Loading
1

0

1

Genre : Inspirasi
Penulis : Azzahra MSN
Bab : 30
Dibuat : 10 Februari 2022
Pembaca : 8
Nama : Azzahra MSN
Buku : 1

MEMELUK DIRI

Sinopsis

Perempuan bernama Uleng berjuang menghadapi segala bentuk ujian dalam hidupnya. Layaknya ombak di lautan, ia terombang-ambing ke sana ke mari. Menyusuri jalan berliku mencari pertolongan. Ia tersesat dalam kemalangan yang membuatnya lalai akan hal baik. Namun, ia merasa bahwa satu-satunya tempat mengadu terbaik hanya Allah. Memeluk diri sendiri adalah langkah yang diambilnya untuk memacu semangatnya untuk bangkit dari keterpurukan. Seperti namanya Uleng yang berarti bulan, ia terus berusaha memancarkan cahaya untuk menerangi langkah kakinya.
Tags :
#perjuangan #ujian #tabah

DAY 1

1 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok : 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata : 458 kata

Semua penghuni kos tetiba berhamburan keluar pintu kamar. Mempercepat langkahnya menuju ruang televisi sekaligus ruang berkumpul. Goncangan beberapa detik mereka rasakan membuat debar tak terhingga. Aku juga merasakan hal yang sama. Beberapa dari kami segera mencari informasi, dan ternyata baru saja terjadi bencana di Palu. Berita di media sosial mengabarkan bahwa itu adalah gempa yang disusul tsunami.

Saat itu aku tidak bisa melihatnya langsung menggunakan gawai. Hanya mendengar lewat pembicaraan mereka. Sebab gawai yang kumiliki tidak secanggih itu. Berita buruk itu membuatku langsung teringat kepada keluarga di Wajo. Karena goncangan akibat gempa di Palu dirasakan oleh beberapa kabupaten dan provinsi. Termasuk kampung halamanku. Bergegas jemariku menekan nomor telepon Ibu, Alhamdulillah tersambung. Tanpa basa-basi, aku langsung menanyakan keadaan mereka. Benar saja goncangan gempa juga terasa di sana.

“Gempa Nak, kami semua sangat panik. Karena sebagian pasien di rumah sakit akan dikeluarkan”. Kata Ibu dengan suara timbul tenggelam.

“Ayah bagaimana, Bu? Apakah dikeluarkan juga?” Tanyaku sambil menahan tangis.

“Belum tau, Nak. Berdoalah semoga tidak terjadi gempa susulan. Jangan khawatir, jaga dirimu di sana”. Jawab Ibu dengan tegar.

Kami mengakhiri pembicaraan dengan penuh keyakinan bahwa InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Meski begitu perasaan khawatirku tak mampu kubendung. Aku terus memikirkan keadaan Ayah yang sedang dirawat di ruang ICU. Semoga saja goncangan tidak membuat penyakit Ayah semakin parah karena panik. Air mengalir deras di pipiku, namun suara tangis berusaha tak kukeluarkan.

Hari yang berat ini harus kulewati dengan sabar dan tegar. Menjadi anak pertama adalah tanggung jawab yang besar. Aku harus memiliki pundak yang kuat. Seperti yang telah Ayah tunjukkan kepadaku selama ini. Lebih kurang lima tahun Ayah menderita sakit, dan ini kedua kalinya harus dirawat di ruang ICU. Tak pernah sekali pun aku dan adik-adikku melihatnya lemah. Dia selalu berusaha terlihat kuat meski nyeri harus ditahannya.

***

Sejak usia remaja hingga saat ini, Ayah menekuni profesi sebagai seorang tengkulak ikan. Sudah menjadi rutinitas Ayah setiap pagi buta bersiap-siap berangkat ke pasar. Keuntungan dari penjualan digunakan untuk menafkahi anak dan istrinya. Hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya agar mendapatkan pendidikan terbaik demi masa depan yang cerah. Ayah bahkan tak pernah absen untuk bekerja setiap hari.

Meski hidup sederhana, Ayah selalu berusaha membahagiakan istri dan anak-anaknya. Pernah sekali waktu aku ikut bersama Ayah ke pasar. Sekadar menemaninya juga memperhatikan sekeliling dan sesekali mengamatinya sedang bekerja. Hatiku kadang merasa teriris-iris melihat peluh keringat di pipinya. Tapi, tak pernah ia hiraukan demi tetap fokus menawarkan ikan jualannya ke pembeli.

Siang hari Ayah baru kembali ke rumah setelah pasar mulai sepi. Sebelum Ayah tiba, Ibu sudah menyiapkan makan siang. Kami selalu makan siang bersama dengan lauk pauk seadanya. Kadang-kadang menggunakan lauk ikan jualan Ayah yang tidak laku atau lebih. Selalu ada canda tawa di sela-sela makan siang kami. Hal-hal sederhana yang membahagiakan itu tidak ingin kami lewatkan sedetik pun.

DAY 2

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 409 kata

Namun, Ayah menoleh ke arahku dan menegurku agar tidak mengikutinya. Ayah meyakinkanku bahwa keadaannya baik-baik saja. Tetapi, hati kecilku berkata bahwa Ayah hanya berusaha terlihat kuat. Karena terlihat jelas wajahnya yang sangat pucat dan langkahnya  yang masih lemah. Namun, di sisi lain aku juga tidak berani membantah Ayah dan memutuskan kembali ke Ibu dan memberitahunya.

Karena tidak ingin membuat ayah kecewa dan marah, kami memutuskan untuk pulang. Menggunakan bemor langganan ayah. Sepanjang perjalanan kami hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu pada ayah. Jarak pasar dan rumah tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke rumah. Aku dan ibu tiba di depan rumah dengan perasaan masih cemas dan khawatir.

Satu per satu barang belanjaan kami turunkan dari bemor. Ibu mengangkat kantongan merah berisi bahan-bahan untuk membuat kue. Sementara aku mengangkat keranjang berisi ikan, sayuran, dan minyak goreng. Tujuh hari lagi menjelang lebaran idul fitri. Itulah mengapa ibu membeli bahan-bahan kue. Karena sudah menjadi rutinitas kami membuat kue sendiri menjelang hari raya. Tidak membeli kue jadi demi menghemat biaya.

Setelah membawa meletakkan kantongan merah itu di teras rumah. Ibu kembali menghampiri pengemudi bemor yang mengantar kami. Ia mengeluarkan uang kertas dua ribu rupiah sebanyak tiga lembar. Untuk membayar sewa bemor dari pasar ke rumah. Aku sendiri bergegas masuk ke dalam rumah sambil membawa keranjang belanjaan. Aku terus memikirkan keadaan ayah yang masih di pasar.

Saat kulangkahkan kaki kiriku memasuki pintu rumah, tetiba ponselku bordering. Aku mengeluarkan ponsel tersebut dari saku rok yang kukenakan saat itu. Terlihat di layar yang berkedip-kedip nama Viani. Ia adalah adik kelasku sewaktu masih duduk dibangku SMP dulu. Kami memang sangat akrab hingga saat ini. Itulah mengapa kami saling menyimpan nomor telepon agar tidak putus komunikasi.

Namun, aku sedikit heran karena tidak biasanya Viani menelpon. Kami lebih sering berkomunikasi lewat pesan singkat sms. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau. Belum sempat kuucapkan halo dan salam, Viani lebih dulu berbicara. Seolah ada hal yang sangat penting ingin ia sampaikan. Aku letakkan keranjang yang ada di tangan kananku ke lantai. Agar bisa mendengar dengan jelas informasinya.

“Lagi di mana kak? Ayah kakak pingsan di pasar. Segera ke sini kak.” Katanya dengan suara terburu-buru.

“Iyah dek.” Jawabku singkat karena panik.

Aku bergegas memberitahu ibu dan segera menahan bemor kosong yang lewat. Agar bisa mengantar kami ke pasar. Di perjalanan banyak yang membicarakan ayah. Ada yang mengatakan bahwa ayah pingsan dan meninggal di pasar. Aku dan ibu berusaha tegar dan menahan tangis.

DAY 3

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 418 kata

Mentari pagi mulai menyapa dari sela-sela dinding kamar tempatku tidur bersama ibu, ayah, dan adikku Agus. Bunyi ayam peliharaan tetangga membuatku terbangun dari tidur pulas. Namun, mataku masih ingin sekali terpejam melanjutkan mimpiku semalam. Aku kembali membaringkan kepala dan menghiraukan bunyi ayam tersebut. Layaknya anak kecil lainnya aku juga termasuk bocah yang sulit bangun pagi.

Karena hari itu adalah hari pertama ibu dan ayah akan memasukkanku sekolah. Ibu kemudian berjalan menuju ke kamar bermaksud membangunkan aku. Ibu mengeluarkan jurus membujuknya yang andal agar aku bisa terbangun. Beberapa menit kemudian aku memaksa membuka mata dan bergegas bangun. Ibu menemaniku ke sumur belakang rumah untuk mandi. Ia menyiram tubuhku dengan air, seketika badanku terasa segar.

Setelah mandi, ibu mengeringkan badanku yang mungil menggunakan handuk. Lalu menaburkan bubuk putih ke seluruh tubuhku. Ibu juga tidak lupa meneteskan sedikit minyak telon ke tangannya lalu digosokkan ke ubun-ubunku. Baunya yang khas dan wangi menyelinap masuk ke lubang hidung. Rambutku yang panjang kemudian dikepang dua kemudian ibu pilin seperti lilitan cacing. Ujung lilitan diikat menggunakan karet kecil berwarna-warni.

Aku sudah selesai bersiap-siap, seragam baruku pun sudah ku kenakan di badan. Ibu menyiapkan tasku yang berbentuk boneka teletubbies berwrna merah yaitu Poo. Sebuah buku gambar kecil dan pensil dimasukkan ke dalamnya. Kemudian ibu mengenakannya ke pundakku dan membawaku ke ruang tengah untuk sarapan. Aku menyantap makanan yang telah disiapkan ibu sejak subuh tadi. Sementara adikku masih tidur pulas di kamar.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.30. Setelah selesai sarapan, ibu mengantarku ke sekolah taman kanak-kanak. Jaraknya dari rumah sekitar lebih kurang 200 meter. Karena adikku masih tidur, ibu meminta tolong ke tetangga untuk menemaninya sebentar. Aku dan ibu kemudian berangkat dengan berjalan kaki. Ayah tidak menemaniku karena sudah berangkat kerja saat aku masih tertidur.

Kami menyusuri jalan dengan perasaan gembira, terlihat diwajah ibu raut berseri-seri. Entah kenapa, tetapi aku juga merasa gembira saat itu karena akan bersekolah. Meski pun aku tidak tau apa tujuan bersekolah, aku tetap menuruti kemauan ibu ayah menyekolahkanku. Kami tiba di sekolah sebelum waktu belajar yaitu sebelum pukul 08.00. Karena jarak yang tidak terlalu jauh jadi tidak memakan waktu lama untuk sampai di sekolah.

Seorang perempuan menyambutku di pintu kelas. Kata ibu itu adalah guru yang akan membantuku belajar di sekolah nanti. Aku memasuki ruang kelas yang berukuran tiga kali tiga meter. Di dalam kelas aku bertemu dengan beberapa anak kecil seumuranku yang lain. Kami mengikuti arahan yang diberikan guru. Sebagai murid baru kami semua masih malu-malu satu sama lain. Dari luar ruangan ibuku dan ibu teman-temanku menunggu dan memperhatikan kami.

DAY 4

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 432 kata

Hari pertama masuk sekolah, kami tidak langsung diberi pelajaran. Namun, kami diminta satu per satu maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Giliran pertama adalah teman sebangkuku. Namanya Dilah, tinggi badannya sama sepertiku hanya saja aku lebih kecil. Ia juga memiliki rambut yang panjang dan lurus. Ia terlihat malu-malu saat memperkenalkan dirinya. Oleh karena itu, guru mengajarinya cara perkenalan.

Giliran kedua adalah teman laki-lakiku yang bernama Fitrah. Berbeda dengan Dilah tadi, Fitrah lebih percaya diri saat menyebutkan identitasnya. Terlihat dia adalah orang yang ramah dan murah senyum. Panjang rambutnya sekitar satu senti meter seperti model rambut polisi. Meskipun dia laki-laki, tetapi dialah yang paling kecil badannya di antara kami. Hal itu membuatnya terlihat sangat imut dan lucu.

Beberapa teman sekelasku sudah selesai memperkenalkan diri. Kini tibalah giliranku, aku melangkah ke depan kelas dengan perasaan gugup. Karena itu adalah kali pertamanya aku akan berdiri di depan banyak orang. Meski mereka seumuran denganku, tetapi tetap saja aku masih malu-malu. Dari balik jendela kelas terlihat ibu tersenyum ke arahku seolah memberi isyarat bahwa aku pasti bisa. Aku mulai memperkenalkan diri didahului dengan sapaan.

“Assalamu’alaikum teman-teman. Perkenalkan namaku Buana Uleng, nama panggilanku Uleng. Nama ibuku Maemunah dan nama ayahku Jafar. Saat ini umurku lima tahun. Terima kasih”. Ucapku dengan wajah sesekali tertunduk karena malu.

Setelah selesai memperkenalkan diri, aku kembali ke tempat dudukku. Aku mulai berbicara dengan Dilah teman sebangkuku. Perlahan-lahan kami mulai akrab dan sering berinteraksi. Akhirnya aku dan Sembilan temanku selesai juga dalam sesi perkenalan. Kini giliran guru kami yang memperkenalkan dirinya. Beliau seorang perempuan yang seumuran dengan ibuku, cantik, dan ramah kepada kami.

Beliau bernama ibu Hj. Muliati, disapa ibu aji Muli. Beliau menyapa kami dengan riang gembira dan mengajak kami bernyanyi bersama. Beliau sangat pandai menarik perhatian kami yang masih kecil. Beberapa lagu selesai diajarkan kepada kami, kemudian dilanjutkan dengan kisah satu dongeng. Ibu aji Muli membacakan dongeng tersebut dengan suara yang sangat jelas. Setiap karakter dalam dongeng dibuat seolah-olah suaranya mirip dan nyata.

Kami semua mendengarkan dengan serius cerita dalam dongeng tersebut. Tibalah pada bagian akhir cerita dan tiba jugalah waktunya istirahat. Kami semua beristirahat dan guru membagikan camilan berupa coki-coki. Kami memakannya disela-sela pembicaraan dengan teman-teman yang lain. Kami juga bermain menggunakan mainan yang tersedia di sekolah. Ada banyak mainan yang bisa kami pakai.

Ibuku masuk ke kelas menghampiriku, ia ingin pamit pulang dulu. Ibu menitipkanku pada guruku. Kata ibu akan kembali menjemputku jika sudah waktunya pulang. Setelah pamit, ibu bergegas kembali ke rumah. Mungkin saja adikku Agus sudah bangun dan ibu juga tidak ingin terlalu merepotkan tetangga. Ibuku memang seperti itu, ia sangat berat hati jika terlalu sering meminta tolong.

DAY 5

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 428 kata

Pagi buta kami sudah bersiap-siap keluar menuju trotoar jalan raya menunggu bus. Cahaya jurana adalah nama bus berwarna merah yang biasa kami tumpangi jika akan berkunjung ke kampung nenek. Nenek tinggal di sebuah pedesaan terpencil yang terletak di kaki gunung. Untuk tiba di sana, kami harus menempuh perjalanan darat lebih kurang delapan jam lamanya. Hari itu aku, Agus, ibu, dan ayah akan ke rumah nenek sekaligus tempatku dilahirkan.

Ayah menggandeng tangan kananku dengan tangan kirinya. Sementara di tangan kanannya, ayah menjinjing tas berisi pakaian dan bekal. Ibu menyusul di belakang kami berjalan sambil menggendong adikku Agus. Kami semua tiba di trotoar dan tidak lama kemudian bus merah datang dan singgah tepat di tempat kami menunggu. Ibu naik duluan bersama agus, lalu aku dan ayah naik setelahnya.

Tas yang ayah bawa, ia letakkan di atas kabin bus. Lalu kami duduk di kursi kedua tepat di belakang tempat duduk pak sopir. Tepat pukul 06.30 bus berangkat menuju ke terminal kota untuk mengambil penumpang yang lain. Setelah itu, bus kembali berangkat mengambil rute perjalanan menuju arah tujuan kami. Sesekali bus berhenti di tengah perjalanan untuk mengambil penumpang yang sedang menunggu di depan rumahnya.

Bus melaju dengan kecepatan rata-rata dan aku menikmati perjalanan. Tidak lama kemudian aku ingin sekali tidur, kepalaku juga sudah terasa pusing, dan aku merasa mual. Dari kecil aku memang selalu mabuk saat perjalanan jauh. Bahkan terkadang aku sampai muntah-muntah. Tidak hanya aku, adikku Agus juga sama sepertiku. Namun, ia jarang muntah karena setiap naik bus ia langsung tertidur hingga kami tiba.

Aku memutuskan membaringkan kepalaku ke pundak ayah yang sedang memangkuku. Agar tidak muntah, aku memejamkan mata supaya cepat tertidur. Akhirnya dalam sekejap aku sudah terbuai dalam mimpi indah di perjalanan. Aku kembali terbangun saat bus singgah di sebuah rumah makan. Satu per satu penumpang bergegas turun setelah bus berhenti dan sopir mematikan mesinnya.

Ada yang menuju ke kamar kecil untuk mencuci muka dan buang air. Ada juga yang langsung masuk ke rumah makan untuk makan siang. Sebagian yang lainnya beristirahat di bale-bale yang berada di depan rumah makan. Beberapa anak kecil seusiaku dan seusia adikku meminta ibunya membelikan mereka jajan. Sementara kami berempat memilih duduk di bale-bale menyantap bekal yang kami bawa dari rumah.

Setiap kali akan bepergian jauh, ibu tidak pernah lupa untuk menyiapkan bekal untuk kami bawa. Kata ibu dan ayah itu adalah salah satu cara menghemat biaya. Karena di rumah makan tempat bus biasanya singgah harga makanannya lumayan mahal. Sementara keadaan ekonomi yang terbilang pas-pasan tidak cukup untuk belanja. Ibu dan ayah memang sangat pandai dalam mengolah keuangan sehingga kebutuhanku dan adikku selalu tercukupi.

DAY 6

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 430 kata

Kami menyantap nasi putih yang masih hangat bersama dengan lauk ikan goreng mujair bumbu kecap. Sebagai kuahnya ibu juga sudah menyiapkan sayur bening berisi labu kuning dan daun kacang. Makanan sederhana tetapi sangat nikmat kami lahap. Selesai makan kami meminum air putih, aku dan Agus juga minum susu yang ibu sudah buatkan untuk kami. Kami beristirahat sejenak setelah menikmati bekal. Ayah membaringkan badannya di bale-bale untuk meregangkan otot-ototnya karena lama duduk.

Pak sopir dan penumpang yang lainnya telah selesai menyantap makanan masing-masing. Mesin bus kembali dinyalakan oleh kernet. Semua penumpang bersiap-siap kembali naik ke bus. Satu per satu mulai naik bus melalui dua pintu yang tersedia. Mereka tidak lupa memeriksa kembali barang bawaannya agar tidak ada yang terlupa. Mereka menempati tempat duduk masing-masing yang sebelumnya ditempati. Setelah selesai, dirapikanlah duduk mereka dan barang-barang yang sempat bergeser.

Setelah semua siap, sopir bus mengingatkan kepada seluruh penumpang. Bahwa sebentar lagi bus akan berangkat. Kernet mengarahkan sopir untuk keluar dari depan rumah makan menuju jalan raya. Posisi bus akhirnya sudah siap untuk berangkat. Sopir menginjak pedal gas pelan-pelan dan berangkatlah bus dengan kecepatan rata-rata. Belum lama diperjalanan, aku dan Agus kembali merasa pusing seperti akan mabuk. Kami memutuskan tidur agar hawa dan bau mobil yang membuat pusing tidak tercium.

Ibu dan ayah juga mulai tertidur, juga beberapa penumpang yang lainnya. Sebuah lagu yang diputar sopir mengantar mata kami terpejam dan menikmati mimpi masing-masing. Beberapa jam perjalanan berlalu, bus sudah memasuki kota Sinjai. Ibu, ayah, aku, Agus, dan beberapa penumpang lainnya telah terbangun. Cuaca yang sebelumnya terasa sangat panas, kini mulai sejuk. Karena merupakan daerah pegunungan dan tropis, Sinjai salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki cuaca dingin. Curah hujannya terbilang tinggi sehingga hampir setiap hari kita mendapati hujan lebat di beberapa daerahnya.

Kami sudah berada di jalan berkelok-kelok yang diapit oleh gunung dan jurang. Sopir bus menurunkan laju mobilnya untuk lebih berhati-hati. Aku dan Agus melihat pemandangan sekitar lewat jendela. Pepohonan hijau menjulang tinggi, beberapa pohon cengkeh, kopi, dan cokelat juga terlihat di pinggir jalan. Sebelahnya terdapat jurang curam yang menakutkan. Menurut pembicaraan beberapa penumpang, di daerah tersebut kerap terjadi kecelakaan lalu lintas. Jalan yang licin dan berkelok-kelok menyebabkan kendaraan hilang kendali.

Melewati jalan tersebut pengemudi selalu dihimbau untuk mengurangi kecepatan. Tinggal menghitung menit, kami akan tiba di rumah tante saudara ibuku. Semakin dekat sudah terlihat rumah warga di pinggir jalan. Beberapa dari mereka menjajakan buah rambutan, durian, manggis, dan langsat hasil dari kebunnya. Bus menyalakan klakson tanda kami akan segera tiba. Tidak lama kemudian bus berhenti tepat di depan rumah tante. Ayah mengambil barang bawaan lalu diberikan ke kernet untuk diturunkan. 

 

DAY 7

0 0
  • Sarapan Kata KMO Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 419 kata

Lonceng kusam di pojok sekolah dibunyikan oleh pak satpam. Kami biasa menyebutnya penjaga sekolah, begitulah panggilan sehari-hari untuk beliau. Teknologi digital masih terbilang jauh, itulah mengapa lonceng masih manual. Bunyi tiga kali adalah tanda waktu belajar telah usai hari itu dan akan dilanjutkan esok hari. Kami merapikan alat tulis menulis lalu memasukkannya ke dalam tas. Seorang siswa diminta maju ke depan menghapus tulisan di papan tulis. 

Bapak guru mengarahkan siswa merapikan posisi duduk dan membaca doa sebelum pulang. Ketua kelas memimpin doa bersama. Setelah selesai satu per satu maju ke depan untuk bersalaman dan pamit kepada bapak guru. Beliau selalu mengajarkan untuk tertib dalam melakukan berbagai hal. Sepatu kami dikenakan di luar ruang kelas. Jalan berlumpur menyebabkan sepatu tidak boleh dipakai di dalam kelas. Karena akan mengotori lantai yang sudah disapu dan dipel bersih.

Siswa yang rumahnya searah pulang bersama dengan berjalan kaki. Sedangkan yang berlawanan arah bersama siswa lainnya. Sebagian besar dari kami hanya mengandalkan kaki. Karena kendaraan pada saat itu juga masih jarang yang memiliki. Jalan dari sekolah menuju rumah nenek adalah pendakian berbatu dan berlumpur. Curah hujan yang tinggi menyebabkankan jalan selalu basah dan tergenang. Jalan desa tidak hanya digunakan sebagai akses transportasi dan pejalan kaki.

Namun, seringkali dijumpai beberapa ekor sapi berada di pinggir jalan memakan rumput. Aku dan teman-temanku menikmati perjalanan pergi dan pulang sekolah setiap hari. Meski jauh dan melelahkan, tetapi kami kerap menghadirkan lelucon yang bisa mengobati penat. Jalan berbatu membuat sepatuku sudah bolong. Beberapa teman yang lain juga seperti itu. Kadang kami melepas sepatu dan memilih jalan tanpa menggunakan alas kaki. Untuk merawat sepatu kami agar tidak semakin rusak. 

Belum tiba di rumah masing-masing, hujan lebat mengguyur bumi. Kami berlarian mengambil daun pisang dan daun keladi di pinggir jalan. Untuk kami jadikan payung pelindung agar tidak basah kuyup. Teman laki-lakiku memilih mandi hujan. Mereka menitipkan tasnya kepadaku dan seorang temanku lagi yang menggunakan payung. Kejadian seperti itu hampir setiap hari kami alami dan sudah terbiasa. Demi menuntut ilmu segala rintangan desa terpencil harus kami lalui.

Kami terus menerobos hujan, salah seorang temanku Umar telah tiba di rumahnya. Ia mengambil tas yang dititipkan kepadaku lalu masuk lari masuk ke kolom rumahnya. Tak lupa ia memanggil kami untuk mampir dan berteduh. 

"Ayo mampir dulu ke rumah sekalian berteduh". Panggilnya dari bawah kolong rumahnya.

"Lain kali saja, perjalanan tidak jauh lagi". Jawabku teriak.

"Iya, lain kali saja." Sambung temanku Milda dan Ikhsan menjawab.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Hujan mulai reda menyisakan rintik tipis. Langit masih sangat mendung mengantarkan langkah kami yang kedinginan.

DAY 8

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 422 kata

Kini giliran Ikhsan yang telah tiba di rumahnya. Ia juga tidak lupa mengajaku bersama Milda untuk mampir. Namun, kami tetap ingin melanjutkan perjalanan agar bisa cepat tiba di rumah masing-masing. Orangtua Milda pasti sudah menunggu dari tadi, begitu juga nenek dan tanteku. Mereka kerap khawatir jika aku terlambat pulang.

Beberapa menit berjalan, kini Milda juga sudah tiba. Tinggallah aku seorang diri yang melanjutkan perjalanan menuju rumah. Jarak tempat tinggal Milda dengan rumah nenek tidak terlalu jauh. Hanya saja karena pendakian semakin menanjak. Jadi, membutuhkan waktu banyak untuk menempuhnya juga tenaga yang kuat. Biasanya aku singgah sejenak di rumah Milda sekadar minum untuk mengobati haus. Namun, saat itu telah hujan deras sehingga haus tidak terasa ditenggorokan.

Rintik-rintik tipis pun reda, langit yang tadinya mendung kini mulai cerah kembali. Matahari perlahan-lahan menampakkan diri di balik awan. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan tiba di rumah. Kakiku gemetar dan sakit karena tidak menggunakan sepatu. Sementara sepanjang perjalanan adalah bebatuan dan lumpur. Sebagian badanku dan pakaianku juga basah. Karena tidak tertutupi payung dari daun pisang. Aku menggigil dengan bibir dan wajah pucat. Seperti orang yang kekurangan banyak darah.

Akhirnya aku tiba juga, kuletakkan payung daun pisang di depan rumah. Lalu aku masuk dan langsung menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian yang basah. Nenek sudah menungguku di pojok rumah belakang sambil meminum kopi hangat. Setelah tas dan pakaian kuganti, tante memanggilku dari dapur.

"Uleng...ayo makan siang dulu." Katanya memanggiku.

"Iyah tante, aku segera ke situ." Jawabku sambil berjalan menuju dapur.

Tante sedang sibuk menyiapkan makan siang. Aku turut membantunya kemudian memanggil nenek untuk makan bersama. 

"Nek, ayo makan siang. Aku dan tante sudah selesai menyiapkan." Kataku mengajak nenek.

Nenek berdiri dari tempat duduknya dan menuju tempat makan yang berada dalam satu ruangan. Kami tidak menggunakan meja makan, tetapi duduk melantai. Semua serba sederhana di kampung nenek. Tidak ada listrik, akses jalan yang belum diperbaiki, dan lainnya. Aku, tante, dan nenek menyantap makan siang dengan lahap. Masakan tante memang sangat enak. Ia pandai meracik bumbu dan mengolah sayuran hasil kebun nenek. Menjadi makanan yang lezat dan membuat kami selalu ingin menambah porsi. 

Setelah makan siang, kami beristirahat sejenak dan hendak salat zuhur. Usai salat, nenek mengajakku menemaninya ke kebun. Ia akan mengambil rumput untuk makanan ternak sapinya. Aku mengiyakan dengan senang hati. Sudah menjadi rutinitas sehari-hari setiap pulang dari sekolah aku ikut bersama nenek. Banyak hal yang biasa aku lakukan di kebun. Terkadang aku bermain sendiri dengan memanjat-manjat pohon kopi, cokelat, dan cengkeh. Aku juga kadang membantu nenek membersihkan kbun dari rumput-rumput liar yang bisa merusak tanaman.

DAY 9

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42\
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 407 kata
  • PR

Hari itu ayah dan keluarganya hendak berkunjung ke kampung ibunya di Sinjai. Mereka bersiap-siap berangkat dari Wajo menggunakan bus. Sore hari tibalah rombongannya di rumah saudara ibunya. Hidangan sederhana yang telah disiapkan, disantapnya dengan lahap. Sela-sela suapan diisi dengan obrolan santai pelepas rindu karena beberapa tahun baru berkunjung. Tujuan mereka berkunjung selain silaturahmi adalah akan berziarah ke makam keluarganya. Usai makan, mereka beristirahat di teras rumah menikmati dingin yang menusuk tulang-tulang.

Mereka melanjutkan obrolan yang sempat terpotong saat makan tadi. Menunggu adzan maghrib berkumandang tanda malam akan tiba. Sangat sulit memprediksi waktu karena siang hari juga selalu terlihat gelap karena mendung. Begitulah kampung di atas gunung tempat ibu ayahku tinggal dulu sebelum menikah dengan kakek. Sementara kakek tinggal di daerah dataran rendah yang hampir setiap harinya terasa panas mencekam. 

Hari semakin gelap, semua bergegas masuk ke dalam rumah. Jendela dan pintu ditutup rapat, pelita dinyalakan di setiap sudut-sudut ruangan. Adzan pun berkumandang, ayah dan yang lainnya mengambil wudhu bersiap untuk salat. Mereka melaksanakan salat maghrib berjamaah di rumah, kakek sebagai imam. Suara merdu kakek melantunkan ayat suci Al-Quran menyejukkan ruangan. Membuat makmumnya terhanyut dan khusyuk. 

Usai salat maghrib, mereka makan malam bersama. Duduk sejenak kemudian salat isya berjamaah. Dingin semakin terasa, tanpa sarung dan selimut badan akan menggigil. Mereka bersiap-siap untuk tidur lebih awal karena lelah setelah perjalanan panjang. Esok hari ayah dan yang lainnya akan berziarah ke makam keluarga. Juga menyempatkan mengunjungi rumah keluarga yang lain satu per satu. Malam semakin larut, mereka tertidur pulas berteman suara jangkrik di samping rumah nenek.

Usai salat subuh berjamaah, ayah bergegas mandi terlebih dahulu. Setelahnya om, tante, nenek, dan kakek menyusul. Sementara saudara nenek masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan ditemani oleh anak dan cucunya. Pagi itu, mandi dan sarapan telah selesai. Nenek menyiapkan daun pandan yang akan ditaburkan ke atas kuburan. Kemudian mereka berangkat bersama-sama dengan berjalan kaki. Melalui jalan setapak bebatuan dan berlumpur. 

Satu per satu makam keluarga diziarahi dan mereka mendoakan dalam hati agar keselamatan selalu menyertai di alam sana. Siang hari mereka telah selesai berziarah. Ayah dan yang lainnya kembali ke rumah tantenya untuk beristirahat juga salat zuhur. Karena masih akan melanjutkan perjalanan berkunjung ke rumah-rumah keluarganya yang lain. Sebelum kembali beraktivitas mereka menyantap makan siang terlebih dahulu. Agenda selanjutnya adalah berkunjung ke rumah sepupu nenek yang tinggal di kaki gunung. Mereka harus menyusuri jalan menurun yang jaraknya lumayan jauh dari rumah tantenya. Namun, hal itu bukanlah penghalang untuk tetap menyambung tali silaturahmi dengan keluarganya.

DAY 10

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan pena)
  • Jumlah Kata: 415 kata

Ayah dan rombongan berangkat tepat pukul 02.00 menuju rumah sepupu nenek. Sambil berjalan mereka membuka obrolan agar tidak terlalu merasakan lelah. Tidak terasa sudah 30 menit menempuh perjalanan, sedikit lagi akan tiba. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba di rumah kerabat. Ibu dan kedua adiknya sibuk membantu tantenya di dapur. Sedangkan nenek dan saudaranya menyambut kedatangan ayah, kakek, nenek, tante, dan om.

Mereka dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Karena saat itu masih sangat sederhana sehingga duduk melantai adalah pilihan terbaik. Kursi yang tersedia tidak cukup juga tidak layak digunakan. Untuk membuat obrolan lebih nyaman dan rasa kekeluargaan juga lebih dekat, mereka memilih duduk melingkar. Ibu keluar membawa beberapa cangkir teh dan kopi menggunakan sebuah baki. Kemudian adiknya menyusul membawa pisang goreng dan ubi rebus beserta sambal yang diracik sendiri.

Teh dan kopi ibu letakkan di depan masing-masing tamu termasuk ayah. Saat itulah ayah pertama kalinya melihat ibu. Awalnya masih biasa-biasa saja, niat mereka juga ke sana hanya untuk berkunjung dan menyambung tali silaturahmi. Sebelum ibu dan adiknya masuk kembali ke dapur, nenek memperkenalkan mereka ke keluarga ayah. Nama ibu adalah Minarti, sedangkan adiknya bernama Suharti dan Sunarti. Ibu dan kedua adiknya hanya mengangguk-angguk dengan wajah malu-malu tanda memperkenalkan diri.

Selepas itu, mereka kembali ke dapur. Sementara nenek dan saudaranya melanjutkan obrolan dengan keluarga ayah. Semakin asyik mengobrol, di sela-sela pembicaraan kakek dari ayah menanyakan perihal ibu.

“Apakah anak ibu yang sulung masih gadis?” Tanya kakek memotong pembicaraan.

“Iyah masih gadis.” Jawab nenek singkat.

Mendengar jawaban nenek, kakek merasa ada baiknya jika melamar Minarti untuk ayah. Kakek sibuk sendiri bertengkar dengan isi kepalanya saat itu. Nenek diam-diam juga memikirkan maksud pertanyaan sang kakek. Nenek sepertinya bisa menebak-nebak maksudnya. Hanya saja ia tidak ingin memulai membahas hal itu lebih jauh. Belum sempat kakek melanjutkan pertanyaan lagi. Tante yang merupakan kakak ayah melontarkan juga pertanyaan ke nenek.

“Apakah sudah ada yang meminangnya, Tante?” Tanyanya tanpa basa-basi.

“Sebenarnya sudah pernah ada yang meminang Minarti, tetapi belum ada yang diterima”. Jawab nenek semakin curiga.

“Ini adik saya belum menikah, Tante. Siapa tau boleh kalau dia melamar Minarti.” Katanya sambil menepuk pundak ayah.

Ayah langsung tertunduk malu mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya. Ia tidak tau lagi akan menyimpan wajahnya di mana. Mulutnya juga seperti terkunci, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Minarti memang awalnya tidak menarik perhatiannya. Namun, saat diperkenalkan oleh ibunya ke keluarga ayah. Ada getaran dalam hati ayah yang muncul tiba-tiba tetapi dia menghiraukannya. Ayah berpikir itu hanyalah perasaan biasa ketika baru pertama kali bertemu dengan seseorang.

DAY 11

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan pena)
  • Jumlah Kata: 437 kata

Tidak terasa sudah lima tahun lamanya aku tinggal bersama nenek. Melewati hari-hariku di pedesaan terpencil dengan bersekolah dan membantu nenek di kebun. Sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas yang menandakan aku akan duduk di bangku kelas enam SD. Seperti biasanya aku selalu mempersiapkan diri dengan baik. Mengulang membaca materi-materi yang telah diberikan oleh guru. Sesekali aku dan teman-temanku belajar kelompok di sekolah atau di rumah. Agar saat ujian kami bisa menjawab soal dengan benar.

Hari pertama ujian pun tiba, pagi-pagi sekali aku segera mandi. Meski air rasanya seperti lelehan es batu, aku tetap menyiram tubuhku. Tinggal di daerah pegunungan harus bisa tahan dingin dan begitulah aku sehari-hari. Aku harus berperang melawan suhu air yang seakan merontokkan tulang-tulang. Setelah selesai bersiap-siap, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sebelumnya aku sudah janjian dengan temanku Milda akan berangkat bersama. Tidak lupa aku singgah memanggilnya, ternyata ia sudah menungguku dari tadi.

Ujian hari pertama ada dua mata pelajaran yaitu Matematika dan Bahasa Indonesia. Kami mengerjakannya dengan tenang dan tidak bersuara. Guru pengawas memperhatikan setiap gerak-gerik kami. Sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk menengok ke kiri dan ke kanan untuk menyontek. Setiap hari guru menasehati agar selalu bersikap jujur. Meski dalam hal kecil pun, misalnya dalam mengerjakan soal ujian. Jika dilarang menyontek artinya kami tidak boleh bertanya atau pun bertukar jawaban dengan teman yang lain.

Enam hari kami lalui dengan ujian kenaikan kelas. Sambil menunggu hasil ujian diperiksa oleh guru-guru. Pekan selanjutnya sekolah kami membuat kegiatan ekstrakurikuler. Ada lomba lari 100 m, lompat jauh, nyanyi solo, baca puisi, dan lomba lainnya. Lomba tersebut diikuti oleh beberapa siswa dari perwakilan setiap kelas. Mulai dari kelas satu sampai enam ikut terlibat dengan tujuan meningkatkan kemampuan diri. Setiap pemenang mendapatkan hadiah dari guru sebagai bentuk apresiasi. Sementara yang belum menang tetap diberikan apresiasi untuk meningkatkan semangatnya.

Penerimaan rapor telah tiba, dua hari sebelumnya guru memberikan informasi. Bahwa di hari penerimaan rapor kami diminta membawa bekal masing-masing. Hal itu sudah menjadi tradisi di sekolah kami yang diberi nama “makan-makan.” Rangkaian acaranya berupa pengumuman hasil ujian masing-masing siswa. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama di setiap kelas. Berbagai macam makanan lezat yang dibawa oleh siswa. Ada yang membawa nasi kuning dan telur mata sapi yang sudah dibumbu. Ada juga yang membawa nasi putih dengan lauk rendang ayam.

Kami menyantap makanan bersama-sama dan tak lupa saling berbagi. Bukan hanya siswa, tetapi guru-guru juga menikmati makanan yang kami bawa. Usai rapor dibagikan, guru menyampaikan bahwa akan libur semester. Dua pekan adalah waktu yang ditentukan dari sekolah. Kami mulai sibuk memikirkan aktivitas yang akan kami lakukan untuk mengisi waktu libur. Namun, guru juga menghimbau agar tetap belajar di rumah.

DAY 12

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan pena)
  • Jumlah Kata: 413 kata

Seperti biasa ketika waktu libur tiba, aku mengunjungi ibu dan ayah atau sebaliknya. Namun, kali ini merekalah yang akan datang ke kampung nenek tempatku tinggal.

Sejak masuk SD aku hanya tinggal bersama tante dan nenek. Karena ibu harus ikut bersama ayah kembali ke kampungnya. Ayah bekerja sebagai tengkulak ikan di pasar. Ayah tidak ahli dalam bertani, itulah mengapa ayah memilih tetap kembali ke aktivitasnya. Untuk memenuhi tanggung jawabnya mencari nafkah, ayah rela menahan rindu. Begitu pula ibu dan adikku Agus yang harus ikut bersama ayah. Sejak saat itu, aku terbiasa tidak bersama ibu dan ayah. Namun, aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku sangat merindukan mereka.

Dua hari libur berlalu, kini ibu, ayah, dan adikku Agus berada di perjalanan menuju kampung nenek. Aku sangat menanti kedatangan mereka. Segala hal kupersiapkan bersama tante dan nenek. Karena bertepatan dengan musim jagung, kami membuat barobbo untuk makan nanti. Nenek membuka kulit jagung, sementara aku mengupas bawang merah dan bawang putih. Kemudian lanjut mengiris serai dan cabai merah panjang. Tante sibuk mengiris tipis jagung sambil menunggu beras yang di rebus dengan dua liter air mendidih.

Setelah semua bahan siap. Tante memasukkan semua bumbu yang kusiapkan ke dalam minyak panas di wajan. Jagung dimasukkan ke dalam panci yang berisi rebusan beras. Setelah jagung dan beras hampir matang, bumbu tumis menyusul ditambahkan. Aroma harum tercium menusuk hidung. Membuat rasa lapar dan mulut tidak sabar menyantapnya. Aku memutar pengaduk agar bumbu tercampur rata. Sambil menunggu matang, tante mambuat sambal sebagai pelengkap. Juga mengiris tipis tiga biji jeruk nipis. Lalu menuangkan sedikit kecap botol ke dalam cawan kecil.

Semua sudah siap, barobbo juga sudah matang dan siap ditiriskan ke dalam mangkok besar. Hari menjelang sore, sebentar lagi ibu, ayah, dan adikku akan tiba. Aku tidak sabar bertemu mereka. Melepas rindu yang lama tertahan dalam hati. Pertemuan yang berbulan-bulan aku nantikan bahkan kadang memasuki satu tahun. Aku harus bertahan melawan rindu yang kian mengusik. Demi melanjutkan pendidikan di tempat yang ibu dan ayahku pilihkan. Keadaan itu membuatku menjadi lebih bisa mandiri. Karena itu, aku tidak pernah kesal dengan keputusan ibu dan ayah.

Suara motor pamanku terdengar dari ujung jalan pendakian. Pertanda ibu, ayah, dan adikku sudah hampir tiba. Dua orang pamanku juga merupakan sepupu ibu yang menjemput mereka di rumah tanteku. Karena bus yang mereka tumpangi tidak bisa mengantar sampai ke depan rumah nenek. Jalan berbatu,  mendaki, dan sempit rawan untuk dilewati kendaraan berukuran besar. Suara motor semakin dekat terdengar. Aku, nenek, dan tante bergegas menuju teras rumah menunggu mereka tiba.

DAY 13

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan pena)
  • Jumlah Kata: 440 kata

Suara tancapan gas motor yang agak dipaksa mendaki semakin dekat saja. Dari balik pepohonan pinggir jalan, terlihatlah mereka menuju depan rumah. Paman sedikit melewati rumah untuk berhenti. Karena tepat di depan jalan masih berbentuk pendakian dan rawan untuk menghentikan kendaraan. Bisa saja motor akan mundur kembali jika pengemudi tidak menahan dengan keras. Ibu, ayah, dan adikku Agus turun dari boncengan.

Kami menyambut mereka dengan gembira dan terharu. Pertemuan yang lama baru kembali terjalin membuat mata berkaca-kaca. Ada sedih juga bahagia yang membuncah bersamaan dalam dada. Aku memeluk ibu kemudian berganti ke ayah dan adikku. Lalu ibu dan ayah menyalami nenek juga memeluknya. Begitu pula tanteku. Kami masuk ke rumah bersama-sama. Tante menggendong Agus, sementara kedua pamanku mengangkat barang bawaan mereka. Kini rindu sedikit terobati dengan pertemuan.

Aku dan tante membuka penutup hidangan yang telah kami siapkan. Perjalanan jauh pasti sangat melelahkan dan membuat perut terasa lapar. Kami duduk melingkar mengelilingi hidangan yang berada di tengah. Siap untuk disantap bersama. Ibu, ayah, dan adikku sangat menikmati barobbo tersebut. Terlihat raut wajah mereka tampak letih. Sesekali aku bercanda dengan adikku dan membuatnya tertawa. Sementara yang lainnya sedang membicarakan hal lain di sela-sela suapan.

Hari semakin sore, langit mulai tampak gelap. Hawa dingin mulai kembali mengganas. Kami semua telah selesai menikmati makanan. Aku menyiapkan tempat untuk ibu, ayah, dan adikku untuk melepas lelah. Ayah berbaring meregangkan otot-ototnya, disusul ibu di sampingnya. Aku dan Agus juga ikut berbaring bersama mereka. Suasana seperti ini sangat jarang aku alami. Karena jarak yang jauh memisahkan kami. Menetap di tempat yang berbeda selama bertahun-tahun. Hanya ada dua kali pertemuan dalam setahun bahkan kadang cuma sekali.

“Ibu dan ayah bagaimana kabarnya selama di Wajo?” Tanyaku memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah baik, Nak. Kamu sendiri di sini bagaimana?” Jawab ibu dan ayah bersamaan.

“Aku baik, Bu. Aku sering ikut nenek ke kebun untuk membantunya. Kadang aku juga sekalian bermain di sana. Memanjat-manjat pohon cengkeh, kopi, dan lain-lain. Sambil menunggu nenek selesai berkebun dan mengambil rumput untuk sapinya.” Jawabku dengan lanjut menjelaskan aktivitasku.

“Kamu bahagia tinggal di sini, Nak?” Tanya ibu lagi.

“Alhamdulillah bahagia, Bu. Meski sebenarnya aku kadang sangat merindukan kalian. Ingin bertemu dan tinggal bersama kalian.” Jawabku dengan mata berkaca-kaca.

Lag-lagi aku tidak bisa menahan bulir jatuh di pipiku. Melihatku sedih, mereka pun ikut bersedih. Kami berpelukan erat-erat melepas rindu yang sudah lama kami tahan.

“Maafkan kami, Nak. Ibu dan ayah tidak bermaksud meninggalkanmu seorang diri tinggal bersama nenek. Namun, kami rasa itu yang terbaik.” Ucap ibu dalam pelukan.

“Iyah, Bu. Aku mengerti.” Jawabku.

“InsyaAllah, setelah kamu tamat SD. Ibu dan ayah akan membawamu ke Wajo untuk tinggal bersama kami. Kamu akan melanjutkan sekolah di sana.” Kata ibu sambil mengelus-elus kepalaku.

DAY 14

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan pena)
  • Jumlah Kata: 416 kata

Tiga bulan menjelang Ujian Nasional, sekolah semakin memperketat kegiatan belajar mengajar. Semua siswa kelas enam wajib mengikuti les sore sebagai tambahan waktu belajar. Pukul 13.00-17.00 kegiatan les berlangsung. Untuk mengantisipasi keterlambatan, aku dan teman-temanku memilih tinggal di sekolah sampai les selesai. Kami membawa bekal masing-masing untuk makan siang sembari menunggu les dimulai. Temanku yang tempat tinggalnya sangat dekat dengan sekolah memilih pulang ke rumah.

Guru yang akan memberikan materi les pada hari itu juga memilih tinggal di sekolah. Enam hari dalam sepekan kami merutinkan full day school. Tersisa hari Ahad sebagai hari libur dan waktu istirahat dari aktivitas belajar. Namun, aku dan teman-temanku kadang memanfaatkannya untuk belajar kelompok. Mengulas kembali materi dan berlatih mengerjakan soal-soal. Usaha itu kami lakukan untuk mempersiapkan diri. Karena Ujian Nasional adalah penentu kelulusan kami di SD sebagai langkah menuju jenjang pendidikan selanjutnya.

Terkadang jenuh menggoyahkan semangat belajar kami. Wajar saja untuk anak seusiaku dan teman-temanku yang masih suka bermain. Sesekali kami istirahat dari aktivitas belajar dan memilih refreshing. Guna untuk menyegarkan kembali isi pikiran yang terlalu menumpuk dengan ratusan soal. Guru juga menyarankan agar tidak menjadikannya beban. Karena hal itu akan berpengaruh terhadap kesehatan dan daya berpikir. Proses pembelajaran kami selingi juga dengan canda tawa untuk menghilangkan rasa tegang.

Tak terasa sudah hampir tiga bulan kami rutin les sore. Sepekan sebelum Ujian nasional berlangsung. Kami diberi waktu libur untuk menenangkan diri agar lebih siap mengerjakan soal-soal ujian. Hari terakhir sekolah sebelum libur, guru membagikan alat tulis yang akan digunakan nanti. Pensil 2B, penghapus, dan papan pengalas dibagikan kepada setiap siswa. Beliau juga menyampaikan bahwa Ujian Nasional dilaksanakan di sekolah tetangga bukan di sekolah kami. Kami juga disarankan meminta doa restu orangtua agar dimudahkan.

Kami pun kembali ke rumah masing-masing dan akan menikmati libur sepekan yang diberikan. Tentunya sembari mempersiapkan diri dan banyak-banyak berdoa. Saat hendak membuka kembali soal-soal yang diberikan oleh guru. Tetiba terlintas dipikiranku tentang meminta restu orangtua. Tinggal berjauhan dengan ibu dan ayah bukanlah hal yang mudah. Aku memikirkan segala cara bagaimana  menghubungi mereka. Sementara aku, tante, dan nenek tidak memiliki telepon genggam. Teknologi belum berkembang pesat, jangankan telepon genggam listrik saja belum masuk ke desa kami.

Daripada berpusing-pusing sendiri, aku menemui tante. Aku menceritakan masalah yang tengah kupikirkan, barangkali saja ia punya solusi. Sembari menyapu debu-debu di teras, tante mendengarkan keluhanku. Alis sebelah kirinya tampak naik menandakan tante sedang berpikir keras. Aku berharap dalam hati semoga tante menemukan solusi. Beberapa menit berlalu, tante mulai duduk di kursi sambil memegang sapunya. Tiba-tiba ia mengagetkanku yang sedang seriu berpikir juga.

DAY 15

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 414 kata

“Uleng.” Panggil tante menepuk bahuku sehingga membuatku terkejut.

“Iyah, Tante. Ada apa?” Tanyaku dengan serius.

“Itu. Tante baru ingat, tante punya kenalan yang memiliki telepon genggam. Ia juga seorang guru di sekolahmu.” Katanya memberiku informasi.

“Beliau tinggal di mana, Tante?” Tanyaku lagi.

“Ia tinggal di dekat rumah Umar temanmu.” Jawab tante sambal menunjuk ke arah jalan menuju rumah Umar.

“Oh maksud Tante, Ibu Mia yah? Beliau juga keluarga kita kan?” Tanyaku berulang kali.

“Iyah. Mungkin ia bisa membantumu menelepon ibu dan ayahmu.” Jawab tante meyakinkan.

Setelah kupikir-pikir, perkataan tante ada benarnya juga. Mengapa tidak kucba meminta tolong sama ibu Mia saja. Barangkali beliau berkenan membantuku. Aku mengajak tante menemaniku untuk ke rumahnya. Apalagi tante dan ibu Mia adalah teman karib juga kami keluarga dekat. Tante menyimpan sapu ke dalam rumah kemudian bersiap-siap. Aku juga masuk ke kamar tempatku biasa tidur Bersama nenek untuk bersiap-siap. Setelah selesai, kami bergegas berangkat dengan berjalan kaki.

Aku dan tante mempercepat langkah, karena hari sudah sore. Kami takut akan kemalaman pulang, sementara tidak ada cahaya sedikit pun jika malam hari. Apalagi kalua bintang dan rembulan juga tertutup awan. Akan sulit menyusuri jalan berbatu dan berlumpur dalam kegelapan. Kami berjalan dengan penuh harap ibu Mia ada di rumahnya dan bersedia membantuku. Beberapa menit perjalanan, kami akhirnya tiba juga. Aku dan tante menaiki anak tangga satu demi satu menuju teras rumah ibu Mia. Kami mendapati pintunya terbuka pertanda bahwa penghuni rumah ada di dalam.

Aku mengetuk pintu tiga kali kemudian melanjutkan dengan memberi salam. Namun, belum juga ada orang yang keluar. Bergantian, kini tante yang mengetuk pintu sembari mengucap salam. Setelah kami mengulang tiga kali barulah terdengar suara langkah kaki dari dalam. Langkah pelan itu menuju ke arah pintu. Gorden penutup pintu kedua di ruang tamu ia buka perlahan. Terlihat seorang perempuan tua berjalan dengan badan sedikit membungkuk. Ternyata yang keluar adalah ibu teman tanteku. Beliau tiba di pintu dan melihat kami bergantian.

Nampaknya beliau sudah rabun, sehingga harus memperhatikan kami dulu sebelum mempersilakan masuk. Tante kemudian menyebut nama dan juga nama nenek. Barulah ibu tersebut langsung tersenyum lalu mengajak kami masuk ke rumahnya.

“Maafkan ibu, Nak. Ibu susah mengenali kalian. Sini silakan duduk.” Kata beliau meminta maaf sembari mempersilakan kami duduk.

“Iyah, Bu. Tidak apa-apa. Kami mengerti, Bu.” Jawabku bersamaan dengan tante.

Kami bertiga duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tante memulai pembicaraan dengan menyampaikan maksud kedatangan kami. Pertama tante menanyakan soal ibu Mia apakah ada di rumah atau tidak. Aku sendiri menyimak pembicaraan tante dengan ibu tersebut.

DAY 16

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 420 kata

Keputusanku sudah bulat, aku memilih ikut bersama ibu dan ayah. Meski itu adalah pilihan yang berat karena harus berpisah dengan nenek dan tante. Dua sosok yang telah merawat dan membesarkanku selama enam tahun. Kasih sayang melimpah selalu mereka berikan untukku. Setiap hari mereka berusaha memenuhi kebutuhan dan menuruti keinginanku yang menurutnya baik. Hati ini berat sekali melepas kepingan kenangan-kenangan di desa terpencil. Kesederhanaan membuatku semakin nyaman menetap lama.

Angin berembus kencang mengantar senja perlahan tenggelam di ufuk barat. Gelap berhias gemerlap bintang dan cahaya rembulan. Menemani malam terakhirku di rumah nenek. Aku mengemas pakaianku dan beberapa buku-buku. Semuanya akan aku bawa ke rumah ibu dan ayah di Wajo. Tante dan nenek sibuk membuat buras dan rendang ayam untuk bekal besok. Setelah selesai membereskan barang bawaanku. Aku berjalan menuju dapur membantu tante dan nenek menyelesaikan pekerjaannya.

Sela-sela pekerjaan kami isi dengan obrolan. Nenek banyak membahas tentang masa kecilku. Saat pertama kali aku tinggal bersama mereka. Beliau juga bercerita tentang diriku yang rajin menemaninya ke kebun. Hingga bermalam dalam gubuk kecil yang di bangun nenek di tepi sawah. Gubuk itu berukuran 3x3 luasnya. Pernah sekali waktu aku dan nenek tinggal di situ selama hampir enam bulan. Waktu itu musim jagung. Sementara babi seringkali datang di malam hari merusak tanaman.

Aku dan nenek bermalam untuk menjaga jagung yang telah kami tanam dari serangan babi liar. Keetika menjelang tengah malam, kami menyorotkan senter ke sela-sela batang jagung yang berjejer rapi. Kerap kami temui seekor babi mengais-ngais tanah di sekitarnya juga memakan jagung yang belum sempat dewasa. Kami secepat kilat menarik tali yang tersambung dengan kaleng berisi kerikil. Bunyi yang dikeluarkan mampu mengagetkan si babi dan membuatnya lari ketakutan.

Sesekali nenek masuk ke kebun jagung di tengah malam gelap gulita. Hanya untuk memastikan tidak ada gangguan yang mengancam tanamannya. Bukan hanya aku dan nenek yang sibuk ketika itu. Beberapa petani lainnya juga melakukan hal yang sama. Memilih bermalam di gubuk kecilnya yang berada di kebun untuk memastikan tanamannya aman. Juga bukan hanya saat musim jagung, tetapi saat musim tanaman lain selalu menyibukkan para petani. Karena dari hasil kebun itulah mereka bisa menghidupi diri dan keluarganya.

Sudah terlalu jauh nenek mengingat dan membahas masa-masa yang terlewat. Nenek juga sempat menyinggung saat-saat sulit yang kami lewati. Waktu itu kami sedang terlelap di atas tikar hasil anyaman tangan nenek. Tetiba angin kencang berembus, pepohonan bambu yang berada dekat gubuk bergesek keras. Mengeluarkan bunyi seolah akan menimpa atap gubuk yang hanya terbuat dari daun kelapa kering. Pohon cengkeh dan kopi pun ikut bergoyang diterpa hembusan angin yang begitu kuat.

DAY 17

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 429 kata

Aku dan nenek bangun menyalakan pelita, tetapi beberapa kali kami coba tetap juga tidak berhasil. Angin yang kencang menyebabkan api pelita tak mampu bertahan. Nenek meraba-raba bawah bantalnya mencari senter. Kemudian menyorotkan cahaya ke jam dinding using yang tergantung. Pukul 02.00 waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam malam itu. Meski dalam keadaan panik, aku dan nenek tetap berusaha menenangkan diri sembari memikirkan solusi. Tak ada pilihan lain, kami harus bergegas meninggalkan gubuk.

Nenek melangkah ke arah pintu memperhatikan sekeliling dan sesekali melihat langit. Nampaknya cahaya rembulan bersinar terang malam itu. Sawah dan pohon-pohon terlihat meski temaram. Aku diminta oleh nenek mengambil sarung untuk kujadikan pelindung diri dari dingin. Kami pun memberanikan diri untuk meninggalkan gubuk menuju ke rumah salah seorang kerabat. Jaraknya tidak terlalu jauh dan kami rasa di sana lebih aman. Sebenarnya kami ingin langsung ke rumah nenek, tetapi membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Sementara angin terus berembus kencang.

Kami menyusuri jalan setapak di tengah-tengah pepohonan rimbun yang terus bergoyang. Menuju pematang sawah berkelok-kelok dan mendaki. Untungnya siang tadi langit tidak menumpahkan air. Sehingga jalan yang kami tempuh tidak berlumpur. Langkah kaki kami percepat diburu rasa panik dan was-was. Pijakan kami perkuat agar tak terbawa angin yang menerpa. Bermodalkan senter dan cahaya rembulan menemani perjalanan. Beberapa menit kemudian tibalah kami di rumah kerabat.

Dari bawah kolong rumah nenek memanggil-manggil penghuni rumah. Agar kami dibukakan pintu untuk mengungsi malam itu.

“Semming…Semming. Tolong bukakan kami pintu.” Teriak nenek memecah sunyi.

“Iyah. Tunggu sebentar.” Jawabnya sembari membuka kunci pintu.

Kami dipersilakan naik oleh Puang Semming. Raut wajahnya menunjukkan rasa iba juga panik karena angin kencang. Ia tinggal bersama anak bungsunya, anak pertama dan kedua sudah berkeluarga. Mereka tidak lagi tinggal bersama ibunya. Almarhum suaminya adalah sepupu nenek, sehingga hubungan kekerabatan kami masih sangat dekat. Malam itu kami tidak terlelap sedikit pun hingga matahari menampakkan dirinya. Kami memilih berjaga-jaga karena rumah juga sesekali ikut bergoyang.

Meski matahari sudah terlihat, tetapi hawa dingin masih mencekam. Sesekali angin masih berembus kencang. Terdengar warga berkumpul di jalan perkampungan yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah Puang Semming. Kami juga bergegas untuk ikut berkumpul di sana. Mereka saling memberi informasi tentang apa yang mereka alami dan rasakan semalam. Beberapa pohon tumbang menutup jalan berbatu yang sering aku lewati ke sekolah. Ada juga yang atap rumahnya terbang terbawa angin.

Pak dusun dating dan segera menghimbau masyarakat untuk mengungsi di  tempat aman. Karena khawatir masih aka nada angin kencang lagi yang membahayakan. Masjid dan sekolah menjadi tempat penampungan sementara. Aktivitas bertani dihentikan sejenak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Semua bergotong-royong saling membantu satu sama lain.

DAY 18

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Garis Pena)
  • Jumlah Kata: 415 kata

Hari pertama sekolah di SMP juga merupakan pengalaman pertama bagi saya. Saya menemukan lingkungan baru yang berbeda saat berada di desa nenek saya. Pergi ke sekolah dengan berjalan kaki tetapi melalui jalan beraspal. Tidak ada lagi jalan berbatu dan berlumpur. Sepanjang jalan terlihat kendaraan berlalu lalang. Selama di kampung nenek saya di sepanjang jalan kami hanya menemukan beberapa ekor sapi yang diikat di batang pohon. Kehidupan desa terpencil yang sederhana sangat berbeda dengan kehidupan perkotaan. Meski kampung ayah saya bukan kota besar, namun kemacetan sudah mulai terasa. Udara panas menyengat yang membakar kulit juga membuatnya kering.

Jarang sekali saya menjumpai pepohonan yang rindang, yang hanya ada sawah dan sungai yang diairi. Sebagian besar orang di sekitar rumah adalah pedagang seperti ayah. Ada tengkulak ikan, penjual makanan, penjual barang campur, dan lainnya. Beberapa dari mereka adalah pegawai di instansi pemerintah. Tetangga bapak juga bukan saudara, beda di kampung nenek. Hampir semua tetangga adalah keluarga dekat. Oleh karena itu dibutuhkan keterampilan bersosialisasi dengan orang lain agar dapat saling mengenal.

Suasana sekolah juga sangat berbeda. Saya harus mulai beradaptasi dengan hal-hal baru yang saya temukan. Mulai dari teman baru hingga guru yang akan mengajari saya nanti. Beberapa teman yang lain sudah saling mengenal karena sebelumnya mereka duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan aku hanya mengenal sepupuku sekali karena kami adalah keluarga dekat. Saya berkenalan dengan mereka sambil mencoba mengenali karakter masing-masing. Ada yang ramah dan juga biasa-biasa saja. 

Beberapa hari sekolah berlalu, perlahan kami mulai berkenalan. Para guru juga mengenal kami satu per satu. Dan sebaliknya. Aku mulai terbiasa dengan suasana kampung ayahku. Namun, tidak dapat disangkal bahwa saya sangat merindukan desa nenek saya. Enam hari seminggu saya pergi ke sekolah. Saya dulu pergi dengan saudara laki-laki saya Agus dan teman-teman saya. Agus pertama kali singgah di sekolahnya. Aku memastikan dia masuk dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Kami selalu mempercepat langkah kami agar tidak terlambat datang.

Ibu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah setelah aku dan kakakku Agus pergi. Ayah pergi ke pasar dulu. Bahkan biasanya sebelum kami bangun ayah sudah meninggalkan rumah. Rutinitas adalah apa yang dilakukan seorang ayah setiap hari untuk mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Kami tidak pernah kekurangan ayah yang selalu bekerja keras. Terkadang ketika pulang dari pasar, dia membawa beberapa jenis ikan. Kemudian ibuku mengubahnya menjadi hidangan yang lezat.

Agus dan saya biasanya tiba di rumah dengan ayah saya. Namun, jika Ayah menjual ikannya di pasar yang lebih jauh, Ayah datang terlambat. Kami tidak pernah melewatkan makan siang bersama. Ketika seseorang pulang terlambat, kami saling menunggu. Ibu dan Ayah terbiasa dengan rutinitas dan mengajarkannya kepada kami. Untuk selalu menciptakan kebersamaan diantara kita.

DAY 19

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 409 kata
  • PR

Ibu dan ayah adalah orangtua kami yang sangat luar biasa. Terkadang mereka mengabaikan kesehatan dirinya demi anak-anaknya. Ibu setiap hari sibuk di rumah, sementara ayah setiap hari sibuk di pasar. Hingga suatu hari ibu jatuh sakit. Perut bagian kirinya terasa nyeri sekali seolah ada silet yang mengiris. Ibu meraung-raung kesakitan membuat kami khawatir. Terlebih lagi ayah, wajahnya terlihat sedih. Kami bingung melakukan apa. Mendengar suara ibu uang kesakitan, tetangga mulai berdatangan ke rumah. 

Ayah kemudian bergegas mencari pertolongan ke puskesmas. Aku dan adik-adikku berusaha menenangkan ibu. Tidak lama dokter puskesmas datang memeriksa ibu. Setelah disuntik barulah ibu sedikit tenang. Dokter meresepkan obat untuk ibu dan menyarankan periksa lebih lanjut untuk memastikan penyebab sakitnya. Sejak lahir baru kali ini aku melihat raut sedih di wajah ayah. Meski berusaha ia sembunyikan, tetapi tetap saja aku bisa mengetahuinya. Kasih sayang tak terhingga untuk ibu selalu ayah curahkan.

Demi menjaga ibu yang sedang sakit, ayah memilih tidak berangkat kerja. Tiga hari ia meliburkan diri dan menggantikan pekerjaan ibu di rumah. Aku dan adikku Agus juga turut membantu ketika pulang dari sekolah. Kini keadaan ibu semakin membaik. Ia kembali beraktivitas seperti biasanya. Lengkung bibir ke bawah tanda sedih di wajah ayah perlahan berubah senyum bahagia. Kami kembali menjalani hari-hari dengan peran masing-masing. Ayah menjajakan ikan jualannya di pasar, ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, sementara aku dan Agus bersekolah.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Ternyata sudah setahun lamanya aku tinggal di kampung ayah. Kini aku sudah kelas dua SMP dan adikku Agus kelas empat SD. Jarak umurku dengan Agus adalah dua tahun. Kami semakin semangat belajar agar kelak bisa mewujudkan impian kami. Malam hari ibu dan ayah selalu mendampingi kami belajar. Meskipun hanya lulusan SD, tetapi pelajaran utama kami dapatkan dari mereka. Belajar tentang adab dan akhlak yang selalu mereka jelaskan. 

Malam hari juga menjadi waktu kami untuk saling berbagi cerita. Ibu dan ayah akan bertanya tentang kegiatan kami di sekolah. Mulai dari proses belajar hingga kegiatan ekstrakurikuler. Saat giliranku tiba, aku menceritakan segalanya kepada mereka. Masa SMP adalah fase peralihan remaja sepertiku. Setiap hal yang membuat penasaran selalu ingin dicoba. Aku senang sekali mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Seperti pramuka, drumband, dan baris-berbaris. Terlebih saat menjelang perayaan 17 Agustus. 

Kini giliran Agus yang bercerita. Usianya yang masih SD masih lekat dengan bermain. Ibu dan ayah membatasinya mengikuti kegiatan luar. Karena khawatir belum bisa menjaga dirinya. Karakternya yang pendiam juga menjadikannya lebih suka di rumah. Aku seringkali menemaninya bermain dan berusaha membantunya belajar juga mengerjakan tugas-tugas sekolah. 

 

DAY 20

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 442 kata

Teringat dengan nenek di kampung membuat rindu semakin membuncah. Rasanya ingin sekali berkunjung ke sana. Namun, libur panjang belum tiba. Aku harus menunggu doa bulan lagi. Libur panjang kami adalah bulan ramadhan. Ketika ramadhan tiba, sekolah diliburkan hingga selesai lebaran. Jauh-jauh hari ibu dan ayah merencanakan keberangkatan ke rumah nenek. Kami akan menyambut bulan suci di sana juga merayakan idul fitri bersama. Seperti biasa, aku dan Agus sungguh-sungguh belajar dan belajar. Sementara ibu dan ayah bekerja keras mencari nafkah sebagai biaya ke kampung nenek. 

Biaya ke kampung nenek lumayan mahal. Karena jarak yang terlalu jauh. Ayah harus mengumpulkan uang banyak juga sebagai persiapan satu bulan di sana. Selama dua bulan penuh sebelum berangkat. Setiap hari ayah tidak pernah absen bekerja. Meski lelah tetap ia uasahakan ke pasar menjual ikannya. Hari itu ayah terkena demam, batuk, dan flu. Kepalanya berat sekali terasa saat akan bangun. Namun, tetap saja ia paksakan dirinya bekerja. Ibu dan aku sudah melarangnya, tetapi tidak menggoyahkan semangat ayah. 

Hampir dua bulan berlalu, ramadhan sudah di depan mata. Tersisa beberapa hari lagi. Ibu dan ayah semakin sibuk menyiapkan kebutuhan yang akan kami bawa. Seperti pakaian, beberapa makanan, dan perlengkapan lainnya. Dua hari sebelum memasuki bulan ramadhan kami akan berangkat bersama-sama. Bertepatan saat hari pertama aku dan Agus libur sekolah. Ayah tidak lagi ke pasar dan akan libur selama satu bulan. Sebagai alternatif mencari nafkah, ayah dan ibu akan berbisnis cengkeh di kampung nenek. 

Kami mudik beserta dengan beberapa rombongan keluarga. Mereka juga ingin mengunjungi orangtuanya di kampung halaman masing-masing. Banyaknya penumpang membuat mobil terasa sesak dan gerah. Aku dan Agus yang langganan mabuk kendaraan merasa tersiksa. Hampir empat kali kami muntah sebelum tiba di rumah adik ibu. Kami adalah penumpang pertama yang singgah di tujuan. Sebagian penumpang lainnya akan turun di Bulukumba. Kabupaten setelah kabupaten kampung nenek. 

Indahnya pemandangan sepanjang perjalanan tidak bisa aku nikmati. Begitu juga Agus, karena mual dan pusing yang kami rasakan. Ibu dan ayah memberikan minyak kayu putih di pusar dan pelipis kami. Agar sedikit merasa baikan. Namun, hanya sedikit menghilangkan rasa pusing. Saat mobil berhenti, dengan cepat aku turun dari mobil. Aku tidak sabar lagi membaringkan bada di kasur. Agus mengikutiku dari belakang sambil menyeberangi jalan raya. Aku dan Agus segera berlari menyeberang saat kendaraan sepi. Ibu dan ayah masih sibuk mengurus barang bawaan kami. 

Belum dipersilakan masuk oleh tante, aku dan Agus langsung terhubung ke kamar sepupuku. Kami melempar badan yang lunglai di kasur empuknya. perasaan dengan menutup mata. Saya senang saat bangun nanti, pusing dan mual sudah hilang. Senja mulai kembali ke peraduan. Mendengar radio masjid bunyi, barulah aku dan Agus terbangun. Kami baru sadar dua jam kami sadar pulas.

DAY 21

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 469 kata
  • PR

Kami memutuskan menginap satu malam di rumah tante sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah nenek. Karena hari juga sudah mulai gelap dan tidak ada kendaraan arah ke sana malam-malam. Aku dan adikku Agus bergegas mandi saat kami terbangun. Meski dingin, tetapi kami harus mandi karena perjalanan panjang siang tadi menyisakan banyak keringat. Itu akan menjadi biang bakteri jika kami tidak membersihkannya. Dinginnya air menyelinap masuk menembus tulang setiap kali aku menyiram bagian tubuhku. Namun, setelah selesai mandi badanku terasa lebih segar juga hawa mabuk kendaraan sudah hilang.

Aku, ibu, ayah, dan adikku Agus beristirahat lebih awal. Pukul 20.00 wita kami semua sudah mulai memejamkan mata dan terlelap. Selimut tebal melingkar di badan agar dingin tidak mengganggu tidur nyenyak kami. Bunyi masjid di pagi buta membangungkan kami. Menyusul suara kokok ayam bergantian menjelang matahari akan terbit. Ayah dan suami tante menuju masjid untuk salat berjamaah. Sementara aku dan yang lainnya salat subuh di rumah. Setelah salat, tante mulai sibuk di dapur membuat teh hangat. Sementara aku membantu ibu membuat pisang goreng. Pagi yang dingin memang sangat cocok untuk menikmati yang hangat-hangat. 

Kami menyantap sarapan hangat di ruang keluarga sambil menonton ceramah pagi di tv. Agus dan adik sepupuku Alif dan Ahmad sibuk bermain sembari memakan pisang goreng. Ibu, ayah, tante, dan om membuka pembicaraan agar tidak jenuh. Om bertanya kepada ibu dan ayah tentang mudik kami ke rumah nenek.

"Berapa lama kalian di Borong?" Tanya om membuka obrolan.

"InsyaAllah sampai selesai lebaran kami baru balik ke Wajo." Jawab ayah.

"Berarti satu bulan lebih. Bagus juga kalau begitu. Jadi, ibu banyak yang menemani saat bulan ramadhan nanti." Kata om membalas jawaban ayah.

"Iyah, ayo kita sama-sama lebaran di sana saja. Supaya lebih ramai." Kata ayah mengajak om.

"Rencana kami juga begitu, semoga Allah mudahkan. Aamiin." Jawab om.

Obrolan mereka semakin panjang, tak terasa teh yang diteguknya sedikit demi sedikit akan habis. Juga pisang goreng mereka kunyah di sela-sela pembicaraan. Tenggorokan terasa hangat dengan menikmati segelas teh hangat ditambah kehangatan keluarga kami jika sedang berkumpul. Ternyata hampir dua jam kami menikmati pagi, hampir tak terasa karena matahari tampak malu-malu menampakkan diri. Cahanya terhalang awan mendung seperti akan turun hujan. Ibu dan ayah memperbaiki kembali barang bawaan kami setelah mandi. Aku sendiri masih bersiap-siap, sementara Agus masih sibuk dengan air di kamar mandi. 

Setelah semua siap, kami keluar menunggu mobil pete-pete. Om, tante, dan sepupuku juga ikut menemani kami. Ada rumah-rumah kecil tempat om dan tante menjual buah-buah jika sedang musimnya. Di situlah kami duduk sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Kali ini pamanku yang di kampung nenek tidak langsung menjemput. Karena barang bawaan kami banyak dan tidak muat jika hanya menggunakan dua motor. Jadi, kami memutuskan untuk naik angkutan umum saja. Tak lama kemudian mobil pete-pete merah terlihat melaju menuju arah yang akan kami tuju. Om menghentikan mobil tersebut dan bertanya kepada pak sopir. 

DAY 22

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 499 kata

Kring...kring...kring.

Jam beker baru yang dibelikan ayah untukku bunyi berkali-kali membangunkanku. Semalam aku sudah mengaturnya agar bunyi tepat jam 05.00 wita. Agar aku tidak terburu-buru ke sekolah dan bisa menyiapkan perlengkapanku yang terlupa saat malam tadi. Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester ganjil. Seperti biasa satu pekan sebelum ujian aku mulai mengulang-ulang materi dan soal-soal. Agar saat memasuki pekan ujian aku tidak lagi begadang hanya untuk belajar. Karena itu akan membuat esok hari dan mengganggu proses pemeriksaan. Sedikit lagi perjalananku pada jenjang SMP akan berakhir.

Setelah selesai sarapan bersama ibu dan Agus, aku bergegas berangkat ke sekolah. Agus jalan bersama teman sekolahnya dan aku juga berangkat bersama teman sekolahku. Kami berjalan lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Karena takut terlambat tiba di sekolah dan tidak dibolehkan ikut ujian. Sungguh hal yang sangat tidak kami inginkan terjadi. Obrolan dalam perjalanan pun kami minimalisir agar tidak menyita waktu. Akhirnya kami tiba 30 menit sebelum ujian dimulai tepatnya pukul 07.00 wita. Kami masuk ke kelas masing-masing lalu duduk di kursi yang telah disusun rapi sejak hari sabtu. 

Kursi sengaja disusun terpisah antar satu orang. Agar tidak ada yang menyontek saat proses mengerjakan soal berlangsung. Hal itu sengaja guru terapkan untuk mengajarkan kami bersikap disiplin dan jujur. Meski begitu masih saja ada yang bandel. Namun, guru selalu mendapatinya dan memberikan nasehat dengan lembut. Jam menunjukkan pukul 07.30 wita, masing-masing guru pengawas ujian sudah ada di dalam ruangan. Ketua kelas memberi aba-aba siap dan memimpin doa bersama sebelum ujian. Kemudian guru dibantu oleh ketua kelas membagikan lembaran soal dan lembaran jawaban kepada masing-masing siswa. Setelah semua dipastikan sudah dapat, barulah guru mengintruksikan memulai mengerjakan soal dengan tenang. 

Sekejap ruangan mulai hening, yang terdengar hanya bunyi pulpen yang sedang mencoret-coret lembaran kertas jawaban. Kepala siswa semuanya tertunduk dan hanya fokus mengerjakan soal ujiannya. Lima menit sebelum waktu habis, guru menginformasikan agar segera menyelesaikan soal. Beberapa temanku sudah mengumpulkan lembar jawabannya di meja guru. Lalu aku menyusul setelah memeriksa kembali jawabanku. Aku mengecek beberapa kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Tersisa lima orang lagi temanku yang masih sibuk dengan kertasnya. Mereka tampak memburu waktu yang sebentar lagi akan berakhir. Akhirnya mereka berlima menyusul mengumpulkan di detik-detik terakhir.

Ada jeda istirahat antara ujian mata pelajaran pertama dan kedua. Kami memanfaatkan waktu itu untuk bertukar cerita mengenai soal ujian yang telah kami kerjakan. Aku dan teman-temanku saling mencocokkan jawaban. Meski di akhir cerita terkadang kami kecewa karena menemukan kesalahan. Namun, tak jarang kami sama-sama tertawa bahagia ketika mendapati jawaban sudah tepat. Ketika obrolan itu selesai dan masih ada waktu yang tersisa, beberapa dari kami menuju ke kantin untuk jajan. Mereka mengisi perut sebelum kembali bergulat dengan soal ujian masing-masing. Aku memilih kembali ke kelas karena ingin menghemat. Tadi pagi juga aku sudah sarapan yang cukup. Namun, salah seorang teman tiba-tiba memanggil dan menghampiriku.

"Uleng, ayo ke kantin. Aku yang traktir." Katanya mengajakku jajan.

"Terima kasih banyak, Irma. Lain kali saja yah. Aku masih kenyang karena sarapan pagi tadi." Jawabku menolak karena tidak ingin merepotkan.

DAY 23

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 433 kata

"Ayolah Uleng, jangan menolak ajakanku." Katanya lagi sambil menarik tangan kiriku.

Aku tidak bisa menolak lagi karena Irma menarik tanganku erat-erat. Seolah tidak akan membiarkan aku kabur darinya. Aku ikuti saja maunya, kami berjalan menuju kantin langganan tempat ternyaman untuk jajan. Kantin serba murah, kami membeli sepiring gado-gado yang harganya dua ribu rupiah. Isinya terdiri dari lontong, sayur kangkung, dan irisan pepaya muda yang telah dikukus. Kemudian disiram dengan satu sendok kuah kacang. Kami juga membeli satu bakwan panas dan satu air gelas. 

Sebelum menyantap gado-gado, aku memotong kecil-kecil bakwan. Lalu kutaburi kecap dan sedikit saos lombok di atasnya. Kami aduk hingga tercampur rata dan siap untuk dimasukkan ke dalam mulut. Aroma kacang menusuk-nusuk hidung dan membuat perutku yang tadinya kenyang menjadi lapar. Suapan demi suapan sangat kunikmati bersama Irma. Makanan sederhana dan terbilang murah itu lebih dari cukup membuat kami kenyang kembali. Setelah makan, Irma langsung mengeluarkan uang kertas tiga lembar. Masing-masing dua ribu rupiah dan diberikan kepada ibu kantin.

Lima menit lagi bel masuk ujian mata pelajaran kedua akan berbunyi. Aku dan Irma bergegas menuju kelas. Untungnya jarak kantin dan kelasku sangat dekat hanya sekitar lima meter. Satu per satu siswa memasuki kembali ruang ujian masing-masing. Lalu duduk sesuai posisi sebelumnya yang telah diatur. Beberapa temanku berlarian dari arah kantin karena takut terlambat. Resikonya berat jika telat, karena akan menunggu di luar dan tidak bisa mengikuti ujian. Kecuali, mereka mengajukan ujian susulan.

Waktu ujian pun tiba untuk mata pelajaran kedua. Seperti sebelumnya, kami semua sibuk sendiri mengerjakan soal yang ada di depan kami. Menjelang siang dan berpikir keras memang kadang membuat gerah. Terlebih lagi jika soal yang dikerjakan rumit. Aku berusaha mengingat-ingat materi yang telah kupelajari sebelum ujian berlangsung. Segala cara kulakukan agar bisa menemukan solusi untuk menjawab soal tersebut. Ternyata bukan hanya aku yang kewalahan. Namun, beberapa temanku yang lain juga sedang berpusing-pusing ria. 

Waktu ujian pun habis, kami semua mengumpulkan hasil pengerjaan di meja guru. Kemudian kembali mengambil tas dan berpamitan kepada guru untuk pulang. Hari pertama ujian kami hanya ada dua mata pelajaran dan esok hari akan dilanjutkan lagi. Kami kembali ke rumah masing-masing. Aku dan beberapa temanku berjalan kaki. Sementara yang lainnya ada yang naik mobil pete-pete. Karena jarak rumahnya dari sekolah lumayan jauh. Beberapa lagi menggunakan kendaraan pribadi.

Perjalanan kami diiringi dengan pembicaraan soal ujian tadi. Mencocokkan jawaban setelah di luar kelas sudah menjadi kebiasaan. Hanya untuk memastikan apakah jawaban yang dituliskan sudah benar atau tidak. Saking asyiknya mengobrol, tak terasa kami hampir tiba di rumah. Aku semakin mempercepat langkah kaki karena tidak sabar lagi bertemu ibu dan ayah. Pengalaman hari ini harus kuceritakan kepada mereka. 

DAY 24

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 414 kata

Kondisi kesehatan ayah semakin menurun. Sejak kejadian yang menimpanya beberapa bulan lalu di pasar. Tubuh yang dulunya kekar berisi, kini terlihat kurus. Hanya bagian perut yang tidak berubah. Kelainan pada lambungnya memberikan efek ke beberapa organ dalam ayah. kerusakan pada hati juga jantungnya. Sungguh penyakit itu membuat ayah tidak berdaya. Ia hanya mampu masalah di atas kasur. Bangun, makan, dan minum harus kami bantu. Ayah yang kesehariannya selalu beraktivitas harus istirahat.

Semenjak ayah jatuh sakit, ibu menjelma dua peran. Menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak. Sementara ibu bekerja mencari nafkah. Karena biaya terlalu mahal, ayah meminta untuk menjalani pengobatan melalui rawat jalan saja. Ia juga bosa jika harus setiap hari berdiam diri di kamar rumah sakit. Katanya hanya akan meningkatkan rasa sakitnya bukan menyembuhkan. Delapan jenis obat yang diberikan kepada ayah untuk dikonsumsi tiga kali sehari. Sertakan beberapa jenis makanan menjadi pantangan.

Aku, ibu, dan Agus berusaha merawat ayah dengan baik. Ketika kami berangkat ke sekolah, tinggal ibu dan ayah di rumah berdua. Segala pekerjaan diselesaikan seorang diri. Setelah ayah istirahat, ibu menjahit pakaian sekolah. Pekerjaan itu dilakukan untuk menambah pemasukan. Bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Namun, sosoknya yang kuat dan sabar membuat ibu mampu melewati rintangan. Pulang dari sekolah aku dan Agus langsung menemui ayah di kamar. dan kondisinya membaik. Melihat ayah terbuka matanya, aku mencoba mengajak berbicara.

"Ayah. Bagaimana keadaan ayah?" Tanyaku pelan kepada ayah.

"Al...al...alhamdulillah, Nak. Se..sedikit lebih ba...ik." Jawab ayah terbata-bata karena menahan sakit.

"Ya sudah, Ayah istirahat saja dulu. InsyaAllah Ayah akan segera sembuh." Kataku tersenyum sok tegar di hadapan ayah.

Aku dan Agus mengganti pakaian, lalu berjalan menuju ruang dapur. Ibu tampak sibuk menyiapkan makan untuk kami. Lauk sederhana dengan menu yang sedikit berubah dari hari-hari sebelumnya. Ikan yang biasa ayah bawa saat pulang dari pasar. Kini tidak lagi masuk dalam daftar menu makan kami. perlahan beberapa hal ikut berubah. Namun, hal itu tidak menjadikan kami berlagak. Karena ibu dan ayah selalu mengajarkan kami sejak kecil agar bersyukur. Beruntung kita masih bisa makan. Sementara di luar sana banyak yang tidak punya makanan.

Aku, ibu, dan adikku Agus makan bertiga di ruang dapur. Sementara ayah masalah di kamar. Setiap suapan mengingatkanku pada kenangan bersama ayah. Ketika dulunya kami selalu makan bersama. Kadang-kadang saat makan hingga bertukar cerita pengalaman yang dilalui hari itu. Rasanya makanan hambar tanpa ayah di tengah-tengah kami. Wajah ibu juga terlihat sangat sedih. Aku menoleh ke Agus, lengkung senyum di sana juga berubah sedih. 

DAY 25

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 405 kata

Selesai makan, aku menumpuk piring-piring kotor kemudian mencucinya. Ibu kembali duduk di kursi depan mesin jahitnya. Untuk melanjutkan menjahit kain yang akan disatukan jadi baju utuh. Sementara adikku Agus menyapu lantai tempat kami tadi makan. Setelah semua beres, aku dan Agus menuju depan tv tempat ibu sedang bekerja. Kami membantu ibu sesuai apa yang diminta. Seperti menggunting merek baju, memberikan cap di kera baju, serta membersihkan sisa-sisa benang yang masih tertinggal.

Dari balik pintu kamar, sesekali terdengar suara ayah sedang batuk. Ibu bergegas mengecek kondisi ayah lagi. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu seterusnya, kami bergantian melakukan hal yang sama. Keadaan ekonomi semakin terjepit, tabungan hasil kerja ayah semakin menipis. Sementara aku juga membutuhkan uang banyak untuk pendidikanku. Sekolahku berada jauh dari rumah. Sistem kurikulum menetapkan adanya pembayaran uang komite setiap bulan. 

***

Beberapa bulan lalu, saat pendaftaran SMA. Aku memilih mendaftar di sekolah yang memang kuimpikan selama ini. Lokasi sekolahnya berjarak sekitar lebih kurang 15 km dari rumah. Merupakan sekolah unggulan di kabupaten tempatku tinggal. Tidak mudah untuk diterima di sekolah itu. Karena aku harus bersaing dengan ribuan siswa yang berasal dari SMP/MTS berbeda. Namun, itu tidak menggoyahkan semangatku untuk tetap mencoba. Bukan hanya aku yang ingin lanjut di sana, tetapi juga beberapa teman sekolahku.

Kami akhirnya mencari tau informasi terkait persyaratan pendaftaran. Salah seorang kakak kelasku di SMP menjadi tempat kami bertanya. Saat ini, kak Nia melanjutkan pendidikan di sana. Ia memberikan selebaran kertas kepada kami untuk dibaca. Isinya mengarahkan kami untuk melakukan pendaftaran. Langkah awal adalah kami harus datang ke sekolah tersebut mengambil formulir pendaftaran. Kemudian kami kembali ke rumah mengisi hal-hal yang perlu. Juga menyiapkan foto copy berkas yang diminta sebagai pelengkap. 

Tiga hari lamanya kami mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan. Tibalah hari di mana kami harus mengembalikan formulir. Aku dan teman-temanku berangkat menggunakan pete-pete. Itu menjadi pengalaman keduaku perjalanan jauh dengan pete-pete menuju sekolah impian. Sebenarnya terkadang aku takut kesasar jika berangkat sendiri. Untungnya aku bersama temanku. Kami hanya mengandalkan komunikasi dengan pak sopir. Supaya kami tidak diturunkan di tempat yang salah. 

Kami pun tiba di lorong sekolah. Mobil tidak bisa mengantar sampai depan pagar, jadi kami harus berjalan kaki sejauh 100 m. Terlihat berbagai siswa telah berdatangan. Memenuhi pekarangan sekolah yang luas itu. Ada ribuan siswa yang akan mengembalikan formulir pendaftaran hari itu. Saking banyaknya, kami berdesak-desakan antre menuju loket pendaftaran. Sudah tersedia lima loket yang dijaga oleh masing-masing satu staff. Kami menyerahkan formulir beserta berkas kemudian diperiksa dan diferivikasi.

DAY 26

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 422 kata

Bel berbunyi di sudut ruangan sontak membuatku kaget. Rupanya aku sedang melamun. Tak kusadari waktu belajar sudah habis. Semua siswa kasat kusut merapikan buku-bukunya. Memasukkan ke dalam tas dan bersiap untuk pulang. Begitu juga ibu Hj. Mudiah wali kelasku. Beliau sibuk merapikan buku di atas mejanya. Entah kenapa aku melamun panjang siang itu. Di ruang kelas yang riuh aku tenggelam. 

"Ah, sudahlah. Sebentar juga aku ingat isi lamunanku." Gumamku dalam hati sembari merapikan isi tasku. 

Setelah melihat semua siswa telah siap. Ibu guru menyuruh ketua kelas memberi aba-aba bersiap untuk pulang. Tak lupa juga berdoa agar ilmu hari itu yang didapat bisa bermanfaat. Begitulah rutinitas belajar kami di sekolah setiap hari. Kehidupan sekolah yang sangat disiplin dan memiliki banyak aturan yang harus dipenuhi oleh siswa. Jika tidak, sanksi siap diberikan sesuai kadar kesalahan. 

Aku berjalan keluar kelas setelah berpamitan dan salaman dengan ibu guru. Langkahku pelan, aku berusaha mengingat-ingat apa yang sedang kupikirkan tadi. Hingga membuatku melamun dan tidak memperhatikan pelajaran. Kepalaku dipenuhi ribuan tanda tanya. Namun, belum juga aku menemukan jawaban. Terus saja aku memikirkannya sembari berjalan menuju parkiran. Tempat temanku menyimpan motornya.

Aku pergi dan pulang sekolah bersama salah seorang temanku juga sepupuku. Dia berbeda kelas denganku, aku mengambil jurusan IPA sementara ia jurusan IPS. Pertemuan kami setiap pagi saat berangkat ke sekolah. Kemudian baru akan bertemu lagi jika sudah jam pulang di temlat parkir. Hanya sesekali kami biasa berpapasan di lingkungan sekolah. Karena kelas kami juga berjauhan dan sekolah sangat luas.

Terkadang aku kerap pulang menggunakan mobil pete-pete. Jika Ika pulang lebih dulu dan tidak bisa menunggu. Aktivitas kami yang berbeda membuat waktu pulang tidak bersamaan. Biasanya di kelasku ada jam tambahan untuk praktikum. Seringkali Ika ingin menungguku, tetapi aku menolaknya karena akan sangat merepotkan. Aku sudah sangat bersyukur karena bisa berboncengan dengannya ke sekolah. 

Hal itu mengurangi biayaku, apalagi dia tidak mau mengambil uang dariku untuk membeli bensin. Aku tiba di parkiran sebelum Ika datang. Dari kejauhan dia sudah terlihat melambaikan tangan padaku. Memberi isyarat bahwa dia akan segera menuju parkiran. Aku tersenyum menyambut lambaiannya. Sekolah semakin riuh oleh suara-suara kendaraan yang satu per satu akan keluar gerbang. Ditambah lagi terik matahari membakar kulit.

Aku mengambil helm dari stir motor. Kemudian Ika mengeluarkan motornya dari parkiran. Kami bersiap untuk pulang ke rumah. Jika naik motor, perjalanan kami tempuh selama 30 menit. Kadang cepat kadang lambat. Tergantung situasi dan kondisi di jalan. Aku duduk di belakang Ika dengan tangan kananku berpegangan ke sadel motor. Sementara di tangan kiriku memegang buku paket yang tidak muat lagi masuk ke dalam tas. 

DAY 27

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 416 kata

Matahari di atas kepala. Sebentar lagi radio masjid akan berbunyi. Kami pulang tepat pukul 02.00 wita. Namun, lama menunggu di parkiran. Karena banyaknya siswa membuat kami harus antre. Menjelang ashar aku baru tiba di rumah. Ika mengantarku sampai depan rumah. Lalu ia kembali menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan, pertanyaan tentang belum juga terjawab. Tersenyumlah setelah istirahat dan makan siang sebentar lagi aku bisa mengingat-ingat kembali. 

Makan siang sudah tersedia di meja makan. Agus, ibu, dan ayah sudah makan siang lebih dulu. Karena masuk sejak SMA, aku selalu pulang terlambat. Waktu belajar lebih lama dari sebelumnya. Aku menyantap makan siang seorang diri. ibu ikut menemaniku makan. Setelah selesai, aku piring kotor dan cucinya. Aku menengok kondisi ayah di kamarnya. Terlihat sangat lembap. Ia masih dalam tahap rawat jalan.

Aku memijit-mijit betisnya yang semakin kurus. daging-daging yang dulunya tebal kini menyusut perlahan. Akibat penyakit yang menyerang pertahanan tubuh ayah. Dokter memvonis ayah menderita penyakit Hepatitis B. Sebuah virus yang menyerang hati sehingga potensinya sedikit sedikit hilang. Hal itu membuat ayah memuntahkan makanannya. Juga biasa mengeluarkan darah saat batuk.

Ayah bukan sakit TBC, tetapi gejalanya sedikit mirip. Penyakit ayah juga bukanlah penyakit menular kata dokter saat ibu bertanya. Melihat kondisi ayah seperti itu, tetiba aku teringat dengan lamunanku saat di sekolah tadi. Ayah seolah menyalakan sinyal yang sempat padam di kepalaku. Satu per satu ingatakanku tersambung. Semakin jelas gambaran peristiwa yang terjadi dalam lamunanku.

Ternyata, guru mengingatkan kami segera membayar uang komite. Karena sebentar lagi ujian semester akan berlangsung. Sementara salah satu persyaratan untuk ikut adalah melunasinya terlebih dahulu. Sejak ayah sakit, aku enggan memberitahu ibu soal pembayaranku. Sudah dua semester uang komiteku menunggak. Semester lalu aku berhasil mengikuti ujian dengan syarat setiap hari harus menemui wakasek kurikulum. Meminta tanda tangan pada kertas kontrol ujian sebagai tiket masuk.

Namun, semester ini aku semakin bingung. Apakah aku akan dapat kelonggaran atau tidak. sesekali aku mulai berpikir untuk berhenti sekolah. Atau paling tidak pindah ke sekolah lain yang biayanya lebih murah. Aku selalu dilema dan menyesali pilihanku. Dulu saat pendaftaran ibu dan ayah dangat mendukungku. Karena tidak mudah untuk diterima di sekolah itu. Serta fasilitas belajarnya yang baik untuk meningkatkan pengetahuanku. Bukan berarti sekolah lain tidak baik. Namun, itulah sekolah pilihan pertamaku.

Lambat laun ayah jatuh sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk berobat. Tabungan yang ia kumpulkan waktu sehat sedikit demi sedikit menipis. Ibu yang bekerja sebagai penjahit juga tidak bisa banyak membantu dari hasil upahnya. Karena gaji yang diterima digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 

DAY 28

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 406 kata

Perjalanan di bangku SMA amatlah terasa. Perjuangan dan air mata mengiring setiap langkah kaki. Ayah yang belum juga sembuh dan biaya sekolahku semakin menumpuk. Aku hanya membayar dua semester. Setelahnya aku hanya bisa selalu menghadap ke pihak sekolah. Agar diberi keringanan. Hingga hari ini satu bulan menjelang ujian nasional. Pembayaranku pun belum lunas. Beruntung di kelas dua aku mendapat kesempatan mengikuti lomba menulis cerita pendek. Mewakili sekolah dan kabupaten aku bisa meraih juara.

***

Hari itu, pak Risman guru Bahasa Indonesia di kelasku mengadakan sayembara. Bertujuan untuk memilih dua siswa sebagai perwakilan lomba. Satu mewakili lomba baca puisi dan satunya lagi lomba menulis cerita pendek. Siswa yang berminat ikut seleksi berkumpul di panggung pinggir lapangan sekolah. Kami duduk berjejer dengan sebuah pulpen dan 4 lembar kertas hvs dibagikan ke masing-masing siswa. Pak Risman menjelaskan apa yang harus kami tulis beserta aturan-aturannya. 

Sementara siswa yang mengikuti seleksi lomba baca puisi akan tampil satu per satu. Mereka diberikan puisi yang akan dibacakan. Kemudian dinilai oleh pak Risman sendiri untuk mewakili sekolah. Aku dan beberapa siswa lain mulai menuliskan cerita pendek berdasarkan inspirasi yang muncul. Aku menulis kisah perjuangan seorang anak perempuan yang ditinggal mati oleh ayahnya. Karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan lagi. Bagian paling menyedihkan adalah karena ayahnya meninggal saat ia tengah mengikuti lomba di tempat yang jauh. 

Karena itu ia tidak sempat lagi melihat ayahnya untuk terakhir kalinya. Ia bukan tidak ingin pulang, tetapi dukungan ayahnya jualah yang membawanya sampai ke tahap itu. Ia merasa ayahnya akan lebih kecewa jika perjuangan tidak diteruskan hingga akhir. Potongan kisah itu kemudian aku kumpulkan ke pak Risman untuk diperiksa. Kami dihimbau menunggu hasilnya saat itu juga. Satu per satu karya siswa yang ikut beliau baca dan koreksi. Hingga yang berhasil memikat hati pak Risman adalah ceritaku. 

Aku terpilih mewakili sekolah untuk kategori lomba cerita pendek. Sementara kakak kelasku bernama kak Ayu terpilih mengikuti lomba baca puisi. Dua hari kami melakukan persiapan di sekolah sebelum diberangkatkan. Tibalah hari kami akan berangkat menuju tempat lomba dilaksanakan. Hotel Continent adalah nama tempat lomba tersebut. Kami harus menempuh perjalanan selama enam jam untuk tiba. Fasilitas penginapan sudah disediakan oleh panitia penyelenggara lomba. 

Aku, kak Ayu, dan pak Risman berangkat bersama menggunakan mobil sewa. Pihak sekolah yang mengeluarkan biaya untuk transportasi. Kami berangkat pagi hari dan tiba saat sore. Tiba di lokasi kami diarahkan untuk registrasi dan memasuki kamar masing-masing untuk menyimpan barang. Setelah selesai, kami makan bersama kemudian diarahkan mengikuti pembukaan di aula hotel. 

DAY 29

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 (Goresan Pena)
  • Jumlah Kata: 452 kata

Saya sempat bingung karena baru pertama kali saya merasakan menginap di hotel mewah. Makanan lezat tersaji dan siap untuk disantap. Agar tidak ketinggalan zaman, aku hanya mengikuti gerak gerik kak Ayu. ingin saya juga bertanya untuk menghindari kesalahan yang bisa membuat malu. Kak Ayu adalah orang berada jadi sudah terbiasa menginap di hotel mewah bersama keluarganya. Berbeda dengan saya, saya bisa merasakan ini karena mendapat kesempatan mengikuti lomba.

Aku sangat bersyukur bisa berada di posisi ini. Karena itu aku harus berusaha memberikan yang terbaik untuk sekolah. Terutama untuk kedua orang tuaku. Semoga aku bisa membawakan piala kemenangan untuk mereka. Aku, kak Ayu, dan pak Risman sudah berada di ruang aula hotel. Dari pintu tampak kedatangan siswa dari sekolah lain yang didampingi oleh gurunya. Digelarnya Lomba Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat tersebut. Kami duduk di kursi yang telah disediakan dan diberi label masing-masing sekolah. 

Aku duduk dengan kak Ayu. Sementara di samping kananku siswa dari sekolah lain. Aku ingin berkenalan juga masih malu-malu. Tidak lama kemudian terdengar suara gong dipukul dilanjutkan dengan musik tari padduppa. Semua mata menoleh ke samping kiri arah pintu masuk. Beberapa orang dewasa berjejer hendak memasuki aula. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapa orang-orang tersebut sehingga disambut dengan baik. Mereka berjalan penuh wibawa dan tak lupa melempar senyum ramah kepada kami yang ada di ruangan. Karena penasaran, aku berbisik ke kak Ayu.

"Kak, mereka itu siapa yah?" Bisikku pelan melontarkan pertanyaan.

"Entahlah. Aku juga baru melihat mereka." Jawab kak Ayu mengernyitkan kening.

Aku membiarkan saja penasaranku. Sebentar juga akan terjawab. Orang-orang itu menempati tempat duduk paling depan. Tepat berhadapan dengan panggung. Setelah mereka semua duduk. Dua orang muncul dari balik tirai kain panggung. Masing-masing membawa selembar kertas. menunjukkan mereka adalah MC yang akan memandu acara pembukaan hari itu. Mereka menyapa kami dengan penuh semangat. Serta memberikan ucapan selamat datang kepada tamu istimewa tadi juga kepada kami para peserta. 

Saatnya sesi pembuakaan acara. Tilawah, lagu Indonesia Raya, pertunjukan khusus, sambutan, dan pembacaan doa secara berurutan dilaksanakan. Setelah acara pembukaan dimulai, dilanjutkan dengan materi kepenulisan. Namun, sebelum MC memperkenalkan satu per satu tamu yang disambut meriah tadi. Akhirnyaku terjawab juga. Mereka adalah penulis hebat yang akan menjadi juri lomba nanti. Materi pertama adalah tentang menulis puisi. MC mempersilakan moderator yang akan memandu narasumber untuk naik ke panggung. 

Setelah selesai menyapa peserta dan tamu. Moderator mempersilakan narasumber naik ke panggung dan menempati kursi yang telah disediakan. Aku dan kak Ayu bersiap-siap menyimak materi dengan serius. Pulpen dan buku telah disediakan oleh pihak penyelenggara. Jadi, jika ada yang luput membawa alat tulis menulis tidak perlu khawatir lagi. Materi yang disampaikan dengan sangat jelas oleh narasumber. Bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan umur kami yang masih SMA.

DAY 30

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok: 11 Goresan Pena
  • Jumlah Kata: 442 kata

Masa SMA dengan penuh perjuangan mampu kulewati. Kondisi ayah juga sudah membaik. Meski obat tak boleh berhenti konsumsi. Ayah juga masih harus kontrol ke dokter setiap bulannya. Tiga tahun ayah membawa penyakitnya. ketika saya merasa sedikit sehat, ayah kembali beraktivitas seperti biasa. bekerja sebagai tengkulak ikan. Namun, jangan lagi ke pasar yang jaraknya jauh dari rumah. Ibu juga melarangnya karena khawatir terjadi sesuatu lagi pada ayah.

***

Sebelum Ujian Nasional berlangsung, pembukaan pendaftaran mahasiswa baru sudah dimulai di beberapa kampus. Saya mencoba mendaftarkan diri jalur undangan SNMPTN dan SPAN-PTKIN. Alhasil aku berhasil diterima di kedua jalur undangan tersebut. Pertama adalah jalur SNMPTN aku diterima pada pilihan ketiga yaitu jurusan Fisika Universitas Haluleo. Aku mulai dilema karena untuk ke sana harus menyeberang laut. Sementara ayah belum sembuh total. Aku mencoba menceritakan hal itu kepada ibu dan ayah. Agar aku bisa mencari solusi sama-sama. Aku menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang tamu.

"Ibu, Ayah. Alhamdulillah aku lulus SNMPTN." Kataku kepada mereka sembari menyerahkan secarik kertas kepada ibu.

"Alhamdulillah...jadi bagaimana selanjutnya, Nak?" Tanya ibu sambil membuka kertas itu dan membaca isinya.

Belum sempat aku menjawab, ibu kembali melontarkan pertanyaan.

"Kamu lulus di Kendari?" Tanya ibu ingin memastikan isi kertas tersebut.

"Iyah Bu, Yah. Bagaimana menurut kalian?" Tanyaku lagi.

"Kendari terlalu jauh, Nak. Harus menyeberang laut. Apakah tidak ada pilihan lain, Nak?" Tanya ayah sambil menjelaskan.

"Aku masih menunggu pengumuman SPAN-PTKIN, Yah. Semoga aku lulus." Jawabku as ayah.

"Aamiin." Jawab ibu dan ayah bersamaan.

Melihat ekspresi mereka yang membuatku cemas menyurutkan harapan lanjut ke Kendari. Aku juga tidak meninggalkan ayah yang masih sakit. Mereka juga sepertinya kurang ridho jika saya kuliah terlalu jauh. Aku hanya bisa berharap bisa diterima di UIN Alauddin Makassar. Aku kembali ke kamar setelah berbincang-bincang dengan orangtuaku. Kini aku tidak dilema lagi. Aku sudah memutuskan untuk tidak ke Universitas Haluleo untuk pendaftaran ulang. Artinya aku melepaskan kesempatan itu demi ibu dan ayah.

Tiga hari lagi pengumuman jalur SPAN-PTKIN. Aku tidak sabar lagi menanti hasilnya keluar. Aku bahkan tidak bisa tidur ide untuk mengumumkan itu. Akhirnya tiba juga hari di mana hasil pendaftaran akan keluar. Detik-detik menuju pengumuman aku terus memandangi layar laptop. Tetiba salah seorang berteriak berteriak memberi informasi. Bahwa hasilnya sudah keluar. Tanganku dengan cepat mengklik link yang ramai dikunjungi di grup kelas. 

Aku deg-degan membuka link tersebut. Aku masukkan username dan password akun yang kugunakan untuk mendaftar. Lalu ku klik tombol biru di layar laptop. Hasil itu muncul sedikit demi sedikit di layar. Membuatku semakin grogi menanti secara keseluruhan layar terlihat. LULUS, aku melihat tulisan berwarna biru itu. Tanpa sadar aku berteriak mengucap syukur. Teman kelasku sontak kaget, tapi bukan hanya aku yang seperti itu. Beberapa angka yang lulus juga lompat kegirangan. 

Mungkin saja kamu suka

Titin Putri Ari...
Biarkan Takdir Bercerita
Puja Ayu Ragita
Catatan Ayla
Durotun Anisa S...
PRAHARA YANG BERUJUNG PENGADIL
Liah Nuraliah
Mimpi Alya

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil