Loading
2162

28

154

Genre : Romance
Penulis : Dayu Woori
Bab : 26
Pembaca : 225
Nama : Dayu Woori
Buku : 2

Dear Sunshine

Sinopsis

Aku ingin sekukuh mentari. Meski disiriki ribuan manusia, ia tetap teguh tak henti menyinari. Aku ingin setangguh mentari. Meski kerap dihujani keluh kesah, ia tak pernah malu menampakkan diri. Sayangnya, semua keinginanku terbatas di hati. Meski begitu, anehnya aku selalu mengulang pertanyaan yang sama. Bisakah aku seperti mentari? Buku ini sekumpulan kisah penuh drama pencarian jati diri.
Tags :
#Olimpiademenulis #DearSunshine #Insecure

Sayap yang Patah (Part 1)

11 3

Napas terengah-engah, rambut acak-acakan, pakaian basah kuyup bak habis diguyur hujan, tidakkah cukup untuk menggambarkan betapa mengenaskannya kondisiku? Bukan berniat mengakhiri hidup, melainkan aku sedang mencoba mengenyahkan bayang-bayang headline news tadi pagi. Entah mengapa yang terlintas di pikiranku hanya menghabiskan stok energi di pusat kebugaran.

Perkenalkan, aku lelaki yang baru saja gagal terbang. Kedua sayapku patah karena ulah manusia tidak bertanggung jawab. Orang-orang mengecapku sebagai manusia yang selalu dirundung sial.

Jendra Kembali Gagal Membintangi Drama, “Terhalang Persetujuan Penulis Asli” Diduga Kuat Menjadi Penyebabnya.

Tanpa sadar aku mengumpat. Seberapa keras aku mencoba, berita yang sukses menghebohkan dunia itu tak mau enyah dari benak. Aku tidak mau kualitas hidupku lagi-lagi terganggu.

Bisik-bisik menyebalkan mulai terdengar. Pikiran kacau tidak lantas membuatku abai dengan keadaan sekitar. Ayo lanjutkan saja kalau kalian sudah tidak ingin hidup, dengan senang hati aku akan mengantarkan ke gerbang neraka.

Aku tersenyum miris. Ketampanan, suara bariton sempurna, harta melimpah, keluarga yang harmonis, dan tunangan yang menawan, awalnya semua itu membuatku yakin bahwa aku adalah manusia sempurna. Namun, semenjak kejadian saat itu, kepercayaan diriku perlahan terkikis. Hingga genap hilang. Aku berani bersaksi, sungguh tidak ada manusia sempurna di dunia ini.

Deru napas makin tak terkontrol seiring laju lariku di treadmill yang makin kencang. Aku mengabaikan kontrol pernafasan yang sering diteriakan Yudha, personal training kenalanku. Semua kesialan, sakit hati, amarah, rendah diri, dan kemalangan lainnya hilanglah bersamaan dengan cucuran peluh.

Aku lelah. Tidak hanya fisik, tetapi juga hati dan pikiran. Lajuku mulai melambat. Aku memutuskan berhenti sejenak untuk mengisi pasokan oksigen sebelum kembali memaksa diri.

Awal Februari menjadi hari yang kutunggu-tunggu. Kesempatan besarku untuk lebih dikenal dunia. Drama pertama yang kubintangi akan tayang. Berita itu bahkan digembor-gemborkan langsung oleh agensiku ke seluruh penjuru negeri.

Akun media sosialku yang lama terbengkalai mendadak ramai dihujani penggemar. Aku memang tidak membaca satu-persatu cuitan yang ada di kolom komentar, tetapi dari beberapa bisa kusimpulkan berisi dukungan dan kalimat penyemangat.

Tak bisa dipungkiri hal itu membuatku senang. Namaku yang semula hanya dikenal sebagai sosok publik figur berparas tampan sontak naik tingkat.

Tampan dan Berbakat, Simak 5 Fakta Menarik Penyanyi Muda Jendra.

Di setiap langkahku ada kepercayaan diri yang menjulang tinggi. Tarikan napasku berisi ribuan ton kemantapan hati. Sorot elang pada bidikan di seberang sana, membawa racun keberuntungan.

Drama Terbaru Jendra “Dear Sunshine” Tunda Tayang, Ini Alasannya!

Lawan mainku menghancurkan kepingan harapan yang sudah kususun sempurna. Sayapku patah sebelah. Aku jatuh di atas semak belukar. Sakit, perih, aku tak bisa terbang lagi entah untuk berapa lama.

“Jangan dipaksa. Keluarlah saat kamu sudah benar-benar siap bertemu lagi dengan dunia.” Suara menenangkan Hera hampir setiap hari menemani kemalanganku.

Kami tidak bertemu, karena aku sengaja mengurung diri di apartemen. Gadis manis itu melontarkan kalimat penyembuhnya dari balik pintu. Andai ia tahu, aku tak pernah luput menyimak tiap bait ucapannya. Bersandar di pintu sambil menerawang jauh, memandang balkon. Tak henti merutuki diri seraya berpikir sampai kapan akan terus seperti ini. Aku pecundang lemah yang tak punya muka di hadapan orang terkasihnya.

Gadis itu, aku merindukannya.

Aku limbung. Ternyata hanya sebatas itu kemampuan tubuhku menuruti kekalutan hati. Kalau diteruskan bisa-bisa aku akan jadi headline news lagi.

Aksi Percobaan Bunuh Diri Jendra Menggegerkan Warganet.

Aku terkekeh pelan. Semua tentangku selalu menjadi santapan manis para pemburu berita. Aku tak mempermasalahkannya asalkan mereka tahu batasan. Sebab apabila lewat sejengkal saja, aku tak segan mencari dalangnya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku punya harta yang melimpah. Sangat mudah bagiku melakukan apapun dengan sekali jentikan jari. Sayangnya hal tersebut tidak berlaku pada takdir.

Aku memutuskan berlalu menuju loker. Bergegas mengganti pakaian lalu pulang untuk mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk dunia. Berharap esok akan datang sayap baru entah dari mana dan milik siapa.

Dering ponsel mengejutkanku yang sedang sibuk menggeledah tas, mencari keberadaan kunci kendaraan roda empat. Aku hanya bisa berdecak saat melihat pelakunya. Dia lagi.

Dimas is calling.

Pria yang terpaut dua tahun di atasku itu serba tau, atau jangan-jangan benar dia memiliki radar untuk melacakku. Seperti lagu yang kerap ia senandungkan saat kami sedang bersama. Sungguh memuakkan.

Tak mau ambil pusing mendengar omelannya, aku memutuskan mematikan ponsel. Bahaya kalau kami berdebat sekarang, bisa-bisa aku akan menjadi sumber kerusuhan di jalan.

Benar saja, di depan pintu unitku Dimas sudah memasang wajah penasaran. Netranya menyipit menatapku menyelidik.

Aku menghela napas lelah. Memang sangat melelahkan hari ini. Pagi buta dihantam berita menyesakkan, lalu terdampar di tempat kebugaran, dan kini berakhir dengan ditodong penjelasan. Kalau begini caranya kapan aku bisa istirahat?

“Kalau mau mengurung diri nanti, sekarang waktunya kamu sharing isi pikiran. Jangan ada yang ditutupi. Aku enggak mau kejadian Februari terulang lagi!” tegasnya saat aku akan melanjutkan langkah menuju kamar.

Aku berdecih. Mengapa lagaknya mirip para gadis sok manis di luar sana?

Memang benar, tidak hanya seminggu, aku mengisolasi diri sebulan penuh. Aku menyerah berkat tangis pilu Hera. Ia merayuku dengan ancaman.

Aku masih waras. Kehilangan gadis itu sama saja seperti kehilangan sebelah sayapku lainnya. Saat itu yang terlintas hanya pemikiran untuk mengalah. Karena mengalah bukan berarti kalah dan kalah bukan berarti lemah. Aku menyapa dunia kembali dengan sambutan haru Hera.

“Wajahmu pucat, matamu juga sayu. Sudahlah, Je, jangan memaksa membakar kalori lagi,” gerutunya seraya menyodorkan air mineral.

Aku menerima dengan malas. “-yang benar itu buang sial,” celetukku setelah meneguk rakus minuman darinya.

Dimas berdecak keras. Bola matanya berpaling dariku. “Potong rambut, potong kuku, mandi air bunga lalu ini ditambahi dengan latihan fisik. Ayolah, jangan ikut gila seperti manusia di luar sana. Kalau mau buang sial caranya cuma satu, bertemu Sang Pencipta.”

Refleks aku mengernyitkan dahi. “Mati maksudnya?” pekikku tanpa sadar.

Secepat kilat tinjuan mendarat di lengan. Meski ringan, ternyata sakit juga. Tak kusangka Dimas lebih kuat sekarang. Sepertinya ia mengikuti saranku rajin latihan fisik.

“Dasar orang kalut! Pikirannya enggak bisa jauh-jauh dari mati. Bukan itu maksudku, kamu harus lebih rajin lagi beribadah, berdoa, meminta ampun Sang Pencipta.”

Aku mengangguk berkali-kali. Benar juga kata Dimas, siang ini aku belum bertemu Penciptaku.

“Hei, Bocah! Mau ke mana kamu? Main pergi aja!” pekiknya saat aku melenggang dengan santai.

Aku berbalik, menatap Dimas yang tengah memasang wajah galak. “Aku belum sholat. Kalau kamu mau pergi, silakan. Pintu keluar ada di sebelah sana.” Tanganku menunjuk pada pintu apartemen.

Netranya membulat diikuti perubahan raut muka. Sebelum semburan omelannya mengudara, aku sudah lebih dulu berlari kecil memasuki kamar mandi.

“JENDRA! MULUTMU PERLU DI SEKOLAHKAN!”

*****

user

12 December 2021 13:53 Des Ditariani Semangat akak saling support bisa mampir ke noktah hitam kak

user

17 December 2021 22:17 Windi Anindya Semangat

user

12 April 2022 16:01 human semangat kaka

Sayap yang Patah (Part 2)

6 0

“Kenapa masih di sini?” tanyaku begitu wajah menyebalkan Dimas yang pertama kali terekam netra setelah membuka pintu kamar.

Dimas terlihat santai merebahkan diri di sofa seolah ia adalah pemilik unit ini. Pria itu bahkan tak sungkan menonton tayangan drama dengan menaikkan volume hampir menyentuh maksimal. Dasar gila! Mentang-mentang ruanganku kedap suara ia jadi seenaknya.

“Bisa lebih lembut enggak? Ada makhluk hidup di sini, bukan benda mati!” sentaknya setelah aku dengan kasar meminta space untuk ikut menenggelamkan tubuh di sofa.

“Siang ini free?” tanyaku lagi memastikan keberadaannya yang jujur sangat mengganggu pemandangan.

Aku tau Dimas mulai kesal. Terbukti pria itu kini bangkit membenarkan posisi duduk sambil beberapa kali menghela napas kasar. Salah siapa merusuhi orang kalut.

“Manajermu pagi-pagi heboh. Takut kalau kamu mengurung diri lagi atau yang lebih parah kamu bunuh diri.”

Aku mengacak rambut dengan kasar. Opsi mengurung diri memang sempat terlintas, tetapi bunuh diri jelas bukan pilihanku. Masih banyak yang belum aku lakukan, salah satunya bersama dengan Hera menyongsong hari bahagia.

“Aku masih waras, Dim, dan masih sayang hidup!” tegasku seraya meraih ponsel di saku.

“Bagus kalau gitu. Aku enggak perlu repot-repot menggali lubang kuburmu.”

Aku menatap Dimas tanpa ekspresi. Bingung juga menimpali cibirannya yang kelewatan. Faktanya, makin aku membalas, makin membabi buta kalimat kujar ajar Dimas. Pilihan yang paling tepat adalah diam. Biar Dimas bicara sendiri.

Aku memilih berselancar di media sosial, mencoba mencari tau respons penggemar terhadap berita menggemparkan tadi pagi. Aku hanya bisa berharap semoga mereka tidak meninggalkanku setelah ini.

Menjadi publik figur bukanlah perkara yang mudah. Semua tentangku otomatis akan menjadi konsumsi publik. Di dalamnya termasuk gaya hidup, perjalanan karier, kisah asmara bahkan manner ikut menjadi sorotan. Aku dituntut menjadi pribadi yang baik dan bersih dari segala tindak kejahatan. Ya, bisa dibilang secara tidak langsung aku menjadi panutan.

Di negara ini yang paling dijunjung tinggi adalah kesopanan. Sedikit saja bermasalah dengan hal itu, bisa dipastikan artis tersebut akan langsung memiliki catatan buruk. Bukan agensi ataupun manajer kami, melainkan publik yang akan bertindak saat seorang artis bermasalah. Beberapa agensi ada yang sengaja menutupi cacat artisnya sebab alasan menjaga citra. Namun, publik lebih pandai. Mereka bagaikan pengadilan tak kasat mata.

Serapat apa pun menutupi bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Entah bagaimana mereka selalu tau semua yang disembunyikan orang dalam. Termasuk kabar tentang pertunanganku dengan Hera.

Kami sudah sepakat merahasiakan hal tersebut dari pihak luar. Selain untuk menjaga  perasaan para penggemar, aku juga bermaksud ingin melindungi privasi Hera. Aku tidak bisa membayangkan gadisku diserang hanya gara-gara hubungan kami. Aku manusia biasa yang juga ingin memiliki kisah asmara. Bukankah mereka terlalu lancang kalau sampai menyuruhnya enyah karena ingin melihatku bersinar seorang diri?

Sekadar mengingatkan, bulan bahkan tak bisa beredar sendiri. Ia memang indah dan kerap diagung-agungkan, tetapi ia tak berarti tanpa adanya matahari. Banyak manusia lupa, faktanya bulan selalu meminjam sinar.

Mereka tidak tau sebesar apa perjuanganku meyakinkan gadis itu. Kami bukan seperti pasangan pada umumnya yang memantapkan hati dengan jalan berpacaran. Ada andil besar orang tua di dalamnya.

Meski beberapa orang mengatakan cara itu sudah kuno, tetapi aku merasa nyaman menjalaninya. Aku lebih lega kalau gadis itu pilihan orang tua dibandingkan gadis asing yang kujumpai sendiri dari luar sana. Sejauh ini aku penganut pilihan orang tua selalu tepat.

“Kamu enggak ada rencana pulang?” tanyaku lagi. Aku dan Dimas duduk berdampingan dengan menghabiskan menit tanpa ada satu pun kata yang terlontar.

Dimas menatapku cukup lama hingga membuatku keheranan dengan sesuatu yang memenuhi pikirannya.

“Asal kamu janji jangan mengurung diri lagi,” ucapnya memastikan.

Aku mengangguk tegas. “Aku baik-baik aja, Dim. Cuma kaget dan enggak menyangka lagi-lagi gagal main drama,” balasku diiringi tawa miris.

 Dimas mengejutkanku dengan tiba-tiba bangkit. “Kamu sudah mau pulang?” tanyaku riang.

Ia menggeleng. “Kamu yang harus pulang,” balasnya seraya berlalu menuju sudut ruangan, tempat di mana mantelnya berada. Aku mengikuti dari belakang, menuntut penjelasan Dimas.

“Kamu enggak salah? Aku sudah pulang, Dim. Ini rumahku,” jawabku sedikit keras sekaligus mengingatkan Dimas. Bangunan ini hunian yang aku beli dari hasil memeras keringat dan menyumbangkan suara emas.

“Maksudnya pulang ke rumah orang tuamu. Sekarang cepat ambil mantelmu dan jangan banyak tanya!” perintahnya tak terbantahkan. Aku tidak kunjung beranjak dari tempat. Masih mencerna perintah aneh Dimas.

Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Lagi pula ini masalah pribadi, aku tidak nyaman berbagi. Aku rasa keduanya sudah cukup lelah mengurusi hari. Hal itu juga yang memperkuat keputusanku memiliki rumah sendiri.

Sesering apapun aku meminta, Bunda selalu saja tak pernah berhenti menyiapkan makanan untukku. Bahkan beberapa kali Bunda sampai rela menungguiku pulang hanya karena ingin memastikan aku sudah makan malam.

Lalu Ayah dengan sengaja meluangkan waktu liburnya untuk menemaniku mencari udara segar. Pergi memancing yang paling sering, kadang juga bermain golf dan mendaki gunung. Aku jelas tau Ayah memiliki jadwal padat sekian hari dan saat aku menolak ditemai, Ayah selalu mencari jalan lain agar bisa ikut bersamaku.

Sejak kecil aku terbiasa melakukan segalanya seorang diri. Mengingat Ayah dan Bunda memiliki jadwal masing-masing. Aku tidak mempermasalahkannya. Namun, semenjak namaku dikenal seisi negeri, keduanya menjadi aneh. Mendadak memperlakukanku bak permata yang patut dijaga. Jujur saja aku merasa kurang nyaman.

Entah apa yang terjadi dengan diriku, tau-tau aku sudah mengambil mantel dan bersiap mengikuti Dimas. Ia melarangku membawa kendaraan sendiri, takut terjadi apa-apa di jalan. Baiklah, daripada adu debat lagi, aku memilih patuh. Lumayan aku bisa menggunakan waktu perjalanan untuk memejamkan mata. Kapan lagi aku berkesempatan disopiri aktor ternama.

Perjalanan yang biasanya kutempuh cukup lama, kini menjadi lebih singkat. Tak lain sebab aku benar-benar tidur setelah menemukan posisi nyaman. Sejak beberapa menit lalu Dimas menggerutu mengutuk kelakuanku. Biarkan, Dimas memang sering begitu.

“Kok enggak bilang dulu kalau mau pulang, Je?” tanya Bunda yang tergopoh-gopoh menghampiriku dari dalam. Begitu kami berhadapan, tanpa ragu aku mencium tangan basah Bunda.

“Sengaja biar Bunda sama Ayah terkejut,” balasku sambil terkekeh.

Pukulan ringan mendarat di lenganku. Bukan Bunda pelakunya, melainkan si tengil Dimas Pradipta. Apalagi sekarang, mengapa ia tidak bisa berlagak normal seperti pria pada umumnya?

“Dimas yang menyuruh Jendra pulang, Bun. Dimas takut bujang Bunda satu ini berbuat hal yang tidak diinginkan.”

*****

Sayap yang Patah (Part 3)

26 0

Dugaanku salah. Ayah tidak mengajak memancing atau pun bermain golf. Ayah justru menggiringku ke gazebo yang ada di taman belakang rumah. Sejak kedatanganku satu jam yang lalu, Ayah belum juga bersuara. Tidak seperti Bunda yang mudah terbaca setiap kegundahannya, aku selalu gagal membaca pikiran Ayah. Wajahnya begitu tenang, netranya menatapku lembut seolah Ayah tidak tau berita heboh itu.

Namun, mana mungkin seseorang yang tidak tau mendadak berubah aneh seperti ini? Ayah biasanya akan banyak bercerita. Kadang seputar kampus, kadang juga tentang harinya yang dirusuhi mahasiswa. Aku lupa mengenalkan, Ayahku adalah seorang profesor. Sedangkan Bunda adalah desainer merk pakaian ternama.

Setelah mendapat kabar dari Bunda mengenai kepulanganku, tak sampai setengah jam Ayah sudah kembali menginjakkan kaki di rumah. Tidak mau repot berganti pakaian, Ayah memilih langsung bergabung makan siang bersama kami, dan setelahnya kebisuan Ayah di mulai.

Hingga kini meskipun kami sudah duduk berdampingan sambil memandang kolam ikan, Ayah belum juga berniat bersuara. Aku sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut tanyaku justru mengacaukan susunan kalimat yang tengah Ayah rangkai di kepala.

Tanpa ada persiapan dulu, Ayah tiba-tiba menatapku. Membuatku gugup. Mimik muka Ayah berubah serius.

“Ayah mendengar tentangmu dari mahasiswa di kampus tadi,” ujar Ayah mengakhiri aksi diam kami.

Aku mengangguk paham. Tidak heran, namaku memang terpampang di mana-mana. Semua hal tentangku dengan cepat akan mendunia meski sebenarnya aku tidak mengharapkannya.

Setiap akan beranjak menyusuri alam mimpi, diam-diam aku membaca pemberitaan tentangku di media. Pernah satu kali aku menjahili penggemar dengan ikut bergabung dalam grup khusus mereka. Aku menyapa mereka layaknya menyapa Dimas dan kawan akrabku lain. Saat aku membongkar jati diri, mereka justru mengatakan aku palsu. Aku tidak bisa menahan tawa. Sepertinya banyak yang pura-pura menjadi diriku hingga membuat mereka waspada.

Saat aku mengirimkan rekaman suara pun mereka masih juga enggan percaya. Hingga akhirnya aku memutuskan mengambil selca dan mengirimkan beberapa pesan hangat, lalu segera meninggalkan obrolan tersebut. Keesokan harinya, berita heboh tentangku muncul. Namaku trending di beberapa media sosial. Mereka menyebutnya, kekuatan seorang Jendra, sekali muncul menggemparkan dunia.

Tak bisa membohongi diri, tentu saja aku senang sekali. Berinteraksi langsung dengan penggemar adalah satu hal yang sangat aku nantikan. Memang tidak semuanya tulus mendukungku, ada beberapa yang terang-terangan berbuat kerusuhan. Seperti menyebarkan rumor buruk tentangku, lengkap dengan foto yang aku sendiri bahkan tak tahu dari mana mereka mendapatkannya.

Alih-alih penggemar, aku menyebut mereka haters. Mereka juga sempat mengganggu Hera, beberapa hari setelah kabar pertunangan kami mencuat ke media. Tentu saja aku langsung turun tangan. Tanpa sepengetahuan Hera, aku menyelesaikannya dengan menyanggupi bertemu.

Jika bertemu langsung denganku adalah sebuah keberuntungan, maka bertemu denganku karena suatu kejahatan adalah sebuah kebinasaan. Ancaman keras kulontarkan hingga membuatnya ketakutan. Ya, begitulah diriku.

“Ayah tidak ada jadwal mengajar siang ini?” tanyaku membangun topik pembicaraan.

Ayah menggeleng tegas. “Tapi Ayah tidak bisa menemanimu memancing seperti biasanya.” Aku tak bisa menahan tawa berkat gurauan tak seberapa itu.

“Kapan terakhir kali kamu bertemu Hera?” Aku terhenyak, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ayah. Mengerjapkan mata beberapa kali seraya mengingat kembali pertemuan kami.

“Mmm... Dua bulan yang lalu sepertinya,” balasku ragu, tetapi kemudian dibalas anggukan oleh Ayah.

“Kamu tidak ada niatan menunda hari itu kan?” Aku menatap Ayah dengan segudang tanya. Mengapa Ayah sampai bertanya seperti itu? Apakah kami terlihat seperti sejoli yang sedang bertengkar?

Kami memang jarang berkomunikasi. Bukan sebab ada masalah atau berniat mengakhiri hubungan yang tidak kunjung resmi ini. Melainkan kami masih canggung. Tidak hanya saat bertemu secara langsung, berkirim pesan lewat media sosial pun rasanya masih belum seberapa nyaman. Maklum saja, kami dua manusia asing yang dipaksa bersama.

“Ayah sempat berpikir kegagalanmu kali ini akan berdampak lebih parah lagi. Kamu tidak hanya mengisolasi diri, tapi juga memutuskan menunda bertemu dengan hari itu. Ayah tau kalian belum begitu dekat, maka dari itu Ayah sedang memastikan keseriusanmu.”

Aku tersenyum miris mendengar penyataan Ayah. Baru sadar ternyata kecanggungan kami tercium orang lain.

“Jendra memang sedang goyah, Yah. Sedang kalut juga, kenapa percobaan terbang Jendra selalu gagal. Tapi keraguan Ayah sama sekali tidak pernah terbesit dipikiran Jendra.”

Aku bisa mendengar jelas Ayah menghela napas lega. Memang beda rasanya berbagi cerita dengan Bunda dan Ayah. Boleh jadi keduanya memiliki cara pandang yang sama, tetapi Bunda akan lebih lugas menyatakan kekhawatirannya. Meski begitu aku lebih nyaman bertukar cerita dengan Ayah. Atau inikah yang disebut obrolan lelaki?

“Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, Je. Justru karena sering gagal, mereka bisa terbang lebih tinggi. Kegagalanmu sekarang mungkin sangat menyakitkan, membuat kamu kalut dan perasaan rendah diri lainnya. Tapi yakini ucapan Ayah, suatu saat nanti kalau kamu sudah terbang tinggi, kegagalan yang dulu tak lebih hanya butiran debu. Memang bisa menghalangi pandangan, tapi kamu lebih pintar mengatur strategi agar tak sampai menabrak awan.”

Aku tercengang mendengar penuturan Ayah. Sebenarnya belum begitu paham, tetapi keterkejutan lebih mendominasi, Ayah ternyata bisa berkata sepanjang itu. Belum sempat bertanya lebih jelas, suara derap langkah menghampiri kami.

Aku mendapati gadis itu tergesa-gesa menyusuri pinggiran kolam. Alis tebal yang biasanya melengkung indah, kini sepenuhnya tergambar lurus. Kerutan di dahi ikut menemani rona kekhawatirannya.

“Je, kenapa enggak bilang kalau mau pergi ke rumah Ayah Bunda? Aku menunggu di depan unit, tapi kamu enggak kunjung keluar. Aku kira kamu mengurung diri lagi. Kamu enggak apa-apa kan?” tanyanya dengan suara bergetar yang sangat ketara.

Bukannya langsung menjawab, aku dan Ayah kompak tersenyum simpul. Wajah cemas Hera terlihat lucu. Ayah menyenggol lengaku pelan, memberi sinyal meninggalkan kami bicara berdua.

“Aku baik-baik aja. Kamu ke sini sama siapa?” tanyaku sambil beranjak menghampirinya.

“Sendiri. Aku panik setelah baca berita pagi ini,” balasnya lirih.

Kekhawatiran Hera menular. Berganti aku yang mencercanya dengan pertanyaan. Gadis ini, bisa tidak sehari saja membuat hatiku damai. Setiap hari aku selalu memikirkan keselamatannya.

“Gimana, Je? Sudah lega? Kalutnya sudah hilang?” tanya Dimas menghadang jalanku. Hera sudah lebih dulu masuk setelah aku beralasan ingin mencari udara segar. Namun, begitu akan menyusul Hera, aku bertemu dengan wajah tengil Dimas.

“Berkat nasihat Ayah atau setelah melepas rindu dengan Hera?” Aku sudah akan melayangkan jitakan padanya, tetapi Dimas lebih dulu berlari masuk. Kami berkejaran di dalam rumah, di soraki suara jengkel Bunda dan tawa geli Hera.

Dimas, awas saja, kamu tidak akan bisa pergi sebelum dapat hadiah jitakan dariku!

 

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Justru karena sering gagal, mereka bisa terbang lebih tinggi hingga menembus awan.

*****

Rahasia

46 3

Terik matahari terasa begitu menyengat saat aku menyusuri jalanan di tengah kota. Kolaborasi antara lalu lintas padat dengan suara bising manusia bercengkrama menghasilkan sebuah melodi yang sempurna. Bagaimana mungkin aku dengan santai melewati pergantian waktu selama 25 tahun di kota yang sibuk ini. Lahir, besar, dan kehilangan semuanya di sini.

Andai saja tau caranya, mungkin hari ini kepedihan tak akan sudi lagi menyapaku. Aku masih sayang pekerjaan, tentu saja karena aku bertahan hidup dari sana. Uang, kehidupan yang layak, kasih sayang tanpa batas, orang waras mana yang berani menolak hal menggiurkan semacam itu?

Sayangnya justru mereka yang membenciku. Seolah aku adalah manusia yang tak pantas hidup bahagia. Kalau saja bisa memilih, jujur aku tak ingin dilahirkan secepat ini. Namun, apa benar keberuntungan seseorang ditentukan berdasarkan tahun pertama ia melihat dunia?

Kedengarannya konyol, tapi beberapa kawanku ada yang mengamini takhayul semacam itu dan mengaitkannya dengan kesialan.

Sudahlah, aku akan berhenti menyalahkan orang lain, dan mencoba hidup damai.

Aku membenarkan letak tas selempang. Lalu memutuskan berhenti sejenak untuk menghindari terik yang makin menyengat. Menempati salah satu kursi taman sambil menikmati sapuan angin hangat adalah pilihan terbaik. Perasaanku saja atau memang benar, meski tak seberapa menenangkan, tetapi cukup mampu meredam kegerahan.

“Bukan apa-apa, ini baru panas dunia.” Aku mendengus mendengar celetukkan remehnya. Dunia memang sepanas ini, tetapi aku sama sekali tidak ingin merasakan panas neraka. Aku masih waras.

“Lalu apa kamu mau tanggung jawab kalau aku sampai hilang kesadaran?” tantangku tak mau kalah.

Aku bukan gadis manja yang sok alergi dengan matahari. Hanya saja siang ini entah mengapa teriknya seolah bisa melenyapkan kulit ari meski hanya terpapar sedikit. Tak hanya itu, kepalaku mendadak didera kepeningan hebat akibat aksi nekat menantangnya.

Ia terkekeh merdu. “Aku baru tau kamu selemah ini,” cibirnya seraya memasang wajah jenaka. Sontak saja kuhadiahi pelototan.

Aku tidak lemah. Berkawan dengan semua ketimpangan dunia adalah hal biasa, apalagi hanya bertemu matahari, jelas bukan apa-apa.

Angin kencang tiba-tiba menerpa wajahku. Menerbangkan jilbab yang kubiarkan menjuntai bebas. Netraku perlahan terbuka. Setelah sekian lama suaranya bahkan masih bisa kudengar jelas.

“Jadi kamu berniat melupakanku?” tanyanya tak percaya.

Aku menatapnya lama. Apa aku baru saja melantangkan isi pikiran?

Ia menggeleng beberapa kali lalu tersenyum lembut. “Aku bisa membaca. Wajahmu melukiskan semuanya.”

Aku meraba wajah sejenak lalu mengusap kasar. Menghapus semua jejak keraguan hingga ia tertawa keras menyadari aksiku yang berlebihan.

“Jangan seperti itu. Orang-orang nanti mengira aku yang membuatmu menangis.”

Ini memang tangisan, tetapi bukan aku, melainkan langit. Benar kata banyak orang, jangan percaya dengan ramalan. Untuk berjaga-jaga, aku memutuskan memasang aplikasi peramal cuaca di ponsel. Berharap lebih dulu tau sebelum hujan menyerbu.

Namun, aku baru sadar, bumi bukan yang dulu lagi. Ia sudah makin tua. Sehingga ia berhak semena-mena mengganti musim. Harusnya bulan ini hujan tak datang, entah apa yang terjadi, tiba-tiba ia muncul menyingkirkan matahari.

Alih-alih berteduh, aku justru terpaku di tempat. Membiarkan hujan menerpa sembari mengamati sesuatu di atas sana.

“Jangan terus-terusan dilihat. Aku malu dengannya.” Ia menghalangi pandanganku menatap langit.

Aku menepis kasar tangannya. Tak suka kegiatanku diusik. “Kamu malu dengan makhluk yang bahkan enggak bisa bersapa denganku? Astaga, yang benar saja!” pekikku tak percaya.

“Siapa bilang kalian enggak bisa bersapa? Dia sudah dari lama memayungimu, lalu apalah aku yang sering gagal melindungimu?”

Aku memukul lengannya pelan. Kalimat manisnya membuatku mual.

“Belajar dari mana?” Ia hanya mengedikkan bahu acuh. Tak mau memberiku bocoran.

Berkawan sejak lama tak bisa menjamin kami akan berbagi semua isi hati. Ia dengan rahasianya, aku dengan rahasiaku. Sampai detik ini tak pernah sedikit pun terbesit rasa ingin mengetahui miliknya. Aku paham batasan.

Berbeda dengannya yang selalu memaksaku bercerita. Segala cara akan ia lakukan demi mengetahui tentangku. Memangnya kita sedekat itu?

“Apa cuma aku yang merasakannya?” tanyanya lirih sembari menatapku sendu. Aku mengerjap beberapa kali lalu ikut menyelami samudra jernih di matanya.

“Apa aku boleh selancang itu?”

Aku lebih dulu memutuskan pandangan. Beralih menatap sepatu putih milikku yang sedikit lusuh di bagian depan. Tadi aku tidak sengaja menginjaknya dengan kaki lain.

Selalu begitu, keduanya tak pernah bisa diam. Seperti tengah mencemaskan sesuatu atau mungkin takut bertemu kenyataan. Itu sebabnya aku tak berani lancang bermain perasaan.

Bahkan kakiku saja tidak bisa berbohong. Aku bukan manusia sempurna. Meski memang tiada kesempurnaan di dunia, tetapi aku adalah bentuk ketidaksempurnaan sempurna.

Aku hidup dengan keluarga yang tidak utuh. Bahkan sampai detik ini tak tau pasti, apakah mereka masih menganggapku keluarga atau tidak. Buktinya aku dibuang.

Tinggal di panti adalah hal yang luar biasa. Aku bisa berekspresi dengan bebas tanpa perlu pusing-pusing memedulikan mereka. Hingga hari itu ia datang. Mengajakku berkenalan dengan dunia. Ia menawarkan semua kebahagiaan, tetapi aku menolaknya.

Siapa aku yang berani menerima? Kami berbeda. Tidak, jelas-jelas sangat berbeda.

“Setelah hari-hari yang kita lalui, kamu masih juga ragu?”

Anggukan lemah dariku membuatnya menghela napas keras. Aku tau kamu kecewa, tetapi aku harap kamu bisa memaafkanku.

Hujan sudah cukup reda ketika aku memutuskan bangkit melanjutkan langkah. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Bukan karena tak suka, melainkan aku malu membuatnya kecewa lagi.

Pada akhirnya hari, bulan, dan tahun berlalu. Ia pergi entah ke mana. Kami kembali menyapa keasingan.

“Aku berharap kita bisa bertemu lagi dengan pribadi yang lebih baik.”

Aku hanya terdiam menyaksikannya berlari menembus hujan. Tak ada balasan, lambaian tangan, bahkan ucapan manis selamat tinggal yang kerap kulontarkan sebelum hari ini. Semuanya menghilang dan aku terlambat menyadari.

Pagi tadi sebuah amplop tak bertuan datang menggemparkan perasaan. Hingga akhirnya aku tau siapa pengirimnya.

 

Selamat tahun baru. Terima kasih semua kenangan indahnya, aku enggak akan pernah lupa.

Dari yang sedang mengejar kebahagiaan baru,

Juan.

 

Tak lama setelah membaca, aku langsung melemparnya ke tempat pembuangan. Untuk apa mengirimiku surat kalau hanya ingin memamerkan hal baru? Aku tidak butuh dan tidak ingin tau.

“Astaga, Ayara... Kenapa bisa basah kuyup begini?” Suara cemas Ibu panti memancing tanya beberapa pasang mata yang turut menyaksikan kemalanganku.

Aku berlalu tanpa memedulikan tetesan air yang membasahi lantai. Biarkan, nanti aku juga yang akan membereskannya. Sekarang aku ingin mengguyur tubuh sampai benar-benar hilang bayangan lelaki itu. Aku ingin kembali sebagai Ayara yang dulu. Tegar dan penuh percaya diri.

“Jadi kamu ingin membuatku malu lagi?”

Aku mengepalkan tangan dengan keras. Suara itu lagi. Demi apapun, mengapa ia tidak pernah mau membiarkanku sendiri?

“Bisa enggak kamu pergi? Aku lelah!” bentakku putus asa.

Kekehan merdu yang lama menghilang kini kembali terdengar. “Jangan begitu. Aku kembali untuk mengejar kebahagiaan baru.”

Mataku membulat. Bukan lagi ilusi, melainkan ia nyata, berdiri di hadapanku dengan senyum secerah matahari.

“Sekeras apa pun kamu memaksa, aku enggak akan menyerah dan menerka-nerka lagi, karena aku tau kamu juga merasakannya. Ara, ayo membangun hubungan yang lebih serius dari sekadar berkawan, di mana enggak ada lagi rahasiamu dan rahasiaku, melainkan menjadi rahasia kita.”

Aku tertawa haru bercampur malu. “Juan, teganya kamu membiarkanku kedinginan. Bisa tunggu sebentar, aku mau ganti baju.”

Baru akan beranjak, ia kembali mencekalku. “Lalu jawabanmu...” tanyanya dengan gurat cemas di kening.

Aku menutup mata sejenak. Lelaki ini masih sama seperti dulu, tidak peka dan selalu memaksa. “Lantas untuk apa aku menahanmu kalau nanti akan menolak?”

Aku terlalu malu untuk sekadar menatapnya. Memilih berlari kecil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Juan yang secara gamblang menguarkan tawa bahagia.

 

 Alih-alih menjadi sempurna, yang kamu butuhkan hanya bertemu dengan seseorang yang bisa menerimamu apa adanya.

*****

user

10 December 2021 17:34 Vega Galanteri Ceritanya menarik kak... Tulisannya rapi banget.... Semangat kakak... Mampiri kisahku juga yuk Ostinato Asmaradahana... Terima kasih kakak

user

10 December 2021 17:34 Asha Raya Semangat Kakak... lanjutkan sampai finish. Jangan lupa mampir di karya saya "Insecure Twins"

user

10 December 2021 17:35 Asha Raya Semangat Kakak... lanjutkan sampai finish. Jangan lupa mampir di karya saya "Insecure Twins" Terima kasih Kakak...

Berita untuk Dunia (Part 1)

64 0

Kelasku usai bertepatan dengan air semesta mengguyur bumi. Membasahi jalanan hingga memunculkan genangan di beberapa tempat. Kalau begini caranya sudah pasti aku tidak bisa pulang sebelum ia benar-benar reda.

Kalau saja kenekatanku masih ada, kemungkinan besar aku akan memilih berlari menerobos hujan. Sesampainya di rumah bergegas mandi, lalu membungkus tubuh dalam balutan selimut tebal. Berharap flu tidak datang, tetapi mustahil terjadi.

Musuh terbesarku memang penyakit itu. Karena besok masih ada hari panjang yang harus kulalui, maka aku memutuskan untuk tinggal di tempat ini. Tak ada salahnya menunggu sejenak sambil mengamati tetesan air langit yang begitu menenangkan.

Aku mengedarkan pandangan ke sana kemari, berharap ada kawan yang bernasib sama. Sialnya aku hanya seorang diri. Sudah pasti mereka pulang dengan kendaraan masing-masing. Sebenarnya aku juga punya, hanya saja tadi pagi ia merajuk. Bukan alasan yang klasik, memang benar adanya, aku tak punya waktu membawanya ke tempat perawatan. Akhir-akhir ini perkuliahan banyak menyita perhatianku.

Deru mesin kendaraan roda empat yang berhenti tepat di depanku, mengacaukan nyanyian merdu hujan. Kaca di samping kemudi perlahan turun, disusul sosok pengemudi yang mulai terlihat.

Tanpa sadar aku menggigit bibir bagian dalam, menaham senyum malu-malu yang dengan cepat akan terpatri. Aku sangat mengenalnya, kakak tingkat sekaligus tunanganku, Rio. Paras yang tampan tak bisa ditutupi meski kepalanya tertutup kupluk hoodie.

“Kenapa masih di sini, Ray? Kamu enggak pulang?” tanyanya setengah berteriak.

“Raya sedang menunggu hujan reda, Kak,” balasku kemudian.

Ia terlihat makin mendekat ke arah jok samping kemudi. Sepertinya suaraku tidak sampai di pendengarannya.

“Kenapa, Ray?” tanyanya lagi dengan raut serius yang tak pernah tertinggal.

Aku menyebutnya lelaki dengan satu ekspresi. Sepanjang perkenalan kami yang sudah berjalan satu tahun, tak pernah kujumpai raut muka selain itu. Alis lurus yang kadang bertautan, rahang tegas yang menonjol, ditambah bibir tipis yang selalu terlihat datar, kugambarkan sosoknya bak tokoh pangeran yang keluar dari negeri dongeng. Jangan tertawa, sampai sekarang aku memang masih menyukai tontonan semacam itu.

Rio juga sudah kuberitahu dan ia tak mempermasalahkannya. Kami adalah dua manusia asing yang dipaksa bersatu. Tak heran kalau kecanggungan kerap menjadi orang ketiga di antara kami.

Aku menggaruk kepala yang tertutup jilbab. Di tengah suasana seperti ini, perasaan campur aduk selalu saja datang. Tak bisa kujelaskan. Hanya saja rasanya sesuatu dalam dadaku berdebar begitu kencang. Apa aku menderita penyakit serius lainnya?

“Menunggu hujan reda, Kak,” balasku berteriak sekencang mungkin.

Semula kukira Rio sudah paham, sebab tubuhnya kembali tegak menempati kursi kemudi. Ternyata aku salah. Rio justru turun, merelakan hoodie-nya basah demi menghampiriku.

Sesaat ia sibuk mengibaskan klupuk pakaiannya, mengenyahkan tetesan air, menyebabkan rambut hitamnya kini terekspose sempurna. Netraku hilang kendali untuk beberapa saat. Menatapnya tanpa berkedip sambil menikmati irama debaran kuat dari dalam dada.

“Mobilmu mana, Ray?”

Kesadaranku ditarik paksa. Aku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengutuk diri. Panjang ceritanya kalau Rio sampai tau permasalahan tadi pagi. Namun, mau bagaimana lagi, bibirku susah diajak kerja sama.

“Di rumah, Kak. Tadi pagi enggak mau nyala,” balasku lirih dengan ringisan samar.

Rio berdecak merespons kebodohanku. “Kenapa enggak bilang? Tau gitu tadi pagi aku jemput.” Wajah serius Rio makin ketara diikuti rahangnya mulai terlihat mengetat. Apa dia marah dengan kebodohanku? Tentu saja.

Lagi pula mustahil kami berangkat bersama. Sejak awal aku dengan tegas meminta untuk menjaga jarak saat berada di lingkungan kampus. Alasannya hanya satu, tetapi sangat bermakna. Aku tidak ingin kegiatan perkuliahan kami terganggu.

Hal itu mungkin saja terjadi mengingat lelaki di hadapanku bukan sembarang mahasiswa. Rio adalah Ketua BEM yang namanya tak pernah surut menjadi buah bibir sepanjang lorong kampus, terpatri manis di beberapa hati mahasiswa, dan menjadi andalan para pengajar.

Apalah diriku yang bukan siapa-siapa. Meski sebagian besar waktuku habis untuk kegiatan kampus, tetapi dari seratus mahasiswa di kelas, hanya segelintir yang mengenalku.

Jangankan itu, tau namaku saja aku sudah sangat bersyukur. Aku layaknya manusia yang tak berharga. Sebenarnya aku punya segalanya. Materi, paras cantik, otak cemerlang, bahkan tubuh ideal yang kerap didambakan banyak gadis, tetapi semua itu sengaja kututupi.

Belajar dari pengalaman, aku lelah menjadi bulan-bulanan. Mereka tidak ada yang tulus. Kebanyakan berpaku pada harta. Hingga puncaknya saat hari kelulusan tiba, aku tidak punya siapa-siapa. Maksudku, tidak ada yang memberi hadiah, bunga, bahkan sekadar ucapan. Murni hanya dari keluarga.

Semenjak itu aku mulai menutup diri, berubah demi kelangsungan hidup dan ketenangan jiwa. Sebabnya sebelum hari ini aku kerap dirundung kecemasan yang berlebihan.

Takut mereka meninggalkanku sendiri, lalu aku dikucilkan dari lingkungan, perasaan was-was takut di bully juga kerap menghantui. Untungnya hal itu hanya mengendap sebagai prasangka, tidak pernah terbukti kebenarannya.

“Kak Rio sudah tau jawabannya. Enggak mungkin kita berangkat bersama,” balasku menegaskan lagi pinta yang dulu ia sanggupi.

Rio berdecak. “Astaga, masalah itu lagi. Ayolah, Ray, apa salahnya aku menjemput tunangan sendiri? Sebenarnya kamu takut dimusuhi atau takut mereka tidak tulus berkawan denganmu?”

“Aku enggak melihat ada perbedaan dari dua opsi itu. Kak, tolong mengerti posisiku,” balasku sarat akan keputusasaan.

Kami bahkan masih ada di depan gedung perkuliahan. Tidak lucu bukan kalau kami sampai adu mulut gara-gara masalah sepele, beda pengertian. Sebenarnya aku hanya ingin Rio mengalah. Sayang seribu sayang, Rio terlalu kukuh. Ia kerap menolak pintaku dengan alasan demi kebaikan bersama.

“Lalu sekarang kenapa kamu tidak juga pulang? Menunggu hujan reda atau sengaja menungguku bertanya?” sindirnya yang kubalas dengan membuang muka. Percaya diri sekali kamu. Memangnya kamu siapa? Sebelum kita bertemu bahkan aku sudah terbiasa melewati hari seorang diri.

Rio mendesah lelah. “Raya, jangan begitu. Ayo pulang denganku,” ujarnya lembut.

Namun, bukan aku kalau tidak keras kepala.  “Kak Rio duluan aja, aku tetap menunggu hujan reda,” tegasku penuh penekanan.

“Ponselmu mana? Aku tunggu sampai pesanan ojek online-nya datang.” Tangannya menengadah meminta ponselku.

Selain bermuka serius, aku mengenalnya sebagai sosok yang pemaksa. Apa mungkin karena sedang mengemban jabatan sehingga ia dituntun bersikap semacam itu?

“Mati kak. Tadi pagi lupa isi-”

Belum juga selesai menjabarkan kesialan, Rio sudah lebih dulu mencekal tanganku, memaksa untuk ikut dengannya. See, Rio memang seperti ini. Pemaksa.

“Aku enggak menerima bantahan. Lebih baik kamu pulang bersamaku daripada nanti aku stres memikirkan nasibmu yang jadi penghuni terakhir gedung ini.”

Aku terang-terangan menekuk wajah. Rio memang tampan, tetapi sikapnya benar-benar tak kusuka. Bagaimana mungkin Bunda tega menyaksikan putrinya bersanding dengan manusia aneh.

Apa benar karena mereka bosan melihatku berkeliaran di rumah? Atau justru Rio sendiri yang meminta Bunda dengan alasan aku mudah diatur dan pasti akan mematuhi titahnya?

*****

Berita untuk Dunia (Part 2)

116 0

Sepanjang perjalanan kebisuan menyelimuti kami. Kalau aku, jujur saja sedang malas bicara, tak tau dengannya. Aku mendadak teringat, ini kali pertama kami berada di satu ruangan yang sama hanya berdua. Sebelumnya tak pernah, bukan karena tak ingin bersapa, lagi-lagi kecanggungan selalu menjadi alasan utama.

“Ray, ada yang ingin kamu cari selagi di luar?” Aku tersentak dari lamunan. Suara baritonnya mengisi sudut-sudut sunyi di ruangan sempit ini.

Aku menjawab dengan lantang dalam hati. Banyak. Salah satunya janjimu.

Nyatanya aku tak berani mengungkapkan secara gamblang. Hanya gelengan singkat sebagai jawaban. Sepertinya Rio sudah paham, sebab setelahnya kami kembali terserang virus kebisuan.

Sesampainya di rumah yang kulakukan pertama kali tak lain adalah membersihkan diri, lalu bergegas berkelana ke alam mimpi. Aku lelah setelah seharian bergelut dengan angka-angka yang tak kunjung kupahami. Energiku juga terkuras berkat Rio. Berdebat sengit sebelum pulang, bukankah mengasyikan?

“Enggak makan dulu, Ray?” cegah Bunda sebelum aku menenggelamkan diri dalam kenyamanan ranjang.

Aku menggeleng sebelum bersuara. “Masih kenyang, Bun. Raya mau istirahat dulu, ya, Bunda.” Wanita yang masih cantik di usianya yang makin senja itu tersenyum lembut padaku.

Dulu Bunda akan langsung berkoar-koar saat aku dengan malas memenuhi hak perut. Namun kini, terutama semenjak penyakit aneh itu berkoloni di tubuhku, Bunda membiarkanku bebas berekspresi sesuka hati. Tentunya asalkan aku masih dalam batas wajar.

Aku sempat mengonsumsi beberapa pil dari dokter. Sebenarnya beberapa kali juga sempat kembali, tetapi aku sengaja menutupi agar Bunda tak khawatir.

Karena hanya ada Bunda di rumah, sehingga jelas aku tak mau merepotkannya. Ayah sebenarnya sudah dari lama menyarankan Bunda untuk mencari asisten rumah tangga, tetapi Bunda dengan tegas menolak.

Selain sempat mengalami kecemasan yang serius, aku juga didiagnosa menderita obsessive complusive disorder (OCD) atau sebut saja terobsesi dengan kebersihan. Sejujurnya hal itu sangat mengganggu. Saat di mana aku harus berkawan dengan tumpukan buku yang sangat mungkin mengandung debu, aku sungguh tersiksa. Semua yang aku sentuh harus terkondisikan rapi dan bersih.

Kamarku, oh, jangan tanya. Kerapihan dan kebersihan menjadi nomor satu. Entah bagaimana kelainan ini bermula, yang kuingat hanya aku makin susah mengendalikannya.

Kurasa kelainan ini berhubungan erat dengan kecemasan. Karena aku akan cemas bila semenit saja tak memeriksa debu di meja, tumpukan buku di rak, hingga susunan baju di almari. Membosankan bukan? Saat manusia lain bisa berdamai dengan hal sekecil itu, mengapa aku justru membakarnya hingga menimbulkan kobaran api besar?

Demi memadamkannya, lagi-lagi aku harus terus berkonsultasi dengan orang yang lebih ahli. Tak apa, aku punya keinginan kuat untuk sembuh, ingin menjadi manusia normal seutuhnya.

Ketukan pintu kamar mengusikku yang baru saja merebahkan tubuh di ranjang. Tanpa berniat mencari tau terlebih dahulu, aku sudah tau siapa pelakunya. Tak lain adalah Bunda.

Ia terlihat mengenakan celemek pastel, hadiah dariku sewaktu merayakan hari lahirnya bulan lalu.

“Ada Rio di bawah. Temui dulu sana.” Tanpa sadar aku mendesah malas. Ada perlu apa lelaki itu bertamu? Apa tidak cukup merecokiku beberapa menit yang lalu?

Begitu sampai di ruang tamu, aku mendapati sosoknya yang sudah terlihat segar dalam balutan baju santai, dan kekasihnya tak pernah tertinggal, laptop. Tidak, aku tidak cemburu. Ia memang memiliki kekasih lain.

“Ada apa, Kak?” tanyaku ketus. Rio mengalihkan perhatian dari benda berlayar datar itu berganti menatapku tanpa ekspresi.

“Aku sendirian di rumah, Ray. Sengaja main ke sini mau menemani Bunda,” jawabnya tanpa beban. Aku memutar mata malas. Kalau benar begitu, kenapa Bunda justru menyuruhku menemuinya? Aneh.

“Kamu enggak istirahat? Ray,” ucapnya tanpa mengalihkan perhatian dari laptop.

Aku benar-benar tidak cemburu, tapi siapapun, bisa tolong singkirkan benda menyebalkan itu? Aku muak melihat Rio hanya terpaku pada mahkluk yang bahkan tak bernyawa. Mengabaikanku yang jelas-jelas sedang menyipitkan mata, menatapnya tak suka.

“Sudah mau tidur, tapi Bunda menyuruh turun,” sahutku lebih mirip seperti tengah menyesali sesuatu.

Senyum tipis tiba-tiba tersemat di bibirnya. Sepersekian detik aku terpukau. Ternyata Rio bisa berekspresi lain. Kukira hidupnya hanya diisi dengan keseriusan saja.

“Bawa bantalnya ke sini. Temani aku, Ray.” Aku mengeryitkan dahi. Perintah aneh apalagi itu? Katanya tadi ingin menemani Bunda, sekarang tiba-tiba berubah menyuruhku menemani, yang benar mana?

“Ya sudah kalau tidak mau,” putusnya setelah menangkap aksi bungkamku.

Lagipula untuk apa bertamu ke rumah gadis sore-sore begini. Jangan bilang Rio takut sendirian di rumah. Alasan yang konyol.

“Duduk sini, Ray. Kamu juga bisa tidur di sini kalau mau.” Rio menepuk kekosongan di sampingnya lalu berlanjut menepuk pundak.

Sontak saja mataku membulat. Apa-apaan lelaki ini. Kami baru bertunangan, belum resmi menikah. Mana mungkin aku berani melakukan hal gila semacam itu. Kalau sampai Ayah tau, bisa-bisa kami akan langsung dinikahkan hari ini juga.

Alih-alih menuruti ucapan konyol Rio, aku memutuskan duduk sejauh mungkin darinya. Masih dengan tatapan sinis agar ia tau kalau aku tak suka dengan ucapannya yang asal.

“Aku ingin kita bisa lebih dekat lagi,” ucapnya lirih sambil menatapku sayu.

Sulit untuk mengatakan, tetapi benar, kami terjebak dalam perjodohan. Rumah kami memang bersebelahan. Meski begitu, kami tidak saling mengenal. Aku hanya mengenal adik Rio, Rena, yang sebaya denganku.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tau-tau Bunda menyuruhku berkenalan dengannya. Ujung dari itu tak lain karena kami akan dipaksa bersama. Malangnya nasib Raya, gadis Siti Nurbaya versi zaman modern.

Beberapa minggu setelah pertunangan, aku baru tau kalau kami kuliah di jurusan yang sama. Juga di kampus yang sama. Lucunya lagi, sebenarnya ia adalah manusia terkenal seantero kampus, tetapi aku yang terjebak dalam gua ini menutup rapat penglihatan.

Hingga saat itu aku tidak bisa menutupi keterkejutan saat Rio memberikan sambutan di salah satu kegiatan amal jurusan kami. Singkatnya aku akhirnya tau ia bukanlah manusia biasa. Rio lelaki hebat.

“Rena ke mana, Kak?” tanyaku memecah kesunyian.

Katanya tadi ingin lebih dekat. Mana? Tidak ada usaha. Rio justru makin bermesraan dengan kekasihnya.

Ia kembali menatapku sekilas. “Masih di jalan, perjalanan pulang,” balas Rio sekenanya.

Serius, inikah mausia yang baru saja mengajakku lebih dekat? Niatannya sama sekali tidak terlaksana, hanya sekadar pemanis bibir. Lalu apa bedanya dengan makan gula? Tau begitu lebih baik dia memberiku sekarung gula daripada kalimat manis yang hanya terngiang di telinga. Masuk lewat kanan, keluar ke kiri.

“Kak, boleh aku ke atas? Kepalaku pusing. Kegiatan di kampus tadi menguras kesabaran.” Maksudku kegiatan berdebat dengannya.

Ajaib, ucapanku berhasil mengusik. Rio menelantarkan benda mati itu begitu saja, beralih menatapku dengan sorot kekhawatiran. Lalu dengan sigap membantuku berjalan menaiki tangga.

Aku baru tau, ternyata yang Rio butuhkan adalah gertakan. Baiklah, setelah ini dan seterusnya akan kulakukan hal yang sama.

*****

Berita untuk Dunia (Part 3)

32 0

Aku menjalani rutinitas pagi seperti biasa. Membantu Bunda berkutat di dapur lalu memastikan setiap sudut rumah bersih dan tertata rapi. Setelah semuanya aman terkendali, baru aku bersiap pergi ke kampus.

Aku salah mengira Rio tidak serius dengan ucapannya, terbukti hari ini kami berangkat bersama, mirip seperti sepasang kekasih yang terlihat akur dan bahagia. Sepanjang perjalanan, lagi-lagi kami terjebak dalam kebisuan. Aku heran, lelaki ini memang tidak ada inisiatif mencairkan suasana atau memang menungguku bergerak lebih dulu?

Sesampainya di kampus aku memilih turun di luar gerbang. Hal itu kulakukan semata-mata demi kebaikan bersama. Awalnya Rio bersikeras menurunkanku di parkiran kampus, tetapi aku mengancam akan turun paksa. Melompat dari mobil sepertinya boleh dicoba.

Aku masih ingin menjalani perkuliahan dengan tenang tanpa embel-embel rumor tak sedap yang berhubungan dengan kisah asmara.

Sambil sesekali menguap, aku menyusuri lorong kampus menuju ruang kelas. Masih sama, pagi hari mereka selalu sibuk bergosip ria. Sepertinya obrolan kali ini menarik, terbukti beberapa wajah menyiratkan raut penasaran yang begitu ketara.

Aku hanya bisa mengamati dari tempat duduk, tanpa berniat bergabung atau pun sekadar mencari tau. Sejujurnya aku tidak suka bergosip. Selain belum tentu kebenaranya, masalah agama juga kujunjung tinggi. Membicarakan keburukan orang adalah perbuatan yang tercela, bisa mengurangi pahala dan justru menambah dosa.

Salah seorang dari mereka tanpa sengaja beradu pandang denganku. Aku merespons dengan senyum manis, sedangkan ia terpaku dengan tatapan kosong. Tak lama mereka semua ikut terdiam sambil sesekali melirik ke arahku. Pikiranku mulai berkelana, menduga-duga sesuatu yang kurang benar. Apa mungkin riasanku terlalu tebal? Atau jilbab yang aku kenakan terlihat berantakan?

Dengan cepat aku mencari keberadaan kaca kecil yang selalu mendiami sudut sempit di dalam tas. Ia adalah senjata andalan kaum wanita. Menyamarkan ketidaksempurnaan memang penting, tetapi jauh lebih penting lagi memastikan tidak ada ketidaksempurnaan lagi setelahnya.

Masih berhubungan dengan OCD, aku juga kerap merasa gelisah bila tidak sering memeriksa riasan wajah dan bentuk jilbab. Luntur sedikit kuperbaiki. Miring sedikit, kubenarkan posisi.

Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum kuliah pertama dimulai. Aku memilih menenggelamkan diri dalam ponsel untuk membunuh kebosanan. Berselancar di media sosial mencari berita terkini kerap kulakukan. Beberapa kali saat rasa penasaran mencapai ubun-ubun, aku dengan sadar memeriksa media sosial Rio. Hanya ingin memastikan ia tak sampai berbuat nekat dengan memposting potret kami berdua.

Bahaya kalau sampai hal itu terjadi. Bisa-bisa perang dunia ke tiga benar terlaksana.

Seseorang menepuk pelan pundakku. Membuatku terkejut dan mau tak mau menghentikan kegiatan semula. Datang beberapa orang lainnya duduk di depanku. Mereka lebih dulu beradu pandang sebelum akhirnya menatapku dengan sorot mata ingin tau.

Perasaanku mulai tidak enak, ada apa ini?

“Raya, kamu diam-diam menyimpan rahasia besar, ya?”

Debaran dalam dadaku tak terkendali. Tanpa sadar jemariku di bawah meja saling bertautan.

“Rahasia apa?” tanyaku hati-hati. Dalam hati aku merapalkan doa, semoga dugaanku salah.

“Kamu dan Kak Rio ada hubungan apa?”

Tubuhku kaku. Mereka tau. Kulihat beberapa orang ikut bergabung duduk. Sesuatu dalam hati menyuruhku untuk diam. Meski tebakan mereka benar, tetapi kalau aku bisa meyakinkan dengan sangkalan, tak dipungkiri waktu akan membantuku menghapuskan semua yang tidak seharusnya terbuka.

“Sejak kapan, Ray?” tanya yang lain.

Aku beradu pandang dengannya tanpa berniat mengeluarkan sepatah kata. Biarkan mereka penasaran, sebab aku benar-benar tak mau terbongkar. Keinginanku masih besar, menjalani perkuliahan dengan damai.

“Ada apa ini?” Sebuah suara yang tak kuharapakan muncul. Meluluhlantakkan gerombolan manusia yang baru saja menyerangku dengan tanya.

Aku sedikit bisa bernapas lega, tetapi masih belum sepenuhnya, mengingat sosok yang mereka pertanyakan terang-terangan menampakkan muka. Aku melakukan kontak mata dengan Rio, berharap kali ini ia mau menuruti keinginanku.

“Kak Rio sama Raya pacaran, ya?” Aku menggeleng tegas sambil masih menatapnya penuh harap.

Ayo Rio, jangan biarkan mereka tau.

Tak lama lelaki itu ikut menggeleng. Bongkahan batu yang mengganjal pernafasanku seoalah lenyap. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Ternyata Rio bisa diajak kerja sama.

“Bukan pacaran, tapi kami bertunangan.” Suara Rio terdengar jelas hingga ke sudut ruangan.

Aku hanya bisa menggigit bibir bawah dengan keras sambil menggeleng putus asa. Dugaanku keliru. Harusnya aku menyadari sikap anehnya kemarin. Lelaki itu merealisasikan ucapannya. Membiarkan seluruh dunia tau hubungan manis kami.

Aku menutupi wajah dengan telapak tangan. Benar-benar tak ingin menyaksikan respons mereka. Aku tak punya muka.

“Aku hanya minta pada kalian, perlakukan kekasihku dengan baik sebagaimana kalian memperlakukanku selama ini. Ada banyak hal yang enggak bisa Raya sampaikan secara langsung, maka dari itu aku datang mewakilinya.”

Kalimat pencitraan macam apa itu? Aku tidak pernah memintanya mewakiliku untuk bicara. Rio, mau kamu apakan duniaku yang sudah tenang?

Aku memberanikan diri bangkit meski gemetar di kaki tak bisa kututupi. Berjalan dengan tegas menghampiri Rio, lalu menyeretnya pergi. Kami harus bicara berdua sebelum kalimat aneh lainnya mengudara.

Kami duduk berhadapan di kantin yang cukup sepi. Saat pagi, tempat ini hanya dihuni beberapa penjual yang sedang menyiapkan dagangan. Terkadang juga ada satu atau dua dosen yang sengaja menunggu waktu mengajar.

Aku menghunuskan tatapan tajam padanya. Deru napasku makin tak terkendali. Sengaja agar ia tau kalau aku sedang berusaha mengontrol diri yang terbawa emosi.

“Rio, maksud kamu apa?” Hilang sudah embel-embel kesopanan untuknya. Aku tak bisa berpikir jenih lagi. Otakku sedang dipenuhi kalimat terkutuk yang baru dideklarasikan Rio di depan banyak pasang mata.

Tangan kekarnya mencoba melingkupi tanganku, tetapi kutepis dengan kasar. Aku sedang tidak ingin dirayu dan tidak akan luluh dengan rayuan. Aku butuh penjelasan.

Rio menghela napas panjang. “Kita enggak sedang melakukan perbuatan dosa, Ray. Hubungan kita direstui. Bahkan dua bulan lagi kita akan resmi. Lantas apa salahnya aku mengumumkan berita bahagia itu ke seluruh dunia? Kamu ingin menyimpannya sendiri? Kalau aku, jujur enggak bisa.”

Aku menggeleng lelah. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menjalani semuanya dengan damai. Kenapa kami susah sekali saling mengerti?

“Aku tau kamu cemas memikirkan respons mereka nanti. Enggak apa-apa, hal itu wajar dilalui. Cuma satu yang aku minta, hidupkan lagi kepercayaan dirimu, Ray. Kita akan bertemu hari baru yang bahagia, bukan sesuatu yang patut disesali dan ditutupi dari dunia. Paham, Raya?”

Aku tak bisa berkata-kata. Bibirku mengerucut mendengar penjelasannya yang sangat rinci dan sukses mengetuk pintu hati.

Setelah kupikir-pikir lagi, tak ada salahnya mengikuti Rio. Menghidupkan lagi kepercayaan diri dan menggaungkan berita bahagia ke dunia. Namun, tetap saja aku butuh waktu.

Kali ini aku membiarkan jemari kami bersatu, mengamati sejenak sebelum akhirnya pandangan kami beradu. Kulihat sorot dinginnya menghilang, berganti dengan sorot hangat yang menyalurkan ribuan ketenangan. Senyum tipisnya terbit dan berakhir dengan senyum manis yang menular.

“Jangan takut lagi, ada aku. Mulai hari ini kalau ada yang tanya hubungan kita, jawab dengan lugas. Kamu adalah Rayaku, Rayanya Rio.”

*****

Pergi untuk Kembali (Part 1)

78 0

Siulan makhluk mungil bersayap beradu dengan kabut pagi menciptakan sesuatu yang kusebut kedamaian. Jalanan basah dan percikan air di rerumputan makin menguatkan dugaanku, semalam hujan mengguyur tempat ini. Aku mengeratkan pegangan pada gagang koper, setengah memaksanya berjalan menyusuri jalanan sunyi.

Senyum geli tak kuasa terbit tatkala mataku bertemu pandang dengan hewan berbulu yang baru kembali dari alam mimpi. Mata yang menyipit selaras dengan tubuhnya yang sedikit limbung. Kurasa kesadarannya tercecer sepanjang jalan pulang tadi.

“Hai, sejauh mana perjalananmu tadi malam?” tanyaku lirih sambil mengusap lembut kepalanya. Ia kegirangan lantas membalasku dengan suara khas yang menenangkan, purring.

Aku memutuskan melanjutkan langkah menuju bangunan tua di ujung jalan. Rumah usang yang dulu setia menemani milikku, kini berganti dengan bangunan megah. Jangan bayangkan kemegahan seperti di kota, sebab kebaharuan yang tak seberapa sering kali dinilai luar biasa.

Beruntunglah yang berhasil menciptakan dunianya sendiri di tempat ini. Aku tebak mereka pasti termasuk manusia yang bijak dalam memaknai hidup.

Benar bukan? Hidup hanya sekali, sayang kalau di lewatkan begitu saja. Pada dasarnya manusia hidup untuk berjalan, tetapi akan lebih baik kalau juga meninggalkan jejak di tiap langkah. Selain sebagai pengingat, juga untuk bekal perbaikan kaum masa depan.

Aku mencoba menormalkan deru napas sembari menelisik rumah sepetak peninggalan Nenek. Rumput setinggi betis dan guguran daun rambutan memenuhi pekarangan. Beberapa menit kuhabiskan hanya untuk berkutat dengan gembok mahal yang kini berhias karat. Tampaknya pagar besi yang baru saja kudorong ikut menua bersamanya. Aku mendengus gusar.

Setelah berhasil membuka paksa pintu utama, tentunya dengan sisa kesabaran yang kumiliki, tanpa pikir panjang aku merebahkan diri di lantai kayu. Mengabaikan si koper malang yang bersandar resah di samping pintu.

Kepingan memori tak asing bermunculan. Mulai dari bau masakan ibu sampai pekikan murka nenek mendadak hinggap dipikiran. Aku mengusap wajah dengan kasar, sepenuhnya abai dengan genangan minyak di pipi yang rasanya sewaktu-waktu bisa kusumbangkan pada petugas penambangan. Sesekali aku mengubah posisi menjadi menyamping, memandang dapur minimalis rumah ini. Rapi dan sedikit berdebu. Aku sedikit tidak yakin, apakah masih ada bahan makanan di sana atau tidak.

Bisa-bisanya aku melupakan hal sesederhana itu. Mengisi perut memang kuanggap masalah kecil, hingga tak jarang kuabaikan. Pekerjaanku lebih penting meski hasilnya tak seberapa.

Siang itu aku mendapati kecurangan untuk kesekian kalinya. Aku memang hanya pegawai biasa, tetapi apa salahnya menegur mereka, pemuja ketidakadilan. Bukan amarah, lebih tepatnya kasihan. Anak-anak itu masih terlalu dini untuk bertemu dengan sisi kelam dunia. Ada banyak kebaikkan yang tengah menanti mereka.

Lama-lama aku jengah juga. Puncaknya saat mulai menyadari semua yang kulakukan selama ini ternyata sia-sia. Benar kata Nenek, sudah waktunya aku pulang.

Demi membunuh kerinduan pada dua manusia itu, sepertinya aku akan menghabiskan malam dengan berbaring di ruangan ini. Memandang langit yang kuharap tak menangis lagi agar aku leluasa menikmati pertunjukan bintang. Kalau beruntung aku juga bisa menyaksikan aksi malu-malu bulan yang ketahuan meminjam sinar.

Aku memutuskan bangkit untuk membuktikan tebakanku. Sedikit meleset, ternyata masih ada sisa beberapa sekop beras di tempayan. Langsung saja kucuci di bawah guyuran air lalu menanaknya di panci. Setengah menyakinkan diri kalau bahan makanan tersebut masih layak konsumsi. Entahlah, semoga setelah menyantapnya aku masih bisa melihat matahari.

Bukan tak punya uang, hanya saja tubuhku tengah diselimuti kemalasan, bahkan untuk sekadar pergi ke toko di seberang jalan. Sebenarnya tidak persis di seberang, jaraknya beberapa ratus meter dari sini, yang lebih membuatku malas apalagi kalau bukan menjadi buah bibir.

Memuakkan. Sebenarnya mereka kurang kerjaan atau memang tidak punya? Bisa-bisanya keburukan orang dijadikan bahan perbincangan.

Aku mencari sisa-sisa sayuran yang kutaman tujuh bulan lalu di belakang rumah. Tak berharap banyak mengingat hari hujan baru saja datang setelah sekian abad menghilang. Benar saja, hanya ada kentang dan tomat yang tak seberapa sehat. Aku menertawakan diri. Mengapa aku terlihat seperti seorang tuna wisma? Padahal aku punya segalanya.

Ada bumbu lengkap di dapur, beberapa panci dan wajan yang masih mulus. Alat makanku juga lengkap. Di pekarangan tumbuh pohon rambutan yang menjulang tinggi, sisanya ada pohon jambu yang tak lebih sepinggangku dan pohon mangga yang belum berkembang. Sejak pertama kutanam hingga sekarang ia masih saja setinggi lutut. Ya sudah, terserah apa maumu.

Sebenarnya aku menyukai kesederhanaan, tetapi beberapa orang menilaiku kelewatan. Memangnya letak salahku di mana? Aku gemar mengenakan sweater tipis tanpa tambahan syal, gaun cantik tanpa riasan, dan kemeja formal yang sedikit berantakan. Juga kerap mengisi perut hanya dengan mi instan, bukankah rasanya luar biasa?

Kesederhanaan ini membuatku bahagia. Namun, kesederhanaan versi mereka membuatku tersiksa. Jika keburukan semacam itu dianggap sederhana, lalu apa jadinya kalau aku pergi dari sana untuk selamanya? Apa hal itu juga termasuk sederhana? Atau justru luar biasa karena akhirnya berhasil menyingkirkan gadis keras kepala sepertiku?

Aku bersorak girang. Masakanku akhirnya matang. Akhir-akhir ini aku kembali teringat kalimat ajaib Ibu, jangan pernah menanyakan rasa makanan pada orang yang lapar. Mereka menilai bukan dari pemikiran, melainkan dari perut. Tentu saja mereka tak segan mengatakan enak meski sebenarnya masakan itu kurang sedikit garam.

Aku mengunyah pelan, menikmati kedamaian pagi sembari berpikir apa yang akan kulakukan setelah ini. Membersihkan halaman mungkin terdengar bagus, tetapi aku tidak menjamin semuanya akan terselesaikan hari ini. Aku datang kemari bukan untuk merapikan kekacaun, sebaliknya aku justru berniat melampiaskan kekecewaan hati.

Suara geraman kendaraan memaksaku untuk mendongak, memastikan sang pelaku pembuat kegaduhan. Aku tersenyum tipis. Ah, ternyata dia.

“Tadi pagarnya terbuka, jadi aku putuskan mampir sebentar,” jelasnya tanpa kuminta.

Ia mengambil tempat di depanku. Menghalangi pemandangan sekaligus meraup sebagian oksigen yang semula hanya milikku.

“Kamu pulang lebih awal dari yang aku kira. Ada masalah di kota? Atau kamu akhirnya memutuskan akan menua di sini?” Aku terkekeh seraya menyodorinya sendok baru. Tanpa diperjelas aku sudah tahu, sejak tadi matanya tak lepas melirik penuh minat hidangan miliku.

“Aku cuma sebentar di sini. Setelah hari hujan pergi aku akan kembali,” balasku sambil mengunyah butiran nasi.

Ia berdecak. “Masakanmu masih sama, hambar!” keluhnya lantas meletakkan sendok dengan kasar.

Ibu benar. Orang lapar tidak bisa menilai makanan. Buktinya aku dengan lahap menelan hidangan aneh yang sebenarnya tak berasa.

“Aku masih menuntut penjelasanmu, Frey. Jangan ke mana-mana, tunggu aku pulang dari ladang!” perintahnya hanya kubalas dengan anggukan singkat. Mataku tak lepas mengamatinya menghilang dari balik pagar besi.

Aku menghelas napas panjang. Sejauh ini tak pernah terbesit rasa takut, meski aku tahu Nora tak akan membiarkanku pergi dengan mudah.

*****

Pergi untuk Kembali (Part 2)

78 0

Mentari menyapa dengan sumringah. Ia sama sepertiku, tak mau kalah dari hujan. Kupikir siang ini hujan akan kembali datang, ternyata dugaanku salah. Ia justru pergi dengan menyisakan tempat kosong untuk mentari.

Aku sedikit kesusahan menyeka luapan lahar kelenjar keringat di dahi. Topi petani yang kugunakan tak banyak membantu. Buktinya terik mentari masih bisa menembus. Membuatku tak ubahnya bak manusia yang sedang memerah lemak dari balik kulit.

Tidak jadi bersantai seperti yang kubayangkan sebelumnya, sebab rumput di belakang rumah terlihat mengerikan meski hanya sekadar dipandang. Bisa saja beberapa hewan melata sedang membuat sarang di sana. Lalu saat aku lengah ia datang mengejutkanku dengan desisan lirih sarat akan kebencian. Aku lebih memilih mati kelaparan di hutan daripada mati konyol digigit makhluk semacam itu.

 Kematian memang tidak ada yang tahu. Sama halnya dengan keputusanku beberapa jam yang lalu. Aku mengajukan cuti dan entah kapan akan kembali. Jangan kira balasanku pada Nora adalah keseriusan dari diri. Tidak.

Aku sendiri pun masih bimbang, melanjutkan langkah ke kandang singa atau berbelok arah mendiami sarang serigala. Seharusnya aku mendengar ucapan Ibu. Kota memang tak punya belas kasih. Entah perasaanku saja atau memang fakta, mereka seolah-olah mendepak paksa semua manusia lemah yang menghuni sepetak ruangan di sana. Hingga menyisakan si kuat yang tak henti memperebutkan takhta.

Kamu harus patuh dengan pinta mereka, jangan sampai sanggar ini sepi sebab kamu membangkang! Suara lelaki paruh baya itu muncul lagi dalam benakku. Beraninya ia menggangguku yang sedang menikmati nyanyian pilu kumbang musim panas.

Aneh, musim hujan bahkan sudah merajai tempat ini sejak beberapa minggu, tetapi mengapa hewan itu masih saja datang? Mungkinkah ia sedang mencari kawannya yang tersesat di musim baru? Atau justru ia yang tertinggal dari rombongan? Apapun itu aku bersyukur karena ia punya kawan.

Aku mendiami sebuah ruangan modern di tengah kota. Hanya seorang diri, sebab semua kawanku tertinggal di sini. Memang aku terlalu berani menggambil keputusan, bahkan tekadku saat itu tak bisa dipatahkan. Aku ingin menjadi seorang pengajar.

Aku pergi hanya berbekal keyakinan. Berharap kota berbaik hati dengan menunjukkan arah yang benar. Ternyata semua itu hanya mengendap sebagai bualan. Kota tak berpihak padaku, tetapi juga tak memusuhiku. Ia senang menyaksikanku terlunta-lunta di tengah tuntutan pelik dunia. Pada akhirnya aku tak kuasa menahan beban seorang diri. Aku butuh kawan, rindu kebebasan, juga ingin bernapas dengan lega, dan di sinilah aku berada.

Menyaksikan Nora menyesap minuman manis dengan rakus menjadi kegemaranku sejak lama. Ia memang tak pernah sungkan dan sepertinya juga tak memiliki urat malu. Aku setia menungguinya meskipun kantuk hebat mulai menyerang. Namun bukan itu masalahnya, aku hanya tak mau pintu depan terbelah sebab ulah nekat Nora. Gadis itu tahu aku sedang tidak baik-baik saja.

Setelah menandaskan gelas ke tiga, baru ia berganti menatapku dengan sorot elang. Jujur saja aku mulai gugup.

“Apa kabar anak-anakmu?” tanyanya santai, berbanding terbalik denganku.

Aku memang kerap menceritakan tingkah menggemaskan mereka pada Nora. Awalnya kupikir Nora tak menggubris perkataanku karena raut tak sukanya selalu datang tiap aku bercerita. Ia juga sering memotong, mengganti dengan cerita versinya. Baiklah sepertinya aku harus mengenyahkan kegemaranku menduga-duga. Karena terbukti beberapa kali aku salah.

Aku mengedikkan bahu lantas membuang muka. Mengamati pagar tua yang belum sempat kuperbaiki.

“Mungkin sedang berlatih vokal dengan si Tua Kim.” Tanpa kuduga Nora justru menyemburkan tawa. Mungkin menganggap lucu julukan dariku.

Nyatanya lelaki itu memang tua dan banyak bicara. Kalau saja tidak tahu sopan santun, sudah pasti aku akan melengos tiap kali berpapasan dengannya. Di usianya yang senja, ia tak juga sadar diri. Pikirku mengapa tidak menyiapkan bekal saja untuk menjalani kehidupan yang abadi atau menabung untuk teman esok hari. Alih-alih melakukan itu semua, ia justru berbangga dengan ketidakadilan yang berhasil tercipta. Mengagungkan sanggar kecil, tempat pertemuan cita dan mimpi buruk.

“Aku menyesal bertemu dengannya, tapi lebih menyesal lagi berlagak tuli saat ibu berbicara.” Kali ini aku menatap Nora sendu. Menunggu kalimat ajaib darinya.

Kudengar Nora menghela napas panjang. Mengabaikan tatapanku, memilih mendongak memandang semburat biru yang memayungi kami.

“Enggak ada gunanya menyesal. Frey, jalan itu lihat ke depan, bukan ke belakang. Kalau kamu terus-terusan seperti itu aku enggak bisa menjamin kamu akan selamat sampai tujuan.” Tatapan kami beradu. Mata jernihnya tak pernah gagal membiusku dalam kedamaian.

“Tinggal biarkan aku cari sopir baru, maka hidupmu akan damai lagi,” celetukku tanpa beban.

“Dasar gadis keras kepala! Lalu apa tujuanmu kembali? Asal kamu tau, di sini enggak ada yang mau jadi sopirmu selain aku.”

Terdengar sakratis, tetapi aku tak bisa menyangkal. Tempat ini memang terlalu sempit untuk mencari kawan baru yang lebih loyal dari dirinya.

“Di kota aku dicampakkan. Enggak ada kawan, anak-anak enggan dekat sama aku, lalu si Tua Kim enggak berhenti ceramah. Aku perlu mengisi stok energi, makanya aku kembali ke tempat ini.”

Nora menenguk kembali minuman yang aku suguhi. Sebenarnya tidak terlalu manis, entah sedang kerasukan apa, Nora menyebutnya pas sesuai selera. Tadi pagi ia menyumpahi masakanku, sekarang berganti memuja. Manusia memang tidak bisa ditebak jalan pikirnya.

“Lalu kapan kamu kembali ke sana?” tanya Nora kubalas dengan gelengan lemah.

Aku tidak tahu. Sama seperti tidak tahunya saat pertama kali bergabung sebagai pengajar sanggar. Aku sering kali menjalani hidup dengan mengalir begitu saja, hingga saat di mana aku terdesak oleh suatu masalah maka saat itu juga aku tak segan mengucap kata sesal.

“Enggak ada yang perlu disesali, Frey. Sesal itu identik dengan kata lemah. Aku enggak akan membiarkanmu terjebak di kubangan sesal. Karena hidup terus berjalan, maka sudah sepatutnya kamu ikut berjalan. Ingat, jangan sesekali melawan arus. Bahaya, kamu bisa tenggelam,” jelasnya lirih.

“Kalau saja dulu aku dengar kata Ibu, pasti sekarang aku hidup bahagia dan enggak akan terjebak di sana.”

Aku terlalu memandang sebelah mata, sehingga saat ibu menyuruh untuk tinggal dan menjadi pengajar di sini, aku justru berkelit dengan ribuan alasan. Namun, saat sudah menetapkan pilihan, nyatanya justru kepedihan yang menghampiri. Ibu ikut pergi tak lama setelahku. Bukan menyusul ke kota, melainkan ibu pergi untuk selamanya. Detik itu kehancuran mulai gencar menghantui. Harapanku rasanya tinggal sekedipan mata.

“Jangan begitu, kamu masih punya aku, Frey. Ya, walaupun kamu keras kepala, tapi aku akan selalu ada saat kamu jatuh dan saat bahagia. Jangan lupa, aku masih kawanmu, si berisik, Nora.”

Aku mengangguk beberapa kali. Sedang mencoba memercayai ucapannya. Mendadak Nora bangkit sambil menarik pelan tanganku, memaksa ikut berdiri. Tanpa sadar keningku mengkerut. Mau apa dia?

“Daripada meratapi nasib di sini, ayo ikut aku mencari harapan baru.”

Kami berdua tertawa. Paham betul maksud ucapannya.

Aku pergi meninggalkan hingar bingar untuk kembali memeluk kesunyian. Setiap yang pergi pasti akan kembali. Meskipun bukan ke tempat semula, tetapi kuharap kepergian kali ini akan membawaku kembali ke tujuan hidup yang sesungguhnya.

*****

Permainan Waktu (Part 1)

70 0

Kian hari aku merasa waktu makin licik menjalankan aksi. Ia cepat berlalu, 24 jam tak selama dulu lagi. Entah karena waktu yang murka dengan sikap rakus manusia atau memang ia sedang mengajak bercanda semesta. Kelakuannya sangat merugikanku.

Apalah diriku yang hanya kerikil kecil tak sempurna. Aku hidup di antara batu bersinar yang bergantian dilirik orang. Mereka dipercantik sedemikian rupa hingga layak menjadi barang berharga. Lagi-lagi tinggal aku sendiri.

Lucunya aku selalu mengharapkan hal yang sama. Melirik ke kanan, kiri, menunggu seseorang datang, tetapi tak kunjung ada. Apa mungkin karena tubuhku yang mungil sehingga mereka tak menyadari keberadaanku? Atau benar karena wujudku yang tidak sempurna?

Suatu hari nanti aku ingin menjadi seperti mereka. Bersinar, berharga, dipuja-puja. Namun, bagaimana caranya?

Pagi ini terhitung aku sudah menguap untuk kesekian kalinya. Malam tadi aku tak mengizinkan mata untuk terpejam, menghalangi tubuh mencium aroma kenyamanan, juga melarang otak untuk bersantai. Masih banyak yang harus aku selesaikan.

Tiga hari melakukan hal yang sama. Hingga tak sengaja aku mendapatkan kesimpulan yang mencengangkan, ternyata waktu sedang mengajak manusia bermain. Bukan permainan seperti pada umumnya, melainkan sesuatu yang asing dan sangat menguntungkan baginya. Benar, waktu bermain curang. Pantas saja setiap akan menyelesaikan naskah di malam hari, dalam sekejap mata pagi sudah kembali menyapa.

Aku benci pendaran sinar mentari yang menembus tirai kamar. Ia mengacaukan semuanya. Mulai dari menghancurkan konsentrasiku hingga membuat ide-ideku berserakan bak guguran daun maple di musim semi. Kalau begini caranya mana mungkin aku bisa menyelesaikan naskah dengan sempurna.

Suara siulan ketel air memaksaku beranjak dari balik benda elektronik berlayar datar. Aku butuh kafein untuk menyegarkan pikiran sekaligus memacu kerja otak. Tidak semua pemaksaan itu buruk, ada beberapa yang memang diperlukan untuk memperlancar jalan.

Apa untungnya menjadi budak tulisan? Aku terseyum tipis saat pertanyaan teroris itu kembali terngiang di benakku. Budak tulisan atau sebutan untuk manusia yang berkecimpung dengan permainan kata, hampir tidak pernah menghirup udara bebas, dan parahnya aku lupa kapan terakhir kali bersapa dengan manusia. Aku tidak ada waktu. Semuanya habis dimakan oleh naskah-naskah anehku.

Mereka seperti monster. Menyedot seluruh perhatian. Herannya meski begitu jahat, tak ada satu pun dari mereka yang berhasil mencuri hati penerbitan. Dengan kata lain masih ada yang lebih jahat lagi.

Seringkali aku menerka-nerka seorang diri, mungkinkah naskahku terlalu angkuh hingga tak ada penerbit yang ingin sekadar menyapa? Atau justru sebab tak ingin tersaingi sehingga mereka memutuskan mendepakku ke pembuangan?

Aku terjingkat. Terlalu sibuk berspekulasi membuatku lupa keberadaan ketel air yang baru saja kumatikan. Aku mengelusnya lembut seolah ia adalah Molli, anak bulu kesayanganku.

Sebelum hari ini datang, aku sempat tidak mau tahu cara menyedu minuman hitam beraroma pekat itu. Jangankan menyicipi, meliriknya saja aku tidak sudi. Waktu itu kami sedang bermusuhan. Sampai saat ini aku tidak berniat mencari tahu inti permasalahnnya. Biarlah mengendap sebagai gerutuan hati, sebab kini entah bagaimana ceritanya kami memutuskan berdamai. Tidak usah ragu mengatakan aku aneh, faktanya hidupku diisi dengan keanehan yang menyilaukan mata.

Aku kembali menempati singgasana yang kudesain sedemikian rupa. Setelah mendudukan tubuh dengan nyaman, baru aku mulai menyesapi cairan hitam perlahan. Mataku kembali terbius barisan kata yang ada di layar, sedangkan tanganku sibuk menggulir halaman. Meski sudah kesekian kali melakukan hal yang sama, tetap saja aku masih menjumpai permainan kata yang sumbang.

Kembali menjalankan jemari di keyboard, memperbudak diriku dengan sesuatu yang tak jelas akhirnya. Sebenarnya aku adalah seorang fotografer. Mengunjungi beberapa negara indah adalah hobiku. Bersapa dengan banyak orang adalah kebiasaanku. Sampai akhirnya putaran roda hidupku berubah. Aku memutuskan berkutat dengan tulisan dan mengisolasi diri dari banyak orang.

Namun, semua itu tak semudah yang aku pikirkan. Ketika di luar sana banyak penulis legendaris dengan karya yang sudah mendunia, lantas apalah diriku yang lancang berharap bisa seperti mereka.

Aku merasa semua tulisanku hampir serupa. Diracik dengan bumbu kecemasan yang dicampur memori perjalan ke negara orang, dan disempurnakan dengan cuplikan momen yang berhasil aku abadikan. Sebelum semuanya memudar, dunia harus tau bahwa aku dulu adalah manusia yang hebat. Karier yang sempat di puncak, sayangnya kini berakhir menyedihkan. Ironisnya aku didepak kawan sendiri.

“Hai, manusia bosan hidup! Kamu di sini rupanya.”

Sialan! Aku tersedak kopi. Bagaimana tidak, suara cempreng yang asalnya dari arah pintu itu bagaikan peringatan badai salju. Mengerikan.

Saat itu umurku genap 25 tahun ketika memutuskan pindah ke negara ini. Awalnya memang cukup sulit beradaptasi, mengingat aku lahir dan besar di negara beriklim tropis. Memori malam musim dingin melekat di ingatanku. Suara butiran salju yang jatuh di atap dan desisan angin malam adalah kolaborasi yang sempurna pembuat suasana mencengkam. Belum lagi ketika akhirnya aku menyusuri alam mimpi, sebuah suara memekakkan menarik paksa kesadaranku.

Suara itu tak pernah kulupa. Alarm peringatan badai. Untung saja waktu itu aku tak seorang diri, ada Molli yang memaksaku berbagi selimut. Makhluk aneh itu biasanya tak pernah mau melirikku. Namun, malam itu berbeda, ia begitu menempel seolah kami memang ditakdirkan menyatu. Kurasa Molli juga takut. Hingga entah bagaimana ceritanya kami berhasil melewati malam dengan berbagi kehangatan.

Sebenarnya tidak sepenuhnya berbagi, sebab paginya aku mendapati kucing nakal itu nangkring manis di wajah. Dengkuran halusnya mengusik tidurku dan tentu saja perut buncitnya menutupi sempurna jalan napas. Kalau aku tidak bangun lagi pagi itu, sudah pasti tersangkanya adalah Molli.

“Kamu benar mau mati? Kenapa ruanganmu bersih sekali?” Suara cempreng itu masuk sempurna dari telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.

Kubalas dengan lirikan sinis. Sepanjang hidupku di Jeju, hanya Mina yang resmi aku nobatkan sebagai manusia terberisik sedunia. Mina tak bisa mengontrol suaranya meski jarak kami kurang dari setengah meter. Suara melengking penuh keingintahuan adalah ciri khasnya, klien yang kini menjelma sebagai kawanku, Song Mina.

“Apa aku terlihat seperti orang mau mati?” tanyaku tanpa ekspresi.

Kami sepakat melepaskan embel-embel formal meski umurnya terpaut dua tahun di atasku. Ia bilang agar kami bisa dekat. Benar saja, kami menjadi dekat bahkan hampir menyentuh kelewat kurang ajar. Mencampuri urusan satu sama lain dan berbagi kesakitan adalah hal yang biasa. Tidak ada batasan di antara kami.

“Sangat. Kalau mau mati jangan ajak Molli. Kasihan dia enggak tau apa-apa,” cibirnya.

Aku menatapnya dalam diam. Mina, apa kamu tidak bisa membedakan manusia mau mati dengan ingin sendiri?

*****

Permainan Waktu (Part 2)

86 1

Berkali-kali aku mendesah gusar. Memang berbeda rasanya antara sendiri, berdua, dan berberapa pun. Meski gadis itu tidak berkeliaran di sekitarku, tetap saja aku gagal menyusun kembali konsentrasi.

Terlebih suara manja Molli sepenuhnya mengusikku. Mana bisa aku pura-pura tuli sedangkan hewan aneh itu mengeluarkan suara yang jarang kudengar. Molli berlagak manis hanya pada Mina. Dasar tidak tahu balas budi!

Bau harum makanan mendadak hinggap di penciumanku. Suara derap langkah terdengar setelahnya. Apalagi sekarang? Mau buat perutku protes kelaparan?

Diam-diam aku melirik gadis itu dari sudut mata. Celemek pastel yang kubeli berkat paksaan sales supermarket ternyata berguna juga. Kain pelindung itu melekat sempurna di tubuh Mina.

Entah eksperimen apalagi yang sedang gadis itu lakukan. Dulu kupikir ia akan membumi hanguskan dapur. Namun, setelah tahu kemampuan memasaknya yang luar biasa, aku akhirnya memberi akses penuh. Mina sekarang penguasa dapurku.

“Sebenarnya kamu menimbun apa di dapur? Sampah atau bahan makanan? Hampir enggak ada yang bisa aku masak!” gerutunya seorang diri.

Aku terlalu malas berkutat dengan api hingga akhirnya memutuskan membeli sekarung mi instan di minimarket yang tak jauh dari sini, lalu memasaknya menggunakan pemanas air. Sebuah ide brilian dari seorang pencinta kesendirian. Tidak patut dicoba bagi manusia pencinta keteraturan seperti Mina. Bahaya, bisa kecanduan.

“Bukankah itu artinya kamu harus membeli bahan masakan lagi?” tanyaku dibalas decakan olehnya.

Memang benar, sejak menjadi penguasa, Mina tak pernah sekali pun membiarkanku bersinggunggan dengan tempat itu. Aku sedikit menyesal memberikan padanya cuma-cuma. Tahu begitu harusnya aku mematok harga sewa. Lumayan pemasukannya untuk tambah uang jajan.

“Apa menurutmu aku sedang melucu?”

Aku refleks menoleh. Menatapnya sambil mengernyitkan dahi. Apa aku baru saja mengucapkan sesuatu yang keliru?

“Kamu tertawa. Apa ada yang lucu?” tanyanya ketus.

Gelengan kuat dariku ternyata cukup menjawab kebingungan Mina. Gadis itu berangsur duduk di depan televisi dan meletakkan dua piring makanan di atas meja. Molli mengikuti dari belakang lalu duduk manja di pangkuannya. Kalau saja tidak takut sendiri, sudah pasti hewan nakal itu akan kuungsikan ke rumah Mina.

Jangan kira aku takut pada manusia, sama sekali tidak. Aku hanya takut dengan suara mengerikan desisan angin musim dingin.

“Kenapa masih di situ? Jangan bilang kamu enggak dengar demo besar-besaran perutmu.”

Baiklah, sepertinya ini akan menjadi makan pagi tersehat setelah sekian lama. Aku menerima uluran garpu dari Mina. Aku tidak pandai menggunakan sumpit. Kalau di tanah kelahiranku hal semacam itu mungkin bisa dimaklumi, tetapi lain halnya dengan negara ini. Sumpit seolah sudah melekat dengan mereka.

Pernah suatu hari aku mendapati fakta baru dari alat makan itu. Tak kusangka ia sungguh serba guna, Mina bahkan sampai menggunakannya untuk menyantap semangka. Ada-ada saja.

“Sudah berapa lama kamu menyiksa diri? Lihat, badanmu tinggal tulang. Enggak malu kamu kalau di bilang mayat hidup?” Aku mengedikkan bahu acuh.

Jauh dari ibu tidak lantas membuatku terbebas dari omelan. Sepertinya aku termasuk manusia beruntung sekaligus sial di waktu yang bersamaan. Buktinya Mina dengan sadar menerima titah ibu untuk mengaturku. Namun, di sisi lain ia juga menjelma sebagai tempatku bersandar saat badai kerinduan melanda.

Hidup di negara orang menjadi tantangan tersendiri bagi gadis lemah yang memaksa mengenal dunia. Selain mencari suasana baru, tahun lalu aku juga memutuskan melanjutkan perkuliahan di salah satu kampus ternama. Jangan tanya bagaimana aku sampai bisa lolos seleksinya, sebab pasti semua akan berkomentar sama.

Sebenarnya apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya sampai diguyur keberuntungan seperti sekarang? Jujur saja, dulu aku pernah menyelamatkan dunia.

Tidak. Jangan dianggap serius. Aku hanya bercanda. Mana aku tahu, roda kehidupan saja aku tidak bisa menebak. Sedang nyaman di puncak, tiba-tiba diluncurkan bebas ke tanah. Dasar manusia tidak tahu diri! Sudah dibantu malah tidak berterima kasih.

Aku heran, sebenarnya keberuntungan mana yang mereka maksud? Tidak ada keberuntungan yang menghampiriku.

“Urat maluku sudah putus! Lagipula, manusia kurang kerjaan mana yang sempat mengataiku seperti itu? Bukankah kamu orangnya?” balasku dengan mulut penuh makanan.

Mina berdecih seraya mencomot daging ayam di piring. Menyuap pelan lalu mempertontonkan aksi mengunyah yang dibuat-buat. Mina memang suka makan, tetapi aku benci dengan gayanya bak sedang melakukan mukbang.

“Apa perlu kamu perjelas? Hilang sudah predikat baikku di depan Molli.”

Kerlingan matanya pada Molli membuatku muak. Sangat terlihat jelas keduanya sefrekuensi, atau jangan-jangan selain menguasai bahasa mandarin, Mina juga pandai bahasa planet Molli? Mina mencurigakan.

Beberapa menit keheningan menyelimuti kami. Hanya suara peraduan alat makan yang mengisi sudut-sudut sunyi. Kami memiliki prinsip sama, waktu makan adalah saat di mana mulut bekerja untuk menguyah, bukan untuk bicara.

Diam-diam pikiranku mulai berkelana. Mengorek ide di lembah pikiran sekaligus menyusun target waktu untuk naskah baru. Sebenarnya aku memiliki banyak draf di laptop, beberapa ada yang sudah kusebar ke penerbitan dan sisanya kubiarkan menjamur di sana.

Tidak mudah meluncurkan buku di negara ini. Selain karena permainan kataku yang belum seberapa, mereka juga mempunyai standar yang tinggi untuk menyaring naskah. Sehingga tak heran kalau mereka kerap menganggap karyaku tak jauh beda dengan buku harian. Monoton.

“Masih belum ada balasan dari penerbitan?” tanya Mina sambil mendudukan diri dengan nyaman di sofa. Matanya terpaku pada totonan di layar kaca.

Aku mengangguk lemah meski tahu Mina tak bisa melihatnya.

“Jangan patah semangat, Sel. Suatu saat nanti kerja kerasmu pasti akan diakui dunia.”

Aku mendesah lelah. Ribuan kata semangat sudah memenuhi otakku, bahkan hampir tak cukup untuk ditampung. Namun, hanya membekas sebagai ucapan. Faktanya saat kegagalan menghampiri, lagi-lagi aku jatuh terpuruk. Kalimat-kalimat manis itu tak ada gunanya.

“Aku iri dengan Hana. Dia lahir membawa banyak keberuntungan, atau jangan-jangan milikku juga dia bawa?” tanyaku dengan suara sumbang hampir mendekati frustrasi.

Selain Mina, ada Hana yang juga sukarela menemani kesendirianku di negara ini. Ia lebih mirip lampu. Bersinar untuk dirinya sekaligus menerangi makhluk lain. Hebatnya, sinar keemasan Hana bisa menembus ribuan lapisan hati.

“Mmm... Bisa jadi. Coba nanti kamu tanyakan langsung sama dia,” balas Mina santai, sedangkan aku refleks melotot.

Tanya sendiri? Yang benar saja. Mau ditaruh mana mukaku.

Tiba-tiba suara kode keamanan apartemenku berbunyi, seseorang tengah mencoba masuk. Aku dan Mina saling melempar pandang. Hanya ada tiga orang yang tahu kodenya. Tentu saja aku, Mina, dan-

“Itu dia pemeran utama kita. Siapkan semua pertanyaanmu dan jangan coba tanya aku lagi setelah ini!” tegas Mina sebelum beranjak menghampiri seseorang yang datang dari arah pintu.

Gadis manis itu tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca.

“Selina... Kamu ke mana aja?” Aku hanya bisa meringis sambil menyiapkan diri menerima serangan pelukan dari Hana.

*****

user

13 April 2022 06:17 human mantap ka

Permainan Waktu (Part 3)

52 0

“Gimana? Pilihanku kali ini enak kan?” tanya Hana sambil mengunyah pie yang ia beli dari bakery di seberang apartemenku.

Aku mengangguk singkat membenarkan ucapannya. Dari kami bertiga, hanya gadis itu yang menyukai dessert semacam ini. Manis dan mengenyangkan. Sangat tidak cocok untukku yang seringkali hidangan utama saja tak sanggup menandaskan. Tak heran kalau Mina sampai mengatakan aku tinggal tulang.

Sebenarnya ucapan Mina terlalu berlebihan, mengingat dua minggu ini aku tak pernah sekali pun melewatkan hak perut untuk terisi makanan. Ya, walaupun hanya makanan instan, tetapi harusnya sudah bisa menambah bantalan lemakku. Terlebih aku tidak melakukan aktivitas yang cukup menguras tenaga. Hanya duduk di singgasana dan memeras otak hingga kering keronta, atau jangan-jangan aktivitas itu sebenarnya sudah cukup efektif membakar kalori?

“Sel, sebenarnya kamu itu hidup di gua atau di tengah kota?” Aku menatap Hana penuh tanya.

Hana menggerakan lengan mungilku. “Lihat badanmu. Kamu seperti habis tersesat di hutan belantara.”

Aku memutar mata malas. Mengapa mereka kompak mengomentari fisikku? Bukankah ini termasuk body shaming?

“Mustahil tersesat di hutan bisa hidup bahagia seperti sekarang.” Mina yang datang dari dapur menimpali ucapan Hana.

“Bisa kalian jelaskan sisi mana dariku yang kelihatan bahagia?” Aku menatap bergantian keduanya yang mendadak diam.

Jujur saja aku tersinggung. Bagaimana mungkin wajah penuh beban seperti ini dibilang sedang berbahagia. Bahkan cermin ajaib saja tak mau berdusta meski hanya sekadar untuk membuat hatiku lega.

Pikiran-pikiran iri yang paling mendominasi, sisanya rentetan kutukan pada diri tak pernah berhenti merajai.

Hana beranjak dari duduknya di samping Mina, beralih mendekatiku. Dalam gerakan lambat ia membawaku dalam rengkuhan. Awalnya aku ragu, lama kelamaan aku hanyut juga dalam buaian hangatnya. Tanpa sadar aku menangis tersedu. Mengeluarkan semua kesesakan dalam dada.

Aku merasa Hana mirip dengan Ibu. Bisikan lirihnya sangat menenangkan, belaian tangannya di rambutku sarat akan kasih sayang. Aku menangis cukup lama sampai napasku tersengal-sengal. Kesesakan dalam dadaku belum juga hilang meski stok air mataku kini sudah habis.

“Apa benar sekalut itu yang kamu rasakan?” tanya Hana lirih setelah sebelumnya menyeka sudut mataku dengan tisu.

Aku tidak habis pikir dengan gadis ini, lengan blouse cantiknya yang dipenuhi air mataku tak sedikit pun dilirik, bahkan untuk sekadar memastikan apakah pakaiannya masih layak dikenakan atau tidak. Aku merasa bersalah karena mengacaukan dandanan cantiknya.

Belaian tangan Hana belum berhenti meski aku sudah mulai bisa mengontrol diri. Mata sayunya menjelaskan semua, ia menungguku sampai siap untuk bicara.

“Na, apa kamu tau gimana cara jadi orang yang selalu benasib baik sepertimu?” tanyaku disela tarikan napas yang tersengal.

Sontak gerakan tangan Hana berhenti. Ia beringsut menjauh dariku. Kehampaan mulai kurasakan lagi. Sepertinya aku salah berucap.

Sekian menit kami terdiam. Tak ada suara apapun termasuk suara Molli yang biasanya merengek manja pada Mina. Hanya tarikan napas pelan kami yang saling beradu memecah keheningan.

Lain kali aku akan lebih bijak lagi dalam bertutur kata. Tidak serta merta langsung mengikuti saran sesat Mina. Terbukti, setelah kalimat tanya yang sejak lama bersarang di benak kulontarkan ke udara, Hana justru terpaku tak bisa berkata-kata.

Mungkinkah ia marah dengan bibir lancangku? Atau ia sedang menyusun jawaban agar aku tak menangis bombay lagi?

Hana yang aku kenal adalah sosok sempurna. Ia memiliki segala yang manusia di bumi inginkan. Termasuk semua keberuntungan yang seolah sudah ditakdirkan akan selalu berpihak padanya. Sehingga tidak mustahil kalau kesempurnaan itu membuat manusia lainnya iri.

Diam-diam aku tahu Mina merasakan hal serupa. Saat kami sedang bersama, Mina akan menjadi irit bicara, tidak seperti saat hanya berdua denganku.

“Aku bingung, sebenarnya apa yang membuat kalian iri denganku?” tanya Hana sambil menyalurkan tatapan tak percaya.

Aku berdehem sejenak untuk menormalkan suara. “Semuanya,” balasku lirih. Dari ujung mata kulihat Mina mengangguk pelan.

Penulis legendaris yang kumaksud adalah dia, Jung Hana. Pertemuan tak sengaja membawa kami menjadi dekat seperti sekarang. Aku terang-terangan menyukai semua karyanya, bahkan pernah sekali waktu aku bertanya bagaimana cara ia menulis seindah itu. Jawaban Hana membuatku membisu.

“Aku menulis dengan tinta seni. Bukan hanya mengejar apa yang saat itu terlintas di kepala, tapi aku juga menghadirkan cinta. Aku ingin karyaku hidup, bisa dirasakan, dan membekas dalam ingatan pembaca.”

Pantas naskahku selalu ditolak, sebabnya aku tak punya perasaan semacam itu. Aku sempat menduga keputusanku terjun dalam dunia kepenulisan adalah suatu pelarian semata. Ia akan pudar seiring hatiku mulai sembuh dari bayang-bayang kegagalan.

“Ini cuma permainan waktu, Sel. Lambat laun semua orang pasti akan ada di posisiku. Tinggal seberapa gigih kita berusaha menaklukkan dunia.”

Aku merasa setiap ucapan Hana patut untuk diabadikan. Semuanya memiliki arti yang menakjubkan. Inilah perbedaan yang nyata antara penulis amatiran sepertiku dengan penulis ternama.

“Lalu saat dunia yang kamu taklukkan runtuh, apa yang akan kamu lakukan?”

Hana tersenyum lembut. Pandangannya menelisik ke sudut meja kerjaku. Aku rasa dalam hati ia sedang mengejek tumpukan coretan naskah yang berserakan itu.

Ia berganti menatapku dalam. “Aku lebih memilih membangunnya kembali. Karena menurutku lebih susah menaklukan dunia baru daripada memperbaiki yang hancur. Meski dunia itu sudah rata dengan tanah, tapi paling tidak aku sudah tau seluk beluk tentangnya tanpa perlu membuka mata lebar membongkar puing-puing reruntuhan.”

Membangun dunia yang hancur, apa itu maksudnya kembali ke profesiku sebelumnya?

Seolah bisa membaca pikiran, Hana menggeleng padaku. “Dari awal bukannya kamu memang bertekad mencari dunia baru? Membangun yang runtuh itu bukan berarti kembali pada kegagalan yang dulu.”

Belum sempat aku melontarkan pertanyaan lagi, Hana sudah beranjak dari duduknya. Menuju meja kerjaku dan terlihat mencari sesuatu. Tak lama sebendel kertas ia angkat.

“Aku suka judulnya, kenapa enggak kamu lanjutkan?” Aku menggeleng lemah. Semua yang ada di tumpukan itu adalah bukti kegagalan seorang Selina menaklukkan dunia.

“Selina... Aku menemukan sesuatu yang menarik. Kenapa kamu tutupi?” tanya Hana kubalas seadanya.

Kepalaku mendadak pening memikirkan cara membangun kembali dunia. Aku bersandar nyaman di bahu Mina sambil ikut menyaksikan layar kaca yang entah sedang menayangkan apa. Molli tak mau kalah, ia ikut berbaring di pangkuan Mina.

“Selina...  Aku butuh penjelasanmu. Percuma kata-kataku tadi, ternyata kamu sudah mulai menaklukkan dunia.” Suara berisik Hana sepenuhnya kuabaikan. Tidak ada yang perlu dijelaskan kalau nyatanya ia sendiri bisa membaca jelas naskah baruku.

“Astaga, Selina... Sampai kapan kamu menyimpan berita seheboh ini! Naskahmu diterima dan kamu diam saja padaku. Jangan bilang aku orang terakhir yang tau.”

Aku dan Mina saling berpandangan. Setelahnya adu lari cepat menghampiri Hana untuk memastikan pendengaran kami tidak salah.

Kakiku melemas, tanganku gemetar, kalau pun ini mimpi kumohon jangan bangunkan aku dulu. Karena ini mimpi yang aku nantikan sejak lama.

Benar kata Hana, kami terjebak dalam permainan waktu dan semua orang pasti akan merasakan ada di puncak sepertinya. Berbekal kegigihan dan semangat yang membara, aku berhasil memenangkan permainan.

Waktu, permainan curangmu terpaksa berakhir sampai di sini. Sebab kali ini aku lebih unggul dan kupastikan kemenangan ini akan terus terulang kembali.

*****

Warna Kita (Part 1)

138 0

Sejak tadi aku tak lelah mematut diri di depan cermin kecil yang kerap bersandar nyaman di atas meja. Mengamati dengan teliti bayangan maya yang jauh dari kata sempurna. Jerawat sebesar kacang hijau menghiasi pipi dan dahi. Mulanya aku acuh, mengamini mereka yang gencar mengatakan benjolan berisi masa padat itu bak bintang yang menghiasi langit malam.

Sebenarnya siapa pencetus bualan memuakkan itu? Sama sekali tidak memotivasi.

Segala cara sudah kucoba untuk menyingkirkan ketidaksempurnaan ini, tetap saja tak membuahkan hasil. Pergi satu kembali seribu. Sebenarnya apa salahku?

Ibu, Ayah dan Kakak memiliki kulit sehalus sutera dan sebening kaca. Lantas mengapa aku yang katanya masih bagian dari keluarga tak seberuntung mereka? Semua kekacauan ini dimulai sejak masa pubertas menghantamku, berlanjut hingga sekarang dan mengendap sebagai beban pikiran. Sekaligus memancing ketidakpercayaan diriku muncul ke permukaan. Puncaknya saat memasuki dunia kerja. Banyak yang menolakku dengan alasan konyol. Aku tidak menarik.

Dari umpatan hingga desahan frustasi sudah kulontarkan. Kejamnya dunia. Mana yang katanya jangan menilai buku dari sampulnya saja? Manusia memang begitu, pura-pura menutup mata, gemar mengikuti tren yang sebenarnya tidak cocok dengan pribadinya.

Buktinya mereka menilaiku dari tampilan fisik saja. Mengesampingkan skrip nilaiku yang luar biasa. Lalu pencapaian yang susah payah kukumpulkan sejak dulu untuk apa? Sepertinya benar, dunia kerja tidak perlu nilai dan skil, tetapi hanya butuh tampilan fisik yang menawan.

Akhir bulan ini aku berniat mengundurkan diri. Segala kelengkapan pengajuan sudah kupersiapkan. Aku sudah berpikir matang, semakin cepat pergi semakin baik bagi kejiwaanku dan kesehatan mental.

Setelah menerima penolakan yang cukup panjang, akhirnya aku menemukan secercah cahaya harapan. Aku bekerja sebagai seorang penerjemah. Jangan pikir aku melakukan semuanya dengan mulus, tidak. Kebetulan saja Aruna berbaik hati mengajakku mengisi kekosongan job di perusahaannya. Berkatnya juga aku tak perlu susah payah ikut seleksi calon pegawai, sebab ia berani menjamin kelayakanku mengemban pekerjaan tersebut. Aku baru tau seleksi semacam itu. Jalur teman.

Semuanya berjalan mulus dan aku sangat menikmati hari-hari yang kulalui. Perbendaharaan bahasa yang kukumpulkan sejak SMA selalu kuperbarui seiring dengan banyaknya klien yang memakai jasa kami. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa indahnya hidupku, sampai akhirnya bencana mengerikan itu datang.

Wajah buruk rupaku yang sekian lama tertutup dempul terkuak. Aku malas mengingatnya, yang pasti setelah itu hidupku kembali seperti sedia kala. Kelam dan penuh hinaan.

Aku mengusap wajah dengan kapas yang sudah dibubuhi cairan penghapus riasan. Hanya sekali usap saja terlihat jelas wajah asliku yang mengerikan. Kurang lebih begitulah keseharianku. Sebelum siap menyapa dunia aku menyempatkan melakukan ritual dahulu, melukis topeng di wajah. Bukan sembarang topeng seperti yang banyak dijual di pasar. Melainkan topeng yang bisa memikat jutaan hati hanya dengan sekali pandang.

Keahlian itu kudapatkan dari tontonan di media sosial. Beruntunglah aku tumbuh di zaman dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti sekarang. Segala macam informasi mudah didapat. Semua ada, mulai dari cara menjadi manusia yang baik sampai cara menjadi orang lain. Bahkan tutorial lain yang kuragukan keberadaanya, ternyata bertebaran banyak di sana. Cara menghakimi orang tanpa melibatkan perasaan.

“Sudah selesai meneliti wajahnya? Dari tadi terpaku di situ, jangan bilang kamu sedang mempraktekan cara menjadi patung yang alami.”

Sindiran Aruna sama sekali tidak mengusikku. Justru aku memang butuh disadarkan. Terlalu lama meratapi nasib juga tidak baik. Aku menyelesaikan kegiatanku sambil mengamati pergerakan Aruna merebahkan diri di lantai. Dalam hati aku mulai menghitung mundur. Memasang telinga mendengar keluh kesahnya. Kali ini apa lagi?

“Lama-lama aku ikut jejak kamu, Na. Mbak Melati semena-mena,” keluh Aruna sarat akan keputusasaan.

Aku menghela napas. Perkara kami sama, berhadapan dengan sosok baru yang datang dari kantor pusat, Melati. Wanita kemayu itu memposisikan diri seolah-olah ia adalah hakim. Memutuskan ini itu seorang diri tanpa persetujuan pimpinan kami. Bahkan tak jarang ia merangkap sebagai komentator bola. Melisankan pergerakan yang mencurigakan semua makhluk penghuni lantai dua.

“Bayangkan aja, seharian ini aku disuruh menemani empat klien dari Rusia. Tau sendiri kosa kataku belum seberapa. Alhasil banyak terjemahan yang missing,” gerutunya sambil menekuk wajah.

Aku tertawa kecil menanggapi cerita Aruna yang berapi-api. “Itu yang buat kamu mau ikut resign?” tanyaku memastikan.

Aruna berganti posisi menjadi bersandar di kaki kursi. Dari sudut mata kulihat ia menatapku dalam.

“Ini sudah yang kesekian kalinya, Na. Aku enggak bisa gini terus. Aku takut mereka akan menuntut kalau ada yang enggak sesuai. Apalagi kalau menyangkut masalah kerjasama bisnis. Beneran mati aku,” runtuknya.

Aku sangat mengenal Aruna. Dari sekian banyak solusi yang kuberi, tidak ada satu pun yang benar-benar terealisasi. Aruna hanya butuh wadah untuk berbagi cerita dan aku tau ia sangat mencintai pekerjaan itu.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya karena Yang Maha Kuasa tau sebatas apa kemampuan kita. Aku sangat benci manusia yang menyelesaikan masalah dengan cara mati atau sebut saja bunuh diri.

Sempit sekali jalan pikirnya. Ayolah, hidup ini hanya sekali, rugi kalau hanya diisi dengan pikiran mengakhiri diri. Tau begitu, harusnya dulu minta saja agar tidak di lahirkan. Urusan beres dan tidak jadi sampah dunia.

“Masih kemungkinan, Run. Belum terjadi nyata,” balasku enteng.

“Amit-amit. Jangan sampai kejadian.” Aku mengangguk, mengamini harapannya.

“Na, kamu yakin mau resign? Enggak mau berubah pikiran?”

Desahan lelah tak bisa kucegah. Beberapa menit kubiarkan pertanyaan itu berputar di kepala sembari menyimpan semua perlengkapan make up dengan tenang. Aruna saja tidak menuntut jawaban, lantas kenapa aku harus cepat-cepat menjawab tanpa menyusun kata-kata dahulu?

“Masih ragu, Run. Mengingat sekarang susah cari kerjaan, tapi di sisi lain Mbak Melati makin membabi buta,” balasku lirih.

Aruna menggeser duduknya mendekatiku. “Lalu kapan rencananya kamu mendapat kepastian?” tanyanya penuh keingintahuan.

Aku terdiam. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa kulakukan. “Setelah masa cutiku selesai, mungkin.”

“Mau kutemani menghabiskan hari?” Aku refleks menatap Aruna. Mencari kesungguhan dari balik sorot lembutnya.

“Kamu serius? Klien besok gimana?” tanyaku ragu. Jangan bilang Aruna kembali berbuat nekat.

Aruna tersenyum remeh. Apa aku bilang, Aruna memang seperti itu. Mulanya akan panik menyikapi masalah. Namun, lama-lama akan berbuat tak masuk akal. Bahkan tak segan menyumpahinya. Dasar Aruna!

“Biar besok Mbak Melati kelimpungan. Salah siapa main-main sama aku,” jawabanya sambil mengangkat kepala seakan menantang sosok yang menjadi topik utama kami.

Apa aku bilang, Aruna memang tidak butuh solusi, yang ia cari hanya tempat untuk berbagi. Adakah di dunia ini tutorial cara menjadi Aruna?

*****

Warna Kita (Part 2)

72 0

Suara bising yang kuyakini lebih dari 140 desibel menyambut pendengaran kami. Berisik dan memekakkan telinga. Ditambah lagi tempat yang kami datangi tengah dilanda banjir manusia. Bisa bayangkan betapa tidak nyamannya?

Masih tak menyangka, Aruna benar-benar merealisasikan tawaran yang awalnya kukira gurauan semata. Sejak pagi buta ia sudah membuat kegaduhan di kamarku. Bahkan tidak mengizinkanku mengumpulkan nyawa barang sebentar.

Tak masalah, mungkin ia memang sudah tidak sabar menghabiskan hari. Kalau dipikir-pikir, kapan lagi kami bisa bersenang-senang di hari kerja. Pertanyaan apakah kami tidak memiliki hari libur akan kujawab setelah ini.

Tentu saja kami punya. Lebih tepatnya hari Minggu. Namun, apa itu bisa disebut hari libur mengingat kami tidak bisa maksimal menikmatinya? Aktivitas padat di enam hari sebelumnya diduga kuat sebagai sebab perkara.

Hari itu aku hanya akan menuruti kata hati. Berselancar di dunia maya dan menonton film sembari merebahkan diri di sofa, kuyakini sebagai hal ternikmat di dunia. Bayang-bayang menghabiskan waktu di luar sama sekali tidak pernah hinggap dalam pikiranku. Selain repot karena aku harus berias dahulu, alasan tidak ada yang berkenan menemani juga satu hal yang kubenarkan. Mungkin Aruna juga merasakan hal yang sama.

Pekerjaan kami benar-benar padat. Dari pagi buta hingga petang menyapa, kami sibuk menemani klien asing melakukan perjalanan bisnis sekaligus menerjemahkan setiap ucapan mereka. Tak jarang otakku macet di tengah jalan, kebingungan dengan kata asing yang mereka lantunkan. Tak apa, aku menikmatinya.

Sedari dulu aku sangat ingin menjelajahi tempat-tempat indah di bumi. Sehingga aku berpikiran menjadi tour guide adalah sebuah ide brilian. Aku memutuskan menjalani perkuliahan di jurusan sastra asing dan mendalami sastra lain dengan cara otodidak. Namun, ya seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, dunia kerja teramat kejam.

Pernah terbesit satu pemikiran konyol, aku bertekad akan membuktikan pada mereka bahwa manusia buruk rupa sepertiku juga bisa menikmati indahnya dunia. Sepertinya hal itu kini benar kulakukan, tertawa lepas menyaksikan wajah penuh beban Aruna.

Dasar gadis tak tau malu. Jelas-jelas ia tadi yang memaksaku, lalu mengapa sekarang ia justru menolak tawaranku bermain lagi? Hanya sebatas itukah kemampuanmu menahan ketinggian, Runa?

Berkali-kali aku memegangi perutku yang terasa sakit sebab tak henti menyemburkan tawa. Sedangkan Aruna jenggah dengan responsku. Kalau saja ada Bang Mahen di antara kami, sudah pasti ia akan mencibir kelakuan menjijikan Aruna. Kutegaskan lagi, semua manusia di lantai dua sangat menyenangkan. Ya, paling tidak itu yang terjadi sebelum nenek lampir datang.

“Jangan tertawa! Kemasukan lalat baru tau rasa kamu!” gerutu Aruna sambil mencoba mengembalikan keseimbangan diri.

Aruna mengeluhkan mual sebab wahana yang kami naiki melaju ugal-ugalan. Dari sekian banyak roller coaster di dunia, memangnya ada yang melaju pelan? Ada-ada saja Aruna.

“Lanjut yang lain atau pulang, Run?” tawarku setengah mengejek. Siapa tau Aruna berubah pikiran.

Aruna berdecih. “Enak aja, susah-susah cari cuti malah di suruh pulang. Memangnya aku kelihatan selemah itu? Ayo jalan!” Aruna mengambil langkah lebar meninggalkanku. Aku terkekeh sejenak sebelum kemudian menyamakan langkah dengannya.

Kami menghabiskan hari dengan bersenang-senang. Bahkan tanpa sadar semua wahana sudah kunaiki. Hanya aku, sedangkan Aruna angkat tangan. Aku mengamati wajah sayu Aruna yang tampak jelas menyiratkan kelelahan. Meski begitu ia bersikukuh tidak mau kuajak pergi menjemput mimpi.

Aku berpangku tangan menyaksikan piring Aruna yang semula dipenuhi mi berkuah kecoklatan, kini kosong hanya menyisakan noda minyak. Sedangkan piring milikku belum tersentuh sama sekali.

“Tau begitu tadi kamu enggak usah pesan, Na,” gumamnya sembari menyeka sudut mulut dengan tisu. Netra kami bertemu pandang.

Aruna menaikkan sebelah alisnya. “Jangan bilang kamu enggak nafsu makan gara-gara mabuk naik komidi putar.”

Aku tertawa lirih. Bukan mabuk, hanya sedikit mual. Demi menuruti keinginan Aruna, aku rela menaiki wahana itu beberapa kali putaran.

“Aku kenyang, Run,” dustaku sambil menunjukkan jus buah yang sudah tandas.

Aruna berdecak lantas celingukan mencari sesuatu. Tak lama tangannya melambai pada seorang pramusaji.

“Kak, bisa minta tolong yang ini di bungkus aja. Kawan saya berlagak sok kaya. Buang-buang makanan.” Pramusaji itu terlihat menahan tawa mendengar gurauan serius Aruna. Sedangkan aku menghadiahinya pelototan sebal. Aku tau Aruna bercanda, hanya saja aku tidak punya muka menghadapi bisikan-bisikan lirih pengunjung di samping meja kami. Jelas sekali sedang membicarakan kalimat konyolnya.

“Seharian ini hal baik apa yang bisa kamu simpulkan, Na?” Aku mengerutkan kening. Aneh sekali tanyanya. Terdengar seolah aku kembali ke masa perkuliahan.

Dosen mata kuliah tertentu ada yang seperti itu. Setelah membaca rinci semua isi presentasi lalu secara acak akan menunjuk salah seorang mahasiswa dan menyuruhnya menyimpulkan. Banyak yang bisa menjawab dengan lugas, tetapi jauh lebih banyak yang gelagapan. Bocoran sedikit, aku pernah berada di posisi terdesak semacam itu. Bukan jawaban yang keluar, melainkan cegukan tanpa henti menyerangku. Sial, sangat memalukan.

Aruna akhirnya terkekeh setelah sekian menit tanyanya tak kunjung terjawab. “Jangan berpikir terlalu keras, Na. Kita enggak sedang ujian.”

Spontan bibirku mencebik. “Ada soal yang lebih mudah lagi enggak? Otakku macet.”

Aruna menggeleng tegas. Netranya menghunusku tajam. Baiklah, Aruna sedang tidak ingin bercanda.

“Aku enggak bisa menyimpulkan apa-apa. Yang kurasakan seharian ini kita bersenang-senang,” gumamku putus asa.

Aruna berdecak. Lantas mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi. Tangannya menyilang di depan dada.

“Pantas aja kamu sering sakit hati. Kamu enggak peka, Nana!”

Aku mengerjap beberapa kali. “Bagian mana?” Jujur saja aku tersinggung dengan ucapannya.

Kali ini ia kembali duduk tegak tanpa mengubah posisi tangan. “Dunia itu luas, Na. Dari yang realistis sampai yang mustahil semua ada. Enggak menutup kemungkinan juga ada manusia yang sama seperti kamu, di pojokkan masalah pelik yang sukses menyinggung perasaan.”

Mataku tak bisa lepas dari Aruna. Menunggu kelanjutan rangkaian kata-katanya yang terdengar ambigu, tetapi menenangkan.

“Semua masalah ada jalan keluarnya dan menghindar aku pikir bukan jalan keluar. Justru kalau kamu selalu menghadapi masalah dengan cara semacam itu, lama-lama kamu akan terbiasa. Lari dari masalah,” jelasnya penuh penekanan.

“Lalu aku harus apa? Diam aja waktu direndahkan Mbak Melati? Atau berlagak berani padahal nyali menyuruh lari?” Aku tertawa sinis. Ada-ada saja ide konyol Aruna. Kalau begitu caranya bisa-bisa aku selalu ditindas.

“Sekian lama kita berkawan, aku enggak pernah sekali pun menjumpai kamu minta pendapat dariku. Semua kamu paksa selesaikan sendiri. Ada aku, Na. Kamu sangat boleh minta saran dariku. Bukan apa-apa aku cuma mau kamu sadar, kamu hidup enggak bisa sendiri. Kamu butuh orang lain juga.”

Aku membuang muka. Tidak bisa berkata-kata dan tak bisa menyangkal kalimat Aruna.

“Kalau kamu merasa kenapa kamu berbeda, ya, menurutku itu hal yang wajar. Enggak cuma kamu, aku juga merasakan hal yang sama. Kenapa aku beda dari dia? Kenapa aku beda dari kamu?”

“Jangankan kita, matahari sama bulan aja dipandang beda. Lucunya bulan yang cuma numpang cahaya, tapi justru dia yang dipuja-puja. Semua dari kita punya warna sendiri, Na. Jangan mengelak dengan jadi orang lain. Jadilah diri sendiri dan yakini semua yang ada di kita itu cantik.”

Perlahan senyumku terbit. Aku baru tau sisi Aruna yang satu ini.

“Kalau mau senyum, ya senyum aja. Enggak usah ditahan. Toh, sekarang masih gratis.” Entah di mana letak kelucuannya, kami kompak tertawa.

Sepertinya sia-sia cutiku seminggu ini. Hanya dengan sehari menghabiskan waktu bersama Aruna sudah bisa mengubah segalanya. Perasaanku, cara pandangku, kepercayaan diriku. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, kami siap menyambut esok hari.

Terima kasih Aruna, dariku yang sempat goyah dan hilang arah, Nana.

 

Warnamu, warnaku, warna kita unik. Jadi diri sendiri dan yakini kecantikan dari hati.

*****

Hari Baru

394 0

Waktu terus berjalan, tahun berganti, hari baru datang menyapa. Kepingan memori memutar kembali masa kelam saat aku berusia belasan. Perjalanan panjang menuju cahaya kebebasan.

“Kalian bagaikan seorang pengembara yang berada di persimpangan jalan. Sedangkan Ibu datang sebagai manusia asing pemberi arah.”

Aku mendengarkan dengan saksama kisah perumpamaan yang tengah dipaparkan wali kelasku. Wanita cantik itu tak pernah lelah bercerita meskipun dalam kelas ini hanya beberapa pasang telinga yang menyimak. Sisanya sibuk dengan pikiran sendiri, parahnya lagi ada yang terang-terangan mencibir setelah ia lenyap dari pandangan kami. Keterlaluan!

Lima hari lagi aku akan berjumpa dengan hari penentuan, ujian akhir. Aku sudah mempersiapkan semuanya, termasuk yang paling utama, belajar hingga kesadaranku menghilang. Jelas saja aku memang tak mengenal siang dan malam, yang kutau hanya harus melewati hari itu dengan mulus.

Sebulan ini kamarku tak pernah rapi, sebabnya aku terus memaksakan diri berkawan dengan bendelan kertas yang berisi ilmu dunia. Alat tulisku juga ikut tersebar di atas meja, menandakan bahwa aku serius ingin berkenalan dengannya. Namun, niatanku tidak sesederhana itu, aku sangat berharap kami bisa menjadi kawan dekat.

“Jalan yang akan kalian lalui tidak mudah. Ada banyak lubang, tanjakan, bahkan ada turunan curam. Kalau sampai lupa arahan Ibu, bisa-bisa kalian akan tersesat, atau lebih parah bisa saja sampai masuk jurang.”

Tidak hanya itu, potongan ranting tajam juga sering kujumpai. Menghadang dengan garang seolah ia pemilik jalan. Berkawan dengan bendelan kertas tidaklah mudah. Suara-suara halus itu kerap terdengar.

Memandangku remeh, menganggapku berniat mencari muka, menilaiku hanya sekadar main-main saja, dan hinaan lain yang tak kuasa aku dengar. Aku tau mereka iri. Terlebih namaku kini selalu berada di puncak tertinggi.

Aku masih bisa membendung semuanya sebelum sebuah kenyataan pahit menenggelamkan kepercayaan diriku ke dasar samudra.

“Lihat, dia sendiri lagi. Kawan sepermainannya mana?” Jelas itu bukan bisikan. Buktinya beberapa pasang mata kini mendekati sumber suara. Mereka bergabung membicarakan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.

“Kebanyakan diajak belajar, si gendut jadi tumbang,” balas suara lainnya dengan lantang.

Tanpa sadar aku meremas bendelan kertas yang ada di dekapan. Mencoba mendinginkan hati yang mulai mendidih agar uapnya tak sampai menutupi pikiran.

Suara tawa mengejek dari beberapa orang mulai terdengar saat aku menginjakkan kaki di dalam kelas. Kupandangi satu persatu dalang dari kekacauan pagi ini. Bukannya berhenti, mereka justru terang-terangan mencari lawan. Selamat tinggal kewarasan.

Aku mendaratkan bendelan kertas dengan keras di atas meja, setelahnya menarik kasar kursi, lantas mendudukinya. Lihat, mereka berhenti. Aku tertawa puas dalam hati. Kalian salah mencari lawan.

Aku tak akan bermain sekasar itu jika mereka tau batasan. Bertutur kata lembut, murah senyum, dan tak segan berbagi ilmu adalah penilain singkat Bia tentangku. Bisa dibilang kami cukup dekat meski tak pernah terlontar janji-janji manis sahabat.

Ke mana pun selalu bersama, hingga tak jarang banyak yang menyebut kami bagaikan saudara. Faktanya di luar sana ada yang jelas-jelas bersaudara, tetapi terang-terangan memasang bendera perang hanya karena berebut harta. Ada juga yang bersaing kotor hanya untuk meraih cinta.

Aku dan Bia tidak serendah itu. Nama kami memang sering beradu di peringkat atas, tetapi tak pernah sedikit pun tercium aroma permusuhan. Jelasnya kami bersaing secara sehat. Berbagi ilmu, cerita, tawa, hingga kepedihan adalah hal yang biasa. Bahkan aku tak segan mengenalkan Bia dengan bendelan kertas yang kerap menemani hariku. Lalu dengan sadar memberinya satu agar Bia bisa ikut merasakan kebahagiaan yang selama ini kurasa.

Ya, aku bahagia saat bisa belajar dengan damai. Namun, aku benci saat ada yang menyebutku kutu buku. Aku normal, aku masih suka bersenang-senang, seperti misalnya membaca novel tentang percintaan dan melukiskan imajinasiku dalam buku harian.

Terlebih saat kutau ternyata kami menyukai hal yang sama. Tidak hanya berbagi ilmu dunia, kami juga kerap bertukar buku roman. Di usia seperti kami, imajinasi bermain perasaan sedang giat-giatnya berkembang.

Bukan aku, melainkan Bia yang sudah punya kekasih. Di sela-sela waktu belajar, sesekali aku menyinggung keseriusannya menjalin hubungan. Mengingat kami masih cukup labil dan butuh banyak bimbingan, rasanya aneh membangun hubungan dengan lawan jenis di usia semuda ini.

Bia tidak pernah menjawab dengan serius. Hanya tersenyum malu-malu lantas mengubah topik obrolan. Namun, sorot netranya tidak bisa berbohong. Bia jelas bahagia, terbukti beberapa kali ia tanpa sadar menceritakan sosok itu dengan menggebu-gebu. Aku hanya bisa membalasanya dengan senyum simpul tanpa berani memotong.

Awalnya kupikir Bia tak bisa merahasikan sesuatu dariku, ternyata kami tak sedekat itu. Satu bulan ini ia menghilang tanpa kabar. Tinggallah aku yang membunuh waktu sendirian.

Namanya yang bersaing denganku perlahan digantikan oleh nama lain. Hariku yang berwarna seketika suram. Aku merasa awan hitam memayungiku saat berjalan, bahkan kabut tebal tak segan menghalangi pandangan. Sebelum tau kebenarannya, aku sering bertanya seorang diri. Kamu ke mana, Bia?

“Bia sakit, Lun,” bisiknya saat aku memberanikan diri menanyakan keberadaan Bia. Detik itu kulihat netranya meredup, tak seperti saat ia menceritakan perjalanan panjang seorang pengembara.

Aku terdiam cukup lama. Bingung mana dulu yang harus kukeluarkan dari pikiran, kecemasan atau menyalahkan diri.

“Meskipun kata orang-orang penyakit itu menakutkan, tapi kamu percaya kan pertolongan Sang Pencipta itu nyata?” Aku mengangguk lemah sembari menggigit bibir bawah.

Tidak berani bertanya lebih lanjut karena dari jawabannya aku sudah bisa membuat kesimpulan versiku. Bia tidak sedang baik-baik saja dan butuh banyak doa.

“Mulai hari ini Ibu yang akan menggantikan posisi Bia untukmu,” tuturnya seraya tersenyum manis. Tak banyak yang bisa kulakukan selain merespons dengan anggukan.

“Sekarang bukan saatnya kamu mengurung diri di penjara penyesalan. Sebab nanti akan lebih banyak yang menyesal dan kecewa kalau kamu gagal bertemu hari pertempuran. Kamu harus terus berjalan, Luna.”

Aku mengusap wajah dengan kasar. Sepuluh tahun berlalu, ternyata kepingan memori masih saja memancing air mata. Setelah hari itu, kabar tentang Bia tak pernah singgah lagi di telingaku. Kekosongannya digantikan oleh wanita yang setia mendorong semangatku untuk berlari lebih kencang. Melewati ribuan rintangan hingga akhirnya aku berhasil menemukan cahaya kebebasan. 

*****

Teruntuk wanita yang membuatku menangis saat mendengar lantunan lagu haru himne guru, terima kasih atas segalanya. Meski suaramu, cerita manismu, bahkan namamu hilang dari ingatanku, tetapi jasamu tak akan terkikis oleh waktu. Biar hari baru selalu datang, kau akan tetap menjadi bagian dari kepingan memoriku.

Sulit untuk mengungkapkannya, tetapi jika kau membaca ini, bolehkah aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali? Menyambut hari baru dengan cerita lain darimu.

Dariku, masih si pengembara seperti dulu, Laluna.

*****

Jalan Sesat (Part 1)

48 0

Mati satu tumbuh seribu.

Aku mengulang kalimat ajaib itu dalam benakku. Berulang kali hingga tak menyisakan tempat untuk yang lain berkelana. Kak Yumna mengatakan aku membuat keputusan yang tepat. Mengakhiri kemungkaran dan menyambut ketenangan jiwa.

Bohong kalau aku bilang jiwa ini sudah tenang. Nyatanya ketenangan tak semudah itu diraih. Banyak yang harus diikhtiarkan, ribuan terjal yang harus dilewati, dan ada kubangan lumpur yang harus kupijaki.

Setelah sekian lama akhirnya aku melepaskan. Hati berteriak tak rela, tetapi bisikan-bisikan dari luar lebih kuat memaksaku membuka mata. Kami memang tidak terjebak dalam hubungan penuh kepalsuan itu, sebaliknya kami baru akan mulai menapaki satu tangga kebenaran.

Namun, semua itu hanya imajinasiku. Kenyataannya kami bahkan tidak menapaki tangga mana pun. Aku terlalu percaya diri dengan menganggap gadis itu adalah diriku.

“Doakan, ya, besok aku akan meminang anak gadis orang,” ucapnya lirih seraya tersenyum manis. Rona bahagia menghiasi wajahnya. Aku masih menunggu kelanjutan ucapannya menyebut namaku.

“Siapa gadis beruntung itu?” tanyaku penasaran sambil tersenyum malu-malu.

Mahen tak menjawab. Hanya menyematkan senyum manis yang mencurigakan.

Bahuku merosot, debaran dadaku memelan, netraku meredup. Gadis itu jelas bukan aku. Selamat tinggal kepercayaan diri.

Kak Yumna menyuruhku untuk melupakannya. Jelas hal itu mustahil aku lakukan. Bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau kami sudah sekian tahun menghabiskan waktu bersama.

Lagi-lagi aku merutuki diri yang terlalu berlebihan ini. Kami tidak sedekat itu, hanya sapaan selamat pagi dan selamat malam yang kerap terlontar darinya. Itu pun kami lakukan dari balik pagar. Ia lelaki agamais, mana mungkin berani mendobrak batasan.

“Bagus, pagi-pagi sudah melamun. Sana bersih-bersih halaman atau kuras kolam!” Suara menggelegar Kak Yumna memenuhi ruang tamu.

Tak seperti biasanya, kali ini aku membalas dengan anggukan pasrah, sebab aku tak punya tenaga untuk berdebat. Aku beranjak dan segera meraih alat kebersihan yang ada di dapur. Lantas mulai melakukan semuanya sesuai titah wanita yang terpaut tiga tahun di atasku itu.

“Nada! Kamu sedang apa? Buka mata dulu baru jalan!” Suara melengkingnya kembali terdengar.

Langkahku sontak terhenti. Aku mengusak rambut dengan kasar sembari menggaruknya meski sebenarnya tidak terasa gatal. Serba salah. Diam salah, melakukan sesuatu juga salah.

Ia berjalan cepat menuruni tangga lalu menghampiriku. Refleks aku mengernyitkan dahi. Ada apa?

“Dasar! Patah hati ternyata bikin kamu jadi bodoh! Mana Nada yang gemar berkata lebay?” Aku berdecak sambil menatapnya tak suka.

Kata-kata yang rutin kusumbangkan di majalah kampus itu ia sebut sesuatu yang berlebihan. Bertele-tele, tidak bisa dipahami maknanya, sok manis. Kak Yumna saja yang tidak tau seni.

“Pakai jilbab dulu, Nad. Enggak malu kamu dilihat Mahen? Aku tau kamu sakit hati sebab lelaki itu habis meminang gadis yang lebih hebat darimu, tapi tolong otak warasmu paksa untuk bekerja lagi. Aku enggak capek-capek bilang, lupakan dia!”

Setelah dihadiahi kalimat menohok itu aku segera berlari menuju kamar. Bukan untuk mencari keberadaan jilbabku, lebih tepatnya aku membenamkan wajah di bantal. Menyembunyikan suara isakan yang sulit kuredam.

Haruskah sejelas itu Kak Yumna menjabarkan kesakitanku? Aku malu pada semua yang bisa mendengar. Entah itu hewan atau manusia. Aku juga malu pada diriku sendiri yang masih saja tak bisa lepas dari bayang-bayangnya.

Aku ingin bertanya pada siapapun yang bisa membaca, sebenarnya kurangku di mana?

Karena cantik itu relatif, maka aku akan membanggakan diriku yang cerdas. Aku menempuh kuliah sekian semester dengan beasiswa penuh. Bukan berarti keluargaku tidak mampu, tidak seperti itu. Aku mendapatkannya berkat prestasi yang kuukir sejak bangku SMA.

Saat itu aku terlalu ambisius hingga berbagai perlombaan kuikuti. Buah dari itu, beberapa berhasil menempati tingat teratas, sisanya bertahan di juara harapan.

Aku juga aktif di salah satu organisasi kampus. Bukan organisasi mahasiswa yang namanya tersohor itu, pasion-ku bukan di sana. Aku mengikuti organisasi dakwah.

Membuat relasi bukanlah suatu hal yang baru. Aku sangat pandai dalam hal itu hingga tak jarang bisa meluluhkan hati mereka. Sebut saja aku pandai bercakap.

Sampai di sini sepertinya aku mulai menemukan. Aku tidak bisa memenangkan hati Mahen. Sekeras apapun mencoba, tetap saja gagal. Memang benar, yang bisa membolak-balikkan hati manusia hanya Sang Pencipta. Sudah sejauh ini doaku belum juga terkabul, bukankah itu artinya Dia tidak meridhoi kami bersama?

Aku mengusap kasar sisa air mata di pipi. Waktu terus berjalan, aku akan benar-benar terlambat kelas pagi kalau terus-terusan menangis. Tanpa mengindahkan tubuh yang masih lemah setelah menghabiskan ribuan liter air mata, aku segera bangkit untuk mengganti baju dan bersolek tipis menyamarkan wajah layu.

Menyambar kasar tas selempang di atas meja belajar lalu menuruni tangga secepat yang aku bisa. Begitu menapaki anak tangga terakhir, langkahku mendadak terhenti. Lelaki itu ada di depan rumah. Bercakap ria dengan Kak Yumna.

Kesialan apa lagi ini? Setelah sebulan menghilang dengan meninggalkan ucapan selamat tinggal yang menyakitkan, kini ia tersenyum sumringah menyambutku. Dasar tidak peka!

“Kamu mau berangkat ke kampus, ya?” Hanya anggukan yang kujadikan jawaban.

“Hati-hati di jalan.”

Sudah. Memang hanya itu yang ingin ia ucapkan. Lumayan, masih lebih panjang dari biasanya. Dulu, aku sempat mengira Mahen bisu sebab tak bisa berkata panjang padaku. Namun, akhir-akhir ini aku mulai paham, Mahen melakukan semua itu agar aku tak terbiasa bercakap dengannya. Bahaya, bisa menyebabkan ketergantungan.

Selamat atas hidup barumu, tetapi kamu gagal membuatku hidup bebas tanpa bayang-bayangmu.

“Undangannya nanti titipkan saja ke Kak Yumna, tapi aku enggak janji bisa datang,” jelasku sedikit ketus tanpa menunggu ia kembali bersuara.

Nyatanya menunggu itu lelah, terlebih ketika orang itu tidak tau dan tidak mau ditunggu. Lelah dan menyakitkan. Lebih bagus lagi berlari memacu diri menjadi pribadi lebih baik. Banyak manfaatnya dan lebih bermakna.

Sepanjang perjalanan aku berkali-kali menghela napas lalu menahannya sekian detik. Bukan apa-apa, aku melakukannya untuk mencegah laju air mata yang tak kunjung berhenti.

Selama ini aku tidak pernah dibanding-bandingkan. Karena memang aku mencoba lebih unggul dari semua manusia yang kukenal. Namun, saat Kak Yumna dengan tega membandingkanku dengan pilihan Mahen, jelas aku tidak suka. Sebenarnya saudara kandung dia siapa? Aku atau Mahen?

“Nad, kamu sudah mandi kan?” Dengan cepat aku menoleh pada Lina. Pertanyaannya terlalu jelas untuk didengar seluruh penghuni kelas.

Tau kalau aku jengkel, raut penyesalan seketika menghiasi wajahnya. “Maaf-maaf, kamu kelihatan layu seperti baru bangun tidur.”

Bukan bangun tidur, lebih tepatnya baru bangun dari tangis.

“Apa terlihat jelas?” tanyaku sambil mematut wajah di cermin kecil milik Lina.

“Iya, terlihat jelas dan sangat ketara kamu lupa!” Aku tersentak. Jelas bukan Lina yang memberi jawaban, melainkan Doni, Ketua organisasi dakwah yang aku ikuti.

Astaga, aku melupakan sesuatu. Padahal semalam aku sudah menuliskannya di jadwal harian.

“Benar, kamu lupa kalau tadi pagi kita ada agenda rapat. Nanti jangan pulang dulu, penting, kita harus rapat hari ini juga.”

*****

Jalan Sesat (Part 2)

119 0

Sepanjang rapat aku tidak bisa fokus seperti biasanya. Pikiranku berkelana ke mana-mana. Saat namaku terpanggil aku merespons sekenanya. Di kepalaku hanya berisi perintah aku harus segera pulang.

Aku merasakan tanda-tanda tubuhku kurang sehat. Penyebabnya sudah jelas, antara dua hari kurang tidur atau karena terlalu banyak menguras stok air mata. Aku tidak pernah secengeng ini sebelumnya. Bahkan ketika tak sengaja mencederai diri sendiri dengan jatuh dari tangga, aku sama sekali tidak menitihkan air mata. Meski saat itu seluruh sendi tubuhku teramat sakit, tetapi aku masih sanggup menahannya.

 Lain halnya dengan kesakitan ini yang sebenarnya tidak sampai menimbulkan luka. Kepercayaan diri, semangat, dan keteguhan hati hilang tak tersisa. Kalau dipikir-pikir untuk apa aku menangis. Ia bahkan kini tengah berbahagia setelah tanpa sadar memberiku kesakitan yang tak terelakan rasanya. Justru harusnya aku tak selemah ini.

Aku harus bangkit dan menunjukkan padanya bahwa seorang Nada bermental baja. Apalah badai kesakitan ini kalau aku pernah merasakan yang lebih dasyat lagi.

Mendadak pikiranku berkabut, refleks aku bangkit dari duduk dan sukses menimbulkan banyak tanya. Mereka mungkin heran menyaksikan keanehanku sejak tadi.

“Boleh aku izin keluar forum? Aku sedang enggak enak badan,” jelasku pada beberapa pasang mata.

Ada yang terang-terangan menunjukkan kecemasannya, ada juga yang tidak peduli. Fokusku hanya pada Doni yang dengan lugas menyatakan persetujuan. Tidak biasanya Doni seperti itu. Apa mungkin wajah pucatku sangat ketara?

Lina memberi isyarat menawarkan tumpangan, tetapi aku menolak beralasan masih sanggup berkendara. Bohong. Kenyataannya kepeningan yang teramat tengah melanda kepala. Tanganku bahkan sedikit gemetar saat memutar kemudi.

Sepanjang perjalanan yang kupikirkan hanya bagaimana cara menghindar dari serangan pertanyaan Bunda. Sebab sekali pandang Bunda pastia akan langsung tau kalau aku sedang tibak baik-baik saja.

Sejujurnya dari awal aku berniat merahasiakan. Tidak hanya pada Bunda dan Ayah, Kak Yumna pun sebelumnya tak ingin kuberi tau. Kecerobohanku menangis di malam hari membuat Kak Yumna curiga. Hingga akhirnya cerita itu mengalir tanpa bisa ku cegah.

Aku akhirnya bisa benafas lega. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah selain diriku. Aku menyempatkan menengok sekilas pada jam di sebelah televisi. Pantas saja, jarum kecil di angka sepuluh yang menandakan penghuni rumah ini sedang sibuk melakukan rutinitasnya masing-masing. Kak Yumna menemani Bunda ke pasar, sedangkan Ayah berkutat dengan dokumen di kantor.

Aku menapaki anak tangga dengan lunglai hingga mencapai kamar. Tak mau membuang banyak waktu, setelah melepas jilbab aku langsung merebahkan tubuh di tengah ranjang. Menarik selimut sekenanya untuk menutupi tubuhku.

Dugaanku benar. Begitu merasakan kehangatan, tubuhku langsung bergetar. Kepalaku semakin pening dan pandanganku mulai buram. Kantuk hebat langsung menyerang meski aku belum sempat meraih obat di laci.

Tak tau pasti berapa lama aku berkelana di alam mimpi, tau-tau Kak Yumna sudah ada di sampingku. Mengguncang tubuhku pelan, menyuruh untuk segera kembali dari alam mimpi. Denyutan di kepalaku masih terasa, tetapi tak separah sebelumnya.

Tiba-tiba tangan dingin Kak Yumna hinggap di keningku. Diam beberapa saat, lalu mimik mukanya berubah. Sebelum ia bertanya, aku sudah lebih dulu menjelaskan.

“Nada lagi enggak enak badan, Kak. Tadi belum sempat minum obat,” keluhku menunggu suara berisik Kak Yumna membalas.

Namun, bukan respons itu yang ia berikan. Kak Yumna justru bangkit mencari keberadaan obat yang aku maksud. Setelahnya meninggalkanku yang tengah dilanda kebingungan. Tak lama ia kembali dengan membawa segelas air. Obat dan gelas ia sodorkan padaku.

Baiklah, aku mengikuti permainan Kak Yumna, tanpa banyak kata menerima pemberiannya. Kak Yumna tidak seperti tadi pagi. Entah kerasukan apa, tiba-tiba ia berlaih menjadi penikmat kesunyian. Kecurigaanku makin menjadi tatkala ia menatapku dengan sorot aneh. Ada apa dengannya?

Tak lama pintu kamar terbuka. Bunda datang dengan raut wajah yang jelas menggambarkan kekhawatiran, tergopoh-gopoh menghampiri kami berdua yang sedang dilanda virus kebisuan. Bukan aku, lebih tepatnya Kak Yumna. Kalau aku, jujur saja tidak ingin mengganggu kekhusyukannya menyimpan suara.

“Ada-ada saja kamu itu, Nad. Pakai acara menangis semalaman. Bunda tanya, buat apa coba?” Refleks aku menatap horor Kak Yumna.

Jadi ini penyebab ia tiba-tiba puasa bicara? Membongkar aibku pada Bunda? Awas saja setelah ini, aku akan mogok bicara dengannya. Kak Yumna tidak bisa diajak kerjasama.

Aku meringis sesaat sebelum menjawab rasa penasaran Bunda. “Nada kalah, Bun,” ucapku lirih setelahnya menenggelamkan wajah dalam selimut. Aku malu.

Decakan Bunda yang terdengar nyaring membuatku semakin merasa rendah diri. “Iya, kamu kalah sama diri sendiri. Habis ini Bunda tunggu di bawah, makan siang sekalian temani Bunda menyapa tamu.”

Aku menatap Bunda ogah-ogahan. Bukannya ada Kak Yumna yang sedang sehat bugar, kenapa aku harus ikut juga? Selalu begitu. Bunda tidak pernah membiarkan kedua putrinya bersembunyi saat ada kawannya ada yang datang.

Padahal yang kami lakukan hanya diam. Pura-pura menatap penuh minat ibu-ibu PKK yang entah tengah membicarakan apa. Sesekali kami kompak mengangguk sambil tersenyum lebar. Mirip seperti orang dungu.

“Ayo, Nad. Jangan kelamaan berpikir, keburu Bunda datang lagi nanti,” celetuk Kak Yumna setelah sekian lama menatapku bergumul dengan isi pikiran.

“Aku kira setelah menyebar aibku ke seluruh dunia, Kak Yumna memutuskan puasa bicara selamanya,” sindirku sebelum ia menghilang dari balik pintu.

Kak Yumna tidak merespons meski hanya sekecap kata. Pasti sedang mengutuk diri karena terang-terangan mengingkari janji.

Untung saja aku sudah sempat meminum obat, sehingga kepalaku tak sepening sebelumnya. Juga tak ada hambatan saat kakiku melangkah menuruni tangga. Baru setelah sampai di ruang makan, tubuhku kembali kaku untuk kesekian kalinya hari ini.

Apa-apaan mereka? Jelas-jelas sudah tau penyebab aku seperti ini, masih saja mengundang Mahen datang ke rumah. Ingin melihat aku terpancing emosi atau bagaimana?

“Aku dengar kamu kurang tidur semalam,” celetuk Mahen saat aku sudah menempati kursi di seberangnya.

Aku mendesis seraya menghunuskan tatapan permusuhan pada Kak Yumna. Benar dugaanku, Kak Yumna menceritakan semuanya pada seluruh penghuni dunia. Pasti nanti Ayah juga akan menanyakan hal yang sama.

“Undangannya sudah aku titipkan Kak Yumna, dan aku harap kamu bisa datang.”

Sudah? Itu saja? Sepertinya tadi pagi aku tidak menyuruhnya melapor setelah memberikan undangan. Terlebih dibumbui dengan kalimat paksaan.

“Apa aku kenal dengannya?” tanyaku lirih seraya menguatkan pegangan pada sendok yang berisi makanan, lalu menyuap dengan gerakan pelan.

Aku mengunyah sambil mendapati tatapan aneh dari ketiganya. Sepertinya aku salah bicara. Memang lebih baik aku mengikuti aksi Kak Yumna, diam saja.

“Astaga Yumna, Nada belum kamu kasih tau?” Alisku bertautan mendengar pernyataan aneh Bunda.

Memangnya aku ingin tau? Sama sekali tidak. Tadi aku hanya sekadar berbasa-basi mengisi kesunyian. Aku tidak ada urusan dengannya, terserah Mahen akan menggandeng siapa. Karena memang sejak awal tidak ada ikatan apa pun di antara kami.

Berteman? Aku rasa kami bukan teman. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang bisa dengan mudah kujadikan teman. Mahen itu aneh, terlebih senyumnya yang saat ini terkesan mengejekku.  

Tanpa pikir panjang aku bangkit. Tidak kuat berlama-lama terjebak dalam situasi yang kurang mengenakkan seperti sekarang. Lagi pula tubuhku juga masih belum seberapa sehat. Aku ingin mengurung diri tanpa berani bersapa dengan kenyataan.

“Nada, yang sopan sama calon suamimu!” Sentakan Bunda menggema ke sudut-sudut ruangan, menembus otakku hingga membuatnya kaku.

Senggolan Kak Yumna membawa kembali kesadaranku. “Calon suami siapa? Mana, Bun?” Tanpa sadar aku menyuarakan kebingungan sembari celingukan di depan pintu mencari keberadaan seseorang yang dimaksud Bunda.

Kejutan apa lagi ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Bunda membahas calon masa depan. Tidak salah? Bukankah harusnya Kak Yumna dulu yang mentas dari kesendirian?

“Duduk sini, Nad. Baru Bunda beri tau.” Aku patuh dengan titah Bunda. Berjalan cepat menempati tempat semula. Sepertinya sentakan Bunda berhasil melenyapkan keluhan di tubuhku. Kini aku sepenuhnya membuka mata dengan lebar dan memasang telinga menunggu penjelasan.

“Nanti malam Mahen dan orang tuanya akan datang meminangmu,” tutur Bunda lirih.

Tanpa sadar alisku bertautan. Bukannya senang, aku justru bertanya-tanya.

“Kamu ditolak gadis itu? Atau orang tuamu tidak setuju?” cercaku menuntut penjelasan Mahen.

Lagi-lagi ia tersenyum mengejek. “Aku bahkan belum berkata secara langsung, tapi sekarang dia sudah terlihat akan menolakku. Benar begitu Nada?”

Aku menggeleng sembarangan. “Ya, mana aku tau. Memangnya siapa yang berani menolakmu?”

Bukan kata-kata yang kuterima, melainkan isyarat dagu. Perasaan hangat mendadak menyelimuti, netraku bergerak acak ke sana kemari. Permainan macam apa ini?

“Dia baik budinya, santun, hangat hatinya. Setiap kata yang ia lontarkan mengandung cahaya-cahaya kehidupan. Nada, persiapkan dirimu nanti malam.”

Tunggu dulu, jadi penyesalan yang aku lakukan selama ini sia-sia? Air mataku juga terbuang percuma? Lantas mengapa tidak ada yang memberitahu? Terlebih Kak Yumna yang justru tega menyaksikan adiknya terjebak dalam kubangan kesakitan semu.

“Makanya Nada, tidak ada salahnya bertanya dulu. Kamu selalu mengamini penilaianmu sendiri yang belum pasti kebenarannya,” ucap Bunda seraya meninggalkan kami menuju dapur.

Aku tersenyum masam. Kekehan Mahen dan Kak Yumna mulai bersahutan. Detik ini aku bertekad tak akan melakukannya lagi. Tak ingin membiarkan keduanya bahagia setelah melihatku menderita dengan kesesatan jalan pikir.

 

Kesesatan yang paling sering menyerang manusia adalah menduga-duga tanpa mau susah payah mencari tau fakta sebenarnya.

*****

Sisi Lain Dunia (Part 1)

146 0

Aku membalut tubuh dengan selimut tebal. Dinginnya udara pagi seakan menahanku beranjak dari ranjang. Pasrah menuruti kata hati, aku memutuskan berselancar di dunia maya.

Berita populer hari ini menarik perhatianku. Bukan isinya yang kubaca, melainkan barisan kata di kolom komentar. Sesekali aku berhenti sejenak untuk sekadar mengisi pasokan udara di paru-paru yang kian menipis.

Kejadian yang menimpa Ayah berdampak besar padaku. Duniaku runtuh. Aku kehilangan segalanya. Bukan hanya kecukupan materi, tetapi juga sosok yang menemani langkahku esok hari.

Sejak awal aku sudah sangat yakin, Ayah tidak mungkin melakukan itu semua. Terbukti, dugaanku tak ada yang meleset.

Benar kata para kritikus. Hukum di negara ini memang timpang. Siapa yang punya uang, dia yang akan berkuasa. Sedangkan sisanya harus patuh terhadap titah para penegak hukum yang tak pernah kenyang dengan suapan lembaran kertas tak bermakna.

Pada akhirnya Ayah tetap menghuni salah satu sel di tempat mengerikan itu. Baru berjalan dua minggu, kabar menyesakkan lain datang menerjang kewarasanku. Ayah pergi menyusul Ibu.

Penderitaanku masih berlanjut. Cibiran yang belum reda kini ditimbun dengan berbagai macam spekulasi. Mereka berdalil kepergian Ayah adalah hukuman langsung dari Sang Pencipta. Wahai manusia suci di luar sana, apakah pantas kalian berbicara seperti itu? Sebesar itukah dosa orang tuaku sehingga kalian tega menghardiknya?

Aku mengusap kasar sisa air mata di pipi. Menggigit bibir bawah dengan keras demi menahan isakan pilu. Dunia ini amat kejam. Hanya karena terlahir dari seorang wanita yang namanya terpampang di mana-mana, membuat semua berita tentangku cepat melejit dalam sekejap mata.

Ibu meninggalkanku setelah terinfeksi virus baru yang mengerikan. Belum kering tanah makam Ibu, muncul pemberitaan tentang penggelapan dana yang melibatkan Ayah. Terang saja, memang Ayah adalah manajer di sana. Namun, semua tuduhan itu terbukti palsu dan belum sempat tersebar luas di media, Ayah mengalami serangan jantung di balik dinginnya jeruji besi. Oh, buruknya nasibku.

Beberapa minggu ini aku bagaikan seonggok daging tak bernyawa. Mencoba menjalani hari sebagai manusia baru di bumi. Bukan sebagai Iliana, bukan pula Lili. Panggil aku Ana.  

“Lili, berapa kali aku bilang? Berhenti mencari nama Ayahmu di media sosial!” Aku dengan cepat menyembunyikan ponsel di bawah bantal, beralih menatap Kirana, gadis cantik yang sukarela menampung gelandangan sepertiku.

Kirana sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja latte dan jas putih yang menyampir sempurna di pergelangan tangannya. Samar-samar aku mencium aroma lavender yang menenangkan. Parfum favorit Kirana.

“Panggil aku Ana, Ki,” balasku mengingatkan.

Kirana berdecak. “Mau Lili atau Ana, sama saja! Kamu tetap Iliana, kawanku sejak embrio.”

Celetukkan seriusnya membuatku ingin menyemburkan tawa. Kirana adalah gadis naif. Aku selalu dibuat keheranan dengan tingkahnya yang tidak kunjung mengenal dunia.

“Kamu sedang melucu, ya?” balasku setelah berhasil menekan pusat tawa.

Kirana menggeleng. “Memangnya lucu?” Ganti aku yang menggeleng.

Dalam hati aku mengutuk wajah konyol Kirana. Gadis ini, astaga. Kapan ia akan berhenti menjadi manusia yang tidak tahu apa-apa?

“Benar. Aku  memang enggak sedang melucu. Aku bicara fakta!” tegasnya.

Dengan cepat aku membuang muka. Serius, siapa pun harus melihat ekspresi Kirana yang satu ini. Dijamin akan sukses memunculkan tanya di kepala. Kirana, kamu memang benar masih polos atau pura-pura?

“Kenapa diam? Kamu enggak ingin mengajakku adu argumen seperti biasanya?” tantangnya sambil memasang wajah jenaka.

Hilang sudah semua penilaian baikku padanya. Aku memutar mata dengan malas. “Konyol! Aku masih waras, ya.”

Suara tawa Kirana meluluhlantakkan kesunyian. “Senang mendengar pernyataan itu langsung dari bibirmu.”

Tidak cukup sampai di situ, gadis tak tau malu itu menyambung tawanya dengan tepuk tangan heboh. Sejujurnya tidak ada yang lucu dan patut ditertawakan di sini. Tidak salah lagi, Kirana memang spesies makhluk langka di bumi.

“Tunggu apalagi? Bukannya kamu ada kelas pagi?”

“Kamu mengusirku?” ucapnya seraya mengerucutkan bibir. Ish, menjijikan. Kelakuannya membuatku ingin muntah.

Aku memicingkan mata. “Ini bahkan masih pagi, tapi kenapa kamu sudah sangat menyebalkan, Kirana?” balasku sengit.

Kirana terkekeh. “Tenangkan dirimu, Lili. Ini masih pagi. Enggak baik terpancing emosi. Baiklah, aku pergi dulu ya...” Kirana menghilang tepat sebelum aku menghujaninya dengan serangan bantal.

Sepeninggal Kirana, kamarku kembali sunyi. Sebelum niatku hilang lagi, aku menyeret paksa tubuh dari ranjang dan mulai merias diri. Ada urusan yang harus aku selesaikan di kampus. Sekadar informasi, aku adalah mahasiswa akhir yang sedang bergelut dengan skripsi.

Tidak ada istilah mengerikan dengan tugas akhir itu. Karena faktanya justru mereka yang patut ditakuti. Manusia bermuka dua atau sebut saja kawan jurusanku. Di depan terlihat mengiba, tetapi di belakang selalu siap menusukku dengan kata-kata tajam. Ya, begitulah dunia. Semuanya tercipta dua sisi. Baik dan buruk, cantik dan jelek, beruntung dan sial, dan pasangan-pasangan lain yang memenuhi tiap inci dunia.

“Lama sekali! Aku kira kamu masih asyik berselancar di alam mimpi!” ucap Lusi ketus. Ia sangat berbeda dengan Kirana. Jika Kirana si pendiam, maka Lusi adalah hiburan berjalan. Ia tidak pernah membiarkanku diam barang sedetik pun.

Entahlah, aku juga tidak tau darimana gadis itu mendapatkan topik pembicaraan. Semua tampak mengalir begitu saja.

Sebelum melesat pergi, aku menerima uluran helm dari Lusi. Mengenakannya lantas naik ke boncengan motor. Bukan karena manja, aku memang tak bisa mengendarainya. Dulu, aku selalu ditemani kendaraan roda empat. Hingga saat semuanya diambil paksa, aku tak punya apa-apa.

Beruntunglah di dunia ini masih ada manusia baik. Mereka mengasihiku tanpa pamrih, menghiburku tak kenal waktu, dan memberiku semuanya tanpa mengharap secuil balasan. Bukannya merasa lega, aku justru menganggap diriku sebagai beban. Aku tidak bisa terus-terusan bergantung pada kebaikan mereka. Entah kapan, yang jelas hari itu pasti akan tiba. Aku pergi mencari jalan hidup sendiri.

“Jadi gimana, An?”

Aku gelagapan. Salahku juga melamun, membiarkan Lusi berbicara seorang diri.

“Kamu dengar ceritaku enggak?” tanyanya lagi setengah berteriak.

Bagaimana tidak, kami berada di tengah jalan dengan lalu lintas yang padat. Suara bising kendaraan tak terelakkan.

“Enggak terdengar, Lu. Dilanjut nanti saja,” pintaku.

Tidak lucu bukan kalau kami saling berteriak. Mirip seperti pasangan yang sedang bertengkar.

Bicara soal bertengkar, mendadak aku teringat perseteruan aneh Kirana dan Lusi. Saat itu aku yang masih diliputi duka tak mengizinkan siapa pun memasuki kamar. Aku juga tidak keluar dari ruangan pengap itu. Berhari-hari mengurung diri dalam kesedihan. Hingga suatu hari keributan kecil mengusik ketenangan.

Kirana dan Lusi bertengkar. Tak tau pasti apa penyebabnya, yang kudapati mereka saling berteriak. Begitu aku menyembulkan kepala, keduanya sontak berhenti. Berganti menyambut riang seolah aku wasit yang baru saja menentukan sang juara. Ternyata keributan itu hanya sandiwara. Mereka sengaja melakukannya untuk memancingku keluar.

Detik itu juga aku ingin mengirim keduanya ke planet lain. Dasar, kalian berdua sama-sama aneh!

*****

Sisi Lain Dunia (Part 2)

66 0

Waktu berlalu begitu lambat. Sejak tadi netraku sibuk mengamati keadaan sekitar. Perasaan was-was tak bisa kututupi. Aku takut mereka mengenali.

Sebelum berita itu mencuat, aku adalah gadis populer yang dipuja-puja. Bukan hanya soal penampilan, kecerdasanku pun ikut menjadi sorotan. Mereka menyebutku gadis impian. Setidaknya aku pernah merasakan dijunjung tinggi sebelum akhirnya dihempaskan dengan keras dan dibuang begitu saja bak sampah masyarakat.

Aku membenarkan lagi letak jilbab yang tertiup angin. Pemberian Kirana tidak pernah main-main. Saat memutuskan untuk berhijrah, gadis itu tanpa pikir panjang menyeretku ke butik langganannya. Menyuruhku memilih semua pakaian model terbaru, sedangkan ia tenggelam dalam benda segiempat berlayar datar. Aku malas bertanya karena pasti jawaban itu yang lagi-lagi terlontar.

“Biasa, pasienku rindu ingin diperiksa.”

Pantas saja sampai sekarang belum ada yang meliriknya. Selera humor Kirana memang payah.

“Kamu juga konsultasi hari ini?” Aku tersentak dari lamunan. Suara lembut yang cukup asing menyapa pendengaran, bahkan ia kini dengan santai menempati kekosongan di sampingku.

“Maaf, apa kita saling mengenal?” tanyaku hati-hati.

Bukannya langsung menjawab, lelaki itu justru menimpaliku dengan pertanyaan lain. “Kamu Iliana kan?”

Netraku membulat. Dia mengenaliku? Penyamaranku gagal? Bisikan-bisikan halus mulai terdengar. Menyuruhku untuk segera menyingkir sebelum terlambat.

“Kamu berubah,” Celetukannya membuatku mengurungkan niat untuk pergi. Beralih menatap kembali lelaki itu.

“Maaf, aku serius, apa kita saling kenal?”

Ia menatapku dalam. “Kenapa kamu selalu mengucap kata maaf? Memangnya kamu habis berbuat salah padaku?” Tawanya yang sumbang terdengar merdu.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali seraya bertanya pada diri. Dia siapa sebenarnya?

“Kalau kamu masih ingat, nama kita pernah bersanding diurutan atas pencarian,” jawabnya santai sambil menyematkan senyum yang mencurigakan.

Aku diam sejenak untuk memutar ingatan. Urutan atas pencarian? Bukankah itu artinya dia populer.

Aku kembali menatapanya, sementara ia asik menaik turunkan alis. Terlihat seperti sedang menungguku memutar memori.

Lelaki yang pernah bersanding diurutan atas- Tunggu! aku sepertinya tau. Lelaki jurusan ini yang popularitasnya tercium di mana-mana. Ah, iya tidak salah lagi.

“Dimas Pradipta?”

“Ish! Jangan keras-keras! Ada banyak mata-mata di sini.” Ia celingukan mengamati beberapa mahasiswa di sekitar kami. Ada yang menatap penasaran, ada yang terang-terangan risi dengan pekikanku, sedangkan sisanya terlihat tak peduli.

Lucu. Mengapa terlihat seperti ia yang sedang menyamar?

“Jangan tertawa! Aku serius.”

Aku refleks merengut. Apa salahnya aku tertawa?

“Kamu jadi buronan sekarang,” bisiknya masih mengamati sekeliling.

Aku mendesah lelah. Sebenarnya tanpa perlu diperjelas aku sudah tau, mereka gencar mencari keberadaanku. Tidak hanya melemahkan, mereka juga akan membunuhku.

Nasib menjadi mahasiswa populer. Selain banyak yang memuja, para pembenciku juga tak bisa dipandang remeh. Kesalahan kecil bisa menjadi serius di mata mereka. Lalu mana yang katanya manusia harus saling toleransi?

“Aku duluan, ya. Kamu enggak apa-apa kan menunggu sendiri?” tanyanya saat akan beranjak memasuki ruang dosen. Aku membalas dengan anggukan ragu.

Mentalku tak sekuat itu. Semua manusia terlahir dengan membawa kepercayaan diri, tetapi sepertinya aku dulu absen sewaktu pembagian. Sehingga milikku tak sepenuh manusia normal pada umumnya.

Saat badai kecil menghantam, aku mudah terpuruk dan sulit untuk bangkit kembali. Memang benar manusia tidak ada yang sempurna. Semua diciptakan dengan porsi yang sama, ada kelebihan dan kekurangan.

Aku juga mudah merasa cemas saat terjebak dalam keramaian. Sehingga hal itu yang memelopori kegemaranku mengurung diri di kamar. Meski begitu, aku bersyukur karena tumbuh sebagai seorang ekstrover. Aku mudah akrab dengan orang baru, banyak memunculkan ide yang luar biasa, dan yang paling unik, pikiranku bisa dengan cepat melukiskan imajinasi.

“Ternyata kamu di sini pecundang! Aku kira kamu sudah pergi menyusul orang tuamu.” Gigi-gigiku bergemeletuk.

Kacau sudah niatanku pergi dengan tenang, padahal sepanjang lorong yang kulalui tadi semua orang tampak acuh. Namun, ternyata mereka lebih cerdik dengan menghadangku di ujung jalan. Benar kata Dimas, di sekitar kami banyak mata-mata. Pasti mereka tadi juga sempat menyaksikanku bercakap ria dengannya.

“Apa mau kalian?” tanyaku tak gentar.

Tawa sinis mulai terdengar. Lamat-lamat kurapalkan doa, semoga keributan ini tidak sampai menyebar ke seluruh penjuru kampus. Sebab kalau sampai itu terjadi, sudah pasti aku tak akan menampakkan diri lagi di tempat ini. Aku tak bernyali.

“Ayolah, jangan pura-pura bodoh! Kamu pasti tau kemauan penghuni kampus ini.”

Aku mengeryit kebingungan. Memangnya aku peramal yang bisa langsung tau hanya dengan menerawang?

“Enggak sadar juga akibat dari perbuatan kotor Ayahmu? Hebat! Kamu masih bisa bernafas lega selagi orang tua kami pontang-panting mencari cara supaya enggak kena PHK.”

Hatiku serasa di pecut. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencoba menormalkan deru napas. Pikiranku berkabut. Sekelebat bayangan tuduhan menghakimiku. Tanganku mulai terasa dingin selaras dengan getaran di tubuh yang tak bisa kukendalikan.

“Ups! Baru ingat, kamu sekarang kan miskin. Hidup menumpang di rumah orang, makan dikasih gratis. Dasar merepotkan!”

Aku tak bisa membalas ucapan sadis mereka. Memang benar aku tak punya apa-apa. Aku hanya bisa merepotkan.

“Kenapa enggak sekalian saja kamu enyah dari dunia? Enggak jadi beban lagi dan yang paling penting enggak buat malu kampus kita.”

Pandanganku menggelap. Kepalaku berdenyut hebat menahan lonjakan emosi dari dalam dada. Aku berlari tak tau arah. Kakiku tidak bisa dikendalikan. Napasku makin memburu. Ucapan mereka terngiang di setiap langkah.

“BERHENTI DI SANA, LILI! KAMU HANYA TERBAWA EMOSI!” Ajaib, kakiku patuh dengan suara lembut itu.

Aku berbalik menatapnya yang kini sedang berjalan cepat ke arahku.

“Aku enggak butuh bujukan! Aku memang hanya bisa jadi beban.” Tanpa sadar aku menyuarakan bisikan-bisikan lirih yang sejak tadi menggema di telinga.

“Bukan seperti itu caranya menyelesaikan masalah! Kumohon diam di situ! Kita bicarakan baik-baik semuanya!”

Aku menggeleng tegas. Tidak ada yang ingin kubicarakan lagi. Semua sudah jelas. Makin cepat aku pergi, makin berkurang manusia menyusahkan di dunia ini.

Langkahku terhalang pagar pembatas. Entah sekadar ilusi atau memang nyata, aku melihat Ayah dan Ibu di bawah sana. Perasaanku membuncah. Sebentar lagi aku akan berkumpul bersama mereka. Tunggu aku, Ayah, Ibu.

Mataku terpejam rapat. Tubuhku kini melayang. Telingaku berdengung hebat. Namun, terpaan angin mendadak tak bisa kurasakan lagi sebab mendadak ada kehangatan yang melingkupi.

Bodoh! Mengapa kamu ikut terjun bersamaku?

Sepersekian detik cahaya yang amat menyilaukan menyambutku. Inikah jalan yang di lewati Ayah dan Ibu? Mengapa terang sekali? Di mana kalian? Lalu di mana manusia bodoh itu?

Tepukan keras yang mendarat di bahuku membuat semuanya menjadi gelap. Aku seperti tertarik ke dalam lorong waktu. Berputar, berputar, dan suara kecemasan itu menarik paksa kesadaranku.

“Lili... Lili...” Dengan berat aku mencoba membuka mata. Wajah khawatir Kirana yang pertama kali menyapa.

“Kamu mimpi apa?” Aku terpaku.

Netraku mengedar kesekeliling ruangan sambil melayangkan tatapan heran pada keduanya. Jadi tadi hanya mimpi? Aku masih hidup?

“Mana lelaki bodoh itu?” ucapku tanpa sadar saat tak kunjung menjumpai sosok lelaki bermuka serius itu. Bukannya menjawab, Kirana dan Lusi justru tertawa.

“Astaga... Kemarin kamu panggil dia bocah ingusan, sekarang lelaki bodoh. Sebenarnya kalian berdua ada masalah apa?” tanya Kirana masih dengan tawa yang makin membahana.

“Kamu terlalu serius mendalami naskah, Li. Setelah ini ajak Dimasmu berlibur sana!”

Aku ikut tertawa. Merasa lucu dengan perintah Lusi, sekaligus menertawakan keanehanku sendiri. Ternyata aku hanya bermimpi menjelajah sisi lain dunia.

Kalau dipikir-pikir, mana mungkin aku nekat pergi sekonyol itu. Hidup ini terlalu berharga. Ya, meski kadang kejam, tetapi bukankah aku lebih kejam kalau tega pergi tanpa sepatah kata? Bunuh diri bukanlah solusi, karena justru akan menimbulkan masalah baru di alam yang abadi.

Ibu, Ayah, Kirana, Lusi, Dimas, dan semuanya, terima kasih sudah hadir menemani kesendirianku di dunia.

 

Meski kadang terasa begitu kejam, tetapi hidup terlalu berharga untuk diakhiri dengan bunuh diri. Sebab, hal itu justru bukan solusi, melainkan akan menimbulkan masalah baru di alam yang abadi.

*****

Jejak Sendiri (Part 1)

69 0

Wisuda, istilah lain dari prosesi pelepasan resmi yang selalu sukses memunculkan debaran dalam dada. Bukan sebab aku sedang menjalaninya, melainkan pertanyaan teroris dari manusia di sekitarku yang membuat istilah itu terdengar cukup mengerikan.

Mereka kerap mengaitkanku dengan dua gadis bernasib mujur. Siapa lagi kalau bukan Kirana dan Lili. Aku benci dibanding-bandingkan. Namun, tak bisa dipungkiri ada andilku di dalamnya. Saat ini aku sedang menidurkan hati. Revisi berulang penyebabnya.

Apa aku sebodoh itu?

Hilangkan bayangan dosen pembimbing yang jahat dan tak segan menyemburkan api amarah pada mahasiswa. Nyatanya wanita paruh baya yang kerap disapa Bu Tita itu tak kurang kebaikannya. Ya, aku saja yang memang tidak pandai menyusun tugas akhir.

Di depan sana Kirana terlihat melambaikan tangan pada kami. Binar kebahagiaan terlukis jelas dari sorot netranya. Polesan natural makin menambah kesan cantik yang sudah melekat erat dengannya. Kirana melenggang anggun menyusuri barisan mahasiswa lain yang juga tengah bersuka cita. Sesekali ia dihadang oleh kawannya yang ingin sekadar mengucapkan sepatah dua patah kalimat bahagia.

Pagiku yang damai berubah kacau berkat ulah Lili. Ia memaksaku ikut menyiapkan perayaan kelulusan untuk Kirana. Sebelumnya kami sudah sepakat menuruti keinginan Kirana. Namun, Lili telanjur heboh dengan buah idenya sehingga tidak mengubris peringatanku. Setelah ini aku tidak menjamin senyum memesona Kirana akan bertahan lama. Gadis berkacamata itu berkali-kali mengatakan anti dengan kemeriahan, tetapi nyatanya ia tidak bisa mengelak dari kemeriahan di hidupnya. Oh, malangnya Kirana.

Akhir-akhir ini ada perasaan asing yang menyusupi diriku. Ia kerap mengganggu pikiran, bahkan beberapa kali berhasil memengaruhi suasana hati. Kusebut perasaan itu sebuah kecemburuan. Aku belum pernah menjumpai sebelumnya, meskipun kami sudah berkawan sekian lama. Kirana, gadis multitalenta sekaligus calon dokter gigi. Lili, si social butterfly yang sukses berkarir di dunia perfilman. Lalu aku, tak lebih hanya seorang pecundang yang baru mengenal dunia.

Tidak banyak yang bisa kubanggakan selain suara merdu yang tak seberapa. Perhargaan dan kemenangan adalah suatu hal yang sangat asing bagiku. Namun, anehnya aku selalu sukses membius mereka.

Awal bulan lalu aku membuat keputusan yang besar dalam hidup, menyumbangkan kemampuanku di salah satu tempat les vokal. Voila, aku menjadi tutor di sana.

Berjumpa dengan mereka adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Manusia kecil yang baru akan menyapa dunia. Suara cadel, tingkah imut, langkah pendek, jemari lembut, menjadi satu kebahagiaan tersendiri untukku. Senyum lebar mereka menyegarkan hati. Hingga tanpa sadar aku kerap menjadikan mereka sebagai pelipur lara.

“Mbak Lili... Mbak Lili... Ada telepon dari Mas Dimas.” Haikal datang tergopoh-gopoh menghampiri kami. Benar saja, suara hebohnya sontak mengundang perhatian beberapa pasang mata di sekitar kami. Bocah satu ini sudah diberi tau berkali-kali masih saja lupa.

Meski terdengar aneh, tetapi Lili benar tidak suka menjadi pusat perhatian. Ia selalu mencoba mengelak dari tatapan antusias penggemarnya. Gadis itu dengan sadar mengatakan dirinya hebat hanya di depan kamera dan selebihnya merasa lemah di hadapan langsung ribuan pasang mata.

“Kenapa lagi?” sungut Lili sambil melebarkan netra. Mengisyaratkan kalau lelaki itu baru saja melakukan kesalahan.

Haikal mendekap erat ponselnya yang masih terhubung dengan seseorang di seberang sana. Menyempatkan melihat sekeliling terlebih dahulu sebelum akhirnya dengan ragu mengulurkan pada Lili. Aku mencermati perubahan raut mukanya. Kecemasan lenyap digantikan pias.

Sepertinya Lili sedang butuh privasi, terbukti kini ia berlari kecil menuju kendaraan roda empat yang terparkir tak jauh dari kami. Mengurung dirinya di sana, mengabaikan keberadaanku dan Haikal yang masih menunggu perintah selanjutnya.

Aku mendesah lelah lantas menatap Haikal yang masih mematung. “Dimas kenapa, Kal?” tanyaku penasaran.

Sorot netra jernihnya beradu dengan milikku. “Mbak Lili lupa pamit, Lu,” jawabnya sambil mengacak rambut bagian depan lalu tersenyum lembut.

Aku berdecih. Ada apa dengan lelaki satu ini? Jangan bilang ia sedang mencari perhatianku lagi.

Jangan terkejut, sudah menjadi rahasia umum, Haikal memang kerap bersikap seperti itu padaku. Tidak mau memanggilku dengan embel-embel sopan, nekat menawari tumpangan, dan sikap berlebihan lainnya yang membuatku mual. Semua itu bukan tanpa alasan. Diam-diam aku mencari tau kebenarannya pada Lili.

Walaupun aku bukan berasal dari keluarga yang religius, tetapi aku tipikal yang susah menerima perasaan lebih dari lawan jenis. Aku membuat batasan sendiri. Seperti tidak berpacaran, tidak berduaan, tidak berbalas pesan dalam jangka waktu yang lama, dan kemanisan lain yang bisa memunculkan aroma perasaan. Alih-alih menjalin hubungan tanpa kepastian, aku lebih memilih langsung mencari seseorang yang bisa kuajak serius membangun masa depan.

Namun, bayangan indah itu kusimpan untuk nanti. Sekarang aku masih tak punya bekal. Tak ada yang bisa kubanggakan pada keluarga pasangan dan yang terpenting aku harus mentas dulu dari perskripsian.

“Lili mana, Lu?” Kirana datang dengan bawaan penuh di tangannya. Semerbak aroma bunga menyapa indera penghiduku.

Benar bukan kataku, Kirana tidak bisa mengelak kemeriahan yang melekat di hidupnya. Jangan heran, gadis itu memang terlahir dengan sendok emas.

“Ada urusan sama Dimas,” jawabku sambil menunjuk mobil Lili dengan dagu.

“Lalu kenapa kamu masih di sini?” Bukan padaku, Kirana tengah menatap heran Haikal yang masih mematung di sampingku.

Lelaki itu meringis. “Jaga Lusi, Mbak,” balas Haikal tanpa dosa.

Memangnya aku anak kecil apa? Ia saja yang tidak tau kalau aku sebenarnya gemar berkelana seorang diri. Buah dari kebiasaan itu aku menjadi hafal tiap sudut kota. Bukan hanya jalanan, aku juga tau beberapa tempat yang asyik untuk membunuh waktu seorang diri.

Kirana menangkap sinyal dariku. “Kamu digaji buat jaga Lili, bukan Lusi. Sana balik temani Lili di mobil! Lusi biar sama aku,” tegasnya sambil menghunuskan tatapan tak suka pada Haikal.

Kata terima kasih sepertinya tidak cukup untuk Kirana, sebab aku banyak berhutang budi padanya. Kirana tidak pernah luput dengan hal-hal kecil. Seperti menemaniku begadang mengerjakan skripsi, menjawab kepanikanku saat berkonsultasi hingga memberi saran makanan untuk melenyapkan kejenuhan hati.

Dari banyak hal baik yang ia lakukan, ada satu yang sangat aku tak suka. Sudah berkali-kali aku sampaikan, tetapi Kirana bersikukuh tidak bisa menahan diri memenuhi semua keinginanku. Setiap aku mengatakan ingin sesuatu, dalam sekejap mata keinginanku sudah berwujud nyata. Berkali-kali seperti itu.

Namanya juga keinginan, tentu saja banyak. Namun, tidak semua keinginanku realistis dan terucap dari hati. Ada yang hanya sekadar bualan semata, ada yang memang kudambakan dari lama, dan Kirana tidak memerdulikan itu semua. Ia menganggap sebagai tanda terima kasih karena aku sudah rela menemani harinya di dunia.

Tidakkah terdengar aneh? Harusnya aku yang mengucapkan hal itu pada Kirana. Aku sudah diberi semuanya, tetapi masih saja merasa iri dengan mereka. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini?

*****

Jejak Sendiri (Part 2)

78 0

Aku baru saja turun dari kendaraan roda dua yang kupesan lewat aplikasi online. Beberapa hari kedepan aku absen berduaan dengan roda dua milikku. Pagi tadi ia merajuk saat kuajak berangkat menuju rumah Lili. Tak tau pasti sebelah mana yang ia keluhkan. Akhirnya kuputuskan menyeretnya ke bengkel tak jauh dari rumah.

Benar saja, ia divonis menderita penyakit mengerikan dan harus rawat inap beberapa hari. Karena tak mau kejadian itu terulang lagi, aku pasrah menyerahkan semuanya pada yang lebih ahli.

Aku mendorong pagar rumah perlahan. Decitan peraduan besi memecah kesunyian malam. Sebenarnya belum terlalu larut, tetapi kompleks rumahku sudah begitu senyap dan gelap.  Kalau saja tidak ada suara serangga malam, mungkin orang lain akan mengira kompleks ini bagaikan hunian terbengkalai. Agak seram menceritakannya mengingat aku anti dengan perhororan.

Lalu apa tidak ada lampu jalan? Tentu saja ada, tetapi malfungsi.

Dari dulu aku juga heran dengan tetangga di sekitar rumah. Apa mereka memang serentak tidur di jam delapan malam? Atau hanya sekadar mematikan lampu, lalu berkubang dengan tontonan film di dalam? Bayangkan, ada sekitar dua puluh atap dan dari semua itu hanya satu yang kini masih terlihat terang benderang. Tentu siapa lagi, rumahku.

Kami akan benar-benar memadamkan lampu ketika sudah akan terlelap dan aku bukan tipikal yang menyia-nyiakan malam dengan tidur begitu saja. Hingga tak jarang aku kesusahan memejamkan mata karena terlalu larut merebahkan tubuh di ranjang.

“Ayah dan Mama baru aja keluar.” Sebuah suara menjawab kegundahanku. Pantas saja pintu utama tidak bisa dibuka. Sewaktu berteriak mengucap salam juga tidak kunjung ada jawaban.

“Ke mana?” tanyaku setelah dengan sempurna menangkap bayangan sosoknya.

“Bukannya kamu putrinya? Kenapa tanya aku?”

Dasar menyebalkan! Bilang tidak tau saja apa susahnya? Pakai acara sindir-menyindir segala. Aku menyesal bertanya. Ia tidak membantu sama sekali.

“Kamu lucu kalau cemberut,” balasnya sambil terkekeh.

Aku mendengus tak suka. “Yuki...”

Ia berjalan mendekat. Wajahnya yang terpantul cahaya rembulan kini terlihat makin jelas. Lelaki itu teman masa kecilku, Yuki.

Apa aku sebelumnya pernah mengatakan alergi dengan lawan jenis? Kurasa tidak. Sebab lelaki satu ini menjadi alasanku mematahkan dugaan tersebut. Aku memang selalu membuat jarak dengan mereka, terutama yang terang-terangan memiliki perasaan lebih padaku, tetapi tidak sampai benar-benar membenci. Aku masih normal dan semua batasan yang kubuat tak ada yang mempan pada Yuki. Sebut saja ia kebal.

“Ke mana aja seharian? Berangkat pagi pulang larut, enggak baik seperti itu, Lu.” Aku memutar mata malas. Aku lupa mengenalkannya pada dunia, selain Ayah dan Mama, Yuki juga masuk daftar manusia yang gemar menceramahiku.

Dulu ia tidak seperti itu. Semua berubah semenjak kepulangannya dari Amerika tiga bulan yang lalu. Ia sering berkunjung ke rumah. Jangan salah, bukan untuk mencariku, melainkan membuntuti ke mana pun Ayah pergi. Sampai suatu hari aku iri dengannya. Bisa-bisanya Ayah lebih tau tentang Yuki dibanding anaknya sendiri.

“Aku sudah izin sama Ayah,” balasku mematahkan pikiran buruknya.

“Mau menunggu di sini atau ke depan kompleks membeli kesukaanmu?” Aku berdecak mendengar tawaran Yuki.

Mengapa orang-orang gemar memojokkanku? Sudah pasti aku tidak bisa menolak sesuatu yang kusukai.

“Kita adu lari, yang lebih dulu sampai dapat traktiran!” pekikku kegirangan seraya melakukan ancang-ancang. Sepertinya tidak terlalu buruk berlarian di malam hari. Lumayan, hitung-hitung pelemasan otot sebelum berkelana ke alam mimpi.

“Aku lebih memilih opsi berjalan santai sambil bertukar cerita. Gimana?” Tanpa perlu rangkaian kata, ia sudah tau jawabanku.

Beberapa detik berlalu diisi dengan kesunyian. Kikuk rasanya. Entah mengapa kami tiba-tiba terjerat kecanggungan seperti sekarang.

“Aku dengar kamu masih berkutat menyelesaikan skripsi, sejauh ini apa ada kesulitan?” tanya Yuki ragu.

Manusia genius macam Yuki mana tau kendala perskripsian mahasiswa jelata. Mungkin ia akan tertawa mendengar keluhan konyol yang tak seharusnya.

“Oke-oke, aku enggak tanya lagi. Enggak masalah kalau malu berbagi,” balasnya diiringi tawa sumbang.

Entah mengapa aku ikut tertawa. “Iya, aku malu dengan kegeniusanmu.”

Melanjutkan sekolah di negara orang bukanlah sesuatu yang bisa di pandang remeh. Meski faktanya Yuki berasal dari keluarga yang berkecukupan, tetapi kepergiannya murni dengan beasiswa. Kecerdasan lelaki itu sudah terlihat sejak dibangku SD, sehingga aku tak heran lagi kalau ia sampai mendapatkan kebangaan semacam itu seiring bertambahnya tuntutan pendidikan.

“Malu sama iri beda tipis, Lu,” sindirnya halus.

Aku mendadak terdiam. Tunggu, jangan bilang Yuki bisa membaca pikiran. Apa mungkin ia juga mendalami ilmu semacam itu di Amerika?

Yuki terkekeh setelah menangkap jelas kecurigaanku. “Aku membaca dari sorot matamu. Aku memang enggak tau yang terjadi, tapi Mama sering mengaitkanmu dengan Kirana dan Lili.”

Bahuku merosot. Baru sadar selama ini aku dikelilingi manusia hebat. Sayangnya, kehebatan mereka tidak menular padaku. Aku tetap seperti ini sejak dulu. Jalan di tempat, tidak ada perubahan yang berarti dalam hidup. Awalan yang kulakukan sering berakhir dengan kegagalan. Tak dipungkiri hal itu melemahkan mental.

“Aku sering merasa iri dengan pencapaian orang. Setiap mau mengikuti jejaknya, di tengah jalan pasti hujan deras turun. Aku gagal,” keluhku seraya menatap lurus jalanan temaram di depan kami.

“Lalu kenapa enggak coba buat jejak sendiri?”

Aku menggeleng lemah. “Pemberhentian mana yang harus aku tuju? Kamu jelas tau aku mudah hilang arah.”

Yuki menghela napas keras. Aku tau ia lelah berbicara denganku. Serba salah.

“Bukan enggak ada, kamu saja yang belum menemukan.” Secepat kilat aku menoleh padanya. Lelaki ini berubah sangat drastis. Dari yang mulanya selalu bergantung padaku, sekarang justru aku yang terlihat bergantung padanya. Aku menanti bantuan.

“Caranya?” tanyaku serius.

Ia menoleh padaku, menyalurkan kilatan kepercayaan diri dari balik sorot matanya.

“Pertama selesaikan skripsimu dulu yang sudah mengendap lama. Baru kubantu membuat jejak lain,” ucapnya penuh keyakinan.

Aku merenung. Benar juga. Aku sudah lama terjebak dalam kubangan tugas akhir. Butuh sedikit dorongan lagi sampai cahaya baru tampak di depan mata. Mengapa baru sekarang aku berbagi cerita dengannya?

“Yah, Bapaknya enggak jualan. Kalau gitu sia-sia aku menemani kamu jalan ke sini,” desahnya sarat akan penyesalan. Kubalas dengan kekehan mengejek. Kapan lagi menyaksikan manusia jenius menyesal. Bukankah ini termasuk sesuatu yang langka dan patut diabadikan?

“Jadi kapan rencanamu menyelesaikan skripsi?”

Aku menghentikan tawa, beralih menatapnya serius. “Kenapa? Kamu sudah terpikirkan cara?”

Bukannya langsung menjawab, Yuki justru menerawang jauh memandang langit malam.

“Kamu berubah pikiran membantuku, ya?” cicitku setelah tak kunjung mendapat jawaban.

Yuki menghentikan aksinya. Beralih menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Berulangkali sampai aku merasa bosan.

“Aku ingin buat jejak juga,” balasnya lirih.

Aku mulai terpikir, apa aku menghalangi jalannya?

“Bukan seperti itu. Aku hanya ingin menanyakan persetujuan Ayah, apa aku diizinkan melamar anak gadisnya sebelum wisuda?”

Langkahku terhenti. Akalku menolak untuk diajak kerja sama. Netraku menatap kosong punggungnya yang kian menjauh. Dalam hati aku menyumpahi kelakukan jahat Yuki. Bagaimana mungkin ia bisa setenang itu setelah sebelumnya menyengat perasaanku dengan ribuan volt harapan?

Tiba-tiba ia ikut menghentikan langkah. Mungkin merasa aneh sebab aku tak ada di sampingnya. Sepersekian detik tubuhnya berputar menatapku dengan binar yang tak bisa kujelaskan.

Senyum lembutnya terpatri seiring dengan lantunan ajakan yang lagi-lagi mengacaukan hati.

“Lusi, mari menciptakan jejak sendiri dan buat mereka iri.”

*****

Pencari Berlian (Part 1)

41 0

Sedetik lalu aku baru saja menghentikan laju kendaraan roda empat di parkiran basement. Tak serta merta langsung menapaki lantai kecokelatan ruangan luas itu, butuh waktu beberapa saat untukku menormalkan pernafasan lebih dulu.

Seperti biasa, Senin pagi tak pernah lengang sepanjang jalan yang kulewati. Dulu, saat pertama kali berkendara seorang diri, sempat terbesit satu pertanyaan yang menggelitik, inikah yang mereka maksud hari Senin membosankan? Jika benar, maka aku menyetujui cuitan aneh itu.

Aku menghela napas pelan. Tak ada habisnya bahasan seputar hari Senin. Sebelum mulai melenggang bak model profesional, aku menarik kasar snelli yang tergantung sempurna di balik jok kemudi. Tak lupa meraih serta shoulder bag kecintaanku.

Meski satu tahun berlalu sejak selesai bergelut dengan pendidikan yang menguras kesabaran dan menguji mental, kebiasaanku semasa kuliah ternyata tak ada yang berubah. Aku masih gemar menyampirkan jas putih itu di sandaran jok. Mengenakan tunik yang panjangnya melebihi lutut, lalu memadukannya dengan rok span, dan menyempurnakan penampilanku dengan jilbab panjang.

Hidupku juga tak banyak berubah. Ya, kecuali tuntutan profesi yang mengharuskan aku berdinas di salah satu rumah sakit ternama. Semua damai dan menyenangkan sebelum rentetat tuntutan menghantui di setiap langkah.

Aku malu mengatakannya. Namun, kupikir hampir semua kalangan muda yang terbius dengan kenikmatan dunia pasti pernah berada di posisiku. Saat kesendirian seolah sudah menyatu dengan jiwa, maka berpasangan adalah hal yang tak pernah lagi menyusupi kalbu. Keinginan untuk berdua, bertiga, atau sebut saja berkeluarga, lenyap entah ke mana.

“Jangan kebanyakan berpikir, Rana! Bukannya lelaki kemarin sudah sesuai sama kriteria Bunda?” Aku mendengus begitu suara putus asa Lili kembali terngiang.

Tidak hanya itu, ceramah Bunda yang menjelma bak dongeng sebelum tidur, akhir-akhir ini gemar mengusik konsentrasiku. Benar, aku seperti mengulang zaman Siti Nurbaya. Terjebak dalam perjodohan.

Tolong, jangan tertawa. Aku memang telanjur cinta pada kesendirian. Bunda sejak lama menginginkan generasi penerus, tanpa tendeng aling menyuruhku mencari calon suami.

Demi apapun, aku yang jomblo dari lahir ini tidak tahu harus mencari di mana. Aku buta arah. Hingga akhirnya meminta pencerahan pada dua kawan sepermainanku yang kini sudah membangun rumah tangga masing-masing. Usulan mereka aku terima dengan berat hati.

Aku menjalani ta’aruf beberapa kali. Hasilnya? Oh, jangan tanya. Bukan aku yang pilih-pilih, tetapi mereka yang memandangku sebelah mata. Alasan pendidikan dibuat untuk menghentikan langkahku. Ya, aku gagal untuk kesekian kalinya.

“Pagi, Dokter Rana.” Senyumku yang detik sebelumnya terpenjara dalam gua, kini terbit tanpa bisa kucegah. Membalas sapaan ramah Adelia, perawat yang baru sekian bulan ini menjadi rekan kerjaku.

“Pasien anak yang kapan hari datang lagi, Dok. Sekarang ganti diantar Neneknya,” tutur Adelia seraya merapikan gown yang ia kenakan.

Sebelum celingukan mencari keberadaan pasien yang di maksud, aku sempat mengamati setelan baju jaga yang dikenakan wanita mungil itu. Warnanya sangat memanjakan mata, dusty pink. Entah siapa yang ikut andil dalam penentuannya, yang jelas aku sangat menyukai baju cerah itu. Ruangan praktikku yang tak ubahnya bak ruang hampa bercat putih, menjadi lebih berwana saat Adelia dan perawat lain berkeliaran di sana.

“Gimana? Masih rewel seperti sebelumnya?” tanyaku was-was.

Adelia terlihat berpikir sebelum membalasku dengan ragu. “Mmm... Sepertinya sudah aman terkendali, Dok.”

Aku terkekeh. Ia jelas paham aku tak pandai merayu anak kecil. Meskipun ada beberapa yang berhasil aku bujuk setelah sebelumnya mengalami serangan kecemasan, tetapi tetap saja aku belum bisa sepenuhnya berdamai dengan makhluk mungil itu.

Entah ini semacam sindrom atau kelainan, aku akan merasa panik saat mendegar tangis pilu mereka. Ada sesuatu dalam diri yang sulit kugambarkan dengan kata-kata. Benar atau salah, aku mengartikannya sebagai rasa iba.

Aku yang waktu itu belum mengenal pahit manisnya dunia, dengan polos membagi cerita itu pada Bunda, dan solusi tak terduga mendobrak kewarasan. Aku mual setiap mengingatnya.

“Putranya sudah umur berapa, Dok?” Aku terhenyak mendengar celetukan wanita paruh baya dihadapanku.

Jangan khawatir. Aku sudah sering mendapat pertanyaan semacam itu. Selaras dengan benakku yang tak pernah lelah bertanya. Sebenarnya ada apa dengan mereka, apa aku terlihat seperti ibu muda yang tengah membantu suami mencari nafkah? Atau aku mirip ibu-ibu yang cemas karena meninggalkan anaknya demi mencari sesuap nasi?

“Saya masih sendiri, Bu,” balasku canggung seraya melanjutkan menulis resep. Setengah berharap wanita itu menyadari ketidaknyamananku.

“Saya doakan semoga cepat dipertemukan dengan jodohnya, ya, Dok.”

Aku menelan ludah dengan kasar. Seperti ada batu yang mengganjal di tenggorokan. Ingin kuamini, tetapi akalku lebih cepat menemukan jawaban lain yang lebih realistis.

Kepercayaan diriku tersapu angin Muson Barat. Luruh bersamaan dengan rintik air langit. Mengalir hingga mencapai samudra dan berbaur dengan kumpulan air semesta. Lenyap.

Untung saja hari ini tempatku tak banyak kedatangan pasien. Sehingga aku tidak begitu panik saat manusia tak tahu diri mengacaukan kedamaian hari. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Lili. Wanita yang dengan bangga memperkenalkan diri sebagai tangan kanan Bunda.

Aku mendengus. Apa hebatnya julukan itu?

“Siang ini kamu wajib ikut aku!” tegasnya tanpa bantahan.

Namun, bukan aku kalau tidak pandai mencari alasan. “Aku mau menyelesaikan tesis, Li. Mainnya kapan-kapan aja.”

Lili menarik kursi didepanku, lantas mendudukan tubuhnya dengan anggun seraya menyilangkan tangan di depan dada. Aku sangat hafal tabiat Lili. Ia hendak mengajakku adu argumen.

“Hampir aja aku lupa, kawanku satu ini kan memang selalu sibuk atau mungkin lebih tepatnya pura-pura sibuk.” Lili mengakhiri sindirannya dengan menaikkan turunkan sebelah alis.

Aku menghempaskan punggung di sandaran kursi. Apa lagi rencana mereka kali ini?

“Kiki apa kabar, Li?” tanyaku berusaha mengalihkan obrolan kami.

Beda dari yang lain, Kiki adalah makhluk kecil kesayanganku, anak bungsu Lili yang baru menginjak usia lima tahun. Setiap aku menampakkan diri, lelaki kecil itu selalu memamerkan gigi sulungnya yang berbaris rapi. Aku baru tahu dari Dimas, ternyata Lili sering membawa namaku saat Kiki tengah malas menyikat gigi.

Lili memang seperti itu. Di depanku berlagak seperti musuh, di belakang diam-diam memuja. Dasar!

“Harusnya aku yang tanya, kamu apa kabar, Kirana? Sebulan ini ke mana? Mencari ketenangan atau sedang menyusun rencana hidup sendiri?” cercanya tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri.

Aku kehabisan kata-kata. Memang benar, aku baru saja kembali dari pelarian. Alasannya sederhana, aku tengah mencoba menata hati, mengembalikan puing-puing kepercayaan diri dan merangkainya menjadi satu, berharap bisa kembali seperti semula.

Namun, sampai detik ini aku belum berhasil mewujudkannya. Ia masih menyisakan ruang kosong sebab ada potongan kecil yang tak bisa kutemukan di mana-mana.

“Aku enggak mau tau, habis ini cepat bereskan alat tempurmu! Ikut aku bertemu seseorang.” Aku mendesah keras. Sengaja agar Lili bisa mendengar kegusaranku.

“Siapa lagi ini, Li? Astaga... Kenapa kalian enggak ada capek-capeknya memaksa?” Lili mengedikkan bahu acuh.

*****

Pencari Berlian (Part 2)

40 0

Aku menghadiahi Lili pelototan garang. Bagaimana tidak, lagi-lagi mereka mengatur pertemuanku dengan lelaki asing. Dari kejauhan bisa kulihat sosoknya. Lelaki berambut klimis, atasan kemeja abu-abu rapi, jam tangan yang menyembul malu-malu dari balik lengan, ditambah kacamata yang bertengger manis membingkai mata teduhnya. Gaya khas orang kantoran.

Tahu-tahu kami sudah berada di depan meja lelaki itu. Ia bangkit seraya tersenyum hangat menyambutku dan Lili.

“Jadi kamu kenalan Lili atau putra kawan Bunda?” Lili menyikut lenganku kasar begitu aku melontarkan pertanyaan yang sarat akan ketidakramahan.

Sejujurnya aku bukan tipikal orang yang senang berbasa-basi. Terutama saat terjebak dalam situasi yang kurang nyaman seperti sekarang. Aku ingin cepat pergi dari sini.

“Apa kabar Kirana? Aku Tian,” balasnya santai, tetapi tak menjawab keingintahuanku.

Aku menoleh pada Lili meminta jawaban lain. Seolah paham, Lili berdehem sejenak. “Jangan pura-pura lupa. Dia juga alumni SMA 5. Satu tingkat di atas kita.” Kerlingan mata Lili sukses membuat bulu kudukku meremang.

Kenapa lagi dia? Aku sedang tidak ingin bercanda.

Benakku mencari-cari tumpukan memori lama. SMA? Yang benar saja. Masa itu sudah lewat delapan tahun yang lalu. Bukankah wajar kalau aku lupa?

Keduanya kompak menunggu reaksi positif dariku. Sayangnya aku tak bisa mengingat apapun.

“Kakak kelas yang kamu taksir dulu, Rana.” Aku memejamkan mata rapat-rapat. Lili dan bibir tipisnya akan selalu menjadi musuhku.

Tiba-tiba aku merindukan Lusi, kawanku lainnya yang tak seurakan Lili. Meski ia dipenuhi letupan energi yang luar biasa, tetapi Lusi tak pernah menyudutkanku sebagaimana yang kerap Lili lakukan. Bisa kubilang Lusi lebih masuk akal disebut sahabat.

Kudengar lelaki di depan kami terkekeh pelan. Tak heran lagi, pasti sebab celetukan tanpa dosa ibu dua anak di sampingku.

“Aku kira cuma cuitan anak-anak usil. Ternyata benar fakta.”

Lili mendekatkan duduknya padaku. Lagak antusiasnya tercium menyengat.

“Kamu sekarang kerja di mana, Tian?” Celetukanku dibalas decakan merdu oleh Lili. Aku tak berminat mengulik masa lalu. Juga bertekad tak akan membiarkan Lili bicara lagi.

“Perkantoran dekat sini. Aku dengar kamu sekarang jadi dokter, benar begitu?”

Aku mengangguk singkat. “-dan sedang melanjutkan pendidikan lagi, S2,” imbuhku.

Raut terkejut menghiasi wajahnya. Aku sangat hafal ekspresi semacam itu. Katakanlah aku berpengalaman sebab sering mendapat penolakan.

Benar dugaanku. Ia terpaku tak bisa berkata-kata. Susah mencari lelaki yang bisa menerima kondisiku. Wanita karier, mandiri, dan berpendidikan tinggi. Mereka yang menolakku mengatakan sangsi bila nantinya aku berkuasa di dalam rumah tangga. Ada juga yang takut kalau kami dibandingkan-bandingkan oleh keluarga besar, sebab harusnya derajat lelaki jauh di atas wanita.

Aku menyebut mereka penghancur mental. Mereka berkontribusi besar atas hilangnya kepercayaan diriku. Maka tak salah bukan kalau aku berdeklarasi ingin sendiri sampai batas waktunya nanti.

Aku menyingkap sedikit lengan tunik, mengintip sekilas jam silver yang melingkari pergelangan tangan.

“Sepertinya jam makan siang sudah selesai. Kalau enggak ada yang dibicarakan lagi aku mau undur diri,” ucapku seraya memperbaiki posisi shoulder bag.

Baru akan beranjak, lenganku ditarik kembali oleh Lili. “Apa-apaan kamu, Rana? Main pergi aja!” bentaknya sambil menatapku nyalang.

“Bukannya sudah jelas? Tian disuruh Bunda untuk ta’aruf denganku. Sebelumnya dia sudah tau latar pendidikanku yang setinggi langit. Lalu apa gunanya aku melanjutkan kalau nanti dia juga akan menolak?” Aku memamerkan senyum miris pada keduanya.

Mataku mulai buram. Pertahanan diri yang kubangun susah payah dalam hitungan detik akan runtuh. Aku selalu mengklaim rasa tersakit bukanlah luka visual pada tubuh, melainkan sebuah penolakan.

Sebenarnya sama-sama meninggalkan bekas, tetapi yang satu ini tak kasat mata dan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Orang-orang menyebutnya sakit tak berdarah.

Aku mengendarai mobil lebih kencang dari biasanya. Bukankah tidak lucu kalau aku menangis tersedu-sedu sepanjang jalan. Lalu sesampainya di rumah Bunda akan menampakkan wajah panik seraya bertanya-tanya, ada apa denganku gerangan. Aku masih bisa berpikir normal. Hal semacam itu sangat merepotkan.

Aku lebih memilih pulang dengan damai, meski kesesakan dalam dada memaksa untuk keluar. Aku melipir ke dapur, menyapa Bunda yang tengah berkutat dengan masakan.

“Gimana pilihan Bunda kali ini? Oke tidak? Dia serasi denganmu Kirana,” tanya Bunda penasaran.

Sembari membasahi tenggorokan dengan air dingin, aku membiarkan pertanyaan Bunda melayang di udara.

“Bun, bulan depan Rana ada bakti sosial lagi di luar kota. Setelah itu Rana mau fokus tesis dulu.”

Bunda sontak mematikan kompor yang di atasnya nangkring sebuah panci besar, entah berisikan apa. Ia kini duduk sempurna di sampingku.

“Bunda yakin kamu paham yang Bunda tanyakan, dan bukan itu jawaban yang Bunda mau.”

Aku mengangguk beberapa kali. Terlihat seperti menyepelekan.

“Mau Bunda carikan lagi atau kamu mau cari sendiri?”

Aku menggigit bibir bawah. Pilihan yang sulit. “Rana mau fokus tesis dulu, Bun. Lagi pula jadwal sidang sudah di depan mata.”

“Bunda kenal kamu tidak sehari, dua hari. Bunda tau kamu bisa menyelesaikan semua urusan sekaligus dalam satu waktu. Apa lagi ini cuma masalah ujian. Bunda rasa kamu sangat mampu menyandingkan dengan urusan lainnya.”

Ya, itulah diriku. Multitasking. Aku menyukainya meski banyak penelitian menyebut gaya semacam itu tidak efisien dan bisa menganggu kesehatan. Bagiku, kalau bisa dikerjakan sekaligus, mengapa harus satu-satu. Sekadar informasi, aku mudah bosan.

“Zaman sekarang kenapa ya, Bun, wanita karier selalu dipandang sebelah mata? Dibilang enggak kompeten urusan rumah tangga, minim skill mengasuh anak dan menyenangkan hati suami. Kalau gitu apa gunanya sekolah?”

Bunda mendaratkan telapak tangan hangatnya pada puncak kepalaku. Usapannya lembut dan menenangkan.

“Memang ada yang seperti itu, tapi tidak semua. Ayahmu contohnya. Waktu menikah dulu Ayahmu jauh di bawah. Bunda sudah lama bekerja, sedangkan Ayah baru mulai masuk dunia kerja. Hebatnya Ayahmu tidak meremehkan Bunda. Ia justru bangga.”

Aku mengusap wajah dengan kasar. Menyeka keringat sebiji jagung yang menghiasi kening. “Tapi lelaki seperti itu langka Bunda. Dari 100 orang paling cuma ada 2 atau 3.”

“Nah, itu tau. Makanya harus terus ikhtiar, Rana. Ditolak berkali-kali jangan langsung menyerah, karena mencari berlian memang butuh perjuangan.” Bunda lantas meninggalkanku yang mendadak diam.

Sebentar, jadi aku harus mencari? Di belahan bumi mana dan berapa banyak lagi penolakan yang harus kuterima? Oh, astaga.

“Sudah sana, bersih-bersih dulu baru buat strategi cari berlian,” titah Bunda diiringi tawa geli.

Aku berjalan gontai memasuki kamar. Alih-alih mematuhi titah Bunda, aku justru merebahkan tubuh sembarangan di tengah ranjang. Mataku menerawang jauh, mengamati langit-langit kamar. Aku tidak sedang melamun. Lebih tepatnya berpikir.

Setelah ini aku harus apa? Menenangkan hati? Membunuh waktu dengan meratapi kegagalan? Atau bangkit mencari permata berharga seperti kata Bunda?

*****

Pencari Berlian (Part 3)

59 0

Suara pertemuan air hujan dengan atap mengalun bak melodi yang menenangkan. Suasananya sangat mendukung untuk menenggelamkan diri dalam kubangan kenikmatan.

Hanya karena merasa butuh pencerahan, bulan lalu aku dengan brutal memburu buku-buku esai tentang kehidupan. Sembari menamatkan barisan kata, aku memutar playlist di ponsel.

Aku tersenyum simpul. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kedamaian. Melakukan semua yang menjadi hobiku, memberi waktu bagi hati untuk pulih, mundur sejenak dari urusan dunia demi keseimbangan akal, dan yang teramat penting, aku juga perlu mengistirahatkan raga.

“Rana, makan malam dulu.” Aku mengerjap beberapa kali. Kemunculan Bunda menarik paksa kesadaranku.

“Iya, Bun?” tanyaku setelah menutup buku dipangkuan dengan cepat.

Bunda tersenyum masam. “Pelankan dulu suara ponselmu!” ujar Bunda terselip nada kesal di dalamnya.

Aku bergegas meraih ponsel di nakas lantas menghampiri Bunda yang tengah berkacak pinggang di depan pintu kamar.

“Malam-malam jangan putar lagu kencang-kencang. Tidak baik, Rana.”

Aku meringis menyadari kesalahan. “Sudah ayo makan dulu. Kamu tidak boleh tidur sebelum makan masakan Bunda!” ujar Bunda seraya berjalan meninggalkanku.

Baru dua langkah, Bunda berbalik lagi seraya menatapku aneh. “Ganti bajumu, Rana. Jilbab jangan lupa.”

Aku mengacak rambut yang masih setengah basah. Bingung dengan perintah Bunda. Bukannya kami hanya makan malam, mengapa terdengar seperti Bunda akan mengajakku keluar?

“Tidak usah banyak tanya. Pakai baju yang pantas. Bunda tunggu di ruang makan.”

Meskipun benakku masih mempertanyakan keanehan sikap Bunda, nyatanya kakiku dengan patuh kembali memasuki kamar. Berbagai kemungkinan mulai bermunculan. Ah, mungkin Bunda akan mengajakku membeli makanan kesukaan Ayah di depan kompleks, atau mungkin menyuruhku membeli kecap di minimarket.

Aku baru sadar, kebiasaan itu sudah lama tidak kulakukan. Malam-malam membeli kecap hanya karena masakan Bunda terlalu pedas. Sesampainya di rumah Ayah menyambutku dengan girang. Kurang lebih begitulah suka dukanya menjadi anak tunggal.

“Ayo Bunda, Nara sudah si-ap.” Aku tercekat. Padanganku mendadak kabur, kepalaku pening bak habis dihantam bongkahan batu besar.

“Ada perlu apa kamu ke rumahku?” Telunjukku mengarah pada sosoknya.

Suara tarikan kursi mengalihkan perhatianku. “Hus! Tidak baik bicara seperti itu sama tamu. Duduk dulu Rana.”

Benar. Dia Bastian Saputra. Makhluk yang menolakku tadi siang. Tatapan matanya masih sama, teduh. Bibir penuhnya kini melengkung memperlihatkan senyum yang kunilai cukup manis.

Kali ini aku tidak akan menerka-nerka. Kubiarkan lelaki itu menyampaikan maksud kedatangannya hingga selesai, baru setelahnya akan kuusir. Aku memang selicik itu saat berurusan dengan orang yang tidak kusuka.

“Ayamnya dimakan juga, Nak Tian. Tidak usah sungkan, anggap rumah sendiri.” Suara ramah Bunda mengusikku.

Tian membalas Bunda dengan senyum lebar. “Iya, Bun. Tadi sebelum ke sini Tian di paksa makan dulu sama Ibu.”

“Namanya juga Ibu-ibu. Pasti takut kalau anak bujangnya tidak terurus.” Kali ini tawa geli memenuhi ruang makan.

Aku mengabaikan keduanya dengan mencoba fokus menandaskan makanan. Ini adalah kali pertama Bunda mengajak orang asing makan bersama kami. Masih pertanyaan yang sama, ada apa dengan Bunda? Dan ada perlu apa lelaki itu datang ke rumah?

“Alhamdulillah, Bunda, saya diberi amanah menjabat sebagai general manajer.” Lama-lama aku penasaran juga dengan obrolan mereka. Memang sikapku tadi siang terkesan gegabah. Lili bahkan sampai meninggikan suara, yang kutahu jelas ia kecewa.

“Rana, sana ajak Nak Tian ke depan. Tadi sudah izin ke Bunda katanya ada yang mau dibicarakan sama kamu.” Aku spontan menoleh pada Bunda. Memastikan lagi titahnya yang terdengar cukup asing di telinga. Gerakan lambat Tian bangkit dari kursi menjawab semuanya.

“Aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita,” ucap Tian penuh ketenangan.

Bola mataku bergerak liar ke sana kemari saat perasaan aneh mulai menghampiri, aku gugup. Terdengar lucu, tetapi memang ini pertama kalinya aku terjebak dalam obrolan serius dengan lawan jenis. Ngomong-ngomong, mengapa hari ini banyak sekali pengalaman pertama yang aku jumpai?

“Bisa tolong lebih jelas? Aku lelah seharian di rumah sakit, jadi mohon maklum, otakku enggak bisa cepat mencerna kata-kata abstrak,” balasku ketus.

Tian membuang napas dengan keras. “Aku belum mengutarakan maksud pertemuan kita, tapi kamu sudah lebih dulu pergi membawa kekecewaan yang sia-sia.”

Aku menautkan alis. “Maksudmu?”

“Dari mana kamu tau aku menolak? Kita bahkan baru bicara sekecap kata dan aku tidak serendah itu memandang latar belakangmu. Sejak bulan lalu aku sudah bertamu kemari, menunggu sosok Kirana pulang.” Tanpa sadar aku meremas jemari. Tidak kunjung paham dengan maksud ucapannya.

Tian semasa SMA adalah sosok yang agamais, penuh percaya diri, cerdas, dan cukup populer di kalangan kami. Jangan anggap serius celetukkan Lili, karena itu omong kosong. Aku hanya sekadar mengagumi Tian. Bukan menaruh perasaan lebih ataupun sampai berani berharap ia memiliki perasaan yang sama. Kala itu yang memenuhi pikiranku hanya tentang sekolah dan belajar. Hingga sekarang imbasnya aku abai dengan pertambahan usia.

“Aku sudah pernah menjajal pahitnya dunia. Dari penolakan sampai dipandang sebelah mata. Lalu apa salahnya kalau aku berprasangka lebih dulu sebelum bertanya?” tanyaku dengan nada yang kurasa terdengar sumbang.

Tian memperbaiki posisi duduknya. “Aku paham yang kamu rasakan, Bunda sudah menceritakan semuanya. Buatku itu hal yang wajar. Justru aku salut karena kamu masih kuat berjalan, walaupun sangat ketara langkahmu terseok-seok. Memang susah berjalan di kubangan lumpur.”

Aku mulai tahu arah obrolan kami. Tian sedang memancing kekalutanku agar menampakkan diri. Menghujani dengan ribuan kata manis yang tak lebih hanya rayuan semata.

“Sebelum terlalu larut aku akan menyampaikan dengan jelas maksud perjumpaan kita. Memang benar pertemuan tadi siang direncanakan, tapi aku tidak datang dengan tangan kosong. Aku membawa banyak harapan, lembaran kasa untuk membalut lukamu dan segenggam kehangatan yang kuharap bisa memulihkanmu dari kepedihan.”

Senyum teduh Tian sukses membuatku tersentuh. Telapak tanganku berkeringat tanpa sebab. Sesuatu dalam dada berdebar kencang seolah akan meledak detik itu juga. Tian, jadi kamu akan membalas kekagumanku atau hanya sekadar mengakuinya?

“Kirana, aku ingin mengajakmu ta’aruf.”

Waktu seakan berhenti. Udara dalam paru-paruku seolah ditarik paksa keluar. Ruang tamu yang biasanya terlihat hidup karena tawa keras Ayah, kini tak lebih bagaikan ruangan hampa yang berisikan aku dan dia.

Ajakan Tian masih berusaha aku cerna. Ini mimpi atau nyata? Serius atau hanya harapan palsu? Bolehkan aku berharap atau-

Tian tersenyum lembut. “Aku serius Kirana.”

Wajahku memanas. Inikah akhir dari perjalanan panjang menemukan berlian?

“Bisa kita sambung obrolan ini besok lagi? Sudah sangat larut dan Ayah juga belum pulang. Aku takut ada fitnah di antara kita,” balasku lirih.

“Apa itu artinya kamu menyetujui ajakanku?” tanyanya penuh harap.

Aku makin mengeratkan pertautan jemari. Kepalaku menunduk dalam. Malu untuk sekadar menatap Tian seperti sebelumnya. Tak lama anggukan pelan dariku membuatnya mengucap syukur berkali-kali.

Ini adalah awal pencarianku. Bukan lagi mencari berlian. Melainkan kami bersama-sama mencari kebahagian yang hakiki.

Sampai jumpa besok Tian. Semoga jalan kita dimudahkan.

*****

Surat yang Terlambat

88 0

Hari ini aku tak jadi penghuni terakhir lagi. Entah apa yang terjadi, lelaki seperempat abad yang bergelar petinggi itu mendadak menyambangi kubikelku. Sempat basa-basi yang hanya kubalas dengan cengiran tanda tak nyaman, lantas titahnya mengejutkan kami, penghuni lantai dua.

Ia menyuruhku berhenti lembur untuk beberapa hari. Harusnya aku sedih karena tak mendapatkan gaji tambahan, tetapi yang ada aku justru berseri-seri.

Rintik air langit menyapaku yang tengah melenggang di jalanan padat manusia. Jika biasanya aku akan menyambut dengan riang, maka kali ini aku justru melontarinya sumpah serapah. Beberapa orang terang-terangan melayangkan tatapan aneh padaku.

Aku menyinis. Memangnya kenapa? Tau apa mereka tentang diriku?

Bukan benci. Aku hanya tak ingin bertemu dengannya, paling tidak untuk beberapa waktu ke depan. Menata hati dan memulai dari awal. Aku ingin pulih dulu.

Desahan lelah meluncur tanpa bisa kucegah. Sepertinya semesta memang tengah menguji kesungguhanku. Saat manusia lain berhamburan mencari tempat untuk berteduh, aku dengan percaya diri menerobos barikade hujan.

Dalam hati aku tertawa sinis. Lihatlah, aku tak terhentikan. Karena berhenti di waktu seperti ini justru akan makin membuatku terjerumus jurang keterpurukan.

Sejak beberapa menit yang lalu otakku memutar perintah tanpa bantahan. Aku harus cepat sampai rumah. Sebenarnya bukan hunian seperti milik manusia pada umumnya. Hanya ruangan sepetak yang kumiliki dengan penuh perjuangan. Tempat pertemuan antara cinta, rindu dan harapan.

Sejujurnya mereka sangat menyebalkan. Berlarian ke sana kemari, menjajah seluruh ruangan, hingga lancang memporak-porandakan meja kerjaku. Tidak bisa ditoleransi lagi, aku akan langsung menghubungi manusia cerewet dan menyuruhnya mengusir pengganggu itu.

Pertama kali yang kudengar adalah dengusan merdunya. Berlanjut tawa sumbang yang entah mengapa terdengar begitu menenangkan. Suara berisiknya sangat candu, menyuruhku memenuhi lambung dengan makanan. Memang aku kerap melewatkan. Membiarkan perutku hanya terisi udara, lalu akan terdengar nyanyian cempreng dari sana. Aku terkikik sendiri.

“Dasar! Bagaimana jadinya duniamu tanpaku?” gerutunya seraya memberiku bungkusan makanan dari restoran ayam ternama.

Bau gurih menusuk penciuman. Sedetik kemudian perutku kembali bernyayi untuk kesekian kalinya. Tak pelak, hal itu membuat kami larut dalam tawa.

Aku tau, ia tak butuh jawaban abal-abal dariku. Ia hanya tengah memastikan semua akan berjalan mulus sesuai dengan angan. Berat untuk mengatakan, tetapi benar, ia akan meninggalkanku.

Kami biasa menghabiskan waktu libur bersama. Kemanapun ia melangkah, di situ ada aku. Sejauh sorot netranya memandang, di situ tampak bayangan diriku. Kami bagaikan perangko dan amplop, tak terpisahkan.

Liburan musim dingin tahun lalu sangat membekas di ingatan. Bukan lagi rancauan seperti yang biasa kutulis dalam buku harian, kali ini benar menjadi kenyataan. Kami menginjakkan kaki di bumi Eropa. Menghabiskan waktu dan mengukir banyak memori di sana.

Lucunya, meski saat itu jalanan dipenuhi butiran salju yang mengaburkan pandangan, aku tanpa malu berlarian dengan girang. Memang sesenang itu diriku. Eropa adalah impian kami sejak lama.

Berkali-kali jemari kami saling bertautan hanya karena ia tak mau aku hilang di negara orang. Kami kompak saling merapatkan mantel saat sapuan angin dingin menerpa wajah. Waktu serasa berhenti, detik itu langit Switzerland menjadi saksi ia melantangkan janji.

“Tahun depan ayo pergi ke tempat lain yang ada dalam buku birumu.” Idenya kuangguki berkali-kali. Tentu saja aku menyetujuinya.

Tak hanya satu, tetapi banyak yang aku tuliskan. Buku itu bak petunjuk arah bagi kami. Saat kebosanan mulai menyerang, itu menandakan waktunya membuka buku biru.

Semua janji memang terdengar manis. Namun, banyak orang tak sadar, di balik itu sebenarnya ada realita pahit yang menanti di persimpangan jalan. Benar saja, musim semi tahun ini ia merealisasikan janji, tetapi tak ada aku di sana.

“Bos tidak menyetujui pengajuan cutiku,” cicitku sambil menatapnya sendu. Wajah putih pucatnya menyiratkan kekecewaan.

“Harusnya dari awal aku tidak membuat janji ini,” ucapnya lirih, penuh penyesalan.

Aku tersenyum menenangkan. “Eve, pergilah. Bukankah tempat itu yang selalu datang dalam mimpimu?” Anggukan lemah kuterima sebagai jawaban.

Akhir-akhir ini aku mulai sadar. Aku tak punya hak mematahkan impiannya. Namun, keputusanku ternyata fatal. Aku menyesal telah menyuruhnya pergi.

Akhir bulan lalu ia kembali. Hanya sebatas nama. Raganya hilang dihimpit bumi. Sukmanya melayang. Mungkin saat ini ia tengah bahagia menyaksikan kepedihanku dari atas sana. Sialnya, dua hari yang lalu sepucuk surat tak kuharapkan datang menghancurkan kewarasan.

Hai Mel, aku senang bisa mengenalmu.

Sapaan macam apa itu? Bagaimana mungkin ia tidak senang dengan hadirku yang sudah sekian abad menemani kesepiannya.

Jangan lupa mengisi lambungmu. Oh, tolonglah, kau sudah dewasa, Buddy. Mau sampai kapan harus selalu diingatkan?

Aku bisa membayangkan wajah malas dan bibir mungilnya yang mengerucut lucu. Suara berisiknya kini mulai berdengung di telingaku.

Terima kasih selalu ada untukku.

Sekelebat memori saat kami menghabiskan waktu bersama memenuhi benakku. Semilir angin pilu mulai kurasakan. Dingin menusuk tulang dan menyakitkan.

Terima kasih sudah mengajarkanku arti hidup.

Katakanlah aku terlalu acuh, memang aku tidak pernah sekalipun curiga dengan wajah pucat dan rambut indahnya yang kerap gugur memenuhi sweater. Juga butiran kapsul yang ia bilang hanya vitamin biasa. Bodohnya aku percaya begitu saja.

Sepulang dari Jeju, ayo kita membuat janji lagi. Menghabiskan waktu di negara lain bersama.

Bohong. Ia hanya membual di akhir waktu. Membiarkanku bahagia di atas penderitaannya, itukah yang ia mau?

Wajahku memanas. Dinginnya guyuran air semesta tak bisa meredam kesesakan dalam dada. Air mataku luruh bersamaan dengan guntur yang menggelegar. Hujan kembali menjadi saksi kenangan kami.

Mel, aku sangat menyayangimu. Tunggu aku di kota kecintaan kita.

Andai semua belum terlambat, akan kuteriakkan balasan untuknya. Andai aku tau dari awal, mungkin aku akan membelot dari keputusan pimpinan perusahaan. Andai, andai, dan andai lainnya akan kulakukan untuknya.

Ya, aku hanya bisa berandai-andai. Aku menyayanginya segenap jiwa, dan aku teramat kehilangan sosoknya.

Langkahku melambat. Hujan benar-benar tak mau membiarkanku sendiri. Bahkan setelah aku menginjakkan kaki di rumah, ia semakin membabi buta. Tetesannya kian mengencang, sepertinya bukan air lagi, melainkan berganti dengan hujan es.

Aku menyeka sisa air mata di pipi, merapikan rambutku yang basah dan menelantarkan tote bag begitu saja. Pandanganku mengedar ke sekeliling ruangan, mencari sisa kehadirannya.

Apa aku bilang? Mereka lagi-lagi mengadakan pertemuan.

“Ayolah, tidak bisakah kalian enyah dari sini?” Aku mengepalkan tangan seraya menggeram keras.

Mereka benar-benar tidak tau malu. Masih tidak sadar juga kalau aku lelah. Aku ingin sembuh.

“Ku mohon pergilah. Suratmu sudah kuterima, meski terlambat dan tak mungkin kukirimkan balasannya.”

Selamat tinggal kawanku tercinta, Eve.

*****

Lelah

139 4

Aku mengerjapkan mata sejenak, lalu mengedarkan pandanganku menyusuri kamar yang sudah dipenuhi pendaran sinar mentari. Selain bisikan lirih ibu, ternyata cahaya semesta juga bisa mengusik tidur singkatku. Tiga jam rasanya masih belum cukup bagi tubuhku berhenti melakukan aktivitas layaknya penghuni bumi pada umumnya.

Lembaran kertas berisi materi perkuliahan yang aku cetak dengan mesin percetakan lusuhku, nampak berserakan di atas meja. Buku catatan penjelasan dosen yang ku sebut “buku dewa”, ikut terlentang nyaman di sana. Tak mau kalah, pena warna pelangi yang suka rela mengabdikan dirinya menemani perjalananku menyusuri kata, berbaris tak beraturan di sela-sela lipatan kertas.

Semalam aku tak sempat merapikan semua kekacauan itu. Tubuhku tak berdaya. Mataku berat. Otakku melambat. Tak tahu pasti, sebenarnya apa yang ku lakukan akhir-akhir ini. Gejolak rasa kecewa beradu dengan himpitan tuntutan orangtua, serta kejenuhan menunggu kepastian, adalah pelaku utama penyulut otakku, hingga muncul lah aktivitas pembunuh waktu yang tak berguna. Dan pagi ini, sesuatu dalam dadaku menyerukan perasaannya dengan lantang. Aku lelah. Aku menyerah.

Suara berisik pertemuan jemari dengan pintu, membuatku yang tengah terbuai kenyamanan, terpaksa melangkahkan kaki membuka seinci pintu kamar. Wajah cerah tanpa kerutan gundah menyapa netraku. Senyumnya mengembang begitu aku makin membuka lebar pintu, mempersilakan dirinya menyaksikan keadaan ruangan kumuhku.

“Sudah sampai mana perjalananmu? Jerman lewat?” Aku tersenyum kecut mendengar gurauannya.

“Sampai perbatasan,” balasku acuh sembari meninggalkannya ke dalam kamar.

Suara nyaring pertemuan telapak tangannya memenuhi kamarku. “Bagus. Itu artinya sebentar lagi kamu sampai di tujuan.” Tangannya menarik pelan kursi putih yang tak jauh dari ranjangku. Mendudukan tubuhnya di sana.

“Sayangnya aku sudah lelah duluan.” Helaan panjang napasku seolah mendukung jawaban yang lebih cocok ku sebut dengan keluhan.

Ia ikut menghela napas. Namun tak sependek yang ku kira. “Hari ini ku lihat cuaca cerah. Ayo keluar. Memotret langit, bersepeda, menyesap minuman hitam, mana yang kamu suka?”

“Semua,” balasku cepat diikuti tawa yang menular. Tidak lucu memang, tapi entah mengapa tawaku tak tertahankan.

Aku bukan si maniak riasan. Tampil apa adanya, sepertinya cukup bisa menggambarkan sosok diriku, si penyuka kesederhanaan. Ku lihat ia sudah berdiri tegap, bersanding dengan sepeda hitam kesayangannya, menungguku di luar pagar. Suara rintihan pagar besi membuatnya menoleh padaku, lalu bergegas naik ke atas sadle sepeda. Kami mengayuh bersisian. Tapi sesekali aku mengalah, melambatkan laju sepedaku, saat ada kendaraan roda empat yang meminta jalan lebih.

Benar ujarannya tadi. Pagi ini mentari tak segarang biasanya. Langit cerah dengan tambahan setitik noda sendu membingkai cakrawala. Cuaca yang sempurna untuk memulihkan diri dari kepenatan dunia. Sepoi-sepoi angin pagi menerbangkan jilbab kami. Aku menyambutnya dengan tawa riang, seolah lepas sudah gundahku di menit sebelumnya.

Kami berhenti di lapangan kompleks, setelah saling berkejaran, karena ia menantangku mencapai tempat ini duluan. Tapi tetap saja, akulah juaranya. Tanpa ragu kami merebahkan diri di bawah pohon, menyaksikan hamparan langit biru dengan semburat awan putih yang terpencar.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana training. Membuka aplikasi pemotretan, lalu mengabadikan wajahnya yang dipenuhi rona kenikmatan. Menyesap semua rasa dari permen gula-gula, yang ia beli di depan sekolah dasar yang tadi kami lalui.

“Berapa banyak potret aibku yang berhasil kamu kumpulkan?” tanyanya sambil mengerucutkan bibir lucu. Aku membalasnya dengan gelak tawa.

“Ku lihat gundahmu hilang. Pergi kemana dia?” gumamnya dengan mulut penuh, tersumpal permen gula.

Aku menyimpan ponselku kembali. Kali ini berganti posisi, menegakkan badanku menatap ia yang masih nyaman mempertemukan tubuhnya dengan tanah. Tak ada sedikit pun rasa takut jilbab hitamnya akan dipenuhi butiran pasir dan remahan ranting kecil.

“Semalam ibu menghubungiku. Menanyakan kelanjutan perjalananku. Sama seperti sebelumnya, aku masih jalan di tempat,” cicitku.

Kali ini ia ikut menegakkan tubuhnya. Menekuk lutut dan menahannya dengan tangan. Mengarahkan kedua netra beningnya padaku sekilas, sebelum akhirnya memandang langit cukup lama.

“Lalu ku dengar suara penat ayah, bercerita tentang kegiatannya hari itu di tempat kerja.” Suaraku memelan tanpa ku sengaja.

“Mereka terang-terangan mengatakan aku lah harapan terbesar keluarga. Berharap aku bisa meringankan beban mereka di masa tua. Aku si tengah, pengenyam bangku sekolah yang cukup tinggi dari saudaraku lainnya.” Aku tau mataku mulai tak kuasa menahan genangan air yang sepertinya sebentar lagi akan meluncur bebas. Bahkan sekarang pandanganku mulai mengabur.

“Tapi semua masih sama. Aku belajar hingga lupa waktu, berharap saat ujian datang, aku cepat mengetahui hasil tanpa perlu mengulang. Tapi apa yang ku dapat, namaku tak pernah muncul dalam daftar. Beasiswaku terbatas. Biaya hidupku terus meningkat. Sedangkan aku jelas tahu, ada ayah yang tengah memeras keringatnya untukku. Ibu merelakan air matanya mengering demi mendoakanku. Juga kakak yang terpaksa berdiri kokoh demi menutupi kekurangan kami. Dan adikku. Sepertinya aku harus mengalah demi dia,” ujarku makin lirih.

Ia menatapku dengan sorot mata yang tak bisa kupahami “Maksudmu?” Kali ini keningnya ikut mengkerut.

Aku menarik napas kuat-kuat. Mengisi stok oksigen dalam paru-paru sempitku. “Aku menyerah. Berhenti di tengah-tengah sepertinya keputusan terbaik di masa sulit ini. Perjalanan yang semula ku kira akan cepat sampai tujuan, ternyata kini makin tak terarah. Tujuan akhir hanyalah bayangan semu, yang entah kapan akan bertamu.” Aku kehabisan kata-kata. Bibirku makin mencebik, menahan isakan yang ku yakin akan muncul bersamaan dengan luruhnya air mata.

Ia berdecih. Lalu tertawa sumbang. “Semudah itu kamu menyerah? Tidak tahu saja dirimu, tujuan akhir kita seindah nirwana.”

Aku tahu. Tapi tak ada nirwana yang bisa dicapai semudah itu. Ujian ini yang menyiksaku. Batinku tertekan. Hatiku rasanya tercabik-cabik menghadapi kenyataan. Ada yang menungguku, tapi aku tak bisa memberi kepastian. Jangankan itu, memberi ketenangan saja tak bisa kulakukan. Oh tolonglah mengerti posisiku. Aku ingin berhenti.

Kami saling terdiam cukup lama. Saking heningnya, suara desisan angin terdengar seolah mengejek kami. Bahkan aku tanpa sadar mengikuti suara nyanyian burung-burung kecil yang tengah berdansa di atas trotoar rusuh.

Lamat-lamat ku dengar ia menghela napas. Matanya mengamati sekeliling pohon yang menaungi kami. “Lihatlah pohon ini. Bisakah kau hitung berapa banyak daunnya?” Dengan cepat aku menggeleng. Tak mungkin aku melakukannya.

“Benar. Daunnya tak terhitung. Ya walaupun sebenarnya aku tahu, kecerdasanmu yang tingginya melebihi Gunung Everest itu, pasti akan menemukan segala cara untuk menghitungnya. Tapi tetap saja tak akan semudah itu.”

“Banyaknya daun dari pohon ini kita lambangkan harapan. Banyak dan tinggi harapan orangtua padamu. Karena kau si pemilik kecerdasan yang mewakili mereka menangkap tingginya ilmu yang tak bisa mereka gapai. Tapi kau bisa dengan mudah meraih dan menerima itu semua.” Otakku bekerja mencerna ucapan penuh maknanya.

“Lalu lihatlah langit kebiruan yang memayungi kita. Coba kau hitung berapa luasnya.” Ia menunjuk hamparan langit di atas kami. Tapi aku justru mengernyit.

Ia terkekeh. “Memang, tidak ada batasnya dan tentu saja kau tak bisa menghitung luasnya. Sama seperti kasih sayang orangtua. Mereka sabar menantimu. Karena mereka tahu, kau si tengah yang gigih. Kata menyerahmu sudah terlambat sekarang. Mengapa tak dari dulu saja kau menyerah?” Mimik mukanya menegas. Pertanda ia tengah serius dengan ucapannya.

Aku menegakkan kepala. Ucapannya memecutku. Otakku bekerja secepat kilatan cahaya. Dengan kasar aku menghapus sisa air mata di pipi.

“Pilihan yang tepat. Aku tahu dirimu tak selemah itu. Kau adalah gadis terkuat yang pernah ku temui, kawanku.” Senyum manisnya terbit menyapa netraku. Aku malu-malu membalasnya. Lantas ia beranjak dari duduknya dan meninggalkanku begitu saja.

“Mau kemana?” cegahku sebelum ia meraih sepeda, bersiap menaikinya.

Tangannya menunjuk tegas jalanan lurus di depan kami. “Switzerland. Tujuan akhir kita.” Aku tersenyum geli, karena aku tahu kali ini dia tengah bercanda.

Terima kasih kawanku, sang pemimpi menjelajahi bumi Eropa.

*****

user

13 December 2021 00:30 Vega Galanteri Diksi dan gaya penceritaan yang menawan....

user

25 December 2021 20:24 Asha Raya Waah... Semangat kakak... Jangan lupa singgah karya saya ya "Insequre Twins" terima kasih kakak

user

26 December 2021 00:57 yenipalamia Cerita nya keren kak. Mampir juga iya ke cerita aku. "Menembus Kabut" Yuk saling suport. Semangat!

user

26 December 2021 21:57 Des Ditariani Saling support mampir ke Noktah Hitam akak..

Mungkin saja kamu suka

Ridha Nahdhiyah...
INVU
Asmarani Syafir...
Alif Kecil dan Mimpi Pelangi
Putri Kartika S...
Terbang Melampaui Langit

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil