Loading
9

1

0

Genre : Inspirasi
Penulis : Min Adadiyah
Bab : 30
Pembaca : 3
Nama : Min Adadiyah
Buku : 7

SENAMPAN TUMPENG CINTA

Sinopsis

Kehidupan peneliti berlatar belakang dunia kesehatan, sepintas lalu terasa datar. Cerita yang tersaji biasanya adalah seputar pengabdian. Padahal di dalamnya tak sedikit masalah mewarnai. Termasuk juga kisah cinta para pelakunya. Ada perjodohan, ada cinta lokasi dan aneka kisah cinta yang lain. Diinspirasi dari sekelompok peneliti yang bertemu dalam satu ikatan beasiswa pembimbingan penulisan. Dikulik satu per satu kisahnya hingga terwujud mozaik serupa tumpeng. Beraneka bahan dan rasa tapi berada dalam satu nampan yang sama. Nampan Cinta. Bagaimana proses tim peneliti manajemen filantropi ini menyelesaikan tantangan membantu RS privat non profit? Keunggulan : memaparkan seluk beluk manajemen filantropi kesehatan sebagai latar belakang.
Tags :
#hobbyjadiinspirasi

Rahasia Itu Bermula Di Sini

2 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 1

Jumlah Kata 505

Sarkat Jadi Buku

 

Tak pernah terfikir sebelumnya bahwa aku akan berada di sini. Sebuah ruangan yang berisi beberapa peneliti muda yang keren. Kadang-kadang aku masih merasa tidak layak masuk di dalamnya. Fakultas kedokteran dan kesehatan di kampus tertua di Kota Yogyakarta. Tidak hanya karena latar belakangku yang terlalu jauh berbeda tapi juga karena pada dasarnya aku hanya suka membaca novel cinta. Ya betul, novel cinta. Terutama  yang ada kisah sejarahnya.

Aku adalah sarjana sejarah yang kebetulan lebih dari 1 tahun sejak kelulusanku terlihat tidak punya pekerjaan. Hal ini mendorong salah seorang sepupu mami memintaku membantu beliau mengurus proposal-proposal yang masuk ke meja beliau. Sepanjang yang aku tahu, beliau mengurus salah satu bisnis peninggalan kakek buyutnya. Sebuah usaha pergudangan yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan multi nasional. Dulu, setahuku pergudangan yang ada di wilayah Temanggung ini selalu identik dengan Tembakau atau rokok.

Yang awalnya tidak aku pahami adalah mengapa perusahaan yang berhubungan dengan pergudangan secara rutin menerima proposal beasiswa. Hampir setiap hari ada proposal masuk, dan anehnya proposal-proposal itu berasal dari para mahasiswa di bidang kesehatan. Berbagai bidang, namun hampir 80% adalah bidang kedokteran, gizi, keperawatan dan kefarmasian. Beberapa di antara proposal itu adalah proposal penelitian di jenjang pendidikan S2 dan S3. Ini agak tidak lazim menurutku.

Rahasia itu bermula dari sini.

"Din, kamu sudah merekap semua proposal yang masuk bulan ini kan ya? Nanti tolong semua daftarnya taruh ke meja Tante ya.   Jangan lupa yang masuk via email juga direkap..." ujar beliau pagi ini saat datang melewati ruanganku. Aku diminta menempati sebuah ruang di samping pintu masuk dekat ke ruangan beliau.

"Iya Tan, insyaallah semua bisa  siap dalam 30 menit."sahutku. 

"Oke. Good." jawab beliau  sambil menyelinap masuk ke ruangan. Ruangan yang aku tahu biasanya akan mulai difungsikan penuh pada musim-musim tertentu saja. Sekitar bulan Maret hingga Oktober setiap tahunnya.

Tidak sampai 30 menit kemudian, aku sudah selesai merekap semua berkas dan kini aku sudah berada dalam ruangan beliau. Bersih dan wangi, hanya ada beberapa buku yang terserak di atas meja. Aku yakin, buku-buku itu adalah sebagian dari berkas laporan mbak Intan dan Dela dari area penerimaan barang. Mereka melewati mejaku tadi pagi.

Setelah sekitar satu bulan aku berkantor, baru aku tahu, rupanya barang-barang  yang dikelola  tante Lyla adalah pecah belah dan mebelair. Puluhan armada bak terbuka itu mendistribusikan barang hampir ke seluruh kota di pulau Jawa serta sebagian Sumatera dan Bali. Seandainya tante Lyla tidak memintaku bekerja pada beliau aku tidak pernah tahu bahwa gudang besar ini telah beralih fungsi.

Tetap saja aku penasaran, proposal itu tidak sinkron dengan core bisnis tante Lyla.

"Jadi bagaimana? Kamu sudah selesai baca novel  yang dilatarbelakangi pemerintahan Belanda membuka RS di Indonesia untuk menangani pasien beri-beri itu?"tanya beliau tiba-tiba saat aku sudah duduk di depan beliau. Aku terperanjat. Bagaimana mungkin beliau tahu?

“Ehh, kok Tante tahu?” aku mendadak gugup. Aku hanya kuatir jika beliau menduga aku membaca novel-novel itu di sela-sela waktu kerjaku. Walaupun aku kadang-kadang membacanya di tempat kerja, tapi aku berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya pada jam kerja. Aku melakukan itu pada jam-jam istirahat atau saat pekerjaanku sudah selesai.

 

 

Sosok yang mengganggu

2 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 2

Jumlah Kata 600

Sarkat Jadi Buku

 

Beliau tersenyum.

“Ya, tante memang kadang mengintip buku yang ada di mejamu. Salah satu alasan tante mengajakmu di sini karena tante kamu sangat kuat bacanya. Kamu suka baca novel, kamu suka sejarah. Benar kan?”tanya beliau. Aku mengangguk.

“Nah, gimana kalo dari novel yang kamu baca, kamu coba lengkapi dengan beberapa riset  atau jurnal pendukung lalu kamu buat sebuah abstrak berisi 300 karakter. Fokus sejarah filantropi kesehatan di Indonesia. Kira-kira kamu bisa kan?”

Beliau kembali bertanya sambil matanya masih fokus pada lembaran berkas yang baru saja kuserahkan. Sekitar 50 proposal melalui email dan 25 sisanya kusalin dari hardcopy yang masuk. Beberapa di antaranya adalah proposal pengajuan dana pengembangan perpustakaan.

Pertanyaan Tante Lyla sangat santai tapi ini terasa sekali ada penekanan perintah di dalamnya. Abstrak. Seingat ku, aku baru dua kali menyusun abstrak. Pada saat aku menyusun proposal penelitian di mata kuliah metodologi penelitian dan  setelah aku selesai menyusun skripsi. Aku harus mengumpulkan abstrak itu untuk bahan persyaratan yudisium. 

Tidak ada salahnya aku mencoba. Bukankah ini tantangan yang sudah di depan mata, dan anggap saja ini memang bagian dari tugas pekerjaanku di kantor. Meskipun ada tanda tanya besar di benakku, untuk apa abstrak itu nantinya.

“Iya Tante. Akan saya coba selesaikan. Kapan saya harus menyerahkan tugas itu?”tanyaku.

Beliau sejenak mengangkat wajah dari berkasku. Melihat kalender kemudian menoleh ke arahku.

“Besok jam 15 ya. Dan tolong sekalian kamu susun dari masing-masing proposal yang masuk ini, topik yang mereka ajukan dan literatur yang mereka sertakan. Tugas yang ini boleh kamu selesaikan setelah abstrak selesai kamu susun. Oh ya, apa kabar mamimu? Sehat kan?”

Aku mengangguk.

“Alhamdulillah sehat tante. Biasanya mami menitipkan salam untuk Tante saat saya berangkat, tapi kadang saya lupa menyampaikan. Maaf Tante..”ujarku sambil meringis. Tante Lyla hanya tersenyum sambil mengibaskan tangan tak acuh. “Iya, salamkan juga ke mamimu dari Tante. Kalau kamu ingat tentu saja...”ujar beliau kalem. 

Aku tersenyum lebar. Malu.

Itulah awal mula aku berkenalan dengan komunitas peneliti ini. Tante Lyla yang memaksaku menulis abstrak berisi 300 karakter yang rupanya kemudian harus disubmit  ke sekretaris Prof HMA (Handy Muhammad Abraham). Tulisanku dianggap layak  untuk masuk dalam tim bimbingan menulis mengenai manajemen filantropi untuk membantu RS privat non profit. Topik yang  sudah didalami Prof HMA sekitar 5 tahun terakhir. Konon topik itu yang mempertemukan beliau dengan calon istri (yang sekarang sudah menjadi istri beliau). Mereka menjadi lebih dekat saat proses pembimbingan menyelesaikan tesis di bidang itu.

Kami bertujuh di ruangan ini setelah menyisihkan sekitar 27 abstrak pada saringan kedua. Tujuh naskah yang berhak didanai untuk dilanjutkan dalam wujud  penelitian. Tentu saja persyaratan utamanya adalah kami terdaftar sebagai mahasiswa S2 di bidang kami masing-masing.

Sejak submit hingga hari ini kami telah berproses kurang lebih satu tahun.  Di awal project kami harus  rutin bertemu untuk mendalami topik namun 3 bulan sesudahnya kami harus lebih banyak bekerja secara mandiri. Sesuai bidang masing-masing. Setelah itu kami mendapat tugas memproduksi berbagai tulisan, mengumpulkan beraneka literatur dan mengikuti satu demi satu conference baik di dalam maupun luar negeri secara bergantian.

Aku beruntung karena memang Prof HMA membutuhkan  peminat dengan latar belakang sejarah. Maka, di sinilah aku sekarang. Dipaksa sebagai satu-satunya talent  yang mendalami manajemen filantropi mendukung RS dari sisi sejarah. Harus memberikan beberapa kali presentasi  untuk memberikan sumbangan sejarah kehadiran filantropi kesehatan di Indonesia. Dan ternyata aku merasa nyaman dengan semua itu kecuali satu hal.

Satu hal itu adalah sosok jangkung bermata coklat keabu-abuan yang duduk di ujung ruang diskusi ini. Aku selalu merasa bahwa dia tidak berhak berada di sini. Bukan, bukan karena konon dia memiliki darah Belanda dan Jerman dari pihak opanya. Aku hanya merasa diskusi filantropi yang seharusnya asyik ini menjadi begitu sering deadlock  karenanya.

 

Membantu RS Privat non Provit?

1 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 3

Jumlah Kata 512

Sarkat Jadi Buku

 

Satu tahun adalah waktu yang  cukup untuk kami semua saling mengenal. Sepanjang waktu perkenalan kami, hampir selalu terjadi perbedaan pendapat yang tak pernah berujung. Semakin aku tidak mau menganggap bahwa itu masalah, semakin aku sering harus berbeda persepsi atau pendapat. Sejak itu, aku tak bisa melihatnya dalam frame yang sama lagi dengan ke-5 rekan kami yang lain. 

Begini. Kamu pernah tahu karakter orang pendiam tapi kalau bicara sedikit dan tajam? Kaku dan tidak apresiatif? Selalu ada koreksi ataupun berusaha meluruskan segala seuatu? Namun karakter itu bisa tiba-tiba menghilang jika berhadapan dengan orang lain. Sehingga orang lain hanya melihat bahwa orang ini hanya pendiam dan potensi konfliknya kecil.

Nah, seperti itulah yang aku rasakan.

Baik. Jika itu memang salah aku, silahkan salahkan karakterku  yang kritis dan lebih suka bicara apa adanya. Saking apa adanya, aku  tidak segan memuji untuk  memberikan apresiasi penuh jika ada mitraku  punya ide yang cemerlang. Di depan orangnya maupun di belakangnya. Demikian pula sebaliknya, aku tak segan menyampaikan kritisi. Buatku  kadang kejujuran memang menyakitkan, tapi untuk keperluan membangun kadang-kadang harus tersampaikan.

Awalnya aku  masih bisa toleransi. Aku bukan orang yang menilai pendiam itu  sebuah dosa tentu saja. Aku hanya tidak suka jika ternyata dia mengakui ideku  bagus, dia mengikuti apa yang kusarankan tapi tidak mau terlihat menggunakan ide itu di depan orang lain. Itu tidak sopan menurutku. Dan agak semacam...hipokrit.  

Sudah begitu, kadang-kadang kalo tidak setuju dengan ideku dia tidak akan berani head to head. Dia akan mengomentari komentar orang lain. Padahal itu ditujukan untuk mencounter pendapatku. Silahkan salahkan latar belakang kita yang beda, aku dengan ilmu sosialku dan dia dengan ilmu kedokteran yang dia punya.

Di sini kita sama-sama belajar manajemen. Aku belajar, dia juga belajar. Dia tidak lebih tinggi menurutku.  Meskipun dia lebih tua beberapa tahun di atasku, aku menolak untuk menghormati secara berlebihan.

))))

Tiga bulan pertama adalah  masa adaptasi yang benar-benar sulit. Baik sebagai sebuah tim ataupun dalam mengenali topik  yang harus mereka pelajari. Mungkin hanya Avisha dan  Reza yang benar-benar sudah bisa menangkap dengan jelas alur prosesnya. Beberapa kali mereka berkumpul dan mendapat  PR kelanjutan dari abstrak yang mereka buat. Mereka  harus berjibaku mendalami satu topik yang disodorkan prof HMA. Hal-hal yang melatarbelakangi mengapa RS Privat non Profit harus dibantu. Selama ini publik mengenal rumah sakit adalah semacam entitas bisnis yang menggiurkan. Bukti mengenai hal itu terlihat dari munculnya korporasi-korporasi yang melebarkan bisnisnya dalam bentuk rumah sakit.

Bahkan beberapa jurnal menyebutkan secara spesifik mengenai bagaimana mengelola rumah sakit sebagai sebuah bisnis. Namun, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya benar. Selalu ada saja rumah sakit yang ternyata kesulitan dalam pengembangan. Manajemen RS dihadapkan pada dilema etik mengambil keuntungan dari pasien dan kepentingan kemanusiaan untuk menolong dengan tulus mereka  yang membutuhkan.

RS milik pemerintah mendapatkan peluang untuk memperoleh bantuan-bantuan tersebut dari pemerintah, atau bahkan lembaga donor. Sementara itu RS swasta harus mengupayakan sendiri investasi tersebut.  RS swasta yang dibangun dengan investasi dari korporasi lain tidak akan mendapat halangan yang berarti. Akan berbeda jika ini terjadi pada RS swastas yang sedari awal memang menempatkan diri sebagai RS non profit. RS seperti ini biasanya muncul dari RS berbasis agama atau kelompok sosial.

 

Berbagai Ide Kampanye Filantropi untuk Bantu RS

0 2

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 4

Jumlah Kata 512

Sarkat Jadi Buku

Fokus Prof HMA adalah untuk memberi peluang bagi RS non profit  untuk menemukan partner dalam pengembangan melalui jalur filantropi. Untuk itulah ekosistem ini dibangun. Memberi ruang pada RS privat non profit untuk berkembang bersama lembaga-lembaga filantropi.

Peluang itu ada. Jelas ada karena selama ini filantropi di Indonesia telah berhasil mendanai pendidikan di Indonesia hingga ke titik seperti sekarang. Namun, filantropi untuk mendanai RS adalah hal baru yang memang harus dikenalkan. Dengan berbagai upaya, dengan menciptakan berbagai momentum.

“Jadi gimana itu, kalo dari perspektif hukum. Sudah adakah riset pendahuluan yang menggali mengenai mengenai manajemen filantropi kesehatan. Ini berbeda dari hanya crowdfunding ya.  Ini mengenai bagaimana sebuah rumah sakit sebagai entitias mendesain agar ada unit pengelola untuk manajemen filantropi. Harus diadakan tersendiri dari  pihak RS. Secara profesional mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk membantu RS dalam hal memanaje Filantropi. Paham kan maksud saya?” tanya Prof HMA begitu kami semua siap di kelas.

Medina dan Mutia  saling mengerling. Menyembunyikan senyum. Ini sangat khas Prof HMA. “Paham kan maksud saya?”

“Maaf Prof, apakah  fokus dari agenda ini adalah mendorong RS memiliki unit filantropi atau justru membentuk tim di luar RS untuk memfasilitasi agar mereka punya jalur mendapatkan bantuan?”tanya Reza. Pertanyaannya selalu cerdas dan jelas. Menunjukkan kepahamannya akan topik yang harus didalami. Saat masuk ke tim ini, Reza satu-satunya yang sudah menulis buku mengenai filantropi.  Dia pernah terlibat dalam tim sebelumnya saat Vienna Maharani mengambil topik sejenis dalam tesisnya.

“Bisa keduanya. Fokus akhirnya, para manajer RS sadar bahwa untuk mengatasi masalah kesulitan pendanaan untuk pengembangan RS, pergi ke Bank bukan satu-satunya alternatif. Sederhana kan? ”tanya Prof HMA.  

Mereka semua terdiam mencerna penjelasan Prof. Fokus sederhana tapi tidak mudah dijelaskan, sebab bisa jadi ada manajer RS yang  memiliki gengsi yang tinggi untuk mengambil filantropi sebagai alternatif. Kesukarelawanan belum memiliki tempat yang cukup untuk berdampingan dengan manajemen konvensional. 

“Jadi,  usulan apa yang tepat untuk situasi ini?”tanya Prof HMA sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Stefi mengangkat tangan.

“Bagaimana jika membentuk satu foundation Prof.  Semacam yayasan kalau di Indonesia.”usul Stefi. Beliau hanya mengangguk samar, dan semua paham bahwa itu semacam kode agar semua turut  memberi usulan sesuai peran masing-masing.

“Rutin menyelenggarakan seminar dan workshop untuk mengenalkan ide ini. “

“Membuat  publikasi non ilmiah Prof.”

“Menyelenggarakan Sekolah Manajemen Filantropi.”

“Workshop Pengelolaan Filantropi Bagi Manajer RS.”

“Membuat buku ajar mengenai manajemen filantropi membantu RS Privat Non Profit.”

“Mengumpulkan lembaga-lembaga filantropi dan memaparkan fakta bahwa RS  perlu dibantu. Bukan hanya tenaga kesehatannya, tapi manajemen rumah sakitnya.”

“Membuat semacam kegiatan charity tapi yang bantuannya  untuk RS sebagai lembaga Prof.”

“Lelang amal”

“Kerjasama dengan Fintech untuk membuka crowdfunding bagi RS.”

“Mendorong agar manajemen RS  melihat ini sebagai satu peluang untuk pengembangan.”

Prof HMA  tersenyum puas. Jika dibiarkan, kelas ini akan semakin memiliki banyak ide-ide liar untuk bisa membantu RS Privat non profit yang bertebaran di seluruh wilayah tanah air.  Mereka benar-benar menunjukkan perkembangan yang sangat cepat dalam prosesnya. Baru 5 tahun lalu ide ini terasa terlalu gila dan rupanya kali ini mereka berada di ruang diskusi yang jauh melampaui ekspektasinya. Semua berawal dari ide dasar yang bertemu dengan proposal tesis yang diajukan oleh istrinya, Vienna Maharani.

user

09 October 2021 14:17 Yeyen Wahyuni Suka ??

user

09 October 2021 14:18 Yeyen Wahyuni ??

Pentingnya Memanaje Filantropi

1 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 5

Jumlah Kata 509

Sarkat Jadi Buku

 

“Oke. Saya mau anda baca dan dalami mengenai St. Vincent Hospital di Australia dan bagaimana cara kerja mereka dalam memanaje filantropi. Ini akan menjadi lesson learnt yang berharga untuk RS-RS yang ada di Indonesia. Dalam prosesnya kita akan intens bekerja bersama filantropi Indonesia  khususnya cluster kesehatan, tapi kali ini kita harus lebih spesifik bersama dengan berbagai perguruan tinggi yang membuka minat manajemen RS.”

“Satu lagi, karena potensi donor ada juga pada kelompok B yang dananya banyak tapi jumlahnya sedikit. Harus ada yang intens mempelajari bagaimana orang kaya lama memanaje filantropi keluarga sehingga mereka ada alokasi khusus dan berkesinambungan.”

Semua mengangguk. Ini berarti akan ada diskusi maraton lagi. Padahal meyakinkan para manajer RS mengenai peluang filantropi sebagai salah satu sumber pendanaan saja masih sulit, apalagi harus meyakinkan mereka untuk perlunya ada manajer khusus yang harus membidangi. Itu kan berarti harus ada alokasi gaji, fasilitas pegawai, dst dst.

Wajar saja jika mereka kadang merasa kehabisan energi.

“Kok aku mulai pesimis ya mengenai meyakinkan para direktur RS mengenai perlunya memanaje filantropi ini. Bukannya mereka ngurus keseharian manajemen yang konvensional saja sudah ribet ya?”tiba-tiba Mutia  berkomentar. Matanya menerawang jauh. Sebagai salah seorang manajer di sebuah RS swasta dia sudah merasakan segala keribetan itu.

“Jadi, kamu  gak yakin ini bakalan bisa jalan Kak?”tanya Stefi. Benaknya terusik. Dia  pernah  merasakan hal yang sama. 

Masih segar dalam ingatan ketika Stefi harus presentasi di hadapan para direksi di tempat dia melaksanakan penelitian. Bebeberapa manajer  mempertanyakan mengenai peluang menyelenggarakan bisnis filantropi. Bagaimana mungkin filantropi dicampuradukkan sebagai sebuah  bisnis. Filantropi is filantropi. Filantropi adalah memberi. Kenapa jadi harus dikelola seperti sebuah bisnis? Jangan-jangan anda ini oportunis ya?

Wajahnya merah padam saat itu. Kata-kata itu menekan syaraf pemicu rasa sakit. Meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Stefi bahkan sempat mempertanyakan kembali niatannya. Apakah benar dirinya hanya sekedar seorang oportunis yang memanfaatkan peluang yang diberikan orang lain untuk kepentingan pribadi?

Stefi memerlukan waktu yang lumayan lama untuk kembali bangkit dengan mimpinya. Dia sudah bertekad bahwa ini baru bisa dibuktikan jika ada prototype yang dikembangkan. Di sinilah dia berharap prototype itu bisa terwujud. Dibutuhkan kelegowoan. Legowo untuk mengakui bahwa ide  orang lain lebih baik dari idenya sendiri. Terutama jika dirinya tidak mungkin mewujudkan ide itu sendirian. Dia hanya perlu sarana untuk inkubasi ide. Di sinilah idenya di parkir.

Alasannya sederhana. Kebaikan apapun hanya akan berwujud serpihan jika tidak disempurnakan dalam sebuah system. Menjadi tugas Stefi sebagai seorang magister di bidang hukum untuk memahamkan pentingnya menata filantropi ini dalam sebentuk system. Itulah yang dia sebut sebagai sebuah bisnis. Penyebutan itu untuk memberi penekanan bahwa  jika dikelola sebagai sebuah bisnis maka mereka akan lebih serius Ada investasi yang harus ditanam dst.

Namun, nampaknya saat itu para manajer di RS tersebut masih jauh dari kata siap. 

 Ada pepatah yang mengatakan, carilah tempat di mana kamu dihargai dan bukan sekedar dibutuhkan. Bisa jadi keahlian Stefi dibutuhkan di RS tersebut, tapi mereka tidak menghargai ilmu yang dibawanya. Jadi, ketika ada penawaran untuk terlibat dalam penelitian ini, Stefi serta merta menyiapkan diri. Proyek ini akan menjadi tempatnya menginkubasi ide. Berada dalam ekosistem tepat akan membantu memudahkannya merealisasikan ide.

 

Ide Out Of The Box

1 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 6

Jumlah Kata 536

Sarkat Jadi Buku

“Emmm.., gimana ya?  Kalo pas di sini bersama kalian, bersama Prof, aku yakin banget ini bisa. Toh kita juga sudah lihat sendiri bahkan RS sebesar St. Vincent menjalankan pola ini. Mereka punya 10 orang yang ngurus kapan mereka harus nyebarin promo, kapan mereka harus menarik dukungan, kapan mereka harus menghubungi satu per satu memberikan penawaran pada keluarga pasien yang pengen menitipkan dermanya dst. Tapi, kalo aku kembali ke RS membayangkan pekerjaan temen-temen sesama manajer di sana, kapan ya mereka bisa paham bahwa ini tu mungkin. Sangat memungkinkan untuk dilakukan.”jawaban Mutia atas pertanyaan Stefi mengundang komentar yang lain. Di kelas ini, tidak ada yang benar-benar beraktivitas di manajemen RS kecuali Mutia. 

“Makanya kakak gak usah balik-balik ke kantor dulu. Betah-betahin aja di sini, pulangnya kalo pas harus presentasi aja. Rutin ngomongin ini secara berkala 2 bulan sekali. Intens.”usul Masayu. Mutia  tersenyum getir. Usul Masayu itu mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan. Keberadaannya di forum ini sebagai upaya untuk membantu Rumah Sakit tempatnya berdinas agar suatu saat kelak bisa memanaje filantropi dengan lebih baik. Tentu bukan pilihan yang baik jika Mutia justru mengisolasi diri dari mereka.

“Mungkin kita harus membuat sesuatu yang sedikit Out of The Box. Sesuatu yang menarik dan memberi keyakinan pada mereka bahwa ide menjadikan manajemen filantropi sebagai sebuah prioritas pendanaan bagi pengembangan RS ini riil.”usul Avisha. Berupaya memberi semangat. Anggota grup yang satu ini sudah lebih berumur dari yang lain. Tapi kadang-kadang idenya masih meluap-luap seperti anak SMP.

Project terakhirnya sebelum masuk komunitas ini adalah membuat yayasan keluarga yang fokus pada bantuan terhadap pendampingan terhadap klinik-klinik yang miss manajemen. Mereka menawarkan pendampingan hingga klinik-klinik  tersebut terakreditasi. Mereka berangkat dari sebuah lembaga zakat dan profesionalisme telah mengantarkan mereka ke titik itu.

“Apa tuh?”

“Pernahkah terpikir, kita bisa saja memiliki helikopter untuk mengangkut pasien dari tengah hutan di perkebunan sawit yang membutuhkan tindakan pembedahan?”tanya kak Avisha. Beberapa pasang mata mengerdip ke arahnya.

“Mungkin itu bisa  menjadi sesuatu yang menarik untuk menjadi permulaan.”sambungnya setelah beberapa saat.

“Oh, aku paham  ide dasarnya. Intinya mengenai bantuan transportasi untuk pasien ya?”tebak Masayu. Avisha mengangguk sepakat.

“Tapi itu ide yang masih sangat kasar. Kita harus berpikir dana untuk membeli helikopter. Itu pasti tidak murah kan?”tanya Avisha retoris.

“Bisa sih dengan crowdfunding. Semacam gotong royong, dana yang terkumpul kecil-kecil tapi mungkin banyak orang yang mau bantu. Seperti kasus pembelian perahu klinik  waktu itu.”ucap Stefi. Selama ini beberapa literatur yang dikumpulkannya mengulik tentang crowdfunding. Mereka pernah membahas mengenai klinik perahu di pedalaman ini.

 “Atau bisa juga kita cari alternatif lain. Kita memulai dengan mencari peluang kerjasama. Kerjasama secara operasional. Misalnya nih ya, kita kerjasama dengan perusahaan angkutan di 5 kota. Cluster kota besar, kota kabupaten dan  perifer. Kita minta mereka mengalokasikan  1 dari 10 armada yang mereka miliki untuk mengangkut pasien yang membutuhkan buat di bawa ke RS terdekat. Lama-lama ini bakalan jadi ekosistem baru.”sambung Mutia. 

 “Betul juga. Ekosistem filantropi pengusaha angkutan kota yang memanaje filantropi buat bantuin kinerja pemasaran RS. Setelah berhasil di 5 RS ini, kita seminarkan. Kita hadirkan lebih banyak pengusaha angkutan dan lebih banyak RS lagi. Begitu terus menerus. Aku kira mereka gak bakalan keberatan karena bukan cash keras yang kita minta. Kecuali kalo habis itu mereka tertarik juga buat mendanai penambahan bed, atau penambahan alat di RS tersebut.”

Harapan itu Memang Ada

0 0

 

Sarapan Kata

KMO Indonesia 

KMO Batch 37

Kelompok 14

Map Of The soul 

Day 7

Jumlah kata : 521

Sarkat Jadi Buku 

Medina menyempurnakan ide yang sudah disodorkan yang lain. Salah satu sifat dasarnya adalah menyempurnakan ide yang sudah muncul, karena pada dasarnya Medina cinta kedamaian. Antusiasme pun mulai menjalar. Optimisme mulai muncul kembali. .

Reza yang semula masih sekedar iseng menggerak-gerakkan jarinya di keyboard laptop menengok ke arah Avisha. Mulai tertarik menanggapi ide Avisha.   

“Boleh juga tuh idenya. Kita coba saja keduanya. Pengusaha angkutan darat dan perusahaan persewaan helikopter. Khusus untuk angkutan udara, kita minta mereka menyediakan slot untuk mengangkut pasien di pedalaman yang butuh operasi tindakan pembedahan ke RS propinsi gitu. Tentu saja setelah kita bangun juga komitmen di RS tersebut.”

“Nah.”

“Haha..., keren ini. Kayaknya kita bakalan beneran bisa realisasi ide ini. Agak ngeri-ngeri sedep, tapi siapa takut?”sahut Medina kemudian.

Sudah terlintas di benaknya bahwa ini akan menjadi ide yang sangat luar biasa. Pengalaman menikmati dunia fiksi yang kadang menyajikan fantasi memberinya ruang yang sangat luas untuk eksplorasi ide. Dunia fiksi kadang memberi aneka ragam ide yang terasa sangat abstrak. Medina yakin bahwa kadang dunia fiksi memberi inspirasi bahwa di dunia nyata kita bisa mewujudkan apa yang semula terasa tidak mungkin. Mereka hanya perlu membuka diri dan membuka peluang untuk bekerja sama. Segalanya menjadi mungkin.

“Mari kita list, calon-calon rekanan kita.”tukas Mutia  menjadi antusias kembali.

“Tunggu, sebelum ke sana. Memangnya kita akan menawarkan diri dengan nama apa? Apakah cukup dengan mengatakan bahwa kita dari komunitas  bimbingan penulisan karya ilmiahnya Prof HMA?”suara Hugo seperti tidak yakin. Medina menoleh cepat. “Gak seru orang ini, selalu saja mikirnya beda.”ketusnya dalam hati.

“Iya juga ya. Eh, tapi kita bisa sambil mengurus yayasan atau foundation seperti yang tadi Stefi usulkan.”sanggah Masayu.

“Itu bakalan makan waktu. Ya  kan Stef?  Bener gak?”tanya Hugo.

Stefi mengangguk.

“Maunya apa sih?”sungut Medina. Suaranya cukup keras untuk didengar oleh semua orang. Termasuk Hugo yang hanya sekilas melirik ke arahnya.

“Bakalan makan waktu. Btw, menurutku ide itu bisa tetap dijalankan dengan membawa nama salah satu mitra yang sudah intens bekerja sama dengan kita melalui forum-forum workshop dan seminar kemarin. Sambil tetap kita usulkan pembentukan foundation ini. Semoga Prof setuju.”

“Berarti kita harus membagi diri.”usul Reza sambil berdiri. Waktu istirahat sholat makan siang sudah tiba. “Ada yang fokus di pendirian foundation, ada yang  harus mulai listing perusahaan calon mitra.”

 “Oke. Kita bakalan ngumpul lagi jam 13 ya. Kuharap kita bisa membagi diri lebih cepat. Aku masih harus balik kantor soalnya.”ujar Mutia  meminta pemakluman.

“Kalo gitu, gak harus balik ke sini kali kak. Nanti kita share di grup aja hasil  diskusi tentang pembagian kerjaan kita.  Termasuk list calon-calon mitra yang akan kita hubungi. Gimana?” usul Masayu. Semua setuju dan kelas itu pun bubar dengan membawa keyakinan baru bahwa ada peluang untuk membawa ide ini ke arah yang lebih maju.

Mereka tahu ini tidak akan mudah tapi harapan itu selalu ada.

Dan harapan itu memang ada.

“””

Sudut Pandang Hugo.

Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak Medina. Menurut saya semua proses ini harusnya disusun pentahapannya. Kita tidak bisa hanya memancangkan cita-cita yang sangat besar tanpa  melihat realita yang ada. Namun, begitulah Medina. Dia jutek begitu aku menyodorkan sisi lain yang harus dipikirkan. Dia pikir dunia kesehatan bakalan selempeng yang dia tahu. Dasar penghayal.

Optimalisasi CSR

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 8

Jumlah Kata 541

Sarkat Jadi Buku

 

Buat saya, kebersamaan saya dalam ruangan ini karena saya berharap bisa dapat bimbingan yang memadai untuk kelanjutan tesis saya. Saya juga sebenarnya tidak terlalu membutuhkan beasiswa yang akan diberikan. Saya hanya  tertantang ada penawaran itu dari grup kelas,  jadi iseng-iseng saya submit. Sekedar menguji ide saya. Mana tahu, kalo akhirnya saya terjebak dalam sebuah diskusi panjang tak berkesudahan ini. Terus terang kadang-kadang saya sudah mulai bosan, mungkin hanya karena saya gengsi kalo mundur saja saya bertekad tetap ada di dalamnya.

Sebenarnya saya lebih suka praktik  saja di klinik. Sederhana. Tapi papa saya menuntut saya harus selesai S2. Menurutnya, sia-sia saja saya selesaikan kuliah kedokteran saya kalau akhirnya saya tidak bisa diminta untuk melanjutkan memimpin jaringan bisnis optik milik keluarga besar kami. Dan prasarat untuk saya bisa melanjutkan bisnis itu adalah saya harus selesai S2.

Itu menjadi alasan kenapa minat yang saya ambil adalah international health. Saya benar-benar tidak tertarik pada salah satu topik khusus. Setidaknya di international health saya bisa punya lingkungan yang memadai untuk sekedar ngobrol mengenai seputar dunia kesehatan dalam wawasan yang lebih luas. Ini persepsi saya sebelumnya.

Yang saya kaget, ternyata Medina dan kak Avisha benar-benar bertekad kuat dengan apa yang mereka obrolkan. Mereka berdua benar-benar membuat proposal  penawaran kerjasama. Padahal Stefi baru saja memulai drafting untuk foundation. Bisa dibilang apa yang mereka lakukan benar-benar nekad.

“Jadi sudah sampai mana tesismu?”tanya papa sore itu saat saya baru saja tiba dari Yogya. Saya pulang karena ingin liburan tapi papa ya papa. Dia tidak mau tahu.

“Masih bimbingan. Dosen pembimbingnya masih sibuk.”jawab saya  datar tak acuh sambil menerima teh dari tangan mama.  Sore ini hanya ada kami bertiga di rumah. Kakak kakak saya tidak ada yang pulang. Masing-masing ada acara kelurga. Ada yang dengan keluarga suami, ada yang acara anaknya. Baru besok pagi kemungkinan satu per satu datang.

“Hmm..., di fakultasmu itu ada serial diskusi mengenai filantropi untuk membantu RS Privat non profit ya?”

Eh, saya kaget. Selama ini saya tidak pernah mengobrolkan segala kegiatan saya di kampus. Bagaimana papa saya bisa tahu.

“Memang kenapa Pa?”

“Papa  baru saja menerima proposal penawaran kerja sama dari FKKMK UGM. Di penjelasannya sih mereka semacam membangun ekosistem filantropi begitu.”

Nah, sejak kapan pula papa tertarik hal begini. Setahuku biasanya CSR perusahaan sudah ada alokasinya tersendiri. Alokasi terbesar biasanya untuk pendidikan dan sebagian lain untuk lingkungan setahuku.  Dan papa tidak pernah mengurus sendiri hal semacam itu. Ada divisi tersendiri yang mengelola.

“Yang membuat papa tertarik, ini sesuatu yang baru. Tak pernah terpikir sebelumnya sama papa, bahwa sebenarnya kita bisa memutar dana CSR ini dengan lebih produktif. Selama ini kita cenderung melepas begitu saja dana tersebut  sekedar sebagai kewajiban. Tapi dengan adanya proposal ini, mau tidak mau papa jadi terpikir ke sana.”

Hmm.

“Bukannya, kalo untuk CSR selama ini ada alokasinya ya Pa. Sudah ada rekanan juga yang mengurusnya. Memangnya bisa didistribusikan sendiri ya?”

“Tidak harus didistribusikan sendiri sebenarnya. Tapi papa bisa saja mengusulkan pada forum CSR untuk mengalokasikan sebagai dana CSR yang masuk untuk ini. Toh tidak ada pengaruhnya juga kalau untuk perusahaan. Sama-sama tetap harus mengeluarkan 2.5% sebelum pajak. Namun membantu di bidang kesehatan, mendanai pasien yang membutuhkan mungkin bisa jadi lebih menarik  dibanding membantu RS. Kecuali kalo di RS tersebut ada tim yang memang menangani ini dan memastikan bahwa bantuan ini pada akhirnya untuk membantu pasien."

Siapa Menyelundupkan Siapa?

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 9

Jumlah Kata 580

Sarkat Jadi Buku

 

Mau tidak mau saya jadi berpikir ulang. Kalau papa dan sesama pengusaha yang ada di forum CSR itu memang  menyepakati demikian, itu berarti konsep yang kak Avisha sampaikan bakalan benar-benar bisa dilaksanakan. Ini menjadi menarik buat saya. Rupanya tekad mereka menjadi cukup masuk akal dilihat dari kaca mata pengusaha seperti papa.

Papa kelihatan salut terhadap kinerja tim yang mengajukan proposal ke perusahaan papa. Apa kira-kira pendapat papa kalo tahu saya ada di dalam komunitas ini? Akankah papa merasa bangga atau biasa-biasa saja seperti selama ini?

Mungkin akan ada kepuasan tersendiri buat saya jika saya diam-diam saja melakukan ini. Saya toh sudah biasa dianggap tidak pernah membanggakan papa. Saya selalu kalah keren dibanding kakak-kakak saya. Lama-lama saya merasa tidak perlu juga membuat papa saya bangga. Sudah kebal diperlakukan seperti itu sejak saya kecil.

888***888

Siang ini Medina harus pulang lagi ke Temanggung. Berkas proposal yang sudah disusunnya bersama kak Avisha hampir 85% sudah terkirim ke email rekanan. Beberapa di antaranya adalah rekanan yang databasenya diberikan oleh tante Lyla. Mereka berdua kebagian tugas untuk memasukkan proposal penawaran ke sebanyak mungkin rekanan.

Selain tugas dari kampus, Medina harus intens mengerjakan tugas-tugas dari tante Lyla. Menggali di kedalaman  mengenai asal usul keluarga mereka. Tante Lyla punya obsesi untuk membangun jejaring keluarga besar menggunakan link  bisnis lama keluarga mereka. Pergudangan Tembakau. Menurut beliau, Kediri  Temanggung dan Jakarta itu jarak yang sangat dekat jika masuk dari jalur Tembakau.

Belakangan Medina jadi tahu, rupanya Tante Lyla bukan bisniswoman biasa. Saat dulu dipanggil pulang untuk menangani bisnis keluarga ini, tante Lyla sedang menjalani pendidikan MBA di  Amerika. Bidang yang ditekuninya adalah filantropisme. Bidang yang masih jarang peminatnya di Indonesia padahal sifat asli orang Indonesia adalah gotong royong. Tentunya ada banyak hal bisa dilakukan jika orang mau mendalami manajemen filantropi.

Secara moral dan prinsip, tante Lyla menentang rokok  dan segala efeknya terhadap kesehatan. Namun tidak bisa memungkiri bahwa dulu keluarga mereka justru dibesarkan dari bisnis pergudangan Tembakau. Itu sebabnya beliau selalu mencari cara agar bisnis ini melakukan diversifikasi sebanyak-banyaknya. Core bisnisnya sudah berubah, tapi beliau tetap menjalin hubungan baik dengan rekanan bisnis keluarga.

“Jadi, sebenarnya Tante ini  agen dunia tembakau yang diselundupkan ke dunia kesehatan, atau agen dunia kesehatan yang diselundupkan ke dunia tembakau sih?”tanya Medina akhirnya. Pertanyaan yang tak pernah terucap sebelum akhirnya MoU itu ditandatangani dan efektif berlaku. Kesepakatan itu berbunyi bahwa 10% SHU dari setiap bisnis Dewantoro Putro Glass n Co dialirkan melalui Pusat Studi Stunting di Temanggung. GCC ada di balik kesepakatan tersebut.

Tante Lyla tertawa renyah.

“Menurutmu?”tanya beliau. Medina mengangkat bahu.

Beliau tersenyum lebar kali ini.

“Sebenarnya gak ada selundupan apapun itu. Tante hanya melaksanakan kewajiban sebagai cucu Dewantoro sekaligus cucu Abah. Dua-duanya selain  bersahabat baik juga besanan. Cuman ya, faktanya bisnis beliau  memang bersilangan. Menurut tante, sah sah saja kalo akhirnya disatukan kan?”

“Hemm, tapi gimana perasaan tante pas dibilang murtad?”

“Lah, kenyataannya kan enggak?”elak beliau. Beliau bukan orang yang mudah mengumbar perasaan.

Medina pernah mendengar kasak kusuk tidak mengenakkan itu.

Mereka bersaudara dari pihak kakek tante Lyla yang biasa disebut abah, beliau adalah kakak dari kakek buyut Medina. Abah ini seorang pensiunan penghulu,  pegawai pemerintah namun kedekatan dengan kalangan santri tidak diragukan lagi. Sedangkan klan Dewantoro Putro memang memiliki sejarah sebagai pejuang nasionalis.  Ibu tante Lyla seorang pendidik yang aktivis dan berkontribusi dalam mendirikan beberapa RS berbasis Islam di Jawa Tengah, sementara ayah tante Lyla adalah seorang pensiunan pegawai bank yang berpindah haluan ke perbankan syariah. Menjadi pegiat ekonomi syariah. Mereka berjodoh dan lahirlah 4 putra termasuk salah satunya adalah tante Lyla.

 

Manuskrip Nenek Buyut

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 10

Jumlah Kata  715

Sarkat Jadi Buku

 

Dari pihak keluarga ayah tante Lyla, dapat dikatakan mayoritas menjadikan Tembakau sebagai bisnis tahunan mereka. Saat tante Lyla harus mengelola bisnis kakek buyutnya itu, sempat terdengar issu bahwa tante Lyla meninggalkan ajaran Abah. Tapi seperti yang baru saja beliau jelaskan, orang tidak tahu persis apa yang dilakukan tante Lyla dengan bisnis-bisnisnya. Medina pun baru paham apa yang diupayakannya setelah diminta bekerja pada beliau.

Tidak heran, beliau selalu berusaha menjalin hubungan dengan berbagai perguruan tinggi  terkemuka di Indonesia untuk mencari calon-calon talent untuk diberi beasiswa. Khususnya bidang kesehatan dan lebih spesifik lagi dalam bidang manajemen filantropi. Medina  beruntung didorong untuk tercebur di dalam dunia filantropisme. Lebih total lagi setelah tante Lyla juga mengenalkannya pada komunitas relawan yang tergabung dalam Gidhza Care Center. Center of meal untuk  ibu dan anak serta lansia. 

Sekarang kantornya tidak lagi di gudang dekat ruangan tante Lyla tapi di Graha GCC yang ada di dekat Parakan. Gedung itu sebenarnya adalah perpustakaan keluarga. Kata  tante Lyla, “Biar kamu lebih fokus bersama relawan. Lebih mendalami peran.”

Hari ini Tante Lyla sedang  berada di Jakarta, tapi beliau sudah memberikan beberapa pesan terkait Family Tree. Diskusi terakhir mereka adalah bunyi tulisan di salah satu buku harian nenek buyut. Medina mengamati kembali salinan tulisan itu. Di  grup whatsapp  yang isinya adalah dirinya sendiri.

“Menjadi cucu nabi,  hamba Allah SWT,  yang murah hati. Menjadi jembatan berkah dan karunia hadiah-karunia hidayah, karena menyandarkan diri pada Allah SWT yang Maha Pemurah. Sungguh, Allah SWT  telah berfirman bahwa orang-orang berimanlah yang mempusakai bumi dan isinya ini. Maka, menjadi tugas kita menyiapkan personel-personel amanah untuk mengelolanya.”

Dia ingat menyalin tulisan itu dari  catatan harian nenek buyutnya. Seorang penulis dan peneliti di jamannya. Beliau meninggalkan legacy berupa peta family tree yang harus disambungkannya. Satu demi satu. Beliau punya hipotesa, bahwa keluarga besar mereka bisa disatukan melalui jalur bisnis.

Nenek buyutnya ini  wafat dalam usia 82 tahun tanpa sakit. Malam hari sekitar jam 10 beliau masih melepas cucu-cucunya yang baru saja berkunjung dalam satu jamuan makan malam melepas rindu. Dan sekitar pukul 04.00 keesokan harinya grup keluarga menerima berita duka cita itu tante Lyla  yang tinggal satu rumah dengan beliau.

Dari tante Lyla  pula Medina menerima legacy berupa satu almari berisi buku harian. Sebenarnya tante Lyla   mengijinkan semua cucu untuk ikut membaca semua buku itu tapi seperti yang beliau duga tidak semua telaten membaca manuskrip berharga itu.  Medina satu-satunya yang sangat berminat.

Fokus tante Lyla ada pada salah satu bunyi manuskrip nenek buyutnya : Maka, menjadi tugas kita menyiapkan personel-personel amanah untuk mengelolanya. Itu kenapa, tante Lyla mengalokasikan 10% dari semua diversifikasi usaha untuk mendanai beasiswa penelitian. Mereka yang akan didorongnya untuk menjadi relawan-relawan dalam dunia kesehatan. Dan tante memberikan salah satu tugas itu pada Medina.  Di samping beliau juga tetap menjalin hubungan dengan keluarga besar di Jakarta dan Kediri. Keluarga yang sudah benar-benar besar hingga kadang ada missing link dalam family tree. Tahu kalo mereka ada hubungan keluarga tapi tidak tahu persis bagaimana hubungannya.

Bisa dimaklumi tentu saja. Generasi Medina adalah genZ yang hampir tidak memerlukan ballpoint untuk menuliskan sesuatu. Dari lahir mereka sudah lebih familiar bermain dengan keyboard untuk menulis alih-alih buku dan pensil. Mereka adalah generasi digital. Membaca jurnal harian dari setumpuk buku bertuliskan tangan sama sekali tidak menarik bagi mereka. 

Tapi pengecualian selalu ada. Medina selalu tertarik dengan manuskrip. Tulisan eyang buyutnya sangat rapi menurut ukuran jaman ini. Meskipun tak selalu berurutan dalam menuliskan tanggal, nampaknya beliau adalah seorang yang lebih suka curhat  dan menata rencana melalui buku. Semacam jurnal harian.

 “Din, kamu gak pulang? Dah mau gelap nih..”tanya om  Faris  yang berdiri di pintunya. Tasnya sudah disandang, nampaknya beliau sudah bersiap mau pulang. Di ruang Shofa ini memang biasanya Om Faris yang pulangnya paling belakangan. Sebagai penanggung jawab IT di Gidhza Care Center, dia selalu merasa harus bertanggung jawab pada kelancaran semua sistem.

 Medina menggeleng pelan.

“Masih ada yang harus kuurus nih. Bentar lagi deh.”sahutnya sambil tetap mencari file yang dibutuhkannya. Takut kelupaan.

“Dah pamit mami?”tanya Faris lagi. Medina mengangguk.

“Aku duluan ya.”pamitnya lagi.

Medina mengangguk. “Heeh, salam buat tante ya..”         

Sepuluh menit kemudian, Medina bernafas lega.  Manuskrip asli  sudah ketemu. Bertanggal 17 Juni 1935. Manuskrip itu yang menambah motivasinya untuk turut serta dalam proyek riset LPDP berikutnya yang dibangun Prof HMA. Membangun prototype Manajemen Filantropi untuk Membangun RS Privat non Profit. Dari sisi yang sama dengan tante Lyla.

 

Silsilah Keluarga

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 11

Jumlah Kata  648

Sarkat Jadi Buku

***\

Kalau saja, perpustakaan keluarga  mereka tak serapi ini, Medina hampir yakin bahwa dirinya adalah campuran etnis China dan Jawa.  Mata sipit, kulit kuning mendekati pucat, pipi chubby dan rambutnya yang tipis  dan lurus benar-benar cerminan dari suku ini. Sejak kecil mereka dididik  harus belajar bahasa mandarin pula disamping bahasa Inggris dan Jawa. Bahasa Arab justru hanya sepintas mereka pelajari karena mereka semua sekolah di madrasah saat usia SD.

Satu-satunya bukti tak terbantahkan bahwa ada darah Arab yang mengalir di tubuhnya adalah genealogy sejarah keluarga yang ditemukannya di perpustakaan ini.  Abahnya  nenek buyut ternyata adalah seorang saudagar gujarat yang tiba di Indonesia dan memulai berdakwah di pulau Jawa di pesisir selatan. Kabupaten Purworejo.     

Selama ini mereka menduga bahwa kulit gelap yang diperoleh beberapa sepupunya adalah karena bapak atau ibu mereka  yang bersuku Jawa pembawa gen itu. Sama sekali mereka tidak terpikir bahwa ada gen Arab yang sampai pada mereka. Hal itu baru menjadi bahan candaan yang serius pasca Medina menunjukkan manuskrip asli perjalanan kakek mereka.

“Jangan-jangan kita ni masih saudaraan sama Najwa Shihab...”goda Pramita ketika pertama kali Medina sampaikan fakta itu. Saat itu mereka masih berpikir Medina hanya main-main.

“Naik lagi neng, gak cuma Najwa Shihab. Lu mestinya lebih bangga lagi kalo disebutin lo adalah cucu nabi kan?”

“Najwa shihab saja baru menemukan bahwa DNA Arabnya ternyata Cuma 8%. Tuh barusan direlease beritanya, dia barusan menerima tantangan untuk meneliti DNA.”

“Heemm, kalo itu sih iya. Sejak jaman Nabi Adam juga kita emang cucu Nabi...”

Namun, Medina benar-benar serius mengerjakan riset ini. Karena memang  ternyata di salah satu  jurnal harian nenek buyut, memintanya mempertemukan simpul itu. Link yang hilang itu adalah catatan perjalanan kakek dari kakek buyutnya. Dan menurut nenek, manuskrip itu tersimpan di salah satu sudut perpustakaan di Leiden Belanda.

Tak seperti saudaranya yang keren-keren, bidang yang Medina tekuni adalah sejarah. Itu memang telah menjadi minatnya sejak kecil.  Oleh karena itu, Medina sangat bersyukur di sela-sela aktivitasnya sebagai relawan di Gidhza Care Center, semua fasilitas di perpustakaan ini memungkinkannya untuk mengakses berkas-berkas riset untuk menyambung tali silaturrahiim itu.

Mungkin bisa disebut sebuah sebagai sebuah obsesi. Tante Lyla mengalokasikan dana khusus untuk meneliti family tree ini keluarga mereka ini. Bahkan beberapa pengacara keluarga dilibatkan. Meskipun mungkin belum seperti yang dikehendaki nenek buyutnya, tapi hingga hari ini Medina sudah mendokumentasikan family tree hingga 10 level ke atas. Bahkan ada kecurigaan pada family tree lapis ke 15, klan Dewantoro dan keluarga Abah terhubung. Itu sejaman dengan masa pemerintahan Mataram Kuno yang baru saja situsnya ditemukan di Liyangan. 

Saat mereka sedang berkumpul kadang-kadang Medina membayangkan mereka sengaja dipertemukan dalam satu ruang yang sama. Ada sedikit kecurigaan mengenai Prof HMA mengundang mereka dalam tajuk call for abstract  adalah dalam rangka memfasilitasi obsesi tante Lyla. Entah berhubungan dengan obsesi itu atau tidak, Prof HMA dan tante Lyla ternyata terhubung dengan baik melalui jalur persaudaraan dengan istri Prof HMA. Ibu Vienna Maharani.

Kalau saja Medina tidak ditugasi melakukan presentasi sejarah filantropi di kelas Prof HMA, Medina hampir curiga kalau abstraknya diterima karena hubungan baik tersebut. Tapi profesionalisme Prof HMA, mb Sary dan tim nya di kampus menepis semua prasangka itu. Medina perlahan-lahan meyakini bahwa dia memang layak diterima sebagai talent yang dibiayai karena memang latar belakang pendidikan dan minatnya di bidang sejarah.

Jauh di dalam lubuk hatinya Medina merasa bahwa mereka semua bisa jadi bersaudara. Ada Reza dan Hugo yang dokter, ada Stefi  yang di magisternya dari FH UGM, ada Masayu dari Aceh yang berlatar belakang S2 IKM, ada dirinya sendiri Medina el Munawarah yang berlatar belakang sejarah, Mutia dari  MMR UMY, serta Avisha dari Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan.

Prof HMA yang sering dipanggil Abram oleh tante Lyla dan kolega akrabnya.  

Hingga hari ini memang belum semua link family tree itu ketemu. Masih ada beberapa link yang terputus. Tapi toh pada dasarnya mereka memang berasal dari satu keturunan yang sama. Keturunan Adam. Kakek dari seluruh cucu yang terlahir di seluruh dunia sesudah masanya.

 

Tak Semua Mau Dipublikasi

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 12

Jumlah Kata  552

Sarkat Jadi Buku

 

“Din, sampai mana progress penelitian kalian. Kalian pernah diskusi dengan bu Vienna, istrinya Prof Abram?’tanya Tante saat menemukan  Medina duduk di karpet di lantai  perpustakaan siang ini. Beliau baru saja datang semalam dari Jakarta. Di tangannya terlihat beberapa map khas laporan keuangan. 

“Ada beberapa kemajuan sih  kalo dari sisi naskah, tapi aplikasinya masih perlu jalan yang sangat panjang tan. Kita masih menunggu respon dari beberapa perusahaan yang sebagian kami peroleh dari referensi tante itu. Ada 3 perusahaan sih yang sudah confirm.”

“Kami sempat beberapa kali ketemu Bu Vienna. Lebih seringnya kita diskusi via zoom, beliau masih bolak balik ke Australia. Topik ini konon juga jadi penelitian payung di komunitas beliau. Tante ternyata masih saudaraan sama bu Vienna ya?”

Beliau mengangguk.

“Oh ya, terkait data-data rekanan yang kamu minta kemarin, dalam mempertemukan grantor  dengan populasi ini yang harus hati-hati  Din. Tidak semua perusahaan mau dipublikasi saat mereka memberikan dananya ya.”tante Lyla sambil membuka berkas yan gtadi dibawanya. Kaca matanya dinaikkan ke atas kepalanya.

Medina kaget. Baru saja kemarin sore mereka mengirimkan release pers untuk melakukan publikasi untuk perusahaan-perusahaan itu. Mereka berharap dengan adanya publikasi itu, perusahaan akan mendapat komplimen.

“Serius tan?, memang kenapa?”

Tante Lyla menoleh  ke arahnya. Terdiam sejenak seperti mempertimbangkan sesuatu. Sambil bersandar ke kursi panjang berwarna coklat tua itu beliau melanjutkankan penjelasan.

“Gampangnya gini. Misalnya nih, ada sebuah perusahaan yang memproduksi kertas, menggunakan bahan baku pohon, kira-kira kalo dia ketahuan memberikan grant berupa dukungan untuk reboisasi gitu gimana. Dia pasti mau gak?”

Kening Medina berkerut.

“Bukannya malah bagus tan, itu berarti dia memberikan kontribusi untuk menanam pohon-pohon kembali kan?”

“Bisa jadi. Tapi bisa jadi juga dia merasa harus menutup rapat-rapat kontribusinya karena itu bisa saja menjadi publikasi negatif. Orang yang semula tidak ngeh kalo bahan baku kertas itu  berasal dari ribuan pohon yang ditebang bisa menjadi sangat paham akibat publikasi itu.”

“Oh.., iya juga ya.”ujar Medina seketika. Sangat masuk akal.

“Karena itu, meskipun kadang-kadang mereka menyetujui bekerja sama karena hubungan baik yang sudah terjalin terlebih dulu dengan kampus, belum tentu mereka mau dipublikasi. Kamu  perlu intens menanyakan ke mereka satu per satu, komplimen yang kalian sediakan, misalnya ada dan itu terkait publikasi adalah sesuatu yang bisa diterima oleh mereka atau tidak. Tante juga gak hafal satu per satu mana saja dari daftar yang tante berikan kemarin memiliki spesifikasi semacam itu.”

Medina mengangguk tapi diam-diam merasa kuatir. Release pers sudah dieamailkan ke beberapa media cetak maupun elektronik. Dia dan kak Avisha harus memanaje resiko yang mungkin timbul dari hal yang baru saja tante Lyla sampaikan.

“Kalo misalnya, beneran ada perusahaan yang menolak publikasi semacam itu tapi kita sudah telanjur membuka informasi, kira-kira seperti apa konsekuensinya ya?”

“Tergantung kebijakan perusahaan masing-masing ya. Kalo di Dewantoro Putro sih, paling-paling harus ada yang ditugaskan mengambil alih lini bisnis baru. Sehingga bisnis inti nya bisa tetap bisa diamankan. Bisnis inti kan harus dipublikasi luas sebagai pemberi layanan masyarakat dalam core bisnisnya, jika dia juga sekaligus dikenal sebagai perusahaan grantor atau donor, mereka akan disibukkan dengan proposal-proposal yang biasanya tidak berhenti-berhenti. Kamu tahu sendiri email tante tiap hari ada usulan proposal. Itu karena posisi tante di DP Foundation.”

Medina mengangguk mengerti.

“Iya, proposal itu sebenarnya bukan ke DP Glass tapi DP Foundation. Itu masuk akal. Dulu, awalnya  saya malah berpikir tante pegang pergudangan tembakau. Jadi aneh sekali rasanya, perusahaan tembakau tapi mensupport beasiswa penelitian bidang kesehatan. Rupanya tidak demikian adanya ya?”

 

Dipersiapkan

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 13

Jumlah Kata   508

Sarkat Jadi Buku

 

Tante Lyla tersenyum maklum.

“Oh ya Tan, aku sebenarnya penasaran dengan sumber dana DP Foundation. Kok bisa dikatakan mandiri dan terpisah dari perusahaan sih?”

“Jadi begini, di perusahaan kan ada pemilik saham. Pada setiap akhir tahun kan ada tuh deviden.  Dulu, di suatu masa yang lalu, sudah disepakati oleh keluarga bahwa 10% dari masing-masing hak pemegang saham itu akan dialokasikan sebagai sumber dana DP Foundation yang langsung didistribusikan, sementara 10% lainnya dikumpulkan menjadi sumber dana pembuatan lini usaha baru yang non profit. Seiring perkembangan waktu, lini usaha baru yang non profit ini semakin berkembang karena memang fokusnya hanya memberi dan terus memberi. Tidak peduli seberapapun keuntungannya, alokasinya adalah untuk giving. Itulah sumber dana abadi DP Foundation.”

“Oh, jadi intinya bukan dari perusahaan tapi dari hak keuntungan para pemiliknya. Bukan dari  CSR perusahaan ya Tan?”tanya Medina penasaran.

“Bukan. Itu beda lagi, CSR sudah ada aturannya tersendiri. Meskipun demikian, untuk lini bisnis besar semacam GPT, RadarT, vi_commerce,  2.5%  atau 3% dari laba bersih perusahaan itu bisa jadi angkanya sudah sebesar 500-800 milyar. Jadi wajar jika harus dibuat pengelolaan tersendiri. Gak mungkin kan mendistribusikan 800 M sendirian?”

Medina mengangguk paham.

“Dan selama ini fokus aliran dana CSR maupun DP foundation lebih ke pendidikan, konservasi alam dan pembangunan di daerah 3T ya Tan?”

Tante Lyla mengangguk. “Iya, makanya Prof Laksono melihat peluang ini untuk membantu di bidang kesehatan. Melengkapi skema JKN. Sudah dimulai sejak hampir 20 tahun lalu. Namun baru saja booming sekitar 5 tahun ini. Tesisnya mb Vien kan fokus di membantu entitas RS. Itu lebih menantang lagi karena orang kan tahunya RS ini bisnis yang sudah menguntungkan, ngapain harus dibantu. Gak tahunya memang di beberapa RS benar-benar butuh partner untuk pengembangan.”

“Iya tan, itu kenapa Prof HMA dan bu Vien fokus membangun ekosistem ini ya. Dari sisi luar dan dari forum ilmiah?”tanya Medina memastikan. Tante Lyla mengangguk.  

“Betul. Kami masing-masing harus membangun ekosistem dan terus kolaborasi. Membangun sumber daya manusia dari sisi dalam juga tidak mudah. Terbiasa hidup mudah secara ekonomi, tidak menjamin keturunan Dewantoro memiliki sense of crisis. Bisa dibayangkan ketika tiba-tiba harus memegang jabatan tanpa pengalaman dan tanpa ilmu sebelumnya. Dia bisa terjebak menghambur-hamburkan dana yang sudah tersedia. Masalahnya akan lebih rumit jika ternyata calon pemegang lini bisnis baru belum dipersiapkan.”

“Dipersiapkan seperti apa tante?”

Tante Lyla tertawa kecil.

“Ini akal-akalan nenek buyut.  Semua lawyer keluarga dipastikan mengawal kebijakan ini. Selain kapasitas keilmuwan, pemegang lini bisnis baru harus seseorang yang sudah menikah. Menurut para tetua,  personal yang sudah menikah akan lebih tenang dan fokus untuk belajar memanaje usahanya. Mulai dari nol. Meskipun biasanya disiapkan juga tim asistensi untuk pendampingan.”

Medina mengangguk mengerti. Hal-hal semacam ini  tidak mungkin diketahui olehnya jika dia tidak menerima penawaran untuk bekerja bersama tante Lyla. Pengalaman yang sangat berharga.

Dia hanya bisa berharap 3 perusahaan  yang sudah konfirmasi untuk memberikan bantuan, tidak ada satupun yang ada hubungan dengan Dewantoro Putro.   Terjebak dalam situasi  tidak menyenangkan antara dua entitas sama sekali  bukan hal baik untuk situasi mereka saat ini. Apalagi di saat ada unsur kenekatan dalam dalam proses ini.

Prof HMA bahkan belum ditembusi. 

***///

 

Ketahuan

0 2

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 14

Jumlah Kata   523

Sarkat Jadi Buku

“Aku kayaknya gak bakalan bisa lanjutin untuk sementara deh.”ujar Masayu tiba-tiba siang itu ketika mereka berlima sedang makan di kantin fakultas.

“Kenapa?, selama ini dari kita semua justru kamu yang bisa full stay di Yogya dan terutama di kampus kan?”tanya kak Avisha.

“Aku...”

“Kamu beneran jadi nikah bulan ini ya?”tebak Mutia. Masayu tersenyum malu.

“Hah? Beneran, kamu menerima perjodohan itu?”tanya Stefi keheranan. Masayu kembali tersipu. 

“Kok bisa sih, eh tepatnya kok mau?”

“Bukan, bukan dijodohkan kalo kasus  Masayu mah. Kalian temen SMP kan ya dari ceritamu dulu?”cetus Mutia lagi.

Masayu mengangguk.

“Iya, temen SMP. Cuman sudah lama banget gak ketemu. Nah, dia bilang ke kakaknya minta dipertemukan sama aku. Jadi, kesannya kayak dijodohkan, sebenarnya sih kita sudah kenal lama banget.”

“Ooh...gitu..., trus emangnya dia gak bakalan kasih kamu ijin ngelanjutin? Tinggal finishing doang kan ini? Kamu sudah maju proposal kan?”tanya kak Avisha.

“Sudah kak, kalo untuk tesisku dia bakalan dukung aku hingga selesai. Cuman, habis itu dia mau bawa aku. Dia juga harus nerusin sekolahnya.”terang Masayu. Dito hingga saat ini masih menempuh doktoral nya di Salzburg.

               “Yah, kita bakalan kekurangan pasukan nih.., eh btw, mungkin kamu bisa tetap bantuin kita lho..Naskah buku kan bisa ditulis di manapun tempatnya.”usul Mutia.

               “Kecuali kalo pengantin barunya jadi sibuk sama kegiatan kerumahtanggan.”goda kak Avisha. Semua tertawa menanggapi Masayu yang tersipu-sipu.

               Sementara mereka sudah mulai paham akan ada pengurangan jumlah personal,  berita buruk lain menyusul.  Global Pradana Transportation  yang semula sudah menyanggupi untuk memberikan support secara lisan, tiba-tiba menarik dukungannya. Kak Avisha yang menerima telepon mereka, saat mereka hampir sampai ke pintu ruangan seusai dari kantin.

               “Maaf, maksudnya dibatalkan gimana ya mbak?”

               “Iya mbak, penjelasan lebih lengkapnya sudah disampaikan melalui mas Hugo ya. Ternyata beliau salah seorang di tim kalian ya? Kami baru saja mendapat penjelasan dari pak Pieter.”

               “Hugo?”

               Beberapa pasang mata memperhatikan ketika Avisha menyebut namanya. Hugo yang sedang duduk berhadapan dengan Reza dan setumpuk post it berisikan pembagian kerja menoleh ke arah gerombolan. Matanya memicing.

               “Baik mbak, terima kasih, kami coba diskusikan dulu.”

               Wajah Avisha terlihat kaku.

               Mereka dalam kesulitan.

“Siapa kak?”tanya Stefi setelah Avisha menutup telepon.

“Perwakilan dari GPT.”ujar Avisha pendek sambil melihat ke arah Hugo.

GPT adalah salah satu perusahaan yang mereka hubungi. Mereka bersurat karena  filantropi dari perusahaan ini pernah bekerja sama dalam pengembangan vaksin rubella beberapa tahun yang lalu. GPT ada dalam daftar perusahaan yang sudah konfirmasi akan memberi dukungan, tapi baru saja mereka membatalkan.  Dan Hugo katanya sudah mendapatkan penjelasan lengkapnya.

“Dari penjelasan mb Gea tadi, aku menangkap bahwa kamu tahu persis mengenai ini karena kamu salah seorang owner di perusahaan itu.”desis Avisha. Fakta ini cukup mengagetkan tentu saja. Tidak ada yang benar-benar kebetulan pastinya. Hanya mereka tidak mengerti kenapa Hugo tidak pernah membahas mengenai hal itu sebelumnya.

Hugo berdehem. Dilihatnya wajah-wajah mereka sekilas.

“Kok bisa sih kamu bahkan gak kasih sinyal apa gitu ke kita.”tanya Mutia menyesalkan tindakan Hugo.

“Kamu beneran bagian dari GPT Go?”tanya Masayu mengkonfirmasi. Mereka selama banyak mengobrol dibanding yang lain. Hugo sama sekali tidak mengindikasikan hasil itu.  

“Kalian gak berhak seperti mengadili  saya seperti ini. Perusahaan itu bukan perusahaan saya pribadi.”elak Hugo.

“Tapi kamu pasti tahu kalo perusahaan ini milik keluarga papa kamu kan?”desak Avisha.

 

user

27 September 2021 13:31 MEKONAGA Semangat

user

27 September 2021 20:38 Min Adadiyah terima kasih

Harus Menikah

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 15

Jumlah Kata   812

Sarkat Jadi Buku

 

Hugo terdiam.

“Di situ masalahnya.”sergah Mutia. Wajahnya keruh. “Kamu gak fair, kamu gak pernah menyampaikan secara terbuka.”

“Itu hak saya sepenuhnya. Saya tidak merasa relevan untuk menyampaikan hal semacam itu. Maaf ya, kalian tidak berhak mengatur saya untuk menyampaikan apa yang menurut saya tidak perlu saya sampaikan. Sejak awal saya bahkan tidak tahu kalo kita memasukkan berkas ke GPT. Saya kan fokus di drafting pendirian foundation bersama Stefi dan Reza.”ucap Hugo dingin.

“Tapi Stefi dan Reza tahu kalau kita maju ke GPT.”sahut kak Avisha. Menoleh ke arah keduanya. Keduanya mengangguk tidak enak.

“Ok. Tapi ini tidak seperti yang kalian pikir.”ujar Hugo sambil mengangkat tangannya terbuka ke atas di depan dadanya.  

“Coba, apa yang menurutmu kami fikir?”tanya Avisha membalikkan pernyataan. Dia benar-benar tidak mengerti perusahaan itu tiba-tiba menarik dukungan. Bahkan jika perusahaan itu memang salah satu perusahaan yang orang tua Hugo ikut mengurusnya, justru seharusnya bisa menjadi alasan untuk mensupport mereka. Bukan sebaliknya.

Hugo menelan ludah. Tadi pagi Om Pieter menguliahi panjang lebar di telpon. Setelah beliau secara tidak sengaja tahu bahwa Hugo ada di dalam tim tersebut.

“Betul papa saya adalah salah seorang yang ada di board of director GPT.   Tapi aturan mengenai hal itu memang sudah ditetapkan jauh-jauh hari.  Ini  semacam rule yang sudah turun temurun. Papa saya tidak mungkin mengubahnya, apalagi saya. Dan mengenai keterlibatan saya, Papa saya bahkan tidak tahu saya mengikuti forum ini. ”tukas Hugo.

“Begini, kalo ada yang salah dalam hal ini, menurut saya adalah kalian sendiri. Ini masih terlalu dini. Kenapa juga ada yang punya ide untuk melibatkan pers.”keluh Hugo. Dia tahu itu ide siapa.

“Itu mestinya tidak ada masalah, jika bisnis ini legal.”sanggah Masayu. Membela Medina, karena dia juga berpikir publikasi ini akan baik-baik saja. Sebuah  perusahaan memberikan dermanya untuk kebaikan, menurut mereka itu akan jadi publikasi yang baik untuk perusahaan. Tapi kenapa perusahaan itu malah kemudian menarik diri.

Medina menunduk semakin dalam. Merasa bersalah sekaligus semakin marah dengan situasi. Merasa tidak enak.

“Bisnis ini legal. Benar-benar legal lah. Kalian tahu itu kan? Apa sih yang kalian pikir? Masak kalian pikir GPT  ini adalah bisnis terselubung? Bukan itu maksudku. Mereka hanya tidak mau segala pemberian itu dipublikasi. Ketika informasi ini dibuka, mereka akan repot dengan datangnya LSM dan proposal-proposal yang justru akan merepotkan mereka. Di situ fokusnya.”terang Hugo.

Mereka semua terdiam.  Suasana menjadi lebih tidak enak karena ada perasaan seperti dikhianati. Tapi seperti penjelasan Hugo, hal ini sudah menjadi aturan perusahaan. Tidak semua grantor mau dipublikasi. Kasus ini pernah terjadi juga pada perusahaan seperti Sampoerna dan Tanoto. Perusahaan inti dengan perusahaan yang mengurus grant adalah dua hal yang berbeda. Mereka baru paham mengenai ini.

“Jadi menurutmu, apa solusi nya?”tanya Reza pelan-pelan. Sebagai team leader, dia harus memastikan semua semua pihak berpikir dengan kepala dingin.

Hugo diam dan wajahnya semakin gelap. Ada pertentangan dalam benaknya. Antara harus menyampaikan apa konsekuensinya  dan apa yang harus dilakukan. Dia tahu jika dukungan Global Pradana Transportation (GPT) ditarik, nama baik Prof HMA yang akan dipertaruhkan. Namun, jika dia mencoba mendorong agar GPT tetap mengucurkan dana, ada konsekuensi yang harus ditanggungnya. Dia harus mau mengambil alih untuk menjadikan CSR GPT  menjadi bisnis tersendiri. Hingga bukan nama GPT yang dikenal media. Seperti itu aturan resmi dari perusahaan. Masalahnya, salah satu prasarat untuk mendirikan bisnis tersendiri meskipun itu adalah mengenai mengolah dana CSR memerlukan pengorbanan dari dirinya.

Hugo menghela nafas kembali.

“Konsekuensinya aku harus menikah.”

Reza terbelalak. Avisha dan Mutia menganga.  Medina semakin menunduk, merasa  bersalah.

“Kok? Memang apa hubungannya menikah dengan ini semua?”tanya Mutia. 

Medina mengingat dengan jelas semua yang disampaikan tante Lyla. Sayangnya semua penjelasan itu didengarnya pasca keputusannya mengundang media dalam forum mereka. Ada penyesalan tapi sekaligus marah pada keadaan.

Dia sudah bisa meraba Hugo bagian dari Dewantoro Putro ketika tante Lyla menitipkan beberapa berkas undangan beberapa pekan lalu. Yang dia tidak tahu, di belakang GPT ada papa Hugo. Ini menjadi semakin runyam karena Hugo pasti merasa amat marah padanya.

“Aku rasa aku bukan satu-satunya yang tahu mengenai ini sebenarnya.”ucapnya Hugo  melirik ke arah Medina. Medina memandang wajah mereka semua sekilas. Merapatkan bibirnya dalam satu garis tipis. Hugo tidak melanjutkan penjelasannya dan mereka semua menuntut penjelasan dari Medina.

“Sorry. Aku baru belakangan tahu. Setelah mendapat penjelasan dari tanteku.”jawab Medina membela diri. Medina menelan ludah yang terasa pahit. Pagi tadi Hugo sudah menanyai mengenai proposal ke GPT. Dia juga sudah tanya apakah Medina tahu mengenai konsekuensi yang harus diterimanya.

“Tidak ada yang masuk akal jika menyangkut bisnis keluarga. Dalam kasus ini, solusi nya adalah Hugo harus mendirikan lini bisnis baru. Lini bisnis baru tersebut yang kemudian harus disodorkan untuk publikasi. Nama yang serupa, untuk semacam kamuflase. Itu penting untuk brand. Mungkin dia akan bernama GPT Foundation.  Fokus di manajemen filantropi dari pemilik saham keluarga GPT. Sebagai bisnis keluarga, mereka harus memastikan Hugo harus sudah dalam posisi menikah. Ini.., semacam wasiat turun temurun dan selalu terjaga karena para pengacara keluarga mereka akan memastikan.”Medina memaparkan ulang apa yang dipahaminya dari penjelasan tante Lyla.

 

Bertemu Jodoh ?

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 16

Jumlah Kata   524

Sarkat Jadi Buku

 

 “Ok, karena ini masalah keluarga sudah semestinya kita tidak ikut campur. Nah, aku kira masalahnya harusnya beres kan jika Hugo menikah?”tanya kak Avisha enteng. Wajah Hugo merah padam.

“Kecuali kalo aku tidak punya calon istri.”ketusnya.

Tawa tersembur dari mulut Reza. Sebelum tangannya merangkul Hugo.

“Sorry bro.”ucapnya tapi tidak merasa bersalah dan setengah geli. Selama hampir satu tahun ini kedekatan mereka sudah seperti keluarga dan semua orang tahu fakta bahwa Hugo selama ini tidak pacaran dan tidak pula dalam proses mencari istri. Aneh rasanya, forum ilmiah yang selama ini berisi kesibukan demi kesibukan yang datar tiba-tiba harus terlibat secara emosional seperti ini. Mereka tahu  meskipun selama ini antusiasme Hugo terhadap dukungan proyek ini tidak terlalu menonjol tapi rasanya tidak mungkin dia akan membiarkan nama Prof HMA tercoreng. Masalahnya, mencarikan jodoh untuk Hugo tentu tidak mudah.

“Kenapa kalian gak menikah saja..”usul kak Avisha sambil memamerkan senyum yang amat lebar. “Aku kira Medina adalah calon yang cocok untuk menjadi istri Hugo.”vonisnya di akhir kalimat.

Kalimat kak Avisha membuat wajah-wajah yang semula kusut menjadi cerah. 

No way. Cocok dari mana. Kalian gak melihat  kami seperti anjing dan kucing?”sergah Medina. Wajahnya berganti-ganti antara pucat dan kemerahan. Hugo tersenyum kecil melihat kepanikan di wajah Medina. Sepanjang pertemanan mereka, tak pernah satu kalipun ada nuansa seperti itu dalam hubungan mereka. Tapi melihat wajah yang bersemu kemerahan itu, terbit keisengannya.

“Betul juga. Ini bisa menjadi solusi yang tepat untuk semua masalah. Lagipula, kalo ada yang harus bertanggung jawab terhadap semua kekacauan ini, itu adalah kamu kan ya?”tanya Hugo mengkonfirmasi.

Semua orang tertawa kecuali Medina.

“Gak masuk akal.”juteknya sambil berdiri mengangkat tasnya. Ruangan ini sudah tidak kondusif untuk membahas lebih lanjut urusan mereka. Mereka memang harus segera mencari solusi terbaik untuk masalah ini, tapi tentu bukan dirinya yang harus berkorban. Sebagai penggemar novel romantis, dilamar dengan cara seperti ini sama sekali bukan cita-citanya.

“Katamu gak ada yang masuk akal kalo menyangkut bisnis keluarga?”celetuk Reza melihat Medina beranjak dari kursinya menuju pintu keluar. Tidak ada yang lebih seru dari menggoda Medina yang ternyata  bisa semarah itu mendengar ide kak Avisha.

Brakk!!

Baru kali ini pintu ruang diskusi tertutup dengan amat keras, tapi yang di dalam ruangan menyambutnya dengan tertawa yang tak kalah kerasnya.

###

 

Keputusan yang berat tapi harus segera diambil. Papa sama sekali tidak peduli bagaimana  tim dari Prof HMA akan menyelesaikan masalah. Beliau masih tetap salut akan keberanian anak-anak muda yang berani mendatangi kantornya untuk minta maaf setelah peristiwa conferensi pers itu. Tetap salut dan bermaksud mendukung apa yang mereka mau. Masalahnya Pieter tetap bersikeras bahwa GPT tidak bisa diekspose lebih jauh lagi sehingga solusi satu-satunya adalah lini bisnis baru.

Itu akan jadi sarana yang baik untuk  Hugo. Dia bisa belajar dari Lyla  untuk mengemas lini manajemen filantropi baru. Membantu RS  adalah hal baru di dunia filantropi. Mungkin  baru sedikit yang paham  dan tertarik untuk menjadi penyandang dana bagi manajemen RS dalam upaya pengembangan.

Keputusan itu menjadi berat karena jika Hugo fokus di bisnis baru, maka bisa dipastikan proses pengambilalihan jaringan optik mereka yang justru mundur. Tidak memungkinkan untuk membebankan di awal jabatannya. Berat taspi bukan tidak mungkin, Lyla membuktikan bisa mengurus DP Glass n Co seiring dengan tugasnya di DP Foundation. 

 

Memilih Medina

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 17

Jumlah Kata   557

Sarkat Jadi Buku

 

Satu hal yang membuat papa  kaget sekaligus bangga, rupanya Hugo ada di dalam tim itu. Selama ini dilihatnya Hugo cenderung malas untuk menyelesaikan S2nya. Dia seperti lebih menyukai pengembangan diri sebagai seorang klinisi dibanding belajar manajemen. Mungkin faktor dukungan dari mamanya cukup berpengaruh. Sosialita yang benar-benar banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Hampir setiap hari ada saja kegiatan sosialnya melebihi  pekerja kantoran.

Mereka bertemu dalam sebuah conference di Wina.  Adriana Meyer menjadi salah satu LO dalam acara itu. Cukup akrab dengan Lyla yang saat itu sedang belajar di Amerika. Dia sendiri berangkat dari Indonesia mewakili klan keluarga Dewantoro Putro. Konon nenek moyang mereka adalah salah satu pejuang kemerdekaan tapi belakangan anak keturunannya justru banyak yang terlihat di permukaan sebagai artis atau pekerja seni. Selebihnya, mereka memiliki tanggung jawab masing-masing di berbagai lini bisnis dengan bidang garap yang beraneka ragam. 

Dari pernikahan Robert Abdullah Dewantoro dan Adriana Xaveria Meyer inilah Hugo terlahir. Anak bungsu sekaligus satu-satunya laki-laki. Mamanya menggadang-gadang dia menjadi salah satu masterpiece di bidang filantropi kesehatan. Terlahir dari pernikahan campuran, hidungnya mancung dan keningnya lebar.

Mamanya selalu berharap kelak, setelah memimpin perusahaannya selama 7 tahun, dia diharapkan menuntaskan pendidikannya. Namanya Hugo Muhammad bin Robert Abdullah Dewantoro, doktor di bidang health filantrophy. Itulah cita-cita mamanya. Perempuan berdarah Jerman Belanda tapi jatuh cinta dengan Indonesia sejak dari masa kanak-kanaknya.

“Jadi, kamu sudah menemukan calon istrimu?”tanya mama ketika sore ini Hugo pulang dari tempat praktik di klinik Mitra Bestari. “Kamu tentunya cukup realistis berpikir bahwa pada akhirnya itu harus terjadi kan?”tanya mama. Hugo menganggguk.

“Iya Ma. Tahun ini aku sudah 30, aku gak bakalan mengelak lagi untuk menikah. Memang sudah seharusnya.”jawab Hugo sambil bersandar. Sofa biru di ruang tengah itu, satu-satunya tempat yang nyaman untuk mereka bicara. Jas praktiknya sudah dilepas dan ditaruh begitu saja di sandaran meja makan. Mbak Karmi baru saja meringkasnya untuk dibawa ke belakang.

“Lalu yang mana yang akhirnya kamu pilih. Natasha atau Winda?”tanya mama lagi. Dua orang ini adalah calon yang disodorkan mama. Anak dari kolega mama dari pertemuan terakhir kegiatan mama.

Hugo menggeleng.

“Kalo pilihannya adalah menikah dalam waktu cepat, aku lebih tertarik untuk memperistri Medina kayaknya mah.”

“Kayaknya? Kamu gak yakin banget sih.”

“Bukan gitu. Selama ini kan kami hanya berteman, lebih sering ribut dari pada akur, tapi rasanya realistis saja mengajak dia menikah untuk kemudian melanjutkan hidup.”

“Hus..., gak bisa sedatar itu juga kali..Memangnya  dia mau kamu lamar?”

Mama sudah cerita kalau kemarin sempat bertemu dengan Medina di kantor papa. Anak itu masih begitu muda.

Hugo menggeleng tertawa.

“Justru itu. Ini menjadi menarik buat aku karena dia mati-matian menolak. Dia kayaknya gak mau banget menerima konsekuensi dari tanggung jawabnya sudah salah membuat publikasi itu.”ujar Hugo sambil tertawa kecil. Saat Hugo menyanggupi untuk membuka satu lagi lini CSR baru untuk mengcover semua publikasi   yang waktu itu, akhirnya rapat board of director memutuskan menutup kasus itu. Sehingga tinggal menjadi semacam hutang pribadi Hugo untuk menyelesaikan utang itu dengan pernikahan. Dia punya waktu 4 bulan untuk memproses.

“Hmm, mama gak percaya kalo cuma itu alasannya. Dia baik menurutmu?”

“Biasa aja sih menurutku. Biasa tu maksudnya hidupnya gak neko-neko, setidaknya dia akan cocok jalan sama mama ngurus semua acara giving-giving. Dia  gak segan buat turun ke lapangan karena memang pada dasarnya dia relawan. Terdidik menjadi relawan. Kalo sudah begitu kan aku bisa konsen ngurus praktikku saja ma. Kembali ke basic. Gak harus belajar manajemen segala macam.”

 

Kenapa pilih aku?

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 18

Jumlah Kata   524

Sarkat Jadi Buku

 

“Tapi masak gak ada percikan rasa apa gitu?”kulik mama lagi.

Hugo tersenyum semakin lebar.

“Dia paling gak suka aku gangguin, tapi aku paling suka melihat ekspresinya saat aku ganggu. Bahkan diamku saja sudah membuat dia jengkel dan uring-uringan.”

Hugo kembali tertawa. “Dan kali ini dia sedang mati-matian menolak aku, kata kak Avisha dia merasa permintaanku untuk menikah dengannya itu gak serius. Sebagai seorang yang katanya romantis, dia merasa lamaranku itu menjengkelkan.”

“Kamu juga aneh, sudah tahu kalo dia anaknya romantis, kenapa juga pake  harus menyebut bahwa  lamaran itu konsekuensi dari pertanggungjawabannya.”sungut mama.

“Ya kan aku mikir praktisnya saja.”elak Hugo.

Mama menoyor kepalanya.

“Ini nih yang harus kamu pelajari dengan serius. Pasca menikah itu artinya kalian akan terhubung seumur hidup. Kalo memang kamu milih dia sebagai istri, ya mestinya kamu pahami dia juga maunya apa. Gak bisa dia doang yang harus ngertiin kamu.”omel mama.

Hugo kembali tertawa

 “Harus  ya?”

“Dan jangan lupa, kamu juga masih harus menjelaskan mengenai ....”

Kata-kata mama terputus, karena balita berusia 3 tahun itu menyerbu masuk diiringi teriakan baby sitter di belakangnya. Celotehnya mewarnai ruang tengah.

“Agge,  ayuk maemnya dihabiskan dulu...”

Mama  menangkap  pipi gembul yang menyorongkan diri untuk dipeluk. Hugo dan mama tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Dialah, salah satu alasan Hugo harus bolak balik Jakarta Yogya seminggu sekali. 

Ah iya, Medina bahkan bisa jadi belum sadar jika ada Agge dalam kehidupan Hugo. 

###\\

“Jadi, kapan keluargaku bisa melamarmu?”tanya Hugo sore itu ketika mereka semua sudah bersiap pulang. Mutia, Reza dan Kak Avisha beberapa langkah di depan mereka. Wajah Medina terasa panas.

“Tolong Go, kamu gak bisa terus terusan menerorku begini. Aku mengaku salah dan untuk itu bahkan kemarin aku dan kak Avisha ke Jakarta untuk menemui papamu untuk meminta maaf. Kamu gak dikasih tahu ya?”

Mereka memang menemui pak Robert tanpa membuat janji melalui Hugo. Kak Avisha berpikir bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan sendiri kerusakan yang sudah mereka perbuat. Pak Robert yang memberi waktu untuk bertemu dengan mereka dengan didampingi istrinya menerima dengan baik permintaan maaf mereka.

“Justru itu. Aku dikasih tahu dan kamu mendapat restu dari kedua orang tuaku.”jawab Hugo kalem.

Medina berhenti mendadak. Menggeleng.

“Tolong sekali lagi. Aku gak main-main ya.  Kalo sekali lagi kamu membahas ini....”

“Aku harus membahas ini.”tukas Hugo. “Kamu gak ingat kalo waktuku maksimal hanya 6 bulan? Kamu mau tiba-tiba tanpa persiapan, kita tiba-tiba nikah?”tanya Hugo lagi.

Medina berhenti mendadak.

“Aku gak lupa kamu harus segera nikah. Dan aku yakin meski kamu gak pacaran sekalipun, kamu akan mudah menemukan calon istri di luar sana. Kenapa kamu jadi genit sih mengganggu aku?”

Kedua alis Hugo terangkat. Genit ya, hmm.

“Sorry. Genit itu gak pernah ada dalam kamusku. Aku baru tahu kalo melamar gadis ini disebut genit. Aku serius melamar kamu”

Medina menghela nafas lelah. Mereka sudah tertinggal jauh dari yang lain. Reza sudah sampai ke parkir dan melambaikan tangan berpamitan pada mereka.

 “Kenapa aku?”tanya Medina.

Dia bertekad menyelesaikan segala keruwetan ini sore ini, jika memang Hugo serius akan membahas ini. Matanya menantang ke arah mata Hugo. Pupil abu-abu itu membesar. Saat bertemu dengan ibu Adriana kemarin, Medina jadi tahu dari mana mata itu diturunkan. Ibu Adriana ternyata benar-benar bule dalam artian yang sesungguhnya secara fisik.

 

Paketku Bersama Agge

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 19

Jumlah Kata   573

Sarkat Jadi Buku

 

 “Karena kamu cocok untuk posisi ini. Sekarang kalo pertanyaannya dibalik, kenapa kamu keberatan?”tanya Hugo balik. Medina berjengit, dia pikir dia sedang merekrut karyawan  di perusahaan barunya?

“Bukan itu maksudku. Kalo ini adalah sebuah lamaran, harusnya kamu punya alasan kenapa memilih aku. Aku  bukan satu-satunya yang tersedia untuk kamu nikahi. Kamu pasti sadar itu kan. Kamu gak bisa tiba-tiba menjatuhkan pilihan hanya karena usulan kak Avisha pastinya?”sungut Medina. Tiba-tiba saja Medina menjadi lebih kesal mengingat waktu itu semua mentertawakannya. Mereka pasti berpikir amat lucu bahwa Medina yang suka berhayal dilamar dengan romantis, tiba-tiba dilamar dengan cara yang aneh. Di dalam ruang kelas mereka pula.

“Bukan tiba-tiba sebenarnya. Sejak awal saya sudah punya ketertarikan sama kamu, yang saya pikir awalnya itu terlalu konyol.  Jarak usia kita hampir 7 tahun.  Kamu punya banyak energi dan sekaligus banyak berkhayal,  dan belakangan saya melihat itu menjadi sumber semangat yang sangat kuat, bahkan untuk lingkunganmu. Kamu masih sangat muda  namun sekaligus membuktikan bahwa  kasih sayang  itu tidak harus dari yang lebih tua. Antusiasmemu menular pada orang yang ada di sekitarmu. Dan yang pasti, saya sudah sholat istikharoh untuk memastikan bahwa keyakinanku untuk memintamu menjadi istri saya didukung penuh.”

Medina memicingkan mata. Merasa jengah sudah diamati sedemikian rupa. Sejak awal mereka bertemu? Ini sesuatu yang menggelikan. 

“Seingatku, kamu gak pernah baik sama saya.”

Wajah Hugo memucat sesaat. Dia mengusap hidungnya yang panjang.

“Bisa saja karena saya  berusaha menutupi bahwa saya tertarik sama kamu kan? Sejak awal saya merasa itu janggal. Kamu benar-benar seperti anak kecil buat saya. Belakangan saya baru sadar kalo jarak usia itu bisa dijembatani karena dibalik khayalan-khayalanmu itu kamu bertanggung jawab.”

Alasan yang praktis. Medina pernah mendapat nasihat dari mami, saat jodoh itu datang, kamu tak bisa dan tak boleh menolak. Tapi apakah ini alasan yang cukup untuk memulai sebuah rumah tangga? Benaknya masih tidak menerima, mereka berdua sepertinya tidak dalam kondisi sama-sama jatuh cinta.

“Kalo begitu aku juga minta waktu untuk sholat istikharoh.”, ujar Medina pelan. Di ujung tempat parkir, Mutia dan Kak Avisha masih menunggu. Hugo mengangguk, “Silahkan, ambil waktu yang cukup.”

“Oh ya, satu lagi....”panggil Hugo setelah Medina berjalan beberapa langkah. Tangannya meraih gadget dari saku. Dia mengirimkan sesuatu. Dia memberi tanda kalo Medina diminta membuka gadgetnya. Hugo mengirimkan foto seorang anak kecil. Wajah imut dengan pipi gembil yang ceria. Anak itu ada bersama ibu Adriana saat mereka bertemu kemarin.

“Paketku bersama Agge. Menurut mama saya, kamu kemarin cukup akrab saat bertemu dengannya. Semoga menjadi salah satu poin penambah yang akan memperkuat pertimbanganmu untuk menerima saya. Kamu suka anak-anak kan?”

Medina mengangguk. Hugo tersenyum dan berbalik sebelum melangkah menuju ke mobilnya. Medina terus berjalan ke arah Kak Avisha dan Mutia. Wajahnya memucat ketika mendengar kalimat terakhir Hugo. 

“Dia duda ya?”tanyanya tiba-tiba ke arah Kak Avisha dan Mutia. Yang ditanya terlengak tak mengerti. Menduga salah dengar.

“Gimana Din?”tanya Mutia memintanya mengulang pertanyaan. Di depannya, Medina seperti masih belum menyatu antara fisik dan pikirannya.

“Apakah kalian tahu kalo selama ini Hugo punya anak?”ulangnya.

Kak Avisha dan Mutia mengangguk.

“Tentu saja. Selama ini dia sering mengobrolkan Agge. Kita bahkan kemarin ketemu dia di Jakarta kan?”tanya kak Avisha heran.

“Aku gak pernah tahu dia pernah menikah.”

“Dia memang belum pernah menikah.”sahut Mutia. Masih heran dengan pertanyaan Medina.

“Kamu bener-benar gak pernah merhatiin Hugo sama sekali ya? Parah kamu ini. Aku yakin kamu bahkan gak pernah berpikir kalo sejak awal dia suka sama kamu.”ujar Kak Avisha sambil tertawa kecil. Tangannya sambil sibuk mengendalikan stir memutar untuk keluar dari  parkiran.

 

Mulai Ada Solusi

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 20

Jumlah Kata   644

Sarkat Jadi Buku

#SarapanKata

#KMOIndonesia

#KMOClubBatch37

#Kelompok14MapOfTheSoul

#Day20

#JumlahKata644

#SarkatJadiBuku

 

 

 “Yang ada dia selalu ngrecokin aku.”tukas Medina tidak terima. “Bahkan dia baru melamarku karena aku harus mempertanggungjawabkan publikasi itu.”

“Itu hanya pintu masuk saja sayangku. Kita semua sadar sejak awal kok kalo dia pasti ada sesuatu saja kamu. Dia orang baik, kita semua menjadi saksi.”ujar Mutia sama sekali tidak membantu.

Jadi, dirinya yang sama sekali tidak tahu. Oke, sekarang setelah tahu, Medina merasa harus mempertanyakan juga standar baik versi teman-temannya. Hugo punya anak padahal dia belum menikah. Medina merasa masih harus berpikir panjang untuk menerima lamaran Hugo. Jauh lebih panjang dari  apa yang semula Medina pikirkan.

|||

Beberapa perusahaan merespon surat mereka. Tidak semua, hanya sekitar 15% dari seluruh surat yang dikirim. Beberapa meminta mereka presentasi ulang. Setelah kasus GPT, mereka lebih berhati-hati dengan media. Mereka juga lebih cermat memilih perusahaan untuk difollow up. Mereka juga menemukan beberapa partner baru pasca fornas II filantropi kesehatan.

Interaksi  intens itu membuat mereka semakin menyadari bahawa karakter orang kaya lama benar-benar unik. Tidak ada yang sama persis. Mensikapi mereka satu per satu butuh konsentrasi penuh.  Berbeda dengan DP Glass n Co dan GPT, keluarga Thahar dari Palembang justru memiliki spesifikasi yang berbeda.

Salah satu jaringan bisnis Keluarga Thahar adalah Granada Aviation yang bermaskas di Singapura. Membidangi persewaan pesawat jet dan helikopter.  Mereka mengelola dan merawat beberapa Privatte Jet (PJ)  milik beberapa selebriti tanah air.  Rupanya di sini rahasianya kenapa beberapa selebriti berswafoto di pesawat jet yang sama. Sebagian di antara mereka memang memiliki secara bersama-sama pesawat-pesawat itu.

Lini bisnis Granada Aviation sejak awal mempublikasikan  pendirian beberapa rumah yatim sebagai bagian dari bisnisnya. Tidak aneh ketika proposal untuk mengalokasikan sebagian waktu dari helikopter untuk mengangkut pasien yang membutuhkan, mereka langsung merespon cepat. Puan Bibah ternyata ada di balik keputusan cepat itu. Beliau adalah ibu rumah tangga  yang selama ini aktif sebagai relawan sosial di operasional rumah yatim.

“Puan benar-benar tidak pernah berkarir secara profesional sebelumnya? Bagaimana bisa mengelola semua helikopter itu?”tanya kak Avisha heran ketika mereka bertemu malam itu. Mereka mengobrol ringan seputar keseharian. Mereka sengaja janjian di event space Marina Bay Mall. Di area yang mempersembahkan pertunjukan  yang konon tercanggih di Asia Tengara. Kombinasi laser, lampu, efek air, proyeksi mutakhir serta musik orkestra. Gegap gempita di sekitar jam 8-9 malam.

 “Tak pernah sama sekali. Saya ibu rumah tangga biasa. Saya sudah bergabung dengan mereka sejak awal mengoperasionalkan beberapa rumah yatim ini. Ada 7 rumah yatim lainnya di Indonesia. Penggunaan helikopter itu jadi keniscayaan untuk mempermudah operasional saja sebenarnya.”

Itu obrolan 5  tahun lalu saat Avisha transit di Singapura dalam perjalanan pulang dari umroh. Persahabatan itu terus berlangsung hingga hari ini  dan ingatan mengenai relawan yang sehari-hari difasilitasi dengan helikopter untuk mengurus distribusi berbagai bantuan menginspirasi Avisha untuk menghubungi Puan Bibah.

Responnya sangat cepat dan menggembirakan.

“Baik. Segera saja kirim proposal dan rencana rutenya ya. Insyaallah secepat mungkin kami komunikasikan ke manajemen Granada Aviation. Saat ini kami sendiri ada 5 pesawat untuk operasional dengan rute-rute yang sudah ditetapkan. Saya kira, kalo ditambahkan sedikit dengan mengangkut pasien yang membutuhkan, kami akan sangat senang sekali. Kemanfaatannya bertambah kan?”sahutnya di telepon.

 Avisha benar-benar takjub. Sama sekali tidak menyangka bahwa pendekatan mereka disambut dengan cara yang sangat sederhana. Padahal dia tahu betul bahwa operasional helikopter dalam waktu 45 menit ini di kisaran angka 15 juta.

“Bagus sekali Puan. Jika demikian, secepatnya akan kami proses perijinan resminya. Asal kami ditunjukkan caranya, kami akan memproses semua yang diperlukan untuk kemudahan semua proses ini.”ujar Avisha antusias. Puan Bibah mengiyakan dan segera merekomendasikan beberapa orang yang harus dihubungi.

Jika semua lancar, tidak sampai 3 bulan lagi mereka akan mulai bisa mengangkut pasien-pasien yang membutuhkan untuk dibantu dari pedalaman Kalimantan menuju beberapa RS terdekat yang memiliki helipad. Pastinya ada serangkaian MoU  yang akan menguras energi. Namun semuanya sepadan dengan hasilnya. Mereka akan bisa membantu 3 pihak sekaligus.  Pihak RS, pihak pasien dan pihak perusahaan atau pribadi pemilik perusahaan yang membutuhkan untuk “membuang” 10% dana nya untuk berderma.

 

Kebanyakan Drama

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 21

Jumlah Kata   528

Sarkat Jadi Buku

***\\

“Tunggu dulu, tante gak ngerti kenapa kamu menolak Hugo. Tante sudah bicara sama mami, kalo kamu akan dilamar dan mami sudah setuju. Bukannya sebenarnya kalian sudah saling kenal selama ini?”tanya tante Lyla heran saat mendengar penolakan Medina. Hari ini tante Lyla menyempatkan datang ke rumah. 

“Ya, kenal sih Tan, tapi cuma kenal gitu aja. Kita gak ada hubungan apapun selain berteman.”sahut Medina sambil memainkan kukunya. Sebenarnya ada rasa tidak enak ketika tahu ibu Adriana menghubungi tante Lyla untuk memastikan kesiapan mereka untuk dikunjungi.

“Apa sih yang membuat kamu keberatan sebenarnya? Kita semua  melihat kecocokan kalian. Kamu bahkan sudah mengatakan untuk menebus kesalahanmu, kamu siap menjadi partner dalam mengelola  manajemen filantropi GPT, padahal mungkin itu adalah hal terberat mengingat ini perusahaan baru.”tanya tante Lyla.

“Buat saya sih, membantu Hugo mengelola perusahaannya tidak akan menjadi masalah berat tan. Tante sudah mendidik saya dengan sangat baik dengan menitipkan saya di GCC dan di timnya prof Abram sekaligus. Itu akan jadi modal yang sangat berharga untuk saya. Yang saya tidak siap...”ujar Medina terhenti. Antara tidak sampai hati menyebutkan dan kejengkelan  yang masih menyumbat.

Tante Lyla menunggu dengan sabar ucapan Medina selanjutnya.

“Saya tidak siap dengan masa lalunya.”

Nah, sudah. Aku sudah mengatakannya. Pikirnya. 

“Masa lalu yang mana ini?”tanya tante Lyla. Keningnya berkerut tajam.

“Tante pasti tahu juga kalo Hugo punya Agge kan?”tanya Medina sambil melirik ke arah maminya.

“Tentu saja. Semua orang juga sudah tahu ada Agge dalam hidupnya, mamimu juga sudah tahu.”ujar tante Lyla sambil menengok ke arah mami. Mami mengangguk.

“Apakah..apakah...mereka memiliki Agge tanpa pernikahan itu bisa ditoleransi oleh tante atau mami?”tanya  Medina lambat-lambat. Kekuatiran terbesarnya sekali lagi adalah hati mami. Awalnya Medina tidak akan memberi tahu mami sebelum semuanya jelas, tapi tante Lyla jelas tidak menganggap itu keputusan yang perlu didukung.

“Tentu saja. Sangat bisa ditoleransi, memangnya apa salahnya mengangkat anak seorang bayi yang ditinggal meninggal oleh ibu kandungnya saat melahirkan? Padahal anak ini telah ditinggalkan ayahnya sejak ibunya mengandung 5 bulan.   Justru kami salut dengan kebesaran hati Hugo untuk itu. Memangnya buat kamu itu menjadi masalah?”tanya tante Lyla heran. Mami mengangguk setuju atas pertanyaan tante Lyla dan lebih serius mendengarkan jawaban Medina. Sebagai bungsu dari 4 bersaudara yang ketiga kakaknya sudah menikah, mami berharap Medina segera menyusul. 

“Mengangkat anak? Maksud tante, Agge anak angkat Hugo?, bukan anak kandungnya?”tanya Medina memastikan. Ini fakta baru yang tak pernah didengarnya.

“Hugo bilang sudah menyampaikan kalo dia tidak menutupi fakta mengenai Agge. Dia berharap justru itu menjadi poin tambahan katanya.”

Medina ingat Hugo pernah mengucapkan kata-kata tentang poin tambahan itu.

“Tapi, dia tidak pernah mengatakan kalo  Agge anak angkat dia tuh..”ujarnya mengingat-ingat.

“Tentu saja, dia tidak akan pernah mengatakan itu. Dia begitu menyayangi Agge. Baginya Agge seperti anak kandungnya. Dia benar-benar fokus dalam membesarkan Agge seperti anak kandungnya sendiri.”sergah tante Lyla.

Tiba-tiba seperti  ada beban  berat yang terangkat dari pundaknya. 

“Jangan-jangan, selama ini kamu berpikir bahwa Hugo sudah menjalani kehidupan bebas hingga punya anak di luar pernikahan ya?”tuduh mami setelah melihat ekspresi kelegaan di wajah Medina.

Medina tersenyum malu.

“Kamu kebanyakan baca novel sih. Makanya semua-muanya dipikirnya serba drama.”omel mami sambil menunjuk jidatnya gemas. Mami beranjak dari sofa  yang sedang didudukinya sambil sekali lagi menyenggol kepala Medina.  Tante Lyla tertawa keras.

 

Kita Bukan Jawaban Semua Masalah

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 22

Jumlah Kata   637

Sarkat Jadi Buku

 

 “Justru di situ kelebihan Medina mbak. Aku mengajak dia masuk dalam timku karena mbak pernah cerita kalo anak ini kuat banget bacanya kan? Sampai mbak pernah kewalahan dana  buat buku-bukunya. Minatnya terhadap sejarah juga yang membuat dia jadi bisa masuk ke timnya mas Bram.”sahut tante meluruskan, membela Medina yang disalahkan mami. Tawanya tak berhenti sampai ketika memencet sebuah nomor kontak di  hp nya.

“Waalaikumussalam. Dri,  bilang mas Robert dan Hugo, ini calon mantumu sudah bersedia dilamar.  Segera aja, ditunggu ya..”ujar tante Lyla enteng ke arah hapenya.

“Eh Tan.”

“Apa? Kamu masih punya alasan apa lagi? Kamu jangan bikin mamimu jantungan ya. Masak semua sudah siap, tiba-tiba kamu menolak.”ujar Tante Lyla sambil menunjuk ke arah hidangan di atas meja makan. Jadi, semua masakan tadi karena mami sudah siap menerima tamu untuk lamaran? tiba-tiba Medina mendadak pening.

Kenapa dunia seperti berputar di sekelilingnya tanpa dirinya menyadari benar apa yang sedang terjadi sih?

 ***\\

Mutia datang pagi itu dengan wajah yang kusut. Direkturnya memberi ijin untuk realisasi draft  yang sudah disusun mengenai prototype tim manajemen filantropi, tapi dana yang disediakan untuk mendanai tim itu hanya 6 juta per bulan. Sebenarnya itu jumlah yang cukup jika mereka bisa lebih cepat memperoleh  berbagai grant yang diperlukan. Tapi ide ini memang tidak mudah.

Pilihannya ternyata hanya itu. Mereka memberi kesempatan untuk mengembangkan proyek ini tapi waktunya maksimal 1 tahun. Setelah itu, mereka harus memastikan bisa hidup sendiri. Itu artinya, mereka harus menyiapkan dana untuk relawan selalu tercukupi.

Fokusnya hari ini harusnya mengenai terus menambahkan list-list calon rekanan untuk dieksekusi menjadi calon mitra RS. Berat dan benar-benar menguras energi. Sebab  dia lebih suka dalam posisi memberi daripada meminta.  

“Aku kayaknya semakin pesimis untuk merealisasikan ide ini untuk di RS ku deh kak.”keluh Mutia saat kak Avisha menanyai kenapa wajahnya kusut.

“Kamu gak didukung oleh manajemen?’tebak kak Avisha.

Mutia menggeleng. “Sebenarnya saat ini sudah mulai didukung sih kak, tapi akunya sendiri yang sedang tidak yakin dengan keberhasilan ide ini.”

“Kok bisa?”

“Aku kuatir gak bisa memenuhi harapan. Aku melihat mereka antusias dengan peluang filantropi ini, tapi  lebih sebagai pihak yang meminta bukan memberi. Aku, aku rasa ini agak berat buat aku. Aku lebih suka memberi daripada meminta...”keluh Mutia. Kak Avisha tertawa.

“Kamu lucu..., ya kan kita baru bisa memberi kalo ada sesuatu yang bisa kita berikan. Kalo kamu memang lebih suka memberi, kenapa gak kamu beri apa yang kamu punya...”

“Ya iya, tapi aku gak merasa punya sesuatu untuk diberikan. Tadinya aku berharap dengan model memberi dulu baru menerima ini, RS mengalokasikan 10% dana yang ada untuk terus memberi. Pemberian yang terus diinformasikan dengan baik lama-lama akan mendorong orang lain untuk turut menitipkan sesuatu sehingga pada akhirnya RS dapat memberi lebih banyak lagi.”

Kak Avisha mengangguk.

“Setuju. Premis itu benar kan?”

“Aku cuma kuatir kalo ternyata pada akhirnya aku gak bisa membuktikan kalo premis ini benar.”keluh Mutia.

“Tunggu. Kita kan bukan sedang mau membuktikan bahwa kita adalah jawaban terhebat dari semua masalah. Kita gak bisa memandang  diri kita sebagai satu-satunya solusi dari semua masalah kan? Kenapa kamu seolah merasa bahwa ini adalah tanggung jawabmu sendirian. Bahkan Prof HMA sekalipun, jelas tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah terkait manajemen filantropi RS kan? Itu alasan kenapa kita hadir di sini...”ujar kak Avisha panjang lebar. Mutia masih tercenung terdiam.

“Ayo babe. Kita gak harus nyalahkan orang lain jika mereka belum bisa mendukung kita, karena bisa jadi itu hanya masalah waktu. Mereka tidak mendukung kita hanya karena belum tahu jika ini adalah sesuatu yang baik, yang perlu didukung. Jika pada akhirnya dukungan datang, sekecil apapun itu, kita punya tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang sedang kita mulai. Tapi kita juga boleh capek, boleh istirahat, boleh bersandar saat kita  tahu kalo kita belum bisa memenuhi harapan semua orang. Kita hanya harus istirahat sejenak. Lepaskan, pasrahkan. Lalu saat kita sudah siap nanti, kita mulai pelan-pelan bergerak lagi. Melangkah lagi. Ya kan?”

 

Masalah Lain Muncul

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 23

Jumlah Kata   689

Sarkat Jadi Buku

 

 

689

“Kamu bisa selalu sekuat ini ya kak?”tanya Mutia.

Avisha menggeleng. Tersenyum. 

“Sama sekali tidak.”

“Aku sama lemahnya sama kamu, bahkan mungkin bisa jadi lebih lemah lagi.. Kita hanya harus bergantian memberikan support. Ada pepatah mengatakan, jika kamu mau jalan cepat bergeraklah sendiri, jika mau jauh bergeraklah bersama tim. Benar kan?”

Mutia mengangguk. Mungkin  saat ini memang jiwanya sedang lelah. Dia tidak begitu yakin dengan idenya sendiri. Mungkin ini saatnya menantang idenya sendiri. Memberi ruang agar bisa kembali berjalan. Memenuhi ruang-ruang bernama harapan.   

“Ada lagi Tia. Emmm, aku pernah baca, ini berhubungan dengan passionmu untuk memberi tadi.”sambung kak Avisha.

Mutia mendengarkan.

“Saat kamu merasa tidak punya apapun untuk bisa diberikan, cukup lihatlah dirimu bahwa Allah SWT sudah memberi kesehatan dan waktu luang. Waktu luangmu bisa kau wakafkan.”

Mutia mengangguk tersenyum.

^^^

Siang itu, Avisha melepas Mutia pulang dengan doa. Mutia terlihat sedang dalam kondisi harus istirahat dan bersandar. Avisha yakin kombinasi dari istirahat yang cukup serta berada di lingkungan yang mendukung akan membuat Mutia kuat kembali.

Mutia menduga Avisha orang yang kuat. Hanya Allah SWT dan dirinya yang tahu seperti apa lemah dirinya. Tidak hanya lemah, Avisha kadang merasa ada cacat dalam dirinya. Sekitar empat bulan dari waktu Avisha submit abstrak itu sebenarnya adalah saat Avisha dalam kondisi yang sangat lemah.

Hari-harinya sebagai relawan di sebuah lembaga zakat selama hampir dua puluh tahun tiba-tiba harus terusik. Dokter mendiagnosa Avisha dengan sebuah penyakit kejiwaan, bipolar disorder. Kondisi di mana dua kutub emosi antara manic dan depresi berkelindan mewarnai hari-harinya.

Setelah hampir dua minggu Avisha sangat bersemangat mengerjakan proyek sekolah kewirausahaan, tiba-tiba saja Avisha seperti orang yang patah semangat. Maunya tidur, di rumah tidak bertemu dengan orang lain. Itu tidak seperti Avisha yang biasa.

Awalnya mereka sekeluarga sama-sama tidak melihat ini sebagai sebuah masalah. Namun, ketika kemudian dalam masa jeda di rumah itu Avisha sering menyebut anak dengan deskripsi yang tidak sewajarnya, sering  membelanjakan uang untuk hal-hal yang berlebihan. Meskipun disebutkan untuk membantu orang lain. Suaminya mulai menyadari ada yang tidak wajar.

Apalagi ketika kemudian jadwal tidurnya menjadi demikian tidak teratur. Hanya tidur dua jam setiap malam. Diikuti dengan jadwal kegiatan di siang hari yang semakin kacau. Hubungan dengan rekan-rekan satu timnya pun menjadi kacau. Avisha merasa beberapa teman seperti menghalangi ide-idenya. Avisha jadi enggan bertemu dengan mereka. Enggan  berkomunikasi dan berinteraksi. Semua itu tidak seperti Avisha yang biasanya ceria, supel dan sangat bisa memahami perbedaan.

Mereka kemudian sepakat untuk bertemu dengan psikiater. Dokter menggali data dalam beberapa pertemuan sebelum mendiagnosa Avisha dengan bipolar. Beberapa pekan setelah itu, Avisha harus rutin minum obat. Awalnya untuk memastikan fokus pada pola istirahatnya. Dokter memberi penekanan bahwa Avisha harus istirahat cukup. Minimal 6-8 jam di malam hari. Apabila itu dilakukan, semuanya akan pulih seperti biasa.

Namun, dalam kondisi manic, tidur 6 jam itu terasa seperti siksaan. Dia lebih suka tetap beraktivitas di malam hari karena itu membuatnya merasa tetap berguna. Maka, perjuangan untuk mengembalikan ritme hidupnya menjadi seperti semula itupun menjadi tantangan tersendiri. Namun, setelah itu semua teratasi, Avisha kembali bisa beraktivitas seperti semula.

Aviasha beruntung memiliki partner hidup seperti Bagas suaminya yang paham dan mengerti kondisinya. Konseling pada dokter dilakukan dengan fokus utama memulihkan kembali kondisi Avisha. Pada awal masa terapi itu, Avisha  benar-benar hanya fokus pada dirinya. Kebiasaan menulis jurnal  harian menjadi satu hal positif yang didorong dokternya untuk terus dilakukan.

Saat mereka bertemu di kelas Prof HMA, kondisi Avisha sudah pulih sepenuhnya. Tak ada yang terlihat aneh dari keseluruhan interaksi mereka. Tapi di dalam dirinya, Avisha tahu persis bahwa dia akan bersama bipolar disorder itu di sepanjang usianya. Dia hanya harus tahu kapan harus berhenti saat serangan manic itu datang, dan bagaimana memotivasi dan memaksa diri untuk tetap bergerak saat depresi yang melanda.

Saat depresi datang, Avisha benar-benar tidak bisa beraktivitas normal. Lemas, malas, gloomy dan merasa dirinya kurang bermanfaat. Merasa lemah dan tidak bisa memberikan kontribusi. Bahkan kadang-kadang tiba-tiba menangis sedih tanpa alasan yang jelas. Dari sesi konselingnya Avisha didorong untuk menemukan apa saja yang membuat moodnya menjadi lebih meningkat. Dokter memberi contoh, saat beliau merasa gloommy, makan enak dan mengkonsumsi kopi atau coklat bisa meningkatkan moodnya. Sesederhana itu tapi tidak akan bisa diketahui jika Avisha tidak speak up pada dokternya.

 

 

Mulai Terbentuk Ekosistem Filantropi

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 24

Jumlah Kata   574

Sarkat Jadi Buku

 

-###-

Resepsi pernikahan mereka tidak banyak dihadiri kolega.  Hanya dihadiri beberapa keluarga dekat. Namun bagi Medina terasa sebagai sebuah kemewahan. Orang-orang penting dalam hidupnya datang untuk memberikan doa atas pernikahan mereka. Pandemi telah mengubah semua jenis pertemuan menjadi acara yang berbeda. Termasuk acara resepsi pernikahan ini.

Dilaksanakan pada hari Ahad. Dua hari setelah akad nikah yang juga sederhana  di kediaman  Mami. Mas Bondan menjadi wali nikahnya. Semua terharu. Mami merasa sudah tuntas mengantarkan semua anaknya ke jenjang pernikahan, setelah ayah mereka wafat di usia yang masih sangat muda. Saat itu Medina baru berumur dua tahun sementara mas Bondan kelas 1 SMP.

               Menu makanan yang disajikan unik sekali. Pilihan Ibu Adri yang sekarang minta dipanggil mama oleh Medina. Kecintaannya terhadap Indonesia membuatnya memilih menu khas yang disajikan salah satu catering dari Klaten. Mereka terbiasa melayani pernikahan-pernikahan keluarga ningrat.

Hidangan utamanya berupa tumpeng mini yang tersaji dengan semua pelengkapnya. Dialasi daun di atas nampan. Mungil tapi lengkap. Senada dengan mereka. Sekelompok  peneliti muda yang masih terus memperbaiki diri. Mereka satu tapi beraneka ragam, dan dalam keragaman mereka masing-masing menemukan cinta.

Stefi dan Reza menjadi fulltimer di grup mereka, yang akhirnya jadi foundation. Avisha meneruskan yayasannya sambil terus menjadi relawan  untuk membuka hubungan-hubungan baru dengan berbagai perusahaan yang semakin beraneka ragam. Medina menjadi istri sekaligus partner Hugo di GPT Foundation, menjadi sahabat ibu Adriana mamanya Hugo, menjadi ibu bagi Agge.

“Hai, Masayu videocall nih.”seru Mutia sambil menyodorkan gadgetnya ke arah Hugo dan Medina. Masayu tidak bisa hadir karena sudah di Salzburg. Mengikuti suaminya. 

 “Halo hola..., Assalamu’alaikum...Masayallah”serunya ceria ketika di layar terlihat wajah kedua rekan karibnya. Hampir dua tahun mereka bersama-sama. Semua itu membentuk persahabatan yang erat.

Mutia memutuskan untuk kembali ke  RS  dan perjuangannya terbayar,  direktur baru di RS nya sangat mendukung upayanya dan bahkan membentuk tim filantropi. Mutia menjadi Chief Of Knowledge officer bagi tim tersebut. Melakukan peran-peran manajemen knowledge dalam hal manajemen filantropi di RS. Membangun kultur berbagi dan bersinergi dalam setiap anggota tim yang terdiri dari berbagai peran. Ada peran manajer rumah tangga, ada peran humas, ada peran IT dan  peran relawan. Semua itu menjadi budaya baru. Ilmu lama yang dikemas kembali dan disistemkan untuk memberi kemanfaatan yang lebih luas di masa yang akan datang. Saatnya anak-anak muda bantu Indonesia.

 

***0***

“Pembicaraan mengenai filantropi akan selalu jadi catatan  yang menarik untuk Indonesia. Tahun ini, lagi-lagi Indonesia menempati tempat di posisi World Giving Index.”ujar Hugo sambil menyodorkan jurnal yang baru saja dibacanya.                                                                                                                                                                                                                                                      Medina mengangguk. Matanya menelusuri kalimat demi kalimat yang mengkonfirmasi pernyataan suaminya.   

Benaknya menarik memori mengenai manuskrip yang memuat tentang laporan yang membahas mengenai sejumlah sumbangan dari para istri juragan batik untuk pembiayaan pendirian sebuah RS  di Lumajang. Itu  pasti berhubungan erat dengan manuskrip lain mengenai peran sipil dalam bela negara. Indonesia benar-benar bertumbuh dalam budaya gotong royong yang amat kental. Buku Filantropi Islam tulisan Ibu DR. Amelia Fauzia banyak mewarnai pemahamannya. Fakta sejarah mengenai filantropisme tumpah ruah di buku yang semula adalah disertasi beliau itu.   

Perkembangan dari prototype mereka benar-benar pesat. Apalagi ketika pusat studi akhirnya melaunching sebuah platform digital yang  mempertemukan donors atau grant makingintermediearry dan implementator. Beberapa grant making menemukan partner-partner implementator terpercaya di platform ini. Berbagai bukti lapangan ditengarai menjadi catatan evidence. Itu mempermudah mereka karena tidak perlu lagi melaksanakan kegiatan sampai ke ujung. Bagi mereka kemurahan hati itu terletak pada sistem yang mengatur agar perusahaan selalu rutin mengirimkan yang 2.5% kepada mereka yang membutuhkan. Itu bisa dilaksanakan melalui intermedier dan implementator yang terpercaya karena kolaborasi  mereka selama ini.

Bersama Menjadi Kokoh

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 25

Jumlah Kata   619

Sarkat Jadi Buku

 

“Oh ya, kemarin Om Pieter menelponku. Beliau memastikan bahwa dana DP Foundation sudah masuk dan teralokasi. Itu hampir 400 M. Kau tidak keberatan kalo dari dana itu aku membeli beberapa unit helikopter untuk dipakai sebagai armada angkutan bagi pasien-pasien dari pedalaman yang membutuhkan tindakan sectio cesaria?”tanya Medina.

“OK. Itu tidak masalah buatku. Tapi bukannya akan lebih baik kalo membangun beberapa fasilitas layanan tambahan di Puskesmas dalam radius tertentu?”tanya Hugo.

“Itu akan berarti kita butuh melalukan task shifting dengan menempatkan para residen di posisi-posisi itu. Ini akan jauh lebih mahal dari operasional beberapa heli yang bekerja sama dengan jejaring  AGD 118. Kita hadir bukan untuk menghilangkan peran mereka, kita melengkapi saja apa yang belum mereka lakukan.’”sergah Medina. Hugo hanya mengangkat bahu. Dia mengakui kalau dalam urusan konsep besar, Medina memang lebih menguasai. Itu karena Medina memiliki otak kanan yang sangat aktif. Penghayal.

“Terserah saja kalau begitu.”  

Medina mengangguk puas.

Dia akan segera melaporkan progress report dari pembicaraan ini pada kak Avisha. Granada Aviation pasti sangat terbuka menerima beberapa armada tambahan untuk mereka kelola. Selain  hal ini dapat menambah jalur baru pelayanan mereka, Granada Aviation akan memberikan kontribusi yang lebih besar untuk pengembangan fasilitas kesehatan untuk Daerah T3.

“Tapi Hon, katamu jejaring PTM nya om Collin sudah siap dengan beasiswa untuk  PPDS itu. Mereka katanya kerjasama dengan ARSAMU untuk bikin  base hospitals. Jika itu berlangsung lancar, dua tiga tahun lagi kita bakalan memanen banyak dokter spesialis untuk ditempatkan di Puskesmas atau Balai Kesehatan yang kamu maksud.”tanya Medina lagi.

“Iya memang. Jadi, ini sudah masuk ke skema disertasinya Om Hilman. Mereka semua adalah ekosistem yang sudah dipersiapkan sejak sekitar 8 tahun lalu. Kamu nangkep gambaran besarnya kan?”jawab suaminya. Dia paham betul kelebihan dan kekurangan istrinya versi Stifin Test. Medina type Intuiting Introvert yang selalu tertarik untuk belajar lebih intens jika diberikan gambaran besarnya. Obsesinya untuk mengumpulkan para sepupu dalam sebuah sinergisitas besar perguliran dana filantropi sebesar 210 trilyun itu. 

“Oke lah kalo begitu. Tolong besok kabari mb Pritha ya, pastikan fornas IX Filantropi Kesehatan  ini bakalan jadi reuni keluarga besar kakek. Masyaallah, aku gak nyangka banget akhirnya Allah SWT kabulkan semua yang nenek buyut tulis di manuskripnya. Mengenai cucu nabi yang murah hati. Makasih ya Hon...”bisiknya sendu. 

              

SUDUT PANDANG MEDINA 

               Pada akhirnya mari mentertawakan diri sendiri. Saya emosional. Sumbu pendek. Gak mau kalah. Petarung. Saat-saat tertentu menjadi insyaf dan berdamai dengan taqdir, tapi tak jarang masih juga sumbu pendek. Mungkin karena karakter, tapi karakter bisa diubah bisa dilatih.

Perjalanan prosesnya yang memang harus dinikmati. Kata Ustadz, saat bertemu dengan perbedaan pendapat, tersenyum saja dulu. Tersenyum akan membuat proses berikutnya menjadi lebih mudah. Bukankah pada ulama pun harus melewati 30 tahun belajar Adab sebelum mendalami ilmu. Umur saya kini  bahkan masih 23 tahun. Masih ada banyak waktu untuk belajar.     Tidak ada yang boleh kalah salah satu. Kita diberikan karakter  yang berbeda memang untuk saling melengkapi. Dan saya pada akhirnya taubat, tidak menyalahkan perbedaan karakter lagi. Justru karena karakter kami yang berbeda itu, kami sampai di titik ini bersama-sama. Saya mungkin tidak akan pernah beranjak dari impian idealita saya jika tidak tertantang untuk menjawab perbedaan pendapat di antara kami.

               Kami memang belum selesai. Ini baru permulaan. Namun kami meyakini bahwa kami akan bisa melewati tantangan demi tantangan. Menyatukan semua potensi yang tersedia. Ekosistem yang baru saja terbangun ini juga tantangan yang sangat besar.

               Kita pernah melewati masa sulit. Dan Allah SWT bahkan menjanjikan akan ada ujian untuk setiap iman yang sudah tertancap kokoh. Keimanan ini mengenai bahwa potensi ini bisa disatukan, tentu saja tantangan itu akan muncul dalam bentuk friksi yang menggoda untuk saling meninggalkan. Namun kita saling melengkapi. Bersama-sama kita menjadi kokoh. Siap untuk melakukan perjalanan yang panjang dan lama. Ke tempat yang jauh. Sangat jauh. Tempat di mana kesyukuran adalah ukuran keberkahan.

 

Membangun Bisnis Filantropi

0 0

 

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 26

Jumlah Kata   517

Sarkat Jadi Buku

 

 

Mewujudkan impian membangun bisnis filantropi

Stefi menerima berkas yang baru saja diserahkan Aulia ke mejanya. Berkas draft legal yang harus segera dimintakan approval oleh para pihak. Mereka akhirnya melegalkannya dalam bentuk foundation. Yayasan.

Organ yayasan ini yang terdiri dari pembina (ketua), pengurus dan pengawas kesemuanya adalah sepupu-sepupu jauhnya. Sebagai satu-satunya sarjana hukum dalam grup kecil penelitian ini, Stefi didaulat menjadi pengawas. Tugasnya memberi masukan atau nasihat hukum kepada pengurus tentang kegiatan yayasan.

“Stef, kamu jadi mau join Medina ke Leiden ya?”tanya mbak Sary ketika melewati mejanya. Stefi mendongak dari berkasnya. Lalu mengangguk.

“Iya mbak, ada subsidi kah untuk akomodasinya?”tanyanya. Kemarin Prof HMA sudah menyebutkan kalo proposalnya sudah mendapat approval. Mereka akan pergi dengan akomodasi sebagai peneliti tapi tentu saja seperti biasa, dana nya tidak akan turun tepat waktu sebelum keberangkatan mereka.

“Iya, nanti  tiket dan hotelnya biar disiapkan. Kamu siapkan memo untuk keseluruhan TOR risetmu sendiri ya. Patikan saja semua komponen sudah kamu masukkan.”ujar beliau sambil berlalu. Stefi mengiyakan.

Akhirnya proses panjang ini satu per satu mulai terwujud hasilnya. Riset itu membuat mereka semua setengah mabuk. Tidak mudah menyatukan semua komponen itu dalam satu tungku yang sama.

Otak dan latar belakang pendidikan yang berbeda tak jarang membuat mereka harus berdiskusi seru kalau tak bisa disebut bertengkar. Tidak sekali dua kali semua proses itu membuatnya lelah secara hati. Mengapa mereka semua tak selalu paham apa yang Stefi maksudkan.

Seperti siang ini,  untuk sekedar urusan pembuatan flyer untuk publikasi media. Mereka harus adu argumen dengan sangat panjang. Harusnya cukup Stefi saja yang melakukan approval atas flyer yang dibuat oleh Hanan. Masalahnya materi dari konten itu belum ditetapkan, dan Stefi berusaha  proaktif dengan membuat terlebih dahulu materi flyer.

Namun, agak siang sedikit kak Tania memveto. Dia merasa flyer itu tidak perlu dipublikasi karena kali ini kebijakan kantor mereka berbeda dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah. Stefi sudah berusaha menjelaskan bahwa tidak ada salahnya mereka berbeda. Toh ini bukan pertama kalinya juga mereka  berbeda.

Bukan bermaksud melanggar aturan tapi kan ada saat-saat tertentu kebijakan pemerintah tidak harus disikapi dengan persis apa adanya. Mereka kan instansi swasta, tentu beberapa penyesuaian akan dimaklumi. Dan hal-hal semacam itu seringkali membuat Stefi lelah secara hati.

Riak-riak semacam itu tidak pernah benar-benar berhenti. Tapi syukurlah, setelah sekian waktu mereka sampai pada satu kesimpulan untuk sepakat  tidak sepakat. Mereka harus saling menahan diri. Yang penting akhirnya,  meski belum sempurna, projek prestisius nya Prof HMA ini jadi. Untuk pertama kalinya semua ekosistem filantropi kesehatan terbangun. Sejak hulu hingga hilir.

Stefi masih tercenung dengan kenangan ketika tiba-tiba telepon di ruangnya berdering.

“Assalamu’alaikum dengan Stefi, ada yang bisa dibantu?”

“Stef, draft proposal Sekolah Manajemen Filantropi sudah turun disposisi. Prof mengijinkan kita mulai membuka sekolah ini semester ini.”suara Reza di sebelah setelah menjawab salamnya.

“Seriusan Za?, berarti konsepnya sudah beneran disetujui? Cuma , dalam situasi pandemi gini berarti draft kedua yang bisa kita lanjutin? Yang online ya?”tanya Stefi antusias.

“Iya. Yang online. Selain beberapa webinar kita bakalan harus menyiapkan seranngkaian kurikulum juga.  Dan ini yang diambil format non formal. Jadi gak bakalan waktu lama. Kira-kira 5 pertemuan lah.”

“Oke. Paham. Berarti kita bakalan reuni nih ya kalo pematerinya adalah anak-anak tumpeng cinta?”

Action Research

0 0

 

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 27

Jumlah Kata   511

Sarkat Jadi Buku

 

Reza tertawa. Istilah Tumpeng Cinta itu mereka peroleh pasca acara pernikahan Hugo Medina. Mereka terkejut dengan hidangan yang disajikan oleh ibu Adriana. Tumpeng lengkap dengan seluruh filosofi yang diperbaharui. Makanan lama, dengan makna baru. Tak hanya tradisi tapi juga mengubah pakem. Tumpeng cinta mini itu menjadi hidangan One Dish Meal yang modern. 

“Betul-betul. Kita sampaikan di grup saja. Aku yakin mereka akan antusias menyambut projek ini. Akhirnya bakalan ada satu forum yang mewadahi secara ilmiah ide-ide yang mungkin dulu dianggap absurb dan tidak masuk akal. Atau setidaknya  bisa disebut ide out of the box. Cuma, PR berikutnya adalah bagaiamana menemukan  adik-adik yang bisa diracuni dengan ide ini. Saatnya anak muda bantu Indonesia.”sahut Reza panjang lebar.

“Tepat sekali. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lampu hemat energi atau LED.”celetuk Stefi. Reza tertawa. 

“Jangan lupa rumusnya. Kolaborasi sama yang sudah punya nama dan sudah biasa berbagi. Ada mata kuliah  inti yang harus serius disampaikan  : memberi dulu baru menerima, nyumbang tulisan-berbagi tulisan, bikin proposal : memberi kesempatan.”

“Wokey.., ditunggu kabar baik berikutnya ya..”

“Siap. Assalamu’alaikum.”

 

Sudut Pandang Mutia

               Pagi ini aku kembali membuka file konsep action research mengenai pembentukan  gugus tugas filantropi. File yang sengaja kudiamkan selama beberapa bulan karena aku hampir frustasi. Aku merasa kehilangan semangat untuk melanjutkan segala antusiasme ini. Aku menyederhanakan konsep tesisku dan meninggalkan konsep awal yang semula aku fikir bisa diselesaikan melalui tesisku.

               Kini, kulihat lagi draft berisi segala konsep yang pernah muncul di kepala dan kutuangkan begitu saja dalam bentuk tulisan. Ada benang merah besar mengenai perlunya manajemen filantropi di RS. Namun, aku kesulitan memformulasikannya dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami.  Namun hari ini mau tidak mau aku harus kembali menantang ideku sendiri. Rapat manajer siang tadi menjadi pemicunya. Rapat  Rencana Kerja Anggaran yang ternyata menyinggung ide out of the box yang pernah  diajukannya.

               “Barangkali ada ide pengembangan yang berkontribusi terhadap rencana pendapatan rumah sakit dalam jangka panjang yang bisa diusulkan?”

               Aku hampir yakin bahwa sebagai direktur baru, beliau belum pernah membaca draft yang pernah kususun. Aku merasa enggan melanjutkan konsep yang pernah kuusulkan. Jadi aku diam saja. Aku lebih berpikir untuk main aman.

               “Mutia? Saya dengar anda pernah punya konsep Out of the Box mengenai pemasaran rumah sakit?” tanya beliau tiba-tiba. Sembilan pasang mata tertuju ke arahku. Aku menelan ludah dengan berat. Bagaimana bisa beliau tahu?

               “Eeh..., iya dok. Dulu. Pernah saya ajukan konsep mengenai hal ini. Tapi, waktu itu belum  disetujui...” ujarku lambat-lambat. Aku tak hendak menyalahkan siapapun. Aku sendiri saja kembali mempertanyakan ide itu. Aku masih yakin dengan ide dasarnya, tapi aku juga melihat bahwa  realisasinya membutuhkan usaha yang sangat besar. Mungkin juga baru bisa terwujud dalam jangka panjang.

               “Apa konsep dasarnya?” tanya dr Juno.

               Duh..

               “Iya dok. Intinya, membangun jejaring relawan pemerhati kesehatan. Membuka kesempatan pada semua  orang untuk berkontribusi dalam menemukan  dan memfasilitasi si sakit untuk menemukan pelayanan  yang tepat untuknya.”

               Beliau masih terdiam mendengarkan. Saat aku tak juga melanjutkan ucapanku, beliau kemudian bertanya.

               “Lalu?”

               “Out of The Boxnya adalah : Kita memfasilitasi kegiatan para relawan itu dok.”

               “Kita?”

               “Iya. Menggunakan sumber daya dan dana yang tersedia.”

               “Apa keuntungannya untuk kita?”

                

              

 

Riset Multi Years

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 28

Jumlah Kata   621

Sarkat Jadi Buku

 

“Dari sudut pandang pemberi layanan, kita akan memiliki akses terbesar calon customer sebab jejaring ini akan tidak terbatas. Berbeda dengan pemasaran yang dilakukan konvensional oleh karyawan dan mitra, relawan akan melaksanakan tugas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Jumlah relawan bisa terus berkembang dari waktu ke waktu sebab lingkaran kepedulian yang kita bangun. Sistem besar kepedulian mengenai kesehatan dan cara mengaksesnya. Kita menjadi semacam TPA  tapi dari sudut sebagai fasilitator relawan. Sisi out of the box nya adalah, kita tidak hanya berpikir hanya untuk RS kita sendiri. Jejaring ini akan menjadi database besar pelayanan kesehatan bagi tiap daerah. Melengkapi skema pelayanan yang sudah ada dok. Demikian.”

               Suasana aula menjadi hening sejenak.

               “Oke. Konsep itu bisa dimengerti tapi tentunya ada tahapan yang sudah disiapkan ya?” tanya dr Juno beberapa saat kemudian. Aku tahu, sama denganku beliau pasti berpikir bahwa realisasinya tidak akan langsung jadi. Konsep ini masih butuh waktu untuk terealisasi tapi semua harus tetap dimulai.

               “Ya dok. Tahapan awalnya adalah membangun data base donor. Kita bisa memulai dengan memberikan penawaran untuk membangun satu unit layanan. Kontribusi awal itu akan menjadi pintu masuk bagi terbangunnya sistem relawan ini dalam jangka panjang. Ide ini yang dulu pernah saya ajukan tapi belum disetujui dok.”  terangku.  

               “Penawaran membangun unit layanan?”

               “Ya dok. Kita merencanakan satu unit pelayanan yang terpisah dari pelayanan konvensional. Misalnya unit ini disebut ruang rawat inap khusus dhuafa ataupun khusus  geriatri. Wujud pemuliaan terhadap senior atau sebagai dhuafa. Unit ini kita  “jual” sebagai unit yang bisa dibiayai oleh masyarakat umum atau para donatur. Dengan membiayai operasional satu unit kamar tertentu, keluarga donatur tersebut memiliki hak untuk memberi nama keluarga terhadap kamar tersebut. Kita akan memberi laporan secara berkala terhadap donatur mengenai bagaimana pengelolaan di dalamnya.”

Kening beliau berkerut tapi beliau mengangguk.

               “Saya kira ide tersebut layak untuk dikembangkan. Tapi mungkin tidak akan selesai dalam satu tahapan RKA ya?”

Beliau mengamati satu persatu wajah para manajer lain di aula. Beberapa mengangguk sepakat.

“Iya dok, ini menarik tapi butuh waktu untuk  merealisasikan.” Sahut ibu Trisia, wakil direktur umum dan keuangan. Dr Juno mengangguk.

“Ini bisa menjadi  program jangka menengah atau bisa jadi bahkan jangka panjang. Tapi tetap harus dimulai  karena menurut saya itu cukup masuk akal. Saya minta agar Mutia bisa  tetap memastikan agar bisa memulai realisasi ide ini. Mutia bisa memerankan sebagai Chief Knowledge Officer dalam gugus tugas yang dibentuk nantinya.”

               Aku mengangguk. Teringat nasihat kak Avisha tempo hari. Ide  ini sangat mungkin  akan terwujud tapi aku mungkin harus mengawalnya melalui riset multi years. Mereka butuh waktu untuk memahami dan kemudian mendukung ideku. Aku yang harus sedikit lebih bersabar dan lagi-lagi menantang ideku sendiri. Bersama ide sendiri yang ditantang untuk diperbaiki dari waktu ke waktu inilah aku bertumbuh. Allah SWT selalu tahu yang terbaik.

               “Dan satu lagi dok. Ini ada celah besar yang belum tentu terjawab.” ujarku sebelum kami lebih lanjut berganti topik. Pernyataanku ditunggu oleh semua yang hadir. Diam-diam, dadaku juga berdebar sangat kencang. Ada resiko besar ketika aku mengucapkan ini. Bisa jadi dukungan akan surut ketika aku mengucapkan hal ini.

               “Ya?”

               “Pemilik atau  dewan pengawas pasti butuh waktu juga untuk bisa memahami konsep ini. Bisa diijinkan, bisa pula tidak.” terangku perlahan.

               Beliau tersenyum mengangguk.

               “Itu yang harus ditanyakan pada saat nanti kita melaksanakan rapat berikutnya. Silahkan terus diadvokasi. Saya juga tidak bisa menjanjikan akan seperti apa pendapat beliau-beliau, tapi sejauh yang kita tahu, manajemen filantropi ini adalah salah satu peluang pendanaan bagi RS. Kita bisa menjadi yang pertama memanfaatkan peluang ini atau menjadi follower  saat ada yang  lebih dulu mengambil kesempatan emas ini.”

               Ucapan itu terdengar datar sebenarnya. Sama sekali tidak menjanjikan. Namun entah mengapa, aku merasa bahwa itu adalah bentuk support yang luar biasa besar. Aku sadar sebagai sesuatu  yang baru konsep ini masih harus terus diadvokasi. Jalan benar-benar masih panjang.

 

Meraih Kurva Sukses Berikutnya

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 29

Jumlah Kata   679

Sarkat Jadi Buku

 

 

***0

 Sudut Pandang Avisha

Belajar manajemen filantropi adalah belajar meramu. Memanaje pengetahuan yang ada, mengkombinasikan sudut-sudut yang bisa dikolaborasikan dan  untuk mempersembahkan sesuatu yang berbeda. Menyederhanakan kerumitan menjadi salah satu yang mudah.

Belajar manajemen filantropi adalah belajar mencintai itu sendiri. Bagaimana memberi kesempatan bagi orang lain untuk merasakan cinta. Cinta kepada sesama manusia. Ini yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh robot manapun. Teknologi boleh berkembang dengan sangat liar. Tindakan yang dilakukan profesi dokter atau perawat bisa saja digantikan oleh teknologi 4.0, atificial intelligance atau apapun sebutannya, tapi cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang berbeda. Dia menjadi pembeda dan nilai tambah bagi kemanusiaan seorang manusia. Apapun profesinya.

Keyakinan mengenai hal itu yang terus mengobarkan semangatku. Rangkaian proses menulis  bersama tim penelitian Prof HMA memberiku banyak pelajaran. Bahwa ternyata ada sebutan untuk sebuah kegiatan yang selama ini aku lakukan. Ada nama lain dari sebuah kegiatan meramu kasih sayang seperti yang selama ini aku lakukan.

Bersama dengan para peneliti yang jauh lebih muda dariku membuatku banyak belajar. Pelajaran yang terpenting adalah mengenai fokus. Fokus  bukan berarti hanya ada satu kegiatan saja yang harus diselesaikan. Fokus bisa berarti menekuni banyak hal dan semuanya tetap dilakukan denga fokus.

Fokusku hari ini adalah kembali ke habitatku. Melakukan pendampingan demi pendampingan untuk proyek-proyek pemberdayaan. Yang terkini adalah pemberdayaan  terhadap para senior. Baik senior secara keilmuwan maupun senior dalam sisi usia. Bentuk penghormatanku adalah dengan memberikan ruang untuk tetap beraktivitas bagi beliau-beliau. Menjadi mentor bagi para junior.

               Memberi kesempatan menjadi juri, menjadi reviewer, menjadi tokoh sentral dari sebuah kegiatan besar bernama filantropi kesehatan. Itu hanya nama yang berbeda dari sebuah kegiatan pemberdayaan fii sabilillah. Nama sebuah ashnaf dari 8 ashnaf yang berhak menerima zakat. Fii sabilillah dan amil adalah orang-orang kaya yang layak dan boleh menerima zakat sedangkan mereka sendiripun secara sadar telah memilih menjadi pejuang. Amil adalah pejuang di bidang pengelolaan zakat, dan kini satu ashnaf yang sedang kami bawa menjadi pejuang ilmu di bidang pengelolaan zakat. Amati sedikit bedanya. Pejuang dan pejuang ilmu.

               Ilmu akan meninggikan beberapa derajat lebih tinggi bagi pencarinya. 

Kulihat chat wa grup relawan akreditasi rumah sakit itu sudah berisi ratusan chat. Hampir setiap hari seperti itu.

               Berawal dari sebuah keisengan menawarkan ide menulis bersama di sebuah grup. Sangat acak sih, tapi tidak salahnya mencoba.  Ide itu muncul begitu saja dan tiba-tiba. Aku hanya perlu merasa perlu memelihara tekad dan semangatku  untuk menulis, sekaligus memberi ruang bagi para senior untuk menuangkan pengalaman mereka selama membangun tim.

               Keisengan yang semoga bermanfaat. Dari grup itu pula pada akhirnya muncul sebuah antologi. Tulisan semacam Chicken Soup of The Soul. Berisi tulisan ringan para senior yang ingin berbagi cerita pada para juniornya. Mengenai bagaimana mereka membangun tim, mengenai bagaimana mereka berproses dalam transformasi, mengenai berkomunikasi dalam tim, dst.

               Sebuah tulisan “pengakuan” jujur mengenai bagaimana sebenarnya hati ingin berkontribusi dan ternyata ada kendala-kendala yang harus dihadapi. Atau sekedar bercerita mengenai proses memulai untuk menjadi lebih berani dan bertanggung jawab atas ide yang sudah dilontarkan. Hal-hal semacam itu.

               “Kak,  jadwal zoom pekan ini ya.”  ujar Nania sambil meletakkan kertas ke atas meja.  Anak itu adalah mahasiswa yang tadinya magang di kantor, namun sejak bulan April lalu resmi menjadi staf. Aku mengamati sejumlah zoomyang harus aku pandu di bulan ini. Sejumlah 8 zoom sekaligus. Sepekan dua kali. Tiap Rabu dan Jumat.

               “Ok. Terima kasih Nia. Hari ini jadwal kita berkunjung ke mana saja ya?” tanyaku sebelum Nania beranjak.

               “Kemarin kakak minta diingatkan  ada agenda reuni di kelas Senampan Tumpeng katanya. Ada persiapan kelas Sekolah Manajemen Filantropi ya kak?, Jadi mau dibantuin bikin naskah PPT nya kah?” tawar Nania.

               “Oh iya.., betul. Kita kebagian berapa kali pertemuan ya?”

               “Dua kak.  Topiknya mengenai Memulai Rekrutmen Relawan dan Menguatkan Posisi Tawar Relawan. Benar kan?”

               Aku mengangguk.

               Memang dari sanalah semua ini  bisa dimulai. Setiap manajemen filantropi pasti membutuhkan relawan. Hanya relawan yang bisa mengerjakan hal-hal tidak masuk akal seperti itu. Tidak masuk akal  karena selalu memiliki porsi waktu yang jauh lebih banyak dari yang  seharusnya. Barangkali di situlah letak kebarokahan waktu. Hingga saat ini aku masih belum merasa menjadi relawan sejati. Aku selalu kagum mengenai bagaimana para relawan memanaje waktu.

 

Epilog yang Bukan Akhir Cerita

0 0

Sarapan Kata

KMO Club Batch 37

Kelompok 14 Map Of The Soul

Day 30

Jumlah Kata   632

Sarkat Jadi Buku

 

Sudut Pandang Medina :

               “Din, hari ini mama jemput ya. Kamu ada di rumah kan sekitar jam 10?” suara Mama di telepon pagi itu setelah kuucap salam.

               “Iya Ma.  Hanya Senin saja ke kantor.” Jawabku. “Memang hari ini Mama ada acara ke mana?”

               “Mama mau kenalin kamu sama bu Amara.  Kemarin  sempat ketemu di JEC. Beliau tertarik sama projekmu  yang di Kalimantan itu. Beliau punya akses ke ribuan buku untuk disumbangkan jika ada pengelola yang mau menangani. Mama fikir, relawan kalian yang di sana tidak keberatan kan?”

               “Oh baik Ma. Tentu saja tidak akan keberatan. Justru nanti insyaallah akan bisa menjadi satu lagi tambahan agenda yang bisa dikembangkan. Melengkapi apa yang ada.”

               Dan begitulaha har-hariku akhir-akhir ini. Seringkali tiba-tiba Mama menceritakan mengenai aktivitas GCC dan GPT pada kenalan dan rekannnya. Tanpa terasa aku menjadi teman mama dan bergaul dengan sosialita. Tak seperti yang kupikir sebelumnya mengenai mereka, ternyata sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sederhana. Memikirkan kesejahteraan orang lain dari waktu ke waktu. Hugo sering meledekku untuk hal ini.

               “Serius kamu  bisa menikmati bergaul dengan teman-teman Mama?”

               “Ini bukan mengenai sekedar bergaul, ini mengenai bagaimana menyalurkan derma ke tempat yang tepat.” Elakku. Hugo terbahak.

               “Kalo ada yang bilang kamu opportunis, apa pendapatmu?” tanyaya.

               Aku tertawa. Teringat kata-kata tante Lyla bertahun-tahun lalu. Ketika tuduhan penyelundup dunia kesehatan disematkan kepadanya.

“Aku yang tahu bagaimana aku. Yang aku tahu, aku menjalankan peranku sebagai istri dari Hugo, ibu dari Agge dan menantu keluarga Dewantara. Aku melalukan yang terbaik yang aku bisa. Dan dijiwaku aku tetaplah seorang pembelajar manajemen filantropi yang romantis. Aku rasa aku sudah membuktikan pada diriku sendiri bahwa hobbyku  bisa menjadi inspirasi untuk diriku sendiri. Boleh kan seperti itu?” tanyaku.

Hugo tersenyum.

 

Epilog  :

Sebagai  salah satu One Dish Meal asli Indonesia, tumpeng telah mengalami aneka metamorfosa. Menjelma berbagai filosofi  sepanjang penyajiannya. Di manapun mereka berada, hampir selalu bermakna  pengharapan di dalamnya.

Tumpeng tak selalu nasi putih atau kuning. Boleh juga ungu/merah atau bahkan tidak berbahan utama nasi. Belakangan ketan, thiwul dan talam juga bisa berwujud tumpeng. Satu hal yang pasti, saat tumpeng dibuat maka ada satu hal istimewa yang sedang terjadi. Baik pada mereka  yang memegang tradisi tertentu, maupun yang sekedar alasan kepraktisan ingin membuat sesuatu terasa beda dari biasa.

Di mana ada tumpeng, hampir ada selalu ada doa dan cinta. Di dalam sajian tumpeng pula, kita biasa melihat kombinasi dari berbagai jenis unsur pembentuknya. Yang paling lazim : ada nasi, lauk hewani (bisa ayam, abon, telur, bahkan ikan asin),  lauk nabati (tahu, tempe, kering tempe, kering tempe kentang), Sayur (wortel,sayur urap, timun) dan buah biasanya sebagai pelengkap.

Untuk menjadi tumpeng, nasi tidak akan berdiri sendiri, demikian pula lauk atau sayur. Mereka baru disebut sebagai tumpeng ketika tampil secara bersama. Saling menguatkan sebagai satu tim yang solid. Hadirnya pun terdorong karena ada harapan dan doa.

Quotes Nasi

Nasi adalah bahan baku utama untuk sumber energi. Seperti engkau dalam hidupku. Hadir menjadi yang utama.

 

Lauk Hewani

Komponen vital sumber protein. Dibutuhkan dalam jumlah tertentu, tak sebanyak nasi tapi dia esensial. Seperti kamu, meski jarang komen tapi kamu penting.

Lauk Nabati.

Lazimnya ekonomis, tapi kualitasnya setara dengan lauk hewani. Seperti kamu, biasa saja tapi dirindukan hadirnya.

 

Sayur

Sumber utama vitamin, mineral dan serat. Kehadirannya akan melancarkan pencernaan. Seperti kamu, kelancaran semua proses ini jadi beda tanpa hadirmu.

 Air Putih

Manusia membutuhkan air untuk bertahan hidup karena semua proses metabolisme melibatkan air. Seperti kamu, keterlibatan adalah nama lain dari semua bantuan yang diberikan saat diperlukan.

 

Nampan

Alat yang diperlukan agar semua makanan bisa tersaji sempurna. Kesempurnaan itu membutuhkan finishing touch, seperti kemampuanmu. 

Tumpeng  adalah simbol kekompakan. Simbol kebersamaan. Simbol harapan dan doa. Sekaligus sebuah  gambaran mengenai bagaimana dalam kebersamaan itu selalu terlihat gambaran yang memiliki peran yang berbeda. Perbedaan itu tercipta karena hidup harus berjalan maju. Berkemajuan dan membebaskan. Seperti itu seharusnya cinta .

 

 

 

              

 

Mungkin saja kamu suka

Nailatul mutmai...
Sebuah Perjalanan
Nurjannah
Taman Bunga
EVI WIDIANTI
BRIAN
Salbiah heremba
Valentine Dunia Akhirat

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil