Loading
7

0

0

Genre : Keluarga
Penulis : Nyai Sri Jayanti
Bab : 30
Pembaca : 1
Nama : Nyai Sri Jayanti
Buku : 2

Ada Kehangatan di Langit Chana 2

Sinopsis

Menceritakan tentang perjuangan mengajar seorang guru magang di luar negeri, yang pada akhirnya ia pun mendapatkan banyak pembelajaran dari murid-muridnya.
Tags :
#rahanum #batch39 #keluarga #inspirasi #perjuangan #pendidikan #humor

BAB 1

1 0

 

Rembulan telah menghangatkan suasana dingin yang membeku. Bintang-bintang bertebaran begitu menawan, membuat hati siapa saja ingin berlama-lama memandangnya. Angin malam yang sejuk membelai wajah seorang gadis cantik jelita dengan jilbab biru mudanya. Ia terduduk diam memandang kebesaran Sang Pencipta alam semesta. Perlahan, butiran suci berjatuhan membasahi pipi. Ia menyekanya dan berlalu pergi.

 Aku yakin, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku yakin, sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan. 

 Namanya Bilqis. Ia adalah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tahun ini adalah, tahun terberat dalam hidupnya. Semenjak ayahnya sakit, Bilqis mengambil banyak pekerjaan paruh waktu untuk membantu membiayai sekolah adiknya. Ia bekerja di salah satu tempat fotokopi di kampus, tetapi saat ini sudah tidak karena ada penggusuran. Bilqis, selain ia menitip makanan di kantin-kantin kampus. Baru-baru ini, ia juga mengajar di tempat kursus salah satu dosennya. Bilqis masih memiliki kesulitan dalam hal mengajar, bagaimana ia harus menghadapi murid-murid yang memiliki perbedaan dalam menerima pembelajaran? Bagaimana menghadapi Bu Madona yang selalu nyinyir atas usahanya selama mengajar di English Course? Sekarang, Bilqis sudah tidak mempunyai tabungan, karena tabungannya selama satu tahun sudah ia bayarkan ke rumah sakit untuk membayar biaya rumah sakit bapak. Ia juga sadar akan sikapnya yang nekat mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa KKN dan PPL ke Thailand. Mengajar di Negara sendiri saja, ia masih kesulitan, apalagi mengajar di Negara orang lain. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak mempunyai biaya untuk KKN dan PPL di negaranya.

 Oke, ini adalah yang terbaik. Aku tidak pernah tahu skenario Allah. Tapi, aku yakin ini adalah yang terbaik dari yang terbaik. 

 Bilqis, dengan segala permasalahannya. Ia tetap tegar karena Allah telah memberikan keluarga yang menjadi kekuatannya untuk terus bangkit. Ia yakin, ketidak lolosannya mengikuti beasiswa KKN-PPL Thailand hari ini adalah yang terbaik untuknya. Ia pun yakin, Allah tidak akan meninggalkannya. Allah akan selalu memberikan kemudahan disetiap kesulitan yang datang menghadang.

2

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata308

#Day2

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

                                        ***

 “Cuma ada tahu goreng aja, Umi?” tanya Kinan sambil mencolok tahu dengan garpu.

 “Iya, syukuri aja yang ada, ya,” jawab bu Nur dengan lembut.

 “Tahu ini makanan terenak, kamu harus bersyukur,” balas Bening.

 “Lebih enak itu, Chicken steak Enoki Sauce, Steik T-bone, dan klapertart Klasik.” Kinan membayangkan makanan itu ada di hadapannya sambil menjilat-jilat bibirnya.

 “Yang enak itu, yah, yang ada di depan kita. Mana enak ngebayangin yang nggak ada? Haha.” Bilqis tertawa puas dan diikuti yang lainnya, kecuali hanya Kinan yang duduk terdiam sambil mengunyah tahu dengan ganas.

 “Sudah-sudah, ayo baca doa terlebih dahulu,” ucap pak Endang melerai pertikaian antara Kinan dan Bilqis.

  Bilqis makan dengan hati yang terus berbicara dengan akal pikirannya. Ia sudah bercerita pada uminya kalo ia mendaftarkan diri KKN-PPL Thailand. Tapi, ia sungguh tidak ingin menceritakan ketidak lolosannya pada bu Nur. Ia ingin mencari solusi terlebih dahulu untuk biaya KKN, baru ia akan bercerita perihal ketidak lolosannya itu. Bilqis terus mengunyah tahu dengan pandangan yang kosong. Ia terus mencoba mencari solusi. Tanpa ia sadari, keluarganya memperhatikan tingkahnya.

 “Woy! Teh,” Kinan menepuk bahu Bilqis dengan sedikit kencang.

 “Uhuk, uhuk, uhuk,” Bilqis tersedak karena kaget. 

 “Maaf, Teh,” dengan wajah ketakutan, Kinan menuangkan air ke gelas Bilqis.

 Bilqis ingin marah, tapi ia tahan. Bu Nur pun sempat memarahi sikap Kinan yang masih suka usil. Kinan berkilah, kalo ia ingin menyelamatkan Bilqis dari lamunannya. Bapak juga menanyakan Bilqis, apa yang sedang Bilqis pikirkan? sampai-sampai tak mendengar panggilan Bening. Bilqis hanya menjawab bahwa ia sedang banyak tugas kampus.

                                        ***

 Malam ini, bulan terlihat sangat indah. Kunang-kunang bertebaran dengan sangat menawan di dekat jendela kamarnya. Semilir angin perlahan membelai wajah Bilqis dengan sangat lembut. Ia terus berdoa kepada Sang maha pencipta agar ia mendapati solusi dari permasalahannya. Ia sangat yakin bahwa skenario terbaik adalah skenario Allah. Tak lama, ponsel Bilqis berderit. Ada pengumuman dari grup besar FKIP.

_Bersambung_

3

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata323

#Day3

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

“Alhamdulillah.” Bilqis segera sujud syukur. 

Ia sangat berterima kasih kepada Allah yang telah mengizinkannya untuk mengikuti tes ke tahap selanjutnya. Di grup FKIP dijelaskan bahwa ada kesalahan dalam pengetikan. Sehingga pengumuman hasil tes essay diperbaharui lagi. Sebenarnya, nama-nama yang lolos tidak ada yang berubah, hanya saja bertambah satu nama, yaitu nama Bilqis.

                                     ***

 Pak Victor sedang menatap essay Bilqis yang mengesankannya. Sebenarnya, ia tidak ada niatan meloloskan Bilqis hanya karena sudah membantu ibunya dari seorang jambret. Ia hanya mencoba untuk se-profesional mungkin. Ia ingin memberikan keadilan pada Bilqis yang essaynya sudah ia campakkan. Ia mengira bahwa Bilqis anak yang buruk, tetapi tidak seburuk yang ia pikirkan. Ia akan meloloskan Bilqis kalo essay Bilqis memenuhi syarat. Ternyata diluar dugaan, essay Bilqis sangat bagus. Akhirnya, ia memberikan kesempatan kepada Bilqis untuk lanjut ketahap selanjutnya.

 Bilqis bercerita kepada keluarganya tentang KKN-PPL Thailand. Ia berharap agar keluarganya ikut mendoakannya. Ia juga mengatakan bahwa besok adalah tes wawancara yang akan menentukan, apakah ia lolos atau tidak? Bu Nur dan pak Endang pun memberikan motivasi dan nasehat untuk Bilqis. 

 “Jika KKN-Thailand ini yang terbaik untukmu, pasti Allah akan mudahkan,” jelas pak Endang.

 “Iya betul. Jadi, Bilqis harus tenang, jangan dijadikan beban, yah. Lolos atau pun tidak, itu kehendak Allah. Yang penting, kita sudah melakukan ikhtiar terbaik kita,” ucap bu Nur sambil memegang bahu anaknya.

 Hati Bilqis terasa lega. Ia sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Ia berusaha mempelajari lagi essay yang ia buat. Ia juga mencari-cari pengalaman mahasiswa yang pernah KKN-PPL di Thailand melalui internet. Ia juga meminta izin untuk besok tidak mengajar ke pada bu Lisa.

                                     ***

 Hari yang dinanti pun tiba. Bilqis dan beberapa mahasiswa yang lain sudah memenuhi lorong kampus. Ada yang mondar-mandir karena nervous. Ada yang terus membaca essainya berulang-ulang. Di bangku, ada yang nyantai dan tertawa dengan teman-temannya. Hanya Bilqis yang sibuk memperhatikan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia pun terus berdzikir menenangkan hati. Karena dengan hati yang tenang, insyaAllah semua akan lancar, pikirnya.

_bersambung_

4

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata369

#Day4

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Mereka yang telah selesai wawancara merasa sangat lega. Banyak yang langsung mengerubuni untuk bertanya-tanya, apa saja pertanyaan yang diberikan? Namun, mereka tidak boleh memberi tahunya. Bilqis beranjak dari duduknya. Sekarang, giliran ia untuk diwawancarai.

 Ruangan terasa sangat dingin dan sunyi, sampai-sampai terdengar dentikkan jam dinding di ruang tersebut. Pak Victor yang sedang melihat-lihat essay yang ia pegang, membuat beberapa mahasiswa terlihat tegang. Ada lima orang yang berada di ruang itu, termasuk Zahra. Bilqis berusaha untuk tenang dan mencoba untuk merapihkan duduknya.

“Untuk mendapatkan hasil terbaik, kita harus melakukan apa, Dek?” Dengan melirik ke semua peserta.

“Usaha terbaik, Pak,” jawab serempak yang hadir.

“Bilqissianno?” tanya pak Victor.

“Mohon maaf, Pak. Untuk selanjutnya, saya akan melakukannya lebih baik lagi.” Bilqis menyadari kesalahannya. Tanpa Pak Victor memeberi tahu, ia sadar bahwa cetakan dalam essaynya miring.

“Oke,” ucap pak Victor santai.

Pertanyaan pun dimulai. 

“What do you know about the differences between Indonesia and Thailand culture?”

Bilqis berbicara dalam hati, "Emm, apa yah artinya? Maksud Bapak tadi apa ya? Kok aku nggak paham? Astagfirullah."

Bilqis merasa kebingungan. Ia tidak paham apa yang dimaksud dengan Pak Victor. Untung saja, pertanyaan pertama dilemparkan ke laki-laki berkaca mata bundar. Bilqis memperhatikan jawaban dari laki-laki tersebut, ia mulai paham. Kemudian, pertanyaan diajukan ke yang lain dan Bilqis pun memperhatikan jawaban yang akhirnya ia bisa mengambil kesimpulan dari pertanyaan yang diberikan oleh pak Victor.

“Alkar?”

“In Thailand, bla bla bla,” jelasnya.

“Bilqissianno?” tanya pak Victor tanpa merasa bersalah sedikit pun.

“In Indonesia people hand shake each other, although man and woman of muslim not touch hand each other. But, that is different in South Thailand. There is nothing hand shake between man and woman of muslim, although not touch hands each other. Well, If I go there, I will not do that,” jawab Bilqis dengan memberikan senyuman. Ia sudah mulai bisa menguasai dirinya untuk tetap tenang.

“What will you do if you were selected to go to Thailand on this program? Bilqissianno?”

“I will do better for everything, because this is one of my dreams. I will not pass up this amazing opportunity just by playing.” 

Wawancara berjalan dengan lancar. Alhamdulillah, hari ini Allah telah memudahkan segala urusannya. Bilqis yakin bahwa jika KKN-PPL Thailand adalah yang terbaik untuknya, maka ia akan lolos. Dan begitu juga dengan sebaliknya.

_Bersambung_

5

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata348

#Day5

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

                                     ***

 “Bagaimana, Pak? Sudah agak baikan?” tanya bu Nur pada suaminya.

 “Iya, Alhamdulillah, Mi. Sudah mendingan. Sekarang, Bapak sudah lebih bisa bernafas lega.” Sambil mengusap dadanya.

 “Assalamu’alaikum.” Bilqis membuka pintu dengan perlahan.

 “Waalaikumussalam,” jawab pak Endang dan bu Nur berbarengan.

 “Gimana wawancaranya, Qis?” 

 Bilqis mencium kedua tangan orang tuanya. Ia menceritakan semua yang terjadi selama wawancara, bagaimana ia menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh penguji? bagaimana ia mengatasi kesalahan dan kesulitan yang dihadapi selama Tes Wawancara?

Ada raut kegembiraan di wajah pak Endang dan bu Nur. Mereka sangat bahagia melihat Bilqis bersemangat menceritakan kisahnya itu. Kedua orang tuanya tahu bahwa selama ini Bilqis sudah mengorbankan banyak waktu mencari uang untuk membiayai sekolah adiknya, Kinan. Bilqis pun sering kali menggunakan waktu luangnya untuk kerja paruh waktu agar dapur bisa selalu ngebul. Bilqis sangat paham kondisi perekonomian keluarganya yang sedang terpuruk.  

 “Teh Bilqis,” panggil Kinan.

 “Iya, ada apa, Kin?”

 “Bantuin Kinan kerjain PR bahasa Inggris, yuk. Susah banget, Nih,” keluhnya.

 “Kinan, Teteh kamu kan baru pulang. Kasihan, suru istirahat dulu,” tegas bu Nur.

 “Iya, nih. Nggak peka banget. Hahaha.” Bilqis tertawa puas melihat wajah Kinan yang berubah seperti ayam betina yang siap nyeladung.

 “Udah ah, Kinan nggak mau kerjain PR, mau nonton aja.” Seketika Kinan merebahkan tubuhnya di atas lantai dan mulai menyetel film favoritnya.

 “Kamu itu udah besar, yang sabar. Teteh mau mandi sama makan dulu, yah.” Sambil mengacak-acak rambut Kinan. Seperti biasa, Kinan hanya ngedumel sewot.

                                     ***

 Bilqis masih terus berusaha melakukan yang terbaik. Ia tahu bahwa keputusannya mengikuti beasiswa KKN-PPL Thailand adalah yang terbaik untuk saat ini. Ia sadar, ia memiliki tanggung jawab yang besar ketika ia terpilih untuk KKN-PPL di sana. Ia pun sadar akan keahlian ia dalam mengajar yang masih banyak kekurangan. Tapi, ia akan berusaha untuk memberikan yang terbaik.

 “Kak, ini maksudnya gimana?” Kinan menepuk bahu Bilqis dengan pelan.

 “Eh, iyah.”

 “Eh, iyah, eh iyah. Hahaha. Teh Bilqis kebanyakan ngelamun, nih.”

 Bilqis mulai mengajarkan Kinan dengan lebih sabar. Ia tidak membalas keusilan Kinan kali ini. Ia ingin menjadi Kakak yang lebih baik dari saat ini. Kinan yang melihat tingkah Kakaknya pun agak sedikit aneh.

 

_Bersambung_

6

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata340

#Day6

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

 “Teh Bilqis makin nggak asik, nih.”

 “Nggak asik gimana?”

 “Iya, nggak asik, aja.” Dengan mulai menulis jawaban pada lembar tugasnya.

 “Huh, mulai nggak jelas, nih.” Dengan mengacak-acak rambut Kinan.

 “Teteh!”

 “Hahaha,”

 Pasti sangat rindu situasi seperti ini, pasti akan rindu dengan bapak, umi, teh Bening dan juga Kinan. Hm.. tapi, lebih sedih lagi kalo sampai nggak lolos beasiswa KKN-PPL Thailand. Uang sudah habis untuk berobat bapak. Astaghfirullah, ngomong apa sih aku? InsyaAllah, Allah akan selalu memberikan yang terbaik. Kata hatinya.

 Malam ini, rembulan sangat terang benderang. Cahayanya masuk ke sela-sela jendela kamar Bilqis dan memberikan bayangan pepohonan rindang yang indah. Bilqis memandangi bayangan pepohonan di tembok kamarnya sampai ia tertidur. 

                                   ***

 Di pagi hari yang indah, Bilqis duduk di bangku halaman depan rumah dengan sangat damai. Cahaya matahari pagi membelai wajahnya yang cantik jelita dengan sangat hangat. Hari ini adalah hari pengumuman peserta KKN-PPL Thailand yang akan maju ke babak selanjutnya. Bilqis terus berdoa kepada Sang Kholiq untuk memberikan hasil yang terbaik untuknya dan teman-temannya. Ia menatap ponsel yang bergetar. Pengumuman itu sudah di share di grup Whatsapp. Bilqis dengan hati yang berdebar ia melihat nama-nama yang lulus.

 Seperti cahaya pagi ini. Mata Bilqis bersinar sangat terang. Ia melompat kegirangan dan tak lupa untuk sujud syukur kepada Sang Kholiq. Ia memeluk ibunya dengan penuh kegembiraan. Bu Nur paham dengan apa yang terjadi.

 “Alhamdulillah, kamu lolos?” tanya bu Nur.

 “Iya, Mi. Alhamdulillah, akhirnya Bilqis akan pergi ke luar negeri.” Pelukannya semakin erat.

 Pak Endang yang mendengar percakapan istri dan anaknya dari dalam rumah sangat bersyukur. Ia segera mendirikan salat duha empat rokaat. Hatinya sangat lega karena Bilqis bisa melaksanakan KKN dan PPL di Thailand.

  Bilqis segera pergi ke kampus karena akan ada info pembekalan secara langsung dari pak Victor. Pak Victor meminta para mahasiswa yang terpilih untuk bergabung dengan fakultas lain dalam pembekalan selama satu bulan ini. Bilqis sangat menikmati proses jalannya kegiatan ini, tetapi ia masih menyimpan kekhawatiran dalam hatinya. Ia khawatir tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan. Ia sadar akan kemampuannya mengajarnya yang sangat kurang, begitu pun dengan kemampuan bahasa inggrisnya.

_bersambung_

7

1 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#JumlahKata325

#Day7

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Hari ini, Bilqis diantar Bening untuk membuat paspor. Setelah selesai melakukan prosedural dan melakukan pembayaran di Bank persepsi. Waktu yang dibutuhkan untuk paspor jadi adalah tiga hari kerja. 

Beberapa hari berselang, Bilqis dan kedua belas temannya pun pergi ke Kingroyal untuk pembuatan skck tujuan luar negeri. Kingroyal adalah biro jasa pengurusan skck di Mabes Polri, professional dan sangat berpengalaman. Hanya butuh satu hari, skck pun sudah bisa didapatkan.

“Alhamdulillah, bisa dengan cepat terselesaikan,” ucap Bilqis dengan bahagia.  

Tiket pesawat pun sudah di booking. Salah satu dosen pembimbing telah menetapkan bahwa kami akan berangkat setelah hari raya idul fitri di tahun ini. Ada sedikit kecemasan di hati Bilqis. Ia akan jauh dari keluarganya dan ia harus segera mempersiapkan bahan ajar yang akan ia berikan di Negara Gajah Putih tersebut. 

                                     ***

Besok adalah hari raya idul fitri. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Bilqis membaca sekilas tentang pengalaman mahasiswa yang pernah KKN dan PPL di sana. Ia menemukan salah satu web seorang mahasiswi yang melakukan KKN di salah satu sekolah di Songkhla. Bilqis hanya baca sekilas dan ia berfikir bahwa mahasiswi itu sangat beruntung karena ditemani oleh salah satu guru yang pernah kuliah di Indonesia. Tentu, ia memiliki teman untuk berkomunikasi dengan lebih baik.  

Di malam takbiran ini. Bilqis terus berdoa kepada Sang Pencipta alam semesta. Ia memohon diberikan yang terbaik dari yang baik. Bilqis keluar dari kamarnya dan duduk dihalaman depan rumah. Hatinya sangat tenang mendengarkan takbir yang indah. Ia pun ikut larut dalam takbir.  

“Kok, belum tidur?” tanya bu Nur.

“Belum, ngantuk Umi.” Senyum manis menghiasi wajahnya yang cantik.

“Ya sudah tidak apa-apa. Tapi, jangan terlalu malam berada di luar, yah.” Dengan mengusap kepala Bilqis.

“Umi.”

“Iya, ada apa?”

“Kok, Bilqis tiba-tiba dag dig dug, yah?” Dengan memegang dadanya.

“Deg-degkan mah, wajar kali,” sahut Kinan yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Namanya juga punya jantung, haha," lanjutnya.

“Ini lagi anak pitik, dateng tak diundang, pulang tak diantar,” balas Bilqis.

“Sudah, sudah, Jangan terlalu banyak bercanda. Nanti ujung-ujungnya malah ribut lagi,” lerai bu Nur sambil tertawa.

 

_Bersambung_

8

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata326

#Day8

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Bu Nur menjelaskan perihal hati Bilqis yang tidak tenang. Bu Nur meminta Bilqis untuk berfikir benar. Apa yang membuat ia takut? Sesungguhnya yang harus kita takuti ketika kita hendak berbuat dosa. Apa yang belum dipersiapkan? Maka persiapkanlah, dan hati akan tenang ketika kita mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Bilqis sudah mempersiapkan hal-hal yang akan ia bawa. Dua pekan lagi ia akan berangkat bersama kedua belas temannya. Ia dan teman-teman dari beberapa fakultas yang berbeda sudah mulai saling mengenal satu sama lain. Mereka semakin akrab dan saling membantu. Bilqis sungguh akan meninggalkan kampung halamannya untuk sementara waktu. Ia pun sudah izin cuti kepada bu Lisa selama kurang lebih tiga bulan. Perjalanan yang akan ditempuh kali ini adalah sebuah tantangan baru yang harus dihadapi oleh Bilqis dan teman-temannya.

                                      ***

Hari yang dinanti pun tiba. Bilqis membawa satu koper besar dan satu tas gendong yang berisikan laptop dan hal-hal penting lainnya. Hal ini adalah Sesutu yang asing namun menyenangkan. Kemudian, ada dua dosen yang akan menemani perjalanan mereka hingga sampai ditujuan dengan selamat. 

Biliqs dan teman-temannya transit di Malaysia. Kemudian, melanjutkan perjalanan darat menggunakan Bus Kuala Lumpur ke Thailand-Songkhla. Perjalanan itu membutuhkan waktu yang cukup lama karena melewati perbatasan. Tentu banyak pemeriksaan.

“Kenapa yah? Kok, sepertinya masuk ke Negara orang susah benget,” celetuk salah satu temannya.

“Memang harus seperti itu. Keamanan memang harus dijaga,” balas yang lainnya.

Selama di dalam bus. Bilqis selalu memandang keluar jendela bus dengan hati yang terus berzikir kepada Rabb yang Maha Agung. Ia belum tahu hal-hal apa saja yang akan terjadi diwaktu yang akan datang. Ia yakin, ia bisa melewati ini semua dengan pertolongan Allah.

Sesampainya di Songkhla. Mereka disambut dengan sepasang suami istri yang beragama muslim. Mereka sangat ramah dan teduh wajahnya. Bahasa yang mereka gunakan pun bahasa melayu Malaysia. Sehingga Bilqis dan teman lainnya bisa berkomunikasi dengan baik. Pasangan suami istri ini pun menyiapkan kendaraan roda empat, yang akan menghantarkan Bilqis dan yang lainnya ke salah satu sekolah, yang menjadi pusat perkumpulan antar sekolah.

 

_Bersambung_

9

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata314

#Day9

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

 Bilqis dan teman-temannya telah sampai di Chana. Ia dan kedelapan mahasiswi lainnya tinggal di rumah yang sudah disiapkan. Sedangkan untuk laki-lakinya, tinggal di asrama putra dan itu hanya untuk sehari semalam saja. 

 Siang hari setelah salat zuhur. Mereka diundang makan siang oleh pimpinan dari sekolah yang mereka kunjungi. Mereka memanggil dengan sebutan Poksu.

 “Terima kasih banyak Poksu atas jamuannya,” ucap Bilqis dan yang lainnya. 

 “Iya, sama-sama,” balas Poksu dan Moksu (istrinya Poksu) dengan sangat ramah.

 Setelah makan siang, Bilqis dan yang lainnya diberi tahu bahwa besok adalah hari dimana mereka akan ditempatkan di sekolah yang berbeda-beda. Setiap kepala sekolah dari beberapa sekolah di songkhla akan menjemput mereka. Bilqis sangat berharap bahwa ia bisa ditempatkan di tempat yang terbaik untuknya. Dimana orang-orangnya dapat menerima Bilqis dengan baik.

 Bilqis memandang ke langit. Ia sangat merindukan keluarganya. Ia teringat akan kesehatan Bapak yang sedang kurang sehat. Semenjak pak Endang didiagnosis dengan Angina tidak stabil, Bilqis sangat khawatir dengan kesehatan bapaknya. Ia berharap dan memohon kepada Allah untuk melindungi semua keluarganya.

 “Qis, jangan ngelamun,” ucap sahabatnya.

 “Siapa yang ngelamun si, Ra?” sanggah Bilqis sambil membenarkan jilbabnya yang tertiup angin.

 “Ya, kamu. Masa aku si?” 

 “Aku keinget bapak, Ra. Semoga aja kesehatan bapakku semakin membaik.”

 “Aamiin, yang penting sekarang, kamu harus melakukan yang terbaik di sini. Kalo masalah di sana, serahkan semuanya pada Allah. Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang,” jelas Zahra sambil berjalan menuju jemuran yang tertiup angin.

 Angin di wilayah Chana, berhembus dengan sangat kencang. Hal itu karena wilayah ini memang dekat dengan pantai. Daratannya pun berpasir. Sebelumnya, Bilqis belum menyadari bahwa keberadaan ia dengan laut lumayan dekat. Ia jadi teringat kebersamaan ia dengan keluarganya lagi. 

 “Teman-teman, yuk kita rapat,” ajak Mira, salah satu temannya.

 Mereka mulai membahas lagi, mengenai agenda apa saja yang akan mereka lakukan selama tiga bulan ke depan. Setelah selesai rapat, mereka semua bergegas ke rumah Poksu karena Poksu mengundang makan malam. Poksu bilang, sekalian ada yang ingin dibicarakan.

 

_Bersambung_

10

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata369

#Day10

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Setelah selesai makan malam, Bilqis dan yang lainnya berkumpul di ruang tamu yang cukup besar. Interiornya pun bernuansakan kayu alam yang indah, bangku-bangku berjejer dengan sangat rapih, tanaman pun tak luput menghiasi ruangan besar tersebut, serta cahaya lampu yang berwarna kuning menambah hangat suasana dingin pada malam hari ini. 

 “Yaa Rabb, di mana pun hamba berada, semoga tempat itu akan menjadi yang terbaik untuk hamba,” ucapnya dalam hati.

 “Bagaimana makan malamnya? Sedap?” tanya Moksu.

 “Alhamdulillah sedap Moksu. Terima kasih,” jawab Bilqis dan yang lainnya dengan serempak.

 Bilqis memperhatikan semua teman-temannya. Ia tidak tahu, apakah ia akan di tempatkan bersama salah satu dari mereka atau ia akan di tempatkan sendiri? Hatinya mulai terasa sedikit gelisah. Ia berharap tidak ditempatkan sendiri. 

Terlihat, dosennya sedang berbicara serius dengan poksu. Sepertinya, mereka sudah menentukan tempat untuk masing-masing dari mahasiswa KKN-PPL Thailand ini.

 “Baik, malam ini. Poksu akan mengumumkan tempat PPL untuk adik-adik semua,” ucap poksu dengan tersenyum. “Nanti, akan ada yang berpasang-pasangan dan akan ada yang sendiri. Nah, untuk yang sendiri, jangan risau, yah. Karena nanti pun akan ada orang-orang sekitar yang akan menemani,” lanjutnya lagi.

 Suasana hening sesaat. Poksu mengambil kertas dari sakunya, kemudian ia mulai mengenakan kacamata kotak berukuran sedang yang menambah aura kepemimpinannya. Ia melirik sebentar ke arah para mahasiswa yang sedang dek-dekan menunggu kertas itu dibacakan. Poksu pun membacakan nama-nama sekolah yang akan menjadi tempat KKN dan PPL para mahasiswa. Nama-nama sudah disebutkan, kecuali hanya Bilqis. Kebanyakan dari mereka ditempatkan secara berpasang-pasangan. Ada raut bahagia di wajah mereka, namun tidak pada Bilqis yang masih menantikan namanya disebut. Ternyata, namanya terlewat untuk disebutkan.

 “Ada yang belum disebut?” tanya Poksu.

 Bilqis mengangkat tangannya dan yang lain pun menyebut namanya secara berbarengan. Zahra sahabatnya, berharap bahwa Bilqis bisa bergabung dengannya. Tapi, yang terjadi adalah Bilqis akan di tempatkan di salah satu sekolah yang ada di Chana.

 “Tak apa-apa sendiri kan?” tanya Poksu.

“Tak apa-apa, Poksu,” jawab Bilqis dengan sambil membetulkan posisi duduknya.

                                        ***

 Malam ini, sinar bulan begitu terang. Perlahan, cahayanya menyinari wajah Bilqis yang sedang memandangnya.

“Aduhai, indah sekali rupamu. Wahai sinar purnama dimalam hari,” ujar Bilqis dengan tersenyum. “Angin, sampaikanlah kerinduanku pada mereka yang tersayang, katakana bahwa aku akan berjuang untuk kebahagiaan yang akan datang,” lanjutnya dengan menitikkan air mata. 

 

_Bersambung_

11

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata320

#Day11

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Bilqis dan yang lainnya sedang bersiap-siap untuk esok hari yang akan sangat mendebarkan hati. Besok, mereka akan dijemput oleh kepala sekolah atau pun utusan dari masing-masing sekolah yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama tiga bulan lebih. Bilqis berpikir bahwa seharusnya hanya dia dan Amel yang boleh berdebar hatinya karena merekalah yang akan berjuang sendiri di tempat yang asing. 

Matahari memancarkan cahayanya yang terang. Burung-burung berkicauan dengan sangat merdu. Angin sejuk menyapa mereka dengan damai. Satu per satu dari mahasiswa KKN-PPL Thailand ini memasuki ruangan yang cukup luas di salah satu gedung sekolah yang besar. Para Mahasiswi duduk di bangku bagian sebelah kanan dan para Mahasiswa duduk di bangku bagian sebelah kiri. Bilqis berbincang-bincang sedikit dengan teman-temannya untuk menghilangkan nervous-nya itu. 

“Semangat ya, Qis. Kamu pasti bisa melewati ini semua,” kata Zahra.

“Semangat dong, Ra. Insyaallah pasti bisa. Toh, kita sama-sama di langit yang sama, hehehe,” jawab Bilqis.

Sebenarnya ada sedikit rasa kekhawatiran di hati Bilqis. Tapi, ia segera berzikir meminta ketenangan hati pada Sang Maha Pencipta. 

Waktu terus berputar. Satu per satu, kepala sekolah dari berbagai sekolah memenuhi ruangan ini. Bilqis menerka-nerka, kira-kira siapa yang akan menjemputnya? Bapak berdasi itu, kah? Atau ibu yang duduk di barisan paling depan, kah? Atau mungkin, laki-laki paruh baya yang memiliki wajah teduh itu? 

Acara pembukaan pun dimulai. Di tengah acara, seorang wanita berjilbab ping dengan motif bunga menoleh ke arah Bilqis. Posisi ia berada di depan Bilqis. Ia tersenyum begitu juga Bilqis. 

“Perkenalkan, saya Bulan,” sapanya dengan lembut.

“Salam kenal, Kak. Saya Bilqis,” dengan mengatupkan kedua tangannya.

“Kamu ditempatkan di mana?” tanyanya.

“Di An-Nur, Kak,” 

“Wah, berarti nanti tinggal sama Kak Lan, yah.”

“Ohh, jadi Kakak dari An-Nur?” tanya Bilqis memastikan lagi.

“Iya, tapi Kakak bukan kepala sekolahnya. Kakak hanya utusan dari sekolah saja.” Dengan tersenyum.

“Waah.. siap, kak.”

Bilqis merasa lebih tenang karena ia tahu bahwa ia akan ditemani oleh seseorang yang sangat baik. Ia tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkannya sendiri. Allah akan mengirimkan orang-orang terbaik yang akan menemani perjalanannya menuju kesuksesan

12

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata320

#Day12

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua kelompok: Phy Poesphyta 

 

Acara berjalan dengan baik. Bilqis dan teman-temannya pun berpisah. Mereka sudah menaiki kendaraannya masing-masing. Kak Bulan meminta maaf pada Bilqis karena kendaraan yang mereka kendarai adalah angkutan umum tua yang di sewa. Beda hal dengan teman-temannya yang lain, yang mengendarai mobil pribadi yang keren dan sedap di pandang mata.

“Maaf yah, Qis. Kakak jemput kamu pakai mobil tua ini.” Dengan wajah bersalah.

“Ah, tidak apa-apa, Kak. Ini sudah sangat nyaman. Malah aku sangat menyukai kendaraan yang terbuka seperti ini, kak. Bisa menikmati angin Thailand yang sejuk, bisa melihat langit Thailand yang indah, serta suasana penduduk sekitar.” Bilqis tersenyum dengan bahagia.

“Ah, kamu bisa aja, Qis,” balasnya.

Tak menunggu waktu lama. Bilqis sudah sampai di tempat tujuan. Ia memasuki area sekolah An-Nur. Apa yang ia lihat tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Ternyata, sekolah An-Nur adalah sekolahan yang besar. Banyak bangunan-bangunan bertingkat, lapangan yang luas, serta terdapat asrama putra dan putri juga. Bilqis menoleh ke bangunan besar yang baru setengah jadi. Ia tertegun melihat suasana di sana yang begitu asing baginya.

Anak-anak melihat Bilqis dengan sangat antusias. Setiap melewati gedung-gedung sekolah, ia mendapati kaki-kaki kecil berlari mengikuti mobil yang dinaikinya dan memanggilnya dengan sebutan “Kak Indo,” yang memiliki arti kakak yang datang dari Indonesia.

“Kak Indo, Kak Indo” panggil mereka lagi.

Bilqis hanya tersenyum dan melambaikan tangannya bak artis yang dikejar-kejar fans-nya. Kak Bulan meminta anak-anak itu kembali ke kelasnya masing-masing. Bilqis hanya tertawa melihat mereka yang langsung berbalik arah karena takut dengan Kak Bulan. Akhirnya, sampailah Bilqis di bangunan yang memiliki empat pintu. Pintu paling ujung adalah kamar kak Bulan, yang berarti kamar yang akan Bilqis tempati juga selama tiga bulan lebih. 

“Semoga betah ya,” ucap kak Bulan sambil membuka kunci kamar.

“Insyaallah, pasti betah, Kak,”

Pintu kamar telah dibuka. Bilqis melihat kamar yang lumayan cukup besar untuk ditempati dua orang. Di sana terdapat 1 springbed besar, 2 bantal serta gulingnya, 2 selimut besar, 3 lemari pakaian, 1 meja yang terdapat banyak buku-buku, 1 kipas angkin, 1 kamar mandi dan 2 buah jendela yang menghadap ke padang rumput yang luas.

Bilqis menaruh kopernya di sudut kamar sebelah kiri dekat dengan gantungan baju. Kak Bulan pun meminta Bilqis unuk beristirahat dulu di kamar itu. Sementara ia akan melanjutkan aktivitasnya mengajar. 

 

_Bersambung_

13

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata330

#Day13

#revisi

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Azan zuhur telah berkumandang. Bilqis segera mengambil air wudu dan mendirikan salat. Suara keramaian mulai terdengar di dalam kamarnya. Ia berusaha untuk tetap fokus dalam salatnya. Sampailah pada tahiyat akhir dan salam sebagai penutup. Ia melihat di sekelilingnya sudah dipenuhi banyak orang. Bilqis hanya tersenyum ketika mereka menyapa Bilqis dengan bahasa Thai.

Ternyata, orang-orang yang berada di dalam kamar Kak Bulan adalah sahabatnya sesama guru di An-Nur. Kamar kak Bulan adalah basecamp untuk teman-temannya beristirahat dan berbincang-bincang. Bilqis izin mau keluar, tapi Kak Bulan melarangnya. Kak Bulan ingin Bilqis berkenalan dengan guru-guru di An-Nur agar ia bisa segera lebih beradaptasi di lingkungan yang baru itu.

“Khun ceu arai, kha?” tanya salah satu teman Kak Bulan.

“Nama kamu siapa?” Kak Bulan mengartikannya.

“Nama saya Bilqis,” jawab Bilqis.

Jam istirahat sudah berakhir. Bilqis tetap memilih untuk pergi berjalan-jalan keluar. Ia bilang ke Kak Bulan bahwa ia ingin lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Padahal sebenarnya, kepalanya terasa nyeri. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan orang-orang disekitarnya. Rasa kekhawatiran mulai merasuki hatinya. Bagaimana ia bisa mengajar murid-murid di sini? Kalo ia saja tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Mengajar di negeranya saja ia masih kesulitan, apa lagi di sini? Terus menerus hati dan pikirannya mulai berselisih.

 Bilqis ingin belajar bahasa Thai, tapi tujuan ia ke Thailand bukanlah untuk itu. Tujuannya adalah mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan baik, serta melaksanakan program KKN bersama teman-temannya. Tapi, ia tidak bisa mengajar jika ia tidak bisa bahasa Thai.

Di bagian selatan sekolah An-Nur, tepat di belakang asrama. Bilqis menemukan tempat yang sangat membuat hatinya nyaman. Tempat itu sangat sepi dan Bilqis sangat menyukainya. Di tempat ini, terdapat pohon yang rindang dan angin berhembus dengan sangat nyaman. Di bawah pohon, terdapat dua bangku kayu panjang dan sebuah meja di tengah-tengahnya. Pemandangan alam yang luas pun mulai menenangkan hatinya. Bilqis mulai menulis di buku diarynya, tentang apa yang ia rasakan di hari pertamanya ini. Bilqis terdiam sesaat, ia sangat merindukan keluarga dan kampung halamannya. 

_Bersambung_

14

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata347

#Day14

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Cuaca di tengah hari sangatlah panas. Untung, Bilqis berada di bawah pohon yang rindang, sehingga ia bisa duduk dengan nyaman. Ia sangat menikmati angin yang berhembus dan membelai wajahnya. Tiba-tiba bukunya terjatuh karena tertiup angin, Segera Bilqis menindih bukunya di atas meja dengan batu. 

Waktu menunjukan pukul satu siang. Di tempat ini, Bilqis merasa sendirian. Bilqis mencoba menghubungi Zahra yang entah sekarang berada di mana. Panggilan tak terjawab. Bilqis mencoba menelepon sekali lagi.

“Ra, gimana di sana?” tanya Bilqis dengan antusias.

“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri, Qis?” jawab Zahra.

“Hai Bilqis,” sapa Niken yang tiba-tiba muncul. Ia adalah mahasiswi jurusan PAI yang ditempatkan satu sekolah dengan Zahra.

Bilqis melihat mereka sangat bahagia berada di tempat yang baru. Hati Bilqis pun berkata bahwa jika ia memiliki teman di tempat ini, maka ia pun akan bahagia karena setidaknya ia tidak berjuang sendirian. Ada orang yang ia kenal dekat dan tempat untuk berbagi cerita.

Seketika, air mata Bilqis menggenang. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Terdengar dari telepon, Zahra memanggil namanya dan menanyakan keadaannya. Segera Bilqis mematikan ponselnya dan menangis. 

Seketika, cuaca berubah karena matahari tertutup awan, seperti mengerti perasaan Bilqis saat ini. Bilqis segera mengusap air matanya. Ia sadar bahwa ia harus survive di sini. Segera ia kembali ke kamar dan mengambil air wudu.

Bilqis membuka jendela besar yang menghadap ke padang rumput yang luas. Ia duduk di jendela yang terbuka sambil membaca ayat-ayat cinta yang menenangkan hatinya. Keadaannya sudah menjadi lebih baik. Ia terpaku menatap awan yang memiliki bentuk bermacam-macam. Memandangnya sudah menjadi kebahagiaan baginya.

Melihat koper yang masih tertutup rapat, telah menggerakkan hatinya untuk segera merapihkan pakaiannya. Kak Bulan sudah memberikan izin kepada Bilqis untuk menggunakan pakaian gantung yang berada di sudut kamar. Bilqis sangat beruntung karena semua yang ia butuhkan sudah tersedia di sini. 

“Qis, kamu belum makan kan?” tanya kak Bulan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Belum, Kak.”

“Kak Lan ambilkan, yah.”

“Nggak usah, Kak. Bilqis belum laper. Nanti kalo ingin makan, Bilqis ambil sendiri.”

“Oke, jangan lupa makan, yah. Kak Bulan mau berangkat ngajar lagi.”

“Iya, Kak. Terima kasih,” dengan tersenyum ke arah kak Bulan.

 

_Bersambung_

15

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata310

#Day15

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

                                     ***

 Hari ini adalah hari pertama Bilqis akan mengajar. Tapi, ia belum tahu ia akan mengajar kelas berapa. Seusai sarapan, ia menyempatkan diri untuk duduk di tempat favoritnya. Tempat ini sangat nyaman karena selalu sepi. Mungkin, karena berada di belakang asrama. 

Bilqis mulai menggoreskan pena untuk menceritakan hari pertamanya di sekolah An-nur. Ketika asik dalam menuliskan kisahnya, ia mendapati ponselnya berbunyi.

 “Qis, sebentar lagi ibu sampai di An-nur. Kamu baik-baik aja kan?” tanya bu Puja, salah satu dosen yang mendampingi perjalanan mereka.

 “Alhamdulillah baik, Bu,” jawab Bilqis.

 “Alhamdulillah kalo begitu. Ya sudah, sampai bertemu, yah,” dengan mematikan ponselnya.

 “Bukan kah, bu Puja akan balik ke Indonesia hari ini? Dan kemarin itu, bu Puja juga bilang kalo beliau tidak bisa datang ke setiap sekolah karena waktu yang sangat terbatas. Lalu, kenapa beliau mau datang ke sini? Ah, apa jangan-jangan?” batinnya. 

 Bilqis menutup wajah dengan kedua tangannya. Tiba-tiba suara samar-samar terdengar memanggilnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu kak Bulan.

 “Ternyata kamu ada di sini, Qis? Kak Lan cari-cari kamu dari tadi, tapi nggak ketemu-temu. Kak Lan mau telepon kamu tapi ponsel Kak Lan mati,” jelas kak Bulan dengan terengah-engah.

 “Maaf, Kak, hehe.”

 “Dah, ayo kita ke rumah Ayoh. Ada dosen kamu di sana,” terangnya lagi.

 “Apa, Kak? Dosen aku sudah sampai?” tanyanya bukan tak mendengar, tapi lebih tak percaya.

 “Iya, ayo cepat,” ajaknya.

 Bilqis tahu, apa yang menyebabkan dosennya datang ke sekolah An-nur. Itu semua pasti karena tragedi kemarin, saat Bilqis video call-an dengan Zahra. 

 “Pasti, Zahra yang melaporkan kejadian kemarin ke bu Puja. Huuuuh, memalukan.” Batinnya.

 Bilqis telah sampai di rumah ayoh (ayoh yang berarti ayah adalah sebutan untuk pimpinan di sekolah An-nur). Bilqis hanya tersenyum ketika melihat wajah bu Puja yang khawatir terhadapnya. Beda halnya dengan pak Dadang yang tertawa melihat Bilqis. 

 “Kemarin itu kenapa?” tanya pak Dadang dengan berwajah komedi.

 “Kenapa apanya, Pak? Nggak kenapa-napa, Pak,” serobot Bilqis dengan sopan.

 

_Bersambung_

16

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18Rahanum

#Jumlahkata304

#Day16

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Di sekolah An-Nur terdapat tiga program pendidikan sekolah dasar. Pertama, sekolah khusus anak yatim. Mereka tinggal di asrama An-nur. Ayoh menyediakan asrama putra dan putri untuk anak-anak yatim dan yang tidak mampu. Mereka sangat beruntung, karena bukan hanya pendidikan sekolah saja yang difasilitasi, tetapi juga pendidikan agama serta kekeluargaan yang hangat bisa mereka dapatkan. Kedua, sekolah umum (begitu Bilqis menyebutnya) khusus anak-anak yang seperti biasanya, pulang pergi. Mereka hanya bersekolah di An-nur dan anak-anak ini memiliki keluarga dan tempat tinggal. Ketiga, EP (English program), program ini untuk anak-anak yang berbayar. Mereka digolongan yang cukup mampu. EP dalam keseharian, mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris serta guru-gurunya pun datang dari luar negeri. Namun, ketika istirahat tiba. Tiga kelompok ini makan siang bersama-sama dengan menu yang sama juga. Mereka berbaur satu sama lain dan salat zuhur berjamaah. 

Hari ini, ketiga kepala sekolah dari program yang berbeda dipanggil untuk memberikan jadwal kosong kepada Bilqis. Jadwal yang diberikan pun tak begitu padat. Ia sangat bersyukur. Setelah melihat keadaan Bilqis yang aman, Bu Puja dan pak Dadang pun segera pamit untuk pulang ke Indonesia. Bu Puja terus memberikan kata-kata motivasi untuk Bilqis. 

 “Perlihatkan lah kelebihanmu jangan kekuranganmu,” berbisik kepada Bilqis.

 “Baik, Bu.”

 “Yasudah, Ibu pulang, yah. Semangat, Qis. Kamu pasti bisa.”

 “Semangat Bilqis, jangan nangis lagi yah, hahah,” Bisik pak Dadang.

 “Siap, Pak," jawab Bilqis sambil memberikan hormat.

Hari ini dan detik ini juga, Bilqis langsung di antar ke sekolah umum. Ia mengajar untuk pertama kalinya di tempat yang sangat asing. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia mampu, bahwa ia bisa melakukan ini semua dengan mudah. Bilqis dan Bu Nunu—guru yang mendampinginya telah memasuki ruang kelas empat. Bilqis mengucapkan salam seperti biasanya. Ia menyapa dengan bahasa Inggris, tapi hanya sedikit yang membalas pertanyaannya. 

 “Kak Indo, mai khaochai, mai khaochai,” ucap salah satu murid laki-laki yang mengatakan bahwa ia tidak paham dengan apa yang Bilqis jelaskan.

 

_Bersambung_

17

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18Rahanum

#Jumlahkata332

#Day17

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Hari pertama Bilqis mengajar berjalan kurang baik. Selain sulit menjelaskan kepada murid yang berbeda bahasa, juga ada guru yang memantaunya di dalam kelas. Bu Aom namanya, beliau adalah guru senior di sekolah ini. Wajahnya bu Aom mengingatkan ia dengan seseorang yang sering kali mengajaknya depat dipagi hari. Ia adalah bu Madona, guru senior di English Course. Saat ini, Bilqis merasa ia seperti sedang disidang oleh bu Aom. Tatapan bu Aom sangat tajam. Hal itu mengganggu konsentrasi Bilqis dalam mengajar.

“Bu, tolong tunggunya di luar saja. Saya tidak perlu ditemani,” kata Bilqis dalam hatinya. 

Setelah selesai mengajar di kelas empat. Selanjutnya, ia mempersiapkan diri untuk masuk ke kelas lain. Di kelas tiga ini, sedikit berbeda. Murid-muridnya lebih tenang. Mereka semua mendengarkan apa yang Bilqis jelaskan dengan baik dan hanya tersenyum.

Setelah memberikan materi, Bilqis bertanya ke salah satu siswi yang duduk di bagian paling depan.

“What is your hobby?” tanya Bilqis sambil tersenyum.

Siswi itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Ternyata, Bu Aom sesekali memantau Bilqis dari luar jendela. Bilqis berusaha tenang, ia mencoba menjelaskan materi dengan perlahan-lahan. Alhamdulillah, ada yang mulai paham. Bilqis melihat waktu yang terus berputar. Sekarang waktunya istirahat. Semua siswa berlari keluar kelas dengan semangat. Bilqis pun segera pergi ke Aula—tempat untuk makan siang. 

Di aula, Bilqis melihat kak Bulan sedang membagikan makan siang. Kak Bulan melihat Bilqis dan memberi isyarat untuk membantunya. Siswa-siswi sudah mengantri sangat panjang. Ada tiga tempat untuk membagikan makan siang. Masing-masing dari program sekolah yang berbeda, membagikan makanan yang dibagikan oleh para guru. Bilqis harus bergerak dengan cepat, karena sistemnya adalah estafet. 

“Tambah siki lagi lah, Kak Indo,” pinta salah satu siswa yang memiliki kepala botak.

Bilqis menambahkan lauk pada piring bocah itu. Kemudian anak-anak di belakangnya pun meminta lauk yang sama seperti anak yang tadi. Salah satu guru langsung meminta Bilqis untuk makan siang juga, dan sekaligus mengambil alih tugas Bilqis. Bilqis paham, seharusnya ia memberikan jatah makan, sesuai yang sudah dicontohkan. Kalo seperti tadi, yang ada malah banyak yang tidak kebagian.

 

_Bersambung_

18

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18Rahanum

#Jumlahkata309

#Day18

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Suasana ini masih terasa asing bagi Bilqis. Ia sangat merindukan keluarganya. Ia berusaha untuk bisa menelan nasi yang terasa menyangkut di tenggorokan. Terlebih, orang-orang di sekitarnya berbicara menggunakan bahasa yang tidak ia pahami. 

Kak Bulan memperkenalkan guru-guru lain pada Bilqis. Hari ini, Bilqis mulai mengenal lebih banyak orang. Ada senyuman yang terlihat di wajahnya. Selesai makan siang, ia melihat semua siswa salat zuhur berjamaah. Aula ini terisi penuh dengan anak-anak yang fokus pada salatnya. Tapi, ada juga yang masih bermain-main karena mereka masih belum paham dengan apa yang mereka sedang lakukan. 

Waktu pun menunjukan pukul satu siang. Selepas salat, Bilqis mempunyai jadwal mengajar di kelas satu. hatinya mulai dek-dekan. Ia tak tahu, apakah anak kelas satu sekolah dasar ini akan mudah ia kendalikan atau tidak.

“Bilqis, ada jadwal siang ini?” tanya kak Bulan.

“Ada, Kak. Anak kelas satu hehe,” dengan menggaruk pundaknya yang tidak terasa gatal.

“Haha, semangat yah, Qis. Kak Lan juga mau lanjut ngajar lagi.”

Bilqis berjalan melewati daratan berpasir dan terik matahari yang menyorot ke arahnya. Jarak kamarnya dengan sekolah umum cukup sedikit jauh. Ia memayungi wajah dengan sebuah buku paket yang ia genggam dengan sangat kuat. Ia mempercepat langkahnya dan hampir saja ia menabrak seseorang.

“Astagfirullah,” ucap Bilqis kaget.

Laki-laki dengan mengenakan kemeja biru muda dan celana berwarna hitam menatap Bilqis dan tersenyum.

“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Bilqis dan berlalu pergi.

Bilqis memukul pelan kepalanya dengan buku yang ia pegang. “Kenapa aku bisa ceroboh sekali sih? Astagfirullah” batinnya. 

Dari kejauhan, sekitar 10 meter. Bilqis melihat anak-anak kelas satu sedang menunggunya di luar kelas. Ketika Bilqis sampai, mereka begitu antusias dan memeluk Bilqis. Tiba-tiba, Seorang guru datang dan memperingatkan murid-murid kelas satu. Sebenarnya, Bilqis tidak mengerti apa yang guru itu bicarakan dengan murid-murid kelas satu ini. Bilqis hanya melihat bahwa mereka sepertinya anak-anak yang baik. Hal itu membuat hatinya lebih tenang dan lebih percaya diri. 

 

_Bersambung_

19

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata318

#Day19

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Sekarang, Bilqis bisa lebih fokus mengajar karena tidak ada bu Aom didekatnya. Bu Aom yang selalu memantau setiap kegiatan Bilqis dalam mengajar. Bilqis memulai materi ajarnya. Ia menuliskan beberapa kata dalam bahasa inggris di papan tulis. Di belakangnya sudah mulai banyak suara, suara yang memanggilnya, suara ribut, dan suara nyanyian yang Bilqis tak paham apa artinya.

 “Kak Indo,” seorang siswi menunjuk ke arah siswa yang sedang mengganggunya.

 Segera Bilqis memberi isyarat untuk tidak berisik dan meminta mereka untuk segera menulis. keadaan tenang hanya beberapa saat saja, setelah itu kembali rusuh lagi. Di tempat duduk paling belakang, seorang anak sedang menangis karena bertengkar oleh temannya. Bilqis segera memisahkan mereka dan meminta untuk saling memaafkan satu sama lain. 

 “Sakit sekali, Kak Indo,” jelasnya dengan memperlihatkan tangannya yang merah. 

 “Kak Indo, selesai,” teriak beberapa siswi dengan antusias memperlihatkan tulisan mereka.

 “Kak Indo tak ada pensil,” salah satu siswa memberi isyarat dengan menunjuk pensil temannya.

 “Kak Indo, Kak Indo,” teriak beberapa siswa.

 Kepala Bilqis mulai cenat cenut. Ia harus lebih ekstra mengajar di kelas satu itu. Bilqis melihat ke arah jendela. Ternyata, di sana ada bu Aom yang sedang berdiri melihatnya dengan wajah yang sangat mirip sekali dengan bu Madona. Bilqis berpikir, mungkin bu Aom dan bu Madona adalah saudara kembar yang terpisah jauh. 

 Selesai mengajar, Bilqis kembali ke kamarnya, bukan ke ruang guru. Ia beristirahat di kamar. Ia sangat merindukan keluarganya. Ia mencoba menghubungi bening—kakaknya. 

 “Assalamualaikum, Kak,” 

 “Waalaikumussalam, Qis. Apa kabar?” tanya Bening.

 “Alhamdulillah, Kak.” Dengan mata berkaca-kaca.

 “Umi sama Bapak mana, Kak?”

 “Sebentar,” Bening menghampiri bu Nur dan pak Dadang di halaman depan.

 Bilqis tak kuasa menahan air matanya saat melihat kedua orang tuanya. Air matanya pun tak bisa ditahan lagi. Ia sangat merindukan keluarganya. Entah kenapa, ia menjadi lebih mudah menangis. Bu Nur dan Pak Dadang menasehati Bilqis untuk tetap tegar dan kuat menghadapi semuanya. Selesai berbincang dengan keluarganya, ia pergi ke tempat favoritnya yang berada di belakang asrama.

20

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata313

#Day20

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Ini pasti karena culture shock. Bilqis mencoba berpikir positif dan menenangkan hatinya. Ia tahu, yang harus ia lakukan adalah mencari solusi-solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Bukannya terfokus pada masalahnya.

Angin sejuk membelai wajah Bilqis dengan sangat lembut. Ia menulis kembali di buku diary dan mendapati seseorang menghampiri. Seorang gadis kecil, berumur empat tahun tersenyum kepadanya. Bilqis memberi isyarat kepada anak itu untuk duduk di sebelahnya. Gadis kecil terlihat malu-malu. Ternyata, ia menginginkan makanan yang ada di atas meja.

“Mau? Sini.” Dengan menyodorkan makanan ke arahnya. 

Ia mendekat dan duduk di samping Bilqis. Bilqis membuka makanan ringan tersebut dan memberikannya kepada bocah itu. 

“Enak?” tanya Bilqis.

Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Bilqis pun ikut tersenyum dan makan bersamanya. 

                                    ***

 Mentari telah tergantikan dengan rembulan dan bintang-bintang. Semua salat bersama di aula dekat kamar Bilqis. Bilqis sudah selesai salat di kamarnya. Ia tidak mengetahui bahwa semuanya salat berjamaah. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia adalah kak Bulan.

 “Qis, bisa ngajar ngaji?” tanya kak Bulan.

 “Yah?” sekali lagi, bukan karena ia tidak mendengar.

 “Ngajar ngaji. Bisa?” 

 “Bisa, Kak.”

 “Ayo, keluar.”

 “Ayo, Kak.” 

 Ketika Bilqis keluar, anak-anak berlarian menghampiri. Bilqis duduk di dekat tiang aula. Mereka segera berebut ingin baca paling pertama. Bilqis meminta mereka untuk bersabar. Mereka pun mau mendengarkan Bilqis. Dari kejauhan, di sudut aula. Seorang pria sesekali melirik ke arah Bilqis. Pria itu adalah seseorang yang berpapasan dengan Bilqis pada siang hari tadi. 

 “Ada apa, Bang?” tanya salah satu anak yang sedari tadi memperhatikannya.

 “Nggak kenapa-napa,” jawab Azhar, seorang mahasiswa jurusan teknik yang sudah tinggal lama di An-nur.

  “Abang suka yah, sama Kak Indo?” celetuk bocah itu lagi.

 “Jangan ngawur kamu.” Dengan mengayunkan pelan tongkat kayu ke arah anak itu.

 “Ampun, Kak. ampun, ampun.” Berlari sambil tertawa.

 Bilqis melihat suasana yang menarik perhatiannya. Ia melihat seorang pria yang hampir saja ia tabrak ada di depan pandangannya. Kedua mata mereka bertemu. Segera masing-masing dari mereka menundukan pandangan dan kembali mengajar lagi.

 

_Bersambung_

21

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata313

#Day21

#revisi

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

 Selepas salat isya adalah waktunya makan malam. Menu malam ini adalah Tomyam (makanan khas Thailand) Sup asam pedas yang segar membuat Bilqis ketagihan. Rempah-rempahnya yang banyak mengingatkan Bilqis pada menu masakan Indonesia yang terkenal akan rempah yang meruah. Malam yang dingin terasa hangat ketika menyeruput sup secara perlahan. Bilqis sangat menikmatinya. 

Tak berselang lama setelah makan malam, Bilqis mendengar suara yang menarik perhatiannya. Suara anak kecil sedang menangis. Ia bangkit dari duduknya dan segera mencari sumber suara itu. Suaranya terdengar samar-samar, begitu juga lampu asrama yang sudah dimatikan membuat Bilqis tak bisa melihat dengan jelas. 

 “Qis, ayo masuk,” teriak kak Bulan yang sudah berada di depan pintu kamar.

 “Iya sebentar, Kak. Nanti Bilqis nyusul.” Dengan melanjutkan langkahnya.

 Suara tangisan itu tak terdengar lagi. Bilqis melangkah lebih dekat ke arah semak-semak yang berada tepat di samping asrama putri. Setelah yakin sudah tidak ada suara anak menangis, Bilqis segera berbalik hendak ke kamarnya. Ia jadi merinding sendiri. cepat-cepat ia melangkahkan kakinya.

 Malam ini adalah malam keempat Bilqis berada di Negara asing. Ia sudah sedikit bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Setiap malam, kak Bulan memulai ritualnya. Setelah selesai memakai skin care, ia akan menyalahkan kipas angin dengan tingkat putar yang paling tinggi, sehingga terdengar suara dari kipas angina itu. Bilqis tidak terbiasa menggunakan kipas angin. Terlebih lagi, kipas anginnya menghadap ke wajah mereka dengan sangat kencang. Bilqis hanya bisa berlindung di balik selimut tebalnya.

 Azan subuh telah berkumandang. Membangunkan setiap insan yang sedang tertidur lelap dalam mimpinya. Bilqis terbangun dan segera berjalan menuju air untuk menyucikan diri. Ketika keluar kamar, ternyata kak Bulan sudah berjaga di aula. Selain mengajar, kak Bulan pun memiliki tugas lain yaitu membangunkan anak-anak putri untuk salat berjamaah. 

Ayoh sudah datang dan suasana menjadi hening. Mereka semua sangat menghormati Ayoh. Semua sudah siap pada posisi yang rapih. Subuh ini, Ayoh yang menjadi imam salat. Selepas salat, mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing.

 

_Bersambung_

22

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata307

#Day22

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Terdengar Asmaul Husna yang indah. Setiap pagi di hari sekolah, sekolah An-nur akan menyetel Asmau Husna sampai anak-anak di sini hafal. Hari ini, Bilqis akan mengajar kelas empat lagi. Ia berjalan melewati anak-anak yang sedang sibuk dengan keperluannya masing-masing. Ada yang baru sarapan, ada yang masih mengantri di kamar mandi, Ada yang lari-lari, ada yang sudah pergi ke lapangan untuk upacara dan ada satu hal yang unik. Bilqis melihat anak-anak berjejer seperti kereta. Wajah mereka sumringah. Ternyata, Ayoh sedang bagi-bagi uang jajan. Setiap hari, anak-anak yatim atau pun anak yang kurang mampu, mereka mendapatkan uang jajan dengan nominal yang berbeda. Semakin tinggi tingkatan sekolahnya, maka semakin besar mendapatkan uang jajan. Begitu pun sebaliknya.

“Kak Indo, Kak Indo,” panggil sekelompok anak yang berlari ke arah Bilqis.

Mereka berebut untuk memegang tangan Bilqis. Bilqis hanya bisa pasrah dengan yang terjadi. Beberapa guru di lapangan, sudah mengatur posisi baris murid-muridnya dengan sangat rapih. Kak Bulan selalu menjadi panutan dalam mendidik murid-muridnya. Ia sangat piawai dalam hal mengajar. 

“Qis, sini,” panggil kak Bulan.

“Ok.” Dengan memberinya jempol.

Kak Bulan ada keperluan sebentar. Ia meminta Bilqis untuk menjaga anak didiknya selama upacara dan mengantarkan mereka ke kelas satu EP. Bilqis tidak merasa kesulitan menjaga anak didik kak Bulan karena mudah diarahkan. Di Indonesia, upacara dilakukan seminggu sekali. Kalo di Thailand, upacara dilakukan setiap hari sekolah. Setelah upacara, mereka akan melakukan kegiatan olahraga bersama-sama.

Setelah selesai mengantarkan anak didik kak Bulan ke kelas satu EP. Bilqis pergi menuju kelas empat. Ia sudah siap dengan materi ajar yang akan ia berikan. Seperti biasa, ia dan murid-muridnya kesulitan dalam berkomunikasi. Bu Aom pun semakin hari, semakin sinis padanya. Bilqis ingin cepat-cepat hari ahad. Hari ahad adalah hari Bilqis dan teman-temannya melaksanakan kegiatan KKN. Mereka akan bertemu disalah satu sekolah yang sudah mereka agendakan sebelumnya. Kegiatan KKN ini akan dilakukan di sekolah-sekolah tempat mereka melangsungkan kegiatan PPL. 

 

_Bersambung_

23

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata320

#Day23

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Hari yang dinanti pun tiba. Bilqis dan teman-temannya akan melangsungkan kegiatan KKN di salah satu sekolah di daerah Chana. Bilqis dijemput oleh salah satu teman yang sekolahnya tidak terlalu jauh dengan sekolah Bilqis, dengan menggunakan motor. Bilqis sangat senang karena ia bisa berjumpa dengan teman-temannya lagi. Ia ingin sekali bisa melepas lelah yang seminggu ini ia rasakan. Baginya kegiatan KKN sangat menyenangkan. Terlebih bisa bersama-sama dengan kawan yang senasib seperjungan. Namun, acara yang singkat ini berjalan dengan sangat cepat. Bilqis harus sudah kembali lagi ke sekolah An-nur karena besok semuanya sudah mulai beraktivitas di sekolah masing-masing.

Satu bulan lagi adalah hari raya Idul Adha. Libur panjang pun akan segera tiba. Bilqis hanya perlu bertahan selama sebulan lagi menuju hari raya. Malam ini, ia mulai mempersiapkan materi ajar untuk tiga hari kedepan. Jadwal Bilqis mengajar telah bertambah. Terlibih, ia memiliki dua jam mengajar di kelas satu PU. 

Malam ini, Bilqis tidur sendiri karena kak Bulan pulang ke Pathani—kampung halamannya. Kipas angin yang biasa berputar kencang ke arah wajahnya, kini sudah tidak diperlukan lagi karena kak Bulan tidak ada. Terlebih lagi, cuaca malam yang dingin ini membuat badannya menggigil. 

“Huuhh, hangatnya,” ucapnya ketika memakai selimut tebal.

Tidur bagaikan sekejap, tidak terasa sudah azan subuh. Bilqis pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Seperti biasa, sebelum salat berjamaah, ia akan bercermin untuk memastikan tidak ada rambut yang terlihat. Namun, alangkah kagetnya Bilqis ketika melihat wajahnya yang dipenuhi oleh bintik-bintik merah. 

“Jadi ini alasannya, kenapa kak Bulan nyalahin kipas angin ke arah wajah,” ucapnya dengan penuh sesal. 

Nyamuk di daerah tempat Bilqis tinggal memang sangat banyak. Wajar saja, karena sekolah An-nur berada di dekat perkebunan yang luas. Bilqis memandangi wajahnya. Ia seperti memiliki jerawat yang penuh di muka. Ia pun memberanikan diri ke luar kamar dan menuju saf paling belakang untuk salat berjamaah. 

“Kak Indo, kenapa wajahnya?” tanya salah satu anak.

“Digigit hiu,” jawab Bilqis singkat.

“Hahaha,” anak-anak itu tertawa dengan sangat puas.

 

_Bersambung_

24

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata308

#Day24

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Bilqis tidak memperdulikan lagi kulit wajahnya. Ia sudah pasrah. Ia lebih memilih fokus pada metode mengajar yang akan ia gunakan untuk menghadapi anak kelas satu PU. Hari ini, ia harus lebih ekstra lagi dalam mengajar. Bagaimana bisa mengajar siswa yang tidak memahami bahasa gurunya? Begitu juga sebaliknya. Bilqis terus mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering kali muncul dibenaknya, yang harus ia lakukan adalah menemukan solusi. Ia tahu, bahwa beradanya ia di sini adalah sebuah takdir yang harus ia jalani. 

Selepas salat, Bilqis berpapasan dengan Azhar. Ia segera menutupi wajahnya dan berlalu pergi. Selanjutnya, Bilqis segera menyiapkan semua keperluan yang ia butuhkan. Tiba-tiba, ponselnya berderit. Pesan dari pak Victor. Pak Victor meminta Bilqis untuk memperbaiki metode mengajarnya. Kalo sampai ia gagal dalam mendidik murid-muridnya. Maka, Bilqis harus mengulang PPL di Indonesia. Tentu, akan membutuhkan biaya dan waktu. Pesan singkat itu membuat Bilqis sangat terkejut. 

Bilqis menerima kata-kata dari pak Vitor. Memang ia yang salah. Ia terima itu. Selesai dari mandi dan sarapan, ia sempatkan diri untuk pergi ke tempat favoritnya untuk merenungi segala hal yang terjadi. Ia berharap bisa menemui solusi dari segala permasalahnnya. Tak lama, Bilqis menghubungi keluarganya. 

“Assalamualaikum, Kak,” ucap Bilqis.

“Waalaikumussalam, Qis. Gimana kabarnya?” tanya Bening.

“Alhamdulillah baik, Kak. Kabar keluarga di sana, gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah, baik,” 

“Kakak lagi di rumah sakit? Siapa yang sakit, Kak?” tanya Bilqis dengan khawatir.

“Bapak, Qis. Bapak masuk rumah sakit lagi. Tapi, kamu jangan khawatir, yah. Insyaallah bapak segera sembuh. Kamu fokus saja sama PPL di sana dan perbanyak doa.”

Bilqis tak kuasa menahan air mata. Ia pamit ke kakaknya dan segera mematikan ponsel. Bilqis ingin sekali menceritakan permasalahan yang ia hadapi di sini. Tapi ternyata, permasalahn di rumah lebih mengkhawatirkan. Ia sangat mengkhawatirkan kesehatan Bapaknya. Ia menagis tanpa bersuara. Hanya air mata yang terus berlinang membasahi pipi.

“Langit di pagi hari ini sangat cerah, tapi kenapa dengan hatiku?” gumamnya.

 

_Bersambung_

25

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata334

#Day25

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Bilqis bangkit dari duduknya. Ia harus berubah menjadi lebih baik lagi dan tidak boleh membuang waktu di sini dengan percuma. Ia tidak mau menjadi beban bagi keluarga atau pun orang lain. Ia harus menyelesaikan KKN dan PPL di Thailand dengan baik. 

Waktu terus berjalan. Hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini adalah hari raya Idul Adha. Semua sekolah tempat para mahasiswa PPL-Thailand akan libur panjang. Sekolah An-nur akan libur sepuluh hari. Sedangkan, sekolah lain hanya libur lima sampai tujuh hari. Bilqis sangat bergembira karena bisa berkumpul dengan yang lainnya dalam jangka waktu yang cukup baginya untuk melepas lelah. Selama liburan, ia dan yang lainnya menghabiskan waktu di sekolah pusat milik Pak Anwar. 

“Besok, kita semua diundang makan bersama di rumah Poksu, guys,” kata Mala. Salah satu teman Bilqis yang menetap di sekolahnya Pak Anwar.

Siang telah tergantikan dengan malam yang penuh bintang. Rembulan yang terang telah memperlihatkan bentuk awan yang cantik. Angin berhembus—membelai wajah Bilqis. Suara takbir terdengar sangat syahdu. Bilqis teringat akan kenangannya bersama keluarga, kenangan berada di desa dan kenangan-kenangan lain berkelebat di hadapannya. Ia teriangat akan kesehatan ayahnya. Tapi, ia sangat bersyukur karena seminggu ini, kondisi ayahnya telah membaik.

***

Selepas salat Idul Adha, Bilqis dan yang lainnya ke rumah Pak Anwar. Di sana, mereka menghabiskan waktu dengan makan dan bercerita. Setelah itu, mereka membantu memotong daging yang nantinya akan dibagikan ke warga sekitar. 

Hari Idul Adha di sini seperti hari raya Idul Fitri. Suasananya sangat ramai. Bilqis dan teman yang lainnya mendapatkan banyak kebahagiaan juga persenan dari Moksu.

 Hari setelah hari raya, mereka habiskan untuk berjalan-jalan dan melaksanakan agenda KKN mereka. Hari libur pun telah usai. Waktu terasa sangat cepat. Teman-teman Bilqis kembali ke sekolah mereka masing-masing. Beda halnya dengan Bilqis yang masih memiliki waktu liburan.

“Qis, sekolahnya masih libur yah?” tanya Zahra.

“Iya, Ra. Masih lima hari lagi.”

“Ikut ke sekolahku aja yuk,” ajak Zahra, sahabatnya.

“Wah, enggak, deh. Terlalu jauh, Ra,” tolak Bilqis.

“Di sini aja, Qis. Lia juga masih tinggal di sini. Sekolahnya sama seperti sekolah kamu yang liburnya masih panjang. Gimana?” bujuk Mala.

 

_Bersambung_

26

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata354

#Day26

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

“Sepertinya, aku mau balik ke sekolah An-nur saja, Mal,” ucap Bilqis yakin.

Mereka semua terkejut dengan perkataan Bilqis yang lebih memilih tinggal di sekolah yang cukup luas seorang diri. Bilqis meyakinkan teman-temannya bahwa ia akan baik-baik saja di sana. 

“Pasti di sekolahanmu nggak ada siapa-siapa Qis,” Zahra meyakinkan Bilqis agar ia mengurungkan niatnya.

“Yaa, nggak apa-apa, Ra. Toh, aku juga mau merapihkan laporan PPL-ku selama sebulan ini. Soalnya masih berantakan. Terlebih lagi, aku mau mempersiapkan metode pengajaran yang lebih efektif, yang bisa membuat murid-muridku paham.” Dengan merapihkan pakaiannya.

“Baiklah, yang paling penting kamu harus hati-hati, yah,” ucap Zahra.

“Siap,”

Siang yang terasa singkat itu telah bergeser dan tergantikan oleh senja yang menawan hati. Namun, di tempat Bilqis berpijak, awan mendung telah siap menumpahkan isinya. Bilqis akan kembali ke sekolah An-nur sore ini dan akan diantar Mala menggunakan motor. Jarak dari sekolah pak Anwar dengan sekolah An-nur tidak terlalu jauh. Kira-kira, hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat tujuan.

“Qis, gerimisnya makin banyak, mau neduh dulu?”

“Terserah, Mal. Tapi nanti, apa kamu nggak kemalaman? Ini saja sudah mau magrib.”

“Iya, sih. Kita lanjut aja yah?”

“Iya lanjut saja. Toh, air hujannya juga tidak besar.”

***

Mereka pun telah sampai di depan gerbang sekolah An-nur. Gerbang depan sekolah sudah terbuka sangat lebar. Seperti ingin menyambut kedatangan Bilqis. Hati Bilqis mulai terasa sedikit khawatir ketika melewati gedung-gedung sekolah yang gelap. Hujan pun turun semakin deras.

“Mal, cepat dikit. Hujannya makin deras, nih,” ucap Bilqis.

“Oke-oke, sebentar lagi kita sampai,” kata Mala dengan mempercepat laju motornya.

Sampailah mereka di depan aula utama yang sangat gelap. Bilqis bergegas menyelamatkan barang-barangnya yang kehujanan. Baru beberapa langkah menginjak lantai aula, bilqis kembali mengambil sandalnya dan memakainya. Aula yang biasanya bersih, sekarang sangat kotor sekali. Bilqis segera meraba-raba tembok untuk menemukan sakelar aula.

“Alhamdulillah, akhirnya terang juga,” ucap Bilqis dan Mala berbarengan.

Dari luasnya bangunan-bangunan sekolah An-nur, hanya ada dua titik lampu yang menyala. Pertama, di depan rumah Ayoh. Kedua, di aula. Bilqis masih mematung melihat keadaan aula yang sangat kotor. Banyak sampah serta air dan pasir dimana-mana. 

 “Pantas, lengket,” ucap Bilqis sambil berjalan menuju ke kamarnya.

 

_Bersambung_

27

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata357

#Day27

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Suara petir sesekali mengeluarkan suara yang cukup kencang. Bilqis membuka pintu kamar dan diikuti oleh Mala. Alangkah terkejutnya Bilqis ketika melihat kamarnya sangat lembab dan banyak nyamuk yang bersarang. Bilqis segera membersihkan kamarnya dan dibantu Mala. Selesai beberes, mereka salat magrib berjamaah.

“Jeleger!” suara petir serta kilat yang sangat terang membuat Bilqis dan Mala beristigfar. Hati Bilqis semakin berdebar. Apakah ia akan sanggup tinggal sendiri di sekolah yang luas ini? Tak lama, ada yang mengetuk pintu kamar Bilqis dengan sangat keras. Bilqis dan Mala sangat kaget dan saling berpandangan.

“Memang ada yang nggak pulang di sini?” tanya Mala.

“Nggak tahu,” jawab Bilqis dengan mendekat ke arah pintu.

Bilqis berfikir, mungkin akan lebih aman kalo ia kembali ke tempat Mala karena sangat beresiko untuk tinggal di sini sendiri. Seseorang mengetuk pintu kamarnya lagi. Bilqis mendengar sayup-sayup suara tapi tidak terlalu jelas. Ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.

“Qis, jangan dibuka dulu,” kata Mala khawatir.

Hujan sedikit mulai reda, suara itu sekarang sudah terdengar lebih jelas. Suara anak kecil yang sedang memanggil-manggilnya.

“Kak, Indo,” sambil mengetuk pintu kamar Bilqis. “Buka pintu,” lanjutnya.

Bilqis membuka pintu dengan perlahan. “Nitima? Kok, kamu ada di sini? Kamu sama siapa di sini?” Bilqis menatap anak kecil berumur tujuh tahun yang menggigil karena kedinginan.

“Kak Indo, bagi tepung,” ucapnya. 

Tepung adalah sejenis makanan ringan. Bilqis yang kasihan melihat anak itu langsung mengambil biskuit dari dalam tasnya. 

“Makasih, Kak Indo,” ucapnya bahagia.

“Eh, tunggu dulu. Kamu di sini sama siapa? Terus, untuk makan sehari-hari gimana?”

Nitima menceritakan bahwa masih ada teman yang lainnya, sekitar delapan anak. Mereka semua tinggal di sekolah selama lima hari ini tanpa didampingi orang dewasa. 

“Lalu, untuk makan gimana?” tanya Bilqis lagi.

“Kalo makan, kita di rumah Ayoh, Kak.”

“Bukannya Ayoh sekeluarga pergi?” 

“Iya, Kak. Tapi Ayoh kirim orang masakin makanan untuk kami.”

“Alhamdulillah,” ucap Bilqis dan Mala.

“Makan tiga kali sehari,” jelas Nitima dengan memakan biskuitnya.

Ternyata, anak-anak yang tidak pulang. Mereka mendapat makan tiga kali sehari. Bilqis cukup lega, tapi bibi yang ditugaskan untuk memasak hanya datang ketika waktu makan tiba. Setelah selesai dari tugasnya, ia akan pulang. Tentu, anak-anak ini sangat kesepian dan kedinginan di tempat yang luas ini.

 

_Bersambung_

28

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata373

#Day28

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

 “Alhamdulillah. kalo ada anak-anak mah, aku lega ninggalin kamu di sini, Qis,” kata Mala.

 “Alhamdulillah,” ucap Bilqis.

 Tak lama, beberapa langkah kaki kecil berlari ke arah kamarnya. Mereka meminta tepung yang Bilqis berikan ke pada Nitima. Bilqis ingin memberi mereka, tapi ia tidak punya stok makanan.

 “Kak Indo, bagi tepung,” ucap mereka dengan berulang-ulang.

 “Kakak sudah tak punya tepung. Tadi sudah Kakak berikan ke Nitima semua. Kakak juga sudah beri tahu Nitima untuk makan sama-sama dengan teman yang lainnya,” ucap Bilqis dengan memberi isyarat agar mereka paham. 

 Walaupun bahasa melayu mereka dengan Bilqis cukup sangat berbeda, mereka semua bisa mengerti yang Bilqis katakan. Mereka semua langsung berlari menuju Nitima yang sedang menikmati makanannya sendirian. Nitima yang menyadari hal itu, segera berlari dan tertawa. Perlahan, langkah kaki-kaki kecil itu telah menghilang ditelan gelapnya malam karena lampu di sekitar masih mati. Hanya lampu di aula dan kamar Bilqis yang menyala. 

 Bilqis dan Mala tertegun. Mereka membayangkan betapa kasihannya anak-anak itu. Mereka yang tidak pulang, otomatis sudah tidak punya keluarga. Jika pun ada, mana mungkin para orang tua atau pun kerabat lainnya tega meninggalkan anak-anak kecil itu di sini? Terlebih lagi, ini adalah liburan hari raya.

 “Kak Indo, ayo pergi makan,” ajak Nitima yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

 “Ah, iya. Nanti Kakak nyusul yah."

 Bilqis dan Mala segera pergi ke rumah Ayoh. Di sana ada Anjani. Anak yang sangat cantik dan masih berusia 5 tahun. Anjani yang melihat Bilqis langsung berlari dan memeluk Bilqis.

 “Kak Qis,” ucapnya senang.

 “Anjani kenapa tak pulang?” tanya Bilqis.

 “Tak ada yang jemput kita, Akak,” ucap Sarah—kakaknya Anjani yang hanya beda dua tahun dengan adiknya.

 Jadi, bukannya mereka tidak punya keluarga. Mungkin sebagian memang sudah tidak punya keluarga sama sekali. Sebagian lagi ada, tapi tak peduli. Entah, apa yang terjadi. Sampai-sampai mereka tidak ada yang menjemput untuk pulang.

  Mala yang melihat anak-anak kecil itu tak kuasa menahan tangisnya. Ia membalikan badannya. Air matanya mengalir. Sedangkan Bilqis menahan tangisnya. Ia semakin yakin, untuk tetap tinggal di sini bersama anak-anak kecil itu. 

 "Jadi, mereka..” kata-kata Mala terhenti dengan suara tangis yang disembunyikan.

 Bilqis menenangkan Mala dan mencoba menghibur mereka dengan mengalihkan pandangan mereka pada makanan yang sudah disiapkan oleh bu Maryam. 

 “Ayo kita makan,” ucap Mala yang sudah bisa mengontrol dirinya.

 

_Bersambung_

29

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahkata327

#Day29

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Sarah menceritakan keadaan mereka di sini. Ia mengatakan bahwa terdapat dua kamar untuk tidur, satu untuk yang perempuan dan yang satu lagi untuk laki-laki. Tapi namanya anak-anak, kamar mereka sangat berantakan. Baju kotor berserakan dimana-mana, lantai penuh dengan sampah makanan, serta bau tidak sedap yang sangat tidak layak. Bilqis memikirkan hal itu beberapa saat dan ia memutuskan untuk menghabiskan liburannya di sekolah An-nur bersama anak-anak itu. 

Selesai makan malam, bibi yang ditugaskan, kembali ke rumahnya. Mala pamit untuk pulang juga karena besok ia sudah mulai beraktivitas di sekolah pak Anwar. 

 “Masih hujan, Kak. Besok saja pulangnya,” ucap Sarah pada Mala.

 “Maaf, Kak Mala tidak bisa.” Dengan mengusap kepala Sarah.

 “Pakai jas hujan ini saja, La.” Bilqis memberikan jas hujan berwarna merah.

 “Qis, aku tinggal yah, gak apa-apa kan?” Dengan menyalakan mesin motor.

 “Iya nggak apa-apa, La. Lagi pula malan ini, aku bakal tidur bareng sama mereka,” ucap Bilqis sambil melirik ke arah anak-anak yang tersenyum. “Eh tapi, khusus yang perempuan saja yah, yang tidur sama Ka Bilqis,” lanjutnya dengan menepak pelan bahu Sirapat.

 Rintik hujan belum berhenti. Beberapa kali, kilat dan suara petir membuat Anjani ketakutan dan memeluk Bilqis. Mala pamit meninggalkan mereka dan menghilang dikegelapan malam.

 Tiba-tiba, beberapa anak menjerit ketakutan.

 “Kakak, itu~” Nitima menunjuk ke arah semak-semak yang sangat gelap. 

 Bilqis memeluk mereka dengan sangat erat. Ia menenangkan anak-anak itu. Tiba-tiba, kilat yang sangat terang memperlihatkan sesosok pria misterius yang memakai jas hujan serta bambu di tangannya. Bilqis terkejut dan ketakutan. Ia mulai panik. Bilqis meminta anak laki-laki untuk segera masuk ke kamar mereka dan mengunci pintu kamar. Sedangkan Bilqis dan anak-anak perempuan lain masuk ke kamarnya. 

 Bilqis segera mengunci pintu kamar dan rasa khawatir sedikit berkurang. Bilqis meminta anak-anak itu untuk salat isya terlebih dahulu sebelum tidur. Ia ingin sekali menghubungi Mala, tapi tidak bisa karena dua hari yang lalu poneslnya jatuh dan retak, sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Bilqis mencoba untuk tetap tenang dan ia teringat dengan jendela kamarnya yang menghadap ke aula. Ia memeriksa kunci jendela itu, tapi alangkah terkejutnya ia.

 

_Bersambung_

30

0 0

#Sarapankata

#KMOIndonesia

#KMOBatch39

#Kelompok18

#Jumlahsarkat381

#Day30

 

Kakak PJ: Trizta Putuekawati 

Neng Jaga: Sri Mulyati 

Ketua Kelompok: Phy Poesphyta 

 

Kunci jendela kamar rusak. Kalo saja ada orang yang iseng menggeser jendela itu, tentu sangat mudah untuk ia masuk ke kamar Bilqis. Bilqis kembali khawatir, tapi kekhawatiran itu tidak ia tampakkan pada murid-muridnya. Ia meminta mereka semua untuk segera tidur.

Bilqis kembali memeriksa jendela satunya. Jendela yang menghadap ke kebun yang cukup luas dan sagat gelap. Ternyata, kunci jendela kamar itu pun rusak juga. Jantungnya semakin berdebar. Bilqis mencari-cari cara untuk dapat menguncinya. Namun dengan pikiran dan hati yang tidak tenang, membuatnya tidak bisa fokus. Ia pun segera mengambil air wudu untuk menenangkan diri. Ia segera mendirikan salat witir dan berdoa memohon pertlindungan kepada Sang Maha Pencipta. Bilqis baru menyadari bahwa selama ini, ia sungguh dapat tidur dengan nyenyak dan aman. Sekarang, untuk memejamkan mata pun sangat sulut karena hati terus merasa was-was. Bilqis teringat dengan anak-anak yang tinggal di negara konflik. Pasti mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika suara roket atau pun senjata terdengar. 

“Betapa kurang bersyukurnya aku selama ini,” gumamnya.

 Bilqis pergi ke sudut kamar dan mengambil kitab suci Al-qur’an dan membacanya. Ia menghayati ayat demi ayat dan air mata pun membasahi pipinya. 

 “Ya Rabb, tenangkanlah hati hamba-Mu ini yaa Rabb. Hamba memohon perlindunganmu dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hamba berserah diri kepada-Mu yaa Rab.” 

 Bilqis pun tertidur.

***

 Suara azan berkumandang dengan sangat merdunya. Bilqis terbangun dan segera mengucap syukur berkali-kali. Ternyata, ia dan murid-muridnya selamat dari laki-laki misterius yang berdiri mematung di semak-semak yang gelap itu. Segera ia membangunkan murid-muridnya dan mengajak mereka untuk salat berjamaah.

 Selepas salat, Bilqis meminta mereka untuk kerja bakti membersihkan aula. Bilqis pun akan memberikan reward untuk mereka yang rajin. Masing-masing dari mereka mendapatkan tugas, begitu juga Bilqis. Aula yang besar ini cukup membuat mereka semua kelelahan. Namun, Bilqis terus memberikan contoh kepada mereka dengan mengangkut sampah-sampah dengan semangat. Tentu mereka pun ikut bersemangat dalam berkontribusi dalam memperindah tempat mereka.

 “Waah, rajinnya,” ucap Azhar yang tiba-tiba muncul dan membantu membersihkan aula.

 Anak-anak itu sangat senang dengan kedatangan Azhar. Nitima dan anak-anak lainnya langsung menceritakan peristiwa tadi malam. Mereka bercerita tentang sosok misterius yang menakutkan itu. 

 “Hahah, maaf yah sudah buat kalian semua takut. Tadi malam yang berdiri di sana dan memakai jas hujan itu adalah Kak Azhar. Semalam, banyak sampah di selokan air, sehingga kakak harus membersihkannya. Kalo tidak, bisa berabe,” jelasnya sambil tertawa.

 

_Bersambung_

Mungkin saja kamu suka

Aksara Senja
Sendu Dalam Senja
Catur Untari
DUA SAUDARA
Devi Eka Yulita...
Ramadan journey to find love

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil