Loading
0

0

3

Genre : Keluarga
Penulis : Eva Ariyani
Bab : 30
Dibuat : 07 Juli 2022
Pembaca : 8
Nama : Eva Ariyani
Buku : 1

Kekautan Cinta Ayah

Sinopsis

Sosok ayah adalah kekuatan bagi anak-anaknya. Selalu memberi perlindungan, cinta dan pengorbanan. Bukan hanya ibu yang andil dalam cinta dan kasih di keluarga. Pilar kekuatan cinta ayah ini akan menjadikan sang buah hati kuat dan tegar dalam menghadapi hidup. Dalam ketegasan dan kebijakansanaanya menjadikan buah hati tumbuh dan belajar untuk tegak dalam segala situasi yang ia jalani. Ayah memahaminya dengan hati dan memutuskan segala pengorbanan dan juga cintanya dengan sepenuh akal pikiranmu. Gelombang kehidupan yang datang silih berganti, sang ayah akan menguatkan untuk tetap kokoh seperti karang di tengah laut yang takakan lapuk dikikis terjangkau ombak. Dalam tulisan ini akan menceritakan kisah bagaimana seorang ayah yang selalu teguh dalam pengorbanan dan juga untuk cintanya bagi buah hati dan keluarganya.
Tags :
#sarapankata

Awal Perjuangan

0 0

- Sarapankata

- KMO

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 01

- 434 Kata

       Kesempurnaan cinta hanya milik sang kuasa, yang mencintai makhluk Nya tanpa batas dengan segala kekuasaan Nya. Manusia yang seringkali memberikan batasan dan takaran.

      Dalam diri setiap manusia pun ada cinta tapi juga terkadang ada kebencian. Dimana sebagian besar manusia berfikir cinta itu dengan balasan cinta pula. Tak seperti cintanya orang tua kita. Mereka hanya selalu memberi cinta dan cinta tanpa mengenal kembali untuk dicintai.

       "Ka zara…kapan mendaftar kuliahnya ka?" tanya ibu mengagetkan lamunanku.             "O ya bu, dua hari lagi bu." aku terbangun dari dudukku dan menghampiri ibu.

      "Makanlah dulu, nanti belajarlah untuk persiapan ujian masuk perguruan tingginya nak," ibu menasehatiku sambil menyiapkan makan malam buat kita semua. Dan aku pun ikut beranjak dan membantu ibu menyiapkan semuanya. "Baik bu, zara akan berusaha bu." jawabku sambil tersenyum ringan.

       Kami meski hanya keluarga kecil, tapi kami selalu membiasakan makan bersama dimeja makan walau hanya dengan makanan sederhana. Kebersamaan itu yang mengajarkan kami untuk saling memiliki, menjaga dan menguatkan.

   Ibu yang penuh kelembutan dan ketaatan. Sedang ayah yang selalu mengajarkan disiplin, kekuatan dan tanggung jawab. Aku dan adikku sangat sayang pada ayah dan ibu. Meski kadang ada hal-hal yang membuat kita berbeda. Tp dalam perbedaan itu kita belajar untuk saling menghargai.

      Setelah ayah hadir di meja makan, kami pun mulai makan bersama. Sambil duduk ayah melemparkan pertanyaan yang sama dengan ibu, "kapan mau daftar kuliahnya kak?" Aku menjawab, "Dua hari lagi baru mulai pendaftarannya yah," jawabku. "Nanti setelah mendaftar dan mengikuti tes nya, apapun hasilnya itu yang terbaik ya nak," ayah menasehatiku dengan pelan.

        Pembicaraan kami di meja makan pun tak terasa berlanjut di ruang keluarga yang sangat mungil dan sederhana. Ayah menanyakan persiapan ku masuk kuliah dan juga adikku yang mau masuk SMA. Kami selalu diberi nasehat oleh ibu dan ayah hampir setiap saat dan kami pun tidak merasa bosan. Walau kadang nasehat itu berupa larangan tentang sesuatu. Jadi kadang hatiku merasa dihakimi, tapi setelah beberapa saat aku mengerti maksud ayah dan ibu. Semuanya untuk kebaikan anak-anaknya.

         Ayah dan ibu selalu merelakan apa saja untuk kami bisa mendapatkan pendidikan dan pembelajaran. Meski hanya seorang petani ayah selalu menomorsatukan pendidikan kami. Bagi ayah lebih baik mewarisi ilmu daripada mewarisi materi. "Ilmu bisa menjaga kita semua sedangkan harta atau materi harus kita yang menjaganya," itu kata ayah yang selalu terngiang di telingaku dan adikku.

   Waktu terus berlalu dan waktu pengumuman hasil tes seleksi perguruan tinggi pun telah tiba. "Alhamdulillah aku bisa masuk," ucap syukur dalam hati. Tapi jauh didalam sisi hatiku yang lain terus berbayanh bagaimana dengan biayanya. Apakah ayah sudah menyiapkan semuanya atau … . Terawangku dalam hati yang membuatku terpaku dan terus meraba keadaan.



Awal Perjuangan

0 0

- Sarapankata

- KMO

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 02

- 446 Kata

         Kak zara, bagaimana hasil pengumuman kelulusannya?" Ayah bertanya di sela-sela waktu santai kami. Aku pun menjawab, "Alhamdulillah yah, zara diterima di perguruan tinggi negeri itu yah". Sambil dengan tatapan hampa aku menjawab pertanyaan ayah yang security mengangetkanku.

        "Selamat ya kak… Semoga nanti ilmu yang kak terima di sana bisa bermanfaat buat orang banyak. Aamiin….". Ayah mengucapkan selamat dan mendoakan aku, demikian juga dengan ibu sambil memelukku penuh cinta, "Semoga semuanya berkah ya nak."

  "Aamiin ..." aku dan adikku juga mengaminkan doa ayah dan ibuku. Semua terlihat bahagia atas kelulusan usahaku. Namun hatiku tetap kalut, Karen bagaimanapun yang namanya kuliah tidaklah lepas dari yang namanya biaya.

       Pikiran yang terus menerawang jauh, dikejutkan dengan suara adikku yang begitu nursing, seketika mengagetkanku.

   "Tapi kok dari tadi kakak sepertinya kurang bersemangat, kenapa kak?" tanya adikku disela diamku. Ayah dan ibu pun menoleh kepadaku dengan penuh tanda tanya members sikapku it.

  "Kalau ada sesuatu yang mau dibicarakan ya disampaikan saja kepada kami kak," ibu bertanya dan mecoba untuk menguatkan dan menyakinkanku.

       "Eee...tidak apa-apa ibu, aku hanya… ." jawabku yang terputus dengan penuh keraguan. "Hanya kenapa kak?" ayah memastikannya.

   Ibu mendekati ku dan berkata,"Jangan ragu kak, sampaikan semuanya. Biar kami tahu apa kendala yang membuatmu ragu." Ibu mengelus jilbabku. Ayah pun ikut memandang ke arahku dan dari tatapan matanya yang penuh kehangatan, seolah meyakinkanku untuk mampu mengungkapkan isi hatiku tanpa ragu.

     Dengan segenap kekuatan ku, aku pun menyampaikan sesuatu yang ada di benakku. "Tapi yah bu…biaya untuk masuknya dan tiap semesternya lumayan yah. Zara takut, jika nanti kita tidak bisa membayarnya", ungkapku dengan kehati-hatian dan rasa khawatir. Ayah menghela nafas dalam-dalam, " kak…ketika niat kita lurus dan yakin pada Alloh, insya Alloh…Alloh pun tidak akan mengecewakan kita. Semua yang terjadi itu atas izin Nya. Yang memampukan dan yang tidak memampukan hanya Alloh yang berkehendak. Jangan pernah, ragu untuk niat yang baik", ayah menasehatiku dengan segala kebijakannya. Kalimat beliau mampu membuka mata hatiku dan bisa sedikit aku pahami tentang konsep hidup yang harus dijalani.

       Aku pun tak bisa berkata-kata, hanya tertunduk malu mendengar nasihat ayah. Dalam hatiku berdesis pelan, " Ayah saja punya keyakinan yang sangat luar biasa, kenapa aku harus ragu. Aku harus menjalani semuanya dengan penuh keyakinan dan semangat. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh kepada siapa saja yang dikehendaki."

       "Bagaimana kak, kakak sudah yakin?" ibu mengagetkan lamunanku. "iiiyyyaaa bu, insyaa Alloh zara yakin" Jawabku. Dalam batinku aku merasa malu dengan pola pikir ku yang sempit. Aku hanya berpikir melihat usaha manusia saja. Padahal segala sesuatu yang terjadi adalah sudah menjadi kehendak Nya. Kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Untuk hasil, semuanya kita serahkan kepada Alloh. Karena hak sepenuhnya yang terjadi di atas dunia ini dan isinya hanya atas ketentuan Alloh.


Awal Perjuangan

0 0

- Sarapan Kara

- KMO

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 03

- 438 Kata

    Keyakinan ayah dan ibu membuatku tenang dan memberiku kekuatan untuk terus maju dengan segenap kemampuan yang aku miliki. Dekap kasih ibu membara di setiap sudut hatiku yang tak pernah bisa terurai dengan kalimat. Semangatku untuk bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang anak yang bisa menjalankan amanah terindah ini. Seperti halnya ayah dan ibu selalu menjaga kami dengan penuh kasih dan ketulusan.

     "Bu…atur semua keperluan anak-anak. Jangan sampai anak-anak merasa kekurangan. Tapi kita juga tidak boleh memanjakan mereka bu. Mereka harus bisa mandiri dan maju bu" pak Tohi mencurahkan isi hatinya kepada istrinya

    "iya yah, ibu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurus semua keperluan anak-anak dalam segala situasi," ibu membalas isi hati suaminya dengan segala pemahamannya.

      Keduanya saling pandang untuk selalu menorehkan senyum dengan segala situasi. Jika ada luka sedalam apapun rasa yang terlukis mereka akan berusaha untuk menyimpannya rapat-rapat. Suami istri ini akan selalu saling menguatkan satu sama lainnya.

        "Kak zara… Aku pulang kak…"teriak syifa yang baru saja pulang dari sekolah. Beberapa hari di sekolah membuatnya selalu ceria, katanya teman-teman di sekolahnya sangat menyenangkan.

         Sambil terus mencari kakaknya, syifa juga mengagetkan ibunya di belakang. Ibu nya tersenyum ringan dan berkata,"Syifa…jangan terburu…kakakmu sepertinya sedang di kebun bersama ayah".

      "Wah, kakak ini siang-siang sudah main di kebun saja kah bu?" tanyanya dengan manja.

       " iya sayang, kakakmu itu tidak pernah mau diam di rumah saja, apalagi lihat ayah sedang panen jagung nak". Ibu menjelaskan.

       "Wow…jagung di kebun ayah sudah bisa dipanen kah bu???asyikkk…aku juga selesai mandi ini mau menyusul kakak ya bu". Tekan syifa dengan nada semringah.

    Ibu hanya mengangguk pelan dan tersenyum pada Syifa yang selalu bersemangat membantu segala kegiatan ayah dan ibunya. Syifa pun tidak pernah malu untuk membantu orang tuanya dalam bentuk apapun. Meski berjilbab Syifa sedikit tomboy dan ceria. Matanya yang selalu berbinar seperti mentari pagi menyapa bumi ini, dia hampir tak pernah terlihat sedih. Suaranya terdengar nyaring dan seperti kicauan burung dipagi hari.

       "Ibu, aku mau menyusul kakak ya bu". Kilahnya sambil berlalu dari ibunya dan ibu menggenggam pergelangan tangannya, "Tunggu syifa, apa tidak sebaiknya makan dulu sayang?" tanya ibu sambil memohon untuk duduk dulu dan makan. Dengan segala bujuk rayu ibunya akhirnya Syifa pun mengiyakan permintaan ibunya.

     "Baiklah-baiklah ibuku sayang…setelah makan tapi syifa langsung ke sana ya bu?" sambil menarik kursi makan syifa setuju dengan permintaan ibunya.

      Ibunya pun mencubit pipi syifa yang merona dengan penuh kasih. "Baiklah sayang, silahkan makan tuan putri…." sambil mempersilahkan syifa untuk duduk dan makan terlebih dahulu, ibunya mengembangkan tangannya bak mempersilahkan tuan putri makan.

     "Thanks mom…i love you mom…." ciuman ringan mendarat di pipi coklat ibunya. Syifa selain anak yang ceria dia juga sangat penyayang pada keluarganya


Berjuang bersama ayah

0 0

  • Sarapan Kata

  • KMO

  • Kelompok 3/Jejak Aksara

  • Day 04

  • 485 Kata


    Bu, syifa sudah selesai makan. Sekarang Syifa menyusul kakak sama ayah ya bu?" Tanya Syifa dan ibunya pun mengizinkan Syifa untuk pergi ke kebun.

    "Hati-hati ya sayang, dan jangan ganggu kakakmu lho ya…" ibu mengingatkan Syifa yang kadang suka iseng dengan kakaknya itu. Tp kedua nya tetap saja saling merindukan dikala berjauhan. Kedua anak itu memang menghadirkan kebahagiaan buat di keluarganya.

     Ibu melanjutkan pekerjaan di rumahnya sedang Syifa bersepeda menyusuri jalan setapak menuju ke kebun ayahnya. Sepanjang jalan dengan lincah dan ceria terpancar dari aura wajahnya,Syifa terus mengayuh sepedanya.

    " Ayah … kakak … Syifa datang nie… siap membantu…", dengan senyum ringan Syifa mendekat ke ayahnya. "Sini dek… jagung ayah panennya bagus-bagus nie dek", Jawab Zara yang sudah mendengar teriakan adiknya itu.

   "Wah, bagus dong kak. Besok bisa direbus terus kita jual ya kak. Besok kan kak zara masih di rumah kan kak?" Syifa terus menerus mengeluarkan isi hatinya.

      Sambil tersenyum zara pun menjawab pertanyaan syifa, "Eeee…sepertinya kakak besok tidak bisa membantu, jadiiii…besok princes syifa yang jualan dong". Sambil terkekeh membelakangi adiknya, yang itu menandakan kalau zara tidak serius dengan ucapannya.

    Dengan reflek terdiam, Syifa pun manyun, "Ya…kakak ga bisa temenin Syifa dong. Padahal kan….." Sambil memasang muka penuh dengan kecewa dan memelas. Kemudian zara pun mendekati adiknya yang tengah termanyun dari tadi. "Syifa sayang…emang kalau kakak tidak bisa temenin besok, Syifa ga mau bantu ayah ya?" dengan lembut zara kembali menggoda adiknya dengan pertanyaan yang masih membuat adiknya tidak bersemangat.

       "Eng eng engga gitu kak…kan syifa cuma jadi ga ada temen yang buat diajak ngobrol kalau keliling mbak. Jadinya ga seru deh kak," Jawab Syifa masih dengan nada datar.

    "Jadi tetep berani dong buat bantu ayah jualin jagung rebus," zara terus menerus membuat kesabaran adiknya hampir tak berujung.

     " Ya tetep bisa kok, walau tanpa kakak, Syifa kan anak pemberani kak". Jawab Syifa dengan nada yang lebih bersemangat.

      "Ya ya ya… Kaka percaya adik kakak yang satu ini memang luar biasa pemberani dan selalu ceria," Zara menepuk-nepuk pundak Syifa dengan penuh cinta.

      Sambil merapikan jagung-jagung yang mau dibawa pulang, pak Tohi sesekali melontarkan senyum secerah mentari pagi melihat anak-anaknya rukun dan selalu bahagia meski mereka hanya bisa menikmati kesederhanaan. Dalam hati pak Tohi bangga sekali memiliki anak-anak yang sholeh seperti Zara dan Syifa. Rasa syukur tak terhingga yang terus mengalir dalam setiap aliran darah pak Tohi.

  "Terima kasih Ya Alloh, Engkau mengaruniai kepada hamba Mu ini anak-anak yang baik dan sholeh," Desir hati pak Tohi berdesis lembut, sambil menatap anak-anaknya. Pak Tohi tahu kalau Zara hanya sedang menguji adiknya Syifa tentang kegiatan besok. Akan tetapi pak Tohi pura-pura tidak tahu akal pikirannya Zara. Biarlah akan menjadi kejutan buat Syifa besok.

    Setelah semua dirasa cukup dan semua sudah beres pak Tohi pun mengajak anak-anaknya untuk persiapan pulang ke rumah. "Ayo nak, sudah sore sebaiknya kita pulang dulu. Sepertinya yang kita petik sudah cukup buat direbus besok pagi". Ajak pak Toha pada anak-anaknya yang masih saja bercanda.



Berjuang bersama ayah

0 0

  • Sarapan Kata

  • KMO

  • Kelompok 3/Jejak Aksara

  • Day 05

  • 421 Kata


     Sepanjang perjalanan ke rumah, kedua peri baik hati itu terus saling menggoda. Sesekali diantara dari mereka terdengar gelak tawa yang membuat tumbuhan di sekitarnya pun ikut berseri melihat keceriaan mereka. Meski dalam keterbatasan mereka berdua selalu ceria dan tetap saling menyayangi.

      Lelah yang tergurat di wajah senja pak Tohi seakan memudar. Rasa lelahnya terbayarkan ketika melihat anak-anaknya saling menyayangi dan rukun. Semua terasa ringan dijalani oleh pak Tohi, meski keringat deras mengalir pada kulitnya yang tak lagi kencang. Kesabaran dan keikhlasannya serta rasa bersyukurnya membuat keluarga itu selalu Terasa sempurna

    "Nak, langsung mandi biar tubuh kalian tidak gatal-gatal ya nak!", pinta pak Tohi. "Baik ayah, tapi ayah mandi dulu ya yah" kata Syifa. Akhirnya Ayah mandi terlebih dahulu, baru setelah itu baru anak-anaknya.

      Sore itu menjadi hari yang ceria buat merek sekeluarga. Ada senyum tergurat di wajah bu Tohi melihat anak-anaknya yang tidak pernah habis untuk saling menggoda. Begitu juga dengan pak Tohi yang selalu merasa senang dengan candaan anak-anaknya. Di setiap percikan suara-suara buah hatinya tergambar nuansa kebebasan yang menorehkan senyum kebanggan di hati pak Tohi

  Setelah melaksanakan disepertiga malamnya yang dilanjut dengan shalat subuh, pak Tohi dab istrinya melakukan aktivitas paginya yang diikuti dua buah hatinya yang baik. Mereka ada mempersiapkan sarapan pagi dan juga ada yang merebus jagung untuk dijual ke warga sekitar rumahnya.

    "Yah, jagung rebusnya sudah siap yah", seru kak zara pada ayahnya. "Aku juga sudah siap untuk menjualnya yah", saut Syifa yang dari tadi dalam posisi siap dan tebaran senyum yang merekah tanpa beban.

     "Baiklah kalian sudah siap semua ni sepertinya?sekarang…" Ayah menjawab sembari tersenyum. Belum selesai ayah berbicara, Syifa terhenyat "Kita???Syifa saja kali yah. Kakak kan…". Sebelum berlanjut kata-kata Syifa, kemudian kak Zara melontarkan kata-kata sambil mendekat ke adiknya itu "Kakak kan akan ikut membantu adik kakak yang luar biasa ini", sambil.mencubit hidung adiknya itu.

 "Serius kak???wow wow yes yes…asyikkkk…pasti akan lebih menyenangkan bersama kakak", serbu Syifa dengan sejuta kata-kata yang heboh dan kegirangan. Dia memang anak yang ceria dan tidak pernah putus asa.

 Ibunya hanya tersenyum dan bergeleng-geleng melihat anak-anaknya yang saling bertautan penuh dengan kasih dan saling menguji. Mereka tetap selalu terlihat kompak dan penuh canda. Pak Tohi dan istrinya sangat bersyukur dengan segala keterbatasan yang dimiliki akan tetapi semua terasa lebih dari cukup. Cinta kasih yang dimiliki dalam keluarga membuat mereka tak serapu kayu yang usang dimakan usia.

      Mentari mulai menunjukan cahayanya, menyibak kabut kesunyian dengan diiringi nyanyian burung menyambut datangnya sang mentari. Wajah berseri menyambut mentari dengan segenap asa untuk bisa merajut mimpi bersama rasa cinta.


Tragedi berdarah syifa

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 06

- 431 Kata


        Zara dan Syifa adalah kakak beradik yang sangat luar biasa dalam menyikapi kehidupan yang dijalani. Mereka berdua ceria tanpa gengsi dalam membantu ayah dan ibunya. Meski anak-anak seusianya banyak yang berpangku tangan melihat kesibukan orang tua mereka masing-masing. Tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk jalan-jalan dengan temannya, main hp atau mungkin malah hanya sekedar beli jajan di mall.

   Betapa hebatnya mereka, seiring mentari pagi yang semakin bergulir ke atas, jualan mereka sudah habis. Hati mereka sangat gembira dan saking gembiranya Syifa, ia dikagetkan dengan klakson sepeda motor.

      "Tottttt……" betapa kagetnya Syifa dan akhirnya Syifa pun tidak bisa menghindar dari sepeda motor itu. Karena sepeda motornya pun melaju dengan kecepatan tinggi sekali.

   "Prakkk….." Syifa pun terjatuh dan kepalanya membentur ke tepi jalan.

   " Subhanallah…." Terika kak Zara.               "De…de…de…de…bangunlah de " Zara mencoba membangunkan adiknya dengan derau air mata. Perasaanya bagai tersambar petir di siang hari, teraduk bagaikan bubur diatas bara api. Sungguh itu sangat menakutkan dan kekhawatiran tergurat dalam bayangan Zara.

   Lalu Zara pun minta tolong dengan penuh harapan akan datang sang penolong. "Tolong…tolong...tolong….." dengan berderai butiran bening dari mata yang indah itu. Karena pemotor yang menyerempet Syifa malah tidak berhenti, ia malah langsung tancap gas. Masya Alloh sesuatu yang sangat menyakitkan. Dipangkuannya darah terus mengalir dari kepala adiknya karena mengalami benturan.

      Dengan derai air mata yang hampir tak terhenti itu, "Tolong kami bapak ibu semua, tolong…tolonglah…". serasa semuanya sangat tak terang.

       Warga Pun mulai berdatangan dam ada yang langsung ambil mobil untuk membawa Syifa ke rumah sakit terdekat. Hampir semua warga tahu Syifa dan Zara itu anak pak Tohi. Banyak sekali warga yang iba kepada mereka. Selain warga yang mengantar Syifa k rumah sakit dan ada pula warga yang segera melaporkan kepada pak Tohi dan istrinya.

      "Maaf pak Tohi…anu pak…anu pak…" Seorang pemuda menyampaikan informasi tersebut dengan terbatah-batah.

   "Anu anu apa toh mas???sampai gugup begitu mas". sela pak Tohi dengan penuh rasa penasaran.

     "Anu pak…maaf pak…anu….anu Syifa keserempet sepeda motor pak", akhirnya mas jaya menyampaikan informasi itu. Pak Tohi dan istrinya sangat terkejut dan langsung terkulai.

     "Astaghfirullah…" Pak Tohi dan istrinya lemas tak berdaya disudut kursi terasnya.

  "Lalu Syifa sekarang dimana mas?"tanya pak Tohi kemudian.

   "Sekarang Syifa sudah dibawa ke rumah sakit terdekat sini oleh pak Dahlan.

     "Ayo bu, kita langsung ke sana saja", pinta pak Tohi. "Ayo pak, ibu juga sudah ingin segera melihat Syifa", sambil menghapus butiran air matanya yang sedari tadi tidak kuat untuk dibendung.

  Sesampainya disana Syifa sedang ditangani dokter. Zara yang masih terus menyeka air matanya dalam hatinya selalu berdoa untuk kesembuhan adiknya itu. "Ya Alloh sembuhkan adikku dan sehatkanlah", doanya dalam hati.



Tragedi berdarah syifa

0 0

- Sarapan kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 07

- 469 Kata

     "Kak, bagaimana kondisi adikmu kak?", tanya ibunya pada Zara. " Dengan penuh gelombang pilunya Zara pun membuka suara, "Adik di ruangan dokter bu, maafkan kakak ya bu. Kakak tidak bisa menjaga adik dengan baik".

 Zara memeluk ibunya,"Sssttttt…tenanglah kaka, ibu yakin adik akan baik-baik saja kak. Ayo berdoalah kakak", Ibunya mencoba menenangkannya. Begitu juga dengan pak Tohi membantu menenangkan anaknya yang disudutkan pada rasa bersalah, mengapa harus adiknya yang diposisi itu. "Seandainya saja aku yang diposisi itu mungkin Syifa tidak akan mengalami hal seperti sekarang ini", gerutunya dalam hati.

   Dokter dari ruangannya syifa pun keluar dan memanggil salah satu anggota keluarga dari pasien Syifa. "Keluaraga dari Syifa…?????

     Pak Tohi, istri dan Zara pun menuju keruangan dimana Syifa dirawat. Dengan perasaan yang teraduk-aduk, terombang-ambing dalam lautan lepas dengan segudang pertanyaan.

    "Maaf bapak ibu…ini Syifa ada benturan di kepala akibat dari kecelakaan yang terjadi tadi, jadi Syifa harus segera dioperasi pak bu" jelas dokter

 Secara bersamaan mengucap, "Subhanallah.…astaghfirullah….", sangat mengejutkan bagi keluarga itu. Haruskan semuanya harus berjalan seperti ini. Sungguh luar biasa Alloh menguji hamba Nya. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Syifa.

     "Ini memang sangat berar pak bu, akan tetapi hal ini harus segera diputuskan bu. Kasihan Syifa", kata dokter.

 "Lakukan yang terbaik dok, kami mengikuti apa yang menurut tim medis terbaik. Jika jalan operasi ini adalah yang terbaik maka lakukanlah", Jawab pak Tohi.

  "Tapi sebelumnya mohon maaf, tidak bermaksud apa-apa ya bapak ibu, untuk pembiayaannya dalam pelaksanaan tindakan ini cukup…." Dokter berusaha menjelaskan tapi supaya pak Tohi dan keluarga tidak tersinggung. Tapi sebelum sampai pada penjelasannya pak Tohi sudah menjawab "Berapapun biayanya kami akan membayarnya, demi kesehatan anak kami. Tolonglah dok, lakukan yang terbaik buat anak kami", pinta pak Tohi.     "Baiklah bapak ibu akan segera kami lakukan tindakan medis selanjutnya. Nanti bapak ibu menunggu diluar ya semuanya", Dokter menyarankan pada kami.

  Mereka menunggu dengan gelisah. Daripada mondar mandir pak Tohi mengajak anak dan istrinya ke masjid dekat area rumah sakit. Mereka memanjatkan doa dengan penuh harapan yang tak akan bisa terhapuskan. Semuanya terasa sunyi dan penuh buliran bening membasahi sajadah panjang mereka. Seakan mereka tak ingin dipisahkan satu sama lainya.

   Setelah selesai berdoa mereka pun kembali ke ruangan tindakan operasi. Akan tetapi sebelum sampai Zara menghentikan langkah ayahnya. "Yah, uang tabungan kakak, bisa digunakan dulu buat pengobatan adik yah", saya menyampaikan isi hatinya.

      "Kak, itu uang untuk kamu kuliah dan memenuhi semua kebutuhan kuliah kamu. Sebaiknya biarkan saja dulu kak, in syaa Alloh ayah masih ada sisian rezeki kak…" jawab ayahnya. "Tapi yah….uang oop…", sambut Zara, akan tetapi terputus dengan jawaban ibu, "Kak...in syaa Alloh ayah sama ibu masih ada sisian. Jadi kakak jangan khawatir ya", kata ibu.

   "Baiklah bu, semua semuanya selalu baik-baik saja. Mari kita lanjut ke ruang operasinya adik yah bu", pinta Zara yang sudah tak sabar melihat adiknya keluar dari ruang operasi itu.



Kesembuhan Syifa dan Balasan Kebaikan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 08

- 410 Kata

   Selang beberapa saat kemudian keluarlah Syifa yang selesai operasi di area kepalanya. Subhanallah, Syifa yang gundul mengejutkan keluarga. Akan tetapi dilihat-lihat malah makin cantik. "Semoga tinggal sehatnya ya de", doa kak Zara untuk adiknya. Meski tetap tidak bisa membendung air matanya.

      Setelah Syifa sadar dan mulai bisa diajak ngobrol, maka seperti biasa kakaknya selalu menggodanya. Zara juga minta maaf atas kejadian yang menimpah adiknya. "Bagaimana Syifa, apa yang Syifa rasakan nak", tanya ibunya sambil mengelus tangan lembut syifa. Kemudian syifa hanya mengedipkan matanya yang menandakan ia masih sangat lemah. "Sudah tidak usah dijawab nak, syifa istirahat saja dulu. Ceritanya nanti kalau sudah maksimal sembuhnya.

   Ayah, ibu dan zara berusaha selalu menghibur syifa dengan pelan-pelan. Karena tahu syifa pasti lebih butuh istirahat akan tetapi motivasi pun sangat penting buat syifa tersenyum.

      "Baiklah nak, ayah dan ibu pulang dulu ya. Adik dijagain kak Zara ya kak", ayah menyampaikan pesan buat mereka.

    Sepanjang perjalanan ibu dalam hatinya bertanya-tanya dengan sejuta pertanyaan yang akhirnya dengan rela membuka pertanyaan. "Yah, untuk biaya operasinya Syifa bagaimana?" tanya ibu pelan-pelan. Dan pak Tohi hanya tersenyum dan berkata, "in syaa Alloh nanti ada".

 Sesampainya di rumah, pak Tohi menceritakan lagi pada istrinya kalau sebetulnya ia diam-diam ia menyisihkan uang dalam priok tanah miliknya.

    "Sebetulnya ayah menyisihkan itu untuk pendaftaran haji kita bu. Akan tetapi Alloh berkehendak lagi. Manusia hanya bisa berencana bu, tapi semuanya keputusan adalah hak Alloh. Jadi uang ini bisa dimanfaat untuk Syifa". Jelas pak Tohi dan membuat yakin pada keputusan suaminya.       Air mata seorang ibu meleleh dengan penuh kebisuan dan keraguan.

 "Tapi yah, apa nanti kita bisa mengumpulkannya lagi, apa tidak sebaiknya kita pinjam ke kakakku dulu yah?", sela istrinya di tengah-tengah uraian air matanya.

      "Bu, anak itu adalah amanah Alloh yang harus kita jaga dan kita rawat dengan baik. Jangan pernah takut akan rezeki yang Alloh berikan. Ini adalah rezeki yang Alloh titipkan buat kita untuk merawat anak-anak kita. In syaa Alloh ketika Alloh memampukan setiap hamba Nya untuk datang ke rumah Nya, maka Alloh sendiir yang akan memampukannya", terang pak Tohi menguatkan istrinya itu. Bu Tohi masih terisak dalam tangisnya.

      "Semoga kita tetap dimampukan untuk bisa berangkat haji ya yah…",Disela kebisuan dalam memahami kalimat suaminya bu Tohi mengucap doanya. "Aamiin…..pak Tohi mengamininya.

  Meski masih terasa sesaak didada istrinya harus merelakan porsi hajinya demi kesembuhan anaknya. Padahal uang itu dikumpulkan suaminya sejak anak-anak masih kecil. Tapi ia pun tidak rela jika melihat buah hatinya sakit tanpa melakukan apapun yang terbaik buat anaknya.



Kesembuhan Syifa dan Balasan Kebaikan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 09

- 433 Kata

    Menjelang senja yang merona pak Tohi dan istrinya menuju ke rumah sakit dengan sepeda motor legendaris miliknya yang usianya mungkin lebih tua dari sang pemiliknya. Suami istri ini sangat sederhana bahkan jika dibandingkan dengan yang ada disekitarnya mereka termasuk dari golongan yang sangat biasa, akan tetapi hatinya luar biasa.

   Ketika akan memasuki ruangan anaknya ia tertegun mendengar panggilan dari seseorang di belakangnya. "Pak Tohi…pak…"suara tidak asing buat pak Tohi, tapi pak Tohi sudah tidak begitu mengenal wajah itu. "Maaf sebelumnya, ini dengan siapa ya mas?" Tanya pak Tohi pada pria tampan yang dari tadi memanggilnya. "Saya yusuf pak…" pria itu mengenalkan diri bernama yusuf. "Eeee…" pak Tohi mencoba mengingat kembali siapa pria yang ada dihadapannya itu. "Saya yusuf, yang dulu waktu saya masih SMP hampir saja ketrabrak mobil saat dulu saya ikut mamih ke pasar", pria itu mencoba menjelaskan kembali agar ingatan pak Tohi tentangnya kembali.

    "O…ya ya…waduh mas yusuf sekarang sangat tanpan…gimana kabar mas?bapak ibu sehat kan mas?" Begitu ingat semuanya, pak Tohi malah bertanya macam-macam. "Alhamdulillah pak semuanya sehat. Bapak dan ibu mengapa sekarang ada disini?siapakah yang sakit?"tanya mas yusuf.

   "Ini mas anak saya tadi siang baru melaksanakan operasi, karena kecelakaan. Tapi pengendara sepeda motornya kabur mas dan anak saya harus segera dilakukan tindakan operasi."Jelas pak Tohi.

    "Sekarang anak pak Tohi di ruang mana pak?",tanya yusuf dengan cemas.

     "Anak saya di ruang 27 mas",jawab pak Tohi dengan pelan.

    "Baiklah pak, nanti saya akan ke sana. Tapi ini saya harus segera ke lantai 2, saya sedang ditunggu", Sambil melihat jam tangannya, Yusuf berpamitan pada pak Tohi dan istrinya.

    "Baiklah nak, hati-hati dan salam buat bapak ibu", pesan bu Tohi.

    Sesampainya di ruangan anaknya, uang yang sudah ia bawa dalam kantong kresek hitam dari priok tanah miliknya itu, kemudian bu Tohi memasukannya dalam laci meja di kamar tersebut.

    Seminggu sudah berlalu perkembangan Syifa semakin berangsur membaik. Meski dalam keterbatasan, pak Tohi dan istrinya selalu mengutamakan kesehatannya.

   Saat sang surya mulai naik melewati atas kepala kita, mereka mendapat berita bahwa Syifa boleh pulang hari ini. Betapa senangnya mereka setelah menunggu sekian lama, akhirnya diizinkan pulang.

   "Yah, jika uang ayah masih belum cukup untuk biaya adik. Ini Zara tadi ambil uang di bank untuk membantu ayah dulu", terang Zara pada ayahnya.

  "Tidak usah nak, ayah dan ibu ada simpanan juga ini", terang ibu sambil menunjukan kresek hitam berisi uang.

  "Masya Alloh…ayah ibu dapat uang sebanyak ini dari mana?" tanya zara kemudian.

     "Eeeee…….",ibu mau menjawab tapi ragu-ragu dan menoleh pada pak Tohi.

     "Nak itu uang yang Alloh titipka pada kami untuk kesembuhan syifa", jawab pak Tohi dengan tenang.



Kesembuhan Syifa dan Balasan Kebaikan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Aksara

- Day 10

- 423 Kata

      Dengan penjelasan yang ada, pak Tohi meya?kinkan anak dan istrinya meski masih menyisakan pertanyaan dalam hatinya. Tapi kemudian zara menuju ruang administrasi rumah sakit, untuk melakukan pembayaran seluruh administrasi rumah sakit selama Syifa dirawat di rumah sakit tersebut. Walau dalam bayangannya masih bersinggungan ribuan keluh kesah yang tidak bisa diungkapkan.

     Di ruang depan kasir, zara menunggu antriannya dipanggil sambil termenung dengan sejuta pertanyaan pada ayah dan ibunya yang tiba-tiba saja punya uang sebanyak itu.

    "Apakah ayah pinjam ke pak jaya atau ke saudara?atau mungkin ayah menjual sesuatu yang ada di rumah atau…"terus saja pertanyaan bergelantungan dalam benaknya. Dan ia tergagap ketika kasir memanggilnya.

 "No antrian 8 rawat inap", kasir memanggil antrian 8.

 "Ya a a a ada … ", suaranya terputus-putus karena kaget. Zara pun akhirnya mendekat ke kasir. "Dengan keluarga pasien asyifa?" tanya petugas kasir rumah sakit. Kemudian Zara menanyakan semua totalnya jadi berapa.   "Semuanya jadi berapa ya mbak?", tanya Zara pada kasir tersebut.

  "Maaf mbak, untuk tanggungan atas nama mbak Asyifa sudah dibayar lunas", jawab kasir itu. Kembali kesekian kalinya Zara terperanga dan berbisik dalam hati,"apalagi ini?, Siapa lagi dan kenapa bisa seperti ini", Zara terpaku penuh keraguan dan ketidak percayaan. "Semua terjadi secara kebetulankah????atau ini kebaikan dari siapakah?" Zara masih terdiam. "Mbak…mbak..mbak…..apa semua baik-baik saja. Tanya petugas kasir. Zara gugup dan menjawab, "iya mbak, saya baik-baik saja" Jawab Zara tergagap.

     "Maaf mbak, siapa yang menyelesaikan semua administrasinya ya mbak?" tanya zara. "O ya mbak, administrasinya sudah diselesaikan sama dokter Yusuf," jawab wanita di dalam ruang kasir tersebut.     "Dokter Yusuf???" Zara semakin bingung dengan keadaan yang ada di hadapannya,dia tidak tahu siapa dokter Yusuf dan Zara pun hanya melongo dengan ribuan pertanyaan yang tersisa dalam benaknya.

     "Tapi kami tidak mengenal dokter Yusuf mbak, coba cek ulang mba. Siapa tahu bukan Asyifa ku mbak. Adikku dirawat di ruang 27. Barangkali itu Asyifa yang dirawat di ruang lain mbak", zara memastikannya.

      Petugas kasir juga mengecek kembali dan jawabannya benar-benar itu memang adiknya Zara. Hal ini menjadikan Zara semakin terpaku dalam rasa ingin tahu, siapakah dokter Yusuf itu. Sosok yang masih asing tapi sudah melakukan banyak hal untuk keluarganya, terutama adiknya.

   Karena sepengetahuannya tidak ada saudara yang menjadi dokter atau kenalan ayah seorang dokter juga. Sekian kalinya zara dikejutkan dengan beberapa kejadian. Apa lagi biaya ini tidaklah sedikit, masa ada orang yang tidak dikenal mau membantunya.

   Zara pun kembali ke kamar adiknya dengan masih membawa tanda tanya yang besar di hatinya.

    Zara mengetuk dan membuka pintu kamar adiknya dengan memberi salam. "Assalamualaikum …" dengan langkah gontai Zara mendekati ibunya.


Kebaikan selalu mendatangkan kebaikan lain

0 0

- Sarapan kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok3/JejakAksara
- Day11
- 433Kata

  "Waalaikumsalam…" ibu menjawab salamnya Zara yang terlihat kebingungan.
"Kenapa kak, kok sepertinya kebingungan kak?" ibu bertanya lagi sama kak Zara, tapi Zara masih terdiam saja.
  "Bagaimana zara, uangnya cukupkan?", tanya ibu nya dengan iba.
  Syifa yang kembali ceria mengagetkan kakaknya, "kak, haloo…abis ketemu pangerankah kak?sampai bengong begitu?" celetuk syifa dengan nada menggoda.
Suara Syifa mengagetkannya dan membuatnya tersadar dan semua pun tersenyum.
  "Anu yah…ini lho yah, tadi…" zara masih bingung mau menjelaskannya dari mana perihal keajaiban ini.
  "Tadi bagaimana kak...??", syifa menyela
"Tadi pas kakak mau bayar administrasinya, tapi kasir menolaknya dan mengatakan kalau semua biaya pengobatan syifa sudah dibayar" jelas zara. Semua terlihat terdiam dan terheran-heran juga.
  "Nah, bingung kan?kakak juga heran kenapa sudah dibayar sama dokter?"jelas zara selanjutnya.
    "Sama dokter?????", ayah dan ibunya kompak pertanyaan dan mereka pun saling pandang.
    "Apa dokter yang kemarin mengoperasi atau dokter yang kemarin datang untuk mengecek?",tanya ibunya dalam kebingungan. Karena uang yang dibayarkan tidaklah uang yang sedikit.
  "Entahlah bu, yang pasti namanya dokter Yusuf", jawab zara dengan santai.
    "Dokter Yusuf?????", tanya ayah dan ibu secara bersamaan.
  "Apa ayah dan ibu mengenalnya?", tanya syifa yang dari tadi menyimak.
  Dalam batin ayahnya,"apakah yusuf yang kemarin memanggilnya adalah seorang dokter di rumah sakit ini atau…".
      "Yah, yah …", panggil zara.
      Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar sana dan panggilan zara membuyarkan lamunan pak Tohi.
      "Masuk…", jawab pak Tohi
    "Assalamu'alaikum pak, maaf saya baru bisa ke ruangan ini", sapa seseorang yang memakai seragam putih dan berkacamata.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh", jawab semuanya yang berada di ruangan itu yang masih dalam kondisi syok.
    "Maaf nak, apa nak Yusuf seorang dokter di rumah sakit ini?", tanya pak Tohi
        "Iya pak, kebetulan saya bertugas di sini dan kembali dipertemukan dengan orang baik seperti bapak. Dulu kalau tidak ada bapak, saya tidak tahu bisa menikmati hidup sampai sekarang atau …" dengan berkaca-kaca dokter itu menjelaskan
    "Tidak nak, itu semua pertolongan Alloh. Hanya lewat lantaran saya mas", pak Tohi pun menjawab dengan menepuk pundak yusuf.
  "Jadi yang menyelesaikan semua pembiayaan anak kami mas Yusuf, eh maksud saya dokter Yusuf?" tanya bu Tohi
        "Ini sangat berlebihan mas, yang dulu bapak lakukan itu ikhlas dan malah bapak juga sudah lupa kejadian itu, biarlah kami tetap melakukan kewajiban kami di rumah sakit ini nak", terang pak Tohi.
      "Saya tahu pasti pak Tohi, tidak begitu saja mau menerimanya pak, tapi tolong izinkan saya melakukan kebaikan untuk diri saya pak. Dengan saya membantu bapak, saya bisa melakukan kebaikan ini yang nantinya juga akan kembali pada saya", pinta dokter Yusuf sambil menyatukan tangannya didadanya, memohon agar pak Tohi dan keluarganya tidak menolak bantuannya yang ikhlas itu.

Kebaikan selalu mendatangkan kebaikan lain

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok3/JejakAksara
- Day12
- 407Kata

        Semua yang ada di ruang itu haru, dengan kisah yang dialami dokter Yusuf dan pak Tohi di masa lalu. Dunia ini seakan begitu sempit, hingga yang tak pernah bertemu dapat bertemu kembali walau dalam jangka waktu yang lama.
      Tak ada yang tidak meneteskan air mata, semua mata basah dengan butiran mutiara kasih mereka. Hanya Tuhan yang tahu keikhlasan mereka yang ikhlas saling membantu satu sama lain tanpa pernah memandang kedudukan atau derajat manusia. Karena pada hakikatnya semua manusia sama,yang membedakan hanya keimanan dan ketaqwaannya saja.
      Dokter Yusuf pun memeluk pak Tohi dengan penuh cinta. Butiran air mengalir dari sudut mata kedua pria itu. Betapa indahnya kasih sayang yang terbangun karena cinta, bukanlah tembok tinggi kesombongan yang membuat manusia menjadi tinggi hati.
      Syifa yang akhirnya diijinkan pulang dan di rumah sudah disambut tetangga dan saudaranya. Perangai keluarga pak Tohi yang baik dan selalu menghargai orang lain membuat saudara dan para tetangganya sangat bersimpati atas musibah yang sedang mereka hadapi.
    Semuanya ingin tahu bagaimana keadaan Syifa, setelah kejadian itu menimpa Syifa. Gadis yang ramah, selalu ceria, dan suka membantu tetangganya. Bantuan dan doa dari saudara dan tetangga pun terus mengalir tanpa batas.
        "Ya Alloh kami bersyukur atas segala nikmatMu, ya Robb. Semua yang kami lalui ini adalah atas kehendak Mu ya Robb. Kami juga yakin Engkau pasti yang memampukan kami melalui ini semua." dalam hati bu Tohi terus mengucap syukur. Malam itu bu Tohi hanya duduk sendiri menunggu pak Tohi yang sedang keluar ke pos ronda.
      "Tok tok tok…..assalamualaikum bu… ." Suara ketokan pintu dan salam dari luar sepertinya menembus alam pikiran bu Tohi yang seketika. Dengan sedikit terkejut bu Tohi segara menjawab salam dan membukakan pintu.
        "Waalaikumsalam….tunggu sebentar yah", jawab bu Tohi sambil berjalan ke arah pintu yang diketuk pak Tohi.
      Malam itu pak Tohi dan keluarga bisa berkumpul di rumah dan menikmati kebaikan semua orang. Meski diterpa berbagai ujian hidup yang termasuk bukan ujian yg ringan, pak Tohi dan keluarga selalu bersemangat dan mensyukuri semuanya.
        Akhirnya pak Tohi melanjutkan hidup bersama istri dan kedua anaknya dengan lebih giat beribadah, lebih suka berbagi dan selalu menolong orang meski diri sendiri dalam keterbatasan. Bagi pak Tohi meski dalam keterbatasan manusia tetap harus melakukan kebaikan, meski sekecil apapun itu yang penting ikhlas hanya mengharap Ridho Nya.
    Pak Tohi mempunyai prinsip hidup bahwa barang siapa yang menolong saudara makan ia pun akan mendapat pertolongan Alloh. Jadi beliau tidak pernah takut tidak punya ketika beliau harus merelakan apa yang beliau miliki.

Kebaikan selalu mendatangkan kebaikan lain

0 0

- Sarapan kata
- KMO Club Batch47
- Kelompok 3/ Jejak Aksara
- Day13
- 433Kata

    Dalam setiap ujian, Alloh pasti akan mempersiapkan semuanya untuk menjadi lebih indah daripada apa yang dibayangkan oleh hamba Nya. Tidak mungkin setiap hamba dicoba diluar batas kemampuannya. Semuanya akan Alloh mampukan disetiap langkahnya untuk bisa kuat dalam menghadapinya.
    Sudah sering pak Tohi buktikan, berbuat baik tidak akan membuat kita miskin. Akan tetapi setiap kebaikan itu akan kembali kepada diri kita dengan kebaikan yang lebih jika kita ikhlas melakukannya. Karena Alloh adalah Maha segalanya baik di bumi maupun di langit.
  Pertolongan Alloh akan selalu datang tepat pada waktunya. Contohnya pertolongan Alloh melalui dokter Yusuf itu merupakan salah satu bukti nyata. Dengan melakukan kebaikan dimasa lalu bisa mendatangkan kebaikan di masa sekarang yang memang sekarang kita butuhkan pertolongan. Tidak ada suatu kejadian yang tidak ada manfaannya. Dr setiap kejadian pasti akan mendatangkan manfaat dan hikmah.
  Pada saat pengabdian pak Tohi dan keluarganya yang seharusnya menghamba pada Tuhan nya untuk ke tanah suci. Tapi beliau harus diuji dengan kejadian yg menimpah anaknya, sehingga beliau pun harus merelakan pendaftarannya ke tanah suci demi kesembuhan anaknya. Akan tetapi Alloh berkehendak lain. Alloh menurunkan hamba yang lainnya untuk bisa membantu pak Tohi dan keluarganya. Siapa lagi yang dapat memampukan selain Alloh. Semua hanya Alloh skenario terbaik di langit dan di bumi.
  Ketika pak Tohi sudah merelakan hartanya digunakan untuk kesembuhan anaknya. Akan tetapi Alloh mendatangkan malaikat penolong melalui sosok dokter Yusuf. Sehingga materi yang pak Tohi kumpulkan dalam priuknya itu masih utuh dan alhamdulillah bisa buat daftar haji di tahun ini.
        "Terima kasih ya Alloh atas segala nikmat yang Engkau hadiahkan untuk kami. Meskipun kami sering kali diuji tapi Engkau selalu menguatkan kami untuk bisa melalui semuanya dengan penuh keimanan pada Mu ya Robb….", dalam balutan butiran doa yang terucap lembut pada sang Kholik, yang selalu disertai rasa syukur pada Nya.
    Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh, kapan saja ketika Alloh mampukan meridhoi seorang hamba, maka hamba tersebut tidak akan dikecewakan. Berdoa, berusaha dan tawakal. Itu yang seharusnya manusia lakukan, agar bisa menikmati hidup dengan damai. Janji Alloh itu pasti untuk setiap hamba Nya.
  Pak Tohi hidup bahagia bersama anak-anaknya dan istrinya. Selalu terbarkan kebaikan dan kasih sayang dimanapun kalian berada. Pesan pak Tohi pada anak-anaknya.
      "Dalam hidup ini sebetulnya ladang untuk menuai semua yang kita tanam. Jika hal baik yang kalian tanam maka hasilnya pun akan baik. Tapi jika kalian merasa terdzolimi meski kalian telah berbuat baik, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya Alloh itu selalu bersama orang-orang yang sabar", nasehat pak Tohi pada istri dan anak-anaknya setelah melaksanakan shalat isya bersama di rumah. Malam itu mereka melaksanakan shalat di rumah karena sebelum isya ada tamu tetangganya yang datang.

Selalu Berpikir Positif dalam Setiap Kejadian

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- Day14
- 415Kata

Bagi pak Tohi ketika kita melakukan kebaikan jangan pernah mengukur kekuatan materi kita. Karena banyak hal yang bisa kita lakukan untuk kebaikan tanpa materi yang berlimpah. Semua tergantung pada hati kita untuk bisa mengenal kebaikan itu sendiri dan memaknainya dengan sempurna.

Selama masa pemulihan pak Tohi selalu jadi imam salat di rumahnya dan selalu memberikan nasihat pada keluarganya. Kalimatnya selalu menyejukan hati anggota keluarganya. Pola hidup sederhana dan selalu bersyukur membuat anak-anaknya menghargai beliau.
   
"Kekuatan cinta dan kasih sayang itu pula dapat memperkokoh impian kita. Jangan pernah berputus asa, teruslah berjuang untuk sampai pada titik yang kau impikan. Karena hasil perjuangan itu tidak akan pernah sia-sia. Tidak ada yang tidak mungkin ketika kita berusaha dan selalu berdoa. Bisikan doa yang kau panjatkan pada bumi akan mampu menembus langit jika kau bersungguh-sungguh", pesan pak Tohi yang membuat hati meleleh.
 
Pak Tohi adalah manusia sederhana tapi pola pikirnya yang sangat luar biasa dalam menjalani hidup. Semangatnya untuk hidup lebih baik selalu ada tapi bukan orang yang ambisi. Semua hasilnya akan dikembalikan lagi dengan Tuhannya. Hingga beliau pun tidak pernah putus asa dalam setiap cobaan hidup yang harus beliau lalui. Semua dinikmati dengan rasa syukur dan selalu menyerahkan semua hasil usahanya itu pada Tuhan tanpa keraguan sedikitpun.
   
Disuatu sore pak Tohi dan istrinya sedang berbincang di ruang keluarg sambil melepas lelahnya. Sambil melihat Syifa yang sedang asyik mengetik sesuatu di laptopnya.
   
"Yah, sebentar lagi Zara semesteran yah,"bu Tohi membuka percakapan.
   
"Iya bu, mungkin sekitar 2 bulan lagi ya bu", jawab pak Tohi.
 
"Iya yah, kita harus mempersiapkan semuanya yah," bu Tohi sambil menatap pak Tohi.
 
"Iya bu, in syaa Alloh ayah sudah memepersiapkannya dengan seijin Alloh bu," jawab pak Tohi dengan tenang.

"Tapi yah…", bu Tohi ragu.
 
"Bu, Alloh Maha Tahu segalanya, dan pasti akan lebih tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba Nya. Alloh akan memberikan yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Ketika kita ikhlas menjalani semua ketentuan Alloh maka Alloh pun akan menunjukan setiap langkah dalam menghadapi kehidupan ini", jelas pak Tohi dengan senyum mengembang dan tenang.
   
"Ibu jangan meragukan kekuatan ayah dong bu, ayahku ini adalah manusia terhebat bu. Pastinya ayah akan selalu memberi yang terhebat jg buat kak Zara", celoteh Syifa dengan dengan rasa bangga, yang mendengar obrolan ayah dan ibunya itu.
   
"Wah, anak ayah juga sekarang sudah hebat ni", sambil mendekati Syifa dan mendekatkan mukanya dengan Syifa.
   
"Karena ayahku adalah orang hebat, maka anaknya harus lebih hebat dan kuat dong yah", jawab Syifa yang tidak mau kalah dengan pujian ayahnya.

Selalu Berpikir Positif dalam Setiap Kejadian

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 429Kata
- Day15

Kehangatan ayah dan anak itu membuat ibunya tersenyum bangga dan bersyukur memiliki mereka. Walau dalam kondisi apapun mereka selalu saling menguatkan, meski tengah jatuh sekalipun.

Bu Tohi pun mendekati suaminya dan anaknya kemudian ikut memeluk mereka. "Kalian adalah orang-orang hebat yang membuat ibu lebih kuat, semoga kita semua selalu diberi kesabaran, keikhlasan dan selalu bersyukur dengan takdir yang harus kita jalani," sambil memeluk, bisik bu Tohi dalam damainya.
   
Ketukan pintu dan salam mengagetkan mereka, "Assalamualaikum … "suara kak Zara membuat ibu terhenyak bangun menuju pintu depan.
 
"Waalaikumsalam … ," jawab semua yang ada di dalam rumah.
   
Zara masuk rumah bersama ibunya dengan senyum indahnya, meskipun lelah Zara selalu bahagia saat sampai di rumah bertemu dengan keluarganya.
   
"Nah, ini dia wanita hebatnya ayah satu lagi," goda ayahnya pada Zara yang terlihat letih itu. Dengan senyum bahagia Zara mencium tangan ayahnya dan berucap, "Terima kasih yah … sepertinya lagi ada cerita seru nie yah. Maaf ya yah, Zara baru pulang."

"Tidak apa-apa kak Zara, kita hanya sedang berbincang-bincang ringan saja kok," jawab ayah dengan senyuman.
"Mandi dulu nak, biar lebih segar dan nanti bergabung lagi di sini," pinta bu Tohi.
 
Selesai mandi Zara langsung bergabung dengan mereka di ruang keluarga. Suasana hangat dengan penuh cinta membuat mereka tidak pernah merasa sendiri. Mereka selalu ada untuk satu sama lainnya dan selalu memberikan support dalam segala suasana.
 
Para wanita di rumah pak Tohi baik anak-anaknya maupun istri mereka semua selalu taat dan menghargai pak Tohi sebagai imam di rumah itu. Mereka saling bahu membahu untuk bisa menguatkan pondasi dalam rumahnya dan juga ingin membangun rumah di syurga bersama. Itulah yang membuat mereka tidak pernah putus asa dan tidak pernah mengeluh. Bagi mereka di setiap kejadian itu pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil.
   
Malam itu mereka saling mengungkap rasa, rasa yang tak pernah bisa digantikan apapun. Mereka sekeluarga bahagia dengan segala keterbatasan materi. Namun hati mereka terpenuhi rasa yang istimewa, yang menjadikan dunia selalu bersinar seperti mentari pagi yang selalu menampakkan cahayanya meski terhalang kabut. Tetaplah selalu bersinar meski dalam segala keterbatasan dan kekurangannya.
   
Keluarga yang istimewa adalah mereka yang bisa saling menguatkan dan memberi rasa nyaman. Tanpa harus mengeluh dalam segala kondisinya.
   
Suatu pagi pak Tohi menyampaikan pesan pada anak-anaknya dan juga istrinya, "Kebahagiaan itu kita yang menciptakan, bukan kita yang menunggu ada yang memberi kebahagiaan itu sendiri. Harta bukanlah ukuran kebahagiaan, tapi hati pemberian Tuhan inilah yang mampu menciptakan kebahagiaan yang kita inginkan."

Bu Tohi dan anak-anaknya saling menatap dan mengangguk mengerti apa yang disampaikan ayahnya. Karena mereka pun sudah membuktikan bahwa mereka selalu bahagia meski dalam setiap keterbatasan yang mereka alami.

Hikmah disetiap Kejadian

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 488 Kata
- Day16

Kadang Zara melihat orang-orang yang berlimpah materi yang selalu memperdebatkan sesuatu yang bukan urgent. Zara melihat tetangga yang berlimpah materi tapi kadang ada saja yang membuat mereka ribut dengan orang satu rumah itu. Dalam hati Zara, "Bukankan orang dengan banyak materi itu lebih mudah melakukan segalanya, karena ada daya dukungnya. Misalnya saja ingin memiliki fasilitas mewah tinggal beli atau ingin makan enak juga tinggal pilih. Terus kenapa mereka kadang ribut ya," hati Zara bertanya pada dirinya sendiri.

Dari situlah Zara berpikir bahwa hidup bahagia itu tidak tergantung pada apa yang kita miliki. Tapi apa yang kita pikirkan dan kita syukuri. Pikiran dan hati akan menuntun kita ke sebuah tindakan. Jika pikiran dan hati kita positif maka tindakan atau perbuatan kita pun akan positif. Sesuatu yang positif ini akan menghasilkan aura yang positif juga dalam kehidupan diri kita.
   
"Zara juga kadang tidak habis pikir, kalau jadi orang kaya itu kan harusnya enak. Kenapa harus ada keributan dan tak bahagia ya?entahlah apa yang mereka cari ketika semua materi merek pegang", bisik hati Zara sambil mengernyitkan alisnya. Helaan nafasnya juga menandakan tak mengerti tentang apa yang mereka inginkan dalam hidup.

Seperti halnya yang terjadi pada teman kuliahnya yang bernama Alya. Ia anak orang kaya, berangkat kuliah saja ia menggunakan mobil. Tidak seperti dirinya yang hanya menggunakan kendaraan umum dan sesekali naik sepeda motor butut milik ayahnya. Di tahun kedua kuliahnya Zara menikmati kesederhanaannya tanpa merasa minder.

Zara kadang merasa kasihan dengan temannya yang bernama Alya. Sebetulnya ia anak yang baik tapi karena mungkin ia kurang kasih sayang orang tuanya sehingga ia kadang lebih ugal-ugalan dan selalu merasa sendiri. Suatu hari Alya mendekati Zara dan mereka berbincang-bincang di bawah pohon yang ada di sekitar kampus. Dari perbincangan ini Zara mulai tahu tentang kehidupan pribadinya Alya bersama keluarganya.

"Ra…kamu, di rumah bersama siapa saja?",tanya Alya sambil mengotak atik handphone nya.
"Di rumah saya bersama ayah, ibu dan adik saya yang sudah SMU",jawab Zara sambil menulis sesuatu.
"Wah senang ya, kamu punya keluarga yang sempurna ra", lanjut Alya.
"Maksudnya sempurna?", tanya Zara kembali pada Alya.
"Ya…kamu memiliki ayah ibu yang selalu ada di rumah dan juga adik kamu yang tentunya bisa jadi teman buat berbagi, iya kan ra", Alya melanjutkan obrolannya
"Kamu juga kan Al, kamu punya segalanya Al, rumah mewah, mobil bagus dan barang-barang yang kamu miliki pun branded semua al", celoteh Zara sambil tersenyum membayangkan.
Mereka terdiam sejenak dalam hening

"Kami hanya punya cinta Al, kami hidup dengan penuh rasa syukur saja. Apapun keadaannya ayah selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur dan …", Zara menjelaskan pada Alya, akan tetapi terputus ketika melihat Alya matanya hampir berkaca-kaca.

"Al, kamu kenapa Al?kamu baik-baik saja kan Al?", dengan sedikit panik Zara lebih mendekat ke Zara.
Alya pun lekas menyeka air matanya,"Eeee…aku baik-baik saja ra", jawab Alya sedikit tergagap dengan menyembunyikan lukanya.

Dalam hati Zara penuh dengan tanda tanya besar. Kenapa Alya sampai seperti itu, apa ada kata-katanya yang menyinggung hatinya.

Hikmah disetiap Kejadian

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- Day17
- 410Kata

Untuk sesaat obrolan mereka terdiam, hanya saling tatap antara Zara dan Alya. Zara penuh tanda tanya dan Alya seolah ingin mengungkapkan semua isi hatinya. Namun Alya belum yakin tentang ceritanya itu bisa dimengerti atau tidak oleh Zara temannya itu.

"Eeee … Baiklah Al, maaf ya Al sudah mengganggu pikiranmu," kata Zara di isela-sela diamnya merek.
"Tidak apa-apa ra, aku hanya teringat dengan orang tua ku yang saling berjauhan dan pekerjaan yang menjadi prioritas mereka, mereka tidak pernah punya waktu untukku. Padahal aku anak semata wayangnya. Tapi … " kembali Alya tak bisa menahan butiran air matanya itu.
"Sabar ya, pasti Alloh sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah buat kamu suatu saat nanti," Zara mencoba menghiburnya.
"Iya ra, makasih ya ra. Kamu sudah mau mendengarkan ceritaku," jawab Alya sambil menyeka air matanya agar tak lagi tumpah.

"Ra … Aku ingin sekali menginap di rumahmu yang penuh cinta ra." Alya melanjutkan kata-katanya, meski ia masih terasa sesak.
"Aku bosan di rumah itu ra, dimana aku hanya berteman dengan tembok-tembok tinggi ayahku. Jangankan ayah atau ibu menanyakan, bagaimana kuliahku, teman-temanku atau yang lainnya tentangku. Setiap kali aku ingin berbicara sesuatu, dikira aku membutuhkan materi." Alya semakin tenggelam dalam kisahnya. Alya merasa Zara adalah teman terbaiknya. Meski begitu, baru kali ini Alya menceritakan sesuatu yang sampai Alya sangat terpukul.
"Al … Kamu adalah wanita hebat, karena kamu selalu berjiwa besar untuk tetap bersabar dalam kesunyian. Tapi yakinlah orang tua kamu itu sangat sayang sama kamu." Zara berkata dengan bijak untuk membuat hati Alya untuk selalu semangat dan tidak putus asa.
"Iya ra, makasih ra … tapi terkadang aku merasa ini tidak adil buat aku ra," Alya kembali mendung.
"Al … Alloh selalu memberikan sesuatu itu dengan sangat adil, hanya kita harus bersabar," Kata zara menasehati kembali.

Sambil menepuk-nepuk punggung Alya dengan penuh kasih sayang, Zara selalu berkata, "Sabar dan selalu bersyukur ya Al … " Zara menguatkan Alya dalam kepedihannya.

Zara tahu Alya pasti kesepian di rumahnya sendiri. Ia hanya ditemani para asisten rumah tangganya dan tukang kebun. Rumah yang begitu megah tapi mungkin sunyi tanpa kehangatan cinta.

Orang tuanya Alya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, hanya bs saling menyapa dalam hitungan bulan. Itu juga ayah dan ibunya sudah kondisi lelah jadi tak ada kehangatan untuk meluangkan waktunya buat Alya. Sering kali Alya ingin bercerita tentang kegiatannya di hari-hari kemarin, tapi ayah dan ibunya selalu menutup dan menganggap cerita Alya itu tidak penting. Alya hanya dekat dengan bi jum yang selalu ada waktu untuk Alya.

Harta bukan Jaminan Kebahagiaan

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok3/Jejak Aksara
- Day18
- 416Kata

Setelah berbagi dengan Zara, Alya sudah sedikit merasa lega. Ia pulang ke rumah dengan hati yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa mendapat pencerahan baru dari sahabatnya. Seperti biasa, setelah gerbang rumah dibuka Alya disambut dengan para asisten rumahnya dan ketika masuk rumah yang ia cari bi jumi yang sedari kecil selalu mendengarkan kisahnya Alya disetiap langkahnya dan bisa membuatnya tertawa.

"Bi … Bi jum … ." panggil Alya sambil berjalan menuju ke dapur.
"Bi … " panggilnya kembali.
"Iya non, bibi di belakang non," jawab bi Jumi dibelakang rumah sambil berjalan cepat menuju suara panggilan nona Alya yang baru pulang.
"Non Alya, sudah pulang toh? Mau makan apa nih non?bibi siapkan dulu ya non," jawab bi jumi.
"Engga usah bi, nanti bibi ke kamar atas ya bi, Alya mau ngobrol sama bibi." jawab Alya.
"Sekalian makannya dibawa ke atas apa non?" tanya bibi.
"Tidak usah bi, tadi Alya sudah makan di kampus. Jadi sudah kenyang bi," jawab Alya sambil jalan ke lantai atas.

Alya ke kamar atas dan mandi. Setelah selesai semuanya, ia merebahkan diri sambil membuka laptopnya. Kemudian tak lama ada suara ketukan pintu kamar Alya.

"Non … Non … Non … ," panggil bibi dari luar kamar.
"Masuk saja bi, tidak dikunci," jawab Alya dari dalam kamarnya.
"Non Alya cape ya non? Sini bibi pijitin kakinya non," bibi menawarkan jasa. Karena sudah menjadi kebiasaan Alya kalau setelah pergi dia kecepaian dan mnt pijit sama bi jum.
Biasanya sambil dipijit Alya menceritakan apa yang dialaminya atau kegiatan yang dia lakukan tapi kali ini Alya sedikit berbeda. Ia menolak tawarannya bi jum untuk dipijat.
"Tidak usah bi, Al ga sakit kok kakinya bi," Jawab Alya dan sedikit terdiam.

"Bi, kenapa ya bi mamih dan papih jarang di rumah? Kalaupun pulang ke rumah pasti sudah malam dan Al sangat sulit untuk bersama bi," Alya menyerbu bibinya dengan pertanyaan yang tak biasanya.
"Mamih dan papih nya non kan bekerjanya mang sampai sore non, jadi pulang sampai di rumah malam non," jawab bi Jum.
"Tapi kan setiap pekerjaan kan ada liburnya bi. Ini kok mamih papih liburnya entah kapan. Sampai Al pun lupa kapan terakhir bersama," jawab Al dengan rasa kecewa di dada.
"Iya non, tapi kan mamih dan papih melakukan semua itu untuk masa depan non juga," jawab bi Jum.
"Masa depan? Masa depan yang seperti apa bi yang mamih sama papih persiapkan. Semua teman-teman Al orang tua nya juga bekerja, tapi mereka selalu ada waktu buat bersama di rumah," Al mulai memberontak dan matanya mulai berbinar sendu.

Harta Bukan Jaminan Kebahagiaa

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 487 Kata
- Day 19

"Al tidak melarang papih sama mamih bekerja, tapi Al minta tolong untuk waktu bersama Al nya bi," Alya mulai mengurai air matanya. Bibinya pun terdiam bingung, bibi hanya memeluknya dari samping.

"Non yang sabar ya non, kan masih ada bibi, bi suti, bi nana, mamang dan om dion yang siap menemani non," jawab bibi sambil ikut terbawa suasana.

"Non Alya, nanti kalau pas papih dan mamih di rumah non bilang sama beliau apa yang non inginkan. Tidak baik menjelekan orang tua dan tidak maj menghormatinya non," lanjut bi jum menasehatinya. 

Alya masih terisak dalam lukanya, meski setiap tetesan air matanya terus ia seka dengan jemarinya. Namun semuanya membuat Alya tetap tak bisa mengendalikan diri. Ia sangat emosional dengan keadaanya di rumah itu.

"Bi jum … Al ingin mamih ada saat seperti ini. Al ingin mamih tahu kuliahnya Al bagaimana, Al punya teman siapa saja dan … " Alya terdiam dalam katanya. Ia semakin terisak dalam lukanya.

"Sudah ya non, sebaiknya sekarang non istirahat. Besok kan non jg berangkat kuliah lagi dan sekarang istirahat dulu supaya besok lebih baik ya non," jawab bibi jum menenangkannya.

Setelah Alya sedikit lega, bibi  membantu membereskan tempat tidurnya dan merapikan meja dikamar Alya. Bibi jum memperlakukan Alya seperti ke anak sendiri. Bi jum mengurus  Alya dari usia 2 tahun, semenjak baby sisternya pulang kampung dan tidak kembali lagi ke situ.

"Selamat istirahat ya sayang … " kata bibi pada Alya.

"Makasih ya bi … " saut Alya sambil menarik selimutnya.

"Sama-sama sayang, mimpi indah ya non," dengan senyum tulus bibi mengelus rambut Alya.

Pagi itu seperti biasa Alya hanya ditemani para asisten rumah tangganya. Sarapan pagi dan berangkat ke kampus. Dia selalu berharap di pagi hari ada yang membangunkannya dan mengingatkan sarapan bersama. Tapi semua itu hanya bayangan-bayang impian Alya, yang semakin hari semakin pudar.

Dengan ringan Alya berjalan menuju mobilnya dan berangkat menuju kampus yang hari ini ada jadwal kuliah pagi. Sesampainya di kampus bola matanya ke sana kemari mencari Zara. Ia bertanya pada temannya yang ada di area ruang kuliahnya. Tapi mereka menjawab tidak tahu. Mungkinkah Zara hari ini tidak masuk, kenapa dia tidak masuk. Dalam hati Alya terus bertanya dan bertanya.

Ditunggu sampai siang Zara tidak kelihatan, bahkan sampai perkuliahan selesai Zara tidak hadir juga. "Aku ingin ke rumah Zara, apa kabarnya dia hari ini. Tidak biasanya Zara tidak ada kabar," dalam hati Alya. 

Beberapa menit kemudian Alya sampai di depan rumah Zara yang mungil tapi tampak asri. Namun pintu rumah Zara masih tertutup rapat. Alya memutuskan mengetuk pintu. Tok tok tok … "Assalamualaikum … Zara … " panggil Alya dari depan pintu rumahnya.

Setelah beberapa saat ada jawaban ibunya dari dalam rumah. "Waalaikumsalam warrohmatullohiwabarrokatuh … " jawab ibu Zara sambil mendekati pintu rumahnya.

"Maaf bu, Zaranya ada bu?" tanya Alya

"Zara ada di rumah tapi sedang kurang enak badan neng," jawab ibunya

"Zara sakit bu?tanya Alya sambil masuk ke rumah Zara.

"Iya neng, jadi tidak bisa berangkat ke kampus," jawab ibu Zara.

Harta bukan Jaminan Kebahagiaan

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 487 Kata
- Day 20

Alya masuk ke kamar Zara yang tengah terbaring lemah dan hanya tersenyum tak berdaya melihat kedatangan Alya.

"Ra bukankah kemarin kamu baik-baik saja ra?" tanya Alya pada Zara.

"Iya sie, cuma kemarin sudah sedikit pusing tapi masih bisa beraktivitas. Kalau hari ini tiba-tiba saja rasanya ga karuan dan badan gemetran Al," jawab Zara lemah.

"Sudah pergi berobat ra?" tanya Alya kemudian.

"Belum Al, tapi sudah minum obat sakit kepala dan badan pegel-pegel. Mungkin obatnya masih dalam reaksi Al " jawab Zara sambil menatap Alya.

"Tapi mungkin kamu harus berobat ke dokter Al, biar diketahui penyakit sebenarnya dan dapat penanganan tepat Al," pinta Alya pada temennya itu

"Tidak usah Al, nanti juga bakalan sembuh. Ini juga obat dari dokter puskesmas waktu 2 minggu yang lalu," jawab Zara.

"Alya … Sudah makan nak," tanya ibu Zara karena melihat dari tadi Zara bercerita terus, tanpa ada makanan.

"Eeeee … Belum sie bu, tapi nanti makan di rumah saja bu," jawab Alya.

"Jika berkenan ini ibu buat sop, sambal dan tempe goreng. Siapa tahu Alya mau makan di tempat kami dengan menu sederhana ini," sambil menawarkan menu yang sudah disiapkan.

Dengan bujuk rayu dan kelembutan hati ibu, Alya pun akhirnya makan di rumah Zara. Setiap suapan ia nikmati dengan penuh kebahagiaan. Karena ia tahu, bahwa itu adalah masakan seorang ibu yang ia idamkan selama ini. Sedang jika di rumah ia makan enak akan tetapi bukan ibunya yang selalu menyajikan.

Hampir setiap suapan terakhirnya ia meneteskan butiran bening dari matanya yang indah. "Betapa nikmatnya Zara selalu makan masakan ibunya, yang menyajikan dengan penuh cinta kasih," bisiknya dalam hati kecilnya.

"Nak Alya kenapa?" tanya ibu Zara.

"Tidak apa-apa bu, masakan ibu sangat lezat dan aku baru memakan makanan selezat ini," puji Alya untuk menutupi kepedihannya di hati. Kerinduan akan sosok ibu selalu dinantikan setiap saat. 

Setelah selesai makan Alya melihat jam yang nampaknya sudah tidak lagi siang, mentari mulai berputar ke barat. Kedua sahabat itu berbincang-bincang tanpa terasa sore pun tiba. Ibunya Zara pun ikut ngobrol bersama mereka. Hal ini membuat Alya merasa nyaman di rumah itu, ia merasakan segala kasih sayang yang tercurah sangat luar biasa. Karena mentari pun akan kembali keperaduannya maka Alya pun pamit dari rumah Zara. Meski ia masih kerasan ditengah-tengah keluarga yang penuh kehangatan itu.

"Bu, boleh ya kapan-kapan Al main lagi ke sini bu?" tanya Alya 

"Pasti boleh dong nak, ibu malah seneng ada temennya Zara mau main ke sini," jawab ibu Zara dengan senyum khasnya.

"Baiklah bu, terima kasih untuk semuanya hari ini. Semoga Zara cepat sembuh dan bisa berangkat kuliah lagi," pamit Alya sambil mendoakan sahabatnya itu.

"Terima kasih juga sudah membesuk ke sini Al," jawab Zara sambil mengutas senyumnya.

"Hati-hati ya nak, jangan terlalu terburu-buru nak," pesan ibu Zara pada Alya. Dan Alya pun pamit dari rumah Zara dengan mencium tangan ibu Zara dan juga memeluk sahabatnya itu.

Kesunyian dalam Ramai

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 484 Kata
- Day 21

Alya pulang dengan hati ria, ia seperti menemukan sosok ibu di rumah Zara. Walau ibu kandungan tak pernah ada waktu untuknya, kesibukan pekerjaan orang tuanya, membuat ia sangat kesepian dalam rumahnya.

Sesampainya di rumah, seperti biasa yang dipanggil adalah bi jum. Tanpa Alya sadari mamih dan papihnya sudah berada di rumah dari sore tadi. Orang tuanya menunggu di balkon atas.

"Bi bibi … " dengan riang ia memanggil bi jum.
"Iya non … " jawab bi jum
"Bi, hari ini masak apa bi. Tapiii … malam ini aku ga makan bi, masih sangat kenyang bi," tutur Alya dengan suara riangnya sampai terdengar di balkon atas.

"Kenapa non, tidak makan malam di rumah non?Padahal kan bibi sudah masak makanan kesukaan non," tanya bibi nya kembali.

"Bi, tadi aku sudah makan di rumah teman bi. Makanan y biasa dan sederhana tapi sangat nikmat bi," tutur Alya kembali dengan senyum yang tak mengering.
"Tapi non … " kata-kata bi jum terputus
"Tapi kalau mamih sama papih di rumah apakah tetep tidak mau makan malam?" sela mamihnya dari belakang Alya.

Alya pun menoleh ke belakang dan hatinya terasa sangat sakit. Bukannya ia senang dengan kedatangan mamih dan papihnya tapi ia malah merasa ada sesuatu yang berbeda. Entahlah kenapa ia jadi merasa seperti itu.

Mamih dan papihnya memeluknya tapi entah apa yang Alya rasakan. Seperti kehampaan dalam hatinya, meski orang tuanya berada di dekatnya sekarang. Reaksi yang Alya pun merasakan sangat aneh dalam dirinya. Seolah-olah kehangatan rindunya telah berubah.

"Mamih papih … Datang jam berapa? Maaf mom pih … Alya tidak tahu," alya mulai membuka obrolan.

"Permisi ya tuan nyonya, saya mau ke dapur lagi," sela bi jum ditengah rasa kebingungan Alya.
"Silahkan bi … " jawab mamihnya Alya

Alya dan orangtuanya berjalan menuju ke kamarnya Alya dengan merangkul Alya. Orangtua Alya berusaha untuk menyamankan Alya. Meski sudah tahu ada rasa yang berbeda dengan Alya. Biasanya Alya langsung girang melihat kedatangan mereka tapi ini justru Alya terlihat dalam kehampaan.

"Bagaiman kuliahnya Al?" tanya papihnya.

"Alhamdulillah pih, semuanya lancar," jawab alya singkat.

"Mih pih … Al mau mandi dulu ya. Badan Alya sudah ga nyaman nie mih," pinta Alya untuk mandi terlebih dulu.

"O ya ya … Ya sudah Al cantik mandi dulu gih," jawab mamihnya.
"Baik mih, maaf ya mih pih … " kata Alya.

Alya menuju kamarnya, duduk sebentar di atas ranjangnya dan baru setelah itu bergegas ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Selesai mandi Alya pun merapikan diri dan segera bergegas keluar menemui mamih papihnya yang masih menunggunya di ruang keluarga.

"Wah sudah segar nie, anaknya mamih," sapa mamihnya.

"Iya mih, kalau seperti ini rasanya lebih nyaman mih," jawab Alya 

"Yuk kita makan sayang … " sela papihnya mengajak istri dan anaknya untuk makan bersama.

"Tapi pih …" alya mau menyampaikan sesuatu tapi mamihnya mencegahnya dengan memegang tangan Alya sambil menggelengkan kepalanya. Yang menandakan permintaan papihnya itu supaya tidak ditolak Alya.

"Baiklah … Yuk sekarang kita makan dulu," ajak mamihnya kembali.

Kesunyian dalam Ramai

0 0

- Sarapan Pagi
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 456 Kata
- Day 22

Setelah makan malam selesai Alya dan orang tuanya kembali bercengkrama di balkon atas. Mereka membelai Alya dengan cinta kasih, namun entah mengapa Alya merasakan kehampaan yang luar biasa. Dia seperti kesepian meski ada kehadiran orang tua yang selalu ia rindukan.

"Sayang … Ada apa?sepertinya ada sesuatu yang pengin disampaikan?" tanya mamihnya.
"Eee….engga ada mih," jawab Alya
"Tapi papih juga lihat Alya seperti ada sesuatu ni … " papihnya pun bersuara.

Semuanya terdiam sesaat dan hanya saling menatap saja. Dengan perlahan Alya mau berbicara untuk mencoba membuka diri.

"Mih … Tadi Alya dari rumah temen kuliah Alya. Di sana ada ayah dan ibunya temen Alya. Mereka keluarga yang sangat sederhana mih. Tapi … " Alya bercerita, namun ia tak lagi melanjutkan ceritanya.
Ini membuat mamih dan papihnya saling menatap.

"Tapi kenapa sayang?" mamihnya melanjutkan pertanyaannya.

"Ga apa-apa mih, sudahlah mereka hanya keluarga biasa," lanjut Alya.

"Sayang jika ada yang ingin disampaikan sampaikan saja sama mamih dan papih. Mumpung sekarang mamih dan papih masih di rumah," pinta papihnya untuk berkata jujur.

"Eeeee … tidak ada apa-apa yah. Sudahlah itu tidak penting kok yah," sedikit kesal ia menjawabnya.

"Al sayang … " mamihnya menyambung lagi. Tapi Alya sudah tidak nyaman dengan jawaban ayah, yang bilang mumpung masih di rumah. Padahal yang Alya ingin meski tidak setiap pagi, siang dan sore, setidaknya disetiap hari ini orang tuanya selalu ada di rumah bersamanya.
"Sudah mih, tidak ada apa-apa kok mih," jawab Alya.

"Oh ya sudah … Sayang … Mamih sama papih mau bilang nak. Besok mamih sama papih mau berangkat ke Singapura ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sana," jelas mamihnya
"Dan kami di sana mungkin sekitar 2 atau 3 bulan sayang," lanjut papihnya.

Alya melonggo sambil mengurai emosinya secara pelan di dalam hatinya.
"Jadi, mamih sama papih pulang lebih awal dari biasanya karena mau meninggalkan Alya lebih lama lagi dari biasanya," tanya Alya dengan penuh kekecewaan.
"Bukan itu sayang …" jawab mamihnya yang mau menjelaskan ulang.

"Sudah mih, sudah cukup mih … " Alya memotong apa yang mau dijelaskan mamihnya.
"Mih, Al sudah cape dan ngantuk. Al mau ke kamar dulu istirahat ya mih," ijin Alya pada orang tuanya.
"Sayang … tunggu dulu nak," cegah mamihnya. Tapi Alya tetap jalan menuju kamarnya.

"Sudah mih, biarkan Alya istirahat dulu mih," papihnya sambil mencegah istrinya mengejar Alya.
"Pih, mamih rasa kita bicara pada saat yang ga tepat pih," kata mamih
"Iya mih, mungkin Alya masih ingin bersama kita. Tapi kita sudah menyampaikannya tentang keberangkatan kita ke Singapura," jawab papihnya.

Malam itu menjadi malam yang sendu buat Alya. Alya merasa akan kesepian lagi dalam waktu yang lama. Kondisi ini tak pernah diinginkan Alya. Ia hanya ingin ada waktu lebih lama dengan orang tuanya. Meteri tidak pernah kurang, tapi Alya hanya dapat kesunyian dari balasan kerinduannya.

Polemik di Hati Sahabat

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 488 Kata
- Day 23

Pagi itu Alya hanya mengurung diri di kamarnya. Semalam ia masih harus kecewa oleh papih mamihnya. Ia sangat berharap orang tua nya akan lama menemaninya di rumah dan melihat semua kegiatannya. Harapan itu sirna sudah bagai ditelan gelombang.

"Aku benci pada kehidupan ini, aku hanya bonekanya mereka," jeritnya dalam hatinya. Ia melempar boneka dan juga beberapa barang yang ada di kamarnya.

Derai air matanya terus terurai tanpa henti, ia merasa tak ada artinya buat siapapun.

Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar kamarnya Alya.

"Sayang … Sudah bangun kan sayang. Yuh kita sarapan sayang … " terdengar suara mamihnya dari luar merayunya.

"Iya mih, sebentar mih," jawab Alya masih dengan hati yang tidak nyaman.

"Bolehkah mamih masuk sayang?" tanya mamihnya di luar kamar.

"Iya mih, bentar mih," jawab Alya singkat.

Alya berjalan menuju pintu kamarnya untuk membuka pintu kamar dan mempersilahkan mamihnya masuk kamarnya. Mamihnya juga terkejut dalam hatinya melihat kamar Alya berantakan.

"Sayang … " mamihnya memeluk Alya. Tapi Alya bersikap dingin pada mamihnya.

"Kamu kenapa sayang?" tanya mamihnya.

"Tidak apa-apa mih, Alya hanya lagi bosan mih," jawab Alya kesal.

"Sayang … mamih tahu Alya lagi kesal sama mamih dan papih ya nak?" tanya mamihnya lagi.

Alya terdiam dalam tatapan dinginnya. Sepertinya ia sangat kecewa dengan apa yang ia alami dihari-harinya.

"Alya ga tahu harus bilang apa sama mamih dan papih. Alya hanya tahu kalau Alya ingin mamih dan papih selalu ada buat Alya. Itu aja mih," jawab Alya diiringi buliran lembut air matanya.

Maminya pun ikut merasakan duka itu tapi apalah dayanya, ia harus menjelaskan apalagi dengan kondisi ini. Disisi lain adalah tuntutan pekerjaan dan disisi lain ada anaknya yang benar-benar merasa kesepian. Maminya memeluk Alya dengan erat meski Alya tidak merespon begitu dalam. Maminya tahu Alya kecewa padanya.

"Sabarlah sayang … Mamih akan selalu ada buat kamu sayang. Meski kita jauh Al selalu dihati mamih dan jika kita ingin bercerita kita masih bisa bicara lewat video call juga kan sayang … " hibur mamihnya pada Alya.

"Itu beda mih, Al merasa iri dengan mereka yang selalu ada ibunya. Mereka bisa mencicipi masakan ibunya, sentuhan lembut tangannya. Tapi Al … " suara Al yang parau terputus dengan tangisnya.

Mamihnya pun semakin memeluknya dengan erat seperti tak mau berpisah juga dengan buah hatinya.

Hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan. Akhirnya mamihnya Al memberi tahu suaminya apa yang terjadi. Suami istri itu memutuskan untuk salah satu berangkat dulu baru setelah itu istrinya yang berangkat. 

"Mungkin mamih berangkat 2 hari lagi saja mih, nanti papih yang akan berangkat terlebih dahulu. Kasihan Alya sepertinya ia sangat butuh mamih," sela papihnya al.

"Baiklah pih, mamih akan menyusul. Nanti semua berkas papih bawa terlebih dahulu. Jadi besok lusanya mamih sudah tidak membawa berkas-berkas lagi," jawab mamih Al.

Mereka berusaha menjadi orang tua terbaik dimata putrinya. Dan selalu berdoa agar putrinya tidak salah paham dengan kasih sayang dan perhatiannya selama ini. Perusahaan yang ada ini adalah hasil dari kerja keras mereka sejak belum ada Alya. 

Polemik dihati Sahabat

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 498 Kata
- Day 24

Di rumah Zara mulai ada perubahan kesehatan, setelah kemarin seharian istirahat di rumah. Ia pun kembali ke kampus untuk belajar, meski ia masih terlihat pucat tapi ia tetap berangkat ke kampus. Zara selalu berusaha keras untuk bisa ke kampus. Karena ia tahu ilmu itu teramat sayang untuk dilewatkan.

Sepagi ini Zara sudah ke kampus dengan sepeda motor ayahnya. Ia tidak pernah merasa risau dengan kondisinya.

"Hai ra … Kamu sudah sehat kah kok sepagi ini sudah di kampus," sapa Alya yang baru saja memarkir kendaraannya.

"Hai al … Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang, sudah segar bugar nie al," jawab Zara mencoba untuk riang.

"Yuk, kita ke kelas. Tar keburu telat nie dengan pak dosen yang super kece itu," sambil cekakak cekikik Alya mengoda Zara.

"Tidak bakal telat al, tadi pak dosen masih memarkir kendaraannya di depan perpus sana," sambil menunjuk gedung yang ada di selatannya Zara.

Mereka berdua berjalan menuju ruang kuliahnya dan mengikuti perkuliahan sampai selesai. Dari beberapa dosen hari itu memang pak Amri adalah dosen favorite mahasiswa di sana. Pak Amri adalah sosok dosen termuda di sana dan memiliki wajah yang bersih dan dia juga smart. Pokoknya banyak mahasiswi yang ingin mendekatinya. Tapi pak Amri itu orangnya sangat cool.

Selesai kuliah mereka berdua selalu duduk dibawah pohon rindang yang ada di area masjid kampus. Tapi Zara masih terlihat ada rasa sakit pada dirinya tapi dia berusaha untuk tegar. Alya sangat menggebu ingin menceritakan apa yang terjadi di rumahnya.

"Ra … Kemarin mamih papih pulang ra," Alya membuka ceritanya. 

"Wah, senang dong al. Pastinya kamu sekarang pengin cepat-cepat pulang ingin bersama beliau lagi di rumah ya al. Ya sudah al, ayok kita pulang saja. Kan materi kuliah sudah selesai al," kata Zara.

"Itulah ra, yang mau aku ceritakan sama kamu ra. Kenapa ya sekarang ini jika papih mamih pulang kok malah aku imerasa bagaimana gitu ra, kata Alya kemudian sambil mengangkat bahu.

"Kan selama ini kamu merindukan mereka kan al. Tentunya menjadi penawar rindu terhebat dong al," jawab Zara.

" Itulah yang tidak aku mengerti ra, kenapa mamih papih serasa orang asing dalam hidupku sekarang, " al menjawab lagi.

"Itu mungkin karena kamu sekarang lebih jarang bertemu sama dengan mamih papih," jawab Zara yang mencoba menenangkannya. Zara tahu pasti Alya sedang ada persoalan dengan kedua orang tuanya.

"Jangan pernah berpikir jelek tentang orang tua kita al. Beliau-beliau itu pasti menginginkan yang terbaik buat kita al," Zara menambahkan lagi.

"Bukan seperti itu ra, mereka selalu mementingkan pekerjaan dan bisnis itu saja ra," kata Alya.

"Bukankah itu bagus al, jd semua kebutuha kamu bisa terpenuhi semua dong al …" sambil tersenyum Zara menggoda Alya.

"Ra … Kamu jangan ngeledek deh. Kamu kan tahu aku kepengin ada mamih bersamaku ra. Ak selalu merindukan mamih setiap saat. Aku ingin dimasakin sama mamih, disiapin makanan sama mamih juga," terang Alya.

"Tapi kamu juga harus tetap bersyukur, mamih dan papih kamu selalu bisa memenuhi semua keperluan kamu. Coba lihat aku, apa-apanya hanya seadanya saja. Semua serba pas-pasan al," kata Zara dalam tatapannya yang kosong.

Menyatukan Polemik Hati

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 470 Kata
- Day 25

Kebersamaan Alya dan Zara di hari itu di kampus membuat mereka saling melengkapi. Disisi lain ada yang harus merelakan sebagian kehangatan orang tuanya. Di sisi yang lain ada yang penuh kehangatan dan cinta akan tetapi berbatas materi. Dua sisi ini menjadikan keduanya saling menguatkan dan mencoba untuk saling mengerti dalam memaknai hidup.

"Tetaplah selalu bersyukur apapun kondisi kita Al. In syaa Alloh orang tua akan selalu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya," Zara mempertegas kalimatnya lagi.

"Kamu bisa bilang seperti itu ra, karena kamu tidak pernah kehausan kasih sayang. Sedang aku selalu kesunyian ra," jawab Alya dengan mempertahankan rasa yang ia alami selama ini.

"Aku mengerti Al, tapi apakah kamu juga pernah berpikir kami juga selalu kekurangan materi akan tetapi ayah selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur atas apapun yang diberikan Alloh. Aku juga kadang berpikir mengapa hidup kami kekurangan, walau sekeras apapun ayah kami bekerja. Semua tidak bisa sepertimu Al," jelas Zara.

"Tapi kan materi itu kan bukan jaminan untuk bahagia ra. Aku selalu melihat senyum indah di rumahmu ra. Sedangkan di rumahku sepi, tak ada yg memarahiku, menasehatiku, memelukku saat aku sedih dengan penuh kasih. Aku ingin bahagia dengan orang tua ku ra," kata Alya.

"Kamu ingin sepertiku dengan segala keterbatasan materi?apa kamu yakin, kamu bisa melalui seperti kami?" tanya  Zara mencoba melogikakan rasa syukur.

Sesaat Alya terdiam dan menerawang jauh ke sana. Tak terasa Alya meneteskan air mata nya dalam emosi jiwanya. Zara hanya ingin sahabatnya tidak sealalu menyalahkan keadaan dan takdirnya. Bersyukur adalah cara terbaik untuk menjalani takdir. Sehingga manusia selalu berprasangka baik pada Alloh dan menjalani hidup dengan benar untuk menghamba pada Nya.

"Kami hanya menfungsikan hati kami untuk tidak mengeluh dengan kekurangan kami, lebih baik kami bersyukur al. Siapa si orangnya tidak ingin hidup serba kecukupan, hidup enak dan mewag?Siapa si yang tidak ingin keluarganya juga selalu lengkap di rumah. Tapi setiap apa yang harus sempurna hidupnya Al? Apakah kita layak menjadi yang sempurna ketika kita tidak pernah bersyukur? Kita itu hanya manusia biasa yang hanya bisa berdoa dan berusaha. Untuk hasil kita serahkan pada yang diatas dan kita bersyukurlah. Berdamailah dengan takdir … " kata Zara dengan penuh kedewasaan.

Air mata Alya semakin deras mengalir, sepertinya kata-kata Zara menyesakan hatinya, mengoncang setiap aliran darahnya dan menggetarkan seluruh jiwanya. Seakan ia lah yang bersalah dalam menyikapi takdirnya.

"Al … Kamu juga tidak bersalah, hanya saja mungkin aku terlambat mengingatkanmu untuk selalu bersyukur," lanjut Zara.

"Tidak ra, aku lah yang terlambat menyadari akan takdir yang harus aku jalani. Bukan mengeluhkan apa yang aku jalani selama ini. Betapa bodohnya aku sebagai manusia, yang selalu menyalahkan kedua orang tua ku," katanya semakin membuatnya terisak.

Kedua sahabat itu saling menggenggam tangan untuk menguatkan satu sama lainnya. Di bawah rindangnya pohon yang meneduhkan mereka menjadi saksi ketulusan persahabatan mereka yang beda latar belakang. Keduanya saling melengkapi dan menyatukan hati.

Menyatukan Polemik Hati

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Kerja Aksara

- 511 Kata

- Day 26

?Zara dan Alya merupakan sahabat yang selalu saling melengkapi satu dengan lainnya. Mereka berdua meski kadang ada perbedaan dan perselisihan tapi selalu bisa disatukan pola pemikiran.


Hari itu Alya mulai menyadari akan menjalani takdirnya. Kasih sayang dan belaian itu tidak harus secara nyata. Orang tua memberikan hatinya mesti tak terlihat. Alya mengerti apa yang sedang ia jalani adalah bagian dari takdirnya.


Zara yang masih terasa belum fit maksimal, tapi ia tetap berusaha untuk selalu mengikuti kuliah. Karena ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tua nya. Ia takut tertinggal materi kuliahnya dan nanti nilainya pun tidak sesuai yang diharapkan. Walau nilai tidak sebagai tolak ukur keberhasilan dan orang tuanya juga tidak menuntutnya untuk itu. Tapi Zara punya target tersendiri supaya lebih bisa membahagiakan orang tuanya.

"Nak, sepertinya masih kurang sehat nak?" tanya ibu Zara.

"Tidak apa-apa bu, sudah lebih baik bu," jawab Zara.

"Jangan dipaksa nak, kalau dipun hari ini tetap mau masuk, nanti biar ayah yang mengantar nak," saut ayahnya.

"Zara berangkat sendiri saja yah, nanti pelan-pelan bawa motornya yah," jawab Zara dengan senyuman

"Ayolah nak, biar ayah saja yang mengantar ya nak," pinta ibunya.

Akhirnya Zara pun mengiyakan permintaan ibunya.

"Baiklah bu, nanti Zara diantar ayah saja bu," jawab Zara.

"Nah begitu dong sayang, jadi nanti mau berangkat jam berapa ni?" tanya ayahnya.

"Jam setengah sembilan saja yah, karena hari ini mulai kuliahnya agak siang yah," jawab Zara.

Jika berangkat agak siang sudah biasanya Zara membantu ibunya terlebih dahulu. Adiknya selalu berangkat lebih awal daripada dirinya. Apalagi Syifa menggunakan sepeda untuk berangkat ke sekolahnya.

"Thot thot thot … " suara klalson mobil terdengar di depan rumah Zara.

Ayahnya Zara yang sedang membersihkan halaman pun menoleh.

"Pagi pak Tohi … " sapa Alya.

"Pagi juga nak Alya … sudah janjian toh mau berangkat bersama?" tanya pak Tohi.

"Tidak pak, cuma inisiatif saja pak. Iseng-iseng ke sini lewih awal, biar Zara brlum berangkat. Jadi bisa berangkat bersama," jawab Alya dengan penuh semangat.

"Ooo … Begitu toh, silahkan masuk nak. Mungkin Zara dan ibunya di dapur nak. Jadi ga tahu kedatangan nak Alya," pak Tohi mempersilahkan masuk Alya.

"Okeh, Alya masuk dulu ya pak," pamit Alya dengan berjalan pelan.

Sebelum masuk Alya memberi salam dan mengetuk pintu. Tapi karena tidak dijawab-jawab Alya langsung masuk dengan seijin pak Tohi.

Zara dan ibunya benar saja sedang berada di dapur, membereskan sisa makan pagi bersama tadi.

"Wah sudah pada sarapan nie rupanya," suara Alya mengejutkan Zara dan ibunya.

"Alya … " seru Zara sambil menoleh ke adah suara yang datang.

"Iya ra, kita nanti berangkat bersama saja yuk!" kata Alya.

"Tapi al … Aku … " jawab Zara dengan suara terputus.

"Sudah tidak apa-apa nak, ikut nak Alya saja ke kampusnya," jawab ayahnya Zara yang baru masuk, sambil cuci tangan.

Hari ini mereka berangkat bersama dengan menggunakan mobil Alya.

"Makasih ya ra, kamu selalu memberi aku pengertian dalam menjalani hidup ini. Aku semakin mengerti dengan apa yang kamu jalani dan yang aku lalui," terang Alya.

"Sama-sama al, aku jg baru belajar untuk memaknai hidup dengan bijak, itu yang selalu ayah ajarkan pada kami. Bersyukur adalah hal terindah al," jawab Zara.





Menyelaraskan tujuan dan harapan

0 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3/Jejak Akbar

- 536 Kata

- Day 27

Setelah menyelesaiakan studi D2 nya Zara melanjut S1nya bersama Alya lagi. Dulu Zara mengambil study D2 karena khawatir di biaya sedang Alya ambil D2 karena awalnya ia merasa malas untuk kuliah. Keduanya memiliki alasan masing- masing dalam menjalani kuliahnya. Sekarang kedua sahabat ini melanjut di S1 dengan jurusan yang sama.

Syifa adiknya Zara pun memasuki bangku perkuliahan dengan mengambil D3 kesehatan. Ayahnya harus semakin bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Sekarang anak-anaknya pak Tohi berada dibangku kuliah semua. Sedang istrinya sekarang ini memang sudah tidak diijinkan ikut bekerja yang terlalu menguras tenaga.

Dengan segala upaya pak Tohi selalu berusaha untuk bisa mendapatkan penghasilan yang lebih demi keluarganya itu. Suatu hari pak Tohi sedang duduk bercakap-cakap dengan istrinya membicarakan pembiayaan anak-anak.

"Ayah pasti lelah sekali, setiap hari harus bekerja menjadi buruh bangunan dan … " kata istrinya, namun terputus dengan kalimat pak Tohi.

"Dan tentunya ada hasil lebih dari setiap kerja keras bu. Bissmillah bu, kita bekali anak-anak dengan ilmu. Semoga Alloh mempermudah dan melancarkan segala usaha kita bu,"potong pak Tohi.

Istrinya hanya menatap pak Tohi dengan belas kasih. Ia tidak bisa berbuat banyak karena kondisi kesehatannya yang harus dijaga terus. Tidak boleh terlalu capai ataupun lelah pikiran. Bu Tohi tidak ingin kambuh dari sakitnya. Karena akan merepotkan suaminya, untuk itu ia terus menjaganya agar tetap sehat.

"Maafkan ibu ya, tidak bisa membantu ayah untuk membiayai kuliah anak," sedikit air mata menetes dengan lembut.

"Bu … Selama ini jika ibu tidak membantu ayah dengan doa bagaimana ayah bisa sampai pada titik ini dan bisa sekuat ini bu. Ibu adalah kekuatan buat ayah dan anak-anak bu," pak Tohi menjelaskan.

"Ibu selalu membimbing anak-anak di rumah, mendampingi mereka belajar, memberi suport pada kami. Itu lebih dari cukup bu. Jangan pernah berpikir membantu itu harus dalam bentuk materi," lanjut pak Tohi.

"Terimakasih ya yah, sudah jadi imam yang hebay buat kami semua," kata bu Tohi sambil memegang tangan suaminya.

"Sama-sama bu, terima kasih juga buat ibu, sudah menjadi wanita terhebat yang selalu setia mendampingi ayah," Jawab pak Tohi pada istrinya.

Dari luar terdengar suara beberapa wanita sambil bercanda. Mereka tak lain adalah anak-anaknya pak Tohi disertai temannya Zara, yaitu Alya. Ketiganya menguncapkan salam bersama.

"Assalamualaikum … " secara serentak mereka bertiga.

"Waalaikumsalam warrohmatullohi wabrokatuh," jawab pak Tohi dan bu Tohi secara bersama-sama.

"Kalian pulang bersama hari ini, ada apa ini sudah sore tapi kok Alya ikut juga?" tanya pak Tohi.

"Kalau sudah sore tidak boleh main ke sini kah ayah Tohi?" tanya Alya yang sudah terbiasa dengan panggilan ayah Tohi.

"Boleh saja, akan tetapi takutnya pulangnya kemalaman sayang," jawab bu Tohi sambil tersenyum.

"Kak Alya ini tidak akan pulang malam bu, tapi … " sahut Syifa dengan masih menimbulkan tanda tanya. Sambil memainkan bola matanya, dia selalu menggoda kakak-kakaknya itu.

"Tapi ia akan pulang besok siang bu," jawab Zara.

"Oalah … Alya mau tidur di sini toh?" tanya pak Tohi.

Dengan anggukan dan senyum Alya mengiyakan pertanyaan pak Tohi.

Malam itu adalah malam pertama Alya tidur di rumah orang lain. Tapi Alya tidak menganggap keluarga pak Tohi itu orang lain. Ia sudah menganggap sebagai ayah dan ibunya yang bisa ditemuinya setiap saat. Namun bukan berarti Alya melupakan orang tuanya. Ia tetap sayang dan menghormati orang tuanya meski sangat jarang berdekatan.





Menyelaraskan Tujuan dan Harapan

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 476 Kata
- Day 28

Dalam keikhlasan sujud dan lantunan doa-doa pak Tohi selalu mengalir deras buliran air matanya. Istrinya pun selalu berpasrah lpada sang kholik dengan ketulusannya. Pasangan suami istri itu selalu rajin bangun disepertiga malam terakhirnya, menggetarkan langit disetiap lantunan doanya.

Disaat Alya tidur disana, Alya melihat hal tersebut ia sangat terkejut. Karena mereka beribadah sangat lama dan juga membaca Al Quran tanpa lelah. Ia ingin melakukan seperti itu akan tetapi ia belum pernah belajar tentang itu. Selama ini ia hanya tahu shalat wajib saja, itu pun kadang masih bolong-bolong.

Dalam hatinya berkata,"Ibadah apa yang mengharuskan mereka melakukannya saat semua orang terlelap tidur."

Dari arah samping Zara menghampiri Alya yang tengah termenung.

"Apa yang kamu lakukan disini Al?" tanya Zara dengan suara pelan.

"Itu aku melihat orang tua kamu melakukan ibadah di tengah malam seperti ini. Mereka bangun sangat larut dan kamu juga sudah ambil air wudhu padahal ini belum masuk waktu shubuh kan?" tanya Alya kemudian.

"Kami setiap di sepertiga malah terakhir berusaha istiqomah menjalankan ibadah shalat tahajud. Shalat tahajud ini bukan shalat wajib, tapi shalat sunnah yang mendapat keutamaan. Dimana setiap hamba yang berdoa di waktu-waktu itu akan mustajab. Jadi kami berusaha untuk bisa melaksanakan setiap malam," jawab Zara sambil sedikit menejelaskan.

Tak terasa air mata Alya menetes saat Zara menjelaskannya. Ia merasa belum pernah melakukannya dan belum ada memberitahunya soal itu. Betapa kesederhanaan yang benar-benar penuh makna dan penuh dengan kehangatan doa yang terus menguncang langit.

"Ra … Salahkan aku jika aku ingin selalu disini?" tanya Alya ditengah kegundahan hatinua.

"Tidak ada yang salah Al, tapi kita harus menghargai setiap apa yang orang tua kita lakukan buat kita. Kedua orang tuamu menyiapkan istana di sana, yang harus kamu jaga dan merdukan lantunan ayat-ayat Al Quran disana, biar nanti kita bisa berkumpul di syurga bersama orang-orang yang kita cintai," terang Zara dengan pengetahuannya.

Zara menjelaskan tentang apa yang seharusnya anak lakukan untuk orang tua. Anak sudah diberi penghidupan, ibu sudah merelakan nyawanya ketikan akan melahirkannya dan ayah yang selalu siap dengan segenap kekuatannya untuk menjaga buah hatinya. Tidak ada yang pernah ingin hal jelek terjadi pada buah hatinya.

Pagi yang cerah itu, Alya ikut sarapan bersama dengan keluarga pak Tohi dengan menu sederhana. 

"Maaf ya Al, menunya seadanya seperti ini ya Al," sambil mengambil nasi Zara bercakap dengan Al.

"Wah ini menu luar biasa ra, sangat istimewa buatku," jawab Alya sambil menatap sekelilingnya.

"Ayo nak, dimakan. Meski seadanya tetep harus makan yang cukup, biar ada energi," kata ayah Zara sambil tersenyum.

"Kak Alya, telur dadarnya ibu paling enak deh nie kak," Syifa ikut berkomentar.

"Iya … Ini semua masakan ibu rasane muantap. Perutku bergoyang kegirangan, dengan masakan ibu," Alya pun menjawab dengan senyum lepasnya.

Bukan dari makanannya saja yang membuat Alya merasa enak. Akan tetapi suasana disana sangat membuat Alya nyaman. Kedekatan Alya dengan keluarga pak Tohi bisa sedikit mengurangi kerinduan Alya pada mamih dan papihnya.


Mencapai Cinta dan Cita

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/Jejak Aksara
- 550 Kata
- Day 29

Dalam keikhlasan sujud dan lantunan doa-doa pak Tohi selalu mengalir deras buliran air matanya. Istrinya pun selalu berpasrah lpada sang kholik dengan ketulusannya. Pasangan suami istri itu selalu rajin bangun disepertiga malam terakhirnya, menggetarkan langit disetiap lantunan doanya.

Disaat Alya tidur disana, Alya melihat hal tersebut ia sangat terkejut. Karena mereka beribadah sangat lama dan juga membaca Al Quran tanpa lelah. Ia ingin melakukan seperti itu akan tetapi ia belum pernah belajar tentang itu. Selama ini ia hanya tahu shalat wajib saja, itu pun kadang masih bolong-bolong.

Dalam hatinya berkata,"Ibadah apa yang mengharuskan mereka melakukannya saat semua orang terlelap tidur."

Dari arah samping Zara menghampiri Alya yang tengah termenung.

"Apa yang kamu lakukan disini Al?" tanya Zara dengan suara pelan.

"Itu aku melihat orang tua kamu melakukan ibadah di tengah malam seperti ini. Mereka bangun sangat larut dan kamu juga sudah ambil air wudhu padahal ini belum masuk waktu shubuh kan?" tanya Alya kemudian.

"Kami setiap di sepertiga malah terakhir berusaha istiqomah menjalankan ibadah shalat tahajud. Shalat tahajud ini bukan shalat wajib, tapi shalat sunnah yang mendapat keutamaan. Dimana setiap hamba yang berdoa di waktu-waktu itu akan mustajab. Jadi kami berusaha untuk bisa melaksanakan setiap malam," jawab Zara sambil sedikit menejelaskan.

Tak terasa air mata Alya menetes saat Zara menjelaskannya. Ia merasa belum pernah melakukannya dan belum ada memberitahunya soal itu. Betapa kesederhanaan yang benar-benar penuh makna dan penuh dengan kehangatan doa yang terus menguncang langit.

"Ra … Salahkan aku jika aku ingin selalu disini?" tanya Alya ditengah kegundahan hatinua.

"Tidak ada yang salah Al, tapi kita harus menghargai setiap apa yang orang tua kita lakukan buat kita. Kedua orang tuamu menyiapkan istana di sana, yang harus kamu jaga dan merdukan lantunan ayat-ayat Al Quran disana, biar nanti kita bisa berkumpul di syurga bersama orang-orang yang kita cintai," terang Zara dengan pengetahuannya.

Zara menjelaskan tentang apa yang seharusnya anak lakukan untuk orang tua. Anak sudah diberi penghidupan, ibu sudah merelakan nyawanya ketikan akan melahirkannya dan ayah yang selalu siap dengan segenap kekuatannya untuk menjaga buah hatinya. Tidak ada yang pernah ingin hal jelek terjadi pada buah hatinya.

Pagi yang cerah itu, Alya ikut sarapan bersama dengan keluarga pak Tohi dengan menu sederhana. 

"Maaf ya Al, menunya seadanya seperti ini ya Al," sambil mengambil nasi Zara bercakap dengan Al.

"Wah ini menu luar biasa ra, sangat istimewa buatku," jawab Alya sambil menatap sekelilingnya.

"Ayo nak, dimakan. Meski seadanya tetep harus makan yang cukup, biar ada energi," kata ayah Zara sambil tersenyum.

"Kak Alya, telur dadarnya ibu paling enak deh nie kak," Syifa ikut berkomentar.

"Iya … Ini semua masakan ibu rasane muantap. Perutku bergoyang kegirangan, dengan masakan ibu," Alya pun menjawab dengan senyum lepasnya.

Bukan dari makanannya saja yang membuat Alya merasa enak. Akan tetapi suasana disana sangat membuat Alya nyaman. Kedekatan Alya dengan keluarga pak Tohi bisa sedikit mengurangi kerinduan Alya pada mamih dan papihnya.


Mencapai Cinta dan Cita

0 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3/JejakAksara
- 996Kata
- Day30

Alya pun ingin melakukan kebaikan untuk pak Tohi akan tetapi hal tersebut seperti yang sudah dibayangkan Alya. Pak Tohi belum tentu bisa menerianya. Karena Alya tahu persis pak Tohh bukan tipe orang pekerja keras. Tapi Alya tetap bisa membantu sahabatnya dengan meminjaminya buku-buku yang ia butuhkan untuk mendukung skripsi.

Pak Tohi berjumpa kembali dengan dokter Yusuf yang juga sedang merawat ayahnya di rumah sakit tersebut. Ayahnya dokter Yusuf sedang mengisi kelainan ginjal sehingga ia butuh donor ginjal. Mereka berbicara tentang hal itu dan pak Tohi pun menawarkan diri untuk itu. Bukan alasan apapun, tapi ia hanya mempertimbangkan kemanusiaannya saja.

"Coba cek ginjal saya nak, siapa tahu cocok dengan ginjal ayahnya dokter," kata pak Tohk disela-sela percakapannya.

"Jangan pak, saya tidak sudah sering merepotkan bapak," jawab dokter Yusuf.

"Tidak apa-apa dok, sesama manusia tugasnya saling membantu. Karena itu wujud rasa syukur kita pada Alloh," terang pak Tohi dengan tulus.

"Jika nanti cocok, tolong rahasiakan ini dari siapapun dok," pinta pak Tohi.

Dengan berat dokter Yusuf mengajak pak Tohi ke laborat. Tapi dengan keyakinan pak Tohi, membuat dokter Yusuf mengiyakan untuk ke laborat.

"Ya Alloh … Sehatkanlah pak Tohi ini, memiliki hati yang sangat luar biasa meski dalam keterbatasannya. Tapi tidak mungkin juga orang seperti pak Tohi mau menerima uang untuk imbal baliknya," desirnya dalam hati.

Sampai di depan pintu laborat dokter Yusuf menghentikan langkah sejenak membuat pak Tohi pun berhenti.

"Kenapa berhenti dok?" tanya pak Tohi.
"Pak … Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa membalas kebaikan bapak ini?" matanya dokter Yusuf berkaca-kaca.

"Balasannya … ," kata-kata pak Tohi terputus
"Balasannya adalah teruslah selalu berbuat baik untuk manusia di alam ini sebagai wujud rasa syukur kita pada sang pencipta," jawab pak Tohi dengan menggenggam tangan dokter Yusuf untuk maju ke ruang laborat.

Proses pengecekan pun berjalan lancar dan hasilnya pun ternyata cocok dengan ginjal ayah dokter Yusuf.

"Silahkan lakukan segera untuk donor ginjalnya dok. Kasihan bapak Anda, beliau pasti masih ingin melihat Anda menikah dan punya anak,"kata pak Tohi

Setelah beberapa hari proses transpalasi ginjal pun dilakukan dan pak Tohi berpamitan akan ikut bekerja di rumah dokter Yusuf beberapa hari.

"Terima kasih pak Tohi, sudah memberikan kehidupan lagi buat ayah saya," kata dokter Yusuf di samping pak Tohi yang terbaring lemah setelah pasca operasi itu.

"Sama-sama … Jangan pernah bilang seperti itu. Saya hanya melakukan sebagai seorang hamba saja dok," jawab pak Tohi dengan pelan.

Hari demi hari berangsur pulih dan pak Tohi bisa kembali pulang ke keluarganya. Begitu juga dengan ayahnya dokter Yusuf yang terlihat lebih sehat melalui proses transpalasi ginjal itu.

Suatu hari dokter Yusuf datang ke rumah pak Tohi dan di sana ia mendengar suara merdu Zara yang sedang melantunkan ayat-ayat Al Quran.

"Masyaa Alloh … Suara itu sangat indah dan begitu menyejukan jiwa. Siapakah yang sedang melantunkan. Subbahanalloh … " Dokter Yusuf tercengang dalam hatimu. Dan pak Tohi menghampiri dokter Yusuf yang masih terperanga.

"Silahkan duduk dok," suara pak Tohi mengagetkannya.
Dengan tergagap dokter Yusuf pun duduk dengan masih menyimak lantunan ayat suci Al Quran itu.

Pak Tohi menanyakan kabar bapaknya dokter dan ia pun menjawabnya tapi tetap menyimak suara lembut itu. Yang sepertinya ada getaran yang luar biasa dalam hatinya. Ia seperti terkesima dengan suara itu. Ada rasa yang aneh dalam jiwanya, untuk bisa tahu pemilik suara indah itu. Disela obrolannya ia memberanikan diri bertanya, itu suara siapa dan pak Tohi pun menjawab itu anaknya yang pertama yang akan menyelesaikan S1 nya ditagih ini.

Beberapa kali dokter Yusuf ke rumah pak Tohi dan ia ingin mengikuti kata hatinya. Dimana hatinya terikat dengan suara indah milik Zara. Dan ketika itu ia menyampaikan kedalam hatinya pada pak Tohi dengan rasa gemetar.

"Maaf pak, jika diijinkan saya ingin meminta Zara untuk jadi pendamping hidup saya selamanya," kata dokter dengan seribu rasa di benaknya.
Pak Tohi pun sangat terkejut dengan pernyataan itu. Dimana itu sangat jauh diluar dugaannya. Karena pak Tohi tidak pernah mendekatkan Zara dengan dokter Yusuf untuk saling mengenal lebih dalam.

"Saya tahu ini sangat mengejutkan buat bapak dan ini mungkin terlalu cepat. Tapi saya sudah sangat ingin menyampaikan maksud dan tujuan saya dari kemarin pak. Hanya saya takut pak Tohi berpikiran aneh tentang saya. Sungguh saya menginginkan istri shaleha seperti Zara. In syaa Alloh saya akan jadi imam yang baik buat Zara dan begitu juga sebaliknya," jelas dokter Yusuf.

Pak Tohi meneteskan air mata dan dari balik pintu bu Tohh muncul.
"Kami hanya orang biasa dok, kami tidak punya apa-apa dok. Kami malu jika … " kata bu Tohi.

"Saya butuh seseorang yang ada dikeluarkan ini bu, bantu saya untuk bisa mendapatkannya dan mudahkan saya bu. Ridhoi saya untuk bisa memiliki Zara" pinta dokter Yusuf.

"Tapi nak … " pak Tohi mercon menyampaikan sesuatu.

"Keluarga saya setuju pak, selain saya sudah cukup umur, keluarga saya menyerahkan sepenuhnya hal ini pada saya. Jadi apapun keputusan saya itu yang akan dijalani," jelas dokter Yusuf.

Dengan argumentasi yang kuat akhirnya bapak dan bu Tohi menyetujui tinggal keputusan akhir ada pada Zara. Dan Zara pun dimintai persetujuan.

"Begitu nak, dokter Yusuf ini berniat untuk melamar menjadikanmu pendamping hidupmu. Apakah kau juga menyetujuinya," tanya pak Tohi.

"Kalau Zara apa baiknya menurut ayah dan ibu saja. In syaa Alloh Zara akan menjalaninya dengan ikhlas," jawab Zara dengan menunduk malu.

Dengan ucapan syukur yang luar biasa keduanya segera menentukan tanggal pernikahan, walaupun Zara belum menyelesaikan study itu. Study nya akan dilanjut lagi setelah pernikahan selesai.

Pernikahan yang sederhana dilaksanakan di rumah Zara. Meski berbeda materi akan tetapi keluarga itu tetap bahagia. Keluarga dokter Yusuf pun menerima menantunya apa adanya. Sungguh sesuatu yang membuat haru. Perjuangan pak Tohi dan kebaikan pak Tahi selalu dapat menuai kebaikan lagi berikutnya.

Setelah melaksanakan pernikahannya ia tetap melanjutkan S1nya yang tinggal skripsi. Ditahun itu Zara melaksanakan pernikahannya dan juga menyelesaikan S1 nya dengan gelar Sarjana dan juga sekaligus istri seorang dokter.

Pengorbanan kebaikan ayahnya selalu mendatangkan kebaikan disetiap sudut rumah Zara dan membawa keberkahan di rumahnya pula. Subbahanalloh … Alloh selalu tahu apa yang terbaik buat hamba Nya. Jalani sekenario Nya dengan ikhlas maka keberkahan pun akan datang.

Mungkin saja kamu suka

Samriyahtul Has...
MENCINTAIMU DALAM DIAM
Mila Hartina
Perjalanan Dua Hati
Echy Muhammad
Ken
Nurafni Lapanan...
Kuntum Cinta untuk Nirmala
Sukmadiarti Per...
Semakin Harmonis Pasca Menangi

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil