Loading
1

1

1

Genre : Keluarga
Penulis : Natalia Susanti
Bab : 30
Dibuat : 07 Januari 2022
Pembaca : 2
Nama : Natalia Susanti
Buku : 1

Loving You

Sinopsis

Semua adalah anugerah dalam hidup kita. Hadiah ya semuanya adalah kado yang dibungkus Tuhan buat hidup kita. Mereka yang hadir mewarnai hidup kita. Membuat hari kita selalu punya cerita. Uang bisa kembali, namun waktu kita bersama mereka tidak akan kembali momentnya. Hanya ucapan syukur yang akan keluar dari mulut kita. Berharap kalian mengerti tentang rasa ini. Rasa yang tak selalu terungkap. Betapa ku menyayangimu betapa kumencintaimu.
Tags :
#sarapan kata

My Students (Part )

1 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata562
#day22
#sarkatjadibuku

*********************************
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Saya pernah belajar, saya sedang belajar, dan saya akan terus belajar. Mengajar dan tetap belajar. Dua hal yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Selalu ada kesempatan yang datang dalam hidup saya. Dan menjadi seorang guru adalah sebuah kesempatan seumur hidup untuk saya. Kesempatan untuk berbagi ilmu, kesempatan untuk berbagi pengalaman kehidupan Tidak pernah terlintas sebelumnya bahwa saya akan ada di sini bersama mereka. Mengajar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Pernah merasa ragu mampukah saya mengajar anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Namun proses itu berjalan, ada ilmu kehidupan yang saya dapat dari mereka. Tahun ini adalah  tahun ke sebelas saya mengajar di SMK Sakti Gemolong. Tempat dimana saya study lebih lanjut. Setelah lulus kuliah saya sempat mengajar di SMA di Solo. Sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk langkah yang terbaik ke depan.

            “Ma, nanti kalau kita dikaruniai momongan. Mama ngajar di sekolah dekat rumah saja ya.” pinta suami saya.

            “Mama sudah nyaman disana Pa.” jawab saya.

            “Iya Papa ngerti. Tapi harus ada yang diprioritaskan Ma. Kalau memang di awal pernikahan kita mendoakan diberi momongan, Mama harus menjaga kesehatan Mama. Kalau kita bisa meminta pekerjaan yang dekat sama Tuhan, kenapa tidak?” meyakinkan saya bahwa kami harus memilih langkah terbaik.

            “Ok Pa, makasih sudah ngingetin Mama.”

Butuh waktu untuk menggumulkan ini semua. Tidak mudah hati seorang Guru berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti ada masa dan kenangan yang belum ingin ditinggal dan dilepaskan. Sampai ada moment dimana saya mengiyakan apa saran dan nasehat suami. Saya menemui Kepala Sekolah saya yang lama.

            “Maaf Miss, sepertinya saya harus ijin untuk resign.” tutur saya saat menemui beliau di ruangan Kepala Sekolah.

            “Lho kenapa?. Perjalanan kita masih panjang lho Miss. Anak-anak butuh Miss.” jawab beliau merasa kaget dengan kata-kata saya.

            “Keputusan yang berat memang Miss kalau saya harus meninggalkan sekolah ini. meninggalkan teman-teman yang sangat baik. Dan anak-anak di kelas.”

            “Lha ya to. Lha trus kenapa kok mau resign?”

            “Keputusan bersama yang harus kami ambil Miss. Saya dan suami bergumul segera dikaruniai momongan. Dan untuk kebaikan semuanya, maka saya akan mengajar di dekat rumah Miss.”

            “O begitu, ya benar juga Miss apa yang disarankan suami. Tapi apakah semua sudah dipikirkan matang-matang?”

            “Sudah Miss, kami merasa perlu menyampaikan ini sekarang supaya pihak sekolah juga tahu lebih awal. Sekolah bisa mencari pengganti Guru Matematika yang baru Miss. Maaf sebelumnya Miss.” sambil saya menahan air mata saya yang mulai berkaca-kaca.

            “Mungkin mudah mencari Guru pengganti. Tapi tidak mudah menggantikan rekan kerja yang sudah sama-sama dari awal dibentuk bersama disini. Mungkin itu yang akan sulit Miss. Tapi kalau Miss sudah yakin keputusan ini yang terbaik buat keluarga Miss. Maka sekolah akan  mengijinkan.” jawab Ibu Kepala Sekolah.  

            “Siap Miss terimakasih. Kita akan tetap selalu kontak Miss. Saya pasti akan merindukan semua kenangan dan pendewasaan yang saya dapatkan di sini. Besok saya ajukan surat ijin resign saya ya Miss .”

            “Baik Miss, Tuhan pasti memberikan yang tebaik untuk karier Miss selanjutnya ya. Amin. Selalu saling mendoakan ya Miss” beliau mengakhiri percakapan kami saat itu.

            “Amin. Sekali lagi terimakasih untuk semuanya Miss. Ijin saya kembali ke kelas ya Miss.”

Hari itu terasa berat langkah saya. Saat kembali ke kelas dan bertemu anak-anak. Satu persatu kenangan bersama mereka muncul di benak saya. Menyambut mereka di pintu masuk saat mereka datang. Makan di kantin bersama mereka. Belajar menaklukkan soal yang susah bersama. Bercanda dan saling bercerita di kelas. Merekalah Guru saya merekalah sahabat saya.

First Love (Part 1)

0 0

#sarapankata
#kmoindonesia
#kmobatch41
#kelompok21
#penaaksara
#jumlahkata500
#day1
#sarkatjadibuku

Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

Senang rasanya hati ini masih bisa menarikan pena ini lagi. Serasa kembali terulang semua yang pernah ada. Waktu dimana aku melihat senyum kalian, waktu dimana aku melihat segala kebaikan kalian. Biarlah pena ini membawaku ke masa-masa itu dan melukiskan kembali semua cerita yang hampir 37 tahun ini mengisi hari-hariku. Setiap hari membawa cerita, setiap jam menceritakan segala kebaikan, setiap menit kebaikan membawa sukacita, dan setiap detik sukacita yang kupunya merupakan keajaiban. Kalaupun ada yang sudah, sedang, dan akan penaku tarikan itu adalah ucapan syukur jemariku, menyampaikan rasa syukur karena ku ada sebagaimana ku ada. Penaku akan bercerita bahwa semua yang ada dan yang terjadi di dalam hidupku semuanya adalah anugerah.
  You  ya semua tentang kalian. Tiga orang pertama yang sangat bersyukur atas kehadiran kalian adalah aku, dan dua adik perempuanku. Semua yang ada seolah bercerita bahwa kalianlah kekasih hati kami yang pertama. Masih sangat melekat dalam ingatan ku, pagi-pagi kau bangunkan kami untuk mengajari kami naik sepeda motor. Entah apa yang mungkin saat itu ada dalam hatimu, tapi kau dengan sabarnya mengajari kami naik sepeda motor. Pagi-pagi benar saat luar masih sepi dan berselimutkan embun pagi kau mengajari kami. Tak lupa kami tetep harus pakai helm waktu itu walaupun masih benar-benar pagi, ya itulah yang kau tanam, hal kecil yang sederhana namun kau tidak suka jika kami sepelekan. Telaten ya itulah kata yang tepat untukmu, hingga tak butuh waktu begitu lama kami bisa mengendarai motor sendiri. Senang sekali kami rasanya, ternyata itulah yang kau bekalkan kepada kami. Ini sangat kami rasakan saat kami kuliah dan mengharuskan kami naik sepeda motor, karena sekali waktyu tidak memungkinkan naik bus umum karena harus berangkat sangat pagi ke kampus. Dulu memang tidak pernah terpikirkan bagi kami hingga kami bertiga mengikuti jejak ibu. Kami memilih jurusan yang kami suka ketika kami kuliah, namun semua itu ternyata adalah jawaban doa  mereka  selama ini. Masih ingat ibuku pernah bilang Kalian perempuan, besok jadi guru saja. Tetep bisa momong anak di rumah, tak pernah terlintas keinginan itu ketika kami SMA. Awalnya saya mencoba daftar jalur PMDK saat itu sekarang namanya  BIDIK MISI, memilih jurusan Psikologi UNDIP Semarang, tapi memang bukan itu dan di situ jalannya. Sampai ketika mau memilih jurusan UMPTN yang sekarang namanya SNMPTN , saya dihadapkan pada dua pilihan jurusan dan dua pilihan universitas yang mereka ijinkan. Saat itulah saya merasakan seperti sedang berhenti di lampu merah dan menunggu lampu hijau untuk melanjutkan perjalanan. Lurus atau belok kanan, kalau pun lurus masih harus memilih dua belokan kanan atau kiri. Ternyata baru menyadari bahwa semua yang terlewati hingga saat ini bak Labirin yang Tuhan sediakan, dan mereka lah yang berada di depan saya, menunjukkan pada saya arah menuju sebuah pos tujuan yang Tuhan sediakan.                     Wow Thanks God For Everything. Ini akan menjadi awal cerita saya, bersama kalian yang sedang dihadapkan pada beberapa pilihan. Yakinlah bahwa setiap pilihan dalam hidup kita itulah saat Tuhan sedang menyalakan lampu kuning atas perjalanan hidup kita, so tetap fokus saat lampu hijau sudah menyala dan pasti Tuhan sediakan lampu merah untuk kita berhenti sejenak dan bersyukur untuk setiap perjalanan hidup yang kita lewati. Tuhan pakai orang tua, kakak, adik, suami, istri, bahkan anak kita untuk menyadarkan merah kuning hijaunya lampu Tuhan, yang membuat perjalanan ini menjadi terarah pasti, semakin nyaman dan menyenangkan. Saudara, sahabat, teman, tetangga, kenalan, dan semua orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita juga membuat kita semakin menyadari bahwa apa yang tidak pernah timbul dari hati kita, yang tidak pernah kita lihat, dan tidak pernah kita dengar, semua Tuhan sediakan bagi kita. Bersyukur bersyukur dan senantiasa bersyukur untuk mereka, dia, kamu dan kamu yang ada dalam hidupku.
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”
 ?  1 Korintus 2:9 ?

 

First Love (Part 2)

0 0

#sarapankata
#kmoindonesia
#kmobatch41
#kelompok21
#penaaksara
#jumlahkata534
#day2
#sarkatjadibuku

Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

Setia, ya satu kata untuk mereka. Kapanpun bapak dan ibuku selalu saling ada dan menjaga. Hal itu membuat kami belajar banyak, dan menjadi teladan saat kami sudah berumah tangga. Bahkan saat kami dalam segala kerepotan mengasuh anak kami, mereka begitu sabar, sayang, dan selalu ada menopang kami. Satu hal yang masih sangat teringat meski kami sudah berumah tangga dan sudah mandiri tinggal di rumah kami sendiri, sosok lelaki setia itu masih selalu ringan langkahnya berkunjung ke rumah kami bertiga sambil membawa tentengan berisi sesuatu entah apapun yang ibu kami masak. Sampai suara motor itu menjadi tanda bagi cucu-cucunya “Kakung datang”. Saat kami dikaruniai momongan, mereka juga setia mendampingi kami. Hari-hari bersama new baby born selalu menghadirkan hal-hal baru, dan mereka tetap setia mengajarkan itu pada kami. Selalu baru tiap hari, semangat baru dan tantangan baru. Kami belajar arti kesetiaan pada mereka. Tak hanya apa yang terucap, namun semua sangat terlihat begitu nyata bagi kami. Seolah masa kecil kami terulang, saat mereka mengasuh menyayangi anak-anak kami. Sangat terasa sentuhan kasih sayang mereka. Saya dan suami dikaruniai dua putri dan satu putra. Kalaupun kami dimampukan mendidik mereka sampai saat ini, semua karena kehadiran Yangti, Kakung, dan “Mbah” panggilan anak-anak pada ibu mertua dalam rumah tangga kami. 
“Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat kamu”
?  Filipi 1:3 ?
 Siap, dengan segala tugas tanggung jawab kami. Itu selalu mereka ajarkan dan teladankan kepada kami. Bapak mengabdi sebagai seorang Polisi dan Ibu sebagai seorang guru. Dengan profesi itulah mereka dipertemukan dan saling melengkapi. Cukup lama Bapak ditugaskan di dekat rumah kami, sangat bersyukur karena dari kecil kami hingga beranjak dewasa Bapak ada dekat dengan kami bahkan selalu siap juga mengajari kami ketika kami di bangku sekolah. Selalu siap menemani kami belajar di waktu sore atau malam, saat ibu sedang mengasuh adik kami yang paling kecil dan menyiapkan makan untuk kami. Tahun 2010 Bapak dipindah tugaskan ke Polres Sragen, sekitar 30 sampai 45 menit perjalanan dari rumah. Bapak mengendarai motor untuk pulang pergi ke tempat tugas. Dan semangat pagi yang selalu kami lihat ketika Bapak berangkat dan pulang bertugas. Pernah dalam perjalanan Bapak pulang tugas, Bapak jatuh dari motor karena menghindari jalan yang berlubang. Lutut dan jari kakinya terluka, mungkin saat itu sedang lelah tubuh Bapak. Keesokan hari ternyata Bapak sudah siap untuk bertugas lagi. Aku yang baru tahu kalau Bapak sudah bersiap berangkat tak bisa menahan tangis melihat betapa Siap nya Bapak dengan segala tugasnya. Jika waktunya panggilan tugas, maka jawaban nya adalah satu  “SIAP”. Teladan itu merupakan pelajaran seumur hidup bagi kami. Kami masih sangat perlu belajar untuk berkata siap dengan segala tugas dan tanggung jawab kami. Masih juga sangat teringat nasehat Ibu, ketika kami dihadapkan pada suatu masalah dan kami mengadu. Ibu bilang “Kita tidak bisa meminta Tuhan untuk menempatkan kita di suatu posisi atau kondisi yang yang selalu enak dan nyaman. Jika Tuhan mengijinkan kita menghadapinya, yakinlah ini cara Tuhan mendewasakan kita, ini waktu dimana kita disadarkan bahwa Tuhan lah yang pegang kendali atas hidup kita”. Nasehat itu masih terus kusimpan dan menjadi bekalku dalam menjalani hidup. Seiring waktu, banyak hal mendewasakanku dan nasehat itu menjadi kekuatan tersendiri untukku. Aku belajar untuk selalu berkata “Siap Tuhan, Hatiku siap Tuhan,”.  
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”
?  Yeremia 29:11  ?

Love of Cornelius (Part 1)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata556

#day3

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S Abang Jaga M Jazuli 

 

Tuhan selalu punya cara indah untuk menghadirkan cinta dalam hati seseorang. Begitulah cinta kasih itu hadir saat aku bertemu denganmu, saat aku mengenalmu. 26 tahun telah kulewati sampai akhirnya aku melabuhkan hatiku pada hatimu. Cinta itu kembali hadir karena kita saling mendoakan, jauh sebelum kita dipersatukan. Aku dan suami dari kecil sebenarnya sudah saling tahu, namun setelah Tuhan mendewasakan kami dengan sekolah kami dengan pekerjaan kami, akhirnya pendewasaan Tuhan itulah yang menaburkan cinta kasih kami. Butuh berapa waktu untuk kami sama sama berkata “ya aku mau menikah denganmu”. Jarak pekerjaan menguji cinta kami. Kami saling mengirimkan ayat setiap hari, Ayat Cinta itulah yang Tuhan pakai untuk semakin memantapkan langkah kami. Ketika kami dulu belum dipertemukan kembali, Tuhan punya cara untuk mendewasakan kami. Ketika 2009 Tuhan mempertemukan kami, itulah saat dimana aku tidak sendiri bertumbuh, tetapi aku belajar bertumbuh lagi dengan seorang pria istimewa “papanya anak-anak”. Suatu saat papa akan membaca ini, hal-hal yang mungkin tak terucap dari mulutku. Betapa sayangnya kita pada seseorang pasti akan dapat dirasakan oleh pasangan kita. Bahkan saat perasaan itu tak diungkapkan, perasaan itu bisa sampai pada pasangan kita. Saat kami harus melewati masa sebelum menikah waktu itu, kami membiasakan untuk menyediakan waktu untuk berdoa bersama, dan itulah yang memantapkan langkah kami selanjutnya. 2010 kami dipersatukan dalam pernikahan kudus, Juni 2010. Benih cinta kasih yang Tuhan sudah kuduskan membawa kami pada perjalanan indah yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Tuhan sediakan pada setiap kita seorang yang akan melengkapi hidup kita. Dia mengerti kamu, dan kamu mengerti dia. Begitupun juga dalam rumah tangga kami, kami menyadari dan semakin menyadari ini adalah perjalanan cinta seumur hidup kami, dan cinta hingga akhir keabadian nanti. Amin. Kesetiaan kami terus diuji dari hari kesehari, dan kami menyadari ini. Bagaimana Tuhan mengasihi pernikahan kami, bagaimana Tuhan menjaga pondasi rumah tangga kami. Pernah seseorang menasehati kami, ada kala suami harus ngerem isteri kalau isteri lagi tidak bisa mengontrol diri, begitu juga suami isteri sebaliknya. Ada kala suami harus ngegas ketika ada suatu pengharapan dalam rumah tangga yang sedang dipergumulkan, begitu juga dengan istri sebaliknya. Sehingga sebuah penikahan terus akan membuat kita maju dari satu kebaikan menuju kebaikan, dari satu kecukupan menuju kelimpahan rejeki yang Tuhan sudah sediakan untuk setiap rumah tangga. Asal suami isteri sepakat disitulah setiap doa dalam rumah tangga didengar dan satu persatu dijawab Tuhan. Pekerja keras, ya itulah suamiku. Semua sudah sangat jelas kami rasakan. Bagaimana papa punya dedikasi yang luar biasa atas pekerjaannya. Pria kedua setelah Bapakku yang membuatku mampu berdiri hingga saat ini. Yang mengajariku bagaimana mencintai pekerjaan, bagaimana komitmen terhadap pekerjaan itu membuat suamiku dimampukan mengemban tugas pekerjaannya yang sekarang. Bekerja di lapangan, dengan terik panas dan hujan sudah menjadi kesehariaan yang harus dijalani. Namun aku melihat dia “nyaman” dengan posisi pekerjaannya saat ini. And I know he loves his job. Penyayang, inilah kata kedua yang mewakili dirinya. Mulai dari anak pertama sampai anak ketiga, pesonanya sebagai seorang papa semakin memikatku heeeeee. Mungkin kalau dia sedang baca bagian ini aku sudah bayangkan bagaimana senyum itu menghiasi wajahnya. Papa selalu bisa membuat anak-anaknya nyaman, terlindungi. Meski pulang dari pekerjaan seminggu sekali, selalu papa punya quality time sama anak-anak. Dan itulah yang anak-anak selalu rindukan. Kadang si kecil yang sering ungkapin ketika di video call “Papa nanti pulang kan?”, padahal itu baru hari Rabu atau Kamis. Padahal baru hari Sabtu sore nanti biasanya papa pulang.

Love of Cornelius (Part 2)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata502

#day4

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

"Ya nanti no kalau papa sudah selesaiin kerjaannya baru papa pulang. Okey..” sahutnya menenangkan si kecil yang biasanya sudah mulai kangen. Hampir 12 tahun usia pernikahan kami, namun kami bersyukur kami dimampukan selalu ada buat anak-anak. Tak setiap hari kami bersama, namun kekuatan cinta dan kasih sayang papa itu membuat kami terus merasakan kenyamanan dan kasih sayang yang penuh. Mamanya aja merasakan apa lagi anak-anak heeeee. The Power Love of Papa, itulah yang membuat seorang wanita dan malaikat-malaikat kecilnya flying high in Love. Sekitar 2 atau 4 jam suamiku harus menempuh tempat kerjanya. Namun semangatnya ketika dia harus berangkat pagi tetap dibawanya kembali saat di pulang di akhir pekan. Sekitar 6 tahun an yang lalu suamiku pernah mengalami kecelakaan tunggal di suatu tikungan jalan raya. Tangan sebelah kiri patah di bagian bahu dan di bagian lengan tangan bawah. Saat itu sumiku berangkat bekerja seperti biasa. Namun ada hal yang tidak biasa sebenarnya, yang baru kami sadar sesudahnya. Sekitar jam 08.00 ada telepon “Ma….” terdengar agak lirih. “Lho pa sampai mana kok jam segini telepon?”, tanyaku karena masih jam 10.00 an harusnya dia sampai. “Ma, papa jatuh” “Dimana pa?”, “Nggak papa jemput ya, ini tangan papa yang sakit”, masih dengan suara yang berusaha menenangkanku. Sembari menahan air mataku, aku bergegas untuk menyusul suamiku. Sekitar pukul 10.00 aku sampai di tempat di mana suamiku diberikan pertolongan pertama. Puji Tuhan ada seorang bapak yang baik hati Bapak Sukardi namanya, dialah orang yang menolong suamiku dan membawa suamiku ke rumah sakit. Dengan selendang jarik yang dia punya, ia gunakan untuk mengikat menopang tangan kiri suamiku. Seorang baik selalu Tuhan sediakan untuk menolong kita. Bahkan ketika dia tak mengenal kita sekalipun, akan ada hati yang Tuhan gerakkan untuk kita. Setelah mendapatkan pertolongan pertama di rumah sakit tadi, segera aku membawa suami ke rumah sakit khusus karena dari hasil pemeriksaan, suami mengalami patah tulang di dua bagian. Masih dengan selendang yang bapak tadi pinjamkan, kami bergegas menuju ke rumah sakit yang akan mengoperasi tangan suami. Butuh kurang lebih satu jam perjalanan untuk sampai, dan sepanjang perjalanan suami harus menahan rasa sakit di tangannya. Tibalah kami di rumah sakit khusus tulang itu. Langsung menuju ruang UGD. Suami harus menjalani pemeriksaan awal dulu sebelum nanti ditentukan waktu tindakan operasinya. Saat itu rumah sakit memang sedang penuh, sehingga sebelum kami mendapatkan ruang perawatan kami harus bermalam di suatu ruangan transit. Keesokan harinya kami baru mendapatkan kamar dan sorenya tindakan operasi. Semua terasa berjalan begitu cepat, teringat ketika papa pamitan berangkat bekerja, dan sore itu menjalani operasi. Ada waktu dimana butuh hikmat untuk kita cepat dalam mengambil keputusan sehingga suatu masalah atau keadaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita untuk mengajari kita cepat dan berhikmat dalam keputusan yang kita ambil. Suami menjalani operasi sekitar 5 jam sampai benar-benar kembali sadar dari bius dan kembali ke kamar rawat. Puji Tuhan operasi berjalan lancar dan keesokan harinya kami boleh pulang. Ketika kami sudah sampai rumah, suami mulai cerita kejadian kemarin yang dialami. “Sebenarnya pagi itu ketika papa berangkat adik nggak seperti biasanya”, katanya.

Love of Cornelius (Part 3)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata545

#day5

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

 

Firasat seorang anak yang begitu kuat, pagi itu anak pertama kami sebenarnya belum mau papanya berangkat bekerja. Suami juga melihat gelagat anak kami yang sepertinya belum mau dipamiti pagi itu ketika hari kejadian suami jatuh dari sepeda motor. Dinie, anak pertama kami memang sangat dekat dengan papanya. Dengan pengalaman kami melalui kejadian ini, membuat kami sadar bahwa hati anak-anak kami begitu tajam. Mereka mampu merasakan apa yang kami rasakan. Walau mungkin tidak bisa mereka ungkapkan melalui kata-kata. Begitu tajamnya rasa yang dimiliki anak-anak membuat kita sadar bahwa Tuhan bisa mengingatkan dan menyadarkan diri kita melalui anak-anak kita. Dengarkan apa yang dikatakan anakmu maka engkau akan menjadi lebih bijak. Sejak saat itu saya dan suami menjadikan pendapat atau perkataan sederhana anak kami sebagai pertimbangan dalam beberapa keputusan rumah tangga kami. 

 

Jaraklah yang semakin menguatkan cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga kami. Waktu yang kami lewati bersama begitu sangat berarti. Tidak setiap saat kami bersama, namun setiap saat hati kami dijaga, setiap saat kami dikuatkan. Seperti sepasang sayap, aku tidak bisa terbang tanpa dia. Seperti sepasang kaki, aku tidak bisa melangkah sejauh ini tanpa langkahnya. Kita diciptakan dengan segala keistimewaan yang kita punya. Dan Tuhan menyediakan seorang pasangan yang melengkapi hidup kita. Seiring sejalan dalam setiap tantangan dalam rumah tangga, membuat kami semakin dikuatkan dan saling menguatkan. Perjalanan pernikahan yang semakin indah kami rasakan. Hampir 11 tahun usia pernikahan kami, dan kami semakin mendapati keindahan hati pasangan kami. Kerasnya hati kami semakin dilembutkan ketika kami melewati sebuah tanjakan permasalahan. Ketika kami bersama-sama merendahkan diri di hadapan Tuhan, kami merasakan bahwa Tuhan sanggup melembutkan hati kami. Bukan lagi ego seorang suami, bukan juga ego seorang isteri tetapi ada Hati yang sedang ditaruh dalam hati kami. seperti ada yang diperbarui ketika kami datang bersama-sama dalam setiap doa pergumulan kami. Ketika kami dihadapkan pada satu pergumulan pada pergumulan yang lain, Tuhan membawa keterbatasan hati dan pikiran kami dalam doa. Kami sering membiasakan saling menggenggam jemari tangan kami, dan ketika mulut kami menaikkan doa permohon dengan segala keluhan yang tak terucapkan, hadirat Tuhan turun menyentuh hati kami yang terdalam. Saya dan suami menyadari bahwa apapun keadaan hati kami, Tuhan sanggup dan selalu menghendaki kami selalu membawa dua hati kami dalam satu doa. Puji Tuhan kekuatan doa ini selalu mengawali kami dalam melangkah dengan segala aktivitas kami. Kita memang harus merencanakan setiap langkah pekerjaan atau aktivitas kita setiap hari. Dan ketika kita membawa segala rencana kita sepanjang hari itu dan minta pimpinan Tuhan, kita jadi semakin menyadari bahwa setiap langkah kita dan setiap pekerjaan tangan yang kita jumpai sepanjang hari itu penuh dengan berkat Tuhan. Keberhasilan, sukacita, hikmat dalam mengambil keputusan , semua Tuhan sediakan sepanjang hari yang kita lewati. Peluk pasanganmu dan datanglah bersama dalam doa disitulah keajaiban rumah tangga akan kita rasakan dari hari kesehari. Tak perlu malu dengan anak-anak kita, ketika kemesraan kita dilihat anak-anak ketika kita sedang berdoa bersama. Disitulah mereka melihat contoh nyata, dan mereka merasakan bahwa kasih sayang di dalam rumah ini semata-mata karena Kasih Karunia Tuhan. Sediakan waktu-waktu khusus dimana kita bisa sharing sama anak-anak, mendengarkan setiap cerita mereka dan segala harapan mereka. Bersimpuh bersama dalam doa dan membawa setiap harapan mereka. Anak-anak menjadi semakin merasakan arti kehadiran kita ketika kita juga hadir dalam doa mereka. My Family Is My Home And My Pray. 

My Girl (Part 1)

0 0

#sarapan kata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata532

#day6

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@

 

Satu persatu doa kami dijawab. Dan kehadiranmu adalah salah satu anugerah terindah dalam rumah tangga kami. Seorang gadis kecil yang manis lahir pagi itu. Seperti rasanya hari itu menjadi hari yang baru, seorang malaikat kecil menjadi hadiah dalam tahun kedua pernikahan kami. Dinie, ya nama itu yang kami berikan untuk gadis pertama kami. entah sudah lama senang dengan nama itu. Tepat pukul 07.15 putri kami lahir. Puji Tuhan persalinan normal dan kami lalui dengan luar biasa. Sebuah keajaiban hadir dalam pernikahan kami. Sejak hari itu serasa kami juga terlahir kembali, kami seperti menemukan masa kecil kami lagi. Setiap hari selalu ada yang baru ketika kami melihat pertumbuhan putri kami. Hari berganti hari, tahun berganti tahun dan putri kecil kami mulai minta untuk sekolah. Sejak hari pertama dia di PAUD sudah mau ditinggal. Dia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dan kami sangat bersyukur untuk itu. Sepulang dari sekolah selalu dia menceritakan segala hal yang dia alami di sekolah. Dan kami menikmati setiap cerita yang dia bawa dari sekolah. Dan kami selalu menantikan cerita cerita barunya setiap hari. Guru yang sabar dan teman teman yang menyenangkan selalu dia ceritakan. Hari lepas hari dan kami melihat Dinie sangat menikmati hari-hari nya di PAUD. Dia punya cerita yang akan dia bawa sampai dewasa kelak. Masa dimana menemukan dunia barunya di luar rumah. Setiap tingkah lucunya selalu membuat kami tersenyum dan bangga. Cinta dan kasih sayang dalam rumah tambah kami semakin bertambah bahkan Tuhan lipatkan. Si kecil Dinie mengajarkan saya dan suami artinya menyayangi setelah mencintai. Dua tahun dia lewati di TK PAUD dan usia 6 tahun dia beranjak masuk SD. Saya dan suami sepakat untuk memilih sekolah yang terbaik untuk anak kami. dan ternyata diapun punya pilihan yang sama dengan kami. Awal yang indah bagi kami selanjutnya, karena 6 tahun akan Dinie lewati di SD. Masa dimana dia akan ketemu dengan dunia luar yang lebih luas. Dan akan ada banyak teman yang akan mewarnai hari-harinya 6 tahun kedepan. Tak terasa dia sudah kelas 5 saat ini. Dinie tumbuh dengan segala bakat dan hobbynya. Dia suka mendengarkan musik dan bernyanyi. Dia juga suka menggambar, sepertinya ada hobby dan bakat yang turun dari gen papanya. Suami yang bakat melukis sepertinya turun jadi hobby putri kami. Sering saya takjub melihat dia bisa menirukan setiap gambar yang dia cari di internet sebagai tugas Art sekolahnya, atau pas iseng saja dia pengen menggambar. Di sekolah dia juga mendapatkan pelajaran Lifeskill, jadi anak-anak diajarkan untuk mandiri dan belajar membantu orang tua di rumah. Dengan pelajaran ini kami melihat anak kami semakin mandiri di rumah dengan usianya yang sekarang saya dan suami melihat Dinie kami yang sekarang tumbuh dewasa dan semakin mandiri. Bangga bangga dan bangga rasanya. Banyak hal yang Dinie ajarkan pada kami. “Ma, kalau mau tidur itu jangan meninggalkan piring kotor ma”, katanya. Bener juga pikir saya heeee, kadang cletukan cletukan spontannya itu banyak mengingatkan saya. Kadang waktu malam memang waktu enak-anaknya kita istirahat, dapat bantal itu rasanya seperti dapat yang paling nyaman saat mengakhiri hari padahal masih ada hal-hal yang saya sebagai seorang ibu harus selesaikan atau siapkan untuk hari esok. Sehingga hari esok kami tidak terburu-buru dalam memulai aktivitas kami. Sebuah pelajaran seumur hidup dari gadis kecilku. Makasih sayang…..

My Girl (Part 2)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata565

#day7

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@@@

 

Kini Dinie sudah tumbuh menjadi gadis yang beranjak remaja. Dia sudah mulai mengerti apa tugasnya di rumah. Kalau mama papanya lagi repot dia tahu apa yang harus dilakukan. Semua masih berproses, masih sekitar 2 tahun lagi Kakak biasanya kami panggil Dinie menikmati masa-masa di SD. Saya dan suami memang belum mengijinkan anak kami memiliki handphone sendiri, meskipun sering kali kadang dia meminta. Namun setiap kali kami berikan pengertian dia memahami. “Ma, aku mbok dibeliin HP. Aku kan pelajarannya sudah pakai HP ma”, rayunya sambil mencari alasan yang tepat. “2 tahun lagi kak”, jawabku “Lah lamamen”, dia merasa itu kelamaan. “Kakak mulai nabung dulu, nanti kakak bisa beli HP pakai uang tabungan Kakak”, aku mulai menasehati. “Ok ma. Tapi bener SMP ya aku beli HP” “Kalau Kakak dah mulai tanggung jawab sama tugas-tugas Kakak dan bisa ngatur dan nahan diri kapan waktunya pakai HP, Mama sama Papa ijinin Kakak beli HP sendiri. Tapi kalau belum, Kakak harus belajar dulu ngatur diri” Dia terdiam agak lama sambil memikirkan apa yang Mamanya bilang. “Ok ma nanti kalau aku belum bisa ngatur waktu gimana?” “Ya Kakak harus belajar mulai dari sekarang, nanti lama-lama juga akan terbiasa” “Iya ma, nanti aku mau nabung buat beli HP sendiri” “Sip ok Kak, Kakak pasti bisa” Kakak mulai bisa menahan setiap keinginan-keinginannya, meskipun kadang dia mencoba merayu supaya lebih cepat beli HPnya. Namun itu hanya keinginan sementaranya. Saya dan suami memang sepakat untuk hal ini, karena kami merasa jika di usianya sekarang dia sudah memegang HP maka dia belum bisa menyaring dan memilah apapun konten yang dia bisa searching di HP. HP memang fasilitas luar biasa yang mendukung dalam kehidupan kita, termasuk pembelajaran. Namun pembelajaran akan tetap berjalan bahkan anak akan lebih fokus jika tidak menjadikan hp sebagai media utama. Semua tetap akan kembali pada sumbernya yaitu didikan orang tua dan bimbingan guru. Handphone adalah fasilitas kemudahan selain tetap harus kembali pada buku. Dengan anak membaca buku, menuliskan kembali apa yang di abaca akan lebih mempertajam setiap ilmu yang dia dapat. Dan kami bersyukur Kakak mengerti dan mau menerima nasehat kami akan hal ini. Satu hal lagi yang membuat kami bersyukur, Kakak sepakat dengan nasehat kami tentang hal mendasar seperti belum waktunya punya HP sendiri. Dia berhak menikmati setiap hal yang ada di dunia nyata di sekitarnya, bukannya berselancar ke dunia maya yang mungkin memang bisa membawa dia pergi kemana-mana dan mencari semua yang dia mau tapi bukan yang dia butuhkan. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” Matius 7:7 Ada sebuah keinginan dan ada sebuah kebutuhan. Hal ini lah yang akan kami ajarkan untuk Kakak. Kalau kita tahu mana keinginan kita dan mana kebutuhan kita. Maka kita akan bisa memprioritaskan mana dulu yang akan kita lakukan, atau mana dulu yang akan kita beli misalkan. Ini tidak hanya semata-mata kami ajarkan pada Kakak, tapi secara tidak langsung ini mengajarkan pada hidup kami sendiri dalam menjalani rumah tangga kami dari hari kesehari. Dan ketika saya dan suami sepakat akan suatu hal, kami merasakan ada kemenangan demi kemenangan yang kami terima setiap hari. Bukan berarti setiap keinginan kami terjawab dan diberikan oleh Tuhan, namun kami tidak hanya merasakan dan melihat bahwa apa yang menjadi kebutuhan utama dalam rumah tangga kami di waktu itu Tuhan penuhkan. Tuhan memahami setiap keinginan dan kebutuhan kita. Namun Tuhan memberikan kebutuhan kita terlebih dahulu disaat Nya yang tepat.

My Girl (Part 3)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata569

#day8

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@@@@@@@@@@@

 

Satu hal yang Dinie suka saat ini adalah melihat konten inspiratifnya Jerome Polin. Seorang youtuber muda yang berhasil menginspirasi banyak remaja dan anak muda sekarang. Perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa kuliah Matematika di Jepang membuat Dinie juga suka dengan vlog dan konten youtube serta ig nya. Saya tidak tahu awalnya dia kok mulai suka dengan vlog Jerome itu. Tapi satu hal saya percaya, anak-anak kita akan menemukan dunia dan kesukaan nya secara alami. Selama apa yang dia lihat itu memotivasi dan menginspirasi, kami akan ijinkan mereka mengikuti konten tersebut. Banyak hal positif yang saya lihat dari Kakak. Dia lebih semangat dalam belajar dan dia semakin tanggung jawab terhadap tugas sekolahnya. Biasanya saya memang menasehati dia, boleh Kakak lihat youtube tapi Kakak selesaikan dulu tugas utama Kakak. Saya meminta dia membuat To Do List, apa saja tugas atau hal yang harus dia selesaikan sebelum dia melihat youtube. Semakin hari dia mulai bisa menata dirinya, waktunya dan segala tugasnya sendiri tanpa harus nunggu perintah mama papanya. Great Job My Girl. Kak Dinie sekarang punya dua adik, satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Kakak selalu bisa diandalkan oleh mama dan papa. “Kak, adik diambilin makan disuap ya !”, sering saya minta tolong padanya. “Iya ma, selesai makan nanti adik tak suapin”, jawabnya sambil senyum. Satu hal lagi dari pelajaran Lifeskill di sekolah, dia mulai belajar mandiri untuk menyiapkan makannya sendiri. Dari mulai menanak nasi dan memasak makanan-makanan yang sederhana. Kalau pas mamanya repot, Kakak sudah mulai mengerti harus ngapain. Bahan telur, ayam, sosis, nugget, bakso, tahu dan tempe selalu menjadi bahan dasar yang mudah untuk dia masak. “Ma, ayamnya tak goreng crispy ya?”, salah satu kesukaannya. “Ok kak, adik jangan dibumbu pedas ya”, karena kadang dia membumbui yang spicy. Chef kecilku sudah bisa membuat adiknya senang kalau sedang masakin adiknya nasi goreng. Salah satu menu favorit semua. Satu hal yang memang perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita adalah dia mulai kita ajari hal sederhana dalam menyiapkan menu makan mereka walaupun sederhana. Kita bisa sediakan beberapa bahan makanan di kulkas yang sudah dibumbui atau meracikkan bumbu dasar yang bisa mereka gunakan untuk memasak. Di SD Kakak, pelajaran lifeskill memasak sudah mulai diajarkan di kelas 4. Lifeskill memasak secara tidak langsung menambah kepercayaan diri pada si anak. Dia menjadi percaya diri bahwa makanan sesederhana apapun yang bisa dia siapkan sendiri untuk menu makan bisa menyenangkan dirinya sendiri bahkan anggota keluarganya di rumah. Apresiasi dan pujian untuk mereka bisa jadi penyemangat mereka, dan mereka jadi love cooking. Pengalaman dan eksperimen sehari-hari di rumah yang menyenangkan. With cooking they say their love. Cooking Challenge From My Girl. Berawal dari kesukaannya makan steak. Kakak meminta saya memasak salah satu makanan favoritnya itu. “Ma, masakin steak ma”, pintanya pagi itu. “Lah, mama belum pernah bikin kak” “Tak cariin bahan sama resepnya ma”. Dengan semangat dia terus merayu mamanya. “Yaw dah coba dicari di internet. Apa saja bahannya?” “Ok ma”. Langsung dia mencari bahan dan resep steak lalu menuliskannya dikertas. “Ok ok kak bentar nanti kita beli ya”, sambil saya bersiap. Setelah itu kami belanja bahan bersama ke pasar. Selesai mendapatkan semua bahan kami mulai memasaknya sesuai langkah yang ada di salah satu tutorial memasak steak di youtube. Sambil dia membantu, mukanya dah berseri menunggu steak kesukaannya pertama kali dicoba dimasak sendiri di rumah. “Tolong ambilin mama wortel, kentang, buncis ya kak!”, eksperimen dimulai. “Tolong ayamnya dicuci ya kak!.". Sambil kuajak dia ikut membantu sambil dia membacakan langkah-langkah memasaknya.

My Girl (Part 4)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata511

#day9

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@@@@@@@@@@@@

 

             Wajahnya seperti tidak sabar menunggu steaknya matang. Untuk pertama kami kami mencoba masak menu ini, biasanya kami beli. Dinie membuatku yakin aja dengan apa yang pertama kali kami masak. Akhirnya racikan bumbu kuah saus steaknya pun juga jadi. Ayam yang sudah di filletpun sudah digoreng crispy dengan terbalur kocokan telur dan tepung. Potongan wortel, kentang, dan buncispun sudah terkukus dan siap diplating. Semakin dia nggak sabar ketika saya suruh menata perpaduan ayam, sayur, dan kuah saus nya di piring. “Yummy steak ala Mama dan Dinie.”, soraknya kegirangan. “Mantap Kak.”, sahutku tak kalah senangnya. Puji Tuhan hari itu menjadi cooking time yang menyenangkan dengan gadisku. Me time dengan anak kita bisa juga kita lakukan di dapur. Memasak menu makanan yang dia suka dan mengajak dia menyiapkan segala sesuatunya. Alhasil rasa puas dan Bahagia mengalir dengan sendirinya. We Can Show Our Love With Cooking. “Wow, enak Ma steaknya.”, katanya setelah menikmati suapan pertama. Betapa senangnya hati saya melihat dia suka dengan masakan steak perdana buatan mamanya. “Ehhhm yummy.”. Sayapun sangat menikmati suapan pertama saya. Dan benar-benar happy, ternyata kami berhasil dengan eksperimen pertama kami memasak makanan favorit Kakak. “Wah enak ma nanti kapan-kapan kalau pengen lagi masakin lagi ya ma”, ucapnya sambil menikmati setiap suapan sampai kuah saus di piringnya bersih heee. “Sip sayang, asal Kakak bantu pasti steaknya jadi enak.” “Asyik ok ma” Sejak saat itu sekali waktu dia minta dibikinin lagi. Dan saat dia ulang tahun, menu yang kita bagikan dengan teman-teman sekelasnya juga steak. Salah satu menu yang selalu masih jadi favorit di moment-moment special. Nikmatnya iya, bahagianya pasti. Pernah suatu waktu Kakak bilang, nanti kalau besar dia pengen punya usaha steak. Mimpi seorang anak kecil yang aku iyakan dalam hati. “Ma, aku kalau besar mau buka usaha steak Ma.” “Wah nanti Kakak makan terus dong.”, godaku. “Kan aku ingin yang beli seneng Ma kalau makan enak.” “Sip sip disimpan resepnya ya. Nanti kapan-kapan kita masak lagi. Biar tahu kira-kira apa yang masih kurang” “Ok Ma, makasih ya Ma.”. Dia sambil memelukku. “Ini senua karena tantangan yang Kakak berikan, akhirnya kita bisa masak kesukaan kita sendiri. Tosh dulu….” Disitulah bahagianya seorang ibu. Saat kita bisa me time dengan anak-anak kita. Kadang memang perlu waktu khusus untuk kita bisa membuat mereka bahagia. Hal-hal sederhana bisa kita ciptakan di rumah. Melibatkan mereka dengan melakukan atau membuat sesuatu yang mereka suka. Kalau kita punya lebih dari satu anak, me time bisa kita lakukan bersama dengan semua anak kita. Namun untuk mengenal mereka lebih dekat dan menyelami hati dan perasaan mereka, kita butuh menyediakan me time dengan satu persatu anak kita. Kita butuh itu, merekapun lebih lagi membutuhkan waktu kita. Kita perlu belajar untuk membagi diri kita, waktu kita untuk orang-orang di rumah. Sambil berjalannnya waktu, mereka akan semakin dewasa dan kitapun semakin tua. Itu bukan pilihan tapi perjalanan yang memang akan lewati. Dan biarkan perjalanan kita bersama anak-anak kita membawa kebahagiaannya sendiri. Membawa kita dan anak-anak kita dari satu mimpi dan cita-cita hari esok. Membawa hari dan pengharapan baru setiap hari. My Family is My Home. Place Where I Will Always Go Home.

My Boy (Part 1)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata519

#day210

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@

 

Satu demi satu keajaiban ada dalam rumah tangga kami. Salah satu keajaiban terindah adalah lahirnya putera kedua kami. Masa kehamilan yang luar biasa, saya sempat harus dirawat di rumah sakit karena kondisi tubuh yang sempat lemah di masa kehamilan kedua ini. Ini sebenarnya adalah kehamilan saya yang ketiga, karena sebelumnya saya sempat hamil namun mengalami keguguran. Janin yang ada dalam rahim saya lemah dan setelah diperiksa oleh dokter ternyata saya mengalami keguguran. Puji Tuhan saya tidak harus operasi kiret. Opini dokter kedua menyatakan kalau untuk membersihkan rahim bisa dengan peluruhan obat. Dokter inilah yang juga memprogram untuk masa pemulihan rahim saya. Dokter Ronny namanya, beliau juga dengan komunikatif dan sabarnya memberikan pendampingan kepada saya dan suami untuk program kehamilan selanjutnya. Motivasi dan saran selalu beliau berikan. Menunggu sekitar satu setengah tahun hingga rahim saya kembali siap dan kuat. Akhirnya 2015 saya hamil dan 2016 putera kedua kami lahir. Sukacita yang luar biasa kami rasakan, karena dari hasil USG bayi yang saya kandung berjenis kelamin laki-laki. Rencana Tuhan indah kami rasakan dengan kelahiran putera kedua kami. Kami menamai putera kedua kami Miracle “ajaib” benar-benar ajaib Tuhan anugerahkan kepada kami seorang bayi laki-laki. Tidak seperti Kakaknya yang pertama, saya harus menjalani operasi cesar untuk persalinan yang kedua ini. Karena belum ada kontraksi beberapa hari sesudah HPL, maka dokter menyarankan untuk operasi cesar. Tidak pernah terlintas sebenarnya kalau saya harus operasi. Namun semua yang terbaik sudah Tuhan berikan, sampai masa persalinan saya merasakan tubuh yang sangant vit. Saya dan suami siap untuk menjalani proses ini, dan keesokan hari setelah saya kontrol dokter, saya menjalani operasi cesar kelahiran putera kami. Selama kurang lebih 6 jam saya menjalani operasi sampai siuman dari bius. Beberapa dokter dan perawat mendampingi proses persalinan saya. Karena biusnya bius lokal, maka saya sangat mendengar dengan jelas semua percakapan di kamar operasi tersebut. Seperti ada kekuatan luar biasa yang ada dalam diri saya, sungguh suatu keberanian yang bukan dari diri saya. Tuhan menopang saya, Tuhan seperti sedang bercakap dengan saya sepanjang operasi. Tak henti mulut saya berdoa, seperti ada banyak kata syukur yang ada di mulut bibir saya. Dalam hati terus aku bersyukur, semua ini adalah anugerah semata dariMu. Engkau yang memberi benih kasih ini melalui suami hamba. CaraMu sungguh sangat ajaib. Sampai terkadang kami tak sanggup menyelaminya. Sekitar dua jam operasi berjalan. Tepat jam 14.15 terdengarlah suara tangisan itu, tangisan putera kecil kami. Air mata ini mengalir tak hentinya. “Puji Tuhan terimakasih Tuhan Yesus.” Bayi kecil itu di taruh di dada saya, sambil inisiasi dini. Semakin saya menangis “ Ajaib Kau Tuhan.” “Selamat ibu, bayi laki-laki ibu sudah lahir dengan selamat.”. Dokter Ira mengucapkan selamat kepada saya. Begitu juga dengan dokter bius dan semua perawat yang ada, mereka memberikan senyum dan ucapan selamat kepada saya. Luar biasa proses persalinan ini Tuhan memberikan dokter dan perawat yang luar biasa sabar dan baiknya. Tuhan Dokter Yang Ajaib. Kehadirannya sangat nyata saya rasakan di ruang operasi saat itu. Dokter dan perawat menyelasaikan merapikan bekas operasi cesar saya. Dan bayi kecil saya dibawa di ruang perawatan bayi dan ditunjukkan kepada suami dan kakung yangtinya. Sukacita mereka semakin bertambah melihat jagoan kecil itu lahir.

My Boy (Part 2)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata533

#day11

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@

 

Hari Jumat operasinya dan hari Senin berikutnya saya sudah bisa pulang. Pasca operasi saya harus banyak belajar, mulai dari tidur miring, duduk, berdiri, dan berjalan secara perlahan. Terkadang saya sampai menangis menahan nyeri. Namun dokter selalu menyemangati semakin saya berlatih dan melakukan gerakan yang disarankan maka semakin cepat proses pemulihannya. Senang rasanya waktu pulang pun tiba dan saya sudah bisa berjalan dengan kuat sampai masuk mobil di parkiran. Rumah kami menjadi semakin berwana dengan hadirnya si kecil. Kakaknya yang sudah mau masuk SD saat itu juga sangat antusias dengan kelahiran adik laki-lakinya. Alarm saya pun seperti tersetting ulang. Ada kebiasaan-kebiasaan baru yang harus saya lakukan. Dulu cuma ngurus keperluan Papa sama Kakanya, sekarang tambah satu lagi yang jadi pusat perhatian. Si kecil sangat kuat minum ASI nya karena cowok. Dan ia tumbuh menjadi jagoan kecil sehat dan menggemaskan. Tahun berganti tahun. Saat Miracle berusia tiga setengah tahun, dia mulai minta untuk sekolah. Masih sangat teringat betul bagaimana ia merengek meminta diantar ke sekolah. “Ma, aku dah besar. Aku mau sekolah.” pintanya. “Besok Mama antar ya, tapi nggak boleh nakal ya di sekolah” “Iya ma, aku besok nggak usah ditunggu. Aku berani sekolah sendiri.” Dengan mantap dia menjawab. “Sip oke, Mama siapin buat sekolah besok ya.” Itulah awal dia mulai mengenal dunia luar. Mulai bersosialisasi dengan banyak teman di sekolah. Bersyukur mulai anak kami yang pertama, ada Bapak dan ibu yang dengan sabar momong anak-anak kami. Anak-anak biasa memanggil Bapak dan Ibu pada beliau berdua. Anak-anak punya rezekinya sendiri. Bisa dimomong oleh orang yang begitu penyayang dan penyabar merupakan rezeki bagi keluarga kami. Kurang lebih sudah sudah 7 tahun sejak kami tinggal mandiri, Bapak dan Ibu selalu ada buat kami. Apa yang menjadi kerepotan kami, mereka berdua selalu mendampingi kami. Kami bisa mandiri sampai saat ini semua juga karena kasih sayang keluarga mereka. Saya dan suami menjadi lebih tenang ketika bekerja. Anak-anak sangat nyaman dan senang ketika berada di rumah Bapak dan Ibu. Dan oraang-orang baik selalu Tuhan tempatkan di lingkungan rumah tangga kami. Miracle belajar di TK sekitar 2,5 tahun. Ia sekolah sama seperti Kakaknya dulu. Guru-guru yang sabar dan penyayang ada di sekitar anak kami di sekolah. Ada Pak Harno, Bu Purwanti, dan Bu Ayuk. Rasanya benar-benar keluarga kami dikelilingi orang-orang baik. Kami tidak bisa mendidik anak-anak kami sendiri. Mereka butuh dibimbing di sekolah formal. Dan Miracle sangat menikmati hari-harinya di TK. Di usianya yang hampir 6 tahun, Miracle mulai mendapatkan pelajaran tambahan membaca. Sehingga dia harus berangkat lebih awal. “Ma, aku nanti sekolahnya bareng Kakak kan Ma?”, tanyanya. “Ya nanti kalau Mas sudah bisa membaca kita daftar ke sekolah Kakak ya.”, jawab saya sambil menepuk bahunya. “Nanti ditanya sama Miss e di sekolah Kakak ya Ma?” “Makane sekarang Mas belajar baca yang rajin dulu. Nanti kalau sudah lancer kita ke sekolah Kakak oke” “Oke ma, aku dah janjian sama teman-teman kok nanti sekolah nya di SD yang sama lagi.” “Sip Mas pasti bisa. Semangat ya Mas” Seminggu dua kali Miracle berangkat lebih awal untuk ikut jam tambahan membaca. Dan Puji Tuhan dia sangat semangat. Setiap kali dapat PR untuk dibaca, dia selalu ambil sendiri PRnya dan membaca dengan keras. Meminta Mama atau Papanya melihat dan mendengarkan sudah benar belum dia bacanya.

My Boy (Part 3)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata520

#day12

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@

 

Semangatnya luar biasa sama seperti Kakaknya dulu ketika mau masuk SD dia juga semangat belajar membacanya. Tuhan memberikan kepada anak-anak kita keunikan dalam mereka belajar. Apapun medianya media dan bagaimanapun gaya belajar mereka, akan selalu ada titik dimana mereka naik level dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa mejadi semakin terampil. Yang mereka butuhkan dari kita sebagai orang tua adalah waktu kita. Mereka akan semakin nyaman dalam belajar kalau kita punya waktu khusus untuk menemani mereka belajar. Menemani anak belajar merupakan salah satu quality time yang bisa lakukan bersama anak kita setiap hari. Like Parent Like Teacher At Home. Like Teacher Like Parent At School. Sehingga masa tumbuh kembang anak menjadi utuh karena ada orang tua yang mendidik mereka di rumah, dan ada guru yang menyayangi mereka di sekolah layaknya orang tua mereka. Baik di sekolah maupun di rumah suasana belajar itu tetap tercipta untuk anak-anak kita. Miracle sudah mulai belajar membantu kalau di rumah. Membuang sampah, membantu Kakak menjemur, menyalakan lampu, ataupun membuka jendela kalau pagi. Hal kecil kalau terus dibiasakan bisa membentuk rasa tanggung jawab pada diri anak sejak usia dini. Anak perempuan atau anak laki-laki perlu dilatih untuk mandiri mulai dari kecil. Ketika mereka sudah mulai masuk masa sekolah, mereka sudah punya rasa tanggung jawab akan apa yang menjadi tugasnya. Kalau di sekolah Miracle biasa mendapatkan bintang atau Good Job sebagai apresiasi guru terhadap setiap hal posistif yang anak-anak lakukan. Sehingga secara tidak langsung anak menjadi semangat untuk mempertahankan kebiasaan baik itu di hari-hari selanjutnya. Sepertinya hal seperti itu perlu kita terapkan juga di rumah sebagai orang tua. Pujian pasti akan kita berikan kepada anak kita jika mereka melakukan suatu hal baik dan hebat di rumah. Namun anak akan lebih termotivasi untuk terus melakukannya jika ada tanda apresiasi juga di rumah. Ayah Bunda mungkin bisa sediakan Love atau Star untuk anak-anak. Semakin banyak Love atau Star terkumpul, Ayah Bunda bisa berikan suatu hadiah kepada mereka. Tidak semata-mata itu sebagai imbalan atas hal baik dan kehebatan mereka. Namun hal ini menjadi suatu pembelajaran kepada anak untuk konsisten dalam melakukan suatu hal baik dan hebat setiap hari. Suatu hal baik akan melekat pada diri seseorang jika dilakukan secara terus menerus. Bisa dilatihkan pada anak bahwa selama seminggu ini anak harus membuka jendela setiap hari. Satu atau dua hal dulu yang kita biasakan setiap minggu sesuai kemampuan di usia mereka. Di minggu kemudian kita akan melihat itu sebagai kebiasan baik mereka. Ayah Bunda juga bisa melibatkan anak-anak dalam menentukan hal apa yang akan mereka bisasakan di minggu itu. Sehingga anak-anak merasakan bahwa hal itu bukan sebuah paksaan namun hal menyenangkan yang tetap menyenangkan jika dilakukan setiap hari. Terbiasa bangun pagi di jam yang sama setiap hari juga merupakan hal menyenangkan yang bisa kita lakukan bersama anak-anak kita ya Ayah Bunda. Anak akan banyak melakukan apa yang kita lakukan. Anak akan sedikit melakukan apa yang kita ucapkan. Jadi teladan kita setiap hari adalah didikan yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita. Dan itu merupakan investasi buat mereka di masa yang akan datang. “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Amsal 29:17

My Little Girl (Part 1)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata522

#day13

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@

 

Mikhayla melengkapi kebahagiaan keluarga kami. Puteri kecil kami juga lahir cesar karena riwayat persalinan sebelumnya yang juga cesar dan jarak dengan yang ketiga ini sekitar dua tahunan. Jadi Dokter Onny menyarankan yang terbaik untuk saya menjalani operasi cesar kembali. Saya dan suami juga sepakat untuk sekalian steril setelah persalinan yang ketiga ini. Jadi sekalian tindakan waktu cesar maka Dokter melakukan sterilisasi pada ovarium saya. Seperti diberikan keberanian dan kesiapan hati yang lebih dari persalinan yang kedua dulu. Dokter Onny sangat komunikatif dan kooperatif sejak awal pemeriksanaan kehamilan hingga menjelang hari persalinan ini. Masih sangat ingat betul saya ditemani Kakak setiap kali periksa ke klinik Dokter Onny. Sekitar tiga puluh menit dari rumah dan kami harus datang lebih awal kalau mau mendapat antrian awal. Maka saya dan Kakak selalu semangat setiap kali mau berangkat kontrol supaya dapat antrian awal. Biasanya Kakak minta ditraktir makan kalau pulang dari kontrol. Semangat Kakak menyambut adik kecilnya sudah terlihat setiap kali mengantar Mamanya kontrol. Kedekatan emosial mereka sudah terbangun sejak adiknya ada dalam kandungan Mamanya. Menjelang hari perkiraan HPL saya kembali periksa ke Dokter Onny dan diberikan surat rekomendasi untuk memilih hari tindakan operasi. Maka dipilihlah hari yang menurut kami sekeluarga tepat dan baik. Tanggal 17 Agustus menjadi pilihan terbaik buat operasi persalinannya. “Karena setelah pemeriksaan yang terakhir ini semua sehat dan tidak ada keluhan pada ibu dan bayinya. Maka ibu bisa memilih tanggal dalam minggu depan.” kata Pak Dokter di akhir pemeriksaan. “Siap Dok terima kasih.” “Gimana ini juga ada Bapaknya milih di tanggal berapa sekalian ini saya buatkan surat rekomendasi untuk dibawa ke Rumah Sakit. Tapi Bapak Ibu telepon dulu satu dua hari sebelumnya untuk mengkonfirmasi kamar yang kosong yang bisa dipilih” “Baik Dok” sambil saya tersenyum pada suami memberi kode. Sepertinya apa yang suami pikirkan sama dengan apa yang menjadi pilihan saya. Karena kesiapan hati saya itu yang terpenting baginya. “Kalau tanggal 17 ini bisa ya Dok?” tanya saya. “Sebentar.” Kata Dokter sambil melihat jadwal di kalender beliau. “Bisa ibu, silahkan. Ada beberapa tindakan persalinan di tanggal tersebut. Silahkan ibu nanti datang tanggal 17 pagi. Ibu bisa puasa terlebih dahulu dari pagi. Sehingga waktu persiapan cukup menjelang operasi.” Puji Tuhan akhirnya hasil kontrol terakhir memantapkan saya dan suami untuk memilih tanggal tersebut. Tidak pernah kami perkirakan tanggal itu yang menjadi hari Bahagia kami. Namun melalui Dokter yang Tuhan pakai, tanggal itu menjadi hari terindah yang sudah Tuhan persiapkan untuk kami. “Terimakasih banyak Pak Dokter.” Ucap suami saya pada Dokter Onny “Siap Pak, semoga persalinannya lancar. Diberikan kemudahan dan sehat Mama dan Dedenya.” sambil beliau menjabat tangan saya dan suami dengan erat. Selain ramah, aura semangat dan perkataan positif beliau menjadi pendapingan psikologis tersendiri buat saya sebagai pasien. Beliau selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap pasiennya. Sehingga pasien dari semua kalangan menjadi senang dan puas setiap kali selesai kontrol. “Amin terimakasih Dok.” Kami sambil berpamitan. Selang berapa hari tibalah hari jadwal persalinan. Dan kami berangkat pagi-pagi benar saat itu. Kakung dan Yangti menemani persalinan saya. Kakakpun tidak mau kalah, “Ma, aku diijinkan bu Guru dulu ya” “Kok ijin?” tanya saya meyakinkan. Karena saya menebak hari sebelumnya sepertinya dia ingin menemani Mamanya di Rumah Sakit.

My Little Girl (Part 2)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata536

#day14

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@@@@@@@@@@

“Aku mau ikut ke Rumah Sakit. Nemeni Mama lahiran.” Sahutnya. Mata ini tak bisa menahan rasa haru mendengar kata-kata Kakak. Sambil menahan air mata saya kembali bertanya. “Nanti Kakak tidur mana? kan tempat tidurnya cuma satu?” “Aku nanti tidur sama Papa di bawah bawa tikar” Air mata itu tak terbendung sudah. Saya menangis sambil memeluk gadis hebat saya. Yang setiap kali ditanya dulu pengen jadi Dokter. Setelah saya bilang suami, akhirnya ia juga mengiyakan permintaan Kakak untuk ikut ke Rumah Sakit. “Oke kalau ikut, sekarang tidur dulu. Besok bangun pagi berangkat pagi oke” sambil mengusap kepalanya dan memintanya untuk beranjak naik ke tempat tidur. Keesokan harinya kami berangkat dari rumah sekitar pukul 04.30. Yangti ikut berangkat naik mobil. Kakung mengiring kami pakai sepeda motor. Dengan pertimbangan jika sewaktu-waktu akan pulang duluan, bisa pulang naik motor. Kesetiaan dan kehadiran Kakung Yangti dalam setiap moment hidup kami begitu berarti. Kasih sayang tiada batas selalu diberikan untuk kami. Sejak kami berumah tangga sampai dikarunai anak yang ketiga ini, nasehat dan wejangan beliau selalu menjadikan kami lebih bijak dalam mengambil setiap keputusan. Sekalipun kita sudah menjadi orang tua, kita masih sangat dan akan selalu membutuhkan nasehat dan wejangan Bapak, Ibu, Mertua, Kakek ataupun Nenek kita. Seperti terulang masa saat melahirkan Miracle. Berada di kamar operasi bersalin, tapi dengan Dokter yang berbeda dan Rumah Sakit yang berbeda. Namun orang-orang baik selalu ditempatkan Tuhan di sekeliling kita. Dokter dan perawat selalu memberikan support dan semangat selama operasi berlangsung. Karena bius yang diberikan adalah bius lokal, maka saya mendengar setiap percakapan Dokter dan perawat dalam ruang operasi. Saya selalu diberikan kode saat Dokter dan perawat hendak melakukan tindakan di suatu bagian dalam tubuh saya. Ini kali kedua saya operasi, Puji Tuhan ketenangan diberikan menjelang dan selama operasi. tepat rasa syukur yang tak terkira mengalir seperti derasnya air mata syukur mendengar pertama kali suara tangisan Mikhayla. Ya, nama itu yang kami berikan untuk puteri kecil kami. Benih cinta yang Tuhan karuniakan melalui suami saya adalah Kasih Karunia yang menjadi hadiah untuk pernikahan kami yang ke delapan. Dokter dan perawat melanjutkan untuk tindakan sterilisasi seperti sudah kami sepakati di awal. Saya berserah penuh pada Tuhan. Keputusan ini adalah keputusan seumur hidup dalam rumah tangga kami. Semua semata-mata Kasih Karunia Tuhan. Si kecil Mikhayla dibawa ke ruang perawatan bayi dan ditunjuukan kepada suami dan keluarga yang menunggu di luar. Getaran kebahagiaan itu saya rasakan sampai dalam ruang operasi. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Kebahagiaan saya juga kebahagiaan mereka. Selesai operasi saya harus menunggu sekitar lima jam untuk pulih dari obat bius. Kaki yang terasa sangat berat dan kaku perlahan mulai bisa digerakkan. Dan sekitar lima jam kemudian saya sudah bisa kembali ke kamar perawatan. “Mama….” teriak Kakak saat melihat saya keluar dari ruang operasi. Kesetiaan dan semangat Dokter kecilku menjadi kekuatan tersendiri bagi saya. “Adiknya cantik Ma, aku dah lihat.” sahutnya kegirangan. “Puji Tuhan sayang makasih ya” Papa mengusap dan mengecup kening saya dengan air mata yang tertahan. “Selamat ya sayang” Yangti dan Kakung mengucapkan selamat. Mereka selalu ada menemani dalam setiap moment dalam hidup saya. Kasih sayang yang tak pernah lekang oleh waktu. Bahkan kasih sayang itu bertambah dan mengalir untuk anak-anak kami. Kasih yang selalu menopang saya sehingga saya bisa ada hingga saat ini.

My Little Girl (Part 3)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata540

#day15

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

 

Rumah Sakit Ibu dan Anak ini memberikan perawatan khusus untuk bayi. Jika ibu hendak menyusui anaknya. Ibu harus berusaha untuk belajar berjalan dan memberikan ASI kepada bayinya di ruang perawatan anak. Sekitar tiga hari setelah persalinan saya diijinkan pulang. Masa pemulihan yang luar biasa, perlu lebih banyak latihan. Namun kebahagiaan yang diberikan kepada keluarga kami menjadi kekuatan dan semangat yang luar biasa. Saya dikuatkan dan bisa melewati masa pemulihan ini. Kakung dan Yangti pulang terlebih dahulu. Beliau berdua menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut Mikha di rumah. Sesampai kami di rumah, “Selamat datang sayang.” Sambut Yangti dan Kakung. Kami benar-benar tidak menyangka mereka menyiapkan kejutan untuk menyambut anak kami. “Wow…..Tempat tidurnya baru.” sahut saya terkejut ketika masuk kamar. Ternyata Kakung dan Yangti sudah menyiapkan sebuah tempat tidur yang baru untuk kami. “Bagus sekali…Makasih ya Kung Yangti.” Betapa senangnya kami dengan kejutan yang diberikan untuk kami. Hari demi hari rumah kami menjadi semakin ramai dengan hadirnya ketiga anak kami. Selama suami bekerja, Kakung Yangti selalu menemani saya mengurus anak-anak. Anak-anak tumbuh sehat dan menjadi anak-anak yang ceria. Semua berkat kasih sayang yang selalu diberikan untuk kami. Anak-anak mulai belajar mandiri, begitupun juga saya. Selalu ada saja ucapan mereka yang menyentuh hati saya. Satu hal yang berarti bagi anak adalah kita selalu menyediakan waktu buat mereka, ada di samping mereka, dan mendengarkan apa yang mereka ucapkan. Tidak cukup mendengar tapi mendengarkan mereka. Sehingga sampai besar nanti, anak-anak kita juga akan terus belajar untuk mendengarkan dan memperhatikan orang lain. Tahun ini Mikha akan genap berusia 4 tahun. Dia sudah minta sekolah bareng Mas Racle. Mikha sangat semangat setiap kali mau berangkat sekolah. Dari awal pertama masuk ke sekolah, Mikha juga sudah langsung mau ditinggal. Puji Tuhan masa awal sekolah ketiga anak kami sudah sangat mandiri. Sehingga kami tenang saat bekerja. Bangga rasanya bisa terus bertumbuh bersama mereka. Saya dan suami merasa bahagia bisa terus mendampingi anak-anak bersama. Meskipun suami di luar kota, tapi kehadirannya buat anak-anak sangat dekat. Kasih sayang dan kerinduan mereka pada Papanya selalu menjadi pengikat dalam rumah tangga kami. “Pa,kapan pulang?” ucap Mikha saat di telepon Papanya. “Ya doain kerjaan Papa cepat selesai, trus Papa bisa pulang ya.” jawab Papa. “Berapa hari lagi?” sahut Masnya yang ada di sampingnya. “Berapa hari lagi coba?” “Kamis, Jumat, Sabtu. Tiga hari lagi ya.” Racle sambil menghitung hari dengan jarinya. “Ok, tiga hari lagi ya. Sip. Semangat sekolahnya ya, biar Papa Mama juga tambah semangat kerjanya. Tosh.” “Iya sayang.” Mikha menggoda Mamanya yang sering memanggil Papanya dengan sayang. Akhir minggu menjadi hari yang selalu kami nantikan. Bisa berkumpul satu dua hari bersama itu menjadi hal berharga bagi keluarga kami. Semasa pandemi awal, kami belum bisa beribadah bersama ke Gereja. Namun selama itu Tuhan menguatkan pondasi keluarga kami kembali. Kami selalu menyediakan waktu untuk beribadah bersama di rumah. Kami menyanyi memuji Tuhan, membaca Alkitab, dan saling mendoakan. Dan awal tahun ini semua jawaban doa kami satu persatu di jawab Tuhan. Saya dan suami bisa kembali beribadah. Anak-anak juga sudah bisa menikmati ibadah anak mereka bersama teman-temannya. Kita semua berdoa semoga masa pandemi ini bisa kita lewati bersama. Dan generasi yang bisa melewati masa pandemi ini akan menjadi generasi pemenang. Amin. “Karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.” ? Amsal 23 : 18 ?

My Sister (Part 1)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata619

#day16

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

 

Sekitar tiga puluh tahun kami tumbuh bersama. Masa kecil yang sangat menyenangkan bagi kami bertiga. Saya mempunyai dua adik perempuan. Selisih usia kami sekitar tiga tahunan. Sejak kecil Ibu yang sudah hobby menjahit selalu membuatkan kami baju. Banyak foto lama di album rumah Ibu yang membawa kami pada kenangan masa kecil itu. Saya dan Nita, adik perempuan pertama saya selalu sekolah di tempat yang sama mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Banyak waktu dan moment yang kita lalui bersama hingga kami lulus kuliah. Dia mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa. Setelah lulus kuliah dia mengajar di salah satu Sekolah Luar Biasa di daerah dekat rumah. Satu pekerjaan yang membutuhkan ilmu khusus, dan kesabaran serta kasih sayang yang pastinya juga ekstra. Namun Tuhan memberikan dan melengkapi dia dengan talenta khusus untuk bisa mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus disana. Pernah dulu waktu SD kami mulai belajar berkreasi dan berwirausaha. Kami membuat tas dari kertas karton dan disampul kertas kado. Kami membuat banyak tas dan menjualnya pada teman-teman kami. Uang yang kami dapat kami kumpulkan untuk membeli bahan lagi dan lebihnya kami simpan. Terkadang kalau ingin beli sesuatu, kami tidak perlu meminta kepada orang tua. Kami beli dari uang hasil menjual tas tadi. Tas sederhana memang waktu itu. Namun ketika kami bisa membuat dan teman kami minat membeli, itu sudah menjadi kebanggan bagi kami. Saya dan Nita membuat kontrak kesepakatan di sebuah kertas dan ditandatangani berdua. Layaknya bisnis beneran heeeee. Sepertinya memang dari kecil dunia wirausaha sudah ada dalam diri kami. Kini Nita sudah punya usaha online baju jeans bersama suaminya. Puji Tuhan bisnis ini penuh berkat. Selalu kebanjiran order setiap harinya. Melayani pembelian grosir dan partai besar. Semua pengemasan paket dikerjakan dari rumah. Ada beberapa pegawai yang bekerja di rumahnya. Mulai dari admin, promosi, pengemasan, dan kurir akan mengambil barang yang akan siap dikirim. Satu hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya, Tuhan sediakan. Bangga rasanya melihat adik dan suami bisa mandiri, merintis dan menekuni usaha ini. Anak-anak tetap menjadi prioritas yang utama, karena semua pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Sewaktu kuliah kami pernah tinggal dalam satu kamar kos. Sama-sama satu Fakultas tapi beda gedung kampus. Menikmati masa awal saat dia masuk kuliah. Tahun 2003 saya sudah mulai kuliah. Tahun 2006 dia menyusul diterima kuliah di Universitas yang sama. Kami baru belajar mandiri dan tinggal agak jauh dari orang tua ketika kami kuliah. Seperti nasehat Ibu waktu kami SMA. “Kalau besok kuliah tidak usah jauh jauh. Solo atau Jogja saja.” nasehat ibu pada kami. “Ambil jurusannya terserah ya Bu?” tanya Nita. “Karena kalian perempuan. Kalau bisa kalian ambil jurusan Pendidikan.” Jawab Ibu. “Lah sama dengan ibu dong?” sahutku. “Ya kan Pendidikan banyak pilihannya. Nggak harus guru SD. Kalian bisa memilih jurusan yang kalian suka dan mampu.” tegas Ibu pada kami. Sejak awal orang tua kami sudah mengarahkan pada kami akan arah tujuan kami ke depan. Dan saat memilih jurusan saat pendaftaran kuliah, pilihan yang kami ambil selalu mengarah pada apa yang orang tua kami nasehatkan. Baik jurusan atau kampus yang kami daftar. Karena saat itu memang Solo dan Jogja yang menjadi dua daerah pilihan kami. Tuhan menuntun kami melalui orang tua kami. Ada banyak pilihan, tetapi Tuhan sediakan satu yang terbaik. Puji Tuhan Nita diterima di Solo di kampus yang sama dengan saya. Waktu kami SMA, setiap hari kebutuhan kami sudh disediakan orang tua. Ketika kuliah ini, kami mulai belajar mandiri. Mengatur waktu, uang, dan belajar kami sendiri. Sekali waktu orang tua kami datang ke kos untuk menjenguk kami atau membawakan sesuatu keperluan kami. Seminggu sekali biasanya kami pulang. Dan Senin pagi biasanya kami mulai berangkat kembali. Kami menikmati masa kuliah bersama hingga kami bisa lulus dan diwisuda. Setiap hari punya cerita, setiap hari mengajarkan kepada kami suatu pelajaran berharga.

My Sister (Part 2)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata537

#day17

#sarkatjadibuku

*****************************

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Adik perempuanku dikaruniai dua anak. Satu putera dan satu puteri. Untuk kehamilan keduanya barengan dengan kehamilan ketigaku. Tidak menyangka kalau anak kami akan lahir di bulan yang berdekatan. Anakku lahir bulan Agustus, dan anaknya lahir di bulan September. Sekarang mereka sepantaran, jadi nanti sekolah di TK dan SD pun akan bersamaan. Tuhan sudah atur semuanya. Dan Tuhan rencana yang indah buat keluarga besar kami. Kakung sudah terlebih dahulu dipanggil Tuhan saat anak kami berusia enam bulan. Namun kasih sayang Kakung terhadap cucu-cucunya sangat melekat. Kasih sayang Kakung Yangti yang senantiasa tercurah untuk anak-anak kami. Kesabaran dan didikan beliau selalu menjadi panutan buat anak-anak kami. Tidak berhenti sampai di sini. Tugas Kakung akan kami lanjutkan. Mendampingi anak-anak kami, menghantarkan mereka pada masa depan yang indah. Masa depan yang nyata sudah kami alami dan terima, saat Kakung dan Yangti juga mendidik dan menyayangi kami. Bersama Yangti, kami akan terus berdampingan mendidik anak-anak kami. Suatu saat kami akan berkumpul kembali, dan cucu-cucu akan menceritakan segala hal yang mereka lewati pada Kakungnya. Puji Tuhan Nita bisa mengajar di Sekolah Luar Biasa di daerah kami. Kami bisa mempunyai waktu yang berkualitas untuk anak-anak kami. Kami tetap dapat bekerja dan kami tetap bisa menjadi ibu rumah tangga, mendidik anak-anak, dan mendampingi suami kami. Meskipun kami sudah mandiri berkeluarga tetapi kami selalu saling melengkapi apa yang menjadi kerepotan masing-masing. Bersyukur juga ada yang ikut membantu momong anak-anak kami. Sehingga kami lebih tenang dalam bekerja. Ada banyak mimpi kami di masa kecil yang saat ini Tuhan jawab. Cita-cita dan mimpinya untuk merintis usaha. Bersama suaminya yang juga seorang guru, mereka dimampukan untuk mengembangkan usaha baju dari rumah. Sungguh talenta yang saling melengkapi antara suami dan isteri. Dalam sehari bisa ratusan bahkan ribuan paket yang dikirimkan baik ke konsumen atau pedagang yang hendak menjual kembali bajunya. Dan semua ada karena berkat dalam rumah tangga yang Tuhan senantiasa limpahkan untuk keluarga adik kami. Mereka adalah wanita-wanita hebat dalam hidupku. Ibuku dan dua adik perempuanku. Masa kecil kami akan selalu menjadi kenangan indah dalam perjalanan hidup kami. Bagaimana kasih sayang dan didikan orang tua kami akan kami teruskan untuk anak-anak kami. Bersama anak-anak kami, kami akan terus bertumbuh, kami akan terus belajar menjadi orang tua, kami akan belajar menjadi sahabat untuk mereka. Sehingga suatu saat mereka akan membawa dan menceritakan masa kecil mereka pada anak-anak mereka kelak. Anak-anak adalah kebanggaan orang tuanya. Begitu juga Kakung Yangti terhadap kami. Kakung Yangti selalu Bahagia melihat ketiga anak perempuannya mulai menapaki satu persatu tahap kedewasaan kami. Saat ada seorang pria yang hendak melamar kami, mereka selalu berpesan banyak terhadap kami. Memberikan wejangan dan nasehat yang tidak akan mungkin kami lupakan. Apa yang menjadi pilihan kami semuanya atas berkat doa restu orang tua kami. Kebahagiaan rumah tangga yang ada dalam rumah tangga kami semua berkat doa restu mereka. Sebuah perjalanan yang tentunya tidak mulus, namun semua pergumulan dalam rumah tangga kami selalu membawa kami dan pasangan kami menjadi lebih dewasa bersama. Kami dibentuk bersama, kami terus tumbuh bersama. Andaikan isteri gasnya, suami harus berfungsi sebagai remnya. Begitu juga sebaliknya, jika suami ibarat gasnya, isteri harus siaga sebagai remnya. Kami mengimani perjalanan rumah tangga ini akan membawa kepada masa depan yang indah. Masa depan yang pernah kami impikan dan doakan sejak kami kecil.

My Sister (Part 3)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata540

#day18

#sarkatjadibuku

***********

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@@@@@@@@@@@

 

Perjalanan kami masih panjang. Namun kami percaya tangan Tuhan akan selalu menuntun rumah tangga kami. Saling mengingatkan dan saling menopang. Teladan orang tua kami yang akan menjadi bekal dalam kehidupan kami. Terus belajar mengutamakan kebutuhan rumah tangga bukan keinginan kami. Sungguh Tuhan penuhkan apa yang menjadi kebutuhan keluarga kami tepat pada waktuNya. Kurang lebih sepuluh tahun kami berumah tangga, Tuhan selalu punya cara ajaib dalam memberkati rumah tangga kami. Bahkan ada banyak hal yang di luar nalar dan akal kami. Kami mempunyai whatsapp grup keluarga. Komunikasi selalu terjalin, saling menguatkan dan menyemangati satu sama lain. Bersyukur saat ini anak-anak kami sudah kembali bisa masuk sekolah. Setelah kurang lebih satu setengah tahun harus belajar mandiri di rumah karena pandemi yang sedang terjadi. Igo, anak pertama Nita kini sudah berada di kelas dua SD. Satu sekolah dengan anak pertama saya Dinie. Untuk hal menyekolahkan anak sepertinya kami juga kompak. SD yang kami pilih untuk anak-anak kami juga sama. Saya percaya semua tidak kebetulan tapi Tuhan menaruh hikmat yang sama bagi kami dalam mengarahkan pendidikan anak-anak kami. Saat sistem pendidikan mulai memberlakukan sistem zonasi, Tuhan sudah terlebih dahulu menyiapkan sekolah terdekat dan terbaik buat anak-anak kita. Bisa mengantar jemput mereka setiap hari merupakan anugerah yang luar biasa yang bisa kami nikmati setiap hari. Kami tetap bisa bekerja dan tetap bisa membagi waktu jeda kami untuk menjemput anak-anak kami. Orang tua tenang, anak-anak juga senang. Sederhana tetapi selalu dinanti, mengantar jemput sekolah. Bersyukur Tuhan juga memberikan kepada kami berkat sehingga Igo dan Dinie bisa les tambahan Bahasa Inggris di dekat rumah Yangti. Tempat les ini beberapa tahun yang lalu cuma ada di kota. Namun ketika anak-anak kami sudah SD dan membutuhkan les Bahasa Inggris tambahan, sudah ada tempat les yang sangat dekat dengan rumah kami dan rumah Yangti. Sekitar 200 meter dari rumah Yangti. Ini adalah kado dari Tuhan untuk anak-anak kami. Hari lepas hari kami melihat semangat, kemandirian, dan kedisiplinan dibentuk melalui les ini. Mereka dilatih untuk mengutamakan apa yang menjadi tugas mereka. Konsisten untuk menegerjakan satu tugas di waktu yang mereka sendiri tentukan. Banyak hal positif yang kami lihat pada anak-anak kami dengan mengikuti les ini. Disamping mereka semakin mandiri, mereka juga lebih fokus akan apa yang menjadi tugasnya setiap hari bahkan tugas di luar tugas sekolah dan les. Untuk membentuk kepribadian anak memang butuh konsistensi dan disiplin diri. Arahkan anak pada satu kegiatan yang mereka suka, dan kita akan melihat anak kita bertumbuh mandiri dan punya rasa tanggung jawab atas apa yang dia harus kerjakan. Melakukan hal yang konsisten setiap hari akan membentuk karakter dan kepribadian mereka. Igo dan Dinie kembali mengingatkan kami akan masa kecil kami.. Kekompakan kami dari kecil akan membawa kami dari satu mimpi-mimpi kami. Membangun sebuah mimpi dan harapan bersama suami dan anak-anak kami. Apa yang orang tua kami dulu penuhkan untuk kami, kini mengalir untuk anak-anak kami. Adikku adalah semangatku. Adikku adalah seorang yang selalu bersamaku menggapai mimpi di masa kecil kami. Bersamanya aku bisa menjadi dewasa. Bersamanya aku bisa belajar berbagi hingga hari ini. Menggapai sebuah cita dan harapan bersama. Kami masih akan selalu menjadi kecil di hadapan Tuhan. Iman seorang anak kecil yang percaya bahwa Bapanya pasti dan selalu menyediakan yang terbaik baginya. Apa yang dimintanya akan selalu Tuhan penuhkan, seturut waktu dan kehendakNya.

My Little Sister (Part 1)

0 0

#sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch41

#kelompok21penaaksara

#jumlahkata556

#day19

#sarkatjadibuku

***********

Penulis Natalia Susanti

PJ Mutia Rahmi Aiyub

Ketua Kelas Desi S

Abang Jaga M Jazuli

 

@@@@@@@@@@@@@@

 

Wanita hebat lainnya yang ada dalam hidupku adalah adik perempuanku yang kecil. Selisih usia kami sekitar enam tahun. Banyak kenangan masa kecil sampai kami tumbuh dewasa. Masih sangat melekat dalam ingatan kami ketika Ibu melahirkannya. Waktu itu bidan desa yang datang ke rumah untuk membantu persalinan Ibu di rumah. Belum seperti sekarang, semua tindakan dilakukan di rumah sakit ataupun di klinik bidan desa. Waktu itu aku dan Nita menunggu di depan kamar menunggu adik kami lahir. Kami tidak sabar menunggu kelahiran adik kecil kami. Sesekali kami mencoba mengintip lewat celah pintu kamar tapi tidak terlihat apapun. Sekitar satu jam kemudian terdengarlah suara tangisan adik kecil
    “Hore adik sudah lahir.” teriak Nita kegirangan. 
    “Iya adik sudah lahir.” sahutku sambil meloncat-loncat.
Kami masih menunggu di depan pintu kamar. Siapa tahu adiknya dibawa keluar pikir kami. 
    “Adik mana ya?kok belum dibawa keluar?” tanya Nita yang mulai tidak sabar.
    “Kita boleh masuk kah?kok pintunya belum dibuka?” Sambil mengintip lagi dari celah bawah pintu.
Sesaat kemudian Bu Bidan mengambil air hangat lagi di belakang.
    “Tunggu dulu ya sayang, adiknya biar dibersihkan dulu” kata Bu Bidan yang keluar pintu dan menutup lagi pintunya. Tanda anak kecil belum boleh masuk dulu.
Sambil duduk di kursi depan kamar kami masih menunggu biar bisa melihat adik kecil. Saat itu usiaku enam tahun dan Nita berusia tiga tahun. Kami masih sama-sama sekolah di TK. Karena TKnya sebelah rumah, maka sudah sejak kecil saya ikut bermain dan belajar di TK. Bisa dibilang saya siswa TK terlama heeeee. Masih ingat saat di TK, Nenek atau Ibu sering membawakan kami bekal nasi lauk telur ceplok. Menu andalan kami sehari-hari. Belum ada kotak nasi seperti sekarang, waktu itu masih pakai “rengkot” tempat nasi seperti mangkok dan ditutup dengan kain serbet biar tetap hangat. Ketika di sekolah guru kami akan membagi lauk kami. Sehingga lauk kami bisa bervariasi. Lauk telur saya bagi dengan beberapa teman, nah saya bisa incip lauk lain yang dibawa teman. Ada yang bawa oseng, mie, sayur, ayam, dan banyak macam lauk lainnya. Sudah sejak kecil guru kami mengajari kami untuk berbagi. Dan kami tidak perlu malu dengan lauk apapun yang dibawakan orang tua buat kami. Kenangan di masa TK dulu mengajarkan kami banyak hal. Dan guru-guru TK kita dululah yang berjasa mengajari kita segala hal baru, sehingga kita bisa melihat dunia luar seperti sekarang ini. 
    “Ayo kalian boleh masuk, adiknya sudah cantik.” Akhirnya Bu Bidan mengijinkan masuk ke kamar melihat adik.
Bapak memeluk kami mengajak mendekat ke tempar tidur.
    “Ni adiknya sudah lahir. Sehat cantik kan?” kata Bapak sambil tersenyum.
Kami masih terheran-heran dan agak belum percaya ada bayi kecil yang ada di rumah kami. Pelan-pelan kami mulai mendekat dan memegang adik. Sambil mengelus tangan kecil adik dengan wajah kami yang kegirangan senangnya meskipun kami tidak berkata-kata.
    “Disayang dulu adiknya.” Kata Mbah yang ada di dekat kami. Mbah juga menemani ibu selama proses persalinan tadi. 
Seisi rumah menjadi tambah ramai dengan kelahiran adik kami. Bapak Ibu menamai adik kecil kami Dita. Seolah kami jadi lupa dengan mainan kami. Beralih senang-senangnya berada dekat adik. Mengikuti kemanapun adik kami digendong. Disitulah kami mulai pertama kali belajar untuk berbagi. Belajar untuk mengalah. Orang-orang di rumah mulai fokus perhatiannya ke adik bayi. Sesekali kami tetap merengek minta dimanja dan diperhatikan Ibu. Namun Bapak dan Mbah selalu punya cara untuk menenangkan kami. Entah diajak Bapak sepedaan atau diajak Mbah main ke luar.

My Little Sister (Part 2)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata576
#day20
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

Masih di tahun yang sama ketika Ibu saya melahirkan adik saya yang kecil, Ibu mulai dipindah tugaskan mengajar di sekolah dekat rumah. Puji Tuhan rencana Tuhan indah buat keluarga kami. Bapak dan Ibu bekerja tidak jauh dari rumah, sehingga kami benar-benar merasakan masa kecil yang penuh dengan pendampingan. Kakek dan Nenek kami juga tinggal bersebalahan dengan rumah kami. Mereka sangat menyayangi kami, menjadi guru kami juga ketika di rumah. Bagaimana kami mulai belajar mandiri di rumah. Mengajari kami sopan santun dan berbagi. Memberi semangat dan waktu yang penuh buat kami. Waktu kami masih SD, Nenek berjualan makanan tradisional Jawa “mendhut”. Sering kami dibagi tugas untuk membantu. Selesai membantu kami akan selalu diberi satu mendhut untuk kami makan. Masa kecil yang begitu menyenangkan bagi kami. Dikelilingi dengan keluarga yang perhatian dan selalu memberikan teladan kebaikan setiap hari. Kakek adalah seorang Polisi begitu juga dengan Bapak, dan Om kami adalah seorang tantara. Secara tidak langsung kami melihat dan merasakan bagaimana lelaki-lelaki hebat di rumah kami punya teladan kemiliteran. Berwibawa dan tegas di luar, namun lembut ketika di dalam rumah.  Mereka lah yang menjadi sosok lelaki pertama semasa kami kecil. Teladan, didikan, serta kasih sayang mereka menjadi bagian kehidupan yang berharga bagi kami.
    Masa SD sampai SMA, Dita bersekolah di tempat yang sama dengan kami. Dan bersyukur kami bisa sekolah dekat dengan rumah. Kami tidak perlu diantar jemput. Kami berangkat sekolah dan pulang bersama jalan kaki. Ketika SMA karena agak jauh, kalau tidak naik angkutan umum, kami biasanya jalan kaki bersama teman-teman pulangnya. Masa sekolah yang menyenangkan, kami belajar mandiri dengan sendirinya. Dita sering mengikuti kegiatan band dengan teman-temannya waktu di SMA. Dia memainkan keyboard dan di vokal. Bakat yang sudah terlihat ketika dari TK, pernah Ibu mendaftarkan Dita ikut lomba menyanyi di daerah kami. Sudah punya rasa percaya diri tampil sejak kecil. Dia punya bakat seni yang mulai berkembang ketika SMA.
    “Bu, saya tak mendaftar kuliah pendidikan musik di UNY ya bu.” pintanya pada Ibu saat hendak mendaftar kuliah.
 Karena saat itu memang di Jogja dan Semarang yang ada Universitas Negeri yang membuka jurusan musik.
    “Kok jauhmen. Apa nggak ada musik di Solo?” tanya Ibu kembali memastikan ada pilihan terdekat yang bisa diambil.
Itulah awal sebuah perjalanan pendewasaan bagi adik kami. Dihadapkan pada pilihan jurusan kuliah dan kampus yang akan diambil.
    “Ada bu di Solo tapi tidak negeri. Aku mau mencoba mendaftar di Universitas Negeri dulu Bu. Boleh ya?” Dita mulai meyakinkan Ibu.
Ibu masih sangat berharap anak terkecilnya bisa kuliah dekat. Selalu ada hati yang membawa kita untuk selalu pulang, itulah hati seorang Ibu. Saat itu Bapak dan Ibu cukup bergumul dengan langkah yang akan diambil adik kami untuk kuliah di Jogja. Sampai suatu saat mereka mengijinkan adik untuk mendaftar kuliah musik di Jogja. 
    “Iya Bapak sama Ibu merestui kamu untuk mendaftar di Jogja. Nanti biar diantar Mbak ya.” Kata Ibu beberapa hari kemudian.
    “Ok makasih Bu, doakan Dita ya.” 
    “Selalu sayang. Yang terbaik untuk pilihan kuliahmu.”
    Seperti terulang masa dulu saya mendaftar kuliah. Langkah besar yang harus kami ambil karena semua pilihan akan menentukan masa depan kami. Ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan berulang kali. Karena semua tidak hanya tentang perasaan kita, tapi tentang perasaan dan harapan orang tua kita. Usia sekitar tujuh belasan saat kita lulus SMA. Usia emas saat kita menentukan pilihan masa depan kita. Sekitar empat tahun kita akan berkesempatan melanjutkan belajar di Universitas. Pilihan kita akan membawa kita pada langkah besar selanjutnya, pekerjaan terbaik apa yang sedang Tuhan siapkan  untuk kita.

My Little Sister (Part 3)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata544
#day21
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Perjalanan dari rumah kami ke Jogja sekitar tiga jam dengan mengendarai sepeda motor. Dengan semangat yang sama saat saya hendak kuliah dulu, hari itu kami memutuskan untuk naik sepeda motor ke Jogja. Sampai sana kami janjian dengan teman yang juga kuliah di Jogja ambil musik tetapi di kampus yang berbeda. Dia memberi tahu informasi alur pendaftarannya. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, selesai sudah pendaftaran kami hari itu. Karena musik ada prakteknya, maka ada ujian praktek yang harus diikuti adik saya. Ujian praktekpun bisa dia lewati dengan baik. Saat menunggu giliran untuk praktek, kami bertemu dan sempat ngobrol dengan beberapa calon mahasiswa yang lain. Banyak dari mereka yang sudah punya basic sekolah musik ketika di SMA. Ada yang sudah kursus  musik sejak di SMA. Sedang Dita bisa keyboard itupun juga autodidak dan baru beberapa saat belajar. Puji Tuhan saat diberikan pengumuman beberapa hari kemudian, Dita diterima kuliah musik. Senang sekali rasanya, dan perkuliahanpun sudah mulai aktif. Mau nggak mau tetap harus mencari kos dekat kampus. Dan Puji Tuhan dapat tempat kos yang nyaman. Tahun ketiga berjalan dan ada kendala yang dia mulai alami, karena tuntun tugas dan praktek yang mulai padat. Ibu melihat dan merasakan sepertinya adik mengalami kesulitan di semester yang sedang dia jalani. Saat pulang dan kami semua ngobrol dan sharing kesulitan yang sedang dialami. Akhirnya memang diputuskan untuk Dita tidak melanjutkan kuliahnya di Jogja. Ada rencana lain yang sedang Tuhan siapkan untuk masa depan Dita. Talenta musik yang Tuhan berikan untuknya masih terus dipakai bahkan memberi berkat di tempat dimana sekarang dia bekerja. Singkat cerita, setelah beberapa saat adik mendapat panggilan mengajar di SD Negeri dekat rumah. Dengan basic dia pernah mendapat dasar konseling dan bakat music, sekolah membutuhkan seorang guru. Saat itu ada kekosongan guru Agama dan mengajar Seni utamanya ekstra Seni Musik. Akhirnya adik mengajar di sekolah tersebut. Menikmati hari-hari untuk mengajar anak-anak. Memberikan semangat yang baru setiap harinya.

            Sentuhan musik juga dibutuhkan di dalam sekolah. Adik mulai melatih paduan suara anak-anak yang bertugas di setiap upacara dan mengisi tampilan paduan di setiap kesempatan pentas. Tuhan menambah-nambahkan hikmat dalam adik menyalurkan hobby dan bakatnya. Semua proses kehidupan yang kita alami adalah bekal yang Tuhan berikan pada setiap kita. Kita tidak pernah tahu kehidupan kita ke depan. Namun satu hal yang kita percaya bahwa setiap rencana yang sudah Tuhan sediakan adalah rencana indah dan penuh kebaikan.

            Tuhan tidak behenti disana, dipertemukan dengan seorang yang takut akan Tuhan, punya hobi dan bakat musik juga. Suatu hal yang indah yang Tuhan anugerahkan. Adik dan suami mempunyai talenta musik yang saling melengkapi. Danang, suami adik melayani di Gereja sebagai seorang pengiring musik juga dan adik di bagian singernya. Penikahan adalah perjalanan seumur hidup kita. Bersama pasangan kitalah, kita akan terus diproses Tuhan. Disitulah kita akan melihat Tuhan terus berkarya dari hari kesehari. Dan kami bersyukur untuk keluarga kecil adik kami.

            Kesempatan selalu Tuhan berikan. Dan benar saja, sekolah juga memberikan kesempatan belajar buat adik ikut Universitas Terbuka. Bisa mengajar, talenta yang Tuhan terus pakai, dan kesempatan untuk tetap melanjutkan belajar. Semua mengalir dalam skenario yang Tuhan sediakan. Dulu Tuhan memproses masa muda kami. Kini Tuhan memproses kami bertiga bersama pasangan dan keluarga kecil kami. Kita bisa pergi kemanapun Tuhan suruh kita pergi. Tetapi keluarga adalah tempat yang Tuhan sediakan untuk kita selalu kembali pulang.

My Students (Part 1)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata562
#day22
#sarkatjadibuku

*********************************
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Saya pernah belajar, saya sedang belajar, dan saya akan terus belajar. Mengajar dan tetap belajar. Dua hal yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Selalu ada kesempatan yang datang dalam hidup saya. Dan menjadi seorang guru adalah sebuah kesempatan seumur hidup untuk saya. Kesempatan untuk berbagi ilmu, kesempatan untuk berbagi pengalaman kehidupan Tidak pernah terlintas sebelumnya bahwa saya akan ada di sini bersama mereka. Mengajar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Pernah merasa ragu mampukah saya mengajar anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Namun proses itu berjalan, ada ilmu kehidupan yang saya dapat dari mereka. Tahun ini adalah  tahun ke sebelas saya mengajar di SMK Sakti Gemolong. Tempat dimana saya study lebih lanjut. Setelah lulus kuliah saya sempat mengajar di SMA di Solo. Sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk langkah yang terbaik ke depan.

            “Ma, nanti kalau kita dikaruniai momongan. Mama ngajar di sekolah dekat rumah saja ya.” pinta suami saya.

            “Mama sudah nyaman disana Pa.” jawab saya.

            “Iya Papa ngerti. Tapi harus ada yang diprioritaskan Ma. Kalau memang di awal pernikahan kita mendoakan diberi momongan, Mama harus menjaga kesehatan Mama. Kalau kita bisa meminta pekerjaan yang dekat sama Tuhan, kenapa tidak?” meyakinkan saya bahwa kami harus memilih langkah terbaik.

            “Ok Pa, makasih sudah ngingetin Mama.”

Butuh waktu untuk menggumulkan ini semua. Tidak mudah hati seorang Guru berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti ada masa dan kenangan yang belum ingin ditinggal dan dilepaskan. Sampai ada moment dimana saya mengiyakan apa saran dan nasehat suami. Saya menemui Kepala Sekolah saya yang lama.

            “Maaf Miss, sepertinya saya harus ijin untuk resign.” tutur saya saat menemui beliau di ruangan Kepala Sekolah.

            “Lho kenapa?. Perjalanan kita masih panjang lho Miss. Anak-anak butuh Miss.” jawab beliau merasa kaget dengan kata-kata saya.

            “Keputusan yang berat memang Miss kalau saya harus meninggalkan sekolah ini. meninggalkan teman-teman yang sangat baik. Dan anak-anak di kelas.”

            “Lha ya to. Lha trus kenapa kok mau resign?”

            “Keputusan bersama yang harus kami ambil Miss. Saya dan suami bergumul segera dikaruniai momongan. Dan untuk kebaikan semuanya, maka saya akan mengajar di dekat rumah Miss.”

            “O begitu, ya benar juga Miss apa yang disarankan suami. Tapi apakah semua sudah dipikirkan matang-matang?”

            “Sudah Miss, kami merasa perlu menyampaikan ini sekarang supaya pihak sekolah juga tahu lebih awal. Sekolah bisa mencari pengganti Guru Matematika yang baru Miss. Maaf sebelumnya Miss.” sambil saya menahan air mata saya yang mulai berkaca-kaca.

            “Mungkin mudah mencari Guru pengganti. Tapi tidak mudah menggantikan rekan kerja yang sudah sama-sama dari awal dibentuk bersama disini. Mungkin itu yang akan sulit Miss. Tapi kalau Miss sudah yakin keputusan ini yang terbaik buat keluarga Miss. Maka sekolah akan  mengijinkan.” jawab Ibu Kepala Sekolah.  

            “Siap Miss terimakasih. Kita akan tetap selalu kontak Miss. Saya pasti akan merindukan semua kenangan dan pendewasaan yang saya dapatkan di sini. Besok saya ajukan surat ijin resign saya ya Miss .”

            “Baik Miss, Tuhan pasti memberikan yang tebaik untuk karier Miss selanjutnya ya. Amin. Selalu saling mendoakan ya Miss” beliau mengakhiri percakapan kami saat itu.

            “Amin. Sekali lagi terimakasih untuk semuanya Miss. Ijin saya kembali ke kelas ya Miss.”

Hari itu terasa berat langkah saya. Saat kembali ke kelas dan bertemu anak-anak. Satu persatu kenangan bersama mereka muncul di benak saya. Menyambut mereka di pintu masuk saat mereka datang. Makan di kantin bersama mereka. Belajar menaklukkan soal yang susah bersama. Bercanda dan saling bercerita di kelas. Merekalah Guru saya merekalah sahabat saya.

My Students (Part 2)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata567
#day23
#sarkatjadibuku

*********************************
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Akhirnya tibalah saya di hari terakhir saya mengajar anak-anak di sekolah. Dengan berat hati saya harus berpamitan kepada mereka.

            “Anak-anak, hari ini adaalah hari terakhir saya mengajar disini.” sambil menguatkan hati saya harus menyampaikan hal tersebut pada anak-anak.

            “Miss…..” teriak Amanda karena kaget mendengar pamitan saya.

            “Iya ini keputusan yang terbaik yang harus Miss ambil. Setelah menikah, saya dan suami harus memprioritaskan kesehatan dan kehamilan Miss. Sepertinya saat hamil awal seperti sekarang, Miss tidak bisa menempuh perjalanan yang agak jauh dengan bersepeda motor sendiri.” Jawab saya pada anak-anak meberi penjelasan

Butuh sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit untuk saya sampai di sekolah. Saya biasanya naik sepeda motor. Supaya sampai di sekolah pukul 06.30 WIB, maka saya setidaknya harus berangkat pukul 05.30 WIB. Selama hampir dua tahun saya menjalani dengan sukacita. Jalur yang saya lewatai adalah jalur saya pulang pergi kuliah dulu. Hari-hari saya lewati dengan semangat dan penuh pengharapan setiap hari.

            “Miss, kami bakal kangen sama Miss.” Sahut Eric, Pak ketua kelas yang bertubuh tinggi ganteng.

            “Miss juga akan merindukan kalian. Merindukan kelas ini. merindukan kebersamaan dan canda kalian.” Akhirnya saya tak bisa menahan air maa saya.

            “Miss….” Anak-anak memeluk saya ke depan kelas.

            “Tetep main ke sini ya Miss nanti kalau dedenya sudah lahir.” Ucap Angel, anak yang paling terlihat dewasa di kelas tersebut.

            “Ok pasti sayang, suatu saat Miss akan berkunjung kesini.” Sambil memeluk mereka satu persatu.

Waktu itu benar-benar pecah rasanya semua rasa bersama mereka selama ini. Hari itu hari terakhir saya di sekolah. Selain di kelas, lebih berat lagi rasanya saat harus berpamitan dengan teman-teman guru. Biasanya sebelum mengajar, kami mengadakan doa pagi bersama. Semua itu menjadi kenangan yang indah dan tidak terlupakan. Saat semua saling menguatkan, dan kami mendoakan setiap anak-anak didik kami dengan segala tantangan mengajar yang kami hadapi. Di sekolah ini saya ,menemukan keluarga baru, di sekolah ini saya bertumbuh bersama teman-teman. Berproses bersama bagaimana menghadapi berbagai karakter anak dengan segala latar belakang mereka. Saya banyak mendapatkan pelajaran berharga disini. Akhirnya suami saya menjemput saya. Karena hari itu memang suami tidak mengijinkan saya untuk berangkat sendiri.   

            “Sudah Ma.” Tanyanya sambil memastikan saya baik-baik saja saat harus berpamitan hari itu.

            “Sudah Pa. Mama sudah pamitan sama teman-teman dan anak-anak.” Jawab saya yang tidak bisa menahan air mata keluar dari gedung sekolah.

            “Sayang pasti bisa melewati semuanya. Tuhan sudah memberikan kenangan yang terindah disini. Nanti suatu saat Mama bisa berkunjung lagi kesini. Ketemu teman-teman dan anak-anak.Ok.” ucap suami sambil mengusap kepala saya dan mendekap saya.

            “Ok sayang.” Sahut saya yang sudah mulai tenang.

Sepanjang perjalanan tak hentinya air mata saya mengalir. Semua bukan hanya karena  waktu bersama mereka, tapi semua tentang rasa yang mereka pernah taruh dalam diri saya, semua tentang cita-cita dan harapan yang mereka ceritakan dan sedang kami bangun bersama. Namun saya percaya, anak-anak akan terus semangat menggapai harapan mereka. Dan semua cita harapan mereka akan selalu saya bawa dalam doa saya.

            Hari-hari yang baru mulai saya jalani. Kehamilan yang sudah mulai menginjak bulan ke delapan. Saya sudah bisa melewati masa-masa ngidam dan mual di awal kehamilan. Berapa bulan di awal memang sama sekali saya tidak mau makan nasi. Badan rasanya lemas sekali, dan harus bedrest istirahat total. Bubur dan kentang yang sehari-hari menjadi menu makan utama saya. Puji Tuhan saya masih mau minum susu hamil. Meskipun tidak semua makanan bisa diterima tubuh, namun saya berpikir harus tetap rutin minum susu hamil supaya janin tetap mendapatkan nutrisi yang terbaik.

My Students (Part 4)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata548
#day25
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@
Matematika adalah bidang ilmu yang memberi kesempatan kepada saya untuk belajar setiap hari. Selalu ada tantangan ketika mengajarkan Matematika kepada anak-anak. Dengan minat dan kemampuan yang berbeda-beda, tetapi seorang guru Matematika mempunyai tugas untuk menyadarkan anak-anak bahwa Matematika itu dekat dengan kehidupan mereka. Matematika adalah pendamping Literasi. Tuhan memeberikan setiap manusia kemampuan untuk membaca dan menghitung. Ada siswa yang dominan unggul di bidang literasi, tetapi ada juga siswa yang dominan di bidang numerasi. Namun untuk dapat mengikuti perkembangan jaman terlebih di era digital sekarang, Literasi dan Numerasi akan selalu berjalan beriringan. Disinilah peran guru, terlebih guru Matematika untuk menjaga keseimbangan siswa di dua hal tersebut. Jadi tidak selalu Matematika murni yang disampaikan, karena kami di SMK Teknik Industri maka guru SMK juga perlu belajar mengupdate Matematika Terapan yang digunakan dalam Industri. Dan disitulah saya merasa Tuhan memberi saya kesempatan saat ini.
    Disiplin selalu menjadi salah satu sisi dari pendidikan di SMK Sakti. Banyak anak-anak sudah berhasil bekerja di perusahaan Industri, dan mereka memberikan jejak karir yang bagus buat adik-adik kelasnya. Ketika disiplin dan etos kerja lulusan Sakti menjadi point plus, maka nama baik dan Almamater SMK Sakti akan berdampak baik buat lulusan di tahun-tahun berikutnya. Salah satu alumni yang dulu saya pernah ajar adalah Ali, siswa lulusan Teknik Mesin ini adalah seorang yang mempunyai badan Atletis. Dia sangat menonjol di pelajaran Matematika waktu itu. Di awal bukan kepintaran yang dia tunjukkan, tetapi bagaimana dia menunjukkan sebuah pola belajar yang konsisten. Hampir semua materi yang diberikan dalam bentuk hangout latihan soal Matematika dia kerjakan. Dia mencoba dulu semua yang dia bisa, jika ada yang tidak bisa dia akan bertanya kepada teman. Baru terakhir nanti bertanya kepada saya. 
    “Bu, ada beberapa yang belum saya bisa kerjakan.” kata Ali saat di kelas.
    “Ok siap, ditandai ya. Nanti kalau bu Guru selesai materi ini nanti bisa tanya ke Ibu.” Jawab saya.
    “Siap bu.” Jawabnya mantap seperti biasanya.
Dia adalah salah satu siswa yang selalu bekerja keras. Teman sebanyanya mungkin sudah jarang yang naik sepeda kalau berangkat sekolah. Tetapi Ali salah satu yang tidak malu, bahkan menjadikan kebiasaan berangkat sekolah dengan bersepeda sebagai kesempatan melatih fisiknya. Dan benar saja selama di SMK, postur tubuhnya menjadi semakin terbentuk dan itu menjadi modal dia juga saat melamar pekerjaan. Perusahaan juga akan mencari bibit terbaik dari lulusan SMK, selain kemampuan akademik dan psikotes ternyata perusahaan juga menilai plus untuk siswa yang berpostur bagus dan terlebih mempunyai sopan santun dan etika berbahasa yang baik. Dan saya melihat semua kriteria itu ada dalam seorang Ali. Kerja kerasnya dan kepeduliannya juga terlihat mulai dari kelas XI, ternyata dia juga ikut membantu dalam membangun sebagian dari gedung sekolah yang saat itu sedang direnovasi. Seorang pemimpin tidak hanya memimpin di depan, tetapi juga mampu memberika teladan bahkan dalam setiap hal kecil yang bawahannya lakukan. Dan itu sudah nampak pada diri Ali  ketika di SMK. Banyak guru yang menjadi saksi lahirnya pemimpin-pemimpin hebat di dunia kerja. Mereka berhasil menempati posisi pimpinan, bukan karena sebuah proses instan tapi mereka sudah melewati proses mendisiplin diri itu sejak mereka belajar di SMK. Itulah yang membuat profesi seorang Guru menjadi profesi seumur hidup. Bagian kami adalah mendidik dan mendampingi. Kesuksesan mereka setelah lulus SMK adalah buah dari kedisiplinan dan kerja keras yang mereka bangun sendiri ketika di SMK. Bangga dan Bahagia menjadi bagian dari SMK Sakti.

My Students (Part 3)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata580
#day24
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

Semua sudah diatur Tuhan. Tepat di bulan saya sudah bisa melewati masa mual kehamilan. Saya mendapatkan panggilan mengajar di SMK dekat rumah. Sekitar satu kilometer dari rumah. SMK ini dekat dengan SMA saya dulu sekolah. Dan tidak pernah terpikirkan kalau saya akan mengajar di sekolah ini. Sekolah yang waktu itu dominan siswanya laki-laki. Saya dan beberapa orang yang memasukkan lamaran dipanggil di hari itu. Masih ingat benar itu adalah tanggal pertama saya diterima mengajar, 25 Januari 2011. Mulai ujian tulis dan wawancarapun saya jalani. Kami pun di test wawancara dalam Bahasa Inggris. Menunggu beberapa saat setelah kami melewati test hari itu, kami duduk di ruangan Kepala Sekolah. Bapak-bapak Yayasan dan Pengurus berdiskusi tentang hasil test kami hari tersebut. Saya sudah berusaha mengerjakan semua test dan wawancara dengan maksimal. Tinggal menunggu hasil yang terbaik. Kemudian hasilnyapun diumumkan. Di antara beberapa pelamar, untuk mata pelajaran Matematika diambil tiga orang. Puji Tuhan saya diterima. Semuanya adalah anugerah. Kesempatan mengajar dan belajar serta diproses di tempat kerja yang baru.

            SMK Sakti Gemolong adalah tempat saya mengabdi hingga hari ini. SMK dengan jumlah siswa terbanyak di Kabupaten Sragen. Dengan jumlah siswa sekitar seribu delapan ratus siswa, dan sekitar seratus tiga puluh guru dan karyawan. Benar-benar proses yang luar biasa. Sekolah ini mempunyai dua area yang terpisah. Satu lokasi untuk pembelajaran teori dan satu lagi untuk pelajaran praktek, GOR, serta lapangan sekolah. Saya diberi tugas mengajar di kelas XII sejak mengajar di SAKTI. Pengalaman sebelumnya pernah mengajar di kelas XII SMA dan mengajar les Matematika anak kelas XII menjadi bekal saya ketika memulai mengajar di sini. Perlu penyesuaian baik dengan siswa maupun dengan rekan guru yang lain. Sebelas tahun sudah saya diproses di sini. Belajar mengupgrade ilmu mendidik bersama teman-teman. Belajar mendampingi anak-anak mencapai tujuan dan cita-cita mereka. Mayoritas siswa lulusan SMK minatnya adalah bekerja. Dan sekolah memfasilitasi untuk menjadi penghubung dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan atau pegawai dengan latar belakang SMK. SMK Sakti terdiri dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif, Teknik Pemesinan, Teknik Konstruksi Bangunan, Teknik Komputer dan Jaringan, serta Teknik Body Otomotif. Sejak tahun 1974 sampai sekarang Sakti masih dipercaya masyarakat dengan siswa SMK yang terbanyak se Kabupaten. Suatu kebanggaan dan tanggung jawab bagi kami warga sekolah untuk menjaga kelangsungan dan kejayaan sekolah ini.

            Banyak guru senior Sakti yang saat ini menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Negeri. Beliau-beliau ini yang membawa nama baik almamater Sakti ketika bertugas di sekolah lain. Anak-anak juga berkesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka baik akademik maupun non akademik. Dan rasa syukur itu semakin bertambah ketika lulusan Sakti bisa berkarir di perusahaan dengan baik, bahkan ciri khas kedisiplinan seorang Taruna yang mereka dapatkan di SMK menjadi modal dan prinsip yang terus mereka pegang.

            “Bu Natalia.” panggil seseorang ketika bertemu di sebuah Bank.

            “Siapa ya?” tanya saya memastikan.

Saya masih sangat ingat wajahnya tapi saya sering lupa nama anak-anak alumni. Ternyata dia adalah salah satu alumni yang dulu saya wali kelasnya. Sekarang dia bertugas menjadi seorang Polisi di kota Solo.

            “Fajar bu.” Jawabnya sambil membuka masker supaya saya mengenalnya kembali.

            “Ya Tuhan, iya saya ingat. Fajar. XII MPA ya? Gimana kabarnya, sekarang kerja di mana?”

            “Saya tugas di Polresta Solo bu.” Jawabnya

            “Syukurlah. Ikut senang. Save nomor bu Natalia ya. Nanti kontak lagi sama teman-teman.”

            “Siap bu, saya simpan. Saya juga masih kontak sama teman-teman bu di grup Alumni.”

            “Sip. Okey nanti lanjut whatsapp ya. Saya duluan. Sukses selalu buat kamu” Sambil saya berpamitan karena antrian di Bank saat itu cukup panjang.


            “Siap Bu. Amin. Terimakasih.” Jawabnya dengan sopan sambil menundukkan kepala sebagai rasa hormat.

My Teachers (Part 1)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata512
#day26
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

Kalaupun saya bisa berada di titik ini semua adalah berkat didikan, ajaran, dan bimbingan dari semua guru saya. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Segala kebaikan dan ilmu yang dibekalkan kepada saya, membuat saya bisa survive dalam perjalanan hidup ini. Kesabaran Bu Kus salah satu guru TK saya, yang mengajari saya pertama mengenal dunia melalui huruf dan angka, yang mengajari saya untuk terus semangat dalam menuntut ilmu setiap hari, yang mengajari saya bagaimana caranya berbagi, mengajari saya bagaimana saya mensyukuri berkat setiap hari.  Doa saya, Ibu selalu sehat, teruslah menjadi pelita dalam hati kami. Terima kasih sudah mengantarkan kami sampai sini. Kiranya kasih sayang, kebaikan, dan ketulusan Ibu kepada kami akan selalu memberkati Ibu sekeluarga. Terimakasih TK Bhayangkari yang sudah menjadi almamater pertamaku.

“My teacher doesn’t only teach the love to me, but she loves me.”

            Mereka menemukan bakat dan potensiku. Enam tahun dididik orang-orang hebat. Tidak hanya ilmu, tapi mereka mengajarkan pelajaran kehidupan. Bahwa semua yang kami dapatkan di SD memperkaya hidup kami sejak kecil. Kami menjadi tumbuh lebih percaya diri ketika kami berhasil menemukan bakat dan potensi kami. Bu Sri dan Bu Mul, yang memantapkan kami dalam membaca sehingga kami bisa berselancar dengan  ilmu-ilmu  baru. Pak Manto yang mengenalkanku keindahan Bahasa Indonesia dan Literasi. Pak Ngatmin, yang mengajarkan bahwa Alam itu kaya dengan segala kebaikannya. Pak Marno dan Pak Tarwi, yang mengajarkan kami mengenal keragaman sosial dan budaya Indonesia. Pak Paryoto, yang menyentuh kami dengan karya seni. Pak Agus, yang membuat saya selalu penasaran dengan Matematika. Rasa penasaran itu mengantarkan saya sampai sini. Bahwa semakin kamu pensaran dengan sesuatu, kamu akan terus mempelajarinya. Terimakasih semua Guruku di SD Negeri Gemolong 2.

“Learning is a Lifetime Lesson”

            Hitam putih kehidupan akan terdengar indah jika Tuhan mainkan di angka yang benar. Filosofi dari alat musik inilah yang membawa saya pada keindahan hidup, pada warna kehidupan yang bisa menyentuh banyak orang. Musik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup kita. Musik mewakili hati kita. Semua rasa tersampaikan dengan musik. Piano, ya Tuhan memberikan kesempatan yang indah bagi saya untuk belajar piano dan alat musik yang lain. Eyang Tarto dan Eyang Titik adalah orang pertama yang mengenalkan saya indahnya sebuah musik dan nikmatnya bermain musik. Tuhan menaruh benih talenta dalam setiap diri kita. Dan bersama beliau berdua saya dididik dengan musik. Bersama teman satu team grup musik waktu SD, kami menikmati kebersamaan dengan setiap alat yang kami pegang. Ansamble musik, ya kami dipertemukan dalam sebuah team musik. Itulah seni kolaborasi pertama yang kami kenal. Setiap orang punya talenta musik yang berbeda. Dan beliau berdua berhasil menemukan dan menumbuhkan talenta musik itu pada setiap kami. Sampai saat ini beliau berdua masih berkativitas di seni dan musik. Rumah beliau selalu terbuka untuk setiap anak yang ingin belajar musik. Orang dewasa bahkan lansia pun masih aktif  untuk bermain musik kolintang dan paduan suara di rumah Eyang.  Beliau berdua selalu menghadirkan keharmonisan dalam mendidik kami. Selalu hangat dalam menyambut kami. Benar-benar pengabdian seumur hidup untuk dunia seni utamanya musik. Rumah mereka adalah sekolah musik pertama saya. Guru Musik Sejati.

“You Can Touch A Deep Heart With Music”

 

My Teachers (Part 2)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata523
#day27
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@
Masa SMP adalah masa dimana kita mulai bertumbuh dari masa anak-anak menuju masa menjadi dewasa. Bertemu dengan teman-teman dari berbagai kecamatan. Memperoleh ilmu yang lebih luas dan dalam. Diajar oleh guru-guru yang luar biasa. Bu Sumarni dan Pak Wiyoto yang mengajarkan kami tata krama dan etika orang Jawa. Pak Arifin, Bu Sumarmi, dan Pak Warseno yang membekali kami mengasah keterampilan berbahasa Inggris. Bu Ida yang menguatkan dasar kecintaan kami dalam berkewarganegaraan Indonesia. Pak Suyadi dan Pak Purwanto yang mengajarkan pentingnya Numerasi dalam kehidupan. Pak Harko yang mengajari kami tentang muatan lokal elektro. Bu Mini yang mengajarkan tentang bagaimana menerapkan ekonomi yang cerdas. Pak Sutarno yang  mengajari kami mengenal dan mengolah bakat seni sekecil apapun yang kami punya. Banyak lagi ilmu dan keterampilan berharga yang guru SMP kami berikan, semua menjadi bekal buat kami. mungkin saat itu kami belum menyadari dan mengerti makna dari setiap ilmu yang kami terima. Namun ketika kami dewasa, bahkan saat kami sudah berkeluarga dan mendidik anak-anak kami, semua ilmu itu tidak hanya bermanfaat untuk diri kami sendiri. Tapi juga untuk anak-anak kami. Bagaimana kami bercerita tentang banyak hal pada mereka tentang alam, tentang semua yang ada di sekitar mereka. Tiga tahun yang berharga buat kami. Tiga tahun yang membuat kami semakin percaya diri dan semakin mengenal siapa diri kami.
“Our Time is Our Teacher”
    Tahun 2000 menjadi tahun dimana saya masih merasakan masa sekolah tidak jauh dari rumah. Suatu berkat yang selalu mengiringi saya sejak kecil hingga usia saya saat itu, bahwa Tuhan sudah menyediakan sekolah yang terbaik dari yang terbaik untuk perjalanan kita. SMA Negeri Gemolong menjadi tempat dimana saya memantapkan ilmu yang saya terima ketika saya di SMP. Ilmu yang mengantarkan saya menemukan masa depan saya. Ilmu yang mengantarkan saya pada dunia kerja, dunia yang tetap memberikan kepada  saya kesempatan untuk terus belajar. Bahwa belajar itu untuk bekerja, dan bekerja itu untuk belajar. Kalau semua saling beriringan, maka makna kehidupan akan kita dapatkan. Kalau kita masih diberi kesempatan untuk hidup berarti kita akan terus diberi kesempatan untuk belajar dan bekerja. Saya bertemu dengan guru-guru hebat, yang mengantarkan kami dengan segala pengalaman hidup serta ilmu yang bermanfaat. Untuk bisa melanjutkan jenjang kuliah, kami harus berkompetisi dengan teman dari segala penjuru. Karena semua berkeinginan untuk dapat melanjutkan di Universitas favorit masing-masing dan dengan jurusan yang tentunya juga diperjuangkan oleh banyak lulusan SMA dan SMK dari seluruh Indonesia. Bu Nur dan Pak Joko adalah sosok guru yang menginspirasi saya dalam belajar Matematika. Tidak pernah menyangka bahwa dunia Matematika lah yang saat ini menjadi bagian dalam hidup saya. Ada banyak filosofi kehidupan yang beliau berdua selalu berikan kepada kami. Ketika kami dihadapkan pada persoalan sesulit apapun, mereka selalu menunjukkan kepada kami berbagai solusi yang bisa kami ambil. Pilihan yang kami ambil menjadi jalan keluar terbaik buat kami. Kita akan selalu dihadapkan pada banyak persoalan dalam kehidupan. Satu keyakinan yang harus kita pegang, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan keluar. Ketika satu jalan dirasa sulit, maka akan selalu ada jalan lain yang tersedia. Semua yang harus kita lewati dalam kehidupan akan membuat kita semakin peka dengan setiap Jalan Kehidupan yang sedang Tuhan sedang sediakan di depan. Semua untuk hari depan yang penuh harapan.

My Teachers (Part 3)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata627
#day28
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

2003 adalah tahun berkat dimana saya diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Proses belajar seumur hidup dimulai di tahun itu. Pendidikan Matematika menjadi bidang ilmu yang membawa saya pada pekerjaan saya saat ini. Diajar oleh dosen-dosen yang luar biasa. Mereka semua mengajarkan banyak hal mulai dari Geometri, Statistika, Teori Bilangan, Aljabar, Trigonometri, Kalkulus, dan masih banyak lagi Ilmu Matematika yang lain. Masih sangat melekat dalam ingatan, waktu pertama menanti pengumuman tersebut. Pengumuman di sampaikan lewat media cetak koran. Karena masih belum banyak akses internet waktu itu. Subuh jam 05.00 saya dan teman-teman membeli koran di toko yang biasa menyediakan koran perdana hari tersebut. Mecari di lembaran koran daftar nama kami. Puji Tuhan nama saya ada, saya diterima di Pendidikan Matematika UNS. Hadiah yang terindah yang Tuhan berikan buat saya di tahun 2003.
    Mandiri adalah hal yang Tuhan bentuk ketika saya kuliah di Solo. Diajar oleh dosen-dosen  yang mempunyai karakter yang beragam, membuat saya dan teman-teman harus belajar untuk peka terhadap segala situasi dan kondisi. Untuk bisa memahami seorang dosen dengan segala kesibukannya, seorang mahasiswa harus bisa mengendalikan dirinya dan mencari moment yang terbaik untuk melengkapi segala tugas seperti yang dosen kehendaki. Dan selama kuliah itulah saya bertemu Bu Ira, Bu Henny, Pak Mardiyana, Pak Sugiyarto, Pak Ponco, Pak Tri, Bu Dyah, Pak Gatot, Pak Suyono, Pak Rosihan, dan banyak dosen Pendidikan Matematika UNS yang semakin mendewasakan saya. Beliau semua selalu bisa menasehati kami dengan ilmu kehidupan di setiap pengajaran beliau di kampus.  Terimakasih UNSku. Terimakasih Dosen-dosen hebatku. Semua wejangan dan nasehat beliau semua menjadi bekal buat saya dalam menghadapi setiap tantangan dalam kehidupan. Berjuang dan menjadi pemenang.
“Survive And Be The Winner”
    Kesempatan belajar selalu diberikan kepada kita. Di tahun 2021 ini saya berkesempatan untuk kembali mendapatkan ilmu di bidang Pendidikan. Saya dan delapan teman mendapatkan kesempatan untuk mengikuti PPG Dalam Jabatan. Karena masih masa pandemi, maka Pendidikan dilakukan secara online. Saya berkesempatan belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dipertemukan dengan 34 teman seprofesi Guru Matematika dari berbagai daerah. Teman saya adalah guru saya. Meskipun kami belum saling mengenal tapi kami dimudahkan dalam berkomunikasi dan bekerjasama dalam team. Kami mulai belajar menggunkan media zoom dan googlemeet untuk bisa bertemu secara virtual. Kami belajar mengefektifkan google drive yang kami punya melalui akun kami masing-masing. Dulu mungkin kami sudah tahu, namun belum bisa memaksimalkan kegunaan dari setiap fasilitas mengajar yang ada. Belajar membuat power point dengan cepat dan menarik, membuat materi ajar yang sesuai, dan membuat RPP yang efektif untuk pembelajaran kami.
    Kesempatan yang luar biasa saat kami diajar oleh Dosen Profesional dari Yogyakarta. Pak Hongki, Pak Sugiarto, Pak Beni, Pak Arif, Pak Feby, Pak Andi, Guru pamong, dan Staff Admin kampus memberikan pelayanan yang terbaik dalam pengajaran maupun kepentingan administrasi Mahasiswa. Satu kemudahan demi kemudahan kami terima selama tiga bulan kami menjalani PPG. Semua kami jalani melalui media LMS Online. Dalam sehari ada beberapa tahap tugas yang harus kami kerjakan. Dan semua pengalaman tersebut mengajarkan dan melatih kami agar fokus pada satu-persatu target yang harus kami selesaikan di hari tersebut dengan deadline jam yang sudah ditentukan. Kerja Cerdas, Kerja Tuntas dan Kerja Ikhlas. Kami harus mengerjakan semua tugas kami dengan cerdas kalau kami ingin mendapatkan nilai terbaik pada satu mata kuliah. Kriteria nilai A atau Amat Baik itu kami dapatkan saat tugas kami lengkap dan kami mengupload tugas kami tepat waktu. Tugas kami harus tuntas di hari tersebut, karena tugas di hari selanjutnya sudah menanti kami. Kami perlu menjaga kesehatan kami dengan ekstra, karena kami harus berada di depan lapotop selama beberapa jam untuk menyelesaikan tugas-tugas kami. Moodbooster selalu tersedia di tas. Mulai dari yougurt, vitamin C, atau salad buah untuk menjaga imun tubuh saya. Dengan makan dan menyediakan makanan atau minuman yang kita suka bisa menjadi moodboster dan imunbooster buat tubuh kita

My Reflection (Part 1)

0 0

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch41
#kelompok21penaaksara
#jumlahkata614
#day29
#sarkatjadibuku

***********
Penulis Natalia Susanti
PJ Mutia Rahmi Aiyub
Ketua Kelas Desi S
Abang Jaga M Jazuli

@@@@@@@@@@@@@@

 

Bersyukur untuk setiap kejadian ajaib yang kita alami sampai detik ini. Semua Tuhan ciptakan baik adanya. Setiap peristiwa dan setiap orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita adalah orang-orang terbaik yang membentuk diri kita sampai saat ini. Tuhan mengenal siapa diri kita jauh melebihi diri kita sendiri. Tuhan yang selalu memampukan kita bangkit dari setiap keterpurukan dalam hidup kita. Dia juga pribadi yang tetap menjaga kerendah hatian kita saat semua yang kita harapkan dan doakan mulai Tuhan jawab. Kehidupan seperti roda yang berputar, kadang kita berda di atas, kadang kita berda di bawah. Namun semua keadaan Tuhan pakai untuk selalu membawa kita pulang padaNya, semakin melekat padaNya.
    Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kita. Menyediakan waktu terbaik dalam hidup kita untuk beribadah, berdoa, dan merenungkan setiap Surat KasihNya pada kita. Setiap hari akan menjadi sebuah perjalanan yang indah. Kita memulai dan mengakhiri hari-hari kita dengan melekatkan hati kita padaNya, yakinlah bahwa sepanjang hari kitapun akan selalu dalam penyertaan dan perlindunganNya. Menyediakan waktu untuk menulis setiap hari juga bisa menjadi kebiasaan baik untuk kita kembali mengingat setiap kebaikanNya dalam hidup kita. Tulisan tersebut tidak akan berhenti pada diri kita, setidaknya ada karya yang kita tinggalkan untuk keluarga, teman, atau orang-orang di sekitar kita. Tulisan kita bisa menginspirasi, menguatkan, dan memberikan semangat baru pada setiap orang yang membaca tulisan kita. Karena setiap apa yang keluar melalui hati kita akan bisa terlihat melalui tulisan kita, dan akan terdengar melalui setiap ucapan kita. Tak ada yang sia-sia dalam hidup kita, mulailah kita tuliskan, mulailah kita ucapkan. 
    Ketika saya menulis buku ini, seperti ada Rhema yang setiap hari menghiasi hari-hari saya. Saya semakin menyadari bahwa setiap hal dalam hidup saya adalah Karya Tuhan, Tuhan ijinkan hari demi hari, tahun demi tahun saya lewati dan bertemu dengan orang-orang hebat. Semua memberikan inspirasi, semua mengajarkan segala kebaikan hidup. Ilmu bisa datang dari siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Dengan mengenal seseorang lebih dekat, membuat kita semakin menyadari betapa berartinya dia dalam hidup kita. Dengan membaca buku ini, berharap kalian juga segera memulai kisah hidup kalian. Nyatakanlah apa yang ingin kalian ungkapkan. Bingkailah kisah hidup kalian dalam sebuah karya. Kita akan melihat ternyata mereka merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan. Apa yang harus aku tulis?, mungkin itu pertanyaan yang akan pertama muncul. Ada banyak inspirasi yang bisa kita tuliskan. Mulailah saja, dan lakukan secara konsisten setiap hari. Tuhanlah sumber segala inspirasi. Hidup kita adalah sebuah Maha Karya Tuhan yang sudah selayaknya kita tuliskan. Inilah saatnya apa yang ada dalam hati kita dan ucapan kita menjadi sebuah karya tulisan. Kalau kita sudah membulatkan tekad dan hati, yakinlah kebiasaan baik menulis itu akan mengalir menginspirasi diri kita sendiri dan pastinya mengisnpirasi banyak orang.
    “Loving You” adalah tulisan pertama saya. Orang tua, suami, ketiga anak saya, kedua adik saya, murid-murid saya, dan semua guru saya menjadi inspirasi dalam setiap tulisan saya. Semua adalah kisah nyata yang saya alami selama 37 tahun ini. Masih banyak hal yang mungkin terlewatkan saat saya menuliskan buku ini. Saya membuka hati dan pikiran saya untuk menuliskan kembali setiap peristiwa yang saya alami selama berpuluh tahun ini bersama mereka. Akan ada kisah baru dalam masa depan kita. Namun kisah kita di masa lalu lah yang membuat kita akan semakin bijak menjalani setiap hari dan tahun kehidupan. Tuhan menjadikan pengalaman kita di tahun yang lalu untuk mendewasakan hati dan pikiran kita. Kita tidak akan melewati waktu kehidupan yang sama, namun Tuhan masih akan ijinkan kita melewati jalan kehidupan yang sama. Selalu ada pilihan dalam setiap keputusan hidup kita. Dengan mengingat kembali bagaimana baiknya Tuhan memimpin sepanjang tahun-tahun kita, maka kita akan semakin tahu apa pilihan tepat dan terbaik yang Tuhan mau untuk kita ambil. 

Mungkin saja kamu suka

Astri Supraptin...
Namaku Patikan Kebo
Erenn_Na
Amita Arunya
Eka Chandra Okt...
You Broke My Mental, Dad
Hariyanti
Jejak Bertuan
Afkar Althaf
Cinta di atas sajadah

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil