Loading
3

0

0

Genre : Romance
Penulis : Rian Kristina
Bab : 30
Pembaca : 2
Nama : Rian kristina
Buku : 1

You Are My Destiny

Sinopsis

You are my destiny Sebuah story yang berkisah tentang Dini, pelajar 18 tahun yang terpaksa menjalani pernikahan dini dengan pria yang baru dikenalnya lantaran pria yang semestinya bertanggung jawab meninggalkannya tanpa jejak. Sungguh kenyataan hidup yang diluar rencananya. Hamil. Nikah muda. Tanpa cinta. Apakah Dini bisa bertahan dengan pernikahan tanpa cinta yang dijalaninya? Atau rasa cinta mulai tumbuh seiring berjalannya waktu? "Aku pernah marah pada Tuhan atas takdir darinya yang telah mempertemukan kita. Namun, waktu menyadarkanku hingga aku sangat menyesali hal itu. Terima kasih, karena sudah bersedia diutus Tuhan untuk menjadi bagian dari cerita hidupku. Kini aku mencintai takdirku, cause you are my destiny."
Tags :
#cintamanis #perjodohan #sarkatkmobatch37 #kelompok20daffodil

Bab 1

0 0

 

#sarkatkmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#day1

#jumlahkata328kata

 

 

 

 

 

 

"Uweekkk ... uweekkk ...."

Seorang gadis berseragam Sekolah Menengah Atas tengah terlihat muntah-muntah di wastafel yang ada di kamar mandi dalam kamarnya.

 

Tokk!Tokk!Tokk!

 

"Dini? Andini? Apa kamu sudah siap? Ayo sarapan, Sayang! Sebentar lagi waktunya berangkat sekolah!" Mamanya mengetuk pintu kamarnya sembari memanggil gadis yang muntah-muntah tadi, yang ternyata bernama Andini.

 

"Uuweekkkk ... uuweekkk ...."

Gadis yang dipanggil Andini itu masih terdengar muntah-muntah, sehingga tidak bisa menjawab panggilan mamanya yang berada di luar kamarnya.

 

"Kamu kenapa, Din? Sakit?" Mamanya sudah berdiri di sebelahnya dan mengurut tengkuk anak gadisnya itu.

 

Andini menghidupkan keran air lalu membasuh mulut dan wajahnya, "Gak tau Ma, dari kemarin aku mual terus tiap pagi." Dini berjalan menuju tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya di sana.

 

"Maag kamu kumat kayaknya. Kamu sih telat makan mulu." Mamanya menyusul Dini, dan duduk di sebelahnya, "ya udah, entar mama antar periksa ke dokter. Kamu gak usah sekolah dulu!" Mamanya membaluri leher Dini dengan minyak kayu putih.

 

"Eh enggak bisa Ma, entar aku ada bimbingan lagi sama guru fisika. Olimpiade 'kan tinggal seminggu lagi."

 

"Ih, kamu itu lagi sakit masih mikirin olimpiade. Ini kayaknya kamu kecapean, belajar terus sampai lupa makan, lupa tidur. Udah ah, kamu batalin aja. Biar yang lain ngewakilin sekolah," gerutu Mamanya.

 

"Mana bisa begitu Ma, olimpiade tinggal seminggu lagi. Mana bisa dapat pengganti mendadak begitu,” protes Dini, "lagipula ini ‘kan impian aku, bisa mewakili sekolah untuk olimpiade fisika."

 

"Tapi kalo kamunya jadi sakit begini, mama yang gak rela, Sayang."

 

"Ini palingan cuma masuk angin aja Ma, entar siangan juga baikan kayak kemarin."

 

"Ya sudah terserah kamu aja, mama bikinin air jahe ya buat ngangetin badan biar masuk anginnya hilang." Dini hanya mengangguk.

 

Setelah mamanya keluar, Dini meraih tas sekolahnya lalu mengambil kantong kresek berisi bungkusan kecil yang sempat dia beli di apotik kemarin. Dengan langkah gontai dia melangkah menuju kamar mandinya. Dia duduk di atas kloset. Dentuman jantungnya mulai terdengar tidak beraturan. Dengan tangan gemetar, perlahan dia membuka bungkusan tadi lalu membaca petunjuk pemakaiannya terlebih dahulu.

Bab 2

0 0

#sarkatkmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#Day02

#317kata

 

 

 

 

Kini tangan kanan Dini memegang benda kecil berwarna putih yang berisi strip warna biru dari bungkusan tadi. Sementara tangan kirinya memegang gelas ukur lab yang juga dibelinya di apotik. Gelas ukur itu sudah berisi urine miliknya. Beberapa kali Dini terlihat menelan ludahnya getir. Pelan dia mencelupkan alat tes itu ke dalam gelas urine, sambil memicingkan mata. Dengan harap-harap cemas dia menunggu hasilnya. Dentuman jantungnya menjadi bekerja dua kali lipat lebih cepat. Seakan sedang berpacu dengan waktu. Matanya membelalak begitu muncul dua garis biru pada alat tes itu. Detik itu juga jantungnya seakan berhenti berdetak. Pikirannya sudah berkecamuk tetapi, dia mencoba untuk tetap tenang.

 

Gak Din, loe harus rileks. Inheal ... exheal ... inheal ... exheal. Kita coba lagi, ini pasti ada kesalahan pada alatnya tadi. Ya, alatnya pasti salah tadi! Batin Dini.

 

Dini mengambil bungkusan merek lainnya dari kantong kresek yang sama, lalu melakukan hal yang sama. Dia berdecak begitu melihat hasilnya. Kemudian mencoba lagi dengan merek lainnya lagi. Begitu berulang sampai tujuh kali dengan alat tes dari merek yang berbeda tetapi, hasilnya tetap sama. Dua garis biru, tanda + , dan tulisan yes. Dia sangat mengerti itu artinya apa. Ingin rasanya sekarang dia menjerit, menangis dan marah tetapi, marah pada siapa? Bukankah ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri?

 

Dini hanya bisa terduduk lemas di kloset, pikirannya menjadi campur aduk. Selang beberapa lama butiran bening pun mulai menetes di pipinya.

 

 What should i do now?

 

 

****************

 

"Apa?!" pekik seorang pemuda yang berseragam SMA, "kok bisa sih, Din?" Pemuda itu mencengkram kedua lengan Dini yang sedang duduk di kursi taman sekolah mereka.

 

Dini memutuskan untuk memberitahu pemuda yang menyebabkan hal ini terjadi padanya. Mereka memilih berbicara di taman sekolah setelah jam pulang sekolah. Menunggu setelah semua siswa dan siswi keluar area sekolah, agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

 

"Aku juga gak tau, aku gak mikir kalau bakalan begini jadinya." Dini meremas jemarinya sembari terus meneteskan air mata.

 

Bab 03

0 0

 

#sarkatkmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata309kata

 

 

 

Pemuda itu melepaskan cengkraman tangannya, lalu berdiri memunggungi Dini sambil menjambak rambutnya sendiri, "Aarrggghh, si*al!" umpatnya, "kenapa bisa begini sih? Padahal aku sudah mengikuti metodenya." Dia mendekati Dini kembali dan bersimpuh di depan Dini.

 

"Terus mau kamu gimana sekarang?" tanyanya pada Dini sembari menggenggam tangan Dini.

 

Dini menatap pemuda itu dengan berurai air mata, "Aku cuma pingin kamu tanggung jawab,” jawabnya sambil sesegukan.

 

"Tentu aku akan tanggung jawab. Kamu mau aku tanggung jawab seperti apa?" tanya pemuda itu lembut sembari mengecup tangan Dini yang dalam genggamannya.

 

Dini mengernyitkan dahinya, "Menikahiku! Aku mau kita menikah secepatnya. Sebelum ....”

 

"Menikah?!" pekiknya menyela ucapan Dini. Pemuda itu langsung melepaskan tangan Dini dan berdiri kembali. "Kita pasti menikah Din, aku pasti akan menikahimu tapi, tidak sekarang."

 

"Terus, kapan?" Dini mulai tidak sabar.

 

"Kita masih muda Din, belum dewasa. Belum saatnya memikirkan anak. Masih banyak hal yang ingin aku lakuin. Aku masih ingin lulus SMA dulu, lalu kuliah dan bekerja."

 

"Terus kamu pikir aku juga tidak menginginkan semua itu!" salaknya pada pemuda di depannya. "Apalagi aku, sebentar lagi harus ikut olimpiade mewakili sekolah."

 

"Maka dari itu kita jangan mikirin pernikahan dulu.” Pemuda itu kembali bersimpuh di hadapan Dini. Memandangnya dengan wajah memelas.

 

"Trus gimana? Kamu enak gak ada bekasnya sedangkan aku, perutku semakin lama semakin membesar, mana bisa disembunyikan lagi." Dini menangis lagi. Dia menyesal. Dia mengutuki kebodohannya karena sudah termakan rayuan pemuda yang di depannya ini dulu. Sekarang dia hamil tetapi, pria yang telah menghamilinya malah tidak bersedia menikahinya.

 

"Kita bisa cari cara lain.” Pemuda itu kembali menatap mata Dini sambil mengenggam erat tangannya.

 

"Cara apa?" Dini menatapnya semakin tidak mengerti. Pemuda itu lalu berbisik di telinganya.

 

"Arka!" bentak Dini. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dibisikkan pemuda yang ternyata bernama Arka itu. "Kamu sudah gila!" Dini menatapnya geram. Dia menautkan kedua alisnya. Dadanya bergemuruh hebat, mendengar apa yang barusan diucapkan Arka.

 

Bab 04

1 0

#sarkatkmoindonesia

#kmoclubindonesia

#kelompok20daffodil

#jumlahkata421kata

 

 

"Cuma itu jalan satu-satunya Din, biar kita tetap sama-sama bisa melanjutkan mimpi kita." Arka menatap Dini penuh harap. Dia berharap Dini menyetujui ide gilanya. 

 

"Enggak Arka! Itu sama saja kita menjadi pembu*nuh!" Dini benar-benar tidak habis pikir jika Arka akan mengajaknya mengambil solusi seperti itu. Itu jelas salah. Mereka melakukan itu sebelum menikah sudah salah ditambah sekarang dengan ide gila untuk menghilangkan nyawa yang tidak berdosa. Tentu itu akan menambah daftar dosa mereka di masa depan.

 

"Lalu dengan cara apa lagi?” katanya putus asa.

 

Dini hanya bisa diam, dia juga tidak tau harus menjawab apa. Dia sendiri juga belum siap menikah dan punya anak. Dia masih ingin meraih mimpi-mimpinya. Akan tetapi, kalau harus abor*si ....

 

"Nah bingung, 'kan?" Arka membuyarkan lamunannya. "Maka dari itu, kamu ikutin cara aku, ya?" Menatap Dini penuh harap. Arka menyelipkan anak rambut Dini ke belakang telinga Dini. "Aku akan cari info dulu di mana tempat yang aman, karena aku juga tidak mau terjadi apa-apa sama kamu nantinya." Arka mengecup kening Dini lembut.

 

Dini hanya diam, pikirannya masih gelap. Dia tidak tau harus gimana dan bagaimana.

 

"Sekarang kita pulang ya, secepatnya aku kabarin kamu kalau sudah dapat infonya." Arka tersenyum tipis lalu mengusap sisa air mata di pipi Dini.

 

Dini hanya mengikuti ketika Arka menarik tangannya dan mengajaknya menuju tempat parkir.

 

"Non Dini ya?" sapa seorang pemuda saat melihat Dini lewat di hadapannya.

 

Detik itu juga Arka dan Dini menghentikan langkah mereka. Dini menautkan kedua alisnya. Dipandangnya pemuda yang kini berdiri di hadapannya yang telah memanggil namanya tadi. Pria tinggi atletis yang memakai sepatu sport warna putih dan celana jins panjang dipadu kemeja navi warna biru dengan lengan yang dilipat sesiku. Tampan. Itu yang langsung terlintas di pikiran Dini.

 

"Siapa?" tanya Dini.

 

"Maaf Non, saya Bagus anaknya Pak Wahyu, sopir keluarga, Non Dini." Pemuda yang bernama Bagus itu menjelaskan pada Dini.

 

"Owh, Pak Wahyu ke mana, kok kamu yang jemput?"

 

"Bapak mendadak demam. Jadi, saya yang gantiin dulu." Bagus mengangguk sopan.

 

"Owh," Dini hanya membulatkan bibirnya.

 

"Kita pulang sekarang, Non?"

 

Dini mengangguk lalu menatap Arka. "Aku pulang duluan ya," pamitnya pada Arka yang dijawab anggukan oleh pemuda itu.

 

"Hati-hati ya, Sayang." Arka tersenyum lebar sembari mengacak-ngacak rambut indah Dini yang terurai panjang.

 

"Kamu juga, jangan ngebut naik motornya!"

 

“Siap Bu Dini,” seloroh Arka.

 

Bagus membukakan pintu untuk Dini lalu menutupnya kembali setelah Dini masuk. "Mari Mas," pamitnya pada Arka. Arka hanya menggangguk lalu berjalan menuju motornya.

 

Sementara Bagus masuk dan duduk di kursi kemudi. Kemudian dia menyalakan mesin dan perlahan mulai melajukan mobil itu meninggalkan lingkungan sekolah.

 

 

 

Bab 05

1 0

#sarkatkmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata350kata

 

Terjadi keheningan di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang. Dini tampak mengurut pelipisnya, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil. Kepalanya tiba-tiba terasa pening. Dia duduk dengan gelisah karena menahan rasa mual dari tadi.

 

Sementara, Bagus masih fokus mengemudi tetapi, sesekali dia melirik Dini melalui spion mobil, walaupun dia merasa ada yang aneh dengan anak majikannya itu tetapi, dia tidak berani menegur atau memulai obrolan dengannya, terlebih ini adalah pertemuan pertama mereka.

 

"Uuwekkk!" Dini refleks menutup mulutnya. "Stop! Stop!" teriaknya tiba-tiba.

 

Bagus terkejut. Namun, dengan sigap dia menyalakan lampu sein dan membanting stir ke kiri lalu mengerem mendadak. Untung mereka tidak sedang di jalanan bypass yang ramai kalau tidak, tindakan mendadak Bagus tadi, pasti sudah menuai umpatan dari pengemudi lain.

 

Begitu mobil berhenti, Dini langsung membuka pintu mobil dan melompat keluar.

 

"Uweekkk ... Uweekkkk ...." Dini berjongkok di pinggir jalan. Tidak peduli kalau beberapa penghuni dari mobil yang lewat, memperhatikannya.

 

"Uwweekkk ... Uweekkkkk ...." Dini terus muntah walaupun yang keluar hanya cairan kekuningan. Dia kembali merasakan pahit pada mulut hingga tenggorokannya. Kini dia merasa lemas karena dari tadi belum ada asupan apa pun yang bisa masuk ke dalan perutnya. Dia selalu mual dan ingin muntah setiap mencium bau makanan yang ingin dimakannya.

 

Bagus bergegas keluar dari kursi kemudi menyusulnya. Dia mendapati Dini sedang berjongkok di dekat pintu mobil sambil muntah-muntah. Bagus lalu melangkah untuk mendekatinya.

 

"Jangan mendekat!" perintah Dini. Bagus langsung menghentikan langkahnya. "Aku sedang muntah, nanti kamu jijik melihatnya."

 

"Tidak apa-apa, Non." Bagus kembali melangkah mendekati Dini. Awalnya dia merasa ragu tetapi, akhirnya memberanikan diri menyentuh leher Dini dan mengurut tengkuknya. "Ada apa, Non? Apa Non sedang sakit?" tanyanya khawatir.

 

Dini menggendikkan bahunya, memberi kode Bagus agar berhenti menyentuhnya. Bagus lalu menarik kembali tangannya. "Aku tidak apa-apa," jawab Dini sembari mencoba berdiri.

 

Bagus lalu mengambilkan tissu yang terletak di dashboard mobil dan memberikannya pada Dini. Dini menerimanya lalu mengelap bibirnya.

 

"Saya belikan air minum dulu ya, Non?" tawarnya. Dini hanya mengangguk lalu melangkah memasuki mobil. Sementara Bagus bergegas ke seberang jalan menuju warung kelontong yang ada di pinggir jalan sana. Dia membeli dua botol air mineral dan dua bungkus roti.

 

 

Bab 06

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 340 kata

#Day 06

 

 

"Ini Non diminum dulu." Bagus berdiri di depan Dini yang duduk di dekat pintu mobil. Dia menyodorkan sebotol air mineral pada Dini setelah membukakan seal-nya terlebih dahulu. 

 

Dini menatap Bagus dan menerimanya. "Berapa?" 

 

"Apanya, Non?" Bagus belum mengerti maksud Dini.

 

"Ini harganya berapa? Biar aku ganti." Dini menunjuk botol air minum di tangannya.

 

Bagus tersenyum. Senyum yang bagai mengantar aliran listrik ke tubuh Dini, hingga dalam hitungan detik mampu membuatnya terpaku. 

 

"Tidak usah Non, saya sengaja membelikannya untuk Non Dini."

 

"Owh makasih," memutar tutupnya lalu meneguknya.

 

"Ini Non sekalian dimakan dulu." Bagus memberikan bungkusan roti yang tadi dia beli juga. "Tadi Non habis muntah, pasti perut Non lagi kosong sekarang. Sebaiknya makan ini dulu Non, lumayan untuk ganjal perut sebentar."

 

Dini mengerutkan dahi, "Gak usah, aku lagi gak kepingin makan," tolak Dini halus.

 

Bagus terlihat kecewa, "Maaf Non, tadi di warung itu cuma ada roti beginian, pasti Non tidak biasa ya makan roti begini. "

 

"Eh, bukan begitu maksudku. Jangan tersinggung," jawab Dini tidak enak hati melihat raut wajah Bagus. "Aku beneran emang lagi gak kepingin makan," jelasnya, "perutku bawaannya enek kalau diisi makanan."

 

"Non Dini lagi sakit ya? " tanya Bagus khawatir. "Wajah Non Dini agak pucat." Bagus baru menyadarinya karena baru sempat menatap wajah Dini.

 

"Ah enggak kok, aku lagi gak sakit." Dini mulai panik.

 

"Tapi wajah Non Dini beneran pucat." Bagus meyakinkan Dini dengan apa yang dilihatnya sekarang.

 

"Owh, mungkin karena aku habis muntah, trus belum sempat makan apa-apa juga dari tadi." Dini mencoba berkilah. Tidak mungkin, bukan? Dia bilang yang sebenarnya pada Bagus.

 

"Mungkin juga, Non." Bagus tersenyum kembali.

 

Lagi-lagi Dini harus terpana melihat senyuman itu. Buru-buru dia memalingkan wajahnya. Bukan hanya senyumnya tapi, juga perawakannya yang tinggi atletis, serta kulitnya yang bersih. Sama sekali tidak terlihat dia anak dari kalangan menengah apalagi anak dari seorang sopir.

 

"Dicoba aja roti ini Non, enak kok. Paksa, daripada entar malah sakit beneran gara-gara gak makan seharian ditambah muntah-muntah terus. Lama-lama, ‘kan bisa dehidrasi," bujuk Bagus.

 

Dini nampak berpikir sebentar, lalu menerima roti itu. Lagipula perutnya memang sudah sangat lapar.

Bab 07

0 0

#sarkatkmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#Jumlahkata330kata

 

"Ow, kamu kuliah di Universitas Bunga Bangsa, tempat papaku?" Dini memulai obrolan mereka saat mobil sudah melaju kembali.

 

"Iya benar Non," jawab Bagus melirik Dini dari spion mobil sembari tersenyum. Diam-diam dia memperhatikan anak majikannya yang sedang mengunyah roti yang dia belikan tadi. Dini mengunyah rotinya sembari terus memandang ke arah luar jendela. "Tuan yang mengurus semuanya untuk saya, " jelasnya.

 

"Hhmm, Papa emang gitu orangnya." Ada nada bangga dalam suaranya. Dini menggigit rotinya kembali. "Berarti kamu lebih tua dariku ya?" tanyanya tanpa melihat ke arah Bagus. "Udah semester berapa, Kak?" Mengubah panggilan kamu menjadi kakak.

 

"Semester delapan, Non." Melirik Dini dari spion tapi, yang dilirik masih sibuk memandang ke luar jendela.

 

"Wahhh, berarti bentar lagi wisuda dong." Dini tersenyum ke arah spion, bertepatan saat Bagus juga tersenyum menatapnya dari spion. Sesaat membuat mata mereka saling bertemu pandang. Secepatnya Dini memalingkan wajahnya begitu juga Bagus yang kembali fokus mengemudi. Untuk sesaat suasana pun menjadi hening kembali.

 

"Non Dini bentar lagi, ‘kan juga wisuda," celoteh Bagus, memecah kesunyian di antara mereka. "Rencana akan ngambil fakultas apa, Non?"

 

Mendengar kata wisuda, Dini merasa bola matanya menjadi memanas. Entah sejak kapan butiran bening itu sudah berkumpul di kelopak matanya, membentuk satu kesatuan yang tanpa dia sadari sudah memberontak, memaksa, dan mendobrak secara perlahan kubangan yang membelenggunya sedari tadi. Segera Dini memalingkan wajahnya ke luar jendela lagi, dia tidak ingin Bagus melihat lelehan butiran itu di pipinya.

 

"Entahlah Kak," jawabnya pasrah, "aku belum sempat memikirnya." Wajahnya seketika berubah muram.

 

"Lho kenapa, Non?" tanya Bagus heran.

 

Dini membuang napas berat, "Entahlah, aku bisa lulus SMA apa enggak, " lirihnya.

 

Bagus meliriknya dari kaca spion. "Pasti lulus dong, Non. Non Dini, ‘kan pintar," hibur Bagus, "saya sering dengar cerita dari bapak dan tuan, katanya Non sering ngewakilin sekolah buat olimpiade," puji Bagus sembari tersenyum tulus.

 

Dini hanya tersenyum tipis mendengar pujian Bagus, seandainya dia bisa bilang kalau bukan itu yang membuatnya khawatir tapi, anak dalam perutnya sekarang.

 

Hmmm, it's okay everything will be fine, Din. Setelah Arka mendapat info, semuanya akan benar baik-baik saja dan kembali seperti semula. Pasti! Batin Dini.

 

 

 

Bab 08

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata330mata

 

“Non Dini harus percaya diri, pasti lulus!” Suara Bagus menyadarkan Dini dari lamunannya.

 

“Makasi Kak,” balas Dini sembari tersenyum tipis.

 

Tanpa terasa mereka sudah sampai di kediaman keluarga Dini. Setelah selesai memarkir mobil di garasi, Bagus dan Dini menghampiri ibu Dini yang sedang duduk di teras rumahnya.

 

“Mama,” panggil Dini yang menghampiri mamanya lalu mencium punggung tangannya.

 

“Sudah pulang, gimana sekolahnya?”

 

“Baik Ma,”

 

“Hmm Nyonya maaf, ini kuncinya.” Bagus membungkuk menyerahkan kunci mobil ke arah mama Dini.

 

“Oh iya Gus, makasi ya udah jemput Dini. Bapak kamu gimana, sakit apa?” tanya mama Dini sembari menerima kunci mobil dari tangan Bagus.

 

“Tadi tiba-tiba badannya panas tinggi Nyonya,” jawab Bagus sopan.

 

“Udah dibawa ke dokter? Takutnya demam berdarah, lagi musim soalnya.”

 

“Sudah Nyonya, tadi langsung ke dokter. Kata dokter nunggu tiga hari, kalau panasnya tidak turun baru dilakukan cek darah untuk tau DB atau tipes.”

 

Mama Dini mengangguk, “Kalau begitu kamu makan du ....”

 

“Uwweeeekkkkk!” Suara Dini yang ingin muntah memotong ucapan mamanya. “Eh maaf,” ucap Dini sebelum berlari masuk ke dalam rumah. Kemudian disusul mamanya yang mengkhawatirkannya, sedangkan Bagus masih menunggu di teras rumah.

 

Dini terus berlari menuju kamarnya sembari menutup mulutnya, diikuti nyonya Wiguna yang menyusulnya dengan setengah berlari. 

 

“Uuwweeekkk ... uuwweeekkk!” Dini memuntahkan roti yang barusan sempat masuk ke perutnya di wastafel kamar mandinya.

 

“Aduh Din, kamu sebenarnya kenapa sih, Sayang?” Mamanya ikut masuk ke kamar mandi untuk mengurut tengkuk Dini.

 

Dini menggeleng sembari terus memuntahkan isi perutnya. “Periksa ke dokter sekarang ya, mama antar, mumpung Bagus masih di sini.”

 

Dini menghidupkan keran air lalu membasuh mulut dan wajahnya. Kemudian mengambil tissu untuk mengelap wajahnya. 

 

“Gak usah Ma, aku baik-baik aja. Paling Cuma masuk angin.” Berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri di sana.

 

“Masuk angin gimana? Kamu muntah-muntah terus gak mau makan juga.” Menyusul Dini, lalu duduk di pinggir ranjang dan mengusap rambut Dini. “Mama khawatir, Sayang. Udah, kita berangkat ke dokter aja sekarang. Mama kasih tau Bagus dulu.” Nyonya Wiguna sudah bangkit dari duduknya hendak keluar tetapi, tangan Dini menghentikannya.

Bab 09

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata315kata

 

 

“Jangan Ma,” teriak Dini panik.

 

Nyonya Wiguna menatapnya, “Kenapa jangan?”

 

“Mama coba beliin aku obat aja dulu, nanti kalau masih muntah baru antar aku ke dokter.”

 

Nyonya Wiguna tampak berpikir sebentar, lalu menghembuskan napas kasar. “Baiklah, mama ke depan dulu biar Bagus yang belikan sebentar.”

 

“Makasi Ma,” jawabnya lemah.

 

“Hhmm,”

 

Dini memandang kepergian Mamanya dengan perasaan waswas. Dia tidak tau apa yang akan terjadi kalau mamanya benar-benar membawanya ke dokter. 

 

Dengan cepat Dini meraih ponselnya lalu mendial nomor Arka. Namun, panggilannya tidak diangkat. Dia mencoba lagi sampai berulang tiga kali tetapi, tetap tidak diangkat. Dengan kesal Dini melempar ponselnya sembarangan di atas kasur.

 

“Haiish, Arka ke mana sih? sungutnya. 

Karena merasa gerah, Dini memutuskan untuk mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.

 

Sementara nyonya Wiguna sudah berada di teras rumahnya. “Bagus, kamu tolong ke apotik belikan Dini obat untuk masuk angin, ya! ”

 

“Baik Nyonya,” jawab Bagus sopan. 

 

“Ini uang sama kunci motor.” Menyerahkan beberapa lembar uang dan kunci motor. “Kamu pakai motor kakaknya Dini aja ya, ‘kan apotiknya dekat.”

 

Bagus membungkuk menerima uang sama kunci motor dari tangan nyonya Wiguna. “Baik Nyonya, saya berangkat sekarang.”

 

Nyonya Wiguna mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam rumah bermaksud menemui Dini. 

“Din, jangan lama-lama mandinya, nanti tambah masuk angin,” teriak nyonya Wiguna di depan pintu kamar mandi saat mendengar suara gemericik air dari dalam sana. Dia lalu memutuskan keluar kamar Dini dan kembali menuju taman rumahnya.

 

Sementara tak berapa lama, Bagus sudah kembali dari apotik, setelah memarkir motor di garasi, dia menghampiri nyonya Wiguna yang sedang menyiram tanaman bunga.

 

“Ini Nyonya obatnya.” Bagus membungkuk menyerahkan obat yang di belinya.

 

“Aduh Gus, bisa minta tolong lagi gak? Kamu yang antar langsung ke kamar Dini ya, tangan saya kotor.” Menunjukkan tangannya yang sedikit kotor karena habis menggunting ranting-ranting tanaman bunganya. “Tanggung juga ini,” imbuh nyonya Wiguna. 

 

Hah? Ke kamar non Dini? Batin Bagus. 

 

Bagus merasa ragu tetapi, juga tidak enak kalau harus menolak perintah nyonya Wiguna.

Bab 10

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata310

#day10

 

“Kamu langsung aja masuk, kamarnya ada di paling ujung dari ruang tamu.” Nyonya Wiguna memberinya petunjuk pada Bagus.

 

“Baik Nyonya,” Bagus mengangguk. Kemudian, dia berjalan mengikuti arahan dari nyonya Wiguna tadi. Setelah dirasa benar itu kamar Dini, dia langsung mengetuk pintunya.

 

Tokkk! Tokkk!!Tokk!!

 

“Non Dini, saya Bagus, Non. Saya disuruh nyonya bawain obatnya.” Bagus diam beberapa saat. Namun, hening, tidak ada sahutan dari dalam.

 

“Non, Non Dini!” panggil Bagus lagi tetapi, tetap tidak ada jawaban. Dia mulai khawatir dan panik, takut terjadi sesuatu pada Dini. Oh no! Dalam bayangannya Dini pingsan akibat dehidrasi.

Tanpa banyak pikir lagi, Bagus langsung memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.

 

Dengan cepat dia mendorong pintu. “Non Dini?” panggilnya lagi. Namun, masih tidak ada jawaban. Tidak ada Dini di dalam kamar itu. Hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Bagus mengelus dadanya, dia merasa lega karena dugaannya tadi salah. Menyadari kalau itu pasti Dini yang sedang mandi, Bagus meletakkan obat itu di atas nakas yang terletak di sebelah ranjang.

 

“Kakak sedang apa di sini?” Tiba-tiba suara Dini muncul dari balik punggung Bagus.

 

Bagus memutar tubuhnya dan mendapati Dini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Damn! Dini saat ini hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuh mungilnya yang putih mulus dan handuk kecil yang menggulung rambut panjangnya.

 

Demi apa? Detik itu juga Bagus merasa jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ada getaran aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam lubuk hatinya saat mendapati pemandangan yang tak biasa dilihatnya itu. Really, it's the first time untuknya. Secepat kilat Bagus memalingkan wajahnya begitu kembali pada kesadarannya.

 

“Maaf Non kalau saya lancang memasuki kamar Non Dini,” jawab Bagus gugup. “Tadi nyonya yang menyuruh saya mengantar obat itu untuk Non Dini.” Menunjuk obat yang dia taruh di atas nakas.

 

“Baik nanti aku akan meminumnya. Makasih Kak,” ucap Dini yang tersenyum tanpa canggung sedikit pun karena berpenampilan seperti itu di depan pria yang baru dikenalnya.

 

“Sama-sama Non,” balas Bagus tanpa menoleh ke arah Dini. “Kalau begitu saya permisi dulu ya, Non.”

 

“Iya, Kak.” Dini menggeser tubuhnya, agar bisa memberi akses jalan untuk Bagus.

 

Bab 11

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata330

#day11

Happy reading,

 

Bagus melewati Dini dengan menunduk dan memalingkan wajahnya. Dia bisa mencium aroma sabun dari tubuh Dini yang detik itu juga mampu menggugah jiwa kelelakiannya. Dengan terburu-buru dia keluar dan menutup pintu.

 

Kemudian, Bagus menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Dini. Dia membuang napas berkali-kali, berusaha menetralisir rasa gugup dan debaran jantungnya saat bayangan tubuh mungil Dini dengan bahu seputih susu yang mulus terlintas kembali di matanya.

 

“Cckk!” Bagus berdecak kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.

 

 

Sementara Dini yang sudah berganti baju membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengusap layar ponselnya mencoba mengecek riwayat panggilan di ponselnya tetapi, belum ada balasan panggilan dari Arka.

 

“Arkanaaa, kamu ke mana sih?” Dengan kesal Dini membuka akun sosmednya untuk mencari jejak akun sosmed Arka. Tidak ada postingan terbaru di akun sosmed Arka. Terakhir masih postingan foto mereka berdua saat menonton di bioskop tiga hari lalu.

Banyak yang meninggalkan komentar di sana, terutama teman-teman sekelas mereka. Dini mengklik kolom komentar.

 

“Ih kalian cocok banget sih,” tulis akun Dika.

 

“Mau dong ikut nonton,” tulis akun Rara.

 

“Kalian nonton gak ngajak-ngajak, curang ih!” tulis akun Dila.

 

“Arka, kamu ganteng banget sih. Sama aku aja, yuk?” tulis akun Risma. Dini langsung mencebikkan bibir setelah membaca komen Risma.

 

“Apaan sih maksudnya si Risma itu!” gumamnya kesal. Dia lalu menscroll beranda akunnya sendiri. Banyak postingan terbaru teman-teman sekelasnya. Risma yang seorang selegram baru saja memposting tas branded terbarunya.

 

“Gila, nih anak dapat duit dari mana sih, tiap hari bisa beli barang-barang branded,” sungutnya, “memang dia dikasih uang jajan berapa sih sama bokapnya yang guru SD itu? Terus berapa juga penghasilan seorang selegram sampai bisa beli barang-barang branded gitu tiap hari?” Dini terus mengomel sendiri sembari tetap menscroll berandanya. Kali ini postingan akun Dila yang memposting beberapa foto bersama teman-teman sekelas mereka.

 

“Ih, mereka ke mall kok ngajak-ngajak sih.”

Dini mengklik foto-foto mereka. Ada bayangan seseorang yang menyita perhatiannya, lalu dia memutuskan menzoom foto itu. Wajahnya langsung merengut kesal setelah dugaannya benar tentang sosok pria yang di foto itu.

 

 

Bab 12

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 310

#Day12

 

Happy reading,

 

“Sial! Jadi, Arka jalan-jalan ke mall bareng mereka!” Dini meremas ponselnya. “Pantesan telponku gak diangkat-angkat. Ish, enak banget sih dia jalan-jalan. Sementara aku harus diam di sini menahan sakit sama takut ketahuan.” Dini terus mengomel.

 

Dini kecewa, dia merasa Arka mengabaikannya setelah tahu dirinya hamil.

 

Apa mungkin Arka menghindar dan ingin lari dari tanggung jawab? Dini mulai ragu. 

 

No Din, kamu harus yakin Arka pasti akan melakukan yang terbaik untuk kalian. It’s okay, everything will be fine! Hibur batinnya.

 

*********

 

Bagus menghentikan mobil tepat di depan gerbang sekolah Dini.

 

“Gak usah turun Kak, aku bisa sendiri.” Dini mencegah Bagus yang hendak turun dari mobil untuk membukakannya pintu.

 

“Tapi, Non.” Memutar tubuhnya ke arah Dini yang duduk di kursi penumpang.

 

“Udah, gak apa-apa Kak,” balas Dini tersenyum.

 

Bagus balas tersenyum ke arah Dini hingga, untuk sesaat mereka saling pandang. 

 

“Aku tinggal masuk ya, Kak.” Dini mengakhiri acara saling pandang di antara mereka.

 

“Owh iya Non, saya juga mau langsung ke kampus.”

 

“Kakak ada kuliah pagi sekarang?”

 

“Enggak Non, cuma dosennya berhalangan hadir jadi saya diminta jadi asdos sebentar. Non nanti pulang seperti biasa, 'kan?”

 

“Kakak jadi asdos juga?” Menatap Bagus dengan mata berbinar.

 

“Hehehee iya, Non.” Bagus tersipu. Dia mengusap tengkuknya sendiri.

 

“Wahh, Kakak hebat,” puji Dini.

 

“Makasih Non, nanti saya jemput seperti jam kemarin ya?”

 

“Iya. Sampai jumpa nanti ya, Kak.” Meraih knop lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.

 

Bagus memperhatikan Dini sampai melewati gerbang sekolah. Kemudian, dia mulai melajukan mobil untuk meninggalkan sekolah Dini.

 

Sementara Dini yang begitu melewati gerbang sekolah langsung disambut sahabatnya.

 

“Hai, Din.” Dila sudah merangkul bahunya. “Loe kok gak cerita sih kalo kak Arya ada di rumah.”

 

Dini menghentikan langkahnya dan menatap Dila sebentar, “Yang bilang kakak gue ada di rumah tuh siapa?”

 

“Trus tadi cowok cakep yang ngantar loe emangnya bukan kak Arya?”

 

“Bukan oneng!” Dini menoyor kening Dila, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka.

 

“Lalu siapa?”

 

“Itu kak Bagus, anak pak Wahyu, sopir gue.”

 

“Hahh, yang benar Din?” Dila membelalakkan matanya tak percaya. “Pak Wahyu punya anak secakep itu?”

 

“Hm, kak Bagus itu kuliah di Universitas Bunga Bangsa,” ujar Dini dengan senyum bangga.

 

 

Bab 13

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 310

#day 13

 

Happy reading,

 

“Universitas Bunga Bangsa yang tempat bokap loe jadi Rektor, bukan?”

 

“Hmm, kak Bagus sebagai asdos juga di sana. Dia keren, 'kan?” Lagi-lagi Dini tersenyum bangga.

 

Dila berdecak kagum, “Wah keren anaknya sopir loe, udah cakep pintar pula. Sesuai dengan namanya Ba-gus, bagus orangnya bagus otaknya.” Dila terkekeh.

 

“Nah, bener itu!” Dini kembali tersenyum bangga sembari pikirannya menerawang mengingat wajah Bagus. 

 

What? Ada apa ini? Haiish, kenapa aku malah terus mengingat wajah kak Bagus? 

 

Dini menggelengkan kepalanya.

 

“Ih, loe kok keliatan bangga banget. Cowok loe, Bagus apa Arka?” Menyiku lengan Dini dengan senyum menggoda.

 

Mendengar nama Arka, seketika mood Dini berubah tidak baik. Apalagi mengingat kejadian kemarin.

 

“Gue lagi kesel sama Arka, sama loe juga!”

 

“Kok kesel sama gue juga?” Dila menunjuk dirinya sendiri. “Emangnya salah gue apaan?”

 

“Kalian kema ....”

 

“Hei kalian!” bentak gadis di belakang mereka. 

 

Dini dan Dila memutar tubuhnya, mereka memperhatikan gadis yang tadi membentak mereka. Gadis berpenampilan glamour yang memakai riasan tebal lengkap dengan asesoris berlebih yang justru membuat penampilannya terkesan jauh lebih tua dari usianya.

 

Dini dan Dila menatapnya kesal. “Mau apa loe?” salak Dila.

 

“Emm, bisa gak sih kalian kalau ngobrol jangan di tengah jalan. Kalian udah ngalangin jalan gue tau!” Gadis itu memilin-milin rambutnya yang digerai sebahu.

 

“Yaelah, jalan begini lebar juga.” Dila merentangkan kedua tangannya. Menegaskan betapa luas tempat mereka berdiri sekarang.

 

“Udah minggir, banyak omong loe!” Gadis tadi mendorong bahu Dila ke samping dan berlalu begitu saja meninggalkan Dini dan Dila yang masih kesal dengan tingkahnya barusan.

 

“Sialan tuh orang! Songong banget sih! Baru jadi selegram aja udah belagu!” umpat Dila yang masih menatap kesal punggung gadis yang mendorongnya tadi.

 

“Udah, gak usah diambil ati. Dia, 'kan emang begitu orangnya.” Mengusap punggung Dila.

 

“Lagian gue aneh sama tuh anak.” Dila menggerutu sembari mengikuti Dini yang kembali melangkahkan kaki menuju kelas mereka.

 

“Aneh kenapa?”

 

“Kok bisa ya dia beli barang-barang branded yang harganya ratusan juta tiap hari. Emang bokapnya ngasih dia uang jajan berapa coba? Atau penghasilan selegram memangnya berapa sih sehari?”

 

Dini hanya menggendikkan bahu. “Udah ahh jangan ngomongin orang.”

 

“Enggak, gue penasaran aja.” Menatap Dini. “Oya, by the way, tadi loe bilang kesel. Memangnya kesel kenapa?”

 

Wajah Dini kembali cemberut, hal yang tadi sebenarnya sudah dia lupa malah Dila ingatkan kembali.

 

Bab 14

0 0

 

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 315

 

"Kalian ke mall nggak ngajak-ngajak gue!” sengitnya.

 

“Bukannya loe ya yang gak mau ikut kemarin, bilangnya lagi gak enak badan?”

 

Dini mengingat sesuatu, dan ternyata memang benar yang dikatakan Dila. Dia yang tidak mau ikut ke mall. Dia ingin meminta maaf tapi lengannya keburu disenggol Dila.

 

“Ada apa?” Menatap Dila heran.

 

“Itu! Loe lihat deh mereka!” Dila berbisik sembari menunjuk seorang siswi yang sedang duduk sesegukan dengan seorang pria dewasa yang berseragam dinas.

 

“Lama-lama mereka berdua mencurigakan. Kayaknya ada something gondrong deh diantara mereka.” Dila memegang dagunya sendiri.

 

“Something wrong, Dil.” Dini meralat ucapan Dila.

 

“Iya, gitu maksud gue. Beberapa kali gue mergokin mereka lagi berduaan gitu, apa jangan-jangan ....”

 

“Udah ah, ngapain sih kepoin urusan orang. Yuk cepetan ke kelas, udah mau bel masuk,” sela Dini yang menghentikan pikiran buruk Dila. Dia melangkahkan kakinya lebih cepat mendahului Dila.

 

“Aish, bilang aja Loe pingin cepat-cepat ketemu Arka.” Menyusul Dini yang sudah jauh melangkah di depannya.

 

*******

 

Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa seluruh siswa langsung bersorak riuh mendengarnya. Akhirnya waktu mereka untuk aktivitas belajar di sekolah telah usai. Semua siswa memasukkan buku-bukunya ke dalam tas masing-masing dan meninggalkan ruangan kelas setelah guru yang mengajar barusan keluar kelas lebih dulu.

 

“Loe gak pulang, Din?” tanya Dila karena melihat Dini masih diam di tempat duduknya sementara siswa lainnya sudah pada keluar kelas.

 

“Pulanglah duluan, kepala gue tiba-tiba pusing banget.” Memegang kepalanya.

 

“Loe sakit ya, Din? Loe kurusan. Gue perhatiin beberapa hari ini loe sering ngeluh pusing, mual sama gak selera makan. Apalagi mukak loe tuh, pucat banget. Jangan-jangan ....”

 

“Jangan-jangan apa?!” salak Dini cepat dengan wajah yang berubah panik setelah mendengar celotehan Dila.

 

“Jangan-jangan ...,” Dila terlihat ragu, “eh, loe sama Arka belum ngelakuin itu, 'kan?” Menatap Dini curiga. “Gue ngerasa ada something wrong sama loe sekarang!”

 

“Ngelakuin apa?” Dini semakin cemas melihat tatapan Dila padanya. “Semua orang loe katain punya something wrong!” mencoba berkilah. Oh God, jangan sampai Dila curiga tentang kehamilanku!

 

Bab 15

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil 

#jumlahkata 300

 

“Itu ... maksud gue ... loe ma Arka udah ... melakukan ....” Jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangan Dila membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata terakhir.

 

“Engaklah! Loe pikir gue cewek apaan, ” sahut Dini dengan nada tinggi. Dia memalingkan wajahnya setelah mengucapkan itu pada Dila. Dia tidak ingin sahabatnya itu melihat pancaran kebohongan di matanya.

 

“Baguslah! Soalnya gue perhatiin tingkah loe sama persis kayak kakak ipar gue yang lagi ngidam.”

 

Degh! 

 

Dini menarik bibirnya, dia bertambah gusar. Dadanya pun bergemuruh semakin keras.

 

“Jangan sembarangan gitu ngomongnya!” Dini setengah membentak, mencoba untuk berkilah lagi.

 

“Iya maaf, gue 'kan cuma nanya doang. Gue gak mau elo kayak almarhumah anak kelas sebelah.”

 

“Siapa?”

 

“Itu anak kelas XII IPA 3, yang meninggal gara-gara aborsi. Masak loe lupa sih.”

 

“Masak sih? Emang ada ya, cerita kayak gitu di sekolah kita?” 

 

"Eh, loe beneran lupa?" 

 

Dini mencoba mengingat. "Owh, yang dulu sempat heboh itu?" ucap Dini yang dijawab anggukan oleh Dila. 

 

Dini mengingatnya sekarang, kejadian di sekolahnya beberapa bulan lalu, seorang siswi dari kelas XII IPA 3 ditemukan meninggal lantaran pendarahan. Setelah diselidiki ternyata siswi itu pendarahan usai melakukan aborsi. Dia hamil tanpa sepengetahuan orang tuanya. Kemudian, diantar pacarnya untuk aborsi, lalu pendarahan dan akhirnya meninggal.

 

Dini seketika bergidik ngeri. Dia menggigit bibir bawahnya dan reflek memegangi perutnya. Bulu kuduknya meremang, membayangkan dirinya melakukan aborsi dan akhirnya mati konyol.

 

“Tidakkkk!!!” teriak Dini tiba-tiba yang membuat Dila terlonjak kaget saat itu juga. 

 

“Loe kenapa teriak begitu?”

 

“Ah enggak kenapa Dil,” jawab Dini yang memaksakan senyumnya. “Gue cuma ngeri aja ngebayangin nasib gadis itu.”

 

“Nah maka dari itu, hindari sex dini. Kita masih muda banget buat ngelakuin itu. Lulus SMA aja belum. Lagian yang pernah gue baca nih ya, 'wanita yang melakukan hubungan sex di bawah umur sembilan belas tahun lebih beresiko terkena kanker servix' lho. Ih, ngeri, 'kan?” Dila menggendikkan bahu. “Coba deh loe bayangin, udah sekolah gak kelar, masa depan bisa hancur, terus resiko terkena penyakit berbahaya pula.” Dila terus nyerocos sembari menggelengkan kepala.

 

Sementara Dini menanggapinya dengan tersenyum tipis, walaupun saat ini dalam hatinya sedang panik dan ketakutan setelah mendengar ucapan Dila barusan. Ucapan Dila bagai pedang yang menusuk tepat ke jantungnya. Kepalanya semakin pusing. Pusing karena dia sedang hamil, juga pusing memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil untuk kondisi dia sekarang. Ditambah Arka, pemuda yang menyebabkan ini terjadi padanya malah tidak bersekolah hari ini. Seolah-olah pemuda itu sedang menghindarinya.

 

 

 

 

 

 

 

Bab 16

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 300

 

Happy reading,

 

Dini masih duduk diam di ruang kelasnya seorang diri, sedangkan siswa lainnya sudah pulang sedari tadi termasuk Dila. Dila harus buru-buru pulang lantaran ditelpon mamanya untuk ikut acara keluarga di rumah pamannya.

 

Hari ini Dini kembali ke sekolah setelah kemarin mewakili sekolah dalam olimpiade fisika yang digelar oleh Universitas Bunga Bangsa.

 

Dini termenung sendiri, menopang wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja. Pikirannya benar-benar berkecamuk, bergulat dengan batinnya. Dia sudah positif hamil tetapi, pria yang sudah menyebabkannya hamil malah tidak muncul batang hidungnya. Sudah seminggu Arka tidak datang ke sekolah. Tepatnya setelah Dini memberitahu pria itu prihal kondisinya sekarang.

 

Arka sepertinya memang sengaja menghindari Dini. Pemuda itu menghilang tanpa kabar dan itu sukses membuat Dini merasa benar-benar hancur. Dini menyesal karena sudah bertindak bodoh dan ceroboh. Menyadari semuanya, tanpa Dini sadari butiran bening mulai luruh di pipinya yang putih mulus. Sekuat mungkin dia berusaha menahan tangisnya agar tidak bersuara. Namun, suasana ruangan kelas yang lenggang dan sepi membuat suara isakannya terdengar menggema memenuhi seisi ruangan. 

 

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

 

Memberitahu orangtuanya? Tidak mungkin! Papa dan mamanya pasti akan sangat shock. Apalagi Arya, kakaknya itu tentu akan memarahinya habis-habisan. Terus, apa dia harus berdiam diri, menyembunyikan kehamilannya sampai melahirkan? Tidak masuk akal! Itu tidak mungkin. Semakin hari perutnya akan semakin membesar, bagaimana mungkin bisa menyembunyikannya? Kemudian, aborsi? Dini bergidik ngeri jika mendengar kata itu, mengingatkannya kembali pada ucapan Dila yang mengerikan. Tidak. Dini tidak ingin mati konyol. Dia masih ingin hidup dan meraih cita-citanya.

 

Rasa bingung, takut, dan cemas bercampur jadi satu. Parahnya lagi tidak ada yang bisa Dini ajak untuk membagi masalahnya.

 

Dini melipat kedua tangannya di atas meja, membenamkan wajahnya di sana untuk seterusnya menumpahkan kembali air matanya. 

 

Dini begitu tenggelam dalam kesedihannya, hingga tidak menyadari langkah kaki seseorang tengah mendekat ke arahnya.

 

“Non? Non Dini kenapa? Bukankah ini sudah waktunya pulang sekolah, kenapa masih di sini, Non?”

 

Dini terkesiab, seketika dia mengangkat wajahnya, menatap seseorang yang memanggilnya barusan.

Bab 17

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 330

#Day17

 

Happy reading,

 

“Kak Bagus,” seru Dini pada pria yang kini berdiri di hadapannya.

 

“Non Dini, kenapa menangis?” Menatap iba anak majikan bapaknya yang pipinya berurai air mata. Matanya memerah dan sembab, pertanda Dini terlalu lama menangis.

 

Dini tidak menjawab, dia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu terdengar sesegukan kembali. Air matanya semakin mengalir deras di pipinya. Bagus yang iba ingin sekali menghapus air mata di pipi Dini tetapi, dia merasa sungkan dan tidak pantas melakukan itu karena sadar Dini adalah putri majikannya sementara dirinya hanyalah anak seorang sopir.

 

Dini masih menunduk saat Bagus mengulurkan saputangan berwarna biru langit ke arahnya.

 

“Pakai ini Non,” ujar Bagus.

 

Dini melirik sebentar lalu meraih sapu tangan itu dari tangan Bagus. Kemudian, mulai menyusut sudut matanya. “Makasih Kak,” ucap Dini di sela isak tangisnya, “Kakak kenapa bisa ada di sini?"

 

“Tadi saya tungguin Non di parkiran lama sekali. Sampai saya lihat sudah tidak ada siswa lagi tapi, Non Dini belum juga muncul. Saya takut Non kenapa-kenapa, karena itu saya susulin ke sini,” jelas Bagus sembari tersenyum manis. 

 

“Lalu dari mana kakak tau kelasku di sini?” Menatap Bagus dengan mata sembabnya. Namun, begitu melihat senyum terukir di bibir pemuda itu, buru-buru Dini memalingkan kembali wajahnya. 

 

“Tadi saya liat ada seorang siswi duduk sendirian di taman dekat lapangan basket, terus saya coba tanya. Untungnya dia kenal Non Dini, lalu dikasih tau deh kelas Non Dini di sini.” Masih dengan senyum manisnya. 

 

Dini membalas dengan tersenyum tipis. “Makasi Kak, udah khawatirin aku.” Kembali menyusut sudut matanya.

 

“Tentu dong, Non Dini sekarang 'kan tanggung jawab saya. Kalau terjadi sesuatu dengan Non, saya akan merasa sangat bersalah. Tuan dan nyonya juga pasti tidak akan memaafkan saya.”

 

“Maaf ya Kak, sudah buat Kakak khawatir tadi.”

 

“Tidak apa-apa Non,” balas Bagus, "kita pulang sekarang, Non?”

 

Dini mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Begitu juga dengan Bagus yang berjalan mengekori Dini.

 

Tidak ada yang berbicara selama mereka berjalan melewati lorong-lorong kelas. Mereka seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

Sampai akhirnya mereka sampai di lapangan basket. Mereka harus melewati lapangan itu untuk menuju tempat parkir. Sampai di taman, tempat yang dibilang Bagus bertemu siswi yang memberitahu letak kelas Dini. Dia melihat Rara, teman sekelasnya sedang duduk sendirian di sana.

Bab 18

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 330

#Day18

 

 

 

Happy reading,

 

Apa Rara yang dimaksud kak Bagus tadi? Batin Dini.

 

Dini berjalan mendekati Rara yang sedang menunduk sambil memegangi perut bawahnya. Tidak! Tepatnya dia sedang meringis seperti menahan sakit pada perut bawahnya.

 

“Kamu kenapa, Ra?” tanya Dini khawatir.

 

“Gak tau Din, beberapa hari ini perut bawahku sering sakit gak jelas. Biasanya bisa aku tahan, tapi kali ini sssssttttt aahhhhh, aku gak kuat. Rasanya aahhhhh ....” Rara membungkuk memeluk perutnya sendiri.

 

“Kalau gitu biar aku antar ke rumah sakit gimana?” kata Dini panik.

 

Rara mengangguk, dia sudah benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya.

 

“Kamu masih bisa jalan, 'kan?” tanya Dini lagi. “Sampai di mobil aku aja?” Dini semakin cemas karena kini wajah Rara semakin pucat.

 

Rara mengangguk dan mencoba bangkit, tapi sayangnya dia merosot dan kembali duduk memegangi perut bawahnya. “Aahhhhh!!” teriak Rara.

 

“Sakit banget ya, Ra?” Menatap Rara iba. “Kak, Kak Bagus mau gak gendong Rara sampai mobil?” Menatap penuh permohonan kepada Bagus.

 

Bagus terlihat ragu, “Emang boleh, Non?” Menatap Rara yang masih meringis. “Non Rara tidak keberatan kalau saya gendong?”

 

“Mau Ra digendong sama kak Bagus? Kita tidak ada pilihan lain.” Meyakinkan Rara.

 

Rara mengangguk, memang itu adalah jalan satu-satunya untuknya sekarang. Dia harus segera ke rumah sakit, dan kondisinya sekarang tidak memungkinkan dia untuk berjalan menuju parkiran mobil Dini.

 

“Kak cepetan gendong Rara, kok malah bengong!” perintah Dini.

 

Dengan gelagapan Bagus mendekati Rara dan membopongnya menuju parkiran mobil dengan mempercepat langkahnya.

 

Dini langsung membukakan pintu mobil begitu mereka sampai. Bagus langsung menidurkan Rara di kursi penumpang lalu menutup pintu kembali dan bergegas menuju kursi kemudi. Sementara Dini sudah duduk di kursi depan.

 

“Cepat, Kak!” kata Dini pada Bagus. Dia tidak tega melihat Rara yang terus meringis menahan sakit.

 

“Iya Non,” sahut Bagus. Dengan cepat Bagus memutar kemudi dan melajukan mobil melewati gerbang sekolah menuju rumah sakit terdekat.

 

Beruntung jalanan tidak terlalu padat sehingga mereka bisa segera sampai di rumah sakit. Bagus segera keluar menuju ruang UGD memanggil perawat. Sementara, Dini sudah menunggu di depan pintu penumpang menunggui Rara sampai perawat UGD datang membawa brankar yang akan digunakan untuk memindahkan Rara.

 

Perawat itu membawa Rara memasuki UGD. Ruangan itu sangat luas dan terdapat tirai berwarna hijau sebagai pembatas antar bed pasien. Rara dibawa memasuki bed pemeriksaan. Kemudian seorang pria yang berseragam serba putih terlihat masuk ke ruangan Rara tadi.

 

“Maaf, Mas sama Adik silakan tunggu di luar dulu ya, nanti kalau ada apa-apa akan saya panggil,” kata perawat tadi pada Dini dan Bagus. Mereka lalu mengangguk dan keluar dari ruangan itu.

 

Bagus mengajak Dini duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan UGD.

 

“Kira-kira Rara sakit apa ya, Kak?” katanya cemas, “semoga saja bukan sakit berbahaya.”

 

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak Non, kita doakan saja semoga non Rara baik-baik saja.” Bagus tersenyum pada Dini. Kemudian, tanpa sengaja dia melirik lemari minuman (vending machine) yang ada di dekat ruangan itu.

 

Bab 19

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 330

#Day19

 

 

Happy reading,

 

Bagus mendekati lemari minnuman itu dan mengeluarkan lembaran uang, lalu memasukkannya ke kotak yang bertuliskan device. Setelah uangnya berhasil masuk dan tombol display (push button) pada lemari minuman menyala, dia menekan tombol pada minuman yang ingin dia beli. Setelah itu, dia mengambil minuman pada kotak keluar minuman.

 

Bagus membawa dua botol minuman yang tadi dia beli dari vending machine dan mengulurkannya satu kepada Dini.

 

“Makasi, Kak." Dini tersenyum saat menerima minuman dari tangan Bagus. Setelah meneguk minumannya, perawat tadi memanggil mereka masuk. Dini melihat pria yang berseragam serba putih tadi sudah menunggu mereka.

 

“Apa kalian keluarga pasien?” tanya dokter itu.

 

“Bukan Dok, kami teman sekolahnya,” sahut Dini.

 

“Lalu, apa kalian bisa menghubungi keluarga pasien? Ini penting!”

 

“Memangnya Rara sakit apa ya, Dok?” Dini semakin cemas. 

 

“Maaf saya hanya bisa menceritakannya pada keluarga pasien,” tegas dokter itu, “jadi kalian bisa bantu saya menghubungi keluarganya?”

 

Dini dan Bagus saling pandang sesaat, sebelum Dini mengangguk ke arah dokter tadi. 

 

*********

 

Sementara menunggu kedatangan orang tua Rara, Dini meminta ijin untuk menemui Rara sebentar, sedangkan Bagus menunggu kembali di luar.

 

Dini menyibak tirai yang membatasi antar bed pasien di ruangan itu. Dini mendekati Rara yang terbaring dengan selang infus di tangan kirinya.

 

“Bagaimana keadaanmu, Ra? Masih sakit?” tanyanya pelan.

 

Rara tersenyum tipis ke arahnya, “Sudah mendingan Din, dokter sudah menyuntikkan obat pereda nyeri tadi.”

 

“Owh, syukurlah.” Mengusap bahu Rara.

 

“Makasih ya Din, kamu udah bawa aku ke sini, kalau kamu tadi tidak ada, tidak tau deh aku bakalan gimana.”

 

“Sama-sama Ra, kita 'kan teman.” Tersenyum tulus. “Oya, kamu tadi ngapain sendirian di taman?”

 

“Aku sedang menunggu seseorang,“ jawab Rara lemah. Wajahnya seketika berubah sendu. 

 

“Pak Eka?” tanya Dini ragu, takut Rara marah dan tersinggung dengan pernyataannya barusan.

 

“Hmm." Rara membuang napas berat, “dari mana kamu bisa tau?”

 

“Emm, sebenarnya aku dan Dila beberapa kali mergokin kamu lagi berduaan sama pak Eka di taman sekolah. Eh, maaf lho Ra bukannya aku kepo sama urusan kalian tapi, ....” Dini terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.

 

“Iya, apa yang kamu pikirkan memang benar, Din. Aku dan pak Eka memang sedang menjalin hubungan.”

Bab 20

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 580

#Day20

 

Happy reading,

 

“Apa?!” Dini terlonjak kaget, “kenapa, Ra? Kamu tau, 'kan itu melanggar aturan. Pak Eka itu guru pengajar di sekolah kita. Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah dan surat ijin pak Eka bisa dicabut!”

 

Rara mulai terisak, butiran bening sudah mengalir deras di pipinya. “Aku tau Din, aku tau apa yang aku jalani ini salah. Tapi, rasa ini tumbuh tanpa aku sadari dan semakin lama semakin dalam di saat pak Eka ternyata juga punya perasaan yang sama denganku.”

 

“Tapi kenapa harus pak Eka, Ra? Dia sudah berkeluarga. Sementara kamu masih muda, masih banyak pria seusia kita yang memintamu jadi kekasihnya.”

 

“Tapi aku tidak menyukai mereka Din, aku menyukai pak Eka. Bersamanya aku merasakan kenyamanan, kasih sayang, dan perhatian yang tidak bisa aku dapatkan dari orang tua, terutama ayahku.” Rara semakin terisak.

 

Dini menyadari, Rara anak yang kesepian. Dia adalah anak tunggal, ibunya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan urusan bersama teman-teman sosialitanya. Sementara ayahnya juga jarang ada di rumah karena hal yang sama. Mereka tidak pernah ambil pusing dengan berapa uang yang Rara habiskan. Mereka lupa kalau yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya materi tapi juga perhatian dan kasih sayang orangtuanya.

 

“Bokap gak pernah peduli sama aku, begitu juga nyokap. Aku kesepian Din, aku juga pingin kayak teman-teman aku yang lain, bisa weekend bareng orang tua mereka. Sekali aja, aku Cuma minta sekali, tapi bokap sama nyokap selalu lebih mentingin weekend bareng teman-teman sosialitanya.”

 

“Sabar Ra, aku ngerti apa yang kamu rasain.” Mengusap bahunya. “Tadi dokter bilang apa tentang sakitmu?” Mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Dokter tadi curiganya kista, tapi masih nunggu kepastian dari dokter obgyn, karena harus usg dulu. Nanti nunggu orang tua aku datang dulu baru berangkat ke poli obgyn,” jelas Rara.

 

“Kista? Kok bisa, Ra?” Mengerutkan kening.

 

Rara memalingkan wajahnya, “Sebenarnya, sebenarnya beberapa minggu lalu, aku sempat ab*rsi.” Menggigit bibir bawahnya. “Pak Eka ngantar aku pergi ke dukun dan ab*rsi di sana.” Memelankan suaranya, takut kalau ada yang mendengar kata-katanya barusan.

 

Mata Dini membulat, tangannya refleks menyentuh perutnya. Tiba-tiba saja dia merasa ngilu di bagian perutnya.

 

“Rasanya sumpah, benar-benar menyakitkan, Din. Aku sempat berpikir kalau aku akan mati saat itu juga, sama seperti anak IIX IPA 3, tapi ternyata aku lebih beruntung, walaupun sekarang aku harus menderita kista. Kata dokter tadi mungkin karena tidak sempat kuretasi saat itu.”

 

Dini merasa perutnya semakin ngilu setelah mendengar penuturan Rara. Kini dia semakin bingung menentukan apa yang selanjutnya akan dia lakukan.

 

“Kamu bilang kalau kamu habis ab*rsi?” bisik Dini.

 

“Enggaklah Din, memangnya aku mau masuk penjara.” Berbicara setengah berbisik.

 

“Lalu?”

 

“Aku bilang gak tau kalau aku lagi hamil, cuma sempat kepeleset di kamar mandi terus sempat pendarahan, aku pikir saat itu darah haid yang keluar. Sepertinya dokter tadi percaya.”

 

“Ya semoga saja dokter itu percaya, kalau tidak itu bahaya buat kamu dan pak Eka. Ab*rsi itu 'kan dilarang dan ada hukumannya.”

 

“Hm, aku tau. Kamu tadi ngapain juga masih diam di kelas? Sampai dicariin sama siapa itu?” Rara tampak mengingat-ngingat. 

 

“Kak Bagus,” jawab Dini cepat.

 

“Ah iya, siapa dia? Kayaknya dia khawatir sekali sama kamu.”

 

“Kak Bagus anaknya pak Wahyu, sopir aku. Sekarang pak Wahyu lagi opname di rumah sakit ini juga sebenarnya. Jadi, kak Bagus gantiin bapaknya dulu buat ngantar jemput aku.”

 

“Owh, kamu tadi pasti lagi bersedih ya karena Arka pindah sekolah ke LN? Mata kamu sembab.”

 

“Apa?” Dini terlonjak kaget.

 

“Jangan bilang kamu gak tau kalau Arka udah berangkat ke LN bersama orangtuanya kemarin malam.”

 

Dini menggigit bibir bawahnya kelu, tenggorokannya terasa tercekat. Dadanya nyeri dan jantungnya menjadi berdegup lebih kencang. Rasa sesak mulai menyelimutinya hingga seluruh badannya kini terasa lemas dan tiba-tiba semuanya menjadi terlihat gelap.

Bab 21

0 0

sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 320

#Day21

 

“Non Dini sudah sadar?” Bagus langsung tersenyum ke arahnya saat Dini perlahan membuka kelopak matanya. Dia duduk di pinggir ranjang tempat Dini terbaring.

 

“Aku di mana, Kak?” tanya Dini saat merasa dia terbaring dengan suasana ruangan yang sama dengan Rara.

 

Bagus tersenyum lagi, “Di UGD Non, Non Dini barusan pingsan, jadi digotong ke sini sama perawat.”

 

“Pingsan?” Mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. “Lalu, apa aja kata dokter, Kak?” tanyanya cemas. Dia takut kalau dokter sudah memberitahu Bagus prihal kehamilannya.

 

“Dokter belum bilang apa-apa Non, tadi Cuma menyuruh saya mengabari nyonya sama tuan. Karena rencananya Non mau dirujuk ke poli obgyn.”

 

“Obgyn?! ” pekik Dini. 

 

Itu artinya aku akan diperiksa dokter kandungan. Terus mama sama papa akan ....

 

“Tidak!” teriak Dini tiba-tiba yang membuat Bagus terlonjak kaget.

 

“Kenapa, Non? Kenapa Non Dini berteriak?”

 

“Tidak Kak, apa Kakak sudah mengabari mama sama papa?” tanyanya harap-harap cemas.

 

“Sudah Non, mungkin sebentar lagi tuan sama nyonya akan sampai di sini.” Menatap Dini semakin heran, karena wajah gadis itu terlihat semakin panik.

 

“Tidak, Kak! Aku tidak mau diperiksa ke dokter kandungan. Aku mau pulang aja. Ayo Kak antar aku pulang,” bujuk Dini dengan air mata berlinang.

 

“Lho kenapa, Non? Bukankah lebih baik Non diperiksa dulu seperti saran dokter, biar lebih tau sakit Non apa.” Bagus mencoba memberi pengertian.

 

“Tidak Kak, aku tidak mau, aku ....”

 

“Kamu tidak mau kenapa, Din?” Nyonya Wiguna sudah menyibak tirai dan berdiri di sana.

 

“Mama?” Manik itu membulat sempurna saat melihat Nyonya Wiguna sudah berdiri dihadapannya. Tubuhnya mulai gemetar.

 

Ya ampun, rasanya Dini ingin tenggelam sekarang. Kalau boleh dia ingin meminjam kantong Doraemon agar dia bisa menghilang dari tempatnya sekarang juga.

 

Namun, kenyataannya dia tidak bisa melakukan itu. Dia hanya bisa pasrah saat didorong dengan kursi roda menuju poli obgyn. Terlihat Rara bersama orangtuanya baru keluar dari poli itu. Mama Rara menangis sedangkan papa Rara seperti sedang menahan amarah.

 

Ya Tuhan, apakah ini akan jadi akhir dari hidupku? Apakah orangtuaku juga akan menangis atau mereka malah memarahiku bahkan mengusirku, jika mengetahui keadaanku yang sebenarnya? Ya Tuhan tolong bantu aku, lirih batinnya.

 

Dini menggigit bibir bawahnya, dan memejamkan mata, berusaha meredam debaran jantungnya yang sedari tadi bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Apalagi di saat perawat poli obgyn membuka pintu dan memanggil namanya.

 

Ya Tuhan, tamatlah riwayatku ....

 

Bab 22

1 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 620

 

Happy reading,

 

"Andini Karisma Dewi!" panggil perawat dari depan pintu poli obgyn.

 

Glekkkk!!!

 

Dini menelan ludahnya sendiri, debaran jantungnya seakan berpacu dengan gerakan detik jam dinding yang menggantung di tembok ruang tunggu poli. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.

 

"Andini Karisma Dewi!" panggil perawat itu lagi.

 

"Oh, iya di sini Sus," jawab Nyonya Wiguna sembari mengangkat tangan kanannya.

 

Perawat itu lalu tersenyum dan mengahampiri mereka, "Sudah waktunya masuk Bu, mari saya bantu." Mendorong kursi roda yang diduduki Dini dan melangkah masuk ke ruangan poli.

 

"Gus, kami tinggal masuk dulu, kamu tunggu di sini ya!" perintah Nyonya Wiguna pada Bagus.

 

"Baik Nyonya," jawab Bagus tersenyum.

 

Nyonya Wiguna menyusul Dini masuk ke dalam ruangan poli. Setelah menutup pintu, dia duduk di kursi yang ada di sebelah Dini. Di depannya duduk pria paruh baya, berkacamata, dan mengenakan setelan jas putih. Di belakang pria itu berdiri perawat yang memanggil mereka tadi. Pria berseragam dokter itu terlihat membaca berkas rekam medis milik Dini yang dibawa dari UGD tadi. Dahinya nampak berkerut, lalu melirik tajam ke arah Dini.

 

Mendapat lirikan seperti itu membuat Dini bergidik. Dia yakin dokter ini sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya. Keringat dingin semakin mengucur deras di dahinya, bahkan tubuhnya serasa sudah basah oleh keringat.

 

D*mn! Apa yang harus aku katakan pada mama jika dokter ini mengatakan yang sebenarnya sekarang?

 

"Ehemm." Dokter itu berdehem, "Andini Karisma Dewi, umur delapan belas tahun, berarti masih kelas IIX, ya?" Melirik Dini dengan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Iya betul Dokter," jawab Nyonya Wiguna. Sementara Dini hanya mengangguk.

 

"Apa satu sekolah dengan gadis yang barusan keluar dari sini? Seragamnya sama." Meneliti seragam yang sedang dikenakan Dini.

 

"Pasien yang atas nama Rara Dok, ya?" tanya Nyonya Wiguna, "iya betul Dok, mereka bersekolah di sekolah yang sama, satu kelas juga. Memangnya ada apa ya, Dok?" sambungnya heran.

 

Dokter itu terkekeh pelan, "Tidak apa-apa Buk, saya hanya meyakinkan saja."

 

"Owh, kira-kira putri saya sakit apa ya, Dok?"

 

"Dari data yang diberikan dari UGD, sudah bisa saya simpulkan kalau putri Ibu sebenarnya tidak sakit."

 

"Tapi akhir-akhir ini putri saya sering ngeluh pusing sama mual terus Dok, hingga dia tidak selera makan," keluh Nyonya Wiguna.

 

Dokter itu tersenyum simpul, "Kita pastikan dulu ya Bu, semoga kesimpulan saya keliru kali ini. Kasian, tinggal sebentar lagi ujian dan kelulusan." Memberi kode pada perawat.

 

Perawat yang dari tadi berdiri di belakang dokter itu, lalu berjalan ke arah Dini dan mendorong kursi roda yang diduduki Dini menuju bed pasien. Perawat itu membantu Dini untuk berdiri dan menyuruhnya berbaring terlentang di atas bed pasien. Kemudian, dia menyibak baju Dini bagian bawah dan rok bagian atasnya sehingga memperlihatkan perut bagian bawahnya.

 

Awalnya Dini merasa risih tapi, perawat itu tersenyum padanya, "Tidak apa-apa, memang begini kalau diperiksa," katanya ramah. Kemudian, perawat itu mengoleskan gel yang memberi sensasi dingin di atas perut bagian bawah Dini. 

 

"Sudah Dok," ucap perawat. 

 

"Sudah ya, baiklah kita periksa sekarang." Dokter itu berjalan mendekati bed, lalu duduk di depan layar usg yang terletak di sebelah bed. Dia meraih probe (alat pemindai) dari alat usg lalu mulai menggerakkan maju mundur di atas perut Dini. Muncullah penampakan rahim Dini di layar usg. Dokter itu melirik Dini yang kini sudah berlinang air mata dengan tatapan iba. Dia menghela napas panjang sebelum mengambil tissu untuk mengelap probe dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Dia lalu berjalan menuju mejanya kembali sembari membawa foto hasil usg tadi.

 

Sementara perawat tadi mengelap perut Dini dari sisa gel lalu merapikan lagi pakaian Dini dan membantunya untuk bangun.

 

"Untuk selanjutnya kalau mau bangun, posisinya miring dulu ya Mbak baru bangun," pesan perawat itu. Dini hanya mengangguk, lalu turun dari bed dan duduk kembali di kursi roda.

 

"Bagaimana, Dok? Putri saya sakit apa?" tanya Nyonya Wiguna tidak sabar. 

 

"Ibu yang sabar ya, saat ini putri ibu sedang mengandung sepuluh minggu," ucap dokter itu dengan jelas dan tegas. 

 

Bab 23

0 0

#sarapankata

#kmoindonesia

#kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 450

Happy reading, 

 

Di dalam mobil yang sedang melaju, baik Nyonya Wiguna maupun Dini tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang memulai percakapan, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. 

 

Bagus sesekali melirik dari kaca spion, dia merasa ada yang aneh dengan kedua majikannya tapi, dia tidak berani untuk mencari tahu.

 

Dini hanya menunduk sembari terus menyusut air matanya yang terus mengalir di pipinya, sedangkan nyonya Wiguna membuang pandangannya keluar jendela mobil. Dia masih terbayang dengan penjelasan dokter barusan.

 

Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah, Nyonya Wiguna langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Dini tanpa berbicara apa pun. Dini bergegas mengejar mamanya. Sementara Bagus melajukan mobil menuju garasi.

 

“Ma! Tunggu Dini, Ma! Kasih Dini menjelaskannya dulu Ma,” pinta Dini dengan nada memelas.

 

Nyonya Wiguna menghentikan langkahnya di ruang tengah, “Apa yang mau kamu jelaskan lagi?” Setengah membentak sembari bercucuran air mata.

 

Dini mencoba meraih tangannya tapi segera Nyonya Wiguna menepisnya. “Ma maafin Dini,” isaknya, “Dini tau Dini bersalah tapi, Dini tidak sengaja melakukannya. Dini tidak menyangka kalau akan seperti ini jadinya.” Air matanya terus mengalir. Sepasang manik hazel itu menatap mamanya dengan penuh permohonan dan penyesalan.

 

Sungguh Dini sangat membenci dirinya sendiri sekarang.

 

Bodoh! Bodoh!Bodoh! maki Dini pada dirinya sendiri. Dia sudah menyakiti mamanya sekarang. Sudah membuat mamanya marah dan kecewa. Apalagi nanti jika papanya, bahkan kak Aryanya tau. God, rasanya Dini tidak sanggup membayangkannya. Dia hanya menunduk lemas sekarang, menggigit bibir bawahnya untuk bisa menahan butiran bening yang terus memberontak, memaksa keluar dari kubangan yang sedari tadi membelenggunya.

 

Nyonya Wiguna mengangkat dagu Dini agar bisa menatap wajah putrinya, “Katakan Din, siapa yang melakukan ini padamu? Siapa pria yang sudah membuatmu jadi begini? Siapa Din, siapa?” Nyonya Wiguna meremas kedua lengan Dini, air matanya mengalir semakin deras, begitu juga dengan Dini.

“Kenapa, kamu tega melakukan ini, kenap ....”

“Melakukan apa, Ma? Apa yang sudah Dini lakukan?” Tuan Wiguna sudah berdiri di depan pintu dan memandangi keduanya dengan kedua alis ditekuk.

“Pa....” Nyonya Wiguna sudah berjalan mendekati Tuan Wiguna untuk memeluk suaminya itu.

“Ada apa ini? Kenapa kalian berdua menangis seperti ini?” Tuan Wiguna mengusap punggung istrinya untuk menenangkan istrinya yang sedang menangis sesegukan di dadanya.

“Dini, Pa, Dini.”

“Iya, ada apa dengan, Dini?” tanya Tuan Wiguna pelan. Namun, Nyonya Wiguna hanya menggeleng. Dia tidak tahu harus mulai bicara dari mana.

Merasa istrinya tidak menjawab, Tuan Wiguna beralih menatap Dini yang sedari tadi hanya menunduk sembari sesekali menyusut sudut matanya.

“Din, coba kamu yang jelaskan pada papa, ada apa sebenarnya?” Hening. Tidak terdengar jawaban dari Dini. Hanya suara isakan dari Dini dan mamanya yang memenuhi ruangan.

“Ma, ada apa ini sebenarnya?” Tuan Wiguna mulai kesal. Dia melonggarkan pelukan istrinya demi bisa menatap wajahnya.

“Dini, Pa... Dini... ha-mil,”

 

 

 

 

Bab 24

0 0

 

#sarapankata

#kmoindonesia #kmobatch37

#kelompok20daffodil

#jumlahkata 430

 

Happy reading,

 

“Katakan Din, siapa laki-laki itu?” tanya Tuan Wiguna dengan membentak, membuat Dini yang sedari tadi diam mematung terlonjak kaget. “Dini!” Suara bentakan Tuan Wiguna menggema memenuhi seluruh ruangan.

Bagus yang menunggu di teras rumah ikut terlonjak kaget. Untuk pertama kalinya dia mendengar Tuan Wiguna bersuara sekencang itu. Dia yang tadinya berniat mengembalikan kunci mobil, hanya bisa menunggu di depan teras karena merasa sungkan untuk masuk setelah mendengar bentakan Tuan Wiguna. Dia menduga sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada keluarga majikannya.

“Apa?!” Lagi-lagi Bagus mendengar suara keras Tuan Wiguna. Dia tidak bermaksud menguping tetapi, dia juga bingung harus berbuat apa. Belum sempat dia memikirkan apa pun, Nyonya Wiguna terdengar meneriakan namanya berulang kali.

“Bagus! Bagus!” teriak Nyonya Wiguna panik.

“Ya, saya di sini, Nyonya.” Bagus segera masuk ke dalam rumah. Dia langsung ikut bersimpuh saat melihat Dini dan Nyonya Wiguna yang berurai air mata sudah bersimpuh di lantai, di sebelah tubuh Tuan Wiguna yang terbaring di lantai. Tuan Wiguna terlihat meringis sembari memegang dada dengan napas tersengal.

“Tuan kenapa, Nyonya?” tanya Bagus panik.

“Tidak tau Gus, kamu cepat siapkan mobil. Kita harus segera ke rumah sakit.” Nyonya Wiguna semakin panik saat napas suaminya semakin tersengal.

“Baik Nyonya,” jawab Bagus cepat. Dengan berlari dia menuju mobil. Kemudian, membantu Nyonya Wiguna dan Dini menggotong tubuh Tuan Wiguna masuk ke dalam mobil.

“Kamu tunggu di rumah. Tunggu kak Aryamu pulang,” perintah Nyonya Wiguna pada Dini dengan ketus.

“Tapi, Ma ....”

 “Jalan cepat, Gus!” perintah Nyonya Wiguna pada Bagus, mengabaikan ucapan Dini.

 

Bagus melajukan mobil menuju jalan pulang setelah mengantar Tuan Wiguna ke rumah sakit. Dokter mendiagnosa Tuan Wiguna mengalami serangan jantung. Jadi, harus dirawat di rumah sakit, dan Nyonya Wiguna yang menungguinya di sana. Tuan dan Nyonya Wiguna menyuruh Bagus pulang lebih dulu untuk menyampaikan permohonan mereka pada orang tua Bagus.

Sepanjang jalan, Bagus memikirkan permintaan Tuan dan Nyonya Wiguna padanya. Dia sadar apa yang dia raih saat ini adalah berkat kebaikan hati Tuan Wiguna padanya dan pada keluarganya. Namun, untuk mengabulkan permintaan mereka, Bagus masih merasa ragu. Bukannya dia tidak tahu balas budi tetapi, haruskah membalas budi dengan cara seperti itu? Dia merasa tidak pantas mengemban tanggung jawab yang Tuan dan Nyonya Wiguna perintahkan untuknya.

“Aarrrrggghhh!” Bagus memukul kemudi dengan kesal. Dia masih bergulat dengan pikirannya sendiri, saat di seberang jalan di melihat sosok yang dikenalnya yang masih mengenakan seragam SMA sedang berdiri di pinggir pagar jembatan.

Bagus menepikan mobilnya dan menajamkan penglihatannya. Gadis itu terlihat frustasi dan menangis sesegukan.

“Non Dini,” gumam Bagus. Dengan cepat dia melepas seatbelt, dan berlari ke seberang ketika melihat gadis itu mulai memanjat pagar. Sepertinya gadis itu akan melompat ke sungai yang ada di bawah jembatan.

“Non Dini, jangan!” teriak Bagus kencang, berharap Dini bisa mendengarnya. Namun, sepertinya percuma karena seberapa keras suaranya akan kalah dengan suara deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang di jalan itu.

“Non Dini,” teriak Bagus lagi sembari berusaha menyebrang di antara padat kendaraan yang lalu-lalang dengan kecepatan tinggi.

Bugh!

Bagus berhasil menangkap tubuh mungil Dini yang tadinya sudah bersiap melompat ke sungai walaupun kini tubuhnya jatuh di atas aspal yang panas dengan Dini berada di atasnya.

“Non Dini, apa yang Non lakukan?!” hardik Bagus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 25

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 520

 

Happy reading,

 

“Non Dini, apa yang Non lakukan?!” hardik Bagus. Dia mencengkram kedua lengan Dini dengan kesal.

“Biarkan aku mati Kak, biarkan aku mati!” teriak Dini putus asa. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya lalu jatuh menimpa wajah Bagus.

Bagus yang melihatnya merasa iba. Dia mengerti bagaimana perasaan Dini saat ini. Hancur. Sudah pasti. Sedih, kecewa, marah, sudah tentu bercampur jadi satu.

Perlahan Bagus mendorong tubuh Dini, mencoba menegakkan kembali tubuh mereka. Kemudian, membimbingnya untuk duduk bersama di atas trotoar.

“Tidak seperti ini caranya menyelesaikan masalah Non, melukai diri sendiri itu sangat dibenci oleh Tuhan.” Bagus melirik Dini sekilas. Gadis itu masih sesegukan. “Bayi dalam perut Non itu tidak bersalah, dia tidak tau apa-apa. Dia berhak untuk hidup dan melihat dunia ini.” Suara bising kendaraan yang ramai berlalu-lalang, membuat suara Bagus nyaris tidak dapat ditangkap telinga Dini.

“Lalu aku harus bagaimana? Pria itu sudah pergi entah ke mana, dan ... dan papa kena serangan jantung gara-gara aku. Mama juga membenciku, belum lagi kalau kak Arya juga mengetahuinya.” Air matanya kembali menganak sungai membayangkan semua yang dia ucapkan barusan. “Mungkin kak Arya akan membunuhku. Jadi, lebih baik aku mati sekarang aja.” Sudah bersiap untuk bangkit tetapi, tangan Bagus menghentikannya.

“Non Dini, jangan!” teriak Bagus saat Dini berusaha memberontak.

“Tidak Kak, lepaskan aku! Anak ini akan terlahir tanpa bapak. Daripada nanti anak ini lahir hanya untuk membuat aib keluarga, lebih baik aku membawanya mati bersamaku sekarang.” Berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Bagus.

“Tidak Non, saya tidak akan melepaskan Non Dini. Saya Non, saya yang akan bertanggung jawab. Saya yang akan menjadi bapak dari anak yang ada dalam kandungan Non sekarang.”

Manik Dini membulat sempurna saat mendengar ucapan Bagus. Ditatapnya intens wajah pria yang berdiri tegak di hadapannya ini.

“Apa?! Apa yang barusan Kakak katakan?” tanyanya tidak percaya.

“Mari Non, kita ke mobil. Saya akan jelaskan di dalam mobil.”

*********

“Tuan dan nyonya yang meminta ini dari saya Non,” jelas Bagus saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.

“Lalu, kenapa Kakak menyetujuinya?”

“Selama ini keluarga Non sudah sangat baik pada keluarga saya, terutama Tuan. Beliau yang sudah membiayai pendidikan saya sampai saat ini. Jadi, saya pikir ini waktunya saya membalas budi baik keluarga, Non.”

“Jadi,Kakak melakukan ini karena ingin balas budi?” Nada Dini meninggi.

“Betul Non,” jawab Bagus gugup karena melihat ekspresi i Dini yang tampak k kesal. “Saya tidak tega melihat keadaan tuan dan nyonya, juga Non Dini yang seperti tadi.”

“Aku tidak butuh belas kasihan, Kakak.” Nadanya semakin meninggi. Entah kenapa dia merasa sangat kecewa mendengar jawaban Bagus yang ingin menikahinya hanya karena kasihan dan balas budi

“Maaf kalau Non merasa terhina karena harus dinikahi oleh anak seorang sopir seperti saya. Saya janji Non, ini hanya sebuah ikatan saja sampai anak dalam perut Non lahir dan saya juga janji tidak akan menuntut apa pun dari ikatan ini.”

“Terus,kalau anak ini sudah lahir?”

“Begitu anak Non lahir, keputusan ada di tangan, Non.”

“Maksudnya?”

“Terserah Non mau dikemanakan ikatan kita. Mau lanjut atau dihentikan, semua terserah Non Dini,” ucap Bagus pasrah.

“Kalau aku gak mau lanjut, artinya aku jadi janda muda, gitu?” ujarnya sinis, “apa artinya pernikahan kita kalau ujung-ujungnya seperti itu. Lebih baik gak usah nikah sekalian.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 26

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 385

 

Happy reading,

 

"Kenapa Non Dini bicara seperti itu?" Bagus yang sedang mengemudi melirik Dini sekilas. 

"Daripada Kak Bagus memaksakan diri untuk menikahiku, lebih baik kita tidak usah menikah. Ini adalah dosaku, tidak pantas Kak Bagus harus ikut menanggung resikonya."

"Jangan bicara seperti itu Non, saya ikhlas menikahi Non Dini termasuk akan bertanggungjawab terhadap anak di kandungan Non," ungkap Bagus tulus.

"Lalu, kenapa Kak Bagus tadi bilang terserah aku kedepannya gimana," tukas Dini sembari menyusut sudut matanya yang kembali mengurai air mata.

"Saya hanya tidak ingin Non Dini merasa terbebani ke depannya karena mendapat status istri dari anak seorang sopir." Bagus membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah Dini lalu menuju garasi.

"Harusnya aku yang bicara seperti itu Kak, maafkan Dini ya Kak, gara-gara aku Kak Bagus harus ikutan menanggung getahnya." Dini tersenyum getir.

"Tidak apa-apa Non, apa yang akan saya lakukan tidak sebanding dengan kebaikan dari keluarga Non selama ini terhadap keluarga saya." Bagus tersenyum tipis.

Tanpa Bagus duga, Dini menjatuhkan wajahnya di dada Bagus lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bagus. Tubuh Bagus menegang untuk beberapa saat. Dia tidak pernah menduga Dini akan memeluknya seperti ini. 

"Makasi Kak dan juga maafin Dini. Kak Bagus harus mengorbankan masa depan Kak Bagus demi melindungi keluarga ini, dan itu semua karena ulah Dini. Dini menyesal Kak," lirihnya. Dini menumpahkan air matanya di dada Bagus.

Dengan ragu, Bagus mengusap rambut Dini." Sudah Non, tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan, tidak baik untuk kesehatan anak dalam kandungan Non," ujar Bagus tulus sembari terus mengusap surai panjang milik Dini. 

Dini yang merasa tenang setelah mendengar ucapan Bagus, juga merasa nyaman atas perlakuan yang Bagus berikan padanya. Dia mulai menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya. 

"Sekali lagi makasih Kak," ucap Dini di sisa-sisa isak tangisnya. 

Bagus mengusap sisa air mata di pipi Dini. "Sudahlah Non, sekarang lebih baik Non masuk ke dalam dan beristirahat. Saya ijin pulang untuk membicarakan ini dengan bapak dan ibu saya." Mengusap rambut Dini lagi. 

Mereka berdua lalu turun dari dalam mobil. Bagus ingin memastikan Dini benar-benar beristirahat dulu baru kembali ke rumahnya. 

"Oh, jadi ini laki-laki itu." 

Bugh! 

Seorang pemuda yang tadinya duduk di ruang tengah rumah Dini tiba-tiba melayangkan tinjunya ke wajah Bagus. 

Bagus yang tidak pernah menduga mendapat serangan seperti itu, tidak sempat mengelak. Tubuhnya akhirnya terhuyung ke belakang, dengan darah yang sudah mengucur dari hidung. 

"Kak Arya!" pekik Dini. 

 

Bab 27

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 608

 

Happy reading,

 

Bugh!

 

Sekali lagi Arya melayangkan pukulan keras ke wajah Bagus, hingga Bagus terhuyung ke belakang dan akhirnya tubuhnya roboh.

 

Bugh! Bugh! Bugh!

 

Bukannya berhenti Arya malah naik ke perut Bagus dan mendaratkan tinjunya berulang kali wajah Bagus. Bagus hanya menerimanya tanpa melakukan perlawanan apa pun. Wajahnya sudah hancur, lebam di mana-mana. Darah mengucur dari pelipis, hidung, dan kedua sudut bibirnya

 

“Jadi, Elo, baji*ngan yang sudah bikin adik gue hamil.” Arya mencengkram kuat kerah kemeja Bagus, bersiap melayangkan tinjunya lagi.

 

“Kak Arya, jangan!” teriak Dini. Dia berusaha menghentikan tangan Arya yang hendak memukul Bagus kembali dengan berurai air mata.

 

“Minggir! Aku ingin memberi pelajaran pada si breng*sek ini,” perintah Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari Bagus. Terlihat api yang menyala pada sorot matanya.

 

“Tidak Kak, Kak Arya salah orang. Bukan Kak Bagus yang membuatku jadi seperti ini,” isak Dini. Dia menatap Bagus prihatin.

 

Arya tersentak lalu segera bangkit. “Masud kamu?”

 

“Maafin kak Arya ya, Kak.” Dini sesegukan sembari membantu Bagus untuk berdiri.

 

“Saya gak apa-apa Non,” jawab Bagus sungkan.

 

“Heh Din, kamu belum jawab kakak,” geram Arya karena merasa Dini mengabaikannya.

 

“Kak Arya salah orang. Kak Bagus ini anak pak Wahyu, gak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang terjadi padaku. Bukannya nanya dulu malah langsung main pukul aja,” jawab Dini sewot. Sementara Bagus hanya terdiam memegangi sudut bibirnya dirasa perih.

 

“Hah sudahlah, terserahmu. Aku mau ke rumah sakit.” Dengan kesal Arya meninggalkan Dini dan Bagus.

 

 

“Kenapa Kak Bagus gak ngelawan tadi?” Dini memeras handuk kecil dari baskom yang berisi air hangat untuk membersihkan darah di luka-luka Bagus.

 

“Aww,” ringis Bagus saat Dini menekankan handuk itu pada lukanya.

 

“Sakit ya, Kak?” Dini menyentuh luka Bagus dengan lembut. Manik bening itu menatap Bagus dengan iba dan rasa bersalah. Dia merasa sangat bersalah pada pemuda di hadapannya ini karena lagi-lagi Bagus harus menjadi korban dari kesalahan yang tidak dia perbuat.

 

“Mas Arya sudah keterlaluan, datang-datang main hajar aja. Wajah Kak Bagus sampe bonyok begini.” Mulai mengoleskan obat merah di luka-luka Bagus.

 

Bagus meringis menahan perih saat Dini mengoleskan obat di sudut bibirnya yang terluka.

 

“Aduh maaf Kak, perih ya?” Reflek Dini menyentuh luka itu dengan jemarinya lalu meniupnya pelan.

 

Bagus tersentak. Dalam sepersekian detik tubuhnya menegang, menyadari jarak bibirnya dan bibir Dini yang kini sangat dekat hingga menimbulkan getaran aneh di dada Bagus. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat dari biasanya.

 

“Tidak apa Non, mas Arya ‘kan tidak sengaja melakukan ini.” Bagus segera menjauhkan wajahnya. Dia takut tidak bisa menguasai dirinya jika lebih lama lagi mereka berdekatan seperti itu.

 

“Maafin Dini ya Kak, gara-gara Dini Kak Bagus jadi seperti ini,” sesalnya. Butiran bening kembali lolos dari mata indahnya. Dia terenyuh, dadanya serasa mencelos melihat seluruh luka di wajah Bagus.

 

“Jangan menangis Non, saya baik-baik saja.” Bagus berusaha menghibur. Entah mendapat keberanian dari mana, tangan Bagus terulur mengusap air mata di pipi Dini. “Non Dini tidak boleh menangis lagi, itu tidak baik untuk kesehatan anak dalam perut, Non.”

 

Namun, tanpa Bagus duga, Dini malah memeluk Bagus, merebahkan kepalanya di dada bidang milik Bagus. Kemudian, menumpahkan air matanya lagi di sana. Dini sangat rapuh sekarang. Dia membutuhkan seseorang sebagai tempatnya bersandar dan menurutnya orang itu adalah Bagus. Hanya Bagus yang ada bersamanya saat ini dan hanya Bagus yang mau mengerti kondisinya saat ini.

 

“Makasih Kak, makasih udah mau membantu Dini dan menyelamatkan kehormatan keluarga ini. Makasih udah ada di saat Dini butuh dukungan, makasih untuk semuanya, Kak. Seumur hidup Dini akan merasa berutang budi pada Kakak, Dini janji akan berusaha membalasnya. Katakan Kak, dengan apa Dini harus membalasnya?” Dini kembali terisak.

 

Bagus mengusap rambut Dini dengan lembut. “Sudah Non, jangan menangis lagi. Saya ikhlas lahir batin melakukan ini.” Membalas pelukan Dini dan mengecup puncak kepalanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 28

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

jumlahkata 493

 

Happy reading,

 

Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, pernikahan. Pernikahan Dini dan Bagus. Mengingat status Dini yang masih menjadi pelajar, acara itu berlangsung tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Tidak ada tamu undangan apalagi pesta pernikahan.

 

Malam pun tiba, Bagus yang baru keluar dari kamar mandi menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil. Dia tersenyum sekilas ke arah Dini yang duduk menselonjorkan kakinya di atas ranjang sembari membaca majalah.

 

Kak Bagus memang tampan, batin Dini. Diam-diam Dini memperhatikan Bagus, dia mengintip dari balik majalah yang dibacanya. Pria itu sedang menyisir rambutnya di depan meja rias dan hanya mengenakan kaos putih polos dipadu celana pendek. Penampilan sederhananya itu sudah mampu mencuri hati Dini.

 

Selesai menyisir rambutnya Bagus menghampiri Dini. “Apa Non ingin tidur sekarang?” Dia sudah duduk di tepi ranjang menghadap Dini.

 

Apa maksudnya bertanya begitu? Apa dia akan meminta haknya sekarang? Batin Dini bergejolak.

 

“I-iya Kak, aku sangat lelah dan mengantuk. Rasanya aku tidak punya kekuatan lagi untuk melakukan hal lain.” Dini berbohong. Dini sadar, mereka sudah resmi menjadi suami-istri, dan Bagus pantas mendapatkan haknya sebagai suami. Apalagi Bagus sudah berkorban untuk menyelamatkan kehormatan dirinya dan keluarganya. Namun, rasanya Dini belum siap melakukannya jika Bagus ingin meminta haknya sekarang.

 

“Kalau begitu beristirahatlah Non, saya akan keluar sebentar menemui tuan.” Bagus tersenyum manis sembari mengusap rambut Dini sekilas.

 

“Maksud Kakak, Kakak menemui papa?”

 

“Iya Non, tadi setelah makan malam tuan meminta saya untuk menemuinya setelah mandi.”

 

“Owh, untuk apa?” Dini semakin penasaran.

 

“Kurang tau Non, tuan belum bicara apa-apa tadi, hanya menyuruh saya menemuinya saja di ruangan kerjanya.”

 

“Owh, oya Kak, apa aku boleh meminta sesuatu?” Ucapan Dini sontak membuat Bagus yang sudah ingin bangkit dari kasur mengurungkan niatnya.

 

“Tentu saja Non,” sahut Bagus yang mulai menatap Dini dengan serius.

 

“Boleh tidak, Kak Bagus berhenti memanggilku ‘Non’, aku istrimu sekarang, panggil Dini saja, ya.”

 

“Tapi Non ....”

 

“Tidak ada tapi-tapian,” potong Dini cepat dengan wajah seriusnya.

 

“Baiklah Non ... eh, Dini.” Lidah Bagus terasa kaku yang dibalas senyum lebar oleh Dini.

 

Ya Tuhan, kenapa Dini sangat cantik dengan senyum manisnya itu, batin Bagus terpesona.

 

“Baiklah, saya temui tuan dulu ya, Din.” Dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Dini sebelum perasaan aneh yang menjalar dalam dirinya menguasainya. “Kalau butuh sesuatu, emm... maksud saya ngidam sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada saya ya Din,” ujar Bagus tulus sebelum bangkit dari duduknya.

 

“Kak,” panggil Dini. Dia meraih tangan Bagus untuk menghentikan pria itu.

 

Sementara Bagus yang kaget, melirik sekilas tangannya yang digenggam Dini. Kemudian menatap Dini, menunggu ucapan gadis itu. Hatinya bergetar aneh saat kulit mulus itu bersentuhan dengan kulitnya.

 

“Terima kasih banyak untuk semuanya ya, Kak.” Kedua pipi yang putih mulus itu terlihat mengembang dengan sudut-sudut bibir yang terangkat ke atas.

 

Sial! Dini benar-benar cantik, benar-benar manis. Sebagai lelaki normal, Dini sudah membangkitkan naluri kelelakiannya. Namun, sadar akan siapa dirinya, Bagus hanya bisa menelan ludah.

 

“Sama-sama Din,” ucap Bagus akhirnya. Dia tersentak, saat tanpa diduganya Dini mencium punggung tangannya. Namun, di detik berikutnya dia tersenyum bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 29

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 525

 

Happy reading,

 

Bagus kembali ke kamar setelah Dini terlelap tidur. Dia tersenyum geli melihat Dini yang tidur terlentang dengan mulut setengah terbuka. Bagus menggeleng lalu mendekati ranjang, menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Dini dengan baik. Kemudian, mengusap rambut Dini dan mengecup keningnya sesaat.

 

“Have a nice dream,” bisiknya lembut. Dia meraih salah satu bantal lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kesibukan hari itu membuatnya sangat lelah dan mengantuk.

 

Selang berapa lama, di saat Bagus terlelap dalam tidurnya, Dini menggeliat di atas ranjang. Keinginannya untuk buang air kecil, memaksanya untuk segera bangun meski kelopak matanya terasa sangat susah untuk dibuka.

 

Dengan malas dia bangkit menuju kamar mandi. Setelah buang air kecil matanya membulat sempurna, dia kaget karena baru menyadari ada orang lain di kamarnya. Bagus sedang terlelap tidur di atas sofa.

 

“Kenapa Kak Bagus bisa ada di sini?” Namun, detik berikutnya dia tersadar kalau pria itu sudah resmi menjadi suaminya. Rasa bersalah kembali menyeruak dalam hatinya saat melihat Bagus yang tidur di sofa.

 

“Kenapa dia tidur di sofa? Apa dia jijik tidur seranjang denganku?” Dini mencebikkan bibirnya.

 

Entah apa yang ada di pikiran Dini, kakinya menyeretnya untuk mendekat ke arah Bagus. Matanya kini menyusuri tubuh Bagus yang tengah tidur terlentang. “Kalau dilihat dari dekat begini, kamu tambah cakep Kak, eh ... suamiku.” Dini yang tengah membungkukkan badannya di dekat wajah Bagus, menutup mulutnya. Dia cekikikan karena ucapannya sendiri.

 

Bagus memang tampan, dan kalau Dini boleh jujur, Bagus lebih tampan dari Arkana. Bagus memiliki kulit yang bersih dengan sorot mata tajam serta garis wajah tegas, dan yang membuat Dini jatuh hati adalah kedewasaan dan kelembutan yang dimiliki Bagus yang. Tanpa rasa malu Dini naik ke atas sofa, menyempilkan tubuh mungilnya di sebelah Bagus.

 

Bagus yang tadinya sudah terlelap menjadi tersentak, menyadari sesuatu bergerak di sebelahnya. “Din, kenapa tidur di sini?” kagetnya.

 

“Aku ingin tidur di dekatmu,” jawabnya santai, “ranjangku luas, kenapa kamu malah tidur di sini?” Melingkarkan tangannya di pinggang Bagus sembari memejamkan mata. Dia tidak peduli jika pria itu tengah kebingungan karena kelakuan agresifnya.

 

“Badanmu akan sakit kalau tidur di sini,” nasehat Bagus.

 

“Badan Kakak juga akan sakit kalau tidur di sini,” balas Dini sembari mengeratkan pelukannya.

 

Kondisi ini membuat Bagus semakin tidak nyaman. Sikap Dini membangkitkan getaran aneh dalam dalam dirinya. Sesuatu yang tak biasa tengah bergejolak, meronta-ronta untuk segera dibebaskan. Berulangkali Bagus terdengar menghela napas, berusaha menenangkan dirinya untuk menahan keinginan tak biasa yang tiba-tiba menyeruak dalam batinnya.

 

“Din, sebaiknya kamu pindah ke ranjangmu,” gumam Bagus.

 

“Kenapa? Aku nyaman di sini.” Merapatkan tubuhnya ke tubuh Bagus lalu mengendus aroma tubuh pria itu.

 

Aku yang tidak nyaman, batin Bagus bergejolak.

 

“Kamu wangi Kak, aku menyukainya,” ujar Dini polos. Matanya masih terpejam menikmati aroma tubuh Bagus yang memenuhi rongga hidungnya. Dia menggesekkan wajahnya di dada Bagus. Ya Tuhan, kondisi ini membuat Bagus ingin berteriak. Sungguh, ini menyiksanya.

 

“Din, aku pria normal, kalau kamu seperti ini terus aku takut tidak bisa menguasai diriku sendiri, Din. Aku takut tidak mampu menahannya.” Bagus menyerah. Dia akhirnya mengatakan ketakutan yang ada di benaknya.

 

Dini membuka matanya, lalu mendongakkan wajahnya. Dengan mata sayu dia menatap Bagus yang juga sedang menatapnya. “Kalau begitu jangan menahannya. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan ....”

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 30

0 0

sarapankata

kmoindonesia

kmobatch37

kelompok20daffodil

jumlahkata 680

Happy reading,

 

Tiga bulan berlalu,

 

 

 

“Kak, aku lulus,” teriak Dini kegirangan saat menelepon Bagus.

 

“...”

 

“Makasi Sayang,” balas Dini sumringah.

 

“...”

 

“Hm, gak apa, aku tau kamu masih sibuk dengan skripsimu.”

 

“...”

 

“Udah, Bapak udah jemput aku. Nih lagi perjalanan ke rumah.” Dini mengerling ke arah pak Wahyu, mertuanya yang sedang menyetir.

 

“...”

 

“Bener ya dikasih hadiah.” Nadanya berubah manja. Sementara pak Wahyu tersenyum mendengarnya. Dia merasa bahagia karena Dini mau menerima Bagus yang hanya anak sopir sebagai suaminya. Terlebih Dini dan Bagus terlihat akur dan bahagia menjalani kehidupan rumah tangga mereka selama tiga bulan ini.

 

“...”

 

“Oke, cepet pulang, kutunggu di rumah.”

 

“...”

 

“Aku gak kepingin apa Kak, ngidamku cuma satu, kamu!” Dini menutup mulutnya menahan tawa. Dia memang sangat suka menggoda suaminya.

 

“...”

 

“Daahh juga Akak Sayang muahhh.” Dini masih cekikikan saat menutup telepon.

 

 

 

 

 

Empat bulan kemudian,

 

“Arrhhh ... sakit,” teriak dari dalam ruang bersalin. Sementara Bagus dan kedua orang tua mereka menunggu di luar. Bagus terlihat gelisah, dia mondar-mandir di depan ruangan.

 

“Tenang Gus, paling sebentar lagi anak kalian akan lahir,” ucap Nyonya Wiguna.

 

“Aku hanya tidak tega mendengar Dini berteriak Ma, dia pasti sangat kesakitan.”

 

Nyonya Wiguna tersenyum lebar. “Wanita melahirkan memang seperti itu, nanti begitu sudah lahir semua rasa sakit itu akan lenyap begitu saja, digantikan rasa bahagia yang tiada tara.” Nyonya Wiguna mengusap punggung Bagus.

 

“Tapi Ma ....” Belum selesai Bagus mengucapkan kalimatnya, sudah terdengar suara tangisan bayi baru lahir dari dalam.

 

“Tuh, apa mama bilang.” Nyonya Wiguna tersenyum bahagia.

 

“Cucu kita sudah lahir Ma,” seru Tuan Wiguna. Mereka lalu mengucap syukur bersama-sama.

 

“Keluarga ibu Dini,” panggil perawat yang keluar dari ruang bersalin.

 

“Kami Sus,” jawab Nyonya Wiguna.

 

“Selamat, bayinya sudah lahir dengan selamat. Bayinya laki-laki, sehat tanpa kekurangan satu apa pun.”

 

“Syukurlah,” ucap mereka bersama.

 

“Yang mau jenguk sudah bisa tapi, satu-satu ya.”

 

“Kamu duluan deh Gus,” perintah Tuan Wiguna.

 

“Baiklah Pa,” jawab Bagus girang.

 

Sesampainya di dalam Bagus menghampiri Dini yang masih terbaring di ranjang sedang menyusui bayi mereka.

 

“Like father like son,” canda Bagus saat melihat bayi mungil itu kuat menyusu pada Dini. Dia duduk di kursi dekat ranjang, lalu mengusap kepala bayinya.

 

“Ih, apaan sih.” Wajah Dini merona malu.

 

“Memang salah kataku? Bukankah dia terlihat sekuat aku kalau menyusu padamu.” Terkekeh pelan.

 

“Kak,” sungut Dini. Matanya mendelik dengan wajah yang semakin memerah karena Bagus terus menggodanya.

 

Bagus tertawa renyah. “Boleh aku menggendongnya?” tanyanya begitu melihat putranya selesai menyusu.

 

“Emang bisa?”

 

“Bisalah. Ayo Sayang, gendong sama ayah ya.” Dengan hati-hati berusaha meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. “Kamu lucu banget, bikin ayah gemes.” Mencium-cium bayi mungil itu.

 

Sementara Dini tersenyum bahagia memperhatikan punggung tegap itu menggendong putranya. Bagus sangat mencintai dirinya juga putranya meski dalam kenyataannya Bagus bukan ayah biologis dari putra yang dilahirkannya itu. Lihatlah bagaimana Bagus dengan penuh kelembutan dan kasih sayang menggendong dan berusaha mengajak putranya berbicara, seolah mereka adalah ayah dan anak kandung. Bagaimana mungkin Dini tidak semakin jatuh cinta padanya.

 

“Lihat Din, anak kita tersenyum padaku,” ucap Bagus senang, “siapa namanya, Din?” Melirik Dini sekilas sebelum fokus kembali pada bayi dalam gendongannya.

 

“Mars,” jawab Dini, “dia adalah dewa perang yang hebat dalam Yunani dan planet terindah dalam tata surya.”

 

Bagus membaringkan bayinya kembali di ranjang. “Mars, nama yang keren. Ibumu sangat pintar memilih nama.” Bagus menggerling ke arah Dini.

 

“Kak, makasi atas semuanya,” ucap Dini dengan berkaca-kaca, Dini meraih tangan Bagus yang mengusap rambutnya lalu mengecupnya. “Terima kasih Kak, sudah mau menerima kami dan memberi cintamu yang luar biasa untuk kami. I love you.”

 

“I love you too, i love you more, more, and more.” Bagus mengecup puncak kepala Dini.

 

Ucapan Bagus membuat Dini seakan terbang, melayang bersama ribuan kupu-kupu. Tidak henti-henti dia mengucap rasa syukur dalam hatinya. Meski diawali dengan luka dan kesakitan tetapi semuanya sudah berganti sekarang. Keluarga yang utuh, suami yang sangat mencintainya, anak, dan materi yang berkecukupan, apa lagi.

 

“Dulu aku pernah marah atas takdir yang Tuhan berikan untukku tetapi, sekarang aku menyesali hal itu. Terima kasih sudah bersedia diutus Tuhan untuk menjadi bagian dari cerita hidupku. Kini aku mencintai takdirku, cause you’re my destiny.”

 

 

 

End,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin saja kamu suka

Syarwendah
Secret Admirer
wahyuni
Cerita Reyna
Husnayaini Hawa...
Aziya
Azmi Alhaq
Dari Langit Gaza
Siti Aisyah
Sarayu Ramadhan

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil