Loading
3

0

0

Genre : Rumah Tangga
Penulis : Mujiyati
Bab : 3
Pembaca : 0
Nama : Mujiyati
Buku : 1

BE STRONG SINGLE PARENT

Sinopsis

Cerita ini diangkat dari sebuah kisah nyata curahan hati para perempuan pejuang rumah tangga dan akhirnya harus gagal ditengah "janji sucinya".Dibalik senyum lebarnya, ada begitu banyak cerita suka dan duka yang harus dilewati. Kemelut rumah tangga yang harus dihadapi, bertahan dengan semua keadaan yang sili berganti, dan dengan 1001 alasan sabar menghadapi gunjingan banyak orang. Hanya satu hal yang membuat mereka lebih kuat, "yakin!". Ketika sabar dan ikhlas sudah hadir, lalu dengan keyakinan mereka bisa bangkit merubah kesedihan menjadi tatapan masa depan.
Tags :
#keluarga#kasihsayang#perjuangan

Prolog

1 0

Setiap orang memiliki takdir hidup yang berbeda-beda. Namun, semua memiliki harapan yang sama, sama-sama ingin hidup berkecukupan, bahagia, dan memiliki mimpi yang ingin diwujudkan. Tidak ada seorang pun berharap kesengsaran dalam hidupnya, meski kehidupan sesungguhnya sudah diatur oleh sang pemberi nyawa.
                       ????????????????????
"Hidup Itu Pilihan" dimana seorang manusia harus menentukan jalan hidupnya sendiri, seperti seorang anak kecil yang dituntut menjadi dewasa oleh keadaan, anak kecil hanya punya dua pilihan, antara mau menjadi dewasa atau tidak. Setiap pilihan yang diambil akan "berbuah" hasilnya, hasil buah seperti apa yang akan tumbuh, baik atau tidak baik? Semua tergantung pilihan jalan mana yang sudah diambil.

_Seperti Jalan Hidupku_ 
Bermula hanya omong kosong belaka dari mulut seorang gadis cilik yang mempunyai angan, mimpi, dan imajinasi, tidak pernah ada yang mengira sebuah angan menjadi kenyataan. Kini aku baru tersadar, ucapan yang kita ucapkan adalah sebuah "DOA" yang akan didengar Tuhan.

Narsih adalah namaku, usiaku sudah tidak remaja lagi, dulu aku seorang gadis cilik dengan otak yang penuh angan-angan, mimpi, dan imajinasi. Anganku ternyata menjadi sebuah "DOA" untuk hidupku saat ini. Dimana kehidupanku penuh cibiran, dan aku sering merasakan iri hati melihat kebahagiaan orang lain.
 
"Besok kalau aku sudah bisa bekerja, terus langsung nikah muda saja, semoga Allah kasih anak dua perempuan dan laki-laki, kalau nanti anak-anak sudah besar, aku pun masih muda dan kuat untuk membesarkannya." Bisikku dalam hati.

Ternyata Allah mengabulkan semua ucapan dari sebuah angan-anganku di waktu masih menjadi seorang gadis cilik. Tepat usia 17 tahun aku dipinang seorang laki-laki yang begitu aku cintai, sayangnya pernikahan kami tidak direstui. Pertemuan kami memiliki pejalanan cerita seperti sebuah "Drama" ada penonton dan kami menjadi "Lakon" pemeran utama di sebuah drama kehidupan yang nyata.
Tidaklah semua penonton selalu hadir dengan seruan bijak atau bisikan kata dengan ucapan baik, tapi semua kicauan-kicauan yang aku dengar melalui telinga sendiri atau hanya melalui "Katanya" dari sebuah bibir manis tetangga semua aku jadikan penguat hati dan penyemangat jiwa untuk melanjutkan hidup dengan sisa waktu yang ada.
  
 "Cacianmu penyemangat hidupku, semakin kalian menjatuhkanku semakin kuat dan semangat untuk sebuah tekad."

Ketika usia muda aku memutuskan untuk melepas masa lajang, di situlah baru paham dan mengerti arti sebuah hidup yang sesungguhnya. Aku baru sadar! Ternyata beban orang tua begitu berat ketika membesarkanku, memikirkan masalah "ekonomi" sampai memikirkan masa depan seorang bayi baru lahir. Semua benar-benar dipikirkan secara "Matang" meski seorang anak belum tau tentang jalan kehidupan sesungguhnya.
Merengek dan mengeluh ketika apa yang kita mau tidak tercapaikan, nasehat orang tua pun kita abaikan, tanpa kita sadari betapa dalamnya rasa sakit hati yang kita goreskan, air matanya mengalir bercucuran tapi kita biarkan berlalu dengan ego yang ditinggikan. Semua kisah cerita itu, kini aku pun merasakan. Bagaimana beratnya menjalani kehidupan menjadi orang tua sesungguhnya.
                       ????????????????????
_Menikah Muda Menjadi Sebuah Pilihan_
Semua yang aku lakukan adalah pilihan dari diri sendiri Allah lah yang menentukan hasil akhirnya, keinginanku menikah muda terbesit dari ocehan belaka tersuarakan dari bibir manisku saja, ternyata! Ocehanku menjadi sebuah doa. 

  "Jagalah bicaramu karena apa yang terucap dari mulutmu adalah doa untuk dirimu sendiri."

Aku menikah tanpa sebuah restu orang tua, karena alasan perbedaan kasta, aku terlahir dari keluarga sederhana, sedangakan suamiku lahir dari keluarga berada, bodohnya aku bertahan dan melanjutkan pernikahan hanya dengan  landasan cinta saja dan dipernikahanku Allah memberikan kado terindah, aku dikaruniai dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Masyaallah Allah begitu baik kepadaku tidak pernah terbayangkan semua kebahagiaan yang di dapat, seperti jawaban dari sebuah "angan" di masa lalu ternyata Allah masih memiliki rencana amat sangat lebih indah untuku, untuk hidupku! 

Ketika Allah sedikit demi sedikit menunjukan sikap dan sifat asli suamiku, dari tentang keuangan sampai masalah perempuan yang disembunyikan. Aku mencoba diam dengan alasan anak untuk bertahan. Tapi ternyata yang aku lakukan semuanya salah, sampai di tahun pernikahan ke enam, ada sebuah harapakan untuk suatu perubahan, tapi akhirnya Allah berikan jalan keluar sebuah pilihan bertahan tanpa kebahgiaan, atau pergi walau membawa luka yang dalam. Aku pun harus memilih dan memutuskan dengan sebuah jalan perpisahan kegundahan hati tidak bisa dipungkiri, bimbang untuk sebuah keputusan.

 "Mas, aku mau pisah sama suami." Aku berkata kepada kakakku ingin menceritakan apa yang terjadi
 

"Loh! Kenapa?" Kakak menjawab.

 "Intinya aku udah nggak bisa bareng lagi," aku berkata. 

"Terus gimana sama anak-anak?"

"Bismillah, aku pasti akan jaga mereka.

"Ya Sudah, semua keputusan ada di tanganmu, Mas yakin kamu tau jawabannya."

"Ketika hati seorang Istri tidak lagi dihargai, maka disitulah! Kepunahan rasa cinta dan kebahagiaan."

I'm a Single Parent

1 0

Sedih, kecewa, terpuruk, dan putus asa menjadi satu "adonan" yang menghasilakan rasa trauma begitu dalam, ketika runtuhnya rumah tangga menjadi pemicu utama. 

Aku menjadi orang tua tunggal bukan sebuah keinginan, angan, atau harapan, apalagi doa. Semua orang menginginkan hal baik hingga sampai menjadi yang terbaik. Karena aku sangat tau tidaklah mudah melakukan kewajiban seperti halnya seorang ayah terhadap keluarganya, dan saat ini yang aku tau, menjalani hidupku dengan satu tujuan untuk sebuah impian lalu Allah lah yang menyusun perjalanan hidupku dari sebelum aku lahir dan sampai aku melahirkan anugrah dari Allah Ta'ala.

  "Selalu berperasangka baiklah kepada Allah, maka Allah akan berikan jalan hidup yang terbaik untuk kita."

Tapi terkadang pertanyaan demi pertanyaan dari otak pun hadir, membuat siratan tanya jawab.
  "Kenapa! Allah kasih ujian seperti ini kepadaku?" otak berkata.
  "Karena Allah sangat tau, dirimulah yang sanggup menerima ujian ini,"
 kata hati.
  "Tapi nyatanya aku tidak sanggup melewatinya, ujian ini begitu berat untukku, sakit, sedih, kecewa, dan aku menderita ketika melihat orang-orang yang tidak menyukaiku, mereka melihat penderitaanku pasti bahagia." Ujar otak kepada hati.
  
 "Kamu sanggup! dan kamu bisa melewatinya, yakinlah! Allah akan lebih bahagia melihatmu datang dan mengadukan kesedihanmu dengan sujudmu dengan "tangadahan" kedua tanganmu untuk sebuah doa yang kamu panjatkan maka Allah akan memelukmu erat dan berikan sebuah jalan keluar," hati berkata.

 "Allah akan selalu ada ketika kita membutuhkannya, walaupun ketika kita hadir dengan lumuran dosa."

Banyak orang yang mencaci tapi tidak sedikit juga mereka hadir menjadi penyemangat dalam hidupku yang penuh liku, mereka orang-orang baik tau bagaimana rasanya hidup berada di posisiku, sangat-sangatlah tidak mudah. Aku harus berjuang demi sebuah kehidupan menuju 
gerbang kebahagiaan walaupun dengan perjalanan sangat sulit, karena bukan hanya diri sendiri yang harus dipikirkan tapi masih ada si buahhati yang menjadi kunci utama aku ingin bertahan di dunia. 

  "Bagaimana kamu mampu melewati dan bertahan dalam zona kehancuran, dengan penuh cibiran?"

  "Aku selalu berusaha untuk sabar dan ikhlas lalu meyakinkan hati jika apa yang terjadi dalam kehidupanku ini semua atas kehendak Allah, dan aku pun yakin! Aku bisa melewati perjalanan panjang walau jalan penuh lubang, karena Allah selalu berikan kekuatan kepada setiap manusia yang sedang sabar dengan segala ujian."

  "Lantas bagaimana caranya kamu penuhi semua kebutuhan hidupmu dan anak-anakmu?" 

  "Aku tidak memusingkan semua itu, aku punya otak dan tenaga yang kuat untuk bekerja mencari nafkah, dan cukup aku melihat di sekelilingku lalu aku mulai belajar dengan semua kenyataan yang aku lihat."

  "Kenyataan seperti apa yang kamu lihat?"

  "Kenyataan, di mana banyak orang di luar sana sedang menjalani ujian hidup lebih berat daripada yang sedang aku jalani, mereka semua tetap semangat dan kuat, itu yang menghadirkan rasa syukur di dalam hati."

 "Ketika manusia menjadikan rasa syukur menjadi kunci di dalam diri, maka Allah senantiasa berikan besarnya nikmat untuk kita dapat."

Walaupun begitu berat awalnya, aku harus tetap optimis dan selalu semangat untuk menjalani kehidupan yang baru. Walau tanpa seorang "partner" di dalam rumah tangga tapi aku yakin bisa. Walaupun, kalau boleh jujur... Kehidupan ini sangat-sangatlah berat karena sudah terbiasa bersama partner hidup dalam satu atap dan kini hanya kenangan luka yang tersirat.

  "Ya Allah! Kuatkanlah hatiku dan teguhkanlah imanku ya Allah. Jangan engkau pergi meninggalkanku walaupun terkadang aku hanya ingat kepadamu ketika aku tak berdaya."

Terkadang terbesit sebuah pikiran yang membuatku ingin memutar waktu.

  "Apa semua yang terjadi di dalam rumah tanggaku karena soal restu yang tidak diberikan oleh orang tua?" aku bertanya-tanya sendiri.

Sebelum ada kamu aku sendiri, dan kini tanpa kamu pun aku sendiri
ketika kamu di sana sudah bahagia, aku pun di sini akan jauh lebih bahagia, karena Allah telah menjauhkanku dari manusia yang hobi melukai pasangan sendiri. 

Kesendirian

1 1

 

Hari demi hari kini aku lewati sendiri, tanpa adanya sosok laki-laki yang pernah mengikrarkan janji suci di hadapan banyak orang. Sekarang sosok laki-laki itu sudah bahagia dengan pilihannya. Lantas! Aku sekarang terluka, terpuruk, dengan kesedihan yang begitu dalam. 

Dulu, aku siapkan semua keperluanya ketika ingin berangkat mencari rupiah untuk keluarga. 

Dulu kalau ada masalah apapun, ada teman untuk bertukar pikiran, tapi... Sekarang ia pergi jauh tanpa menoleh berapa banyak perjuangan yang sudah dikorbankan demi ego dan kesenangannya saja.

Sudah terlalu banyak air mata yang aku teteskan, sudah banyak detik yang terlewati denganya, sampai aku pun lupa bagaimana cara untuk bahagia. 

Karena semua waktuku telah habis bersamanya untuk berbagi cerita, canda, tawa, susah, senang, aku lewati bersama, semua telah menjadi sebuah kenangan yang terbungkus rapi dalam memory.

`tidak lupa sabar, ikhlas, dan yakin, yang selalu aku tanamkan di dalam diri untuk melanjutkan hidup lebih panjang lagi.

Namun, terkadang dan sampai saat ini aku masih bertanya-tanya pada hatiku sendiri.

Kenapa! Ada laki-laki yang sanggup berkata seperti ia tidak memiliki dosa.

Ketika ada laki-laki sebelum menikah, begitu antusias mencari cara untuk mendapatkan seorang wanita idamannya, ketika sudah mendapatkan dan dihalalkan, begitu mudahnya ikrar janji sucinya diduakan.

  "Ada nggak ya, perempuan yang bisa terima apaadanya?" 

  "Ada nggak ya, perempuan yang mau diajak susah bareng-bareng?"

  "Hai! Bambang, kenapa dengan semua pertanyaanmu ini? Ketika semua pertanyaanmu sudah menjadi sebuah doa dan Allah pun mengabulkan, giliran kamu sia-siakan wanita hebat yang mampu "stay" ketika kamu masih berada di posisi telur rebus." 

Begitu mudah bicara dan begitu cepat melupakan, seperti pesawat jet lepas landas.

Ingatlah! Kesuksesan seorang suami ada peran wanita hebat yang jarang dianggap tapi tetap sabar menemani walaupun sering tersakiti.

  "Kenapa kalau merasa tersakiti tetap memilih berjuang dan bertahan, untuk apa?"

  "Kami para wanita hebat, bertahan bukan karena takut kehilangan, tapi... Kami para wanita hebat, selalu mempertimbangkan tentang kedepannya bukan kesebelumnya, paham!"

Ketika dinginnya pagi menyapa, angin sejuk menerpa, dan panasnya siang setia menemani di setiap kesibukan, senyum manis selalu terpancar walaupun di saat bersamaan air mata sedang terbendung dengan kekuatan hati.

`tidak pernah ada yang tau bagaimana rasanya seorang "single parent" berjuang dengan keterbatasannya hanya demi sang buah hati yang menyinari gelapnya lorong hati.

Jangan pernah menghianati ikatan suci hanya demi ego sendiri. Menangis ketika melihat pasangan yang terlihat harmonis, rasa iri sering datang menghampiri. 

  "Kenapa ya Allah, aku tidak bisa seperti mereka, engkau sedang mempersiapkan apa lagi untuk perjalanan hidupku ya Allah." Bisikan hati.

  "Apa aku tidak diijinkan untuk merasakan kebahagian? Atau memang kebahagiaan tidak ingin berpihak padaku, entahlah! " hati sedikit menggerutu.

Sekarang dan seterusnya Allah lah yang tau, apa yang akan dijadikan kado terindah untukku nanti. Tugasku sekarang hanyalah menjalani hidup dengan sabar dan ikhlas, aku yakin! Allah lah pengatur "sekenario" kehidupan  yang paling baik.

                       ????????????????????

_Dua Jiwa Menjadi Satu_

Ketika seorang Ibu sekaligus menjadi seorang Ayah untuk anaknya memanglah tidak mudah, tapi harus aku ambil alih semua walaupun harus penuh perjuangan. Walau lelah dan begitu susah, tetap harus aku lakukan demi sebuah harapan untuk masa depan.

Ketika menjadi seorang Ibu, semua perasaan aku curahkan.

Namun... Ketika jiwa seorang Ayah dipaksa hadir, kucuran keringat pun aku teteskan untuk mencari nafkah air mata pun mengering seketika tanpa sisa, walaupun terasa letih tubuh ini ketika malam datang menjadi slimut rasa sepi.

Pandangan kosong menatap langit-langit di dalam kamar, membawa dua jiwaku larut dalam keheningan malam. 

  "Ya Allah, berikan kesehatan dan kekuatan untuk diriku, agar aku mampu lewati semua yang terlihat sulit dari pandanganku," aku berkata.

Bekerja keras yang menjadi kunci utamaku, karena semakin hari, anak semakin tumbuh besar dan kebutuhan hidup pun akan jauh lebih besar. Walaupun tidak pernah punya impian untuk berpisah demi rupiah, aku harus lakukan suatu hal yang mungkin menyakitkan untuk hati seorang Ibu berpisah dengan anaknya demi mencukupi kebutuhan hidup.

Orang berkata!

  "Tega banget ya! Anak masih kecil ditinggal kerja dengan jarak jauh," gunjingan orang

  "Bukankah lebih tega lagi kalau aku tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup seorang anak?" aku menjawab.

`tidak ada seorang Ibu yang ingin jauh dari anaknya, kecuali keadaan yang meminta, tapi semua itu dilakukannya demi masa depan yang diimpikan. Karena wanita hebat tidak akan berpangku tangan mengharap belas kasihan orang, atau memelas minta bantuan keluarga. Wanita hebat! dengan kuat berjuang untuk seorang anak walaupun cacian yang sering ia dapat.

  "Seorang ibu mampu menjadi seorang ayah sekaligus, tapi seorang ayah belum tentu mampu menjadi seorang ibu yang selalu mencurahkan segala perasaanya."

user

13 December 2021 07:51 Vega Galanteri Assalamu'alaikum kakak izin memperkenalkan diri. Saya Vega Galanteri mohon dukungan pada karya saya yang mengikuti olimpiade menulis bejudul Ostinato Asmaradahana. Dukungan kakak sangat berarti untuk

Mungkin saja kamu suka

NH. Soetardjo
Cinta Tersayat Dendam
Maghfirahtul Kh...
Karena Allah Kita Bertemu
Nezbrebie
Special Gift
Jamatia Fatsey
Yuyun Si Pejuang Hidup
Susi Khotimah
Penantian Sharleta

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil