Loading
53

4

16

Genre : Romance
Penulis : Kaifa Kana
Bab : 17
Pembaca : 2
Nama : Siti Muzdalifah
Buku : 1

Ego Fatum

Sinopsis

Taktala merah menjadi hitam, indah tertimpa kelam. Terbesit keraguan pada semesta tentang pembenaran. Tanpa kita sadari, alam raya dan seisinya telah menyiapkan pertunjukkan yang hanya digelar untuk kita. Jika aku adalah takdir, akan kutapaki setiap jalan untuk menujumu. Untuk setiap pertemuan yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Sampai kita akan bertemu dan menemukan, lagi.
Tags :
Remaja

Prolog

5 3

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah kata: 655 kata

"Heh bangun. Udah mau tutup nih," ucap seorang lelaki sambil menepuk bahu seorang perempuan yang sedang tertidur pulas di perpustakaan kampus saat sore menjelang petang itu.

"Eh, kamu siapa?" jawab perempuan itu dengan raut muka yang kaget dan kebingungan. 

Dia adalah Fayanna Aireen atau yang lebih akrab disapa dengan Reen, 20 tahun yang lalu Reen dilahirkan di kota metropolitan terbesar kelima di negara ini, Semarang. Dia adalah anak tunggal. Anaknya cantik, berkulit putih, memiliki mata yang lebar dengan bulu matanya yang sangat lentik dan lengkap dengan kerudungnya yang senantiasa menutupi rambutnya. Ia memiliki perangai sifat yang baik, mandiri, cermat dalam membuat rencana dan setia terhadap apa yang ia pilih. Rasanya tak lengkap jika membahas Reen tapi tak menyebut buku, karena ia sangat identik dengan buku. Seperti jurusan yang ia ambil di kampus ini, sejarah. Kepribadiannya sangat analitis, ia senang belajar pengetahuan. Tapi, satu sifatnya yang mungkin sedikit sensitif untuk orang lain yaitu ia sering bicara apa adanya sesuai yang terlintas dipikirannya tanpa berpikir dulu apakah nanti ucapannya akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Ya, sifat egois juga bagian darinya karena mengingat ia adalah anak tunggal.

"Bangun, perpusnya mau di tutup!" suruh lelaki itu.

"Eh iya maaf, aku ketiduran," jawab Reen. 

Seketika Reen begitu terburu-buru membereskan buku-buku yang ada di mejanya hingga banyak buku di mejanya yang terjatuh. "Aduh!" ujarnya.

"Nggak usah buru-buru, sini aku bantu," tawar lelaki itu.

Kemudian lelaki itu membantu menata buku-buku yang ada di meja Reen untuk dikembalikan ke rak buku perpustakaan. Dan setelahnya mereka berjalan beriringan untuk keluar dari perpustakaan.

"Makasih ya," ucap Reen kepada lelaki itu.

"Eden," ucap lelaki itu sembari mengulurkan tangannya.

"Oh hai, aku Aireen, orang-orang biasanya manggil aku Reen," jawab Reen sambil menjabat tangan Eden.

Berbeda jurusan juga fakultas dari Reen, Eden merupakan mahasiswa Biologi. Nama lengkapnya Eden Rashid. 

"Dari buku yang aku baca, Eden itu taman yang jadi tempat tinggal..." Aireen yang mencoba menjelaskan sesuatu kepada Eden.

"Adam dan Hawa?" potong Eden.

Reen tertawa kecil, "Iya. Rupanya kamu tahu," jawab Reen sembari tersenyum.

"Meski aku anak biologi, aku juga suka baca buku kok Reen," ujar Eden untuk memperkuat ucapannya.

Reen kembali tertawa, "Kenapa kamu nggak fokus aja ngamatin regenerasinya keong aja," ucap Reen untuk mengajak Eden bercanda.

Eden hanya tersenyum melihat Reen.

Berbeda dengan Reen, Eden cenderung menyukai perubahan dan variasi, memiliki jiwa otoritas, cerdas, penuh semangat, mudah beradaptasi dan kuat dalam hal komunikasi dengan orang lain. Ia mempunyai kepribadian magnetik dan gampang bergaul, sebenarnya ia bisa jadi orang yang romantis, tapi tidak terlalu setia dalam urusan cinta.

"Kamu pulang naik apa, Reen? Mau aku anter?" tawar Eden.

"Kita baru kenal 15 menit loh Ed," jawab Reen.

"Hahaha, ya terus kenapa? Ayo ikut aku habis ini aku anter pulang, udah mau Maghrib nih," ujar Eden.

Reen pun mengikuti Eden menuju parkiran FMIPA.

"Kos mu dimana, Reen?" tanya Eden.

"E-emm, deket sini kok Ed," jawab Reen.

"Nggak perlu pake helm kan? Aku cuman punya satu soalnya," ucap Eden sembari memegang helm di tangannya.

"Oh enggak kok, nggak usah pake, kita bisa lewat jalan pintas kok," jelas Reen.

"Oke, ayuk naik!" suruh Eden.

Hanya butuh sekitar 3 sampai 5 menit saja dari kampus ke kos Reen, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. 

"Kos ku yang cat hijau itu Ed," ujar Reen sembari menunjuk ke salah satu rumah kos. Eden hanya menjawab dengan sebuah anggukan kepala saja. 

"Makasih ya," ucap Reen sembari turun dari motor.

"Sama-sama, aku duluan ya," pamit Eden sembari melambaikan tangan.

Tak menunggu lama, Reen langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, makan dan sembahyang. Malam pun tiba, Reen belajar sambil mengerjakan tugas. Dan tiba-tiba ia teringat dengan kota kelahirannya. Setelah setahun sejak ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jogja karena faktor ekonomi yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari saat mereka di Semarang. Masih teringat jelas, saat itu Reen begitu menolak untuk pindah ke kota ini karena ia sudah terlanjur nyaman tinggal di Semarang. Bagaimanapun kota itu yang menjadi saksi kelahiran dan dibesarkannya Reen, kota yang menyimpan jutaan kenangan di dalamnya.

user

13 August 2021 11:24 Yanah Yunita Semangat terus Kak

user

13 August 2021 14:42 Zaenuri Apakah yang akan terjadi di adegan berikutnya, saudara-saudara? Lanjutkan!

user

13 August 2021 14:47 Rina Semangat kak

1

4 2

Sarapan Kata KMO Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 524

"Orang bilang Jogja itu istimewa, karena bisa membuat jatuh cinta berkali-kali. Kok nggak berlaku buat aku sih?" gumam Reen.

"Mungkin kamu butuh seseorang untuk membuat Jogja terasa istimewa kali," ujar Naya, teman sebelah kamarnya Reen.

"Hey kamu ya, udah aku bilang kalau masuk tuh ketuk pintu dulu, malah nguping," ucap Reen kesal.

"Aduh kayak sama siapa aja, Reen. Ada cerita apa hari ini?" tanya Naya penasaran.

"Nggak Nay, aku lagi kangen Semarang aja," jawab Reen.

"Tenang aja Reen, suatu saat kamu bakal nemu jawaban atas semua pertanyaan yang terbesit di hatimu saat ini, kenapa kamu harus kesini, ada apa disini, dan semua pertanyaan yang selalu kamu batin itu," ujar Naya untuk meyakinkan Reen.

"Takdir?" tanya Reen pada Naya.

"E-emm, gini Reen. Aku percaya sesuatu terjadi bukan tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang mendasari dibalik setiap kejadian. Dan itu nggak terjadi karena kebetulan aja Reen," ujar Naya.

"Udahlah Nay, aku capek sama permainan takdir," jawab Reen sembari membereskan buku-buku pelajarannya dan bersiap untuk tidur. "Aku ngantuk," tambah Reen.

"Jangan kesal sama takdir, Reen. Yaudah tidur dulu, siapa tau hari esok kamu nemu jawaban," ejek Naya sembari tertawa.

”Huuuft," Reen menarik nafas panjang-panjang dan mengosongkan pikirannya. Kemudian mencoba memejamkan mata dan akhirnya terlelap. Mungkin bagi sebagian orang yang mudah beradaptasi akan sangat menyenangkan ketika ia harus pindah kesana kemari, tapi bagi orang lain bisa saja menjadi perjudian rasa. Dan entah, akan seperti apa akhirnya.

Ia teringat saat masih menjadi siswi kelas 12 semester 1 akhir.

Takdir? Satu kata yang menyimpan jutaan makna, tak pernah tertebak dan tak pernah terkira. Sama seperti saat keluarganya yang harus mengalami krisis moneter dan mengharuskan mereka untuk meninggalkan kota yang akan senantiasa ada di hati, Semarang.

"Kenapa kita harus pindah ke Jogja, Bu?" tanyanya sembari mengemasi pakaian.

"Kita akan tinggal di rumah nenek, Reen. Kita sudah tidak punya banyak uang untuk tetap tinggal disini," jelas Ibu.

"Tapi, satu semester lagi aku akan lulus SMA, Bu. Kenapa kita gak nunggu sampai aku lulus aja?" tawar Reen.

"Nggak apa-apa, Reen. Kamu akan nemu temen lagi di sekolah yang baru," pungkas Ibu.

Memang benar, terkadang kita harus selalu siap untuk segala kemungkinan, termasuk kemungkinan buruk sekalipun. Sungguh, hati Reen tak sanggup melangkah sejengkal saja untuk meninggalkan kota ini. Bagaimanapun, setinggi apapun burung terbang, ia akan tetap kembali ke sarangnya, bukan?

"Jangan sedih, sayang. Ayah janji di Jogja nanti hidup kita akan lebih bahagia, ayok mana senyum manisnya putri ayah satu-satunya," ujar ayahnya mencoba menghibur kesedihannya. 

 

"Kring kring" 

"Heh Reen buruan bangun alarm kamu dari tadi bunyi loh," ujar Naya.

"Ah baru aja tidur kok udah pagi aja," ujar Reen sembari beranjak ke kamar mandi. 

Reen berjalan kaki menuju ke kampus, sesampainya kampus ia langsung menuju ke kelas dan mengikuti pelajaran. Setelah selesai kelas ia menuju ke kantin dan makan, setelahnya ia ke perpustakaan lagi. Kemanapun ia pergi, ia memilih sendirian karena baginya saat sendiri tidak ada tanggung jawab lain selain menjaga dirinya. Mahasiswa yang lain ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas atau membaca buku, tapi hal itu tidak berlaku bagi Reen, baginya perpustakaan adalah surga dunia, ia ke perpustakaan bukanlah untuk mengerjakan tugas ataupun membaca, tapi lebih untuk istirahat, sesekali untuk tertidur sejenak, meski akhirnya terlelap.

user

13 August 2021 14:54 Zaenuri Alurnya pelan-pelan merayap, seperti apa ya konflik yang akan terjadi? Hemm~

user

17 August 2021 09:51 Alviyatun Semangat selalu Kakak

2

4 3

Sarapan Kata KMO Club Batch 36 

Kelompok 15

Jumlah Kata: 486

 

"Kamu yakin bakal ke Jogja di pertengahan semester gini?" tanya Zadan pada Reen.

"Iya loh, kamu yakin?" tanya Mira pada Reen.

Zadaniyal Haq dan Wardania Aemira adalah teman satu circle Reen. Awal mula mereka bertiga bersahabat adalah sejak duduk di bangku SMP. Meskipun ketiganya adalah orang yang ramah dan akrab dengan siapapun, tapi kalau soal pertemanan dekat, mereka bertiga adalah tipikal orang yang selektif. Mereka bertiga dipertemukan karena pemikiran, selera humor dan tujuan yang sama. Ketiga siswa itu sejak jaman SMP terkenal sangat ambisius. Mereka selalu berebut untuk menjadi pemilik peringkat paling atas di kelas maupun peringkat pararel. Akan tetapi, pertemanan mereka tulus. Menjadi lawan hanyalah saat mereka sedang ujian, selebihnya mereka adalah teman baik. 

"Iya Zad, Mir. Mau gimana lagi? Ini keputusan orang tua aku," jelas Reen.

"It's ok, Reen. Kamu pasti bakalan cepet bisa adaptasi kok. Aku tau kamu anaknya fleksibel," tutur Zadan.

"Hey, kamu kira aku permen karet hah?" sambung Reen.

"Hahaha, maksudnya Zadan tuh kamu bisa cepet menyesuaikan lingkungan sekitar gitulo Reen," jelas Mira.

"Paham kok, Mir. Aku kan cuman mau goda dia aja," jelas Reen sambil melet ke arah Zadan.

"Akan aku pastikan, kamu nanti bakalan kangen banget sama kita hahaha," tutur Zadan.

Kalimat yang terlontar dari Zadan membuat Reen merasa sedih, Reen memandangi mereka berdua lekat-lekat, membayangkan kalau mereka berdua jauh darinya. Akan seperti apa dunia bagi Reen tanpa kedua teman dekatnya itu, padahal mereka bertiga ingin tetap meneruskan kebersamaan mereka hingga kuliah.

"Udah gausah sedih, kita masih bisa ketemu kok nanti kalau ada liburan," jelas Mira.

"Kita bakal nyamperin kamu ke Jogja kok Reen," tambah Zadan.

"Makasih ya," ucap Reen dengan mata berkaca-kaca.

"Eits. Nggak gratis ya," goda Zadan.

"Ih kamu tu, dia lagi sedih loh," tegas Mira.

"Iya iya, Mir. Udah dong Reen gausah sedih. Kalau ada apa-apa kamu kabarin kita aja, kamu cerita ke kita. Pasti bakal kita dengerin kok. Yakan, Mir?" tutur Zadan.

"Bener banget," tegas Mira.

Mungkin kalau boleh jujur, melihat mereka berdua tertawa sangat membuatku bahagia. Senang sekali bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka berdua. Manusia yang sangat baik dan penyayang terhadapku. Hanya mereka yang mengerti apapun yang aku ucapkan tanpa butuh penjelasan ku lebih detail. Dan kini, aku harus kehilangan mereka. Apa aku bisa melewati hari-hari ku tanpa hadirnya orang-orang yang aku sayangi?

"Aireen," suara orang memanggilnya, tapi ia kebingungan dari mana asal suara itu.

"Reen," suaranya makin keras.

"Heh Reen!" Suara panggilan disertai petikan jari yang terdengar di telinganya.

"Hais, kau mengagetkanku," ujar Reen.

"Bisa-bisanya orang dateng ke perpus bukanya baca buku malah tidur," ujar Eden.

Reen tersenyum sejenak sembari menatap kosong ke arah taman luar perpustakaan yang tampak dari jendela.

"Kenapa?" tanya Eden.

"Aku tadi bermimpi," jawab Reen.

"Mimpi apa?" tanya Eden lagi.

"Kepo!" jawab Reen sembari tersenyum meledek dan beranjak dari tempat duduknya.

"Hey Reen. Aku kosong hari ini," tutur Eden.

"So?" tanya Reen.

"Mau main denganku?" tawar Eden.

"Hmmm, baiklah aku pertimbangkan dulu," jawab Reen dengan senyum meledek lagi.

user

13 August 2021 15:05 Zaenuri Mungkin kedepannya bisa ditambah unsur kejutan kak, tiba2 ada bom di perpus contohnya, biar emosi pembaca bisa terlarut ke dalam cerita, okey. ^_^

user

13 August 2021 15:53 Siti Muzdalifah ????

user

13 August 2021 15:54 Siti Muzdalifah Rupanya nggak bisa dikomen emoticon :)

3

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 486 kata

Pukul 12.42 di Kota Yogyakarta hari ini tidak seperti biasanya. Matahari seakan dengan sengaja untuk tidak menampakkan dirinya. Reen menengadahkan kepalanya dengan tatapan mata yang tak beraturan.

"Nyari apa?" tanya Eden.

"Nggak, lagi liatin matahari yang nggak mau muncul," jawab Reen.

"Gitu aja?" tanya Eden lagi.

"Kayaknya dia malu ngeliatin kita hahaha," tutur Reen menggoda.

"Ya, mungkin dia sungkan," jawab Eden yang ikut menanggapi godaan Reen.

"Mau ngopi nggak?" tanya Eden.

"Nggak suka kopi," ucap Reen sembari berjalan mengabaikan.

"Kan nggak harus kopi juga kali Reen," jelas Eden.

"Terserah ku sih mau apa nggak," jawab Reen.

 

Tanpa berpikir panjang, Eden menarik tangan Reen ke arah berlawanan sembari berjalan. 

"Hey mau kemana?" tanya Reen.

"Ikut aja," jawab Eden.

"Apa kebiasaanmu memang menculik orang?" tanya Reen.

Eden hanya tersenyum mendengar kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Reen yang berisikan keluhan dengan raut muka yang sangat kesal. Hingga sampailah ke parkiran, "Kalau nggak mau, setidaknya temenin aku," ucap Eden diiringi senyum tipis.

Reen hanya merespon dengan menaikan alisnya dan mengerutkan dahinya. 

"Yuk naik!" Suruh Eden.

Reen pun menaiki motor Eden dan mereka pergi meninggalkan kampus untuk ke coffeeshop terdekat. Di perjalanan, mata Reen melihat ke segala penjuru setiap sudut kota istimewa itu.

"Ed, tau nggak sih? Aku belum pernah berkeliling Jogja sama sekali," ujar Reen.

"Kamu udah berapa tahun disini?" tanya Eden.

"Kurang lebih tiga tahun sih," jawab Reen.

"Kenapa nggak pernah keliling? Kamu anak rumahan kah?" tanya Eden.

"Ya, itu termasuk alasan sih, stick parrent banget soalnya aku. Dan juga, sebenarnya aku benci kota ini. Bagi kebanyakan orang, kota ini bisa membuat mereka jatuh cinta berkali-kali, tapi bagiku lain, kota ini merenggut apapun yang aku cintai. Kehidupanku berubah sejak di kota ini," jelas Reen.

Reen menceritakan beberapa kisah hidupnya dan Eden hanya mendengarkannya bercerita tanpa merespon sedikitpun hingga mereka sampai di sebuah coffeeshop.

"Udah sampai, turun!" suruh Eden.

Reen mengikuti Eden masuk ke dalam coffeeshop, lagi-lagi mata Reen tak bisa disuruh diam, wajar saja ini pertama kali baginya.

"Apa kesukaanmu?" tanya Eden.

"Ha? Aku? Emm, vanilla," jawab Reen setengah kaget.

"Mas, vanilla latte 2 ya," ucap Eden kepada barista coffeeshop tersebut.

"Kamu suka vanilla juga?" tanya Reen.

"Nggak sih, aku cuman penasaran aja seperti apa rasanya minuman favoritmu itu," Ujar Eden sembari tersenyum dan menaikan alisnya. Reen pun ikut tersenyum karena menyadari lelaki itu sedang menggodanya. Kemudian mereka duduk berhadapan di salah satu kursi yang tersedia.

"Reen, aku nggak tahu ada dendam apa kamu sama Jogja, tapi menyimpan dendam itu nggak baik, apalagi kalau kenangan itu buruk, rasa sakit itu akan tertanam semakin dalam di hatimu, dan akan menyiksamu sepanjang waktu," tutur Eden.

"Lalu?" tanya Reen.

"Maafkanlah apapun yang menyakitimu, dengan seperti itu hidupmu akan jauh lebih menenangkan," jelas Eden.

"Kamu nggak akan paham apa yang aku rasain Ed," ujar Reen.

Eden tersenyum tipis, "Jangan serius-serius atuh, nanti cantiknya ilang," goda Eden.

"Mas, vanilla latte 2 ya?" tanya barista sembari menyajikan minuman.

"Makasih, Mas." Ucap Eden dan Reen barengan.

user

18 August 2021 23:51 Zaenuri Matahari seakan dengan sengaja untuk tidak menampakkan dirinya. --> lagi ngambek kali ya... ^_^

4

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 303 Kata

 

"Aku sangat ingin tahu, apa yang membuatmu menyukai sejarah?" Tanya Eden penasaran.

Reen menatap Eden sejenak kemudian terdiam. Ia meneguk minuman yang berada di mejanya sembari memikirkan sesuatu.

"Nggak ada yang istimewa sih, Ed. Sebenarnya lucu, awal mulanya gara-gara aku nonton semua film tentang Hanum dan Rangga, sejak itu aku pengen bisa menapaktilasi jejak kayak mereka berdua, membahas sejarah-sejarah dan menelusuri peradaban yang ada. Ini udah bukan rahasia lagi sih, bahkan banyak yang bilang sifatku mirip sama Hanum di film itu." Jelas Reen sembari tertawa.

"Udah ketebak sejak pertama kali aku mandang kamu sih, Reen." Tutur Eden.

Reen terdiam dan menatap Eden dengan sorot mata yang tajam. Merasa posisinya terancam, Eden segera mencari topik agar suasana kembali netral.

"Jadi, kamu pengen keliling Eropa juga?" Tanya Eden sebagai bentuk pengalihan.

"Iya, aku pengen banget suatu saat bisa ke Alhambra, Cordoba juga ke Hagia Sophia. Pokok ke tempat-tempat yang menyimpan banyak sekali sejarah gitu." Jelas Reen.

"Terus, habis lulus kuliah kamu bakal tinggal di Jogja apa ke Semarang lagi?" Tanya Eden lagi.

"Aku nggak tahu bakalan kembali ke Semarang lagi apa enggak, tapi yang pasti aku nggak mau tinggal di kota ini lagi. Sejujurnya, aku pengen tinggal di Spanyol sih." Tutur Reen sembari tertawa lirih.

"Gimana sih rasanya tinggal di tempat yang kita benci tuh?" Tanya Eden sembari menatap Reen.

Reen menghela nafas dan menutup matanya sejenak.

"Kita akan tetap bertahan di tempat itu, tapi hanya sebatas pertahanan hidup aja, selebihnya kita akan tetap memikirkan tempat yang kita inginkan. Ed, senang itu hanyalah tampilan fisik sedangkan bahagia itu letaknya di hati. Yang terlihat menyenangkan belum tentu membahagiakan." Jelas Reen dengan raut muka serius.

"Benar. Yang membuat kita tertawa belum tentu dapat menyita hati kita, yakan?" Ucap Eden lirih sembari memandang minuman yang ada di meja nya. Reen ikut menunduk sembari mengusap gelas minumannya dan tersenyum.

user

13 August 2021 15:39 Zaenuri *Yang membuat kita tertawa belum tentu dapat menyita hati kita*. Oke punya nih dijadikan quote. ^_^

user

17 August 2021 09:55 Alviyatun LANJUT AH BACANYA

5

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 334 Kata

 

Reen tak sanggup menimpali ucapan Eden. Justru yang dia ingat adalah momen-momen ketika di Semarang saat dia tertawa tak sepenuhnya bahagia, saat dia menangis tak sepenuhnya bersedih. Serumit itu memang yang namanya hati. Dia tetap diam dan mengingat-ingat kapan terakhir kalinya bahagia sampai sejenak lupa dengan waktu yang senantiasa berdetak di sekelilingnya.

"Saat kita bahagia, kita berharap waktu akan terjeda. Tapi nyatanya, waktu akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Saat kita bersedih, waktu seakan mengulur pergerakannya. Makanya di kota ini tiga tahun rasanya seperti setengah abad aja," jelasnya.

"Suatu saat kamu akan rindu kok sama kota ini, karena ini Jogja. Banyak yang bilang hawa tenangnya Jogja nggak akan bisa ditemukan di kota manapun. Buktinya kisah Hema dan Starla juga ada yang berlatar Jogja, kamu tahu kan? So, temukan sebuah alasan, sampai kamu merasa saat dikejar maupun mengejar sesuatu nggak ada bedanya, maka kamu akan melupakan kesedihanmu saat itu juga," ucap Eden sambil menata barang-barang yang ada di mejanya.

"Mungkin benar juga apa kata Eden. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku merasa tenteram saat tinggal di sebuah tempat yang aku sebut rumah. Benar-benar tak terduga jika akhirnya akan terombang-ambing seperti ini rasanya. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibirnya benar-benar membuat perasaanku terobrak-abrik dan menghujam dadaku," batin Reen sembari memandang Eden yang merapikan barang-barangnya.

"Pulang?" tanya Reen.

"So? Tidur disini?" tanya Eden balik sembari tersenyum.

"Nggak gitu konsepnya!" gumam Reen.

Kemudian mereka beranjak dari kursi dan berjalan dengan Eden di depan Reen.

"Aireen?"

Mendengar ada yang memanggil namanya, ia menoleh ke arah suara itu berasal. Mata Reen terbelalak melihat seorang lelaki yang baru saja menyebut namanya hingga Eden menoleh ke belakang untuk memandangnya.

"Ada apa?" tanya Eden, "dia manggil kamu loh, kamu kenal dia?"

"H-ha? I-iya," jawab Reen terbata-bata.

"Apa kabar, Reen?" tanya lelaki itu.

"Alhamdulillah," ucap Reen sembari melangkah meninggalkan Eden dan lelaki itu.

Eden yang kebingungan kemudian menyusul Reen tanpa bertegur sapa dengan lelaki itu.

"Dia siapa?" tanya Eden.

"Aku mau pulang, anter aku sekarang!" jawab Reen dengan nada yang lumayan tinggi dengan raut muka yang sedikit cemas.

"O-oke," pungkas Eden.

user

17 August 2021 10:15 Alviyatun Eh ada yang nongol Kak, siapa Dia?

user

19 August 2021 00:34 Zaenuri "Saat kita bahagia, kita berharap waktu akan terjeda. --> saat emosi menguasai jiwa, akal takkan mampu mencerna~ hai, begitulah kata para pujangga. ^_^

6

4 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 327 Kata

 

Rintik hujan sore menjelang malam di kota itu mendukung suasana hati Reen. Tampak dari kaca spion wajah muramnya benar tak bisa ditutupi.

"Pake jas hujan dulu ya?" tanya Eden kepadanya.

"Kalau misal nggak usah, gimana? Aku pengen ngerasain air nya turun langsung mengenaiku," tuturnya.

Eden hanya mengangguk sembari terus memandangi Reen di kaca spion motornya. Gadis yang biasanya selalu ceria, ya meski kadang kali dia suka kesal dan marah tanpa sebab, tapi tidak dengan wajah muram yang ia saksikan sekarang. 

"Langsung ganti baju habis itu makan ya, jangan sampai sakit!" pesan Eden saat Reen turun dari motornya.

"Iya iya, cerewet banget jadi orang," jawab Reen sembari bergegas meninggalkan Eden.

Eden menghela nafas sembari memandang Reen yang berjalan ke gerbang kos, terlihat langkah demi langkahnya sangat layu, seperti singa yang sudah tidak makan daging buruan selama satu tahun saja. 

"Apa yang membuatnya seperti itu? Apakah laki-laki tadi pernah sangat menyakitinya hingga dia tak sanggup berlama-lama di dekatnya? Atau apa?" Eden bertanya-tanya dalam hatinya.

Sesampainya di kamar, terlihat Naya yang sedang duduk di samping pintu, "Reen, are you ok?" tanya Naya.

"Aku pengen ke Semarang, sekarang!" tegas Reen pada Naya.

"Ha?"

"Tolong pesankan 1 tiket kereta, aku mau siap-siap," ujar Reen sembari membuka koper dan memasukkan barang-barangnya. Naya awalnya kebingungan dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu, tapi Naya memahami dia ingin sendiri untuk beberapa saat.

"Oke, Reen. Aku pesen tiket kereta Joglosemarkerto jam terakhir ya, tapi nanti sampai Semarang bakal maleman," jelas Naya.

"Nggak apa-apa kok, aku bisa nyuruh temen-temen aku buat jemput," tutur Reen.

"Udah aku pesenin, kamu mau berangkat ke stasiun sekarang? Tapi ini hujan loh," Naya khawatir.

"Coba deh rasain naik kereta pas lagi hujan, suasananya pasti beda banget," ucap Reen sembari tersenyum pahit.

"Bisa-bisanya wanita itu tersenyum," gumam Naya kesal.

"Aku berangkat ya, aku udah pesan ojek online," pamit Reen, "Oh iya, weekend ini aku free, jadi aku balik ke sini mungkin Minggu malem, gausah ditungguin," jelas Reen.

"O-oke, take care ya," ucap Naya sembari memeluk Reen.

user

18 August 2021 23:49 Zaenuri seperti singa yang sudah tidak makan daging buruan selama satu tahun saja. -> ga auto tamat tuh kak? ^_^

7

2 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 390 Kata

 

Diiringi rintik hujan yang masih menghiasi kota istimewa malam itu, Reen duduk tepat di samping jendela sambil mendengarkan musik. Matanya hanya memandang ke arah luar jendela, padahal yang nampak hanyalah kegelapan saja, karena jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.

"Sampai jumpa lagi," bisik Reen.

Selama 3 jam perjalanan Reen tidak sengaja tertidur karena terlalu larut dengan suasana malam itu. Hingga ada seorang wanita yang membangunkannya, "Mbak, turun dimana?" tanya wanita itu. Reen mengedip-ngedipkan mata dan kebingungan, ia menghela nafas panjang, "Semarang," jawabnya. Wanita itu tersenyum, "Sebentar lagi mbak, jangan tidur!" tutur wanita itu. Reen hanya mengangguk, kemudian memandang ke arah luar jendela lagi. Malam gelap gulita, dan terlihat sunyi sekali, "Udah reda rupanya," gumam Reen dalam hati.

Semarang, kota dengan segala kenangan. Terpampang pada jam tangan yang melekat di tangan kiri Reen menunjukkan pukul 23.35 yang artinya sebentar lagi kereta akan berhenti di stasiun kota.

"Bagaimana bisa aku bertemu dengannya lagi," gumam Reen dalam hati.

"Mbak, udah sampek tuh," ucap wanita yang duduk di samping Reen.

"Oh iya, Bu. Saya duluan ya," jawab Reen sembari berjalan ke arah pintu turun kereta.

Sesampainya di Stasiun Tawang Kota Semarang, Reen memandangi segala titik sudut yang ada, "sudah lama sekali bukan? tanyanya dalam hati sembari tersenyum. 

Kemudian ia keluar dari stasiun, "jam segini kota besar masih saja rame," gumamnya lagi. Ia menghela nafas panjang kemudian duduk di depan stasiun, "Aku harus kemana ya, mana udah malem pula," bisiknya, "Nggak mungkin aku nyuruh temen buat jemput semalem ini," tambahnya.

Karena tidak ada jalan keluar, Reen berniat untuk berjalan menyusuri kota itu, "Semalam ini, sendirian pula," bisiknya dengan kesal sembari menunduk karena lelah, "Apa aku nyari masjid aja ya buat tidur malam ini?" tanyanya dalam hati. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya, ia begitu terkejut sampai memukul orang itu, "Aduh, sakit loh," teriaknya sembari melepas tangan Reen, "Ed?" mata Reen terbelalak melihat Eden ada di depannya, "Kenapa mandang aku kayak gitu? Aku ganteng?" Eden menggoda, "Nggak lucu," Reen terlihat begitu kesal, "Lain kali kalau mau pergi dipikirin matang-matang dulu jam berapa, mau tidur dimana, mau ketemu siapa, nggak asal gerusak-gerusuk aja, mau tidur di tengah simpang lima kamu?" tutur Eden dengan nada sedikit tinggi karena khawatir.

"Ya kalau boleh tidur disana ya tidur disana," jawab Reen meledek. Eden memandang Reen dengan tatapan mata sinis, "Yaudah-yaudah, kan sekarang ada kamu," tutur Reen sembari menunduk karena merasa bersalah.

user

17 August 2021 10:19 Alviyatun Wah ternyata diikutin terus ya Kak

user

23 August 2021 21:32 Zaenuri Wah, ada stalker nih. ^_^

8

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 436 Kata

 

"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Reen penasaran.

"Aku dikasih tau Naya," jawab Eden.

"Loh kamu kenal Naya?" tanya Reen lagi.

"Iya, Naya temenku di organisasi, pas nganterin kamu pulang aku inget itu kosnya Naya, terus aku tanya dia dan ternyata betul kamar kamu samping kamarnya Naya, katanya kalian lumayan akrab, yaudah aku nanya-nanya ke Naya," tutur Eden.

"Kamu nanya apa aja ke Naya?" tanya Reen.

"Ya apa aja yang pengen aku tahu," jawab Eden sembari berjalan.

"Hey kau mau kemana?" teriak Reen.

"Nyari warung yang masih buka, masa iya kamu mau di stasiun sampai pagi," jelasnya tanpa menoleh, kemudian Reen menyusul berjalan di belakangnya.

Setelah berjalan lumayan lama, "kamu ini bego apa gimana sih? Kan kita bisa nyari di maps terus kita bisa kesana naik ojek online," tutur Reen.

"Nggak apa-apa, sambil olahraga. Di Jogja kan kita ngapain aja pakai motor," jelas Eden sembari tersenyum.

"Nah itu ada warung kopi, buka 24 jam tuh, mau nggak malam ini nggak tidur? Besok kamu nginep ke rumah temen kamu terus istirahat aja disana," tutur Eden.

"Terus kamu gimana?" tanya Reen.

"Terserahku lah mau gimana," jawab Eden singkat.

Reen menghela nafas, "Ya Tuhan, apa yang Engkau pikirkan saat menciptakan manusia itu," gumam Reen kesal.

Kemudian mereka berjalan ke warung kopi dan singgah disana, "Mas, ada yang rasa vanilla nggak?" tanya Eden, "Vanilla? Oh ada Mas," jawab pelayannya, "Dua ya Mas," tutur Eden. 

Reen hanya menatap Eden penuh kejengkelan, sedari tadi ia dibuat kesal oleh sikapnya. Eden yang melihat Reen terus menatapnya dengan raut muka penuh kemarahan malah tersenyum, "Aku tau aku ganteng, tapi gausah ditatap segitunya juga kali," Eden meledek, Reen hanya mengerutkan dahi. "Duduk disini!" suruh Eden. 

Reen duduk di samping Eden dengan bersandar di tembok, "huh, capek banget rasanya," gumam Reen. 

"Salah siapa juga," celetuk Eden.

"Kamu juga salah, ngapain ngikutin aku," ucap Reen kesal.

"Hey kamu tuh cewek, malem-malem gini kabur dari kos, sendirian, hujan-hujan pula, iya kalau Senin balik ke Jogja, kalau diculik orang gimana?" tutur Eden dengan nada lumayan tinggi.

"Siapa juga yang mau nyulik aku," jawab Reen.

"Ya gitu, jawab terus!"

Reen hanya terdiam dengan tatapan kosong, mungkin ia kebingungan dengan apa yang ia lakukan. "Kamu tidur aja deh," ujar Eden. "Terus kamu?" tanya Reen, "Mau streaming, nonton bola, kamu tidur aja, nih jaketku kamu pake buat bantal," jelas Eden sembari mengambil jaket yang ada di tasnya dan memberikan pada Reen.

"Kalau ada apa-apa bangunin!" 

"Buat apa? Aku tinggalin disini biar diculik orang," tutur Eden meledek.

Mungkin karena terlalu lelah, Reen pun terlelap. "Ada apa sebenarnya dengan wanita itu, bisa-bisanya melakukan hal-hal tak terduga," batin Eden sembari memandang Reen yang sedang tertidur.

user

19 August 2021 00:30 Zaenuri "Ada apa sebenarnya dengan wanita itu --> bisa dijadikan judul cerita baru nih kak: Ada Apa Dengan Wanita? ^_^

9

4 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 362 Kata

 

Langit hitam berubah menjadi jingga pertanda sang fajar telah menunjukkan waktu subuh. Suasana diluar ruangan saat pagi memang terkenal dingin. Udara pagi hari serasa bergerak menusuk hati. Eden memandangi gadis yang tergeletak di karpet biru terlelap dalam tidurnya. Karena kedinginan Eden menghabiskan minuman yang disajikan untuk mereka berdua. Jalanan yang tadinya lumayan sunyi sekarang sudah terlihat beberapa kendaraan yang berlalu-lalang.

"Huh, udah pagi ya?" tanya Reen memecah keheningan.

"Iya," jawab Eden, "Reen, sejak dulu aku pengen banget bisa ke masjid agung," tutur Eden.

"Yaudah ke masjid agung aja, tapi kalau pagi gini biasanya dingin banget sih airnya," jelas Reen.

"Dimana aja juga dingin kali," jawab Eden.

"Nggak gitu, aku pernah subuh-subuh kesana tuh airnya beneran dingin banget rasanya, sampek badanku gemetaran," tutur Reen.

"Yaudah ayuk kesana sekarang," ucap Eden.

"Oke, naik apa?" tanya Reen.

"Pesen ojek online, ada kan?" tanya Eden.

"Ada lah," jawab Reen.

Butuh sekitar sepuluh menit dari warung yang mereka singgahi menuju masjid. 

"Kita pencar disini ya," tutur Reen.

"Hah?" 

"Kan kamu di sana aku disitu," jelas Reen sembari menunjuk suatu tempat.

"Oh iya, nanti habis selesai aku tunggu disana," tutur Eden sembari menunjuk suatu tempat.

"Oke,"

"Sungguh seringkali aku merasa suasananya sangat berbeda saat subuh disini," gumam Reen dalam hati sembari berjalan masuk masjid.

Setelah Reen selesai beribadah, Reen langsung menuju tempat yang ditunjuk Eden untuk segera menemuinya.

"Kenapa harus disini?" tanya Reen.

"Haha fotoin," jawab Eden.

Reen hanya menaikkan alisnya.

"Aku kan jarang banget bisa kesini, jadi fotoin dong, mumpung pemandangannya lagi bagus tuh mataharinya masih mau terbit," jelas Eden.

"Iya-iya," jawab Reen kesal dan mengambil ponsel Eden untuk memotretnya.

Setelah selesai berfoto, "Reen, kamu hubungin temenmu, bilang kalau kamu disini dan mau numpang," tutur Eden.

"Iya nanti dulu, aku laper," ucap Reen.

"Kamu laper? Mau nyari makan? Ada nggak yang jualan jam segini?" tanya Eden.

"Ya ada lah, ayuk nyari makan dulu!" ucap Reen.

Sebenarnya Reen tidak selapar itu, karena ia memang jarang makan, tapi Reen berpikir tentang Eden yang sejak kemarin sore belum makan apa-apa. Apalagi jika habis ini ia tinggalkan ke rumah Mira, ia khawatir Eden bertingkah seperti anak yang hilang. Berulang kali Reen memandangi Eden, "kenapa dia mau melakukan semua ini," gumamnya.

user

18 August 2021 11:16 Alviyatun Hm, kenapa ya kak kira-kira? Bocorin dong

user

19 August 2021 00:38 Zaenuri "kenapa dia mau melakukan semua ini," gumamnya.--> sebuah pertanda... ^_^

10

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 350 Kata

 

"Mau makan pecel nggak?" tanya Eden pada Reen.

Reen tertawa kecil, "Iya mau," jawabnya.

"Aku serius, kalau nggak mau ngomong aja," ucap Eden sembari menatap Reen.

"Iya mau, Ed. Aku tertawa karena kamu lucu aja," tutur Reen dengan sedikit tawa lagi.

"Apanya yang lucu?" tanya Eden dengan tatapan sinis.

"Nggak ada kok. Jadi makan pecel nggak?" tanya Reen sembari berjalan ke warung pecel, kemudian Eden mengikutinya dari belakang.

"Buk, pesen kalih nggeh, dimaem teng mriki,"¹ ucap Reen kepada penjualnya.

Sontak saja ucapan yang baru keluar dari bibir Reen membuat mata Eden terbelalak. Ia tertegun mendengar apa yang baru saja Reen ucapkan, 'Bagaimana mungkin gadis kasar itu bisa berbahasa krama?' gumamnya dalam hati.

"Nggeh Mbak, monggo pinarak,"² kata Ibu penjual sembari menunjuk kearah kursi pengunjung.

'Apa aku bermimpi? Aku nggak salah dengar kan?' Eden terus membatin sembari mencubit tangannya sendiri. Ia menatap Reen dengan tatapan mata yang aneh.

"Apa?" bentak Reen padanya.

'Baru saja ia bertutur halus dan kini mengaum layaknya singa, random sekali manusia ini,' batinnya.

"Hei jangan menatapku seperti itu!" bentak Reen lagi.

"Reen, kamu sehat kan ya?" tanya Eden sambil mengerutkan dahi.

"Oh kamu udah bosan hidup?" jawab Reen dengan tatapan sinis sembari memegang garpu yang ada di meja.

"E-enggak kok," ucap Eden terbata-bata sembari menelan ludah.

"Niki Mbak,"³ ucap penjual sembari menyajikan makanan.

"Matur nuwun, Bu."*

"Monggo dimaem,"** ucap Reen kepada Eden.

"Nggeh,"*** jawab Eden halus sembari keheranan.

Reen hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Eden yang kebingungan.

Setelah selesai makan mereka berjalan lagi, "Wah sejuk juga kalau masih pagi," tutur Eden.

"Kamu mau disini terus apa mau pulang?" tanya Reen.

"Kamu gimana?" tanya Eden balik.

"Aku mau ke rumah temen aku sih," jawab Reen.

"Kamu yakin bakal ke rumah temen kamu terus pulang besok?" tanya Eden.

"Emangnya kenapa?" tanya Reen balik.

"Ya nggak apa-apa sih, tapi nanggung," tutur Eden.

"Ya setidaknya aku disini sementara aja," ucap Reen.

"Reen, kamu kenapa kayak gini?" tanya Eden sembari menatap mata Reen. Sementara Reen hanya terdiam seribu bahasa. Ia sedikit terkejut dengan kalimat yang baru saja Eden tanyakan. Terlihat dari sorot matanya, ia tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun.

 

Note:

¹Buk, pesan dua ya, dimakan disini

²Iya Mbak, silakan duduk

³Ini Mbak

*Terima Kasih, Bu

**Silakan dimakan

***Iya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

user

19 August 2021 08:12 Alviyatun Semangat ya Kak. Ternyata bisa bahasa Jawa juga ya

user

23 August 2021 21:59 Zaenuri Rasa apa yang menguasai sehingga membuat bibirnya terkunci?

11

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 366 Kata

 

Satu, dua atau tiga detik tatapan mata Eden pada Reen tidak teralihkan, hingga Reen mengalihkan pandangannya. Tatapan Reen kosong dengan raut wajah yang penuh tekanan.

"Sebenarnya siapa cowok itu? Kenapa kamu jadi kayak gini sejak papasan sama dia waktu itu?" tanya Eden dengan raut muka penuh tanya.

Lagi-lagi Reen hanya diam sembari menatapnya kembali. 

"Kamu nggak mau jawab? Kenapa?" tanya Eden dengan nada sedikit tinggi.

"Kamu mau tau dia siapa?" ucap Reen dengan nada tinggi.

"Dia adalah orang yang pernah aku suka sejak SMP, aku lebih nggak nyangka lagi kalau dia juga suka sama aku, kita emang nggak ada hubungan apa-apa, tapi ucapan dia menunjukkan seakan-akan kita punya ikatan," tegas Reen dengan raut muka penuh kemarahan dan kebencian.

"Dan bodohnya, aku menaruh harap sama orang itu, tanpa aku cari latar belakangnya dulu dan tanpa aku mikir panjang buat kedepannya gimana," jelas Reen yang semakin marah.

"Itu semester terakhir aku pas SMP, Ed. Habis itu aku tetep di Semarang dan dia milih lanjut ke Jogja," tambah Reen dengan ekspresi serupa.

"Awalnya aku mikir semua akan baik-baik aja, sampek suatu ketika chat yang aku kirim ke dia nggak dia bales tapi dia bisa bikin story, ada satu temennya yang ngasih tau aku kalau dia punya orang lain," jelas Reen dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tau kamu akan berpikir saat itu aku masih kecil, masih belum dewasa atau apapun yang ada dipikiranmu. Selama 20 tahun aku hidup, aku masih inget setiap momen yang terjadi, aku masih inget siapa aja yang pernah bikin aku bahagia dan siapa aja yang bikin aku menderita, aku masih inget dengan jelas, Ed." Tutur Reen dengan nada tinggi.

"Dan sekarang, kamu tahu kan apa alasanku benci dan nggak akan pernah memaafkan kota itu?" Reen berbicara dengan mata yang terbuka lebar-lebar.

"Ya, karena kota itu telah merenggut seseorang yang aku suka," tegas Reen sembari mengepalkan tangannya.

"Kota itu telah merenggut apa yang aku sebut bahagia," tambahnya.

"Karena itu aku bersusah payah memohon ke orang tuaku supaya nggak pernah kesitu karena aku nggak akan pernah bisa berdamai dengan kota itu, Ed." Tutur Reen sembari menunjuk kearah Eden.

"Dan lagi, aku nggak akan pernah memaafkan kota itu kalau dia sampai mengulangi perbuatannya padaku!" Pungkas Reen sembari pergi meninggalkan Eden.

user

23 August 2021 22:03 Zaenuri Dan Jogjapun merana: mengapa tiada maaf bagiku? ^_^

12

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 410 Kata

 

Langkah demi langkah yang semakin jauh dari pandangan Eden membuatnya tak berdaya. Eden hanya mampu menghela nafas sembari menyaksikan kepergian Reen pagi itu. Ia diberatkan oleh dua pilihan antara menyusulnya atau balik badan dan meninggalkannya di kota ini sendirian. 

Sementara Reen yang mengambil langkah semakin cepat untuk meninggalkan Eden sendirian di pinggir jalan itu sembari mengusap air mata yang tak sanggup ia tahan lagi. Pandangannya terhadap jalan semakin kabur karena air matanya yang memenuhi matanya, sampai ketika ia berhenti sejenak dan memesan ojek online untuk pergi ke rumah Mira.

"Reen? Hai apa kabar?" suara Mira dari ponsel Reen.

"Aku mau ke rumah kamu, Mir. Tunggu aku di depan," ucap Reen.

"Hei Reen, are you ok? Kamu nangis?" tanya Mira.

"Nanti aja aku ceritanya," jawab Reen.

Sesampainya di rumah Mira, Reen langsung memeluknya dengan erat. Dibalas oleh Mira pelukan yang serupa sembari tepukan halus di punggungnya. Sejak dulu, Reen suka sekali ditepuk halus punggungnya, katanya sebuah tepukan bisa menghancurkan kegundahan yang terselip dalam dirinya.

"Nggak apa-apa, ayuk masuk dulu" ucap Mira.

"Makasih, Mir. Aku selalu repotin kamu," ucap Reen.

"Santai Reen, aku selalu nyatet pengeluarannya kok, suatu saat kamu harus bayar hutangmu," tutur Mira sembari tertawa.

Reen memandang Mira kemudian tersenyum tipis. Ia menyadari sahabatnya tidak pernah berubah sama sekali. Betapa beruntungnya ia memiliki seseorang yang begitu menyayanginya layaknya saudara, mengingat ia tak pernah mendapatkan kasih sayang saudara kandung.

"Kamu mau sarapan?" tanya Mira.

"Aku baru makan," jawab Reen.

"Oke, kalau gitu, mau mandi?" tanya Mira.

Reen mengangguk, "Aku nggak lihat Ayah, Ibu sama Adikmu, dimana mereka?" 

"Ada tuh di belakang, nanti juga papasan," jawab Mira.

"Kayak lagi di bandara aja," gumam Reen.

"Sini tas mu aku bawain ke kamar, kamu istirahat aja habis ini, aku ada banyak tugas jadi kamu jangan keluyuran," jelas Mira.

Reen tertawa kecil mendengar ucapannya.

Mira sangat mengenal Reen, ia tidak akan mengatakan apapun kalau ia tidak ingin mengatakannya, jadi percuma meskipun ia bertanya. 

"Hei, kalau udah selesai mandi langsung ke kamar, bantuin aku nugas," tuturnya.

Reen hanya melirik Mira sebentar kemudian pergi meninggalkannya.

"Iya, Mir?" 

"Reen ada di rumah," ucap Mira.

"Hah? Serius?" tanya Zadan.

"Iya, dia dateng pagi ini," 

"Sampai kapan disitu?" 

"Mungkin besok dia pulang," ucap Mira.

"Aku nanti kesitu, Mir. Siapin makanan, oke?" ucap Zadan sembari tertawa.

"Huft, dosa apa yang aku perbuat hingga aku punya dua sahabat semenjengkelkan kalian," tutur Mira sembari menutup teleponnya.

"Semoga aja aku dan Zadan bisa meringankan bebannya," gumam Mira sembari memandang foto mereka bertiga di kamarnya.

user

23 August 2021 22:08 Zaenuri Temannya sexy nih--> sexy konsumsi maksudnya. ^_^

13

2 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 516 Kata

 

"Ngomong sama siapa, Mir?" Reen yang tiba-tiba masuk ke kamar Mira setelah selesai mandi.

"Hais, bisa nggak sih santai dikit," ucap Mira terkejut.

"Loh aku udah santai, kamu aja yang ngelamun," tutur Reen sembari membereskan barang-barang yang ada di kamar Mira.

"Zadan nanti mau kesini," ucap Mira sembari memandang Reen.

"Wah senengnya, setelah sekian lama nggak ngumpul bertiga," jawab Reen sembari menyapu lantai kamar Mira.

"Kebiasaanmu nggak pernah berubah ya, Reen. Hobinya berantakan tapi nggak bisa lihat orang lain berantakan," tutur Mira sembari tertawa.

"Aku tuh berantakan ada konsepnya, lah kalian berantakannya abstrak makanya geli banget kalau dilihat," ucap Reen tanpa memperdulikan Mira disekitarnya.

"Mendingan kamu bantuin aku ngerjain tugas gih," suruh Mira.

"Kamu rajin juga ya, Mir. Jam segini udah mandi, terus ngerjain tugas pula," tutur Reen sembari memandangi setiap sudut kamar Mira.

"Ya karena aku nggak ada kerjaan aja, aku disini nggak ada temen deket. Kamu ngerasa nggak sih, Reen. Kalau temen kuliah tuh nggak ada yang beneran temen? Rasanya kayak beda aja suasananya sama temen waktu SMA," tutur Mira.

"Iya Mir. Karena sistemnya aja juga udah beda, semua rasanya beda," ucap Reen sambil tersenyum memandangi foto mereka bertiga waktu SMA.

"Kamu mau makan atau cemilan apa gitu nggak? Buat Zadan juga," tawar Mira.

"Kayaknya kita biasanya cuman nyemil roti aja deh," jawab Reen.

"Iya sih, kalau roti mah banyak di rumah," jelas Mira.

"Kak, ada Kak Zadan diluar," teriak adiknya Mira dari luar kamar.

"Iya," teriak Mira dari kamar.

"Tunggu disini ya, Reen."

Mira keluar kamar untuk menemui Eden yang sedang di halaman rumahnya.

"Wih cemberut," ujar Zadan.

"Aku pikir kamu kesini siang, Bro. Ngapain sepagi ini udah kesini," tutur Mira.

"Pengen lihat wajahnya Lady Reen," ucap Zadan sembari tertawa.

"Zad, dia kayaknya lagi ada masalah. Dia tadi kesini sambil nangis, aku belum nanya sih dia kenapa, kamu tahu kan dia nggak bakal mau ngomong kalau ditanya," jelas Mira.

"Kenapa lagi dia? Jangan-jangan dia ketemu..." ucap Zadan.

"Hah? Maksudmu cowok itu?" tanya Mira.

"Nggak tahu sih, Mir. Dimana Reen? Aku pengen ketemu dia," tutur Zadan.

"Yaudah sini masuk," ucap Mira sembari berjalan ke dalam rumah, disusul Zadan yang berjalan di belakangnya.

"Hai, Lady!" sapa Zadan.

Reen tersenyum melihat kedua sahabatnya ada di dekatnya.

"Hai, lama banget ya nggak ketemu," tutur Reen.

"Bilang aja kangen aku, ya kan?" ucap Zadan menggoda.

"Dih, kayaknya sarapanku pengen keluar lagi," ucap Mira menyela.

"Kangen banget sama kalian berdua, tapi aku nggak bisa kesini selama ini, kalau Ayah Ibu ku tahu pasti nggak dibolehin juga," jelas Reen.

Zadan menghela nafas, "Nggak apa-apa, yang penting kamu sehat dan bahagia, aku udah seneng banget. Ya nggak, Mir?" tutur Zadan.

"Apaan sih sok akrab," jawab Mira.

Reen tertawa melihat tingkah mereka berdua yang tidak pernah berubah sejak SMP. 

"Banyak yang bilang pertemanan tiga orang tidak akan adil kepada salah satu orangnya, akan tetapi selama 8 tahun kami berteman tidak pernah sekalipun kudapati pertengakaran yang terjadi karena kecemburuan satu sama lain. Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti mereka berdua, yang tak kenal jarak dan waktu, kasih sayangnya selalu ada," batin Reen sembari menatap mereka berdua yang masih saja bertingkah seperti Tom dan Jerry.

user

23 August 2021 22:14 Zaenuri "Aku tuh berantakan ada konsepnya, --> bisa dikasih contohnya, kak? ^_^

14

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 412 Kata

 

"Kamu dateng awal tuh karena mau habisin makanan kan?" ucap Mira dengan tatapan sinis kepada Zadan.

"Dih kagak, aku tadi nanya Reen katanya mau pulang hari ini," tutur Zadan sembari mengunyah roti tawar.

"Terus aku nyari tiket kereta ke Jogja jadwal hari ini, aku nemu paling akhir jam 3 sore," tuturnya.

"Terus gimana dong, Reen?" tanya Mira terkejut dan khawatir.

"Nggak gimana-gimana, tadi sebelum kesini udah tak beliin tiketnya, makanya aku cepetan datang biar bisa ketemu lebih lama," tutur Zadan.

Mira menghela nafas panjang, "Huh, alhamdulilah deh. Tumben loh kamu waras gini," ucap Mira mengejek Zadan.

Zadan tidak peduli dengan ejekan Mira, sementara Reen hanya tertawa melihat tingkah mereka.

"Maaf ya, kawan. Kalau aku repotin kalian," ucap Reen.

Seketika suasana kamar Mira menjadi hening sekali hingga detak jam dinding terdengar dengan jelas suaranya. 

"Hei, kalau kamu ngomong kayak gituan lagi, tak jahit bibirmu," jawab Zadan.

"Setuju, kamu tuh apaan sih," ujar Mira.

Reen menundukkan pandangannya, ia bingung harus mengeluarkan kata seperti apa lagi yang pantas disampaikan untuk kedua sahabatnya.

"Kalian tahu? Dulu aku suka sama seseorang, rupanya dia juga suka sama aku," Reen mulai bercerita.

"Kita terpisah kota saat SMA. Aku menjaga setiap pergaulanku demi menghargai perasaannya," terusnya.

"Tapi yang kudapati hanyalah luka, aku yang rela menunggu seminggu sekali hanya untuk berbalas pesan dengannya, karena dia hanya megang HP seminggu sekali. Tapi, pesan terakhirku di Minggu lalu tidak dia balas, hari ini dia bisa buat story. Aku masih berpikir kalau dia mungkin lupa, aku coba memancingnya dengan buat story, dia lihat, hanya saja tidak direspon. Kemudian dia buat story cewek," Zadan dan Mira mendengarkan cerita Reen dengan seksama.

"Huh, aku hanya tersenyum saat itu, mungkin disana cewek-ceweknya jauh lebih baik dan cantik daripada aku. Tapi rasanya sakit banget pas kita udah capek-capek menjaga diri kita tapi dari pihaknya malah bertingkah seenaknya. Dan sejak saat itu, aku mengutuk Jogja. Aku menyalahkan Jogja," terusnya lagi.

"Jogjalah penyebabnya, Jogja merenggut apa yang aku suka. Sejak itu, aku nggak mau menaruh rasa kepada seseorang lagi, karena rasa trauma ku yang begitu besar menyelimuti hingga saat ini, terlebih saat aku harus pindah dan tinggal di kota itu," Mira menatap Reen dengan tatapan cemas.

"Siapa yang bilang luka akan sembuh seiring berjalannya waktu? Bahkan tiap kali mengingatnya, yang ku ingat hanyalah kenangan buruknya saja. Aku nggak bisa suka sama orang disana, aku hanya takut kejadian itu terulang lagi, kayak orang yang udah punya trust issue, nggak akan bisa percaya lagi," pungkas Reen sembari tersenyum dengan tatapan kosong.

user

23 August 2021 22:25 Zaenuri Pemirsa~ bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Tetap bersama kami di channel kesayangan anda ini. Semangat! ^_^

user

26 August 2021 11:54 Alviyatun Tapi, Dia malah jadi ingat terus sama Jogja...Iyo to, Kak

15

3 1

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 339 kata

 

Suasana kamar Mira terasa hening saat Reen menyudahi ceritanya. Zadan dan Mira saling menatap, kemudian Zadan memberikan kode dengan menggerakkan sedikit kepalanya ke arah Reen dan dibalas anggukan oleh Mira. 

Mira memeluk Reen sembari menepuk punggungnya, "Kalau kamu mau nangis lagi ya teruskan aja," bisik Mira sembari mendekapnya penuh kehangatan.

Reen meregangkan pelukan Mira dan menatap Mira sembari tersenyum, "Makasih," ucapnya.

"Tau nggak sih? Rotinya enak, kamu harus makan yang banyak, Reen!" celetuk Zadan.

Mira yang kesal mendengar ucapannya sontak menatapnya tajam seolah ingin menghunuskan sebuah pedang ke tubuhnya. Sementara Zadan hanya tersenyum ke arah Reen.

"Makasih juga, Zad. Jadi repotin kamu," tutur Reen.

"Kan aku udah bilang, semua itu nggak gratis. Nanti pas aku wisuda, kamu harus dateng, Reen. Karena aku cowok, aku nggak mau dibawain karangan bunga. Aku mau nya dibawain buket yang isinya lembaran merah muda ituloh," tuturnya.

"Gampang, nanti aku buatin buket yang isinya potongan kertas kado warnanya merah muda," celetuk Mira.

"Apaan sih nenek sihir," ucap Zadan.

Reen tersenyum karena tingkah mereka berdua. Zadan dan Mira pun tersenyum melihat Reen tersenyum.

"Bantuin aku bikin brownies yuk," ucap Mira.

"Buat apa?" tanya Reen.

"Buat dimakan tentunya. Sekalian buat bekal kamu balik ke Jogja," tuturnya.

"Wah ide bagus tuh," ucap Zadan.

"Mendingan nggak usah deh, repotin kalian," tutur Reen.

"Santai, aku juga pengen makan brownies," ucap Zadan.

"Emang apa yang nggak kamu suka, dasar!" celetuk Mira.

"Masih nanya, Mir? Serius nggak tahu jawabannya?" goda Zadan.

"Sudah sudah, kalian itu bertengkar mulu," tutur Reen.

Mereka bertiga bergegas ke dapur untuk membuat kue brownies.

"Nanti yang sebagian kita makan, sebagian buat keluarganya Mira, sebagian lagi buat dibawa Reen balik ke Jogja," tutur Zadan.

"Udah tau," tegas Mira.

"Jadi, kalau bikin yang banyak," goda Zadan sembari tertawa lirih.

"Aku masih punya bahan-bahannya kok, kemarin soalnya baru ada acara, jadi daripada nggak kepakai yaudah mending kita pakai aja semuanya," tutur Mira.

"Ah baik banget kamu tumben," celetuk Zadan.

Mira memandang Zadan dengan tatapan tajam lagi. Dan Reen selalu saja tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang setiap hari makin berulah saja.

user

29 August 2021 00:33 Zaenuri Lama2 bisa jadi Tom & Jerry tuch, kelakuan para sahabat Reen... ^_^

16

3 2

Sarapan Kata KMO Club Batch 36

Kelompok 15

Jumlah Kata: 347 kata

 

Setelah membuat kue brownies dan memakannya bersama keluarga Mira hingga matahari sudah tergelincir kearah barat, mereka bergegas mempersiapkan kepergian Reen.

"Huh sedih banget rasanya," ujar Zadan.

"Kamu jangan nakal-nakal disini, jangan godain Mira mulu," ucap Reen sembari merapikan barang-barang yang akan dibawa kembali ke Jogja.

"Dengerin tuh!" tutur Mira sembari menyiapkan kue brownies untuk bekal kembalinya Reen ke Jogja.

"Nanti kalau udah nyampek sana kabarin loh! Habis itu langsung bersih-bersih, makan, ngerjain tugas lalu tidur," ucap Zadan sembari memakan kue brownies buatannya.

"Yuhu sudah siap, let's go," ujar Mira.

"Kemana?" tanya Zadan.

"Stasiun lah, kan naik kereta, masa iya ke bandara," jelas Mira.

"Yaudah aku juga ikut, kita anter bareng-bareng," tutur Zadan.

"Kalau kalian mau yaudah ayo," ucap Reen.

Zadan membawakan tas Reen dan Mira merangkul Reen sembari memberikan pesan-pesan terakhirnya sebelum mereka akhirnya berpisah lagi. Mira membonceng Reen dengan motornya disusul Zadan yang mengendarai motornya sendirian dibelakang mereka berdua. 

Sesampainya di stasiun, Reen berpamitan kepada mereka berdua.

"Makasih banyak ya, kalian berdua. Aku balik dulu, kalian jaga diri baik-baik," tutur Reen sembari memandangi kedua sahabatnya.

"Santai, sana buruan masuk nanti ketinggalan kereta," jawab Zadan.

"Iya bener, sampai jumpa lagi ya, semangat!" ucap Mira sembari memeluk Reen.

"Ayo pulang, jangan nangis, aku yang malu," ujar Zadan pada Mira yang sedari tadi memandang Reen yang telah beranjak meninggalkan mereka.

"Semoga aja dia bisa lupa sama kejadian hari kemarin," tutur Mira.

Reen memasuki kereta yang akan membawanya kembali ke kota istimewa itu. Ia duduk di kursi penumpang yang dekat dengan jendela lagi. Ia memandangi luar jendela dan beberapa kali menghela nafas. 

"Huft, akhirnya aku dipaksa kembali lagi ke kota itu," gumamnya lirih.

Tiba-tiba ia teringat kalau selama di rumah Mira ia telah mematikan ponselnya. 

"Oh iya, HP aku masih mati," ujarnya.

Reen mengaktifkan ponselnya kembali dan mendapati pesan dari Naya.

'Reen, kamu dimana? Aku mau ngasih tau kamu. Eden kecelakaan.'

Reen terkejut membaca pesan dari Naya, tangannya mendadak bergetar, matanya terbelalak.

'Apa? Eden? Kecelakaan?' batin Reen.

"Kok bisa?" gumamnya lirih.

Reen bersandar ke dinding kereta karena tubuhnya terasa lemas, sungguh berita yang baru saja ia terima sangat mengejutkan baginya.

user

29 August 2021 00:36 Zaenuri Hemm~ konflik baru nih... ^_^

user

29 August 2021 00:36 Zaenuri Hemm~ konflik baru nih... ^_^

Mungkin saja kamu suka

Susi Khotimah
Penantian Sharleta
Sinta Srimulyan...
Antara Surga dan Kasih Sayang

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil