Loading
33

0

16

Genre : Teenlite
Penulis : NadyrPtr
Bab : 30
Dibuat : 08 Januari 2022
Pembaca : 5
Nama : NadyrPtr
Buku : 1

Fajar Bernada

Sinopsis

Perceraian orang tua membuat Fajar tak percaya akan cinta sejati. Sejak orang tuanya bercerai, Fajar menganggap pacaran hanya sekadar senang-senang, bukan hubungan penuh rasa cinta. Hidup dengan keluarga harmonis membuat Nada dipenuhi rasa cinta. Ia dibesarkan dengan kasih sayang. Sehingga ia begitu yakin bahwa cinta sejati itu ada. Fajar dan Nada memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Namun, apakah rasa itu diakui oleh Fajar? Atau ... ia akan membiarkan hari-hari yang berubah penuh nada itu?
Tags :
#FajarBernada #NadyrPtr #SarkatJadiBuku #Bacth41

Bab 1: Penghinaan (Part 1)

2 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata665

SarkatJadiBuku

 

Bugh ....

Sebuah kepalan melayang dari sebuah tangan kokoh. Ia baru saja meninju satu lawannya dengan ganas. Hatinya saat ini sedang amat panas. Ia marah karena diolok oleh temannya sendiri. Ah ... apakah orang seperti itu bisa dikatakan teman? Entahlah! Ia tidak paham apakah pria tersebut temannya atau tidak. Intinya, ia sedang sangat marah.

Bugh....

Kembali melayang beberapa kepalan tangan pada tubuh pria yang jauh lebih besar darinya. Besar dalam arti berat badannya bukan tinggi badannya. Mereka memiliki tinggi badan yang sama. Hanya saja tubuh si lawan lebih gempal dari pada tubuh si punya kepalan. Yang punya tubuh gempal itu bukannya tidak melawan. Ia bahkan mencoba hindar dan melawannya dengan sangat keras. Hanya saja perlawanannya kalah dengan tinjuan yang bertubi menghampirinya.

Priiitttt!!!

Suarap peluit yang ditiup memekakakkan telinga. Namun itu tidak membuat si punya kepalan berhenti melayangkan tinjunya. Sebuah tangan besar meraih tubuh tinggi kurus itu untuk menjauh dari lawannya. Beberapa orang memegang tangannya ke belakang agar ia tak lagi memukul sang lawan. Amarah semakin menjadi-jadi. Namun seketika luntur begitu melihat siapa orang yang di depannya saat ini.

"Fajar! Ini sedang latihan bukan mengadu kejagoan! Harus berapa kali saya katakan bahwa kemampuanmu bukan untuk kekerasan?" bentakan suara pelatih taekwondo dengan tubuh pendeknya tapi sangat kuat itu menggema tepat di depan wajah pria kurus tinggi tersebut. Orang yang dipanggil Fajar itu menghela napas berat. Ia sudah membuat masalah baru lagi. Napasnya yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran membuat ia sadar bahwa seharusnya ia menyerang lawannya bukan di area latihan.

"Kamu diskorsing. Tidak ada latihan selama dua minggu untuk kamu!" Suara itu lagi kembali terdengar. Namun, Fajar tidak mempedulikannya. Walaupun ia kesal karena perbuatannya sendiri, tapi ia puas sudah memberi pelajaran pada pria gempal itu.

Fajar mengapus keringatnya dengan kasar. Tatapan tajam masih tertuju pada lawannya yang sudah meringsut di lantai. Fajar malangkahkan kakinya ke sudut ruangan dan meraih tas punggungnya. Sebelum pergi dari ruangan itu, ia kembali melirik tajam ke arah pria gempal itu dan berkata, "Teman macam apa lo yang dengan teganya nginjak harga diri temannya sendiri? Luka lo belum cukup untuk menghapus luka hati gue." Setelah itu, Fajar benar-benar pergi dari ruang tekwondo SMA Internasional Nusa Bangsa.

Suasanar ruangan itu kembali senyap. Pelatih itu hanya bisa melihat kepergian Fajar dengan kesal. Ia tak menyangka anak didik kesayangannya selalu bisa kelepasan jika ia sedang marah. Lalu ia melirik si pria gempal yang sedang dibantu berdiri oleh murid tekwondo lainnya. Kekacauan melanda kelasnnya. Dan itu akan membuat kelas menjadi canggung jika kedua anak yang disayangnya itu tidak baikan.

Fajar yang kesal berjalan gontai sambil menyentuh sudut bibirnya yang luka. Ia berjalan ke arah tangga yang akan membawanya ke lantai dua.Suasana sedikit sepi karena di hari Sabtu hanya anak taekwondolah yang di sekolah. Ia duduk di tangga itu dengan sedikit ringisan kesal akibat sudut bibirnya yang sobek. Diluruskan kakinya yang sedikit keram akibat tendangan di tulang kering. Begitu ia mengangkan celana taekwondo berwarna putihnya, ia meringis melihat warna kulitnya kehijauan.

"Aish! Bakalan kena marah Mama kalau gini," rutuknya yang semakin kesal.

Sepasangsepatu sneaker berwarna abu-abu mendarat di dekat kakinya. Bukan hanya itu, sebelah tangan terulur tepat di hadapan Fajar dengan sekantont es kristal di dalamnya. Fajar melirik orang yang mengulurkannya. Seorang pria yang memiliki postur tubuh sepertinya berdiri di dekatnya sambil mengulurkan sekantong es kristal itu. Fajar tersenyum dan menerimanya sambil mengucapkan, "Terima kasih banyak, Bro!"

"Sama-sama!" ujar pria itu yang duduk di dekatnya. "Lo habis dibully?" tanyanya begitu berhasil duduk di dekat Fajar.

Fajar mengompres memar di betisnya dan juga sudut bibirnya secara bergantian. Dia mendengus sedikit terkekeh mendengar pertanyaan pria yang ia tak tahu siapa.

"Sabar, ya, Bro! Tapi lo harus kontrol emosi lo. Gue sering banget lihat lo berantem dan masuk ruang BK. Nggak bosan apa?" tanya pria itu lagi membuat Fajar mendengus lagi. Ia heran, pria di sampingnya sangat memerhatikannya melebihi pacarnya sendiri.

"Gue tinggal dulu," pamit pria itu yang bangkit dari duduknya. Fajar hanya melirik sekilas dan tersenyum melihat pria yang baik hati itu. Padahal, mereka sama-sama saling tidak kenal.

Bab 1: Penghinaan (Part 2)

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

Jumlahkata671

SarkatJadiBuku

Day1

 

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari Siregar

--------------------------------------------------------------

 

Usai kepergian pria itu, seseorang lainnya kembali duduk tepat di samping Fajar. Begitu ia meliriknya, pelatih taekwondo melihat Fajar dengan tatapan kesal. Ia memukul betis Fajar yang sedang dikompres membuat Fajar menjerit keras.

 

"Sakit, Pak!" keluh Fajar yang langsung menutup betisnya dengan celana panjangnya.

 

"Kenapa sih kalian?" tanya Pak Lion yang penasaran dengan kasus yang sedang hangat antara Fajar dan anak didiknya yang lain. Fajar mendengus lagi. Entah berapa kali ia mendengus tapi itulah yang bisa ia lakukan saat ini.

 

"Nggak mau cerita?" tanya Pak Lion lagi dan Fajar masih diam. Ya ... Fajar bukanlah anak yang dengan mudah akan bercerita. Apa lagi masalah pribadi yang pasti menurut orang lain tidak penting. "Okelah! Kalau gitu kamu harus menghadap guru BK lagi besok. Dan kamu harus tanggung sendiri jika orang tua Bastian datang ke sekolah," sambung Pak Lion yang sebenarnya masih terus mencoba mengorek informasi.

 

Fajarm menghela napasnya dengan berat. Ia menyenderkan punggungnya pada tingkatan tangga lainnya. "Dia menghina cita-cita saya, Pak," jawab Fajar dengan nada lemah. Satu detik kemudian, ia akan mendengar tawa ledekan dari Pak Lion.

 

Namun, dugaannya salah. Pak Lion memukul pelan bahunya dengan dengusan seperti dirinya tadi. "Kita boleh marah pada orang lain karena dia sudah menghina cita-cita kita. Tapi, dengan cara berkelahi tadi itu tidak baik, Jar. Berapa kali lagi Bapak harus bilang, kemampuan kamu bukan untuk berkelahi di luar erena perlombaan. Kamu harus berpikir bijak dan positif. Jika dia menghina, kamu harus tunjukkan padanya bahwa hinaan itu salah. Dan sumpal mulutnya dengan keberhasilanmu," jelas Pak Lion yang memberi nasihat pada Fajar. Fajar hanya mengangguk saja agar terlihat menurut. "Minta maaf!" perintah Pak Lion di akhir nasihatnya.

 

Fajar menengadah setelah sedari tadi tertunduk ke arah Pak Lion. Ia menatap Pak Lion dengan wajah tidak terima. "Kok saya, Pak? Seharusnya dia!" bantah Fajar yang tidak terima dengan perintah Pak Lion.

 

Pak Lion tersenyum mendengar kata keberatan dari Fajar. "Orang meminta maaf bukan hanya untuk mengakui kesalahan. Kalau kamu duluan yang minta maaf, dia pasti akan malu, Jar. Dan dia nantinya akan belajar bahwa dia salah. Jadilah pria yang berwibawa tinggi dan berhati besar, Fajar!"

 

"Hati saya besar, Pak. Mau bukti? Saya belah ini," sahut Fajar yang membawa candaannya. Pak Lion tertawa. Fajar kesayangannya sudah bisa diluluhkan dan kembali tengil seperti sedia kala.

 

***

 

Motor kesayangan Fajar sudah berbaris indah di dekat sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah. Ia melirik sekilas dengan wajah kesal serta deg-degan. Namun ia berlalu begitu saja dan masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu.

 

Di dalam rumah sana, saat mendengar pintu terbuka, seorang wanita berumur kepala tiga langsung menghampiri anak sematawayangnya. Ia pun mengacak pinggang saat melihat aksi dan wajah anaknya.

 

"Kok nggak ketuk pintu dan beri salam dulu, Jar? Emangnya Mama nggak ajarin kamu ngelakuin itu?" tanya wanita tersebut yang ternyata mama Fajar.

 

Fajar melirik sekilas. "Aku pikir tadi cuma Mbok Minah di rumah," jawab Fajar sekenanya dan langsung melangkah meninggalkan ruang tamu. Dirinya langsung melangkah ke tangga untuk menuju ke kamarnya.

 

"Itu wajah kamu kenapa? Berantem lagi?" tanya Irma yang tak ada jawaban. "Selama tinggal berdua sama Papa doang, kamu sudah lima kali dipanggil BK karena berantem. Diajarin apa sih sama papa kamu sampai suka berantem gitu? Makanya Mama dulu paling tentang kamu ikut taekwondo. Lihat! Sekarang kamu sudah pandai berantem. Ngapain saja sih papa kamu sampai nggak bisa pantau kamu?" Rentetan pertanyaan muncul beserta tuduhan telak dilayangkan oleh Irma.

 

"Memang Papa kamu tuh nggak becus urus anak," tutup Irma mengutarakan kemarahannya.

 

Fajar berhenti melangkah di anak tangga pertama. Ia melirik Irma dengan tatapan menusuk. Ia pun berkata, "Memangnya Mama becus jaga anak? Ke mana Mama saat aku butuh Mama? Sama laki itu 'kan? Papa nggak ngurus aku karena kerja untuk cari uang ngehidupin aku. Kalau Mama ngapain?"

 

Jangan ditanya bagaimana kesalnya dan terpukulnya Irma atas ujaran anaknya. Ia tak menyangka anaknya yang dulu sangat penurut kini berani menyahut. Ia yang berdiri kaku tak jauh dari tangga hanya bisa melihat Fajar menaiki tangga lantas hilang di hadapannya. Tak lupa terdengar suara bantingan pintu yang amat kencang. Irma hanya bisa mengembus napas berat melihat kelakuan anaknya.

Bab 2: Pembullyan (Part 1)

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata546

SarkatJadiBuku

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Seperti yang disarankan Pak Lion, pagi ini usai upacara bendera Fajar mendatangi Bastian yang berada di kelas mereka. Ia kini berdiri tepat di hadapan Bastian yang sedang sibuk dengan teman sebangkunya. Tangan Fajar terulur ke depan menandakan bahwa ia sedang melakukan aksi permintaan maaf seperti yang disuruh oleh Pak Lion.

 

"Gue minta maaf. Mungkin gue salah sudah mukul lo kemarin. Gue kemarin emosi waktu lo ngehina gue. Tapi, gue ngaku sekarang kalau gue salah. Lo ... mau 'kan maafin gue?" tanya Fajar yang mulai mengutarakan maksud tangannya yang terulur. Bastian melirik tangan Fajar dengan sinis. Ia tak menerima uluran itu.

 

Bastian yang pada dasarnya memang sombong tidak peduli dengan apa yang dikatakan Fajar. "Ya!" Hanya kata singkat itu yang dikatakan oleh Bastian. Fajar menarik tangannya dan sedikit mengepalnya. Kesal memang. Namun, ia ingat dengan nasihat Pak Lion. Jadinya, ia tak boleh memukul Bastian lagi. Ia sudah menang dengan tidak menjadi seorang pengecut.

 

"Thanks," ucap Fajar yang langsung pergi meninggalkan Bastian yang masih tersenyum sinis padanya. Fajar berjalan ke arah mejanya dan duduk di kursi. Ia tahu bahwa Bastian masih sangat marah padanya dan tak akan mau berteman dengannya untuk beberapa minggu. Atau mungkin beberapa bulan.

 

Beberapa orang yang pada hari Sabtu itu ada di kelas taekwondo mendekat pada Fajar. Mereka menepuk bahu Fajar dengan sangat bangga. Mereka satu per satu mengatakan bahwa mereka kagum dengan aksi Fajar. Bahkan tak sedikit orang mencela Bastian karena Bastianlah yang seharusnya meminta maaf. Namun, Fajar yang tidak sombong dan tidak ingin besar kepala mengatakan bahwa memang Bastian lah yang salah. Satu per satu dari orang itu pergi saat mendengar ketukan heels menggema di kelas mereka. Dan sekarang, waktunya pelajaran dimulai.

 

Tahu apa yang diperbuat oleh Fajar? Ia tidur! Tidur di pojok kelas dengan meja kebanggaannya. Semalaman ia tidak tidur karena lembur di depan laptop kesayangannya. Lembur bukan karena kerja atau buat tugas. Melainkan lembur karena main game. Untunglah hari ini berpihak padanya. Buk Asri si guru Bahasa Indonesia harus keluar beberapa kali karena ia ada kerjaan di kantor guru. Jadinya, jam pelajaran Bahasa Indonesia yang membosankan menjadi surga untuk Fajar hari ini.

 

***

 

Begitu mendengar bel berbunyi pertanda jam istirahat sudah tiba, Fajar berjalan santai ke arah meja guru dan mengumpul tugasnya. Tadi setelah satu jam lamanya Fajar tertidur, saat ia terjaga langsung mendengar Buk Asri mengatakan bahwa mereka diberi latihan. Maka dari itu dengan bangganya Fajar berjalan mengumpul tugasnya dan jauh dari omelan Buk Asri hari ini. Hal itu membuat Buk Asri geleng-geleng kepala. Ia bukannya tidak tahu anak itu tidur. Hanya saja ia tidak sempat menegur karena terlalu sibuk. Ia tidak menyangka anak itu bisa selesaikan latihan yang ia beri dengan tepat waktu. Biasanya, ia akan membuat Buk Asri menunggu dirinya menyelesaikan latihan dengan omelan yang membuat keriput di wajahnya terus muncul.

 

Fajar mengedipkan matanya pada Buk Asri karena berhasil menjauh dari omelannya. Sedangkan Buk Asri menggeleng-gelengkan kepala melihat anak itu. Anak kelas IPA tapi bersifat seperti anak IPS. Ia pun heran kenapa anak itu bisa naik kelas dengan nilai yang sangat bagus. Begitu ia dan guru lainnya cek, tidak ada tanda-tanda contekan di tubuh maupun meja Fajar. Dia memang anak genius.

 

"Aman lo!" tegur Irwan yang mengsejajari langkahan Fajar yang berjalan ke arah kantin.

 

Fajar tersenyum sombong sambil berkata, "Iya, dong! Fajar!"

Bab 2: Pembullyan (Part 2)

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1354

SarkatJadiBuku

Day4

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Mereka tertawa sambil terus berjalan. Tapi, langkahan Fajar terhenti begitu ekor matanya melirik seseorang yang tak asing baginya sedang dibully. Ia berbelok arah dan mendekati orang tersebut. Begitu pula Irwan, saat melihat Fajar berbelok arah, ia pun mengikutinya. Fajar terus berjalan dan kini sedang berdiri tepat di belakang si pembully. Begitu ia berhasil mendekat, ternyata yang dibully adalah orang yang waktu itu memberinya sekantong es kristal.

 

"Wah ... ada yang sedang membully!" ujar Fajar yang berhasil menghentikan dua orang yang sedang menendang gitar milik pria kantong es kristal itu. 

 

Satu orang pria dengan sombongnya mendekati Fajar. Irwan mencolek Fajar karena takut pria itu berkelahi lagi. Tapi Fajar tidak menghiraukannya. Ia sangat tahu bagaimana rasanya dibully dan dihina. Jadi, ia tak akan membiarkan orang lain merasakannya apa lagi orang yang baik padanya. "Wah ... si jagoan taekwondo sok mau jadi malaikat!" ujar seorang pria yang tubuhnya lebih besar dari Fajar sambil menepuk tangan.

 

"Kalian tahunya hanya membully, ya? Lemah!" kata Fajar yang memandang kawanan pembully yang terdiri empat orang tepat di hadapannya.

 

"Bukan urusan lo! Nggak usah lo ikut campur!" bentak pria itu lagi dengan mendorong bahu Fajar. Irwan menarik hujung baju Fajar untuk menjauh. Ia tidak tega temannya itu harus libur lagi di bulan pertama ajaran baru ini.

 

Fajar yang sadar dengan tarikan Irwan mendegus geli. Ia sadar bahwa dirinya tidak boleh berkelahi. Namun, memang ia tidak akan melakukannya karena ia sedang tidak emosi. Kepalannya akan melayang jika ia sedang emosi.

 

"Bro! Lo sudah ngerasain masuk ruang BK belum?" tanya Fajar dengan wajah seriusnya.

 

"Kenapa lo tanya-tanya?" tanya pria itu lagi masih dengan tampang ingin membully Fajar.

 

"Belum, ya? Gue lagi di masa hukuman, nih. Kalau lo pancing gue mukul lo, berarti lo ikutan masuk BK. Mau lo dipanggil orang tua ke sekolah? Gue mah sudah biasa. Lo, siap nggak?" tanya Fajar dengan tampang sengitnya. Pria itu sadar dengan apa yang dikatakan Fajar. Ia juga tahu Fajar langganan BK. Sedangkan dirinya belum pernah sama sekali.

 

Ia melirik  Fajar dengan kesal. Aksinya gagal hari ini. "Cabut!" serunya yang langsung meninggalkan Fajar, Irwan, dan pria kantong es kristal.

 

Irwan menghembus napas lega. Ia tak menyangka dengan cara Fajar kali ini. Kalau biasanya ia akan tempremen, tapi kali ini tidak. Yang menyebabkan Fajar tidak mau memukul orang lain adalah ia tidak mau uminya marah dan menyuruhnya keluar dari tekwondo. Bukan hanya itu, ia tidak mau skorsingnya di tambah sebulan untuk tidak boleh latihan tekwondo. Dan itu artinya, lomba di awal bulan depan ia tidak boleh ikutan.

 

"Lo, kenapa tadi?" tanya Fajar begitu kini sedang duduk di kantin. Mereka itu terdiri dari Fajar, Irwan, dan juga pria pemilik sekantong es kristal. Mereka kini sedang duduk sambil menikmati jajanan mereka yang hanya sebatas kuaci dan tiga air mineral dalam kemasan gelas.

 

"Biasa. Mereka menghina cita-cita gue dan mengatakan suara gue jelek," ujar pria itu dengan dengusan yang menghina dirinya sendiri.

 

Irwan mengulurkan tangannya menepuk bahu pria itu. "Sabar, Bro! Kemarin teman gue ini gitu juga kok. Malah dia nonjok tuh si Bastian saking marahnya. Tapi, dia hebat. Tadi pagi, dia minta maaf dan lo tahu ekspresi Bastian gimana? Dia malu," jelas Irwan panjang lebar membuat aku mendengus kesal.

 

"Lo naikin saja tuh teman lo sampai ke langit tinggi biar nggak bisa turun lagi," rutuk Fajar membuat kedua pria muda itu tertawa lepas. Fajar selalu bersyukur, walaupun dia sangat tempremen dan pemarah, tapi dia tetap memiliki teman tertawa yang tidak pernah ia pandang siapa orang itu. Termasuk si pria sekantung es kristal yang sama sekali tidak dikenalinya.

 

"Nama gue, Irwan. Lo, siapa?" tanya Irwan yang kembali meraih biji kuaci dan menggigit hujungnya agar terbuka.

 

"Rian," jawab Rian yang juga mengambil lagi biji kuaci lainnya sama seperti Irwan.

 

Irwan melirik Fajar yang sibuk dengan kuacinya. Temannya itu tidak niat berkenalan dengan Rian. "Jar! Lo nggak kenalan sama Rian?" tanya Irwan yang menyenggol tangan Fajar membuat pria itu menghentikan perkelahian dengan kuacinya. Ia melirik Rian yang kini langsung membuka suara.

 

"Itu gue sudah tahu nama dia. Sudahlah! Kita bukan mau kenalan sama gebetan 'kan? Lo sudah sebut tuh Wan nama dia," sela Rian membuat Irwan malu karena memperlaku Rian dengan manis layaknya wanita. Mereka lagi-lagi ketawa bersama.

"Jadi, cita-cita lo apa sampai mereka ngebully?" tanya Fajar setelah tawa mereka reda. Ia ingat bahwa hari Sabtu lalu ia juga dibully oleh Bastian sahabatnya sendiri sejak mereka menginjak kaki di SMA ini. 

 

Rian menunjuk gitarnya yang tergeletak di atas meja mereka. "Cita-cita gue nyangkut digitar itu. Kalau kalian bisa menebaknya, gue akan traktir kalian makan mie Indomi rebus," ujar Rian yang bersemangat karena bertemu dengan teman baru yang bukan sekelas dengannya.

 

Irwan yang sangat semangat karena akan mendapat mie rebus kesukaannya langsung mengeluarkan isi kepalanya. "Penyanyi!" seru Irwan menebak cita-cita yang dijadikan teka-teki oleh Rian.

 

Rianmenggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman geli. "Salah!" ujarnya membuat Irwan hilang semangat.

 

"Musisi?" tanya Fajar asal nebak dengan posisi masih berantem dengan kuaci yang bertebaran di meja mereka. 

 

Rian tersenyum lepas. "Betul sekali!" seru Rian dengan senyuman masih mengembang.

 

"Yah ... gagal mie rebus," hela Irwan yang merasa kalah merebut makanan kebangsaan mereka.

 

"Jangan khawatir. Gue akan traktir kalian berdua. Bang!" ujar Rian yang pada akhirnya ia memanggil bapak kantin dan memesan 3 porsi mie Indomi rebus. 

 

Fajar tersenyum kecut begitu menyadari bahwa cita-cita itu selalu saja diremehkan oleh orang lain. Ia sadar mereka adalah orang kampung yang pasti akan sangat bermimpi jika menginjak kota Jakarta apa lagi menjadi seorang musisi atau penyanyi. Namun sebenarnya, tidak ada yang tahu bagaimana takdir seseorang. Ia geram dengan orang yang selalu saja suka menjatuhkan dan juga merendahkan impian seseorang.

 

"Lo tahu nggak, Yan?" tanya Irwan setelah beberapa menit mereka diam dan sibuk memakan kuaci. Kini, fokus Rian dan Fajar dicuri Irwan. Mereka siap mendengar apa yang akan disampaikan Irwan yang masih sibuk mengupas kulit biji kuaci.

 

"Apa?" tanya Rian yang sudah sangat fokus pada Irwan. Namun, tangannya sesekali masih meraih kuaci.

 

"Cita-cita lo sama Fajar itu mirip-mirip. Dia kepingin jadi penyanyi dan lo kepingin jadi musisi. Kenapa kalian nggak coba berkembang berdua?" tanya Irwan yang membuat Fajar dan Rian tertawa terbahak-bahak. 

 

Tawa kedua pria yang baru kenal dengan cita-cita yang berkesambungan itu meledak di dalam kantin yang tidak terlalu luas itu. Irwan yang mendapat respons demikian sangat bingung dengan Fajar dan Rian. Begitu tawa mereka reda, Fajar mulai membuka suaranya. "Eh, Wan! Lo genius," puji Fajar yang membuat Irwan semakin bingung. Ia berpikir, Fajar dan Rian tertawa karena telah meledek mereka. Ternyata salah. Lantas, apa yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak?

 

"Iya, Wan! Gue saja nggak kepikiran. Eh, lo kepikiran sama cita-cita kami berdua," sambung Rian semakin membuat Irwan kebingungan.

 

"Kalian berdua sarap atau gimana, sih?" tanya Irwan yang tidak tahan dengan kebingungannya walaupun Fajar dan Rian merespon baik ide darinya. "Kalian terima usulan gue, tapi kok ketawa? Sakit kalian?" tanya Irwan lagi yang membuat kedua orang di depannya itu kembali tertawa. Ia rasa mereka sudah gila. Ditanya, malah tertawa.

 

"Kami nggak sakit, Wan. Tapi kami merasa lucu saja karena kami yang dibully dan memiliki cita-cita yang sejalan, tapi malah lo yang kepikiran ide itu. Kami juga tertawa karena jalan pikiran kami yang lemot gara-gara nunggu mie rebus," jelas Rian yang diangguki oleh Fajar. Ya! Mereka menertawakan kebodohan mereka. Seharusnya merekalah yang membuat ide itu bukan Irwan yang tidak ada hubungannya dengan cita-cita mereka. Begitu mendapat penjelasan seperti itu, kini mereka tertawa bertiga. 

 

Fajar dan Rian bersyukur mereka ditemukan. Jika saja Rian Sabtu lalu tidak mengenal Fajar, mungkin pria itu tidak akan menolong dia yang kena bully. Dan mungkin juga mereka tidak akan duduk di sini dengan tawa yang membahana dan lepas. Yang lebih mungkin lagi, mereka tidak ada yang tahu cita-cita yang sejalan, lalu biarkan tenggelam dengan seiring waktu. Bukan memperkembangkannya.

 

Ternyata Tuhan membuat rencana lain yang amat indah. Mereka dibully dengan cita-cita mereka, tapi kini mereka bertemu untuk menggarap dan menggapai cita-cita. Seperti yang dikatakan Pak Lion, mereka sekarang harus menyumpal mulut pembully dengan keberhasilan mereka. Bukan dengan kepalan keras atau pun pasrah. Fajar dan Rian, siap menggapai cita-cita mereka dengan Irwan yang selalu membantu dan mengsuport mereka agar terus maju.

Bab 3: Keributan (Part 1)

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata659

SarkatJadiBuku

Day5

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Jika bel tanda sekolah selesai terdengar, maka hal yang dibenci Fajar adalah pulang. Ia malas berada di rumah yang besar tapi tampak sepi. Keluarganya memang masih lengkap. Mamanya masih tinggal satu atap dengan mereka. Namun tak pernah ada di saat ia pulang. Belum lagi hilal perceraian sangat jelas terlihat.

 

Ingin sekali Fajar tak langsung pulang. Namun mencari masalah lagi pasti akan membuat papanya bingung dan sedih. Maka terpaksa Fajar harus kembali cepat-cepat ke rumah.

 

Saat motornya masuk ke pekarangan rumah dan dilihat kedua mobil orang tuanya terparkir indah di samping rumah, satu harapan muncul dalam benaknya. Ia berharap semua masalah keluarganya kembali pulih. Sayangnya, saat ia membuka helm, ia mendengar teriakan sang mama yang menggema. Apalagi dengan pintu rumah yang terbuka, membuat suara mereka sangat jelas terdengar ke luar rumah.

 

"Kamu salahin saya yang selingkuh? Kamu nggak sadar kalau kamu yang bikin saya membuka hati untuk pria lain? Mikir doang, Mas," ujar Irma yang membuat Fajar geleng-geleng. Pasalnya, ia bingung apa masalah pertama pada mereka yang membuat mamanya melakukan perselingkuhan yang dipergokinya beberapa bulan yang lalu.

 

Saat itu, rumah dalam keadaan kosong. Lukman yang sedang di luar kota pun membuka jalan untuk Irma berbuat lebih di rumah tersebut. Bahkan asisten rumah tangga yang kala itu sedang pulang kampung, membuat aksi perselingkuhan tersebut terasa gampang. Namun bisa dikatakan, Irma salah pilih tempat. Ia melupakan anaknya yang bisa pulang kapan saja. Dan benar, Fajar pulang sekolah belum pada waktunya. Berbekal surat peringatan dari guru BK, Fajar tiba di rumah dengan rasa penasaran. Sebuah motor terparkir indah di tempat biasa ia memarkirkan jagoannya.

 

Fajar mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Jika dilihat-lihat, mamanya ada di rumah. Namun saat pintu dibuka, kelenggangan terasa. Ia pun bertanya pada diri sendiri, di mana Mama? Motor siapa itu?

 

"Ma! Fajar pulang!" seru Fajar yang masuk tanpa menutup pintu kembali.

 

Tak ada yang menyambutnya membuat ia berpikir untuk mencari sang mama. Irma tipe orang tua yang selalu menyambut pulangnya sang anak dari mana pun. Fajar yang seorang anak tunggal akan selalu dimanja olehnya. Namun hari ini terasa berbeda. Ia merasa mamanya ada di rumah, tapi tidak tahu ada di bagian rumah yang mana.

 

Kebiasaan Irma saat sendirian di rumah adalah membereskan semua yang terlihat tidak baik. Jika jam segini Fajar pulang, biasanya Irma sedang berada di dapur. Namun saat kakinya melangkah ke dapur, ia tak menemukan mamanya. Dapur terasa lenggang dan kosong.

 

Tak mau ambil pusing, Fajar memutuskan untuk naik ke lantai dua. Tujuannya adalah kamarnya. Setelah bergadang semalaman demi menyelesaikan misi gamenya sehingga membuat ia terkantuk-kantuk di sekolah, Fajar lebih memilih untuk tidur saja. Namun langkahnya untuk masuk ke kamar tertunda. Ia mendengar suara desahan yang menganggunya. Maka ia melangkah pada sumber suara tersebut.

 

Kok Mama sama Papa buatnya siang-siang, sih? Tapi, bukannya Papa ke luar kota? Pikir Fajar yang mulai menebak-nebak. Dan saat menyadari ada seonggok motor di luar, ia pun berjalan dengan amat cepat ke sumber suara. Jantungnya berdegup cepat saat menebak kemungkinan yang terjadi. 

 

Tanpa mengetuk apalagi meminta izin, Fajar langsung membuka pintu kamar orang tuanya saat tiba di depan sana. Dan saat pintu itu terbuka, jangan ditanya bagaimana rasa kecewa Fajar. Suara yang menganggu tadi sirna sudah. Dilihatnya wajah yang satu tampak pucat, sedangkan yang satunya lagi tampak tersenyum licik. Rahang Fajar mengeras dengan tangan tergepal saat melihat pemandangan menjijikkan tersebut.

 

"Jar ...."

 

Walau marah, tapi Fajar harus melakukan sebuah pembuktian. Ia mengambil ponselnya dan menggeser layar kunci tersebut, sehingga kamera ponselnya pun aktif. Dengan amat sengaja, ia menghidupkan lampu bidikan saat memotret dua orang di hadapannya. Setelah itu ia membalikkan badannya.

 

Dibantingnya pintu kamar yang ditarik tertutup. Ia tak peduli Irma memanggilnya berkali-kali dari kamar. Ia tak jadi istirahat di kasur empuknya. Dengan langkah cepat ia turun dari lantai dua menuju pintu utama. Ia masih mendengar namanya dipanggil dengan amat kencang. Sayangnya, telinganya sudah tuli. Ia yang marah tak mau mempedulikan apapun. 

 

Fajar kecewa dengan semuanya ....

 

Ia tak menyangka orang yang dipujanya melakukan kekejian ....

Bab 3: Keributan (Part 2)

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata638

SarkatJadiBuku

Day6

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Fajar tersentak oleh lamunannya saat mendengar teriakan dari dalam rumah. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke sana. Namun, lagi-lagi langkahannya terhenti kala mendengar setiap perkataan dari mama maupun papanya.

 

"Apa salahku sampai kamu dengan enaknya bilang perselingkuhan itu karena aku? Memangnya aku juga selingkuh? 'Kan tidak!" seru Lukman yang tampak tersulut emosi.

 

"Kamu sibuk kerja. Tidak punya waktu untukku dan Fajar. Kamu tidak peduli kalau aku sakit. Tidak peduli apapun tentangku. Aku seperti hidup dengan dinding-dinding besar. Tak ada kasih sayang! Terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Terlalu gila dengan harta!" hardik Irma yang tampak kesal seolah-olah ia yang tersakiti.

 

Lukman mendengus saat Irma mengatakan demikian. "Kalau aku tidak mati-matian bekerja, apa kamu dan Fajar bisa hidup seenak ini? Mungkin, kalau kamu tidak tinggal di rumah yang besar seperti ini, brondong itu tidak akan tertarik padamu. Kamu tidak bersyukur, padahal suamimu ini bekerja siang-malam demi kamu. Tapi apa balasanmu? Bahkan perbuatanmu dipergoki anakmu sendiri!" cecar Lukman yang tak menyangka dirinya yang disalahkan.

 

"Aku tidak perlu harta kamu. Yang aku butuh cuma cinta dan kasih sayang. Aku butuh waktu kamu. Aku tidak minta yang susah-susah. Tapi apa kamu bisa memberinya? Ah, aku rasa, pekerjaan nomor satu ketimbang anak dan istri," sindir Irma yang hendak melangkah masuk kamar.

 

"Apa maumu sekarang, Irma?" tanya Lukman yang tak menghirau langkahan Irma.

 

Irma berhenti melangkah. Inilah yang ditunggu. Namun entah kenapa perkataan itu sangat sulit diterimanya. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Walaupun demikian, Irma mencoba bersikap biasa saja. "Cerai!" jawabnya lantang. 

 

Fajar yang mendengar itu mendengus kecil. Ia tak menyangka mamanya berani meminta demikian. Irma yang lemah lembut, sopan pada suami, santun, dan setia, kini lenyap begitu saja. Ia tak menyangka ibunya yang menjadi pedoman percintaannya sejak pertama ia kenal cinta, kini telah berubah. Fajar bahkan mengambil kesimpulan tak ada cinta yang sejati. Bahkan dalam kisah orang tuanya sendiri.

 

"Hanya karena laki-laki bau perungus itu?" tanya Lukman yang tak menyangka. Irma mendengus kesal.

 

"Dia lebih baik dibandingkan kamu!" seru Irma yang tak terima pacarnya direndahkan.

 

"Dia lebih baik dibandingkan aku?" tanya Lukman yang mengulang pernyataan Irma. "Atau telah terjadi sesuatu?" tuduh Lukman yang menatap telak ke mata Irma.

 

Mendengar pertanyaan itu, Irma tak bisa berbohong bahwa ia terkejut. Namun dengan usaha keras, Irma mencoba menutupinya. Ia tak mau diceraikan karena kebencian. Sejujurnya, Irma khilaf melakukan ini. Saat melihat hasil perbuatannya, ia bingung harus apa. Untungnya, pria kecilnya mau bertanggung jawab. Kini ia harus cari cara bagaimana bisa terlepas dari Lukman.

 

Lukman mendengus dengan tertawa kecil. "Sudah tiga tahun lamanya kita pisah ranjang, Irma. Tidak mungkin aku bisa menghamilimu," ujar Lukman dengan pandangan yang tak goyah dari Irma. Wajah Irma pucat pasi saat mendengar ujaran tersebut.

 

Di balik pintu utama, Fajar pun tak kalah terkejut. Ia memegang hendel pintu saking terguncangnya mendengar kabar tersebut. Rahangnya mengeras dan emosinya tersulut. Ia tak menyangka mamanya bisa sampai sekeji itu. Ingin rasanya ia masuk ke sana dan menghardik mamanya. Namun itu bukan ranahnya. Bagaimanapun kemarahannya pada Irma, ia harus ingat bahwa wanita di dalam sana adalah orang yang melahirkannya.

 

"Bagaimana kamu bisa hamil, Irma?" Pertanyaan itu terulang lagi. Fajar langsung bergegas dari sana. Ia kembali ke motornya dan menaikinya. Pergi dari rumah adalah jalan yang terbaik untuk saat ini. Karena semakin lama ia di sana, semakin banyak fakta yang didengar. Ia tak mau itu.

 

Selama ini, Fajar menutupi rahasia mamanya dari sang papa. Ia menyimpan foto itu hanya untuk pembuktian bahwa mamanya selingkuh--andai ada masalah besar di keluarganya. Selama ini, ia tak menampakkan tanda-tanda itu pada sang papa. Dan ia tak menyangka, Lukman mengetahuinya sendiri. Bahkan yang dipergoki Lukman sangatlah menyakitkan.

 

Air mata menetas di pipi Fajar. Tak pernah sekali pun ia menangis. Namun kali ini air itu keluar. Hatinya terasa sakit dengan fakta ini. Ia yakin, tak lama lagi, lebel 'anak broken home' akan tersemat di badannya ....

Bab 4: Perubahan Fajar (Part 1)

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata513

SarkatJadiBuku

Day7

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Semuanya akan hancur .... 

 

Hidupnya, harapannya, cita-citanya, bahkan mungkin tubuhnya. Akan berubah dan tak lagi sama.

 

Mungkin, dua tahun belakangan bisa saja Fajar menganggap bahwa mamanya tak berbuat apa-apa. Atau mungkin, bisa saja kemarin-kemarin ia menganggap bahwa mamanya sibuk bekerja sehingga tidak sering di rumah. Namun, sekarang tak bisa lagi dilakukannya. Ia benar-benar sudah menganggap mamanya melakukan hal keji.

 

Fajar malu ....

 

Sungguh, ia sangat malu dengan perbuatan mamanya. Bagaimana kalau teman-temannya tahu kalau mamanya hamil dengan pria lain? Sudah pasti ia kena imbas dari perbuatan mamanya. Selain kasih sayang, imbasan yang lain adalah malu akan perbuatan keji tersebut. 

 

Laju motor yang dikendarai Fajar di atas rata-rata. Orang-orang yang ikut menggunakan jalan bersama Fajar menghadiahkannya klakson dan hardikan. Namun, Fajar tak memperdulikan hal itu. Pikirannya saat ini sangat kalut. Ia pun tak tahu harus ke mana. Sampai terbesit suatu tempat. Ia pun kembali menarik pedal gas sehingga kecepatannya pun naik.

 

Tak lama, Fajar memelankan laju motornya. Ia masuk ke pemukiman sempit di balik Jakarta yang megah dan mewah. Dirinya menghentikan motor tepat di belakang ruko kosong berlantai tiga. Ia pun meninggalkan motornya di sana dan melangkah menuju tangga belakang ruko yang ruasnya sangat sempit. 

 

Sebelum naik ke rooftop toko, Fajar menyeberangi jalan setapak di hadapannya. Ia membeli korek dan sebungkus rokok. Tak lupa ia membeli kuaci dan empat botol air mineral.

 

"Tumben Jar beliannya berbeda. Biasanya cuma kuaci doang. Jangan ngerokok! Ntar Bapak bilang ke papa lo mau?" tanya bapak penjaga warung yang sudah sangat mengenal kebiasaan Fajar jika ke tempat tersebut.

 

Fajar tersenyum kecut dengan ancaman sang bapak. Namun tak membuatnya meletakkan barang tersebut. Ia malah membayarnya dan langsung melenggak dari sana. Hal tersebut membuat bapak warung garuk-garuk kepala. Biasanya, pemuda itu akan bersenda gurau dulu dengannya. Melihat itu, ia yakin sekali, pasti ada yang tidak beres pada Fajar.

 

Ini bukan kali pertama Fajar datang ke ruko tersebut. Jika ia kalut, pasti ia akan datang ke sana. Ruko ini adalah milik papanya yang sudah empat bulan lamanya tak dipakai. Orang yang dulu menyewanya tak lagi lanjut. Maka ia menggunakannya sebagai tempat penghilang penat. 

 

Fajar sedikit ngos-ngosan. Ia melemparkan tubuhnya di sofa bekas yang diletakkan oleh pemilik ruko dulu untuknya. Sofa itu berada di bawah atap seng yang direkatkan dengan kayu empat sisi. Hal itu bisa melindungi Fajar dari terinya sinar matahari atau derasnya hujan.

 

Pikiran Fajar saat ini benar-benar kalut. Ia pun mengambil bungkusan rokok tadi dan mematik korek api. Ia menarik nikmatnya rokok dengan asap yang memenuhi mulut dan rongga paru-parunya. Fajar benar-benar frustrasi dengan keadaan keluarganya saat ini. 

 

Terbayang olehnya masa kecil yang sangat bahagia. Orang tua yang lengkap dengan suasana rumah yang hangat. Namun kini tak akan lagi dirasakannya. Ia tak tahu salah siapa dan menyalahkan siapa. Ia hanya anak kecil yang menjadi penonton dan korban. Dan dirinya tak tahu harus membela siapa.

 

Terik matahari terus memancarkan kekuatannya. Fajar pun ketiduran akibat lelah sekolah dan pikiran tentang keluarganya. Ia semakin terlelap saat merasakan tubuhnya yang hampa. Ia hanya bisa berharap, semoga kewarasan tetap menyelimutinya walaupun keadaan keluarganya semakin hancur.

Bab 4: Perubahan Fajar (Part 2)

2 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata718

SarkatJadiBuku

Day8

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Fajar terjaga dari lelapnya saat langit hampir berwarna jingga. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB. Itu tandanya, ia sudah sangat lama di tempat tersebut dan melewatkan makan siangnya. 

 

Pemuda itu melihat sekelilingnya. Dua puntung rokok berserakan di antara kulit kuaci. Ia teringat apa yang membawanya ke tempat tersebut. Saat tersadar, ia pun mengusap wajahnya yang tampak lelah. Setelah kejadian tadi, ia tak tahu harus bersikap apa pada mamanya. 

 

Diraih kunci motor yang tergeletak manja di atas sofa yang kosong. Ia pun bangkit dengan menyematkan tas di punggungnya. Berjalan gontai menuruni anak tangga. Naik ke atas motornya dan menyalakan mesinnya.

 

Di seberang jalan, dari balik warung kecilnya, Pak Imam melihat Fajar yang tampak berbeda. Ia ingin bertanya dan membantu anak itu agar tersenyum seperti biasa, tapi ia tak kuasa karena itu bukan urusannya. Maka dibiarkannya Fajar yang berlalu meninggalkan belakang ruko milik Lukman.

 

Motor yang dikendarai Fajar melaju pelan. Masih dengan menggunakan seragamnya yang ditutup oleh jaket kulit berwarna hitam, Fajar menikmati semilir angin menerpa wajahnya yang bebas dari kaca helm. Pandangannya kosong dan fokusnya entah ke mana. Sesekali bunyi klakson tanda protes pun ikut terdengar. Sayangnya, Fajar tak menghiraukan suara tersebut. 

 

Sesampainya di rumah, Fajar merasakan ada yang hilang dari sana. Biasanya, Irma memang jarang di rumah. Namun, walaupun jarang, wanita itu pasti akan pulang lagi dan bermalam di sana. Kini rasanya sangat berbeda. Keberadaan Irma semakin terasa hilang.

 

"Bi!" panggil Fajar yang berjalan ke sofa ruang tamu. Ia mengempaskan tubuhnya yang terlihat lesu. 

 

Dari balik sofa, terdengar langkah kaki yang terburu-buru. "Den Fajar. Ke mana saja? Bapak telepon kok enggak diangkat, sih?" tanya Bi Entin yang langsung mendekat.

 

Fajar menoleh ke sumber suara dengan lesu. "Bi. Tolong bawakan minum sama makanan, ya. Aku lapar," ujar Fajar yang memegang perutnya yang terasa nyeri. Bi Entin mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Fajar, ia terduduk lemas dengan mata yang tertutup rapat.

 

Sedang enaknya Fajar menikmati kesunyian, terdengar ketukan heels yang sangat dikenali Fajar. Ia pun semakin mempererat pejaman mata dan tak berniat menyambut kedatangannya. Bahkan saat ketukan itu semakin jelas terdengar, Fajar masih pura-pura sendirian. 

 

Irma sudah berdiri di samping sofa yang diduduki Fajar dengan muka garangnya. Tak peduli anaknya sedang lemas, ia pun bertanya dengan nada tinggi, "Dari mana saja kamu? Asyik keluyuran saja!" Fajar tak menghiraukan pertanyaan itu. Ia membuat telinganya tuli. 

 

Fajar menganggap bahwa di ruangan ini hanya dirinya. Melihat itu, Irma pun semakin tersulut emosi. Ia semakin mendekat dan menarik Fajar dengan paksaan.

 

"Bangun kamu! Mama tahu kamu pura-pura tidur. Dari mana saja kamu?" tanya Irma yang terlihat tidak sabaran.

 

Fajar terpaksa membukakan matanya saat tubuhnya berhasil tegap. "Apaan sih marah-marah mulu? Aku capek. Mau tidur!" seru Fajar yang siap menyenderkan kembali tubuhnya.

 

Irma dengan cepat menahannya. "Kamu dari mana saja, sih? Nih, baru rokok lagi. Kamu ngerokok? Siapa yang ajarin? Papa kamu pasti!" tuduh Irma yang kesal akan fakta yang diciumnya dari mulut dan baju sang anak. 

 

Fajar melirik tajam ke arah mamanya. "Siapapun yang ajarin aku ngerokok, bukan urusan Anda. Saya seperti ini juga karena Anda," ujar Fajar yang bangkit dari duduknya. Ia muak selalu berdebat dengan mamanya yang ujung-ujung Lukman lah yang dipersalahkan.

 

"Mau ke mana kamu? Ngerokok lagi? Dasar, ya, anak tidak tahu diuntung. Kalau nggak ada Mama, kamu nggak bisa jadi orang!" hardik Irma yang semakin emosi. "Beraninya kamu nyaut Mama. Sembilan bulan aku ngandung kamu, enam belas tahun aku besarin kamu, tapi ini balasanmu, Jar? Anak tidak tahu diri!" tambah Irma yang tampak berang.

 

Fajar mendengus saat mendengar perkataan itu. "Ya! Aku memang nggak tahu diri, Ma. Dan bukan aku yang mengharapkan lahir di dunia ini. Kalau aku dikasih pilihan, aku nggak mau dilahirkan dari rahim seorang wanita yang tak punya harga diri seperti Anda, Nyonya Irma Winanti. Bahkan, saya terasa hina lahir dari rahim Anda. Tapi, terima kasih sudah melahirkan saya. Terima kasih juga sudah membuat saya kecewa dan terluka," desis Fajar yang berlalu meninggalkan Irma. Wanita itu tak menyangka Fajar akan melawannya. Yang ia tahu, anaknya sangatlah sopan terhadapnya. Namun kini, semuanya sudah berubah. Ia seperti tidak mengenal sosok Fajar Kaenza Putra. Irma bertanya-tanya, sosok apa yang merasuki anaknya sehingga bisa menyautnya selantang itu.

 

Fajar kini benar-benar berubah. Ia bingung apa yang membuat putra sematawayangnya seperti itu ....

Bab 5: Berantem Lagi (Part 1)

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata517

SarkatJadiBuku

Day9

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Sudah menjadi kebiasaan Fajar saat jam pagi tiba. Ia pasti akan duduk di singgasananya dan mencari posisi ternyaman. Inilah yang dilakukannya sejak dua tahun belakangan atau lebih tepatnya saat ia baru masuk SMA. Mungkin, jika guru-guru semasa SMP melihat atau mendengar tentang perilakunya kini tidak akan percaya. Fajar yang dulu sangatlah sopan, baik, cerdas, nurut, dan tidak pernah membuat onar. Namun Fajar yang sekarang, adalah kebalikannya.

 

Tidur Fajar hampir saja terlelap. Namun dikecohkan dengan bisikan Irwan yang berkata, "Jar! Bangun! Itu Pak Leon masuk."

 

Bak punya alarm khusus di nama tersebut, Fajar langsung terjaga dan duduk tegap. Pandangan matanya dan Pak Leon pun langsung beradu. Pria bertubuh kecil itu sedang berbicara dengan guru matematika yang tampak sedang bersiap untuk memulai ajarannya pagi ini.

 

Pembicaraan kedua guru di depan yang tampak serius membuat Fajar penasaran. Tak lama, Bu Iin pun berkata, "Bagi anggota taekwondo, silakan masuk ke ruang latihan. Pak Leon akan mengadakan rapat untuk lomba yang akan datang." 

 

Bastian, Irwan, dan teman yang lainnya langsung bangkit. Namun, tidak dengan Fajar. Ia hendak bersiap tidur lagi saat Pak Leon akan keluar nanti. Mengikuti rapat sama saja dengan belajar. Ia pasti akan tertidur juga. Sayangnya, aksinya tergagalkan dengan suara Pak Leon yang berkata, "Jar! Ayo ke ruang latihan."

 

Malas sekali rasanya ia pindah dari singgasananya. Namun ia harus bangkit karena dirinya pasti akan ikut lomba tersebut. Dari pada nanti jadi orang bodoh yang tidak paham akan strategi yang disusun, akhirnya Fajar pun keluar kelas. 

 

Seperti di kelas tadi, Fajar masih terlihat sangat mengantuk dan bosan. Ia duduk di pojokan ruangan dan bersandar di dinding. Ia siap mengambil posisi yang nyaman. Namun, matanya yang menangkap seseorang tak jadi terlelap. Ia penasaran siapa orang yang baru saja lewat bersama guru kesiswaan.

 

"Baiklah anak-anak. Kita akan mulai mengusul nama yang akan ikut lomba tingkat provinsi. Siapa yang mau mencalonkan diri?" tanya Pak Leon setelah menyampaikan sepatah dua kata salam pembuka. 

 

Fajar tak bersuara sedikit pun. Sesekali pandangannya dan Pak Leon beradu saat ia mencuri waktu tidurnya. Matanya dipaksa terjaga lagi. Namun, sesekali ia mendapat kesempatan. Sayangnya, itu tidak lama karena Pak Leon akan melempar kuaci yang disimpannya di dalam kantong celana untuk senjata membangunkan Fajar.

 

Alhasil, Fajar duduk lesu dengan mata yang terkantuk-kantuk. Semakin kantuk saat mendengar Bastian yang mengatur strategi versinya nanti. Sedangkan Fajar hanya mengangguk-angguk saja. Toh, nanti saat latihan dimulai, Pak Leon akan mengatur strategi untuknya. Kantuk itu pun berlangsung sampai rapat selesai. 

 

Anak-anak lainnya baik kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas sudah keluar ruangan begitu siap rapat. Namun tidak dengan Fajar. Ia masih duduk lesu di pojok ruangan. Pak Leon yang hendak ikut keluar pun mengurungkan niatnya. Ia mendekat dan duduk di samping Fajar.

 

"Ini karena main game atau ada masalah lagi?" tanya Pak Leon yang tidak pernah basa-basi. 

 

Sejak menjadi anggota taekwondo, ia sangat akrab dengan Pak Leon. Bahkan beliau sudah dianggap sebagai bapaknya di sekolah. Ia akan mengadu, menangis, mencari perhatian, bahkan apapun itu terhadap Pak Leon. Tak jarang ia bercerita tentang keluarganya dengan beliau. Sehingga Pak Leon sangat tahu apa saja yang membuat Fajar kesal, marah, sedih, bahkan kecewa.

Bab 5: Berantem Lagi (Part 2)

2 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata641

SarkatJadiBuku

Day10

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Lama keduanya terdiam, sampai Fajar hendak bangkit dari duduknya. Entah kenapa, kali ini Fajar tidak ingin menceritakan apapun. Apalagi pasak kehamilan mamanya. Ia sangat malu dan tak tahu harus berekspresi bagaimana. Rasa jijik, kecewa, marah, sedih, bercampur-aduk menjadi satu perasaan yang tak dimengerti.

 

Pak Leon mencegah Fajar untuk bangkit dengan memegang lengannya. Ia pun berkata, "Tidak masalah kalau belum bisa bercerita. Tapi ingat, sebentar lagi lomba akan dimulai. Jangan terlalu emosi di pertandingan sehingga membuat kamu semakin kecewa."

 

Fajar mengangguk lantas tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak. Tapi maaf, saya tidak bisa bercerita saat ini. Karena ada hal besar yang nantinya bisa semakin menghancurkan jika saya curhat dengan Bapak. Saya malu, Pak," ujar Fajar yang tak menjelaskan terlalu pasifik. "Saya izin ke kelas," pamit Fajar yang langsung berlalu begitu saja.

 

Fajar menelusuri koridor sepi untuk menuju ke lantai dua. Sejujurnya, ia sangat malas masuk kelas. Namun, ia tak mau berlama di ruang taekwondo karena nantinya pasti akan menceritakan masalahnya pada Pak Leon. Ia tak mau ada satu orang saja yang mengetahui aib keluarganya. Ia tak mau dipermalukan walaupun Pak Leon tidak akan melakukannya. Hanya saja, ia takut ada yang menguping. 

 

Padahal bercerita dengan gurunya itu lebih nyaman dibandingkan bercerita dengan orang lain. Dan itulah yang ia perlukan. Sayangnya, ia tak bisa melakukan hal itu dulu.

 

Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba bajunya ditarik ke belakangan. Satu pukulan pun melayang di wajahnya. Ia yang terkejut tak langsung membalas. Matanya berkunang-kunang setelah mendapat pukulan tersebut. 

 

Fajar melihat siapa orang yang telah melayangkan bogem mentah di wajahnya. Dan ia mendengus saat tahu siapa itu. "Bilangin sama mama lo jangan ngerusak keluarga gue!" seru pria tersebut yang berhasil membuat Fajar penasaran. Apa hubungannya perkelahian ini dengan mamanya?

 

"Maksud lo apa?" tanya Fajar yang kebingungan serta penasaran.

 

"Gue memang ngerebut pacar lo dulu. Tapi nggak perlu juga mama lo nyakitin kakak gue dengan pacaran dengan pacarnya. Dasar orang tua nggak tahu diri. Selingkuh sama pacar orang," caci pria itu yang hendak berlalu. 

 

Mendengar hinaan tersebut membuat kepala Fajar mendidih. Ia langsung membalasnya dengan menarik kerah baju pria tersebut dan memukul dengan membabi-buta. Ia pun sempat berseru, "Jangan ngehina mama gue kalau lo nggak tahu apa masalahnya!"

 

Pria itu tertawa lepas dalam pukulan tersebut. "Gue nggak tahu apa masalahnya? Gue tahu semuanya! Mama lo hamil anak Dion bukan?" Pria itu semakin tertawa. "Dan itu nyakitin kakak gue!" sambungnya dengan wajah yang tampak marah. 

 

Fajar semakin menghajarnya. Hal tersebut bukan lagi untuk membela mamanya. Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya tadi salah. Toh, mamanya lah yang sudah bersalah. Namun, pukulan kali ini karena ia malu, marah, kecewa, dan sedih. Apalagi dengan kata dipermalukan seperti itu. 

 

Saat Fajar dan lawannya sedang menghabisi satu sama lain, tiba-tiba seseorang menarik Fajar dari belakang. Ia tak sengaja memeluk Fajar dengan amat kuat dan menjauhkannya dari perkelahian tersebut. Fajar melihat siapa yang memeluknya. Tubuh kecil itu berhasil membuat Fajar berhenti.

 

"Kalian ngapain, sih? Kalau dilihat kepsek gimana?" tanya gadis yang masih memeluk Fajar. Tak ada jawaban dari Fajar.

 

Sedangkan lawannya mengusap ujung bibir yang berdarah. "Makasih banyak, Nad. Tuh anak gila banget mukul orang yang nggak salah. Dan lo, Jar! Bilangin sama mama lo jangan kegatelan," ujar pria itu yang berlalu. Fajar melihat gadis yang masih memeluknya dengan erat. 

 

Napas mereka terengah-engah. Fajar pun bingung dengan kehadiran gadis itu secara tiba-tiba. Dan ia heran akan keberanian gadis tersebut yang membantu perkelahiannya tanpa membawa guru.

 

Tak lama, gadis itu melepaskan pelukannya. Fajar merasa sebuah kenyamanan pun terlepas dari tubuhnya. "Kakak kok suka banget, sih, berantem? Nggak takut kapsek, ya? Untung koridor lagi sepi. Nggak bosan-bosannya masuk ruang BK," rutuk gadis itu yang melihat tajam ke arah Fajar. "Jangan sok jago, deh, Kak!" serunya yang berlalu. 

 

Fajar yang mendengar perkataan itu pun mendengus kecil. Ia tak menyangka gadis itu berani memarahinya. Padahal, teman sekelasnya saja tak ada yang berani.

Bab 6: Insiden Samsak

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1058

Day11

-------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Latihan taekwondo biasanya dilakukan pada hari Sabtu. Namun, jika turnamen datang, mereka akan melakukan latihan lebih intens. Apalagi bagi mereka yang menjadi peserta turnamen.

 

Jika biasanya Fajar akan bangun pagi dengan malas-malasan, kecuali di pagi Sabtu, hari ini ia tampak segar. Belajar di kelas dengan hanya menyimak membuat anak itu merasa bosan. Namun, jika belajar taekwondo dengan tubuhnya yang banyak bergerak, ia merasa bersemangat. Itulah kenapa Fajar terlihat segar di hari ini. Karena mulai hari ini, ia akan latihan dengan intens selama dua minggu. Yang artinya, ia tak akan bertemu dengan mata pelajaran sampai masa turnamen selesai.

 

Fajar menyisir rambutnya yang sudah diberikan pomade. Ia bersiul menyambut hari dengan riang. Saat tangannya menyentuh jam tangan yang tergeletak di atas nakas, ia mendengar suara pecahan kaca. Dilihatnya jam tangan yang dipegang, itu artinya bukan jam tangannya yang pecah.

 

"Siapa coba yang pecahin piring pagi-pagi? Ah, Mbak Entin itu pasti," ujarnya tak acuh lalu kembali melanjutkan sesi siap-siapnya.

 

Tak lama, terdengar teriakan-teriakan yang menjengkelkan bagi Fajar--apalagi di saat ia akan berangkat sekolah. Fajar terdiam sejenak untuk mendengar apa permasalahan di pagi ini. Namun, mood bahagianya hilang seketika.

 

"Kenapa sih masih harus pertahankan aku? Kamu mau menyiksa aku dengan nggak ceraikan aku? Apa sih maumu?"

 

"Jelek banget ya pikiran kamu itu. Aku cuma mau ngebantu kamu. Anak itu cuma incar harta kita doang. Nggak kasian apa kamu sama Fajar? Aku bekerja pontang-panting cuma untuk kamu dan Fajar. Sekarang, seenaknya kamu minta cerai, dapat gono-gini, terus habisin dengan dia? Kalau habisin sendiri mah aku nggak masalah."

 

"Aku nggak butuh harta gono-gini kamu. Aku cuma butuh kamu ceraikan. Dion sudah menunggu untuk bertanggung jawab. Apa susahnya sih tinggal ceraikan? Aku tuh sudah nggak cinta lagi sama kamu."

 

"Ma! Aku sudah kasih pilihan yang mudah untuk kamu. Aku akan terima anak itu. Kita tidak akan bercerai. Kita akan mengubah hubungan kita seperti dulu. Lupakan Dion. Mau hidup susah kamu sama dia?"

 

"Kami tidak akan hidup susah. Aku tuh cinta sama dia. Aku tetap mau nikah sama dia. Aku capek sama kamu terus, Mas."

 

"Kamu nggak kasian sama Fajar, Ma? Tega kamu, ya."

 

"Fajar sudah besar. Dia bisa menentukan jalannya sendiri. Dan aku juga bukan anak-anak."

 

Fajar mengembuskan napasnya dengan berat. Ternyata semuanya memang sudah sangat berubah. Fajar tidak bisa berbohong bahwa hatinya sangat sakit saat mendengar ucapan sang mama. Irma tega meninggalkan dirinya demi pria lain dan juga anak yang dikandungnya. 

 

Fajar mengusap kasar air mata yang tiba-tiba menetes di wajahnya. Ia mendengus kecil saat menyedari bahwa dirinya sangat lemah. Ia memang anak laki-laki yang jago berkelahi. Namun, ia juga memiliki perasaan saat orang tuanya mengatakan demikian. Kemarahannya pun ikut menyelip di perasaannya pagi ini.

 

Teringat akan pukulan beberapa hari yang lalu saat ia baru saja siap rapat turnamen. Pria itu tidak berbohong. Mamanya memang sudah berselingkuh dengan pria bernama Dion. Rasa marah dan malu bercampur aduk. Ia takut gosip itu menyebar dan mencoreng mukanya. Ia pun bingung harus bertindak seperti apa nantinya.

 

Pagi ini moodnya sudah hancur. Diraihnya tas belakang yang terdapat baju ganti dan juga botol minum yang tadi pagi-pagi sekali disiapkan Mbok Minah. Ia pun langsung keluar kamar dengan pintu yang sengaja dibantingkan. Hal itu dilakukan untuk menyadarkan kedua orang tuanya bahwa dirinya masih di rumah dan ia kecewa atas pertengkaran di pagi ini.

 

Fajar turun tangga dengan cepat. Ia tak lagi mampir ke ruang makan. Ia langsung menuju garasi dan menaiki motornya. Tak lama, ia melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi. Pagi ini, semuanya hancur. Dan ia yakin, latihannya juga akan hancur.

 

????????????

 

Para anggota taekwondo sedang pemanasan dengan berlari mengelilingi komplek sekolah yang luas. Jika orang lain melakukan lari untuk pemanasan dengan normal, tapi tidak bagi Fajar. Ia melakukan lari cepat. Orang lain baru selesai sepuluh putaran, ia sudah 22 putaran. Ia lakukan itu pun dengan penuh emosi. 

 

Anehnya ia tak merasa lelah walaupun napasnya sudah ngos-ngosan. Ia kembali memukul samsak dengan kecepatan cepat. Latihan hari ini hanya sekadar pertahanan fisik sebelum mereka berlatih pertahanan.

 

Fajar melihat samsak itu bak wajah selingkuhan mamanya. Ia memukulnya dengan membabi-buta. Pak Leon yang melihat itu pun ngeri sendiri. Ia hendak mengentikan Fajar, tapi itu pasti akan membuat anak itu semakin marah.

 

Bunyi gemerincing dari besi samsak yang akan putus terdengar nyaring. Mereka saat ini sedang berada di lapangan--bukan di ruang latihan. Melihat itu, Pak Leon semakin ngeri. Apalagi anak kelas 10 lagi ada kelas olahraga yang juga menggunakan lapangan yang sama.

 

Pukulan terakhir Fajar berhasil melepaskan samsak dari sangkutannya. Bantalan keras itu terbang bebas. Hal itu membuat Fajar sadar atas kesalahannya dan terperangah. Ia pun melihat ke mana arah benda tersebut terbang. 

 

Saat melihat titik yang akan menjadi tempat pendaratan terakhir samsak, Fajar dengan cepat berlari. Ia meraih tangan seseorang untuk menjauh dari titik tersebut. Dipeluknya orang itu dengan erat dan dibawanya menjauh. Tepat dua detik merak pergi, samsak itu mendarat dengan tepat sasaran perhitungan Fajar.

 

"Jalan lihat-lihat," rutuk Fajar yang melihat samsak itu.

 

Orang yang dipeluk Fajar juga ikut melihat benda keras tersebut. Ia membayangkan apa jadinya jika kepalanya tertindih benda sekeras itu. Mungkin ia akan pingsan, geger otak, atau mati? Itulah tebakannya saat ini.

 

Tak lama, gadis itu menyadari posisi mereka saat ini. Belum lagi guru olahraga dan Pak Leon beserta siswa-siswi di lapangan tersebut melihat ke arah mereka. Ia pun langsung mencolek Fajar dengan muka yang sudah merah bak kepiting rebus ."Kak. Bisa lepasin aku nggak? Aku malu," cicitnya dengan suara yang amat pelan. 

 

Fajar yang sedang letih tak fokus dengan suara kecil itu pun bertanya, "Hah? Kamu ngomong apa? Aku nggak dengar. Telingaku berdengung karena capek." 

 

Gadis itu menunjuk tangan Fajar. "Lepasin aku," ujarnya yang kini sedikit mengeraskan suara.

 

Refleks, Fajar langsung melepasnya. Ia melihat siapa yang dipeluknya. "Imbas. Kemarin kamu peluk aku. Hari ini aku peluk kamu. Ucapin makasih karena aku sudah ngebantu kamu menghindar dari musibah," ujar Fajar dengan sombong.

 

Gadis itu mendengus kesal. "Kakak saja kemarin nggak ngucapin makasih. Masa aku harus gitu," balasnya dengan wajah dongkol.

 

"Kamunya pergi terus. Gimana aku mau ngucapin makasih?" tanya Fajar yang tak mau kalah. 

 

Gadis itu tak mau menanggapi. Ia hendak pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti saat Fajar berkata, "Makasih banyak. Besok-besok, bantu aku lagi, ya." 

 

Gadis itu tersenyum tulus. "Makasih juga, Kak Fajar." Dan ia pun pergi dari tempat itu dengan senyum yang masih terus mengembang.

Bab 7: Tak Ada Yang Setia

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1103

SarkatJadiBuku

Day12

-----------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Fajar menatap gadis tersebut yang terus menjauh. Ia tersenyum kecil saat mengingat hari pertama mereka bertemu dan kejadian tadi. Lantas sebuah pertanyaan muncul, kenapa mereka bertemu selalu dalam keadaan berpelukan? 

 

Dari ekor matanya, ia menangkap sosok Pak Leon yang datang menghampiri. Pria itu menyentuh bahu Fajar lantas berkata, "Untung kamu cepat. Kalau nggak, aduh, kasian anak itu. Makanya, kalau mau lampiaskan amarah, lihat-lihat tempat dong." 

 

Fajar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, Pak. Saya nggak tahu samsaknya bakalan terbang gitu," ucap Fajar yang merasa bersalah.

 

Pak Leon tertawa kecil. "Ya, terbanglah kalau kamu mukulnya begitu. Kayak ada dendam antara kamu dan samsak itu," ujar Pak Leon sambil geleng-geleng kepala. "Ambil tuh samsak dan cari cara untuk pasangnya kembali," perintah Pak Leon yang berlalu dari sana.

 

Fajar bergerak cepat. Ia menggendong samsak itu kembali pada posisi awalnya. Di sana, sudah ada Irwan yang menanti dengan senyum terselubung. Begitu Fajar berdiri di depannya, ia langsung menyemprot, "Enak, nih. Pagi-pagi sudah peluk cewek. Ah, maklum, sudah lama menjomlo." Irwan tertawa di akhir ujarannya.

 

Fajar mendengus atas ledekan tersebut. Ia melihat tiang samsak dan mencari akal untuk memasangnya. Tak lama, Bastian datang dengan wajah cemberut dengan membawa tiang. Ia pun menggerutu, "Kalau bukan karena Pak Leon suruh mah, gue ogah bantu lo." 

 

Fajar bingung dengan ujaran Bastian. Ia tak mengharap pria itu datang di saat seperti ini. Bisa-bisa, ia kembali melayangkan samsak dan kali ini arahnya pada pria gempal tersebut. Namun, Irwan langsung mengambil tangga yang dibawa Bastian dengan berkata, "Jangan cari masalah mulu, deh, lo, Yan! Kalau nggak mau bantu, sana pergi!"

 

Bastian mendengus saat Irwan mengusirnya. Ia pun langsung pergi dan kembali ke tempatnya semula. Sedangkan Fajar yang tak menghiraukan, kembali menghitung kemungkinan yang terjadi jika ia memasang samsak dalam posisi A atau B. Setelah yakin dengan hitungannya, ia pun langsung naik ke tangga dan memasang samsak tersebut. Tak lupa ia menerima sodoran batu yang diberikan oleh Irwan untuk memukul besi sambungan sebagai ganti palu.

 

Fajar turun setelah semuanya beres. Saat ia turun, Irwan berkata, "Nada cantik, ya."

 

Kebingungan dengan yang diujarkan Irwan, ia pun bertanya, "Maksud lo?" 

 

Mereka saat ini hendak kembali latihan. Namun, terganggu dengan jawaban Irwan. "Ituloh. Cewek tadi yang lo tolong. Dia cantik, ya," jelas Irwan dengan senyum penuh arti.

 

Fajar meng-oh ria. "Namanya Nada, toh?" tanya Fajar cuek. Irwan mengangguk. Ia yakin, sebentar lagi Fajar pasti akan bereaksi untuk mengejar Nada. Sayangnya, Fajar terlihat tak acuh. Ia masuk ke lapangan dan bergabung dengan anggota taekwondo lainnya untuk sambung latihan. Tak mau ambil pusing, ia pun ikut menyambungkan kembali latihannya yang tertunda.

 

????????????

 

Jam istirahat anak taekwondo dengan siswa-siswi yang ikut mata pelajaran umum sedikit berbeda. Maka saat Fajar dan teman-temannya masuk ke kantin, keadaannya masih lenggang. Hanya ada beberapa anak kelas 10 yang tadinya olahraga satu lapangan dengan mereka.

 

Di sudut kantin, seorang gadis yang tadinya duduk santai, kini terlihat tegang. Pasalnya, ia sedikit malu dengan eksiden tadi yang membuat teman-teman meledek dirinya. Apa lagi saat pemuda itu telah duduk di meja yang tak jauh darinya, teman-temannya mulai grasak-grusuk menggoda gadis tersebut.

 

"Cie, Nad. Dia ke sini, loh," ujar seorang gadis dengan rambut pendek yang bernama Lolita.

 

"Aku dengar-dengar, Kak Fajar itu orangnya pintar banget. Kerjaannya di kelas cuma tidur, tapi selalu dapat nilai bagus pas ulangan atau ujian walaupun nggak dapat ranking. Terus nih, ya, katanya dia itu play boy. Tapi lucunya, sudah hampir sebulan ini dia nggak pacaran. Ingat nggak lo waktu kita OSPEK dulu? Dia 'kan pacaran sama kakak kelas yang namanya siapa, ya .... Aduh, aku lupa siapa namanya. Anak OSIS itu loh," sambung yang lain dengan menceritakan panjang lebar kisah Fajar yang didengarnya.

 

"Kak Niken?" tanya Lolita yang merasa yakin.

 

"Nah, dia! Iya, Kak Niken. Tapi sayangnya, dia ditinggalin. Kak Niken dekat sama Kak Bagas. Terus, mereka putus, deh. Dan sejak itu, Kak Fajar katanya nggak pacaran lagi. Ih, segitu cintanya ya dia sama Kak Niken," puji Ririn yang terpesona dengan sosok Fajar. "Bayangin, Say. Sosok play boy seperti Kak Fajar berhasil ditaklukkan sama Kak Niken. Sayangnya, tuh cewek nggak tahu diri. Sudah dapat cowok seganteng dan sepintar Kak Fajar, eh, ditinggalin," sambungnya yang sesekali melirik ke arah Fajar yang sedang bergelut dengan kuaci.

 

"Terus, gue harus bilang wow gitu?" respons Nada dengan wajah bosan saat mendengar gosip tersebut. 

 

Nada Musicia Putri atau yang akrab dipanggil Nada itu adalah orang yang dibantu Fajar untuk menghindari samsak yang terbang beberapa jam lalu. Ia saat ini sedang istirahat di kantin usai jam olahraga selesai. Sayangnya, istirahat yang ia harap tenang itu berganti rusuh karena teman-teman semeja dengannya mulai membawa gosip yang tak ia harapkan. Apalagi sosok tempramen yang selama ini ia ketahui. 

 

Fajar Kaenza Putra. Anak kelas 11 MIPA 1 yang penuh kejutan dengan hampir setiap minggunya masuk ke ruang BK. Pria yang empat hari lalu dibantunya dalam sebuah perkelahian. Dan hari ini, pria itu berhasil menjamah meja kantin tempat ia duduk dengan kisah tentang dirinya. Jujur, Nada muak. Namun, ada rasa membutuhkan dan lega saat mendengar teman-temannya menceritakan sosok Fajar.

 

Tak sengaja, ia melihat ke arah Fajar yang juga ikut mengangkat wajahnya dan pandangan mereka beradu. Senyum cuek terukir di wajah Fajar yang langsung melihat ke sembarang arah. Nada yang melihat itu pun tak sempat membalas senyum tersebut. Ia pun meneliti wajah Fajar dari jauh dan berhasil membuat getaran aneh pada dirinya.

 

Tak ingin merasa semakin risih di sana, Nada bangkit dan meraih botol minumnya dan berkata, "Aku mau ke ruang ganti duluan, ya. Nanti kalau jam istirahat selesai, bakalan ramai. Malas kalau telat masuk kelas Fisika." Ia pun langsung berlalu tanpa mendengar panggilan teman-temannya yang aneh dengan sikap Nada.

 

Sedangkan di meja kantin yang dipenuhi oleh Fajar dan teman-teman, langsung riuh saat menyadari ada Nada di kantin tersebut. Sayangnya, mereka terlambat karena gadis itu sudah keluar dari kantin. Mereka bersiul dengan wajah jahil menggoda Fajar.

 

"Jar! Nada tuh. PDKT, deh. Ngapain coba masih ingat Niken," ujar Azriel--anggota taekwondo yang lumayan akrab dengan Fajar.

 

Irwan mengangguk setuju. "Gih, Jar! Ngapain coba masih mikirin Niken. Dia sudah bahagia tuh sama Bagas. Lo masih begini saja," ujar Irwan yang menyemangati.

 

Fajar mendengus dengan perkataan teman-temannya. "Nanti, ya, gue cari pacar. Sekarang gue mau ngisi perut dulu. Nanti baru ngisi hati," ujar Fajar yang tampak semangat mengambil sendok dan garpu saat melihat abang kantin membawa nampan berisi bakso pesanan mereka. 

 

Faktanya perkataan itu hanya untuk memotong percakapan yang membahas tentang Nada. Fajar tak berniat mengejar siapa pun untuk saat ini. Bukan hanya karena Niken, juga karena mamanya. Dari dua kisah yang berbeda itu, Fajar mengambil kesimpulan, tak ada wanita yang setia.

Bab 8: Terngiang

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1027

SarkatJadiBuku

Day13

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Kesibukan latihan fisik dan strategi membuat Fajar selalu pulang telat. Saat anak taekwondo selesai latihan, biasanya hanya tersisa beberapa siswa yang ikut ekstrakurikuler saja. Seperti halnya hari ini, beberapa ruang lantai satu gedung A dan B terbuka karena masih ada siswa. Lain halnya dengan hari Sabtu, hanya ada anak taekwondo saja.

 

Fajar melewati gedung A yang tampak lebih sepi dibandingkan gedung B. Tak sengaja ia mendengar suara merdu yang menghangatkan jiwa. Fajar melangkah mencari sumber suara tersebut. Dan ternyata berasal dari ruang musik yang tertutup rapat. 

 

Fajar mengintip keadaan ruang musik dari jendela yang terbuka. Tak ada siapa pun di sana. Menyadari itu, bulu kuduk Fajar meremang. Apalagi saat ia menyadari bahwa hari sudah petang dengan hujan gerimis. Ia pernah dengar cerita sang mama saat dirinya masih SMP. Kalau gerimis datang di saat petang menyapa, akan banyak makhluk tak kasat mata muncul untuk bermain hujan. 

 

Fajar menggosok tengkuknya yang ngeri saat menyadari kemungkinan itu bisa saja terjadi. Ia pun memutuskan untuk pergi saja dari sana. Namun, suara itu terdengar nyata. Alunan merdu tanpa alat musik itu bahkan semakin mendekat. Fajar cepat-cepat bergegas dari jendela yang masih terbuka itu.

 

Aksinya yang terburu-buru membuat ia tak menyangka pintu ruang musik akan terbuka secara tiba-tiba. Ia hampir seja mencium papan yang sudah dibentuk menjadi pintu kalau dirinya tak gesit. Dengan kesal, ia menggerutu, "Et, dah! Buka pintu lihat-lihat dong. Ini kalau kena hidung gue gimana? Bisa patah si mancung." 

 

Fajar melihat ke depan dan mendengus saat mendapatkan sosok yang akhir-akhir ini sering muncul di hadapannya. Padahal, ia sangat jarang melihat gadis itu berkeliaran di kantin bahkan di sekolah.

 

"Kenapa, Kak?" tanyanya dengan muka polos tak berdosa.

 

Fajar lagi-lagi mendengus mendengar pertanyaan itu. Ia meraih hendel pintu yang masih dipegang gadis tersebut dengan berkata, "Ini pintu kalau dibuka hidupin lampu sen dulu. Jangan tiba-tiba berbelok gini. Kalau tadi hidung gue kena ini pintu gimana? Sudah patah, berdarah, luka, 'kan sakit. Mau tanggung jawab lo?" Lantas Fajar menutup pintu tersebut setelah mengomel. 

 

Gadis tersebut tertawa pelan. "Jangan suka marah-marah, Kak. Nanti keriputnya muncul," ujarnya sambil menunjuk wajah Fajar.

 

Pemuda tersebut langsung menyentuh wajahnya dengan sedikit memijit. Melihat itu, gadis tersebut tertawa geli. Ia pun langsung pergi dari sana dengan bersenandung. Fajar yang mendengar suara itu menatap lekat punggung yang menjauh itu. Di tas ranselnya, terdapat nama yang berhasil mencuri perhatian Fajar. "Nada Musicia Putri," ejanya pelan. "Bagus juga namanya," sambungnya yang memuji lantas ikut meninggalkan ruang musik yang sudah ditutup rapat.

 

???????????? 

 

Fajar masih terus terngiang-ngiang suara merdu Nada yang didengarnya sore tadi. Pun eksiden pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia mendengus saat menyadari bahwa ia memikirkan gadis itu. Sudah lama rasanya ia menghindar dari perempuan. Apalagi saat kejadian sang mama yang semakin gencar selingkuh. Baginya kini, tak ada cinta sejati. Tak ada wanita yang setia. Niken dan mamanya membuat ia semakin meyakini hal tersebut.

 

Fajar bangkit dari rebahannya dan hendak makan malam. Saat ia turun, rasa sepi semakin menghantuinya. Sejak meminta cerai, mamanya semakin jarang di rumah. Pulang sekolah ia tak melihat sang mama, apalagi kala malam seperti ini.

 

Ingin rasanya ia mencari pria yang bernama Dion itu. Namun, ia tak punya waktu. Apalagi saat menyadari pria tersebut berhubungan dengan Bagas yang sudah mengibarkan bendara perang untuknya. Hal itu semakin membuat ia malas ikut campur dalam urusan mamanya. Tak sengaja, ekor mata Fajar menangkap sebuah amplop kuning di atas meja di dekat tangga. Ia pun mendekat dan meraihnya. Terdapat kop surat pengadilan. Dibukanya surat tersebut dan ternyata isinya surat panggilan mediasi antara mama dan papanya. Ia lagi-lagi mendengus. Entah berapa kali sudah dilakukannya hari ini, ia pun tak tahu. Lantas diletakkannya kembali surat itu dan membatalkan niat pertamanya. Ia tak menyangka, mamanya benar-benar akan melakukan hal tersebut. Mamanya begitu nekat padahal papanya sudah memberi kesempatan. 

 

Rasa lapar seketika hilang. Fajar kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Ia menyalakan pendingin di suhu tinggi dan menarik selimutnya. Ditutupnya seluruh tubuh dan memilih tidur saja. Ia harap, saat dirinya terjaga, semuanya berubah.

 

Ia bisa merasakan pelukan hangat mamanya kembali. Ia bisa melihat mamanya berkeliaran di rumah dengan teriakan mautnya. Ia bisa merasakan kasih sayang mamanya lagi.

 

Entah harapan itu bisa kembali. Dirinya hanya berharap saja. Urusan takdir, ia tak mau melawannya ....

 

????????????

 

Nada duduk termenung di meja belajarnya. Ia lupa bahwa sedang membuat tugas Fisika. Ingatannya dibawa membayangkan hari-hari yang menyebalkan tapi terasa membahagiakan. Ia tersenyum malu saat menyadari bahwa dirinyalah yang pertama kali berbuat aneh. Memeluk pria yang berkelahi dengan sangat refleks. Merasa nyaman dalam pelukan itu dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.

 

Belum lagi dengan eksiden samsak yang hampir terbang menindih tubuhnya. Hal tersebut membuat pikirannya melayang saat OSPEK awal semester kemarin. Saat itu, Fajar duduk di pinggir lapangan sedang mengamati kekasihnya. Perlakuannya yang manis membuat Nada berharap mendapatkan kekasih seperti Fajar. 

 

Sayangnya, semakin lama ia di sekolah itu, ia jadi tahu bahwa Fajar tipe pria tempramen yang sering masuk ke ruang BK. Anehnya, pria itu tak merasa kapok sedikit pun. Hal itu membuat Nada mengambil kesimpulan bahwa ia tak boleh memiliki kekasih seperti Fajar.

 

Namun, entah kenapa, keberadaan Fajar kali ini memberi rasa berbeda di diri Nada. Ia menyadarinya saat ditolong mengindari samsak. Apalagi kejadian tadi sore. Begitu banyak perempuan dan laki-laki di sekolah, kenapa mereka selalu dipertemukan sehingga memberi getar. Nada sadar, getar itu memiliki maksud yang lain. Apalagi wajahnya yang memanas saat berada di sisi Fajar.

 

Nada meneguhkan hati, ia tak boleh jatuh cinta dengan pria tempramen seperti Fajar. Dirinya adalah gadis feminim dengan penuh kelembutan. Ia tak bisa dikasari. Maka ia harus berusaha mengelak takdir jika berhubungan langsung dengan Fajar.

 

Nada tersentak dari lamunannya saat menyadari bahwa pemikiran itu sudah terlalu jauh. Ia melihat bukunya masih terdapat satu jawaban saja. Ia memukul pelan kepalanya yang sibuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Akhirnya, ia menarik buku mendekat padanya dan mulai kembali mengerjakan tugas. 

 

Diliriknya jam dinding yang tergantung indah di atas pintu kamarnya. Waktu untuk ia mengerjakan tugasnya tinggal sejam lagi. Ia punya janji dengan orang tuanya di kafe baru yang akan mulai dibuka sore ini. Maka ia pun akhirnya berusaha fokus pada tugas yang punya banyak anak tersebut.

Bab 9: Musicia Cafee

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1124

SarkatJadiBuku

Day14

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Tidur adalah jalan terbaik bagi orang yang sedang patah hati, kecewa, bersedih, marah, dan lain sebagainya. Dalam tidur, ia bisa merangkai mimpi yang diinginkannya dan menolak kenyataan untuk mampir di sana. Namun, terlalu banyak tidur juga tidak baik bagi kesehatan. Sayangnya, itulah jalan satu-satunya untuk manusia lari dari masalah. Begitu pun dengan Fajar, ia memilih tidur ketimbang harus memikirkan keadaan rumahnya yang sudah berbeda. 

 

Sedang enaknya ia terlelap, samar-samar telinganya menangkap suara ponsel yang berdering. Fajar mengeluh sambil mencoba membuka matanya yang masih ingin terlelap. Tangannya bergerak di sisi kasur lainnya yang tampak lenggang untuk mencari ponselnya, tapi tidak ditemukan. Ia pun membuka sedikit lagi matanya dan mendapatkan benda pipih tersebut di atas nakas. Langsung diraihnya dan mengangkat panggilan tersebut sambil memejamkan kembali matanya.

 

"Hmmm." Itulah sapaan yang diguna Fajar saat mengangkat ponselnya.

 

"Lo di mana? Keluar, yuk! Ada kafe baru dekat sekolahan mau di buka, nih." 

 

Fajar melenguh saat mendengar ajakan tersebut. "Malas banget gue bangun. Ini sudah jam berapa, sih?" Terdengar dengusan dari seberang sana.

 

"Sudah jam delapan malam. Mau ikut nggak? Gue lagi mau gerak, nih." 

 

Fajar mengangguk malas. "Sepuluh menit lagi gue gerak. Bersih-bersih dulu," putusnya sambil mematikan panggilan tersebut.

 

Bukannya langsung gerak, Fajar malah masih nyaman dengan posisi tengkurap dan mata terpejam. Rasanya kantuk masih menyelimuti dirinya. Ia bahkan hampir terlena dan terlelap. Dipaksanya bangun dengan membuka mata sedikit demi sedikit. Ia menguap malas dan menggaruk perutnya yang sudah menjadi kebiasaan saat bangun tidur.

 

Dengan amat gontai, Fajar masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Tak lama, ia meraih jam tangan, dompet, ponsel, dan kunci motor yang tergeletak malas di tempat yang berbeda-beda. Dikunjungi cermin dan merapikan rambut keriting ikalnya yang menari-nari di atas kepala. Merapikan keritingannya sejenak, lantas minggat dari sana dan keluar rumah. 

 

Rasa lenggang kembali menyambutnya. Fajar turun ke lantai dua dengan amat malas. Namun, dirinya tetaplah seorang anak yang membutuhkan orang tua. Walaupun sering dimarahi dan dianggap tak ada, ia tetap bertanya walaupun keberadaan mereka membuat ia serba salah harus bersikap bagaimana.

 

"Mbak .... Bi ...." Fajar berjalan ke arah dapur sambil memanggil dua asisten rumah tangganya.

 

Dari arah pintu dapur, muncul Mbak Entin yang sudah tidak memakai daster lagi. Ia tampak cantik di usai dua puluhannya. Melihat itu, Fajar yang memang suka menggoda pun langsung berkata, "Wuih, tumben, Mbak. Mau pacaran, ya? Aku bilangin Bibi loh."

 

Mbak Entin tertawa mendengarnya. "Mbak mau buat tugas bareng teman kuliah. Pinjam motor matic Aden, boleh nggak? Tadinya Mbak mau ke kamar Aden buat minjam," pintanya dengan mata yang memelas. 

 

Fajar mengangguk. Mbak Entin baginya sudah seperti kakak. Dia adalah anak Bi Minah yang sedang mengejar cita-cita menjadi desainer. Lukman yang mengetahui cita-cita anak pembantunya itu langsung menyekolahkannya. Beruntungnya, Mbak Entin mendapatkan beasiswa di UI sehingga Lukman hanya membiayai hal-hal kecil saja.

 

"Aden mau ke mana?" tanya Mbak Entin saat menyadari Fajar sudah rapi.

 

"Mau ke kafe baru dekat sekolahan, Mbak. Tadi Irwan telepon dan ngajak ke sana. Mau ikut?" tanya Fajar di akhir penjelasannya.

 

Mbak Entin memukul pelan lengan Fajar. "Jangan ngehasut, Mbak, deh. Ntar kalau tugas Mbak nggak selesai, kuliah Mbak amburadul, nanti Bapak marah, mau tanggung jawab?" rutuk Mbak Entin dengan senyum menantang. 

 

Fajar tertawa mendengarnya. "Ya ogah! Sekolahku saja nggak jelas, masa mau tanggung kemarahan Papa karena kuliah, Mbak," jawab Fajar sambil menggeleng. "Eh, Papa sama Mama mana?" tanya Fajar yang sadar akan tujuannya ke dapur.

 

"Ibu 'kan emang nggak pulang berapa hari ini. Kalau Bapak, katanya ada meeting. Jam setengah sembilan nanti selesai. Aden mau makan? Biar Mbak siapin dulu. Bi Minah lagi nyetrika soalnya," jelas Mbak Entin yang kelewatan rinci.

 

Fajar menggeleng. "Aku 'kan mau keluar, Mbak. Sana, Mbak berangkat terus. Nanti telat pulang kalau jam segini masih di rumah. Dimarahin Bi Minah ntar. Ribut ih dengar cerewetnya," ujar Fajar sambil terkekeh saat membayangkan Mbak Entin yang sering diomeli Bi Minah. Mereka pun tertawa bersama. "Yuk, keluar bareng, Mbak," sambung Fajar yang berlalu.

 

"Aden duluan dulu. Mbak izin sama Mak dulu sekalian kabarin kalau Aden nggak di rumah," ujar Mbak Entin yang berjalan ke arah yang berlawanan dengan Fajar.

 

Pria itu langsung keluar. Memilih keluar lewat pintu garasi. Lantas menunggangi motornya dan melesat meninggalkan pekarangan rumahnya yang kini sudah berubah sepi.

 

???????????? 

 

Peresmian pembukaan kafe sudah dilakukan tadi sore--tepatnya pukul empat. Kini, Musicia Cafee itu terlihat ramai akan pengunjung. Pegawai dan pemilik kafe terlihat mondar-mandir untuk memberi yang terbaik di hari pembukaannya. Dan begitu malam menyentuh pukul delapan, seorang gadis dengan rambut panjang dan mata besar itu duduk di atas kursi yang di depannya terdapat microfon.

 

Alunan suara indahnya terdengar merdu. Pengunjung semakin larut dalam kenyamanan yang diberikan oleh kafe tersebut. Semakin malam, kafe semakin ramai dan suara musik terus menemani mereka yang datang dan singgah untuk beberapa menit, bahkan beberapa jam.

 

Fajar masuk ke kafe yang tidak terlalu terbuka, juga tidak terlalu tertutup. Saat ia masuk, matanya langsung memutar ke penjuru arah sampai menetapkan pandangan pada pojok musik. Di sana ada seorang gadis dengan ditemani pria yang sedang bermain gitar. Ia mendengus saat melihat keduanya yang jelas tidak asing.

 

Fajar melihat Irwan yang tak jauh dari pojok musik sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia mendekat dan melewati pemusik dan penyanyi tanpa melirik ke arahnya. Saat ia sampai di sana, Irwan berbisik dengan sedikit keras, "Kafe ini rupanya punya orang tua Nada." Informasi itu keluar tanpa dimintanya. Fajar hanya mengangguk saja untuk merespons perkataan tersebut.

 

Musik selesai dan Irwan melambaikan tangan ke arah gitaris yang langsung meletakkan gitarnya dan berjalan ke arah meja mereka. Sebelumnya, ia sempat berpamitan pada Nada yang ikut melihat ke mana arah gitaris bayaran mereka melangkah. Dan jantung Nada berdebar saat melihat seseorang sedang berbicara dengan gitarisnya. Ia tak menyangka orang tersebut datang malam ini. Bahkan, tak berharap ia mengunjungi kafe tersebut.

 

"Kak Fajar ...."

 

Nada mengeja nama orang yang berhasil membuat harinya sedikit amburadul. Dilihat sang gitaris melambaikan tangan ke arahnya berharap ia menghampiri. Dengan amat malas, Nada melangkah ke tempat itu. Fajar bahkan tak melihat ke arahnya.

 

"Hai," sapa Nada begitu sampai ke meja nomor 101.

 

"Wuih, nggak nyangka suara lo bagus juga, ya, Nad. Nggak salah mak bapak lo kasih nama Nada Musicia Putri. Keren-keren," puji Irwan yang tampak berlebihan di mata Fajar. Nada tersenyum tipis menerima pujian tersebut. "Far! Nyanyi bareng Nada, gih. Tuh, Rian yang bakalan iringi kalian," sambung Irwan yang memberi ide.

 

Fajar dan Nada tersentak saat mendengar usulan tersebut. Mereka saling pandang dan sama-sama menggeleng.

 

"Malas nyanyi gue," ujar Fajar yang menolak.

 

"Aku ke belakang dulu, ya, Kakak-kakak. Mama sama Papa pasti lagi nyari," pamit Nada yang langsung bergerak meninggalkan meja tersebut.

 

Bernyanyi dengan Fajar? Itu adalah ide buruk baginya yang menolak kehadiran Fajar. Dan bagi Fajar, ia sangat malas dipermainkan oleh Irwan yang pasti sedang memiliki ide buruk untuknya.

Bab 10: Ngegosip

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1243

SarkatJadiBuku

Day15

-------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

----------------------------------------------------------

 

Memiliki anak yang cerdas di berbagai bidang menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua. Sayangnya, Fajar tidak mendapat dukungan demikian dari mamanya. Malah, wanita itu sangat menentang kemampuannya. Berbeda dengan papanya, ia pasti akan mendapat dukungan penuh. Namun, Lukman selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga ia tak bisa menyokong semangat Fajar dalam belajar--baik pelajaran umum maupun ekstrakurikuler. 

 

Lain halnya dengan Nada. Gadis itu mendapat sokongan penuh dari kedua orang tuanya. Lahir dari keluarga seniman, membuat ia menurunkan bakat mama-papanya. Hobinya didukung penuh oleh mereka. Suara merdunya terus diasah dengan latihan vocal yang tak sedikit biayanya. Dan pendirian Musica Cafee bukan semata-mata untuk mengais rizeki. Pemilik lebel Musicia Music itu mau tahu seberapa bersungguh-sungguhnya Nada.

 

Padahal, bisa saja ia meminta papanya membuat satu lagu untuknya agar menjadi terkenal. Namun, itu bukanlah cara Tomi membesarkan anak. Ia tak ingin memberi enak langsung kepada anak-anaknya. Mereka hanya diberi wadah, sokongan, lantas jika hendak berhasil mereka harus berusaha sendiri.

 

Seperti halnya kakak Nada, ia menuruni bakat lukis sang ibu. Bisa jadi ibunya memperkenalkan lukisan anaknya pada kolektor-kolektor yang dikenalnya. Tetapi ia tak melakukan itu. Ia memberi ruang untuk anaknya bergerak sendiri. Sekarang, Ananda Musicia Putra sudah menjadi pelukis terkenal sampai ke manca negara.

 

Orang tua mana yang tak bangga dengan prestasi yang didapatkan anak-anak mereka? Semua orang tua akan bangga. Namun, untuk mendapat hasil tersebut, orang tua harus membantu di belakang. Anak-anak tidak perlu bantuan yang berlebihan. uang dan fasilitas saja tidak cukup bagi mereka. Dukungan, semangat, dan kasih sayang adalah hal yang paling utama. Serta kesehatan mental anak sangat diperlukan agar ia siap menghadapi persaingan yang ketat. 

 

Hari ini adalah latihan terakhir untuk menghadapi turnamen taekwondo tingkat sekolahan se-provinsi. Fajar keluar ruang taekwondo dengan membawa surat undangan untuk kedua orang tuanya. Ia bingung harus memberinya pada siapa. Mamanya tidak ada di rumah. Jika ia mengirim pesan undangan ini, jelas tak akan datang karena Irma sangat tidak setuju Fajar ikut taekwondo. Sedangkan papanya, jelas ia tak akan pergi. Bukan karena tak mendukung, tapi ia selalu sibuk dengan pekerjaan. Lebih-lebih, tadi pagi ia mendapat kabar dai Bi Minah kalau Lukman sudah berangkat ke Medan untuk urusan pekerjaan.

 

Fajar selalu diajarkan Mbak Entin untuk tidak menyerah sebelum mencoba. Papanya juga pernah berkata, "Lakukan saja dulu. Kalau kamu hanya berdiam diri, tak akan tahu bagaimana hasil yang kamu dapatkan." Maka, berbekal dua ajaran tersebut, Fajar berjalan ke arah bangku yang terbuat dari semen di sudut lapangan. Ia meletakkan surat undangan tersebut di sisi paha kirinya. Dikeluarkannya ponsel dan memotret undangan tersebut. Ia mengirim gambar itu pada dua kontak yang isinya: 

 

Fajar: Ada undangan untuk Mama dan Papa. Besok aku akan ikut turnamen. Aku harap, kalian bisa hadir. Setidaknya, saat pembukaan acara.

 

Setelah mengirim pesan tersebut, Fajar meletakkan ponselnya di samping undangan yang tergeletak malas. Ia menyender tubuhnya dengan kepala menengadah ke atas. Tak lupa mata itu terpejam. Ia mencoba menghilangkan rasa penat yang tiba-tiba muncul. Penat itu bukan berasal karena ia baru saja melakukan latihan terakhir, melainkan saat ia memikirkan keadaan keluarganya yang amburadul.

 

Di ujung lapangan, seorang gadis dari tadi berdiri mengamati Fajar. Ia melihat ada banyak kesedihan di wajah tampan tersebut. Dirinya yang baru saja keluar dari ruang musik, langsung menangkap keberadaan Fajar. Dan saat melihat pria itu menjepret undangan, rasa penasaran semakin membuncah. Namun, ia tak berani melangkah. Jantungnya tidak sehat jika berada di dekat Fajar.

 

Seseorang lewat di hadapannya sedikit menganggu pemandangan indah Fajar. Pemuda yang duduk disirami matahari sore yang menyelip dari balik dedaunan memberi cahaya tersendiri bak fajar di pagi hari. Nada terpesona melihatnya. Sampai jantungnya mulai bereaksi kembali. Mau tak mau, ia menikmati rasa itu. Rasa nyaman yang berhasil mendebarkan jiwa.

 

Orang yang lewat tadi berhenti tepat di samping Nada. Ia melirik gadis itu yang tak berkedip sama sekali. Saat dilihatnya ke arah mana pandangan itu bertumpu, maka ia langsung berkata, "Lo suka Fajar? Sana, samperin! Anaknya memang cuek, tapi dia baik. Percaya, deh!"

 

Nada tersentak mendengar kicauan tersebut. Ia malu bukan main karena kepergok sedang menikmati indahnya sinaran Fajar. Dengan kelagapan, ia pun berkata, "Si ... siapa yang su ... suka? Aku cuma lagi kasian sama tuh anak. Kenapa murung begitu."

 

Rian tertawa mendengarnya. "Dek. Gue kenal lo dari kecil. Jadi gue tahu tuh mana Nada yang bohong dan yang jujur. Sudah, sana samperin. Akhir-akhir ini dia memang suka murung kata Irwan. Gue saja nggak berani ngomong sama dia," jelas Rian tanpa diminta oleh Nada tapi ia sangat membutuhkan informasi tersebut.

 

"Sedih kenapa, Kak?" tanya Nada yang penasaran.

 

Rian mengedikkan bahunya."Fajar itu aslinya pendiam. Dia akan bercerita banyak sama orang yang buat dia nyaman. Kayak Pak Leon, tuh," ujar Rian kembali memberi informasi.

 

"Apa karena diselingkuhin, ya, Kak?" tanya Nada yang memancing Rian untuk memberi informasi.

 

Rian menatap heran. "Tahu dari mana lo dia diselingkuhin? Bukannya lo nggak suka ngegosip, ya?" tanya Rian yang kini malah dirinya penasaran. 

 

Wajah Nada merah akibat malu karena tertangkap basah aksinya. Rian adalah sepupunya. Pria itu suka membantu papanya di lebel musik sejak kelas tiga SMP. Sejak kecil, mereka sering bersama karena Rian tinggal bersama mereka. Rian anak piatu. Papanya menjadi TKI di Korea Selatan dan lama tak pulang. Ia hidup dari kekayaan keluarga Nada. Dan berjanji untuk membantu mereka bagaimana pun caranya.

 

Maka, dari sanalah pembulian terhadapnya datang. Teman-teman yang sering sewa studio Musica Music pernah melihatnya menyapu di sana. Rian tak memperdulikan itu. Terserah orang mau memandangnya apa. Karena baginya, menjelaskan sesuatu pada orang yang tak mau mendengar sangat merugikan.

 

"Hayo, tahu dari mana Fajar diselingkuhin?" tanya Rian lagi yang semakin penasaran saat melihat wajah Nada memerah.

 

"Hmm ... dua minggu lalu, waktu anak taekwondo latihan pertama di jam sekolah, ada eksiden mengerikan. Fajar mukul samsak sampek melayang. Dan arahnya ke gue. Terus dia ngebantu gue. Nah, anak-anak kelas mulai deh ngeledek gue dan kasih tahu informasi itu. Gue nggak tanya kok. Mereka yang cerita," jelas Nada dengan wajah tertunduk.

 

Rian terkejut mendengarnya. "Lo hampir kena samsak karena dia? Wah, patut dikasih pelajaran itu anak," ujar Rian yang berapi-api dan hendak menghampiri Fajar.

 

Nada langsung menarik kerah baju pria tersebut. "Apaan sih lo, Kak? 'Kan gue sudah bilang dia ngebantu gue. Ish," rutuk Nada kesal.

 

Rian melembut. Ia mengembuskan napasnya pelan. "Oh, untung ...."

 

"Emang benar, Kak, dia diselingkuhin?" tanya Nada yang mulai kepo.

 

Rian mengangguk. "Iya. Niken selingkuh sama Bagas dan masih pacaran sampai sekarang," ujar Rian menjelaskan informasi tersebut.

 

"Emangnya Kak Fajar nggak marah? Nggak ngamuk? 'Kan dia tempramen." Lagi, Nada bertanya.

 

Rian mengedikkan bahu. "Waktu itu gue belum dekat sama Fajar. Nggak tahu tuh informasi yang benar gimana. Ada yang bilang, Fajar ngebiarin Niken sama Bagas asalkan dia bahagia. Ada yang bilang, Fajar hajar Bagas di ujung komplek sekolah. Nggak tahu mana yang benar," jelas Rian panjang lebar dan Nada menjawabnya dengan oh panjang yang merdu. "Sudah, sana! Kalau lo mau hibur dia, gih, sana," sambung Rian yang bergerak mendorong Nada.

 

Nada menggeleng kuat. Ia berkata, "Ogah!" Sambil berlalu dari sana. Ia tak mau berurusan dengan Fajar karena hal itu akan membuat kinerja jantungnya tak sehat. 

 

Ia pun tak mau meladeni perasaan itu karena mau fokus dengan apa yang harus dicapainya. Namun, matanya melirik sekilas Fajar yang masih berada di tempat. Rasa kasihan menjalar di tubuhnya. Ia ingin membantu, tapi tak mau dikatakan tukang ikut campur. Apalagi pertemuannya dan Fajar selalu tak mengenakkan.

 

Jadinya, ia memilih pulang saja. Informasi tentang Fajar sudah cukup membuat ia berdebar. Tak perlu harus mendekat lagi. Biarkan saja pria itu menikmati masalahnya yang tidak diketahui Nada.

Bab 11: Musicia Studio

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1158

SarkatJadiBuku

Dat16

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Sudah menjadi hal yang lazim, di saat kita tidak nyaman lagi di tempat kita tinggal, maka kita malas untuk pulang. Baik itu orang tua, anak-anak, suami-istri, jika sudah tidak nyaman, maka ia pasti merasakan hal tersebut. Begitu pun dengan Fajar. Ia ingin berlama-lama di luar rumah. Jika sudah pulang, kehampaan dan kesepian semakin besar dirasakannya.

 

Fajar melamun memikirkan nasib yang tak baik menghampirinya. Ia percaya akan cinta. Ia percaya akan kasih sayang. Namun, semuanya telah sirna. Mungkin, jika kekasihnya yang selingkuh, ia masih bisa memakluminya karena tak ada ikatan di antara mereka. Tetapi kini mamanya juga ikutan melakukan hal tersebut. Lantas mau masuk ke kategori mana? Wajar juga kah? Bisa dimaklumi juga kah? Tidak! Ia tak bisa melakukan itu. Mamanya dan Niken sudah membuktikan padanya tak ada cinta yang sejati seperti film-film yang ditontonnya. 

 

Fajar mengembuskan napas berat saat bangkit dari bangku semen tersebut. Diraihnya tas dan menyematkannya di punggung. Melakukan itu saja, ia terasa berat. Karena tandanya ia akan pulang. Ia akan semakin kesepian. 

 

Diraihnya ponsel yang berada di kantong celana. Menekan icon milik sahabatnya. Lantas saat panggilan itu terjawab, ia langsung berkata, "Lo di mana? Main, yuk!"

 

Dari seberang sana terdengar keriuhan. "Gue sama Rian baru saja sampai ke Musicia Studio. Tadi gue papasan dengan dia di parkiran. Ke sini gih. Dia tinggal di sini loh."

 

Fajar merasa tak asing dengan nama tempat tersebut. Namun, ia tak mau menerka di mana lokasinya. Maka ia berkata, "Share kok." Lantas ia mematikan ponselnya.

 

Tak lama, dentingan terdengar dan Rian mengirim lokasi Musicia Music. Jika ia boleh menebak, nama studio itu mirip dengan Musicia Cafee. Apa pemiliknya sama? Fajar bertanya pada dirinya sendiri. Namun, tak ingin banyak berpikir, setelah melihat dengan jelas lokasi yang tak jauh dari sekolahnya itu, ia langsung bergegas ke parkiran untuk menjemput motornya.

 

????????????

 

Sebuah ruko bertuliskan "Musicia Studio" dengan guratan kecil di bawahnya tertulis "Musicia Music". Di sisi parkiran ruko tersebut, ia melihat ada motor Irwan di sana. Tak salah lagi, ia sudah sampai di tujuan. Fajar langsung mematikan motornya dan dan bergegas masuk.

 

Saat melewati pintu, seorang pemuda bangkit dari duduknya dan berkata, "Selamat siang, Dik. Ada yang bisa kami bantu?"

 

Fajar tersenyum tipis. "Saya temannya Rian. Dia ada di dalam?" tanya Fajar yang ingat kalau Rian tinggal di sana.

 

Pemuda itu pun mengangguk. "Di lantai dua. Ada ruang bertuliskan Rian Musicia Putra. Itu kamarnya," ujar orang tersebut memberi informasi.

 

Fajar mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lantas ia langsung berjalan ke arah tangga dan naik ke lantai dua. Saat tiba, ia celingak-celinguk ke kanan-ke kiri untuk mencari posisi ruangan yang diinfokan. Dan begitu dapat, ia langsung ke sudut lantai dua ini dan mengetuk pintunya.

 

Teringat akan nama yang terdapat di tas milik Nada saat itu. Nada Musicia Putri. Namanya sangat sama dengan Rian Musicia Putra. Apa mereka adik abang? Tapi, kok nggak mirip, ya? Fajar menebak-nebak tapi tak ingin mengambil kesimpulan.

 

Irwan muncul dari balik pintu lantas memberi ruang untuk Fajar masuk. Dilihatnya kamar yang tak begitu luas tapi sangat tapi untuk dihuni oleh pemuda mandiri seperti Rian. Ada beberapa gitar dengan berbeda jenis digantung pada dinding. Melihat itu, Fajar langsung berkata, "Keren juga tempat tinggal lo. Ini studio punya lo?"

 

Rian yang sedang makan menyodorkan piring pada Fajar yang langsung diterima. Kebetulan, perutnya sedang keroncong. Ia duduk bersila dan menyendok nasi untuk pindah ke piringnya.

 

"Bukan. Ini punya om gue. Tuh, papanya Nada," jawab Rian yang tampak sengaja menyebut nama Nada. Fajar hanya meng-oh saja. Namun, terdapat rasa aneh saat temannya itu menyebut nama Nada. 

 

Tak lama, Irwan ikut bergabung dan menghabiskan kembali nasinya yang sempat ditinggal. L"sama Nada ada hubungan apa? Kok nama kalian sama?" tanya Irwan yang mulai memasang mode kepo.

 

"Sepupuan," jawab Rian singkat. 

 

Irwan mengernyitkan keningnya tak terima dengan jawaban tersebut. "Sepupuan kok namanya bisa sama?" tanyanya lagi yang tidak puas akan jawaban tersebut.

 

"Awalnya nama gue Muhammad Rian Amimi. Karena berkas orang tua gue nggak ada yang tersisa, Om Tomi ganti nama gue pakai nama keluarganya. Dan kebetulan nama anaknya Musicia semua, jadinya nama itu dikasih ke gue," jelas Rian panjang lebar dan terlihat santai. Baginya, inilah waktunya ia terbuka dengan teman-temannya agar tak dibuli lagi. Mungkin, melalui Fajar dan Irwan, ia bisa terbebas.

 

Fajar ikut mengernyitkan kening saat mendengar penjelasan tersebut. "Emangnya orang tua lo mana?" tanya Fajar yang ikut penasaran.

 

Rian melirik sejenak. "Kecelakaan pesawat," jawab Rian singkat dan berhasil mencuri perhatian kedua temannya yang langsung berhenti makan. Pusat perhatian mereka jatuh pada Rian yang tampak santai melanjutkan makannya. "Waktu umur gue empat tahun, kami pindah dari Amsterdam. Saat pesawat jatuh dan terbakar, berkas juga ikutan terbakar. Dan anehnya, gue nggak kenapa-napa. Kata mereka, gue satu-satunya penumpang yang selamat. Tapi, gue sudah nggak ingat lagi apakah itu benar atau tidak. Hanya saja, dari cerita Om dan Tante, bikin aku takut berpergian dengan pesawat," jelas Rian serinci mungkin padahal tak ada yang memintanya.

 

Fajar merasa bersalah karena sudah bertanya tentang orang tuanya pada Rian. Ia langsung berkata, "Sorry, Yan. Gue nggak tahu. Gue nggak bermaksud buat lo ingat kejadian itu lagi."

 

Rian terkekeh. "Santai, Bro. Gue biasa saja kok," jawab Rian yang mengakhiri sesi makannya dengan mengisap jari-jari dan bangkit masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Saat ia balik, Rian pun berkata, "Gue ada sesuatu untuk lo, Jar. Tapi, gue minta maaf dulu, nih. Gue ikutin gosip lo di sekolah, terus gue buat lagu ini."

 

Rian menghampiri meja belajarnya dan mengambil secarik kertas lantas meletakkannya di hadapan Fajar. "Waktu gue buat lagu ini di studio, Om Tom lihat dan katanya bagus. Cuma, gue nggak bisa nyanyi. Suara gue nggak bagus.Gue minta Nada nyanyiin ini tapi Om Tom nolak karena Nada harus belajar dari bawah. Semua anaknya termasuk gue begitu. Enggak boleh pakai lebel Musicia kalau belum punya karya di luar. Terus, gue bilang punya teman yang suaranya bagus. Itu sih kata Irwan. Mau buktiin nggak suara lo bagus?" tanya Rian di akhir penjelasannya. 

 

Fajar meraih secarik kertas itu dan membaca isinya. Engkau, yang slalu kucinta. Tak pernah kuduga, kau bisa mendua. Lantas setelah membaca kalimat itu, Fajar melihat ke atas Rian dengan pandangan tak percaya. "Dasar lo, ya! Tukang gosip di sekolah, ya?" tanya Fajar sambil terkekeh.

 

Irwan yang baru siap dengan makannya ikut mengintip ke arah kertas tersebut dan tertawa dengan ujaran Fajar. "Coba saja, Jar. Suara lo 'kan bagus. Lo multitalenta. Ini kita punya teman yang tinggal di studio, harus dimanfaatin," ujar Irwan yang bercanda.

 

"Tanpa Rian di sini juga gue sanggup bayar studio," sahut Fajar yang tak terima.

 

Irwan terkekeh kecil. "Bercanda, Bro," ujarnya yang membela diri.

 

Fajar menyelesaikan makannya. Dengan gesit Rian meraih gitar yang tergeletak manja di sisi ranjang. Lantas ia memainkan musiknya dengan Fajar yang menyimak setiap notnya. Dalam hati Fajar berkata, gue bisa saja jadi penyanyi bagaimana pun caranya. Toh, Papa punya banyak uang. Tapi kalau Rian, dia butuh orang untuk mewujudkan kalau dia bisa jadi musisi. Demi lo, Yan, gue mau bernyanyi.

Bab 12: Fajar dan Nada

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1154

SarkatJadiBuku

Day17

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Setiap orang pasti akan memberikan yang terbaik versinya. Baik itu nantinya akan membuat kita menang atau kalah. Yang terpenting, kita sudah meluahkan semua kemampuan yang kita punya.

 

Turnamen taekwondo tingkat sekolahan se-provinsi akan dimulai. Saat ini Fajar tengah mempersiapkan diri. Teringat akan turnamen tahun lalu. Ia ditemani oleh orang tersayang. Saat itu, Niken masih ada di sisinya. Gadis itu selalu menemani dan mendukungnya. Ia akan bersorak paling kencang. Ia akan menyambut Fajar setelah pertandingan selesai. Namun, kali ini tidak dirasakan lagi. Niken sudah tidak berdiri di antara para penonton dan pendukung. Niken tidak berdiri lagi di antara Pak Leon dan teman-temannya. Bahkan di posisi penonton dan pendukung pun tidak. 

 

Di tengah lapangan sana, Fajar baru saja menginjak matras. Ia memberi salam pada lawannya. Terlihat Fajar tak bersemangat. Ia pikir, orang tuanya akan datang. Namun sayang, pesannya kemarin saja tak dibalas. Papanya malah tidak aktif.

 

Lawannya mulai menyerang dan untungnya Fajar bisa mengelak. Pertarungan terlihat sangat sengit sampai lawan terjatuh dan Fajar dinyatakan menang pada babak pertama. Biasanya, ia akan tersenyum bahagia. Namun, hari ini wajahnya tampak datar dan biasa saja. Ia kembali berkumpul dengan teman-temannya dan duduk di bangku peserta.

 

Bertanding di pagi hari masih membuat otot-ototnya bekerja dengan baik. Untung sekali ia mendapatkan urutan keenam dalam pertandingan tersebut. Jadinya, kini ia bisa santai. Ah, tidak! Memang sedari tadi ia tampak santai. Bahkan ia tak berharap bisa mengalahkan lawan. 

 

Di bangku penonton dan pendukung, Nada terus melihat gerak-gerik Fajar. Ia merasa tertarik dengan kemurungan Fajar sedari kemarin. Dirinya seperti hendak membantu Fajar jauh dari kemurungan tersebut. Namun, ia tak punya nyali. Ia tak ingin jatuh cinta pada pria tempramen seperti Fajar. Maka, dirinya kini hanya melihat Fajar dan kejauhan bersama teman-temannya dan Rian yang lagi bersorak-sorai menyemangati tim sekolah mereka. 

 

Sesi pertama selesai. Orang-orang bubar untuk beristirahat. Rian yang diberi amanat oleh Tomi untuk menjaga Nada di mana pun mereka berada, langsung menariknya menuju ke Fajar dan Irwan. Untuk pertamakalinya, Nada dan Rian berinteraksi secara terang-terangan di publik sekolah. Di sana ada teman-teman Nada yang menatap aneh pada Rian si anak khalayan--sebutan Rian dari orang yang membulinya--yang tampak dekat dengan Nada. Dan anehnya, gadis itu tak risih berdekatan dengannya. Mereka pun bertanya-tanya, apakah Nada dan Rian memiliki hubungan khusus? Atau bahkan asmara? Membayangkan itu, mereka mengedik sendiri. Tak menyangka anak berprestasi dan famous seperti Nada bisa dekat bahkan pacaran dengan orang yang diisukan sebagai tukang sapu tersebut. Mereka ingin menghindari Nada karena tak sudi berteman dengan kelas bawah, tapi rasa penasaran semakin besar di diri mereka. Terlebih, mereka punya kesempatan bersehai dengan Fajar.

 

"Jar!" sapa Rian dengan mengangkat tangannya untuk tos ria ala mereka. Irwan menyambutnya dengan semangat sedangkan Fajar tidak. Ia malah tak beranjak dari sana. "Selamat, ya, kalian. Masuk babak kedua, nih," ucap Rian dengan bangga. 

 

Fajar hanya mengangguk kecil. Sedangkan Irwan dengan berapi-api menceritakan pertandingan tadi--tak peduli Rian melihatnya sampai habis.

 

Dari jarak sedekat ini, Nada bisa melihat wajah Fajar yang tampak malas dan letih. Matanya cekung dengan ditemani lingkar hitam. Rahangnya mengeras seperti sedang menutupi amarah. Entah dorongan dari mana, Nada mendekat. Berbekal botol minum berwarna biru yang sudah diminumnya setelah, Nada memberanikan diri menyapa Fajar. Ia duduk di samping Fajar dan memberinya botol minum tersebut. "Nih, minum," ujar Nada yang hanya melihat sodoran tangannya. 

 

Orang-orang di sekitar mereka sibuk mendengar celotehan Irwan sehingga tidak menangkap kegiatan ganjil tersebut. Seorang Nada Musicia Putri paling tidak berani mendekati pria entah apa alasannya--kecuali teman sekelasnya. Ia jauh dari gosip pacaran. Hanya gosip prestasi--apalagi di bidang musik--yang melingkari tubuhnya.

 

Fajar menatap botol minum tersebut. Ia tak langsung mengambilnya karena merasa baru saja minum. Nada sekali lagi menegaskan untuk mengambil itu saat Fajar menatap siapa orang yang di sampingnya. Melihat sosok Nada yang memaksa, ia mendengus dan mengambil botol tersebut. Dibukanya benda berbentuk tabung itu dan meminum isinya. Cokelat cair yang sudah dingin. Ini adalah minuman kesukaannya.

 

"Makasih." Hanya sepatah kata itu saja yang keluar dari mulut Fajar.

 

Nada mendengar itu pun tersenyum. Ia berbisik, "Jangan suka murung. Nanti jelek. Nanti nggak ada lagi orang yang mukul samsak kencang-kencang sampai melayang. Nanti nggak ada lagi orang dengan mata cepat untuk membantu siapa pun yang akan terkena samsak." Dan terkekeh di akhir ucapannya. 

 

Fajar ikut terkekeh. "Masih ingat saja," ujar Fajar yang melirik Nada. Ia kembali menegakkan botol minum tersebut dan merasakan nikmatnya cokelat mengalir di tenggorokannya.

 

"Gimana nggak ingat. Waktu itu hidupku dipertaruhkan. Antara selamat, mati, atau geger otak," ujar Nada dengan irama suara menyindir.

 

"Sorry, ya," ucap Fajar dengan tulus. Ia melihat ke samping dan wajah Nada langsung berada di hadapan wajahnya. Senyum menghiasi wajah chubby tersebut. "Dan makasih sudah ngebantu gue waktu itu," tambah Fajar yang merasa bersalah karena tak tulus saat itu. 

 

Nada tersenyum lebar dan mengangguk. Lantas ia melihat ke depan untuk memastikan tak ada yang memerhatikan mereka. "Sama-sama," ujar Nada ceria. Tak lama, ia pun mendesah lega, "Ah, akhirnya aku mendengar suara tulus Kak Fajar bilang makasih."

 

Mendengar itu, Fajar bisa tertawa lepas. Sudah lama sekali rasanya ia tak melakukan itu. Dan heran pada dirinya sendiri karena bisa melepaskan beban dengan tertawa oleh ucapan Nada yang sebenarnya biasa saja.

 

"Kita belum kenalan. Aku Nada," ujar Nada yang menyodorkan tangannya di hadapan Fajar.

 

Fajar mendengus. Entah kenapa, jika dengan gadis ini ia keseringan mendengus. "Nada Musicia Putri. Sepupu Rian Musicia Putra. Anak pemilik lebel Musicia Music sekaligus musisi terkenal Tomi Musica Putra. Gue tahu itu dan lo tidak perlu memperkenalkan diri begitu," ujar Fajar yang terlihat sombong saat menjelaskan hal yang diketahuinya.

 

Nada terperangah. Ia tak menyangka orang yang tampak cuek seperti Fajar mengetahui tentang dirinya. Ia pun bertepuk tangan pelan dan berakhir sedikit keras. Dengan senyum ia berkata, "Kakak hebat! Baru kakak orang pertama yang tahu aku dan Kak Rian sepupuan."

 

Fajar tersenyum. Terbesit rasa hangat dan nyaman saat melihat Nada berbicara dan tersenyum. Mereka pun sedikit mengobrol perihal kedekatan Rian dengan Fajar dan Irwan. Sesekali Fajar kembali meneguk cokelat tersebut. Rasanya seperti candu untuknya. Dan ia ingin lagi dan lagi. 

 

Dari sudut lain yang berdiri melingkar, Rian melihat dengan baik interaksi Fajar dan Nada. Ia tak menyangka adik kecilnya yang selalu diawasinya itu berani mendekati Fajar. Ia tahu pria itu sedang banyak masalah dan murung. Sedikit bersyukur melihat pemandangan hari ini. Fajar bisa tersenyum dan sesekali tertawa lagi. Ia berjanji akan terus membantu Fajar merasa tidak sendirian karena pria itu sudah baik menolongnya. Tomi menanamkan sebuah prinsip pada anak-anaknya, bersikap baiklah dengan orang yang baik padamu. Balasan memang tak pernah sama. Namun, berbuat baik bisa dari jalan mana pun. Ia mengambil ponsel secara diam-diam. Ia tak mau teman-teman Nada menyadari gerak-geriknya yang akan memotret Nada dan Fajar. Suatu saat, foto ini pasti akan berarti bagi kedua orang yang ia sayangi itu. Dan ia berharap, pemandangan itu akan terus berlanjut. Karena ia melihat, ada kemestri lain di antara Nada dan Fajar yang tidak dimengerti.

Bab 13: Diserang Lagi

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1047

SarkatJadiBuku

Day18

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Idealnya, manusia hidup berdampingan satu sama lain. Saling bertegur sapa dan membagi kisah. Bukan saling menghindar seakan ia tak ada di dunia. Namun, itulah yang dilakukan Fajar. Ia tak ingin mencolok seperti dulu. Ia mencoba dirinya tak dikenal lagi. Bahkan, di rumahnya sendiri ia berbuat seakan dirinya hanya makhluk halus yang hidup berdampingan dengan manusia dan berkegiatan tanpa diketahui oleh orang-orang. Sayangnya, itu tak akan terwujud seperti yang diharapkan Fajar. Walaupun ia sudah berusaha cuek, orang pasti tetap akan melihatnya. Kecuali ia mati dan hidup menjadi hantu. Setiap orang yang memiliki amarah dan dendam, hidupnya pasti tidak bahagia. Ia akan terus mengingat kemarahan dan dendam tersebut. Hal itu yang terjadi pada Bagas. Setiap kali ia melihat Fajar berkeliaran di depannya, ia ingin membunuhnya. Padahal, Fajar mencoba untuk tidak menunjukkan diri. Namun, itu tidak berhasil karena Bagas sendiri yang akan terus mencari tahu apa yang terjadi pada pria bertubuh tinggi dengan lesung pipit dan gigi gingsul tersebut. Bagas mengikuti Fajar dari belakang saat melihat pria itu meninggalkan kantin. Begitu mendapatkan celah--karena Fajar berbelok ke arah toilet yang sepi--ia langsung mendekat dan menarik kerah seragam Fajar. Ia melayangkan tinju dengan keras di perut Fajar. Sayangnya, perut kotak-kotak itu tidak terlalu merasakan sakit yang diberikan Bagas. Karena menurutnya, ada yang lebih sakit dari pukulan tersebut. Tidak cukup satu, pukulan selanjutnya pun bersusulan. Fajar hendak melihat siapa yang menghajarnya, tapi ia tak bisa karena pukulan datang silih berganti tanpa mengizinkan dirinya melawan ataupun melihat siapa orangnya. Sampai celah datang, ia membuka mata dan mendengus saat melihat orang yang menghajarnya. Dengan cepat, ia meraih tangan tersebut dan membawanya ke belakang. "Kenapa lo selalu meluapkan amarah lo sama gue? Kenapa nggak ke mama gue langsung? Gue nggak ikut campur urusan keluarga. Jadi, jangan nyerang gue!" desis Fajar yang ikut tersulut emosi. Napas mereka beradu dengan tidak teratur Bagas melawan dengan kuncian tangan tersebut. "Karena lo darah daging orang yang sudah ngerusak kakak gue. Jadi, lo juga berhak ngerasain itu," sahut Bagas yang tampak kesakitan karena Fajar mempererat tangan tersebut ke belakang tubuh Bagas. Fajar lagi-lagi mendengus. "Lo memang pengecut, Gas. Dulu, lo selingkuh dengan Niken tanpa berani menunjukkan diri. Begitu kami putus, lo baru umbar-umbar kemesraan. Sekarang, lo juga nggak berani berhadapan langsung dengan mama gue atau Dion. Pengecut!" hardik Fajar yang tersulut emosi. Ia melepas tangan tersebut dengan dibarengi oleh layangan tinju darinya. Tak cukup satu, tinju selanjutnya pun ikut bersusulan. Sampai ia mendengar suara langkahan yang tergesa-gesa pun, ia masih meninju Bagas. Tak perduli itu guru atau siswa yang lewat. Amarahnya sudah diujung tanduk. Dan ia harus meluapkannya agar tenang. "Kak Fajar, berhenti!" Satu intrupsi tak diindahkan Fajar. Bagas yang sudah tersungkur ke lantai pun semakin dihajarnya. Sampai ia merasakan sebuah tarikan hebat dengan diiringi kata, "Cukup, Kak! Lo nanti dia pingsan!" Napas Fajar terengah-engah dalam pelukan seseorang. Ia tak membalas pelukan erat tersebut. Ia menatap Bagas dengan penuh amarah. Pria itu mencoba berdiri dengan dibantu oleh Lolita dan Ririn. Ia tampak lemah tapi mencoba untuk tetap berdiri tegak. "Untung mereka datang. Kalau nggak, lo habis di tangan gue," ujar Fajar dengan wajah merah akibat amarah yang membara. "Gue ingatin lo sekali lagi, Gas. Gue nggak ada sangkut pautnya dengan perselingkuhan itu. Bahkan gue nggak peduli kalau dia hamil anak Dion. Gue marah, Gas, bukan cuma lo doang. Tapi gue cuma anak. Yang bahkan keberadaan gue sekarang sudah enggak diinginkan lagi. Setidaknya lo harus bersyukur karena Dion nggak jadi nikah sama kakak lo. Bayangkan kalau mereka nikah, dan anak mereka terlantar kayak gue. Pasti rasanya lebih sakit dibandingkan yang dirasakan kakak lo sekarang. Yang seharusnya lo kasihanin itu gue. Karena gue sudah kehilangan orang yang gue cinta, dua sekaligus. Dan kehilangan kepercayaan sama yang namanya cinta sejati," sambung Fajar dengan tatapan datarnya tapi tajam menusuk relung hati Bagas. Fajar melepaskan pelukan itu dengan lembut--karena keberadaan Ririn dan Lolita, serta harum parfum vanila tersebut sudah memberi jawaban siapa yang memeluknya saat ini--lantas pergi dari sana. Ia bahkan tak berbalik untuk sekadar berkata terima kasih. Namun, Nada tidak marah. Ia malah iba setelah mendengar perkataan Fajar tadi. Sekarang, pandangannya jatuh pada Bagas. Ia tersenyum merendahkan dengan berkata, "Lo nggak jantan, Kak. Tahunya cuma bikin sakit hati orang saja. Betul kata Kak Fajar, seharusnya lo bersyukur atas kejadian itu. Lo bisa tahu mana pria yang baik untuk kakak lo dan mana yang tidak. Ayo, Ta, Rin." Lantas Nada juga berlalu. Meninggalkan Bagas yang merenungkan ucapan Fajar dan Nada. *** Memang lukanya tidak terlalu parah dibandingkan dengan luka hatinya. Namun, ia perlu mengobatinya agar Mbak Entin dan Mbok Minah tidak panik lantas mengabarkan Irma sehingga ia kena marah lagi. Jadinya, usai dari koridor toilet tadi, ia langsung ke UKS. Niat hati tadi hendak membuang hajat, kini pergi begitu saja. Bahkan, perutnya tidak lagi mules seperti terbang bersama dengan pukulan Bagas yang mendarat di wajahnya. "Sasa. Gue minta batu es dong sama anti biotik," ujar Fajar begitu masuk ke UKS dan menemukan Sasa--teman sekelasnya--sedang menonton BTS di ponselnya. Ia langsung bangkit mengambil permintaan Fajar dengan cepat begitu menangkap orang yang disukanya masuk dengan wajah memar di pipi dan luka di sudut bibir. "Lo kenapa, sih, Jar? Berantem lagi?" tanya Sasa yang tiba dengan barang permintaan Fajar. Ia langsung menarik Fajar duduk di atas brankar dan meletakkan batu es ke dalam kasa lantas mengompres pelan pipi Fajar. Pria itu mendesis dan mencoba meraih kasa tersebut. "Gue bisa sendiri. Lo balik saja ke meja jaga," ujar Fajar dengan lembut dan tersenyum manis. Jantung Sasa berdegup kencang. Sudah setahun lebih lamanya ia jatuh cinta pada pria bergigi gingsul tersebut. Namun, ia tak berani mengatakannya. Apalagi saat tahu ia begitu mencintai Niken, Sasa mundur secara perlahan tapi masih mencoba memberi perhatian kecil pada pria tersebut. Dari arah pintu, terdengar kaki yang berjalan tergesa-gesa. Ia masuk ke ruang yang terdapat Fajar di dalamnya. Dengan cepat ia memukul lengan Fajar sambil berkata, "Kakak suka banget sih berantem. Nggak kasian apa sama mukanya?" Fajar terkejut dengan terjangan tiba-tiba tersebut. Apalagi dengan cepat kasa itu berpindah tangan. Sasa yang melihat itu patah hati lagi. Ia langsung pergi dari sana dengan murung. Dari luar, ia mendengar perdebatan antara Nada dan Fajar yang terlihat mesra walaupun cara mereka seperti orang berkelahi. Dan tawa Fajar membuat ia iri. Ia ingin berada di posisi itu.

Bab 14: Jatuh Cinta

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1131

SarkatJadiBuku

Day19

------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Cinta akan tumbuh begitu saja dalam diri seseorang. Tidak tahu bagaimana perasaan tersebut bisa tersemat di sana. Maka dari itu, banyak orang jatuh cinta pada pandangan pertama dan perasaan tersebut tidak bisa diremehkan. Terkadang, cinta pada pandangan pertama lebih kuat dibandingkan cinta yang datang seiring berjalannya waktu. Namun, bagi Nada, ia tidak tahu cinta itu kapan tumbuh di hatinya. Apakah di saat pertama kali ia membantu Fajar dari serangan Bagas, atau saat samsak melayang di atasnya, atau saat Fajar mengunjungi kafenya di hari pembukaan pertama, bisa jadi juga di saat ia tak sengaja memandang Fajar yang sedang murung dari jauh, atau di saat hari turnamen babak pertama sekolahnya, dan besar kemungkinan juga di saat ia lagi-lagi menolong Fajar dari hajaran Bagas tadi. 

 

Perasaan tersebut bisa muncul kapan saja .... 

 

Begitu Fajar meninggalkannya dan usai menyampaikan isi hatinya pada Bagas, ia langsung berlari mengejar pria tersebut. Ia mencarinya ke kelas Fajar, yang didapatinya hanya tatapan aneh dari kakak kelasnya. Kembali ia berlari ke kantin dengan kecepatan cepat, ia pun tak mendapatkannya. Sampai ia bertanya pada satu siswa yang menunjuk ke arah UKS, dengan cepat ia kembali berlari ke sana. 

 

Nada masuk ke UKS dan menyibak tirai salah satu kamarnya. Ia langsung mengambil kasa berisi batu es di tangan Fajar dan langsung mengompres memar dan luka tersebut. Entah keberanian dari mana, ia pun melakukan tersebut. "Kakak kok suka banget berantem, sih? Nggak sayang apa sama mukanya?" tanya Nada dengan wajah yang penuh rasa khawatir.

 

"Sshh, sakit, Nad. Pelan-pelan kenapa," desis Fajar yang menahan sakit karena ditekan sedikit kencang pada memarnya.

 

Nada menatap tak percaya pada ujaran Fajar. "Segini Kakak bilang sakit?" tanya Nada yang kembali menekan memar tersebut dengan kencang. Dan Fajar lagi-lagi mengaduh. "Berantem nggak sakit. Giliran dikompres sakit. Cemen amat sih, Kak?" tanya Nada dengan tampang meledeknya.

 

Fajar mendengus mendengar hinaan tersebut. "Setidaknya gue nggak pengecut kayak Bagas." Fajar membela diri. Dan Nada tertawa mendengarnya.

 

"Ya, ya. Kakak bukan pengecut. Tapi pemukul yang hebat," ujar Nada yang kembali meledek. Mereka tertawa bersama dengan tangan Nada yang terus bergerak mengompres memar tersebut.

 

Saat tawa mereka mereda, Fajar dengan tulus berkata, "Makasih, ya. Lagi-lagi lo ngebantu gue." Ia menatap lekat ke wajah Nada yang tampak serius mengompres lukanya.

 

Seketika, Fajar seperti terbius oleh wajah Nada yang begitu dekat dengannya. Matanya yang bulat dengan pupil yang bening, hidungnya yang tidak mancung dan juga tidak sedang, pipinya yang chubby tanpa jerawat seperti gadis-gadis puber lainnya, bibir tipis merah jambu yang disapu dengan lip serum, dagu lancip yang sempurna dipasang dengan wajahnya. Tampak manis dan cantik. Tanpa disadar, Fajar terbuai dengan pahatan wajah Nada. Ia pun tersenyum melihat tersebut.

 

Sedangkan Nada, ia sedari tadi mengomel panjang. Sampai matanya menangkap tatapan Fajar yang menganggu dirinya. Entah setan mana yang merasuki dirinya, ia pun ikut memandang mata Fajar dengan lekat. Sampai Fajar mengeluarkan suara yang berkata, "Kamu cantik."

 

Wajah Nada tersipu malu. Ia pun memutuskan jarak di antara mereka. Bergerak ke arah nakas dan meletakkan jasa di baskom lantas mengambil antibiotik dan katembat. Ia mengoles antibiotik di sana dan kembali mendekat ke arah Fajar untuk mengoleskannya pada sudut bibir yang terluka.

 

"Makasih," ucap Fajar lagi begitu Nada selesai mengoleskannya.

 

"Jangan berantem lagi," ujar Nada memperingati. 

 

Ia mendekat pada Fajar dan merapikan rambut Fajar yang berantakan akibat perkelahian tadi. Entah dorongan dari mana, ia melakukan hal tersebut. Ia pun sadar ada rasa yang menyenangkan terselip saat ia melakukan hal tersebut. Dan rasanya menjadi candu sendiri. Jantungnya pun berdebar sehingga ia sadar, bahwa ia telah jatuh cinta pada Fajar. 

 

Saat sadar bahwa perbuatannya salah, Nada langsung mundur selangkah. Fajar yang merasakan perubahan itu merasa kehilangan. Namun, ia tak berani menahan Nada yang menjauh. "Aku tinggal dulu, ya, Kak. Teman-teman pasti nunggu. Bentar lagi juga sudah masuk. Bye, Kak," ujar Nada yang berlalu keluar dari sana. Fajar hendak menahannya, tapi Nada sudah berlalu begitu cepat. Kehampaan dan kehilangan semakin dalam dirasakannya. 

 

Lagi-lagi ia merasakan perasaan tersebut. Fajar merasakan ini saat kehilangan Niken, saat kehilangan mamanya, dan kini saat Nada pergi padahal tak ada hubungan apa-apa antara dirinya dengan Nada. Sampai ia mengambil kesimpulan, bahwa ia telah jatuh cinta. 

 

Fajar menggeleng kuat untuk mengusir pikiran tersebut. Nggak ada cinta yang sejati, Jar. Itu cuma perasaan nyaman doang. Nanti juga lo bisa lupain Nada. Itu cuma karena dia baik hari ini sama lo. Nanti atau besok, kalau ketemu Nada, pasti lo nggak ngerasain ini. Ya! Itu cuma karena Nada bersikap manis doang. Fajar meyakini diri sendiri bahwa itu hanya perasaan mampir doang. 

 

Fajar turun dari brankar dan tak lama Sasa pun muncul. "Mau obat anti nyeri?" tanya Sasa dengan wajah datar. Ia hendak ambil start saat Nada keluar tadi, tapi rasanya sia-sia. Fajar menggeleng sambil melambaikan tangan. "Nggak usah. Makasih banyak, ya, Sa," ucap Fajar yang berlalu keluar UKS. Kini, ia lah yang meninggalkan perasaan hampa pada Sasa yang tampak kecewa.

 

*** 

 

Giliran jadwal turnamen babak dua untuk SMA Internasional Nusa Bangsa jatuh pada hari ini. Fajar kembali masuk ke lapangan untuk keduakalinya. Suasana lapangan terlihat senyap untuk memberi konsentrasi penuh pada pemain. Fajar memberi salam pada lawan dan dengan cepat mengambil celah. Fajar terjatuh dan bangku dengan cepat. Ia pun mengambil celah dan menjatuhkan lawan yang tak bisa bangun lagi.

 

Suara pendukung dari SMA Internasional Nusa Bangsa bersorak bahagia. Fajar dinyatakan masuk ke semi final. Dengan selesainya Fajar bertanding di babak ini, maka selesailah turnamen untuk hari ini. Orang-orang langsung bubar begitu mendengar pembaca acara mengumumkan bahwa pertandingan selesai.

 

Mata Fajar menangkap sosok Nada yang berlalu tanpa mengikuti Rian yang mendekat ke arahnya. Melihat itu, Fajar merasa semakin kehilangan. Fajar menyadari ada perubahan pada diri Nada setelah ia mengucapkan bahwa gadis itu cantik. Setelah kejadian di UKS kemarin, Nada menghindar darinya. Hal tersebut berhasil membuat ruang kosong di hati Fajar.

 

Saat teman-temannya mengerumuni dirinya--hendak mengucapkan selamat--Fajar pun pergi dari sana dengan cepat. Walaupun ia menolak adanya cinta sejati dan perasaan itu di hatinya, ia tidak bisa mendapatkan perilaku tersebut dari Nada. Setelah ia diberi rasa nyaman, lantas dirampasnya dengan cepat. Ia tak bisa menerima hal tersebut. 

 

Namun, saat ia  keluar dari lapangan, tak ditemukannya Nada. Bahkan, di parkiran pun ia tak melihat adanya sosok Nada di sana. Ia mengembuskan napas dan merasa kecewa. Setelah memastikan Nada tak ada di sana, ia pun langsung kembali masuk ke lapangan. 

 

Sedangkan di dalam mobil Honda Brio berwarna merah, Nada melihat Fajar yang gelisah dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin. Hal itu dilakukan untuk menipu diri sendiri bahwa ia tak jatuh cinta. Padahal, ia sadar bahwa cinta itu ada. Namun, ia tak mau larut terlalu dalam saat mengetahui kabar bahwa Fajar tak lagi percaya cinta. Ia menghindar karena tak ingin jatuh cinta terlalu dalam dan membuat ia terluka. Nada akan selalu membuat masa remajanya penuh dengan cinta dan tawa, tanpa ada rasanya sakit dan kehilangan.

Bab 15: Musicia Studio 2

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1164

SarkatJadiBuku

Day20

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Bernyanyi adalah salah satu cara untuk kita menikmati hidup. Terkadang, kita menyanyikan lagu gembira kalau sedang bahagia. Kita akan menyanyikan lagu mellow kalau sedang bersedih. Begitu juga jika kita mendengarkan musik. Ada tuntutan perasaan yang harus kita puaskan saat mendengarkannya. 

 

Suara alunan musik galau sedang diputar oleh Fajar. Ia duduk di lantai balkon dengan background langit ditemani bintang. Ia sedang meratapi hidupnya yang kacau. Mulai dari perselingkuhan mamanya, lanjut ke perselingkuhan Niken dan Bagas, sampai kehampaan hatinya kala Nada tak menghampirinya di turnamen tadi.

 

Belum lagi saat ia pulang tadi, dirinya mendapat kabar bahwa sang papa ternyata tidak lagi di luar kota. Lukman pindah ke ruko kosong yang roof topnya digunakan Fajar, karena berpikir mamanya akan pulang ke sini--ternyata tidak. Mereka akan menjalankan sidang keputusan besok. Setelah mendapat kepastian pada siapa rumah ini dan hak asuh Fajar jatuh, baru semuanya distabilkan kembali. Baik Irma yang akan pulang atau Lukman. Namun, terbesit doa pada diri Fajar, bahwa ia berharap rumah dan hak asuhnya jatuh pada papanya. Kalau pun rumah ini tak jatuh ke tangan Lukman, ia tetap ikut ke mana pun papanya akan melangkah. Walau harus keluar kota sekali pun.

 

Ia tak sudi tinggal bersama Irma. Bahkan, ia jijik melihat orang tuanya itu. Rasa cinta dan kasih sayang pun terhempas entah ke mana. Hanya jijik dan benci yang timbul padanya.

 

Fajar yang lelah meratapi nasib, mematikan musik yang diputar di ponselnya. Bangkit berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka. Ia melihat wajahnya yang tampak kurus di cermin kamar mandi. Memang akhir-akhir ini ia sedang banyak pikiran--ditambah lelahnya turnamen. Ia tersenyum getir saat lagi-lagi membayangkan hidupnya yang berantakan akibat orang tuanya sendiri.

 

Selesai membasuh wajah dan mengelapnya pakai handuk bersih, Fajar pun langsung keluar kamar mandi. Ia hendak menghabiskan waktu di luar rumah. Terbesit ingin ke roof top kesayangannya, tapi ia belum siap jika harus bertemu sang papa. Jadi, ia memilih akan ke rumah Irwan atau ke kafe yang tak jauh dari rumahnya.

 

Saat Fajar hendak menggunakan jaket, tak sengaja ekor matanya menangkap secarik kertas yang tergeletak di atas nakas. Ia mengambilnya dan melihat isi kertas tersebut. 

 

Lirik lagu ciptaan Rian ....

 

Teringat tempo hari saat ia mengunjungi Musicia Studio yang membuahkan hasil ia pulang dengan membawa secarik kertas ini. Ia menolak menyanyikan lagu ini karena kesukaannya adalah lagu jazz--bukan lagu mellow serba galau seperti ini. Namun, jika diteliti isi per baitnya, sangat menyentuh perasaan Fajar yang pernah merasakan hal ini. 

 

Dirinya memang sangat ingin menjadi penyanyi tapi tidak memanfaatkan uang sang papa. Sedangkan Rian pula sangat ingin jadi musisi hebat tapi ia tak punya suara emas. Dalam hati terbesit pikiran, kenapa nggak coba saja, ya? Bantu teman nggak salah bukan? Toh, lo bakalan kecipratan untung. Bahkan, lo yang lebih untuk ketimbang dia kalau lagu ini terkenal.

 

Maka dengan cepat, Fajar mengambil ponselnya dan menelepon kontak Rian. Saat tahu di mana posisinya berada, Fajar langsung keluar kamar. Pamitan pada Mbok Minah dan Mbak Entin. Lantas melesat keluar perkarangan rumah.

 

*** 

 

Fajar memarkirkan motor di depan Musicia Studio. Saat ia membuka helm, Rian langsung keluar menyambutnya dengan senyum yang mengembang. "Akhirnya lo mau nyanyiin lagu itu. Yuk, Om Tom sudah nunggu lo di dalam," ajak Rian yang berlalu diekor oleh Fajar.

 

Untuk pertamakalinya ia keluar tidak mengajak Irwan--kecuali ke roof top, karena itu adalah tempat rahasianya. Saat masuk ke ruang Studio-4, di sana sudah menunggu bapak-bapak yang ternyata menurunkan kemiripannya pada Nada, yakni matanya yang bulat. Fajar tersenyum dan mencium tangan Tomi. Melihat itu, ia tersentuh. Tak ada pemuda yang langsung mencium tangannya sebelum berkenalan.

 

"Ini yang namanya Fajar?" tanya Tomi pada Rian yang sedang menghidupkan alat rekaman. Rian menjawabnya dengan anggukan kepala. 

 

Fajar melihat kegiatan Rian yang tampak lincah dan tidak canggung. Bisa diambil kesimpulan bahwa Rian sering melakukannya dan tidak awam lagi dengan dunia musik. Lantas, ia berpikir, kenapa Rian tidak memberi lagu-lagunya pada artis-artis yang sering menggunakan studio ini? Akan disimpan pertanyaan itu agar ia tahu jawabannya nanti.

 

"Suka nyanyi?" tanya Tomi yang memecahkan keheningan saat Fajar sedang memerhatikan kelincahan Rian di ruang tersebut.

 

Fajar mengangguk canggung. Mengingat Tomi adalah ayah Nada, membuat ia semakin serba salah. Padahal, tak ada hubungan apapun di antara mereka.

 

"Ya sudah, masuk gih. Rian sudah membuat musik untuk lagu itu beberapa hari lalu. Cuma karena belum ada yang nyanyiin, dia simpan saja. Mana tahu, kamu cocok menyanyikannya," ujar Tomi dengan senyum yang tulus dan membuat Fajar semakin canggung.

 

Fajar masuk ke ruang rekaman. Atmosfernya pun berubah seketika. Tak pernah dibayangkan ia akan masuk ke ruang rekaman walaupun orang tuanya sanggup membayar sewanya. Ia mengambil headphone dan memasangnya di kepala sehingga menutupi kedua telinganya. Ia berdiri tepat di depan mikrofon. Setelah mendengar musik diputar, ia pun mengingat intonasi yang dimainkan Rian tempo waktu. Saat merasa pas, ia pun masuk dalam musik. Menyanyikan bait demi bait. Menghayati isi dari lirik tersebut. 

 

Dari balik dapur rekaman, ia melihat Rian tampak serius menandunya. Sangat disayangkan ia tak diizinkan berkembang di bawah naungan Tomi. Namun, ia sadar. Mungkin jika Rian dimanjakan oleh Tomi, ia tak akan bisa sehebat yang dilihatnya saat ini. 

 

Rian membuat bentuk T dengan tandanya yang artinya istirahat dulu. Ia pun melepaskan headphone dan keluar dari ruang rekaman. Rian menyodorkan headphone lain dan Fajar kembali menggunakannya. Saat musik dan nyanyian terdengar, Fajar tersentuh. Ia tak menyangka lirik dan musiknya sangat masuk di suaranya. 

 

Fajar mengangguk dan tersenyum. Saat musik berhenti, Fajar membukanya dan memberikannya pada Rian kembali.

 

"Ini baru rekaman pertama. Kapan kamu siap, datang lagi untuk rekaman kedua untuk kita bandingkan suara mana yang lebih cocok kita gunakan untuk memasarkannya," ujar Tomi yang tersenyum pada Fajar. "Kamu dan Rian hebat. Kalian punya bakat yang besar. Sungguh disayangkan kalau Musicia Music menyia-nyiakan kalian. Dan kamu, Yan, Om bangga," sambung Tomi yang menepuk bahu keponakannya dengan amat bangga.

 

Ruang Studio-4 terbuka dan tampaklah Nada dari sana. Fajar terbius akan pesonanya malam ini. Ia tak menyangka akan bertemu Nada di sini. Walaupun besar kemungkinan keberadaan Nada di studio ini, tapi ia tak berharap bertemu dengannya dulu. Ini tempat orang tuanya, ia takut kelepasan mengejar Nada. Jika di luar sana mereka bertemu, ia bisa saja mengejar Nada sampai ke ujung dunia sekali pun.

 

"Pa. Adek mau buat konten di studio samping boleh?" izin Nada dengan mata yang penuh harap. Saat diliriknya bagian lain, matanya menangkap Fajar yang melihat lekat ke arahnya.

 

"Sama siapa? Sendiri?" tanya Tomi yang penasaran. Nada mengangguk sebagai jawaban. "Ayo, Papa bantu. Kita sudah selesai bukan?" tanya Tomi pada Rian yang sedang mengacak laptop di hadapannya. Rian pun mengangguk sebagai jawaban. "Oke, tunggu Papa di samping. Terima kasih banyak, ya, Jar. Sukses untuk kalian berdua," sambung Tomi yang menepuk bahu Fajar lantas keluar dari ruang tersebut sambil mengacak rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.

 

Fajar yang melihat itu merasakan iri yang amat besar. Ingin rasanya ia kembali merasakan kasih sayang seperti itu. Namun, entahlah kapan akan terjadi lagi. Mungkin, kalau tidak bersama orang tuanya, ia berharap memiliki mertua atau orang tua pacar yang penuh kasih sayang seperti Tomi.

Bab 16: Ledakan Emosi

1 1

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1550

SarkatJadiBuku

Day21

-------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Di bumi ini, manusia datang silih berganti. Setiap harinya, di dataran muka bumi mana pun, pasti akan ada yang mati dan lahir. Terkadang, keduanya datang dengan bersamaan. Bukan hanya itu, kasus yang terjadi pun terkadang datang bersamaan di antara satu kota dengan kota lainnya. Atau di antara satu negara dengan negara lainnya. Tak ada yang tahu kejadian pasti di dunia ini kecuali Tuhan.

 

Fajar masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia terus berharap semuanya akan berubah tapi tak kunjung dapat. Ia berharap orang tuanya berbaik lagi dan mengingat masa depannya yang perlu dukungan mereka. Sayangnya, semua itu hanya impian sia-sia. Mereka malah semakin menjauh. 

 

Fajar duduk termenung di kursi peserta saat pemandu acara sedang berbicara. Jantungnya berdegup kencang karena ia sadar fokusnya tidak ada di lapangan itu. Tadi pagi ia mendapat kabar dari Bi Minah bahwa hari ini mama dan papanya akan melakukan mediasi terakhir. Jika tak ada itikad baik dari Irma, maka minggu depan akan ada sidang keputusan. Memikirkan kedua hal itu, jantung Fajar semakin berdegup kencang. Kepalanya dipenuhi oleh pikiran yang tak diharapkan datang di saat ia hendak bertanding. Ia membutuhkan dukungan yang bukan hanya sorakan dari kursi pendukung. Namun, ia tak tahu dari mana dukungan itu ia dapatkan.

 

Kakinya bergerak dari tadi. Tak biasanya Fajar segugup ini. Jika ia kalah di semi final, maka sia-sia sudah pertahanannya beberapa hari ini. Ia tak bisa mengecewakan sekolah dan teman-temannya. Setidaknya, ia bisa mempertahankan juara duanya tahun lalu. Namun, mengingat keadaannya yang tak setenang ini, ia ragu akan mempertahankan juara tersebut. 

 

Dari kursi pendukung, Nada terus memperhatikan Fajar. Sejak tahu adanya cinta yang tumbuh di hatinya, ia terus menghindar. Namun, ia tetap mencari ketenangan hati dengan mencuri waktu untuk memerhatikan Fajar dari jauh. Dan ia yang kini melihat Fajar demikian menyadari ada hal aneh pada pria tersebut. Ingin ia mendekat, tapi ia tak mau ambil risiko. Ia takut cintanya semakin jauh jatuh ke dalam perasaan yang pasti tak akan terbalas. 

 

Teringat akan perkataan Fajar saat ia berkelahi dengan Bagas. Pria itu tak lagi percaya adanya cinta. Hal itulah yang membuat Nada mengambil posisi untuk menjauh karena tak ingin hatinya terluka. Namun, melihat Fajar yang tampak tersiksa seperti ini, Nada lebih tidak sanggup. Ingin dia berlari ke kursi peserta dan duduk menyemangati Fajar secara langsung. Sayangnya, ia tak punya keberanian demikian.

 

"Fajar kenapa, ya? Kok cemas gitu." Rian bersuara yang ternyata ia juga ikut memerhatikan perubahan sahabat barunya itu.

 

Nada menggeleng pelan. "Mungkin dia takut kalah, Kak," jawab Nada asal-asalan. 

 

Rian menggeleng pasti. "Nggak! Fajar itu nggak pernah takut sama apapun. Tahun lalu dia juga masuk semi final dan semangatnya membara. Kali ini, dia beda. Pasti ada yang lagi dipikirin sama tuh anak," ujar Rian yang khawatir. 

 

Nada teringat akan kejadian kemarin. Beberapa hari yang lalu mereka sangat dekat dan bisa dikatakan terbukanya jalan kedekatan mereka. Namun kemarin, ia memilih menghindar karena tak ingin jatuh cinta terlalu dalam. Ia melihat Fajar yang keluar stadion dengan wajah heran. Ia celingak-celinguk mencari seseorang yang diambil kesimpulan bahwa Fajar mencarinya. Karena saat ia keluar, tak ada siswa perempuan lain yang ikut keluar. Kecuali incaran Fajar bukan dirinya--melainkan gadis lain dari sekolah lawan.

 

Jika benar kemarin Fajar mengejarnya dan raut wajah pria itu gusar karenanya, ia sangat merasa bersalah. Namun, jika ternyata yang ia pikirkan adalah hal lain atau gadis lain, jelas kehadirannya tak akan mengubah apapun.

 

Jadwal pertandingan yang didapatkan Fajar adalah sesi kedua yang artinya akan ada istirahat dua puluh menit sebelum ia bertanding. Tandanya, ada waktu setengah jam untuk Fajar menenangkan diri. Namun, semakin ke sini, Fajar semakin gugup. Nada melihat jam tangannya. Ia harus bergerak cepat jika ingin menghibur Fajar. Tanpa menunda waktu lagi, ia bangkit dan berjalan ke arah Fajar. 

 

Rian melihat gelagat Nada. Ia ingin mengikutinya tapi takutnya anak itu hanya hendak ke kamar mandi saja. Dikarenakan Nada pergi tidak minta izin, membuat Rian penasaran ke mana Nada akan melangkah. Dan setelah mendapat kembali posisi Nada, Rian tersenyum. Ia langsung mengambil kesimpulan bahwa Nada jatuh cinta untuk pertamakalinya.

 

???????????? 

 

Jika seseorang sedang gugup, kebiasaan yang hampir semua orang lakukan adalah menghela napas sedalam-dalamnya dengan jangka waktu yang hampir berdekatan. Kaki bergoyang dengan keringat dingin yang bermunculan. Fajar sedang mengalaminya. Dan wajahnya tidak pandai menutupi kegugupan tersebut. Sayangnya, gugup yang dirasakan Fajar bukan karena pertandingan. Jadinya, orang telah sangka mengambil kesimpulan.

 

Nada duduk di samping Fajar dan langsung menyodorkan botol minum yang bergemerincing akibat batu es di dalamnya. Fajar yang kenal akan botol tersebut langsung melirik ke arah Nada dengan tampang tidak percaya. "Kok lo ke sini, Nad? Bukannya kemarin lo nggak mau ketemu gue? Di lapangan, di studio, lo menghindar," ujar Fajar yang tak menyangka Nada ada di sampingnya hari ini.

 

Nada tersenyum kecil. Ia tak berkata apa-apa selain tangannya yang kembali mempertegaskan Fajar untuk mengambil botol minum tersebut.

 

"Cokelat dingin lagi?" tanya Fajar sebelum mengambil botol minum tersebut dan Nada mengangguk sebagai jawaban.

 

Fajar mengambil botol itu dan menegakkan isinya dengan cepat. Pecahan cokelat terasa di lidahnya dan berhasil membuat gugupnya sedikit berkurang. Dipertegaskan kembali, hanya sedikit berkurang.

 

"Kakak kenapa? Kok aku lihat gugup banget? Kata Kak Rian, Kakak nggak pernah gugup dengan apapun." Nada langsung mengambil kesempatan untuk menggali informasi dan mencoba mencari celah untuk menyemangati Fajar lagi.

 

Fajar menggeleng. "Nggak apa-apa. Cuma ada masalah di rumah sedikit," ujar Fajar yang kembali menegakkan botol tersebut.

 

"Maaf kalau kemarin aku mendengar pembicaraan Kakak sama Kak Bagas. Apa ada hubungannya dengan mama Kakak?" tanya Nada dengan hati-hati.

 

Fajar menghentikan gerakannya dan menurunkan botol minum itu secara perlahan. Rahangnya mengeras saat Nada bertanya tentang itu. Susah payah ia mencoba melupakan hal itu sejenak, malah Nada--orang yang bisa membuat ia hidup kembali beberapa hari lalu--membahasnya dengan enteng.

 

Nada melihat perubahan sikap tersebut menjadi merasa bersalah. "Maaf, Kak. Aku--"

 

Fajar bangkit begitu namanya dipanggil. Ia tak berharap ada orang yang tahu masalah keluarganya. Apalagi yang tahu tentang itu adalah Nada--orang yang sudah dianggap berarti oleh Fajar. Nada yang melihat itu semakin khawatir. Ia yakin saat ini amarah pemuda itu sedang dipuncak. Ia tak menyangka, obrolan itu ternyata sangatlah sensitif.

 

Rahang Fajar masing sangat keras. Ia sadar dirinya sedang sangat emosi. Dicobanya mengatur napas dan perkataan Pak Leon terngiang-ngiang di kepalanya. "Jangan bawa emosi ke pertandingan kalau kamu tidak mau kena pinalti." Kalimat itu terus berputar-putar. Bahkan setelah ia memberi salam dan lawan menyerang, ia mencoba mengingatnya. Namun sayang, mengingat Nada yang tahu perihal itu, emosi kembali meledak-ledak. Untungnya Fajar hari ini, ia tak menjatuhkan lawan terlalu kencang. Ia bernapas lega begitu dirinya dinyatakan menang di semi final hari ini.

 

Fajar kembali melangkah ke bangku peserta setelah memberi salam terima kasih. Ia melihat Nada masih berdiri di sana dengan wajah cemas. Dirinya yang masih emosi dan malu dengan apa yang didengar tadi tak menghiraukan keberadaan Nada. Ia mengelap wajahnya dengan handuk dan memasukkannya ke dalam tas.

 

"Kak. Aku minta maaf. Aku--"

 

Lagi-lagi Fajar tak mengizinkan Nada menyelesaikan perkataannya. Ia langsung pergi dari sana sebelum pertandingan dinyatakan selesai. Bahkan, pengumuman peserta yang masuk final pun belum. Pak Leon yang melihat itu langsung mendekati Nada dan bertanya, "Kenapa dia? Kalian ada masalah?"

 

Nada menggeleng lantas mengedikkan bahu. "Saya nggak tahu, Pak. Tadi waktu selesai sesi pertama saya turun ke sini Pak. Soalnya saya lihat Kak Fajar kayak ada masalah gitu. Niatnya mau menghibur, tapi kayaknya dia malah marah," jelas Nada yang tampak sedih dan merasa bersalah.

 

"Emangnya kamu ngehibur gimana?" tanya Pak Leon yang penasaran. 

 

Nada menggeleng lagi. "Belum sempat, Pak. Baru juga intro mau cari permasalahan. Eh, dia langsung begitu," ujar Nada dengan wajah cemberut.

 

"Kamu ada tanya apa?" tanya Pak Leon yang mulai menebak kemungkinan Fajar berubah.

 

Nada hendak bercerita tapi ia ragu karena dua kali bentroknya Fajar dan Bagas hanya dirinya yang tahu. Tak ada guru yang mengetahui hal itu. Ia tak enak jika harus membuka rahasia tersebut. Jadinya, Nada hanya berkata, "Nggak ada apa-apa, Pak. Belum bicara apa-apa." Jelas Nada sangat berbohong.

 

Pak Leon menggaruk kepalanya heran. "Kenapa ya tuh anak?" tanya Pak Leon yang hanya dijawab dengan gelengan oleh Nada.

 

Sedangkan di luar sana, Fajar mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Klakson tanda protes pun saling menyahut. Namun, Fajar tak memperdulikannya. Ia terus melaju dengan cepat. Bahkan, suara decitan ban saat ia mengerem pun bisa menandakan bahwa emosinya sedang membuncah. 

 

Fajar naik ke roof top dengan langkah cepat. Begitu sampai, ia melempar sembarang tasnya. Ia melampiaskan amarahnya dengan memecahkan botol bekas minuman soda yang terbuat dari kaca. Tak lupa teriakan amarahnya ikut meraung-raung. Fajar lepas kendali saat ini. Sampai gerakannya berhenti kala ekor matanya menangkap sosok tegap yang keluar dari pintu menuju dalam ruko. Ia tak menyangka pertemuan mereka--setelah sebulan tak bertegur sapa--tak enak.

 

"Papa ...." 

 

Ia bisa melihat papanya menghela napas dengan dalam. Pria itu melangkah ke arahnya dengan pelan tapi pasti. Air mata tak bisa lagi disembunyikan oleh Fajar. Begitu pun dengan rasa kecewanya. Melihat itu, Lukman sangatlah terluka. Ia bergerak dengan cepat dan memeluk anaknya yang ambruk di lantai dengan amat rapuh. Fajar membalas pelukan itu dengan tangis yang semakin pecah. Ia tak menyangka rasanya sesakit ini.

 

"Kenapa ini terjadi sama Fajar, Pa? Kenapa?" 

 

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Fajar menangis semakin menjadi-jadi dan ia lunglai. Rasanya, dunianya sudah hancur berkeping-keping layaknya botol kaca yang dihantamnya tadi.

 

Hancur berserakan ....

user

27 January 2022 16:54 Hesda Pranoto Keren banget kak

Bab 17: Keputusan

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1574

SarkatJadiBuku

Day22

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Sedih rasanya jika kita telah berbuat salah dan tak mengharapkan hal itu terjadi. Nada duduk termenung di meja makan. Ia sedang mereka-reka apa kesalahannya. Apakah karena menyinggung mamanya? Ya! Bisa jadi karena itu. Tanpa basa-basi, Nada langsung memberi pertanyaan tersebut. Anak mana yang tidak marah? Mungkin, jika ia berada di posisi Fajar, ia juga akan melakukan hal tersebut. Namun, ia tak menyangka Fajar akan seperti itu. Ia sadar bahwa Fajar sangat tempramen. Namun, ini pertamakalinya ia melihat Fajar marah padanya. Jujur, Nada tidak siap akan hal tersebut.

 

Ice cokelat yang dibuatnya tadi tidak bisa menyegarkan otaknya dan mengembalikan mood-nya. Sungguh, ia sangat merasa bersalah pada Fajar. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin ia minta maaf sekarang juga tanpa harus menunggu hari esok. Namun, ia tak tahu meminta maaf dengan cara apa. 

 

Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana wajah marah Fajar saat ia bertanya tentang mamanya. Rahangnya yang keras semakin menunjukkan ada amarah yang besar dan terpendam. Lagi-lagi Nada menggeleng dan mencoba menenangkan diri. Ingin ia berlari ke hadapan Fajar saat ini dan meminta maaf. Kalau harus ia bertekuk lutut pun, ia akan melakukannya. Nada paling tidak suka membuat orang lain marah. Dan ia tak menyangka hari ini bisa melakukannya. Seharusnya, tadi ia bisa memilih kata yang baik untuk memancing percakapan. Bukannya malah membantu Fajar untuk tidak gusar, ia malah membuat pria itu mendidih.

 

Nada tersentak begitu merasakan ada tepukan di bahunya. Usai menyaksikan turnamen semi final tadi, Rian mengantarnya pulang. Ia pikir, pria tersebut sudah lama meninggalkan rumah. Nada saat tiba tadi tak langsung masuk ke kamar untuk mengganti baju. Ia malah meletakkan tasnya sembarang di sofa ruang keluarga dan malah menyendiri di dapur. Tak lupa ia menambahkan batu es dan cokelat bubuk ke dalam botol minum yang tadi isinya sempat di minum Fajar.

 

"Kenapa lo, Dek? Kok belum ganti baju?" tanya Rian yang berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan jus jeruk. Ia berjalan ke arah pantri dan mengambil gelas di salah satu lemarinya. Menuangkan jus tersebut lantas menyesapnya perlahan.

 

Nada menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia tak berani menceritakan apapun pada Rian. 

 

Tak pernah ia membayangkan akan jatuh cinta seperti ini. Sedari SMP--saat ia mengenal apa itu cinta--ia tak berharap bisa jatuh cinta terlalu dini. Menurutnya, cinta monyet tidak akan menyenangkan. Maka ia tak mau melabuhkan perasaan pada siapapun. Namun, tidak untuk kali ini. Cinta pertamanya ditujukan pada Fajar yang katanya tempramen tapi selalu bersikap lembut padanya. Sayangnya, tidak dengan kejadian tadi.

 

"Fajar tadi kenapa pergi gitu, Dek? Terus kayaknya dia marah banget. Ada masalah apa lo sama dia?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Rian. 

 

Nada menghela napas berat. Niat hati tak ingin membahas masalah di lapangan tadi, malah Rian memancingnya dengan bertanya tentang Fajar. Menjawabnya dengan gelengan pun tidak mungkin karena Rian pasti akan terus bertanya. Rian pasti melihat perubahan pada Fajar tadi. Awalnya gusar, lalu sedikit tenang, saat Nada tiba ia malah emosi.

 

"Jujur, Dek, sama gue. Kenapa tadi?" Rian memaksanya untuk bercerita.

 

Nada menegakkan tubuhnya yang tadi lesu. "Kayaknya gue salah deh tadi nyebut mamanya," ujar Nada yang belum ingin bercerita secara pesifik.

 

"Emang, kenapa mama Fajar?" tanya Rian lagi yang terus mencari informasi. Nada mengedikkan bahu sebagai jawaban.

 

Rian bergerak mengambil posisi duduk di hadapan Nada. Tadinya ia hendak pulang setelah melepas dahaga karena habis berbicara dengan Tomi. Namun, melihat adik perempuan satu-satunya yang ia miliki--walaupun hanya sepupuan--duduk termenung, ia memutuskan untuk melimpir sejenak. Dan jika sudah seperti ini--Nada tidak mau bercerita dengan terang-terangan--itu tandanya ada masalah besar yang tak ingin diceritakan oleh Nada. Namun, karena ini menyangkut perubahan Fajar tadi, ia harus tahu agar bisa membantu keduanya akur kembali.

 

"Ada masalah apa sih kalian? Coba cerita sama gue. Mana tahu 'kan gue bisa bantu. Ingat, Dek. Gue ini temannya Fajar. Gue lebih tahu dia ketimbang lo," ujar Rian yang memasang mode bijak untuk menggali informasi. 

 

Kembali terdengar helaan napas dari Nada. Sebenarnya ia bingung harus memulai cerita dari mana. Karena tak dapat jalan mulai, maka Nada cuma berkata, "Gue nggak sengaja dengar perkataan Kak Bagas dan Kak Fajar saat mereka berantem minggu lalu. Kak Bagas bawa-bawa mamanya gitu. Gue sih nggak tahu jelasnya gimana, Kak. Jadi, gue pikir dia murung gitu karena mamanya nggak di sana. Soalnya, kalau dilihat-lihat, dari awal turnamen sampai semi final dan dia masuk babak final, gue nggak pernah lihat ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang samperin dia." Ada secercah kebohongan pada Nada. Namun, itu berhasil menyelamatkan rahasia yang disembunyikan Fajar dari orang banyak. Bahkan, ia sudah mengancam Ririn dan Lolita untuk tidak membongkar masalah minggu lalu. 

 

Rian mengangguk setuju. "Iya, ya. Gue juga baru sadar kalau ortunya nggak pernah muncul selama turnamen," ujar Rian menyetujui apa yang dikatakan Nada.

 

"Kayaknya lebih baik gue besok nggak ikutan nonton final deh, Kak. Lo rekamin saja untuk gue nonton di rumah. Takutnya, pas gue datang, dia malah makin marah," ujar Nada mengambil keputusan. 

 

Rian mengangguk. "Tapi, lo harus segera selesaikan masalah sama dia. Minta maaf karena nggak sengaja nyinggung itu. Karena gue yakin, kalian itu sama-sama saling mencintai. Cuma gengsi," ujar Rian sambil kembali menegak jus jeruk yang tampak hilang dinginnya. N

 

Nada melirik heran ke arah Rian. "Apaan sih lo, Kak, bahas cinta-cintaan. Asal lo tahu, ya. Kak Fajar itu nggak percaya sama yang namanya cinta. So, untuk apa gue susah-susahin diri buat jatuh cinta sama dia? Kami itu cuma kenal. Dengar! CUMA TEMAN," ujar Nada yang menekankan kata terakhirnya. 

 

Rian mengedikkan bahu. "Iye, cuma teman. Tapi dari matanya tersirat cinta," ledek Rian yang terkekeh dan berhasil membuat Nada mencak-mencak.

 

????????????

 

Sudah lama sekali Fajar tidak masuk ke ruko ini sejak penyewanya tak lagi sambung di sana. Ia hanya naik ke roof top tanpa minat untuk masuk ke sana. Ternyata, tidak banyak yang berubah kecuali lebih sepi dan lembab akibat jarang dirapikan. 

 

Lukman menggunakan lantai satu untuk parkir mobilnya kala malam dan salah satu kamar di lantai dua untuk ia tidur. Terdapat kasur dan lemari yang tampak baru. Fajar duduk selesehan di samping kasur. Ia menyenderkan kepala di sana dan melihat gerak-gerik papanya yang sedang membuang sisa makanan.

 

"Kamu sudah makan?" tanya Lukman yang melirik Fajar sejenak. 

 

Fajar berbohong dengan menganggukkan kepalanya. Padahal, setelah sarapan tadi pagi, ia tak mengisi perutnya dengan apapun selain cokelat dingin pemberian Nada yang dibiarkan tergeletak di atas kursi peserta.

 

"Waktu pertama Papa ke sini, Papa lihat di roof top ada sofa yang sudah jelek. Rencananya Papa mau pindahin. Waktu lihat ada kulit kuaci dan foto Mama, itu jelas lapaknya kamu. Jadinya Papa urung buangnya," jelas Lukman yang membuka pembicaraan. "Sudah lama kamu buat markas di atas?" tanya Lukman mencoba akrab kembali dengan anaknya seperti dulu. 

 

Fajar mengangguk. "Sejak aku pergokin Mama ...." Perkataan Fajar tidak lanjut melainkan kedua tangan yang terangkat dengan jari telunjuk dan tengah dimainkan.

 

Lukman memahami maksud Fajar. Ia pun duduk di samping anaknya. "Kata Pak Leon, kamu masuk final. Cuma tadi kamu pergi begitu saja. Emangnya kenapa, Nak? Ada yang salah?" tanya Lukman yang ingin tahu. Fajar menggeleng sebagai jawaban. "Mama kamu ke sana?" tanya Lukman lagi yang mencurigai bahwa ini ada sangkut pautnya dengan mereka. Lagi-lagi Fajar menggeleng sebagai jawaban.

 

Helaan napas terdengar dari Lukman. Ia mengelus pelan bahu anaknya lantas bangkit dan duduk di atas kasur. "Maaf karena Papa nggak hadir di turnamen kamu. Papa pikir, Mama yang bakalan ngedukung kamu. Papa takut kalau kehadiran Papa bikin Mama kamu menghindari kamu terus. Jadinya, Papa berbohong sedang di luar kota. Papa minta maaf, ya, Nak. Besok, Papa janji bakalan temanin kamu di final," ujar Lukman dengan senyum bangga pada anaknya. 

 

Fajar melirik sejenak. "Makasih banyak, Pa," ucap Fajar dengan suara pelan.

 

"Pulang, gih. Nanti Mama cariin, loh," perintah Lukman yang tak diindahkan Fajar. Buktinya, anak itu belum bergerak dari duduknya.

 

Fajar menggeleng. "Nggak akan ada yang cari aku, Pa. Bahkan Mama sudah lama nggak pulang," ujar Fajar yang meraih ponselnya dan membuka medsosnya dengan sembarang. Hal itu dilakukan dengan harapan bisa menghindar dari percakapan tentang mamanya.

 

Ia sangat malu saat tahu Nada menyimak ujaran Bagas saat itu. Ia pikir, rahasia tentang mamanya selingkuh akan tertutup dengan rapat. Sayangnya, tidak sama sekali. Apalagi hal tersebut diketahui oleh Nada--gadis yang berhasil mengalihkan kesedihannya.

 

"Pa. Dion itu tunangannya kakak Bagas. Dia sempat mukul aku berapa kali karena Mama. Aku mau pindah saja, Pa. Nggak enak di sekolah itu lagi. Aku malu kalau orang lain pada tahu," ujar Fajar yang mengutarakan isi hatinya.

 

Lukman merangkul anaknya. "Sabar dulu, ya. Setelah persidangan keputusan, Papa bakalan urus pindahan kamu. Tapi, sebelum kamu menyesal, kamu pikirkan matang-matang dulu apakah yakin pindah atau nggak. Kalau kamu pindah, gimana dengan Niken?" tanya Lukman di akhir penjelasannya tadi. 

 

Fajar baru sadar, Lukman belum tahu tentang hubungan terbarunya dengan Niken. Namun, diamnya Fajar bukan karena berharap ia dan Niken bisa kembali bersama. Fajar memikirkan keadaan Nada yang berhasil mencuri perhatiannya. 

 

Sayangnya, saat ingat Nada sudah tahu tentang kelakuan mamanya, ia menjadi semakin yakin untuk pindah sekolah. Ia pun berkata dengan tegas, "Aku dan Niken nggak ada hubungan apa-apa lagi, Pa. Kalau pun masih, aku tetap ingin pindah. Aku nggak mau ketemu sama orang yang tahu tentang kelakuan Mama di luar sana." 

 

Lukman mengangguk. Ia pun mengelus puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Baginya, walaupun Fajar adalah anak laki-laki yang kuat, ia tetap anak kecil kesayangan Lukman. Ia tetap butuh kasih sayang dan manja darinya. Fajar adalah segalanya bagi Lukman. Sekarang, hidupnya hanya untuk kebahagiaan Fajar. Bukan yang lain ....

Bab 18: Saling Merindukan

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1515

SarkatJadiBuku

Day23

--------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Sebuah janji yang telah diucapkan harus ditepati. Nada tak datang ke final turnamen taekwondo seperti yang telah ia sampaikan pada Rian kemarin hari. Setiap siswa yang hendak mendukung tim SMA Internasional Nusa Bangsa boleh datang ke turnamen tersebut dan absensi kehadiran diberi izin. Namun, bagi yang tidak akan ke sana, tetap di sekolah dan mengikut mata pelajaran seperti biasanya. Dan hati ini, Nada memilih tetap di sekolah.

 

Menghindari Fajar tempo hari tidak membuahkan hasil. Ia tetap penasaran dan bahkan jatuh cinta semakin dalam pada Fajar. Dan penolakan Fajar karena kesalahannya membuat ia sadar bahwa tak semua yang diinginkannya bisa didapat. Mungkin, ia harus berjuang lebih giat atau mundur secara perlahan. Toh, masa depannya masih panjang. Bisa jadi, ia menemukan orang lain yang bisa membuat ia kembali jatuh cinta. Atau meratapi cinta monyetnya yang tak memberi cinta sejatinya.

 

Nada duduk termenung di kelas saat guru Biologi menerangkan materi hari ini. Kedua sahabatnya ikut nonton turnamen seperti hari-hari sebelumnya. Tadi sebelum berangkat, mereka sudah mengajak Nada yang dibalas halus dengan alasan tak enak badan. Sayangnya, memberi jarak agar Fajar tetap fokus turnamen membuat ia benar-benar merasakan tidak enak badan. Rasanya tubuhnya hangat. Mungkin, seperti yang dikatakan orang tuanya. Jika ia mensugesti diri dengan mengatakan tidak enak badan, maka kita akan merasakan demikian. Perkataan yang diremehkan Nada kita terbukti pada tubuhnya.

 

Setelah mata pelajaran kedua selesai pun, Nada masih terlihat murung dan lemas walaupun tidak terlalu pucat. Ia memilih tetap di kelas saat jam istirahat tiba. Saat hendak merebahkan kepala di atas meja, satu notifikasi muncul. Rian mengirim video Fajar yang berhasil mempertahankan juara duanya. Setidaknya, itu kabar yang cukup baik ketimbang prestasinya menurun. Namun, Nada kurang puas dengan hasil video tersebut. Ia ingin menyaksinya langsung. Setidaknya, pengorbanannya yang tidak akan menganggu Fajar di hari finalnya membuahkan hasil yang memuaskan.

 

Nada mematikan ponselnya dan hendak kembali menuntaskan niat awal--merebahkan kepala untuk menikmati tidurnya. Namun, lagi-lagi digagalkan oleh sebuah notifikasi selanjutnya yang muncul. Di sana terdapat pesan dari Ririn dan Lolita yang mengirim pesan video Fajar juga. Hanya saja, sudut pengambilannya berbeda dari Rian.

 

Setelah membalas dua pesan tersebut, Nada akhirnya bisa menuntaskan niatnya. Ia memejamkan mata dan tak lupa memasang alarm di waktu istirahat selesai. Melihat hasil final Fajar, berhasil membuat dirinya sedikit membaik. Namun, rasa bersalah karena kemarin masih tersemat di hatinya.

 

????????????

 

Jika sedang sedih dan tak ingin pulang ke rumah, setiap orang pasti akan punya pelarian sendiri untuk menenangkan hati dan pikiran. Nada memilih studio musik papanya yang selalu berhasil membuat ia kembali menggapai semangatnya. Sepulang sekolah, ia langsung ke sana tanpa meminta izin terlebih dahulu. Toh, selalu ada ruang kosong untuknya menyendiri.

 

Nada masuk ke ruang Studio-4. Di sana, banyak arsip Rian tersimpan--karena ruangan itu lebih sering digunakan Rian dalam bekerja. Ia melihat laptop Rian tergeletak di meja. Nada yakin, pria itu pasti lupa membawa laptop itu ke kamarnya. Maka, ia yang memang terbiasa mengotak-atik barang Rian, langsung menghidupkannya begitu ia duduk di kursi putar. Sambil menyenderkan badan, ia mengecek hasil kerja Rian selama seminggu belakangan.

 

Ada satu folder yang berhasil mencuri perhatian Nada. Folder dengan nama file 'Belum Punya Judul' itu membuat Nada penasaran akan isinya. Saat dibukanya, ada satu hasil rekaman di sana yang diberi nama 'Fajar'. Rasa penasaran pun semakin melambung tinggi. Ia mengambil headset dan memasangnya di telinga. Memutar rekaman tersebut dan hanyut mendengar suara merdu yang keluar dari dalamnya.

 

Nada terenyah mendengar suara itu. Ia langsung mengopinya ke ponsel tanpa sepengetahuan orang. Padahal, ia sadar perbuatannya tak baik. Namun, karena bersangkutan dengan Fajar, entah kenapa hatinya bergerak menghasutnya untuk melakukan hal tersebut.

 

Nada langsung mematikan laptop setelah rekaman tersebut berpindah tempat. Mengeluarkan handset sendiri dan masuk ke ruang rekaman. Di sana ada piano putih yang sering dimainkannya. Ia mendengar lagu yang dinyanyikan Fajar dan menerka-nerka not apa yang bisa menghasilkan irama yang cocok dengan musik tersebut.

 

Nada membuka tasnya saat sudah yakin dengan not yang didapatkannya untuk intro lagu. Ia meraih tasnya dan mengambil sembarang bukunya. Menyobek kertas di tengah dan tak lupa mengambil pulpen. Satu demi satu not pun sudah ia tuliskan. Sampai akhirnya, ia memainkan not tersebut setelah yakin dengan apa yang didapatkannya. Bahkan ia sangat puas akan hasilnya karena sangat cocok dengan suara Fajar yang terekam tersebut. 

 

Ia melipat kertas tercoret not ke dalam buku jurnalnya yang dibawa ke mana-mana. Dirinya tak ingin merekam instrumen dari piano karena tak ingin Rian mengetahui perbuatan jahatnya--Nada menganggap itu perbuatan jahat. Cukup ia saja yang simpan not tersebut sampai Rian dan Fajar menuntaskan proyek mereka berdua. Nanti, pasti ada waktunya untuk ia menunjukkan hasil temuannya. 

 

Nada menyimpan baik-baik buku jurnal ke dalam tas. Ia menutup piano dan bersiap untuk pulang. Entah kenapa, mendapat hasil rekaman Fajar hari ini berhasil melambungkan perasaannya yang tadi tengah gundah. Mulai hari ini, lagu yang dinyanyikan Fajar akan menjadi favoritnya--walaupun isinya tak cocok dengan perasaan Nada saat ini.

 

Nada membuka pintu hendak keluar. Namun, ia berpapasan dengan Rian yang menatap heran ke arahnya. Sebelum Rian bertanya, Nada langsung buka suara, "Biasa. Gue 'kan butuh suara piano untuk menetralkan pikiran. Kalau di rumah, 'kan ada Mama. Gue butuh tempat sepi."

 

Rian hanya mengangguk saja lantas membiarkan Nada keluar. Ia pun mengambil laptop yang tak disadarinya sudah berpindah tempat. Ia pun ikut keluar studio dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.

 

????????????

 

Fajar duduk dengan tenang di kursi peserta saat melihat papanya berada di salah satu pendukung. Ia tersenyum lebar saat melihat Fajar yang duduk dengan tegap menanti gilirannya. Setidaknya, kehadiran papanya sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan hari sebelumnya.

 

Fajar siap bertanding di final hari ini. Tak sengaja, matanya menangkap sosok Rian bersama teman yang lain. Ia pun memutuskan untuk meneliti siapa saja yang datang di hari besarnya itu. Nada nggak ada .... Fajar menyadari ketidakhadiran Nada di sana. Namun, ia tak mau ambil pusing. Toh, ia tak berharap Nada datang. Ia begitu malu pada gadis yang sudah tahu masalah keluarganya itu. 

 

Sayangnya, Fajar tak bisa melupakan ketidakhadiran Nada begitu saja. Sesekali ia kembali melirik Rian--karena ia masih berharap bahwa ada bangku kosong yang tadinya ditinggal pemilik untuk ke kamar mandi. Sayangnya, saat gilirannya akan dimulai, sosok Nada tak kunjung terlihat. Maka ia ambil kesimpulan bahwa Nada benar-benar tidak datang.

 

Namun,Fajar masih optimis. Kemarin, ia bisa saja tak mengharapkan Nada ada di sana--bahkan hari ini sekali pun. Akan tetapi, hatinya tidak bisa berbohong. Ia membutuhkan keberadaan Nada di sisinya. Bahkan kalau bisa, persis di sampingnya. Sayangnya, sampai ia dinyatakan mendapat juara dua, Nada masih tak kunjung muncul. 

 

Ada secercah kekecewaan di benak Fajar. Fajar berjalan mendekati papanya begitu berhasil menerima piala, sertifikat, uang penghargaan, dan medali. Tak lupa teman-temannya ikut berkumpul mengerumuninya seperti biasa. Mereka mengucapkan selamat satu per satu. Sampai Irwan membuka suara dengan bertanya, "Nada mana, Yan? Kok nggak datang hari ini?"

 

"Nada lagi nggak enak badan." Yang menjawab itu bukanlah Rian melainkan Lolita. 

 

Mendengar itu, Fajar sedikit merasa bersalah karena telah bersikap tidak baik kemarin. Padahal, bisa saja ia menjelaskan pada Nada bahwa gadis itu harus merahasiakan masalah tersebut. Namun, perasaannya yang sedang emosi membuat ia tak bisa berpikir panjang. Ia malah mendiaminya dengan sedikit kasar. Membayangkan kejadian kemarin berhasil membuat Fajar semakin merasa bersalah pada Nada yang sering berbuat baik padanya.

 

Sekarang, ia bingung harus bagaimana. Mungkin, Nada akan kembali menghindarinya seperti hari sebelumnya. Membayangkan itu, hati Fajar terasa dicubit. Fajar harus segera minta maaf sebelum gadis itu semakin menjauh. Apapun caranya, akan Fajar lakukan untuk meraih pemaafan tersebut.

 

Kini, Fajar dan teman-temannya sedang berada di salah satu rumah makan untuk merayakan keberhasilan Fajar, Irwan, dan Azriel dalam mempertahankan kejuaraan mereka tahun lalu. Canda tawa pun tercipta begitu nyata. Sayangnya, Fajar tidak menikmati hari bahagia tersebut. Ia terus terngiang-ngiang wajah Nada yang merasa bersalah di hari itu

 

Teringat akan Nada yang hendak menjelaskan maksudnya yang tidak mau didengar olehnya. Membayangkan itu, rada bersalah semakin besar di diri Fajar. Ingin ia lari dari kumpulan tersebut untuk meminta maaf sekarang juga pada Nada. Namun ia tak enak pada Pak Leon dan papanya yang memutuskan untuk patungan membayar makan-makan tersebut.

 

Akhirnya Fajar hanya bisa duduk manis sambil menikmati hidangan yang tak lagi tampak sedap. Sambil memikirkan kemungkinan yang akan terjadi karena kemarin. Hari ini saja Nada tidak datang di final turnamennya. Bisa jadi ia memang benar-benar sakit. Tetapi bagaimana kalau ia hanya alasan saja? Maka pasti anak itu sedang menghindari Fajar. 

 

Memikirkan itu,Fajar menjadi frustrasi sendiri. Ia bangkit dengan meraih kunci motor dan memakai jaket kulitnya. Ia mendekat pada Rian dengan menyodorkan ponselnya. "Tulis alamat Nada sekarang. Penting!"

 

Rian tak banyak bertanya. Ia pun langsung mengetik alamat rumah Nada. Begitu Rian meletakkan kembali ponsel itu di meja, Fajar langsung menyambarnya dan mendekati Pak Leon beserta papanya. Ia pun berkata, "Pa. Pak. Fajar izin pulang duluan, ya. Ada hal.yang harus Fajar lakukan. Nanti Fajar akan ke ruko untuk ketemu Papa. Ada hal yang harus Fajar selesaikan dulu sekarang."

 

Tanpa menunggu respons, pria itu langsung keluar rumah makan dan menunggangi motornya. Ia melesat cepat ke alamat yang diarahkan Google Maps. Motornya pun melaju dengan cepat dan berharap Nada ada di rumah ....

Bab 19: Bimbang

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1543

SarjatJadiBuku

Day24

------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-------------------------------------------------------------

 

Katanya, setiap orang pasti akan mendapatkan kesempatan kedua dalam segi apapun. Namun, apakah itu akan berlaku untuk Fajar? Setelah menghindar tidak jelas akibat emosi yang membara, kini ia mencoba menarik perhatian orang yang hendak dihindarinya? Bahkan, ia rela meminta pindah sekolah demi tidak bertemu lagi dengannya. Padahal, hanya gadis itu dan teman-temannya saja yang tahu tentang kelakuan mamanya. Orang lain bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Jika dilihat, Bagas pun tak niat menyebarkannya. Karena jika ia ingin melakukannya, pasti sudah dari dulu aib itu menjadi tranding topik di sekolah. Fajar melaju motornya hingga cepat. Saat masuk ke komplek perumahan elit, ia memelankan lajunya. Setelah mendapat izin dari satpam, Fajar kembali mengikuti arahan Google Map. Sampai titik berhenti tiba di depan rumah berlantai satu bergaya Eropa klasik berwarna putih gading. Fajar masuk ke pekarangan rumah yang tampak asri tersebut dan memarkirkan motornya dengan baik. Fajar mengembuskan napas dengan pelan untuk menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Setelah merasa cukup tenang, Fajar melangkah ke teras dan menekan pelan bel rumah. Tak ada yang menyambut kedatangannya sampai bel kelima. Terasa tidak sopan karena asyik menekan bel, Fajar memutuskan untuk pergi. Fajar mengembus napas berat saat menyadari tak ada orang di rumah. Mobil yang terparkir di garasi bukan berarti ada orang di rumah bukan? Saat Fajar hendak melangkah menuju motornya, terdengar suara pintu dibuka. Fajar langsung tersenyum dan berharap itu adalah Nada. Sayangnya, yang keluar malah orang lain. Seorang pria tinggi yang mirip dengan Nada. Fajar mendekat dan tersenyum ramah. "Cari siapa, ya?" tanya pria tersebut yang tampak heran karena tak kenal siapa orang yang bertamu di siang bolong seperti ini. Fajar sedikit gugup menyambut pertanyaan tersebut. "Benar ini rumah Nada Musicia Putri?" tanya Fajar yang yakin bahwa Rian tak mungkin kasih alamat yang salah. Toh, pria itu mirip sekali dengan Nada. Orang yang dihadapan Fajar mengangguk. "Iya. Tapi Nada belum pulang sekolah," ujarnya dengan tampak tak acuh. Fajar mengangguk. "Oh, baik. Terima kasih," ucap Fajar yang berlalu ke arah motornya. Tanpa melihat pria tadi yang tampak bingung melihat Fajar, ia langsung menunggangi motonya dan pergi begitu saja. Ke mana ia harus mencari Nada kalau di rumahnya saja ia tak ada? Ke Musicia Cafee? Ya! Gue harus ke sana. Fajar menarik pedal gasnya untuk mendapat kecepatan yang tinggi begitu keluar dari komplek perumahan elit tersebut. Ia berdoa dalam hati semoga Nada ada di sana sehingga ia bisa langsung meminta maaf pada gadis tersebut. Sialnya, ia tak minta nomor ponsel Nada pada Rian. Untuk berhenti sekarang untuk mengirim pesan tersebut pun akan buang-buang waktu saja baginya. Maka ia melaju semakin cepat menembus jalanan padat tersebut. ???????????? Motor Fajar terparkir indah di depan Musicia Cafee. Ia langsung masuk ke sana dengan disambut para waiters yang tampak ramah. Tak ingin berbasa-basi, Fajar langsung bertanya, "Apakah Nada ada di dalam?" Waiters tersebut tampak bingung. "Nada?" Ia membeo. "Mbak Nada anaknya Pak Tomi?" tanyanya yang meminta kejelasan. Fajar mengangguk sebagai jawaban. "Tidak ada. Dia belum ke sini sampai jam segini," jawabnya dengan yakin. Fajar mengangguk pelan. "Baik. Makasih," ucap Fajar yang langsung membalik badan untuk kembali ke parkiran. Ke mana gue harus cari lo, Nad? Fajar bertanya pada diri sendiri. Ia tak tahu harus ke mana. Akhirnya, Fajar memutuskan untuk pulang saja. Mungkin, besok ia akan bertemu Nada di sekolah saja. Meminta maaf dengan baik dan tak harus bersikap kasar lagi pada Nada. Fajar mengusap wajahnya gusar. Ia kembali menunggangi motornya dan melaju jauh dari Musicia Cafee. Tubuhnya sangat lelah hari ini. Ia tak sanggup harus mencari keberadaan Nada. Akhirnya, Fajar memutuskan untuk pulang dan beristirahat saja. Atau setelah istirahatnya selesai, ia akan menelepon Rian untuk menanyakan keberadaan Nada yang lebih pasifik. ???????????? Sudah lebih dua tahun Fajar seperti ini. Bangun dengan keadaan tak bersemangat untuk menyambut hari. Terlebih, hari ini seperti ada balok besar yang menindih bahunya. Rasanya, ia ingin bebas dari keadaan ini. Namun, entah kapan hal itu bisa terjadi. Fajar lelah bermain tebak-tebakan dengan keadaan yang menimpanya. Turun dari lantai dua tanpa niat menyentuh sarapan. Sayangnya, Fajar tak punya perasaan setega itu. Saat melewati cangkir yang masih berasap dengan aroma cokelat menggoda, Fajar berbalik arah. Ia tak bisa menghindari godaan cokelat yang bisa meringankan bebannya. "Selamat pagi, Bi, Mbak," sapa Fajar yang meletakkan tasnya di kursi kosong dan menyesap cokelat hangat yang masih sedikit ke arah panas. "Pagi, Den," sapa Bi Minah yang membawa sepiring nasi goreng. Fajar menerima uluran tersebut dan menyantap sarapan yang tadi hendak dihindarinya. Ia melahap sedikit demi sedikit sambil memeriksa medsos. Ia menekan nama Nada di pencarian. Tak keluar satu pun nama yang menunjukkan foto Nada. Masa tuh anak nggak pake medsos. Nggak mungkin banget, deh, pikir Fajar yang kini mencoba menekan nama Musicia. Bukannya mendapatkan akun medsos yang diharapnya, nama Tomi berada di peringkat teratas. Ia langsung menekan dan mencari foto Tomi bersama anaknya. Begitu dapat, ia melihat tak ada arahan untuk ke medsos Nada. Fajar mendesah kesal dan mematikan ponselnya begitu saja. Tak ada akses untuk ia mengenal Nada kecuali ia langsung berhadapan dengan orangnya. Fajar menyesap kembali cokelat yang sudah benar-benar hangat. Ia meraih gelas berisi air mineral dan menegaknya untuk menetralkan mulut. Lantas, ia mengambil tasnya sambil berkata, "Aku berangkat, ya, Bi, Mbak. Sudah mau telat." Ia bangkit dan berlalu keluar rumah. Bi Minah dan Mbak Entin sama-sama melihat ke arah jam. Di sana, waktu menunjukkan pukul 6.40 yang tandanya Fajar terlalu pagi untuk ke sekolah. Biasanya ia akan jalan di detik-detik akan masuk sekolah. Mereka sama-sama mengedik bahu lantas kembali melanjutkan tugas masing-masing. ???????????? Pagi ini keberuntungan berpihak pada Fajar. Begitu ia turun dari motornya, Nada lewat di hadapannya. Dengan cepat Fajar berlari mengejar Nada. Berdiri tepat di hadapan gadis itu yang menghalangkan langkahnya. Nada tahu orang yang ada di hadapannya adalah Fajar. Ia yang tak ingin membuat pria itu marah lagi tak melihat ke arahnya sedikit pun. Ia menunduk dan berusaha mencari jalan untuk minggat. Sayangnya, Fajar menutup akses tersebut sampai Nada mendesah jengah dan berkata, "Ada apa? Jangan ngerusak mood pagi-pagi." "Boleh kita bicara?" tanya Fajar dengan penuh harapan. Nada tak menjawab tapi ia berbelok ke arah taman di dekat parkiran. Ia duduk di bawah pohon rindang yang tak tersiram matahari. "Mau ngomong apa?" tanya Nada yang tak ingin membuang waktu. Fajar tak ikut duduk di samping Nada. Ia malah berjongkok di hadapan gadis tersebut. Melihat itu, Nada sempat salah tingkah. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja. "Gue mau minta maaf," ucap Fajar dengan tulus. Terdengar hembusan napas halus dari Nada. "Maaf soal?" Nada bertanya dengan tampang datar. "Soal di turnamen kemarin itu," jelas Fajar yang hendak meraih tangan Nada tapi gagal karena gadis itu langsung bangkit. Nada tersenyum ramah. "Lupakan saja. Toh, salah aku juga 'kan. Aku mau masuk dulu," ujar Nada yang berlalu. "Tapi gue nggak bisa lo menghindar terus, Nad," ujar Fajar dengan lantang. Untungnya, taman tersebut sedang sepi. Murid-murid pun belum ramai yang datang. Nada berhenti saat Fajar mengatakan itu. Ia tak berbalik tapi hatinya merasakan bahagia saat tahu Fajar tak ingin ada jarak di antara mereka. Bolehkah ia mengharap lebih? Pikiran Nada langsung berkata 'tidak' sebelum hatinya menjawab 'iya'. Dengan senyum yang merekah, Nada kembali melangkah. Sedangkan Fajar mendesah kesal dan terpaksa membiarkan Nada menjauh. Ia duduk di bangku taman dengan kepala menengadah ke atas. "Dicuekin Nada?" Sebuah suara berhasil membuat Fajar terperanjat dan mengelus dadanya. "Anjrit lo, Yan. Kaget gue," rutuk Fajar yang memukul bahu Rian dengan sedikit keras. Rian yang mendengar makian tersebut dibuat tertawa. "Ngapain lo ke sini?" tanya Fajar yang keheranan. Soalnya, ia merasa hanya dirinya di taman tersebut. "Gue punya cara bujuk Nada biar nggak ngambek lagi." Bukannya menjawab, Rian malah berkata lain. Fajar langsung penasaran dengan apa yang dikatakan Rian. "Apa?" tanya Fajar yang mendekat saat Rian meminta untuk merapat. Rian membisikkan strategi untuk merayu Nada. Awalnya Fajar menolak karena tak yakin ia bisa melakukannya. Namun, akhirnya ia setuju setelah mendapat kepastian bahwa Nada pasti akan luluh. Fajar pun memikirkan lokasi mana yang cocok untuk membujuk Nada. "Lo suka dia?" tanya Rian setelah selesai memberi ide. Fajar terkekeh mendengarnya. "Nggak lah," jawab Fajar yang tampak ragu. "Kalau lo nggak suka dia, kenapa juga lo harus pusingin dia marah gitu?" Pertanyaan itu membuat Fajar bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah ia menyukai Nada? Namun, bukannya menjawab, Fajar malah berkata, "Gue nggak percaya yang namanya cinta, Yan." Rian mendengus mendengarnya. "Lo bisa ngebohongin hati lo dengan bilang nggak percaya cinta. Tapi lo tahu nggak apa yang gue lihat di mata lo? Lo percaya sama cinta. Buktinya, lo gusar saat Nada nggak ada kemarin. Lo pun bingung lihat Nada ngejauh gitu. Mulut bisa berbohong, Jar. Tapi hati dan mata lo nggak bisa. "Gue bukan mau ngeguruin lo. Tapi, jangan gara-gara Niken selingkuh, lo gagal move on. Come on, Jar. Cewek bukan cuma Niken doang di dunia ini. Cinta itu pasti ada. Lupain dia dan dekatin apa yang dikatakan hati lo. Nggak semua cewek kayak Niken, Jar. "Dan, kalau lo memang suka Nada, gue dukung lo dekat sama adek gue. Tapi, kalau lo nggak suka sama dia, jauhin Nada." Rian menepuk bahu Fajar setelah melirik jam tangannya. Ia bangkit dan berkata, "Pikirin hati lo. Bukan ego lo." Lantas Rian berlalu meninggalkan Fajar yang tampak merenungi setiap perkataan yang keluar dari mulu Rian.

Bab 20: Baikan

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1520

SarkatJadiBuku

Day25

PR

------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Lazimnya, manusia pasti akan berharap penuh dengan hasil dari rencana yang dibuatnya. Ingin Tuhan langsung mengabulkannya seakan semua keinginannya pasti terpenuhi. Terlalu suka berharap jelas tidak baik untuk kesehatan mental kita. Karena tak semua yang kita harapkan berjalan dengan mulus. Banyak lika-liku yang harus kita lewati. Dicuekin tadi pagi jelas bukan hasil dari rencana yang sudah dirangkainya. Ia berharap hal lain, seperti Nada menerima maafnya dan mereka bisa berjalan bersama ke kelas masing-masing. Atau mungkin mereka bisa nongkrong bersama di kantin nanti. Bisa jadi Nada kembali menolongnya jika ada yang menghajarnya. Atau banyak hal lain yang diharapkan Fajar. Sayangnya, Tuhan memberi pelajaran untuknya yang tidak menghargai kebaikan seseorang. Sepanjang pelajaran Seni, Fajar tak bisa fokus. Padahal itu adalah mata pelajaran yang disukai Fajar. Pikirannya melayang pada Nada yang tadi mencuekinya. Ia pun terus memutar kepalanya untuk mencari cara mendekati Nada kembali. Begitu bel tanda istirahat selesai, Fajar langsung bergegas keluar kelas setelah Bu Miska keluar. Kakinya melangkah cepat menuruni tangga menuju kelas 10 di lantai dua gedung A. Ia yang tak tahu Nada berada di kelas mana langsung mengintip satu per satu. Mulai dari kelas X IIS 1, X IIS 2, -Bahasa 1, X Bahasa 2, dan kakinya berhenti melangkah saat mata tersebut menangkap sosok Nada di kelas X MIA 1. Fajar tersebut melihat Nada duduk termenung menatap ke luar jendela yang menunjukkan halaman belakang gedung A. Tak menunggu lama, Fajar langsung masuk dan berhasil mencuri perhatian anak kelas X MIA 1 yang sebagian sudah keluar kelas. Namun, banyaknya pasang mata yang menatap penasaran pada Fajar, tak membuat ia surut untuk terus masuk ke dalam. Ia duduk di kursi samping Nada yang kosong. Nada yang sedang termenung tak sadar bahwa kursi di sampingnya sudah terisi. Penasaran dengan apa yang dilihat Nada, Fajar mengikuti arah pandangan Nada. Tak ada apa pun di sana kecuali pohon beringin yang berdampingan dengan pohon jambu. Sedangkan di sekeliling mereka, kericuhan mulai terdengar. Setiap orang berbisik satu sama lain menanyakan perihal kedatangan Fajar ke kelas itu dan memilih duduk di samping Nada yang cuek dengan kedatangannya. "Lihat apa lo, Nad? Serius amat," ujar Fajar yang berhasil mengagetkan Nada. Gadis itu langsung menegakkan tubuh untuk menetralkan jantungnya. Ia melirik sekilas dengan senyum tipis di bibirnya. "Lagi lihat pohon jambu," sahut Nada asalan. Ia meraih buku pelajaran yang tergeletak di atas meja lantas memasukkannya ke tas. "Cari siapa, Kak, ke sini?" tanya Nada kikuk saat menyadari pandangan teman-temannya yang penuh rasa penasaran. "Cari kamu," jawab Fajar yang menatap lekat ke manik mata Nada. Nada mengerutkan keningnya heran. "Untuk apa cari aku? Ada hal penting kah?" tanyanya lagi yang kini siap untuk keluar kelas. Ia bangkit dan meminta jalan pada Fajar dengan matanya yang menatap ke arah sela kursi. Fajar bangkit dan membiarkan Nada jalan duluan yang diekori olehnya. Mereka keluar dari kelas dan menuruni tangga untuk ke lantai satu. "Gue mau ngomong sebentar boleh?" tanya Fajar yang menyejajarkan langkah mereka. "Ini 'kan Kakak lagi ngomong," sahut Nada yang melirik sejenak. "Susah, Nad, kalau lagi jalan gini. Sebentar saja ikut aku, yuk." Fajar langsung menarik tangan Nada yang tanpa perlawanan mengikutinya. Mereka berjalan ke arah belakang gedung A yang tadi sedang dipandang Nada. Di bawah pohon beringin, ada dua kursi taman di sana. Mereka duduk di salah satunya dan di sanalah Fajar baru melepas genggamannya. "Mau ngomong apa, sih, Kak?" tanya Nada yang penasaran. Fajar memosisikan tubuh dan pandangan berhadapan dengan Nada yang menatap lurus ke arah depan. Di sana ada beberapa kea orang berlalu-lalang untuk duduk di salah satu kursi yang ada di halaman belakang tersebut. "Maafin aku soal di turnamen kemarin, Nad," ujar Fajar tanpa basa-basi. Nada mengangguk dan tersenyum tipis. "Lalu?" tanya Nada setelahnya. Fajar kebingungan setelah mendapat pertanyaan tersebut. Lalu apa, nih? Fajar bertanya pada dirinya sendiri. Ia harus jawab apa atas pertanyaan itu? Gugup pun masuk ke diri Fajar tanpa ada dorongan atau paksaan. "Eng ... lalu ...." Fajar tak bisa melanjutkan kalimatnya. Hal tersebut berhasil mencuri perhatian Nada. Gadis itu pun menghadap Fajar yang sedang menatapnya lekat. "Lalu?" Nada mengulangi pertanyaannya. Pemuda itu hanya bisa terkekeh kecil dengan tangan terangkat untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lalu apa, ya, Nad?" Fajar bertanya dengan cengegesan. Nada pun ikut terkekeh dan ia mengangkat bahunya. "Entah. Aku nggak tahu Kakak mau ngomong apa," ujar Nada yang kembali menghadap ke depan. "Gue mau minta maaf. Seharusnya gue nggak perlu bersikap seperti itu. Gue hanya malu, Nad. Nggak nyangka banget ada orang yang tahu tentang keluarga gue yang rusak gitu," jelas Fajar yang ikut melihat ke arah sembarang seperti Nada. Karena tak ada jawaban dari gadis tersebut, Fajar lanjut bertanya, "Mau dengar gue curhat?" Entah kenapa, Fajar merasa nyaman dengan Nada. Entah dorongan dari mana pula, ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya adalah keinginannya. Rasanya, jalan melepas beban adalah pada Nada. Padahal mereka belum saling kenal. Namun entah mengapa, Fajar merasa mereka sudah lama berkenalan dan Nada harus tahu masalahnya. Nada mengedikkan bahunya. "Terserah Kakak. Aku tahu itu berat. Kalau nggak sanggup, jangan diceritakan," ujar Nada yang mencoba cuek. Sejujurnya, jantung Nada saat ini berdegup sangat kencang. Mendapatkan keberadaan Fajar di kelasnya yang duduk tepat di sampingnya membuat hatinya melambung tinggi. Namun, ia tak mau menunjukkan kesenangannya karena tak ingin kecewa lagi. Ia takut, setelah ia berbaik hati seperti kemarin, malah Fajar cuek tanpa sebab lagi padanya. Ia tak mau hal itu terjadi lagi .... Karena rasanya sakit sekali .... "Sejujurnya, gue nggak tahu harus mulai dari mana." Fajar mulai bercerita. Ia mengutip daun kering di hadapannya dan mulai memainkannya. Hal itu pasti dilakukan jika ia merasa gugup tidak jelas. "Intinya, waktu itu aku pergoki Mama selingkuh. Maaf, beliau berbuat hubungan ranjang bukan dengan Papa. Ya ... silakan lo pikir saja, gimana kecewanya gue sama Mama. Dan gue nggak tahu kalau Dion itu pacarnya kakak Bagas. "Gue hancur, Nad. Gue nggak bisa membohongi diri sendiri. Sejak pergoki Mama, gue jadi semakin tempramen. Saat Niken juga ikut selingkuh, gue tidak bisa lagi percaya dengan yang namanya cinta. Semakin hancurnya gue, saat tahu Mama hamil anak Dion yang memilih cerai dari Papa." Jeda tercipta di antara mereka. Nada mendengar dengan baik tanpa menyelanya. Ia pun tak lagi terkejut atau memaki karena sudah tahu dari awal. Ia tak sengaja mendengar percakapan di antara perkelahian Fajar dan Bagas tempo hari. Helaan napas terdengar berat dari Fajar. "Ya! Waktu turnamen kemarin, gue lagi mikirin Mama. Awalnya, waktu lo datang, gue sudah sedikit tenang. Karena gue malu lo tahu tentang keluarga gue, di situ emosi gue meledak. Gue takut, setelah lo tahu keluarga gue hancur, orang lain juga bakalan tahu. "Jujur, Nad. Gue malu banget sama perbuatan Mama." Lagi, jeda kedua tercipta di antara mereka. Tangan Fajar terus memainkan daun kering yang sudah remuk di tangannya. Hal itu berhasil meredam emosinya agar tangis tak keluar saat mengingat ketegaan mamanya. "Bokap-nyokap gue mau cerai, Nad. Nyokap sudah hampir sebulan nggak pulang. Gue bingung harus gimana. Gue terluka dengan perbuatan dia," ujar Fajar akhirnya meluapkan kekecewaan yang sudah memuncak. Ia tidak mau orang tuanya cerai. Namun, ia tak tahu berbuat apa sehingga emosinya membuat ia semakin tempramen. Nada mengelus tangan Fajar yang tampak bergetar. Elusan lembut itu berhasil membawa sensasi tenang pada diri Fajar. Sampai ia berpikir, lo yakin nggak percaya cinta lagi, Jar? Benar kata Rian, lo nggak bisa bohongin diri sendiri. Buktinya, sekarang lo bisa tenang dengan elusan itu. Lo lagi jatuh cinta, Jar. "Aku nggak akan membongkar perkelahian kalian saat itu, Kak. Dan tenang saja, aku juga sudah tutup mulut Lolita dan Ririn. Kakak enggak usah malu karena aku tahu tentang keluarga Kakak. "Kakak kuat kok. Aku yakin banget Kakak bisa kuat. Buktinya, Kakak bisa melewati semuanya. Mungkin, sekarang Kakak kehilangan satu kasih sayang. Tapi suatu saat nanti, kasih sayang itu akan kembali walaupun bukan dari mama Kakak," ujar Nada yang memberi senyum pada Fajar. "Kakak harus yakin satu hal. Bahagia bukan hanya berasal dari rumah. Tapi bisa berasal dari mana saja asalkan kebahagiaan yang Kakak cari bukan dari yang merusak Kakak," sambung Nada yang semakin tersenyum manis. "Nad. Gue boleh jujur nggak?" tanya Fajar yang menatap lekat ke arah Nada. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. "Entah kenapa, setelah kenal lo, hidup gue lebih berirama. Kayak nama lo. Bernada," ujar Fajar yang mengutarakan apa yang dirasakan saat ini. Wajah Nada tersemu mendengar perkataan itu. Ia tak menyangka kehadirannya lumayan berarti pada Fajar. "Berarti fajar bisa bernada dong," canda Nada karena tak ingin hatinya melambung tinggi dengan perkataan Fajar tadi. Pemuda itu terkekeh mendengar perkataan Nada. "Mau berteman dengan gue?" tanya Fajar yang terlihat canggung. Biasanya, dia akan bertanya 'mau dengan gue' di saat ia menembak seorang gadis. Dan ini kali pertamanya ia meminta pertemanan pada seorang perempuan. Nada mengangguk sebagai jawabannya. "Asalkan aku nggak dicuekin lagi," sindir Nada yang berhasil membuat mereka tertawa bersama. "So, permintaan maaf gue diterima?" tanya Fajar untuk memastikan. Nada mengangguk mantap. "Aku sudah maafkan Kakak jauh-jauh hari," ujar Nada yang bangkit dari duduknya. "Sebagai perayaan aku terima pertemanan Kakak, traktir aku makan bakso di kantin dong," sambung Nada yang tersenyum cerah di wajahnya. Fajar tertawa mendengarnya. Ia ikut bangkit dan melangkah di belakang Nada sambil berkata, "BMM dong. Masa anak musisi nggak modal." Tawa mereka pun mengudara.

Bab 21: Bercerai

1 0

SarapanKataKMOBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1505

SarkatJadiBuku

Day26

-----------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Tuhan menciptakan takdir manusia berbeda-beda. Ada yang hidup dengan damai, ada pula hidup dengan begitu banyak drama. Ada yang berakhir bahagia, ada pula berakhir dengan sengsara. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa dan tak ada manusia yang bisa mengubah takdir. Mungkin, kita bisa saja berkata bahwa sudah mencoba mengelak takdir. Namun pada dasarnya, takdir yang dielak itulah yang sebenarnya ditetapkan untuk kita. Sidang keputusan sudah berjalan setengah jam yang lalu. Irma duduk dengan tegap di samping suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Perutnya yang tampak sudah semakin membesar membuat Lukman merasa semakin kecewa. Tak pernah dibayangkan dalam hidupnya akan seperti ini. Ia pikir, rumah tangganya akan berjalan baik-baik saja. Ternyata, dikarenakan dirinya yang terlalu sibuk bekerja, ia kehilangan kekasih hatinya. Yang membuat Lukman tak habis pikir, Irma tak merasa bersalah sedikit pun. Tak ada rasa malu saat menghadiri mediasi dan persidangan dalam keadaan hamil anak orang. Sungguh miris .... "Dengan ini dinyatakan bahwa, Bapak Lukman Hantoro dan Ibu Irma Permatasari dinyatakan bercerai dengan hak asuh jatuh ke tangan Bapak Lukman sepenuhnya." Ketukan palu sebanyak tiga kali menyatakan bahwa semuanya telah selesai. Irma berdiri dan pergi begitu saja bersama Dion yang menyambutnya dengan senyum merekah. Lukman yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Sangat disayangkan, tak ada rasa bersalah di wajah wanita yang masih sangat dicintai itu. Mereka bergandengan tangan keluar bersama dari ruang persidangan. Lukman mengembus napas berat. Satu bebannya terasa lepas dari pundaknya. Saat ini, ia bisa kembali bekerja dengan tenang tanpa harus memikirkan akan berseteru hebat dengan Irma yang sibuk meminta cerai. Bukan hanya fokus pada pekerjaan, Lukman juga mencoba fokus pada Fajar. Memberi apa pun yang terbaik untuk anak sematawayangnya. Saat Lukman keluar dari ruang persidangan, ternyata Irma masih ada di sana. Namun, Lukman tak menghiraukannya lagi. Ia berjalan meninggalkan ruang persidangan dengan langkah yang stabil. Sayangnya, langkahan tersebut berhenti saat Irma menarik lengan Lukman dengan sedikit paksaan. "Aku akan minta sidang lanjutan untuk harta gono-gini," ujar Irma begitu berhasil membalikkan tubuh Lukman menghadapnya. Lukman sudah menebak pasti Irma akan melakukan demikian. "Terserah kamu!" seru Lukman yang kembali melanjutkan langkahannya meninggalkan ruang persidangan. Irma yang melihat itu hanya bisa mendengus kesal. ???????????? Biasanya, di saat kita sedang bahagia, kabar buruk akan ikut menghampiri. Semua hal di dunia ini memiliki pasangan masing-masing. Perempuan dengan laki-laki, malam dengan pagi, begitu pun bahagia yang dipasangkan dengan kesedihan. Fajar mengangkat ponselnya yang bergetar dalam saku celananya. Saat melihat siapa yang telepon, Fajar pamit pada Nada yang sedang menyantap bakso. Ia melimpir ke sudut kantin yang kosong dan mengangkat panggilan tersebut dengan kata, "Ya, Pa?" "Kamu di sekolah?" tanya Lukman tanpa basa-basi. Fajar mengangguk padahal Lukman tidak bisa melihatnya. "Ya, Pak," jawab Fajar singkat. "Pulang nanti kamu datang ke alamat yang Papa kirim, ya. Kita akan tinggal di rumah baru. Eh, tapi itu kalau kamu mau tinggal sama Papa, sih. Cuma Papa mau kabarkan, hak asuh kamu ada di tangan Papa. Nanti setelah umur kamu 17 tahun, kamu baru bisa memilih mau tinggal terus sama Papa atau Mama. Atau boleh juga sendiri," jelas Lukman panjang lebar di ujung sana. Mendengar itu, jantung Fajar berdegup kencang. Apalagi ada getaran kecewa yang terdengar dari suara papanya. Dengan berat hati ia bertanya, "Papa dan Mama sudah resmi bercerai?" "Ya! Baru saja. Dan Papa nggak mau ribut soal harta gono-gini. Biarkan saja rumah itu jadi milik Mama. Kita akan tinggal di rumah yang lebih minimalis dan nyaman," jawab Lukman dengan rinci. "Papa mau ke kantor dulu, Jar. Kalau kamu bersedia tinggal sama Papa, datang ke rumah baru kita. Kalau kamu tetap mau tinggal di rumah itu, jadinya kamu tinggal sama Mama. Dan mungkin ada Dion," sambung Lukman yang memelankan suara di akhir ujarannya. "Papa matikan dulu. Belajar yang rajin, ya, Nak. I love you." Panggilan telepon benar-benar sudah berakhir. Fajar mematung saat mendengar kabar tersebut. Ia tak menyangka hal ini benar terjadi pada kehidupannya. Saat tadi ia baru saja bahagia karena Nada tak lagi menghindar, kini ia mendapat kabar buruk bahwa mamanya benar-benar bercerai dengan papanya dan memilih hidup bersama selingkuhannya. Sungguh miris nasib hidupnya .... Fajar meninggalkan kantin dengan kepala mendidih. Nada yang melihat itu keheranan. Dengan cepat ia berkata pada ibu kantin, "Bu. Nada balik lagi nanti untuk bayar, ya. Urgent." Lantas ia berlari mengejar Fajar yang sudah hilang dari pandangannya. Nada melihat gerbang sekolah yang terbuka dengan kepungan debu di sana. Dengan cepat ia melangkah ke parkir dan tak ada motor Fajar lagi. Pria itu memilih bolos dan Nada tak tahu harus berbuat apa. Menyusul pun tidak mungkin. Maka ia mengirim pesan pada Rian dengan isi: Nada: Gue tadinya mau chat Kak Irwan cuma nggak punya nomornya. Kak Fajar bolos dan keluar dari sekolah pakai motor setelah terima telepon. Gue nggak tahu ada apa. Tadi mukanya murka banget. Dan setelah pesan terkirim, ia semakin kebingungan. Kenapa ia harus mengabarkan pada Rian? Gunanya untuk apa? Pria itu tidak akan ikut bolos karena takut pada papanya. Maka dengan gontai Nada kembali ke kantin untuk membayar makanan yang mereka tinggalkan tadi. ???????????? Fajar menginjak rem sampai berdecit. Ia meletakkan helm di atas kursi teras. Ia langsung masuk rumah dan berjalan dengan amat cepat. Napasnya naik turun dengan tidak teratur. Kepalanya mendidih seakan hendak meledak. Siapa saja akan marah jika diperlakukan seperti dirinya. Orang yang amat dicintainya memilih pergi bersama orang lain dan tega meninggalkannya. Memang ia sudah besar, tapi ia sama seperti anak lainnya. Seorang Fajar tetap membutuhkan kasih sayang ibunya. Langkah Fajar berhenti pada pintu kamar utama yang lagi-lagi tidak ditutup rapat. Sebuah kebiasaan buruk Irma. Dari dalam sana, terdengar tawa bahagia Irma. Mendengar itu, hati Fajar bak diramas dengan amat kuat. Tanpa berpikir panjang--tentang kemungkinan yang sedang dilakukan kedua orang di sana--Fajar langsung membuka pintu itu dengan amarah yang membara. Ia bisa melihat Irma terkejut dengan kedatangannya dan Dion yang berdiri dengan tampang tidak bersalah. "Fajar ...." Irma bersuara pelan. Ia tak menyangka anaknya di sana. Namun, ia merasa tidak terbeban lagi karena antara dirinya dan papa Fajar sudah selesai. Ia sadar, antaranya dan Fajar tidak akan selesai sampai kapanpun. "Mama tega banget, sih?" tanya Fajar pelan yang tak habis pikir dengan perbuatan mamanya. "Aku dan Papa menderita karena Mama memilih pergi, tapi Mama malah ketawa-ketiwi bahagia banget sama dia!" seru Fajar dengan pelan karena terlewat kecewa. "Senang Mama dengan semua ini? Mama selingkuh dengan dia. Mama pergi dengan dia. Mama punya anak dengan dia sampai aku! Anak Mama satu-satunya terlupakan! Bahagia banget, ya, Ma?" tanya Fajar yang emosinya kembali tinggi. Tak disangka, air mata sakit dan kecewanya mengalir di pipi tirusnya. "Mama pikirin aku nggak, sih? Mama mikir nggak kalau aku nggak bahagia dengan apa yang Mama buat? Aku sakit, Ma. Aku malu! Dan Mama tahu apa yang aku rasakan? Gara-gara Mama, Bagas sudah dua kali nonjok aku. Mama tahu Bagas? Ah, Mama pasti kenal Kak Lia? Iya, tunangannya pacar Mama itu. Semua itu gara-gara Mama. Aku bukan cuma sakit di rumah, tapi aku juga malu di sekolah. Puas Mama sudah ngelakuin ini semua?" Air mata pecah begitu saja. Emosinya tak bisa lagi ditahankan. Ia melihat Dion yang duduk santai di atas ranjang dengan senyum miringnya. "Maaf, Ma. Aku tidak akan membiarkan Mama bahagia. Aku akan kasih Mama luka yang berat. Biar saja aku dikatakan anak durhaka. Aku nggak peduli. Karena yang aku pedulikan sekarang adalah Papa dan kebahagiaan kami yang sudah kalian renggut. Aku akan bujuk Papa untuk tidak mengganti nama Mama di surat tanah rumah ini," ancam Fajar dan Irma tak gentar dengan ancaman tersebut. "Dasar ...." Tak sempat Irma mengeluarkan perkataannya. Emosinya juga ikut tersulut. Ia tak suka disalah-salahkan. Menurutnya, ia berbuat seperti itu juga karena perbuatan Lukman. Jika saja mantan suaminya itu tak sibuk dengan pekerjaannya, tetap memberi kasih sayang dan cinta yang lebih untuknya, hal ini jelas tidak akan terjadi. Bisa saja ia mengelak takdir. Itulah yang dipikirkan Irma. Fajar pergi begitu saja dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Ia mengemas barangnya dan membiarkannya di sana. Mengambil ATM yang jarang dibawanya, ia langsung keluar sambil berteriak, "Bi. Nanti tolong suruh Mbak Entin antar koper aku, ya. Aku sudah kirim alamat ke ponselnya. Dan Bibi sama Mbak Entin ikut kami, ya. Aku nggak mau tahu. Sampai jumpa di rumah baru." Dan Fajar berlalu setelah menemukan Bi Minah mengangguk dengan senyum kakunya. Fajar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya hanya satu, yakni markas di roof top ruko sang papa. Sesampai di sana, tak lupa sebungkus rokok, empat minuman kaleng bersoda, dan kuaci kesukaannya ikut dibawa ke atas. Ia hendak menghabiskan waktu dengan merenungi nasibnya di atas sana. Tak lupa ia mematikan ponsel saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Nada serta Rian. Fajar merebahkan tubuhnya di sofa lusuh kesayangannya. Membuka satu minuman kaleng dan menegakkan hingga setengah. Ia mengambil seputung rokok dan menyesapnya dalam. Lantas, pikirannya melayang entah ke mana. Ia tak lagi memikirkan kemungkinan papanya ada di bawah sana. Ia membiarkan rahasianya dilihat oleh papanya. Ia tahu konsekuensi apa yang akan diterimanya nanti. Namun, Fajar tak peduli. Ia ingin melakukan ini.

Bab 22: Move On

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1535

SarkatJadiBuku

Day27

-------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Hidup akan terus berlanjut walaupun kita tidak ingin terlalu cepat berjalan. Kemarin baru saja kita meratap nasib, hari ini kita harus bangkit kembali. Hanya akan membuang waktu jika kita terus berada di sana. Banyak hal bahagia yang menanti kita ke depannya. Kemarin Fajar tampak murka dan terluka setelah mendapat kabar perceraian orang tuanya. Bahkan ia tidak takut untuk bolos sekolah. Hari ini, ia kembali masuk dengan senyum yang merekah. Tak lupa, guru BK sudah berdiri tegak di depan pintu kelasnya. Tanpa merasa bersalah, Fajar bertanya, "Halo, Pak Rusli. Cari aku, ya?" Pak Rusli geleng-geleng kepala. Wajah garangnya terkadang bisa terkekeh melihat tingkah Fajar. Jika sudah masuk ruang BK, ada saja idenya untuk merayu Pak Rusli. Namun kali ini, Pak Rusli mencoba menahan diri agar tidak termakan bujuk rayuan Fajar. "Ikut saya ke ruang BK sekarang!" perintah Pak Rusli yang tidak bisa diajak bercanda lagi. Pria berkepala tiga itu langsung pergi meninggalkan kelas yang tampak mulai ramai. Mau tidak mau, Fajar ikut di belakangnya. Namun, ia yang sudah tahu apa konsekuensi yang diterimanya akibat nekat bolos, memilih santai dan menerima apa saja yang nantinya diperintahkan--bahkan dimarahi. "Duduk kamu!" Pak Rusli kembali memberi perintah begitu mereka sampai ke ruang BK. Ia pun duduk di singgasananya sedangkan Fajar memilih sofa sebagai peristirahatannya. Pak Rusli mengembuskan napas beratnya. Karena keseringan melihat Fajar di ruang BK ini, ia sedikit tahu tentang anak itu. Bukan hanya dari mulut Fajar, ia juga sedikit bertanya tentangnya pada Pak Leon. Jika dilihat dari riwayat penyebab ia masuk ruang BK, tak semuanya berasal dari kesalahan Fajar. "Kali ini apa lagi, Jar?" tanya Pak Rusli yang menyenderkan tubuh di senderan kursi lantas sedikit berputar ke arah Fajar yang menengadahkan kepalanya. Fajar menggeleng. "Maaf, Pak. Aku pernah janji nggak bolos lagi, tapi harus aku ingkari kemarin. Aku nggak tahu harus ke mana setelah dapat telepon dari Papa," ujar Fajar yang menggantungkan penjelasannya. Ia memantapkan diri untuk memberitahu keadaannya. Toh, tidak ada yang perlu ditutup lagi bukan? "Papa mengabarkan bahwa sidang perceraian mereka sudah selesai. Jadinya, saya emosi dan nggak mau nangis di depan teman-teman. Nantinya mereka akan penasaran dan aku nggak mau mereka tahu, Pak," sambung Fajar akhirnya yang menatap lekat ke arah Pak Rusli yang tampak iba. Kembali terdengar hembusan napas berat pada Pak Rusli. "Baiklah. Karena kamu sudah melanggar perjanjian yang pernah kita buat, maka selama sebulan ini kamu harus ngelakuin apa yang tertulis di atas surat perjanjian yang sudah ditandatangani materai oleh kamu sendiri," ujar Pak Rusli yang tampak tidak bisa membantunya kali ini. Mau tidak mau, Fajar mengangguk untuk menerima konsekuensinya. Pak Rusli menyodorkan selembar amplop putih dengan kop surat berlogo SMA Internasional Nusa Bangsa. "Berikan pada Pak Lukman atau Bu Irma. Terserah kamu mau suruh siapa yang ke sini. Dan lakukan hukuman kamu mulai hari ini," perintah Pak Rusli yang diangguki Fajar. "Saya sudah boleh keluar, Pak?" tanya Fajar yang keheranan karena Pak Rusli langsung menyodorkan surat. Jika sudah seperti itu, tandanya urusan mereka sudah keluar. Pak Rusli mengangguk dan mempersilakan Fajar keluar dengan mengayunkan tangannya. Ia tak bisa memberi ceramah panjang kali ini. Pak Rusli paham dengan kondisi Fajar kemarin. Ia cukup memberi hukuman terlebih dahulu. Sebulan kemudian, setelah Fajar menyelesaikan hukumannya, ia baru akan memberi nasihat untuk anak tersebut. ???????????? Hidup harus kembali berjalan normal. Fajar kembali tidur malas-malasan saat masuk kelas. Ia tidur nyenyak kala guru Biologi menerangkan. Saat bel istirahat berbunyi, maka ia bangun untuk mengisi perutnya. Satu hal yang berubah selama seminggu ini. Sepulang sekolah, ia membersihkan seluruh halaman sekolah. Mulai dari halaman gedung A, B, C, dan beberapa lapangan olahraga. Tak lupa, ia juga ikut membantu ibu kantin. Semua kegiatannya dipantau melalui CCTV oleh Pak Rusdi. Bukan hanya itu, hubungannya dengan Nada pun semakin membaik. Selama seminggu ini, mereka menghabiskan waktu bersama. Seperti hari ini, sepulang sekolah--yang jam pulangnya lebih telat Fajar dibandingkan orang lain--ia yang sudah bersih-bersih, langsung mengendarai motornya ke Musicia Cafee. Malam ini Nada memintanya untuk bernyanyi di sudut musik kafe tersebut. Tanpa berpikir panjang, Fajar menerima ajakan tersebut. Kehidupan Fajar dan Lukman kembali normal dengan bantuan Bi Minah dan Mbak Entin di sisi mereka. Walaupun keluarga kecil itu tampak koyak, tapi Fajar mencoba menerimanya dan menghibur papanya yang selalu bersikap baik-baik saja. Sebenarnya, Fajar sangat tahu bahwa sang papa terluka. Ia bisa melihat cinta begitu besar dari papa untuk mamanya. Sampai detik ini, wallpaper di ponsel Lukman masih gambarnya dan Irma. Bukan hanya itu, ia masih menyimpan foto pernikahan mereka. Fajar sungguh kasian terhadap papanya. Padahal, yang harus dikasihani adalah dirinya yang tak bisa mendapatkan kasih sayang Irma lagi. Dan Irma pun seperti ditelan bumi bagi kehidupan Fajar. Selain memutuskan akses komunikasi, Fajar juga tak ingin bertemu wanita itu lagi. Ia sangat kecewa dengan keadaan ini. Fajar masuk ke Musicia Cafee yang disambung hangat oleh Tomi dan Sascia--ibu Nada. Mereka duduk di sisi kafe dan saling mengobrol. Selama seminggu ini, Fajar sering bertemu dengan mereka. Awalnya tampak canggung, tapi sekarang ia merasa nyaman. Keluarga Nada menerimanya tanpa melihat latar belakang keluarga yang amburadul. "Papa kamu punya kantor arsitektur, ya, Jar?" tanya Sascia yang sedang menghidangkan nasi goreng Jakarta yang dibelinya dari luar untuk mereka. Fajar mengangguk sebagai jawaban. Tak lupa ia menerima uluran piring nasi goreng Jakarta tersebut dengan hati gembira. "Kenalin sama kami, dong. Tante dan Om mau buat kafe baru di Bogor dan butuh desain yang bagus," sambung Sascia yang ikut bergabung dengan Tomi, Rian, Fajar, dan Nada yang sedang menyantap makanan mereka. Fajar lagi-lagi mengangguk. "Boleh, Tan. Nanti kalau Papa sedikit nganggur, aku ajak ke sini deh," ujar Fajar yang mengubah makanan dengan lahap. "Oya, gimana soal lagu kemarin, Yan, Jar? Sudah selesai?" tanya Tomi yang membuka topik lain. Rian menggeleng. "Fajar masih belum mau rekaman lagi, Om. Gimana ini?" tanya Rian yang melirik kesal pada Fajar yang tertawa kecil. "Sungguh disayangkan. Padahal suara kamu bagus dan lagunya juga cocok sama kamu, Kak," ujar Nada yang tampaknya keceplosan. Bak ada remote yang mengontrol, Fajar dan Rian sama-sama menghentikan aktivitas makan mereka dan menatap lekat ke arah Nada yang sepertinya telah sadar bahwa ia salah bicara. "Emangnya kamu pernah dengar suara Fajar dan lagu itu?" tanya Rian yang mulai curiga. Apalagi ia pernah mendapatkan satu folder di laptopnya yang tidak dimatikan dengan baik. Nada kelagapan. "Eng ... su ... sudah. Itu ... waktu lo pakai Studio-4 dan gue main piano di sana. Gue nggak sengaja dengar lo mutar suara Kak Fajar," jelas Nada yang tampak gugup. Untungnya, ia ingat tempo hari Rian mengoreksi musiknya. "Tahu dari mana lo itu suara Fajar?" tanya Rian lagi yang semakin curiga. "Eng ...." "Gimana kalau sekarang Fajar nyanyiin lagu itu di sini. Mana tahu orang menikmati dan bisa diterima khalayak ramai. Jika tepuk tangan banyak, maka kalian harus fokus pasarkan lagu itu. Gimana?" potong Tomi yang menangkap anaknya sedang berbohong. Fokus Rian teralihkan. "Boleh juga tuh ide Om Tomi. Gimana, Jar?" Rian melempar pertanyaan pada Fajar. "Gimana, ya? Gue nggak pede," ujar Fajar yang kebingungan. "Sudah! Ayo!" ajak Rian yang bangkit dan langsung menuju sudut musik. Ia langsung mengambil gitar listrik dan menyetelnya. Setelah mendapatkan irama gitar listrik yang pas, Rian berdiri tegak di depan mikrofon yang dinyalakannya. "Selamat malam, para penikmat kesendirian. Malam ini gue butuh bantuan lo semua. Sahabat gue nggak yakin suaranya bagus dan cocok dengan lagu ini. Kalau kalian sependapat dengan gue, beri tepuk tangan meriah di akhir nyanyian agar sahabat gue ini mau melanjutkan rencana kami. Tapi, jika menurut kalian lagu dan suaranya biasa saja, kalian boleh diam tanpa menghiraukan kami. Terima kasih," ujar Rian dengan senyum yang merekah. "Ini dia. Fajar ...." Mau tidak mau, Fajar bangkit dari duduknya setelah dipanggil untuk menyusul Rian. Ia berdiri di depan mikrofon begitu musik dimainkan. Saat intro selesai, Fajar menarik napas lantas mengeluarkan suaranya. "Engkau yang slalu kucinta, tak pernah kuduga kau bisa mendua. Dan mungkin, bila kubertahan, bersama denganmu .... Tak sanggup diriku. "Mungkin, kau tak pernah tahu. Apa yang kurasa, di dalam hatiku .... "Bila nanti aku pergi jauh, jangan kau panggil aku kembali padamu. Dan berharap kukan seperti dulu. Menyayangimu sepenuh hati, tak pernah terjadi, oh sayangku ...." Musik dan nyanyian bersatu dengan amat merdu. Semua orang tampak menikmati suara Fajar dan musik yang dimainkan Rian. Nada duduk di tempat dengan pandangan terpukau. Ia yang biasanya hanya mendengar suara Fajar melalui rekaman yang dicurinya, kini bisa mendengarnya secara langsung. Ada rasa nyaman dan teduh di hatinya. Tak lupa pandangan terpananya melihat Fajar di hadapannya. Tepuk tangan begitu meriah saat musik berhenti. Fajar yang mendapat itu tak menyangka bahwa suaranya bagus. Jika seperti ini, maka cita-cita menjadi penyanyi tak mungkin mustahil seperti yang dikatakan Bastian. Ia sedikit membungkuk dan mengucapkan terima kasih banyak. Rian mengambil alih mikrofon Fajar. Ia berkata, "Terima kasih semua. Kalian suka nggak lagu ini? Doakan semoga teman saya mau rekaman lagi dan buat video klipnya. Sekali lagi, terima kasih banyak." Tepuk tangan kembali memenuhi Musica Cafee. Fajar bangga dengan apa yang didapatnya. Ia kembali ke meja tempat Tomi, Sascia, dan Nada berkumpul. Tomi menyambutnya dengan tepukan di bahu dan berkata, "Om pernah bilang kalau kamu berbakat. Jadi, ayo kita mulai projeknya. Om yang akan cari sponsor untuk kalian." Rian bersorak bahagia mendengar itu. Melihat kebahagiaan Rian, Fajar pun mengangguk mantap. Ia juga harus bangkit dan menggapai cita-citanya ....

Bab 23: Buat Konten

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1541

SarkatJadiBuku

Day28

---------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

--------------------------------------------------------------

 

Siapa yang bisa menyangka, kemarin hidupmu hancur lebur, hari ini berhasil tertata kembali. Kemarin terlihat tidak punya harapan, hari ini berhasil menggenggam harapan yang lebih besar. Tidak ada yang bisa ditebak dalam kehidupan ini. Kemarin adalah masa lalu yang tak ingin diulang. Hari ini adalah masa yang sedang diusahakan berjalan dengan baik. Besok adalah teka-teki kehidupan. Setelah hatinya hancur ditinggal sang mama, hari ini Fajar terasa lahir kembali. Dengan semangat baru, ia datang ke Musicia Studio untuk mewujudkan mimpinya. Siapa bilang anak broken home hanya bisa buat onar? Buktinya, Fajar masih bisa mengejar mimpi. Hati boleh sakit, tapi tubuh harus tetap kuat untuk menggapai apa yang ingin kita gapai. Fajar tersenyum lebar saat mendengar rekaman suaranya. Ia semakin pede setelah tampil di Musicia Cafee yang berhasil mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Setelah hari itu, ia tak mau menunda lagi. Pun lagu itu mirip ungkapan hatinya yang sakit ditinggal mamanya. Ia ingin Irma segera mendengar lagu tersebut agar mamanya tahu seberapa besar rasa sakit di hatinya. Tomi yang sedari tadi menemani proses rekaman Fajar terus memuji pemuda tersebut. Hal itu membuat Fajar semakin malu dan merendah. Seorang produser terkenal memuji dirinya? Mimpi apa Fajar semalam .... Saat mereka--Rian, Tomi, dan Fajar--sedang membicarakan konsep video klip yang akan dibuat jika nanti surat pemilikan keluar, pintu Studio-4 terbuka. Nada muncul di baliknya dengan senyum yang lebar sambil bertanya, "Apakah aku menganggu?" Tomi tersenyum lebar melihat anaknya masuk. Sedangkan Fajar terlihat gugup saat Nada muncul. Tangan Tomi terulur pertanda Nada boleh masuk. Ia mendekat dan memeluk sang ayah lalu mencium kedua pipinya. "Aku mau ajak Kak Fajar buat konten boleh kah, Pa? Sebelum dia terkenal dan terlalu sibuk," ujar Nada yang berharap lebih. Sejak mendengar suara Fajar yang dicurinya dari laptop Rian, ia sangat berharap pria tersebut mau diajak buat konten cover lagu bersama. Namun, ia tak punya keberanian dan alasan yang kuat untuk mengajar pria tersebut. Dan ini kesempatannya untuk menyenangkan hatinya. Nada adalah konten kreator yang rajin mengunggah video di YouTube. Hanya saja, ia tak terlalu terkenal seperti para YouTubers lainnya. Dari seribu orang di Jakarta, hanya dua puluh persen yang mengenalinya. Mendengar itu, Tomi tertawa. "Kenapa kamu izinnya ke Papa? Kenapa nggak izin langsung sama Fajar dan Rian? Ah, kamu tahu, Nad? Kakak kesayanganmu ini akan menjadi manager artis nantinya kalau lagu Fajar berhasil debut. Kamu harus pintar ambil hati dia biar bisa dekat lebih lama sama artisnya," ujar Tomi yang berhasil membuat kedua pemuda di hadapannya tertawa. "Aku mau juga dong, Pa, jadi penyanyi di bawah lebel Musicia Music. Masa aku anak produser disuruh cari lebel lain yang mau terima aku," ujar Nada yang merasa tidak adil. Kembali terdengar tawa dari Tomi. "Kamu ke sini mau ngerayu Papa atau ajak Fajar bikin konten, nih?" tanya Tomi yang tak enak dengan anaknya itu. Nada cengengesan mendengar itu. "Mau nggak, Kak?" tanya Nada yang berharap penuh. Fajar mengangguk. "Besok pulang sekolah kita buat konten kamu itu," ujar Fajar yang menerima tawaran Nada. Gadis itu tersenyum indah dan mengangguk patuh. Akhirnya, mereka melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda. Kini, Nada juga ikut memberi idenya. Rian jelas tidak akan menolak ide-ide yang keluar dari kepala Nada karena nantinya juga ia akan meminta bantuan Nada untuk membuat video klip pertama artisnya. Selain ingin mewujudkan mimpi menjadi musisi, Rian harus mengawal sendiri temannya yang nanti akan membawa namanya kemana-mana. Hal itu dilakukan agar orang mengenal dirinya sebagai pencipta lagu. Mana tahu, ada keuntungan lagi yang didapatkannya. ???????????? Fajar menepati janjinya pada Nada. Kebetulan hari Minggu tiba, waktu Fajar untuk menemani Nada bikin konten pun lebih banyak. Saat ini Nada dan Fajar duduk di balik mikrofon rekaman. Di balik ruang rekaman, Rian duduk di sana untuk mengontrol musik mereka. Nada sudah memberi teks lagu yang akan mereka nyanyikan semalam pada Fajar. Dan ia sudah menyiapkan instrumen dari alat musik piano jauh hari setelah memiliki impian bernyanyi dengan Fajar. Begitu musik diputar Rian, Fajar dan Nada saling tersenyum. Mata mereka saling memandang menghayati isi dari lirik tersebut. Keduanya tampak menikmati waktu kebersamaan itu. Rian yang melihat dari balik kaca tebal pun ikut tersenyum. Ia melihat ada kemestri lain di antara mereka. Siapapun yang melihat Nada dan Fajar hari ini, akan seperti melihat semburat biru kekuningan pagi yang cerah dan menggembirakan layaknya nada yang berirama menyambut hari. Sungguh perpaduan yang sayang untuk tidak dinikmati. Saat musik berhenti, keduanya masih saling menatap. Rian memilih keluar dan tidak ingin menganggu keduanya. Fajar mendekat bak ditarik magnet. Ia mengesampingkan anak rambut Nada yang turun menutupi pipi chubbynya. Mendapatkan perilaku lembut itu berhasil membuat Nada malu. Wajah hingga ke telinganya merah sempurna layaknya terbakar oleh sinar matahari. "Makasih banyak karena kamu sudah membuat aku bangkit dari keterpurukan. Kalau kamu nggak ada, mungkin aku masih awur-awuran. Masih mengurung diri di kamar," ucap Fajar dengan tulus. Teringat akan awal mula mereka lebih akrab seperti ini. Setelah Fajar meminta maaf dan tiba-tiba kabur, besoknya pria itu berhasil menceritakan isi hatinya pada Nada yang prihatin mendengarnya. Namun, gadis ini tidak memuji perbuatannya. Mungkin kalau bersama gadis lain akan membenarkan apa yang dibuat. Sayangnya, bersama Nada ia malah mendapat amukan. Ia diberi ceramah panjang untuk berubah. Nada pun mendukungnya habis-habisan. Nada mengangguk pelan. "Aku nggak tahu harus bangga atau apa, Kak. Tapi aku senang bisa melihat kamu seperti ini. Mungkin kita bertemu dengan cara tidak mengenakkan. Kamu berkelahi, insiden samsak yang nggak sengaja melayang ke arah aku, terus aku yang nggak sengaja mendengar kamu dan Bagas saling melempar kekecewaan," Nada mengedikkan bahunya, "aku nggak nyangka kita bisa sedekat ini sekarang. Padahal aku nggak punya keinginan untuk dekat sama kamu. Aku hanya kenal kamu waktu OSPEK doang. Selebihnya, aku nggak pernah cari tahu tentang kamu. Tapi, ada saja yang membuat aku mendengar nama kamu lebih banyak dari pertemuan kita," ujar Nada yang tersenyum saat membayangkan proses pertemuan mereka. "Sekali lagi, makasih banyak, ya, Nad. Seperti yang pernah kamu bilang, hidupku lebih berwarna sekarang. Akan lebih bernada. Fajar bernada," timpal Fajar yang membuat Nada terkekeh. "Jangan sedih lagi, ya, Kak. Ingat kata Papa. Apapun yang kamu lalui, pasti akan ada jalan keluarnya. Hidup nggak selamanya sedih, juga nggak selamanya bahagia. Mereka berjalan berdampingan," ujar Nada yang memeluk Fajar untuk memberi bentuk dukungan. Nada tersadar akan perbuatannya yang salah saat mendapatkan tubuh Fajar yang kaku dalam menerima pelukannya. Begitu pun saat membalas pelukan tersebut. Hal itu dilakukan Nada begitu saja. Ia reflek memeluk Fajar. Padahal, ia tak pernah memeluk laki-laki lain kecuali papa, kakak, dan Rian. Fajar orang pertama yang mendapatkan pelukan hangatnya. Lama mereka berpelukan karena merasa nyaman. Dalam diam mereka saling merasakan debaran jantung keduanya. Nada merasakan debaran kuat itu, begitu pun dengan Fajar. Ia yakin bahwa dirinya benar telah jatuh cinta pada pria tersebut. Namun, ia tak ingin ambil kesimpulan apakah pelukan itu pertanda Fajar jatuh cinta juga padanya. Atau hanya sekadar menerima pelukan tersebut sebagai bentuk dukungan. Suara pertanda baterai habis dari kamera yang ternyata masih menyala membuat Fajar dan Nada tersentak dan langsung melepaskan diri. Wajah Nada merah karena malu akibat perbuatannya sendiri. Fajar hanya bisa berdiri dengan sedikit salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ada rasa nyaman dalam pelukan tersebut. Fajar tidak rela melepaskannya. Namun, ia sadar tidak baik memeluk anak gadis orang terlalu lama. Apalagi tidak punya ikatan istimewa--yakni hanya berteman. Nada mendekat pada kameranya dan menyimpan hasil rekaman. Ia mematikan benda berwarna merah muda itu lantas kembali mendekat pada Fajar sambil berkata, "Makasih banyak, ya, Kak, sudah mau aku ajak bikin konten cover lagu. Nanti kapan-kapan kalau aku ajak buat konten yang lain mau, ya?" Fajar mengangguk. Entah gerakan dari mana, tangannya bergerak menyentuh puncak kepala Nada dan mengelusnya dengan lembut. Nada melihat perlakuan Fajar dan tersentuh. Jika sudah seperti ini, apa ia bisa mengelak jatuh cinta lagi? Mungkin dulu ia bisa tidak jatuh cinta terlalu dalam karena ia tidak mendekati orang yang ia cintai itu. Namun, tidak dengan sekarang. Ia tidak mungkin bisa mengelak keberadaan Fajar lagi. Toh, dia sendiri yang memulai membuka pintu untuk Fajar masuk dalam hatinya. Sudah terlambat untuk ia tutup kembali. Apa alasan yang akan diberinya jika memilih menjauhkan Fajar? Tidak ada alasan untuk keduanya saling menjauh. Maka Nada memilih jalan untuk diam di tempat saja. Ia tidak akan mengatakan cinta jika Fajar tidak mengungkapkannya duluan. Terlebih saat ia tahu jika Fajar tak percaya dengan adanya cinta sejati. Ia memilih menikmati rasa ini secara diam-diam ketimbang mengungkapkan tapi harus kehilangan Fajar di sisinya. Ia belum siap. Karena keberadaan Fajar berhasil membuat hidupnya lebih hangat. "Sampai kapan nih kita cuma berdiri saling tatap dan senyum-senyum nggak jelas gini?" tanya Fajar yang merasa canggung karena Nada terus menatapnya. Nada tersentak dan berhasil membuat wajahnya semakin memerah. Ia pun langsung memasukkan kameranya ke dalam tas sambil berkata, "Sudah selesai. Ayo keluar, Kak. Nanti Kak ...." Perkataan Nada terhenti saat ia melihat ke kaca besar di hadapannya. Ia baru sadar bahwa Rian sudah tidak ada di sana lagi. "Aku pikir tadi Kak Rian di sana," ujar Nada yang menunjuk tempat duduk Rian semula. Fajar mengembuskan napas lega saat menyadari tak ada siapapun yang melihat aksi aneh mereka tadi. "Ya sudah. Ayo keluar," ajak Fajar yang menuntun Nada ikut keluar. Keduanya berjalan sambil lembar canda. Membicarakan rencana untuk menghabiskan hari Minggu yang sudah berjalan dua jam di Musicia Studio.

Bab 24: Hancur Lebuh

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksara

JumlahKata1534

SarkatJadiBuku

Day29

------------------------------------------------------------

PJ Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

------------------------------------------------------------

 

Kenapa penyesalan selalu datang belakangan? Irma tidak menyangka hal ini akan terjadi. Ia pikir, setelah dirinya dan Lukman bercerai, hidupnya akan berjalan dengan baik seperti semua bersama kekasihnya. Ternyata, apa yang dipikirkan dan dibayangkan tidak berjalan semestinya. Bukannya mendapat kebahagiaan, ia malah terombang-ambing tak tentu arah. Suara pecahan dari lantai satu membuat Irma turun dari ranjangnya. Hamil di usia tua membuat ia lebih sering tidur saja. Dulu saat ia hamil Fajar, ia masih bisa melakukan kegiatan rumah seleluasa mungkin. Namun pada kehamilan sekarang, ia lebih banyak tidur dan berbaring. Jika ia terlalu banyak beraktivitas, maka ia akan lemas yang berujung keluar flek. Irma keluar kamar dan melihat rumahnya sangat berantakan. "Dion ...." Irma memanggil kekasih hatinya. Tak ada jawaban sama sekali membuat Irma bertanya-tanya siapa di rumah itu? Apakah ada pencuri yang masuk di siang bolong seperti ini? "Dion ...." Sekali lagi Irma memanggil dan memberanikan diri keluar kamar. Saat melewati ruang keluarga menuju dapur, ada pecahan vas bunga kristal yang dibelinya saat umur Fajar enam tahun. Vas yang sangat sulit dicari dan ia menyayanginya pecah berkeping-keping. Ingin marah, tapi Irma tak tahu harus marahi siapa karena tak ada siapa pun di sana. Dari arah dapur, Irma kembali mendengar suara benda jatuh. Ia langsung ke sana dengan langkah yang sedikit pelan. "Dion ...." Kembali ia memanggil kekasihnya yang biasa hilir-mudik di rumah tersebut sejak ia menjadi janda. Di sana, terlihat Dion yang sedang membuka tutup lemari. Ia seperti sedang mencari sesuatu. Irma bernapas lega saat mendapati Dion di sana--bukan pencuri seperti yang dibayangkan tadi. Ia pun berjalan semakin dekat dan bertanya, "Kamu cari apa, Yon?" Dion yang tersentak langsung berbalik ke arah Irma. Matanya merah dan tampak kliyer. Melihat itu, Irma curiga ada yang tidak beres pada orang yang dicintainya. "Kamu kenapa?" Irma berjalan dengan cepat untuk mendekat. Ia melupakan perutnya yang nyeri jika ia bergerak cepat. "Lo nggak masak apa-apa?" tanya Dion yang berhasil mengentikan langkah Irma. Pasalnya, Dion yang tak pernah berbicara penggunakan sapaan lo pada Irma. Ia menebak, pasti ada yang tidak beres pada diri Dion. Tanpa melangkah lagi, Irma berkata, "Eng ... aku belum sempat masak. Masih lemas." Dion terkekeh mendengarnya seakan apa yang dikatakan Irma adalah lulucon belaka. "Lo nggak sempat masak?" tanya Dion yang diangguki oleh Irma. "Seharian di rumah ngapain saja? Tidur doang?" tanya Dion lagi yang masih dibalas anggukan oleh Irma. Melihat dua anggukan itu membuat Dion murka. Ia mendekat pada Irma sambil berkata, "Nggak becus lo! Sudah bokek, tiduran saja lagi kerjaannya." Irma tak bisa menjawab apa-apa. Memang sejak bercerai dari Lukman, ia tak punya apa-apa. Uang pasca perceraian pun hanya didapatnya sedikit dan begitu uang itu masuk ke rekening, Dion pasti duluan mengambil alihnya. Terkadang, ia tak bisa makan apa-apa. Kalau bukan karena Mbak Entin yang sesekali datang ke rumah untuk mengecek isi lemari pendinginnya, mungkin ia tak punya stok makanan untuk dirinya dan calon bayi yang amat disayangi. "Gue minta duit!" seru Dion yang kini berdiri di hadapan Irma. Irma menggeleng pelan. "Aku nggak punya uang lagi. Kamu sudah ambil semua uangku," ujar Irma yang menebak pasti akan ada pertengkaran setelah ini. "Gue nggak mau tahu! Gue butuh duit. Mana!" Dion berteriak di hadapan Irma. Irma mengerutkan keningnya karena tidak tahu harus mengambil uang di mana. "Aku nggak punya uang lagi, Yon. Kamu bekerja! Seharusnya kamu kasih aku uang seperti yang sudah kamu janjikan dulu. Kalau aku bercerai dengan Mas Lukman, kamu akan nikahin aku dan semua kebutuhan kamu tanggun, 'kan? Itu janji kamu, Yon. Tapi sekarang apa? Masa idahku sudah hampir habis, tapi kamu belum juga urus pernikahan kita. Kamu cuma datang minta uang saja." Irma akhirnya meledak. Sudah hampir tiga bulan ia bercerai dengan Lukman. Namun, hasil dari perceraian tersebut belum terlihat sama sekali. Bahkan keadaan seperti memburuk. Janji-janji yang pernah diucapkan Dion hilang begitu saja. Bukan hanya janji, keberadaan Dion di rumah itu pun sudah tak seperti awal ia bercerai. Pria itu akan datang jika membutuhkan uang saja. "Apa? Nikahin lo?" tanya Dion yang kembali terkekeh. Dari jarak dekat seperti ini, Irman baru menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Dion. "Gue nikahin mamak-mamak kayak lo?" Dion bertanya lagi yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. Ia mendengus dan berkata, "Yang benar saja?" "Kamu mabuk, Yon?" Bukannya menjawab, Irma balik bertanya. "Sejak kapan kamu mabuk-mabukan gini?" Irma kembali bertanya. Ia berjalan mendekat dan hendak menyentuh wajah kekasihnya. Tangan Irma ditapis kencang. "Jangan sentuh gue!" teriak Dion yang berhasil membuat Irma berdiam di tempat. "Gue nggak akan nikahin lo, Ma. Lo dengar baik-baik. Gue. Nggak. Akan. Nikahin. Lo! Lo sudah miskin. Nggak ada yang bisa gue harapkan lagi sama orang yang kerjaannya cuma tidur doang. Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Urus tuh anak sendiri," ujar Dion yang berlalu keluar dapur. "Dion!" Irma mencoba mengejar. Namun, perutnya sangat keram. Ia terus memanggil Dion tapi pria itu tak kunjung balik. Bahkan, ia mendengar suara mobilnya dibawa pergi. Irma yang merintih kesakitan pun tak bisa menguasai dirinya lagi. Ia ambruk dan kesadarannya hilang. ???????????? Semuanya berubah dalam seketika. Dulu, Irma merasa hidupnya paling bahagia. Ia memiliki kekasih yang bisa mengganti kasih sayang besar untuknya. Sejak Lukman sibuk dengan perusahaannya, ia tak lagi pernah mendapatkan itu dari suaminya. Ralat! Mantan suaminya. Namun hari ini, ia kembali merasakan itu. Bahkan kali ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan kesibukan Lukman. Irma terjaga saat merasa dirinya sudah siap menyambut kehidupan lagi yang sempat terjeda sejenak. Saat matanya terbuka, ia melihat pelafon putih yang datar, berbeda dari rumahnya. Ia mencium bau karbol dan merasakan tangannya yang kaku. Saat melihat sekeliling, ia sudah bisa menebak bahwa dirinya saat ini sedang di rumah sakit. Siapa yang membawanya ke rumah sakit? Dion kah? Memikirkan itu, hati Irma menghangat. Ia yakin, Dion yang membawanya ke sini. Pria itu tak akan pernah menyakiti dirinya. Bukannya dari awal Dion memang sangat mencintainya? Pria itu tidak mungkin melukainya apalagi menelantarkannya. "Ibu sudah sadar?" Pertanyaan dari suara yang dikenalnya berhasil menarik Irma dari rasa nyaman tersebut. Ia melihat ke sisi kanan dan ada Mbak Entin yang sedang mendekat. Harapan Irma yang sempat melambung tinggi tadi hilang seketika. Kegugupan pun tak bisa mengelak masuk ke dirinya. "Entin," bisik Irma yang sedikit terkejut. "Ibu istirahat dulu, ya. Sebentar lagi Bapak sama Den Fajar datang," ujar Mbak Entin yang membenarkan letak selimutnya. Mendengar dua nama yang disia-siakannya itu membuat hati Irma bak tercubit. Benar apa yang dikatakan Lukman, Dion mendekatinya pasti ada maksud tertentu. Dan kini Irma menyadarinya. Sejak dekat dengan pemuda itu, uang belanja bulanannya yang dikirim Lukman selalu habis dalam dua hari. Kini saat ia tak punya uang lagi, Dion pergi meninggalkannya. Sungguh, ini amat sakit untuknya. Andai ia tak selingkuh, andai ia tak hamil, andai ia tak bercerai dengan Lukman, pasti kehidupannya akan baik-baik saja. Ia bisa melihat anaknya tersenyum, ia masih bisa memeluk Lukman saat tidur walaupun pria itu pulang terlalu larut dan pergi terlalu dini. Suara deritan pintu menyadarkan Irma dari lamunannya. Di sana terlihat Fajar yang masuk dengan wajah dingin. Ia yakin, anaknya itu pasti masih memasang perang dingin di antara mereka. Fajar berjalan mendekati Mbak Entin sambil berkata, "Aku minta kandungan Mama dikuret saja. Menyisakan saja. Toh, bapaknya tidak mau tanggung jawab bukan?" Irma yang mendengar itu langsung menyentuh perutnya. Ia tak menyangka anak satu-satunya memilih membunuh adik tirinya. Ia langsung berkata, "Nggak. Mama nggak mau dikuret. Siapa kamu yang ambil keputusan begitu?" Fajar melihat ke arah Irma dan mendengus. "Keputusan yang aku ambil bukan sembarangan, Ma. Terserah Mama mau anggap aku jahat apa enggak. Gih, ngomong sendiri sama Dokter. Toh, beliau yang beri opsi itu. Kalau aku nggak sayang Mama, aku bakalan pilih opsi pertama. Biar saja Mama tanggung sendiri," jelas Fajar panjang lebar. "Aku lagi nggak mau ribut, Mbak. Tolong urus Mama dan jelasin kenapa kita harus pilih kuret," sambung Fajar yang berlalu keluar ruangan observasi itu. Setelah Fajar keluar, Lukman bergantian masuk. Tampak wajah gusar di sana. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja. "Apa yang dibilang Dokter, Ntin?" tanya Lukman sambil menutup pintu. "Tadi aku sempat ikut nimbrung sama Dokter waktu lagi bicara sama Den Fajar, Pak. Tapi harus pergi karena kata perawat Ibu sudah sadar. Cuma yang sempat aku dengar, janinnya melemah karena Ibu sering pendarahan dan sangat membahayakan Ibu. Dokter memberi dua opsi tapi aku tidak tahu opsi pertama apa. Dan Den Fajar ambil opsi kedua yaitu kuretase," jelas Mbak Entin yang di akhir kalimat seperti hendak menjelaskan sesuatu yang berat. "Tapi ... Ibu ...." Lukman mengangguk. "Oke, biar Bapak urus. Kamu sudah telepon Dion?" tanya Lukman di akhir ujarannya. Mbak Entin mengangguk. "Sudah. Nggak sengaja pakai ponsel Ibu. Pakai ponsel aku juga sudah, Pak. Tapi enggak diangkat," jelas Mbak Entin yang seperti sudah selesai dalam pelaporan. Lukman mengangguk paham dan ia memberi kode untuk Mbak Entin keluar. Tidak menunggu perintah yang keduakalinya, Mbak Entin langsung melangkah keluar dari sana. Irma mendengar semua itu. Hatinya remuk apalagi saat Lukman mengetahui bahwa Dion yang perduli dengannya. Ia menutup matanya berharap rasa sakit di hatinya hilang. "Terserah kamu dan Fajar mau ambil keputusan apa. Tapi aku tetap mau pertahankan anak ini," ujar Irma tanpa membuka mata. Lukman mengembus napasnya berat. "Terserah kamu lah, Ma." Lantas ia keluar dan meninggalkan Irma sendiri yang sedang meratapi nasib.

Bab 25: Akhir

1 0

SarapanKataKMOClubBacth41

Kelompok21PenaAksra

JumlahKata1509

SarkatJadiBuku

Day30

---------------------------------------------------------

Kelompok 21 Pena Aksara: Mutia Rahmi

Abneng Jaga: M. Jazuli

Ketua Kelas: Desi Masari

-----------------------------------------------------------

 

Banyak orang yang tidak percaya pada kesempatan kedua. Namun, semua manusia memiliki hal tersebut tanpa kita sadari. Dan kesempatan kedua itu pun terjadi pada Lukman dan Irma. Mereka bisa kembali bersama setelah Irma menurunkan egonya dan mengakui kesalahannya. Irma memilih nurut pada Fajar dan Lukman saat dinyatakan harus kuretase. Ia pun mendengarnya sendiri dari mulut dokter. Akhirnya, ia setuju melakukan kuretase. Toh, tak ada gunanya anak itu hidup di dunia. Jika tidak memberi kebaikan, malah akan membuat masalah lain lagi di kehidupannya. Dua bulan setelah Irma kuretase, ia menemui Lukman dan meminta maaf. Ia mengakui kesalahannya yang memilih selingkuh ketimbang mencari perhatian suaminya. Bukan hanya Irma, Lukman juga mengakui kesalahannya. Ia meminta maaf karena sudah membuang waktu kebersamaannya dengan Irma. Sampai mereka akhirnya memutuskan untuk rujuk. Awalnya Fajar tidak terima rujukan tersebut. Namun, setelah merasakan kembalinya kasih sayang Irma yang dulu sempat hilang, hati anak yang sekeras batu pun akan luluh. Satu impiannya terwujudkan. Ia kembali mendapatkan keluarga yang utuh. Ia kembali merasakan hangatnya pelukan sang ibu. Terserah orang mau berkata dirinya terlalu cewek, tapi inilah yang dibutuhkannya. Kehidupan seorang anak akan tampak pincang jika salah satu orang tuanya tak berada di sisinya. Hari ini Fajar menyelesaikan projeknya dengan Rian dengan sempurna. Berkat bantuan Nada yang punya banyak teman yang paham akan videografer, video klip untuk lagu Mendua pun selesai digarap. Mulai lusa, lagu Mendua akan dipasarkan di YouTube Musicia Music dan berharap bisa diterima oleh khalayak ramai. Sungguh, tak ada hal yang lebih bahagia dari ini menurut Fajar. Ia berhasil mendapatkan mamanya kembali dan berhasil mengejar cita-citanya. Terserah nantinya ia akan menjadi penyanyi terkenal, setidaknya ia sudah mencoba merilis sebuah lagu. Pun ia berhasil membuat Rian membuktikan bahwa pemuda itu mampu berkarya dalam bidang musik walaupun usianya masih remaja. ???????????? Rian berhasil meng-upload video klip yang mereka garap. Di ruang Studio-4 tersebut ada Tomi, Rian, Fajar, dan Kevin--videografer kenalan Nada. Selain meng-upload di YouTube, Rian, Fajar, Tomi, dan Kevin tak lupa menginformasikan pada media sosial masing-masing. Setelah merasa cukup, mereka duduk termenung sambil menatap layar laptop yang menampilkan video klip Mendua. Fajar mendesah putus asa setelah lima menit tak ada tampilan yang berubah dari laman YouTube tersebut. Ia hendak keluar tapi ditahan oleh perkataan Rian. "Wah! Sepertinya jaringan kita tadi rusak, deh. Lihat itu! Viewersnya pecah," jerit Rian yang kegirangan. Bukan hanya viewers, like dan komen pun ikut membanjiri laman tersebut. Keempat pria tersebut bangkit dan berpelukan. Mereka saling mengucapkan selamat satu sama lain. Xxtrabintang : Wah, keren banget lagunya. Ngena banget. Intanpus: Cocok nih buat gue galau. Dan masih banyak komentar yang lainnya tak dilirik Fajar. Ia terlalu bahagia dengan apa yang didapatkannya siang tersebut. Rian mendekat pada Fajar dan memberikan tos yang kencang. "Siap-siap jadi artis, ya, Bos," ujar Rian dengan senyum yang mengembang. Fajar tersenyum tipis. Ia tak tahu harus berekspresi seperti apa. "Lo juga! Siap-siap sibuk dicari orang buat tulis lagu," ujar Fajar yang memeluk erat Rian. "Makasih banyak, ya, Bro. Apa yang dikatakan Irwan benar. Kita bisa kalaborasi. Kayaknya, orang yang harus kita senangin duluan dia, deh. Eh, ngomong-ngomong, mana tuh anak?" tanya Rian di akhir ujarannya. Terdengar pintu Studio-4 terbuka lebar. Seorang pria bertubuh tinggi dengan sedikit berisi datang dengan merentangkan tangan. Di tangan kanannya terdapat sebuah kotak kue yang siap diterima Tomi. Ia mendekat pada Rian dan Fajar dan memeluk mereka erat. "Nggak nyangka gue bakalan jadi temannya artis. Wih, gue senang banget lihat penonton yang antusias dan komen gitu. Belum dua puluh menit, yang nonton sudah dua juta orang. Keren-keren," puji Irwan yang datang begitu selesai dibahas. "Masih, Bro. Kalau nggak ada ide dari lo, mungkin kami nggak akan dapat pencapaian ini," ucap Rian yang melepas pelukan tersebut. Mereka saling melepas canda bersama. Tak lupa isi kotak yang dibawa Irwan sudah mulai berpindah tangan. Sambil terus berbicara hal sampah, mereka pun terus mengunyah. Studio-4 hari ini sedang heboh dengan pencapaian yang tak terkira. Pintu Studio-4 diketuk pelan. Tak lama, kepala Nada nongol di sana dengan menyengir lebar. "Boleh aku bicara sebentar sama Kak Fajar?" tanya Nada yang berharap diizinkan. Tomi menatap anaknya dengan penuh curiga. "Mau ngomong apa sama Fajar?" tanya Tomi yang mencium aroma percintaan di anak keduanya itu. "Mau ngucapin selamat doang kok, Pa. Tapi ada yang mau dibahas dikit, sih. Nggak akan macam-macam kok," ujar Nada dengan mengedipkan matanya. "Boleh, ya, Pa?" rayu Nada yang berhasil mendapat anggukan dari Tomi. "Oke, guys. Biarlah remaja yang saling jatuh cinta ini bicara dulu. Kita ke Musicia Cafee, yuk. Om traktir untuk pencapaian hari ini," ujar Tomi yang berlalu. "Kalian!" serunya yang melihat ke arah Fajar dan Nada bergantian. "Papa tunggu di kafe," sambungnya yang keluar. Sebelumnya, ia sempat mencium pipi kanan anaknya. Setelah Tomi, Rian, Irwan, dan Kevin keluar, Nada pun masuk ke sana. Ia menutup rapat pintu studio dan tersenyum gugup di hadapan Fajar. "Hai," sapanya pelan. Fajar mengerutkan kening karena bingung harus bersikap seperti apa. Nada yang aslinya pecicilan berubah jadi kalem. "Hai," jawab Fajar dengan sedikit terkekeh. Melihat itu, Nada pun ikut terkekeh. "Selamat, ya, Kak," ucap Nada yang mengulurkan tangannya. Fajar melihat itu. Ia menyambutnya dengan senyuman yang merekah indah. "Makasih banyak, Nad," sahut Fajar yang masih memegang erat tangan Nada. "Makasih sudah membuat hidup aku lebih berwarna beberapa bulan ini. Kamu sabar ngehadapin aku yang emosian, kamu sabar menjelaskan bahwa hidup ini tak ada yang sempurna. Dan kamu berhasil membuat aku terima keberadaan Mama lagi," sambung Fajar yang berucap tulus. Nada mengangguk. Memang beberapa bulan belakangan, Nada selalu di sisi Fajar. Bahkan ia sampai tahu di mana markas tempat Fajar meratapi nasib. Ia selalu memberi kalimat bijak yang didapatkannya dari Sascia. Ia selalu mendukung Fajar sehingga pemuda itu merasa hidupnya lebih berwarna dan bermakna. "Makasih juga, Kak. Berkat kehadiran Kakak, hidup aku nggak monoton lagi. Adu mulut sama Kakak bikin aku semangat nyambut hari esok. Perhatian Kakak juga berhasil bikin aku ...." Nada sadar bahwa perkataannya sudah terlalu jauh. Ia hampir saja membuka rahasia yang selama ini dipendamnya. Nada selalu mensugesti diri sendiri bahwa hanya ia yang jatuh cinta pada Fajar, tidak dengan pria tersebut. Ia selalu memperingati diri sendiri agar tidak jatuh terlalu jauh yang nantinya akan membuat ia patah hati. Sayangnya, hari ini ia berhasil membuat Fajar penasaran dan akan mencari tahu apa maksud perkataannya tadi. "Aku?" tanya Fajar yang berharap Nada menyelesaikan kalimatnya. Nada menggeleng dengan gugup. "Nggak ada, Kak. Lupakan saja," ujar Nada yang hendak menjauh. Fajar meraih tangan Nada dengan cepat. Jarak mereka pun tiba-tiba menyusut. Hal itu berhasil menciptakan sebuah pelukan yang hangat. Rasa nyaman pun menjalar pada tubuh keduanya. Mereka berharap, ini bisa berlalu dengan sedikit lama. "Aku nggak tahu harus memulai dari mana, Nad. Tapi aku tidak bisa terus menutupi perasaanku ini. Berkali-kali aku bilang ke kamu, kalau hidupku lebih berirama. Aku bak fajar yang dulunya dingin menjadi hangat karena lebih bernada. Aku bak fajar bernada setelah kehadiran kamu. "Dulu aku tidak percaya yang namanya cinta sejati. Tapi sejak ketemu kamu, sebelum Mama dan Papa rujuk, aku seperti merobohkan keyakinanku sendiri. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku .... Aku jatuh cinta ... sama ... kamu, Nad." Fajar menatap lekat ke manik mata Nada. Selain pandangan Fajar, perkataan pemuda itu pun berhasil membuat jantung Nada berdegup kencang. Ia tak menyangka perasaannya dibalas. Mimpi apa gue semalam, ya Tuhan? Nada bertanya pada diri sendiri. Ya! Ini rasanya seperti mimpi yang tak ingin hilang hanya karena terbangun dari tidur. "Sejak kehadiran kamu, aku kembali percaya sama yang namanya cinta sejati. Aku tidak akan membuat kamu melambung dengan mengajak kamu pacaran. Tapi, aku akan membuat satu janji. Aku akan selalu ada untukmu, mencintaimu, menyayangimu selamanya. Aku akan menunggu kita siap untuk saling bersama. Mungkin, kita terlalu dini berharap bisa hidup tua. Tapi aku menginginkan itu. Aku yakin, kamu cinta sejatiku. Kamu bernadaku." Mata Nada berkaca-kaca sangking bahagianya. Ia pun berkata, "Aku juga jatuh cinta sama Kakak. Nggak tahu kapan rasa itu mulai masuk, tapi aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta sama Kakak." Fajar tersenyum lebar. Sama halnya dengan Nada, ia takut perasaannya bertepuk sebelah tangan. Namun, saat mendengar itu, rasanya ia amat lega. Beban yang dipikulnya selama ini hilang begitu saja. Fajar menarik Nada dalam pelukannya. Rasa nyaman ini tak pernah ia dapatkan. Hanya Nada yang berhasil meluluhkan sosok tempramen sepertinya menjadi sangat lembut. Fajar merasakan beban yang terlepas dari tubuhnya. Ia sungguh bahagia dengan apa yang didapatnya saat ini. Orang tuanya kembali bersama. Ia masih bisa merasakan hangatnya pelukan sang mama. Bukan hanya itu, cita-citanya tercapai. Memang ia tak bisa memprediksi bahwa tak akan ada yang membullynya lagi. Namun, setidaknya ia puas karena bisa menutup mulut orang yang suka mengejeknya. Dan sekarang, ia lebih bahagia karena tahu perasaan Nada. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Apa yang lebih bahagia dari ketiga itu? Fajar sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya saat ini. Ia berdoa, semoga tak ada lagi yang bisa melepaskan dirinya dari tiga hal tersebut. Hidup Fajar benar-benar berubah. Fajar berhasil berdiri pada hakikatnya sendiri. Ia berhasil bersinar dan menghangati orang-orang. Dan kini, fajar itu lebih bernada karena ada Nada di sisinya ....

Mungkin saja kamu suka

fitriadoris15@g...
Pejuang Literasi
Nur Aulia
Maafkan Nisa, Ayah
Demia Laviona
May Be-lah Penulis
Lala Nurlatifah
Dare To Know Problem

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil