Loading
33

2

0

Genre : Romance
Penulis : Nezbrebie
Bab : 12
Pembaca : 9
Nama : Nezbrebie
Buku : 4

Cinta Dalam Diam

Sinopsis

Cinta yang hadir dari dua insan yang saling diam. Cinta yang tumbuh saat Allah menyatukan dalam mahligai rumah tangga. Cinta yang hadir setelah pernikahan.
Tags :
Cinta, romantis, rindu, kasih, sayang

Bab 1

5 2

SarapanKata

#KMObatch36

#Kelompok15

#Day1

#JumlahKata508

Nama: Nezbrebie

Ide: Roman

Tema: Mengejar Cinta

Judul: Cinta Dalam Diam

Malam terasa semakin gelap diterpa siksa rindu yang membara. Dison menatap nanar ke luar rumah. Di atas langit malam itu bertabur bintang, tetapi hati Dison justru merasa gelap gulita.

“Son, kenapa masih di luar? Ini sudah larut, ayo tidur,” ajak Emak.

“Sebentar, Mak. Dison sedang menikmati indahnya bintang. Mungkin sebentar lagi kemarau, ya Mak?” tanya Dison.

“Bisa jadi, kan sebentar lagi panen padi, ya pastilah kemarau,” jawab Emak duduk di sisi Dison.

“Nak, maafkan Emak. Sudah saatnya kamu berumah tangga, jangan lama-lama, Nak. Usiamu sudah cukup matang. Tidak ada yang tahu usia Emak, cobalah mencari pendamping hidup,” ucap Emak mengusap lutut Dison perlahan.

“Iya, Mak. Sampai saat ini, Dison belum bertemu orang yang tepat. Andai saja ...,” ucapan Dison terputus.

“Jangan mengingat masa lalu, Nak. Kamu mencintainya, tetapi dia tidak mencintaimu. Carilah orang yang benar mencintaimu, yang siap mengabdikan hidup dan masa depannya untukmu dan anak-anakmu kelak,” ucap Emak menarik napas dalam.

“Iya, Mak. Dison belum bisa melupakannya,” ucap Dison menengadah ke langit.

Kembali peristiwa sepuluh tahun silam berputar di benak Dison. Saat itu, Dison bertemu dengan mantan kekasih sahabatnya, karena sahabatnya selingkuh. Riahta adalah nama gadis itu. Sedangkan sahabat Dison adalah Metehsa.

Metehsa selingkuh dari Riahta sehingga Riahta memutuskan hubungan secara sepihak. Metehsa saat itu meminta bantuan Dison menemui Riahta agar Riahta mau memaafkan Metehsa. Namun, saat pertemuan pertama, Dison malah jatuh hati kepada Riahta.

“Maaf, Ri. Metehsa mengirimku ke sini untuk meminta maaf kepadamu,” ucap Dison dengan jantung berdebar tidak karuan. Saat itu, Riahta sedang bekerja di salah satu butik, sehingga Dison dengan mudah bertemu dengan berpura-pura memilih pakaian.

“Dia tidak perlu minta maaf, Mas. Apalagi melalui dirimu. Aku sudah memaafkannya, hanya saja untuk kembali menerimanya, aku tidak bisa,” ucap Riahta dengan senyuman.

“Aku hanya menyampaikan pesan, diterima atau tidak, yang penting pesannya sudah aku sampaikan,” ucap Dison mencuri pandang terhadap Riahta yang sedang asyik mengatur baju agar terlihat rapi dan menarik.

“Pesan sudah sampai, Mas. Mas jangan khawatir. Lagian, Metehsa masih memiliki nomor teleponku, seharusnya tidak membuatmu repot dengan menyampaikannya kepadaku. Dia pun bisa langsung menyampaikannya sendiri,” ucap Riahta masih dengan senyuman manisnya.

Dison memegang dadanya, memastikan jantungnya yang berdebar kencang masih berada di tempatnya. Berkali-kali Dison menarik napas dalam, berusaha menetralkan jantungnya.

“Mas, mau pilih baju yang seperti apa? Agar Ri pilihkan,” ucap Riahtan dengan senyuman manisnya dan menatap Dison lembut.

“Kira-kira yang cocok menurut Ri yang mana?” tanya Dison sedikit gugup, karena Riahta mendekat kepadanya.

“Warna kesukaan, Mas apa?” tanya Riahta.

Entah kenapa, Dison justru merasa itu sebuah perhatian untuknya. Padahal setiap pedagang pasti akan bertanya seperti itu. Kala itu, Dison merasa sedikit gede rasa atas perlakuan Riahta.

“Warna hitam,” ucap Dison tanpa mengalihkan pandangan terhadap Riahta.

“Kok gelap, Mas? Yang cocok dengan warna kulit Mas itu, coklat. Agar kulit Mas terlihat lebih terang. Oh, iya, Mas, mau kemeja atau kaos?” tanya Riahta lagi.

“Satu kaos, dan satu kemeja,” ucap Dison mengikuti Riahta.

“Ini, Mas. Aku pilih kaos warna coklat, dan kemeja kotak-kota merah dan biru, Mas akan terlihat sangat tampan,” ucap Riahta.

user

14 August 2021 10:35 Zaenuri *Mas akan terlihat sangat tampan* dan perasaan si cowok langsung terbang keluar angkasa, wkwkwk. Lanjut.^_^

user

14 August 2021 16:12 Siti Muzdalifah Semangat kak :)

Bab 2

5 1

Ucapan tersebut, sukses membuat di dalam hati Dison bermekaran bunga yang indah. Dison seakan sedang terbang di udara, melayang bersama burung-burung ke sana ke mari. 
“Berapa totalnya?” tanya Dison tanpa berkedip.
“Mas, coba dulu. Ini ruang ganti,” ucap Riahta saat mereka tiba di depan ruang ganti pakaian.
“Oh, iya.” Dison menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Riahta menyerahkan baju tersebut kepada Dison, kemudian Dison mencobanya di ruang ganti sendirian. Dison ke luar setelah mengganti bajunya dengan kaos yang Riahta pilihkan. Dison tersenyum puas melihat hasilnya di depan cermin. Dengan hati gembira, Dison ke luar dari ruang ganti dan segera menghampiri Riahta. 
“Bagaimana?” tanya Dison dengan wajah penuh harap. Tentu saja harapan mendapat pujian dari Riahta.
“Tuh, kan? Pilihanku selalu cocok sama pelanggan,” ucap Riahta menyenggol lengan Ulin sahabatnya. Ulin hanya tersenyum melihat wajah Dison yang mulai bersemu merah. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. 
“Mas, kemejanya juga dicoba. Biar kelihatan lebih tampan,” ucap Riahta. 
Tanpa menunggu lama, Dison segera kembali ke ruang ganti, dan segera mengganti bajunya. Dison kembali dengan wajah lebih berbinar. Riahta tidak menunjukkan wajah tidak suka kepada Dison, Riahta melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang karyawan butik. 
“Widih, keren banget, Mas,” ucap Riahta membuat Dison semakin merona. 
“Sungguh?” tanya Dison.
“Tentu saja, Mas. Iya, kan Lin?” tanya Riahta kepada Ulin. 
Ulin mengangguk dengan tatapan kagum kepada Dison. Bukan hanya kagum, Ulin justru tertarik kepada Dison. Namun, saat menyadari bahwa Dison menatap Riahta dengan tatapan penuh cinta, Ulin tarik diri. 
“Berapa ini semuanya?” tanya Dison kepada Riahta.
“Langsung ke kasir saja, Mas,” ucap Riahta.
“Baik, terima kasih,” ucap Dison segera membayar bajunya. Dison sangat menyukai baju yang dipilihkan oleh Riahta. Saking sukanya baju yang dipilih Riahta, Dison memakai baju itu hanya sesekali agar awet. Selebihnya, Dison sering kali memadangi baju tersebut, dan memeluknya. 
Saat Dison sudah memiliki uang, Dison berniat mengunjungi kembali butik tempat Riahta bekerja, tetapi Riahta sudah tidak bekerja di sana lagi. Dison sangat kecewa, karena Ulin pun tidak tahu ke mana perginya Riahta. 
“Lagi mikirin apa, sih?” tanya Metehsa suatu sore. 
“Ah, tidak ada. Kamu dari mana?” tanya Dison menyembunyikan kegundahan hatinya. 
“Aku baru saja dari kampung sebelah. Ternyata Riahta sudah menikah, awalnya aku ingin menemuinya dan minta maaf, ternyata Riahta malah menikah dengan orang lain,” curhat Metehsa. 
“Sabar, Bro. Bukan jodoh berarti,” ucap Dison menyemangati Metehsa, menyembunyikan rasa sakit di dalam dadanya. 
Ia merasa sesak tiba-tiba, hatinya seperti diiris sembilu, kemudian ditabur garam, serta diperas jeruk di atasnya. Tak dapat ditahan lagi, mata Dison mulai memerah. 
“Oh, iya, Bro. Maaf, sepertinya aku harus ke rumah, tadi Emak berpesan agar aku membelikan beliau kopi hitam kesukaannya,” dusta Dison. 
Metehsa mengangguk, tetapi merasa heran dengan tingkah sahabatnya. Namun, Metehsa pun tidak bisa memungkiri bahwa Emak menyukai kopi hitam. Metehsa menarik rambutnya kasar. Awal mula hanya ingin membuat Riahta cemburu, dia malah kehilangan Riahta untuk selamanya. Tidak mungkin baginya memaksakan kehendak bila ternyata Riahta telah menikah. 
Dison tidak pergi ke rumah, melainkan pergi ke kampung sebelah memastikan ucapan Metehsa benar adanya. Saat hampir saja memasuki kampung, di gapura tergantung janur kuning yang menyatakan bahwa sang pengantin wanita benarlah Riahta. 

user

14 August 2021 10:48 Zaenuri Hatinya bagai diiris, ditabur garam, diperas jeruk lalu dicelupkan ke minyak panas. Dan hati goreng siap disajikan, sungguh dramatis kak. #si Dilan beli belut; lanjut#

Bab 3

4 1

Lutut Dison terasa lemas, tetapi Dison ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Segera Dison menuju tempat diadakannya resepsi pernikahan Riahta. Dan Dison, menatap dengan mata berkaca-kaca saat melihat wanita yang dia puja selama ini bersanding di pelaminan dengan pria lain. 
Riahta terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya merah. Renda panjang yang menjuntai, serta riasan natural di wajahnya membuat hati seorang Dison lebih perih dari sebelumnya. 
Dison berbalik, berhenti sejenak saat ingin melangkahkan kaki, menoleh ke belakang. Tidak sedikit pun pandangan Riahta tertuju kepada Dison. Perlahan, tetapi pasti, Dison kemudian melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. 
“Aku terlambat, Mak. Dia sudah menikah,” isak Dison begitu tiba di rumah. 
“Sabarlah, Nak. Nanti juga akan ada wanita lain yang cocok denganmu. Mak doakan dapat yang lebih cantik, lebih salihah, dan menutup auratnya,” ucap Emak kala itu. 
Dison hanya mengangguk. Antara iya dan tidak. Di dalam hatinya, masih tertanam nama Riahta dan sangat melekat di dalam ingatannya senyum gadis manis itu. 
“Ayolah, Nak. Masuk, sudah malam,” ucap Emak kepada Dison. Dison menoleh, kemudian tersenyum.
“Ayo, Mak. Doakan saja, setelah ini, Dison bisa segera menikah,” ucap Dison mengikuti Emak masuk ke dalam rumah. 
“Aamiin,” jawab Emak penuh harap di dalam hatinya. 
Malam itu, hati Dison mulai gundah. Tiba-tiba saja, rasa rindu di dalam hatinya bergejolak. Dison ingin sekali melihat Riahta walau dari kejauhan, ingin memastikan wanita itu baik-baik saja dan bahagia. Dengan demikian, Dison akan siap menikah dengan siapa saja wanita pilihan Emak. 
Selama ini, setiap kali Emak menjodohkannya, Dison selalu saja menolak. Alasannya hanya satu, tidak cinta. Namun, kali ini, Dison akan mengalah. Dia ingin menikah, dan melihat Emak bahagia di sisa usianya. 
Entah sudah berapa kali Dison bolak-balik di tempat tidur, tetapi matanya tak juga dapat terpejam. Setiap kali menutup matanya, senyum Riahtalah yang selalu muncul. Dison akhirnya pergi ke kamar mandi, berwudu dan salat malam agar hatinya tenang. 
“Ya Allah, ya Tuhanku, hamba mohon, hilangkanlah bayangan istri orang di dalam benakku, aku merasa berdosa karena mencintainya dengan berlebihan. Ya Allah, hamba mohon, datangkanlah jodoh yang tepat untuk hamba, jodoh yang bersedia menerima hamba apa adanya, menerima segala kekurangan hamba. Yang paling menyiksa hamba, Ya Allah, tidak dapat melupakan wanita itu. Ampunilah hamba, ya Allah,” doa Dison malam itu. 
Setelah salat, akhirya Dison dapat tidur dengan pulas. Itu pertama kalinya Dison memohon melupakan Riahta kepada Allah. 
“Tumben, sudah bangun?” tanya Emak pagi itu. 
“Dison bersedia menikahi siapa pun wanita yang Emak pilihkan. Asal jangan Mehulinta,” ucap Dison ke pada Emak.
“Hanya dia satu-satunya calon pilihan Emak,” ucap Emak bahagia dan sedih bersamaan. 
Bahagia karena Dison mau membuka hatinya, bersedih karena Mehulinta adalah wanita yang selama ini senang membantunya tanpa sepengetahuan Dison. Melihat Emak kecewa dan bersedih, Dison tidak tega. 
“Dison mau salat di musola dulu, Emak boleh memperkenalkan aku dengan Mehulinta, kalau nanti aku tidak cocok, Emak bisa kan mencari wanita lain?” tanya Dison.
“Baik, bisa,” jawab Emak semringah. 
Ini merupakan perkembangan pesat, selain mau membuka hati, Dison juga mulai mau mendekatkan diri kepada Allah. Emak terlihat sangat bahagia. 
“Assalamualaikum,” ucap Dison begitu pulang dari musola. 

user

14 August 2021 10:54 Zaenuri Nama tokoh2nya bahasa daerah mana kak? (Kepo mode on)

Bab 4

2 1

#SaraanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata529
#Day4

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil ketua kelas : Yanah Yunita 

“Walaikumsalam,” dua suara wanita menyahut dari dalam rumah. 

Dison yang sedikit terkejut, memasuki rumah perlahan. Sepagi ini, sudah ada tamu. Dison kemudian teringat ucapannya sebelum berangkat ke musola. 

“Ini, Nak. Mehulinta yang sering Emak ceritakan,” ucap Emak. 

Wanita berkerudung itu tunduk malu, Dison mendekati mereka duduk, kemudian menatap lama terhadap wanita di depannya. Wanita tersebut masih malu dan tetap menunduk. 

“Ulin, angkat wajahmu, Nak. Agar Dison melihatmu,” ucap Emak. 

Perlahan tapi pasti, Mehulinta kemudian menatap wajah Dison, tersenyum malu-malu. 

“Kamu?” ucapan Dison tertahan karena Mehulinta ini merupakan Ulin sahabat sekaligus teman kerja Riahta di butik dulu. 

“Iya, Mas,” ucap Ulin mulai meremas jemarinya karena gugup.

‘Ya Allah, ini kah jawaban atas doaku?’ batin Dison.

“Emak tinggal sebentar ambil minum,” ucap Emak. 

“Maaf, Lin. Kamu pasti tahu isi hatiku, dan nama wanita itu belum terhapus sempurna, aku harap kalau kamu menerima perjodohan ini, kamu sabar sehingga aku benar-benar mencintaimu,” ucap Dison menatap dalam netra Ulin.

“Jangan khawatir, Mas. Aku sudah tahu semuanya. Emak sudah cerita, dan aku siap. Aku juga menerima perjodohan ini,” ucap Ulin tersenyum. 

Meski ada sedikit perih di dalam hatinya, dia berharap, suatu saat nanti, cinta Dison hanya untuknya seorang. Ulin juga bersyukur, doanya selama ini di kabulkan oleh Allah. Sejak pertemuan pertama dengan Dison sepuluh tahun yang lalu, Ulin selalu menyematkan nama Dison di setiap sujudnya. 

“Ayo, Nak. Diminum dulu tehnya,” ucap Emak.

“Terima kasih, Mak,” ucap Ulin. 

“Jadi ...,” belum sempat Emak melanjutkan kalimatnya, sudah di potong oleh Dison.

“Saya bersedia, Mak. Sebelum menikah, izinkan Dison mengenal Ulin lebih dekat,” ucap Dison mantap. 

“Boleh, tentu saja boleh,” ucap Emak bahagia.

“Antarlah Mehulinta pulang, agar kalian bisa lebih leluasa bercerita dan mengenal diri masing-masing. Semoga niat baik kalian segera terlaksana, aamiin,” ucap Emak menengadahkan kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya. 

“Ayo, Lin,” ajak Dison. Ulin kemudian bangkit, diikuti Dison setelah sebelumnya meminum teh buatan Emak. 

Dison dan Ulin berjalan beriringan menuju tempat tinggal gadis itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama perjalanan hingga tiba di kediaman gadis cantik tersebut.

“Mas, masuk dulu,” ajak Ulin.

“Apa orang tuamu ada?” tanya Dison.

“Mereka sudah meninggal sejak aku dilahirkan, Mas. Aku bahkan tidak mengenali mereka,” ucap Ulin.

“Maafkan, aku. Aku tidak tahu,” ucap Dison dengan rasa bersalah. 

“Tidak apa, Mas. Itu sudah lama sekali,” ucap Ulin.

“Jadi, kamu tinggal di sini dengan siapa?” tanya Dison.

“Dengan Nenek, Mas. Beliau sudah sangat renta. Sudah tidak sanggup berdiri, apa-apa di kasur,” ucap Ulin membuka pintu.

“Boleh aku menemuinya?” tanya Dison. Entah mengapa, hati kecilnya mengatakan bahwa dia akan menikah dengan gadis ini. Ada rasa nyaman meski Ulin tidak secantik Riahta. 

“Boleh, Mas. Ayo masuk,” ajak Ulin.

“Bagaimana pandangan orang lain nantinya kalau aku masuk?” tanya Dison berhenti di ambang pintu.

“Oh, iya. Mas tunggu di sini, Ulin bawa Nenek ke sini saja,” ucap Ulin. 

 Dison khawatir bagaimana Ulin mengangkat Neneknya ke luar rumah sendirian, namun belum sempat berkata, Ulin sudah beranjak dan pergi. 

“Nenek, ini Mas Dison. Inshaallah, dia adalah calon imam Ulin nantinya,” ucap Ulin mendorong Neneknya dengan kursi roda, dan menaruhnya berhadapan dengan Dison yang sudah duduk di kursi teras rumah. 

Nenek hanya mengangguk lemah. Dison meraih tangan Nenek, kemudian menciumnya takzim. Nenek mengusap rambut Dison dengan lembut, dan tersenyum.

????Bersambung????

user

19 August 2021 17:36 Zaenuri *Entah mengapa, hati kecilnya mengatakan bahwa dia akan menikah dengan gadis ini* --> ee~aa... spoiler nih. ^_^

Bab 5

3 1

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata531
#Day5

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

“Anak baik,” bisik Nenek, tetapi masih terdengar oleh Dison dan Ulin.
Mereka saling tatap beberapa menit, kemudian saling melempar senyum.

“Pantas saja Ulin betah sendiri berlama-lama, ternyata lelaki idamannya sangat tampan,” goda Nenek dengan tenaga seadanya. 

“Nenek,” ucap Ulin memeluk Neneknya. Ulin malu karena Dison ada di hadapan mereka saat ini. Dison hanya tersipu malu oleh tingkah Nenek dan cucu di depannya. 

“Buatkan minum,” bisik Nenek.

“Iya, Nek,” ucap Ulin kemudian pergi ke dapur. 
Nenek memperbaiki duduknya, kemudian menatap Dison dalam. 

“Aku sudah sangat merepotkannya, aku akan bahagia bila meninggalkanya bersamamu. Waktuku sudah tiba, jagalah cucuku dengan sepenuh hatimu. Tolong, jangan pernah sakiti dia,” ucap Nenek memegang tangan Dison. 

Seketika saja air mata tumpah membasahi pipi Ulin yang sudah berdiri di balik pintu membawa nampan berisi minuman dan camilan.

“Aku akan menjaganya, Nek. Nenek harus sehat, Nenek harus melihat kelucuan anak-anak kami nanti,” ucap Dison memberikan semangat.

Ulin semakin terisak mendengar percakapan Dison dan Neneknya. Ulin tidak menyangka, Dison bersedia menerima tanggung jawab sebesar itu, padahal ini merupakan pertemuan pertama setelah pertemuan sepuluh tahun silam. Ulin juga sangat bersyukur bahwa cinta yang dia pendam selama ini berbuah manis. 

Ulin bersandar di balik pintu, berusaha menetralkan perasaannya dan mengusap air matanya kemudian mengerjap beberapa kali agar tidak ketahuan menangis, lalu menghampiri Nenek dan Dison.

“Silahkan diminum, Mas,” ucap Ulin meletekkan nampan di meja mungil di antara mereka.

“Ini buat siapa?” tanya Dison menunjuk air putih hangat.

“Buat Nenek, Mas,” jawab Ulin.

Dison meraih gelas berisi air putih, kemudian membantu Nenek minum dari sana. Nenek kemudian tersenyum setelah selesai minum.

“Lin, antar Nenek ke kamar,” ucap Nenek.

“Biar aku saja,” ucap Dison segera menggendong Nenek ke kamar. Nenek dibaringkan, kemudian diselimuti oleh Dison. 

“Terima kasih, Mas,” ucap Ulin.

“Tidak perlu,” jawab Dison tersenyum.

“Mas minumlah dulu,” titah Ulin.

Dison kemudian duduk kembali, dan menyesap kopi buatan Ulin perlahan. Dison menatap Ulin sejenak, karena rasa kopi tersebut persis seperti buatan Emak. 

“Tidak enak, Mas?” tanya Ulin gugup.

“Enak, sama persis seperti buatan Emak,” ucap Dison.

“Sepuluh tahun ini, Ulin belajar dari Emak, Mas,” ucap Ulin tunduk.

“Bagaimana bisa?” tanya Dison.

“Malam di saat Mas bertengkar dengan Emak, Ulin ada di sana,” ucap Ulin sendu.

“Astagfirullah,” ucap Dison mengusap dadanya perlahan. 

“Maafkan aku, Lin,” ucap Dison merasa bersalah.

“Tidak apa, Mas,” ucap Ulin berusaha tersenyum. 

“Malam itu, aku benar-benar kesal karena Riahta menikah. Aku tidak tahu kalau kamu ada di rumah. Itu berarti, sesuatu yang jatuh di dapur itu—“

“Gelas kopi, Mas,” potong Ulin.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud,” ucap Dison kembali.

“Sudahlah, Mas. Sudah sepuluh tahun, Ulin pun sudah melupakannya,” ucap Ulin tersenyum.

“Baiklah, sudah siang, aku pulang dulu. Aku harus ke sawah melihat padi. Sebentar lagi akan panen,” ucap Dison.

“Baiklah, Mas. Hati-hati,” ucap Ulin.

“Iya, assalamualaikum,” ucap Dison.

“Walaikumsalam,” jawab Ulin menatap kepergian Dison hingga punggungnya menghilang. 

Ulin kemudian masuk ke dalam rumah. Nenek tersenyum kepada Ulin. Ulin mendekat dan mencium Nenek. 

“Alhamdulillah, doa Nenek dikabulkan Allah,” ucap Nenek mengusap rambut Ulin dari balik kerudungnya.

“Alhamdulillah, Nenek harus sembuh. Agar Nenek bisa menyaksikan pernikahan Ulin, dan melihat kelahiran anak-anak Ulin,” ucap Ulin berseri.

“Semoga saja Nenek masih diberi kesempatan untuk menyaksikan itu semua,” ucap Nenek. 

“Dengan izin Allah, Nek,” ucap Ulin. 

????Bersambung????

user

19 August 2021 17:49 Zaenuri “Alhamdulillah, Nenek harus sembuh. Agar Nenek bisa menyaksikan pernikahan Ulin, dan melihat kelahiran anak-anak Ulin,”-> rencananya mau punya berapa nih? ^_^

Bab 6

3 2

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata333
#Day6

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis: Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

Di tempat lain, Dison segera ke sawah tanpa singgah di rumah. Dison sangat bahagia melihat padi tumbuh subur dan berbuah lebat. Dison berjalan ke sana ke mari memperhatikan kekuningan padi. Kuningnya pun rata, sehingga saat panen nanti bisa dipanen sekaligus.

“Masyaallah, Nak. Padimu sangat bagus. Semoga saja harga gabah nanti mahal, ya,” ucap Kardi tetangga sawah Dison.

“Masalah harga, belakangan, Pak. Yang penting dan yang utama adalah kualitas padi kita,” ucap Dison tersenyum. 

“Kamu benar, padi Bapak kali ini tidak memuaskan, nanti kapan-kapan berbagi, ya cara perawatan padi yang benar,” ucap Kardi. 

“Tentu saja, Pak. Silahkan kapan saja Bapak bersedia belajar dari anak bau kencur seperti saya ini,” ucap Dison merendah.

“Belajar mah, dari mana saja, dari siapa saja. Tidak peduli tua atau muda, kalau pengalaman Nak Dison lebih banyak dibanding saya. Saya bersawah baru dua tahun terakhir, dan hasil panen Nak Dison selalu memuaskan,” ucap Kardi. 

“Baiklah, Pak. Datang saja nanti ke rumah, atau kita bisa belajar sama-sama saat sedang di sawah,” kekeh Dison.

“Pasti, Nak. Setelah ini, saya harus belajar dari kamu,” ucap Kardi. 

Dison dan Kardi tertawa bersama. Tidak lama setelah itu, mereka berpisah. Dison memilih untuk pulang ke rumah setelah membersihkan rumput yang tumbuh di pinggir sawah. 

“Assalamualaikum, Mak,” ucap Dison begitu sampai di rumah.

“Walaikumsalam, betah banget di rumah calon istri,” goda Emak.

“Ish, enggak, Mak. Dison dari sawah,” ucap Dison tersenyum. 

“Ulin ditinggal?” ucap Emak kaget. 

“Iyalah, Mak. Belum muhrim, belum sah dibawa-bawa,” kekeh Dison.

“Segera dihalalin, yuk,” ucap Emak semringah.

“Nanti, Mak. Setelah panen padi,” ucap Dison.

“Biar Emak yang mengatur segalanya, kamu terima beres,” ucap Emak.

“Kan Dison belum pegang uang, Mak,” ucap Dison.

“Emak ada simpanan, begitu kamu siap menikah, Emak akan segera mengeluarkan tabungan itu agar niat baik segera terlaksana,” ucap Emak. 

“Itu uang Emak. Dison bisa untuk keperluan sendiri,” ucap Dison.

“Kamu itu anak Emak, jadi semua itu mutlak keputusan Emak,” ucap Emak bersikukuh. 

“Dison ikut Emak aja, deh,” ucap Dison menyerah. 

“Cakep, itu baru anak Emak,” puji Emak mengacungkan dua jempol.

????Bersambung????

user

19 August 2021 18:55 Yanah Yunita Ciluk, Ba????.... Aku datang????

user

19 August 2021 19:57 Zaenuri “Kamu itu anak Emak, jadi semua itu mutlak keputusan Emak,” -> the power of Emak2. ^_^

Bab 7

3 2

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata579
#Day7

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

“Mak, ada apa ramai-ramai?” tanya Dison kepada Emak suatu siang. 

“Mempersiapkan acara lamaran, nanti malam rencananya Emak mau ngajak kamu, melamar Mehulinta,” ucap Emak bahagia.

“Kenapa buru-buru, Mak?” tanya pria berkulit coklat tersebut mengusap keringat di wajahnya. Rasa letih yang dia rasakan saat baru pulang dari sawah tiba-tiba sirna begitu mendengar penuturan Emak. 

“Kapan lagi, Nak? Emak sudah tidak sabar menanti hadirnya cucu-cucu yang lucu. Emak bisa bayangkan ramainya rumah ini dengan ocehan, teriakan, dan tangis anak-anakmu nanti,” ucap Emak tersenyum menatap langit-langit rumah. 

“Mak, menikah itu butuh waktu. Mengandung pun butuh sembilan bulan, setelah lahir juga enggak bisa langsung teriak-teriak anaknya,” ucap Dison berdiri, lalu mengambil segelas air putih. 

“Makanya, Emak ingin kamu segera menikah, lalu ikhtiar agar cucu Emak bisa lebih cepat hadir di dunia ini,” oceh Emak.

“Bagaimana baiknya menurut Emak saja, deh,” ucap Dison pasrah. 

“Eh, Mak. Dison ke pasar bentar, ya,” ucap Dison.

“Mau apa ke pasar?” tanya Emak.

“Ya, mau beli apa, sih?” ucap Dison pura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal niatnya membeli cincin untuk mengikat Mehulinta nantinya. 

“Sebaiknya, kamu istirahat saja di kamar, biar nanti sore, segar bertemu Ulin,” ucap Emak.

“Dison lapar, Mak. Makan dulu, boleh?” tanya Dison.

“Ya, bolehlah, apa sih yang enggak buat anak Emak?” kekeh Emak.

Dison masih berpikir bagaimana caranya agar bisa pamit pergi ke luar rumah sebentar. Biar bagaimana pun, Dison tidak ingin merepotkan Emak dengan urusan yang satu ini. 

“Nih, makan dulu yang banyak,” ucap Emak memberikan nasi sepiring, lengkap dengan lauknya. 

“Terima kasih, Mak,” ucap Dison. Setelah membaca doa di dalam hati, pria bertubuh kekar itu melahap nasinya perlahan, sambil berpikir agar bisa pergi ke pasar sebentar.

“Mak,” panggil Dison saat selesai makan.

“Apa lagi? Bukannya istirahat di kamar? Ganggu Emak saja lagi sibuk masak,” oceh Emak. 

“Mak, Dison mau ke pasar sebentar. Mau beli cincin untuk Ulin. Masa acara lamaran tapi enggak ada cincinnya?” tanya Dison jujur.

“Owalah, ngomong dari tadi. Itu sudah Emak beli kemarin. Nih, ya, sesuai ukuran Mehulinta, dan dia juga suka,” ucap Emak antusias.

“Lah, Emak tahu dari mana?” tanya Dison.

“Hehehe, Emak belinya sama Mehulinta,” kekeh Emak.

“Alhamdulillah, kalau begitu. Dison tenang sekarang,” ucap Dison mengusap dadanya pelan.

“Udah sana, istirahat saja dulu. Sudah salat, kan?” tanya Emak. 

“Sudah, Mak. Alhamduillah,” ucap Dison.

“Ya sudah sana, jangan ganggu Emak,” ucap Emak meninggalkan Dison yang masih berdiri di dekat meja makan.

Dison akhirnya ke kamar, duduk di bibir kasur, dan mengingat kembali saat pertama kali bertemu dengan Ulin saat masih bekerja di butik bersama Riahta. Dison senyum-senyum sendiri, mengingat yang Ulin malu-malu ketika tidak sengaja bertatapan dengan Dison.

“Tidak aku sangka, bisa berjodoh dengan Ulin. Padahal dulu, aku terobsesi dengan Riahta,” gumam Dison. 

Dia kemudian berbaring, menatap langit-langit dan membayangkan masa depannya bersama Ulin. Seperti apakah rumah tangga mereka kelak, sedangkan saat ini, Dison belum merasakan hadirnya cinta di dalam hatinya. Yang dia rasakan adalah, berusaha menerima keadaan, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia ucapkan di depan Emak, Ulin, serta Neneknya. 

“Dison, coba kamu lihat. Ini cincinnya, bagus tidak?” tanya Emak tiba-tiba membawa sebuah kotak berisi sepasang cincin ukuran jari Dison dan Ulin. 

“Ya, kalau Emak bilang, Ulin suka dan dia yang memilih, sudah itu yang terbaik, Mak,” ucap Dison tersenyum agar Emak bahagia. 

“Kalau kamu, bagaimana? Suka tidak?” tanya Emak membuka kotak tersebut, lalu menunjukkannya kepada Dison.

“Bagus, Mak,” ucap Dison.

“Ya sudah. Ini, kamu saja yang simpan, ya. Jangan sampai ketinggalan nanti malam,” ucap Emak menyerahkan kotak tersebut di tangan Dison.

???? Bersambung????

user

19 August 2021 18:59 Yanah Yunita Kalau cincin buat aku mana, Bang Di so n????

user

19 August 2021 20:04 Zaenuri “Tidak aku sangka, bisa berjodoh dengan Ulin. Padahal dulu, aku terobsesi dengan Riahta,” -> semua sudah diatur oleh penulis naskah, kawan.^_^

Bab 8

4 1

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBacth36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata544
#Day8

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

“Dison, ayo, Nak. Nanti terlambat. Nak Mehulinta pasti sudah menunggu,” ucap Emak sore itu.

“Sebentar, Mak!” Teriak Dison dari kamarnya, takut tidak terdengar dari depan. Emak sedang menunggu di teras rumah bersama beberapa tetangga yang ikut mengantar acara lamaran. 

“Ayo,” ucap Dison begitu keluar dari rumah. 

“Widih, anak Emak tampan sekali,” puji Emak. 

Pria berkulit coklat itu, mengenakan kemeja putih, peci hitam, serta celana bahan terlihat sangat tampan. Penampilannya sangat berbeda dengan kesehariannya, sehingga siapa pun yang melihatnya akan terpana. 
 
“Iyalah, kan anak Emak,” jawab Dison tersenyum.

Seluruh rombongan berjalan menuju rumah Ulin, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Mereka juga memilih berjalan kaki, karena memang di kampung, kalau hanya dengan jarak yang tidak terlalu jauh, mereka memang tidak menggunakan kendaraan. Selain sudah menjadi kebiasaan di kampung itu, memang tradisi juga seperti itu. 

Menggunakan kendaraan dengan jarak yang tidak terlalu jauh, merupakan pemborosan. Selain itu, silaturahmi antar warga juga tidak terjalin dengan baik, katanya. Masyarakat desa tersebut masih menggunakan tradisi dan kebiasaan seperti itu, toh tidak melanggar syariat agama. 

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, mereka tiba di rumah Mehulinta. 

“Assalamualaikum,” ucap Emak. Beberapa tetangga yang sudah menunggu pun segera ke luar rumah, lalu menyambut kedatangan rombongan pihak Dison. 

“Walaikumsalam, Mak,” ucap Mehulinta tersenyum begitu ke luar rumah, lalu menyalami Emak dan orang tua yang perempuan. Setelah itu, semua tamu diundang masuk ke dalam rumah. 

Seserahan, makanan, dan buah-buahan diserahkan kepada Mehulinta melalui tetangga yang sudah membantu berjalannya acara hari ini. Nenek pun tersenyum menyaksikan kedatangan keluarga dari pihak Dison. Emak segera mencium tangan Nenek takzim.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Nenek.

“Sama-sama, Mak,” jawab Emak. 

“Jadi, maksud kedatangan keluarga dari pihak Emak Milasi Sembiring dan Dison Sinuraya adalah untuk melamar Mehulinta Br Ginting,” ucap Melani Sinuraya. Melani Sinuraya adalah Adik dari Almarhum Ayah Dison. 

“Jadi, seperti yang kami ketahui sebelumnya, bahwa Dison dan Mehulinta sudah saling kenal melalui orang tua. Saat ini mereka juga berniat untuk mempererat hubungan dengan meminta kita hadir di sini untuk acara lamaran ini. Seperti yang kita ketahui juga bersama, kita berkumpul karena kesepakatan mereka membina rumah tangga yang akan segera kita bahas setelah acara lamaran ini nantinya. Nak Dison, pasangkan cincinnya di tangan Mehulinta, agar acara ini bisa segera kita lanjutkan membahas acara pernikahan nanti,” ucap Melani. 

“Terima kasih, Bi,” ucap Dison segera berdiri. 
Ulin pun berdiri berhadapan dengan Dison. 

“Mehulinta Br Ginting, mau kah kamu menikah denganku?” tanya Dison. Ulin mengangguk pelan tanda setuju membuat semua orang di ruangan itu terharu.

“Maaf,” ucap Dison begitu memasang cincin di jari manis Ulin. Dison yang belum pernah bersentuhan dengan wanita selain Emak, merasakan gelenyar aneh di dalam dirinya saat memegang jemari Ulin. Keringat mendadak muncul di kening dan telapak tangan Dison. Ulin pun merasakan hatinya menghangat, seluruh tubuhnya terasa bagai disengat listrik saat cincin Dison lingkarkan di jari manisnya. 

“Sekarang, giliran kamu pasangkan, Nak,” ucap Melani kepada Ulin. 

Ulin pun melingkarkan sebuah cincin di jari manis Dison. Dison sekuat tenaga berusaha menahan debaran di dalam dadanya yang semakin kencang saat berdekatan dengan Ulin seperti saat ini. 

“Da, lap keringat di dahi Dison,” ucap Melani kepada Emak. Eda merupakan panggilan Melani sesuao adat Karo kepada Emak Milasi, Emaknya Dison. 

“Owalah, anak Emak begitu gugup ternyata,” ucap Emak mengeringkan keringat di dahi Dison. Dia hanya tersipu malu saat digoda emak seperti itu. 

????Bersambung????

user

19 August 2021 20:37 Zaenuri "Agnes Theodora Br Ginting, maukah kau menikah denganku?" dan semua orang di ruangan itu tertawa. ^_^

Bab 9

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata621
#Day9

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

Setelah menetapkan tanggal pernikahan, seluruh anggota keluarga dari pihak Dison pun pulang. 

Malam terasa sangat panjang bagi Dison. Hatinya kembali ragu karena belum tumbuh sebuah rasa yang mendebarkan hatinya saat berdekatan dengan Ulin. Debaran yang muncul dia pikir hanya karena pertama kalinya bersentuhan dengan gadis manis itu.

Dison sangat resah malam itu, dia duduk di bibir kasur, kamudian berbaring, lalu duduk lagi hingga pukul satu dini hari.

“Apakah aku bisa membahagiakannya? Bagaimana kalau setelah menikah aku tidak bisa memberi nafkah batin baginya? Aku hanya akan menyakiti hatinya bila memaksakan kehendak seperti ini. Aku sudah berjanji, kepada Emak dan juga Nenek. Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba ragu begini?” gumam Dison duduk menopang dagu dengan tangan kirinya.  

Pria dengan lengan kekar itu akhirnya ke belakang mengambil wudu dan salat malam. Hatinya mulai tenang dari berbagai pertanyaan yang muncul karena merasa belum benar-benar siap berumah tangga. Di dalam doanya dia berharap bisa melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami nantinya. 

Selesai salat malam, dia ke dapur hendak mengambil minum karena tenggorokan terasa kering. Rasa malas yang tadinya dia tahan kini harus mengalah demi bisa membasahi kerongkongannya malam itu.

“Kenapa belum tidur?” tanya Emak.

“Mau minum, Mak? Emak mau ngapain malam-malam bangun?” Dison balik bertanya.

“Ke kamar mandi, ya sudah sana tidur lagi kalau sudah minumnya. Biasakan duduk kalau minum,” ucap Emak berlalu ke kamar kecil. 

Dison kembali ke kamar setelah selesai minum, lalu berbaring. Hanya dalam sekejap, napas pria berkulit coklat itu mulai teratur dan sudah tertidur lelap. Emak mengintip di balik pintu memastikan putra kesayangannya itu sudah tidur pulas. 

“Dia akan menikah, Bang. Abang sudah tidak bisa menyaksikannya lagi, bila saja Abang masih hidup,” ucap Emak di kamarnya, mengusap wajah Ayah Dison di sebuah gambar lusuh. 

Itu merupakan foto terakhir dari almarhum Ayah Dison sebelum meninggal beberapa tahun silam. Emak kemudian berbaring memeluk foto tersebut, lalu tertidur kembali. 

Pagi-pagi sekali, seperti kebiasaan Dison akhir-akhir ini, dia bangun lebih awal, salat di masjid, lalu sarapan dan ke sawah seperti biasanya. Pernikahan akan digelar dua bulan lagi, jadi Dison memiliki waktu untuk memanen padi terlebih dahulu dan memiliki uang untuk acara pesta pernikahan nanti. 

“Bagaimana sudah kematangan padimu, Dison?” tanya Emak saat Dison duduk di meja makan bersiap makan siang. 

“Dua minggu lagi, sudah bisa panen, Mak,” ucap Dison menyiuk nasi di penanak nasi. 

“Baiklah, nanti Emak bantu,” ucap Emak. 

“Iya, Mak,” jawab Dison singkat. 

Dia tidak ingin berdebat dengan Emak sedangkan panen masih dua minggu lagi. Dia tidak ingin merepotkan Emak lagi, meski hanya membantu di sawah. Tugas dan tanggung jawab Dison adalah membahagiakan Emak, bukan menyusahkan Emak, tetapi kalau berdebat dari sekarang, Emak bisa marah. Jadi, Dison memilih mengiyakan ucapan Emak. 

“Makan yang banyak, ya Nak. Sampai kenyang,” ucap Emak mengusap rambut Dison. 

“Iya, Mak. Ini makanan paling lezat yang Dison makan,” ucap Dison agar Emak tersenyum. 

“Masakan Emak memang nomor satu. Nanti, setelah menikah, masakan Ulin yang menjadi gantinya,” ucap Emak tersenyum.

“Masakan Emak selalu nomor satu walau pun Dison sudah menikah, Mak,” ucap Dison lalu meminum air putih di gelas hingga tandas.

“Emak tahu, tapi jangan mengabaikan Ulin nanti, ya. Emak akan sangat sakit hati,” ucap Emak. 

Dison yang tadinya hendak berdiri, duduk kembali.

“Kenapa Emak bicara seperti itu?” tanya Dison.

“Emak tahu, kamu belum mencintainya. Kamu mau menikah dengannya hanya karena desakan Emak, Emak takut kamu mengabaikannya,” ucap Emak sendu. 

“Inshaallah tidak, Mak. Emak doakan saja Dison, agar bisa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai suami yang baik,” ucap Dison mengusap punggung tangan Emak yang sudah keriput. 

“Emak selalu berdoa yang terbaik untukmu, Nak,” ucap Emak menggenggam jemari Dison. 

“Sudah, ya Mak. Emak tenang saja. Dison mau istirahat dulu sebentar. Habis ini, mau ke rumah Pak Rt, tadi diminta membantu mengangkat padi ke gudangnya,” ucap Dison.

“Iya, sana. Istirahatlah,” ucap Emak. 

Bersambung

Bab 9

2 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata621
#Day9

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

Setelah menetapkan tanggal pernikahan, seluruh anggota keluarga dari pihak Dison pun pulang. 

Malam terasa sangat panjang bagi Dison. Hatinya kembali ragu karena belum tumbuh sebuah rasa yang mendebarkan hatinya saat berdekatan dengan Ulin. Debaran yang muncul dia pikir hanya karena pertama kalinya bersentuhan dengan gadis manis itu.

Dison sangat resah malam itu, dia duduk di bibir kasur, kamudian berbaring, lalu duduk lagi hingga pukul satu dini hari.

“Apakah aku bisa membahagiakannya? Bagaimana kalau setelah menikah aku tidak bisa memberi nafkah batin baginya? Aku hanya akan menyakiti hatinya bila memaksakan kehendak seperti ini. Aku sudah berjanji, kepada Emak dan juga Nenek. Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba ragu begini?” gumam Dison duduk menopang dagu dengan tangan kirinya.  

Pria dengan lengan kekar itu akhirnya ke belakang mengambil wudu dan salat malam. Hatinya mulai tenang dari berbagai pertanyaan yang muncul karena merasa belum benar-benar siap berumah tangga. Di dalam doanya dia berharap bisa melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami nantinya. 

Selesai salat malam, dia ke dapur hendak mengambil minum karena tenggorokan terasa kering. Rasa malas yang tadinya dia tahan kini harus mengalah demi bisa membasahi kerongkongannya malam itu.

“Kenapa belum tidur?” tanya Emak.

“Mau minum, Mak? Emak mau ngapain malam-malam bangun?” Dison balik bertanya.

“Ke kamar mandi, ya sudah sana tidur lagi kalau sudah minumnya. Biasakan duduk kalau minum,” ucap Emak berlalu ke kamar kecil. 

Dison kembali ke kamar setelah selesai minum, lalu berbaring. Hanya dalam sekejap, napas pria berkulit coklat itu mulai teratur dan sudah tertidur lelap. Emak mengintip di balik pintu memastikan putra kesayangannya itu sudah tidur pulas. 

“Dia akan menikah, Bang. Abang sudah tidak bisa menyaksikannya lagi, bila saja Abang masih hidup,” ucap Emak di kamarnya, mengusap wajah Ayah Dison di sebuah gambar lusuh. 

Itu merupakan foto terakhir dari almarhum Ayah Dison sebelum meninggal beberapa tahun silam. Emak kemudian berbaring memeluk foto tersebut, lalu tertidur kembali. 

Pagi-pagi sekali, seperti kebiasaan Dison akhir-akhir ini, dia bangun lebih awal, salat di masjid, lalu sarapan dan ke sawah seperti biasanya. Pernikahan akan digelar dua bulan lagi, jadi Dison memiliki waktu untuk memanen padi terlebih dahulu dan memiliki uang untuk acara pesta pernikahan nanti. 

“Bagaimana sudah kematangan padimu, Dison?” tanya Emak saat Dison duduk di meja makan bersiap makan siang. 

“Dua minggu lagi, sudah bisa panen, Mak,” ucap Dison menyiuk nasi di penanak nasi. 

“Baiklah, nanti Emak bantu,” ucap Emak. 

“Iya, Mak,” jawab Dison singkat. 

Dia tidak ingin berdebat dengan Emak sedangkan panen masih dua minggu lagi. Dia tidak ingin merepotkan Emak lagi, meski hanya membantu di sawah. Tugas dan tanggung jawab Dison adalah membahagiakan Emak, bukan menyusahkan Emak, tetapi kalau berdebat dari sekarang, Emak bisa marah. Jadi, Dison memilih mengiyakan ucapan Emak. 

“Makan yang banyak, ya Nak. Sampai kenyang,” ucap Emak mengusap rambut Dison. 

“Iya, Mak. Ini makanan paling lezat yang Dison makan,” ucap Dison agar Emak tersenyum. 

“Masakan Emak memang nomor satu. Nanti, setelah menikah, masakan Ulin yang menjadi gantinya,” ucap Emak tersenyum.

“Masakan Emak selalu nomor satu walau pun Dison sudah menikah, Mak,” ucap Dison lalu meminum air putih di gelas hingga tandas.

“Emak tahu, tapi jangan mengabaikan Ulin nanti, ya. Emak akan sangat sakit hati,” ucap Emak. 

Dison yang tadinya hendak berdiri, duduk kembali.

“Kenapa Emak bicara seperti itu?” tanya Dison.

“Emak tahu, kamu belum mencintainya. Kamu mau menikah dengannya hanya karena desakan Emak, Emak takut kamu mengabaikannya,” ucap Emak sendu. 

“Inshaallah tidak, Mak. Emak doakan saja Dison, agar bisa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai suami yang baik,” ucap Dison mengusap punggung tangan Emak yang sudah keriput. 

“Emak selalu berdoa yang terbaik untukmu, Nak,” ucap Emak menggenggam jemari Dison. 

“Sudah, ya Mak. Emak tenang saja. Dison mau istirahat dulu sebentar. Habis ini, mau ke rumah Pak Rt, tadi diminta membantu mengangkat padi ke gudangnya,” ucap Dison.

“Iya, sana. Istirahatlah,” ucap Emak. 

Bersambung

Bab 9

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata621
#Day9

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

Setelah menetapkan tanggal pernikahan, seluruh anggota keluarga dari pihak Dison pun pulang. 

Malam terasa sangat panjang bagi Dison. Hatinya kembali ragu karena belum tumbuh sebuah rasa yang mendebarkan hatinya saat berdekatan dengan Ulin. Debaran yang muncul dia pikir hanya karena pertama kalinya bersentuhan dengan gadis manis itu.

Dison sangat resah malam itu, dia duduk di bibir kasur, kamudian berbaring, lalu duduk lagi hingga pukul satu dini hari.

“Apakah aku bisa membahagiakannya? Bagaimana kalau setelah menikah aku tidak bisa memberi nafkah batin baginya? Aku hanya akan menyakiti hatinya bila memaksakan kehendak seperti ini. Aku sudah berjanji, kepada Emak dan juga Nenek. Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba ragu begini?” gumam Dison duduk menopang dagu dengan tangan kirinya.  

Pria dengan lengan kekar itu akhirnya ke belakang mengambil wudu dan salat malam. Hatinya mulai tenang dari berbagai pertanyaan yang muncul karena merasa belum benar-benar siap berumah tangga. Di dalam doanya dia berharap bisa melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami nantinya. 

Selesai salat malam, dia ke dapur hendak mengambil minum karena tenggorokan terasa kering. Rasa malas yang tadinya dia tahan kini harus mengalah demi bisa membasahi kerongkongannya malam itu.

“Kenapa belum tidur?” tanya Emak.

“Mau minum, Mak? Emak mau ngapain malam-malam bangun?” Dison balik bertanya.

“Ke kamar mandi, ya sudah sana tidur lagi kalau sudah minumnya. Biasakan duduk kalau minum,” ucap Emak berlalu ke kamar kecil. 

Dison kembali ke kamar setelah selesai minum, lalu berbaring. Hanya dalam sekejap, napas pria berkulit coklat itu mulai teratur dan sudah tertidur lelap. Emak mengintip di balik pintu memastikan putra kesayangannya itu sudah tidur pulas. 

“Dia akan menikah, Bang. Abang sudah tidak bisa menyaksikannya lagi, bila saja Abang masih hidup,” ucap Emak di kamarnya, mengusap wajah Ayah Dison di sebuah gambar lusuh. 

Itu merupakan foto terakhir dari almarhum Ayah Dison sebelum meninggal beberapa tahun silam. Emak kemudian berbaring memeluk foto tersebut, lalu tertidur kembali. 

Pagi-pagi sekali, seperti kebiasaan Dison akhir-akhir ini, dia bangun lebih awal, salat di masjid, lalu sarapan dan ke sawah seperti biasanya. Pernikahan akan digelar dua bulan lagi, jadi Dison memiliki waktu untuk memanen padi terlebih dahulu dan memiliki uang untuk acara pesta pernikahan nanti. 

“Bagaimana sudah kematangan padimu, Dison?” tanya Emak saat Dison duduk di meja makan bersiap makan siang. 

“Dua minggu lagi, sudah bisa panen, Mak,” ucap Dison menyiuk nasi di penanak nasi. 

“Baiklah, nanti Emak bantu,” ucap Emak. 

“Iya, Mak,” jawab Dison singkat. 

Dia tidak ingin berdebat dengan Emak sedangkan panen masih dua minggu lagi. Dia tidak ingin merepotkan Emak lagi, meski hanya membantu di sawah. Tugas dan tanggung jawab Dison adalah membahagiakan Emak, bukan menyusahkan Emak, tetapi kalau berdebat dari sekarang, Emak bisa marah. Jadi, Dison memilih mengiyakan ucapan Emak. 

“Makan yang banyak, ya Nak. Sampai kenyang,” ucap Emak mengusap rambut Dison. 

“Iya, Mak. Ini makanan paling lezat yang Dison makan,” ucap Dison agar Emak tersenyum. 

“Masakan Emak memang nomor satu. Nanti, setelah menikah, masakan Ulin yang menjadi gantinya,” ucap Emak tersenyum.

“Masakan Emak selalu nomor satu walau pun Dison sudah menikah, Mak,” ucap Dison lalu meminum air putih di gelas hingga tandas.

“Emak tahu, tapi jangan mengabaikan Ulin nanti, ya. Emak akan sangat sakit hati,” ucap Emak. 

Dison yang tadinya hendak berdiri, duduk kembali.

“Kenapa Emak bicara seperti itu?” tanya Dison.

“Emak tahu, kamu belum mencintainya. Kamu mau menikah dengannya hanya karena desakan Emak, Emak takut kamu mengabaikannya,” ucap Emak sendu. 

“Inshaallah tidak, Mak. Emak doakan saja Dison, agar bisa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai suami yang baik,” ucap Dison mengusap punggung tangan Emak yang sudah keriput. 

“Emak selalu berdoa yang terbaik untukmu, Nak,” ucap Emak menggenggam jemari Dison. 

“Sudah, ya Mak. Emak tenang saja. Dison mau istirahat dulu sebentar. Habis ini, mau ke rumah Pak Rt, tadi diminta membantu mengangkat padi ke gudangnya,” ucap Dison.

“Iya, sana. Istirahatlah,” ucap Emak. 

Bersambung

Bab 9

0 0

#SarapanKata
#KMOIndonesia
#KMOBatch36
#Kelompok15LaskarLiterasi
#JumlahKata621
#Day9

Judul : Cinta Dalam Diam
Penulis : Nezbrebie 
PJ : WigRa Muftiah Alghumaisa 
Abang Jaga : Lutfan Milzam 
Ketua Kelas : Zeta X Zeta 
Wakil Ketua Kelas : Yanah Yunita 

Setelah menetapkan tanggal pernikahan, seluruh anggota keluarga dari pihak Dison pun pulang. 

Malam terasa sangat panjang bagi Dison. Hatinya kembali ragu karena belum tumbuh sebuah rasa yang mendebarkan hatinya saat berdekatan dengan Ulin. Debaran yang muncul dia pikir hanya karena pertama kalinya bersentuhan dengan gadis manis itu.

Dison sangat resah malam itu, dia duduk di bibir kasur, kamudian berbaring, lalu duduk lagi hingga pukul satu dini hari.

“Apakah aku bisa membahagiakannya? Bagaimana kalau setelah menikah aku tidak bisa memberi nafkah batin baginya? Aku hanya akan menyakiti hatinya bila memaksakan kehendak seperti ini. Aku sudah berjanji, kepada Emak dan juga Nenek. Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba ragu begini?” gumam Dison duduk menopang dagu dengan tangan kirinya.  

Pria dengan lengan kekar itu akhirnya ke belakang mengambil wudu dan salat malam. Hatinya mulai tenang dari berbagai pertanyaan yang muncul karena merasa belum benar-benar siap berumah tangga. Di dalam doanya dia berharap bisa melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami nantinya. 

Selesai salat malam, dia ke dapur hendak mengambil minum karena tenggorokan terasa kering. Rasa malas yang tadinya dia tahan kini harus mengalah demi bisa membasahi kerongkongannya malam itu.

“Kenapa belum tidur?” tanya Emak.

“Mau minum, Mak? Emak mau ngapain malam-malam bangun?” Dison balik bertanya.

“Ke kamar mandi, ya sudah sana tidur lagi kalau sudah minumnya. Biasakan duduk kalau minum,” ucap Emak berlalu ke kamar kecil. 

Dison kembali ke kamar setelah selesai minum, lalu berbaring. Hanya dalam sekejap, napas pria berkulit coklat itu mulai teratur dan sudah tertidur lelap. Emak mengintip di balik pintu memastikan putra kesayangannya itu sudah tidur pulas. 

“Dia akan menikah, Bang. Abang sudah tidak bisa menyaksikannya lagi, bila saja Abang masih hidup,” ucap Emak di kamarnya, mengusap wajah Ayah Dison di sebuah gambar lusuh. 

Itu merupakan foto terakhir dari almarhum Ayah Dison sebelum meninggal beberapa tahun silam. Emak kemudian berbaring memeluk foto tersebut, lalu tertidur kembali. 

Pagi-pagi sekali, seperti kebiasaan Dison akhir-akhir ini, dia bangun lebih awal, salat di masjid, lalu sarapan dan ke sawah seperti biasanya. Pernikahan akan digelar dua bulan lagi, jadi Dison memiliki waktu untuk memanen padi terlebih dahulu dan memiliki uang untuk acara pesta pernikahan nanti. 

“Bagaimana sudah kematangan padimu, Dison?” tanya Emak saat Dison duduk di meja makan bersiap makan siang. 

“Dua minggu lagi, sudah bisa panen, Mak,” ucap Dison menyiuk nasi di penanak nasi. 

“Baiklah, nanti Emak bantu,” ucap Emak. 

“Iya, Mak,” jawab Dison singkat. 

Dia tidak ingin berdebat dengan Emak sedangkan panen masih dua minggu lagi. Dia tidak ingin merepotkan Emak lagi, meski hanya membantu di sawah. Tugas dan tanggung jawab Dison adalah membahagiakan Emak, bukan menyusahkan Emak, tetapi kalau berdebat dari sekarang, Emak bisa marah. Jadi, Dison memilih mengiyakan ucapan Emak. 

“Makan yang banyak, ya Nak. Sampai kenyang,” ucap Emak mengusap rambut Dison. 

“Iya, Mak. Ini makanan paling lezat yang Dison makan,” ucap Dison agar Emak tersenyum. 

“Masakan Emak memang nomor satu. Nanti, setelah menikah, masakan Ulin yang menjadi gantinya,” ucap Emak tersenyum.

“Masakan Emak selalu nomor satu walau pun Dison sudah menikah, Mak,” ucap Dison lalu meminum air putih di gelas hingga tandas.

“Emak tahu, tapi jangan mengabaikan Ulin nanti, ya. Emak akan sangat sakit hati,” ucap Emak. 

Dison yang tadinya hendak berdiri, duduk kembali.

“Kenapa Emak bicara seperti itu?” tanya Dison.

“Emak tahu, kamu belum mencintainya. Kamu mau menikah dengannya hanya karena desakan Emak, Emak takut kamu mengabaikannya,” ucap Emak sendu. 

“Inshaallah tidak, Mak. Emak doakan saja Dison, agar bisa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai suami yang baik,” ucap Dison mengusap punggung tangan Emak yang sudah keriput. 

“Emak selalu berdoa yang terbaik untukmu, Nak,” ucap Emak menggenggam jemari Dison. 

“Sudah, ya Mak. Emak tenang saja. Dison mau istirahat dulu sebentar. Habis ini, mau ke rumah Pak Rt, tadi diminta membantu mengangkat padi ke gudangnya,” ucap Dison.

“Iya, sana. Istirahatlah,” ucap Emak. 

Bersambung

Mungkin saja kamu suka

Ai Komariah
Serba-Serbi Ramadan
Fitri Djanurbir...
SEKUTU KEHIDUPAN
Elin roslina
Anak Rantau
Endang Noviya D
Asam Manis Sebuah Keluarga
Tyka Fryie
Catatan Luka
Najmah
The Doll

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil