Loading
10

0

1

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Sanaa Ra
Bab : 9
Pembaca : 2
Nama : Sanaa Ra
Buku : 2

Nikah Siri

Sinopsis

Perjuangan dua pemuda yang mempertahankan cinta. Paksaan dari orangtuanya yang mengantarkan ke gerbang pernikahan. Ikatan pernikahanikah siri, menjembak mereka kedalam rumitnya rumah tangga.
Tags :
#Sarapankata #Kmobatch38 #Nikahsiri #Rumahtangga

Prolog + Bab 1

1 0

SarapanKata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

JumlahKata399

Day1

 

Rumah Tangga tidak hanya dibangun oleh cinta

Tapi, tanpa hadir cinta didalamnya

Rumah Tangga seperti lautan tanpa garam

Bagaimana hubungan cinta dan rumah tangga?

Apakah usia menjamin kedewasaan para pecinta?

Sepasang pemuda yang jatuh cinta, mampu merubah perilakunya

Atas dasar cinta mampu menjerumuskan kedalam dosa

Atas dasar cinta mampu membangun rumah tangga

Atas dasar cinta mampu melalaikan ikatan suci yang mengikatnya

Namun, Atas dasar cinta mampu menikmati indahnya rumah tangga 

 

Gadis semester akhir, sedang dimabuk cinta oleh laki-laki saleh yang hadir dalam mimpinya. Birdela namanya, yang erat dengan prinsip haram paracan sebelum kepelaminan. Prinsipnya yang menjaga kemuliaannya, tapi prinsipnya pula yang mengantarkan dalam rumitnya rumah tangga. Rumah Tangga yang diimpikan, membuat Birdela terjebak dalam ikatan Nikah Siri dengan laki-laki yang dicintainya. Apakah mereka mampu menyembunyikan pernikahan dihadapan teman-temannya?. 

 

Bab 1

-Inginku seperti mereka-

 

Suara canda dan tawa itu memenuhi halte busway di Ibukota. Birdela dan keempat temannya sedang menunggu busway jurusan ke salah satu mall. Suasana semakin gelap dengan tenggelamnya matahari di balik gedung itu. 

“Samapai mall ke mushola dulu,ya,” ucap Lidia melihat lampu-lampu menyala.

“Aku lagi tidak salat!” seru Yasmin.

“Aku juga. Kita cari makan dulu nanti deh!” Lilis merangkul Yasmin.

“Ehh … hari ini kita makan Pizza, yuk!” ajak Lisa.

“Ya Allah, pizza lagi. Kalian tau,’kan,” muka Birdela memerah.

Pizza bukanlah makanan pilihan Birdela, bisa dibilang makanan paling tidak disukainya.

Teman-temannya menertawakan tingkah laku Birdela yang mulai aneh. 

“Hei, tenang. Masih ada nasi,kok”.

“Ihhh … Kalian tau, aku tidak suka nasi di Pizza!”.

“Kalian inget gak sih, lucu banget pas Birdela makan Pizza satu porsi tapi tetap merasa lapar!” ucap Lisa.

“Hahahahahah … temannya menertawakan dengan senang”.

“Udah ah. Naik dulu, yuk!” Birdela mendorong mereka.

Merekapun masuk kedalam busway biru itu, menelusuri jalanan ibukota. Namun, Birdela hanya bisa berdiam mendengarkan teman-temannya bercerita tentang pacar dan tunangan mereka. Telinganya kian memanas, tapi apa daya dia harus terlibat dalam obrolan itu.

“Jadi … siapa nih yang mau duluan?” candanya.

“Yaaa … kamulah,” canda teman-temannya.

“Apaan sih kalian!” serunya.

Sungguh bahagianya Birdela mempunyai teman dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, dia juga harus bisa menyesuaikan bahasa dan budaya dari masing-masing mereka.

“Lihat itu!” seru Yasmin menunjuk ke arah kaca.

“Apa sih, Yas?” memukul pundak Yasmin dengan kesal.

Yasmin tertawa lebar telah membohongi teman-temannya, yang dia tunjuk adalah kartu pengemudi busway yang di naiki mereka. Terpampang di pintu kaca belakang pengemudi, mereka ketawa karena supir itu memiliki nama yang unik.o8

Pulang Kuliah

1 0

SarapanKata

KMBatch38

Kelompok30_LenteraAksar

JumlahKata583

Day2

*** 

Mereka bukanlah orang kaya, dengan gaya makan selalu mewah, tapi mereka berasal keluarga yang sederhana. Pergi ke Ibukota untuk menimba ilmu dan bekerja, setelah penatnya dikelilingi oleh tugas-tugas kuliah dan beban pekerjaan. Mereka meluangkan waktu untuk makan bersama walaupun hanya seminggu dua kali, Sabtu dan Minggu setelah pulang kuliah. Mereka mempunyai jadwal yang unik, di mana setiap kali makan memilih tempat yang berbeda dan sesekali tergolong jauh dari tempat tinggal. Masa-masa muda yang tidak ingin dilewatkan, tapi tetap mempunyai prinsip. Hampir semua mall dan tempat kuliner di Ibukota mereka jelajahi, untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan. Mungkin terdengar boros bagi orang lain yang melihatnya, tapi dibalik itu semua, mereka adalah mahasiswi ekonomi yang bisa dibilang bisa menghitung untung dan rugi. Ilmu itu diterapkan salah satunya dalam membeli makanan, mereka meluangkan waktu untuk bersenang-senang dan menghemat biaya. 

Hampir semua jenis kendaraan di Ibukota mereka coba, salah satunya busway dan KRL yang bisa di bilang ekonomis. Hal yang orang lain tidak diketahui adalah mereka selalu mencari makanan yang mempunyai diskon besar, bisa dibilang mereka beruntung. Hampir setiap pulang kuliah mereka mendapatkan makanan yang berdiskon, bahkan pernah hanya membayar seratus ribu dengan makanan yang bayak.

“Hei, Guys … lihat deh! Restoran Sunda diskon 50%!” seru Lili melihat-lihat sesuatu di ponselnya.

“Hahh … Serius?” saut Birdela.

“Iya … beneran. Jadi kita mau yang mana nih?” Lili melihat kearah teman-temannya.

“Hmmm … gimana kalau semuanya aja kita cobain?” jelas Maul.

“Heyy … Laper apa kemaruk, Lo, Ul! Satu aja belum kelar, mau ambil semua hahahaha,” Lisa menyengol pundak Maul.

“Ehhh … tunggu deh. Kayaknya sih gapapa kalau kita coba semua,” gumam Birdela melihat Lisa.

“Boleh juga, kita ke pizza dulu. Ehh kita bagi dua. Aku sama Maul ke Pizza, terus di bungkus. Pakai kartu BNI aku gapapa, kan ada potongan 40% sampai jam 8 doang, lagi!” sahut Yasmin, yang sedari tadi diam di pojok busway.

“Terus ... yang kita bertiga ke Restoran itu! Tapi nanti kalian nyusul, ya!” jelas Birdela.

“Kamu yang ultah. Bawa KTP gak, Lo?” Lisa bertanya pada Birdela.

“Bawa lah. Tapi udah lewat tiga hari, masih berlaku gak, ya?” gumamnya.

“Biasa seminggu, ya, batasnya. Coba nanti kita tanyakan lagi ke sana!” jelas Lilis.

Mereka perlahan sesuai rencana masing-masing. Yasmin dan Maul ke Pizza, sedangkan Birdela, Lilis, dan Lisa ke Restoran makanan Sunda. 

“Bye, see you later!” Yasmin melambaikan tangan.

“Jangan lupa di bungkus, woii !” Lisa berteriak dengan ketawa.

Mereka telah sampai pada tempat tujuan masing-masing. 

“Mba, mau tanya ada diskon apa, ya?” tanpa basa-basi Lilis bertanya pada karyawan restoran sebelum masuk ke dalam. 

Seperti biasa di mall terdapat salah satu karyawan dengan menu makanan yang siap menawarkan pengunjung mall dengan berbagai menu. 

“Ada diskon cashback pakai Ovo, diskon 5% pakai kartu BNI minimal pembelian 100 ribu. Kemudian kita ada diskon 40% untuk kredit CIMB,” jawab sang Karyawan menjelaskan dengan jelas.

“Kalau diskon Ultah, ada gak mba?” tanya Lisa.

“Diskon ultah ada. Potongan 50% minimal pesan 500 ribu, nanti dapat satu puding dan es krim.”

“Saya sudah lewat tiga hari, masih bisa gak, Mba?” tanya Birdela.

“Bisa, Maksimal satu Minggu dari hari ultah”.

“Ok. Saya mau!” jelas Birdela.

“Boleh liat KTPnya?” tanya karyawan restoran.

“Bisa,” Birdela segera membuka tas kecilnya mencari KTP.

*** 

Malam ini mereka dengan senang membeli makanan dengan harga yang terjangkau. Jika dihitung satu orang hanya habis Rp. 50.000,00. Harga yang tergolong murah untuk makan restoran di ibukota. Keluar dari mall dengan tertawa lebar menenteng sisa makanan, yang telah di bungkus dan pizza yang masih utuh untuk dimakan besok pagi.

“Naik gocar saja, ya!” seru Birdela.

“Iya,” jawab Lilis .

–––––

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata423

Day3

“Sudah kumpulin tugas kamarin?” pesan masuk di ponsel Birdela.

“ Deeeegggghhhhh……” Dia terdiam, suasana berubah.

“ Tugas yang mana, ya? Jawabnya.

“Tugas Pak Eri, deadline jam 07.00 ,’kan ? Jawab Maul, teman satu kelas.

“Astaghfirullah… Semalam saya ketiduran!” Mencoba mengingat.

“ Aku belum mengerjakan, semalam ketiduran. Terima kasih sudah mengingatkan,” Jawabnya.

“ Buruan kerjain!”.

Dengan gugup Birdela membuka laptop. 

“Ada waktu satu jam untuk mengerjakan ini!” dengan panik.

Berusaha mengerjakan yang terbaik dengan sisa waktu yang ada. Beberapa kali suka lupa dengan tugas kuliah. Bersyukur mempunyai teman-teman yang baik dan saling mengingatkan.

“Kenapa aku lupa menempelkan tugas di tembok,” gerutu Birdela.

Hampir semua tugas aku tulis dengan kertas kecil dan tempelkan di tembok dekat cermin. Setiap bercermin, dengan sengaja atau tidak Birdela membaca tulisan yang ada di situ.

“Hi…” Nomor asing masuk dalam ponsel Birdela.

“ Siapa? Bukan nomor Indonesia”.

Pandangan dan pikirannya hanya tertuju ke tugas. Tidak peduli dengan sekeliling. Suara ponsel ungu itu sangat menggangguj. Aku tidak bisa fokus. Tidak heran jika banyak yang mengirim pesan, karena aku mengikuti banyak grup di ponselku. Aku suka menyibukkan diri, tidak ingin jika waktu luang terbuang sia-sia. Walaupun, beberapa tugas dari grup di kumpulkan pada menit-menit terakhir.Banyaknya pesan masuk di ponselku, tidak bisa mengobati rasa sepi di kamar ini.

“Alhamdulilah, selesai juga.” Menutup laptop hitam itu.

Ku ambil ponsel ungu di atas meja merah. Walaupun tugas selesai lima menit sebelum batas akhir pengumpulan, hati merasa tenang beban aku berkurang satu. Jari-jariku terasa sakit karena cepatnya mengetik. 

“ Hi.” Lima nomor asing masuk di WhatsAppku.

“ Hallo.” Jawabku.

“Wa’alaikumsallam warrah mattullahiwabbarakatuh. Sama-sama Gus, saya juga minta maaf selama ini jarang setoran.”

“Wa’alaikumsallam warrah mattullahiwabbarakatuh. Baik Gus. Semoga Gus dan keluarga selalu di beri kesehatan, Aamiin”.

“ Wa’alaikumsallam warrah mattullahiwabbarakatuh. Saya juga minta maaf Gus, terimakasih atas ilmu yang di berikan selama ini”.

“ Wa’alaikumsallam warrah mattullahiwabbarakatuh. Sama-sama Gus. Kami juga minta maaf selama ini banyak salah. Baik, saya akan membuatkan list baru”.

*** 

  “ Hallo-Hallo-Hallo ,” terdengar jelas di telinga.Suara laki-laki itu, terbawa kedalam mimpi.

 “ Kenapa semakin ramai ?” merasa terjadi sesuatu. “Jangan-jangan, ada kebakaran!” bergegas aku bangun.

 Kertas-kertas berserakan di lantai. YouTube di laptop terus menyala. Melihat keadaan di dalam kamar. “ Huufftt …! Hanya mimpi,” jantung berdegup kencang, takut terjadi sesuatu.

  Pelan-pelan, aku membuka pintu kamar, berjalan menuju kulkas di dapur. Merasa haus, air dingin yang teringat di kepala. Segera aku mengambil gelas di rak dan menuangkan air. Segelas air dingin ini, sangat menggoda. Padahal, aku bukan orang yang suka minuman dingin. Nikmat sekali rasanya, meminum segelas air es di siang hari.

 

Berbahagia atau Sedih

1 0

SarapanKata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlahkata409

Day 5

Bab 2

-Haruskah aku bahagia atau bersedih?

“Apa jangan-jangan kamu hamil?” tanya Keen dengan penasaran.

“Apa! Hamil?” Dengan terkejut Birdela bangunan dari kasurnya.

“Tidak, tidak, tidak mungkin aku hamil! Mas, tidak mungkin,kan, aku hamil?” Birdela meneteskan air mata, membuat Keen tersenyum tipis melihatnya.

“Adek, kamu kenapa menangis?” tuturnya dengan lembut.

“Aku tidak mau hamil, Kak. Apa kata teman-teman dan tetangga. Aku gak mau bikin Mama sedih.

“Sttt, Adek kenapa harus menangis, siapa tau Mas salah,’kan? Adek jangan keluar dari kost, ya. Coba bentar lagi pesan alat untuk tes, online saja! Setau Mas banyak Apotek yang ada jasa delivery atau bisa juga pakai ojol. Uang Adek masih ada?” Keen terus mencoba menenangkan wanita yang dicintainya, Dia sadar bahwa Birdela tidak bisa diperlakukan dengan tegas.

Birdela membuka ponselnya untuk membeli alat tes kehamilan tanpa menjawab pesan dari Keen. Berharap perkataan Keen salah, dia tidak ingin mengandung sebelum lulus kuliah.

***

Matanya tertuju kearah alat itu, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi, rasa sesak didada melihat garis dua pada alat kehamilan tersebut.

“Mas, aku harus bagaimana?” tanya Birdela mengirimkan gambar tes kehamilan itu.

Keen yang sedang makan tiba-tiba berhenti melihat gambar yang Birdela kirim,”Alhamdulilah, Ya Allah”.

Sujud syukur Keen di lantai kamar wisma mahasiswa itu. Tidak terasa menetes air matanya dengan bahagia mendengar wanita yang dicintainya telah mengandung anaknya.

“Alhamdulilah, makasih, Ya, sayang. Jaga baik-baik badan kamu! Jangan telat makan, tidak boleh terlalu capek!” tuturnya dengan bahagia menelpon Birdela.

“Mas, kamu ini gimana, sih. Aku hamil, tapi kenapa kamu bahagia. Aku gak mau, aku minta Minggu depan Mas Keen harus nikahin aku!” ketusnya pada Keen.

“Sayang, tunggu, jangan marah-marah dulu. Aku melakukan ini karena bahagia, kamu sedang mengandung anakku. Aku tidak menyangka akan secepat ini kamu hamil".

“Mas, aku tidak bahagia. Aku tidak mau hamil! Pasti alat ini salah, aku mau cek ke dokter kandungan!” ucap Birdela dengan kesal.

“Dek, Mas tidak melarang kamu cek ke dokter kandungan, tapi ingat tidak baik adek berkata seperti itu. Banyak,loh, orang di luar sana yang menginginkan punya anak".

“Ok, kamu bisa berkata seperti itu, Karena kamu laki-laki. Tapi aku perempuan, Mas, orang-orang bisa liat perutku semakin besar".

Apa yang mereka pikirkan, Mas. Aku tidak ingin di tinggalkan teman-temanku, dan terjadi fitnah di kampungku atas perbuatan itu,” kemarahan Birdela yang memuncak, membuat Keen memilih untuk diam.

“Sayang, ok, sabar, Ya. Aku akan segera menikahi kamu. Aku tidak ingin membuat kamu sedih,” jawab Kee

“Sabar kata Mas? Aku tidak bisa sabar mas, aku mau Minggu depan kita menikah!” Birdela terus mendesak Keen.

-----------------

Sarapankata

KMOBatch38

#Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata434

Day6

PR

***

Menunggu satu malam rasanya seperti setahun, Birdela tidak bisa tidur dengan pulas. Hari ini Birdela masuk kuliah, tapi dia berangkat lebih awal dari biasanya. Kakinya terus berjalan melewati gang kecil menuju puskesmas tidak jauh dari indekosnya. Berharap ada dokter kandungan yang berjaga pagi ini, dia masih memiliki waktu tiga jam sebelum memulai mata kuliah hari ini. 

Rasa canggung untuk masuk kedalam puskesmas itu, langkah kakinya berhenti di depan pintu masuk.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya satpam yang berdiri di balik pintu memperhatikan Birdela yang kebingungan.

“Saya mau cek kandungan,” ucapnya dengan singkat.

“Kak, daftar dulu sebelah situ, lalu ambil antrian di sebelahnya!” Jarinya menunjuk ke arah kanan Birdela.

“Baik, Pak. Terima kasih”.

Birdela berjalan menuju pendaftaran, beruntung puskesmas masih sepi, dan mendapatkan nomor antrian pertama untuk dokter kandungan. Dia memasuki ruang ibu dan anak, dilihatnya dokter berkerudung biru itu menatapnya dengan senyuman.

“Silahkan duduk, mom!” tegurnya.

Birdela jalan menuju kursi di depan sang dokter, membalas senyuman.

“Dok, saya ingin mengecek kandungan,” tuturnya dengan gugup terlihat diwajah Birdela.

“Baik, Momy, boleh berbaring di situ! Saya mau cek dulu!”.

“Baik, Dok,” berdiri dari kursi.

*** 

Birdela terus menatap pada kertas putih itu, entah apa yang akan dialami kedepannya, apakah dia harus jujur pada semua orang atau diam membisu. Diambilnya ponsel dari dalam tas.

“Mas, Aku positif hamil. Ini hasil tes ke dokter, barusan. Usia kandunganku sudah satu bulan,” Tulis Birdela pada pesan itu, dan mengirimkan gambar hasil periksa kandungannya.

Lama tidak membaca, Birdela dengan tidak sabar memberi kabar pada Ibu dan memutuskan untuk menelponnya.

“Hallo, Assalamualaikum,” jawab sang Ibu.

“Waalaikumsalam, Bu. Ibu sehat-sehat?” tanyanya.

“Alhamdulilah, sehat, Nduk. Kamu gimana di situ? Belum berangkat kuliah?”.

“Birdela baik-baik di sini,Bu. Bu … ,” panggilnya dengan lembut.

“Ada apa, Nak? Tumben pagi-pagi teflon”.

“Bu, Birdela pingin nikah Minggu depan,” jelasnya dengan ragu.

“Maksudnya gimana, Nak? Kok mendadak gitu. Apa sudah kamu pikirkan matang-matang? Nikah kan butuh persiapan yang banyak”.

“Bu, Birdela serius. Sekarang lagi hamil, barusan aku cek ke dokter katanya usia kandungan sudah satu bulan. Aku gak mau dibilang wanita nakal,Bu. Aku juga gak mau memalukan Ibu dan Bapak di kampung,” jelasnya.

“Sabar, sabar dulu, ya, Nak. Ibu tidak bisa mengobrol lewat telepon. Ibu Dateng ke Jakarta, ya, Nak, tiga hari tidak masalah. Ibu sangat khawatir sama kamu,” dengan gugup Ibu menjawab, takut dan cemas putrinya berbuat hal yang tidak diinginkan.

Panggilan berlangsung dua puluh menit, membuat Birdela sedikit tenang dengan situasi yang dialaminya. Birdela membuka pesan dari Keen.

“Alhamdulilah, Dek, nanti ada orang yang mengantarkan kunci rumah ke kostmu. Tolong terima, besok kamu harus pindah ke rumah aku!” balasnya singkat, tanpa merespon hasil kandungan Birdela.

Terbongkar

1 0

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata373

Day7

Bab 3

Terbongkar

 

 

Birdela berlari melewati lorong kampus, tanpa memperdulikan kandungannya. Melihat jam tangannya menunjukkan kurang satu menit pembelajaran dimulai. Tanpa disadarinya sebuah amplop putih jatuh dari dalam buku Birdela. Yeni teman satu angkatan yang berjalan di belakang Birdela mengambil amplop itu dan memanggil-manggil Birdela. Namun sayang, Birdela tidak mendengarnya, dia terus berlari tanpa melihat kanan kiri.

Birdela memasuki ruang kelas dengan napas yang terengah-engah, terlihat belum ada dosen yang masuk ruang itu. Perlahan menuju kursi yang telah disediakan untuknya, ya, Yasmin memilihkan untuk Birdela. 

“Hai, Guys,” sapa ya memegang perut yang sedikit kram karena berlarian.

“Kamu baru dateng! Tumben, kenama aja, Li?” tegur Lisa.

Birdela tersenyum membalasnya, “ada keperluan tadi”.

Birdela melihat Dosen memasuki ruangan,”Huftt, beruntung aku tidak telat!”.

*** 

“Guys, mau kemana hari ini?” tanya Maul.

“Kita makan di bazar, yuk!” celetus Lilis.

“Guys, maap, ya. Aku hari ini sibuk, jadi belum bisa pergi makan bareng kalian,” ucap Birdela sambil memasukkan buku ke dalam tas.

“Kamu mau kemana?” tanya Lisa.

“Aku mau pindah rumah, nanti malem ibuku juga Dateng dari kampung,” jawab Birdela.

“Kamu beli rumah?” tanya Yasmin dengan heran.

“Iya, sebenarnya mau ditempati besok kalau udah nikah, tapi sekarang daripada aku kost lebih baik tinggal di sana saja,” ucapnya.

“Nikah? Emang kamu udah ada calonnya? Apa kamu dijodohin sama Orangtua?” sindir Maul dengan senyuman. 

Teman-teman menertawakan Birdela, jangankan untuk menikah, berdekatan dengan laki-laki saja Birdela tidak mau. Mereka sangat terkejut mendengar Birdela ingin menikah.

“Nanti kalau tanggalnya sudah ditentuin aku kabarin kalian! Siap-siap kado saja buat sahabatmu ini!” Birdela menggoda dengan senyuman tipis di pipinya.

“Cialah, kepedean amat nih, orang, hahaha,” tawa teman-temannya.

Birdela berdiri mengambil tasnya di kursi,”Aku jalan dulu, ya!”.

“Ok, Bye. Kapan-kapan mau main ke rumahmu, ya!” seru Yasmin.

Birdela tersenyum dan melambaikan tangan, perlahan meninggalkan ruang kelas.

Teman-teman yang lain sibuk merapikan buku dan memasukkan kedalam tas. Tiba-tiba Yeni menghampiri teman-teman Birdela, dengan membawa amplop putih di tangannya. 

“Hi, Birdela ke mana, ya?” tanya Yeni, mengagetkan teman-teman Birdela.

“Birdela udah pulang, ada apa?” tanya Lisa.

“Aku tadi pagi liat amplop ini jatuh dari buku Birdela. Tolong berikan ke Birdela,ya!” ucap Yeni menyodorkan amplop pada Lilis.

“Apa ini?” Lilis bertanya.

“Aku juga gak tau. Aku gak berani buka, itu punya Birdela,” jawabnya semakin membuat teman-teman Nura penasaran.

-------------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata377

Day8

“Aku juga gak tau. Aku gak berani buka, itu punya Birdela,” jawabnya semakin membuat teman-teman Birdela penasaran.

“Ok, makasih, Yen. Nanti aku kasih Birdela,” ucapnya.

“Ya, sudah, Aku pulang dulu, Bye,” Yeni melambaikan tangan.

Teman-teman Birdela saling penasaran dengan isi amplop putih tersebut, Lilis yang memegangnya memebaca tulisan yang tertera dari Puskesmas.

“Birdela sakit apa, Ya? Kok dia gak cerita ke kita,” gumam Lilis.

“Aku mau liat dong!” Yasmin menarik amplop itu sampai sobek karena berebut dengan Lilis.

“Tuh,’kan. Kamu, sih, tarik. Ini punya Birdela, kita gak berhak membukanya!” cetus Lilis pada Yasmin.

“Kamu juga yang salah, kan aku mau liat doang. Kenapa kamu gak kasih ke aku saja!” balas Yasmin dengan kesal.

“Sudah, sini aku aja yang pegang!” tarik Lisa tanpa sengaja membuat kertas didalamnya terbaca.

“Positif hamil?” ucap Lisa dengan pelan, yang mengagetkan semua teman-temannya.

“Apa?” semua mendekati kertas itu dengan penasaran.

Mereka membaca semua isi surat tersebut dengan terkejut dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Jadi, ini alasan Birdela pingin nikah!” ucap Maul mengangguk-angguk kepala.

“Terus dia mau pindah rumah? Apa itu hasil dari cowok itu?” Yasmin menerka-nerka.

“Jangan pada asal nebak, deh. Mungkin dia punya rahasia yang bisa diceritakan ke kita!” Lisa menenangkan mereka dengan muka yang merah.

“Iya, dia punya rahasia yang sangat menjijikkan. Bahkan dia tidak mau didekati oleh laki-laki, tapi kenyataannya dia hamil. Apakah kalian tahu betapa jijiknya aku melihat ini, dia yang memberi aku saran supaya putus dengan cowokku. Akhirnya sekarang dia yang hamil! apa itu namanya sahabat?” kemarahan Lilis memuncak melihat kertas itu, tatapannya semakin sinis dan membenci Birdela.

“Hustt, jangan begitu dulu, kita selidiki dulu, ya!” jawab Yasmin.

“Jadi, kalian memilih Birdela yang sudah jelas-jelas berzina! Kalian sudah tidak mau mendengarkan aku? Ok, aku tetap tidak mau bertem dengannya lagi. Kalau kalian mau berteman dengannya dan menanggung rasa malu Birdela, silahkan! Tapi, jangan paksa aku untu menerima dia sebagai temanku!” seru Lilis membuat semua terdiam, dia menarik tas di bangku dan segera keluar ruangan.

“Aduh, gimana ini? Maafkan aku teman-teman. Aku mau nyusul Lilis!” ucap Yasmin mengambil tas dan segera lari mengejar Lilis.

“Apa mba Lisa mau lari juga mengikuti mereka?” tanya Maul.

“Maaf, Mul. Aku ingin menenangkan Lilis!” Lisa pun ikut pergi bersama mereka.

Tersisa Maul yang masih berdiri memegang kertas itu, dan segera keluar menyusul teman-temannya.

---------------------

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata326

Day9

Angin mulai mengusik Birdela yang dari tadi sibuk membantu pamannya menyiapkan barang untuk dimasukkan ke dalam mobil. Beruntunglah barangnya tidak terlalu banyak, lima koper besar cukup untuk memindahkan dari indekos ke rumah baru Keen. Terlihat pamannya dengan sibuk memasukkan koper ke dalam mobilnya. Birdela sangat bersyukur memiliki kerabat di Ibukota, mereka sama-sama merantau dan memiliki rumah di sini.

Tiba-tiba berhenti sebuah mobil hitam di belakang mobil paman, laki-laki itu turun dan membuka bagasinya. Laki-laki itu lari ke arah pintu dan langsung membukanya, seorang wanita separuh baya turun dari mobil.

“Tidak salah, itu pasti Ibu!” Birdela mendekati wanita separuh baya itu.

“Birdela … ,” panggil Ibu.

“Ibu … ,” Birdela memeluk dengan erat sang Ibu, pamannya mendekati mereka.

“Kok mendadak kesini?” tegur paman.

“Iya,tadi pagi Birdela telfon aku, untung Mas Surya ada ke arah Jakarta hari ini!” balas Ibu, berjabat tangan dengan adiknya itu.

Tidak lama mereka meluapkan kerinduan, segera bergegas menuju rumah Keen yang terletak di pinggiran Ibukota. Paman dan Ibunya menjauh dari Indekos Birdela, malam ini mereka yang menepati rumah itu. Birdela tetap di kamarnya untuk istirahat, sebelum besok berangkat kuliah dan segera menuju rumah barunya. 

“Hufttt … capek banget hari ini, mana udaranya dingin lagi!” gerutu Birdela menarik selimut.

*** 

Hari ini Birdela merasa aneh dengan perilaku teman-temannya yang tidak mengajak berbicara dan bersenda gurau. Bahkan untuk menyiapkan kursi disampingnya pun tidak, Birdela terpaksa duduk di bangku paling belakang sampai pelajaran selesai.

Beruntung hari ini hanya satu mata kuliah, sehingga dia bisa cepat-cepat pulang ke rumah.

“Guys … kalian ada acara gak, hari ini?” tanya Birdela mendekati teman-temannya.

“Aku tidak mau berteman dengan orang yang munafik!” seru Lilis berjalan keluar, sehingga menabrak badan Birdela.

Birdela yang tampak bingung menanyakan hal apa yang terjadi pada Yasmin,”Lilis kenapa?”.

“Tanyakan saja sama dirimu!” Yasmin mendorong Birdela untuk menjauh darinya.

“Maaf Birdela, kami sibuk hari ini!” jelas Lisa keluar menjauhi Birdela.

“Birdela, aku minta maaf tidak bisa menemani kamu hari ini. Aku harus menyusul mereka!” Maul menyodorkan kertas pada Birdela.

Sendiri Lebih Baik

2 0

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 362

Day 10

Bab 4

-Lebih Baik Sendiri-

“Pantas saja mereka membenciku, tapi, darimana mereka dapet surat ini?” Birdela berbisik dalam hati, seraya keluar dari ruang kelas.

Di tangga dia berpapasan dengan Yeni, dengan cepat wanita itu menghentikan langkah Birdela.

“Birdela … tunggu!” sahutnya.

Birdela menoleh ke arah Yeni dengan penasaran.

“Birdela, kemarin aku menemukan amplop kamu di lorong bawah. Maksudnya aku melihat kamu buru-buru jadi amplop itu jatuh dari buku kamu. Aku berusaha mengejarmu, tapi kamu lari terus. Tapi aku sudah kasih amplop itu ke Lilis,” ucapnya dengan panik karena telah mengetahui bahwa amplop itu adalah hasil tes kehamilan Birdela. Yeni mendengar perbincangan teman-teman Birdela, kemarin di depan kampus ketika menunggu mobil yang dipesan online.

“Iya, gapapa, kok. Makasih, ya, udah nemuin ini,” balasnya dengan lembut, terlihat sedih yang tertahan dari raut wajahnya.

“Maafin aku, ya. Kemaren aku cari kamu ke kelas, tapi kamu udah pulang. Takut penting, aku kasih ini ke Lilis!” ucapnya lagi.

“Iya, gapapa,kok. Kamu jangan minta maaf ke aku, dong. Kita,kan, teman dari kecil. Sudah, kamu jangan mikirin ini, ya! Aku pamit dulu,” Birdela mengusap pundak Yeni, teman masa kecilnya di kampung.

“Hati-hati,ya,” balas Yeni dengan tersenyum, terlintas rasa kasihan dalam hatinya, melihat teman masa kecilnya menanggung semua ini. Namun, dia tidak bisa membantu apapun, karena takut ikut dalam permasalahan Birdela.

***

“Assalamualaikum, Ibu,” Birdela memasuki rumah baru Keen.

“Wa’alaikumsallam, eh, anak Ibu sudah pulang,” Ibu masih sibuk memasak sesuatu.

“Bu, ini kompor dari mana?” tanya Birdela melihat dapur yang terisi kompor dan kulkas.

“Ini, tadi Keen telfon ibu, ada orang dateng nganterin ini buat kamu. Ya, ibu terima saja, Keen juga lagi beli mesin cuci, nanti sore barangnya dateng katanya!” jelas Ibu melanjutkan memasak.

Birdela hanya terdiam melihat ini semua, seraya memasuki setiap ruangan yang masih kosong. Hanya satu kamar yang terisi ranjang, yang sudah disiapkan untuknya.

“Assalamualaikum, Mas. Adek sudah di rumah baru, Mas. Adek gak tau harus ngomong apa? Apa harus bahagia atau membenci Mas Keen,” tulisnya dalam pesan singkat.

“Nak, mandi dulu! Barang-barang kamu sudah ibu rapikan di kamar, Ya. Jadi kamu Tinggal susun lagi, kalau tidak cocok. Ibu, ’kan, gak tau barang-barang yang penting buat kamu!” suruh sang Ibu, menyadarkan lamunan Birdela.

“Iya, Bu. Makasih,ya. Maafin Birdela udah merepotkan Ibu,” berjalan dan memeluknya.

--------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata410

Day11

 

Birdela berjalan ke kamar sambil membalas pesan dari Keen.

“Mas telfon saja,ya?” jawab Keen.

“Tidak usah, Mas!” balas Birdela, sedikit geram.

“Dek, kalau ada masalah, cerita ke Mas. Gak baik loh, dipendam sendiri!”.

“Mas, teman-temanku sudah tau tentang kehamilan ini! Mereka menjauhi aku, tidak ada yang mau berteman lagi sama aku! Aku mau Minggu depan kita harus menikah!”.

“Iya, Sayang, Mas usahain. Nanti mungkin Mas punya tiga hari buat pulang ke Indonesia”.

*** 

Disisi lain Keen yang termenung di balkon wisma mahasiswa, mencoba untuk menelepon Ayahnya.

“Hallo, assalamualaikum,” jawab sang Ayah.

“Hallo, Abi apa kabar?” tanya Keen.

“Alhamdulilah, Abi dan Umi sehat, Nak. Kamu bagaimana di situ?” tanya Ayah, yang mulai curiga dengan suara anaknya, seperti memendam sesuatu.

“Alhamdulilah, Keen sehat, Bi. Tapi Keen punya hajat. Keen berniat menikahi Birdela minggu depan. Alhamdulilah, Birdela sedang mengandung anak Keen, usianya sudah satu bulan, Abi,” tutur Keen dengan sopan.

Abi diam sejenak, memikirkan apa yang harus dilakukannya,”Apa kamu yakin, secepat ini? Mungkin kalau semingu lagi, waktu yang sangat mepet. Kita coba kalau Dua minggu lagi gimana? Nanti Abi dan Umi dateng ke rumah Birdela dulu,” jelasya.

“Tidak masalah, Abi. Maafkan Keen yang tidak bisa menjaga nafsu, sekarang jadi merepotkan keluarga. Keen tidak ingin Birdela stres menanggung semua ini, kandungannya semakin hari tambah membesar. Aku ingin segera menikahi sah secara Hukum, Abi”.

“Kalian tidak Salah, Nak. Jutru Kami bangga pada kalian, yang mementingkan agama daripada menanggung dosa zina. Abi mengerti yang dialami kalian, apalagi Birdela sebagai wanita. Kalian jangan takut diperbincangkan banyak orang, tetap kuat, Allah bersama kalian,” tutur Ayah.

“Sebenarnya, teman-teman Birdela sudah tau tentang kehamilan itu. Mereka menjauhinya, aku tidak mau Birdela stres menghadapi ini. Andai saja aku menghalangi Birdela untuk ikut mengantarkanku ke bandara, aku yakin hal ini tidak akan terjadi. Kami berbulan madu semalam di Jogja, sebelum keberangkatanku ke Cina. Aku tidak berpikir panjang, ini hanya Pernikahan Siri. Ahhh … !” Keen menyesali perbuatannya sehari setelah Pernikahan Siri mereka.

“Keen, Keen, anak Abi. Kamu laki-laki yang kuat, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini bukan Salah kalian, ingat anak adalah titipan. Allah titipkan pada kalian, karena percaya kalian bisa menjadi Ayah dan Ibu yang baik. Sekarang tataplah kedepan, ingat pesan Abi! Walaupun orang-orang membicarakan, tapi yang terpenting kalian sudah halal secara Agama. Mereka tidak tau alasan kalian melakukan ini, Abi percaya kamu laki-laki yang kuat. Semangat, anakku!” Ayah meneteskan air mata.

“Iya, Abi. Keen terus berusaha memperbaiki diri dan bersikap dewasa. Termasuk sabar menghadapi Birdela yang lebih sensitif di masa kehamilannya”.

------------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata393

Day12

Obrolan itu berakhir setelah satu jam berbicara panjang lebar tentang Birdela dan Keen.

Keen membuka ponselnya dan melihat jumlah saldo rekening di ponselnya. 

“Ya Allah, dengan uang segini, apakah cukup untuk kami menikah dan menghidupi istriku?” Keen duduk termenung di balkon.

Setelah beberapa menit menanyakan tentang usahanya di Indonesia, kakaknya yang memegang bisnis milik Keen pun belum memuaskan hatinya.

“Bagaimana ini? Uangku tinggal seratus juta, apa Birdela mau acara kami dibikin sederhana?” tanyanya dalam hati.

Wajar saja Keen bingung memikirkan dana untuk pernikahan mereka, pasalnya baru satu bulan dia membeli Rumah. Menghabiskan biaya enam ratus juta untuk membeli dan melengkapi barang-barang di rumah barunya. Walaupun orangtuanya orang berada, tapi Keen tetap tidak ingin menggunakan uang mereka. Keen membangun usahanya sejak duduk di bangku kuliah semester dua. Hingga akhirnya bisa membeli rumah dan mencukupi kebutuhan hidupnya di luar negeri untuk kuliah. 

Kurang lebih tiga bulan lagi Keen lulus kuliah, rencana awal adalah setelah mereka lulus akan segera dilakukan pernikahan sah secara hukum. Namun, baru satu bulan lebih Keen di Cina, Birdela mengandung anaknya. Bagi pasangan pemuda yang sedang dimabuk cinta, bulan madu adalah hal yang paling ditunggu. Sama seperti mereka yang berbulan madu tepat sehari setelah pernikahan sirinya.

*** 

“Nak, tadi Ayah telfon Ibu. Katanya ibu suruh pulang, Abi dan Umi Keen mau dateng ke rumah, barusan telfon Ayah,” ucap Ibu sambil mengambilkan Birdela sayur yang telah dimasaknya. 

Ibu juga tidak tega jika meninggalkan Putrinya seorang diri dengan kehamilan yang masih muda, jangankan untuk memasak, untuk makan pun tak selera. Birdela duduk dengan lamunannya, wajah di penuhi dengan beban hidupnya.

“Nak …,” panggilnya sekali lagi.

“I-iya, Bu,” panggilan Ibu menyadarkan lamunannya.

“Ayah suruh Ibu pulang, Orangtua Keen mau datang!” jelasnya.

“Kapan, Bu? Kok mendadak”.

“Mungkin Besok. Ibu cari travel arah kampung, nanti bisa tanya ke Mas Surya. Kamu gapapa,’kan, ditinggal sendiri?”.

“Iya, Bu. Birdela gapapa,kok”.

“Dek, bagaimana keadaanmu? Mas suruh Zahro menginap di rumah, ya! Mungkin besok sore dia datang,” pesan masuk dari Keen.

Birdela yang membaca pesan itu kembali meletakkan ponselnya, tanpa membalas pesan dari Keen. Dia masih tidak ingin mengobrol dengan Keen, entah mengapa selama hamil Birdela menjadi sangat benci untuk ngobrol dengan Keen.

“Ibu, kalau mau pulang gapapa, besok Zahro ke sini. Mas Keen, barusan kabari Birdela”.

Ibu tersenyum melihat putrinya,”Iya, Nak. Tadi Keen sudah bicara sama Ibu”.

Birdela semakin mual setiap mendengar Keen sering mengobrol dengan Ibunya, seperti cari perhatian Orangtua.

-------------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata327

Day13

*** 

“Assalamualaikum,” terdengar seseorang mengetuk pintu.

Ibu berjalan menuju pintu, yang sudah siap untuk pulang ke rumah. Dibukanya pintu dengan perlahan, gadis manis berdiri di depannya. Belum pernah Ibu Birdela melihat gadis itu.

“Bu, saya adeknya Kak Keen,” gadis lugu itu mengangguk dengan sopan dan berjabat tangan dengan Ibu Birdela.

“Ya Allah, ternyata Keen punya adik secantik kamu,” tegur Ibu mempersilahkan masuk rumah.

Mereka berjalan ke ruang makan, Birdela menengok siapa gerangan yang datang.

“Haiii,” sahut Birdela memeluk adik iparnya.

“Hallo, Kakak. Gimana, sehat?” tanyanya.

“Alhamdulilah, sehat. Bagaimana denganmu?”.

“Alhamdulilah, sehat. Cuman lagi sibuk UAS saja sih, kak. Jadi kelihatan lebih capek,” gadis itu menjelaskan tentang badannya yang lebih langsing dari sebelumnya.

“Semangat, Ya. Anak pintar,” Tangan Birdela mengusap kerudung Rere.

*** 

Birdela sudah tertidur, tapi Rere tidak bisa memejamkan matanya. Ibu Birdela sudah pulang kerumahnya sejak tadi sore, sekarang Rere yang menemaninya.

“Kak,” Tulis Rere pada Keen.

“Iya,” jawabnya.

“Aku gak bisa tidur! Pokoknya besok aku gak mau nginep di sini lagi!”.

“Loh, kok? Bukanya kamu senang bisa bareng sama Kaka. Besok kalau Kaka sudah pulang ke Indonesia, kamu tinggal di situ, ya!” jawab Keen.

“Aku gak mau, Kak. Aku gak bisa tidur! Ini kak Birdela baru saja tidur. Dia muntah-muntah terus, jujur aku terganggu banget. Aku jijik dengernya, gak tahan. Mana kita tidur satu ranjang, ihhh, sempit aku gak mau!” ketusnya.

“Dek, besok kalau Kaka sudah ada uang beli ranjang buat kamu, ya. Malam ini kamu tidur sama Kak Birdela, tolong bantu Kakak. Tenang Dek, kamu tetap Adek kesayangan Kak Keen,” rayunya.

“Semalam saja, besok aku mau pulang ke kost. Aku mau belajar,kak. Lagi UAS,” jawabnya.

“Iya, gapapa. Makasih, ya, Dek”.

Rere mencoba untuk memejamkan mata, sampai pagi hari pun tiba.

“Pagi, Kak,” sapanya pada Birdela yang sudah menyiapkan sarapan pagi ini.

“Pagi, sayang. Ayo, sarapan dulu!” ajak Birdela.

“Iya, makasih, Kak. Mungkin nanti aku gak balik sini deh,Kak. Aku harus belajar buat UAS, kalau dari sini, jarak rumah dan kampus memakan waktu lebih, Ka”.

Hinaan

1 0

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 363

Day 14

PR

Bab 5

 

Hinaan

“Ihh, aku, sih, ogah berteman sama simpenan om-om!” sindir Lilis berjalan mendahului Birdela menuju tempat duduk.

Hari ini adalah pertemuan terakhir di kelas ini, rasanya baru kemarin masuk dan bertemu teman-teman. Mulai besok mereka mulai bimbingan proposal skripsi dengan dosen yang sudah ditentukan. Tidak ada teman Birdela yang satu dosen pembimbing dengannya. Hal itu membuat teman-teman semakin menjauh, Birdela sangat kesepian kehilangan sahabat yang seperti keluarganya.

“Aku bukan simpanan Om-om! Please, Stop!” teriaknya lirih mendengar teman-teman satu kelas menghinakan dirinya terus menerus.

“Stttt … ! Please, stop! Kalian bisa diem dikit, gak! Udah si, kita sudah gede, gak usah kaya bocah kemarin sore, deh. Lagipula di kampus juga tidak ada larangan hamil,kan? So please, kalian jangan menghina dia terus, kasian Birdela. Bagaimana kalau kalian di posisi dia!” seru Lisa sebagai ketua Kelas menenangkan suasana di dalam kelas.

“Huuuuu … aku sih, ogah jadi simpenan om-om! Amit-amit, mendingan gue ngekos dari pada dapet rumah dari hasil menggoda!” cetus salah satu teman dari belakang.

“Kenapa loe, jadi belaiin dia, sih!” Lilis menarik tangan Lisa kebelakang.

“Bukan masalah membela, Gue gak mau, Ya. Nanti kelas ini sampai ada masalah dan keributan, terus gue yang dipanggil sama profesor!” jawab Lisa dengan tegas.

“Ahhhh, sudahlah! Mendingan gue pergi dari sini!” Lilis menarik tas di tangan Yasmin.

1“Gue peringati lagi! Kalau sampai terdengar ke Prof, jangan bawa-bawa nama Gue!” tutur Lisa pada teman-teman kelas.

Kelas menjadi hening mendengar ucapan Lisa, tanpa berkata apa-apa Birdela lari keluar kelas dengan tersedu-sedu.

“Kenapa, Aku harus begini!” Birdela menangis melihat dirinya di cermin.

“Birdela … ,” suara lirih itu terdengar dari balik pintu.

“Jangan dekati aku lagi! Aku tidak pantas mempunyai teman! Aku pantas dibenci!” jawabnya dengan ketus.

“Birdela, Aku ingin bicara sesuatu. Aku gak mau membicarakan itu. Apa kamu maish anggap aku sebagai teman?” Maul mencoba merayu Birdela yang terus mengurung diri di kamar mandi.

“Awww … Sakit sekali!” memegang perut yang tiba-tiba terasa sakit sekali.

“Birdela, kamu baik-baik saja, kan!” Maul terus mengetuk pintu mengkhawatirkan temannya itu.

“Maul, tolong Aku! Please, bawa aku pulang ke rumah!” ucapnya dengan pelan, Keringat dingin mulai memenuhi muka Birdela sambil membuka pintu.

“Birdela! Astaghfirullah, ayo, ikut Aku!” Maul meraih badan Birdela yang hendak terjatuh di lantai.

-------------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata313

Day15

“Del, kamu denger, ‘kan, tadi kata dokter! Jangn banyak pikiran, apalagi stres. Terus jangan terlalu capek juga! Kamu harus jaga kandunganmu!” ucapnya membaringkan badan sahabatnya di ranjang.

Mereka baru saja tiba di rumah Birdela, setelah satu jam Birdela pingsan di puskesmas dekat kampusnya. Maul dengan sabar mendampingi sahabatnya, bahkan mengantarkan sampai ke rumah.

“Makasih, ya, Mul. Kalau gak ada kamu, aku gak tau apa yang terjadi di toilet kampus,” tutur Birdela yang terlihat pucat.

“Kamu istirahat, Ya!” tutur Maul dengan senyuman, seakan semua baik-baik saja.

“Maaf, ya. Tapi bagaimana sama yang lain? Kamu gak ikut hang out?”.

Maul tersenyum melihat Birdela,”Hari ini, aku mau temenin sahabat yang paling suka bikin aku gemuk!”.

Birdela tersenyum mendengar ucapan sahabatnya,”Kamu mau, gak, nginep disini?”.

“Tapi–“ jawabnya terputus.

“Kamu bilang pingin pindah kost, akhir bulan. Sekarang,’kan, sudah akhir bulan. Apa kamu sudah pindah kost baru?”.

“Belum,” Maul menggerakkan kepalanya.

“Terus, kamu gak jadi pindah?”.

“Aku lagi bingung. Dua hari ini aku sudah gak kerja, mana uangku terus menipis. Belum tau mau bayar kost darimana, apalagi buat pindah kost baru. Mungkin aku numpang di tempat Tante di Bekasi,” jawabnya.

“Mau, gak, kalau kamu nginep di sini, bareng aku. Kamu jangan khawatir, teman-teman gak bakal tau. Aku diam saja,” Birdela berharap mempunyai teman dirumahnya.

“Tapi–, aku gak tau. Aku gak mau juga terlibat sama masalahmu. Aku membantumu sekarang, karena kamu sahabatku. Gak mungkin dibiarkan pingsan di toilet!”.

“Aku janji, kamu gak bakal terlibat masalahku. Kamu juga sahabatku, gak mungkin biarkan sahabat terbaik, bingung mau pindah ke mana! Please, aku beneran ingin membantu kamu,” bujuknya dengan lembut.

“Oke, aku nginep malam ini, ya!” Maul tersenyum manis, dalam lubuk hatinya ingin sekali tinggal bersama Birdela, tapi dia takut terlibat dalam permasalahan ini.

“Mul, apa kamu percaya sama aku?” tanya Birdela menatap sahabatnya itu.

“Maksudnya?” dengan heran menatap mata Birdela.

“Apa kamu berpikir aku simpanan Om-om? Seperti kata yang lain!”

-------------------

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 339

Day 16

“Tling … ,” tiba-tiba pesan masuk dari ponsel Birdela.

“Gak usah bangun! Aku saja yang ambil!” tegur Maul menghentikan badan Birdela.

Birdela kembali bersandar di ranjangnya, Maul tersenyum lalu beranjak mengambil ponsel di meja rias.

“Assalamu’alaikum, Dek. Gimana hari ini, Adek sehat?” pesan dari Keen.

“Dek, Alhamdulilah, Abi dan Bapak sudah berunding masalah pernikahan kita. Inshallah, sepuluh hari lagi kita menikah. Maafkan Mas, mungkin H-1 baru bisa pulang ke Indonesia. Kamu jaga kesehatan, Ya. Jangan memikirkan pernikahan, Kak Fahmi yang mengurus semuanya. Mungkin Adek, mau pilih baju dan make up pengantin. Adek tinggal pilih saja, nanti rinciannya kasih ke Kak Fahmi!” pesannya masuk lagi.

Birdela senang bukan main melihat pesan dari Keen, rasa sakit di perutnya tidak dirasakan lagi. Tanpa membalas pesan dari Keen, ia langsung mencari akun Make Up pengantin incarannya. Dia mulai menanyakan tentang harga dan pakaian yang akan dikenakan. Maul yang melihatnya pun bingung dengan tingkah laku sahabatnya.

“Kamu kenapa senyum-senyum? Birdela, ingat kata dokter, kamu harus istirahat total hari ini!” jelasnya dengan kesal melihat sahabatnya asik bermain ponsel tanpa menghiraukan ia lagi.

“Iya, Mul. Ini cuman sebentar, serius perutku sudah sembuh!” Birdela berkedip memberi kode Maul supaya tidak marah padanya.

“Sepenting apa, sih, chat itu daripada kesehatan kamu dan kandunganmu?” beranjak dari ranjang Birdela dengan kesal, ia tidak tahu jika kesehatannya sangat berpengaruh pada aktivitas Maul. Maul rela tinggal di rumah Birdela demi kesehatan kandungan sahabatnya itu.

“Jangan pergi! Aku butuh saran darimu!” menarik tangan Maul yang hendak turun dari ranjangnya.

“Aku gak bisa, kalau melihat kamu terus menerus tidak peduli dengan kondisi seperti ini,” Maul melepaskan tangan Birdela yang memegang erat pergelangan tangannya.

“Aku serius. Sepuluh hari lagi aku mau menikah. Please, tetap duduk di sini! Aku bingung memilih gaun untuk acara pernikahan,” ucapnya mengagetkan Maul yang berdiri di samping ranjang.

“Bisa-bisanya, ya, kamu lagi sakit masih mikirin baju buat nikah! Aku minta sekarang kamu tidur! nanti aku bantu kamu pilih gaun. Please, istirahat, demi aku, kamu dan kandunganmu,” ucapannya menggetarkan hati Birdela.

Bagaimanapun Birdela tak ingin kehilangan sahabatnya itu,”Iya, ok, aku istirahat sekarang”.

---------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata335

Day17

Bagaimanapun Birdela tak ingin kehilangan sahabatnya itu,”Iya, ok, aku istirahat sekarang”.

Maul kembali duduk disamping Birdela, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. 

“Apa kamu akan percaya dengan apa yang aku ceritakan ke kamu?”.

“Del, aku,’kan sahabatmu. Aku mau kita seperti dulu lagi, semoga persahabatan kita ber lima kembali harmonis. Aku kesepian, Del. Aku kangen kalian yang dulu, bercanda bersama!” tuturnya mengungkapkan bahwa dirinya rindu dengan sahabatnya yang dulu.

“Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, Mul. Aku sangat alergi dengan laki-laki, setiap ada laki-laki di sampingku, disitulah mukaku meradang. Sejak SMP aku mengalami ini, kecuali pada Ayah dan adekku. Aku sering di bully dengan perubahan raut muka yang begitu cepat, sampai-sampai teman kelas terus menggodaku. Sejak itu, aku memakai kerudung ketika keluar dari rumah, termasuk pergi sekolah”.

“Jadi––, kamu alergi dengan laki-laki?” tanyanya heran.

“Iya, aku sangat benci laki-laki, tidak pernah terlintas buat berpacaran. Tapi, aku sering ikut pengajian, dan dari situ aku tau tentang batasan perempuan dan laki-laki. Secara perlahan, teman sekolahku berhenti membully setelah aku sering memberi alasan pada mereka. Mungkin, mereka malu padaku, atau aku yang kurang menjaga penampilan, sehingga mereka berbuat seperti itu. Semakin hari aku semakin nyaman dengan kesendirian dan penampilan sekarang. Aku bisa menjaga diri sampai akhirnya bertemu dengan Mas Keen”.

“Kamu dan Mas Keen, melakukan––!” menerka-nerka tak karuan.

“Sttt … , dengerin dulu!” mendorong pipi Maul yang penasaran dengan Mas Keen dan Birdela.

“Jadi, bener, kata teman-teman kamu hamil di luar nikah?” tegurnya lagi.

“Tuh,’kan. Sudah ku bilang, kamu gak bakal percaya sama aku. Percuma cerita sama kamu!” beranjak dari tempat tidur.

“Ettt, jangan pergi dulu! Ok, ok, aku dengerin kamu dulu. Janji, aku gak tanya-tanya!” rayunya mengangkat dua jari tanda janji pada Birdela.

“Aku gak pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi pas ketemu Mas Keen, aku merasa senang dan nyaman bersamanya!”.

“Del, beneran,’kan, kamu bukan simpanan Om-om!” tanpa sadar membuat mata Birdela melirik tajam padanya. 

“Aku sudah nikah siri sama Mas Keen!” jawab Birdela dengan geram, untuk membumkam sahabatnya itu.

“Apaaa?” Mata Maul tiba-tiba terbelalak.

Sahabat tidak Akan Kabur

1 0

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 391

Day 18

“Apaaa?” Mata Maul tiba-tiba terbelalak.

“Beneran, sebulan yang lalu aku dan mas Keen nikah siri. Ini aku ada bukti foto dan video,” Birdela buru-buru membuka  ponselnya, mencari foto dan video itu.

Mata Maul terbelalak mendengar itu, seakan tidak percaya dan tidak pernah terbayang dalam pikirannya.

“Kenapa harus nikah siri, kalau bisa sah secara agama dan negara?” tanyanya penasaran. Maul merendahkan nada bicaranya, merasa kasihan melihat sahabatnya itu.

“Iya, kamu memang benar,tapi keadaan waktu itu gak memungkinkan kita buat nikah ke KUA. Keen adalah cinta pertamaku waktu SMP. Dia anak yang cerdas, bahkan selama dia sekolah selalu mendapatkan peringkat pertama. Aku kagum padanya, terlebih mas Keen tidak suka berpacaran. Kami saling mencintai, tapi tidak berani untuk mengungkapkan. Sampai lulus SMA pun Kami masih berdiam, jangankan untuk mengungkapkan, berbicara dengannya hanya sekali. Iya, sekali pas di Jogja dia memberi coklat, kebetulan aku duduk di belakangnya, pas melihat sendratari Ramayana. Aku masih ingat betul, kejadian itu waktu kami kelas delapan dan lagi studi tour ke Jogja”.

“Terus, kenapa kalian bisa menikah?”.

“Hmmm, apa salah jika kami menikah siri? Apa Kamu tau, Aku bisa menyimpan rasa ini, yang sebenarnya aku tidak tau. Apakah cinta atau Cuma kagum. Atau aku yang kepedean karena Mas Keen waktu itu tidak sengaja melirik ke arahku dan kami saling mencuri pandangan. Iya, pas MOS hari kedua pertama masuk SMP. Tapi, setelah aku berhijab, gak berani untuk mencuri pandang apalagi menatapnya”.

“Aduh, Del. Aku tanya, dari mana asalnya kamu bisa nikah?” seru Maul yang sudah tidak sabar.

“Kamu inget gak? Pas aku pulang kemarin,” tanya Birdela.

“Dua bulan yang lalu?” Maul mencoba mengingat.

“Ya, tapi belum ada dua bulan, sih. Nah, waktu aku pulang, tanpa sengaja kami mendapat nomor yang berdampingan. Kami pake bus yang sama, dia baru pulang dari cina karena libur satu minggu. Awalnya aku gak mau duduk di sebelahnya, terus cari kursi yang lain. Tapi aku di lempar sama sini setelah pemilik nomor itu datang. Terpaksa aku duduk disampingnya, tanpa ada perbincangan sedikit pun. Kami juga tidak saling menyapa, bahkan saling membelakangi”.

“Hmmm, waktu itu bener-bener mukaku meradang, merah seperti tomat. Jantungku tidak karuan, mukaku makin gatal. Sampai kami berhenti di rest area. Kamu bisa bayangin, gak, sih? Bagaimana tersiksanya aku menahan napas! Hufft, ternyata Mas Keen tau dengan kondisiku waktu itu, jadi dia sengaja duduk dipinggir, padahal sangat pegel,loh. Mas Keen cerita ini waktu kami sudah menikah”.

 

––––

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 397

Day 19

“Del, gimana Orangtua kamu bisa merestui, anaknya nikah siri?” tanya Maul, mengangguk-angguk dengan bingung.

“Hemm, iya, Mereka sudah membicarakan ini sebelumnya sama keluarga Mas Keen. Waktu Kami sampai di terminal, Mas Keen tetap masih memperhatikan aku, yang mondar-mandir kebingungan. Waktu itu jam 4 pagi, aku sangat takut di terminal sendiri. Mas Keen menghampiri dan mengajak aku pulang bareng dia. Awalnya aku nolak, tapi, lama-lama aku pikir lebih baik dia anterin aku pulang daripada aku sendirian di terminal. Tapi sayangnya, pas masuk ke desaku, hujan gede banget, gak tau Dateng dari mana. Terpaksa kami hujan-hujanan, karena sepuluh menitaagi sampe rumahku”.

“Terus respon mama kamu gimana?”.

“Mama, iya, pagi-pagi kaget liat aku basah kuyup sama cowok. Tapi Ayah mengajak Mas Keen kedalam rumah, terus di pinjemin baju adekku, tanpa tanya kenapa bisa bareng aku. Hemmm, waktu itu aku benar-benar bingung, dirumah banyak orang sedang masak-masak ada acara pengajian. Mereka mengira Keen pacarku. Dan tersebar fitnah sampe satu desa, kebetulan keluarga Mas Keen, orang terpandang di kabupaten. Jadi, kabar ini terus menyebar, sampe kedesanya,” Wajah Birdela berubah geram mengingat kejadian itu.

“Kok, kamu gak cerita ke kami?” Maul pun ikut terbawa emosi pada Birdela.

“Ya, aku … bener-bener bingung waktu itu. Sampe Mas Keen di interogasi sama keluarga besarnya, apa yang terjadi sebenarnya. Dia pun jujur tentang niat baik membantuku, tapi tiba-tiba Mas Keen bilang ke orangtuanya, memang sudah suka sama aku sejak SMP. Sehari setelahnya keluarganya Dateng ke rumah, ngobrol sama Ayah,Ibu. Sampe kami akhirnya dinikahkan siri, jujur waktu itu aku kaget dan entah bercampur aduk perasaan ini. Antara takut, bingung, dan senang, ternyata kami sama-sama saling mencintai sejak mos di SMP” .

“Heiii …!” Maul menepuk punggung Birdela yang melamun dan senyum-senyum sendiri.

“Eh, iya, ada apa!” jawabnya kaget.

“Lanjutin !” serunya.

“I-iya, tunggu, ah. Kamu tau? Sebenarnya kami sudah mengurus pernikahan ke KUA, tapi ternyata banyak surat-surat yang belum dipenuhi. Waktu juga sangat mepet, karena tiga hari lagi Mas Keen harus balik ke Cina buat kuliah. Terpaksa hari esoknya kami nikah siri dulu, dan niatnya habis kami lulus, baru nikah sah secara hukum. Aku menikah di saksikan oleh keluarga kami, ada juga pak Kiai kenalan keluarga Mas Keen, sama Pak Haji Ahmad, tetanggaku. Tidak banyak, tapi sebagian orang tau tentang pernikahan siri kami. Aku malu kalau mau cerita teman-teman, apalagi di Jakarta. Aku sangat malu, meskipun Mas Keen selalu mensupport, tapi tetap hatiku di selimuti rasa malu”.

-----------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata326

Day20

“Tapi, kamu tau, akibatnya dibenci banyak orang, karena salah paham!” jelas Maul geram.

“Iya, aku tau. Tapi dulu mikirnya aku sudah sah dengan Mas Keen, kalau kami mau telfon, chatting, dan pergi-pergi bersama pun orangtuaku tenang. Aku hanya tidak mau berbuat dosa, apalagi karena masalah laki-laki dengan alasan gak bisa tahan hawa nafsu untuk sendiri”.

“Kamu yang sabar,ya. Tetep semangat, aku akan dukung kamu. Jaga ini kandungan baik-baik, jangn stres terus dong! Ingat, dua bulan lagi perkiraan kita sidang, ayok cepet seleseiin, biar kita bisa sidang bareng dan lulus bareng. Nanti, kalau kamu udah lulus,’kan bisa fokus urus kandungan dan suami,” ucap Maul yang mendadak bersikap dewasa.

“Hei, tumben kamu bisa berpikir dewasa!” Ledeknya membuat Maul malu.

“Sopan, sih. Kalau buat sahabat, jangankan dewasa, berperan jadi nenek pun bisa, hahahah,” mereka tertawa lebar, membuat hati Birdela kembali normal.

“Makasih, ya. Kamu sudah jadi sahabat terbaik untukku. Kamu selalu ada disaat aku merasa hancur. Please, kamu tinggal di sini saja. Kalau Mas Keen sudah tinggal di sini, ok, lah kalau kamu gak enak dan oingin pindah kost. Tapi, sebelum itu, kamu tetap di sini bareng aku. Lumayan,loh, kamu irit buat bayar kost, dan makan. Tenang saja, itu di dapur beras banyak banget, bisa buat persediaan tiga bulan kedepannya. Masalah sayur, nanti kita bisa beli di pasar komplek. Ya, ya, ya, tetep di sini!” Matanya berkedip-kedip merayu sahabatnya itu.

“Iya,nanti aku pikirin lagi. Yang penting, kamu sehat dulu!” jelas Maul mengelus-elus pundak Birdela.

Maul juga tidak tega melihat sahabatnya tinggal sendirian dengan kondisi hamil muda. Kondisi dan keadaan yang memaksa sahabatnya untuk terus bertahan demi anak yang dikandungnya.

“Ihhh,bjangan dipikirin! Kamu mau, ya. Seandainya mereka tidak membenci aku, pasti kita bisa kumpul di sini berlima,” wajahnya kembali masam.

“Ihhh, udah, jangan dipikirkin! Aku percaya pasti mereka bisa mengerti kamu, kalau mereka benar-benar sahabat. Besok aku bisa atur,” mencoba terus menenangkan sahabatnya.

“Makasih, ya. Kamu memang sabat dan keluargaku di Jakarta. Aku benar-benar bersyukur bisa mempunyai sahabat seperti kamu”.

 ------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata323

Day21

Satu minggu sebelum pernikahan, Birdela mulai merapikan baju-bajunya yang harus dibawa pulang. Dia dengan semangat menyusun barang-barang ke dalam koper hitam kesayangannya. 

“Dil, kamu Hati-hati, ya,di jalan!” ucap Maul tiba-tiba masuk ke kamar Birdela.

“Hei, kamu mau ke mana?” tanyanya dengan heran melihat Maul memakai pakaian rapi dan tas kecil di pundaknya.

“Oh, iya, Del. Hari ini aku mau ke rumah Tante di Tangerang. Kamu, ‘kan mau pulang kampung, aku gak mau di sini sendiri, gak enak juga sama keluarga kamu dan Mas Keen. Aku juga kesepian,lagi, sendirian!” tuturnya sambil meledek.

Birdela tersenyum heran dengan tingkah sahabatnya yang tidak kunjung sembuh dari kekonyolannya, dan kembali menyusun barang-barang.

“Iya, gapapa. Makasih,ya sudah temenin aku. Nanti malem aku dijemput travel, mungkin besok pagi baru sampai rumah. Doain,ya, semoga acara aku lancar!”.

“Aamiin, semoga acaranya lancar dan kamu bahagia selamanya bersama Mas Keen tercinta. Maafkan aku, mungkin gak bisa hadir di acara bahagimu itu. Tapi, kalau ada suntikan ongkos, sih, aku langsung meluncur, hahaha!” Ledeknya lagi dan lagi tiada henti, membuat hati Birdela terus terhibur dan lupa dengan hinaan yang menimpa keluarga di rumah.

Ibu Birdela, tiba-tiba pingsan di dapur rumahnya. Setelah mendengar para tetangga yang mulai membantu untuk persiapan pernikahan Putrinya, telah menghina Birdela dan Keen. Kehamilan Birdela telah menyebar ke warga desanya, berawal dari Yeni memberitahu kepada Ibunya di kampung, dimana mereka saling bertetangga.

Meskipun Birdela telah menikah Siri, tetapi tidak semua tetangga mengetahuinya apalagi mencoba untuk mengerti. Hanya orang-orang yang paham akan itu dan kerabat dekat Birdela, 

“Hallo, iya, Dek. Bagaimana Ibu? Sudah sadar belum?” tanya Birdela khawatir dalam telepon.

“Sudah, kok, Kak. Jangan khawatir, Ya. Ibu cuman stres mikirin Kakak, takut kakak sedih, tapi malahan Ibu yang pingsan. Kak, tetap semangat,ya, jangan dengerin kata orang!” tuturnya dengan lembut, tidak ingin membuat kakaknya khawatir.

“Tolong jagain Ibu,ya,Dek! Kakak, malam ini baru otw dari sini. Mungkin besok pagi baru sampe rumah”.

“Kakak, aku cuman pingin pesan. Kalau sudah sampai rumah, jangan dengerin kata tetangga, biarin mereka ngomong apa. Please, buat kebaikan Kaka!” Rere terus memberikan semangat untuk kakaknya.

-------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30L_enteraAksara

Jumlahkata322

Day22

Langit senja semakin menghilang, tertutup gedung-gedung tinggi di Ibukota, Birdela menarik kopernya keluar rumah. Apapun yang akan terjadi kedepannya, Ia terus melangkah menutup telinga rapat-rapat, demi anak yang dikandungnya.

Supir travel menghampiri dan menyapanya dengan senyuman ramah padanya, tidak asing lagi, dia adalah Om Surya, travel langganan mereka. Sejenak Birdela menatap rumahnya dengan senyuman, lalu bergegas untuk mengunci pintu, dan memastikan listrik sudah ia padamkan. Birdela akan tinggal di kampung selama sepuluh hari, sebelum pindah ke rumah orangtua Mas Keen, atau mertuanya.

Di seberang sana Keen masih sibuk dengan kertas-kertas skripsinya, dia harus menyelesaikan sebelum pulang ke Indonesia. Perkiraan tinggal di Indonesia selama dua minggu, dan dia akan segera menuju cina untuk sidang skripsi yang telah dinantikan.

Keen ingin cepat lulus kuliah dan tinggal di Indonesia bersama dengan Birdela, di rumah baru mereka. Sebagai mahasiswa dia pun sibuk dengan tugasnya, disisi lain dia sebagai pengusaha muda yang terus melakukan inovasi baru dalam perkembangan bisnisnya. 

Apalagi sekarang Birdela sedang mengandung anaknya, untuk jauh darinya terasa berat sekali. Walaupun dengan uang yang pas-pasan untuk acara pernikahan mereka, Keen terus lembur untuk menawarkan bisnisnya kepada pengusaha-pengusaha lainnya. 

Beruntung dia memiliki kakak yang sayang dan perhatian padanya. Kakaknya yang membantu untuk perkembangan usahanya, tapi sayang kakak iparnya tidak peduli pada Birdela. Bisa dibilang iri dengan Birdela yang sedang mengandung anak dari Keen, ini adalah cucu pertama bagi keluarga Keen. Kakak iparnya sudah tiga tahun menikah belum juga dikaruniai anak, itu salah satu sebab iri pada Birdela. 

Dimana ibu mertua selalu menyanjung Birdela, walaupun belum menjadi menantu sah secara hukum, ternyata kakak ipar memiliki rasa iri dan benci yang selalu dibandingkan.

Anehnya mereka belum pernah bertemu sebelumnya, hanya melihat ketika Ibu menelpon Birdela, dan sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya. Kakak Keen sudah menasehati istrinya untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan Keen, tapi istrinya menolak dengan alasan sibuk. Namun, Keluarga Keen tidak memaksa dirinya untuk berpartisipasi dengan acara itu, mereka paham akan sifatnya yang mementingkan penampilan daripada membantu pekerjaan dirumah.

---------------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata323

Day23

“Assalamu’alaikum, Dek. Mas sudah di rumah. Bagaimana kabar Adek?” tanya Keen pada pesan suara itu. Jantungnya berdetak kencang, membayangkan esok hari pernikahan dengan Birdela apakah akan berjalan lancar? Pikirannya kacau.

Birdela masih berdiam diri mengunci kamarnya, tidak tahan akan hinaan orang-orang yang sibuk menggoreng ayam di dapur. Tanpa sengaja Dia mendengar semua perbincangan mereka dari balik tembok kamar Rere. 

“Pantas saja, Ibu pingsan mendengar tentangga menghujat aku! Ya Allah, aku gak mau Ibu terus menangis, semoga setelah pernikahan esok, keadaan bisa membaik. Ibu adalah orang yang baik, bahkan ketika mereka menghujat kami, Ibu berdiam tanpa membalas dengan kata-kata kasar!” Geram dan sedih bercampur memenuhi perasaan Birdela, hingga tiba-tiba rasa mual memenuhi tenggorokannya.

Ia segera berlari menuju kamar mandi, dan tanpa dengan sengaja kakinya menginjak lantai yang basah dan terjatuh ke lantai.

“Awww … ,” teriaknya dengan kencang mengagetkan orang-orang yang berada di rumahnya.

Ibu segera berlari menuju kamar Birdela dengan khawatir.Birdela merintih kesakitan pada perutnya, dia semakin takut melihat darah di kakinya. 

“Nak, buka pintunya! Kamu kenapa teriak?” Ibu terus menggedor-gedor pintu kamar Birdela.

“Ibu … ! Ia menangis memanggil-manggil Ibunya dengan kencang. Tapi, Dia tidak sanggup untuk beranjak dari lantai itu, rasa sakit di perutnya membuat dia tak berdaya untuk bangun.

Ayahnya dengan khawatir melihat Ibu menggedor-gedor pintu kamar anaknya, diapun langsung menuju istrinya. 

“Ada apa ,Bu? Suaranya,loh, kedengeran sampe luar!” ucapnya dengan tegas.

“Pak, cepet dobrak pintunya! Cepet, Pak!” Tangannya menarik-narik tangan suaminya yang berdiri kebingungan melihat tingkah laku istrinya.

“Ada apa, Bu? Kenapa didobrak? Kan bisa panggil pelan-pelan!” masih belum tersadar dengan keadaan Istrinya yang sangat khawatir pada Birdela. Namun lidah istrinya tak mampu mengucapkan dengan jelas, hanya rasa takut dan khawatir yang membuat lidahnya kelu.

“Pah, tadi kak Dela teriak! Ada apa?” tanya Rere yang tiba-tiba datang dengan wajah khawatir.

Tanpa basa-basi Ayah langsung mendobrak pintu kamar Anaknya, pintunya sangat kuat, sehingga dia tak mampu membukanya. Orang-orang yang melihat di situ pun membantu Ayah Birdela membuka pintu dengan obeng dan mencoba membobol kuncinya.

H-1 Pernikahan

1 0

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 332

Day 24

Mereka segera masuk kedalam kamar Birdela, dan mencari di mana putrinya itu. Ibu yang dengan panik melihat kamarnya kosong, segera ia berlari menuju kamar mandi. Benar saja, Birdela tergeletak di lantai tanpa bergerak sedikitpun. Ayahnya langsung menggendong dan membawanya keluar kamar, orang-orang yang di rumahnya, terkejut melihat ayahnya menggendong Birdela yang tidak tersadarkan diri.

Om Birdela dengan cepat sudah menyiapkan mobil di depan rumah, siap mengantarkan Birdela. Orangtua dan Rere ikut mengantarkan ke Puskesmas yang terdekat, karena jarak rumah ke rumah sakit yang cukup jauh sehingga mereka memutuskan untuk ke puskesmas terlebih dahulu. Suasana semakin panik setelah dokter memeriksa Birdela yang tidak tersadarkan diri.

Dokter keluar dari ruangan dan mereka dengan cepat mendekati dokter dengan wajah panik.

“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ibu dengan panik.

“Ibu dan Kandungannya,alhamdulilah, baik-baik saja”.

“Alhamdulilah,” jawab mereka dengan lega.

“Tapi–,” belum selesai dokter berbicara, Ibu memotong ucapan.

“Tapi, kenapa, Dok? Anak saya dan janinnya sehat, ‘kan?” Potongnya dengan cepat.

“Apakah ada suaminya di sini?” tanya dokter kandungan itu.

“Tidak, Dok. Suaminya masih di luar kota!” jelas Ayah menenangkan suasana.

“Oh, baik, Pak. Kalau begitu, orang tua Birdela, bisa ikut ke ruangan saya!”.

“Dok, apa saya boleh masuk ke ruang Kakak?” tanya Rere dengan raut wajah yang sedih.

“Boleh. Tapi, jangan berisik, biar pasien istirahat total!” jawab dengan lembut, mengurangi rasa khawatir pada Rere.

Rere memasuki rumah itu, begitu pula dengan Ayah dan Ibu Birdela mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.

“Silahkan duduk!” tuturnya pada orangtua Birdela.

“Pak,Bu, jadi begini, Birdela mengalami cedera pada tulang ekornya. Akibat dari benturan tulang belakang Birdela dengan keras, berpengaruh pada Kandungannya. Diusianya yang hampir dua bulan, janin itu mengalami benturan yang cukup keras, sehingga ada rahim yang terluka dan mengeluarkan darah. Tapi sekarang sudah berhenti, pendarahannya. Rasa sakit yang Birdela alami membuat dirinya tidak tersarkan diri, saya sudah beri obat untuk mengurangi rasa sakit itu. Kita tunggu saja kurang lebih tiga jam lagi!” ucap Dokter dengan jelas dan lembut menjelaskan pada mereka.

“Terus, bagaimana dengan tulang ekornya?” tanya Ayah penasaran.

----------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata338

Day25

“Birdela, mengalami masalah dengan tulang ekornya, sehingga mengganggu dalam aktivitas kedepannya. Mungkin dia membutuhkan waktu untuk memulai kegiatan sehari-hari, dan jangan terlalu capek. Terutama mengangkat benda yang berat-berat, dan jangan sampai terjatuh kembali. Karena bisa berimbas pada Ibu dan janinnya. Tolong jaga pola makannya juga, karena janinnya baru mengalami guncangan yang cukup besar, dan terdapat luka pada rahimnya. Istirahat yang cukup dan pola tidur yang teratur”.

“Dok, kira-kira Birdela kapan bisa pulang ke rumah?” dengan khawatir Ibunya menanyakan hal itu, karena esok adalah hari pernikahan Birdela.

“Jika, besok pagi dia sudah bisa jalan, walaupun pelan-pelan, Birdela sudah boleh pulang!” senyuman manis terlihat pada Dokter, membuat rasa khawatir orangtua Birdela lega.

“Alhamdulilah, Terima Kasih, ya, Dok!” ucapnya Ibu dengan bahagia.

“Apa kami sudah boleh melihat Birdela, Dok?” tiba-tiba Ayah bertanya, pikirannya selalu ingat putrinya itu.

“Tentu, Pak. Silahkan, jika ingin melihat putri Bapak dan Ibu! Tapi, sebaiknya jangan di pegang badannya, karena kita belum tau, rasa sakit seperti apa yang dia alami!” Dokter menginginkan kembali, akan kondisi pasiennya yang berbaring lemah.

Ayah dan Ibu berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan Birdela, rasanya ingin menggantikan posisi Putrinya. Malam pernikahannya menjadi malam yang menyakitkan untuk Birdela yang tak sadarkan diri.

Disisi lain, Keen masih khawatir memikirkan Birdela yang tidak ada kabar lagi. Walaupun, kata Orangtua tidak membolehkan Keen saling berkomunikasi antara calon pengantin pria dan wanita. Namum, Keen yang berusaha menahan perasaan itu, malam ini seakan ingin segera menemui Birdela. Pikirannya kacau, tak karuan. Sehingga bingung sendiri apa yang disarankannya itu cuman rasa cemas esok hari pernikahannya atau terjadi sesuatu pada Birdela.

Keen yang tersadar dari lamunannya, tiba-tiba mengambil ponselnya untuk menayangkan kabar pada Birdela.

“Assalamualaikum, Dek,” salamnya tanpa memikirkan pantangan, karena sesungguhnya mereka sudah menikah terlebih dahulu.

Lama tidak ada respon dari Birdela, Keen mencoba untuk menelepon tanda kode untuk membalas pesan dari Keen. Namun, tiga kali panggilan, tidak ada Jawa dari Birdela, wajahnya menjadi masam dan lesu.

“Apa Birdela Sudah tidur, Ya?” ucap dalam hati dengan kecewa.

Keen teringat pada Adik laki-lakiBirdela, diapun langsung meneleponnya tanpa berlama-lama menunggu jawaban Birdela.

-----------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata333

Day26

“Hallo, Assalamualaikum,” jawabannya.

“Wa’alaikum salam, Dek. Bagaimana keadaan di situ? Kaka coba telfon Birdela, tapi tidak ada Jawaban!” ucap Keen pada adiknya Birdela. 

“Maaf, Kak. Tapi, Kak Birdela barusan dibawa ke puskesmas!”.

“Apa? Maksud kamu apa, Dek?” wajahnya yang mulai khawatir mendengar ucapan Adik iparnya.

“I-iya, Kak. Tadi Kak Birdela jatuh di kamar mandi. Tapi selanjutnya aku gak tau, Ibu dan Ayah yang mengantarkan ke Puskesmas”.

Keen dengan panik segera mematikan panggilannya,”Makasih, ya, Dek”.

Tanpa pikir panjang, Dia mengambil kunci motornya dan segera keluar kamar.

“Ibu, aku pergi dulu,” ucapnya, seraya mencium tangan Ibunya dengan terburu-buru.

Orang-orang yang ramai di rumah Keen pun ikutan bingung melihat tingkah laku Keen yang aneh.

“Nak, mau kemana? Pamali calon penganten malem-malem keluyuran!” teriaknya menyusul Keen yang menaiki motornya.

“Nanti Keen ceritain, sekarang Keen buru-buru. Kak, ayo, ikut aku!” ajak Keen pada kakanya.

“Nak, Hati-hati!” ucap Ibu, melihat anaknya entah mau kemana. Namun, tidak mungkin kabur untuk menghindari pernikahannya esok hari.

“Keen, sebenernya, kamu kenapa? Pelan-pelan saja, woi, bawa motornya. Inget, besok kamu nikah!” ucap Kakanya memegang jaket Keen dengan kencang. Kakaknya merasa tidak beres dengan adiknya, yang tiba-tiba pergi dari rumah, dimalam pernikahannya. Dia tiba-tiba memikirkan Birdela, apakah terjadi sesuatu padanya, sehingga Keen bertingkah yang seperti ini.

“Kakak, kita mau ke puskesmas. Mungkin dua jam dari sini, jadi pegangan yang kenceng, ya. Aku mau ngebut!” ucapnya.

“Apa ini semua, ada hubungannya dengan Birdela? Kenapa kamu seoanik ini? Mending aku saja yang bawa motor!” jawab Kakak yang merasa takut Keen tidak fokus mengendarai motornya, dengan pikiran kacau.

“Di depan, ya, Kak!” Keen menerima nasehat kakaknya untuk mengendarai motornya, dia paham tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakaknya. Keen berhenti di depan Toko dan bertukar dengan Kakaknya, terlihat air mata yang menetes, tapi Ia berusaha menutupi dari Kakaknya.

“Kamu kuat! Kamu Laki-laki hebat!” Kakaknya menguatkan Keen dengan memukul pundaknya pelan. Walaupun, Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adiknya itu, tapi paham akan raut wajahnya yang memendam kesedihan. Ia langsung mengendarai motor Keen, dan membiarkan Adiknya berdiam.

-----------

Sarapankata

KMOBatch38

Kelompok30_LenteraAksara

Jumlahkata307

Day27

“Apa ini semua, ada hubungannya dengan Birdela? Kenapa kamu seoanik ini? Mending aku saja yang bawa motor!” jawab Kakak yang merasa takut Keen tidak fokus mengendarai motornya, dengan pikiran kacau.

“Di depan, ya, Kak!” Keen menerima nasehat kakaknya untuk mengendarai motornya, dia paham tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakaknya. Keen berhenti di depan Toko dan bertukar dengan Kakaknya, terlihat air mata yang menetes, tapi Ia berusaha menutupi dari Kakaknya.

“Kamu kuat! Kamu Laki-laki hebat!” Kakaknya menguatkan Keen dengan memukul pundaknya pelan. Walaupun, Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adiknya itu, tapi paham akan raut wajahnya yang memendam kesedihan. Ia langsung mengendarai motor Keen, dan membiarkan Adiknya berdiam.

*** 

Terburu-buru Keen dan Kakaknya memasuki puskesmas, mereka menuju ke tempat pendaftaran.

“Sus, mau tanya pasien atas nama Birdela?” ucap Keen panik, terlihat dua suster penjaga tempat pendaftaran sedang sibuk merapikan kertas-kertas di meja.

“Baik, Pak. Tunggu sebentar,ya!” Suster langsung mencarikan nama itu di dalam komputer.

“Pasien atas nama Birdela Adelina Putri, di ruang kenanga no 2!” ucap suster membacakannya.

“Terima kasih, sus!” Keen segera menuju ruangan itu, yang mana dia paham dengan ruang kenanga. Setahun yang lalu Keen pernah menjenguk saudaranya yang melahirkan disitu.

“Tok-tok-tok, Assalamualaikum,” ucap Keen mengetuk pintu ruang 02.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” beberapa menit Ayah membukakan pintu, dengan penasaran siapa yang datang.

“Ayah, bagaimana Birdela?” tanya seraya mencium tangan Ayah Birdela.

Ayah yang melihat mereka datang, dengan tersenyum mempersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Terlihat Birdela berbaring di atas ranjang pasien tanpa bergerak sedikitpun, Keen yang melihatnya pun tiba-tiba meneteskan air mata

“Nak Keen,” tangan Ayah menahan badan Keen yang hendak mendekati Birdela. Keen yang bingung dengan Ayah Birdela pun melihat ke arahnya.

“Dokter memesan, agar kita tidak menyentuh badannya. Rasa sakit pada benturan itu yang membuat Birdela pingsan. Dokter sudah memberinya obat, katanya setelah tiga jam perkiraan Birdela sadar!” ucap Ayah.

"Kenapa Birdela bisa seperti ini, Ayah?" tanyanya dengan sedih.

"Tadi dia jatuh di kamar mandi. Tapi, Alhamdulilah, kandungannya dan dia baik-baik saja!" ucap Ayah.

Pernikahan

1 0

Sarapan Kata

KMOBatch38 

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 

Day 28

Bab 6

-Pernikahan-

Tiga jam berlalu, seperti yang dikatakan oleh dokter, Birdela perlahan menggerakkan jarinya dan membuka matanya. Semua yang ada di ruangan itupun senang dan segera mendekati Birdela, Ayah memanggil dokter yang jaga malam ini. Malam semakin larut, menunjukkan pukul sebelas malam, Rere yang tidak sengaja tertidur pun ikut mendekati Kakaknya.

Dokter kembali memeriksa keadaan Birdela, dan melepaskan selang oksigen di hidungnya, pertanda ia sudah tidak perlu menggunakan alat bantu bernafas lagi. Dokter pun tersenyum melihat Birdela sudah tersadar, dan menanyakan beberapa hal tentang rasa sakitnya. Dokter juga menjelaskan apa yang terjadi padanya, dan apa yang harus dia hindari untuk proses pemulihan kembali. Birdela tersadar, harusnya dia bisa lebih hati-hati, karena dia tak sendiri lagi sekarang, melainkan ada janin yang di Kandungannya.

Birdela terus memohon dan membujuk Dokter untuk mengijinkan dia pulang ke rumah esok hari, meskipun masih ada rasa sakit yang di rasakan. Namun, dia tak ingin merepotkan banyak orang, apalagi besok adalah hari pernikahannya.

Keen meminta Agar Ayah dan Ibu Birdela istirahat di rumah, begitu pula dengan Rere dan Kakaknya Keen yang terlihat lelah. Malam ini Keen yang menjaga Birdela, jika besok pagi Ia sudah bisa berjalan, maka mereka akan melakukan pernikahan sesuai dengan rencana. Namun, jika Birdela masih belum bisa untuk berdiri maka Keen memutuskan untuk mengundurkan hari pernikahannya, demi kesehatan Birdela dan Anak yang di Kandungannya.

Orangtua Birdela pun setuju dengan keputusan Keen, tapi wajah Birdela terlihat sedih mendengarkan keputusan itu. Birdela menjadi merasa bersalah sendiri dengan kejadian yang menimpanya. Birdela hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda menyetujui keputusan itu, senyuman tipis di wajahnya untuk menenangkan hati orangtuanya. Orang-orang yang melihatnya pun menjadi tenang dengan melihat anaknya tersenyum. Mereka mencium kening putrinya dan segera keluar ruangan untuk pulang ke rumah. Rere dan Kakaknya Keen pun berpamitan dan menyusul mereka keluar dari ruangan.

Tersisa dua orang yang sedang dimabuk cinta, saling memandang dengan penuh kerinduan. Mereka baru saja bertemu setelah hampir dua bulan, Keen ke Cina untuk kuliah. Keen dengan penuh cinta merawat Birdela dan membujuknya untuk makan, minum obat hingga membantu Birdela untuk belajar berjalan. Birdela dengan keras kepalanya terus berusaha menahan sakit, dan berusaha berjalan selangkah demi selangkah untuk mencoba apakah dirinya sudah benar-benar pulih. Rasa sakit itu telah dikalahkan oleh keinginan yang tinggi untuk menikah dengan Keen esok siang.

–––––––

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 345

Day 29

“Beneran,Dok? Saya sudah boleh pulang?” Dengan gembira Birdela memastikan ke Dokter yang telah merawatnya semalam. Rasanya belum percaya, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Benar, Mba. Hari ini, Mba Birdela sudah boleh pulang,tapi jangan mengangkat barang yang berat-berat, dan jangan sampai jatuh lagi!” Pesannya, seraya mengingatkan tentang Birdela yang suka ceroboh dalam bertindak.

“Makasih banyak,ya, Dok! Jadi, obat mana saja yang harus di minum rutin?” tanya Keen, mencoba mengingat kembali aturan minum obat yang sedari tadi dia kebingungan mengingat hal itu.

Dokter pun menjelaskan kembali, dengan penuh kesabaran dan lemah lembut, meskipun sudah jelas ada aturan minumnya, tapi tetap saja Keen masih bingung.

Wajah Birdela kembali ceria, Ia segera menelepon Adik laki-lakinya untuk menjemput Keen dan dirinya. Namun, Keen bagaimanapun harus berangkat dari rumahnya, tidak mereka sadari bahwa Kaka Keen sudah menunggu di depan Puskesmas. Lima belas menit yang lalu Dia sudah ada di puskesmas, tapi melihat ruang Birdela ada Dokter yang sedang memeriksa, dia kembali ke luar puskesmas untuk menelepon keluarganya.

Setelah setengah jam mereka berkumpul di Ruang Birdela, ternyata Keen benar-benar harus pulang ke rumahnya, untuk menjalankan rangkaian acara sebelum datang ke rumah Birdela. Birdela pun setuju dengan keputusan itu, baginya masih ada Rere yang menemaninya di dalam mobil.

Dalam Perjalanan Birdela masih merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya, mungkin karena tulang ekornya.

“Kenapa,Kak?” tanya Rere melihat Kakaknya memejamkan mata.

“Gapapa, Kok. Aku ngantuk, mungkin efek samping obat,” jelasnya, mencoba untuk cari alasan supaya Rere tidak curiga padanya.

“Bener, Kaka gak papa?” Rere masih ragu dengan jawaban Kakaknya itu.

“Bener, aku tadi habis minum obat. Eh, gimana Ayah sama Ibu? Mereka baik-baik saja,’kan?” Ia mencoba untuk mengalihkan perhatian Rere, yang mulai curiga dengannya. Hal itu bisa berbahaya, Birdela tidak ingin pernikahannya menjadi gagal.

“Ayah, Ibu tadi baru selesai sarapan. Semalem,sih, mikirin kesehatan Kaka. Tapi tadi Kaka telfon, Ayah dan Ibu sangat bahagia!” ucapnya.

“Alhamdulilah, syukurlah kalau begitu. Terus gimana sama tukang make up? Tadi mereka telfon, cari rumahnya yang mana? Ternyata mereka nyasar ke RT sebelah,” ucap Birdela dengan tertawa.

“Masa,sih,Kak? Tadi waktu aku mau jemput Kaka, mereka baru sampe!” jawab Rere.

 

--------

Sarapan Kata

KMOBatch38

Kelompok 30_Lentera Aksara

Jumlah Kata 369

Day 30

Terlihat orang-orang sibuk membantu untuk acara pernikahan hari ini, tercium aroma wangi masakan yang membuat Birdela menjadi lapar. Ia segera keluar dari mobil dan berjalan menuju kamarnya, ia sangat kagum ketika melihat hasil dekorasi pelaminan yang sesuai dengan harapannya. Namun, dia tidak bisa berlama-lama karena sudah ditunggu untuk dirubah menjadi ratu sehari. Ibu dan Ayah dengan bahagia melihat putrinya memasuki kamar rias pengantin, beberapa orang sudah selesai dengan riasan dan baju yang cantik. Mereka pun pamit untuk keluar ruangan, siap menyambut tamu dengan senyuman manis. Mereka terlihat cantik dan anggun, seperti biasa di kampungnya memilih gadis belasan tahun untuk menjadi penerima tamu di acara pernikahan.

Suasana semakin ramai, musik bergema membuat suasana semakin syahdu dalam pelaminan. Gaun dan riasan pengantin wanita lah yang paling ditunggu oleh para tamu dan pemuda-pemuda di acara itu. Birdela dengan cantik mengenakan kebaya putih dengan gaya syar’I yang membuat Ia terlihat lebih cantik dan anggun. Setelah dua jam berlalu, akhirnya Birdela sudah siap untuk melakukan acara hari ini, jantungnya semakin kencang. Para tamu mulai berdatangan untuk melihat acara pernikahan Birdela dan Keen, sedangkan mempelai laki-laki masih dalam perjalanan menuju rumah Birdela.

“Birdela … ,” teman-temannya tiba-tiba memasuki kamar Birdela.

“Kalian, kok bisa ada di sini?” tanyanya dengan heran.

“Maaf, ya, Del. Aku yang kasih tau alamat kamu ke mereka,” ucap Yeni mendekati Birdela.

“Kamu cantik sekali, MashaAllah, Aku sampai pangling!” ucap Lilis memeluk Birdela.

Ada perasaan senang dan heran dengan tingkah laku Lilis yang tiba-tiba memeluk Birdela, seakan tidak ada masalah diantara mereka berdua.

“Makasih, Lilis, kamu sudah mau Dateng ke pernikahanku. Maafkan aku-!” tiba-tiba tangan Lilis menutup mulut Birdela untuk tidak meneruskan ucapannya itu.

“Sttt, stop! Kita jangan bahas masalah itu lagi,Ya! Kita adalah bersahabat. Maafkan kami, yang sudah salah paham padamu!” peluk Lilis pada sahabatnya itu, di susul dengan Yasmin,Lisa dan Maul. Birdela sangat terharu dengan sikap mereka terhadap dirinya, membuat Birdela meneteskan air mata.

Mereka bersenda gurau disambil menunggu acara dimulai, terutama berphoto-photo dengan bahagia.

Setengah jam berlalu, Keen beserta keluarganya telah tiba di rumah Birdela, dengan bahagia Mempelai wanita segera keluar dari kamar, di temani oleh orangtua dan teman-temannya. Mereka semua berbagaia melihat Birdela dan Keen menikah sah secara hukum dan agama. Kebahagiaan itu pun di abadikan dengan berphoto-photo bersama.

 

 

Mungkin saja kamu suka

Atik Baitul Jan...
Titisan Masa Depan
Avarina Sisy
25 Days
Adella Kusuma
Bukan Anak Kyai
Anggun Cahyani
Rinjani

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil