Loading
2

0

0

Genre : Romance
Penulis : Jeje Rose
Bab : 30
Pembaca : 3
Nama : Jihan Muthia Resya
Buku : 1

Stefanie's Love story

Sinopsis

Stefanie Mikhaela Keandra, gadis cantik yang tengah berada di fase mencintai dalam diam. Perasaan yang disembunyikan untuk seseorang, mengaguminya tanpa bersuara. Menurut Fani, cinta dalam diam adalah cara terbaik mencintai. Cinta? Sebuah rasa yang susah dijelaskan dengan sebuah kata-kata.Cinta memang tak bisa terencana, ia bisa datang begitu saja, bahkan bermula dari sebuah tatapan yang tak sengaja bertemu. Cinta? Datang tanpa diminta, pergi tanpa di izinkan dan tumbuh tanpa disadari. Fani memilih cinta dalam diam, menguji kesabarannya untuk terus berjuang dalam kebaikan. Ia tidak berharap dengan cintanya, tetapi berharap pada takdir Tuhan.
Tags :
#Cinta #Cintadalamdiam #Pengkhianat #TakdirTuhan

Seperti Mimpi (1)

1 0

• Sarapan kata KMO club Batch 37

• kelompok 11 dandelion

• Jumlah kata 404

   Biasan cahaya matahari menelisik ke celah-celah jendela kamar seorang gadis cantik yang membuatnya terbangun dari alam mimpinya.

    "Hoaaam...," ia menguap sambil mengeliatkan tubuhnya yang sangat lelah. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka jendela untuk melihat keindahan alam di pagi hari. Ia menghirup udara segar dan tersenyum melihat burung berterbangan kesana-kemari. "selamat pagi dunia," sapanya pada dunia dengan tersenyum manis. 

    "Tok...tok...tok…," 

    "Kak Step, ayo sarapan bareng Kak!" Panggil bocah tampan dari luar kamar sambil mengetuk pintu. 

    "Iya bentar, kamu duluan aja," ujarnya lalu menutup kembali jendela tersebut.

    Stefanie Mikhaela Keandra. Ya, itulah nama gadis cantik yang sudah memakai seragam putih abu-abunya. Ia tersenyum sangat manis melihat pantulan dirinya dari cermin sambil merapikan rambutnya yang dikuncir kuda dan tidak lupa memakai lip balm pada bibir ranumnya.

    Kini semuanya sudah berada di meja makan. Fani yang sedang melahap makanannya tiba-tiba terdiam dan termenung. Ia terus memandang kursi yang biasanya ditempati oleh seorang pahlawan keluarga bagi Fani. Yah, pahlawan yang dimaksud Fani adalah Ayah. Fani sedih, ia teringat dengan Ayah yang sangat menyayangi semua anggota keluarganya.

    "Selamat pagi," sapa Rey yang baru saja balik dari kamar mandi lalu ia duduk di sebelah Fani, Rey pun heran kenapa Fani melamun.

    "Dorrr…," Rey mengejutkan Fani membuat sang empu terkejut setengah mati dan menatap sinis ke arah Rey. "Abang ih, kaget tau, kalau jantung gue nih copot gimana bang,ck." Kesal Fani.

    "Ya, habisnya lo dari tadi ngelamun mulu Fani jelek...," ledek Rey dan mencubit hidung Fani. "Udeh, nggak baik ngelamun pagi-pagi ntar jodohnya kesambet setan, rasain lo," ucap Rey tanpa berdosa, tetapi tidak dihiraukan oleh Fina dan melanjutkan sarapannya yang tertunda.

    Reygan Byantara Keandra. Anak tertua dari keluarga Keandra. Kakak yang sangat baik untuk Stefanie dan Sakha. Sakha Adriano Keandra. Bocah tampan berumur 7 tahun yang sangat disayangi oleh seluruh anggota keluarganya, ia sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Kakaknya.

    "Kak Step, Kakak kenapa ngelamun? Kakak lagi sedih? Kakak ke inget Ayah ya?" Tiba-tiba Sakha melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi.

    Fani pun terdiam, ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut kecil Adiknya. Fani berusaha tetap tenang, ia tidak mau Sakha ikut sedih ulahnya. 

    "Nggak ganteng, buruan gih habisin sarapannya ntar telat lho," ucap Fani sembari mengacak-acak rambut Sakha membuat bocah tampan itu kesal.

    "Ih Kak Step, kok rambut Sakha diacak-acakin sih?" Kesal Sakha tidak terima lalu merapikan rambutnya kembali. Sang Kakak hanya terkekeh geli melihat Sakha kesal.

Seperti Mimpi (2)

0 0

• Sarapan kata KMO batch 37

• kelompok 11 Dandelion

• Jumlah kata 553

   Fani berjalan dengan santai di koridor yang menuju ke kelasnya. Sesekali ia melihat ke arah arloji yang berada di pergelangan tangannya dan ternyata jam telah menunjukkan pukul tujuh tepat. Ia terheran-heran kenapa bel masuk belum berbunyi.

    Kini Fani sudah berada di kelasnya, menyapa Nia teman sebangkunya yang sudah datang kemudian duduk di bangkunya.

    "Nia, kok bel belum bunyi ye?" Tanya Fani. Sonia Finelda yang akrab dipanggil Nia adalah teman sebangku sekaligus sahabat Fani sejak kelas sepuluh. Fani selalu menceritakan masalahnya kepada Nia. Bagi Fani, Nia itu pendengar yang baik. Nia tidak pernah keberatan mendengar ceritanya, sekalipun itu curhatan tentang orang yang tengah dikagumi Fani.

    "Ntahlah, tapi, tadi gue denger dari kelas sebelah katanya guru lagi rapat, palingan ntar lagi bel bunyi," ujar Nia dan Fani hanya menganggukkan kepalanya.

    Tiba-tiba Fani terdiam, memandangi seseorang yang baru saja masuk ke kelas.

    "Ekhem." Nia menyenggol tangan Fani membuat Sang empu kaget dan terkekeh malu karena tertangkap basah sedang memandangi Geo yang baru saja datang.

    "Dipandang mulu, disapa dong," ledek Nia. Fani bukan tidak mau menyapa Geo, tetapi ia tak punya nyali untuk melakukan hal sekecil itu.

    "Sampe kapan dipandang mulu, sekali-sekali disapa kek Fan, Geo nggak bakalan gigit lo," ujar Nia membuat Fani kesal.

    "Ya, kan lo tau gue gimana Nia, ck." Kesal Fani. Nia sangat mengerti perasaan Fani saat ini, mengagumi seseorang sejak kelas sepuluh secara diam-diam memanglah tak mudah.

                          ***

    Dua jam telah berlalu, kini waktunya untuk beristirahat setelah pelajaran kimia yang sangat mengasah otak.

    "Fan, ke kantin yuk!" Ajak Nia karena cacing di perutnya sudah demo. Begitu pun dengan Fani. 

    Sesampainya di kantin, mereka memesan makanannya lalu menunggu sambil memainkan handphone mereka masing-masing.

    "Ini neng batagor sama teh es nya," ujar Mang Udin sembari tersenyum.

    "Makasih Mang," jawab Fani dan Nia kompak kemudian mereka menyantap makanannya dengan lahap.

    "Misi, gue boleh gabung sini nggak?" Siapa lagi kalau bukan Geo. Fani Sangat mengenal suara Geo walaupun belum pernah berbicara dengannya.

    "Eh Geo, silahkan," jawab Nia lalu Geo duduk di hadapan Fani.

    "Wah, tumben nggak bareng temen-temen lo," ujar Nia karena biasanya Geo bareng teman-teman gengnya. 

    "Mereka lagi di rooftop, biasalah," ucap Geo, Nia hanya mengangguk-anggukan kepalanya karena ia paham yang dimaksud Geo lalu ia melihat ke arah Fani yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan pembicaraannya dengan Geo.

    "Oh iya, Fan besok kita ada rapat Osis bareng kepsek setelah pulang sekolah," ujar Geo membuat Fani kaget dan tersedak. Geo pun langsung memberikan segelas air putih yang dia bawa lalu Fani meneguknya hingga habis.

    "Maaf bikin lo kaget," ujar Geo."Eh, iya gapapa," jawab Fani gugup.

    Beberapa menit kemudian mereka pun selesai makan dan bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai. Fani dan Nia pun balik ke kelasnya sedangkan Geo bukan balik ke kelas, tetapi malah menuju ke arah rooftop. 

    "Gue kaget, tiba-tiba tadi si Geo ngomong ke gue," ucap Fani yang masih teringat kejadian di kantin tadi. "Gue nggak mimpi kan?" tanya Fani masih tak percaya lalu Nia pun mencubit tangan Fani kuat membuat Fani kesakitan. "Aww..., sakit woy," Kesal Fani. 

     "Habisnya, masa lo bilang mimpi, udah jelas-jelas tadi itu kenyataan Fan," ujar Nia tak habis pikir dengan Fani.

    Sekarang pelajaran telah dimulai kembali dan semua siswa memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan kelas kecuali dengan Fani yang masih memikirkan kejadian di kantin tadi.

 

Seperti Mimpi (3)

0 0

• Sarapan kata KMO batch 37

• Kelompok 11 Dandelion

• Jumlah kata 543

   Jam menunjukan pukul empat sore, Fani baru saja pulang dari sekolahnya yang sangat menguras tenaganya. Saat Fani sudah masuk ke dalam rumahnya, tepat sekali bundanya baru saja selesai memasak makanan untuk anak perempuan satu-satunya dikeluarga Keandra yang terlihat sangat lelah. Fani yang mau berjalan ke arah kamar harus terhenti langkahnya karena suara wanita paruh baya yang terdengar dari ruang makan.

   "Fan, kamu udah pulang? Nggak mau makan dulu? Ini bunda baru masak makanan kesukaan kamu lho," ujar bunda Fani.

   "Duh, maaf bun aku capek banget pengen istirahat dulu, nanti malam aja ya aku makannya," jawab Fani lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tubuhnya benar-benar lelah dan ingin segera istirahat.

    Fani sampai di dalam kamarnya, ia segera merebahkan dirinya dikasur empuk miliknya.  Ia menarik nafas panjang, mengingat kejadian di kantin sekolahnya tadi.

    Fani memejamkan matanya, pikirannya terarah kepada Geo, ia masih tidak menyangka Geo berbicara kepadanya.

    Fani beranjak dari kasurnya lalu melihat ke arah luar, memandang langit yang tengah mendung lalu Fani ke meja belajarnya, mengambil buku diarynya kemudian menuliskan kejadian yang dialaminya hari ini.

    "Tok...tok...tok...,"

     tiba-tiba ada yang mengentuk pintu kamar Fani membuatnya kaget.

    "Fan, gue boleh masuk nggak nih?" ujar Rey dari luar kamar Fani. 

    "Iya, masuk aja," jawab Fani lalu ia melanjutkan menulis diarynya.

    Reygan pun membuka pintu dan masuk ke kamar Fani, melihat Fani yang sedang asik dengan diarynya membuat Rey penasaran kemudian mendekati Fani dan mengintip yang sedang ditulis Fani dibuku diarynya.

    "Eh, enak aja ngintip-ngintip, kepo lo Bang," ujar Fani kesal lalu menutup buku diarynya.

    "Gue nggak kepo ye cuma penasaran aje karena lo asik banget ama tuh diary sambil senyam-senyum lagi, ih ngeri," ucap Rey lalu merebahkan badannya di kasur milik Fani.

    "Dih sama aja lo kepo, gue senyam-senyum?  Salah liat lo kali," ujar Fani lalu memutar kursinya menghadap ke arah Abangnya.

    "Ngapain lo kesini? Ada perlu apa ama gue? Mau ngutang? Atau mau ganggu gue?" Tanya Fani bertubi-tubi.

    "Dih, asal nyerocos aja lo Dek, gue kesini cuma ngajak lo makan bareng doang, itu Bunda ama Sakha udah nunggu lo di ruang makan," jawab Rey kesal.

    "Oh, kirain," ujar Fani. Rey pun bangkit dari tidurnya dan mendekati Fani. 

    "Udah, buruan makan sono," ujar Rey mengacak-acak rambut Fani lalu keluar meninggalkan Fani di kamarnya.

    "Dih, sejak kapan tuh anak jadi manis ke gue, biasanya nggak ada manis-manisnya, kesambet kali ya, ih ngeri...," monolog Fani heran dengan sikap Rey yang tiba-tiba manis kepadanya. 

    Fani pun segera mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi ia langsung ke ruang makan dan melihat semua sudah menunggunya sedari tadi.

    "Lah, kok pada belum makan?" Tanya Fani heran.

    "Kan nungguin lo nyonya Stefanie Mikhaela Keandara anak perempuan satu-satunya yang bandel minta ampun," ujar Rey kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Fani.

   "Dih, gue nggak bandel ye," ucap Fani lalu mencubit pinggang Rey.

    "Eh, udah-udah kok malah jadi ribut, nggak malu tuh sama Sakha yang dari tadi perhatiin kalian," lerai Shanin, yah sudah tentu Bunda dari Reygan, Fani dan Sakha.

    "Hehe, iya Bunda," jawab Fani dan menatap tajam ke arah Rey.  Shanin yang melihat tingkah anaknya hanya menggeleng-gelengkan kepala.

    Akhirnya perdebatan pun telah usai, kini semuanya tengah menikmati makanan yang sudah disajikan oleh Bundanya dan melahapnya hingga habis.

 

 

Helped By Geo (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 dandelion
  • Jumlah kata 358

    Selama diperjalanan Fani hanya diam membisu tanpa bersuara. Ia hari ini diantarkan oleh Abangnya ke sekolah menggunakan motor. 

    "Dek, nih gue anterin lo sampe gerbang atau sampe kedai Mang Ucup?!" tanya Rey sedikit berteriak karena keadaan jalan sudah ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.

   "Sampe kedai Mang Ucup aja Bang!" Teriak Fani.

    Tidak cukup dua puluh menit, kini Fani telah sampai di depan kedai Mang Ucup yang tak jauh dari sekolahnya. Fani segera turun dari motor lalu berpamitan dengan Abangnya.

    "Gue duluan ye Bang, ati-ati lo di jalan, jangan ngebut lo," ujar Fani.

    "Iya, udah sono ntar lo telat nyampe di sekolahnya," jawab Rey kemudian Fani bergegas meninggalkan Rey.

    Rey yang memperhatikan punggung Fani yang sudah semakin menjauh, segera menstarter motornya, melaju meninggalkan kedai Mang Ucup.

                        ***

     Hanya dengan waktu lima menit, kini Fani telah sampai di depan gerbang sekolahnya. Berjalan dengan santai di koridor yang menuju kelasnya.

    Seperti biasa dari sudut matanya, Fani bisa melihat tatapan tak suka dari siswa-siswi di sekolahnya dan selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. 

    "Eh, ada anak kampungan...,"

    "Minggir gaes, jangan deket-deket ama anak kampungan, ntar badan lo semua pada gatel," ujar salah satu siswi.

    "Untung aja dia pinter, kalau nggak pasti udah didepak dari sekolah...,"

    Seperti itulah yang dialami Fani setiap hari, drama hidup yang dipenuhi dengan bully-an. Hal ini bukan hal yang baru lagi bagi Fani, setiap Fani menampakkan batang hidungnya, pasti ia mendapatkan tatapan sinis dan bully-an demi bully-an.

    Fani tak menghiraukan bully-an tersebut dan ia tetap melanjutkan langkahnya dengan santai menuju ke kelas XI IPA 1 yang merupakan kelasnya. Setelah tiba di kelas, Fani segera menuju ke tempat duduknya, disana sudah ada Nia yang tengah asik dengan ponsel ditangannya.

    Fani mendaratkan bokongnya di tempat duduknya dan tersenyum ke arah Nia lalu bergegas mengambil buku pelajaran biologinya dan mempelajari bagian yang tidak dapat ia mengerti semalam.

    Tak lama setelah itu bel sekolah pun berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Fani segera merapikan buku yang ia gunakan tadi lalu menaruhnya di laci meja.

    Kini meja Fani telah rapi, terbebas dari alat tulis dan buku-buku pelajaran Fani yang tadinya berserakan tak beraturan.

Helped By Geo (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 388

   Pelajaran pertama untuk hari ini adalah biologi. Kini Bu Wiwid tengah menjelaskan tentang struktur dan fungsi jaringan pada tumbuhan. Fani dengan seksama memperhatikan Bu Wiwid menerangkan pelajaran, mencatat hal-hal yang menurutnya penting dilembar bukunya sedangkan Nia yang duduk disampingnya malah tertidur pulas. Biologi adalah mata pelajaran yang disukai oleh Fani, tetapi pelajaran yang membosankan bagi Nia. Makanya setiap mata pelajaran biologi Nia tidak memperdulikan guru yang sedang mengajar didepan kelasnya.

    "Nia!" Panggil Bu Wiwid yang melihat Nia tidak memperhatikannya saat mengajar.

    "Sonia Finelda!" Panggil Bu wiwid yang kedua kalinya dengan nada naik satu oktaf.

     Fani menepuk pelan bahu Nia yang tengah tertidur pulas. "Nia, bangun woy," ujar Fani, tetapi Nia tetap saja tidak bangun lalu Fani mencubit pelan pinggang Nia membuat Nia tersentak kaget dan menatap Fani sinis.

    "Apaan sih Fan, lo ganggu gue tidur aja," ucap Nia lalu melanjutkan tidurnya.

    "Sonia! Bisa-bisanya kamu tidur di jam pelajaran saya!" Murka Bu Wiwid membuat Nia kaget kedua kalinya. 

    "Maaf Bu," ujar Nia malu karena semua mata tertuju pada dirinya.

  'Dih, ngapa pada liatin gue semua. Susah ye jadi cewek cantik kayak gue, diliatin mulu 'batin Nia.

                              ***

    Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, kini Fani dan Nia sudah berada di kantin menunggu pesanannya datang. 

    "Sumpah ye Fan, Bu Wiwid ngajak gelut, masa gue disuruh nulis sebanyak empat halaman dalam waktu satu jam, nih jari-jari cantik gue pegel banget weh," ujar Nia yang sedari tadi tak henti-hentinya mengomel membuat Fani bosan mendengarnya.

 'saya berjanji tidak akan tidur lagi saat guru sedang mengajar'

    seperti itulah hukuman yang diberikan Bu Wiwid, menulisnya sebanyak empat lembar dalam waktu satu jam.

    "Lo nggak capek ngomel-ngomel mulu Nia?" tanya Fani yang sudah kesal ulah Nia.

    "Hehe, maaf Fan, habisnya Bu Wiwid ngeselin banget," jawab Nia yang masih kesal dengan Bu Wiwid.

    "Makanya, lo jangan tidur dong waktu Bu Wiwid lagi ngajar," ucap Fani.

    "Kan lo tau Fan, gue nggak suka...," belum selesai Nia berbicara omongannya dipotong oleh Mbak Endah yang membawa pesanan mereka.

    "Ini Neng pesanannya, selamat menikmati," ujar Mbak Endah tersenyum.

    "Makasih Mbak Endah," ucap Fani lalu membalas senyuman Mbak Endah.

    Nia yang sedari tadi tak berhenti mengomel pun langsung menyantap makanannya dengan lahap membuat Fani menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Nia yang sangat random lalu ia segera melahap makanannya karena beberapa menit lagi jam istirahat akan usai.

Helped By Geo (3)

0 0

• Sarapan kata KMO batch 37

• Kelompok 11 Dandelion

• Jumlah kata 305

  Tak terasa bel pulang pun berbunyi, semua siswa-siswi SMA Rajasanagara berhamburan keluar kelas menuju ke area parkiran untuk pulang.

    Fani merapikan buku dan alat tulis yang ia gunakan lalu memasukkannya ke dalam tas. 

    "Fan, pulang bareng yuk! Kebetulan gue bawa mobil nih," ajak Nia lalu menarik tangan Fani.

    "Eh, gue ada rapat OSIS nih, lain kali aja deh," tolak Fani karena hari ini memang ada rapat OSIS dengan kepala sekolah sepulang sekolah.

    "Oh yaudah, gue duluan ye Fan," ujar Nia lalu pergi meninggalkan Fani sendirian di kelas. 

    Fani berjalan menelusuri koridor sekolah menuju ruang OSIS. Di pertengahan jalan menuju ruang OSIS, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul Fani dari arah belakang membuat Fani tersentak kaget.

    "Hai tuan putri, mau ke ruang OSIS kan? Bareng gue yuk!" Ajak orang tersebut.

    "Eh, hai juga Kak Rangga," ucap Fani setelah melihat pelaku yang merangkulnya. Rangga adalah kakak kelas Fani sekaligus wakil ketua OSIS. Rangga dan Fani memang sudah dekat dari kelas sepuluh. Jadi, Fani sudah terbiasa dengan sikap Kakak kelasnya itu.

   Akhirnya Rangga dan Fani berjalan berdua menuju ruang OSIS. Sesampainya diruang OSIS ternyata semuanya sudah berkumpul hanya tinggal menunggu mereka berdua saja. Jabatan Fani di organisasi ini adalah sebagai sekretaris. 

    Fani yang sering dibully hanya karena penampilannya yang tidak layak sebagai siswi SMA Rajasanagara, ia memiliki otak yang cerdas, kreatif dan sangat bisa diandalkan. Sebenarnya Fani ditunjuk sebagai wakil ketua, tetapi ia menolaknya dan lebih memilih sebagai sekretaris.

    Rapat pun dimulai, yang dibahas pada rapat kali ini adalah tentang persiapan acara perpisahan kelas XII. Geo yang selaku ketua OSIS menjelaskan apa saja yang akan dipersiapkan untuk acara perpisahan nanti. Kepala sekolah pun memberikan saran untuk membuat sebuah drama musikal pada acara nanti. Saran yang diajukan kepala sekolah tersebut disetujui oleh seluruh anggota OSIS karena jarang sekali pada acara perpisahan ada rancangan untuk membuat sebuah drama musikal.

Helped By Geo (4)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 828

  Setelah melalui perdebatan yang panjang dan adu argumen. Akhirnya, sudah diputuskan bahwa pada acara perpisahan kelas XII akan menampilkan drama musikal dan tarian tradisional sebagai pengisi acara tambahan. 

    Rapat pun selesai. Fani yang sudah lelah ingin segera pulang ke rumahnya, ia tak sabar untuk merebahkan tubuh mungilnya di kasur empuk miliknya. 

    Fani berjalan menyusuri koridor sekolah sambil bersenandung kecil. Tiba-tiba ada yang membekap mulut Fani lalu menyeretnya ke rooftop sekolah. Sesampainya di rooftop, kedua tangan dan kakinya diikat kuat dengan tali tambang. Fani berusaha berteriak meminta pertolongan, tetapi hasilnya nihil karena mulutnya masih dibekap dengan sapu tangan.

    'Nih sapu tangan siape sih, sumpah bau banget. kayaknya, nih sapu tangannya nggak dicuci berbulan-bulan deh. 'batin Fani

     Fani menatap lama orang yang berada dihadapannya, tetapi ia sama sekali tidak mengenalinya.

   "Apa lo liat-liat ha?" ujar cewek itu karena ia sadar sedari tadi Fani menatapnya. Fani hanya menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawabannya.

    Cewek itu pun menarik rambut Fani yang dikuncir dua dengan kuat membuat Fani meringis kesakitan.

    "Aww..." Ringis Fani.

    "Kenapa lo? Kurang sakit? Nih gue bikin lebih sakit lagi," ucap cewek tersebut lalu menarik rambut Fani lebih kuat. 

    Plakkk

    Sebuah tamparan lolos mendarat di pipi mulus milik Fani membuatnya terdiam beberapa detik.

    "Apa lo? Mau ngelawan? Coba aja kalo lo bisa," remeh cewek tersebut melihat ekspresi wajah Fani yang sedang menahan rasa sakit di pipinya.

    Plakkk

    Plakkk

    Plakkk

   Cewek tersebut menampar pipi Fani berkali-kali. Fani berusaha memberontak, tetapi hasilnya nihil.Kepalanya sangat pusing, rasanya ia ingin pingsan. Ia tak kuat menahan rasa sakit yang diberikan oleh orang yang tak ia kenali itu. Seketika air di pelupuk matanya menetes, mengalir menuruni pipinya yang sudah memerah. Ia berharap ada seseorang yang menolongnya, tetapi sekolah sudah sepi beberapa menit yang lalu membuat harapannya hancur.

    "Udah Milka, kasihan tuh dia udah kesakitan banget," ucap temannya.

    "Ck, lepasin tangan gue Chika, dia berani-beraninya deketin cowok gue dan apa yang gue lakuin ini nggak sebanding dengan rasa sakit hati gue Chik," murkanya lalu menepis tangan Chika.

   'Milka? Chika? Gue deketin cowoknya? Maksudnye Siapa sih?'batin Fani

    Ketika Milka hendak melayangkan tamparannya yang ke sekian kalinya, ia merasakan tangannya ditahan oleh seseorang dan betapa terkejutnya saat ia melihat orang yang menahan tangannya adalah Geo.

   "Udah? Udah puas lo sakitin Fani ha?" Murka Geo yang tak sengaja mendengar suara rintihan dari arah rooftop kemudian Geo menghempaskan tangan Milka kuat membuat Milka meringis menahan sakit.

    "Kenapa? Sakit ya tangan lo? Itu belum sebanding ama yang lo lakuin ke Fani," ujar Geo dengan amarah yang sudah membara.

    'Geo? Baru kali ini gue liat Geo semarah itu, seremnya melebihi raja hutan 'batin Fani

    "Oh, lo belain dia ha? Lo tau? Dia berani-beraninya deketin cowok gue," murka Milka.

   "Gue nggak belain siapapun, tapi tindakan lo tuh nggak bisa dibiarin Mil, siapa cowok lo? Rangga? Bukannya dia udah jadi mantan lo? Jangan halu deh Neng, sono ngaca dulu. Lo ga pantes buat siapapun, nggak ada cowok yang mau sama cewek kasar kayak lo," ejek Geo membuat Milka terdiam membisu, ia tak tahu harus berkata apa. Kata-kata yang keluar dari mulut Geo membuat hatinya sangat sakit kemudian Milka pun meninggalkan rooftop dengan rasa kesal.

    'Kak Rangga? Jadi, Milka mantannya Kak Rangga?'batin Fani

    "Eh, Milka tungguin gue, buset dah gue ditinggalin," ucap Chika lalu menyusul Milka yang sudah duluan pergi.

    Setelah kepergian Milka dan Chika, Geo segera melepaskan semua ikatan Fani. Kini semua ikatannya terlepas, Fani yang masih ketakutan langsung memeluk Geo dengan erat.

    "Makasih Geo, hiks ...," ujar Fani yang tengah memeluk Geo. Geo yang mengerti dengan kondisi Fani, ia pun membalas pelukan Fani, mengusap lembut punggung Fani, agar ia lebih tenang. Saat Fani memeluknya, ia merasakan desiran aneh dari hatinya.

    "Gue anterin lo pulang aja ya," ujar Geo. Kini mereka sudah berada di parkiran sekolah.

    "Nggak, gue minta dijemput aja," tolak Fani lalu Fani mengirimkan pesan kepada Abangnya agar menjemputnya.

     Tidak berapa lama kemudian, Rey pun sudah datang untuk menjemput Fani. Fani langsung mendekatinya lalu memeluknya dengan erat.

   "Hiks...Hiks...," tangisan Fani membuat Rey terkejut.

    "Lo kenapa Dek? Nih rambut lo kenapa acak-acakan gini? Lah ini, wajah lo kenapa Dek?" tanya Rey yang kaget melihat kondisi adiknya yang berantakan. Fani tak menjawab, ia bingung harus berkata apa. Fani melihat ke arah Geo yang masih menunggunya pulang dan Rey pun mengikuti arah mata Fani yang melihat ke arah cowok yang tak dikenalinya.

    "Lo apain Adek gue ha?" ucap Rey. 

    Bughh

   Tanpa aba aba Rey memukul rahang kokoh Geo hingga cowok itu tersungkur.

    "Bang! Stop!" Teriak Fani yang kaget tiba-tiba Abangnya memukul Geo.

   "Dia yang bantuin gue Bang," ujar Fani membuat Rey terdiam. Karena pukulan Rey, sudut bibir Geo terluka.

    "Maaf, gue kira lo yang nyakitin adek gue," ujar Rey meminta maaf.

    "Iya Bang, gapapa," jawab Geo lalu tangannya mengusap sudut bibirnya yang terluka.

    "Makasih udah bantuin Adek gue, gue duluan. Yok Fan, kita pulang!" ujar Rey lalu mengajak Fani pulang.

    Setelah kepergian Fani dengan Abangnya, Geo pun menghidupkan mesin mobilnya lalu meninggalkan sekolah yang sudah sepi.

Geo's Worries (1)

0 0
  • sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 315

        Beberapa menit kemudian, Geo sudah sampai di depan rumahnya, ia meminta tolong kepada Pak Andi yang merupakan satpam dirumahnya untuk membukakan pagar. Setelah pagarnya terbuka, Geo pun memarkirkan mobilnya di garasi.

   Geo berjalan santai menuju pintu utama rumahnya, saat di ruang tamu ia melihat Bundanya tengah menonton televisi. 

   "Eh, Geo sudah pulang," ujar Bundanya. Geo pun menghampiri Bundanya lalu bersalaman.

   "Eh, ini kenapa luka?" tanya Bundanya lalu mengusap sudut bibir anak semata wayangnya itu.

   "Gapapa Bun," jawab Geo santai.

    "Gapapa gimana, ini luka lho sayang,sekarang ke kamar ganti baju. Bunda ambilkan kotak P3K dulu," ujar Bundanya lalu beranjak meninggalkan Geo.

    Geo pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Ia menaiki anak tangga satu demi satu.

    Sesampainya Geo di kamarnya, ia segera merebahkan dirinya dikasur king size miliknya. Menarik nafas panjang, ia memejamkan matanya, pikirannya terarah kepada Fani, ia sangat khawatir dengan keadaan Fani karena ia habis-habisan dibully oleh Milka. Ia melihat dengan jelas wajah Fani yang sudah memerah dan pucat.

    Geo mengambil ponselnya dikantong celananya, ia hendak menelfon Fani. Ia mencari-cari nama Fani di kontak ponselnya, tetapi tidak menemukannya. Geo baru teringat bahwa ia tidak mempunyai nomor Fani. 

    Tak lama pintu kamar Geo pun terbuka, seorang wanita paruh baya kini masuk ke kamarnya dengan membawa kotak P3K di tangannya.

    "Kamu kenapa? Kok keliatan lagi khawatir banget?" tanya Bundanya lalu duduk disampingnya.

  "Eh, nggak bun," ujar Geo cengengesan. 

   "Kenapa bajunya belum diganti Geo, kan Bunda tadi nyuruh kamu ganti baju kamu," ujar Bundanya.

    "Geo cape banget Bunda, jadi nanti aja ganti bajunya," jawab Geo lalu Bundanya mengeluarkan obat dari kotak P3K.

    Dengan perlahan luka Geo diobati oleh Bundanya. Geo memperhatikan Bundanya yang sangat telaten mengobatinya. Ia pun tersenyum simpul, wanita yang merawatnya dari kecil hingga kini masih berada disisinya. Disaat ia sedih, Bundanya ada untuk menghiburnya. Disaat ia senang, Bundanya ada disisinya. baginya Bundanya adalah segala-galanya, Bunda adalah manusia terhebat yang ia miliki. 

Geo's Worries (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 325

      "Aww...," ringis Geo.

    Bundanya yang heran melihat Geo tersenyum-senyum menekan sudut bibir Geo yang terluka membuat Geo meringis.

    "Pelan-pelan Bunda," ucap Geo yang kesal melihat Bundanya terkekeh geli.

    "Habisnya kamu dari tadi senyam-senyum, hayo lho mikirin siapa?" ujar Bundanya.

   "Lagi mikirin kamu," jawab Geo terkekeh.

    "Eh, bisa-bisanya ya ngomong gitu," ujar Bundanya lalu menggeleng-gelengkan kepala yang heran dengan tingkah anaknya.

   "Lah, kan Geo memang lagi mikirin Bunda, cie Bunda baper ya," ujar Geo membuat Bundanya terkekeh.

   "Gini nih kelamaan sendiri, Bundanya sendiri digombalin,ckck. Udah selesai nih, Sekarang kamu ganti pakaian terus makan," ucap Bundanya.

  "Iya Bunda sayang, makasih udah ngobatin Geo. Oh iya, Geo mau istirahat dulu, nanti aja makannya ya Bunda," ucap Geo lalu mencium pipi Bundanya.

    "Yaudah, Bunda ke dapur dulu ya, siapin makanan buat Ayah kamu," ujar Bundanya lalu meninggalkannya sendiri dikamarnya.

    Artharendra Grandy George, itulah nama lengkapnya. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ia biasa dipanggil dengan sebutan Geo. Ia merupakan anak semata wayang dan merupakan cucu satu-satunya di keluarga besar Artharendra. Ia mempunyai wajah yang tampan, sifatnya tegas, bertanggungjawab dan sangat patuh kepada kedua orang tuanya yang membuat kaum Hawa tergila-gila olehnya, termasuk Stefanie yang mencintainya dalam diam.

    Sebenarnya Geo memiliki Adik, tetapi Tuhan berkata lain. Bundanya keguguran saat mengandung Adiknya yang ke lima bulan. Saat itu ia sangat sedih, karena Adiknya yang belum sempat melihat dunia dan bermain dengannya sudah pergi beberapa bulan yang lalu, meninggalkan keluarga besar Artharendra. Geo masih teringat saat ia mengelus-elus perut Bundanya yang sudah membesar, merasakan Adiknya tengah menendang-nendang perut Bundanya, tetapi sekarang ia berusaha untuk mengikhlaskan semua. 

    Sesayang-sayangnya ia terhadap Adiknya, Tuhan lebih sayang kepada Adiknya. Oleh karena itu, Tuhan memanggil Adiknya sebelum dilahirkan ke dunia. Saat ini ia menginginkan seorang Adik untuk menemaninya bermain dan bercanda gurau, tetapi ia tidak berani memberitahu keinginannya kepada Bundanya. Ia takut Bundanya akan sedih karena teringat akan anaknya yang meninggal beberapa bulan yang lalu.

                         ***

Geo's Worries (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 339

    Geo melihat pantulan dirinya di cermin, ia terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang ia gunakan. 

    "Ck, susah banget nih kancing dipasangin," kesalnya karena acara makan malam bersama keluarga besarnya akan segera dimulai. Makan malam kali ini berbeda dari sebelumnya, kali ini semua keluarga besar Artharendra akan berkumpul di rumah mewah milik orang tua Geo, lebih tepatnya rumah ini disebut mansion yang sangat mewah. Acara ini dilakukan sekali sebulan untuk menjaga dan mempererat silaturahmi antar keluarga besar Artharendra.

    "Andai gue punya istri, pasti nggak serepot ini," ujar Geo yang masih berusaha memasangkan kancing baju paling atas.

    "Eh, belum tamat sekolah udah mikirin istri aja, belajar yang benar dulu sayang," ucap wanita paruh baya yang baru saja masuk ke kamarnya membuat Geo hanya cengengesan.

    "Buruan Geo, semua sudah berkumpul di ruang makan, tinggal nungguin kamu aja," ucap Bundanya.

    "Bentar Bunda, ini lho kancingnya susah banget dipasangin," jawab Geo terus berusaha memasang kancingnya.

    "Aduh Geo, udah gede masa nggak bisa masang kancing baju Geo, sini Bunda bantuin masang kancingnya," ujar Bundanya menggeleng-gelengkan kepala lalu menghampiri Geo dan memasangkan kancing baju Geo.

     Geo memperhatikan Bundanya memasangkan kancing bajunya, ia tersenyum melihat Bundanya yang masih saja mengurusnya yang sudah remaja. Malam ini Bundanya terlihat sangat memukau dimatanya dengan mengenakan dress panjang tanpa lengan berwarna maroon yang sangat kontras dengan kulit bundanya. Kathrina Amle Artharendra, itulah nama Sang malaikat tak bersayap yang merawat Geo dari kecil. Kathrina awet muda, jadi apapun baju yang ia kenakan sangat cocok ditubuhnya. 

    Geo menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Bundanya heran akan tingkah Geo.

    "Kamu kenapa?" tanya kathrina.

    "Gapapa, Bunda cantik banget, udah kayak anak remaja aja Bun," ucap Geo yang terpukau dengan penampilan Bundanya.

    'Kenapa wajah tuh cewek kebayang dibenak gue 'batin Geo

    "Bisa aja kamu, Bunda udah tua gini dibilang kayak anak remaja, ngeledek ya kamu," jawab kathrina lalu mencubit pinggang Geo pelan.

    "Aww... Kok dicubit sih Bunda, Bunda salting ya," kekeh Geo membuat Bundanya kesal.

    "Eh, udah-udah buruan ke ruang makan," ujar Kathrina lalu pergi meninggalkan Geo yang masih terkekeh geli melihat wajah kesal Bundanya.

Geo's Worries (4)

1 0
  • Sarapan Kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 365

    Setelah selesai acara makan malam bersama keluarga besarnya, kini Geo sudah berada di kamarnya. Ia langsung mengganti Setelan jasnya dengan T-shirt hitam lengan pendek dan celana jeans buntung. Di mansion sebesar ini, ia merasa kesepian karena ia tak memiliki teman untuk bermain bersama. Terkadang ia mengajak teman-teman satu geng nya untuk menginap di rumahnya saat orang tuanya tidak ada di rumah.

    Geo melirik ke arah ponselnya, lalu membuka aplikasi instagram. Saat melihat-lihat postingan di reels instagram, ia tertarik pada salah satu lagu yang sekarang tengah viral. 

  "Wah, bagus nih lagu. Gue coba ah," ucapnya lalu mengambil gitar kesayangan miliknya.

   Kini Geo sudah berada di balkon kamarnya. Duduk di kursi yang sudah tersedia di balkonnya lalu mengambil ancang-ancang untuk bernyanyi dengan gitar ditangannya. 

    Pada hari ini, Malam sangatlah indah. Hawa sejuk yang membuat tubuh menjadi kedinginan, langit malam yang gelap namun menjadi indah karena dihiasi oleh bintang-bintang yang bertaburan. Ia memandangi langit yang sangat indah dengan kelap-kelip cahaya bintang.

    Creng...creng

    Ia mulai memetik gitarnya lalu menutup matanya seraya menikmati indahnya malam hari ini.

Danke banya lai Tuhan

Su kasih dia par beta

Inikah tulang tusuk

Yang Tuhan ambel dar beta?

 

Bahagia sio nona e

Beta bahagia, sayang

Danke banya sayang e

Mau hidop deng beta, selamanya, ho-oh

 

Beta janji, beta jaga

Ale untuk selamanya

Beta janji akan setia

Hanya untuk satu cinta

 

Ini cinta yang beta punya

Dari relung hati jiwa

Cuma par ale sajalah

Cinta ni abadi s'lamanya, ho-wo-ho

 

Oh-uh-oh, cinta ni abadi s'lamanya

   Akhirnya, Geo selesai menyanyi lagu yang tengah viral itu. Saat ia menyanyikan lagu tersebut, lagi-lagi Fani terlintas dibenaknya. 

    "Ck, kenapa gue kebayang wajah tuh cewek mulu sih," ucapnya lalu mengacak-acak rambutnya. Kekhawatirannya kepada Fani tak hilang dari benaknya. 

     Di seberang sana pun Fani juga sedang memikirkan Geo yang sudah menyelamatkannya dari Milka yang habis-habisan membully-nya. Fani sedari tadi memandangi langit yang sangat indah dan membayangkan wajah Geo di langit membuat Fani tersenyum. Fani mencintai Geo dari kelas sepuluh secara diam-diam, ia tak berani mengungkapnya walaupun hanya dalam bentuk tindakan.

'Gue harap suatu saat nanti, lo juga ngerasain apa yang gue rasain Geo 'batin Fani.

kehebohan Nia (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 529

Brakkk

    "Hah! Kemaren lo dibully?!" heboh Nia sambil mengebrak meja dan sukses membuat semua penghuni kantin melihat ke arahnya.

    "Eh, maap gaes, lanjut gih makannye," ucap Nia cengengesan lalu melihat salah satu siswi yang masih saja memperhatikannya.

    "Apa lo liat-liat ha!" sewot Nia sambil berkacak pinggang.

    "Udah Nia, malu-maluin aja lo," ujar Fani lalu menarik tangan Nia agar kembali duduk.

    "Habisnya gue kesel Fan, udah tau gue lagi emosi, masih aja liatin gue, gini nih kalo mempunyai kecantikan diatas rata-rata," ucap Nia lalu mengibas-ngibaskan rambutnya.

   "Dih, pede amat lo," ujar Fani lalu menoyor bahu Nia.

   "Harus pede dong," ucap Nia membuat Fani menggeleng-gelengkan kepala.

    "Oh ya, trus siapa sih yang ngebully lo? Lo kenal nggak orangnya? Motif dia ngebully lo apa coba?" Pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulut Nia. Nia memang memiliki jiwa penasaran diatas rata-rata, ia tidak akan diam sebelum kepenasarannya terjawab.

   "Woy lah Nia, nanya tuh satu-satu, nggak asal nyerocos aja lo," ucap Fani. Fani pun mengambil nafas panjang. "Yaudah, gue ceritain dari awal sampe akhir, awas aja lo nggak nyimak , gue males ngulang-ngulang."

   Fani pun menceritakan semuanya kepada Nia secara runtut dan Nia sangat antusias mendengarkan cerita Fani.

  'Hah? Milka? Milka yang ngebully Fani? 'batin Nia

   "Woy! malah bengong lo," ucap Fani menoyor bahu Nia.

   "Eh, nggak, trus motif dia ngebully lo apa?" tanya Nia gugup.

   "Makanya, lo nyimak dong bukan malah bengong," jawab Fani lalu menceritakan kembali kejadian kemarin yang dialaminya.

    'what! Jadi gegara Fani deket ama Kak Rangga? 'batin Nia

    "Jadi, Milka ngebully lo gegara lo deket ama Kak Rangga? Lah, kan lo udah deket lama lagiankan cuma sebatas Abang Adek nggak lebih," ujar Nia.

    "Ya gitu, dia bilang gue yang deket-deketin cowoknya padahal kata Geo, Kak Rangga ama Milka tuh udah nggak ada hubungan spesial lagi, yah udah jadi mantanlah," jelas Fani membuat Nia sedikit kaget.

   'Jadi? Kak Rangga tuh mantannya Milka? Wah, nggak nyadar gue 'batin Nia

   "Woy! Aelah Nia lo bengong mulu dah." Lagi-lagi Fani menoyor bahu Nia.

   "Hah? Gue nggak bengong ye," ujar Nia.

   "Eum, Fan, gue minta maaf ye, disaat lo butuh gue, gue malah nggak ada disisi lo," lirih Nia.

   "Iye, gapapa Nia, lagian kan udah ada yang ngebantuin gue," ucap Fani santai lalu lmelahap makanannya.

   "Iye lah tu, dibantuin ama pujaan hati, piw piw," ledek Nia membuat Fani tersedak.

   Uhuk...uhuk...

   "Nih, buruan minum woy," panik Nia lalu menyodorkan air minumnya, namun sedetik kemudian ia meringis. Memandang miris minuman yang disodorkannya kepada Fani sudah diteguk hingga habis.

   "Aelah, kok lo habisin minuman gue sih Fan...," kesal Nia.

   "Hehe, maap," ucap Fani cengengesan.

   "Ciee dibantuin ama pujaan hati," ledek Nia.

   "Apaan sih Nia, biasa aja kali," ujar Fani.

   "Biasa darimana? Sampe peluk-peluk sgala," ledek Nia membuat Fani salah tingkah.

   "Y-ya kan gue lagi ketakutan banget Nia, jadi, gue nggak sengaja meluk Geo," ucap Fani gugup. 

    "Heleh, parah lo Fan, lo ambil kesempatan dalam kesempitan, ckck," ucap Nia menggeleng-gelengkan kepalanya.

   "Auah, serah lo aja," ujar Fani kesal lalu pergi meninggalkan Nia begitu saja.

  "Eh buset dah, gue ditinggalin, woy bayar dulu makanan lo," ucap Nia sedikit berteriak. Fani tak menghiraukan Nia, ia tetap melanjutkan langkahnya.

Kehebohan Nia (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 387

    Kini Fani sudah berada di kelasnya. Ia masih kesal ulah Nia yang terus-terusan meledeknya. 

   "Woy Fan, jahat amat lo ninggalin gue, mana makanan lo gue yang bayarin lagi," ucap Nia dengan nafas terengah-engah lalu menduduki bokongnya di kursi miliknya.

   "Salah lo," ucap Fani seadanya.

   "Ck, ngambek nih," ujar Nia.

    "Hm."

   "Aelah, kok ngambek sih, ntar cantiknya luntur loh."

   "Hm."

   "Dih, sariawan lo? Hm hm mulu." 

  "Hm."

  "Udah dong ngam...," Belum selesai Nia berbicara sudah dipotong oleh Geo.

    "Fan, gimana keadaan lo?" ucap Geo yang baru saja menghampiri meja Fani.

    "Eh Geo, gue gapapa kok," jawab Fani gugup.

    "Syukurlah kalo gitu, yaudah, gue balik ke meja gue ye, gue cuma nanya itu doang," ucap Geo lalu kembali ke mejanya.

   "Heleh, giliran ama Geo lo ngomong, giliran ama gue cuma hm hm doang," kesal Nia dan Fani hanya menjawabnya dengan deheman membuat Nia makin kesal.

   "Woy, Bu Ayu dah dateng weh," ucap salah satu siswa lalu mengacir ke kursinya.

   Semuanya pun duduk di kursi masing-masing. Pelajaran pun dimulai, Fani dengan fokus memperhatikan Bu Ayu menerangkan pelajaran. Sesekali ia melirik ke arah Geo yang tengah asik dengan bukunya. Fani tak tahu kenapa ia bisa jatuh hati kepada Geo. Saingan Fani untuk mendapatkan Geo sangatlah banyak karena Geo merupakan most wanted di sekolahnya. Geo yang memiliki paras yang sangat tampan membuat Kaum Hawa tergila-gila padanya. 

    Saat Fani melirik ke arah Geo ternyata Geo juga melirik ke arahnya. Mata mereka saling bertemu. Fani merasakan desiran di hatinya. 

    'duh ketauan gue, nih jantung gue kenapa disko-disko sih 'batin Fani

  "Nah loh, ketauan kan lo ngeliatin Geo, " ledek Nia yang sedari tadi melihat gerak-gerik Fani.

  "Dih, apaan si, gue nggak ada ye ngeliatin si Geo," elak Fani.

   "Halah, gue liatin Lo dari tadi ngeliat arah sono mulu," ucap Nia.

    Fani yang malas berdebat dengan Nia pun, ia kembali memperhatikan Bu Ayu yang sedang mengajar didepan kelasnya.

     Pelajaran hari ini pun akhirnya berlalu. Tanpa pikir panjang Fani dan Nia langsung keluar kelas menuju ke parkiran.

  "Eh Fan, ntar malem kita pergi maen yuk," ajak Nia. 

  "Maen kemana? Jam berapa?" jawab Fani lalu melihat ke arah arloji yang berada dipergelangan tangannya.

  "Eum gimana kalau ke bioskop aja, nonton gitu lah, udah lama juga kita nggak maen nonton ye kan," ujar Nia.

  "Gimana ye, ntar dah gue pikirin dulu," ucap Fani.

Kehebohan Nia (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 367

     "Buruan woy, ntar filmnya keburu mulai," heboh Nia.

   Beberapa menit yang lalu, Fani dan Nia sudah berada di bioskop. Kini Fani tengah membeli popcorn dan minuman untuk disantap saat filmnya dimulai nanti. Nia yang sedari tadi sudah membeli tiket film menunggu Fani yang belum kunjung balik dari membeli makanan dan minuman.

    "Nggak sabaran banget lo, yaudah, yuk masuk!" ajak Fani yang kesal oleh Nia yang sedari tadi mendesak-desakannya.

   "Habisnya lo beli popcorn ama minuman lama banget, ntar keburu mulai filmnya," sewot Nia.

   "Lah, kan lo liat antriannya panjang banget," ucap Fani.

    Fani yang tak mau ribut berkepanjangan dengan Nia pun langsung memasuki ruang bioskop, meninggalkan Nia yang tengah kesal.

  "Woylah, gue nungguin lo, sekarang lo malah ninggalin gue," ujar Nia lalu menyusul Fani yang sudah memasuki ruang bioskop terlebih dahulu.

   Kini mereka sudah berada didalam ruangan bioskop. Mereka duduk dikursi paling atas. Fani melihat ke sekelilingnya yang membawa pasangan. Genre film yang akan ditonton oleh Fani dan Nia adalah genre romance.

    Sebenarnya, mereka ingin menonton film bergenre horor, tetapi tiketnya sudah habis hanya tersisa film bergenre romance.

   "Iri ya lo, semuanya pada bawa pasangan sedangkan lo nggak," ledek Nia.

  "Dih, lo kayak nggak iri aja," ucap Fani.

 "Y-ya iri sih, tapi kan calon jodoh gue lagi otw, palingan Minggu besok gue nonton ama pacar gue, terus lo jadi nyamuknya," ujar Nia lalu tertawa terbahak-bahak membuat semua mata penghuni bioskop melihat kearahnya.

   "Woy gila lo, nih lagi dibioskop nggak dikebun binatang," ucap Fani yang tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu.

   "Eh, lo kira gue tinggal dikebun binatang gitu ha?" ucap Nia tak terima.

   "Udahlah diem lo, noh filmnya dah mulai," ujar Fani lalu mengarahkan pandangannya pada layar besar yang ada dihadapannya.

    Akhirnya, film pun dimulai, semua mata fokus menonton film tersebut. Fani melihat para pasangan bucin yang saling bercanda gurau membuat Fani sangat iri.

   "Dih, dimana-mana ngebucin," kesal Fani dan didengar oleh Nia.

   "Ciee panas ya Bun, sama kok gue juga," ujar Nia.

   "Lagian ntar lo juga gitu kalo dah punya pacar," ucap Nia lalu melahap popcorn miliknya.

   "Dih, gue nggak sampe segitunya juga kali," jawab Fani tak terima.

   "Ati-ati ntar ke makan omongan sendiri lo," ledek Nia dan Fani tak menghiraukannya.

With Him (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • jumlah kata 315

    Beberapa hari lagi acara perpisahan kelas XII akan segera dimulai. Seluruh anggota OSIS dibuat sibuk olehnya. Bukan hanya anggota OSIS, tetapi ekstrakurikuler yang lain pun ikut sibuk karena mempersiapkan penampilannya untuk acara perpisahan nanti.

    Kini seluruh anggota ekstrakurikuler SMA Rajasanagara sudah berkumpul di aula sekolah. Kepala sekolah yang memerintahkan mereka untuk berkumpul di aula sekolah karena akan ada arahan dari kepala sekolah untuk acara perpisahan yang akan datang. 

    Fani dan Geo tengah berbincang dengan kepala sekolah. Fani yang merupakan sekretaris sekaligus orang yang paling bisa diandalkan dalam OSIS membuat ia harus menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan acara perpisahan kelas XII bersama Geo. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba Fani dan Geo ditugaskan oleh kepala sekolah untuk mengontrol persiapan acara perpisahan kelas XII.

     Setelah berbincang-bincang dengan kepala sekolah, Fani dan Geo kembali ke tempat duduknya. Fani masih merasa canggung jika didekat Geo karena ia tak menyangka akan menjadi sedekat sekarang.

      Kepala sekolah memberikan arahan-arahan kepada seluruh anggota ekstrakurikuler untuk acara perpisahan nanti. Tidak cukup sepuluh menit, akhirnya kepala sekolah selesai memberikan arahan bertepatan dengan waktu istirahat.

   Bel istirahat sudah berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan ke kantin untuk mengisi tenaga mereka yang sudah terkuras.

    "Oh iya Fan, berarti lo bakalan sering-sering ama si Geo dong?" tanya Nia. 

   "Maksud lo?" jawab Fani yang bingung dengan pertanyaan Nia.

  "Ck, kan lo ditugasin berdua ama si Geo untuk ngontrol persiapan acara perpisahan nanti, nah otomatis lo bakalan sering ama Geo dong," jelas Nia lalu melahap makanannya.

  "Ya kayaknya gitu sih," ujar Fani yang tak tahu harus berkata apa.

  "Aelah, ciee yang bakalan berduaan, piw piw," ledek Nia membuat Fani kesal.

   "Apaan si lo, udah sono habisin makanan lo," jawab Fani yang tengah kesal. Ia yang sudah selesai menghabiskan makanannya lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Ia melihat-lihat informasi tentang kelanjutan persiapan acara perpisahan nanti. Ia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia selalu bersama Geo.

 

     

 

     

With Him (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 327

 

    "Fan, ntar pulang sekolah temenin gue," ucap Geo yang baru saja menghampiri meja Fani.

   "Hah? Kemana?" tanya Fani yang tengah membaca bukunya.

   "Ikut aja, sekalian ntar beli barang-barang untuk kebutuhan acara perpisahan," ujar Geo lalu kembali ke mejanya. Fani yang mendengar ucapan Geo hanya mengangguk-anggukkan kepala.

   "Eh Fan, Geo ngapain nyamperin lo?" tanya Nia yang baru saja balik dari toilet.

   "Gatau tuh, dia minta ditemenin tapi ntah kemana, trus katanya sekalian beli barang-barang untuk kebutuhan acara perpisahan ntar," jawab Fani lalu kembali membaca bukunya.

   "Cie...bakalan berduaan dong, uhuy," ledek Nia sambil menowel-nowel pipi Fani.

   "Ck, apaan si Nia, kan nggak kencan weh," kesal Fani.

   "Yah kan sama aja, ntar jalannya berduaan, piw piw," Lagi-lagi Nia meledek Fani membuat Fani sangat kesal.

   "Diem nggak lo," ucap Fani lalu mencubit pinggang Nia.

   "Aww...Buset dah lo, maen cubit aje," ujar Nia sambil mengelus-elus pinggangnya yang dicubit oleh Fani.

   "Mending, daripada gue tabok, emang mau?" tanya Fani yang sudah mengambil ancang-ancang ingin menabok Nia.

  "Dih, galak bener nih Mak lampir," ledek Nia.

   "Cantik gini dibilang Mak lampir, lo kali yang Mak lampir, gue mah princess," jawab Fani lalu mengibas-ngibaskan rambutnya yang dikuncir kuda.

    "Aelah pake di kibas-kibas tuh rambut, cantikan rambut gue nih, lo mah dikuncir mulu," ucap Nia karena memang Fani setiap hari rambutnya dikuncir berbeda dengan Nia yang membiarkan rambut panjangnya tergerai.

    "Cantikan gini kali, daripada...," belum selesai Fani menyelesaikan ucapannya, salah satu teman sekelasnya memotong ucapannya.

   "Eh Pak Indra woy," ucap murid tersebut lalu mengacir ke kursinya dan menduduki bokongnya.

    Kedatangan Pak Indra membuat seluruh penghuni kelas terdiam membisu karena Pak Indra adalah guru terkiller di SMA Rajasanagara. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun kecuali ketika Pak Indra sedang bertanya. 

   "Siang anak-anak," sapa Pak Indra sambil merapikan letak kacamatanya.

   "Siang Pak," jawab seluruh penghuni kelas serentak.

  "Eh Nia, ngapain liat ke arah luar? Saya didepan bukan disana!" Murka Pak Indra membuat Nia seketika menjadi kicep.

With Him (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 461

    "Dah selese lo?" tanya Geo lalu duduk di depan kursi Fani.

    "Belum nih, dikit lagi," jawab Fani menoleh ke sumber suara lalu kembali melanjutkan menulisnya. Sesekali ia melihat ke arah papan tulis, menyalin catatan yang ditulis oleh Pak Indra.

    Kelas sudah sepi beberapa menit yang lalu, Nia yang terburu-buru dikarenakan ada acara keluarga, berpamitan terlebih dahulu kepada Fani. Kini hanya tersisa Fani dan Geo. Geo memperhatikan gerak-gerik Fani yang tengah menulis, melihatnya secara detail tanpa disadari oleh gadis tersebut.

    "Lo nggak nyatet yang disuruh Pak In...," Fani yang tadinya ingin bertanya, seketika mulutnya terbungkam dan matanya terpaku oleh tatapan Geo. Mata mereka saling bertemu, seakan-akan ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan melalui tatapan itu.

    "Nggak," jawab Geo seadanya lalu memutuskan tatapannya pada Fani. "Buruan, ntar keburu sore nih," ucap Geo menarik tangan Fani lalu menggenggamnya. Fani yang kaget karena tangannya tiba-tiba di genggam oleh Geo , seketika badannya jadi mematung.

     "Ck, kok malah diem? Buruan Fani," ucap Geo yang masih setia menggenggam tangan Fani.

     "Eh, i-iya," jawab Fani gugup.

    Mereka pun berjalan beriringan, namun setelah sampai di parkiran, Fani merasakan ponselnya bergetar-getar di sakunya lalu ia melepaskan genggaman tangan Geo dan merogoh ponselnya.

    "Halo Dek, lo pulang ama siape? Gue jemput nggak nih?" tanya orang di seberang sana.

    "Iye, halo Bang, gue pulang ama temen gue Bang," jawab Fani lalu melihat ke arah Geo.

    "Yaudah, langsung pulang ye, jan keluyuran lo," ujar Rey lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

    "Gue...buset dah, gue belum selese ngomong udah dimatiin aje," kesal Fani lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

    "Siapa? Abang lo?" tanya Geo dan Fani mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Geo memberikan helm pada Fani. "Nih, pake!" Perintahnya lalu tanpa basa-basi Fani langsung mengambil helm pemberian Geo. 

   Geo yang sudah memasang helm dan menyalakan motor nya lalu melirik ke arah Fani yang tampak kesusahan mengaitkan tali helm-nya membuat Geo mendengus kesal lalu menarik tangan Fani agar mendekat ke arahnya. Sontak Fani melotot, menahan kaget. Sebab, jarak mereka saat ini sangatlah dekat. 

    "Dah selese, buruan naik," ucap Geo yang baru saja selesai memasangkan tali pengait helm Fani, tetapi Fani tak bergeming sedikitpun membuat Geo makin kesal.

   "Ck, Faniiiiii, aelah malah bengong," kesal Geo sambil mencubit hidung Fani dan lagi-lagi membuat Fani tersentak kaget.

     "E-eh, i-iya," ucap Fani lalu naik ke atas motor Geo.

     Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah toko gitar. Geo yang sudah duluan masuk ke dalam toko membuat Fani kesal karena ia di tinggalkan begitu saja.

    "Ck, malah ditinggalin," ucap Fani lalu menyusul Geo dengan langkah kesal.

    "Ngapain ke sini sih?" tanya Fani pada Geo yang tengah melihat-lihat gitar.

    "Mau beli ikan cupang, ya mau beli gitarlah Fani," ucap Geo kesal oleh pertanyaan Fani yang tak masuk di akal.

With Him (4)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 914

   "Beli gitar? Emang perpisahan nanti butuh gitar?" tanya Fani heran.

   "Ck, bukan untuk perpisahan nanti, tapi untuk gue," ucap Geo lalu memanggil salah satu pegawai toko tersebut.

    "Mas, ini gitarnya berapa ya?" tanya Geo pada pegawai toko tersebut.

    "Oh, gitar akustik keluaran baru ini, harganya hanya sekitar 10 jutaan Mas," ucap pegawai toko.

    "Eum, yaudah saya beli yang ini ya Mas," ucap Geo lalu pegawai tersebut mengambilkan gitar dan memberikannya kepada Geo.

    Hah? Gila nih anak, uang 10 juta dikeluarin cuma untuk beli gitar? Ya walaupun itu hal kecil bagi dia, tetep aja pemborosan weh, batin Fani.

     Setelah selesai membayar gitar, Geo dan Fani kembali melangkahkan kaki mereka menuju parkiran.

     "Nih, lo pegangin gitar gue," ucap Geo memberikan gitar kepada Fani.

    "Lah, kok gue, kan gitar lo bukan gue," tolak Fani.

    "Kalo gue yang megang, gimana cara bawa nih motor Fani," ucap Geo yang tak habis pikir dengan pikiran Fani.

    "Oh iye ye, bener juga, eum emangnya lo bisa maen gitar?" tanya Fani meragukan kemampuan Geo.

     "Dih, bisa lah, mau dengerin gue maen gitar? Sini dah," ucap Geo lalu menarik tangan Fani menuju taman yang tak jauh dari toko gitar tersebut.

    "Nih, lo dengerin gue maen gitar sambil nyanyi ye, suhu di lawan," ucap Geo lalu mengambil ancang-ancang akan memainkan gitar sambil bernyanyi, sebenarnya Fani sudah tahu kemampuan Geo dalam bermain gitar, hanya saja ia ingin mendengarkan Geo bernyanyi dan memainkan gitar untuk dirinya karena biasanya ia melihat Geo bernyanyi saat pentas seni saja. Sejak kelas sepuluh, setiap diadakan pentas seni, penampilan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Fani adalah penampilan Geo dengan gitarnya. Walaupun hanya melihatnya dari kejauhan, tetapi Fani sangat senang melihat penampilan seorang pria yang berhasil mengambil hatinya.

    Crengg...crenggg

Geo pun mulai memetik gitarnya.

Danke banya lai Tuhan

Su kasih dia par beta

Inikah tulang tusuk

Yang Tuhan ambel dar beta?

 

Bahagia sio nona e

Beta bahagia, sayang

Danke banya sayang e

Mau hidop deng beta, selamanya, ho-oh

 

Beta janji, beta jaga

Ale untuk selamanya

Beta janji akan setia

Hanya untuk satu cinta

 

Ini cinta yang beta punya

Dari relung hati jiwa

Cuma par ale sajalah

Cinta ni abadi s'lamanya, ho-wo-ho

 

Oh-uh-oh, cinta ni abadi s'lamanya

   Geo menyanyikan lagu Janji putih 'beta janji beta jaga ale untuk selamanya' yang dipopulerkan oleh Doddie Latuharhary, penyanyi asal Indonesia Timur. lagu yang tergiang-ngiang dibenaknya dan menjadi salah satu lagu yang disukainya.

    Fani yang menyaksikan penampilan Geo terkagum-kagum olehnya, Geo membuatnya jatuh cinta begitu dalam. 

   "Dah, gimana? Bisa kan gue? Yaudahlah buruan, sekarang kita beli kebutuhan untuk acara perpisahan nanti," ujar Geo lalu pergi menuju parkiran meninggalkan Fani yang masih terkagum-kagum olehnya.

    ini gue nggak mimpikan? Sumpah, lo bikin gue jatuh semakin dalam Geo, batin Fani.

     Kini, hari sudah semakin sore, semua kebutuhan untuk acara perpisahan sudah lengkap. Fani dan Geo pun menuju arah pulang.

    "Rumah lo dimana Fan?" teriak Geo yang tengah mengendarai motor.

     duh, gue jawab apaan nih, batin Fani kebingungan.

    "Woy, Fan, gue anterin lo kemana nih?" tanya Geo yang kedua kalinya.

    "Eh, itu ke... eh berhenti dulu weh, berhenti woy," ucap Fani seraya memukul-mukul pundak Geo. Geo pun berhenti dengan mendadak membuat tubuh Fani terbentur ke punggung kokoh milik Geo dan membuat dagu Geo terbentur pada pegangan gitarnya. Fani yang kaget, spontan memeluk pinggang Geo.

     "Ck, lo kenapa suruh berhenti sih? Sakit nih dagu gue," kesal Geo karena gitar miliknya diletakkan di depannya.

     "Hehe, itu gue mau kesana dulu," ucap Fani cengengesan lalu menunjuk sebuah toko buku yang tak jauh dari posisinya sekarang. Geo pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Fani. 

     "Toko buku?" tanya Geo heran.

     "Iya, hehe, boleh nggak?" tanya Fani.

     "Ya, bolehlah, ekhem ini sampai kapan gue dipeluk?" ucap Geo lalu melihat Fani dari kaca spion, Fani yang tak menyadari bahwa dirinya tengah memeluk Geo langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Geo.

    "E-eh, m-maaf," jawab Fani gugup lalu turun dari motor dan menuju ke arah toko buku tersebut. Geo yang melihat tingkah Fani yang aneh hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

     "Tuh anak, pinter apa nggak sih? Kenapa jalan coba kesana, padahal bisa pake motor,ck ck ck." Monolog Geo lalu menghampiri Fani dengan motornya.

     "Weh, lo pinter apa kurang pinter sih? Kenapa jalan coba, kalo pake motor kan nggak cukup lima menit sampe sono," ucap Geo yang sudah sejajar dengan Fani.

     Fani yang tak menyadari itu, menepuk jidatnya lalu terkekeh malu.

     gue kenapa sih, aelah, malu-maluin aja, batin Fani.

    "E-eh, gapapa, lagian nih hampir sampe," ucap Fani.

    Titt...Titt...Titt

    "Lah? kok lo jalan Dek?" ucap Rey yang melihat adiknya berjalan kaki.

    untung Abang gue dateng, kan nggak jadi bingung gue kalo Geo nanya anterin gue kemana, batin Fani.

    "Lo nyuruh dia jalan? Nggak banget lo, cowo cewe sih lo? Tega banget nyuruh cewe jalan sedangkan lo enak-enakan diatas motor," ujar Rey yang tak terima adiknya berjalan kaki.

     "Eh, nggak Bang, lagian gue yang turun sendiri, hehe," ucap Fani cengengesan.

    "Buruan naik! Udah sore gini masih aja belum pulang," perintah Rey.

    "Geo, nih barang-barang gimana? Gue yang megang dulu?" tanya Fani pada Geo yang sedari tadi hanya diam.

    "Ya, lo bawa pulang aja dulu, besok bawa lagi ke sekolah," jawab Geo.

    "Yaudah, gue duluan ye," ucap Fani lalu naik ke atas motor abangnya.

    kepergian Fani dengan abangnya membuat Geo menggeleng-gelengkan kepalanya, ia heran dengan tingkah Fani.

    ck ck ck, tuh anak aneh banget, tadi katanya mau ke toko buku dulu, lah abangnya dateng, malah langsung pulang, plin plan emang, batin Geo lalu melajukan motornya.

Stefanie's Joy (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 372

    Seorang gadis cantik sedang berjalan santai di koridor sekolahnya. Raut wajah yang sangat ceria dengan senyuman manis khas dirinya membuat orang-orang yang berada disekitarnya terheran.

    "Dih, kenapa tuh anak kampung senyam-senyum sendiri," ucap salah satu siswi.

   "Kesambet kali." 

   "Palingan baru dapet uang segepok kali, biasalah orang miskin kan kalo dapet uang segitu kek udah waahh aja," ledek siswi tersebut lalu tertawa terbahak-bahak dengan temannya.

   Begitulah yang didengar oleh Fani, tetapi itu tak merubah raut wajahnya yang tampak ceria. Ia tak menghiraukannya, ia tetap melanjutkan langkahnya dengan santai. Tiba-tiba raut wajah cerianya yang sedari tadi ia pasang berubah menjadi kesal saat seseorang dengan sengaja merangkul kuat bahunya yang nyaris membuat ia tersungkur. Tidak butuh waktu lama, ia sudah bisa mengetahui orang yang tengah merangkulnya. Aroma parfum yang ia hirup sudah familier di Indra penciumanya. Siapa lagi kalau bukan Kakak kelasnya yang sudah dekat dengannya sejak kelas sepuluh. 

    "Aelah Kak, hampir jatoh gue," ucap Fani menoleh ke arah pelaku yang nyaris membuatnya tersungkur.

    "Hehe, maap Fan, Nggak sengaja," jawab Rangga cengengesan.

    "Wah, lagi seneng kayaknya nih, ada gerangan apa sih kawan," ujar Rangga lalu terkekeh mendengar ucapannya sendiri dan membuat Fani juga terkekeh.

    "Ya lagi seneng aja, hehe. Kak, lepasin, nggak enak tau diliatin orang," ucap Fani lalu berusaha melepaskan rangkulan Rangga.

     "Dih, liat tuh, dia genit banget ama Kak Rangga," ucap salah satu siswi yang baru saja melewati mereka.

    Rangga melirik ke sekitarnya, ia dan Fani masih berada di koridor kelas sepuluh. Rangga melepaskan rangkulannya karena semua mata melihat ke arahnya dan Fani membuat ia jadi salah tingkah.

    "Pada ngeliatin semua ye Fan," ucap Rangga.

    "Ho'oh," jawab Fani lalu melanjutkan langkahnya meninggal Rangga begitu saja.

  "Eh, Fan, tunggu dong," ucap Rangga lalu menyusul Fani.

   Jadi? Fani sedeket itu ya ama Kak Rangga, gue nggak nyangka sih, sakit banget liat Fani sedeket itu ama Kak Rangga, gue kira deket kek biasa aja, eh ternyata sampe ngerangkul gitu dan baru kali ini gue liat Kak Rangga ngerangkul Fani, itu kek melebihi hubungan antara Kakak kelas ama Adek kelas, gue harus bertindak, gue nggak bisa diem lagi, gue nggak mau Kak Rangga jadi milik orang lain, dia harus jadi milik gue, batin seseorang dari jauh yang melihat Fani dan Rangga begitu dekat.

Stefanie's Joy (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 347

      "Ekhem, ada yang lagi seneng nih," ucap Nia setelah duduk di kursinya dan Fani menoleh ke arah Nia yang berada disampingnya, menampakkan senyum manis kepada Nia.

   "Dih, senyam-senyum, kesambet lo Fan?" ujar Nia yang merasa aneh dengan tingkah Fani. Fani menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawabannya dengan senyuman manis yang tak lepas dari raut wajahnya.

   "Waah, beneran kesambet ini mah, gue nanya jawabnya cuma geleng -geleng kepala, trus senyum-senyum lagi, ih ngeri," ucap Nia lalu menggeserkan kursinya dari Fani. 

     Fani terkekeh kecil melihat Nia yang menjauh darinya lalu ia mendekati Nia kemudian memeluk Nia sangat erat.

    "Woy, sesek weh," Nia berusaha melepas pelukan Fani yang begitu erat, tetapi hasilnya nihil, membuat Nia kesal lalu menepuk-nepuk punggung Fani.

    "Wah, huuhh...huuhh... Gila lo Fan, lo mau bunuh gue?" ucap Nia setelah pelukannya dilepas dengan nafas terengah-engah.

   "Maap Nia," ucap Fani cengengesan.

   "Hayo loh, seneng gara-gara kemaren ya? Cieee...," Ledek Nia karena tingkah sahabatnya itu memanglah aneh.

    "Dih, apaan sih," ucap Fani.

   "Heleh, bener kan?" tanya Nia.

   "I-iya sih, hehe. Kemaren tuh dia nyanyi weh, sumpah gue kek gimana gitu," jelas Fani dengan mata berbinar-binar.

    "Pantesan lo dari tadi senyam-senyum, keinget trus ye," ucap Nia terkekeh.

    "Ya gitu lah, hehe. Rasanya...," ucapan Fani terhenti karena ia melihat Geo yang baru saja memasuki kelas.

    "Ekhem, tuh orangnya dateng, disapa dong," ujar Nia dan Fani hanya memandangi Geo dengan tersenyum-senyum.

   "Heleh, udah kayak orang gila lo Fan," ledek Nia lalu menoyor bahu Fani yang masih fokus memandangi Geo.

   "Dih, maen noyor-noyor aja lo Nia, ngerusak suasana aja lo, gue kan lagi mandangin my baby gue," kesal Fani.

   "Wah udah mulai lebay nih bocah," ucap Nia menggeleng-gelengkan kepalanya.

    "SSG, wlee," ujar Fani lalu menjulurkan lidahnya.

    "Hah? USG? Lo hamil Fan?" tanya Nia kebingungan lalu memegang perut Fani membuat Fani tercengang, tidak habis pikir dengan Nia.

   "Hah? Hamil? Woy itu USG bukan SSG, SSG itu suka-suka gue," ucap Fani sedikit berteriak ditelinga Nia.

   "Dih, sakit nih telinga gue, bener-bener dah mulai lebay nih anak," ucap Nia kesal lalu mengusap-usap telinganya.

Sakit Sebelum Memiliki (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 424

    "Eh, lo tau nggak...," ucap Fani

    "Nggak," jawab Nia kilat sebelum Fani menyelesaikan ucapannya.

    "Ya iyalah, kan gue belum cerita Markonah, lo ngajak gelut mulu ye," kesal Fani lalu menoyor bahu Nia.

    "Iye dah iye, nggak usah maen noyor-noyor juga lo," sewot Nia.

   "Habisnya, lo ngajak gelut mulu. Lo tau nggak, kemaren tuh rasanya beeeh, bisa jalan berdua ama Geo tuh kayak mimpi bagi gue weh, dunia rasa milik berdua tau," ujar Fani sambil mengingat-ingat kembali saat ia bersama Geo.

   "Nah loh, mulai nih mulai," ucap Nia .

   "Mulai apaan?" tanya Fani.

   "Mulai lebay," ucap Nia dengan menekankan kata lebay.

   "Dih, gue nggak lebay ye," kesal Fani.

    "Gue tebak nih, pasti waktu di motor tuh, lo peluk si Geo kan?" tebak Nia menaik-turunkan alisnya.

     "H-hah? Nggak ye, enak aja lo kalo ngomong," ucap Fani gugup.

    "Heleh, hayo ngaku lo," ucap Nia lalu menowel-nowel pipi Fani membuat pipi sang empu merah merona. "Nah kan, bener gue, lo pasti peluk si Geo, tuh pipi udah merah-merah kek make up badut, ha-ha-ha."

     "Dih, k-kan gue meluk dia nggak sengaja, gara-gara dia nge-rem mendadak gitu, ya spontanlah," jelas Fani gugup dan tersipu malu.

    "Iyain, biar seneng," ucap Nia.

    "Hai Kak Geo," sapa salah satu siswi yang baru saja masuk kelasnya lalu menghampiri Geo. 

   Fani dan Nia yang tengah asik bercerita pun teralihkan oleh gadis tersebut. Fani merasakan sesak di dadanya karena melihat Geo yang sangat akrab dengan gadis tersebut, bersenda gurau dan tersenyum manis pada gadis tersebut.

   "Wah, ada gerangan apa nih," ucap Nia yang sedari tadi juga memperhatikan Geo dengan gadis tersebut.

   "Yaudah Kak, aku mau ke kelas dulu ya," ucap siswi tersebut lalu Geo menganggukkan kepalanya dan mengelus-elus kepala gadis tersebut membuat Fani terdiam membisu menahan sakit yang ia rasakan.

    "Belajar yang rajin, jangan ngebolos ya," ucap Geo lembut kepada gadis yang berada di hadapannya.

    "Ay ay capten, ketemu di kantin nanti ya," ucap gadis tersebut lalu pergi meninggalkan kelas Geo dengan senyuman yang sangat manis.

     Nia kaget melihat pemandangan yang baru saja ia saksikan lalu melihat ke arah Fani yang sedari tadi diam membisu memandangi Geo yang sekarang tengah memainkan ponselnya kembali.

    "Jangan nethink dulu Fan, mana tauan itu Adeknya Geo," ucap Nia menenangkan Fani.

    Sakit weh, baru aja gue seneng banget gara-gara kemaren, sekarang malah jadi sakit, batin Fani.

   "Woy, malah bengong," ujar Nia lalu menoyor bahu Fani.

   "Eh, i-iya, gapapa kali Nia, itu hak dia buat deket ama siapapun, lagian gue bukan siapa-siapanya dia," ujar Fani menahan rasa sakitnya.

Sakit Sebelum Memiliki (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 329

   Pemandangan yang berada di hadapannya saat ini membuatnya terdiam membisu. Makanan yang sedari tadi ia aduk-aduk tak kunjung dimakan pun sudah menjadi dingin.

   "Woy, aelah Fani, itu mienya lo aduk-aduk trus, udah dingin noh kapan dimakannya," ucap Nia yang melihat Fani masih saja mengaduk-aduk makanannya.

   Fani tak mendengarkan ucapan Nia, ia tetap memandangi orang yang ia sukai tengah bersenda gurau dengan orang lain. 

    Gini ya, rasanya patah hati sebelum memiliki? Rasanya sakit banget. Liat dia dari jauh aja gue udah seneng apalagi liat dia dari deket senengnya pake banget, tapi gue nggak sanggup liat dia berharap untuk orang lain dan bukan untuk gue. Huft, gue pasti bisa dengan semua keadaan ini, batin Fani.

   "Ck, Fan, kok malah bengong si, eh-eh lo kenapa Fan?" tanya Nia yang melihat sahabatnya tiba-tiba meneteskan air matanya. Fani tak menjawab pertanyaan Nia. Ia berusaha tegar, menghapus air matanya lalu menerbitkan senyum palsu di bibir ranumnya.

   Nia yang mengerti dengan situasi hati Fani saat ini, ia langsung memeluk Fani, mengusap-usap punggungnya agar Fani sedikit tenang.

   "Sabar Fan, gue ada disini buat lo, udah dong masa sedih sih, ntar tambah jelek lo," ucap Nia lalu mendapatkan cubitan dari Fani.

   "Aww... buset dah lo, suka banget maen cubit-cubitan, ntar dicubit balik nangis," ringis Nia lalu mengusap-usap pinggangnya yang dicubit oleh Fani.

   "Habisnya lo sih, gue lagi sedih gini masih sempet-sempetnya ngeledekin gue," kesal Fani lalu melepaskan pelukannya.

   "Makasih Nia, lo slalu ada di saat gue terpuruk," lirih Fani.

    "Iye sama-sama Fan, aelah lo kek ama siapa aja," ucap Nia lalu merangkul bahu Fani.

   "Gini ye rasa sakit nya ngeliat orang yang kita sukai deket ama yang laen, mana udah kek pacaran lagi, nyesek banget," ujar Fani lalu melirik ke arah Geo yang masih asik bersama gadis yang mampir ke kelasnya tadi.

   "Ya gitu, lo harus banyak-banyak bersabar, makanya lo sih, kurang gercep, kan sekarang dah di ambil duluan," ucap Nia dan Fani hanya mendengarkan ucapan Nia.

Sakit Sebelum Memiliki (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 370

   Fani berbaring di atas kasur dengan memeluk bantal guling miliknya, gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat akan kejadian yang ia lihat di kantin sekolahnya tadi.

     Ck, udahlah buat apa gue mikirin dia, yang ada bikin gue sakit hati sendiri, lagian gue kan bukan siapa-siapanya dia, ngapain juga dipikirin, hak dia juga mau deket ama siapapun.

    Tapi, gue nggak bisa bohongin perasaan gue, gue nyesek liat dia deket ama cewek laen sedeket itu, padahal sebelumnya dia nggak pernah sedeket itu dengan cewek manapun, kenapa ama tuh cewek deketnya udah kek orang pacaran aja, arghh, batin Fani lalu mengigit bantal guling yang tengah ia peluk.

    "Buset Fan, kek nggak ada makanan aja lo, sampe-sampe tuh guling lo gigit, noh di dapur banyak makanan ama buah yang bisa lo gigit," ucap Rey yang baru saja masuk ke kamar Fani.

    "Ck, kalo masuk tuh ketuk pintu dulu kek, ni malah maen masuk-masuk aja lo Bang," ujar Fani yang masih setia dengan posisinya.

    "Dih, gue udah ketuk-ketuk pintu lo dari tadi Maemunah, tapi nggak ada yang nyaut, yaudah gue masuk aja, eh tau-taunya gue masuk lo lagi makan tuh guling," jelas Rey sambil mengingat-ingatnya kembali apa yang sudah ia lihat.

    "Iyain, umur nggak ada yang tau," ucap Fani.

   "Heh, lo doain gue cepet meninggoy ha?" kesal Rey lalu ikut berbaring disebelah Fani.

   "Nggak, kan emang bener umur nggak ada yang tau," jawab Fani. 

   "Ngapain lo kesini? Wah keknya ada maunya nih," tebak Fani beranjak dari tidurnya lalu duduk disalah satu sisi tempat tidur dengan bantal guling yang masih setia dipelukannya.

   "Hehe, tau aja lo Fan. Sekarang kan malming ye kan, jadi lo temenin gue malming kek, yah supaya... Eum you know lah," ucap Rey cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

  "Nah kan, udah gue duga, makanya cari cewek sono, ngenes banget idup lo Bang, ganteng doang tapi nggak punya gebetan, slebew," ledek Fani lalu melemparkan gulingnya ke arah Rey dan tepat mengenai kepala Rey.

   "Ck, malah di lemparin guling gue, lo jadi Adek harus berguna dong, pokoknya ntar malem temenin gue, titik nggak pake koma," ucap Rey lalu pergi keluar dari kamar Fani.

   "Dih, konsepnya nggak gitu juga kali Jamal," teriak Fani yang kesal oleh Rey.

With Brother (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 374

     Fani menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Celana jeans sobek lutut dipadukan dengan sweater putih membuat tampilannya sangat cantik. Tidak lupa ia memoles wajahnya sedikit dengan sentuhan bedak bayi dan lip blam pada bibir ranumnya. Fani semakin terlihat cantik dengan sepatu sneakers putih yang melekat pada kakinya. 

   "Ck sebenernya gue mager keluar rumah, tapi gapapalah sekalian ngehibur hati gue yang lagi sakit," ucap Fani sambil merapikan rambutnya yang dikuncir kuda lalu menyambar botol parfum yang berada di meja dan menyemprotkan ke badannya.

    "Eumm wangi, cantik banget gue," ucap Fani lalu terkekeh kecil.

   Tok...tok...tok...

   "Masuk aje Bang," teriak Fani yang masih setia didepan cermin.

   "Wah wangi banget weh, dah selese lo? Yaudah buruan berangkat," ucap Rey yang baru saja masuk ke kamar Fani lalu menghampiri Fani.

   "Ini di lepas aja supaya lo lebih cantik," ujar Rey sambil melepaskan ikat rambut Fani.

   "Ck, dikuncir aje Bang," ucap Fani merapikan rambutnya yang terurai.

   "Nggak, gini aja lebih cantik, buruan gue tunggu diluar lo," ucap Rey lalu pergi dari kamar Fani.

   "Ck, tuh anak banyak maunya, padahal bagusan dikuncir," kesal Fani lalu menyusul Rey yang sudah berada diluar.

    Penampilan Fani sangat memukau dimata Rey membuatnya tarpaku pada gadis cantik di hadapannya, apalagi rambut Fani yang dibiarkan terurai, membuat penampilan Fani malam ini semakin kece.

    "Kenapa? Gue cantik bangetkan," ucap Fani mengibas-ngibaskan Rambutnya.

   "Woy lu siapa? Cantik bener, sini jadi pacar gue aja," heboh Rey.

   "Dih gila lo Bang, gue ogah ama lo," ucap Fani lalu tertawa.

  "Heleh, cogan gini masa lo tolak," ujar Rey

   "Ck, buruan, jadi pergi nggak nih?" tanya Fani yang sudah mulai kesal.

   "Yaudah, ayo tuan putri," ucap Rey lalu mengambil motornya yang berada di garasi.

   "Buruan naik!" Perintah Rey lalu Fani segera naik ke motor abangnya itu.

   "Peluk dong, ntar lo jatuh gue nggak tanggung jawab ye," ucap Rey.

  "Dih modus lo Bang, ogah gue peluk lo." Kesal Fani.

   "Bener nih? Yaudah," ucap Rey lalu sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi kemudian tiba-tiba berhenti mendadak membuat Fani kaget dan spontan memeluknya.

     "Heh, lo bisa bawa motor nggak sih Bang," ucap Fani lalu memukul kuat punggung Rey.

    "Aww... Ya bisa lah kalo udah dipeluk gini," ujar Rey terkekeh-kekeh.

    "Dasar buaya lo," ucap Fani lalu Rey melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

With Brother (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 713

"Mau kemana si Bang?" teriak Fani yang sudah bosan, karena sedari tadi tak kunjung sampai ke tempat tujuan.

     "Ikut aja dah lo," teriak Rey melihat Fani dari spion.

     Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun sudah sampai disebuah wahana bermain. Yap! Sudah tentu pasar malam.

    "Waaah, pasar malem?" tanya Fani dengan mata berbinar-binar.

    "Iya, gimana?lo suka nggak Dek?" tanya Rey lalu turun dari motornya. Fani yang sudah lama tak mengunjungi pasar malam hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

    "Yok, buruan masuk," ajak Rey lalu menggandeng tangan Fani.

     Fani melihat-lihat ke sekelilingnya, terlihat lampu warna-warni dimana-mana. Terdengar teriakan, tawa, hiruk pikuk keramaian yang membuat Fani semakin senang.

    "Wah rame banget..." ucap Fani dengan girang.

    "Aelah, kek anak kecil aja lo Dek," cibir Rey yang melihat Fani seperti anak kecil.

    "Biarin, yang penting gue cantik," ujar Fani lalu mengibas-ngibaskan rambutnya.

    "Dih, kepedean banget lo bocah," ucap Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.

    "Baaaangg, mau itu," ucap Fani layaknya anak kecil lalu menunjuk ke arah penjual permen kapas.

    "Buset dah lo Dek, kek bocil banget, yaudah ayok!" ujar Rey lalu mereka berjalan menuju penjual permen kapas tersebut.

    "Bang, beli permen kapasnya dua," ucap Fani kepada penjualnya.

   "Satu aja Bang," ucap Rey membuat Fani kesal.

   "Ck, kok satu sih, dua aja ya ya ya," ujar Fani.

   "Ntar gigi lo sakit, satu aja ye," jelas Rey lalu mengelus-elus kepala Fani.

   "Ck, maunya duaaaaa," rengek Fani.

   "Eh iya iya, aelah udah gede masih aja kek bocah lo," ucap Rey menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bang, permen kapasnya dua ye."

    "Pacarnya ya Mas?" tanya penjual tersebut setelah Rey membayarnya.

   "Buk..." Fani yang akan menjawabnya langsung dipotong oleh Rey.  

   "Eh, iya Bang, ini pacar saya," ucap Rey lalu merangkul bahu Fani. Seketika mata Fani terbelalak mendengar ucapan Rey.

   "Owalah, cocok banget sih Mas, satu ganteng yang satunya lagi cantik banget," puji penjual tersebut.

    "Hehe, makasih Bang," ucap Rey yang masih setia merangkul bahu Fani.

    Kini Fani dan Rey tengah duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari penjual permen kapas tadi.

     Fani yang sangat suka dengan permen kapas langsung melahapnya. Sesekali melihat ke arah Rey yang duduk disebelahnya.

    "Mau?" tawar Fani. "Beli sendiri."

   "Adek durhaka lo," ucap Rey kesal.

   "Dih, baik gini, eh lo kenapa sih ngaku-ngaku jadi pacar gue, ogah banget gue ama lo Bang," ujar Fani mengingat-ingat kembali ucapan Rey saat berbicara dengan penjual permen kapas tadi lalu melahap kembali permen kapasnya.

     "Makan yang bener napa si Fan, kek bocah banget lo," ujar Rey lalu membersihkan permen kapas yang ada di pipi Fani.

     "Gue bukan bocah kali, udah gede gini, aelah gue nanya malah jawab yang laen, lo kenapa ngaku-ngaku jadi pacar gue coba?" tanya Fani lalu Rey melihat ke arah penjual permen kapas tadi yang di sebelahnya ada sepasang kekasih yang tengah bersenda gurau. Fani yang mengikuti arah mata Rey melihat.

      "Maksud lo apa si Bang?" tanya Fani bingung.

     "Itu, lo liat nggak? Yang disebelah kanan penjual permen kapas tuh? Nah ada yang lagi pacaran kan?" jelas Rey.

    "Iya, trus? Oh lo iri liat mereka pacaran makanya lo ngaku-ngaku jadi pacar gue gitu? Ck miris banget lo Bang," ledek Fani lalu terkekeh.

    "Bukan, aelah lo ngajak gelut ya Dek, dengerin dulu gue ngomong ntar baru lo komen," kesal Rey lalu Fani hanya menjawabnya dengan deheman.

    "Noh, itu yang cewek tuh mantan gue Fani," jelas Rey.

    "Mantan lo? Trus?" tanya Fani yang masih bingung.

   "Dia ninggalin gue gara-gara tuh cowok, trus dari tadi tuh dia ngeliat ke arah gue mulu dan mau nyamperin gue,tapi nggak jadi, gara-gara gue bilang lo pacar gue, eh dia-nya langsung balik badan dong" jelas Rey dan Fani mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan alur cerita abangnya itu.

     "Yaudahlah Bang, kita kesini buat seneng-seneng, ngapain mikirin tuh orang, lupain orang yang ngelupain, tinggalin orang yang ninggalin lo, dia nggak pantes buat lo Bang, inget, lo ganteng Bang, masih banyak di luar sana ingin dapetin lo, masih banyak yang mau ama lo," ucap Fani Bijak membuat Rey tertampar dengan kata-kata yang keluar dari mulut adiknya itu.

      "Iye Fan, berarti lo juga mau dong ama gue, ye kan?" ujar Rey seraya menaik-turunkan alis matanya.

     "Dih, di puji malah ngelunjak nih anak, ya nggak gitu juga kali konsepnya Jamal," ucap Fani lalu menoyor bahu Rey.

with Brother (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 324

    Setelah mencoba semua permainan di pasar malam, dari menaiki bianglala yang membuat Fani pucat dan mual-mual, masuk ke rumah hantu yang membuat Fani teriak ketakutan hingga naik komidi putar. Kini Fani dan Rey sudah berada di depan rumahnya. Rey yang tak henti-hentinya meledek dan menertawakan Fani karena ia masih teringat jelas ekspresi wajah Fani saat menaiki bianglala. Fani yang sudah naik pitam, melepaskan sepatunya lalu melemparkan ke arah Rey.

Buukk...

   Sepatu Fani tepat mendarat di kepala Rey membuat sang empu sempoyongan.

    "Buset Dek, durhaka ya ama Abang sendiri," ucap Rey seraya mengelus-elus kepalanya yang sakit.

    "Salah lo sendiri, huh," kesal Fani lalu masuk ke dalam rumahnya dengan Menghentak-hentakkan kakinya. Rey yang melihat tingkah Fani hanya terkekeh geli.

    "Eh, anak kesayangan Bunda udah pulang ya, kenapa hm? Kok mukanya cemberut gitu, harusnya habis jalan-jalan happy dong," ucap Bundanya yang baru saja keluar dari kamar dan menghampiri Fani. 

    "Itu loh Bun, Abang jail banget, dari tadi ngetawain Fani mulu," adu Fani kepada sang Bunda lalu mengecup tangan Bundanya.

     "Rey, kamu tuh ya udah gede masih aja ngejailin adek sendiri, " ujar Bundanya yang baru saja melihat batang hidung anak sulungnya itu.

     "Lah? Gimana nggak ketawa Bun, Bunda bayangin deh ya, habis turun dari bianglala muka Fani tuh pucet banget trus mual-mual lagi, padahal dia yang nantangin Abang dulu, eh dia yang pucet, bwahaha," jelas Rey lalu tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di pasar malam tadi. Bundanya yang mendengar cerita Rey pun ikut tertawa.

     "Aaaa Bunda ama Abang sama ajaa, ck dahlah," ucap Fani yang sangat kesal lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. 

    Buukkk...

    "Woy lah, nutup pintu yang bener Dek!" teriak Rey yang kaget mendengar bantingan pintu kamar Fani.

    "Bodo amat!" ucap Fani lalu merebahkan badan mungilnya di kasur empuk miliknya.

    "Rey, kamu bujuk tuh Adek kamu, Bunda mau lanjut tidur dulu," ujar Bundanya lalu pergi meninggalkan Rey.

    "Aelah tuh bocah pake acara ngambekan sgala," ujar Rey lalu menyusul ke kamar Fani.

With Brother (4)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 345

Tok...tok...tok...

    "Dek! Bangun! Lo jadi ikut nggak nih?" ucap Rey sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Fani. Karena tidak ada jawaban dari Fani, Rey pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Fani. Alangkah terkejutnya, saat Rey masuk ke kamar Fani, Fani masih setia dengan selimut dan gulingnya.

    "Woy Dek! Buset nih bocah masih aja ngebo, katanya mau jogging," ucap Rey lalu mengguncang-guncangkan badan Fani.

    "Eunghh." Fani pun bangun dan merenggangkan otot-ototnya.

    "Apa sih Bang? Gue masih ngantuk tau," ucap Fani lalu mengucek-ngucek matanya.

     "Lah, katanya lo mau ikut gue jogging, gimana sih Dek," kesal Rey. 

    "Yaudahlah, gue jogging sendiri aja," ucap Rey lalu meninggalkan Fani.

   "Eh, gue ikut Bang," ucap Fani lalu mengambil handuknya kemudian mengacir ke kamar mandi.

    Kini Fani sudah selesai dengan pakaiannya. Ia memakai outfit training hitam dan kaos oblong warna putih ditambah dengan sepatu sneaker putih miliknya. Rambutnya yang dikuncir kuda membuat ia semakin cantik.

    "Yok Bang!" ajak Fani.

    "Lah, jadi ikut lo?" tanya Rey.

    "Yah, jadilah, nih langsung gass," ucap Fani.

    "Yaudah yok!" ucap Rey.

   Mereka pun mulai berlari kecil mengelilingi komplek rumahnya. Setiap lima belas menit mereka berhenti untuk jalan, hanya mengistirahatkan kaki mereka agar tidak berlari terlalu lama. Tiba-tiba raut wajah Fani yang awalnya ceria menjadi murung. Lagi-lagi ia melihat orang yang ia kagumi tengah asik bersenda gurau dengan seorang gadis. Gadis yang ia lihat sama seperti gadis yang bersama Geo waktu di sekolah.

    Itu mereka pacaran apa gimana sih? Batin Fani.

     "Dek, ayo lari lagi, malah bengong lo," ucap Rey lalu menarik tangan Fani. Fani yang masih setia melihat Geo dengan gadis lain tidak bergeming sedikitpun dari tempat ia berdiri.

     "Ck, lo masih capek? Yaudahlah gue lanjut lari, lo jalan aja dulu," ucap Rey lalu melanjutkan larinya, meninggalkan Fani yang masih terdiam.

    Pemandangan apaan sih, bukannya gue seneng malah jadi gini lagi.

    Gue heran deh, itu siapanya Geo sih, nempel mulu kemana Geo pergi, padahal itu Geo bareng ama temen-temen, tuh cewek masih aja nempel ke Geo, batin Fani kesal lalu kembali berlari, menyusul abangnya yang sudah duluan darinya.

Sakit Kesekian Kalinya (1)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 305

   Hari terakhir persiapan acara perpisahan, dimana semua susunan acara sudah tertata rapi oleh anggota OSIS yang sudah tentu dibantu oleh Fani dan Geo. 

   Kini seluruh warga SMA Rajasanagara tengah bergotong royong membersihkan semua lingkungan sekolah. Seluruh seluk beluk sekolah dibersihkan, dari kelas sampai halaman belakang sekolah. Fani, Nia, Geo, dan dua orang teman lainnya ditugaskan untuk membersihkan kelasnya. Dari menyapu, mengepel dan membersihkan jendela. 

     "Fan, lo tau nggak?" ucap Nia pada Fani yang tengah menyapu.

     "Nggak," jawab Fani menoleh ke arah Nia yang tengah membersihkan kaca kemudian melanjutkan kegiatannya.

    "Dih, si jelek ngajak gelud," ujar Nia lalu melemparkan kain yang digunakannya untuk membersihkan kaca membuat Fani membelalakkan matanya dan berkacak pinggang karena kain tersebut tepat mengenai wajahnya.

    "Heh, ini kotor tau, malah di lempar ke muka cantik gue nih," murka Fani lalu melempar kain tersebut ke arah Nia, tetapi sasarannya meleset. Nia yang melihat Fani salah sasaran berusaha menahan ketawanya. 

    Upss, malah kena si Geo lagi, gimana nih, Batin Fani panik.

  Geo yang baru saja balik dari kamar mandi untuk mengambil air, tiba-tiba kaget oleh kain yang mendarat tepat di wajahnya. Matanya mencari sang pelaku yang melempari ia dengan kain tersebut dan matanya berhenti pada gadis yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Fani yang sudah panik lalu menghampiri Geo dan mengambil kain tersebut yang tergeletak di lantai. 

    "M-maaf, gue nggak sengaja," ucap Fani terbata-bata dan Geo hanya menjawabnya dengan deheman.

    "Yuhuu, aku datang lagi," ucap seorang gadis yang baru saja masuk ke kelas Fani.

    "Eh, ini muka kamu kenapa? Kok kayak kena apa gitu, kotor lagi, eum bentar," ucap gadis itu lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.

    "Sini deh, aku bersihin," ujar gadis tersebut lalu memegang rahang Geo kemudian membersihkan wajah Geo.

    Fani yang melihat pemandangan itu tepat didepannya, membuat ia tercengang, lagi-lagi ia melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.

Sakit Kesekian Kalinya (2)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 361

   "Weh, jangan bengong mulu lo, itu makanan didepan lo masa dianggurin," ucap Nia yang melihat Fani tak menyentuh makanannya sedikitpun.

     "Aelah Fan, gue ngomong lo nggak denger apa? Itu ntar keburu dingin makanan lo," ucap Nia, tetapi tetap saja Fani tak melirik ke makanannya. Fani tengah memandangi Geo dengan gadis yang akhir-akhir ini bersamanya. 

    Hubungan mereka apa sih? Batin Fani.

    Ini adalah hal baru bagi Fani karena sebelumnya Fani tak pernah melihat Geo sedekat itu dengan cewek manapun, apalagi respon Geo kepada gadis itu sangatlah manis. Baru kali ini Fani melihat Geo sangat senang jika ada gadis yang mendekatinya, biasanya ia akan cuek kepada gadis yang mengejar-ngejarnya.

     Pemandangannya nggak enak banget, tapi gue penasaran juga ama tuh cewek, Batin Fani.

   "Woyy!" Nia berteriak ditelinga membuat Fani tersentak kaget dan menatap sinis pada Nia.

   "Ck, apa si Nia, sakit nih telinga gue," ucap Fani lalu mengusap-usap telinganya.

   "Habisnya, lo sih dari tadi bengong trus, gue ngomong nggak dijawab, yaudah gue teriakin aja," jelas Nia dengan tatapan kesal.

   "Ekhem, misi cantik," ucap Rangga yang menghampiri meja Fani dan Nia dengan membawa satu mangkok bakso ditangannya.

    "Eh, Kak Rangga, silahkan duduk Kak," ucap Nia lalu tersenyum manis. Rangga tak mengindahkan ucapan Nia membuat Nia tersenyum kecut, Rangga pun langsung duduk tepat di hadapan Fani. 

    "Cantik kenapa hm? Dari tadi gue perhatiin lo bengong mulu," ucap Rangga karena sedari tadi ia memperhatikan Fani dari jauh.

    "E-eh, gue gapapa Kak," ucap Fani terbata-bata lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

     "Gapapa gimana? Makanan aja lo anggurin Fan, kasian tuh, makan gih, dari pada mubadzir," jelas Rangga tersenyum manis pada Fani.

     "Iya Kak," ucap Fani lalu melahap makanannya membuat Rangga senang.

    "Ekhem, gue dicuekin nih ceritanya," ucap Nia yang merasa dirinya tak dihiraukan.

    "Yaudah deh, gue pindah meja aja ye," ucap Nia dan berancang-ancang untuk berdiri dari kursinya, tetapi ditahan oleh tangan Fani.

    "Ck, lo disini aja, masa ninggalin gue sih," ujar Fani.

    "Ya, habisnya gue dari tadi dicuekin aja," ucap Nia.

    "Nggak ada yang nyuekin lo Nia, gue baru duduk sini masa lo pindah sih," ujar Rangga. 

    "Udahlah, buruan makan tuh makanan, keburu bel bunyi nih," ucap Rangga lalu melahap makanannya.

Sakit Kesekian Kalinya (3)

0 0
  • Sarapan kata KMO batch 37
  • Kelompok 11 Dandelion
  • Jumlah kata 497

     "Huft, capek banget," ucap Fani menghela nafas.

    Setelah waktu istirahat telah usai, kini seluruh anggota OSIS tengah menghiasi panggung untuk acara perpisahan nanti, dari membersihkan hingga memberi dekorasi pada panggung.

      "Udah selese belum gaess," ucap Kesya yang merupakan anggota OSIS dibagian kesenian.

     "Bentar, dikit lagi," ucap Fani.

     Beberapa menit kemudian, akhirnya panggung pun telah usai di hiasi, menurut anggota OSIS, inilah panggungnya yang paling mewah dan elegan.

      "Yeay, selese gaes, nggak sia-sia kerja sama kita," ucap Kesya dengan girang.

    "Eum, karena kita yang dekor nih panggung, jadi, kita duluan yang naik panggung dong, ha-ha-ha, jadi kita fashion show berpasangan gitu, gimana?" ucap Kesya lalu menatap semua teman-temannya dan disetujui oleh semua anggota.

      "... Rangga ama gue, eum, berarti yang ke sisa, Geo ama Fani, okey dah lengkap kan?" ucap Kesya membuat Fani membelalakkan matanya.

     Hah? Fashion show ama Geo? Mimpi apaan gue semalem weh, batin Fani.

     "Okee, sekarang gue duluan ye ama Rangga fashion shownya," ucap Kesya lalu menggandeng tangan Rangga. Mereka sangat cocok saat fashion show berdua, setelah mereka turun dari panggung, seluruh anggota OSIS memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.

     "Wah, mantep weh, cocok banget sumpah, kalo lo yang jadi pasangan Kak Rangga saat acara perpisahan nanti pasti bakalan menang nih," ucap Lala lalu mengacungkan kedua jempolnya.

    "Iya dong, aura gue nih kan, memiliki aura-aura seorang Miss Indonesia," ucap Kesya lalu mengibaskan rambutnya.

     "Aelah Sya, lo kalo sekali dipuji malah jadi kepedean banget ye," ujar Lala menggeleng-gelengkan kepalanya.

      "Yaudah, sekarang giliran Geo ama Fani, buruan gih," ucap Kesya lalu mempersilahkan Geo dan Fani menaiki panggung.

      Fani yang merasa sangat gugup masih terdiam di tempat ia berdiri. Entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini, fashion show bersama Geo adalah hal yang tak terduga bagi Fani.

     "Woy, aelah si Fani suka banget bengong," ucap Lala menepuk pundak Fani.

     "E-eh, iya," jawab Fani gugup.

     "Buruan noh, tuh si Geo dah nunggu lo, langsung lo gandeng noh," ucap Lala kemudian Fani melirik ke arah Geo yang ternyata sudah berada di hadapannya membuat dirinya semakin gugup.

     Huft, gue pasti bisa, kapan lagi coba gue bisa fashion show bareng Geo, batin Fani.

       Geo dan Fani sudah berada di atas panggung, menampilkan fashion shownya, Fani yang sangat percaya diri, menghilangkan rasa gugupnya membuat seluruh anggota OSIS tercengang oleh Fani yang sangat lincah menguasai panggung layaknya Miss universe.

    Sekarang, seluruh anggota OSIS tengah beristirahat setelah fashion show berpasangan tadi. Fani yang sedang bercermin di ponselnya, pandangannya teralihkan oleh suara seseorang yang tak asing baginya.

     "Kamu capek ya?" ucap gadis itu lalu mengelapkan keringat Geo dengan sapu tangan yang dibawanya.

    "Eh, kenapa keluar kelas? Bukannya lagi belajar?" tanya Geo pada gadis yang di hadapannya.

    "Hehe, iya sih, tadi aku izin ama guru di kelas bilang mau ke toilet, eh kebetulan liat kamu lagi istirahat, ya mampir sebentarkan gapapa," ujar gadis tersebut lalu terkekeh kecil dan Geo membalasnya dengan senyuman.

       Kenapa gue liat yang beginian trus sih, baru aja tadi gue seneng, sekarang sakit lagi, batin Fani

Mungkin saja kamu suka

Alfiansyah
Aku Opa dan Yasmin
Indriana Septia...
Deanada
Farah Anggi
I'm Fine

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil