Loading
4

0

0

Genre : Lain-lain
Penulis : Choirul Muna
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Choirul Muna
Buku : 1

Swastamita

Sinopsis

Sebuah cerita yang mengambil filosofi senja. Dimana senja diartikan sebagai sebuah kehilangan namun tak pernah memiliki. Cerita dua orang sahabat yang membuat istighfar ketika mengetahui tingkah laku mereka. Meski tingkah laku mereka tidak lazim jika dikategorikan sebagai manusia, namun dalam kisah ini mereka juga mempunyai perasaan layaknya manusia. Mereka berdua terjebak dalam segitiga perasaan, dimana mereka berdua mempunyai perasaan yang suka kepada seorang gadis, dan gadis itu juga menyukai mereka berdua. Hingga pada akhirnya, ketika salah satu dari seorang sahabat tersebut mengetahui bahwa sahabatnya juga menginginkan orang yang sama dengannya. Ia lebih memilih mengalah untuk sahabatnya dan lebih menghargai persahabatan mereka. Namun di sisi lain gadis tersebut tidak ingin jika ia meninggalkannya, sehingga hubungan mereka tetap berlanjut. Di suatu waktu hubungan mereka diketahui oleh sahabatnya. Dan salah satu dari sepasang sahabat tersebut mengorbankan perasaan dan merelakan gadis yang disukainya bersama sahabatnya.
Tags :
#romance #misteri #keluarga #religi #inspirasi #teenfiction #komedi #comedy #misteri #ceritaanak #thriller #fantasi # #detektif #populer #kmoindonesia #sarkat #kmobatch37 #kelompok5alistergaruda #kmo

Swastamita Sarkat Day 1

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 880

Day1

 

Kala dan Seta adalah sepasang sahabat yang kebetulan mempunyai tingkah laku yang kocak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kocak adalah gerak bolak-balik (kanan-kiri) yang cepat. Arti lainnya adalah guncang. Nah, untuk kata kocak ini, lebih menjerumus ke otak mereka. Jadi, otak mereka bolak-balik atahu mengalami guncangan yang mengakibatkan tingkah laku mereka yang usil, lucu, dan tidak seperti manusia pada umumnya.

 

Nama Kala sendiri mempunyai arti waktu. Sedangkan Seta berarti putih. Padahal kalau dilihat dari nama mereka, artinya keren. Tapi tiak tahu kenapa tingkah mereka seperti tidak lazim untuk disebut sebagai manusia. Ya, mungkin mereka berasal dari bangsa alien atahu semacamnya.

Pada suatu hari Seta berkunjung ke rumah Kala, dan bertemu dengan bapaknya Kala. Kebiasaan anak zaman dahulu kalau memanggil nama temannya dengan sebutan nama bapaknya. Orang Jawa pasti tahu ini. Nah bapaknya Kala ini namanya Pak Sanusi.

 

“Pagi, Om.” sapa Seta kepada bapaknya Kala.

“Ya, pagi.” jawab bapaknya Kala.

“Sanusinya ada, Om?’ tanya Seta kepada bapaknya Kala.

“Sanusi siapa? Saya Sanusi!” jawab bapaknya Kala sembari matanya sedikit melotot ke arah Seta.

 “Waduh,keceplosan nih gue.” Kata Seta dalam hati sambil merem menahan ingin tertawa.

“Oh, Kala. Ngomong dong!” Sahut bapaknya Kala.

“Ya, kan udah ngomong, Om.” Kata Seta dalam hati.

 

Memang ya, si Seta ini enggak ada sopan-sopannya sama sekali sama sama orang tua.

Lalu terdengar suara dari dalam rumah.

“Woi, gue disini.” Kata Kala tapi belum menampakkan batang hidungnya.

“Disini dimana?” Tanya Seta.

“Ya disini-disini.” Jawab Kala.

“Di dalem.” Lanjut bicaranya.

 

Kemudian Seta minta izin masuk kepada bapaknya Kala.

“Om, aku masuk dulu ya.” Kata Seta.

“Ya, silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri.” jawab bapaknya Kala.

“Oke, Om. Entar aku jual rumahnya.” Sahut Seta.

“Dasar, bocah.” Kata bapaknya Kala dalam hati.

 

Lalu Seta masuk dan menemui Kala. Belum sempat menyapa Kala, tiba-tiba Seta langsung berkata ingin ke toilet. Setelah sampai di toilet, kemudian Seta buang air besar. Dari perjuangannya yang lumayan lama, akhirnya membuahkan hasil. Karena dia baru pertama kali menggunakan toilet duduk, dia pun bingung cara menyiramnya.lalu dia melihat shower, yang kemudian digunakan untuk menyiram.

 

Maklum baru pertama kali menggunakan toilet duduk. Jadi Seta tidak tahu cara menyiramnya. Sebenarnya kan ada ponsel untuk searching di Google mengenai cara menyiram di toilet duduk. Tapi apa daya, memang itulah Seta. Kalau tidak seperti itu, bukan Seta namanya. Emang benar-benar terkena guncangan otak dia.

 

Setelah selesai Seta pun keluar dari toilet dan lanjut menemui Kala.

“Ah, legaa.” Kata Seta di depan Kala.

“Lega? Apanya yang lega?” Tanya Kala.

“Gue bro, panik tadi di toilet.” Jawab Seta.

“Panik kenapa sih? Ada kecoa?” Tanya Kala, lagi.

“Apaan kecoa. Enggak lah. Lebih parah lagi.” Jawab Seta.

“Apaan?” Tanya Kala penasaran.

“Gue bro, panik karena enggak bisa nyiram tadi di toilet. Lu gayungnya dijual kemana?” Sahut Seta.

“Gue tukerin kerupuk kemarin. Enggak lah. Mana ada gayung di toilet gue. Itu ada tombol di toilet duduknya. Lu pencet aja itu tombol. Nah, udah nyiram sendiri tuh.” Kata Kala.

“Lah, lu enggak ngomong sih.” Balas Seta.

“Kirain udah tahu, lu. Lu kan udah sering kesini, lu juga sering numpang buang air kecil disini. Terus biasanya lu gimana nyiramnya?”  Tanya Kala.

“Nggak pernah gue siram. Hehe.” Jawab Seta sambil tertawa canggung.

“Lah, pantesan gue sering diomelin bapak gue, katanya gue kalau buang air kecil enggak pernah disiram.” Sahut Kala.

“Hehe, ya maap.” Balas Seta.

“Dahlah, males.” Kata Kala sebagai penutup pembicaraan mereka mengenai kisah toilet dan Seta.

 

Lalu lewatlah sosok cewek di depan rumah Kala yang terlihat dari jendela rumahnya.

“Eh, siapa itu, Sanusi?” Tanya Seta.

Belum sempat menjawab pertanyaan Seta, tiba-tiba Pak Sanusi dari depan rumah.

“Apa kamu? Sanusi, Sanusi.” Kata Pak Sanusi kepada Seta.

“Aduh, double kill nih.” Kata Seta dalam hati sambil sedikit cemas perasaannya.

Lalu Seta menjawab.

“Eh, enggak, om. Enggak ada yang ngomong Sanusi kok. Mungkin Cuma perasaan om saja.” Kata Seta berbohong sambil mencoba meyakinkan Pak Sanusi.

 

Lalu Pak Sanusi membalikkan badan dan kembali ke depan rumah tanpa menjawab perkataan Seta.

“Elu sih.” Kata Kala kepada Seta sembari memukul pelan lengan Seta.

Ya itulah mereka kalau sedang bersama.

Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka mengenai cewek yang lewat di depan rumah.

“Itu tadi namanya, Mita. Swastamita nama lengkapnya. Bapaknya Kepala Sekolah di Sekolah Swasta kecamatan sebelah.” Lanjut bicara Kala menjelaskan cewek yang lewat depan rumahnya.

“Wah, Swastamita. Swastamita kan artinya matahari terbenam atahu biasanya disebut senja.” Balas perkataan Seta kepada Kala.

“Eh, dapat kata-kata darimana, lu?” Tanya Kala.

“Haha, gue gitu. Ya dapat dari internet dong. Gue kan suka searching kata-kata gitu.” Jawab Kala.

“Oh gitu. Swastamita. Namamu indah terpatri dalam senja. Merasuk ke dalam tatapan mataku. Dan merasuk ke dalam hatiku.” Kata Kala dan melantur merangkai kata.

“Wih, keren, keren.” Puji Seta kepada Kala.

“sekarang giliran gue nih. Senja.”

Lalu Kala memotong perkataan Seta.

“Kok senja sih?” Tanya Kala.

“Iya, kan swastamita. Sebentar dong biar gue lanjutin dulu. Main potong aja.” Sahut Seta.

“Iya Slamet, iya. “Sahut balik, Kala dengan menyebut Seta dengan nama bapaknya.

“Oke, gue lanjut. Senja. Kau bagai swastamita yang harum namanya.” Kata Kala.

“Emang Ibu kita Kartini? Harum namanya.” Kata Kala memotong rangkaian kata-kata alay Seta.

“Dahlah, males.” Sahut Kala dan berhenti merangkai kata. 

 

Setelah itu, Seta menatap ke arah jendela.

“Lah. Kok Mita ngilang.” Kata Seta.

“Yuk ke depan rumah, kita duduk di pinggir jalan.” Balas Kala.

“Lah. Lu sukanya ngelantur pembicaraan.” Kata Seta.

“Udah, ayo!” Balas Kala.

 

 

Swastamita Sarkat Day 2

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 414

Day2

 

 

Lalu mereka pergi ke depan rumah, dan duduk di pinggir jalan. Setelah itu Kala menoleh ke kanan dan menunjuk sebuah rumah.

 

“Itu,” ucap Kala sambil menunjuk rumah tetangganya.

“itu apa, Sanusi?” tanya Seta.

“Ya itu. Mita ada di rumah sana, Slamet,” jawab Kala.

“Oooooooh,” balas Seta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ah-oh, ah-oh aja, lu,” ucap Kala, lagi.

“Kenapa emang?” tanya Seta.

“Enggak tau lah. Sebel gue,” sahut Kala.

“Eee, lu sebel kenapa?” lontar Seta lagi.

“auk, ah. Gelap,” jawab Kala sambil mengarahkan bola matanya ke atas.

Setelah itu terdengar suara dari belakang mereka.

 

“Heh, ngomongin apa kalian?” Suara yang muncul dari belakang Kala dan Seta.

Kemudian Kala dan Seta menengok. Setelah melihat orang yang berkata dari belakang mereka kemudian mereka kembali menghadap ke depan.

 

“Lah, ternyata orangnya ada disini,” tutur Kala kepada Seta, lirih.

“I-iya” balas Seta sambil sedikit terpatah ucapannya.

Ternyata Mita muncul dari belakang mereka. Lalu Kala bertanya kepada Mita.

“Sejak kapan kamu disini, Mit?” tanya Kala.

“Mit, Mit. Emang gue demit?” sahut Mita.

“Lah? Nama lu Mita kan?” Tanya Kala sambil melongo menatap Mita.

“Iya, nama gue Mita. Tapi kan lu biasanya manggil gue, ‘Ta’, gitu.” Balas Mita

“Eh kalian udah saling kenal?” Kata Seta memotong pembicaraan mereka berdua.

 

Ternyata Kala dan Mita memang sudah saling kenal. Makanya Kala tahu kalau Mita ada di rumah yang ia tunjuk sebelumnya.

 

“Iya, kita udah saling kenal,” jawab Mita.

“Lah, lu kenal sama si Sanusi?” tanya Seta, lagi.

“Lah, Sanusi kan bapaknya Kala,” jawab Mita.

“Eh, maksudnya, Kala,” lanjut Seta.

“Oh Kala. Iya kita udah kenal dari dulu kok.” balas Mita.

“Lah, kenapa lu enggak kenal gue?” tanya Seta.

“Lu aneh banget sih, Slamet,” sahut Kala memotong pembicaraan.

“Eh, nama dia, Slamet?” tanya Mita kepada Kala.

“Iya, namanya, Slamet,” jawab Kala.

“Eh, sembarangan aja, lu,” ucap Seta kepada Kala.

“Nama gue tuh, Seta. Slamet itu bapak gue,” lanjut bicaranya kepada Mita.

“Lah, kenapa nama kalian bisa Slamet dan Sanusi, sih?” tanya Mita, heran.

“He…he, itu nama bapak kita. Kita biasa manggil nama dengan sebutan bapaknya.” jawab Seta.

“yah, ternyata eh ternyata. Ada udang dibalik bakwan,”. balas Mita.

“Eh, kok bakwan sih?” lontar Kala.

“Kenapa emang?” tanya Mita.

“He..he, bikin laper,” jawab Kala.

“Ya udah ayo mampir ke rumah bibi gue,” ujar Mita, lagi.

“Eh bentar dong, kita kan belum kenalan, masa mau pergi gitu aja,” kata Seta memotong pembicaraan.

“Lu laper nggak?” tanya Mita kepada Seta.

“Ya, iya sih, laper,” jawab Seta.

“Ya udah, ayo.” balas Mita.

 

Kemudian mereka bertiga pergi ke rumah bibi Mita.

Swastamita Sarkat Day 3

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 379

Day3

Setelah beberapa langkah, sampailah mereka di halaman rumah bibi Mita. Rumah sederhana tanpa pagar karas yang selalu bersih dan rapi, juga pepohonan kecil yang menghalau panas matahari. Namun, Mita mendapati kejanggalan dalam rumah yang baru saja mereka datangi. Daun kering yang jatuh juga berserakan di halaman rumah.

 

‘Tumben rumah bibi, gini,’ ujarnya dalam hati dan mulai mengerutkan dahi.

 

Matanya mulai tertuju ke pintu rumah. Pintu yang biasanya tertutup, kini juga sedikit terbuka. Tanpa mengucapkan hal yang membuatnya heran, ia pun mengajak Kala dan Seta masuk.

 

“Masuk, yuk,” ucapnya kepada mereka.

 

“Ngapain?” sahut Kala sambil menampakkan wajah datarnya.

 

Tanpa mempedulikan perkataan Kala, ia pun pergi menuju rumah, yang disusul oleh Seta. Kala yang kebingungan karena ditinggal mereka berdua, ia pun membuntuti mereka. Setelah membuka pintu dan masuk, mereka bertiga dikagetkan oleh keadaan bibi Mita yang tergeletak di lantai. Mita yang panik melihat bibinya tergeletak di lantai langsung berlari menuju arah bibinya.

 

“Bi! Bibi, kenapa?” Kata Mita, panik.

Namun tak ada jawaban dari bibinya.

 

Kemudian ia menjulurkan jarinya ke depan lubang hidung bibinya, bermaksud mengecek hembusan nafas bibinya. Ternyata nafas bibinya tak berhembus. Ia pun semakin panik. Kemudian ia mengangkat dua tangannya menutupi mulutnya. Mita yang mendapati tubuh bibinya tergeletak dan nafasnya yang tak berhembus membuat jatuh air matanya. Seketika dunia menjadi sunyi. Pikirannya kacau, tubuhnya pun lemas, merasa kehilangan bibinya.

 

Waktu seakan berhenti untuk menyaksikan hari terakhir Mita bersama bibinya. Kala dan Seta yang banyak tingkah dan biasa ceplas-ceplospun menundukkan kepala dan terdiam. Mereka ikut bersedih menyaksikan kepergian bibi Mita. Mita yang menangis dan merasa bahwa ini hari terakhir bersama bibinya, ia pun mengecup pipi bibinya. Menahan kecupan di pipi bibinya, ia ingin sedikit berlama-lama bisa mengecup bibinya.

Tak lama kemudian, “praaaaaannkkkkk,” kata bibi Mita mengejutkan semua. Mita yang masih menahan kecupan di ppi bibinya pun sontak mengangkat kepalanya. Kala dan Seta pun yang berdiri bersebelahan menoleh dan saling menatap menampakkan wajah terkejutnya.

 

“Ih, Bibiiii, bikin orang sedih aja,” celetuk Mita, kesal sambil menyubit pipi bibinya.

 

“Kenapa? Kaget?” balas bibi Mita sembari tersenyum puas telah berhasil menipu tiga anak muda yang datang ke rumahnya.

 

Sebelum  mereka masuk rumah, bibi Mita sedang asyik menonton konten prank di Youtube. Saking asyiknya, sampai lupa membersihkan rumahnya. Tak sengaja bibi Mita melihat mereka sedang menuju rumahnya. Lalu muncullah ide buat prank untuk mereka.

 

Swastamita Sarkat Day 4

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 330

Day4

 

Semua berlalu, setelah Bibi Mita

 berhasil mengelabuhi ketiga anak muda itu. Hanya dengan sekejap, yang semula keadaan begitu terasa sepi dan bercampur kesedihan, kini telah berubah. Air mata yang mengalirpun sudah terhapuskan oleh keadaan. Bibi Mita menunjukkan wajah berseri dan pergi ke ruang belakang dari ruang yang mereka singgahi.

 

“Sebentar.” Katanya sambil melangkahkan kaki menuju ruang belakang.

 

Ketiga anak muda itu masih tertegun, belum ada pembicaraan di antara mereka. Bibi sudah mulai terlihat dari pintu perbatasan ruang membawa satu piring gorengan dengan lilin di tengahnya menyala.

Kemudian meletakkan sepiring gorengan itu di meja kecil di dalam ruangan itu. Kala yang tidak tahan ketika melihat makanan langsung saja menyerobot mengambil gorengan dari piring itu, dan menggigitnya. Belum selesai mengunyah gorengan itu, “eeh, main serobot aja kau,” tegur bibi kepada Kala.

 

“Itu beracun,” lanjut bicaranya.

 

Kala dengan santainya mengunyah kembali gorengan di dalam mulutnya, seakan tidak percaya dan tidak mempedulikan apa yang dikatakan Bibi Mita.

 

“Justru itu, aku mau ngecek ini beracun beneran atau engga.” Ujarnya sambil mengunyah.

 

“Jangan dimakan dulu,” sahut Bibi.

 

“Emang kalau nggak dimakan mau buat apaan, Bi? tanya Kala

 

“ya buat dimakan, tapi nanti, acara belum mulai,” jawab Bibi.

 

“ya udah, nih, aku kembalikan,” jawab Kala, juga menyodorkan gorengan yang sudah ia gigit kea rah piring.

 

“Eh jorok lah kau, Kala.” Tampik Bibi dan mengangkat sepiring gorengan di meja kecil itu.

 

“Terus, nasib gorengan ini gimana?” tanya, Kala.

 

“Ya udah, dihabisin sekalian.” Jawab, Bibi sembari kembali meletakkan sepiring gorengan itu.

 

Kala kemudian melanjutkan memakan gorengan yang sudah ia ambil. Semua pandangan masih tertuju kepadanya. Mita yang penasaranpun menanyakan, “untuk apa gorengan dan lilin ini, Bi? tanya, Mita penasaran.

 

“hari ini kita cari duit,” jawab bibi sambil tersenyum, dan meyakinkan ketiga anak muda tersebut.

 

“ngepet, Bi?” serentak ketiga anak muda itu mengeluarkan pertanyaan.

 

“iya,” jawab Bibi, santai.

 

Mita penasaran dengan apa yang dilakukan oleh bibinya. Bukan hanya Mita, Kala pun merasa aneh dibuatnya. Bertanya-tanya di dalam pikiran mereka. Namun, Seta yang sedikit cuek dalam keadaan ini, ia masih diam.

 

 

Swastamita Sarkat Day 5

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 385

Day5

 

Swastamita Sarkat Day 5

 

Hari ini ternyata hari ulang tahun Mita. Bibinya yang teringat akan hal itu sengaja membuat prank untuk mengejutkan Mita. Begitu pula dengan gorengan dan sebatang lilin di tengahnya, juga untuk merayakan ulang tahun Mita. Lilin yang semakin terbakar oleh perbincangan antara beberapa orang dalam ruangan itupun kini diketahui maksudnya.

 

“Selamat Ulang Tahun, Mita,” Bibi mengatakannya dengan tersenyum.

 

Mita yang telah lama tidak merasakan hal seperti ini pun merasa terharu dengan apa yang sudah dilakukan bibinya, meskipun dengan cara yang amat sederhana.

 

“Terima kasih, Bi. Aku sendiri lupa dengan hari Ulang Tahunku, malah Bibi yang ingat,”  kata, Mita menatap bibinya dengan mata berkaca-kaca.

 

“Iya, Nak. Semoga Tuhan selalu memberi keberkahan dalam hidupmu, dan semoga tercapai cita-cita dan cintamu. Sekarang, tiup lilinnya.” Balas Bibi Mita menyodorkan sepiring gorengan kea rah Mita.

 

Mita pun meniup lilin yang disodorkan bibinya. Ibunya tiba-tiba datang dari arah pintu membawa kado untuknya. Dia pun memeluk ibunya dengan erat. Ibunya selalu memberikan kado untuknya setiap hari Ulang Tahunnya.

 

“Mita! Kok bengong,” ucapan Bibi yang tiba-tiba terdengar di telinga Mita.

 

Mita tersadar dari lamunannya. Ia membayangkan ketika hari ini ibunya masih ada. Hal yang telah lama ia rindukan di saat momen-momen seperti ini. Ayahnya sibuk dan terkadang hanya memberikan ucapan Ulang Tahun melalui ponselnya. Ada banyak hal yang ia harapkan, salah satunya, ia ingin bertemu ibunya yang telah lama meninggal, meskipun hanya dalam mimpi.

 

“Sebelum kita makan gorengan ini bersama-sama, kita berdoa dulu, yuk,” kata Bibi Mita, lagi.

 

Bibinya, yang tahu Mita merindukan hal seperti ini, sengaja memberikan sesuatu yang sederhana. Karena Bibi Mita tahu, bukan ‘apa’ yang diberikan, akan tetapi ‘siapa’ yang memberikan. Selama orang itu dengan tulus memberikan sesuatu untuknya, ia akan sangat merasa bahagia apabila ada yang mengingat dan merayakan Ulang Tahunnya, meskipun dengan sesuatu yang sederhana.  Tak hanya Mita yang berdoa, akan tetapi semua yang ada di sana ikut berdoa. Setelah selesai berdoa Bibi Mita berkata bahwa berdoa bukan saja harus di momen bahagia seperti ini.

 

“Berdoa adalah keharusan. Ketika dalam kondisi apapun kita semua wajib berdoa. Berdoa untuk kita, orang tua kita, atau orang lain. Dalam kondisi sulit kita juga harus selalu berdoa, dalam kondisi berlimpah nikmat pun juga tetap harus berdoa. Jangankan nikmat kebahagiaan, sedihpun adalah nikmat yang harus kita syukuri. Karena itu adalah pemberian dari Tuhan,” Jelas Bibi kepada tiga anak muda yang ada dalam ruangan itu.

Swastamita Sarkat Day 6

1 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 426

Day 6

 

Swastamita Sarkat Day 6

Rasa haru dan suasana bahagia masih melekat di dalam ruangan itu, meski di benak Mita masih tersimpan sedikit rindu untuk ibunya. Namun terlihat keempat orang di dalam ruangan itu sedang asyik berdoa. Kala dan Seta yang suka bertingkahpun juga Nampak serius dalam berdoa.

 

“Baiklah, sekarang kita makan gorengan ini bersama,” Tutur Bibi Mita kepada ketiga anak muda itu.

 

Lagi-lagi Kala menyerobot lebih dulu.

 

“Lah, elu fast respon amat, kalau soal makanan, Sanusi,” ujar Seta kepada Kala.

 

“Ya gimana lagi, spontanitas gue tinggi kalau soal makanan,” balas Kala.

Diawali dari penyerobotan gorengan oleh Kala, kemudian disusul oleh Seta, Mita, dan juga Bibi Mita. Tidak ada perdebatan apapun saat keempat orang itu sedang memakan gorengan itu. Mereka semua menikmati hidangan yang disajikan Bibi Mita. Setelah satu demi satu gorengan berkurang dari piringnya, kini tersisa satu yang tinggal di piring.

 

“Itu, masih ada satu, habiskan ya, nak,” Kata Bibi Mita.

 

“Sanusi, lu aja deh,” ucap Seta kepada Kala.

 

“Lu aja, Met.” Jawab Kala, mendekatkan piring ke depan Seta.

 

“Ih, lu aja lah,” Seta membalas menyodorkan sepiring gorengan, yang hanya tinggal satu.

 

Dua orang tersebut saling menyodorkan gorengan tersebut untuk orang lain. Mita yang heran dengan tingkah laku mereka, melongo menatap tingkah laku kedua sahabat itu. Bibi Mita juga heran,  melihat mereka berdua. Namun terlihat wajahnya yang biasa saja. Diambil piring itu oleh Bibi Mita.

 

“Kenapa kalian nggak mau makan itu gorengan?” Tanya Bibi Mita kepada kedua sahabat itu.

 

 “Eh, kenapa, Mit?” tanya Kala kepada Mita.

 

“Kok gue?” Balas Mita.

 

Bibi Mita kemudian mengambil dan membagi gorengan itu menjadi empat bagian. Satu bagiannya diberikan kepada setiap orang yang ada dalam ruangan itu.

 

“Adil kan?” tanya Bibi kepada ketiga anak muda tersebut.

 

Tidak ada yang menolak ketika Bibi Mita memberikan potongan gorengan itu. Seakan semua setuju dengan apa yang dilakukan oleh Bibi Mita. Bersama lagi mereka memakan gorengan itu. Kini yang saling menyodorkan gorengan satu dengan yang lain pun tidak ada. Dinikmati bagian yang sudah mereka terima.

 

“Apa kalian tahu? Gorengan itu diibaratkan sebuah masalah. Masalahnya adalah kalian tidak mau makan gorengan itu. Sebenarnya bukan menjadi masalah, akan tetapi menjadi masalah ketika kalian tidak mampu mengambil sebuah tindakan yang baik. Tindakan baiknya adalah kita memakan makanan itu. Tidak tahu mengapa, kok, jika tersisa satu nggak ada yang mau ngambil. Jika kalian tidak mau memakan, biarkan saja. Jika kalian tidak mau menyelesaikan masalah yang bukan hak kalian, ya biarlah saja. Tetapi, jangan memberikan masalah itu kepada orang lain, kasihan juga, kan? Agar lebih terlihat bijak, kita bagi dan menyelesaikannya bersama. Dipikul sama rasa dan rata,” Jelas Bibi kepada anak muda di hadapannya.

Swastamita Sarkat Day 7

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 312

Day 7

 

Sejak saat inilah Seta dan Mita mulai mengenal, meskipun tidak saling berkenalan secara langsung. Seperti kentut yang langsung menyatu dengan udara ketika keluar. Detik demi detik berlalu, jarum jam tidak menunjukkan waktu lebih cepat. Keempat orang dalam ruangan itu masih kukuh berada dalam ruangan. Tak ada yang beranjak dari ruangan.
“Eh, Mit, kita kan belum kenalan. Tadi mau kenalan belum jadi,” Ujar Seta kepada MIta.
“kenalan?” balas Mita.
“Iya, kenalan. Nama lu siapa, Mit?” Pertanyaan aneh yang muncul dari mulut Seta.
“Kalau gue balik nanya gimana? Bendera Merah Putih warnanya apa?” sahut Mita.
“hmmm.” Balas Seta sembari menggaruk kepala dan menunduk.
Kala yang mendengar itu spontan berkata, “otak lu belum merdeka, Met, Slamet” Katanya kepada Seta.
Bibi Mita pun mulai tidak tahan dengan kelakuan para pemuda tersebut. Bibi pun masuk dengan membawa piring gorengan. Bibi mengangkat piring dan berdiri.
“Aku nggak mau ya, terlibat dalam perdebatan kalian. Yang ada aku tambah sakit pikirannya kalau sama kalian terus.” Katanya sembari melangkahkan kaki untuk pergi.
Bibi Mita pun pergi, bukan dari dunia, ini bukan tentang orang meninggal dunia, lagi. Namun hanya pergi menuju ruang lain dalam rumah Bibi Mita. Ketiga anak muda masih tercengang dengan yang dikatakan oleh Bibi Mita. Namun mereka tak mampu berbuat apapun. Mereka hanya melongo seperti melihat sinema langsung dunia nyata. Tetapi itu hanya perkataan biasa, hanya ketiga orang tersebut yang tampak aneh.
“Tidak tahu mengapa, terkadang kita hanya merasa sesuatu yang aneh muncul dari pandangan kita. Bahkan hal yang sebenarnya biasa saja tetapi kita yang menanggapinya dengan aneh. Hal yang biasa saja bisa tampak istimewa, tergantung ‘siapa’ yang melakukannya. Kemewahan bukan menjadi ukuran sebuah kebahagiaan, namun kehadiran yang membuat segalanya berarti. Hidup juga tak lepas dari masalah. Namun semua masalah hadir bukan tanpa solusi. Perumpamaan kecil permasalahan berasal dari kebijakan dalam mengatasi masalah. Masalah besarpun berasal dari sesuatu yang kecil. Maka jangan pernah remehkan sesuatu yang kecil, apapun itu.”

Swastamita Sarkat Day 8

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 334

Day 7

 

Bibi Mita adalah adik kandung dari ibunya Mita, yang wajahnya juga mirip dengan ibunya. Saat ia merindukan ibunya ia datang ke rumah bibinya. Seperti menjumpai ibunya lagi dalam dunia nyata, dan ketika menjumpai bibinya, ia selalu berkata; “Bi, aku kangen sama ibu,” ujar Mita kepada bibinya. Ia memeluk bibinya, mencium tangannya, bercerita tentang hari-harinya. Dan saat ini ia kembali menemui bibinya yang tanpa sadar di hari Ulang Tahunnya.
‘Hanya ini yang bisa gue lakuin, ketika gue sedang merindukan ibu,’ Ucapnya dalam hati.
Tidak tahu apa yang dirasakan Mita saat ini, bahagia di hari Ulang Tahunnya ataukah sedang sangat merindukan ibunya di hari Ulang Tahunnya. Masih setia dua anak muda yang bertingkah laku kocak bersama dirinya dalam ruangan itu.
“Eh, Lu-Lu pada, gimana rasanya punya ibu yang masih ada?” Tanya Mita kepada Kala dan Seta.
“Ya kalau gue bersyukur ibu masih ada, kadang ketika gue ngerasa dunia sedang benar-benar hancur, gue letakkan segala pikiran dan perasaan gue di pangkuan ibu,” jawab Seta.
Kala yang ditinggalkan ibunya sejak lama ke Luar Negeri dan tanpa kabar masih tertunduk dan terdiam. Ia tak mengungkapkan apapun pada Mita.
‘Enak banget ya kalau masih bisa ngelihat wajah ibu secara langsung, bisa tidur di pangkuannya sambil bercerita tentang hari-hari yang dilalui. Pasti dunia gue akan ngerasa baik-baik aja kalau ada ibu,’ ucap Kala dalam hati, meratapi nasib dirinya yang ditinggal ibunya tanpa kabar.
Kala masih saja terdiam mengingat ibunya. Namun karena ia juga tak mampu menyimpan apa yang dirasakannya, ia pun mengungkapkan kepada Mita.
“Mit, kita sama, mungkin ibu gue masih ada, tapi gue udah ngga pernah lihat wajahnya, gue pun nggak tahu ibu masih ada atau engga. Dulu waktu gue masih kecil ibu kerja jadi TKW ke Luar Negeri. Awalnya ibu masih sering ngasih kabar seminggu sekali. Tapi setelah beberapa waktu, ibu tanpa kabar. Nomor HP-nya pun udah nggak aktif, gue juga nggak tahu sampai sekarang ibu masih hidup apa enggak. Gue Cuma bisa berdoa ‘semoga ibu baik-baik aja’ dan gue juga kangen banget sama ibu,” jelas Kala kepada Mita.

 

Swastamita Sarkat Day 9

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 309

Day9

 

“Lu, masih mending, biarpun ngga tahu ibu lu masih, lah gue, udah ngga bisa ketemu sama ibu gue,” sahut Mita.
“Eh, nggak usah banding-bandingin ya, kita nggak pernah tahu seperti apa yang dirasakan orang lain. Jalan dan takdir kita juga beda, kemampuan kita juga berbeda. Jadi jangan lagi lu ngebandingin orang lain, apalagi ngerasa kalau masalah lu yang paling gede. Lu ngga tahu apa yang gue rasain, bisa aja mungkin apa yang gue rasain menurut pandangan lu, emang kelihatan remeh, tapi buat gue, bisa jadi yang berat banget buat dijalanin. Sekali lagi, lu nggak tahu apa yang gue rasain, posisi dan keadaan kita beda, jangan lagi lu ngebandingin masalah orang lain sama masalah, lu,” geram Kala.
“Kok, lu nyolot sih?” Tanya Mita menaikkan nada suaranya.
“Lah, lu ngapain banding-bandingin gue sama elu, lu tahu nggak rasanya dibandingin?” Kala meraung.
“Gue? Tahu banget rasanya dibandingin, gue sering dibandingin sama anak-anak tetangga gue,” keluh Mita bernada tinggi.
“Ya kalau lu tahu rasanya dibandingin, ya udah nggak usah ngebandingin juga,” sahut Kala.
Seta yang masih saja terdiam. Ia memendam amarah ketika mendengar mereka berdua saling adu suara. Ia mengingat juga apa yang dirasakannya, semua masih dipendam dan belum dikeluarkan dari mulutnya. Dia juga mempunyai latar belakang keluarga yang kurang harmonis.
Seketika ia pun meluapkan amarahnya kepada mereka berdua.
“Eh kalian tahu nggak? Gimana rasanya punya orang tua yang lengkap tapi tiap kali aku lihat mereka berdua selalu berkelahi, saling acuh, saling teriak, lempar barang barang, semua dipecahin. Kalian tahu nggak rasanya gimana, hah? Gue emang tadi di awal ngomong kalau gue nglepaasin semua perasaan lelah gue di pangkuan ibu, tapi emang gue juga nggak pernah akur sama bapak gue. Kita Cuma gede-gedein masalah kita dan nganggap kalau masalah kita sendiri yang paling gede, tanpa peduliin gimana perasaan orang lain. Kita beda kemampuan dalam segla hal. Termasuk dalam kemampuan perasaan kita,” Geram Seta.

Swastamita Sarkat Day 10

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5

Alister Garuda

Jumlah Kata 307

Day10

 

Yang semula rasa haru berkumpul kini menjadi berkumpulnya curahan amarah dalam ruangan. Mereka bertiga saling teriak, mengeluarkan semua yang mereka piker dan rasakan. Kala dan Seta yang suka tertawapun memiliki emosi dan perasaan yang dipendam. Semua memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis, namun mereka berkumpul di tempat ini, saling beradu emosi satu sama lain.
Bibi yang berada di ruangan dalam masih saja cuek, karena Bibi Mita mengira bahwa mereka bertiga sedang bergurau bersama atau sedang berakting untuk membalas prank Bibi. Seta keluar rumah lebih cepat, disusul Mita, kemudian Kala.
“Udahlah, gue pulang.” Kata Seta keluar rumah Bibi Mita dengan berjalan lebih cepat dari biasanya.
Ketiga anak muda tersebut pulang kembali ke rumah masing-masing. Kala sampai di rumah, dan Seta langsung pulang menuju rumahnya. Meskipun Seta sebelumnya di rumah Kala, namun karena emosinya sedang tidak baik, jadi ia langsung menuju rumahnya. Begitupun dengan Mita, ia juga bergegas menuju rumahnya. Yang semula ia membawa emosi amarah, di pertengahan jalan ia tak mampu membendung air matanya, ia menangis di sepanjang jalan. Ketika bertemu seseorang, ia malah lari sembari mengusap air matanya.
“Kenapa, Mbak?” tanya seorang bapak setengah baya kepada Mita.
Mita tidak menjawab, namun malah lari. Bibi yang merasa anehpun keluar ke ruang semula mereka berkumpul. Ia tidak menemukan seorangpun di sana.
‘Apa ya beneran yang tadi itu?’ pikirnya heran.
Kemudian ia masih menyesal karena ia tidak muncul ketika mereka bertiga saling beradu emosi. Ia merisaukan keponakannya, Mita.
“Duh, Mita gimana ya, aku nggak tega kalau dia sampai menangis, jika bapaknya tahu, ia malah akan tambah dimarahi,” katanya dalam hati.
Benar apa yang dipikirkan Bibi, sesampainya di rumah, bukan mendaapat ucapan Ulang Tahun dari bapaknya, Mita malah dimarahi oleh bapaknya. Bapaknya selalu memarahinya ketika ia menangis. Hal yang bukan seharusnya dilakukan. Seketika itu Mita juga meluapkan apa yang dirasakannya kepada bapaknya.
“Bapak tahu kalau hari ini Mita Ulang Tahun?” Tanya Mita sembari mengusap air matanya.

Swastamita Sarkat Day 11

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 338

Day 11

 

“Bapak tahu kalau hari ini Mita Ulang Tahun?” Tanya Mita sembari mengusap air matanya.
 
“Emang kenapa kalau Ulang Tahun?” sahut bapaknya.
 
“Bapak emang nggak pernah peduli sama aku, selalu aja nggak punya waktu buat aku. Aku pulang nggak disapa malah dimarahin. Kalau aja ibu masih ada pasti nggak akan kayak gini. Nggak kayak ayah yang selalu sibuk dan marah-marah terus.” Ujar Mita menangis, lagi.
 
“Eh, berani kamu, sama orang tua!” Ucap Bapak Mita.
 
Bapak Mita memang jarang memperhatikan anaknya. Di sisi lain ia juga merindukan istrinya yang sudah lama meninggal. Ia menjadi seorang yang pemarah sejak ditinggal istrinya. Mita yang baru saja datang dan sudah dimarahi bapaknya pun menangis dan meninggalkan bapaknya. Ia masuk kamar, menutup pintu dengan keras.
Di tempat lain, Seta yang baru akan memasuki rumahnya juga disambut dengan suara pertengkaran bapak dan ibunya. Belum masuk ke dalam rumahun sudah terdengar suaranya sampai ke hati dan perasaanya. Tidak pernah ada ketenangan di dalam rumahnya. Berteriak satu sama lain, amarah menyelimuti rumah, bising suara barang pecah, dan hati yang terluka. Seta tak pernah merasakan kehangatan keluarga. Bahkan terkadang, perbedaan sedikit saja sudah membuat pertikaian di antara mereka.
 
‘prakkk,’ suara benda pecah terjatuh dengan keras.
 
Terdengar poitongan kalimat amarah; ‘ya udah kita cerai aja kalau kayak gini terus,’ dari dalam rumah. Seta yang mendengar kalimat itu langsung membuka pintu dengan cepat, tangannya gemetar, dan juga emosi negative yang membersamainya. Ia pun masuk ke dalam rumah.
 
“bapak dan ibu sama aja, egois semuanya,” lontar Seta, geram.
 
“bapakmu ini, tiap hari kerjaannya cuma ngopi, ngopi, dan ngopi. Kerja nggak pernah, nggak tahu apa kalau kita udah nggak punya persediaan beras lagi.” Balas Ibu Seta sambil menunjuk-nunjuk kea rah bapak Seta.
 
“Kamu pikir nyari kerjaan nggak susah! Aku juga udah berusaha buat nyari kerjaan kesana-kemari. Kamu emang nggak pernah ngertiin laki-laki.” Sahut Bapak Seta menangkis tangan Ibu Seta.
 
“udah, cukup! Bapak dan ibu emang nggak pernah mikirin perasaan aku. Adanya Cuma saling nyalahin satu sama lain. Bapak dan Ibu egois!” Ucap Seta bergegas pergi ke menuju pintu rumah, dan bergegas pergi.

 

 

Swastamita Sarkat Day 12

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 366

Day 12

 

 

Berbeda dengan Kala, Kala yang sempat juga mengeluarkan amarah di rumah Bibi Mita ia pulang langsung mencari bapaknya.

 

‘Brakk,’ suara pintu rumah terbuka dengan keras.

 

“Pak, Bapak di mana?” Tanya Kala mencari bapaknya.

 

“Eh, ada apa, Kala? Kok buka pintunya sampe segitunya, Kamu diburu massa?” balas bapaknya.

 

“Bapak ini, tahu nggak kalau aku lagi sedih?” tanya Kala.

 

“Ya enggak dong. Bapakmu yang ganteng ini tahunya Cuma kalau bapaknya ganteng, ya anaknya juga ganteng,” sahut Bapak Kala.

 

“Dahlah, Bapak emang gitu. Tapi bener sih apa yang Bapak bilang, aku emang ganteng. Tapi, ada tapinya lagi Pak. Tapi aku kangen sama ibu,” Ujar Kala.

 

Kemudian bapaknya juga mendadak sedikit teringat tentang kekasihnya yang telah lama tanpa kabar. Akan tetapi Pak Sanusi sebagai bapak yang tegar tetap mencoba terlihat sebagai Super Hero di depan anaknya. Ia menepuk pundak Kala dengan lembut, dan berbicara dengan halus di depan anknya.

 

“Coba kamu lihat langit di atasm Nak.” Kata Pak Sanusi kepada Kala, sembari menunjuk ke atas.

 

“Langit apa, Pak? Langit-langit rumah maksudnya?” Balas Kala menatap ke atas.

 

“Ya iya, langit-langit rumah. Wong di dalam rumah adanya langit-langit rumah. Kalau di luar sih bapakmu yang ganteng ini tetep nunjuk langit beneran,” jawab Pak Sanusi.

 

“Nak, di dunia ini memanglah tempat yang indah, untuk seseorang yang bisa bersyukur. Jika kamu bersedih mengingat ibu, bapak juga sedih. Sampai sekarang ibu juga belum ada kabar sama sekali. Bapak tahu kamu rindu, teramaaaat rindu sekali. Kita hanya bisa berdoa untuk ibu, Nak. Doakan saja yang terbaik untuk ibu. Kalau sama temenmu aja, kalau kamu lama tak bertemu, kamu juga rindu, apalagi sama ibu. Jangan lupa ketika kamu usai beribadah, doakan ibumu. Meskipun sampai sekarang ibumu tanpa kabar, bapak juga masih setia sama ibu. Bapak nggak pernah punya niatan buat nyari istri baru. Bapak percaya atas segala ketentuan yang Tuhan berikan pasti adalah yang terbaik untuk kita. Karena Tuhan tahu apa yang tidak kita tahu, Nak. Bersabarlah! Tabahkanlah hatimu, ikuti saja alurnya. Scenario Tuhan pasti berujung lebih baik dari apa yang kita rencanakan. Tuhan Maha Tahu, Nak.” Jelas Pak Sanusi kepada Kala, sembari menepuk pundak Kala dengan lembut, dan menatap ke atas.

 

“Iya pak. Kala akan lebih sabar lagi dalam menjalani hidup ini.” Balas Kala memeluk bapaknya.

Swastamita Sarkat Day 13

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 384

Day 12

 

Seta yang sedang berjalan sembari meratapi nasib dirinya melangkah dengan menendang-nendang kaleng bekas minuman. Hanya perasaan negative yang membersamainya saat ini. Berjalan sendirian dan tak tahu tempat mana yang ajan ia tuju. Matahari yang perlahan merubah cahayanya menjadi oranye, hari mulai beranjak pergi. Gelap akan segera tiba, namun perasaannya masih sama seperti biasanya, gundah. Kemudian ia teringat sebuah tempat di mana ia sewaktu kecil bermain. Ketika sore, pemandangan di sana tampak begitu indah. Tempat yang tenang di pinggir sungai dan pemandangan senja yang menggoda. Ia pun menendang keras kaleng di kakinya, dan tidak mengambil lagi kaleng itu, ia menemukan tujuan untuk pencarian ketenangannya. Tempatnya berada di ujung Desa.

 

Sesampainya di sana, ia menjumpai seorang gadis sedang duduk di sana yang juga menikmati pemandangan senja sore itu. Daun jatuh berguguran di sekitar tempat itu. Anginnya sepoi-sepoi, dan matahari yang mulai tenggelam, serta suara air sungai kecil yang mengalir membuat pikirannya sedikit tenang. Ketika ia mendekati gadis itu, gadis itu menoleh.

 

“Lu ngapain ke sini?” Tanya gadis itu kepada Seta.

 

“Sebelum aku jawab, boleh aku duduk bareng di situ?” balas Seta.

 

“Oh mau duduk, ya sini aja. Lagian ini juga tempat umum kok,” Ujar gadis itu mempersilakan duduk.

 

Seta mendekat dan duduk di samping gadis itu. Seta mengela nafas, melepaskan semua perasaan yang membelenggu. Beberapa waktu mereka hanya duduk terdiam menikmati pemandangan senja di sana. Hingga pada akhirnya Seta merasa tak nyaman dengan keadaan mereka yang hanya diam. Gadis itu adalah Mita. Setiap ia sedang merasa kacau dan menginginkan ketenangan, ia selalu pergi ke tempat ini untuk menenangkan perasaannya.

 

“Oh ya, gue mau jawab tadi yang lu tanyakan. Gue mau nyari ketenangan. Saat di jalan tadi, gue keinget tempat ini. Tempat main gue waktu kecil. Pemandangannya indah di sini, gue suka, jadi gue ke sini,” Ucap Kala kepada Mita.

 

“Lu kenapa? Gara-gara kejadian tadi di rumah Bibi?” Balas Mita.

“Ya nggak juga sih, gue cuma capek ngelihat kedua orang tua gue tiap hari berantem mulu. Kadang juga Cuma hal-hal kecil mereka berantem,” Jelas Seta.

 

“Yaa, lu yang sabar aja, setiap kejadian pasti mempunyai hikmah di baliknya kok. Kadang emang karena perbedaan bisa menimbulkan pertikaian. Bukan hanya itu, kadang pertengkaran terjadi juga karena seringnya menganggap bahwa seseorang itu menganggap dirinya paling benar dan tidak mau mengalah atau memaklumi satu sama lain,” Balas Mita, menatap kea rah Seta.

 

Swastamita Sarkat Day 14

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 350

Day 14

 

Cahaya senja mulai meredup, anginnya sedikit lebih kencang. Namun masih belum ada keinginan dari  mereka untuk beranjak. Mereka berdua masih menatap langit yang sama, di tempat yang sama, dan juga kondisi perasaan yang sama. Dari sinilah mereka mulai bercerita tentang kehidupan mereka. Meskipun sejak awal tidak berkenalan secara langsung dengan menanyakan nama, namun perkenalan yang sesungguhnya dimulai.

 

Seta yang duduk di samping Mita, meskipun sedikit canggung ia juga mulai bercerita. Canggungnya karena di pertemuan sebelumnya mereka bertemu dengan keadaan emosi yang meletup. Namun kini seketika berubah. Mita yang sebelumnya juga beradu lontaran kata dengannya, kini telah berbeda. Kini dirinya terlihat lebih tenang, anggun, dan sudah mulai menampakkan senyumnya.

 

Di dalam senja yang indah, mereka berdua nampak sangat menikmati penghujung hari sebelum malam. Hari berubah menjadi semakin gelap, burung sriti juga terlihat beterbangan satu sama lain. Karena Seta sedikit kesemutan duduk, jadi ia mencoba berdiri sejenak memperlancar peredaran darahnya.

 

‘plakkk,’ suara burung menabrak kepalanya.

 

“Dasar burung! Main tabrak aja. Nggak tahu apa kalau dia yang nabrak dia yang sakit. Sakit pikir karena nggak bisa ngelupain gue, yang tampan dan pemberani ini,” Katanya membahana, sembari memegang jambul rambutnya. Ya meskipun rambutnya tak berjambul.

 

Setelah Seta melontarkan kata-kata yang membahana dan memegang rambutnya, tiba-tiba ia mendapati ulat kecil dari rambunta. Sontak ia pun menjingkrak-jingkrak hilang kendali karena ketakutan.

 

“Waaaaaaa, ulaa. . . .” Teriaknya histeris dan berjingkrakan.

 

“Ooooooooo, tampan dan pemberani ya?” Ujar Mita mendekat dan mengambil ulat ditangan Seta.

 

“. . . .aaaatttt,” seketika kemudian ia terdiam setelah Mita mengambil ulat di tangannya.

 

Seta yang ketakutan, namun mulai berlagak, “ah, barusan kan cuma acting,” katanya, mengiba-ngibaskan tangannya ke tangan satunya, bekas ulat.

 

“Oooooooo Cuma acting?” Ujar Mita,lagi sembari meletakkan ulat lagi ke tangan Seta.

 

Seta kembali berjingkrak-jingkrak ketakutan. Wajahnya terlihat sangat ketakutan, namun Mita girang melihatnya. Mita tertawa keras melihat Seta yang berjingkrakan. Cepat-cepat Mita mengambil ponsel di sakunya dan mengambil video Seta yang berjingkrakan. Setelah mengambil video, Mita kembali mengambil ulat yang ada di tangan Seta. Mita memperlihatkan video Seta yang berjingkrak ketakutan karena ulat. Seta pun tertawa melihat dirinya yang berjingkrakan. “Waaahahahahahaha.” Tawa lepasnya sembari menatap Mita. Begitu juga, Mita.

Swastamita Sarkat Day 15

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 324

Day 15

 

 

Dengan pertemuan ini, Seta dan Mita mulai akrab. Mereka berdua pun semakin asyik menikmati waktu bersama. Namun gulita mulai turun, senja mulai menghitam, juga angin yang semakin menusuk. Tiba waktunya untuk bergegas menuju rumah masing-masing. Seta berpikir bahwa itulah hari pertamanya menikmati sesuatu yang indah di awal gelap bersama seorang gadis. Sebagai seorang pria yang mempunyai latar belakang keluarga yang kurang nyaman membuatnya menjadi sesorang yang baperan. Sejak melihat dan mendengar gelak tawa Mita, Seta pun mulai menyukai Mita.

 

“lu lihat sendiri kan kalau lu jingkrakan kayak gitu, lu aja ketawa sendiri, apalagi gue,” Ujar Mita.

 

“Nggak tahu, gue juga nggak nyadar kalau jingkrak gitu,” balas Kala.

 

“Eh, tapi kayaknya hari udah mulai gelap, deh. Kita harus pulang, nggak enak juga kalau diihat orang.” Lanjut Seta dan berdiri.

 

“Iya, ya. Nggak lihat kamu jingkrakan jadi nggak nyadar kalau udah gelap,” jawab Mita.

 

Mereka berdua kemudian mulai meninggalkan penghujung Desa itu, dan kembali ke rumah masing-masing. Di jalan Seta masih teringat apa yang baru saja lalui, seperti masih terasa sama. Berdua mereka berjalan, hingga sampai di Desa mereka bertemu bocah-bocah yang sedang istirahat setelah bermain bola di lahan kosong milik penduduk sekitar.

 

“Eh ada orang lagi kencan, tuh. Kita cie-ciein yuk” Kata salah satu bocah sembari menunjuk Seta dan Mita yang sedang berjalan bersama.

 

“cie-cieee,” ucap mereka kepada Seta dan Mita.

 

“Eh, apaan lu Bocil?” jawab Kala menunjukkan wajah datarnya.

 

Mita pun menoleh kea rah Seta.

“Eh, lu kok lucu sih, kalau muka lu datar gitu.” Cetus Mita sembari menabok lengan Seta.

 

“Ih, sakit tauk! Main tabok aja. Dasar cewek, bisa nggak sih kalau ketawa nggak sambil nabok?” Balas Seta sembari memegangi tangan yang baru saja ditabok Mita. Walaupun sebenarnya dia suka kalau ditabok Mita.

 

“Biarinlah. Suka-suka gue,” balas MIta menambah tabokannya lagi.

 

‘Cieee, ada yang lagi seneng nih,’ Kata yang muncul dari salah satu di antara kumpulan bocah itu.

 

“Ah, lu sewot aja bocil,” balas Seta.

 

Kemudian Seta dan Mita pergi menuju rumah mereka.

Swastamita Sarkat Day 16

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 368

Day 16

 

 

Di persimpangan jalan, “Ya udah kita bareng sampai sini aja ya,” ujar Mita kepada Seta mengakhiri pertemuan di hari ini. “Eh bentar dong, gue minta nomor, Lu.” Balas Seta dan mengambil ponsel di sakunya. Nomor demi nomor dicatat di layarkemudian ponsel Seta. Dan berpisahlah mereka di persimpangan jalan untuk menuju rumah mereka masing-masing.

 

Sesampainya di rumah Mita mendapati rumahnya yang sepi, tidak ada orang di rumah. Karena bapaknya pergi ke masjid untuk beribadah. Mita pun juga bersiap untuk melakukan ibadah. Di sisi lain Seta yang juga sampai rumah mendapati hanya ada ibunya yang ada.

 

“Dari mana, Seta?” tanya ibu Seta.

 

“Main, Bu,” jawab Seta.

 

“Ya udah, salat dulu, keburu waktunya habis,” Sahut Ibu Seta.

 

“Siaap, Bu,” balas Seta, lagi.

 

Seta masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil air wudu, dan salat. Setelah selesai beribadah Seta pun mulai merasa lapar. Kemudian ia berjalan menuju ruang makan. Membuka penutup makanan dan hanya terlihat sedikit nasi yang tersisa.

 

“Udah, kamu makan aja, ibu udah makan kok.” Ujar ibunya yang tiba-tiba datang dan duduk di depannya.

 

Ibu Seta selalu mendahulukan makan untuk anaknya, walaupun ia berbohong. Ibu Seta sebenarnya belum makan malam, begitu juga dengan bapaknya. Namun agar anaknya makan dengan kenyang, ia berbohong kepada anaknya. Lalu diambillah nasi dari tempatnya. Dengan lauk sambal dan kerupuk yang sederhana, Seta pun makan dengan lahap. Ibunya hanya bisa menahan lapar dan melihat anaknya makan. Kemudian bapaknya pulang.

 

“Loh, nasinya kok habis? bapak kan belum makan,” Kata Bapak Seta.

 

“bapak ini ya, udah tahu persediaannya habis masih aja, gitu. Kerja enggak, makan terus,”

 

“Tolong deh, Pak, Bu, jangan mulai lagi. Kalau bapak mau makan ya ini, kita bagi dua nasinya,” Sahut Seta.

 

“dah, ah. Kamu makan sendiri aja. Bapak udah kenyang,” Balas bapaknya, geram.

 

Seta pun terdiam dan sedikit mulai hilang selera makannya. Dia pun tidak menghabiskan makanan di piringnya, dan malah pergi ke kamar. Ibunya yang juga menahan lapar, setelah Seta pergi langsung memakan sisa nasi dari anaknya. Namun tiba-tiba Seta pun datang.

 

“Loh, katanya Ibu udah makan?” Tanya Seta kepada ibunya.

 

“u-udah kok, tapi saying kan nasinya kalau nggak dihabiskan?” jawab ibunya, berbohong.

 

Seta sedikit tidak percaya dengan ibunya, namun ia hanya diam dan merasa bahwa memang ibunya belum makan. Ia hanya termenung.

Swastamita Sarkat Day 17

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 337

Day 17

 

 

Perasaan Seta yang hampir setiap waktu berganti mengikuti lingkungannya membuat dirinya tak begitu baik dan menjadi overthinking. Tak lepas dari itu, Seta yang di luar terlihat seorang yang kocak, dan bertingkah lucu, di dalam dirinya terdapat beban yang kadang membuatnya terpuruk. Di luar ia mencari sesuatu yang menghibur dirinya dengan cara ia menghibur orang lain. Meskipun itu tak ada dalam rencananya, namun itu terjadi seperti sebuah hukum alam.

 

Ia sangat antusias dalam melakukan sesuatu atau saat bersama dengan orang lain ia selalu terlihat ceria,  cerewet, tertawanya lepas, seperti tak ada apapun yang menjadi bebannya. Akan tetapi ketika ia di rumah, semua beban pikiran dan perasaannya datang. Ia menjadi seorang yang pendiam, pikirannya kacau, seakan semua menjadi beban dalam pikiran ketika ia sendiri.

 

Terlepas dari itu, Seta Nampak sedang murung di dalam kamarnya setelah kejadian sebelumnya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya terdiam di sudut kamar dan memikirkan semua yang menjadi beban perasaannya, utamanya perihal keluarganya.

 

Saat ia sedang kacau ponselnya berbunyi, ‘klunting.’

‘hei,’ pesan yang masuk dalam ponselnya.

 

‘siapa ya?’ balasnya.

 

Namun setelah ia menunggunya, hanya centang abu-abu dua yang ia lihat. Kemudian tiba-tiba ia teringat waktu bersama Mita. Sontak pikiran dan perasaanya berubah, bebannya tersingkirkan dengan cepat. Tak lama kemudian ia tertidur. Waktu menunjukkan pukul 01.00. ‘ting tung ting tung tung tung ting,’ alarmnya berbunyi. Seta terbangun oleh alarm.

 

“ih, apaan sih alarm jam segini.” Katanya, mematikan alarm.

 

Ia teringat bahwa ia belum Salat, ‘alamak, belum sholat gue, ternyata Tuhan masih ngingetin gue.’ Ia kemudian menuju bak mandi dan mengambil air wudu, dan salat. Ia bercerita kepada Tuhannya dalam doanya. Dengan segala yang ia rasakan, air matanya menetes di atas sajadah.

 

‘Ya Allah, tabahkanlah aku dalam menerima apapun yang Engkau berikan. Jika memang ini harus kujalani, sabarkanlah aku, kuatkanlah aku. Hanya kepada Engkau aku memohon pertolongan. Jadikanlah keluargaku keluarga yang harmonis, tentram setiap harinya. Dekatkanlah aku dan kelaurgaku dengan-Mu. Jangan biarkan aku terlena dalam ujian yang engkau berikan. Aku tahu bahwasanya aku tak akan pernah kuat bila melangkah tanpa-Mu. Dekatkanlah kami pada-Mu.’ 

Swastamita Sarkat Day 18

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 318

Day 18

 

 

Selesai sudah, Seta merapikan sajadah dan menempatkan di tempat semula. Ia kembali ke kamar. Di kamar ia kembali terpikir Mita yang masih tersangkut di kepalanya. Kemudian ia mencari nama di kontak ponselnya. Dengan memasukkan nama ‘Mita’ di kolom pencarian, namun ‘kontak tidak ada,’ tulisan yang muncul di ponselnya setelah ia mengetikkan nama di kolom pencarian. ‘Kok aneh sih? Kayaknya udah gue simpen tadi sore,’ katanya kepada dirinya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya, dan kembali tidur.

 

Di sisi lain, Kala yang juga sedang terbangun. Terlihat ia sedang melakukan salat Tahajud. Ia selalu rutin melakukannya ketika ia terbangun. Ia selalu berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik dalam hidupku. Aku percaya dengan apa yang Engkau berikan pasti adalah yang terbaik untukku. Karena Engkau mengetahui apa yang tidak aku ketahui.’ Setelah selesai berdoa dan merapikan tempat salatnya, ia kemudian mengambil buku bacaan, ‘sepuluh menit-sepuluh menit lumayanlah.’ Katanya mengambil buku dan membuka. Setelah selesai ia kebali tidur untuk menyambut esok hari.

 

Pagi telah tiba, jam menunjukkan pukul 08.00. Masih terlihat Kala yang sedang tertidur pulas. Air liurnya membanjiri bantal, tangannya menggaruk-garuk pipi, tangannya masih mendekap guling. Di pinggiran ranjang tubunya menempat, kakinya sudah satu ke bawah. Tak lama kemudian ia terjatuh dari tempat tidurnya. ‘woaaaaaa.’ Katanya mengusap kepalanya yang terbentur lantai. ‘syukurlah, gue masih hidup. Gue kira, gue terjatuh dari tebing beneran. Atau ini arwah gue yah? Coba ah gue tampar,’ kemudian, ‘plakkkk!’ dan ia berteriak, ‘aooowww! Sakit!’

 

‘Eh masih hidup gue, ternyata,’ katanya sembari tertawa girang sendiri seperti orang sakit jiwa. Tak sengaja matanya tertuju ke arah jam di dinding kamarnya. ‘hah! Jam delapan? Subuh gue……….eee.’ katanya kemudian berlari menuju kamar mandi. Sembari mandi ia terpikirkan bapaknya yang tak membangunkannya. Ia sedikit marah, namun bingung harus marah kepada siapa. Mau marah kepada bapaknya tapi dia sendiri yang bangun kesiangan. Mau marah sendiri tapi bapaknya tak membangunkannya. Ia menendang sudut bak mandi karena kesal, ‘woooaaaaaaaaaaa! Sakittttttttt!’ Teriaknya kesakitan sembari memegangi kakinya yang sakit.

 

 

 

Swastamita Sarkat Day 19

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 304

Day 19

 

Kala keluar dari kamar mandi dengan merintih kesakitan akibat perbuatannya sendiri.  Ia kemudian membubuhkan obat di lukanya. Tak begitu parah, namun sedikit membuatnya kesusahan untuk berjalan. Tak lama kemudian, Seta datang ke rumahnya. Dari dalam rumah tampak terlihat wajah datar Seta yang akan mengetuk pintu. Belummengetuk pintu, Kala sudah berkata, “nggak usah diketuk, masukm aja.” “wookee.” Sahut Seta. Membuka pintu. Seta pun masuk ke dalam dengan membawa sarapan untuk Kala.

 

“Eh, kenapa kaki, Lu?” Tanya Seta

 

“tadi nendang bak mandi, waktu mandi,” jawab Kala.

 

“Emang lu kebal, gitu?” Tanya Seta, lagi, dengan menyentuh luka Kala.

 

“Aww! Sakit, Slameet,” Balas Kala, teriak.

 

“Tahu lah, nih gue bawain obat buat, lu. Belum sarapan kan, lu?” Kata seta sembari memberikan kantong plastic kepada Kala.

 

“wiiiiiih, tahu aja, lu, gue belum sarapan.” Sahut Kala sembari membuka ikatan plastic yang dibawa Seta.

 

Kemudian Kala mengambil piring ke belakang. Dengan sedikit terpincang-pincang ia berjalan. Seta yang melihat itu juga tidak membantunya, karena ia sengaja ingin meihat semangat sahabatnya itu untuk berjuang mengambil piring untuk sarapan. Tak lama kemudian, Kala datang dengan membawa piring.

 

“Lah, lu kok Cuma bawa piring satu?” Tanya Seta, datar.

 

“Ya kirain lu nggak mau, lagian mana gue tahu kalau lu juga belum sarapan ,”

 

“Ambilin dong!” suruh, Seta.

 

“Tega ya lu! Ambil sendiri lah sono,” Balas Kala sembari menurunkan badannya, duduk.

 

“Nggak ah, males. Gue mau barengan sama lu aja,” Sahut Seta.

 

“Serah, lu, aja deh,” balas Kala.

 

Kemudian Seta membuka nasi yang dibungkus plastik yang ia bawakan dari rumahnya. Hanya ada sayur dan tahu-tempe. Tapi mereka tak menghiraukan itu. Kala karena sudah lapar belum sarapan, ia dengan cepat mengambil nasi dan juga temannya ke piring. Seta hanya melongo sembari menyangga dagunya. Tak lupa juga ia membawa wajah datarnya saat melihat Kala yang sedang bersemangat mengambil sarapan. Ia tampak senang melihat Kala yang semangat mengambil sarapannya.  

 

 

 

 

 

Swastamita Sarkat Day 20

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 306

Day 20

 

 

Saking semangatnya Kala, ia sampai lupa jika ia mempunyai luka di kakinya. Sebelum Seta ikut makan, ia mendekati Kala, diam-diam kembali mengambil celah untuk menyentuh kaki Kala yang sakit. Dari belakang ia meraih kaki Kala, dan, ‘plakk!’ Suara yang timbul dari kaki Kala yang ditampar Seta.

 

“Wooaaaaaa” Jerit Kala.

 

“Semangat amat makannya, gue belum makan,nih,” sahut Kala.

 

“Elu seneng amat sih, Slamet kalau lihat gue menderita,” Balas Kala.

 

“emmmmang. Kayak ada kepuasan tersendiri kalau ngerjain, elu,” Sahut Seta, lagi.

 

Seta kembali menuju tempat duduk, ia duduk dan mengambil nasi dengan tangannya. Mereka berdua makan bersama, satu piring. Sesuap demi sesuap mereka memasukkan nasi ke dalam mulut mereka. Seperti berlomba memasukkan nasi, mereka dengan cepat menghabiskan nasi itu. Plastic bungkus nasi dan sayur masih berserakan di meja tempat mereka makan, piringpun masih tergeletak di meja.

 

“Eh, Sanusi, gue minta nomor Mita, dong,” ujar Seta kepada Kala.

 

“Lah, lu bawain gue sarapan pagi-pagi begini ternyata ada maunya,” jawab Kala.

 

“hahahaha, emang. Tapi sebenernya gue udah minta kemarin, cuma kok gue cari tadi malem ngga ada,” Jelas Seta sembari mengambil ponsel dari kantong celananya.

 

“Ah, alas an aja, lu. Kalau mau minta ya minta aja, nggak usah ngomong kalau udah minta segala.” Balas Kala, juga mengambil ponsel di celananya.

 

“Nih, catet.” Lanjut Kala  sembari menunjukkan layar ponselnya kea rah Seta.

 

Setelah disimpan, Seta mengecek kontak ponselnya. Ternyata nomor Mita sudah ia simpan, namun tidak ia namai. Kemudian ia terlintas pesan masuk yang ia buka tadi malam.

 

“Lah, ternyata Mita yang chat gue tadi malem.” Kata Seta sembari menatap layar ponselnya.

 

“Iya, kemarin dia chat gue, minta nomer lu,” jawab Kala.

 

“Wah, dia suka kali ya sama gue,” ujar Seta, lagi.

 

“Nggak usah gede rasa lu, Slamet,” Balas Kala.

 

Lalu Seta kembali membuka kontak ponselnya. Ia memasukkan nomor Mita di kolom pencarian kontak, ia menghapus kontak yang tak bernama itu.

 

 

 

 

 

Swastamita Sarkat Day 21

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 344

Day 21

 

 

 

Belum bercerita, Kala yang sebenarnya menyukai Mita pun sudah sedikit mencemburui Seta dan Mita, namun ia hanya menyimpan di dalam hatinya. Ditambah lagi ketika mengetahui Seta akan mengirim chat kepada Mita, ia pun sedikit meningkat kecemburuannya. Belum lagi sembari Seta melihat layar ponselnya dan akan mengirim chat untuk Mita, ia bercerita tentang mereka berdua di ambang senja kemarin. Seta yang sudah kenal dengan Mita, juga telah menyukainya sebelum Seta, iri kepada Seta karena sejak ia mengenal Mita, belum pernah ia menikmati waktu berdua sepertinya.

 

Waktu terasa lebih lama untuk Kala, matanya tak mengarah ke arah Seta, juga hati dan perasaannya yang mulai disempitkan oleh rasa cemburunya membuatnya sdikit canggung. Namun Seta yang yang tak mengetahui bahwa Kala juga menyukainya, ia tetap melanjutkan ceritanya waktu kemarin senja bersama Mita.

 

‘Ah, berduaan menatap senja? Romantic amat,’ kata Kala dalam hati, mencemburui Seta.

 

“Eh Mita bales chat gue, nih.” Ujar Seta tiba-tiba, menunjukkan layar ponselnya kea rah Kala.

 

‘Hai, kirain lu kemarin cuma minta nomer gue, tapi nggak disimpan,” terlihat balasan Mita, yang membuktikan bahwa mereka memang kemarin benar-benar bersama.

 

Sontak semakin ciut wajah Kala saat melihat balasan chat dari Mita. Kemudian dibalasnya oleh Kala pesan dari Mita di layar ponselnya, ‘nggak, gue cuma lupa nggak gue kasih nama kemarin, jadi cuma nyimpen aja. Makanya tadi malem gue nanya gitu tadi malem, gue kira siapa aja.’ Lalu Seta segera mengirim pesan tersebut kepada Mita. Fast respon, Mita membalas, ‘ya udahlah, nggak papa. Eh udah sarapan apa belum?’ Kemudian ditunjukkan lagi chat dari Mita di layar ponselnya ke arah Kala. Pesan tersebut hanya membuat Kala semakin canggung dan merasa iri karena perhatian Mita kepada Seta.

 

“Tuh, Mita udah mulai perhatian ke gue,” Kata Seta sembari menunjukkan layar ponselnya kea rah wajah Kala yang ciut.

 

“Ngga usah terlalu percaya diri deh, lu. Cuma ditanya gitu aja udah baper. Hati-hati ya! Jangan sampai lu cuma di tanyain gitu lalu lu sangka dia udah perhatian sama, lu. Bisa aja cuma Tanya, dan lu yang baper aja.” Balas Kala, membalikkan arah ponselnya ke arah Seta, untuk menampik perasaan cemburunya yang semakin bertambah.

 

Swastamita Sarkat Day 22

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 412

Day 22

 

 

 

Ditatapnya lagi layar ponsel Seta dan ia terus memandanginya, menunggu balasan pesan dari Mita. Setelah ditunggu beberapa waktu, Seta tak kunjung mendapatkan balasan, ia pun kembali mengirim chat untuk Mita, ‘kok nggak bales, Mit?’ Akhirnya ponselnya berbunyi, ‘klunting!’ chat masuk ke ponselnya.

 

‘Aku bapaknya,’ tulisan yang muncul dari chat masuk di layar ponselnya.

 

Seta pun melongo keheranan melihat balasan dari Mita. Tak berucap apa-apa, ia hanya memandangi layar ponselnya. Kala yang melihat Seta melongopun segera mengambil ponsel untuk mengambil momen itu, momen Seta yang melongo. Diam-diam membuat story di media sosialnya. ‘Lihat apa, lu?’ caption story yang diunggah Kala. Seta pun belum mengetahui itu. Seta yang masih tercengang melihat balasan itu, kemudian ia memberanikan diri untuk membalas pesan itu.

 

‘Maaf, Pak, saya tidak tahu kalau ini Bapak,’

 

Tak lama kemudian, Seta mendapat balasan, ‘Kamu kan yang menghamili anak saya?’ balasan dari pesan masuk yang Seta terima. Seta semakin tercengang melihat balasan itu, meletakkan ponselnya di meja, melongo, dan diambil lagi. ‘Baru tahu kalau duduk bareng bisa bikin hamil,’ bicaranya lirih, sendiri. Kala yang tak sengaja mendengar itupun tertawa, “hahahahaha, mana ada bisa gitu. Lu kalau pelajaran Biologi tidur terus sih di kelas,” ujar Kala setelah mendengar perkataan Seta.

 

Seta pun semakin kebingungan dan bercampur keheranan mendengar itu. “Salah gue apa, Sanusi?” sahut Seta. “Gue nggak tahu kalau itu bisa bikin Mita hamil. Terus gimana nih? Gue harus seneng apa sedih?” lanjut, Seta. Kala pun membalas, “coba lu sedih aja deh,” ujarnya memberi saran kepada Seta. Seta juga menjadi sedih setelah mendengar kata tanggapan dari Kala. Wajahnya menciut, namun masih saja datar dan polos.

 

‘Klunting!’ Masuk lagi sebuah chat di ponselnya.

 

‘Kamu harus tanggung jawab! Saya ingin kamu bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah kamu lakukan kepada anak saya. Sekarang juga temui saya di warung dekat masjid, yang ada es krimnya. Kamu tunggu dulu di sana, beli dua es krim untuk saya,’ balasan chat di layar ponselnya.

 

Seta pun membalas, ‘iya, Pak, saya ke sana sekarang.”

 

Seta kembali bertambah panik karena disuruh untuk segera menemui bapaknya Mita. Beranjaklah Seta dari kursi tempat duduknya. Dua langkah kakinya melaju, ‘eh gue kan nggak punya duit,’ katanya dalam hati.

 

“Eeeeee, mau kemana, lu, Slamet? Main nylonong aja nggak ada omong” Kata Kala yang melihat Seta melangkah yang kemudian berhenti.

 

“Eh, lu ada duit nggak 20.000?” Sahut Seta, menoleh.

 

“Ada, nih.” Balas Kala, sembari merogoh saku dan mengambil uang.

 

Seta mendekat dan mengambil uangnya, “makasih, ya.” Ucapnya, bergegas pergi.

 

‘Gaje amat sih, itu bocah,’ Ujar Kala, sendiri.

Swastamita Sarkat Day 23

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 344

Day 23

 

 

Seta dengan kepolosannya bergegas pergi menuju tempat yang dimaksud dalam chat. Setelah sampai di tempat, Seta sendiri dan terlihat seperti orang hilang, menoleh ke kanan-kiri secara berterusan. Setelah ia menunggu, ponselnya berbunyi, ‘klunting!’ ada chat masuk di ponselnya. ‘Eh udah belie s krimnya apa belum?’ isi pesan yang Nampak di layar ponselnya. Setelah ia membaca pesan tersebut, ia membeli es krim, dan membalas, ‘udah, Pak.’ Tak ada jawaban setelah ia mengirim pesan yang terakhir.

 

“waaa!” suara yang tiba tiba datang dari belakang Seta, dan mengagetkannya.

 

Sontak Seta menoleh ke arah belakang tubuhnya. Namun yang ia lihat sesosok perempuan yang sedang tertawa terbahak-bahak, Mita. Seta kebingungan, ‘kenapa yang dating malah Mita?’ tanyanya dalam hati kepada dirinya sendiri. Seta masih tak memahami situasi ini. Mita yang melihat wajah datar Seta, semakin keras ia tertawa.

 

“Eh, muka, lu.” Kata Mita kepada Seta, tertawa sembari menabok lengan tangannya.

 

“Eh, sakit tauk,” balas Seta.

 

“Mana es krimnya?” Tanya Mita, tersenyum sumringah.

 

“Nih.” Jawab Seta menunjukkan es krim kea rah Mita.

 

Mita mengambil es krim yang dibawa Seta. Diambilnya dari kantong plastik dan dibuka bungkus es krim tersebut. Seta semakin tercengang melihat Mita membuka bungkus es krim itu. Kemudian Mita memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya, Seta pun melihatnya dengan focus, namun wajahnya tetap saja datar dan melongo. ‘cleguk!’ Seta menelan ludah.

 

“Enak banget kayaknya,” ujarnya kepada Mita.

 

“Lah, lu kan beli dua es krim, buat lu satu,” balas Mita.

 

“Ini kan bapak, Lu yang minta. Masa iya gue makan,” sahut Seta.

 

“Lu, polos amat sih, Slamet. Udah, lu makan aja ini es krim,” kata Mita sembari memberikan es krim yang masih dalam kantong plastik.

 

Seta menerima plastik yang diberikan oleh Mita, kemudian ia membukanya di hadapan Mita. Dinikmatinya juga es krim yang ia beli dari uang yang dipinjami Kala itu. Dua orang itu bersama menikmati es krim. Seta sedikit terlupa atas yang terjadi di chat yang disampaikan oleh bapaknya Mita. Ia menikmati es krim dengan senang.

Swastamita Sarkat Day 24

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 354

Day 24

 

 

 “Eh, jangan duduk deket-deket, nanti kamu hamil lagi.” Kata Seta menjauh.

 

“Dasar, lu ya. Masa iya duduk bareng bisa bikin hamil, kata siapa?” balas Mita, gemes.

 

“Lah, bapak, lu yang bilang kalau gue yang ngehamilin, elu. Padahal kita kemarin kan Cuma duduk bersampingan,” Sahut Kala menoleh menampakkan wajah polosnya.

 

Seketika seperti terjadi percakapan yang memanas di antara mereka berdua. Seta yang gemes karena kepolosannya yang dibuat bingung oleh Mita,  dan Mita yang juga gemes dengan kepolosan Seta yang keterlaluan. Mita yang sedikit jailpun kembali mengganggu Seta. Mita mendekat dan menampar tangan Seta yang hendak memakan es krim. Seketika es krim itupun mengenai wajah Seta.

 

“Hmmmmmmmmmm.” Seta melirik ke atas dan menunjukkan wajah datarnya.

 

Mita merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Mita mengusap layar ponselnya dan ‘set…set…set’ membuka pola kunci ponselnya, dan kunci ponselpun telah terbuka. Mita mengetuk tombol menu, dan ia memilih menu kamera. Mita yang lagi-lagi ingin megabadikan momen yang lucu untuknya pun berkeinginan untuk mengambil gambar Seta, sama seperti waktu itu.

 

‘Cekrek!’ Suara ponsel. Mita mengambil gambar.

 

“Eh apaan sih, lu? Sukanya nyolong-nyolong muka gue,” ucap Seta kepada Mita.

 

“Yaaa kan, mumpung lagi kayak gini, mukamu makin lucu. Sayang kalau nggak diabadiin.” Balas Mita. Sembari menunjukkan hasil fotonyang diambil dengan ponselnya.

 

“Huuuahahahahahahahahhahahaha.” Seta tertawa keras melihat fotonya sendiri.

 

Lagi-lagi Seta menertawai dirinya sendiri yang berada di dalam layar ponsel Mita. Wajah Seta ditambahkan ke dalam koleksi wajah lucu di ponselnya. Kemudian Seta pun meminta untuk swafoto bersama. Mita pun menyetujuinya. Seta dengan cepat merebut ponsel Mita dari genggamannya. Seta berada di depan saat berfoto.

 

“Eh, jelek banget gue.” Ujar Seta mengangkat ponsel untuk mengambil gambar mereka berdua.

 

“Emang. Baru tahu kalau, lu jelek?” Balas Mita.

 

“Udah efeknya putih dan alus banget lagi. Gue kan jadi malu kalau kelihatan putih, aslinya mah buluk. Lu depan ah, Mit.” Kata Seta, memberikan ponselnya kepada Mita.

 

“Dahlah, sini.” Jawab Mita mengambil ponselnya.

 

Lalu mereka berdua mengambil swafoto bersama. ‘Cekrek! Cekrek! Cekrek!........’ Banyak gambar yang telah mereka ambil untuk dimasukkan ke dalam layar ponsel dengan berbagai gaya. Kemudian Mita membuka media sosialnya, dan memilih salah satu foto untuk diunggahnya. Dengan gembira ia mengunggah foto di media sosialnya.

 

 

Swastamita Sarkat Day 25

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 344

Day 25

 

 

 “Eh, jangan duduk deket-deket, nanti kamu hamil lagi.” Kata Seta menjauh.

 

“Dasar, lu ya. Masa iya duduk bareng bisa bikin hamil, kata siapa?” balas Mita, gemes.

 

“Lah, bapak, lu yang bilang kalau gue yang ngehamilin, elu. Padahal kita kemarin kan Cuma duduk bersampingan,” Sahut Kala menoleh menampakkan wajah polosnya.

 

Seketika seperti terjadi percakapan yang memanas di antara mereka berdua. Seta yang gemes karena kepolosannya yang dibuat bingung oleh Mita,  dan Mita yang juga gemes dengan kepolosan Seta yang keterlaluan. Mita yang sedikit jailpun kembali mengganggu Seta. Mita mendekat dan menampar tangan Seta yang hendak memakan es krim. Seketika es krim itupun mengenai wajah Seta.

 

“Hmmmmmmmmmm.” Seta melirik ke atas dan menunjukkan wajah datarnya.

 

Mita merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Mita mengusap layar ponselnya dan ‘set…set…set’ membuka pola kunci ponselnya, dan kunci ponselpun telah terbuka. Mita mengetuk tombol menu, dan ia memilih menu kamera. Mita yang lagi-lagi ingin megabadikan momen yang lucu untuknya pun berkeinginan untuk mengambil gambar Seta, sama seperti waktu itu.

 

‘Cekrek!’ Suara ponsel. Mita mengambil gambar.

 

“Eh apaan sih, lu? Sukanya nyolong-nyolong muka gue,” ucap Seta kepada Mita.

 

“Yaaa kan, mumpung lagi kayak gini, mukamu makin lucu. Sayang kalau nggak diabadiin.” Balas Mita. Sembari menunjukkan hasil fotonyang diambil dengan ponselnya.

 

“Huuuahahahahahahahahhahahaha.” Seta tertawa keras melihat fotonya sendiri.

 

Lagi-lagi Seta menertawai dirinya sendiri yang berada di dalam layar ponsel Mita. Wajah Seta ditambahkan ke dalam koleksi wajah lucu di ponselnya. Kemudian Seta pun meminta untuk swafoto bersama. Mita pun menyetujuinya. Seta dengan cepat merebut ponsel Mita dari genggamannya. Seta berada di depan saat berfoto.

 

“Eh, jelek banget gue.” Ujar Seta mengangkat ponsel untuk mengambil gambar mereka berdua.

 

“Emang. Baru tahu kalau, lu jelek?” Balas Mita.

 

“Udah efeknya putih dan alus banget lagi. Gue kan jadi malu kalau kelihatan putih, aslinya mah buluk. Lu depan ah, Mit.” Kata Seta, memberikan ponselnya kepada Mita.

 

“Dahlah, sini.” Jawab Mita mengambil ponselnya.

 

Lalu mereka berdua mengambil swafoto bersama. ‘Cekrek! Cekrek! Cekrek!........’ Banyak gambar yang telah mereka ambil untuk dimasukkan ke dalam layar ponsel dengan berbagai gaya. Kemudian Mita membuka media sosialnya, dan memilih salah satu foto untuk diunggahnya. Dengan gembira ia mengunggah foto di media sosialnya.

 

 

 

 “Eeet, bentar-bentar. Nama akun, lu apa? Mau gue tandain.” Tanya Mita, menatap layar ponselnya.

 

“Seta Putra Slamet,” jawabnya.

 

“Slameeeeet, Slameet,’ Sambung, Mita.

 

‘Mengunggah foto anda,’ Kata dalam layar saat mengunggah foto mereka. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengunggah foto, namun foto yang diunggah Mita, lama saat proses pengunggahan. Mita menutup aplikasi, kemudian membukanya lagi, dan malah hanya loading masuk, dan tak masuk-masuk ke halaman sosial medianya.

 

‘Klunting!’ nada pesan masuk di ponselnya.

 

‘Kuota internet anda telah habis, silakan isi ulang,’ pesan yang masuk di ponselnya.

 

“Yaaaaah, kuota gue abis, Slamet. Tathering-in gue dong,” ungkap Mita kepada Seta.

 

“Lu laper, Mit? Mau minta tathering segala,” sahut Seta.

 

“Itu catering, Slameeeeeeeet. Please deh.” Balas Mita, sembari menepuk jidatnya.

 

Mita pun mengambil ponsel Seta dan membuka hotspot di ponselnya, dan menghidupkannya. Kemudian diusapnya layar ponselnya dan membuka pola kunci di ponselnya. Mita membuka wifi untuk menumpang sinyal internet Seta. Wifi Seta disandi, Mita menanyakan sandinya kepada Seta, “sandinya apa?” kemudian Seta menjawab, “nggak ada sandinya.” Mita kembali menatap ponsel Seta yang sedang digenggamnya.

 

“Iiiiiih, ini ada sandinya, Slameeet.” Ujar  Mita, menyodorkan ponsel kepada Seta.

 

“Nah emang nggak ada sandinya. Ya udah, gue ganti.” Balas Seta, sambil mengetuk-ketuk layar ponselnya.

 

“Terus, sekarang sandinya apa?” tanya Mita, lagi.

 

“Seta ganteng. Nggak pakai spasi!” jawab Seta.

 

“Dih, bikin males ngetik aja,” balas Mita.

 

Mita mengetik sandi, memencet ‘sambungkan’ dan kemudian terhubung dengan jaringan ponsel Seta. Aplikasi media sosial yang sebelumnya dibuka pun sudah bisa masuk. Diulangi kembali memasukkan foto dan caption dan Mita kembali mengetuk ‘unggah foto,’ di layar ponselnya. ‘Foto anda berhasil diunggah,’ kata yang terdapat dalam tampilan layar ponselnya. Foto berhasil diunggah, Seta pun telah ditandai di akun Mita.

 

Di sisi lain, Kala yang sedang membuka media sosialnya, ia melihat foto mereka berdua yang keterangan waktunya tertulis, ‘baru saja.’ Kala yang melihat mereka berdua dalam unggahan foto yang diunggah Mita, semakin panas melihatnya. Ia memberikan like atas foto yang ia lihat, foto Mita dan Seta. Dengan pemikiran bahwa like yang ia berikan bukan berarti menyukai, akan tetapi untuk memberi tahu bahwa ia telah melihat foto unggahan Mita.

Swastamita Sarkat Day 26

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 301

Day 26

 

 

Seta melihat pemberitahuan di layar ponselnya, ‘Swastamita menandai anda dalam sebuah postingan.’ Seta membuka postingan tersebut dan terlihat baru Kala yang menyukai postingan tersebut. Seta pun tersenyum melihat fotonya bersama Mita yang ia unggah di akun media sosialnya. Seta memberikan komen di foto unggahan Mita, ‘gue emang ganteng.’ Muncul pemberitahuan di layar ponsel Mita, namun karena ponselnya masih tergeletak di meja tempat mereka duduk di toko itu, Mita pun belum membukanya.

 

Seta yang melihat Mita belum merespon ponselnya, kemudian ia menyalin tulisannya, dan menyampah komentar, ‘aku ganteng,’ di dalam foto unggahan yang menandainya di akun media sosial Mita. ‘klutik! Klutik! Klutik!’ suara ponsel Mita yang terdengar banyak pemberitahuan yang masuk di ponselnya. Mita pun penasaran dan meraih ponselnya, ‘notif apaan sih? Kok banyak banget,’ ujarnya dalam hati.

 

“Ya ampun, Slameeet, lu ngapain komen?”

 

“Ngga papa sih, gue cuman pengen komen aja,”

 

“Udah yang dikomen orangnya di depannya, spam komentar juga,”

 

“Ih, biarinlah. Lu nggak suka amat lihat orang lain lagi suka,”

 

“Eh apa barusan? Kata-kata lu aneh, masa ngga suka lihat orang lagi suka,”

 

“Anehnya dimana?”

 

“Gatau,” 

 

“Dih, gimana sih? Ga jelas.”

 

Akhirnya setelah Mita merasa sedikit aneh karena ia dikomentari oleh Seta, ia pun membalas komentar Seta di media sosialnya. Dengan senyum tipisnya ia mulai mengetik, ‘lu jelek,’ mengetik lagi, komentari, mengetik lagi, komentari, mengetik lagi, komentari secara terus menerus selama beberapa waktu hingga ia terlihat sibuk. Seta yang melihat notifikasi di ponselnya, ia pun membuka notifikasi tersebut. Ia teringat jika Mita memakai wifi dari ponselnya, lalu muncullah kejailannya, ia mematikan hotspot di ponselnya.

 

“Loh, kok nggak bisa komen,” ujar Mita setelah Seta mematikan hotspot. Seta pun tiba-tiba tertawa melihat Mita yang kebingungan. Belum mengatakan sesuatu, Seta masih tertawa. Mita pun melirik ke arah Seta, dan Seta menoleh ke arah lain dan bersiul, berpura-pura tidak tahu atas apa yang terjadi.

Swastamita Sarkat Day 27

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 438

Day 27

 

 

Mita mengotak-atik aplikasinya, masuk, tutup, keluar, masuk lagi, dan diulangi beberapa kali. Seta melirik ke arah Mita, memperhatikan ia sedang mengotak-atik aplikasinya. Malah tiba-tiba ia membuka pengaturan ponselnya. Mita kebingungan, ‘kenapa sih ini HP?’ pikirnya dalam hati. Ia kembali membuka aplikasi media sosialnya, dan masih belum bisa. Mita yang gigih dengan tidak telitinya tetap bersikeras mengotak-atik ponselnya.

 

“Kalau nggak bisa tuh tanya, jangan lakuin aja!” ujar Seta

 

“Dih, nggak. Gue bisa, pasti bisa!”

 

Seta tertawa kecil mendengar kalimat dari Mita, ia masih belum menyadari apa yang salah dengan ponselnya. Semangat Mita masih menggebu-gebu, dan Seta masih tertawa sendiri melihat kebingungan Mita. Dan pada akhirnya, “gue nyerah,” kata yang dilontarkan Mita tibatiba. Mita hendak meletakkan ponselnya di meja, tiba-tiba tangan Seta merebut ponselnya, “sini, gue benerin.” Seta membuka ponsel, dan menyalakan hotspot di ponselnya, lagi. Otomatis, jaringan di ponsel Mita langsung terhubung ke jaringan Seta. Seta membuka media sosial milik Mita.

 

“Nih, udah bisa,”

 

“Sepele amat, ngga ada satu menit udah selesai,”

 

“Ya iyalah, orang gue cuman nyalain hotspot di HP gue.” Ujar Seta, menyodorkan ponsel Mita ke meja.

 

“Elu tu ya, sukanya jailin orang, udah pengen gue uninstall tadi aplikasinya,”

 

“Makanya, kalau nggak tau itu nanya, jangan cuman asal maju aja,”

 

“Nggak. Cewek nggak pernah salah, itu pasal satu, pasal duanya, kalau cewek salah, kembali ke pasal satu, dan pasal tiganya, yang namanya Seta emang nggak peka,”

 

“Iddiiiiih. Dasar ceeewek! Kalau udah kena ya gitu andalannya.”

 

Mita mengambil ponselnya dan kembali membuka media sosialnya. Melanjutkan membalas komentar Seta dalam foto unggahannya beberapa waktu lalu.  Setelah perjuangannya menaklukkan ponselnya yang tidak bisa membuka aplikasi, ia lupa dengan niatnya membalas bom komentar untuk Seta. Mita hanya memberikan satu balasan komentar, ‘nggak mutu!’ Muncul kembali pemberitahuan di ponsel Seta dan ia langsung membukanya. ‘biarinlah, suka-suka gue, emang gue ganteng, emang masalah buat lu?’ balasan komentar Seta.

 

‘Emang lu ganteng, kalau dilihat dari pucuk Monas pakai sedotan’

 

‘Daripada nggak ganteng sama sekali’

 

‘Dahlah, mau beli es krim lagi aja,’

 

‘Ikut, gue masih punya 2.000 nih,’

 

‘Mana bisa 2000 buat beli es krim,’

 

‘Bisa dong, kan lu yang nambahin.’

 

Kala membuka beranda, melihat ada 300 komentar dan dua suka di foto unggahan Mita. Kala yang penasaran pun membuka komentar dalam postingan tersebut. ‘Ceileh, nih bocah ngapain berdua saling komen, kan mereka lagi bareng. Dasar gaje nih orang,’ pikirnya. Kemudian ia melihat komentar yang terbaru, ia semakin memanas karena melihat mereka akan membeli es krim lagi. ‘Waduh. Nih bocah makin nggak asik aja kalau dilihat,’ pikirnya lagi. Kemudian Kala memberikan komentar dalam postingan tersebut, ‘cie-cieeeeee yang lagi berduaan.’ Sembari menunggu, ia kembali scroll-scroll beranda. Beberapa waktu telah berlalu, namun ia tak kunjung mendapat balasan.   

Swastamita Sarkat Day 28

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 389

Day 28

 

 

Seta dan Mita yang sedang asyik membeli es krim lagi. Kali ini Mita yang membelikan es krim, karena sisa uang dari Seta yang meminjam Kala, hanya tersisa Rp. 2.000,00.  Setelah mereka membeli es krim, kemudian duduk bersama lagi di tempat duduk, warung itu. Tangan kanan Seta memegang ponsel dan tangan kirinya memegng es krim. “Eh, lu kalau makan yang bener, dong. Masa yang buat makan tangan kiri, kebalik tuh,” ujar Mita. Seta yang mendengar itupun sontak langsung memindah posisi ponsel dan es krim yang dipegangnya.

 

Kala yang tak kunjung mendapat balasan, kemudian menghubungi Seta lewat chat pribadi, menanyakan keberadaan mereka. ‘klunting!’ suara chat masuk dan notofikasi di ponsel Seta, namun Seta hanya membaca chat Kala dari notifikasinya dan tidak membuka dan membalasnya. ‘Apaan, mau ganggu gue kencan, lu?’ katanya dalam hati. Kala yang merasa tersingkir dan terlupakan pun merasa jengkel.  Kemudian Bapak Seta datang ke rumahnya untuk menemui bapaknya. Seta yang mendapat ide, akhirnya mencoba menghubungi Seta dengan panggilan suara. ‘Ting tung ting ting tung ting,’ nada ponsel panggilan masuk. Seta menolak panggilan tersebut. Kala yang jengkel kemudian menggunakan jurus jahatnya agar dibalas oleh Seta, ‘bapak lu nggak ada, Set.’ Seta mendapati pesan tersebut, ‘tumben ini bocah manggil gue pake nama gue, jangan-jangan beneran lagi,’ pikirnya.

 

‘Bapak gue nggak ada, Mit,’ ujar Seta kepada Mita dan bergegas pulang sembari mengelap bibirnya yang masih menempel sisa-sisa es krim. Dengan perasaan yang kacau, Seta pulang dengan cepat, Mita juga ditinggalkannya. Sesampainya di rumah ia menemui ibunya.

 

“Bapak mana, Bu?”

 

“Bapakmu lagi ke rumah temenmu, Nak,”

 

“Temenku siapa?”

 

“Kala,”

 

‘Dasar bocah kurang ajar, bisa-bisanya dia bilang kalau bapak gue nggak ada,” katanya dalam hati, jengkel.

Kala yang tahu bahwa bapaknya sedang berkunjung ke rumahnya, ia berkata bahwa bapaknya Seta nggak ada. Ia berpikir bahwa ketika ia diberi kabar jika bapaknya tidak ada, pasti Seta akan pulang ke rumahnya dan pasti bapaknya tidak ada. Seta yang mengetahui bahwa ia dijaili oleh Kala pun jengkel dan menghubungi Kala.

 

‘Maksud lu apa, ngomong kalau bapak gue nggak ada?’

 

‘Ya maksudnya nggak ada di rumah, lu, gitu,’

 

‘Ya kalau gabut, bercandanya jangan gitulah,’

 

‘Lu juga, gue komen dan chat nggak diangkat, gue telpon juga ngga dibales,’

 

‘Emang kalau chat apanya yang mau diangkat?’

 

‘HP-nya lah,’

 

‘Bener juga, lu, tapi gue tetp masih aja nggak suka sama bercanda lu yang barusan,’

 

‘Ya udah, terserah lu aja gimana,’

Swastamita Sarkat Day 29

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 373

Day 29

 

 

Seta geram atas apa yang dilakukan oleh Kala. Matanya melebar menyimpan amarah. Ia bergegas pergi ke rumah Kala. Tatapan matanya lurus menuju ke depan, laju jalannya lebih cepat dari biasanya. Sembari berjalan, tangannya spontan mengambil kayu di yang tergeletak di pinggir jalan. Sesampainya di rumah Kala, ia berteriak memanggil-manggil Kala dari luar. “Ooiii, keluar kau, Kala.” Sontak bapaknya, Bapak Kala, dan Kala pun keluar dengan cepat. Seta menunjuk-nunjuk ke arah Kala dengan kayu yang dibawanya. Dengan teriakan amarahnya ia meminta penjelasan maksud dari yang dilakukan Kala.

 

“Apa maksud lu, ngomong kalau bapak gue nggak ada? Biar gue pergi ninggalin Mita dan ancur acara gue sama Mita? Sini maju lu kalau berani!”

 

“Tongkatku, kenapa kamu bawa anak muda?” Kata seorang kakek tua yang datang dari belakangnya dan tiba-tiba merebut tongkatnya yang dibawa Seta.

 

“Iya, kek, maaf. Saya nggak tahu kalau itu punya kakek,” balas Seta yang berbicara dengan tertunduk.

 

“Tongkat itu sedang aku jemur karena baru aku kelupasin kulitnya.” Kesal sang kakek dengan menunjuk-nunjuk tongkatnya ke arah wajah Seta.

 

Seta pun hanya tertunduk malu. Sang kakek membalikkan badannya dan pergi tanpa berpamitan. Saat kakek sudah melangkah pergi, Seta memandangi Kakek yang berjalan menjauh. ‘Jika aja Kakek itu nggak datang tadi, pasti gue udah termakan emosi gue sendiri,’ ucapnya memandangi sang Kakek. Bapaknya melangkah ke arahnya, sambil berjalan ia beliau berkata, “ternyata anak bapak udah gede, udah tahu suka sama cewek juga.” Seta menoleh dan sedikit terkaget dengan suara bapaknya yang datang mendektinya. Dengan raut wajah yang tegas bapaknya menatap Seta. Seta pun tertunduk kembali, malu karena telah marah-marah di depan bapaknya.

 

“Terima kasih, Nak, karena melihatmu marah sambil teriak-teriak tadi, bapak sadar dengan posisi kamu saat melihat bapak dan ibu berantem dan teriak, apa lagi kadang sampai memecahkan atau merusak barang-barang. Bapak gemetar melihat kamu marah-marah, perasaan bapak tidak enak, serasa dunia benar benar sunyi dan hanya dikelilingi oleh aura negatif. Maafin bapak, selama ini bapak memang tidak pernah mengerti keluarga kita, bapak terlalu egois. Bapak kaget, dan hati ini terasa tersayat saat melihatmu seperti itu. Bapak janji, mulai saat ini bapak akan berusaha untuk memperbaiki hubungan keluarga kita. “ Ucap bapaknya, menepuk pundak Seta dengan  matanya yang berkaca-kaca.

 

“Iya, pak. Maafin Seta juga karena sering berkata kasar kepada bapak.” Balas Seta, memeluk bapaknya.

 

 

Swastamita Sarkat Day 30

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 37

KMO Indonesia

Kelompok 5 (Alister Garuda)

Jumlah Kata    : 301

Day 30

 

 

 

 “Tuhan memang selalu punya rencana yang baik, dibalik kejadian yang terkadang kita tak bisa menduganya.” kata yang tiba-tiba muncul dari Pak Sanusi.

 

 

Setelah melihat kejadian itu, Bapak Kala pun semakin bersyukur dengan apapun yang dimilikinya saat ini. Bapak Kala yang juga tiba-tiba teringat dengan istrinya yang sudah lama tiada kabar. Tiba-tiba ponsel Seta berdering, ‘klunting!’ nomor asing masuk memberi pesan kepadanya. ‘Ini ibu Kala, ibu yang telah lama tak memberi kabar karena dulu HP ibu rusak dan semua nomornya pun hilang. Ibu kemarin melihat saran pertemanan di media sosial. Karena ibu kepo jadi ibu membuka profil kamu. Ternyata ada foto atas nama Kala Bin Sanusi yang menandai kamu, jadi ibu membuka profil dan mengambil nomornya di profil. Tapi baru ibu hubungi tidak bisa karena nomornya sudah tidak aktif. Jadi ibu mengirim pesan ke kamu. Tolong sampaikan bahwa ibunya sudah menghubungi kamu ya. Tapi maaf saat ini ibu masih belum bisa dihubungi lagi karena ibu setelah ini tidak boleh memegang HP. Karena di sini boleh memegang HP satu minggu sekali’ Pesan yang masuk ke ponsel Seta.

 

“Ka, HP-mu hidup nggak?”

 

“Eh, mati, padahal tadi masih hidup,”

 

‘Brati bener, kalau orang ini udah ngehubungi Kala,’ pikirnya.

 

“Nih ada kejutan buat lu.” Seta mendekat dan menyodorkan ponselnya ke arah Kala.

 

“Apaan, sih?”

 

“Ya, buka aja, lu pasti seneng lihatnya,”

 

Kala mengambil ponsel dari Seta dan mulai membaca pesan yang masuk. “Ya Allah, ibu, Pak. Ibu ini pak yang ngirim pesan.” Ujar Kala kepada bapaknya dengan keras, dan matanya yang mulai berkaca-kaca. “Beneran, kamu?” tanya bapaknya. “iya beneran dong, Paaak. Ngapain juga Kala bohong,” jawabnya. Sontak Bapak Kala pun ikut bahagia mendengar berita itu. Matanya menitikkan air mata secara tiba-tiba. Bibirnya tersenyum, bahagia karena mendapat kabar dari sang istri. Mereka sangat bersyukur atas apa yang terjadi pada mereka saat ini. Keluarga mereka seakan utuh kembali.

Mungkin saja kamu suka

Wina Elfayyadh
Andini Bukan Andina
Ery Sulistyorin...
Hantu Masa Lalu Sherly
Nona Icha
Love Me More
My Youra
Menggapai Impian

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil