Loading
1

0

1

Genre : Romance
Penulis : Sumi Roma Yani (Sumiryni)
Bab : 29
Pembaca : 3
Nama : Sumi Roma Yani
Buku : 1

Janda Bodong with Duda Keren

Sinopsis

Siapa sih yang mau menjadi janda? Begitu juga Sarkini, tidak pernah ia harap untuk menjanda di usia muda. Ia terpaksa menyandang status janda karena diceraikan lewat SMS. Gara-gara tak mau dimadu suaminya nekad meninggalkan Sarkini. Please, jangan nyanyi! Karena memang seperti itu yang dialami Sarkini kayak lagu Janda Bodong. Tanpa surat cerai, ditinggalkan begitu saja. Namun, sesosok Duda Keren hadir di hidup Sarkini. Bisakah ia menerima sang duda, setelah mengalami luka di pernikahan pertama?
Tags :
#pernikahan #cintasegitiga #kisahcinta #kesabaran #rumahtangga #komedi #romantiskomedi

Bab1 Sayang Enggak?

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 1421

 

Bab1 Sayang Enggak?

 

 Bang Omar, lelaki yang kata orang kampung adalah Juragan Empang itu, kini sedang membelai lembut rambut seorang perempuan.

 "Sar, beneran kan kamu enggak kutuan?" tanya laki-laki berkumis tipis itu menatap Sarkini. Ya, dia memastikan saja ucapan tetangga dan Ibu-Ibu Rempong itu enggak bener.

 "Enggak, Bang! Kata siapa?" Sarkini bangun dari pangkuan Bang Omar, marah dong, enggak terima tepatnya. Masa dia yang cantik dengan rambut bergelombang itu dikatai kutuan sih. Ih amit-amit deh.

 Dahi Bang Omar mengeryit. "Marah, ya?" godanya sambil menyapit dagu janda cantik itu.

 Sarkini pura-pura merajuk dengan dua tangan yang bersedekap. "Ya iyalah, masa aku kutuan sih, Bang? Aku cantik gini Abang bilang kutuan, kata siapa juga itu?"

 "Kata Ibu-Ibu, Janda Cantik Tukang Tutut itu emang kutuan, makanya banyak dari suami mereka yang ngibrit enggak mau deketin."

 Sarkini, si Janda Bodong itu mendelik kesal. Namun, Omar tak membiarkan mulutnya mengatakan apa pun.

 Omar mengelus bahu wanita berkulit putih bersih itu dengan lembut. "Sayang, tapi itu justru jadi keuntungan lho buat Abang," imbuhnya sambil tersenyum.

 "Keuntungan, keuntungan apa?"

 "Jadi, enggak ada cowok lain yang bakal godain kamu selain Abang." Omar kembali mencubit dagu Sarkini, membuat wanita itu tersipu-sipu.

 "Ih, Abang," katanya dengan pipi memerah. Lantas setelahnya Sarkini beringsut, mendekatkan posisi agar bisa berdekatan dengan sang kekasih.

 Namun, bukan untuk memeluk. Dirinya justru menatap lurus ke arah pesawahan di hadapannya. Hijau dan udara sejuk dapat tercium segar pagi ini.

 "Sar," panggil Omar tiba-tiba memecah keheningan.

 "Apa, Bang?" Sarkini sedikit mendongkang.

 "Kamu beneran sayang kan sama Abang?"

 "Sayang," jawab Sarkini datar.

 "Serius?"

 "Tapi bohong!" Gelak tawa Sarkini terdengar renyah. Ia begitu senang, apalagi saat melihat wajah Omar yang cemberut macam curut. Eh, enggak sih. Bang Omar bagi Sarkini tetap tampan meskipun cemberut.

 "Enggak lucu, ya!" Omar mencubit gemas hidung mancung Sarkini. "Kamu itu, Abang nanya serius ini, kalau kamu beneran udah sreg dan sayang sama Abang. Bulan depan Abang kawinin kamu."

 "Kawin? Ya kali Bang aku domba, janji dikawin aja," sahut Sarkini tanpa melepas pandangan dari depan.

 "Jadi?" Omar kembali mencari jawaban. Kalau boleh jujur, ia memang sudah lama mendamba Sarkini, berharap bisa menjadikannya pendamping hidup, menggantikan sang mantan istri.

 "Aku enggak bisa, Bang," jawab Sarkini lesu. "Aku belum ada surat cerai. Kan Abang juga tahu sendiri kondisi aku kaya apa, jadi janda tapi janda bodong."

 Omar ikut prihatin dengan apa yang menimpa Sarkini. Janda yang tidak memiliki surat cerai, ditinggal suami kawin lagi. Memang terjadi pada Sarkini bukan cuma lantunan lagu dangdut yang sempat booming itu.

 Dengan inisiatifnya Omar mengelus lembut puncak rambut Sarkini. "Tenang aja, Abang bakal nungguin kamu sampai kapanpun," ujarnya yakin.

 "Ah, masa, Bang? Jangan bercanda, enggak lucu!" Sarkini kemudian berdiri. Ada sesuatu di pikirannya, membuat Janda Ayu itu harus segera beranjak.

 "Eh, mau ke mana?" sergah Omar sambil mencekal tangan Sarkini.

 "Ya, jualanlah, apa lagi?!"

 "Em, yakin enggak mau temenin Abang di sini?" tanya Omar memastikan.

 Suasana sawah yang berwarna hijau memberi kesan sejuk dan tenang. Jika ditanya mau hati Sarkini, tentu saja dia juga ingin memilih duduk di saung dan bersantai di sana. Menikmati secangkir kopi dan kue mungkin enak juga.

 Namun, tidak bisa. Karena kewajiban untuk mencari nafkah tentu saja lebih menjadi prioritas. Sarkini yatim piatu dan untuk makan dia memang mencari sendiri.

 "Enggaklah, Bang. Nanti-nanti aja kalau ada waktu," sahut Sarkini, lalu hendak mengambil wadah dagangannya, sebuah baskom besar berisi bungkusan tutut yang sudah masak dengan bumbu kuning.

 "Em, kalau aja kamu udah jadi istri aku. Enggak usah deh kamu jualan Tutut kaya gini, enggak harus monyong-monyong lagi." Omar tampak sedikit kesal, karena keinginan hatinya belum terpenuhi.

 "Ya emang jualan Tutut harus monyong ya kali mingkem." Ucapan Sarkini membuat Omar terkekeh.

 Benar juga apa yang dikatakan perempuan di depannya. Omar pun ikut berdiri.

 "Abang mau ke mana?" tanya Sarkini sambil menggendong barang dagangan.

 "Pulang ah, enggak asik enggak ada kamu di sini, enggak ada temen curhat." Omar merapikan kemeja, lalu melangkah lebih dulu.

 Sarkini diam. Jujur, dia juga memang tertarik pada duda itu. Tetapi, masalah statusnya cukup membuat Sarkini sulit menjalin kisah asmara yang baru.

 "Malah bengong, ayo, Say!" ujar Omar menyadarkan lamunan Sarkini.

 "Eh, iya, Bang."

 Mereka pun berjalan bersama di jalan kecil di sawah itu. Sementara, Sarkini jualan, Omar benar-benar pulang ke rumahnya. Rumah laki-laki itu berada di samping jalan dekat sawah. Sawahnya juga memang milik dia. Bisa dibilang Omar orang yang cukup tajir di kampung itu.

 Untuk Sarkini sendiri, dia biasa berjualan dari jam tujuh pagi, lalu pulang sekitar dzuhur hari. Janda itu tidak punya siapa-siapa di rumah. Rumah gubuk yang dimilikinya pun memang peninggalan mendiang sang orang tua.

***

 Siang saat adzan sudah berkumandang, Sarkini baru sampai rumah. Ya, seperti biasa, dia melakukan rutinitas harian. Biasanya ia akan sangat sibuk, mengangkat jemuran, mencuci piring, membersihakan Tutut, lalu memasak. Kegiatan itu bisa Sarkini lakukan sampai sore.

 Setelahnya, ia biasa mencari Tutut di sawah hingga magrib. Namun, setelah dekat dengan Omar, dengan baik hati duda kece itu membantu Sarkini dengan membelikan Tutut, tanpa harus Sarkini mencari susah payah.

 Di usia yang baru menginjak 20 tahunan, Sarkini memang tampak menjadi Janda Kembang. Setiap kali ke warung ada saja cowok-cowok yang menggodanya.

 "Hey, Cantik!" ujar seorang pemuda saat Sarkini tengah memilih sayur di warung.

 Sarkini tidak menyahut kecuali dengan senyum. Ia tahu untuk tidak membuat masalah. Kalau saja dijawab, kebanyakan cowok-cowok itu melunjak dan malah terus menggoda.

 "Heh, lu Anak Kemarin Sore! Kecil-kecil udah godain cewek," sembur si ibu pemilik warung.

 "Eh, kenapa sih, Mak? Udin cuma nyapa Teh Sarkini aja, ya kan, Teh?" Anak remaja itu kembali tersenyum genit pada Sarkini.

 Untung saja, Sarkini selesai dengan belanjaannya. Lekas ia membayar, tidak mau mendengar kata-kata lain yang mungkin akan menyakiti hatinya.

 "Dasar Bocah! Godain tuh yang bener. Jangan ini mah godain janda! Mana janda enggak jelas lagi! Disebut janda bukan, perawan apalagi." Sindiran yang sangat menohok hati Sarkini. Ibu pemilik warung itu memang mulutnya seperti comberan.

 Sarkini terpaksa datang ke warung ini karena warung yang biasa ia hutangi tutup. Perempuan cantik itu menghela napas, untuk kemudian Sarkini menyodorkan uang pada si ibu.

 "Dua puluh ribu semuanya, Bu," kata Sarkini sambil memberikan uang.

 "Iya," ketus si Ibu, membuat Sarkini lekas beranjak pergi.

 Memang hidup tidak selalu mulus. Begitu juga jalan hidup Sarkini. Setelah menjanda, tidak sedikit orang yang menyindir statusnya. Pada awalnya Sarkini merasa putus asa.

 Namun, kedatangan seseorang di hidup Sarkini sedikit banyak membantu Sarkini bangkit. Sosok itu bukan si Omar, tapi ibu paruh baya baik hati yang selalu datang padanya tiap malam. Ibu itu adalah ibunya Omar, dia baik dan tidak pernah memandang rendah status Sarkini.

 "Ini, Bu," ucap Sarkini saat memberikan sebuah bungkusan makanan pada Bu Popi.

 "Ya Allah, Neng kok repot-repot sih? Ibu kan enggak bilang harus sekarang belinya. Omar juga bisa beliin. Kok kamu malah jadi repot-repot begini?" Ibu dari duda keren itu tampak tersenyum manis.

 "Enggak apa-apa, Bu. Sarkini kebetulan lewat jalan gang, eh liat tukang bakso pas banget aku ingat ibu pengen bakso."

 "Duh, Ibu jadi enggak enak. Yuk atuh masuk dulu," pinta Ibu berjilbab syar'i itu.

 "Ah, enggak usah, Bu! Kerjaan di rumah masih banyak. Insya Allah minggu aja Sarkini ke sini," tolak Sarkini dengan halus.

 "Ya udah enggak apa-apa." Bu Popi membuka dan melihat isi kresek. "Oh, ya Sar. Ibu malam ini kayanya enggak bisa ke rumah kamu. Biasa nih encok Ibu kambuh jadi mau diistirahatin dulu," jelas Bu Popi sambil menatap Sarkini.

 "Ya Allah, Ibu. Enggak apa-apa kok. Sarkini bungkus sendiri aja Tututnya. Sarkini enggak enak terus repotin Ibu."

 "Enggak repot ih! Kaya sama siapa aja. Kan calon mantu," ujar Ibu paruh baya itu membuat pipi Sarkini bersemu.

 "Ah, Ibu bisa aja." Sarkini kemudian mengulurkan tangan. "Kalau gitu saya pamit ya, Bu."

 "Ya udah iya, hati-hati di jalan, ya," sambut Bu Popi menerima ciuman tangan dari Sarkini.

 Begitulah Sarkini, tidak pernah ia hiraukan apa-apa kata tetangga. Dirinya lebih fokus pada diri sendiri. Sarkini membalas kebaikan orang lain lalu mengabaikan ocehan mereka yang menyakiti. Toh, gunjingan dari siapa pun juga tidak akan membuatnya tumbuh, malah akan menghancurkan jika dipikirkan.

 Lagi pula, jika diingat, Sarkini sudah sering meneima caci maki dari sang mantan suami. Ia selalu mengatai Sarkini dengan kata-kata kasar. Memang tidak pernah memukul tapi mulutnya selalu menampar hati Sarkini.

 Namun, sudahlah itu sudah berlalu. Sudah sekitar tiga bulan mantan suaminya itu memang tidak ada kabar. Sarkini tidak peduli, setidaknya ia masih bisa hidup tanpa sosok suami. Bukannya itu lebih baik, Sarkini sekarang tenang tanpa sosok suami yang bisanya cuma menyakiti.

 "Sarkini!" Suara seseorang menghentikan langkah Sarkini yang hendak pulang.

 "Iya," sahut Sarkini membalik badan tanpa sedikitpun rasa curiga.

 Akan tetapi, seketika matanya membulat sempurna saat tahu siapa yang barusan memanggil namanya. "Lu-ki?"

 

Bab2 Setelah Berpisah

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 1076

 "Mau apa kamu?" tanya Sarkini saat sudah di rumah. Oh, ya cowok yang tadi memanggil namanya juga ikut pulang. Lebih tepatnya membuntuti sampai rumah.

 "Punya duit enggak, lo?!" Selalu begitu, jawaban Luki ketus dan kasar.

 Dia adalah mantan suami Sarkini. Cowok yang cuma beda satu tahun darinya, tapi kalau masalah muka tu orang emang kaya udah tua. Kalahlah sama si Omar.

 "Enggak! Uang dari mana?" Sarkini sekarang berani menjawab ketus enggak seperti dulu, selalu mengalah dan mengalah sama mantan suaminya itu.

 "Boong ya lu!" Mata cowok itu melotot ke arah Sarkini macam mau keluar saja. Sarkini bahkan bergedik, tapi tidak mau menangis lagi seperti dulu.

 Si Luki malah mengubrak-ngabrik isi lemari Sarkini. Sarkini dibuat terbelalak dengan itu. Luki mengeluarkan semua isinya sampai berserakan di lantai.

 "Nyari apa sih kamu? Kan aku bilang enggak punya uang?!" sentak Sarkini marah. Bukan apa-apa sih, itu lho semua baju Sarkini keluar semua mana ada kacamata dan Segitiga Bermuda juga. Kan malu kalau sampai orang tahu atau enggak sengaja lihat.

 Kalau dideskripsikan ya, lemari itu memang ada di ruang tamu, tepat sekali berhadapan dengan pintu utama.

 "Diem lo!" bentak Luki tepat di wajah Sarkini. "Bohong mulu lo! Lo kan dagang masa enggak punya duit?"

 "Ya, kan aku belikan keperluan rumah." Sarkini berjongkok untuk memunguti pakaian di lantai.

 "Alah, alesan aja lu! Mana dompet lu?" Dengan tidak sopan Luki mencari sesuatu di dalam keresek hitam yang ditaruh Sarkini di atas meja. Tentu saja dia mencari dompet mantan istrinya itu.

 "Eh, Ki! Kamu enggak sopan banget sih? Aku bilang aku enggak punya uang!" kata Sarkini dengan tatapan berapi.

 "Ini apa?" Luki mengangkat dompet hitam tipis milik Sarkini.

 Sontak Sarkini menjatuhkan lagi baju-baju yang sudah di tangan. Berhamburanlah lagi baju-baju itu di lantai. Dia berlari ke arah cowok berambut sedikit acak-acak itu, untuk merebut dompetnya kembali.

 "Jangan! Balikin enggak?!" ancam Sarkini sambil jingjit-jingjit berusaha mengambil dompet itu. Maklumlah mantan suaminya memang lebih tinggi dari Sarkini.

 "Minggir lo!" Luki tega mendorong Sarkini hingga jatuh ke lantai.

 Sarkini hanya bisa menghela napas lelah. Menyakitkan memang perlakuan Luki, tapi sudah biasa sih. Sekarang Sarkini tidak mau terlihat lemah di hadapannya.

 Sarkini berdiri merapikan bajunya yang sedikit kusut. "Buka aja kalau berani? Aku jujur kok, emang enggak punya uang," ujar Sarkini tegas.

 "Dasar pelit lo! Enggak inget apa? Selama lo hidup sama gue lo tuh makan dari gue, semua dari gue. Sekarang, giliran gue minta duit aja susah banget." Luki membuka dompet Sarkini, tapi zonk enggak ada isinya sama sekali.

 Ya, benar. Sarkini memang sudah membelikan uangnya untuk keperluan makan lalu juga untuk bahan jualan Tutut besok.

 "Dasar kere!" umpat Luki sambil melempar dompet tepat ke badan Sarkini.

 Sarkini dibuat menunduk sesaat. Namun, suara derap langkah mantan suamiya itu membuat Sarkini sadar. Lekas ia mengangkat wajah, lalu dengan lantang berteriak.

 "Tunggu!" pekiknya membuat Luki berhenti.

 Jantung Sarkini berdebar-debar. Hatinya mendadak panas. Malahan jadi seperti di film-film saja. Hampir saja lututnya ikut bergoyang saking merasa tegang untuk bicara.

 Seperti di film-film, suasana mendadak tegang. Pria di depan Sarkini membalik badan perlahan, tatapannya tajam menusuk menatap sang mantan istri.

 "Apa? Lo kangen sama gue dan mau berharap gue kembali lagi sama lo kaya dulu, gitu?" Sungguh pede laki-laki biadab satu itu. Sarkini dibuat terkekeh mendengarnya.

 "Cih, ogah! Aku bukan mau minta balikan," tukas Sarkini tegas, "aku enggak mau ya balik lagi sama cowok yang udah nyakitin aku, buat apa? Aku enggak butuh!"

 Mata Luki melotot, hatinya tertohok. Heran juga tapi lebih seperti perasaan enggak terima. Mantan istrinya berubah dratis, dia jadi seperti sudah lupa dengan perasaannya dahulu.

 Memang, Sarkini dulu sangat mencintai Luki. Bahkan ketika ditinggal Luki berselingkuh, Sarkini masih mampu memaafkan. Namun, setelah ditalak lewat SMS, Sarkini menyerah. Cintanya hanya menyakiti diri sendiri. Sarkini disadarkan pada satuh hal, cinta bukan yang membuat dirinya hancur atau malah membuatnya lupa pada diri sendiri. Cinta yang baik adalah cinta pada diri sendiri.

 "Heh, bisa banget lo bohong, pinter bohong lo ya sekarang," kata Luki percaya diri, "okelah, sekarang lo emang bisa bilang gitu, besok-besok juga lo bakal telponin gue, minta balikan sama gue, ya kan?"

 "Enggak! Aku cuma heran aja. Katanya istri kamu sekarang itu bekas Janda Tajir, tapi kok masih minta duit sama aku. Udah bangkrut dia, atau berhenti open BO?"

 "Lancang lo!" Nyaris tangan Luki melayang dan mendarat tepat di pipi Sarkini, bahkan Sarkinj sudah menutup mata.

 Namun, tangan seseorang berhasil mencekal tangan laki-laki itu. Si Luki langsung melirik si pemilik tangan yang menahan aksinya.

 "Jangan kamu berani nyakiti calon istri saya!" tegas Omar lalu menghempaskan kasar tangan Luki.

 "Siapa lo?!" bentak Luki berkacak pinggang. Dia tampak berpikir dan tak lama sesuatu akhirnya dia ingat.

 "Oh ...," ucapnya panjang, "lo duda so ganteng yang kegatelan sama istri gue, kan?"

 "Istri?" Dahi Omar mengerut. "Kamu lupa? Kamu kan udah nyerein Sarkini? Emang masih pantes kamu panggil dia istri kamu?"

 Luki cemberut. "Meskipun Sarkini udah gue ceraiin, tapi dia masih cinta sama gue."

 Ingin rasanya Sarkini memuntahkan bubur tadi pagi yang sudah ia makan. Sungguh, menjijikkan ucapan Luki. Dia berani sekali mengatakan itu, setelah menyakiti Sarkini. Sungguh tidak tahu malu.

 "Pede sekali anda," ketus Omar tersenyum miring. "Tapi Sarkini udah enggak sedikitpun punya perasaan sama kamu. Ada sih rasa benci paling."

 "Lancang lo! Tahu dari mana? Sarkini pasti lebih milih gu-"

 "Stop!" sergah Sarkini, "cukup, ya! Kamu jangan ngarang cerita! Aku enggak mau sama kamu. Pergi kamu sekarang!"

 "Awas lo, ya! Lo udah bikin gue malu dan terhina! Lo enggak akan pernah bisa bahagia, camkan itu!" ancam Luki melenggang keluar.

 Dengan wajah marah Luki pun terpaksa pergi. Kalau sudah diusir dan dibuat malu seperti itu dia bisa apa?

 Setelah kepergian Luki, Sarkini yang awalnya tampak kuat perlahan jadi murung. Wajahnya menunduk sendu. Omar adalah sosok yang cukup peka, dia faham perubahan wajah Sarkini tersebut.

 "Kenapa?" tanyanya lembut.

 "Sakit sih, sebenernya aku masih ngerasa direndahkan sama dia. Apalagi dia ngancam kaya, aku takut ...."

 "Hem, sabar!" Omar mengelus bahu Sarkini. "Lagian cuma ancama cowok tengik kaya dia, kamu jangan takut. Buat jajan aja dia masih minta duit sama kamu, emang dia bisa ngelakuin apa?"

 Sarkini diam, benar yang dikatakan Bang Omar, apa memang yang bisa dilakukan Luki? Dengan wajah ambsurd begitu apa mungkin dia bisa mewujudkan ancamannya tadi?

 "Udah, sekarang mending kita rapiin baju kamu," ujar Omar membuat Sarkini mendongkang.

 "Iya, Bang."

 "Abang bantuin, ya?" Omar berjalan ke arah baju Sarkini yang berserakan. "Eh, ini apa, Sar?" tanya Omar sambil mengangkat sesuatu.

 Eh, buset. Itukan segitiga bermuda warna pink miliknya. Sarkini hanya bisa melotot, lalu segera meraih dan mendekap celana itu. "Ih, Abang!"

Bab3 Masih Punya Luka

0 0

 

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 1179

 

 "Jadi gimana?" Omar bertanya untuk yang kesekian kali. 

 Namun, lagi-lagi Sarkini hanya bisa menanggapi dengan senyum. Ah, enggak tahu deh harus jawab apa. Kalau dijelaskan, pikiran Sarkini itu kayak enggak singkron sama isi hatinya.

 Hati Sarkini pengen menerima Bang Omar si Juragan Empang, tapi otaknya menolak dengan berbagai alasan. Selain karena Bang Omar orang kaya, merasa beda kasta, Sarkini juga masih terjerat luka masa lalu. Apa ya istilahnya? Ya, semacam trauma gitu. 

 "Diem lagi, Abang lamar juga ini," samber si Juragan Empang merasa gemas juga. 

 "Apa sih, Bang? Lamar sama siapa, coba? Aku kan di kampung ini cuma sendiri. Pura-pura lupa, ya?" Wajah Sarkini mendadak jadi lesu. 

 "Maaf," sesal Omar melihat Sarkini murung. "Kok jadi sedih gitu, sih? Apa sih yang bikin kamu ragu sama Abang?" 

 Sarkini menarik napas dalam. Dia pandangi halaman depan rumahnya yang sepi. Jalan depan sana pun tidak ada lalu lalang kendaraan. Maklumlah kan di kampung. Rumah Sarkini juga ada di pojok RT, yang cuma ada satu dua tiga rumah saja. Jadinya kalau sore sepi. Paling ada juga orang-orang yang lewat pulang ambil air dari sungai. 

 "Aku bukan enggak percaya sama Abang, cuma ...." Diam lagi, Sarkini ragu jika harus mengatakan perasaannya. Salah-salah, Bang Omar nanti salah faham lagi. 

 "Abang emang enggak seganteng mantan kamu itu, Abang juga enggak pinter gombal apalagi bikin janji-janji. Abang cuma ngerasa Sarkini cocok buat Abang. Apa yang kita lalui di masa lalu biarlah jadi masa lalu aja," tutur Omar serius. 

 Sarkini dibuat menatap laki-laki berperawakan tegap itu. "Abang," panggilnya tiba-tiba. 

 "Apa?" Omar membalas tatapan Sarkini. Dapat dia lihat wajah Janda Cantik itu memancarkan kesedihan. 

 "Kenapa Abang mau nikah lagi? Maksud aku ... Abang kan pernah sakit hati di pernikahan sebelumnya, apa Abang enggak takut ngalamin hal yang sama lagi nanti?" 

 "Kenapa harus takut? Abang nikah sama orang yang beda kok. Bukan buku yang sama yang mau Abang baca, Abang mau buka lembaran baru. Yang pasti kisahnya nanti juga bakal berbeda," jelas Omar membuat Sarkini terdiam. 

 Ada benarnya juga yang dikatakan duda itu. Menikahnya kan bukan dengan orang yang sama, hasilnya juga pasti beda, kan? 

"Kamu ragu?" Omar lagi-lagi bertanya. Pertanyaan yang selalu membuat Sarkini galau. 

"Sedikit, mungkin," sahut Sarkini mengambang.

 Betul-betul jawaban yang membikin Omar gemas. Dia pun lekas berdiri, bukan mau marah atau memaksa Sarkini untuk segera menjawab. Justru meregangkan otak, kemudian melirik Sarkini di sampingnya.

 "Abang tunggu jawaban kamu sampai besok," tegas Omar.

 "Hah? Besok? Kok cepet banget sih?" Sarkini menyatukan dua alis. Benar-benar duda ini ngebet kawin lagi kayaknya.

 "Enggak kok, Abang pengen bisa cepet-cepet halalin kamu." Bang Omar terkekeh. Rasanya memang terlalu terburu-buru, tapi kalau mau serius bagi Omar itu enggak buru-buru kok. Bukannya menuju kebaikan itu harus disegerakan?

 Sarkini hanya tersipu. Hatinya merasa berdebar mendengar ucapan Omar. Dia memang juga menaruh hati pada duda itu. Tetapi, rasa trauma seolah menghalangi untuk membuat kisah cinta yang baru.

 Namanya sakit hati, kadang lama sembuhnya. Kalau kata orang sih harus menemukan cowok baru. Atau ada yang bilang juga, luka itu akan sembuh seiring berjalan waktu, tapi entahlah Sarkini belum yakin tentang itu.

 "Udah sore, Bang," kata Sarkini ikut berdiri. "Abang sebaiknya pulang. Iya, besok aku akan kasih jawabannya ke Abang, tapi tolong jangan kecewa apa pun jawabannya."

 Omar genit mencubit dagu Sarkini. "Okey, Sayang."

 Sarkini mengulum senyum malu-malu. "Udah ah, sana!"

 Lucu saat perempuan berkulit putih bersih itu tersipu. Omar hanya bisa menahan senyum, melihat wajah Sarkini yang mulai memerah.

 "Iya, Abang pulang. Siap-siap jadi istri Abang, ya!" ujar Bang Omar kemudian melangkah menjauhi Sarkini.

 Mata Janda Muda itu melotot. "Jangan yakin dulu!" teriaknya, "kan aku belum ngasih jawaban."

 Omar yang sudah ada di jalan, menoleh lagi, lalu mengukir senyum. Masa bodo dengan tanggapan Sarkini. Di hatinya, Omar sudah sangat yakin Sarkini memang wanita yang ditakdirkan Tuhan untuk membasuh luka yang pernah digores mantan istrinya dulu.

 "Aku cinta kamu," gumam Omar pelan.

 Tetapi, gerak bibir laki-laki itu terbaca jelas oleh Sarkini. Membuat Sarkini merasakan jantung seakan melompat-lompat. Itu juga berdampak pada pipinya yang pelan menghangat.

 "Abang pulang. Tunggu besok! Assalamualaikum," pamit si duda, membuat Sarkini mengukir senyum.

 Deru motor yang dibawa Omar pun terdengar. Suaranya perlahan menjauh setelah Omar menaikinya. Sarkini termenung, saat laki-laki itu melajukan motor menjauhi rumah.

 "Hem, Bang Omar, bikin aku galau aja, harus jawab apa coba besok." Sarkini bergumam sendiri. Bingung, tapi juga kayak enggak mau nolak.

 Omar seperti laki-laki baik, tidak mungkin dia menyakiti Sarkini seperti Luki. Pokoknya sangat berbeda. Sarkini harus segera memilih sebelum menyesal pada akhirnya.

***

 Setelah sholat isya, Sarkini tidak melepas mukena putih itu, hanya diam di atas sajadah. Baru saja dirinya selesai berdoa. Mengharapkan jawaban yang baik untuk diberikan pada Bang Omar besok.

 Tiba-tiba perut Sarkini berbunyi. Ah, baru ingat, malam ini dirinya memang belum makan. Sarkini pun bergegas membuka mukena, merapikannya, lalu segera menuju dapur.

 "Masak apa ya hari ini?" Jari telunjuk Sarkini mengetuk-ngetuk dagu.

 Di rumah yang hanya dihuni oleh dirinya itu, Sarkini membuka lemari kayu sambil berjongkok. Hanya ada telur, Sarkini dengan terpaksa mengambil dan menggorengnya saja.

 Lebih baik makan telur saja dari pada kelaparan. Ya, untuk ke sekian lagi Sarkini makan dengan telur. Sudah bosan sih, tapi mau bagaimana? Uang hasil jualan juga enggak gede-gede amat, cukuplah untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.

 Memang pas-pasan, tapi Sarkini selalu mensyukuri itu. Dia tipe perempuan yang tidak neko-neko, tapi herannya sikap sabar Sarkini itu dulu dimanfaatkan si Luki.

 Saat Sarkini selesai memasak dan memulai ritual makan di dapur, suara ketukan pintu menghentikan makannya. Sarkini berdiri untuk segera membuka pintu. Anehnya, suara ketukan itu malah semakin keras saja. Kayak rentenir yang mau nagih hutang aja tu orang.

 "Iya, sebentar!" teriak Sarkini saat akan membuka pintu.

 Terbukalah pintu dan Sarkini dibuat keheranan saat melihat sosok asing di depannya.

 "Siapa, ya?" tanya Sarkini.

 "Kamu beneran Sarkini?" Perempuan seksi itu malah balik bertanya.

 "Iya, Teteh cari siapa, ya?"

 "Nyari kamu dan cuma mau ngasih tahu aja." Perempuan itu menyedekapkan tangan. "Jangan deket-deket Bang Omar!"

 "Lho, kenapa?" Sarkini lagi-lagi dibuat bingung.

 "Kenapa-kenapa!" ketus si cewek lalu menunjuk wajah Sarkini. "Lo itu janda tapi enggak tahu malu, ya! Godain calon suami orang."

 "Maksud Teteh?" Bukan pura-pura bodoh, tapi Sarkini ingin memastikan saja apa yang diucapkan perempuan di hadapannya ini.

 "Bang Omar itu calon suami aku, kami mau nikah seminggu lagi. Jadi, kamu jangan jadi janda gatel dan deketin calon suami aku, faham?"

 Sarkini tentu tercengang. "Pergi kamu dari rumah saya!" usir Sarkini jengah.

 Perempuan itu melenggang setelah mendengkus kesal. Dia tidak peduli dengan perasaan Sarkini yang sekarang merepih tiba-tiba juga bercampur dengan rasa marah dan kecewa.

 Pikiran Sarkini melayang pada sosok Duda Keren itu. Ah, Bang Omar, apa dia juga laki-laki yang cuma mau mempermainkan hati Sarkini? Kenapa dia begitu?

 Sarkini menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Kini, jawaban yang sudah mantap ingin diucapkan pada Omar mendadak lenyap. Hatinya seperti menelan kekecewaan untuk ke sekian kali. Kalau memang benar perempuan tadi calon istri Bang Omar, sungguh tega duda itu membohongi Sarkini.

 Nafsu makan Sarkini hilang dan membuatnya lekas masuk kamar saja. Tidak ada selera untuk makan, apa mungkin perasaan cinta sudah tumbuh begitu dalam sampai Sarkini merasa tidak rela jika Bang Omar meninggalkannya dan memilih wanita lain? Ah, entahlah Sarkini sebenarnya sudah lelah dengan cinta.

 

 

 

 

Bab4 Seperti Pertanda

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 791

 

 "Abang, kita beneran udah nikah ini, ya?" Sarkini mengelus rambut hitam laki-laki di pangkuannya.

 Rambut di kepala, ya? Bukan di kaki, apalagi tempat lain. Pokoknya rambut di kepala Bang Omar. Yang ternyata baru Sarkini tahu begitu halus dan lembut.

 "Bang kok diem aja? Aku kan nanya," gerutu Sarkini melihat sang suami hanya diam sambil mengutak-atik ponsel.

 Bang Omar kemudian beringsut duduk, menaruh ponsel di atas meja. Di kasur ukuran size besar itu, dirinya menghadapkan diri tepat di depan wajah cantik perempuan yang baru dipersuntingnya tadi pagi.

 "Iya, Sayang," jawab Bang Omar sambil menyampirkan rambut Sarkini ke belakang telinga. "Sekarang kita udah resmi halal, jadi Abang mau apa pun juga sama kamu udah boleh."

 Sarkini menunduk tersipu. "Ih, Abang."

 "Kenapa? Malu? Jangan malu kan kita udah suami istri."

 Sarkini merasakan dagunya dicapit lembut oleh dua jemari tangan Omar. Detik berikutnya, dapat ia tatap sosok tampan dengan brewok kayak orang-orang bule di luaran sana. Bang Omar emang mirip bule sih, ganteng buanget pokoknya.

 "Kamu cantik," puji Omar tiba-tiba.

 Sarkini masih terpaku menatap dua mata berwarna kecokelatan itu. Matanya kemudian menutup perlahan, saat Omar mencoba mendekatkan diri pada wanita yang kini sudah halal baginya itu.

 "Stop!" Suara seseorang menghentikan aksi ciuman yang mau di lakukan Sarkini dan Omar.

 Keduanya sontak kaget dan menatap orang itu dengan keheranan. Si Luki, kok bisa dia masuk kamar mereka? Maksudnya itu kan di hotel, mana bisa dia nyelonong masuk gitu aja?

 "Kalian berdua berhenti, dasar enggak tahu malu! Sini kamu Sarkini!" titah Luki tiba-tiba.

 Meski mengeryitkan dahi, tapi anehnya Sarkini ikuti saja permintaan laki-laki yang sudah jadi mantannya itu. Sarkini bangun dari duduk, mendekati Luki.

 "Ngapain kamu ke sini? Mau gangguin aku? Enggak cukup ya kamu hancurin hidup aku dulu, sekarang mau apa lagi?" cecar Sarkini marah.

 Tangan laki-laki bejad itu melayang dan mendarat sempurna di pipi Sarkini. Tidak terasa perih, tapi Sarkini justru menutup mata karena merasa kaget dengan tindakan Luki yang tiba-tiba.

 Ah, Sialan! Sarkini membuka mata. Ternyata itu cuma mimpi. Wanita itu pun bangun dan mengusap wajah. Dia menatap sekeliling dan ternyata benar ini masih kamarnya sendiri, bukan kamar hotel tempatnya bermanja-manja dengan Omar tadi.

 "Ya ampun, cuma mimpi!" gumam Sarkini mengatur napas.

 Tetapi, herannya mimpi itu seperti nyata. Sarkini merasa shock plus juga enggak percaya dirinya sudah menikah dengan Bang Omar. 

 Yang paling aneh kedatangan si Luki tiba-tiba. Mana itu cowok cuma pake kolor lagi. Sarkini bahkan masih ingat si Luki pake kolor pink motif hati yang patah. Apa coba artinya?

 Setelah cukup tenang, Sarkini bangun dari tempat tidur. Dia ingat harus segera memastikan sesuatu, yaitu tentang wanita tadi malam yang mengancam untuk enggak mendekati Bang Omar.

 Mungkin bisa saja mimpi tadi memang pertanda. Pertanda apa? Sarkini pun belum tahu. Bisa jadi untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Bang Omar, atau justru sebaliknya.

***

 Setelah mandi, gosok gigi, kemudian sarapan. Sarkini bergegas merapikan barang jualannya hari ini. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Bang Omar.

 Kaki jenjangnya melangkah keluar rumah. Tidak lupa juga Sarkini tutup pintu. Takut ada maling. Emang enggak ada barang berharga sih, cuma takut saja ada yang maling kolor si Luki. Eh, apa sih kok Sarkini jadi ingat kolor si Luki, padahal enggak ada juga tuh.

 Ini gara-gara mimpi itu, Sarkini jadi tidak fokus. Bayang patah hati di kolor malah jadi fokus Sarkini. Takut saja itu jadi pertanda Sarkini yang patah hati, eh tapi itu kan dipakai si Luki?

 Duh, malah bikin otak Sarkini makin bingung. Dari pada penasaran, dia pun memilih melangkah lebih cepat untuk menuju sawah. Bang Omar kan biasanya suka nangkring di sana kalau pagi.

 Sampai di sawah Sarkini harus merasakan kecewa, karena ternyata si duda tidak ada di sana.

 "Huh, ke mana sih Bang Omar, biasanya di sawah, apa masih di rumah, ya?" Sarkini bergumam lesu. Dia lalu menghela napas, menghembuskan dengan kecewa.

 "Hei, Sar, lagi ngapain kamu, kok liatin gubuk itu? Emang ada apa?" Suara cempreng perempuan membuyarkan pikiran Sarkini.

 Lekas dia menolah pada orang yang sudah dikenalnya itu. "Enggak apa-apa, Sel, aku cuma lagi ngelamun aja, menikmati pagi." Sarkini berusaha menutupi perasaan. Enggak harus juga dia cerita, itukan masalah pribadi.

 "Oh, kirain nyari Bang Omar."

 "Eh, emang Bang Omar di mana?"

 "Nah, kan. Cie-cie yang cari Duren," kelakar Sella sambil menunjuk-nujuk Sarkini.

 "Apa sih? Aku cuma nanya doang juga." Sarkini mengelak meski memang hatinya penasaran.

 "Ya udah deh, aku kasih tahu," jelas Sella, "Bang Omar Lagi di depan rumahnya, tadi aku lihat pas lewat."

 Sudah Sarkini duga. Laki-laki itu pasti masih di rumah. Sepertinya terlalu pagi Sarkini datang ke sini.

 "Ya udah, aku pergi dulu, ya," pamit Sarkini terkesan terburu-buru.

 "Ya deh mau ketemu Bang Omar, tapi Sar hati-hati aja."

 Sarkini yang hendak membalik badan mendadak kepo dengan ucapan temannya itu. Sella kok seperti menakut-nakuti?

 "Emang kenapa?" tanya Sarkini.

 "Bang Omar lagi berduaan sama perempuan di sana."

 

 

Bab5 Wanita Lain

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 732

 Apa benar yang dikatakan Sella itu? Jantung Sarkini terasa berpacu dalam melodi. Eh, maksudnya berpacu lebih kencang. Deg-degan takut Bang Omar benar mengkhianatinya. Siapa sih yang mau dinikahinya? Kenapa dia malah berduaan dengan perempuan lain?

 Dari dua pertanyaan itu membuat Sarkini lekas-lekas mempercepat langkah. Sesampainya di depan rumah sang duda, Sarkini terpana karena yang dikatakan Sella itu benar.

 "Enggak mungkin," gumam Sarkini menggeleng kepala. 

 Sementara, di depan sana Bang Omar asik saja bercengkrama dengan seorang wanita. Dan yang paling mengecewakan adalah wanita itu adalah wanita yang sama yang mengancam Sarkini kemarin malam. Sungguh tega kau duda!

 "Bang!" panggil Sarkini setelah di hadapan kedua orang itu.

 "Sar." Omar langsung berdiri, dengan WATADOS dia merekahkan senyum seperti biasa.

 "Abang kita harus bicara serius," tegas Sarkini tidak mau memalsukan senyum di hadapan laki-laki itu.

 "Bicara apa?" Lembut dan tenang sekali nada bicara duda itu. Bukan membuat Sarkini tersanjung malah semakin kesal.

 "Pokoknya Abang ikut aku, ayo!" Tangan Sarkini langsung mencengkeram dan menarik tangan Bang Omar, tanpa permisi atau basa-basi lagi.

 Sarkini benar-benar sudah kesal, serasa dipermainkan. Apa Bang Omar juga buaya darat seperti si Luki? Ah, sudahlah. Tidak ada yang akan Sarkini hiraukan lagi, selain segera menarik duda itu untuk menjauhi rumahnya.

 Tiba di depan gerbang rumah si duda. Di sana hanya ada Sarkini dan Omar. Mata Sarkini menatap tajam, kemudian segera melepas tangan Bang Omar.

 "Jujur, Bang," kata Sarkini. "Abang itu mau nikahin aku atau enggak?"

 "Udah punya jawaban kamu?" Dasar duda so kegantengan! Malah nanya balik, kan bikin Sarkini naik gaji, eh darah maskudnya.

 "Abang kalau mau nikah sama perempuan lain, enggak usah ngajak-ngajak aku nikah. Aku enggak mau ya dimadu. Kan, Abang juga tahu alasan aku cerai, karena enggak mau dimadu," papar Sarkini tegas.

 "Siapa yang mau nikah sama perempuan lain? Abang kan mau nikah sama kamu." Omar mengeryitkan dahi, karena memang dirinya tidak tahu apa-apa. Wanita lain? Wanita lain siapa?

 "Terus itu siapa?" Dengan dagu Sarkini menunjuk wanita yang masih duduk di kursi teras rumah Bang Omar.

 Omar melirik perempuan itu. "Oh, itu adik aku. Namanya Aura. Dia adik angkat aku. Kenapa sama dia?"

 Oke, Omar memang tidak tahu apa-apa. Itu memang adik angkatnya. Pernyataan dan pertanyaan Sarkini malah membuat Omar bingung saja.

 "Dia itu bukan calon Abang?" tanya Sarkini, kini dia malah bingung.

 "Bukan. Kok kamu mikir gitu?"

 "Tapi ...." Makin otak Sarkini berputar-putar. Jelas sekali, malam itu si wanita yang kata Bang Omar adik angkatnya mengancam Sarkini.

 "Tapi apa, hm?" Si duda malah menaik turunkan alis. "Kamu cemburu, ya? Sampai segitunya cemburu sama Abang? Masa cemburu sama adik Abang sendiri?"

 "Eh, enggak kok," sangkal Sarkini. Eh, ini duda malah nyangka cemburu. Kan aneh, ya? Wong, Sarkini benar kok. Itu perempuan mengancam Sarkini. Sepertinya ini memang perlu diluruskan.

 Sarkini berdehem sebentar, lalu menatap duda yang kini malah menyedekapkan tangan. "Bang, aku serius, perempuan itu bilang, dia itu calon istri Abang."

 "Hah?" Omar mengendikkan wajah. "Ngaco kamu, dia itu adik Abang, mana bisa jadi istri Abang?"

 "Tapi, Bang dia ngancam aku supaya enggak dekat-dekat Abang."

 "Ngaco kamu! Ngarang aja!" samber Aura, yang melangkah mendekati Sarkini dan Omar.

 "Dia ngarang, Bang! Aku enggak ngancem dia. Itu sih alasan aja, supaya dia enggak nikah sama Abang, ya kan JaTel?" sambung adik Omar itu sambil mendelik, seperti benci pada Sarkini.

 "Jadel?" Sarkini malah menyatukan alis.

 "Iya, Janda gatel," ketus Aura. "Tahu ada duda keren, terus aja mepet dideketin, emang enggak tahu malu!"

 Hati Sarkini sakit mendengar itu. Nyari saja dia menumpahkan air mata. Namun, tidak, lekas dia palingkan wajah, menunduk sebentar, mencoba menenangkan gemuruh di dada.

 Sarkini menelan ludah dulu. "Aku pulang, Bang ...," lirih Sarkini parau.

 "Lho, kenapa?"

 Tanpa menjawab pertanyaan Bang Omar, Sarkini lekas melangkah menjauhi. Sudah tidak mungkin dia lanjutkan hubungan dengan si duda.

 Tahu, Sarkini juga tahu dirinya janda. Tetapi, apa harus ya dihina seperti itu? Memang siapa sih yang mau jadi janda?

 Kehidupan rumah tangga yang baik, harmonis, dan romantis. Semua pasangan juga menginginkan itu. Namun, apa daya? Luki memang bukan laki-laki baik untuk Sarkini. Dia sering menyakiti Sarkini, masa Sarkini harus terus-menerus bertahan?

 Omar dibuat bingung dengan tingkah Sarkini, dia mau melangkah mengejar wanita pujaannya itu. Namun, Aura lekas mencekal tangannya.

 "Jangan dikejar, Bang! Percuma!"

 "Maksud kamu?" tanya Omar heran.

 "Dia itu masih suka dua-duanya sama mantan suaminya. Emang Abang mau disakitin kayak disakitin Teh Nika? Diselingkuhi lagi?"

 Ucapan adiknya itu menciutkan keinginan Omar untuk mengejar Sarkini. Hatinya kok jadi seperti teiris mendengar itu? Seakan membuka luka lama akibat dikhianati.

 

Bab6 Rasa Ragu

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 963

 

 Malam yang sudah cukup larut. Usai menghitung hasil panen yang sudah terjual, Bang Omar duduk termenung di meja kerja. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

 Sudah sejak dirinya membiarkan Sarkini melangkah jauh alias pergi dari hadapannya tempo hari. Omar masih terngiang dengan ucapan adik angkatnya.

 Iya, dia tidak memikirkan itu setiap saat, tapi malah selalu teringat di saat dirinya sendiri. Pertanyaan, apakah Sarkini masih mencintai sang mantan suami atau pertanyaan masihkah Sarkini sering berduaan dengan si Luki, seperti membayangi pikiran Duda Keren itu.

 Akan tetapi, dibanding bertanya langsung pada Sarkini si duda ini malah memendamnya sendiri. Takut menelan kecewa sebenarnya sih.

 Omar menghembuskan napas panjang, seirama dengan beban yang seolah ingin dia hembuskan juga.

 "Bang!" Suara perempuan, lembut menyapa pendengaran Omar.

 "Iya, Bu," sahut Omar lalu berdiri ketika melihat sang ibu masuk ruangannya.

 "Kamu belum tidur?" Bu Popi menghampiri perlahan.

 "Belum, Bu. Ada apa?"

 "Sarkini," kata si ibu membuat dahi Omar mengerut.

 "Kenapa Sarkini?" Omar pun mendadak jadi khawatir.

 "Sarkini ke sini, dia ada di ruang tamu. Kasihan, wajahnya ketakutan. Pas ibu tanya dia diem aja, ibu jadi khawatir, Bang."

Lekas Omar menghampiri sang ibu. Wajah ibu juga tampak cemas sekali. Omar menyentuh kedua bahu Bu Popi. "Ibu tenang aja, kita bicara baik-baik sama Sarkini, dia pasti punya penjelasan."

 Ibu paruh baya itu mengangguk. Bang Omar dan Bu Popi kemudian melangkah keluar dari ruangan untuk segera menemui Sarkini di ruang tamu.

 Sampai di ruang tamu, Sarkini memang tengah menunduk dan seperti menangis. Omar dan ibunya mendekati, Omar duduk di depan Sarkini, sementara Bu Popi duduk di samping wanita itu.

 "Sar," panggil Omar lembut.

 Sarkini mengangkat wajah dengan tatapan sendu, matanya juga berair.

 "Kamu kenapa?" Omar bertanya heran sekaligus merasakan iba di dalam hatinya.

 Dapat Sarkini rasakan elusan tangan Bu Popi menyentuh lembut dua bahunya. Sarkini jadi semakin merasa tersayat-sayat. Dia ingat kejadian yang nyaris menimpanya beberapa menit lalu.

 "Nak, kamu kenapa?" Bu Popi tak kalah cemas tak kala melihat Sarkini malah menangis sesegukan.

 "Luki ...." Tangis Sarkini menghentikan penjelasannya. Sakit di leher seperti mencekik dan menghentikan ucapannya.

 "Kenapa laki-laki brengsek itu?!" Tentu Omar langsung naik pitam. Mendengar nama laki-laki itu bikin Omar pengen gigit bokong onta. Eh, enggak sih. Duh, saking marahnya Omar malah jadi ngelantur. Ini pasti efek terlalu kesal.

 "Dia ... dia datang ke rumah," lirih Sarkini.

 "Bukannya dia emang selalu datang ke rumah kamu?" tekan Omar malah jadi marah.

 Sarkini jadi heran. "Maksudnya?" Dia bertanya dengan bibir gemetar.

 Omar langsung berdiri teringat ucapan Aura waktu itu. Darahnya kok malah jadi mendidih dan malah berpikir Sarkini memang sengaja mengajak Luki menginap di rumahnya.

 "Kata Aura, kamu itu sering berduaan sama si Luki, apa itu benar?" tanya Omar tegas.

 "Enggak."

 Napas Omar keluar dengan kasar macam banteng yang siap ngamuk. Duh, berlebihan, enggak sih. Laki-laki itu pun membalik badan dan berusaha menetralisir pikiran negatif. Dia sudah tidak menemui Sarkini karena egonya, rasanya dia akan sangat egois jika tidak memberi kesempatan Sarkini untuk menjelaskan.

 "Kalau gitu kenapa sama si Luki?" Omar masih menatap dengan tegas.

 "Dia ... dia mau merkosa aku." Bulir bening di pelupuk mata Sarkini lolos begitu saja. Pedih rasanya saat ingat dengan kasar mantan suaminya tadi nyaris mencumbu Sarkini, bahkan baju Sarkini dirobek dengan teganya.

 "Apa?!" Mata Omar melotot, begitu juga Bu Popi di samping Sarkini ikut kaget juga.

 "Gimana ceritanya, Nak? Kok bisa, kapan?" Bu Popi mengelus-elus bahu Sarkini.

 "Tadi, Bu ...." Sarkini menatap pilu ke arah dua mata Bu Popi. "Dia maksa aku buat layanin dia, aku enggak mau, Bu ... tapi dia malah dorong aku." Sarkini menunjukkan sikutnya yang memar.

 "Dia juga robek baju aku," sambung Sarkini lalu mulai menangis lagi.

 Omar tentu juga tidak buta. Baju daster yang robek bagian atasnya itu memang nyaris mempertontonkan dada Sarkini. Pun tangan memarnya tentu tidak bisa membohongi duda itu.

 Rasa iba berpadu sayang melekat di hati Omar. Awalnya dia memang sudah yakin untuk mempersunting Sarkini. Lalu kini, hatinya semakin mantap untuk menjaga wanita di hadapannya ini.

 Tidak mau Omar melihat Sarkini semakin menderita. Luka lamanya harus sembuh, begitu juga luka lama di hati Omar harus segera dihapus selama-lamanya. Omar yakin Sarkini bisa menghapus luka itu.

 "Abang akan nikahin kamu secepatnya. Kamu tinggal di sini, supaya enggak harus lagi didatangi laki-laki brengsek itu."

***

 Sarkini belumlah sempat menjawab pernyataan Bang Omar. Dia malah menangis tadi dan Bang Omar pergi begitu sengaja. Ke mana dia? Sarkini juga enggak tahu. Apa mungkin ke KUA, ya?

 Ah, Sarkini jadi kepikiran. Di tempat tidur yang empuk ini, Sarkini sukar untuk tidur. Jangankan memejamkan mata, memar di tangannya masih terasa perih.

 "Sar." Panggilan Bu Popi diiringi derit pintu yang terbuka, mengalihkan tatapan Sarkini.

 Sarkini lihat ibu Bang Omar itu masuk membawa nampan berisi sesuatu, makanan sepertinya.

 "Ibu?" Sarkini beringsut duduk.

 "Kamu belum tidur?" Bu Popi menaruh nampan di atas meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. "Apa ada yang kamu pikirin?"

 "Iya, Bu. Sarkini ... masih galau sama apa yang dibilang Bang Omar."

 "Sar." Bu Popi menyentuh lembut tangan Sarkini, mengelus punggung tangannya. "Omar dari awal udah serius sama kamu. Dia enggak lihat kamu sebagai janda cantik saja, tapi dia lihat kamu sebagai perempuan hebat--"

 "Perempuan hebat?" samber Sarkini tidak mengerti.

 "Iya, Ibu bisa lihat itu juga. Kamu perempuan yang rajin, kuat, sabar, dan tegar. Orang kampung lihat kamu sebelah mata, padahal kalau dilihat lebih dalam, kamu itu sosok perempuan yang walaupun janda tapi punya etika. Kamu baik, Sar. Jangan sedih lagi sama omongan orang-orang, mereka enggak tahu kamu, jadilah diri kamu sendiri."

 Sarkini faham maksud Bu Popi. Pemaparan ibu itu membuat Sarkini terharu, dia tahan saja matanya yang mulai berkaca-kaca.

 "Sama satu lagi, Ibu setuju kamu jadi mantu ibu. Mau kan kamu jadi mantu ibu?"

 Tanpa basa-basi Sarkini langsung memeluk Bu Popi. Dia tahu betul ibunya Omar ini memang baik. Saat dirinya direndahkan banyak orang, merasa rapuh dan kehilangan Bu Popilah yang membantu Sarkini bangkit.

 Tangis haru Sarkini pecah. "Makasih, Bu ...."

 

 

 

 

Bab7 Mantan

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 928

 

 "Bang Omar!"

 Suara seorang wanita membuat Omar membalik badan. Dirinya yang sedang berjalan berdua bersama Sarkini pun menghentikan langkah, untuk melihat seseorang yang memanggil namanya itu.

 Perempuan itu berlari kecil menghampiri Sarkini dan Omar. "Hai, Bang, apa kabar?" sapanya ramah.

 "Baik, kamu sendiri?" jawab Omar biasa saja.

 "Em, jadi ... istri baru kamu?" Bukan menjawab perempuan dengan setelan olahraga ketat itu justru melirik Sarkini di samping Omar.

  Sarkini hanya menanggapi dengan senyum saja. Agak canggung sebenarnya. Dirinya pernah melihat perempuan itu dalam sebuah foto dan Omar bilang itu mantan istrinya. Tentu saja Sarkini jadi insecure sendiri. Perempuan itu cantik dan body-nya sudah kayak Gitar Spanyol, aduhai.

 "Iya, ini Sarkini, istri aku." Omar memperkenalkan Sarkini dengan nada bangga. "Alhamdulillah dia perempuan yang akhirnya bisa meluluhkan hati saya. Dia juga baik."

 Nika --mantan istri Bang Omar-- tiba-tiba memanas hati. Dirinya yang tidak datang saat resepsi dan akad nikah Omar beberapa hari lalu bukan tanpa alasan. Nika menaruh rasa cemburu, yang entah kenapa tiba-tiba hadir saat Omar hendak menikah lagi.

 "Oh, salam kenal." Nika mengulurkan tangan pada Sarkini. "Saya Nika, mantan istrinya Bang Omar."

 Sarkini menerima uluran tangan itu. Ingin rasanya Sarkini tertawa. Lucu saja, Nika saat mengatakan mantan istri Bang Omar, dia mengatakannya dengan begitu bangga. Apalagi bibir merahnya itu sengaja dimaju-majukan. Kenapa malah jadi bikin aura cantiknya hilang, ya?

 Tetapi, Sarkini menyimpan tawa dalam hati saja. Enggak enak juga sih, ya kali harus ngetawain mantan istri suaminya. Toh, itukan sudah jadi masa lalu.

 "Salam kenal juga, aku Sarkini," sahut Sarkini lembut seperti biasa.

 Nika menarik tangan dengan cepat. Kemudian, tanpa diduga dia mengibas-ngibas tangan seolah jijik telah bersalaman dengan Sarkini.

 "Takut ketularan," katanya mendelik melihat Sarkini sambil mengambil tisu di saku celana. "Mantan Janda, ya?" tanya Nika sinis, "takut aja gitu ketularan jadi janda."

 Omar memalingkan muka. Sudah dia tahu watak mantan istrinya itu, kalau enggak julid ya nyingir. Padahal kan dia juga janda sekarang, hadeuh.

 "Udah, Sayang! Mendingan kita cari makan." Omar menarik tangan Sarkini.

 Sarkini diam saja. Tetapi, Nikalah yang justru jadi heboh enggak jelas.

 "Eh, mau ke mana sih?" gerutunya, "kan baru juga ketemu. Abang biasanya suka jajanin aku lho, sekarang enggak mau jajanin?"

 Idih, siapa dia? Omar rasanya ingin mencekik leher kutu mendengar ucapan mantan istrinya itu. Memang tidak tahu malu. Omar merasa bersyukur perempuan itu bukan istrinya lagi.

 "Maaf, Nik, aku sama istri aku baru beres lari pagi jadi kita mau cari makanan dulu. Permisi, ya?" pamit Omar.

 "Ih, gitu banget. Sekarang mah beda!" ketus Nika membuat Omar dan Sarkini menatap heran.

 Baik Sarkini dan Omar tidak menanggapi ke-GJ-an wanita itu. Namun, tingkah centilnya malah bikin Sarkini ingin tertawa.

 Dia langsung mendengkus kesal, lalu menatap Sarkini marah. "Dasar Pelakor! Enggak tahu malu, namanya janda sih, biasa," sindirnya.

 Eh, Sarkini sebenarnya ingin sakit hati, tapi saat melihat Nika membalik badan dirinya justru ingin tertawa. Karena apa? Perempuan itu dengan bangga menggeolkan bokong montoknya. Namun, apa yang terjadi malah membuat Sarkini menahan tawa. Celana ketat yang dikenakan Nika malah robek. Untung di atas pantat, bukan pas tengah-tengah.

 Meski begitu, tetap saja kan malu. Mana kelihatan lagi, Nika ternyata memakai celana dalam kuning yang terang. Duh, untung enggak silau.

 "Aaa!" teriak Nika, sambil menutup bokong.

 Omar nyatanya tidak sanggup menahan tawa. Tawanya pecah malah membuat beberapa orang di sekitar melirik pada Omar, Sarkini, dan Nika.

 Nika seketika ngibrit lari karena malu. Enggak lupa dia tutupi bokong yang bolong. Eh, maksudnya celana yang bolong, bukan bokong.

 Lucu sekali tingkah mantan istri Bang Omar itu, Sarkini jadi ikut ketawa. Niat pamer body malah bolong celana sendiri, kan malunya enggak ketulungan itu. 

***

 "Bang, mantan kamu ada-ada aja," ucap Sarkini selesai makan lontong pagi itu.

 "Itu sih biasa. Dulu lebih ngeselin, tapi udahlah masa lalu juga, enggak perlu dibahas."

 "Hem, iya sih, Abang bener."

 "Iya, Abang emang bener, kan?" Perhatian Bang Omar beralih dari jalanan ke wajah Sarkini di sampingnya. "Kita itu mau membangun kisah kita, jadi jangan bahas masa lalu, kita bahas masa depan aja. Misalnya ... kamu mau punya anak berapa?"

 Nyaris Sarkini tersedak, jika saja tidak segera dia minum teh hangat di atas meja itu.

 "Abang! Maksudnya apa sih? Kita kan baru nikah, udah bahas anak aja." Sarkini menggerucutkan bibir.

 Omar terkekeh sebentar. "Emang kenapa? Enggak mau punya anak dari Abang, gitu?"

 "Bukan gitu ...." Nada bicara Sarkini tiba-tiba melemah, dia jadi ingat tentang kisah lamanya mengenai anak.

 "Kenapa?" tanya Omar lembut, menyadari perubahan ekspresi wajah Sarkini. Dirinya pun menghentikan makan dan lebih memilih fokus menatap sang istri.

 "Aku punya masa lalu buruk tentang anak, Bang," jawab Sarkini melirik Bang Omar, selera makan Sarkini juga tiba-tiba menghilang.

 "Kenapa? Kamu belum pernah cerita soal anak sama Abang, emangnya ada apa? Kamu mau kan buat cerita."

 "Iya, aku bakal cerita kok. Sebelumnya ... aku juga sempat hamil, tapi ...."

 "Tapi apa?" Omar jadi benar-benar tidak sabar, mendengar Sarkini malah menggantung cerita.

 "Tapi ... dulu aku keguguran. Luki dulu enggak mau beliin aku susu hamil, dia malah minta uang, enggak tahu buat apa uangnya. Aku nolak, Bang pas dia mau ambil uang itu, tapi dia malah dorong aku dan ...." Sarkini menangis tiba-tiba. Ingat bayi yang baru beberapa minggu itu harus keluar paksa karena pendarahan.

 Omar lekas menarik Sarkini ke dalam pelukannya. "Udah-udah, enggak apa-apa kalau kamu enggak mau cerita," ucap Omar sambil mengelus-elus rambut Sarkini.

 "Dia tega dorong aku ke meja, sampai aku pendarahan. Bayi aku meninggal, Bang ...," tangis Sarkini menyesal ketika tak sanggup menjaga bayinya dulu.

 "Stth, udah enggak apa-apa. Mungkin itu udah yang terbaik, kamu udah berusaha menjaga dia kok."

 "Aku gagal jaga dia, Bang ...."

 "Enggak, enggak ada ibu yang gagal. Semua ibu itu ingin anaknya selamat. Yang kamu alami itu kecelakaan bukan salah kamu."

 

 

Bab8 Balikan?

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 781

 

 

 Setelah makan siang, eh makan siang bukan, ya? Intinya selesai jalan pagi tadi, terus makan, dan enggak sengaja ketemu Janda Gatel alias mantanya si Bang Omar itu, Sarkini dan sang suami memilih untuk pulang.

 Naik motor mereka berboncengan. Dengan mengendarai motor sporty Vixion itu, mereka juga saling berbincang sepanjang perjalanan.

 "Jadi, beneran Teh Nika itu udah jadi janda, Bang?" tanya Sarkini masih memeluk Omar di jok belakang.

 Hembusan angin siang itu cukup hangat menyentuh pipi Sarkini. Bang Omar sendiri sedikit menghembuskan napas, mengingat ketika membicarakan sang mantan istri hatinya sering kali mencelos dan terbayang akan pengkhianatan yang dilakukan Nika dahulu.

 "Iya," jawab Omar pasrah. Meski memang tidak ingin ia membahas si Janda Gatel itu.

 

Sarkini yang tentu saja tidak tahu bagaimana perasaan Omar malah makin penasaran dengan sosok Nika itu. "Oh, udah lama Abang tahu dia jadi janda?"

 "Udah," singkat Omar.

 "Kok Abang bisa tahu, Abang kepoin dia?" Sarkini malah sedikit kecewa dan yang tidak-tidak.

 "Abang stalking dia."

 Nah, kan bener. Sarkini jadi merasa bersalah bertanya begitu. Ujungnya hatinya malah jadi menciut, berpikir kalau Bang Omar masih menyimpan rasa untuk si Nika. Kan, Sarkini jadi diam setelah jawaban Omar itu.

 Selanjutnya, tidak ada lagi percakapan. Angin yang berhembus akibat laju motor mengiringi perjalanan pulang Sarkini dan Omar. Tanpa diketahui masing-masing, hati mereka merasakan perasaan tak enak dan tak nyaman, mengingat apa yang mereka bahas ini adalah masa lalu.

 Yang namanya masa lalu kalau dibahas itu seperti mengorek luka lama, yang ujungnya bikin hati merasa mencuatkan rasa sakit. Ah, sudahlah sepasang suami istri itu malah jadi saling diam.

 Hingga, tibalah mereka di depan gerbang rumah. Sarkini turun duluan. Rumah tampak sepi, karena Bu Popi memang pergi pengajian tiap akhir pekan.

 Sarkini membuka gerbang berwarna hitam, menggesernya supaya motor Omar bisa dimasukkan ke dalam. Setelah Bang Omar masuk, Sarkini mengikuti laju motor itu perlahan.

 "Enggak mau jalan-jalan lagi?" tanya Omar saat turun sambil membuka helm.

 "Enggak." Sarkini menjawab dengan lesu.

 "Capek, ya? Langsung istirahat aja, Abang mau mandi dulu. Kamu mau mandi duluan?"

 "Abang duluan aja, aku mau bikin minum buat kita." Sarkini berlalu duluan masuk ke rumah.

 Bang Omar berganti yang mengekori Sarkini. Keduanya terkejut saat sampai ruang tamu. Ada sosok laki-laki yang sudah menunggu di sofa dengan tampak gelisah.

 "Itu si Brengsek ngapain ke sini?" Omar langsung naik pitam melihat laki-laki itu.

 Sarkini mengangkat bahu acuh. "Enggak tahu, kok bisa masuk sih?"

 "Kayaknya mau ngomong sama kamu," ketus Omar.

 Sarkini merasa khawatir mendengar ujaran Omar yang malah kedengaran ngambek itu, dia lirik sang suami dengan perasaan enggak enak. "Kalau Abang enggak izinin Abang usir aja dia!"

 "Enggak apa-apa, ngomong aja! Sesuatu yang belum beres itu harus diselesaikan."

 Sarkini ragu dan malah menatap Bang Omar. Wajahnya B aja sih, tapi kan dalam hati mana ada yang tahu.

 Tiba-tiba si Luki menyadari kehadiran Omar dan Sarkini, lekas dia berdiri. Bahkan, tanpa rasa malu dia langsung mendekati Sarkini menggenggam dua tangan Sarkini.

 "Sar, akhirnya kamu pulang juga!" ujarnya girang memancarkan mata yang berbinar.

 "Eh-eh, apaan kamu!" Omar langsung memukul tangan lancang yang berani memegang tangan sang istri. Saking kerasnya memberi cap merah muda di punggung tangan si Luki.

 Luki hanya meringis dan tentu saja melepas tangan Sarkini. "Gue punya urusan sama Sarkini, lo enggak usah ikut campur."

 "Saya suaminya, saya berhak mencampuri urusan Sarkini. Kamu siapa berani ngatur saya?" tegas Omar membuat nyali Luki lantas menciut mendengar itu.

 "Okey!" Luki mengangkat tangan tanda menyerah. "Okey-okey, lo sekarang suaminya, tapi gue." Dia tunjuk dadanya sendiri. "Gue masih punya urusan sama Sarkini. Masa lalu gue sama dia belum beres, lo emangnya mau Sarkini masih ada di masa lalu saat hidup sama lo?"

 "Maksudnya?" Omar kebingungan mendengar penjelasan si Luki yang belibet.

 "Hati Sarkini itu masih nyimpen nama gue, gue juga masih cinta sama Sarkini. Jadi, gue sama dia perlu bicara."

 "Apa?!" jerit Sarkini. "Kamu ngarang, Ki!"

 "Enggak, aku enggak ngarang. Aku sadar sekarang." Mata Luki menatap lekat pada Sarkini.

 Entah kenapa dada Sarkini jadi berdebar. Tatapan itu seperti mengandung arti sesuatu. Apa, ya? Mungkinkah Luki kini sadar untuk peduli dan mencintai Sarkini?

 "Aku sadar harusnya aku sayangi kamu dulu. Aku tahu kamu masih cinta sama aku. Aku tahu itu, aku bisa lihat itu di mata kamu. Jangan bohongi diri sendiri, Sar! Kalau kamu mau, ayo kita balikan lagi. Aku janji, aku janji bakal jadi suami yang baik buat kamu."

 Gila emang ini laki satu. Sarkini hampir saja terlena kalau tidak ingat luka masa lalu juga Bang Omar di sampingnya.

 "Udah enggak waras ya kamu?!" kata Sarkini dendam. "kamu udah nyakitin aku, bilang cinta, kamu pikir aku bego?"

 "Aku yang bego dan sekarang aku sadar kalau aku bodoh dan harusnya bisa membahagiakan kamu. Aku tahu kamu cinta sama aku, Sar. Kamu pasti mau kan balikan sama aku?"

 

 

 

Bab9 Ancaman

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 822

 

 Bau busuk tiba-tiba tercium di ruang tamu. Sarkini segera menutup hidung, begitu juga dengan si Luki. Sementara, Bang Omar memegang perut karena merasakan perut itu seperti melilit.

"Aduh ...," gumam Bang Omar sambil memegangi perut.

 Pret-pret-peeeet ....

 Eh, suara apa itu, ya?

 Sarkini yang menyadari suara itu berasal dari sampingnya, lekas melirik Bang Omar. Suaminya itu memasang senyum konyol.

 "Maaf, Sar." Dia cengengesan.

 "Abang kentut?" Sarkini malu sebenarnya menanyakan itu, tapi mau bagaimana dirinya juga memastikan. Suara tadi juga berujung bau gas metana. Ya kalau bukan kentut terus apa? Masa gas elpiji bocor. Perasaan gas elpiji enggak begitu baunya.

 "Kayaknya Abang harus ke toilet dulu, kalian lanjut aja ngobrolnya," sahut Bang Omar kemudian melangkah melewati si Luki.

 Si Luki ngakak bukan main. Di terbahak-bahak melihat Bang Omar menyumpal bokong dengan jari-jarinya

 Kalau boleh jujur, Omar memang sudah merasakan sakit perut sejak sampai ke rumah. Mungkin karena melihat muka tembok si Luki menambah rasa ingin buang hajatnya.

 "Kenapa kamu ketawa?" Sarkini marah, memberengut tidak terima suaminya ditertawakan.

 "Bau." Kurang ajarnya si Luki malah nutup hidung pas ngomong begitu.

 "Ya iyalah bau, mana ada kentut yang wangi," ketus Sarkini kelas. Gila emang si Luki! Mau sekelas Lady Gaga atau pun Jenifer Lopez ya kalau kentut pasti bau. 

 "Ya tahu." Luki menahan tawa demi bisa bicara normal pada Sarkini. "Tapi si duda itu enggak sopan, Sayang." Sengaja si Luki melembut-lembutkan bicara berharap mendapat empati Sarkini.

 "Emang kamu sopan?" gertak Sarkini langsung membuat Luki membeku.

 "Kenapa?" tanya Sarkini lagi, "emang kamu sopan akhlak kamu dulu benerin jangan so-soan nilai orang lain! Kamu itu udah lebih dari kurang ajar sama aku dan sekarang kamu minta balikan sama aku? Sorry! Aku enggak mau ngulang kesalahan dengan milih kamu lagi!"

 Luki terpukul mendengar itu. Sarkini menampar tepat di egonya yang terdalam. Sampai pada Sarkini hendak melangkah melewati tubuhnya, Luki segera mencekal tangan Sarkini.

 "Tunggu, Sar!" cegahnya.

 "Apa? Kamu lupa pintu keluar? Aku ingetin, itu." Sarkini menunjuk pintu utama. "Keluar sekarang!"

 "Kamu enggak bisa kayak gini, Sar!"

 "Bisa, karena aku bukan Sarkini yang dulu, Sarkini lemah yang selalu bisa kamu sakiti!" Tatapan Sarkini menusuk mengangetkan Luki. "Pergi!" usir Sarkini sambil berteriak.

 "Enggak!" Si Luki masih bersikeras dengan menggeleng kepala.

 "Atau aku panggilin satpam sekalian polisi juga biar kamu masuk penjara sekalian!"

 Luki menyerah dan melepas tangan Sarkini. "Okey, gue pergi! Tapi gue yakin karma itu berlaku. Lo udah nolak dan bikin gue sakit hati. Lo juga bakal ngerasain sakit hati, bahkan lebih dari gue," ancam Luki.

 Cowok brengsek itu pun keluar dari rumah. Sarkini termenung. Entahlah, si Luki pandai mengancam Sarkini, membuat Sarkini takut hal-hal semacam itu terjadi dalam hidupnya.

 Sarkini mencoba menenangkan diri, meski sebenarnya masih merasa terancam dengan ancaman receh mantan suaminya itu.

 "Sayang!" teriak Bang Omar.

 Sarkini sadar mendengar suara gagah itu. Dia membalik badan dan melihat Bang Omar masih seperti tadi, mencengkram erat perut.

 "Sar, kamu bisa beliin Abang obat diere? Perut Abang sakit banget," pinta Bang Omar dengan wajah lesu.

 "Iya, Bang. Sebentar."

 Sarkini bergegas pergi ke warung untuk membeli obat diare. Selang beberapa menit, dia kembali ke rumah. Bang Omar tidak ada di ruang tamu, pasti di kamar.

 Langkah Sarkini pun menuju kamar dan benar suaminya memang sedang terngkurap. Wanita bermata indah itu pun menghampiri Bang Omar dan duduk di tepi ranjang.

 "Abang!" seru Sarkini halus sambil mengelus punggung suaminya.

 Omar langsung membalik badan, menyamankan posisi duduk di tempat tidur. Dia melukis senyum berusaha baik-baik saja.

 "Ini, Bang, minum obat dulu!" Sarkini memberikan sebuah obat yang sudah dia buka, kemudian mengambil air minum di atas meja, membuka tutupnya, lalu memberikan air itu pada Bang Omar.

 Omar lekas meminum obat, karena sudah tak tahan. Perutnya perih macam berjoget-joget saja cacing di dalam sana.

 "Makasih, Sayang," ucap Bang Omar tulus sambil memberikan kembali gelas yang sudah kosong.

 "Iya, Bang." Sarkini tampak murung.

 "Kamu kenapa, apa yang dibicarakan si Luki?" Omar penasaran, tentu juga takut Sarkini kenapa-napa, hati Sarkini lebih tepatnya.

 "Bang." Sarkini memegang jemari kekar Bang Omar. "Kenapa, ya? Si Muka Tembok suka banget ngancam aku, aku kan jadi takut, Bang."

 "Dia ngancam apa lagi?" Omar berusaha bicara meski memang sudah lemah. Tidak ingat dia, sudah berapa banyak kotoran yang keluar tadi. Kalau diingat seperti tidak ada rem, sampai seperti perutnya dikuras habis.

 "Dia ... dia bilang aku bakal dapat karma."

 Omar menahan tawa. "Karma? Karma apa? Dia yang banyak salah sama kamu, kok bisa kamu yang dapat Karma. Yang ada tuh dia yang bakal dapat karma, nyemplung di kolam lele Pak RT, mungkin atau kelindes kebo bunting."

 "Abang!" Sarkini jadi ingin tertawa juga mendengar Bang Omar malah bicara seperti itu.

 "Abang serius, Sayang." Tangan Omar berganti yang menggenggam lembut lalu mengelus mesra punggung tangan Sarkini. "Dengerin Abang, apa pun yang dia bilang jangan kamu peduliin. Kamu tenang aja, mulai sekarang kan ada Abang. Abang akan mencoba untuk selalu jaga dan lindungi kamu dari si Kecoa Busuk itu."

 Sarkini melukis rona merah di pipinya. Dengan repleks dia peluk Omar yang sedang berbaring. "Makasih ya, Abang. Sarkini sayang sama Abang."

 

Bab10 Mungkin Menyesal

1 1

 Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah kata: 1151

 

Di rumah yang cukup mewah itu, Luki sedang merapikan alias melipat pakaian-pakaian seksi. Pakaian siapa lagi kalau bukan pakaian sang istri. 

 Istrinya itu mau pergi konser ke kampung sebelah. Heran sih, padahal cuma ngelewatin jalan saja, maksudnya cuman harus menyebrang untuk sampai kampung sebelah. Tetapi, Angel --istri Luki-- membawa banyak sekali baju, bahkan sampai satu koper.

 "Cinta," panggil Luki. Itu panggilan mesranya pada si Angel.

 "Kenapa?" Angel menjawab dengan ketus, fokus saja pada cermin di depannya. Dirinya memang sedang mematut diri malam ini.

 "Kamu kok bawa barangnya banyak banget, sih? Mau pindahan?"

 "Ya kan jauh, mau lama juga di sana," sahut Angel sambil merapikan bedak di pipi.

 "Akang jadi sendirian dong, enggak yang ngekepin." Luki mengeluh sambil masih melipat baju kemudian memasukkannya ke dalam koper.

 Angel hanya terkekeh. Perempuan bermata sipit dan cantik itu menghampiri Luki, lalu perlahan mendekat.

 Luki sudah bisa merasakan desah napasnya yang hangat. Dengan percaya diri, dia mulai monyong-monyong kayak Ikan Mujaer. Momen yang dinanti pun hampir tiba-tiba.

 Sayang seribu sayang, Angel bukan mau mencium Luki, tapi malah berbisik halus di telinga suaminya itu. "Puasa dulu," desahnya membuka mata Luki.

 "Enggak." Luki lalu berdiri, menatap Angel dengan lekat.

 "Maksudnya enggak?"

 "Enggak, kamu enggak boleh lama-lama di sana!" seru Luki dengan lantang.

 "Eh-eh kok gitu? Ini kan profesi aku, aku biasa nyanyi juga, kan?" Dahi wanita berbaju seksi itu mengeryit.

 "Ya ... sebenarnya ...." Nada bicara Luki mendadak sendu.

 "Sebenarnya, apa?"

 "Akang tuh cemburu, Cinta," keluh Luki manyun, "Akang enggak suka lihat kamu joget-joget, goyang-goyang di depan cowok-cowok lain. Mana goyangan kamu kan yahud."

 Angel terkikik bangga. Dirinya memang punya tubuh bagus, juga banyak laki-laki yang menggilai kecantikannya. Luki adalah salah satu laki-laki yang kepincut goyangan menggoda Biduan Wanita itu.

 "Akang bisa aja," kata Angel tersipu.

 "Kan emang gitu kenyataannya. Akang sebenarnya pengen kamu berhenti nyanyi." Luki memegang tangan Penyanyi Dangdut itu.

 "Enggak bisa!" ketus Angel, "kalau aku enggak nyanyi, enggak kerja, kita makan apa? Kerjaan kamu cuma diem aja di rumah, tiduran. Emang bisa dapet duit dengan kayak gitu."

 Angel menghempaskan kasar tangan Luki. Pernikahan keduanya barulah beberapa bulan dan ini menjadi pertengkaran pertama mereka.

 "Cinta, Akang kan suami kamu, kok kamu enggak nurut sih?" Heran Luki, seingat dia kalau Sarkini suka nurut. Angel memang punya karakter yang berbeda dengan mantan istrinya itu.

 "Sorry, ya! Enggak! Kalau Akang masih minta Angel buat berhenti nyanyi, Akang juga berhenti jadi suami Angel!"

 "Eh, kok gitu?!" Tangan Luki sigap mengambil tangan mulus Angel. Dia enggak terima, ucapan Angel sudahlah ngawur sekarang.

 "Ya, mau gimana, ya? Bosen sih aku juga." Angel bersikap bodo amat, bahkan tanpa Sudi menatap mata Luki. "Suami kok kerjaannya diem aja, enggak kerja. Heran si Sarkini kok bisa-bisanya tahan sama cowok kere plus pemalas kayak kamu."

 Luki diam, mulutnya terkunci dengan semua cibiran Angel. Hingga, wanita di depannya itu melangkah jauh, Luki masih dengan posisi sama mematung dan menatap tidak percaya dengan kepergian sang istri dari kamar.

 "Sarkini ...," gumam Luki, tiba-tiba ingat pada Sarkini.

 Luki tersadar, mengingat betapa sabarnya Sarkini dahulu. Dia tidak pernah mengeluh, ketika Luki belum berkerja malah bantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan Tutut.

***

  Dulu, Luki ingat Sarkini acapkali membuatkan makanan tiap malam, maksudnya makan malam. Mau Luki pulang main atau kerja, Sarkini selalu bersedia memberikan kebutuhan sang suami.

 "Ki, ini kamu makan dulu, pasti capek kan, ya!" ujar Sarkini saat itu.

 Sikap Luki memang ketus, seakan tidak menganggap kehadiran Sarkini, tepatnya memang tidak peduli.

 "Masak apaan sih? Lama banget!"

 "Aku masak asin sama bikin sambel. Makan dulu, ya!" Sarkini duduk di seberang Luki.

 Di rumah mereka makan beralaskan tikar saja. Luki menatap Sarkini, namun tidak lupa mengambil alas untuk makan.

 "Ki, kamu udah dapet kerjaan, kan?" tanya Sarkini di sela makan.

 Waktu itu, Luki memang bukan pulang kerja. Kapan sih dia kerja? Sebagai seorang buruh harian lepas, kerjaan Luki cuma jadi kuli bangunan, kadang ada kerja kadang juga enggak. Seminggu dua atau tiga kali saja dia berkerja, kadang malah tidak sama sekali.

 "Apaan sih nanyain kerja mulu? Capek tahu! Suami pulang bukannya dilayanin malah ditanya-tanya. Lo kira gue ini artis apa, lo wawancara tiap gue pulang!" marah Luki dengan nyalang mata yang menusuk.

 "Enggak gitu, Bang ...." Sarkini menunduk dengan suara lirih.

 "Serahlah!"

 Suara piring yang beradu dengan piring lain di tikar itu menghasilkan bunyi nyaring. Maklum, orang kampung ya pakai piring seng. Enggak pecah tapi kan suaranya berisik.

***

 Luki tersadar dengan lamunannya. Sekarang kok dia jadi merasa, Sarkini itu berharga, ya? Seperti dia sudah menyia-nyiakan sesuatu.

 Kemarin-kemarin dia memang merasa tidak nyaman dengan pernikahan Sarkini dan Omar. Bukan untuk membuat Sarkini kembal. Enggak rela saja mantan istrinya itu dimiliki orang lain. 

 "Gue harus ngelakuin sesuatu," tekad Luki kemudian berjalan tergesa keluar kamar.

 Matanya mengedepankan pandang ke setiap sudut rumah besar milik Angel. Tentu saja untuk mencari istrinya itu. Beberapa detik, dan tak lama Luki berhasil menemukan sosok itu sedang memegang ponsel sambil ketawa-ketawa.

 Dia awalnya ingin langsung mendekati, tapi entah kenapa dirinya malah penasaran. Dengan siapa Angel bicara? Luki pun memutuskan untuk diam di belakang aquarium, mengamati Angel yang berjarak beberapa senti saja dari sana.

 "Iya." Suara Angel mendesah, mendayu-dayu.

 Luki masih setia memasang telinga, karena penasaran. Dia juga sedikit mengintip.

 "Masih, kok, masih." Angel diam sebentar.

 "Iya, masih nyanyi." Si Angel tiba-tiba diam lagi, tapi dia kemudian tertawa lepas.

 Luki terheran-heran. Ekpresi istrinya itu seperti ABG dilanda cinta. Apa mungkin Angel lagi kasmaran lagi?

 "Iya, aku masih janda. Si Luki? Si Luki itu bukan suami aku kok. Mas tenang aja, kalau Mas beliin aku cincin itu Mas bisa liat aku goyang di kampung sebelah."

 Eh, omongan Angel menaikkan darah Luki sampai mendidih. Bahkan saking panas otak dan hatinya, kalau bisa kepala Luki sudah menyeburkan lahar pada perempuan berbaju mini itu.

 "Angel!" teriak Luki membuat Angel mematikan ponsel dengan terburu-buru.

 "Kamu sembarangan bicara, kamu enggak anggap aku?!" Langkah Luki perlahan mendekati Angel.

 Mata perempuan itu mengerjap-ngerjap. Hatinya jadi ketakutan. Dia mengira Luki tidak mungkin tahu percakapannya dengan cowok di seberang telepon itu.

 "A-bang, A-pa sih?" tanya Angel terbata-bata. Tanyanya gemetar memegang ponsel.

 "Sana aja, pergi dangdutan! Sekalian tiduran, guling-guling sama cowok-cowok di sana. Aku enggak dianggep, kan?" Luki menatap tajam. Pertama kali dia bisa marah pada Angel karena alasan cemburu membakar hatinya.

 "Akang!" sentak Angel, "kamu kok ngomongnya gitu, maksudnya apa? Akang mau beneran aku tinggalin?"

 Luki menghembuskan napas kesal. Rasanya dia tidak peduli Angel mau pergi atau pun tidak. Dia marah sekali dengan sikap sang istri yang seperti menyodorkan diri pada laki-laki.

 Sarkini tidak pernah begitu dulu. Ah, sial! Kenapa pikiran Luki kembali pada Sarkini. Benar kata lagu Roma Irama 'kalau sudah tiada, baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga'.

 

"Terserah!" Luki balas dengan ketus kemudian pergi dari hadapan Angel.

 Entah kenapa dia malas berdebat. Merasa sebaiknya melanjutkan lagu Roma Irama saja. Eh, bukan. Bukan itu yang Luki ingin lakukan.

 Hatinya ingin memastikan sesuatu. Alasan apa yang membuat dia ingat terus pada Sarkini. Kenapa sekarang dia justru merasa kehilangan?

 Oh, Lagu Roma Irama, kenapa rasanya yang dilanggamkan di lagu itu terasa terjadi di kehidupan Luki?

 

user

08 December 2021 10:45 Siti Munawaroh (Cik Muna) Masyaallah, 1000 lebih perhari, kurenz. Semingit, 1 hari lagi lebaran sarkat ... uwuw. Noted, izin riview perhatikan kata baku, yes (narasi), tyo meresahkan juga.

Bab11 Ingin Kembali

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 765

 "Sarkini!"

 "Sarkini!"

 Ada seseorang yang memanggil namanya. Sarkini yang sedang memakai lotion anti nyamuk, merasa sedikit terganggu. Ya jelas menganggu, ini itu jam setengah sebelas malam, siapa juga yang manggil-manggil namanya?

 "Kayak ada yang manggil?" gumam Sarkini menghentikan gerakan mengoles lotion di kaki.

 Sarkini ingin memastikan pendengarannya tidak lagi bermasalah, dia lirik Bang Omar. Tetapi, niat untuk bertanya pada sang suami urung, karena melihat Bang Omar sudah tidur pulas.

 Sepertinya Bang Omar letih sekali setelah buang air lebih dari tiga kali. Baiklah, Sarkini pun memilih untuk berdiri dan memastikan sendiri suara orang yang memanggil-manggil namanya itu. Betulan orang atau bukan? Ah, kalau bukan, Sarkini mau ngibrit balik ke ranjang terus peluk Bang Omar paling.

 "Sarkini!" Masih terdengar suara orang yang manggil Sarkini. Suaranya itu suara cowok sih, Sarkini menyadari sesuatu, suara itu seperti suara yang enggak asing.

 Sarkini mengintip di balik jendela kamar. Kamarnya dengan Bang Omar itu memang berada di lantai dua. Dan benar saja, orang yang berteriak di bawah itu cowok. Bukan Genderewo atau Tuyul, tapi itu si Luki. Lebih serem sih dari kedua makhluk yang disebutkan tadi.

 "Ngapain tu orang ke sini?" Sarkini bergumam masih mengintip di balik jendela.

 "Sarkini! Keluar! Aku mau ngomong sama kamu!" teriak si Luki di bawah.

 "Tolong, kamu bangun dulu, aku pengen ngomong sesuatu, sebenernya aku tuh masih cinta sama kamu. Aku yakin kamu itu masih cinta kan sama aku?" Luki menjeda ucapannya sejenak. Mungkin kehabisan napas karena teriak-teriak dari tadi.

 "Kita balikan aja, yuk! Aku mau kamu jadi istri aku lagi."

 Dasar gendeng, Sarkini ingin sekali menguyur kepala laki-laki tidak tahu malu itu, pakai air comberan sekalian. Ya, supaya otaknya bisa sadar. Dia itu kayak sudah tidak waras. Sarkini sudah menikah lagi dan dia minta untuk Sarkini jadi istrinya? Dulu ke mana coba?

 Rasanya Sarkini tidak ingin peduli. Dia tutup tirai kamar dengan rapi, juga menutup jendelanya. Sudahlah, biarkan saja si Luki. Toh, salah sendiri dia menyia-nyiakan Sarkini dulu.

 "Sarkini!"

 "Sarkini!"

 Mungkin sampai sekitar lima belas menit, Luki terus berteriak. Namun, Sarkini malah mengabaikannya, dia tentu saja memilih memejamkan mata dan mulai bermimpi yang indah.

 Luki tampak kesal di bawah, tepatnya di depan gerbang. Suasana juga sepi, hanya angin malam yang menemani Luki berteriak. Suara-suara jangkrik mulai terdengar, hembusan angin pun mulai agak kencang, mungkin akan turun hujan.

 "Sarkini!" Untuk ke sekian kali, Luki kembali berteriak. Dia menghela napas karena tidak dapat respon apa-apa.

 "Huh, ngeselin. Kenapa Sarkini jadi berubah, ya?" Cowok berkolor abu itu menunduk, menyesal.

 "Itu karena lo bego!"

 Luki hampir copot jantung dan loncat dalam waktu bersamaan. Suara halus perempuan membuat Luki nyaris loncat macam kucing ketahuan maling.

 "Bikin kaget aja lo!" sentak Luki pada perempuan itu.

 "Lo yang bikin keributan malem-malem. Ngapain lo teriak-teriak depan rumah orang, enggak ada kerjaan banget." Nika membalas tak kalah sengit.

 Nika yang enggak sengaja lewat saja merasa terganggu dengan teriakan si Luki. Herannya warga enggak menyadari itu. Nika penasaran lalu turun saja dari mobilnya tadi, kemudian mendekati Luki.

 "Lo siapa?" tanya Luki.

 "Lo sendiri siapa? Teriak-teriak manggil nama Sarkini, pacarnya lo?" Alis Nika naik melihat Luki yang memberengut.

 "Sembarangan! Bukan, gue ini sua-- maksudnya manta suaminya Sarkini."

 "Terus lo ngapain ke sini?"

 "Ya gue mau nuntut hak."

 "Hak?" Otak Nika yang mungkin tinggal separuh karena sudah dipake bekerja seharian itu kurang bisa mengerti apa maksud si Luki.

 "Iya, hak gue buat dapetin lagi cinta yang hilang."

 "Hahaha!" Tawa Nika membahana, tapi untung dia langsung sadar dan menutup mulut. "Ups! Sorry, gua cuma ngakak aja denger lo pengen balik sama Sarkini, itu tuh mustahil!"

 "Hah? Mustahil! Enggaklah, enggak mustahil. Sarkini masih cinta kok sama gue!"

 "Mana buktinya? Kalau iya, Sarkini masih cinta sama lo, enggak mungkin dia nikah lagi. Otak lo ketinggalan di WC, ya?" Nika menahan kikikannya, merasa cowok ini lebih enggak tahu diri dari pada dirinya.

 "Gila lo! Ngomong sama lo bukan nambah solusi, malah bikin gue pusing!" ketus Luki, dia kemudian berbalik badan. Tidak ada gunanya bicara dengan wanita ini, hanya menambah keruwetan saja.

 "Woy! Gue Nika! Kalau lo berubah pikiran alias otak lo udah beres, lo datang deh ke warteg gue yang deket belokan kampung. Otak lo kayaknya perlu dicuci tuh!" Nika berteriak saat Luki melangkah menjauh.

 "Bodo amat!" jawab Luki juga berteriak.

 Nika menaikan dahi. Sebenarnya dia ingin memberikan tips untuk membuat Luki kembali pada Sarkini. Karena apa? Nika pun ingin Bang Omar kembali. Mungkin mereka bisa bekerja sama, tapi kayaknya mantan si Sarkini itu tidak mau.

 "Dasar Cowok Aneh. Ya udah deh, gue cari cara lain aja. Yang penting gue bisa dapetin lagi Bang Omar." Nika menaikan bahu, tidak peduli. Otaknya sudah merencanakan sesuatu kok, jadi tidak perlu bantuan orang lain.

 

 

 

Bab12 Prasangka Buruk

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah kata: 754

 

 "Gue pengen balikan lagi sama Sarkini!" tegas Luki di hadapan Omar.

 Laki-laki yang sedang menghitung lembaran berwarna merah itu menaikan alis. Tiba-tiba datang, lalu bilang ingin balikan dengan Sarkini, tentu saja Omar merasa heran dengan tingkah mantan suami dari istrinya itu.

 "Maksud kamu?" Omar tetap mempertahankan sikap tenang, seperti biasa.

 "Lo bego, ya?!" Luki tampak naik pitam. "Gue tuh pengen balikan sama istri gue."

 Omar menaikan satu sudut bibir, tersenyum sinis. Hatinya sudah mengakak bukan main. Ada ya orang konyol dan menyebalkan seperti mantan Sarkini ini. Dulu menyia-nyiakan sekarang memelas kembali.

 "Kamu enggak bisa balikan sama Sarkini, dia udah jadi istri saya." Omar merapikan uang, lalu meraih dompet di saku dan memasukkan uang itu dengan rapi.

 "Lo juga cowok, harusnya lo ngerti perasaan gue. Lo punya segalanya, kenapa buat ngasih Sarkini lo enggak bisa?" ketus si Luki sambil melirik uang yang sudah dimasukkan Omar.

 "Hidup saya juga belum lengkap, makanya saya pengen Sarkini jadi pelengkap hidup saya."

 Luki hanya bisa diam melihat Omar melangkah di petakan sawah itu. Dia memang sengaja menghampiri Omar hanya untuk meminta Sarkini. Bodoh! Tentu saja tidak akan dapat.

***

 Sementara Luki mematung, Bang Omar melangkah acuh tak acuh. Dia tidak peduli dengan keinginan si Luki. Ancamannya hanya ancaman sepele kok, Omar tidak mungkin goyah dan melepas Sarkini.

 "Abang?" panggil Sarkini, saat Omar masuk mobil.

 "Maaf ya nunggu lama, Abang ke toilet dulu tadi." Omar menyamankan duduk di kursi pengemudi.

 "Enggak apa-apa, aku juga lagi itung uang belanja. Kita mau langsung ke pasar, Bang?" Sarkini merapikan dompet, lalu melirik Bang Omar.

 "Boleh."

 Mobil pun mulai dilajukan. Aroma jeruk yang segar mengiringi perjalanan suami istri yang baru menempuh pernikahan sekitar satu bulan itu. Sarkini diam saja, sementara Bang Omar juga diam, tapi pikirnya memutar ingatan tentang ancaman si Luki waktu sebelum dirinya dan Sarkini menikah.

  Entah kenapa, Omar seperti ada firasat. Firasat kalau omongan si Luki itu adalah sebuah pertanda. Entahlah pertanda apa itu. Apalagi setelah mendengar si Luki terus bersikeras meminta Sarkini kembali, Omar jadi takut kehilangan wanita itu.

 "Bang." Sarkini rupanya menyadari diamnya Bang Omar seperti gelagat yang aneh.

 "Ya," sahut Omar sadar dari lamunan.

 "Abang kenapa, kok kayak murung gitu?"

 "Enggak, enggak ada apa-apa." Omar lebih memilih memendam prasangka itu. Rasanya memang tidak seharusnya dibicarakan dulu.

 "Oh, aku pikir kenapa." Sarkini diam, dia juga sedang memikirkan sesuatu. Beberapa hari lalu Sarkini bicara dengan adiknya Bang Omar, percakapan yang cukup mencengangkan sih. Pun terasa mengganjal di hati Sarkini.

 Berbeda dari Bang Omar yang lebih memilih menutupi, Sarkini sudah menekatkan diri untuk jujur saja.

 Selang beberapa menit kemudian. "Bang," kata Sarkini.

 "Iya, apa?" Omar melirik Sarkini.

 "Aku mau cerita sesuatu, Bang." Sarkini menunduk, agak ragu tapi harus dibicarakan.

 "Cerita apa?" tanya Bang Omar tanpa melepas pandangan dari depan.

 "Tentang Aura."

 "Aura kenapa?"

 "Aura itu adik Abang beneran atau gimana?" sahut Sarkini mengingat-ingat apa yang Aura bicarakan waktu itu sungguh membuat dahi Sarkini mengerut.

 "Bukan," jawab Bang Omar santai, "dia bukan adik kandung Abang, cuma adik angkat. Dulu, waktu dia balita ibu bawa dia dari panti asuhan terus dirawat sama ibu dan bapak."

 "Oooh." Sarkini membulatkan bibir. "Tapi, apa Aura tahu soal itu?"

 "Iya tahu, waktu SMP dikasih tahu, kata ibu harus dikasih tahu, makanya diceritakan. Untungnya Aura enggak marah sih, nerima apa adanya."

 Penjelasan Bang Omar membuat Sarkini diam. Pantas saja adik suaminya itu kepingin jadi istri kakaknya sendiri. Haha, aneh sih Sarkini tidak terlalu memikirkan itu, tapi ada kata-kata hinaan dari Aura memang cukup menusuk hati Sarkini.

 "Kenapa tanya soal Aura, kamu ada masalah sama dia?" Bang Omar bertanya setelah hening sesaat.

 "Sedikit," cicit Sarkini.

 "Apa?"

 "Dia mau jadi istri Abang."

 Gelak tawa Bang Omar langsung membahana. Apa yang dikatakan istrinya itu sangat lucu. Mustahil sekali Aura ingin jadi istri, dia sudah bersama Bang Omar bukan satu atau dua tahun. Enggak mungkin adiknya itu berpikir konyol seperti itu ya walaupun mereka cuma adik dan kakak yang terikat surat tanpa ada ikatan darah.

 "Abang jangan ketawa! Aku serius."

 "Lucu kamu! Enggak mungkin, Sayang. Enggak mungkin Aura pingin jadi istri Abang, dia itu adik Abang."

 Sarkini membungkam mulut. Tak enak hati jika harus membicarakan lebih lanjut. Benar juga kata Bang Omar, Aura itu adik Bang Omar. Ya sudahlah, Sarkini akan menganggap angin lalu hinaan dan kata-kata Aura. Bisa apa lagi? Semoga saja tidak jadi masalah.

 "Udah, ya!" Bang Omar mengelus sayang puncak rambut Sarkini. "Jangan mikirin yang aneh-aneh. Abang itu cuma suami kamu, dan tentang siapa pun yang ada di antara kita, Abang yakin enggak akan jadi penghalang buat kita tetap bersama."

 Sarkini melukis senyum, meski masih ada sedikit keraguan. "Iya, Bang."

 

 

 

Bab13 Permintaan Konyol

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 723

 

 Dengan tergesa-gesa wanita cantik berkulit putih ala Tionghoa itu berlari menuju salah satu rumah, sebelumnya dia naik mobil dan setelah turun langsung lari. Ada sesuatu hal penting yang harus dia lakukan, sangat penting.

 "Permisi!" teriaknya sampai di depan rumah itu. "Permisi, punten ada orang?"

 Orang dalam rumah menyadari suara si wanita itu. Bu Popi yang sedang memasak sore itu pun terpaksa mematikan kompor.

 Sebelum keluar dapur, dia melihat Sarkini keluar dari kamar mandi, baru selesai poop sepertinya. "Mau ke mana, Bu?" tanyanya.

 "Tolong, goreng tempenya, ya! Ibu mau lihat dulu di depan kayaknya ada orang," sahut Bu Popi lalu melangkah meninggalkan Sarkini.

 "Baik, Bu." Sarkini langsung menghampiri kompor dan melanjutkan memasak.

***

 Di luar wanita itu masih saja berteriak. "Permisi!"

 Bu Popi balas berteriak dari dalam rumah, sebelum membuka pintu. "Ya, sebentar!"

 Tetapi nampaknya sia-sia saja. Orang di depan rumah itu tidak mendengar dan justru malah kembali berteriak. "Permisi! Assalamualaikum!"

 Bu Popi tentu menghela napas. Agak kesal juga karena orang itu tidak punya sopan santun. Bisakan dia tidak usah teriak-teriak plus gedor-gedor gerbang juga. Ini kan waktu magrib bahkan bisa terdengar jelas suara adzan, tapi perempuan itu malah terus-menerus berteriak.

 Suara gerbang yang dibuka disusul suara geserannya, membuat Angel mengendikkan wajah, kaget juga dia.

 "Ada apa ya, Neng?" tanya Bu Popi dengan ekspresi tenang.

 "Sarkini ada?"

 "Sarkini? Kamu siapanya, temennya?" Bu Popi agak sedikit menaruh curiga, karena setahu ibu mertua Sarkini itu menantunya tidak punya teman seperti ini. Maksudnya dandanannya menor sekali, jauh sekali dengan Sarkini yang sederhana.

 "Em ... eu-eu-eu, apa, ya?" Wajah Angel malah tampak berpikir, membuat Bu Popi semakin curiga.

 "Kamu siapa, ada perlu apa sama Sarkini?"

 "Saya istrinya Luki, saya mau minta bantuan sama Sarkini," tutur Angel tanpa ragu-ragu.

 "Hah? Bantuan apa?" Baiklah, Bu Popi semakin heran saja. Bantuan macam apa yang harus dilakukan Sarkini untuk mantan suaminya. Jangan-jangan bantuan yang aneh-aneh. Mata Bu Popi pun awas mengamati si Angel.

 "Suami saya diare, muncrut-muncrut katanya pengen ketemu Sarkini."

 "Apa hubungannya?" Bu Popi mengeryitkan, aneh-aneh saja.

 "Pokoknya saya mau bicara dulu sama Sarkini, tolong Bu izinin. Saya janji enggak akan ganggu dia lagi. Saya butuh bantuan dia sekarang, Bu." Angel memelas dengan wajah sendu. Dia sekarang memang menyadari kalau dirinya mencintai Luki dan tentu saja tidak mau kehilangan dia. Angel harus bicara pada Sarkini, harus.

 "Sebentar!" Bu Popi hendak kembali ke dalam rumah, saat tiba-tiba suara deru motor Bang Omar terdengar.

 Laki-laki tampan itu langsung turun dari motor, saat melihat seseorang yang asing sedang berdiri di sana.

 "Siapa ini, Bu?" tanya Bang Omar membuat Bu Popi urung niat untuk masuk.

 "Istrinya Luki. Katanya mau ketemu sama Sarkini."

 "Lho, ada urusan apa?" Sama seperti sang ibu, Omar juga merasa aneh dengan permintaan Angel.

 "Suami saya mencret, Bang. Jadi tolong, saya mau minta bantuan Sarkini," jelas Sarkini masih dengan nada memohon.

 "Emang mau apa? Mencretkan tinggal beli obat atau sumpel aja sekalian pake batu biar enggak keluar-keluar terus," ketus Bang Omar.

 "Tega! Masa saya nyumpel pantat suami saya pake batu, Bang?"

 Ibunya Omar malah sudah menahan tawa. Lucu saja, bagian apa lagi coba yang disumpel? Tentu pantat, kan? Dan konyolnya si Angel malah menjelaskan dengan gamblang.

 Pertanyaan Angel tidak sama sekali menggelitik Bang Omar. Dia masih sama dengan sikap acuh tak acuh.

 "Ya terserah kamu, mau disumpel bagian mana. Mulutnya aja sekalian, biar enggak sembarangan kalau ngomong."

 "Bang, tolong dong! Saya butuh bantuan, cuma Sarkini yang bisa bantu saya," pinta Angel lagi tanpa mengubah ekspresi sedih dan bingung itu.

 "Enggak!" tegas Bang Omar, "saya enggak izinin istri saya nyumpel pantat suami kamu! Gila aja!"

 Bang Omar berlalu untuk membuka gerbang, tapi tentu dengan sopan meminta ibunya untuk masuk dulu. Kemudian, mengambil motor lalu membawanya memasuki gerbang.

 Sementara, Angel termagu, diam dengan perasaan bingung. Selang beberapa detik, saat Bang Omar masuk gerbang Angel pun sadar.

 "Bukan gitu, Bang!" teriaknya, "saya pengen bicara dulu sama Sarkini."

 "Enggak!" Bang Omar menutup gerbang, bodoh amat dengan permintaan konyol istri si Luki itu.

 Angel akhirnya hanya bisa menghembuskan napas lelah. Harus bagaimana sekarang? Suaminya di rumah sudah bulak-balik WC hampir tujuh kali. Ah, sudah macam janda saja, jadi janda tujuh kali.

 Intinya sih bukan itu, tapi Luki ingin bertemu Sarkini untuk bicara sesuatu. Entah apa yang mau dia katakan. Angel tidak tega melihat suaminya itu pucat pasi seperti mayat saking seringnya ke WC. Kasihan sih, tapi bagaimana? Omar tidak mengizinkan Sarkini untuk bertemu Luki.

 "Sarkini!" teriak Angel sekencang mungkin.

 

 

 

 

 

Bab14 Meminta untuk Bertemu

0 0

 

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 881

 

 "Itu kok kayak ada yang manggil nama aku, ya?" Sarkini bergumam sendiri di dapur. Dirinya yang tengah mengoreng ayam, mendadak diam sejenak.

 Masih bisa Sarkini dengar suara itu, namun berusaha dia abaikan, tapi kok lama-lama suara itu malah semakin jelas, dan lagi Ibu Popi juga belum kembali. Bukannya beliau bilang mau menemui tamu, ya?

 "Bang!" Sarkini memanggil Bang Omar yang kebetulan masuk dapur untuk mengambil air minum.

 "Iya, kenapa?" Omar melirik sekilas Sarkini sebelum mengambil sebotol air dari dalam kulkas.

 "Itu, Abang denger, enggak? Kayak ada yang manggil-manggil aku, atau aku salah denger, ya?"

 "Kamu enggak salah denger, itu emang ada yang manggil kamu. Dia cewek aneh persis kayak suaminya," jelas Bang Omar tidak Sarkini mengerti.

 "Maksudnya, Bang?" Rasa penasaran membuat Sarkini mematikan kompor, takut gosong, nanti malah keasikan menyimak Bang Omar lagi.

 "Iya, itu istrinya si Luki, manggil-manggil kamu."

 "Eh, mau apa dia?"

 "Minta nyumpelin batu ke pantat suaminya kali." Bang Omar enggak berkata ketus, tapi dia memang sengaja mengatakan itu karena merasa kesal saja sih.

 "Abang kok ngomongnya gitu, apa urusannya sama Sarkini?" Agak marah Sarkini, ya karena dia enggak terima juga bahas-bahas mantan suaminya pakai candaan seperti itu.

 Bang Omar terkekeh. "Canda, Sayang," ucap Bang Omar lalu menghampiri Sarkini. "Abang cuma bercanda kok, jangan ngambek dong!"

 "Ya, abis Abang ngomongnya aneh-aneh." Sarkini masih memasang muka masam.

 "Bukan Abang yang aneh, tapi istrinya si Luki itu yang aneh. Dia pengen kamu nemuin suaminya, katanya cuma kamu yang bisa bantuin si Luki soalnya si Luki itu lagi mencret-mencret. Aneh enggak tuh? Apa coba hubungannya sama kamu?" papar Bang Omar, kini dipahami Sarkini.

 "Terus gimana?" Eh, kok Sarkini malah bertanya begitu, ya? Entah kenapa dia merasakan iba pada si Luki, hanya iba mungkin mustahil lebih.

 "Ya Abang enggak izinin, kalau dia modus gimana?" Bang Omar tidak berpikir Sarkini masih peduli pada Luki. Dia masih bisa mengendalikan rasa cemburu itu.

 "Iya sih." Sarkini diam sebentar, kemudian kembali menghadapkan diri ke kompor. "Aku masak lagi aja deh, aneh-aneh aja."

 "Masak apa, Sayang?" Omar yang melihat Sarkini agak murung lekas memeluk istrinya itu dari belakang.

 "Masak ayam kecap mungkin, soalnya ibu enggak bilang ayamnya harus digimanain." Sarkini mulai merekahkan senyum. Dia juga tidak terlalu peduli sih pada si Luki,terserah cowok itu mau bagaimana juga.

 "Em, pasti enak," puji Bang Omar. Selalu begitu, Bang Omar memang kerap kali memuji masakan Sarkini, bukan bohong, tapi memang enak.

 Sementara dua sejoli itu sedang bermesraan, dari balik dinding di dekat pintu dapur Aura sudah menahan panas di hati. Dia meremas dinding yang emang enggak bisa diremas sih, cuma dia menumpahkan kekesalan pada dinding bercat putih itu saja. Kesal dan tidak terima kakaknya itu berduaan dengan Sarkini.

 "Eheum!" Aura berdehem sambil menghampiri Omar dan Sarkini, setelah cukup lama bersembunyi di balik dinding.

 Omar melepas pelukan. Dia dan Sarkini bersamaan melihat ke arah Aura.

 "Ada orang di luar, ya?" tanya Aura, "dia nyari Teh Sarkini, mau pingsan kasihan, badannya juga pucat, diapain itu sama Teteh?" Aura memfokuskan tatap pada Sarkini.

 Sarkini tentu heran, dia merasa tidak melakukan apa pun pada istri si Luki, kenapa bisa sampai seperti itu?

 "Bang!" Sarkini melirik Bang Omar.

 Bang Omar yang mengerti hanya mengangkat bahu tak peduli. "Dia baik-baik aja kok tadi."

 "Hayo, Teteh!" Aura sengaja menunjuk wajah Sarkini guna menakut-nakutinya. "Teteh ngapain tuh cewek, lebih baik Teteh temuin deh nanti kalau mati gimana? Teteh yang harus tanggung jawab, mau dibawa ke polisi?"

 Adik Bang Omar ini memang benar-benar cemburu dan tidak mau melihat lagi adegan tadi. Terpaksa dia pun berbohong, dalam hatinya hanya ingin segera Bang Omar dan Sarkini berjauhan, gerah lihat mereka seperti tadi.

 "Eh, iya deh. Aku temuin dia." Sarkini kembali mematikan kompor, lalu membuka celemek.

 "Tunggu, Sar!" Bang Omar berteriak sambil menaruh botol, saat Sarkini hendak melangkah keluar dapur.

 

***

 Sampai di depan gerbang, Bang Omar dan Sarkini tidak melihat siapa-siapa. Keduanya celingak-celinguk kebingungan.

 "Mana, katanya dia mau pingsan?" Bang Omar yang pertama kali mengutarakan isi pikiran.

 "Iya, tapi enggak ada siapa-siapa."

 Suasana hening sesaat, hembusan angin menyentuh wajah Bang Omar dan Sarkini. Sepertinya akan hujan, udaranya terasa agak panas senja itu.

 Bang Omar menghela napas. "Udahlah kita masuk aja, orangnya juga enggak ada," sarannya hendak masuk lagi.

 "Iya, Bang." Sarkini juga berpikir sama, lebih baik masuk saja. Mungkin, Aura berbohong, Sarkini sedikitnya tahu sifat anak itu, tapi dipendam saja.

 Keduanya mau masuk gerbang, namun suara si Angel membuat Sarkini dan Omar diam lalu membalik badan menatap perempuan itu.

 "Sarkini!" teriak Angel. Dia terlihat menenteng kresek hitam. Angel juga berjalan cepat mendekati gerbang.

 "Sorry-sorry, gue jajan dulu tadi, beli minum juga, gue pikir bakal teriak-teriak sampai pagi makanya gue beli amunisi," cerita Angel dengan napas ngos-ngosan.

 "Ngapain kamu teriak-teriakin nama saya?" tanya Sarkini tegas.

 "Aku mau minta bantuan kamu, please temuin Luki, kali ini dia bakal minta maaf dan dia bilang bakal sembuh kalau kamu maafin dia."

 "Aku udah maafin dia, kok," sahut Sarkini biasa saja. Ah, rasanya memang tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi, enggak perlu juga ketemu si Luki.

 "Tapi, Sar--"

 "Saya dan Sarkini akan menemui dia," tegas Bang Omar membuat Sarkini menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 "Lho, kok gitu, Bang?"

 "Enggak apa-apa, Abang kepo sama dia. Mungkin kali ini dia bener mau minta maaf." Omar hanya ingat apa yang dikatakan si Luki. Dia juga laki-laki yang punya perasaan, Omar rasa tidak ada salahnya kalau hanya untuk meminta maaf.

 

Bab15 Ada Rahasia

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 916

Sampai di rumah Angel, Sarkini dan Omar mengikuti wanita itu menuju kamar utama, di mana ada si Luki di sana.

 Di kamar dengan ukuran cukup luas itu, tampak Luki sedang memegang remote TV. Dia rupanya sedang nonton. Katanya sakit tapi kok adem-adem aja, sekiranya begitulah yang terpikir Bang Omar dan Sarkini.

 "Ayo masuk aja!" seru Angel pelan.

 Tanpa basa-basi Sarkini dan Bang Omar langsung masuk. Luki yang menyadari kehadiran mereka langsung mematikan televisi. Dia menatap Sarkini dengan tatapan takjub, dalam hatinya dia tidak percaya akhirnya sang mantan istri mau juga menjenguknya.

 "Sar!" Luki menegakkan posisi duduk. "Kamu beneran ke sini?"

 Sarkini agak canggung melihat tingkah si Luki, dia melirik Bang Omar sebentar, baru kemudian bisa menjawab, "iya."

 "Sar, sini deh aku mau ngomong sama kamu!" Luki tidak peduli dengan kehadiran Omar di sana. Sengaja dia menepuk bagian tepi ranjang, agar Sarkini duduk.

 Lagi-lagi tindakan Luki membuat Sarkini bingung, dia kembali melirik sang suami, meminta izin tepatnya.

 Omar langsung paham dengan tatapan Sarkini, lalu mengangguk. "Abang ada di samping kamu."

 Merasa aman dan mendapat persetujuan, Sarkini pun lekas berjalan beriringan dengan Bang Omar untuk mendekati Luki yang duduk lemah di atas tempat tidur.

 Sarkini duduk. "Mau ngomong apa kamu?"

 Luki melukis senyum. "Boleh aku pengang tangan kamu?" Tatapnya penuh harap mengatakan itu.

 "Enggak!" tegas Sarkini, "aku bukan siapa-siapa kamu. Langsung aja, kamu mau ngomong apa?"

 Terdengar hembusan napas kecewa si Luki, meski begitu tidak mengubah kata-kata yang sudah Sarkini bilang tadi. Tidak! Si Luki tidak boleh menyentuhnya lagi, Sarkini tidak mau sampai laki-laki brengsek itu menyentuhnya lagi, sudah banyak luka yang dia rasakan akibat itu.

 "Oke, enggak apa-apa kalau kamu enggak mau aku pegang. Tapi kali ini aku serius, aku mau minta maaf sama kamu," tutur Luki setulus hatinya. Ini memang benar, kali ini Luki tidak mengada-ada tentang permintaan maaf, dia serius menyesali kesalahannya dulu.

 "Enggak apa-apa, aku udah maafin," sahut Sarkini biasa saja.

 "Gue juga minta maaf sama lo, Mar!" Luki melihat ke arah Omar yang berdiri di samping Sarkini. "Gue titip Sarkini, dia bukan jodoh gue, gue mohon lo sayangi dia, karena dia emang cewek yang baik."

 "Tanpa kamu minta, saya bakal ngelakuin semua itu, kamu enggak usah khawatir!" tegas Bang Omar lugas.

 "Aku udah lega sekarang." Luki mengukir senyum lagi. Dia kembali melirik tangan mulus Sarkini. Ingin rasanya dia pegang, sudah kangen hatinya untuk menyentuh tangan itu. Setidaknya untuk terakhir kali Luki ingin bisa menggenggam tangan itu, tapi tidak bisa.

 "Syukur kalau gitu, aku udah maafin kamu kok. Tolong, untuk sekarang kamu jangan ganggu kehidupan rumah tangga aku sama Bang Omar. Toh, kamu pun udah punya istri baru, kan?" Mata Sarkini sedikit melirik Angel.

 "Iya, aku ngerti ...," lirih Luki, "kalian boleh pulang sekarang. Terima kasih sudah mau datang ke sini. Aku cuma pengen denger kamu maafin aku aja."

 "Iya, sama-sama." Sarkini pun berdiri.

 Setelahnya berpamitan pada Angel. Dia tidak mau berlama-lama dekat dengan Luki, ada semacam trauma juga dekat dengan orang itu. Mungkin, Sarkini memang memaafkan tapi luka akibat kesalahan Luki masih dia miliki.

 Untuk menyembuhkan luka memang tidak semudah itu, begitupun yang Sarkini rasakan. Namun, sudahlah tidak apa-apa, Sarkini akan mencoba membiarkannya sebagai masa lalu dan tidak harus terulang di masa yang akan datang.

***

 Ketika sudah sampai di rumah, masakan sudah tersaji di meja makan. Aroma ayam, tempe, dan tahu goreng menyambut kedatangan mereka. Bu Popi rupanya sudah menyiapkan itu dan segera mengajak menantu dan anaknya untuk ikut makan.

 Mereka pun segera makan bersama. Bu Popi, Sarkini, Omar, dan Aura makan dengan tenang tanpa ada percakapan. Usai makan pun Aura dan Sarkini membantu membereskan dan mencuci piring.

 "Teh," ujar Aura saat keduanya sedang mencuci piring.

 "Iya, kenapa, Ra?" Sarkini menyempatkan melirik Aura.

 "Aku mau ngerjain PR, Teteh sendiri aja, ya yang nyuci." Aura mencuci tangan sebentar lalu mengelapnya dengan handuk kering.

 "Oh, ya boleh," jawab Sarkini tidak masalah.

 Aura nampak sumringah, lekas saja dia keluar dari dapur. Sedangkan Sarkini hanya bisa menghela napas saja, tingkah Aura itu sudah biasa, dia bilang mau mengerjakan PR padahal sebenarnya main ponsel.

 Bukan tanpa alasan berpikir begitu, Sarkini pernah tidak sengaja melihat Aura sedang teleponan padahal sebelumnya bilang pada Sarkini mau belajar. Ah, sudahlah itu masalah Aura, Sarkini juga tidak mau ikut campur. Meski sebenarnya, Sarkini mulai agak jengah tinggal di rumah ini.

 "Hai, Sayang!" sapa Omar sambil mengecup pipi Sarkini. "Mau Abang bantu?"

 "Boleh, Bang," sambut Sarkini sambil tersenyum.

 Omar yang sengaja datang untuk membantu pun langsung mengambil piring yang sudah dicuci Sarkini. Dia kemudian mengelapnya dengan lap kering, lalu menyusun di rak.

 Di sela kegiatan keduanya itu, mereka juga mengisinya dengan percakapan yang cukup serius.

 "Sar, Abang sopan enggak kalau nanya kayak gini?" Omar ragu, tapi untuk saat ini dia memang ingin mengutarakan isi hatinya. Tak tahan jika harus berpuasa terus-terusan.

 "Tanya apa, Bang?" Sarkini belum tahu, tentu hanya bisa bertanya dengan nada polos.

 "Kapan kita mau ... itu lho, itu." Bang Omar menggaruk tekuk leher yang tidak gatal, tapi berasa gimana gitu.

 "Itu?" Sarkini melirik dengan dahi mengeryit.

 "Iya, masa kamu enggak paham sih, Sayang. Itu lho, itu, kamu juga ngertilah. Abang enggak tahanlah kalau harus puasa terus," jelas Bang Omar dengan nada sendu.

 "Oh ... itu, ya?" Nada bicara Sarkini mendadak sedih. "Aku belum bisa, Bang ...."

 "Lho, kenapa?" Untuk ke sekian kali Bang Omar kembali kaget. Di malam pertama mereka,Sarkini bilang sedang datang bulan, dan sekarang dia masih bilang tidak bisa.

 "Ada sesuatu ... aku punya rahasia." Sarkini menunduk takut.

 "Rahasia apa, kamu enggak mau tidur sama Abang?" tegas Omar agak sedikit marah.

 "Bukan gitu, Bang! Cuma ...."

 "Cuma apa?"

Bab16 Menyukai Kakak Sendiri

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 963Oh, ternyata begitu alasan Sarkini tidak mau melayani suaminya. Seketika senyum miring nan jahat muncul di wajah Aura. Dia yang tidak sengaja mau masuk dapur lagi malah mendengar percakapan suami istri itu, pembahasan yang cukup dalam mengenai sebuah hubungan.

 Aura mengurungkan niat untuk mengambil air minum, ada sebuah rencana jahat yang dia jamin akan memisahkan kakaknya dan Sarkini. Dia memilih melangkah bukan menuju kamar tapi untuk keluar rumah.

 "Ra, mau ke mana?" Bu Popi yang keluar dari kamar menghampiri Aura.

 "Em, eu ... eu ... Aura mau jajan, Bu."

 "Oh, ibu boleh nitip?"

 "Boleh, Bu. Nitip apa?"

 "Sebentar." Bu Popi kembali ke kamar untuk mengambil uang, setelahnya langsung memberikan uang itu pada Aura. "Ini, obat nyamuk dua, ya?" 

 "Iya, Bu." Aura langsung menerima uang itu kemudian segera berpamitan pada sang ibu.

***

 Aura melangkah dengan santai, hatinya bahagia mengingat Bang Omar akan berpisah dengan Sarkini.

 Sudah sejak dulu, Aura memang menyukai kakaknya itu, lebih dari sekedar kakak. Ya, karena tahu tidak ada ikatan darah gadis bertubuh mungil itu mengira akan bisa bersama dengan sang kakak.

 Dari obsesinya itu, Aura malah jadi cemburu pada setiap wanita yang dekat dengan Omar, bahkan dengan Nika, Aura pernah bertengkar hebat hingga Nika kabur dari rumah. Tetapi, bukan itu juga yang membuat Nika cerai dengan Omar, sudah jelas alasan cerai mereka adalah karena Nika yang berselingkuh.

 Mata Aura mendadak terpaku pada sosok ibu dan anak yang sedang berjalan berdua di pinggir jalan, ada bayi juga dalam gendongan si ibu. Mendadak Aura jadi diam, tiba-tiba jadi ingat pada ibu dan Bang Omar.

 Rencana yang Aura pikir akan berhasil memisahkan kakak dan kakak iparnya itu rasanya terlalu jahat. Dia jadi berpikir ulang tentang itu.

 "Kayaknya ... aku lebay deh kalau harus kayaky gitu, nanti yang ada aku malah diusir dari rumah," lirih Aura masih menatap ke arah yang sama.

 Hening menyelimuti malam itu, waktu mungkin baru melewati waktu isya, tapi suasana sudah terasa begitu gelap dan udaranya juga terasa tidak nyaman.

 "Kamu ngapain?" Seorang wanita tiba-tiba menyapa Aura.

 Cukup membuat gadis itu terperanjat. "Eh, Teteh?" ujarnya kaget.

 "Ngapain kamu ngelamun di pinggir jalan, kesambet nanti!"

 "Teh Nika sendiri ngapain di sini?" Aura ini bukan menjawab malah balik bertanya pada mantan kakak iparnya itu.

 "Teteh liat kamu ngelamun, Teteh pikir kamu kesambet, jadi Teteh samperin, siapa tahu butuh tumpangan." Mata Nika melihat ke arah mobil, di mana tadi dia memarkirkan tepat di samping belakang Aura, tapi si Aura tidak menyadari itu.

 "Oh, boleh sih."

 Nika langsung mempersilahkan Aura untuk masuk, kangen juga pada adiknya ini, eh mantan adik mungkin ya. Tetapi, untuk masalah yang lalu itu sudah tidak jadi masalah. Aura dan Nika kini memang sudah baikan.

 "Mau ke mana, pulang?" tanya Nika sambil menyetir.

 "Em, Teh aku salah ya kalau masih suka sama Bang Omar?" Tanpa angin tanpa hujan, Aura malah bertanya begitu. Oh, ya dia juga sekarang cukup percaya pada Nika. Nika pun sudah tahu perasaan Aura sejak perceraiannya dengan Bang Omar selesai.

 "Lho, kenapa emang? Itu kan hak kamu." Dalam hati Nika sudah geremet, enggak terima, belum juga menuntaskan masalah si Sarkini, eh perasaan si Aura harus dia selesaikan juga.

 Aura yang tidak tahu apa pun tentang isi hati Nika, cuek-cuek saja dan malah berniat mengutarakan isi hati pada perempuan berambut pendek itu.

 "Kalau enggak salah, berarti boleh ya aku misahin Bang Omar dan Sarkini, kan aku juga pengen dapet kesempatan buat bisa deket sama Bang Omar," papar Aura lancar tanpa merasa bersalah.

 "Eh, kok gitu? Ya enggak boleh dong!" Dalam hati Nika ingin sekali menyumpal mulut bocah ingusan itu, eh Aura sudah gede sih tapi kok pemikirannya kayak bocil. Meski begitu, Nika hanya berusaha mengatur kesabaran agar bisa menanggapi ceritaan Aura, ada sesuatu yang ingin dia tahu.

 "Kok enggak boleh sih? Kan aku juga pengen punya kesempatan buat bisa sama Bang Omar. Ya siapa tahu aja aku jodohnya Bang Omar."

 Hadeuh, ngawur luar biasa. Otak Nika rasanya sudah membara mendengar itu, tapi dia mencoba menenangkan diri. "Em, gini ya Aura, Sayang. Kamu tuh enggak boleh kayak gitu! Bang Omar itu kan Abang kamu, enggak bolehlah kamu pengen bisa sama dia, kalau cinta atau suka ya boleh. Maksudnya kan ya kalian kan dari kecil bareng, emang mau mengkhianati hubungan hanya karena cinta?"

 Aura langsung ngedumel marah-marah. "Tapi tuh janda gatel! Enggak cocoklah sama Bang Omar! Tadi aja dia nemuin lagi mantan suaminya. Emang bagus apa kayak gitu, bagusan juga Aura, dia itu Janda yang enggak tahu malu, udah mah enggak punya surat, enggak jelas, tapi kok berani-beraninya deketin Bang Omar?!"

 "Wait-wait! Maksud kamu?" Oke-oke, Nika mulai tidak paham dan merasa ada yang mengganjal dari cerita Aura. Apa mungkin maksudnya Sarkini menemui Luki, begitu?

 "Ya, maksud aku Sarkini itu enggak baik buat Bang Omar, jadi dari pada Bang Omar sama cewek yang enggak jelas mending sama aku aja, baikan aku ke mana-mana juga," ujar Aura sombong.

 "Hem, bukan itu maksud Teteh. Kamu tadi bilang Sarkini nemuin mantan suaminya, emang iya, terus kenapa?"

 "Ya mungkin mau balikan, tapi anehnya masih aja nempel sama Bang Omar, heran!" Sekali lagi Aura menggerutu mengingat dirinya masih tidak terima sang kakak menikah lagi.

 "Oh gitu, ya ...." Setelah itu Nika diam, lebih memilih membiarkan Aura manyun di sampingnya duduk. Biarlah, Nika tidak peduli.

 Kini, ada sesuatu dalam benak Nika. Jika benar Sarkini menemui Luki, ada kemungkinan besar dia bisa menghancurkan rumah tangga sang mantan suami. Kalau harus diceritakan Nika sudah ngebet bin kebelet pengen balik lagi sama Bang Omar.

 Enggak heran kenapa Nika mau balikan lagi sama dia. Soalnya Bang Omar punya banyak kelebihan. Julukan Duda Keren pantas sekali disandang Bang Omar, pokok dia memang suami yang potensial, sayang dulu Nika menyia-nyiakannya.

 Tetapi, itu dulu. Nika tidak akan membuat kesalahan yang sama. Dirinya harus bisa merebut lagi hati Bang Omar dan Luki adalah jalan menurut Nika, dia akan membujuk laki-laki itu untuk membantunya membuat perselisihan antara Sarkini dan Omar.

 

Bab17 Mengajak Kerjasama

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 600

 

"Woy!" teriak Nika di siang hari yang terik.

 Seseorang langsung membalik badan. Dia yang sedang mengaduk semen itu mendadak mengerutkan dahi melihat wanita cantik nan seksi berjalan menghampirinya.

 "Maaf, Pak. Tahu yang namanya Luki?" tanya Nika tanpa ingin basa-basi.

 "Oh, Jang Luki!" sahut si bapak, "Luki mah udah enggak kerja, Neng. Digantiin kerjanya sama yang lain, soalnya kata istrinya sakit."

 "Oh, gitu ya, Pak." Nika tampak diam, ditatapnya sekeliling tempat proyek pembangunan rumah itu. Sosok Luki memang tidak ada di sana.

 Nika pun kembali menatap si bapak, tadi dia berteriak juga karena mengira bapak itu si Luki. "Eh, ya udah makasih, Pak."

 "Iya Neng sama-sama. Neng emang ada perlu sama si Luki?"

 "Iya, Pak."

 "Mau saya kasih tahu alamat rumahnya? Siapa tahu memang penting." Si bapak itu langsung menaruh cangkul di samping kundukan semen.

 Wah, Nika merasa ini kesempatan yang bagus, bahkan tanpa diminta bapak ini dengan inisiatifnya langsung menawari Nika alamat rumah si Luki.

 "Boleh banget, Pak. Saya emang ada perlu sama Luki, penting banget," jawab Nika antusias.

 "Bentar, saya cuci tangan dulu, Neng siapin kertas aja, punya?"

 Nika malah cengengesan. "Hehe, enggak, Pak."

 "Ya udah, nanti saya tulisin. Sebentar ya, Neng."

 Si bapak itu pun berjalan meninggalkan Nika sendirian di siang hari yang cukup panas. Merasa panasnya matahari seperti menyengat kulit, Nika pun memutuskan untuk menepi ke tempat yang teduh. Tepat di dekat proyek kebetulan ada warung makan, Nika duduk di sana.

 Selang beberapa menit, bapak tadi kembali sembari membawa secarik kertas. "Ini, Neng," ujarnya menyodorkan kertas itu.

  "Iya, Pak. Makasih." Nika langsung saja mengambil kertas.

 "Oh, ya, Neng. Bapak juga minta tolong buat tagihin hutang sama si Luki, dia punya hutang 200 ribu sama bapak, maaf, ya, Neng!" Si bapak yang tiba-tiba ngomong seperti itu membuat Nika sedikit membelalakan mata.

 Eh, buset ternyata si Luki punya hutang dan susah bayar. Nika hanya senyum-senyum saja, sambil mengiyakan keinginan si bapak.

 Setelahnya, Nika kembali ke mobil untuk segera pergi menuju rumah si Luki. Masalah tentang perasaannya harus segera diselesaikan. Nika tidak mau menunggu lagi dan kali ini harus berhasil membujuk si Luki.

 Sekitar lima belas menit, Nika akhirnya sampai di rumah gedong bercat putih orange. Rumah si Luki ini bagus, membuat Nika heran kenapa bayar hutang dia susah? Ah, bodo amat untuk masalah itu, Nika harus segera turun.

 Namun, saat sampai depan gerbang dan mau mengetuk. Nika seperti mendapat durian runtuh, Luki kebetulan datang dan mau masuk rumah.

 "Lo bukannya sakit?" Nika melihat Luki yang menenteng dua kresek hitam, tampak baik-baik saja.

 "Iya, kenapa? Kenapa lo datang ke sini?" ketus Luki acuh tak acuh.

 "Gue ngerti perasaan lo, apa yang lo rasain juga gue rasain."

 "Maksud lo, lo cinta juga sama Sarkini? Belok lo, ya?"

 "Astaga!" Nika repleks menepuk jidat. "Bukan gitu, Ozan! Lo, ya! Maksud gue, gue tuh juga pengen hubungan Sarkini sama Bang Omar putus, gue masih cinta sama Bang Omar. Lo ngerti kan maksud gue?" papar Nika kesal dan sedikit menaikan nada bicara.

 "Oh, gitu terus apa urusannya sama gue?"

 Benar-benar Nika merasa otak laki-laki ini ketimbun ketombe kayaknya, dengan kesal lagi Nika menjelaskan, "gini ya, Ki ... lo bener-bener kayak aki-aki deh. Maksud gue tuh, kita bisa kerja sama buat misahin mereka. Lo emang enggak mau gitu balik sama Sarkini?"

 "Dia udah enggak mau sama gue," singkat Luki kesel-kesel gimana gitu, dia juga memang enggak rela Sarkini meninggalkannya, ya begitulah.

 "Lo tuh kalah sebelum berperang. Sekarang gini lo berusaha dulu, baru lo bisa bilang begitu, lo harus inget, keuntungannya lo bisa balik lagi sama Sarkini. Gimana?"

 Entah mengapa, Luki merasa jadi tertarik. Mau dibohongi bagaimana juga hatinya memang masih menginginkan Sarkini.

 "Gimana caranya?" tanya Luki penasaran.

Bab18 Mengirim Foto

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 746

 

 

"Maafin aku ya, Bang!" Sarkini melihat wajah tampan itu masih tertidur pulas.

 Di pagi yang masih terasa dingin ini, Sarkini hanya mampu menatap wajah Bang Omar dengan sendu. Dirinya teringat betapa masih belum bisa melupakan kenangan masa lalu.

 Sarkini menghela napas. Kini, Bang Omar sudah tahu alasan apa yang membuat Sarkini belum mau disentuh. Alasan itu karena dia dulu sering kali dipukul Luki jika sudah melakukan hubungan suami istri. Luki acapkali marah jika tidak merasa puas. Berakar dari itulah Sarkini masih trauma untuk melakukannya lagi.

 Padahal kan dengan orang yang berbeda, namun Sarkini tetap saja parno. Lalu untungnya Bang Omar bisa memaklumi itu, tapi kasihan juga sih Joninya Bang Omar harus terus berpuasa.

 Sarkini lagi-lagi menghela napas. Dia sudah siap untuk berangkat ke pasar pukul enam pagi ini dan itu berarti sekarang.

 Untuk yang kedua kali, Sarkini mengelus rambut depan sang suami. "Maafin aku, ya Bang. Nanti insya Allah aku bakal siap dan bakal layanin Abang layaknya istri yang baik."

 Setelah puas menatap suaminya, Sarkini pun beranjak keluar dari kamar. Setelah itu tinggallah Bang Omar sendiri di kamar dengan mata yang masih terpejam.

 Pekerjaan yang banyak membuat Omar seusai sholat Subuh tadi langsung kembali tidur. Sarkini bahkan tahu itu dan membiarkannya.

 Sementara itu, tanpa diketahui siapa pun ada seseorang yang sedang bersembunyi di bawah ranjang. Orang itu sudah berada di sana sejak Bang Omar bangun lalu tidur lagi.

 Aura nekat masuk kamar saat tahu abangnya mau berangkat ke mesjid, setelah itu dia kelabakan mengetahui Sarkini sudah bangun dan akhirnya hanya bisa ngumpet di kolong tempat tidur.

 "Huh, akhirnya aman," gumam Aura setelah berhasil keluar dari pengapnya bawah tempat tidur.

 Aura lalu duduk di tepi ranjang. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia menatap sang kakak yang walaupun tengah tidur tetap saja tampan.

 "Em, ganteng gini." Aura mengelus pipi kakaknya. "Emang bego si Sarkini masa enggak mau sih tidur sama cowok seganteng Bang Omar, kalau aku udah halal sama Bang Omar udah tiap malem aku peluk dia," ujarnya terkikik malu-malu.

 Bang Omar tidak menyadari sama sekali perlakuan adik angkatnya itu. Aura yang terus mengelus-elus pipi Bang Omar seolah tengah mengelus boneka, karena Bang Omar tidak bergerak saking pulasnya tertidur.

 Sambil mengikik kecil, Aura beringsut ke samping ranjang. Dia sengaja tidur di samping sang kakak. Dirinya yang kebetulan hanya mengenakan terusan seksi mempertontonkan belahan dada itu menutupi tubuh dengan selimut, sengaja disamarkan untuk terlihat tengah tidur dengan Bang Omar.

 Suara blit kamera depan terdengar. "Ups! Aduh lupa matiin suaranya lagi," bisik Aura lalu melihat hasil jepretannya.

 "Hehe udah bagus kok, tinggal aku kirim ke Tante Girang itu, pasti dia cemburu dan enggak akan lagi deketin Bang Omar."

 Aura bergegas turun, tapi pelan-pelan. Tentu saja karena takut Bang Omar bangun. Setelah sampai keluar kamar dan selamat, Aura langsung mengirim foto itu.

 Tante girang yang dia maksud adalah Nika. Aura punya rencana menyingkirkan mantan kakak iparnya itu karena merasa Nika juga adalah ancaman.

 Wajah sumringah terlihat jelas di wajah Aura. "Yes, akhirnya berhasil! Bisa bobo tenang deh," ucapnya ketika pesan sudah terkirim ke nomor Nika.

***

 Di kediaman perempuan berusia seperempat abad lebih itu, Nika sedang menikmati sarapan pagi, saat tiba-tiba teringat ponsel.

 "Sih, kamu lagi apa?" teriak Nika pada pembantunya di dapur.

 "Lagi nyuci piring, Non," sahut pembantunya sama berteriak, karena jarak dapur dan ruang makan memang agak jauh.

 "Ambilin ponsel saya di atas meja kerja!"

 "Iya, baik, Non."

 Ibu ART itu pun menghentikan cuci piring demi mengambil ponsel Nika. Setelah Nika menunggu beberapa saat, pembantunya itu datang memberikan ponsel berlogo apel tergigit di belakangnya.

 "Ini, Non."

 Nika langsung mengambilnya. "Saya hari ini pulang cepet, kalau mau pulang, pulang aja!" ujar Nika pada pembantunya.

 "Baik, Non."

 "Ya udah sana! Lanjutin kerja kamu!"

 Tanpa basa-basi pembantunya itu langsung kembali ke dapur. Sementara, Nika langsung mengecek ponsel, takut ada hal penting perihal pekerjaan.

 Namun, saat melihat chat via WhatsApp, bukannya pekerjaan yang dia lihat, tapi sebuah pesan dari Aura.

 "Foto?" gumam Nika, "ngirimin foto apa ni anak?"

 Nika yang penasaran langsung membuka pesan dari Aura. Matanya membola, bahkan nyaris seperti mau copot.

 "Apa-apaan ni anak?!" Seketika pagi yang dingin, langsung terasa memanas bagi Nika. Hatinya langsung membara, bergejolak panas melihat adegan di foto itu.

 "Sinting!" sentak Nika keras dan suaranya bersamaan dengan ponsel yang ditaruh kasar di atas meja. "Awas aja lo, Ra! Lo bakal tahu akibat dari perbuatan lo ini! Lo pikir gue bakal diem aja? Enggak!" sungutnya menggerutu sendiri.

 Nika amat kesal dan dia bertekat tidak akan membiarkan Aura menang hanya karena berhasil membuat paginya memanas. Nika akan balas dendam, lihat saja nanti!

Bab19 Luka Lama Tersayat Lagi

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 701

 

"Siapa ini?" Sarkini bergumam saat baru menaiki angkot pagi ini. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal, dan lagi orang itu mengirimkan foto, foto apa, ya?

 "Sar, udah semua?" tanya Bu Popi yang baru masuk angkot. Ibu mertua Sarkini itu duduk di hadapan sang menantu.

 "Udah, Bu." Sayang beribu sayang, Sarkini gagal membuka pesan dan tahu apa isi foto itu, dia malah akhirnya memasukkan lagi ponsel ke dalam tas.

 "Oh, ya, Bu. Emang kita mau ada acara apa, ya? Kok belanjanya banyak banget?"

 "Syukuran aja, kan Bang Omar ulang tahun biasanya kalau yang lain suka bikin bolu atau apa gitu buat ngerayain. Kita mah syukuran aja di rumah, nanti bagi-bagi juga ke tetangga," jelas Bu Popi dengan senyum ramah.

 "Oh, ya ya. Bang Omar ulang tahun, ya? Duh Sarkini lupa lagi enggak beli hadiah buat dia." Wajah Sarkini mendadak sendu, dia betul-betul tidak ingat hari ini hari ulang tahun Bang Omar.

 "Enggak apa-apa," sahut Bu Popi menggenggam tangan Sarkini. "Kamu udah jadi hadiah yang indah buat anak ibu."

 Sarkini hanya bisa tersenyum penuh syukur. Sosok mertua yang baik adalah impian wanita mana pun di dunia ini. Alhamdulillah, Sarkini mendapatkan itu dari sosok Ibu Popi, mertua yang mengerti dirinya.

 Ya walaupun mau bagaimana sikap mertua pada menantu itu sudah pasti maksudnya juga baik. Bu Popi bukan tidak pernah bawel, beliau juga sama seperti mertua lain kadang bawel, tapi Sarkini tentu memaklumi itu sebagai bentuk kasih sayang Bu Popi padanya.

 "Terima kasih, Bu. Tapi Sarkini pingin bisa ngasih sesuatu buat Bang Omar."

 "Em, gitu ya? Tapi ibu enggak maksa lho, kamu jangan repot-repot, kita masak aja, terus makan bareng," saran Bu Popi memang tidak ingin merepotkan Sarkini.

 "Enggak apa-apa, Bu, Sarkini mau ngasih sesuatu, tapi nanti deh liat-liat dulu siapa tahu di jalan dapat inspirasi mau beli sesuatu."

 Bu Popi hanya menanggapi dengan senyum manis. Dia juga tahu Sarkini memang wanita yang baik. Dalam hati Bu Popi sangat berharap Sarkinilah wanita terakhir yang akan mendampingi anaknya, jangan sampai Omar mengalami luka yang sama seperti dulu.

 Kemudian, setelah beberapa saat mobil pun sudah melaju cukup jauh dari sekitaran pasar, Sarkini melihat sebuah toko baju, ada baju kaos yang cukup menarik perhatiannya.

 "Kiri, Mang!" ujar Sarkini pada tukang angkot.

 "Eh, mau berhenti di sini?" Bu Popi bertanya dengan heran.

 "Iya, Bu. Aku mau beli sesuatu dulu." 

 "Oh, ya udah. Nanti kamu pulangnya hati-hati, ibu minta Omar buat jemput aja, ya?" tawar Bu Popi.

 "Boleh, Bu. Kalau gitu aku turun duluan, ya! Ibu hati-hati." Sarkini melukis senyum, lalu turun dari mobil yang sudah berhenti.

 Sarkini lalu memberikan ongkos dan melihat mobil angkot itu melaju pergi. Dia kemudian melihat ke belakang di mana ada toko baju yang dilihatnya tadi.

 Langsung saja, Sarkini membeli baju yang menurutnya menarik. Memang murah, tapi Sarkini kira ini hadiah yang cocok untuk sang suami, setidaknya Sarkini memberikan ini dengan cinta.

 Hehe, Sarkini merasa geli mengingat apa yang mau dilakukannya ini, karena kalau boleh jujur dirinya kini memang sudah merasakan bunga-bunga asmara yang bermekaran. Hatinya ingin sekali bisa menjadi wanita terbaik untuk Omar. Tidak akan seperti dulu, Sarkini yakin Omar laki-laki yang tepat untuk dia sayang dan cintai.

 Dering ponsel menghentikan langkah Sarkini yang mau berjalan menuju sebuah bangku di pinggir toko itu. Sarkini kira itu Bang Omar, karena kan ibu bilang akan meminta Bang Omar untuk menjemput.

 "Ya, hallo! Ini siapa, ya?" tanya Sarkini karena nomor yang meneleponnya memang nomor yang tidak dikenal.

 "Ini aku, Nika. Kamu belum baca chat dari aku?"

 "Nika? Oh, jadi kamu yang ngirim foto. Emang kamu ngirim foto apa?"

 "Buka aja! Dari pada kamu kepo!"

 "Hallo! Hallo!" Sarkini bingung karena sambungan langsung nut-nut alias mati begitu saja.

 "Eh, apa sih si Nika ini?" Sarkini mengeryitkan dahi, tapi kemudian dia langsung ingat foto yang dikirim Nika, segeralah Sarkini buka.

 Betapa dirinya langsung terkejut. Kresek putih di genggaman sontak terjatuh. Sarkini merasakan dadanya bergemuruh, seperti luka yang disayat lagi, kemudian ditaburi garam hingga memberi perih yang mendalam.

 Apa-apaan ini? Kapan foto ini diambil? Sarkini benar-benar sangat kecewa. Hatinya hancur, keinginan untuk mencurahkan kasih telah lenyap. Sarkini merasa telah dikhianati rasanya sendiri. Jadi, ini yang Omar inginkan bermain curang di belakang Sarkini, apa dia juga mau menjadikan Sarkini Janda Bodong lagi atau lebih buruk dari itu, istri yang hanya pajangan?

Bab20 Salah Paham Katanya

0 0

 

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 604

 

Bang Omar lekas menarik tangan Sarkini. Tak sanggup dia melihat air berjatuhan dari mata sang istri. Apalagi melihat bibirnya yang bergetar mengatakan rasa sakit itu.

 Omar tentu sudah melihat foto yang Sarkini tunjukkan. Dia sendiri tidak tahu, bagaimana bisa ada foto seperti itu, maksudnya kapan dan kenapa bisa diambil foto yang tidak pantas? Omar tidak mengerti kenapa ini terjadi?

 Aura adalah adik yang baik bagi Omar, ini fitnah, Aura tidak mungkin begitu.

 "Sar!" ujar Bang Omar, "tolong kamu dengerin dulu penjelasan Abang!"

 "Penjelasan apa?!" Sarkini menyentak seraya menghempas kasar tangan Bang Omar. Matanya menatap tajam dua mata lelaki yang sudah menjadi suami, namun bagi Sarkini sudah pula menyakiti, yang mengulang kembali luka lama yang nyaris sembuh, tapi Omar tega menggoresnya lagi.

 "Abang udah jelas semuanya, Bang! Abang mau jelasin apa? Abang mau jelasin kalau Abang mau nyeraiin aku, gitu Bang?" Napas Sarkini sudah naik turun akibat amarah yang terpendam.

 Dalam hati dirinya tidak tega menyentak sang suami. Mau bagaimana juga Omar adalah laki-laki yang Sarkini kasihi, enggak mungkin Sarkini menyakiti hatinya. Kalau boleh jujur, Sarkini tidak tega melihat raut wajah Omar saat ini. Namun, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.

 "Jelas apa? Kamu salah paham! Aura enggak mungkin kayak gitu dia itu baik, dia adik Abang," bela Bang Omar malah membuat Sarkini naik pitam.

 "Baik, Bang. Aku ngerti, aku paham banget, kalau Abang akan lebih memilih adik abang dibanding aku. Baik, Bang, aku yang akan pergi," putus Sarkini lalu kembali meraih baju-baju di atas ranjang itu untuk dimasukan ke dalam tas.

 Sudahlah, tidak ada harapan untuk pernikahan ini. Untuk apa sebuah hubungan jika hanya menyakiti? Sarkini sayang Bang Omar, namun jika rasa sayang itu malah menjadikannya terpuruk dan tersakiti untuk apa?

 Bukannya Sarkini keluar dari hubungan toxic adalah demi sadar untuk menyayangi diri sendiri? Lalu kalaulah Sarkini masih mempertahankan hubungan yang sama bukannya sama saja, hanya memberi garam di luka sama?

 Iya, tepat sekali. Semuanya percuma jika dilanjutkan. Sarkini akan memilih pergi. Sakit memang, sangat malah. Tetapi, sekali lagi, Sarkini tidak mau mengulang racun sama menyakiti tubuh dan hatinya.

 "Sar, aku enggak bisa milih kamu atau Aura, kalian dua wanita yang Abang sayang. Kalian berharga buat Abang. Kenapa kamu malah nyuruh Abang milih?" Bang Omar lagi-lagi mencekal tangan Sarkini, saat wanita itu hendak beranjak dari pintu kamar.

 Tepat di depan pintu Sarkini terpaku, tanpa sedikit pun membalik badan. "Karena aku enggak bodoh, Bang! Dan aku enggak mau jadi lemah hanya karena harus mempertahankan hubungan yang sama."

 "Yang sama, maksud kamu?" Baiklah, Omar memang tidak memahami jalur pembicaraan yang Sarkini bahas.

 "Hubungan yang cuma nyakitin aku, untuk apa aku lanjutkan? Mungkin, dari awal seharusnya aku emang enggak nerima Abang, jadi Janda Bodong aja selamanya, dapat hujatan, hinaan, itu udah biasa, mungkin emang harusnya itu takdir hidup terbaik buat aku," papar Sarkini dengan hati yang tersayat-sayat. Dia hanya berusaha kuat meski luka itu terus menusuk-nusuk sampai-sampai dadanya terasa begitu sesak.

 "Kamu salah paham, Sar!"

 "Enggak!" Sarkini menurunkan paksa tangan Bang Omar dari pergelangan tangannya. "Kalau Abang percaya sama aku, enggak mungkin Abang menyangkal ucapan aku. Orang yang paling dekat itu bisa mengkhianati dan Abang enggak menyadari itu, malah nuduh aku fitnah sama adik abang. Semua terserah Abang, aku sekarang memilih pergi, aku menyerah dengan hubungan ini."

 Sarkini berlalu pergi meninggalkan Bang Omar di kamar, meninggalkan hati laki-laki yang kini sedang kebingungan.

 Sebagai seorang laki-laki Omar tentu sadar dirinya bersalah. Harus ada kejelasan dan solusi dari permasalahan ini. Akarnya ada di Aura, adiknya itu ternyata memang bisa berkhianat. Omar harus tahu bagaimana foto itu bisa diambil.

 Sarkini butuh waktu, dia perlu mendinginkan hati. Omar akan mencari tahu dulu dan menemui Aura. Sungguh, jika adiknya itu berkhianat, Omar tidak bisa memaafkan.

Bab21 Untuk Apa Kembali?

0 0

 Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 873

 

Sarkini mencoba menahan sesak di dada, air mata yang sudah membasahi pipi itu cepat-cepat dihapusnya. Tidak mau Sarkini melemah hanya karena urusan cinta.

 Setelah semalam ibu mertuanya datang, lalu memberikan Sarkini uang, Sarkini merasa mendapat sebuah dukungan. Lagi-lagi Bu Popilah yang selalu ada buat Sarkini. Bang Omar? Dia justru malah tidak mengejar atau bahkan menemui Sarkini hingga pagi ini.

 Ya, pagi ini Sarkini sedang mencuci pakaian di belakang rumah, karena kamar mandi di dalam rumah sempit, ini pun memang sudah jadi kebiasaan Sarkini.

 Ya Rabb, Sarkini ingin sekali rasanya mengumpat pada air mata yang lancang ini, dia tidak mau berhenti turun dari pipi Sarkini, terus menelusuri bahkan sampai terasa menetes melewati rahangnya. Lekas Sarkini hapus, dinginnya tangan terasa menyentuh pipi, memberi bekas menyejukkan, Sarkini diam sejenak menghela napas.

 Sudah tidak mungkin Sarkini melanjutkan mencuci baju pagi ini, bayang tentang foto itu terus melintas. Orang yang berduaan tanpa busana dengan lawan jenis di kamar, mana mungkin tidak melakukan apa-apa. Bang Omar terus menyangkal apa yang Sarkini katakan, padahal sudah sangat jelas di foto itu Aura dan Bang Omar berduaan dalam satu selimut, tanpa busana.

 Sarkini tidak mungkin salah, Sarkini bisa melihat itu. Ya Tuhan, baru saja rasanya Sarkini ingin melepas masa lalu, luka lama akibat dari perbuatan Luki yang selingkuh. Tetapi, justru pemandangan lama harus Sarkini saksikan.

 Sungguh, ini menyayat hati Sarkini, di saat hatinya mulai mau menerima malah pengkhianatan yang hadir di depan mata. Adik ipar, kenapa harus dengan Aura? Sarkini benar-benar tidak habis pikir.

 Ini semua gara-gara HP sialan itu, harusnya Sarkini tidak pernah menerima hadiah dari Omar, dengan begitu Sarkini tidak akan melihat foto menjijikkan suaminya tidur berdua dengan adiknya sendiri.

 Sarkini berdiri, mengambil ponsel, lalu kembali ke halaman belakang. Dia hancurkan ponsel itu, melemparnya ke batu besar yang kebetulan ada di sana, gawai berkategori mahal itu sontak hancur,layarnya retak dan mati.

 Napas Sarkini naik turun dengan air mata yang bercucuran. "Percuma ...," gumamnya getir, "semuanya percuma ... apa dia bilang? Mengangkat derajat, menjadikan wanita yang lebih terhormat, dan menghilangkan fitnah juga caci maki tetangga?" Sarkini bergumam sendiri mengingat kata-kata Bang Omar, alasannya dulu ingin menikahi Sarkini.

 "Bohong! Dusta! Semuanya cuma bohong! Enggak ada namanya laki-laki baik, semua laki-laki sama aja!" umpat Sarkini dengan gemetar, hatinya sakit hingga tidak mampu meredam emosi.

 Kakinya lemas dan Sarkini pun tidak sanggup lagi berdiri, hingga akhirnya duduk berjongkok sambil menangis sesenggukan, menunduk menenggelamkan wajah di kakinya dengan tangan mendekap kaki yang sudah begitu lemas. Sarkini tidak tahu harus bagaimana lagi, galau karena hatinya sudah mulai jatuh cinta, tapi Sarkini juga tidak mau melanjutkan hubungan ini, untuk apa? Hanya menyakiti diri sendiri.

 Mungkin benar Janda Bodong sepertinya memang tidak layak mendapat laki-laki baik. Seorang wanita yang dari dulu disakiti dan kini pun sama. Sarkini jadi bertanya-tanya kapan kebahagian hadir di hidupnya atau bahkan tidak akan pernah ada bahagia untuk Sarkini?

 Apa selamanya hanya rasa sakit yang akan Sarkini rasanya, apa salah dirinya ingin disayang dan dicintai? Apa itu cinta? Hanya omong kosong saja, semuanya malah jadi begitu menyakitkan.

Tanpa Sarkini tahu, sudah ada orang yang memperhatikannya sedari tadi. Orang itu pun segera menghampiri Sarkini.

 "Sar!" ujar orang itu.

 Sarkini takut orang tahu dia menangis, segeralah Sarkini bangun dan menghapus pula air matanya. "Iya, ada apa?"

 "Kamu baik-baik aja?"

 "Buat apa kamu ke sini?!" Nada bicara Sarkini mendadak jadi ketus melihat siapa yang memanggil namanya.

 "Aku ... aku enggak sengaja lewat dan liat kamu nangis, kamu kenapa, ada masalah?" tanya Luki dengan lembut.

 Namun, tidak mempan melunakkan hati Sarkini. "Bukan urusan kamu," ketus Sarkini hendak melangkah masuk rumah.

 Luki segera menarik tangan Sarkini. "Enggak! Kamu bohong sama aku, kamu enggak sedang baik-baik saja, kamu nangis dan aku tahu kamu lagi terluka, Sar."

 Sarkini memanas dan langsung saja menghempaskan tangan Luki. "Apa peduli kamu?!" tanyanya menatap tajam.

 "Apa peduli kamu, hah?! Kamu cuma mau nyakitin aku, kan? Itu kan kebiasaan kamu, mukul aku, nyakitin aku? Buat apa kamu tanya-tanya hidup aku?! Lebih baik kamu pergi sekarang dari sini dan dari kehidupan aku!" usir Sarkini berapi-api.

 "Aku peduli, Sar, karena aku masih sayang sama kamu. Ya, aku akui aku dulu salah dan aku minta maaf, tapi tolong beri aku kesempatan." Luki lagi-lagi memelas, hatinya kini memang sudah memahami cinta Sarkini dahulu dan berharap Sarkini mau memaafkan, membalas cinta Luki, cinta Sarkini dulu yang mencintai Luki tanpa syarat.

 "Terlambat," singkat Sarkini untuk kemudian menghembuskan napas lelah.

 "Enggak, Sar, belum terlambat kamu masih bisa kembali sama aku, aku janji kali ini pernikahan kita akan jauh lebih baik dari sebelumnya."

 "Harus aku percaya?" Sarkini tersenyum miring, meremehkan. "Harus aku percaya sama Buaya kayak kamu, harus aku percaya sama orang yang udah nyakitin aku, udah bikin hidup aku hancur?!" Sarkini menyentak hingga membuat Luki terpaku.

 "Sar!" Lagi-lagi Luki kembali berteriak saat Sarkini hendak masuk rumah.

 Namun Sarkini, tentu saja tidak peduli. Pantang baginya menggores luka lama, yang harus Sarkini lakukan adalah menyayangi diri sendiri, tidak akan dia kembali pada racun yang akan membunuh hati dan perasaannya. Sudah cukup Sarkini dibodoh-bodohi oleh kata cinta. Nyatanya pasangan yang dia mau tidak pernah paham arti cinta sesungguhnya, hanya bisa menyakiti tanpa mau mengerti.

 Sarkini kini harus mengobati luka itu. Tidak! Sarkini tidak boleh sampai terluka lagi. Ibu Popi berjanji akan membantu Sarkini, entahlah bantuan seperti apa. Ibu mertuanya itu memang tampak marah saat Sarkini beritahu perihal Naura.

Bab22 Terbongkar

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 610

 

"Aura!" Omar berteriak dengan napas naik turun, rahangnya mengeras seiring ketukan pintu yang semakin keras dia lakukan.

 "Aura! Keluar kamu!" sentak Omar sudah begitu geram.

 Bu Popi di samping Bang Omar lekas menenangkan anaknya itu. "Sabar, Bang, Sabar," ujar Bu Popi sambil mengelus lembut bahu sang anak.

 "Aku udah enggak bisa sabar, Bu," balas Omar menahan amarah.

 "Aura!" Lagi-lagi Bang Omar berteriak serta menggedor-gedor pintu kamar adiknya.

 "Aura!"

 Bu Popi hanya menghela napas, menghembuskan dengan perasaan gelisah. Hingga kemudian, Aura pun keluar dari kamar dengan rambut yang acak-acakan karena baru bangun tidur. Omar betul-betul mengganggu tidurnya malam ini.

 "Ada apa, Bang, kenapa teriak-teriak?" tanya Aura tanpa tahu apa-apa.

 Omar tidak menjawab dengan kata-kata, namun tangannyalah yang melayang dan mendarat tepat di pipi mulus sang adik.

 "Lancang kamu, ya!" sentak Bang Omar, "berani kamu ngambil foto saya, hah?! Siapa kamu? Lancang sekali, dari kecil kamu dibesarkan keluarga saya, sekarang begini cara kamu berbalas budi?!"

 Aura terpana sambil memegang pipi yang sudah terasa perih, bahkan warna kemerahan mulai muncul di sana.

 "Maksud Abang apa?" Suara Aura bergetar, karena rasa sakit pun bukan sekedar di pipi, namun mulai menjalar hingga ke hatinya. Perih sekali, tega sekali Bang Omar menampar padahal selama ini selalu bersikap lemah lembut pada Aura.

 "Jangan pura-pura bodoh! Gunakan otak kamu itu, ibu saya sekolahin kamu bukan buat jadi perempuan perayu, perempuan murahan!" bentak Omar lagi-lagi dengan nada menggebu.

 "Sudah-sudah, Bang, tenang." Bu Popi berusaha menenangkan pertengkaran adik dan kakak itu. Bu Popi sudah tahu, bukan tidak marah, tapi ya Bu Popi hanya berusaha untuk tenang saja, meski hatinya merasa tidak percaya. Aura bayi mungil yang dulu dia rawat itu tega melakukan hal keji.

 Omar menghembuskan napas kesal. "Urusan saya belum beres sama kamu, liat aja! Kalau sampai saya pulang kamu masih ada di rumah ini, saya enggak akan segan usir paksa kamu dari sini! Camkan itu!"

 Mata Bang Omar yang bagai menusuk itu, membuat Aura ciut, dia langsung tertunduk, takut melihat sikap Bang Omar yang baru pertama dilihatnya. Ini adalah marah Bang Omar paling mengerikan bagi Aura.

 Bang Omar sendiri tidak mau lagi melihat wajah adik angkatnya itu. Kecewa, sangat kecewa dengan kelakuan Aura yang di luar batas, bahkan Omar ternyata salah sudah menyayangi gadis itu, Aura ternyata menginginkan hal lebih dari sekedar adik dan paling menjijikkan dia tega membuat fitnah demi keinginan tidak pantasnya.

 "Aku mau keluar, Bu, Aku harus jelasin ini sama Sarkini." Omar mengulurkan tangan untuk kemudian mencium tangan sang ibu.

 "Iya, Nak jelaskan sama Sarkini supaya dia enggak salah paham lagi," sahut Bu Popi lembut.

 "Ya, Bu. Assalamualaikum."

 "Waalaikumsalam," jawab Bu Popi pelan.

 Sebentar Bang Omar menatap sinis Aura, lalu melangkah pergi dengan menghentakkan kaki. Omar tidak menyangka dengan kelakuan Aura, dirinya bahkan membela Aura di depan Sarkini, tapi ternyata yang salah memang adiknya.

 Sore tadi tepatnya, ketika Bang Omar baru beres mengecek hasil kebun, Nika mengiriminya sebuah pesan dan mengatakan semua kelakuan Aura termasuk memberikan foto itu, membeberkan pula keinginan Aura untuk memisahkannya dengan Sarkini, sungguh tingkah Aura membuat Omar naik darah.

 Sementara itu, Bu Popi yang juga sudah tahu menghela napas sesaat, untuk kemudian memegang bahu Aura.

 "Ra, ibu enggak nyangka sama kamu, kenapa kamu kayak gini, hah?" tanya Bu Popi tegas.

 "Maksud Ibu apa, kalian sebenarnya kenapa?" lirih Aura menahan tangis.

 "Kemasi barang-barang kamu, kamu tidak boleh tinggal di rumah ini lagi! Jangan pura-pura kamu enggak tahu apa yang kita maksud. Foto itu maksudnya apa? Harusnya Ibu yang bertanya begitu sama kamu." Bu Popi berkata dengan nada tegas tanpa mau dibantah.

 Seketika Aura terbelalak, hatinya langsung mencelos dan ketakutan. "Ibu ... Aura ... Aura enggak mak--"

 "Udahlah, kamu kemasi barang-barang kamu! Kamu denger kan apa yang Abang kamu bilang, mau nunggu apa, nunggu diusir?"

Bab23 Memutuskan Pergi

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 646

 

Bergegas Omar pergi dari rumah untuk segera ke rumah Sarkini. Ya, walaupun ini sudah jam setengah sepuluh malam, tapi Omar tidak peduli. Dia hanya ingin segera menemui Sarkini untuk menjelaskan semuanya.

 Dengan motor Omar pergi ke rumah Sarkini, laju motor itu dipercepat. Jalanan yang sepi membuat Omar leluasa menguasai jalanan. Hingga hanya dalam waktu lima menit saja dirinya sudah sampai di rumah Sarkini.

 Langsung saja Omar mengetuk pintu, bahkan begitu keras. "Sar, Sarkini! Buka, Abang mau bicara! Sar!" teriaknya tanpa pikir panjang.

 "Sar!"

 "Sar!"

 Omar menghembuskan napas, kecewa karena Sarkini tidak kunjung membuka pintu. Apa mungkin dia sudah tidur? Ya, ini kan sudah malam, sudah pasti Sarkini sudah terlelap dengan nyenyak.

 "Mungkin besok saja," gumam Omar kecewa, kemudian dengan lesu dia melangkah menuju motor. Sebaiknya Omar pulang saja, masih ada waktu besok, bukan? Setidaknya ini belum terlambat dan Omar masih bisa minta maaf pada Sarkini.

 "Eh, Bang Omar!" seru seseorang.

 "Bang Ahmad, ronda, Bang?" tanya Bang Omar pada laki-laki sedikit lebih tua darinya itu, kebetulan dia juga adalah pegawai Omar di kebun.

 "Iya nih, Bang. Abang lagi ngapain di sini? Cari Sarkini?" tebak Ahmad yang tepat sasaran.

 "Iya, Bang. Kenapa Bang Ahmad tahu?"

 "Soalnya tadi sore pas saya pulang dari kebun, saya lihat Sarkini bawa tas gede terus pas saya tanya katanya mau ke kota. Ya, saya pikir sama Abang tapi enggak, mau laporan ke Abang tadinya tapi saya lupa."

 "Kota?" Sontak Omar kaget, kenapa Sarkini tiba-tiba ingin ke kota, apa dia betul-betul marah sampai ingin menjauhi Omar?

 "Ya, Bang."

 "Okey kalau gitu, makasih, Bang," jawab Omar terburu-buru. Dia langsung menuju motor dan melajukannya, tanpa pamit terlebih dahulu.

 Yang Omar pikir hanya harus segera mengejar Sarkini, meski Omar bingung harus cari ke mana. Apa mungkin ke terminal?

 Omar tanpa tentu arah segera melajukan motor dengan kencang, menembus dingin dan gelapnya malam. Pikirannya cukup kalut karena merasa bersalah bercampur dengan ketakutan akan kehilangan Sarkini. Sungguh, Omar tidak ingin kehilangan wanita itu, hatinya sudah merasa jatuh cinta, bahkan terlanjur sayang. Omar tidak mau jika harus kehilangan lagi.

***

 Sementara itu, di tempat lain seorang wanita sedang menelepon seseorang. Ponsel yang Sarkini lempar itu hanya mati sebentar dan bisa dinyalakan lagi. Akhirnya, malam ini Sarkini yang baru sampai di terminal memutuskan untuk menelepon Bu Popi. Pamit dulu, sebelum Sarkini pergi jauh dan tidak kembali lagi.

 "Hallo, Assalamualaikum, Bu," sapa Sarkini saat sambungan sudah terhubung.

 "Iya, waalaikumsalam, Nak, kamu udah ketemu sama Bang Omar?" Bu Popi tanpa diduga langsung bertanya begitu membuat Sarkini mengerutkan kening.

 "Ketemu? Enggak, Bu. Sarkini udah enggak mau ketemu Bang Omar lagi, aku mutusin buat pergi aja dari kehidupan Bang Omar."

 "Lho, maksud kamu apa?" Tentu Bu Popi kaget, maksudnya apa hanya karena pertengkaran kecil itu Sarkini mau meninggalkan Omar?

 "Iya, Bu. Sarkini mau pergi dan enggak akan kembali," sahut Sarkini yakin sekali, "sebelumnya Sarkini minta maaf, Bu. Bukan aku enggak senang jadi menantu ibu, tapi jujur perasaan sakit itu kayak terulang lagi, aku enggak mau nyakitin diri aku sendiri, Bu. Aku minta maaf."

 "Tapi, Sar, kamu salah paham. Ya ibu tahu, anak ibu yang salah. Tolong kamu jangan mutusin sesuatu dengan gegabah," nasihat Bu Popi dengan lembut dan hati-hati.

 "Iya aku tahu Ibu juga udah liat, tapi aku juga liat Ibu kayak enggak percaya sama aku. Enggak apa-apa, Bu, aku ngerti perasaan Ibu. Ya udah, ya Bu. Sarkini mau lanjutin perjalanan, maaf kalau selama ini aku selalu ngerepotin Ibu. Assalamualaikum," pungkas Sarkini langsung mematikan panggilan.

 Panjang lebar yang dijelaskan oleh Sarkini malah membuat Bu Popi terpaku, kata-kata Sarkini seolah masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tidak percaya, maksudnya apa, Sarkini pergi?

 "Astaghfirullah, kok bisa kayak gini?" gumam Bu Popi, "Abang harus tahu soal ini."

 Bu Popi pun segera menghubungi Bang Omar, namun nomornya tidak aktif. Ke mana anak itu? Bu Popi jadi semakin cemas. Apa mungkin kisah anaknya dan Sarkini akan berakhir? Padahal hanya baru beberapa bulan saja pernikahan mereka, apa memang harus ada perceraian lagi?

Bab24 Sesuatu yang Mencurigakan

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 515

 

"Lagi ngapain kamu?" tanya Omar dengan dahi mengeryit.

 Malam ini mungkin bisa dibilang jadi malam yang sial untuk Omar. Dirinya tidak berhasil mengejar Sarkini, entahlah ke mana dia, lalu saat pulang tadi nyaris saja Bang Omar menabrak truk karena pikiran yang oleng alias terus terpikir tentang kepergian Sarkini.

 Kemudian, sekarang Omar malah melihat seorang cowok berkolor hijau sedang mengendap-endap di dekat WC umum. Khawatir cowok itu kolor ijo yang sedang mau maling atau mengintip perempuan, Omar lekas turun dari motor lalu mendekatinya.

 "Kamu kolor ijo, ngapain, mau ngintip, ya?" tebak Omar sekali lagi tidak membuat laki-laki di depannya itu menoleh ke belakang.

 "Hey! Kamu budeg, ya?" Omar mencolek bahu laki-laki itu.

 "Sembarangan Lo!" Orang itu menyentak seraya membalik badan.

 Mata Omar langsung membulat melihat siapa orang itu. "Luki, ngapain kamu di sini, ngintipin cewek mandi?"

 "Mana ada cewek jam segini?" kilah Luki sambil menghembuskan napas lelah.

 "Terus ngapain kamu di sini, ngintipin kunti?"

 "Eh, lu ya ngomongnya jaga napa?" Luki celingak-celinguk karena merasa takut, buluk kuduknya berdiri mendengar nama Nyai Kunti disebut Omar.

 "Terus ngapain?" Omar masih saja penasaran, ya bagaimana tidak curiga? Luki pakai kolor ijo cuma pakai kaos putih, tentu saja Bang Omar curiga dia adalah jelmaan dedemit yang mau ngintipin perempuan atau mungkin maling segitiga bermuda, ya siapa tahu saja.

 "Gue lagi ...." Luki bingung harus cerita atau tidak. Apa yang dilihatnya barusan rasanya masih jadi kecurigaan saja.

 "Apa, kamu mau maling?" Lagi-lagi Omar menaruh curiga.

 "Enggaklah, gue bukan mau maling. Em, gimana hubungan lo sama Sarkini?" tanya Luki lebih memilih mengalihkan pembicaraan.

 "Baik, kenapa kamu nanya soal itu?"

 "Ya enggak apa-apa, gue cuma mau peringatin aja, lo harus hati-hati sama mantan istri lo!"

 "Kamu kenal sama Nika?" Omar agak merasa heran dan aneh juga kenapa Luki tiba-tiba bicara seperti itu.

 "Enggak, gue cuma--"

 "Eh, Bang Omar!" seru suara seorang wanita.

 Kedua laki-laki itu sontak langsung melihat ke arah si wanita. Luki diam saja, tapi langsung berpikir cepat untuk segera pergi, sedikit takut ada sesuatu yang akan terbongkar.

 "Gue balik duluan!" pamit Luki cepat melangkah begitu saja.

 Omar menautkan alis, sekali lagi mantan suami Sarkini itu betul-betul mencurigakan. Dan ini lagi, kenapa tiba-tiba ada Nika di sini, apa Luki mengintip Nika tadi?

 "Abang ...." Nika tampak agak gelisah. "Abang, nga-pain di sini?" tanyanya berusaha setenang mungkin.

 "Kamu yang ngapain di sini?"

 "WC!" seru Nika cepat sambil menunjuk WC di samping itu. "Aku ke WC karena kebelet."

 "Di rumah kamu juga kan ada WC, ngapain kamu jauh-jauh ke sini?" Omar semakin curiga dengan tingkah Nika ini.

 "Enggak! Di rumah air keranku mati jadi ke sini," jawab Nika dengan cengengesan, "ya udah ya, Bang. Aku pulang, ya? Udah malem."

 Belum sempat Omar bertanya lagi, Nika sudah pergi berjalan melewati tubuh Omar. Dia bahkan tampak terburu-buru. Omar jadi curiga, apa yang sebenarnya Nika lakukan? Tidak mungkin dia pergi ke WC sejauh ini, kan ada tetangga juga di rumahnya.

 Mata Omar tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh, ada pantulan cahaya di tanah itu, seperti ada botol kecil yang tergeletak. Karena penasaran Omar lekas mendekatinya, tepat beberapa langkah dari WC umum.

 "Apa ini?" gumam Omar mengangkat botol itu dari tanah.

Bab25 Mengakhiri Hubungan

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 401

 

 Kota adalah tempat yang berbeda bagi Sarkini, di sini suasana begitu ramai tidak seperti di kampung. Sarkini di sini tinggal bersama bibinya, tinggal di sebuah kontrakan kecil, tapi malam hari pun masih saja ramai oleh pedagang yang suka lewat. Kebetulan bibinya ini merantau ke kota untuk bisa mendapat pekerjaan.

 "Rupanya kamu masih inget kontrakan bibi di kota?"

 "Ya, Bi. Untung Sarkini masih inget, kalau enggak Sarkini bakal nyasar di kota yang gede kayak gini," sahut Sarkini yang tidur di sebelah bibinya.

 "Ya, alhamdulilah kamu nyampai selamat ke sini. Ngomong-ngomong kenapa kamu pengen pindah?" tanya bibinya Sarkini merasa heran tiba-tiba keponakannya itu datang dan minta untuk tinggal di kota.

 "Hem biasa, ada masalah, jadi aku pengen pindah aja, Bi." Sarkini melirik sebentar bibinya itu.

 "Oh, emang kamu enggak dimarahin sama suami kamu, siapa sih namanya tu, si Luki, ya?"

 Sarkini dibuat diam dengan pertanyaan bibinya itu. Baru dia sadari pernikahan dengan Bang Omar memang belum sampai pada keluarganya, maksudnya bibinya ini, ya karena memang hanya bibinyalah satu-satunya keluarga yang Sarkini miliki.

 "Enggak, Bi. Kita udah cerai," jawab Sarkini dengan lesu, kemudian beringsut memunggungi sang bibi. "Udah ya, Bi. Aku mau tidur, capek."

 "Eh, lho! Cerai, kenapa?" Bibinya Sarkini terdengar panik, tapi Sarkini tidak mau membahas itu lagi, sudah cukup, sudah berlalu juga.

 "Aku enggak mau bahas, Bi. Mendingan kita tidur aja."

***

 Di pagi hari, ketika baru saja bangun, Omar langsung teringat Sarkini. Entah mengapa dia merasa takut kalau istrinya itu kembali bersama si Luki.

 Omar mengusap wajah, ketika baru membuka mata. "Ya Rabb, kenapa aku mimpi buruk, kenapa juga aku harus bermimpi Sarkini balik lagi sama si Kolor Ijo, itu mustahil," gumam Omar sambil menarik napas panjang.

 Dia lirik ponsel di atas nakas. Mungkin, lebih baik Omar menghubungi Sarkini saja, siapa tahu ponselnya sekarang sudah aktif, mengingat semalam dia hubungi tidak diangkat-angkat juga.

 Omar ambil ponsel itu lalu segera menaruh di samping telinga, setelah mengklik panggilan untuk kontak Sarkini.

 "Hallo, Assalamualaikum. Sayang, akhirnya kamu mau bicara sama Abang, kamu di mana?" cecar Omar bahagia mendengar suara lembut sang istri.

 "Waalaikumsalam, Bang. Aku di kota. Aku minta maaf untuk semuanya."

 "Maksud kamu? Abang yang salah, Sar, bukan kamu."

 "Aku yang salah," sahut Sarkini lemah, "aku salah karena percaya sama Abang."

 "Lho kok kamu ngomongnya gitu, Sar?" Omar panik juga mendengar Sarkini bilang begitu. Maksudnya apa coba?

 "Enggak apa-apa, Bang. Aku mau kita akhiri aja hubungan ini, udah percuma," pungkas Sarkini langsung mematikan telepon.

Bab26 Mempertahankan Hubungan

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 559

 

"Maksud kamu apa? Jangan bercanda, Sar!" Masih belum usai keterkejutan Omar mengenai sahutan Sarkini di awal, kini istrinya itu malah minta cerai.

 "Aku salah percaya sama Abang, sekarang aku sadar, semua cowok sama aja."

 "Kamu ngira Abang selingkuh, gitu Sar?" tanya Omar memastikan apa yang tengah terpikir di benaknya. Ya bisa saja Sarkini berpikir begitu mengingat foto Omar dan Aura itu memang seperti sedang tidur berduaan.

 "Abang sadar? Syukur kalau gitu," sahut Sarkini malas membahas sebenarnya.

 "Kamu salah paham! Dengerin Abang, kamu salah paham, Sar. Semua enggak seperti yang kamu pikirin."

 "Terus gimana? Aku udah liat buktinya kok, mustahil aku enggak percaya, dan omongan Abang itu seolah Abang mengelak dari apa yang udah terjadi." Sarkini mencoba mengingatkan kembali saat Omar terus membela adiknya. Sarkini kesal jika ingat itu.

 "Iya, iya Abang akui Abang salah, tapi tolong, jangan hanya karena masalah ini hubungan kita harus berakhir."

 "Terus Abang maunya gimana? Aku udah capek, Bang. Aku enggak mau dibohongin." Entahlah, Sarkini lelah dan seolah tidak ingin percaya dengan suaminya ini. Ah, Bang Omar, Sarkini sebenarnya juga tidak ingin berpisah hanya takut sakit seperti dulu kembali terulang. Tidak! Sarkini tidak mau itu terulang.

 "Kita ketemuan! Di mana kamu sekarang?" ujar Omar tegas dengan harap cemas.

 "Buat apa, Bang?" Sarkini yang sedang bercermin itu memandang dirinya sendiri. Terasa lemah dirinya sekarang, kayak ada di sudut hatinya yang ingin kembali, tapi juga takut terluka lagi.

 "Kita harus bertemu untuk membereskan semua ini. Kamu yakin enggak mau menyelesaikan masalah ini, kamu enggak sayang sama Abang?"

 Pertanyaan Bang Omar malah membuat Sarkini diam. Sayang? Ya, Sarkini masih cinta dan sayang kok, tapi Sarkini sulit menjelaskan perasaannya sekarang.

 "Kamu enggak inget perjuangan kita untuk sampai di titik saat ini? Jujur, Abang enggak rela kalau harus berpisah sama kamu, Sar," tegas Bang Omar memanfaatkan diam Sarkini. Omar tahu, istrinya itu tidak mungkin mau hubungan ini berakhir.

 Lagi-lagi Sarkini diam. Jadi ingat saat-saat memperjuangkan hubungan ini. Bang Omar benar, Sarkini dan Bang Omar memang banyak melakukan perjuangan untuk hubungan ini.

 Sebelum menikah Bang Omar rela nyuksruk di sawah cuma demi mengurusi surat perceraian Sarkini. Itu juga terjadi karena dikejar anjing edan. Sarkini jadi ingin tertawa bercampur haru ketika Bang Omar bilang celananya robek karena digigit anjing itu.

 Sarkini senyum sendiri mengingat itu. Iya juga, masa Sarkini mau mengakhiri hubungan? Bang Omar banyak berjuang untuk hubungan ini.

 "Sar, mau kan, kamu masih sayang kan sama Abang?" tanya Omar lagi kembali merasa takut istrinya itu menolak.

 "Oke, kita ketemu. Nanti aku kirim alamatnya, jam sebelas siang. Soalnya aku mau bantu bibi jualan."

 "Ya, Abang bakal ke sana!"

***

 Bang Omar segera pergi ke alamat yang Sarkini kirim. Tidak mau menunggu karena kan jalanan juga suka macet. Kesempatan itu langka, Omar tahu untuk tidak mau menyia-nyiakannya.

 Cukup lama untuk Omar sampai ke kota, mungkin sekitar setengah jam. Namun, setelah sampai, Omar malah disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya meremuk.

 Sarkini Omar lihat sedang dibukakan pintu mobil oleh seorang laki-laki, tampak muda, tapi siapa laki-laki itu?

 Istrinya itu tampak bahagia saat memasuki mobil. Apa-apaan ini? Apa ini yang mau Sarkini tunjukkan pada Omar, jadi sebenarnya siapa yang berkhianat di sini?

 Omar menghela napas gusar. Motornya lekas diputar balik. Omar juga tidak mau dibohongi. Kalau Sarkini tidak mau memperbaiki seharusnya tidak memberi harapan. Ini malah membuat Omar terluka, apa maksudnya? Sudahlah, Omar tidak mau ambil pusing lebih memilih kembali saja. Mungkin, sebaiknya dia kubur cinta ini.

Bab27 Rencana Jahat

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 431

 Nika melihat Bang Omar begitu lesu sore ini. Dirinya yang memang sengaja mau mendatangi mantan suaminya itu merasa heran dan langsung duduk di samping Bang Omar.

 "Bang, kusut amat, kenapa?" tanya Nika saat sudah duduk.

 "Enggak apa-apa." Bang Omar tidak ingin membeberkan masalah rumah tangganya sama siapa pun, apalagi sama mantan istrinya.

 "Hem, yakin?"

 Lelaki berkaos abu itu melirik Nika di sampingnya. Ada yang aneh dari nada bicara si Nika ini macam aura kekepoan mulai muncul darinya.

 "Yakin. Emang kenapa?" tanya Bang Omar agak sinis.

 "Enggak apa-apa, cuma heran aja, si Sarkini kok enggak ada, ke mana dia?" Nika menatap kebun di depan sana, berpura-pura tidak peduli.

 "Ada, kenapa kamu tiba-tiba tanya soal Sarkini?" Bang Omar berdiri, mulai risih dengan kehadiran Nika. Bang Omar cukup mengerti maksud dari mantan istrinya itu mendekati.

 "Tanya doang kali, sewot amat." Nika menatap mantan suaminya yang hendak pergi itu. "Eh, Bang tunggu!" Tiba-tiba Nika berdiri mencekal tangan Bang Omar.

 "Kenapa?" Bang Omar tentu risih memandangi tangan yang disentuh si Nika.

 "Sorry-sorry," ucap Nika laku menyodorkan minuman berwarna oren. "Nih, Bang minum dulu! Abang pasti capek, kalau berkenan biar aku anter pulang."

 "Buat apa kamu anter pulang? Aku bawa motor kok."

 "Motor Abang ada yang ngempesin bannya," sahut Nika malah bikin Bang Omar mengeryitkan dahi.

 "Bohong kamu!" Bang Omar mau lagi melangkah, namun Nika kembali menarik tangannya.

 "Eh, modus lo!" teriak seorang laki-laki dengan tiba-tiba, membuat Omar dan Nika melihat ke arah laki-laki itu.

 "Minggir-minggir!" titah Luki tiba-tiba diam di antara Nika dan Omar, seolah tengah melerai perkelahian.

 "Apaan sih lo? GJ!" gerutu Nika tak terima.

 "Gue bukan GJ, Tapi gue mau gagalin rencana jahat lo!" Luki menatap tajam Nika.

 "Rencana jahat, rencana jahat apa?" Omar dibuat bingung oleh dua orang yang justru menurut Omar merekalah yang enggak jelas.

"Dia ini!" Luki langsung menunjuk Nika. "Dia ini licik, Mar. Dia pengen lo sama Sarkini cerai. Dia itu licik dan gue curiga di dalam minuman itu ada sesuatunya," jelas Luki menunjuk minuman bergambar jeruk di tangan Nika.

 "Apaan sih lo!" Nika seketika menyembunyikan minuman itu. "Ini gue tulus mau ngasih ke Bang Omar, lo nethink deh."

 "Gue serius, dia ngajak gue awalnya," seru Luki membuat Omar bingung.

 "Kalian berdua ini kenapa?" Omar lalu melirik Nika. "Kamu, Nika! Bener kamu ada rencana jelek sama saya?"

 "Eng-gak, Bang," sahut Nika terbata-bata.

 "Kamu ikut saya sekarang!" titah Bang Omar seraya menarik tangan Nika.

 Nika bukan marah atau kesal, dia justru tersenyum penuh kemenangan. Sambil melirik Luki Nika tersenyum miring. Sedang Luki hanya bisa menghela napas. Sudahlah, setidaknya dia sudah memperingati Omar, untuk selanjutnya Omar pasti tahu apa yang harus dilakukan.

Bab28 Onarnya Mantan Istri

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 630

"Ini apa?" Omar langsung menunjukkan sebuah botol yang sebelumnya dia temukan kemarin malam.

 Nika sontak tercengang, lalu menarik paksa botol itu dari tangan Bang Omar. "Abang dapat dari mana ini?" ucapnya kaget.

 Omar menyedekapkan tangan. "Enggak penting saya dapat itu dari mana. Yang terpenting sekarang, apa maksud kamu mau ngasih itu ke saya, hah?" tanya Omar sinis.

 "Ya-ya, Abang kenapa mikir kayak gitu?" Mulai terlihat gelagat aneh dari mantan istrinya itu. Omar repleks menyipitkan mata.

 "Jangan pura-pura bego! Saya tahu kamu punya rencana jahat. Dari si Luki saya tahu kalau kamu itu udah mencurigakan pas kemarin saya liat kamu di WC umum dan akhirnya saya nemuin bukti botol itu." Omar menunjuk botol yang dipegang Nika.

 "Em-em, enggak! Abang fitnah sama Nika!" kilah perempuan di depan Bang Omar itu pura-pura tidak terima dengan tuduhan Bang Omar.

 "Itu bener kok!" Lagi-lagi datang orang ketiga di antara mereka, Luki berjalan dengan tergesa sambil menarik tangan Ahmad. Dia kemudian mendekati Omar dan Nika, lalu berdiri di samping mantan istri Bang Omar itu.

 "Ini saksinya si Ahmad," ujar Luki, kemudian melirik Ahmad. "Ya kan, Mad?"

 "Iya, Bang."

 "Maksud kamu apa?" Bang Omar melihat Luki dengan tatapan selidik.

 "Biar Ahmad yang jelasin!" sahut Luki.

 "Ya, Bang. Saya emang disuruh Teh Nika untuk memasukan isi dari botol itu buat Abang dan saya awalnya nerima botol itu karena dipaksa Teh Nika, tapi setelah saya baca botol apa itu, saya langsung buang saja, karena itu kan obat perangsang, terus lagi Teh Nika ngancam saya kalau enggak kempesin ban motor Abang nanti istri saya mau dipecat dari rumah Teh Nika, saya awalnya juga bingung, tapi Abang udah baik sama saya, jadi saya enggak ngelakuin itu, Bang," papar Ahmad memperjelas semuanya.

 "Tuh, kan!" pekik Luki merasa menang.

 Omar marah sekali dan langsung menarik botol dari tangan Nika, melemparnya ke batu sampai pecah.

 "Kurang ajar, kamu!" teriak Bang Omar menatap marah pada Nika. "Apa enggak cukup kamu nyakitin saya dulu, hah?! Dengerin saya, Nik, saya enggak mau untuk kembali sama kamu! Jadi, jangan coba-coba kamu ngelakuin hal licik, saya sudah muak sama kepura-puraan kamu itu!"

 Semua orang dibuat diam, mematung, kemudian hanya bisa memandangi Bang Omar yang beranjak pergi.

 Untung saja Ahmad baik dan tidak menuruti permintaan gila mantan istri Bang Omar itu, kalau tidak Bang Omar tidak akan bisa pulang dengan motor. Segeralah Bang Omar melajukan motor. Benci dengan situasi yang terjadi. Bukan tidak mau menyelesaikan, hanya saja Omar butuh waktu untuk menenangkan diri.

 Baiklah, masalahnya dengan Sarkini pun belumlah selesai. Ini Nika malah membuat onar, sungguh kenyataan ini membuat Omar menggeleng kepala, seolah keinginan untuk mengobati dan menghapus luka lama itu begitu sulit. Entahlah Omar harus ke mana sekarang. Dia bingung, nyatanya cinta untuk Sarkini tidak semudah itu untuk dilepas.

***

 Tidak ada tempat lain untuk kembali selain meminta tolong pada Yang Maha Kuasa. Bang Omar memilih melaksanakan sholat Dhuha pagi itu, berdoa di pagi hari berharap untuk tenang saja dulu dengan situasi yang terjadi dengan hatinya saat ini.

 Setelah kemarin otaknya semerawut akibat ulah Nika, belum lagi pemandangan yang cukup meremukkan harapnya pada Sarkini, kini Omar ingin bisa tenang dan tidak pergi ke kebun atau sawah seperti biasanya.

 "Mar," sapa Bu Popi sengaja masuk mushola di rumah mereka itu.

 "Iya, Bu." Lelaki berpeci putih itu membalik badan seusai mengusap wajah.

 "Ada Sarkini, dia datang sama cowok muda--"

 "Apa?" Omar langsung merasa marah, padahal sang ibu belum usai bicara.

 "Tolong, kamu temuin dia dulu, kamu harus tahu dulu kejelasannya jangan langsung mikir negatif. Sarkini juga datang sama bibinya, dia bilang mau bicara sama kamu."

 "Bicara soal perceraian maksudnya?" Omar bergumam lalu mengembuskan napas sendu.

 "Astaghfirullah, jangan ngomong gitu, Nak! Ayo temui dulu! Biar kamu tahu kejelasannya."

 "Sarkini bilang, dia mau apa ke sini?" tanya Omar karena ragu untuk menemui istrinya itu.

 "Dia mau ketemu kamu, Bang," tegas Bu Popi penuh penekanan.

 

Bab29 Masalah Hati

0 0

Sarapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 24

Nayanika

Jumlah Kata: 789

Omar melangkah menuju ruang tamu, tampak di sana seorang wanita berambut panjang sedang dicubit laki-laki muda. Omar belum tahu siapa wanita itu, namun entah kenapa emosi sudah memuncak tiba-tiba. Sosok wanita itu dari belakang memang mirip seperti Sarkini.

 Iya, kan? Sarkini memang datang bersama seorang cowok. Itulah yang dikatakan ibu Omar tadi. Perlahan Omar pun mendekati sambil menahan amarah, dia berdiri di belakang sofa yang diduduki dua orang itu.

 "Sarkini!" Omar berdebar jantung mengucap nama itu, hatinya merasa belum siap jika harus menerima kenyataan kalau itu benar-benar Sarkini yang bersama dengan laki-laki lain.

 Wanita itu membalik badan, melihat ke belakang. Omar menelan ludah, untuk kemudian menghela napas lega. Jantung yang awalnya berdebar-debar itu akhirnya bisa jadi tenang.

 "Kamu bukan Sarkini?" tanya Omar pada perempuan itu.

 Perempuan yang adalah bibi Sarkini itu berdiri diikuti laki-laki di sampingnya. Dia lantas mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Saya bibinya Sarkini, Heni," ucapnya sopan.

 Omar menyambut tangan itu sambil tersenyum. "Omar, saya su--"

 "Suaminya Sarkini?" tebak laki-laki di samping Heni.

 "Iya," sahut Omar tegas, "dan anda ini siapa?"

 "Perkenalkan saya Roni, suaminya Heni, jadi saya ini pamannya Sarkini." Berganti laki-laki itu mengulurkan tangan, sedang Heni di sampingnya melepas tangan Omar.

 Omar kembali menjabat tangan laki-laki itu dengan sopan. "Omar."

 Laki-laki itu kemudian melepas tangan Omar. "Kedatangan kami ke sini mau mengembalikan Sarkini."

 "Mengembalikan?" Omar sedikit bingung dengan ucapan Roni, bukan tidak paham, tapi hanya ada sedikit perasaan ragu di hati Omar.

 "Iya, kami tahu dari Sarkini kalau kalian sudah menikah. Heni dan saya memang tidak terlalu dekat dengan Sarkini, meski begitu kami ingin melihat keponakan kami itu bahagia dan kami kira penting untuk kalian memperbaiki hubungan ini," jelas laki-laki yang Omar kira masih muda, padahal hanya setelannya saja, umurnya mungkin tidak jauh dengan Omar, atau bahkan lebih tua.

 "Hem, kok pada berdiri, ayo-ayo duduk dulu!" Ibu Popi tiba-tiba datang dari dapur membawa nampan berisi makanan dan minuman.

 "Terima kasih, Bu," sahut Heni disusul Roni juga.

 "Udah, ayo duduk dulu, kita bicaranya sambil ngopi," kata ibunya Omar itu sambil duduk di depan Heni dan Roni.

 Omar yang masih mematung dan berpikir pun terpaksa ikut duduk juga. Sang ibu nyatanya tidak membuat anaknya itu berpikir lama. Bu Popi yang sudah menyajikan makanan kecil, lalu tersenyum pada paman dan bibi Sarkini itu.

 "Kalian nampaknya memang masih muda, ya? Pantas anak saya cemburu sama kalian," ucap Bu Popi tiba-tiba.

 Omar malah jadi malu mendengar ucapan ibunya itu. Dia pun menyenggol tangan sang ibu. Duh, untung Omar cukup tahu sifat sang ibu, jadi tidak terlalu merasa kesal, memang begitu, ibunya kadang suka ceplas-ceplos.

 Sedangkan dua orang di depan Omar hanya melukis senyum. Menurut mereka wajar, Omar dan Sarkini memang pengantin baru, ya wajar kalau ada rasa cemburu. Bukankah cemburu juga tanda cinta?

 "Biasa, Bu, kalau masalah cemburu. Ya mungkin masalah Omar dan Sarkini juga berawal dari rasa cemburu," sahut Heni lalu melirik suaminya.

 "Iya, Bu," kata Roni, "dan kami bisa melihat dari wajah Sarkini kalau dia memang tidak ingin hubungan ini berakhir, kami sengaja membawanya kemari untuk membicarakan masalah ini dari hati ke hati. Bagaimana Nak Omar setuju, kan?" Roni beralih atensi pada Omar.

 Baiklah, Omar mulai merasa canggung, hatinya merasa dia memang sudah kekanak-kanakan dengan bertindak tanpa berpikir dulu, ternyata laki-laki muda yang dia kira pacar Sarkini adalah pamannya. Duh, malu sekali Omar.

 "Saya setuju," sahut Omar sedikit gugup, "tapi di mana Sarkini?"

 Baru saja Omar menyebut nama itu, Sarkini keluar dari toilet dapur. Letak toilet yang bisa terlihat jelas dari ruang tamu, membuat Omar bisa langsung melihat Sarkini dengan jelas. Hati Omar malah jadi jedag-judug kayak bocah baru jatuh cinta saja, bahkan kalau bisa Omar lihat dirinya sendiri dia itu sudah memerah wajahnya.

 Ke tiga orang di sana hanya bisa menahan tawa. Lalu Heni yang mengerti langsung melihat ke arah Sarkini.

 "Itu orangnya," kata Heni, "silahkan kamu katakan apa yang ada di dalam hati kamu."

 "Iya, Bang." Bu Popi menyentuh bahu sang anak. "Masalah hati harus diselesaikan dari hati ke hati juga."

 Omar malah mengerjap-ngerjap mata saking gugupnya. Omar sendiri merasa heran, kenapa malah jadi gugup?

 "Aku harus ngomong apa, Bu?" tanya Omar repleks melirik Bu Popi.

 "Ya kamu bilang perasaan kamu, Bang."

 Kembali Omar diam, dia mau melirik ke arah Sarkini lagi saat tiba-tiba suara lembut istrinya itu memanggil. "Bang," panggil Sarkini, "aku mau ngomong sama Abang sekarang, tapi enggak di sini."

 "Di mana?" Omar menaikan satu alis.

 "Di kamar."

 Hah, di kamar? Otak Omar malah jadi traveling ke mana-mana. Bukan apa-apa, Sarkini memang tampak cantik pagi, membuat rindu Omar semakin menggebu-gebu.

 "Ayo, Bang!" Sarkini menarik tangan Omar.

 "Eeh, i--ya," sahut Omar gugup, namun tak urung menuruti keinginan sang istri.

 Apa yang mau mereka bicarakan? Tiga orang di ruang tamu itu tidak tahu, mereka memilih acuh dan makan camilan saja. Toh, kedua orang itu sudah pada-pada dewasa dan tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah hati mereka.

 

 

Mungkin saja kamu suka

Hilma Khoerunni...
Yang Tak Selesai
Amalia Amraini
Sembilan Tahun
Putri Ayu Agust...
SUCI
Aliya Rahma Put...
VORBEI AN
Amrin Rosyid
Menetapkan Akhir Hidup

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil