Loading
0

0

0

Genre : Inspirasi
Penulis : Habibah Syarifah
Bab : 2
Pembaca : 0
Nama : Habibah Syarifah
Buku : 3

HA-TI Anniversary

Sinopsis

Kisah ini tentang inspirasi kehidupan yang kami jalani berdua selama pernikahan. Ada banyak hal berharga. Mulai dari tangis, tawa, sedih, dan bahagia, semua ada. Selamat membaca.
Tags :
#HATIAnniversary #KMOClub #Batch37 #Kelompok34 #MataPena

Perjumpaan

0 0

Perasaanku tidak enak sekali. Apalagi ketika melihat dua ustazah berkerudung panjang terkikik geli. Ditambah, anak-anak kelas satu di sekolah dasar tempatku mengajar, sedang tertawa karena membahas hal yang sama. Padahal, si cantik Okta, siswi yang pertama tahu, telah kularang untuk memberitahukan hal memalukan itu.

“Sini!” teriakku, setengah berbisik, sambil melambaikan tangan pada gadis kecil itu. Ia menurut. Kembali menemuiku.

“Aku enggak bilang ke temen-temen kok, Ustazah. Kayaknya mereka tadi juga lihat sendiri,” ujarnya, dengan nada khawatir, sedikit takut.

Anak ini yang tadi memberitahuku bahwa resleting celana Ustaz Vino bolong. Ia melihatnya ketika jam pelajaran menghafal Al-Qur’an. Aku berjanji untuk memberitahu ustaz diam-diam. Sedangkan Okta berjanji tak akan menyebarkan pada siapa pun. Namun, naas, kabar itu telah tersebar luas.

“Us Syifa saja, sih, yang kasih tahu. Lewat WA aja. Langsung chat.” Ustazah Erin memberikan saran ketika kuminta pendapat mengenai hal ini. Aku menggeleng.

“Enggak ah, takut. Masa perempuan menghubungi duluan? Mana saya ‘kan baru dua minggu di sini, nggak sopan,” jawabku.

Lalu, secepat kilat, Ustazah Raya mengambil ponsel pintar yang kupegang. Ia lari ke pojok ruangan, terlihat mengetik sesuatu. Satu menit kemudian, kembali menuju kami berdua dengan wajah isengnya yang puas sebab telah melakukan hal besar.

“Afwan, kata anak-anak celana Ustadz bolong.” Aku berteriak mengucapkan istigfar ketika membaca pesan yang telah dikirim Ustazah Raya. Sudah centang dua warna biru lagi.

Ustaz Vino yang sedari tadi duduk di gazebo tempat biasa para ustaz berkumpul, langsung berdiri. Ia menatap dari jauh dengan tatapan dingin. Membuatku lantas menundukkan kepala, ketakutan. Kemudian, ia menuju ke parkir motor para guru dan karyawan. Pergi begitu saja.

Salat Istikharah

0 0

Pulang sekolah, peristiwa itu membuatku menduga banyak hal. Apakah Ustaz Vino masih marah? Apa yang harus kulakukan? Aku menggigit bibirku. Kemudian mengetikkan sesuatu di aplikasi tadi dalam percakapan antara aku dan ustaz.

“Afwan, Ustaz. Tadi siang tidak bermaksud untuk berlaku tak sopan. Hanya khawatir jika Ustaz belum tahu dan tetap mengajar ke kelas lain. Sama sekali tak ada niat untuk mempermalukan dan bersikap kurang ajar.”

Pesan itu kububuhi emotikon tangan tertangkup. Setelah kukirim, langsung centang dua. Baru beberapa saat, Ustaz Vino membalas, “Ya, tidak apa-apa. Kata KH Mustofa Bisri: ‘Malaikat tak pernah salah. Setan tak pernah benar. Manusia bisa benar, bisa salah. Maka kita dianjurkan saling mengingatkan, bukan menyalahkan’.”

Sungguh di luar dugaan. Ia menjawab dengan amat santun. Kepala sekolah yang terkenal galak dan tegas kepada seluruh penghuni sekolah, ternyata tidak menakutkan seperti kata orang. Balasan itu mencerminkan bahwa ia adalah laki-laki lembut dan dewasa. Tidak seperti yang kukira.

***

Usai peristiwa itu, aku semakin penasaran dengan sosok Ustaz Vino. Apalagi, ia sering melimpahkan berbagai tugas mengajar padaku yang masih berstatus guru pengganti. Ditambah, Ustazah Erin yang sering bercerita tentangnya di jam-jam kosong kami berdua.

“Ustaz Vino itu pernah menegur fotoku yang pakai kerudung pendek. Di sekolah juga, waktu rapat, sering banget aku disindir gara-gara pakai jilbab menerawang. Padahal, itu ‘kan hak setiap orang mau berpakaian seperti apa,” sungutnya.

“Harusnya kamu bersyukur, Us Erin. Itu artinya Ustaz Vino perhatian dan bertanggungjawab atas sikap religius bawahannya.” Ustazah Raya membela.

Saat mereka asyik membicarakan kepala sekolah idola, diam-diam, aku justru menelusuri rekam jejak asli Ustaz Vino dengan cara mencari akunnya di facebook. Sayangnya, hingga jam mengajar berganti, tidak ketemu juga. Padahal, aku penasaran bagaimana wajah laki-laki itu. Selama ini, ketika bertemu dari dekat, tak pernah bisa memandang parasnya secara utuh.

***

“Syifa, di sekolah jangan sampai kamu berduaan dengan yang bukan mahram. Para ustaz di sana sudah menikah semua. Jadi, jangan sampai kamu dekat-dekat atau suka dengan mereka!” Hatiku teriris mendengar nasihat Umi ini setelah menceritakan segalanya. Benarkah semua ustaz di sana sudah menikah? Termasuk Ustaz Vino?

Aku putus asa. Tak mungkin mengharapkan laki-laki yang telah beristri. Ah, padahal, semalam, sudah kulakukan salat istikharah hari pertama, untuk meminta pada Tuhan agar hatiku tidak jatuh dengan cara yang salah. Apakah ini jawaban-Nya?

Saat sedang tenggelam dalam rasa nelangsa di kamar sendirian, ponselku berbunyi. Nadanya khas pemberitahuan facebook. Ada permintaan pertemanan. Aku membulatkan mata. Terpampang nyata di ponsel pintarku: Vino Hidayat mengirimi Anda permintaan pertemanan.

Sempat ragu. Namun, akhirnya kuterima permintaan itu. Entah, dalam hati ini seperti ada yang mendorong untuk mencari tahu banyak hal tentangnya di sana. Lalu, kutemukan jawaban asli dari doa panjangku semalam.

Ya, Ustaz Vino ternyata belum menikah! Saat kutelusuri, ia adalah orang Palembang dengan ciri khas mata sipit dan berkulit putih bersih. Usianya hampir 24 tahun. Beda dua tahun denganku. Jadi, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan salat istikharah seperti tadi malam hingga jelas jawaban yang Tuhan berikan padaku.

***

Satu pekan menjalani ritual meminta pilihan pada Sang Pemilik Hati, aku semakin mengenalnya. Ternyata, kami memiliki banyak persamaan. Entah itu kampung halaman, kebiasaan, dan kepribadian. Apakah kami berjodoh? Wallaahu a’lam, hanya Tuhan yang tahu.

Akan tetapi, di tengah euforia itu, ada rasa cemburu yang tiba-tiba hadir ketika mendapat kabar dari Ustazah Erin dua pekan kemudian. Katanya, “Sebelum kamu masuk sini, Ustaz Vino dan Ustazah Raya pernah digosipkan saling mencintai. Nah, barusan, ada yang bilang, dalam waktu dekat Ustaz Vino akan melamar salah seorang ustazah di antara kita. Pastilah itu Ustazah Raya.”

Bagai disayat pecahan kaca, perih. Kecewa luar biasa. Meski begitu, kucoba tetap melantunkan namanya di sepertiga malam. Bukan hendak memaksa Tuhan. Namun, di sana ada kalimat permintaan yang bisa melegakan hati.

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan pada-Mu dengan ilmu-Mu, meminta takdir dengan kuasa-Mu, dan meminta sebagian dari karunia-Mu yang besar. Karena sesungguhnya, Engkau Maha Menakdirkan, sedangkan aku tidak. Maha Tahu, aku tidak, dan Maha Mengetahui hal yang gaib.

 Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa Ustaz Vino Hidayat baik untukku, agamaku, kehidupanku, dan memberi akibat yang baik bagiku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkan, dan berkahilah. Namun, jika Engkau tahu bahwa ia buruk bagiku, agamaku, kehidupanku, dan buruk akibatnya bagiku, maka palingkanlah aku darinya, palingkanlah ia dariku, dan takdirkanlah kebaikan dari mana pun, kemudian jadikanlah aku rida atasnya.”

Mungkin saja kamu suka

Nur Maulidiyah
PASRAH DENGAN TAKDIR ALAM
Fransiska Jesik...
LOVE PARADISE

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil