Loading
5

1

3

Genre : Romance
Penulis : Nurlela
Bab : 26
Dibuat : 07 Januari 2022
Pembaca : 5
Nama : Nurlela
Buku : 1

Life Story Dara

Sinopsis

Kisah hidup seorang gadis yatim piatu yang diusir oleh ibu tirinya setelah Bapak kandungnya meninggal. Hendak dilecehkan oleh suami baru ibu tirinya, membuat Dara menjjadi takut. Kini harapan nya hanya Dion kekasihnya. Tapi ternyata Dion hanya tak lebih dari sekedar boneka Ibu nya. Sampai akhirnya datang seorang Pria yang menawarkan perjanjian nikah. Berawal dari pernikahan diatas kertas itulah yang menumbuhkan benih-benih cinta.
Tags :
Cinta

Bab 1a

3 0

-Sarapan Kata KMO Batch 41

-Kelompok 12 / Fos Stylo

-Jumlah kata 374

-Day 1

 

Bab 1a

 

Langit yang mendung, serta Petir yang menyambar. Hujan yang begitu deras, seolah mewakilkan perasaan seorang gadis yang tengah menangis dibawah derasnya guyuran hujan.

 

Gadis itu adalah Dara, Dara Andini. Seorang gadis berusia 18 tahun yang baru saja nyaris dilecehkan oleh Bapak tirinya. Bahkan dengan tega, Ibu tirinya mengusir Dara dan lebih Percaya pada suami barunya. Andai saja ia bisa memilih, ia ingin menyusul Bapaknya saja ke surga.

 

Belum juga sebulan Bapaknya meninggal dalam kecelakaan. Kini Ibu tirinya sudah menikah lagi dengan seorang Pria yang dulunya menjadi orang kepercayaan Bapaknya.

 

Iya, Bapaknya termasuk orang kaya dikampungnya. Memiliki sebuah Konveksi kaus kaki, serta tanah dan sawah yang begitu luas. Tapi itu semua sekarang sudah direbut oleh Lasmi, Ibu tirinya dan Gandi, suami barunya. Isak tangis yang tiada henti, dengan badan yang bergetar karena menahan dinginnya hujan yang membasahi tubuhnya. Dara terus melangkah. Melangkah tak tentu arah, tak tau harus kemana? Hanya satu tujuannya, yaitu Dion.

 

Dion adalah lelaki yang sudah lama menjadi kekasihnya. Bahkan sebentar lagi Dara akan menikah dengan Dion. Jadi Dara pikir, ia akan meminta bantuan Dion saja. Dara terus melangkahkan kakinya menuju rumah Dion. Saat sampai didepan sebuah rumah yang terbilang bagus. Karena Dion adalah anak dari seorang Kepala Desa.

 

Tok ...Tok ...Tok ...

Krieeet ...

Pintu tampak dibuka dari dalam. Dan menyembul kepala seorang wanita yang selama ini sangat Dara hormati. Bu Marni, Ibunya Dion.

 

"Bu!" sapa Dara hormat sambil terus memeluk tubuhnya yang tengah basah kuyup.

 

"Dara!" pekik kaget Bu Marni.

 

"Ada apa kemari?" tanya Bu Marni. Raut wajahnya memancarkan aura yang tak seramah biasanya.

 

"Dion ada?" tanya Dara dengan lirih.

 

"Mau apa kamu cari Dion?" ketus Bu Marni.

 

"Aku mau ...-

"Siapa Bu?" tanya seseorang didalam. Tentu saja Dara mengenali suara itu, ialah suara Dion.

 

"Dion!" ucap Dara.

 

"Dara!" kaget Dion.

 

Bu Marni nampak tidak suka dengan kedatangan Dara.

 

"Dara itu sekarang sudah tidak punya apa-apa. Bapaknya saja sudah meninggal. Memang Dara adalah anak kandung Baskoro, suami saya. Tapi semuanya sudah diwariskan pada saya. Dan sekarang saya yang mengurus semuanya, kalau kalian masih mau berbesanan dengan kami. Silahkan batalkan pernikahan dengan Dara, dan kita lanjutkan dengan Yuni, anak kandung saya. Karena sekarang, saya yang mengatur semuanya."

 

Kata-kata Lasmi, Ibu tirinya Dara masih terus terngiang-ngiang ditelinga Bu Marni.

Bab 1b

2 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok 12 / Fos Stilo

-Jumlah Kata 384

-Day 2

 

Bab 1b

 

Bukan tanpa alasan, Marni menyetujui pernikahan Dion dan Dara. Karena Dara anak Pak Baskoro, orang terkaya dikampungnya. Tentu akan semakin mengangkat derajat suaminya sebagai Kepala Desa, kalau Dion sampai berjodoh dengan Dara.

 

Sekarang Marni tidak mau Dion sampai menikah dengan Dara yang tak mempunyai apa-apa. Yuni anak kandung Lasmi memang menyukai Dion. Jadi terpaksa Marni menyetujui pernikahan Dion dan Yuni.

 

"Dion masuk!" bentak Marni.

 

"Tapi Bu, kasihan Dara kehujanan. Dia bisa sakit kalau tak dibiarkan masuk," wajah Dion tampak memelas pada Ibunya.

 

"MASUK!" bentak Bu Marni pada anaknya. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Dion menurut dan langsung masuk lagi kedalam. Sementara Dara, tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada calon mertuanya itu.

 

"Dara, maafkan saya. Sekarang, jauhi anak saya, dan pergilah. Saya batalkan pernikahan kamu dengan Dion." ucap Marni dengan lantang.

 

"Tapi kenapa Bu, apa salah saya ?" ucap Dara dengan bibir yang bergetar.

 

"Pokoknya, saya minta sekarang jauhi anak saya."

 

Tak berapa lama, ditengah guyuran hujan. Datang pak Suhandi bapaknya Dion. "Dara, ada apa, Nak. Kenapa kamu basah-basahan ?" Pak Suhandi bertanya pada Dara yang menangis sambil terus memeluk tubuhnya yang basah kuyup.

 

"Pak, kita kan sudah bicarakan ini sebelumnya. Biarlah sekarang Dara tau. Kalau kita akan batalkan pernikahannya dengan Dion," ucap Marni pada suaminya.

 

"Bu, tolong jangan egois. Biarkan Dion memilih jodohnya sendiri," jawab pak Suhandi.

 

"Tidak bisa, pokoknya Dara harus jauhi Dion. Kita akan segera menikahkan Dion dengan Yuni Pak." Marni setengah berteriak.

 

Degh ... Ucapan Marni seakan belati tajam yang siap menghunus dada Dara. Dara shock dengan ucapan Marni. Yang mengatakan, akan menikahkan Dion dan Yuni.

 

"Tapi Bu, mereka saling mencintai." Suhandi masih tetap berdebat dengan Marni.

 

"Pokoknya, aku bilang enggak ya enggak Pak," jawabnya seraya berlalu masuk kedalam.

 

"Bu, Ibu!" teriak Suhandi mengejar Istrinya. Dara hanya bisa berdiri mematung didepan pintu setelah mendengar perdebatan suami istri itu. Dirinya lebih memilih pergi dari rumah Dion.

 

Dara terus menangis meratapi hidupnya yang malang. Ia bingung, akankah ia bisa menjalani hidup kedepannya tanpa sosok Bapaknya. Karena tidak ada yang menyayanginya dengan tulus, selain Bapaknya. Dan kini Bapaknya telah tiada. Sementara harta Bapaknya kini telah dirampas oleh Ibu tirinya dan Suami barunya.

 

"Kenapa Ya Tuhan, kenapa kau biarkan aku hidup. Kenapa tak kau bawa aku bersama Bapak ?" teriak Dara frustasi sambil menangis histeris ditengah jalan.

 

Tin...Tinn...Tiiiiinnnn....

Brakkkk......

Bab 2a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok 12 / Fos Stylo

-Jumlah Kata 560

-Day 3

 

Bab 2

 

Tin ...Tinn ...Tiiiiinnnn ...

Brakkkk ...

 

Sebuah Mobil mewah berwarna silver telah menabrak tubuh Dara.

 

"Shiitt ... ngapain sih, itu cewek pake berdiri ditengah jalan?" umpat seorang Pria yang ada didalam mobil.

 

Pria itu adalah Gibran Alexander Pratama. Seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya.

 

Tetapi, dibalik itu semua Gibran tidaklah bahagia dengan kehidupannya. Apalagi masalah percintaan, semenjak Gibran memergoki Shareen kekasihnya yang tengah bercinta dengan Damian sahabatnya sendiri.

 

Waktu kecil, Mamanya sendiri telah meninggalkan dirinya bersama Papanya dan pergi bersama Pria lain yang lebih muda. Semenjak itu, ia tidak percaya kepada yang namanya cinta dan yang namanya Perempuan. Gibran benci perselingkuhan.

 

Gibran bergegas turun dan melihat Dara yang tengah pingsan dengan darah di pelipisnya. Ia segera membopong tubuh Dara dan memasukannya ke jok belakang mobil. Mobil Gibran melaju dengan cepat membelah jalanan malam.

 

Gibran membawa Dara kesebuah rumah mewah bertingkat tiga. Yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Karena luka Dara yang mungkin tak terlalu parah, jadi Gibran membawanya kerumahnya saja. Dan lebih memilih memanggil Tantenya sendiri yang berprofesi sebagai Dokter, yaitu Dr. Nayla.

 

"Gibran kenapa bisa menabrak seorang gadis?" omel Nayla pada keponakannya sambil memeriksa keadaan Dara.

 

Nayla sangat menyayangi Gibran seperti anaknya sendiri. Nayla adalah adik dari Papanya Gibran. Nayla sendiri sampai sekarang belum menikah, walau usianya tak lagi muda.

 

Sementara Papanya Gibran, Pradipta Pratama telah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Semenjak itu pula pribadi Gibran berubah. Sering mempermainkan seorang wanita, bahkan kerap kali gonta ganti pacar.

 

"Aku juga gak tau Tan, gadis ini tiba-tiba berdiri ditengah jalan. Aku yang refleks, gak sengaja menabraknya," terang Gibran menjelaskan.

 

"Kebiasaan kamu nih pasti, kalau nyetir suka kebut-kebutan.” Nayla terus menyalahkan keponakannya.

 

"Sumpah Tan, gadis ini aja yang seenaknya berdiri ditengah jalan. Bukan aku yang ngebut. Mungkin tuh gadis udah bosan hidup !" ucap Gibran sambil menunjuk Dara dengan dagunya.

 

"Hust, kamu kalau ngomong jangan sembarangan," omel Nayla. Tak lama terlihat Dara telah mengerjapkan matanya sambil memegang pelipisnya yang sudah diperban oleh Nayla.

 

"Awww," pekik Dara sambil menutup matanya. Merasakan rasa yang teramat sakit dikepalanya.

 

"Eh pelan-pelan, jangan dipegang dulu!" ucap Nayla sambil memegang tangan Dara.

 

"Aku dimana?" lirih Nayla.

 

"Kamu mau mati apa gimana, berdiri ditengah jalan." Gibran langsung memarahi Dara yang baru siuman.

 

"GIBRAN!" Nayla melototkan matanya pada Gibran. Memang Gibran ini kalo didepan Nayla ngomongnya suka ceplas-ceplos. Beda pembawaannya saat sedang bersama pesaing Perusahaannya, dia akan bersikap dingin dan menyeramkan.

 

"Sayang coba kamu ceritakan, kenapa kamu bisa berdiri ditengah jalan. Itu bahaya loh, untung lukamu tidak terlalu parah?" tanya Nayla lembut pada Dara.

 

Sementara Gibran hanya memperhatikan saja. Dara terlihat melirik Gibran yang sudah memasang wajah tidak sukanya.

 

"Maafkan saya." Dara menundukan wajahnya. Hingga bulir-bulir bening itu jatuh dan mengenai punggung tangannya.

 

"Eh kok nangis, sudah-sudah ... Kalo gak mau cerita sekarang gak apa-apa. Mending sekarang istirahat dulu aja ya disini. Biar keponakan saya tanggung jawab atas perbuatannya." Nayla melirik kearah Gibran yang sedang melongo.

 

"Tapi Tan, aku kan sudah tanggung jawab. Sekarang dia udah sadar, ya udah suruh pergi."

 

Pluk ...

Nayla memukul keras lengan Gibran karena bicaranya suka ngelantur. Dara hanya diam memperhatikan perdebatan dua orang yang berbeda usia itu.

 

"Jagain, awas kalo macam-macam." Nayla memperingatkan Gibran dan pamit berlalu pergi.

 

"Kamu boleh tidur disini sementara. Tapi ingat, klo sudah sembuh cepatlah pergi. Aku tidak suka kalo ada orang lain dirumahku." Gibran berucap dan berlalu pergi.

Bab 2b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok 12 / Fos Stylo

-Jumlah Kata 440

-Day 4

 

Bab 2b

 

"Kamu boleh tidur disini sementara. Tapi ingat, kalo sudah sembuh cepatlah pergi, aku tidak suka kalo ada orang lain dirumahku." Gibran berucap dan berlalu pergi.

 

"Apa-apaan ini, dia yang menabrakku. Dia seenaknya saja berbicara seperti itu. Dipikir aku mau apa disini!" batin Dara kesal.

 

Pikiran Dara kembali berkelana pada kejadian tadi saat berada dirumah Dion. Ia tak menyangka, ibunya Dion setega itu akan menikahkan Dion dan Yuni.

 

Tapi ia yakin, Dion masih mencintainya. Ia akan berusaha untuk berbicara berdua dengan Dion.

 

*****

 

Pagi pukul 07.00

 

Dara tengah sibuk memasak didapur rumah Gibran. Ia pikir tak ada salahnya ia memasak. Lagian lukanya udah agak mendingan, tubuhnya pun sudah mulai enakan. Dengan lincah dan cekatan, Dara menuang nasi goreng sosis yang ia buat keatas piring yang sudah ia siapkan dimeja. Ada dua piring disana.

 

"Ngapain kamu?"

 

Prang ...

Dara terlonjak kaget dan melepaskan pegangan tangannya dari teflon yang hendak ia simpan di wastafel.

 

"M-maaf aku hanya membuat sarapan," jawab Dara sambil menunduk dan langsung mengambil teflon yang ia jatuhkan.

 

"Siapa yang suruh kamu membuat sarapan di rumahku?" pertanyaan Gibran membuat Dara menjadi malu, karena telah sangat lancang dan tak meminta ijin terlebih dahulu. Tapi perutnya yang keroncongan, terpaksa mengabaikan itu semua. Toh hanya membuat sarapan, Dara pikir tak apa-apa.

 

"M-maaf," lirih Dara ketakutan.

 

"Oke, tak masalah. Ya udah ayo makan sini!" jawaban Gibran membuat Dara mengehela nafas lega.

 

Dara melihat, kenapa pembawaan diri Gibran sangat berbeda dari semalam. Semalam waktu bersama Dr. Nyla, Gibran akan tampak seperti anak kecil yang manja. Tapi sekarang, sangat dingin dan jutek.

 

"Ini asli kamu yang masak?" tanya Gibran setelah duduk dan menyuapkan nasi goreng buatan Dara kemulutnya.

 

"I-iya." Dara masih berdiri.

 

"Enak juga. Ngapain kamu masih disitu? Duduk!" perintah Gibran pada Dara.Dengan hati-hati Dara duduk tepat diseberang Gibran.

 

"Makan!" Dara pun langsung memakan nasi goreng buatannya dengan sangat lahap. Gibran hanya sesekali memperhatikan.

 

"Ini orang, kaya gak makan berhari-hari," batin Gibran.

 

"Oh iya, kamu sudah sehat?" Gibran bertanya.

 

"Iya," jawab Dara sambil mengangguk.

 

"Kalo sudah sehat, secepatnya pergi dari rumahku," ucapan Gibran membuat aktivitas Dara berhenti.

 

"Baik, aku akan segera pergi." Walau Dara tak tau harus pergi kemana. Ia tak punya tujuan.

 

"Bagus," ucap Gibran dingin.

 

"Aku mau berangkat kekantor. Saat nanti aku pulang, kuharap kau sudah pergi dari sini." Lagi-lagi Gibran berbicara dengan sangat dingin dan tegas.

 

Bagi Gibran, ia tak mau terlalu percaya dengan yang namanya perempuan. Gibran pikir, semua perempuan sama saja, tidak ada yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.

 

Bahkan selama ini perempuan yang selalu dekat dengannya itu, karena tau dia kaya. Kecuali, hanya Dokter Nayla, tante nya yang sangat ia sayangi dan ia percaya.

Bab 3a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12 / Fos Stylo

-Jumlah Kata 437

-Day 5

 

Bab 3a

 

Setelah selesai sarapan, Dara memutuskan untuk segera pergi dari rumah Gibran. Ia tak mau berlama-lama berada disana. Apalagi tadi Gibran sudah memperingatkannya, ia sangat merasa tak enak.

 

Tujuan Dara sekarang adalah menemui Dion ditempat kerjanya. Dara pikir ia akan leluasa berbicara dengan Dion. Dengan berbekal sedikit uang yang masih ia punya, Dara menyetop angkot dan berlalu menuju tempat Dion bekerja. Dion bekerja disebuah Minimarket. Ia menjabat sebagai kepala bagian disana.

 

****

 

Usai sampai disana, Dara memilih menunggu didepan minimarket saja.

 

Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 Wib siang. Pasti Dion sebentar lagi akan keluar untuk istirahat. Benar saja, tak berapa lama keluarlah Pria yang sedang Dara tunggu.

 

"Dion," panggil Dara.

 

"Dara," ucap Dion kaget.

 

"Ngapain disini?" tanya Dion.

 

"Kita perlu bicara!"

 

"Baiklah, ayo kita bicara di Caffe seberang sana." Dion menunjuk sebuah Caffe di seberang minimarket tempat ia bekerja.

 

"Kita makan dulu ya!” ajak Dion sambil memanggil pelayan Caffe. Dion menatap sendu seorang gadis yang tengah berada didepannya.

 

Dion mengernyitkan dahi saat melihat pelipis Dara yang diperban. "Ini kenapa?" tanya Dion khawatir sambil memegang luka Dara.

 

"Semalam ada yang menabrakku, tapi gak apa-apa, hanya luka kecil." Dara tersenyum kecut. Jelas saja hanya luka kecil buat Dara. Baginya tidak ada luka yang lebih besar dan menyakitkan, dari luka hati yang sedang ia rasakan saat ini.

 

Pelayan Caffe sudah mengantar pesanan Dan dan berlalu pergi.

 

"Dion." "Ya," jawab Dion sambil hendak meminum minumannya.

 

"Gimana dengan hubungan kita. Apa yang dibilang ibumu itu benar. Kamu akan menikah dengan Mbak Yuni ?" tanya Dara. Dan Dion langsung menunduk.

 

"Itu benar. Tapi percayalah, rasa cintaku hanya untukmu. Semua itu tak lepas dari paksaan ibu," jawab Dion sendu.

 

"Kamu benar masih mencintaiku?" tanya Dara. Dan Dion mengangguk.

 

"Kita pergi, kita menikah!" ajak Dara penuh harap sambil memegang tangan Dion. Tiba-tiba Dion melonggarkan pegangan tangan Dara.

 

"Aku gak bisa," lirih Dion.

 

"Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang kamu mencintaiku. Kalau gitu, mari kita pergi. Kita mulai semuanya dari nol," ucap Dara.

 

"Maafkan aku Dara, aku memang sangat mencintaimu. Tapi aku gak mau durhaka pada ibuku."

 

"Kamu gak akan dicap durhaka Dion. Bukankah, Bapakmu setuju dengan hubungan kita. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Semua harta Ayahku sudah dirampas oleh Ibu tiriku. Dan aku diusir begitu saja. Sekarang tempat terakhirku hanya kamu. Orang yang aku cintai," terang Dara.

 

"Tapi Dara, aku gak mungkin melakukan itu. Itu akan menyakiti ibuku." "Lalu kalau menyakitiku, apa gak masalah buatmu?" Dara menatap tajam mata Dion.

 

"Bukan begitu maksudku," jawab Dion.

 

"Lalu bagaimana? Kamu akan menuruti kemauan Ibumu untuk menikah dengan Yuni, begitu?" tanya Dara.

 

"Aku juga gak tau harus gimana, aku bingung." Dion menundukan wajahnya.

Bab 3b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok 12/ Fos Stylo

-Jumlah Kata 303

-Day 6

 

Bab 3b

 

"Lalu bagaimana? Kamu akan menuruti kemauan Ibumu untuk menikah dengan Yuni, begitu?" tanya Dara.

"Aku juga gak tau harus gimana, aku bingung." Dion menundukan wajahnya.

"Baiklah, aku tanya sekali lagi. Apa kamu mau pergi dan menikah denganku? Dan memulai semuanya dari Nol. Aku yakin, kalau kita menikah, Bapakmu pasti akan memberi restu, walaupun tanpa Ibumu." Dion hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Dara.

Tentu saja Dion bingung, selama ini dia selalu menuruti kemauan Ibunya. Kalau tidak ibunya pasti akan mengancamnya macam-macam.

Melihat Dion yang terus diam, Dara semakin yakin kalau Dion adalah orang yang tidak punya pendirian. Dan selalu hidup dibawah ketiak Ibunya.

"Baiklah, aku sudah tau jawabannya," ucap Dara beranjak dari duduknya dan hendak pergi setelah mengamati Dion yang hanya Diam saja.

"Dara aku mohon kamu mengerti." Dion memelas. Bagaimanapun Dara adalah satu-satunya gadis yang ia cintai. Tapi disatu sisi, ia juga tak mungkin melawan perintah Ibunya.

"Maaf, aku tak bisa terus menerus mempunyai hubungan dengan lelaki yang tak punya pendirian sepertimu. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, buat apa juga. Karena sebentar lagi kan, kamu akan menikah dengan Yuni." Dara berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.

Lagi-lagi lelaki yang sangat ia cintai sudah mengecewakannya. Dara merasa hidupnya kini tak berarti lagi. Tidak ada satupun orang yang tulus menyayanginya .

Dara berlalu pergi dari hadapan Dion dengan setengah berlari. Ia tak pedulikan Dion yang terus memanggil namanya.

"Maafkan aku Dara," batin Dion. Dara terus berlari sambil terus sesekali menyeka air matanya.

"Ya allah kenapa beban ini terasa sangat begitu berat. Aku gak sanggup," tangis Dara.

"Bapak, andai Bapak masih ada, aku pasti gak akan seperti ini. Aku harus pulang kemana?" Dara duduk lemas dipinggir jalan sambil terus menutup wajahnya.

Tak peduli dengan tatapan orang yang menatapnya aneh, karena menangis dipinggir jalan.

"Apa dia tak seburuk yang aku kira?"

Dara tidak menyadari, kalau sedari tadi dirinya telah diikuti.

Bab 4a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 450

-Day7

 

Bab 4a

Pov Dion

 

Malam itu, dalam keadaan hujan yang begitu deras, aku mendengar Ibu seperti sedang berbicara dengan seseorang didepan pintu. Karena penasaran, akhirnya aku menyusul Ibu kedepan.

"Siapa Bu?"

"Dion!"

"Dara!" aku tak bisa menyembunyikan kekhawatiranku terhadap dirinya. Kulihat Dara basah kuyup oleh air hujan, sesekali badannya menggigil. Ibu seperti tidak suka saat Dara datang. Aku bisa melihat dari raut wajah Ibu.

"Dion, MASUK!"

"Tapi Bu, kasihan Dara kehujanan. Dia bisa sakit kalau gak dibiarkan masuk," ucapku berusaha memelas pada Ibu. Berharap Ibu sedikit saja punya rasa iba terhadap Dara.

"MASUK." akupun memilih menuruti perintah Ibu. Karena melawannya, sama saja menjadi anak yang durhaka.

Entah apa yang Ibu bicarakan dengan Dara, aku tidak bisa mendengarnya. Walau diri ini diliputi rasa gelisah dan khawatir terhadap Dara, tetapi aku tidak mempunyai cukup nyali hanya untuk sekedar menguping saja.

Dara adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Kami sudah menjalin hubungan sekitar satu tahun. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Ibu dan Bapak sudah setuju dengan semuanya. Tapi itu sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa Bapaknya Dara. Sejak itu, Ibu jadi berubah. Dia selalu melarangku berhubungan dengan Dara lagi.

Flashback on

"Dion, Bapaknya Dara sudah meninggal. Ibu minta kamu jangan berhubungan lagi dengannya. Kita batalkan pernikahanmu dengan Dara." Bagai tersambar petir disiang bolong, tentu saja aku sangat kaget dengan penuturan Ibu. Kenapa Ibu jadi berubah. Padahal sebelumnya baik-baik saja.

"Tapi kenapa Bu, apa salah Dara? Bukannya semua akan baik-baik saja. Kalau Bapaknya Dara meninggal, kenapa aku harus tidak jadi menikah dengan Dara? Justru aku harus menikah dengan Dara. Karena selain aku, tidak akan ada yang melindungi Dara lagi." Aku berusaha mencari apa jawaban Ibu. Padahal, Bapaknya Dara belum lama meninggal. Tapi kenapa Ibu jadi tidak setuju dengannya. Aku jadi bingung dibuatnya.

"Pokoknya, kalau kamu gak mau jadi anak durhaka. Turuti kemauan Ibu."

Flashback off

Tak lama Ibu datang dengan raut wajah memancarkan kemarahan. Dibelakang Ibu, menyusul Bapak sambil terus memanggil Ibu.

"Bu" panggil Bapak.

"Pak, kalau aku bilang nggak ya nggak."

"Bu, Dion dan Dara itu saling mencintai. Kenapa ibu berniat memisahkan mereka," ucap Bapak.

"Bapak gak dengar kemarin Bu Lasmi bilang apa sama kita. Ia bilang, kalau masih mau berbesanan dengannya. Batalkan pernikahan Dara dan Dion. Terus lanjutkan dengan Yuni. Ibu gak mau punya menantu seperti Dara. Bu Lasmi bilang, kekayaan Pak Baskoro sudah diwariskan padanya. Itu artinya Dara sekarang miskin Pak. Bukan tanpa alasan Ibu menyetujui Dion dan Dara menikah. Ibu ingin, Dion bisa mengangkat derajat kita kalau berbesanan dengan Pak Baskoro. Dan sekarang Pak baskoro meninggal, jadi buat apa kita menikahkan Dion dan Dara. Sementara Dara sekarang gak punya apa-apa lagi." dada Ibu nampak naik turun saat berbicara dengan Bapak.

"Maksud Ibu apa?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.

Bab 4b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12 Fos Stylo

-Jumlah Kata 315

-Day 8

 

Bab 4b

 

Pov Dion 2

 

"Maksud Ibu apa?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.

"Iya Dion dengar, kamu harus menikah dengan Yuni. Ibu sudah menyetujuinya dengan Bu Lasmi. Itu alasan Ibu, kenapa melarangmu berhubungan lagi dengan Dara."

Mendengar penuturan Ibu, aku jadi teringat Dara. Apa Dara masih didepan pintu. Dia pasti sangat kecewa dengan keputusan Ibu. Seketika kaki ini langsung melangkah cepat menuju kedepan pintu. Untuk melihat, apakah Dara masih disana?

"Dion, mau kemana kamu?" tak kuhiraukan teriakan Ibu yang memanggilku. Ternyata Dara sudah pergi dari depan rumahku, tapi bayangan tubuhnya masih dapat kulihat. Rasanya hati ini sungguh sangat sakit melihatnya. Melihat orang yang dicintai diperlakukan seperti itu.

Bergegas kuambil payung untuk menyusulnya. Tapi disaat aku hendak melangkah keluar, Ibu tiba-tiba datang menghampiriku dengan emosi.

"DION, BERANI KAMU MELANGKAH KELUAR DARI SINI. IBU PASTIKAN, KAMU AKAN MELIHAT MAYAT IBU." ancaman Ibu membuat tekadku berhenti. Disatu sisi, aku sangat mengkhawatirkan Dara. Tapi disisi lain, aku tak mungkin membantah wanita yang telah melahirkanku.

Akhirnya kuurungkan niatku. Dan aku memilih masuk kekamarku. Bapak menepuk pundakku seolah menguatkanku.

Ah, hanya Bapak yang mengerti perasaanku. Tapi Bapak juga tak bisa berbuat apa-apa. Watak Ibu memang sangat keras. Hanya do'a yang bisa kupanjatkan, mudah-mudahan Dara baik-baik saja.

****

Esok hari seperti biasa aku memulai aktivitasku. Bekerja disebuah minimarket dengan jabatan kepala bagian.

Tapi rasanya diri ini masih terus memikirkan Dara. Entah gimana keadaan Dara sekarang. Ia tidur dimana? Semoga kamu baik-baik saja," do'aku.

Selama bekerja, aku sampai tidak fokus karena terus memikirkan Dara. Sampai-sampai ada karyawan bertanya pun aku hanya diam saja.

"Pak Dion, Bapak sakit?" ucap salah satu karyawan lain bertanya saat aku sedang melamun.

"Maaf, nggak, saya gak apa-apa."

"Kalo sakit, Bapak ijin pulang aja," ucapnya mengusulkan. Dan aku hanya balas dengan gelengan sambil tersenyum.

Tidak mungkin juga aku pulang, itu malah membuat suasana hatiku jadi makin bersedih. Apalagi Ibu yang selalu mendesakku menuruti kemauannya. Ah, rasanya kepala ini seperti mau pecah saja.

Bab 4c

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 490

-Day 9

 

Bab 4c

 

Pov Dion 3

Pukul 12.00 Wib Akhirnya waktu istirahat tiba. Seenggaknya aku bisa bersantai sambil terus berfikir, gimana caranya menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun, aku tidak mau menikah dengan Yuni. Aku tidak mencintainya.

Tapi saat kaki ini hendak melangkah keluar minimarket. Aku dikejutkan dengan Dara yang sedang berdiri didepan pintu masuk minimarket. Sepertinya, dia memang sedang menungguku.

"Dion," panggil Dara.

"Dara," ucapku.

"Ngapain disini?" tanyaku.

"Kita perlu bicara!"

"Baiklah, ayo kita bicara di Caffe seberang sana."

"Kita makan dulu ya?"ucapku sambil memanggil pelayan untuk memesan makanan.

Rasanya diri ini tak tega melihat gadis yang aku cintai, badannya terlihat seperti lesu. Bahkan wajahnya saja sangat terlihat, sedang memendam beban yang sangat berat.

Tapi tunggu, apa itu. Kenapa kening Dara diperban. Kuberanikan diri bertanya, sambil memegangnya.

"Ini kenapa?"

"Semalam ada yang menabrakku, tapi gak apa-apa, hanya luka kecil," jawabnya tersenyum. Tapi senyum yang seperti dipaksakan.

Ya allah sungguh malang nasibnya. Sudah diusir Ibu tirinya. Harta Bapaknya dirampas. Sekarang Dara sampai harus menderita seperti ini.

"Dion," panggilan Dara membuyarkan lamunanku.

"Ya!"

"Gimana dengan hubungan kita. Apa yang dibilang Ibumu itu benar. Kamu akan menikah dengan Yuni?" pertanyaan Dara membuatku sangat bingung. Dia pasti sudah mendengarnya dari Ibu semalam.

Aku hanya bisa menundukan kepalaku. Rasanya tak tega untuk menatap mata Dara yang sedang memancarkan aura kepedihan.

"Itu benar. Tapi percayalah rasa cintaku hanya untukmu. Semua itu tak lepas dari paksaan Ibu." Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan.

"Kamu benar, masih mencintaiku?" tanya Dara. Entah kenapa dia bertanya seperti itu.

"Kita pergi, kita menikah!" ajakan Dara membuatku sangat kaget. Tapi aku tak mungkin menerima tawarannya.

"Ingat ya Dion, sekali kamu membantah omongan Ibu. Ibu pastikan Ibu takkan pernah menganggapmu sebagai anak lagi. Janganlah jadi anak durhaka. Mulai sekarang lupakan Dara. Dan mulailah hidup baru dengan Yuni. Nanti sepulang kerja, keluarga Yuni akan datang kemari untuk bertamu. Jadi bersikaplah baik. Jangan melawan Ibu. Kalau kau tak mau melihat Ibu Mati."

Ucapan Ibu pagi tadi saat aku hendak berangkat bekerja, membuatku terus berpikir dan menimbang-nimbang tawaran Dara. Tetapi, aku tak mungkin melawan Ibu. Akhirnya, kupasrahkan untuk menolaknya. Walaupun hati ini perih.

Kulonggarkan pegangan tangan Dara dari tanganku. "Aku tidak bisa," lirihku.

Wajah cantik Dara tampak langsung muram dan sedih mendengar jawabanku.

"Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang kamu mencintaiku. Kalau gitu, mari kita pergi. Kita mulai semuanya dari nol," ucap Dara.

"Maafkan aku Dara, aku memang sangat mencntaimu. Tapi aku tak mau durhaka pada Ibuku"

"Kamu tak akan dicap durhaka Dion. Bukankah Bapakmu setuju dengan hubungan kita. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Semua harta Ayahku sudah dirampas oleh Ibu tiriku. Dan aku diusir begitu saja. Sekarang, tempat terakhirku hanya kamu. Orang yang aku cintai," jelas Dara.

Ya Bapak memang setuju. Tetapi, Bapakpun tidak bisa merubah keputusan Ibu.

"Maafkan Bapak Dion. Bapak gak bisa merubah keputusan Ibumu. Ibu mengancam, akan menyakiti Dara. Bila kamu masih akan terus menikahinya. Jalan satu-satunya adalah menuruti kemauan Ibumu nak. Berdo'alah, jika memang berjodoh. Kalian pasti akan bersatu" ucap Bapak malam itu.

Bab 4d

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 465

-Day 10

 

Bab 4d

 

Pov Dion 4

 

"Maafkan Bapak Dion. Bapak gak bisa merubah keputusan Ibumu. Ibu mengancam, akan menyakiti Dara. Bila kamu masih akan terus menikahinya. Jalan satu-satunya adalah menuruti kemauan Ibumu nak. Berdo'alah, jika memang berjodoh. Kalian pasti akan bersatu" ucap Bapak malam itu.

"Tapi Dara, aku tidak mungkin melakukan itu. Itu akan menyakiti Ibuku?"

“Lalu kalau menyakitiku, apa tak masalah buatmu?" itu benar, aku bahkan bukan saja menyakitinya. Tapi mungkin menghancurkan hatinya.

"Bukan begitu maksudku."

"Lalu, bagaimana? Kamu akan menuruti kemauan Ibumu untuk menikah dengan Yuni, begitu?" tanya Dara.

"Aku juga tak tau harus gimana, aku bingung." Aku hanya bisa menundukan wajahku.

"Baiklah, aku tanya sekali lagi. Apa kamu mau pergi dan menikah denganku. Dan memulai semuanya dari Nol. Aku yakin, kalau kita menikah, Bapakmu pasti akan memberi restu, walaupun tanpa Ibumu."

Aku diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Dara. Sungguh aku ingin merutuki diriku yang tidak bisa melawan Ibu sedikitpun. Aku benar-benar lelaki lemah.

"Baiklah, aku sudah tau jawabannya," ucap Dara beranjak berdiri dan hendak pergi, karena melihatku hanya diam saja.

"Dara aku mohon kamu mengerti." Aku berusaha memohon agar ia mengerti. Jujur aku saja sangat dilema.

"Maaf, aku tak bisa terus menerus mempunyai hubungan dengan lelaki yang tak punya pendirian sepertimu. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, buat apa juga. Karena sebentar lagi, kamu akan menikah kan, dengan Yuni." Dara berucap sambil menahan tangis, dia pasti kecewa denganku.

Dara berlalu pergi dari hadapanku dengan setengah berlari. Ia tak pedulikan aku yang terus memanggil namanya.

"Dara."

"Dara," panggilku. Tapi Dara terus saja berlari.

"Maafkan aku Dara," batinku. Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.

****

Sepulang bekerja, kulihat dirumahku sudah ramai. Ternyata Bu Lasmi datang dengan suami barunya, beserta dengan Yuni juga.

"Dion sini, Nak! Ini Yuni dan orang tuanya sudah datang," ucap Ibu lembut. Yuni terlihat tersenyum kearahku.

"Maaf Bu, Dion cape baru pulang kerja." Aku memilih masuk kekamar. Tak kupedulikan tatapan Yuni yang seperti kecewa, karena aku tak menghiraukannya. Sungguh malas rasanya untuk bertemu dengan keluarga Yuni.

Tok...tok...tok..

"Dion buka pintunya, Nak!" Ibu masih terus menggedor-gedor pintu kamarku.

Ya allah, bisakah hidupku tenang. Kenapa aku tak bisa melawan Ibu sama sekali. Akhirnya kuputuskan untuk membuka pintu.

"Dion, temui Yuni dan keluarganya," pinta Ibu.

"Tapi Dion gak bisa Bu, menikah dengan Yuni," jawabku.

"Kalau gitu, kamu harus siap melihat Ibu mati Dion. Semenjak berhubungan dengan Dara, kamu jadi sering melawan sama Ibu." Lagi-lagi Ibu menyalahkan Dara yang tak tau apa-apa.

"Bu, semua ini bukan salah Dara. Kenapa Ibu selalu menyalahkannya. Apa tak cukup, penderitaan yang sedang Dara alami sekarang," ucapku frustasi.

"Kalo gitu, turuti perintah Ibu. Atau kau gak akan melihat Dara bahagia." Ancaman Ibu membuat nyaliku menciut, akhirnya dengan rasa malas kuhampiri Yuni dan keluarganya.

Seenggaknya, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Dara. Biarpun tak bersamaku, aku ingin Dara tetap bahagia.

Bab 5a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12 / Fos Stylo

-Jumlah Kata 367

-Day 11

 

Bab 5a

 

Dara tidak menyadari, sedari tadi dirinya telah diikuti oleh Gibran. Entah dorongan darimana, hati Gibran ingin mengikuti gadis itu. Padahal selama ini dirinya tidak pernah percaya lagi sama yang namanya perempuan kecuali Nayla, Tantenya sendiri.

Gibran merasa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Walaupun kadang ia tepis rasa itu. Tapi Gibran tetap nekat mengikuti Dara. Dan Gibran sudah menyaksikan semuanya. Semuanya didepan matanya. Pertemuan Dara dan Dion tadi, dan percakapan mereka, Gibran mendengarnya.

Ternyata Dara tak seburuk yang ia pikirkan. Bahkan Dara adalah korban dari sebuah kejahatan Ibu tirinya dan keegoisan kekasihnya sendiri.

Saat Gibran melangkah hendak menghampiri Dara yang masih menangis dipinggir jalan. Gibran melihat ada seorang Pria berumur sekitar 40 tahun menggunakan sepeda motor tengah menghampiri Dara. Gibran urungkan niatnya dan lebih memilih melihat dari kejauhan.

"Dara," panggil Gandi, suami baru Ibu tiri Dara. Dara yang kaget dengan kedatangan Gandi. Langsung spontan berdiri dan beringsut mundur.

"Mau apa Om kesini?" Dara terlihat ketakutan. Bayangan Gandi yang hendak melecehkannya terus teringat dikepala Dara.

"Gak usah takut gadis manis. Yuk ikut denganku! Daripada kamu terluntang-lantung gak jelas seperti ini.

"Gandi memegang tangan Dara, sambil tersenyum mengerikan.

"Aku gak mau Om. Jangan coba-coba mendekati aku." Dara masih terlihat sangat tidak suka.

"Tenang saja gadis cantik, aku jamin Lasmi takkan mengetahuinya," ucapnya menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya.

"Jangan kurang ajar Om. Atau aku akan teriak," ancam Dara.

"Silahkan saja. Yang mendengarpun takkan berani." Gandi terus tersenyum menakutkan bagi Dara. Memang Dara melihat, orang yang berlalu-lalang pun tak ada yang peduli melihat Dara ketakutan karena didekati Gandi.

"Ayo ikut!" bentak Gandi. Mungkin karena kesal Dara tak kunjung menurutinya. Gandi lantas langsung mencekal erat lengan Dara sambil setengah menyeretnya.

"Aku gak mau Om. Tolong jangan paksa aku." Dara masih berusaha memelas.

"DIAM," bentak Gandi lagi. Gandi hendak memaksa Dara naik kemotornya.

"Toloooong ...Tolong aku, siapapun tolong," teriak Dara disertai isak tangis. Gibran yang sedari tadi bersembunyi, sudah tidak tahan menyaksikan pemandangan didepannya.

"Lepaskan gadis itu,"teriak Gibran pada Gandi.

"Siapa kamu? Jangan sok jadi pahlawan. Dia milikku." Gandi menjawab dengan emosi.

Tak mau melewatkan kesempatan, Dara langsung berlari kebelakang tubuh Gibran, saat Gandi melepaskan pegangan tangannya. Gandi tambah emosi melihat Dara malah mendekat kearah Gibran.

Bab 5b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 394

-Day 12

 

Bab 5b

 

Gandi tambah emosi melihat Dara malah mendekat kearah Gibran.

"Pria tua, apa anda tak malu. Sudah berumur, tapi menginginkan seorang gadis." Gibran tersenyum mengejek kearah Gandi.

"Jangan kurang ajar kamu. Mentang-mentang masih muda. Siapa kamu? Berani melawanku." Gandi berucap dan merasa dirinya hebat semenjak menikah dengan Lasmi, Ibu tiri Dara.

Jelas saja semua orang tau Lasmi. Terkenal dengan orang kaya, sawah dan tanah dimana-mana. Serta pabrik kaos kaki. Tapi itu semua hasil merampas dari hak Dara.

"Kenapa saya harus gak berani dengan Pria tua sepertimu?" tantang Gibran dingin.

Mereka adu mulut dijalan dekat sebuah pos satpam Minimarket. Tentu karena kekuasaannya. Gandi tidak pernah merasa takut. Apalagi, hal yang tidak manusiawi yang tadi ia lakukan pada Dara. Kalaupun ia dilaporkan, ia akan dengan mudahnya lepas. Karena ia orang kaya, ia punya uang.

"SATPAM ... SATPAM," teriak Gandi pada satpam didepan Minimarket.

"Iya ada apa Pak?" Satpam itu berlari tergopoh-gopoh.

"Tolong beri pelajaran sama anak muda ini. Dia sudah kurang ajar pada saya," tunjuknya pada Gibran. Gibran hanya diam memperhatikan.

Saat Satpam itu menoleh pada Gibran, ia terlihat salah tingkah dan malah menundukan kepala.

"Kenapa kamu hanya diam saja. Kamu tidak tahu siapa saya?" Gandi marah, karena melihat Satpam itu terlihat seperti tidak berani pada Gibran.

"Saya kenal Bapak, Bapak adalah pemilik Pabrik kaus kaki terbesar didaerah sini," ucapnya pelan.

"Terus, kenapa kamu diam saja?" bentak Gandi lagi.

"Tapi maaf, saya tidak berani melawan Pak Gibran, Pengusaha muda terkaya dan pemilik Perusahaan terbesar disini," ucapnya lagi. Gandi hanya diam.

Ah ya, ia ingat, ia sering melihat wajah Gibran dilayar kaca. Siapa yang tak kenal dengan seorang Pengusaha muda yang tampan dan kaya raya. Tapi hari ini, Gibran hanya memakai baju biasa, sampai-sampai ia tak mengenalinya.

"Mati aku." Gandi merutuki dirinya sendiri.

"Kenapa diam saja?" tanya Gibran.

"S-saya ...

"Pak satpam maaf, apa karena Pria ini orang kaya dan pemilik Pabrik kaus kaki terbesar disini, sampai anda menghiraukannya saat dia tadi menggoda gadis ini?" tanya Gibran sambil menoleh pada Dara yang berdiri dibelakangnya.

"Maafkan saya Pak!" hanya itu yang keluar dari mulut Satpam sambil menunduk.

"Dan anda, jangan kira karena anda orang kaya anda bisa berbuat seenaknya. Sekali lagi anda mengganggunya. Saya pastikan anda akan menerima akibatnya, Itu hal kecil bagi saya." Ancaman Gibran membuat nyali Gandi menciut. Ia langsung berlari menuju motornya dan melajukannya dengan cepat.

Satpam itupun setelah meminta maaf, langsung pamit kembali ke pos.

Bab 5c

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 347

-Day 13

 

Bab 5c

 

"Dan anda, jangan kira karena anda orang kaya anda bisa berbuat seenaknya. Sekali lagi anda mengganggunya. Kupastikan anda akan menerima akibatnya, Itu hal kecil bagi saya." Ancaman Gibran membuat nyali Gandi menciut. Ia langsung berlari menuju motornya dan melajukannya dengan cepat. Satpam itupun setelah meminta maaf, langsung pamit kembali ke pos.

Dara langsung menghampiri Gibran. "Terima kasih," ucap Dara. Gibran tak menjawab omongan Dara dan malah langsung pergi berjalan menuju mobilnya. Dara berdiri mematung, kaget dengan perubahan sikap Gibran. Yang tiba-tiba baik, tiba-tiba acuh.

"Ngapain berdiri disitu? Kamu mau, pria tua tadi kembali lagi dan membawamu pergi?" ucapan Gibran membuyarkan lamunan Dara. Dara yang masih shock dengan kejadian tadi, sontak langsung berlari menghampiri Gibran.

"Tapi aku gak tau harus kemana?" ucap Dara.

"Ikut saya!" jawab Gibran.

"HAH?" Dara kaget.

"Cepetan, sebelum saya berubah pikiran," timpal Gibran setelah masuk kedalam mobilnya. Dara langsung membuka pintu mobil belakang dan masuk.

"Kamu kira saya supir. Pindah!" tegas Gibran dengan tatapan sangat dingin.

"Eh iya, maaf ..." Dara langsung pindah dan masuk ke kursi didepan.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Dara terlihat salah tingkah. Mau bertanya tapi takut. Apalagi, Gibran hanya diam saja, dan fokus menyetir. Dara takut, kalo ia berbicara malah dibentak oleh Gibran.

****

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit. Akhirnya mobil Gibran sampai dirumahnya. Gibran turun dan diikuti oleh Dara dibelakangnya.

Tapi saat didepan pintu, Dara hanya diam saja. Tidak masuk mengikuti Gibran. "Kamu kenapa dari tadi hanya diam saja?"

"Apa aku boleh masuk?" tanya Dara polos.

"Saya yang mengajakmu kesini. Ya tentu saja boleh," ucap Gibran. Dara langsung masuk mengikuti Gibran.

"Bik, Bik Inah!" panggil Gibran pada asisten rumah tangganya.

"Dalem Den." Bik Inah langsung datang menyahut.

"Bik, tolong antar gadis ini kekamar tamu ya. Suruh dia istirahat. Nanti, saat makan malam kamu temui saya dimeja makan," ucap Gibran pada Bik inah, dan langsung beralih berucap pada Dara.

"Nggih Den.” Dara lebih memilih menuruti saja dulu perintah Gibran. Padahal ia masih bertanya-tanya. Ngapain ia berada disini, kalau ia tak tahu harus apa. Ya minimal harus kerja seenggaknya. Pikir Dara ...

"Mari Non!" ajak Bik Inah.

Bab 6a

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 342

-Day 14 Bab

 

Bab 6a

 

Makan malam tiba, saatnya Dara menemui Gibran dimeja makan. Gibran sedang menyantap makanan dengan tenang. Saat Dara datang, Gibran langsung mengalihkan pandangannya pada Dara.

"Duduk!" titah Gibran pada Dara yang diam memperhatikan Gibran yang sedang makan. Dara langsung menuruti perintah Gibran.

"Makanlah, kamu pasti lapar kan?" ucap Gibran tanpa melirik Dara. Tak mau melewatkan kesempatan. Perut Dara yang memang dari tadi sudah keroncongan minta diisi. Dara langsung mengambil Nasi dengan porsi besar, serta mengambil Ayam goreng disertai lauk yang lainnya. Dara makan dengan lahap, sampai mulutnya penuh dengan makanan. Gibran memperhatikan tingkah Dara yang lebih mirip anak kecil. "Dasar bocil,” batin Gibran.

"Ekhemmm, gimana tidurnya?" Gibran berdehem dan bertanya pada Dara, sehingga membuat aktivitas Dara yang sedang makan terhenti.

"Uhh ... a-kku." Mulut Dara yang penuh karena sedang mengunyah makanan, terlihat kesulitan saat hendak menjawab pertanyaan Gibran.

"Kunyah dulu makananmu, lalu telan. Jangan menjawab dengan mulut penuh makanan. Tidak sopan." Dara langsung spontan menelan makanannya sampai dirinya tersedak.

"Uhukkk ... uhhhuuukkk ... " Dengan cepat Gibran memberi minum pada Dara yang tersedak dan menyebabkannya terbatuk-batuk. Dara menghela nafas dengan lega. Hampir saja dirinya tadi kehabisan nafas.

"Sudah dibilang jangan menjawab pertanyaan dengan mulut penuh. Jadinya begitu kan? Bikin repot saja," terang Gibran tajam.

"Dia sendiri yang bertanya saat orang sedang makan," ceracau Dara. "Apa kamu bilang?" Gibran mendengar ceracauan Dara dan langsung meliriknya.

"Nggak, gak apa-apa," jawab Dara.

"Kalau sudah selesai, temui aku di ruang tamu." Gibran lekas beranjak dari duduknya setelah selesai makan.

"Huh ... apa-apaan ini seenaknya nyuruh-nyuruh orang," batin Dara.

***

Setelah menghabiskan makannya, dan perutnya sudah terisi. Dara menghampiri Gibran diruang tamu.

"Duduk," titah Gibran saat melihat Dara datang.

"Langsung saja, apa langkahmu kedepannya? Gak mungkin kan, kamu tinggal dirumahku secara gratis! " ucap Gibran.

"Aku gak tau, aku gak punya tempat tinggal. Kalau gitu, aku disini kerja aja, jadi pembantu juga gak apa-apa." jawab Dara mantap.

"Kamu gak liat, pembantuku sudah banyak," jawaban Gibran membuat Dara langsung menundukan kepalanya karena bingung.

"Kalau kamu mau, kita buat kerjasama!" tawar Gibran.

"Kerjasama! Apa?" Dara bertanya.

"Kita Menikah?"

"APAAAA?"

Bab 6b

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 325

-Day 15

 

Bab 6b

 

"Kita Menikah?"

"APAAAA?" Dara kaget dengan ucapan Gibran. Bagaimana bisa orang yang tak saling kenal menikah.

"Jangan ge-er, aku mengajakmu menikah hanya untuk pura-pura saja. Aku tau, kamu pasti sakit hati kan atas perlakuan Ibu tiri dan Bapak tirimu. Terlebih lagi kekasihmu tidak bisa diandalkan." Lagi-lagi Dara kaget dengan ucapan Gibran. Gimana bisa Gibran tau semuanya.

"Gak usah kaget aku tau darimana, itu tidak penting. Yang penting kita jalani kerjasama ini. Dan kedua belah pihak bisa diuntungkan. " Seolah tau isi pikiran Dara, Gibran langsung berucap.

"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Dara.

Flashback On

Gibran baru kembali pulang dari Singapore. Dirinya sudah tak sabar ingin bertemu dengan Shareen, kekasihnya. Kekasihnya yang sebentar lagi akan dia nikahi.

Mobil Gibran melaju dengan cepat menuju kediaman Shareen. Tapi dijalan, Gibran berpapasan dengan mobil Damian, sahabatnya. Dan ia melihat ada Shareen didalamnya.

Gibran masih berpikir positif, mungkin mereka ada urusan bersama. Gibran memutar balik mobilnya mengikuti Damian dan Shareen. Ternyata mobil Damian berhenti disebuah hotel berbintang.

"Ngapain mereka berhenti disini?" batin Gibran. Gibran masih bertahan untuk memantau didalam mobilnya. Terlihat, pintu mobil Damian terbuka. Dan keluarlah Damian dan Shareen bersamaan. Shareen terlihat bergelayut manja pada Damian dan masuk kedalam hotel.

Gibran bergegas langsung turun dan mengikuti mereka. Mereka terlihat menuju ruang Reseptionist dan memesan kamar. Setelah memastikan mereka pergi, Gibran langsung memesan kamar juga tepat disebelah kamar Shareen dan Damian.

Saat masuk kamar, lalu Gibran mengaktifkan audio device, memasukkan earphone, dan kemudian menempatkan bug audio pada dinding, agar Gibran bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Beruntung Gibran selalu membawa benda itu kemana pun ia pergi. Bisa dibilang itu benda alat sadap suara. Jadi bisa mendengarkan percakapan orang lain, walaupun dari balik tembok. Hanya orang-orang seperti Gibran yang mampu membelinya.

"Sayang, sebentar lagi, Gibran pulang dari Singapore." Terdengar suara Shareen berbicara. Beruntungnya Gibran, suara mereka terdengar sangat jelas.

"Biarkan saja, dia kan tidak tau kalau selama ini kita punya hubungan. Dan kupastikan dia takkan pernah tau," jawab Damian.

Bab 6c

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 347

-Day 16

 

Bab 6c

 

Flashback On

 

"Sayang, sebentar lagi, Gibran pulang dari Singapore." Terdengar suara Shareen berbicara. Beruntungnya Gibran, suara mereka terdengar sangat jelas.

 

"Biarkan saja, dia kan tidak tau kalau selama ini kita punya hubungan. Dan kupastikan dia takkan pernah tau," jawab Damian.

 

"Dan aku yakin, dia juga takkan bisa jauh dariku. Dia kan cinta mati sama aku. Mana ada coba, cewek yang mau sama dia. Kaya sih iya, tapi dingin dan tak Perhatian," jawab Shareen.

 

"Nah tuh tau. Jadi, disaat Gibran pulang nanti. Kita akan pergi ke Malaysia, dengan alasan aku ada kerjasama disana."

 

"Baiklah aku akan beralasan, bahwa aku hendak berkunjung kerumah sodara saja disana. Dia kan percaya sama kita, tak mungkin curiga," ucap Shareen.

 

"Setelah semuanya selesai, kamu harus segera berusaha membujuk Gibran agar segera menikahimu. Dengan begitu, lebih gampang kita kuasai semua hartanya," ucap Damian.

 

Gibran yang medengar percakapan mereka melalui earphone yang ia pakai, terlihat sangat geram dan emosi. Ia tak menyangka, sahabat yang ia percaya dan kekasih yang ia cintai telah berkhianat dibelakangnya. Bahkan mereka hendak mengambil semua harta yang Gibran miliki.

 

Gibran membanting earphone yang ia pakai dengan kasar, karena terdengar suara desahan oleh dua orang yang Gibran benci saat ini. Hati Gibran benar-benar terasa sakit dan miris. Bisa-bisanya selama tiga tahun percaya dengan dua orang Ibl*s itu. Gibran bertekad takkan membiarkan semuanya terjadi begitu saja sesuai rencana mereka. Setelah kejadian itu, Gibran benar-benar tak percaya dengan yang namanya perempuan.

 

Flashback Off

 

Dara melongo mendengar cerita Gibran. Ternyata dibalik sikap dingin dan arogan Gibran. Terdapat rasa sakit yang teramat dalam. Bahkan mungkin lebih dalam dari yang Dara rasakan.

 

"Heyy" Gibran mengibaskan tangannya didepan wajah Dara yang sedang melamun. Dara melihat Gibran dengan pandangan iba. Haruskah ia menerima kerjasama yang Gibran tawarkan. Tapi, pernikahan itu bukan mainan. Impiannya untuk menikah hanya sekali seumur hidup, itupun dengan orang yang ia cintai. Bagaimana bisa ia menikah dengan orang yang baru ia kenal, ya walaupun hanya pura-pura saja. Tapi Dara juga ingin membalaskan rasa sakit hatinya terhadap Ibu tirinya. Dia juga ingin merebut kembali, harta peninggalan Ayahnya.

 

"Gimana?" tanya Gibran.

 

"Baiklah, tapi aku punya satu syarat!" Ucap Dara

Bab 7a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 306

-Day 17

 

Bab 7a

 

"Gimana?" tanya Gibran.

 

"Baiklah, tapi aku punya satu syarat!" Ucap Dara.

 

"Apa?" jawab Gibran.

 

"Setelah menikah aku gak mau tidur satu kamar denganmu. Karena pernikahan kita ini hanya pura-pura, jadi gak ada hubungan suami istri," terang Dara. Gibran berdecak sebal mendengar syarat yang Dara ajukan.

 

"Kamu tenang aja, itu gak akan terjadi. Lagian jangan geer, kita hanya pura-pura saja. Gak ada malam pertama.

 

"Satu lagi," ucap Dara.

 

"Apa lagi," jawab Gibran terlihat sebal.

 

"Kamu gak boleh jatuh cinta padaku. Kalau itu terjadi, kamu harus berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Melupakan rasa sakitmu terhadap wanita. Dan kamu berjanji, akan menjadikanku satu-satunya wanita yang kamu cintai," jawab Dara.

 

"Itu tidak akan mungkin terjadi. Kalaupun terjadi, aku berjanji akan menepatinya. Tapi sebelumnya, sadarlah jangan berharap terlalu tinggi. Rasaku terhadap perempuan sudah mati."

 

Bagaimanapun, Dara adalah seorang gadis yang bermimpi untuk menikah hanya satu kali saja. Sedangkan, sekarang dia harus menerima tawaran pura-pura menikah. Tentu saja ia sebenarnya tak mau, ia bertekad akan membuat Gibran jatuh cinta padanya. Melupakan semua rasa sakit hatinya. Memulai hidup baru.

 

"Baiklah, deal?" Mereka berjabat tangan, dan tak lupa menandatangani surat perjanjian.

 

****

 

Seminggu kemudian, pernikahanpun dilalukan dikediaman Gibran. Hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Dari pihak Dara hanya diwakili oleh wali hakim, karena Dara sudah tak mempunyai kedua orang tua.

 

"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA DARA ANDINI BINTI BASKORO, DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."

 

"SAH ... "

 

"SAH ..."

 

"Alhamdulilah." Serempak mereka mengucap rasa syukur. Dara mencium tangan Gibran, dan Gibran mencium kening Dara.

 

"Wah, selamat ya? Keponakan Tante sudah punya istri sekarang," ucap Nayla terkekeh.

 

"Makasih Tan," jawab Gibran sambil memeluk Nayla.

 

"Jangan lupa, secepatnya berikan Tante seorang cucu. Dan sukses buat malam pertamanya," ucap Nayla menggoda. Gibran dan Dara tersentak mendengar ucapan Nayla.

 

"Mana ada malam pertama," batin Gibran.

 

"Nikah aja cuma pura-pura. Mana bisa punya anak," batin Dara.

Bab 7b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 373

-Day 18

 

Bab 7b

 

Gibran dan Dara tersentak mendengar ucapan Nayla. "Mana ada malam pertama," batin Gibran.

 

"Nikah aja cuma pura-pura. Mana bisa punya anak," batin Dara.

 

"Hey, kenapa kalian masih disana? Hari ini malam pertama kalian. Ayo cepat masuk kamar!" Ucapan Nayla membuat Dara dan Gibran menjadi salah tingkah. Awalnya, Dara dan Gibran berniat untuk pisah kamar. Tetapi, karena Nayla masih menginap dirumah Gibran, dengan terpaksa mereka tidur satu kamar.

 

"Kamu tidur dibawah, aku dikasur," ucap Gibran sambil melempar sebuah bantal pada Dara. Dara mengerucutkan bibirkan.

 

"Aku perempuan suruh tidur dibawah. Cihh ... Gak mau ngalah banget," umpat Dara berdecak sebal.

 

"Apa? Ngomong apa?" sentak Gibran.

 

"Gak, gak ngomong apa-apa," elak Dara.

 

"Sudah sewajarnya aku tidur dikasur. Karena ini rumahku, dan kamu tidur dibawah. Karena hanya menumpang," ucap Gibran langsung merebahkan dirinya dan tertidur. Dara termenung mendengar ucapan Gibran. Hanya menumpang, pernikahanpun hanya pura-pura. Bagaimana bisa ia melewati ini semua. Sesungguhnya Dara hanya ingin menikah satu kali saja. Dara tak akan menyerah, ia akan berusaha membuat Gibran jatuh cinta padanya. Karena ia tak mau, pernikahan ini hanya bohongan saja. Karena pernikahan baginya adalah hal yang sakral, bukan main-main. Dara memang menerima untuk menjalani semua ini. Tapi disisi lain, ia juga menginginkan kebahagiaan. Mempunyai anak dan suami seutuhnya. Ia inginkan itu semua, jadi ia merubah semuanya ia bertekad akan menjadikan pernikahan ini nyata. Toh, pernikahan mereka beneran sah dimata agama dan hukum. Akhirnya Dara mengalah, dia tidur dilantai beralaskan karpet tebal.

 

Setelah dua puluh menit berlalu, Gibran membuka matanya. Ia tak bisa tidur, karena mendengar ada suara. Gibran bangun dan melongok pada Dara yang tidur dilantai sebelah tempat tidurnya. Gibran melihat, Dara menggigil kedinginan. Sepertinya Dara tak terbiasa tidur dibawah. Gibran menjadi tak tega, ia bopong tubuh Dara dan ia tidurkan dikasur seranjang dengannya.

 

"Daripada dia sakit, nanti aku yang repot," celetuk Gibran.

 

****

 

Pagi pukul 06.00

 

“Aaaaaaa ...” Dara berteriak kencang karena kaget, kenapa ia bisa tidur dikasur. Dan posisinya sekarang adalah, Gibran sedang memeluknya dari belakang.

 

“Ada apa sih, pagi-pagi udah ribut?” tanya Gibran membuka matanya. Gibran yang baru menyadari kalau dirinya telah memeluk Dara pun histeris. “Aaaa ...” Gibran terlonjak dan spontan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Dara.

 

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa aku bisa tidur dikasur bersama denganmu?" Dara menatap tajam Gibran.

Bab 8a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 416

-Day 19

 

Bab 8a

 

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa aku bisa tidur dikasur bersama denganmu?” Dara menatap tajam Gibran. Dara benar-benar sangat takut. Karena Dara tak mau, sampai Gibran macam-macam. Ia akan menyerahkan seluruh jiwanya setelah nanti Gibran mencintainya.

 

“Heh jangan berpikir macam-macam. Tadi kamu saat tidur dibawah, menggigil kedinginan. Aku gak mau kamu sakit, jadi terpaksa aku tidurkan satu kasur denganku. Daripada bikin repot nantinya,” terang Gibran.

 

“Oooohhh ...” Akhirnya Dara bisa bernafas lega. Sungguh ia sangat takut, kalau sampai Gibran mengambil haknya sebagai suami tanpa permisi.

 

“Makanya, punya pikiran tuh dipake. Jangan mikir yang jelek-jelek terus,” ucap Gibran beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi. Dara merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia berpikir macam-macam seperti tadi. Mana mungkin Gibran tertarik padanya.

 

Tak lama Gibran keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Sementara Dara tak menyadari, sedari tadi dirinya diperhatikan oleh Gibran. Berkali-kali Dara menoyor kepalanya sendiri, membuat Gibran menggelengkan kepala melihat kelakuan Dara.

 

“Dasar, gadis aneh,” celetuk Gibran. Sontak pandangan Dara beralih pada Gibran.

 

“Aaaaa ...” Lagi-lagi Dara berteriak kencang sambil menutup matanya.

 

“Kenapa?” tanya Gibran heran.

 

“Itu ... Itu,” tunjuk Dara pada handuk Gibran yang ternyata sudah merosot.

 

“Aaaa ...” Spontan Gibran langsung mengambil handuknya dan memakainya kembali.

 

“Gila, lama-lama bisa jantungan,” ucap Gibran dan langsung mengambil pakaiannya dilemari.

 

Dara masih betah diatas kasur dan terus memperhatikan aktivitas Gibran. Menyadari Dara yang hanya diam saja tak bergerak, membuat Gibran berdecak. “Hey, mandi sana. Kamu mau liat aku ganti baju?”

 

“Eh iya, iya nggak.” Dara langsung melompat dari tempat tidur dan masuk kekamar mandi.

 

“Bisa-bisanya gadis kaya gitu, aku nikahin.” Gibran menepuk jidatnya.

 

****

 

Setelah sekitar dua puluh menit. Gibran dan Dara keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah ada Nayla yang menunggunya.

 

“Waah ... Wah, pengantin baru. Gimana malam pertamanya?” Nayla mengerlingkan matanya pada Dara, membuat Dara menundukan wajahnya karena malu.

 

“Tan, come on, pagi-pagi udah nanyain yang gak jelas,” Gibran menatap sebal, tantenya.

 

It’s ok, sorry. Ini Tante punya sesuatu buat kalian, hadiah pernikahan.” Nayla menyodorkan dua buah Passport dan dua kartu penginapan dihotel. Gibran meraih apa yang Nayla kasih.

 

“Malaysia!”

 

“Yup, pergilah kalian ke Malaysia untuk bulan madu. Tante sudah atur semuanya. Kalian tinggal datang saja ke hotel yang sudah Tante siapkan.

 

” T-tapi, apa gak terlalu jauh?” tanya Dara gugup.

 

“Tentu saja nggak sayang, bersenang-senanglah disana dengan suamimu. Jangan lupa bawakan Tante seorang cucu.” Lagi-lagi Nayla menggoda.

 

“T-tapi, aku ...

 

“Kenapa, kamu gak mau kesana?” tanya Nayla memotong ucapan Dara.

 

“Kita akan kesana Tan!” Gibran langsung berucap. Dara tersentak kaget mendengar ucapan Gibran.

Bab 8b

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 323

-Day 20

 

Bab 8b

 

“Kita akan kesana, Tan.” Gibran langsung berucap. Dara tersentak kaget mendengar ucapan Gibran.

 

“J-jadi kita kesana?” tanya Dara.

 

“Ya,” jawab Gibran singkat.

 

****

 

Gibran dan Dara telah bersiap-siap hendak berangkat ke Malaysia untuk berbulan madu. “Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Dara.

 

“Apa?” “Kenapa kamu mau kita bulan madu ke Malaysia?”

 

“Karena ini kesempatan kita, untuk menjalankan rencana awal?” terang Gibran.

 

“Maksudnya?” Dara mengernyitkan dahi.

 

“Kamu lupa, awal kita menikah. Kamu harus bantu aku balas dendam pada Shareen dan Damian sahabatku. Dan bukannya sekarang mereka juga berada disana? Mereka pasti akan terkejut jika tau aku juga berada disana. Dan sebagai imbalan, aku akan membantumu untuk merebut semua hak yang dirampas oleh Ibu tirimu.”

 

“Baiklah,” jawab Dara menggangguk pertanda mengerti.

 

Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam menggunakan pesawat. Akhirnya, Gibran dan Dara sampai di Negeri Jiran tersebut. Dara dan Gibran langsung menuju Hotel di Kuala Lumpur yang sudah Nayla persiapkan untuk mereka. Ternyata, Nayla hanya memesankan satu kamar hotel saja untuk Dara dan Gibran. Jadi dengan terpaksa, mereka akan tidur satu kamar lagi. “Kamu tunggu disini, aku keluar sebentar,” titah Gibran setelah mereka berada didalam kamar hotel.

 

“Ok,” jawab Dara. Gibran bergegas keluar kamar hotel menuju sebuah Kafe untuk membeli makanan. Karena ia paling tidak suka dengan makanan di hotel. Saat Gibran berjalan hendak masuk kedalam Kafe. Ia menangkap dua sosok yang sangat dia kenal. Shareen dan Damian, mereka ada di Kafe yang sedang Gibran kunjungi. Memang itu tujuan awal Gibran, selain untuk membeli makan, ia juga ingin mengetahui dimana Shareen dan Damian menginap. Karena Gibran tau, mereka juga berada di Kuala Lumpur. Ternyata, mereka sepertinya menginap dihotel yang sama dengan Gibran. Shareen dan Damian tampak begitu sangat mesra. Mereka tak menyadari keberadaan Gibran karena terus asyik bermesraan.

 

“Waaah ... Ternyata kita ketemu disini ya?” sapa Gibran tersenyum menyeringai. Shareen dan Damian terlonjak kaget karena melihat Gibran yang telah berada dihadapan mereka.

 

“S-sayang ngapain disini?” ucap Shareen spontan langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Damian.

Bab 9a

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 384

-Day 21

 

Bab 9a

 

“S-sayang ngapain disini?” ucap Shareen spontan langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Damian. Gibran tersenyum melihat kepanikan dua orang yang begitu Gibran benci sekarang.

 

“Kenapa kaget? Santai dong!” Lagi-lagi Gibran membuat Shareen dan Damian tak berkutik.

 

“Sayang maaf, ini gak seperti yang kamu lihat,” ucap Shareen sambil memegang tangan Gibran.

 

“Ups ... Jangan pegang-pegang, nanti ada yang cemburu.” Gibran terekeh sambil melirik kearah Damian. Tujuan Gibran merencanakan sesuatu pada Shareen dan Damian adalah, untuk merebut kembali salah satu perusahaan Gibran yang sudah berpindah tangan ke tangan Shareen dan Damian. Sebelum mereka bisa merebut semua apa yang Gibran punya, Gibran akan membalas perlakuan mereka berdua dulu. Jadi Gibran tak perlu berpura-pura bersikap baik terhadap mereka berdua. Makanya, Gibran menggunakan Dara untuk membuat Shareen cemburu. Karena Gibran yakin, Shareen akan cemburu. Dengan begitu, dia akan gampang membuat Shareen membodohi Damian, dan mengembalikan Perusahaan yang mereka rampas.

 

“Kita gak ada hubungan apa-apa bro. Kita memang gak sengaja bertemu disini!” terang Damian.

 

“Ada juga gak apa-apa, itu hak kalian.”

 

“ Sayang, tolong jangan cemburu buta kaya gitu. Aku dan Damian memang gak sengaja bertemu disini.” Nada manja suara Shareen membuat Gibran mual. Gibran benar-benar muak melihat akting mereka berdua.

 

“Loh, ternyata disini? Lama banget sih, aku sampai akaran nunggunya.” Tiba-tiba Dara datang menghampiri Gibran yang sedang duduk di Kafe bersama Shareen dan Damian. Shareen nampak melirik tak suka pada Dara.

 

“Sayang, siapa dia?” tanya Shareen.

 

"Dia istriku!”

 

“APAAAAAA!”

 

“Iya, dia Istriku. Kenapa?” tanya Gibran santai.

 

Brakkkk ..

“Apa maksud semua ini?” Shareen menggebrak meja tak terima mendengar Gibran menyebut Dara adalah istrinya.

 

“Lalu, gimana dengan Shareen. Shareen kekasihmu. Kenapa kamu menikah dengan orang lain. Dan sejak kapan kamu menikah?” Damian membela Shareen.

 

“Dia bukan kekasihku, dia kekasihmu!” tunjuk Gibran pada Shareen.

 

“Gibran, apa maksudmu?” bentak Damian.

 

“Sudahlah, aku sudah tau hubungan kalian. Kalian disini bukan sengaja bertemu kan? Kalian memang merencanakan liburan bersama,” ucap Gibran tersenyum santai. Sementara Dara hanya diam memperhatikan perdebatan mereka. Dara melirik Shareen, tiba-tiba Dara merasa insecure melihatnya. Shareen yang cantik, tinggi dan putih tampak sempurna dimata Dara. Sedangkan dirinya, hanya berpenampilan biasa-biasa saja.

 

“Apa aku bisa membuat Gibran jatuh cinta padaku?” batin Dara. Rasa kurang percaya diri itu, menyeruak kedalam seluruh tubuh Dara. Sungguh Dara merasa takut, kalau dirinya tak akan berhasil untuk membuat Gibran jatuh cinta padanya dan mempertahankan pernikahannya.

Bab 9b ( Pelajaran untuk penghianat )

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 493

-Day 22

 

Bab 9b ( Pelajaran untuk pengkhianat)

 

“Terus kamu anggap apa aku ini? Kenapa kamu menikah tanpa sepengetahuanku,” ucap shareen tergugu.

 

“Kenapa aku harus memberitahumu. Kita sudah tak mempunyai hubungan apa-apa lagi,” tegas Gibran.

 

“Sejak kapan? Kita masih mempunyai hubungan. Belum ada kata putus diantara kita. Itu artinya, kamu sudah menghianatiku.” Shareen masih tetap menyalahkan Gibran. Gibran mendekat kearah Shareen yang berada disebelah Damian dengan sorot mata tajam.

 

“Dengar, semenjak aku tau kamu selingkuh dengannya. Kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi berhenti memutar balikan fakta, seolah aku yang salah.” Gibran mencengkeram erat rahang Shareen.

 

Gibran benar-benar sudah muak dengan dua orang iblis yang menjelma seolah malaikat tersebut. Didepan akan bersikap baik, ternyata dibelakang menusuk. “Ayo kita pergi dari sini! Kita kan pengantin baru, jadi gak baik lama-lama diluar,” ucap Gibran tersenyum pada Dara yang melongo mendengar ucapannya.

 

Sementara Shareen nampak mengepalkan tangannya tak terima. Shareen berselingkuh dengan Damian, karena ia sudah tak mencintai Gibran. Tapi hari ini, disaat Gibran menunjukan kalau dia sudah menikah, Shareen merasa hatinya begitu sakit.

 

“Sayang, kamu gak apa-apa?” tanya Damian memegang tangan Shareen.

 

“Ini semua gara-gara kamu.” Shareen menyambar tasnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Damian yang bediri mematung.

 

Gibran mengajak Dara pergi ke pantai yang letaknya tak jauh dari hotel. Berkali-kali Gibran menghembuskan nafas kasar. Memendam amarah yang begitu memuncak. Matanya terpejam dan pikirannya berkelana pada kejadian dimana dirinya mengetahui kalau Shareen dan Damian telah berkhianat. Padahal Gibran sudah menganggap Damian seperti saudara sendiri. Sedangkan, Shareen wanita yang ia cintai, yang sebentar lagi akan ia lamar. Tapi ternyata mereka tak lebih dari seonggok bangkai yang siap menebarkan bau racunnya.

 

“Kamu masih mencintainya?” Pertanyaan Dara membuat Gibran membuka matanya.

 

“Apa urusanmu?” ketus Gibran.

 

“Aku kan istrimu!”

 

“Hanya pura-pura, ingat itu,” jawab Gibran.

 

“Ya walaupun hanya diatas kertas, seenggaknya hargailah aku sebagai istrimu,”

 

“Sejak kapan kamu jadi ngatur-ngatur.” Gibran mendelik kearah Dara.

 

“Sejak aku jadi istrimu. Walau hanya pura-pura. Tapi jangan tunjukan kepura-puraanmu didepan orang banyak. Bukankah itu akan menggagalkan rencana kita,” terang Dara.

 

Fine,” jawab Gibran singkat.

 

Angin pantai yang berhembus begitu kencang, membuat rambut Dara yang tergerai bergerak kesana-kemari. Membuat Gibran menatap lekat wanita didepannya. Tanpa disadari, Gibran telah terpesona dengan kecantikan Dara. Dara yang tampak biasa dari luar, ternyata memiliki kecantikan yang tesembunyi.

 

“Hey.” Dara mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajah Gibran yang masih terus menatapnya.

 

“Hellooowww ...” Gibran masih terdiam tak bergerak.

 

Plak ....

Dara menampar pipi Gibran, membuat Gibran terlonjak dan langsung sadar.

 

“Apa-apaan kamu?” bentak Gibran sambil memegang pipinya.

 

“Suruh siapa bengong terus dari tadi. Dipanggil gak nyaut, ya aku kan takut kamu kesambet, lagi.” Dara terkekeh. Gibran menyadari kalau sedari tadi dirinya terus memperhatikan Dara. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa sampai terpesona oleh Dara.

 

“Gila, bisa-bisanya aku ngeliatin cewek aneh,” batin Gibran.

 

“Pasti terpesona dengan kecantikanku kan?” goda Dara menaik-turunkan alisnya.

 

“Ck ... Jangan geer jadi cewek,” ucapnya langsung beranjak pergi meninggalkan Dara.

 

“Eh tunggu ... Jangan tinggalin aku.” Dara berlari mengejar Gibran seperti anak kecil yang mengejar ibunya.

Bab 9c

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 475

-Day 23

 

Bab 9c

 

Karena waktu sudah mulai gelap, Gibran dan Dara kembali ke hotel. Dara terus memegangi perutnya. Ia benar-benar sangat lapar. Karena sedari tadi belum makan apa-apa. Sementara Gibran sedang mandi, Dara memutuskan untuk keluar sendiri saja. Dara berjalan menuju Restorant yang ada didalam hotel.

 

Tak mau menunggu terlalu lama, ia langsung memesan satu porsi makanan untuknya. "Biarin deh, makan sendiri. Lagian suruh siapa mandinya lama banget. Gak tau apa, kalo perutku sudah keroncongan," gerutu Dara.

 

Makanan yang Dara pesan sudah Datang. Dara langsung menyantapnya dengan bersemangat.

 

Byuuuurr .....

"Aaaaaaaa ...." Dara yang sedang makan terlonjak kaget karena tiba-tiba ada yang menyiram kepalanya.

 

"Heh pelakor, itu balasan buatmu karena sudah merebut Gibran dariku," ucap Shareen. Ternyata Shareen yang menyiram Dara. Karena Shareen lihat Dara sedang makan sendirian, itu kesempatan baginya untuk membalas Dara yang sudah merebut Gibran darinya. Dara meringis menahan malu, karena semua pengunjung Restoran telah menatapnya dengan pandangan sinis.

 

"Apa maksudmu? Bukan aku yang pelakor, bukankah kamu yang sudah berselingkuh dengan laki-laki lain." Dara berusaha melawan Shareen. Pandangan para pengunjung yang tadinya sinis terhadap Dara, mulai beralih pada Shareen. Shareen mulai salah tingkah. Ia tak terima karena sudah merasa dipermalukan.

 

"Kurang ajar, berani kamu menghinaku didepan orang banyak." Shareen hendak menjambak rambut Dara. Tapi sebelum itu terjadi, ada tangan kekar yang memegang tangan Shareen dan menghempaskannya dengan kasar.

 

"Jangan pernah berani sakiti istriku." Gibran menatap tajam Shareen. Shareen mulai merasa malu. Tapi ia tak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Gibran kembali.

 

"Kenapa kamu jadi berubah semenjak menikah dengannya. Aku, aku wanita yang kamu cintai. Kenapa kamu lebih memilihnya?" Gibran tak menggubris ucapan Shareen. Ia menarik tangan Dara dari Restorant itu menuju keluar.

 

"Kenapa kamu keluar tanpa aku?" bentak Gibran.

 

"M-maaf, aku sangat lapar. Menunggu kamu mandi terlalu lama, jadi aku keluar sendiri." Dara menundukan wajahnya. Gibran merasa tak tega melihat Dara.

 

"Ya udah, kamu masih lapar kan?" Dara mengangguk. Setelah Gibran dan Dara selesai makan malam. Mereka langsung tidur pulas. Dara tidur dikasur sedangkan, Gibran tidur di sofa.

 

****

 

Pagi pukul 06.00

 

Gibran bangun dari tidurnya. Ia melihat Dara masih tertidur dengan pulas. Posisinya persis seperti anak kecil yang sedang memeluk guling. Tak terasa Gibran sedikit mengulas senyum melihat kepolosan Dara.

 

Gibran keluar dengan memakai kaos oblong dan celana pendek saja. Ia akan berolahraga pagi. Gibran meninggalkan Dara yang masih tidur.

 

"Gibran." Saat baru saja beberapa meter keluar dari hotel. Gibran mendengar ada yang memanggilnya. Tapi ia tak menanggapi panggilan itu, karena ia sudah mengenal suaranya, yaitu suara Shareen. Shareen setengah berlari mengejar Gibran. Tak mau melewatkan kesempatan, Shareen akan mencoba mendekati Gibran kembali.

 

"Aku panggil-panggil kok malah gak nengok!" ucap Shareen saat sudah berjalan sejajar dengan Gibran.

 

"Mau apa lagi?" Gibran bertanya dengan nada dingin.

 

"Ayo kita bicara disana?" ajak Shareen menunjuk kesebuah tempat duduk yang berada di taman. Gibran menuruti ajakan Shareen, ia ingin tau, apa yang akan Shareen bicarakan.

Bab 10

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 605

-Day 24

 

Bab 10

 

“Apa yang mau kamu bicarakan?” Tak mau basa-basi, Gibran langsung bertanya.

 

“Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku tau, aku salah. Aku janji akan tinggalin Damian dan memulai semua dari awal bersamanu,” ucap Shareen memelas.

 

“Aku gak bisa, aku sudah mempunyai istri,” jawab Gibran tegas.

 

“Ceraikan saja istrimu, kita mulai dari nol seperti dulu.”

 

“Cih ... Atas dasar apa, aku harus menceraikan istriku dan kembali denganmu yang sudah jela-jelas mengkhianatiku.” Shareen mulai putus asa dengan jawaban yang Gibran berikan. Sungguh ia sangat menyesali perbuatannya, yang sudah berselingkuh dengan Damian.

 

“Aku yakin kamu gak sungguh-sungguh mencintai wanita itu, kan? Kamu hanya ingin membuatku cemburu!” ucap Shareen.

 

“Jangan terlalu kepedeean jadi orang. Bagiku, tidak ada kata maaf untuk orang yang telah berkhianat.” Setelah berucap, Gibran berlalu pergi meninggalkan Shareen yang sudah menangis. Ini yang Gibran inginkan, ia ingin Shareen menyesali semua perbuatannya dan berani melakukan apa saja yang Gibran minta. Tetapi, Gibran harus bersabar sampai Shareen berucap itu. Ia akan jual mahal dulu, agar dengan gampang merebut kembali apa yang sudah Damian dan Shareen rebut darinya.

 

Sesampainya dikamar hotel, Gibran tak menemukan Dara. “Ck ... Kebiasaan, pergi-pergi sendirian,” umpat Gibran berlalu keluar untuk mencari Dara.

 

Gibran mencari ke sekeliling hotel, ia tak menemukan dimana Dara berada. Lalu ia berjalan menuju pantai yang terletak tak jauh dari hotel tempatnya menginap. “Itu dia,” ucap Gibran saat melihat Dara.

 

Tapi Dara tak sendirian, dia sedang bersama dengan seorang laki-laki yang sangat familiar bagi Gibran. Gibran mendekat untuk mencari tau siapa laki-laki itu.

 

“Dara,” panggil Gibran. Dara dan laki-laki itu langsung menoleh keasal suara. Dan ternyata laki-laki itu adalah Dion.

 

“Ngapain dia ada disini?” batin Gibran. Gibran mulai merasa jengah dengan kehadiran Dion. Ada rasa yang berbeda didalam hatinya. Rasa tak rela, rasa takut kehilangan.

 

“Maaf ya, aku pergi gak bilang-bilang. Habis kamu pagi-pagi udah gak ada, jadi aku keluar sendiri, deh,” ucap Dara tersenyum.

 

“Ngapain dia disini?” Gibran tak menanggapi ucapan Dara. Ia malah melirik tak suka pada Dion.

 

“Perkenalkan, aku Dion temennya Dara,” ucap Dion mengulurkan tangannya. Gibran diam, dia tak membalas uluran tangan Dion.

 

“Mantan, lebih tepatnya. Yang tidak mempunyai pendirian.” Dion tersentak mendengar ucapan Gibran. Dara merasa tak enak dengan Dion. Walaupun Dion telah mengecewakannya, tapi dia sudah meminta maaf padanya. Dan tak ada alasan untuk tidak memaafkannya.

 

“Eh iya, ini suamiku namanya - ...

 

“Gibran Alexander,” jawab Gibran memotong ucapan Dara.

 

“Aku pernah bilang, jangan keluar sendiri tanpa aku.” ucap Gibran menatap tajam Dara.

 

“Iya, maaf deh,” jawab Dara.

 

“Dion,” panggil seorang wanita.

 

“Mbak Yuni,” ucap Dara disaat wanita itu sudah mendekat. Yuni tampak melirik tak suka terhadap Dara.

 

“Aku cari-cari ternyata kamu disini?” ucap Yuni sambil bergelayut manja pada lengan Dion. Sedangkan, Dion merasa risih dengan kelakuan Yuni.

 

“Iya, tadi aku hanya cari angin.”

 

“Dara, ngapain kamu disini? Kamu pasti mau goda Dion kan? Kamu tau aku dan Dion kesini, jadi kamu ikutin kami. Jangan coba-coba mengganggu suamiku,” ucap Yuni memperingatkan.

 

“Suami!”

 

“Ya, kami sudah menikah,” lirih Dion. Dara merasakan dadanya begitu sangat sesak. Ia memang sudah tak mengharapkan Dion, tetapi Dara merasakan sakit hati karena Dion secepat itu menikah dengan Yuni. Menyadari perubahan wajah Dara yang tampak sedih, Gibran langsung merangkul pinggang Dara.

 

“Aku suaminya Dara. Jadi jangan coba berbicara kasar pada istriku,” ucap Gibran pada Yuni. Yuni melirik Gibran Ia baru menyadari keberadaan Gibran karena terlalu fokus pada Dara.

 

“Gibran, pengusah terkaya. Gimana bisa Dara menikah dengannya,” batin Yuni. Yuni diam setelah mendapat peringatan dari Gibran. Karena Yuni tau siapa Gibran.

 

“Lebih baik kita pergi dari sini, kita kan pengantin baru. Disini terlalu banyak gangguan,” ucap Gibran menyindir. Dara dan Gibran pergi berlalu meninggalkan Dion dan Yuni yang berdiri mematung.

Pov Dara

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 355

-Day 25

 

Pov Dara

 

Ibuku meninggal saat aku berumur 15 tahun. Saat itulah Bapak menikah dengan Lasmi, Ibu tiriku. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Sikap Bu Lasmi yang manis tak membuatku curiga kalau dirinya menikahi Bapak, hanya mengincar hartanya saja.

 

Petaka itu datang saat usiaku menginjak delapan belas tahun. Bapak meninggal karena kecelakaan, motor Bapak ada yang menabrak. Aku merasa janggal dengan kejadian meninggalnya Bapak. Tapi apa yang bisa aku perbuat, hanya berpasrah diri pada sang pencipta. Dion lelaki yang aku cintai tak bisa diandalkan. Dia lebih memilih menuruti perintah ibunya untuk menikah dengan Yuni, saudara tiriku. Hidupku benar-benar terasa sangat hancur. Seperti tak ada harapan untuk hidup. Kalau aku boleh memilih, aku ingin menyusul bapakku.

 

Sampai ada sebuah mobil mewah menabrak tubuhku. Aku kira, hidupku akan berakhir disini. Ternyata aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Sungguh aku merasa malu kepada-Nya, karena kerap kali berputus asa.

 

Gibran, seorang lelaki tampan dan kaya telah membawaku kerumahnya. Tantenya yang berprofesi sebagai Dokter telah merawatku. Tapi sikap Gibran yang dingin membuatku tidak nyaman. Bahkan dia terang-terangan mengusirku dari rumahnya. Dari info yang aku dapat, ternyata Gibran sangat membenci seorang perempuan, karena pernah diselingkuhi kekasihnya. Kecuali, perempuan itu yang ia sayang adalah tantenya.

 

Gibran, walaupun sikapnya dingin. Tapi dia adalah jiwa penolong untukku. Dia telah menolongku yang hampir dibawa oleh Gandi, suami baru Ibu tiriku. Disaat itulah perjanjian menikah itu dimulai. Awalnya aku merasa tidak nyaman dan tidak mau, karena menurutku pernikahan itu bukan permainan, dan hanya sekali seumur hidup. Tetapi, Gibran berjanji akan menolongku untuk merebut kembali semua yang menjadi hakku.

 

Setelah kita menikah, Tante Nayla menghadiahi aku dan Gibran untuk berbulan madu ke Malaysia. Gibran bilang, ini kesempatan untuk melancarkan rencana yang sudah Gibran dan aku sepakati. Aku bertekad untuk membuat Gibran jatuh cinta kepadaku. Aku memang belum mencintainya, tapi bolehkah aku berharap kalau pernikahanku ini selamanya seumur hidup. Sikapnya yang dingin dan ketus tak membuatku gentar untuk berusaha. Seringkali aku merasa insecure saat bertemu dengan Shareen, mantan kekasih Gibran. Walau kenyataan Gibran bilang sudah membencinya. Tetapi wajahnya yang cantik dan sempurna membuatku merasa kalah darinya.

 

Apa mungkin Gibran akan bisa melupakan Shareen? Dan bisa jatuh cinta padaku?

Bab 11

0 0

-Sarapan Kata KMO Club Batch 41

-Kelompok12/Fos Stylo

-Jumlah Kata 376

-Day 26

 

Bab 11

 

“Sudahlah, ngapain laki-laki kaya gitu dipikirin,” celetuk Gibran pada Dara saat mereka sudah sampai dihotel. Dara memang terlihat murung semenjak bertemu dengan Dion dan Yuni. Walaupun Dara sudah tidak mengharapkan Dion, tapi hatinya terasa sakit, kala Dion secepat itu melupakannya.

 

“Hey, kamu budeg apa gimana? Diajak bicara malah ngelamun,” ucap Gibran kesal. Sementara Dara masih terus melamun sambil memeluk lututnya diatas kasur.

 

“Apa aku tak pantas bahagia?” ucap Dara terisak.

 

Oh My Good, pake mewek lagi,”

 

“Hu ... Hu ... Hu ... Selama ini, aku merasa takdir gak pernah berpihak padaku. Bapak meninggal, aku diusir Ibu tiriku, hendak dilecehkan oleh suami baru ibu tiri. Dan sekarang Dion memilih menikah dengan Yuni,” tangis Dara semakin kencang, membuat Gibran panik. Gibran merengkuh tubuh Dara yang bergetar menangis. Tanpa sadar, Gibran telah memeluk Dara dan berusaha menenangkan dengan mengusap-ngusap punggung Dara.

 

“Rasanya, aku gak sanggup harus menjalani hidup seperti ini. Kalo boleh memilih, aku ingin menyusul Bapak,” ucap Dara masih terisak.

 

“Hei, hei wanita aneh, jangan ngomong gitu. Ingat perjanjian kita. Setelah kamu bantu aku, aku janji aku akan membantumu merebut semua apa yang telah dirampas darimu.” Gibran memegang dan menatap wajah Dara dengan kedua tangannya.

 

“Lalu setelah semua selesai, apa kamu akan meninggalkanku juga?” Pertanyaan Dara membuat Gibran tersentak. Jujur, dari hati Gibran yang terdalam, rasa cinta itu mulai tumbuh. Rasa dimana Gibran merasa, kalau Dara memang berbeda dari wanita lain. Tetapi, terlepas dari itu, Gibran tak mau memikirkannya. Karena Gibran ingin fokus dulu pada tujuan awal ia menikah dengan Dara.

 

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

 

“Karena aku merasa, semua orang telah meninggalkanku sendiri,” jawab Dara.

 

“Apa kamu masih mencintai laki-laki tadi?” tanya Gibran, lalu Dara mengangguk. Ada hati yang berdenyut saat Gibran mendengar penuturan Dara. Gibran sempat berpikir, disaat nanti dirinya sudah selesai dengan rencananya. Ia mungkin akan mempertimbangkan pernikahannya dengan Dara, agar bisa menjadi pernikahan sesungguhnya. Begitupun dengan Dara, mungkin Dara masih mencintai Dion. Tetapi, tak mungkin juga Dara akan bisa bersama Dion lagi. Dara berharap, bisa secepatnya melupakan Dion. Dan Dara berdo’a, semoga ia dan Gibran akan tetap bersama.

 

Dua orang yang awalnya tak saling mengenal, dipertemukan dengan cara tidak sengaja. Dan harus menjalani sebuah pernikahan pura-pura. Tanpa mereka sadari, keinginan mereka ternyata sama. Ingin sama-sama bisa mengubah pernikahan pura-pura menjadi pernikahan yang sebenarnya.

Mungkin saja kamu suka

Jejak Langkah
Lijden
Nurvatin Aulia ...
Story About Alyana
Muhamad Tamimi ...
Sisi Sunyi
Azzahra Aulia M...
Semua Serba Daring

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil