Loading
2

0

1

Genre : Teenlite
Penulis : Cik Muna
Bab : 1
Pembaca : 9
Nama : Siti Munawaroh (Cik Muna)
Buku : 2

Aku adalah Aku

Sinopsis

Buku ini berisi tentang kumpulan cerpen dengan tema insecure yang dikemas dengan apik. Cocok untuk dibaca sekali duduk. Hidup memang tentang perjuangan, hidup memang sulit, dan Tuhan memberikan berbagai ujian dan masalah untuk menjadikan kita manusia yang kuat. Ketika kau berbeda, jangan merasa tidak percaya diri. Lewat rangkaian kata yang membentuk sebuah kisah ini semoga memberikan motivasi untuk selalu bersyukur. Selamat membaca!
Tags :
#Insecure #Bersyukur #Remaja #Islami #Inspirasi #Self Improvement

Itik Ireng

2 1

-Olimpiade Menulis

-KMO Club

-Nulis di Bukulaku

-Day 1

 

Hidup memang tentang perjuangan, tetapi rasanya aku ingin menyerah dengan semua ujian yang datang silih berganti. Takada habisnya, kapan semua ini berakhir? Tuhan ... apakah aku seburuk itu? Kapan semua ini akan berhenti? Ah, egoku memang sungguh keterlaluan. Tidak bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Hanya mengeluh dan menyalahkan takdir. Maafkan diriku ini. Aku mungkin lelah, tetapi pantaskah untuk mengutuk pemberian-Mu? Aku tidak akan menyerah dengan keadaan. Aku adalah bentuk dengan versi terbaik-Mu.

***

            Pagi yang cukup cerah, matahari dengan malu-malu menampakkan diri di ufuk timur. Suara derit timba pun menambah keramaian suasana, entah berapa puluh kali aku sudah menariknya. Peluh bercucuran di kening dan seluruh tubuh. Awal hari yang melelahkan. Rasanya tak perlu lagi berolahraga, itu sudah cukup membuat lemak-lemak dalam tubuh terbakar. Lemak? Ah, jangan bercanda! Sulit untuk ditemukan, tubuh kurus kering ini selalu menjadi olok-olokan manusia yang merasa begitu sempurna bak Tuhan.

            Wardah Jamilah, bunga mawar yang cantik. Ya, arti nama indah yang disematkan malaikat tidak bersayap kepada gadis berusia delapan belas tahun dari Desa Punten, jauh dari ingar bingar Kota Surabaya, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Namun, Ibu dan Bapak memanggilku Wawa. Mereka mengharapkan bayi yang baru lahir itu kelak menjadi seperti bunga mawar yang begitu memesona, tidak mudah disentuh bagi yang memetik, penuh kehati-hatian, dan usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat menikmati keindahannya.

            Orang-orang yang mendengar nama itu pasti akan mengira aku gadis berparas cantik sesuai dengan namanya. Sering kali mereka salah sangka, bahkan merasa tertipu. Tidak, mereka yang berekspektasi terlalu tinggi.

***

            “Guys, ada Itik Ireng lewat. Ayo, beri jalan!” ucap Widya, salah satu siswa berprestasi di SMA favorit “Setia Budi” Surabaya. Akan tetapi, kecerdasannya tidak sebanding dengan sikap yang ada pada dirinya. Sudah menjadi rahasia umum, dia adalah anak pejabat yang berpengaruh bagi masyarakat sekitar, khususnya di yayasan sekolah. Segala cara dilakukan orang tuanya untuk menjadikan Widya nomor satu di sana, makin pongah pula dengan segala sesuatu yang  sudah tercukupi. Tidak merasakan kekurangan, apalagi penderitaan hidup. Tidak sama sekali. Hidup enak seperti di surga.

            “Siap! Aku bantu gelar tikar, ya. Sekalian karpet merah,” imbuh Susi-teman satu geng dengan Widya.

            “Hei, Tik. Kamu tuh gak cocok punya nama Wardah, orang desa kayak itik aja namanya selangit. Enggak keberatan, ya?” ucap salah satu temannya yang lain, Karmila.

            “Eh, kalau ngomong itu dipikir. Otak itu jangan ditaruh di lutut, seenaknya aja kalau nyerocos,” balas Anindita, sahabat sekaligus tetangga samping rumahku.

            “Heh, ngapain sih ikut-ikut. Gue gak ngomong sama lo, gak usah bela-belain. Kalian itu sebelas-dua belas sih, makanya cocok ngumpul. Satunya hanya tulang dan hitam, satu lagi kelebihan lemak.” Widya menatap tajam sambil tertawa terbahak-bahak kepada Anindita, lalu menunjuk-nunjuk ke arah tubuhnya.

            “Udah, biarin aja, Nin. Aku gak apa-apa, kok. Gak usah didengerin, ya.” Aku memegang pergelangan tangan Anindita dan menarik pelan agar bisa menghindar dari omongan Widya beserta gengnya, tetapi dihiraukan saja.

            “Sok yes banget, sih. Paling bapakmu korupsi, ngaca dong!”

            “Aw, ya Allah kepalaku ....” Seketika Anindita terjatuh, sampai terdengar suara yang cukup keras, Widya mendorong tubuh itu dengan sekuat tenaga seperti kerasukan.

            “Innalillahi wainna ilaihi rojiun, kepalamu gimana, Nin? Ada yang terluka, gak?” Aku meraih tangan Anindita dan membantunya berdiri.

            Aku membatin, “Ya Allah, tega sekali Widya.” Mulut itu seakan terkunci, takbisa mengucapkan perkataan buruk kepada orang yang telah menyakitiku secara batin dan orang yang sangat kusayangi. Seolah memang telah dijaga oleh-Nya.

            “Mau ke mana, Itik? Dasar orang aneh.”       

            Aku dan Anindita bergegas meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan kelas. Rasanya tidak kuat lagi menahan ejekan yang mereka lontarkan kepadaku setiap hari. Berulang-ulang. Kini, Anindita ikut menjadi korban dari perlakuan mereka.

            “Kepalamu gimana, Nin? Masih sakit gak? Aku ke UKS dulu, ya? Aku mintakan obat penahan nyeri.” Aku mengelap wajahnya yang berkeringat dengan sapu tangan yang selalu kubawa ke mana pun, Anindita terlihat syok dengan kejadian tadi. Sungguh tak terduga dan begitu tiba-tiba.

            “Gak perlu, Wa. Cuma terbentur doang, nanti juga sakitnya hilang. Aku masih kaget aja, kok ada manusia sejahat itu,” paparnya sambil memegang kepala bagian belakang.

            “Ini minum dulu, Nin!” Anindita meminum air yang aku berikan. Kami pun sama-sama terdiam, duduk di bangku depan kelas, memang hari itu ada jam kosong, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia berhalangan hadir, jadi suasana kelas pun riuh. Lebih baik dan nyaman di luar kelas.

            “Nin ... aku mau ngomong, boleh, gak? Maaf, ya.”

            “Ngomong aja, Wa.”

            “Kamu gak usah ngeladenin Widya lagi, ya. Biarin aja.” Aku menatap Anindita dengan tatapan sendu. Tidak tega melihatnya kesakitan, meski dia merasa baik-baik saja yang dibalut dengan ucapan tidak apa-apa.

            “Kenapa, kamu takut sama Widya? Dia sama aja kayak kita makan nasi, bedanya dia makan ayam panggang. Lha kita? Nasi sama ikan asin.” Senyum Anindita merekah, cantik sekali.

            “Bukan gitu, Nin. Kita harus sadar, siapa diri kita. Memang benar yang dikatakan Widya. Aku hitam, dekil, sedangkan dia punya segalanya. Pantaslah. Kenapa harus marah? Gara-gara aku kamu malah jadi kayak gini.”

            Anindita menghela napas panjang, “Dengerin aku, Wa! Semua orang itu cantik, apalagi kamu orangnya cerdas. Widya cuma pasang nama, kalau gak ada orang itu juga kamu peringkat satu di kelas. Fisik itu bukan ukuran untuk sukses, banyak di luar sana orang-orang yang memiliki keterbatasan, tetapi tetap bersyukur dan berusaha meraih mimpi mereka.”

            “Tapi ...,” kataku terhenti, takbisa melanjutkan.

            “Jangan minder, ya. Coba kamu pikirkan, berapa banyak waktu yang kamu habiskan percuma hanya untuk mendengar kata-kata buruknya itu yang mungkin membuatmu tambah diam di tempat, tidak percaya diri, dan down tanpa adanya perubahan yang bisa kamu raih.”

            Aku mencerna dan memahami setiap kata yang diucapkan Anindita, memang dia sahabat yang kuat, berapa banyak orang-orang yang mengejek tubuhnya, tetapi tidak ada rasa minder. Justru dia menguatkanku.

            “Semangat, kamu cantik dan pasti bisa. Mungkin kamu lebih paham kenapa Tuhan menciptakan kita dengan bentuk yang berbeda-beda.”

            “Agar saling mengenal dan menyayangi satu sama lain.” Detik itu juga aku memeluknya dengan erat.

***

            “Nduk, kok melamun? Sudah jam berapa ini? Nanti Wawa telat, lho!” Suara Ibu seketika mengagetkanku.

            “Enggak melamun, Bu. Wawa lagi memikirkan tugas sekolah, tapi apa, ya? Kok jadi lupa.” Aku berpura-pura mengalihkan perhatian Ibu. Entah kapan beliau sudah ada di sampingku.

            “Kok malah balik tanya ibu? Tugas apa? Yo wis, segera selesaikan! Biar ibu yang lanjutin nimba.” Ibu mengambil pegangan timba dan mulai mengulurkan, lalu menariknya.

            “Ngapunten, Bu. Tidak ada tugas, Wawa mandi dulu, nggih.” Aku pun masuk ke kamar mandi untuk bersih diri dan bersiap-siap pergi ke sekolah.

            “Iyo ... jangan lupa nanti sarapan, yo.”

            Tidak ada sarapan istimewa yang tersaji di dapur, hanya tempe goreng dan nasi menjadi teman yang setia menemani. Aku sangat menikmati masakan Ibu, rasa capek dan lapar setelah olahraga tangan pun hilang, terganti dengan energi positif dan kekuatan mengisi tubuhku. Nikmat Tuhan yang tidak bisa didustakan, meski masih ada hal yang membuat mulut ini keluar berbagai macam keluh kesah. Perut pun sudah terisi, aku beranjak dari kursi yang terbuat dari kayu di sudut ruang tamu dengan ukuran kecil.

            “Bu, Wawa pergi dulu, nggih. Hari ini aku pulangnya agak sore, ada les untuk persiapan ujian nasional.”

            Kulihat Ibu masih fokus membetulkan mesin jahit yang akan dipakai, sehingga belum menjawab apa yang kukatakan barusan, mungkin ada kerusakan lagi. Tiba-tiba wajah menjadi mendung, hujan segera turun, aku tidak sanggup melihatnya berjuang terus sendirian, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya membuat beban dan merepotkan saja.

            “Bu, Wawa berangkat.” Aku mencium telapak tangan Ibu lalu memakai sepatu dan jaket besar dan tebal untuk menutupi sebagian anggota tubuh, terutama kepala.

            “Iya, Nduk. Hati-hati, yo.”

            Aku menyusuri gang satu ke gang lainnya dengan sepeda, udara segar menerpa jilbab, membuat ujungnya melambai-lambai. Hari yang indah, dengan harapan yang menjulang tinggi ke langit.

Ya ... aku telah memaafkan segala kesakitan dari kata-kata yang diucapkan Widya dan gengnya, menerima apa pun yang diberikan Tuhan. Semoga ikhlas dan damai tumbuh membersamai perjalanan panjangku. Aku berjanji tidak akan berkeluh kesah menjalani hari-hari yang penuh duri dan luka. Semua akan datang, hari yang lebih indah dan menyenangkan. Selamat tinggal rasa minder, aku bahagia, dan bersyukur memiliki orang-orang baik sebagai support system.

user

09 December 2021 17:32 Ini Ami Akhirnya cik

Mungkin saja kamu suka

Dhea Putri
I Can!
Annisa Nurrahma...
Mak Asih
Shofa Ul Aini
Kosong
Srie Novita Win...
Nyaris Gagal, sanggupkah berta
Via Rinzeani
Mengayuh Biduk Cinta

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil