Loading
0

0

0

Genre : Romance
Penulis : Febriyanti
Bab : 30
Pembaca : 0
Nama :
Buku : 1

Cinta untuk Alvian

Sinopsis

"Gue tau lo lagi patah hati. Tapi jangan sampai gara-gara itu lo jadi ngerusak diri lo," omel Sinta. "Siapa yang ngerusak diri?" dalih Alvian. "Lo pikir gue nggak tau," sahut Sinta cepat. "Lo cemburu, kan, sama Vito," lanjutnya.
Tags :
#sahabat#patahhati#cemburu

Satu

0 0

Serapan kata KMO club Batch 39

Kelompok : 8

Day 1 

Jumlah kata : 300 kata

 

Matahari sudah mulai terbenam. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi gelap. Sayup-sayup adzan maghrib sudah mulai terdengar. Tenda putra dan putri juga sudah berdiri semua.

 “Ayo semuanya! Kita salat maghrib dulu,” seru pak Bambang sambil mengajak murid-muridnya untuk segera salat.

 Para siswa dan siswi menurut. Mereka segera menghentikan kegiatan mereka dan bergegas menyiapkan segala keperluan untuk salat.

 Malam terasa dingin. Setelah selesai melaksanakan salat, mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka. Siswa putra sedang mengambil beberapa kayu bakar yang telah di kumpulkan sore tadi untuk menyalakan api unggun. Sedangkan para putri berada di dapur umum menyiapkan minuman hangat dan beberapa makanan ringan.

 Alvian mengendap-endap berjalan mengintip kegiatan para siswi putri di dapur umum. Tentu saja untuk melihat Reina. Ia mengintip dari balik pohon dan tak sengaja Ia mendengar pembicaraan mereka.

“Ciee Reina... Senyum-senyum mulu dari tadi,”goda Cinta pada Reina.

 “Ya iyalah, siapa yang nggak senang coba, bisa berduaan sama pangeran impian,”lanjut Asti yang membuat wajah Reina memerah.

 “Kalian kenapa, sih,”gumam Reina malu-malu.

 “Pokoknya kalau udah jadian, kita wajib dapat pajak jadian,”sahut Asti lagi dibalas dengan tawa dari mereka.

 “ Ya udah, nih, kasih kopi susu buat pangeran impianmu. Biar dia tau kalau kamu juga suka sama dia,”ucap Siska sambil menyodorkan segelas kopi susu pada Reina.

 Reina menerima gelas itu ragu.”Yang lain gimana?”

“Udahlah,mereka pasti ngerti, kok. Lagian kita kan, bawa minumannya sama-sama,"ujar Siska lagi.

 “O-oke,”jawab Reina singkat.

 Mendengar hal itu, Alvian langsung berlari kembali menuju tenda. Takut keberadaannya akan diketahui oleh Reina dan yang lainnya.

 "Kenapa lo buru-buru gitu?" tanya Vito yang keheranan melihat Alvian datang dengan tergesa-gesa.

 “Gue nggak apa-apa,”jawab Alvian singkat.

 "Eh, bentar lagi teman-teman bakalan bawain minuman loh. Seru nih," ucap Vito antusias dan hanya dibalas dengan anggukan dan senyum kecil datergesa-gesa.

 Hatinya kini sedang berbunga-bunga. Sebentar lagi ia akan menerima segelas kopi susu dari Reina yang dibawakan khusus hanya untuknya.

Ia melihat dari arah dapur umum. Reina, Cinta, Asti, Siska dan beberapa orang lainnya datang ke arah mereka. Masing-masing dari mereka membawa tempat berisi beberapa gelas dan makanan ringan. 

Dua

0 0

Serapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 2

300 Kata

Sedangkan Reina hanya membawa segelas kopi susu. Alvian memasang muka cuek seolah tak tau apa-apa.

 

 Tiba-tiba ia melihat ke arah samping kirinya. Reina memberikan segelas kopi susu itu pada Vito. Aksi Reina tersebut disambut meriah oleh Vito dan teman-temannya.

 

Bak disambar petir di malam hari, Alvian terdiam tak berucap sambil menikmati segelas teh manis yang dibawa oleh Cinta bukan dari Reina. Hatinya panas sepanas teh yang dinikmatinya. Ia mengecek saku celananya. Ada sebatang roko di sana. Ia mengeluarkannya dan membakarnya. Tapi belum sempat ia menghisapnya, rokok itu terjatuh dari tangannya dan tergenang di air. Alvian menoleh cepat ingin melihat siapa yang telah membuang rokoknya.

 

“Lo apa-apaan, sih?”bentak Alvian kesal pada Sinta.

 

 “Lo yang apa-apaan, kenapa mau ngerokok lagi?”ketus Sinta.

 “Gue nggak apa-apa, kok,”dalih Alvian.

 “Ck. Dasar pembohong.”

 

Alvian terdiam. Ia menatap ke langit. Bintang kerlap kerlip menambah indahnya malam. Sinta mengambil tempat duduk di samping Alvian.

 

“Gue tau lo lagi patah hati. Tapi jangan sampe gara-gara itu, lo jadi ngerusak diri lo,”pungkas Sinta.

 

“ Siapa yang patah hati?”sangkal Alvian.

 

“Lo pikir gue nggak tau?”sahut Sinta cepat.”Lo cemburu sama Vito, kan?”

 “Hm.”

 “Gue ngerti perasaan lo gimana.”Suara Sinta melunak.

 

Alvian menoleh pada Vito dan Reina yang sedang asyik bernyanyi bersama di depan api unggun bersama teman-teman yang lain.Setelah itu ia membuang mukanya cepat. Walaupun ia senang bisa melihat senyum dari wanita yang disukainya. Meskipun senyum itu bukan untuknya dan bukan karenanya.

 

 “Gue sebenarnya udah tau dari awal. Lo itu cuma dijadiin batu loncatan biar Reina bisa kenal Vito lebih dekat. Secara lo kan setim basket sama Vito. Sepupu lo juga kan?”tambah Sinta.

 

Alvian menatap Sinta dalam-dalam. “Kok gue nggak nyadar, ya?”ucap Alvian lirih. Ia menundukkan pandangannya ke tanah. Untuk urusan Cinta begini, Alvian juga bisa menangis. Tapi bagaimana mungkin, saat ini sedang ada Sinta di sampingnya. Jelas akan sangat malu jika Sinta mengetahuinya.

Tiga

0 0

Serapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 3

Jumlah kata: 300 kata 

 

  “Kalau mau nangis, nangis aja Van, nggak apa-apa kok,”ujar Sinta.

 “Gue juga mau nangis,Sin. Tapi gue malu sama lo,” jawab Alvian polos.

 Sinta yang mendengar jawaban polos Alvian seketika langsung terbahak. Alvian yang tak terima langsung mengajukan protes kepada Sinta.

 “Kok lo malah ketawa,sih,” ucapnya kesal.

 “Jawaban lo bikin ngakak. Polos bangat, sih. Pantas aja lo sering disakitin.”

 “Ah, sialan!” Alvian berdecak kesal.

 Sinta yang melihat Alvian seperti itu malah makin terbahak. Namun sebisa mungkin ia menahan tawanya agar tidak menyinggung perasaan Alvian.

 

 “Lo baperan,sih,”sindir Sinta.

 “Gue nggak akan baper kalau dia nggak ngasih harapan sama gue.”

 “Harapan palsu, ya,”ledek Sinta lagi sambil terbahak.

 Namun bukannya kesal, Alvian malah ikut tertawa.

 “Mulai sekarang gue nggak mau baperan,”ucap Alvian sungguh-sungguh.

 “Nah, gue setuju tuh,”sahut Sinta.

 

“Lo juga kali,”ejek Alvian balik. Ia mengusap matanya dan mengangkat pandangannya.

 

“Kok gue?”tanya Sinta keheranan.

 

“Lo kan juga baper sama Ardi, tapi di gantungin mulu,”ucap Alvian sambil terkekeh. Sementara muka Sinta sudah memerah padam.

 

“ALVIAN!!!” geram Sinta. Ia mencubit pinggang Alvian kuat.”Ah, lepas, lepasin! Iya iya gue salah,” teriak Alvian.

 

Sinta melepaskan cubitannya.”Berani lo ngomong gitu lagi, habis lo,”ancam Sinta.

 

“Bodo amat,nggak peduli,” ucap Alvian sambil berlari ke belakang menjauh dari Sinta.

 

ALVIAN!

 

 “Dasar bocah gedeng! Awas aja lo ya!”geram Sinta.

 

 “ Bodo amat! Gue mau shalat aja,” teriak Alvian dari kejauhan.

 

 “Ya iya shalat gih! Biar otak lu bener dikit.”

 “Biar gue nggak digantungin mulu,”teriak Alvian lagi.

 “Ahhh, awas aja lo ya!”geram Sinta namun sudah tak ada tanggapan dari Alvian.

 

Sinta tersenyum lega. Walaupun agak menyebalkan, tapi ia senang bisa menghibur sahabatnya dan membuatnya tidak bersedih lagi. Karena menurutnya, bersedih di usia muda tidak ada gunanya. Apalagi hanya gara-gara masalah percintaan. Itu hanya akan membuang-buang waktu. Tapi menikmati masa muda juga perlu, asal tidak merusak masa depan. Malam di bumi perkemahan memberikan banyak cerita yang memberikan kesan mendalam.

 

 

 

Empat

0 0

Serapan Kata KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 4

300 Kata

Matahari pagi mulai menyinari bumi, masih tampak malu-malu. Cahayanya yang kadang terhalang oleh pohon-pohon tinggi rimbun belum sepenuhnya menghilangkan hawa dingin.

 Walaupun begitu, para siswa dan siswi sudah bangun sejak subuh tadi. Terdengar keluhan dari beberapa orang tentang udara yang sangat dingin semalam serta nyamuk yang membuat tidur mereka tidak nyenyak.

 Sesuai jadwal, sehabis sarapan dan membereskan tenda, mereka akan memulai kegiatan hari ini.

 “Semua berkumpul!”perintah pak Bambang.

 Tanpa menyahut, semua siswa segera bergegas menuju ke sumber suara.

 “Hari ini kita akan bermain game,”lanjut pak Bambang dibalas dengan sorak sorai dari para siswa. “Jadi kalian akan dibagi dalam beberapa tim. Satu tim terdiri dari 6 siswa. Kalian harus berpencar dan mencari bendera hitam seperti yang bapak pegang ini,”ucap pak Bambang sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan bendera hitam. “Tim yang paling banyak mendapatkan bendera dan yang paling cepat, dialah pemenangnya.”

 

 Setelah penjelasan aturan main, para siswa pun membagi kelompok. Dan sialnya, Alvian, Vito, Sinta, Kevin, Cinta, dan Asti satu kelompok.

 

 “Kenapa gue harus sekelompok sama Vito, sih,”decak Alvian.

 “Ya udah, nggak apa-apa, Van, kan masih ada kita,”shut Kevin dibalas anggukan dan senyum dari Sinta.

 Meskipun begitu, Sinta dan Kevin sudah memberi isyaray agar Alvian tidak terpancing emosi.

 

 Mereka pun memulai perjalanan dengan ketua kelompoknya Vito. Mereka berjalan melewati sungai dan terkadang masuk ke dalam semak-semak untuk mendapatkan bendera tersebut.

 

 “Gue yakin,sih, tim kita pasti akan menang,”ucap Vito bersemangat.

 

 “Ya iyalah, kan ketuanya lo,”goda Cinta sambil bermain mata dengan Asti.

 

 “Bener, tuh, lagi berbunga-bunga kan semalam habis jadian. Sayangnya dia nggak sekelompok sama kita,”lanjut Asti.

 

 Mendengar hal tersebut,muka Vito memerah menahan malu. “Kalian bisa aja,”sahutnya sambil tersenyum.

 

 Alvian hanya terdiam melihat tingkah orang-orang dihadapannya ini. Ada rasa panas dari dalam hatinya.

 

 “Geli gue,”ucapnya lirih sambil berlalu pergi.

 

 Sinta dan Kevin yang mengetahui suasana hati Alvian saat ini, hanya bisa menghela napas khawatir takut Alvian akan bertindak macam-macam.

 

 

 

 

Lima

0 0

KMO CLUB BATCH 39

Kelompok 8

Day 5

Jumlah kata : 300 kata 

 

 Mending kita lanjut nyari benderanya, yuk, “ajak Sinta yang kembali mencairkan suasana dibalas dengan anggukan dari yang lainnya.

 Mereka segera berjalan menyusul Alvian yang sudah berada jauh di depan.

 “Kok Alvian cepat bangat, ya, jalannya,”ucap Sinta saat mereka tidak bisa menemukan Alvian. “Padahal dia belum lama pergi tadi.”

 “Mungkin lagi buang air kecil,”sahut Cinta.

 “Ya udah kita lanjut aja, nanti dia nyusul kita aja. Alvian tau jalan, kan,”titah Vito.

 “Gue mau nunggu Alvian aja,”sahut Sinta.

 “Buat apaan, sih? Alvian pasti tau arah balik kok,”timpal Vito.

 “Kalau kalian mau balik, balik aja. Pokoknya gue mau di sini nunggu Alvian,”tegas Sinta.

 “Kita akan kalah kalau kita nggak balik sama-sama,”protes Asti.

 “Terserah kalian. Tapi gue mau tetap di sini,”tekad Sinta.

 “Oke. Kita tunggu Alvian dulu.” Vito akhirnya mengalah dan memutuskan untuk menunggu Alvian.

 Tiga puluh menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Alvian. Sinta sudah panik. Apa Alvian tersesat? Kemana dia?

 “Udah 30 menit loh, ayo kita balik aja,”keluh Sinta.

 “Tim lain pasti udah di tenda,”lanjut Cinta.

 “Gue harus cari Alvian, sih,” sahut Kevin yang langsung berlari masuk kembali ke dalam hutan mencari Alvian.

 “Kevin! Gue ikut,”teriak Sinta menyusul Kevin. Sedangkan Cinta dan Asti hanya kebingungan.

 “Gue mau balik ke tenda aja,”putus Asti sambil berbalik arah pulang ke tenda disusul oleh Cinta.

 Vito kebingungan, ia tidak mungkin meninggalkan Kevin, Sinta dan Alvian. Tapi Ia juga harus kembali ke tenda tepat waktu.

 Ia mengacak-acak rambutnya kasar. Akhirnya Ia memutuskan untuk menyusul Sinta dan Kevin mencari Alvian. Ia harus menjadi ketua kelompok yang bertanggung jawab.

 Vito, Sinta dan Kevin mencari-cari Alvian.

 “Alvian ... lo dimana ...,”teriak Sinta.

 “Alvian ...,”

 Mereka kembali ke tempat dimana Alvian pergi meninggalkan mereka tadi. Tidak ada bekas atau tanda-tanda apapun.

 “Gue takut Alvian kenapa-kenapa,”resah Sinta.

 “Lo tenang aja. Kita akan cari Alvian sampai ketemu,”ujar Kevin.

 “Lagian tuh anak nyusahin aja,”sahut Vito.

 Sinta dan Kevin menatap tajam ke arah Vito. “Lo ngomong apa barusan?” potong Sinta dengan tatapan tajam ke arah Vito.

 “Kalau lo nggak mau nyari Alvian, lo balik aja ke tenda,”sergah Kevin.

 “Gue ketua kelompok. Gue harus tanggung jawab, dong,”jawab Vito santai.

Enam

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 6

300 kata 

 

 Dan ... Plak

 Satu tamparan keras mendadak mampir ke pipi Vito. Vito tak berkutik dan memegang pipinya yang kemerahan. Ia menatap Sinta dengan tatapan tajam. Baru saja Ia mengangkat tangannya hendak membalas Kevin sudah memegang dan menahannya. “Lo jangan pernah main kasar sama cewek,”ancam Kevin.

 Vito ‘tak dapat berkutik. Walau bagaimanapun juga ia segan kepada Kevin. Kevin adalah atlet pencak silat dan nggak bisa di pungkiri kalau Kevin punya ilmu beladiri yang bagus.

 “Lo sadar nggak, sih? Alvian kaya gitu gara-gara lo,”murka Sinta.

 “Emang gue salah apa?” tanya Vito pura-pura lugu.

 “Lo udah rebut Reina,”sahut Kevin.

 “Asal kalian tau, ya, Reina itu sukanya sama gue, bukan sama Alvian. Wajar aja, sih, Reina sukanya sama gue. Secara gue lebih dari Alvian,”ucap Vito menyombongkan diri.

 “Lo berani hina teman gue,”sergah Kevin. Baru saja ia mau mendaratkan pukulan ke muka Vito, ia dihentikan oleh suara yang tiba-tiba menyebut namanya.

 Mereka menoleh cepat. “Alvian?”

 Sinta dan Kevin segera berlari mendekat ke arah Alvian yang tampak terengah-engah. Sedangkan Vito memilih untuk memanfaatkan momen tersebut dan segera pergi dari tempat itu.

 “Bisa-bisa gue mati dikeroyok sama mereka bertiga.”

 “Lo kemana aja? “ tanya Sinta panik kepada Alvian.

 “Tadi gue buang air kecil. Pas gue balik, kalian udah nggak ada. Gue nggak tau jalan,”beber Alvian sambil mengatur napasnya.

 “Gila lo! Kiita udah Panik nyariin lo,”omel Kevin.

 “Sorry,”ucap Alvian sambil terkekeh pelan.

“Ngomong-ngomong Kalian lagi ngapain sama Vito?”tanya Alvian.

 “Kita habis ngasih pelajaran sama Vito,”sahut Sinta.

 “Lo tau nggak, Sinta nampar Vito tadi,”ledek Kevin sambil terbahak.

 “Wih,gila lo, harusnya gue tadi ada disitu buat videoin dia,” sahut Alvian menggoda Sinta.

 Muka sinta memerah menahan malu.”Gue kesal aja sama si Vito,”dalih Sinta.

 “Cie cie cie ...,”ledek Kevin dibalas dengan tawa dari mereka.

 “Apa, sih,”elak Sinta sambil menyembunyikan mukanya yang memerah menahan malu.

 “Nggak usah malu-malu gitu lagi,”ledek Kevin lagi.

 “Udah.sekarang kita harus balik lagi ke tenda. Yang lain pasti udah nungguin kita,”ujar Alvian dibalas dengan anggukan dari mereka semua.

 Akhirnya mereka bertiga pun kembali ke tenda. Walau bagaimanapun, Alvian merasa bersalah pada Vito Dan kelompoknya. Gara-gara dia, mereka kalah dan teman-temannya harus susah payah mencari dirinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuh

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 7

300 kata 

 

 “Nah,itu Alvian,”seru Asti saat melihat kedatangan Alvian dan teman-temannya.

 Semua orang yang berkumpul disitu sontak saja menoleh ke Arab Alvian.

 “Gila! Udah kaya seleb gue diliatin,” celetuk Alvian.

 “Kegeeran lo,” kekeh Sinta.

 Mereka segera berjalan menghampiri yang lainnya.

 “Lo dari mana aja, sih,nyusahin tau nggak,” omel Cinta pada Alvian yang baru saja sampai dan bergabung bersama yang lainnya.

 “Lo kalau nggak tau masalahnya, mending diam aja,”bentak Sinta pada Cinta.

 Muka Cinta memerah menahan amarah. Tapi Ia tidak berani berkutik.

 “Gue minta maaf karena udah repotin kalian. Gue juga minta maaf karena buat tim kita kalah,”ucap Alvian penuh sesal.

 “Iya, Van. Nggak apa-apa, yang penting sekarang lo udah selamat,”sahut Vito sambil menepuk pundak Alvian. Sedangkan Alvian hanya tersenyum paksa. “Ni anak kenapa?”pikir Alvian. Ia menoleh pada Sinta dan Kevin yang juga hanya menggelengkan kepala keheranan.

 “Udah sadar kali, ya, gara-gara tamparan lo tadi,”bisik Kevin sambil terkekeh pelan.

 “Gue curiga sama dia,”jawab Sinta namun tidak ada respon dari Kevin.

 “Sudah. Tidak apa-apa. Yang penting Alvian sudah selamat. Dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap bersama dengan kelompoknya masing-masing dan tidak boleh saling meninggalkan,”pesan pak Bambang.

 “Iya, Pak,”sahut mereka serempak.

 “Sekarang silakan istirahat di tenda masing-masing. Kita lanjutkan kegiatan sore nanti.”

 Mendengar hal tersebut, semua siswa dan siswi segera berbalik arah ke tenda masing-masing.

 Sinta, Kevin dan Alvian memilih untuk duduk dan bersitirahat di bawah pohon.

 “Eh, kalian lihat nggak tadi sikap si Vito sama Alvian,”bisik Sinta pelan agar tidak didengar oleh orang lain.

 “Gue?Biasa aja, sih,”jawab Alvian santai.

 “Mungkin dia udah sadar,”lanjut Kevin.

 “Lah, emang kalian nggak curiga gitu? Tadi aja jelek-jelekin Alvian, masa tiba-tiba langsung baik gitu,”sela Sinta.

 “Gue paham kok maksud lo,”tutur Alvian kali ini dengan mimik serius.

 “Tapi ya udahlah, biarin aja. Kita lihat dan ikuti cara mainnya,”lanjutnya.

 “Tenang aja, kita akan selalu sama-sama dan nggak boleh saling ninggalin,”sahut Kevin.

 Sinta mengangguk. “Tapi tetap aja gue masih sebel sama dia,”ucapnya ketus.

 “Ya udahlah lupain aja. Gue juga nggak apa-apa. Gue balik tenda, ya, mau istirahat. Capek bangat.” Alvian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tendanya.

 “Tetap aja gue khawatir,”gumam Sinta namun masih bisa terdengar pada telinga Kevin.

 “Lo....”Kevin menjeda ucapannya.

 Sinta yang menyadarinya langsung mencari alasan. “Gue capek, mau balik tenda,”lanjutnya kemudian dan langsung meninggalkan Kevin.

 Kevin yang melihat hal tersebut hanya tertawa kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Delapan

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 8

Jumlah kata : 300 kata 

 

 

Hari menjelang sore. Semua siswa kembali berkumpul untuk mendengarkan arahan selanjutnya dari pak Bambang.

 “Baik anak-anak, karena malam ini adalah malam terakhir kita di sini, yang artinya besok kita harus kembali ke sekolah, maka malam ini kita akan mengadakan acara kecil kecilan, api unggun, pesta, games, pokoknya banyak,”jelas pak Bambang dibalas dengan sorak sorai dari mereka.

 “Wah, gue nanti mau nyumbang lagu lah,” sahut Kevin.

 “Kalau lo yang nyanyi, auto bubar kita,” celetuk Alvian dibalas dengan tawa dari yang lain.

 “Lo nggak tau aja, suara gue tuh bagus sebenarnya,”sela Kevin.

 “Iya. Bagus kalau lo diam aja,”potong Sinta.

 “Ahh kalian mah,”ucap Kevin kesal. Sedangkan Alvian dan Sinta hanya terkekeh melihat Kevin yang menurut mereka lucu.

 “Sudah sudah. Pokoknya terserah, yang mau nyanyi silakan, yang mau diam aja juga silakan,”sahut pak Bambang melerai.

 “Tapi sebelum itu, sekarang kita bagi tugas untuk mengumpulkan ranting-ranting kayu buat api unggun. Nanti bapak akan bagi lagi kelompoknya.”

 “Gue pokoknya nggak mau sekelompok lagi sama Alvian,”ucap Cinta ketus.

 Sinta yang mendengar hal tersebut langsung menyahut. “Emang siapa juga yang mau satu kelompok sama lo.”

 “Dih, main ikut campur aja,”nyinyir Cinta.

 Sinta tiba-tiba naik darah dan hendak menghampiri Cinta. Namun ditahan oleh Alvian dan Kevin.

 “Udah, nggak usah diladenin,”tahan Alvian.

 “Anggap aja angin lewat,”lanjut Kevin.

 Sinta pun mengurungkan niatnya.

 “Kalau gitu, Alvian sekelompok aja sama gue,”cetus Vito tiba-tiba.

 Sinta dan Kevin yang memang sejak awal sudah curiga padanya langsung mewanti-wanti.

 “Tumben bangat tuh, anak,”bisik Sinta pada Kevin.

 “Lo jangan mau, Van,”lanjut Kevin.

 “Udahlah, biarin aja. Gue nggak takut sama tuh anak,”jawab Alvian.

 “Gue ngikut aja,”sahut Alvian kemudian.

 Akhirnya diputuskan Alvian satu kelompok bersama Vito, Asti, dan dua orang lainnya. Sedangkan Vito, Sinta, Cinta dan Reyna juga satu kelompok.

 Jujur saja, ada rasa kekhawatiran dalam diri Sinta pada Alvian. Takut Vito akan berbuat sesuatu kepadanya. Apalagi Alvian tadi sempat mengeluh karena badannya yang kurang sehat sehabis tersesat tadi membuat Sinta makin risau.

 “Udah, nggak usah khawatir gitu, Alvian bisa jaga diri kok. Lagian kita nyari kayunya juga masih di hutan yang sama dan kita jangan jauh-jauh dari mereka,”ujar Kevin menenangkan Sinta.

 Sinta hanya diam mengangguk.

Sembilan

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 9

Jumlah kata : 300 kata

 Mereka pun segera berpencar sesuai arahan dari pak Bambang untuk mencari kayu bakar. Setiap kelompok berjalan ke arahan yang berbeda-beda.

 Begitu juga dengan Alvian yang satu kelompok dengan Vito. Sebenarnya Vito sudah merencanakan ini semua. Satu kelompok dengan Alvian dan membuatnya tersesat ke dalam hutan.

 “Biar dia nggak bisa ganggu hubungan gue sama Reyna.” Entah apa yang merasuki diri Vito sampai ada niatan untuk berbuat jahat seperti itu. Ia bersama temannya sudah membuat persiapan matang.

 “Eh, udah terkumpul banyak, nih, gimana kalau kita balik sekarang,”usul Asti saat melihat kayu yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak.

 “Kayaknya belum,deh. Nanti malam kan acara penutupan, api unggunnya harus lebih besar daripada malam-malam kemarin,”sahut Vito.

 “Iya, sih,”balas Puput.

 Alvian sedari tadi hanya diam menyimak. Ia merasa canggung. Nggak ada Sinta sama Kevin.

 “Ayok, kita cari lagi!”

 Mereka pun mulai melanjutkan mencari ranting-ranting kayu kering dan kayu-kayu yang dapat digunakan untuk menyalakan api unggun.

 Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah mendadak mendung.

 “Kayaknya bentar lagi mau hujan,ayo kita balik sekarang,” tutur Puput.

 “Bener,tuh, ayok kita balik,”lanjut Asti.

 “Kayaknya kita emang harus balik sekarang. Kasihan cewek-cewek. Udah mau hujan juga.” Alvian yang dari tadi hanya diam akhirnya ikut berbicara.

 “Oke. Kalian bisa bawa kayunya dikit aja. Nanti sisanya biar kita yang angkat,”putus Vito dibalas dengan anggukan dari Asti dan Puput.

 ...

 Puput dan Asti berjalan duluan menuju tenda dengan membawa beberapa batang kayu yang telah mereka kumpulkan. Sedangkan para cowok-cowok masih di belakang.

 Hujan turun dengan deras. Asti dan Puput sudah kembali berkumpul bersama dengan yang lainnya.

 ...

 “Dari tadi gue nggak lihat Alvian,”bisik Sinta pada Kevin. Ada rasa khawatir dalam dirinya. Apalagi Alvian bersama dengan Vito.

 “Iya, ya. Coba tanyain sama Asti. Tadi dia satu kelompok sama Alvian,”balas Kevin.

 Mereka pun menghampiri Asti.

 “Alvian mana?” tanya Sinta tanpa basa basi.

 “Sama Vito tadi. Gue juga nggak tau,”jawabnya.

 “Lo kan sekelompok sama dia, masa nggak tau,”hardik Kevin.

 “Ya gue nggak tau,”balas Asti kesal.

“Tadi gue sama Puput disuruh duluan. Alvian, Vito sama Hendra masih di belakang. Gue kira mereka juga udah sampe,”jelas Asti ketus.

Sepuluh

0 0

KMO CLUB Batch 39

Kelompok 8

Day 10

Jumlah kata : 300 kata

 “Kok kalian ninggalin dia sendirian,sih?”bentak Sinta.

 Asti dan Puput bertatapan keheranan.

 “Emangnya Alvian anak kecil apa, pake dijagain segala,” jawab Puput sambil terkekeh pelan.

 “Kalau lo nggak tau apa-apa, mending diam aja!” sahut Sinta.

 Puput menutup mulutnya rapat-rapat sambil berlalu pergi dari situ. Hatinya disinggahi rasa kesal kepada Sinta.

 Asti yang melihat Puput pergi pun ingin menyusul, tetapi ditahan oleh Sinta dan Kevin.

 “Kenapa ni?”

 “Lo harus bilang, di mana terakhir kali kalian pisah dengan Alvian?” tanya Kevin.

 “Udah nggak jauh dari sini. Bagian sana,”tunjuknya ke dalam hutan.

 Kevin dan Sinta bertatapan kemudian tanpa basa-basi lagi, mereka segera berlari masuk ke dalam hutan.

 Melihat Kevin dan Sinta yang tiba-tiba berlari membuat para siswa lainnya keheranan. Mereka mendekati Asti bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

 “Mereka kenapa?” Tanya Reyna penasaran diikuti dengan siswa yang lainnya.

 “Nyari Alvian,”jawab Asti singkat.

 “Loh, ilang lagi? Emang benar-benar nyusahin, ya, tuh orang,” ucap Cinta kesal.

 “Untung gue nggak sekelompok sama dia. Pasti lo diinterogasi, kan, sama Sinta dan Kevin?”lanjutnya.

 Asti tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Masih kesal.

 Reyna tidak menghiraukan mereka. Matanya berkekliling mencari seseorang.

 “Vito mana?” tanyanya kemudian.

 “Ya itu. Alvian, Vito, sama Andre belum balik. Mereka bertiga hilang.”

 “Ha? Kok lo nggak bilang kalau Vito juga ilang?” Kali ini Reyna yang panik.

 “Gue harus nyari Vito,”tekadnya kemudian.

 Namun belum sempat ia hendak pergi, ia sudah ditahan sama yang lainnya.

 “Jangan! Lo nggak boleh pergi! Bahaya,”cegah Cinta.

 “Tapi Vito juga ada di sana. Gue harus cari Vito,”jawab Reyna.

 Ia hendak memberontak melepaskan diri dari Cinta yang menahan tangannya.

 “Ada apa ini?” Pak Bambang datang dan melerai keributan.

 “Itu pak. Alvian, Vito, sama Andre hilang,”jawab salah seorang siswa.

 “Kok bisa? Tadi siapa yang satu kelompok sama mereka?”

 “Saya pak,”sahut Asti.

 “Tapi saya sama Puput disuruh duluan karena tadi mau hujan. Saya kira mereka bakalan nyusul kita, ternyata enggak,”jelas Asti.

 “Terus Sinta sama Kevin?”

 “Mereka nyusul Alvian ke dalam hutan,Pak.”

 

 

Sebelas

0 0

KMO Club Batch 39

Serapan kata 

Kelompok 8

Day 11

Jumlah kata : 300 kata

 “Kalau gitu sekarang kita harus lapor Tim SAR buat nyari mereka,” putus pak Bambang.

 “Kenapa nggak kita cari rame-rame aja,Pak,” sahut Reyna.

 “Terlalu berbahaya. Bisa-bisa kalian hilang semua lagi.”

 Akhirnya pak Bambang menghubungi Tim SAR terdekat.

...

Tidak lama kemudian, Tim SAR dan beberapa warga dari daerah situ serta pak Lurah datang. Bagaimana pun juga, pak Lurah dan para warga lebih mengetahui kondisi hutan yang dijadikan tempat berkemah tersebut.

 Setelah mendapatkan informasi dimana dan kapan terakhir kali mereka menghilang, Tim SAR segera berpencar mencari keberadaan mereka. Mereka mempercepat pencarian sebelum matahari terbenam.

 Namun hingga matahari terbenam pun, belum ada tanda-tanda untuk menemukan mereka.

 Tim SAR akhirnya menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari.

 “Sebaiknya pencarian kita lanjutkan besok saja, karena hari sudah mulai gelap.”

 “Vito gimana? Hiks,”gumam Reyna mengkhawatirkan Vito---kekasihnya.

 “Lo tenang aja, Rey, Vito nggak kenapa-kenapa kok,”ucap Cinta menenangkan Reyna.

 “Tapi gue takut dia kenapa-kenapa,”lanjut Reyna lagi masih dengan isak tangisnya.

 “Ini gara-gara Alvian,sih, nyusahin aja,”sahut Asti.

 Mereka semua sepakat menjadikan Alvian sebagai penyebab utama dari semua kejadian ini, menyusahkan.

 “Baik semuanya. Malam ini acara api unggun ditiadakan dulu. Kita sama-sama berdoa saja supaya Tim SAR bisa menemukan keberadaan yang lainnya secepatnya, supaya kita bisa bergegas siap-siap kembali pulang.”

 Huuuu

 ...

 Sementara itu di tempat lain, Sinta dan Kevin masih mencari keberadaan Alvian.

 “Alvian... Lo dimana?” teriak Sinta di dalam keheningan malam.

 “Kemana kita harus nyari Alvian lagi? “lanjutnya kemudian.

 “Kayaknya kita harus istirahat dulu. Hari udah gelap. Nantinya kita yang tersesat.”Kevin menjeda ucapannya.

 “Gue rasa kita udah tersesat, sih,”lanjutnya.

 Sinta tidak memperhatikan Kevin. Di dalam pikirannya sekarang hanya Alvian. Bagaimana keadaannya? Dimana Alvian? Apa yang Vito lakukan sama dia? Pikiran-pikiran itu selalu menganggu pikirannya.

 “Ekhem. Lo dengerin gue ngomong, nggak, sih.”Kevin membuyarkan lamunan Sinta.

 “E-eh, emang lo ngomong apa?”jawab Sinta sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

“Kita istirahat dulu. Besok aja lanjut nyarinya,” ucap Kevin sambil mengeraskan suaranya.

 Sinta yang terkejut reflek menutup telinganya.

 “Gue nggak budek kali,”ucapnya ketus.

 Kevin terkekeh pelan. “Biar lo nggak ngelamun?”

 “Is, dasar!”Sinta duduk di bawah sebuah pohon sambil menyandarkan tubuhnya dibatang pohon tersebut.

 

 

Dua belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 12

Jumlah kata : 300 kata

 Hari sudah sangat malam. Namun Sinta sama sekali belum bisa memejamkan mata. Pikiran tentang Alvian yang masih terus bermain dikepalanya belum lagi dengan suara-suara hewan malam ditambah hawanya yang semakin dingin. Padahal saat ini mereka sedang berada di depan api unggun yang Kevin buat dari kayu dan rerumputan kering sekitar.

 Ia menoleh kepada Kevin yang sedang duduk dengan kepala menunduk, tertidur.

 “Nyenyak bangat tidurnya,” gumam Sinta.

 “Alvian dimana, ya, gimana keadaannya?”lanjutnya. Bahkan di saat seperti ini ia masih memikirkan Alvian.

 Tanpa Sinta sadari, ternyata Kevin sudah membuka matanya, terbangun.

 “Lo kenapa belum tidur?”

 Sontak Sinta terkejut.

 “Gue nggak bisa tidur,”jawabnya datar. “Lo kenapa bangun?”lanjutnya kemudian.

 “Banyak nyamuk, dingin,”jawab Kevin jujur.

 “Hm.” Sinta hanya berdehem pelan.

 “Sin, gue mau nanya boleh?”sahut Kevin lagi sambil memperbaiki posisi duduknya.

 “Apa?”

 “Lo kenapa bisa sekhawatir ini sama Alvian?”

 Sinta terdiam. Ia menatap Kevin kemudian membuang muka menatap ke langit.

 “Alvian, kan, sahabat kita. Wajarlah gue khawatir. Lo juga khawatir, kan,”jawab Sinta.

 “Bener itu aja?”tanya Kevin lagi penuh selidik.

 “Bener. Emang apa lagi?”dalih Sinta.

 “perasaan mungkin...”

 “Udah-udah.” Belum selesai Kevin berbicara, Sinta sudah memotong ucapannya.

 “Mending kita istirahat, besok kita harus cari Alvian sekalian cari cara gimana kita keluar dari sini. Kayaknya kita udah tersesat juga sekarang,”ucap Sinta kembali kemudian menundukkan kepalanya sambil memeluk lututnya.

 “Tenang aja. Pak Bambang sama yang lainnya pasti nyariin kita juga kok,”jawab Kevin lagi sambil merubah kembali posisi duduknya mengikuti Sinta.

 Walau bagaimanapun, mereka harus tetap istirahat dan memaksa mata mereka untuk terpejam untuk mengumpulkan tenaga.

...

 Pagi merekah. Matahari bersinar menembus pohon-pohon yang menjulang tinggi lebat menyilaukan mata.

 Sinta membuka matanya perlahan. Api unggun telah padam. Namun Ia tidak mendapati Kevin. Kemana Kevin?

 Sinta mencari kesana kemari. Belum juga mengatur napas dengan baik, Ia sudah disuguhi dengan pemandangan seperti ini. Walau bagaimanapun juga, ia ketakutan. Ia beranjak dari tempat duduknya mencari keberadaan Kevin.

 “Vin! Kevin!”teriak Sinta.

 “Kevin!”

   “Kemana gue harus pergi?Gue takut. Apa nunggu disini aja? Mungkin Kevin lagi buang air kecil.” Sinta berusaha berpikir positif dan mencoba duduk kembali berharap Kevin hanya pergi sebentar.

 Kriukk

 Perutnya berbunyi keroncongan. “Gue lapar,”gumamnya sambil memegangi perutnya. Dari kemarin sing, ia memang belum mengisi perutnya itu.

 

 

Tiga belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 13

Jumlah Kata : 300 Kata

 Sinta yang sedang asik duduk tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara-suara aneh. Suara langkah kaki manusia yang terdengar mendekat kepadanya.

 Sinta sudah mengambil keadaan siap siaga, berjaga-jaga apa yang akan terjadi selama beberapa menit kedepan.

 Satu menit

 Dua menit

 Plak

 “Aw, sakit, Sin.”

 Kevin meringis kesakitan saat sebuah ranting kayu yang cukup besar hinggap dipunggungnya.

 Sinta yang menyadari hal tersebut, langsung berhenti memukulnya. Sambil terkekeh pelan ia berkata,”Sorry, Vin, gue kira tadi bukan lo.” Ia membuang ranting pohon yang dipegangnya.

 Kevin menghiraukan perkataan Sinta. Ia memilih untuk duduk kembali di bawah pohon yang sejak semalam dihuni oleh mereka berdua.

 “Ya kalau takut bilang aja,”gumam Kevin.

 Muka Sinta memerah. “Gue nggak takut,”dalihnya.

 “Terus....”

 “Ya....” Sinta tidak meneruskan ucapannya. Ia memilih untuk duduk bersama Kevin.

 “Dapat darimana lo?”tanya Sinta sambil menunjuk satu sisir pisang yang dibawa oleh Kevin.

 “Nemu tadi,”jawab Kevin datar. Ia mulai mengupas kulit pisang yang hendak ia makan.

 “Pisang siapa? Udah ijin belum?”

 Pertanyaan Sinta langsung membuat Kevin menatapnya.

 “Lo mau nyari Alvian, kan?”

 Sinta mengangguk.

 “Kalau gitu, kita harus isi perut dulu. Kita butuh energi biar kuat nyari Alvian,”lanjut Kevin. Ia menyodorkan sebuah pisang kepada Sinta.

 Sinta menerimanya lalu mengupas kulit pisang tersebut dan memakannya.

 “Tapi ini pisang siapa?” Sinta masih saja memikirkan bagaimana jika pemilik pisang tersebut hendak mengambil pisangnya namun sudah tidak ada.

 “Gue nemu tadi. Kayaknya itu kebun udah lama nggak kerawat,”jawab Kevin terus terang.

 “Makan aja! Halal kok.” Kevin menjawab sambil meneruskan makannya.

 Sedangkan Sinta hanya mengangguk. Walau bagaimanapun, Ia tidak bisa berbohong kalau perutnya juga kelaparan dan butuh makan serta energi untuk mencari Alvian.

...

 Alvian berjalan gontai ‘tak tahu arah. Baju dan mukanya sangat kusut dan kotor. Kepalanya masih pusing. Ia baru saja tersadar dari pingsannya. Ia tidak ingat pasti apa yang terjadi kepadanya kemarin.

Ia hanya ingat bahwa dia, Vito dan Andre sempat ribut kemarin. Vito dan Andre mengeroyoknya. Ia juga ingat bahwa Ia sempat melawan mereka berdua. Habis itu ia tidak mengingat apa-apa lagi.

 “Sekarang mereka dimana?”

 Bahkan saat ini Alvian masih memikirkan bagaimana keadaan Andre dan Vito.

 

 

 

Empat belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 14

Jumlah kata : 300 kata

 “Ehem, sekarang kita harus gimana?” gumam Kevin sambil membuang kulit pisang yang isinya telah habis disantapnya.

 “Lanjut nyari Alvian, lah,” jawab Sinta.

 “Iya, tapi kemana?”

 “Di Amazon. Di hutan inilah dodol.” Sinta menjawab tanpa menoleh dan kembali mengupas kulit pisang yang entah sudah keberapa buahnya.

 Kevin berdecak kesal. Ia membuang kulit pisang sembarangan dan beranjak dari tempat duduknya.

 “Eh, lo mau kemana?” Sinta yang berada di sampingnya sontak saja ikut berdiri.

 “Tadi katanya mau cari Alvian. Ya udah ayo!” lanjut Kevin.

 “Terus pisangnya?”ucap Sinta sambil menunjuk sesisir pisang.

 “Tinggal satu sisir,”lanjutnya.

 “Bawa aja,”sahut Kevin acuh kemudian bergegas pergi.

 “Dih.” Sinta berdecak kesal, namun kemudian mengikuti Kevin sambil memegang satu sisir pisang.

 “Alvian!”

 “Lo di mana?”

 “Alvian!”

...

 Sementara itu Alvian yang berjalan tak tahu arah tiba-tiba mendengar suara-suara orang yang memanggilnya. Awalnya Ia mengira itu hanya khayalannya saja. Namun kali ini suara itu terdengar makin jelas dan makin dekat. Ia mengenali suara itu. Itu adalah suara Sinta dan Kevin, sahabatnya. Ia melangkah mencari sumber suara.

 “Gue di sini!”teriak Alvian.

 Ia berlari menuju kepada teman-temannya walaupun kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.

 “Sin, gue di sini!”teriaknya lagi.

 Ia melihat dari balik pohon besar. Beberapa meter di depannya berdiri dua orang yang tampak kebingungan. Sepertinya mereka mendengar suara Alvian yang berteriak memanggil mereka.

 Alvian tampak tersenyum gembira. Ia segera berjalan menuju kepada kedua sahabatnya. Namun baru saja kakinya hendak melangkah ke depan, ada sesuatu keras yang hinggap di punggungnya. Alvian terkejut, matanya tiba-tiba menjadi gelap sebelum akhirnya Ia jatuh pingsan.

...

 Sinta dan Kevin terus berteriak memanggil mama Alvian.

 “Kayaknya di sini juga nggak ada Alvian,”keluh Sinta. Sepertinya Ia sudah kelelahan berteriak.

 “Ya udah, gimana kalau kita cari aja di tempat lain,”usul Kevin.

 Namun belum juga mereka melangkah, tiba-tiba Sinta mendengar ada seseorang yang menyebut namanya.

 “Eh.” Sinta berhenti mendadak membuat Kevin yang melihatnya juga ikut berhenti.

 “Kenapa?”tanya Kevin keheranan.

 “Gue dengar kayak ada yang manggil gue. Seperti suara Alvian,”jawab Sinta terus terang.

 Kevin tak menjawab. Ia juga ikut memasang kupingnya. Benar saja, seperti ada suara yang memanggil mereka. Dan kali ini suaranya semakin mendekat.

 “Iya, lo benar. Itu kaya suara Alvian,”seru Kevin.

 Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh arah mencari Alvian. Raut bahagia tampak terlihat dari wajah mereka.

 Namun kembali, suara itu tiba-tiba saja lenyap.

 

 

Lima belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 15

Jumlah kata : 300 Kata

 “Gue nggak salah dengar,kan? Lo juga dengar,kan?” tanya Sinta kali ini dengan mimik serius.

 Kevin mengangguk kuat. Dia sangat yakin kalau tadi mereka mendengar suara Alvian. Ini masih terlalu pagi untuk para hantu yang berkeliaran.

 “Gue yakin gue nggak salah dengar.” Suara Sinta melemah. Hampir tak terdengar oleh Kevin.

 Kevin hanya menatapnya datar.

 “Mending sekarang kita cari Alvian di tempat lain. Sekalian cari jalan pulang. Kalau kita udah balik tenda, akan lebih banyak orang yang bantu buat cari Alvian. Alvian bisa segera ketemu,”jelas Kevin panjang lebar.

 Sedangkan Sinta hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kevin.

 “Ya udah ayo!”ajak Kevin. Ia mendahului Sinta dan segera berjalan ke depan. Walaupun terasa berat melangkah, Sinta akhirnya membuntutinya juga.

 Sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, Sinta sempat menoleh ke belakang, di mana dia dan Kevin mendengar suara Alvian. Walaupun akhirnya mereka mengakui bahwa itu hanya halusinasi mereka saja.

...

 Sementara itu di tenda perkemahan, para siswa berkumpul semua. Ada beberapa Tim SAR juga di sana serta Pak Bambang tentunya.

 “Hari ini kita akan mulai mencari keberadaan Alvian dan teman-temannya. Yang lain tetap tinggal di tenda. Jangan ada yang bergerak sendiri.” Salah seorang tim SAR yang mungkin adalah pemimpinnya memberikan himbauan kepada yang lainnya.

 “Kita berpencar.” Ia mulai memberikan arahan kepada tim SAR yang lain dengan membagi menjadi dua kelompok.

 “Mungkin yang para cowok bisa membantu, Pak?” tanya salah seorang siswa. Bagaimanapun juga, mereka khawatir kepada teman-teman mereka.

 “Saya rasa tidak perlu. Kalian menunggu saja di tenda,”jawab ketua tim SAR tersebut.

 “Hutan ini tidak terlalu luas. Kemungkinan untuk menemukan mereka sangat besar. Kalian menunggu saja di sini,”lanjutnya.

 Kemudian Ia memberi perintah kepada rekan-rekannya untuk segera bergerak berpencar mencari keberadaan Alvian dan teman-temannya.

...

 “Vin, kita harus kemana lagi sekarang?”tanya Sinta. Napasnya terdengar memburu, kelelahan.

 “Kita udah jalan jauh bangat ini,”lanjutnya.

 “Gue capek.”

 Kevin mmenatap datar wanita di depannya ini. Sebenarnya Ia juga merasa capek. Dari tadi berjalan, rasanya mereka hanya berputar-putar saja.

 “Kita istirahat dulu,”putusnya.

 Ia menghentikan langkahnya dan memilih duduk disembarang tempat. Begitupun dengan Sinta. Mereka beristirahat sejenak melepas kepenatan. Sudah hampir setengah hari mereka berjalan berputar-putar tak tentu arah.

 

 

Enam belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 16

Jumlah kata : 300 kata

 Sementara itu saat ini Tim SAR masih terus mencari keberadaan Alvian dan teman-temannya yang tersesat di dalam hutan. Tidak butuh waktu lama, karena seperti katanya hutan ini tidak terlalu luas. Mula-mula mereka bertemu dengan Kevin dan Sinta yang sedang duduk beristirahat.

...

 “Gue capek,Vin,”keluh Sinta. Entah sudah berapa kali dia mengatakan hal itu.

 “Badan gue lemes bangat,” lanjutnya.

 Kevin melihat pada Sinta. Memang benar wajah Sinta saat ini kelihatan sangat pucat.

 “Lo pucat, Sin,”ucap Kevin khawatir.

 Ia memegang dahi Sinta dengan telapak tangannya, dan benar saja dahi Sinta terasa panas.

 “Lo demam.” Kevin mulai panik.

 “Lo masih kuat jalan nggak?”

 Sinta menggeleng lemah. “Gue nggak tahu, Vin. Gue lemes bangat.”

 Kevin melihat kesana kemari mencari sesuatu. Barangkali ada sesuatu yang bisa menolongnya. Tapi nihil, otaknya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia panik melihat Sinta yang makin lemas. Ia hanya menyandarkan kepala Sinta ke dalam pelukannya.

 “Lo yang kuat. Kita akan keluar dari sini,”ujarnya.

 Dalam keadaan seperti itu, Kevin masih bisa mendengar ada suara-suara orang yang berjalan. Ia menoleh kesana kemari. Pandangannya terhenti saat melihat seseorang dari balik pohon. Sepertinya itu adalah Tim SAR yang ditugaskan untuk mencari mereka.

 Pikiran Kevin tidak melesat. Ia sesegera mungkin berteriak meminta tolong pada orang tersebut.

 “Di sini!”teriak nya.

 Mendengar ada orang yang berteriak, salah satu anggota tersebut menoleh ke belakang mencari sumber suara. Ia melihat Kevin yang sedang kerepotan merangkul Sinta. Ia memanggil beberapa temannya dan segera membawa Kevin dan Sinta untuk kembali bersama teman-temannya yang lain di tenda.

 “Bawa dia, Pak!”titah Kevin sambil menyerahkan Sinta untuk digotong bersama ke tenda. Karena jujur saja dirinya juga sangat lemas.

 “Dia kenapa?”tanya salah seorang anggota Tim SAR.

 “Demam,”jawab Kevin singkat.

 Ia segera berjalan menuju ke tenda mengikuti beberapa anggota Tim SAR sambil membawa Sinta di atas tandu yang sudah mereka siapkan.

 Kedatangan mereka disambut dengan rasa gembira sekaligus khawatir dari teman-teman yang lain. Gembira karena Sinta dan Kevin sudah ditemukan, dan khawatir karena melihat kondisi Sinta. Siswa putri segera membawa Sinta ke tenda agar dia bisa beristirahat. Sementara Kevin sendiri disambut oleh pak Bambang dan siswa putra yang lain.

 

 

Tujuh belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 17

Jumlah kata : 300 kata

 “Gimana keadaan kamu? Sinta kenapa bisa gitu?”tanya Pak Bambang pada Kevin.

 “Saya baik-baik aja, Pak. Sinta demam karena semalam kurang tidur sama kecapean mungkin, Pak,” jawab Kevin.

 “Ya sudah. Sekarang kamu istirahat dulu,” titah Pak Bambang.

 “Terus Kevin sama yang lain gimana,Pak?” Kali ini Kevin bertanya pada salah satu anggota Tim SAR.

 “Adek tenang saja. Secepatnya kami akan menemukan teman-teman Adek. Asal Adek dan yang lainnya tetap berada di tenda, dan jangan nekat mencari sendirian,”terang anggota Tim SAR yang sepertinya sedang menyindir Kevin. Sedangkan Kevin hanya terkekeh pelan.

 Para anggota Tim SAR segera kembali ke dalam hutan mencari Alvian, Vito dan Andre yang masih berada di dalam hutan. Semuanya berharap agar mereka bertiga bisa ditemukan dengan cepat dan mereka bisa pulang secepatnya.

 “Sinta di mana, Pak?” tanya Kevin pada pak Bambang.

 “Dia di tenda putri. Kamu istirahat aja. Dia baik-baik aja dan lagi ditangani sama yang lain,”jelas pak Bambang.

 Kevin mengangguk pelan. Ia memilih kembali masuk ke dalam tenda dan merebahkan badannya. Benar-benar melelahkan.

...

 “Alvian!”

 Sinta yang masih setengah sadar sedari tadi terus mengigau menyebut-nyebut nama Alvian. Cinta, Asti, Reyna dan anak-anak cewek lainnya pun kebingungan.

 “Sinta!” Asti mencoba membangunkan Sinta.

 Sinta terkejut dan langsung terduduk dengan wajahnya yang dipenuhi oleh keringat dingin.

 “Lo nggak apa-apa, kan?” tanya Cinta panik.

 Sinta memperhatikan teman-teman nya. “Gue di mana?”tanyanya bingung. Seingatnya tadi dia masih di dalam hutan bersama Kevin.

 “Lo udah di tenda. Tadi Tim SAR berhasil nemuin kalian. Tapi tadi lo pingsan. Lo demam,”jelas Reyna.

 “Kevin di mana?”

 “Dia lagi istirahat di tenda putra.”

 “Gimana keadaan lo?”tanya Reyna lagi sambil mengecek dahi Sinta.

 “Udah agak mendingan.”

 “Lo harus istirahat.”

 Sinta mengangguk pelan. Ia merasa bersyukur memiliki teman-teman yang sangat peduli dan perhatian kepadanya.

 Tiba-tiba Ia teringat pada Alvian.

 “Apa Alvian juga udah balik?”tanyanya.

 Teman-teman nya saling bertatapan bingung mau jawab apa.

 “Tim SAR masih nyari mereka,”jawab Cinta takut-takut.

 “Kita doa aja semoga mereka bisa ketemu secepatnya,”Sambung Asti.

 “Aamiin,”sahut mereka serentak.

 

 

 

Delapan belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 18

Jumlah kata : 300 kata

 Beberapa waktu kemudian, Tim SAR kembali ke tenda. Kali ini bersama dengan Andre dan Vito. Semua siswa kembali berkumpul mengerumuni mereka segaligus ingin tahu cerita dari mereka.

 “Eh, itu ada apa rame-rame? Apa mereka udah diremukan,ya?” tanya Cinta tiba-tiba memecah keheningan.

 Sinta dan yang lainnya langsung menoleh ke lapangan.

 “Kayaknya, sin, iya,” sahut Asti.

 “Vito!” potong Reyna.

 Ia segera berlari menemui Vito. Jujur saja sejak Vito menghilang kemarin, perasaannya tidak tenang. Sama seperti Sinta yang khawatir dengan keadaan Alvian saat ini.

 “Gue pengen lihat ke sana.” Sinta mencoba beranjak. Namun karena tubuhnya yang masih lemas, Ia masih terasa pusing.

 “Lo istirahat aja dulu. Jangan banyak gerak dulu!”titah Cinta.

 “Gue pengen lihat dan ketemu sama Alvian,”putus Sinta. Ia berusaha bangkit dan bergegas ke arah teman-temannya yang lain berkumpul dengan dibantuk Asti, Cinta, dan beberapa orang lainnya.

 Namun nihil, sesampai di sana Sinta malah tidak menemukan Alvian. Ia mencari ke sana kemari.

 “Apa Alvian Sudah dibawa ke tenda?”pikirnya.

 Ia melihat Kevin dan bergegas menghampirinya.

 “Vin!”panggil Sinta.

 Kevin menoleh. Ia agak terkejut dengan kedatangan Sinta.

 “Lo kok bisa ada di sini? Bukannya istirahat,”protes Kevin pada Sinta.

 “Gue nggak apa-apa,”balas Sinta. “Alvian mana?”lanjutnya. Jujur saja ia sangat membutuhkan jawaban Kevin sesuai dengan harapannya.

 Kevin menggeleng pelan. “Mereka nggak nemuin Alvian.”

 “Lah, kok bisa? Vito sama Andre kan, sama-sama Alvian kemarin.” Suara Sinta agak meninggi hingga membuat beberapa orang menoleh kepada mereka.

 “Kita dengar dulu penjelasan Vito sama Andre,” jawab Kevin.

 Sinta yang sudah tidak sabar langsung melontarkan pertanyaan pada Vito dan Andre yang masih beristirahat.

 “Heh! Alvian mana? Bukannya kemarin dia sama-sama kalian, kok sekarang nggak ada,”decak Alvian.

 Vito yang masih makan, sontak saja terkejut. Ia dan Andre saling bertatapan.

 “Kemarin kita kepisah sama dia,”jawab Vito berbohong.

 “Habis nyuruh Asti balik duluan, Alvian kebelet pipis. Kita tungguin tapi kok nggak balik-balik. Akhirnya kita mutusin buat cari dia. Malah kita tersesat juga,”tambah Andre.

 “Sampe sekarang kita nggak tahu dia ada di mana.”

 Sinta menggelengkan kepala ragu. Jujur saja Ia sama sekali tidak percaya sepatah katapun ucapan dua cowok di depannya ini. Ia melirik kepada Kevin, mereka saling bertatapan.

 

 

Sembilan belas

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 19

Jumlah Kata : 300 Kata

 “Terus gimana Alvian?” tanya Sinta kini kepada para anggota tim SAR.

 “Adek tenang aja. Alvian pasti ketemu,” jawabnya.

...

 Alvian membuka matanya perlahan. Namun yang ia lihat bukan lagi pohon-pohon yang tinggi menjulang. Ia bukan berada di dalam hutan, tapi di sebuah rumah. Rumah yang atapnya masih terbuat dari daun-daun rumbia. Dindingnya yang masih memakai papan. Lantainya belum di memakai keramik. Melainkan hanya bambu yang dirakit, menunjukkan betapa sederhananya rumah ini.

 Ia terbangun. Memukul-mukul wajahnya sendiri.

 “Apa gue udah mati,ya?”tanyanya pada dirinya sendiri.

 “Aw, sakit,”gumamnya sambil mencubiti dirinya sendiri.

 “Berarti gue belum mati. Tapi gue ada di mana? Masa iya gue masuk di dalam negeri dongeng, diselamatin sama peri, nggak mungkin!”

 Tiba-tiba dari luar kamar, seorang kakek tua masuk ke dalam kamarnya itu. “Sudah bangun, Nak?” Senyum ramah dan wajah berseri-seri tampak dari wajah kakek tua itu.

 Alvian mengangguk pelan sambil tersenyum kikuk.

 “Kemarin Kakek nemuin kamu pingsan di hutan. Makanya Kakek bawa kamu ke rumah Kakek,”jelas Kakek itu. Ia tahu kalau Alvian akan menanyakan hal tersebut.

 Alvian hanya mengangguk pelan.

 “Kamu kenapa bisa pingsan di hutan? Apa kamu tersesat?” tanya Kakek itu sambil menyodorkan secangkir teh hangat.

 Alvian menerima teh tersebut sambil mengingat-ingat kejadian apa yang telah menimpa dirinya kemarin.

 Seingatnya, Ia dikeroyok oleh Andre dan Vito, tapi Ia berhasil kabur. Dia lihat Sinta dan Kevin. Namun saat Alvian hendak menghampiri mereka, Alvian justru dipukul dari belakang. Dia tidak ingat apa-apa lagi.

 “Saya juga nggak ingat, Kek,”jawab Alvian berbohong.

 Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Kakek tersebut. Jujur saja, ia masih merasa ragu dan takut. Jangan-jangan Kakek ini orang jahat, atau tukang sihir.

 “Ya udah, Nak. Ayo kita keluar! Kamu pasti belum makan.” Setelah mendapat jawaban yang tidak memuaskan, kakek itu mengajak Alvian keluar.

 Alvian menurut. Ia mengikuti Kakek tersebut keluar dari dalam bilik. Dan kesederhanaan makin nampak saat melihat seorang nenek tua yang Alvian sangat yakin bahwa dia adalah istri Sang kakek.

 “Sudah bangun, Nak,”sapa nenek tersebut sambil menyiapkan makanan. “Ayok makan dulu!”ucapnya sambil mempersilakan Alvian untuk duduk.

 Alvian menurut. Ia tidak mungkin menolak karena tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa Ia memang sangat lapar. Ia menatap makanan di hadapannya. Sebakul nasi dengan sayur asem, tak lupa ikan asin dan sambal terasi. Ia manatap pada kakek dan nenek itu yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Apa gue ditolong sama malaikat?”pikirnya.

 Sepertinya otaknya sedikit ngawur setelah habis dipukuli.

 

 

Dua puluh

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 20

Jumlah kata : 300 kata

 Alvian mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya. Walaupun makanan ini terbilang sangat sederhana dan jauh berbeda dari apa yang selalu ia makan, tetapi rasa lapar yang begitu besar membuat ia makan sangat lahap. Kakek dan nenek itu memperhatikannya sambil tersenyum kecil.

 Alvian yang menyadari itu langsung tersenyum kikuk, malu.

 “Eh, maaf Kek, Nek,” ucapnya malu-malu.

 “Nda apa-apa Nak. Makan aja! Anggap saja rumah sendiri,” sahut Sang nenek.

 Alvian hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

 Selesai makan, mereka duduk berbincang-bincang. Sedangkan Sang nenek membereskan piring makan mereka.

 “Oh, iya, Kek, bagaimana caranya Kakek bisa temuin saya di hutan,”tanya Alvian.Walaupun sudah dijelaskan tadi, ia masih bingung sendiri.

 Sang Kakek mulai bercerita. “Kakek lagi nyari kayu bakar, terus lihat ada orang yang pingsan. Kakek manggil warga yang lain terus nyuruh mereka bawa kamu kesini,”jelas kakek itu.

 Alvian hanya manggut-manggut sambil memikirkan kembali kejadian yang telah menimpa dirinya itu.

 “Kok Nak Alvian bisa pingsan di hutan?” tanya nenek tiba-tiba yang muncul dari dalam dapur dan duduk di samping kakek sambil menyuguhi dua gelas teh manis.

 “Saya lagi cari kayu bakar buat api unggun. Tapi tersesat dan terpisah dari teman-teman saya. Seingat saya begitu,”jawab Alvian. Sepertinya ia belum bisa mengingat dengan jelas.

 “Saya dipukul dari belakang waktu mau manggil teman-teman saya yang lagi nyari saya,”Lanjutnya.

 Kakek dan nenek itu hanya manggut-manggut.

 “Apa saya bisa pulang, Kek?” tanyanya tiba-tiba.

 “Bisa, Nak. Tapi dari desa ini kalau mau ke kota ya susah,”jawab kakek itu.

 “Saya mau balik ke tenda saja, Kek. Tempat kami berkemah. Teman-teman saya pasti sudah mencari saya. Saya udah buat mereka khawatir,” sahut Alvian. Ia memang sangat mengkhawatirkan dan kepikiran sama teman-temannya yang pastinya sedang kebingungan mencari dirinya.

 Kakek dan nenek itu saling bertatapan. Cukup lama, hingga Sang nenek akhirnya mengangguk dan Sang kakek pun berkata, “Nak Alvian istirahat saja dulu. Besok baru Kakek antar Nak Alvian kembali ke tendanya.”

 “Hari sudah mau sore, Nak. Bentar lagi gelap,”lanjut Sang nenek.

 Alvian melihat keluar. Benar saja, hari memang sudah sore dan sebentar lagi malam. Ia tidak mungkin berjalan sendirian di tengah hutan. Yang ada nantinya malah makin tersesat. Maka Alvian pun menurut.

 

 

21

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 21

Jumlah kata : 300 kata

 Sedangkan di tempat lain, khususnya di tempat perkemahan, para siswa sedang bertanya-tanya penuh kekhawatiran, cemas dengan kondisi teman mereka yang belum juga ditemukan, Alvian.

 Yang paling khawatir adalah Sinta dan Kevin. Mereka benar-benar menaruh curiga kepada Vito dan Andre. Ya, karena mereka berdua yang sekelompok dengan Alvian. Apalagi Vito kelihatan tidak suka pada Alvian.

 “Ini semua gara-gara gue, Vin.” Suara Sinta terdengar memecah keheningan di antara mereka berdua.

 Kevin menatap datar sahabatnya ini. Tampak jelas sekali di wajah Sinta betapa khawatirnya dia kepada Alvian. Kevin sendiri yakin, ini bukan hanya sebatas kekhawatiran kepada sahabat, tetapi ini lebih. Walaupun di dalam diri Kevin sebenarnya panas melihat Sinta yang begitu khawatir pada Alvian. Benar. Kevin memang sudah sejak lama suka pada Sinta. Namun ia tidak pernah berani mengungkapkannya. Lebih tepatnya tidak ingin persahabatan mereka hancur. Mungkin itu juga yang di rasakan Sinta pada Alvian. Dan kini mereka terjebak dalam cinta segitiga.

 Hari mulai menjelang malam. Hawa dingin mulai kembali menyerang. Para Tim SAR juga sudah kembali. Seharusnya hari ini mereka sudah kembali pulang dan beristirahat ke rumah. Tetapi mereka tidak mungkin meninggalkan teman mereka. Dan mereka semua yakin bahwa Alvian hanya tersesat dan pasti akan kembali. Mungkin tersesat sangat dalam ke hutan. Tapi apapun itu, mereka berharap Alvian dalam keadaan yang baik-baik saja.

 “Bagaimana perkembangannya, Pak,”tanya pak Bambang mewakili para muridnya yang dipenuhi rasa penasaran sekaligus ingin mengetahui perkembangan pencarian Alvian.

 “Hari sudah mulai malam. Sangat susah mencari dalam kegelapan, jadi kami memutuskan untuk mencari kembali esok hari,”jawab salah seorang anggota Tim SAR.

 “Apa Alvian bisa segera ditemukan, Pak?”sahut Sinta.

 “Kita sama-sama berdoa saja semoga dia segera ditemukan. Padahal kami sudah menelusuri seluruh hutan ini, namun tetap saja nihil. Jika dia belum juga ditemukan, mungkin saja..., “ anggota Tim SAR itu menjeda ucapannya.

 “Mungkin apa, Pak?” sahut Sinta tidak sabaran. Wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia memang sangat khawatir pada Alvian.

 “Kami tidak bisa memastikan secara jelas. Tetapi di hutan ini kebanyakan dikelilingi oleh jurang dan sungai.”

 

 

22

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 22

Jumlah kata : 300 kata

 “Terus kenapa kalau di hutan ini banyak jurang?” tanya Sinta pura-pura tidak mengerti. Padahal dalam hatinya saat ini dipenuhi oleh rasa cemas yang sangat besar.

 Kevin yang melihat Sinta seperti itu hanya bisa menghela napas panjang. Sambil memegang bahu Sinta berusaha menguatkannya ia berkata, “Udah, Sin, ikhlasin aja.”

 Deg

 Sinta menatap horor pada Kevin. Mengikhlaskan? Apa maksudnya? Apa Kevin senang Alvian belum juga ditemukan? Ia melepas tangan Alvian dari bahunya.

 “Maksud lo apa?” hardik Sinta. “Gue yakin bangat kalau Alvian itu masih hidup. Dia selamat, dan besok dia akan balik ke sini,”lanjutnya kemudian berlalu pergi.

 Semua orang yang berada disitu hanya bisa menatap kepergian Sinta dengan tatapan yang sulit diartikan.

...

 Malam tanpa bintang. Entah kenapa malam ini langit begitu suram. Cahaya bulan juga tampak tidak terlalu terang. Sinta duduk di samping tenda seorang diri, agak jauh dari teman-temannya yang lain yang sedang menikmati api unggun seperti biasa. Walaupun kali ini tidak ada nyanyian atau petikan gitar, tidak ada juga permainan kecil dan sorak sorai kebahagiaan. Mereka hanya duduk melingkar, berdoa di dalam hati masing-masing untuk keselamatan mereka dan Alvian khususnya.

 Sinta merasakan kedatangan seseorang. Makin delay, dan kini duduk di sampingnya. Tidak, dia tidak mau berbicara dulu dengan Kevin. Jujur saja Ia masih marah kepadanya.

 Namun kali ini bukan. Dia bukan Kevin. Sinta melirik sekilas padanya, Vito. Mau apa dia?pikir Sinta.

 “Mau apa lo?” tanyanya dingin tanpa menoleh sedikit pun pada Vito.

 Vito hanya tersenyum licik. “Gue mau menghibur teman gue,” jawabnya.

 “Gue nggak apa-apa.”

 “Gue tau lo lagi nggak baik-baik aja, Sin,” bisiknya sambil menepuk bahu Sinta beberapa kali.

 Dengan cepat, Sinta menghempas tangan Vito.

 “Sahabat lo, kan, udah nggak ada,”sahut Vito lagi kali ini diiringi dengan tawa liciknya.

 Sinta balik menatap Vito. Jelas sekali terlihat ada api di matanya. Api yang sudah siap Ia keluarkan untuk membakar Vito hidup-hidup saat ini juga.

 “Lo jangan ngomong sembarangan!” geram Sinta sambil Menunjuk ke wajah Vito.

 Sedangkan Vito yang melihat Sinta seperti itu, malah makin terkekeh.

 “Gue yakin, Alvian baik-baik aja, dan gue yakin besok dia akan ditemukan.”

 “Semoga aja.”

 

 

23

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 23

Jumlah kata : 300 kata

 “Gue yakin, hilangnya Alvian pasti ada sangkut pautnya sama lo. Lo kan, yang udah bikin Alvian tersesat sampe nggak bisa balik lagi sampai sekarang,” ujar Sinta masih dengan mata yang menatap tajam ke arah Vito. “Tapi gue yakin, sih, besok Alvian akan ditemukan. Besok dia akan balik,”lanjutnya dengan penuh percaya diri.

 Vito mengangguk pelan sambil terkekeh. “Yakin bangat lo.”

Sinta tidak menjawab, ia hanya tersenyum sinis kepada Vito. Mereka terdiam hingga beberapa saat, sampai akhirnya Reyna pun datang menghampiri mereka.

 “Vito! Ngapain di sini? Aku cariin kemana-mana,”sapa Reyna pada Vito.

 “Lagi ngobrol aja sama Sinta,”jawab Vito jujur. Tangannya membelai halus pucuk kepala Reyna. Entah kenapa, tapi Vito selalu luluh jika berada di dekat Reyna.

 Sinta menatap pada Reyna yang ternyata juga sedang menatapnya. Mereka beradu padang sebentar, sampai akhirnya Reyna menyapa Sinta.

 “Lo yang sabar, ya. Gue yakin Alvian pasti akan ditemukan dalam keadaan baik-baik aja,”gumam Reyna sambil melayangkan senyumnya yang manis.

 Sinta hanya mengangguk dan membalas dengan senyum kecil. Ia beralih menatap Vito. “Reyna nggak pantas dapat cowok kaya Vito,”pikirnya.

 “Ya udah, yuk, kita pergi,”ajak Vito pada Reyna.

 “Iya. Aku pergi dulu, ya, Sin,”pamit Reyna. “Semangat!”lanjutnya kemudian berlalu pergi bersama Vito.

 Sepeninggal Reyna dan Vito, Sinta kembali duduk di atas sebatang kayu tersebut di samping tenda sambil menikmati cahaya bulan yang tampak suram. Mungkin karena mendung, langit tidak dihiasi oleh kerlap kerlip bintang. Hawa dingin dari hutan ini begitu menusuk ke dalam kulit. Namun bagi Sinta, hawa dingin ini menusuk sampai ke dalam hatinya. Hati yang dipenuhi kerinduan dan kecemasan pada seseorang yang entah sekarang berada di mana.

 Namun tanpa Sinta sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang mengintainnya dari jauh, namun enggan untuk menghampirinya. Mata yang dipenuhi rasa cinta, namun segan untuk diungkapkan. Terlalu banyak pantangan. Kevin juga takut akan merusak persahabatan mereka bertiga hanya karena cinta segitiga di antara mereka. Walaupun sebenarnya belum ada kepastian yang jelas dari Sinta apa dia benar suka pada Alvian, ataukah ini hanya kelhawatiran sebagai seorang sahabat dekat. Begitu juga Alvian yang tidak pernah bercerita pada siapa sebenarnya ia menaruh hati ketika cintanya tertolak oleh Reyna dahulu.

 

 

24

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 24

Jumlah kata : 300 Kata

 Sayup-sayup azan subuh mulai terdengar dari kejauhan. Alvian membuka matanya perlahan karena dikejutkan oleh suara yang memanggilnya. Ternyata itu adalah suara Kakek. Ia membangunkan Alvian untuk mengajaknya salat subuh berjamaah di masjid.

 “Bangun, Nak, sudah subuh. Ayo kita shalat subuh berjamaah di masjid,”ajaknya.

 Tanpa banyak bertanya lagi, Alvian menurut. Ia menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan berusaha menghilangkan kantuknya. Ia mengikuti Kakek untuk mengambil wudu sebelum pergi ke mushalla.

 Kakek membuka kayu penutup guci air. Saat Alvian menyentuh air tersebut, seketika Ia mengigil kedinginan. Kakek yang berada di sampingnya terkekeh pelan.

 “Dingin, ya, namanya juga di perkampungan airnya masih sejuk,” sahut kakek itu.

 “Iya Kek,”jawab Alvian sambil tersenyum malu.

 Dalam hati Ia membenarkan ucapan kakek tersebut. Ternyata begini rasanya tinggal di desa. Adem, nggak berisik kaya di kota. Rasanya Ia tidak ingin pulang. Tapi dia kembali menghilangkan pikiran itu mengingat teman-temannya pasti sedang kebingungan mencarinya sekarang.

 “Kakek tunggu di dalam, ya. Habis wudu kita ke masjid. Sebentar lagi azan,”ujar kakek membuyarkan lamunan Alvian.

 Alvian mengangguk pelan sambil memperhatikan kakek yang sudah masuk ke dalam rumah nya.

 Alvian secepat kilat mengambil wudu dan bergegas ke dalam. Sesampai dalam rumah, kakek ternyata sudah menunggunya. Menyerahkan sebuah sarung kepadanya yang akan dipakainya untuk salat.

 “Ini pakai sarungnya. Tadi sudah disiapkan sama nenek,”jelas kakek.

 Alvian menerimanya dengan senang hati. “Kemana Nenek, Kek,”tanyanya karena tidak melihat wanita tua itu. Ia hendak mengucapkan terima kasih.

 “Di belakang.”

 Alvian hanya manggut-manggut, kemudian mengikuti kakek ke luar menuju ke musalla yang agaknya tidak terlalu jauh dari rumah.

 Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. Alvian sangat segan pada kakek ini. Walaupun sangat sederhana, tapi kakek ini begitu bijaksana dan bersahaja.

 Di setiap jalan, mereka bertemu dengan jamaah lain yang hendak ke masjid. Dan anehnya, setiap mereka bertemu kakek, mereka menyalaminya dengan sopan. Alvian terheran, sebenarnya kakek yang menolongnya ini siapa, kenapa dia begitu dihormati.

 Alvian sempat risih karena orang-orang yang melihat dia bersama kakek langsung berbisik-bisik. Tentu saja Ia pasti sedang menjadi topik pembicaraan saat ini. Mungkin karena mereka belum pernah melihatnya atau kebingungan karena Alvian jalan bersama dengan kakek yang menurut Alvian orang yang sangat dihormati.

 

 

25

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 25

Jumlah kata : 300 kata

 Setelah selesai melaksanakan salat subuh berjamaah, kakek dan Alvian tidak langsung pulang. Mereka duduk mendengarkan ceramah subuh bersama para jamaah yang lain. Entah kenapa Alvian merasakan kenyamanan saat duduk bersama mereka. Kenyamanan yang tidak pernah dirasakannya saat di kota. Benar-benar pengalaman yang terbaik.

 Mereka pulang ke rumah saat matahari sudah bersinar. Walaupun begitu, tetap saja udaranya masih terasa sejuk dan dingin. Alvian berjalan dan sesekali mereka disapa oleh orang-orang yang hendak berangkat ke sawah.

 Sampai di rumah, nenek sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Tanpa terkecuali mereka pun langsung makan. Sebenarnya ada satu hal yang ingin sekali Alvian tanyakan pada kakek dan nenek ini. Tapi ia tidak berani. Namun rasa penasarannya ternyata lebih besar daripada rasa takutnya.

 “Seru, ya, disini,”ucap Alvian memulai percakapan.

 “Nak Alvian senang tinggal disini?”balas nenek sambil tersenyum.

 Alvian membalas senyuman nenek. “Iya, Nek. Udaranya masih segar bangat, orang-orangnya juga ramah-ramah. Jadi betah,”celetuk Alvian.

 “Ya sudah. Tinggal saja disini sama kakek dan nenek,”sahut kakek sambil tertawa.

 “Is. Nak Alvian ini harus pulang, pasti sekarang dia lagi dicariin,” bantah nenek tak terima sambil mencubit pelan kakek yang makin tertawa lebar.

 Mereka kelihatan sangat bahagia sekali. Sangat harmonis.

 “Oh, iya, Kek. Kakek sama nenek tinggal berdua saja? Anaknya kemana?”tanya Alvian.

 Namun rasanya Alvian ingin sekali memukul mulutnya melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh kakek dan nenek sangat ragu untuk menjawab pertanyaannya.

 “M-maaf, Kek. Saya nggak bermaksud,” sesal Alvian dengan rasa bersalah.

 Tiba-tiba kakek itu tersenyum kemudian berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Kami punya satu orang anak laki-laki, tapi kami nggak tahu sekarang dia dimana.”

 “Emang kemana, Kek,”tanya Alvian ragu-ragu.

 “Dia ke kota. Tapi sampai sekarang nggak pernah pulang. Kirim pesan saja tidak pernah.” Kali ini nenek yang menjawab pertanyaan Alvian.

 Alvian merasa sangat bersalah karena pertanyaannya telah membuat kakek dan nenek bersedih. Tapi ia tidak bermaksud, ia hanya penasaran. Dan ternyata kisahnya sangat sedih. Maka ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.

“Maaf, Nek, Kek.”

 “Ah, ya sudah. Nak Alvian mau balik kapan? Sekarang apa siangan sebentar?”tanya kakek mengalihkan pembicaraan.

 “Terserah kakek saja. Yang penting saya di antarkan pulang,”gumam Alvian dibalas dengan gelak tawa dari kakek.

 “Antarkan saja pagi ini. Takutnya dia nanti ditinggal sama teman-temannya,”usul nenek.

 Alvian dan kakek mengangguk tanda setuju.

 

 

26

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 26

Jumlah Kata : 300 Kata

 Sehabis sarapan, mereka mengobrol dulu sebentar. Alvian mengucapkan begitu banyak terima kasih kepada kakek dan nenek ini. Kakek yang telah menemukannya hingga membawanya pulang, dan nenek yang telah menjamunya dengan baik. Ini akan menjadi pengalaman berharga yang tidak akan bisa diulangnya. Ia juga berjanji akan mencari informasi tentang anak dari kakek dan nenek, ya walaupun Alvian tahu itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

 Setelah cukup lama, akhirnya kakek mengantar Alvian kembali ke tenda perkemahan menemui teman-temannya.

...

 Sementara itu di tenda perkemahan semua siswa kembali berkumpul menyambut Tim SAR yang akan mencari Alvian. Kata Tim SAR, jika sampai sore dia juga belum diketemukan, maka mereka menganggap Alvian telah hilang dengan dugaan hanyut atau telah dimakan oleh binatang buas. Mereka akan mengabari orang tua Alvian.

 Dengan harap-harap cemas, Sinta tampil di muka. “Saya mohon, Pak, temuin Alvian,”pintanya.

 Cinta dan lainnya yang berada di sisinya langsung menenangkannya.

 “Lo yang sabar, ya, Sin.”

 Tanpa menyahut, Tim SAR segera berpencar untuk mencari Alvian. Sementara siswa dihimbau untuk tetap berada di tenda, mempersiapkan segala hal untuk kepulangan mereka.

 Ada senyum licik dari Vito. “Sampai kapanpun kalian nggak akan nemuin Alvian, karena dia udah mati. Syukur-syukur nemu jasadnya masih utuh,”ucapnya dalam hati.

 Semua siswa kembali berpencar. Sinta duduk termenung seorang diri agak jauh dari teman-temannya yang lain. Saat ini Ia hanya butuh waktu sendiri. Tiba-tiba ia merasa ada suara langkah yang mendekatinya. “Tidak. Semoga bukan Vito,”batinnya.

 “Sin!?” Sinta tertegun sebentar mendengar suara yang memanggilnya. Itu suara Kevin. Walaupun Sinta tidak menyahut, ia hanya menoleh padanya.

 Namun tanpa perintah, Kevin duduk di sampingnya.

 “Aku minta maaf,”gumamnya tulus. “Aku ngaku salah. Maafin aku.”

 Sinta menatapnya serius. Ada satu hal yang aneh, Kevin menggunakan kata “aku-kamu.”

 Mendengar itu, hanya membuat Sinta terkekeh.

 “Kok malah ketawa, sih, jadi lo maafin nggak, nih,”decaknya kesal yang membuat Sinta malah makin tertawa lebar.

 “Tadi aku-kamu, sekarang lo-gue, gimana, sih, lo,”sindir Sinta.

 Kevin menutup mulutnya rapat, malu dan terkekeh pelan. “Maaf.... “

 “Gue udah maafin lo,”potong Sinta.

 “Serius?”

 “Nggak mau ya udah.”

 “Is, iya, gue mau. Makasih, Sinta...,”ujar Kevin sambil berlaga seperti aktor yang kesenangan.

 “Lebay lo ah,”jawab Sinta. Mereka tertawa bersama.

 

 

27

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 27

Jumlah kata : 300 kata

 Saat Kevin dan Sinta sedang asyik mengobrol dan bercanda, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut dari arah depan tenda. Mereka seketika menoleh ke sumber suara.

 “Lo denger?’tanya Sinta pada Kevin yang hanya mengangguk dengan ekspresi bingung.

 “Ayok cek!”ajak Sinta.

 Entah kenapa jantungnya berdegup sangat kencang saat ini, dan firasatnya tidak salah. Alvian sudah ditemukan. Ia datang bersama Tim SAR. Sinta tertegun menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 Tatapan matanya bertemu dengan Alvian. Mereka diam sejenak sebelum Sinta berhambur pada Alvian.

 “Vian, ini lo, kan,” ucap Sinta sambil sedikit terisak dalam pelukan Alvian.

 Alvian membalas pelukannya hangat. “Iya, ini gue,”gumamnya.

 Tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi tontonan dari teman-temannya yang langsung kompak menyoraki mereka berdua.

 “Cie....”

 “Woy, jangan di sini, dong.”

 “Astaghfirullah, belum halal.” Dan masih banyak ucapan-ucapan yang lain.

 Sinta tersadar, ia langsung melepas pelukannya. Mukanya memerah menahan malu. “M-maaf.”

 Walau bagaimana pun semua orang bahagia karena Alvian sudah ditemukan dan mereka bisa segera pulang.

 Namun di antara kebahagiaan itu, ada satu orang yang memasang muka palsu. Mukanya tersenyum bahagia, namun di hatinya tersimpan rasa kesal dan marah.

 “Bagaimana bisa dia selamat?”pikirnya.

 Ia mencari keberadaan Andre yang merupakan temannya waktu itu ketika berusaha menghabisi Alvian. Namun dia sama sekali tidak ada dimanapun.

 “Nggak mungkin, kan, dia udah balik,” tanyanya pada diri sendiri.

 Ia ingin sekali mencarinya memikirkan cara agar tidak ketahuan kalau mereka yang sudah membuat Alvian celaka. Namun Reyna selalu berada di sisinya sehingga membuat pergerakannya susah.

 “Ya udah. Karena sekarang Alvian sudah ditemukan, maka hari ini juga kita langsung balik ke sekolah,” putus pak Bambang yang membuat semua siswa akhirnya bertepuk tangan.

 “Kita juga mau ucapin terima kasih sama Tim SAR yang sudah membantu kami mencari siswa-siswa kami,”lanjutnya.

 “Sudah menjadi kewajiban kami, Pak,”balas tim SAR.

 Setelah mengucapkan dan mengobrol beberapa saat, Tim SAR akhirnya pamit undur diri. Sedangkan para siswa diminta untuk segera kembali ke tenda membereskan semua perlengkapan untuk pulang.

 

 

28

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 28

Jumlah kata : 300 kata

 “Oke, anak-anak, sekarang kalian bisa istirahat dulu dan beres-beres. Siang kita pulang,” ucap pak Bambang dibalas dengan sorak sorai para siswa. Mereka pun kembali ke tenda masing-masing untuk membereskan semua perlengkapan dan barang-barang mereka.

 “Vian,” sapa Sinta dan Kevin yang memang sejak tadi bersama Alvian.

 “Gue kangen bangat sama lo berdua,” gumam Alvian.

 “Lo tau nggak, kita tuh khawatir bangat sama lo. Emang lo kemana aja, sih,” omel Sinta. Namun saat itu, Kevin masih sempat melihat senyuman tipis di bibirnya. Api cemburu itu kembali menyala. Kali ini tidak, dia harus bisa menahan. Mungkin dia juga akan berusaha untuk mengikhlaskan Sinta. Daripada persahabatan mereka hancur hanya karena cinta.

 “Lo punya banyak utang sama kita,”potong Kevin yang berusaha kembali untuk berbaur bersama mereka.

 “Utang?”tanya Alvian tak mengerti.

 “Utang cerita. Lo harus ceritain semuanya dari awal.”

 “Nah, bener tuh.” Sinta menganggul setuju dengan ucapan Kevin.

 Mereka bertiga pun memutuskan untuk duduk pada sebatang kayu panjang yang agak besar dengan posisi Alvian berada di tengah. Sedangkan Sinta dan Kevin sudah siap untuk mendengar cerita Alvian.

 Alvian pun mulai bercerita, bagaimana Vito dan Andre yang meninggalkannya di hutan, saat ia melihat Sinta dan Kevin. Saat hendak memanggil mereka, tiba-tiba ada sesuatu keras di kepalanya. Alvian juga bercerita tentang kakek dan nenek yang menemukannya. Ia belajar banyak hal selama sehari tinggal bersama kakek itu. Semuanya tanpa terkecuali Alvian ceritakan tanpa ada yang terlewatkan.

 Sinta dan Kevin yang sejak tadi hanya mendengarkan, Cuma bisa manggut-manggut mencoba memahami.

 “Berarti ini semua ulahnya Vito dan Andre. Mereka harus dikasi pelajaran, sih,” sahut Kevin yang mulai panas. Ia hanya bisa menyimpulkan bahwa semua kejadian ini berawal dari Vito dan Andre yang dengan sengaja membuat Alvian tersesat dan berusaha untuk mencelakainya.

 Namun, baru saja Ia hendak berdiri, Ia sudah ditahan oleh Alvian. “Nggak usah dibalas,”titah Alvian yang membuat mata Sinta dan Kevin terbelalak kaget.

 “Tapi mereka udah...,” sahut Sinta.

 “Gue nggak kenapa-kenapa juga. Buktinya gue udah selamat,”ucap Alvian.

 “Lo kesambet apa?” Kevin bertanya keheranan. Pasalnya Alvian tidak pernah seperti ini bahkan lebih emosian dari dirinya apa lagi jika dia diganggu.

 “Gue Cuma pengen cepat-cepat pulang. Kalau kita bikin keributan, bakalan lama lagi. Kita juga yang repot,”jelas Alvian sambil kembali terduduk.

 Sinta dan Kevin hanya bisa saling bertatapan. Cukup lama, kemudian ikut duduk bersama Alvian di kiri kanannya.

 “Benar juga, sih, tapi mereka harus dikasi pelajaran. Mereka udah buat lo hampir celaka.”

 Alvian hanya menghela napas panjang. “Terserah kalian aja.”

 

 

29

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 29

Jumlah kata : 300 Kata

 Di tepian sungai yang lumayan deras airnya, duduk seorang pemuda berjaket hitam sambil melempar batu – batu kecil ke sungai. Dia tidak peduli teman-temannya sedang mencarinya saat ini. Dia juga tidak bermaksud untuk merepotkan yang lain, hanya saja saat ini ia butuh waktu untuk sendiri. Waktu untuk menyadari semua kesalahannya.

 Sejak Alvian ditemukan, Andre tiba-tiba merasa takut. Takut perbuatannya diketahui. Rasa bersalah seketika menggerogoti tubuhnya. Ia menyesal. Semalam ia bermimpi didatangi oleh almarhum ayahnya. Ayahnya merasa sangat kecewa kepadanya. Gara-gara mimpi itu, Ia menjadi berubah aneh. Dalam hatinya Ia merasa bersyukur Alvian sudah ditemukan. Namun tetap saja rasa bersalah nya masih ada.

 “Gue harus ngaku dan minta maaf sama Alvian,” tekadnya.

 Tekadnya sudah bulat, namun nyatanya ia masih merasa takut. Takut akan penolakan. Bagaimana jika mereka tidak mau maafin gue. Rasa ketakutan yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya.

...

 Sementara itu Vito sejak tadi sudah merasa gelisah. Bagaimana bisa Alvian bisa ditemukan? Dia pikir Alvian sudah tidak selamat, namun nyatanya berbanding terbalik. Apalagi saat ini Andre tiba-tiba menghilang. Vito takut kalau Andre akan membocorkan rahasianya Dan mengaku pada mereka. Kalau Andre melakukan itu, nama baiknya bisa hancur. Apa nanti kata guru dan teman-temannya, juga Reyna.

Maka sebelum semuanya terlambat, ia harus mencari Andre. Ia juga tahu betul bagaimana sifat anak itu. Dia akan benar-benar memberitahu yang lain jika tidak dicegah.

 Namun Reyna selalu berada disisinya. Ia tidak mengizinkan Vito untuk pergi kemanapun.

 “Rey, aku mau ke belakang dulu.” Vito mulai mencari ide agar bisa lepas dari Reyna.

 “Mau kemana?”

 “Kebelet,”jawabnya sambil memegangi perutnya.

 “Tapi jangan lama-lama.” Reyna melepaskan tangannya dari lengan Vito dan membiarkannya pergi.

 Setelah lepas dari Reyna, secepat kilat Vito segera mencari Kevin. Entah kemana Ia akan mencarinya. Vito jadi kebingungan.

...

 “Vit, gue capek, gue ngerasa bersalah. Jangan halangin gue.” Andre berusaha sebisa mungkin melepaskan diri dari Vito.

 “Bodoh!” umpat Vito kesal. “Kalau lo ngasih tau ke semuanya, kita bisa habis. Lo sadar, kan, kesalahan kita itu hampir fatal,”lanjutnya.

 “Gue mohon sama lo, jangan bersikap ceroboh. Ini demi lo juga.”

 

 

30

0 0

KMO Club Batch 39

Kelompok 8

Day 30

Jumlah Kata : 300 Kata

 “Lo nggak tau apa yang gue rasain, Vit.” Andre makin berusaha untuk melepaskan diri dari Cengkraman Vito di lengannya. Mukanya memerah karena emosi.

 “Gue tau. Makanya gue nggak mau lo bertindak bodoh,”bentak Vito.

 “Lepasin gue!” teriak Andre. Ia benar-benar tidak peduli dengan Vito saat ini. “Gue mau ketemu sama Alvian.”

 “Jangan, Bodoh!”

 Terjadilah tarik menarik antara Vito dan Andre. Vito berusaha sekuat tenaga untuk mencegah Andre bertemu dengan Alvian, sedangkan Andre yang dihantui rasa bersalah tetap pada pendiriannya.

 “Gue mohon sama lo,” harap Vito. Kali ini dia memasang wajah memelas yang membuat hati Andre menjadi iba.

 “Lo jangan bilang ke mereka!”

 Sebelum Andre hendak bicara, dari kejauhan terdengar suara yang memanggil nama mereka. Andre dan Vito menoleh bersamaan. Itu Alvian, Sinta dan Kevin. Vito menelan ludahnya takut. Sedangkan Andre hanya memasang muka datar tanpa arti.

 “Kalian ngapain di sini?” tanya Sinta setelah mereka bertiga menghampiri Andre dan Vito.

 “Di cariin tuh sama pak Bambang,”ucap Kevin.

 Vito tidak merespon. Ia menatap Andre dengan tatapan memelas, sedangkan Andre menatap Alvian masih dengan tatapan yang kosong.

 “Kalian kenapa pada tatap-tatapan, sih?” Kevin yang menyadari hal itu langsung angkat bicara.

 “Gue mau ngomong sama lo,” ucap Andre pada Alvian.

 “Gue?” Alvian menunjuk dirinya sendiri. Tampak jelas ia sangat kebingungan. Bukan hanya dia, Kevin dan Sinta juga ikut kebingungan dengan tingkah Andre yang tidak biasa. Sementara Vito mendadak keringat dingin.

 “Gue mohon jangan,” gumam Vito dalam hati yang mungkin bisa terdengar oleh Andre.

 “Mau ngomong apa?” tanya Alvian.

 “Gue ..., “ andre tampak ragu.

 “G-gue....”

 “Mending nanti aja ngomongnya. Sekarang kita harus ketemu sama pak Bambang dulu. Kita juga harus beresin tenda dan siap-siap buat balik, kan.” Tiba-tiba Vito memotong ucapan Andre dan mencari alasan agar dia tidak jadi berbicara pada Alvian.

 “Gimana?” tanya Alvian pada Andre meminta persetujuan.

 Andre tidak menjawab. Ia langsung berlalu pergi meninggalkan mereka yang kebingungan. Vito ikut menyusulnya.

 “Aneh bangat,”gumam Kevin.

 “Nggak tau.”

 “Ya udahlah, ayo kita balik ke tenda,”ajak Alvian. Mereka mencoba melupakan kejadian itu.

...

 “Gue mohon sama lo, maafin gue. Gue udah jujur, kan, sama lo. Gue nggak mau dihantui rasa bersalah ini terus.” Andre menangis meminta maaf pada Alvian, Kevin dan juga Sinta.

 “Gue nggak percaya lo bisa sejahat itu sama Alvian. Kurang baik apa dia sama lo,” hardik Sinta.

 “Lo kayak banci tau nggak. Mau aja di suruh-suruh sama Vito. Emang dia ngasih lo duit berapa,”tambah Kevin. Mereka benar-benar kecewa mendengar pengakuan dari Andre.

 Andre tidak menjawab. Ia hanya diam sambil terisak menunggu jawaban dari Alvian.

 “Gue udah maafin lo,” sahut Alvian yang langsung saja ditanggapi heran oleh Sinta dan Kevin.

 “Lo kok....” Kevin bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia betul-betul heran dengan sahabatnya ini. Setelah hilang kemarin, sikapnya mendadak aneh.

 “Nggak bisa gitu dong,”protes Sinta tidak setuju.

 “Bisa dong. Yang bermasalah itu gue sama Andre. Dan gue udah maafin dia,”ucap Alvian datar.

 “Makasih, gue minta maaf sekali lagi.”

...

 Sejak tadi Vito mondar-mandir ketakutan. Ia yakin, saat ini Andre pasti udah ngasih tau semuanya pada Alvian dan teman-temannya. Siap-siap saja ia akan dikeroyok sama mereka.

 “Sial!” Ia tidak berhenti mengutuki dirinya sendiri.

 Deg

 Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat Alvian, Sinta dan Kevin berjalan ke arahnya. “Mati gue.”

 Ia tidak bergeming saat mereka berdiri tepat di hadapannya. Vito pasrah.

 “Gue udah tau semuanya,”ucap Alvian singkat namun sangat jelas.

 Mata Vito mendadak pucat pasi. Kakinya terasa lemas. Ia akan mati konyol menghadapi mereka bertiga.

 “Gue ngaku salah. Gue minta maaf. Gue waktu itu....” Vito tidak melanjutkan ucapannya.

 “Nggak apa-apa. Gue udah maafin lo.”

 Vito seakan disihir hingga membuatnya kaku tak bergerak. Semudah itu Alvian memaafkan dia. Padahal kelakuannya sudah kelewatan.

 “Seriusan?” tanya tanya Vito memastikan.

 “Lo harusnya bersyukur. Teman kita baik sama lo. Patutnya lo di penjara tau nggak,” sindir Sinta.

 “Gue tau gue salah. Gue nyesal bangat.”

 “Nggak apa-apa, Vit. Gue ngerti kok.”

 “Ini juga salah kita sebenarnya.” Kevin tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.

 “Lo emosi gara-gara gue dan Sinta. Gue juga minta maaf,”lanjutnya.

 “Kalian masih mau, kan, temenan sama gue?” Vito tampak ragu mengucapkannya.

 “ Kita teman dari dulu, hari ini, dan selamanya,”jawab Alvian dibalas dengan sorak sorai dari mereka.

 Menyimpan dendam itu nggak ada gunanya. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, belajar dan terus memperbaiki itu cara yang baik untuk menebusnya.

 Tamat

 

 

Mungkin saja kamu suka

Harni Suharyati...
Pengantin Kucing Hitam
Suharyanto
Goresan Pena
Nabila Afanty
Walgita Sejak 1998
Anita Nur Oktav...
Eksamen Cinta Buah Hatiku
Mai
RIANA

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil