Loading
36

1

11

Genre : Psikologi
Penulis : Temaram Ray
Bab : 9
Pembaca : 9
Nama : Temaram_Ray
Buku : 2

Dalam Kelam

Sinopsis

Dalam hidup, dibandingkan dan disiksa adalah makanan sehari-harinya. Dikucilkan dan dibully adalah bumbu pemanis masa sekolahnya. Seolah tidak cukup, dicampakkan dan direnggut masa depannya, adalah badai yang memporak-porandakan kehidupannya. Saat itu bagai kutukan, tidak percaya diri menjadi pribadi yang melekat pada jiwanya. Jiwa seorang peri bermata bulat dan berkulit coklat, Isna Rafela. bagaimana Isna menghadapi dunia yang kejam padanya? apakah ia mampu keluar dari lorong gelap yang menyiksa? Dalam Kelam, kisah Isna Rafela akhirnya tertuang.
Tags :
#nulisdibukulaku #olimpiademenulis #kmoclub

Bab 1 Sekolah Neraka

8 2

Isna menatap lantai dengan lelah. Rambut hitamnya terasa lepek karena air es yang sengaja disiramkan ke kepalanya oleh temannya.

 

"Teman?" lirih Isna sembari menunduk, membiarkan lelehan bening dari matanya mengalir tanpa hambatan.

 

Dibanding teman, mereka lebih seperti makhluk kejam yang suka menindas orang lain. Bertindak seolah berkuasa karena memiliki segalanya.

 

"Ah, benar. Aku harus memiliki segalanya agar bisa memiliki kuasa." Isna mengahapus air matanya dan berjalan pelan di lorong.

 

Anak-anak yang melihat berjengit jijik dan mendumel karena lantai jadi kotor. Isna terus saja berjalan, menulikan telinganya agar cemoohan yang terlontar tidak masuk ke pikirannya.

 

Kehidupan sekolah yang menyebalkan. Hanya karena ia berkulit cokelat dan tidak pandai, semua orang berhak mengolok-oloknya. Guru yang seharusnya dapat membimbing dan mensuport malah terus membandingkannya.

 

Tuk

 

Isna berhenti berjalan ketika sepatu lusuhnya terantuk sepatu hitam mahal mengkilap di depannya.

 

“Kalau jalan matanya dipakai!” sungut sang pemilik sepatu.

 

Dia lagi, batin Isna kesal.

 

“Kakak lagi ngomong dengerin, dong, Dek!” rengek wanita cantik yang sialnya adalah kakak Isna.

 

“Kak, aku capek. Jangan bikin emosi, please,” desis Isna sambil lalu, membuat kakanya bersungut kesal dan anak-anak lain menatapnya seolah adik tidak tahu diri.

Isna tidak pernah minta untuk dilahirkan berkulit cokelat, juga tidak pernah meminta dilahirkan dengan kepintaran yang dibawah rata-rata. Namun,  kenapa semua orang menyalahkannya? Mengapa mereka semua menganggapnya sebuah kesalahan?

Isna berhenti di depan toilet. Mendesah pelan sebelum akhirnya masuk. Ada dua orang siswi berada di dapan wastafle dan langsung kabur ketika melihatnya masuk. Mungkin mereka jijik, atau takut ikut menjadi sasaran bully. Miris.

 

Isna masuk ke salah satu bilik dan terdiam, dapat ia dengar suara beberapa orang memasuki toilet.

 

“Kamu lihat Isna tadi? Malu-maluin banget, ya? Ulangan dapat lima, mana nyari gara-gara terus sama Adi dan kawan-kawanya,” suara salah satu dari mereka memulai percakapan. Suaranya cempreng dan keras.

“Jangan memutar balikan fakta,” satunya lagi membalas. “Adi yang sering ganguin Isna. Aku enggak suka ngomongin mereka, apalagi kalau ngomongin kakaknya si Rinai.” Kali ini suaranya lebih ke bas dan dalam.

“Kenapa?” Si cempreng bertanya.

“Isna itu lemah, gampang ditindas. Kakaknya, Rinai, super cantik dan pintar, tapi suka mengolok-olok Isna. Aku enggak suka keduanya. Orang lemah dan orang sok berkuasa, sama-sama menyebalkan,” jawab pemilik suara bas.

 

Isna mendesah pelan ketika suara dua orang itu tidak lagi terdengar. Pembicaraan kedua orang itu sudah sering ia dengar. Ia yang lemah, jelek, tidak pintar dan mudah ditindas dibandingkan dengan kakaknya yang cantik, pintar dan disukai banyak orang. Bedanya, baru kali ini ia dengar seserang yang membenci kakaknya pula selain dirinya.

 

Isna baru akan keluar ketika mendegar suara langkah kaki kedua orang itu pergi. Ia urung, buat apa ia tahu siapa yang membicarakannya? Toh tidak ada gunanya.

 

Isna membersihkan air es yang disiram Adi ke kepalanya dengan tisu. Gadis bersuara bas itu benar, Adi yang sering mengganggunya. Bukunya dicoreti, tasnya disembunyikan, pensilnya dipatahkan, bekalnya dibuang, dijambak, disiram es, dijadikan kacung. Sekolah seperti neraka.

 

Kenapa Isna tidak membalas? Kenapa Isna tidak membela diri? Adi bukan anak kepala sekolah, bukan donatur terbesar, bukan pula anak pejabat dan orang kaya. Adi hanya, anak nakal yang suka membully Isna, dan Isna adalah orang yang takut bahkan untuk membela diri. Seluruh sekolah tahu, bahkan guru dan staf juga tahu, tetapi mereka hanya diam, seolah itu hanyalah sebuah candaan yang tidak perlu dipermasalahkan.

 

Isna mana berani, ingatan tentang kata-kata mereka membuat Isna pasrah.

“Jangan manja!”

“Adi, hanya bercanda.”

“Kamu yang salah, kan?”

“Sudah, saling minta maaf, yah.”

“Jangan memperbesar masalah.”

 

Masalahnya Isna hampir sakit mental karena pembullyan yang dilakukan Adi.

 

Isna keluar setelah dirasa rambutnya tidak lagi terlalu basah. Isna mencuci mukanya. Isna memiliki garis wajah yang cantik. Matanya bulat dengan bulu mata lentik, hidungnya mancung dan pipi bulatnya tampak serasi dengan bibir kecilnya. Sayangnya, kulinya cokelat dan tubuhnya sedikit berisi.

 

“Keadilan sosial bagi rakyat good looking.” Isna kembali ke kelas dan menemukan Adi sudah duduk manis di kursi sebelahnya yang memang tidak berpenghuni.

“Duduk,” ujar Adi sembari menarik Isna untuk duduk di kursinya.

Adi mencium sedikit rambut Isna dan tersenyum jail. “Arom shampo kamu enak banget, manis kaya jus anggur,” kekeh Adi membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak.

 

“Isna, besok aku ulang tahun, kasih aku kado, yah?”

 

Jebakan. Isna tahu dengan jelas Adi sedang mempermainkannya. “Buat apa? Aku bukan teman maupun kekasihmu,” lirih Isna sembari menepis tangan Adi yang masih sibuk memainkan ujung rambutnya.

 

“Ini kode atau apa, yah? Ngarep banget gue pacarin, Neng?” kelakar Adi yang semakin membuat Isna merah padam menahan amarah.

 

“Bung, meskipun Isna tidak bisa dibandingkan dengan Rinai. Setidaknya dia punya bakat.” Salah satu teman Adi menimpali. “Bakat terpendam yang enggak pernah muncul alias enggak ada!” lanjutnya diakhiri tawa puas yang lagi-lagi dibeo kan oleh anak-anak.

 

“Isna, Isna. Harusnya lo itu jadi kayak Rinai. Cantik,  pintar, seksi, pasti nanti gue mau macarin lo. Lah, kalau modelan kamu kayak gini? Satpam sekolah juga kagak mau!” Adi kembali mempermalukan Isna. Setiap hari, setiap ada kesempatan, dan setiap itu pula Isna rasanya ingin menenggelamkan diri di samudra.

 

Rinai, nama yang seolah tidak pernah lepas dari hidupnya. Adiknya Rinai, tidak mirip Rinai, tidak sepintar Rinai, tidak secantik Rinai. Seolah poros hidupnya hanya ada pada Rinai.

 

Adi baru akan melanjutkan candaannya ketika guru matematika sudah memasuki ruangan. Setidaknya saat pelajaran berlangsung ia tidak mendapat bullyan. Itu sebelum Adi kembali berulah.

 

“Aw!” pekik Isna lirih ketika Adi menjahilinya dengan menusuk tanggannya menggunakan jarum pentul.

 

Isna harus mendesah lagi, apanya yang tidak mendalat bullyan. Adi terkekeh pelan dan mengelus tangan Isna yang ia tusuk, tetapi Isna langsung menepisnya.

 

Salah satu alasan Isna tidak berani melawan. Entah sejak kapan, tapi meskipun sering membullynya, Isna malah jatuh cinta pada Adi. Tidak ada yang tahu, Isna sembunyikan rapat-rapat. Hanya Adi yang memanggil namanya lebih sering daripada Rinai. Meski berkali-kali membandingkannya dengan Rinai, Adi lebih sering mengganggunya daripada mengejar-ngejar Rinai seperti yang lainnya. Entah Isna tidak waras atau apa, tetapi dibully sedemikan rupa membuat Isna malah merasa, ada satu orang yang tahu akan keberadaannya dan memperhatikan dirinya, meskipun itu bertujuan untuk membullynya.

 

Isna berjalan pulang dengan melamun, tangannya sibuk mengusap-usap tujuh titik merah dilengan tangannya, hasil karya Adi dengan jarum pentul selama pelajaran matematika.

 

“Sayangnya, yang aku rasakan bukan sakit tertusuk jarumnya, tetapi tangan hangatmu yang berkali-kali mengusapnya. Terlebih tatapan matanya yang berpura-pura merasa bersalah. Ah, aku pasti sudah gila,” monolog Isna sembari menatap troroar tempatnya berjalan.

 

Isna menatap zebra cros yang ada di depannya, lampunya masih merah, belum saatnya ia menyebrang, tetapi ada dorongan kuat dalam dirinya untuk maju lima langkah saja. Lima langkah saja dan semua beban hidupnya akan melayang bersama nyawanya.

 

“Aku masih lima belas tahun, terlalu cepat untuk bunuh diri,” lirih Isna sembari mundur selangkah karena ternyata kakinya sudah hampir mencapai zebra cros yang penuh mobil dan motor berlalu lalang dengan kencang.

 

Dibelakang Isna, seorang gadis mendesah lega melihat Isna menarik kembali kakinya

user

09 December 2021 06:35 Temaram_Ray ngeri luh????

user

12 December 2021 17:02 Zaenuri Hmmm, kok q jadi terbayang Tom & Jerry ya. *_°

Bab 2 Rumah Sengsara

7 0

“Harus berapa kali Ibu bilang untuk tidak mengotori seragammu! Memangnya kamu ngapain saja di sekolah, hah!” marah Atika pada Isna yang pulang dengan rambut lepek dan seragam bernoda ungu.

 

Jus anggur milik Adi, batin Isna.

 

“Kamu lihat, dong, Rinai! Kakak kamu itu pagi rapi, pulang juga rapi. Prestasinya bagus dan menang banyak lomba. Sedangkan kamu? Apa yang bisa Ibu banggakan? Teman saja kamu tidak punya!”

Isna menatap kakinya. Ia tidak memiliki teman, pun orang tua yang menyuportnya. Hanya cemohan, bentakan dan disbanding-bandingkan. “Isna belajar, Buk,” lirih Isna. Ia belajar, begadang dan bahkan mengikuti tutor secara oniline, tetapi tetap saja tidak ada peningkatan. Otaknya bukannya dipenuhi ilmu malah sibuk dijejali makian dan kehebatan kakanya.

“Berani jawab kamu, ha?” Atika mendekati Isna dan menamparnya dua kali. “Ibu enggak habis pikir sama kamu Isna! Harusnya kalau wajah udah jelek, etika jangan jelek juga!”

Isna memejamkan matanya. Etika apa? Memangnya siapa yang mengajarinya etika? Ibunya yang selalu marah-marah? Atau ayahnya yang suka memukulnya? Guru yang acuh pada bullyannya? Atau Rinai yang selalu menghina dan mengejeknya di depan umum? Etika seperti apa yang ibunya harap darinya? sedang hidupnya tidak pernah absen dari kekerasan dan hinaan bukannya contoh dan pelajaran.

Geram karena Isna tidak kunjung menjawab, Atika memilih pergi. Rinai yang dari awal melihat perlakuan ibunya terhadap Isna hanya menatap Isna remeh.

“Habis ini ke kamar gue, gak pake lama!” bentak Rinai sembari melempar tas punggungnya ke Isna.

Isna mencengkeram erat tas punggung milik Rinai. Tas punggung yang ibunya belikan saat Rinai masuk SMA. Isna beralih pada tas selempangnya, tas seharga tujuh puluh lima ribu itu hasil dari menabungnya selama satu bulan. Isna ingat sekali perkataan ibunya saat ia masuk SMA.

“Kamu beli alat tulis dan lainnya sendiri. Uang ibuk buat persiapan Rinai kuliah.” Saat itu Isna hanya bisa pasrah. Buku-buku SMP nya yang masih bisa ia pakai ia gunakan lagi. Isna berkerja beberapa kali di restoran sebagai tukang cuci piring agar bisa membeli seragam dan buku tulis.

“Buruan, Isna!” teriak Rinai yang sudah berada di tangga paling atas.

Isna menunduk dan melangkah pelan mengikuti Rinai yang menuju kamarnya. Suasana merah muda pucat menyapa mata Isna. Kamar kakaknya seperti kamar Barbie, lengkap dengan aksesoris-aksessris mahal seperti gorden, bed cover super dan lampu tidur yang begitu menawan. Di tambah poster-poster wajah tampan para member BTS yang memenuhi dindingnya, Isna bahkan ingat betul degan posisi album dan foto card Taehyung yang kakaknya tata dengan rapi di lemarinya.

Aku bahkan harus mikir ribuan kali hanya untuk membeli sebuah desgrib baru, batin Isna.

Sebuah kain tiba-tiba teronggok di depan Isna yang mematung di ambang pintu kamar Rinai. Satu baju itu disusul dengan lemparan baju lainnya.

“Ambil, itu pakaian Kakak yang udah enggak kakak suka. Tenang saja, itu oversize, kok, jadi lo bakal muat. Isna hanya berdiri tanpa menjawab. Ia enggan, tetapi ia memang perlu baju baru karena pakaiannya ada yang sudah tidak muat.

 

Isna mengingat-ingat, kapan terakhir kali ia membeli baju? Sepertinya hampir tidak pernah jika ia tidak menabung. Rata-rata bajunya hanya dari Rinai.

 

“Dek, lo jangan deket-deket sama Adi. Gue suka sama dia,” ujar Rinai kesal sembari melempar satu baju terakhir untuk Rinai. Besok ia akan jalab-jalan dengan Atika untuk membeli baju baru.

 

“Gue enggak pernah deketin Adi,” jawab Isna cuek sembari mengambil baju-baju yang Rinai lemparkan.

 

“Enggak usah booong. Yakali si Adi yang deketin eo! Tapi gak papa, sih. Palingan juga Adi bakalan ilfil sama Lo. Udah sana pergi, merusak pemandangan!” kesal Rinai sembari merebahkan dirinya di kasurnya.

Isna hanya menatap Rinai dengan menahan amarah. Ia pergi sembari menahan mati-matian keinginan hatinya untuk mencakar-cakar wajah Rinai yang sayangnya begitu mulus dan cantik.

Raut wajah Isna dan Rinai hampir mirip, tetapi Rinai berkulit putih dan pipinya sedikit lebih tirus, tubuhnya juga tinggi semapai, berbeda dengan Isna yang memiliki kelebihan lemak.

 

Isna memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rinai. Ukuran kamarnya sama. Bedanya, kamarnya lebih sedikit barang dan terkesan tanoa kehidupan. Bukan masalah besar, Isna tidak terlalu menyukai pernak-pernik maupun artibut kamar yang biasanya ada di kamar soorang gadis remaja.

 

“Kenapa hidup semenyebalkan ini?” tanya Isna pada cermin di depannya. Ia coba tersenyum, tetapi wajahnya malah tampak mengerikan.

 

Isna mengingat film yang pernah ia tonton di warnet. Seorang siswi bunuh diri karena di bulky. Siswi itu memecahkan cermin dan menggunakan pecahannya untuk menggores pergelangan tangannya.

 

“Apakah sesakit seperti pecutan sabuk?” lirih Isna sembari meraba bahunya.

 

Isna menekan pergelangan tangannya dengan kuku, kemudian mendadak menangis dalam diam.

 

“Sepertinya lebih menyakitkan, tetapi kalau berhasil, aku tidak perlu merasakan perihnya luka itu,” kekeh Isna dalam tangisnya.

 

Isna menoleh ketika suara pintu terbuka. Itu kakanya yang lain. Bagas.

 

“Rinai?” tanyany parau.

 

Pasti mabuk lagi, batin Isna tanpa berniat menedekat.

 

“Ah, pasti si Isna. Oi jelek! Sini Lo!”

 

Isna masih saja bergeming. Ia sungguh enggan mendekat ke Bagas.

 

Bagas yang kadung emosi mendekati Isna dan langsung menyeret Isna ke lantai.

 

“Lo, kenapa, sih, Dek? Suruh mendekat aja kagak mau! Emangnya Lo takut apa? Takut gue perkosa? Kagak napsu gue sama Lo!”

 

Isna menahan napas. Kakanya kalau lagi mabuk omongannya melantur kemana-mana dan sering membuatnya sakit hati.

 

Setelah berkata demikian, Bagas menoyor kepala Isna dan berlalu keluar kamar.

 

“Tidak napsu? Apa dia lupa dia hampir memperkosaku satu tahun lalu saat mabuk? Saat tidak punya pikiran, memangnya ia tahu mana yang cantik dan mana yang jelek?” desis Isna.

 

Isna meringkuk di lantai. Entah berapa lama lagi, entah akan separah apa lagi. Yang jelas ia lelah. Benar-benar lelah sekadar untuk membersihkan diri dari debu dan lengket di tubuhnya.

 

Malam itu, Isna tertidur dangan keadaan yang berantakan, pipi merah, lengan luka, rambut lepek, dan lelehan air mata yang mengiringi mata bulatnya terpejam.

 

 

~

 

Pagi hari, Isna terbangun dengan badan yang pegal dan perut yang lapar. Isna menatap pantulan dirinya di cermin dan mendesah lelah. Untung hari itu hari rabu, jadi ia tidak akan memakai baju kotor.

 

Isna mandi dan beriap sekolah. Saat turun, Bagas, Rinai, Atika dan Haris, ayahnya. Tengah sarapan dengan khitmat. Tanpa menoleh sedikitpun, Isna berjalan terus menuju dapur.

 

“Bi, buatin Isna nasi goreng, dong,” pinta Isna yang langsung diangguki Bi Sami.

 

Isna menatap langit yang cerah melalui jendela dapur.

 

“Kenapa, Non?” tanya Bi Sami penasaran.

 

“Enggak, Isna hanya kagum sama langit yang cerah. Semoga hari ini juga hari yang cerah untuk Isna,” kekeh Isna sembari menatap Bi Sami yang tersenyum simpul.

 

Ayo Isna, semangat. Jangan kalah sama orang-orang yang lebih menderita dari kamu! Batin Isna menyemangati diri sendiri.

 

Bab 3 Masuk BK

4 0

Isna berjalan pelan di lorong kelas. Tampak sepi karena para siswa suah memasuki kelas. Iya, Isna terlambat. Sudah tiga hari ini Isna terus terlambat karena bus sekolah tidak beroperasi. Jadi, Isna naik angkot yang membutnya terlambat.

 

“Pasti nanti dipanggil BK,” ujar Isna pasrah.

 

Isna berhenti berjalan ketika seseorang menarik tasnya. “Adi?”

 

“Tumben telat tiga hari ini. Bolos aja, yuk.” Tanpa menunggu jawaban Isna, Adi langsung menarik Isna begitu saja.

 

Isna mendesah pasrah. Sudah telat, bolos pula. Bisa dipastikan, minimal ia akan dapat surat peringatan, dan kemungkinan terburuk, orang tuanya akan dipanggil.

 

Adi membawa Isna ke kantin. Memesan semangkuk bakso dan menatap Isna dengan serius.

 

“Kenapa?” tanya Isna gugup.

 

“Isna, lo itu lebih cantik dari Rinai,” ujar Adi sembari membenahi rambut pendek Isna. Jantung Isna berdetak cepat, pipinya memanas dan sudut bibirnya berkedut karena menahan senyum. “Tapi gue bohong,” kekeh Adi sembari mencubit hidung Isna.

 

Isan terdiam. Sudah biasa baginya mendengar itu dari Adi, tetapi saat Adi mengatakannya rasa kecewanya masih ada.

 

Isna melepaskan tangan Adi dan tersenyum.

 

“Jangan tersenyum,” larang Adi sembari membekap mulut Isna.

 

Isna menaikkan sebelah alisnya, merasa heran kenapa ia tidak pernah tersenyum.

 

“Bisakah, untuk tidak terus menggangguku? “ tanya Isna lirih setelah Adi melepaskan tangannya.

 

“Apa suaramu selalu sekecil itu?”

 

Isna menghela napas, bukannya menjawab pertanyaannya malah bertanya balik.

 

“Den, baksonya.” Ibu kantin menaruh seporsi bakso di meja.

“Buk, pinjam mangkuk satu lagi, dong,” pinta Adi.

Ibu kantin langsung mengambilkannya dan memberikan pada, Adi.

 

Adi mengambil bakso di mangkuknya dan mengambil semua seledri yang ada di sana, menyisakan mie dan bawang goreng di mangkuk yang satunya.

 

Adi meracik bumbu di keduanya dan memberikan mienya untuk Isna.

 

Isna tersenyum simpul. Baru akan mengambil sendok sebuah tangan menumpahkan mienya ke kepalanya.

 

Bagus. Setelah jus anggur sekarang mie bakso.

 

Isna langsung berdiri dan menunduk, membiarkan kuahnya menetes-netes.

 

“Kasihan banget, sih, cuma dikasih mie sama Adi. Kamu enggak boleh gitu atuh, Di,” peringat Rinai tidak serius. Ia malah suka kalau Adi menindas adiknya. Ia hanya tidak terima Adi terlalu dekat dengan Isna.

 

Adi menatap pemandangan itu datar. Tanpa berkata apapun ia mengkah pergi, meninggalkan Isna dan Rinai.

 

“Tunggu, Di!” teriak Rinai, tetapi diabaikan. “Lo dipanggil Pak Mahfud, disuruh ke ruang BK,” ujar Rinai kesal sembari mengejar Adi.

 

Isna menghela napas. Diambilnya sapu tangan yang selalu tersimpan di sakunya. Oa mengkah ke Ibu kantin.

 

“Mau bayar baksonya Adi, Buk,” ujar Isna.

 

Ibu kantin menatap Isna iba, siapa yang tidam tahu kalau Rinai dan Adi sering membully Isna.

 

“Sudah dibayar, Neng. Ini kembaliannya suruh ngasih ke Neng.” Ibu kantin memberikan uang empat puluh ribu kepada Isna.

 

Isna hanya mengangguk dan mengambil uangnya.

 

Entah kapan ia akan terus seperti ini. Tidak di rumah, di sekolah, segalanya begitu menyebalkan.

 

Apanya yang cerah, harinya masih seperti biasa. Suram.

 

Setelah dari toilet, Isna menuju ke ruang BK.

 

“Kamu terlambat tiga hari berturut-turut dan membolos. Telfon orang tua kamu suruh ke sini.”

 

“Bapak tahu kalau mereka tidak akan ke sini,” jengah Isna.

 

“Kamu ini kenapa beda sekali dengan Rinai. Rinai itu sopan, beretika, lemah lembut, kamu malah urakan seperti ini. Rambut berantakan, sering terlambat dan bolos,” kesal Mahfud.

 

Ke berapa ratus? Atau ke berapa ribu Isna mendengar itu? Kenapa selalau dibandingkan? Isna ya Isna. Rinai ya Rinai. Meskipun mereka kakak beradik, bukan berarti mereka harus sama, baik itu sifat, fisik, maupun kepintaran

 

Sopan, beretika, lemah lebut. Aoa pembullyan termasuk contoh dari sikap tersebut? Apa mereka buta? Tuli? Apa mereka sedang syuting drama?

 

Sepertinya memang drama. Isna yang selalu tertindas dan kakanya yang amat dipuja. Klise tetapi memang benar adanya.

 

Isna jadi teringat dengan Luna. Temannya semasa SD. Temanny itu putus sekolah kerena gurunya menghinanya yang masih belum bisa menghitung dengan benar di kelas empat SD.

 

Ah, percaya atau tidak hal itu benar terjadi. Bukannya menyuport malah menjatuhkan. Yang kurang waras guru atau muridnya kalau seperti itu?

 

“Jangan selalu dibandingkan, lagipula tanya dulu apa alasanya terlambat, jangan langsung menyalahkan.” Seorang guru muda masuk sembari membawa berkas untuk Pak Mahfud.

 

Syukurlah masih ada orang waras diantara para orang-orang yang terlihat waras tetapi tidak tercermin dalam ucapan dan perbuatannya.

 

“Dari pada sibuk menyalahkan, pikirkan tindakan yang harus bapak lakukan,” guru itu pergi setelah membuat Pak Mahfud terdiam.

 

Kesal karena dinasehati. Pak Mahfud menyuruh Isna pergi setelah memberikan hukuman membersihkan lapangan dan toiet sekolah.

 

Isna berjalan perlahan. Menyursuri lorong menuju kelasnya. Sebentar lagi jam istirahat dan ia tidak mau terlihat di manapun. Ia lelah selalu di bully.

 

Isna menyeret kakinya menuju taman belakang sekolah yang tidak terurus. Ada pohon mangga yang sedang berbuah di sana. Isna tersenyum dan memetik satu.

 

“Matang,” senyum Isna sembari duduk di bawah pohon. “Padahal kulitnya hijau, kirain belum matang,” kekeh Isna. Lucunya, menemukan buah mangga masak pohon saja begitu menyenangkan baginya.

 

Isna mengobrak abrik tasnya dan mengeluarkan cutter yang selalu ia bawa.

Dikupasnya mangga dan makan dengan lahap. Saat makan, Isna teringat dengan kasus terlambatnya. Meskipun orang tuanya tidak dipanggil, Pak Mahfud paling tidak pasti memberitahukannnya pada orang tuanya.

 

“Apa, ya? Gesper? Atau sapu? Atau benturan di dinding setidaknya tiga kali?” Isna membayangkan hukuman dari ayahnya yang mungkin ia dapatkan.

 

Isna mengehela napas, menatap cutter ditangannya yang basah karena madu mangga.

 

“Akhiri? Atau tidak?” Isna menatap langit yang masih cerah. “Jangan dulu,” lirihnya sembari tersenyum.

 

Ayahnya menertawakan Ibunya yang menimbun lemak di tubuhnya. Ibunya menertawakan Ayahnya yang menimbun lemak di perutnya. Bagas menertawakan Rinai karena takut terhadap kucing, Kemudian Rinai menertawakan Isna yang meniru bentuk tubuh Ibunya. Terakhir, Isna menertawakan diri sendiri karena berharap hal mustahil itu menjadi nyata.

 

Isna memekik terkejut ketika seseorang menimpuknya dengan buku.

“Jangan tertawa, jelek!”

Isna menatap buku yang dilempar dan menatap orang yang menimpuknya pergi.

Sejak kapan Adi ada di sini?

 

“Salinkan untukku! Beli buku pakai uang sisa bakso!” teriak Adi.

 

Isna mengehela napas entah ke berapa kalinya. Setidaknya dengan begitu ia juga dapat catatan pelajaran tadi.

 

“Ih! Belajar sampai subuh pun tidak paham-paham!” pekik Isna. Ia membayangkan memiliki otak setidaknya setara dengan kakaknya. Atau setidaknya satu bakat saja agar ia bisa menunjukkan pada orang tua atau temannya bahw ia juga bisa berprestasi.

 

“Tapi apa? Satu-satunya pelajaran yang tidak remed cuma bahasa jawa.” Isna mengacak-acak rambutnya.

 

“Astaga! Setelah bau bakso, sekarang bau mangga pula,” keluh Isna karena tidak ingat tangannya kotor.

 

 

Bab 4 Siksaan Gunawan

5 1

Isna berjalan pelan menyusuri lorong kelas dua belas. Menuju toilet untuk menjalankan hukuman.

“Eh? Itu siapa? Kenapa belum pulang?” Isna menatap pria yang duduk sendirian di bangku paling belakang dengan tas yang menutupi kepalanya. Isna berniat menghampiri, tetapi urung karena tidak mau berurusa dengan orang lain.

Isna membersihkan toilet dengan semangat, dengan begitu ia bisa pulang dengan cepat dan....
“Dan dihukum Ayah,” keluh Isna sembari melempar pel yang ia pegang.
“Argh!” Isna mengacak-acak rambutnya dan mentap pantulan dirinya di cermjin. “Bagus, sekarang aku seperti orang gil*”

Tubuhnya berlemak karena memang ia sangat suka makan. Kulitnya coklat karena sejak lahir sudah begitu.
“Kenapa juga aku harus bod*h,” kesal Isna sembari mengambil kembali pel-pelanya.

Merasa merinding karena suasana yang suram, Isna mencoba bernyanyi. Isna mengingat-ingat lagu yang ia cukup hapal.
“All About That Bass,” lirih Isan sembari tersenyu simpul.

Isna mebenahi rambutnya dan merapikan seragamnya. Mulalah Isna bernyanyi dengan semangat dan menggunakan alat pel untu mikrofonnya.

Lirik per lirik dilantuntan Isna dengan semangat hingga lirik terakhir.

“Perfect!”

Isna terkejut dan tidak sengaja terpeleset. Seseorang tiba-tiba memasuki toilet dan memuji Isna hingga Isna terkejut, untungnya Isna sempat berpegangan tembok di sampingnya. Ternyata salah satu siswa. 

“Ceroboh banget,” ujar siswa itu kemudian memasuki salah satu bilik toilet.

Isna hanya dia saja tidak menyahut. Saat siswa itu memasuki bilik, Isna dengan cepat menyelesaikan ngepelnya dan berlalu pergi.

“Seharusnya kau menungguku, aku takut sendirian di toilet,” Isna yang baru sampai di dua kelas sebelah toilet memekik terkwjut ketika siswa yang di toilet sudah berada di depannya.

“Kau, tidak mungkin bisu karena aku baru saja memergokimu menyanyi,” ujar siswa itu sembari menatap Isna lekat. “Ah, adiknya Rinai?” tebak siswa itu setelah meneliti wajah Isna.

Isna tidak menjawab dan melangkah pergi. Namun, entah mengapa siswa ber-name tag Davi itu begitu penasaran dengan Isna sehingga mebuntuti ke mana Isna pergi.

Karena hukumannya sudah selesai, Isna langsung berjalan pulang. Namun, Isna merasa tidak nyaman karena Davi terus saja mengikutinya sejak masih di sekolah.

“Berhenti mengikutiku!” kesal Isna.
Bukanya menurut, Davi malah mendekat ke Isna dan merankulnya, meskipun Isna langsung refleks melepaskannya.

“Aku, penasaran sama kamu,”jujur Davi tersenyum simpul. Senyum biasa tetapi tampak mengerikan bagi Isna.

Tidak ada yang penasaran dengan dirinya selain Adi. Kini ada seseorang yang juga penasaran dengannya malah membuatnya takut.

Lima belas menit berjalan, Isna pikir Davi akan kelelahan dan menyerah. Namun, Isna salah besar ketika melihat Davu begitu hikmat mengikuti langkah kakinya.

“Kak?” Isna berhenti ketika seorang bocah cilik menghadangnya.
Isna mencoba mengingatnya tetapi nihil. Ia tidak ingat apapun yang bisa membuat bocah itu mengenalnya.

“Kak, ini Sisil, yang waktu itu nolongin Kak Isna pas—“

Isna langsung membekap bocah kecil itu, sekarang ia ingat, dua hari lalu saat berjalan pulang ia sempat pingsan karena bekalnya dihancurkan Adi dan pulang dalam keadaan perut kosong.

“Iya Kakak ingat, ada apa?” tanya Isna.

“Bantuin PR Sisil, dong, Kak,” pinta Sisil malu. Ia sudah belajar kelompok bersama temannya, tetapi tetap saja tidak paham. Ketika melihat Isna, Sisil spontan saja minta tolong. Pikirnya, anak SMA pasti pintar.

Tidak tahu saja Sisil, kalau Isna hampir mendapat nilai dibawah rata-rata untuk semua mata pelajaran kecuali bahasa inggris.

Isna bingung, ia mau bantu, tetapi sepertinya ia tidak bisa. Ia sudah pesimis saja padahal Sisil masih SD.

Melihat Isna yang kebingungan, Davi mencoba menawarkan diri untuk membantu, akhirnya Sisil berhasil menyelesaikan tugasnya.

Merasa hutang budi, Isna membiarkan saja Davi mengikutinya. Mereka terus berjalan hingga sampai di depan rumah besar Isna.

“Kau, orang kaya, tetapi sekolah jalan kaki, perasaan Rinai selalu ke sekolah naik mobil, “ ujar Davi.

“Jangan mencampuri urusanku dan pergilah,” ketus Isna, kemudian pergi meninggalkan Davi begitu saja.

“Sensi bener,” kekeh Davi sembari melangkah pergi.

Isna melangkah menuju rumah dengan takut-takut. Membayangkan siksaan seperti apa yang akan ayahnya berikan.

Baru selangkah memasuki rumah, Isna langsung menjerit ketika rambutnya dijambak oleh Gunawan, ayahnya.

“Terlambat sekolah, bolos, dan sekarang pacaran. Mau jadi apa kau, ha?” marah Gunawan sembari menyeret Isna.

Isna hanya bisa pasrah dan mulai menjtikkan air mata. Rambutnya terasa mau lepas dan kulit kepalanya panas.
Gunawan menyeret Isna terus hingga sampai ke gudang. Dilemparkannya Isna ke dalam dan menamparnya tiga kali dengan sekuat tenaga.
Isna yang tubuhnya kelelahan dna perutnya kelaparan ditambah siksaan Gunawa  akhirnya tumbang. Isna pinsan.

“Gitu saja pingsan? Lemah banget, sih!” kesal Gunawan sembari menendang Isna.
Gunawan pergi begitu saja ketika Isna tidak bergerak sama sekali. Meninggalkannya di dalam gudang dan menguncinya.

Malam itu, dalam kelapan dan kesakitan, Isna terkunci dalam gudang dan tidak ada yang berani membukanya.

Jam dua pagi Isna terbangun dan menemukan dirinya sendirian di gudang.
“Dingin,” lirih Isna sembari memeluk tubuhnya. Isna menerawang jauh, bayangan akan hidup bebas tanpa orang tua dan keluarga seolah melambai kepadanya. Lelehan bening kembali mengalir entah ke berapa ribu kalinya.

Isna menatap sekeliling dan terus menangis karena sama sekali tidak ada jalan keluar.

Di luar, Rinai menatap pintu gudang dengan datar. Ia ingin sekali melihat seperti apa luka yang Isna dapat dari Gunawan, tetapi ia tidak mau Isna kabur dari gudang.

“Besok aja, deh,” girang Rinai sembari melangkah pergi.

Pembantu yang sudan bekerja beritahun-tahun dengan keluarga Gunawan mengelus dada. Perlakuan Gunawan dna yang lainya sungguh keterlaluan menurutnya. Namun, ia bisa apa? Ia hanya pembantu. Kalau ia berulah, yang ada ia bisa di pecat.

~

Siapa yang ingin dilahirkan jelek dan tidak pintar? Siapa yang mau?
Semua itu adalah takdir, tetapi kenapa mereka menganggap itu sebuah kecelakaan?

Saat bangun, Isna menemukan dirinya tengah berada di rumah sakit dalam keadaan demam.

“Sudah sadar, Isna?” seorang wanita cantik bermata teduh bertanya dengan lembut.

“Tante Sasha?” tanya Isna lirih. Tenggorokannnya terasa sakit.

“Minum dulu, Sayang,” pinta Sasha sembari memberikan minum.

Isna menurut dan merasa lebih baik. Isna menatap tantenya yang jarang berkunjung karena berada diuar negri itu. Terlihat sangat cantik, tetapi ada jejak air mata di pipinya.

“Isna. Isna mau tidak ikut tante ke luar negri?” tanya Sasha tiba-tiba membuat Isna mengerutkan kening bingung.

“Maksud kamu apa, Sasha?” tanya Gunawan tidak terima.

“Anda tahu betul apa yang saya katakan, saya ingin membawa Isna dan merawatnya dengan baik,” ujar Sasha sembari menekan kata baik.

“Maksud kamu saya tidak merawat Isna dengan baik?”

“Baik? Apa yang bisa dikatan baik dengan mengurungnya di gudang dalam keadaan luka-luka dan kelaparan? Apanya yang dikatakan baik jika banyak sekali luka di tubuhnya dan imunnya sangat rendah?” sarkas Sasha emosi. “Kalau saja saya tidak datang, entah bagaimana keadaan Isna—“

“Jangan mencampuri urusan keluarga saya, Sasha!”

“Saya tidak peduli! Biarkan saya merawat Isna atau saya laporkan Pak Gunawan atas tuduhan penganiayaan!”

Gunawan baru akan menjawab ketika seorang suster masuk dan menegur mereka yang bertengkar di rumah sakit.

“Isna, Tante tahu kamu tidak bahagia tinggal sama Ayah kamu, kan? Ikut Tante saja, ya? Isna pintar bahasa inggris, kan? Kita sekolah di sana,” bujuk Sasha penuh harap.

Isna menatap tantenya penuh harap.
Haruskah? Batinnya bertanya.

user

10 December 2021 12:33 Vega Galanteri Ceritanya seru.... Kakak... Smangat... Mampiri juga kisahku yuk sdi Ostinato Asmaradahana... Makasiiih...

Bab 5 Ajakan Sasha

3 1

Sudah tiga hari Isna berada di rumah sakit. Sudah tiga hari pula Tantenya merawatnya dengan sepenuh hati. Beberapa kali juga Isna dibawa keluar untuk sekedar jalan-jalan ke taman rumah sakit.

 

Sasha adalah adik dari Gunawan. Sudah berkeluarga dan hidup di Amerika bersama suaminya. Namun, mereka belum dikaruniani anak. Sudah empat tahun Sasha pergi dan ini pertama kalinya Sasha kembali.

 

“Isna, maafin Tante karena ninggalin kamu,” sesal Sasha sembari menggenggam tangan Isna. Warna kulit Sasha yang putih bersih begitu kontras dengan kulit cokelat Isana. Merasa malu, Isna menarik tangannya.

Hati Sasha mencelos ketika Isna menarik tangannya. Pasti Isna begitu sakit hati hingga tidak mau dipegang tangannya olehnya. Tidak tahu saja Sasha, Isna bukannya sakit hati atau marah, Isna hanya malu karena kulitnya cokelat.

 

“Tante benar-benar minta maaf, Tante janji bakal bawa kamu keluar dari rumah yang hanya bikin kamu sengsara itu,” tangis Sasha dalam penyesalannya. Ia tahu betul bagaimana perlakuan tidak adil yang didapat Isna di keluarganya. Namun, ia tidak pernah berpikir bahwa Isna akan disiksa sedemikian rupa. Bekas-bekas luka di punggung Isna, beberapa parut di lengan dan lutut Isna membuat Sasha benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia bawa saja Isna dari dulu, dengan begitu Isna tidak perlu menderita. Karena ternyata, semakim dewasa, perlakuan Gunawan dan Atika semakin kejam saja terhadap Isna.

Melihat Sasha yang begitu merasa bersalah membuat Isna bingung harus seperti apa. “Tante kenapa minta maaf, Tante, kan, enggak salah.” Isna mengesampingkan malunya dan menggenggam tangan Sasha. “Yang salah itu Isna. Isna bod*h dan tidak berbakat, Isna juga tidak pandai merawat diri dan lemah sehingga Isna—“

 

“Bagaimana mungkin itu salah kamu, Isna?” tanya Sasha tidak percaya. Ia rasa harus membawa Isna ke psikiater. Isna sudah sampai pada tahap self blaming, Sasha takut Isna akan mencoba melakukan hal-hal yang di luar batas seperti bunuh diri. Sasha tidak tahu saja, Isna sudah berkali-kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

 

“Kenapa bukan salah Isna? Ayah, Ibu, Kakak, teman sekelas, guru dan bahkan satpam sekolah menyalahkan Isna karena Isna bod*h dan tidak bisa apa-apa. Isna kurang segalanya. Tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan.” Isna menunduk, mengingat segala kekurangan dan ketidak mampuannya membuatnya malu dan marah pada diri sendiri.

 

Sasha menutup mulutnya menahan tangis, keponakannya itu benar-benar sudah tidak memiliki sedikit saja rasa percaya diri. Sasha benar-benar ingin segera membawa Isna keluar dari lingkungan yang mengerikan itu. Isna berhak bahagia, ia berhak mendapat keadilan dan haknya, bukan hanya selalu disalahkan dan perlakuan tidak adil.

 

“Sayang, ikut Tante, ya?” pinta Sasha lagi.

 

Isna menatap mata Sasha. Isna ingin, ia juga lelah diperlakukan tidak adil dan selalu di bully. Namun, Isna ingin mendapatkan itu dari Ayah dan ibunya, bukan dari orang lain. Hanya saja, apakah bisa? Apa mungkin Gunawan dan Atika bisa berubah? Bagaimana dengan Rinai? Dengan teman-temannya? Rasanya sangat mustahil.

 

Isna menghela napas. Isna ingin berharap satu kali lagi. “Tante, beri Isna waktu. Satu minggu, dalam satu minggu Isna akan berpikir untuk ikut sama Tante atau tidak,” pinta Isna.

 

Sasha mengerutkan kening, untuk apa satu minggu? Mendapatkan siksaan lebih banyak lagi? Kenapa juga Isna begitu keras kepala? Sasha baru akan protes ketika Isna kembali bersuara.

 

“Isna janji, kalau Isna mendapat perlakuan yang tidak baik, Isna akan langsung menghubungi Tante. Tante, kan, sudah belikan hape baru buat Isna,” bujuk Isna. Kemarin memang Sasha membelikan Isna ponsel karena ternyata Isna tidak memiliki ponsel.

 

Sasha menghela napas, entah harus bagaimana lagi ia mengahdapi Isna. Sudah disiksa sedemikian rupa juga masih mau tinggal. Atau jangan-jangan, ada seseorang yang membuat Isna enggan meninggalkan Jakarta?

 

“Yasudah kalau begitu. Satu minggu dan Isna harus sudah memutuskan. Tante berharap banget kamu mau ikut sama, Tante.” Sasha mengelus rambut Isna dan mengajak Isna masuk ke ruang rawat lagi karena saat ini mereka tengah berada di taman.

 

Isna mengangguk, ia hanya perlu memastikan saja. Ada tidak, satu orang saja yang peduli dengannya. Cukup satu orang saja dan dia tidam akan meninggalkan Jakarta.

 

Setelah satu hari lagi di rumah sakit. Isna sudah diperbolehkan untuk pulang. Sasha meminta Isna untuk tinggal di apartemen Sasha selama menentukan keputusan, tetapi Isna menolak. Ia ingin setidaknya merasakan kehidupannya di Jakarta sekali lagi.

 

Isna diantar Sasha hingga ke kamarnya. Syukurnya kamar Sasha masih layak dan tidak terlalu membuat Sasha geram, hanya saja tetap membuat Sasha kesal karena fasilitasnya begitu berbeda dengan milik Rinai. Tidak ada AC, tidak ada meja belajar, tidak ada karpet berbulu, lampu tidur, dan hal-hal kecil yang biasa dimiliki seorang gadis seperti koleksi tas dan make up. Keluarga Gunawan lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi semua itu.

 

“Tante dengar kamu dibully di Sekolah,” Sasha memulai pembicaraan. “Tante sewain bodyguard, ya?”

 

Isna hanya menggeleng sembari tersenyum. Ia tidak mau diikuti pria berbadan kekar seperti di film-film. Ia merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ia hanya Seorang gadis jelek tanpa kelebihan. Sangat wajar baginya untuk dibully.

 

Dalam pikiran Isna, ia paling rendah, paling buruk, paling tidak berharga dan paling pantas untuk diperlakukan sedemikian rupa. Padahal dibanding temannya yang lain, Isna memiliki wajah yang cukup lumayan. Meskipun memang itu tertutupi dengan tubuh gempal dan kulit coklatnya, ditambah lagi otaknya yang kurang pandai.

 

“Kamu ini keras kepala sekali,” keluh Sasha. “Baik-baik di sini, Tente pulang, ya?”

 

Isna mengangguk. “Hati-hati di jalan, Tente,” ujar Isna sembari mencium punggung tangan Sasha.

 

Sasha keluar dari kamar Isna dan menemukan Gunawan, Atika dan Rinai sedang makan bersama di ruang makan, benar-benar tidak peduli dengan keadaan Isna yang baru pulang dari rumah sakit. Jangankan sekarang, saat Isna di rumah sakit pun tidak ada diantara merek bertiga yang menjenguk barang sejenak.

 

“Hanya satu minggu, jangan coba-coba untuk memaksa Isna tinggal! Dan kalau dalam satu minggu ada satu saja luka baru di tubuh Isna. Sasha tidak akan segan-segan untuk melaporkan Mas Gunawan!” peringat Sasha sebelum pergi meninggalkan rumah itu.

 

“Pasti Isna ngadu yang enggak-enggak sama Tante, dasar manja,” celetuk Rinai. Ia cemburu dengan segala perhatian yang Sasha berikan kepada Isna. Padahal ia juga keponakannya, tetapi tidak pernah diperhatikan.

 

Meskipun keluarga, teman sekolah, guru, dan bahkan orang yang baru ia kenal selalu memperhatikannya, Rinai tetap cemburu dengan perhatian yang Sasha beri untuk Isna. Baginya, Isna tidak pantas diperhatikan dan tidak boleh mendapat perhatian. Hanya Rinai, hanya Rinai yang boleh menjadi pusat perhatian dan mendapatkan kasih sayang semua orang.

 

“Namanya juga anak tidak tahu diuntung, begitulah anak kamu, Pah!” kesal Atika. Ia tidak habis pikir kenapa bisa melahirkan anak seperti Isna.

 

“Sudahlah, yang jelas jangan lagi menyakiti Isna. Sasha tidak main-main dengan ucapannya,” ujar Gunawan.

 

“Ngaca kali, Pah. Yang sering nyiksa Isna, kan, Papah.” Bagas yang baru datang langsug nimbrung pembicaraan.

 

Rinai dan Atika mengangguk-angguk tanda setuju. Gunawan yang seperti disudutkan merasa kesal. Tanpa berkata apa-apa langsung mengakhiri makannya dan pergi ke luar.

 

Atika dan Rinai menghentikan makannya dan ikut keluar. Kalau sedang kesal, biasanya mereka melampiaskannya pada Isna, tetapi kini mereka tidak bisa apa-apa.

 

Bagas menatap keluarganya aneh. “Dasar keluarga prik,” kekeh Bagas. Bagas tidak membenci Isna, tidak pula menyiksa Isna. Hanya saja ia kerap kali hampir melakukan hal yang tidak-tidak pada Isna ketika mabuk.

 

 

user

11 December 2021 13:33 Ismi Nuri ayo, Isna keluar aja dari rumah horor itu. gemes aku! (^0^)

Bab 6 Benci dan Sayang

3 1

Isna menatap Bagas aneh. Entah kesambet apa kakaknya itu datang ke kamarnya dan duduk di kasurnya sembari memakan kacang atom. Bagas hanya makan kacang atom dan menatap Isna dengan intens.

“Kakak kenapa?”

“Gue? Gue sehat. Justru gue tanya elo kenapa?”

Isna mengerutkan kening tidak paham, memangnya dia kenapa? Isna tidak merasa melakukan hal yang aneh atau apapun yang bisa membuat Bagas bertanya ia kenapa.

“Udah dibully, disiksa, diremehin, disepelein, tetep aja masih mau bertahan. Apa yang elo harapin dari kami? Kasing sayang? Kaga ada, kaga bakalan ada yang sayang sama elo, termasuk gue,” ujar Bagas masih dengan memakan kacang ayomnya.

Isna menunduk, apa yang dikatan kakaknya itu ada benarnya juga, tetapi ia hanya ingin memastikan saja, apakah benar tidak ada yang menyanginya di sini? Satupun tidak ada?

Tuk

Sebuah kacang atom mendarat dengan mulus di kening Isna. “Sakit, Kak,” keluh Isna sembari mengelus keningnya.

Bagas terkekeh. “Lo cuma gue lempar kacang atom ngeluh sakit, tapi pas dipecut gesper, dijambak, dijedotin ke tembok diam aja kek bisu. Gue curiga lo masokis, ya?”

Isna memandang kakaknya aneh, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan kakaknya. “Masokis?” beo Isna tidak paham.

Tuk

Bagas kembali melmoar kacang atom ke kening Isna. “Udah jelek, enggak pinter, lemot lagi. Heran gue bisa punya adik kaya lo.” Bagas mendekat ke Isna dan mengankat tangannya tiba-tiba.

Isna yang melihat itu sontak memejamkan mata, mempersiapkan diri, mungkin ia akan ditampar, dijambak, atau yang lainnya. Namun, setelah beberapa saat berlalu, Isna tidak juga merasakan apa-apa.

Isna membuka matanya dan memekik terkejut ketik merasakan ciuman Bagas di keningnya. Setelah mencium kening Isna, Bagas berlalu pergi.

“Mending lo cepet pergi ikut Tante Sasha, deh. Gue benci banget sama Lo!” ujar Bagas terakhir kali sebelum melangkah pergi meninggalkan Isna yang menatap Bagas aneh.

“Kakak bilang benci, tapi nyium Isna. Papa, Mama, dan Rinai bilang sayang sama Isna di depan umun malah sering nyiksa Isna.” Isna menghela napas pasrah. Ini dia yang salah belajar atau memang artinya udah ganti?

Namun, Isna kembali teringat kalau Bagas sedang mabuk, ia hampir beberapa kali mencelakai Isna. Memang hampir, tetapi Isna tetap saja takut.

Pagi harinya, Isna akan pergi ke sekolah ketika pembantu sudah menyiapkan bekal dan sarapanny ke kamar. Biasany Isna harus ke dapur untuk dapat makanan.

“Den Bagas yang minta, Non. Katanya biar enggak dimarahin Tente Sasha,” jawab pembantu Isna ketika ditanya kenapa boleh melayani Isna sampai seperti ini. Karena biasanya Atika dan Gunawan membatasi pembantu untuk melayani Isna.

Isna hanya mengedikkan bahu dan mulai menyantap makananya. Usai sarapan Isna keluar kamar dan langsung menuju ke pintu keluar. Isna sempat menoleh ke ruang makan dan menemukan Gunawan, Atika dan Rinai menatapnya dengan kesal.

“Udah sono berangkat, tinggal seminggu lo masuk sekolah, jangan masuk BK lagi.” Bagas yang melihat Isna terpaku menggiring Isna ke luar rumah.

“Kakak niat banget nyuruh Isna pergi. Kakak benci bnget sama Isna?” tanya Isna sedih.

Bagas menatap Isna jengah. “Iya, Kakak benci banget sama Isna, dan sangat amat berharap Isna segera keluar dari rumah. Isna Kakak usir,” jawab Bagas sekenanya.

Isna baru akan menjawab ketika suara klakson menarik atsnsinya. “Tuh, sudah dijemput Tante Sasha. Sana berangkat,” suruh Bagas sembari mendorong bahu Isna.

Isna mengangguk dan segera menghampiri Sasha. Setelah mobil Sasha tidak terlihat, BaGs menghel napas lelah. “Dasar bodoh,” lirih Bagas sembari memasuki rumah.

Di perjalanan, Isna bertanya mengapa Tante Sasha menjemputnya.

“Ya, Tante ingin memastikan saja kalau kamu baik-baik saja,” jawab Sasha. “Itu tadi Bagas ngapain kamu? Kok, dia dorong-dorong kamu segala. Harusnya tadi Tante turun buat kasih pelajaran sama kakak kamu.”

Isna hanya tersenyum, meskipun diusir dan dikasari, entah mengapa Isna merasa tidak bisa membenci Bagas.

“Enggak papa, Tante. Itu karena Isna suka bikin onar, jadi Kak Bagas kesal.”

“Mana ada bikin onar. Isna, kamu serius masih mau di sini satu minggu lagi?” tanya Sasha memastikan.

Isna dengan mantap mengangguk, hanya seminggu saja dan ia akan ikut dengan Sasha kalau tidak ada orang yang menginginkannya untuk tinggal.

Isna sampai di sekolah dengan semangat. Meskipun ada banyak bullyan yang nantinya akan ia dapatkan, Isna akan terima.

Isna berjalan pelan dan mendapati suasana sekolah mendadak sepi. Namun, Isna terus berjalan menuju kelasnya dan terkejut ketika menemukan kerumunan siswa dan siswi di depan kelasnya.

Isna menerobos kerumunan dengan susah payah hingga bisa melihat apa yang sebenarnya dikerumuni oleh mereka. Isna memekik terkejut ketika melihat Adi dan Davi tengah saling pukul.

Isna menatap dengan ngeri betapa mereka semangat saling pukul. Ketika satu pukulan telak Adi layangkan ke Davi, Isna lamgsung berteriak panik.

“Stop! Adi stop!”

Suara terikan Isna mengehentikan perkelahian Adi dan Davi. Mereka menatap Isna dengan babak belur dan kondisi yang sama menyedihkannya.

“Kalian kenapa beran—“

“Diam!” bentak Adi yang langsung melangkah pergi sedang Davi mengikuti Adi untuk pergi juga.

Kerumunan mendesah kecewa dan bubar karen tontonannya sudah selesai.

“Kenapa mereka kecewa? Memangnya mereka mau menonton sampai apa? Sampai salah satu dari mereka meninggal?” tanya Isna tidak habis pikir.

Hari itu Adi dan Davi masuk BK dan mendapat hukuman membersihkan seluruh taman yang ada di sekolah. Termasuk taman per kelas.

“Itu bukan bunga, itu rumput,” celetuk Isna ketika melihat Adi membiarkan satu rumput liar di dalam pot bunga dan mencabut bunga yang sebenarnya.

“Lah yang bunga mana?” tanya Adi bingung.

“Itu, yang barusan kamu cabut,” tunjuk Isna pada bunga melati jepang yang dicabut Adi.

“Hei! Kenapa baru bilang!” kesal Adi sembari melempar bunga itu ke Isna. “Kenapa di luar? Harusnya lo pelajaran, bukan malah ngelihatin gue,” ujar Adi.

“Oh, Isna enggak buat PR, enggak tahu kalau ada PR,” balas Isna.

“Lah, kompensasi, dong, kan lo sakit?”

Isna mengerutkan kening. Sejak kapan Adi perhatian akan hukumannya? Biasa juga Adi yang sering membuatnya dapat hukuman.

Adi yang melihat Isna bingung langsung mengalihkan pembicaraan. “Lo bantuin gue aja mending daripada jadi penonton.”

“Isna ada tugas, merangkum di perpus,” jawab Isna sambil berlalu.

“Hah?” bingung Adi. Sejak kapan Isna bisa bicara seleluasa itu? Sejak kapan Isna berani menolak permintaannya? Apa kepalanya terbentur saat sakit? Bukannya Isna hanya demam?

Isna masih berkutat dengan bukunya di perpus ketika seseorang mengetuk jendela perpus. Isna yang penasaran langsung mendekati jendela dan terkejut menemukan Davi yang menatapnya dengan wajah babak belurnya.

“Isna pikir setan,” lirih Isna sembari mengelus dadanya.

“Isna, pergi jalan-jalan denganku pulang sekolah, mau?”

Isna menatap Davi aneh. Kenapa pula Davi mengajaknya. Padahal masih banyak gadis cantik dan pintar. Rinai contohnya.

Bukannya menjawab, Isna malah menjauhi Jendela masih dengan menatap Davi aneh. Kemudian, buru-buru membereskan bukunya dan kembali ke kelas. Hari itu, Isna merasa aneh dengan semua suasana baru itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

12 December 2021 14:01 Des Ditariani Beda tipis ya kak. Itu kenapa spasinya panjang banget kak :D semangat kak mara. Mampir ke karya Des ya noktah hitam

Bab 7 Adi yang Berubah

3 0

 Hari kedua tidak berjalan dengan lancar seperti hari pertama.

“Satu-satunya alasan kamu tidak di bully itu karena ancaman Tante Sasha, jadi jangan sok!” pekik Rinai sembari mendorong bahu Isna.

Isna bingung, Rinai itu kasar dan semena-mena, tetapi kenapa teman-temannya menganggap Rinai seperti dewi yang baik hati?

Isna memeperhatikan Rinai.

Ah, pasti karena Rinai cantik, batin Isna.

Melihat Isna yang tidak beraksi apa-apa membuat Rinai geram.

“Aw!” pekik Isna ketika Rinai menjambak rambutnya.

“Kenapa? Sakit? Tante Sasha bilang jangan sampai ada luka baru, kalau gue jambak, enggak bakal ada luka,” kekeh Rinai.

Para siswi dan siswa mulai berkerumun untuk melihat Rinai merisak Isna. “Senang direbutin Adi sama Davi? Lo sadar diri, dong! Lo itu jelek, gendut, gobl*k lagi! Enggak pantas buat Adi maupun Davi,” kesal Rinai.

Kemarin ia beberapa kali melihat Adi dan Davi menguntit Isna. Ia juga tahu perkelahian kemarin terjadi karena Adi dan Davi bertengkar karena Isna. Adi mengetahui Davi pulang bareng Isna dan memukul Davi karena tidak terima.

Rinai kesal tentu saja, Adi itu orang yang paling sering membully Isna, dan sangat sering memujinya. Anehnya, Adi bukannya sibuk mengejarnya malah sibuk menjahili Isna. Sedangkan Davi, dia adalah satu-satunya teman pria di kelasnya yang tidak tertarik dengannya. Melihat Davi yang begitu gencar mendekati Isna tentu saja membuat Rinai tidak terima.

“Lo enggak tahu diri banget, sih!” Rinai semakin menjambak Isna dengan brutal sedang tidak ada satupun yang berani mendekat.

Saat Rinai mendongakkan kepala Isna. Isna melihat Adi ada di sana, memandangnya dengan datar dan dalam sekejap pergi meninggalkannya. Hati Isna mencelos, ia pikir Adi akan menolongnya, sebab kemarin Adi terlihat seperti ingin berteman dengannya.

Rinai yang melihat tatapan kecewa Isna karena Adi pergi begitu saja tertawa terbahak-bahak. “Lo enggak usah ngarep sama Adi, lo tahu sendiri kalau dia suka sama gue,” sarkas Rinai sembari melepaskan rambakannya dengan kasar.

“Lo harus sadar, sampai kapanpun lo itu enggak pantas buat dapat perhatian maupun kasih sayang dari siapapun. Sadar diri,” ujar Rinai terkekeh sembari menampar-namapar pipi Isna pelan. Ia tidak mau mengambil resiko kalau pipi Isna bengkak karena ia tampar sekuat tenaga meskipun ia sangat ingin melakukannya.

Rinai pergi setelah puas, membuat kerumunan langsung bubar, meninggalkan Isna yang mulai menitikkan air mata. Baru saja kemarin ia merasa mampu bertahan dan enggan pergi, sekarang ia sudah merasa tidak dipedulikan lagi.

Isna meningat kembali tatapan Adi yang begitu datar saat melihatnya, sama sekali tidak berniat untuk menolongnya. “Terus perubahan sikap dia selama ini kenapa?” tanya Isna pada diri sendiri. Bagaimana tidak? Entah yang lain menyadarinya atau tidak, sikap Adi akhir-akhir ini mulai melunak. Isna bahkan terkejut ketika Adi memisahkan bakso dan seledri, bagi orang lain mungkin Adi terlihat kejam dan tengah mengerjai Isna untuk makan bakso saja. Tidak ada yang tahu bahwa Isna menang tidak menyukai bakso dan seledri. Adi bahkan meminjamkan catatan waktu Isna terlambat, bilangnya suruh menyatatkan, padahal biasanya Adi paling tidak pernah memikirkan mengenai catatan. Terakhir, Adi tidak lagi marah-marah dan bertindak kasar ketika Isna tidak menuruti perintahnya.

“Mungkin sikap baiknya karena dia kilaf,” lirih Isna sembari mengahapus air matanya.

Isna berjalan pelan menuju kelasnya karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Di dalam kelas, tatapn merendahkan dan meremehkan kembali ia dapatkan, jika kemarin mereka memilih enggan berkontak mata, kini mereka kembali menampakkan ketidaksukaannya. Mungkin karena mereka mengetahui kalau ia masih bisa dirisak oleh kakaknya sendiri.

Isna melihat bangku sebelahnya dan bangku Adi yang kosong. Adi, lagi-lagi membolos.

Di sebuah ruang tak terpakai di sudut sekolah, Adi menatap jendela ruangan bosan. Ingatannya melayang pada kemarin sepulang sekolah.

“Jauhi Isna. Lo enggak boleh suka sama Isna. Lo harus benci dia, atau biarin dia merasa kalau di enggak dibutuhkan di sini,” ujar Rinai menggebu.

“Kenapa gue musti nurutin lo? Hidup-hidup gue ngapa lo yang ngatur?” tanya Adi kesal. “Lagi pula, jangan lo pikir karena gue sering muji lo di depan Isna, gue ada rasa sama lo, lo salah besar,” kekeh Adi.

Mendengar itu sontak Rinai naik pitam, pikirannya dengan cepat mencari cara agar Isna bisa keluar dari sekolah. Baginya, meskipun ia tidak suka dengan Adi, Adi tetap harus menyukainya dibanding Isna. Intinya semua orang harus menyukainya, tidak terkecuali Adi.

Rinai tiba-tiba menyeringai tipis. “Lo harus jauhin Isna dan biarin gue bully di atau lo bakal buat Isna menderita seumur hidupnya,” kata Rinai kalem.

“Maksud lo apa?” tanya Adi jengah.

“Lo pikir kemarin Isna enggak masuk tiga hari kenapa? Demam? Lo salah besar, Isna itu enggak masuk karena masuk rumah sakit setelah disiksa sama Bokap,” ujar Rinai. “Tante gue, datang buat jemput Isna supaya enggak disiksa lagi sama Bokap, tapi tu cewe emang dasarnya beg*. Dia minta waktu seminggu, dalam waktu satu minggu kalau ada yang buat ia ingin tinggal, maka ia akan tinggal. Konsekuensinya ia akan disiksa lagi sama bokap.”

“Jadi maksud lo, lo enggak mau gue jadi alasan Isna buat tinggal?”

“Gak sia-sia sekolah, pinter banget,” kekek Isna.

“Lah, lo ngapain bully Isna?” tanya Adi sanksi.

“Biar dia makin gak betah, lah. Semakin cepat semakim baik.” Rinai berdehem. “Keputusan ada di Lo. Mau buat Isna tinggal dan menderita, atau biarin dia pergi.” Tanpa menunggu jawan Adi, Rinai langsung pergi.

“Gue pengen lo tinggal, tapi gue enggak mau lo disiksa.” Adi terkekeh. “Gue bersikap seolah-olah Isna akan bertahan saja demi gue. Selama ini gue juga nyiksa Isna, jadi mana mungkin Isna bertahan demi gue. Dasar,” desah Adi sembari melangkah pergi.

Suasana kelas menjadi senyap, padahal jam istirahat tengah berlangsung. Biasanya, kelas akan ramai seperti pasar. Namun, kali ini berbeda karena kelas XA kedatangan tamu istimewa, yaitu Davi, orang yang kemarin bertengkar dengan Adi, entah karena apa.

“Yang namanya Isna? Dipanggil Bu Fida,” ujar Davi.

Satu kelas langsung menatap ke arah Isna. Davi yang melihatnya langsung menyeringai.

Davi dan Isna berjalan pelan menuju ke perpustakaan.

“Kenapa Bu Fida manggil aku?” tanya Isna penasaran.

“Bu Fida enggak manggil kamu,” jawab Davi sembari tersenyum.

Isna berhenti berjalan dan menatap Davi kesal. Ia lapar dan mau makan siang, malah dikerjain seperti ini.

“Enggak lucu, Kak,” kesal Isna sembari berbalik. Baru akan melangkah, Davi sudah terlebih dahulu memegang pundaknya.

“Kenapa selalu jauhin aku? Salah aku apa?”

“Salah Kakak karena Kakak deketin Isna, Isna itu jelek, bod*h, lemot, gemuk, Isna ....” Isna berhenti sejenak. “Isna enggak pantas untuk dideketin Kak Davi,” lanjutnya.

Davi menghela napas. Rasa tidak percaya diri yang dimiki Isna benar-benar tidak ada. Bahkan sudah pada tahap merasa tidak pantas untuk disukai oleh siapapun.

“Kamu cantik, Isna. Kamu cantik di mata orang yang mencintaimu, dan orang yang mencintaimu tidak akan peduli kamu pintar atau bodoh.”

“Kak Davi cinta sama Isna?”

“Hah? Apa?” tanya Davi balik dengan limg lung. Apa dia badu saja memberikan spoiler mengenai perasaannya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 8 Pendekatan Davi

2 1

 

Isna menatap Davi kesal. Setelah menculiknya, kini Davi malah membuat Isna malu karena menjadi pusat perhatian di kantin. Davi dengan semangat menyuapinya nasi goreng dan mengancam akan membuat Isna bolos kelas kalau tidak mau menurut.

“Kita bisa dikira pacaran, Kak,” keluh Isna. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaiman.

“Belum ada rencana nembak, tapi kalau kamu memang mau ayo aja,” ujar Davi jail.

Isna menatap Davi aneh. Waktu ditanya cinta atau enggak jawabannya enggak, tetapi tingkah lakunya terlihat sebaliknya.

Isna menatap piring nasi goreng yang kosong. Ternyata ia memang kelaparan.

“Pulang sekolah aku antar.” Davi memberikan uang ke siswa yabg yang lewat untuk dititikan ke ibu kantin.

“Isna dijemput,” ujar Isna sembari meminum jus alpukat yang di sodorkan Davi.

“Sejak kapan? Waktu itu kamu jalan kaki,” tanya Davi. Ia mana mau dibohongi Isna.

“Sejak Isna sakit, Tante Isma yang jemput.”

“Keluarga lo aneh. Mereka manjain Rinai tapi lo enggak dianggap.” Davi mencoba mengungkapkan pikirannya. Selama ini dia diam saja dengan itu semua karena dia emang enggak tertarik sama Isna. Namun, kala melihat Isna konser di toilet waktu itu, Davi langsung jatuh hati.

“Karena Rinai cantik, pintar, punya banyak prestasi—“

Davi menutup mulut Isna. Bosan dia dengan pujian yang ditujukan oada Rinai itu. Davi melepaskan bungkamannya dan memkik terkejut ketika seseorang tiba-tiba menyiram Isna dengam jus alpukat.

“Rinai!” pekik Davi ketika melihat Isna pelakunya.

“Ups, sorry, enggak sengaja,” ucap Rinai dengan mada mengejek. Ia kesal sekali dengan Isna yang begitu mesra dengan Davi. Dalam pikirannya, Isna itu sudah memakai pelet untuk menggaet Adi dan Davi.

“Jelas-jelas lo sengaja!” marah Davi. “Lo, tuh, kenapa? Iri? Lo udah cantik, punya prestasi, disayang sama teman, guru, dan keluarga lo, tapi kenapa masih ngusik Isna? Gak tahu malu banget!”

“Yang Gak tahu malu itu Isna karena berani-beraninya deketin lo! Gue disayang karena emang gue pantas disayang, lah Isna? Dia punya apa anj—“

“Diam!” bentak Davi. Tatapannya beralih pada Isna yang sudah menangis. “Gak waras tahu gak!”

Davi menarik tangan Isna dan segera melangkah pergi. Membuat Rinai kesal karena ditinggal begitu saja. Pikirannya mendadak penuh dengan usaha agar Isna kembali dibully, sekaligus tidak ikut dengan Sasha. Ia perlu menyiksa Isna, ia sengaja menghasut Adi agar ia lebih leluasa untuk membully Isna.

“Hey, jangan semua benci. Kenapa enggak aku biarin saja Isna jatuh cinta? Dengan begitu dia bakal nolak ajakan Tante Sasha dan masih bisa aku bully. Kalau Tante balik ke Amerika, kan, dia enggak bakal tahu kalau Isna aku siksa,” kekeh Rinai sembari meninggalkan kantin.

Di depan toilet putri, Davi berdiri dengan mala, ia masih menunggu Isna ganti baju. Ternyata gadis itu memang selalu membawa baju ganti. Ia jadi ingat kalau Isna memang sering kali dibully, jadi mungkin itu yang membuat Isna selalu bawa baju ganti.

“Tapi waktu itu dia pulang dengan baju terkena kuah bakso? Pernah juga pulang dengan baju kena noda ungu,” monolog Davi lirih.

Setelah Isna selesai berganti baju. Davi mengantarkanmya ke kelas. Ia meminta maaf karena tidak mengetahui kalau Rinai akan berbuat demikian karena ia mendekati Isna. Isna hanya mengangguk-angguk saja, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Dari jauh, Adi menatap Isna dan Davi kesal. Ia harus menahan diri untuk tidak mendekati Isna, tetapi Davi malah begitu leluasa.

Sepulang sekolah, Davi melihat Isna dijemput oleh seseorang.

Pasti itu tantenya, batin Adi. Adi membuntuti mereka hingga sampai dirumah Isna. Kemudian Adi melihat tante yang mengantar Isna pergi. Adi membuntutinya dan mengahadang Sasha dengan motornya.

“Hei! Kenapa berhenti seperti itu? Nanti bisa celaka!” pekik Sasha.

Davi mengabaikan teriakan Sasha dan langsung menghampiri Sasha.

“Tante, saya temannya Isna. Kita perlu bicara.” Adi menatap Sasha dengan serius.

Melihat bocah SMA yang sepertinya memiki info penting soal Isna itu membuat Sasha akhirnya mau untuk diajak bicara.

Mereka bicara di taman kota yang lumayan dekat dari sana. Adi mulai menceritakan bagaimana Isna ditindas dan dipermalukan oleh Rinai. Adi juga menceritakan mengenai Davi. Tujuannya agar Isna segera dibawa pergi dan tidak menderita lagi. Meskipun memang tujuan yang sebenarnya adalah agar Isna tidak jatuh cinta pada Davi.

Sasha yang mendengar cerita dari Adi menjadi geram. Ia sudah katakan untuk tidak menyakiti Isna tetapi mereka ingkar. Namun, Sasha belum bisa melaporkan karena tidak ada bukti akurat, Gunawan pasti akan melakukan segala cara agar Rinai tidak dihukum.

“Saya akan pikirkan caranya, kamu pulanglah, sudah sore,” saran Isna yang diangguki Adi.

Mereka pulang dengan pikirannya masing-masing. Namun, saat baru akan mengoperasikan mobilnya, Sasah teringat sesuatu. Sasha memanggil Adi kembali dan menyampaikan apa yang ia pikirkan.

“Baik, Tante. Akan Adi lakukan,” jawab Adi.

Sasha tersenyum dan berterima kasih. Dalam kepalanya sudah terpikirkan cara agar Gunawan dan keluarganya bisa mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Dalam kamar, Isna menatap ponselnya dengan bingung. Sejak sepulang sekolah, ponsel itu terus berbunyi, entah itu pesan masuk maupun panggilan masuk. Adi, Davi, Adi, Davi terus saling timbul tenggelam dalam notifikasi.

“Adi, kenapa ngubungin Isna? Adi, kan, sudah tidak peduli lagi dengan isna,” lirih Isna tanpa ada niat sedikitpun untuk mengambil ponselnya.

Setelah jam menunjukkan pukul tujuh malam. Suara notifikasi itu baru benar-benar berhenti. Isna mengabaikannya dan memakan makan malam yang sudah dibawakan oleh pembantunya. Memang sejak pulang dari rumah sakit ia selalu makan di kamar. Baguslah, dengan begitu ia tidak perlu lagi mendengar hinaan dan cacian dari orangtua dan kakaknya.

Isna baru makan sesuap ketika melihat Bagas yang masuk ke kamarnya. Isna bertanya kenapa Bagas datang tetapi kakaknya itu hanya diam. Bagas menghampiri Isna dan mengambil sendok Isna.

“Isna bisa sendiri, Kak,” lirih Isna sembari mengulurkan tangannya, tetapi Bagas menepisnya.

“Udah biar Kakak saja,” ujar Bagas sembari menyuapi Isna.

Isna membatin, ini kenapa orang-orang pada mendadak mau nyuapin dia, sih.

Melihat Isna yang begitu menurut membuat Bagas terkekeh. Ia jadi merasa berguna. Ah, andai dia bisa melawan Gunawan, sudah pasti ia tidak akan membiarkan Isna tersisa. Tidak ada yang tau, bahwa sebenarnya, ia begitu menyayangi Isna. Berpura-pura ingin menodai Isna agar Isna takut dan kabur dari rumah, tetapi Isna memang bebal.

Sekarang, tantenya akan membaw Isna perasannya mulai membaik. Tidak khawatir lagi Isna akan disiksa oleh Gunawan, Atika, dan Rinai. Ah, Rinai, adik cantiknya itu benar-benar menyebalkan karena terus mengusik Isna padahal ia sudah dilimpahi banyak kasih sayang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

15 December 2021 14:23 Hardiyanti Aku baru sempat baca lagi cerita neng mara, hihihi

Bab 9 Rencana Sasha

1 2

 

Pagi hari, Isna baru melihat ponselnya. Ada lima puluh pesan, tujuh belas dari Adi dan 33 dari Davi, sedangkan panggilan masuk ada dua puluh dari Adi dan lima belas dari Davi.

“Sasha sudah datang, cepat turun!”

Isna menoleh dan terkejut mendapati Atika berada di kamarnya. Tatapannya mengarah pada apron yang Atika kenakan. Berapa kali Atika memakai apron? Tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahun Rinai, saat ulang tahun Bagas, dan saat ulang tahun Gunawan. Itu karena, Atika akan membuat kue ulang tahun sendiri untuk mereka.

Isna jadi mengingat-ingat, hari ulang tahun siapakah sekarang?, batinya bertanya.

“Disuruh turun malah melamun!” bentak Atika.

Isna hanya terdiam. Tiba-tiba Isna mengahampiri Atika dan menatap mata Atika. “Mah? Hari ini ulang tahun Isna, Mamah buat kue untuk Isna?” tanya Isna antusias. Ia baru ingat kalau dia ulang tahun.

Atika menatap Isna aneh. “Jangan ngarep! Mama lagi buat kue untuk Rinai, kemarin gurunya menghubungi Mamah kalau Rinai menang lomba Biologi tingkat nasional. Jadi, Mama mau bikin perayaan untuk Rinai,” jelas Atika, ia tidak peduli sama sekali dengan ulang tahun Isna. Apa yang mau dirayakan dari kelahiran anak yang tidak bisa apa-apa? Sudah jelek, tidak pintar, tidak punya bakat, benar-benar membuatnya malu memiliki anak seperti Isna.

“Mah, bisa tidak, sekali saja Mamah perlakukan Isna seperti Kak Rinai?” tanya Isna sedih. “Isna juga ingin disayang, dibuatin kue saat ulang tahun,” tangis Isna.

Atika menatap Isna malas. “Lo kalau mau disayang makanya berguna, di banggain gak bisa, apa-apa gak bisa, pokoknya Mamah nyesel ngelahirin kamu!” geram Atika sembari melangkah pergi dengan cepat.

“Ngesel ngelahirin Isna? Seburuk itukah?” tanya Isna pada dirinya sendiri.

Isna menghapus air matanya dan melangkah turun untuk menemui Sasha yang sudah menunggunya. Sasha menyambut Isna dengan antusias dan langsung bergegas mengantarkan Isna ke sekolah.

“Tinggal empat hari lagi. Tente, harap kamu benar-benar mau ikut dengan Tante,” ujar Sasha sembari memeluk Isna.

Isna hanya tersenyum dan berpamitan untuk masuk ke sekolah. Isna berjalan perlahan karena jam pelajaran pertama masih tiga puluh menit lagi. Isna juga santai karena Rinai belum sampai di sekolah.

Sampai di kelas, Isna memekik terkejut ketika Adi dan Davi lagi-lagi ditemukan tengah bertengkar. Isna sontak berteriak untuk menghentikan mereka. Berhasil, Adi xan dan Davi akhirnya tidak lagi saling pukul.

“Kalian ini kenapa, sih!” geram Isna. Ia sama sekali tidak paham kenapa kedua orang itu terus bertengkar.

Tanpa berkata apa-apa, Adi pergi meninggalkan Isna dan Davi. Isna buru-buru menghampiri Davi dan mengajaknya untuk duduk di kursi. Isna meminta Davi tunggu sebentar untuk isna mengambil P3K di UKS. Namun, Davi sama sekali tidak mau ditinggalkan. Akhirnya Isna mengobati Davi seadanya dengan plester yang selalu ia bawa.

“Random banget ke sekolah bawa plester,” ujar Davi ketika Isna menempelkan plester ke rahang bawah Davi.

Tidak mengatakan apapun, Isna hanya merapikan bawaannya dan meninggalkan Davi untuk duduk di bangkunya, sebab kelas sudah mulai ramai murid yang berdatangan.

Davi yang melihat itu pun juga memilih untuk pergi dari kelas Isna.

Di UKS, Adi menatap cermin dengan kesal. Ia tadi datang ke kelas awal untuk menempel kamera tersembunyi atas permintaan Sasha. Namun, siapa yang menyangka ia malah melihat Davi yang ingin memberi kejutan kepada Isna. Ia yang kesal melempar coklat dan bunga dadi Davi kw tempat sampah.

Adi jadi ingat kalau hari ini ulang tahun Isna. Hanya saja, ia tidak tahu harus apa, tidak mungkin juga ia memberi Isna kado, membaca pesan dan mengangkat telfonnya saja tidak mau. Padahal ia semalam ingin mewanti-wanti agar Isna tidak jatuh cinta terhadap Davi.

“Argh!” teriak Adi sembari mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar tidak terima ada yang tertarik dengan Isna selain dirinya. Pikirannya melayang mencari cara agar Isna bisa cepat pergi ikut Sasha.

Tepat! Adi harus membuat rencana Sasha berjalan lancar, yaitu memancing Rinai untuk membully Isna. Dengan begitu, Sasha akan bisa melaporkan Rinai ke kantor polisi. Ia sudah melempelkan kamera tersembunyi di kelas, kantim, taman, dan koridor, tempat biasa Rinai membully Isna dulu. Termasuk dirinya.

Adi melihat Rinai yang melewati pintu UKS. Dikerjarnya Rinai oleh Adi dan langsug dibawanya ke gudang sekolah.

“Lo mau apain gue?” pekik Rinai.

“Gak woi! Gue cuma mau bilang, gue tahu, lo suka, kan sama gue?” tanya Adi. Ia mulai melancarkan aksinya.

“Kok, kok lo bisa tahu?” tanya Rinai gugup, sebenarnya sudah sejak Adi masuk sekolah, ia sudah jatuh hati pada Adi. Namun, ia hanya menyimpannya sendiri, egonya terlalu tinggi, sehingga ia tidak mau mengatakannya terlebih dahulu.

“lo gak perlu tanya, yang jelas gue mau bilang, gue itu cuma suka sama Isna, gak ada yang lain. Jadi lo, jangan ngarep!” peringat Adi sebelum meninggalkan Rinai yang mendelik tidak terima.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

15 December 2021 14:19 Hardiyanti Episode cemburu dan sakit hati

user

15 December 2021 14:20 Hardiyanti Saya ingin pakai emoticon, tapi pasti gak kebaca hahaha

Mungkin saja kamu suka

Dewi Sita Resmi
Soulmate
Nurreyma Yanard...
Tapak Rindu
Deni Ratna Juwi...
PIANO
Mput Kyud
Cinta Senior Galak
Dian AL~Ma'wa
Jejak Indigo
Haya Raihani
Hug Me, Please...

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil