Loading
14

1

1

Genre : Fantasi
Penulis : HasanMuzk
Bab : 30
Pembaca : 0
Nama : Hasan Muzakki
Buku : 1

Gelak Sunyi dari Kami

Sinopsis

Tawa cerah menghampiri kami dengan riang, menyambut kesejukan sedari malam terus mendesis. Kami menghampirinya, berkata sepatah-dua kata. “Mungkin ga sih? Samudra ini bisa kami rombak…,” lirihnya kencang sembari menatap hamparan tanah nan kering. Aku menatap nya dengan segala energi positif, menyalurkan dalam setiap jabatan sorot mata. “Bahkan…. Jika kita mau, seisi dunia saja tidak bisa dibandingkan dengan kami.” Kami telah memutuskan, sungai mengalir adalah mimpi bagi para manusia. Maka carilah sungai itu, atau buatlah sendiri jika kamu mampu. Terangku, “Tetap semangat! Kami!” toh kalaupun kami gagal, aku hanya perlu untuk membereskan sisa-sisa semangatnya. Kami tertawa sekian detik, memperhitungkan potensi keberhasilan dalam setiap kesadaran. Aku telah memutuskan untuk terus mendorong kami, “Hari ini, teruslah berjalan semampu kami. Dan simpanlah esok untuk terus mendapat kecukupan.” Aku memberikan kami segenap pijakan berbintang. Tidak terasa, sapuan hangat nan penat diselimutkan kepada kami. Berbagai rancangan kan sirna, seketika jari menurutkan selimut tebal. Tetapi, kami terjaga dan bertekad. “Wahai, aku… tiadakah celah akan datang melainkan didatangkan dan kami menuggu menerimakan.” Rembulan telah menyinari kisah ini, seorang kami guna mencari jati diri. Aku senantiasa berada pada kami, perjalanan hidup sang kesadaran. Berapa lamakah kami bisa menitikkan kesadaran dalam liang renungan kecil ini… Aku berharap, kesadaran nan bebas ini bisa dan mampu tuk dicukupkan bagi kami. Hiduplah kesadaran, hidupkan sadar, hidupi kesadaranmu… Titik berat bagi kami mulai merasuki kesadaran, fana kan segera kami hadapi. Biarkanlah gulita menjadi saksi kehadiranku segala. Untuk memenuhi pangjilan guna esok hari, cerah dalam setiap kecerahan yang kan datang.
Tags :
#Sarapankata #KMOIndonesia #KMOBatch39 #Stargazing #Fiksi

Day 1 - Bagian Satu "Gelak"

2 0

Sarapankata

KMOIndonesia

KMOBatch39

Kelompok9

Stargazing

Jumlahkata417

Day1

 

Gelak

Hai…

Halo…

Bukankah ini sudah pagi?

Kenapa kamu tidak segera saja bangun dan bersiap diri?

“Aku hanya belum siap untuk menyambutnya”

“Berikan aku waktu, beberapa menit guna memanjakan kenikmatan fana ini”

… … …

Kami menyanggupinya, dan membiarkan diriku membicara dalam gelap sunyi tuk sementara waktu.

Tring, tring, tring deru teknologi pada jaman sekarang. Apa yang membuat hal itu berbeda dengan segala kepunyaan oleh Alam Raya?

Wahai, berbangunlah kamu! Tidakkah kamu berkata untuk menikmati beberapa menit?

Aku mengelak dalam segala kesadaran yang terkendali oleh pelita malam.

“Butuh beberapa menit lagi, untuk menjadi beberapa menit bukan?”

Sungguh, waktu tidak akan pernah menjadi beberapa. Terkecuali kamu sekalian yang membuatnya (menjadi) begitu!

Brakkk, pintu tergedor dan didorong oleh pemuda tegap yang sekarang memasuki kamar.

… “Woy! Bangun JON!” pemuda itu berteriak.

Plak! Pluk! Plek! Tamparan keras pemuda itu mengenai pelipisku berkali-kali dari kiri hingga kanan sisi.

“Ah elah! Ribet amat cuman buat bangunin doank!”

“Dahlah laporin aja bagus kali nih!”

Cekrek…  cekrik… “Hehe, buoy. Mantep dah pose lu Jon!” asik pemuda itu mengusiliku.

Langkah derap kaki tercipta, menghampiri pemuda yang asik memotret.

“Weh, buseh parah bener lu Man!” Pemuda kedua memainkan kalimat.

“Ga boleh gini donk! Kasian jono ntar, wah ngawur bener!” Ucapnya sembari menghalau arah kamera dan ingin menghapus segala foto pagi hari ini.

Pemuda pertama menatap jelas mata pemuda kedua.

“Bukannya gua jahat ya cuy, tapi memang ni anak perlu dikasi pelajaran!” terangnya singkat.

“Masa iya, udah dikasih arahan, tutor ama tips ga telat. Tapi malah begini mulu, capek donk gwa…” jelas pemuda pertama.

Pemuda kedua, berpikir dalam dan kembali menatap mata pemuda pertama. “Iya paham gue, jono emang begitu anaknye. Mo gimana lagi coba?”

“Kalaupun emang mau diberi pelajaran ada caranya, bukan gini tapi lah Man…” Pemuda kedua menerangkan.

“Oke, terangin ke gue deh gimana enaknya, Din?” Tanya pemuda pertama.

Pemuda kedua berpikir sejenak, dan mulai menerangkan gagasannya. “Kita tinggalin jono aja gimana, Man?”

“Hadeh, buseh lu mah sama aja ngawurnya kali!” Pemuda pertama tidak menerima.

“Ya, daripada lu ancem begitu bisa kena psikisnya dah!” Pemuda kedua tidak ingin kalah.

… Mereka sejenak berdiam, setidaknya 5 menit telah abai dari pandangan mereka. Hanya untuk satu orang bernama Jono. ….

“Tapi ghila yeh, ni jono ngapain aja coba?” pemuda pertama segera melempar kartu.

“Udahlah man, gaguna juga tanya ke gua kali. Tinggal aje beginian mahk, jadi beban doank entar, lebih baik kita beri pelajaran begini kali,” terang pemuda kedua.

“Hmmmmm, boleh deh,” Pemuda pertama mengiyakan dan kembali melihat ketegaran pemuda kedua. “Tapi… lu yakin ni, din?” Pemuda pertama menatap dengan mata penuh sorot keraguan.

Day 2 - Bagian Dua "Gelak"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata484
Day2

“Iye bener udah! Daripada nungguin lama, dibangunin ngamuk mulu, apa lu ga capek sendiri?” Sambut pemuda kedua.

“Belom lagi ni, kalo lu foto begini mo buat apaan? Lebih baik tinggal lah, kode paling keras ini buat Jono.” Terang lebih lanjut dari pemuda kedua.

Anggukan kecil menenggak pada pemuda pertama bernama Norman, dan bersiap untuk meninggalkan Jono. Disusul dengan pemuda kedua yang memiliki nama Dintara, sembari tetap melihat dan menerka-nerka pergerakan Jono. Langkah kaki mantap dari kedua pemuda itu meninggalkan jono pulas dengan tidurnya, dan seperti biasa mengunci pintu dari luar.

Wahai, tidakkah kamu mampu untuk bangun sedari tadi, bilamana sadar sudah merasuki melainkan rasa malasmu ini?

Kami bukan mengapa! Aku hanya melakukan tugasku. Malas adalah bagian dari diriku, tidaklah aku mampu hidup tanpa adanya rasa. Maka sebaik-baiknya aku adalah yang berada pada kehendakku. Bukankah begitu?

Kamu, kehendak dan kebebasan adalah segalanya yang berasal dari-Nya.

Rasa malasmu semuanya adalah berasal dari Ia, namun kamu memahami kebebasan ini. Dan berbagai pilihan yang bisa kamu gapai, semuanya akan mungkin diperuntukkan. Namun bilamana kamu ingin, maka tidaklah mungkin kamu menghindar.

Benarlah aku dalam hal ini, diriku dan diriku. Kehendakku adalah tugasku.

Begitupun, kamu dalam segala tanggungan plihanmu. Bermainlah selagi sanggup, berlarilah selama kamu bisa, melainkan waktu akan menggulung habis semuanya.

Drap…,

Jono terbangun dari tidurnya dan mulai bernapas dengan berat, “haagggh huggggh.” Terperanjat dari ranjangnya.

Ternyata tanpa ia sadari, kedua temannya tidak hanya meninggalkan begitu saja. Namun disertakan dengan memberikan air menggenang pada beberapa titik secara acak pada Jono, dengan menggunakan botol minum Jono yang tinggal sedikit.

Kriiiiik, suara bunyi daun pintu ditarik oleh Norman. Bising suara langkah menjejaki pergumulan pikiran.

“Permisi”

“Pak. Selamat Pagi…, Mohon maaf, kami sedikit terlambat.” Permohonan Norman disertai kedua tangan yang disatukan, dengan ekspresi menyesal.

2 Detik keheningan tercipta dalam ruangan ini.

Wajah lelaki itu menatap dalam calon manusia didikannya, dan mulai berkata.

“Iya, iya silahkan.” Dengan tangan terbuka lebar mempersilahkan kedua orang itu untuk menuju  pada rumah ilmu.

Derap kaki tercipta, Norman dan Dintara segera masuk hingga beberapa langkah kaki.

Lelaki itu kembali bertanya dan memicingkan mata. “Loh, NorDin? Jono nya kemana?” ucap lelaki itu sembari meneguk kecil segelas kopinya. Slurrrp…

Pandangan Dintara dan Norman saling beradu dan membagi informasi dalam sekejab, menyusun rangkaian yang paling baik untuk menjelaskan keadaaan yang ada.

Dintara baru akan mengucap, “A—

“Lho, waduh kalian ini…,” Sesal Lelaki berumur matang itu.

Kedua pria muda itu saling berselisih pandangan dalam diam, beradu mulut dalam dimensi tangan hampa. Seketika mengingat apa yang telah dilakukan, dan menyesali tindakan.

Dintara bersiap untuk memegang surat damai, ia baru saja akan berkata, “P—

“Mantap!” Teriakan dari Lelaki itu.

Kebingungan melanda mereka berdua, saling bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan. Situasi yang tercipta sangatlah aneh, ujar norman dalam pikirannya. Namun segera Dintara menyadari bahwa ini hanyalah permainan gurunya. Mengingat materi pembelajarannya adalah, Berdebat dalam setiap percakapan. Dan tidak salah ia mengingat bahwa ‘tanpa sambungan’ itu sub materi.

Day 3 - Bagian Tiga "Gelak"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata354
Day3

Menyadari hal ini segera dintara meratapi, dan berkata.

“P—

Lelaki itu kembali memotongnya.

“Bener-Ben—

Dintara balik memotong percakapan gurunya, “Jono nya tidur, Pak!”

Namun lelaki itu tidak menghentikan ucapannya, “Benar ya kalian ini! Saya suka loh! Anak itu, Jono” Sambungnya.

“Memang harus diberi pelajaran!”

Kedua pemuda itu tidak memahami, kenapa bisa menjadi seperti ini?                                                                                                    

Namun,

Lelaki berumur itu tersenyum dan segera mengakhiri sesi ini.

“Lho, sudah-sudah. Nda perlu dipikirin begitu tho, santai saja. Duduk kalian berdua,” ucap lelaki itu dengan penuh wibawa, dan kelegaan.

“Lha wong memang Jono itu begitu, sudah sabar saja kalian.”

“Tenang aja, saya paham kok….” ucap lelaki itu meyakinkan mereka berdua.

Segera mereka duduk pada pangkuan bangku masing-masing dan menikmati ilmu yang disajikan oleh lelaki berumur itu dalam ruangan penuh kebijaksanaan.

….

“Baiklah semuanya!”

“Mengingat waktu yang telah berjalan ini saya tidak bisa berlama-lama. Ditambah materi yang akan kita pelajari tentunya lumayan berat, saya paling tidak suka jikalau kamu belajar hanya untuk pajangan ya!”

“Saya ga memaksa kamu sekalian untuk paham, yang penting bisa kamu serap dalam hidupmu… kamu manfaatkan semua itu, dan kamu berdayakan pada minimal satu orang.”

“Siapapun itu tidak masalah kok!”

“Oke? Bisa dimengerti ya?”

“Baik, Pak! Sangat bisa dimengerti…” Satu ruangan berucap secara bersamaan.

Lambaian tangan tersusun dalam tangan sang penawar hampa hidup tersebut.

Ia yang rela menjadi tempat penampung jalurnya air, bukan sembarang air namun bersih dan jernih bisa dipastikan.

Langkahnya satu bagaikan sayap burung didikannya dalam melambai tinggi.

Penampilan dalam perwujudan dunia akan menerbitkan setidaknya satu rupa jiwa yang lahir dalam endapan pembelajaran.

Ia penggerak masa depan, yang mengajarkan pembelajaran masa sekarang.

Namun, akankah kamu memahami. Bahwa kamu sekalianlah masa depan itu? Termasuk aku. Kita yang berada dalam waktu, segalanya kan menghadapi masa.

Jono menoleh kesana-kemari, mengembalikan kesadaran yang hilang dalam dimensi dunia ketidaksadarannya. “Hoammmm”

“Duh, aeeer…butuh aeer”

“Akuuuu hauuusss”

“Din aerrr!”

Jono membuka matanya celingukan dan mencari keberadaan teman sekamarnya. Namun nihil hasilnya, hanya alunan raut dan garis yang ia dapati. Berbagai Imajinasi keluar dari rahang pemikirannya. Ditambah pakaiannya yang basah membuat ia menjadi sangat ingin air.

“Nor!!!”

“Normannn!” Jono berteriak, memastikan apakah benar tidak ada orang lainnya.

Haduh, aku harus gimana ini? Situasi nya aduh. Pamit dulu dah aku Din!

Day 4 - "Cukup"

2 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata341
Day4

PR

Cukup

 

Selamat Berwaktu! Sudah berapa lama, kamu menikmatinya?

Syukurlah. Setidaknya ada beberapa hal yang membuatmu bahagia, bukan?

Ah! Betul! Bagaimana tidurmu?

 

Seseorang pernah berkata, terkadang terlelap akan membuatmu lebih baik daripada terjaga. Namun, apa saja yang sudah kamu jaga hari ini?

Senang sekali, mendengarmu membaca kata demi kata ini.

Berharap tiada satu bacaan yang bisa kamu lewatkan, karena itu akan melukai ruang wawasanmu, bukan…?

Tentu saja, tidak ada hal yang terlewat! Karena walaupun terlewati yakin, kamu pasti akan selalu mengejarnya kembali. Selagi mampu….

 

Begitupun fana yang selalu menawarkan kita semua.

 

Harapan, suatu kekuatan sejati yang berasal dari dalam dirimu. Dimanakah itu? Jiwamu…? Hati? Pikiran? Atau hanya nafsu yang salah dalam kelompoknya? Itu tidaklah terlalu penting, dari manapun asalnya selama kamu melakukannya, maka berharaplah untuk sebaik mungkin. Begitupun, segala daya yang kamu miliki. Bila ada yang kamu masukkan, maka akan selalu ada yang keluar. Dan kembalilah untuk memperhatikan terhadap apa-apa yang kamu harapkan.

 

Kamu sebisa mungkin untuk yakin, teguhlah terhadap apa yang kamu lakukan. Tidak ada kebermanfaatan bilamana kamu melakukannya hanya setengah, lebih sedikit atau bahkan kamu (sengaja) lebihkan. Karena yang alami akan selalu menjadi dasarmu, dan kejujuran akan selalu membangun dirimu yang menuju puncak. Maka berusahalah untuk menuju puncak dari dirimu masing-masing, dan ingatlah ini dengan baik bahwa setiap puncak akan selalu tiada kesamaan. Begitupun, puncak dari dirimu sendiri. Sudahkah kamu sekalian, berusaha untuk mendaki ujung puncak dari dirimu?

Setiap kecukupan, setidaknya telah kita alami. Hanya saja, bagaimanakah kita menanggapi fenomena yang terjadi? Segalanya tiada yang baik maupun buruk, benar dan salah. Kita tidak memiliki hak untuk menilai hal itu. Orang yang tahu, tidaklah berhak untuk menyalahkan yang tidak tahu, melainkan bersabar dan memberi kecukupan pengetahuan bagi mereka. Dan orang yang baik, darimana ia tahu bahwa itu baik? Segala hal itu adalah sifat yang sangat tidak bisa kamu andalkan. Baiklah baik dan buruk adalah ada, berdasarkan sumber yang kamu dapati, namun tidakkah kamu menyadari. Bahwa tidaklah mungkin kamu menjadi orang baik, bila tidak ada orang baik lainnya…. Bukan?

 

Maka sudah sebaik apakah kita?

Apa saja yang kita harapkan dari setiap hal itu?

Day 5 - "Kasturi"

2 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata407
Day5
 

“Mari kita bertemu!” Nyaliku dalam ponsel meledak tak terkira. “Tidak bisakah, kamu menghubungiku seperti ini saja?” Balasnya, disertai emoticon mata memohon. Hagh, apakah dia bercanda? Tidak kukira, semula yang hanya bermain api. Sekarang aku tertelan oleh perbuatanku sendiri. Beginikah harumnya rasa yang agung ini?

 

Kting! Kting! Dua notifikasi tertera kembali, setelah pria itu menanggalkan ponselnya. Ia hanya bisa melihatnya sejenak, dan kembali melanjutkan apa yang ia inginkan.

 

Mari kita lihat, setangguh apakah dirimu? Hehe, temanku berkata trik ini setidaknya akan berhasil bila telah kugapai hatimu. Hohoohoo, ketawa jahat ini tidak bisa kuhindarkan. Yah, siapa yang bisa berharap hanya dari satu benda hasil kemajuan teknologi masa kini, bukan?

 

Siang hari itu, ia sedang membahas sesuatu bersama teman sebaya nya. Senyum telah menjadi makanannya. Hingga memasuki pada suatu topik pembicaraan, “Dasar bodoh!” Lelaki itu mengutuk dengan sambaran telunjuknya. Sorotan mata menjadi penuh kekecewaan beserta benci didalamnya, “Beraninya kamu!” Terlihat napas terengah-engah dalam setiap kalimatnya. Sore menjelang malam itu menjadi gulita pekat dalam diam, namun situasi macam apa ini…?

 

Argh, kenapa? Kenapa bisa?

Kalaupun Lecko memberikannya kepadaku, mengapa bisa ia semarah itu? Bukankah ia pula yang menyarankanku? Yaampun, betapa lucunya ia….

Terserahlah, lagipula tidak akan ada sekutu yang abadi. Lebih baik bila aku kembali memupuk diriku dan bersiap untuk esok hari.

 

Brakkk…drehggk, suara pintu kayu yang diketok dengan ujung sepatu. “Woi!” Teriaknya dengan tanpa toleransi. Membuat seisi penghuni lainnya merasa terganggu dengan keberadaanya. “Nyari Derki, ya Mas?” Sapaan lembut penghuni sebelah, tatapan Lecko sangat tidak ramah untuk situasi ini. Hanya memandang sejenak, dan kembali mendobrak pintu dengan ujung sepatu miliknya.

Terlihat raut sabar memenuhi penghuni sebelah, dan mengabarkan kepada yang peduli dan melihat lainnya untuk masuk kembali. “Kalau iya, orangnya lagi pergi Mas…” dengan senyuman disertai dengan tatapan kehabisan energi. Seketika Lecko mengubah suasana hatinya, dan menyadari tindakan yang tidak seharusnya. Ia menggelengkan kepala sejenak dan mengusap dahinya. Dengan postur penuh penyesalan ia berkata, “Waduh mohon maaf, Mas,” Kedua tangannya mengepal memohon ampunan. “Saya sepertinya sudah keterlaluan,” Ia menyodorkan beberapa lembaran pada penghuni sebelah itu. “Ini, Mas… sedikit waktu telah berlalu, setidaknya bisa menghangatkan malam selanjutnya,” Lecko menatap khawatir pada penghuni lainnya pula. “Ahh, sudah mas tidak apa-apa, kaya gitu aja kok. Sudah biasa disini, hehe,” Disertai gelak senyum rindang. “Oh iya mas, ini untuk yang lainnya juga ya…ehehe.” Benarkah? Wah, sepertinya Derki memilih sekutu yang benar-benar menyekutukannya. Hahaha, apa yang bisa kulakukan?

 

“Lecko kawanku, tidak kusangka.” Kabar menyebar begitu cepat, sepertinya aku harus melangkah pula…bukankah begitu?

 

 

 

 

 

Day 6 - "Ramuan"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata309
Day6

Pagi hari, aku bertemu dengan Baginda dan Yang Mulia. Bunga berjatuhan tepat pada pohon akan bersemikan musimnya. Melantunkan alunan suara yang memenjarakan, pesonanya menembakku bagaikan mata panah yang sunyi.

Ia memainkan keindahannya dihadapan orang yang semestinya, tak terurai. Kami hanya mampu ikut menikmatinya.

“Lihatlah, bagaimana engkau melakukannya?”

“Sungguh indah!” Ia tersenyum tepat padanya dengan tangan yang berayun, membersihkan guratan kesedihan setelah apa yang sudah terjadi.

 

“Pelayan, berikan kami beberapa penghangat mulut.” Tegas Baginda kepada kami.

Segera aku memandang pada pelayan istana Baginda, memberikan sentuhan hormat dan kembali memahami. Langkah kaki segera menanggalkan kami.

“Yang Mulia,” Sembari menundukan kepalanya dan menghormati, segera memasuki tempat dan melaporkan yang sedang terjadi. Setiap dari kami memiliki telinga, namun untuk mendengarkan seolah bukan hak kami dalam setiap kepemilikan.

 

“Baginda,” Pandangannya membulat mengisi renungan pada setiap luka milik kami.

“Oh, lihatlah! Yang Muliaku, Cahaya pandanganmu selalu menyinari negeri ini.” Sembari mempersilahkannya untuk menikmati olahan hangat. Senyum terukir pada kami.

“Ya Baginda, begitupun engkau yang membuatku selalu tersinari.” Ia mengucapkannya dengan senyum yang menawan.

“Ohhho,” Baginda membuang wajah dan kembali menenangkan dirinya, berjalan mengitari secara perlahan dan mengungkapkan. “Pelayan, siapkan pertemuan setelah ini!”

“Ya, Baginda!” Aku segera menghadap pelayan lainnya, merancang persiapan Baginda dan memastikan tidak akan ada yang mengganggu. Pertemuan akan segera diadakan, Ia dan Yang Mulia segera menanggalkan situasi harmonis yang tercipta. Kami mengikuti Baginda dan terus menyusuri jalan menuju pertemuan.

Tidak akan ada, pertemuan tanpa pertikaian. Begitulah kami mempertahankan eksistensi, bahkan dalam kehidupan pelayan seperti kami.

 

“Oh? Apa saja yang kamu tulis disitu?”

Derap langkah yang senyap, aku ingin melihatnya. Namun, mataku bukanlah bebas untuk melihat. Aku hanya menunduk dan menghormati, melihat bawah jubah yang ia kenakan. Terlihat warna yang tidak bisa dilawan. “Tuan, sesungguhnya saya hanya menulis untuk meredakan masalah sendiri,” Ucapku dengan tangan mengepal.

“Hmmmm.” Ia berpikir sejenak, dan menatapku dengan mata yang serius. “Perhatikan tulisanmu,” Ucapnya dengan jelas dan dingin.

Day 7 - "Ramuan 2"

2 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata357
Day7
 

“Baik, Tuan.” Segera menyerahkan buku. Ia melihat secara seksama dan memperhatikannya, beruntungnya diriku selalu menulis hal yang baik. “Tidak buruk,” Ucapnya dengan jelas dan menempatkan buku dengan yang baru. “Kau memberikan keterangan yang baik, teruslah menulis untukku,” Ia segera melemparkan dengan perlahan koin emas didepan mataku. “Baik, Tuan.” Ucapku singkat dengan menundukan kehormatan. “Lihatlah wajahku, bagaimana bisa kamu menulis sedang tidak memperhatikannya?”

Aku sekilas menempatkan pandanganku pada wajahnya, dan seketika menundukkan kembali. “Aku tidak ingin asap menjadi lebih besar, buatlah keterangan yang lebih baik!” Ucapnya secara dalam dan ancaman yang tidak bermain. Segera meninggalkan dan mencari udara segar. Huft, beruntungnya Tuan Muda hanya memberikan beberapa perkataan yang mudah kuatasi. Mari kita lihat, berapa saja Bangsawan yang ingin membuat kebaikan dalam tulisanku.

 

Dalam rindangnya pohon yang berguguran daun, Yang Mulia menunggu kehadiran Baginda. “Yang Mulia, Baginda sedang menemui perwakilan dari Keluarga Porat,” Pelayan menyampaikan kabar baik. “Begitukah? Baiklah, kalau begitu.” Ia segera bangun dan menuju Gedung Keselarasan. Ditengah perjalanan Yang Mulia bertemu dengan Anggota Dalam. Saling berucap salam dan menghormati, kembali dalam perjalanan masing-masing.

“Kudengar kau menulis buku?” Sapa Anggota Dalam Kebahasaan. “Betul, Tuan” Ucapku dengan menunduk dan berbungkuk. “Haha, semangat itu!” Ia mengucap dengan sopan dan santun. “Banyak sekali Orang Dalam yang tidak menginginkan itu, bukan?” Ia bertanya dengan satu kedipan mata. “Ya, betul Tuan.” Aku menjawab dengan anggukan. “Mari, siapkan wadahmu.” Ia meramah tamahkan diriku. “Tentu, Tuan.” Segera tanganku majukan dan menerima hadiah persetujuan ini. Air selalu mengalir kebawah, tidakkah kamu akan berpikir bila air jatuh ke atas adalah suatu keajaiban?

Anggota Dalam Kebahasaan menuangkan air untukku, mimpi macam apakah ini? “Ah, betul juga. Aku harap kau bisa menjadi Orang Dalam ku. Hoho” Ucapnya dengan santai. Aku kebingungan dalam hal ini, “Tuan? Itu sedikit….” Dan lebih menjadi gugup dalam hal ini. “Haha, seperti yang kuduga kau setia sekali, bukan?” Ucapnya dengan menunjukan keramahannya bukanlah permainan. Aku hanya mampu menunduk dalam situasi ini. “Oh iya, minumlah bila kau siap. Tunjukkan wadahmu kepadaku, dan kau akan menjadi orangku.” Ia tersenyum kepadaku secara sekilas dan berlalu meninggalkan ruangan besar ini. “Baik, Tuan.” Ucapku singkat dan kembali memikirkan apakah yang dimaksudkan olehnya.

Tunggu? Kenapa aku menjadi terseret seperti ini? Mungkinkah…?

Day 8 - "Penawar"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata306
Day8

Sadar menghampiriku, tepat pada seruan panggilan sebelum matahari benderang. Bangun,  rasakan, dan tetap nikmati kenikmatan milikmu, namun…bukankah mahkota milikku berguncang? Aku telah mencoba mengembalikan dan menempatkan alat paling berhargaku sebaik mungkin, namun hingga saat ini. Guncangan belum juga menghilang, Apakah ini bagian dari hukuman atas noda yang ku buat? Ataukah ujian yang harus diselesaikan?

Segala yang terjadi hanya akan menjadi pertanyaan bertumpuk. Aku hanya bisa berharap yang terbaik adalah semua telah ditakdirkan. Namun, tetap saja melihat awal mula terguncang hanya akan membuat curiga bertambah banyak. Tetapi…sudahlah, bahkan kalaupun aku memahami penyebabnya, tidakkah itu hanya menambah beban pikiran? Pertama, aku harus bisa menyadari bahwa memang guncangan ini sedikit berbeda. Bahkan terasa aneh bila aku menganggapnya terlalu berat, karena aku bisa sedikit bersantai namun dibalik itu aku juga merasakan gejolak dalam pikiran.

Hingga bilakah ini terjadi…? Kutakutkan ini terus berlanjut hingga minggu selanjutnya terlewati. Tidak! Selama apapun itu aku harus bisa menikmatinya, setidaknya aku tidak mengeluhkan keadaaan itu. Ahahaha, aku jadi mengingat sedikit peristiwa tentang mengeluh, salah satu manusia berbicara kepadaku bahwa mengeluh membuatmu lebih puas. Haha aku hanya tertawa bila mendengarkan pembicaraan itu, biarkan manusia sadar secara sendirinya adalah salah satu perbuatan yang paling kusukai. Namun, sekarang aku sadar bahwa menjadi tersadarkan tidak semudah dahulu.

Ah, sudahilah semua hal itu. Aku harus bersiap diri untuk terus bisa menikmati keadaan guncangan ini. Baiklah, selanjutnya apa yang harus kulakukan…hmmm, sebenarnya aku cukup menikmati keadaan ini. Bahkan jika aku mau mngakuinya, ini lebih baik bagiku haha. Bisa terus menikmati bagaimana masa-masa liburan panjang, dan yang paling kunikmati adalah perasaan untuk menuntut ilmu disaat terhambat dengan beberapa alasan. Sudah lama sekali, dunia bergeser. Namun tetap saja terasa aneh, bila terus seperti ini. Belum lagi beberapa pekan lagi akan ada tamparan tingkatan kepahaman. Tiap kata yang aku ukir disini, dalam guncangan yang sedang terjadi. Kuharap membawa keringanan dan yang terbaik dikemudian waktu.

Day 9 - "Bunga Mekar"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata308
Day9

Selimut kehangatan menyertainya, pada setiap kedinginan yang bermekaran. Aku rasa, sudah lama sekali mereka selalu memanjakan diri bersama. Tidakkah dia merasakan penat…. Aku tidak mengetahui bila hal itu sangatlah tidak membosankan. Tetapi…bagaimana aku bisa melakukannya?

Lama sekali dia berdiam dengan berpangku tangan, pose duduk yang manis bagi seorang lelaki. “Apa yang membuatmu melamun seperti ini, digelapnya malam hari?” Ucapku menghangatkan pelita yang sunyi. Ia melepaskan pangkuan tangan yang sudah lama ia eratkan, dan menoleh pada wajahku. Sedikit menghela napas dan memandang hamparan cahaya kecil yang luas dan bercahaya.

Kembali menatapku dan ia berkata, “Dara Yuntika…masuklah dahulu, terkadang alam raya menyediakan sesuatu untukku” Sedikit ia menerawang pada jauhnya jalur bintang. Aku masih tidak percaya, beginikah lelaki ketika sedang penasaran dan tidak menemukan jawabannya? Sangat menarik. Hihi. Segera wajah ini kubuat sebaik mungkin, dan mengatakan ketertarikan. “Praja Janwani, bila kau ingin memahami suatu hal maka bertanyalah pada yang tahu,” Ucapku lembut guna memperingati saudara kecilku.

Dia segera mendalami pandanganku digelapnya malam, dan memainkan sorotan matanya. Bahkan disaat gelap seperti ini dia sangat teliti, segera kulihat ia berdiri dan akan beranjak pergi dari raungan kesunyian. Dan bertanya padaku, “Apakah kau mengira, alam ini tidak mampu menjawab pertanyaanku?” Dia mengucapkan dengan sorotan yang serius disertai senyum yang merekah.

Aku segera memahami, bahwa dia tidaklah semudah itu. Bergegas memandang kebawah bermain tangan, dan berpikir kembali, apa sajakah yang membuatmu menjadi seperti ini? Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkahku. Betul, semuanya selalu bertumbuh dengan pertumbuhannya masing-masing. Ia melangkah kecil menuju tempat peristirahatan kami, dan menyadari aku tidak mengikutinya, segera berbalik kepadaku dan bertanya lembut, “Kemarilah Dara Yuntika, bersama akan selalu membuatmu terlengkapi, bukan?”

Kami berjalan bersama, beriringan hingga menuju tempat peristirahatan. Memang bersama akan membuatku menjadi terlengkapi, namun aku tidak boleh kalah. Jangan sampai orang selain diriku yang melengkapiku, begitukah yang dia maksud…? Sudahlah, lebih baik aku beristirahat dan memikirkan kembali pada esok hari.

Day 10 - "Bunga Mekar 2"

1 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata307
Day10

Gemerlap malam berbunyi dengan kerasnya, sudah berapa lama aku mencoba memahami alam raya ini…. Bagaimanapun juga, perkataan Dara Yuntika tidaklah kurang benar. Tidak akan baik bila aku menyimpan tanda tanya yang aku miliki, tanpa adanya usaha kepada mereka yang memahami. Baiklah, aku memutuskan untuk menghentikan pendalaman pemahamanku untuk malam ini, kuharap esok hari akan selalu menjadi kebahagiaan yang tertunda dari hari ini dan hari yang pernah kulewati.

“Praja Janwani, bangunlah…pagi telah menyambutmu,” Ia berucap lembut dengan menepuk dahi pria itu. Terlihat terang, tidak ada pergerakan. Bergergas ia melangkah kecil untuk mengambil sepercik air dengan telapak tangannya. Ia mengusap wajah pria itu dengan beberapa tetesan air. Terlihat pergerakan kelopak mata, dan tangan yang digerakkan guna membersihkan percikan air yang mengganggu. “Bangun…saudara kecil” Ia mengucap dengan gemasnya, sembari memukul kecil pipi pria tersebut.

Dia terbangun dari tidurnya, syukurlah…aku mengira dia terlalu lama mencari jawaban pada malam itu. Aku segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dan berucap, “Bergegaslah, sebelum mentari melelehkan anganmu.” Aku melihat sekilas, dia bergerak secara perlahan dan menyongsong angannya dipagi hari.

Aku melihat sepasang manusia yang telah disatukan sedari 1 minggu, menyiapkan makanan pagi ini. Syukurlah, mereka sangatlah serasi. Tidak menunggu lama, tentu aku tidak ingin menganggu momen mereka, sehingga aku menghampiri saudari yang lainnya.

“Aghhhhhh, Hoam….” Gulita dalam selimut masih dapat kurasakan. Beginikah rasanya ketika matahari yang menyinariku, sangat berbeda ketika aku sendiri yang mencoba untuk menyinari hariku sendiri. Sekali dimanjakan oleh kehangatan pijaran mentari, pertanda apakah ini? Wahai Alam Raya?

Ah, aku harus mengisi perutku untuk sekarang. Berjalan menghampiri sumber pangan, namun aku mendapati saudari bersamanya. Tidak enak hati bila aku secara sengaja menganggunya, maka aku putuskan untuk mencari sendiri.

Tidak sulit untuk mencari mangsa yang kuinginkan. Alam ini menyediakan semuanya dan sangat melengkapiku, seberapapun besar aku berterima kasih. Aku rasa akan lebih baik bila mampu merawatnya dan selalu menjadi pihak mitra hingga mati.

Day 11 - "Bunga Mekar 3"

0 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata340
Day11

Aku pernah berpikir, Alam Raya adalah sangatlah luas dan tidak terhingga hamparan yang tersedia. Sedangkan, beranjak kepada tempat yang belum kukenali adalah impianku dalam setiap keinginan. Kapankah, aku bisa mencoba hal itu…? Haha, sepertinya aku harus membuat sedikit kemajuan yang ditampilkan. Setidaknya, mereka tidak akan khawatir bila aku mengajukan hal itu. Aku membiarkan diriku bersantai dalam pelupuk rindangnya mahkluk alam, dan menikmati alunan bunyi air mengalir.

Terlihat saudara Praja Nantap, sedang berjalan-jalan hingga menemukan keberadaan Praja Janwani menghampirinya dengan langkah kecil.

“Saudara Janwani…apa yang kau lakukan disini?” Ucapnya dengan ekspresi ramah sembari mengunyah buah yang ia ambil dari tumpukan milik Praja Janwani.

“Hanya bersantai, tidakkah kau melihatnya?” Ia membalas dengan bermalas-malasan, dan masih menikmati situasi yang ia buat dan diinginkan.

“Ambil saja yang kau perlukan…, ataukah kau ingin bergabung kemari bersamaku?” Ia kembali melanjutkan ucapannya dan segera mengakhiri sesi obrolan.

“Ahk, Saudara Janwani, kenapa kau selalu terburu-buru dalam bersantai?” Balasnya dengan kembali memaksakan ekspresi keramahan dan bersegera duduk menikmati alam bersama.

Praja Janwani hanya membuka mata, menengok kearah saudaranya dan memincingkan sedikit tatapannya. Ia menghela nafas, dan kembali pada pelupuk kenikmatannya. “Perbaikilah kalimatmu, kau tidak bisa menyandingkan dua kata yang berlawanan dalam satu kalimat,” Ucapnya sembari mengerakkan jemarinya menunjuk-nunjuk saudaranya.

Praja Nantap hanya tersenyum sembari menikmati bersantai dalam rindangnya pohon, seketika terbangun dan berujar. “Saudara Janwani, bukankah dua kata yang berlawanan itu saling melengkapi…? Mengapa tidak bisa untuk menyandingkannya?” Ucapnya dengan senyum yang lebar.

Benar, kenapa aku berpikir tidak bisa bersanding bersama bila itu saling melengkapi? Tidak, tapi bukankah itu saling berlawanan…? Akan kupikirkan lebih dalam tentang ini, “Kau betul Saudara Nantap, aku hanya mengikuti aturan tanpa memikirkan lebih dalam.” Ucapku dengan penuh rasa percaya diri.

Saudara Nantap hanya menatapnya penuh rasa kecemasan, “Uhh, kenapa kau tidak melanjutkan pemikiranmu? Bukankah kita seharusnya memiliki kepercayaan diri dalam setiap pergerakan…?” Hmmmm, aku cemas bila Saudara Janwani belum siap menanggung impiannya. Sampai kapan kamu akan terus bersantai?

Saudara Janwani masih menikmati situasi yang ada setelah mendengar hal itu, dan berucap “Aku hanya tidak ingin setiap perjalananku berada pada jalur yang tidak benar.”

Day 12 - "Bunga Mekar 4"

0 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata324
Day12

Begitukah? Maka mari kita lihat seberapa jauh perjalanan kebenaranmu bisa tercapai. Hehe, pemuda yang penuh ambisi ini…sepertinya harus dimulai dariku. Segera aku mengambil air yang mengalir, dan meneguknya. “Itu baik, tetapi…bagaimana kamu bisa mengetahui dimana jalur yang benar dan tidak?” Ucapku dengan lugas, setelah menenggak air segar. Wah tempat ini memanglah terbaik, seperti kata pepatah. Daun yang baik akan menumbuhkan buah yang baik pula.

Dia terlihat sedikit berpikir lebih keras, dan mengambil satu buah berwarna merah yang tertumpuk. Memakannya dengan santai, menghabiskan dalam tiga gigitan. “Kamu benar saudara, kebenaran haruslah memiliki wadahnya…dan aku berniat untuk mencari wadah dahulu.” Ujarnya santai dengan ekspresi wajah yang serius.

Segera aku membenarkan ekspresi, tidak seharusnya aku tersentak dengan pemikiran saudaraku ini. Namun sepertinya dia serius mengenai hal ini, haruskah aku membantunya? Ahhh, aku sudah bergerak dan tidak bisa mundur begitu saja. “Saudara Janwani, berbicara mengenai wadah, sudahkah kamu mendapatkan ijin?” Ucapku dengan hati-hati…kesempatan besar tidak akan datang dua kali.

Dia sedikit berpikir dan mengernyitkan wajahnya, hingga menghadap kepadaku. Berkata, “Aku sudah memikirkannya, namun aku tidak memahami mengapa harus membunuh hewan lainnya.” Ucapnya dengan serius. Uhh, sepertinya saudaraku ini benar-benar orang yang memperhatikan semuanya. Ini tidak baik, ia bisa saja memundurkan kekuatan keluarga kami. Hmmmm, aku berpikir sedikit dan mengatakan, “Itu hanyalah sebuah pembaktian, kepada keluarga. Tidakkah kamu seharusnya berterimakasih? Maka buktikan dengan hasil buruanmu…” Ucapku, dan aku lanjutkan, “Karena begitulah kamu bisa dikenali, Saudara Janwani.” Hehe, ayo pujilah aku dan mari kita berjuang bersama.

Dia terlihat memperhatikan setiap ucapanku, dan menunjukkan postur tidak nyaman dalam duduknya. Menghela napasnya, dan berkata “Aku tidak keberatan dengan pembaktian keluarga, namun bila dengan hasil buruan…aku akan merasa lebih baik dengan menunggu hewan yang benar-benar membahayakanku.” Ucapnya dengan kembali kepada selimut nyamannya. Hmmmm, dia benar-benar memiliki pendalaman yang baik. Kuharap kau bisa melanjutkan perjalanan wadahmu saudara, aku akan membantumu!

Ia melanjutkan, “Dikenali…apakah kau ingin ketenaran? Saudara Nantap…,” Ia melontarkan pertanyaan dengan santainya. Ketenaran…diucapkan dengan sekecil itu? Woah, saudaraku benar-benar lelaki yang memiliki pilar!

Day 13 - "Bunga Mekar 5"

0 0

Sarapankata

KMOIndonesia

KMOBatch39

Kelompok9

Stargazing

Jumlahkata399

Day13

Matahari terus mengalir deras dibalik bersantainya mereka berdua yang tengah berbincang. Meluncurkan angin deras disertai awan berkubu gelap yang berkawan hingga tak terhitung kelompoknya, meski begitu mereka terlihat nyaman saja dengan keadaaan sebelum ini. Hmmm, sangat kekanak-kanakan. Mereka bahkan tidak menyiapkan untuk apa yang akan terjadi?

Aku berjalan menghampiri mereka, Saudara Nantap dan Saudara Janwani.

Bahkan mereka tengah asyik mengobrol santai disaat seperti ini? Sedikit kumendengar apa yang mereka bicarakan, “Ayolah, Saudara Praja, aku tau kita tidak akan mengalah begitu saja kan?”

Hmmmm, mengalah? Ia, Praja membalas, “Tunggulah disaat yang lebih tepat, hingga pergerakan kita akan menjadi tak terbayangkan….” Sembari tiduran bertumpu diakar pohon.

Langit menunjukan kuasa nya, sambaran terlihat dengan megahnya.

Segera aku berucap dan mengadakan niat baikku, untuk mereka saudaraku.

“Wahai dua saudaraku, tidakkah kalian akan bergegas? Mari kita bersama, bukankah langit akan meruntuhkan airnya,” Ucapku menatap mereka berdua dengan (masih) membawa dan menawarkan segerombolan kayu yang bisa dijadikan bahan bakar.

“Saudara Dantar, bukannya kami menolakmu. Hanya, Saudara Janwani sangat menyukai Alam Raya dan aku sedang menemaninya…,” Ucapnya dengan wajah keterpaksaan, dan tangan yang tidak bisa berbuat apapun. Aku memahaminya, mungkin Saudara Nantap sedang ingin memiliki tujuan bersamanya. Segera aku menatap Saudara Janwani dan mengharapkan jawaban yang bisa kuterima….

“Kakak Dantar, aku tidak akan memberitahumu dua kali. Tetapi ketahuilah, bahwa tanda yang kamu pahami tidaklah akan terjadi tanpa Sang Penggerak Alam.” Ucapku hanya sekedar memberi peringatan. Kuharap kamu dapat memahami, tidak selamanya aku bisa bersikap rendah diri dihadapanmu.

Aku berpikir sejenak dan menguraikannya dalam kejadian ini, tanganku masih memangku kawanan kayu. Saudara Janwani, jadi dia selama ini berpikir keras…tidak seharusnya aku berkata tanda-tanda alam seperti aku mengetahuinya? Begitukah?

“Saudara Janwani, aku telah memahami perkataanmu. Memang kita bukanlah Sang Penggerak Alam, namun kita bisa menjadi salah satunya diantara kita. Haha” Ucapku dengan bangga menunjuk pada kawanan kayu yang kutampung. Saudara Nantap ikut tertawa dengan banyolanku, sedang Saudara Janwani sibuk dengan senyumnya dan tetap memperhatikanku. Hmmm, sibuklah dalam belajarmu selalu wahai saudaraku.

“Karena itu kita harus bersiap wahai dua saudaraku,” Ucapku melanjutkan menenangkan suasana kembali dan tetap menjaga wajah, hehe mana mungkin kuberikan cahaya ini padamu. Bangkitlah dahulu baru akan kupahami dirimu.

“Kalau begitu, berhati-hatilah. Aku akan mendahului kalian…untuk berjumpa kembali bersama” Ucapnya dengan senyum terpampang diwajahnya, terlihat alis yang dinaikkan. Segera berjalan menuju kejauhan mataku. Ahhk, sungguh darimana kah dia belajar hal seperti itu? Bahkan Saudara Janwani bisa dipukul mundur, hehe namun mengingat itu aku jadi bersemangat sekali.

Day 14 - "Bunga Mekar 6"

0 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata395
Day14

Langit benar menunjukkan kuasanya, daratan dibawahnya terserang oleh rombakan ombak dari tombak air yang sangat menyesakkan. Udara yang bergulir kehangatan sebelumnya, menjadi lautan yang dipenuhi sapuan angin dingin. “Saudara Janwani! Tidakkah kita akan bergegas dan mengAMANkan DIRI?” Ucap Saudara Nantap dengan teriakan keras.

Yaampun, hari ini benar-benar membuatku kerepotan. Bahkan untuk berbicara sangatlah tidak mudah. Dan..., dia masih saja bisa menikmati keadaaan? Sungguh, ini terlalu menyesakkan. “Saudara Janwani!” Ucapku untuk memberi kepastian. Ia hanya membuka matanya dan menoleh kearahku, sedikit tersenyum dibalik pedihnya hujaman tombak air langit. “Tenanglah! Saudara Nantap.” Ia bangun dari bersantai, dan duduk dalam diam.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi untuk kembali?

 

Angin besar telah mengguyur Alam Raya, menghentakkan sikap Saudara Nantap dan membuatnya tidak berdaya dalam sekejab. “Hhah, LIHATLAH SAUDARA JANWANI!” Ucapnya dengan mata terbelalak dan menunjuk pusaran angin besar. Ia menoleh kearah Saudara Praja, dan mendapati bahwa dirinya tetap duduk berdiam diri.

Ini tidak masuk akal, aku harus segera menyelamatkan diri dahulu. Aku berharap dirimu menemukan yang kamu inginkan. Tetaplah mendapatkan apa yang kamu harapkan, Saudara Praja Janwani!

Segera Saudara Nantap berlari meninggalkannya, menghindari pusaran angin sembari menahan hujaman tombak air sedari tadi mengalir deras dari langit. Semoga kamu baik-baik saja, Saudara Janwani.

Sapuan angin besar selalu meninggalkan jejaknya dengan dahsyat, namun kali ini kerusakan yang dibuatnya tidak seberapa. Hanya saja sejak saat itu, Saudara Praja Janwani telah hilang dan tidak ditemukan dimanapun. Jejak terakhir yang ada dipohon rindang, masih tersisa beberapa galian tumpukan buah yang sudah termakan. Disampingnya ditemukan satu jasad hewan liar, yang bahkan para pemuda dari keluarga itu tidak akan menghadapinya. Kepala keluarga tidak bisa menindak lanjuti hal ini, selain persembahan itu sudah lebih dari cukup. Maka dibuatlah beberapa tanda jejak terakhir untuk Saudara Janwani, bila suatu saat ia kembali. Akan selalu mengingat bahwa keluarganya tidak akan melupakannya. Dibentuklah sebuah tanda dari batu yang besar, diukir namanya dengan lengkap hingga waktu ia hilang. Dan diberikan hiasan terbaik dari jasad hewan yang disamping galian buahnya. Beberapa anggota keluarga menuliskan berbagai sarat hidup kepada Saudara Janwani. “Praja Janwani! Ingatlah selalu hal ini! Walaupun tubuhmu tidak sanggup kami temukan!” Ucap ketua keluarga dengan berwibawa dan tetap penuh penghayatan. “Keluarga kami akan selalu mengenangmu! Dan tidak akan memperlakukanmu lain dari yang lain!” Ucapnya sedikit meneteskan kesedihan dalam kalimatnya. “Tetaplah raih langit yang kamu inginkan! Kami disini akan senantiasa mendoakan dan merawat penginggalanmu!” Tutup ketua keluarga dengan tatapan ang dalam.

Day 15 - "Setengah Jam"

0 0
 
Tepat pada sebelum pagi berkumandang aku mengawali hariku, berpikir keras terhadap apa saja yang bisa kulakukan dalam tiga puluh menit kedepan. Setidaknya aku masih memiliki beberapa objek yang harus diselesaikan, tidak lain adalah kewajibanku sebagai pelajar.
Yah, namun aku masih saja menikmati waktu yang disediakan. Namun pertanda dihari sebelumnya masih tidak bisa kudapatkan, sinyal untuk menuju fana sementara kuraih dengan mudahnya dalam sekali percobaan.
Bahkan aku tidak sempat untuk mengisi energi. Tetaplah semoga ini menjadi yang
terbaik
 
dari segala yang bisa terjadi. Namun sekarang aku akan menulis yang setidaknya akan memiliki hikmah dan bisa kita petik bersama, sekarang aku berpikir keras…apa yah yang bisa dengan mudah kita pahami sekarang…?
Aku yang sedang berpikir keras, dalam ruang dimensi waktu yang selalu bergerak…, sekarang ini menyisakan sekitar waktu 20 menit lagi, jatah untukku menulis. Ah, aku menemukan salah satu ilmu yang bisa kugali dalam hal ini, yaitu benar-benar menitik beratkan kesadaran pada waktu sembari menggantungkan pada harapan yang nyata.
Maksudnya adalah, tidak sengaja menyia-nyiakan waktu dan benar-benar memanfaatkan keinginan hingga perwujudan yang bisa kita raih dengan segala alat kita. Memang, hal yang seperti ini biasanya sudah kita ketahui masing-masing, setidaknya bisa menjadi pengingat dalam hal ini.
Baiklah, dan sekarang aku menemukan ketidaktahuan apa yang bisa kutulis…, biar aku ceritakan sedikit bahwa aku sedang meminum setengguk kopi yang masih hangat. Sangat nikmat untuk mengawali hari dengan yang pahit, tanpa gula tentunya haha. Selalu mengingatkanku bahwa hal pahit sekalipun bisa terjadi di mana pun, selalu siap adalah antisipasi yang paling masuk akal. Jangan menyangkalnya sebelum terjadi yang tidak diinginkan.
Kepahitan itu akan selalu terjadi bila pun kita tidak mengetahui bahwa itu adalah rasa pahit. Walaupun, sebenarnya darimanapun kita bergerak itu tidaklah salah. Karena pada akhirnya, hasil akhirlah yang akan membuatmu lebih memahami proses yang kamu lakukan. Waktu menyisakan sekitar 10 menit kurang, sangat pas untuk mengupdate naskah sekarang…dan tetap menikmati hari yang harus dilewati…ataukah dilawan? Atau menikmati hari yang sedang dihadapi? Apapun itu teguhlah, dan terus menenggak kesabaran.
Bahkan saat sempat mengupload, takdir membawaku lebih dalam dan menunjukkan kebesarannnya. Semakin aku bergerak, semakin alam menggerakanku.

Day 16 - "Sihir Hati"

0 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata343
Day16
 

Pada pagi hari itu, aku masih mengingatnya. Menemukan seorang remaja yang sangat menarik jiwaku, aku mengira bahwa lelaki itu adalah penyihir. Karena wajahnya sangat membuatku terpana, bahkan hanya dari raut wajahnya yang belum tersadar layaknya mayat tidak berisikan jiwa. Namun, tidak satupun mana yang kutemukan didalam tubuhnya. Tubuhnya lemas namun tetap berat untuk seukuran gadis seusiaku, waktu itu aku memikirkan bagaimana cara menolongnya. Hingga, berakhirlah dalam kejadian ini.

Wah, tunggu? Bukankah itu sangat sedih? Kenapa kamu melakukan semua itu? Ronneya sedang membalas pemikiranku saat ini.

Entahlah aku juga tidak mengetahuinya…, kuharap ada orang baik yang hendak memangku hidupnya. Balas pikirku,

 

“Ronne! Lihatlah apa yang telah kamu lakukan!” Ucap seorang wanita bertubuh kurus dengan rambut ikal yang panjang.

Aku tidak berani menatap matanya, lesu pandanganku segera menjalar dalam setiap tetesan daya.

“Diam? Itu tidak akan menyelesaikan masalah! Bukankah kamu tahu seberapa bahaya manamu itu?” Ucap wanita itu dengan kesal, wajah yang sangat kecewa dan tidak bisa berbuat apapun.

 

Ayolah aku mohon, siapapun tolong aku. Guruku pernah berkata bahwa menolong orang lain maka sama halnya memupuk pertolongan diri sendiri…,

 

“RONNE!” Bentak wanita sangat penuh amarah, kini alisnya tidak lagi mengkerut dan mulai menumpahkan apa yang harus dilakukan. Hentakan kakinya menjulurkan api disetiap sorotan mata gadis itu. Dimulai dari tangannya melangkah dan mulai mengintimidasi sosok gadis belia.

Apakah aku akan ditampar? Kenapa tidak kau berikan saja aku segudang kebebasan? Ah tidak…aku menjaga diriku sendiri dengan beberapa teknik perlindungan mana pemula. Berharap akan ada manusia yang sanggup menolongku, aku mohon siapapun itu…berilah aku keajaiban!

Brakkk, terjadi gejolak energi dari 3 manusia. Wanita tua itu memahami kejadian dan langsung menatap sosok yang ikut campur dalam urusannya, mendalami bahwa orang itu adalah manusia, dia tidak sanggup melanjutkan perseteruan dan memutuskan perheningan. “Hemmmhk,” Eluhnya dengan wajah tidak puas namun dibalik itu tetap bersyukur bahwa segalanya menjadi terkendali. Menghela napas yang cukup untuk mengembalikan mana, dan menatap dengan penuh kebijakan. “Kau, aku ijinkan tinggal disini.” Ucap nyonya rupawan itu.

Seketika aku terkejut dan membuka mata, terlihat sosok yang aku selamatkan datang menyelamatkanku.

Day 17 - "Sihir Hati 2"

0 0

Sarapankata
KMOIndonesia
KMOBatch39
Kelompok9
Stargazing
Jumlahkata321
Day17

Syukurlah ternyata ia telah bangun! Eh tunggu, bukankah ia hanya orang biasa? Bagaimana bisa menghalau serangan Nyonya Dieni? Ah lupakan itu semua, ia terlihat sangat rupawan sekali…bahkan kalaupun ia hanyalah rakyat biasa, tentu akan menyimpan rahasia untuk bisa terlihat seperti itu, bukan? Lama aku menatapnya, menunggu pergerakan dari dia yang kutunggu, namun aaahk. Sampai kapankah ini akan berlalu? Bukankah dia terlalu kaku untuk ini…? Hmmmmh, kenapa tidak aku duluan saja!

“Hey, aku memahami mungkin kamu kesulitan dengan apa yang kau bicarakan. Namun bersikap santailah terhadapku!” Ucapku dengan penuh ampunan dan perintah.

Kulihat dia hanya menatapku, dan mencoba memahami apa yang kukatakan. Tunggu? Apakah orang ini berasal dari negara luar? Tidak bisa berbahasa negara kami? Ah…, tidak mungkin, bahkan orang pinggiran pun setidaknya memahaminya. Bahwa aku adalah putri yang seharusnya dipuja, hoho. Baiklah sudah, sepertinya dia memang tidak senang berbicara. Biarkan seranganku yang memahaminya!

Hiyaaaat! Aku mengirimkan pusaran bola angin yang akan segera mendorongnya menuju puncak istana. Hehe rasakan penderitaanmu, beraninya tidak menanggapi perkataan putri ini!

Whuuuuush, pusaran bola itu mengalir dalam jalur lurus pemuda itu. Mengenainya namun hanya terserap kedalam tubuhnya. Seperti tidak merasakan apa-apa pemuda itu hanya sedikit tersenyum kepada Putri Ronne.

Apa! Sekuat apakah dia…ahh, namun dia tersenyum…sangat menghanuyutkan. Lama kami berdiam hanya untuk saling bertatapan mata, ia bergerak menuju kearahku. Derap kakinya selalu menggambarkan keindahan, ayunan tangannya bagaikan bulu burung yang mengkilau. Seperti inikah, sihir ilusi? Katakan padaku bahwa ini tidak nyata!

Ini nyata Ronne! Sadarlah dan bergerak, kau yang memulai ini bukan? Balasan pikiranku. Aaahkkkk, tidak bisakah kau saja yang menggerakanku? Aku terus sadar namun tidak tau apa yang harus kulakukan!

Pemuda itu sudah sangat dekat dengan Putri Ronne, mereka saling bertatapan dalam jarak pandang dekat sekali. Uhhh, apa yang harus kulakukan? Aku tidak menyangka dia berani melakukan ini…. Eeeh, sudahlah aku tidak ingin bimbang, seorang putri tidak akan menghadap kanan maupun kiri!

Aku kembali menatap pandangannya, kami beradu dalam guratan sorot mata yang panjang dan dalam.

 

 

Day 18 - "Sihir Hati 3"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata307
#Day18

Lama sekali keheningan mengalir, pelayan hanya memperhatikan dan tidak berani menampakkan ketundukannya. Aish, apakah dia itu boneka? Tapi sepertinya tidak mungkin, bahkan bila Nyona Besar Dieni memiliki timbangan manusia yang berat, dan dia berhasil diakuisisi. Ini tidak normal, Tuan Putri harus segera diselamatkan. Melangkah mendekat dan menawarkan situasi yang lebih terjaga.

Ah…energi ini, bukanlah sembarangan. Namun ancaman sangat tidak terdeteksi.

“Tuan Putri, saya mohon untuk anda segera berganti pakaian. Acara tidak akan berlangsung lama lagi….” Ucap dengan tangan memohon dan postur membungkuk.

Dia mengerlingkan pandangan dan memasang kekecewaaan karena tidak mampu memahami pemuda yang diselamatkan itu. “Mari Tuan Putri Ronne…,” Sembari mengarahkan kepada kamar persiapan.

Membiarkan orang baru itu…, apakah tidak apa? Ah berikan saja satu wanita.

Segera memberikan pandangan kepada pelayan lainnya dan mengirimkan kode pelayanan.

Mengangguk tanda kesanggupan, dan hampir 3 dari 3 pelayan lainnya mengangguk, haaagh aku juga ingin melayaninya. Aku memberi kelayakan hanya untuk 1 pelayan yang paling terbaik, dan yang lainnya harus mengawal Tuan Putri.

Lama berjalan, namun benar-benar pemuda itu mengunggah sebagian memoriku hari ini.

 

Ahhhk, pertemuan apalagi ini…ayolah sampai kapan aku harus menikmati hal yang tidak kusukai, hmmmh. Aku menunjukkan ekspresi kesal dan tidak enak hati. “Putri Ronne, akan saya siapkan mulai dari sekarang ya…,” Ucap pelayan itu dengan ramah dan mempersilahkan untuk sedikit kenyamanan.. Aku hanya menyanggupinya, haaagh setidaknya aku tidak jadi dipukul untuk hari ini. Hehe, kapan lagi kah aku bisa bersamanya. Rasanya aneh, bahkan baru saja sebentar dan tidak lama, namun sangat menggangguku.

Perawatan telah dilaksanakan, dengan berbagai kerapihan yang disediakan. Putri Ronne lama meneguk angan dan membahagiakan dirinya dalam pelupuk angan. “Putri Ronne, mari kita bergegas, persiapannya telah selesai…” Ucap pelayan itu dengan ramah kembali. Aggh, berapa lama aku telah jatuh dalam bantal pikiran ini? Hufft, aku harus melakukan kewajibanku dengan sebaik-baiknya. Baiklah, mari kita hadapi pertemuan ini! Oho, tunggu saja kau pemuda yang telah kuselamatkan.

Day 19 - "Sihir Hati 4"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata325
#Day19

Lelaki muda sedang diawasi oleh berbagai pandangan, dari satu dalam banyak sudut. Ia hanya berdiam menunggu waktu yang tepat, untuk bertanya kepada pelayan. Menghadap pada raut wajahnya, dan sedikit menipiskan ujung mulut dengan manis. “Mampukah kau menerangkan ada dimanakah ini…?” Mata berbinar tidak lupa melengkapi kalimatnya.

Pelayan itu tertegun dalam sekian detik berjalan, membenarkan wajahnya, dan postur tubuh, hingga tangan yang waspada menjadi lebih lunak. “Jawab, kami tidak mampu menjawab tanpa persetujuannya. Tuan.” Dengan mata tertutup membungkukkan badan, pelayan tidak berhenti dalam satu gerakan. Segera membuka lembaran baru, “Namun, saya bisa memberikan beberapa…,” Dengan ucapan yang tertatih dan penuh kewaspadaan.

Lelaki itu tersenyum dan sedikit menatapnya dalam, berdiri menghampiri pelayan. “Berikan aku sedikit darimu,” Napas yang tidak tertahan dari pemuda, terlihat berat untuk seorang wanita.

Pelayan itu tidak membuang pergerakan matahari, segera membisikkan segala informasi yang bisa dan ada untuk dipengetahuankan. Lelaki itu mendengar dengan seksama, mengangguk beberapa kali menunjukkan dapat memahami. Selesai, ilmu telah dituangkan dalam wadah lelaki. Pelayan mundur beberapa langkah dan menyadarkan tubuhnya akan terkena hukuman disaat nanti. Kertas telah ternodai, betapapun banyak kamu melihat isinya.

Lelaki tidak tumpul dalam hal ini, menyadari akan ada beberapa perlakuan tidak senonoh akan terjadi. Mendekat kearah pelayan itu, dan memberikan mana yang mampu meruntuhkan satu negeri. Tubuh dan jiwa mereka telah terikat, membentuk suatu hubungan baru agar saling menguatkan. “Aku memberikanmu beberapa jaminan” Sembari mengusap wajah wanita itu, dan seketika merubahnya…sangat cantik dalam pandangan. Pelayan memahami keadaan dan bersujud dihadapan pemuda itu, “Terimakasih banyak Engkau Sang Penjamin. Hanya ingin terus berada disisi anda adalah keutamaan kami.”

Lama bersungkur dihadapan, tidak membuatnya kesal, sedih, maupun senang. Pemuda itu tersenyum dengan damai, pelayan didunia ini…benar-benar sesuatu yang tidak masuk akal.

“Bangunlah, aku menerima kesanggupanmu.” Wajah pemuda penuh dengan sorotan ketenangan, mendobrak pemikiran pelayan dengan pemaksaan. “Pertanyaan ini, jawablah sebenar-benarnya.”

“Siapa yang paling memahami didalam dunia ini?” Penuh motif tersembunyi, kecurigaan tidak lain. Apakah akan terjadi pergerakan besar atau perubahan zaman? Mengapa pemuda ini menolak untuk memberikan identitas….

Day 20 - "Sihir Hati 5"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata349
#Day20
 

Pertemuan diawali dengan pembicaraan formal, seputar permasalahan yang timbul. Ronne tidak bisa menyamankan diri dalam lingkungan penuh kebijaksanaan, terlebih masalah yang ada tidak mampu memutarkan wawasan pengetahuannya. Menyadari hal ini, berbagai penguasa menunjukkan kewibaan untuk ronne, memintanya untuk lebih dahulu kembali. Mendengar hal itu, gadis sangat riang untuk sementara waktu. Belum memahami keadaan yang sebenarnya. Terjadi perjatuhan dalam masing belah pihak, mengecilkan kemungkinan agar tidak ada yang diuntungkan, dan menghindari kerugian.

“Tembok yang memiliki pondasi akan lebih kokoh, dibandingkan dinding indah yang tidak bertanah.” Satu kalimat pembuka perseteruan, hehe. Mari kita bermain, lihatlah Tuan Putri yang bahkan tidak melirik kumpulan serangga kecil ini. Bangunan yang sngat kokoh, aku akan selalu menjagamu…, Tuan Putri.

Gadis kecil itu tetap bertahan dengan langkahnya, tidak memperhatikan perseteruan yang terjadi. Mereka melahap namun kebencian dan rasa lainnya merusuk dalam setiap kunyahan pangan, seperti itulah panggung manusia.

“Pelayan, aku ingin kembali melihat pemuda itu. Ada dimanakah dia?”

Putri Ronne asyik bertanya sembari berjalan pelan dan menyanyi dalam tenangnya mulut.

“Jawab saya, Tuan Muda itu ada pada kamar tamu, Bangunan Keluarga Prisela.” Pelayan tetap menunduk mengikuti Putri Ronne bersama 3 pelayan lainnya. Selalu mengakibatkan salam sapa dalam setiap pertemuannya.

“Baiklah mari kita menghampiri, mengapa pemuda itu dapat tenang saat menghadapiku.” Dalam pembicaraan mempercepat langkahnya tidak menyadari sedari tadi ada keanehan dalam Bangunan Dalam Keluarga.

Kraaakkk, bunyi pintu yang terbuka.

Kosong.

Tuan Putri dilanda kebingungan, mengapa tidak ada apapun disini? Menatap wajah pelayan satu persatu, terlihat tidak ada informasi yang bisa digali.

Haaaagh, sambut nafas panjang Tuan Putri terhadap keadaan.

“Pelayan, apakah ada kemungkinan pemuda itu sudah meninggalkan tempat ini?” Menatap hamparan luasnya istana dalam jendela kecil kamar tamu, dan berbalik untuk mendapatkan jawaban.

“Jawab, terlalu banyak kemungkinan Putri Ronne, akan lebih baik bila kami menyadari keadaan disaat terjaga.” Pelayan menundukan wajahnya tidak memberanikan perilaku dalam bertindak, pemikirannya takut akan musuh yang kuat. Kematian tidak akan terelakan tentunya.

“Putri Ronne, saya hanya bisa memberi saran untuk kembali bergegas. Kita tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.” Mengingat pelayan ke-2 telah menghilang ikut bersamanya, pemuda itu bahkan bisa melawan Nyonya Dieni. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu, Jelane.

Day 21 - "Sihir Hati 6"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata363
#Day21

Tidak berselang lama, bagaikan bunga mawar yang mekar disetiap waktunya. Muncul sosok pemuda itu, diluar jendela kamar tamu. Putri Ronne sangat senang melihat hal itu, wajahnya penuh binar kasih saat melihatnya saja. Pelayan yang berjaga bergegas dengan menambahkan satuan jumlah, tidak bermain. 6 Penjaga diikutsertakan kali ini. Kepala Penjaga Tuan Putri tentu khawatir dengan tanggung jawab, bayaran setimpal dengan nyawanya.

“Pemuda, biarkan aku mengetahui namamu!” Tuan Putri dengan semangatnya menghampiri dan berteriak kepada pemuda itu. Alis yang dinaikkan ketika bertanya, mata mencerahkan disetiap kalimatnya.

Ohhh, jadi seperti inikah. Manusia yang memanusiakan lainnya? Aku membutuhkannya, sangat perlu untuk sekarang!

“Kamu…,” Pemuda tetap pada ketenangan.

Tuan Putri Ronne sangat terlihat menantikan kalimat selanjutnya, dengan ekspresi senang tak terelakkan. “Aku…? Ya, Berikanlah namamu, apa yang coba kamu ulurkan?”

Ah, ini terlalu putih untuk seorang manusia. Haruskah aku memakainya? Tidak ada waktu untuk menentukan.

“Biar kuberikan satu hal, lembah yang indah akan menanggalkan harga serupa.”

Pemuda menunggu sekitar 30 detik telah berlalu. Tetap meninggikan dirinya, tidak memberikan ruang untuk gadis belia itu melihatnya. Memulai berbalik badan, dan memastikan jawaban.

Terpampang gambaran sekitar 50 prajurit menyudutkan pemuda itu. Melihat keadaan sekitar, Tuan Putri Ronne tidak terlihat dalam sapuan pandangan. Segera mencari dan menemukan kehadiran mananya yang besar, sedang dilumpuhkan untuk sementara.

Orang Tinggi dalam kumpulan pasukan itu mendekat dan menghadiri keberadaan dengan semerbak. “Kami telah menemukan pelanggaran, bukankah kamar yang hangat tidak akan mendinginkan penghuninya?” Memegang pedang dalam sangkar yang tertutup rapat. Mereka sangat siap untuk hal ini….

Hmmmm, mereka mencoba untuk berdiskusi? Ataukah pembicaraan pedang dalam sangkar? Manusia yang terlalu sombong. Kemurahan hati harus kutunjukkan, bagaimanapun juga mereka telah merawat seorang manusia, “Apakah kamu pemilik sumber daya kehangatan?” Mari kita bermain dengan sederhana.

Wajahnya terlihat tertegun terhadap ucapan pemuda itu. Berpikir sejenak dan menemukan kosakata yang tepat, “Hangat tidak akan tercipta begitu saja, sekalipun dingin menyeruak kami tidak akan tinggal diam!” Darimana orang ini berasal? Jika memang betul dia bisa berkata besar seperti itu, aku harap hanyalah omong kosong belaka.

“Maka tunjukkanlah dimana aku meminta? Melainkan mereka menuruti perintah!” Pemuda itu dengan percaya diri menemukan waktu yang sangat tepat. Manusia, sangat cepat sekali tanggapannya. Untuk ukuran kepala prajurit tidak buruk, ataukah aku mengambil saja kerajaan ini…? Hmmmm.

 

 

 

Day 22 - "Sihir Hati 7"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata354
#Day22

Orion mengedipkan mata, sekejab saja. Mencari keberadaan pelayan ke 2, bernama Jeanne. Bertukar kabar saat sedang melaksanakan tugas, terlihat tidak jauh. Jeanne ditemukan dengan mata sahaja, mana nya hilang tidak terwujud. Bahkan tanda Pelayan Kerajaan pada entitasnya ikut menghilang. Terkejud dengan hal ini, karenanya mantra penghilang pengekangan bisa disucikan kembali. Terbelalak dengan hal ini, Orion tidak memliki banyak waktu. Segera menukar informasi dan ancaman yang keras.

“Jeanne? Sepertinya gunung telah membuatmu tinggi, tidak kusangka meleburkan dirimu?” Ancaman pisau ditangannya terselip pada setiap kalimat yang keluar.

“HAhahaha!” Tawa Jeanne menghiasi dengan kerasnya.

Hmmm, berupa sinyal kah? Sepertinya dia benar-benar memihak pemuda itu. Aku tidak mengetahui apa konflik pusatnya, ahhk kenapa terlalu cepat begini? Tetapi, misi adalah berhasil!

Segera pisau Orion mencoba arahkan untuk menusuk hati Jeanne, tepat pada luncuran dirinya menuju dada Jeanne. Terhenti secara tanpa aba-aba. Bahkan pembunuh sekelas Orion tidak mampu mengendalikan pusaran angina didekat Jeanne, “Haha” Tawa singkat cerah dari Jeanne. Melempar Orion yang sempat terhenti didekatnya dalam pusaran angin yang besar.

Apa! Bagaimana bisa? Bukankah Jeanne tidak memiliki sihir angin?

“ORION!”

“Bagaimana? Tidakkah kau tertarik mendaki gunung ini?” Tatapan bak mata elang yang terbang dengan pesatnya, menatap mangsa dengan penuh belas kasih.

“Khuuhhhk” Lemparan Jeanne sangat membuatnya terluka parah, melemparkan keluar merah segar milik manusia. Orion tetap bersikukuh dari berbaring hasil penuh luka, untuk bersandar pada tumpuan terkuatnya.

Ahk, ini gila! Apakah Kepala Prajurit baik-baik saja? 

“ORION! Beraninya kau mengalihkan pikiranmu!” Jeanne memanas, belas kasihnya sirna dengan seketika.

Tetap saja aku tidak menyangka, ini terlalu diluar rencana. Haruskah aku meninggalkan pekerjaan? Pemecah pikiran disertai kekuatan yang kuat, ini terlalu berbahaya!

“Ahk, Jeanne!”

“Bagaimana bisa aku mendaki, bila gunung didepanku sudah membuat terpana?” Kuharap kamu memahamiku Jeanne, terlalu banyak kobaran api yang akan tumbuh. Sudahilah hal itu….

“CIH! Sadarilah posisimu!” Kobaran angin disertai api membentuk mata panah runcing, tanpa adanya busur melesat menuju Orion. Whusssh, Drack, menusuk secara tepat, tangan kiri Orion. Memaksa mundur unutk kali ini saja.

“Belas Kasihku berada disini saja! Kembalilah saat sudah siap!” Cerca Jeanne dengan tegas, dan segera menghilang begitu saja.

Whuffft, ini benar-benar tidak kupahami…aku harus segera memutuskan, dimanakah rencana terbaik hingga pergerakan yang harus kuputuskan.

Day 23 - "Bulan Biru"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata347
#Day23
 

Semua mahkluk memahami, suatu peristiwa g1la mempengaruhi mereka. Bilamana keluar dimalam hari, maka tidaklah baik untuk mereka. Tahun 102, Marheka, Hari ke dua. Pada satu rumah, anak kecil akan terkumpul untuk dipahamkan. Mendapatkan informasi yang bisa dicermati. Hingga lelap mereka capai dalam pikirannya.

“Aku melihat seorang pemuda yang telah menjadi g1la!”

“Sungguh?”

“Tunggu! Bukankah kau selalu saja dirumah?”

“Hei, apa maksudmu melihatnya?”

“Dasar kalian anak kecil! Melihat bukan berarti tidak tahu bukan?”

“Ahk, ayolah Rio! Kau terlalu banyak melemparkannya!”

Kebiasaan berdiskusi akan membangun hubungan yang baik, saling terikat tanpa ada yang didiamkan.

“Tetapi aku serius!”

“Sebenarnya, banyak yang sudah mengetahui…”

“Pemuda itu memiliki rambut berwarna hitam, memiliki taring yang panjang! Dan…”

Sekian detik berlalu, menunggu pernyataan dari Rio. Tangan mereka saling menggenggam dan semakin erat.

“Hey! lanj—

“Mereka…semua yang mengetahuinya…” Glup, teguk Rio dalam batang tenggorok. Mengamati pergerakan para teman, dan sembari melihat semuanya satu persatu.

“Akan MATI!” Ucap Rio dengan sambarannya. Hwararrh bagaikan auman singa tanpa taring.

“Hwaaaa!”

Sorak redup dari berbagai anak kecil menyerobot suara bising lainnya, mengisi ruang dengan penuh bisik dalam gendang telinga. Para pemuda segera mengamankan situasi yang ada, memperbaiki pemahaman, dan tentunya menanyakan lebih lanjut kepada Rio.

“Baiklah, anak-anak. Takut akan sesuatu itu tidaklah buruk, hanya saja ketahuilah bahwa kita semua akan mati.” Ucap pemuda dengan penuh keberanian. Hhehe lihatlah aku shiny clinggg.

“Tapi bukankah, kami masih muda? Bagaimana bila itu terjadi?” Tanya anak kecil dengan polosnya.

“Maka buatlah kematianmu berarti pada satu atau banyak hal! Jangan biarkan semua hilang sia-sia!” Ucap pemuda dengan senyum lebarnya.

Akhiran obrolan diberikan pemanis bagi para anak-anak usia belia itu, hingga malam tiba dan kelopak mata mengamankan penglihatan mereka. Teruslah terlelap hingga bumi memberikanmu sinar terangnya.

“Tunggu! Rio? Darimana kamu mengetahui hal itu…?”

Anak kecil itu hanya tersenyum dan termenung. Dalam diamnya selalu memainkan lingkar jari kecil. Menyisakan sedikit guratan kepedihan, “Paman, aku mengetahuinya dari seorang pemuda. Ia mengenakan jubah yang sangat megah!” Dengan sorotan mata penuh misteri. Senyumnya mulai terkulai, tergantikan oleh hangatnya pelupuk fana.

“Rio, tidurlah dahulu…besok bantu kami untuk mencarinya…,” Ucap pemuda dengan menggendong tangan anak kecil itu. Mengarahkan pada rumah peristirahatannya.

Day 24 - "Bulan Biru 2"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata316
#Day24

Sebelum pagi hari menjelang, matahari menjinjing cahaya pada ujung mata hamparan luas. Yaampun, aku sangat keheranan. Untuk apakah kepala penjaga membuat kami kerepotan, hanya demi menjaga anak kecil didalam rumah ini? Walaupun udara dingin mampu kuatasi, hanya saja…haaaagh, ini terlalu berlebihan, tidakkah begitu? Bahkan hingga, setidaknya 6 orang dewasa berjaga dirumah ini…sangat naïf. Apakah anak kecil ini adalah bangsawan?

“Hey!” Teriak tangan kanan kepala penjaga, mengagetkan pandanganku tentang semua yang terjadi. Ya, dia adalah orang yang mampu mengubah pandangan dalam sekejab.

Segera bersiap dan terus berdiri pada posisiku. Menghomati, tidak…dia memang pantas untuk lebih mendapatkannya.

“Teruslah berjaga hingga mentari tiba!” Ucap pria itu dengan tegas.

“Baik, Pak!” Balasku dengan sigap, lagipula matahari sebentar lagi akan bertumbuh.

Lama menunggu, kenapa pula bisa seperti itu? Ketika waktu aku hitung, ia akan mengembalikannya berkali lipat.

“Lapor!” Ucap seorang pria dewasa, setelah memasuki rumah anak kecil.

“Keadaan masih terjaga, Pak!” Lanjutnya, dengan tangan memberi penghormatan pada informasi.

“Baik! Laporan sudah tersampaikan, tetap berjaga!”

“Siap Pak!” Balasnya dengan berapi pada dinginnya sebelum mentari kan lahir.

Penjaga terus berdiam, hagh. Betapa nikmatnya mereka yang bisa berjalan dengan kakinya, tidak bosan sepertiku…. Dalam bersiaga seperti ini, akan ada beberapa orang yang berjalan dan berdiam, semua memiliki tujuan nya masing-masing. Bergegas prajurit setelah melihat kedalam jendela, dan menghampiri penjaga pintu rumah anak kecil itu. Menanyakan beberapa pertanyaan dengan tergesa-gesa. “Apakah anak kecil itu aman?” Ucapnya dengan nafas berat disetiap kata. “Apa yang kau tanyakan? Laporan sudah kusampaikan 3 menit yang lalu,” Ucap penjaga pintu dengan santainya sembari menenggak penghangat terjaga dari tidur. “Aku melihatnya melalui jendela kamar, dia tidak ada!” Balasnya dengan serius, hmmmm, tentu saja pengalaman akan menjadi acuan utama dalam menilai.

“Tenanglah, berikan matamu yang terbaik untuk kali ini…dan lihatlah,” Penjaga pintu itu membuka dan mempersilahkannya untuk masuk melihat secara penuh. “B-baik terimakasih banyak, Pak!” Segera melihat secara seksama guna memperbaiki informasi terputusnya. Celingukan dalam diam, dan tetap mencari dalam ruangan itu….

Day 25 - "Bulan Biru 3"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata342
#Day25

Wajah bergidik ngeri, dalam diam terhunus oleh kenyataan. Prajurit itu menggigil ketakutan berada didalam kamar, menyaksikan keanehan yang terpampang dalam penglihatan. Berlari bahkan sudah bukan menjadi opsi yang bisa dipilih, dirinya hanya mampu berdiam terkulai lemas. Hanya dalam hitungan detik, dadanya tidak mennjukan detak kehidupan. 5 menit berlalu, mentari akan terbit setidaknya 3 jam setelah malam ini berakhir. Keanehan tercium oleh penjaga pintu, menyadari kekosongan didalam kamar. Segera membesarkan langkah, dan mengidentifikasi apa sahaja yang telah terjadi.

Tentu saja, sebelum ia memasuki kamar Rio. Sudah melaporkan yang terjadi secara lengkap tanpa terkecuali, kepada rekan informan. Melesat kedalam, dan menemukan cairan merah berceceran dalam lantai serta sudut kamar. Mendalami situasi sebelum bisa benar-benar kembali, terlebih apabila korban masih terkoyak. Belum sepenuhnya terhabisi, terlihat korban masih bergerak dan melihat dalam tetesan merah, menyuruhnya menenggak keamanan. Yaitu pintu keluar, semakin lama tangannya lemas dalam menunjuk. Berniat mengakhiri hidup. Tentu saja sebagai orang yang bertanggung jawab, dia membantunya. Hingga habislah penderitaan singkat itu.

Kembali mencari penyebab, namun segalanya telah hilang. Termasuk anak kecil bernama Rio, hilang ditelan kefanaan. Segera penjaga pintu kembali dan melaporkan situasi, terjadi cekcok sengit disana. “AHK! SUDAH KUBILANG UNTUK MENJAGA DIDALAM!” “APA KATA TETUA SEKARANG?”

“Sudah…kita urus dahulu korban itu,” Menggemgam berbagai pihak untuk segera menyelesaikan perkara yang telah terjadi.

“Meh,” Balas ketua prajurit satu, memang menyulitkan bila menyatukan komando diatas perintah.

Menjelang pagi hari, 30 menit setelah kejadian dibereskan. Terjadi pertemuan 4 komando prajurit, untuk mendiskusikan hal yang telah terjadi.

“Erghhh, sudahlah aku memutuskan untuk tidak ikut campur,” Ucapnya dengan tegas.

“Itu baik, namun masalahnya adalah anak kecil Rio itu menghilang!” Balasnya dalam tatapan serius.

“Haagh, anak kecil memang selalu merepotkan.” Komando 3, ketua prajurit menyesali ide dan gagasan dalam menentukan strategi pertahanan.

“Baiklah…lakukan sesuatu!” Komando Pertama berujar dengan menancapkan pisau pada meja pertemuan.

“Sebelum kita direpotkan oleh warga…,” Pergi dalam pertemuan itu, dan meninggalkan tiga lainnya untuk mengurus urusan Rio.

Tidak diragukan tentunya, prajurit korban itu berasal dari Komando Pertama. Pasti sangat kehilangan, terlebih jasadnya sangat tidak utuh. Bahkan tidak manusiawi, bagaimanapun untuk mengurus keluarga korban akan sangat merepotkan baginya.

Day 26 - "Bulan Biru 4"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata317
#Day26

Pagi menjelang dengan utuh. Cahaya sepenuhnya menerangi Pedesaaan Kumplar, membangunkan mereka yang masih dalam naungan kegelapan. Dalam balik bilah bayangan, Rio menyandang guratan sedih. Masih dalam peristiwa tadi malam, tidak ada yang memahami secara pasti apa saja yang telah terjadi. Korban ditemukan, dan penjagaan sepenuhnya gagal. Tentunya kepercayaan terhadap keamanan akan berkurang, bagi warga.

“Rio!” Panggilnya dalam ruang gelap, bahkan aku tidak bisa melihatnya. Dimanakah dia berada?

“Y-ya?” Aku membalas dengan seteguk kata, ini terlalu mengerikan!

“Aku adalah bayanganmu…selalu saja menyertaimu, disetiap saat!” Ucapnya tegas menanggapi pemikiranku. Sorot mata Rio menatap tajam, tidak mempercayai apa yang ada.

“Berikanlah aku perintah, Tuan Rio” Heh benar-benar orang tua yang kejam. Ini bukan berada pada kendaliku, kuharap ia tidak sama dengannya, kuharap….

Anak kecil itu terdiam, menunduk lesu. Sesekali mencari keberadaan pelayan dalam bayangannya. Memikirkan bagaimana tersiksanya melihat segala apa yang dilihatnya. Bahkan, hingga keanehan yang terjadi sekarang. Rio sendiri tidak mengetahui dimanakah dia berada sekarang. Seakan ada ruangan tersembunyi, membuat tidak bisa diketahui oleh selainnya. “Aku…, ingin memintamu, untuk per-gi dan nik-mati hidupmu.” Ucap anak kecil itu dengan terbata-bata. Senyum kecil terpampang dalam wajah pelayan berupa suram itu. “Yaampun, Tuan Kecil Rio…,” Balasnya dengan sedikit terkekeh, dia…benar-benar mirip dengan para sebelumnya. Aku harap bukan hanya sekedar, “Baiklah, akan saya lakukan sekarang permintaan anda.”

Tidak lama bangunan sekitar Rio berubah menjadi istana megah, sangat tinggi. Orang yang mati sebelumnya kembali layaknya tidak terjadi apapun. Segala yang Rio kecil pikirkan pada hari itu, malam itu, dan seterusnya akan selalu meninggalkan jejak nyata dalam hidupnya. Pelayan itu pun pergi dan menghunuskan dirinya sendiri, dalam jeratan kesirnaan.

Rio mengamati sekeliling, dan kembali dalam kemenungan. Bukan ini yang dia inginkan, mengapa pelayan itu pergi dan meninggalkannya? Apa yang dia pikirkan hingga berani melakukan itu?

Prajurit yang diselamatkan itupun menghormatkan diri pada Rio kecil, menyatakan sumpah setia atas apa yang telah terjadi. Namun Rio, mendalami hal ini…bukanlah apa yang dia mau. Tidakkah Rio hanya ingin…kebebasan?

 

Day 27 - "Bendera Putih"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata306
#Day27
 

Aku mengharapkan karaktermu yang dapat berguna. Hmmmm, manusia harus dimanusiakan dengan yang lainnya. Tidak berguna bila pergerakanku tanpa melibatkan, dari mereka sendiri. Jeanne, sedikit berguna untuk membereskan. Memiliki peran sebagai penanggung jawab, tidak sia-sia mereka melatih pelayan yang mampu berkehendak mandiri dalam pertarungan. Tetapi…, Orion sepertinya sangat cocok untuk menjadi tokoh besar. Hmmm, dibandingkan mereka pemuka yang berkuasa. Baiklah…tidak sepatutnya kita menyalahkan tanah yang gersang bilamana tidak dihujani.

Jeanne menunduk hormat disetiap saat bersama Tuan Pemuda, aku. Dia cukup piawai dalam berbagai hal, tidak kurang dari setiap kemampuan…tidak bahkan keahlian milik pelayan adalah kepunyaan junjungannya. Tidak aneh, bila mereka dituntut serba bisa dan memahami seluk beluk. Aku yakin ada semacam mekanisme, dalam hubungan Tuan dan Pelayan. Tidak aneh bila mereka bisa segera menyergapku. Hmmmm manusia…, keji.

Duduk dalam kursi milikku, berpangku tangan. Menyeringai adalah kebiasaanku, sangat menyenangkan.

“Jeanne” Panggilku dengan santai, tatapan mata yang menyiratkan persahabatan.

“Ya, Tuan.”

Dia tidak banyak berucap, sepertinya memanjakan tidak terlalu buruk. Bagaimanapun manusia itu rapuh, tidak diketahui kapankah mereka akan menyerah dari segala kondisi.

Aku memberikan arahan untuk mendekat, dan memberadakannya pada lingkar jemariku. Sedikit menmbelai bagian yang paling kusukai. Dia terlihat menikmatinya, hmmmm.

“Apa yang kamu sukai? Beritakan kepadaku!” Bergegas melihat wajahnya yang selalu menunduk.

“S-saya, hanya menginginkan…, Baginda.” Balasnya dengan sedikit menatap kalimatnya. Terlihat sorot mata yang penuh harapan padaku.

“Akan kuwujudkan,” Ucapku, hmmm manusia selalu memiliki motifnya? Kebenaran hanya miliknya. Segera topik ini tergantikan, dan membahas kelanjutan skenario milikku pada kerajaan ini.

Berdiri dari tahta kecil yang kumiliki, “Aku memintamu untuk bawakan bendera putih, dan berikan aku beberapa bidak penting. Pada mereka, didepan mataku.” Dengan menatap serius, sedikit memberikan tekanan pada Jeanne.

“B-baik Tuan. Akan saya laksanakan,” Menyanggupi perintah, dan segera meninggalkan ruangan. Jeanne, Ya?

Panggil, unit laporan!

Seketika kemunculan mahkluk pembawa pesan, segera berhadap denganku. Tidak perlu waktu yang lama, aku segera melaporkan perkembangan yang ada kepadanya.

Day 28 - "Bendera Putih 2"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata412
#Day28

Whaaa, apa-apaan ini! Bahkan hanya unit pelapor dalam waktu singkat telah merubah penampilannya? Ehmmm hmmm, ini sungguh terlalu!

Ia menghadapku dan menunjukkan hormatnya dalam tahta kecil yang kupunya.

“Unit pelapor, anggota kelima. Menghadap anda, Tuan Janwani.” Sembari membungkukkan kekuatan, “Apakah ada kemunduran, dalam penundukan kerajaan pusat Burapal?” Lanjutnya dengan berhati-hati dalam setiap pergerakan dan sorot mata.

Menanggapi celaannya, aku sedikit bergidik dalam guratan emosi. Ahk unit laporan mengapa kalian membuatnya selalu menjadi potensi penyebab masalah?

“Selalu saja, unit laporan memang…hmmm, laporkan saja ini.” Memberikan secarik kertas, memberikan berbagai skenario yang telah terlaksana sejauh ini. Beberapa jalan pintas hingga opsi lainnya tersedia dengan lengkap, ketika kegagalan harus disandingkan dahulu. “Berikan 3 hari setidaknya, Burapal ada pada tanganku.” Ucapku dengan sangat percaya diri. Hehe, Yang Mulia kau pasti akan memujiku.

Unit pelapor segera menerima berkas yang kuberikan dan mengamati sekeliling, sedikit menyimpulkan, membalas sorotan mataku. Hmmm, tidak sopan sekali. Namun seperti itulah mereka melakukan tugasnya. Biarkan Baginda mengetahui bahwa aku masih saja ingin duduk, hehe.

“Baiklah, aku menerima laporan sementaramu” Balasnya dengan wajah menerima, tangan terhomati ketika mengambil berkas. Berjalan cepat menghadapku, memberikan penghormatan seperti biasanya, “Kalau begitu, saya undur diri dahulu.” Dengan tangan terlipat dan kepala menunduk.

“Hmmmm,” Aku membalasnya dengan gestur afirmasi. Tidak lama ia segera pergi dari ruanganku, huft…sangat tidak enak sekali tekanan yang mereka berikan. Baginda, sangat berhati-hati sekali, apakah mungkin untuk berkhianat? Sepertinya tidak mungkin….

Namun, hanya melihat bidak bergerak terkadang membuatku bosan. Bagaikan bunga mekar disaat akar dan yang lainnya bekerja aktif. Baiklah, bunga yang bekerja keras tentu akan menyemangati bagian selainnya bukan? Aku mengatakan, lengkapilah dengan yang terbaik.

Segera aku mengambil bidak lainnya, untuk membantu Jeanne. Tentu kekuatan penghancur satu negeri tidak akan lumpuh semudah itu, namun pembagian waktu…dia pasti cukup kerepotan.

Berjalan mengiringi kota, dan mencari-cari keahlian dalam berbagai bidang. Terlihat banyak sekali mangsa, aku hampir memanipulasi mereka yang sangat memiliki kekuatan cukup dalam seorang manusia. Sekitar 50 orang dengan berbagai keahlian telah kutaklukan, dengan seperti ini mungkin akan memotong waktu Jeanne dalam bekerja. Ohh, kenapa hampir semua yang mendalami peran kehidupan memiliki raut wajah yang tenang? Hmmmm.

Mengirimkan pesan singkat pada Jeanne, “Jeanne, aku memberikanmu bekal. Manfaatkan mereka sebagaimana aku memberikanmu tugas.” Ucapku dalam ketenangan. Untung saja, bidak-bidak ini telah kuberikan persatuan pikiran. Sebuah teknologi untuk membuat pemikiran mereka bisa bersatu dan saling bersama. Sehingga pemberian tugas tidak akan tersulitkan oleh jarak.

“Baik, Tuan….” Jawabnya singkat dan padat. Sepertinya dia sangat serius, hmm aku bahkan tidak tertarik dengan rencananya. Apakah aku salah…? Tidak, aku mempercayainya.

Day 29 - "Sunyi"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata384
#Day29

Pagi hari menjelang panas, Ardhal sedang berada dikamarnya. Berbaring ringan dengan memakai pakaian yang seadanya. Kipas angin tampak memanjakan dari kanan ke kiri, tepat pada arah Ardhal bernaung. Keramaian hanya terdengar suara kipas berputar, disertakan lagu yang ia putar. Namun, tidak lama….

Glontanggg…, suara bunyi benda perkakas jatuh.

Ardhal mendengar hal itu segera mendekat pada sumber suara. Mengeceknya apakah ada sesuatu yang harus dibenarkan. Benar saja, panci gagang tergantung itu jatuh. Hanya mengamati sekitar dan sedikit menemukan petunjuk, tidak lain itu adalah Dhala. Kucing yang selalu menjenguk Ardhal dikala kelaparan, mungkin mengambil lauk siap saji.

Ardhal hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya, dan tersenyum manis. Betapa indahnya mahkluk satu ini. Segera membereskan yang perlu dibereskan. Kembali dalam kesunyian yang ia senangi.

Berlangkah gontai menuju kamar, ia bergumam, “Meow, Dhala…kalau mau maem kan bisa bilang aja….” Sedikit ia menyesal karena tidak melihat keberadaannya dalam waktu dekat.

“HmhMHm Im a savaheee, nor sapeg…,” Gumamnya dalam sunyi, mendengar bunyian berasal dari instrument instant. Menggunakan alat untuk fokus pada sisi pendengarannya, “Whehe headset mahal mesti mantep nih.” Sedikit ia melupakan waktu yang berjalan.

Kembali tersadar setelah mendengar lagu berakhir dan mendengar detakan waktu.

“Auwh, benar juga…waktu diskusi dah ini.” Ia membuka bukunya untuk melanjutkan pencarian singkatnya.

Membuka pikirannya lebar-lebar tentang waktu dan indra pendengaran.

Baiklah! Topik kali ini adalah Sunyi. Hmmmm, apa itu sunyi?

Keadaan dimana kita mengenali keramaian dalam takaran tertentu dan sedang mengalami keramaian yang kurang ramai dari sebelumnya. Menarik! Lalu apa artinya bila aku tidak mengetahui ramainya dunia ini, maka sunyiku akan selalu berbeda, hmmm begitukah? Yah konsep relatifitas akan selalu mempengaruhi segalanya. Itu cukup, namun sebenarnya aku penasaran. Bilamana ketika lebih sunyi, indra pendengaran entah kenapa akan lebih sensitif…bahkan detak jantung bisa kita dengar, bukan?

Sebenarnya aku mendengarkan alunan musik tidak lain, caraku untuk bersyukur. Indra pendengaranku, ada sesuatu yang mengendalikan…entahlah, aku tidak tau secara ilmu pengetahuan, namun berdasarkan percobaan. Apakah ini berarti telinga kita selalu pengertian. Yah, masuk akal, artinya kita akan selalu memiliki suatu informasi yang masuk berdasarkan alat yang kita miliki. Ketika pemasukan kurang dari rangsangan luar, maka dalam bagian nya sendiri akan lebih mencari secara dalam dan lebih jauh. Begitupun ketika dimanjakan selalu dari luar. Ahk aku jadi mengingat selalu saja memanjakan mataku dalam jarak yang dekat.

Lalu ketahuilah selalu, bahwa sunyi bisa kamu kenali ketika keramaian telah kamu hadapi.

Day 30 - "Kami"

0 0

#Sarapankata
#KMOIndonesia
#KMOBatch39
#Kelompok9
#Stargazing
#Jumlahkata325
#Day30

Alhamdulillah.

Kami telah menegaskan keinginannya. Benar, aku tidak menyangka sebetulnya. Tantangan didepan mata sangat-sangat membuatku tersadar sekarang. Bahwa didunia ini akan selalu ada yang membuatmu sadar dan memahami. Hanya saja, inginkah kami untuk itu?

Alatku benar-benar harus diasah, kapanpun itu. Tantangan selalu ada, kamu akui atau tidak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kami menyelesaikannya. Benar, wawasan akan memenuhi tuntutan berbagai alat, sedangkan alat kita membenarkan setiap perilaku yang terkeluar maupun kamu masukkan. Begitupun perilaku yang terjadi ataupun terekam, bilamana dibiasakan maka akan menjadi bangunan yang kokoh.

Perjalanan untuk kali ini sangat menggembirakan, seperti inikah rasanya berhasil? Aku akan memberikan satu gagasan kelanjutan, yaitu…sangat menyenangkan bisa menyelesaikan apapun yang kumulai. Walaupun jadi sedikit terkenang berbagai kesempatan yang sudah kuambil namun tidak selesaikan. Yah, selalu ada alasan dibalik semua hal, untuk kami bertahan maupun pergi dari suatu tantangan.

Sebenarnya segala kejadian, akan menimbulkan hasil. Bahkan bila prosesnya kamu lewatkan, kesimpulan akan selalu membentuk. Tetapi kebanyakan manusia hanya senang menyimpulkan dimana mereka untung. Melewatkan berbagai kesimpulan untuk menghindari kerugian, bukan?

Aku saja begitu, hingga sadar bahwa sebaik-baiknya meninggalkan proses adalah dikarenakan waktu tidak mampu kuraih. Bukan berarti waktu kurang menaungi, hanya sulit untuk memberikan kehangatan disetiap perjalanan. Sehingga, aku harus meraih selimut setiap saat aku membutuhkan. Karena itulah, aku menjadi manusia.

Sedikit gambaran untuk kami, sungai yang mengalir akan selalu membentuk kebiasaan dalam alam sekitarnya. Jalur-jalur baru akan terbentuk begitu derasnya aliran mengikis daratan sedikit demi sedikit, namun tetap pada batasnya. Keselarasan adalah kunci utama. Akan sangat rugi bilamana air yang mengalir tercemar, bukan?

Namun begitulah manusia, akan selalu memiliki langkah keseimbangan kami sendiri. Berbagai alat dimanfaatkan, hingga terciptalah strategi. Tidak sedikit yang bermain dengan polusi, dan membiarkannya. Hingga waktu tiba, mereka membersihkan sebisa mungkin. Dan kita tidak memiliki kekuatan untuk menyimpulkan, biarkan mereka yang bermain akan memahaminya. Karena ketika telah jatuh kepada noda, bila kamu ingatkan kami akan tersinggung. Ketahuilah, kami tentunya memiliki alasan kuat membiarkan kebersihan ternodai. Ketercualian bila kamu lebih memahami daripada kami yang melakukannya.

Mungkin saja kamu suka

Novela
Holosen
Baiq Lian Solih...
Dariku Untuk Diriku
Gideon Hendro B...
Rimba Nama
Melsan
Cukup
Putri Ayu Agust...
PAEDAGOGY

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil