Loading
53

1

4

Genre : Fantasi
Penulis : Najmah
Bab : 30
Pembaca : 3
Nama : Najmah
Buku : 1

The Doll

Sinopsis

Ini cerita tentang keseharian Lily boneka beruang yang manis. Banyak rahasia yang dipendam oleh Miley, pemiliknya setiap malam. Diantara boneka yang lain, Lily selalu bersama Miley. Namun di suatu insiden yang tidak terduga, Lily tersesat di hutan kemah. Apa Miley melupakannya? Apa boneka Miley yang lain akan sadar dan mencari diri nya?
Tags :
#Sarapankata #KMOIndonesia #KMOBatch37 #Kelompok15

BAB 1 : Hadiah Ulang Tahun Ke-5

2 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 1

-879 Kata

 

Hai, aku Lily. Yap, benar aku hanya sebuah boneka beruang berwarna putih krem. Kata teman teman Miley, aku boneka langka. Hihi, aku jadi merasa spesial. Bagaimana kalau aku menceritakan sedikit tentang pertemuan ku dengan Miley, baiklah!

***

Flashback 10 tahun yang lalu

Hari ini Miley berulang tahun yang ke 5, ia merayakan ulang tahunnya dengan mengadakan acara makan-makan di rumah. Banyak orang yang diundang, seperti kerabat, tetangga, teman TK dan teman kantor orang tua Miley. Miley senang, banyak yang mendoakan serta mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, tak lupa juga hadiah yang ia terima sangat banyak. Miley menunggu teman kecilnya, dia berharap Ares dan Leno datang ke acara ulang tahunnya.

 

POV Lily

 Aku datang ke acara ulang tahun Miley, sebagai hadiah dari  Ares teman masa kecilnya. Didalam tas yang dibungkus kertas kado, aku dapat mendengar keadaan di luar sungguh ramai.

 

“Hei, Leno. Aku harap Miley menyukai boneka beruang yang aku pilih ini …” ucap Ares.

 

“Miley akan menerimanya dengan senang hati, jangan khawatir. Ayo kita masuk, kasihan Tuan Putri Miley sudah lama menunggu kita datang.” canda Leno sambil menyikut bahu Ares.

 

“Baiklah, ayo masuk.”. Mereka masuk, dan aku mendengar suara anak perempuan menghampiri Ares dan Leno.

 

“Sepertinya ini …” pikir ku sambil berkedip sebentar.

 

“Kalian lama sekali. Padahal aku ingin mengajak kalian lomba makan semangka, yang paling cepat dapat potongan kue yang paling besar.” celoteh Miley kepada dua teman kecil nya, yang di maksud hanya tertawa mendengar celotehan Miley.

 

“Iya, Tuan Putri Miley. Maaf, kami Kesatria duo tampan ini sedang sibuk berkelana mencari hadiah untuk mu. Silakan diterima, Tuan Putri.”. Leno berbicara dengan gaya kesatria yang ada di kartun, Miley terkikik geli begitu juga dengan Ares.

 

“Hihihi, e-ehem! Baiklah, akan saya terima hadiahnya wahai Kesatria Leno.”. Miley menerima hadiah itu, dan Ares segera menyodorkan hadiahnya yang berisi aku di dalamnya.

 

“Saya terima hadiahnya, Kesatria Ares. Mari kita makan, lalu kita akan adu makan semangka yang paling bersih.”

 

“Siapa takut!” teriak Leno dan Ares kompak, Miley tersenyum.

 

Mereka bertiga pergi menuju meja panjang yang menyediakan banyak lauk pauk. Sebelum itu, Miley menaruh ku di dekat tumpukan hadiah-hadiah yang lain. Ah, suaranya ramai tapi aku sendirian di dalam tas kado ini. Aku mengkode hadiah Leno, yaa siapa tahu… Hadiah Leno bisa aku ajak bicara, jadi aku tidak merasa bosan disini.

 

“Hey, psst psst! Halo hadiahnya Leno.” sapa ku dengan setengah berbisik bisik.

 

Tidak ada jawaban hanya ada suara nafas yang teratur, aku mulai membayangkan bentuk dan ciri-ciri dari hadiah Leno. Aku terkejut ketika mendengar hadiah Leno mendengkur, nampaknya ia kelelahan. Tidak lama, aku menyerah tidak bisa membayangkan bentuk dan ciri-ciri dari hadiah Leno.

***

Suasana menjadi sepi, tapi aku masih bisa mendengar ocehan dari Leno, Ares dan Miley. Apa semangka yang mereka makan enak? Andai aku bisa makan bersama mereka…

“Hoi, hadiah Ares. Ada apa kau memanggil ku? Aku sedang tertidur tadi, oh ya nama ku Fanfan, kamu sendiri?”.

Fanfan, nama yang bagus. Aku ingin sekali punya nama seperti dirinya

 

“Ah, maaf aku menganggu tidur mu. Aku boneka beruang, dan aku tidak punya nama..” balas ku dengan nada sedih.

 

“Ooh, paham. Aku akan member mu nama sementara, bisa sebutkan ciri-ciri mu?”.

 

“Tinggi ku tidak terlalu besar maupun kecil, bulu-bulu ku lembut dan warnanya putih krem. Lalu, hidung ku berwarna pink dan aku juga punya dua tangan dan dua kaki.” jelas ku sambil memperhatikan anggota tubuh yang bisa aku sebutkan, agar Fanfan bisa membayangkan bentuk dan penampilan ku.

 

“Hidung pink? Hmmm… Bulu-bulu berwarna putih krem dan lembut, oke. Aku akan memberi mu nama Bikrem.”.

Aku tertawa kecil, dan menerima Bikrem sebagai nama sementara ku agar Fanfan lebih mudah memanggil ku jika ia mengajak ku bicara.

***

Malamnya, Miley dan keluarganya di ruang tengah mulai membuka bungkusan kado yang dibawa oleh tamu yang datang ke rumah. Kado yang berisi Fanfan dan Bikrem sudah di pisahkan oleh Miley, dia ingin membuka kado kedua teman kecilnya paling akhir. Miley melakukan cap cip cup, dan ia membuka kado dari Leno. Dan tentu saja yang terakhir adalah kado dari Ares.

Miley tersenyum lebar lalu memeluk kedua isi dari kado Leno dan Ares tersebut.

 

“WAHHH! Aku suka ini, Kesatria Leno dan Ares memang hebat!”.

 

Keluarga Miley hanya tertawa, dan mengangkat jempol tanda setuju. Selesai membuka kado, ia ikut membereskan bersama orang tuanya.

Sebelum tidur, Miley akan duduk diatas kasurnya lalu membaca dongeng sambil memeluk boneka. Beruntung, Bikrem lah yang sekarang di peluk. Mainan Miley sekarang penasaran dengan beberapa benda baru yang ada di kamar pemilik mereka. Siapa boneka itu? Apa nama benda yang dibawahnya terdapat kabel untuk mengisi daya?

 

“Hmm, karena ini sudah malam. Aku harus tidur. Aku menamai mu, Lily. Warna mu bagus ya. Dan kipas angin itu, namanya Fanfan! Hoamm, selamat malam semua.” gumam Miley ia tertidur, hari yang lelah untuk dirinya.

“Selamat tidur, Putri Miley…”. Para mainan dan benda Miley membalas ucapan Miley dengan suara bisik-bisik.

 

Semua mainan dan benda yang sudah lama ada di kamar Miley mulai bersorak, karena kedatangan beberapa mainan baru salah satunya Bikrem alias Lily dan Fanfan.

 

Flashback 10 tahun yang lalu end

 

Bagaimana? Begitulah alasan dibalik mengapa nama ku Lily, hihi. Semua mainan lama di kamar Miley menyukai aku dan yang lain kok. Tenang saja, tapi aku masih penasaran dengan Shupi. Mengapa boneka domba putih itu selalu berwajah galak ketika aku menyapanya ya ?

 

Aku  Lily, boneka beruang detektif pertama yang ada di kamar Miley akan menyelidikinya bersama Fanfan, ninuninuninuninu !!!!

 

BAB 2 : Alasan Shupi Part 1.

2 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 2

-415 Kata

 

Hai, kembali lagi dengan ku Lily. Karena aku sedang menjadi detektif mainan maka aku akan menyelidiki semua  mainan yang ada di kamar Miley. Untung saja Miley pulangnya jam 12.00 siang, jadi aku dan Fanfan dapat berjumpa dengan mainan lain.

Aku mulai dari rumah miniatur berukuran sedang, keluarga yang terdiri dari Ayah, Bunda, anak laki-laki satu serta anjing peliharaan. Keluarga ini namanya Smile.

“Selamat pagi, Keluarga Smile! Wah nampaknya kalian sedang sibuk ya? Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya ku sopan.

“Selamat pagi juga, Lily. Tidak juga, kami hanya membereskan isi perabotan. Tentu saja, kau ingin bertanya apa?” jawab Ibu Smile sambil menata dus mini di depan rumahnya.

“Apa kalian melihat Shupi? Aku ingin menemuinya, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan dirinya..”

“Shupi? Aku sekarang tidak pernah melihat Shupi, biasanya dia yang paling semangat dalam menyambut mainan/hal baru di sini. Hmmm, sayang apa kemarin kau lihat Shupi?” tanya Ibu Smile pada suaminya.

“Hmm? Dia tidak terlihat kemarin, mungkin Smile tahu dimana dia. Smile, apa kau sempat berpapasan dengan  Shupi kemarin?”

“Iya, Yah. Ada apa?”

“Baguslah, tolong antarkan Lily dan Fanfan menuju rumah Shupi. Setelah mengantarnya, langsung kembali kerumah. Jika kamu malah bermain, Bunda dan Ayah akan memberi hukuman.”

“Iya Ayah Bunda, jangan khawatir. Ayo Lily, mari kuantarkan.”

Mereka bertiga berjalan menuju ke sudut kamar, sedikit berdebu tapi mainan Miley yang sudah lama disana mulai bersih-bersih. Membersihkan diri sendiri, area bermain maupun tempat tidur.

“Halo, Lily, Fanfan dan Smile! Kalian sedang mencari siapa?”

“Halo Biken! Kami sedang mencari Shupi, apa kau melihatnya pagi ini?” sapa Lily seraya tersenyum ramah.

“Shupi? U-um, maaf aku juga kurang tahu. Sekarang ia selalu menyendiri, tidak antusias seperti dulu. Dia kenapa ya?”. Biken khawatir dengan Shupi, lalu dia mengajak kami bertiga untuk mampir ke rumahnya dan duduk lesehan di atas kertas putih.

“Maaf hanya kertas biasa, hehe. Shupi itu biasanya tiap jam 12 Malam akan tertidur di atas kertas putih ini. Lalu jam 3 dini hari, dia akan terbangun dan berjalan menelusuri kolong kasur Miley”

“Wah, Shupi kenapa ya… Apa dia sedang ingin sendiri?”

Aku juga penasaran dengan Shupi...”. Lily mengucapkannya di dalam hati.

Kami berempat larut dalam pikiran masing-masing, hingga Fanfan memecahkan suasana itu.

“Bukankan itu Shupi? Ayo Lily, kita harus menghampirinya.”. 

Fanfan yang melihat boneka yang dibahas, kami buru-buru menghampiri sosok boneka domba berwarna putih, ia menatap mainan lain dengan wajah datarnya. Mereka hanya menundukkan kepala, dan diam ketika Shupi lewat. Tidak ada sapaan. Shupi mendudukkan dirinya di atas tumpukan buku majalah milik Miley, dan ia mulai beristirahat.

 

***

BAB 2 : Alasan Shupi Part 2

2 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 3

-558 Kata

 

“Permisi, Shupi kan?” tanya Lily memastikan.

“Ya, itu aku. Ada apa? Wah tumben sekali Lily dan Fanfan menghampiri ku. To the point saja,” celoteh Shupi.

“Mengapa kamu terlihat berbeda Pi?” tanya Biken pelan.

“Mengapa? Ya, karena aku lelah menjadi orang yang antusias ketika ada mainan baru. Aku tidak dihargai  oleh mereka, dan aku iri. Puas?”

“Tapi tidak semuanya begitu Shupi… Salah satunya aku, Lily, Smile, Biken dan yang-”. kata-kata Fanfan dipotong oleh Shupi.

“Diam, kau tidak tahu apa yang aku alami sebelum ini. Pergi, kalian mainan kesayangan Miley. Sana pergi. Hush.” jelas Shupi dengan nada yang menyebalkan.

“Kau tahu, Pi. Miley terkadang bicara sendiri walaupun wajahnya menatap diri ku. Ia terus merindukan barang lamanya, terutama Shupi. Kalau kau merubah pikiran bilang saja kepada Biken…”

“Keputusan ku bulat, aku tidak suka dengan kalian para mainan kesayangan Miley. Sana pergi, dan jangan menganggu ku lagi. Aku ingin tidur siang.”

Lily menatap Fanfan, Smile dan Biken gantian. Kami mengalah dan meninggalkan Shupi yang beristirahat di atas majalah kesukaan Miley.

 

***

 

Karena hampir jam 12.00, Fanfan dan Lily pamitan dengan Biken dan Smile. Untuk kembali ke tempat mereka, begitu juga dengan barang Miley yang baru maupun yang lama. Mereka bersiap-siap menyambut Miley, apakah mereka akan di gunakan kembali walaupun hanya sebentar  atau hanya dibiarkan hingga berdebu?

Miley pulang, ia menaruh tas sekolahnya dan duduk menyalakan Fanfan.

“Segaar!! Terima kasih, Fanfan.”.

Orangtua Miley selalu bertanya kepada Miley, “Kenapa kamu bicara sendiri, Nak?”

“Hehe, tidak ada apa apa Bunda.”. Miley hanya tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Dia tidak ingin merepotkan orang tuanya.

Di malam hari setelah, Miley sudah menyelesaikan tugas ia bosan sekali dan mengambil beberapa majalah kesukaannya  sambil membacakan cerpen, cerbung, ataupun komik kepada 4 bonekanya yang menemani ia tidur.

Yang pertama boneka hiu berwarna biru, bernama Blu

Yang kedua boneka beruang  berwarna coklat, bernama Grizz

Yang ketiga boneka kuda berwarna coklat, bernama Coco

Dan yang keempat adalah Lily.

Saat asyik menyimak cerita Miley, Lily yang sadar bahwa Miley tertidur ia mengode Blu, Coco, dan Grizz untuk menyelimuti Miley. Mereka bergerak perlahan lahan, Coco dan Grizz bertugas menyelimuti Miley. Blu bertugas meminta boneka yang di bawah, untuk membantunya mematikan lampu kamar Miley, sedangkan Lily mengembalikan majalah itu ke tempat semula. Ketika ingin menaruh majalah itu, Shupi datang. Raut mukanya masih sama.

“Selamat malam, Shupi. Semoga tidur mu nyenyak. Kalau kamu terbangun, coba majalah yang kamu jadikan tempat istirahat mu. Siapa tahu bisa membantu.” jelas Lily

“Ya, malam. Terima kasih sudah mengembalikannya ke tempat semula.” balas Shupi singkat. Lily membalasnya dengan senyum manisnya. Lampu kamar di matikan, meninggalkan lampu tidur yang menyala. Lily kembali ke kasur dan beristirahat, begitu juga dengan barang maupun mainan lain.

Sedangkan Shupi hanya terdiam, ia merasa tidak enak dengan Lily. Tapi sisi egonya tidak ingin meminta maaf duluan kepada Lily karena Lily mainan kesayangan Miley. Shupi dulu adalah boneka kesayangan Miley, sekarang ketika Lily datang Shupi dilupakan. Shupi tidak suka itu, oleh karena itulah ia sering menyendiri dan selalu memasang raut muka yang datar. Ia iri dan berharap ia menjadi posisi Lily. Shupi merebahkan dirinya di tumpukan majalah dan menghela nafas frustasi. Yap, dia tidak bisa tidur. Dia merenung, dan entah kenapa ia penasaran dengan majalah yang di kembalikan oleh Lily. Shupi mengambil lalu membacanya…

“Cerita bergambar, lucu.” gumam Shupi. Dia membaca dan membaca majalah yang lain, lalu menyusunnya kembali untuk menjadi tempat istirahatnya.

“Saran dari Lily tidak buruk juga, tapi aku tidak ingin meminta maaf duluan. Hoamm…”.

Shupi memejamkan matanya dan mulai masuk ke dunia mimpi.

Kita doakan, semoga detektif  Lily dapat membuat Shupi terbuka kepada dirinya maupun ke mainan-mainan yang lain.

 

BAB 3 : Cerita Di Hari Minggu Part 1

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 4

-399 Kata

 

Di hari Minggu yang cerah, Miley dan keluarganya sibuk bergotong royong membersihkan rumah mereka. Kegiatan ini rutin dilakukan seminggu sekali. 

Mari kita lihat Lily dan teman teman. Mereka juga ikut bersih-bersih, misalnya menyusun majalah lama yang berdebu, menyusun rak buku cerita Miley, membersihkan sudut kamar, mengeluarkan barang dari kolong kasur dan menaruhnya di dekat pintu kamar agar Miley tahu, dan sebagainya.

Shupi? Dia tidak ikut serta dalam kegiatan bersih bersih bersama yang lain. Ia menyendiri, di dalam lemari yang berisi buku les Miley.

 

“Bunda, aku mau beresin kamar ya..”.

“Iya, Dek. Yang bersih ya.”.

 

Blu yang bersantai di pinggir kasur, langsung memberikan aba-aba jika Miley akan segera masuk. Mainan dan barang segera menyelesaikan tugas bersih-bersih mereka, dan kembali ke tempat semula.

Begitu juga Miley, semua mainan dengan kompak diam tanpa suara. Miley memperhatikan kamarnya. Dia merasa ada sesuatu yang berpindah, tapi ia tidak menemukan hal itu. Ia membersihkan sampah yang ada di dekat pintu kamar. Miley juga membuka jendela kamarnya, agar kamarnya mendapat pencahayaan. 

Ia merapikan kasurnya, dan membersihkan alat tulis miliknya. 

Miley sudah selesai, bertepatan dengan Bunda yang memanggilnya untuk makan sarapan. Dia keluar kamar, dan mainan mulai bergerak melakukan aktivitas mereka seperti biasa. 

Mereka tidak bisa makan, mereka hanya bisa bicara dan bergerak, merasakan emosi dengan sesama barang atau mainan ataupun benda hidup dan juga beristirahat jika mereka letih.

Shupi keluar dari lemari buku milik Miley. Ia kembali duduk di atas tumpukan majalah, seperti hari kemarin. Shupi bersenandung, dan membaca kembali majalah itu.

Mainan lain dan serta crayon lama dibuat heran dengan Shupi kali ini, sudah lama ia tidak membaca majalah setelah Miley sudah menemukan boneka kesayangan. Shupi kenapa ya?

Sedangkan Shupi yang mendengar percakapan dua crayon warna itu, dia malah tertawa kecil dan mengacuhkan mereka. Toh, ini urusan dia dengan Lily. Apa hubungannya dengan mereka? Ckck.

Biken yang sadar bahwa Shupi sudah keluar dari lemari, ia menatap datar dua crayon lama yang bernama Jingga dan Ungu. 

“Yang kamu bicarakan adalah teman saya. Lebih baik kalian mengurus tugas bersih-bersih kalian. Awas saja, jika masih membahas dirinya. ”. 

Biken menegur mereka berdua, Jingga dan Ungu tersebut pergi meninggalkan Biken. Biken menarik nafas dan mulai menghampiri Shupi.

“Halo, Shupi! Apa aku boleh duduk di sebelah mu?” tanya Biken ramah.

 

“Tentu, tidak ada yang melarang.”.

Mereka duduk, dan diam tidak ada topik pembicaraan selanjutnya.

Shupi melanjutkan kegiatan membacanya, Biken diam-diam memperhatikan gerak-gerik Shupi, yang hanyut dalam cerita di majalah milik Miley.

BAB 3 : Cerita Di Hari Minggu Part 2

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 5

-635Kata

 

“Aku tebak, kau mengikuti saran Lily kan? Hayo ngaku.” celoteh Biken.

“T-tidak. Siapa juga yang mau mengikuti saran Lily. Aneh!” ucap Shupi.

Biken hanya tersenyum penuh arti seraya menatap Shupi yang asyik membaca. Walaupun Shupi mengelak. Shupi masih boneka yang sama dengan yang dulu. Shupi bisa memberikan alasannya dia mengelak, tapi apa yang ia lakukan tidak dapat memungkiri alasan awalnya. Tidak lama Biken pamit dengan Shupi, karena ia harus menyusun beberapa tumpukan kertas dibawah meja belajar Miley.

 

***

Lily dan Fanfan? Seperti biasa mereka berkeliling sambil dibantu oleh Grizz dan Coco. Mereka membantu mainan yang lain, untuk mengangkat alas tidur mereka ke tempat yang lebih aman dan kering atau berperan menjadi anggota keluarga ketika ada mainan yang chef. Namanya dia adalah Dhia.

“Lily, aku akan kembali ke kasur. Coco kau ikut?” tanya Grizz penasaran.

“Aku tidak ikut, aku ingin melatih tenaga kaki keren milik ku. Aku duluan semuanya” sahut Coco seraya berjalan ke arah teman-temannya. Dia ingin latihan lari cepat, agar kakinya menjadi kuat.

Grizz tersenyum kecil, dan menganggukan kepala.

“Lily, aku duluan ya!”.

“Hati-hati Grizz dan Coco!!” balas Lily. Lily dan Fanfan bertatapan, lalu pergi menghampiri Biken yang sedang istirahat sambil duduk santai di atas alas kertas kesukaannya. Kami duduk di sebelah Biken.

“Biken, halo!!!”

“ Kau terlihat senang hari ini, ada apa?” tanya Fanfan penasaran.

“Hee? HAHAHA, tidak apaa. Aku hanya senang. Shupi mengikuti saran mu, Li.”

“Benarkah?”.

“Yup! Lihat dia sekarang asyik membaca majalah di sana…”.

Fanfan, Biken dan Lily memperhatikan Shupi yang masih fokus membaca, sesekali Biken menceritakan masa lalu Shupi.

 

Flashback Shupi’s past

Malam itu Miley tidur dengan gelisah, alhasil membuat Shupi terjatuh dari kasur. Shupi terbangun, dan mainan lain masih mengelilinginya.

“Shupi, kamu tidak apa?” tanya Liem, sebuah lem kertas berukuran sedang berdiri di samping kiri Shupi. Dia hanya tersenyum, dan segera berdiri.

“Aku tidak apa-apa teman. Aku akan kembali ke atas, aku kasihan kepada Miley. Sepertinya ia mengalami mimpi buruk. Jangan lupa untuk istirahat semuanya!”.

Miley segera naik ke kasur, menatap muka Miley yang masih terpejam walaupun keringatnya bercucuran. Miley merebahkan dirinya di sebelah Miley, ia memeluk lengan Miley. Tidak lama Miley terbangun, ia mulai menangis dengan suara kecil. Shupi tahu alasan kenapa Miley gelisah, ia memikirkan hamster miliknya yang di rawat oleh dokter hewan. Hamsternya sakit karena pupnya cair bukan padat seperti biasa. Oleh karena itu, Miley melaporkan ke orang tuanya bahwa hamsternya sakit.

Besok paginya, Miley dan keluarganya pergi ke dokter hewan itu, termasuk juga Shupi.

Shupi berharap hamster kecil itu sembuh, namun sayang takdir berkata lain. Miley menangis sesenggukkan di dekapan Bunda, memegang lengan kiri Shupi. Bunda hanya mengelus punggung Miley, membiarkan anaknya untuk mengeluarkan emosi. Miley menenteng Shupi seraya berjalan ke arah Ayah.

“Ayah, nanti kita kubur ya si Mini. Biar dia senang, aku.. Udah lama nda main sama dia Yah.”. Miley kecil, mulai menangis lagi Ayah segera menggendongnya dan mengiyakan permintaan putri semata wayangnya.

“Iya, Sayang. Kita kubur hari ini.”.

Sehabis mereka mengubur Mini, raut muka Miley masih suram. Tapi ia tetap memeluk Shupi erat. Shupi merasakan hal yang berbeda dengan Miley saat itu. Namun, satu minggu setelahnya Miley kembali seperti biasa. 

Shupi juga bersenang-senang dengan yang lain, hanya saja. Ketika mainan baru masuk, dia diacuhkan karena Shupi judes. Mereka adu mulut, dan hari itu setelah acara ulang tahun sudah selesai. Shupi kaget ketika Miley mendapatkan mainan dan barang baru lagi. Ia tidak suka, ia tidak ingin ada yang menyingkirkan dirinya. 

Terlalu tinggi ego nya untuk kenalan dengan mainan baru, pada akhirnya Shupi menyendiri dan mulai cuek.

Flashback Shupi’s past, the end

 

Shupi yang merasa terpanggil ketika ia mendengar Biken menyebut namanya beberapa kali, Shupi penasaran.

“Apa yang mereka bicarakan tentang ku? Ah sudahlah, pokoknya aku tidak ingin minta maaf duluan. Oh, ya bacaan ku belum selesai…”.

Shupi bergumam pelan, dia ingin tahu  apa yang saja yang di ceritakan oleh Lily dan Biken.

 

BAB 4: Kabel Fanfan Part 1

4 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 6

-452 Kata

 

Mari kita lihat, apa yang dilakukan Lily dan yang lain ketika Miley sedang tidak ada di kamar.

Lily bermain pok ame-ame dengan Grizz. Blu dan Coco sedang asyik bercerita tentang astronot yang pergi ke bulan. Di hari Sabtu ini, semua mainan bersantai. Karena Miley dan keluarga sedang pergi tamasya ke pantai. Alhasil, Fanfan dibawa oleh Miley.

 Para mainan dan Lily menitipkan oleh-oleh  mereka. Misal kerang, tapi Fanfan menolaknya. Ia kipas baterai yang berukuran sedang, jika dia membawa beberapa kerang di dalam kipas. Miley akan membuangnya, dan merasa itu janggal. Sebagai pengganti kerang, Fanfan akan membagikan ceritanya kepada mereka. Apa saja yang ada di pantai, lalu bagaimana keluarga Miley menikmati tamasya mereka di pantai.

 

Fanfan POV

 

Sabtu pagi ini, aku dibawa Miley pergi tamasya ke pantai. Aku jadi rindu teman-teman ku yang dikamar. Saat sampai, Miley membantu Ayah dan Bunda menata tikar di dekat tempat yang teduh.  Lalu Bunda menyuruh Miley dan Ayah untuk memakai sun block, gunanya agar kulit tidak belang. Miley dan Ayah bermain di pinggir pantai mencari kerang, membuat istana pasir atau bermain kejar-kejaran.

Bunda hanya duduk sambil membaca buku novel kesukaannya, dan menikmati bekal yang di bawa dari rumah.

“Apa Bunda Miley  tidak merasa terganggu membaca  buku di tempat yang ramai begini?” pikir ku penasaran. Aku diam ketika tangan Bunda masuk ke dalam tas Miley, ia memegang dan menggunakan ku untuk  mengipasi dirinya.

Aku bisa mendengar suara deburan ombak yang datang, orang-orang dewasa yang bermain voli, bermain di pinggir, mencari kerang dan lain lain. Aku berharap aku adalah manusia dan bisa mengajak teman-teman terutama Lily untuk pergi ke pantai. Pantai sangat menyenangkan.

Miley dan keluarganya menikmati bekal makan siang bersama dengan es kelapa muda. Aku fokus menatap orang yang bermain voli, dan ketika Ayah memesan ‘es kelapa muda’... Aku mendengar kalau Ayah memesan ‘es kepala muda’. Kalau ada Biken dan Smile disini, mereka berdua akan menertawakan ku.

Miley bermain hingga sore, dan dia juga banyak mendapatkan kerang yang ada di pinggiran pantai.  Aku hanya menatap Miley dengan tatapan sedih, lalu menarik nafas.

“Miley anak baik. Aku harap jika aku adalah manusia, aku dapat menemani serta menjaga Miley, Lily dan juga yang lain.” ucap ku lirih.

 

Fanfan POV end

 

Di kamar Miley, mereka menunggu Fanfan pulang dan menceritakan pengalamannya hari ini. Fanfan pulang, dia di gendong bersama – sama.

“Selamat datang Fanfan!!! Ayo cerita, cepat-cepat!” kata mereka kompak.

“HAHAHA, baiklah. Turunkan aku, cepat.” sahut Fanfan.

Setelah Fanfan turun, Fanfan mengajak  mereka untuk duduk membuat lingkaran, dan Fanfan ditengah sebagai orang yang bercerita dadakan. Lily duduk di sebelah Bunda Smile sedangkan Smile duduk di sebelah Biken. Mereka semua menunggu Fanfan membagikan pengalaman tamasya hari ini.

Dia menjelaskan dari awal ia sampai hingga kembali pulang. Tak lupa nama Miley juga disebutkan oleh Fanfan.

 

BAB 4 : Kabel Fanfan Part 2

2 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 7

- 363 Kata

 

Selesai bercerita dengan yang lain  Fanfan merasa gelisah, ia bangun seraya memeriksa keadaan baterainya. Ia terkejut, baterai nya tinggal 25 persen.

“HAH? Baterai ku tinggal sedikit bagaimana ini? Aku lupa dimana  letak kabel itu..”.

Ketika Fanfan mengeluh ia lupa menaruh kabel pengisi daya baterainya, para mainan  dengan serentak mencari kabel tersebut. Di kolong kasur, di bawah meja belajar, di dalam majalah dan sebagainya.

Lily dan  Coco  menenangkan Fanfan yang panik, sambil menepuk punggungnya dengan pelan.

“Aku tidak bisa tenang, Li…”.                            

“Kamu bisa, sabarlah. Mereka pasti akan mendapatkan kabel punya mu.”

2 jam sudah terlewati, Fanfan belum melihat kabel miliknya. Dan ia mulai merasa lesu,

“Fanfan, bertahan lah. Aku yakin ada yang menemukan kabel mu.”

“Lily, aku lelah. Tolong jaga Mi-.”.

“Jangan bilang begitu, tahan sebentar lagi Fan.”  potong Lily cepat.

“Baiklah…”. Fanfan pasrah kepada dirinya. Ia sungguh berterima kasih jika ada mainan  yang tidak sengaja membawa kabel pengisi baterai dengan ukuran yang pas.

 

***

 

Fanfan di bimbing menuju meja belajar Miley, alias tempat istirahatnya Fanfan.  Lily diam-diam mulai minder dengan ucapannya. Apa Fanfan akan pingsan karena baterainya habis? Atau dia akan pergi?

Lily pergi, ia terus berkeliling seputar kamar Miley untuk mencari kabel milik Fanfan. Dia juga membantu mainan kecil yang kesusahan mengangkat tas Miley. 2 jam kemudian, Lily berpikir untuk menyerah. Ia memperhatikan Fanfan dari jauh, baterainya berwarna merah yang diperkirakan baterainya tinggal 10 persen. Lily menggelengkan kepalanya kuat, ia terus mencari kabel Fanfan dimanapun tempatnya. Asal baterai Fanfan terisi dan Fanfan tidak pingsan.

Sudah setengah jam berkeliling, menelusuri tempat yang sempit. Lily belum menemukan kabel Fanfan. Dia duduk di tumpukan majalah Miley, menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis dan juga pasrah, Lily tidak tahu dimana Miley meletakkan kabel Fanfan.

“Tuhan, kapan aku bisa bertemu kabel milik Fanfan? Harusnya aku lebih memperhatikan hal kecil kepada teman-temanku.” ucap Lily pelan.

Mainan yang lain masih terus mencari, walaupun mereka mulai pupus harapan dan menjadi pasrah. Lily masih menutup wajahnya, hingga ada seorang boneka yang duduk di sebelahnya. Dia adalah Shupi, mereka duduk bersebelahan dan tidak berbicara satu sama lain.

“Kau tidak apa, Lily?”.

“Aku pasrah, h-harusnya aku memperhatikan hal-hal kecil di sekitar ku. Ini salah ku.”. Lily menangis terisak, dan menyalahkan dirinya karena tidak tahu letak kabel Fanfan.

BAB 4 : Kabel Fanfan Part 3

14 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 8

-612 Kata

 

Shupi menggelengkan kepala tidak setuju, dan menepuk bahu Lily pelan.

“Lily, hey. Tidak, kau tidak perlu menyalahkan diri mu sendiri Lily. Semuanya akan baik-baik saja, Lily. Jika Fanfan kehabisan baterai, dia  akan pingsan untuk 3 jam kedepan. Tapi, aku yakin dia tidak apa-apa. Fanfan akan mengejek mu jika tahu kau menangis untuk dirinya.” kata Shupi sambil tersenyum kecil.

“U-uh, aku tidak menangis! Hikd, terima kasih ya Shupi. Tapi kabel Fanfan dimana? Sudah banyak tempat yang sudah aku hampiri dan cari.”

“Tidak masalah Lily, santai. Tempat kabel itu berada? Ini kabel Fanfan  berada di tangan kiri ku. Ketika aku tidur siang, aku menemukan kabel ini terlempar jauh dari tempat yang biasa Miley yang meletakkan kabel. Aku membawanya dan berniat memberikan kabel ini untuk diri mu. Tapi ternyata kau sedang pasrah, makanya aku tidak jadi menganggu mu. Maaf, hehe.”. Shupi menjelaskannya dengan singkat, padat, dan jelas.

Lily hanya terdiam, dan menyunggingkan senyuman yang lebar. Dia memeluk Shupi dengan erat.

“HWAAAA!!! SHUPI TERIMA KASIH!! Sekarang, kita harus bergegas menuju Fanfan. Baterainya sudah berwarna merah.”.

Shupi hanya diam, ia tidak membalas pelukan Lily karena kaget. Sudah lama Shupi tidak mendapatkan pelukan dari seseorang, maupun Miley. Rasanya sungguh nostalgia.  Shupi mengikuti Lily dari belakang. Sesampainya disana,  baterai Fanfan masih berwarna merah dan wajah Fanfan sangat pucat.

Lily duduk di sebelah Blu, sedangkan  Shupi duduk bersebelahan dengan Grizz.

“Bagaimana, apa kau sudah menemukan kabel Fanfan, Li?” tanya Grizz.

“Iya sudah, Grizz. Mohon yang lain untuk mundur terlebih dahulu, dan tolong colokkan kabel Fanfan ini ke stop kontak. Cepat cepat!!!” perintah Lily mendesak. Yang lain menurut, mereka mundur dan bekerja sama untuk mencolokkan kabel milik Fanfan di stop kontak.

Fanfan  menggerakkan mulutnya, ingin bicara.

“Terima kasih, Li dan Shupi. Itu yang dia ingin ucapkan kepada kalian berdua.”. Coco  paham dengan bahasa mulut, jadi ia menerjemahkan ucapan Fanfan.

“Tidak apa, Fanfan. Teman saling membantu.”. balas Lily sambil menepuk pegangan Fanfan perlahan.

“Sama-sama Fanfan. Istirahatlah yang cukup.”.

Fanfan menjabat tangan Shupi, Shupi membalas jabatan tangan Fanfan sambil menyunggingkan senyum yang ramah.

Untung waktunya tepat, jika tidak Fanfan akan pingsan selama 3 jam kedepan.  Baterai Fanfan mulai diisi lewat kabel, semua mainan bernafas lega, dan mereka istirahat bersama-sama. Membiarkan Fanfan agar bisa ber-istirahat dengan tenang.

 

***

 

“Shupi, terima kasih ya. Kau orang hebat!”. Mainan lama dan baru mulai menghampiri Shupi dan Lily. Mereka memuji Shupi dan berterima kasih, karena Shupi datang sebelum baterai Fanfan benar-benar habis . Lily merangkul Shupi dan setengah berbisik kepada Shupi.

“Terima kasih sudah menjadi teman ku.  Jika kau ingin bertemu Miley, aku akan membantu mu, Shupi. Jangan sungkan, oke?”.

Shupi menundukkan kepalanya sebentar dan ia menangis diam tanpa suara. Dia tidak tahu harus membalasnya dengan apa, ia memeluk Lily dengan sangat erat.

“M-maaf, maaf jika aku selalu bertingkah kasar pada mu Li. Aku menyesal, tolong maafkan aku …” ucap Shupi.

“Tidak apa, Shupi. Seperti yang kau bilang kepada ku tadi, ‘Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Semuanya akan baik baik saja’. Sudaaah jangan menangis, nanti kita berdua yang akan ditertawai oleh Fanfan.”.

“Haha, dasar Lily. Baiklah, aku tidak akan menangis lagi. Karena aku tidak cengeng. Terima kasih Lily.”.

“Sama-sama Shupi. Heh, kamu kan cengeng juga. Yang menangis diam-diam tadi itu siapa?” tanya Lily, sambil menaikkan alis matanya satu.

“Aku tidak menangis, mata ku kemasukan debu Lily.”. Lily mengelak seraya menjulurkan lidah ke arah Lily.

“BOHONG”. Mereka adu bicara hingga mereka terlelap, nampaknya adu bicara mereka selesai.

Sabtu itu, semua berakhir normal. Ketika Miley masih diluar kamar, mainan dan barang masih bersenang-senang. Seperti Biken, Smile, Grizz, Blu dan Coco serta Fanfan mereka bermain adu suit dan hom pim pa. Sedangkan Lily dan Shupi, mereka tengah asyik membicarakan tokoh cerita kesukaan mereka. Apa ini langkah awal Shupi untuk mulai terbuka dengan Lily dan teman-temannya?

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 1

15 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 9

-341 Kata

 

Hari ini, kerabat jauh Miley akan menginap di rumah selama seminggu. Alhasil, Miley dan Bunda membereskan dan membersihkan kasur yang ada di kamar tamu dan kamar Miley. mZiley berencana  akan mengajak kakak sepupunya untuk tidur bersama Miley di kamar. Bunda juga menyiapkan kasur bawah untuk sepupu Miley. Selesai beres-beres, Miley membantu Bunda menyiapkan makan siang di dapur. Sekarang kita beralih ke para mainan Miley.

                                  

Lily POV

Wah, aku tidak sabar untuk melihat sepupu Miley. Apa dia cantik? Hihi, semoga dia membawa teman baru. Aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar Miley, aku segera mengingatkan teman-teman ku untuk menjadi senyap dan juga menjadi benda mati.

“Teman-teman ada orang, sstt!!!”.

Ternyata yang masuk ke kamar adalah Miley, dia duduk di kursi belajar sambil berkaca seraya menyisir rambutnya. Andai saja aku bisa membantu Miley untuk mengepang rambutnya. Eh, apa hasilnya akan bagus?

“Selesai! Semoga Zora betah disini, nanti aku ajak main sama yang lain.” gumam Miley pelan, ia berbicara dengan dirinya.

“Miley, kak Zora udah datang. Ayo sini dulu.”. Bunda berteriak memanggil Miley dari ruang tamu. Miley bergegas keluar dan kami para mainan mulai berdiskusi dadakan.

“Apa Zora membawa mainan baru?”.

“Apa mereka cuek?”.

“Semoga mainan Zora tidak cuek.”.

“Hey, kalian ini. Tenang saja. Aku yakin mainan Zora tidak jahat, mungkin mereka hanya canggung jadi jangan khawatir oke?” jelas ku sambil menatap mainan satu persatu.

“Nah. aku setuju dengan Lily. Tenang dan rileks. Kalau mainan Zora bertingkah semena-mena, kita harus menegurnya baik-baik walaupun kita adalah mainan Miley dan kamar Miley adalah wilayah kita. ”. jelas Grizz panjang lebar,

Fanfan dan yang lain menganggukan kepalanya, tanda setuju dengan ucapan ku dan Grizz.

Mereka semua bubar, dan mulai beraktifitas seperti biasa. Mereka tidak terlalu memikirkan, tentang mainan Zora yang akan menjadi tamu di rumah nanti. Aku duduk di pinggir kasur, sambil melihat Coco yang asik berlomba dengan bola bekel yang bernama Dong. Coco berlari dengan kakinya sedangkan Dong meluncur menuju garis akhir. Bisa kutebak bahwa Dong yang menang, karena bentuk Dong adalah bola. Sedangkan Coco adalah boneka kuda. Tapi aku akui, ketika Coco berlari, ia sangat gesit.

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 2

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 10

-507 Kata

 

 

Lily POV

 

 Tak lama Biken datang dengan wajah yang ceria. Aku penasaran, apa yang membuat Biken datang menghampiri ku dengan ceria.

“Halo Lily!!! Tebak aku habis bermain apa?” tanya Biken sambil terkikik geli.

“Hai juga, Biken. Bermain? Emm, bermain dadu?”. 

“Bukan, Li. Tebak lagi dongg!”.

“Apa yaa.. Kau menang bermain suit dari Shupi?”.

“BETUL. HAHAHAHAH. Mukanya merengut sete-”. Shupi berteriak memotong perkataan Biken.

“DIAM YA BIKEN. KAMU MAU AKU PUKUL, HAH?”.

Shupi menghampiri ku dan Biken wajahnya sedikit merah karena malu, biasanya dia selalu menang suit dengan Biken. Biken langsung lari ketika Shupi datang kearahnya.

“YA! Biken, kamu geer. Aku kan mau menemui Lily. Wuu!” ejek Shupi sambil menjulurkan lidah ke arah Biken yang sudah menjauh.

“Ingat kata pepatah, Pi. ‘Sedia hujan sebelum payung’, eh maksudnya ‘sedia payung sebelum hujan’. Aku harus lari sebelum kamu mengamuk hehe. Lily, jaga diri mu baik baik yaa!! Kalau kau perlu bantuan, teriak saja. Aku akan membawa yang lain.” ujar Biken dari jauh. 

Sekarang dia pergi menemui Blu dan Grizz yang tengah asyik menatap pemandangan langit dari jendela kamar.

Aku terkikik geli dan merasa senang melihat Shupi dan Biken mulai akrab lagi. 

Shupi menghela nafas dan duduk disebelahku, “Hey, Li. Apa kau tahu? Aku kemarin menemukan buku cerita yang asyik. Tapi sayang cover depannya hilang. Kau mau baca?”.

“Wah, benarkah? Dimana kau menemukannya Pi?” tanya ku ke Shupi.

“Aku menemukannya di belakang pintu kamar, berdebu sekali. Aku beberapa kali bersin, huh. Sampai hidung ku merah. Oya, aku juga ditemani dengan Ungu dan Biru si warna krayon. Hanya Biru dan aku yang bersin-bersin, sedangkan Ungu tidak bersin malahan dia sibuk memilah debu, sampah dan beberapa barang lama Miley yang menghilang.” jelas Shupi. Mengingat kejadian itu ia ingin menjadi Ungu, kebal dari bersin.

“Hmmm, mungkin Ungu sudah terbiasa? Tapi aku kurang tahu. Ayo Li, aku ingin baca buku yang kamu maksud itu.”. 

“Baiklah, menuju markas ruang cerita LiPi.”. 

Aku dan Shupi bangun, berjalan menuju tumpukan majalah Miley. Yap, benar itulah markas ruang cerita LiPi. Awalnya tumpukan majalah lama Miley. Karena tidak terlalu tinggi, fungsinya dijadikan meja diskusi para mainan atau membaca cerita di majalah tersebut jika bosan.

 

***

 

 

Zora datang bersama Paman Leo dan Bibi Mary. Miley membantu Zora untuk membawa tas nya ke dalam kamar Miley. 

“Berat isinya, tapi tak apa.” pikir Miley.

Mainan Miley mulai penasaran dengan isi tas Zora. Zora mengeluarkan satu boneka kelinci berwarna putih dan buku cerita panjang.

“Miley, aku bawa buku bagus lhoo! Buku panjang ini menarik, isi gambarnya bisa timbul dan membentuk suatu rumah ataupun hewan.” celoteh Zora antusias.

“Benarkah? Bisa tunjukkan isi bukunya sekilas, Ra?” tanya Miley balik.

Zora menganggukkan kepala, dan menunjukkan sebagian halaman depan dengan buku cerita miliknya. Lily, Shupi serta mainan lain yang mendengar hal itu, juga penasaran dengan isi dari buku cerita milik Zora.

“Wahhh! Gambar pada ceritanya bisa jadi besar ya. Keren sekali, Ra.” puji Miley sambil bertepuk tangan kecil, karena itu baru pertama kalinya Miley melihat buku dengan gambar cerita yang bisa timbul.

“Iya dong, Zora! Hehehehehe. Eh Miley, ayo kita keliling kompleks rumah. Siapa tahu aku dapat teman disini.”.

“Iya Ra, ayo kita izin terlebih dahulu dengan Bunda dan Bibi Mary.”.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana? PART 3

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 11

-432 Kata

 

Zora menaruh tas di dekat lemari Miley, mereka lalu pergi ke luar untuk menemui Bunda dan Bibi Mary  meminta izin sebelum berkeliling seputar kompleks. Para mainan Miley, menghela nafas lega namun kembali tidak bergerak karena Miley dan Zora masuk kamar untuk memakai sunblock dan topi.

 Selesai memakai apa yang di suruh Bunda dan Bibi Mary, mereka baru pergi keluar untuk berkeliling kompleks.

Jika kalian penasaran kemana Ayah dan Paman Leo, mereka sedang asyik bermain catur di halaman belakang. Sedangkan Bunda dan Bibi Mary bertukar cerita di ruang tengah sambil menikmati cemilan.

 

***

 

 

Kita kembali ke mainan Miley.

Lily, Shupi, Fanfan, Biken dan Smile duduk di pinggir kasur Miley. Memperhatikan tas besar milik Zora, dan kemudian boneka kelinci itu keluar dari tas bersama cerita unik itu. Lily dan Shupi segera menghampiri mereka berdua, berharap mereka mau berteman dengan mainan lain di kamar Miley.

“Hai, kami mainan Miley. Aku Lily dan yang di sebelah ku Shupi.” ucap Lily sambil mengulurkan tangannya, ia takut kedua benda favorit Zora ini tidak mau berkenalan dengan dirinya serta yang lain.

“Eh, haiii juga Lily dan Shupi. Hehe, perkenalkan aku Geri. Dan buku unik ini namanya Roi.”. Geri memperkenalkan dirinya dan juga Roi si buku panjang.

“Kamar Miley sangat luas ya, dan banyak sekali mainan. Di rumah, Zora kebanyakan buku cerita, buku gambar dan warna. Dan dia juga mewarnai di dalam buku gambar .” ucap Geri yang di sambut dengan anggukan kepala dari Roi

“Wah, aku yakin Zora akan menjadi pelukis yang hebat. Sini ikuti kami, kami akan mengenalkan beberapa mainan dan benda kepada kalian.”.

Lily mempersilahkan Shupi untuk berjalan di depan, Geri dan Roi mengikutinya dan Lily berada di belakang.

 

Miley POV

 

Aku berkeliling kompleks awalnya aku ingin mengenalkan Zora dengan Ares dan Leno, namun entah kenapa aku takut bahwa Zora akan mengambil mereka. Aku menggelengkan kepala cepat, menepis pikiran itu.

 Aku akhirnya membawa Zora ke rumah Ares, yang berada di Blok F sedangkan rumah ku berada di blok E.

“Permisi, Ares. Kamu dirumah?”. Kakak Ares alias Satria keluar dari rumah, sambil menenteng tas ranselnya. Sepertinya dia mau pergi les.

“Iya, ada apa ya? Eh Miley, Ares nya lagi dirumah Leno lagi main lego. Ini siapa dek?”  tanya kak Satria sambil menatap Zora sebentar.

“Ooh, iya kak. Ini Zora sepupu jauh ku. Kak Satria mau pergi les?” tanya ku balik.

“Oooh, Zora. Aku Sastria, dipanggil nama boleh pakai kakak juga boleh. Iya. Aku duluan ya Mi, Ra. Permisi…”.

Kak Satria pergi, dan aku menggandeng tangan Zora untuk pergi ke rumah Leno yang tidak jauh dari rumah Ares. Sesampainya disana, aku mengetuk pintu pagar rumah Leno dan memanggil nama mereka berdua.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 4

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 12

-487 Kata

 

Miley POV

 

Setelah memanggil nama Ares dan Leno yang keluar adalah mereka.

“Permisi, Leno dan Ares! Apa kalian dirumah?”

“Miley! Eh, ini siapa? Tetangga baru kita?” tanya Leno penasaran sambil melihat Zora.

“Ini Zora, sepupu jauh ku. Ia akan liburan disini selama seminggu.”.

“Oooh, aku Leno. Dan yang di sebelahku Ares. Ayo masuk, kita akan bermain lego bersama-sama.”.

 

Kami segera masuk, aku penasaran dengan Zora yang hanya diam dan tersenyum. Apa dia malu ketika bertemu dengan kedua teman ku? Hmmm, mungkin.

Kami masuk dan duduk di teras depan rumah, aku tersenyum melihat beberapa lego yang belum jadi. 

 

“No, aku sama Zora boleh ikut main Lego?”.

“Iya boleh, sini main Ra. Jangan malu-malu.”. Merasa namanya dipanggil oleh Leno, Zora hanya menganggukkan kepalanya perlahan.

“Santai, Ra. Kalau mereka nakal, aku akan menjewer mereka.”.

“Hih! Tidak mau. Jeweran mu sakit, Mi. Nanti telinga ku merah.”.

 

Ares dan aku tertawa, Zora ikut terkikik geli. Zora duduk di samping ku, dan mulai merangkit lego sesuai dengan cara penataannya. Ketika sedang asyik merakit lego, Bunda Leno membawa kue bolu lembut rasa pandan. Yum, yum! Itu favorit kami bertiga. Ku harap, Zora juga suka. 

 

Zora mengambil satu cubitan kue milik ku, dan mulai memakan kue itu. Dia mengernyitkan dahi, dan menganggukkan kepalanya cepat.

“Tidak enak ya, nak Zora?” tanya Bunda Leno, sambil menyodorkan gelas es sirup rasa melon.

“Uhm, enak kok Bu. A-aku hanya takut dengan makanan hijau, dulu Mama pernah bikin kue rasa pandan. Sayangnya, ada ulat di daun pandannya. Terima kasih, Bu.”. Zora menerima gelas yang disodorkan oleh Bunda Leno, dan ia meminum es sirup melon itu.

 

“Ooh, Ibu paham. Dulu Abangnya Leno begitu, ia sering menjahili adiknya. ketika masih berumur 4 tahun. Dari mainan, serangga yang asli ataupun mainan. Suatu hari Ibu bikin sayur asem, pas di cek kok ada ulatnya ya. Saya cuci, terus masak seperti biasa. Abangnya Leno yang liat ada ulat di sayur, dia langsung nangis saat makanan saya sajiin. ‘Hweee, Bunda. Gamau makan. Ada ulat, serem HWEEEEE’. Bapaknya Leno dan Ibu, cuma bisa geleng-geleng dengar ocehan anak itu. Dia tetap kekeuh, bahwa ada ulat lain di dalam sayur asem tersebut. Setelah dia besar, dia memakan sayur tanpa kepoin Ibu di dapur.” jelas Bunda Leno panjang lebar.

 

Kami berempat tertawa membayangkan masa kecil abang Leno, yang bernama Witya. Awal aku bertemu dengan bang Witya di lapangan kompleks, mukanya asam. Namun ia mengatakan bahwa dia sedang kesal dengan teman bermainnya. Aku berkenalan dan baru tahu ia memiliki saudara laki-laki yang terpaut 5 tahun dengannya.

 

“Hahaha, nak Zora kalau mau kue lain bilang ya. Nanti Leno yang ambil di dalam. Bunda masuk dulu ya, mau siap siap arisan nanti sore. Bundanya Ares dirumah, nak?” tanya Bunda Leno seraya bangun untuk masuk ke dalam rumah.

“Iya, Bun. Mama lagi dirumah, katanya mau pergi arisan bareng sama Bunda Leno.”.

“Oooh, gitu. Oke oke. Bunda tinggal dulu ya. Leno jangan berantem sama bang Witya, Bapak mu pulang jam 5 seperti biasa. Dan selamat bermain ya, anak-anak.” .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 5

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 13

-390 Kata

 

 

Miley POV

 

Bunda Leno meninggalkan kami, kami berempat tersenyum dan melanjutkan merakit lego.

“Wah, tidak disangka abang ku dulu ternyata takut ulat ya. Padahal dia sering menjahili ku.” ucap Leno sambil terkikik geli.

“Memangnya kamu ingat bentuk serangga yang ia berikan, untuk menjahili mu?” tanya Ares sambil makan kue bolu yang di sajikan oleh Bunda Leno.

“Nggak sih, ya tapi tetap saja! Dia menyebalkan.” balas Leno sambil menekuk alisnya.

“Pft, HAHAHAHA. Yang sabar ya, No.”. Aku menyunggingkan senyum dan mengangkat jempol untuk menyemangatinya.

 

Sambil merakit lego, kami juga makan bolu pandan. Sedangkan Zora makan kue wafer, sesuai dengan permintaan Bunda Leno.

 Ketika asyik bermain dan sudah selesai merakitnya, aku menatap orang yang berada di sebelah kiri ku, aku terkejut melihat wajah Bang Witya dan hampir saja melempar lego yang ada di tangan ku.

 Dia menatap ku heran, “Kenapa, Dek?”.

“Bang Witya, kalau lagi disebelah orang ngomong. Awas aja nanti sampai rakitan lego ku rusak, Bang Witya yang aku suruh buat perbaiki.”. 

Aku berceloteh dan Bang Witya hanya tersenyum kecil. Dia bangun, dan duduk di sebelah Ares. 

 

Sebelum bicara, Bang Witya menarik nafas dan berdehem pelan.

“Tadi asyik bener ngetawain masa lalu Abang. Siapa yang ketawanya paling kenceng?” tanya Bang Witya, menatap kami satu persatu seraya tangannya yang mengambil bolu untuk di cemilin.

“Erm, gatau Bang. Coba tanya Miley.”. Leno menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, dan kembali fokus merangkai legonya.

“Miley kamu ketawain Abang? Tapi gapapa, aku ikut bantu rangkai lego boleh kan?” tanya bang Witya lagi.

“Iya boleh, Bang!” jawab ku, Zora dan Ares kompak.

“Oh ya, aku Witya. Biasa dipanggil Bang Witya, dek.”. Bang Witya mengenalkan dirinya kepada Zora yang masih malu-malu.

“Aku Zora, kak. Iya, kak Witya. E-eh, bang Witya maksudnya.”.

“Hahaha, santai aja kali Ra. Ayo dirakit lagi lego nya, nanti adu lomba dadakan. Lego siapa yang paling keren.” ucap bang Witya sambil tersenyum misterius.

“Oke! Siapa takut!!”.

 

Kami merakit lagi sebelum bang Witya mengatakan, “Waktu habis, tidak boleh pegang bendanya.”. Dan bisa kulihat Zora mulai akrab dengan mereka, aku jadi senang hihi.

Di kamar Miley, setelah Lily dan Shupi selesai tur keliling kamar bersama Geri dan Roi. Para mainan mulai mengerubungi Geri dan Roi. Mereka bertanya, memberikan bingkisan dan juga bermain suit. Lily dan Shupi hanya duduk di markas LiPi, sambil membaca ulang buku cerita tanpa cover yang di temukan Shupi di belakang pintu kamar.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 6

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 14

-354 Kata

 

Lily membacanya, dan Shupi mulai merasa ngantuk. Karena menunggu Geri dan Roi yang sudah berjanji untuk membaca buku cerita tanpa cover itu bersama-sama, Lily dan Shupi tidak kesal dengan Geri dan Roi. Mereka maklumi, karena banyak para mainan yang penasaran dengan mereka. Jadi tidak salah kan? Geri dan Roi terlihat kewalahan menghadapi para mainan Miley.

“Phew, kalian banyak energi ya. Aku hampir kewalahan hehe.” kata Geri sambil mengusap dahinya yang penuh keringat.

“HAHAHA, tentu saja. Pemilik kami kan keren. Apa kau menang suit dari mereka?” tanya Shupi sambil tertawa puas.

“Yaa, aku beberapa kali kalah. Sedangkan Roi selalu menang, seolah dia bisa menebak suit apa yang akan dikeluarkan musuhnya.” ucap Geri, keningnya sedikit berkerut.

“Aku hanya memperhatikan gerak-gerik tangannya. Ketika aku meliha tangannya ingin mengepal, maka aku mengeluarkan suit kertas dan ternyata dia batu.”.

“Wah, Roi! Kau hebat sekali. Ajari aku dong sesekali tipsnya.”.

“Boleh, tapi bayaran ku adalah sampul buku yang bagus ya.”. Roi tersenyum sambil membuat tanda ‘ok’ dengan tangannya.

“Hmmm, kita akan bicarakan itu baik-baik.” sahut Shupi.

Roi menganggukkan kepala, dan berjalan ke arah Lily yang tenggelam dalam dunia bacanya.

 

“Hoi, Roi kepada Lily. Apa dia disini?” tanya Roi.

“Hah? O-oh, HAHAHA. Lily kepada Roi, dia hadir disini. Kalian sudah selesai berkenalan rupanya, apa kalian lelah? Duduk dan beristirahatlah disini.”. Lily menunjukan majalah Miley yang ia jadikan meja dan bacaan cerita. Roi duduk di sebelah Lily, melirik cerita yang dibaca Miley.

“Alurnya seperti pernah aku baca… Apa itu cerita tentang Pangeran Katak?”. Roi memejamkan matanya sebentar, berusaha mengingat sesuatu.

“Ah, ya… Sepertinya.. Aku tidak tahu cover depannya, Shupi yang menemukannya di belakang pintu kamar. Ada apa Roi?” tanya Lily balik.

“Tidak, apa-apa Li. Aku hanya teringat dengan penulis cerita ku, kalau tidak salah sebelum aku di berikan ke editor untuk di jual ke lingkungan umum di ruang kerjanya, ada buku cerita dengan cover berwarna hijau dan ada gambar seorang putrid cantik dan katak yang memakai mahkota.” jelas Roi.

"WAHHH! Kau hebat sekali Roi. Keren.” ucap Lily dan Shupi kompak, mereka kagum dengan ingatan Roi, walaupun samar-samar dia tetap bisa mengenali penulisnya. Roi hanya tersenyum kecil, sedangkan Geri tidur tanpa di sadari.

 

***

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 7

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 15

-413 Kata

 

Smile dan Biken datang, disusul Coco, Grizz serta Blu. Mereka ikut berkumpul di markas LiPi. Sambil membawa beberapa tumpukan kertas kosong, sebagai sumbangan alas untuk para mainan yang ingin istirahat di dekat markas LiPi. 

“Hei, apa kalian bosan? Bagaimana kalau kita bermain petak umpet?” celetuk Smile.

“Boleh, yang kalah hompimpa dia yang jaga, sisanya sembunyi.”. Semua menganggukkan kepala. 

Blu mengambil alas kertas kosong dan berkata, “Aku tidak ikut. Aku sebagai wasit saja.”

“Tapi kan, di permainan petak umpet tidak ada wasit.” kata Grizz menyipitkan mata kea rah Blu.

“Baiklah, aku ingin istirahat saja. Selamat bermain teman-teman.”. Blu gampang sekali tertidur. Suasana hening 5 menit saja, dapat dipastikan ia tertidur pulas.

“Hom pim pa alaium gambreng!”. Mereka berenam hompimpa, hingga semuanya dapat bagian. Karena Smile kalah dia harus mencari yang lain. Untuk pencari mainan yang bersembunyi, mainan lain yang tidak ikut hompimpa tidak boleh membantu pencari.

Lily dan Shupi bersembunyi di belakang lemari kecil buku lama Miley, Grizz pura-pura tertidur di sekitar tumpukan tas. Roi menyelipkan dirinya di antara buku cerita Miley yang ada di rak atas, Geri ikut berkumpul di sekumpulan gantungan kunci yang sedang bermain adu panco. Agar tidak di curigai, Geri berdiri membelangkangi Smile. Para mainan menikmati permainan petak umpet mereka, dan mulai beraktifitas seperti biasa. 

Ada yang membersihkan alas tidurnya, bermain voli kapas, menyusun puzzle dan sebagainya.

“Nah, Lily dan Shupi ketemu!” teriak Smile. Shupi, Lily dan Smile buru-buru lari ke arah kotak pensil lama Miley yang dimana itu dinding petak umpetnya. 

Jika kalian di temukan, maka kalian harus berlari ke arah dinding yang di jadikan pencari, memegangnya sambil menyebutkan namamu sendiri. Apabila pencari terlebih dahulu menyentuh dinding dan menyebutkan nama mu, maka pencari menang. 

Tanpa di sadari Lily tersandung kakinya sendiri dan mengenai punggung Shupi. Mereka berdua terjatuh dan tertawa. Smile segera memegang sisi kotak pensil itu dan, “Shupi dan Lily ketemu!”.

Dia buru-buru menghampiri Shupi dan Lily. 

“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Smile napasnya tersengal-sengal.

“H-hey tenanglah, Smile. Aku dan Shupi tidak apa. Semangat mencari yang lain.” jawab Lily seraya mengangkat jempolnya.

Smile hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia pamit pergi, mencari 3 orang lagi. Grizz yang sedang asyik rebahan, bahunya di toel-toel oleh Smile. Smile segera berjalan ke arah sisi kotak pensil itu. 

“Grizz ketemu! Roi dan Geri bersiap-siap lah!”. Smile sengaja mengeraskan suaranya. Smile berjalan lagi, hingga ia mendapati sekumpulan gantungan kunci yang sedang adu panco. Boneka kelinci berwarna putih? Smile menghampirinya dari belakang, diam-diam.

Dia memperhatikan adu panco yang dilakukan oleh gantungan kunci.

“Geri ketemu!”.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 8

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 16

-421 Kata

 

“HEH ? Eh, jangan sebut dulu namaku. Aku masih adu panco.” ucap Geri seraya menatap Smile sekilas dan kembali fokus dengan adu panconya.

“Tidak bisa. Wlek!”. Smile mengacuhkan Geri, ia berlari ke arah dinding dan memegangnya.

“Geri ketemu. HAHAHA, maaf Geri hehehe”.

“Huhhh, yasudah tidak apa. Ayo lanjut Gem, aku Geri tidak akan kalah lagi.”. Geri menatap gantungan kunci bergambar bintang warna merah biru yang bernama Gem.

“Oke, siapa takut.” sahut Gem sambil tersenyum kecil.

Lily, Shupi dan Smile terkikik geli. Sepertinya Geri akan ketagihan bermain adu panco dengan Gem. Waduh, bisa gawat kalau Geri bisa adu panco. Tangannya akan menjadi kuat seperti Thor ataupun Hercules.

Setelah menghampiri sekumpulan mainan yang adu panco, Smile berkeliling kamar mencari orang terakhir yang bersembunyi. Mulai dari tumpukan baju di lemari, tumpukan buku komik, krayon warna, kardus kecil di depan rumah Smile, dibawah kasur dan sebagainya. Ia hampir menyerah, karena sudah setengah jam belum menemukan Roi. Smile mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat sebuah buku yang berbeda covernya dari yang lain. Smile mulai mengingat-ingat cover depan milik Roi, dia tersenyum puas dan berjalan menghampiri rak buku Miley.

Apa tebakan Smile benar? Yep, benar!

Smile terkekeh kecil diam-diam menghampiri arah selipan buku yang covernya beda.

“Hey, psst. Apa kau Roi?” tanya Smile.

 

“Ya, nama ku Ro- HEI, SMILE SUDAH TAHU TEMPAT PERSEMBUNYIAN KU RUPANYA. AKU AKAN DULUAN MENYENTUH DINDING PENCARI.”. Roi buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya di antara buku Miley. 

Smile juga berlari ke arah dinding tersebut, namun sayang Roi yang tidak awas saat lari. Dia terjatuh karena kakinya menginjak bungkus bekas permen, dan berguling menuju tumpukan tas Miley. Smile dan yang lain kaget. 

Smile segera memegang dinding itu, “Roi, ketemu!”.

Dia berlari kea rah Roi yang sedang rebahan di dekat tumpukan tas Miley, Shupi, Lily serta yang lain segera menyusul kecuali Geri yang masih asyik adu panco dengan mainan lain.

“Apa kau tidak apa-apa?”.

“Ada yang sakit?”.

“Hey, tenang. Aku tidak apa-apa. Permainan itu sungguh menakjubkan. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Terima kasih atas kekhawatiran kalian, sungguh aku tidak apa-apa. Lihat?” ucap Roi seraya berdiri dan berjalan memutar di tempat. Menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa.

Semuanya memperhatikan dengan seksama dan mulai hompimpa lagi. Nah yang kalah kali ini adalah Grizz, dia berjaga di tempat yang sama seperti Smile. Geri tidak ikut dalam petak umpet karena dia ingin mengalahkan Gem dan kelompoknya dalam adu panco. Sepertinya Geri mulai memahami arti, orang kuat belum tentu orang itu besar. Kita doakan semoga Geri menang, kalau tidak menang dia pasti akan mengajak lawannya adu lomba terus menerus hingga ia menang.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 9

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 17

-367 Kata

 

Blu yang terbangun karena suara gaduh tadi, hanya bisa membuka mata dan goleran di atas alasnya. Seraya melihat mainan lain yang beraktifitas, sungguh dia suka suasana itu. Tidak ada yang menanyai dirinya ataupun mengajaknya dan ia bisa bersantai. Blu sangat menyukai waktu sendiri, tapi di sisi lain dia juga berharap ada seseorang yang bertanya kabar kepada dirinya dan mengajaknya bermain.

“Blu, sudah bangun? Bagaimana tidur mu?” tanya Lily yang berdiri di sebelah kiri Blu.

“Sudah, yaaa… Tidur ku lumayan, aku hanya kaget atas suara gaduh tadi. Ada apa, Li?” tanya Blu balik kepada Lily, sesekali ia menguap.

“Tadi Roi terjatuh karena menginjak bungkus bekas permen, ia terjatuh dan berguling menuju tumpukan tas Miley. Untung saja dia tidak apa.” jelas Lily.

Smile dan Grizz mengulurkan tangan untuk membantu Roi berdiri, Blu yang awalnya rebahan menjadi duduk. Dia penasaran dengan permainan petak umpet mereka tapi tidak ingin mengikutinya.

“Nah, ayo lanjut. Roi kamu mau istirahat terlebih dahulu?” tanya Lily dengan nada khawatir.

“Tidak apa, Li. Aku tetap akan lanjut bermain. Ayo hompimpa lagi.” jawab Roi sambil mengacungkan jempol kanannya.

“Blu mau ikut?” tanya Shupi.

“Tidak, terima kasih Shupi. Aku akan bersantai-santai melihat permainan petak umpet kalian. Anggap saja sebagai penonton seperti mainan yang lain.”. Blu tersenyum kecil, ia bangun sebentar untuk merapikan alas tidurnya dan kembali duduk santai.

Mereka berlima hompimpa lagi, kali ini yang akan menjadi pencari adalah Grizz. Sedangkan sisanya bersembunyi. Jika kalian bertanya kemana Coco, dia awalnya ikut hompimpa namun ternyata teman dekatnya memanggil jadi ia meminta izin untuk tidak ikut petak umpet.

Sekarang Coco duduk di pinggir kasur, nampaknya mereka berdua lelah karena adu kecepatan. Aku harap mereka tidak memaksakan kemampuan mereka.

“1, 2…”. Grizz mulai menghitung angka dari 1-20, yang lain segera berpikir secara cepat untuk menentukan letak persembunyian mereka yang baru.

Shupi bersembunyi dengan cara berdiri menghadap lemari baju, sedangkan Lily bersembunyi di dalam selimut. Roi menyelipkan dirinya tumpukan majalah di markas LiPi.

Smile? Awalnya dia ingin bersembunyi di dalam rumahnya, karena ketahuan Ibunya ia disuruh untuk bersembunyi di tempat yang agak sepi. Alhasil ia bersembunyi di antara selipan ujung pinggir kasur. Untung dia kecil, jadi muat.

“Semoga tidak ada yang tahu tempat persembunyianku.” gumam Smile.

Grizz sudah selesai berhitung, “Siap atau tidak. Aku datang.”.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 10

1 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 18

-383 Kata

 

Para mainan lain menyorak-nyoraki Grizz untuk menemukan mainan yang bersembunyi. Dan itu membuat hati para mainan yang sembunyi, menjadi was-was dan deg-deg an.

Apa tempat persembunyian mereka akan ditemukan atau tidak?

Smile yang mendengar sorakan dari mainan lain tiba-tiba menjadi gugup, namun ia menepisnya dan mengatakan, “Tenang saja, Smile. Tidak ada yang tahu tempat persembunyian mu kecuali Ibu. Hoamm, kenapa aku merasa mengantuk?”.

“Sepertinya tidur untuk 15 menit tidak salah…”. Karena tempat persembunyian yang pewe alias nyaman bagi Smile, dia mulai tertidur rupanya. Wah apa jangan-jangan Smile dan Blu adalah saudara tak seiras atau saudara jauh? HAHAHA.

Grizz berjalan menelusuri segala penjuru kamar Miley. Dari kolong kasur, sudut pojok kamar, belakang pintu dan sebagainya. Dia mendapatkan feeling bahwa dia bisa menemukan letak keempat mainan itu bersembunyi. Karena tidak menemukan clue apapun, ia naik ke arah kasurnya dan menemukan sebuah boneka yang bersembunyi di dalam selimut.

Grizz terkikik geli, dan diam-diam berjalan ke arah selimut itu. Dia menyingkapnya, Lily kaget dan tertawa puas.

“Baa! Lily!”.

“HAHAHAHAHA.”.

Grizz buru-buru menyentuh dinding jaga nya sebelum Lily menyebutkan namanya.

“Lily ketemu!”. Grizz melihat Lily sedang duduk di pinggir kasur dan mengangkat kedua jempolnya untuk dirinya.

“Semangat Grizz!” teriak Lily.

“OKEE!” sahut Grizz cepat.

Grizz berjalan lagi dan menemukan satu boneka yang berdiri dengan sedikit menundukkan kepalanya, dia berpikir sebentar dan mengira-ngira ini siapa.

“Shupi ya?” tanya Grizz spontan. Shupi yang kaget saat namanya disebut, ia langsung lari ke arah dinding jaga. Grizz juga tidak mau kalah, dia menyusul Shupi dari belakang. Karena nafas Shupi yang tidak beraturan, alhasil larinya menjadi sedikit lamban.

Grizz menyentuh duluan dinding jaga dan mengatakan, “Shupi, ketemu!”.

“Roi dan Smile! Kalian berdua siap siap ya, akan ku pastikan aku menang.”.

“Wuu, Grizz pede sekali.” kata Shupi sambil menyenggol pundak Grizz.

“Hehe, biarin. Kan aku sedang berpikir positif. Tidak salah kan?” tanya Grizz balik kepada Shupi.

“Tidak salah, kok. Sana cari mereka berdua, sebelum Miley dan Zora pulang. Bisa gawat kalau mereka sadar mainan mereka tidak di tempat semula.” jelas Shupi. 

Shupi ikut duduk di sebelah Blu, nampaknya Shupi akan bersantai-santai saja sehabis Smile dan Roi ditemukan.

Hihi, nampaknya hanya Roi yang mendengar ucapan Grizz barusan, sedangkan Smile masih tertidur pulas di alam mimpinya. Blu yang tidak ada kerjaan, dia terus menghitung kedua tangan dan kakinya, dari yang tempo penyebutannya biasa hingga menjadi sangat cepat.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 11

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 19

-373 Kata

 

Pernah suatu hari, Blu dan juga Grizz dibawa ke sekolah oleh Miley. Mereka dibawa Miley, karena Miley akan membawakan satu cerita dongeng favoritnya.

 Dan dia disuruh membawa boneka tangan atau boneka kesayangan untuk menemani ketika mulai bercerita. Sesampai dirumah, Blu dan Grizz menceritakan tentang pengalaman mereka di sekolah. Mereka menyukainya. 

Blu dan Grizz juga mendengarkan cerita dongeng yang dibawakan oleh teman-teman Miley yang lain. 

Ada satu anak, yang membacakan cerita dongeng kesukaannya, dibaca dengan cepat dan mukanya serius. Semua orang di kelas tertawa, karena anak itu membaca terlalu cepat, sedangkan Miley tidak tertawa ia hanya tersenyum dan bertepuk tangan untuk anak itu. Teman-teman sekelas Miley yang lain terdiam dan akhirnya ikut bertepuk tangan.  

Saat istirahat mereka makan bekal di luar kelas, jadi boneka ataupun buku cerita, ditinggal di kelas. Dan alhasil, mereka (para mainan, boneka, buku, dan alat tulis) mulai berkenalan satu sama lain.

Teman-teman Miley yang lain meminta maaf kepada Ria, karena menertawakan cerita yang ia bawa dan bukan bertepuk tangan. Ria memaafkan mereka, dan mereka bermain lompat bersama-sama tali di depan kelas. Sedangkan anak laki-lakinya bermain kelereng.

 

Sampai di rumah, Blu mulai melatih dirinya untuk berbicara dengan cepat. Mulai dari menghitung angka, banyak jarinya dan anggota tubuhnya. 

Karena itu mainan lain mengira Blu hampir sekarat karena terminum air botol milik Miley. Tapi nyatanya, dia hanya berbicara dengan tempo cepat. 

Haduh, Blu. Jangan bikin jantung teman-teman mu turun naik ya.

 

Kenapa Fanfan tidak disebutkan dari awal? Sst, dia sedang istirahat dan mengisi daya baterainya. Karena Fanfan habis dibawa Miley, pergi keluar ke supermarket. Hampir 2 jam setengah mereka berbelanja di supermarket, Fanfan lelah dan ingin mengistirahatkan dirinya. Jika Fanfan ikut permainan petak umpet ini, akan dipastikan dia yang menang. Karena dia memiliki mata yang jeli dan tajam.

Balik ke Grizz yang tengah mencari Roi dan Smile, dua orang pemain yang belum ditemukan. Apakah mereka bersembunyi di tempat yang jarang dilihat atau bagaimana? 

Grizz memutari kamar, dan mulai menyerah untuk menemukan Roi dan Smile. Dia lalu duduk di atas tumpukan majalah LiPi. Karena merasa posisi duduknya sedikit berbeda dari majalah lama Miley, dia turun dan mengeceknya. Grizz buru-buru berlari ke arah dinding jaga. 

“Roi ketemu!”. Grizz menepuk dinding jaga berulang kali, mainan lain bersorak. 

Sekarang tinggal satu pemain, yang belum ditemukan Grizz.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 12

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 20

-356 Kata

 

Roi yang merasa namanya dipanggil oleh Grizz tersenyum lebar dan mulai rebahan di atas tumpukan majalah LiPi, mulai memejamkan matanya sebentar. Roi terlihat lelah, dia berlari kesana kemari memikirkan tempat bersembunyi yang baru. 

Mendekati hitungan ke 16, dia akhirnya untuk menentukan untuk bersembunyi di antara tumpukan majalah Miley.

Grizz lanjut jalan mengitari kamar Miley, berharap menemukan clue atau kepala Smile yang menyembul keluar dari tempat sembunyi. 

Mainan lain penasaran, dan ikut menerka-nerka dimana Smile bersembunyi. Apakah di bawah kasur? Di dalam album foto? Di belakang tabungan kaleng besar? Atau bersembunyi di dalam rumahnya. 

Grizz mulai bingung, karena tidak mendapatkan clue atau ciri-ciri tempat persembunyian Smile setelah berkeliling kamar.

Grizz menghampiri Ibu Smile, “Permisi, Ibu Smile. Apa Smile bersembunyi di dalam?”.

“Tidak, Grizz. Ibu yakin, Smile sedang bersembunyi di tempat yang rahasia. Dia tidak keluar kaamr, tenang saja. Aku yakin kau bisa menemukan dirinya, semangat!”. 

Ibu Smile mulai menyemangati Grizz. Di lain sisi, Ibu Smile juga sedikit khawatir dengan anaknya yang tidak memberikan kode tempat persembunyiannya.

 Namun, dia berusaha untuk berpikir positif.

“Oooh, aku mengerti Bu. Terima kasih.”.

“Sama-sama, Grizz.”.

“Ibu harap, semoga Smile tidak apa-apa.” ucap Ibu Smile dalam hati.

 

Grizz POV

Aku pamit, dan mulai berpikir-pikir, dimana letak persembunyian Smile. Apa dia kabur? Tapi kata Ibu Smile sendiri, Smile bersembunyi tidak jauh dari kamar Miley. Apa dia buang air? Tapi WC dan kamar mandi umum untuk mainan dan benda-benda, sedang masih dalam proses pembuatan. 

Aduhh, Smile dimana ya? Walaupun Ibu Smile bisa mengelak jawaban, sorot matanya sedikit khawatir ketika aku memberitahukan bahwa tidak ada clue atau ciri-ciri dari Smile. Ahh, apa aku menyerah saja? 

Tidak, aku ingin menyerah. Tapi mengingat Smile belum ketemu. Oke, kita harus tuntaskan, mencari Smile sebelum semua orang panik.

 “Darimana lagi yang harus aku mulai?” 

kata ku dengan suara pelan.

“Oh ya, dimulai dari pintu kamar, lalu ke kasur Miley, markas LiPi, rak buku, dan terakhir tumpukan baju. Siapa tahu aku melewatkan sesuatu.Tuhan, tolong bantu aku. Berikan aku beberapa clue, untuk membantu ku menemukan Smile.”.

Apakah Smile akan bangun, dan Grizz menang? Ataukah Smile masih tertidur dan Grizz mulai pasrah terhadap keadaan?

 

 Mari kita berharap, agar Smile segera bangun dari mimpinya.

 

 

 

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 13

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 21

-429 Kata

 

Smile!! Cepat bangun, Grizz kesusahan mencari mu. Fuhhh. Ketika Smile tidur, ia tidak bisa diganggu gugat, karena tidurnya nyenyak sekali.

Lily yang melihat gerak-gerik Grizz. Merasa ada yang tidak beres, Lily turun dari kasur dan pergi menemui Shupi dan Blu yang tengah adu jempol dengan jempol kaki. Permainan baru sepertinya. Lily tidak mengajak mereka, karena mereka asyik sendiri. Lily akhirnya menghampiri Grizz

“Hei, Grizz. Kau terlihat lelah, ada apa?” tanya Lily sambil memperhatikan gerak-gerik Grizz.

“Tidak, aku tidak apa-apa Li.” jawab Grizz seadanya.

“Jangan sampai Lily tahu…” batin Grizz yang sedikit khawatir.

“Smile belum ketemu? Sudah kau cari di semua tempat?”. Lily memelankan suaranya, agar tidak terdengar ke mainan lain.

“Ya, aku tidak menemuka kode atau clue dimana ia sembunyi Li.”. Tampang Grizz sedikit lesu.

“Baiklah, kita akan mencarinya berdua. Agar tidak di curigai, aku akan pura-pura mencari angin. Kau teruskan saja mencari di sekitar rak buku dan tumpukan tas.”

“Aku sudah mencarinya di rak buku dan tumpukan tas, Li. Apa dia jangan-jangan di dalam lemari?”.

“Bisa jadi. Ayo bubar jalan, sebelum ada yang curiga.”.

Lily menepuk pundak Grizz dan berjalan dengan bersiul kecil, mencari angin. Namun diam-diam ia memikirkan tempat persembunyian Smile. 

Grizz tersenyum kecil, dan menghela nafas panjang. Dia berharap Smile tidak hilang. Dia tidak mau merepotkan yang lain.

Balik ke Smile yang masih nyenyak di tempat persembunyiannya yang sempit dan kecil, namun dia bisa tidur nyenyak di situ. 

Hebat. Ia memicingkan mata, dan mulai menunggu jiwa dan pikirannya bekerja lagi. Karena Smile menguap, ia malah memiringkan badannya ke kanan menghadap dinding kamar dan mulai kembali ke dunia mimpinya. 

Smile… Grizz dan Lily mencari mu tau.

 

Mari kita berpindah sejenak kepada Miley, Zora, Leno, Ares dan Bang Witya yang masih asyik merakit lego. Zora membantu mengumpulkan dan menyusun mainan lego yang tercecer, sedangkan Miley merakitnya yang dibantu oleh Bang Witya.

“Bang, kok abang bantuin Miley terus? Adeknya abang siapa?” tanya Leno sambil menekuk alis, tanda bahwa dia kesal.

“Kamu kan adeknya abang. Tapi, kamu sama Ares sudah selesai ngerangkai kan?” jawab Bang Witya yang mulai memakan jajan yang disediakan.

 Ares dan Zora yang mendengar jawaban bang Witya hanya terkiki geli, dan pura-pura diam tidak ikut berkomentar antara Leno dan bang Witya. 

Lihat, kan? Witya suka menjahili adiknya. Apalagi jika ada Miley, bang Witya akan sok perhatian kepada Miley biar Leno ngambek. Ckck.

Setiap ditanyai ‘”Adeknya abang siapa?”, jawaban bang Witya pasti, “Lah kamu bukan adek Abang? Yaudah, nanti abang bawa Miley jadi adek abang.”.

 “Leno dan Miley. Miley kan anak tunggal, dia juga pengin punya saudara. Jadi adek abang yang suka ngambek, gaboleh marah-marah sama Miley ya.”.

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 14

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 22

-388 Kata

 

#SarapanKata 

#KMOBatch37 

#Kelompok15

#GoldenLiterasi 

#Day22

#388Kata

 

Tag:

Bunda PJ : Ririn S 

Neng Jaga : Kiki Resita Nurbaiti 

Ketua Kelas : Mutiaradewi 

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ?

PART 14

 

Sebenarnya Leno sempat iri kepada Miley, yang hampir merebut tahta posisi menjadi ‘adik’. Dia tahu Miley anak tunggal, tapi ia tidak mau pokoknya tidak mau.

 Leno menganggap Miley sebagai ‘adik’ nya juga, tapi dia tidak mau kalau Miley menjadi adik bungsu. Huh! Itu artinya dia harus berbagi waktu dengan Bang Witya. Di hari itu Leno ngambek dan mendiamkan bang Witya dan Miley. Alasannya karena bermain game play station.

Awalnya Leno mengajak bang Witya untuk bermain play station berdua, namun bang Witya malah memberikan remote control nya kepada Miley. Leno hanya diam, dan tidak menyahut sama sekali.

 Saat ada part lucu di game, Miley dan Witya tertawa. Leno hanya tertawa dengan nada mengejek. 

Saat Ayah Bunda pulang dia mengadu, dengan mata memerah. Bahwasanya bang Witya tidak sayang dirinya lagi. Hum, sedih sekali. 

Leno kepikiran untuk pindah ke rumah Ares, tapi Ayah meresponnya dengan bercanda bahwa jika ia pergi maka bang Witya akan diambil Miley. 

Leno yang menganggap perkataan Ayahnya dengan serius, dia mengurungkan niatnya untuk menginap satu hari di rumah Ares. Dia yang pertama menjadi adik bang Witya, masa kalah dengan Miley.

 

Balik ke topik utama…

“Ish, aku bilang Bunda sama Ayah. Abang ga sayang adek sendiri. Wuu!”. Leno menjulurkan lidahnya dan lanjut merakit dibantu Ares. 

Bang Witya hanya mengendikkan bahunya, dan hanya menatap rakitan lego punya Miley

Miley tidak sadar akan hal itu, karena dia masih asyik dengan dunia rakitannya.

“Anu, maaf. Kamar mandi dimana ya? Aku mau buang air kecil.”.

“Ohh, kamu masuk ke dalam, terus masuk ke ruang tengah yang ada tv, belok kiri, pintu kamar mandi ada gambar bunga ya Ra. Ngerti?” jelas bang Witya singkat, padat, dan jelas.

“Oke, Bang. Aku izin ke kamar mandi ya. Permisi.”. Zora bangun dari tempat duduknya, masuk ke dalam rumah Leno dan berjalan sesuai dengan penjelasan bang Witya.

 

Kita berpindah sebentar ke kamar Miley. 

Lily yang hampir menyerah, memaksa dirinya untuk terus berkeliling mencari tempat persembunyian Smile. 

Lily melihat Ibu Smile yang terdiam di depan rumahnya, ia menghampiri Ibu Smile dan bertanya sekilas tentang tempat biasa di mana anaknya sembunyi.

“Permisi Ibu Smile, aku ingin bertanya sesuatu.”.

“Silahkan, Lily. Apa Smile belum ketemu? Ibu harap, Smile tidak bersembunyi di tempat yang jauh dari kawasan kamar.”.

“Tenang, Bu. Aku akan menemukan Smile. Aku janji.”.

Ibu Smile hanya tersenyum kecil, dan berharap agar Smile tidak hilang untuk yang kedua kalinya.

 

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 15

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 23

-468 Kata

 

Kenapa Ibu Smile sangat berharap, agar anaknya tidak hilang untuk yang kedua kali? Dia trauma mengingat kejadian dulu. 

Ketika mereka masih dalam toko mainan, alias belum menjadi barang yang punya pemilik. Smile kecil sempat hilang entah kemana. Berawal dari lubang kecil yang membuat Smile kecil penasaran, dan dia keluar sendiri diam-diam. Saat orang tuanya bangun, mereka panik ketika tahu bahwa anak mereka tidak ada di dalam kotak.

Mereka segera keluar dari kotak , dan bertanya sana sini kepada mainan lain. Berharap ada yang melihat Smile kecil pergi ke mana. Sayangnya, mereka tidak melihat nya. Satu jam setengah kemudian, orang tua Smile hampir menyerah. Namun mengingat ada satu tempat yang belum di datangi mereka berdua akhirnya kesana. Dengan harapan, semoga Smile kecil berada disana.

Sesuai harapan, mereka menemukan Smile kecil di pinggir kolam lego. Smile malah tertawa kecil, ketika melihat kedua orangtuanya. 

Dia masih kecil, belum tahu rasanya kehilangan sesuatu yang berharga dan sangat penting. 

 

Smile kecil pulang di gendongan ibunya, dan kembali masuk kotak mainan. Di bantu dengan mainan lain, mereka bekerja sama untuk menutupi lubang di kotak dan kembali menyegel kotak mainan Smile dan keluarga. Para mainan yang berkeliaran disaat toko mainan tutup, sangat baik kepada sesamanya.

 Keluarga Smile terus di dalam rak, hingga ada satu tangan yang terulur mengambil kotak mereka. Siapakah itu? Benar, dia adalah Bunda Miley. Ayah Smile berdoa, semoga pemilik barunya akan mengurus mereka dengan baik. 

Sesampai di rumah, Ibu Smile di saat masih-masih pendatang baru. Sangat over protektif, dia tidak mau mengambil resiko karena ia belum tahu tempat-tempat yang ada di kamar Miley. 

Ayah Smile mulai berbincang-bincang, dan membujuk istrinya untuk membiarkan Smile bermain dan tahu batasannya. Ibu Smile yang tidak yakin dengan keputusannya, akhirnya meminta Ayah Smile dan Smile untuk berkeliling kamar Miley. Hitung-hitung mengenal mainan-mainan yang lain.

“Bu, maaf sebelumnya. Apa Smile menceritakan ciri-ciri suatu tempat dimana ia sembunyi?” tanya Lily sopan.

“Ah, ya. Saat Grizz mulai menghitung, Smile tidak punya tempat sembunyi. Jadi saya menyarankannya untuk bersembunyi di tempat yang sepi, hmm… Kemungkinan besar di sekitar kolong kasur. Seharusnya aku tidak memberikan saran tempat sembunyi untuk anak sendiri.”. Ibu Smile menghela nafas panjang, dan menutup muka dengan kedua tangannya.

“Baiklah. Ibu jangan menyalahkan diri sendiri, Smile masih satu ruangan dengan kita. Tidak apa-apa, Bu. Smile akan baik-baik saja.”.

 Lily menghampiri Ibu Lily dan merentangkan tangannya, ingin member pelukan kepada Ibu Smile.

Ibu Smile menatap Lily sebentar, dan mereka berpelukan sebentar. Lily pamit dan Ayah Smile baru pulang kerumah dan melihat raut wajah istrinya yang khawatir.

“Sayang, ada apa? Kamu terlihat khawatir.”.

“Tidak, aku… Aku menyarankan Smile untuk bersembunyi di tempat yan sepi, dan sekarang Grizz tidak tahu tempatnya dimana. Beruntung, Lily juga ikut membantunya.”

“Sayang, Smile anak pemberani. Syukurlah, kita masih satu ruangan dengan dirinya. Semoga Lily dan Grizz segera menemukan Smile. Jangan menyalahkan diri mu sendiri lagi, sayang.”.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 16

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 24

-350 Kata

 

Ayah Smile memeluk Ibu Smile, dan dia mulai menangis di pelukannya. Ibu Smile masih takut dengan kejadian di masa dulu, ketika ia kehilangan Smile kecil. Dia tidak ingin hari ini terulang seperti hari itu. 

“Tidak apa, Sayang. Lily dan yang lain akan segera menemukannya.”.

“Iya, Sayang. Aku hanya takut, kejadian dulu sangat menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan, jika Smile hilang untuk kedua kalinya. Harusnya aku tidak menyuruh dia, berembunyi di tempat yang sepi.”.

Ibu Smile terus menyalahkan dirinya, dan mulai menangis. Ayah Smile tersenyum, memeluk istrinya sesekali mengusap punggungnya. Istrinya masih menangis, tapi Ayah tidak menegurnya. Dia membiarkan Ibu Smile untuk mengeluarkan emosinya.

 

Kembali pada Lily, yang sudah menemukan clue dari Ibu Smile. Ia berlari untuk menghampiri Grizz yang berdiri di dekat tumpukan tas Miley.

“Hahh… Hah..hah. Grizz, a-aku punya hhah..”.

“Tenanglah, Lily. Tarik nafas, lalu atur nafas mu dulu. Baru bicara.”. 

Grizz tersenyum, dan sesekali mengusap kepala Lily sebentar. Setelah selesai mengatur nafas menjadi normal, Lily mulai menceritakan clue dan cerita yang ia dapatkan dari Ibu Smile. Grizz hanya terdiam sebentar, dan mulai berpikir keras.

“Bagaimana, Grizz? Aku tidak yakin, kalau Smile bersembunyi di bawah kolong kasur.”.

“Benar, aku juga berpikir begitu.”.

“Hahhhh, aku tidak bisa memikirkan tempat dimana tempat persembunyian Smile.”.

“Kita harus pergi mencarinya berdua. Yang lain tidak curiga kan?” tanya Lily sambil melirik kea rah belakangnya Grizz.

“Tidak, mereka tidak curiga. Mereka malah asyik menonton dan menyemangati Coco dan Geri, yang sedang adu panco. Baiklah, ayo pergi Li. Semoga kita menemukannya.”. 

Grizz berjalan duluan, diikuti Lily di belakang. 

Mereka pergi ke kolong kasur, sesuai clue yang diberikan. Mereka sedikit membungkukkan badan, dan tidak melihat kaki atau tangan yang bersembunyi disana. Mereka berdua melanjutkan mencarinya di tempat lain. Berharap, menemukan Smile.

“Grizz, kita sudah mencari di tempat sepi. Apa lebih baik kita mencarinya di atas kasur?” tanya Lily.

“Ya, aku setuju dengan mu. Dengan mencarinya di atas kasur, kita bisa melihat semua dari atas. Ayo Li. Sebelum ada yang tahu.” jawab Grizz.

Mereka buru-buru naik ke atas kasur, dan mulai berjalan santai. Seolah sedang mendiskusikan sesuatu, dan berharap yang lain tidak menyadari bahwa Smile belum ditemukan.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 17

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 25

-319 Kata

 

Mereka berjalan mengitari kasur, dan melihat yang dibawah masih bersorak-sorak menyemangati perlombaan adu panco. Lily melihat, kalau Geri yang menang, karena Coco pantang menyerah ia mengajak Geri untuk melakukan adu panco ulang. 

Grizz menatap ke arah sekitar kasur. Masih sama, belum ada tanda-tanda dari Smile. Apa jangan-jangan dia ketiduran?

Posisi Smile sekarang menghadap kiri, tidak lama ke kanan. Dia bosan, sampai kapan ia ditemukan oleh Grizz? Tapi tidak apa, yang pasti lebih lama lebih baik. Karena dia akan menang jika Grizz menyerah.

“Grizz, aku perhatikan dari bawah. Tidak ada yang mencurigakan. Bagaimana dengan mu?” tanya Lily penasaran.

“Ntahlah, Li. Aku juga belum menemukan apapun di atas kasur. Apa kita berpencar lagi mencari Smile di sekitar bantal dan guling?” tanya Grizz balik dengan raut muka berpikir.

“Boleh. Oke, aku duluan ya Grizz.”.

 

Mereka berpisah, Grizz berjalan ke arah pinggir kasur sedangkan Lily arah sebaliknya. Dia dan Grizz berharap, bahwa Smile berada di sekitar kasur. 

Smile menguap beberapa kali, dan mengerucutkan bibir. Dia bosan, bosan dan bosan. 

“Aduh, Grizz lama sekali mencari ku. Apa dia menyerah? Tapi tidak mungkin, Grizz yang kukenal akan mencari barang hilang sampai dapat. Jadi aku harus bersabar sedikit.” celoteh Smile perlahan.

 Kantuk datang menghampiri, hingga menyebabkan Smile menguap.

“Tidak salah kan, untuk tidur sebentar. Sambil menunggu mereka sadar dengan tempat persembunyian ku. Hoaaam.”.

 Astaga Smile, kenapa kau tertidur lagi? Mari kita berharap, semoga Lily dan Grizz menemukan tempat persembunyian Smile yang tidak jauh dari posisi mereka.

Setelah setengah jam memeriksa di belakang bantal, guling, dan selimut, hasilnya masih nihil. Belum ada tanda-tanda dari Smile.

“Grizz, dia kemana ya?”.

“Ntah, tapi aku yakin. Kita tidak jauh dari tempat sembunyi Smile.”.

Mereka berjalan, hingga berada di tempat sempit di pinggir kanan kasur. Grizz menatap muka Lily sebentar.

“Tempat sekecil ini? Kau yakin ada Smile bersembunyi disini?” tanya Grizz, ia memerhatikan celah sempit di pinggir kasur ini.

“Aku yakin, tubuh Smile kecil dan ia mudah bersembunyi disini. Ya kan?”.

BAB 5 : Smile Sembunyi Dimana ? PART 18

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 26

-592  Kata

 

Mereka berjalan, hingga berada di tempat sempit di pinggir kanan kasur. Grizz menatap muka Lily sebentar.

“Tempat sekecil ini? Kau yakin ada Smile bersembunyi disini?” tanya Grizz, ia memerhatikan celah sempit di pinggir kasur ini.

“Aku yakin, tubuh Smile kecil dan ia mudah bersembunyi. Ya kan?”.

Pindah ke Smile, ia terbangun karena mendengar ada dua mainan yang di sekitarnya sedang bicara dengan bisik-bisik. Tapi ia terusik, tidurnya tidak tenang. Ah sudahlah, Smile tidak jadi kembali memejamkan matanya.

“Suaranya seperti… Oh! Itu Lily dan Grizz, apa mereka menemukan ku?”. Smile berpikir sebentar, seraya bangun untuk mengintip dari posisinya.

“Benar, ternyata mereka. Apa Grizz belum menyerah? Huhhh.”.

Smile memejamkan matanya, dan berharap Grizz dan Lily tidak melihatnya.

“Hoi, Smile. Kau sudah ketemu.” ucap Grizz sambil tertawa kecil.

 

“Yah, kalian lama sekali. Aku pikir kau akan menyerah, Grizz.” sahut Smile sedikit kecewa. Lily mengulurkan tangan untuk membantu, dan Smile meraih tangan Lily. Smile naik, dan sedikit membersihkan rambutnya terkena debus.

“Hampir saja kami kehilangan diri mu. Tapi, tenang. Untung Lily instingnya kuat, jadi dia bisa menemukanmu.”.

“Tidak, Grizz. Aku tidak punya insting yang kuat, asal kau tahu.”.

“HAHAHA. Ayo kita turun. Aku mendengar ada sorak-sorak ramai dari yang lain. Apa aku ketinggalan sesuatu?”.

Mereka bertiga jalan bersebelahan, lalu yang turun duluan ke bawah adalah Smile, Lily baru Grizz. Lily menganggukan kepala, Grizz berjalan agak cepat ke arah dinding jaga. Untuk menyentuh dan menyebutkan nama Smile.

“Smile ketemu!”.

Sedangkan Lily dan Smile, berjalan ke arah kerumunan mainan-mainan untuk melihat, apa yang mereka lihat dan saling sorak-menyoraki. Smile tersenyum kecil, saat melihat Gem dan Geri masih adu panco. Sedangkan Lily menghela nafas sebentar.

“Astaga, mereka ternyata adu lagi. Tapi tidak apa, sepertinya ini adu final panco.” kata Lily sambil bertepuk tangan menyemangati kedua-duanya.

Smile menganggukkan kepalanya dan ikut bertepuk tangan, “Benarkah? Wah, sekira ku hanya Gem yang juaranya. Ternyata ada pendatang baru.”.

Smile menarik nafas sebentar, dan berteriak agak keras menyemangati Geri.

“GERI, SEMANGAT!”.

Mainan lain yang mendengarnya kaget, dan tertawa kecil. Smile hanya tersenyum manis, tidak lama Ayah Ibu Smile datang menghampiri Lily dan Smile, Grizz datang bertepatan dengan orangtuanya Smile.

 

“Hei, Li. Siapa yang menang?” tanya Grizz sambil melihat sorakan mainan lain mulai ricuh.

“Hai, Grizz. Ntahlah, aku kurang tahu.” balas Lily. Dia menjijitkan kakinya untuk mengintip siapa yang menang.

Ibu Smile segera memeluk anak semata wayangnya, Smile juga memeluk ibunya. Ayahnya hanya menatap mereka terharu. 

“Nak, maaf Ibu menyarankan kamu untuk sembunyi di tempat yang sepi.”.

“Tidak apa, Bu. Aku tidak apa-apa. Hehe, andai tadi lebih lama aku pasti menang.”.

“Jadi kamu lebih memilih lama untuk menghilang? Ibu tidak akan buatkan makanan kesukaan kamu untuk hari ini.” jelas Ibu Smile.

“Ayah, liat Ibu. Masa ga sayang anak sendiri?”.

“Hahaha, sudah sudah. Ibu sayang kamu, Smile. Kalau hilang lagi, nanti Ayah sama Ibu ganti anak.”.

“IH, KOK AYAH SAMA IBU TEGA?!”. Smile merengut, sedangkan orangtuanya tertawa kecil. Sungguh mereka adalah salah satu keluarga mainan yang paling kompak diantara mainan Miley yang lain.

“Ayah, Bu. Ayo kita tonton adu panconya Gem dan Geri.”.

 Smile berjalan duluan, pergi ke sebelah Lily. Ibu dan Ayah Smile menyusul, dan berdiri di sebelah kiri Smile.

Saat tengah asyik menonton, Ayah Smile mengangkat Smile agar Smile bisa melihat adu panco tersebut.

“WAHH!! AYO GEM, JANGAN MAU KALAH DENGAN GERI.”.

Semua mainan terus menyemangati, hingga berteriak lega dan ada beberapa juga yang nada suaranya sedikit kecewa. Dan yang menang adalah Gem, Geri hanya tertawa. 

Nampaknya mereka menikmati adu panco ini. Para supporter tadi bersalaman dengan Gem dan Geri bergantian, dan mereka bubar kembali ke tempat masing-masing sambil menunggu Miley dan Zora pulang.

BAB 6 : Alasan Miley Murung Part 1

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 27

-311 Kata

 

Alasan Miley Murung Part 1

 

Masih dengan Miley dan Zora yang tengah asyik, memakan cemilan jajan yang di sediakan oleh Ibu Leno. Mereka berdua belum pulang rupanya, masih mengotak-atik dan saling pamer rakitan lego masing-masing. Leno dan Ares membuat rakitan perahu dari lego, sedangkan Miley membuat rakitan perahu lego. Dibantu dengan bang Witya.

Karena sudah selesai merakit, bang Witya kembali masuk untuk membuatkan es batu. Tidak lama kemudian, dia kembali ke depan dan memberikan selembar uang dua ribu rupiah kepada Leno.

“Dek, beliin 2 es batu ya, Abang mau bikin sirup.” ucap bang Witya.

“Siap bang.” balas Leno, dan mengambil uang yang diberikan abangnya. 

Dia memakai sandal biru, dan pergi ke warung Bu Ica berada tepat di sebelah kiri rumah mereka.

Sepulang dari sana, Leno membawa dua bungkus es batu dengan mulutnya yang sedikit berdumel ntah karena apa itu…

“Len, kenapa muka mu cemberut?” tanya Zora.

Dia hanya menghembuskan napas, lalu pergi ke dalam untuk menaruh es batunya di kulkas. Miley segera menepuk-nepuk bahu Zora. 

“Maaf ya. Leno kalau lagi kesel, memang begitu Ra. Ayo lanjut makan lagi, nanti Leno akan cerita sendiri. Apa yang buat dia kesal.” jelas Miley panjang lebar, berharap agar sepupunya tidak tersinggung atas perilaku Leno yang cuek atas pertanyaan dari Zora.

 

Leno keluar, mulutnya masih komat-kamit. Begitu juga dengan alisnya yang ditekuk. Astaga Leno kenapa ya?

Leno membantu bang Witya dengan membawa beberapa gelas plastik, dan bang Witya membawa teko besar yang berisikan sirup melon yang dingin. Setelah duduk, bang Witya menuangkan isinya, lalu membagikannya kepada mereka berlima, termasuk dirinya.

“Len, jawab dulu pertanyaan Zora. Kamu kenapa? Ada apa?”.

“Ooh, maaf Ra. Aku tadi kesal, tapi lupakan saja.” jawab Leno cepat, dan mulai meminum sirupnya. 

Bang Witya, Ares, Zora dan Miley saling bertatapan satu sama lain. Ada apa gerangan? Apakah di jalan sebelum pulang Leno bertemu seseorang yang ia tidak sukai? Mereka tidak menyinggung hal itu, dan lanjut memamerkan rakitan buatan mereka.

BAB 6 : Alasan Miley Murung Part 2

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 28

-426 Kata

#SarapanKata 

#KMOBatch37 

#Kelompok15

#GoldenLiterasi 

#Day28

#426Kata

 

Tag:

Bunda PJ : Ririn S 

Neng Jaga : Kiki Resita Nurbaiti 

Ketua Kelas : Mutiaradewi 

 

Alasan Miley Murung Part 2

“HAHAHA. Aku menang kan? Tos dulu kita, Res!”. Leno menatap Ares dan mereka bertos dengan gaya mereka. Miley menekuk alis, dan Zora menepuk-nepuk bahunya untuk menyabarkan adik sepupunya.

“IHH, bang Witya nilai ulang lagi dong. Miley mau menang juga.” kata Miley sambil menatap bang Witya sekilas.

“Hah? Gak, ga boleh. Kenapa minta diulang? Rakitan ku pasti selalu bagus, wlek.”. Leno menjulurkan lidahnya. Miley hanya diam, dan menundukkan kepalanya, tanda ia kesal.

 

POV Witya

“Waduh, jangan sampai mereka berdua ber-”. Pikiran ku terpotong oleh ucapan Miley.

“Lho jelek. Aku tidak suka kamu.” ucap Miley dengan suara datar.

“Aku juga tidak suka kamu. Mi.”. Hening, aku tidak menyangka kalau Leno akan membalas perkataan Miley.

ARGHHH. Leno kenapa ya? Pulang dari warung wajahnya ia tekuk cemberut, enggan menjawab pertanyaan ku tadi. Apa Leno kepikiran sesuatu?

“Leno taruh es batunya di kulkas, udah kan Bang?” jelas Leno sambil menatap ku.

“Iya, Dek. Terima kasih ya. Oya, tolong siapin 5 gelas plastic buat sirup ini. Tumben muka mu cemberut, Dek. Ada apa? Ada yang ganggu?”. Aku yang masih fokus mengaduk sirup di teko besar, tidak mendapat respon dari Leno. Apa dia mengacuhkan ku?

 

Pasti ada yang menghasut dirinya mengenai Miley, dan aku sebagai abangnya sendiri. Tapia pa? Kalau Leno sudah begini, tidak ada yang bisa di tanyakan ke dia. Ujungnya pasti didiamkan karena ia masih marah tentang sesuatu.

“Kalian kenapa? Leno, Miley. Tidak boleh begitu.”. 

Aku memberanikan diri untuk bicara, menengahi mereka. Bisa kulihat Miley pura-pura makan jajan, tapi nyatanya dia menahan tangis karena jawaban Leno. Sedangkan Leno, hanya asik merakit lego dalam bentuk yang lain. 

Zora dan Ares hanya menatap ku, dengan maksud “Bang Witya, tolong, mereka kenapa? Kenapa auranya jadi begini?”.

“Kenapa Bang? Miley menyebalkan, sudah jelas-jelas rakitan ku bagus. Dia pasti iri.” kata Leno seraya membalikkan badan untuk kembali fokus ke dalam pekerjaan merakitnya.

“Aku tidak iri. Aku yakin. Rakitan punya ku lebih baik dari kamu, No.”

“Jangan harap. Ah, sudahlah.”.

“Leno, jangan begitu ke Miley. Wajar dia minta ul-”. Lagi-lagi ucapan ku dipotong oleh Leno. 

Sabar Witya, sabarkan diri mu Witya. Bernafas, huuh hahh…

“Apa? Bang Witya sekarang membantu Miley? Aku mau tanya, adek abang siapa

"? Pilih kasih.”.

“Leno, albang bukan pilih kasih sama kamu. Kamu tahu kan Miley anak tunggal…”.

“Ya, dan dia tidak punya saudara. Jadi dia mau ngambil abang Leno sendiri, ya kan Miley?” tanya Leno.

 Tenangkan dirimu Witya, hampir saja kau menendang adik sendiri jika tidak ada Miley. Sepertinya dia sudah dihasut oleh seseorang saat dijalan tadi, tidak bisa aku biarkan. Yang ada nanti, Leno dan Miley menjadi musuh dan menjauh serta enggan bicara.

BAB 6 : Alasan Miley Murung Part 3

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 29

-314 Kata

 

Alasan Miley Murung Part 3

Miley hanya diam. Tidak merespon ucapan Leno, matanya mulai memerah menahan tangis. Leno kenapa hari ini? Mengapa dia sangat tidak suka ketika dia bermain lego bersama bang Witya.

“Dek, cukup. Kamu kenapa? Kenapa nyalahin Miley lagi?” tanya bang Miley dengan nada suara lembut.

“Lihat kan, Mi? Abang ku sendiri mendukung mu. Ck, kalian berdua menyebalkan.” jawab Leno sambil memutar bola matanya malas.

“Leno.”. Semua orang terdiam, suara intonasi bang Witya berubah. Semoga kali ini, emosi bang Witya tidak meledak.

“Apa?”.

“M, maaf aku menganggu kalian. Ra, ayo pulang. Kita harus mandi sore.”.

 Miley bangun, sambil menarik tangan Zora. Zora hanya menuruti Miley, dan mereka segera pulang. Meninggalkan Ares, Leno dan bang Witya.

“Leno, abang mau tanya. Kenapa kamu selalu menuduh Miley terus? Salah dia apa?”.

“Banyak. Dia salah, dia ingin mengambil abang dari ku. Memang benar, aku menganggap Miley adalah adik ku. Tapi tidak kubiarkan dia mengambil abang ku sendiri.” kata Leno sambil menghabiskan minumannya.

“Leno. Apa kau tidak lihat wajah Miley, saat kau menuduhnya?”.

“Tidak. Dia juga kadang merebut perhatian abang dari adik kandung sendiri. Aku benci kalian berdua.” jelas Leno sambil menatap muka kakaknya serius. Raut wajahnya sedikit takut, Leno takut bang Witya meninggikan suara atau intonasinya berubah. Sungguh dia tidak suka itu.

“Kau dihasut seseorang lagi?”.

“Tidak, enak aja aku di hasut orang.”. Setelah itu mereka hanya diam, Ares berinsiatif untuk membereskan mainan lego milik Leno yang berceceran, dan ia pamit pulang. Ares berharap Leno dan Abangnya tidak berkelahi di dalam rumah.

“Lihat, sekarang semua teman-teman mu pulang, Dek. Aku tidak ingin membahas ini, cepat minta maaf kepada Miley.”.

“Aku tidak mau, Bang.” balas Leno acuh.

“Terserah. Aku memperhatikan semuanya.”.

 

POV Leno.

Halah, memperhatikan semuanya, tapi dia selalu membanggakan si Miley. Bukan aku, abang macam apa itu. Aku jadi tidak enak ketika melihat mata Miley yang berkaca-kaca. Maafkan aku, Miley. Aku akan meminta maaf lain kali, aku sedang berusaha menurukan ego ku.

BAB 6 : Alasan Miley Murung Part 4

0 0

-Sarapan Kata

-KMO Batch 37

-Kelompok 15

-Golden Literasi

-Day 30

-318 Kata

 

Alasan Miley Murung Part 4

Ares yang pulang bersamaan dengan Abangnya yang pulang dari les. Dia tidak sengaja berpapasan dengan Miley, ketika ia menyapa Miley tidak menyahut. Namun Satria bisa melihat matanya Miley yang memerah, sepupu Miley mengikuti Miley dari belakang.

“Baru pulang, dek?” tanya abang Satria yang duduk di teras depan, melepaskan tali sepatunya.

“Iya, Bang. Bunda belum pulang?”. Ares bertanya balik dengan abangnya, sedangkan orang yang ditanya bengong untuk sesaat.

“Ya mana, abang tahu dek. Bunda mungkin masih di jalan. Ayah katanya pulang jam 7, masih ada rapat di kantor.” jelas Bang Satria. Dia dan Ares bangun, lalu segera masuk ke dalam. Tak lupa menaruh alas kaki mereka, di rak sepatu-sandal.

“Dek, tadi abang ga sengaja liat si Miley. Dia kenapa ya?”.

“Miley?” tanya Ares. 

“Iya, Miley. Kalian ga berantem kan?”. Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya, Ares menghela nafas dan mulai menceritakan alasan kenapa mata Miley memerah karna menahan tangis.

“Leno cemburu lagi? Atau jangan jangan, ada yang menghasut dia?”. Bang Satria mulai berpikir keras, mencoba merekontruksi / membayangkan adegan itu di dalam benaknya.

“Iya, Bang. Aku jadi kasihan sama Miley. Tapi aku harap semoga, Leno dan Miley jadi baikan lagi.”.

“Aamiin. Kamu mandi gih dek, bau.”.

“Abang juga bau, ngga sadar diri.”.

“Aku abang mu, wajar dong ngingetin.”. 

Bang Satria menjulurkan lidahnya, sekarang Ares ingin memukul bahu abangnya keras-keras.

“Yayaya, terserah abang.”.

 

 Sesampainya dirumah Miley dan Zora duduk di teras depan, Miley menenangakn dirinya sebelum masuk kerumah. Dia tidak ingin berbohong kepada orang tuanya.

“Miley, maaf aku tidak bisa membela mu dari Leno.”. Zora menundukkan kepalanya, merasa bersalah.

Miley yang sudah agak tenang, menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju, “Tidak apa, Zora. Leno memang begitu kalau lagi iri. Aku yakin, ada orang yang menghasutnya. Ayo masuk, Ra. Aku sudah mendingan, ah ya. Tolong rahasiakan kejadian ini dari Bunda ya.”.

Miley menunjukkan kelingking, dan tersenyum. Zora ikut membalas senyuman Miley, dan mengaitkan kelingkingnya dan menganggukkan kepala.

“Jangan khawatir, Miley! Ayo, masuk. Kita harus mandi.”.

 

–bersambung–

Mungkin saja kamu suka

Puti intan akhb...
Raisya
Zeina Aisyah
Jalan-Mu, Hijrahku
Askara Jingga
-
Nurhidayati Sur...
Kisahku
Vega Galanteri
Serenada Bianglala

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil