasa beruntung memiliki adik seperti dia.

Azan belum berkumandang, ayam jantan juga belum berkokok. Kesenyapan malam, tiba-tiba dihebohkan oleh suara dari kamar adikku. Aku segera bangkit dari tidurku. Bergegas lari menuju kamar Kayla.

Alangkah terkejutnya aku, saat menyaksikan calon suamiku tengah berada di kamar adikku. Satu ranjang, dan tubuh mereka dibalut selimut. Padahal, besok akan diadakan acara sakral. Pengucapan ijab kabul, agar hubungan kami menjadi halal.

Namun dalam sekejap, impian itu berubah menjadi mimpi buruk. Adikku telah tidur bersama kekasih hatiku. Aku benar-benar merasa hancur dan sakit hati. Namun, aku tetap mencoba untuk kuat menghadapi semua ini.

"Sejak kapan kalian bermain di belakangku?" tanyaku lirih. Mataku tak dapat menahan air yang keluar dari sudut netra ini.

"Sumpah Karin, aku tak melakukan apa-apa. Tadi aku di rumah, saat sadar ... aku sudah berada di sini." Akmal mencoba membela diri.

"Kak, ini bukan salahku. Dia yang telah memaksa aku untuk melakukan hal yang memalukan ini," jerit Kayla di sela isak tangisnya.

"Aku tidak melakukan apapun terhadapmu," hardik Akmal. "Kau sengaja menjebakku." Akmal menghempaskan kepalan tinjunya di kasur.

"Jadi ... sekarang bagaimana?" tanya mama lembut.

"Pernikahan tetap dilanjutkan," sahutku.

"Haa? Benarkah?" tanya mama lagi.

"Iya Ma. Namun pengantin wanitanya bukan Karin."

"Aku nggak mau nikah sama dia. Ini bukan salahku." Akmal menolak keinginan Karin.

"Maaf Mas, di sini terlalu banyak saksi yang menyaksikan perbuatan kalian. Aku tak bisa berbuat apa-apa," lirihku.

Tanpa menghiraukan ocehan mereka, aku pun berlalu dengan perih yang tak terkira. Sesampainya di kamar, kutumpahkan segala kesedihanku. Jika memang belum berjodoh, padahal hanya tinggal pengucapan ijab kabul, maka tak ada kata untuk bersatu.

"Kakak," panggil Kayla. Sebenarnya aku muak mendengar gadis berhati iblis ini. Ingin rasanya tangan ini kudaratkan di pipi mulusnya. Namun, aku teringat akan mamaku.

"Sungguh semua diluar dugaanku. Ternyata kau masih sama seperti Kayla yang aku kenal," sindirku.

"Maksud Kakak apa?"

"Aku benar-benar terperdaya olehmu. Kukira kau tulus melakukannya untukku, tapi aku salah, heh."

"Kakak seperti tak mengenalku saja." 

"Kau mempersiapkan segalanya dengan matang, aku tertipu mentah-mentah. Rupanya, kau sedang mempersiapkan pernikahan impianmu. Kau pura-pura membantuku, tapi kau sudah punya rencana untuk menjadi pengantin pengganti. Jika memang sedari awal kau menyukainya, pasti sudah kuserahkan baik-baik padamu. Seperti yang sudah-sudah, kau selalu merampas kebahagiaanku."

"Kakakku sayang, masih ingatkan dengan perkataan papa? Kakak tidak boleh bahagia, jika aku menderita. Dan aku, selalu merampas apa yang menjadi impianmu, ha ha."

"Kau menghinakan dirimu sendiri, cih. Kau tak pantas bahagia dengan apa yang bukan menjadi hakmu."

"Selama masih ada papa, aku akan selalu mendapat apa yang aku inginkan. Tak terkecuali dengan nyawamu, Kak."

Gadis menyebalkan itu tersenyum sinis. Dengan lagak angkuh, ia berlalu dari hadapanku. Jika tak ingat dengan mamaku, aku pasti sudah menamparnya. Kasihan Akmal, aku tau dia tidak bersalah. Namun aku tak punya bukti untuk bisa membelanya.

***

Setelah papa meninggal karena sakit, mama yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia rela lembur hingga malam, semua ia lakukan untuk menghidupiku. Karena kerja kerasnya, pak Iqbal terpikat pada mama. Ia pun berniat untuk menjadikan mama sebagai istrinya. 

Sama seperti mama, beliau juga memiliki seorang anak perempuan. Setelah menikah, mama selalu mencurahkan kasih sayang yang sama untuk kami berdua. 

Lain halnya dengan pak Iqbal, ia tidak sepenuhnya sayang padaku. Ia kerap melakukan kekerasan mental terhadap seorang anak kecil sepertiku.

Aku tidak boleh menjadi lebih baik dari putrinya. Apa yang menjadi milikku, harus kurelakan berpindah tangan untuk adik tiriku.

Dan itulah yang terjadi pada saat ini. Kayla dengan tega merampas calon suamiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena mama. Aku takut, papa tiriku akan menyakitinya, jika aku mencoba melawan anak gadisnya yang manja itu.

Tahun berlalu, bulan berganti. Sakit yang kurasa perlahan pun mulai sirna. Kini, aku telah menemukan pengganti Akmal. Lelaki saleh, calon imamku. Ia seorang pengajar di sekolah dasar swasta. Darinya, aku banyak belajar ikhlas.

Pagi ini, aku mendapat berita duka dari Kayla. Mamaku meninggal karena serangan jantung. Walaupun anak tiri, Kayla sangat sayang pada mama. Ia begitu terpukul atas meninggalnya mama.

Kutatap tanah yang masih merah itu. Di sana, telah terbaring mama dengan duka yang ia pendam. Mama harus menyaksikan segala kepedihanku, tanpa bisa membelaku.

"Kak, siapa lelaki yang bersamamu?" tanya Kayla.

"Dia calon imamku." 

"Kakak ... bagaimana jika kamu balikan dengan mas Akmal. Dia tak bahagia denganku. Bahkan, aku tak pernah disentuhnya."

"Maaf, aku sudah melupakannya."

"Kak, aku tau kamu masih menyimpan perasaan padanya. Kuizinkan dia menalakku, dan Kakak bisa hidup bahagia dengan dia. Lalu, pacar Kakak yang gagah itu, aku bersedia menikahinya." 

"Kayla, pernikahan itu bukan perihal main-main."

"Karin, apa kamu lupa. Milikmu adalah milik Kayla," tegur papa tiriku.

"Pak Iqbal yang terhormat ... dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang, aku tak akan tunduk pada perintahmu. Selama ini, aku melakukan semua hanya demi mama. Kini, aku bebas meraih kebahagiaanku," sentakku. 

Papa tiriku terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Mulai kini, tak boleh lagi ada air mata karena perlakuan semena-mena mereka berdua yang ditujukan padaku.

"Dan kau," tunjukku pada Kayla. "Kau memang sangat suka bekas yang kupakai. Namun, aku tak mau menerima apa yang telah menjadi bekasmu." Ia terkesiap, tak menduga kata-kata itu akan keluar dari mulutku.

Memang, selama ini aku selalu mengalah. Aku tak mau lagi mengikuti skenario yang telah mereka buat. Kini aku bebas mewujudkan masa depan bersama pujaan hati. Dan aku, tak akan pernah menginjakkan kaki di hadapan mereka lagi. Tidak akan.

 

Tamat..

 

Bumi Raflesia, 08 Desember 2021

user

08 December 2021 20:59 Asmarani Syafira Ohya, Apakah memang ceritanya ini baru ditulis hari ini jufa,ya, Kak?

user

10 December 2021 05:41 Wella Triana Ia bund, yang semalam malah mulai nulisnya sesudah magrib, hee

Bab 4. Oh Anakku

2 0

Nasib seseorang tak ada yang tahu. Saat ini, mungkin kau sedang berada di bawah. Namun tak ada seorang pun yang bisa menjamin, apakah esok kau masih sejajar dengan kasta kalangan bawah. Berusahalah, serahkan hasil akhirnya pada yang maha kuasa.

***

Namaku Pardi. Pekerjaanku sehari-hari adalah tukang becak. Penghasilanku memang tak seberapa. Dapat untuk biaya makan sehari-hari saja, aku sudah bersyukur. 

Aku memiliki istri yang cantik, dan pintar menjaga penampilan. Orang pasti akan berpikir, jika istriku itu bersuamikan seorang ASN. Jika diibaratkan, seperti sopir dengan majikannya.

Sifatnya juga sangat pongah. Dia suka membeli barang, tanpa sepengetahuanku. Tak jarang kami berperang urat syaraf, hanya karena ia sering menghamburkan uang dengan membeli barang yang tidak penting.

Tak ada bedanya dengan anakku semata wayang. Ia menuruni sifat ibunya. Apa keinginannya, harus aku turuti. Walau terkadang, aku harus kerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terkadang, aku merasa gagal mendidik mereka. Segala keinginan mereka, harus aku turuti. Sebagai lelaki, aku sering merasa harga diriku diinjak-injak. Ditambah lagi, mertuaku suka ikut campur dalam masalah keluargaku.

Aku tak berkutik, jika ibu mertua sudah bersuara. Seperti kereta api, omelannya panjang dan membosankan. Tak jarang, perkataannya laksana pisau yang menikam jantang. Sakit hati, tapi aku mencoba untuk bertahan.

Demi meredam egoku sendiri, acap kali aku dipandang rendah oleh keluarga istriku. Aku tak pernah membalas perbuatan mereka. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku selalu mengikuti kemauan mereka.

Siang ini, matahari bersinar dengan garangnya. Baju telah basah oleh keringatku. Sudah waktunya makan siang, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.

"Mak, masak apa hari ini? Bapak udah lapar, tolong siapkan makan, ya," titahku pada istrku tercinta. Aku lantas ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.

"Cuma ada tempe goreng dan rebus pucuk ubi, Pak," ujar Leha istriku. Ia pergi ke dapur, untuk menyiapkan makan siangku.

"Walau makan seadanya, asal Mak yang masak, pasti lahap." 

"Iya lah lahap, yang penting perut kau kenyang," sela ibu mertuaku dengan nada yang ketus.

"Eh Ibu, mari makan siang sama-sama." Ibu mertuaku hanya mencibir saat aku menawarkan untuk makan bersama. Walau omongannya selalu ketua, aku tetap menghormatinya sebagai orang tua.

"Nggak sudi makan dengan lauk tempe, apalagi bareng sama kamu, cih." Dengan tatapan jijik, ia berlalu dari hadapnku.

Jika tak ingat dia sebagai orang tua istriku, pasti sudah kuremas mulutnya. Aku manusia biasa, yang punya batas kesabaran.

"Abang, kalau nggak mau dihina ibu terus, sebaiknya cari kerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Udah sepuluh tahun menikah, nasib kita masih seperti ini. Nggak ada perubahannya," rutuknya.

Aku hanya mengelus dada sembari memperbanyak istigfar. Andai saja dia tahu, seberapa besar cita-citaku untuk membahagiakan mereka. Namun, memang Tuhan belum memberi jalan keluar yang terbaik.

Sepuluh tahun lamanya, aku menjalani kehidupan seperti ini. Anak, istri, mertua, kelakuannya sama saja. 

Sedang asyik menikmati kopi yang kuseduh sendiri, terdengar langkah kaki setengah berlari menuju rumahku.

"Bapak," bentak anak gadisku. Gelas berisi kopi yang sedang kupegang nyaris terlepas.

"Ada apa sih Nak? Ngomongnya kan bisa pelan-pelan."

"Bapak ini gimana sih. Kan sudah aku bilang berkali-kali, becaknya jangan ditaruh di depan," ujarnya emosi. Memang, dia sudah sering memgingatkan untuk menaruh becak, di halaman belakang rumah kami. 

"Aduh, Bapak lupa. Tadi, Bapak lapar banget, nggak ingat becak masih ada di depan."

"Nggak usah banyak alasan deh Pak. Pindahin sana, ntar lagi sahabat aku mau ke sini. Cepetan," hardiknya.

Dengan memendam sedih dan kecewa, aku melakukan apa yang diperintahkan anakku. Tak lama setelah becak kupindahkan, kawan-kawan anakku pun datang ke rumah.

Anakku memang tak pernah memberitaukan tentang pekerjaanku pada temannya. Ia malu, mempunyai ayah yang bekerja sebagai tukang becak. Jika berpapasan di jalan, tak jarang ia pura-pura tidak mengenaliku. Pernah suatu ketika aku menyapanya saat ia sedang berkumpul dengan kawan-kawannya, malah ia tak mau mengakui aku sebagai ayahnya.

"Pak," ujar anakku.

"Ya, ada apa?"

"Lihat nih," ia melempar sebuah kotak hp. 

"Yang sopan dong Rani," tegurku.

"Udah, Bapak nggak usah banyak omong. Aku mau hp persis seperti itu. Pokoknya, dalam minggu ini, Bapak harus membelikannya buat aku."

"Ini pasti mahal Rani, Bapak nggak punya uang. Setiap hari, Bapak selalu setor uang sama ibumu."

"Aku nggak mau tau Pak. Kukasih waktu satu minggu untuk membelikannya." Setelah berkata demikian, ia masuk ke kamarnya. Dan aku, hanya termenung meratapi kecewa yang tiada habisnya.

Untung saja, nasib baik sedang berpihak padaku. Temanku yang merupakan toke kopi, datang menawarkan pekerjaan. Aku diajak ikut ke dusun-dusun, untuk mencari kopi yang belum diolah. Bukan hanya mendatangi petani kopi, kami juga mendatangi kebun-kebun merica. 

Dengan upah yang kudapat, akhirnya aku bisa juga membelikan Rani hp seperti yang diinginkannya. Ia pasti senang, bisa punya hp seperti teman-temannya.

"Rani," panggilku.

"Apa Pak, aku lagi belajar," teriaknya dari kamar. Entah alasannya saja, padahal biasanya dia paling malas belajar. 

"Kamu mau hp tidak?" Mendengar kata hp, ia segera berlari ke arahku. Seperti anak yang tak pernah diajari sopan santun, ia merebut kasar hp itu dari tanganku. Lalu kembali masuk ke kamarnya, tanpa ucapan terima kasih.

Sebulan telah berlalu. Tiba-tiba, anakku datang kepadaku saat aku tengah menikmati istirahat siangku.

"Pak, aku mau hp baru." Ia melemparkan hp yang kubelikan tempo hari. 

"Lho, ini kan masih baru. Masih bagus malah," ujarku heran. Kuputar-putar untuk melihat apakah ada yang rusak.

"Iya, emang masih bagus. Tapi sekarang ada produk baru yang lebih keren. Harganya cuma dua juta Pak."

"Apa? Harga dua juta kamu bilang 'cuma'?" Aku terbelalak mendengar harga yang diucapkan anakku itu.

"Alah, bilang aja Bapak nggak mampu beli buat aku. Nyesal banget aku punya Bapak miskin kaya anda." Ucapannya barusan seakan menyadarkanku, betapa aku tak pernah ia anggap sebagai ayahnya. Benar-benar tak bisa dimaafkan. 

Dengan emosi yang membuncah, kuayunkan tangan ke pipinya. Ia tak mampu mengelak tamparan tanganku. Selama ini, aku memang tak pernah main tangan kepada keluargaku. 

Aku meluapkan amarah yang selama ini hanya bisa kupendam. Rani menangis memegangi pipinya. Bukannya membela, istri dan mertuaku bersekongkol untuk memojokkan diriku. 

Bahkan, mereka berdua dengan mudahnya mengusirku dari rumah. Memang, rumah itu bukan milikku. Jadi, tak terlalu berat bagiku untuk keluar dari rumah tempat kami tinggal selama ini.

Setahun telah berlalu. Aku benar-benar putus hubungan dengan istri dan anakku. Sejak pergi dari kehidupan mereka, hidupku jadi lebih tenang. Aku juga sudah memiliki keluarga baru yang sangat menyayangiku. 

Istriku yang sekarang, seorang janda beranak satu. Anaknya perempuan, seusia dengan anak kandungku. Baru kali ini aku diperlakukan seperti seorang ayah. 

Mobil avanza berwarna silver berhenti tepat di depan rumah istri pertamaku. Karena rumah irang tuaku berhadapan dengan rumah Leha, mau tak mau aku harus melewati rumahnya juga.

Saat pintu mobil kubuka, anakku terkejut melihat kehadiranku. Aku tak memperdulikan mereka. Jangankan menyapa, melihat mereka saja rasanya tak sudi. Luka lama teringat kembali. Aku belum bisa memaafkan mereka sepenuhnya.

"Bapak," pekik anakku girang. Ia berlari mendekatiku, begitu juga ibunya. Saat Rani akan mengambil tanganku untuk menciumnya, aku segera menepisnya. Nampak segurat kekecawaan di wajahnya. 

"Bapak kemana aja, kok baru pulang." Leha mencoba mencairkan suasana. 

'Dasar perempuan, giliran lihat aku pulang bawa mobil, mulutnya manis seketika,' gerutuku dalam hati.

"Nggak perlu basa-basi Leha. Aku datang ke sini, untuk bertemu orang tuaku. Dan ... aku menalakmu saat ini juga." Leha terkejut.

"Bapak bercanda," sela Rani. Ia mencoba meraih tanganku, tapi tak berhasil.

"Dan kau ... jangan lagi panggil aku 'Bapak'. Bukankah selama ini kau malu untuk mengakui aku, sebagai ayahmu." 

"Bapak, tolong jangan ceraikan aku. Aku, ...."

"Sudahlah. Aku menganggap kalian sebagai bagian masa lalu. Kini aku sudah sukses, berkat mereka. Aku yang miskin ini, dipungut oleh orang baik seperti mereka." Dengan bangga, aku menunjuk keluarga baruku yang keluar dari mobil. "Selama ini, kalian tidak pernah menghargai aku sebagai suami atau ayah. Kalian durhaka terhadapku. Bahkan kau tega mengusirku."

Leha dan Rani menangis mendengar ucapanku. Penyesalan jelas terlihat di wajah cantik mereka. Namun sayangnya semua telah terlambat. Aku merangkul keluarga baruku, masuk ke dalam rumah ibuku.

Jangan suka memandang rendah kepada orang lain, apalagi itu dilakukan terhadap keluarga sendiri. Jangan sampai sesalnya, akan kamu rasakan seumur hidup. Di saat orang yang kamu sakiti bahagia, kamu malah merasakan sakit saat melihatnya.

 

Tamat

 

Bumi Raflesia, 091221

 

 

Bab 5. Cinta Yang Lain

2 3

"Heh gendut, makan aja yang dibanyakin. Lihat tuh badan lo, udah kaya gentong. Nggak malu apa? Nggak cocok banget kalo lagi jalan sama si Roy." Tamara adalah sahabat karibku. Orangnya memang ceplas-ceplos, tapi hatinya baik. 

"Gue lapar Tam, nggak bisa banget lihat makanan enak begini." 

"Lo ini, dibilangin malah ngeyel," omelnya. Dirampasnya mangkok bakso yang ada di hadapanku.

"Apaan sih lo," rengekku. Ia malah melahap habis bakso yang tersisa.

"Mantap Ndin," cengirnya. Ia terkekeh sambil memegang perutnya yang langsing.

"Dimana-mana, yang gratis emang rasanya mantap," sindirku. Ia makin tertawa mendengar ocehanku. Lalu mendaratkan cubitan di pipiku.

"Lo harus diet Andin. Kalo badan lo makin gede, gue yakin si Roy bakal pindah ke lain hati. Bisa jadi, dia berpaling ke hati gue." Tamara menggerakkan alisnya turun naik.

"Coba aja kalo lo berani merampas dia. Gue nggak akan maafin kalian seumur hidup," ancamku.

"Duh, bukan main ancaman lo. Gue takut banget, ha ha ha." 

Aku ikut tertawa mendengar gurauan Tamara. Namun di balik candaannya itu, ternyata ia memang berniat untuk merebut kekasihku. 

***

Sore ini angin bertiup sepoi-sepoi. Embusannya membuat beberapa helai rambut menutupi wajahku. Saat aku merapikan di setiap helaiannya, tak sengaja aku melihat dua sejoli yang sedang dimabuk asmara.

Mereka terlihat sangat mesra. Beberapa kali tampak sang lelaki membelai rambut pacarnya. Sambil berjalan di tepian pantai, lelaki itu merangkul kekasihnya. Aku berinisiatif untuk mendekati mereka, tak sabar untuk melihat ekspresi kaget di wajah keduanya.

"Senang bisa bertemu kalian di sini," sapaku dengan suara seramah mungkin. Seperti yang sudah kuduga, keduanya syok saat melihatku hadir di hadapan mereka. Spontan, lelaki itu melepaskan rangkulannya. 

"Tamara ... kiranya lo musuh dalam selimut. Lo tikam gue dari belakang. Selama ini, lo bisa makan itu hasil dari pemberian gue." Emosiku sedikit meledak. Tak kusangka, ia bermain api dengan pacar sahabatnya.

"Ayolah Ndin, ini cuma salah paham." Gadis itu mencoba meyakinkanku.

"Tenang aja Tam, gue sangat paham kok. Dari tadi gue perhatiin gelagat kalian berdua. Nggak ada yang salah dengan penglihatan gue."

"Andin ..."

"Cukup, lo nggak usah jelasin apa-apa ke gue," potongku saat Roy ingin membela diri. "Selama kita pacaran, lo nggak pernah memperlakukan gue seperti tadi. Nggak ada romantis-romantisnya. Dasar buaya," cibirku.

"Lo tau, sebenarnya gue malu punya pacar kaya elo. Ngaca dulu sana, jika benar ingin gue anggap sebagai pacar." 

Dadaku langsung panas mendengar ucapannya. Saat ia lengah, kurebut hp yang sedang berada di genggamannya. Ia pun kaget saat tau aku merampas hp miliknya. Lebih tepatnya, milikku.

"Eh, kembaliin hp gue," pintanya.

"Woi, nggak usah belagu deh jadi cowok. Hp masih pinjam dari gue, lagunya sok-sokan mau selingkuh sana-sini. Mulai sekarang, balik dah lo jadi cowok kere. Dan Tamara, selamat menikmati kesengsaraan jadi pacar dia. Tampang bolehlah, tapi kere. Cuma modal tampang doang, hidup ibarat benalu."

Setelah puas memaki mereka, aku putuskan untuk pulang. Aku berusaha menjadi wanita yang tegar di hadapan pengkhianat itu. Walau sebenarnya, hatiku hancur berkeping-keping.

Sakit hati, ternyata aku hanya dimanfaatkan mereka. Dan begitu bodohnya, aku mau saja menuruti permintaan mereka. Karena aku memang anak orang kaya, beliin pacar hp seharga dua juta, itu hal kecil buatku.

Aku depresi, tak mau keluar rumah hingga berhari-hari. Aku sangat sakit hati pada Tamara. Masih tak percaya, sahabat yang kupercayai ternyata musuh yang nyata. Gara-gara mereka, kuliahku jadi terbengkalai.

"Mah, Andin pengen kurus," ucapku sore itu pada mama.

"Mama nggak salah denger nih." Mama menatap tak percaya.

"Bantu Andin dong, Ma. Temen Mama, kan, banyak tuh yang berprofesi sebagai instruktur senam." Aku memasang wajah mengiba.

"Baiklah, besok Mama hubungi tante Lia. Hmm, kamu serius, kan?"

"Mama nggak yakin? Kita lihat aja nanti, seberapa besar keinginan anak Mama yang cantik ini," kataku meyakinkan.

Keesokan harinya, mama mengajakku ke tempat senam tante Lia. Di usianya yang sudah kepala lima, ia masih terlihat cantik dan bugar. Beliau banyak memberi masukan dan nasehat, agar usahaku untuk kurus tidak menjadi sia-sia.

Tante Lia memberikan latihan yang ringan terlebih dahulu. Makin lama, latihan yang kujalani semakin berat. Aku juga melaksanakan diet sehat. Dengan menjaga pola makan, aku merasakan manfaat yang laur biasa.

Sudah sebulan lebih aku menjalani senam, yoga, dan juga diet ketat. Hasilnya juga sudah terpampang nyata. Beratku yang semula di angka delapan puluhan. Kini, sudah turun dua puluh kilo. Berat badan yang ideal sudah kudapatkan. Sekarang, saatnya untuk mengubah penampilanku.

Untuk urusan make over diri sendiri, aku berguru pada seorang MUA yang bernama Zain, alias Zainal. Pria yang berpenampilan kemayu. Walau begitu, ia mengaku bukan golongan penyuka sesama jenis.

Tak butuh waktu lama, semua ilmu dan materi yang diajarkannya, kubabat habis. Tanganku sangat lincah memainkan kuas dan alat rias lainnya, di wajahku. Perlahan, sakit karena seorang lelaki yang bernama Roy, mulai terlupakan.

"Wow, sempurna Andin," jerit Zain. Ia sangat puas dengan hasil riasanku. "Lo cantik banget," pujinya membuat aku tersipu.

"Ih, aku jadi malu guru."

"Hus, jangan panggil guru dong. Kuping gue nggak enak mendengarnya."

"Lha, kan , emang benar jika elo guru gue."

"Terserah lo lah, malas gue berdebat, ah."

"Jangan manyun gitu dong, luntur ganteng lo."

"Ih bisa aja. Ndin, gue mau ngajak lo makan malam. Mau nggak?"

"Yang bener? Makan di mana?"

"Di Cirkell Cafe, ada musiknya juga."

"Oke, lo jemput gue di rumah, ya. Oh iya, biaya kursus kecantikan gue berapa nih?"

"Khusus buat lo, gratis deh. Gantinya, cukup temenin gue makan malam aja."

"Ihhh, lo baik banget Zain. Terima kasih." 

Kulihat tatapan Zain berbeda. Kok, ada yang berdesir di dadaku. Apa mungkin, Zain berhasil menggeser posisi Roy?

Apakah cinta bisa datang secepat itu? Atau barangkali, aku yang terlalu pede untuk mengakui ada rasa di antara aku dan Zain.

Malam ini, Zain datang menjemputku. Penampilannya membuat aku ternganga. Ia yang biasa tampil kemayu, menunjukkan sisi kelaki-lakiannya. Pesonanya membuat debaran di hati menjadi hilang kendali. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, kami berangkat ke kafe yang ia maksud.

Suasana kafe yang temaram, membuat malam ini begitu romantis. Saking groginya, aku tak sengaja menabrak seseorang yang ada di depanku.

"Eh, maaaf," ucapku. 

"Aku nggak apa-apa kok," jawabnya. "Lo ... kok kayanya nggak asing di mata gue?" Aku langsung menoleh ke arahnya. Ternyata Roy. 

"Ternyata lo, gue pikir tadi siapa," ujarku ketus. Malas banget lihat muka si kunyuk.

"Wajah lo ... mirip ... Andin?" Keningnya langsung mengkerut.

"Iya, ini gue."

"Gila, lo cakep banget. Sumpah, gue pangling dibuatnya." Matanya berbinar melihat perubahanku. "Ada kabar bahagia buat lo, Ndin."

"Paling juga sesuatu yang nggak penting, ckk."

"Gue udah putus dengan Tamara."

"Masa? Terus, hubungannya dengan gue, apa?"

"Kita balikan yuk."

"Eh, dodol. Gue nggak sudi balikan sama pengkhiana macam elo. Nyesel banget gue ketemu lo di sini."

"Gue masih sayang sama lo Ndin."

"Woi, mulai sekarang jangan ganggu Andin. Dia calon istri gue." Zain yang tadi pamit ke wc, datang menghampiriku. Tanpa canggung, digandengnya tanganku.

Di depan Roy, Zain menyematkan cincin mutiara di jari manisku. Aku senang bukan kepalang. Di satu sisi, aku senang bisa membalas sakit hati pada Roy. Di sisi lain, aku sangat bahagia karena dilamar seorang Zain yang penampilannya lebih dari segalanya jika dibandingkan dengan Roy.

Terkadang, pengkhianat, berasal dari orang-orang terdekat. Jika mencintai seseorang, jangan serahkan seluruh hatimu. Karena di lain waktu, hatimu yang tersisa akan bermuara mencari hati yang mencintaimu.

 

Tamat...

Bumi Raflesia, 101221

user

10 December 2021 21:57 Asmarani Syafira Subhanallah ini karya Kak Lha Shaliha?

user

11 December 2021 14:59 Des Ditariani Semangat kak. Saling support mampir ke ceritaku judulnya Noktah hitam.

user

11 December 2021 18:53 Wella Triana Makasih kakak-kakak sudah mampir ke karyaku...kak des, aku melipir ke karyamu...bund asmarani, iya ini karya saya mbak e

Bab 6. Serpihan Sesal

2 0

Jika saja waktu bisa diulang, atau waktu bisa kuhentikan, maka akan kulakukan. Andai saja penyesalan terletak diawal, tentu tak akan ada kata menyesal dalam hidup. Jika aku diberi sebuah pilihan, tentu saja aku akan memilih hidup selamanya bersama dengan istriku. 

Diandra, wanita cantik yang kunikahi delapan tahun yang lalu. Wajahnya ayu, sungguh sedap dipandang mata. Tanpa riasan dan polesan, terkesan lebih natural. Ah, kenapa kau begitu memesona, Diandra.

Walau sudah menikah selama itu, kami belum juga dikaruniai anak. Namun kami tidak merasa kesepian, karena aku dan istriku saling melengkapi.

Diandra itu wanita yang periang. Meskipun hatinya sedang dirundung duka, ia selalu bisa menyembunyikannya dariku. Istri yang sangat sempurna, di mataku.

Pagi ini, ia duduk menghadap jendela kamar kami. Tak seperti biasa, ia berubah menjadi wanita pendiam. Bahkan ia mengabaikanku, saat aku berada di sampingnya.

Aku tak kehilangan akal, kusisir rambutnya yang panjang. Sepertinya, ia masih marah padaku. Dan aku mesti bersabar menunggu badai amarahnya reda.

Semarah apapun ia, Diandra tetap kelihatan cantik. Aku kerap menggodanya saat sedang emosi, sehingga membuat senyumnya terukir kembali. 

Karena harus berangkat kerja, aku pun meninggalkan istri kesayanganku itu. Entah mengapa pagi ini, seperti ada bau bangkai di rumahku. Sepulang dari kerja, sepertinya aku harus membantu istriku untuk membersihkan rumah dari bau yang tidak sedap itu.

Padahal biasanya, ia paling tak suka jika ada bau yang mengganggu indra penciumannya. Ia masih dalam kebisuannya, saat aku meninggalkannya untuk berangkat ke kantorku.

Pagi ini, memang aku tak berhasil untuk membujuknya. Namun aku akan mencoba lagi sepulang dari kerja. Biasanya, dengan sogokan sepiring sate, ia akan menjadi luluh. Dan semua, akan normal seperti sedia kala. Aku senyum sendiri membayangkan kejutan yang akan kuberikan nanti.

Sore ini, sekembalinya aku dari kantor. Kulihat rumahku sudah dipenuhi warga. Terlihat juga beberap personil polisi sedang menginterogasi tetanggaku. Saat mobilku berhenti di garasi, mereka langsung berbondong-bondong ke arahku.

***

Dua bulan yang lalu, ibuku datang dari luar kota. Ia tidak datang sendirian, melainkan dengan seorang gadis yang sangat kukenal, namanya Alma. Dulu, ibu pernah menjodohkan aku dengan gadis itu. Namun, aku menolak karena mencintai Diandra.

Kini, entah ada maksud apa di balik kedatangan mereka. Dari raut wajah istriku, tampak jika ia keberatan dengan kehadiran mereka.

Selama mereka berada di rumahku, tak sedikitpun mereka membantu pekerjaan rumah. Dari masak, sampai bersih-bersih, Diandra lah yang melakukannya. Sehabis makan, mereka juga tidak mau mencuci piring bekas makan mereka. 

Mungkin jika hanya ibuku seorang, istriku tak mempermasalahkannya. Namun, ia tak suka dianggap seperti babu oleh Alma.

"Bu, sampai kapan Alma ikut Ibu tinggal di sini?" tanyaku suatu malam.

"Sampai kamu mau nikahin dia," jawab itu lantang, sehingga Diandra ikut mendengarnya.

"Nikah gimana, Bu? Istriku cuma Diandra, aku nggak mau menceraikannya, atau mencarikan dia madu," tegasku.

"Istri mandul kok dipertahankan sih Mas," sindir Alma.

"Jaga ucapanmu!" Aku naik darah mendengar Alma bicara. Siapa dia, bicara buruk mengenai istriku, tepat di depanku.

"Yang dikatakan Alma itu ada benarnya. Kalau dia nggak mandul, harusnya anakmu sekarang udah tiga," kata ibu ketus. Dari awal, ibu memang tidak setuju dengan pilihanku.

"Kuharap kalian tidak mencampuri urusan rumah tanggaku." 

"Ngeyel kamu, ya. Gara-gara wanita itu, kamu berani membantah Ibu." 

Serba salah, itulah yang kurasakan. Di satu sisi, aku sangat menyayangi istriku. Di sisi lain, aku juga tak ingin mengecewakan ibuku. Kulihat butiran-butiran kristal, membasahi mata istriku.

Alma makin tidak tahu diri. Tak jarang, di depan mata istriku, ia kerap menggodaku. Ia sengaja memancing amarah Diandra. Karena sungkan pada ibuku, ia hanya bisa memendamnya dalam hati.

"Heh mandul, masih aja bertahan di rumah ini. Kalau saya jadi kamu, saya udah minggat dari sini. Nggak mau menunjukkan wajah saya di depan mertua." Perkataan ibuku yang menyayat hati itu tak sengaja kudengar sepulang dari kantor. 

Dengan tak lagi memiliki rasa hormat kepada ibuku, kukemas pakaian mereka berdua. Detik itu juga, aku menyuruh mereka kembali ke asalnya. 

"Keterlaluan kamu Arcio," hardik ibu. "Ibu yang melahirkan kamu, sekarang mati-matian ngebela dia." Ibu menunjuk Diandra yang sudah berurai air mata.

"Aku nggak akan berlaku seperti ini, jika ibu sedikit saja menghargai istriku." Kubawa Diandra ke pelukanku. Ia menangis sesenggukan di dadaku.

"Tega kamu Mas, apa sih yang kamu harapkan dari wanita mandul ini." 

'Plakk' 

"Kurasa tamparanku ini, cukup untuk menjawab pertanyaanmu. Kau, jangan pernah menggaggu rumah tangga kulagi. Jika masih berniat ikut campur, aku tak segan menjebloskan kau ke penjara." Semakin lama dia berada di rumahku, semakin muak aku melihatnya.

Alma terdiam dan sangat ketakutan. Dia bisa berkata seenaknya, karena ada ibu di belakangnya. 

"Arcio," hardik ibu. Dengan menahan emosi yang sudah meledak, ibu menarik tangan Alma. Mereka pergi dari rumah tanpa mengucap sepatah katapun.

"Mas ... maaf, ini semua karena aku," isak istriku.

"Tidak Diandra, kamu nggak salah. Aku lah yang salah, tidak bijak dalam memperlakukan kamu dan ibu."

"Ceraikan saja aku Mas, agar kamu dan ibu bisa bahagia." 

"Ssttt ... jangan pernah ucapkan itu lagi, ya. Aku sudah bahagia. Kita juga sudah berusaha." 

Kueratkan pelukan, sambil sesekali mengecup pipinya. Diandra sudah mulai tenang, tapi kekhawatiran masih tergambar di wajahnya.

Setelah peristiwa itu, Diandra mulai berubah. Ia menjadi pemurung, dan acap kali menangis. Terkadang, ia dilanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan.

Selain itu, ia sering meracau menolak untuk menghabisi dirinya sendiri. Beberapa kali ia melakukan percobaan bunuh diri, tapi berhasil kugagalkan.

Hingga sampai pada puncaknya, empat hari yang lalu. Ketika itu aku pulang dari kantor, kudapati Diandra tergantung pada sebuah kain batik. Ia mengakhiri hidupnya, dengan segala beban yang dipikulnya.

***

Setelah kepergiannya empat hari yang lalu, tetangga baru menyadarinya karena mencium bau bangkai yang berasal dari rumahku. 

Aku sengaja merahasiakannya, karena belum siap hidup tanpa istriku. Apalagi sejak ibuku memakinya, aku sangat merasa bersalah pada Diandra. Dia mengeluarkan air mata, karena ibuku. Dan aku yakin, kematiannya ini pasti ada hubungannya dengan ibu. 

Setelah istriku dikuburkan, ada sepenggal rasa sesal yang mengalir dalam nadiku. Andai aku bisa mencegahnya, dua nyawa yang akan terselamatkan. Dengan sedih, kupandangi benda pipih yang berada di tanganku. 

"Bu ... aku harap kejadian ini tidak akan menjadi penyesalan di sisa umur Ibu. Tanpa sengaja, ibu telah membunuh istri ... dan calon anakku." Kutaruh benda pipih yang menunjukkan garis dua itu di tangan ibuku. Ia menutup mulutnya, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Luruhlah tangis yang sudah tidak berguna.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 111221

Bab 7. Cinta Untuk Gina

1 0

Tak pernah terbayangkan, aku akan berada di ruang pengadilan. Hari ini, hakim akan melakukan putusan sidang. Aku tak sabar ingin masalah ini segera selesai. Hufftt, sebentar lagi aku akan menyandang status duda.

Tak jauh dari tempatku, Regina duduk bersama tim pengacaranya. Wajahnya kelihatan pucat. Ia adalah istriku, dan sebentar lagi kami hanya akan menjadi bagian dari masa lalu. 

Tiba-tiba, Regina pingsan saat sidang akan dimulai. Spontan, aku berlari ke arahnya, lalu menggendongnya menuju mobil. Walau bagaimanapun, ia masih menjadi istri sahku.

Tak kupedulikan Sinta dan mama yang tampak tak suka dengan aksiku. Mereka sempat berusaha untuk menahanku, tapi tak kuhiraukan. Saat ini, Regina lebih butuh aku.

Aku dan istriku menikah karena dijodohkan oleh papa. Ia sudah tak mempunyai orang tua, karena sebuah kecelakaan. Dan itu berkaitan dengan papa. Karena papa merasa berdosa dengan Regina, maka aku diminta papa untuk menikahinya. 

Awalnya, aku dan mama menolak permintaan papa. Karena khawatir dengan sakit jantung yang di derita papa, akhirnya aku putuskan untuk menerimanya. Beberapa bulan yang lalu, papa meninggal. Akhirnya, kesempatan untuk berpisah tiba juga.

Ditambah pula, mama sangat mendukung rencanaku perceraianku. Jadi, tak ada beban bagiku untuk tidak berpisah dari Regina.

Sinta, adalah kekasihku. Mulanya, ia sangat terpukul saat mengetahui aku menikah. Namun, mama selalu mendukungnya untuk bersabar. Sebentar lagi, ia akan memetik buah dari kesabarannya.

Gerimis turun rintik-rintik. Kubuang jauh pandangan ke arah tetes-tetes hujan itu. Dalam hati, aku menertawakan diri sendiri. 

Setelah adegan pingsan Regina saat itu, aku memutuskan rujuk dengannya. Tentu saja hal ini membuat mama murka. Sinta pun begitu. Padahal, ia sudah merancang rencana pernikahan impiannya. Sekarang, ia harus menunggu lagi sampai anak Regina lahir.

Ya, Regina dinyatakan hamil anak kami. Saat ia pingsan, ternyata ia sedang berbadan dua. Tentu saja aku tak ingin anakku lahir tanpa bapak. Dan lucunya, aku hanya meniduri istriku sekali selama kami menikah.

Tepatnya sebulan yang lalu. Saat aku sedang ditimpa masalah di kantor. Aku menghempaskan diri ke dalam mikmatnya dosa minuman beralkohol. Waktu itu, aku pulang dalam keadaan mabuk. Malam itu, aku melihat Regina seperti bidadari. Aku langsung jatuh ke pelukannya. Dan aku melakukannya, karena memang aku suka dirinya malam itu.

Mama begitu kaget saat kuberi tahu keadaan Regina yang sebenarnya. Berkali-kali, mama menyesalkan kecerobohanku. Ia menyuruhku untuk menggugurkan kandungan Regina, tentu saja aku menolaknya. Aku tak ingin membuat dosa yang lebih jauh lagi.

Sinta hanya menitikkan air mata. Selama ini ia telah bersabar menunggu dudaku. Begitu besar harapannya pada sidang perceraianku kemarin. Namun kini, aku ibarat merampas mimpi indahnya. Ia sangat terpukul akan keputusanku.

Regina tertidur pulas di sofa yang terletak dalam kamarku. Dengkuran halus yang terdengar seperti irama yang menggoda saat tertangkap oleh telingaku. Bekas air mata masih membekas di kelopak matanya. Mungkin saat netranya belum terpejam, ia masih sempat menangis tanpa sepengetahuanku.

Perlahan, kudekati Regina. Kuhapus sisa air yang masih menggenang. Maaf Gina, kau harus melalui kesedihan ini seorang diri. 

Sepulang dari kantor, aku singgah dulu untuk membeli susu ibu hamil. Bukan hanya itu saja, aku juga membelikan biskuit serta buah-buahan buat istriku. 

"Gina, terima ini," kataku sembari menyerahkan sekantong plastik bawaanku padanya. Ia kelihatan bingung.

"Apa ini Mas?"

"Kau, kan, sedang hamil. Janin di dalam perutmu, sangat membutuhkan nutrisi. Aku tidak mau, ia kekurangan gizi." Ia melongo mendengar perkataanku.

"Nggak seperti kamu yang biasanya," komentarnya.

"Maksudmu?""

"Mas ... kamu itu nggak seperti Denis yang kukenal. Tumben kamu begitu perhatian."

"Gina, di dalam rahimmu ada calon anakku. Jadi, aku harus pastikan ia sehat dan cukup nutrisi, itu saja."

"Mas, tolong jangan memberi perhatian lebih padaku, itu sama saja dengan memberi harapan palsu. Jika akhirnya, aku hanya harus kehilanganmu. Biarlah semua berjalan seperi biasa, agar aku tak terlalu sedih saat melepaskanmu"

Hatiku begitu teriris mendengarnya. Ingin kuraih tubuh ringkuhnya ke dalam dekapanku. Namun aku yakin, ia pasti akan menolaknya. Kupandangi wajah cantiknya. Kenapa aku baru sadar, ternyata ia begitu sayang untuk kulepaskan.

Hari-hari berlalu tak seperti biasa. Ada-ada saja tingkahku yang membuat ia tetap dalam pantauanku. Tak sedikitpun ia kubiarkan kelelahan. Aku sudah membayar asisten rumah tangga, untuk membantunya. Sebelum Gina hamil, aku malah lebih suka ia mengerjakan segala sesuatunya sendirian.

Bahkan, saat ia sedang tidak nafsu untuk menyuap makanan, dengan sabar aku menyuapinya. Ia pun tak menolak.

"Mas ... kehamilanku sudah menginjak usia tujuh bulan. Kini, kamu tak perlu lagi mengkhawatirkanku. Berhentilah untuk mencari alasan, agar kamu bisa dekat-dekat denganku," pintanya malam itu.

Aku menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Gina, aku ingin minta maaf padamu."

"Maaf karena apa Mas? Kamu nggak punya salah, aku lah yang bersalah telah masuk ke dalam kehidupanmu."

Kuraih tangannya, lalu menggenggamnya. Ia berniat ingin melepasnya, tapi genggamanku terlalu kuat. Hingga ia pun menyerah.

"Mengapa kamu buat aku seperti ini Mas? Dikala aku audah siap untuk melepaskanmu, kamu malah seperti ingin menguji perasaanku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Gina, maaf jika aku baru menyadarinya." Ia serius mendengarkanku. "Aku baru sadar, jika aku mencintaimu."

"Hah, kamu ngigau Mas. Omong kosong dari mana ini. Bukankah kalian sedang mempersiapkan rencana pernikahan," katanya tidak percaya.

"Tepat dua hari setelah kau dinyatakan hamil, Mas memutuskan hubungan dengan Sinta. Mas tidak ingin memutuskan hal yang salah untuk kedua kalinya. Pada akhirnya, Sinta mau mengerti dan melepaskan Mas dengan lapang dada."

"M-mas, bohong ah."

"Regina ... kau adalah bidadari retak yang bertahan dalam gelombang pernikahan. Setelah Mas pikir lebih jauh, tidak ada yang salah dengan pernikahan ini. Kau telah menempatkan posisimu sebagai seorang istri. Selama ini, Mas yang salah. Mohon maafkan kekeliruan ,Mas."

Ia memelukku dan membenamkan wajahnya di bahuku. Lepaskanlah bebanmu istriku, bahu ini akan selalu ada untuk kau bersandar.

Kerikil-kerikil kecil yang sempat menerpa rumah tanggaku, kini telah terkikis berganti dengan cinta tulus untuk keluargaku. Wajah Gina yang dulu sendu, telah berubah penuh suka cita.

Dulu, aku terlalu menutup mata oleh kehadiran Gina. Aku terlalu dibutakan oleh cinta buta pada Sinta. 

Sejak kehadiran calon bayi yang ada di rahim istriku, duniaku seketika teralihkan. Kini, setiap yang ada di diri Regina, adalah napasku. Senyumnya, cara bicaranya, bahkan ketika ia teratwa, segalanya tak luput dari perhatianku.

Hargailah cinta yang ada di dekatmu. Karena cinta lain yang berkeliaran, belum tentu menyuguhkan ketulusan untuk dirimu. Jangan sampai kau memilih cinta yang salah. Sementara ada hati yang ikhlas mendampingi perjalanan cintamu.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 121221

Bab 8. Psikopat

1 0

Ari memeluk tubuh papanya. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi. "Maaf Pa, Ari harus membunuh Papa," pekiknya memecah kesunyian malam.

***

Beberapa minggu belakangan, kedamaian desa Tebat Monok terusik. Gonjang-ganjing atas hilangnya beberapa gadis secara bergantian, masih menjadi misteri.

Pak Kasman yang berprofesi sebagai kepala desa, menginstruksikan untuk siaga kepada seluruh warga. Beliau ini juga merupakan ayah dari Ari.

Mereka bekerja sama dengan polres setempat, untuk selalu berjaga. Juga saling bertukar informasi, jika ada sesuatu yang mencurigakan.

Desa Tebat Monok yang dulu sangat aman, kini berubah mencekam. Para orang tua yang mempunyai anak gadis, mulai merasa terancam. Ingin mengungsikan anak gadis mereka ke desa lain, tapi mereka tidak memiliki sanak keluarga.

Mereka seperti sudah kehilangan akal. Satu-satunya tempat yang aman untuk saat ini adalah masjid. Memperbanyak ibadah, serta memperteguh iman. Agar terhindar dari mara bahaya.

Sebuah mobil xenia berhenti di halaman rumah pakde Larso. Lucy, gadis manis berwajah bule turun dari mobil berwarna silver tersebut. Pakde Larso terkejut dengan kehadiran gadis itu di desa.

"Pakde," sapanya seraya mencium punggung tangan pak Larso.

"Kamu ... ngapain ke sini?" Ada gurat kecemasan di wajah pakde. Ditariknya tangan Lucy ke dalam rumah.

"Pakde apa-apaan sih? Sambutannya nggak meriah baget." 

"Kan, kamu sudah Pakde kasih tau. Liburannya ditunda dulu, di sini sedang nggak aman bagi anak perempuan."

Memang, beberapa hari yang lalu Lucy sempat mengutarakan keinginannya untuk datang ke desa ini. Namun, pakde Larso sudah berusaha untuk melarang Lucy. Pakde juga sudah menceritakan kondisi yang terjadi. Sangat berbahaya jika didatangi oleh tamu yang masih gadis.

"Kan ada Pakde yang jagain aku," ujarnya. 

"Siatuasi sekarang sedang gawat Lucy, kamu nggak bisa hanya mengandalkan Pakde. Gimana kalo Pakde tidak seharian bisa jagain kamu?"

"Nggak usah khawatir Pakde, ada Allah yang jagain Lucy."

"Kalau terjadi apa-apa sama kamu, Pakde nggak mau tanggung jawab. Papa kamu orang yang harusnya merasa bersalah, udah diingetin malah ngeyel."

Pakde Larso merupakan kakak lelaki tertua dari papanya Lucy. Ia sudah berulang kali untuk mengingatkan keluarga Lucy, jika di tempat mereka sedang musim penculikan gadis-gadis. Ia khawatir jika nanti terjadi hal yang buruk terhadap keponakannya itu.

Dua hari sudah, Lucy menghabiskan waktunya si rumah pakde. Ia merasa bosan, dan ingin menghirup udara segar. Saat melewati surau, ia melihat ada beberapa gadis yang sedang berkumpul mendengarkan pengajian. 

Hati Lucy pun tergerak untuk bergabung bersama mereka. Saat Lucy mendekat, perhatian mereka pun tertuju padanya.

"Hai, boleh bergabung?" Belum sempat salah satu dari mereka menjawab pertanyaannya, Lucy langsung mendaratkan bokongnya di lantai. "Hei, kamu kok lelaki sendirian? Yang lainnya cewek lho."

"Kenalin Mbak, saya Ari. Saya biasanya yang menigisi pengajian di surau ini."

Itulah awal mulanya pertemuan antara Lucy dan Ari. Sejak itu, mereka memang sering terlihat bersama. Ari sering mengunjungi Lucy ke rumah pakde Larso. Kedekatan mereka, ditanggapi dingin oleh pakde.

"Lucy, Pakde minta kamu nggak terlalu dekat sama si Ari. Hati kecil Pakde mengatakan, jika dia itu bukan lelaki yang baik lho. Ingat, desa ini masih belum aman dari penculikan para gadis."

"Itu cuma perasaan Pakde aja. Mana mungkin Ari seperti itu, tampangnya aja kaya lelaki alim begitu."

"Terkadang, penampilan itu bisa menipu Lucy. Untuk menutupi borok mereka, dengan dalih kajian islami, orang nggak akan ada yang curiga. Namun sebagai Pakde, saya hanya ingin melindungi kamu."

"Ih Pakde lagaknya. Sekarang coba dibalik, gimana kalo Pakde penculik gadis di desa ini? Tampang Pakde lebih meyakinkan, arogan."

"Ha ha ha, kamu ini. Walau tampang Pakde kaya preman, tapi hati ini bak bidadari. Eh?"

"Udah lah Pakde. Siapa tau, gadis-gadis itu bukan diculik, melainkan minggat ke luar kota." 

"Pakde nggak tau harus meyakinkan kamu seperti apa. Lebih baik, besok kam kembali saja ke kota. Pusing Pakde lihat tingkahmu. Pakde cuma takut, kalau terjadi sesuatu sama kamu."

"Jangan terlalu dipikirin Pakde. Selama ini, gadis yang ikut kajian si Ari, aman-aman aja kok."

Pakde Larso hanya geleng kepala melihat keponakannya itu. Lucy memang keras kepala, dan susah diatur. Tidak mau menuruti nasihat orang tua. Akibat dimanja bapaknya, begini jadinya karakter si Lucy. Apa yang diomongin, selalu aja ada bantahannya.

Malam sudah larut, bude tampak sangat gelisah. Siang tadi, Lucy pamit pergi ke surau. Namun sudah lepas isya, ia belum juga menampakkan batang hidungnya. Bergegas di susulnya ke surau, tapi tak ada siapapun di sana.

"Pak, gimana jika terjadi sesuatu dengan Lucy?" tanyanya cemas. 

"Yang penting sekarang kita hanya bisa berdoa, Bapak akan cari dia sampai ketemu." Pakde Larso telah menyiapkan parang dan senapan miliknya. "Jangan bukain pintu sampai Bapak kembali," pesan pakde Larso.

Dengan di temani beberapa orang warga, mereka mulai melakukan pencarian. Menyisiri kebun jagung maupun kebun kopi milik warga. Tak hanya itu, mereka juga membawa anjing untuk melacak jejak Lucy.

Saat Pakde sibuk menyisiri kebun warga, sementara itu jauh di desa Kepala Curup, seorang gadis dengan napas yang terengah-engah, sedang menunggu mautnya.

Ari si pemuda alim, sedang mengasah golok kesayangannya, di depan gadis itu. Banjir air mata, membasahi pipinya. Menyesal, kini tak lagi berguna. Nasi telah menjadi bubur, itulah pepatah lamanya.

Menyesal karena tidak mau mengikuti nasihat pakde. Padahal pakde hanya ingin menjaganya dari manusia-manusia bejat seperti seorang Ari.

Bayang-bayang kematian mulai menghampirinya. Tak terbayangkan, bagaimana tajamnya parang itu menebas lehernya. Ia tak berdaya setelah tenaganya terkuras melawan lelaki gila itu.

"Ha ha ha," tawanya menggelegar, membuat Lucy menutup telinganya. "Lucy ... sebentar lagi kau akan bergabung dengan gadis-gadis yang telah bersemayam di kebun jagung ini." Ia menyeringai menakutkan.

"Sebenarnya, apa salah aku sama kamu?" 

"Salahnya ... kau adalah seorang gadis. Apa kau tau, semua gadis itu sama. Mereka meninggalkan lelaki hanya karena status sosial. Kau tau, sudah berkali-kali aku dikhianati yang namanya wanita."

"T-tapi, itu, kan, bukan kesalahnku."

"Lucy, aku sudah muak dengan gadis-gadis penghamba uang. Mereka tidak memikirkan bagaimana hancurnya hati lelaki, saat mereka berkhianat. Kamu ... sama saja dengan mereka. Memberi harapan, lalu meninggalkan penderitaan yang membekas di hati mereka. Kini ... aku akan mengirimmu ke neraka."

Ia mengangkat parangnya, dan bersiap untuk menebas leher Lucy. "Hiaa," teriaknya sambil mengayunkan parang yang sedang digenggamnya.

"Ari ... berhenti," teriak pak Karman. Papa Ari muncul tiba-tiba. Ia berdiri sambil merentangkan tangannya di depan Lucy. Ia mencoba menghalangi Ari untuk memuluskan niatnya.

"Minggir Pa! Jika tidak, Papa jangan menyesal jika parang ini memgenai tubuh papa."

"Sadar Ari, tindakanmu ini salah." Pak Karman membujuk anak lelakinya itu.

"Papa ... Papa. Seharusnya, Papa turut bahagia. Aku bukan hanya membalaskan sakit hatiku, tapi juga kekecewaan Papa saat mama meninggalkan kita."

"Ini tak ada hubungannya dengan dia, Ari. Kesalahan mamamu, Allah yang akan membalasnya."

"Aku nggak mau tau Pa, dia harus berkumpul dengan yang lainnya."

"Apa maksud kamu? Jangan-jangan, kamu ada hubungannya dengan para gadis yang menghilang."

"Pastinya dong Pa. Kini menyingkirlah dari gadis itu. Biarkan aku menyelesaikan tugasku."

"Kamu sudah gila, Nak. Sadarlah Ari," hardik pak Karman. 

Ari tak menghiraukan peringatan papanya, ia pun mengayunkan parang itu, dan mengenai tubuh pak Karman.

***

Pandangannya kosong menatap tubuh tak berdaya papanya. Darah segar mengucur di sekujur tubuh pak Karman. Lalu pandangannya beralih kepada Lucy. 

Gadis itu merutuki kebodohannya. Padahal, tadi ada kesempatan untuk melarikan diri, tapi tak dilakukannya. Malah sengaja seperti mengikhlaskan diri untuk dijadikan santapan.

Ari berdiri dwngan parang yang bersimbah darah. Perlahan, didekatinya Lucy. Saat ia bersiap akan memenggal Lucy, sebuah tembakan menggagalkan aksi brutalnya. Peluru itu tepat bersarang di kepalanya. Ia pun jatuh terkapar.

***

"Pakde, aku pamit dulu. Untuk sementara, aku nggak ke sini dulu dalam jangka waktu lama. Aku masih trauma, nggak tau sampai kapan bisa melupakan kejadian kemarin." 

"Yah, Pakde ngerti. Pesan Pakde, lain kali harus berhati-hati dalam memilih teman."

"Untung Pakde datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin saat ini aku sudah berada di alam yang berbeda."

"Ya udah, hati-hati di jalan. Titip salam sama ibumu."

Di hati kecilnya, ia tak mau untuk kembali ke desa ini. Desa ini meninggalkan trauma yang mendalam bagi dirinya. Walau penjahat itu telah tewas, tapi bayangannya yang menyeringai belum bisa dihapus dari ingatan Lucy.

Jangan pernah membiarkan dendam, hidup kekal dalam diri. Jika ia sudah memguasaimu, maka akal pikiran pun sulit untuk mengendalikannya. Maafkanlah orang yang pernah menyakitimu, niscaya kau akan menemukan jalan yang baik untuk masa depanmu.

 

Tamat ...

Bumi Raflesia, 131221

 

Bab 9

1 0

Mata Adel membulat saat melihat om Azka berada di ruangan terkutuk ini. Entah apa yang dilakukan teman almarhum papanya itu si sini. Keberadaannya, sedikit membuat Adel kikuk.

Lelaki itu berjalan mendekat. Adel pura-pura tak tahu jika om Azra nyamperin dirinya. Ia membuang pandangan ke atas.

"Adel, apa yang kamu lakukan di sini?" Om Azka sudah di depan wajahnya, sangat dekat.

"Eh, apa-apaan sih Om." Adel berusaha mundur, namun om Azka sedikit memaksa menarik tangan gadis itu. 

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Lelaki itu mengeraskan rahangnya. "Mau jadi perempuan apa sih kamu. Ckk."

"Om sendiri ... apa yang Om perbuat di sini? Mau bersenang-senang dengan wanita malam, kan? Dasar munafitk," balasnya.

"Sembarangan kamu," tampik Azka. "Justru Om masuk ke tempat laknat ini, karena kamu. Om nggak sengaja lihat kamu naik mobil mewah, dengan dandanan menor begini. Makanya Om ikutin, tau."

"Alah, cari alasan. Lelaki kalau ada kesempatan, lupa sama istri di rumah."

"Terserah kamu, mau berpikir Om itu seperti apa. Sekarang, kamu harus keluar dengan Om."

"Nggak bisa semudah itu Om. Aku udah dijual, jadi buat ngeluarin aku, ya, harus ditebus. Ngerti nggak Om?"

"Siapa yang jual kamu? Gimana ceritanya kamu bisa terjebak di dunia malam ini?" Beribu tanya di kepalanya. "Atau jangan-jangan, memang kamu sendiri yang menjerumuskan diri ke lembah hitam ini," selidiknya.

"Om Azka, mana ada orang yang mau menekuni pekerjaan kaya gini. Apalagi dilakukan dengan ikhlas, dalam mimpi buruk pun nggak ada yang mau."

"Jadi ... ini ulah siapa kalo bukan kamu?"

"Mama tiri aku, Om."

"Haa? Maksudnya Jannah? Nggak usah mengada-ada, Del. Mama kamu itu orang baik, nggak mungkin dia tega melakukan ini."

"Sudah kuduga, Om pasti nggak akan percaya. Ya udah, aku juga nggak bisa maksa Om untuk percaya sama aku. Mendingan Om pergi aja deh, kalo emang nggak bisa ngeluarin aku dari sini."

"Bukan gitu Del. Rasanya nggak mungkin Jannah yang terlihat kalem, bisa berbuat sekeji itu." Lelaki itu menggeleng tak percaya. "Udah berapa lama kamu di sini?"

"Baru dua hari Om. Aku belum bisa melayani tamu karena sedang haid." 

"Om heran sama kamu. Sedikit pun nggak ada ketakutan terpancar di wajah kamu. Om masih ragu kalo ini ada hubungannya sama Jannah."

"Apa aku harus nagis darah di hadapan Om, baru hatimu tersentuh? Nggak perlu Om. Dari kecil aku udah kehilangan mama. Kemudian mempunyai ibu tiri yang hanya manis di depan. Belum lama ini, aku jehilangan papa. Setiap kejadian itu membuat aku menjadi kuat Om. Bukan tumbuh sebagai gadis yang cengeng."

"Ya udah, Om akan bantu kamu keluar dari sini. Siapa penanggung jawabnya?"

"Itu ... banci yang ada di pojokan." Adel menunjuk seorang lelaki berdandan ala wanita. Ia pun memberi kode pada lelaki itu, un datang ke tempat mereka duduk.

"Yuhuu, gimana? Kalian udah deal, ya?" 

"Saya ingin nebus dia. Sebutkan, berapa harganya?"

"Wow, mau dinikahi langsung, ya, Bang. Namun, buat membebaskan dia nggak murah lho Bang. Soalnya, segelnya belum dilepas." 

"Udah, nggak usah bertele-tele. Gue harus bayar berapa?"

"Seratus juta. Nggak pakai nego."

Dasar banci kaleng, mematok harga suka seenaknya.

"Ngada-ngada lo. Kok bisa semahal itu? Berpengalaman juga enggak." Om Arka meradang mendengar harga yang disebutkan olehnya.

"Abang, kan bisa dilihat wajah dia secantik ini. Ada harga, ada rupa kali Bang."

"Nih, gue ada sepuluh juta. Sekarang juga, gue bawa dia keluar dari sini."

"Woi, mana bisa Bang. Kalo nggak punya duit bilang aja. Sok-sokan, pengin ngebebasin dia. Duit segitu, dua hari aja bisa dia dapatkan kalo dia kerja di sini."

Om Arka mulai sewot melihat banci tersebut. Ia mengeluarkan dompetnya, lalu memperlihatkan kartu keanggotaannya sebagai seorang polisi.

"Kalo lo nggak mau gue jeblosin ke penjara, lebih baik lo ikutin maunya gue." Ancaman om Arka mampu membuat nyali lelaki itu menciut.

"Sabar, Bang. Semua bisa dibicarakan baik-baik," ujarnya ketakutan.

"Bukan cuma ancaman penjara, bisnis lo ini juga bisa gue bikin bangkrut."

"Oke Bang, kita deal sepuluh juta. Mau ditransfer, atau bayar tunai?"

"Gini kan enak. Nggak harus pakai kekerasan." Om Arka merogoh tasnya, lalu mengeluarkan amplop berwarna kuning. "Nih, sepuluh juta, sekarang dia bebas."

"Abang tenang aja, setelah ini dia sudah tidak ada hubungannya dengan tempat ini lagi," janji banci itu.

Akhirnya, Adel bisa bernapas lega. Om Arka menggandeng tangannya keluar dari lembah terkutuk itu.

"Terima kasih, ya, Om. Sekarang aku udah bebas."

"Sama-sama Del."

"Mengapa Om repot-repot untuk membebaskan aku?"

"Anggap aja itu maharnya."

"Maksud Om?"

"Adelia, kamu sekarang sudah dewasa. Masa nggak ngerti arah pembicaraan kita kemana?"

"Aku benar-benar nggak paham deh Om. Mungkin bisa diterangkan lebih rinci lagi."

"Anggap aja itu uang untuk melamar kamu."

"Haa? Maksudnya ... Om mau nikahin aku, gitu?"

"Iya lah, emang kalu Om suruh ganti, kamu mampu buat melunaskannya? Enggak, kan?"

"Om menjebak aku, gitu? Ternyata emang di dunia ini enggak ada yang gratis." Adel menepuk jidatnya.

"Dengerin dulu, ya, Adelia. Om, bukan bermaksud untuk main jebak-jebakan. Namun, Om hanya ingin melindungi kamu dari tangan-tangan jahil yang memanfaatkan pesona kamu. Kalau bukan menjadikan kamu sebagai istri, lalu gimana lagi caranya buat menjaga kamu."

"Om serius nih?"

"Om nggak biasa mainin perasaan orang. Apalagi untuk hal sepenting ini."

"Duh, aku jadi deg-degan Om." Ia tertawa karena masih beranggapan bahwa ini hanya lelucon.

"Ngga usah ketawa, Om nggak lagi ngelawak."

Adel terdiam. Ia pun berkata, "Tolong beri aku waktu Om."

"Silakan kamu pikirkan baik-baik. Ngomong-ngomong, Om harus ngantar kamu kemana?"

"Jangan ke rumah Om. Nanti ibu tiri aku pasti ngedrama di depan Om. Aku nggak mau lagi berhubungan sama dia, trauma Om."

"Untuk sementara ini, kamu tinggal di rumah Om aja dulu. Ada ibu kok, nggak bakal digerebek, he he."

Arka dan Adel pulang menuju rumah orang tua Arka. Di rumah, sang ibu menyambut hangat kedatangan keduanya.

"Wah, ada nak Adel. Udah lama nggak main ke sini, kamu makin cantik aja." Ibu Arka memeluk Adel yang telah dianggap seperti cucu sendiri.

"Bu, Adel boleh nginap di sini, kan?"

"Tentu aja boleh, ayo istirahat dulu di kamar yang di dekat ruang tv. Oma mau ngobrol dulu sama om Arka." Adel yang memang sudah mengantuk, langsung menuju kamar yang dimaksud.

"Kasihan dia Bu. Sejak papanya meninggal, hidupnya jadi luntang-lantung."

"Ibu dengar, rumahnya udah dijual sama Jannah. Baru tadi ada yang lapor sama Ibu."

"Arka nggak nyangka Jannah setega itu Bu. Tadi Arka nemu dia di warung remang-remang. Katanya, dia dijual Jannah."

"Ya Allah, emang kejam tuh perempuan. Harta bapaknya dimakan sendiri, terus anaknya juga dibisniskan. Nggak halal tuh harta yang dia makan." 

"Bu, gimana kalo Adel jadi menantu Ibu?"

"Kamu suka sama dia? Adel itu masih muda lho, nanti kamu malah nggak bisa mengimbangi dia."

"Yang penting, Ibu merestui dulu rencana Arka. Ke depannya, biar Arka yang mendidik dia."

"Ternyata kamu suka daun muda, ya. Pantes udah tua, nggak nikah-nikah."

"Itu namanya rezeki, Bu. Lagian, Arka belum tua-tua amat kok."

"Kalo emang udah cinta, Ibu mau bilang apa. Asalkan kalian bahagia, itu udah cukup buat Ibu. Dah malam, Ibu mau tidur dulu."

***

Adelia tampak anggun dengan kebaya yang dikenakannya. Begitu pula dengan Arka, ia tampak gagah memakai setelan jas berwarna krem serasi dengan kebaya yang digunakan Adel. 

Proses ijab kabul berlangsung haru. Adel yang seharusnya dinikahkan oleh ayahnya, hanya bisa menitikkan air mata saat wali hakim mewakilkan almarhum ayahnya. 

Keharuan makin terasa, ketika untuk pertama kalinya Adel mencium tangan suaminya. Begitu pula saat Arka mencium keningnya. Kini, Adel menjadi tanggung jawab Arka. 

Tak ada yang mengetahui rahasia Tuhan. Begitu pula dengan jodoh, terkadang ia hadir dari peristiwa yang tak disangka-sangka. Jika sudah yakin dia jodoh terbaik bagimu, jangan pernah melepaskan dari genggaman.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 141221

 

 

Bab 10. Malaikat Retak

1 0

"Kau kenapa Latifah? Mak perhatikan, akhir-akhir ini kau sering mual dan muntah. Tiap sebentar deman, sakit kepala. Sebenarnya, kau ini kenapa?"

"Entahlah Mak, Latifah rasa kurang sehat. Pening, rasa mau pingsan."

"Kau sudah berapa hari terlambat datang bulan?"

"Dari mana Mak tahu, kalau Latifah telat datang bulan? Apa hubungannya?"

"Kau hamil, ya, Latifah? Dengan laki-laki mana kau berzina? Masa sudah seumuran segini, kau tidak tahu mengapa kau belum juga haid?"

"Mak, jangan mengada-ada. Siapa bilang Latifah hamil?"

"Kau ini, tak percaya perkataan Mak. Melihat perubahan yang sedang kau alami, orang pasti bisa menilai jika kau itu sedang bunting."

"Jangan menuduh Latifah yang tidak-tidak, Mak. Jika belum ada bukti, Latifah tidak akan percaya dengan ucapan, Mak."

"Sebaiknya kau akui sekarang juga, siapa lelaki yang sudah tidur dengan kau Latifah."

"Sampai kiamat pun, Latifah tak akan mengakui apapun Mak. Karena Latifah tidak pernah merasa melakukan perbuatan tak senonoh itu."

"Baiklah, jika kau masih belum percaya jika kau sedang mengandung. Mak akan antar kau untuk memeriksakan kandunganmu."

Mak Iyah membawa Latifah pergi ke bidan. Sesampainya di tempat praktek, bidan memeriksa air seninya. Dengan menggunakan alat tes kehamilan, tak butuh waktu lama untuk mengetahuinya.

"Hasilnya positif Mak, ini ada tanda garis merah dua buah." 

Rasa ditampar, Mak Iyah murka kepada Latifah. Setelah membayar sejumlah uang kepada bidan, mak Iyah menyeret Latifah kembali ke rumah.

"Kau ini, buat malu keluarga. Ayahkau imam masjid, sedangkan abangkau seorang pendakwah."

"Ampun Mak, Latifah tak pernah merasa melakukannya, Mak." Isak tangis Latifah menjadi-jadi. Ia bersujud di kaki Mak Iyah.

"Tak mungkin anak itu ada, jika kau hanya berpandang-pandang dengan lelaki. Mengakulah Latifah, biar masalah ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan."

"Mak, Latifah tidak tahu, siapa yang sudah menodai Latifah."

Terdengar Pak Zainudin mengucap salam. Ia adalah bapak Latifah. Orang yang disegani di kampung Merigi. Imam yang selalu dipanggil untuk memimpin acara keagamaan di kampung Merigi.

"Iyah, kau apakan anak kesayangan aku tu? Lihat matanya, sudah penuh dengan air mata." Pak Zainudin, mendekati Latifah. Ketika ia ingin merangkulnya, Latifah mendur untuk menjauh. "Kau ini kenapa pula?" tanyanya heran.

"Tengok. Anak gadis Bapak sudah bunting. Entah lelaki mana yang sudah menanam benih di rahimnya."

"Apa betul Latifah?"

"Maafkan Latifah Pak. Latifah sendiri bingung, apa yang telah menimpa diri ini. Demi Allah, Latifah tidak pernah mengizinkan seorang lelaki pun, untuk menyentuh tubuh ini."

"Lalu, bagaimana semua bisa terjadi? Tak mungkin ia hadir sendiri dalam rahim kau, Latifah."

Latifah mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sebulan ke belakang. Waktu itu, ia tengah berjalan menuju rumah Wak Gadis. Mak Iyah menyuruhnya untuk mengantarkan bubur. Kebetulan, Wak Gadis tidak berada di rumah. Ada Burhan yang menyambut kedatangannya.

"Burhan, ini ada bubur dari Mak. Wak Gadis pernah berkata, jika beliau rindu ingin memakan bubur buatan mak."

"Baik Latifah, nanti akan kusampaikan pada ibuku. Sampaikan rasa terima kasihku."

Burhan pamit ke belakang, lalu keluar membawa segelas air. 

"Maaf Latifah, aku hanya bisa membalasnya dengan segelas air. Kuharap, kau mau meminumnya walau cuma seteguk."

"Kau paling bisa Burhan. Tau saja jika aku sedang haus." Latifah menghabiskan air yang disuguhkan Burhan. 

Tak berselang lama, ia merasa pusing. Lalu matanya berat untuk dibuka,.dan tak sadarkan diri. 

"Itu dia Pak," ujarnya tiba-tiba. "Burhan lah pelakunya. Waktu itu, ia memberikan minum untuk Latifah. Tak lama setelah meminumnya, Latifah tak sadarkan diri."

"Maksudmu, kau diperkosanya saat dalam keadaan pingsan?"

"Iya, Pak. Namun, saat Latifah sadar, badan ini terasa sakit semua. Akan tetapi, saat itu tidak ada noda pada Latifah."

"Jika memang dia orangnya. Sungguh licik taktik yang dia lakukan."

Bapak memandang iba pada putri kesayangannya. Dalam hal ini, ia sangat yakin bahwa Latifah tidak bersalah. Ia hanya korban di tempat yang salah.

***

Gadis kecil itu berlari-lari menyapa hujan. Ia membiarkan badannya basah kuyup, diterpa hujan. Tujuh tahun yang lalu ia dilahirkan Latifah, tanpa tahu siapa ayah kandungnya. 

Burhan menolak untuk menikahinya, dan memilih kabur dari kampung Merigi. Sampai sekarang ia tak pernah kembali, bahkan sampai Wak Gadis meninggal.

Karena peristiwa yang memalukan itu, Latifah mulai berubah. Ia menjadi depresi, kemudian jiwanya mulai terganggu. Gadis kecil itu tak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.

"Habibah, jangan berlama-lama di air. Nanti kau demam pula. Kasihan Datuk tak tidur karena menjagamu," teriak mak Iyah di depan pintu.

"Iya Nek," sahutnya sambil berlari berteduh di teras rumah neneknya. Mak Iyah mengulurkan handuk kering pada Habibah. Ia melilitkan handuk ke seleuruh tubuhnya, lalu masuk ke rumah untuk membersihkan badannya.

Latifah duduk di kursi kayu di belakang rumahnya. Kerjanya hanya melamun. Walau begitu, ia tak pernah membahayakan warga. Habibah datang sambil membawa sepiring nasi.

"Mama, sudah saatnya makan. Mama tahu tidak, tadi Habibah kena marah sama nenek, karena main hujan. Namun, Mama jangan risau, Habibah anak yang kuat. Takkan sakit kalau cuma kena hujan sedikit. Iya, kan, Ma," celotehnya riang. Lalu ia terkikik sendiri, kala melihat Latifah menyemburkan makanannya.

"Mama tak boleh begitu. Kata Datuk, kita tidak boleh membuang-buang makanan."

Walau ia tahu Latifah takkan merespon dirinya, tapi ia tak letih untuk mengajak mamanya bicara. Habibah sangat sayang pada mamanya. Ia tidak takut dengan kondisi mamanya saat ini. Tiap malam, ia selalu tidur bersama Latifah.

***

Dari jauh, Habibah melihat anak-anak sedang berkumpul. Mereka tidak sedang bermain, akan tetapi sedang menyoraki seseorang. Hatinya tiba-tiba gelisah, cepat-cepat ia berlari menuju mereka.

Ternyata, anak-anak itu sedang meneriaki mamanya..

"Orang gila ... orang gila," sorak mereka ke arah Latifah. Bergegas dihampirinya mamanya, lalu dipeluknya wanita yang telah melahirkan dirinya itu. Sambil berurai air mata, Habibah membubarkan kerumunan anak-anak tersebut.

"Kau siapa?" 

Habibah kaget, langsung melihat ke arah Latifah. Ia masih kurang yakin, jika tadi suara mamanya.

"Siapa kau Nak? Mengapa menangis?" Latifah membelai rambut Habibah.

"Mama," pekik Habibah senang. Dipeluknya Latifah dengan erat.

"Ini Habibah, anak Mama," jelas gadis kescil itu di sela isak tangisnya.

"Benarkah? Kau anak yang aku kandung waktu itu?" Latifah seakan tak percaya.

"Benar Ma. Habibah sekarang sudah berumur tujuh tahun."

"Ya Allah, terlalu banyak waktu yang tersia-siakan. Mama bahkan tak ingat kapan kau lahir ke dunia ini." Diciumnya Habibah berkali-kali. 

"Mama ...."

"Iya Nak."

"Selama dua tahun berlalu, Habibah tidak merasakan nikmatnya lebaran bersama Mama. Habibah senang, tahun ini bisa lebaran bersama Mama. Ayo kita pulang, Ma. Datuk pasti senang, melihat Mama sudah sehat kembali."

"Izinkan Mama menggendong Habibah, ya. Mama ingin merasakan, bagaimana rasanya menimang anak." Habibah menggangguk.

"Ternyata ... Habibah berat juga, ya."

Mereka tertawa bahagia. Dalam rasa yang tak lagi sama, banyak tanya yang berkelebat di pikiran. Latifah penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi padanya. Dan Habibah, sangat senang tahun ini bisa lebaran bersama mamanya.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 151221

 

Bab 11. Di Ujung Malam

1 0

Wanita itu, ibarat setangkai bunga. Sangat indah terlihat di mata lawan jenisnya. Namun, jika tidak visa merawatnya, maka ia akan layu, lalu mati. Sebagai wanita, pandai-pandailah menjaga diri.

***

Aku hanya bisa memendam amarah, tatkala melihat sepasang wanita dan lelaki yang bukan muhrim, sedang bercumbu di depanku. Memuaskan hasrat nafsu seperti harimau yang sedang melumat mangsanya.

Sangat menjijikkan, hungga membuatku ingin muntah. Mereka malah semakin asyik bergelut dalam lumpur dosa. 

Mengapa aku tak menyingkir saja? Aku mau menyingkir kemana, ini hanya sebuah ruangan tanpa kamar. Hanya ruangan sempit yang bernama wc, yang ada di dalam ini. Selebihnya, hanya ruangan tidak bersekat.

Sedangkan di luar sedang hujan deras. Tak mungkin aku duduk sendirian dalam dekapan dinginnya hujan. Terpaksa menonton dosa, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Beberapa kali aku terpaksa menutup mata dan telinga, saat desahan-desahan manja keluar dari bibir sang wanita. Dan lelaki itu, semakin bergairah meraba daerah terlarang di tubuh ibuku.

Ya, aku hanya bisa menangis, saat tangan jahil lelaki itu bermain di tubuh ibuku. Marah dan kecewa, tapi apa daya ini adalah jalan yang telah dipilih ibuku.

Titik-titik hujan sudah mulai mereda. Lelaki itu pamit pulang pada ibuku. Entah lelaki yang mana lagi yang menjejakkan kaki ke rumah ini. Entah lelaki yang ke berapa yang kencan dengan ibuku.

"Mengapa wajahmu cemberut?" tanya ibu usai mengantar lelaki itu. Ibu menutup pintu, tak lupa mengkaitkan kuncinya.

"Ibu mengapa harus bercumbu di sini? Di depan mata anak gadis ibu," protesku. Napasku sedikit memburu karena emosi.

"Alah, kami kan masih memakai pakaian lengkap," jawabnya. Ia mengganti baju seksinya dengan daster.

"Bu." Mataku mulai panas. "Aku sakit hati ketika lelaki itu meraba area yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh lelaki selain dari suami, Bu." Netraku mulai meneteskan air mata.

"Kamu kan bisa menutup mata. Itu aja diributin." Ibuku tak perduli. Ia duduk di lantai, lalu membuka nasi bungkus yang entah dari mana dibawanya.

"Tapi kenapa harus di rumah ini? Ibu kan bisa melakukannya di luar. Bukankah Ibu sudah menghabiskan waktu dengan lelaki itu sebelum Ibu pulang ke rumah."

"Hujan sayang, kami tak bisa menahan gejolak rasa yang sudah membuncah."

Aku diam, melihat ibu tanpa beban dosa, melahap makan malamnya. Ia mendongak, saat tahu aku memperhatikannya.

"Ayo makan sini. Nasi ini enak banget lho. Ada dendeng balado, kesukaan kamu." Ia mengajak makan, akan tetapi kutanggapi dengan gelengan.

"Aku nggak lapar." 

"Kenapa? Ini belinya dengan uang halal kok. Kamu pikir, ibu nggak punya pekerjaan halal. Ayo duduk sini." Bohong jika aku berkata tidak lapar. Sebenarnya, perutku sakit menahan lapar seharian. Aku merangkak ke arah di mana ibu sedang makan. Kuraih nasi yang satunya lagi, lalu kubuka.

"Kelihatannya enak," ujarku setengah berbisik. Ibu tersenyum saat aku menyuap nasi itu ke mulutku.

"Makan yang banyak, ibu tau kalo kamu lagi lapar. Lain kali, jangan sok jual mahal," tuturnya.

"Bu ... bisakah Ibu berhenti dari pekerjaan ini?" Kutatap lekat wajah ibuku. "Orang-orang pada membicarakan banyak hal yang buruk tentang Ibu. Aku sudah muak mendengar gosip tak enak tentang ibu. Tuduhan mereka, membuat aku harus menahan emosi."

"Kamu nggak perlu dengar omongan mereka. Emangnya, mereka sudah berbuat apa untuk keluarga kita. Apa selama ini, mereka ada memberikan uang buat bayar sekolah kamu? Atau, mereka yang selama ini menanggung biaya hidup kita? Enggak, kan? Jadi, kenapa harus dimasukin ke hati."

"Mereka memang belum ada berbuat apa-apa buat kita. Namun ...."

"Tuh, kan. Amalia ... mereka cuma bisa berkomentar tanpa mau berbuat apa-apa. Hanya sekumpulan orang-orang terlalu banyak bicara. Tapi tidak mau berkorban apa pun. Ingin Ibu berhenti bekerja, terus untuk biaya sehari-hari dari mana? Apa mereka mau menanggung biaya hidup kita?"

"Bu, bukankah ...."

"Atau ... jika Ibu berhenti dari pekerjaan ini, apa kau mau nikah sama Ki Darsono? Katanya, dia bahkan rela menceraikan keriga istrinya, demi kamu. Ibu pernah membicarakan hal ini sama kamu, bukan?"

"Mengapa bukan Ibu saja yang menikah dengan lelaki tua bangka itu? Udah bau tanah, maunya daun muda." Aku bergidik ngeri saat ibu memyebut namanya. Nggak terbayangkan nikah sama orang tua gatal.

"Dia maunya sama kamu, bukan Ibu. Ha ha ha." Saat tertawa, wajah ibu terlihat cantik. Pesonanya masih terlihat di usianya yang tak lagi muda.

"Bu ...."

"Amalia ... tolong dengarkan Ibu," ucapnya serius. "Sekarang, kamu hanya fokus sekolah. Belajar yang benar, yang rajin. Buatlah ibumu ini bangga. Jangan sampai kamu bernasib sama seperti Ibu. Jangan dengarkan omongan pedas tetangga. Toh, kita tidak pernah meminta-minta dengan mereka. Kita nggak pernah menyusahkan para komentator itu, untuk ikut menanggung biaya hidup keluarga kita. Sudahlah, jangan pernah membahas masalah ini lagi."

Air mataku beederai berjatuhan. Kupeluk ibuku, kubiarkan tangis ini pecah dalam pelukannya. Aku tahu, ibu juga tak ingin hidup dalam kubangan dosa.

"Maafkan Amel, Bu," lirihku. 

***

Kulihat senyum terukir di wajahnya. Senyum terakhir, sebelum jasadnya ditutupi oleh kain kafan. Tak henti kuciumi wajahnya, sebagai tanda ucapan selamat berpisah. Terasa cepat, waktu merenggut kebersamaanki bersama ibu.

Para tetangga saling bahu-membahu membantu proses pemakaman ibu. Semua terasa begitu mudah, dan mereka membantu penuh keikhlasan. Mereka sudah menganggap kami sebagai keluarga.

Sangat kontras dengan tempat tinggal kami dulu. Ibu hanya menjadi bahan gunjingan para tetangga. Memang, semua adalah kesalahan ibu. Karena ia menetapkan pada pilihan hidup yang salah.

Beberapa bulan yang lalu, ibu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, sebagai wanita malam. Ia ingin kembali kepada fitrahnya. Selain itu, ekonomi kami juga sudah makin membaik. Aku telah menyelesaikan kuliahku, dan mendapat pekerjaan sebagai sekretaris. 

Aku juga bahagia, karena telah menikah dengan seorang ulama. Ia kerap membimbing kami, khususnya ibu. Ibu mulai membuka diri untuk kehidupan akhiratnya.

Sejak ibu tak lagi bermaksiat, ia kerap datang ke pengajian yang diadakan di daerah tempat tinggal kami. Ibadahnya pun semakin ditingkatkan. Tak jarang aku melihat beliau menitikkan air mata. Sesal, itu yang sering diucapkannya. 

Semalam, aku sempat tidur di pangkuannya. Banyak hal yang kami bicarakan. Masa lalu yang suram, kini telah berganti gemilang. Ibu tak putus mengucap syukur, atas taubat yang ia lakukan. Ia memelukku sangat lama, bahkan sempat menangis menyesali diri yang dianggap hina.

Saat aku hendak membangunkan ibu untuk sahur bersama. Kutemukan ia sedang dalam kondisi sujud, dalam waktu yang lama. Entah harus sedih atau bahagia, ibu menghadap sang pencipta, dalam keadaan telah berubah.

Ibu ... selamat jalan, semoga kesalahanmu di masa lampau diampuni oleh Allah SWT. 

Manusia tempatnya salah. Selagi napas masih belum dicabut dari raga, masih ada waktu untuk bertaubat. Sebagai bahan renungan, jangan pernah merasa diri lebih baik dari orang lain. 

Karena belum tentu, seorang ahli maksiat akan dilempar ke neraka. Melainkan dari amalan-amalan yang pernah dibuatnya semasa ia masih hidup. Bisa jadi, amalan itu yang menolong mereka selamat dari api neraka.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 161221

Bab 12. Taubat Di Akhir Hayat

1 0

Yaya, seorang gadis kecil penjual pempek goreng, yang setiap pagi selalu menjajakan dagangannya dengan berjualan keliling. Ia membantu menjajakan dagangan Cik Lela. Dari sebuah pempek yang terjual, ia mendapat komisi sebesar dua ribu rupiah.

Setiap harinya, pempek yang terjual bisa mencapai seratus buah. Pempek yang dijualnya bermacam-macam. Ada pempek sanghai, lejer, isi telur atau tumisan pepaya muda. 

Keranjang selalu kosong, saat ia memberikan setoran pada Cik Lela. Cik Lela sangat senang dengan usaha keras Yaya. Walaupun masih kecil, Yaya sudah menunjukkan diri sebagai pekerja keras.

Sesampainya di rumah, ia memasukkan beberapa lembar uang ke dalam celengan ayamnya. Yang sebagian lagi, akan diberikan Yaya kepada ibunya. Ia pun berlari ke belakang untuk mencari ibunya.

"Ibuk masak apa?"tanyanya pada Bu Ratna. Ibunya menggeleng lesu.

"Cuma ada nasi Nak. Uang Ibuk habis diambil ayahmu." Matanya memancarkan kesedihan. Seharusnya, ia bisa menyajikan lauk tempe atau tahu. Namun, karena uangnya yang terletak di dompet diambil suaminya secara diam-diam, alhasil ia kehabisan uang.

"Ibuk jangan khawatir, Yaya ada sedikit rezeki. Ibuk pakai uang ini buat beli lauk," ujar Yaya. Disodorkannya gulungan beberapa lembar uang dua ribuan pada ibunya. Seketika, senyum merekah terukir di sudut bibir Bu Ratna.

"Alhamdulillah Yaya. Kita bisa makan pakai telur." Bu Ratna bergegas ke warung yang tak jauh dari rumahnya.

Bapak gadis kecil itu seorang pemabuk. Terkadang, ia juga suka bermain wanita. Jika ditegur oleh Bu Ratna, ia akan murka. Ia menuding, nasibnya penuh kesialan semenjak ia menikah dengan istrinya itu.

Dulu, ia tergolong seorang pengusaha tambak yang sukses. Ia bekerja sama dengan para pedagang ikan maupun udang yang berdagang di pasar traditional. Tak jarang, pedagang dari luar kota membeli ikan kepadanya.

Namun, ia mengalami kebangkrutan, tak lama setelah istrinya hamil. Sejak ia gulung tikar, hidupnya jadi tak terarah. Ia jadi sering mabuk-mabukan dan main perempuan. Semua tetap berlanjut sampai istrinya melahirkan. Ia bahkan tak mau mengakui Yaya sebagai anaknya.

Yaya tumbuh menjadi anak kuat tanpa meraskan kasih sayang dari bapaknya. Walau sering mendapat perlakuan kasar dari sang bapak, tapi Yaya tak pernah sakit hati. Ia tetap sayang pada bapaknya, sebagaimana ia menyayangi ibunya.

"Bapak ... mau kemana?" tanya Bu Ratna pada suaminya.

"Aku mau pergi. Aku sudah bosan hidup denganmu."

"Memangnya aku salah apa, Bapak Yaya?"

"Stop! Jangan sebut nama anak itu. Kalianlah yang menyebabkan aku seperti ini. Usahaku bangkrut sejak kau hamil dia. Sekarang, kau masih bertanya di mana letak salahmu."

"Pak, jangan tinggalkan kami. Tolong pikirkan lagi keputusanmu."

"Tekadku sudah bulat, tidak usah membujukku. Kini, aku bukan lagi suamimu. Dan kalian, bukan lagi menjadi tanggung jawabku."

Setelah berkata demikian, bapak Yaya mengemasi barang-barangnya. Yaya hanya bisa menatap dengan sedih. Ia tak boleh membiarkan air matanya jatuh karena lelaki, yang sekalipun tidak pernah memberi kasih sayang kepadanya itu.

Laki-laki itu membalas menatap Yaya. Sedikitpun tak ada rasa untuk memeluk putrinya. Setelah itu, ia membawa langkahnya pergi, tanpa sepatah kata pun.

***

"Maaf Mbak, apa benar di sini rumah Sofiya?" Seorang pemuda berpenampilan lusuh, bertanya dengan sopan.

"Iya benar Pak. Bapak ini siapa? Ada keperluan apa mencaribak Yaya?" Seorang wanita bertubuh gempal, berjalan mendekati si pemuda.

"Tolong berikan foto ini. Orang yang ada di dalam foto itu, sedang sekarat. Dia selalu menanyakan keberadaan Yaya." Setelah berkata demikian, pemuda itu pun pamit. 

Ya. Yaya si gadis kecil telah beranjak dewasa. Sekarang, ia bukan lagi sebagai pedagang pempek keliling. Namun, ia telah membuka beberap cabang warung pempek original di beberapa tempat.

Ia sudah menjadi seorang pengusaha pempek yang sukses di kotanya. Berbekal dari pengalaman hidup yang pahit, ia bertekad untuk bisa membalikkan keadaan. Dan terbukti, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan, berhasil meraih apa yang ia cita-citakan.

Ia berhasil menaikkan derajat keluarganya. Ibunya pun telah naik haji dua tahun yang lalu, dengan uang hasil usahanya. Hal ini membuat ibunya sangat bersyukur. 

Ia memutar-mutar foto lelaki yang berada di tangannya. Foto ayahnya, beserta alamat yang tertulis di benda tersebut. Ia pun mencari ibunya untuk memberitahu.

"Menurut Ibuk, Yaya harus bagaimana?" tanyanya bimbang.

"Sebaiknya, kamu datang ke sana. Walau bagaimanapun, dia itu ayah kamu. Di dalam tubuh kamu, mengalir darahnya." Bu Ratna membelai rambut putrinya itu. 

"Buk, Yaya nggak tau harus gimana, jika berada di dekat bapak. Soalnya, bapak nggak pernah mengakui Yaya sebagai anaknya."

Dalam hati kecilnya, ia sangat senang ayahnya ingin bertemu dengan Yaya. 

"Siapa tahu, bapak ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Kamu temui saja beliau, kasihan kalau bapak kelamaan nunggu. Nanti keburu menemui ajalnya."

"Kalo gitu, Yaya pamit ke rumah bapak, ya, Bu." 

Yaya meraih tangan ibunya, lalu menciumnya. Gadis itu melangkah menuju mobil avanza kesayangannya. Penuh perjuangan untuk bisa mendapatkan mobil itu. Dengan mobil itu pula, pekerjaanya menjadi mudah.

Disusurinya gang sempit daerah tempat bapaknya tinggal. Ia melirik kiri kanan, untuk memastikan alamat yang dicari. Ia berhenti di sebuah lapangan bola, lalu memarkirkan mobilnya di sana.

Yaya keluar disambut teriknya mentari. Ia mencoba bertanya pada seorang ibu-ibu yang sedang berjalan. Sang ibu menunjuk sebuah rumah bercat hijau. Sebuah rumah yang sederhana.

"Assalamualaikum." Yaya mengucap salam. Terdengar balasan salam dari dalam. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pemuda, menyambut kedatangannya. Yaya menyerahkan foto itu. Si pemuda mengangguk senang. Lalu memberi isyarat pada Yaya untuk mengikutinya ke dalam rumah.

Seorang lelaki tengah terbaring tak berdaya, badannya lemah dan napasnya terdengar berat. Yaya mendekati bapaknya. Lelaki itu menoleh, ada binar bahagia terpancar di wajahnya.

Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Yaya mencium punggung tangan bapaknya. Tak terasa, titik air mata menetes di pipi mulusnya. Sama, lelaki itu juga mulai menitikkan air mata.

"Yaya, bapak minta maaf," ucapnya terengah-engah.

"Bapak nggak salah, Yaya yang sering membuat Bapak kesal." Ia terisak.

"Maaf, jika selama ini, Bapak menelantarkan kalian. Bapak tidak mau mengakui kamu sebagai darah daging Bapak."

"Nggak usah dipaksakan Pak. Sebaiknya Bapak istirahat."

"Bapak takut keduluan maut. Bapak ingin menyelesaikannya hari ini juga."

"Sudah Pak. Yaya sama Ibuk sudah memaafkan Bapak." Yaya menggenggam tangan bapaknya. Ia tak henti terisak.

"Yaya ... sedari kecil, Bapak tak pernah memberi ksaih sayang buat kamu. Bapak selalu kejam dengan kalian. Malah, Bapak dulu suka ngebentak dan mengambil uang hasil kerja kerasmu."

"Cukup Pak, jangan diungkit lagi. Yaya sudah melupakannya."

"Tolong sampaikan permintaan maaf Bapak sam ibuk. Bapak khilaf, berulang kali Bapak menyakitinya. Namun, ia selalu menerima Bapak."

"Ia Pak, ibuk pasti senang karena Bapak udah menyadarinya."

Bapak Yaya meraba bantalnya. Lalu mengeluarkan sebuah map.

"Yaya, karena kamu anak Bapak satu-satunya, terimalah map ini. Di dalamnya terdapat sejumlah uang, dan juga sertifikat rumah ini. Anggap saja, ini adalah sebagai pengganti uang kalian yang pernah Bapak rampas."

"Bapak jangan ngomong gitu. Uang Yaya, uang Bapak juga."

"Sekarang, Bapak bisa pergi dengan tenang." Setelah berucap demikian, ia merasakan sakit yang luar biasa. Yaya yang mengerti bahwa bapaknya sedang bergelut dengan maut, segera menuntunnya membaca kalimat Allah. 

Mata itu pelan-pelan menutup, dan tangannya terlepas dari genggaman Yaya. 

Sangat indah bila kematian diakhiri dengan pertaubatan. Bukankah surga itu akan dihuni oleh pendosa yang sudah bertaubat. Semoga kita, termasuk manusia pilihan yang mati dalam keadaan husnul khotimah.

Tamat..

Bumi Raflesia, 171221

 

Bab 13. Sepenggal Kisah Usang

1 0

Jangan menangis Riama. Tangismu adalah goresan luka yang akan terkenang di hati ini. Aku tak ingin melihat titik-titik air itu jatuh dari pelupuk matanmu. Aku akan menyesali keputusanku, jika kau harus menderita.

Bukankah perpisahan ini, karena keinginanmu. Kau ingin bahagia, maka aku dengan segala keikhlasan, menceraikanmu. Telah lama kau hidup nelangsa bersamaku. Kini, adalah saat yang tepat untuk kau merenda bahagiamu.

Padahal dulu, kau memintaku berjanji untuk tak sedikitpun meninggalkanmu. Kau cukup bahagia berada di sampingku. Sedikitpun kau tak ingin berjauhan dengan hatiku.

Namun belakangan ini, entah apa yang merasukimu hingga kau setiap saat meminta berpisah dariku. Alasanmu, selama setahun pernikahan kita, kau tak pernah merasa aku bisa mencukupi kebutuhanmu.

Kau selalu merasa kurang. Bahkan, wajahmu kau bilang kusam tak terawat. Kuakui, pengasilanku yang pas-pasan membuat kau tak nyaman berada di dekatku. Tak jarang, kau dicibir oleh teman dan keluargamu. Kau lebih memilih mendengarkan ucapan mereka.

Akhirnya, perpisahan ini adalah jalan yang terbaik untukmu. Aku harap, setelah kita bercerai, tak ada lagi keluh kesahmu tentang pipimu yang tidak merona seperti teman-temanmu. Para penyembah uang, yang menepikan cinta.

"Mak, Ridwan ingin merantau ke Duri. Kata bang Sabri, banyak PT besar yang sedang membuka lowongan."

"Bagaimana dengan Mak, apa kau tega meninggalkan Emakmu ini?"

"Bukan begitu Mak. Di sini, masa depan Ridwan tidak berkembang. Di sini hanya mengharapkan hasil kebun dan sawah. Ridwan ingin maju selangkah, Mak. Lagian, di rumah ini kan ada uni Sonia yang merawat Mak."

"Mak takut, jika kau telah berhasil, kau lupa dengan Mak. Hidup bergelimang harta, bak Malin Kundang. Sudah kaya, tak mau mengakui emak sendiri."

"Nah, dengar omongan mak tu. Bila kau berhasil di kota, janganlah lupa pada orang tua." Kak Sonia menyela pembicaraan kami.

"Kakak macam tak kenal adiknya saja. Tak mungkinlah Ridwan melupakan orang tua sendiri. Lagian, dimulai juga belum Kak."

"Kalau sampai kau berhasil, lupa pada emak kau tu, Kakak yang akan memukul kepalamu biar otakmu kembali jernih." Ia tertawa renyah.

***

Kota Duri, merupakan kota minyak. Bukan hanya kaya akan minyak bumi, namun juga sebagai kota penghasil sawit dan karet. Duri terletak di provinsi Riau. Kecamatan terbesar, yang termasuk dalam wilayah kabupaten Bengkalis. 

Sudah setahun lamanya aku merantau di Duri. Perekonomianku juga semakin membaik. Tabungan yang kukumpulkan juga berjumlah fantastis. Setiap bulan, tak lupa kukirimkan uang untuk emak di kampung. Jika bukan karena ridhonya, mungkin nasibku tak akan seberuntung ini.

Lebaran ini, aku mudik ke kampung halamanku. Dengan menunggangi motor besar keluaran Yamaha, aku berhenti di teras rumahku. Nampak emak sedang mengaji. Matanya berkaca-kaca melihat kepulanganku. Setelah mengucap salam, kupeluk ia untuk melepaskan rindu.

"Haa, pulang juga kau Ridwan. Apa kabar kau Nak?" tanyanya haru. Suaranya parau memahan tangis.

"Alhamdulillah sehat Mak. Seperti yang Mak tengok ni-lah." Aku memutar badan si depan mak.

"Tambah berisi badan kau Wan, senang kau di sana, ya?" tanyanya bahagia. Tangannya yang keriput mengelus-elus pungguku.

"Iya Mak. Rezeki Ridwan lancar berkat doa Mak. Hidup tenang, perut kenyang," selorohku membuat emak tertawa memamerka giginya yang ompong.

"Iya lah tu. Kau pulang bawa apa Wan?" Uni Sonia muncul dari belakang. Kusalami Kakakku yang menggemaskan itu. Lalu kuserahkan kardus yang berisi oleh-oleh padanya.

"Kau ini, adikmu baru pulang, sudah kau todong meminta oleh-oleh," kata emak sambil geleng-geleng kepala. 

"Eh ... kau rupanya Ridwan. Tambah gagah nampak Mak." Mantan ibu mertuaku masuk menyapa. Langsung kusambut hangat tangannya.

"Alhamdulillah, Mak. Nasib pasti berubah, asalkan kita sabar dalam menjalaninya," kataku sok bijak.

"Kau kerja dimana? Udah lama Mak tidak pernah tengok kau setiap melewati rumahmu.

"Merantau di Duri, Mak. Alhamdulillah, dapat kontrak lima tahun. Setelah itu, Ridwan bisa jadi karyawan tetap "

"Di PT apa Wan? Masukkanlah adik kau kalau bisa."

"Di Halliburton Mak, tapi saat ini sedang tidak ada lowongan."

"Oh, ya, lah. Nanti kalau ada, jangan lupa adikkau, ya."

"Insyaallah Mak."

"Eh, mana calon istri kau? Hidup sukses di kota, masa pulang tak bawa menantu untuk emakkau?"

Emak dan uni Sonia saling berpandangan, lalu tersenyum mengejek. 

"Belum ada Mak."

"Kebetulan sekali Wan. Riama juga masih menjanda, Mak setuju kalau kau kembali menjalin rumah tangga dengannya."

"Maaf Mak, sari pada harus rujuk dengan Riama, mending Ridwan menduda seumur hidup."

"Jangan macam tu Wan. Kalian, kan, saling mencintai. Apa lagi yang mengganjal si hati kau." Dengan wajah tak berdosa, ia bertanya padaku. Rasanya aku ingin muntah mendengarnya.

"Mak, dengarkan Ridwan. Andai saja bukan karena hasutan Mak, mungkin saat ini rumah tangga kami maaih baik-baik saja. Kini, setelah Mak melihat Ridwan sudah berhasil, tiba-tiba Mak suruh kami balikan."

"Alah, baru sukses sedikit saja sudah sombong," gerutunya. "Menyesal aku singgah ke sini tadi." Ia tegak, tak lupa mengentakkan kaki terlebih dahulu. Dengan memasang wajah masam, ia keluar dari rumahku. 

Belum lama mantan mertuaku keluar dari rumah emak, anaknya yang tak lain tak bukan adalah mantanku, berkunjung ke rumah. Ia menyalamiku, lalu emak dan uni Sonia.

"Abang Ridwan, sudah lama kita tidak saling bertegur sapa. Apa kabar?" tanyanya sopan.

"Seperti yang kau lihat, Riama. Abang sehat, tak kurang suatu apapun." Mungkin Riama berharap aku gila karena ditinggalkannya.

"Syukurlah, aku senang mendengarnya," ucapnya basa-basi. Wajahnya

"Kau bagaimana? Mengapa belum menikah?"

"Hatiku masih tertinggal pada Abang." Riama tampak malu-malu. Ia memainkan ujung jilbabnya.

"Bukankah kau tak pernah bahagia selama hidup bersama denganku? Mengapa hatimu tidak kau bawa seutuhnya?" Aku menghela napas dalam. Dulu, saat aku belum punya apa-apa, seenaknya saja dia memintaku untuk meninggalkannya. 

"Bang ... apakah kita tidak bisa melanjutkan cerita lama? Kita sambung kembali hubungan yang pernah putus. Bukankah, kita pernah mengikat rasa. Bagaimana jika rasa itu kita bangkitkan kembali?" tanyanya penuh harap.

Aku sudah menangkap maksud dari kedatangannya. Pasti emaknya yang telah mengompori Riama, karena kini aku sudah bisa dibanggakannya.

"Maaf Riama, bagiku kau adalah masa lalu yang sudah kukubur. Perasaanku padamu, tidak bergelora seperti dulu. Sebaiknya, jangan berharap lebih padaku. Maaf, kita hanyalah sepenggal kisah yang telah usang."

"Jadi ... tak adakah kesempatan kedua, bagiku?" Seketika wajahnya berubah murung. Aku menyesal harus membuatnya kecewa.

"Kurasa, perkataanku tadi cukup jelas. Maaf, bagiku kesempatan itu hanya sekali. Lebih baik, kita seperti ini saja.

Aku berdiri memunggunginya. Kubawa diri melangkah menjauhinya. Kubiarkan air wudhu membasahi wajahku. Sungguh harta bisa mengendalikan segalanya. 

 

Tamat...

Bumi Raflesia, 181221

Bab 14. Pertemuan

0 0

"Heh, ngapai liat-liat," tutur seorang bocah lelaki pada Kirana, seorang gadis kecil yang sedang berdiri di samping mobilnya. Kirana sesekali mengintip ke dalam mobil bocah tersebut. 

"Enggak," gelengnya cepat. Kali ini, gadis keci itu mencoba menyentuh mobil avanza berwarna hitam tersebut.

"Nggak usah pegang-pegang, nanti kotor." Bocah laki-laki itu keluar dari mobilnya. Ia mendorong Kirana hingga jatuh. 

"Aduh," ringis gadis kecil itu. Bokongnya menyentuh tanah. "Jangan kasar dong." Kirana berdiri sambil mengusap bokongnya yang sakit.

"Makanya, nggak usah dekat-dekat. Udah dibilangin juga, masih ngeyel, ckk." Bocah lelaki itu berdecak. "Kaya nggak pernah lihat mobil aja," sungutnya.

"Iya. Kan, aku enggak punya mobil. Masa cuma pegang dikit aja nggak boleh."

"Pokoknya aku nggak suka kamu berada dekat mobilku. Titik."

"Sombong banget, baru juga punya mobil avanza." Gadis itu makin gencar membeei serangan.

"Biarain. Dari pada kamu ... enggak punya mobil."

"Denis, kenapa marah-marah?" Seorang lelaki dewasa datang menghampiri bocah laki-laki itu. Ia tersenyum menatap Kirana. 

"Ini lho, Pah. Dia tuh pegang mobil kita. Lihat tuh bekas jari-jarinya nempel, jadi kotor, kan," keluhnya.

"Maaf Om, biar aku bantu bersihkan, ya." Kirana menghapus dengan telapak tangannya. Bukannya bersih, malah makin kotor.

"Udah nggak apa-apa, Dik. Biar nanti, Om bawa ke pencucian mobil aja." Lelaki itu menatap Kirana dalam-dalam. Wajah Kirana, seakan mengingatkannya pada sebuah masa lalu.

"Maaf Om, jadi makin kotor," ucapnya dengan penuh penyesalan.

"Nggak usah dipikirkan, Dik. Cuma kotor sedikit, nanti juga bersih kembali," ia mengusap kepala Kirana. "Kamu tinggal dimana? Biar Om antar kamu pulang."

"Ih, Papah. Dia itu kotor dan kucel, mana bau juga." Denis mendengus kesal.

"Tidak baik bicara seperti itu Denis. Sebagai sesama manusia, kita tidak boleh merendahkan siapapun. Kehidupan dia seperti ini, bukan karena keinginan dia. Kasihan lho, dia pasti sedih mendengar ucapan kamu."

"Aku udah biasa kok diperlakukan seperti ini Om. Dan aku menganggapnya sebagai angin lalu aja. Agar aku nggak sakit hati." Kirana terkekeh. Lelaki itu terkesima melihat gadis kecil itu. Jangan-jangan ....

***

Sepuluh tahun yang lalu, telah terjadi kejadian maha dahsyat. Gunung merapi menunjukkan keperkasaannya. Gunung merapi meletus, membumi hanguskan daerah yang terkena semburan laharnya. 

Tak dapat dibayangkan, kepanikan yang terjadi pada saat itu. Doni yang mendengar berita tentang amukan merapi, segera menghubungi kontak istrinya. Hatinya mulai dilanda kecemasan, setelah menghubungi berkali-kali, namun tidak tersambung dengan nomor yang dituju.

Ia juga mencoba untuk menghubungi kerabat istrinya, tapi tidak ada yang tahu kondisi Rumini dan balita mereka. Tak kehabisan akal, ia memencet tombol 'on' pada remote tv. Matanya tak sedikitpun ia biarkan lepas dari layar televisi. Barangkali, ada kabar baik tentang anak dan istrinya. Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, Doni berencana akan mencari informasi dengan mendatangi tempat terjadinya bencana.

Azan telah berkumandang dari tadi. Doni juga telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dengan berbekal seadanya, ia berangkat ke lokasi bencana.

Setelah menempuh waktu yang cukup panjang, akhirnya ia sampai juga di Sleman. Matanya memanas, saat melihat rumahnya telah hancur diterjang muntahan material yang berasal dari gunung merapi.

Setelah mencari selama berhari-hari, tak kunjung ada kabar baik mengenai anak dan istrinya. Sampai akhirnya, ia menganggap bahwa anak dan istrinya tidak selamat dari amukan merapi.

***

Dan setelah bertahun-tahun lamanya, kini ia seperti kembali ke masa lalu. Gadis kecil itu seperti jelmaan istri pertamanya. Jika diperkirakan, gadis kecilnya dulu mungkin seumuran dengan gadis yang berada di hadapannya.

"Kamu tinggal dimana?" tanya Doni pada Kirana.

"Di panti kasih ibu, Om."

"Orang tua kamu kemana?"

"Ayahku nggak tahu kemana. Kata ibu, ayah tak pernah datang mencari kami. Sementara itu, ibu udah meninggal tepat sebulan yang lalu."

"Nama kamu siapa?"

"Kirana."

Jawaban gadis kecil itu membuat Doni terenyuh. Siapakah sebenarnya gadis yang berada di hadapannya ini? Namanya sama dengan nama anak kandung Doni. Lalu wajah wajahnya, sangat mirip dengan muka istrinya yang pertama.

"Om antar kamu pulang, ya."

"Aku, boleh ikutan naik mobil dengan Om?" Gadis itu tampak ceria, dengan binar di matanya. 

"Tentu saja. Ayo, Om antar kamu pulang." Doni membukakan pintu untuk gadis itu. Kirana naik, dan duduk di samping bocah laki-laki itu.

Doni memutar kunci, perlahan mobil meninggalkan tempat parkiran. Sibenaknya, ingin segera mendapat informasi tentang Kirana. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di panti. Dari jauh, nampak seorang wanita menyambut kedatangan mereka.

"Ibuk," teriak Kirana sembari melambai kepada wanita itu. Ia berlari mendekatinya.

"Kirana sudah pulang? Habis dari mana?" tanyanya lembut.

"Selamat siang Ibu. Boleh kita ngobrol sulu sebentar?"

"Tentu saja Tuan. Ayo, sebaiknya kita ngobrol di sana aja." Ibu itu menunjuk pondok-pondok yang terletak di samping pantinya. Mereka duduk berhadapan. "Ada perlu apa, ya, Tuan?"

Gini Buk, saya mau tau tentang gadis itu." Doni menunjuk Kirana yang sedang asyik berlari dengan penghuni panti.

"Kirana?" tanyanya. 

"Iya," angguk Doni. "Maaf, saya ingin tahu, asal usul anak itu."

"Sepuluh tahun yang lalu, gunung merapi meletus. Mereka jadi salah satu korban, keganasan peristiwa bencana alam tersebut. Tempat tinggal mereka hancur luluh lantak diterjang debu panas merapi."

"Lalu?"

"Kirana waktu itu masih kecil, belum genap setahun. Mereka ditemukan tim sukarelawan. Ibunya depresi, menderita trauma yang begitu dalam. Ia tak ingat, siapa keluarganya."

"Ooo. Sebenarnya, saya juga kehilangan keluarga saat peristiwa besar itu. Namun, saya mengira keluarga saya audah meninggal. Saat saya melihat Kirana, saya seperti melihat istri saya bengkit kembali. Apa tak ada identitasnya yang bisa saya lihat?"

"Tunggu sebentar Tuan, saya masih menyimpan foto ibunya." Wanita itu masuk ke dalam. Tak berapa lama setelah itu, ia keluar dengan membawa sebingkai foto. "Ini ibunya, Tuan."

"Lho, ini benar Bu. Dia Rumini, istri saya," pekiknya kegirangan. Ia berlari ke arah Kirana, lalu memeluknya dengan erat. 

"Kenapa Om?"

"Mulai saat ini, kamu jangan panggil Om, tapi Papah. Ini Papahnya Kirana." Doni menunjuk dirinya.

"Benarkah? Kirana punya Papah?"

"Iya. Maafkan Papah, ya, karena berputus asa mencari kamu dan mamah."

"Nggak apa-apa kok, Pah. Aku seneng deh, ternyata Papahku masih ada."

"Kita pulang ke rumah Papah, Kirana mau nggak?"

"Mau banget Pah."

"Sekarang, bereskan barang-barang kamu. Kamu akan pulang ke rumah kita."

"Terima kasih sudah merawat Kirana Bu. Ini ada sedikit bingkisan, sebagai ucapan terima kasih saya."

Saya juga mengucapkan terima kaaih Tuan. Akhirnya, Kiran bisa berkumpul dengan keluarganya," ucap pengurus panti haru.

 

Tamat...

 

Bumi Raflesia, 191221

Mungkin saja kamu suka

Annisa Nurrahma...
Mak Asih
Abil Rahma
Bukan Noda Hitam
Dela Revita Sar...
MAMA MINI
Pluviophile
White Moon
Hanafi Anshory
PROSES KEMATIAN

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil