Loading
2

0

1

Genre : Teenlite
Penulis : Cindy Aulia Salsabila
Bab : 30
Pembaca : 2
Nama : Cindy Aulia Salsabila
Buku : 1

Angkasa Malam

Sinopsis

Menceritakan keseharian Mentari yang baru memasuki kehidupan SMA. Ia sangat menyukai malam karena ide-idenya akan bermunculan ketika malam tiba. Seorang gadis yang rajin belajar dan mimpinya adalah bisa menjadi seorang penulis, namun ia tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Telat bangun tidur dan ceroboh adalah rutinitas Mentari. Di SMA, ia mengikuti banyak kegiatan. Akankah Mentari bisa mengatur waktu dengan baik? Atau ia akan kelelahan dan menyerah dengan kehidupan yang ia jalani?
Tags :
#fiksi #waktu #belajar #persahabatan

Prolog

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Day1

#JumlahKata314

 

Malam hari, itulah yang aku sukai. Sepi, sunyi, tak ada yang mengganggu, bahkan ide-ide pun bermunculan seperti bintang-bintang yang berhamburan di angkasa. Aku bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Aku selalu belajar di malam hari agar bisa fokus. Bahkan waktu untuk menulis pun di malam hari.

 

“Mentariii, ayo banguuun cepetaaan!” Teriak kakakku yang membuatku terkejut sampai-sampai aku terjatuh dari ranjang tidurku.

 

“Astaghfirullahaladzim, Kak. Kaget tau aku. Aduuh sakit punggungku,” kataku meringis kesakitan karena terjatuh dari ranjang tidur.

 

“Yang seharusnya bilang astaghfirullahaladzim itu aku tau. Kamu susah banget sih dibanguninnya. Padahal udah SMA, tapi kelakuan masih sama kayak anak SD. Pasti begadang lagi, ya? Udah dibilangin jangan begadang terus, tetep aja begadang. Jadi telat mulu kan masuk sekolahnya,” jawab kakakku kesal.

 

“Iya, aku begadang lagi, tapi aku udah setel alarm, kok. Kakak juga gak akan ngerti sama alasan aku begadang itu untuk apa,” jawabku sambil pergi begitu saja ke kamar mandi.

 

“Setel alarm sih iya, tapi kebo mah kebo aja!” Teriak kakakku. Dan aku masih bisa mendengarnya meski sudah di dalam kamar mandi.

 

Itulah keseharianku. Telat bangun dan alhasil dimarahi kakakku. Aku mengatur alarm di jam 4 pagi. Tapi, alarm tidak mampu untuk membangunkanku. Jadi, yang membangunkanku untuk salat Subuh adalah kakakku yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku. Kakakku kesal karena hampir setiap hari mendengar suara alarmku yang terus menyala. Salat Subuh alhamdulillah tepat waktu, tetapi setelah salat, mataku tidak bisa diajak bersahabat untuk terus terbuka lebar. Jadi, aku sering telat masuk sekolah.

 

Namaku Mentari Syawalia Putri. Seorang pelajar yang baru memasuki kehidupan di SMA. Aku menyukai malam, tetapi lihat sendiri, kan? Namaku berkebalikan 180° dengan kesukaanku. Sedangkan kakakku yang menyukai siang, namanya adalah Bintang Rizki Ramadhan. Sungguh menarik, bukan? Orang tua kami menamai anak-anaknya dengan nama yang penuh makna. Aku dilahirkan di bulan Syawal, tepatnya ketika hari pertama Idul Fitri. Dan kakakku dilahirkan di bulan Ramadhan. Mungkin itulah alasan mengapa orang tua kami menamai kami demikian.

 

MPLS

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days2

#JumlahKata508

#06:15WIB

 

“Kak, ayo cepetan anterin aku ke sekolah dong, udah telat nih, lagi MPLS pula,” 

 

“Idih, berangkat aja sendiri, siapa suruh kamu telat bangun terus. Kalau udah salat Subuh tuh langsung mandi, jangan tidur lagi!” Kata kakakku tegas.

 

“Ih, nyebelin!”

 

“Bintang, kamu jangan begitu dong, Nak. Anterin adikmu ke sekolah sana. Kasihan sudah telat,” kata ibuku.

 

“Biarin aja, Bu. Mentari udah gede, jangan terlalu dimanja. Kalau gak diginiin nanti dia akan mengulangi hal yang sama di setiap harinya,”

 

“Bu, Mentari berangkat sekolah dulu, ya. Assalamu’alaikum,” kataku tanpa memedulikan percakapan kakak dan ibuku.

 

“Wa’alaikumussalam. Jangan lupa dimakan bekalnya, Nak! Kamu kan belum sempat sarapan gara-gara telat.” 

 

“Siap, Bu. Aku berangkat sekolah dulu ya, Bu.” (mencium tangan ibu)

 

“Aku berangkat, Kak!” Kataku sambil setengah teriak karena kesal dan juga posisi kakakku sedang berada di tempat makan, sedangkan aku ada di halaman rumah. Lumayan jauh jaraknya.

 

“Hati-hati naik sepedanya, Nak!” Kata ibuku yang sangat khawatir dengan keadaanku karena aku belum sempat sarapan.

 

Perasaanku saat itu sangat kesal karena kakakku tidak mau mengantarkan aku ke sekolah, padahal sudah telat. Ayah juga sudah berangkat kerja dari tadi subuh karena akan ada meeting yang sangat penting bersama kliennya.

 

Saat sampai di sekolah, semuanya telah berbaris rapi di lapangan. Secara diam-diam, aku langsung menempati barisan paling belakang. Dan...

 

“Yang baru datang dan baris paling belakang, cepat maju!” 

 

Astaghfirullahaladzim, berarti aku dong yang dipanggil? Aku langsung maju ke depan dengan diselimuti keringat dingin dan rasa khawatir. 

 

“Iya, Kak. Ada apa, ya?” Kataku gemetar. Takut. 

 

“Kamu tidak tahu kesalahan kamu apa? Kamu tuh sudah telat 15 menit setelah acara MPLS dimulai. Karena kamu telat, lari 10 kali keliling lapangan sekolah mulai dari sekarang!” Tegas kakak OSIS dan langsung membuat mentalku menciut dihadapannya. Aku pun langsung lari saat itu juga, aku malu banget diliatin banyak orang yang sedang berbaris rapi di lapangan. Hari ini aku sial banget.

 

Hosh..hosh..hosh... Aduuuuh capek banget lari 10 kali keliling lapangan sekolah. Haus banget... Setelah lari, aku langsung laporan ke kakak OSIS dan aku disuruh gabung dalam barisan kelas 10 IPS 3. Ternyata aku sekelas dengan sahabatku. Aku dan dia hanya saling melempar senyuman, tidak mengobrol, dikarenakan tidak boleh berisik ketika kegiatan MPLS berlangsung, apalagi ketika ada penyampaian materi. Lalu, aku langsung fokus dengan materi-materi yang disampaikan oleh kepala sekolah, para guru, dan kakak-kakak OSIS serta MPK. 

 

Ketika telah selesai acaranya, aku langsung menyapa sahabatku.

 

“Hai, Laily! Seneng banget ternyata kamu sekelas denganku, ya.”

 

“Iya, sama. Aku juga seneng banget. Oh iya, kamu mau ikut ekskul apa?”

 

“Oh, aku ikut ekskul jurnalistik, fotografi, dan rohis.”

 

“Wah! Banyak banget, Ri. Aku aja cuma ikutan ekskul English Club. Yakin bisa bagi waktunya, Ri? Kok, aku agak khawatir, ya.”

 

“InsyaAllah bisa, Ly. Jangan khawatir,” jawabku percaya diri.

 

“Semangat, ya! Aku udah dijemput, nih. Kamu naik apa pulangnya? Mau bareng, gak?”

 

“Gak usah, Ly. Aku naik sepeda, kok. Kamu duluan aja. Hati-hati, ya!”

 

“Oh, oke. Hati-hati juga, Ri!”

 

Aku langsung menaiki sepedaku dan segera pulang ke rumah. Hari ini benar-benar capek banget. Coba aja kak Bintang anterin aku ke sekolah tadi pagi, pasti gak bakal secapek ini. Huft.

 

Sekolah

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days3

#JumlahKata391

#06:12WIB

 

Matahari mulai menampakkan sinarnya, menerobos masuk ke celah-celah ventilasi kamarku. Mataku yang terlelap terpaksa terbuka karena terlalu silau. Aku langsung melihat jam yang tergantung di dinding kamarku. Dan ternyata...

 

Lagi-lagi kesiangan!

 

Padahal ketika bangun untuk salat Subuh aku udah niat banget gak akan tidur lagi, tapi kedua mataku berkata lain. Aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi dan lagi-lagi tidak menikmati sarapan yang telah disiapkan ibuku.

 

Aku langsung pamit kepada ibu dan kak Bintang. Ketika aku ingin pergi ke bagasi untuk mengambil sepeda, kak Bintang menahanku agar tidak memakai sepeda untuk pergi ke sekolah. 

 

“Apa sih, Kak. Kok nahan aku, udah tau aku lagi buru-buru pergi ke sekolah, udah telat, nih.” 

 

“Kok langsung sewot gitu sih, Ri. Kakak tuh mau nawarin tumpangan. Kamu mau gak dianter ke sekolah? Soalnya kakak mau ketemu temen kerja, jadi sekalian.” 

 

“Wow, tumben baik. Mau lah kak kalau dianterin mah. Ayo buruaaan..”

 

Akhirnya hari ini kak Bintang baik sama aku. Lumayan, jadi cepat sampai dan aku gak capek-capek mengayuh sepeda ke sekolah. 

 

“Alhamdulillah sampai, aku duluan ya, Kak. Makasih banget kakakku yang ganteng udah anterin adiknya ke sekolah.”

 

“Ya, ya, ya. Yaudah, sana cepet masuk!”

 

Aku pun berlari untuk segera masuk ke kelas. Di sepanjang koridor tidak ada orang, sepi. Jam pelajaran pertama sudah 12 menit berlalu. Aku masih berlari di koridor dan menaiki tangga yang jumlahnya mungkin sekitar 52 buah anak tangga, karena kelasku berada di lantai tiga. 

 

Hosh... Hosh... Untung aja tadi aku gak naik sepeda, kalau naik sepeda bisa-bisa aku pingsan di tangga. Aku pun membuka pintu kelas, dan aku sangat beruntung karena tidak ada guru di dalamnya. 

 

“Pagi, Laily.” Sapaku dengan nafas yang tidak beraturan karena habis lari.

 

“Pagi, Ri. Bu Anna udah ngasih tugas geografi, nih. Buka buku paket halaman 9, dibaca dulu materinya. Kalau udah baca, isi soal yang bagian pilihan gandanya aja di halaman 15. Setelah itu, dikumpul ke Adam.” Jelas Laily.

 

“Oke, makasih infonya, Ly. Tapi kenapa Bu Anna gak ada di kelas?”

 

“Katanya Bu Anna ada pelatihan gitu, jadi izin gak masuk dulu ke kelas.” 

 

“Oh, gitu. Bagus deh, aku jadi gak dihukum karena telat,” kataku sambil mengembangkan senyuman. Alhamdulillah semalam aku udah baca materi ini dan mengisi soal-soalnya juga, jadi jawabannya tinggal disalin ke buku tulis. 

 

“Ly, nanti aku ada ekskul jurnalistik. Jadi, kamu pulang duluan aja, gak usah nungguin aku.”

 

“Oh, oke. Semangat ekskulnya, ya!”

 

Ekskul Jurnalistik

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days4

#JumlahKata342

#07:04WIB

 

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku langsung pergi ke ruangan jurnalistik. Aku memilih ekskul ini karena aku suka menulis dan aku ingin sekali belajar tentang cara menulis yang benar itu bagaimana. Di hari pertama aku mengikuti ekskul ini, banyak materi-materi yang aku dapati tentang dunia tulis-menulis. Dan setelah penyampaian materi selesai, langsung ada tugas. Tugasnya adalah membuat poster yang temanya bebas. Aku langsung kepikiran untuk membuat poster tentang Pentingnya Menulis. Niatnya aku kerjakan nanti malam, supaya bisa fokus.

 

Akhirnya, aku menghubungi kak Bintang untuk segera menjemputku karena sudah pulang ekskul.

 

“Kak, lagi dimana? Bisa jemput aku di sekolahan, gak?”

 

“Duh, kakak lagi sibuk kerja ini. Kamu pulang sendiri aja naik angkot,”

 

“Yaaah, yaudah deh kalau gitu.” Aku langsung menutup sambungan telepon. Kecewa sih. Tapi mau gimana lagi? Jadi aku bergegas pergi ke pinggir jalan untuk naik angkot.

 

Duh, kok lama banget, ya. Angkotnya gak muncul-muncul. Aku mulai gelisah karena waktu sudah mau maghrib, tetapi angkot belum ada juga yang lewat.

 

Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang. Ternyata dia adalah Annisa, teman dari ekskul jurnalistik. Aku tadi sudah berkenalan sama dia ketika ekskul tadi.

 

“Mau pulang bareng, gak? Aku bawa motor, nih. Kayaknya kamu lagi nungguin sesuatu, tapi sesuatu itu tak kunjung datang.”

 

“Kamu tau aja sih, Nis. Iya, aku lagi nunggu angkot dari tadi, tapi nihil.”

 

“Yaudah kalau gitu, ayo pulang bareng!”

 

Aku pun langsung naik ke motornya Annisa. Kami pun pulang bareng. Dan tak lama, akhirnya aku sampai di rumah. Untungnya rumah Annisa dekat dengan rumahku, jadi pas azan maghrib berkumandang, Annisa sudah sampai di rumahnya.

 

Malam pun tiba, aku langsung bergegas mengerjakan tugas jurnalistik. Alhamdulillah selesai dalam waktu setengah jam. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Aku langsung saja belajar pelajaran yang ada jadwalnya besok, supaya mudah dipahami jika gurunya menerangkan. Tak lupa aku menulis cerita yang aku buat, hanya sehalaman saja setiap harinya, yang penting konsisten. Karena asyik menulis, aku lupa memerhatikan jam. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Aku langsung bergegas untuk berwudhu dan pasang alarm. Tak lama, aku pun masuk ke dalam lautan mimpi, tenggelam sampai dasarnya.

 

Tragedi di Hari Kamis

1 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days5

#JumlahKata643

#06:50WIB

 

Hari ini aku tidak telat pergi sekolah. Akan tetapi, aku hampir saja telat, karena 5 menit lagi pelajaran pertama dimulai. Ketika aku membuka pintu kelas, aku sangat terkejut dengan pemandangan di depanku. Hal itu dikarenakan seragam yang aku pakai berbeda dangan teman-teman sekelasku. Aku memakai baju batik berwarna biru, rok putih, dan kerudung putih. Sedangkan teman-temanku memakai seragam olahraga. Loh, ini hari apa, sih? Kamis, kan? Bukannya gak ada pelajaran olahraga hari ini? Aku pun bertanya-tanya dalam hati. Bingung dan rasa takut bercampur menjadi satu. Aku masih diam mematung di depan pintu kelas. Tak lama, Laily pun menghampiriku.

 

“Ri, kamu kenapa pakai batik? Kan jam pertama pelajaran hari ini itu olahraga. Atau kamu bawa baju olahraga di dalam tasmu? Atau kamu lagi sakit makanya kamu gak bakal olahraga?” Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh Laily, dia sampai mengecek suhu badanku dengan meletakkan tangan kanannya di dahiku. “Gak panas, tuh.” Kata Laily sambil menurunkan tangan kanannya kembali seperti semula. 

 

“Ya siapa bilang kalau aku ini lagi sakit, aku sehat tau, Ly. Aku bener-bener lupa sama jadwal hari ini. Jangan-jangan aku salah bawa buku pelajaran juga?” Aku langsung terburu-buru untuk duduk di kursiku, membuka tas, dan mengecek mata pelajaran apa saja yang aku bawa, soalnya aku gak lihat ada jadwal pelajaran olahraga di hari ini. Dan...

 

“Ly, coba sebutin mata pelajaran hari ini apa aja!”

 

“Hmm. Hari ini ada pelajaran PJOK, Matematika Wajib, sama Sosiologi. Ri, mukamu kenapa aneh gitu?” Laily melihatku dengan tatapan bingung.

 

“Lyyy, tamatlah riwayatku. Pelajaran yang aku bawa hari ini itu Sejarah Peminatan, Ekonomi Peminatan, dan Pendidikan Agama Islam,” kataku gemetar. Air bening di dalam mataku sudah terbendung, sekali aku mengerjapkan mata, pasti bendungan itu akan pecah. Dan akhirnya air bening itu lolos melewati bendungan itu. Ya, aku menangis di tempat dudukku. Laily tampak terkejut melihatku menangis. Akhirnya dia menenangkanku dengan menepuk-nepuk punggungku. Untungnya saat itu sebagian teman-temanku sudah turun untuk ke lapangan, karena 1 menit lagi pelajaran pertama akan dimulai. Yang tersisa di kelas hanya 5 orang, termasuk aku dan Laily. 

 

“Kamu pasti salah lihat jadwal pelajaran, Ri. Mata pelajaran yang kamu bawa hari ini adalah mata pelajaran untuk besok. Ayo kita cepetan ke bawah untuk menemui Pak Adrian, katakan sejujurnya kalau kamu salah lihat jadwal pelajaran, jadi gak bawa baju olahraga,” saran Laily.

 

Akhirnya, kami pun menemui Pak Adrian. Laily masih setia menemaniku untuk berbicara dengan Pak Adrian. Setelah aku mengatakannya, Pak Adrian hanya tersenyum kepadaku. Aku tidak dimarahi oleh beliau, akan tetapi aku disuruh membuat gambar lapangan sepak bola beserta ukuran-ukurannya di kertas, waktunya sampai pulang sekolah. Untung saja di buku paket PJOK ada gambar lapangannya. Jadi, aku tinggal mencontohnya. Aku meminjam buku paket Laily, hehe. Setelah itu, Laily pergi ke lapangan, bergabung dengan teman-teman sekelas. Mereka sedang melakukan teknik-teknik dasar yang ada di sepak bola, seperti menggiring bola, menendang bola, mengumpan bola, dan lain sebagainya.

 

Aku menyelesaikan tugas PJOK tepat saat jam pelajaran kedua dimulai. Pelajaran kedua ini sebenarnya masih pelajaran PJOK. Di saat aku mengumpulkan tugas PJOK ke Pak Adrian, aku meminta izin memakai waktu di jam kedua ini untuk pulang ke rumah, karena aku ingin mengambil buku pelajaran hari ini. Setelah mempertimbangkannya, Pak Adrian pun mengizinkan aku untuk pulang ke rumah. Untungnya aku naik sepeda hari ini, jadi tidak perlu menunggu jemputan. Aku langsung naik ke lantai tiga, tepatnya ke kelasku untuk mengambil tas dan segera turun lagi ke lantai satu. Aku langsung bergegas ke tempat parkir untuk mengambil sepedaku, ketika aku tengah mengayuh sepeda, Laily melihatku dan berteriak.

 

“Riiii, kamu mau ke mana?”

 

“Aku mau pulang dulu sebentar untuk mengambil buku pelajaran hari ini.” Aku langsung mengayuh sepeda dengan cepat. Aku juga sempat meminta izin kepada guru piket saat aku sedang mengambil tas tadi. Aku pun mendapat surat izin dari guru piket, prosesnya cepat karena aku bilang telah diberi izin oleh Pak Adrian. Dan aku memperlihatkan surat izin itu kepada pak satpam agar dibukakan gerbang sekolahnya.

 

Tragedi di Hari Kamis (2)

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days6

#JumlahKata304

#06:12WIB

 

Di jalanan aku hampir pingsan, mungkin karena aku terlalu cepat mengayuh sepedanya. Alhamdulillah, aku sampai rumah dengan selamat. Aku pun langsung cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan ke kamarku. Setelah sampai kamar, aku mengobrak-abrik buku-buku yang tersimpan rapi di rak yang berada di samping meja belajarku. Untungnya Kak Bintang lagi gak ada di rumah, kalau sampai ada, habislah aku pasti dimarahin. Sepertinya juga ibu tidak melihatku yang berlari ke arah kamar. Setelah menemukan dan memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas, aku langsung lari ke halaman rumah untuk mengambil sepeda. Di saat aku baru sampai ruang tamu, ibu melihatku dengan wajah yang sangat terkejut akan kehadiranku di rumah yang seharusnya aku sedang berada di sekolah sekarang. 

 

“Mentari, kamu kenapa ada di rumah?”

 

“Hehe, maaf ya, Bu. Aku salah lihat jadwal pelajaran, jadinya aku membawa buku pelajaran yang tidak sesuai dengan pelajaran hari ini.”

 

“Kamu tuh kebiasaan, ceroboh mulu dari dulu. Terus kok kamu bisa pulang ke rumah?”

 

“Aku sudah mendapat izin dari guru olahraga dan guru piket. Jadi aman, Bu. Tenang aja.”

 

“Kamu ini, lain kali jangan sampai terulang kejadian seperti ini lagi! Kan, kamu sendiri jadinya yang rugi.”

 

“Iya, Bu. Aku berangkat dulu ya, Bu. Takut telat. Assalamu’alaikum,” pamitku kepada ibu dan langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan cepat.

 

“Wa’alaikumussalam. Dasar Mentari, kapan kamu dewasanya, Nak.” 

 

Aku melihat jam yang melekat di tangan kiriku. Waktu menunjukkan pukul 08.51, dan waktu untuk pergantian jam pelajaran tinggal tersisa 9 menit lagi. Aku semakin cepat mengayuh sepedanya. Tapi, kayaknya aku kurang beruntung. Di depanku sekarang ada mobil truk yang jalannya lambat sekali, dan juga berasap, asapnya hitam, mau menyalip pun aku tak bisa. Akhirnya aku pasrah kalau nanti bakalan telat sampai ke sekolahnya. Entah mengapa, kepalaku rasanya sakit banget, pandanganku mulai kabur, nafasku terengah-engah. Aku pun mulai tak sadarkan diri, terjatuh dari sepeda, dan tergeletak di jalanan.

 

Rumah Sakit

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days7

#JumlahKata532

#07:50WIB

 

“Assalamu’alaikum, selamat pagi, Bu. Apakah benar ini adalah ibu dari Mentari Syawalia Putri?”

 

“Wa’alaikumussalam, iya benar. Ini adalah ibunya Mentari. Maaf, ini siapa ya?” 

 

“Saya adalah Adrian, guru olahraganya Mentari. Saya mendapat kabar dari orang yang melapor ke sekolah ketika saya sedang mengajar anak-anak di lapangan. Orang tersebut berkata bahwa ia melihat seorang siswi yang mengenakan seragam batik sekolah ini, SMAN 394 Jakarta, tergeletak di tengah jalan dengan sepedanya, sepertinya ia pingsan lalu terjatuh di jalan menuju ke sekolah. Ia langsung membawa siswi itu ke sekolah, ketika saya melihatnya, ternyata siswi itu adalah Mentari. Sekarang Mentari sudah dibawa dan ditangani di rumah sakit terdekat dari sekolah, Bu. Tepatnya di Kamar Mawar nomor 5. Dimohon ibu untuk segera ke sini.”

 

“Innalillahi... Ya Allah anakku... Hiks.. hiks.. hiks.. B-baik Pak Adrian, s-saya akan segera ke sana. T-terima kasih atas informasinya. Wassalamu’alaikum.” Ucap ibu sesenggukan karena putri kesayangannya jatuh pingsan. 

 

Ibu pun menghubungi kak Bintang yang sedang bekerja. Ketika itu kak Bintang langsung segera pulang ke rumah untuk menjemput ibu dan pergi ke rumah sakit untuk melihat Mentari. Ibu tidak menghubungi ayah karena ayah ada pekerjaan di luar kota dan tidak memungkinkan ayah pulang saat itu juga. Yang terpenting saat ini adalah ibu bisa melihat kondisi Mentari di rumah sakit. 

 

Ibu dan kak Bintang pun telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung berlari ke Kamar Mawar nomor 5 untuk melihat Mentari. Di depan pintu ada Pak Adrian yang sedang berdiri. 

 

“Assalamu'alaikum, Pak. Apakah bapak adalah guru Mentari? Ini saya, ibunya Mentari,” kata ibu, raut wajahnya sangat cemas. 

 

“Wa'alaikumussalam, Bu. Iya benar, saya adalah guru Mentari. Silakan masuk ke dalam, Bu.”

 

Ibu pun membuka pintu Kamar Mawar nomor 5 itu, dan pemandangan yang pertama kali didapatkannya adalah putrinya yang sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Ibu langsung memeluk putri kesayangannya itu. 

 

“Assalamu'alaikum ibu dan kak Bintang,” salam Laily. 

 

“Wa'alaikumussalam, Laily.” Jawab ibu dan kak Bintang berbarengan. 

 

“Gimana kondisi Mentari, Ly?” Tanya ibu. 

 

“Alhamdulillah, Mentari sudah baikan, Bu. Jujur saya kaget banget ketika sedang olahraga tadi. Karena ada orang asing yang berlari sambil membawa murid yang berpakaian seragam batik sekolah kita. Saya yang sedang memegang bola sepak langsung berlari menghampiri orang tersebut karena saya merasakan hal yang tidak enak. Ternyata benar saja, yang dibawa itu adalah Mentari, karena tadi Mentari pergi ke rumah untuk mengambil buku pelajaran hari Kamis karena dia salah membawa buku pelajaran. Akhirnya, Pak Adrian langsung mengambil mobilnya yang berada di parkiran untuk membawa Mentari ke rumah sakit. Aku meminta kepada Pak Adrian untuk ikut ke rumah sakit karena saya sangat khawatir dengan Mentari.” Jelas Laily sambil mengeluarkan air matanya. 

 

“Ya Allah, Mentari. Kenapa kamu ceroboh banget. Kenapa kamu gak minta jemput ke kakak kalau mau pulang ke rumah ambil buku?” kata kak Bintang yang menahan tangis.

 

Lalu, Laily menceritakan apa yang disampaikan oleh dokter ketika selesai memeriksa Mentari kepada ibu dan kak Bintang. Ternyata Mentari itu kurang istirahat yang cukup dan ada sedikit gangguan pada saluran pernapasannya. Untung saja Mentari tidak tertabrak mobil atau motor yang sedang melintas di jalan tersebut. 

 

Ketika ibu sudah merasa tenang, ibu akhirnya menghubungi ayah dan menceritakan semua kejadian hari ini kepadanya. Ayah pun sangat terkejut dan akan segera pulang ke Jakarta sore hari ini. 

 

Sadarkan Diri

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days8

#JumlahKata352

#07:16WIB

 

Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku rasanya mau pecah karena sangat pusing. Aku menyapu pandanganku untuk melihat sekelilingku. Ini di mana? Hmm... ternyata di rumah sakit. Kenapa aku bisa di sini ya? Hmm... Oh, iya! Yang aku ingat terakhir kali aku sedang naik sepeda menuju ke sekolah dan di depanku ada mobil truk yang menimbulkan banyak polusi udara dari knalpotnya. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa. Sekarang pukul 21.03, dan aku baru sadar jam segini? Terakhir aku sadarkan diri ya ketika lagi naik sepeda, berarti sekitar pukul 09.00. Seharian aku pingsan?

 

“Alhamdulillah kamu sudah bangun, Nak.” Kata ibu yang tersenyum lega melihatku.

 

“Bu, kok Ayah ada di sini?” Tanyaku ketika melihat Ayah yang sedang tertidur di sofa rumah sakit.

 

“Iya, Ayah pulang ke Jakarta tadi sore untuk melihat keadaan kamu, Nak.”

 

“Kak Bintang mana, Bu?”

 

“Kakakmu lagi pulang ke rumah ambil baju ganti untuk kamu.”

 

“Loh, aku rawat inap?” Tanyaku bingung.

 

“Iya, Nak. Kamu baru boleh pulang besok sore.”

 

“Yaah, aku gak sekolah dong besok. Padahal besok ada ekskul rohis.” Jawabku kecewa. Aku ingin sekali tidak melewatkan sehari pun untuk tidak masuk ke sekolah karena akan sangat rugi kalau tidak masuk ke sekolah meski sehari. Ini kan pertemuan pertama untuk ekskul rohis. Masa aku gak hadir? Hiks.

 

“Tidak apa-apa, Nak. Yang terpenting sekarang kamu harus sehat dulu. Besok kan Jum’at. Jadi, kamu hanya absen sehari saja. Sabtu dan Ahad kamu bisa tanya-tanya tentang tugas yang ada di hari Jum’at bersama Laily di rumah,” kata ibu menenangkanku.

 

“Iya, Bu.”

 

Aku pun tertidur lagi di atas ranjang rumah sakit karena aku sangat lemas.

 

“Assalamu’alaikum.”

 

“Wa’alaikumussalam, eh Bintang udah dateng.”

 

“Loh, Bu. Mentari belum siuman?”

 

“Udah siuman kok dari tadi. Mungkin dia ngantuk, jadi dia tidur lagi.”

 

“Syukurlah kalau Mentari sudah bangun.”

 

“Oh iya, ini aku beli sate Padang untuk Ibu dan Ayah.”

 

“Yah, bangun, Yah.”

 

“Eh iya, Bu. Kenapa?” Ucap Ayah yang masih setengah sadar.

 

“Ini ada sate Padang dari Bintang. Makan dulu, yuk!”

 

“Alhamdulillah ada sate Padang kesukaan ayah,” kata Ayah dengan wajah yang bahagia.

 

“Oh iya, Bu. Mentari udah siuman belum? Ayah capek banget soalnya jadi tadi tidur.”

 

“Udah siuman kok, Yah.”

 

“Alhamdulillah...”

Jenguk dan Kembali

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days9

#JumlahKata546

#09:11WIB

 

Hari Jum’at pun dimulai. Matahari terbit dengan pancaran cahaya yang sangat menyilaukan mata, angin yang sepoi-sepoi menerpa wajahku dengan lembut, awan yang hampir tidak ada karena pagi ini langit sangat cerah sehingga hanya ada warna biru yang tampak, burung-burung pun bernyanyi menghiasi suasana pagi cerah ini menjadi ceria. Alhamdulillah aku sudah tidak pusing lagi. Aku berjalan-jalan di taman rumah sakit untuk menghirup udara pagi yang sangat sejuk ini. Melepas semua rasa penat dan gundah di hati. Hari ini aku benar-benar senang karena nanti sore aku akan segera pulang ke rumah yang sangat aku cintai.

 

Ketika aku dibangunkan ibu jam 5 pagi untuk salat Subuh, aku tidak melihat ayah dan kak Bintang. Kata ibu, mereka sudah pulang ke rumah dari jam 3 pagi karena akan pergi bekerja. Jadi yang menemaniku sekarang hanya ibu. Setelah jalan pagi, aku balik lagi ke kamar, dan sudah tersedia bubur ayam yang dibelikan ibu. Aku pun langsung menyantapnya dengan lahap karena sangat lapar.

 

Waktu cepat berlalu, sekarang waktu menunjukkan pukul 13.00, dimana waktunya untuk pulang sekolah. Padahal baru sehari aku absen, tapi rasanya kangen banget sama sekolah. Aku mendengar ada suara bising di luar kamar. Lalu, tak lama dari suara bising itu, terdengar suara ketukan pintu dan juga salam. Ternyata itu adalah Laily, Annisa teman ekskul jurnalistik, dan juga beberapa teman sekelasku, terutama pengurus kelas.

 

“Halo teman-teman! Wahh padahal aku nanti sore juga pulang ke rumah, repot-repot ke sini.”

 

“Ah, gapapa kok santai aja, kita juga ke sini kan pengen tau keadaan kamu,” ucap Annisa.

 

“Iya bener banget, aku kangen benget sama kamu, Ri. Aku gaada temen sebangku dua hari ini. Jadi kosong gitu rasanya hampa,” kata Laily yang memasang wajah memelas.

 

“Iya tuh bener, Laily kayak anak hilang, bengong mulu di kelas,” sahut Razka. 

 

“Ehhh, apa-apaan kamu, Raz!”

 

Aku hanya tertawa melihat mereka berdua bertengkar.

 

“Makasih banget ya kalian udah sempetin dateng ke sini untuk jenguk aku.” 

 

“Iya, Ri. Sama-sama,” sahut mereka.

 

“Tau gak, Ri. Tadi ada kejadian kocak banget di kelas. Jadi, si Rafa kan tidur pas pelajaran sejarah. Terus ditanya sama Pak Dany. Pertanyaannya itu gini ‘Dimensi waktu dalam sejarah disebut?’, eh dia malah jawab ‘Portal, Pak’ dengan PD-nya dan masih setengah sadar. Seisi kelas tertawa semua hahaha, ” kata Chintya dengan penuh semangat. 

 

“Yaampun ngakak banget. Itu kan jawabannya harusnya temporal, Rafaaa. Hahaha,” sahutku.

 

“Ya habisnya aku denger samar-samar pas Pak Dany ngejelasin. Yang penting ada kata ‘poral’ nya, yaudah aku asal jawab aja jadi portal,” ucap Rafa.

 

Seisi ruangan pun tertawa mendengar penjelasan Rafa.

 

“Terus ada PR gak?” Tanyaku.

 

“Gak ada kok, Ri.”

 

“Syukurlah,” ucapku lega.

 

“Oh iya, Ri. Ibumu kemana? Kok dari tadi gak kelihatan,” tanya Laily.

 

“Ibuku lagi pulang ke rumah dari jam 9 pagi. Aku dari tadi sendirian di sini. Untung ada kalian yang dateng, jadi rame deh, hehe.”

 

“Ohh gitu. Yaudah aku di sini aja deh, nemenin kamu sampai nanti pulang ke rumah,” kata Laily. “Kalian kalau mau pulang duluan aja guys,” sambungnya.

 

“Yaudah kita pulang dulu ya, Ri. Semoga cepet sembuh,” kata Adam.

 

“Iya, aamiin. Makasih ya kalian udah dateng ke sini.”

 

“Iya, Ri. Assalamu’alaikum,” kata mereka bersamaan.

 

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, ya!”  

 

Akhirnya hanya tersisa aku dan Laily di ruangan itu. Tak lama kemudian, ibu datang. Aku langsung bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Ibu, Laily, dan aku pulang dengan mobil taksi. 

 

Mencari Ide

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days10

#JumlahKata400

#09:46WIB

 

Kami pun sampai di rumah dengan selamat. Tadi sebelum sampai di rumah, kami pergi ke rumah Laily terlebih dahulu, karena ia akan menginap di rumahku dari hari ini sampai Ahad. Jadi, Laily menyiapkan pakaian ganti dan segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk menginap di rumahku. 

 

Aku dan Laily langsung memasuki kamarku. Kami berbincang-bincang mengenai sekolah dan juga ekskul. 

 

“Ri, tau gak si. Aku kan tadi ekskul English Club ya. Nah, aku disuruh baca teks cerpen gitu. Kan kaget ya, udah mana aku gak jago bahasa Inggris.”

 

“Ah kamu mah merendah untuk meroket. Nih ya, kemampuan Inggris kamu dibandingkan aku tuh lebih tinggi. Kalau aku yang disuruh baca nih, udah deh gatau lagi gimana nasibnya. Makanya aku gak milih ekskul English Club.”

 

“Hahaha. Tapi menurutku kamu lebih jago. Karena kamu ambil banyak ekskul. Terus jago bikin karangan gitu, misalnya cerpen, puisi, dan saudara-saudaranya. Pokoknya sastra bahasa Indonesia kamu tuh jago banget. Kamu masih lanjutin bikin cerita, Ri?”

 

“Iya dong masih lanjut. Aku kan lagi latihan gitu buat cerita. Kalau nanti ada lomba aku mau ikutan. Siapa tau menang. Kan lumayan biar dapet pengalaman.”

 

“Hooo mantep banget deh kamu. Aku akan selalu dukung kamu, Ri! Semoga impianmu menjadi seorang penulis yang banyak nerbitin buku tergapai ya, Ri.”

 

“Aamiin ya Allah. Makasih ya doanya. Semoga kamu juga bisa tambah jago bahasa Inggrisnya biar nanti kita bisa jalan-jalan ke luar negeri, nanti kamu jadi translator berjalan ya, haha.”

 

“Aamiin ya Rabb. Bismillah kita pasti bisa menggapai impian!”

 

Tak lama, aku, Laily, beserta keluargaku menjalankan salat Maghrib bersama-sama di musholla yang ada di dalam rumahku. Yang menjadi imam adalah kak Bintang. Selesai salat, kami pun makan malam bersama di ruang makan. 

 

“Ri, kamu nanti tidur harus jam 10 ya, gak boleh lebih dari jam 10,” kata ibu. 

 

“Loh, kenapa, Bu? Aku kan mau belajar,” keluhku. 

 

“Kamu itu baru sembuh dari sakit. Kamu tuh sakit karena sering begadang, jadi kurang tidur dan kecapekan. Gara-gara sering begadang, kamu juga sering banget telat masuk ke sekolah.”

 

“Hmm, yaudah kalau begitu, Bu,” ucapku pasrah. “Ayo ke kamarku, Ly!”

 

“Huaaa, aku tuh bingung banget kenapa ide-ide buat bikin cerita itu ada di malam hari.”

 

“Kita coba cari cara yuk, biar kamu bisa terbiasa untuk berimajinasi di siang hari.”

 

“Ah, memangnya bisa?”

 

“Kita coba dulu. Besok kan Sabtu, jadi kita pikirin besok aja gimana caranya. Yaudah, yuk kita tidur! Udah mau jam 10, nih.”

 

“Hmm... Oke deh.”

 

Kami pun tertidur dengan nyenyak.

 

Menemukan Ide

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days11

#JumlahKata325

#06:00WIB

 

Aku terbangun di sepertiga malam. Laily masih tertidur dengan nyenyak. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelahnya aku mendirikan salat Tahajud. Aku bingung, kenapa aku tidak mengantuk? Apa mungkin karena tidur lebih awal, ya? Akhirnya, selesai salat, aku memutuskan untuk melanjutkan menulis cerita karena tadi malam aku tidur lebih awal, jadi aku tidak sempat menulis. 

 

Laily terbangun dari tidurnya ketika azan subuh berkumandang. Ia menatapku lumayan lama. 

 

“Ri, kamu udah mandi?” Tanyanya heran. 

 

“Iya dong, memang kenapa?”

 

“Enggak, soalnya jarang aja gitu kamu bisa bangun sendiri. Kamu bangun dari jam berapa?” 

 

“Dari jam 3 pagi.”

 

“Hah? Seriusan?” 

 

“Iya, serius. Dua rius malah. Ngapain juga aku bohong sama kamu.”

 

“MasyaAllah, tuh kan, kalau tidur lebih awal, kamu bisa bangun tidur sendiri. Makanya jangan begadang lagi, ya? Soalnya kamu tuh sakit gara-gara kurang tidur, Ri.”

 

“Hmm... Iya sih bener. Tapi gimana dong kalau aku gak ada ide buat nulis cerita?”

 

“Kan kita udah merencanakan untuk mencari tahu agar kamu bisa berimajinasi atau fokus belajar ketika siang hari, supaya kamu gak begadang di malam harinya. Terus juga biar gak sering telat masuk sekolah.”

 

“Oh iya bener. Hari ini kan kita mau mencari caranya ya. Oke oke, kita salat Subuh dulu, yuk!”

 

Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya, aku dan Laily pun berolahraga di depan halaman rumahku. Sambil berolahraga, kami membicarakan tentang ide Laily semalam. 

 

“Hmm, gimana ya caranya... Kamu bisa fokus dan muncul ide pas malam hari gara-gara sepi, kan?”

 

“Iya, betul banget!”

 

“Kalau begitu kita harus cari tempat yang tenang... Oh, apa di perpustakaan aja?”

 

“Hmm... boleh boleh. Ayo nanti siang kita coba ke sana.”

 

Setelah berolahraga, aku dan Laily sarapan bersama. Setelah sarapan, aku memesan GrabCar untuk kami yang ingin pergi ke perpustakaan. Di perjalanan, kami berbincang-bincang mengenai sekolah dan sesekali bercanda. Ternyata, di tengah perjalanan turun hujan ketika aku dan Laily sudah mau sampai di perpustakaan. Setelah sampai, kami pun turun dari mobil, menerobos hujan dengan berlari untuk mencapai pintu masuk perpustakaan. 

 

Perpustakaan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days12

#JumlahKata303

#09:53WIB

 

Untungnya, aku dan Laily hanya kebasahan air hujan sedikit. Kami pun langsung menaiki eskalator untuk menuju ke lantai dua, tepatnya yaitu ke tempat buku-buku novel dan komik berada. Di perpustakaan, aku membaca buku novel dan juga belajar materi sekolah bareng Laily. Jadi, aku dan Laily bawa buku pelajaran dari rumah. Aku merasakan ketenangan di sini soalnya dilarang berisik. Tapi terkadang ada saja suara bising yang menggangguku. Namanya juga manusia, yang hidupnya dinamis. Gak mungkin kan manusia itu statis? Kalau statis namanya patung, hahaha. Perpustakaan ini berada di persimpangan jalan antara rumahku dan rumah Laily. Lumayan dekat sih. 

 

Aku mencoba untuk menulis cerita di perpustakaan. Tapi, hasilnya nihil. Aku tidak kepikiran apa-apa untuk melanjutkan ceritanya. Tidak ada ide yang melintas. Padahal suasananya tenang. Aku pun heran mengapa aku bisa seperti ini. 

 

“Ri, kenapa mukamu kelihatan bingung gitu?”

 

“Aku benar-benar bingung, Ly. Aku gak ada ide untuk melanjutkan ceritanya. Kayaknya gak hanya harus tenang deh suasananya, aku memang bisa menulis ketika malam hari saja,” keluhku. 

 

“Hmm.. Kamu memang unik banget sih orangnya. Kalau malam terus belajar sama menulis ceritanya, kamu akan kekurangan tidur, Ri. Oh iya, kamu tidur kan jam 10 tuh, mungkin nanti kamu menulis ceritanya ketika setelah salat Tahajud.” 

 

“Wah ide yang bagus. Oke, mungkin aku akan coba cara itu. Sekarang kita ke kantin yuk! Aku udah laper banget ini abis belajar. Kekuras otaknya jadi laper, haha.”

 

“Yaudah yuk, let's go!”

 

Kami pun turun ke lantai satu untuk menuju kantin. Aku memesan mie ayam yamin sedangkan Laily memesan bakso. Kami juga memesan jus jeruk. Tak lama, pesanan kami pun sampai dan terhidang di atas meja. Wanginya sedap banget. Kami pun melahapnya dengan semangat. 

 

“Ly, seriusan ini enak banget asli.”

 

“Iya, Ri. Enak banget sih parah.”

 

Setelah makan, kami pun pulang ke rumah. Karena kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Waktunya untuk rebahan. 

 

Memikirkan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days13

#JumlahKata375

#07:31WIB

 

Senin pun telah tiba. Aku bangun jam 4 karena mendengar suara alarm yang sangat nyaring. Semalam aku tidur jam 10 karena aku dipaksa ibu untuk tidur jam segitu agar tidak telat masuk sekolah. Aku juga belum sempat belajar dan juga menulis cerita. Mau belajar dan menulis cerita sekarang pun sudah tidak keburu, karena aku belum mandi, belum salat Subuh, dan juga belum sarapan. Apalagi kalau sarapan, aku pasti menghabiskan banyak waktu untuk melakukannya. Belum lagi kalau ada hal darurat yang mengharuskan aku pergi ke kamar mandi. Jadi, tidak memungkinkan aku belajar dan menulis cerita di waktu yang sangat singkat ini. 

 

“Ibuuu, sepatu Mentari ada dimanaaa?” Teriakku panik karena waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi. 

 

“Ada di toko sepatu.” 

 

“Jangan bercanda, Buu,” ucapku memelas. 

 

“Ya ada di rak sepatu, Nak.”

 

“Gak ada, Buu.”

 

“Ya ampun, Nak. Ini sepatu kamu loh. Ini,” kata ibu yang gemas kepadaku karena tidak melihat sepatu padahal sepatunya ada di hadapanku. 

 

“Astagfirullah, gara-gara sepatunya warna hitam, Mentari jadi gak lihat, Bu. Udah mana sepatunya nyelip di antara sepatu lain, jadi aku gak lihat, hehe.” 

 

“Yaudah Bu aku berangkat dulu, ya. Assalamu’alaikum.”

 

“Wa’alaikumussalam, hati-hati anaknya ibu,” kata ibu sambil tersenyum melihatku. 

 

“Iya, Bu.”

 

Seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda. Aku sangat bersemangat hari ini karena nanti pas pulang sekolah ada ekskul fotografi. Aku penasaran sama kegiatannya bakal ngelakuin apa aja. 

 

“Hai, Laily.”

 

“Wah, tumben kamu gak telat, Ri. Pasti kamu tidur jam 10 ya.”

 

“Iya, nih. Alhamdulillah. Tapi, aku belum sempat belajar dan menulis cerita. Karena kalau pagi-pagi belajar tuh gak keburu, Ly. Soalnya belum mandi, belum salat Subuh, dan belum sarapannya. Aku kan kalau makan lama banget.”

 

“Hmm, berarti cara ini tetep ga efektif ya. Kalau tidur jam 10, kamu gak telat masuk sekolah tetapi belum sempat belajar dan juga menulis cerita. Kalau begadang, kamu bakalan telat masuk sekolah tetapi kamu sudah belajar dan menulis cerita. Kalau di perpustakaan, kamu bisa fokus belajar saja, tetapi ide untuk menulis ceritanya buntu. Hmm.. Kita harus memikirkan cara lain, Ri.” Jelas Laily panjang lebar. 

 

“Ya ampun, kamu emang yang paling ngerti banget sama keadaanku. Yaudah, ayo kita cari cara lain lagi nanti!”

 

“Siap. Nanti kita coba pikirkan lagi.”

 

“Oh iya, Ly. Nanti kamu pulang duluan ya, aku ada ekskul fotografi.”

 

“Oke, sip. Semangat!”

 

Ekskul Fotografi

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days14

#JumlahKata383

#09:43WIB

 

Ketika bel berbunyi dengan nyaringnya yang menandakan waktu untuk pulang sekolah tiba, hatiku sangat senang. Hari ini adalah hari pertama ekskul fotografi dimulai karena pekan kemarin itu ada kegiatan MPLS. Ketika aku sampai di ruangan ekskul fotografi, ternyata sudah banyak orang yang datang. Aku pun langsung ambil posisi duduk di bangku yang berada di belakang. 

 

Di hari pertama ekskul fotografi ini hanya ada sesi perkenalan dan satu persatu dari kami ditanya udah punya kamera atau belum. Ternyata, ekskul fotografi diwajibkan untuk memiliki kamera. Sedihnya, aku tuh belum punya kamera. Di antara kami, yang belum memiliki kamera hanya 5 orang termasuk aku. Tetapi, beli kameranya juga gak harus banget hari ini atau pekan depan harus udah punya. Yang belum punya kamera itu dikasih waktu satu semester untuk membeli kamera. Jadi, untuk sementara waktu, kami akan dipinjamkan kamera milik sekolah. Tetapi, alangkah lebih baiknya, harus punya kamera secepat mungkin karena nanti dikhawatirkan akan ada tugas untuk memotret di luar sekolah. Jadi, kalau udah punya kamera sendiri kan bisa lebih leluasa untuk memotret.  

 

Aku bertekad untuk menabung sebagian uang jajanku setiap hari agar terkumpul uang untuk membeli kamera. Aku pun menceritakan semua hal yang terjadi ketika ekskul fotografi tadi kepada Laily melalui sambungan telepon. 

 

“Ly, tau gak, tadi kan aku ditanya udah punya kamera atau belum, aku jawab belum punya. Kirain aku ekskul fotografi ini cukup dengan memakai kamera HP aja untuk memotret. Aku ikut ekskul ini emang pengen mencoba hal baru, tapi aku kurang riset mengenai ekskul fotografi. Pengen keluar dari ekskul juga kayak sayang aja gitu, udah daftar, belum juga mulai, masa mau keluar gara-gara disuruh beli kamera.” Jelasku panjang lebar. 

 

“Wah ternyata wajib punya kamera ya, Ri. Menurutku, kamu jalanin aja dulu ekskul fotografi ini, siapa tau nanti jadi hobi baru kamu, dan kamu bisa enjoy dengan memotret dikala kamu bosan untuk menulis.”

 

“Ah iya bener juga kamu, Ly. Oke, aku akan menjalani semua tantangan ini dengan enjoy. Aku juga merencanakan untuk menabung untuk beli kamera. Nanti kamu ingetin aku ya, Ly, kalau aku khilaf beli jajanan banyak, haha.”

 

“Sip sip. Mulai sekarang aku akan jadi pengawas keuangan Mentari, hahaha.”

 

“Hahaha. Baik, Bu pengawas.”

 

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Aku masih belum mengantuk. Akhirnya aku melanjutkan untuk menulis cerita. Saking asyiknya, lagi-lagi aku lupa untuk tidur. Keesokan harinya aku lagi-lagi telat masuk sekolah. 

 

Tugas Memotret

0 0

#SarapanKata

#KMOBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days15

#JumlahKata316

#09:48WIB 

 

Tiga bulan kemudian... 

 

Hari-hari yang telah ku lewati selama tiga bulan ini penuh dengan berbagai macam warna. Keseharianku masih tidak jauh berbeda dengan masa-masa waktu SMP, yang sering telat masuk sekolah karena kesiangan. Tetapi tidak melulu kesiangan, aku kadang-kadang bangun pada sepertiga malam, tetapi aku jadi tidak sempat untuk menulis cerita.

 

Uang yang sudah ku tabung dari tiga bulan yang lalu untuk membeli kamera yang seharga 3 jutaan sudah terkumpul sebanyak 1 juta lebih. Hal ini juga berkat Laily yang setiap hari mengawasi aku agar tidak khilaf menghabiskan uang hanya untuk jajan, haha. Laily memang sahabat yang bisa diandalkan. 

 

Aku sama sekali tidak bilang kepada kedua orang tuaku ataupun ke kak Bintang mengenai kamera ini. Jadi, aku benar-benar ingin membeli kamera dengan uang yang sudah ku tabung.

 

Sejauh ini, aku meminjam kamera milik Laily ketika ada tugas untuk memotret di luar sekolah yang waktu dan tempatnya bebas, tidak ada ketentuan, yang penting ada hasil jepretannya sebelum batas waktunya tiba. Ketika di sekolah, aku dipinjamkan kamera milik sekolah. 

 

Sekarang juga ada tugas memotret lagi, batas waktunya pekan depan. Aku segera menghubungi Laily. 

 

“Ly, aku ada tugas memotret lagi nih, kalau hari Sabtu gimana? Kita cari tempat yang paling bagus diantara yang bagus. Kemarin-kemarinan mah tempatnya ga terlalu ‘wah’ gitu.”

 

“Boleh tuh, Ri. Aku mah bersedia aja temenin kamu kapanpun kamu butuh.”

 

“Asiiik, kamu mah emang paling the best deh. Aku pinjam kamera kamu lagi ya, Ly.” 

 

“Iya, pakai aja. Toh aku mah jarang pakai kameranya.”

 

“Oke oke. Thank you.”

 

Hari Senin ini aku sangat lelah karena banyak tugas ditambah lagi tadi kan ada ekskul fotografi. 

 

“Ibuuu, aku lapar. Ibu masak apa?”

 

“Ibu masak sayur sop daging dan perkedel kesukaan kamu. 

 

“Asiiik, sayur sop daging sama perkedel.”

 

"Tapi nanti ya makannya. Tunggu ayah dan kakakmu datang dulu.”

 

“Siap, Bu.”

 

Tak lama, ayah dan kak Bintang sudah sampai rumah. Kami pun langsung menyantap makan malam bersama di ruang makan. 

 

Tugas Memotret dan Hang Out

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days16

#JumlahKata417

#09:55WIB

 

Hari yang sangat ditunggu-tunggu pun tiba. Di pagi yang cerah ini, aku sangat bersemangat karena hari ini aku bersama Laily akan menjelajahi banyak tempat yang bagus untuk memotret. Sebenarnya ini bukan hanya sekedar untuk mengerjakan tugas ekskul fotografi, tetapi sekalian hang out bareng Laily. Hitung-hitung untuk melepas penat yang sudah menyelimuti diriku sepekan ini. 

 

Sejauh ini, apa-apa saja yang ada dihadapanku, aku potret menggunakan HP. Sampai-sampai memori HP ku penuh dengan foto-foto yang kuambil. Mungkinkah aku mulai menyukai memotret foto? 

 

“Ibu, aku izin pamit dulu, ya. Mau pergi bareng Laily.”

 

“Oh iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya. Jangan main sampai malam. Pokoknya sore kamu harus udah ada di rumah.”

 

“Siap, Bu. Lagian kalau sampai malam aku juga takut, Bu. Hahaha. Yaudah, aku berangkat dulu ya, Bu.”

 

Rumah Laily dekat dengan halte busway, jadi terlebih dahulu aku menghampiri Laily di rumahnya dengan menggunakan sepeda. Nanti dari rumah Laily, kita akan jalan kaki menuju halte busway. Alasan aku naik sepeda adalah karena aku tidak bisa mengendarai motor, hiks. Laily pun tidak bisa naik motor. Kalau salah satu di antara kita ada yang bisa bawa motor, mending naik motor aja, gausah naik busway segala. 

 

“Assalamu’alaikum, Ly. Udah siap? Ayo berangkat!”

 

“Wa’alaikumussalam. Eh, jangan berangkat dulu. Semangat banget ya kamu, hahaha. Ayo masuk dulu ke dalam. Soalnya ibuku sudah menyiapkan makanan.”

 

“Wah, asyiiik.” Ucapku girang. 

 

“Assalamu’alaikum, Bu. Wah, makasih banget udah dimasakin banyak makanan enak. Jadi makin semangat untuk ngerjain tugas memotret nya, nih.”

 

“Iya, Nak. Sama-sama. Makan yang banyak, ya!”

 

Aku dan Laily pun menyantap makanannya dengan lahap. Setelah makan, kami pun berangkat menuju halte busway. 

 

“Ly, kita mau kemana nih, aku gak ngerti naik busway.”

 

“Kita coba aja dulu ke Monas, yuk? Banyak hal yang bisa di potret di sana.”

 

“Wah, bener juga kamu. Oke, let's go!”

 

Banyak yang aku potret di Monas. Di sana, kami menyewa sepeda tandem untuk mengelilingi Monas, aku yang duduk di depan sambil memegang setang sepeda, sementara Laily duduk di belakang. Sebenarnya mah yang capek itu hanya aku, karena harus mengarahkan sepeda supaya tetap seimbang. Kalau Laily sih hanya membantu mengayuh saja, itu pun kadang-kadang ngayuhnya. Untung aku memang sudah terbiasa naik sepeda, jadi gak terlalu capek banget. 

 

Setelah dari Monas, kami pergi ke Kota Tua. Di sana aku juga banyak sekali memotret. Setelah dari Kota Tua, kami pun pergi ke Ancol. Di Ancol, kami minum air kelapa, seger banget. Kami juga menaik kapal yang mengelilingi pantai, bermain pasir dan mengukir nama di atasnya. Pokoknya hari ini seru banget. 

 

Lalu, tiba saatnya petang hari...

 

Menemukan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days17

#JumlahKata300

#09:52WIB

 

Kami memutuskan untuk pulang ke rumah ketika sudah puas bermain di Pantai Ancol. Sekarang waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Terlintas di pikiranku untuk mencari tempat yang sesuai denganku untuk belajar dan juga menulis cerita.

“Ly, aku kepikiran, gimana kalau selama di perjalanan pulang ke rumah, kita sambil mencari-cari tempat yang tenang untukku agar fokus belajar dan idenya mengalir dengan deras ketika menulis cerita. Yaa asal cari aja sih, gausah sampai berlama-lama di sana karena ini udah sore, nanti aku dimarahin ibu,” ucapku yang sedang berjalan di samping Laily untuk menuju ke halte busway.

“Wah iya, ide yang bagus, tuh. Berarti nanti kalau tempatnya itu cocok sama kamu, nanti kita pergi ke tempat itu aja setiap hari untuk belajar. Ayo cepetan kita lari.”

Kami pun berlari menuju halte busway. Di perjalanan, kami sangat sibuk memerhatikan pemandangan di luar jendela busway. Laily juga sibuk melihat HP nya untuk mencari berbagai macam info tempat-tempat yang tenang dan nyaman, kalau bisa daerahnya dekat dengan rumah.

“Ri, lihat deh! Ini ada taman bagus banget pemandangannya, keliatannya juga sepi gitu,” kata Laily bersemangat sambil menunjukkan layar HP nya yang memperlihatkan hasil temuan berharganya.

“Wahhh, bagus banget. Lokasinya dimana?”

“Gak jauh kok dari rumah kita, katanya taman ini sangat tersembunyi, jarang ada yang tahu.”

“Kita yang rumahnya dekat juga gak tau, ya. Haha.”

“Haha, iya juga, ya. Yaudah nanti kita naik sepeda aja ke tamannya.”

Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, busway yang kami tumpangi berhenti di halte dekat dengan rumah Laily.

Kami langsung mengambil sepeda dan segera menuju taman yang tersembunyi itu hanya dengan bermodalkan arahan google maps.

Tak lama, kami pun sampai di taman tersebut. Aku dan Laily sangat takjub melihat taman itu sampai melongo beberapa detik. Tamannya sangat indah. Banyak pepohonan yang rindang, ada tempat duduk yang nyaman seperti untuk piknik, banyak bunga-bunga yang berwarna-warni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kenyamanan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days18

#JumlahKata320

#08:55WIB

 

Setelah pulang sekolah, aku bersiap-siap untuk pergi ke taman tersembunyi itu. Di sana, aku merasakan ketenangan dan juga kenyamanan untuk belajar. Langit pun sangat terlihat jelas dari sana, kalau sudah petang, pasti senja nya sangat terlihat indah dari taman ini. Ide untuk melanjutkan cerita juga sangat lancar munculnya. Aku juga suka memotret di taman ini. 

 

“Ri, udah sepekan lebih kita belajar di sini, seru banget, ya.”

 

“Iya bener banget. Aku merasa ada di dimensi lain aja gitu kalau berada di taman ini. Berasa jadi tokoh cerita fantasi, haha.”

 

“Iya juga, ya. Semenjak kita di sini tuh gak ada sama sekali orang yang dateng. Apa emang cuma kita aja ya yang tahu?”

 

“Bagus deh kalau kita doang yang tahu, gak ada orang sama dengan gak berisik.”

 

“Bisa aja kamu, Ri. Haha.”

 

“Oh iya, ajarin bahasa Inggris dong, Ly. Besok ada ulangan harian kan?”

 

“Oke, ayo aku ajarin.”

 

Aku dan Laily pun belajar bahasa Inggris bersama di sore yang sangat indah ini. Tak lupa, aku memotret senja yang terlihat sangat indah di langit. 

 

Mulai sekarang, aku jadi menyukai langit. Dulu, aku jarang sekali memerhatikan langit, aku hanya memotret yang ada di bumi. Mulai dari benda-benda, tumbuhan, hewan, serta jalanan. Tak pernah terlintas dipikiranku untuk memotret langit. Semenjak aku menemukan taman ini, aku jadi sering memerhatikan langit. Ternyata sangat indah. 

 

Setiap ke taman, aku dan Laily selalu membawa tas yang isinya buku-buku dan juga makanan serta minuman. Karena di taman tidak ada yang jualan sama sekali. Jadi, kami membawa persiapan yang banyak jika ingin ke taman itu. Kan bahaya kalau kami kelaparan di sana. Males pulangnya, haha. 

 

Di sini juga ada rumah pohon. Kalau sudah lelah belajar, kami naik ke atas pohon untuk rebahan. Benar-benar seperti di cerita dongeng. Sepertinya taman ini memang ditakdirkan untukku dan juga Laily. Aku dan Laily merahasiakan keberadaan taman ini dari siapapun, dikhawatirkan nanti jadi banyak yang tahu dan taman ini jadi berisik. Jangan sampai hal itu terjadi. 

 

Perubahan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days19

#JumlahKata322

#08:36WIB

 

Setelah aku menemukan taman itu, aku jadi tidak telat masuk sekolah. Kak Bintang saja sampai bingung melihatku yang tidak telat masuk sekolah lagi. Ibu dan ayah juga jadi senang karena aku telah mengubah kebiasaan burukku. Biasanya setelah salat Subuh aku tidur lagi, sekarang aku sering membantu pekerjaan ibu, misalnya menyapu dan mengepel. Setelahnya aku mandi dan langsung sarapan. 

 

“MasyaAllah, sekarang anak ayah jadi rajin, ya. Kalau gitu, ayah akan menambah uang jajan kamu setiap harinya.”

 

“Serius, Yah? Alhamdulillah ditambah uang jajannya. Aku emang lagi butuh banget uang, hehe.”

 

“Ya serius dong.”

 

“Terimakasih, Yah.” Ucapku sambil memeluk ayah. 

 

“Mentari, kamu kan sudah bangun pagi sendiri setiap harinya, apalagi kamu sekarang rajin membantu pekerjaan ibu. Kalau kakak anter kamu ke sekolah setiap hari mau gak? Jadi, kamu gak perlu capek-capek mengayuh sepeda lagi,” kata kak Bintang. 

 

“Wahh, seriusan kak? Tapi nanti pulangnya bagaimana? Kan kakak masih kerja.”

 

“Pulangnya nanti kamu naik angkot aja.

 

“Tapi aku mau menghemat uang kak. Kalau gitu aku naik sepeda aja deh, biar sekalian olahraga. Soalnya aku jarang olahraga kecuali naik sepeda, haha.”

 

“Yaudah kalau kamu mau begitu, kakak gak akan memaksa kamu, ini kan hak kamu mau dianter atau enggak. Tapi, kalau kamu butuh banget dianter, bilang aja ke kakak, jangan sungkan-sungkan.”

 

“Kakak, aku jadi terharu, hiks.” Ucapku tak percaya bahwa kak Bintang menjadi sangat baik. 

 

“Haha, kamu lebay banget sih sampai nangis gitu. Biasa aja kali.”

 

Kami yang sedang sarapan pun tertawa bersama di ruang makan.

 

Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang saling menghangatkan satu sama lain. Sangat harmonis. Keluarga yang diimpikan setiap orang. 

 

“Aku berangkat sekolah dulu ya.”

 

“Hati-hati, Nak.” Ucap ibu dan ayah bersamaan. 

 

“Hati-hati, Ri. Jangan meleng ya naik sepedanya, harus fokus.” Kata kak Bintang. 

 

“Iya, siap. Assalamu’alaikum.” 

 

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka bersamaan. 

 

Di hari Jum’at yang cerah ini, aku senang sekali, karena nanti akan ada kajian bersama kak Rumi di ekskul rohis. Kak Rumi adalah alumni dari SMAN 394, yang dulunya adalah ketua ekskul rohis. 

 

Ekskul Rohis

1 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days20

#JumlahKata409

#09:39WIB

 

Ekskul rohis dilaksanakan ketika salat Jum’at berlangsung. Jadi yang mengikuti ekskul rohis itu tidak mengikuti keputrian. Di sekolahku ada rohis perempuan dan juga rohis laki-laki. Jadi, jadwalnya terpisah. Rohis perempuan jadwalnya di hari Jum’at, sedangkan rohis laki-laki jadwalnya di hari Kamis. Sekarang ada materi dari kak Rumi yang sangat aku tunggu-tunggu. Temanya yaitu tentang “5 Tips Bahagia Sederhana”.

 

Yang pertama, yaitu jangan takut dan khawatir. Terkadang kita itu suka takut dan khawatir terhadap masa depan. Padahal masa depan adalah hal yang belum terjadi, kenapa harus ditakutkan dan dikhawatirkan? Yang terpenting sekarang adalah terus berusaha dan jangan lupa berdoa agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik kedepannya. Percayalah, rencana Allah adalah yang terbaik. 

 

Yang kedua, yaitu jangan pernah menyimpan dendam. Ciri orang yang bahagia adalah hatinya tak memendam rasa sakit hati kepada siapa pun. Jika ada orang yang berbuat salah kepada kita, kita harus senantiasa untuk memaafkannya. Terkadang, kita lebih mengingat kesalahan orang lain dan lupa akan kebaikannya kepada kita. Justru kita tuh harus mengingat kebaikan orang lain dan melupakan kesalahannya. Yang harus diingat adalah kesalahan kita kepada orang lain dan melupakan kebaikan yang sudah kita berikan kepada orang lain. Dendam itu seperti beban terberat jika kita menyimpannya dalam hati. Jangan sia-siakan energi kita untuk membawa dendam di dalam hati, gunakanlah untuk hal-hal yang positif.

 

Yang ketiga, yaitu jangan hidup pada masa lalu. Kita harus hidup ke depan, jangan mundur ke belakang. Masa lalu adalah pengalaman dan guru terbaik untuk menjadi pijakan kita agar bisa melangkah lebih baik lagi di hari ini atau kedepannya. Masa lalu biarlah berlalu, konsentrasilah di kehidupan saat ini karena kita juga bisa merasakan kebahagiaan di kehidupan yang sekarang. 

 

Yang keempat, yaitu selalu bersyukur. Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, sampai-sampai kita tidak bisa menghitungnya. Bersyukurlah dan nikmati hidup kita dengan penuh keyakinan bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik bagi kita di sisi Allah. 

 

Dan yang terakhir, yaitu berprasangka baik kepada Allah. Semua orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Kita mungkin tidak ingin mempunyai masalah. Tapi, mau tak mau, hidup kita pasti akan berhadapan dengan masalah. Yakinlah bahwa Allah adalah perencana yang terbaik. Sesungguhnya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 

 

Selesai kajian, aku sangat terkagum-kagum dengan materi yang disampaikan kak Rumi. Pikiranku jadi terbuka, sangat mind blowing. Selesai salat Jum’at, rohis pun selesai. Aku menghampiri Laily di ruang ekskul English Club untuk pulang bareng. Di perjalanan, aku banyak sekali bercerita tentang kajian yang tadi aku dapatkan kepada Laily. 

 

Celengan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days21

#JumlahKata303

#07:26WIB

 

Dua bulan berlalu. Sepertinya aku berhasil mengumpulkan uang sebanyak tiga juta lebih, soalnya celengan ku terasa sangat berat. Aku menyimpannya di celengan supaya aku tidak bisa melihat uangnya, kalau sampai melihat, dikhawatirkan aku khilaf untuk jajan, haha. 

 

Hari ini kuputuskan untuk membuka celengan panda ku. Celengan ku bukan celengan yang ketika ingin mengambil uangnya harus dipecahkan, karena mubazir banget, masa nanti ketika mau nabung harus beli celengan lagi. Jadi, celengan yang aku punya ini ada tutupnya dan ada gemboknya. Ketika ingin membuka celengannya, harus punya koncinya terlebih dahulu. Kurang lebih gemboknya seperti yang ada di buku diary gitu. Aku mendapatkan celengan ini dari kak Bintang dua tahun yang lalu ketika aku ulang tahun yang ke-14. 

 

Sebelum membuka celengannya, aku meminta Laily untuk datang ke rumahku agar aku tidak sendirian menghitung uangnya. Biar lebih heboh aja, sih. Kan pasti seru kalau bareng-bareng, seperti membuka door prize yang bikin deg-degan, haha. 

 

“Ri, seriusan mau buka sekarang?” Tanya Laily yang tampak ragu. 

 

“Iya, Ly. Aku udah gak sabar banget untuk membukanya. Lagi pula tenggat untuk membeli kamera di ekskul fotografi tinggal sebulan lagi,” ucapku dengan yakin. 

 

“Let's go kita buka!” Ucap kami berbarengan dengan semangat yang membara. 

 

Setelah dibuka, ternyata uangnya memang sangat banyak. Kami pun mulai menghitungnya. Selesai menghitung, aku menangis terharu. Karena uang yang ku kumpulkan selama lima bulan ini telah mencapai target untuk membeli kamera. 

 

“Huaaaa, aku seneng banget, Ly.”

 

“Iya, hiks. Aku juga jadi terharu, sampai ikutan nangis, nih. Huaaa.”

 

Kami pun berpelukan sambil menangis terharu. Setelahnya, aku menyimpan uang di dompet. Rencananya besok aku ingin membeli kamera bersama Laily. Untung besok weekend, jadi sekalian jalan-jalan. 

 

Hari mulai petang, aku dan Laily pergi ke luar rumah untuk mengelilingi kompleks. Tujuan kami berkeliling kompleks adalah untuk memberi makan kucing-kucing jalanan. Ini sudah menjadi kebiasaan kami berdua sejak kecil. Kami sangat menyukai kucing. Miaw! 

 

Kamera

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days22

#JumlahKata314

#06:00WIB

 

Aku dan Laily bersiap-siap untuk pergi ke toko kamera naik GrabCar. Selama di perjalanan, aku dan Laily main sambung kata. Kami sangat berisik di dalam mobil karena tertawa terus, soalnya lucu aja gitu kalau gagal nyambungin katanya, malah jadi melesetin kata-katanya, hahaha. 

 

Tak lama, kami pun sampai di depan toko kamera. Aku membawa semua uang tabunganku ke sini untuk jaga-jaga, takutnya kurang gitu uangnya. Toko kamera ini ternyata baru buka sepekan yang lalu, jadi ada potongan harga untuk kamera-kamera tertentu. Biasalah, setiap toko yang baru buka pasti mengadakan potongan harga untuk barang-barang yang dijual di tokonya supaya menarik pelanggan, ini adalah salah satu trik bisnis. 

 

Aku pun tertarik dengan potongan harga itu, akhirnya aku melihat-lihat kamera yang sedang diskon. Tak lama, aku menemukan kamera yang cocok denganku. Harga aslinya yaitu Rp3.650.000, tetapi sekarang harganya menjadi Rp2.980.000. Potongannya sangat besar. Tanpa berlama-lama, aku langsung membelinya. 

 

“Ly, aku seneng banget bisa beli kamera. Alhamdulillah banget ada diskon, jadi uangku gak langsung habis untuk membeli kamera. Masih ada sisa lima ratus ribuan. Akan aku simpan baik-baik, takut nanti ada keperluan mendadak,” kataku senang sambil berjalan keluar toko kamera. 

 

“Iya, alhamdulillah. Aku juga ikut senang. Selamat ya yang udah punya kamera baru. Cieee...”

 

“Apa sih, Ly. Malu tau di ‘cie’ in. Hahaha..”

 

“Ahahaha..”

 

“Ly, makan dulu yuk! Laper nih,” ajakku. 

 

“Iya, aku juga laper nih, let's go!”

 

Kami pun makan di Richeese Factory, karena hanya itu yang terdekat dari toko kamera. Aku suka banget sama saus kejunya. Kalau makan Richeese berasa lagi mukbang ayam pakai saus keju, kayak yang di youtube-youtube tuh, hahaha. Aku suka ngiler sama yang mukbang ayam pakai saus keju. 

 

Setelah makan, kami pun pergi ke taman. Di sana aku mencoba kamera baruku untuk memotret langit. Aku dan Laily juga foto bersama di taman itu. Ternyata hasilnya sangat bagus, seperti kamera-kamera yang harganya lebih mahal. Aku sangat beruntung bisa dapet diskon untuk beli kamera ini. 

 

Persiapan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days23

#JumlahKata333

#09:59WIB

 

Dua hari lagi study tour dimulai. Rencananya hari ini aku akan mempersiapkan perlengkapan untuk pergi study tour. Aku meminta Laily untuk menemaniku ke supermarket untuk membeli makanan dan barang-barang lainnya.

 

Setelah sampai di supermarket terdekat, aku melihat bapak-bapak yang sudah tua dan dia adalah seorang pengemis yang sedang duduk di depan pintu masuk supermarket. Karena kasihan, aku memberikan sebagian uang yang kumiliki kepadanya. Begitupun dengan Laily, dia juga memberikan sebagian uangnya kepada bapak pengemis itu. Setelahnya, aku dan Laily masuk ke dalam supermarket dan langsung menghampiri bagian makanan ringan, seperti snack, roti, dan lain-lain.

 

“Ly, aku mau beli happy tos, kamu mau apa?”

 

“Hmm, aku mau beli chitato rasa sapi panggang.”

 

“Mau beli pop mie gak?”

 

“Boleh, boleh.”

 

“Roti sobek beli juga deh, tapi satu aja, soalnya aku gak bakal makan sampai habis. Nanti kita makan berdua aja, ya!” Kataku.

 

“Iya, iya. Beli buat dimakan di bus.”

 

“Okey.”

 

Keadaan supermarket sangat ramai. Ketika aku dan Laily sedang asyik milih-milih makanan yang akan dibawa untuk study tour, aku melihat pengemis itu masuk ke dalam supermarket. Aku tidak terlalu memerhatikan pengemis itu. Tak lama, ada keributan di sisi lain di dalam supermarket ini. Ternyata, pengemis itu kabur membawa banyak makanan dari dalam supermarket. Aku dan Laily pun panik, ingin mengejarnya, tapi tak bisa karena terlalu jauh. Tak lama, pengemis itu kembali ke supermarket bersama seorang pemuda yang berhasil menangkapnya. Akhirnya, pengemis itu mengembalikan sebagian makanan yang dibawanya, dan sebagian makanan yang lain dia bayar ke kasir dengan uang hasil mengemis tadi.

 

“Yaampun, Ri. Bapak itu gak tau bersyukur banget, ya. Kan dia punya uang, kenapa gak langsung beli aja makanannya, pake acara nyuri segala. Kan jadi bikin keributan.”

 

“Iya, betul banget. Seharusnya kita tuh bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan. Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya uang yang kita punya. Kalau lapar, dan kita punya uang, ya gunakanlah uang tersebut untuk membeli makanan supaya tidak lapar lagi, ini mah malah mencuri, kan mencuri adalah suatu perbuatan tercela.”

 

“Hooh, betul tuh, Ri. Yaudah yuk, kita bayar ke kasir!”

 

Perjalanan

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days24

#JumlahKata404

#09:28WIB

 

Hari yang sangat aku tunggu-tunggu pun tiba. Hari ini, sekolah kami mengadakan study tour ke Yogyakarta. Banyak destinasi yang akan kami kunjungi setelah tiba di sana. Berangkatnya yaitu setelah salat Isya berjamaah di sekolah dan kami menaiki bus. Jadi, berangkat dari rumah untuk ke sekolahannya setelah salat Maghrib. Ada alasan berangkat study tour nya itu malam hari, yaitu agar besok paginya bisa langsung pergi ke tempat yang akan dikunjungi. 

 

“Ly, aku udah siap, nih. Kamu udah belum?” Tanyaku kepada Laily lewat sambungan telepon. 

 

“Udah, nih. Mau berangkat ke sekolah sekarang? Kita ketemuan aja langsung di sekolah. Tepatnya di depan masjid.”

 

“Okee.” Aku pun menutup sambungan telepon. 

 

“Ibu, Ayah, aku berangkat study tour dulu, ya.” Pamitku kepada ibu dan ayah. 

 

“Hati-hati ya, Nak. Ayah dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu,” kata ayah. 

 

“Semoga lancar study tour nya. Jangan sampai kamu meleng lalu hilang dari rombongan, ya. Harus fokus, jangan asyik sendiri. Semoga selamat sampai Yogyakarta dan selamat sampai kembali lagi ke rumah,” kata ibu yang terlihat sangat khawatir denganku. 

 

“Siap, Yah, Bu. Aku akan jaga diri dengan baik di sana. Assalamu’alaikum.”

 

“Wa’alaikumussalam.”

 

Aku diantar naik motor dengan kak Bintang menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, aku pamit kepada kak Bintang. 

 

“Kak, aku berangkat dulu ya ke Yogyakarta.”

 

“Iya. Kamu kalau tidur jangan terlalu kebo ya di sana. Nanti ditinggal baru tau rasa, hahaha.”

 

“Ih apa sih, Kak. Aku kan udah bisa bangun sendiri, gak kayak dulu, huuu. Yaudah, assalamu’alaikum.”

 

“Wa’alaikumussalam. Have fun ya di sana. Hati-hati, Ri!” Ucap kak Bintang sambil mengelus kepalaku. 

 

Aku pun menyapa Laily yang sudah menungguku di depan masjid sekolah. Tak lama, azan isya pun berkumandang. Kami semua mendirikan salat Isya terlebih dahulu sebelum berangkat. Kami meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah agar bisa diberi keselamatan sampai tujuan. 

 

Setelah salat Isya, kami pun berangkat. 

 

Aku duduk di bangku dekat jendela, sementara Laily duduk di bangku yang berada di sampingku. Di perjalanan, aku banyak makan makanan yang sudah dibeli waktu di supermarket. Aku juga makan bekal mie goreng yang aku buat ketika di rumah sebelum berangkat ke sekolah. Ini adalah kebiasaanku yang selalu banyak makan ketika di perjalanan, karena kalau tidak makan, aku akan merasa mual. 

 

Di dalam bus juga ada karaoke. Aku hanya mendengarkan orang-orang yang bernyanyi sambil memakan camilan. Alasanku tidak ikut bernyanyi karena aku malu dan suaraku juga fales, hahaha. 

 

Tak lama, bus pun menjadi hening, karena semua terlelap tidur. Kecuali pak sopir, ya. Hahaha. Aku pun ikut tertidur. 

 

Study Tour (1)

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days25 

#JumlahKata324

#09:27WIB

 

Selama kurang lebih 7 jam kami menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya kami pun sampai dengan selamat di Yogyakarta. Kami check in di hotel yang letaknya tak jauh dari Malioboro. Satu kamarnya diisi oleh delapan orang. Setelah sampai di kamar, kami pun tepar semua. Dan tak lama, kami pun tertidur. Sebelum tidur, aku sempat memasang alarm di jam 4 pagi supaya tidak kesiangan nantinya. 

 

Aku pun terbangun ketika alarm HP ku berbunyi. Sebagian temanku yang lain langsung terbangun juga ketika mendengar suara alarm HP ku. Dan sebagian yang lain masih tertidur. Aku pun segera membangunkan mereka yang masih asyik bermain dalam mimpi. 

 

Kami pun langsung mandi bergiliran, beres-beres, dan salat Subuh berjamaah di masjid terdekat bersama teman-teman kami yang lain dan juga guru-guru. Sekitar jam setengah 7 pagi, kami pergi sarapan di restoran hotel. 

 

Setelah mengisi perut, kami pun langsung berangkat menuju Candi Borobudur. Oh iya, sekolah kami membuat kaos yang seragam gitu untuk study tour ini. Supaya menjadi ciri bahwa kami adalah siswa-siswi SMPN 394 Jakarta. Tujuannya yaitu agar tidak hilang dari rombongan. Warna kaosnya yaitu biru dongker. 

 

Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke Yogyakarta. Aku sangat senang karena bisa dapat kesempatan pergi ke daerah istimewa ini. 

 

Tak lama, kami pun sampai di Candi Borobudur. Kami menaiki tangga yang sangat banyak untuk bisa mencapai puncak Candi Borobudur. 

 

“Ly, aku capek banget ini, tangganya banyak banget.” Keluhku. 

 

“Iya, aku juga capek, Ri. Ayo semangat! Kalau udah sampai atas pasti capeknya hilang karena pemandangannya yang indah.”

 

Tak membutuhkan waktu yang lama, kami pun sampai di puncak Candi Borobudur. Pemandangannya betul-betul indah. Aku memotret banyak foto. Biasanya aku hanya melihat foto-foto orang di instagram yang sedang berada di Candi Borobudur ini. Tetapi, sekarang aku bisa foto-foto di sini secara langsung. Cuaca hari ini sangat terik. Jadi bagus untuk foto-foto. 

 

Setelah dari Candi Borobudur, kami akan melanjutkan perjalanan ke Candi berikutnya, yaitu Candi Prambanan. Tetapi sebelum ke sana, kami makan dulu di restoran terdekat dari Candi Prambanan. 

 

Study Tour (2)

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days26

#JumlahKata414

#09:58WIB

 

Setelah makan siang di restoran, kami pun segera mengunjungi Candi Prambanan. Ketika sampai, cuaca di Candi Prambanan lebih adem dibandingkan dengan di Candi Borobudur. Mataku langsung tertuju kepada candi-candi yang terhampar luas yang dikelilingi oleh taman hijau. 

 

“Woah, luas banget. Banyak pula candinya.”

 

“Iya, bener banget, Ly. Aku bakal banyak ambil foto nih pasti di sini.” 

 

“Hahaha, pasti banget sih itu mah.”

 

“Perhatian! Murid-murid SMPN 394 Jakarta dimohon untuk segera ke tempat sewa kereta karena kita akan keliling Candi Prambanan dengan naik kereta wisata.” Kata salah satu guruku dengan memakai toa agar terdengar sama murid-muridnya. 

 

“Siap, Pak!” Ucap kami bersamaan. 

 

Kami pun menaiki kereta wisata dan mengelilingi Candi Prambanan. Sebenarnya, naik kereta ini tidak mengelilingi seluruh tempat yang ada di sini, karena lingkungan Candi Prambanan sangat luas sehingga tidak semuanya bisa di tuju. Hanya berhenti sampai Candi Sewu dan durasinya sekitar 10-15 menitan saja. 

 

Banyak reruntuhan candi di sekitar candi-candi yang besar dan berdiri tegak. Candi yang berukuran besar itu ada 6, yaitu 3 Candi Trimurti dan 3 Candi Wahana. Candi Trimurti terdiri dari Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma. Sedangkan Candi Wahana terdiri dari Candi Nandi, Candi Garuda, dan Candi Angsa. 

 

Ada sebuah monumen yang terletak di depan Candi Wisnu dan Candi Garuda. Monumen ini dibuat dengan tujuan untuk memperingati dahsyatnya gempa yang mengguncang Candi Prambanan pada tanggal 27 Mei 2006.

 

Setelah banyak berkeliling dan juga foto-foto, kami pun bergegas untuk pergi ke hotel karena sudah sore hari. Di hotel, kami istirahat, mandi, dan salat Maghrib. Kami pun makan malam di restoran hotel setelah salat Isya. 

 

Kami diizinkan untuk pergi jalan-jalan menikmati malam hari di Malioboro setelah makan malam. Di sana kami bebas untuk beli apa aja. 

 

“Guys, kalian mau jajan apa? Aku mau beli oleh-oleh deh buat keluargaku.” Ucapku kepada teman-teman. 

 

“Iya, aku juga mau beli oleh-oleh. Beli apa, ya?” Tanya Dewi. 

 

“Beli bakpia dong pastinya!” Ucap Nabila semangat. 

 

“Oh iya, bener juga kamu, Bil. Oke, oke. Ayo kita ke toko oleh-oleh!” Ucapku semangat. 

 

Kami pun bersama-sama membeli oleh-oleh. Di toko oleh-oleh, kami banyak memilih makanan yang lain untuk dibeli selain bakpia. Setelah membeli oleh-oleh, kami pun membeli jajanan yang ada di pinggir jalan. Rata-rata, kami membeli telur gulung. Karena sudah makan malam, kami tidak bisa makan makanan yang berat. 

 

Aku selalu mengalungi leherku dengan kamera. Setiap aktivitas yang aku lakukan bersama teman-teman, pasti aku rekam dan juga foto. Supaya menjadi kenangan nantinya. Karena ini pertama kalinya aku ke luar kota bersama teman-teman. 

 

Setelah puas berbelanja, kami segera pulang ke hotel. 

 

Study Tour (3)

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days27

#JumlahKata440

#09:08WIB

 

Hari ke-2 di Yogyakarta pun dimulai. Hari ini kami akan pergi ke tiga tempat wisata yang gak kalah serunya dari hari kemarin, yaitu ke Lava Tour Merapi, The World Landmarks Merapi Park, dan Museum Gunung Merapi. 

 

Sebelum berangkat, kami check out hotel terlebih dahulu. Semalam, aku dan teman-temanku untung tidak lupa untuk beres-beres barang ke dalam tas masing-masing. Soalnya nanti malam kami tidak akan ke hotel lagi, tetapi langsung pulang ke Jakarta.

 

Destinasi hari ini semuanya dekat dengan Gunung Merapi. Bahkan nama-namanya juga ada unsur ‘Merapi’ nya, sudah pasti dekat dengan Gunung Merapi. 

 

Destinasi yang pertama adalah Lava Tour Merapi. Di sana kami naik mobil Jeep untuk menyusuri bekas aliran lahar pasca letusan Gunung Merapi. 

 

Kami memakai helm yang disediakan untuk dijadikan pengaman ketika naik mobil Jeep. Aku juga memakai kacamata hitam, soalnya panas banget. Kalau berwisata ke sini, alangkah lebih baiknya ketika cuacanya panas. Karena Gunung Merapi nya pasti kelihatan jelas, jadi bagus untuk difoto. Tidak hanya itu, kalau cuacanya panas, kita tidak perlu repot-repot memakai jas hujan dan juga tidak becek-becekan. 

 

Sepanjang perjalanan, kami diajak mampir ke beberapa tempat pasca letusan Gunung Merapi, seperti Museum Sisa Hartaku dan juga Bunker Kaliadem.

 

Setelah asyik mengelilingi Gunung Merapi naik mobil Jeep, kami pun langsung pergi ke Museum Gunung Merapi. Bentuk bangunannya unik, yaitu berbentuk trapesium dengan salah satu sisi puncaknya mengerucut membentuk segitiga. Museum ini dilatarbelakangi Gunung Merapi yang tampak gagah.

 

Ketika memasuki museum, kami disambut oleh replika sebaran awan panas yang besar. Alat inilah yang membuat seisi ruangan menjadi bergemuruh. Jika ditekan tombolnya, maka akan keluar sebaran awan panas serta aliran lava pijar yang terlihat mirip dengan kejadian letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu.

 

Di sepanjang ruangan, kami disuguhkan oleh koleksi foto-foto Gunung Merapi dari zaman ke zaman, koleksi benda-benda sisa letusan tahun 2006, batuan dari Gunung Merapi sejak tahun 1930, dan masih banyak lagi. 

 

Di lantai dua ada yang menarik, yaitu adanya koleksi alat peraga simulasi tsunami dan gempa bumi. Ada juga lorong peraga simulasi LCD. Di sini kami dapat melihat dan juga merasakan suasana ketika tsunami dan gempa bumi, meskipun begitu ini tidak membahayakan. 

 

Setelah puas berkeliling museum, saatnya beristirahat di teater mini sembari menonton film pendek yang berjudul ‘Mahaguru Merapi’. Film ini menunjukkan dua sisi Merapi yang sangat bertolak belakang. Merapi dapat memberi kesuburan, tetapi juga dapat memberi ujian kesabaran ketika dia mengeluarkan seluruh isi yang berada di dalam perutnya. 

 

Hal ini mengingatkan kembali bahwa apapun yang ada di dunia ini hanya sementara dan yang abadi hanya di akhirat semata. Jadi, jangan sia-siakan kehidupan yang sementara ini untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Gunakanlah waktu yang tersisa ini untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat yang abadi. 

 

Study Tour (4)

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days28 

#JumlahKata478

#09:58WIB

 

Setelah puas melihat-lihat isi dari Museum Gunung Merapi, kami pun pergi ke The World Landmarks Merapi Park yang lokasinya dekat dengan Museum Gunung Merapi. Kami cukup berjalan kaki saja untuk masuk ke sana, tidak perlu naik bus lagi. 

 

Tempat ini adalah tempat yang sangat ingin aku kunjungi dari zaman SMP, karena foto orang-orang di media sosial yang bikin salah sangka. Soalnya tanpa pergi ke luar negeri pun, mereka dapat foto-foto di ikonik negara luar. 

 

Ada temanku yang sudah pernah ke sini, dia bilang dia pergi ke luar negeri. Awalnya aku mempercayainya soalnya ada bukti foto-fotonya. Tapi, ketika aku lihat secara detail, tempat dan hawanya itu sama. Gak ada bedanya gitu. Terus foto-fotonya itu ada yang lagi di negara Belanda, tiba-tiba ke Amerika, lalu ke London. Kan gak masuk akal. Baju yang dia pakai pun masih sama, hahaha. Tak lama, dia pun mengaku bahwa dia berbohong setelah aku dan teman-temanku yang lain mulai tidak percaya kepadanya. Sebenarnya dia hanya ingin bercanda, hahaha. Dan dia pun memberi tahu lokasi tempat dia foto-foto. Aku jadi kepo dan mencari tahu di internet tentang tempat ini. 

 

Akhirnya, sekarang aku bisa mewujudkan keinginanku untuk pergi ke sini. Dan alhamdulillah nya, ketika datang ke tempat ini, aku sudah mempunyai kamera. Jadi, bakal puas banget buat ambil banyak foto di sini. 

 

“MasyaAllah keren banget. Berasa lagi di luar negeri.” Ucapku yang terkagum-kagum. 

 

“Iya, bener banget! Ini mah dunia berasa dalam genggaman.” Kata Nabila. 

 

“Hahaha, bener kamu, Bil. Let's go kita keliling dunia!” Seruku kepada teman-teman. 

 

“Let's go!” Seru teman-temanku. 

 

Di sana, aku banyak sekali memotret pemandangan dan ikon-ikon dari negara-negara luar. Ada Menara Pisa Italia, Kincir Angin Belanda, Brandenburg Gate Jerman, Pagoda, Big Ben London, Menara Eiffel Paris, Patung Liberty Amerika Serikat, dan masih banyak lagi. Di sana juga banyak bunga berwarna-warni yang mengelilingi taman ini. Aku bersama teman-teman asyik sekali berfoto-foto. Hampir semua ikon kami kunjungi saking semangatnya keliling dunia, hahaha. 

 

“Haduh. Capek juga, ya.” Kata Laily.

 

“Iya, capeeek.” Sahut kami semua. 

 

“Eh ada cafe tuh, mau istirahat di sana gak?” Usul Dewi. 

 

“Eh, iya. Boleh tuh.”

 

Kami pun istirahat sejenak di cafe tersebut, melepas penat yang sudah kami tampung dari pagi tadi. 

 

Tak lama, ada pemberitahuan dari guru agar segera berkumpul. Ternyata, ada satu destinasi lagi yang akan kami tuju setelah salat Asar. Yaitu ke Pantai Indrayanti. Aku pun sangat senang, karena aku bisa melihat senja yang indah di pantai. Kalau di pantai kan senja nya pasti terlihat sangat jelas.

 

Kami pun sampai di Pantai Indrayanti. Pasir putihnya terhampar luas. Sangat cantik pantainya. Ternyata benar saja, kami disuguhkan oleh langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Aku tak berhenti memotret senja yang indah itu. Kami semua yang ikut study tour foto bersama di Pantai Indrayanti yang di latar belakangi pantai dan juga senja yang indah. 

 

Setelah salat Isya, kami pun berangkat untuk menuju ke Jakarta. 

 

Ini akan menjadi kenang-kenangan yang takkan pernah ku lupakan. 

 

Lomba Menulis

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days29

#JumlahKata311

#07:58WIB

 

Setelah pulang dari study tour, tiba-tiba ada sebuah ide yang terlintas di kepalaku. Jadi, aku ingin mengedit video yang telah aku rekam selama study tour, dan mengupload nya di Youtube. 

 

Akhirnya, aku pun merealisasikan ide yang telah ku pikirkan. Setelah selesai mengedit dan mengupload video, aku pun segera mengirimkan link Youtube ku ke grup kelas. Setelah sepekan berlalu, yang like videoku sudah 100an lebih. Kayaknya teman-teman sekelasku mempromosikan link Youtube ku ke kelas lain. Bahkan banyak yang komentar juga. Yang komentar tidak hanya teman-teman saja, tetapi guru-guru juga komentar. Aku sangat terharu. 

 

Suatu ketika... 

 

“Ri, yang kamu tunggu-tunggu ada nih.” Kata Laily bersemangat. 

 

“Hah? Apaan? Apa yang aku tunggu-tunggu?”

 

“Itu loh, lomba menulis cerita.” 

 

“Hah seriusan? Dimana lombanya?” Tanyaku kaget. 

 

“Iya serius, nih ada posternya dari instagram.” Kata Laily sambil menunjukkan poster perlombaan. 

 

“Waah, alhamdulillah. Aku mau join deh.” Ucapku bersemangat. 

 

“Semangat, Riiii! Kamu pasti bisa!”

 

Selama liburan, aku bersama Laily tidak pernah absen untuk pergi ke taman tersembunyi. Apalagi aku sekarang sedang sibuk-sibuknya menulis cerita untuk perlombaan yang sedang aku ikuti.  

 

“Ly, aku laper banget nih. Kita ke rumah dulu yuk ambil makanan.”

 

“Oh iya, kita lupa bawa makanan ya. Gara-gara terburu-buru untuk pergi ke sini. Yaudah ayo kita pulang dulu, nanti balik lagi ke sini.”

 

Kami pun segera mengambil sepeda untuk pulang ke rumah. 

 

“Ri, kamu ngapain sih tiap hari kayaknya pergi mulu.” Tanya kak Bintang. 

 

“Ih, kepo banget deh.”

 

“Hiii, kakak kan cuman penasaran.”

 

“Penasaran itu sama dengan kepo, kak. Ish, ngakak banget deh.” Ucapku sambil tertawa. 

 

“Beda lah. Hurufnya aja beda-beda.”

 

“Iya deh, iya. Kakak selalu benar.” 

 

“Hahahahaha.”

 

Setelah mengambil makanan di rumah. Aku dan Laily langsung kembali ke taman tersembunyi. Di sana, Laily belajar bahasa Inggris. Sedangkan aku menulis cerita. Laily rajin belajar bahasa Inggris karena dia akan mengikuti pidato bahasa Inggris dua pekan lagi. 

 

“Ly, semangat belajar bahasa Inggris nya!”

 

“Semangat juga menulis ceritanya, Ri!”

 

Epilog

0 0

#SarapanKata

#KMOClubBatch39

#Kelompok28_LiterasiEunoia

#Days30

#JumlahKata301

#08:04WIB

 

“Mentariii, sarapan dulu, Nak.” 

 

“Iyaa, Bu. Sebentar, dikit lagi selesai.”

 

Setelah selesai beres-beres, aku langsung pergi ke ruang makan untuk sarapan. Hari pertama di kelas 11 pun dimulai. Aku kangen banget sama suasana belajar-mengajar di sekolah. 

 

“Halo teman-teman. Selamat pagi!” Sapaku di depan ruang kelas. Di SMA ini, setiap kenaikan kelas tidak akan ada pengacakan teman sekelas seperti SMP dulu. Jadi, selama 3 tahun kami akan sekelas. Aku sudah menganggap teman-teman sekelasku adalah keluarga kedua ku. 

 

“Pagi Mentariii!” Sahut teman-temanku. 

 

“Mentari cerah banget seperti matahari pagi ini, hahaha.” Ucap Riani. 

 

“Iya dong, harus. Karena aku adalah Mentari, hahaha.”

 

“Hahahaha bisa aja kamu.”

 

“Gimana kabarnya kalian?” Ucapku. 

 

“Alhamdulillah baik.”

 

“Cieee, selamat ya Mentari, kamu udah menang lomba menulis cerita! Aku lihat di instagram pengumuman pemenangnya.” Kata Fina. 

 

“Huee, makasih Fina.” 

 

“Woahh serius? Selamat ya Mentari sudah menang lomba menulis.” Kata Razka. 

 

“Selamat Mentariiii!” Sahut teman-temanku yang lain. 

 

“Makasih semuanyaaa.” Kataku terharu. 

 

Ya, jadi pada lomba menulis yang aku ikuti setelah study tour itu, akulah pemenangnya. Aku mendapatkan juara 1, dan hadiahnya adalah uang sebesar lima juta rupiah serta satu buku novel kesukaanku. Ketika aku dihubungi oleh pihak penyelenggara lomba menulis, yang menyatakan bahwa aku adalah pemenang dari lomba menulis tersebut, Laily tepat berada di sampingku. Aku dan Laily pun heboh sekali di kamarku. Aku sampai menangis saking senangnya, hahaha. Setelah memenangkan lomba ini, aku jadi semakin semangat untuk menulis. 

 

“Ly, kamu belum ada kabar pemenang lomba pidato bahasa Inggris, ya?” Tanyaku. 

 

“Iya, belum. Kalau dilihat dari jadwalnya sih, besok lusa pengumumannya.”

 

“Oh gitu. Semoga kamu memenangkan lombanya, ya!”

 

“Aamiin.”

 

Begitulah keseharianku. Selama setahun ini, aku berhasil mengubah pola hidupku. Dulu aku suka sekali begadang untuk belajar dan juga menulis cerita. Tetapi setelah aku menemukan waktu dan tempat yang mendukung untukku belajar selain malam hari, aku bisa lebih efisien menggunakan waktu sebaik mungkin. 

 

Mungkin saja kamu suka

Aisyah humayroh...
Ana uhibukum fillah
hafshahmuslimah
Mengapa Harus Aku
Tessalonika
Berbeda Agama
Sry Rejeki Sety...
Selaksa Rindu Mengukir Takdir
Nur Aeni Hidaya...
Menanti di Ujung Rasa

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil