Loading
31

0

33

Genre : Lain-lain
Penulis : Zahraharuno
Bab : 30
Dibuat : 07 Juli 2022
Pembaca : 10
Nama : Fatimah Zahra Harahap
Buku : 1

Antara Oktober dan Juni

Sinopsis

Seorang gadis yang beranjak dewasa, di tikam oleh kenyataan. Di dewasa kan dengan keadaan, menangis dan bertahan. Dia bertemu banyak orang dan kepribadian. Memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya. Cinta, datang disaat dia merasa berantakan dengan semuanya. Namun perlahan kenyataan-kenyataan silih berganti. Akankah aku bisa mengerti dan bertahan?
Tags :
#KMOIndonesia

Manis dan Selesai

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day 1

- Jumlah kata 922

-Part I 

- Revisi




Bersama dengan hujan

Setiap rintiknya mewakili air mata

 Tak kunjung kering sejak kemarin

Kehilangan jejak, kehilangan arah, kehilangan diri


 Isak tangis ku dalam kamar, memegang sebuah pisau yang sudah terkena darah. Pisau itu telah menyayat tangan yang mulus. Meninggalkan luka dan darah, perlahan mengering tapi air mataku tak kunjung berhenti.

' Mengapa harus aku ? apa memang aku tidak sepantas itu ?' keluhku dalam hati.

Aku mulai memutar lagu kesukaanku (kukira kau rumah-Amigdala), menangis dan perlahan tertidur pulas.

 Pagi hari aku bangun dan langsung beranjak menuju cermin. Ku tatap seorang gadis dengan mata yang sembab di hadapan ku. Kemudian mengalihkan pandanganku ke tangan yang sudah penuh sayatan.

'Bodoh , bagaimana jika mama dan ayah tau !'kesalku dalam hati.

Aku langsung pergi mandi dan membersihkan lukanya, pedih dan menyakitkan. Tapi dibandingkan goresan hati yang akhir-akhir ini aku terima, luka tangan itu tidak ada apa-apa nya. Kemarin aku benar-benar berada dalam keadaan yang sangat jatuh. Bahkan tak berani untuk mengeluh pada ayah, karena takut ayah akan sangat marah dan mulai menasehatiku lagi dengan kata-kata yang tak ingin ku dengar. Aku memilih menyendiri dan diam sampai dengan bodoh nya melakukan hal yang melukai diri sendiri.

***

Pagi hari yang cerah ini, namun dengan hati sedikit mendung. Aku melangkah keluar kamar dengan sedikit rasa cemas, karena mata ku yang agak sembab karena menangis kemarin. Sering kali akhir-akhir ini aku termenung, dan tiba-tiba meneteskan air mata. Rasanya aku sedang kehilangan sosok yang dulu sangat peduli, memperhatikan dan selalu ada untukku. Kemarin malam adalah hari dimana aku mengetahui bahwa dia memiliki wanita lain. Padahal aku sudah snagat percaya kepadanya, namun dia malah menghianati. Sering kali begitu, terakhir kali saat SMA, aku hanya menyukai seorang kakak kelas yang sampai lulus tidak pernah aku utarakan. Itu karena aku merasa bahwa belum pantas di usia ku untuk menjalani hubungan seperti pacaran. Meski banyak teman-teman yang sudah, dan bagi mereka itu hal wajar. Sesekali aku selalu teringat pada ayah, bagiku berpacaran itu sama saja membawa ayah ke neraka. Hal itu melekat padaku sampai suatu ketika, seseorang yang aku anggap teman, perlahan memberi perhatian padaku.

Lambat laun aku terhanyut, mulai menyukainya. Awalnya aku tidak pernah berani untuk dekat seperti itu. Akupun sudah mulai berbohong saat keluar rumah, yang aku izin nya pergi bersama teman perempuan, tapi ternyata aku pergi dengannya, Adrian namanya. Aku mengenal nya setelah lulus SMA, kami berada dalam satu circle pertemanan. Berawal saat buka bersama dengan teman teman ku, jadi Adrian adalah salah satu saudara dari temanku. Kami saling mengenal dan dia anak yang asik dan ramah. Percakapan diantara kami juga terasa hangat. Aku terbiasa memastikan saat pulang bermain dengan teman-teman ku, aku akan menanyakan apa mereka sudah sampai dengan aman kerumah. Begitupun dengan Adrian, aku mulai chat dan menanyakan keadaannya sepulang bermain.

Percakapan yang mulanya di instagram, beralih ke whatsapp. Ramah dan sangat cepat dalam merespon setiap pesan. Aku mulai bercerita tentang diriku kepadanya, dan dia juga begitu. Hal yang paling aku sukai darinya adalah, caranya dalam menanggapi setiap momen dan ceritaku. Di rumah, komunikasi ku dengan keluarga masih kaku dan membuatku sulit menceritakan perjalanan yang kulalui setiap harinya. Begitulah aku jatuh hati padanya, namun dia sepertinya belum tahu itu.


Bunga mawar itu mekar

Aromanya yang jarang, mulai tercium di setiap ruang

Aku terjatuh dalam kisahnya

Mengakui atau membiarkan semua berjalan seadanya


 Saat ini suasana hatiku sama seperti bunga mawar itu, mekar dan wangi. Aku sepertinya benar-benar pertama kali merasakan hal seperti ini. Mulai memantau dan menunggu pesan darinya. Ku bawa selalu hp ku kemana pun aku pergi, dan mulai menyalakan dering agar setiap notif pesan darinya terdengar jelas dan segera ku balas.

 Dringg… sebuah pesan masuk dari Adrian.

 [Apa yang kamu lakukan hari ini?]

 [Ga ada Rian]

 [Zahra, tau ga kamu ? kemarin malam aku pulang kerumah lama, sampai-sampai mau masuk rumah harus pela-pelan supaya ga ketahuan ibu] sambungnya beruntun.

[Ihh…Rian kebiasaan, kalau pulang itu jangan malam-malam banget. Ntar kamu malah dimarahin terus dan ga dibolehin keluar lagi]  balasku sedikit ketus.

[Iya iya, tau kok, jangan marah lah. Aku kemaren itu sama temen SMA mereka lagi datang ke sini, dan balek ke kampong hari ini. Gitu deh makanya aku habisin waktu sama mereka]  balasnya cepat.

 Balas membalas pesan berlanjut sampai mebahas hal-hal lucu. Cerita random yang bahkan terkadang aku ga kepikiran. Dan dia selalu yang membangun suasana itu, aku menyukai semuanya. Hal sederhana seperti itu yang bahkan sering kali membuatku terus semakin suka padanya.

 Hari berlanjut mulai dari kami hendak tidur, bangun dan menjalani rutinitas harian, kami selalu menyempatkan membalas pesan satu sama lain. Berulang kali, berkali-kali dan sering kali bahkan. Hanya saling berbalas pesan dan tidak pernah bertemu lagi, karena aku sangat susah menyempatkan waktu keluar rumah. Aku harus membantu ayah di toko mulai pagi sampai malam. Dan hanya sempat berbincang dengannya di sela-sela waktu kosongku. Namun, dia sangat memahami itu mungkin karena tidak pernah mempermasalahkannya.

 Setiap malam rasanya, lelahku sedikit terobati dengan hadirnya. Entah karena memang dalam rumah aku sangat tidak suka mengeluh. Tapi saat dengan nya aku selalu menceriytakan semua kesulitan yang aku hadapi dan dia selalu menguatkan ku. Berlang kali jatuh hati pada tingkahnya. Aku tidak tahu itu bodoh atau bagaimana, tapi rasanya aku memang kesepian dan dia selalu ada untukku.

Pesan tanya yang sering ia kirimkan padaku.

[Zahra, apakah harimu menyenangkan hari ini?]

Dan dengan itu saja, aku pasti akan mulai menceritakan semua hal yang aku alami hari itu. Aku nyaman dan merasa aman saat bercerita dengannya. Aku merasa bahwa semua akan baik-baik saja. Dan aku selalu berharap akan selalu seperti itu.



Manis dan Selesai Part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day 2

- Jumlah kata 1182


  Senja itu, mengingatkanku padanya, sosok yang selalu menjadi pendengarku. Aku kehilangannya setelah semua terbongkar. Dia terus memintaku untuk memaafkan dan tidak mengulanginya lagi. Aku memaafkan nya tapi tidak bisa melupakan bagaimana dia membuatku merasa frustrasi karena kehilangan sosok yang paling ku percaya. Di penghujung petang, kami sempat berbincang tentang bagaimana kelanjutan hubungan kami. Aku katakana jelas padanya, selesai. Tapi dia masih memaksa kehendaknya agar kami bisa berbaikan.

 “ Aku udah maafin kamu, tapi bagiku sekali hal seperti itu terjadi, aku tidak akan bisa memulainya lagi. Mungkin memang bukan aku yang seharusnya sama kamu. Aku terlalu berantakan untuk kamu, aku yang butuh kamu mungkin,” ku katakana padanya dengan nada santai.

    Dia masih diam saja setelah aku ucapkan itu, tapi raut wajahnya sudah sangat menunjukkan kalau dia tidak mau. Hanya saja aku memang tipe orang yangs selalu mengucapkan semua yang aku rasakan. Jadi dengan paksa aku sampaikan semuanya, hati sesak rasanya nafasku seperti sedang diikat. Ingin menangis memang, tapi aku mencoba mempertahankan pondasiku. Aku tidak mau hanya karena aku tidak sanggup mengakhirinya malah kubiarkan semuanya semakin tidak terkendali.

           “ Kok kamu diam, harusnya kamu yang lebih tahu apa yang harus kamu bilang ke aku, aku tau kok kalau kamu itu pengen ketemu aku disini karena ada yang mau kamu bilang”, sambungku sedikit memaksa.

   Dia masih diam, dan aku juga sudah merasa tidak tenang. Aku takut sangat takut, sepertinya memang aku akan kehilangan orang yang aku sayang, hanya saja di satu sisi aku tidak mau mengulangi sesuatu hal dengan kesalahan seperti itu. Aku semakin takut untuk menyukai orang lain, semakin takut mempercayai orang lain.

           “ Jadi memang ga ada kesempatan lagi untuk aku memperbaikinya?”, tiba-tiba ia bertanya.

           “ Kesempatan untuk kamu memperbaikinya itu ada, tapi mungkin kamu akan memperbaiki dan berubah itu bukan denganku. Aku sudah memaafkan sepenuhnya walaupun aku merasa sakit dan sangat ingin marah. Tapi keputusan memang itu, aku sudah tidak bisa membangun kepercayaan untukmu lagi”, jawabku tegas.

           “ Kalau gitu berarti memang udah selesai ya, ga ada yang bisa aku bilang lagi. Kamu emang udah gamau lagi. Aku juga ga bisa maksa”, jawabnya.

  Ku gapai saku jaket yang saat itu ku gunakan, ku keluarkan sebuah gelang. Dengan tenang kuberikan gelang itu padanya sambil berkata,

     “ Kemarin aku mau kasih gelang ini sama kamu, tapi ternyata kita selesainya secepat itu. Tapi tetap aku kasih, kamu mau simpan mau buang atau apapun itu, terserah. Makasih ya untuk semuanya”.

   Dia mengambil gelang itu perlahan, dengan tidak tega dia harus merelakan mungkin atau apalah itu. Yang jelasnya hari itu semua selesai dan aku tidak mau mengulangnya lagi. Sekalipun aku menyesal aku akan tetap mengakhiri semua nya di hari itu.

           “ Udah ya, aku mau pulang dulu. Kamu jaga kesehatan dan semoga bisa jadi lebih baik kedepannya “, sambungku sembari menaiki motorku.

           “ Hati-hati, kamu juga jaga diri baik-baik ya”, ucapnya melepaskan.

  Mendung, hari nya yang cerah menjadi gelap. Sedikit bergerimis, aku terheran mungkin semesta pun ingin ikut serta bersedih denganku. Aku dalam perjalanan pulang ke rumah, melewati jalan yang sama dengan yang pernah aku lewati bersamanya. Rasanya seperti tertusuk, mengapa harus begini kesal ku selalu pada diriku. Namun, keputusanku sudah sangat aku pertimbangan dengan matang. Aku selesai dan tak akan menyesal ucapku di hari aku melepaskan dia.

***

Senja itu masih tetap jingga

Hujan yang menetes masih tetap air

Semua yang aku butuhkan ada padanya

Tapi kisah kami ternyata sudah berakhir

Hari-hari masih sama seperti sebelumnya, sedikit hampa mungkin karna taka da lelucon darinya. Tapi itu lebih baik daripada aku yang dijadikan lelucon. Aku menjadi lebih sering murung dan menutup diri, mungkin karena dia atau karena diriku sendiri. Seminggu sudah setelah yang terjadi hari itu, hanya saja rasa sakit masih suka mencabik-cabik. Sering kali di media sosial, aku melihat status whatsapp saja terkadang suka teringat tentang yang sudah pernah di lalui dengannya.

Sore ini, aku hendak pergi ke rumah teman ku sofia namanya. Sepanjang perjalanan naik motor, samar-samar teringat bahwa jalan ini pernah aku lewati saat dengannya. Sekedar ingat saja tak ku hiraukan, tapi entah mengapa rasanya masih menusuk. Sampai di rumah sofia aku ceritakan bagaimana banyaknya bayang-bayang dia.

“ Udahla Zahra, apa coba yang kamu gamon in dari dia, cowo kayak gitu ga pantes buat di inget”, ucap fia cetus.

“ Ga sengaja aja keinget dia, kemaren aku pernah lewat sama dia dari jalan itu jadi banyak banget kenangannya”, jawabku.

“ Yaudah deh besok-besok jangan lewat sana lagi, kalo ke rumah aku lewat jalan pintas aja”, sambung fia.

“ Tapi kan biar jauh kesininya, sekalian nyari angin”, jawabku lagi.

“ Udah deh, kamu emang susah banget di bilangin. Kemana kita hari ini?”, sambungnya kesal.

“ Terserah mau kemana, yang penting jalan aja dulu”, kulanjutkan meyakinkan.

Kami pergi naik motor berdua, bisa di bilang ini sudah kebiasaan kami. Sering kali kami pergi main tanpa arah tujuan. Karena mama ku dan sofia itu susah banget ngasih izin untuk main, jadi kami selalu pergi dadakan gitu. Semua jalan di daerah tempat tinggalku dan sofia hampir sudah kami jelajahi. Rumah ku lebih jauh dari pusat kota, tapi ada jalan pintas supaya dekat.

Di tengah perjalanan aku yang ceria tiba-tiba terdiam.

“ Kamu kenapa lagi”, Tanya fia.

“ Gapapa kok, pengen diam aja”, jawabku.

“ Yaudah deh, kita ke tongkrongan biasa aja lah, bingung aku mau kemana”, sofia memperjelas.

Aku diam saja, dan fia terus membawa sampai ke tongkrongan kami biasa. Baru sampai depan pintu masuk, hawanya sedikit berbeda. Tempat ini adalah salah satu tempat yang sering aku datangi dengan Rian. Kami satu circle pertemanan, jadi tempat ini sudah penuh dengan warna tentang dia.

Yah begitula hari-hari ku lalui dengan terlalu banyak mengenang, aku suka mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah aku lewati dengan seseorang. Sesakit apapun kesan yang pernah orang lain berikan, yang aku kenang pasti hal indahnya saja. Setelah lama berbincang di tongkrongan kami ini, beberapa teman mulai datang bergabung karena baru saja di kabari agar menyusul.

Satu persatu datang, dan salah satunya nanti pasti dia begitu yang aku fikirkan. Sofia dan teman perempuan yang lain hampir paham dengan yang ku maksud. Aku ingin pergi meninggalkan tempat itu tepat sebelum dia datang. Hanya saja, salah satu mengatakan jangan. Begitulah ketika ketika pernah menjalani hubungan lebih dengan teman satu circle.

Benar saja, dia datang tepat saat aku sedang memalingkan wajah ke arah pintu masuk. Degg… tiba-tiba jantung berdegup. Sesaat sesak, dan rasanya ingin menangis. Saat masuk dia masih diam saja, menyapa yang lainnya termasuk aku juga dengan santai. Hingga beberapa waktu kemudian saat aku sedang fokus dengan handphone ku. Pembahasan berlanjut antara kami semua, hanya aku dan dia yang sedikit canggung.

Rasanya aneh, berkutik dengan diri sendiri. Begitu yang aku rasakan saat melihat dia. Andai saja kemarin tidak pernah terjadi, itu yang selalu aku sesali saat melihat dia.

“ Berhenti saja Zahra, kan kamu yang memilih mengakhiri. Kamu tidak mau lagi di kecewakan oleh orang lain. Kamu bisa pasti bisa, tidak hanya dia, orang berharga seperti kamu lebih pantas dengan orang yang bisa menghargai itu. Bukan dia orangnya, bukan. Tuhan tidak mau kamu terlalu kecewa nantinya, makanya kamu di kasih kenyataan pahit. Semangat Zahra”, itu yang selalu aku kuatkan dalam hati agar aku bisa melupakan dia.

***


Usaha Melupakan

2 0

-Sarapan Kata
-KMO Club Batch 47
-Kelompok 3
-Day-3
-Jumlah Kata 1000


      Tepat sebulan setelah pertemuan dengannya. Berada di bulan juli, penuh kesibukan dengan urusan berkas-berkas untuk mendaftar ulang kuliah. Rian sudah pergi ke Jawa sejak akhir bulan Juni. Dia lolos seleksi kuliah di sana, dan aku lolos di Universitas di Aceh. Hari-hari yang ku jalani selalu terasa hampa tanpa dia. Ku sadari bahwa rasanya sangat sepi karena mungkin aku terbiasa bertukar cerita dengannya. Namun, apa boleh buat aku juga harus bisa membiasakan diri.
       Kugapai hanphoneku untuk menghubungi Fia, bahwa hari ini aku akan pergi ke kantor lurah untuk mengurus surat. Aku yang tidak bisa ke mana-mana tanpa di temani orang terdekatku. Beberapa menit kemudian, balasan pesan dari Sofia datang.
“ Aduh, lagi gak bisa soalnya aku mau pergi ke pasar sama mama”, balasnya.
“ oklah kalau gitu ”, jawabku.
        Ya dengan sedikit tidak rasa malu-malu akupun tetap pergi sendiri. Aku selalu memikirkan kapan aku bisa bepergian tanpa harus di temani. Sesampai di kantor aku langsung menjumpai petugas yang ada disana. Aku memberikan secarik kertas Kartu keluarga untuk membuatkan surat yang kubutuhkan.
        Selesai membuat surat itu, aku tidak langsung pulang ke rumah. Rasanya terlalu singkat aku di luar. Jadi aku memutuskan untuk ke rumah Ade, teman dekatku sejak SMA. Kalau di ingat lagi, Ade adalah gadis yang menyebalkan dulunya. Kami berada dalam satu organisasi, dan dia benar-benar menyebalkan. Banyak hal yang tidak kusukai darinya, tapi entah kenapa di luar organisasi dia merupakan sosok yang menyenangkan.
        Setelah lulus SMA, kami terbilang menjadi sangat dekat. Ke mana aku pergi pasti sama dia, sering kali Sofia tidak di beri izin main oleh ibunya. Begitulah mungkin awal kedekatanku dengannya. Bermodalkan gabut dan bosan di rumah, dan menjadi rekan jalan-jalan. Itu membuat Ade menjadi separuh dalam perjalanan ceritaku. Di usia remajo beranjak dewasa ini aku menjadi pemilih tentang teman. Banyak teman yang dekat denganku dulu, tapi setelah lulus hanya beberapa yang benar-benar bertahan hingga di masa kuliah sekarang.
         Menjadi pemilih dalam bergaul, karena menurutku tidak semua orang bisa mengerti dengan diri kita. Kita butuh memilih siapa yang cocok kita ajak bercerita, yang cocok diajak bermain, yang cocok diajak bertukar keluh kesah. Apalagi sifatku yang bisa di bilang sangat spontan dan blak-blakan. Aku takut, jika dengan orang yang tidak memahamiku mereka akan menilaiku buruk.
    Begitu saja mengingat perkenalanku dengan Ade. Perjalanan ke rumahnya dekat dan kira-kira hanya memakan waktu 10 menit saja. Sepanjang perjalanan aku memikirkan ke mana kami akan pergi. Tanpa sadar sudah di depan rumahnya.
“ Ade…Adee…”, kupanggil dengan kuat.
Tapi tidak ada yang menjawab dari rumah, kebiasaan sih dia kalau aku mau datang. Ku telepon dan masih saja berdering.
“ Aku udah di depan”, sambungku setelah telepon diangkat.
“ Iya bentar-bentar, orang lagi main game juga”, jawabnya ketus.
Grekk… suara pintu dibuka.
“ Besok-besok kalo kesini tuh di kabarin dulu”, lanjutnya.
“ Lah kan udah aku kabarin tadi, makanya kalau punya hp tuh di baca kalo ada pesan masuk”, ucapku sambil berjalan masuk.
“ Duduk aja langsung, gausah sok jaim rumah sendiri kok”, sambungnya.
Hal itu selalu diucapkan olehnya setiap klai aku kerumah. Tapi meskipun begitu, rasa segan berada di rumah orang lain masih saja ada.
“ Kemana kita?”, langsung aku tanyakan girang.
“ Ih malas kali, mau kemana emangnya? Jajan ?”, jawabnya.
“ Terserah sih mau kemana, yang penting keluar dulu jalan-jalan. Muak di rumah terus, kayak gak punya kehidupan”, ucapku.
“ Yaudah bentar aku siap-siap”, Ade beranjak dari tempatnya.
“ Gausah mandi sekalian !,” ku terikkan sambil tertawa.
Memang tidak lama, hanya saja cukup membosankan menunggunya. Begitulah setiap kali kami mau keluar jalan-jalan. Kalau motorku bisa di pakai, aku yang menjemputnya begitupun sebaliknya.
“ Yok”, Ujarnya sembari menuruni tangga.
“ Mau kemana jadinya?,” masih kutanyakan.
“ Udah yang penting jalan aja dulu, kalau ga nemu tempat nanti ke tempat biasa aja”jawabnya.
Sebelum berangkat masih sempat-sempatnya kami berdebat siapa yang akan bawa motornya. Memang membawa motor itu sangat tidak menyenangkan hahaha. Tapi akhirnya aku mengalah, kalau tidak seperti itu bisa sampai sore kami ga jadi pergi. Di perjalanan ke café tempat kami biasa, Ade mulai cerita tentang hal-hal yang dilewatinya. Curhat, mulai dari perci taan isu-isu twitter, film-film yang lagi trend an banyak hal.
“ Tau ga sih?,” ujarnya.
Dan itu akan menjadi awal mulaa pembahasan panjang yang tak berujung. Tapi bagiku ity menyenangkan, mempunyai teman yang suka bertukar cerita dengan kita. Sampai di café, kami memesan menu yang biasa, kami suka makan pisang coklat dengan parutan keju yang banyak. Ade memesan minuman rasa coklat dan aku memesan lemon-tea.
“ Udah gimana sama yang kemaren? Aman kan?,” Ia memulai percakapan lagi.
“ Hahahaha orang udah mau lupa juga. Tapi iya sih kadang-kadang amsih suka inget. Tapi biasa aja, kayak yaudah gapapa”, jawabku.
“ Lagian juga gaada gunanya gagal move-on smaa orang gitu. Banyak orang yang lebih baik”, sambungnya.
“ Lah yang yang lebih baik banyak, yang bisa kayak dia yang ga ada”, jawabku sedikit ketus.
“ Dibilangin juga, makanya jangan mau di begoin ya lain kali hahaha”, Ade tertawa.
Pesanan kami sudah datang, sambil menyantap makanan kami bercengkrama. Begitulah teman dekat, semua hal pasti di bahas. Tertawa riang tiada habisnya, sesekali melihat handphone.
“ Udahla gausah nge cek hp berkali-kali, gaada yang chat juga”, ujar Ade.
“ Hahaha sok iya, padahal sama”, ucapku tertawa.
“ Buat tren yang ini yok?”, memperlihatkan hanphonenya.
“ Ih ayoo, tapi ihat dulu contoh videonya biar di hapal”, sambungku.
Hari sudah mulai gelap, dan Ade juga sudah di telpon oleh ayahnya. Kami beranjak dari tempat duduk dan pergi ke kasir untuk membayar.
“ Kamuyang bawa motor, aku udah tadi,” langsung ku katakana saat di parkiran.
“ Nanggung, biar nanti aku langsung turun aja di depan rumah
“, jawabnya.
“ Gamau, aku udah tadi waktu berangkat”, ku letakkan kunci diatas motor.
Ade mengambil kunci dan mulai menyalakan motor,” Yaudah ayo”.
Selama diperjalanan aku mengambil beberapa video, aku sangat suka membuat video perjalan. Bahkan penyimpanan handphone ku di penuhi hal-hal yang tidak jelas, tapi bagiku semua adalah momen penting. Perjalanan pulang sambil menggila di atas motor, memnyanyikan lagu-lagu random. Rasanya tidak ada beban dalam diri ini saat berada di luar dengan teman dekat kita.
***

Usaha Melupakan Part II

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Club Batch 47

-Kelompok 3

-Day-4

-Jumlah kata 740

***

   Malam ini sunyi, kugapai pena dan buku harianku. Otak dan hati mulai sejalan, banyak kata yang sedang tersusun dan ingin di sampaikan. Perlahan ujung pena menulis diatas kertas.

Kemarin sudah kutebak kamu adalah tamu

Sengajaku seduhkan teh agar singgahmu sebentar saja

Namun karena kau masih bersandar di sofa itu

Kubiarkan saja, kemudian kuberikan sedikit cemilan yg kumiliki

Namun ternyata tetap saja kau merasa kurang

Langsung saja ku berikan kunci rumah dengan bodohnya

Karena aku sejenak ingin keluar mencari kenangan

Lantas saat kembali Sudah berantakan saja rumah ku, dan kau tak lagi berada di sana.

     Aku mengeluh pada kertas, yang selalu ada mendengar dan menampung semuanya. Aku merasa putus asa, jika orang melihat dan berpikir aku kecewa karena cinta lelaki, salah kukatakan dengan lantang. Aku sedang bingung dengan diriku sendiri, aku terkadang tampak bahagia saat dengan teman-teman dan orang sekitarku. Padahal rasanya sepi dalam keramaian, dan selalu seperti itu.

      Jika boleh jujur lagi, rasanya sangat sepi tanpa dia. Dan itu berulang kali aku rasakan dan katakan, sampai dinding kamarku mungkin sudah bosan. Namun, begitulah kenyataan bahwa aku sulit berkomunikasi dengan orang-orang yang aku rasa tidak dekat. Mungkin aku punya banyak teman namun hanya beberapa yang aku biarkan mendengarkan keluhan tentang hidupku yang tak seberapa.

 Dring... Panggilan video berbunyi dari hanphoneku. Langsung saja kuangkat karena kulihat yang menelepon itu Ade dan Sofia.

 “ Heh belum pada tidurkan?” tanya Fia.

“ Belum lah, kalau udah tidur mana bisa angkat telepon”, jawab Ade.

“ Hahaha random banget sih” sambungku.

“ Tau ga sih, anak kemarin yang kita lihat di jalan. Tadi aku ketemu lagi sama dia hahaha. Aneh banget lagi keadaan ketemunya. Untung kemarin ga jadi kan kita tegur, kalo enggak udah malu”, Ade mulai bercerita.

“ Eh yang mana?”, aku lupa siapa yang dibicarakan.

“ Ih kebiasaan anak ini, yang kemarin waktu di jalan mau antar Ade pulang”, Fia menanggapi.

“Ohhh yang itu hahaha, syukur deh gak jadi kita tegur. Tapi emang aneh banget loh, masa iya dia gitu”, ujar Ade.

  Percakapan berlanjut dengan banyak lelucon garing, asik, semua rasa campur aduk. Sesekali percakapan menegangkan, seperti membahas persiapan perkuliahan. Kami bertiga memilih jalan yang berbeda untuk urusan masa depan. Aku mengambil jurusan matematika, Sofia jurusan bahasa Inggris dan Ade sedang persiapan untuk mengikuti seleksi kedinasan.

    “ Udah ah, mau tengah malam juga. Kita lanjut ngobrol besok lagi”, ucap Fia di tengah percakapan.

    “ Masa udah tengah malam? Ga kerasa banget”, ucap Ade.

   “ Oke deh, makasih ya waktunya”, ucapku.

Satu persatu meninggalkan panggilan video. Setelah semua telepon berlalu, rasa asli kembali mendatangiku. Kok sepi banget ya? Keluhku dalam hati. Aku termenung kembali, dan mulai menulis lagi.

Menurutmu ?

Mengapa sulit untuk sekedar melewati satu hari saja?

Tidur sepanjang hari

Agar waktu terasa singkat namun tetap saja masih panjang

Menurutmu ?

Kenapa kita harus melakukan

Hal-hal yang bahkan tidak ingin kita lakukan

Memangnya kenapa jika tidak di lakukan ?

Menurutmu?

Semua orang pantas?

Atau hanya beberapa orang saja?

Kutanyakan kau

Karna aku bahkan tak mampu untuk memilih atas diriku sendiri.

     Tepat setelah pukul 00.00 dan pergantian hari, aku pun bersiap untuk tidur. Aku biasa tidur lama karena bagiku malam adalah waktu paling menenangkan. Meskipun aku tidur larut malam, aku selalu berusaha bangun pagi untuk melaksanakan ibadah Shalat subuh. Begitulah keseharianku dengan upaya untuk melupakan.

***

        Hari silih berganti, tiba di saat aku akan memasuki dunia perkuliahan. Karena pandemi yang melanda pada masa itu, seluruh sekolah dan universitas masih melaksanakan kuliah secara daring. Termasuk kampusku, jadi semua kegiatan kampus seperti ospek dan pengenalan mahasiswa dilakukan secara online juga.

    Aku mulai memiliki kesibukan, dengan kegiatan kampus yang bisa dibilang lumayan banyak sih. Kegiatan yang berlangsung dua hari penuh berada di depan layar, bingung untuk menggambarkannya menyenangkan atau membosankan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang baru, suasana baru dan akan memulai perjalanan yang baru. Dalam hati, aku berharap bahwa perjalananku akan lebih mudah dan menyenangkan. Bahkan aku sudah mulai melupakan hal menyakitkan yang pernah terjadi pada diriku, kubiarkan menjadi pelajaran berharga dan tidak mau terulang lagi .

Langit jingga yang selalu menggantikan biru langit

Rotasi yang membuat siang berganti menjadi malam

Semua yang hilang pasti akan digantikan

    Ternyata berpisah dengannya bukan hal yang buruk, hanya sedikit menyakitkan namun banyak pelajaran yang bisa kuambil. Jangan jadikan orang lain sebagai tempat pulang ternyaman. Nyaman dan aman tidak selalu menjadi milik kita. Kita akan tetap terpuruk, kehilangan arah dan tidak tahu harus bertindak apa. Namun, yang paling kita butuh kan adalah diri sendiri untuk tetap menjalani kehidupan kita dengan baik.


Melangkah maju

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Club Batch 47

-Kelompok 3

-Day-5

- Jumlah kata 758



Matahari bersinar cerah

Burung berkicau merdu

Hari ini harus lebih indah dari hari kemarin

 Aku membuka jendela kamar, menghirup udara segar yang masuk. Aku berucap menyemangati diri sendiri.

“ Selamat pagi Zahra, aku yakin kamu bisa melewati hari ini dengan luar biasa. Ingat untuk semua harapan yang kamu buat sebelum tidur kemarin, wujudkan hari ini ! semangat !!!”.

 Ternyata tidak terlalu berat jika kita menjalani seperti semestinya, banyak rencana yang kita buat untuk diri sendiri. Dan untuk mewujudkan itu kita hatus berani melawan rasa takut.

“ Mama masak apa?” tanyaku melihat mama di dapur.

“ Mama mau masak sayur daun ubi sama telor dadar, kemarin-kemarin masak ikan sama ayam terus”, jawab mama.

“ Asikk, masakan mama paling enak sedunia. Tapi nanti kalau aku udah ke Aceh bakalan ga ngerasain dong. Sedih mau pergi jauh dari rumah”, sambungku.

“ Namanya juga mau kuliah cari ilmu, ya harus ada yang di relain” jawab mama.

“ Zahra bisa sih masak lauk gitu, tapi rasanya nanti pasti beda sama masakan mama”, aku merengek.

“ Udah ah, bantu mama buat siapin santan untuk sayurnya dulu biar cepat selesai”, suruh mama.

 Aku mulai membantu mama memasak, sebanarnya tadi aku mau cuci baju dulu tapi karena udah di suruh yaudah kerjain aja dulu. Akhir-akhir ini aku terus memikirkan bagaimana rasanya pergi ke kota orang untuk kuliah. Apalagi menurutku semua apsti sangat berbeda, dari bahasa, adat budaya, rasa makanan dan banyak hal lain. Disisi lain juga sangat bahagia karena bisa merasakan pergi dan akan pulang kampung.

 Bagaimana tidak, usiaku sudah masuk 18 tahun tapi masih belum merasakan pulang kampung. Kebetulan rumah orang tua dari ayah hanya berjarak beberapa rumah dengan kami. Rumah orang tua dari ibu berada dekat dengan pasar, dan aku sudah sering kesana. Setiap lebaran lihat orang-orang pulang kampung sedangkan aku hanya di sini saja.

***

 Aku pergi ke pasar untuk membeli jilbab berwarna putih untuk digunakan saat kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Sebenarnya, aku belum jadi pergi ke Aceh karena kegiatan masih diadakan secara online di masa pandemi ini. Rasa kecewa memang ada karena sudah sangat berkhayal besar merasakan bertemu dengan teman baru dari berbagai asal yang berbeda-beda.

 Mau bagaimana lagi, keadaan sudah seperti ini sejak aku kelas IX SMA. Pandemi yang terjadi menyebabkan semua sekolah harus dilaksanakan secara daring. Aku saja tidak merasakan acara perpisahan sekolah, hanya bisa mengenang masa SMA 1 tahun setengah saja. Dan itu selalu menjadi penyesalan yang tak kunjung bisa di tebus sampai saat ini.

 Kukira sudah berkurang kasus kematian di sebabkan oleh virus itu, ternyata malah samai saat ini tak kunjung sudah. Benar-benar masa yang sulit, baru saja ingin merasakan kuliah secara langsung tapi malah belum bisa. Pemerintah belum mencabut peritah sekolah secara daring, jadi kita hanya bisa menunggu sampai saat itu. Hanya berkouikasi melalui handphone dengan teman baru. Masih asik kalau temannya mau merespon, tapi kalau semua sama-sama bodoamat bagaimana lagi.

 Ah sudahlah lupakan tentang itu, hanya perlu menunggu saja mungkin. Setelah aku membeli jilbab, aku membaca pesan di grup mahasiswa baru kalau kami akan menggunakan rok batik saat pembukaan penyambutan mahasiswa baru. Aku merasa kesal karena baru dikabari satu hari sebelum acaranya. Bagaimana aku bisa mencari rok itu, sedangkan kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan.

“ Ade, kamu punya rok batik gak,” langsung ku kirimkan pesan pada Ade.

Dengan cepat dia membalas “ Rok batik yang bagaimana?”.

“ Yang model batiknya itu mereng, rok melereng katanya”, aku membalas cepat.

“ Nanti aku kabari deh, lagi main game soalnya”.

“ Kabari secepatnya ya, mau di pake besok pagi”, kukirimkan dengan emot panik.

 Karena takut tidak ada kabar, aku juga mengirim pesan yang sama pada Sofia. Tapi dengan cepat dia membalas “tidak” . Aku merasa panik karena itu akan menjadi hari pertamaku menjadi mahasiswa. Rasanya semangat yang sangat menggebu pada diriku, dan aku tidak mau melakukan kesalahan di hari pertama. Aku mulai mengirimi pesan pada teman-teman dekatku, menanyakan rok batik itu. Ternyata tidak ada, an aku masih mengharapkan kabar baik dari Ade.

 Sore hari, Ade baru mengabari kalau rok yang dia punya ternyata bukan barik bercorak mereng. Aku bingung harus berbuat apa, langsung ku katakana pada mama.

“ Coba lihat dalam lemari mama, kalau tidak salah ada kain nbatik kayak kamu mau”, ujar mama.

Langsung saja aku kekamar dan melihat di lemari, kucari perlahan karena takut akan berantakan. Dan ya, aku melihat batik seperti yang kumau. Tapi masalahnya adalah ini bukan rok melaikan kain panjang. Aku mencari ide, dan akupun berinisiatif memakai ini saja karena kegiatan juga dilakukan secara online, pasti tidak akan kelihatan. Dan seperti itulah aku mempersiapkan diri, dengan sedikit rasa takut tapi ku beranikan hahaha.


Melangkah Maju Part II

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-6
- Jumlah kata 734

         Hari pertama mengikuti acara di kampus, aku sudah beres-beres dan mempersiapkan diri agar tidak telat saat pembukaan. Meskipun acara dilakukan secara online, aku tetap bersemangat karena akan jadi mahasiswa. 15 menit sebelum acara dimulai, sudah di bagikan tautan untuk bergabung ke dalam zoom-meeting. Aku langsung bergabung dan menunggu diizinkan oleh operatornya. Beberapa menit kemudian aku sudah bergabung, dan melihat banyak sekali peserta dalam kegiatan ini. Dengan rasa penasaran aku  memperhatikan satu persatu peserta.
    Banyak tingkah juga ternyata, kukira orang-orang nya akan sedikit gugup haha ternyata santai sekali. Tapi wajar sih, acara pembukaan masih belum di mulai karena masih menunggu wakil dekan dan beberapa dosen lainnya. Acara perkenalan mahasiswa baru ini, di warnai dengan musik-musik religi yang di putar sebelum pembukaan.
    Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB, dan semua peserta diwajibkan untuk menyalakan kamera. Saat aku sedang berada di depan layar laptop dan menyalakan kamera, mama terus-terusan mengajakku mengobrol. Bagaimana tidak, aku sangat fokus melihat layar karena aku sedikit takut di tandai oleh yang bersangkutan.
    Ternyata mahasiswa baru juga banyak yang bertingkah, ada yang mulai mengganti latar nya jadi planet-planet, ada yang pakai stiker alien dan masih banyak kerandoman selama acara. Tapi beberapa yang bertingkah memang sampai di tegur karena berlebihan.
***
       Sudah pukul 11.30 dan kegiatan masih berlangsung, yang membuatnya terasa melelahkan adalah kita harus tetap duduk dan berada di depan layar . Sesekali aku merasa bosan, aku keluar masuk room hahaha. Dan tak lama setelah itu aku melihat seorang perempuan dan ternyata adalah teman satu jurusan ku. Aku mulai mengirimkan fotonya melalui WA. Diluar dugaan juga,  respon nya bagus.
     Percakapan kami dimulai dari situ, dan berketerusan sampai akan tiba waktu istirahat siang. Waktu istirahat diberikan 45 menit, dan itu untuk sholat dan makan siang. Aku yang sudah muak dengan acara itu karena membuat pinggang pegal sekali. Ku ambil beberapa cemilan, membuka hp dan bermain game. Tanpa sadar waktu cepat sekali berlalu dan aku belum makan siang.
     Kegiatan akan di lanjutkan lagi, aku pun tetap mengambil nasi dan makan sambil zoom-meeting. Kamera ku matikan, meskipun beberapakali kakak senior menghimbau menyalakan kamera. Aku makan perlahan sambil mendengarkan situasi, beberapa aku menyalakan kamera karena takut di keluarkan.

“ Kamu on-cam ga?”, teman baruku mengirimkan pesan.
“ Engga nih, aku lagi makan jadi off-cam dulu”, balasku.
“ Astaga kok bisa baru makan? Emang waktu istirahat tadi ngapain kamu?”, sambungnya.
“ Aku tadi asik buka hp dan main game, eh lupa waktu deh. Tapi kayaknya waktunya sih yang kecepetan”.
“ Tau ga sih, aku tadi geser-geser layar kan terus liat satu cowo ganteng hahaha”, balas temanku.
“ Demi apa? Terus udah kamu cari tau? Siapa namanya, aku juga mau lihat,” jawabku.
   Dia menyebutkan nama dan aku mulai mencari orangnya. Ku geser perlahan layar dan memantau satu persatu orang. Ya benar saja, di slide ke-3 ada orang yang kami cari. Langsung ku cari Instagramnya bermodalkan nama panggilan saja yang dibuatnya. Dan akhirnya aku menemukannya, ternyata dia salah satu mahasiswa jurusan bahasa Arab.
   “ Aku udah nemu nih, kamu mau ga aku spill?,” langsung kukirim pesan pada temanku.
   “ Mau dong, buruannn”, balasnya cepat.
    Aku tertawa melihat tingkahnya, apalagi saat membalas pesan menggunakan stiker-stiker menggemaskan. Segera aku bagikan tautan Instagram cowo yang kami cari tadi. Awalnya ku pikir kalau dia hanya bercanda, ternyata sampai di DM juga.
     Kegiatan yang masih berlangsung dengan materi-materi yang disampaikan oleh kakak-kakak senior dan beberapa pemateri yang diundang. Pada acara materi ini sangat menarik karena banyak hal baru yang diketahui. Tidak hanya dalam kampus tapi juga luar kampus. Seharian penuh mengikuti kegiatan perkenalan mahasiswa baru ini, cukup melelahkan karena di adakan online juga.
***

      Hari ke-2 kegiatan perkenalan mahasiswa, dan masih sama dengan yang kemarin. Pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan laptop, akan tetapi tidak seperti kemarin. Hari ini hanya untuk kegiatan pengenalan unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampus. Semua kegiatan yang ada di kampus diperkenalkan satu persatu. 
    Aku mendengarkan semuanya karena memang sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dan organisasi agar lebih aktif dikampus. Beberapa UKM sudah membuatku tertarik, terutama Musik. Aku punya hobby bernyanyi dan benar-benar sangat suka. Walaupun skill masih biasa saja, itu malah membuatku merasa tertantang untuk terus mencoba maju.
    Kutanyakan pada salah satu temanku “ Kamu pengen ikut UKM gak?”
   Beberapa waktu kemudian baru dia membalas. Kami memang berniat untuk ikut UKM yang menyenangkan, apalagi Yang sesuai dengan hobby kami. Begitulah satu hari penuh juga berlangsung, meskipun melelahkan tapi kita mendapatkan ilmu-ilmu dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak diketahui.





Maaf, aku sibuk

1 0

-         Sarapan Kata

-         KMO Club Batch 47

-         Kelompok 3

-         Day-7

-         Jumlah kata 779

***

    Bulan September sudah menjadi hari-hari paling sibuk dengan pelajaran perkuliahan. Yang dulunya sangat semangat ingin kuliah karena melihat di televise dan media sosial, orang-orang asik datang dan pergi ke kampus. Namun berbeda halnya dengan yang kurasakan saat ini. Masih dimasa pandemi yang membuat mahasiswa harus belajar online. Jika bisa dikatakan jurusan bukanlah yang mudah bagiku, matematika ini tidak bisa hanya sekedar kuliaht dari video. Mungkin bukan aku saja yang butuh belajar dan mendengarkan penjelasan dosen secara langsung.

Baru juga di awal semester udah banyak ngeluhnya. Tapi mau bagaimana lagi, transformasi yang dilakukan harus besar juga. Mengingat bahwa kuliah bukan main-main lagi, jika SMA masih bisa dibencandain tapi kalau kuliah sulit rasanya. Aku sudah berencana untuk mengikuti beberapa organisasi yang akan bisa menunjang prestasi dimasa kuliah ini. Diantaranya aku memilih ikut Himpunan Mahasiswa di jurusanku. Memang belum saatnya, karena masih perlu membenahi diri dengan kesiapan bahwa organisasi itu bukan hanya wadah ikut-ikutan tapi juga harus merelakan diri membagi waktu dan tenaga.

Teringat hal ini, hal pertama yang membuatku tertarik adalah kegiatan dijurusanku. Kami mahasiswa baru dalam satu kegiatan yang berlangsung selama 4 bulanan, akan melakukan perkenalan dengan senior di jurusan kami. Yang membuat sedikit berbeda adalah semua dilakukan secara online. Pertama kami disuruh membuat video perkenalan maahsiswa yang di upload di Instagram pribadi, dengan durasi yang sudah ditentukan oleh panitia kegiatan. Malu dong pastinya, tapi asik juga kalau ddijalani. Apalagi bernyanyi itu salah satu hobbyku, jadi aku sebisa mungkin membuat diriki senang juga.

Tidak hanya sampai itu saja, kami juga diberikan kesempatan untuk membuat video pembelajaran matematika yang di upload di youtube. Banyak hal menyenangkan sekaligus membosankan, tapi ya dijalani aja. Kami sudah mulai diintruksikan untuk mengenal senior, dengan menghubungi satu persatu senior yang di rekomendasikan oleh kakak mentor kelompok. Aku malah menjadi ketua kelompokku, dan berperan untuk menghubungi senior . Sebenarnya bisa saja dibagi dengan teman kelompok untuk menghubungin seniornya, hanya saja karena terbatas waktu yang mengharuskan kami sudahberkenalan dengan 10 senior setiap minggunya.

“ Assalamualaikum kak, saya Zahra dari kelompoktrigonometri ingin mengajak kakak berkenalan dengan kelompok kami kak, kapan kiranya kakak mempunyai waktu luang,” aku mulai mengirimi pesan yang saama ke nomor yang diberikan oleh mentorku.

Beberapa dengan cepat membalas dan mendiskusikan waktu, tapi ada juga yang bahkan tidak membaca pesanku setelah berhari-hari. Ini jadi satu tantangan bagi kami, meskipun ada rasa “ apaansih” dalam diri ini tapi mau bagaimana lagi. Setelah mendiskusikan waktu yang cocok maka selanjutnya adalah perkenalan melalui video call WA. Malam hariku sudah sanagt padat dengan perkenalan itu, tapi memang sangat berguna. Hal ini membuat kita tahu lebih banyak tentang kuliah, pengalaman, organisasi, sifat-sifat dosen dan masih banyak hal positif yang dapat kita ambil.

 

      “ Kalian gak ngantuk?,” seorang teman kelompok mengirim pesan.

“ Sumpah ngantuk banget, kalian buruan deh Tanya banyak-banyak biar kakaknya cape juga hahaha”, balasku.

“ Tapi mau Tanya apa lagi? Udah buntuk ini otak”, satu teman lagi membalas.

       Masih dalam keadaan video call dengan senior itu, tapi kami mengoceh bersama di dalam grup. Benar-benar melelahkan, beberapa kali aku malah memaksa temanku banyak bertanya. Dan disaat sudah tidak ada yang ingi kami tanyakan pasti ada saja kalimat,

 “ Adek- adek tidak ada yang mau ditanya? Kalau tidak, kakak yang bertanya” kalimat maut bagi kami.

       Langsung saja aku akan menanyakan beberapa hal yang belum, terkadang saat otakku buntu aku malah menanyakan “ apa motivasi kakak bertahan dijurusan ini?”. Aku selalu memepertanyakan hal itu diawal kuliah, karena aku sedang merasa jurusanku tidak cocok denganku. Memang benar aku yang memilih jurusan ini, tapi dengan sedikit terpaksa karena aku harus mengambil jurusan pendidikan oleh mama. Jadi begitulah menjalani masih setengah hati, tapi aku akan merusaha bertahan kok.

***

 

 Hari berlalu, yang duduk mulai berdiri

Yang berdiri mulai berjalan

Yang berjalan sedikit berlari

Tapi yang pasti tak akan lari dari kenyataan

 

        “ Assalamualaikum, baiklah kita mulai perkuliahan pagi ini,” pesan masuk yang selalu menyambutku setiap pagi.

       “ Waalaikumsalam bu, iya bu” satu persatu mahasiswa muali beradu membalas.

Begitulah setiap pagi disemester ini dimulai, secara online pastinya. Entah kapan kebijakan pemerintah ini akan berakhir. Aku pengen ke kampus juga kesalku selalu. Memaksakan diri perlahan agar bisa memahami materi kuliah, beberapa mungkin cukup mudah. Tapi ada juga beberapa materi yang bahkan tidak bisa kucerna sama sekali. Mengeluh dan terus mengeluh setiap harinya, tapi mengerjakan tugas tetap hal utama. Walau aku sangat sulit paham tentang materinya aku tetap mencoba terus menerus. Setidaknya aku mengerjakan tugas agar tidak lewat batas waktunya.

        Hari ini selasa dan mata kuliahnya cukup sulit. Pagi sudah disuguhi rumus, lanjutannya juga begitu. Hanya saja mata kuliah pertama diberikan memalui grup whatsapp dan aplikasi belajar. Akan tetapi, mata kuliah yang kedua dilakukan dengan zoom-meeting. Habislah sudah pagi harku yang tenang, baru bangun sudah bergulat dengan rumus.

 

 

     

 



Maaf, aku sibuk part II

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-8
- Jumlah kata 1072

    Belajar secara online bukanlah hal mudah bagiku, terkadang saat aku sedang belajar beberapa kali mama selalu bertanya. Sering kali aku melewatkan makan pagi karena takut terlambat mengikuti mata kuliah. Dan harus bertahan selama 3 SKS. Di tengah kesibukan kuliahku, kamu memiliki grosir dan setiap harinya aku akan membantu ayah di sana. Mama dan ayah selalu mengira aku tidak kuliah karena hanya melihat hp saja, padahal karena memang semua dilakukan dengan hp.
      Hampir sebulan aku berkuliah seperti itu, di luar mata kuliah jurusanku juga ada mata kuliah peminatan seperti kewarganegaraan, bahasa Arab, bahasa Inggris dan lainnya. Aku malah menjadi lebih suka mata kuliah lain daripada jurusanku sendiri. Karena yang awalnya aku berpikir matematika perkuliahan hampir sama dengan SMP atau SMA ternyata lumayan berbeda juga. Saat kuliah ini lebih condong pada variabel yang belum jelas, dan kita harus menyelesaikannya.
***
  Malam hari, kami masih melanjutkan program kegiatan mahasiswa baru untuk berkenalan dengan para senior. Sudah sampai di 3 hari terakhir dibulan ini, dan targetnya adalah akan berkenalan dengan 10 senior. Kemarin kami sudah selesai dengan 8 senior, dan hari ini kami berencana hanya dengan satu senior. Hal yang sama juga terjadi, berkenalan seperti umumnya kemudian menanyakan beberapa hal menarik yang ingin kami ketahui.
   Dan tepat di pertengahan perkenalan daerahku mati lampu. Betapa sialnya, tidak ada jaringan internet sama sekali semua gelap. Aku ingin mengabari temanku kalau aku sudah tidak bisa bergabung tapi jaringan benar-benar tidak mendukung. Aku menunggu beberapa jam sampai lampu menyala kembali.
    “ Assalamualaikum bang, maaf sebelumnya jaringan saya bilang karena mati lampu.” Aku mengirim pesan pada mentorku.
Tapi pesan itu tidak terkirim karena tidak ada jaringan, meski begitu aku tetap berusaha dengan membeli paket data pada jaringan yang ada. Keberuntunganku mungkin, tepat sebelum aku pergi membeli paket lampu sudah nyala.
Pesan yang aku kirimkan 1 jam lalu, baru bisa terkirim dan langsung di balas oleh kakak mentorku.
“ Waalaikumsalam Zahra, iya tidak apa-apa. Kita juga gak bisa memastikan jaringan selalu mendukung. Tolong besok kabari nomor ini, tanyakan apakah Abang ini bersedia untuk berkenalan dengan kelompok kalian.” Balasnya dengan mengirimkan nomor juga.
     “ Baik bang, terimakasih.” Kubalas singkat
***
16 Oktober 2022 aku mengirim pesan pada nomor yang diberikan Abang mentorku.
“ Assalamualaikum bang, maaf mengganggu waktunya. Saya Zahra dari kelompok Trigonometri, sebagai ketua kelompok. Izin untuk mengajak Abang berkenalan dengan kelompok kami, kapan kiranya Abang bisa meluangkan waktunya?” Aku mengirimkan pesan di pagi hari.
“ Waalaikumsalam Zahra, kalau Abang boleh tahu berkenalannya apa ada digabung dengan senior lain?” balasnya cepat .
“ Tidak bang, kebetulan hari ini kami hanya berkenalan dengan satu senior, dan itu Abang” balasku.
“ Baiklah, insyaallah Abang ada waktu nanti malam,” ia membalas.
“ Terimakasih bang, untuk jam nya kira-kira jam berapa bang?” aku masih mempertanyakan.
“ Kalau bisa selesai isya saja, supaya tidak terkendala saat adzan,” balasnya lagi.
“ Baik bang, nanti akan Zahra kabari lagi.”
“ Sipp,” balasnya singkat.
         Waktu berlalu cepat, setelah sholat Maghrib aku baru ingat akan berkenalan dengan senior yang aku chat tadi pagi. Langsung kuambil handphoneku dan mencari pesannya.
“ Assalamualaikum bang, nanti Zahra izin langsung menambahkan Abang kedalam video call,” kukirim pesan padanya.
   Dia belum membalas pesan itu,akupun mengambil nasi dan makan malam terlebih dahulu. Selesai makan aku membereskan kamarku, dan menunggu balasan dari pesanku.’ Masih saja belum di balas padahal udah hampir setengah jam’ ketusku dalam hati.
    “ Waalaikumsalam Zahra, silahkan,” balasan pesanku.
‘Wah yang benar saja, dia baru balas pesannya sekarang. Untung aku gak kenal, kalaukenal mungkin... Ah sudahla’
   Selesai sholat isya, aku langsung menelepon teman-teman Kelompokku dan menambahkan mentorku serta yang terakhir baru lah aku menggabungkan Abang itu.
“ Assalamualaikum Wr.wb, terimakasih kami ucapkan kepada kakak yang sudah meluangkan waktunya untuk berkenalan dengan kelompok kami. Sebelumnya kami akan memperkenalkan diri,” aku membuka perkenalan.
  Satu persatu kami mulai berkenalan, dan setelah itu aku mengambil alih lagi “ Baik, selanjutnya dipersilahkan kepada Abang untuk memperkenalkan dirinya.”
“ Sebelumnya terimakasih moderator, perkenalkan nama Abang Aditya Putra. Adik-adik bisa panggil dengan nama yang mana saja, tapi Abang biasa di panggil Putra. Abang berasal dari Sumatera Utara. Saat ini sedang berada pada semester 3 seperti yang adik tahu. Dikembalikan kepada moderator,” dia memulai perkenalan diri.
“ Selanjutnya kepada teman-teman yang ingin bertanya dipersilahkan,” aku melanjutkan.
“ Oh iya dik, kita disini tidak usah terlalu formal karena ini perkenalan agar saling mengenal dan tahu lebih banyak dari seniornya,” ucapnya memotong.
    Teman-temanku mulai menanyakan banyak pertanyaan dan dia menjawabnya. Hanya saja aku tidak terlalu peduli dengan pembahasan mereka, aku malah fokus dengan film yang saat itu sedang ku tonton. Aku menonton film dengan laptop dan video call dengan hp. Siapa peduli apa yang kulakukan.
   Hingga satu ketika salah satu teman mereka bergabung dalam panggilan, aku mengenal wajahnya karena pernah berkenalan dengan kelompokku juga.
“ Eh asik ya, maaf adik-adik karena bergabung itu tadi Abang mentor kalian yang tambahkan kakak,” ujar perempuan itu.
Kami hanya diam, dan tidak terlalu memperdulikannya. Sampai ia nyeletuk“ Yang mana putra? Yang jilbab hitam ya?”.
‘ Yang mana? Jilbab hitam?’ kulihat layar dan memperhatikan temanku. Kupikir aku ternyata temanku satu lagi. Begitulah aku meyakinkan diriku. Aku sangat tidak peduli dengan yang terjadi pada semua pembahasan mereka. Aku sesekali hanya menatap handphoneku agar tidak terkesan mengabaikan.
     “ Apa masih ada yang ingin di tanyakan? Tanyakan saja, gali sebanyak mungkin yang ingin kalian ketahui,” ucap Abang mentor.
    Aku sudah mulai bosan dan mengantuk, untuk mengakhiri pertanyaan aku mulai mengirim pesan di grup kami.
“ Tadi udah ada belum yang tanya alasan Abang ini ambil jurusan ini?”
“ Kayaknya belum ada Ra, coba kamu tanyakan saja,” balas salah satu teman.
      Aku langsung berbicara “ izin bang, apa yang membuat Abang memilih jurusan ini? Dan apa yang memotivasi Abang?”
“ Pertanyaan yang bagus”, ia menjawab pertanyaanku.
  Dan sebenarnya setelah aku bertanya, aku langsung mengabaikan semuanya dan fokus pada film yang aku tonton. Hahaha... Aku sedikit merasa bersalah, tapi ini benar-benar membosankan.
Setelah dia bercerita panjang, kami di grup sepakat untuk mengakhiri panggilan. Begitupun Abang mentor kami sudah menanyakannya, dan kami bilang sudah cukup. Berakhir sudah berkenalan dengan Bang Putra ini. Tapi sebelum berakhir dia malah mengatakan “ Oh iya siapa tadi yang menghubungi Abang?”
“ Saya bang,” jawabku cepat.
“ Ada kalimat motivasi yang ingin Abang berikan, nanti akan dikirim melalui kamu saja dan tolong disampaikan juga pada teman-temannya ya.” Ujarnya.
“ Baik bang,” kujawab singkat.
     Aku mengakhiri video call itu, dan beberapa menit kemudian bang putra sudah mengirimkan kalimat motivasi yang ia berikan. Langsung ku jawab terimakasih dan meneruskan pesan kepada teman kelompokku.




Bertemu Sosok Baru

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-9
- Jumlah kata 801


       Dua hari setelah perkenalan itu, aku sudah saling menyimpan nomor dengannya. Suatu malam dia mengirimkan tautan video pembelajaran yang merupakan tugas mata kuliahnya.
Dia mengirim pesan “ Tolong like dan komen ya dik.”
Beberapa menit kemudian aku membalas “ Mau di komen apa bang?”
“ Komen aja deh, suka hati,” balasnya.
  Aku langsung membuka tautan Youtube itu, kulike, subscribe dan komentari videonya “ Keren, pembahasannya mudah dipahami,”
        Malam hari setelah beberapa pesan itu hanya di baca olehnya. Dia mengirim pesan lagi, “ Yaelah malah disubscribe lagi,”
“ Gapapa bang, biar membantu juga,” balasku.
“ Hahaha makasih ya. Besok -besok kalau kamu ada tugas gitu kirim aja, biar Abang bantu juga,” sambil mengirimkan stiker tertawa.
“ Kalau tugas video belum ada bang, tapi kalau latihan banyak banget,” keluhku.
“ Coba kirim gimana soalnya,” ia cepat membalas.
  Kukirim kan foto tugas yang sedang aku kerjakan, sebenarnya aku cukup memahami soalnya tapi aku takut jika salah.
“ Oh ini, sama Bu Rara ya? Coba pahami dulu perlahan,” ujarnya.
“ Udah di coba pahami bang, tapi masih takut salah juga.”
“ Bentar biar Abang carikan contohnya,”
     Yah ternyata sebentar olehnya adalah hampir satu jam. Benar-benar membuat kesal tapi aku juga tidak terlalu mempermasalahkan sebenarnya.
   Setelah hampir satu jam berlalu dia baru membalas pesan ku.
“ Ini contohnya, maaf ya lama soalnya masih buat tugas video juga,” ia meminta maaf.
“ Iya gapapa bang, lagian juga aku udah coba kerjain sendiri dan hampir selesai kok,” balasku.
“ Bagus udah mandiri,”
    Aku hanya membaca tanpa membalas pesan itu. Aku bahkan sama sekali tidak tertarik dengannya, hanya kebetulan dia menawarkan akan membantuku. Setelah semua itu, kami tidak pernah lagi saling mengirim pesan. Sampai suatu hari saat aku membuat stori di status WhatsAppku, dia membalasnya. Dengan kata-kata meledek yang jadi andalannya, dan itu selalu membuat kami memulai percakapan.
     Jika dipikir-pikir aku bahkan tidak benar-benar mengenalinya. Hanya karena pernah bertatap muka dalam video call perkenalan itu saja. Tapi bercengkrama dengannya juga menyenangkan meskipun dia lebih suka bercanda sambil mencela. Yang aku maklumi adalah itu mungkin cara dia berkomunikasi denganku.
   “ Bocil...bocil, kamu tuh orang paling tengil deh,” suatu ketika dia meledekku.
“ Enak aja bilang orang tengil, sok kenal hahaha,” balasku bercanda.
“ Tapi emang iya, kamu itu adik kelas yang tengil, sadgirl, statusnya galau terus,” sambungnya.
“ Itu bukan galau, tapi emang lebih suka aja,”
“ Hahaha gak ada itu, emang sadgirl makanya jangan mau sad,”
“ Ngasal banget, orang aku juga Cuma pura-pura galau. Lagian gak ada bahan yang mau di galauin,” kesalku.
“ Hahaha iya deh, tapi emang kamu itu tengil banget,” dia masih meledek.
“ Udahlah cape juga chatingan sama senior gini, mana bilangin orang tengil lagi,” balasku ketus.
“ Hahaha becanda kok, jangan di masukin hati. Masukin kantong aja biar banyak,” balasnya.
     Beberapa candaan pada setiap pesan yang kami kirimkan. Biasa saja mungkin, tapi entah kenapa lumayan menyenangkan menurutku. Sejak dulu aku selalu ingin punya sosok Abang, kulihat orang lain sangat menyenangkan punya Abang. Walaupun aku gak dianggap adik sih.
***
       “ Bocah tengil,” balasnya pada status WhatsAppku yang baru.
Aghh sudahlah aku sangat kesal, jika dia di hadapanku mungkin sudah ku lempar dia dengan kursi.
“ Kurang kerjaan banget sih, aku itu gak tengil,” aku membalas kesal.
“ Loh jangan marah dong, kan Cuma becanda. Lagian kamu tiap hari buat status galau.”
“ Udah aku bilang, aku itu bukan galau tapi emang suka buat status gituan,” dengan cepat Kubalas.
“ Yaudah deh iya, tapi kalau untuk tengil itu emang bener ya,” balasnya.
“ Gak,” Kubalas singkat.
“ Dari semua Maba, cuma tiga orang yang aku simpan nomornya. Dan salah satunya kamu bocil,” dia membalas.
“ Lagian siapa suruh kamu simpan nomorku. Kalau keberatsn yah tinggal hapus atau blokir aja kalau perlu,”
“ Hahaha okay aku blokir ya, yakin?” dia bertanya.
“ Blokir aja, lagian juga gak ada aku minta simpan,”
“ Beneran aku blokir nih,” masih bertanya.
“ Yaudah aku aja yang blokir,” ucapku dengan segera memblokir nomornya.
          Beberapa menit setelah itu, rasanya tidak tega juga memblokir Abang kelas hahaha. Segera kubuka blokirnya, dan ku balas pesannya yang sebelumnya dengan stiker lucu.
“ Loh udah gak di blokir?” ia langsung membalas.
“ Engga, gak tega soalnya aku masih banyak butuh,” balasku.
“ Hahaha aku gak mau bantu.”
“ Yaudah kalau gak mau bantu,” aku membalas.
“ Becanda deh, besok-besok kalau butuh bantuan langsung aja gausah segan.”
       Percakapan itu berlanjut sampai aku sudah hampir selesai dengan tugasku yang harus menulis banyak sekali. Aku selalu mengeluh padanya untuk tugas-tugas yang banyak ini, apalagi yang harus ditulis dengan tangan sendiri.
“ Biasa itu, namanya juga mahasiswa makin berat tugasnya. Tapi jalani aja dulu,” dia meyakinkan.
    Hari-hari berlalu dan banyak hal positif yang aku dapat darinya. Meskipun dia suka sekali membuatku kesal dengan candaannya yang terus saja menyudutkanku. Tapi begitulah kami meneruskan setiap percakapan kami di waktu luang.


      

Bertemu Sosok Baru part II

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Dah-10
- Jumlah kata 713

     Hari berlalu cepat sekali, aku sudah berada di bulan kedua perkuliahan. Banyak hal baru yang kutemui, termasuk dia. Jika kukatakan bertemu dengannya adalah anugerah mungkin terlalu berlebihan. Tapi, dengannya memang terasa hangat. Aku bebas menceritakan semua hal yang kualami dan dia selalu menjadi pendengar terbaikku.
“ Kamu udah pernah ke kampus ?” Pesan masuk darinya.
“ Kenapa emangnya?” aku penasaran.
“ Besok aku mau berangkat ke Aceh sama keluarga, rencana sih mau liburan sekalian cari kos-kosan,” jawabnya.
“ Lah kok udah mau kesana aja? Kan masih online, lagian juga kabar yang aku dengar kalau satu semester ini bakalan penuh online sih.” Aku membalas.
“ Iya, kan kamu tau aku itu atlet basket juga. Jadi orang tua pengen aku latihan juga sekalian, buat isi waktu luang juga,”
“ Wah, keren sih. Yaudah deh nanti kalau udah sampai di kampusnya jangan lupa di spill yaa.” Balasku.
“ Hahaha aman itu,” balasnya singkat.
***
    Dia berada dalam perjalanan selama 24 jam dengan istirahat. Mendengarnya saja aku sangat kelelahan, apalagi dia yang melakukan perjalanan itu. Beberapa pesan singkat masih tetap ia kirimkan padaku di sepanjang perjalanannya.
      Dia selalu mengabari posisinya sudah sampai  di mana dan sedang apa. Aku merasa di prioritaskan walaupun aku tidak tahu bagaimana aslinya. Sebenarnya kabar-kabar yang orang lain katakan pada kita sangat berdampak pada kepercayaan diri. Antara itu terlalu percaya diri atau bodoh sih hahaha.
***
   Tiga hari kemudian, dia baru mengabariku kalau dia sudah di Aceh dan sudah menemukan kos. Dengan mengirimkan beberapa video saat dia berada dikampus.
“ Kamu belum pernah kekampus kan, kasihan banget mahasiswa baru ini,” Ujarnya.
“ Enak aja, aku udah pernah ke kampus. Seminggu setelah jadi Maba aku udah pernah ke kampus karena ada acara,” balasku.
   Dia masih saja mengejekku, bahkan beberapa kali dia mengirimkan foto dan video kampus.
“ Cukup, buat penuh penyimpanan aja. Lagian sekali ke sana aja udah cukup, pengen kuliah offline tapi masih nyaman juga di rumah.” Keluhku padanya.
“ Sok banget, makanya kalau di rumah itu belajar jangan main hp mulu. Kan kalau tiba-tiba udah offline gak kaget lagi,” ia membalas.
“ Siap deh senior,” ujarku meledek.
     Dia paling tidak suka saat aku meledek dengan mengatakan senior-senior seperti itu. Sebenarnya dari segi usia kami sama, hanya beda beberapa bulan saja. Akan tetapi dia sudah berada satu semester diatasku.
***
   Beberapa hari ini entah kenapa, aku sering bercerita tentang orang-orang yang pernah kutemui. Aku bercerita bagaimana aku merasa bahwa seseorang sangat peduli padaku meskipun itu hanya diawal. Aku juga menjadi lebih sering mengeluh tentang mata kuliahku. Rasanya dia seperti sosok lama dalam ceritaku meskipun aku bahkan belum pernah bertemu dengannya secara langsung.
      Memasuki bulan November, aku sudah melewati ujian tengah semester dan bulan depan sudah mau ujian akhir semester. ‘ Agrhh baru jadi Maba, tau-tau udah mau naik semester. Isi otak gak ada, ngeluh aja tiap hari. Gimana mau dapat nilai yang memuaskan ' aku mengeluh dihatiku.
     Jujur saja, sudah lebih dari setengah semester kulalui. Tapi, yang aku dapatkan hanya tugas dan keluhan. Benar, aku memang berupaya kerasa memahami setiap mata kuliah jurusanku. Akan tetapi saat otakku sudah buntu dan tidak bisa mengerjakannya lagi, aku selalu meminta jawabannya pada teman-teman dekatku di kelas.
    Untung saja mereka tidak pelit, kali iya mungkin aku sudah telat mengirimkan tugas setiap minggunya. Memang tidak monoton mencontoh punya kawan, beberapa sudah kucoba pelajari dan Alhamdulillah aku mengerti. Yang sulit adalah mata kuliah yang mengharuskan aku untuk membuktikan setiap rumus. Jujur, itu mata kuliah yang tidak terlalu kusukai.
       “ Assalamualaikum bang, boleh tau gak? Dulu waktu Abang ujian secara online gimana sistemnya?,” aku mengirim pesan pada bang Putra.
“ Waalaikumsalam Zahra, kalau waktu semester Abang ya. Kami ujian dikasih beberapa soal dan dikerjakan selama jam kuliah dosennya.” Balasnya cepat.
“ Gitu yah bang, tapi kan gak tau apa-apa mau jawab ujian ini,” aku khawatir.
“ Udah gapapa, jalani aja pelan-pelan. Nanti juga ngerti sendiri, kan masih ada teman juga. Kalau memang udah gak ngerti banget baru deh.” Ia menasehati Ku.
“ siapp deh bang, makasih banyak ya. Tapi kalau boleh bang, aku mau minta contoh ujian tahun lalu dong. Manatau ada beberapa yang sama kan, aku juga mau belajar.” Aku meyakinkan.
“ Kalau contoh kayaknya udah gak ada, tapi kalau soalnya mungkin masih ada filenya di handphone. Nantilah Abang cari dulu,” balas bang Putra.
“ ok bang” balasku singkat.
    

Sisi gelap

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-11

- Jumlah kata 753

***

    Malam yang indah, tak ada gangguan sangat sunyi dan menenangkan. Aku yang sedari pagi sudah merasa kelelahan membantu orang tuaku berjualan. Saat malam hari, jika bagi orang-orang adalah tidur dan istirahat. Namun, bagiku adalah nikmati setiap ketenangannya. Hanya di malam hari aku bebas mengekspresikan diriku, menatap layar ponselku. Mendengarkan musik kesukaanku, meneriaki diri dari hati. Mungkin jika aku dialam bebas malam ini, sudah menjerit aku.

      Kalau dipikir-pikir dulu, bodoh sekali aku saat sedang tertekan oleh keadaan yang kulakukan adalah melukai diriku. Sejak aku sadar dengan hal bodoh itu, aku tak pernah melakukannya lagi. Belum lagi jika dipikirkan aku sudah beranjak dewasa. Banyak hal yang lebih perlu diperjuangkan, menangis saja. Luapkan semua emosi dalam air mata, itu lebih dari cukup untuk melepaskan semua beban di pundak dan kepala.

     Orang-orang terserah mau menilaiku lebay atau apalah itu, tapi yang jelas hanya aku yang tahu bagaimana keadaan yang aku rasakan. Bercerita pada orang lain mungkin tampak mudah, hanya saja yang selalu ku ceritakan pada  teman terdekatku adalah bagaimana aku jatuh cinta atau patah hati. Pada hal lain selain itu, tak akan pernah aku ceritakan.

     Manusia itu bukan makhluk yang tak punya asa, semua punya keluhan dan rasa sakit yang tidak semua orang tahu. Jika aku tertawa di hadapanmu, itu karena itulah aku yang sebenarnya di tempat sosialku. Dan tentang sisi gelap kehidupanku, aku pendam dan biarkan itu tertanam. Aku anak kedua dari lima bersaudara, sebenarnya tidak ada yang terlalu memaksakan kehendaknya padaku. Karena meskipun mereka mengatakan ini dan itu padaku, aku akan tetap berada pada pondasi ku. Tidak melawan, hanya sedikit tidak patuh saja.

      Banyak yang ingin ku ceritakan pada orang-orang, tapi tak ada pendengar yang bisa mendengar saja tanpa berkomentar pahit tentang ceritaku. Sering kali saat kita bercerita pada orang lain “ Sama kok, kamu gak tau aja yang aku rasain”, itu ujar mereka selalu. Tapi memang sudah wajar seperti itu, tidak semua orang menyediakan telinga untuk mendengar saja.

***

      Pendengar itu, ada padanya ternyata. Dia selalu menjadi tempatku bercerita. Akhirnya aku temukan, orang yang mendengarkanku tanpa menilai ceritaku.

   “ Bang aku mau ngeluh,” ku mulai percakapan dengannya.

“ Apa itu? Ceritalah,” balasnya.

     Seperti itu semuanya bermula, dan aku selalu bebas bercerita tentang apapun itu. Sesekali dia akan memberiku beberapa nasehat singkat dan itu benar-benar respon yang sangat aku butuhkan.

     Aku menemukannya, mengeluh saja yang aku lakukan padanya. Banyak hal yang sudah ku ceritakan padanya.

“ Kalau kamu mau karyamu bagus, kamus seharusnya sanggup untuk menerima setiap komentar dari orang lain. Aku tahu kalau kamu buat video narasi begitu Cuma untuk dirimu. Tapi, yang nonton itu bukan hanya kamu. Cobalah untuk terus melakukan perubahan, belajar lebih banyak dari hal-hal baru yang terjadi. Jangan gitu-gitu aja.” Kalimat-kalimat yang pernah ia katakan padaku saat aku meminta saran padanya.

     Sejujurnya aku sakit hati, baru dia orang yang berani berkomentar pahit padaku. Banyak orang sebenarnya tapi itu orang yang tidak aku kenal. Sedangkan dia, bisa dibilang kami dekat bukan? Ah sudahlah.

    Tepat setelah semua nasehat itu, kuhapus semua video dimedia sosialku. Rasanya sangat memalukan, aku benci dikomentari. Yah tapi dia juga ada benarnya, tapi entahlah aku tidak bisa terima.

       ‘Again? Itu judul puisiku’ Aku berusaha menyampaikan banyak pesan dari sana.

“Dia bilang, jangan mencintai orang lain, jika kamu belum mampu mencintai diri sendiri”

Poin penting puisi yang ingin aku sampaikan. Dia pernah bilang padaku, bahwa saat aku ingin mencintai orang lain aku harus memulainya dari diriku sendiri.

      Begitu sulit, ternyata aku belum sepantas itu untuk mencintai. Karena untuk dirimu saja aku bahkan tidak bisa. Saat aku masih menggores tanganku dengan pisau, memukul dinding dengan kepalan tanganku, melukai tanganku dengan kuku-ku yang panjang dan menyiksa diri dengan tidak makan seharian.

    Benar saja, aku belum sepantas itu mencintai orang lain. Aku belajar banyak darinya, dia menampar semua kesalahanku dengan kata-kata. Beruntung rasanya saat masih ada yang siap menjadi pendengar saat kita terpuruk jatuh di Palung penuh tanda tanya.

    “ Makasih ya bang, walaupun sebenarnya aku sedikit kesal karena komentar yang Abang katakan. Tapis setelah dipikir-pikir semua ada benarnya. Jadi sudah kuputuskan untuk gak buat video itu lagi. Kalau memang tujuan ku hanya untuk diriku, maka orang lain tidak harus melihat dan tahu semuanya,” kukirim pesan padanya setelah aku mendiamkan seharian.

   “ Bagus lah, tapi tetap berkarya. Jangan biarkan hal kayak gitu buat kamu gak melakukan yang kamu sukai. Lakukan yang kamu sukai dan tetaplah menjadi dirimu,” balasnya.

         “ Butuh waktu bagi kupu-kupu untuk menjadi indah, dia masih harus menjadi ulat yang tak semua orang suka. Tapi akhirnya saat dikepakkannya sayap indah itu, ternyata dia sangat luar biasa” (zahraharuno,24 Juli 2022)


Sisi Gelap Part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

-Day-12

- Jumlah kata 737

Aku beranjak masuk ke kamarku. Dimeja kulihat sebuah pisau berwarna biru, tidak tajam lagi dia sudah tumpul dan mulai berkarat. Sejujurnya pisau itu pernah menggores tanganku, bekasnya bahkan masih ada sampai hari ini. Tak pernah hilang, dan tak akan mungkin hilang. Itu bukan kali pertama aku melakukannya, tapi yanmg dapat kupastikan itu akan menjadi yang terakhir kalinya.

Pada malam hari yang sepi, aku membawa pisau itu ke kamar mandi, perlahan air mataku menetes membasahi pipiku. Aku ingin menjerit, berteriak tapi sedikitpun suara tak keluar. Menangis sesegukan tanpa suara sungguh menyakitkan. Mulai ku lukai diriku satu demi satu garis vertical di pergelangan tanganku. Ternyata tak terlalu menyakitkan, aku melanjutkan beberapa sobekan lagi ditanganku. Derai air mataku membasahi luka itu, darah nya merah dan tampak biasa saja olehku.

Terhipnotis oleh keadaan, aku benar-benar tidak merasakan sakit. Dadaku yang malah terasa lebih sesak, sangat sulit bernapas. Aku tak berani keluar dari kamar mandi dengan keadaan masih menangis sesegukan, jadi aku bertahan sampai aku merasa lebih tenang. Sesaat setelah aku merasa sedikit tenang, kubasuh wajah dan tanganku. Aku lupa nahwa itu masih tetap luka, malah kubasuh dengan sabun. Ternyata perih juga, setidaknya tadi tidak menyakitkan. Begitulah yang terjadi saat aku masih bodoh dan berada pada tekanan yang besar.

Dan selalu setelah pagi hari aku terbangun, aku sudah lupa dengan yang terjdi padaku malam itu. Aku melihat tanganku, susah ada bekas luka. Ingatanku samar-samar tapi aku tahu pasti bahwa itu adalah ulahku yang tak masuk akal.

Banyak yang lebih menyakitkan dari goresan itu, masih bukan apa-apa. Tapi ‘enyahlah pikiran kotorku, Aku sudah berhenti’ ujarku dalam kepala. Banyak hal negatif yang sebenarnya datang dari dalam diriku sendiri. Sama halnya, saat aku memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Itu yang membuatku selalu takut melangkah maju.

Hanya saja beberapa kali saat aku berusaha menerobos ketakutan ku, itu malah menjadi sangat sulit. Terlalu sering diluar ekspektasi ku, terlalu sering gagal. Sebenarnya aku cukup trauma dengan kegagalan, sampai saat ini usia sudah menjalani 19 tahun. Benar-benar rasa pahit yang aku rasakan dan tak bisa ku ceritakan. Bagiku pundak ini sudah terasa berat oleh harapan-harapan yang dititipkan.

Aku menangis setiap malam karena banyak yang tak bisa kulakukan. Mereka, orang-orang sekitarku yang selalu bera ggapan aku sangat mampu. Dan tugasku adalah memenuhi ekspektasi mereka. Bukan dizaman penjajahan tapi masih serasa di jajah oleh keadaan. Bukan aku tak mau melakukannya, aku hanya tak terllau yakin akan berhasil. Belum lagi keluarga yang suka membandingkanku dengan orang lain. Aku benar-benar membenci itu, dibandingkan dengan orang tak ku kenali. Kuraih buku harian ku, kutulis bait-bait untuk meluapkan emosiku.

Berhentilah melukai dirimu

Itu tidak akan pernah merubah apapun menjadi lebih baik

Keluarlah dari zona nyaman

Abaikan komentar pahit yang terus melengking di telinga

Tatap ke depan, lakukan perubahan

Percayalah semua hal indah sudah menunggu didepan sana

Hanya akan menguras beberapa air mata, tenaga dan hati

Kuatlah diri, keluarlah dari sana

Masih banyak hal hebat yang harus kamu lakukan untuk membungkam mulut mereka

Percayalah Yang Maha Kuasa pasti akan memberi jalan

(zahraharuno, 24 Juli 2022)

***

“ Sofia, keluar yok aku suntuk dirumah. Bisa stress aku kalau gini,” aku mengirim pesan pada Fia.

“ Mau main kemana? Lagian aku belum tau juga bisa bawa motor atu engga”, balasnya.

“ Terserah deh mau kemana, aku yang jemput. Kakak sama adekku juga lagi dirumah kok, kasihan motornya nganggur. Gas aja dulu, nanti kalau uda diluar langsung kepikiran kok itu mau kemana.” Ku balas cepat.

“ Yaudah gas ajasih kalau aku, langsung kerumah aja ya. Aku mau siap-siap dulu sekalian beresin rumah dikit lagi biar dikasih izin.” Balasnya

“ Okay”

Healing terbaik adalah keluar tanpa tujuan. Modal motor sama sedikit uang jajan udah bisa buat tenang. Dan yang terpenting mengajak orang yang tepat hahaha. Aku punya banyak teman, tapi hanya beberapa yang benar-benar akan aku cari saat situasi tersulit ku. Meskipun kalau sama Sofia bakalan adu nasib mulu, itu menyenangkan. Bhakan aku leih suka seperti itu, daripada menceritakan tentang orang lain.

“ OTW,” singkat kukirim pada Sofia.

Aku meminta izin pada Ayah dan langsung pergi kerumah Sofia. Sepanjang jalan aku agak melamun, dan sudah sampai. Kami pergi, tidak tahu mau kemana tapi tetap jalan aja dulu. Di pertengahan jalan kami memutuskan untuk pergi kesalah satu tempat yang jarang kami datangi, pemandangannya bagus dan bisa membuat hati tenang.  Sampai di tempat kami memesan minum dan cemilan. Sofia dengan rasa matcha kesukaannya, dan aku memilih lemon-tea. Kami berbincang penuh emosi membahas masalah-masalah kami. Tertawa dan meluapkan semua amarah dalam tawa itu. Aku sangat berterimakasih diberikan teman sepertinya.



Khawatir

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-13

-Jumlah kata 777

         Aku menjalani sisa satu bulan terakhir pada semester pertamaku. Beberapa dosen mulai mengatakan syarat lulus pada mata kuliah yang di ampuhnya. Mata kuliah matematika tidak menetapkan hapalan atau semacamnya, hanya di suruh benar-benar fokus dan menjawab soal dengan benar. Sedangkan di mata kuliah lain, selain mengumpulkan makalah kelompok dan pribadi yang sudah di presentasikan setiap pertemuan. Ada juga beberapa yang menyuruh kami untuk menghafalkan ayat Alqur’an.

     Salah satunya adalah bahasa Inggris, dosen ini mengharapkan kami menghafalkan Q.S Ar-rahman secara penuh. Wah yang benar saja, sejujurnya aku hanya hafal 25 ayat pertama. Tentu saja aku jadi khawatir, apalagi aku tipe yang sulit sekali dalam menghafal. Setelah penjelasan dan pembahasan materi dengan dosen ini berakhir, aku segera mengirim pesan pada beberapa temanku untuk menanyakan pada mereka mengenai hafalan ini.

     “ Kamu hafal ayat yang disuruh sama ibu?” tanya ku pada salah seorang teman dekat di kelas.

      “ Masih belum semua sih, tapi kayaknya bakalan Kuhafal. Takut banget gak lulus sama ibu ini,” balasnya.

       “ Argh yang benar saja, waktunya sisa 2 Minggu lagi. Belum juga tugas-tugas mata kuliah lain. Yang benar saja, ibunya juga kenapa gak bilang dari awal perkuliahan. Kan jadi bisa dicicil juga menghafalnya,” balasku ketus.

        “ Iya gak sih, aku juga kalau ibunya bilang dari awal mungkin udah aku cicil hafalannya,” balasnya.

    Kami saling berbalas pesan mengeluh tentang mata kuliah ini, sebenarnya tidak terlalu sulit hanya saja waktunya lumayan mendadak. Banyak juga tugas mata kuliah lain yang belum selesai dikerjakan. Sungguh semester awal yang penuh drama.

       “ Assalamualaikum bang, kalau boleh tau dosen mata kuliah bahasa Inggris Abang siapa yang dulu?” Aku mengirim pesan pada bang Putra.

      “ Oh itu, gak ingat namanya. Emang ada apa?” balasnya.

       “ Tiba-tiba ibunya suruh kami hafal surah satu juz,” balasku.

       “ Hahaha surah Ar-Rahman ya?” tanya bang Putra.

        “ Iya, bener-bener dadakan banget. Aku juga Cuma hafal beberapa ayat lagi. Gima itu metode setoran sama ibunya bang?” tanyaku.

      “ Tenang aja, hafal aja dulu. Nanti ibu nya bakalan kirim link zoom gitu, jadi di suruh baca satu persatu. Kasihan banget kamu, habislahh.” Ia menakuti.

      “ Udahlah aku pasrah deh, mau gimanapun aku emang susah hafal begituan.” Balasku.

       “ HAHAHAHA...” ia tertawa besar.

       “ Tapi nilai sama ibunya gak penuh dari itu kan bang? Mudah-mudahan enggak ya,” ujarku.

       “ Sebenarnya sama ibunya gak terlalu sulit, kalau hafalan itu untuk nilai plus aja. Yang penting tugas harian sama ujian kita dikerjain aja bagus-bagus.” Ujarnya meyakinkan.

      “ Okay lah bang, makasih yaaa.” Balasku.

    ***

       Satu Minggu berlalu cepat, aku yang masih belum melanjutkan hafalanku sangat was-was. Belum lagi kalau aku ngeblank, ya Allah aku pasrah. Dua hari lagi akan ada mata kuliah bahasa Inggris untuk pertemuan terakhir sebelum ujian akhir. Dan saat itulah hafalan kami akan di tagih, benar-benar cukup gugup.

     Hari demi hari berlalu, pagi sampai sore hari berkuliah online dan malam hari mengerjakan setiap tugas. Cukup melelahkan, untung saja aku bukan tipe yang mudah sakit. Apalagi aku lebih suka mengerjakan tugas pada tengah malam. Sesekali memang dimarahi oleh ayah dan mama, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa mengerjakan tugas jika masih ada banyak suara bising.

***

     “ Assalamualaikum mahasiswa, pukul 10.15 kita akan memulai zoom-meeting. Silahkan kepada koordinator untuk menyediakan linknya. Dan diharapkan semua mahasiswa sudah menghafal surah yang ibu katakan,” sebuah pesan masuk di grup kelas.

   Serentak mahasiswa membalas “ Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh Bu, baik Bu.”

      Saat ini pukul 09.45 dan waktunya sudah dekat. Jujur saja aku belum menghafal sama sekali. Hanya bermodalkan hafalan ku yang sebelumnya dan mau bagaimana lagi aku harus menghadapi yang sudah ada didepan mata. 

    Jam 10.00 Link sudah dibagikan, dan aku segera bergabung. Tak disangka teman ku mengirim pesan padaku.

    “ Kamu udah hafal semua?”

    “ Yang benar aja, jangankan semua lima puluh ayat aja susah. Doakan aja lah supaya kita aman ya,” balasku.

       Setelah semua bergabung di zoom-meeting, dosen juga sudah bergabung dan menjelaskan teknik setoran surah ini. Yang pertama dilakukan secara bersambung, dari satu orang ke yang lainnya. Dan metode kedua adalah secara acak. Wahhh rasanya aku seperti dijatuhkan dari langit kebumi. Terbayang jika aku tak bisa menyambung ayatnya. ‘ Tamatlah riwayat ku’ ucapku dalam hati.

       Ayat pertama dibacakan, kemudia beberapa orang di tunjuk untuk menyambungnya. Begitulah semua terjadi dalam room itu, dan saat bagian ku benar-benar rezeki anak Sholehah. Aku mendapatkan bagian hanya beberapa kali, tidak seperti teman-temanku yang sering dan di suruh ulang karena beberapa bacaan yang salah.

     Metode pertama selesai, dan selanjutnya acak. Ibu hanya membacakan potongan ayat, dan nama yang disebut akan menyambung ayat tersebut. Ini jauh lebih sulit dari sebelumnya, tapi semoga bisa bertahan. Ayat demi ayat berlalu, dan lagi-lagi memang rezekiku, aku hanya dapat bagian satu kali. Sungguh keadaan yang tegang dan luar biasa.

     

 

 


Khawatir Part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMo Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-14

- Jumlah kata 795


      Pagi-pagi sekali aku sudah mulai membuka laptop dan alat tulisku. Perasaaan tak terkendali olehku. Hari ini ujian akhir semester, jawaban apa yang akan aku buat? Keluhku dalam hati.

       “ Mau ngapain pagi-pagi sekali sudah rapi?” Mama bertanya saat memasuki kamarku.

      “ Oh itu ma, hari ini udah mulai ujian akhir semester. Kami diharapkan tetap menggunakan pakaian ujian meskipun ujian secara online,” aku menjawab mama.

     “ Oh Yaudah, nanti kalau udah selesai atau ada istirahat sebentar sarapan dulu, Mama udah masak,” sebenarnya itu adalah perintah segera mungkin.

     “ Iya ma, nanti aku makan. Kalau sekarang udah gak keburu soalnya,” jawabku meyakinkan.

     “ Iyaaa, semangat yaaa,” seraya meninggalkan kamarku.

      Hari ini aku ada ujian matematika, tadi malam aku sudah mengulas semua materi yang kudapat setelah hampir enam bulan aku kuliah. Optimis saja, meskipun beberapa materi belum aku kuasai. Yang penting aku akan berusaha semaksimal mungkin.

     Tepat pukul tujuh, dosen sudah mengirimkan petunjuk soal ujian. Dan soalnya akan dikirimkan 15 menit lagi. Setelah aku membacanya, segera aku ambil kertas folio dan membuat garis pinggir pada kertasku. Menuliskan nama serta atribut lain pada kertas itu.

      Soal sudah dikirimkan, aku membukanya dan mulai membaca soal. Wahh... di luar dugaanku. Soal ini ternyata sulit, rasanya ingin menangis karena tak bisa menjawabnya. Untung saja saat itu masih secara online, jadi masih bisa melakukan sedikit kecurangan. Meskipun agak merasa berdosa, tapi tampaknya ini wajar apalagi saat ini semua serba online juga.

      “ Kamu udah ada kerjain soalnya?”,aku mengirim pesan pada salah satu teman.

      “ Belum nih, tapi kalau gak salah soalnya ini sama kayak tahun lalu,” ujar temanku.

       “ Yang benar? Bentar aku coba tanya ya,” balasku.

Segera setelah itu aku melihat kontak senior yang dekat denganku, bang Putra. Aku teringat kalau kami harus saling membantu, terlebih dalam hal belajar. Waktu ujian masih panjang, masih sempat untuk mencari beberapa jawaban.

     “ Assalamualaikum bang, lagi sibuk?” kukirim pesan pada bang Putra.

     “ Gak sibuk sih, emang ada apa?” tanya bang Putra balik.

     “ Kami lagi ujian matematika, kata temenku sih soalnya sama kayak tahun kemarin.” balasku.

      “ Terus kamu mau minta jawaban?”  ia bertanya.

      “ Sebenarnya iya, lagian kalau aku kerjain sendiri juga belum tentu benar. Makanya aku tanya sama Abang, kalau emang gak mau ngasih juga gapapa,” aku membalas.

     Dia tidak membalas pesannya, pertanda dia sebenarnya tidak mau memberikan jawaban. Mau bagaimana lagi harus mengandalkan diri sendiri.

    Aku mulai mengerjakan soal yang termudah dulu, sambil membuka buku catatan dan latihan ku. Kukerjakan soal perlahan meskipun dikejar waktu. Prinsip yang ku pegang saat ini adalah kerjain aja, hasilnya urusan belakangan. Benar-benar menjadi mahasiswa yang sangat pasrah.

       Setelah selesai mengerjakannya aku mengirimkan jawaban ku tepat 15 menit sebelum waktu habis. Wah... Rasanya benar-benar sangat lapang, baru selesai satu mata kuliah saja sudah setenang ini. Selanjutnya ada ujian bahasa Indonesia dan mata kuliah agama. Model ujian yang digunakan hampir sama semua. Kami diberikan soal, kami menjawabnya dan mengirimkan jawaban di room yang sudah disediakan.


***

Setiap pagi yang cerah dan tenang aku sudah mulai bersiap untuk ujian, sampai siang hari. Mengandalkan menteri yang sudah didapatkan selama belajar. Aku tidak berharap lebih pada nilaiku, setidaknya aku sudah berusaha maksimal. Yang aku inginkan adalah mendapatkan IPK diatas 3. Dan semoga itu terkabul.

       Sepanjang malam aku bertukar pesan dengan bang Putra, dan aku selalu mengeluh padanya. Sesekali dia memberi nasehat, tapi lebih banyak mendengarkan saja. Banyak hal positif yang dia berikan padaku. Namun kita adalah remaja beranjak dewasa yang tak bisa mengelak dari rasa suka. Perlahan aku menyadari bahwa ada hal berbeda yang kurasakan darinya. ‘Apa aku menyukai nya?’

         “ Bang, kalau misalnya kita dapat nilai ujian yang lumayan rendah, apa sangat berpengaruh pada nilai akhir?” tanyaku pada bang Putra.

          “ Berdasarkan pengalaman Abang ya berpengaruh, tapi dosen tetap melihat tugas-tugas harian kok. Jadi nilainya nanti akan disesuaikan sama kemampuan mahasiswa juga. Gausah terlalu khawatir sama nilai, serahin aja sama Allah untuk hasilnya. Selagi kita udah berusaha, pasti selalu dapat hasil yang sepadan.” Balasnya panjang untuk menghibur mungkin.

        “ Iya juga, aku juga gak berharap besar sih, tapi setidaknya dapat nilai yang gak perlu ngulang lagi. Apalagi di mata kuliah matematikanya.” Balasku .

       “ Hahaha jangan sampai ngulang juga. Lagian kalau online kayak gini susah juga buat paham semua materi. Mungkin beberapa dosen akan maklum.” Sambil mengirimkan stiker tertawa.

     “ Ledek aja terus, kebiasaan.” Ketusku.

     “ Udah jangan ngambek, nanti aku belikan es krim,” ujarnya.

      “ Udah banyak loh utang es krim Abang, tujuh,” balasku.

      “ Loh kok banyak, sisain satu aja udah,” balasnya.

       “ Gak bisa, itu buat stok kalau aku di Aceh. Abang bayarin es krim tiap hari,” ujarku.

       “ Hahaha bocil...bocil,” ia meledek lagi.

Sepertinya aku selalu tak ingin berhenti bercengkrama dengannya. Berbicara dengannya sangat nyaman dan aman, tak perlu terintimidasi meskipun dia jahil sekali dan suka meledekku.

‘Apa aku benar-benar menyukainya atau sekedar kagum padanya?’

    




Bersenang-senanglah

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

-Day-15

- Jumlah kata 890


     Tepat hari ini, hari yang mungkin memang dinanti oleh orang-orang. Dimana ia dilahirkan di dunia, menangis dan merengek untuk pertama kalinya. Hari lahirku, tak ada yang terlalu istimewa bahkan tiap tahunnya. Hanya ucapan selamat di akun Instagram dan WhatsAppku. Bahkan orang di rumahku saja tidak ingat hahaha. Lelucon besar dalam hidupku, namun aku dapat memahami hal itu.

     Tidak pernah ada yang sangat istimewa, saat SMA dulu mungkin aku masih merasakan perayaan oleh sobat karibku. Namun saat ini, benar-benar hampa tanpa suasana luar biasa. Masih bersyukur diberikan kesempatan hidup yang panjang untuk menebus semua dosa yang diperbuat selama ini. Setidaknya aku masih bisa menikmati hal-hal yang kuinginkan.

     Selamat ulang tahun Zahra, Barakallah fi umrik Zahra, Hbd Zahra dan masih banyak ucapan selamat yang aku dapatkan. Namun rasanya tak ada yang istimewa.

     “ Kamu ulang tahun?” Bang Putra membalas salah satu story Instagramku.

    “ Gak,” balasku singkat.

  Beberapa waktu kemudian dia sudah menandai ku disebuah cerita “ Selamat ulang tahun bocil” pesan itu tertulis disana. Dan dengan cepat aku segera membalas terimakasih, namun masih saja kukomentari.

    “ Pake foto yang lain kenapa? Jelek banget lagi aku disitu,” aku kesal.

    “ Gapapa biar beda dari yang lain,” ujarnya.

    “ Ganti ya ganti yaaa,” bujuk ku.

    “ Gak ada lagi fotonya di akun mu, makanya posting dong,” balasnya.

    “ Ada kok, ini nah,” sambil mengirimkan fotoku.

    “ Ini terlalu cantik,” balasnya.

     “ Yaudah ini aja, masih lebih mending daripada itu,” aku membujuk.

     “ Gak, ini aja udah bagus kok. Buruan di repost jangan lama-lama,” paksanya.

     Sebenarnya aku sangat senang, dia yang ku ketahui jarang mengucapkan seperti pada perempuan di Instagramnya, malah mengucapkan ulangtahun padaku. Dan itu juga dia sendiri yang meminta untuk di repost. Segera setelah itu aku merepost postingannya.

       “ Mau kado apa cil?” balasnya.

       “ Hahaha doakan aja nilai IPK ku bagus, dan gak ada yang ngulang,” aku meminta.

        “ Kalau itu pasti di doakan, tenang aja,” balasnya.

        “ Hahaha Yaudah kalau gitu, lagian siapa juga yang minta kado,” ujarku.

Pesan demi pesan berlanjut, aku banyak tertawa dan ceria setiap membaca pesan darinya. Dia itu sosok yang jarang kutemui, meskipun dia suka mencaciku. Satu hari penuh berlalu biasa saja. Seperti biasa malam hari, di setiap tahun. Aku meminta izin untuk keluar rumah, aku ingin menikmati suasana di luar. Setelah diberi izin aku bersiap dan pergi.

      Menikmati suasana kota tanpa gangguan adalah yang ku inginkan. Aku pergi membeli jajanan yang kusuka, membeli yang aku mau. Prinsip ku adalah menghabiskan apapun yang seharusnya aku habiskan. Uang bisa dicari tapi kebahagiaan dan kenyamanan Cuma bisa kita nikmati diwaktu tertentu. Mandiri, aku lebih suka sendirian saat menikmati hal seperti ini. Terkadang terlalu ramai seperti di tongkrongan juga membuatku muak dan ingin cepat pulang.

    Naik motor tanpa arah, sesekali berhenti untuk membeli makanan kesukaanku. Sesederhana itu yang kuinginkan, dan mungkin tak banyak yang tahu itu. Sifatku yang random dan tidak bisa ditebak ini memang sangat luar biasa. Terkadang sangat ingin berada diantara percakapan yang ramai, terkadang sangat ingin sepi dan sunyi.

***


  Sampai di rumah, aku segera masuk dan membersihkan diri. Masuk ke kamarku dan menikmati jajan yang sudah aku beli. Benar-benar tanpa gangguan sedikit pun. Kalau saja ada yang tiba-tiba datang dan mengajak ku berbicara, mungkin aku akan mulai kesal dan marah. Jarang sekali aku bisa melakukan hal seperti ini.

     Setelah semua itu, aku segera tidur dan berharap esok masih setenang ini. Namun ternyata tidak, banyak yang membuat moodku jadi buruk sekali. Yah tidak apa-apa lagian juga sudah kunikmati hariku kemarin. Hari pun berlalu seperti biasanya. Aktivitas seperti biasanya, libur yang hampa.

      Akhir tahun, libur semester meskipun tidak ke mana-mana tanpa tugas saja sudah cukup. Mengosongkan pikiran yang sudah hampir penuh selama satu semester.

Dringg... Grup WhatsApp berbunyi

    “ Malam tahun baru gas yuk?” salah satu temanku.

    “ Skip,” balasku cepat.

    “ Yang lain?” satu orang masuk lagi.

   “ Ayok sih, tapi mau ngapain kita? Bakar-bakar?”

Pesan-pesan tertimbun meng-iyakan. Alasan pertama aku tidak ikut adalah aku tidak pernah diberi izin keluar rumah sampai tengah malam. Dan itu adalah malam tahun baru juga. Mustahil rasanya diberikan izin seperti itu.

     “ Zahra ayoklah, minta izinnya dari sekarang aja. Tapi jangan bilang dulu pulang jam berapa hahaha,” salah satu mengirim pesan padaku.

    “ Sebenarnya aku pengennya gitu, tapi beneran deh tahun ke tahun gak pernah dikasih izin,” balasku.

    “ Coba aja dulu, biar asik. Lagian jarang-jarang juga kok,” lanjutnya.

    “ Okay deh, gas aja ntar, kalau gak dikasih berarti gak ikut,” ujarku.

  Setiap hari sebelum malam tahun baru itu, aku sedikit-sedikit menyinggung hal ini pada Ayah. Sebenarnya aku tahu kalau ayah akan memberi izin, tapi Mama sangat sulit. Apalagi itu keluar malam, bisa di marahi aku. Aku memutuskan tidak meminta izin sebelum harinya.

***


 

    Sore hari, tepat dihari aku akan pergi dengan teman-temanku. Aku masih pergi kerumah nenek bersama mama. Tapi masih belum kukatakan aku ingin pergi dengan teman-temanku. Hampir Maghrib dan kami masih dirumah nenek. Pupus sudah harapanku, apalagi aku benar-benar ingin sekali. Jarang aku menikmati hal seperti itu jika aku tidak pernah nekat.

    Sepulang dari rumah nenek, sudah pukul setengah delapan. Aku langsung berganti pakaian, mengambil tasku dan segera keluar rumah lagi. Aku hanya berbincang dengan Ayah. Berharap Ayah akan membelaku juga,karena kakak ku sudah pergi terlebih dahulu. Alhamdulillah aku boleh pergi, tapi kata Ayah’ gak boleh pulang lama.

      Aku bergegas pergi, dan hal ini benar-benar sangat langka jadi aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Bersenang-senanglah Zahra.

   

 

 



Bersenang-senanglah part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-16

- Jumlah kata 943


   Sebuah pesan masuk dari WhatsApp seperti itu dari bang Putra.

   [ Malam tahun baru kok bakar-bakar, di rumah dong]

Setelah membaca pesan itu aku segera membalasnya namun kubiarkan saja berlalu beberapa menit.

[ Biarin, lagian jarang juga aku dikasih izin keluar lama-lama]

  [ Hahaha jangan lama kali pulangnya]

  [ Kalau lama juga gapapa kok udah dikasih izin, yang penting pulang]

  [ Terserah lah, bagus-bagus diluar itu. Have fun]

          Aku segera meletakkan handphoneku dan tidak lupa menyalakan nada dering sekiranya ada yang meneleponku. Bagaimana tidak lama, kami saja baru memasak ayam dengan bumbunya tengah sepuluh tadi. Kemudian saat memanggangnya beberapa teman juga memasak Indomie. Jika dihitung cukup lama juga, karena jumlah kami tidak sedikit. Kami yang berkumpul ini bisa dibilang menjadi akrab karena beberapa tahun lalu saat malam tahun baru juga kami mengadakan kampung di pantai. Saat itu benar-benar mempergunakan segala cara agar diberikan izin oleh orang tua, aku bahkan sampai mempertaruhkan jatah mainku selama sebulan demi itu. Kukatakan pada mama kalau itu terakhir kali aku keluar main jauh-jauh, karena aku akan kuliah dan tidak ada kesempatan kedua kali seperti ini.

      Jika diingat lagi dua tahun lalu, saat itu kami mendapat kabar kalau akan diadakan acara di pantai. Jarak dari daerah kami ke pantai sangat jauh, memakan waktu sekitar dua jam. Jadi itu benar-benar kesempatan langka yang harus kami lakukan. Terlebih lagi kami hanya ada 4 orang perempuan.  Itu saja sudah jumlah yang cukup banyak menurutku. Karena jarang aku diberikan izin untuk bermalam di luar.

    Dengan modal nekat aku katakan pada orang tuaku, seminggu sebelum aku pergi mereka masih melarangku. Sampai aku benar-benar ingin pergi dan mengemas perlengkapanku, mengambil beberapa logistik dari toko. Mungkin melihatku sangat ingin, tergerak hati mereka mengizinkanku. Aku dengan senang mengabari temanku, sampai saat hari kami akan pergi. Aku diantar kakak ke rumah teman, dan kami akan berangkat dari sana.

   Bagiku pengalaman itu tidak pernah datang dua kali, kalau menurutku itu pantas untuk kunikmati maka aku akan lakukan apapun untuk mendapatkannya. Masa muda tidak untuk berdiam diri, sesekali kita perlu melihat dan melakukan hal yang kita inginkan. Bermain bisa kapan saja, tapi dengan teman-teman tak akan terulang dua kali.

     Suka dengan kenangan yang membuatku selalu mengabadikan banyak momen. Tak ada yang lepas dari ingatanku. Pertemanan kami itu yang berlangsung sampai saat ini pergi ke kondangan, nongkrong, bertukar cerita dan masalah. Banyak hal yang tidak akan kudapatkan di kuliah kelak, itu yang selalu kupikirkan sehingga aku memilih menjalani setiap momentum saat ini.

***


       Ayam, mie dan nasi sudah matang. Kami menuangkannya diatas bungkus nasi yang sudah di bentangkan memanjang.

         “ Selamat makanan” sorak kami.

Beberapa video dan foto diambil saat itu, menikmati masakan kami bersama. Kapan lagi kita seperti ini? Semua akan pergi satu per satu, masa depan. Semua telah memilih jalannya masing-masing. Tak akan terulang dua kali. Itu saja yang terus terputar di otakku saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 23.34 WIB.

       Setelah semua selesai makan, kami membereskan dan mencuci yang kotor. Jujur saja temanku bukan orang yang tampak baik dari luarnya hahaha. Mereka merokok dan terkadang berbicara kasar, tapi sebenarnya kebaikan mereka tak semua orang tahu. Jangan menilai sesuatu dari covernya saja.

Aku melihat beberapa pesan masuk, ternyata dari bang Putra

    [ Jam berapa pulangnya?]

    [ Belum tahu, mungkin lewat tengah malam. Lagi pula aku udah dikasih izin kok, yang penting bisa jaga diri aja]

    [ Siap deh, pulangnya nanti sama siapa]

    [ Aku bawa motor, tapi nanti diantar kok sama temen cowo]

    [ Okedeh hari-hari ya, kabari kalau udah pulang]

    [ ya bang]

Kami semua berfoto dan membuat beberapa video, sampai beberapa teman cewekku sudah khawatir mau pulang kerumah. Takut dimarahin oleh mamanya, dengan segera diantarkan pulang. Aku masih belum pulang karena menunggu semua selesai. Aku membaca pesan masuk dari kakak ku,

    [ Kunci rumah kubawa, kalau mau pulang jemput aja disini aku di rumah teman.]

    [ Oke kujemput ya]

Setalah itu kukatakan pada temanku kalau aku akan mengambil kunci dulu.

   “ Dil, aku mau ambil kunci rumah dulu sebelum pulang. Soalnya orang rumah udah pada tidur.”

   “Oke aman, bentar lagi ya” jawabnya.

  “ Cepatla, udah tengah malam juga. Habis aku besok dimarahi,” sambungku.

  “ Udah gapapa sesekali hahaha,” dia tertawa.

***

    Untuk pertama kali aku berada di luar saat tengah malam, sebenarnya sudah lewat jam 12 malam. Keramaian itu membuatku muak dan ingin pulang saja. Macet sekali di sepanjang jalan, bahkan beberapa jalan sudah mulai ditutup karena ramai sekali. Begitulah tahun baru yang orang-orang tunggu. Aku malah tidak peduli tentang itu, hanya menjadi alasan agar aku diberi izin keluar rumah saja.

Aku diantar ke rumah dengan aman, masuk dan segera membersihkan diri. Teringat bang Putra segera kukirim pesan padanya.

    [Aku udah di rumah]

    [ Baguslah kalau gitu, tidur udah malam]

   [ Yahh baru sampe juga, tapi aku masih harus nunggu kakakku pulang. Katanya jam 1 dia pulang, jadi aku mau bukain pintu]

   [ Terus kamu sendirian nunggunya?]

   [ Iya, tapi sebenarnya aku takut tengah malam gini]

   [ Cemen]

Dring... Dringg... Telepon masuk

Kukira siapa, ternyata dengan segera dia menelepon ku.

   “ Aku temenin, tapi baterai hp ku udah sekarat. Nanti kalau mati maklum aja ya,” ucapnya.

   “ Okay, makasiii,” jawabku senang.

Kami berbincang aneh sepanjang malam, dia banyak menanyakan bagaimana hariku. Candaan dan makian seperti biasanya. Tapi rasanya tenang dan senang.

   ‘ Ada ya orang bodoh kayak aku, lagian gak mungkin juga dia suka samaku. Kemaren dia juga bilang Cuma anggap adek kelas kok. Gausah berharap lebih..Jangannn’ ucapku dalam hati.

Sudah hampir satu jam berlalu, dan kakakku baru mengabari kalau dia tidur di rumah temannya. Segera kukatakan padanya.

  “ Yaudah tidur cepat, aku juga mau cas hp dulu. Assalamualaikum.” Ucapnya.

  “ Waalaikumsalam bang, Makasih ya,” jawabku kemudia mematikannya.

Aku bergegas tidur, karena sudah menahan kantuk dari tadi.





Menggapai langit

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-17

- Jumlah kata 726


    Kukirim pesan padanya saat aku merasa bahwa setengah diriku dibawa olehnya. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Dari kelebihan dan kekurangannya, dari kebaikan dan keburukannya. Aku menyukai semua hal tentangnya, suka bagaimana dia memberi kabar keberadaannya, hal-hal yang dia lakukan. Aku suka bagaimana ia membiarkan aku terjun dalam hidupnya, aku suka semua itu.

     Aku suka ketika dia mengirimkan pap random sekali lihat di WhatsApp kepadaku. Aku suka saat dia seolah pamit dengan mengatakan dia hendak ke mana. Aku benar-benar menyukainya sampai tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin mendekati dengan berani, tapi gengsiku setinggi langit. Yang benar saja, mana mungkin kubiarkan aku tampak bodoh karena menyukainya.

Kubuka WhatsAppku, mendapat dukungan dari temanku.

[ Kalau emang suka Yaudah Pendem aja, kalau mau bilang juga gapapa. Tapi yakin?]

   Kubaca dan tak kubalas pesan itu, karena aku sedang memikirkan apa yang aku inginkan. Kupejamkan mata berharap segera tidur. Pecah, otakku masih saja berputar tak tertahan. Dia terus memikirkan hal yang tak penting, hatiku juga ikut-ikutan kesal. Jemariku kaku namun ingin mengetik beberapa pesan singkat padanya.

    ‘ Tahan Zahra, kamu cewe. Jangan pernah ngelakuin hal bodoh yang buat kamu kehilangan hal-hal berharga. Jangan!’ tegasku dalam kepala.

    Sekali lagi kubuka WA ku, dan jemari ini mulai mengetik namanya. Kirimkan sebuah pesan singkat namun sangat inti.

    [ I have crush on you ]

Segera kumatikan data selulerku, pejamkan mata dan sangat malu. Yang benar saja, aku malah mengakui perasaanku padanya. Tapi memang jika dihitung kami sangat dekat, dan berawal dari aku mengabaikan dia, sekarang aku malah menyukainya.

       Entah apa yang akan dia pikirkan tentangku. Aku benar-benar sudah melampaui batasanku. Tapi entah kenapa rasanya lega. Aku telah siap dengan penolakan dan rusaknya hubungan diantara kami. Sangat siap, aku tidak peduli tentang itu yang terpenting aku tenang.

Namun aku semakin penasaran dengan jawabannya, segera kunyalakan data seluler. Namanya langsung teratas, telah membalas pesanku.

   [ Iya, aku udah tau kok. Tapi baru-baru ini, makasih udah jujur]

Huhuuu... Rasanya ingin menangis membaca pesan itu. Aku pikir dia akan mengabaikan dan tak akan pernah membalas pesanku lagi. Akhirnya aku lega sekali. Aku melanjutkan percakapan kami di pesan itu.

    [ Maaf ya bang, sebenarnya aku juga bilang gini supaya aku lega. Aku mau memposisikan diriku. Jangan sampai aku merusak pertemanan dan suasana]

  [ Gapapa kok, bagus kamu jujur. Aku awalnya tahusejak story’ Instagram kamu yang pakai musik]

  [ Yang mana?]

  [ Yang tiap lagi disambung, huruf depannya jadi inisialnya]

  [ Ohh itu, gak usah dipikirin. Aku juga buat gitu karena iseng kok]

  [ Tapi aku juga gak nyangka sampai seberani ini kamu ya hahah]

  [ Biar lega aja bang, mending aku bilang sekarang jadi aku tahu]

  [ Hahaha aku hargai keberanian kamu, gak papa kok. Lagipula itu wajar, gak ada salahnya]

       Pesan-pesan panjang antara kami berdua dalam satu malam itu. Kupikir setelah aku katakan padanya, dia akan menjauhi atau bahkan tidak akan pernah membalas pesanku sama sekali. Yang kupikir saat itu adalah ada kemungkinan dia menyukaiku dan kemungkinan bahwa dia tidak menyukaiku sama sekali.


Aku mudah menyukai seseorang

Namun sulit mendefinisikan apa yang aku rasakan

Dengannya aku nyaman

Dengannya aku aman dan tak perlu takut dihakimi

Dengannya aku mampu menjadi diriku sendiri

Karena aku banyak belajar hal baru dalam hidup

Dia yang tak sengaja kukenali

Dengan sengaja kucintai

(zahraharuno,30 Juli 2022)


***

    Hari demi hari berlalu seperti tidak terjadi apa-apa diantara kami. Seolah aku tak pernah menyatakan bahwa aku suka padanya. Lebih baik memang seperti ini. Rasanya lega namun sedikit tersiksa, kenapa harus aku akui?

Penyesalan -penyesalan bodoh baru berdatangan saat aku sudah sadar dengan yang kulakukan.

      Kukirim pesan pada Sofia.

   [ Semalam aku confess media, malu banget sumpahhh]

   Beberapa menit.

  [ Yang bener? Gila banget. Terus gimana responnya?]

  [ Gimana ya, sekaranga ja kami masih tetep chat kok. Dia bilang udah tau sejak sg ku yang buat nama dia itu. Tapi kan arghh...]

  [ Mampus, sok-sok an jadi cewe. Tapi gapapa daripada kena gosting mulu]

  [ Iya lega sih, untung aja masih chat. Kalau ga, aku udah nyesal gede ini]

  [ Yaudah jalani aja kayak biasa, kalau dia suka juga gak akan dibiarin. Tapi gatau ya, gengsi kalian sama-sama tinggi]

  [ Susah emang jadi tanah yang mau gapai langit]

  [ Anjir lu, gausah lah sok merendah. Ku jatuhin juga nanti hahaha]

       

       Bang putra masih sama, tetap mengirimkan beberapa foto random menunjukkan kegiatan dan keberadaannya. Sebenarnya banyak momen yang buat aku salah paham. Apa dia menyukaiku juga ?

  


Menggapai Langit Part II

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-18
- Jumlah kata 995

  Sebuah pesan WhatsApp masuk, sepertinya dari bang Putra.
   [ Coba tebak aku dimana]
   [ Mana aku tahu]
    [ Ah gak asik, tebak dong]
    [ Gamau ! Kemaren aku tebak-tebak salah terus kok.]
    [ Coba tebak deh, clue nya aku lagi di rumah]
‘ kalau bukan Abang kelas udah kumaki-maki’ bisikku dalam hati.
    [Dirumah? Oke lagi duduk, di kursi]
    [ Benarrr]
     [ Tumben dibiarin bagus aku]
     [ Tapi aku duduk di sofa, bukan kursi ya bocil]
     [ Mampuslah, sama aja itu bangg]
Tingkah randomnya yang bahkan tak bisa di tebak dengan kewarasanku ini.
    Aku juga mulai mengajaknya menebak situasiku.
    [ Coba tebak aku lagi apa?]
    [ Gamau ah malesss]
Aku kesel dan ingin sekali memukulnya sampai meminta maaf padaku. Kukirim stiker bocah yang dipukul oleh temannya.
   [ Aku lagi gambar, kamu mau lihat ga?]
    [ Apatuuu]
  Kirimkan foto padanya, aku membuat pemandangan sawah dengan mobil di jalan. Kemudian ada sosok manusia besar “ Ini raksasa Putra” begitu kutulis pada foto itu.
  [ Hahaha raksasa ya, aku ini raja]
  [ Raja Firaun iyaaa]
  [ Enak aja, raja di rumah ini anak kesayangan]
  [ Siap anak kesayangan, jangan kecapean ya]
     Beberapa menit kemudian aku sedang menggambar kodoh berwarna hijau hahaha. Umpama itu adalah bang Putra. Dia emang ngeselin banget orangnya.
   [ Nih ada lagi, tapi dia lucuuu]
   [ Mana coba lihat, gak percaya aku]
   [ Gak percaya, memang susah kalau sama mu]
Kukirimkan foto itu, di bawah kodok itu bertuliskan “ Ini namanya Putraaa”
   [ Hahaha kodok ya, bisalah dapat nilai 3]
   [ Bodoamat hahaha, mirip banget sama kamuu]
    [ Gak ah, gak ada mirip-miripnya]
     [ Gausah kalau gak mau, tapi mirip kok]
  Sejak saat itu, aku menandai dia sebagai kodok hijau yang tersenyum.
***
       Beberapa hari ini komunikasi tidak seperti biasanya. Aku lumayan sibuk membantu di toko, dan dia juga sibuk membantu orang tuanya. Saat malam hari sebelum tidur, aku yang terbiasa overthinking mulai membayangkan bagaimana perasaannya padaku. ‘ Sepertinya dia tidak menyukaiku, lalu kenapa aku masih mengharapkannya? Yang benar saja, bodoh banget sih. Tapi gak papa juga, biar ada temen chat juga’ kesalku dalam hati.
      Pesan WhatsApp darinya tiba saja masuk.
    [ Cil aku mau curhat, mau gak dengerinnya?]
    [ Tentang apa?]
     [ Mau gak dengerinnya?]
Terkesan memaksa haha, tapi aku selalu suka dengan setiap cerita darinya.
     [ Yaudah cerita lah]
     [ Aku punya mantan yang pernah kuceritakan itu, jadi akhir-akhir ini dia sering chat]
      [ Yah terus?]
Dia bercerita panjang tentang orang yang menyukainya. Itu cukup membuatku kesal, dan malas untuk membalas pesannya. Namun sesekali kuiyakan saja pesannya.
     Karna kesal, aku mengubah foto profil WA dengan kodok yang kusebut sebagai Putra itu. Rasanya ingin mengalihkan pembicaraan, bagaimana bisa aku harus mendengarkan cerita tentang orang yang menyukainya. Setidaknya sudah kubaca meskipun tak kurespon baik.
     [ Cil, profil mu itu yang ada namaku kan?]
     [ G]
     [ Gausah sok cuek, cil gacocok]
     [ Bodo, terserah aku dong mau foto apa aja]
      [ Hahaha udah lah, gamau cerita mantan lagi]
      [ Yauda]
Sepertinya dia tahu aku kesal, untunglah masih ada rasa peka walau terlambat. Aku lebih suka dia membahas pertandingan, latihan atau semacamnya. Daripada membicarakan hal seperti itu, kesal rasanya.

Kebiasaan yang selalu saya lakukan adalah takut untuk kehilangan orang lain
Karena takut tidak menemukan sosok yang sama, atau orang itu akan berubah
Namun kita tidak bisa memaksakan
Karena semua ada porsinya  masing-masing
Terima kasih
***
Senja petang ini indah, jingga dan selalu menjadi hal yang kutunggu. Setiap hari warnanya tidak selalu sama indahnya, namun pasti akan tetap hadir. Kubuka note dalam handphone dan mulai menulis isi hatiku.

Keluh

Sekitarku  ramai, otakku  penuh, bergema semua ribut
Tak satu suara pun yang kumau, yang kuingin kan
Aku suka ketenangan, tapi tanpa orang lain aku tidak bisa apa-apa
Memikirkannya lagi, sepertinya aku hanya butuh seseorang yang paham benar tentang aku
Tentang aku yang sebenarnya tak suka keramaian
Tentang aku yang sebenarnya lebih suka tempat sepi dan tenang, meski itu menakutkan
Tentang aku yang lebih menyukai mengeluh pada hal-hal  kecil, namun tetap kuat untuk semua hal besar yang terus menghantamku
Aku sering menangis, tanpa ingin di tanya kenapa
Aku ingin mengeluh tanpa harus dihakimj
Aku ingin menjadi diriku tanpa harus mendengarkan orang lain
Aku ingin sendiri
Aku ingin tenang
Aku benci kebisingan
Aku selalu sendiri 
Bahkan di tempat sejuta manusia
Sedang berbincang dan bercerita tentang hidup mereka
Bahkan untuk ayah dan ibuku, yang sering kali aku abaikan
Sebenarnya mereka yang lebih tahu tentang aku
Sebenarnya mereka yang lebih mengerti tentang aku
Yang lebih paham, bagaimana aku kecil hingga dewasa
dan jauh dari mereka
Terlalu bodoh aku mengharapkan hal-hal yang kuketahui dari awal tak akan pernah aku dapatkan
Ketenangan itu, kehangatan itu
Aku sudah biasa berteman dengan badai lalu apa yang aku harapkan dengan hal-hal  indah ?
Aku ingin berhenti berjalan, namun jika tak berjalan bagaimana aku akan sampai
Aku ingin menggapai, namun jika tak terbang bagaimana aku dapat
Aku mendapatkan orang lain, tapi aku selalu kehilangan diriku sendiri
Aku akrab dengan orang-orang, namun aku tak bisa berdamai dengan diriku
Dengan isi kepala yang selalu penuh dengan pertanyaan
Dengan mulut yang sering kali terlalu banyak berbicara agar percakapan tetap hangat
Untuk diri yang berusaha berdiri dan menopang orang lain
Tapi sendiri tak mampu untuk menjadi diri sendiri

Aku kuat, aku hebat, kataku pada diri yang sudah jatuh
Tapi tak tahu bagaimana cara berdiri
Aku keren aku luar biasa
Pada diri yang tetap menangis dalam kegelapan
Aku ingin menutup mata dengan tenang
Tanpa harus mendengarkan suara-suara  yang bahkan tak ingin aku dengar
Aku ingin!!  aku ingin!!
Kataku memaksakan semuanya
Aku selalu memikirkan orang lain
Lantas apa mereka pernah memikirkanku
Aku menjaga perasaan orang lain
Tapi apa mereka peduli dengan luka yang mereka gores padaku

Aku berusaha semampuku,
Menahan diriku untuk tak terlalu sering berbicara omong kosong pada mereka
Tapi mereka bertanya, mengapa aku terdiam
Aku tersenyum, kukatakan aku baik-baik saja

Untuk hal-hal random yang aku lakukan untuk diriku
Semua kulakukan untuk diriku
Aku membutuhkan diriku
Bukan mereka
Mereka yang hanya tahu sisi terang diriku
Tanpa tahu apa yang terjadi padaku
(Zahraharuno, 31 Juli 2022)



Jati diri

1 0

-         Sarapan Kata

-         KMO Club Batch 47

-         Kelompok 3

-         Day-19

-         Jumlah kata 878

 

  “ Tempat ternyaman adalah rumah dan keluarga “

Tak sedikit orang yang beranggapan seperti itu, namun terkadang bagiku itu perlu aku bantah. Entahlah, aku jarang sekali merasa aman saat berada dirumah. Aku lebih suka berada diluar dan berbincang dengan teman-temanku. Bukan karena rumahku banyak masalahnya, tapi aku punya banyak adik dan satu kakak. Mama lebih condong mengalihkan pekerjaan rumah padaku. Aku tidak masalah tentang itu, tapi yang membuatku kesal adalah saat kakakku tidak melakukan apapun.

       Sering kali amarahku meledak dirumah, namun saat berada di luar, dengan elegan aku mampu menahan diriku. Mereka bilang aku tidak bisa mengontrol emosi, tapi emosiku selalu stabil saat berada diantara orang lain. Sebenarnya yang aku pikirkan adalah, rumah adalah tempat yang paling tahu segalanya tentangku. Karena itu aku lebih leluasa menunjukkan ekspresi diriku.

     Hanya saja saat diriku sudah tak terbendung, aku akan menjadi banyak bicara kepada temanku. Bang Putra juga menjadi satu orang tempat keluhku. Segera kuraih handphone dan mengirimkan pesan padanya.

      [ Cape bangetttt, pengen buru-buru kulish offline biar gak dirumah]

      [ Loh kalau cape yah tidur, ngapain pengen kuliah offline. Ginikan bagus di rumah, hemat pengeluaran bisa Deket orang tua juga]

       [ Tapi cape bangett, apa-apa yang disuruh aku. Kakakku kuliah tiap hari, adekku masuk sekolah. Aku juga kuliah kok walaupun online, tapi malah dikira Cuma buka laptop aja]

       [ Jelasinlah sama orang tuanya kalau kamu lagi kuliah]

       [ Udah aku bilang, tapi mau gimana lagi]

       [ Sebenarnya dekat sama orang tua itu gak ada habisnya, kamu belum pernah kos atau asrama kan?]

       [ Belum, makanya aku pengen]

       [ Hahaha sekarang aja kamu bilang pengen jauh dari keluarga, kalau udah jauh bakalan kepikiran tiap hari]

       [ Lagian aku belum ngerasain kok]

       [ Makanya aku bilang, nikmati saat-saat ini, nanti kalau udah jauh sama orang tua, dan maafnya ya kalau orang tua kita udah gak ada. Kamu bakalan nyesal karena gak menikmati setiap waktu yang dikasih buat kalian]

       [ Siapp deh yang udah ngekos. Tapi bulan depan udah masuk kuliah offline kabarnya. Awal bulan aku juga udah mau berangkat ke Aceh kok]

       [ Nahh mendingan kamu rajin-rajin bantu dirumah, banyak ungkapin sayang sama orang tua, kalau bisa gausah pergi main dulu deh]

      [ Hemm gimna ya, aku malah udah rencana mau main kemana aja sebelum kuliah. Soalnya temenku juga udah pada berangkat akhir bulan ini. Gak bakalan ketemu lagi sih satu semester]

      [ Coba pikirin, kalau kamu lebih pilih temen atau keluarga? Kalau aku sih lebih suka dirumah, lebih nyaman aja. Kalau diluar itu beda suasananya]

     [ Aku pengen jalan-jalan, dan habisin waktu ku disini. Kalau aku muak jalan-jalan ntar pas udah di Aceh aku gabakalan suntuk pengen main. Stok healingg]

     [ Sipaling healing sih, terserah deh. Pokoknya aku udah bilang sama kamu, banyak habisin waktu sama keluarga. Toh yang bakalan ada untuk kamu pas jauh kan keluarga bukan temen-temen kamu]

Setelah chat itu berakhir aku mulai terpikir, benar katanya kalau aku harus lebih mengutamakan keluarga. Yahh aku juga masih remaja yang beranjak dewasa, banyak hal ingin aku lakukan. Aku ingin menikmati saat-saat dimana aku merasakan kebebasan. Orang tua ku tidak mempermasalahkan aku pergi kemana selagi masih ingat pulang. Dan aku menghabiskan sisa pertengahan bulanku dengan keluar dan pergi jalan-jalan.

     Kotaku tidak seluas itu, namun tidak membosankan untuk terus dilalui. Membeli makanan kesukaanku dan menikmati angin malam. Sendiri, sepi dan memenangkan.

***


Seminggu sebelum aku pergi ke Aceh, orang tuaku sudah mempersiapkan banyak hal untuk kubawa. Membelikan rice cooker dan yang lainnya, karena aku akan berangkat sendiri. Sebenarnya aku cukup takut dan khawatir, tapi mau bagaimana lagi rasanya seperti dipaksa dewasa oleh keadaan. Aku yang kemana saja harus di temani, saat ini harus sendiri.

     Aku sudah menemukan kos dan salah satu temanku juga akan ke sana. Tapi sepertinya aku yang akan sampai lebih dulu, jadi aku sudah mengabari kakak kos agar bisa membukakan pintu saat aku sampai. Perkiraan perjalanan, aku akan sampai pukul enam pagi. Jadi akan sangat sulit jika aku tidak mengabari mereka.

    Aku jadi sering merenung, saat meninggalkan kamar tidur tempatku menangis, hal-hal receh yang aku lakukan. Sedih dan senang bercampur aduk, nikmati saja. Semua barang sudah kusiapkan termasuk pakaian yang akan aku bawa. Mama juga sudah membeli beberapa oleh-oleh yang bisa dibagi dengan teman disana. Semua disiapkan seminggu sebelum aku berangkat agar tidak ada yang ketinggalan.

    Mulai aku bangun tidur sampai tidur lagi sepanjang hari dalam Minggu ini terasa berbeda. Banyak hal yang kupikir, ‘bisakah aku?’ keluhku dalam hati. Aku anak yang mandiri namun sedikit manja jika berkaitan dengan hal baru. Aku pemalu dan sulit berbaur secara langsung, jadi aku takut tak mampu menyesuaikan diri. Sesekali aku menatap mama, seolah menyampaikan kata ' Maaa, anatarin aku dong’ namun tak bisa diucap oleh bibir.

***


       Pulang dari loket, membeli tiket travel dan menanyakan jadwal keberangkatan. Besok malam aku akan pergi dan alhasil memang sendiri. Petuah-petuah penting yang mama sampaikan sepanjang hari. Ayah yang biasanya sedikit berbincang denganku malah lebih banyak memberi nasehat  juga akhir ini.

    Mengiris hati dan membuatku ingin menangis. Ternyata ini rasanya, kalau bisa aku batalin semuanya huhuuu. Jauh dari keluarga, dan akan mulai memikirkan kehidupanku  sendiri. Sambil menunggu mobil menjemput aku masih sempat menulis beberapa note di handphoneku. Dan yang terpenting,

    ‘Sendiri memang sepi, namun menenangkan. Hanya saja saat langkah menuju pendewasaan mulai terasa, aku malah ingin menangis dan menjerit. Ayah...Mama... Biarkan aku jadi putri kecilmu lagi'

Jati diri Part II

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-20
- Jumlah kata 756

       Malam ini sepi, dalam mobil sangat ramai tapi tidak orang yang kukenali. Rasanya hampa tanpa orang yang disayang. Saat berangkat rasanya semua barang sudah kubawa, dan ternyata sebuah motor mengejar dari belakang. Mama dan kakakku hendak mengantarkan surat dokterku, saat itu aku sedang menggunakan kawat gigi yang mengharuskan konsultasi setiap bulannya, jadi saat ke Aceh harus membawa  surat ini. Susah memberikannya, mama menanyakan apakah aku membawa minum. Rasanya ingin memeluk erat tak mau pergi, tapi aku benar-benar tak sanggup berkata-kata.
        “ Bagus-bagus disana ya, kabari besok kalau udah sampai,” ucap mama.
       “ Iya maa, sehat-sehat ya ma,” ujarku.
Sampai disitu saja perpisahan dengan mama, aku yang awalnya tak menangis sedikit pun malah perlahan menetes setelah mama pergi.

***
        Hari ini cerah, saat aku sampai di tempat tujuanku dan sudah berada didalam kamar kos. Segera kukabari mama kalau aku sudah sampai, dan segera bersih-bersih. Hari berlalu cepat disana, untuk pertama kali aku merasakan jauh dari orang tua. Tak jauh berbeda sebenarnya disini aku hanya tidak mendengarkan ceramah mama pagi-pagi hahaha. Dan semoga aku bisa bertahan dan membagi keuanganku juga.
      Aku istirahat sembari menunggu salah satu temanku yang akan datang ke kos juga. Kami butu-buru ke Aceh dikarenakan akan diadakan pelantikan pengurus himpunan mahasiswa. Dan aku salah satu diantaranya, sengaja mengikuti organisasi agar aku punya kesibukan selama kuliah. Sebelum aku ingin mendaftarkan diri aku memiliki pertimbangan yang sangat panjang karena keadaan yang masih online saat itu, akan tetapi mendengar kabar akan diadakan kuliah offline secepatnya akupun segera mendaftar. Setelah pendaftaran administrasi diumumkan, aku lulus seleksi dan selanjutnya adalah wawancara.
     Setelah seleksi wawancara, beberapa Minggu kemudian diumumkan hasil seleksinya. Aku mendapati namaku disana dan di haruskan berada di kampus saat pelantikan. Aku sangat antusias dan segera mengatakan pada mama, dan mama mengizinkan. Banyak hal yang sangat didukung oleh orang tuaku, selagi hal itu positif bagiku dan tidak merugikan. Aku yang sangat suka berorganisasi memilih ikut beberapa UKM juga, namun saat itu setelah aku lulus UKM lain juga tidak bisa ke Aceh untuk follow up sehingga tidak jadi lulus hahaha.
***
      Tepat hari pelantikan pengurus akan diadakan hari ini. Pelantikan ormawa selingkuh fakultas tarbiyah dan keguruan yang diadakan sekaligus di aula kampus. Aku bertemu banyak orang baru termasuk dijurusanku juga. Orang-orang yang biasanya kutemui hanya dalam layar hari ini dapat kutemui langsung. Banyak senior dan teman sekelas yang kutemui disini. Satu hari penuh berlangsung, bercengkrama bertukar cerita dan melewati hati pelantikan ini. Rasanya melelahkan karena sangat banyak berbaur dengan orang-orang baru.
    Setelah acara selesai, kami tidak langsung pulang akan tetapi dikumpulkan dan diberikan arahan oleh pendamping biasanya disebut DPO dalam kepengurusan. Mereka menceritakan hal seputar organisasi dan sedikit gambaran kerja yang harus kami lakukan kedepannya. Menemui hal baru dan akan menjalaninya. Awal yang kupikirkan akan mulus-mulus saja. Ternyata setelah di jalani lumayan menguras pikiran dan tenaga juga.
     Setelah kembali ke kos, aku dan teman sekamarku mulai memikirkan makan malam kami. Kami memang membawa beberapa lauk dari kampung, tapi juga ingin rasanya keluar dan mencari beberapa makanan. Kami keluar dan berjalan dari kos, dengan rasa penasaran dengan lingkungan baru kami. Ternyata cukup jauh juga dari kos, atau karena tidak terbiasa jalan kaki juga. Banyak kebiasaan di rumah yang harus segera diubah saat ini, yang biasanya makan sudah tersedia saat di rumah, namun harus mulai memikirkan akan masak apa hari ini? Saat berada di kos. Menjadi anak kos tidak mudah ternyata, kalau mager bawaannya masak mie terus. Takut banget loh usus buntu, belum lagi karena suasana disini sangat panas kami jadi suka minum es teh.
    Banyak hal baru yang kutemui, lingkungan baru, keadaan yang baru juga. Tidak bisa disamakan dengan kebiasaan saat dirumah, disini aku harus mengandalkan diriku sepenuhnya. Kuliah juga akan mulai Minggu depan, dan untungnya masih diadakan online karena belum resmi untuk ke kampus. Masih tersisa rasa senang, karena kuliah secara langsung benar-benar tidak aku harapkan. Ilmu yang didapat saat online seperti nya tidak terlalu melekat diotakku. Bagaimana jika dosennya menakutkan, atau mata kuliahnya ternyata sulit saat langsung. 
     Aku mulai merasakan seperti yang dikatakan bang Putra, bahwa semua akan terasa dalam saat sudah jauh dengan orang tua. Aku yang anaknya gengsi tinggi, mulai meluluhkan diri untuk selalu menelepon kerumah, menanyakan kabar dan berharap orang tua sehat selalu. Bahkan saat aku senggang aku menelepon video ke rumah, melihat bagaimana keadaan mereka dan tidak lupa juga melihat keadaan dua kucingku yang lucu dan sudah mulai besar. Mulai terasa sepi karena pagiku tidak lagi disambut suara melengking mama karena menyiapkan adikku ke sekolah, dan malam tidak dipaksa tidur cepat agar bangun pagi. Aku selalu merindukan setiap hal itu saat berada jauh dari keluarga.

Pertemuan

1 0

- Sarapan Kata
- KMO Club Batch 47
- Kelompok 3
- Day-21
- Jumlah kata 752

    Belum sampai  sebulan aku berada di Aceh, sudah sering sekali aku merindu suasana rumah. Meski di dalamnya aku merasa kacau karena sering ditegur dan dimarahi mama, tapi ternyata itulah tempat paling nyaman. Setelah aku menyatakan pada bang Putra bahwa aku menyukainya, semua tetap berjalan seperti biasanya. Hanya saja aku mendspati bahwa diriku terus mencari perhatian darinya. Aku sering upload story’ WhatsApp dan Instagram hanya untuk memastikan dia melihatnya.
      Rasanya orang seusiaku pasti akan ada yang sama sepertiku. Aku hanya ingin percakapan kami selalu berlanjut setiap hari, bertukar cerita dan membuat lelucon aneh yang jarang. Aku mungkin terlalu menyukainya sampai temanku kesal saat tahu bahwa aku pernah menyatakan perasaan padanya. Itulah aku, sedikit bodoh tentang hal ini. Namun yang akhirnya aku sadari bahwa aku lebih merindukan rumah. Bukan bangunan rumahnya, namun sosok orang hebat yang selalu mendukung dan menjagaku.
    Hal yang sangat sering kusadari adalah yang paling aku butuhkan itu keluarga. Meskipun mereka selalu menentang dan tidak menerima keputusanku, namun tetap memilihkan jalan yang baik untukku. Aku sering mengirimi pesan pada mama dan ayah, sesekali juga pada kakak dan adikku.  Aku mengomentari cerita mereka di WA agar kami bisa berkomunikasi. Begitulah rasanya tumbuh dikelurgs yang sulit mengucapkan rasa sayang secara langsung. Gengsi, gengsi dan gengsi lagi yang membuatku tak mampu mengucapkan aku merindukan mereka.
   Kukirim pesan pada bang Putra untuk mengalihkan rasa rindu pada keluarga.
    [Bang, ada kan buku panduan mata kuliah matematika?]
    [ Ada, yang mana? Coba lihat contoh gambarnya]
    [ Ada, bentar aku kirim]
     Beberapa menit setelah aku mengirimkan foto buku itu, dia segera membalas.
    [Ada, butuhnya kapan?]
     [ Sebenarnya udah jalan seminggu belajar itu, tapi baru ini kepikiran mau pinjam sama Abang aja]
      [ Yaudah besoklah, kos kamu dimana? Biar kuantar aja sekalian]
      [ Eh..Maaf merepotkan ya bang. Kos ku di tepi jalan kok, dekat banget sama kampus. Kalau emang mau antar kabari aja bang, biar ketemu disimpang kampus aja]
     [ok]
Dia selalu menjawab singkat diakhir pesan, ‘setidaknya masih dibalas’ ujarku dalam hati.
***
Aku mengirim pesan pada bang Putra.
   [ Kapan kira -kira Abang sempat antar buku?]
   [Kenapa emangnya?]
   [Malam ini aku mau ngerjain tugas dari buku itu, tapi kalau memang belum sempat gapapa kok bang]
    [ Yaudah, malam ini aku antar ya. Kamu buat hpnya dering kuatt, supaya pas aku nelpon langsung diangkat]
    [Okay...aman bang. Maaf merepotkan ya bang]
              Pukul 9 malam tiba-tiba handphoneku berbunyi, ada panggilan masuk dari bang Putra,
“ Aku udah dijalan kau kesana, kos kamu yang mana aku gak tau? Kalau gak tunggu di depan ya, 2 menit lagi sampai” ia bicara cepat.
“ Okay bang, tapi didepan rame. Nanti kalau udah didepan telepon aja ya, malu nunggu depan kek orang bego,” jawabku.
“ Iya..iyaa,” segera ia matikan telepon.
     Untung aja aku gak jadi nunggu didepan banget, katanya dua menit itu udah hampir setengah jam. Mau kesal tapi aku yang butuh sama dia, jadi kutunggu saja sampai dia mengabari.
[keluar...aku gak tak kosmu yang mana, aku disimpang kecil ini]
Tanpa membalas chat itu aku segera keluar, dan yang paling lucu aku takut salah mengenali orang. Namanya juga belum pernah ketemu, aku gak tau wajah nya secara langsung seperti apa. Apalagi kebanyakan orang masih menggunakan masker. Segera ku telepon dia menanyakan baju yang dia kenakan.
“ Abang dimana? Aku gak tau yang mana, takut salah orang hahaha,”
“ Coba jalan agak kedepan dikit, aku pakai baju warna hitam,” jawabnya.
“ Dimana... Gak kelihatan,” sambungku.
“ Kamu yang pake baju hitam juga?” ia bertanya.
“ Iya, pake rok agak kecoklatan warnanya,” ujarku.
“ Nah bener, coba lihat aku didepan ni,”
     Aku menoleh dan mendapati dia sudah menunggu disimpang kecil dekat kosku. Ku datangi dan langsung refleks tertawa.
“ Lama banget sih, cil,” dia langsung cerewet.
“ Siapa suruh tadi katanya dua menit, malah hampir setengah jam,” ketusku.
“ Ya aku tadi habis latihan, jadi mandi dulu hahaha. Lagian kamu mintanya juga dadakan,” balasnya.
“ Nyenyenyee yang penting aku udah dapat bukunya. Mana....” aku mengulurkan tangan padanya.
    Dengan refleks dia hendak membating buku kepadaku, bercanda memang hahaha. Dia ternyata terlalu menggemaskan secara langsung dan yang pasti dia benar-benar tinggi. Setelah sedikit berbincang aku menanyakan dia,
“ Ini Abang mau langsung pulang?”
“Gak, aku mau nyari tempat buat tugas,” ucapnya cepat.
“ okay...makasih ya bang bukunya aku minjam dulu,” aku berpamitan.
“ Yoii... Aku pergi dulu ya,” ucapnya langsung.
      Aku berjalan meninggalkannya dan dia juga segera beranjak dari tempat itu. Pertemuan singkat yang bermakna, tampaknya aku semakin menyukainya.

Mengenalmu adalah ketidaksengajaan
Bertemu denganmu adalah kebetulan
Aku sekedar suka, tak berharap lebih
Dan semoga tetap seperti itu
(Agustus 2022)

Pertemuan part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-22

- Jumlah Kata 806

- Revisi

Semakin hari semakin jatuh hati

Tenggelam, aku terjebak

  


“ Weh sumpah loh, makin lama kok jadi makin suka sama dia?” ucapku pada teman sekamarku.

“ Yahh mau gimana lagi, jalani aja dulu. Lagian dia juga ga permasalahin pas kamu confess kemaren kan. Manatau dia juga ada rasa, Cuma gengsi aja,” jawabnya.

“ Gengsi sih gengsi, kamu tau kann gengsiku lebih tinggi dari dia. Udah sengaja nurunin gengsi biar tetep deket juga, tapi satu sih yang paling bikin kesel. Dia itu punya temen cewe, sebenarnya gak masalah juga tapi..gimana ya kurang suka aja,” sambungku.

“ Kan cuma temen cewe, bukan pacar. Udah aku bilang jalani aja dulu, gausah kebanyakan mikir deh. Kalau emang dia mau juga bakalan lancar-lancar aja kok,” ia meyakinkan.

“ Tapi gimana ya... latihan dia juga lebih penting lagi. Mau overthinking tapi udah hafal aktivitasnya,”

“ Yaudahh lahhh jalani aja, tiap hari kamu mikirin itu. Gak bosan?” tanyanya.

“ Bosan sih iya, tapi kan kepikiran juga. Cape digantung mulu,”

“ Cukup zah, aku mau tidur aja deh daripada itu mulu. Kalau udah ada topik yang lain baru. Ku bilangin juga sama dia lama-lama.” Langsung menutup kepala dengan bantal.

   “ Tolong beri aku kepastiannya,” teriakku kesal.

***

Maret 2022, aku sedang menikmati waktu santai dikamar. Sepulang dari kampus yang sangat panas dan melelahkan. Tak di sangka sebuah pesan masuk dari Bang Putra,

     [Cil, ada kuliah gak?]

    [Kenapa itu?]

    [ Aku mau jalan-jalan, ikut gak?]

    [ Atas dasar apa?]

    [ Mau jalan-jalan aja, kalau gak mau ikut Yaudah]

    [ Boleh]

     [ Oke aku otw ya, jangan lama. Kita pulang sebelum Magrib]

     [ Kabari kalau udah didepan]

        Aku segera bersiap, dan beberapa menit kemudian dia menelepon.

   “ Buruan, aku didepan.”

   “ Iya bentarr,” kesalku.

      Baru juga bilang otw, udah sampe aja. Aku juga belum selesai, buat kesel aja sore-sore. Setelah itu aku bergegas jalan keluar menemuinya. Mungkin hobbynya memang membuatku kesal, tapi sabar aja.

       “ Mau kemana?” aku bertanya padanya.

       “ Mau jalan-jalan sih, kamu mau kemana?” dia tanya balik.

       “ Aku ngikut,” jawabku cepat.

      Sepanjang jalan bercengkrama, segala hal dibahas dengannya. Memang dia orang yang tepat untuk mengeluh, dan dia pasti akan selalu menjawab “ jangan ngeluh aja, dilakuin,” aku sudah hafal dengan dialog itu. Di jalan dia selalu menanyakan apa yang aku mau, sedangkan aku cuma mau jalan-jalan aja.

        Sepanjang jalan terbentang luas lautan, cahaya jingga sore itu jadi salah satu keadaan favoritku. Berkendara dengannya, berbincang santai dengannya, semua adalah tentang dia. Senjaku adalah dia, memang tak selalu datang dengan penuh keindahan namun selalu ada setiap waktunya.

       “ Udah mau magrib, cil,” tiba-tiba ia bicara.

       “ Terus?”

       “ Pulang aja ya? Kan janjinya tadi magrib kita pulang,” jawabnya.

       “ Gamau pulanggg,” keluhku.

       “ Besok-besok lagi ya, pulang kita. Udah mau hujan juga, nanti kehujanan,” sambungnya.

        “ Ya,” jawabku singkat.

   Aku malas kembali ke kos, rasanya seperti di jeruji tak bisa keluar. Aku sangat suka keliling, tidak hanya dengannya bahkan aku sudah terbiasa jalan-jalan sendiri saat di kotaku.

    Di perjalanan pulang, aku mengambil satu foto untuk kujadikan momen. Ujung bahu dengan jalanan, dia tokoh utamanya. Yang terpenting dia tidak pernah tahu itu, kalaupun tahu semoga tetap seperti ini. Dia sudah mengantarku sampai dikos, kemudian berpamitan pulang. Pertemuan singkat yang aku inginkan.

    

***

   Saat  menuju pertengahan malam, aku mulai melihat foto belakang punggung yang sengaja kuambil saat jalan dengannya. Sering kali dia melarangku untuk memegangponsel saat dimotor. Sesekali aku dengarkan, namun aku juga menyempatkan mengambil foto itu. Rasanya ada yang kurang jika tak kuambil momen saat itu. Kuedit dengan lagu sedih, lagu yang menjelaskan tentang seseorang yang bertepuk sebelah tangan.

Sebuah pesan masuk membalas stori whatsaapku.

[Tidur,cil! Begang gapapa sesekali tapi kalau terlalu sering itu cari mati namanya]

[Heboh banget sih, ntar kalau ngantuk aku ingat tidur kok]

[Kamu suka kali begadang, gak bagus apalagi kalau bangunnya kesiangan lagi]

[Gak, walau begadang tapi tetep harus bangun pagi buat kuliah]

[Makanya gausah begadang, susah banget]

[Kalau mau tidur, tidur aja gausah asik bilang ke aku mulu]

[Yaudah deh kamu gamau dibilangin juga, aku tidur duluan]

[Y]

Setelah itu dia benar sudah centang satu dan tak membalas pesan lagi. Aku melanjutkan kegiatanku sebelumnya untuk mengedit beberapa video dengan lagu-lagu lucu dan sedih. Setiap momen yang kulalui sellau kupastikan akan menjadi kenangan, entah itu akan terulang lagi atau tidak akan sama sekali.

Aku punya tiga akun instagram, salah satunya adalah akun tertutup yang hanya kuguankan untuk menyimpan momen. Segera ku posting dan akan terkenang tepat 11 Maret 2022.


Setiap orang berhak untuk mencintai siapapun

Berhak mengakui atau menyembunyikannya

Namun, tidak semua akan sama setelah kita ungkapkan semuanya

Saat kamu bertemu orang yang kamu inginkan

Belum tentu juga dia sosok yang kamu butuhkan

Ketika kami bertemu dengan dia yang kamu ingin dan butuhkan

Namun, belum pasti kamu adalah orang yang dia mau

Semua berada pada kemungkianan tak berujung

Melangkah pada setiap ketidakpastian

Satu yang pasti saat ini

Aku mencintaimu…

(Maret, 2022)


Aku Rindu

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-23

- Jumlah Kata 859

- Revisi

Waktu yang cepat berlalu menyisakan banyak kerinduan dan sakit hati. Tak mampu aku membendung rasa ingin mengeluh yang selalu kulakukan. Aku butuh sandaran yang membuatku tak berhenti bercerita tentang sulitnya hari yang kulalui. Namu, ternyata secepat itu semua perlahan berakhir.

Semua berisik, namun hati tak kunjung pulih. Tengah malamku semakin sering diisi oleh air mata. Tak terbendung rasa ingin jumpa, meskipun saat dirumah aku selalu di cereweti oleh mama, di recokin sama adik-adik tapi itu adalah momen yang gak bisa dilakukan sama orang lain.  Aku membuka galeri, melihat banyak foto dengan mereka. ‘aku ingin pulang’ lirih tangis namun tak bersuara. Aku mendapati diriku yang terus merindu untuk pulang, namun kuliahku belum kelar. Aku semakin sering menelepon mama, melakukan panggilan video dan mama selalu menjadi pendengar terbaikku.  Meskipun setelah aku bicara, mama akan lebih banyak berbicara lagi namun itu membuat diriku tenang. Aku benar-benar bisa merasakan sepi ditempat ramai, namun saat aku sudah berbincang dengan mama seolah semua penuh warna kembali. 

Aku melakukan panggilan video Dengan mama sepulang kegiatan dikampus.

Maa... aku baru pulang, kenapa?” tanyaku.

“ Masih ada kan uangmu? Udah makan?” lanjut mama.

“ Masih, kan baru dikirim kemaren. Makan juga udah, tinggal makan malam yang belum,”

“ Bagus makan di sana, jangan makan ayam terus. Beli ikan, makan ikan jangan lupa makan sayur juga,” mama mulai cerewet denganku.

“ Iya...,” Jawabku panjang.

“ Pokonya makan, kalau uang lagi menipis beli telor aja masak,” sambung mama.

“ Iyaa maaaa,” aku hanya bisa mengiyakan semuanya.        

Mama bercerita panjang tentang kejadian-kejadian dikampungku, mendengarkannya membuatku tenang. Saat orang lain mengadu pada ibunya, malah mama yang mengadu padaku. Wajar saja bagiku seperti itu, selama aku di rumah semua pekerjaan bisa di lakukan dengan mudah. Namun saat semua sibuk, hanya mengandalkan mama seorang saja.  Entah mengapa, air mataku ingin menetes. Kutahan agar tak sampai dilihat oleh mama.

“ Udah dulu ya maaa, aku mau beli nasi buat makan malam,” ucapku.   

“ Oh iya..iyaa. Ingat makan, jangan sampai kena magh, jangan nyari penyakit disana. Pokoknya makan jangan lupa. Udah ya assalamualaikum,” mama menutup telepon.     

Aku paling ingat bagaimana mama mengingatkan makan, saat di rumah saja aku paling sulit disuruh makan. Sebenarnya aku bukan tidak berselera hanya malas saja hahaha. Saat di kos saja terhitung berapa kali aku makan pagi, apalagi kami sekamar juga hampir sama sifatnya.

***

Hari berlalu cepat, aku jadi punya kebiasaan begadang yang membuat malamku selalu dipenuhi oleh tanya dan berisik dikepala. Aku jadi susah tidur meskipun paginya aku harus kuliah. Sebelum tidur aku jadi sering menangis, tidak hanya karena keluarga namun juga sosok orang yang selalu aku dambakan. Mungkin terlihat bodoh dan tak tahu malu, tapi nyatanya aku benar-benar tertekan saat tidak tahu harus dengan siapa bertukar cerita.     

Seperti orang bingung saja, saat tak lagi mengirim pesan pada Bang Putra. Biasanya aku mengeluh padanya, namun beberapa Minggu ini dia selalu sibuk mungkin. Sesekali membuat kode dengan stori WA, atau kadang memberanikan diri untuk chat duluan. Gengsiku yang selangit sudah aku turunkan hanya demi dia.  Tapi terkadang aku mulai sadar diri, saat dulu kuungkapkan rasa padanya dan dia mengatakan bahwa dia sudah tahu. Tak berkelanjutan yang membuatku merasa bahwa tidak apa-apa jika dekat saja.

Hari demi hari membuatku bingung, gelisah dan semangat tidak bisa di mengerti.  ‘ Dia maunya apasih?’       

“ Kenapa kamu?” saat Sofia meneleponku.     

“ Aku sendirian di kos, temenku pada pergi sama cowoknya,” keluhku      

“ Hahaha kasihan banget sih jadi jomblo, makanya gausah mentok nunggu kepastian si Putra itu,” ucapnya.   

   “ Sok tahu banget, aku juga gak berharap kok,”      

“ Sumpah ya, pengen ku bunuh kau lama-lama. Kayaknya dia emang gak buat kamu sih, lupain aja cari yang baru,” ucapnya.   

“ Apaan cari yang baru, yang lama aja susah mbuat lupainnya,” sambungku.  

“ Aku bilangin ya, dia itu Cuma gabut aja terus pas banget ada kamu,” ledeknya.

“ Udahlah Fia, cape aku mikirin anak orang itu. Bagus aku jomblo aja sampai lulus,” sambungku.   

   “ Sok iya banget mau jomblo, kemaren ngomongnya gitu terus tapi tetep aja berharap sama si Putra itu,” jawabnya. 

Percakapan persahabatan yang terus berlanjut mulai dari mengeluh cinta sampai review sifatnya manusia.  Aku selalu bercerita penuh makian dengan Sofia, untung udah lama kenalnya. Terkadang saat berbalas pesan saja sudah membuat kami tertawa bebas, begitupun saat bertemu. Sayangnya kami beda kampus dan jauh, aku di Aceh sedangkan dia di Medan.       

Aku sangat merindukan semua hal, ingin semua di ulang saja. Tapi rasanya pasti akan berbeda, jalani, nikmati, syukuri.  Motivasi yang terus aku bendung dalam hati tapi tetap saja kalah oleh keluhan-keluhan yang aku lontarkan setiap hari. Teman sekamarku saja bosan dengan keluhan yang itu mulu, tapi asik juga hahaha.

***

Siang ramai oleh manusia, tapi malam lebih ramai dikepala Suara bisikan itu, terdengar jelas hingga membuat mata terus terbuka Saat orang sedang sibuk dengan mimpi dalam tidurnya Aku malah berdebat dengan diri sendiri Semua berisik, aku benci saat itu Ku pilih untuk menikmati malam dengan air mata Aku menangisi diri yang tak kunjung sadar Lepaskan semua, kamu tak akan bisa Namun ego lebih kuat dari hati yang bicara Aku jalani saja, jika aku menangis bukan berarti aku berhenti Lebih baik aku terus menangis namun semua selesai perlahan Daripada aku tertawa tapi sepi setiap malam .

Aku Rindu Part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-24

- Jumlah kata 811

- Revisi


   Di tengah kesibukan kuliahku, aku mengikuti organisasi yang cukup membuat jadwalku padat. Tidak sempat rasanya memikirkan hal lain, bahkan seperti cinta-cintaan.  Namun ternyata itu berlaku pada siang hari saja, semakin malam semakin sepi. Mendengar teman sekamarku yang selalu asik berbincang dengan kekasih mereka terkadang membuat iri meski disatu sisi aku juga tidak mau seperti itu.       

   Lagi-lagi aku membuka galeri dan mendapati banyak foto lama, sempat kemarin aku mengajaknya berfoto dan itu lumayan menggemaskan. Dia beneran tinggi banget, sampe aku kebanting kalau  sebelahan sama dia. Aku semakin terhanyut dalam pengharapan tak berujung. Bukankah itu wajar jika dia memang masih memberikan aku perhatian, lalu bagaimana aku tidak salah paham. Namun beberapa Minggu ini kami tidak saling mengirim pesan, dan aku juga tidak akan memulainya.   

   Dering handphone ku yang kencang, membuat lamunanku terhenti. Segera kuangkat dan ternyata itu mama. Hari yang buruk dan mood berantakan hingga membuat tak selera makan. 

      “ Udah makan ?” sudah pasti itu yang mama tanyakan. 

     “ Udah, ma barusan,” aku berbohong.

      “ Tadi siang mama barusan melayat, ada anak kuliah meninggal di Medan. Katanya sih penyakit magh, itulah mama sering ingatin makan. Jangan bandel, kalau lagi gak ada lauk masak telor.” Nasehat mama yang tak bosan itu-itu terus.          

“ Iyaaa aku makan kok, siapa yang meninggal?” aku alihkan.       

   Mama menyebutkan nama yang tak kukenali, namun masih saja rasa penasaranku yang tinggi.

“ Uang bulanan masih ada kan? Hemat-hemat disana, tapi kalau untuk makan yang bener. Jangan makan ayam potong terus, belum tua ntar udah sakit,” lanjut mama.        “ Iya maaa,” aku patuh.    

   “ Seminggu ini baru satu kali mama kepasar buat belanja, kakak mu sibuk kuliah adekmu sibuk sekolah. Gak ada yang bantu mama di rumah,” sambung mama. 

      “ Hahaha mau gimana lagi, aku juga jauh lagian kalau mau bersih-bersih kan bisa malam.” Jawabku.     

   “ Pindahlah kuliah disini aja, gausah jauh-jauh. Nanti mama urus pindahannya semua,” ujar mama.        

“ Hahaha mana ada kayak gitu, kalau mau pindah kesana tunggu selesai empat tahun buat gak nanggung. Sayang juga kalau pindah, capek ngulang lagi ma,” aku tertawa.     

   Percakapan mama dan anak yang seperti biasanya, saat dirumah saja aku selalu dimarahi tapi kalau jauh gini malah lebih sering jadi tempat curhat mama. Adik dan kakakku yang sibuk dengan urusan masing-masing sampai membuat mama kewalahan. Tidak bisa dipaksakan juga, aku dulu saat sekolah juga begitu. Baru berkurang satu orang saja dari rumah sudah kerepotan. Hampir jam sepuluh dan mama mulai menyuruhku istirahat, kemudian mematikan teleponnya.

***

Kunanti jingga di ujung petang

Teringat hal indah yang pernah kulalui denganmu       

Kamu memang tidak sempurna, begitupun aku   

Tapi bahkan sampai saat ini tak kutemui sedikitpun kekurangan darimu 

Bagiku kamu istimewa layaknya senja yang selalu aku tunggu   

Jikalau kamu tahu, bisakah kita mulai berjalan bersama?   

Aku ingin seiring denganmu, bukan diiring    

Aku ingin selalu berada di sebelahmu  

Mungkin karena terlalu banyak aku mengira

Sampai kulupa, sama bukan berarti akan bersama

Berjalan bersama saja tanpa bergandengan tangan

Terlalu banyak yang sama antara kita

Sampai aku lupa, bahwa batu dengan batu akan sulit

Sesulit itu menerima kenyataan

***

Tampaknya dia masih orang yang sama seperti awal kukenal, mungkin perasaanku yang semakin dalm membuatku sedikit kehilangan saat taka da kabar yang kuterima. Se lugu dan bodoh itu aku menyukaimu. Sesering apapun temanku mengatakan bahwa dia tak akan untuk menyukaiku juga, aku tetap bertahan pada rasa itu.

Namun jujur saja aku merindukan setiap momen random dan tidak jelas itu. Dia yang mengirimi pesan saat aku kesepian, mengirim foto seolah menyatakan keadaan dan keberadaannya. Aku bahkan luluh pada hal sederhana itu, tanpa berfiir bahwa itu hanya kebosanannya sesaat dan kebetulan ada aku yang akan tetap menyambut hadirnya. Tidak apa selagi dia masih menjadi pendengar dan tempat keluh ternyamanku.

Tak ada pesan darimu membuat kepala banyak Tanya, aku meringkih menangis melihat foto di galeri. ‘Aku merindukan mu… bisakah kamu tahu tanpa aku sampaikan ? bisakah kamu hadir saat ini? Aku butuh’suara hati yang tak mampu aku kirimkan padanya saat itu.

‘ Dandelions…. Bunga itu mulai kering dan bertebaran di udara tanpa arah, tak tahu arah tujuan. Berhenti saat sudah jatuh di tanah, terinjak dan tidak dapt dilihat lagi oleh mata’

Suaranya terngiang di ingatan, kata-kata yang selalu ia ucapkan berlalu lalang di ingatan. Air mata membasahi pipi, tidak berhenti mengeluhkan diri. Aku semakin memikirkan kejadian tak terduga, seperti dia sudah punya seseorang yang dia sukai. Aku menangisi hal tak perlu, tapi memang terasa sesak didada. ‘ Berhentilah air mata…’ ucapku dalam hati.

Semakin aku menguatkan diri, semakin sakit dada ini. Kuakui aku takut kehilangan dia, aku takut tidak menemukan sosok yang sepertinya lagi. Aku sangat mencintainya… aku ingin  dia tahu dan membalas perasaanku. Namun, tak pernah edikitpun dia menunjukkan bahwa dia juga menyukaiku. Aku tidak ingin terlalu percaya diri berharap dia juga begitu.

Ku ketik setiap luka yang aku rasakan dalam sajak yang tak ku sengaja, suatu saat nanti akan jadi pengingat bahwa aku pernah dengan bodoh mengharapkan dia melihatku, berharap dia mencintaiku.


Tarik Ulur

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-25

- Jumlah kata 855

- Revisi


Diakhir bulan ini, kampus mengadakan pertandingan antar prodi sampai antar fakultas. Aku iseng mengikuti lompa pop islami yang saat itu diikuti dnegan cara merekam video bernyanyi. Banyak juga pertandingan lain seperti futsal, lomba kaligrafi, basket juga ada. Aku yakin bang Putra akan mengikuti basket, karena dia memang handal diolahraga  itu. Tak tahu bagaimana terjadi, tapi kami memang tidak lagi mengirim pesan sampai saat ini. Akupun malas memulai percakapan dengannya.

Sampai suatu ketika dia mengupload foto dan video kaligrafi diakun instagramnya. Dan aku membantu berkomentar

‘ Wahhh KEREN’ komentarku pada postingannya.

‘ Makasih’ balasnya disana.

Itu jadi awal mula lagi kami saling mengirim pesan, dari situ aku mulai betanya banayk tentang pertandingannya.

[ Abang ikut basket kan?]

[ Iya, besok aku main dilapanagn kampus. Datang yooo]

[ Insyaallah ya kalau aku gak ada kuliah bang]

[ Halahh datang aja, gausah kuliah]

[Enak aja, nanti kalau sempat aku datang]

[Yeee]

[ Jam berapa emang mainnya ?]

[ Habis zuhur, kalau gak ada perubahan jadwal]

[ Amann, kalau bisa aku datang]

[ Hahaha datang.. datang]

[ Gak dadakan, gak bilang]

[ Gimana yaa,a, ah pokoknya datang aja besok udah.]

Percakapan terhenti disana karena aku hendak pergi kuliah, apalagi disiang hari yang terik ini cukup membuat malas. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kuliah.

***

Tepat hari ini aku harusnya melihat pertandingannya, baru saja aku bangun jam sepuluh pagi karena tidaka daa kuliah. Terlewat pesannya, kalau dia tanding sebelum zuhur dan aku baru membacanya pukul sebalas. Mau bagaimana lagi, kukatakan aku tidak bisa karena kami di kos mau masak dan bermalas- malasan.

Kukirim pesan padanya dengan tidak tega,

[ Maaf ya bang, gak bisa lihat tanding kayaknya. Aku aja baru bangun, belum mandi belum siap-siap juga. Gimana mau dadakan ke kamous, keburu lewat mainnya.]

Dia membalas pesan itu dengan foto lapangan yang masih kosong

[ Disini juga ada temen seangkatanmu, sinilah]

[ Gak deh, udah mau main kan?]

Whatsappnya sudah centang satu, sepertinya ponsel sudah dimatikan dan bersiap untuk anding. Aku hanya bisa mengirim pesan padanya dengan rasa bersalah

[ Maaf ya bang, Semangattttt basketnya]

Kemudian melanjutkan aktivitasku yaitu masak, makan dan melanjutkan mimpi yang indah.

Waktu yang berlalu saat aku tidur tidak singkat, disiang hari yang panas ini dengan kipas yang tidak pernah mati seharian penuh, dua jam lebih sudah aku tertidur pulas. Saat kulihat ponsel sudah ada balasan pesan darinya,

[Makasih cil, besok aku tanding lagi tapi besok udah perwakilan tanding antar fakultas lagi.]

[Wahhh selamat ya, besok tanding jam berapa lagi?]

[ Jam 2 atau jam 3 gitu]

[ Kayaknya emang gak di takdirkan buat nonton sih aku ini, aku besok ada kuliah juga jam segitu]

[ Datang yoo, gak asik kamu gak datang]

[ Kalau bisa aku datang sih, tapi kayaknya tetap gak bisa soalnya beneran ada kuliah. Palingan kelar jam lima, doain aja dosennya gak masuk.]

[ Okedeh]

Jujur saja aku benar-benar ingin melihat pertandingannya, apalagi selama ini ebelum kami bertemu dan hanya saling membalas pesan. Tidak hanya satu kali dia mengabariku jika dia akan bertanding atau latihan basket. Dan setelah ini aku akan bisa melihat dia tanding secara langsung. ‘ Yok kalau ada kemauan pasti ada ajalan’ ucapku dalam hati.

***

Waktu yang berlalu cepat, ditemani gemuruh angin yang kencang. Tepat hari ini pertandingannya, akan menentukan posisi juara. Bagaimana lagi, aku hanya bisa pasrah tidak bisa menonton sepertinya. Kuliahku akan dimulai pukul tiga begitu juga dia tanding. Segera setelah sampai dikelas, aku yang sudah melewati lapangan dan melihatnyanmemeberi semangat.

[ Maaf tetap gak bisa nonton, SEMANGAT BANG PUTRA]

Pesan itu belum berbalas saat aku aka memulai kelas, dan untunya adaalah dosenku tidak masuk dan hanya memberi tugas. Segera kubuka ponsel menanyakan pertandingannya.

[ Kakiku hampir putus tadi, sumpahhh]

Aku syok membaca pesan itu dan ingin buru-buru kelapanagan. Aku bukan siapa-siapa, namun saat dia dalam keadaan seperti ini aku merasa harus jadi orang yang selalu ada untuknya. Segera aku menuju tempat dia bertanding, dan yang kuliaht adalah dia dengan sehat sedang menonton pertandingan juga. Bagaimana tidak kesal, aku taku sesuatu terjadi padanya meski aku tahu dia sudah besar dan mampu mengurus diri sendiri.

[ Kakimu hampir putus ya, untung masih sanggup buat nonton]

[ Hahaha tapi emang tadi itu, udah baikan]

[ Yaudah bagus kalau gitu]

Di melihatku berjalan menghampiri kearahnya, segera ia berbalik melihatku juga. Ku ucapkan selamat dan dia tersenyum senang meski sedikit kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya.

[ Kalau gitu aku pulang ya, selamat]

[ Hahaha makasih yoo, langsung pulang?]

[ Terus? Yaudah foto yuk]

Aku mengajaknya karena dari kemarin memang aku ingin punya foto dengannya, setidaknya untuk kenang kenangaan.

[ Bang, minta tolong dong]

Aku katakana pada salah satu temannya yang emmang cukup dekat juga denganku. Rasa segan tentu ada, tapi aku mencoba santai. Sampai dia hanya mengambil beberapa foto tak terniat yang hasilnya sanagt luar biasa. Tak sadar aku saat itu, bang Putra menagmbil fotoku sembarang. Setelah banyak una-inu akhirnya kami foto dengan normal.

Bang Putra yang tinggi dan membuatku hanya sebatas bahu saja. Foto yang saat itu tak di perlihatkan olehnya. Akupun tak banyak minta, langsung pamit untuk pulang. Berjalan menyusuri gang menuju kosku. Sesamai di kos aku mengganti baju dan hendak melanjutkan tidur sebelum magrib.


Tarik Ulur part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-26

- Jumlah Kata 855

- Revisi


Saat berada dalam keterpurukan, yang kita ingat bukan diri sendiri. Namun orang lain yang pernah dengan siap mendengarkan setiap keluh kesah kita. Bukan yang menghakimi cerita kita, namun yang dengan lapang memberikan telinga untuk menjadi pendengar paling nyaman dan bahu sebagai sandaran paling aman. Kita kehilangan diri sendiri, hanyut dalam lamunan tak berujung. Mendengar orang lain saja rasanya ingin mengamuk, tak ingin di tanya ‘ada apa’ hanya butuh di tenangkan dengan cara paling aman.

Setiap dari kita selalu mengalami jatuh bangun dalam perjalanan, sekalipun kita sudah berupaya penuh dan merasa akan berhasil. Namun pada akhirnya kemungkinan gagal tidak terelakkan. Banyak yang karena tak sanggup menanggung beban, malah memilih untuk berhenti dan menyerah.  Namun ada juga yang berupaya keras mempertahankan segalanya meskipun sudah berlalu lalang dalam kesedihan.       

  “ Kenapa kamu?” ucap teman sekamar yang melihatku diam sedari tadi.       

“ Gapapa,” gelengku.   

“ Dari tadi diam terus, makan juga engga. Keluar yok cari jajan,” ajaknya.       

“ Mager, nanti aja kalau udah mood,” jawabku.

Beberapa menit aku hanya bolak balik buka hp tanpa tujuan, menunggu sesuatu pesan masuk agar aku bisa mulai bercerita. Tak kunjung tiba pesan itu, aku hentikan harapanku dan mulai beranjak dari tempatku.        

“ Ayok, mau jajan apa?” anakku pada temanku.        

“ Terserah deh, cari aja dulu keluar,” jawabnya. Kami bergegas untuk keluar mencari jajanan yang kami mau, jaraknya tidak jauh dari kos. Berjalan kaki, dan disepanjang jalan sudah ada penjual makanan dan minuman. Makanan ringan sampai makanan berat, dan yang selalu jadi favorit kami adalah makanan berat.        

Seharian makan nasi bungkus karena tidak masak, dan kami memutuskan untuk beli jajan saja pada malam hari. Hitung-hitung hemat uang bulanan, walau pada akhirnya tetap saja boros. Kami juga sering stok Indomie saat di kos, supaya bisa menghemat tenaga saat malas keluar. Jiwa anak kos yang tidak bisa kami pungkiri. Kami berjalan-jalan mencari jajanan, kemudian kembali ke kos. Kami banyak bercanda sambil menghabiskan makanan yang kami beli. Aku merasa lebih baik daripada aku termenung tanpa ujung, yang membuatku memikirkan hal yang tidak penting. Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit, kami kembali sibuk dengan ponsel masing-masing. Teman sekamarku yang mulai video call dengan pacarnya, dan akupun memulai kembali kesibukan dengan isi kepala.       

  Overthinking yang tak ada gunanya tapis slalu aku lakukan, dan tokoh utamanya adalah bang Putra. Terkadang aku heran bagaimana bisa aku mempertahankan perasaan padanya meskipun rasanya tak berbalas. Seperti anak kucing yang menunggu induknya, atau bunga yang menunggu di serbuki oleh lebah. Menunggu hal yang memang akan datang, namun mungkin hanya sekedar gabut saja.

***

“ Kamu kemana?” temanku bertanya dipagi hari saat melihat sudah rapi hendak pergi.     

“ Kekampus,” jawabku.    

“Ohh oke,” ucapnya lalu kembali tidur.           

Tidak heran lagi dengan aku yang sok sibuk dengan organisasi, dan selalu Kekampus dipagi hari Senin. Itu adalah salah satu upaya yang aku lakukan agar tidak terlalu memikirkan dia. Saat aku merasa sepi dan hampa, aku selalu melihat ponselku dan berharap ada pesan darinya. Dan tidak jarang aku terbangun tengah malam karena mengira dia mengirimkan pesan namun hanya harapan yang menjadi mimpi buruk dimalam hariku. Karena itu aku menyibukkan diri dengan organisasi dan hal lainnya. 

“ Aku pergi….,” ucapku meninggalkan temaku.

“ Hati-hati, jangan lupa pulangg,” sambungnya.

Seharian aku hanya main handphone dan duduk di sekretariat jurusan. Sebenarnya aku memilih itu supaya tidak tidur terus di kosan. Anak kos yang sedang kurang kerjaan dan akan berujung tidur sepanjang hari. Rasanya sangat muak sehingga aku mencari kesibukan sendiri.

***

Bahkan jalan yang pernah kita lintasi bersama sudah menyimpan jejak tentangmu

Jika diulang, aku memilih tidak Karena kenyataan tak akan pudar

Ucapmu Kita Hanya Saling Menghargai


Semua Jepretan foto dan video tentangmu selalu menyimpan momen penting. Bahkan ujung lapangan yang pernah dipijak oleh kakimu sudah tersimpan dalam memoriku. ‘ Bisakah kita menjadi lebih?’ tanyaku selalu pada diriyang tak kunjung berehenti berharap padamu. Aku ingin tak sekedar melihat kabarmu dari sebuah foto yang kulihat dalam storimu, namun menjadi orang yang kau kabari saat kau berpndah posisi. Berlebihan bukan? Tapi aku ingin menjadi sosok itu. Menjadi sosok yang mendengar keluhat manismu, dan banyak cerita acak yang tak kuduga.

Tepat saat itu dering ponsel berbunyi kencang, dan itu dari Sofia teman terbaik yang kukenali.

“Sofiiiii bisa gak sih kami jangan temenan terus? Aku cape overthinking yang gak jelas, ujung-ujungnya juga salah pikir.” Aku langsung merengek padanya.

“ Masalahmu itu terus deh, move on ajalah gak cocok yang kayak gitu diharapin. Janganlah bodoh, banyak lagi orang didunia ini”

“ Orang yang banyak, yang kumau dan mau aku itu yang gak ada sofiiii,” sambungku.

“ Sumpah deh, minta dimaki terus kauu,” dia mulai kesal.

“ Tapi kan benerann, coba aja ada yang deketin,” jawabku.

“ Yaudah, jalani ajalah aku juga dulu deket sama cowokku gitu kok. Tapi akhirnya dikasih kepastian juga,” jelasnya.

“ Iya tapikan beda, dia gak ada nunjukin kalau dia suka,” sambungku.

“ Mau aku ingetin terus supaya cari yang lebih baik juga gak akan mau, sok setia banget sama orang yang ngasih kepastian.” Ujarnya.

“ CAPE… pengen nikah aja,” aku mulai mengeluhkan hal random diusiaku ini.

“ Kalau gak ngeluh kuliah, ngeluh pengen nikah. Tapi perjanjiannya kan aku duluan yang nikah, kalau kamu duluan gak boleh dong,” candanya.

“ Iya juga yaa, yaudah cepetlah nikah biar aku juga nikah,” sambungku tertawa.

Kami mulai bercanda sambil memaki satu sama lain, dan rasanya tidak ada yang menyinggung hati karena kami sudah sdekat itu.

Bisakah Aku?

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Club Batch 47

-Kelompok 3

-Day-27

-Jumlah kata 816 

- Revisi


    “ Aku hanya menghargai,” sebuah pesan biasa namun bermakna menyakitkan untuk diriku.    

Sepanjang malam mulai terasa sepi tanpa hadirnya, ku bolak balik membuka ponsel membaca ulang pesan antara aku dan dia. Tak kunjung selesai tentang dia, aku sudah berupaya keras berhenti berharap dan memikirkannya. Namun, apa daya aku tak sanggup sejauh ini. Aku tidak ingin melibarkan orang lain dalam proses melepaskan harapan untuknya. Sekalipun aku mencoba merespon dan saling berbalas pesan dengan orang lain, aku malah merasa bersalah jika sekedar menjadikan itu upaya melupakan dirinya.

“ Kedepan yok, duduk sambil main uno bertiga,” aku mulai mengajak teman sekamarku untuk keluar menghilanhkan stress.

Ayoo,” sambut mereka berdua.

“ Tapi gausah cantik-cantik pake banget ya, soalnya aku cuma mau pake jilbab instan aja,” sambungku.

“ Iya gass,” ucap temanku.

Kami berkemas dan menuju tempat nongkrong biasa, beberapa kali kami nongkrong ditempat itu untuk menghilangkan suntuk dengan tugas kuliah yang menumpuk. Sesampainya ditempat ity, kami memesan minuman masing-masing, salah satu yang kahas dengan pesanannya adalah nutrisari jeruk dan aku tetap setia dengan cappuccinoku.

Kami memulai permainan dan menetapkan aturan, selain itu ada temaku yang sedang live diinstagramnya. Kami main dan bercanda riang, sampai satu waktu temanku menoleh dan melihat seseorang yang mirip dengan Bang Putra. Aku yang tak percaya dengan itu sedikit melirik kebelakang, curi-curi pandang karena penasaran juga.

“ Wehhhh, Kok mirip,” aku kaget.

“ Tapi bukan dia kan?” Tanya temanku.

“ Engga, tapi mirip banget apalagi rambutnya,” ujarku.

“ Hahaha bisa gitu ya,” temanku tertawa.

“ Baru juga aku memantapkan niat buat move on, langsung dikasih cobaan ketemu orang yang mirip banget sama dia,” keluhku.

“ Udahlah, gak mirip kok yang ini lebih ganteng,” canda salah seorang.

“ Mau lebih ganteng atau lebih jelek gak penting, yang paling penting adalah aku gak peduli,” tegasku mulai meletakkan dagu dimeja.

“ Udah ah, lanjut..lanjut,” potongnya.

Kami melanjutkan permainan, namun aku sedikit termenung. Bagaimana tidak syok, baru saja ku mendapati hatiku terluka olehnya namun hari ini malah melihat sosok yang mirip dengannya secara langsung. Rasanya dadaku sepeti dipukul dan terbakar oleh asa bahwa aku tidak akan berharap lagi padanya. Aku benar-benar akan berhenti mengirim pesan dan menyukainya. Sesulit apapun itu akan aku coba.

“ Mintalah ig nya, manatau bisa jadi Putra part dua,” canda temanku melihatku main tanpa rasa senang.

“ Udahlah, cape aku gak ada ujungnya. Kalau emang iya suka bilang, tapi kan ini engga,” sambungku.

“ Dia Cuma menghargai hahaha,” ejek temanku mengingatkan balasan pesan Bang Putra terakhir kali.

“ Mauu nangis banget ini, bagus tadi gausah keluar kos biar gak ketemu ginian,” ucapku.

“ Banyak gaya, kita keluar biar gak mikirin yang lain. Kamu malah mikirin cowok gak jelas itu.” Ucap temanku kesal.

“ Apaan, lanjut main uno lagi yang kalah berdiri,” aku mengembalikan diri untuk fokus dengan teman-temanku.

Tawa riang dan game yang terus berlanjut, membuat kami hampir lupa waktu. Dan untungnya sosok yang mirip itu sudah pergi jauh setelah kami menyadari kemiripan nya.

“ Jam berapa nih kita pulang?” salah satu bertanya.

“ Bentar lagi lah, satu putaran lagi,” ucapku.

“ Nanggung juga, sekali lagi tapi aturannya kita tambah ya,” sambung satunya.

Kami melanjutkan permainan, dan kembali setelah satu putaran penuh itu. Kemudian menambah aturan bagi yang kalah akan berdiri dan memposting diinstagramnya. Banyak tawa dan canda gurau di ujung permainan, setelah itu baru kami memutuskan untuk kembali ke kos.Manjadi anak kos juga suatu keunggulan yang luar biasa, dimana yang strict parents bisa keluar tanpa harus meminta izin. Banyak yang tak boleh dilewatkan diusia kita saat ini, karena semua bisa dicari namun usia belasan ini tak akan terulang lagi.

***

Masih pagi buta, aku selesai sholat dan segera mandi meskipun tidak keluar melakukan sesuatu. Aku keramas sekaligus menghapus jejak, membersikan diri dan kepala dari pikiran yang tak baik. Mungkin terdengar aneh tapi bisa dicoba agar kita merasa lebih tenang. Baru saja semalam aku menangis sepulang nongkrong itu. Aku memutar ulang video yang sudah aku buat untuk ulang tahun Bang Putra.

Semua foto dan video tentangnya kujadikan satu dengan lagu yang khas dengan dirinya ‘dandelions’ . Awalnya lagu itu hanya iseng direkomendasikannya padaku, aku selalu memncoba mendengarkan sesering mungkin sambil menghapal dan mulai menyanyikannya. Hingga akhirnya aku mendapato bahwa dia ada dalam lagu itu. Setiap bait liriknya adalah dia, setiap nadanya adalah dia, dan pada akgirnya lagu itu juga yang menyimpan kenangan tentangnya.


Yang lebih melelahkan dari memperkenalkan namaku

Memperkenalkan siapa aku, tanpa kumau

Kamu yang ku inginkan jadi persinggahan hati terakhir

Bisakah hanya aku yang memilikimu?

Berulang kali aku jatuh cinta pada orang yang sama

Bisakah Aku? part II

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-28

- Jumlah kata 851

- Revisi


[ Sofiaa, aku berhenti buat berharap sama dia. Capek banget gak ada ujungnya, lagian juga dia gak ada perasaan samaku. Hanya ‘ menghargai’ jadi wajar selama ini lurus-lurus aja]

[ Hahaha capek juga sih denger keluhan tentang dia, kamu juga disuruh move on masih aja sok setia sama orang gak jelas. Banyak yang deketin tapi lebih milih yang gitu]

[ Kan kamu yang suruh jalani aja, aku jalani dong]

[ Tapi kamu jalaninya sampe bego gatau batasan, terlalu berekspektasi tinggi sama dia. Gak mungkin juga aku patahin harapan kamu kan, manatau jadi kenyataan. Tapi kalau udah gini sih mendingan gausah berharap sama dia. Ujung-ujungnya bakan tetap dianggap teman]

Masih saja tentang dia, setiap waktu sampai semua teman dekatku bosan. Aku tak mampu menahan diri agar tidak memikirkannya, karena senmua sudah dipenuhi olehnya. Membuka galeri saja sudah wajahnya yang pertama kali terlihat. Penyimpanan ponsel yang tak mengizinkanku menghapus foto dan video tentangnya. Sudah lebih lika kali ku hapus, namun kembali lagi ke penyimpanan ponselku. Sampai disana saja, untuk menghapus percakapan dengannya aku masih belum sanggup. Tidak bisa kupungkiri, aku memang masih berharap padanya.

Kebodohan diusiaku ini, mencintai dan berharap terlalu besar pada sosok yang belum  tentu jadi milikku. Mungkin karena dalam keterpurukan keadaan, dia yang hadir membenahi hati dan pikiran ini. Sekalipun ada yang datang untuk menggantikannya, tak akan ku izinkan. Jika harus berhenti mencintainya akan kulakukan tanpa melibatkan orang lain lagi. Hampa dan bingung memenuhi kehidupan di hari-hari terakhir berkuliah, mendekati libur semester.

Aku kekampus untuk mengikuti rapat panitia, sibuk dan sok sibuk tidak ada bedanya lagi.  Aku akan mulai melupakannya, tidak akan kumulai percakapan dengannya sekalipun aku sangat merindukannya. Tidak akan pernah…

***

Semua kegiatan dikampus berjalan lancar, aku tidak memikirkannya meskipun aku termenung. Aku perlahan menghapus memor tentang suaranya dibenakku. Aku berhasil menghilangkan sedikit hal tentangnya, termasuk jalan yang pernah menjadi tempat pertama kali kami berfoto dan tersimpan sebagai momentum bagiku. Aku segera pulang setelah rapat selesai, berjalan sendiri melewati gerbang depan kampus. Kemudian teringat untuk menarik uang di ATM dekat kampus. Dengan santai aku berjalan ke ATM, menyebrangi jalan dan mengantri didepan ATM itu.

Hal tidak terduga yang menghancurkan semuanya, aku bertemu dengannya. Bang Putra yang sudah jarang kulihat, tapi hari ini tepat berada dihadapanku.Aku langsung membuang wajah saat melihatnya, tidak ingin dia melihatku. Langsung ku kirim pesan pada Sofia.

[ Sofiii, aku ketemu sama dia mau nangis lohh]

Whatsappnya yang centang satu sore ini, sepertinya masih tidur. Kemudian kukirim pesan pada teman sekamarku.

[ Ziyaaa aku ketemu sama bang Putra]

[ Hah? Sumpah?]

[ Iya ini aku lagi di ATM dekat kampus, terus dia lagi beli makanan yang deket sama ATM]

[ Terus kamu sapa?]

[ Gak, langsung balik badan pas tahu ada dia. Baru juga tadi malam memantapkan diri buat lupain dia lagi, tapi malah ketemu langsung. Kayaknya aku gak di bolehin buat move on deh]

[ Udah anggap aja pertemua terakhir hahaha]

[ Parah banget, udah kayak mau mati aja]

[ Kan emang iya, mau mati rasa]

[ Udahlaaa mau ambil duit aja buat jajan]

[ Hahaha aku titip gorengan ya, ntar uangnya pas di kos]

[Ok]

Sembari menunggu dia pergi, aku masih tetap memalingkan wajah dari arah yang sama. Tidak ingin terlihat olehnya, dan tidak ingin melihatnya terlalu dekat karena akan menggagalkan proses melupakan. Beberapa menit kemudian dia pergi, dan antrian juga tinggal satu orang sebelumku. Setelah mengambil uang, tidak lupa membeli gorengan titipan temanku. Pulang ke kos dengan sedikit lesu melihat sosok yang diimpikan.

“ Parah banget aku ketemu dia, kemaren-kemaren gak pernah tuh” aku langsung antusias bercerita saat memasuki kamar.

“ Hahaha aku ketawa kenceng lihatmu, capek-capek mau move on tapi malah ketemu langsung. Cobaannya gede banget itu, sekalian aja ada part diajak jalannya lagi,” godanya.

“ Gak bisa, ini gak bisa dibiarin lagi aku harus selesaikan semua hal tentang dia. Hapus foto juga udah dicoba berkali-kali tapi balik lagi tuh foto. Chat sama dia juga bakalan kuhapus, tapi gak sekarang,” kesalku didepan mereka.

“ Kalau mau move on sekalian aja semua di hapus, gak usah nanggung gitu. Berarti belum sanggup, saranku sih kalau emang mau move on langsung hapus aja semua. Move on banget, padahal gak ada hubungan HAHAHA,” tawanya kencang.

“ Iya juga, tapi ini mau menghilangkan semua jejak. Cape aku gak ada kepastian, mash banyak cowo yang ganteng,” sambungku.

“ Cowo ganteng, tapu kamu mau Cuma sama si Putra itu kayak orang bodoh,” ucapnya.

“ Gak,” aku menyangkal.

“ Usaha sendirilah, gausah ajak-ajak aku soalnya dari awal juga gak restu kamu sama dia.” Lanjutnya.

Segera setelah itu aku teringat dengan buku yang pernah kupinjam, karena kuliah semester ini sudah selesai danbtinggal ujian akhir semester. Aku tidak butuh buku itu lagi, dan sepertinya sudah bisa aku kebalikan pada bang Putra. Langsung kukirim pesan dan dengan cepat dia membalas.

[ Bang, buku yang pernah kupinjam itu gimana balikinnya? Aku titip sama temen abang aja ya, soalnya aku sering ketem sama dia pas rapat.]

[ Yoaiii]

Balasan singkat itu semakin membuatku kesal dan ingin berhenti dan melupakannnya. Kuselesaikan satu persatu yang berhubungan dengannya. Perasaam yang di hilangin, bukan pertemanan. Tapi berteman dengan orang yang pernah ditaruh perasaan terasa canggung dan tidak meyenangkan.

Juni Banyak Nangisnya

1 0

- Sarapan Kata

- Kmo Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-29

- Jumlah kata 781

- Revisi


Setiap bait lirik lagu itu adalah kamu

Senja yang aku tunggu adalah kamu

Hujan yang kusukai adalah kamu

Gelombang pasang surut laut itu adalah kamu

Semua adalah tentangmu

Meski semua juga terhenti karenamu


Aku terlalu menaruh harapan pada langit

Yang tak tahu arahnya kemana

Tak pernah kutanya padamu itu sungguh atau singgah

Tapi masih saja kuberikan sarana ternyaman

Sampai aku menyadari bahwa aku sekedar persinggahan

Tak mampu aku menarik diri dari rasa aman

Bersamamu aku tenang

Denganmu aku senang

Namun, bukan aku yang kamu inginkan


Pasang surut kehidupan yang terus berlanjut, aku tak bis berpatok untuk terus menci taimu. Banyak yang buatku sadar bahwa aku tidak sepantas itu untuk mencintai bahkan memilikimu. Beruntuk sekali sosok yang akan kamu sukai, disukai oleh orang sebaik, semourna dirimu. Meskipun itu bukan aku, aku harap dia adalah orang terbaik juga yang kamu temui. Seikhlas itu aku pada takdir yang terus saj kupaksakan. Aku tak mau menyakiti diriku dengan harapan-harapan palsu yang ditimbulkan oleh pemikiranku sendiri.

Mungkin benar bahwa sejak awal kamu hanya menghargai setiap pesan dariku, berlanjut menjadi rasa segan tak membalas dan ujungnya adalah aku yang berharap. Aku yang salah, aku yang terlalu berlebihan padamu. Sejak awal sudah kamu teaskan bahwa bukan aku yang kamu sukai, tapi aku malah membantah hal itu dalam hati. Banyak pelajaran berharga yang kudapatkan darimu. Rumah ternyaman dan terbaik adalah keluarga, walaupun aku tak sanggup ,engeluh dan bercerita dengan orang-orang dirumah. Tetap saja ayah dan mama yang akan selalu menjadi tempatku pulang.

Malam sepi hanya diisi oleh tangis rindu, penyesalan dan rasa kehilangan yang dalam.’ Aku ikhlas’ terus saja kuyakinkan pada diri yang masih meniggalkan harapan padamu. Tuhan tidak akan mempertemukan tamnpa alasandan tujuan. Sepertinya kamu memang tempat belajar, tentang nyaman yang sebanrnya datang dari hati sendiri. Kamu adalah wadah yang terus menampung keluhku, namun aku lupa bahwa wadah ini hanya titipan padaku. Keluhku selanjutnya akan aku sampaikan saja pada tuhan agar aku tidak kecewa. Banyak terimakasih padamu yang menyembuhkan luka, walaupun kembali menjadi luka baru.

[ Aku udah mantap ini mau lupain dia]

Pesan yang kukirim pada Sofia, karena dia yang paling tahu tentangku. Meski tidak langsung dibalas, aku tahu persis kata-kata apa yang akan dia ketik dalam pesan itu. Memang bodoh aku terallu mencintai orang lain. Tapi lupa mencintai diriku yang lucu, menggemaskan, mandiri, jarang nangis, dan yang paling utama adalah kuat hati dan batin. Tak butuh sosok yang sekedar singgah dan bermain, hanya butuh diri sendiri.



***

[ Aku baru selesai ujian]

Baru saja Sofia membalas pesan yangkiriman pagi tadi.

[Oh]

[ Cukup Za, aku juga kasihan lihat kamu. Udah baper, berharap, sok setia tapi ujung-ujungnya harus move on padahal gak pernah jadian HAHAHA]

[ Setan, maksudnya biar di support malah makin di ledekin]

[ Iya ini namanya support, lagian dia juga gak ganteng. Apa coba yang buat kau kelepk-klepek, heran deh ni anak sampe bego]

[ Gitu deh, banayak hal yang tanpa dicari tapi udaha ada sama dia]

[ Halahhh itu karena kamu gak pernah kasih kesempatan buat orang yang suka kamu duluan. Malah lebih milih yang kamu sukain tapi gak ngasih kepastian itu]

[ Yaudah lah, aku juga capek kok. Makanya aku mau berhe ti suka sama dia, berhenti buat mantau sosmednya, semua foto udah dihapus, pesan juga udah. Apapun tentang dia udah kubersihkan, sisa kenangan aja dikepala]

[ Yaudah kalau gitu, mendingan pulang kampung aja biar kita pergi main]

[ Sabar dong mbak, belum ibur]

[ Kapan liburnya?]

[ Dua minggu kurang lah, lagian kalau dirumah duit jajan juga gak dikasih. Mendingan aku tabung duit bulanan dulu biar bisa healing kita]

[ Plis dehh, saldo rekening aja sisa empat ribu]

[ Terus bedanya apa samaku, saldo sisa enam ribu. Uang belum dikirin untuk bulan ini, nanggung juga. Minta pas seminggu mau pulakm aja biar sisanya banayk ahhaha]

[ Licik banget jadi orang]

[ Bukan licik, tapi pintar namanya]

[ Terserah deh, pokoknya buruan pulang biar healing]

[ Aman kalau kamu datang jemput aku kerumah]

[ Maksudku nyuru pulang itu, biar kamu yang jemput aku kerumah.]

[ Udahlah healing kita gak ada ujung, sok-sok an mau healing tapi akhirnya tetep keliling disitu terus.]

[ Semangatt move on nya]

Dia mengakhiri pesan seperti itu, membuatku kesal tapi ada benarnya juga.

***

Lelaki itu, sepertinya aku tidak takut kehilangannya

Hanya takut kehilangan sosok pendengar

Kehilangan tempat untuk bercerita keluh kesah

Tampaknya hanya takut kesepian saja.

Selah aku mengorbankan orang lain,

Menjadi sipaling tersakiti dalm situasi

Sejak awal sudah dia tegaskan

‘ Hanya Menghargai’

Bodohnya aku malah menjadi sangat menyedihkan dan takut kehilangan

Sudah, tolong lepaskan

Dia risih, mungkin dia juga benci

Hanya demi menghargai perasaanmu dia rela bertahn membalas pesanmu

Berhentilah, jangan sia-siakan waktumu untuknya

Fokus saja pada luka yang kamu buat sendiri

(17 Juni 2022)

Dandelions

1 0

- Sarapan Kata

- KMO Club Batch 47

- Kelompok 3

- Day-30

- Jumah kata 851

- Revisi



Dengan rintik hujan dibulan Juni

Tak sedikit air mata yang terus menetes

Aku bertahan, aku kuat

Rumah persinggahan, tempat pulang paling nyaman

Hanya omong kosong sigadis muda

Usia belasan yang mengharapkan kisah indah

Tapi malah dipukul kencang oleh terpaan badai kehidupan

Wahaii gadis yang kuat

Lepaskanlah hampa itu, isi saja dengan kicauan masalah yang tak kunjung henti

Itu lebih baik…

Kamu yerlalu berharga untuk menyakiti diri sendiri

Perjalananmu maih panjang dan melelajkan

Jangan relakan pada sosok yang tak mamou menghargainya

Jika kamu lelah, istiahatlah dan jangan menyerah

Masih banyak yang harus kamu perjuangkan

Momentum kehidupan yang kamu susuan perlahan akan pudar

Cukup ingat saja dirimu sendiri

Kuatlah hati, bertahanlah diri

***

18 Juni 2022, aku beruapa berhenti atas dirimu. Tak akan kupaksakan bahwa aku mencintaimu, biar saja takdir berkehendak atas jalan ini. Aku memilih menjalani hidupku dan lebih menghargainya. Aku tak akan sanggup mengulang masa belasan ini, maka kupilih untuk melepasmu saja. Mungkin aku masih harus bermain dan berlari kesana kemari untuk mengisi hatiku. Atau mulai menata kehidupan yang ingin kupilih kedepannya. Harapan-harapan yang sedang dititipkan dipundakku, tak akan bisa ku bawa jika aku tak bisa bertahan. Yang kubawa bukan mimiku seorang, banayk harapan dan cita-cita orang tua.

Umur belasanku adalah hal yang patut aku hargai dengan sosok yang juga menghargaiku. Pada ayah yang dengan dingin berbicara padamu, tapi tatap matanya menjelaskan semuanya. Untuk mama yang tersu emmaksakan inginnya padaku, tapi ucapnya sudah menjelaskan segala makna. Untuk kakak yang bahunya tegar namun tetap saja aku bantah karena aku tak mau kalah. Adik-adik yang menginginkan banyak hal, dan akan sellau aku utamakan. Bahu anak kedua ini tidak setegar itu, dia rapuh dan selalu ingin menyerah. Mungkin karena itu ia terus mencari jalan pulang yang tepat pada sosok-sosok orang hebat diluar. Mencari jati diri dan tempat aman, pulang dan selalu pulang yang menjadi tujuan.


Ayah…

Ayah aku mencintaimu, lebih dari apapun itu

Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuannya

Dan anak peremouanmu ini selalu menangis takut kehilangan

Ayahh… aku berulang kali mencari sosok yang lebih darimu

Aku butuh pendengar dengan hangat membuka telinga untukku

Bisakah kamu lebih membuka telinga untukku?

Diusiaku yang terus saja mencari masalah dengan mu

Aku ingin kamu terus menegur dan memperhatikan diriku

Bahuku selalu tegar karena belajar darimu

Terimakasih ayah….


Mama…

Apa kamu tahu bahwa keras kepalaku ini sangat mirip denganmu?

Bahkan sat aku berdebat denganmu, aku hanya berusaha menahan egoku

Aku tak bisa sehebat dirimu, meski berulang kali aku mencoba

Aku sering jatuh bangun dalam kehidupan ini

Tanpa bercerita padamu, aku menguatkan diri

Bisakah kamu menungguku?

Aku sungguh ingin menjadi sperti harapanmu

Hanya saja kaki ini belum cukup kuat mengejar jauh

Bukankah semua takdir manusia itu berbeda?

Aku selalu punya impian, tapi kamu tak mendengarkannya

Aku selalu paham itu, maaf…

Semua yang kulakukan untukmu

Kesanggupan yang aku pegang teguh demi dirimu

Mama… tolong tunggu aku sejenak

Berjalan saja aku masih dalam arahanmu

Jauh saja darimu aku belum sekuat itu

Aku mendewasakan diri,

Mecoba menapaki setiap jejak yang sudah kamu lalui

Kubawa mimpi itu, akan kuwujudkan untukmu


Terimakasih

Sosok yang selalu ada dalam proses jatuh bangunku

Aku hanya mengikuti lintasan takdir yang kupilih

Jika memilih kembali, aku akan tetap dilintasan ini

Tak ada penyesalan, aku selalu menikmatinya

Setiap proses dan kegagalan yang tak henti

Menampar, manghantam, dan terus mengubah pemikiran

Bimbing aku wahai semesta

Hati yang tak bertuan

Kaki yang tak tahu arah tujuan

Mata yang hanya tahu menangisi keadaan

Mulut yang tak henti berkeluh kesah

Semua ini adalah aku, sigadis dengan segala kurangnya

Bertahanlah aku, jalan kita masih panjang( Juni, 2022)


Bait puisi tak jelas yang kutulis dilembar terakhir buku yang ada diatas pangkuanku kini. Mendengar iringan musik yang dinyanyikan Nadin Amizah, beranjak dewasa. Meski kehilangan arah, berjalan jauh dan terjatuh itulah kehidupan. Kita hanya sanggup menerima takdir dan berjalan melewatinya. Memotivasi diri dan berusaha menikmatinya. Beranjak dewasa dan merindungan masa lalu si mungil yang menangis meminta permen bukan menangis karena patah hati, gagal atau kehilangan.

Akhirnya hanya mampu pasrah dengan kehidupan yang tak berujung, satu yang pasti bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil katanya. Tapi banyak benarya, sudah nikmati saja. Semua tidak akan terjadi dua kali jika kita menyanggupi dan bertahan menjadi lebih baik. Jadikan pelajaran dan biarkan luka yang menganga itu kering. Bertahanlah sedikit lagi.

Beri ruang pada dirimu untuk mencari jalan keluar, relakanlah yang telah berlalu, tatap kedepan dan jalani sebaik-baiknya. Setiap bait lagu yang kamu dengar adalah motivasi, setiap buku yang kamu baca adalah pelajaran, setiap keadaan yang sudah kamu lalui itu adalah proses perjalanan dengan hasil yang menyenangkan. Jika kamu kehilangan orang lain, kamu akan menangis dan merelakan. Tapi bisakah kamu rela jika yang hilang adalah diri sendiri?

***

Tepat hari ini, 20 Juni 2022 aku berhenti. Aku selesai dengan harapan tak berujung padamu. Selamat menjalani kehidupan tanpa diriku, tak akan sulit bagimu. Karena sejak awal memang kamu tak menginginkanku. Aku yang akan terhenti mengeluh padamu.


‘ Dandelions’ bunga itu terbang dan bertebaran, kemana dan dimana tidak tahu. Biarkan saja dia terbang dan tumbuh lebih indah. Melepaskan diri darisemuanya, memilih menikamati semua arah. Menangis, tertawa, kesepian, hampa, hilang arah, jatuh cinta, patah hati, dan banyak perasaan yang harus dinikmati saat ini.

Terimakasih

Mungkin saja kamu suka

Vega Galanteri
Sekolah Getah
Durotun Anisa S...
PRAHARA YANG BERUJUNG PENGADIL
dimdim
cat

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil