Loading
5

0

2

Genre : Inspirasi
Penulis : Yayan Syalviana
Bab : 6
Dibuat : 09 April 2022
Pembaca : 2
Nama : Yayan Syalviana
Buku : 1

Pelajaran Sejarah Pemicu Adrenalin

Sinopsis

Berdasarkan pengalaman, secara umum siswa SMA senang dengan tantangan dan kreatifitas. Pembelajaran apapun, termasuk pembelajaran sejarah dapat menjadi menarik dan menyenangkan selama memberikan kesempatan kepada para siswa untuk aktif menjalankan hal-hal baru yang menantang dan penuh kreativitas. Buku ini merupakan kumpulan pengalaman pembelajaran sejarah yang meningkatkan semangat peserta didik.
Tags :
#pembelajaransejarah

Lomba Lari Menuju Kelas

2 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 555 kata

Day 1

 

Lomba Lari Menuju Kelas

 

Pernah melihat guru lomba lari dengan peserta didik untuk menuju kelas?

 

Setiap awal tahun pelajaran dimulai, saya selalu membuat komitmen dengan peserta didik di setiap kelas yang saya ajar. Isinya berbagai kesepakatan yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Ada kesepakatan tentang Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan upaya agar peserta didik bisa mencapai KKM,  ada kesepakatan tentang penggunakan sumber, dan banyak kesepakatan lainnya. Salah satu kesepakatan yang dibuat adalah bahwa guru dan peserta didik tidak boleh terlambat masuk kelas. Pengertian terlambat adalah sesuai waktu di ditunjukkan pada jam dinding di kelas yang telah dinormalkan atau pada jam tangan/telepon genggam guru. Bila terlambat, peserta didik atau guru harus menyanyikan satu lagu pop Indonesia di depan kelas.

Tidak pada semua pergantian jam pelajaran lomba lari terjadi. Ketika saya mendapat jadwal pelajaran di jam pertama atau jam setelah istirahat, di sinilah terjadi lomba lari antara saya dengan para peserta didik. Banyak peserta didik yang tidak mau terlambat karena tidak mau bernyanyi di depan kelas. Apalagi bila di kelas tersebut sudah ada peserta didik yang terpaksa bernyanyi karena terlambat. Bernyanyi di depan kelas adalah tantangan tersendiri. Bagi beberapa peserta didik yang pandai bernyanyi, bernyanyi di depan kelas masih menjadi tantangan ditambah mereka merasa malu karena terlambat. Namun bagi peserta didik yang kurang pandai bernyanyi, hal ini menjadi tantangan yang membuat jantung berdetak kencang.

Apakah sanksi ini efektif menekan keterlambatan?

Sepanjang pengalaman saya, sanksi ini cukup efektif. Banyak peserta didik memilih hadir di kelas sebelum jam pelajaran dimulai. Bila waktu agak mepet, mereka memilih berlari. Namun memang pernah ada peserta didik yang sengaja sering terlambat karena ingin bernyanyi di depan kelas. Belakangan baru saya tahu, bahwa peserta didik tersebut sengaja menjadikan ajang menyanyi di depan kelas sebagai sarana latihan untuk mengikuti salah satu kompetisi menyanyi. Ternyata menyanyi di depan kelas, juga menjadi sarana meningkatkan kepercayaan diri.

Sebagai guru, saya memilih untuk sedapat mungkin tidak terlambat, sehingga bila waktunya agak mepet, saya memilih berlari menuju kelas, berlomba dengan para peserta didik di kelas tersebut. Mengapa saya harus berlari? Saya berusaha menjadi teladan untuk tepat waktu dan komitmen menjalankan kesepakatan. Saya dikenal sebagai guru yag hampir tidak pernah terlambat. Kalaupun terlambat, itu karena ada urusan pribadi atau kedinasan yang harus diselesaikan dan tidak dapat ditunda waktunya. Bila terlambat, sesuai kesepakatan, saya pun bernyanyi di depan kelas. Alhamdulillah, suara saya membuat peserta didik terhibur.

Mengapa saya memilih sanksi keterlambatan ini?

Menurut saya, semua guru harus terlibat dalam pendidikan karakter. Guru harus tetap menekankan fungsi pendidikan, tidak hanya pembelajaran. Kedisiplinan, komitmen, dan rasa malu adalah penting. Semua guru harus terlibat, bukan hanya tugas bagian kesiswaan di sekolah. Namun, menurut saya sanksi yang diberikan harus mendidik dan menghibur. Ada hiburan di awal pembelajaran, membuat para peserta didik bersemangat dan bergembira. Berlari menuju kelas membuat peserta didik bersemangat.

Bagaimana bila saya harus mengajar ke kelas lain, padahal waktunya berdekatan?

Inilah kelemahan kesepakatan ini. Saya harus mengatur waktu. Mengurangi waktu di akhir pelajaran di kelas sebelumnya, agar dapat sampai tepat waktu di kelas berikutnya. Tentu tidak masalah bila saya mengajar di jam sebelum istirahat atau pada jam pelajaran terakhir.

 

Apakah hal ini berlangsung terus?

Sejak awal mengajar, saya konsisten menerapkan aturan ini di manapun saya mengajar. Namun selama pandemi Covid-19, saya tidak bisa menjalankan aturan ini. Bahkan ketika Pembelajaran Tatap Muka Terbatas digelar, saya memilih untuk tidak menjalankan aturan ini karena waktu pembelajaran yang terbatas.

Peserta Didik Harus Belajar Menulis (bagian 1)

1 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 634 kata

Day 2

 

Peserta Didik Harus Belajar Menulis (bagian 1)

 

Bolehkah guru sejarah mengajari peserta didiknya menulis?

 

Mari perhatikan kutipan-kutipan dari karya peserta didik saya,

Aku bahagia menjadi pemilik dari nama Asri Nihasmara. Ada banyak keberuntungan yang aku dapatkan. Nama ini juga berpengaruh besar terhadap kehidupan. Terimakasih Bapak, atas nama yang indah ini membuat aku berbeda dari yang lain dan mudah dikenal banyak orang.

Biar beda dari yang lain, panggil aku, Nihas! Panggil Asri juga boleh, Asri adalah panggilan polulerku. Aku kini tengah berusia 15 tahun. 12 Juni 2006 adalah tanggal kelahiranku berdasarkan dokumen Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga. Dari dokumen itu diketahui bahwa benar Bandung adalah tempat aku dilahirkan menjadi anak Suku Sunda.

…..

Apalagi kalau sudah tahun baru, banyak makanan di rumah nenek, sudah seperti supermarket saja, hahaha. Malamnya, tepat pukul 12.00 WIB, aku dan keluarga melihat ramainya kembang api yang menghiasi langit. Aku sampai berteriak dan tidak tidur demi merayakan tahun baru. Seru sekali, makan-makan, bermain kembang api, hingga bercerita banyak tentang apa yang pernah aku alami waktu masih balita.

Dari cerita mereka, bahwa katanya, sejak kecil aku selalu dibawa pergi jalan-jalan, selalu dibelikan buah-buahan dan segala rupa dengan jenis-jenis yang beragam, bahkan katanya aku sudah mencicipi semua buah-buahan yang ada di Indonesia, kecuali Leci, hihi. Dulu setiap hari aku makan coklat, permen, dan es krim. Tapi anehnya, kata mereka aku tidak suka minum susu. Aduh.. sekarang malah kecanduan minum susu murni. Hehe

Asri Nihasmara - X MIPA 2 - Tahun Pelajaran 2021/2022

Apakah karya tersebut hasil dari mata pelajaran Bahasa Indonesia? Bukan, itu adalah salah satu karya peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Indonesia.

Baru beberapa minggu menjadi peserta didik SMA kelas X, saya sudah menantang seluruh peserta didik untuk menghasilkan karya tulis yang akan mereka kenang seumur hidup mereka. Tentu saja karya tulis tersebut berkaitan dengan mata pelajaran saya, Sejarah Indonesia.

Salah satu, Kompetensi Dasar Keterampilan Sejarah Indonesia Kelas X pada awal tahun pelajaran adalah tentang menyajikan hasil penerapan konsep berpikir kronologis, diakronik, sinkronik, ruang, dan waktu dalam peristiwa sejarah dalam bentuk tulisan atau bentuk lain. Untuk memenuhi tuntutan Kompetensi Dasar tersebut, peserta didik saya ajak untuk melakukan salah satu keterampilan sejarah, yaitu menulis karya sejarah. Peserta didik ditugaskan membuat tulisan otobiografi (biografi yang ditulis sendiri) tentang kisah Masa Balita. Rentang waktunya dari sejak lahir sampai dengan kelas 1 Sekolah Dasar.

Mengapa Masa Balita? Karena pada umumnya peserta didik sudah lupa, dan untuk menulisnya, peserta didik harus melakukan penelitian sederhana, tidak bisa hanya berdasarkan ingatan sendiri. Penelitian sederhana yang saya maksud adalah bahwa peserta didik harus :

  • Mencari sumber. Peserta didik harus membuka beragam dokumen, seperti : surat kelahiran dari rumah sakit, akta kelahiran, kartu keluarga, rapor TK, rapor SD, atau dokumen terkait lainnya. Peserta didik juga harus membuka album foto keluarga atau membuka file-file foto dan video masa balita. Dan yang terpenting, peserta didik juga harus mewawancarai orangtua dan atau saksi mata pada saat kelahiran dan pada masa balita.
  • Memeriksa kebenaran sumber. Peserta didik harus memeriksa kebenaran dokumen, foto yang ada, dan hasil wawancara. Apakah benar berhubungan dengan masa balita peserta didik tersebut atau tidak.
  • Menyusun kisah. Berdasarkan semua dokumen, foto/video, dan hasil wawancara, peserta didik menyusun sebuah kisah masa balita secara kronologis dari sejak lahir sampai dengan kelas 1 Sekolah Dasar. Di sini peserta didik harus sudah memahami konsep kronologis.
  • Menuliskan kisah. Kisah yang telah disusun, ditik dengan baik, rapi, dan menarik, minimal 2 halaman isi, diluar gambar atau dokumen. Kisah yang dituliskan adalah seperti cerita pendek. Kisah dilengkapi dengan arti nama mereka, serta foto dan dokumen yang diperlukan. Foto atau dokumen yang dilampirkan harus diberikan keterangan. Di akhir kisah, peserta didik harus menuliskan sumber kisah (seperti daftar pustaka). Sebelum masa pandemi, kisah ini harus dicetak. Namun pada masa pandemi, cukup dikumpulkan dalam bentuk file PDF. Oh ya, pernah juga saya mencoba kisahnya ditulis tangan di buku tulis Sejarah Indonesia.

Peserta Didik Harus Belajar Menulis (bagian 2)

1 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 534 kata

Day 3

 

Peserta Didik Harus Belajar Menulis (bagian 2)

Bagaimana respon peserta didik?

Ternyata menulis kisah masa balita ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik. Saya pun membuka pintu komunikasi dan konsultasi melalui aplikasi whatsapp. Berdasarkan pengalaman saya, peserta didik :

-         ada yang kesulitan menulis karena kesulitan sumber, sehingga peserta didik tersebut kesulitan memenuhi jumlah halaman minimal dan memasukkan lampirannya. Menghadapi hal ini, saya menekankan agar peserta didik tersebut tetap belajar menghasilkan karya walau sumber informasi yang mereka dapat sangat terbatas.

-         ada yang kesulitan menulis karena memang jarang menulis, padahal sumber yang diperoleh cukup banyak, sehingga peserta didik tersebut hanya berusaha memenuhi jumlah halaman minimal, bahkan ada yang di bawah ketentuan jumlah halaman minimal. Menghadapi kondisi ini, saya juga menekankan agar peserta didik tersebut tetap berupaya menghasilkan karya terbaik

-         ada yang kesulitan menuliskan kisah seperti cerita, sehingga peserta didik tersebut hanya menyajikan data-data yang mereka peroleh berupa poin-poin. Menghadapi kondisi ini, saya mengajak peserta didik tersebut untuk mencoba membuat karyanya menjadi lebih baik. Ternyata karena memang peserta didik tersebut perlu contoh atau jarang membaca kisah fiksi.

-         ada yang ternyata sangat pandai menulis dan mempunyai sumber yang lengkap, sehingga karya tulisnya melampaui batas minimal, bahkan sangat panjang. Belum lagi lampiran dapat disajikan dengan sangat menarik. Menghadapi kondisi ini, saya memberikan apresiasi di depan kelas dan memberikan nilai tambah.

 

Apakah selesai sampai karya tulis tersebut dikumpulkan?

Beberapa Karya tulis tersebut akan dipilih secara acak untuk dibacakan di depan kelas. Banyak peserta didik yang tidak mau dibacakan, namun saya bermaksud melatih rasa percaya diri peserta didik untuk berani tampil dan bangga pada karya yang telah dibuatnya. Pada tahap ini, peserta didik belajar menjadi narator. Guru mendampingi dan memberi contoh, bagaimana cara pembacaan kisah tersebut. Dan ternyata, tampil di depan kelas untuk membacakan karya sendiri, perlu sering dilatih dan dibiasakan.

Ketika dibacakan inilah, banyak kisah yang menggambarkan perjuangan Ibu dan keluarga ketika peserta didik tersebut akan dilahirkan, perjuangan orangtua dan keluarga selama masa balita, dan peran para guru ketika peserta didik sudah mulai bersekolah -  baik di TK maupun di SD, serta kisah-kisah menarik dan luar biasa ketika masa balita mereka. Kisah mereka juga mengungkap arti dan makna nama yang orangtua berikan pada mereka yang beberapa peserta didik baru mengetahuinya ketika mengerjakan tugas ini. Pada kisah mereka juga kadang terungkap masa lalu yang berkaitan dengan kondisi fisik mereka saat ini.  

Pada tahap pembacaan ini, saya berkesempatan untuk memasukkan pendidikan karakter agar peserta didik harus selalu menghormati dan berterimakasih pada orangtua.

Ketika dibacakan, kadang air mata pun mengambang di pelupuk mata, apalagi pada saat pembacaan kisah diiringi lagu Bunda dari Melly Goslaw yang saya nyanyikan atau saya putar dari laptop atau telepon genggam,

“Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang”

 

Berdasarkan pengalaman, tugas ini sangat berkesan bagi peserta didik. Karya tulis ini pun dapat peserta didik simpan untuk menjadi awal kisah, bila ingin membuat otobiografi lebih lengkap di masa yang akan datang.

 

Sampai saat ini, tugas ini hanya untuk Mata Pelajaran Sejarah Indonesia. Namun, pada masa yang akan datang, pembelajaran ini dapat berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia.


Melatih Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Masa Praaksara

1 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 525 kata

Day 4

 

Melatih Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Masa Praaksara

Sering kita mengatakan bahwa saat ini peserta didik mudah terjebak hoax. Mereka mudah terhasut oleh informasi yang beredar. Mudah percaya. Banyak peserta didik terlalu mudah percaya. Sebagai guru, saya ingin berperan untuk melatih mereka berpikir kritis. Peserta didik harus dilatih oleh semua guru tanpa batasan mata pelajaran. Menurut saya, semakin banyak guru yang melatih, semakin baik.

Salah satu cara melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik adalah dengan cara mengajarkan perlunya memeriksa kebenaran dari informasi yang diperoleh. Hal ini saya terapkan, salah satunya pada saat materi pembelajaran Sejarah Indonesia membahas tentang Masa Pra Aksara.

Di kelas, peserta didik saya bagi menjadi 8 kelompok. Posisi duduk per kelompok saya atur agar tidak berebutan dan mengurangi keributan. Secara berkelompok, peserta didik ditugaskan untuk membuka-buka gambar tentang kehidupan masa praaksara di google dari telepon genggam yang mereka miliki. Selanjutnya setiap kelompok memilih satu gambar yang menurut seluruh anggota kelompok merupakan gambar yang paling menarik dan mempersiapkan alasan mengapa gambar tersebut dipilih sebagai gambar yang paling menarik bagi kelompok. Setelah waktu yang ditentukan, gambar terpilih harus dibagikan di grup whatsapp kelas dengan mencantumkan nama kelompok dan tautan sumber gambar tersebut. Agar lebih menarik dan menantang, saya mengumumkan bahwa gambar yang dikirim ke grup tidak boleh ada yang sama, sehingga peserta didik berlomba untuk mengirim lebih awal di grup whatsapp. Bila ada yang mengirim gambar yang sama, harus menghapus gambar tersebut dan mengirimkan gambar yang berbeda.  

Setelah semua kelompok mengirimkan gambar terpilih ke dalam grup whatsapp, satu orang perwakilan kelompok saya tunjuk untuk mempresentasikan alasan mengapa memilih gambar tersebut dan mengapa menarik perhatian kelompok. Presenter saya tunjuk, agar setiap orang di dalam kelompok mampu bertanggung jawab terhadap keputusan kelompok. Kelompok lain memberikan apresiasi dengan memberikan tepuk tangan setiap perwakilan kelompok selesai melakukan presentasi.

Setelah selesai presentasi semua kelompok, saya memulai diskusi kelas dengan memberikan pertanyaan : “apakah semua gambar tersebut adalah gambar yang benar tentang kehidupan masa praaksara?”. Beberapa peserta didik dipersilakan menanggapi pertanyaan tersebut. Beberapa peserta didik beranggapan bahwa gambar tersebut adalah benar-benar menggambarkan masa pra aksara. Namun berdasarkan pengalaman, pada umumnya peserta didik sangat paham bahwa gambar-gambar tersebut adalah gambar imajinatif, bukan gambar sebenarnya. Saya ceritakan bahwa gambar-gambar tersebut mendapat sentuhan imajinatif dari pembuatnya. Beberapa gambar sebenarnya hanya didasarkan pada temuan tulang tengkorak.  Saya pertegas juga bahwa pada masa pra aksara, belum ditemukan adanya kemampuan melukis yang sangat realistis.

Dalam kegiatan ini, peserta didik belajar untuk selalu berpikir kritis terhadap informasi yang diperoleh dari internet. Saya selanjutnya memberikan penguatan bahwa jangan percaya sepenuhnya informasi yang diperoleh dari internet atau dari media apa pun. Materi pelajaran sejarah saja, khususnya gambar tentang kehidupan masa praaksara di internet, ternyata bukan informasi yang pasti benar, padahal di muat di situs resmi. Saya mengingatkan peserta didik agar membiasakan memeriksa kebenaran semua informasi yang diterima. Salah satu cara memeriksanya adalah dengan mengkonfirmasi dengan sumber lain. Peserta didik harus terbiasa

4 Keterampilan abad 21 : keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), keterampilan berkomunikasi (communication) dan keterampilan berkolaborasi (collaboration). Kegiatan ini dapat menjadi sarana berlatih peserta didik untuk keterampilan berpikir kritis. Kegiatan ini juga dapat diterapkan pada materi yang lain.


Majalah Dinding dan Teknik Galeri Belajar

0 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 651 kata

Day 5

 

Majalah Dinding dan Teknik Galeri Belajar (bagian 1)

 

Sudah lama saya menggunakan cara ini dalam pembelajaran Sejarah Indonesia. Saya mencoba membuat kegiatan pembelajaran yang berbeda. Membuat makalah dan power point lalu presentasi menjadi sesuatu yang terlalu biasa dan banyak dipraktekkan oleh banyak guru di banyak mata pelajaran. Berdasarkan pengalaman saya ketika di SMA dan di kampus, membuat majalah dinding adalah sesuatu yang mengasikkan. Saya ingin menularkan itu pada peserta didik saya. Pada awal saya menggunakan ini, metode ini saya sebut metode stan. Stan? Iya, stan seperti di pameran-pameran. Pengetahuan akademik tentang metode ini baru saya dapatkan ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru Tahun 2012. Banyak nama yang semuanya mirip dengan apa yang sering saya lakukan.

Gallery Walk adalah salah satu metode belajar aktif yang melibatkan banyak aktivitas : mencari informasi, diskusi, menulis, presentasi, dan kerjasama kelompok. Beberapa istilah akademik yang saya temukan adalah sebagai berikut :

·         Francek (2006) menyebutkan “Gallery Walk is a discussion technique that gets students out of their chairs and actively involved in synthesizing important science concepts, writing, and public speaking. The technique also cultivates listening and team-building skills”.

·         Dengan variasi yang lain, Silberman (2012 : 274-275) menyebut metode ini dengan istilah Galeri Belajar, yaitu suatu cara suatu cara untuk menilai dan mengingat apa yang telah dipelajari oleh siswa selama ini. Setiap kelompok membuat sebuah daftar pada kertas lebar berisi hasil pembelajaran, lalu ditempelkan di dinding. Siswa diperintahkan untuk berjalan melewati tiap daftar.

·         Anita Lie (2002 : 63-64) menyebut metode yang mirip dengan Gallery Walk dengan teknik Keliling Kelas, yaitu masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan untuk memamerkan hasil kerja mereka dan melihat hasil kerja kelompok lain. Hasil-hasil ini bisa dipajang di beberapa bagian kelas jika berupa poster atau gambar-gambar.

·         Dan ternyata masih banyak istilah akademik lainnya

Metode Gallery walk memerlukan ada yang ditempel di dinding dan dalam kegiatan pembelajaran Sejarah saya memilih bentuk majalah dinding. Menurut KBBI, Majalah dinding adalah majalah yang tidak dirangkai, tetapi berupa lembaran yang ditempelkan pada dinding (papan tulis dan sebagainya). Dalam kegiatan ini saya memilih kertas karton manila ukuran A1 sebagai media tempelnya.

Metode ini saya gunakan pada berbagai materi, 1 kali dalam 1 semester. Untuk kali ini, metode saya terapkan pada saat saya membahas materi tentang kerajaan-kerajaan Hindu Buddha di Indonesia mata pelajaran Sejarah Indonesia di kelas X. Hal ini saya lakukan untuk menjawab tuntutan Kompetensi Dasar Keterampilan Sejarah 4.6 menyajikan hasil penalaran dalam bentuk tulisan tentang nilai-nilai dan unsur budaya yang berkembang pada masa kerajaan Hindu dan Buddha yang masih berkelanjutan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada masa kini

Bagaimana saya menjalankan metode ini?

Kegiatan ini dilaksanakan dalam beberapa minggu.

Minggu pertama

Di depan kelas, saya menjelaskan tentang konsep majalah dinding, agar semua peserta didik paham apa yang akan dilakukan. Saya jelaskan pula tentang langkah-langkah pembelajaran dari mulai pencarian sumber sampai kegiatan presentasi. Tak terlupakan, saya sampaikan pula teknik penilaiannya.

Saya pun membuat kelompok baru yang berbeda dengan kelompok sebelumnya, karena menurut saya peserta didik harus mampu beradaptasi dengan banyak orang. Saya membagi kelas ke dalam enam kelompok kerajaan :  Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kalingga, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Kuno, dan Kerajaan Kediri. Peserta didik pun berkumpul dalam kelompoknya.

Saya sampaikan ketentuan pembuatan majalah dinding, bahwa dalam majalah dinding yang akan dibuat harus memuat secara ringkas tentang : letak geografis, kehidupan politik, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, kehidupan budaya, dan peninggalan budaya yang masih ada hingga saat ini. Majalah dinding harus menampilkan minimal 4 gambar. Majalah dinding juga harus menuliskan daftar pustaka. Saya sampaikan pula bahwa ada penilaian khusus tentang desain majalah dinding.

Selanjutnya, secara berkelompok peserta didik diminta mencari contoh bentuk majalah dinding di internet. Setiap kelompok harus menyepakati konsep desain majalah dinding. Di kelas, setiap kelompok membagi tugas untuk mencari dan meringkas informasi, mencetak materi/gambar atau menggunakan tulisan tangan, dan mencari gambar pendukung. Setiap kelompok juga membagi tugas untuk peralatan yang diperlukan : kertas karton, kertas warna, gunting, lem, spidol, dan bahan pendukung lainnya. Materi dan gambar harus dipersiapkan di rumah. Perakitan akan dilaksanakan di sekolah pada pertemuan berikutnya.


Majalah Dinding dan Teknik Galeri Belajar (bagian 2)

0 0

Buku Guru

Jumlah Kata : 573 kata

Day 6


?Majalah Dinding dan Teknik Galeri Belajar (bagian 2) ??

?Minggu kedua

Saya mengkondisikan peserta didik agar secara berkelompok merakit majalah dinding di dalam kelas. Mengapa harus merakit di dalam kelas? Pengalaman saya sebelumnya, pernah majalah dinding ini ditugaskan untuk dikerjakan secara berkelompok di luar jam pelajaran. Namun ternyata, berdasarkan pengalaman, ada beberapa siswa yang tidak berpartisipasi dalam kerja kelompok. Dengan dikerjakan di dalam kelas, saya dapat membimbing semua anggota kelompok dapat berperan aktif dalam kelompok : ada yang menggunting, menempel, mewarnai, dan memperindah tampilan majalah dinding.

Setelah selesai jam pelajaran, bagi kelompok yang sudah selesai, dapat menempelkan pada dinding yang telah ditentukan. Namun ternyata, sering terjadi majalah dinding belum selesai. Saya pun mempersilakan setiap kelompok untuk melakukan finalisasi majalah dinding di luar jam pelajaran dengan syarat tidak boleh menggangu jam pelajaran lain.

Beberapa saat sebelum waktu pelajaran selesai, peserta didik harus membersihkan sampah dan merapikan kembali meja-kursi. Saya pun memberikan apresiasi terhadap kerja kelompok yang telah terjadi dan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya, yaitu kegiatan presentasi kelompok terhadap kelompok lain secara bergilir. Saya ceritakan sepintas bentuk pembelajaran yang akan dilaksanakan.

 

Minggu ketiga

Majalah dinding hasil enam kelompok ditempel di dinding kelas, sesuai posisi yang telah ditentukan. Setiap kelompok juga mengatur posisi meja dan kursi agar pengunjung dari kelompok lain dapat duduk dengan nyaman.

Karena satu kelompok terdiri atas sekitar 6 orang, saya mengundi 2 orang peserta didik per kelompok yang akan ditugaskan sebagai presenter di depan majalah dinding masing-masing. Presenter bertugas memaparkan isi majalah dinding selama sekitar 5 menit dan menjawab pertanyaan pengunjung sekitar 5 menit. Mengapa presenter harus diundi? Di sini tantangannya, saya memaksa agar semua anggota kelompok menguasai isi majalah dinding, bukan hanya milik orang tertentu saja. Saya juga mengkondisikan agar semua peserta didik mampu melakukan presentasi dan berkolaborasi dengan teman sesama presenter.

Anggota kelompok yang tidak terpilih menjadi presenter, bertugas untuk berkunjung kepada 5 kelompok lainnya. Tugas mereka adalah mendengarkan presentasi, mencatat hal penting, dan menanyakan hal yang belum dipahami. Pertanyaannya tidak boleh menanyakan tentang apa, siapa, dimana, kapan dan berapa.

Sebelum kegiatan kunjungan dimulai, saya mengatur posisi awal terlebih dahulu. Kelompok 1 mengunjungi kelompok 2, kelompok 2 mengunjungi kelompok 3, dan seterusnya. Kegiatan pun dimulai di bawah komando saya. Waktu kunjungan dibatasi sekitar 10 menit. Setelah sekitar 10 menit, setiap kelompok bergeser ke kelompok berikutnya. Demikian seterusnya, sampai semua pengunjung berkumpul kembali dengan kelompoknya.

Tentu saja waktu kunjungan 10 menit per kelompok tidaklah cukup. Peserta didik yang bertugas sebagai presenter merasa belum semuanya tersampaikan. Peserta didik yang bertugas sebagai pengunjung merasa belum puas karena merasa materi yang diperoleh baru sedikit dan kadang karena pertanyaannya belum terjawab. Untuk mengantisipasi hal ini, saya membuat aturan agar majalah dinding harus tetap dipasang sampai akhir semester. Kelas pun menjadi berwarna karena dihiasi dengan karya peserta didik. Peserta didik pun dapat terus belajar dengan mengunjungi majalah dinding di luar jam pelajaran. Majalah dinding dapat diturunkan bila ternyata dinding kelas akan dipergunakan untuk kegiatan lain.

 

Refleksi

Di akhir kegiatan ini, bila masih ada waktu, saya pun langsung melakukan refleksi. Namun bila waktu tidak mencukupi, saya lakukan refleksi pada awal pembelajaran di minggu berikutnya. Saya meminta kesan perwakilan presenter setiap kelompok terhadap kegiatan pembelajaran.  Saya pun meminta kesan perwakilan pengunjung setiap kelompok terhadap kegiatan pembelajaran.

Hal yang sering saya dengar adalah bahwa presenter merasa lelah berbicara di depan banyak kelompok dan respon pengunjung yang berbeda-beda. Pada saat ini, saya gunakan kesempatan sebagai pendidikan karakter. Bahwa banyak guru yang harus mengajar berjam-jam dalam satu hari. Bahwa mereka harus menghargai guru ketika berbicara di depan kelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku

·         Anita Lie. 2002. Cooperative Learning – Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo.

·         Silberman, Melvin L. 2012. Active Learning – 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung : Penerbit Nuansa

Sumber Internet

·         Francek, Mark. 2006. Promoting Discussion in the Science Classroom Using Gallery Walks. Jurnal of College Science Teaching NSTA WebNews Digest pada laman https://www.nsta.org/resources/promoting-discussion-science-classroom-using-gallery-walks diakses tanggal 15 April 2022

?

Mungkin saja kamu suka

Natisa hanifah
Pandemi in jakarta
Indriana Septia...
Deanada
Nurul Huzaimah
Telapak Kaki Ibu
Winda Sarinengs...
Aini Chara
wahyuni
Cerita Reyna

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil