Loading
0

0

8

Genre : Inspirasi
Penulis : Junika Darul Pianda
Bab : 30
Dibuat : 10 Februari 2022
Pembaca : 4
Nama : Junika Darul Pianda
Buku : 1

3 penjuru

Sinopsis

Cerita yang terinspirasi dari 5 orang sahabat yang mengarumi luasnya khazanah ilmu pengetahuan, namun perjalanan yang ingin dilalui tak semudah membalikkan telapak tangan, banyak rintangan serta halangan sehingga membuat mereka harus mampu menghadapi itu semua. Usaha memang tak mudah tapi setelah berusaha pasti ada yang namanya kesuksesan, karena
Tags :
#3penjuru #pesantrian #pesantren #inspirasi

Awal dari Pilihan

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch42
#Kelompok5
#Jumlahkata 436
#Day1

#revisi

3 tahun mungkin bukanlah waktu yang singkat bagi menempuh perjalanan mengembara di Samudra ilmu ini. Pondok merupakan tempat kebanggaanku yang ku tempati, ku tinggali juga ku diami selama 3 tahun ini. Namun pengembaraan ini mungkin belum usai sampai saat ini karna aku harus melanjutkan disini hingga tamat SMA. Walaupun pada masa kelas 3 MTs banyak sekali dari teman-temanku yang pindah namunn aku  bersama 127 orang lain nya masih bertahan disini melukis kisah lagi di lembaran hari yang akan menanti di depan..

Entah bagaimana kedepannya yang padahal hingga saat ini aku merasa gak cocok mendiami di pondok ini. Toh aku belum menuai prestasi sedikitpun disini. Kegagalanku dalam keberangkatan pramuka menjadikan ku sangat terpukul namun mungkin aku harus lebih giat lagi untuk bisa menjadi terbaik di antara yang terbaik. Jujur sebenarnya aku kemaren hendak pindah pondok. Pindah ke pondok keinginanku dan ingin melanjutkan studiku ke luar negri yang selama ini sudah aku dambakan hidup di luar negri. Namun keinginanku untuk pindah terhambat karena kakakku baru saja menjalani operasi, yang mana biaya untuk pindahku sudah di gunakan oleh kakakku. Jadi yea mau tidak mau aku harus disini. Membanggakan tanah kedudukan ku ini.

Setelah tamat dari dari MTs tiba masanya aku Kembali, disitu aku dipertemukan oleh 3 orang hebat yang akan menemani jalannya pengembaraan ini, mengarungi luasnya Samudra ilmu, menghadapi segala rintangan serta tantangan yang ada, hingga akhirnya aku berlabuh pada liang kesuksesan. Aamiin..

Namaku Juno seorang santri dari sebuah pedalaman dari bekas bandara belanda. Yang kini sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan islami, dulu aku sangat ingin masuk ke pondok ini, entah mengapa seakan ada magnet yang sengaja untuk menarik ku ke pondok ini, aku masuk pondok di usia yang sangat muda sekali yaitu 12 tahun, yea usia itu sangatlah muda karena aku menempuh pendidikan di pondok ini setelah lulus dari SD (Sekolah Dasar), di tambah lagi jarak antar rumahku dan pondokku ini juga lumayan jauh sekitar 3 jam perjalanan dari rumahku. Badanku yang sangat kecil diwaktu aku awal mondok ada banyak sekali orang yang beranggapan bahwa aku tidak akan betah menempuh pendidikan pondok, ditambah lagi komunikasi dengan orang-orang baru mungkin menjadikan suatu tantangan bagiku untuk dapat berinteraksi kembali bersama mereka, di tambah lagi diantara teman SD-ku hanya akulah yang menjebol jauh di tanah orang. Kekhawatiran yang mungkin sangat di khawatir kan oleh orang tuaku.

Namun inilah jalan yang kupilih untuk bisa melanjutkan study ku di negeri orang, bermodalkan tekat juga bismillah, aku yakin aku pasti bisa….

?? ?? ???

(barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia)

Barang siapa yang menempuh suatu kebaikan maka akan dipermudah

Barang siapa yang menuju ke tempat yang jauh, pasti ia adalah orang yang kuat

 

“bismillah……..”

Keputusan (1)

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch42
#Kelompok5Aksara La Suerte
#Jumlahkata 469
#Day2

#Time up 09.47

Pagi yang sejuk, dihiasi kabut yang sangat dingin, matahari seakan takut dengan suasana pagi ini. Suara ayam baru saja berkokok dan mungkin juga enggan mengeluarkan suaranya. Embun-embun di dedaunan mulai menetes, diterpa angin yang membuatnya jatuh ke tanah.

Aku masih berada di dalam selimut tebal ku, rasanya aku tak berani untuk keluar dari selimut, suasana pagi ini emang sangat sejuk, aku emang tinggal di kawasan yang sangat dingin, yea letakku saat ini berada di 1500 Mdpl, menjadikan kampungku ini sangat dingin sekali.

Namaku juno, seorang anak dari petani, dari sebuah pedalaman, mamakku bekerja sebagai mamak rumah tangga juga biasanya sering membantu ayahku ke kebun, kebun kami juga tak terlalu jauh dari rumah, kebun yang isinya adalah tanaman multikultur ini menjadi penopang hidup kami disini.

Penghasilan tanaman perkebunan juga ada, namun itu untuk kebutuhanku nanti ketika merantau, sehingga kebun yang dibelakang rumah menjadi tambahan usaha bagi kami disini.

-----

3 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku kelas 3 SD, aku mempunyai mimpi untuk melanjutkan sekolahku di sebuah pondok. Yea tentunya untuk sekolah ke pondok itu membutuhkan biaya yang cukup banyak. Demi untuk menggapai itu semua, aku mulai menabung, aku rajin dalam menabung walaupun sedikit tapi bagiku itu akan sangat membantu nantinya.

Pada semester 2 kelas 6 SD akhirnya aku membuka tabunganku, Alhamdulillah isinya mencapai 1,5 juta. Lumayan juga untuk membantu pembiayaan di pondok nanti.

"Alhamdulillah.... " Ungkap mamakku

"Iya mak, pokoknya nanti aku daftar ke pondok yea mak." Pintaku terhadap mamak.

"Iya..., tapi kita harus tanyak-tanyak dulu sama bang purnomo, kan dia udah duluan disana, jadi biar kita gak ketunuan disana nanti. " Jawab mamakku.

Sudah mendapatkan restu seperti itu rasanya sangat senang sekali. Namun pondok yang ku maksud bukan seperti yang dimaksud oleh mamakku.

Mamakku meminta agar aku memilih pondok yang dekat dengan rumahku ini, toh emang aku belum pernah merantau sebelumnya, dan badanku juga masih sangat kecil. Tentunya kekhawatiran seorang mamak pasti ada terhadap anaknya. Namun aku tetap meyakinkan mamakku bahwa aku bisa sukses disana.

"Gak papa kok mak, aku berani ke sana nanti mak." Ucapku terhadap mamak.

"Tapi kamu kan gak ada kawan di sana, nanti kamu sama siapa di sana?" Tanya mamak

"Nantikan banyak kawan nyampe sana mak, " Aku coba menyakinkan mamak ku.

"Ya udah gak papa, " Mamak ku menjawab dengan lirih nada yang seakan tidak mengjinkanku untuk lanjut ke pondok yang ku tuju.

Aku paham akan naluri seorang ibu apalagi seperti mamakku ini, ditambah lagi aku belum pernah pisah dengan mamakku ini. Selama ini aku gak pernah tidur di rumah orang, dan biasanya aku hanya tidur bersama kakakku kalau pun tidak aku tidur dengan mamakku.

Yea.... Aku mempunyai seorang kakak yang bernama Juli, kakakku saat ini berumur 23 tahun. Aku dengan kakakku berjarak sekitar 11 tahun. Anak mamakku hanya 2, yaitu kakakku dan aku sendiri, jadi tak heran kalau kami sangat akrab sekali.

Keputusan (2)

0 0

#sarapankataKMOClubBacth42
#Kelompok 5 Aksara La Suerte
#Day 3
#Time up 09.20
#jumlah kata 432

Pada saat seleksi masuk ke pondok, aku diantar oleh orang tuaku. Berangkat sangat pagi sekali, demi untuk mendaftar ke pondok tujuanku. Kami berangkat beserta teman ku yang juga ingin mendaftar ke pondok tujuanku itu. Jujur sebelumnya aku belum pernah menuju kesana, toh aku dari dulu hanya mendengar saja, tanpa pernah kesana.

Aku mendengar pondok ini dari salah seorang yang ada di kampungku ini. Ia berhasil membuat harum nama kampung, yang ku dengar beliau pernah lomba sampai kancah nasional, usai lomba dari tingkat kabupaten. Di kancah nasional beliau sampai ke Gorontalo, di Sulawesi sana.

Namanya adalah kak ani, dialah pendobrak semua ini, darinya aku termotivasi hingga aku bisa tertarik untuk masuk ke dalam pindok itu. Keperawakannya dalam membawakan ceramah sudah tidak dapat diragukan lagi. Suara lantangnya membuat semua orang tertegun melhatnya, intonasi dalam berceramah sangat kena sekali. Padahal dia masuk ke pondok hanya 3 tahun. Maka kali ini aku bertekad untuk lebih dari 3 tahun. Supaya aku bisa mendapatkan banyak ilmu.

Sebenarnya ada satu lagi orang yang membuatku terjun ke dipondok sana, yaitu bang Purnomo, dia terkenal akan kelihaian nya dalam silat. Dia juga sudah sampai kancah nasional, aku juga kurang tau tentang itu, namun aku tau bahwa ia pernah pergi ke Yogyakarta untuk sebuah silat. Badannya yang tegap menjadi modal baginya.

Aku tau itu semua tidak mudah, kali ini aku menuju itu semua dengan mendaftarkan diriku kesana, aku berharap aku bisa lulus dan aku juga ingin bisa seperti itu. Toh iri terhadap ilmu kan boleh, asalkan mau berusaha dan pasti akan tercapai. Karena usahakan tidak akan mengkhianati hasil.

 Pada saat sampai di pondok itu, ada 2 orang seperti penjaga yang memakai seragam warna hijau, juga lengkap dengan peci-nya. Pemuda yang pertama badannya tinggi, kulitnya warna kuning langsat. Sedangkan pemuda yang satunya lagi agak sedikit pendek namun warna kulitnya tetap putih juga. Mungkin karena mereka hidup di daerah yang berhawa panas, sehingga kulit mereka bisa sama rata seperti itu.

Ayahku juga pernah berkata bahwa orang yang hidup di daerah panas cenderung lebih putih ketimbang kami yang hidup di daerah dingin..

Kedua pemuda itu menyambut kami dengan sangat ramah.

"Assalamu'alaikum pak, buk." Ucap salah seorang pemuda dan seraya menundukkan sedikit badannya dan diikutin oleh pemuda yang satunya lagi.

"Waalaikumsalam" Jawab kami serempak.

"Maaf buk, ada perlu apa yea dan apakah kami bisa membantu?" Tanya pemuda yang lainnya terhadap mamakku.

"Oh iya dek, kami mau mendaftarkan anak kami ini, dimana ruangannya yea? " Tanya mamakku.

"Kesini buk, mari saya bantu" Ajak seorang pemuda yang berbadan pendek itu.

Kami pun mengikutinya.

Dan aku pun langsung masuk ke ruang pendaftaran itu dan langsung mengikuti ujian yang ada.

 

 

Alhamdulilah Lulus (1)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42
- Kelompok 5 Aksara La Suerte
- Day 4
- Time up 07.05
- Jumlah Kata 401

"Nak, pengumuman kelulusannya kapan? " Tanya mamakku.

"Katanya sekarang lah mak." Jawabku sambil mengambil piring, untuk makan siang.

"Apa ditelpon aja yea mak," Usul kakakku.

"Jak telpon kan ae nak" Pinta mamakku.

Kemudian kakakku menelpon pihak pondok yang nomornya tertera pada brosur.

Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan untuk tes kemarin di pondok tersebut, tentunya hasil inilah yang menentukan ku, apakah aku lulus atau tidak nantinya.

Pada saat tes kemarin, menurutku pelajaran yang diujikan tidak terlalu susah namun juga tidak mudah, karena aku berasal dari sekolah umum. Untuk tes masuk pada waktu aku mendaftar adalah IPA, IPS, Bahasa, bahasa ini mencangkup dari 3 bahasa yaitu Indonesia, Arab, dan Inggris, kemudian yang terakhir ada matematika. Dan bagian yang menurutku paling sulit adalah ketika ditanyai bahasa Arab.

"Haduh.. " Gumam Ku dalam hati.

Aku gak pernah belajar bahasa Arab sama sekali, ngaji sih pernah namun untuk belajar perkata aku gak pernah.

"Jawab semampumu" Pikiranku mulai terbuka.

Begitu aku lihat apa perintah disoal. Ternyata bahasa Arab yang harus ku buat adalah menuliskan surat Ad-duha. Dan qadarullah, Alhamdulillah sekali lagi dalam hatiku ternyata ujianku kemarin sore sangat berguna bagiku saat ini. Aku emang kemarin habis ujian di TPA tempatku belajar, yang diajar oleh pak zul, dan ternyata apa yang diperintahkan oleh beliau kemaren sore tidaklah sia-sia.

Aku langsung menulis apa yang diperintahkan di lembaran kertas soal tersebut. Beberapa menit kemudian seorang pengawas mengatakan.

"Yang sudah selesai boleh langsung serahkan ke saya kemudian bisa langsung tes selanjutnya. " Ucap seorang pengawas.

Aku langsung memburu soal ku ini supaya bisa cepat usai. Waktu terus saja berjalan hingga pada akhirnya aku pun selesai ujian tersebut.

"Pak... Sudah selesai" Aku berkata dengan lantang sembari mengacungkan kertas jawaban.

"Baik" Sambil menerima jawabanku, " Juno Alfa Alhamda namamu? "

"Iya Pak"

"Silahkan lanjut ke ruangan sebelah" Titahnya kepadaku.

Kemudian aku pun langsung keluar ruangan itu dan langsung menuju ke ruangan sebelah lagi. Mamakku masih saja menunggu bersama ayahku. Aku lontarkan senyuman kepada mereka, menandakan bahwa aku bisa dan lancar menjawab soal-soal yang tadi.

Aku pun masuk ke ruangan disebelahnya, kemudian langsung disambut oleh seorang wanita yang lengkap berpakaian seragam hijau muda.

"Tunggu disini dulu yea dik"

"Iya buk"

"Gak usah panggil buk, panggil saja ukhty" Dia memberi tau bahwa ia bukanlah seorang pengajar. Kemudian ia juga mengajarkan kepadaku bahwa semua yang berbaju hijau itu bukanlah guru, melainkan adalah seorang mudabbir atau dalam bahasa indonesianya adalah seorang pengurus yang masuk kedalam organisasi.

Alhamdulilah Lulus (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42
- Kelompok 5 Aksara La Suerte
- Day 5 
- Time up 08.04
- Jumlah Kata 482

Setelah beberapa lama aku menunggu akhirnya namaku di panggil.

"Juno Alfa Alhamda..." Suara keras itu berasal dari balik bilik yang ada di ruangan tersebut.

Aku langsung berdiri kemudian langsung menuju ke sumber suara tersebut. Kemudian aku masuk, jujur pada saat itu aku sangat gerogi, mengingat aku sebelumnya belum pernah begini.

"Assalamu'alaikum pak" Ucap ku terhadap seorang bapak-bapak yang tak lain adalah ustadz disitu.

"Wa'alaikumussalam" Jawabnya dengan suara yang menurutku sangat fasih sekali.

"Baik langsung duduk aja" Titahnya.

"Juno alfa Alhamda"

"Iya Pak"

"Jangan panggil pak, di lingkup pesantren kamu memanggil saya dengan ustadz, lain cerita kalau di luar" Ucap Ustadz tersebut untuk mencairkan suasana.

Mungkin ustadz ini sudah tau bahwa aku sangat gugup sekali sehingga pembawaannya dilakukan dengan cara yang santai dan aku pun bisa tenang menjawab segala pertanyaan yang akan dilontarkan kepadaku.

"Iya ustadz" Jawabku.

"Sekarang..... Coba kamu baca ayat ini" Ustadz menunjuk kepada ayat yang ada di surat Al-baqarah.

Aku langsung membacanya.

".................... "

"Baik kemudian jawab pertanyaan saya yea"

"Iya ustadz"

"Apa alasan kamu masuk ke pondok ini?" Pertanyaan pertama menjuru kepadaku.

"Yang pertama karena niat ustadz, abistu juga pengen cari pengalaman baru ustadz" Jawabku dengan penuh semangat.

"Sebelumnya ada gak orang tua kamu atau pun saudara yang menyuruhmu masuk kesini?"

"Kalau kesini niat saya ustadz, bahkan orang tua sendiri nyuruhnya malah ke pondok yang ada di sana"

"Nah kenapa kamu milih kesini?"

"Karena niat ustadz"

"Ada saudara kamu disini? "

"Saudara ada ustadz"

"Siapa itu? "

Aku malah tidak tau nama panjang dari abg itu sendiri lantas aku menjawab.

"Bang purnomo ustadz"

"Purnomo siapa itu?"

"Em.... Gak tau ustadz, soalnya di sana cuma bang Purnomo gitu aja, nama panjangnya gak tau ustadz. "

Setelah lama panjang lebar dialog ku dengan ustadz ini. Kemudian aku dipersilahkan keluar.

Setelah aku keluar langsung disambut oleh mamak dan ayah. Ayah langsung bertanya.

"Kek mana dek? Bisa Kan?"

"Alhamdulillah bisa yah" Sembari tersenyum meyakinkan bahwa aku emang bisa menjawab itu semua.

Kemudian aku langsung banyak bercerita tentang tes itu tadi.

-----

Kakakku sudah mengetik nomor yang tertera di brosur masuk ke pondok.

"Tut... Tut...." Suara itu dari handphone kakak.

"Halo assalamu'alaikum" Muncul suara dari seberang sana.

"Waalakumsalam, maaf buk, ini walinya Juno, melihat dari brosur yang tertera, hari ini pengumuman kelulusan masuk ke pondok yea buk?" Tanya kakakku

"Oh iya buk betul, atas nama siapa anaknya buk" Tanya balik suara itu terhadap kakakku.

"Atas nama Juno Alfa Alhamda lulus buk?" Tanya kakak ku dengan penuh penasaran.

"Oh lulus. Lulus buk"

Aku langsung spontan memeluk mamakku, terharu mendengar kelulusan itu.

"Baik terimakasih buk' ucap kakakku sembari menutup telepon.

Aku sangat senang begitu mendengar bahwa aku lulus di pondok tersebut.

Dari sekitar 500 orang yang mendaftar pada kala itu, aku diantara 300 orang yang lulus.

Alhamdulillah, puji syukur aku lulus di pondok ini.

Mamakku dan ayahku serta kakakku sangat senang mendengar pengumuman barusan.

"Alhamdulillah ya Rabb" Ucapku dalam hati sambil terus bersyukur mendengar pengumuman tadi.

 

Terasa Lama

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok 5 Aksara La Suerte
  • Day 6
  • Time up 07.50
  • Jumlah Kata 410

"Teng teng teng teng......"

Suara lonceng itu bergema sangat keras, membangunkan seluruh santri yang ada, kemudian disambung lagi ada suara orang mengaji, sayup-sayup suara itu terdengar dari masjid yang letaknya dipinggir lapangan.

Tak lama berselang dari suara lonceng tadi, banyak sekali pintu yang berdetar.

"Brak Brak Brak..."

Para mudabbir mengetuk pintu setiap kamar untuk membangunkan para santri, tak lupa juga dengan nada yang masih mengantuk para mudabbir mengatakan "Istaikiju minan naumikum... Kumu mubasyirat..." Kata itu selalu saja menjadi awal pembuka untuk setiap pagi.

Awalnya aku tidak tau apa arti dari itu semua, yea dikarenakan aku bukan lulusan dari MIN (Madrasah Ibtidaiyah) aku langsung dari SD, jadi aku tidak paham, namun setelah apa yang dilakukan oleh para mudabbir sehingga membuatku paham akan hal itu.

Setelah itu dengan mata yang sangat berat sekali, aku bangun dan langsung mengambil air wudhu, banyak dari temanku yang masih lelap tidurnya, mungkin karena tak terbiasa bangun pagi seperti ini. Ada yang sudah beberapa kali dibangunkan akhy setiawan namun tetap saja masih tidur, ada yang sudah ditarik badannya, ada yang begitu dibangunkan langsung bangun.

Kemudian aku langsung memakai sarung, sarung kuning ini pertama kalinya aku pakai  di pesantren ini. Aku sebelumnya juga gak pernah memakai sarung, sarung ku pakai seadanya saja, tidak rapi dan juga di bagian perut bulatan yang ku pelintir sangat lah besar. Akhy setiawan yang melihat dari kejauhan langsung melihatku dan membantu membenarkan kain sarungku.

Kain sarung itu ku pegang tepat di ujung kanan dan kiri.

"Letakkan tulang yang ini, pas di tengah-tengah badan!" Pinta akhy setiawan

Kemudian aku letakkan tulang ataupun jahitan tengah kain sarung, tepat di bagian tengah perut.

"Nah sekarang, ini ana tolak kebelakang, ente tetep pegang sarung ente ini.

"Iya khy,"

Setelah lama aku memakai sarung tersebut, barulah jadi. Emang sih ini masih sangat besar bundelan di perutku namun ini awal perdana, perlahan aku yakin pasti bisa rapi seperti para mudabbir yang ada.

Kemudian langsung saja aku pergi menuju ke masjid. Air disini sangatlah hangat, beda dengan air yang di rumahku, biasanya waktu subuh begini pasti saja kedinginan, iklim disini lumayan panas, karena di daerah pesisir.

Hembusan angin yang menerpaku didalam keheningan masjid, membuatku terasa sangat lama sekali ada di pondok ini, waktu seakan memperlambat dirinya, namun aku bergerak seadanya, inikah namanya hidup di negeri orang?"

Itulah pertanyaan yang terlintas dari dalam diriku, padahal aku tau bahwa waktu pasti tak akan membohongiku, toh mungkin ini hanya angan-anganku sahaja yang terlalu berlebihan sehingga pada akhirnya aku berfikir seperti itu.

Man Ismuka…

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 7

- Time up 07.45

- Jumlah Kata 416

 

Kegiatan pagi disini setelah subuh tidaklah tidur kembali, kalau biasanya aku tidur setelah subuh, kali ini ada kegiatan yang harus aku jalanin lagi, bahkan ada banyak sekali kegiatan nya. pagi ini seluruh santri baru langsung dihadapkan dengan pelajaran bahasa Arab pertama.

Pelajaran bahasa Arab mungkin masih asing sekali di telingaku, karena sebelumnya aku juga gak pernah belajar ini. Pelajaran kali ini tentang perkenalan, ini dimaksudkan supaya kami dapat berkenalan satu sama lain dengan menggunakan bahasa Arab.

Kami semua sudah duduk didalam kamar, mengikuti instruksi dari akhi setiawan. Kemudian datanglah seorang mudabbir dari bagian bahasa (qismul lughah), membawa sebuah papan tulis kecil, dan lengkap dengan spidol di tangannya.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucapnya seraya meletakkan papan kecilnya di dekat lemari.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab kami serempak.

"Tayyiib, pada pagi hari ini, kita akan belajar kosa kata bahasa Arab, nah untuk adik-adik sekalian, nantinya setelah 3 bulan kalian wajib menggunakan bahasa Arab juga bahasa Inggris secara aktif di lingkungan pesantren, dan kami dari qismul lughah, setiap pagi akan kami bagikan yang namanya kosakata dan antum sekalian wajib menghafalkan serta menggunakannya sehari-hari. Fahimtum hadza?"

Ketika ditanyai demikian kami hanya terdiam, bahasa Indonesia sih paham, namun bahasa arabnya ketika di awal dan di akhir itu membuat kami terdiam tanpa kata. Disaat keheningan itu kemudian akhi tersebut memecahkan suasana.

"Antum.... Kalau ditanya fahimtum? Jawabannya adalah fahimna, kalau antum ditanya fahimta jawabannya adalah fahimtu. Yang di awal fahimtum adalah untuk banyak orang atau jama' sedangkan kalau fahimtu itu untuk dhomir atau subjek kamu sendiri. Fahimtum?"

"Fahimnaa."

"Tayyiib, setelah nanti ana ucapkan, antum langsung mengucapkan kembali secara bersamaan. Tayyiib qaridul ba'di....."

"Qaridul ba'di" Ucap kami serempak.

"Akhi.... Qaridul ba'di itu artinya adalah ikuti saya. Fahimtum?"

"Fahimna....?

" Tayyiib qaridul ba'di.... Man ismuka...."

"Man ismuka.."

Beliau mengulang kata tersebut sampai 3 kali kemudian di balas lagi dengan jawaban "ismii..." Yang arti dari dua kalimat tersebut adalah yang pertama "siapa namamu" Dan yang kedua adalah "nama saya adalah......"

Ini adalah kalimat dasar yang kami pelajarin, kosa kata tersebut berguna untuk pengenalan kami antar satu sama lainnya. Sehingga nantinya diharapkan dengan cara ini, kami dapat berkenalan menggunakan bahasa Arab.

Di pondok sendiri, ada dua bahasa yang wajib dikuasai bagi para santrinya. Yaitu bahasa Arab dan juga Inggris, penggunaan bahasa tersebut dilakukan secara bergantian. 1 minggu pertama kami menggunakan bahasa Arab sedangkan minggu selanjutnya menggunakan bahasa Inggris, nah setelah nanti 3 bulan, bagi kami yang melanggar bahasa akan dapat konsekuensinya, setelah 6 kali dalam sebulan, maka Hukumannya adalah botak. Jadi dapat di tandai bahwa yang botak adalah pelanggar.

Hatiku Goyah

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 8

- Time up 08.03

- Jumlah Kata 415

 

Sudah 1 minggu aku berada di pondok, kali ini rasanya aku ingin sekali menelpon keluarga di rumah. Yea pada masa itu di tahun 2015 HP dan sejenisnya sudah tersedia di pondok.

Aku mengetik nomor telepon tujuanku, aku juga harus menginngat semua nomor telepon baik itu nomor dari mamaku juga nomor ayahku dan nomor kakakku. Juga kemarin akua da juga dikasih nomor oleh pak dayah, pak dayah adalah guru sekolahku waktu semasa SD dahulu. Rumahnya juga dekat dengan rumahku, ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi maka tak ayal banyak orang yang bergantung padanya, terlebih lagi ia mempunyai mobil yang juga biasanya digunnakan untuk mengantarkan orang yang sakit. Namun ia bukanlah seorang sopir ambulan akan tetapi itu hanya untuk membantu orang yang lain. nomor yang ku ketik tadi  yang tak lain adalah mamak ku sendiri. Kemudian Aku langsung mengetuk tombol panggil.

"Tut.. Tut..." Suara dari HP tersebut, rasanya menunggu telepon diangkat saja lama sekali.

"Hallo assalamu'alaikum mak"

"Waalaikumsalam...... Loh ini siapa?" Mamak ku mungkin mencoba untuk mengenali suaraku melalui telepon ini.

"Ini aku mak.."

"Ooo adek... Apa nak?"...

Kemudian aku bercerita tentang pondok ku sampai panjang lebar. Juga sangat banyak sekali pengalaman yang kudapatkan dalam seminggu ini, rasanya baru seminggu namun seakan sudah sangat lama sekali aku berada dalam pondok ini, mungkin itulah masa yang paling sulit dalam kehidupan pondok. Jauh daroi orang tua namun banyak juga teman yang sama seoerti diriku, tentunya bukan aku sendiri yang seperti ini.

Setelah sekian lama aku menelpon, yang ternyata kawanku juga banyak yag mengantri untuk bisa menelpon orang yang mereka sayangin, sekaligus bertanya soal kabar mereka disana, ada yang menelpon karna uang jajan habis, ada yang menelpon untuk minta pulang, ada juga yang menelpon hanya sekedar iseng-iseng doank, namun ada juga yang menelpon untuk meminta pindah dari pondok. Yang meminta pindah itu ada banyak sekali alasan yang dilonntarkannya, Sebagian ada yang berkata kehidupannya tidak sesuai, tentunya kehidupan disini adalah masa yang sangat rawan. Apalagi di awal masuk seperti ini, masa orientasi dan adaptasi diri menjadi hal yang paling dicoba, apakah kami bisa atau gugur.

Setelah ku matikan telepon itu, aku mendadak kangen dengan suasana rumah. Perubahan kehidupan disini jelas sekali sangat berbeda dengan di rumahku , ketika aku di rumah bisa sangat santai, sedangkan disini semua jadwalnya padat sekali.

Aku tak menceritakan kelelahan ku terhadap orang tuaku di sana. Aku gak mau mereka sedih mendengar ceritaku. Air mata sewaktu menelpon rasanya tak terbendung lagi ketika mendengar suara dari kejauhan sana. Apapun yang terjadi ke depannya.... Aku yakin aku pasti bisa.....

Mencari Guru..

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 9

- Time up 08.13

- Jumlah Kata 416

Suasana malam yang begitu tenang, namun tidak untuk kami. Aku masih terpaku duduk di masjid dengan memegang Al-Qur'an yang barusan ku baca. Aku masih memikirkan betapa sulitnya mempelajari bahasa asing tersebut, toh aku belum mengerti apa-apa disini. Aku bagaikan gelas yang masih sangat kosong dan mungkin baru keluar dari pabriknya, tidak ada goresan maupun isi sedikit pun.

Angin yang menerpa kala itu seakan membuatku mampu berpikir ke arah yang lain, yea itu arah untuk bisa mempelajari bahasa asing tersebut. Aku mulai memberanikan diri bertanya kepada mudabbir yang ada, dan sudah ku kenali. Pertanyaan ku tidak lain adalah "khi antum gi mana bisa bahasa Arab"? Atau engga "khi.... Antum kok bisa bahasa Arab?" Pertanyaan itulah yang kerap kali ku tanya pada semua mudabbir maupun akhy yang ada.

Jawaban mereka tidak lain tidak bukan adalah "BELAJAR" Lantas aku mulai memutar pikiran, belajar, menurutku kata belajar itu adalah hal power yang membuat mereka bisa sampai saat ini. Bahkan mereka juga bisa sangat fasih sekali dalam mengucapkan bahasa Arab maupun Inggris.

Aku juga mendengar ada yang baru kelas 2 sudah mendapatkan julukan afshohul lughah, tentunya ini semakin membuatku yakin bahwa aku bisa dan mampu mengucapkan secara pas dalam kegiatan sehari-hari. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri "Orang lain bisa kamu kenapa engga? Orang lain mampu kamu kenapa engga?" Dan aku juga yakin toh semua itu punya kelebihan masing-masing, namun disini aku mencoba ikut andil dalam bagian orang yang terpilih itu.

Di Samping itu semua tentunya semangat akan niat serta usaha dalam belajar tentunya menjadi hal yang paling utama. Kemudian aku beranjak dari tempat duduk ku tadi kemudian mengambil air wudhu.

Setelah selesai mengambil air wudhu tersebut aku kembali ke sajadahku, disitu aku mulai berpikir bahwa aku harus mencari orang yang bisa mengajari ku mampu berbahasa tersebut. Aku juga mendengar bahwa dulunya juga semua orang yang bisa menggunakan bahasa ini, mempunyai semacam guru khusus dari kelas 6 untuk mengajarinya.

Kebetulan aku juga mengenal salah seorang kelas 6, yaitu akhy TW. Akhy tersebut mampu dan bisa mengajari ku untuk berbahasa tersebut. Badan yang relatif lebih kecil namun suara yang di keluarkan dari rongga mulutnya itu sangatlah lantang. Beliau bukan bagian bahasa di pondok, akan tetapi beliau bagian ubudiyah. Namun, penyampaiannya di depan masjid menggunakan bahasa Arab tentunya tak diragukan lagi bahwa ia pasti bisa berbahasa. Yea emang sih semua santri disini banyak yang bisa berbicara secara lancar baik itu Bahasa arab maupun inggris, karena sistem yang dari dulu tidak pernah berubah. Namun, untuk waktu yang bisa guna untuk mengajari Bahasa tidaklah banyak.  

Mencari Guru..(2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 10

- Time up 07.27

- Jumlah Kata 443

 

Keesokan harinya selepas pulang dari madrasah pada kegiatan muhajjah aku mencari akhy tersebut ditengah kerumunan para santri yang juga baru keluar dari kelas mereka masing-masing. Aku sedikit sulit untuk menemukannya, karena badanku yang relative lebih kecil ditambah lagi ramai orang yang keluar bagaikan semut yang baru keluar dari sarangnya. Dan yang paling utama dalam pencarian ini adalah rombonngan para kelas 6 yang ada di lintasan antar madrasah dan asrama.

Aku juga bertanya ke teman-teman yang ada, namun belum juga menemuinya, rasanya seperti mencari air di tengah gurun yang sangat tandus, semua penampakan santri itu sama saja, berpeci, membawa sajadah juga membawa Al-Qur'an di tangan kanannya. Yang membedakannya hanya besar dan kecil badan mereka juga baju yang ada, namun sulit juga untuk mencari hanya menamdai, toh juga banyak orang yang sama berpakaian.

Setelah sekian lama barulah aku melihat akhy TW tersebut, tepat di samping tiang listrik di dekat kelas 3B. sedikit lebih dekat dengan koperasi dan jalan protocol tepat disamping Mushalla. Aku langsung mengejarnya, seakan tak mau ketinggalan langkahku dengan langkahnya, maka langkahku ku percepat untuk menyamakan dengan langkahnya. Alunan demi alunan langkah kaki yang terus saja memburu, aku baru dapat berpapasan dengannya tepat di depan koperasi.

"Assalamu'alaikum khy..."

"Waalaikumsalam..." Ia menoleh kepadaku. "Hem... Ada apa?"

Ia langsung bertanya seolah aku mempunyai maksud tersirat sebelumnya. Yea tapi tentu ada maksud tersirat itu.

"E... Ana pengen belajar bahasa khy, kira-kira antum bisa gak ajarin ana?" Langsung saja on time to the point, tanpa memperpanjang cerita.

"Ini belajarnya gi mana nih?" Dia balik bertanya.

"Yea kayak belajar mufrodat sama belajar yang ada di buku gitu khy."

"Oh iya bisa."

Aku senang mendengar jawaban tersebut.

"Kira-kira antum kapan bisa sempat nya khy?"

"Sore juga bisa."

"Oh iya khy, syukran khy."

Aku sangat senang mendengar jawaban dari beliau. Beliau juga tampak antusias sekali mendengar permintaanku, toh di pondok sendiri saling mengajar dan belajar menjadi budaya yang terus berakar. Ini dibuktikan oleh banyak santri yang melakukan seperti itu, baik itub antar abg kelas dan adik kelas, maupun antar sesema kelas (sebaya). Mulai saat itulah aku belajar setiap sore, di sela-sela aku belajar dengannya beliau juga banyak berbagi pengalaman tentang pondok ini. Ada banyak sekali ilmu yang bisa ku serap darinya, toh juga bukan cuman bahasa aja. Aku belajar di belakang asrama Darussalam, pemandangan yang langsung menjorok keluar, sehingga suasana yang begitu dingin juga menjadi daya topang pembelajaranku ini.

Karena, untuk mendapatkan ilmu yang banyak dan mudah diserap oleh otak, maka dibutuhkan tempat yang rileks juga tempat yang membuat suasana nyaman bagi tubuh kita, focus juga diperlukan guna untuk menunjang itu semua. Hal yang paling utama adalah niat dari dalam diri, karena inna ma a’malu binniat.

"Alhamdulillah, akhirnya ada jalan."

Mulai Mencoba..(1)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 11

- Time up 08.17

- Jumlah Kata 417

 

Suara gemuruh para santri seakan memecahkan semua keheningan yang ada. Kata yang selalu bersaut-saut antar mulut melontarkan sebuah kalimat yang akhirnya menjadi sebuah cerita. Uraian kata demi kata menjadi suasana disini layaknya sebuah pasar yang saling berinteraksi.

Ucapan kalimat dalam bahasa arab itulah yang ku dengar pada saat ini. Rasanya hanya kami yang  kelas 1 tidak menggunakan bahasa Arab tersebut. Aku bersama Al duduk di samping lapangan bola. Al adalah teman satu kamarku yang lemarinya juga bersebelahan dengan lemariku. Aku kenal ia ketika baru pertama kali masuk ke dalam pondok ini. Badan yang relatif kecil juga hampir sama seperti ku ini, ia sangat sering bercanda dengan teman yang lain, tak ayal sifat jahilnya selalu di tampakkan di depan orang. Al orangnya sangat responsif sekali terhadap yang lainnya, hampir setiap orang yang dijumpai nya pasti ia sapa. Tak peduli itu kenal ataupun tidak, sedangkan aku cenderung lebih diam dan hanya berbicara dengan orang yang aku kenal. Mungkin rasa takut yang masih tersimpan dalam diriku tentunya menjadi sebuah hal yang memicu aku diam.

Aku masih ingat yang ku pelajari kemarin sore, ada banyak sekali yang sudah kudapatkan selama belajar bersama akhy TW kemaren. Salah satu kata yang di ucapkan adalah "kuncinya belajar bahasa adalah mengulang, jadi ulangi lah setiap yang ente dapatkan, supaya lebih mengunci dalam ingatan." Nah kata itu yang selalu ku ingat. Toh pada dasarnya juga bener, kalau hanya menerima teori saja tanpa melakukan praktek, pasti akan sia-sia. Yea ilmu yang didapat pasti akan sama saja dan ilmu itu tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Lalu aku mencoba menggunakan beberapa kalimat yang telah ku pelajari kemaren untuk ku gunakan bersama Al.

"Aina manziluka?"

Al langsung menoleh heran kepadaku, emang sih bahasa itu sebelumnya belum pernah dipelajari dalam kegiatan Mufradat di pagi hari. Lantas ia bertanya.

"Dari mana bawak bahasa tu?"

"Ana belajar sama akhy kelas 6."

"Yah udah jago kali geh"

Ia mengatakanku jago yang padahal itu belum ada apa-apanya ketimbang dengan semua abang kelas yang ada. Namun karena pengucapan yang mungkin sedikit berbeda di telinganya akhirnya kata tadi menepis keluar dari mulutnya.

"Mana ada, ada banyak orang yang lebih (dalam berbahasa) lagian kalau kita belajar tapi gak pernah dipake kapan kita mau bisanya, inget lho kita boleh berbahasa Indonesia cuman 3 bulan aja. Abistu kita yea udah sama kayak kelas yang lain." Aku coba mengingatkannya, yea kami disini hanya boleh berbahasa Indonesia selama 3 bulan, selanjutnya bagi kami yang melanggar langsung masuk ke mahkamah bagian bahasa yang langsung ditangani oleh ustadz yang ada di bagian bahasa juga.

Mulai Mencoba..(2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 12

- Time up 08.50

- Jumlah Kata 406

 

Dalam menggunakan Bahasa sendiri diperlukan yang Namanya kebiasaaan, kami sering menggunakan Bahasa dengan lulocon yang ada, sehingga daya ingat dalam Bahasa akan semakin kuat ditrambah lagi kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, secara tidak langsung maka akan mendapatkan kosakata yang baru.

            Dalam mempelajari Bahasa yang baru atau masih asing bagi kita, maka cara yang paling jitu adalah mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung otak akan menangkap Bahasa tersebut sehingga kosakata baru bisa saja muncul seiring dengan bertambahnya pemahaman kita terhadap Bahasa tersebut.

            Salah menjadi hal yang sangat biasa bagi kami. Karena dalam belajar, tentunnya pasti terdapat kesalahan guna untuk mencoba Kembali, banyak yang sudah belajar namun tetap saja belajar, karena dalam belajar tidak ada Batasan waktu. Utlubil ilma minal lahdi ilal mahdi (tuntutlah ilmu dari ayunan sampai hingga liang lahat. Jadi tidak ada Batasan dalam menuntut ilmu, termasuk juga belajar Bahasa baru yang tentunya menjadi ilmu komunikasi internasional.

            Setiap pagi kami mempelajari kosa kata Bahasa tersebut, setidaknnya ada 2 kosa kata lengkap bersama 2 contohnya, metode yang digunakan pun menerapkan praktek dengan teori. Setiap pagi kami duduk berbaris rapi di tempat yang telah ditentukan oleh bagian Bahasa, waktu yang digunakan pun tidaklah lama, hanya 15 menit setiap harinya.

tayyib, duduk yang rapi, kemudian sediakan buku dan pulpennya, saya akan membagikan 2 kata baru untuk kalian.” Titah salah seorang bagian Bahasa yang ditugaskan pada pagi hari ini untuk membagikan kosa kata baru pada pagi ini.

tayyib, siapa yang tau arti dari akala-yakkulu?”

Lontaran pertanyaan pertama ditanyakkan kepada kami, ini berguna untuk mengetahui bahwa para santri sudah mengetahui ataupun belum.

la ahad?[1] Kalau begitu saya akan memberikan contoh dari kosa kata tersebut, ana aakulu fil matbakhi bir rudza,hal fahimtum?”[2]

Sebagian dari kami masih sangat asing, beliau memperagakan sembari mengucapkan Bahasa tersebut, car aini sangat berguna, karena untuk memahami si pendengar tentunya harus ada metoode khusus yang digunakan. Dan ini salah satu metodenya yaitu dengan cara  memperagakan Bahasa tersebut, terkadang mereka membawa alat guna untuk memahami kami.

Kemudian Sebagian kami menjawab “fahimna……..” namun Sebagian lainnya menjawab, “laa….” Maka kemudian beliau mencari arah sumber dari siapa yang memahami kosa kata tersebut.

anta yaa akhy! Mal ma’na min tilkal kalimah?” beliau menunjuk ke salah seorang temanku.

“makan akhy”

“iya bagus sekali. Jadi arti dari kata akala-yakkulu adalah makan. Baik sekarang ikuti saya setelah saya ucapkan kosa kata ini.”

akala-yakkulu!

akala-yakkulu

Pengulangan terjadi 3 kali sehingga apa yang kami ucapkan menjadi lebih jelas dan sangat mudah diingat.

 

[1] Artinya adalah Tidak ada?

 

Mulai Mencoba..(3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 13

- Time up 08.30

- Jumlah Kata 411

 

            Kemudian salah seorang dari kami harus memberikan contoh menggunakan kalimat tersebut, beliau menunjuk ke salah seorang tepat yang ada disampingku.

anta yaa… akhy, buatlah kalimat tersebut dengan menggunakan kata yang barusan kita pelajari!” titahnya.

akala ahmad at-tho’ama amaamal maskan

ahsanta… jadi seperti itulah cara membuat kalimat menggunakan kata yang telah dipelajari.”

Cara seperti dilakukan pada kalimat yang kedua juga, hingga walaupun hanya dua namun kami paham akan hal baru itu. Pemahaman yang dilakukan sangat mendetail, sehingga walaupun menggunakan Bahasa arab sendiri kami dapat memahami apa yang dibicarakan.

Setelah kemudian kami disuruh menulis, maka pada akhir katanya, beliau mengulangi kata tersebut Kembali, dan inilah yang menjadi penyemangat kami, kami dituntut untuk mengeraskan suara kami, sehingga siapa yang paling keras suaranya ataupun barisan mana yang paling keras suaranya baru diperbolehkan untuk pulang.

Aku sangat menikmati pagi ini, lantunan shalawat dari kantor BAPENTA (Bagian Penerimaan Tamu) menambah ramai suasana pagi ini, matahari mulai menyongsong seiring bertambahnya waktu, kicauan burung-burung di atas pohon kelapa, juga menari-nari diatas awan, seolah menikmati akan indahnya pagi di pondokku ini.

Kegiatan demi kegiatan telah aku lalui disini, aku hanya mengikuti kegiatan yang ada pada pagi ini. Dibalik masa transisi antara adaptasi dengan kerasan dengan aktivitas pondok ini, aku belum mengikuti apapun pada saat ini. Aku masih mengenali hal-hal apa saja yang akan kulakukan pada hari-hari selanjutnya.

Aku baru ingat bahwa hari ini ada seleksi untuk perlombaan LP3B (Lomba Pidato 3 Bahasa), pesertanya dari seluruh santri disini, aku berniat untuk mengikutinya, namun rasanya aku tak tau apa yang ingin kubawakan pada nantinya, toh masa SD dahulu aku hanya sekali tampil dan lomba yang ku ikuti hanya tilawah dan azan. Selain dari itu aku tak pernah. Mentalku juga belum memadai untuk hal ini.

Aku tidak punya modal akan hal ini, aku haarus menempuh banyak sekali ilmu, untuk bisa tampil lebih hebat disana. Akhirnya dengan keberanian yang ada, aku mencoba untuk mendaftarkan pada keikut sertaan lomba ini.

Dengan modal seandanya, serta bimbingan dari mudabbir kamarku yaitu akhy Setiawan, akhinya aku memantapkan hati serta mental yang ada aku mulai mendaftarkan diri. Teman-teman dikamarku juga sangat menyemangati aku, terlebih akhy Setiawan yang paling meng-support aku. Sehingga hatiku semakin mantap untuk bisa mengikuti even ini.

Namaku sudah tercantum dalam list pendaftaran tersebut, naskah serta persiapan lainnya sudah ku persiapkan dengan sangat matang, walaupun aku  bukanlah yang ada segalanya, jujur sih dalam segi ilmu aku sangat kurang sekali, juga mental yang terkadang goyah. Akhy TW juga tak kala menyemangati aku, yang kemarin aku sempat bercerita kepadanya.

 

LP3B

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 14

- Time up 08.30

- Jumlah Kata 409

 

Keesokan harinya, hari untuk tes pun dimulai, awalnya kukira hanya daftar kemudian tampil. Namun karena banyak sekali yang mendaftar pada kali ini. Maka seleksi ini dilakukan untuk mencari yang terbaik diantara yang baik. Persiapan ku juga belum cukup matang sekali, juga aku masih sangat gugup sekali. Sehingga pada saat dipanggil namaku, aku hanya membawa semampuku saja.

            Aku sudah ada di masjid pada pagi ini, lengkap membawa teks yang sudah kupersiapkan pagi ini, juga pada kali ini juga aku aku tampil untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok tercinta ini. Aku duduk di ujung sebelah kanan masjid, kala itu aku mungkin terlalu bersemangat hingga para santri belum pada bangun namun aku sudah berada di masjid sebelum jaros diketuk.

Yea mungkin inilah yang dinamakan persiapan ditambah lagi semangat, aku sangat yakin akan bisa, namun kegagalan pasti akan ditemui bagi setiap orang yang ingin maju. Karena pada dasarnya bahwa kegagalan itu pasti akan dihadapi, karena kalau ia berani gagal pasti ia berani maju. Kesuksesan diiringi dengan kegagalan itu sudah tentu betul, sehingga pada nantinya kita tidak kaget maupun down ketika menghadapi kegagalan ditengah kesuksesan.

  Aku mulai membaca naskah pidato yang kubawakan, pidato yang ku bawa adalah Bahasa Indonesia, jadi dalam penggunaannya tidaklah sulit untuk menghafalnya, ada teman satu kelasku juga yang sama sepertiku juga, ia juga berasal dari SD namun ia berani mengambil pidato Bahasa arab. Namanya adalah Yunus, perawakan yang cukup tinggi dibandingkan aku, juga ia sangat pandai di kelas. Pada saat ujian tengah semester kemarin pun ia mendapatkan juara pertama. Sehingga cara dia mengambil pidato  dalam Bahasa arab, memungkinkan baginya untuk bisa tampil di panggung.

Aku masih sangat serius dalam belajar ini, tak terasa suara didalam masjid sudah sangat riuh sekali, yea karena barusan jaros di ketuk. Jadi semua santri sudah bangun, dan Sebagian juga sudah ke masjid. Suara yang cukup ramai, membuatku untuk menyudahi membaca naskah pidato tersebut. Sekarang aku hanya mulai bersiap untuk bisa nantinya berdiri didepan masjid ini.

--

Setelah selesai subuh, kegiatan pagi ini bukan lah pembagian kosa kata, melainkan seleksi pidato ini, toh ini juga kegiatan yang ada pada bagian Bahasa tersebut. Sehingga kewenangan ada pada bagian tersebut. Kegiatan ini dilakukan setiap 1 tahun sekali. Sehingga kegiatan yang ada pada muhadarah itu dapat digunnakan dalam ajang perlombaan.

Suasana subuh sangatlah nyaman untuk tidur, ditambah lagi angin semilir yang berhembus dari belakang masjid, menjadiakan suasana masjid menjadi sangat mengantuk. Jadi tak heran banyak dari temanku maupun para akhy lain yang tyertidur pulas dalam posisi duduk

LP3B (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 15

- Time up 08.09

- Jumlah Kata 420

 

Dalam posisi inilah aku menggunakan kesempatanku untuk tampil, disampingt tidak banyak yang bangun juga kurasa ,yang terbangun juga pasti masih sangat mengantuk sekali sehingga berbicara  apapun pasti tak akan dengar.

Aku masih menunnggu giliranku untuk dipanggil menuju kedepan, posisiku saat ini sejajar dengan para peserta yang ikut pada kegiatan LP3B ini, toh kami emang dipersiapkan untuk tampil dan tidak susah ketika sudah di panggil guna maju kedepan. Aku melihat semua peserta yang ikut sangat serius dalam pertandingan ini, Sebagian ada yang mengguunakan Bahasa Inggris-nya untuk menghafal, ada yang juga menggunakan kefasihan dalam Bahasa Arab, dan ada juga yang menggunakan suara lantang layaknya sang komandan yang memberi arahan  terhadap anak buahnya. Aku juga masih memandangin naskahku yang sudah ku persiapkan sejak kemaren.

Ketika peserta lain dipanggil, aku melihat mereka begitu lihai dalam berbicara, terkadang ada yang membawakan sambil berpantun, ada yang sambung kata, ada yang menggunakan kefasihan dalam berbicara, ada juga yang menggunakan Bahasa Inggris layaknya orang Inggis sungguhan, semuanya berbicara dengan gayanya masing-masing. Cara ini digunakan untuk menarik penonton akan pembicaraan mereka, namun karna ini hanya seleksi semata bukan ada diaatas panggung banyak dari mereka yang tidak mendengarkan.

Urutan nomorku yaitu nomor 10, cukup lama untuk menunggu ini. Urutan nya ini berdasarkann Bahasa yaitu urutan nomor pertama diambil oleh Bahasa Inggris, kemudian urutan kedua diaambil dari Bahasa Indonesia sendiri dan yang terahir yaitu Bahasa Arab. Kali ini sudah nomor urut 9, yang artinya sebentar lagi aku akan menampakkan kemampuanku yang sudah ku persiapkan sejak awal.

“Juno Alfa Alhamda…. Waktu dan tempat kami persilahkan dengan hormat.” Ucap pembawa acara.

Akupun mulai maju kedepan, perlahan kuperhatikan langkahku, aku menjaga Langkah agar tetap sopan. Semilir angin mengikutiku dari arah yang tak tentu. Seolah mengiringi langkahku menghantarkan untuk melaju kedepan podium. Langkahku seolah sangat lama sekali untuk menuju ke hadapan para penonton. \

Ketika telah sampai didepan podium, aku mulai memandangin semua orang yang ada, aku melihat hanya di bahu mereka, karena kalau aku melihat ke mata mereka pasti akakn menggagalkan focusku sendiri. Maka cara yang terbaik adalah, anggap diriku sendiri, anggap mereka tak memandangi ku sendiri, dan kemudian berbicara yang lantang, jangan terlalu focus pada teks bacaan, namun pahamin bacaan dari naskah yang ada sehingga segala yang disampaikan dapat teersampaikan dengan jelas. Dalam berbicara didepan para penonton, kejelasan dalam berbicara juga sangat diperlukan, pilihan kata yang paling sering digunakan pada masyarakat. Ini berguna untuk kata yang kita sampaikan dapat mudah dipahami sehingga tak ada kata yang terselip maupun kata yang sangat rancu sehingga para penonton mau mendengar serta menyimak apa yang kita sampaikan.

LP3B (3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 16

- Time up 08.47

- Jumlah Kata 432

 

 Nah trik itulah yang harus dikuasai kepada para pembicara, tentunya pilihan diksi yang tepat akaan menambah kesan kepada para pendengarnya. Aku mulai membuka pembicaraaan dengan membaca Basmallah secara zihar.

“Assalamualaikum…. Warahmatullahi wabarakatuh……..” ku ucapkan dengan suara yang sangat lantang sekali.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh….” Jawaban para santri yang ada di masjid tercinta kami.

Kemudian aku mulai menyampaikan pidato atau ceramah yang ku bawa, aku tidak terfokus terhadap apa yang di naskah, melainkan apa yang kupahami terhadap naskah itulah yang kubawakan. Menit pertama berjalan dengan pembiacaraan yang lantang mengenai muqadimah, setelah itu baru masuk ke judul.

“Izinkan saya, membawakan sepucuk kata yang batangnya sangat besar, yang buahnya sangat manis, yang bunganya sangat harum, untuk m4enambah wawasan kita pada pagi hari ini, yaitu dengan judul --------…..”

Begitu aku memasuki judul, diluar dugaanku sebelumnya, yang tadinnya pada terlelap dalam buaian alam mimpi, kini malah terbawa ke alam sadar mereka, suaraku yang begitu keras membuat mereka terbangun dan langsung sadar. Padahal tadinya aku ingin aku lah yang tampil tanpa harus diperhatikan oleh orang banyak, yea karna faktor mentalku ini yang membuat aku menjadi insecure akan mereka, akan tetapi mereka sudah terbangun semua.

Aku terus saja melanjutkan pembicaraanku didepan, hingga ust madi yang kala itu mengujiku akhhirnya memerintahkan ku untuk stop sampai disitu saja.

“Baik…. Juno… sudah, langsung saja tutup!” Titah sang ust.

Kemudian aku mulai menutup topik pembicaraanku kali ini dengan ucapan.

“Baiklah, dengan rahmat Allah kita dapat bersama-sama mendengarkan tausyiah dari  saya, kalau ada kata yang kurang berkenan maka saya memohon ampun kepada Allah dan kepada hadirin sama meminta maaf, akhir kata Billahi taufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…..”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh……”

Aku mulai berjalan Kembali ke tempat dudukku semula. Huhhh rasanya sangat lega sekali, namun keputusan untuk lanjut ketahap berikutnya itu menjadikan sebuah senam jantung untuk mendengarkan keputusan, bagi siapa yang akan lanjut kedalam babak selanjutnya menuju panggung yang sebenarnya.

Yunus menyapaku dari sebelah kananku, jarak kami lumayan cukup jauh sehingga ketika aku melihatnya tadi, ia baru bisa mengacungkan jempolnya kepadaku. Aku sebelumnya tidak pernah menyangka akan kejadian itu, mental yang lemah kini menjadi kuat, suara yang kecil kini menjadi lantang, badan yang kecil bukanlah sebuah alasan untuk bisa tampil hebat dihadapan para peserta dan penonton, dan yang tak kalah berani adalah tampil memukau dihapadapan para juri.

Setelah bubar dari masjid kemudian aku mulai Kembali ke asrama, usai Kembali akhy Setiawan memberi apresiasi terhadap kami yang mengikuti tes pagi ini, tentunya menjadi daya semangat yang luar biasa bagi kami. Sebagian dari kami emang ada yang baru pertama kali tampil didepan, namun hal itu bukanlah masalah bagi kami setelah mendengar penjelasan dari akhy Setiawan tadi.

Alhamdulillah Akhinya Bisa

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 17

- Time up 08.54

- Jumlah Kata 437

 

Aku masih memikirkan betapa akun mampu untuk berbicara kedepan, padahal sebelumnya aku gak pernah berbicara sedikit pun dihadapan banyak orang. Tentunya pengalaman pertama yang menghasilkan sesuatu yang wah….. pasti akan menambah semangat yang semakin membara. Dari hal ini aku mulai belajar lebih dalam bagaimana dalam mengaplikasikan diksi yang lebih dalam untuk mampu merangkul dan mengaposisi pendengar dengan suara yang lantang, namun tetap mengedepankan akhlak.

Pengumuman kelulusan pada seleksi ini terasa sangat lama sekali. Dijadwal bahwa pengumuman akan dilakukan pada hari ini. Namun aku juga tak tau bagaimana sitematis dalam pengumuman ini, karena aku hanyalah santri baru yang masih kosong akan pengetahuan di pondok ini. Ada banyak sekali yang belum kuketahui tentang pondok ini, sehingga pertanyaan mungkin menjadi hal yang paling diutamakan untuk mengetahui lebih banyak tentang pondok ini.

Ternyata pengumuman akan dipajang dimading depan kantin, disitu pengumuman bagi siapa saja yang lulus untuk melaju ke babak selanjutnya. Namun pengumuman ini baru akan ditampilkan pada waktu setelah ashar nanti. Jadi aku harus menunggu lebih lama lagi untuk ini.

Semenjak 2 hari kemarin aku menunggu akan pengumuman ini. Diantara yang tampil pada hari kemari nada banyak sekali yang lebih bisa ketimbang aku, toh mereka ada yang sudah berpengalaman sangat banyak di perlombaan ini. Ada yang sudah berhasil menjuarai pada tahun kemarin. Namun pada Bahasa Indonesia sendiri kebanyakan dari  kelas 1 sendiri, mungkin ini untuk menumbuhkan bakat yang ada pada kami sehingga kami berani tampil tanpa takut akan mereka yang sudah lebih dulu ada di pondok ini.

“Juno…..” yunus berlari sambil mengacungkan tangannya.

“eh, apa nus?”

“em anu, ente udah tau pengumumannya?”

“belum….  Kan kata si hazma masih nanti sore setelah ashar.”

“oh iya yea….., kira-kira kita lulus ke kita ini?”

“itu yang gak tau nus… soalnya kan banyak dari mereka yang lebih daripapda kita. Toh ini juga kali pertamaku aku tampil di hadapan orang banyak seperti ini. Sebelumnya mana ada pun aku gini.” Aku mencoba berkata apa yang kurasakan. Karena aku gak terlalu optimis lulus.

“oh tapi awal yang bagus itu.”

“iya sih”

“nanti kalau dapat kabar tentang itu kabarin yea!”

“iya nus…, aku juga kabarin yea!”

“ok sip. Aku mau ke sana dulu”

“Oh iya na’am”

Sangat disayangkan sekali kalau yunus tidak lulus. Kemarin ia sampai nangis karena tak bisa hafal naskahnya sendiri. Bagaimana tidak diksi kami dalam Bahasa arab masih sangat sedikit sekali, sedangkan yang dibawakannya adalah Bahasa arab. Otomatus dia harus mengahafal ekstra. Ia di ajari oleh abgnya sendiri, sehingga ketiika ia tak bisa abangnya akan selalu mendorongnya agar terus bisa dan mampu untuk menggunnakan Bahasa arab. Namun aku yakin bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil.  

Alhamdulillah Akhinya Bisa (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 18

- Time up 08.05

- Jumlah Kata 416

 

 

Aku juga satu kelas dengan yunus jadi aku tau betul bagaimana ia mulai menghafal juga bagaimana ia berusaha untuk bisa menghafal dengan baik. Baik itu dari kefasihan yang dilafalkan juga dari kefasihan dalam ketepatan kata. Ini sangat menentukan dalam berbahasa arab karena pengucapan yang tak sesuai sangat mempengaruhi dalam arti pengucapan Bahasa arab.

Sedangkan aku hanya Bahasa Indonesia yang bisa dikatakan adalah Bahasa sehari-hari yang kugunakan selama ini. Hanya tinggal menambahkan pilihan diksi yang tepat akan  menambah topik pembicaraan menjadi hidup. Suara yang lantang menjadi hal yang utama dalam hal ini. Sehingga penyampaian terdengar sangat tegas namun tetap mengedepankan yang Namanya akhlak. Sehingga apapun yang kita sampaikan kalau dengan mengedepankan adap atau akhlak maka penyampaian akan terkesan sangat baik dan yang utama adalah penilaian yang baik dari pandangan juri.

--

Setelah ashar, aku masih menunggu akan pengumuman itu. Rasanya aku sangat tak sabar menunggu keputusan itu. Walaupun sebelumnya aku juga tak yakin akan kelulusan pada seleksi 2 hari lalu di waktu yang sangat rawan untuk tidur namun banyak manfaat yang akan didapat. Ada banyak sekali yang sangat mendukung disini. Baik itu teman maupun guru disini sangat mendorong untuk maju sehingga rasa kekeluargaan sangatlah dekat denganku. Mungkin inilah juga yang menjadikan bahwa keluarga kedua ku saat ini adalah pondokku sendiri.

Aku sudah sampai dikamar sepulang dari masjid. Kemudian aku mengganti pakaianku dan ingin beranjak kelapangan. Selesai ashar kami emang taka da kegiatan lagi, yea tentu kegiatannya adalah olahraga. Setiap sore hanya itu kegiatan disini, terkecuali ada acara resmi atau pun ada hal khusus sehingga tak memungkinkan untuk olahraga maka akan digantikan dengan kegiatan yang lainnya.

Mul teman se-kamarku datang dari luar masjid. Ia sangat heboh jikalau masuk ke kamar, badan yang lumayan tegap, juga tinggi badan yang sesuai membuat ia disegani dengan keperawakannya itu namun tidak untuk sifatnya. Ia suka bercanda dengan yangb lainnya. Kali ini ia datang ke kamar dengan sangat heboh sekali, yea apalagi kalau bukan pengumuman kelulusan dari lomba LP3B itu.

“Assalamualaikum……..” Mul memasuki kamar dengan salam yang cukup keras.

“Pengumuman lomba apa tuh? Yang kemaren pagi tu?” Mul mengabarkan namun ia mungkin lupa akan lomba itu.

“LP3B.” jawab Al.

“Ha itulah, antum tau ke? Udah keluar lah pengumuman tu….”

Begitu aku mendengar akan hal itu, aku langsung spontan bertanya kepadanya.

“Dimana pengumumannya Mul?”

“Udah tu Jun….. ente udah lulus. Gak usah lihat lagi!” ia berkata seakan sudah mengetahui semua. Namun, aku masih tak yakin akan hal itu. Aku langsung berlari menuju madding yang ternyata pengumumannya ada di madding tepat di sebelah asramaku ini.

Alhamdulillah Akhinya Bisa (3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 19

- Time up 08.42

- Jumlah Kata 423

 

Sesampainya pada bagian madding ini, ternyata banyak sekali orang yang ingin melihatnya. Sebagian dari temanku ada yang tersenyum ria juga ada Sebagian dari mereka harus melontarkan kesedihan belaka. Aku ikut dalam desakan itu, badanku yang kecil menjadikan mudah untuk melesat hingga kedepan, “lama-lama ada untungnya juga berbadan kecil,” pikirku.

 Aku mulai membaca urutan nama yang ada dari mulai nomor 1 sampai 9, ternyata yang lulus ke babak selanjutnya adalah 9 orang. Aku mulai membaca dengan seksama sekaligus teliti, sampai akhir sudah ku baca ternyata namaku tak ada. Aku membaca ulang dari lembaran yang paling atas. Ternyata bacaan yang kubaca adalah lembaran kelulusan pada Bahasa Inggris. Huh…. Pikirku, selanjutnya aku mulai membaca pada bagian Bahasa Indonesia, aku sekali lagi memperhatikan lembaran yang ku baca adalah Bahasa Indonesia bukan Bahasa arab maupun inggris. Kali ini aku memperhatikan dengan sebetul-betulnya, pokoknya 1 huruf aja gak boleh tinggal dalam pembacaan ini. Tanganku juga ikut dalam pembacaan itu, aku mulai membaca sekaligus mengikuti jari telunjukku  yang mengarah ke bawah seiring alunan bacaan.

Setelah lama ku baca, “Alhamdulillah……” akhirnya aku bisa melaju ke babak selanjutnya. Nama Juno Alfa Alhamda berada pada urutan nomor 7. Senang sekali rassanya aku bisa lulus dalam tahap ini. Aku langsung keluar dari kerumunan orang yang ada di sekitaran madding tersebut. Aku senang bukan kepalang, setelah bisa keluar aku langsung lari ke kamar. Mengambil nomor orang tua ku, langsung mencari di mana ada tempat untuk menelpon. Ternyata Alhamdulillah di bagian Ri’ayah (kantor pengasuhan) ada yang menyediakan HP guna untuk menghubungi orang tua ataupun kerabat di rumah.

Aku langsung berlari lagi seakan tak ada rasa Lelah yang terlintas dalalm tubuh. Setelah sampai di Ri’ayah, HP yang ada hanya 3 namun kebetulan yang menelpon hanya 2 orang saja, jadi HP yang satunya otomatis kosong.

“Assalamualaikum akhy… ana mau pinjam HP nya khy.”  

 “Waalaikumsalam…. Oh iya ini ada satu lagi HP nya, ini di pakai untuk bergantian yea! Jadi jangan terlalu lama!”

“Na’am akhy….”

Aku langsung mengetik nomor tujuanku. Perlahan aku mulai mengetik kemudian ku tekan tombol panggil.

“Tut….. Tut…. Tut …. Iya halo…..” suara itu dari seberang sana seakan angin yang membawanya jauh terbang melesat menuju HP mamaku.

“Assalamualaikum mak…”

“Waalaikumsalam….. oh iya adek…. Ada apa dek?” tanya ibuku.

“Mak…. Aku lulus seleksi ceramah mak. Nanti hari kamis aku tampil di panggung lagi mak.”

“Alhamdulillah…” ucap mamaku dengan nada yang sangat senang, aku yakin sekali bahwa mamaku sangat senang sekali mendengar cerita ku kali ini.

Lantas mamaku memanjatkan do’a untuk anaknya ini, aku pun antusias sekali dalam hal ini. Setelah lama aku bercerita kemudian aku menutup telponku.    

 

Challenge to win

0 0
  • Sarapan Kata KMO Club Batch 42
  • Kelompok 5 Aksara La Suerte
  • Day 20
  • Time up 08.50
  • Jumlah Kata 411

Mulai saat itu aku banyak sekali mempersiapkan agar aku bisa tampil gemilang di depan panggung yang indah nan megah nanti. Merupakan suatu yang paling aku banggakan untuk saat ini, seorang Juno Alfa Alhamda dapat tampil dihadapan banyak orang menyampaikan suatu ilmu yang belum tersampaikan dari lisanku. Membuka wawasan baru yang mengubah pola dalam hidup tentunya menjadi sebuah kebanggan dalam diri sendiri.

Aku juga harus bersaing dengan mereka yang lebih kompeten juga lebih pengalaman dalam hal ini. Ada yang juga sudah beralih Bahasa, yang mana tahun lalu ia mengikuti Bahasa Indonesia kemudian keluar menjadi juara mulai berpindah memnjadi Bahasa arab maupun inggris. Ini mungkin menjadikan challenge baru bagi mereka untuk bisa menguasai ranah lomba Bahasa yang hanya akan dapat kesempatan sebanyak 4 kali.

Yea, disini hanya mulai dari kelas 1 hingga kelas 4 yang di perbolehkan untuk mengikuti lomba ini. Ini dikarenakan, bahwa kelas 5 adalah mulahid yang menjaga mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 4. Ada juga yang masih kelas 4 namun tak dapat mengikuti perlombaan ini. Ini dikarenakan ia menjabat sebagai bagian Bahasa ketika duduk di bangku kelas 4.

Acara ini juga hanya diadakan 1 tahun sekali. Dan ini merupakan ajang yang sangat berguna untuk mensyi’arkan islam secara lebih luas. Jadi secara tidak langsung acara ini bukan hanya sebagai program kerja unggulan bagian Bahasa sahaja namun menjadi agenda kerja dari pondok sendiri. Acara ini diselenggarakan guna untuk mencari bibit-bibbit baru guna untuk mensyi’arkan islam. Tentunya kami berasal dari berbagai daerah yang Saling membagi ilmu menjadikan gaya Bahasa yang di sampaikan menjadi lebih luas dan lebih bergaya dengan campuran yang ada.

Lawan ku kali ini ada 8, jika dilihat dari kuantitas yang ada tentunya jumlah yang ada menjadi lebih sedikit namun dalam segi kualitas menjadi lebih sulit. Memreka tentunya belajar lebih giat lagi dengan segala ilmu yang ada. Sehingga mereka dapat keluar sebaagai juara. Hal ini juga aku lakukan. Aku mulai sering mengurangi olahraga yang di adakan setiap sore, hal yang ku gantikan adalah untuk belajar juga menghafal sekaligus mencari gaya berbicara yang baru.

Jika kemaren aku dapat membangunkan orang yang tertidur waktu subuh, maka kali ini aku bertekad semut dapat terdiam, burung malam dapat mendengar sehingga yang ku sampaikan tidak blong maupun ada kecacatan sedikitpun. Walaupun dalam hal ini sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin dilakukan, namun inilah tujuan yang ada, terdengar aneh namun menjadi sangat berchalenge karna orang yang berani dalam mencoba hal baru maka ia berani mencoba untuk maju. Sehingga kemajuan yang ada tak akan berbuah sia-sia.

 

Challenge to win (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 21

- Time up 08.15

- Jumlah Kata 403

 

 Menghafal adalah jurus utama yang kugunakan namun disini aku lebiih memahami akan naskah ini. Kali ini naskahku berjudul “Menggapai cinta dengan shalat” tentunya untuk hadits, ataupun ayat dari Al-qur’an menjadi hal yang paling utama untuk  ku hafal. Aku mulai membaca-baca dan sekali lagi yaitu berlatih terus.

Kali ini aku di kamarku sendirian, di sore hari seperti ini emang sangat banyak sekali santri yang ke lapangan. Aku memutuskan untuk tidak ke lapangan. Aku berdiri dihadapan kaca lemari. Aku ini berlatih menghadap ke kaca, katanya kalau berlatih menghadap ke kaca, maka kesannya akan berbeda. Disitu kita dapat mengoreksi gerak tubuh kita yang sesuai maupun tidak sesuai, dapat melihat ekspressi mimic  wajah, juga dapat melihat bagaimana gerak mulut, pokoknya menghadap ke kaca menjadi hall yang sangat berarti dalam berlatih seperti ini.

Aku mengetahui trik ini karena kemaren ada juga dari temanku, dia disarankan oleh akhy di bagian pramuka untuk mengahafalkan semaphore dengan cara menghadap ke kaca, tentunya ini menjadi ilmu baru yang harus ku pelajari, toh gak ada salahnya mengambil ilmu itu.

Aku mulai memandangi berbagai Gerakan yang ada disaat aku mulai tampil. Wow, ternyata sangat berbeda sekali dengan di perhatikan orang ketimbang melihat diri sendiri di depan kaca. Ini tentunya menjadikan mental yang kokoh menjadi getar. Ketika ada yang salah sedikit, langsung berhenti, ketika ada yang lucu sedikit langsung tertawa. Inilah mungkin yang dilihat orang akan ceramahku kemaren waktu subuh.

Namun waktu subuh kemaren tentunya menjadi suatu pencapaian besar, sehingga nanti di waktu malam aku harus sukses memperdengarkan semut dengan pembicaraanku.

“Assalamualaikum…. Warahmatullahi…. Wabarakatuh…” aku mulai membuka salam.

Kemudian aku mulai berbicara sesuai dengan teks yang ada. Di tengah-tengah pembicaraan ataupun topik aku banyak sekali menemukakn kesalahan, baik itu kesalahan dari segi berbicara maupun dari segi gerak tubuh.

Aku seakan menjadi juri tubuhku sendiri. Segala kesalahan mampu ku koreksi dengan baik. Namun mungkin inilah yang harus baik. Aku banyak mengambil ilmu dari orang bagaimana untuk bisa berbicara dengan baik dan benar. Aku juga banyak mendengar tips dan trik berbicara di depan umum. Tentunya aku mengetahui akan hal ini bukanlah semata karna tanpa belajar, namun ada pembelajaran yang ku tempuh.

Setelah sampai akhir aku mulai membaca lagi naskah itu, ku perhatikan lagi ada banyak kata-kata yang kurang tepat, maka langsung ku ubah dengan kata yang lebih tepat. Dari sini aku dituntut untuk bisa membaca kata-kata yang baik sesuai dengan percakapan sehari-hari. Karena dengan berbicara menggunakan kata sehari-hari tentunya menjadi pendengar lebih mudah memahami akan kata-kata tersebut.  

Buaian Kata...

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 22

- Time up 08.24

- Jumlah Kata 408

 

Malam yang sangat indah kali ini, genanngan air di lapangan, juga hawa yang sangat sejuk menambah suasana malam yang sangat asri. Panggung yang indah nan megah sudah terpampang di depan kantor KMI (Kulliayatul Mu’alliminal Islamiyah). Lampu berkelap-kelip menghiasi indahnya panggung. Kursi tersusun rapi di depan panggung. Ada tulisan LP3B di depan panggunng yang terbuat dari sekam. Pajangan tentang LP3B menambah indah suasana yang menggunakan bunga kemudian di bentuk menjadi sebuah tulisan dengan gaya tulisan Khat juga ada juga yang bergaya tulisan Georgia. Background pada panggung sendiri terbuat dari lembaran triplex yang sudah siap dengan wajah barunya yaitu lukisan yang bagus nan cantik.

Para santri mulai berdatangan dari berbagai penjurunya, mereka berkumpul menuju panggung yang indah ini. Lampu sorot yang mulai menunjuk ke berbagai arah membuat siapa saja yang hadir kagum akan kreatifitas ini. Para santri mengambil bangkunya untuk kemudian duduk disana. Munazomah dari bagian Bahasa mulai mengatur arah para santri guna untuk memperlancar jalannya acara pada malam ini. Barisan santri di bangku sangatlah lurus dengan baju yang seragam semuanya kecuali para munazomah/mudabbir juga dari kelas akhir. Selain dari mereka semua menggunakan baju yang sama yaitu baju putih. Ini menggambarkan segala kekompakan yang ada pada santri. Bahwa semuanya itu adalah keluarga dan  disini juga kita belajar kekeluargaan.

Aku menggunakan baju warna hitam, lengkap dengan peci yang ada di atas kepalaku, kali ini aku tampil tak lah seperti yang lainnya. Sebagian dari mereka menguasai pakaian dari segi Bahasa yang di ambil. Ketika mengambil Bahasa arab maka menggunakan sorban lengkap dengan jubah yang putih nan panjang. Tentunya baju seperti itu layaknya orang yang berasal dari  arab. Yang berbahasa Inggris sendiri menggunakan jas. Baik itu jas hitam maupun warna yang lainnya, namun jika ku lihat Kembali maka yang menggunakan Bahasa Inggris ini seperti para penjabat karena menggunakan peci hitam yang ada di kepala mereka. Sedangkan yang berbahasa Indonesia sendiri layaknya orang Indonesia sendiri, aku menggunakan celana hitam juga menggunakan baju  kemeja hitam, penampilan dari pakaian sendiri menurutku sangat sederhana, tidak ada tambahan lain.

Naskah yang menemaniku sejak awal ini masih ku genggam erat di tanganku. Aku berdo’a supaya di beri kemudahan dalan berbicara maupun tampil yang gemilang, sekalipun aku tak pernah berdiri di panggung yang menurutku sangat megah sekali. Rasa yang sangat lain tentunya menyeruak ke seluruh tubuh sehingga pada akhirnya rasa itu mampu ku lawan dengan penampilan yang harus ku taklukkan dengan sangat gemilang. Pandangan dari 500 santri yang ada pada malam ini harus ku buat mereka larut dalam buaian ceramahku.

Buaian Kata (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 23

- Time up 08.38

- Jumlah Kata 403

 

Aku juga harus bisa memhipnotis juri dengan diksi pilihan yang telah ku siapkan guna untuk bisa keluar sebagai juara. Para juri disini tentunya bukanlah orang biasa, mereka dulunya juga keluar sebagai juara dalam setiap kompetisi yang ada, perkataannya yang terkadang sangat kritis sekali, juga mahir dalam menggunakan Balaghah yaitu ilmu yang mempelajari sastra arab. Tentunya dalam segi kritik serta saran dari mereka sangat menunjang keberhasilan kami. Kami dituntut oleh para juri disini tampil layaknya di panggung yang termegah, kami disini dituntut untuk mampu semuanya, kami dituntut untuk dapat berbicara secara 3 bahasa, sehingga penyebaran syi’ar islam dapat meluas ke seluruh penjuru dunia. Jikalau Bahasa Indonesia adalah Bahasa negara tercinta, sedangkan Bahasa inggris adalah Bahasa nomor 1 di dunia, juga Bahasa arab adalah tempat mengkaji berbagai ilmu di dunia keislaman. Sehingga dengan mempelajari Bahasa yang cukup strategis ini juga Bahasa yang menjadi penopang guna untuk mempersatukan dunia. Maka, atas dasar itu semua lomba ini di adakan, sehingga membangkitkan semangat santri dalam menyebar syi’ar islam dalam negara maupun luar negara, juga dapat memperdalam ilmu langsung dari Al-qur’an dan As-sunah yang berbahasa arab.

Aku duduk di belakang panggung dan saat ini yea aku hanya duduk serta menghafal, lirihan angin yang menyembur dari berbagai arah. Menambah kesejukan malam ini, tentunya hawa setelah hujan ini tak seperti biasanya. Tadinya ketika hujan datang aku sempat kecewa karena sudah ku persiapkan semua namun akhirnya batal. Walaupun semua ini bukanlah acaraku, akan tetapi acara bagian Bahasa itu sendiri. Namun, aku ikut andil dan berpartisipasi dalam jalannya lomba ini. Tentunya sangat disayangkan jikalau acara ini gagal, dan harus ditunda esok. Emang waktu magrib tadi hujan sangat deras sekali. Mengguyur dengan sangat deras, sehingga hal yang ada di lapangan seperti dekorasi, maupun kursi dan meja sudah basah. Namun alhamdulillah sebelum isya tadi langit sudah menutup air yang ada dan menampakkan wajahnya yang disinari dengan rembulan malam yang putih nan bersih, sehingga kekecewaanku yang tadi sangat membara dapat padam dengan berlangsungnya acara ini.

Pembukaan pun sudah dimulai dengan MC yang sangat kece ini. Penampilan yang sangat gagah menambah suasana semakin ramai, juga semakin meriah lagi. Bahasa yang mereka pakai juga sangat apik dan kaidah yang ada dalam nahwu serta Sharaf juga Grammar serta diksi sangatlah tepat, sehingga sangat indah didengar. Lantunannya pun sangat indah dengan sejuta rahasia Bahasa yang ada. Mereka membuka dengan salam yang bersamaan kemudian dilanjutkan oleh mukadimah pembuka yang menggunakan Bahasa arab, dengan kefasihan yang ada mereka memcoba menampilkan dengan sebaik-baiknya.

Buaian Kata (3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 24

- Time up 08.57

- Jumlah Kata 418

 

Kemudian langsung disambut oleh MC yang berbahasa inggris dengan segala ke-inggrisannya melalui penutur lidah orang Indonesia asli mampu menyaingi Bahasa inggris penutur aslinya. Kemudian dibawakan dengan Bahasa Indonesia dengan suara yang sangat tegas. Sehingga mereka saling bergantian membangun panduan suara sangat apik nan bagus.

Hingga pada saat pembukaannya mereka mempadukan suara mereka sehingga membuat getar bagi yang mendengarkannya, adapun kata-kata yang dipadukan itu adalah “ LP3B… Lomba Pidato 3 Bahasa, yang menyokong tema semangat muda dalam mensyi’arkan islam menggunakan 3 bahasa”

Kemudian MC yang berbahasa Indonesia menyambung “Indonesia….”

“Arabiyyah….” Dilanjutkan dengan MC Bahasa Arab.

“And English….” Dan yang terahir adalah MC Bahasa Inggris.

Tentunya dengan suara yang sangat lantang kemudian menggelegar di telinga siapapun, para santri pun menyambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah sekali. Sehingga mala min ini menjadi sangat meriah dengan penampilan MC yang sangat meriah. Perlahan aku mulai surut akan mentalku sendiri, namun disisi lain ada tekad yang harus ku dapatkan disini. Mental yang sudah mulai surut harus ku bangkitkan lagi, bagaimana tidak? Begitu banyak santri yang hadir tentunya 500 orang bukanlah hal yang sedikit, di tambah sorakan yang sangat antusias pada penampilan MC tadi, dan Sebagian dari para peserta juga mungkin merasakan hal yang sama. Apalagi yang masih sama sepertiku ini, hanya baru  tampil pertama kali, ada juga Sebagian dari mereka yang sudah sangat focus sekali memperhatikan panggung, itu mungkin dilakukan untuk menentukan titik dimana ia harus berdiri dan mampu di dengar dengan para audience yang lain. ini sangat lah berguna sekali, mengingat paggung yang didirikan tidaklah kecil, sehingga penguasaan panggung sangat dibutuhkan sekali.

Kali ini aku mulai memandangi panggung dan beberapa dari temanku sudah mulai menaiki panggung yang besar itu. Sudah lebih dari 3 penampilan pada malam ini. Urutan nomorku adalah 10, sedangkan peserta pada mala mini adalah sebanyak 21 orang dari berbagai Bahasa keluar nama sebanyak 7 orang Bahasa Indonesia, 7 oraang Bahasa Arab, 7 orang Bahasa Inggiris. Cukup panjang sekali untuk menunggu ini, saat ini saja baru penampilan nomor 4, waktu yang ditentukan pada setiap penampilan, minimal 5 menit dan maksimalnya adalah 7 menit, sedangkan lampu yang ada di depan panggung adalah peenentu waktu tersebut, jikalau hijau adalah untuk memulai pembukaan, sedangkan kuning adalah waktu sudah menunjukkan menit ke 4,5 sedangakan merah sendiri adalah waktu sudah mencapai 5 menit dan hanya ada sisa 2 menit lagi.lampu hidup secara bergantian, Sedangkan untuk mencapai waktu 7 menit adalah lampu hidup secara bersamaan. Waktu ini juga harus aku sesuaikan agar tidak terlewat maupun kekurangan nantinya, karna akan berakibat fatal bagi para peserta yang tampil.

Buaian Kata (4)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 25

- Time up 09.07

- Jumlah Kata 417

 

Peserta juga sudah mulai berdiri tegak di panggung menyampaikan sedikit ilmu dari yang ia kuasai, mereka tampak sangat lihai  sekali dalam berbicara, sehingga apa saja yang ia sampaikan dapat dilakukan secara lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Aku juga melihat para peserta yang maju, kali ini aku hanya membaca naskahku saja, tidak ada ku hafal lagi, karena akan berpengaruh ketika berada di panggung nantinya. Nah ketika ku lihat mereka tampil di atas panggung, mereka sangat mampu menguasai panggung, namun ada juga Sebagian yang lain tak mampu apa-apa. Hanya berdiri tegak dan ada juga yang untuk mengangkat tangan itu sangat susah sekali. Mungkin ini kali pertamanya ia tampil, namun itu sudah menjadi suatu pencapaian yang sangat besar sekali. Seperti halnya aku, kali ini adalah penampilan pertamaku yang menjadi pendobrak mentalku, bagaimana aku mampu menguasai itu semua sehingga aku mampu menguasai panggung dan materi yang telah ku hafal juga ku pahami, sehingga harapan yang pernah terlintas dapat ku wujudkan dengan segala ilmu yang ada.

Nomor udian para peserta sudah sampai di nomor 8, tanpa ku sadari bahwa aku saat ini adalah nomor undian 10, tentunya tak jauh lagi untuk mencapai nomor urutku kali ini. Jantungku mulai berdetak sangat keras, aku coba mengontrol itu semua suapaya dapat menjadi lebih rileks dan lebih tenang. Sehingga aku mampu tampil dengan gemilang, yea kata-kata itu selalu ku ingat dan selalu saja ku ulang-ulang untuk bisa menguasai panggung malam ini. Dalam artian aku mampu tampil dengan gemilang dan keluar sebagai juara. Pada undian nomor urut 8 rasanya sangat lama sekali, apalagi aku tak tenang pada posisi ini.

“Selanjutnya… dengan nomor undian 9 kami panggilkan kepada al-akh Ilham Alhakimi…… kepadanya kami persilahkan dengan segala hormat… dan untuk bersiap-siap nomor undian 10…”  ucap MC yang memandu acara pada mala mini.

“Huh…… hanya satu lagi, Ya Allah… berilah kemudahan bagi hambamu ini, untuk dapat tampil dengan gemilang disini Ya Allah. Berilah ketenangan dalam diri hamba Ya Allah… Aamiin…..” ucap dalam batinku.

Tentunya rasa seperti pasti pernah dirasakan oleh semua orang yang pernah mengalami akan hal ini. Seperti kita hendak berbicara di panggung yang nyatanya belum pernah kita berbicara, tentunya sebelum nomor urut kita atau pun nama kita sebelum di panggil, akan menjadi waktu di mana kita tak terkontrol, meskipun tak ayal Sebagian orang juga hanya biasa saja, tanpa mengambil beban sedikitpun. Kali ini penampilan nomor 9 sudah mencapai lampu warna kuning, yang artinya sebentar lagi akan menjadi penampilanku kali ini. Yunus mencoba mendekatiku, ia emang sudah tampil lebih dahulu ketimbang aku sekarang yang menunggu detik-detik di panggilnya namaku.

Buaian Kata (5)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 26

- Time up 08.16

- Jumlah Kata 466

 

Tentunya setelah di panggil seperti itu ia akan lebih paham akan hal ini. Bagaimana rasanya beridiri di atas panggung yang sangat megah seperti ini. Juga Bahasa yang ia gunakan bukanlah Bahasa yang mudah, disamping ia harus menguasai bahasanya, ia juga harus menguasai ilmu tajwid juga kefasihan dalam berbicara tentunya menjadi tantangan tersendiri baginya, sehingga pengaalaman yang ia dapatkan lebih banyak ketimbang Bahasa Indonesia sendiri. Ia juga baru pertama kali tampil di panggung yang seperti ini, mentornya adalah tak lain abangnya sendiri, yang saat ini berada di kelas akhir. Sudah 6 tahun abangnya disini, juga pernah menjabat sebagai bagian Bahasa pondok, tentunya seluk beluk akan lomba ini dialah yang lebih mengetahui ketimbang aku.

“Gak papa tu juno, anta bisa nanti tu, nyampe ke panggung nanti coba control dulu nafasnya, jangan perhatiin mata orang, karna semua orang pasti lihat kita.”

“Jadi lihat ke mana nus?”

“Yea lihat aja ke bahunya…. Jadi kan kita gak langsung lihat ke mukanya. Sebagia dari kawan kita nie kan mau ganggunya kita, yea jadi gitulah juno.”

“Oh iya deh, syukran nus……”

            Kemudian aku melihat para juri yang ada mencoba menghubungi para MC dengan cara memanggil di antara munazomah yang ada, untuk memberikan suatu isyarat yang aku sendiri tak mengetahuinya. Lampu peserta yang nomor undiannya 9 telah menguning, tentunya ini akan menjadi suatu hal yang mendobrak bagi diriku, siap tak siap aku harus siap akan hal ini. Aku harus tampil di antara banyaknya santri. Aku juga harus menampilkan apa yang selama ini telah ku pelajari. Sehingga aku mampu tampil dengan gemilang. Buaian kata dari yunus yang memberiku semangat. Sangatlah berguna bagi diriku sendiri, sehingga aku mampu dapat lebih semangat lagi dan lagi untuk bisa maju ke hadapan.

            Setelah sampai lampu berwarna merah, nah disitu masih ada waktu sekitar 2 menit lagi untuk bisa menghabiskan seluruh isi ceramah yang ada. Nah, aku juga harus lebih ekstra siap pada kali ini, degup keras jantungku ini, seakan ada hal yang memburu, padahal hanya untuk melihaikan kata-kata yang dipadukan dengan suara serta Gerakan tangan yang membuat aku mampu membawa seluruh audience yang hadir mampu memberikan apresiasi yang cukup memuaskan juga untuk membangun sebuah sejarah baru dalam hidupku yang tak akan terlupakan, sehingga aku mampu menambah relasi dalam bentuk inspirasi, juga optimisme yang kuat dalam diri, sehingga kali ini aku mampu menjadi power dalam diri untuk bisa lebih bersemangat, lebih maju, lebih berkembang, juga manjadi suatu kebanggaan bagi diri maupun keluarga di rumah, aku sudah sangat yakin akan mampu menguasai hal ini. Dan aku yakin aku bisa. setelah turun kemudian MC pun mulai angkat bicara Kembali.

            “Baik…. Terima kasih kepada saudara kita yang sudah menyampaikan sepatah kata.” Kemudian mereka semua berdiri, aku sedikit heran dalam hal ini. Ternyata…

“Dengan berakhirnya pembicara kita tadi, maka acara akan kita lanjutkan esok hari.. sekian dari kami wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…..”

            “Alhamdulillah……” pekik hatiku..

Tampil Juga.....

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 27

- Time up 08.40

- Jumlah Kata 413

 

Rasanya keputusan dewan juri tadi malam membuatku sedikit lega, di tengah aku yang tak terkontrol dalam emosional dapat di redakan dengan keputusan penundaan ini. toh kalaupun tadi malam aku tampil langsung aku tak tau bagaimana nasibku di panggung, namun hal ini tetap saja akan ku lalui mengingat bahwa aku adalah peserta lomba yang harus ku tunjukkan bagaimana aku tampil di hadapan semua audience yang ada guna untuk unjuk kebolehan yang ada dalam diriku ini. Aku harus membangun sejarah yang mampu mendobrak dalam diriku, perubahan tentu harus ku jalanin demi untuk hal yang akan besar kedepan. Mempunyai jalan itu sangatlah sulit sekali ketika tak akan di lalui, nah mala mini aku siap gak siap aku harus mampu tampil dengan hebat di atas panggung nan megah ini.

Kali ini aku bangun sangat cepat sekali. Bahkan jaros pun belum berbunyi aku sudah lebih dulu bangun. Yea aku sekarang tak lain adalah untuk menghafal dan terus belajar dengan giat, namun lebih tepatnya bukan menghafal sih, karena kalau menghafal tentunya membutuhkan waktu yang sangat panjang dalam penghafalan ini. Namun disini aku tak mau monoton terhadap apa yang akan ku sampaikan, jadi lebih tepatnya aku hamya membaca sembari memahami pola diksi yang ada, serta kandungan dari makna diksi yang tersusun. Kata demi kata mulai ku baca secara perlahan dan ku hampiri kata yang baru dengan penuh pemahaman yang ada, sehingga mampu untuk dapat ku pahamin. Ternyata lama-kelamaan aku pun mulia hilang kesadaranku, hal yang sepatutnya adalah memahami bacaan namun malah membuatku tertidur lengkap dengan naskah yang masih ku pegang dalam genggaman tanganku.

Aku tak sadar kalau posisiku saat ini sudah dalam keadaan tertidur yang seingatku adalah aku sedang membaca serta memahami tulisan ini. ternyata tanpa sadar aku terlelap dibuatnya. Emang sih aku bangun sekitar pukul 3 pagi, sehingga rasa kantuk tak bisa ter-elakkan. Aku terbangun Kembali ketika jaros sudah berbunyi, aku terkejut dengan posisiku saat ini, posisiku yang tak berbaring akan tetapi duduk seperti orang sedang zikir, namun di bawahnya aku memegang naksah yang tadinya ku baca. Badanku terasa sedikit sakit, karena posisi tidur yang seperti ini, namun yea mau gi mana lagi, sedangkan saat ini rasanya tidak ada waktu dengan sakit itu, emang sih baru sebulan ini aja kau tak pulang ke rumah. Lebih dari dua bulan yang lalu aku sangat sering pulang ke rumah, ini di sebabkan oleh penyakit yang menderaku sehingga aku tak bisa mengikuti kegiatan pondok secara optimal, penyakit yang sudah sejak lama ada dalam diriku kali ini kambuh ketika aku masuk ke pondok ini.  

Tampil Juga (2)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 28

- Time up 08.27

- Jumlah Kata 423

 

Aku sakit semenjak kelas 4 SD aku sudah mengedap penyakit asam lambung, tentunya selama masuk ke pesantren penyakit itu kambuh, karena yea penyakit itu kan berkenaan dengan makanan, jadi bergitu ada salah makan atau makan tak tepat waktu penyakit itu asyik menderaku. Hampir 2 bulan aku pulang balik dari pondok ke rumah, karena pengobatan yang harus ke jalanin, namun hampir 2 minggu ini aku sudah tidak merasakan sakit lagi, mungkin itu karena faktor terbiasa/habit, karena pada awal aku masuk ke pondok waktu yang ku jalanin maupun kegiatan juga makan sangatlah asing sekali bagiku, sehingga lambungku tak menerima itu semua, terahir kali aku sakit ini yaitu di rawat di rumah sakit selama 3 hari. Dan itulah mungkin akhirnya sehingga akuberharap itu adalah kali terahir aku sakit sehingga di rawat di rumah sakit. Kali ini ketika sudah mulai membaik dan enakan, kegiatan yang akan ku jalanin pun dapat terlaksana dengan baik. Tentunya menjadi kesenangan tersendiri dalam hal ini, aku dapat sehat dan kali ini aku bisa lulus menuju panggung untuk bersaing dengan para santri lainnnya.

--

Malam sudah tiba, kali ini tidak hujan seperti kemaren, aku telah lengkap dengan pakaian yang melekat pada tubuhku, dengan baju hitam lengkap dengan peci seperti kemaren, mungkin hanya harinya saja yang berbeda namun tidak dengan pakaian juga taka da bedanya. Kali ini aku tampil perdana, artinya setelah pembukaan dari MC disitulah aku mulai maju kedepan, menyampaikan segala isi dalam kepalaku kali ini, dengan segala kemampuan dan kekhasanku guna untuk menarik semua audience yang hadir, baik itu dari juri sendiri maupun dari santri yang hadir disini. Kata-kata yunus kemaren masih sangat teringat dalam diriku, yaitu jangan pernah lihat ke matanya, karena banyak kawan kita yang jahil disana, juga itu membuat diriku jadi gak focus, jadi perhatikan di bahunya aja, atau engga anggapa aja semua gak ada biar aman.

Ketika semua pada hadir di depan panggung ini, semua sudah mulai duduk pada posis yang telah di tentukan oleh bagian Bahasa yang ada, semua masih mulai Menyusun tempat duduk yang ada, juga ada Sebagian dari panitia meletakkan sebuah meja hitam yang kemudian di tutupi oleh taplak meja yang membungkus meja tersebut menjadi lebih berwarna, kemudian Sebagian lain ada yang menuju ke sound untuk membenarkan suara sound yang ingin di bunyikaan nantinya, sehingga suara yang di hasilkan pada kegiatan malam ini menjadi lebih optimal. Panitia yang dari belakang tadi kemudian Kembali dengan membawa piala yang sangat banyak sekali, karena jumlah yang ada juga sangat banyak, mulai dari juara dari ketiga Bahasa adalah 6 piala, bintang Bahasa 1 piala, dan piala bergilir 1 piala.

Tampil Juga (3)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 29

- Time up 07.35

- Jumlah Kata 407

 

Tentunya untuk mendapatkan pial aitu butuh usaha dan juga tekad yang kuat untuk mampu membawa pulang piala tersebut untuk di bawa pulang sebagai hadiah untuk orang tua di rumah. Akan menjadi sebuah kebahagiaan yang paling berharga di mana anak yang jauh di perantauan membawa sebuah piala, yea emang sih piala gak begitu mahal piala tersebut, namun kesan dari piala itu kalo Perebutan Piala ini mungkin saja sangatlah berharga bagiku. Aku harus memaksimalkan semua ini dengan penampilan yang gemilang, usahaku selama ini haruslah terbayarkan walaupun bukan aku yang membayar. Inilah tekad kuatku saat ini. Seorang juno yang tak pernah berdiri di hadapan banyak orang, untuk menyampaikan ilmu yang ia punya. Berharap dan berambisi besar untuk mendapatkan sebuah piala yang ingin di persembahkan untuk orang tua di rumah. Tekad ini muncul seketika aku melihat piala tersebut. Rasa yang sangat aku takuti kemarin seakan sudah sirna, kali ini aku harus tampil lebih dari yang kemaren. Aku ingat kemaren, aku harus bisa memperdengarkan semut yang ada di sarangnya untuk mendengarkan ku berbicara di panggung yang indah ini.

MC mulai membuka acara malam ini, dengan gejolak semangat yang membara, mereka bertiga menampilkan gaya yang lebih bagus ketimbang kemarin, mungkin inilah penyambutan yang sesungguhnya, suguhan suara lantang dari MC berharap mampu membakar semua semangat yang sangat membara untuk 8 peserta yang ingin tampil pada malam ini. Yang tentunya akulah orang yang pertama tampil pada saat ini, bermodalkan mental dan ilmu, kami siap untuk menampilkan yang terbaik untuk malam ini.

"Acara yang selanjutnya, pemanggilan para da'i kita, dengan nomor undian 10 atas nama Juno Alfa Alhamda, santriwan kelas 1, waktu dan tempat kami persilahkan dengan hormat."

Aku mulai menaiki tangga dengan perlahan, jantung juga sudah mulai bergetar tak menentu, aku terus saja berjalan sambil mencoba untuk tenang dan lebih tenang lagi. Gemuruh suara tepukan tangan dari para santri yang hadir membuat mental yang sudah sangat down sekali menjadi bangkit seketika. Aku tak tau mereka mempercayaiku untuk tampil gemilang, namun aku harus optimis dan terus melangkah untuk bisa menampilkan suatu hal yang wow malam ini.

Aku sampai ke tengah panggung dan mulai mengambil microphone yang terletak di depan lampu, aku mulai memandangi ke depan, aku mencoba untuk melihat semua yang ada di depanku. Ku coba untuk mengambil mata mereka agar tertuju kepadaku, dan benar saja mereka sudah menuju kepadaku saat ini. Titik fokus mereka saat ini adalah aku, aku berfikir inilah penguasaanku saat ini, inilah panggung milikku malam ini, dan inilah hasil karyaku malam ini.

Tampil Juga (4)

0 0

- Sarapan Kata KMO Club Batch 42

- Kelompok 5 Aksara La Suerte

- Day 30

- Time up 06.50

- Jumlah Kata 447

 

Aku mulai mengacungkan tangan dan mulai membuka salam.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh......... "

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... " Jawaban lantang dari para audience yang ada, membuatku lebih bersemangat lagi, aku menebarkan senyuman.

Kemudian aku mulai menyampaikan seluruh isi teks yang aku pahami dan aku latih sejak kemaren, aku menyampaikan dengan penuh rasa semangat, mimik wajah ku perbuat seakan pemimpin yang sedang menyampaikan alamat perang bagi anak buahnya. Bait demi Bait aku mulai berbicara sampai sejauh ini aku tak mengalami kendala sedikit pun. Aku berbicara tanpa kenal open yang lain, terkadang di sela-sela aku menyampaikan dengan nada yang sedikit keras mereka menyambut dengan tepukan tangan yang sangat meriah, seakan suara ini bersambung-sambung dengan suara tangan mereka. Hingga tanpa aku sadari lampu sudah mulai berwarna kuning. Inilah kesempatan emas ku guna untuk menyampaikan pokok inti dari semua sebelum lampu berwarna merah. Yea jangka waktu yang aku buat hanyalah 6 menit pertengahan antara 5 menit dan 7 menit dalam waktu ini. Tentunya setiap kali aku berbicara pasti ada perbedaan waktu. Naskah yang ku baca kali ini tinggal beberapa paragraf lagi, namun lampu tak kunjung merah, disinilah titik down ku.

Yunus mendengar suaraku yang mulai pelan langsung ambil paham dengan hal ini. Ia berbisik dari belakang "Juno.... Dikit lagi ini ayok... Waktu bentar lagi juga cuman inget jangan pandang mereka, juga lampu jangan ambil masalah waktumu pasti optimal tu..."

Kata yang terdengar seolah menyulut kembali semangat yang down karena lampu ini akhirnya aku berbicara kembali dengan nada yang lebih tinggi lagi, mereka para audience juga menyambut kembali dengan tepuk tangan. Hampir di setiap perkataan ku yang sedikit lebih keras, para audience langsung bersorak poranda.

Lampu sudah berwarna merah, dan benar saja waktu yang telah ku tentukan kini sudah tepat waktunya, aku mulai mengakhiri segala pembicaraan ku, nada mulai ku turunkan.

"Hingga ketika lampu berwarna merah... Disitulah saya harus undur diri, tegakkan islam dengan badanmu, kuatkan islam dengan ahklak mu, sempurna iman dengan ibadahmu, billahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh....."

Alhamdulillah akhirnya usai, aku meletakkan mic di bawah kemudian aku berjalan perlahan keluar panggung dengan penuh semangat. Keringat dingin mengucur di sela-sela dahi ku. Namun alhamdulillah aku bisa menyelesaikan ini dengan sempurna. Walaupun yea ada kendala sedikit ketika aku bingung harus apa dan bagaimmana memindahkan lampu itu, namun untungnya ada yunus yang coba mengingatkanku untuk bisa melanjutkan dan menyelesaikan semua  semua yang ada. Sesampainya aku di bawah yunus menyambutku dengan senyuman, di luar dugaannya mungkin aku bisa lupa dengan teks itu, ia pun melontarkan pertanyaan mengapa bisa terjadi hal yang demikian.

“Ana bingung nus… waktu ana lihat lampunya kok belum berubah, padahal kan di teks tinggal dikit lagi, rupanya perkiraanku emang betul namun karna gugup akhirnya gitu….”

Ia tersenyum mendengar jawabanku itu.

Mungkin saja kamu suka

Azizah Saputri
Sepertiga Cinta
Afkar Althaf
Cinta di atas sajadah
Syarifah Fathin
Dear Mine; Do Your Best

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil