Loading
34

1

0

Genre : Romance
Penulis : Dewi Maryati
Bab : 14
Pembaca : 2
Nama : Dewi Maryati
Buku : 1

Anak Metal Mencintai Ustadzah

Sinopsis

Namanya Roy seorang vocalis band metal, jatuh cinta saat pandangan pertama pada seorang ustadzah. Azzukhrufuljannah wanita itu, wanita yang menbuat Roy berhijrah dan meninggalkan hobinya di dunia musik. Ditolak tak membuat Roy menyerah. Ia pun kembali melamar Jannah hingga Jannah mengajukan syarat untuk Roy. Apa syaratnya? Apakah perjuangan Roy bisa berujung di pelaminan? Ataukah malah menyerah?
Tags :
#Romance #KMObatch36 #KMOIndonesia

Terpesona

4 3

sarapan kata.

KMO Indonesia Batch 36 Kelompok 15

Day1

Jumlah kata 520

 

Terpesona

Seorang pemuda sedang duduk di teras rumah menanti hadirnya sahabat masa kecilnya. Pemuda berusia 25 tahun tersebut bernama Roy alias Saipul Bahri. Ia adalah seorang vocalis band cupang metalcore. Pria yang berpakaian serba hitam serta menggunakan kalung rantai di lehernya, tak lupa rambutnya yang gondrong Ia biarkan tergerai tanpa diikat. Ia memiliki suara yang khas sehingga membuat grup band yang Ia bangun dengan teman-temannya menjadi terkenal. Saat Ia sedang asik mendengarkan lagu metal terdengar suara motor berhenti. Teman yang ia tunggu akhirnya datang namun tatapannya malah tertuju pada sosok wanita dibelakang Andi yang menggunakan kerudung pink yang lebar serta gamis yang menutup auratnya.

 

“Hey bro lama nunggu ya?” ucap Andi yang mengagetkan Roy.

 

“Eh engga kok.” ucap Roy singkat yang masih terpana dengan wanita yang bersama Andi.

 

“Hey kenapa bro, jangan jelalatan dia adik mamah aku.” tanya Andi sambil menyenggol lengan Roy

 

Menyadari keponakan dan temannya sedang membicarakannya akhirnya wanita tersebut berpamitan.

 

“Bro cantik banget bro, adem banget lihatnya,” ucap Roy sambil menggelengkan kepala seperti terhipnotis.

“Iyalah cantik, sholehah, pinter sayangnya dia mahram aku jadi ga bisa aku nikahi,” jawab Andi sambil tertawa.

“Belum nikah kan bro?” tanya Roy dengan ekspresi penasarannya dan berharap jawaban Andi sesuai dengan yang Ia harapkan.

“Belum tapi yang antri banyak, kamu bukan tipe dia banget bro masa ustadzah mau sama anak band metal,” sindir Andi yang di iringi gelak tawa.

“Ya ampun ukhti, pesonamu menebarkan jantungku.” ungkap Roy sambil memegangi dadanya, baru pertama kalinya Ia bertemu dengan wanita yang sangat menggetarkan hatinya.

 

Sejak saat itu, Roy selalu terbayang dengan pesona dari bibi Andi yang bernama Azzukhrufuljannah yang biasa dipanggil Jannah. Baru kali ini ia melihat wanita yang penuh pesona meskipun dengan pakaiannya yang tertutup. Roy merayu Andi supaya Andi memberikan kontak Jannah, namun Andi hanya memberikan akun sosial media Jannah.

 

Roy langsung membuka akun sosial medianya yang berwarna biru, Ia mencari akun Jannah namun ternyata banyak yang memiliki nama yang sama dengan Jannah. Ia menghubungi Andi kembali untuk memastikan mana akun Jannah. Andipun mengirimkan gambar profil Jannah. Akhirnya Roy menemukan akun sosial media Jannah, ia berdebar kala membuka profil Jannah semua isinya tentang dakwah. Setiap Jannah memposting apapun selalu dibanjiri komentar. Ia mencari foto Jannah namun nihil tak menemukan. Nyalinya menciut karena melihat Jannah dan dirinya yang sangat jauh berbeda ia yang seorang anak band metal yang bergaul dengan teman-teman yang jauh dari agama sedangkan jannah sosok wanita yang taat pada agama. Sebejad – bejadnya Roy ia tak pernah meninggalkan sholat 5 waktu, hanya saja dengan pergaulannya yang bebas menjadikan pengetahuan agamanya kurang.

 

Tambah berdebar jantung Roy kala melihat akun jannah aktif. Ia merasa aneh kenapa bisa sangat gugup padahal hanya bertemu di dunia maya, lalu Ia memberanikan diri untuk menyapa jannah namun Ia sendiri bingung harus menulis apa.

 

‘Assalamu’alaikum’ Roy mencoba  menulis pesan hendak dikirim ke Jannah namun ragu akhirnya Ia menghapus kembali.

‘Assalamu’alaikum teh, kenalkan saya Roy’ lagi dan lagi Ia menulis pesan tapi tak hendak dikirim, lalu ia menghapusnya kembali.  Saat ia iseng-iseng mengetik “ Istriku” terdengar ketukan pintu yang keras dari luar kamarnya, Roy kaget hingga tanpa sengaja jarinya menempel ke tombol kirim. Akhirnya tanpa sengaja pesan tersebut terkirim ke Jannah.

user

12 August 2021 18:44 Yanah Yunita Semangat terus, Kak.

user

12 August 2021 22:48 Zaenuri Inikah namanya cinta? Kita akan menemukan jawaban di episode berikutnya... lanjutkan~

user

13 August 2021 10:04 Dewi Maryati Terimakasih sudah mampir

Terkejut

3 2

Sarapan Kata KMO Batch 36

Kelompok 15

Day2

Jumlah Kata 481

 

Terkejut

POV Roy

Saat menimbang-nimbang akan mengirim pesan ke Jannah atau tidak, tak tahu kenapa tangan ini bergetar jantung berdetak dengan cepat.

 

“Eh biasa aja keles Roy ga usah grogi, aku kan laki-laki yang sangat tampan kata mamah juga”

 

Aku yang sedari tadi ingin menyapa Jannah masih ragu karena baru pertama kali menyapa wanita yang sangat menjaga dirinya.  Biasanya kalau dengan wanita lain langsung rayuan maut dikeluarkan tapi Jannah sangat berbeda.

 

“Ngetik apa dong yang pantes, kenapa blang gini ya ni otak?”

 

Saat jantung ini berdebar dahsyat pikiran ini membayangkan kalau kelak Jannah menjadi istrinya. Sambil tersenyum  sendiri ku mulai mengetik yang terlintas di otak.

 

‘Istriku’

 

Terdengar mamah mengetuk pintu sangat keras membuat ku kaget saja, saat aku melihat handphone disana terlihat aku mengirim pesan ke Jannah dan sudah dibaca oleh Jannah.

 

“Tidak……………” aku reflek berteriak karena kaget bercampur malu, mana pesan yang ku kirim ke Pedean banget lagi. Di luar kamar mamah berteriak memanggil sambil menggedor-gedor pintu. Aku tak menghiraukan panggilan mama. Yang aku pikirkan adalah bagaimana beralasan jika Jannah membalas pesannya. Sudah 2 menit berlalu tapi Jannah hanya membacanya saja. Akhirnya ku putuskan untuk membuka pintu kamar. Kulihat mamah dengan wajah penuh ke khawatiran.

 

“Ya ampun Andre Taulani mama kenapa baru buka pintu? Kamu kenapa nak?” itulah mamah yang selalu menganggap aku anak kecil dan selalu menyebutku dengan panggilan penyanyi pavorite mamah sejak masih muda. Sebenarnya aku risih kadang malu di depan teman-teman mamah selalu memperlakukanku masih seperti anak kecil. Aku kan anak metal, malu sama tato yang ada di lengan.

 

“Mama yang kenapa pake gedor-gedor pintu segala, aku tadi lagi tidur ma,” aku terpaksa berbohong ke mamah kalau bicara sejujurnya bisa panjang urusannya.

 

“Itu ada si petir di ruang tamu, kamu samperin gih!” sebenernya namanya Putra tapi mamah selalu menyebutnya dengan sebutan Petir.

 

“Ok Mamah darling.”

 

Benar saja putra sudah menunggu sambil memainkan ponselnya.

 

“Hey bro, maaf ya lama. Ada apa nih bro?”

 

“Lah lupa ente, kan hari ini latihan makanya sekalian lewat gue kesini nyamperin ente,” aku lupa kalau memang hari ini ada latihan sama anak band aku, tapi sepertinya aku harus harus ke rumah Andi untuk mencari informasi tentang Jannah. Sumpah dia tuh bikin penasaran.

 

“Oh iya, tapi maaf bro hari ini aku ada janji jadi belum bisa ikut latihan. Nanti Seno aja yang gantiin aku ya,”

 

“Ah loe ga asik ah, suara Seno ga se metal loe,” sepertinya Putra kecewa dengan keputusanku, tapi akupun sedang tidak bersemangat.

 

“Iya maaf ya bro, sana gih nanti kamu terlambat,” pintaku tapi sebenarnya tak berniat mengusirnya, tapi aku harus cepat-cepat menemui Andi untuk menanyakan perihal Jannah.

 

“Yah elah pake ngusir segala lagi tapi emang sudah terlambat sih,” terlihat Putra kesal lalu berdiri hendak berpamitan.

 

Sepeninggalnya Putra aku bergegas ke rumah Andi dengan motor kesayanganku.  Sesampainya disana terlihat Andi disana sedang menulis surat undangan karena memang dia akan menikah akhir bulan ini. Andi tersenyum saat aku datang tapi kok perasaanku ga enak ya.

 

user

12 August 2021 18:46 Yanah Yunita Lanjut, Kak.

user

12 August 2021 23:04 Zaenuri 'Kok perasaanku ga enak ya?' Hemm~ pasti ada sesuatu...

Bertemu Pujaan Hati

2 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Jumlah Kata 530

Day 3

 

Bertemu Pujaan Hati

Aku berjalan memasuki rumah sahabatku sejak kecil. Ia terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang berserakan.

“Nah kebetulan.” Tuh kan pasti tuh anak mau memanfaatkan aku. Tapi tak apa lah siapa tau dia bisa bantu aku buat dijodohin ke bibinya.

 

“Kenapa bro? calon paman datang bukannya disambut,” ucapku dengan penuh percaya diri.

 

“Apa ga salah denger ya? Sini duduk yang manis pegang pulpennya, ini list namanya. Ente tinggal tulis disini sesuai nama-nama yang ada di list,” yaelah ni anak kesempatan banget aku datang malah disuruh.

 

“Dasar ni anak ya sama paman ngelunjak,”

 

“Sejak kapan ente jadi paman aku? hahahahaha”  tuh anak ngeledek  ya pake ngetawain aku segala.

 

“Sebentar lagi jadi paman ente, makanya ente jodohin aku ke bibi ente” pintaku seraya menepuk pundak Andi. Sebagai seorang sahabat Andi harus dong membantuku mendapatkan  wanita idamanku.

 

“Percaya diri banget ente, bi Jannah itu pengennya nikah sama ustadz nah kamu hahahahaha?” nih anak ga tau apa aku juga bisa jadi ustadz waktu kecil aku sudah tamat iqro 4 kata mamah juga aku anak sholeh.

 

“Eh bro ga ada yang ga mungkin, aku bisa kok jadi ustadz asal ada yang ngajarin apalagi di ajarin sama Jannah seminggu langsung jadi hafidz qur’an,” aku dengan percaya dirinya berkata seperti itu. Memang benar tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha, tapi aku mau berusaha kok karena ada maunya ya, ah dasar aku.

 

“Ente selidiki aja sendiri kebiasaan bibi Jannah, cari tau kesukaan dia karena aku sendiri ga tau, dia kan baru pulang mondok,”

 

“Ok bro, terima kasih sarannya. Kalau begitu aku mau pergi buat menyelidiki Jannah.” Aku lantas bersiap hendak pergi.

 

“Lah bro gimana mau menyelidiki sedangkan rumahnya saja tidak tau, makanya selesaikan dulu nulis surat undangannya setelah itu aku beri tahu dimana rumah bibi Jannah,”

 

“Rese ente bro,” terpaksa aku harus menuruti kemauan Andi kalau tidak dia tidak memberi tahu dimana Jannah tinggal.

 

Setelah selesai membantu Andi, aku langsung pergi ke alamat yang diberikan Andi. Hatiku berdebar sepanjang jalan membayangkan bertemu wanita yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku. Sesampainya dilokasi aku bingung sendiri mau melakukan apa. Hingga aku memutuskan untuk menunggu Jannah dibawah pohon mangga.

 

Dari kejauhan terlihat wanita berkerudung lebar sedang mengendarai motor maticnya, jantungku semakin bedebar kala melihat wanita itu, Jannahku datang. Hingga aku melihat Jannah berhenti di rumah sederhana, tak lama seorang laki-laki paruh baya menghampirinya dan mengulurkan tangannya.

 

Tiba-tiba terlintas di pikiranku sebuah ide, aku langsung bergegas ke minimarket untuk membeli makanan. Aku tersenyum sendiri membayangkan Jannah menerima bingkisan dariku. Setelah selesai berbelanja, aku bergegas menuju ke rumah Jannah kembali. Sesampainya disana, dengan perasaan yang entah aku sendiri tidak bisa mengartikannya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah Jannah.

 

“Assalamu’alaikum,”

 

“Wa’alaikumsalam warohmatullah,” terdengar suara yang begitu merdu,membuat jantung ini semakin berdebar.

 

“Cari siapa ya kak?” lagi-lagi lisan ini seperti terkunci untuk berucap. Terpesona dengan sosok wanita ciptaan Tuhan yang begitu indah.

 

“Sa.. sa..ya mau, oh saya mau menyerahkan titipan Andi.” ucapku terbata-bata. Tangan ini gemetar saat menyerahkan bingkisan, terlihat segan Jannah menerima bingkisan dariku.

 

“Siapa neng?” terlihat seorang pria paruh baya menghampiri kami. Aku tersenyum ke arahnya karena aku tau itu ayah Jannah.

 

“Eh siapa kamu, Jangan ganggu anak saya ya!” Sentak pria tersebut dengan tatapan marahnya.

 

 

 

 

 

 

user

12 August 2021 23:10 Zaenuri Alamak, calon mertuanya galak kali ... belum apa-apa sudah disemprot.

Kedatangan Tamu

3 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 4

Jumlah Kata 334

 

Kedatangan Tamu

“Ayah, ini temannya Andi membawa titipan dari Andi,” jawab Jannah.

“Oh, kok Andi punya teman seperti kamu ya?” ucap Pak Zaenal Ayah Jannah melihatku dari atas sampai bawah.

“Ya sudah Pak dan Neng saya pamit kalau begitu, saya permisi dulu,” dengan berat hati aku berpamitan karena belum siap jika di tanya-tanya oleh Ayah Jannah.

 

Aku bergegas mengendarai motorku dan meninggalkan rumah Jannah. Disepanjang perjalanan aku seperti kehilangan konsentrasi karena teringat akan wajah Jannah yang teduh. Pelan-pelan ku mengendarai motor hingga tiba di rumah. Terlihat ada mobil asing yang terparkir di halaman rumah. Saat tiba di ruang tamu terlihat mamah sedang mengobrol dengan wanita seusianya dan seorang wanita muda yang berpenampilan seksi. Saat aku hendak masuk ke kamar, mamah memanggilku.

 

“Roy, sini nak. Kamu kok baru pulang?” Mamah berbicara sambil tersenyum manis ke arahku, Ia menyuruhku untuk duduk disampingnya.

 

“Ini loh ada tante Siska sama anaknya Riyanti, cantik kan?” Aku membalas uluran tangan tante Siska dan Riyanti dengan meletakan kedua telapak tangan di depan dada.

 

“Wah, Roy itu penampilannya saja metal ternyata orangnya sholeh ya cocoklah dengan Riyanti, iya ga Jeng?” ucapan tante siska membuatku memahami kedatangan tante Siska, bukan aku terlalu percaya diri tapi jika Mamah mau menjodohkan aku dengan Riyanti itu suatu kekeliruan yang besar.

 

“Mah tante, Roy ke kamar dulu ya. Permisi tante,” pamitku. Aku langsung pergi meskipun Mamah memanggilku untuk tetap duduk mendmpingi Riyanti.

 

Setelah aku membersihkan badan, aku langsung menggelar sajadah untuk melaksanakan kewajiban umat islam yaitu salat. Seusai salat aku meraih Al-qur’an di atas lemari, Al-qur’an yang sudah berdebu. Entah sudah berapa lama aku tidak membacanya, seingatku terakhir kali mengaji dulu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar sekarang usiaku sudah 25 tahun. Ternyata sudah lama sekali.

 

Aku bergegas membukanya dan membacanya, saat ingin membacanya lidah ini terasa kaku. Aku sudah lupa tentang cara membaca Al-qur’an yang benar, meski hati menangis karena malu kepada Allah, aku tetap melanjutkan  membacanya.

 

 

 

user

12 August 2021 09:18 Alviyatun Bagus kak

user

12 August 2021 23:27 Zaenuri #si Dilan beli belut; lanjut~

Penampilan Baru

2 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 5

Jumlah Kata 388

 

Penampilan Baru

Tenang sekali rasanya setelah membaca Al-qur’an, lalai sekali diri ini sebagai hamba. Aku terlalu asik dengan duniaku sehingga melupakan akhiratku. Aku sudah merasa memiliki segalanya. Popularitas, keluarga lengkap, penghasilan besar, banyak wanita yang menginginkanku namun semua itu ternyata membuat aku lalai dan lupa akan kewajibanku sebagai hamba. Pantas saja banyak orang yang bisa melewati ujian hidup dengan penderitaan tapi tidak bisa melewati ujian hidup dengan kenikmatan.

 

Teringat akan wajah teduh Jannah, bagaimana bisa wanita sebaik dia mau menikah dengan laki-laki sepertiku. Aku melihat bayangan wajahku di cermin, pantas saja tadi Ayah Jannah sempat berprasangka buruk ternyata penampilanku seperti preman. Baiklah, sepertinya memang aku harus merubah penampilanku.

 

Aku bergegas mengambil gawai yang terletak di kasur. Membuka aplikasi berwarna biru dan langsung memilih pencarian untuk mencari akun Jannah. Lagi-lagi aku seperti tertampar dengan postingan Jannah yang berisikan tentang istidraj. Aku sangat butuh sosok seperti dia yang bisa selalu mengingatkanku. Kali ini aku harus memberanikan diri menyapa Jannah dengan baik.

“Assalamu’alakum ukhti, saya Roy teman Andi yang tadi siang ke rumah,” terlihat Jannah membuka pesanku.

“Wa alaikum salam,” jawab Jannah singkat namun membuat hati ini berbunga-bunga.

“Aku selalu membaca postingan kamu, terimakasih ya sudah selalu mengingatkan dalam kebaikan.”

“Sama-sama,” balas jannah, meskipun hanya menjawab pesanku tapi aku merasa dia sudah menerima cintaku.

 

Bahagia rasanya meski hanya menyapa lewat sosial media, dia wanita yang sangat ramah. Jarum jam masih menunjukan pukul 20.00 WIB masih ada waktu untuk memotong rambut. Aku bergegas keluar dari kamar, di ruang keluarga terlihat Mamah dan Ayah sedang menonton acara TV kesukaannya.

 

“Mau kemana malam-malam?” tanya mamah.

 

“Mau keluar dulu sebentar.”

 

Setelah berpamitan, aku langsung melajukan motorku menuju tempat pangkas rambut. Sebenarnya rambut gondrong seperti ini ciri khas ku tapi aku sendiri merasa takut melihat penampilanku sendiri. Sesampainya di lokasi, aku memilih model rambut yang kekinian dan aku memilih model rambut khas pria korea.

 

‘Dilihat-lihat aku ganteng juga ya?’ bisikku dalam hati.

 

Setelah sampai dirumah disambut dengan raut muka Mamah yang cemberut, tapi langsung tersenyum saat melihat penampilan baruku.

 

“Ya ampun si ganteng Mamah ganteng sekali,” ungkap mamah sambil mencium-cium pipiku.

 

“Mah, aku sudah besar dan anak metal bukan anak kecil lagi, tadi saja pas baru datang mukanya cemberut,”

 

“Iya kamu pergi ga bawa kunci, Mamah sama Ayah nungguin kamu. Ayah tuh sudah tidak sabar ingin bikin adik buat kamu,” balas Mamah setelah itu langsung pergi menuju kamarnya.

 

 

 

 

 

 

user

17 August 2021 23:08 Zaenuri Sudah bisa bersaing dengan preman tobat di tivi sebelah nih kak. ^_^ Terus semangat!

Mengungkapkan Niat

2 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 6

Jumlah Kata 391

 

Mengungkapkan Niat

Lumayan melelahkan hari ini, tapi sungguh membahagiakan. Masih terbayang wajah cantik dan teduh yang seperti ada di pelupuk mata.

 

‘Oh Jannah aku padamu,’ batinku.

 

Suara azan subuh berkumandang, aku bergegas membersihkan diri untuk melaksanakan salat subuh di masjid. Lama sekali rasanya tidak menginjakan kaki di masjid. Entah dorongan dari mana pagi ini bangun tepat waktu dan berkeinginan kuat untuk melaksanakan salat di masjid.

 

Setiap harinya aku disibukkan dengan rutinitas yang melelahkan. Aku seorang dokter gigi di rumah sakit swasta di Karawang, untuk bernyanyi itu merupakan hobiku dari kecil. Biasanya setelah praktik aku bergegas ke markas untuk sekedar kumpul bersama teman-teman band. Namun kali ini berbeda, rasanya malas untuk ikut berkumpul. Setelah selesai praktik aku membuka gawai, terdapat beberapa panggilan yang aku abaikan. Aku memilih membuka aplikasi warna biru dan langsung membuka akun milik Jannah. Mataku berbinar kala membaca status Jannah.

 

‘Seperti layaknya bunga yang ditanam dan dirawat oleh pemiliknya, jika menginginkan bunga tersebut harus meminta ijin kepada pemiliknya. Begitupula dengan wanita yang belum menikah, jika seorang pria menginginkan seorang wanita maka yang terlebih dahulu dilakukan oleh pria adalah meminta ijin kepada yang lebih bertanggung jawab atas wanita tersebut (Bapak). Sungguh, menikah adalah cara terbaik menghindari zina.’

 

Status Jannah membuat hatiku berbunga, itu tandanya Jannah belum dimiliki oleh laki-laki manapun kecuali Ayahnya.

 

‘Baiklah, hari ini juga aku akan mengunjungi Ayahmu,’  batinku sambil tersenyum.

Aku bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju rumah Jannah, tak lupa aku membeli buah-buahan untuk buah tangan. Bahagia sekali rasanya padahal belum tentu lamaranku diterima. Tapi minimal aku sudah memperjuangkan cintaku dan mengungkapkan perasaanku.

 

Sesampainya dirumah Jannah, terlihat Ayahnya sedang menyiram tanaman. Ia meletakan selang lalu menoleh ke arahku.

 

“Sebentar-sebentar, siapa ya?” Ia bertanya sambil menatap ke arahku.

 

“Saya Roy teman Andi, yang kemarin datang kesini pak,” jawabku sambil mengulurkan tangan untuk mencium tangan calon mertuaku.

 

“Loh kok sekarang mah ganteng?” tanyanya dengan enteng.

 

Aku hanya menjawab dengan senyuman, aku harus bersikap se elegan mungkin agar di ijinkan untuk mendekati Jannah. Ayah Jannah mempersilahkanku untuk duduk, lalu Ia memanggil istrinya untuk membuatkan minum.

 

“Ada keperluan apa Nak?” tanyanya langsung pada ke inti permasalahan, padahal tadinya aku mau basa-basi terlebih dahulu supaya lebih akrab.

 

“Saya ingin melamar Jannah Pak,” jawabku sambil menunduk.

 

“Apa?” Ia seperti kaget mendengar jawabanku.

 

“Iya saya ingin melamar Jannah Pak,”

 

 

user

17 August 2021 23:16 Zaenuri Kaget enggak ... kaget enggak ... ya kaget lah. Langsung main tembak aja, ta'arufan dulu dung. ^_^

Lamaran Ditolak

2 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 7

Jumlah Kata 450

 

Lamaran Ditolak

Pak zaenal terkejut dengan ucapanku, Ia mencoba menenangkan pikiran dengan meminum kopi yang tersedia di hadapannya.

 

“Jannah anak bontot saya, saya memang mengharapkan dia secepatnya menikah tapi saya juga berharap anak saya mendapatkan pendamping yang bisa menjaganya dan mendidiknya. Bukannya Bapak meremehkanmu ya, tapi seberapa paham kamu tentang hukum-hukum rumah tangga?”

 

“Saya belum begitu paham Pak, selama ini saya abai dengan ilmu agama,” jawabku sambil menunduk malu.

 

“Lalu, apa bekalmu untuk melamar putri Bapak?” pertanyaan Pak Zaenal membuat nyaliku menciut.

 

“Sa.. saya janji akan menjaga putri Bapak,” jawabku sambil tetap menunduk.

 

Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah, muncul sosok wanita yang akhir-akhir ini selalu mengisi khayalanku. Nampaknya Ia terkejut karena kehadiranku.

 

“Neng, duduk sini!” perintah Pak Zaenal kepada putrinya.

 

“Iya Pak,” jawab Jannah, terlihat Ia masih kebingungan dengan kehadiranku.

 

“Ini nak Roy, katanya ingin melamar neng,” ungkap Pak Zaenal membuat Jannah terkejut.

 

“Apa pak?” jawab Jannah sambil menatap ke arahku.

 

“Yang dikatakan Bapak benar Neng,” jawabku memastikan, namun bukan senyuman yang aku lihat melainkan kesedihan yang nampak di wajah ayunya.

 

“Jannah ga bisa, maaf Jannah harus pergi,” Ia meneteskan air mata saat menjawabnya, Ia berlalu meninggalkanku dan berlari ke kamarnya.

 

‘Apakah aku begitu menakutkan baginya?’ bisikku dalam hati, karena aku heran melihat tingkah Jannah.

 

“Maaf nak Roy, sebaiknya pulang dulu saja ya!” pinta Pak Zaenal, ia seperti ingin meminta maaf atas tingkah putrinya.

 

“Iya tidak apa-apa Pak, maaf saya mengganggu waktu Bapak mohon maaf juga karena saya telah membuat Jannah menangis,”

 

Akhirnya aku pergi meninggalkan rumah Jannah dengan perasaan menyesal, sedih dan kecewa pada diri sendiri. Aku memutuskan untuk menemui teman-temanku di markas, sesampainya disana terlihat mereka sedang tertawa riang sambil merokok dan adapula yang sedang memeluk kekasihnya.

 

“Wiiiiih, vocalis kita jadi oppa korea,” teriak Zein saat aku membuka helm. Tampak yang lainnya juga terkejut dengan penampilan baruku.

 

“Lo di telphone ga di angkat-angkat, belagu banget sih lo,” ucap Putra.

 

“Iya aku tadi banyak pasien, mana sempet lihat HP,” jelasku berbohong.

 

“Iya deh Pak Dokter, eh kok lo ganti model rambut ga konfirmasi dulu? Kita kan band metal coy mana ada band metal tampangnya seperti oppa korea,” tanya Zein karena memang sebelumnya kita sudah komitmen untuk selalu mempertahankan citra sebagai anak metal ke publik.

 

“Iya Mamahku yang nyuruh,” jelasku lagi-lagi berbohong.

 

“Gila ya anak Mamah teman kita ini,” ejek Zein di iringi gelak tawa dari teman-teman yang lainnya.

 

Terdengar suara azan ashar berkumandang, bergegas aku bengkit untuk melaksanakan sholat ashar.

“Bro, cabut dulu ya,”

 

“Eh, baru saja datang.” Protes Putra.

 

“Iya, assalamu’alaikum,” aku langsung bergegas meninggalkan mereka, mungkin mereka aneh dengan sikapku tapi biarlah aku lebih ingin mendekatkan diri pada Rabb ku.

                                                                                                                                    

 

 

 

 

 

 

 

user

17 August 2021 23:34 Zaenuri Sipp, ceritanya makin berkembang. ^_^ Lanjutkan!

user

18 August 2021 11:35 Alviyatun Yuhuu...bagus kakak

Bertemu Pak Ustadz

3 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 8

Jumlah Kata 387

 

Bertemu Pak Ustadz

Aku bergegas menuju masjid terdekat, terlihat beberapa laki-laki paruh baya berdatangan menuju masjid tak terlihat satupun pemuda yang datang. Memang sungguh miris, termasuk aku yang baru sadar akan kewajibanku. Setelah berwudhu aku dipersilahkan sesepuh disana untuk iqomah, meski aku malu karena sudah lama sekali tidak mengumandangkannya tapi aku bergegas melakukannya.

 

Setelah salat, aku memanjatkan do’a dan memohon ampun akan kelalaianku selama ini. Lalai dalam beribadah, lalai dalam menuntut ilmu agama dan lalai untuk berbuat baik kepada sesama. Tanpa bisa dibendung, diri ini menangis. Ternyata diri ini begitu lemah dihadapan Rabb ku. Setelah selesai berdo’a dan membereskan sajadah, terasa pundak ada yang menepuk. Terlihat sosok yang tadi jadi imam menatap sambil tersenyum ke arahku.

 

“Allah maha baik, seberapa besar rasa kecewamu pada makhluk harus selalu di ingat bahwa Allah selalu sayang pada kita,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Iya Pak, saya hanya menyesal karena saya abai dalam kewajiban saya selama ini,” jawabku sambil menunduk.

 

“Allah maha penerima taubat Nak, kalau mau datanglah setiap hari senin dan kamis ba’da ashar, kita belajar tentang ilmu agama disini sekaligus cara kita mendekatkan diri pada Allah,”

 

“Apakah ada pengajian rutin disini pak? Saya bahkan lupa bagaimana membaca Al-qur’an yang benar,” lagi dan lagi aku merutuki kebodohan diri ini.

 

“Tidak apa-apa, tak ada kata terlambat dalam belajar. Rumah Bapak di pertigaan yang dindingnya warna hijau, kalau mau belajar datang saja, tapi untuk sekarang Bapak harus pergi dulu, Assalamu’alaikum,” ucap Bapak tersebut yang aku sendiri belum tahu namanya.

 

Aku melajukan motorku menuju rumah, aku butuh istirahat untuk memulihkan hati dan pikiranku. Sesampainya di rumah, terlihat mobil tante Siska parkir di halaman. Aku lantas masuk lewat pintu belakang karena malas juga jika harus ketemu tante Siska dan anaknya yang seksi itu.

 

Aku langsung mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuh di atas kasur. Bayangan Jannah yang menangis hadir di pikiran ini, aku menyesal telah gegabah dan memutuskan untuk melamar secepat itu. Aku harus meminta maaf, khawatir dia masih menangis.

 

Segera ku raih gawai dan membuka aplikasi warna biru, lalu membuka inbox dengan Jannah.

 

“Assalamu’alaikum ukhti, aku mau minta maaf karena telah lancang. Maaf telah membuat kamu menangis. Jangan terlalu dipikirkan ya!”

 

Pesan masih belum dibaca oleh Jannah, biarlah yang penting aku sudah meminta maaf. Aku sungguh tak tega melihatnya menangis.

user

17 August 2021 23:38 Zaenuri *Tak ada kata terlambat dalam belajar* ^_^ Bisa dijadikan quote nih kak.

Musibah Membawa Hikmah

2 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 9

Jumlah Kata 371

 

Musibah Membawa Hikmah

Ke esokan harinya, saat sedang siap-siap untuk pergi ke rumah sakit, Mamah mengajak sarapan bersama. Aku mengikuti Mamah menuju meja makan.

 

“Roy, kenapa kamu kemarin menghindari Riyanti?” tanya Mamah membuatku enggan untuk menjawab.

 

“Kok diam saja, Mamah nanya loh,”

 

“Aku sebenarnya ga suka Mamah mendekatkan aku dengan Riyanti, mamah lihat penampilan dia kan?” jawabku sambil meletakan sendok karena sudah tak selera untuk makan.

 

“Memangnya kenapa dengan penampilannya? Dia cantik, kalau kamu tidak suka dia berpakaian seperti itu, kamu tinggal didik. Lagi pula selama ini wanita yang dekat dengan kamu pakaiannya semuanya seksi,” jawab Mamah dan aku mengakui kebenaran yang Mamah katakan barusan.

 

“Kenapa mamah repot-repot menjodohkan aku?”

 

“Karena kamu anak Mamah satu-satunya, usia kamu juga sudah matang untuk menikah, Mamah ingin segera menimang cucu,”

 

“Aku sudah punya pilihan Mah, dia wanita yang sholehah dan tak kalah cantik dari Riyanti,” jawabku yang membuat Mamah tercengang mendengarnya.

 

“Benarkah? Ya sudah kenalkan ke Mamah secepatnya!”

 

“Do’akan yang terbaik ya Mah, seperti ingin meraih mutiara terindah tidak semudah mendapatkan batu kerikil di jalan,” jawabku yang masih berharap Jannah akan menjadi istriku.

 

“Iya gantengku, Mamah selalu do’akan yang terbaik buat kamu. Jadi mamah stop nih jodohin kamu ke Riyanti?” pertanyaan Mamah yang membuat aku tersenyum.

 

“Iya stop Mah, ya sudah aku berangkat dulu ya,” ucapku sambil meraih tangan wanita yang selama ini sangat mencintaiku.

 

Hari-hari ku lalui seperti biasa, namun aku sudah jarang sekali ikut berkumpul dengan teman-teman Band, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Hari ini begitu melelahkan, aku bergegas pulang. Di tengah jalan, aku melihat dua orang wanita berpakaian syar’i sedang mendorong motor matic nya. Salah satu wanita tersebut adalah wanita yang selama ini hadir dalam khayalannya. Aku bergegas memarkirkan mobilku lalu keluar menghampiri Jannah dan temannya.

 

“Assalamu’alaikum,” ucapku.

 

“Wa’alaikum salam warohmatullah,” Jannah yang melihatku langsung menunduk.

 

“Kenapa motornya Neng?” tanyaku sambil menatap wajah ayu Jannah.

 

“Ini bannya bocor,” jawab teman Jannah.

 

“Tunggu sebentar ya, aku telephone teman dulu, kebetulan dia punya bengkel biar suruh jemput kesini. Neng tunggu dulu saja, bisa menunggu di dalam mobil,” kataku, sambil dalam hati bersorak gembira.

 

“Alhamdulillah, terimakasih A,” jawab teman Jannah sedangkan Jannah hanya mengulas senyum. Ah, indah sekali senyuman itu.

 

 

 

 

 

 

user

17 August 2021 23:42 Zaenuri *Ah, indah sekali senyuman itu* ^_^ Hatipun langsung klepek-klepek~

Masih Berharap

3 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 10

Jumlah Kata 310

 

Masih Berharap

Aku mempersilahkan mereka untuk menunggu di dalam mobil sedangkan aku sendiri menunggu di luar, setelah menunggu hampir 15 Menit akhirnya motor Jannah di derek oleh orang suruhan temanku.

 

Aku bergegas menghidupakan mobil dan menuju ke arah bengkel, sepanjang perjalanan Jannah hanya diam, untuk mencairkan suasana aku memulai pembicaraan.

 

“Memangnya habis darimana Neng?” tanyaku.

 

“Ini Bu Ustadzah habis mengisi kajian di masjid Al-ikhlas,” jawab teman Jannah sedang Jannah masih terdiam.

 

“Sudah sampai, duduk dulu saja ya sambil nunggu mau dipesankan makanan ga?” tanyaku berharap kali ini Jannah yang jawab.

 

“Tidak usah A,” jawab Jannah.

 

Aku menghampiri temanku yang sedang sibuk memperbaiki mobil, aku menyuruh dia untuk tidak segera menambal motor Jannah.

 

“Bro, jangan cepat-cepat nambal motornya ya minimal sejam lah hahahaha,” pintaku pada temanku.

 

“Aneh banget sih lo, tapi ngomong-ngomong siapa cewek itu?” Genta nama temanku menunjuk ke arah Jannah dan temannya.

 

“Yang pake kerudung putih calon istriku,” jawabku dengan penuh percaya diri dan dalam hati mengaminkan perkataanku.

 

“Widih cakep bener dah, ok siap bro tunggu aja ya,” uangkap Genta.

 

Aku berjalan menghampiri Jannah lalu mengajak Jannah dan temannya ke kedai bakso dekat bengkel, meski awalnya menolak akhirnya mereka bersedia.

 

“Bapak bagaimana kabarnya Neng?” Aku berusaha memulai obrolan.

 

“Alhamdulillah,” jawab Jannah singkat.

 

“Perkara kemarin,”

 

“Rosul melarang berbicara saat makan,” Ungkap Jannah membuat aku malu.

 

Setelah selesai makan, aku kembali membahas lamaranku tempo hari.

 

“Neng sebentar, Aa mau bicara dulu,” ungkapku dijawab senyuman oleh Jannah.

 

“Maafin Aa karena kemarin sudah membuat Neng menangis, Aa ngerti kalau Neng terkejut dengan kehadiran Aa,” ungkapku.

 

“Iya tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf,” jawab Jannah.

 

“Aa hanya tidak tega melihat neng menangis, dalam hati kecil ini masih berharap ada kesempatan yang neng berikan buat Aa.” Mungkin aku terlalu berharap tapi biarlah, selama janur kuning belum melengkung, cinta bisa diperjuangkan.

user

18 August 2021 11:41 Alviyatun Cihui...harapan itu selalu ada kan Kak. Aa siap menunggu

user

22 August 2021 22:22 Zaenuri selama janur kuning belum melengkung, cinta bisa diperjuangkan. -> perjuangkan dengan semangat 45. ^_^

Niat Ingin Meninggalkan Dunia Musik

2 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 11

Jumlah Kata 388

 

Niat Ingin Meninggalkan Dunia Musik

Jannah hanya tertunduk mendengar penuturanku, teman yang duduk di sampingnya terlihat heran dengan perkataan kami, namun dia tetap diam. Aku menghela nafas panjang.

 

“Kalau boleh tahu, seperti apa kriteria calon suami Neng?” Aku berkata sambil menatap paras ayu Jannah.

 

“Aku hanya butuh sosok tauladan seperti Rosulallah, yang bisa mendidikku dan mengajak aku ke surga Allah.”

 

Aku mengerti, rasanya jauh sekali dari kriteria yang di inginkan Jannah, namun bagiku tak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik. Terdengar Genta memanggil, menandakan motor Jannah sudah selesai diperbaiki. Setelah aku membayar biaya perbaikan motor, akhirnya aku dan Jannah pergi ke tujuan masing-masing.

 

Sesampainya di rumah, aku bergegas membersihkan diri. Tak lama kemudian mamah memanggil mengabarkan kalau ada Zein dan Putra menunggu di ruang tamu.

 

“Hey bro,” sapaku kepada mereka.

 

“Pak dokter sibuk sekali sepertinya,” tanya mereka.

 

“Ya, seperti itulah. Ngomong-ngomong ada apa nih?” Sejujurnya aku tahu tujuan kedatangan mereka, karena akhir-akhir ini aku selalu menghindari mereka.

“Bro, lo sekarang gimana sih, ga pernah lagi ke markas, apalagi latihan. Kita harus membuat konten youtube, netizen juga banyak bertanya kenapa lo ga ada dalam konten kita,” jawab Zein.

 

“Sebenarnya lo kenapa sih seperti menghindari kita?” Pertanyaan Putra membuat aku berpikir, jawaban apa yang paling tepat ku katakan pada mereka.

 

“Sebenarnya aku bukan menghindar, tapi karena saat ini dokter gigi yang di rumah sakit sedang cuti jadi aku full praktik disana,” jawabku.

 

“Bro, lo tahu sendiri kan penghasilan utama anak-anak dari hasil band, dan band terkenal karena suara unik lo dan tampang lo yang menjual, jadi gue harap lo tetap konsisten pada band kita jangan seperti kemarin apalagi berhenti, kasihan anak istri kami butuh makan.” Penjelasan Zein membuat aku berpikir, akhir-akhir ini memang aku berniat ingin keluar dari band dan fokus bekerja.

 

“Iya, aku minta maaf. Sepertinya memang aku ga akan bisa fokus ke band lagi karena memang aku sibuk bekerja dan aku ingin memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan Allah,” jawabku.

 

“Ah, munafik lo bro, lo mentingin diri sendiri ga memikirkan kita. Kan sudah sepakat untuk tetap nge-band meskipun punya kesibukan masing-masing. Pokoknya gue ga mau tahu, lo harus kembali nge-band tak ada alasan apapun!” Sikap Zein yang keras memang membuat teman-teman tunduk padanya, tapi aku memang sudah berniat untuk meninggalkan dunia musik.

 

 

 

 

 

 

 

user

19 August 2021 07:55 Alviyatun Keren kak

user

22 August 2021 22:27 Zaenuri aku ingin memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan Allah -> jalan menuju-Nya selalu penuh rintangan, namun kebahagiaan sejati yang kan diperoleh jika mampu melewati rintangan tersebut. ^_^

Menghapus Tato

2 1

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 12

Jumlah Kata 356

 

Menghapus Tato

Setelah memikirkan matang-matang, aku putuskan untuk stop di band dan tato yang ada di leganpun akan dihapus. Aku teringat akan ajakan pak ustadz, mungkin lebih baik aku mulai menimba ilmu agama.

 

Hari ini setelah praktik, aku akan mengunjungi teman untuk menghapus tato di lengan. Sesampainya disana, aku disambut baik oleh dia. Awalnya dia heran dengan keputusanku, namun setelah aku jelaskan dia pun paham. Sakit memang, cuman rasanya lega setelah gambar elang yang ada di lenganku terhapus. Aku memang menyalahi etika kedokteran, hanya saja pihak rumah sakit tidak ada yang tahu kalau aku memiliki tato.

 

Aku teringat akan ajakan pak ustad untuk mengaji, tak ada salahnya aku mengunjungi rumahnya hanya sekedar silaturahim dan berbicara perkara aqidah. Sesampainya di rumah pak ustad, aku disambut oleh wanita paruh baya, dia merupakan istri pak ustadz. Ia mempersilahkanku untuk masuk. Tanpa disangka-sangka, pak ustadz sedang kedatangan tamu yang tak lain adalah ayah Jannah.

 

“MasyaAllah Nak, ayo duduk!” Aku menyalaminya terlebih dahulu lalu menghampiri ayah Jannah.

 

“Loh, nak Roy,” ungkap ayah Jannah.

 

“Iya, Pak. Bagaimana kabar Bapak?” tanyaku pada ayah Jannah.

 

“Alhamdulillah bapak baik, kenal sama pak ustadz Aziz?” tanya ayah Jannah.

 

“Iya, Pak. Baru bertemu sekali, tadi kebetulan lewat jadi sekalian mampir,” jawabku.

 

Setelah kami berbincang-bincang, akhirnya aku dan pak Zaenal memutuskan untuk pulang.

 

“Bapak pulangnya saya antar ya?” pintaku pada ayah Jannah.

 

“Boleh kalau tidak merepotkan,” jawabnya.

 

Setelah sampai, tadinya aku mau langsung pulang, namun pak Zaenal mempersilahkan untuk mampir terlebih dahulu.

 

“Jannah, sini Neng, buatkan teh 2 ya!” Tubuhku kenapa berkeringat dingin saat mendengar suara Jannah.

“Sini duduk dulu!” perintah pak Zaenal pada Jannah.

 

“Minta maaf sama Roy gih!” Tanpa di duga Pak Zaenal memerintahkan Jannah untuk meminta maaf.

 

“Tidak apa-apa, Pak,” jawabku.

 

“Bapak sebenarnya ingin segera menikahkan Jannah, tapi dia seperti menutup diri, bahkan waktu Nak Roy datang dia malah menolak mentah-mentah,” ungkap pak Zaenal, namun ku lihat Jannah hanya tertunduk.

 

“Saya sendiri tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti kalau saya jauh dari apa yang Jannah harapkan, namun dalam hati kecil saya masih berharap ada kesempatan dari Jannah, biar saya memperbaiki diri saya,” ungkapku.

 

 

user

22 August 2021 22:31 Zaenuri “Bapak sebenarnya ingin segera menikahkan Jannah, -> lampu hijau nih. ^_^

Syarat Yang Diajukan

2 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 13

Jumlah Kata 347

#PR

 

Syarat yang Diajukan

“Awalnya Bapak memang kaget melihat penampilan Nak Roy, tapi dengan kesungguhan Nak Roy ke Jannah dan niatan ingin memperbaiki diri, Bapak jadi mempertimbangkan, tapi selebihnya Bapak serahkan ke Jannah,” ungkap Pak Zaenal.

 

Sesaat semuanya hening seperti mendalami pikiran masing-masing. Aku sesekali melihat Jannah yang sedang menunduk.

 

“Bagaimana Neng? Apa tidak sebaiknya dipertimbangkan dulu ajakan dari Roy?” tanya Pak Zaenal.

 

“Jannah tentu ingin mendapatkan suami yang bisa membimbing Jannah yah,” jawab Jannah.

 

“Lalu, apa semua orang tidak berhak diberi kesempatan Neng? Jangan merasa diri Neng baik lalu menolak niat baik orang, siapa tahu dia jodoh Neng,” ungkap Pak Zaenal yang dijawab dengan anggukan oleh Jannah.

 

“Baiklah, sebelum ada proses ta’aruf, bolehkan Jannah mengajukan syarat kepada Aa?” tanya Jannah yang membuatku berbinar.

 

“Tentu, Neng!” Aku langsung menjawab pertanyaan Jannah sambil tersenyum.

 

“Jannah ingin mengajukan tiga syarat,” ungkap Jannah.

 

“Apa itu, Neng?” Aku sudah tak sabar ingin mendengar syarat itu.

 

“Pertama, Aa harus keluar dari band dan mulai memperbaiki diri dengan menimba ilmu agama, Aa bisa mengaji dengan Ustadz Abdul Aziz. Syarat yang kedua, Aa harus mulai membiasakan diri dekat dengan Al-qur’an, Aa bisa mengikuti komunitas One Day One Juz yang diharuskan tilawah minimal sehari satu juz. Dan syarat yang ke tiga,”

 

“Yang ketiga apa Neng?” tanyaku yang masih tidak sabar.

 

“Jemput Jannah melalui do’a, karena Jannah adalah makhluk Allah. Aa harus selalu sholat tepat waktu di masjid dan jangan lupa di tambah sholat sunnahnya. Jika Allah sudah berkehendak, Jannah tidak bisa apa-apa,” ungkap Jannah.

 

“Nah, bagaimana Nak Roy?” tanya Pak Zaenal.

 

“Iya, Pak. Saya bersedia,” jawabku sambil tersenyum.

 

“Alhamdulillah. Jannah memang anak Bapak, tapi Jannah milik Allah jadi mintalah sama Allah. Perkara syarat pertama, kewajiban kita memang menuntut ilmu tanpa batas usia, seorang suami harus bisa mendidik istri dan anak-anaknya menjadi makhluk yang berada di jalan Allah. Nah, bagaimana bisa mendidik jika suami tidak mengetahui ilmunya,” ungkap Pak Zaenal.

 

“Untuk syarat yang kedua, apakah Nak Roy masih bisa membaca Al-qur’an?” tanya Pak Zaenal.

 

“Sa-saya belum lancar membaca Al-qur’annya, pak,” jawabku. Malu sekali rasanya.

 

 

 

 

 

 

 

user

22 August 2021 17:56 Alviyatun Tak apa, kan ada prosesnya????

user

22 August 2021 22:36 Zaenuri “Jannah ingin mengajukan tiga syarat,” -> untung bukan bibit, bebet, bobot nih. Semangat kak. ^_^

Ancaman

2 2

Sarapan Kata.

KMO Indonesia Batch 36

Kelompok 15 Laskar Literasi

Day 14

Jumlah Kata 410

 

Ancaman

Pak Zaenal membuang nafas kasar, Ia menatapku lalu putrinya. Ia bergegas meraih gelas yang ada di hadapannya. Setelah minum Ia melanjutkan pembicaraan yang terjeda.

 

“Nah, mulai hari ini, rajinlah tilawah supaya lancar membacanya. Nak Roy nanti bisa mengunjungi Ustadz Aziz untuk belajar. Al-qur’an itu kitab suci kita, di dalamnya bukan hanya bacaan tapi juga berfungsi sebagai petunjuk, obat serta pembeda yang haq dan yang bathil. InsyaAllah isinya bisa merubah hidup kita menjadi lebih baik,” ungkap Pak Zaenak sambil menatapku.

 

“Dan untuk syarat yang ketiga, memang sudah seharusnya laki-laki itu sholatnya di masjid, kecuali memang darurat. Nah, selama ini bagaimana dengan sholatnya, Nak?” tanya Pak Zaenal.

 

“Saya selalu menjalankan sholat 5 waktu pak, tapi untuk ke masjid sudah sangat jarang,” jawabku. Malu rasanya diri ini, bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik.

 

“Nah, mulai hari ini perbaiki salatnya, salatlah di masjid tepat waktu. Dan jangan lupa, tinggalkan band nya!”

 

“Baik, pak. Saya akan memperbaiki diri saya. Selama ini saya sudah lalai sebagai makhluk, mengabaikan apa yang menjadi kewajiban saya,” ungkapku.

 

Setelah pembicaraan berakhir, akhirnya aku berpamitan untuk pulang. Kali ini, aku pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Wanita yang selama ini di impikan telah memberi kesempatan. Tinggal aku memperbaiki diri.

 

‘malam ini juga aku harus keluar dari band’ batinku.

 

Suara azan magrib berkumandang, aku memarkirkan mobil di halaman masjid Al-ikhlas. Masih sama seperti sebelumnya, jamaan mesjid di dominasi oleh laki-laki paruh baya, entah kemana para pemuda disini. Namun, dipikir-pikir, setiap masjid yang mengisi memang orang-orang yang sudah tua.

 

“Assalamu’alaikum,” sapa seseorang menghampiriku.

 

“Wa’alaikum salam, Pak Ustadz.”

 

“Ayo iqomah!” Aku langsung berdiri untuk iqomah.

 

Setelah selesai salat, aku menunggu pak ustadz sambil berdzikir. Saat pak ustad hendak keluar, aku menghampirinya dan mengabarkan bahwa besok akan berkunjung ke rumahnya.

 

Setelah salat magrib, ada pemuda yang mengajarkan anak-anak mengaji. Sambil menunggu waktu isya, aku membaca Al-qur’an meski masih terbata-bata. Selesai salat isya, aku melajukan mobilku menuju markas. Kebetulan jika malam mereka selalu berkumpul.

 

“Akhirnya vocalis kita datang juga,” sambut mereka saat aku baru sampai di markas.

 

Aku tersenyum menatap mereka, orang-orang baik yang menemaniku selama ini. Tak tega rasanya aku mengatakan akan keluar dari band. Setelah lumayan lama berbincang, akhirnya aku memberanikan diri mengungkapkan tujuan kedatanganku.

 

“Bro, aku mau keluar dari band,” ungkapku.

 

“Ngomong apa lo?” bentak Zein.

 

“Maaf, aku ga bisa nge-band lagi,”

 

Bug, sebuah pukulan mengarah ke pipiku.

 

“Sekali lagi lo bilang mau keluar, gue ga segan-segan hancurin lo,”

 

user

22 August 2021 18:56 Alviyatun Semakin menarik Kak.????

user

22 August 2021 22:40 Zaenuri Bug, sebuah pukulan mengarah ke pipiku. -> langsung keluar bogem mentahnya. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? ^_^

Mungkin saja kamu suka

Asmi Istafa
Bukan Remaja Biasa
Jauharotul Fari...
Ramadhan di Negeri Panda
Irawati Amin
skizofrenia
Novi Permata Sa...
Once Again

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil