Loading
1565

2

80

Genre : Romance
Penulis : Dayu Woori
Bab : 30
Pembaca : 46
Nama : Dayu Woori
Buku : 2

Nol Koma

Sinopsis

Aleta, gadis pemimpi yang merindukan kebebasan. Saat karya perdananya dipuja-puja, Aleta sangat tahu ke mana harus melangkah. Namun, satu kejadian mengubah segalanya. Rendi, pria artistik yang dibayangi kenangan menyakitkan. Selalu beranggapan bahwa mengasingkan diri adalah cara terbaik menyeimbangkan akal. Namun, seseorang dari masa lalu mengubah dirinya. Ruang sunyi bersajak menjadi saksi. Diiringi rintik hujan yang melukiskan kenangan dan bendelan rahasia semesta yang menguarkan perasaan, akankah mereka berhasil menjemput kesempatan? Novel ini akan membawa kita dalam suatu perjalanan menuju pemberhentian akhir dari sebuah kesempatan.
Tags :
#KMOBatch37 #sarapankata #library #galerilukis #komunitasmenulis #literasi

Bab 1 - Part 1

4 1

Aleta Celina Putri menatap halaman kosong aplikasi pengetikan. Aleta menyerah setelah sebelumnya memejamkan mata cukup lama, berharap mendapatkan pencerahan untuk garapan baru. Shinta mengira ia pingsan. Gadis itu mulanya membangunkan dengan penuh kelembutan, hingga berakhir dengan goncangan kasar, ternyata juga gagal mengusik Aleta.

Dalam hati, Aleta mengutuk pekikan histeris Shinta. Dua tahun berkawan, ternyata Shinta belum juga paham kebiasaannya. Begitu terjaga, pemandangan wajah cemas penghuni markas menusuk mata. Kalimat kelegaan yang meluncur dari bibir Shinta, membuat satu per satu pergi, menyisakan dengusan dan hadiah omelan untuknya.

Pertemuan perdana mereka sangat mengesankan. Aleta dengan pembawaan ceria, tidak ada kendala berhadapan dengan orang baru, penghuni Pena Putih yang mayoritas lelaki. Lain halnya dengan Shinta, si Gadis Kaku.

Sebab datang terlambat, Shinta dengan wajah pucat meminta izin Septian masuk ke forum. Suara bergetar gadis itu turut menjadi perhatian khusus beberapa pasang mata. Tak sampai di situ, selepas diberi izin, Shinta seolah tidak tau malu celingukan bak anak hilang. Aleta mengerti, dan tanpa pikir panjang menggeser duduk. Merelakan tempat kosong yang semula dihuni ransel, kini ditempati oleh Shinta.

Pena putih adalah komunitas menulis yang beranggotakan mahasiswa. Didirikan dua tahun silam oleh Septian Putra, mahasiswa manajemen dua tingkat di atas Aleta. Lelaki pemilik senyum tiga jari itu merupakan adik dari Inke Wijaya, penulis ternama yang tahun lalu berhasil menyabet penghargaan Writer of The Year.

Sayangnya jejak mulus Inke tidak diikuti sang adik. Septian yang akrab disapa “Kasep”, memilih mengabdikan diri sebagai seorang pebisnis. Meski begitu, sektor yang disasak lelaki itu tak jauh dari bidang Inke. Mendirikan kantor percetakan, perpustakaan, serta tentunya, mendirikan komunitas menulis, Pena Putih.

Awal menjadi anggota, Aleta dihujani pertanyaan. Banyak yang ingin tahu, sehebat apa komunitas yang dirintis oleh adik penulis kondang itu.

Tidak banyak yang bisa Aleta sampaikan. Karena memang tidak ada yang spesial dalam Pena Putih. Namanya saja komunitas menulis, tentu tujuan akhir mereka menerbitkan tulisan. Entah itu berupa novel, antologi, tulisan dalam majalah, hingga barisan kata penuh pencitraan dalam koran.

Kalau butuh tantangan lebih, bisa juga mengikuti perlombaan menulis yang diadakan komunitas lain. Seperti yang tengah Aleta lakukan. Sekuat tenaga memeras otak demi terkumpulnya remahan ide.

“Leta, kamu yakin ikut sayembara komunitas sebelah?” Aleta jengah mendengar pertanyaan penuh keraguan dari Septian.

Lelaki yang dijuluki kritikus oleh Shinta itu, selang satu jam, sudah tiga kali melontarkan pertanyaan yang sama. Dan jawaban Aleta tak berubah.

“Menerbitkan karya di Sampul Putih itu rasanya seperti main di rumah sendiri, Kak. Kurang tantangan.” Aleta menyalurkan tatapan penuh keyakinan. “Ya, walaupun Sampul Putih sendiri sebenarnya susah menerima eksistensi karyaku,” sambungnya diiringi gelak tawa.

Aleta memiliki banyak draft di laptop yang sepertinya kini dipenuhi sarang laba-laba. Penilaian menusuk hati dari Septian menyiutkan nyali Aleta. Menilai karyanya tak berbobot, riset yang Aleta lakukan sangat kurang, dan yang terparah mengatakan karyanya tak jauh beda dengan karangan anak TK.

Septian yang menunggu reaksi murka Aleta, harus menelan pil pahit. Karena gadis itu justru memperlihatkan senyum lebar tanpa beban. Seolah cibirannya bagaikan kidung yang menenangkan.

Benar. Susah mencari manusia normal di Pena Putih. Karena faktanya memang tidak ada. Termasuk Aleta.

Alih-alih berkecimpung dengan rangkaian kata, kegiatan mereka hampir selalu diisi dengan canda tawa. Menyesap bersama minuman hitam setiap malam minggu, bergosip ria, hingga gotong royong membantu tugas perkuliahan anggota lain.

user

24 June 2022 06:08 Dimas Ardiansyah keren bgt

Bab 1 - Part 2

3 0

Di Pena Putih tidak boleh ada yang membawa rona sedih, berkecil hati, bahkan merasa sendiri. Karena Septian mendirikan komunitas itu untuk mewadahi ide-ide cemerlang yang akan berkembang menjadi karya berharga. Sekaligus rumah kedua melepas penat dengan dunia perkuliahan.

“Makanya, ngopi dulu, Aleta. Jangan memaksa otak mungilmu buat kerja,” ujar Raka tiba-tiba. Lelaki itu menempati tempat kosong di samping Aleta.

Aleta tersentak. Bergerak mengusap kasar wajah, menyudahi kegundahan. Selain teh, kopi juga masuk dalam daftar hitam. Mual dan pusing adalah alasan terkuat Aleta menghindari minuman primadona itu.

“Bukannya kamu yang butuh minuman bernutrisi untuk mengasah otakmu itu, Ka?” Raka menghela napas kasar. Meski katanya seluruh anggota Pena Putih tidak ada yang normal, tetapi kadang sisi kewarasan Raka muncul tanpa diduga. Membuatnya responsif dengan sindiran.

Lelaki yang kini genap berusia dua puluh tiga tahun itu adalah mahasiswa kedokteran. Letak fakultasnya persis di seberang fakultas Aleta. Hanya saja, Raka sudah mentas dari sarjana, beralih menyelami jenjang profesi dengan ruang belajar di rumah sakit milik universitas mereka.

Tidak ada manusia yang sempurna. Termasuk Raka, pemilik paras tampan tanpa celah dengan otak yang susah diajak kerja sama. Raka sering kedapatan lambat menanggapi obrolan. Sehingga ia justru menjadi bahan tertawaan.

Namun, di balik itu, kehebatan Raka patut diakui. Tiga novelnya berhasil menjadi best seller. Hebatnya lagi, antologi perdana yang baru terbit lima hari, kini sudah terjual ratusan eksemplar. Rangkaian kata manis Raka sukses memikat hati pembaca.

“Daripada jadi patung di sini, mending balik saja sana!” balas Raka serius.

Kali ini Aleta justru tertawa. Aleta kira hanya Shinta yang sibuk merecoki. Ternyata kawan lain, yang sejak tadi terlihat acuh, diam-diam juga mengamati sikapnya.

Tanpa disuruh tiga kali, Aleta bergegas merapikan barangnya. Menyimpan laptop dan alat tulis ke dalam ransel, serta melipat meja belajar milik markas yang semula ia jadikan sebagai alas laptop.

“Kalau ada apa-apa, jangan hubungi aku.” Aleta beranjak. Meletakkan meja belajar di sudut ruangan, dekat loker. Lalu kembali ke tempat semula untuk meraih ransel, ponsel, dan buku catatan. Tempat menuangkan ide yang sewaktu-waktu melintas.

“Harapanmu terlalu tinggi, Adik Kecil. Enggak ada yang mencari kamu.” Aleta tau jawaban Raka sarat akan kedustaan. Raka ingin memberinya ketenangan, seperti yang kerap lelaki itu lakukan pada anggota lain.

“Memangnya kamu mau kemana, Leta?” Raka setengah berteriak, karena Aleta tau-tau pergi tanpa sepatah kata.

Aleta dengan enteng berbalik. “Jangan bilang-bilang yang lain, ya.” Ia melayangkan tatapan jenaka. “Aku mau semedi, cari wangsit.”

#####

Kita memang tidak bisa memilih terlahir dari rahim siapa, memiliki saudara berapa, bahkan tumbuh dalam bimbingan keluarga seperti apa. Namun, kita bebas menentukan jalan hidup dengan karier secemerlang apa.

Bagi Aleta, tumbuh dalam keluarga terpandang, dan semua kebutuhan tercukupi, bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Apalah arti semua itu, jika kebebasannya tergadaikan. Bukan Aleta yang tak patuh, tetapi bukankah semua orang berhak memiliki impian.

Salahkan saja orang yang selalu menyodori Aleta buku fiksi. Yang mulanya cerita petualangan, makin lama merambat menjadi fiksi roman. Otak mungilnya beradu dengan kemantapan hati, melahirkan keinginan yang tertanam kuat hingga bercongkol akar. Aleta ingin menjadi penulis.

Sama seperti kawan sebayanya, Aleta juga gemar menulis curahan hati. Namun, kegiatan itu ia hentikan begitu memasuki dunia perkuliahan. Aleta geli membaca kumpulan keluh kesah tentang kakaknya, Alana Anindya Putri.

Terlahir dari rahim yang sama, tidak menjamin seseorang memiliki kepribadian yang serupa dengan saudara sedarah. Bahkan kembar identik sekalipun mustahil berbagi kepribadian. Gadis yang terpaut empat tahun di atas Aleta itu, terlalu kaku untuk ukuran seorang kakak. Mereka tidak pernah bermain bersama, karena Alana lebih senang menghabiskan waktu di kebun, bersama ayah mereka, Agam Rahmat.

Bab 1 - Part 3

2 1

Cekcok tak berujung bukan sesuatu yang baru. Amarah Alana tidak mudah padam dengan kata maaf. Bahkan setelah mereka tidak saling bersapa lama, Alana masih saja menampakkan wajah permusuhan.

Alana, si Kaku Penurut. Puncaknya saat gadis itu dijodohkan dengan Chandra, putra juragan tanah desa sebelah. Sampai saat ini, Aleta tidak kunjung paham dengan jalan pikir kakaknya. Alana sangat patuh, seolah tidak memiliki keinginan. Hidup hanya untuk berjalan lurus, terpaku mengabdikan diri menuruti keinginan orang.

Sebab keanehan itu, Aleta ikut terkena imbas. Dipaksa masuk ke dunia yang tidak ia inginkan. Sialnya lagi, Aleta tidak berani mengutarakan penolakan. Apalagi kalau bukan dunia perkuliahan.

“Ayah harap kamu cepat menyelesaikan kuliahmu, lalu ikut andil di kebun kita.” Aleta terenyuh menyaksikan momen langka. Netra lelah Agam berkaca-kaca setelah tau ia lolos seleksi perguruan tinggi.

Tidak jauh beda dengan ibunya, Anjani Batari, yang sudah lebih dulu membawa dalam rengkuhan hangat. “Selamat, Sayang. Bunda enggak menyangka kamu diterima. Bunda kira kamu akan mengikuti jejak Alana di pertanian.”

Tunas baru tumbuh di atas tanah gersang. Menghadirkan bunga dengan semerbak harum yang menenangkan jiwa. Aleta mendapatkan pencerahan setelah bergabung dengan Pena Putih. Masih ada harapan untuk mengejar mimpi yang semula ia kira tetap tinggal di angan.

Ia diam-diam masuk dunia kepenulisan. Mulai giat mengasah kemampuan merangkai kata. Karya perdananya yang penuh ketimpangan berhasil diterima banyak orang. Kabar gembira itu dibawa oleh Shinta, dan menimbulkan kegaduhan di markas.

“Selamat merasakan indahnya hasil perjuangan, Adik Kecil.” Kedatangan Aleta disambut heboh oleh penghuni setia, Raka dan Audri. Dari kejauhan, penghuni lain turut menyambutnya dengan senyum bangga.

Jika Septian adalah kritikus berkedok pebisnis, maka Audri adalah kritikus dengan seribu topeng. Gadis Ketus itu sangat pandai menyembunyikan sifat aslinya. Audri selalu sempurna membangun kesan pertama. Mengecoh anggota baru dengan tampang bersahabat dan binar mata jernih.

“Apa aku bilang, coba dari dulu kamu bawa naskahmu ke penerbit lain, sudah pasti karya-karyamu lekas mengudara.” Cuitan jujur Audri sampai pada Septian. Lelaki itu dengan sengaja menyenggol kasar lengan Audri.

Audri berkacang pinggang, mengikuti arah Septian melenggang. “Space-nya kurang luas, ya, Pak Bos? Segitunya, jalan sampai nerjang makhluk bernyawa,” gerutunya pada Septian yang sudah duduk nyaman di sofa, asik berkutat dengan ponsel.

Tanpa rasa bersalah, Septian melirik Audri sekilas. “Oh, ada makhluk di sana? Aku kira ruang hampa,” balas Septian acuh.

Aleta dan Raka bisa mendengar desisan Audri. Tanda bendera perang mulai dikibarkan. Keduanya beradu pandang, bertukar pesan lewat kedipan mata. Hengkang adalah pilihan terbaik sebelum tersambar kobaran api dua kritikus profesional.

Belum sempat terealisasikan, tabiat keduanya berhasil tercium oleh Septian. Lelaki itu bangkit, lantas memarkirkan lengan berotot di pundak Raka.

“Mau ngopi, ya? Mumpung lagi ada kabar bahagia, gimana kalau aku saja yang traktir? Benar begitu, Aleta?” Aleta mendelik mendengar namanya disebut Septian dengan nada yang mengerikan.

“Benar mau traktiran? Aku gabung, ya.” Aleta menatap horor Audri. Bertanya pada diri sendiri, ke mana perginya aura permusuhan yang baru dibangun gadis itu.

Raka menyeringai. Suara baritonnya menambahi kekalutan Aleta. Dalam hati, Aleta mengutuk kelakuan Raka. Bisa-bisanya lelaki itu kini bersekutu dengan Septian dan Audri. Dasar!

“Kasihan anak orang, Bang. Nanti aku bawakan kamu sekardus milo, ya, Leta. Syaratnya harus ikut merayakan keberhasilan novelmu. Gimana, setuju?” Raka menaik turunkan alis.

Mereka jelas tau, Aleta anti dengan kopi. Parahnya, tempat diperjualbelikan minuman itu ikut disiriki. Sungguh, gadis langka.

Suara nyaring notifikasi mengubah wajah kusut Aleta. “Maaf ya, rayuannya enggak mempan. Kalah jauh sama Shinta,” ia terkekeh menunjukkan pesan dari Shinta.

“Aleta undur diri, ya.” Aleta melenggang angkuh. Meninggalkan tiga pasang mata dengan segudang tanya.

Dari balik helm, Aleta tersenyum puas. Untung saja ia berhasil lepas dari hasutan tiga manusia tericuh se-Pena Putih. Biar nanti ia pikirkan rencana perayaan karyanya. Karena saat ini mengisi perut lebih utama.

user

19 May 2022 20:49 Fitri Fatimah Tulisannya bagus, Kata-kata nya enak dibaca. Banyak kata yang tidak itu-itu saja.

Bab 2 - Part 1

4 0

Hidup ibarat berenang di lautan. Jika kemampuan berenang kita mumpuni, pastilah akan kuat bertahan hingga mencapai daratan. Namun, jika teknik berenang kita salah, arus laut tak segan menyeret ke sana kemari. Entah kapan akan bertemu daratan. Lain lagi kalau tidak bisa berenang, tanpa menunggu lama, tubuh kita akan tertanam abadi di dasar samudra.

 

Bagi Rendi, sesempurna apa pun teknik berenang, ombak lautan tidak pernah bisa diam. Tetap saja ada fase terombang-ambing terbawa arus. Hidup tidak semulus yang dibayangkan.

Cat biru yang ia usapkan di canvas ikut mewarnai lengan. Tak sampai di situ, lagi-lagi warna biru yang ia colek bercampur dengan warna lain. Langit birunya tercoreng.

Rendi menelantarkan peralatan lukis. Tergopoh-gopoh menuju wastafel di sudut ruangan. Dua jam berkutat dengan kegundahan, ia abai dengan posisi ergonomis yang selama ini dikampanyekan. Insiden menyakitkan menyebabkan tulang belakangnya bergeser sekian derajat. Walau minim, tetapi sungguh menyiksa.

Tak mau susah payah berganti pakaian, Rendi menyambar kunci mobil dengan kasar. Siap meluncur menuju kantor.

Bunyi alarm pintu mengisi kesunyian ruang utama. Wanita berjilbab putih yang semula sibuk dengan laptop, beralih menatap Rendi.

“Mbak Nana, Ayah ada di ruangan?”

Nana mengangguk diiringi senyum manis. “Iya, Mas Rendi. Bapak dari pagi tidak keluar. Ada proyek baru, Mas.” Rendi mengangguk paham.

Setelah berpamitan, Rendi melenggang ke ruangan ayahnya. CEO Miway Wedding Organizer, Danu Dananjaya.

Senyum tipis terbit di bibir Rendi. Jangankan ada klien, sedang kosong job pun bisa dipastikan Danu jarang meninggalkan ruangan. Akhir-akhir ini Danu senang menghabiskan waktu di depan akuarium besar pemberiannya.

Rendi kerap berkunjung ke gugusan pulau menawan yang disebut-sebut sebagai surga dunia, Raja Ampat. Ia bingung menggambarkan dengan kata-kata. Sebenarnya tidak perlu diragukan kesanggupan Danu terbang ke daratan yang dikelilingi perairan nan jauh di sana itu. Namun, kantor tetap prioritas utama. Paksaan jenis apa pun tidak bisa menggoyahkan semangat lelaki workaholic itu.

“Ada proyek baru, Yah?” Danu berjingkat mendengar bisikan merdu Rendi.

Tawa renyah Rendi mengudara. Sebab sibuk mengamati makhluk mungil tak bernama, Danu sampai tidak menyadari kedatangan Rendi.

“Sejak kapan kamu di sini?” Rendi sengaja mengerutkan kening. Memasang wajah seolah tengah berpikir. Sekian detik berlalu tanpa ada jawaban yang terucap. Danu menghentikan aksi abstrak Rendi, beralih menggiringnya duduk. Ia tau lelaki muda itu tengah mengajak bercanda.

Seakan menemukan kenikmatan dunia, Rendi menyandarkan tubuh dengan nyaman. Memejamkan mata dengan napas teratur yang mulai terdengar. Jika bukan karena suara berat Danu, bisa dipastikan Rendi terlelap detik itu juga.

“Kapan kamu pulang, Ren? Ayah kira kamu masih asik bergelut dengan debu Semeru,” tanya Danu penasaran.

“Kemarin, Yah. Rumah kita sepi seperti lama tidak dihuni. Aku terpaksa menginap di studio semalam,” gumam Rendi.

Danu menghembuskan napas kasar. “Apa susahnya kamu jemput ayah di kantor?”

Ia menatap wajah Rendi yang dipenuhi guratan lelah. Kulit Rendi terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Aksi nekat mandi matahari sepertinya membuahkan hasil.

“Lalu membuat ayah menyesal karena melewatkan malam dengan bersantai? Aku sangat mengenal ayah.”

Tumbuh dalam bimbingan sosok ayah yang begitu mencintai pekerjaan, tidak lantas membuat Rendi berkecil hati. Momen itu justru ia gunakan dengan menghabiskan waktu di studio lukis. Mengasah bakat yang kini beralih menjadi tujuan hidup.

“Jangan terlalu lama melalang buana. Banyak yang harus kamu selesaikan.”

“Masalah ini juga harus aku selesaikan, Yah. Sangat mengganggu,” keluh Rendi putus asa.

Ingatan masa lalu dengan sangat tidak sopan mengacaukan konsentrasi. Alasan terbesar Rendi menapaki gunung tertinggi di pulau Jawa. Meraup ketenangan sebanyak-banyaknya demi mengembalikan keseimbangan akal.

“Dia datang lagi?” cicit Danu.

Rendi membenarkan posisi duduk dengan menegakkan punggung. Dengusan meluncur diiringi gerakan menyugar rambut bagian depan.

“Lebih dari itu, Yah. Setelah ini aku harus berterima kasih padanya. Lukisanku hancur.”

Danu terkekeh. “Oh, Boy. Sepertinya dia dalam masalah besar.”

Rendi mengangguk beberapa kali, membenarkan seloroh Danu. “Sangat tidak adil. Bagaimana mungkin dia tidak pernah datang mengganggu ayah?”

Danu menggeleng. “Bukan begitu. Ini hanya tentang bagaimana kamu bisa berdamai dengan masa lalu.”

Rendi menarik napas kuat. Mengisi pasokan oksigen dalam paru-paru. “Kalau berdamai yang Ayah maksud dengan bertemu, sudah pasti aku menolak melakukan hal konyol itu.”

Tak butuh banyak kata untuk merespons gerutuan Rendi. Sebab tepukan ringan di pundak terbukti ampuh menyalurkan amunisi kesabaran pada pemuda dua puluh lima tahun itu.

Bab 2 - Part 2

3 0

Seperti yang sering orang katakan, waktu yang tengah berjalan tidak bisa dihentikan. Begitu pula dengan waktu yang sudah berlalu, mustahil untuk diulang. Namun, andaikan diberi kesempatan, Rendi pastikan, ia akan menghapus permanen memori masa lalu.

Rendi hanya memiliki Danu seorang. Sakit untuk mengatakan, tetapi memang benar, mereka dibuang. Pernikahan orangtuanya tidak mendapatkan restu, lantaran Danu kedapatan memeluk keyakinan baru. Sangat disayangkan, mengapa harus ada perlakuan menyakitkan. Menyebabkan manusia mungil tak berdosa ikut merasakan dampak pedih.

Rendi berkali-kali meminta Danu menukar rumah megah mereka. Bangunan itu hampir tiap hari tidak berpenghuni. Sejak tur seninya dimulai, Rendi lebih banyak menghabiskan waktu di studio, menyulapnya menjadi rumah dadakan.

Rendi bimbang saat Danu terang-terangan memberi kebebasan. Berkelana mencari inspirasi, mencoba hal baru seorang diri, hingga terjebak dalam kekalutan adalah makanan favoritnya. Menu istimewa yang kerap tersaji, tak lain bayangan masa lalu yang bandel tidak mau pergi.

Ketika semua bercampur di dalam perut, menandakan Rendi harus bergegas menenangkan diri. Dua hal yang menjadi andalan, alam dan tempat bersajak sunyi.

Kilatan blitz kamera, menyilaukan netra Rendi. Farel pelakunya. Lelaki itu heboh sendiri mengarahkan gaya sepasang kekasih, klien mereka.

“Far, jangan terlalu kasar mengarahkan. Nanti klien ayahku kabur.” Farel menoleh ke sumber suara. Ia geram melihat Rendi yang santai melambaikan tangan. Farel mengarahkan telunjuk, mengisyaratkan lelaki itu agar tetap di tempat.

“Orang macam apa yang berani mendaki gunung seorang diri? Aku penasaran, apa yang kamu lakukan di sana?” Farel menepuk lengan Rendi beberapa kali. Mengedarkan mata memeriksa tiap inci tubuh lelaki itu.

Senyum Rendi terbit. “Banyak. Menguras danau, menyelami lautan pasir, sampai membersihkan debu gunung, bukankah terdengar menyenangkan?”

Farel tersenyum kecut. “Sinting! Aku tanya serius, Dude.”

Raut wajah Rendi kembali datar. “Seperti biasa.”

“Lagi?” Rendi menautkan alis. Menuntut penjelasan Farel.

“Apa bedanya melihat bintang di rooftop kantor dengan tempat asing itu? Sepertinya penyakitmu makin menjadi, Tuan Muda. Segera berobat sebelum aku menyeretmu paksa ke psikolog!” kelakar Farel tanpa rasa takut.

Rendi membalas dengan kekehan. Ia tidak lagi terkejut. Farel memang kerap menjelma menjadi manusia tercerewet sejagad raya. Pada dasarnya mereka saling berbagi kekhawatiran.

“Coba saja kalau mau kehilangan pekerjaan detik itu juga,” tantang Rendi.

Farel tersenyum sinis seraya mengamati kamera milik kantor yang menggantung nyaman di lehernya.

“Apa ayahmu siap melepas pegawai sepertiku?” Kali ini beralih menatap Rendi serius.

Rendi terdiam. Memang susah mencari pegawai yang sesuai kriteria Danu. Namun, lebih susah melepas pegawai yang sudah lama mengabdi.

“Ngomong-ngomong, Restumu mana?” Farel berdecih. Ia tau Rendi tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Lima hari berkelana tanpa kabar, begitu datang yang dicari justru pemuda jangkung asistennya. Farel menunjuk ruangan bersekat kaca dengan dagu.

“Silakan saja kalau mau mendengar celotehan Laras. Asal jangan ajak aku.”

“Kali ini apa masalahnya? Bang Galen berulah lagi? Atau Laras masih minta ganti tim?” cecar Rendi, menuntut penjelasan.

Farel mengedikkan bahu acuh. Malas mengikuti cerita bersambung Galen dan Laras. Sudah jelas mereka tidak cocok dalam proyek yang sama, tetapi Rendi bebal, selalu menuruti keinginan Galen.

Pagi itu Larasati, asisten Galen, menemui Rendi di studio. Gadis itu membawa serta sisa kesabaran yang detik berikutnya melebur menjadi linangan air mata.

“Mas Ren, tolong jangan suruh aku menghadap Bu Meta. Aku enggak bernyali.” Suara Laras tercekat. Berbicara dengan linangan air mata memang tidak mudah.

Banyak pegawai mengatakan, meski Rendi tidak menjabat di Miway, tetapi sosoknya selalu mereka cari. Lelaki itu pendengar yang baik, dan akan bertindak tanpa banyak kata.

“Ras, aku enggak bisa menjanjikan soal penggantian tim. Saranku, cobalah pelan-pelan menyesuaikan diri dengan Bang Galen. Aku yakin kamu mampu meng-handle proyek ini.” Bahu Laras merosot. Anggukan lemah mewakili jawabannya.

Rendi tau Galen tengah bergelut dengan perkara hati. Kekasih yang akan lelaki itu boyong ke pelaminan, secara sepihak memutuskan pertunangan. Namun, hal itu tidak lantas Rendi benarkan sebagai alasan Galen melimpahkan proyek besar pada Laras. Terlebih gadis itu tergolong pegawai baru. Sanksi menyerahkan proyek besar begitu saja.

Meta, General Manager Miway, bukanlah sosok yang mudah menerima keluhan. Rendi paham sebatas apa keberanian mereka berhadapan dengan wanita tiga puluh tahun itu. Rendi juga sadar, perbuatannya memang tergolong lancang. Sejauh ini Rendi mengupayakan sebatas yang ia bisa. Keputusan tetap ada di tangan Meta.

Saat akan beranjak menemui Restu, Rendi tiba-tiba teringat sesuatu, “Far, tadi aku letakkan oleh-oleh di mejamu.”

Farel berdecak. Ia mencium bau kejanggalan. “Jangan mulai, Ren. Aku tau akal-akalanmu.” Kalau ada pertanyaan, siapa yang paling mengenal Rendi setelah Danu, tentu saja Farel akan menjawab dengan lantang. Ya, itu dirinya.

“Tapi aku penasaran, memangnya kamu bawakan oleh-oleh apa?”

Rendi menatap Farel teduh. “Sesuatu yang abadi-” Farel melengos, meninggalkan Rendi dengan mulut terbuka.

Tanpa perlu dilanjut, Farel sudah bisa menebak. Keabadian dari gunung itu hanya satu, bunga.

“Hei, dengar dulu. Maksudku kameramu. Aku kembalikan tanpa cacat,” lanjut Rendi setengah berteriak. Kali ini Farel tidak menoleh lagi. Malu dengan tebakannya.

Tidak mau ambil pusing, Rendi berjalan ke arah berlawanan. Mendorong pintu kaca perlahan, menyebabkan seseorang di dalam mengarahkan seluruh atensi padanya. Restu yang semula asik berkutat dengan ponsel, refleks berdiri.

“Iya-iya, aku tau Laras ada masalah,” potong Rendi seolah bisa membaca pikiran Restu. “Kali ini ulah Bang Galen apalagi?” lanjut Rendi seraya duduk di samping Restu.

 “Bukan Pak Galen, Mas.” Rendi menaikkan sebelah alis. Meragukan pernyataan Restu.

“Klien kita mantan tunangan Laras,” lanjut Restu.

Dunia tidak seluas yang dibayangkan. Rendi sangat tau dari mana Laras berasal. Niat gadis itu mencari peruntungan justru dihadang pertemuan dengan seseorang yang berusaha dilupakan.

Suara notifikasi membuat Restu dan Rendi terhenyak. Pesan yang muncul di layar ponsel terbuka dengan cepat. Mendadak wajah Restu memucat. Ia menunjukkan layar ponsel pada Rendi. Mengisyaratkan lelaki itu untuk membaca dengan teliti pesan yang tersirat.

Rendi tanpa sadar bersuara. “Restu, terima kasih masukannya. Tapi, aku lebih memilih mundur dari proyek ini.”

Benar. Memang bukan keputusan yang sulit bagi Laras. Gadis itu berhak mengikuti kata hati. Namun, masalah serius untuk Miway. Karena sejak minggu lalu, asisten proyek mereka tersisa satu. Laras seorang.

Bab 3 - Part 1

4 0

Kata-kata Alana terngiang di telinga Aleta, sementara ia melenggang menuju ruang dosen. Libur semester ini jangan pulang kalau kamu hanya membawa berita buruk tentang tugas akhirmu. Tentu saja Aleta tidak mau dicap malas oleh Alana. Meski kenyataannya Aleta memang mangkir berminggu-minggu dari jadwal konsultasi.

Semua tidak akan serunyam ini, kalau saja Aleta tidak terlambat memilih nama dosen pembimbing. Nasi sudah menjadi bubur, mau menyesal pun tidak ada gunanya. Apalagi mengeluh, tidak terhitung berapa kali terucap. Jika bukan karena telepon Alana semalam, mungkin sekarang Aleta sudah duduk manis di markas, mencari inspirasi.

Mana ada mahasiswa yang mau mendapatkan dosen pembimbing segarang Pak Marto. Wajah berhias kumis tebal dan alis lurus sangat menggambarkan kepribadiannya. Suara lantang pria itu bahkan bisa menembus dinding beton.

Aleta tidak habis pikir, untuk apa harus melibatkan emosi. Bukankah tingkat kecerdasan manusia berbeda-beda. Jika sekali, dua kali, tidak sesuai dengan harapan, bukankah wajar kalau mengatakan mahasiswa tidak paham.

Pria itu menyamaratakan. Tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apa pun. Aleta sampai lupa, berapa banyak konotasi buruk yang berhasil ia kumpulkan.

“Penjelasanmu ini kurang rinci, Aleta. Jelaskan mengapa hasilnya bisa seperti ini. Cari sumber sebanyak-banyaknya. Begitu saja tidak paham!” Aleta meringis melihat proposalnya dipenuhi tinta merah. Bagaikan sesuatu tak berharga, lembaran itu kini terkoyak karena coretan bertenaga.

“Katanya kamu habis menerbitkan buku? Gunakan kemampuan menulismu menyusun proposal juga, jangan cuma untuk cerita khayalan saja!” Kali ini Aleta tersenyum masam. Ia tersindir.

“Mau menerbitkan buku sebanyak apa pun, kalau menyusun proposal saja masih berantakan, tetap, kalian saya anggap bodoh! Saya paling benci mahasiswa yang sok membagi waktu kuliah dengan kegiatan yang lain.” Aleta makin dalam menunduk. Semarah apa pun Agam, tidak pernah sekalipun Aleta dihadiahi kata-kata menyakitkan.

Aleta melihat cerminan dirinya dari sorot mata Melati. Sepintas memang tampak baik-baik saja, tetapi Aleta tau Melati tengah menahan luapan emosi. Semoga setelah ini gadis itu tidak jera bertemu Pak Marto.

Bisik-bisik mengusik Aleta. Bukan menyingung konsultasi, melainkan sesuatu yang sangat asing di telinga. Mulanya Aleta tidak mau terlibat, tetapi telanjur basah.

“Mana ada aplikasi sehebat itu? Bisa saja mereka setting-an,” celetuk Aleta mengomentari.

Nita bercerita tentang kawan mereka yang menemukan pasangan berkat aplikasi kencan online. Di abad ini teknologi memang berkembang pesat. Apa pun bisa diraih dengan instan. Namun, Aleta tidak menyangka hal itu juga merambat dalam hal pencarian pasangan. Sangat mudah, bagikan memancing ikan dalam ember.

“Aplikasinya memang enggak bisa dipercaya, tapi lain lagi kalau sudah ditakdirkan bersama. Namanya juga jodoh, enggak ada yang tau, Leta.” Penjelasan Nita dibenarkan kawan yang lain.

Bicara soal takdir, Aleta mendadak teringat kutipan yang ia sulap menjadi prinsip hidup. Terdengar konyol, tetapi dengan bangga selalu ia deklarasikan pada penghuni baru.

“Kita semua berpeluang sama, nol koma sekian. Makin gigih berusaha, makin bertambah peluang mimpi itu bisa tercapai. Titik di mana kita bangga dengan pencapaian, aku sebut saat itu peluang kita genap menjadi satu.” Aleta tersenyum menatap satu per satu wajah kebingungan. Wajar. Hari pertama bergabung, langsung mendapat asupan pencerahan.

Di sudut ruangan, Raka menatap Aleta penuh arti. Pertama kali mendengar ungkapan Aleta, Raka tidak bisa membendung kekaguman. Dibalik kesederhanaan Gadis Mungil itu, terlebih jilbab hitam yang tak pernah absen membalut surai, ternyata Aleta menyimpan banyak pemikiran yang menakjubkan. Setiap celetukannya tidak pernah gagal membius mahkluk pemilik akal.

“Apa kalian ingat prinsip peluang matematika?” Aleta terkekeh menyaksikan kegundahan di wajah mereka. “Tenang, aku enggak menyuruh kalian mempelajari kerumitan itu lagi.” Diawali dengan tawa sumbang Raka. Perlahan suasana terurai.

“Peluang nol artinya kejadian mustahil akan terjadi. Lalu peluang nol koma, sesuatu mungkin akan terjadi. Dan peluang satu, sesuatu pasti terjadi atau sudah terjadi.” Aleta behenti sejenak. Menunggu mereka mencerna.

Salah seorang dengan ragu menyuarakan kebingungan. Aleta mengangguk mempersilakan. “Kak, bagaimana kalau peluang kita yang awalnya nol koma, berubah jadi nol? Apa bisa diperbaiki?”

Aleta menarik napas ringan. Ia senang, ternyata ada juga yang paham. “Peluang itu istilah lain dari kesempatan. Kalau kita terlewat satu kesempatan, apakah mungkin datang kesempatan yang sama?”

Aleta menggeleng. “Tentu saja enggak. Kesempatan itu mungkin ada, tapi enggak akan sama seperti sebelumnya. Maka dari itu, sambut dia dengan kemantapan hati.”

Raka mengacungkan kedua ibu jari. Setuju dengan pemikiran Aleta. Namun, gadis itu justru mengacuhkan. Sebab terlalu sering berkubang dengan cibiran, Aleta gagal menerjemahkan respons Raka.

Bab 3 - Part 2

3 0

Aleta menghempaskan tubuh di lantai dingin markas. Mengendarai motor di siang hari, ternyata berbahaya. Sengatan panas memberikan efek yang luar biasa. Seingat Aleta, bulan ini harusnya musim hujan sudah tiba. Namun, cuaca memiliki kemiripan dengan ucapan, susah dipegang kepastian.

Aleta tersentak begitu sensasi dingin menyapa pipi. Kekehan tanpa dosa ia yakini sebagai suara Shinta. Dilanjutkan sodoran minuman isotonik sampai di depan muka.

Thanks. Tau aja tenggorokanku kering keronta.” Shinta terkekeh menyaksikan cara minum Aleta bak orang kesetanan.

Setelah menandaskan seluruhnya, Aleta beralih membenarkan duduk. Sedikit terkejut mendapati markas cukup ramai. Butuh nyali besar melakukan hal semacam Aleta. Jika bukan karena penghuni lama, sudah pasti akan banyak pasang mata yang menatap aneh.

Raka yang berada di dekat loker, terang-terangan menatapnya. Mereka bertukar pandang cukup lama, sebelum Aleta mengalihkan tatapan pada Shinta. Aleta lupa, bagaimana ia dan Raka bisa seakrab sekarang. Tau-tau lelaki itu begitu lancar menanyakan kabar. Atau yang sering terjadi, Raka akan berubah menjadi sangat menyebalkan.

Aleta tidak pernah bisa mengontrol pikiran. Rangkaian kata selalu berlarian di sana. Jika tidak tersalurkan, justru menjadi bomerang tersendiri. Mengganggu konsentrasi, hingga yang terparah memengaruhi kualitas hidup.

Semaksimal apa pun Aleta mengeluarkan isi pikiran, tetap saja ada satu yang tertinggal. Ia belum mengungkapkan keputusannya terjun di dunia kepenulisan. Tak berani menghadapi murka Agam. Namun, lebih tak bernyali dengan respons Alana. Hujan cibiran dan nasihat berbalut ancaman bisa dipastikan akan menyerbu.

“Pak Marto, apa kabar, Ta?” celetuk Shinta.

Aleta memejamkan mata sejenak, sebelum menarik tas dengan malas. Aleta mengoperkan bendelan kertas pada Shinta. Membiarkan gadis itu mencari makna, sementara ia beranjak menyimpan tas di loker.

Aleta dipenuhi rasa penasaran. Ia menyempatkan mengintip kegiatan Raka. “Garapan baru, Ka?” Aleta tak menyangka, Raka dengan cepat menoleh seraya menampilkan senyum aneh.

“Menemani punyamu,” gumam Raka sambil kembali menjalankan jemari.

Aleta mendengus. Niat menemani Raka kemungkinan besar berakhir dengan menyaingi.

“Nol Koma sampai mana, Leta?” Raka menaikkan sebelah alis. Menunggu kabar baik.

“Jalan di tempat,” jawab Aleta lelah.

Demi menyemangati, Aleta bahkan sampai meyakini, blocking bukanlah hal baru bagi seorang penulis. Pasti di luar sana ada setidaknya satu atau dua orang yang mengalami hal serupa.

“Apa aku bilang? Temamu berat, Leta.” Aleta menggembungkan sebelah pipi. Ucapan Raka ia amini. Sejak awal Aleta nekat menciptakan karya roman sebanyak-banyaknya. Meski dengan nol pengalaman.

Bukankah semua penulis melakukan hal yang sama. Mengangkat satu tema yang belum pernah di alami. Terbukti, banyak dari mereka yang berhasil terbang tinggi. Lantas mengapa ia meragu.

“Nanti aku coba lagi. Sekarang aku belum terpikir tema lain, Ka.” Raka mendesah lelah. Ia kehabisan kata-kata.

Aleta kembali duduk di samping Shinta. Dari kerutan di dahi, Aleta yakin, Shinta akan menyerbu dengan pertanyaan.

“Apa? Mau tanya apa? Pak Marto masih seperti sebelumnya,” serobotnya sebelum Shinta berucap.

Shinta menatap Aleta iba. Seterjal itu jalan Aleta menyelesaikan tugas akhir. Namun, ia lebih tidak menyangka, Aleta masih bisa bersikap santai setelah dicerca habis-habisan oleh pak Marto. Patut diakui, pertahanan diri Aleta memang luar biasa.

“Kapan kamu mau perbaiki proposalmu?” tanya Shinta akhirnya.

“Setelah outline Nol Koma selesai...” Aleta menggantungkan ucapan. Lantas tertawa sumbang saat menyadari serangan keraguan yang mengaburkan rasa dari kepastian.

“Aleta...” Merasa terpanggil, Aleta refleks mencari sumber suara. Wajah penuh harap Septian menyapa.

“Roman picisanmu sampai mana?” Pertanyaan yang sama sudah menyergap dua kali. Jangan sampai ada yang bertanya lagi. Karena Aleta pastikan, siapa pun itu, akan ia hadiahi piring cantik paripurna.

Sebagai jawaban, Aleta menggeleng. “Benar-benar, rezeki anak sholeha.” Aleta memicingkan mata. Kecurigaan mulai menghampiri.

“Kamu aku tunjuk menggantikan posisi Rora di perpustakan pusat.”

Napas Aleta sempat terputus mendengar vonis Septian. Secepat kilat ia menyuarakan pembelaan. “Kasep, kerjaanku banyak. Bisa tolong kasih ke yang lain saja.”

Di waktu kritis seperti ini, wajah memelas memang sangat diperlukan. Aleta hanya berharap, rasa iba Septian menampakkan wujud.

“Bukannya justru membantu kerjaanmu. Sambil menyelam minum air.” Septian menaik turunkan alis, meminta persetujuan.

Aleta menggeleng. “Sekadar informasi, aku enggak bisa menyelam. Kalau ditambah minum air, bisa-bisa aku tenggelam,” balas Aleta lelah. Tidak tau harus berkata apa.

Septian terkekeh. “Maksudku, kamu bisa melakukan riset di sana. Sekalian menyelesaikan tugas akhirmu.”

Lagi-lagi Aleta menggeleng. “Aku mau pulang kampung, Kak. Tawarannya buat yang lain saja.” Murni jawaban itu sedetik yang lalu terlintas di benak Aleta.

Baru akan meragukan kalimatnya sendiri, Shinta sudah lebih dulu mewakili.

“Kamu yakin mau bawa pulang hasil konsultasimu? Siap dibombardir kak Alana?”

Benar, Aleta juga tidak yakin. Namun, sesakit apa pun nanti, ia harap tidak salah mengambil keputusan. Karena entah sejak kapan, perasaan aneh mulai menyusupi hati. Aleta rindu kampung halaman.

Bab 4 - Part 1

7 0

“Nyalimu besar juga berani pulang.” Aleta menulikan pendengaran. Punggungnya makin bersandar rapat di kursi.

“Aleta Celina! Aku bicara denganmu!” Setelah lengkingan itu, barulah Aleta mengangkat wajah. Menatap sinis pemilik suara.

“Kenapa aku sampai harus tidak berani pulang? Aku lahir dan besar di sini. Tempat ini juga milikku,” balasnya acuh.

Alana menggigit bibir bawah. Menahan sumpah serapah. “Jangan minta aku mengulangi perkataanku, Leta. Mana tugas akhirmu yang kuminta?” Alana maju selangkah sambil mengulurkan tangan, menagih sesuatu. Namun, ia hanya mendapatkan hembusan angin tak kasatmata.

“Sebelum pulang, aku sudah konsultasi. Punyaku belum disetujui,” jawab Aleta ringan. Ia menyisihkan laptop yang semula berada dipangkuan.

“Perlu berapa lama lagi, kamu menyelesaikan tugas akhir sialanmu itu, Aleta?” Meski sudah biasa mendengar, tetap saja Aleta takut dengan suara menyeramkan Alana.

“Lana, setelah ini aku harus apa?” Aleta baru bisa bernapas lega setelah perhatian Alana terurai. Ia tau, Chandra sejak tadi diam-diam menyaksikan perdebatan mereka.

Chandra mengangkat sekop. Terang-terangan menunjukkan kebingungan. Alana mengambil langkah lebar menghampiri Chandra. Mendengus keras begitu menangkap wajah kumal lelaki itu berhias butiran keringat.

Alana berkacak pinggang. “Tinggal masukkan bijinya, terus tutup lagi dengan tanah. Begitu saja kamu enggak tau?”

Chandra mengikuti instruksi Alana. “Begini?” tanya Chandra seraya menampilkan deretan gigi putih.

Alana menghembuskan napas keras. Tau begitu, harusnya ia tidak melibatkan Chandra. Lelaki itu hanya bisa merusuh. Berat hati Alana mencontohi Chandra.

“Semudah ini, kamu belum paham juga?” sungutnya.

Sudah tau amarah Alana memuncak, Chandra dengan polos menggeleng.

“Enyah dari sini Chandra, sebelum aku murka!” tegas Alana dengan wajah memerah. Antara menahan terik mentari dan panas di dalam kepala.

“Biar aku yang menyiraminya nanti,” tawar Chandra, bersikeras tidak mau pergi.

“Tolong beri aku space untuk bernapas, Pak Chandra!” tegas Alana lagi.

Chandra mengernyitkan kening mendengar permintaan konyol Alana.

“Seberapa luas yang kamu butuhkan, Alana?” tanya Chandra polos.

“Seumur hidupku!” Pekikan Alana mengisi kesunyian kebun.

Chandra menyingkir. Alana memang sedang ingin sendiri. Ia berjalan menghampiri pemilik tawa membahana.

“Puas lihatnya?” Chandra mengambil tempat di samping Aleta. Sementara gadis tengah mengangguk bahagia.

Chandra menyandarkan punggung dengan nyaman. Meluruskan kaki yang terasa sedikit kesemutan, efek berjongkok lama.

“Coba kalau tadi aku biarkan, kalian pasti akan membumi hanguskan tempat ini.”

Aleta meringis. “Mana mungkin Kak Lana tega menghancurkan kebun. Mungkin aku yang akan pergi.”

“Sudah bisa ditebak, kamu akan mengunci diri di kamar. Lalu menangis seharian,” cibir Chandra sambil menyeka keringat di kening.

Aleta menjawab dengan gelengan. Namun, detik berikutnya berganti anggukan. Chandra menertawai jawaban aneh Aleta.

“Aku heran, kenapa Kak Chandra bisa betah dengan si Ketus itu?” Aleta berdebar menanti jawaban Chandra.

Setau Aleta, hanya Chandra yang kuat berlama-lama dengan Alana. orangtuanya saja tidak sekuat itu, meski Alana putri mereka. Apalagi karyawan di sini. Tidak terhitung sesering apa mendapat ujaran pedas Alana.

“Alana itu baik. Hanya saja enggak tau cara mengekspresikannya.” Ungkapan Chandra mengundang tawa Aleta.

Dua puluh dua tahun hidup bersama, belum pernah sekalipun Aleta mendapatkan perlakuan baik dari gadis itu. Bagaimana mungkin Chandra yang baru mengenal Alana bisa menyimpulkan seperti itu. Aleta yakin Chandra tengah bercanda.

“Aku serius. Sadar atau enggak, kakakmu sedang memikul beban berat. Dia si Sulung sekaligus pimpinan di sini. Ya, walaupun kasat mata, kuasa tertinggi masih ada di ayahmu. Asal kamu tau, selama ini Alana yang meng-handle semuanya.” Aleta baru tau fakta mengejutkan itu.

Selama ini ia acuh dengan urusan kebun. Memilih menghabiskan waktu berkutat di dapur bersama Anjani.

Chandra menarik napas panjang sebelum kembali bersuara. “Cobalah berbaik sangka dengan Alana.” Keduanya menatap Alana yang tengah bergelut dengan tanaman.

Chandra tersenyum tipis. “Gadis itu hanya butuh pengertian,” lanjutnya menatap Aleta.

Aleta merenung. Ia merekam gerak-gerik Alana. Ada perasaan mengganjal yang tertinggal. Tidakkah Alana merasa bersalah atas semua perlakuan kasarnya. Lantas sekarang ketika Chandra dengan berani menyuruh untuk memahami gadis itu, Aleta justru bingung harus memulai dari mana. Karena semua yang terjadi, muaranya dari sikap aneh Alana.

Bab 4 - Part 2

7 1

Serapat apa pun menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya.

Aleta baru kali ini menyaksikan wajah Agam memerah. Pupil mata pria itu ikut melebar. Menakutkan.

Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi suara cerewet Anjani, kini hanya diisi dengan keheningan yang mencekam. Aleta yakin kakinya terlihat bergetar.

Semua terjadi dengan cepat. Alana menyeret dirinya kasar ke dalam rumah. Padahal sebelumnya Aleta baru saja menemukan rangkaian kata untuk mengisi Nol Koma.

“Jelaskan ke Ayah, apa maksud kamu membuat hal semacam ini?” Tangan Agam terangkat, menunjukkan barang tertuduh yang ia maksud.

Aleta melirik sekilas, lalu menunduk lagi. Alana yang berdiri tidak jauh dari Agam, ikut melayangkan tatapan tuduhan pada Aleta. Buku-buku tangannya mengeras, menahan lonjakan amarah. Jika Aleta salah berucap, rentetan cercaan siap mengudara.

“Ayah menyekolahkanmu tinggi-tinggi bukan untuk hal sampah semacam ini. Ada bisnis keluarga kita di bahumu!” tegas Agam, mengingatkan Aleta dengan amanah yang ia berikan.

Agam kecewa dengan ketidak jujuran Aleta. Tau begitu, ia dan Anjani tidak menaruh harapan tinggi pada gadis itu. Sebenarnya sejak dulu Agam sudah menyadari sikap penolakan Aleta. Namun, ia beranggapan semua itu hanya bawaan emosi remaja. Setelah beranjak dewasa, keyakinan kuat tumbuh. Aleta dan Alana akan melanjutkan bisnis turun temurun keluarga.

Kini kenyataan menyadarkannya. Jalan pikir Aleta ternyata masih seperti dulu.

“Aleta, tegakkan kepala! Lihat lawan bicaramu.” Suara lantang Agam kembali terdengar. Tanpa menunggu disuruh dua kali, Aleta perlahan menegakkan kepala. Menatap ketiganya dengan sorot mata takut.

Aleta tak menyangka, ternyata keputusan untuk pulang berujung dengan momen semacam ini. Aleta tengah mencoba meyakinkan diri. Menekan kuat-kuat kekalutan. Bersiap menyuarakan pembelaan.

“Ayah, bunda, kakak...”

Suara Aleta melirih tanpa sengaja. Diikuti bibir yang bergetar menahan gejolak emosi, dan tangan yang mulai mendingin, seolah ada bongkahan es dalam genggaman. Matanya berkabut, mirip jalan menuju Pena Putih yang tiap pagi selalu diselimuti asap tak kasat mata.

Aleta menelan ludah kasar sebelum memutuskan bersuara lagi dengan mengerahkan sisa kepercayaan diri.

“Aleta ingin jadi penulis.”

Brak!

Suara memekakkan telinga itu berdengung keras. Aleta menatap sedih karyanya yang teronggok mengenaskan di lantai. Ia ingin merengkuh bendelan berharga itu ke dalam dekapan. Seerat mungkin. Tidak akan ia biarkan siapa pun melukai lagi.

“Ayah, beri aku kesempatan memilih jalan hidupku sendiri,” pintanya mengiba.

“Apa yang kamu banggakan dari hal itu? Kamu masih harus meraba-raba, Leta. Ayah yakin, kamu pasti akan menemui jalan gelap yang panjang.” Agam berlalu dari hadapan Aleta.

Pandangan Agam mengabur, selaras dengan kepeningan kuat yang menyerang kepala. Tangan Anjani mendarat di pundaknya. Menyalurkan pasokan ketenangan yang tidak berefek banyak.

Aleta kembali menunduk. Ia merenung. Tidak dimungkiri, keinginan kuat yang mati-matian ia wujudkan, kini sedikit terkikis hanya karena sekecap kalimat menohok Agam.

Sebelum semuanya habis tak tersisa. Aleta memutuskan duduk di depan Agam. Menatap lelaki itu seolah menantang. “Ayah, beri aku waktu untuk membuktikan. Aku yakin, aku bisa.”

Agam baru akan menyuarakan keputusan, tetapi suara lantang Alana lebih dulu terdengar. “Aleta, sudahi keras kepalamu! Jelas-jelas Ayah akan menyerahkan kuasa tertinggi perkebunan padamu. Mimpi yang kamu bangga-banggakan hanya bayangan semata. Akan lenyap saat kamu bertemu jalan buntu.”

Aleta menggeleng, menyangkal ucapan Alana. “Ayah, Bunda, Kakak, tolong sekali saja percaya padaku. Aku bukan anak kemarin sore yang hanya bisa bermain dengan kata-kata. Aku sudah dewasa. Bukannya Ayah pernah bilang, kalau aku bebas mengikuti kata hati?” desak Aleta mengingatkan Agam dengan kalimat yang pernah terlontar.

Agam masih enggan bersuara. Bukan kehabisan kata-kata, melainkan ia tau susah melawan tekad Aleta. Ia jelas hafal raut muka Aleta, begitu ketara menggambarkan kesungguhan.

Ruangan itu dilanda keheningan cukup lama. Bahkan Aleta sampai harus mengangkat wajah beberapa kali, memastikan ketiganya belum pergi. Karena memang deru napas mereka tidak sampai di telinga Aleta. Sekalipun napas berat Agam yang sudah sering ia dengar.

Di saat-saat seperti ini, Aleta ingin mengutuk pikirannya. Seperti biasa, lancang memunculkan kata-kata yang berlawanan dengan kewarasan. Kepalanya pening. Rangkaian kata mulai berputar di sana.

Aleta menarik napas panjang. Kalau sudah seperti ini, hanya satu yang bisa ia lakukan, mengeluarkan semua isi kepala. Tanpa tau hal itu justru menjadi tantangan tersendiri untuknya.

“Beri aku waktu untuk membuktikan. Sebelum wisuda, aku pastikan Ayah, Bunda dan Kakak, akan melihat hasil tekadku. Kalau sampai detik itu aku belum juga berhasil mewujudkan, maka aku secara sukarela mengabdikan diri di perkebunan.”

user

12 May 2022 09:44 human keren

Bab 5 - Part 1

14 0

Aleta masih tidak bisa mengenyahkan bayang-bayang kejadian satu bulan yang lalu. Setelah mengucapkan kalimat sakral itu, bukannya merasa lega, Aleta justru merasa makin runyam.

“Jangan bercanda, Aleta. Apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikannya?”Alana menatap tajam. Bibir tipis gadis itu terangkat sebelah, menampilkan senyum sinis, sarat akan keraguan.

Aleta tak gentar. Meski nyalinya tinggal setipis benang, tetapi apa salahnya membela diri.

“Aku bukan seperti Kak Lana, yang tidak punya keinginan. Aku ingin membuat jalan hidupku sendiri,” timpal Aleta seiring lenyapnya kewarasan.

Alana menggeram. Amarah sudah sampai di ubun-ubun. Siap keluar menyerang adiknya yang kian hari, kian tidak tau diri.

“Aleta! Jangan hanya menuruti inginmu saja, lihat ayah-”

“Sudah-sudah. Alana, jangan diteruskan. Aleta, jangan keras kepala.” Agam menengahi.

Ia memang tidak pernah melarang keduanya berpendapat. Termasuk terlibat diskusi keputusan besar, seperti sekarang. Namun, ia sangat mewanti-wanti melibatkan amarah.

Agam menatap teduh Aleta. “Aleta, Ayah pegang ucapanmu. Lakukan apa kata hatimu.” Aleta belum bisa mencerna kalimat Agam. Namun, anggukan lemah datang sebagai jawaban.

Sejak saat itu, tekad Aleta makin membumbung tinggi. Pintu restu sudah terbuka lebar. Termasuk Chandra kini ada di pihaknya.

“Ayolah Aleta, ini bukan waktunya untuk melamun.” Aleta terlonjak. Menatap garang Raka yang tengah tersenyum lebar tanpa dosa.

“Kamu melamun karena belum ada ide, atau memikirkan aku yang telat menjemput kemarin?”

Aleta melempari Raka dengan bantal sofa, tetapi berhasil ditepis. Aleta tidak peduli dengan rupa menawan Raka. Lelaki itu tetap menjadi kandidat yang paling ingin ia enyahkan dari Pena Putih. Raka sangat mengganggu.

Aleta muak, kemarin Raka memaksa menjemput di stasiun. Beralasan akan menjenguk kawannya yang bertinggal di dekat sana. Nihil. Satu jam menunggu, lelaki penebar janji itu tidak kunjung menampakkan diri.

“Banyak-banyak minum air putih, Ka, biar pikiranmu waras.” Aleta beranjak. Berpindah posisi, menghindar dari gangguan Raka.

“Ngomong-ngomong, aku penasaran. Kenapa Alesha bisa sebenci itu sama Aluna?” Aleta berdecak. Raka dan kepekaan yang minus, memang tidak bisa dipisahkan. Lelaki itu tau-tau sudah ikut duduk, mengesampingkan penolakannya.

“Menurutmu, kenapa Lani yang awalnya menganggap Riri seperti saudara, jadi sangat ingin menyingkirkan gadis itu?” tanya Aleta balik.

Raka bergumam. Menggali ingatan. “Lani kecewa, sebab Riri selalu lebih beruntung darinya,” pungkas Raka, menceritakan garis besar novelnya.

 “Sama seperti Aluna dan Alesha,” gumam Aleta seraya membuka laptop. Bersiap menuangkan ide yang baru terlintas.

Raka dengan cepat menegakkan tubuh. “Kamu menyadur punyaku? Mana bisa seperti itu?”

Aleta menghela napas lelah. “Si kembar yang enggak saling memahami, terjebak permainan perasaan dengan sahabat kecil mereka.” Aleta juga belum yakin dengan masalah yang ia angkat. Gambaran kasar yang sangat jauh dari kejelasan.

“Lalu judul Nol Koma kamu ambil dari mana? Rasanya enggak ada hubungan sama jalan ceritamu?” Tidak salah lagi Aleta menyematkan predikat mengganggu pada Raka. Lelaki itu memang gemar mengorek isi kepala.

“Peluang matematika. Permainan perasaan. Kata hati,” tuturnya tanpa memberi penjelasan rinci. Biar Raka yang menebak sendiri.

Dulu Aleta harus mengumpulkan judul sebanyak mungkin, lalu menyeleksi satu per satu. Maka kali ini, dua kata itu begitu saja terlintas. Aleta menduga, semua itu sebab terlalu sering menggembor-gemborkan prinsip peluang nol koma.

Aleta siap menyambut Aluna, Alesha dan Reynan, terjebak dalam peluang matematika.

Bab 5 - Part 2

58 0

Tangga awal yang Aleta pijaki untuk mewujudkan mimpi adalah dengan menghabiskan waktu di ruang sunyi. Netranya mengedar, mengamati sekeliling ruangan yang dipadati banyak orang. Namun, hanya keheningan yang tercipta di antara mereka.

Aleta terpaksa menjilat ludah sendiri. Ia akan mulai belajar menyelam, agar tidak tenggelam saat terlalu banyak minum air. Menjadi pustakawan tidak seburuk yang terpikirkan. Saat ini ia bisa dengan lancar menyalurkan isi kepala. Memang benar, ketenangan yang ia butuhkan.

Fakta lain yang sukses mengejutkan, ternyata selama ini Shinta menghabiskan waktu di tempat ini. Pantas saja Aleta jarang bertemu dengan gadis itu di markas. Hal itu membuat Aleta terdasar, ternyata mereka tak cukup bisa dikatakan kawan dekat.

Aleta mengalihkan kegiatan dengan bersandar nyaman. Kursi beroda yang ia duduki sangat membantu. Terbukti kini ia sudah ada di samping Shinta. Hanya berbekal mengarahkan kursi.

Sejak tadi Shinta yang paling sibuk melayani pengunjung. Aleta sering menghabiskan waktu di tempat ini, hampir bermalam juga pernah. Namun, sampai detik ini ia tidak tau isi dari komputer dihadapan Shinta. Gadis itu tidak berhenti mengecek sesuatu dari sana.

“Shin, kerjaanmu di sini cuma di depan komputer itu saja, ya?” Terlontar juga kalimat yang mewakili rasa penasarannya.

Shinta menoleh pada Aleta. Tersenyum sekilas, lalu kembali melayani pengunjung.

“Kalau jam segini, pengunjung sedang banyak-banyaknya, jadi aku di sini terus, Ta,” terang Shinta setelah beberapa menit berlalu.

“Lalu fungsi dari komputer di hadapanmu itu apa?” Aleta bergerak mendekati Shinta. Seolah tersadar, Shinta memberi space Aleta untuk lebih dekat dengan layar komputer. Shinta menggerakkan mouse, memilih salah satu aplikasi yang ada di layar.

“Ini untuk sirkulasi peminjaman buku.” Shinta mengarahkan kursor pada salah satu kolom pengisian. “Tinggal masukkan ID anggota, kode barcode buku juga, lalu klik ini, dan buku yang dipinjam sudah tercatat,” Aleta menyimak dengan saksama seraya mengangguk paham.

Fokus mereka tiba-tiba terpecah. Pengunjung yang baru melintas dengan santai melenggang tanpa melakukan check-in dahulu, seperti pengunjung lain. Aleta sudah akan berdiri, bermaksud menegur, tetapi ditahan oleh Shinta.

Gadis itu tersenyum aneh seraya menggeleng. “Ada satu yang enggak boleh kamu lakukan di tempat ini, Leta. Jangan menegur pengunjung tadi.” Kening Aleta mengerut. Memangnya siapa lelaki itu sampai diberi perlakuan khusus.

“Kenalannya kak Inke. Dia juga punya tempat sendiri di sini.” Shinta menunjuk tempat yang ia maksud dengan dagu. Aleta bisa melihat di ujung ruangan, lelaki yang mereka bicarakan larut dalam bacaan.

Efek terlalu mendalami roman picisan, Aleta lantas menyimpulkan kalau lelaki itu adalah pengunjung spesial Inke.

“Calonnya kak Inke, ya?” Bukannya memberi tau, Shinta justru menertawakan rasa penasaran Aleta.

“Aku tanya serius Shinta!” tegas Aleta.

Shinta membekap mulut, mencoba meredam tawa yang masih ingin keluar. Ia baru tau sisi lain Aleta. Ternyata gadis itu bisa juga menyimpulkan sesuatu dengan begitu yakin hanya dengan mendengar kata yang sebenarnya memiliki banyak arti.

Shinta bangkit dari duduk. Berlalu menuju pantry yang terletak di belakang tempat mereka. Tidak lama, ia kembali dengan membawa sebotol cokelat dingin. Lalu menyodorkan pada Aleta.

“Buatku?” Aleta sudah akan bersorak riang menerima pemberian Shinta, tetapi kenyataan menyeret kembali kesadarannya.

“Tugas pertamamu. Antar ini ke pengunjung tadi. Aku pastikan kamu akan langsung mengenali dia.”

Bukan hal yang sulit bagi Aleta. Berkenalan dengan orang baru adalah keahliannya. Aleta tengah menerka-nerka, siapa lelaki itu. Seberapa penting eksistensinya. Lalu, yang paling mengganggu, mengapa bisa ada seseorang yang memiliki tempat khusus di sini. Rentetan tanya ternyata tidak juga terjawab, meski ia sudah berada di samping lelaki itu.

“Permisi, mohon diterima pemberian dari kami,” ucap Aleta lirih. Ia tertegun dengan paras lelaki itu. Kerutan di kening dan alis tebal yang kini terlihat naik, makin menambah kesan menawan.

“Tempat ini sedang merayakan hari jadi, ya?” Ganti Aleta yang menaikkan alis.

“Atau hari ini aku pengunjung ke seratus lagi?” Pertanyaan aneh itu diiringi tawa. Sejujurnya Aleta tidak menemukan kelucuan di sana.

“Kamu pegawai baru?”

Aleta dengan cepat mengangguk. “Mmm... Iya.”

“Kalau begitu kuucapkan selamat. Semoga seluruh penghuni ruangan ini menerima kehadiranmu.” Aleta begidik. Memangnya segarang apa penghuni ruangan ini?

“Satu lagi-” Aleta tersadar dari lamunan. “Boleh tolong besok jangan beri aku cokelat lagi. Tapi enggak masalah kalau kalian beri green tea.” Kekehan merdu mengalun.

Aleta merasa lelaki dihadapannya memiliki kemiripan dengan seseorang. Raka. Sama-sama aneh dan menyebalkan.

Bab 6 - Part 1

21 0

Membalas tidak lantas membuat dendam lenyap begitu saja. Ikhlaskan, maka akan lepas semua kesesakan dalam dada.

 

“Nanti waktu bertemu Oma, jangan lupa ucapkan salam, ya.”

Rendi mengangguk patuh meski tanpa menoleh ke sumber suara. Mata bulatnya tengah sibuk mengamati langit gelap bertabur bintang dan sebuah bulan besar yang turut menghiasi. Kemana pun kemudi yang dikendalikan Danu berputar, benda langit itu tak pernah lenyap dari pandangan.

“Kamu bisa melihat lebih jelas bintang-bintang itu di atas rumah Oma.” Netra Rendi beralih menatap sosok wanita muda yang duduk di samping Danu.

“Apa kita juga bisa melihat bulan besar itu, Bu?” Antusiasmenya tidak bisa dibendung. Binar kebahagiaan terpancar jelas.

Ibunya, Rania Sofie tersenyum lembut seraya mengangguk. “Tentu saja. Nanti Ibu temani melihat bulan dan bintang.”

Potongan memori masa kecil melintas, bagaikan film. Sekeras apa pun mencoba, Rendi tetap tidak bisa mengenyahkan. Kenangan terakhir bersama Rania, sebelum kejadian nahas menimpa mereka.

Kalau saja Danu tidak keceplosan, mungkin sampai sekarang Rendi tidak akan pernah tau fakta di balik kejadian nahas itu. Dulu amarah akan cepat menguasai Rendi begitu memori lama melintas. Memang benar, tidak ada yang bisa Rendi lakukan meski sel-sel otaknya bersatu, menginginkan ia membalaskan dendam.

Beberapa minggu terakhir, memori kelam itu makin sering datang. Rendi menduga, semua itu sebab ia terlalu sering memandangi foto Rania. Saat kerinduan menyusup, tak banyak yang bisa Rendi lakukan. Jika berdoa adalah rutinitas sehari-hari, maka memandangi potret Rania hingga tertidur, ia jadikan hobi.

Berbanding terbalik, ia akan merasa sangat terganggu saat nama terkutuk mulai mencemari pikiran. Seseorang yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian menyakitkan. Berkatnya pula, bertahun-tahun Rendi terpaksa mengasingkan diri di ruang sunyi. Mengembalikan keseimbangan akal sekaligus mencari ide untuk karya.

Rendi menyusuri deretan buku astronomi. Mencomot beberapa, lalu menggiring ke meja. Sejauh ini Rendi sangat menyukai taburan benda angkasa yang memiliki nama unik. Meski beberapa sulit dilafalkan, tetapi Rendi tidak pernah bosan menanamkan dalam ingatan.

Psikolog tempatnya berkeluh kesah, menyarankan terapi semacam itu. Mereka menyebutnya dengan terapi seni.

Rendi susah berkonsentrasi sebab hadirnya minuman botol pemberian gadis aneh tadi. Ia menatap penasaran dengan rasa minuman itu. Detik ini Rendi memutuskan menjawab semua keingintahuan.

Mencoba sedikit. Ya. Hanya seteguk, tetapi berhasil membuatnya mengernyit. Rendi sangat menghindari minuman manis dan berkafein. Tubuhnya tidak bisa menerima dua rasa berlebihan itu. Pernah sekali ia mencoba meneguk minuman favorit Farel, hasilnya jangan ditanya. Rendi kelimpungan mengatasi kepeningan kuat dan rasa mual yang menyerang.

Suara panggilan ibadah samar-samar mengalun di ponsel. Tanpa pikir dua kali, Rendi bergegas merapikan meja. Sesibuk apa pun, Rendi tidak pernah menunda berdekatan dengan Sang Pencipta.

Rendi selalu mengingat siapa yang sampai sekarang masih memberinya kesempatan menjalani hari. Ya, meski ia harus tertatih saat melangkah. Tetap saja, urusan ibadah tidak bisa dinomor duakan.

Rendi kembali saat sadar minuman pemberian gadis itu tertinggal. Ia tidak mau mengecewakan siapa pun, termasuk gadis yang sejak tadi terang-terangan menatap dari jauh. Gadis itu terhenyak begitu ia berada di depan mata. Dengan cepat mengalihkan pandangan pada hal lain.

“Terima kasih, ya minumannya...” Rendi menggantungkan ucapan berharap gadis itu paham. Bukan jawaban, justru tatapan bingung yang Rendi dapatkan.

“Aleta,” Rendi tersenyum simpul mendengar sahutan gadis di depan komputer.

“Aleta, tadi aku lupa bilang. Terima kasih minumannya,” Rendi mengulangi ucapan seraya mengangkat botol minuman pemberian Aleta.

Gadis yang terpanggil justru menunjukkan ekspresi lucu. Lagi-lagi Rendi tak bisa menahan tawa.

“Aku duluan, ya. Kalian berdua jangan lupa sholat.” Rendi berlalu tanpa menunggu jawaban dari keduanya.

“Leta, sudah tau kan siapa dia?” Shinta berbisik.

Aleta dengan cepat memutar kursi. Menjawab Shinta dengan gelengan lelah. Ampun, Aleta tidak mau lagi bermain tebak-tebakan dengan Shinta. Rumit dan membingungkan.

Shinta menghela napas. “Dia Rendi Dananjaya. Seniman sekaligus teman dekat kak Inke.”

Aleta sampai harus menutup mulut dengan tangan. Tidak bisa menutupi keterkejutan. Orang hebat baru saja hadir di depan mata.

Kalau saja Aleta tau sejak tadi, sudah pasti ia akan meminta tanda tangan lelaki itu. Dan setelahnya akan ia pamerkan pada Raka. 

Bab 6 - Part 2

59 0

“Benar juga, dunia memang enggak seluas yang kita kira.” Farel tertawa di akhir ucapan. Merasa lucu, beberapa kali melangkah ke arah berbeda, tetapi tetap saja bertemu orang yang sama.

“Siapa?” sahut Rendi acuh. Ia tidak bisa lepas menatap puas lukisan baru.

“Larasati.” Rendi menoleh pada Farel. Bermaksud meminta pendapat lelaki itu.

Farel menyipitkan netra. “Aku heran, waktu senja bukannya belum ada bintang, ya?” Ia balik menoleh pada Rendi.

“Kalau kamu amati dengan teliti, bintang dan bulan sudah muncul saat itu.” Rendi tersenyum penuh arti setelah melontarkan jawaban.

Farel mendengus. “Teorimu atau memang kenyataannya ada?” Poin penting, jangan mudah percaya dengan kata-kata penuh makna Rendi. Lelaki itu lebih sering melontarkan kiasan daripada fakta.

Rendi terkekeh pelan. “Fakta, Far. Kamu terlalu fokus pada makhluk di atas tanah. Abai dengan objek di langit.” Farel membalas dengan cibiran.

“Laras, apa kabar?” celetukan Rendi sukses membuat Farel memutar bola mata.

Sebenarnya anak pemilik Miway di sini siapa. Farel atau Rendi. Bisa-bisanya lelaki itu justru bertanya pada Farel, yang notabenenya hanya pegawai.

Farel menghempaskan bebas tubuhnya pada sofa empuk, tempat Rendi selalu kehilangan kesadaran. Di sandaran sofa terlihat beberapa helai rambut Rendi yang tertinggal. Di saat orang lain berusaha mengumpulkan pundi-pundi untuk membeli seperangkat ranjang dan bed cover, Rendi justru berinvestasi membeli sofa.

Dasar! Harusnya lelaki itu bilang kalau malas punya uang banyak. Sudah pasti Farel tidak akan ragu mengantongi seluruh harta Rendi.

“Aku enggak tau apa yang terjadi antara mereka, yang jelas Laras setuju kembali setelah dibujuk Bang Galen,” jawab Farel akhirnya. Ia tau, Rendi sudah seperti akan mati muda, penasaran dengan kelanjutan cerita Laras.

Rendi membulatkan mata. “Semudah itu?” tanyanya sarat akan ketidak percayaan. Ia menghampiri Farel. Ikut menenggelamkan tubuh dalam kenyamanan sofa.

Farel mengangguk. “Bang Galen datang ke kontrakan Laras. Aku yakin dia pakai jurus memelas. Terus dibumbui adegan berlutut, supaya Laras luluh.” Farel tertawa puas.

Sejauh yang Farel tau, Galen adalah tipe lelaki romantis. Terbukti dari cara lelaki itu melamar gadis tidak tau diri, mantan tunangannya, dengan seratus mawar. Terdengar sedikit berlebihan, tetapi itulah Galen. Apa pun akan ia lakukan untuk orang terkasih.

Rendi berdehem keras. Menyadarkan Farel dari tawa yang tidak berujung.

“Apa pun caranya, syukurlah kalau Laras mau kembali.” Rendi menerawang jauh.

“Bulan ini kamu ada pameran lagi, Ren?”

Rendi menggeleng. “Aku mau mengambil alih Miway.” Kekehan Rendi menular.

Meski sedikit paham seluk beluk Miway, tetapi Rendi sadar, jalannya dengan Danu berlawanan. Saat ini ia sudah terlanjut nyaman dengan dunia seni.

“Baguslah kalau begitu. Kamu enggak perlu buang-buang uang lagi untuk beli tiket pesawat first class. Lalu Booking hotel bintang enam dengan kamar tipe presidential suite.” Rendi melayangkan tinjuan ke lengan Farel.

“Asal kamu tau, tidur di tenda lebih asyik daripada di tempat itu.” Farel mengangguk berkali-kali. Sangat tau Rendi memang bukan orang semacam itu. Kesederhanaan Rendi tiada banding.

Farel mencomot minuman asing milik Rendi. Mengamati cukup lama sampai terbesit tanya dalam. “Sejak kapan kamu suka minuman semacam ini?”

Begitu membuka, aroma kuat cokelat menyapa penciuman Farel. Bukankah Rendi tidak suka minuman jenis ini.

Semua terjadi begitu cepat. Rendi merebut dari pegangan lemah Farel. Lalu menandaskan seluruhnya, sebelum Farel melakukan hal yang serupa.

Farel berdecak setelah melihat Rendi melempar botol kosong  ke dalam tong sampah. “Sialan! Pelit sekali kau, Tuan Muda.”

Pekikan Farel tidak menggetarkan hati Rendi. “Ambil di kulkas sana. Aku punya banyak stok minuman favoritmu.” Farel tidak terkecoh. Ia enggan beranjak.

“Jangan menghindar. Aku tetap penasaran, sejak kapan kamu mulai menyukai minuman jenis itu?”

Rendi mengusak rambut dengan kasar. Bingung menjawab serangan Farel. Sadar, sejak tadi memang ada perasaan asing yang menguasai dirinya.

Bab 7 - Part 1

17 0

Terkadang kita perlu berkumpul dengan orang yang memiliki problema sama. Bukan untuk saling menjatuhkan. Melainkan untuk meyakinkan, kalau kita tidak sedang sendiri. Berjuang bersama, lepas dari masalah yang mengekang hati.

 

Rendi kembali ke ruang sunyi. Mengabaikan titah Danu untuk menemui klien baru, mantan tunangan Laras. Besar keyakinan Rendi, Galen lebih mampu memberi dukungan kekuatan pada gadis itu.

Lucu memang, Galen dan Laras memiliki problema asmara yang sama. Namun, justru dari sanalah keyakinan Rendi membuncah, mereka bisa saling menyembuhkan.

Lain lagi dengan Restu. Rendi baru tau pemuda jangkung itu memiliki problema berat. Kalau di pikir-pikir, bukankah tidak adil, seorang remaja lima belas tahun dituntun hidup seorang diri. Restu tidak dianggap oleh keluarganya.

Restu memperkenalkan diri sebagai anak terakhir yang lahir dengan membawa predikat pembunuh. Orang waras pasti akan berpikir, mana mungkin seorang bayi yang baru melihat dunia sudah memiliki dosa sebesar itu. Bukankah terdengar aneh.

Sayangnya orang waras di dunia ini bisa dihitung jari. Sisanya sudah pasti akan menyalahkan manusia baru itu. Menghardik, menyudutkan, bahkan membuang, seolah ia sampah dunia.

Problema yang menimpa Restu bukan salah siapa-siapa, karena semua itu adalah takdir dari-Nya. Dari sana Rendi menyimpulkan, betapa penting memiliki pegangan hidup. Sebuah tonggak yang bisa menegakkan akal, saat kerapuhan melanda jiwa. Ya, beragama.

Rendi sangat bersyukur mereka bertemu lebih awal. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk seseorang menyembuhkan luka. Ada banyak yang bisa pulih. Namun, ada pula yang menyisakan bekas yang begitu ketara. Restu memiliki kelainan mengatur perasaan. Cemas yang berlebihan sering kali menghampiri. Hingga Rendi tidak bisa sedetik pun, membiarkan pemuda itu hidup tanpa bayang-bayang pengawasan.

Kegundahan Rendi terbagi. Sebab Farel merasakan hal yang sama. Menjadikan sebagai asisten, adalah upaya Farel untuk memudahkan penjagaan pada Restu. Sampai sekarang Rendi belum menemukan cara ampuh, menghapus permanen doktrin yang melekat di benak Restu. Semua cacian yang diterima, sepertinya sudah menyatu dengan raga.

Bukan hanya Restu, Rendi juga merasakan hal yang serupa. Sangat susah menghapus rentetan hinaan pada masa belia. Semua kata-kata buruk yang tidak pantas ia dengar, kini menghantui di tiap langkah.

Rendi mengusap kasar wajah. Terlalu pagi untuk memikirkan hal semacam itu.

“Mmm... Permisi.” Rendi membawa atensi pada pemilik suara. Begitu mengangkat wajah, ia bertatapan langsung dengan mata jernih gadis berjilbab hitam, Aleta.

“Kak, ini green tea-nya.” Aleta meletakkan sebotol minuman hijau, persis di depan Rendi.

Kening Rendi mengkerut. Menggali ingata di menit yang sudah lewat. “Sepertinya aku enggak pesan apa pun.”

Aleta meringis. “Buat kak Rendi,” cicitnya takut.

Rendi terkekeh. “Baiklah, terima kasih minumannya, Aleta.” Gadis yang lucu dengan pipi bersemu.

Rendi tidak menyangka, ucapannya dianggap serius. Sungguh, ia kemarin hanya bercanda.

Aleta tidak kunjung pergi sebab penasaran dengan karya milik Rendi. “Kak Rendi suka benda langit, ya?” Entah mengapa celetukan gadis itu membuat Rendi menahan napas.

Rendi mengusak acak rambut bagian belakang. “Aku sedikit kurang nyaman dengan panggilanmu. Apa mungkin karena selama ini enggak ada yang memanggilku seperti itu, ya?” Di akhir penuturan, Rendi tertawa canggung.

Rendi terbiasa panggilan tanpa embel-embel kesopanan. Kecuali Restu. Atas dasar rasa terima kasih, pemuda itu tak pernah lelah menyematkan panggilan menggelikan di depan namanya.

“Mmm... Aku penasaran, seberapa menarik benda langit yang kamu baca dari buku di depanmu.” Rendi terpukau dengan keberanian Aleta.

Kebanyakan orang baru yang ia temui, pasti akan terjebak dalam kecanggungan. Terkadang berlanjut hingga ke fase puasa bicara. Namun, kali ini Rendi menemui orang yang berbeda. Aleta unik.

“Mau kuberi sedikit bocoran?” tawaran Rendi diangguki antusias oleh Aleta. Rendi memberi isyarat agar gadis itu duduk, menempati kursi tak bertuan.

Rendi menatap tak sabaran karena Aleta menarik kursi dengan sangat pelan. Takut membuat kegaduhan.

“Terkadang hal kecil yang sering kita abaikan, ternyata menyimpan sesuatu yang menakjubkan. Aku menemukan itu semua di buku ini.” Rendi menyodorkan buku yang ia ambil dari rak. Aleta membuka lembaran usang itu perlahan.

Tak lama ia meringis. “Aku pernah belajar ini, sewaktu sekolah menengah tingkat satu. Tapi yang kutau cuma planet, matahari, bulan dan bintang.” Aleta menertawakan keterbatasannya.

“Aku juga.” Rendi ikut tertawa. “Tapi berubah, semenjak aku menemukan buku semacam ini.”

“Berarti kamu bisa melukis semua ini?” Aleta menunjukkan gambaran galaksi di dalam buku.

Rendi menggeleng. “Hanya beberapa. Aku lebih suka menghafal nama mereka. Unik.” Rendi kembali berkutat dengan tab. Kali ini mencari sesuatu yang ia rasa ada di dalam sana.

“Ini satu dari karyaku.” Rendi menunjukkan lukisan galaksi Triangulum.

Perpaduan warna kehitaman dan jingga, serta kerlip bintang yang menawan, berhasil memikat hati Aleta. Karya lelaki itu tak jauh beda dengan gambar asli. Benar-benar seniman berbakat.

“Sejauh ini bagaimana rasanya punya banyak talenta?” Rendi sadar, jiwa Aleta dipenuhi rasa penasaran.

“Tentunya aku enggak berhenti bersyukur di beri kelebihan seperti sekarang.” Aleta berhenti mengeluarkan rasa penasaran.

Jawaban bijaksana Rendi mengusik hati kecilnya. Kata syukur jarang terucap dari bibir Aleta. Ia selalu mengeluh meminta kebebasan, tetapi tidak pernah memaknai hidup yang diberikan cuma-cuma.

Aleta berharap, semoga Sang Pencipta masih mau memaafkannya.

Bab 7 - Part 2

19 0

Sebuah majalah mendarat mulus di meja Aleta. Dilanjutkan suara membahana yang sukses meluluh lantakkan kesunyian.

“Aleta... Apa aku bilang? Harusnya kamu yang waktu itu menemui anak jurnalistik.” Aleta kelimpungan meredam suara Audri, sebab gadis itu tidak paham isyarat yang ia berikan.

“Kamu tau, Leta? Kacau. Sejak kapan kita ada pungutan biaya jadi anggota?” Tawa sumbang Audri menembus lorong sunyi.

 “Sekadar mengingatkan, kita enggak lagi di markas, Dri. Bisa tolong pelankan suaramu.” Audri membungkam bibir. Paham baru melakukan kesalahan.

Harusnya Aleta menyalahkan orang yang berniat menghancurkan Pena Putih. Setelah ini mereka harus siap-siap, seisi kampus akan memandang sebelah mata.

Aleta bangkit, menghampiri Shinta yang tak bisa lepas dari komputer.

“Kamu bisa pakai tempat paling ujung, Leta.” Suara Shinta mengejutkan Aleta. Gadis itu seolah bisa membaca pikiran.

Aleta lekas tersadar. Mengajak Audri ke tempat yang ditunjukkan Shinta.

Anak jurnalistik memang kerap meliput Pena Putih. Dan Aleta yang selama ini rela mengorbankan diri untuk menghadang. Menjabarkan dari A sampai Z, sedetail mungkin mengenai Pena Putih. Juga menampung semua pertanyaan tak masuk akal.

“Kasep sudah tau?” Audri mengangguk tanpa ragu.

Aleta sedikit kesulitan bernapas. “Lalu apa tanggapannya?” Ia berharap, stok kesabaran lelaki itu aman.

“Mau tenggelam katanya.” Celetukan Audri sukses mengundang tawa. Kecemasan Aleta sedikit terurai.

Audri menarik napas berat. “Mereka juga bilang, Pena Putih enggak ada manusia serius.” Kalau mereka sedang ada di markas, Aleta yakin Audri pasti akan mengeluarkan sumpah serapah.

Menggelikan, Pena Putih memang di penuhi canda tawa. Namun, bukan berarti mereka tidak serius dalam berkarya. 

Aleta diam-diam memutar ingatan. Siapa gerangan yang ia amanati berada di barisan depan. “Kemarin yang menemui mereka, anggota baru bukan?”

Audri mengangguk putus asa. “Sialnya, dia baru bergabung bulan lalu.”

Double kill itu namanya, Dri.” Mereka menertawakan kesialan.

“Sebentar lagi Septian pasti minta kita buat rapat.”

Aleta tidak bisa menyembunyikan perasaan cemas. Sudah pasti ia tersangka utama. Meski tidak ada serah terima mandat, secara tidak langsung semua penghuni markas mengamini, Aleta adalah tangan kanan Septian.

“Saranku, dari sekarang mulai lah buat karangan permohonan maaf. Jangan sampai tulisanmu dikritisi Septian.” Aleta tidak bisa membayangkan. Ia pasti akan kehilangan muka jika kejadian itu benar terjadi.

Audri meyenggol pelan tangan Aleta. Memberi isyarat dengan mata, menunjuk lelaki yang tak jauh dari mereka.

“Kenapa?” Aleta tebak pasti Audri penasaran dengan lelaki itu.

“Rendi bukan?” Aleta mengangguk. “Kenapa bisa ada di sini?” sambung Audri penasaran.

“Memangnya dia siapa sampai enggak boleh ada di tempat ini?” balas Aleta sengit.

“Bukan begitu. Maksudku, kenapa dia rela mengabiskan waktu di sini? Bukannya ada tempat lain yang lebih sunyi.” Aleta memutar kepala, menatap Rendi cukup lama. Memangnya sesunyi apa tempat yang dibutuhkan seorang seniman untuk menuangkan imajinasi.

“Dengar-dengar dia penyuka kesendirian,” bisik Audri lirih. Aleta menaikkan sebelah alis. Meragukan ucapan Audri.

Mana mungkin lelaki yang baru berbicara panjang lebar dengannya itu gemar menyendiri. Setahu Aleta, bukankah seorang seniman kerap melakukan pameran. Memajang karya mereka di suatu hall besar. Lalu tempat itu akan di padati banyak pasang mata yang bertanya-tanya, makna dari seni yang mereka ciptakan. Lantas bagian mana yang disebut penyuka kesendirian.

Audri berkilah. “Aku memang enggak tau secara langsung dia seperti apa. Kebanyakan mahasiswa yang dulu satu kelas dengan dia, bilang seperti itu.” Aleta mulai merasa tidak nyaman dengan obrolan mereka.

“Sudah, Dri. Berhenti mengulik keburukan orang. Karena kita juga punya banyak keburukan. Beruntungnya kita, semua keburukan itu tersimpan rapat.”

Bukannya sejalan dengan ajakan Aleta, Audri justru melayangkan tatapan menuduh. “Kamu enggak sedang membela dia ‘kan?”

Aleta balik menatap Audri tidak suka. Kenapa memang kalau ia membela Rendi. Dunia makin aneh di abad ini. Alih-alih mengamini pembelaan yang tersakiti, kebanyakan orang justru lebih percaya dengan mereka yang bersalah. Seolah hati mereka tertutup, mata mereka sengaja terpejam, dan telinga mereka tersumpal bujuk rayu dunia.

“Oke, maaf. Aku cuma mau mengingatkan saja. Jangan mudah menilai baik orang yang enggak sepenuhnya kita kenal. Karena bisa saja penilaian sepintas kita terlalu berlebihan.”

“Benar. Itu yang sering dirasakan anggota baru saat pertama kali bertemu denganmu,” sindir Aleta telak.

“Sebenarnya apa tujuanmu pura-pura menjadi orang lain?” Pertanyaan Aleta mewakili rasa penasaran seluruh anggota Pena Putih. Dalam diam, mereka kerap memunculkan tanya, Audri kenapa, ada masalah apa, sampai susah payah menjadi pribadi lain.

“Aku hanya ingin memberi kesan baik untuk semuanya,” papar Audri santai.

Aleta berdecih. “Lalu penilaian baik mereka musnah sebab suara ketusmu mengkritisi karya.” Audri mengedikkan bahu. Tidak peduli dengan tuduhan Aleta.

“Menurutku percuma Audri. Lebih baik jadi diri sendiri saja.” Audri mengangguk berkali-kali demi menghentikan nasihat dadakan Aleta.

“Leta, kamu mau aku pesankan makan siang apa?” Celetukan Shinta menguraikan ketengangan mereka.

“Aku ikut kamu, Shin.” Aleta beralih menatap Audri. “Kamu mau dipesankan apa, Dri?”

“Enggak-enggak. Aku mau kembali ke markas. Ada yang perlu aku bereskan.” Aleta dan Shinta mengangguk paham.

Setelah beranjak, Audri tiba-tiba teringat sesuatu. “Leta, jangan lupa kunjungi markas. Raka menunggumu.” Audri pergi begitu saja meninggalkan tanda tanya besar.

Aleta terpaksa mencari sendiri jawaban. Hingga muncul keputusan, menganggap ucapan Audri sebagai angin lalu lebih baik, daripada harus memaknai berlebihan.

Namun, Aleta lupa ia tidak sedang sendiri. Justru Shinta yang melayangkan tanya.

“Leta, apa aku melewatkan sesuatu antara kamu dan Raka?”

Bab 8 - Part 1

18 0

Aleta sengaja berlama-lama memilih pakaian. Bukan apa-apa, ia hanya ingin terlihat lebih segar. Jilbab hitam yang selalu menemani, kini berganti dengan warna mauve. Keputusannya berganti suasana ternyata berdampak besar di markas. Ia sukses menjadi pusat perhatian.

Benar kata Audri, tak butuh waktu lama, undangan mengerikan muncul. Rapat dadakan. Sampai detik ini, tidak ada bukti hitam di atas putih yang menyebutkan Aleta wajib bertanggung jawab. Sehingga, semalam Aleta merenung cukup lama, memikirkan alasan untuk berkilah.

Senggolan kasar menyadarkan Aleta dari gumulan pikiran. Ia lantas melayangkan tatapan penuh tanya pada Shinta. Dibalas dengan isyarat jari telunjuk, mengarah pada Septian.

Aleta salah tingkah. Menyempatkan memperbaiki posisi jilbabnya untuk meredakan kegugupan. “Bisa tolong ceritakan lebih rinci, Aleta.”

Bukannya mereda, Aleta justru merasakan gejala kegugupan tingkat lanjut. Kesulitan menelan ludah. “Mmm... Mereka datang waktu aku sudah pulang, Kak. Jadi aku suruh menanyai anak baru,” ungkapnya penuh kehati-hatian.

Septian kini menatap tajam Aleta. “Kenapa tidak suruh penghuni lama saja?” Aleta menggigit bibir bagian dalam. Pertanyaan Septian persis seperti dugaannya.

“Audri dan Raka mungkin bisa bantu menjawab, Kak,” Audri dan Raka bertukar pandang. Aleta tau keduanya mati kutu. Salah siapa menolak membantu.

Septian menghela napas. “Baiklah. Aku paham. Memang selama ini Aleta yang selalu menemui mereka, tapi semua juga berjaga-jaga kemungkinan buruknya.” Setelah sekian lama, akhirnya Aleta bisa bernapas dengan lega.

“Kasep, lalu apa solusi untuk yang kemarin?” Dalam hati, semua penghuni markas mengakui keberanian Shinta yang makin meningkat.

Masih segar dalam ingatan mereka, celetukan polos Shinta mengundang nasihat penuh makna dari Septian.

“Enaknya jadi bos. Mau apa saja tinggal tunjuk.” Rasanya Aleta ingin menghilang dari peradaban. Shinta dengan santai mengomentari permintaan Septian.

“Setiap dari kita berpeluang besar jadi bos, Shin. Aku justru sangat menyayangkan kalau kalian hanya jadi seperti ini sampai nanti. Bukankah percuma kalian ada di sini? Tau begitu, lebih baik kalian mencari peruntungan di tempat lain saja.”

Tidak hanya Shinta, semua yang ada di sana ikut tersindir dengan penuturan Septian. Benar, untuk apa menghabiskan waktu dengan hal yang tidak jelas tujuannya.

Septian berdehem. “Kemarin sudah telanjur. Ya sudah, biarkan saja.” Beberapa pasang mata tak bisa menutupi ketergelakan mereka dengan jawaban santai Septian.

Tawa Septian meledak. “Kalian kenapa? Bukannya benar jawabanku. Mau menyalahkan mereka juga buat apa. Salahnya ada pada kita. Tinggal bagaimana kita perbaiki yang kurang di Pena Putih.”

“Juga kurangi kebiasaan bersantai kalian,” celetuk Aleta.

Berganti tawa Raka yang kini menggemparkan seisi ruangan. Aleta menatap tak suka. “Sekali-kali cobalah bergabung, Adik Kecil. Kamu akan tau seseru apa menghabiskan waktu bersama.”

Aleta menggeleng. Semua tawaran Raka menyesatkan. “Asal kamu mau bertanggung jawab, kalau ada sesuatu yang enggak beres terjadi sama aku.”

“Kenapa aku seperti menyaksikan perseteruan kepala keluarga dan makmumnya?” Aleta melayangkan pelototan pada Audri. Bisa-bisanya gadis itu menyebarkan rumor lagi. Aleta cukup kewalahan menjawab keingintahuan Shinta. Ia menggeram lelah.

“Pantas saja hari ini ada yang berbeda dengan Aleta.” Kini seluruh pasang mata tertuju pada Aleta.

Septian menyipitkan mata, menatap bergantian Aleta dan Raka. Tak ada keseriusan dalam raut muka lelaki itu. “Kalian... diam-diam menjalin hubungan spesial di belakangku, ya?”

Bab 8 - Part 2

44 0

Kepala Aleta pening. Sesuatu dalam dadanya berdetak cepat. Semua sebab ulah Raka.

Sikap tidak sopan Raka yang sering Aleta gerutukan, ternyata benar. Lelaki itu dengan tidak tau diri menyeret Septian keluar dari forum. Menimbulkan bisik-bisik terkejut beberapa anggota.

Aleta bahkan sempat terpaku di tempat, hingga tepukan keras Audri yang mendarat di punggung, membuat Aleta tersadar. Ia harus menyusul mereka.

“Jadi rumor itu benar? Kalian sedang menjalin hubungan?” Begitu sudah berada di luar, barulah Septian mengeluarkan seluruh rasa penasaran.

Aleta sampai detik ini masih menduga, alasan Raka melakukan semua itu tak lain agar lebih leluasa berbicara dengan Septian. Namun, tindakan implusif lelaki itu tetap tidak bisa dibenarkan.

Wajah pias Raka sangat ketara. Ibarat pertandingan, posisi Aleta mirip seperti wasit. Berada di samping kanan kiri dua manusia yang tengah adu pandang.

“Anggap saja seperti itu.” Aleta menghadiahi Raka tinjuan di lengan. Gadis itu mencak-mencak. Bisa-bisanya Raka justru memberi jawaban menjurus.

“Maksudku hubungan rumit pertemanan.” Kali ini Aleta terbatuk keras. Sebab jawaban Raka tidak jauh beda.

“Bukan rumit, hanya saja membosankan,” lontar Aleta. Memang sangat membosankan, karena Raka tidak berhenti mengganggu. Memporak-porandakan seluruhnya.

Septian menggaruk kepala. Septian melihat perbedaan kilatan mata antara keduanya. Ia menangkap tatapan aneh Raka pada Aleta.

“Semua itu hanya rumor Audri. Kemarin dia juga bilang seperti itu padaku. Jadi Kasep, tolong jangan percaya alur buatan Gadis Ketus itu.” Septian merespons dengan tawa hambar.

Ia tidak bisa lepas dari Raka. Masih yakin ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan.

“Kalian, lanjutkan saja obrolannya. Aku mau kembali.” Keputusan Raka justru menjawab dugaan liar Septian.

“Mau kemana, Ka?”

Raka menjawab tanpa menoleh kembali. “Mengambil kunci mobil.” Aleta tidak menyangka, ternyata lelaki itu masih terbesit niatan memberinya tumpangan cuma-cuma.

Dua hari yang lalu, dengan berat hati, Aleta menginapkan motornya di bengkel. Ia tidak begitu paham dengan dunia permotoran, yang pasti kendaraan itu sempat mogok tak mau jalan.

Perjalanan yang mereka lalui selalu mengasyikkan. Aleta sangat menikmati rintikan air langit yang jatuh menerpa mereka. Kepulan uap kedinginan kadang memenuhi helm-nya, hingga tak jarang mengganggu penglihatan. Lantas di kamar, akan datang suara penuh kekhawatiran Shinta yang selalu terdengar menenangkan di telinga.

Tiba-tiba terbesit keinginan. Setelah semua terkendali, Aleta berencana keliling kota dengan kendaraan itu.

“Leta, perpustakaan aman?” Aleta dengan cepat menghilangkan bayangan indah. Mengganti dengan decakan keras yang terdengar merdu.

“Kenapa terdengar seolah-olah aku penjaga keamanan?” Aleta terkikik menyaksikan bibir Septian perlahan melengkung, menampakkan wajah penyesalan.

“Aman terkendali, Kasep.”

“Baguslah. Lalu sudah sampai mana karangan cinta-cintaanmu? Skripsimu juga, sudah akan tutup usia kah? Atau masih menjamur di meja kerja?” Berganti Aleta yang menguarkan tawa hambar.

Septian tetaplah Septian. Lelaki Pengkritik yang tak bisa jauh dari belas kasih. Dibanding Alana, Aleta lebih memilih Septian sebagai kakaknya. Entah lelaki itu sadar atau tidak, di mata Aleta, Septian sering menjelma menjadi sosok penuh perhatian.

“Aku bahkan sudah hampir menyentuh konflik, Kak. Kamu melewatkan banyak. Termasuk saat aku mengutuk ide konyolku sendiri.” Septian memberi acungan jempol. Bangga dengan pencapaian Aleta.

“Nanti aku bantu koreksi.” Aleta tersenyum lebar sembari mengangguk bahagia.

“Aku merasa kamu berbeda dari sebelumnya. Apa aku juga melewatkan sesuatu yang lain?” Aleta menaikkan alis. Menunggu Septian mengutarakan isi pikiran.

“Apa ada kabar bahagia yang harus aku dengar?”

“Kenapa aku enggak pernah bisa menyembunyikan sesuatu darimu?” Septian mengedikkan bahu.

“Kamu tau Rendi?”

Entah mendapat keberanian dari mana, Aleta tau-tau mengingat kembali percakapan menarik mereka. Ia tertarik dengan dunia Rendi. Permainan imajinasi bergabung dengan logika. Karya tangan lentik lelaki itu sangat luar biasa.

“Kamu bertemu lelaki Dananjaya itu?” Aleta mengangguk.

“Seperti dugaanku, kalian berdua cocok.” Berbeda dengan Septian yang terkekeh lepas, Aleta justru menahan napas beberapa saat. “Sama-sama naif,” sambung Septian.

“Pasti kak Inke senang aku bawakan berita besar ini. Aku menunggu respons berisiknya.”

“Jujur, aku iri dengan pertemanan mereka,” cicit Aleta.

Inke beruntung berteman dengan Rendi. Sebaliknya, lelaki itu beruntung memiliki teman sehebat Inke.

“Teman? Sejak kapan mereka berteman?” Secepat kilatan cahaya, bayangan kekaguman Aleta menghilang. Muncul pemikiran lain.

“Kalian bicara tentangku, ya?”

Keduanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Aleta bahkan gelagapan, seperti tertangkap tangan habis mencuri. Bukan sesuatu yang patut dirahasiakan memang. Namun, keingintahuan Aleta hanya terlontarkan pada Septian saja.

Bab 8 - Part 3

70 0

“Ka, kamu ada masalah?” Aleta memperhatikan gerakan tangan Raka yang terlihat lincah memutar kemudi.

Sangat berbeda dari biasanya, lelaki itu mendadak menjadi pendiam. Aleta beberapa kali terang-terangan melirik Raka, tetapi lelaki itu tetap tak bergeming.

“Bukan masalah besar.” Aleta mengangguk pelan. Pura-pura paham. Sangat ketara, Raka sedang tidak ingin berbagi cerita.

Bosan terjebak dalam kesunyian, Aleta membawa pandangan keluar. Menatap langit siang yang terlihat tidak wajar. Harusnya mentari sedang terik. Lalu manusia kota akan berbondong-bondong memenuhi tempat ternama, mencari kedinginan.

Aleta tiba-tiba teringat prediksi cuaca hari ini yang melintas di ponsel. Sudah waktunya musim hujan ternyata. Pantas saja. Saat hujan tiba, pegawai Agam akan sering berkeliaran di kebun. Memastikan semua tanaman aman, juga menghilangkan gulma yang mulai tumbuh subur. Aleta tak pernah berani menawarkan bantuan tenaga, karena sudah pasti, ia tidak akan betah bertahan lama.

Alana penyebabnya. Gadis itu terlalu jelas menunjukkan penolakan. Aleta seolah hama yang patut di enyahkan. Lalu disiram dengan cairan berbau pekat, agar tak terbesit keinginan untuk kembali mendiami dedaunan hijau.

“Apa langitnya terlalu menarik sampai kamu enggak dengar aku bicara?” Aleta mengerjapkan mata.

Tatapan sinis Aleta dibalas lelaki itu dengan lirikan dari sudut mata. “Aku bilang, kamu boleh menyalakan radio kalau bosan dengan kesunyian.” Aleta tidak akan menebak apakah Raka peramal atau bukan. Jelas, suara desahan bosan nyaring mengisi ruangan mini, kedap suara itu. Begitu menekan tombol utama, suara yang tidak asing mengejutkan mereka.

Raka yang panik dengan cepat menekan kembali tombol utama. Sedangkan Aleta menangkap respons Raka sebagai suatu keanehan.

“Kemarin ada yang menumpang, dan memutar suara itu.” Pembelaan Raka justru makin menguatkan kebingungan Aleta.

“Kenapa kamu membiarkannya? Jelas-jelas kamu tau, itu suara murrotal bacaan ayat suci agamaku,” balas Aleta sengit. Ia tidak suka ayat sucinya dipermainkan

“Lain kali akan aku ingatkan dia,” jawaban Raka mengakhiri ketegangan.

Saat lampu merah menyala, Raka kembali bersuara. “Leta, menurutmu bagaimana kalau dua orang beda keyakinan bersatu?”

Benar dugaan Aleta, sedang ada yang tidak beres dengan Raka. Untungnya tidak ada Audri. Kalau gadis itu tau, sudah pasti Raka akan menjadi bulan-bulanan. Audri akan memaksa lelaki itu menceritakan, hingga tak menyisakan rahasia di antara mereka.

“Lebih baik mencari yang satu keyakinan, Ka. Jangan coba-coba sesuatu yang jelas kamu tau keburukannya lebih banyak dari kebaikan. Hanya akan memberatkan hati dan pikiran.”

Raka serius memikirkan jawaban Aleta. “Ngomong-ngomong, gadis mana yang mengganggu pikiranmu? Beraninya dia sampai membuatmu galau seharian.” Tawa Aleta pecah begitu melihat wajah merengut Raka.

Selama ini mereka tidak pernah sekalipun membahas masalah hati. Karena itu Aleta sempat keheranan dengan pertanyaan Raka. Sangat mendadak dan mengejutkan.

Lelaki itu menyematkan senyum tipis penuh arti. “Seseorang yang sangat kamu kenal.”

Mereka terdiam. Saling bertukar pandang dengan menyimpan banyak tanya di benak masing-masing. Sepertinya tidak akan mudah terucap, meski desakan dari luar mengusik ketenangan hati.

Bab 9 - Part 1

198 0

Saat kesempatan ada, bukankah sebaiknya diupayakan sampai titik batas. Entah itu akan menjadi bagian dari hidup kita atau hanya sekadar mampir saja. Namun, setidaknya ia tidak akan membekas sebagai kekecewaan sebab terlewat.

 

Sorot mata redup Aleta menelisik sepanjang rak buku. Bau khas bendelan kertas usang yang memenuhi lorong, Aleta klaim sebagai aroma kehidupan. Dua buku dalam dekapan, sangat mewakili suasana hati. Aleta kehabisan kata-kata.

Berkat sekecap penyataan Raka, semalam otaknya susah diajak kerja sama. Meski Aleta penasaran setengah mati, tetapi sampai detik ini, belum ada satu tanya yang sukses terlontar. Mereka tidak pernah secanggung itu.

Aleta menyusuri lorong paling sunyi, sudut yang sering dihindari banyak orang. Cukup tersembunyi dari meja kursi lain. Dari tempatnya, Aleta hanya bisa menatap rak buku tinggi yang memuat kumpulan buku astronomi. Beruntung Aleta, sang pemilik blok sunyi belum menampakkan diri. Sehingga ia bisa dengan leluasa menempati sejenak.

Sajak lama yang terbuka lebar, sebenarnya tak begitu menarik. Barisan kata yang terajut rapi, sangat sulit Aleta cerna. Mengandung diksi tingkat tinggi. Namun, Aleta tetap memaksa menerobos sekat keraguan.

“Telan bulat-bulat saja, Aleta. Nanti kamu juga akan paham isinya.” Penuturan Agam tertancap kuat diingatannya.

Benar, hal baru pasti akan kerap menyapa. Memaksa dengan keasingan yang sering kali tidak sejalan dengan pikiran. Hanya keyakinan yang membuat semuanya terasa makin biasa.

Termasuk bertemu dengan orang baru. Kesan kaku tak ada bandingan. Kalimat bermakna berbalut canda, sangat susah ia terjemahkan. Lucunya, kesan pertama yang ia pikirkan, ternyata tidak sesuai dengan fakta lapangan. Lelaki itu bukan kaku, hanya sedikit berhati-hati dengan orang baru.

Makin tenggelam dalam buku usang, Aleta makin tak bisa menutupi kejenuhan. Jika bukan karena garapan baru, Aleta tak mungkin berjalan sampai sejauh ini.

Aleta ingin ketiga tokohnya membekas di hati pembaca. Reynan, lelaki riang penebar kebahagiaan. Bersahabat sejak kecil dengan manusia kembar. Aluna, gadis kaku pencinta keestetikan. Sangat susah mengendalikan kekagaguman pada kalimat abadi dalam buku-buku lawas. Berbanding terbalik dengan Alesha, pemilik keterbatasan yang sangat mengagung-agungkan semua kebaharuan di dunia. Ketiganya terjebak dalam permainan perasaan yang tak sengaja mereka ciptakan.

Aleta menghubungkan dengan kutipan peluang miliknya. Tak disangka, bendelan sajak pemberian Septian, menuntunnya menciptakan kutipan. Beberapa manusia realistis, menilai buah pikiran Aleta tidak logis. Menggabungkan kepastian dengan kerancuan memang menimbulkan perdebatan. Namun, Aleta selalu meyakinkan diri, biarlah kutipan itu berlabuh sebagai suatu penyemangat langkah.

“Ternyata bacaanmu tinggi juga.” Aleta terkesiap begitu menangkap suara bariton yang memecah kesunyian.

Aleta dengan cepat menyimpan kembali sajak dalam dekapan, lalu beranjak dari duduk. Menyiratkan sang pemilik bebas merajai tempat.

“Kamu mau kemana? Duduk saja di situ, enggak masalah.” Dengan santai Rendi menarik kursi di depan Aleta. Meletakkan buku di atas meja. Hingga membawa tubuh duduk dengan nyaman.

Aleta mengalihkan niatan dengan kembali duduk seperti semula. Perasaan segan menyusupi hati. Namun, sampai Aleta membuka kembali kumpulan sajak, tak ia temukan tanggapan lebih dari lelaki itu.

“Mereka pernah menjalin hubungan spesial.” Sekujur tubuh Aleta mendadak kaku. Telinganya berdengung. Penuturan Septian kembali melintas dalam ingatan. Menjawab keingintahuan yang sempat tertunda.

Langkah Aleta menyusul Raka terhenti. Ada sesuatu yang menyuruhnya mengulik lebih dalam kisah lama Inke dan Rendi. Meski ia tidak berekspektasi tinggi Septian akan merespons positif.

“Mereka berpisah layaknya seseorang yang tamat dari pendidikan. Tanpa kata penyesalan.” Septian mengakhiri dengan tawa sumbang. Sukses membuat Aleta makin terdiam. Ia dengan lancang menerka-nerka sebab perpisahan keduanya.

“Jadi itu yang membuat Rendi punya blok sendiri di gedung milikmu?”

“Bukan. Lelaki itu yang meminta sendiri padaku. Dia banyak membantu.” Aleta refleks melayangkan tatapan penuh tanya.

Septian mengedikkan bahu, lalu menggeleng tanpa memberi harapan. ”Hanya sebatas itu yang bisa aku ceritakan.”

Aleta diam-diam mengamati Rendi. Masih penasaran dengan sosoknya. Namun, lebih penasaran kelanjutan cerita Septian. Lelaki itu tau segalanya. Hanya entah apa yang membuat Septian enggan lebih banyak bercerita.

“Kamu suka sastra semacam itu?” Tanpa Aleta duga, Rendi tiba-tiba mengangkat wajah. Menyebabkan mata mereka beradu. Aleta malu mengakui, ia bagaikan seseorang yang tertangkap basah.

Rendi menaikkan sebelah alis. Ia tak kunjung mendapat jawaban dari Aleta. Padahal jelas gadis itu tengah menatapanya.

Setelah ia berdehem, barulah Aleta tersadar. “Sebenarnya bukan seleraku. Tapi terpaksa aku selami.”

Aleta membenarkan posisi duduk. Menegakkan punggung di sandaran kursi. Lalu memalingkan wajah, menghindari tatapan Rendi.

“Wajar. Seorang penulis memang harus pandai menyesuaikan diri.”

Aleta mengerjap beberapa kali. Dengan cepat menutup buku. Rendi tak pernah lelah memberi kejutan.

“Kamu tau dari mana?” cicitnya.

Aleta sampai harus mencari-cari celah sempit di antara rak, memandang jauh ke tempat Shinta berada. Ia curiga gadis itu yang memberi tau Rendi.

Bukannya menjawab keingintahuan Aleta, Rendi justru melayangkan tanya lain. “Apa kamu sedang membuat naskah baru? Semenarik apa dari sebelumnya?”

Aleta tercengang. Seberapa jauh lelaki itu tau tentang dirinya. “Bukan hal yang susah mencari namamu di luar sana. Aku enggak sengaja melihat karyamu terpampang di toko buku.”

Keduanya dilanda keheningan cukup lama. Bergumul dengan pikiran masing-masing. Rendi mengikuti jejak Aleta. Menutup buku yang sempat ia baca, walau hanya beberapa larik saja. Lalu membawa ke tepian meja.

Aleta tertunduk. Ia membuat pola abstrak di atas meja. Sampai di satu titik, telunjuknya berhenti. Aleta berganti mengangkat wajah, menatap langsung Rendi. Lelaki itu hampir saja tidak bisa menahan senyuman. Mata bulat Aleta terlihat sangat menawan.

“Judulnya Nol Koma,” Aleta memberi jeda untuk mengisi pasokan napas. “Terinspirasi dari prinsip peluang buatanku.”

“Prinsip peluang?” ulang Rendi memastikan kebenaran. Sangat asing baginya.

Aleta menarik napas dengan tenang, lalu mengangguk penuh keyakinan. “Peluang nol, artinya sesuatu enggak berpeluang menjadi kenyataan. Peluang nol koma, ada harapan meski entah berhasil terwujud atau enggak. Lalu peluang satu, sesuatu pasti terjadi atau mungkin sudah terjadi.”

Rendi terpukau dengan penuturan Aleta. Terdengar sedikit tidak logis, tetapi mengandung daya tarik juga. Rendi bisa menyimpulkan, Aleta pandai memainkan logika. Ia pernah belajar peluang semacam itu, dulu sewaktu masih di bangku sekolah. Namun, ia tidak menyangka ada manusia yang memaknai begitu dalam. Mengubah teori peluang yang tidak pernah gagal membingungkan pemikiran, menjadi suatu yang mudah diterima.

“Lalu, apa kamu sudah pernah membuktikan?”

Aleta meragu. “Mmm... aku sedang melakukannya.”

Ya. Aleta seolah tengah menguji. Berpacu dengan waktu, membuktikan kesungguhan tekad. Ia sedikit mengabaikan tugas akhir. Bukan apa-apa, Aleta hanya ingin memiliki kompensasi waktu untuk lebih mengenal dunia baru.

Bab 9 - Part 2

2 0

 Aleta meregangkan tubuh. Akibat terlalu lama berdiam di depan komputer, punggungnya kini terasa kaku. Setengah hari ia menggantikan tugas Shinta. Karena gadis itu memenuhi panggilan Septian, membimbing anggota baru Pena Putih.

Langit gelap dengan suara gemuruh yang sesekali menyapa, terlihat jelas dari balik jendela. Menandakan, waktunya menutup ruangan sunyi. Motor Aleta tidak kunjung keluar dari tempat perawatan. Sehingga ia terpaksa harus berkejaran dengan waktu dan rintik hujan yang siap menyerbu. Bergegas pulang, sebelum tidak ada kendaraan yang mau menerima permintaan jasanya.

Pengunjung ruang sunyi juga sudah mengudara sejak beberapa menit yang lalu. Begitu pula dengan Rendi. Lelaki itu manusia terakhir yang pergi.

Aleta beranjak dari duduk, memulai penyusuran di sepanjang lorong. Sedikit terselip perasaan was-was di hati, karena ini kali pertama Aleta tinggal seorang diri. Aleta mengedarkan pandangan hingga ke sudut ruangan. Sesekali menyusun buku yang tidak tertata dengan rapi.

Baru beberapa hari mengabdikan diri, Aleta sudah sangat hafal kebiasaan pengunjung ruang sunyi. Meletakkan buku di sembarang tempat, hingga meninggalkan begitu saja di atas meja. Aleta sudah akan menegur, tetapi lagi-lagi Shinta melarang. Aturan di ruangan ini sangat tidak masuk akal. Tidak semuanya. Hanya larangan menegur Rendi yang bisa Aleta terima.

Begitu sampai di sudut sunyi, Aleta menangkap keberadaan kertas tak bertuan di atas meja Rendi. Tidak biasanya lelaki itu meninggalkan sesuatu. Aleta meraihnya dengan cepat. Begitu akan mengoyak, gerakan Aleta terhenti.

Wajah seorang wanita muda dengan senyum cerah, terpampang nyata. Kertas foto yang terlihat usang memperjelas dugaannya. Gambar tersebut sudah tercetak lama. Aleta dengan hati-hati membawa ke meja depan. Menyimpan di salah satu laci. Dengan niatan besok akan ia tanyakan pada Rendi.

Suara guntur makin sering terdengar.  Ia dengan kasar menarik tas, mencari keberadaan ponsel. Aleta mengabaikan layar ponsel yang kini dipenuhi pesan dari penghuni markas. Sesuai dugaan, mencoba beberapa kali memesan jasa, tetapi tak ada satu pun yang mau menerima.

Rintik hujan mulai terdengar cukup keras di luar sana. Bagaikan hujan batu. Aleta terpaksa harus bertahan lama di tempat. Menunggu habisnya air dari langit, setelah itu mencoba mencari peruntungan kembali.

Aleta mendekat ke arah jendela. Menyaksikan air langit yang turun beraturan. Lagi-lagi hujan mengingatkan pada rumah. Sebelum tahun-tahun sulit ini, ia selalu menikmati hari hujan dengan bahagia.

Berbekal mantel murah, Aleta bisa berlarian menyusuri kebun, bermain dikubangan layaknya hewan pemamahbiak milik Agam, hingga menyambut guyuran air semesta. Tawa riang seolah tak pernah habis terbawa aliran air. Memang hujan bisa menyembuhkan hati.

Suara decitan pintu membawa netra Aleta pada sosok penghuni baru. Rambut acak-acakan, dipadukan dengan butiran air yang mendarat di wajah rupawan, sukses mengundang decakan merdu Aleta.

“Shinta bilang, kamu sedang sendiri di tempat ini,” lontar Raka, mengabaikan gerutuan Aleta.

 Lelaki itu dengan santai menempati kursi depan komputer.

“Seingatku, enggak ada yang menyuruh Shinta bilang padamu,” balas Aleta ketus.

Raka menatap Aleta sambil merapikan rambut. “Bukan aku, Leta. Shinta sendiri yang bilang.” Raka memberi penekanan diucapannya. Bermaksud membela diri.

Aleta berdecih. Ia tidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Raka. Karena lelaki itu terbukti memiliki catatan buruk.

“Jadi kita akan pergi atau adu argumen di sini?”

Aleta memasang wajah mengejek. Entah ke mana perginya kecanggungan yang kemarin menyelimuti mereka.

“Sepertinya otakmu makin malfungsi, Ka. Apa gunanya jaket, kalau cuma kamu bawa seperti itu?”

Aleta memutar bola mata. Jengah dengan pola pikir Raka. Ia menangkap keberadaan baju tebal milik lelaki itu, bersinggah nyaman dalam dekapan.

Gerakan Raka menyampirkan baju tebal itu menutupi kepala bagian belakangnya, makin memperkuat penilaian Aleta. Raka benar-benar kehilangan kewarasan.

“Jangan dilepas. Aku enggak bawa payung. Jaga-jaga biar jilbabmu enggak basah.”

Aleta memang ingin menantang Raka. Terbukti ia berani menyingkirkan dengan kasar balutan di kepala. Raka mendengus lelah. Tidak akan selesai berdebat dengan Aleta.

“Aku sudah mengingatkan, ya. Kamu percaya atau enggak, terserah. Rambutmu terlihat jelas kalau jilbabmu basah, Leta.”

Raka berjalan mendahului langkah pendek Aleta. Gadis itu masih sibuk menyampirkan kembali baju tebal miliknya. Secara tidak langsung, Aleta mengamini teguran Raka.

Suara decitan pintu kembali terdengar. Kali ini disertai suara napas terengah-engah. Begitu mengangkat wajah, Aleta langsung bertemu dengan tatapan panik Rendi.

“Aleta, apa ada barangku yang tertinggal di sini?”

Bukannya menjawab, Aleta justru berlalu menuju laci di dekat jendela. Mengundang kerutan di kening Rendi.

“Ini milikmu?” Aleta menyodorkan selembar foto pada Rendi. Diterima lelaki itu dengan sedikit kasar.

“Benar, ini milikku. Terima kasih, ya.” Sebagai jawaban, Aleta tersenyum lebar.

“Oh ya, kenalkan, ini kawanku.”

Aleta mengarahkan tangan, menunjuk Raka. Netra Rendi mengikuti. Sementara wajah Raka justru menyiratkan kebingungan.

“Seniman yang kapan hari aku ceritakan, Ka.”

Kedua lelaki beda usia itu saling beradu pandang. Aleta tidak menyadari tatapan sengit salah satu dari mereka. Sorot mata yang jelas menyiratkan kebencian.

Rendi yang lebih dulu berinisiatif mendekat pada Raka. Mengulurkan tangan, mengajak lelaki jangkung itu berjabat.

“Apa kabar-” Rendi menjeda sekian detik. Mengganti dengan lontaran lebih lirih dari sebelumnya.

“Raka Dananjaya.”

Bab 10 - Part 1

73 0

Tanpa kita sadari, berbagi untaian kata dengan orang lain, sebenarnya sudah bisa menguraikan setengah dari masalah kita. Setengahnya lagi menunggu diikhtiarkan dan rasa berserah diri pada Sang Pencipta.

 

Rendi menghempaskan tubuh dalam kenyamanan sofa. Kepalanya menengadah diikuti tarikan napas memberat. Ia benar-benar lelah.

Satu per satu masa lalu mulai menampakkan diri. Menyerang jiwanya yang sempat lengah. Hati yang belum pulih, kembali melemah. Setelah ini, ruang sunyi tidak akan sama lagi. Rendi merasa ia harus segera mencari cara lain untuk menyingkirkan kenangan lama.

Suara dentuman pintu menyapa pendengaran. Dilanjutkan langkah kaki keras yang makin lama terasa makin dekat. Detik setelahnya, serangan kesilauan dari lampu utama tak bisa ia hindari. Dengan santai, sang pelaku ikut menenggelamkan tubuh di sampingnya.

Menit mereka lewati dengan keheningan. Hembusan napas mereka seragam. Sama-sama merasakan kelelahan perkara dunia, namun berbeda sudut pandang.

“Masalah apalagi sampai membuatmu rela pulang dini hari?”

Benar. Ini kali pertama Rendi nekat pulang pagi buta. Kalau saja kewarasannya masih ada, sudah pasti detik ini Rendi sedang berselancar di alam mimpi.

Rendi masih betah berdiam sambil menatap tajam sumber cahaya. Sekumpulan kata mulai tersusun di otak. Namun, Rendi tidak yakin, apakah mampu menjawab semua keingintahuan pemberi tanya.

“Keponakan ayah. Aku bertemu dengannya.” Kepalanya kini menoleh pada Danu. Menanti respons lelaki itu.

Danu tak bereaksi. Kedipan mata yang berulang-ulang, menyiratkan ia gagal mencerna ucapan Rendi.

Tak sabar menunggu, Rendi kembali bersuara, “anak Tante Olivia. Raka Dananjaya.”

“Bocah kecil yang gemar membuntutimu? Yang lebih patuh padamu daripada ibunya?” Rendi bergumam membenarkan. Memang, ada memori masa kecil yang dipenuhi canda tawa. Namun, tak sebanyak memori luka.

“Baguslah kalau begitu. Lalu apa masalahnya?” Rendi kembali membuang muka. Menerawang jauh pada pertemuan mendadak mereka.

“Berdamailah. Mereka bukan yang dulu lagi.” Ia mengulangi perkataan Raka. Rendi menyebutnya perintah tersirat.

“Aku heran, mengapa di dunia ini yang lemah selalu disuruh mengalah? Kenapa tidak yang kuat saja? Bukankah mereka serakah selalu berada di atas?” Danu menghela napas. Paham keresahan hati Rendi.

“Mengalah bukan berarti kalah, Boy. Dengan mengalah hati kita menjadi lega. Karena tidak perlu lagi beradu dengan si kuat yang sebenarnya bukan lawan kita.”

Rendi bangkit. Berganti duduk tegak. Memori masa lalu mulai berputar diingatan. Kali ini Rendi tidak lagi mengelak. Membiarkan hatinya melukis perlakuan kasar mereka.

Buku cerita yang kerap dibacakan Rania jatuh dengan kasar di tanah lembap. Pelakunya seorang wanita muda yang kini tengah berkacak pinggang. Dilanjutkan kedatangan wanita paruh baya, pemilik tatapan menyeramkan. Ketakutan menyusupi Rendi. Ia bersembunyi di balik punggung lebar Danu.

“Pergi dari sini! Kamu bukan bagian dari keluarga ini lagi! Aku menyesal melahirkan anak pembangkang sepertimu.” Suara melengking itu menambah ketakutan Rendi. Tangan mungilnya meremas kuat baju belakang Danu.

“Aku dan Rendi akan pergi, tapi tolong jangan coba memisahkan kami lagi.” Tak sedikit pun tersirat nada takut dari Danu. Keduanya bersatu, menuding Rania sebagai dalang.

Kenyataannya justru Danu penyebab kekacauan. Kalau saja ia tidak meminang Rania, lalu mengikuti segala kemauan wanita itu, mungkin semua tidak akan serunyam ini. Jelas-jelas mereka sangat berbeda. Namun, Danu tidak tau diri. Kini ditambah dengan kepergian Rania, rasa penyesalan Danu kian membumbung tinggi.

Rania pemilik keanggunan yang mampu membuka lebar mata hati Danu. Ia dengan sadar mengikuti keyakinan wanita itu. Hingga semua rentetan menyakitkan mulai menimpa mereka. Danu tumbuh dalam lingkup keluarga taat keyakinan lain. Sehingga saat semua tau Danu memeluk keyakinan baru, ia tak tanggung-tanggung dicap sebagai aib keluarga.

Namun, bukankah semua manusia berhak memilih agama. Bahkan dituntut untuk tidak saling mengganggu, apalagi menyakiti. Danu jelas paham kutipan ayat sucinya yang menyebutkan batasan mereka. Ia mengamini dengan tidak ikut campur dalam urusan keyakinan lama.

Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

“Apa yang kamu resahkan, Rendi? Percayalah, kita ada di jalur yang benar.”

Bab 10 - Part 2

69 0

“Aku merasa bersalah.” Shinta menajamkan pendengaran. Setengah berharap Aleta mengulangi ucapan.

Namun, Aleta tak paham isyaratnya. Gadis itu kembali menunduk dengan tatapan mata kosong. Jemari yang berada di bawah meja saling bertautan.

Semalam, lagi-lagi Aleta gagal melanjutkan Nol Koma. Ide yang berhamburan di udara seolah tengah memusuhi. Benaknya terus memutar ulang wajah pedih Rendi.

Ternyata upaya mempertemukan kedua lelaki itu adalah suatu kekeliruan besar. Aleta akhirnya tau alasan Rendi memiliki blok sendiri di ruang sunyi. Pantas saja Septian tidak mau membuka semua cerita. Ternyata memang semenyakitkan itu kisah yang dialami Rendi.

Aleta tidak tau keputusan berbagi cerita pada Shinta, merupakan sesuatu yang bisa dibenarkan atau tidak. Namun, niatnya sejak awal hanya ingin mengurangi beban pikiran.

“Aku mempertemukan dua orang yang seharusnya enggak bertemu.” Aleta menjeda cukup lama dengan beberapa kali tarikan napas.

“Salah satu dari mereka punya luka dalam. Sudah akan sembuh kalau saja mereka enggak saling berjumpa.”

“Siapa?” celetuk Shinta yang dihantui rasa penasaran.

Sejak tadi ia berharap Aleta lebih jelas menguraikan perasaan. Seperti biasa, gadis itu suka sekali membuat orang menerka-nerka makna ucapannya.

“Rendi dan Raka,” gumam Aleta lirih bersamaan dengan datangnya salah seorang dari mereka.

“Jadi, kalian sebenarnya sudah saling kenal?” Kening Aleta mengkerut, mendapati jawaban berbeda.

“Aku enggak menyangka ternyata kita akan berjumpa lagi. Masih ingat? Aku Rendi Dananjaya.” Sama dengan Raka, Aleta juga gagal menutupi keterkejutan.

Mereka memiliki nama belakang yang sama, Dananjaya. Bodohnya Aleta menyuruh dua saudara itu saling berkenalan.

“Tunggu sebentar, aku masih belum paham.” Rendi menaikkan sebelah alis. Menangkap sinyal kegagalan Raka mencerna perkataannya.

“Bukannya kalian sudah lama tiada?” Suara pekikan Aleta menggema mengisi kesunyian.

Rendi menerbitkan senyum sinis. Tidak menyangka ternyata sekeji itu cara mereka melenyapkan keluarganya dari memori masa kecil Raka. Sungguh ironis.

“Dulu setiap aku bertanya tentangmu, semua orang enggak ada yang menjawab, kecuali Oma dan Mama.” Suara kedua wanita itu terngiang di telinga Raka.

“Mengalami kecelakaan tragis, dan kalian enggak berhasil terselamatkan.” Rendi menghembuskan napas kasar.

Menjiwai sekali. Jelas-jelas mereka dalang dari kejadian mengerikan itu.

Rendi tidak membantah pernyataan Raka. Memang benar tidak ada yang berhasil terselamatkan. Karena sejak saat itu, jiwa mereka ikut menghilang, bersamaan dengan tutupnya usia Rania.

“Jangan bilang, sampai sekarang kamu belum tau fakta yang sebenarnya.” Raka menaikkan sebelah alis. Lalu tergerak mengangguk ragu.

Ia bahkan tidak tau ada kebenaran yang tersembunyi di balik berita pedih itu. Ucapan Oma dan Mamanya sangat meyakinkan. Sehingga dulu ia dengan mudah memercayai. Bahkan sampai sekarang, Raka tidak merasa ada keganjilan. Mulus tanpa celah.

“Dua wanita itu menyabotase mobil ayah.” Rendi menggigit bibir bawah, guna meredakan getaran.

“Malam itu jalanan yang kami lewati sedang diguyur hujan. Anehnya, aku masih bisa melihat jelas langit dengan taburan bintang dan bulan yang bersinar terang.” Rendi berhenti sejenak untuk menguarkan tawa sumbang yang terdengar menyayat hati.

“Lalu setelah kejadian itu menimpa, aku baru sadar. Mereka sedang mencoba menghibur laraku. Sayangnya gagal.”

Rendi menelan ludah kasar. Sesuatu terasa mengganjal di tenggorokan. Netranya yang mulai berkabut, menatap bergantian Raka dan Aleta.

“Aku terpuruk bersama dengan perginya Ibu.” Suara isakan tak terelakan. Bukan Rendi, melainkan Aleta.

Hujan kembali menjadi saksi kisah kelam Rendi. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Namun Aleta mengakui, Rendi sempurna menutupi semua luka batinnya.

Bab 10 - Part 3

79 0

Hanya selang beberapa jam sejak pertemuan, mereka sudah kembali. Lesung pipi yang terpatri, tak pernah gagal membuat Rendi mengenali. Raka Dananjaya, sepupunya.

Dulu lelaki itu memiliki tinggi sebatas pinggang Rendi. Semesta seolah tengah mengajak bercanda. Kini berganti dirinya yang hanya setinggi lengan atas Raka.

Rendi tidak menyangka, bocah kecil yang dulu selalu membuntutinya berubah menjadi lelaki dewasa pemilik wajah serius. Bahkan Rendi rasanya ingin tertawa kalau saja ia tidak ingat asal usul lelaki itu. Bagian keluarga Dananjaya.

 Kedatangan Raka hampir memicu kegaduhan di studio. Siapa lagi kalau bukan Farel yang memulai. Sebenarnya salah Raka juga. Lelaki itu dengan gamblang menyebutkan nama belakang. Farel dengan mudah mengenali Raka bagaikan seorang teroris yang patut dimusnahkan. Bahkan setelah Rendi menjelaskan semuanya, Farel masih saja memasang wajah angkuh.

“Far, kamu bisa membunuh Raka kalau menatap dia seperti itu.” Ketegangan mereka terurai. Farel yang semula di ambang pintu, berjalan menghampiri. Fareh meraih serta kursi kerja milik Rendi, mendaratkan tepat di samping sang pemilik. Setelah seluruh beban tubuh Farel ditompang kursi, barulah Rendi menatap Raka kembali.

Rendi berdehem sejenak. Mengontrol suaranya yang kurang begitu nyaman untuk didengar. Efek aksi nekat semalam.

“Aku tau kedatanganmu untuk mengatakan hal yang sama. Tapi maaf, jawabanku masih seperti semula.” Rendi membuang pandangan ke arah lukisan. Menghindari tatapan tanya Raka.

Raka tersenyum tipis “Bukankah sia-sia usahamu sekian lama? Mana mungkin orang akan tau, kalau kamu belum menunjukkannya.”

Tidak hanya Rendi, kening Farel juga ikut mengkerut mendengar pernyataan berani Raka. Mereka kompak menerka maksud lelaki jangkung itu. Bahkan otak Farel mulai meliar. Menduga lelaki itu umpan, sedangkan Rendi adalah buruan. Begitu Rendi masuk perangkap jaring, keluarga Dananjaya tak segan makin menghancurkan hidup Rendi.

“Jangan berpikiran negatif tentangku. Aku enggak memihak siapa-siapa,” jelas Raka santai.

Jawaban Raka justru memunculkan tanda tanya besar di benak Farel.

“Jadi kamu akan menjadi penonton saat Rendi terjebak permainan Dananjaya?” Farel menyinis. “Jangan harap aku akan diam saja!”

Rendi memberi isyarat Farel dengan gelengan. Mengingatkan lelaki itu agar tidak melewati batas.

“Satu-satunya cara adalah dengan bertemu. Dengan begitu mereka bisa tau, dirimu sudah sepenuhnya beranjak dari kejadian tragis itu.” Hal itu yang Raka maksud sejak tadi. Namun, kedua lelaki dihadapannya tak kunjung paham.

Tiba-tiba Rendi teringat penuturan Danu yang serupa. Ia belum pernah melihat Danu berbicara seserius itu. Selama ini Danu selalu berkelit saat ia tanya tentang perasaan.

“Jangan takut berhadapan dengan mereka. Mau seberapa keras melukai, kalau ternyata Pemilik Semesta belum menakdirkan pergi, ya, mau bagaimana. Kamu hanya perlu berjalan lurus dan tetap berada di jalur yang benar.”

Danu mendaratkan lengan di pundak Rendi. Badannya sedikit condong. Bisikan lirih tidak dimungkiri berhasil membius Rendi.

“Temui mereka, Boy. Tunjukkan pribadi terbaikmu. Tunjukkan kalau kita baik-baik saja, dan kita bisa lebih baik dari mereka.” Rendi menoleh pada Danu. Sorot matanya menyiratkan keraguan.

Danu tersenyum penuh arti. “Itu gunanya menjadi si lemah. Tugas kita berat. Merengkuh hati si kuat.”

Netra Farel menyipit. Ia mencium sesuatu yang mencurigakan dari gelagat Raka. Bukankah aneh, baru bertemu setelah sekian lama, tau-tau sudah mengajak Rendi melakukan hal ekstrem. Bahkan orang terdekat pun, akan berpikir ulang sebelum menyarankan hal itu. Sorot mata Raka menyiratkan segalanya.

“Aku merasa ada baru-bau pemaksaan di sini. Apa maksudmu menyuruh Rendi melakukan semua itu? Bukankah sudah cukup hanya berita fakta darimu?” Celetukan Farel mengundang tatapan penasaran Rendi pada Raka. Ia yang semula sudah percaya, kini ikut curiga.

Berganti Raka yang tak bisa mengontrol diri. Ada ketakutan bercampur harapan dari sorot matanya. Menatap balik Rendi dengan manik sendu.

“Karena aku mengulang kisah lama Om Danu.”

Bab 11 - Part 1

15 0

Hadirnya kita di dunia bukan untuk saling menyakiti, atau bahkan bersekutu dengan maksud memusnahkan. Kita diberi hati untuk mengasihi, dan akal agar pandai memilah kebenaran.

 

Rendi baru saja menghentikan kendali pada kemudi. Mobilnya kini terparkir apik di halaman luas sebuah rumah megah. Bangunan yang menjadi saksi kisah pengusiran manusia tak bersalah. Rasa sakit terkalahkan oleh iba. Rendi tak mau kejadian menyakitkan itu terulang lagi. Bukan dirinya, melainkan pada Raka.

Berminggu-minggu Rendi mempersiapkan diri. Usaha mencari momen, akhirnya menemukan titik terang. Alih-alih diberi kejutan, Raka lebih memilih memberi kejutan di hari lahirnya. Sesuatu yang ia harapkan bisa menjadi titik balik keluarga Dananjaya. 

Dua hari setelah pertemuan mereka, pesan dari nomor asing muncul. Selama ini Rendi tidak betah berlama-lama dengan benda pipih itu. Namun, setelah pemberi pesan membuka jati diri, berganti pengendalian Rendi yang goyah.

Bukan salah siapa-siapa. Rendi hanya tidak menyangka, gadis itu perantara. Tidakkah terlalu dini menyebut kedekatan mereka adalah rencana semesta. Atau bolehkan Rendi menyebutnya takdir.

Rendi tertawa. Jangan tanya mengapa ia begitu berani memunculkan kalimat canggung. Tak lain sebab Rendi mulai mengenali perasaannya.

Ponsel Rendi berdering kencang. Sang pemilik hanya memandangi, membiarkan hingga lenyap. Ia sudah tau maksud orang diseberang sana. Rendi tak membiarkan keraguan menyusup lagi. Biar kali ini ia melewati batas aman. Karena ia jamin semua akan selesai tanpa meninggalkan sisa.

Rendi menangkap suara berbisik dari ujung jalan. Semua pasang mata melayangkan ribuan tanya.

“Kenapa diam?” Suara Raka menggema. Menyadarkan beberapa pasang mata

“Ini dia tamu yang aku maksud sejak tadi,” celetuk Raka santai. Ia memberi isyarat, menyuruh segera Rendi begabung.

“Ayolah Bang Rendi. Aku enggak sabar dengan kejutanmu.” Bisa-bisanya Raka masih sempat bercanda.

Rendi menyusuri meja makan. Melirik sekilas dua wanita sasaran mereka. Setelah duduk sempurna, barulah suara tepuk tangan keras mengudara. Raka yang paling bahagia. Lelaki tidak tau malu itu berdiri, mulai melancarkan aksi.

“Semuanya, kenalkan tamu kita. Rendi Dananjaya, putra om Danu dan tante Rania. Keluarga yang selama ini katanya sudah hilang dari dunia.” Rendi mengedarkan mata, menatap satu per satu wajah yang tak asing.

Tidak sia-sia Raka menjadi bagian komunitas Septian. Lagaknya saat bicara sudah mirip aktor ibu kota.

“Apa maksud kamu, Raka?” Ayah Raka, Sam Mario tak bisa diam cukup lama. Sejak kedatangan Rendi hingga celotehan Raka, rasa penasaran terkumpul banyak.

“Mereka yang di cap sebagai aib, dengan sengaja dimusnahkan. Kecelakaan itu rekayasa.” Satu per satu pekikan mulai menggema.

“Pencelaan dulu memang tidak bisa dibenarkan. Kami kecewa. Tapi tidak pernah terbesit rasa ingin menyingkirkan kalian.” Suara adik bungsu Danu, Amora terdengar sengau.

Ia gagal menyembunyikan penyesalan. Wanita itu Rendi kenal sebagai manusia yang memihak keluarganya. Saat Danu dan Rania dicerca, Amora dengan cepat membawa Rendi pergi. Menghabiskan waktu bersama di taman belakang bangunan ini.

“Aku tau, Bibi. Justru itu yang mau aku tanyakan. Kenapa mama dan oma tega menyingkirkan mereka? Bagaimana kalau hal yang serupa terjadi padaku? Tidak taukah kalian, dampak besar yang terjadi pada manusia kecil keluarga om Danu? Trauma berkepanjangan.”

Suara tegas Raka dibalas suara menggelegar lain. Menyiutkan nyali salah satu dari mereka.

“OLIVIA! APA YANG ADA DIPIKIRANMU SAAT ITU? DIA KAKAKMU!”

Sang pemilik nama ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi kening. Bibirnya kelu untuk sekadar mengungkapkan isi hati. Ia kecewa dengan diri sendiri. Gegabah sebab diliputi nafsu.

 “M-maaf. Aku khilaf,” cicit Olivia lirih.

“Om Sam, maaf. Kedatangan Rendi bukan untuk menghardik Tante Olivia.” Pusat perhatian beralih pada Rendi.

“Rendi menyampaikan pesan Ayah. Setelah hari itu, kami melalui sisa hidup dengan bahagia.” Senyum tegar Rendi mengiris hati.

“Tetap saja, Ren. Kesengajaan tidak bisa dibiarkan. Termasuk sengaja melenyapkan nyawa manusia.” Amora menatap tajam Olivia. Wanita itu harus menanggung semua perbuatan keji dengan merasakan hidup diliputi penyesalan.

Rendi menghela napas pendek. “Percuma. Hukuman seadil apa pun tidak bisa mengembalikan hati yang telanjur patah. Bahkan tidak bisa membawa kembali Ibu.”

Beberapa orang mengangguk membenarkan perkataan Rendi. Tidak banyak yang bisa mereka katakan. Hanya sorot mata prihatin yang mewakili semua rasa dalam dada.

“Lalu, apa maumu Rendi?” Wanita pemilik tatapan tajam itu kini sudah tak sekuat dulu. Suara lirih memunculkan tanya. Berani sekali ia mendatangi ajal.

“Aku hanya minta, jangan ada kejadian naas lagi. Karena yang membolak-balikkan hati manusia adalah Sang Pencipta. Dia akan datang pada manusia yang sudah siap menerima bisikan kebaikkan. Maka, cukup anggap biasa perbedaan agama.”

Bab 11 - Part 2

14 0

Raka terperanjat begitu sebuah minuman botol melintas di depan mata. Ia mengambil alih dari Rendi.

Thanks, Bang.” Raka meneguk bak orang kesetanan. Sebagian kesadaran masih tercecer di alam mimpi. Malam tadi adalah tidur yang paling nyenyak dari tidur-tidur sebelumnya.

“Setelah ini, apa yang akan kamu kerjakan, Ka?”  Raka menggeleng lemah. Matanya saja masih buram, Rendi dengan tidak tau diri menyuruh berpikir. Helaan lelah menyapa pendengaran Raka. Ia lantas balik menatap aneh Rendi.

“Kenapa, Bang?”

Rendi mendongak dengan kening mengeryit. “Apanya yang kenapa?”

“Belum bisa lupa kejadian kemarin?” celetuk Raka ringan seraya menyingkirkan minuman yang tandas.

Raka menahan tawa. Lelaki itu ternyata lemah saat sedang seorang diri. Tau begitu, kemarin ia pasti akan menahan rasa kagum saat Rendi dengan garang menjabarkan kesakitan dihadapan keluarga besar Dananjaya.

“Apa keputusan mereka?” Rendi penasaran dengan kelanjutan pertemuan mereka. Ia terpaksa hengkang karena amarah mulai menguasai. Rendi hanya takut rumah itu hancur. Wanita tua itu dengan berani masih saja menyalahkan Rania.

Siapa tidak naik pitam kalau orang yang sudah tiada diolok-olok. Terlebih lagi disebut sebagai pembawa sial. Menjadi pelajaran besar untuk Rendi agar tidak mudah percaya dengan manusia dari tampilan luar.

Saat amarah lenyap, hati Rendi disusupi perasaan iba. Di umur yang sudah renta, ternyata wanita tua itu belum juga mendapatkan hidayah.

“Bibi Amora minta Papa untuk berlaku adil. Mungkin dengan membuat mereka menyesal seumur hidup.” Raka mengedikkan bahu acuh.

Sesuai niatnya sejak awal. Mengakhiri keterpurukan. Benar. Semuanya sudah berakhir. Ada hal luar biasa yang tengah menunggu di ujung sana.

Rendi bangkit. Berjalan ke depan almari es. “Sampai kapan kamu akan tinggal di studioku?” Ia berjongkok memilih bahan untuk santapan.

Raka meringis. Pertanyaan Rendi lebih terdengar seperti pengusiran. Setelah kejadian semalam, Raka memutuskan keluar dari rumah. Bukan sekadar mencari angin. Raka juga butuh waktu menerima kenyataan. Entah apa yang merasuki, Ia dengan lancang memaksa menginap di Studio Rendi.

“Kalau rumah sudah kondusif, aku pasti pulang, Bang.” Jawaban Raka memang meyakinkan, tetapi Rendi tidak semudah itu percaya.

Rendi menghentikan kegiatan sejenak, beralih menatap Raka. “Memangnya kamu tau kondisi rumah megah itu?” Gelengan Raka mengundang decakan malas Rendi.

“Percuma kamu berdiam di studioku, enggak ada makna. Pulang, Ka. Dengan begitu kamu bisa tau segalanya,” balas Rendi serius seraya melanjutkan lagi berkutat dengan sayuran segar.

Raka berjalan menghampiri Rendi yang sudah menghuni pantry. “Izinkan aku menginap semalam lagi, Bang. Aku janji enggak mengusik karya-karyamu.”

Rendi berdecak. “Enggak ada izin buatmu. Cari hotel sana. Uangmu banyak, kenapa menumpang tidur pada rakyat jelata.”

Raka memutar mata. Menampilkan wajah mengolok Rendi. “Pasti penggemarmu akan heboh kalau tau ucapanmu barusan.”

Rendi menaikkan sebelah alis, menantang Raka. “Memangnya kenapa? Bukannya akan lebih heboh lagi kalau aku tunjukkan wajah memelasmu tadi?” Tawa keras terdengar seiring dengan terbitnya wajah masam Raka.

“Raka Dananjaya, penulis novel roman, gemar merenggek pada Sepupunya. Kalau dijadikan headline akun gosip, oke juga.” Rendi memperagakan bak pembawa berita. Raka dengan sangat berani memamerkan pelototan mata. Bukannya mereda, tawa Rendi justru makin menjadi.

“Aku serius. Izinkan aku tinggal beberapa hari di sini, Bang. Aku butuh mencerna kejadian semalam.” Raka melepas seluruh harga diri. Mengerahkan semua rasa memelas, hanya berharap agar Rendi luluh.

Rendi masih sedikit tersenggal pasca hujan tawa. Mengusap kasar sudut mata yang terasa basah. “Kalau begitu, sekalian aku titip tempat ini,” putusnya tanpa ragu.

Raka mengerjap beberapa kali. “Bang Rendi memangnya mau kemana?”

“Mendaki.” Tanya Raka terhenti. Ia baru tau, ternyata Rendi juga sama. Butuh waktu untuk mencerna.

Bab 12 - Part 1

307 0

Langkah terasa ringan dengan wajah berseri-seri. Binar mata tidak bisa membohongi. Aleta tengah dilanda gelombang kebahagiaan. Akhirnya ia lepas dari manusia paling menyeramkan yang pernah ada. Pak Marto.

Setelah di desak Septian, akhir bulan lalu, Aleta memutuskan menemui kembali. Entah apa yang terjadi dengan pria paruh baya itu, tanpa banyak kata langsung mengajaknya berjumpa lagi di hari ujian. Yang menandakan tugas akhir Aleta disetujui.

Masih ada tiga bulan lagi sebelum hari wisuda datang. Kini hampir setiap hari Aleta beradu dengan kemantapan hati. Sampai saat ini belum terlihat juga hasil. Mau bagaimana lagi, ia sudah telanjur berjalan jauh.

Pagi tadi Anjani menyapa dengan suara lembut yang menenangkan. Tak terlontar satu pun tanya tentang kerja kerasnya. Namun, Aleta yakin, wanita itu tidak masih belum yakin dengan kemampuannya.

Lalu disusul suara berat Agam. Tanpa mereka tau, diseberang sana Aleta tengah menahan linangan air mata. Rindu menyeruah di dalam dada.

“Akhirnya. Selamat, ya, Aleta.” Aleta mengulas senyum tipis menanggapi sorakan Septian.

Lelaki itu sejak tadi yang paling sibuk. Menyambut penghuni markas yang berdatangan. Selama ini, tidak pernah sebanyak itu anggota Pena Putih yang memenuhi ruangan tak seberapa luas itu. Berkat Aleta, Septian bisa melihat satu per satu wajah anggotanya. 

“Berkat Kasep juga. Sepertinya aku harus mencantumkan serta namamu di kata pengantar. Kasep banyak membantuku.”

Seolah tau akan datang perubahan suasana, Septian dengan cepat menetralkan.

“Aku sudah susah-susah membantumu, lalu sekarang kamu membalasnya dengan tangisan? Oh ayolah Aleta. Kamu mau aku depak dari sini?” Terdengar seperti ancaman, namun berhasil mengundang tawa menular.

 “Selamat, Adik Kecil.” Berganti suara barinton mengalun merdu.

Aleta mencari keberadaan pemilik suara. Karena memang, selain dipadati manusia, markas mereka juga sangat bising. Mirip seperti tengah dihuni kawanan tawon.

Aleta menemukan lelaki itu datang membawa bingkisan besar. Raka sangat tau seleranya. Senyum geli yang tersemat ternyata tidak bertahan lama. Digantikan dengan rona kecemasaan yang susah ditutupi.

Baru akan bertanya, Raka sudah lebih dulu menyela. Ia seolah tau isi pikiran Aleta.

“Aku hanya kurang tidur, Leta. Semalam menyelesaikan novel baru.”

Tetap saja Aleta tidak bisa melenyapkan kekhawatiran. Raka yang ia kenal tidak pernah senekat itu.

“Kamu benar enggak lagi sakit?” Raka mengangguk lemah. Meyakinkan Aleta.

Semua terjadi dengan cepat. Tiba-tiba tubuh Aleta oleng. Lengannya disenggol cukup keras oleh Audri.

“Sana kalian berdua! Kalau mau ngobrol jangan di tengah jalan. Minggir!”

Aleta menatap aneh gadis yang kini tengah melenggang dengan santai. Sejak penyebaran rumor tentangnya, hubungan mereka tidak sedekat dulu. Gadis itu yang sengaja membuat jarak.

“Kerasukan apa gimana si Audri? Pagi-pagi udah ngamuk. Padahal aku enggak ada masalah sama dia. Kenapa cari gara-gara?” Gerutuan Aleta mengundang tawa Raka. Aleta melayangkan tatapan tak suka.

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?” tanya Aleta ketus.

Lenyap sudah kekhawatiran Aleta. Ia sudah yakin, Raka memang sedang baik-baik saja. Terbukti, lelaki itu sudah kembali menyebalkan.

“Sadar enggak? Kamu lucu waktu ngomel tadi,” selorohnya di sela tawa. Aleta masih mengamati Raka. Menunggu lelaki itu hingga puas mengolok.

Tawa Raka seketika mereda. “Iya maaf, Leta. Tapi, serius. Kamu lucu tadi.”

“Kalau cuma mau merusak suasana hati, lebih baik kamu enyah, Ka. Aku sedang malas ribut.” Aleta membuang muka. Menegaskan ia benar-benar tidak sedang bercanda.

Raka mengamati wajah murung Aleta. Merekam seluruhnya, seolah esok tidak akan ia jumpai lagi. Ada yang berubah dengan gadis itu. Jilbab hitam yang menjadi ciri khas, enyah digantikan dengan warna natural.

Akhir-akhir ini sikap Aleta juga berbeda. Tidak sesantai biasanya. Wajah manis Aleta lebih sering diliputi kerutan serius. Menandakan tidak mau diganggu. Terlebih setelah kejadian itu, Aleta jarang mau berhadapan langsung dengannya.

“Gadis itu kamu, Leta.” Aleta refleks menoleh mendengar celetukkan Raka. Diikuti kerutan di keningnya

“Gadis yang sedang menganggu pikiranku.” Buket bunga dalam genggaman merosot. Penjelasan Raka mengusik hati. Bahkan sesuatu dalam dada kini ikut berdebar kencang. 

“Sudah kuduga. Kamu pasti akan terkejut.” Raka tertawa kecil. Ia paham, respons Aleta bukan suatu pertanda yang baik. Gadis itu terpaku tanpa suara.

“Aku juga terkejut. Perasaan memang enggak bisa semudah itu dikendalikan.” Kali ini Raka bisa tertawa lebih lepas.

“Sejak kapan, Ka?” cicit Aleta.

Ia merasa bersalah karena selama ini menganggap pergaulan mereka terlampau biasa. Hingga tidak menyadari, ada perasaan lain yang tanpa sengaja tumbuh di antara mereka.

Raka menerawang jauh. “Waktu aku sadar, kalau persahabatan lawan jenis itu sangat bahaya. Enggak ada yang bisa dibenarkan. Karena pasti salah satu atau keduanya bisa terjerat permainan perasaan.”

Aleta kehabisan kata-kata. Benaknya dipenuhi potongan memori kebersamaan mereka. Termasuk yang akhir-akhir ini sempat mengusik ketenangan.

“Raka menganggapmu beda.” Aleta refleks menatap Septian. Di siang hari yang cerah melontarkan pernyataan aneh.

“Aku tahu. Selama ini dia memang menganggapku adiknya,” timpal Aleta santai.

Bukan hal baru lagi. Bahkan penghuni markas turut mengatakan hal yang sama. Daripada teman, ia lebih cocok sebagai adik Raka. Tidak jauh beda dengan Raka yang sudah lebih dulu menyematkan panggilan lain untuk. Adik Kecil.

“Bukan, Leta. Kamu punya arti lain baginya.”

Terima kasih pada Septian karena berhasil membuat Aleta overthinking. Kalau saja tidak sedang berhadapan dengan laptop, mungkin Aleta bisa lebih dalam mencari tau kebenaran pernyataan Septian. Saat ini ada urusan yang lebih mendesak dari mempertanyakan ucapan aneh lelaki itu.

“Enggak usah terlalu dipikirkan, Leta. Aku cuma memberi tau saja. Sama sekali enggak ingin jawaban.” Bukannya lega, Aleta justru makin bertanya-tanya.

“Kenapa?”

Raka menatap tepat di manik mata Aleta. “Ikut aku. Tempat ini enggak cocok untuk bicara.” Raka menyadari tatapan penasaran beberapa pasang mata.

Raka dengan cepat melenggang keluar markas. Meninggalkan Aleta yang tengah sibuk bergumul dengan pikiran.

“Ternyata benar. Aku punya arti lain untukmu,” gumam Aleta pada diri sendiri.

“Kenapa bengong? Sudah sana ikuti Raka.” Septian mengejutkan Aleta. Lelaki itu mendorong pelan tubuh mungil itu. Menyuruh bergegas mengumpulkan kesadaran yang bertebaran bebas di udara.

“Waktunya membuktikan Nol Komamu, Aleta. Jangan biarkan hanya membekas sebagai kata-kata. Buktikan juga kalau ia bermakna.” Septian menunjuk arah pergi Raka dengan dagu.

Perasaan tak asing mendominasi Aleta. Ia setuju dengan Septian. Waktunya membuktikan Nol Koma.

“Kasep, nanti aku beritahu hasilnya.” Septian mengangguk seraya terkekeh, melihat Aleta sudah melesat dari hadapan. Gadis yang lucu.

“Kasep juga suka dengan Aleta?” Septian memicingkan mata. Keberanian Shinta makin hari makin melonjak menjadi tidak tau diri.

“Jadi benar?” Shinta sampai menutup mulut. Menganggap kediaman Septian sebagai jawaban kebenaran.

Septian mengusap wajah kasar. Berbicara dengan Shinta memang tidak seperti dengan yang lain. Perlu banyak kehati-hatian. Sekali terperosok, gadis itu tidak segan mengejar kebenaran.

“Apanya yang kamu anggap benar? Jelas-jelas aku berdiri sebagai kakak Aleta.”

Desahan lega Shinta sukses membuat Septian memutar mata. Kali ini hal aneh apalagi yang tengah berputar di pikiran gadis itu.

“Kasihan Aleta. Berdiri di antara dua lelaki bersaudara. Aleta juga gagal menerjemahkan sikap keduanya,” ungkap Shinta lirih.

Septian terhenyak. “Raka dan saudaranya?”

Shinta mengangguk. “Raka dan Rendi,” tandasnya seraya menatap kepergian Aleta.

“Mereka berdua bersaudara? Sejak kapan?” Shinta berganti menyelami manik mata Septian. Pertanyaan lelaki itu terdengar seperti guyonan.

Tiba-tiba Septian melebarkan mata. Ia ingat, mereka memiliki nama yang sama. Mengapa ia tidak juga sadar. Padahal kecurigaan sudah mencuat sejak lama.

“Wow... Keajaiban dunia. Aku kira Kasep tau. Ternyata Kasep juga manusia biasa.” Shinta menggeleng aneh.

Septian tidak pernah terkalahkan di Pena Putih. Termasuk dalam hal menyudutkan lawan bicara. Namun, tidak berlaku untuk Shinta yang selalu berhasil membuatnya naik pitam.

Shinta lebih berbahaya dari Audri. Karena dari belakang sudah terlalu biasa, maka Septian menyebut gadis itu pandai menusuk lawan dari bawah tanah. Diam-diam menyergap.

“Mau aku bagi cerita? Aku punya banyak waktu menjelaskan.” Tawaran Shinta ditolak mentah-mentah oleh Septian.

Sebenarnya ia juga memiliki banyak waktu. Namun, bukan untuk mendengarkan gadis itu mendongeng. Septian akan menanyakan langsung pada Raka. Shinta menakutkan.

Bab 12 - Part 2

85 0

Aleta tidak menyangka, Raka mengajak ke tempat yang jauh dari Pena Putih. Mobil lelaki itu baru saja berhenti di depan bangunan asing. Dari luar tampak seperti ruko pada umumnya. Begitu pintu utama terbuka, tampilan dalam dari bangunan ini menyadarkan Aleta. Ia tengah memasuki sebuah galeri lukis.

Aleta dimanjakan dengan interior yang memukau. Dinding di depannya terlihat cantik berhiaskan lukisan bintang. Aleta berdecak kagum. Ia seperti sedang berada di luar angkasa.

“Duduk dulu, Leta.” Raka bergerak menyingkirkan selimut merah yang biasa digunakan sang pemilik ruangan. Berlanjut berjalan menuju pantry.

Keputusan Raka sudah bulat. Gadis itu patut tau sesuatu yang membuatnya menyerah. Bukan karena ia lemah. Melainkan ada seseorang yang lebih membutuhkan Aleta sebagai menguat langkah.

“Galeri ini milikmu, Ka?” Raka menjawab dengan gelengan. Ia datang membawa minuman hijau, lalu menyodorkan pada Aleta.

Thanks, Ka.”

Aleta masih belum lepas dari interior yang menawan, membawanya pada kelengahan. Ia tersedak begitu minuman dari Raka menyapa indra perasa.

“Pelan-pelan, Aleta. Pemilik bangunan ini belum akan datang.” Perasaan panik mulai menguasai. Aleta tau siapa yang Raka maksud. Wajah tengil lelaki itu menjelaskan. Ia dijebak.

“Apa maksudmu membawaku kemari? Bukannya kamu ingin lebih leluasa berbicara? Kenapa harus di tempat ini?” Aleta bahkan sudah menyampirkan tas selempang di bahu. Ingin bergegas pergi.

“Tempat ini yang akan membuktikan, seberapa penting eksistensimu.”Aleta menyipitkan mata. Mencoba mencerna ucapan Raka yang acak.

“Pelan-pelan, Ka. Aku enggak paham ucapanmu.” Raka tertawa. Menyenangkan melihat Aleta kebingungan menerjemahkan perasaan.

“Dari awal aku sadar, kita berbeda, Leta. Aku sudah coba masuk ke duniamu, bahkan mulai memantapkan hati mengikuti keyakinanmu, tapi gagal.”

Raka menjeda untuk sekadar mengambil napas panjang. Perlu waktu lama mengumpulkan keberanian menghadapi hari ini. Maka dari itu, Raka tidak ingin semua usahanya gagal hanya karena keegoisan yang kembali mengusai diri. Ia bertekad akan menjabarkan semua ketidakcocokan mereka.

“Kedengarannya lucu. Tapi aku mengakui, kutipan anehmu ada benarnya juga. Peluangku nol. Dan tau pasti pemilik nol koma darimu.”

Kali ini berganti Aleta yang menahan napas. Debaran dalam dada kembali mengencang. Letupan perasaan yang tertahan ingin detik ini juga ia lepaskan.

Kejanggalan membuat Raka ingkar janji. Ia dengan lancang menarik kain putih yang melingkupi salah satu karya Rendi. Aleta seolah memutar ulang reaksi Raka.

“Itu...” Aleta tidak bisa berkata-kata.

Raka menyambung ucapan Aleta. “Iya, itu kamu. Rendi diam-diam menuangkan semua ingatannya tentangmu.”

“Tapi, kenapa?” Netra Aleta bergerak kesana kemari. Mencari jawaban sendiri.

Raka berdecak. “Kamu memang aneh. Sudah jelas di depan mata, masih saja bertanya. Apa yang selalu aku bilang, kamu memang enggak cocok membuat roman picisan. Menerjemahkan perasaan sendiri saja gagal, bagaimana mau menyelesaikan konflik orang lain?”

“Aku serius, Ka.” Aleta sedang tidak ingin bercanda. Apalagi bermain tebak-tebakan. Aleta hanya ingin tau maksud lukisan dihadapannya.

“Lalu apa yang Reynan lakukan waktu tau Aluna akan mencari takdir di belahan bumi lain?” Seperti biasa. Istilah menyebalkan tak bisa berjauhan dari Raka. Atau mungkin sudah menyatu dengan raga lelaki itu.

“Menyusul Aluna,” jawabnya lelah.

“Aku yakin otak minimu tidak bisa menerjemahkan perasaan dua manusia itu.” Aleta menatap tajam Raka. Lancang sekali menghina.

“Bukan waktunya berdebat, Leta. Rendi sama seperti Reynan yang sangat percaya dengan Aluna. Mungkin juga sudah punya perasaan lain dengan gadis lugu itu. Cinta.”

Aleta menggigit bibir bawah. Menyadarkan bahwa semua ini memang nyata. Bukan halusinasi, ataupun mimpi di siang bolong.

Raka meninggalkan Aleta terpaku. Membiarkan gadis itu memahami perasaannya. Aleta terlalu sering menganggap semua serupa, hingga lenggah dengan perasaan lain yang bisa tumbuh kapan saja. Dua orang itu sama. Raka muak.

“Lebih jelas, kamu bisa tanyakan sendiri pada pelukisnya. Dia baru akan kembali besok. Kamu hanya perlu menunggu di ruangan itu.” Aleta menelan ludah kasar. Bertanya pada diri sendiri, seberapa siap bertemu kembali dengan pemilik nol komanya. Juga seberapa kuat menahan seluruh perasaan membuncah dalam dada.

Dering keras ponsel membuat ruangan yang semula diisi suara napas teratur mendadak ramai bak tempat hiburan. Bukan menyenangkan, Aleta justru merasa tertekan. Berita dari seberang membuat air matanya meluncur bebas.

Peluang mereka terjun ke jurang nol. Tidak ada kata besok. Karena hari ini, Aleta terpaksa merelakan semuanya.

Bab 13 - Part 1

4 0

Kepergian dan merelakan adalah dua hal yang saling berkaitan. Akan membekas menjadi penyesalan apabila berat pada satu sisi. Karenanya, kepergian perlu dipersiapkan dan merelakan harus segera diupayakan.

 

Kepala Aleta tertunduk di samping ranjang pesakitan. Sosok yang terbaring sudah sekian menit menatapnya dalam diam. Tidak bersuara sebab gadis itu tampak damai dalam tidur lelap. Sisa air mata yang mengering membekas jelas di pipi. Agam tidak tau, berapa lama Aleta menghabiskan waktu dengan mengutuk diri. 

Atensi Agam teralihkan dengan kedatangan Anjani. Agam terlambat memberi isyarat pada wanita itu.

“Ayah sudah bangun dari tadi? Ada yang sakit? Atau mau aku ambilkan minum lagi?” Rentetan kepanikan Aleta dibalas Agam dengan senyum lemah. Ia meraih tangan Aleta. Membawa dalam genggaman hangat.

“Kalau ada yang Ayah inginkan, jangan ragu memberitauku.” Agam mengangguk. Anjani menyodorkan potongan buah padanya. Aleta merasakan kehampaan, genggaman mereka terlepas.

“Ayah ingin mendengar cerita kelanjutan karyamu, Leta,” tanyanya sebelum menyantap pemberian Anjani.

Aleta terdiam. Mustahil ia bisa mengabulkan keinginan Agam.

“Kenapa? Apa sudah selesai?” Agam mengulurkan tangan, meminta kembali santapan dari Anjani. Ia memiliki banyak waktu menunggu Aleta menjawab.

“Aku terpaksa berhenti,” gumam Aleta. Saking lirih, Agam sampai harus menerka sendiri ucapan Aleta.

“Tidak peduli sudah sejauh apa, aku tidak akan kembali lagi. Aku sudah siap menggantikan Ayah.” Aleta memasang senyum memaksa. Agam melihat kilatan kepedihan di netra gadis itu.

“Jangan gegabah, Leta. Pikirkan ulang sebelum kamu telanjur menjalani. Kesempatan mahal harganya.”

Hancur sudah pertahanan diri Aleta. Air matanya kembali meluncur bebas. Anjani sampai berhenti hanya untuk memastikan Aleta baik-baik saja. Gadis itu membalas dengan rentetan anggukan. Ia tidak bisa berkata-kata. Rasa bersalah masih menguasai.

Agam sabar menunggu tangisan Aleta reda. Alana yang baru datang, ikut menghentikan langkah di depan pintu. Aleta tengah larut dalam penyesalan.

Meski dengan napas tersengal, Aleta sudah mulai bisa mengendalikan diri. “Aku tidak mau kejadian itu kembali menimpa ayah. A-aku... Aku...” Suara Aleta kembali melirih. Tak sanggup melontarkan kalimat yang sudah terkumpul.

Tidak seperti sebelumnya, Alana sudah melenggang santai memasuki ruangan. “Astaga, air matamu apa tidak habis, Leta? Atau kamu sudah beli stok banyak?” Pukulan ringan Anjani mendarat mulus di lengan Alana. Mengingatkan gadis itu agar tidak mengusik putri bungsunya.

Aleta mengusap mata kasar. Mengabaikan sisa air mata yang berhamburan di lengan baju. Tarikan napas mengawali kesiapan Aleta menyuarakan kalimat lanjutan.

“Aku belum siap ayah tinggal pergi.” Kali ini keheningan menguasai ruangan putih berbau obat itu.

Alana yang akan menyerukan ejekkan, terpaksa menelan lagi. Ucapan Aleta mengusik hati. Sama, ia juga belum siap.

Hembusan napas berat Agam mulai terdengar. “Di dunia ini tidak ada yang siap dengan perpisahan, Leta. Bahkan banyak orang yang juga gagal merelakan. Terima perlahan, biarkan kepergian dan merelakan menjadi bagian dari hidupmu.”

Aleta merenungi penuturan Agam. Elusan lembut di pundak membuat Aleta mendongak. Senyum menenangkan Anjani terbit.

“Datang dan pergi itu sudah menjadi hukum alam, Leta.” Anjani menyambung penuturan Agam.

“Lagi pula Ayah sudah baik-baik saja. Hari ini bukannya Ayah sudah boleh pulang, ya, Alana?” Agam melempar kedipan mata berulang pada Alana. Berharap gadis itu membantu.

Alana tersenyum sumbang. Lucu juga melihat Agam berlagak sehat di depan Aleta.  “Iya, Yah. Tapi harus istirahat total dulu, karena ayah belum pulih sepenuhnya.”

Aleta menatap lekat Agam. Menunjukkan kelegaan hati. “Nanti urusan kebun biar aku dan kak Alana yang ambil alih, Yah.” Agam menyetujui dengan anggukan.

Dua hari yang lalu, Agam ditemukan tak sadarkan diri di ruang kerjanya. Tanpa pikir panjang, Alana menyuruh Aleta untuk pulang. Ia menduga karena Agam terlalu memaksakan diri memberi kejutan. Belum sampai rampung, tubuh Agam lebih dulu limbung tak kuat menahan besarnya keinginan.

Kini Alana merasa bersalah pada gadis itu. Karenanya Aleta memutuskan berhenti menapaki jalan baru. Dalam artian, Aleta melepas semua mimpi yang ia perjuangkan sejak lama.

Alana menatap Aleta penuh arti. Berharap, gumamannya setelah ini tidak sampai terdengar.

“Maafkan aku, Aleta.”

Bab 13 - Part 2

175 0

“Aleta, aku turut berduka cita.” Suara lirih Chandra memaksa Aleta mendongak. Raut muka lelaki itu menunjukkan kesungguhan.

“Semoga naskahmu tenang di alam keabadian.” Wajah serius Chandra lenyap. Digantikan tawa membahana yang sukses mengundang pukulan ganas Alana.

Aleta yang semula murung, tak kuasa menahan tawa. Perseteruan keduanya menjadi hiburan tersendiri.

“Bukannya aku sudah bilang? Jangan mengungkit hal itu di depan Aleta,” jelas Alana berbisik di telinga Chandra.

Sayangnya tidak cukup lirih. Sebab Aleta sudah menggulung tawa.

“Maaf, aku lupa.” Alana menyikut Chandra kasar.

Mau seberapa sering pun, Chandra selalu mengulangi hal yang sama. Menjadikan lupa sebagai alasan. Untungnya Chandra tidak sampai lupa nama Alana. Karena kalau sampai hal itu terjadi, Alana tidak segan mendepak lelaki itu dari hidupnya.

“Ayo, Aleta. Ikut aku melihat ruangan baru di rumah ini.” Alana mengulurkan tangan, membantu Aleta berdiri dari duduk.

“Ruang apa itu, Kak? Ruangan Ayah pindah? Atau ruang kerja untukku?” cerca Aleta meminta kejelasan. Namun, Alana hanya menyematkan senyum tipis penuh misteri.

Chandra membuntuti dari belakang. Menjadi bayang-bayang Alana adalah kesibukkan tersendiri. Sedangkan hobinya adalah membuat Alana merasa terganggu. Keresahan akan melanda hati, jika dua hal itu tidak ia lakukan.

Suara decitan pintu menyapa pendengaran mereka. Netra Aleta disilaukan dengan tampilan dalam ruangan yang di maksud Alana. Ia tercekat. Bukan dejavu seperti yang banyak orang katakan, ini nyata. Interior ruangan mirip dengan galeri lukis Rendi.

“Ruangan apa ini, Kak?” Aleta mengikuti langkah tegas Alana. Apa ini yang disebut kebetulan. Ataukah memang ada campur tangan ajaib.

Alana merangkul lembut pundak Aleta. “Ruangan ini hadiah untukmu. Sekaligus penyebab utama Ayah menghuni ranjang pesakitan.”

Rangkulan Alana terlepas. Gadis itu berjalan menuju sudut ruangan. Diikuti Aleta. “Setelah kamu kembali ke kota, Ayah gencar memburu karyamu. Seluruh desa ini mengenal tulisanmu, Leta” Aleta membiarkan mulutnya terbuka.

“Ayah bahkan tidak bosan membacanya setiap sore. Ia dengan bangga mengatakan pada seluruh karyawan, sedang menunggu karya terbarumu. Dalam artian, keputusanmu sudah disetujui.” Semua ini terlalu mendadak untuk Aleta. Ruangan ini dan keputusan Agam. Aleta tidak bisa berkata-kata.

Alana terkekeh. Terlintas ingatan lelaki aneh yang beberapa minggu lalu mendatangi Agam. Mengaku teman Aleta, tetapi enggan menyebutkan nama. Anehnya lagi, Agam begitu saja menerima kehadiran sosok tersebut. Tanpa menyematkan kecurigaan yang biasa pria itu lakukan pada orang baru di lingkungan mereka.

“Ayah sangat berterima kasih. Berkatnya, Ayah tau hal yang menjadi kesukaanmu.” Dada Aleta terasa seperti ditikam. Berbagai nama mulai bermunculan. Namun, ia sangat berharap salah satu nama itu tidak disebut oleh Alana.

“Siapa, Kak?” cicitnya. Baik Aleta, maupun Chandra, menunggu kesaksian Alana.

“Dia enggak mau menyebutkan nama. Pagi ini barang besar itu datang. Hadiah untukmu.” Alana menunjuk barang di samping meja kerja Aleta, membiarkan gadis itu mencari jawaban sendiri.

Tangan Aleta bergetar saat menyentuhnya. Aleta berharap tebakkannya salah. Ia ingin bebas dari kenangan lama. Meninggalkan sesuatu tanpa kejelasan memang menyakitkan. Namun, Aleta akan merasa lebih menderita saat mengetahui semuanya. Karena sudah pasti, ia tidak bisa sekadar menoleh kebelakang.

Aleta membuka dengan kasar. Tidak peduli isi di dalamnya terkoyak. Ia ingin mendapatkan kebenaran. Gerakan tangan Aleta mendadak terhenti. Tubuhnya meluruh bersamaan dengan selembar kertas pengantar hadiah istimewa.

 

Untukmu Aleta.

Bersama dengan lukisan ini, aku kembalikan nol koma. Aku rasa kamu lebih membutuhkannya. Selamat menyusun mimpi baru.

Dari aku yang lagi-lagi lupa berterima kasih padamu, Rendi Dananjaya.

Bab 14

126 0

Semoga kita bukan pemilik kekecewaan sebab pernah melewatkan kesempatan.

 

Tahun berlalu. Mimpi baru datang silih berganti. Waktu dengan berani menyombongkan diri, sebab ia berhasil mendewasakan gadis penuh mimpi.

Langkah makin tegas. Tatapan kian menajam. Pikirannya mampu dengan cepat menyolusi rintangan yang menghadang. Ia tetaplah Aleta yang kini lebih senang disebut manusia dewasa.

Saat Alana dengan pasrah menerima Chandra, Aleta salah mengira gadis itu tidak memiliki impian. Ia saja yang tidak tau, mimpi mereka ternyata sangat berbeda. Kini giliran dirinya yang terjebak dalam perjodohan konyol. Memang susah menolak permintaan Agam.

“Aleta, ayo! Ayah sudah menunggumu.” Aleta membalas dengan gumaman. Tak suka diinterupsi.

“Nanti kita bertemu lagi, ya, Cantik. Aku pergi-”

Alana kembali dengan sentakan. “Kamu enggak lihat di luar sudah gelap? Kalau mau pulang basah kuyup jangan ajak aku!” putusnya berjalan lebih dulu.

Aleta tidak bereaksi. Masih sibuk menatap lukisan di hadapannya. Bukan di ruangan pribadi, Aleta memilih memajang di ruang sunyi.

Mimpi barunya lebih menakjubkan. Selain mengambil alih perkebunan, Aleta juga mengepakkan sayap mendirikan perpustakaan di desa. Memang tidak sebesar ruang sunyi yang dulu, tetapi cukup nyaman sebagai tempat mengembangkan imajinasi.

“Harusnya aku enggak ragu menyuruh Chandra menyingkirkan benda itu.” Gerutuan Alana bagaikan angin lalu. Aleta muak dengan ucapan Alana yang hanya mengendap sebatas gertakan.

Angin dingin makin terasa. Pertanda langit siap menurunkan ribuan liter air mengguyur semesta. Dari kejauhan samar-samar terlihat Chandra mengendarai motor menuju mereka. Aleta bisa menebak, lelaki itu pasti datang menjemput Alana. Makin besar perut Alana, makin berisik pula kekhawatiran Chandra.

“Alana, kenapa kamu selalu membantahku? Jalan setapak ini berbahaya untuk anak kita.” Aleta memutar mata.

Dulu ia memang penggemar pasangan itu. Tingkah lucu Chandra dan sikap ketus Alana menjadi hiburan tersendiri. Namun, sekarang berbeda. Aleta muak menyaksikan keduanya yang tidak tau tempat mengumbar kemesraan.

Entah pergi ke mana sikap ketus Alana. Setelah resmi menikah, gadis itu sangat patuh dengan titah Chandra. Tidak salah Agam menjodohkan mereka.

Seperti biasa, Aleta menyusuri perkebunan seorang diri. Sudah hampir tiga tahun, tetapi jalan menuju Pena Putih tidak bisa lepas dari ingatan. Ia terjebak dalam kubangan kenangan. Sangat disayangkan, Aleta juga mengakhiri terjun di dunia kepenulisan. Sepele, sebab di sana ada kenangan yang susah dilupakan.

Aleta bukan manusia super yang bisa dengan mudah menyembunyikan kepedihan. Alana selalu memergoki saat ia tengah terpuruk. Lucu memang. Pengalaman pertama berujung dengan kesakitan.

Rintik hujan mulai datang. Kali ini Aleta membiarkan tubuhnya diguyur air penuh kenangan itu. Seletah waktu sulit yang ia lewati, ternyata hujan tidak kembali menebar kebahagiaan.

Aleta janji, setelah ini ia akan melupakan semuanya. Karena di ujung sana ada yang siap memberinya kebahagiaan lain. Tampak mobil hitam terparkir apik di halaman. Pasti lelaki pilihan Agam sudah tidak sabar menunggu dirinya di dalam rumah.

Aleta menarik napas panjang, mempersiapkan diri. Tidak luput melatih senyum semanis mungkin agar terkesan baik di mata masa depan.

Langkah Aleta terhenti saat sebuah payung menghalangi guyuran hujan pada tubuhnya. Begitu tau si Pelaku, tubuh Aleta makin tak bergerak. Lelaki itu sedikit berubah. Guratan dewasa tampak jelas menghiasi wajahnya.

“Hai, sejak tiga tahun lalu aku memutuskan berhenti minum green tea. Ternyata ada rasa lain yang lebih aku suka.”

Senyum Aleta terbit bersamaan dengan linangan air mata. Lelaki tidak tau diri itu ikut tersenyum.

“Rasa apa itu?” cicit Aleta sekuat tenaga mengontrol suara.

Kekehan yang ia rindukan mengalun merdu. “Aku tebak, kali ini kamu berhasil mewujudkan mimpi.”

Aleta mengangguk ragu. Tidak semua, ada satu mimpi yang tidak berhasil menjadi nyata.

“Itulah sebab aku ada di sini.” Aleta mengernyit. Tidak paham dengan ucapan lelaki itu.

Senyum yang Aleta rindukan kembali terbit. “Aku ingin mengambil kembali nol koma, lalu bersamamu menjadikannya satu. Karena rasa yang aku suka tertinggal di kamu, Aleta.”

Bukan lagi tersenyum, kali ini Aleta tertawa dalam tangis. Kesempatan yang sama menghampiri. Inikah permainan semesta? Lagi-lagi, mimpi yang semula ia kira tingal di angan, ternyata akan segera di mulai.

Aleta menyambut kembali masa lalu yang akan menjadi masa depan.

Selamat datang mimpiku, Rendi Dananjaya.

 

Tamat.

Mungkin saja kamu suka

Amanda Munandar
Answering Time
My Youra
Menggapai Impian
Uslifatunisa
Surga di balik Luka
Syarifah Fathin
Dear Mine; Do Your Best
Khaerul Bariyya...
Jalan Menuju Baitullah

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil