Loading
13

1

3

Genre : Religi
Penulis : Zul Fitrah Ramadhan
Bab : 30
Pembaca : 6
Nama : Zul Fitrah Ramadhan
Buku : 1

Futur: Mencari Semangat yang Hilang

Sinopsis

Kini semangat itu sudah hilang. Tidak ada lagi harapan baginya untuk kembali menjemput semangat itu. Ia sudah pergi bersama bayangan yang berlindung kepada cahaya. Cinta yang dia alami bukan cinta yang sebenar-benar cinta. Itu semua hanya kesemuan dalam fatamorgana nafsu yang senantiasa membuat kita mundur. Arif, seorang mahasiswa tingkat akhir tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mencari semangat itu. Sejak dia meninggalkan semua harapan, kini harus berhadapan dengan beratnya perjuangan melepas diri dari belenggu nafsu yang merantai dirinya. Apakah dia bisa bangkit? Atau justru terperosok ke dalam belenggu kefuturan?
Tags :
Islami, Dakwah, Pertarungan Batin, Mahasiswa

HARI 1 - SURAT DI ATAS MEJA (Bagian 1)

2 0

==============================

Sarapan Kata KMO Batch 40

Kelompok 25

Jumlah Kata 330

==============================

Teman kelasnya tidak habis pikir, Arif belakangan ini suka menyendiri, lantas tidak memedulikan sekitar. Pesan Whatsapp yang baru saja masuk di ponselnya tidak digubris sama sekali. Mungkin mereka berpikir kalau Arif sudah tidak peduli lagi. Jadi, Arif tidak menjawab semua pesan temannya. Termasuk teman seorganisasinya. Waktu Ahad kemarin, teman organisasinya itu mengajak Arif menghadiri kegiatan pelatihan. Namun, Arif justru mengabaikan ajakan itu. Lantas di hari-hari berikutnya ia tidak ingin dihubungi oleh siapapun, termasuk dosennya sendiri.

 

Saat ini Arif tengah mempersiapkan proposal skripsinya, ia baru mengerjakan bab satu. Alhamdulillah bulan lalu judulnya sudah disetujui. Sejak itu ia merasa bahwa ia harus serius mengerjakan skripsi, tanpa gangguan siapapun, tanpa ada intervensi yang mengganggu aktivitasnya. Bahkan Ibu yang berkali-kali menelpon tak kunjung diangkat. Mungkin ada sekitar tujuh panggilan yang tak terjawab.

 

Setelah salat Isya, Arif membereskan meja belajar. Ia tidak sengaja menemukan sebuah surat, lengkap dengan amplopnya yang terjepit di antara buku-buku di atas meja. Ia lantas membuka dan mengingat-ingat kembali surat itu. Mungkin itu surat undangan kemarin, atau bisa jadi itu surat undangan permohonan menjadi pembimbingnya yang tercecer. Ia segera membuka surat itu, lantas menggosok sedikit matanya karena gatal.

Melalui surat ini, kami mohon kepada Arif, saudara kami untuk kembali bersama. Sudah berapa lama ini kami tidak pernah melihat batang hidungmu. Kami tahu, kamu sementara mengerjakan skripsi. Tapi ayolah, akhi. Mari kita bangun jiwa ukhuwah kita yang sudah kita ikrarkan sebelumnya sewaktu screening. Kami ingin melihat kembali senyummu saat makan nasi kuning bersama sewaktu istirahat. Kami masih mau melihat senyummu saat memposting poster-poster dakwah. Kami masih mau mendengar kelihaianmu saat menjelaskan data-data pencapaian visi organisasi. Jadi, sekali lagi, akhi, jika kamu membuka surat ini, jangan segan-segan untuk menemui kami lagi. Kita tidak mau kamu berada dalam kesibukan yang melenakan itu. Tapi bukan berarti itu tidak penting. Kami hanya ingin kamu tetap bersama kami. Memperjuangkan kebenaran. Melawan kemungkaran. Mungkin kamu masih ingat surah Muhammad ayat 7, Barangsiapa yang menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan mendatangkan pertolongan kepadamu.

Salam ukhwah dari LDK Raudhatul Ilmi.

HARI 2 - SURAT DI ATAS MEJA (Bagian 2)

2 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 337

- PR

==============================

Arif buru-buru melipat surat itu lalu menyimpannya kembali ke tempat semula. Ia sudah bertekad harus fokus mengerjakan skripsi. Sejak saat itu, ia sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan hal tersebut. Sudah banyak pertanyaan yang masuk di kepalanya. Ditambah lagi dengan pertanyaan dari setiap orang yang ia temui. Mungkin sudah ada yang mengetahui pertanyaan yang dimaksud itu.

Kursi yang berada di dekat lemari bajunya diambil lalu duduk. Lantas ia teringat dengan perkataan seniornya waktu screening masuk organisasi.

“Ingat, Dek. Memegang komitmen tidak semudah yang kita pikirkan. Banyak sekali rintangan yang harus dilewati sebelum kita berhasil mencapai puncaknya. Jadi, kita harus ingat betul bahwa janji itu bukan seperti memakan sebuah apel, manis dagingnya, tetapi tengahnya dibuang.”

Bayangan suara itu terlintas di kepala Arif. Ia bahkan masih ingat dengan taujihad yang disampaikan waktu itu.

“Ingat, Dek, usaha itu tergantung pada niat yang kita lakukan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi, 'Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.’ Oleh karena itu, apakah niat kita semata-mata karena Allah? Atau justru hanya untuk hal duniawi? Mari kita renungkan itu semua. Jangan sampai kita tidak bisa memperoleh ridanya Allah. Jangan sampai itu terjadi pada kita. Amin.”

Arif memegangi kepalanya. Bukan karena pusing, tetapi karena ia bingung harus berbuat apa. Hampir saja ia berteriak, tetapi urung karena hal itu tidak akan membuatnya menjadi tenang, malah sebaliknya.

Di kepalanya juga terbayang wajah Ibu dan Ayah yang tersenyum di hadapannya. Arif seketika teringat masa kecilnya ketika Ayah membawa mainan mobil-mobilan yang bisa dinaiki. Ia masih ingat betul apa yang dikatakan Ayah waktu itu.

“Apa cita-citamu, Nak?”

“Dokter.” Arif kecil loncat-loncat kegirangan, masih asyik dengan mobil mainan.

“Ayah akan selalu ada untuk Arif. Demikian juga Ibu. Kami sayang sama Arif,” ungkap Ayah dalam hati sambil tersenyum dan mendorong-dorong mobil mainan Arif. Mereka lanjut bermain.

HARI 3 - SURAT DI ATAS MEJA (Bagian 3)

2 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

-  Kelompok 25

- Jumlah Kata 327

==============================

Memang masa kecil penuh dengan cita-cita. Anak kecil sudah diajarkan cita-cita oleh guru sekolah agar mereka dapat belajar memiliki mimpi. Betapa banyak anak yang justru harus berhadapan dengan segala jenis musibah. Namun, ada juga yang justru dapat bertahan dengan kondisi yang dialaminya, berdamai dengan segala keadaan yang menimpanya. Arif kembali merenungi semua itu. Namun, perasaannya saat ini membendung semuanya, termasuk harapan pada masa depan. Sejak saat itu, malam sudah menjadi saksi atas kerisauan Arif.

HP-nya bergetar singkat. Sebuah notifikasi menampilkan sebuah pesan Whatsapp. Arif mengambil HP lalu menarik turun papan notifikasi. Ia lebih suka cara ini dibanding membuka aplikasi secara langsung.

“Sudah selesai skripsimu, Nak?” Ternyata itu pesan dari Ibu. Arif kembali mengunci layar, lantas menaruhnya kembali.

HP kembali bergetar, tetapi ini lebih lama. Sebuah panggilan masuk. Arif kembali mengambilnya lalu melihat siapa yang menelpon. Ternyata masih orang yang sama. Ia menekan tombol penurun volume lalu menaruhnya kembali. Tidak lupa ia membalikkan posisi HP-nya.

Sementara itu, Ibu dan Ayah cemas atas sebab Arif tidak mengangkat telponnya. Padahal mereka hanya ingin memberi tahu bahwa Alta, adik perempuannya akan menikah bulan depan. Namun, mereka pikir kalau Arif sangat sibuk di sana.

Mengingat kalau Ibu punya akun Facebook, ia segera membuat status di beranda.

Semangat Kakak Arif yang kerja skripsi.

Semoga cepat wisuda.

Ibu juga menyisipkan foto keponakan Arif yang sudah dua tahun. Beranda tiba-tiba banjir tanggapan. Ibu memang suka memasang status seperti itu. Dulu ia juga suka menulis buku harian. Namun, sejak kemunculan aplikasi buatan Mark Zuckerberg itu, ia tidak lagi menulis di situ. Sejak saat itu, Arif diserbu notifikasi Facebook.

Facebook Arif tetiba dibanjiri like dan komentar dari postingan Ibu. Teman-temannya memberi komentar yang positif, tidak seperti yang dikira Arif selama ini. Hingga ia melihat sebuah komentar dari salah satu teman Facebook Arif.

Kenapa lama sekali hilang Arif?

Kepala Arif seperti kejatuhan durian. Ia langsung terpikirkan terus oleh komentar itu. Beban kembali menimpa kepalanya. Arif segera menutup aplikasi itu dan berbaring sejenak, berencana melupakan hal yang mengagetkan tadi.

HARI 4 - MUSYAWARAH (Bagian 1)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

-  Kelompok 25

- Jumlah Kata 326

==============================

Sejak saat itu, Arif untuk sementara tidak membuka Facebook. Ia tidak mau melihat komentar-komentar yang membuatnya merasa turun semangat. Memori tentang masa lalunya kembali terbayang. Ia teringat dengan postingan Ibu yang memposting foto saat Arif kali pertamanya masuk kuliah. Ia bahkan masih ingat dengan pakaian dan model rambutnya kala itu. Baju berwarna putih dengan kepala yang dicukur cepak sependek dua sentimeter. 

Saat itu masih berstatus mahasiswa baru di Universitas Selatan. Arif masih ingat ketika ia menyalami Ibu dan Ayah sebelum meninggalkan rumah menuju ke tempat barunya yang lebih dekat dengan kampus itu.

“Bu, doakan saya agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu.” Tangan Arif dengan segera mengambil tangan Ibu, lantar menempelkannya ke hidung. “Semoga Arif bisa berguna untuk keluarga ini,” ujarnya. Matanya sedikit berkaca-kaca, namun ia menahan.

“Iya, Nak. Kami harap Arif bisa jadi orang sukses,” kata Ibu yang saat itu memakai daster berwarna kuning motif bunga-bunga.

“Kabari saja kami, Nak. Itu sudah cukup bagi kami. Paling tidak, kami tahu bagaimana keadaan Arif nanti di sana.” Ayah mengusap-usap kepala Arif yang sedang menunduk.

Sementara itu, pengurus Lembaga Dakwah Kampus Raudhatul Ilmi tengah melaksanakan musyawarah pleno. Mereka membahas tentang evaluasi program kerja yang telah dilaksanakan selama setengah periode kepengurusan.

Namun, Arif selaku salah saru pengurus lembaga itu tidak menghadiri kegiatan tersebut.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, musyawarah pleno LDK Raudhatul Ilmi kami buka,” ucap Shidiq selaku ketua umum. Pengurus lain mengucapkan basmalah.

HP Arif bergetar. Sebuah pesan Whatsapp muncul di notifikasi.

“Di mana, Akhi. Sudah mulai ini.” 

Arif justru mengabaikan pesan tersebut, lantas kembali menyimpannya di tempat yang tertutup. Ia menaruhnya di bawah kasur. Arif merasa cemas atas perlakuan dirinya sendiri. Ia berusaha memudarkan pikiran itu, lalu dibukanya laptop yang masih dalam keadaan hibernasi. Ia membuka fail skripsi yang sudah diketik beberapa halaman. Ia juga menambahkan beberapa referensi yang telah direkomendasikan dosen pembimbing. Tidak lama setelah mengetik beberapa kalimat, listrik padam. Memang Arif memakai laptop, tetapi baterainya sudah bocor sehingga tidak akan bisa menyala apabila tidak disambungkan dengan kabel charger.

HARI 5 - MUSYAWARAH (Bagian 2)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 376

- ==============================

Hingga pukul sembilan, Arif belum juga muncul di forum pleno. Mau tidak mau musyawarah harus tetap dilaksanakan. Presidium sidang mempersilakan ketua umum untuk menyampaikan laporan kinerja program kerja selama setengah periode.

“Bismillahirrahmanirrahim. Pertama-tama, syukron atas kesempatan yang telah diberikan. Hari ini saya akan melaporkan hasil kinerja kepengurusan ketua umum selama setengah periode ini.” Shidiq mulai menampilkan layar Power Point dari laptopnya.

“Hal yang pertama, saya ingin menyampaikan laporan mengenai hubungan antara ketua umum dengan pengurus harian LDK Raudhatul Ilmi. Alhamdulillah hubungan kami dengan pengurus harian terjalin dengan baik. Hampir semua pengurus harian berpartisipasi pada beberapa program kerja yang telah dijalankan.” Slide dua mulai ditampilkan.

“Hanya saja, terdapat beberapa pengurus harian yang sampai saat ini tidak didapat kabarnya. Oleh karena itu, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kembali mengajak mereka yang tidak ada kabar, baik secara personal maupun dengan cara lain. Berikut data rekapitulasi keaktifan pengurus harian selama setengah periode ini.”

Tabel rekapitulasi dimunculkan. Peserta forum mengamati nama-nama yang terdapat pada tabel itu. Data tersebut menunjukkan persentase keaktifan pengurus harian yang dihitung berdasarkan keaktifan dalam mengikuti berbagai kegiatan dakwah di Universitas Selatan ini. Nama Arif juga termasuk pada tabel tersebut. Tabel itu menunjukkan persentase keaktifannya sebesar 47%, kurang dari setengahnya. Peserta masih menelusuri nama-nama lain yang tertera pada tabel itu.

Listrik sudah menyala kembali. Arif menyalakan laptopnya. Dokumen skripsi mulai ditampilkan. Saat ini ia sudah mengerjakan bab dua pada proposalnya. Memang masih jauh, tapi setidaknya ia bisa lega karena sudah mengejakannya sejauh ini. Tanpa memikirkan hal lain, ia mulai mengetik. Ia mengerjakan mulai dari landasan teori, kemudian kerangka pikir. Ia sudah memasukkan referensi dari buku dan artikel jurnal yang telah direkomendasikan dosen pembimbingnya.

Kata demi kata diketik. Tidak lama setelah itu, suara ketukan terdengar. Awalnya Arif mengira kalau yang bukan pintu kosannya yang diketuk. Namun, ternyata pintunya yang diketuk. Ia membuka pintu. Ternyata teman kelasnya.

“Arif, bisa minta tolong?” kata temannya itu.

“Ada apa?”

“Minta juga artikel jurnal yang sudah kamu dapat. Saya juga mau. Boleh, yah?”

Sebelumnya menolongnya, Arif melarang masuk teman kelasnya. Arif tahu bahwa berdua-duaan dengan yang bukan mahrom itu hukumnya haram. Ia masih ingat dengan itu, walaupun sudah lama tidak mengikuti taklim rutin belakangan ini. Arif menyilakan perempuan itu duduk di depan, menyuruhnya menunggu Arif mengambil laptop.

“Sini flashdik kamu.” Arif memutuskan menolongnya.

HARI 6 - MUSYAWARAH (Bagian 3)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 334

==============================

Ia segera menyalin fail artikel jurnal ke dalam flashdik yang bernama label “Arifah” itu, lantas ia mengeklik eject dan mencabutnya dari laptop.

Di saat yang sama, sebuah flashdisk dimasukkan ke laptop ketua umum yang akan melaporkan laporan program kerja yang telah terlaksana. Shidiq menampilkan layar slide dan ia mulai menjelaskan. 

“Di saat seperti ini, kita harus lebih antusias lagi dalam menjalankan amanah. Persentase pelaksanaan program kerja secara keseluruhan belum mencapai 50%. Hal ini menandakan bahwa kondisi kepengurusan kita tidak sedang keadaan baik,” jelasnya.

“Oleh karena itu, kita harus meningkatkan ukhuwah kita sebagai Muslim. Kalian pasti tahu kalau seluruh mukmin itu adalah bersaudara. Jadi, alangkah baiknya kalau kita mencari tahu ikhwah yang tidak ada kabarnya. Jadi setelah ini, mari kita lakukan.”

Arifah yang sudah menyalin artikel jurnal dari laptop Arif segera bergegas. Arif kembali menutup pintu dan mengerjakan proposal skripsi. Ia bingung, kenapa teman kelasnya itu pergi ke kosannya sendirian, tanpa ditemani oleh temannya yang perempuan lain supaya tidak menimbulkan fitnah.

“Coba tadi...” 

Belum selesai bergumam, ia segera menggelengkan kepala. Seketika ia menengok surat yang telah dibukanya dulu. Teringat dengan janji dan komitmennya sewaktu screening. Namun, pikirannya kembali buyar setelah matanya kembali menatap layar laptop yang menampilkan halaman bab dua.

“Tidak, tidak.” Ia kembali menggelengkan kepala. Arif berdiri menuju tempat tidur.

Shidiq pada waktu yang bersamaan juga berdiri. Ia sudah selesai melaporkan kinerja kepengurusan ketua umum. Presidium sidang menyilakan sekretaris umum, dilanjut oleh bendahara pada saat itu.

Arif bimbang atas dirinya sendiri. Ditutup matanya, tetapi matanya tampak menolak ditutup. Pinggiran matanya basah, lantas ia menyekanya.

Di saat yang sama, Shidiq yang sedang duduk di tengah forum mengeluarkan sedikit air mata. Betapa banyak kenangan yang ia ingat. Waktu itu, Shidiq bersama Arif berserta Ikhsan, Ridwan, dan Fajar sedang rihlah di Malino. Tempat itu mengingatkannya pada sejuknya ukhuwah yang ia rasakan saat itu. Terlebih lagi ketika ia menghabiskan waktu bukan untuk bersenang-senang belaka, namun di tempat itu ia juga bermuhasabah diri atas keindahan alam yang telah diciptakan Allah kepada umat manusia. Canda dan tawa juga menghiasi rihlah.

HARI 7 - TIDAK SENGAJA (Bagian 1)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 370

==============================

“Referensinya masih kurang ini. Coba cari lagi jurnal-jurnal yang terkait sama teori ini.” Pembimbing kedua Arif melingkari beberapa bagian dan memberinya catatan-catatan kecil.

Arif mengangguk, tetapi garis matanya menurun.

“Maaf, Pak, kira-kira di mana lagi saya bisa dapat referensi?” Ia menarik tasnya yang telentang di lantai, mendekatkannya ke kursi.

“Kalau bisa cari artikel jurnal yang terakreditasi internasional. Sebenarnya banyak itu, sisa pintar-pintarnya kita mau cari,” kata Pak Agus sambil melepaskan kacamatanya dan mengelapnya. “Coba cari di situs Scopus, Elsevier, atau Emerald. Banyak di situ referensi yang bisa digunakan,” jelasnya sambil menulisnya di bagian atas proposal skripsi Arif.

“Oh iya, Pak, baik. Insya Allah setelah ini saya cari tambahan referensi. Terima kasih. Mari, Pak.” Arif bergegas. Pak Agus mengangguk.

Hujan turun. Arif berhenti sejenak dua tiga detik, lantas tanpa pikir panjang ia melangkah cepat menuju masjid kampus. Dhuhur telah tiba. Ia duduk di teras, lalu melepas sepatu dan bergegas menuju tempat wudhu. Pada saat yang bersamaan, Shidiq dan Arif sama-sama melintasi sebuah tiang masjid menuju tempat wudhu. Mereka tidak sadar karena tiang itu saling menutupi keduanya satu sama lain.

Dhuhur telah usai. Arif bergegas menuju perpustakaan fakultas. Di perjalanan, ia tidak sengaja berhadapan dengan Arifah. Arif merasa jalannya seperti melambat. Kepalanya tertuju pada perempuan itu.

“Dari mana Arif?” sapa Arifah.

“Tadi dari bimbingan.” Arif melangkah menjauh dari Arifah, lantas menuju perpustakaan fakultas. Arifah membalikkan badan.

Arif memasuki perpustakaan fakultas, lalu duduk di bagian pojok kanan. Ia memang lebih suka duduk di situ. Ditambah lagi jangkauannya sangat dekat dengan stopkontak. Ia pun membuka laptop dan situs jurnal yang sudah disarankan Pak Agus.

Ikon loading Chrome berputar. Arif kembali mengingat isi surat itu. Ia lagi-lagi tidak menyangka bakal terjadi seperti ini. Perasaan menyesal dan acuh seakan berada pada saat bersamaan. Ia tidak tahu berada di pihak yang mana. Apakah ia berpihak pada penyesalan, atau mungkin justru berpihak pada keacuhan? Ia memikirkan baik-baik isi surat itu, tetapi juga bersikap seperti orang yang tidak peduli.

Laman web Scopus muncul. Ia memasukkan bidang dan kata kunci. Sederet daftar bermunculan. Tercengang. Dipilahnya artikel yang relevan dengan topik. Tetiba HP-nya bergetar. Notifikasi Facebook muncul.

 

Seseorang menyukai status yang menandai Anda. 

 

Arif membuka Facebook. Tidak ingin kejadian kemarin terulang, ia mematikan data seluler, lantas kembali mencari referensi artikel jurnal.

HARI 8 - TIDAK SENGAJA (Bagian 2)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 321

==============================

Arif tampak bahagia melihat sederet artikel jurnal internasional itu. Ia yakin bahwa skripsinya bisa cepat selesai. Arif mengunduhnya, lalu menyimpannya di folder khusus agar tidak terlalu susah ketika dicari kembali.

Tidak lama setelah itu, HP kembali bergetar. Arif merabanya di dalam kantong, lantas menekan tombol penurun suara. HP berhenti bergetar. Ia melanjutkan mencari referensi. Ia tidak begitu suka dengan gangguan saat fokus mengerjakan sesuatu.

 Setelah mencari beberapa referensi tambahan untuk bagian teorinya, Arif memutuskan bergegas. Ia memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.

 Pada saat ia berada di depan gerbang fakultas, tanpa sadar ia dilihat dari jauh oleh Shidiq yang kebetulan juga berada di gerbang fakultas sebelah. Shidiq dan Arif memang bersebelahan fakultas. Mungkin mereka tidak akan berkenalan jika tidak satu organisasi kampus. Namun, Jikalau begitu, Allah pasti akan mempertemukan mereka dalam bentuk skenario yang lain.

 Arif menuju tempat parkir mengambil motornya, lalu menuju perpustakaan universitas. Ia butuh ketenangan sehingga ia kerap kali berpindah-pindah tempat. Rasanya seperti menjadi buronan di sebuah penjara, selalu diawasi kapanpun dan di manapun.

Belum tiba di gerbang luar kampus, Arif tidak sengaja melihat Shidiq yang juga menuju ke situ. Arif tetap menatap ke depan seolah tidak melihat Shidiq. Rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya. Tak tega rasanya ia melakukan itu. Namun, perasaan yang lain juga turut membisiki dirinya yang lagi-lagi tidak tahu kepada apa ia berpihak.

 Di parkiran perpustakaan universitas, Arif Jung tidak sengaja melihat Fajar yang sedang berdiri di bagian depan tempat itu. Arif semakin bingung, lantas menunggu hingga orang itu berpindah tempat. Beberapa saat kemudian, Fajar akhirnya pindah tempat juga. Arif lega. Ia segera menuju perpustakaan universitas. Namun, Ikhsan secara tidak sengaja melihat Arif yang berada persis di depannya saat menuju perpustakaan universitas.

 Perasaan Arif tidak karuan. Walaupun Fajar yang tidak sengaja dilihatnya sudah tidak kelihatan, tetapi rasa was-was masih menghantui. Dua hantu penyesalan dan keacuhan itu kembali. Ia mengambil kunci loker dari petugas perpustakaan, lantas buru-buru menyimpan tasnya dan naik ke ruang baca lantai empat.

HARI 9 - TIDAK SENGAJA (Bagian 3)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 325

==============================

Ikhsan yang tidak sengaja melihatnya membuntuti Arif. Ia berpura-pura tidak melihatnya, berbaur dengan mahasiswa lain. Arif menaruh laptop di atas meja yang berada di bagian pojok kiri perpustakaan. Ikhsan berada di baris ketiga, dua meja dari belakang Arif. Ia juga membuka laptop sebagaimana yang dilakukan Arif. Ia menutup wajah dengan benda itu. Arif kembali mencari referensi dengan fasilitas Wifi yang disediakan. Laman Scopus kembali tampak. Sambil memantau Arif, Ikhsan mengetik skripsi di laptopnya.

Fajar yang melihat Ikhsan menuju ke kursi itu, lantas duduk dan menyapanya.

“Assalamualaikum, Akhi. Masya Allah. Bikin apa?”

Arif yang sedang sibuk mencari referensi merasa bahwa ada Fajar di tempat ini. Perasaannya kembali was-was. Namun, tanpa memedulikannya, ia melanjutkan aktivitas.

“Santai, Arif. Kamu sekarang pakai masker. Jadi, kemungkinan besar dia tidak akan tahu saya ada di sini,” gumamnya dalam hati.

Ikhsan menunjuk pelan ke arah Arif. Fajar akhirnya sadar kalau Arif juga ada di perpustakaan universitas. Ikhsan memberi kode untuk tidak tidak membuat Arif tersadar. Mereka melanjutkan bersama-sama mengerjakan skripsi.

Arif merasa seperti diawasi. Perasaan was-was kembali menghantui. Tubuhnya seketika membeku. Ia mulai tidak fokus dengan pekerjaannya. Keringat dingin juga susul menghampiri.

“Mungkin ini cuma perasaanku saja.”

Arif berusaha menenangkan diri. Namun, kakinya yang bergetar tidak bisa berbohong. Ia memutuskan menghentikan pekerjaannya, lantas buru-buru bergegas keluar. Ketika berbalik, ia tidak sengaja melihat Fajar dan Ikhsan yang juga mengerjakan skripsi. Tubuhnya kaku sejenak, kakinya juga ikut bergetar. Arif semakin panik. Belum selesai langkah kedua, kakinya tersandung meja. Fajar dan Ikhsan seketika refleks berbalik ke arah suara itu. Jantungnya yang berdetak kencang seakan menyuruh Arif segera bergerak sebelum situasi semakin parah.

“Arif kok begitu. Perasaan dia tidak punya utang sama kita,” ujar Fajar dengan ekspresi bingung. “Atau mungkin dia tidak mau lihat kita lagi.”

“Tidak usah berpikir begitu, Akhi. Kita husnuzan saja. Mungkin dia mau buang air kecil... maksudku mungkin dia cuma mau tenang sebentar. Kita kan sudah tahu kalau Arif itu orangnya sedikit pendiam. Jadi wajarlah dia begitu,” terang Ikhsan. Fajar mengangguk pelan.

HARI 10 - ADA APA DENGAN ARIF? (Bagian 1)

1 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 313

==============================

Arif panik sehingga ia pulang ke kosan. Betapa banyak ikhwa yang dilihatnya hari ini sehingga dirinya merasa diawasi di mana saja. Tubuh Arif melemas. Ia memutuskan tidur. Namun, pikirannya saat ini menolak matanya dipejamkan. Seketika ia teringat dengan janjinya kepada Ayah dan Ibu, yaitu janji tentang kelulusan tepat waktu. Otak Arif yang tak karuan memproyeksikan kedua orang tuanya yang sedang menunggu Arif menyelesaikan studi. Di sisi lain, sifat ego Arif menyusul di kepala. Sifat itu mengalahkan id sehingga ia tidak merasakan lapar dan haus sekalipun.

HP bergetar pendek. Arif mengeceknya. Sebuah postingan Facebook menandai dirinya. Siapa lagi kalau bukan Ibu, begitu pikirnya. Menarik turun papan notifikasi, lantas membuka laman Facebook.

Lagi apa Om Arif? 

Di bawah tulisan itu ada foto keponakannya yang sedang naik sepeda. Secara tidak sengaja Arif menyentuh tombol suka. Arif menyentuhnya kembali sehingga warna biru pada ikon suka Facebook menghilang.

Perasaan itu kembali muncul. Penyesalan dan keacuhan sedang berperang di kepala Arif. Ia memaksa mengusir peperangan itu dengan menutupkan kepalanya dengan sebuah bantal, lantas memejamkan mata sehingga lama-kelamaan ia tertidur.

Tidak cukup sampai di situ, HP tetiba bergetar panjang. Arif seketika terbangun dalam keadaan kesal. Ia mengecek orang yang menelpon. Kepalanya langsung kaku melihat orang yang menelpon tersebut. Kontak yang bernama “Akh Shidiq” sedang menelpon. Kedua perasaan itu kembali berperang. Arif menekan tombol penurun suara. Ia memutuskan berpihak kepada keacuhan. Walaupun penyesalan juga turut dirasakan.

Memori Arif langsung dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang mengingatkannya pada semuanya. Ingatan tentang janjinya kepada Ayah dan Ibu, saat kali pertama ia berjumpa dengan ikhwa, hingga ingatan tentang saat ini yang begitu meresahkan baginya. Semuanya seperti bubur yang minta diaduk. Semua berada pada satu rasa. Disatukan oleh bubur itu sendiri. Walaupun saat itu Arif belum juga merasakan lapar. Ia memutuskan kembali menutup kepalanya dengan bantal. Namun, kali ini tidak berhasil. Arif menyerah. Ia duduk dan melakukan hal yang hampir dilakukan semua orang yang sedang bimbang, menghayal.

HARI 11 - ADA APA DENGAN ARIF? (Bagian 2)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 376

==============================

Di perpustakaan, Fajar dan Ikhsan masih mengerjakan skripsi. Tidak lama setelah Arif bergegas, sebenarnya Shidiq tiba. Ia juga tidak sengaja melihat Arif saat buru-buru keluar perpustakaan di bagian pintu masuk. Shidiq menghampiri mereka.

“Assalamualaikum, Akhi,” sapa Shidiq yang sedang bingung.

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Fajar dan Ikhsan. Mereka lebih lengkap menjawab sebab memang terdapat keutamaan menjawab salam dengan lengkap.

“Lihat Arif tidak tadi?” tanya Shidiq sebagai pembuka obrolan.

“Tadi si Arif kerja skripsi. Tiba-tiba, pas lihat kita, dia langsung kabur...”

“Mungkin ada keperluan mendesak, makanya dia keluar buru-buru,” lanjut Shidiq menyela Fajar. Ia takut kelanjutan ceritanya bisa membuat hati menjadi suuzan.

“Eh... Syukran. Hampir saja saya kelepasan.” Fajar yang saat itu tersadar seketika menutup mulut dengan tangannya.

Fajar dan Ikhsan kemudian menjelaskan alasan Arif terburu-buru keluar tadi. Shidiq yang pada saat itu menyimak mulai paham dengan tingkah Arif belakangan ini. Pikiran Shidiq mulai terlintas sebuah ide.

“Begini, saya ada ide. Saya ada rencana mau temui Arif. Itupun kalau dia mau. Kalau tidak mau, setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin supaya dia bisa kembali ke jalan dakwah,” jelasnya sambil membuka laptop yang dari tadi ia lupa menyalakannya.

Fajar dan Ikhsan mengangguk pelan. Mereka setuju. Walaupun mereka sempat berpikir kalau ini tidak berhasil, setidaknya usahanya bisa membuahkan hasil, sekecil apapun itu. Laptop Shidiq mulai memunculkan tampilan menu. Ia lanjut menjelaskan.

“Iya, walaupun kalau memang nanti tidak berhasil, setidaknya kita tahu kabar Arif. Alangkah baiknya kalau kita bangun kembali semangat ukhuwah itu.” Ia membuka fail skripsi.

“Masih ingatkah kalian pada saat kegiatan rihlah dulu? Betapa bahagianya Arif saat kita semua ada saling merangkul satu sama lain. Atau mungkin kalian masih ingat saat kita temukan titik di mana kebahagiaan bersama ikhwa itu mulai muncul dan terlahir. Kalian tahu kenapa? Ya karena kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita mestinya tahu bagaimana keadaan ikhwa, termasuk keadaannya Arif yang belakangan ini menghilang, khususnya dari kita.” Shidiq menggulir halaman skripsinya, mencari lanjutan ketikannya.

“Oleh karena itu, ayolah kita bangun lagi semangat itu. Jangan sampai dia terseleksi oleh alam. Kalian pasti tahu kalau semua mukmin itu bersaudara.”

Fajar dan Ikhsan lagi-lagi mengangguk. Tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka tahu bahwa Shidiq memang pantas menjadi ketua umum LDK Raudhatul Ilmi. Jiwa kepemimpinannya begitu kuat, serta ia pandai menggunakan retorikanya ketika mengajak orang lain pada kebenaran.

HARI 12 - ADA APA DENGAN ARIF? (Bagian 3)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 330

==============================

Arif yang pada saat itu mengkhayal makin bingung dengan dirinya sendiri. Tak habis pikir ia mulai melupakan semua kenangan-kenangan itu. Banyak kenangan indah yang dilewatkan. Kenangan bersama ikhwa yang dulunya pernah berjanji bahwa mereka tidak akan berpisah. Karena jikalau satu muslim yang terkena paku, semua saudara muslim akan turut merasakannya. Betapa pentingnya ukhuwah itu. Namun, pikiran mengenai itu terhalang oleh pikirannya yang tak karuan. Skripsi, amanah, orang tua, dan ikhwa seakan tidak bisa disatukan, tidak bisa diselaraskan. Dinding yang penuh tempelan kertas menjadi saksi atas kerisauan Arif.

Arif kaget karena suara ketukan pintu tetiba terdengar. Ia beranjak dari kursi. Arif memegang gagang pintu lalu membukanya. Wajah Shidiq mulai tampak.

“Assalamualaikum, Akhi,” salam Shidiq sambil memberikan senyuman.

“Waalaikumsalam warahmatullah. Ma... masuk, Akhi.” Arif segera menutup rasa kagetnya dengan membalas senyum. Shidiq membuka sepatu lalu duduk melantai bersama Arif.

“Bagaimana kabar?”

“Alhamdulillah sehat, Akhi.” Arif berusaha menghindari kegugupan.

“Alhamdulillah...”

“Ada perlu apa ya, Akhi? hehe.” Arif pelan-pelan mengelap wajahnya. Ia tidak sengaja memotong pembicaraan Shidiq.

 “Hahaha, santai, santai. Tidak usah terlalu kaku begitu. Saya ini bukan mau tagih utang,” canda Shidiq.

“Saya di sini tidak mau marah, kok sama Arif. Karena kita semua tahu kalau iman setiap manusia kadang naik, kadang juga turun. Bukan berarti saya menganggap iman kamu sedang turun. Mudah-mudahan kamu tidak tersinggung. Saya cuma mau minta maaf kalau saya ada salah sama Arif. Belakangan ini memang waktu-waktu super sibuk kita sebagai mahasiswa. Mengurus skripsi yang belum lagi ditambah tagihan orang tua yang ingin kita cepat lulus. Insya Allah semua akan ada jalan kemudahan yang diberikan Allah, kok.” Shidiq memperbaiki sedikit pecinya yang agak miring dirasanya.

“Sebagai muslim, saya mesti menolong Arif. Barang kali kamu ada masalah di luar sana sehingga kamu butuh ketenangan. Kita ini bersaudara, seperti firman Allah dalam surah Al-Hujurat yang isinya ‘Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu agar kamu mendapat rahmat.’ Jadi, tidak perlu takut, Akhi. Cerita saja, insya Allah kami nanti bantu,” jelas Shidiq. Arif menunduk—malu dengan dirinya sendiri.

HARI 13 - ADA APA DENGAN ARIF? (Bagian 4)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 341

==============================

“Coba cerita, Akhi,” ujarnya kembali membuat Arif tenang.

“Sebenarnya saya tidak enak cerita. Tapi mau bagaimana lagi.” Arif memperbaiki posisi duduk. “Jujur, saya mau keluar dari LDK. Saya rasa sudah sepantasnya mundur dari semua ini,” jelas Arif. Shidiq hampir saja mengeluarkan air mata.

“Kenapa begitu, Akhi. Ayo, masih ada kesempatan insya Allah. Kalau kamu…”

“Tidak, Akhi. Saya memang harus mundur.”

“Begini, kalau memang keputusanmu saat ini masih begitu, silakan dipertimbangkan lagi. Ingat, Akhi, kita di sini bukan sedang memperjuangkan LDK ini, tetapi kita sedang memperjuangkan amanah yang diberikan seluruh umat manusia, amar makruf nahi munkar. LDK ini sebatas wasilah saja, tidak lebih dari itu,” lanjut Shidiq. Arif tidak menjawab sepatah kata pun.

“Betapa besar perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menyebarkan Islam pada masa itu. Apalagi pada saat itu Islam masih belum menyebar luas. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya meyakinkan orang bahwa hanya satu Tuhan yang disembah, Allah Subhanahu Wata’ala. Masa kita yang diberikan berbagai kemudahan dalam menempuh jalan dakwah gampang lengah begitu saja, hehe.”

Arif masih terdiam. Ia menunduk.

“Begitu juga dengan kisah wanita pertama yang harus mengorbankan nyawa untuk mempertahankan akidah, Sumayyah binti Khayyath Radhiyallahu Anha. Bayangkan saja, beliau adalah seorang wanita. Bagaimana dengan kita sebagai lelaki yang notabenenya lebih kuat dibanding wanita? Beliau adalah seorang wanita, tetapi beliau mampu mempertahankan prinsipnya.”

Arif masih terdiam dan terus menunduk. Ia mulai merasakan peperangan batin itu kembali hadir dalam dirinya. Otak mengirimkan sinyal ke syaraf matanya. Sebuah tetesan air mata turut hadir di tengah mereka berdua. Arif makin merasakan peperangan itu. Namun, gejolak kesedihan telah menjadi wasit bagi peperangan itu. Suara Shidiq yang masih menjelaskan terdengar samar-samar baginya. Ia membayangkan dirinya dicap sebagai seorang yang paling gagal dalam mempertahankan prinsip. Bayangan-bayangan suara dirasakan Arif. Ia seperti mendengar dirinya di masa lalu. Bayangan itu terasa makin jelas di telinganya, seolah-olah ia berada pada situasi itu. Bayangan suara itu kemudian meredup, tergantikan oleh perkataan Shidiq.

“Intinya, silakan dipertimbangkan lagi, Akhi. Oh iya, saya tahu juga kalau kamu sibuk sekali sama skripsi. Tidak usah sungkan hubungi saya kalau ada masalah.” Shidiq berdiri lalu pamit.

HARI 14 - ADA APA DENGAN ARIF? (Bagian 5)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 305

- ==============================

Sejak kejadian kemarin, Arif mulai sedikit lega karena sudah berterus terang. Namun, walaupun begitu, ia masih bingung atas keputusannya nanti. Kepalanya sejenak mengingat kenangan bersama ikhwa pada waktu itu. Di mana semangat itu masih berkobar dan membara. Semangat itu seperti api yang abadi, memantik obor semangat ukhuwah. Lamunannya terhenti saat kakinya beranjak ke kamar mandi.

Arif berangkat dengan motor beat-nya menuju pepustakaan daerah. Alasannya adalah karena ia masih ingin merasakan ketenangan dari pantauan orang-orang yang dikenalnya, termasuk ikhwa. Ia sebenarnya agak khawatir dengan perlakuannya sendiri. Namun, pikiran itu dibuangnya jauh-jauh. Arif menggelengkan kepala, lantas segera memutar kunci kontak lalu menyalakannya.

Arif mengisi kursi yang berada di bagian pojok sebelah kiri depan. Ia lebih suka bagian yang menurutnya lebih nyaman. Hal itu juga dilakukan sebagai strategi “bersembunyi” di tempat keramaian, alih-alih mencari kenyamanan. Dibukanya laptop yang baru ia cabut dari charger sejak pagi tadi. Seketika ia kembali mengingat kejadian tersandung kemarin. Rasa penyesalan turut hadir. Namun, rasa acuh seakan ikut campur dalam pikiran. Peperangan itu dirasakannya kembali. Ia mengingat saat-saat di mana rasa menyesal dan malu hadir dalam waktu yang bersamaan. Lamunan itu akhirnya dibuyarkan. Ia menggelengkan kepala, melanjutkan aktivitas. Laman Scopus sudah tampak di laman peramban.

Belum sempat menekan tombol tetikus, Arif melihat Ridwan yang baru saja masuk ruang baca. Siapa yang tidak kenal mahasiswa berprestasi kampus ini? Dia adalah orang terpintar yang dikenalnya.

“Masya Allah,” kata Arif dengan pelan. “Ri…”

Pikirannya yang sudah bulat ingin menenangkan diri membuat dirinya urung menampakkan diri di hadapannya. Arif agak takut bertemu ikhwa. Ia kembali mengingat kejadian itu. Namun, secara bersamaan perkataan Shidiq juga diingatnya. Sehingga peperangan itu kembali muncul. Ia sudah bosan berada pada kondisi tersebut. Entah sudah kali keberapa ia merasakannya, pikirnya. Pikiran itu membuatnya buyar. Arif menarik napas, berusaha mengembalikan konsentrasi dari segala distraksi. Ia kembali menggerakkan kursor laptop yang layarnya meredup kemudian kembali terang.

HARI 15 - SEBUAH KEPUTUSAN (Bagian 1)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 367

==============================

Mata Arif menyoroti Ridwan yang juga sedang sibuk dengan laptopnya, menulis sesuatu untuk dilombakan nanti. Arif tahu karena ia melihat buku catatan hijau dan sebuah pensil di mejanya. Kali ini Arif tidak merasa cemas karena posisi duduk Ridwan membelakanginya. Tanpa berlama-lama, Arif kembali melanjutkan aktivitas.

Tidak bisa dipungkiri, Ridwan memang memiliki keahlian dalam bidang itu. Arif ingat ketika Ridwan pernah bilang bahwa sejak SMA ia sudah suka menulis. Sehingga tidak diragukan lagi dengan tulisan-tulisannya yang memang pantas mendapat juara. Pernah malam itu ketika ikut kegiatan Muslim Weekend, Arif, Ridwan, Fajar, Ikhsan, dan Shidiq mengobrol ringan soal hobi masing-masing. Muslim Weekend adalah kegiatan yang diusung oleh LDK Raudhatul Ilmi untuk mahasiswa baru.

“Jadi, di sini tidak ada yang suka menulis?” kata Ridwan sambil memegang sebuah kertas dan pulpen. Malam itu mereka sedang mempersiapkan puisi untuk dibacakan di depan. Rintik hujan turut menemani malam itu.

“Saya tidak,” jawab Arif singkat. Fajar, Ikhsan, dan Shidiq juga berkata demikian.

“Kalau membaca?”

Mereka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ridwan mengernyit.

“Waktu sudah habis.”

Pandangan mereka tertuju pada Kak Farid—begitu peserta Muslim Weekend memanggilnya. Suaranya terdengar samar-samar oleh bunyi hujan. Namun, mereka masih bisa menangkap perkataannya.

“Siapa di sini yang namanya Ridwan?” Kak Farid dengan senyum mencari orang yang dimaksud. Ridwan mengangkat tangan, lalu menuju ke depan sambil membuka kertas yang berisi puisinya.

 

KEPADA DUHA YANG MENANTI REZEKI

tak ada yang bisa mengalahkan malam

sepi tanpa gemuruh guntur bayu yang sukma

pada penantian mentari pagi

Duha yang kunanti keberadaannya

menikung kokok ayam yang menganyam rezeki

 

kusedekahkan tubuh ini 

pada pagi-Nya yang damai

mengalahkan gemuruh malas nan anomali

 

Bismillahirrahmanirrahim

pada sedekap ini

aku bertakbir

dengan nama Allah

aku mengharap rezeki

 

Peserta yang menyaksikannya mengucapkan “Masya Allah” dengan nada pelan. Mereka kagum dengan kemampuan menulis Ridwan. Arif yang masih menunggu giliran tetiba menunduk, tidak begitu yakin dengan karyanya.

Ingatan Arif tentang kenangan itu seketika buyar oleh getar HP di sebelah kanan tangannya. Notifikasi Facebook muncul di layar. Ibu kembali memposting foto Rafis, keponakan Arif. Kolom status tertulis:

 

Kapan wicuda Kakak Arif? :)

 

Arif mematikan laptop, memasukkan semua peralatan ke dalam tas, lantas bergegas keluar. Ia melewati Ridwan yang masih sibuk dengan tulisannya. Namun, Ridwan tidak merasakan keberadaannya yang lewat tepat di sisi kiri. Arif mengembuskan nafas.

HARI 16 - SEBUAH KEPUTUSAN (Bagian 2)

0 0

==========================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 323

==========================

Untuk sementara waktu, Arif tidak keluar dalam beberapa waktu, kecuali untuk keperluan yang benar-benar mendesak. Ia benar-benar ingin konsentrasi mengerjakan skripsi, tanpa ada distraksi dari luar. Pertanyaan itu dilihatnya seperti sebilah pisau yang dapat melukai kapan saja.

Pikiran Arif kembali meredup seperti rintik yang menutupi malam ini. Nyanyian jangkrik terdengar samar, ditutupi oleh riuh atap seng. Rintik itu makin deras. Hujan turun. Orang menganggapnya ini adalah sebuah halangan, tetapi sebenarnya hujan adalah berkah. Setiap tetesnya membawa ketenangan bagi Arif sehingga ia kembali bangkit dari tempat tidur, menuju kursi yang sedang menunggu. Ia suka dengan suara hujan. Baginya, hujan adalah sumber ketenangan. Di saat orang lain kadang memanfaatkan waktu hujan untuk melemaskan badan, Arif justru sebaliknya.

Arif menyentuhkan jari telunjuk dengan fingerprint yang terdapat di belakang HP. Ia menggeser-geser layar setelah terdengar bunyi klik. Ia menemukan aplikasi Instagram. Selain Facebook, ia juga punya akun media sosial lain.

Ibu jari yang awalnya hanya berdiam diri kemudian antusias menggeser layar dari bawah ke atas. Hingga Arif tanpa sengaja melihat sebuah postingan yang membuat pergerakan ibu jarinya melambat satu dua detik, lalu berhenti. Ia melihat postingan Ridwan yang menampilkan foto sertifikat juara satu menulis puisi. Di bagian caption tertulis tentang persiapannya pada lomba cerpen nanti. Bukannya iri, Arif justru merasa termotivasi dengan postingan itu. Bagaimana tidak, Ridwan yang sudah tidak memiliki orang tua lagi bisa mendulang prestasi.

Arif menarik napas sebentar, lalu mengembuskannya. Arif tahu bahwa Ridwan punya cara untuk membuat orang termotivasi, termasuk membuat orang lain bisa menerima dakwahnya. Ridwan ingin membuktikan bahwa manusia bisa bangkit dengan cara apapun, dalam kondisi apapun, selama cara itu tidak menyimpang.

Arif lebih senang dengan orang-orang yang punya caranya sendiri untuk bangkit. Namun, ia tidak senang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya hanya menjadi beban di kepala. Ia tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membuatnya termotivasi, justru tertekan. Arif kembali menarik-embuskan napas. Bibirnya tersenyum pelan sambil melafalkan doa dalam hati, “Allahumma shayyiban nafi’an.” Hujan adalah waktu salah satu waktu mustajab untuk berdoa.

HARI 17 - SEBUAH KEPUTUSAN (Bagian 3)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 330

==============================

Tiba-tiba sebuah pesan WA muncul tidak lama setelah itu. Sebuah pesan dari Shidiq masuk.

“Bismillah. Assalamualaikum. Bagaimana kabarnya, Akhi?” 

Jari Arif urung menekan pesan itu dan membalasnya. Perasaan Arif tiba-tiba cemas. Sudah berkali-kali ia merasakan peperangan itu. Padahal Shidiq hanya meminta kabar.

Memori Arif teringat dengan kebersamaannya dengan ikhwa. Di pikirannya terbayang dirinya dengan Shidiq, Fajar, Ikhsan, dan Ridwan saat membaca Al-Qur’an bersama. Sebuah kebersamaan yang sebenarnya membangkitkan semangat ukhuwah, tetapi Arif seolah ingin melupakan.

Namun, memori lainnya turut hadir di kepalanya. Di pikirannya terbayang dirinya dengan mereka saat duduk melingkar dan bermusyawarah. Saat itu adalah momen yang juga sebenarnya membuat semangat ukhuwah bisa bangkit. Akan tetapi, lagi-lagi Arif juga seakan ingin melupakan.

Tidak hanya itu, memori yang lain juga menyusul. Di kepalanya terbayang sebuah momen ketika ia bersama mereka sedang berada di dapur untuk mempersiapkan silaturahim akbar. Tidak ada perempuan karena di organisasi itu memang hanya ada laki-laki. Walau begitu, ia tetap merasa seolah ingin melupakannya juga.

Memori-memori lain seakan berlarian menyusul. Satu per satu memori-memori berlomba-lomba membayang di kepala Arif. Ia menolak, tetapi memori itu memaksa.

Arif menunduk, lantas menidurkan kepalanya di meja. Kepala terasa berat, ia tidak sanggup. Berat ia memutuskan. Namun, memori itu tetap memaksanya berpikir ulang soal keputusaannya.

Sebuah percakapan tiba-tiba terbayang.

“Seberapa kuat usaha angin memadamkan diri, tetapi kalau angin tidak ingin api itu pada, maka api itu tidak akan padam sampai kapanpun.”

“Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda, ‘Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun, siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (Hadits Riwayat Ahmad).”

Memori tentang dirinya ketika ikut taklm rutin itu juga muncul. Ia mengingat perkataan ustaz itu karena ia mencatatnya. Walau begitu, ia merasa dirinya sudah tidak pantas lagi berada pada jalur itu. Jalur dakwah yang mengajak pada kebaikan, menjauhkan dari kemungkaran. Ia sudah merasa tidak pantas. Ia berpikir, sudah tidak pantas dirinya seperti demikian karena dirinya merasa tidak mampu mengembalikan semangat dalam diri.

HARI 18 - SEBUAH KEPUTUSAN (Bagian 4)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 410

==============================

Malam itu juga Shidiq yang sedang menyiapkan agenda musyawarah harian seketika teringat masa lalu ketika ia baru pertama kali berjumpa dengan ikhwa, khususnya Fajar, Ikhsan, Ridwan, dan Arif. Ia seketika menghentikan jari-jarinya yang sedang mengetik. Wajahnya memandang jendela. Pohon-pohon basah di luar seperti ingin mendengarkan sesuatu dari Shidiq.

Di kepalanya mulai teringat kali pertamanya berjumpa dengan Fajar. Ia ingat betul ketika Shidiq dan Fajar secara bersamaan membuka pintu ruang baca perpustakaan universitas saat mereka masih mahasiswa baru. Mereka tampak canggung, tetapi ini bukan peristiwa jatuh cinta sebagaimana dua orang lawan jenis yang bertemu. Fajar yang lebih dulu memegang gagang pintu tersenyum kepadanya. Shidiq pun membalas. Saat itu mereka belum mengenal satu sama lain.

Begitu pula dengan kali pertamanya Shidiq berjumpa dengan Ikhsan. Shidiq bertemu dengan Ikhsan saat hendak menyimpan tas di loker perpustakaan universitas, tempat yang sama dengan perjumpaannya dengan Fajar. Saat itu Shidiq ingin membuka loker nomor 154. Namun, Ikhsan yang pada saat itu juga ingin menyimpan tasnya heran. Ia bingung karena Shidiq tampaknya kesulitan membuka loker.

“Maaf, ini loker kamu, ya?” kata Ikhsan sambil tersenyum.

“Iya. Tapi lokernya susah dibuka. Apa kuncinya sudah rusak?” Shidiq masih berusaha memutar kunci secara perlahan.

“Nomor kunci kamu 154?”

“Iya”

Ikhsan menunjuk angka yang ada di sisi atas loker. Loker itu adalah loker nomor 134.

Shidiq langsung tersenyum menampakkan gigi saat mengingat momen itu. Memalukan memang, tetapi itu adalah momen yang tidak bisa dilupakan. Namun, rupanya tidak sampai di situ ingatannya. Ia juga seketika mengingat Ridwan.

Shidiq dan Ridwan pertama kali berjumpa saat kegiatan Muslim Weekend. Pada saat itu peserta melaksanakan agenda salat Qiyamul Lail, atau orang-orang menyebut salat Tahajud. Perjumpaannya terjadi saat berada di tempat wudu di samping masjid. Mereka melaksanakan agenda itu di Masjid Ulil Albab yang lokasinya ada di belakang kampus. Shidiq bertemu dengan Ridwan yang berada tepat di sampingnya. Fajar dan Ikhsan juga dilihatnya. Shidiq mengira kalau mereka tidak akan ikut kegiatan itu.

Shidiq yang melihat ke luar jendela menurunkan wajahnya menatap laptop. Ia ingin lanjut menyusun agenda musyawarah harian nanti. Namun, ia urung saat ingatan perjumpaannya dengan Arif muncul.

Saat itu azan Duhur terdengar. Shidiq yang jadwal kuliahnya baru selesai melihat Arif yang sedang kesulitan menyalakan motor di depan kampus. Shidiq mengampiri karena posisinya dekat dengan Arif. Shidiq mencoba mematikan kunci kontak, lalu menaikkan standar dua. Ia melakukan starter kosong pada motor Arif berulang kali. Shidiq lalu memutar kembali kunci kontak motor. Ia menginjak starter. Motor akhirnya menyala. Raut muka kesenangan terbentuk di wajah Arif, berterima kasih.

HARI 19 - SEBUAH KEPUTUSAN (Bagian 5)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 327

==============================

Arif berbaring di atas kasur. Belum lama setelah ia berbaring, HP bergetar. Arif meraba bawah bantal, mengambil HP, lalu mengecek orang yang menelepon. Sebuah panggilan dari Ibu masuk. Arif berpikir memutuskan, harus ia mengangkatnya atau tidak. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini ia mengangkatnya.

“Kenapa tidak pernah diangkat, Nak?”

Arif kaku sejenak. Ia cukup kaget mendengar kalimat pertama. Arif tidak suka dengan pertanyaan yang bisa membuatnya berpikir dua kali.

Arif menjawab, “Anu, Bu, banyak yang harus saya kerjakan di skripsi saya. Maaf, Bu, kalau saya jarang angkat telepon.”

“Oh. Jadi, kapan kira-kira selesai kuliahnya?” tanya Ibu lebih lanjut.

Arif menggosok wajah. Ia menyesal harus membahas skripsi karena Ibu pasti akan mengoceh tanpa henti. Seorang Ibu tidak akan pernah salah dalam berfirasat. Selalu ada hal yang dirasakan. Itulah seorang ibu, tidak ada yang tahu perasaannya, tetapi ia selalu tahu apa yang dialami anaknya. Arif yang awalnya dalam posisi berbaring bangkit dari kasur.

“Arif, kalau memang kamu ada masalah sama skripsi, bilang saja. Kami tidak akan marah, kok, Nak. Tenangkan dirimu. Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Fokus saja sama yang kamu ingin capai.” Ibu terbatuk, lalu lanjut bercerita, “Walaupun Ibu tidak pernah merasakan yang namanya kuliah, tapi Ibu selalu merasakannya di sini. Setiap hari Ibu harus melakukan banyak hal di rumah ini. Pagi harus menyiapkan sarapan. Kalau piring kotor banyak, Ibu cuci. Belum lagi urus keponakan kamu yang baru dua tahun. Memang tampaknya bagi Arif itu pekerjaan mudah. Namun, mengerjakan banyak hal dalam satu waktu itu sangat tidak mengenakkan. Bukan berarti Ibu tidak suka dengan pekerjaan rumah ini. Ibu tetap menikmatinya, kok. Jadi, Arif tidak perlu terlalu pusing. Fokus satu pekerjaan dulu. Jika pekerjaan yang satu itu selesai, baru kita bisa lakukan pekerjaan lainnya.”

“Iya, Bu,” jawab Arif singkat.

Telepon ditutup saat Arif selesai menjawab salam dari Ibu. Arif sudah memutuskan, ia harus fokus dengan satu hal. Jadi, ia berniat ingin “beristirahat” dari LDK Raudhatul Ilmi. Setelah mendengarkan nasihat Ibu, ia harus fokus dengan skripsinya yang belum juga selesai.

HARI 20 - RENCANA ARIF (Bagian 1)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 304

==============================

Hari Ahad telah tiba. Arif menyiapkan pakaian yang akan dicuci. Sebuah keranjang yang berisi pakaian dibawa ke tempat pencucian. Setiap pekan Arif biasa melakukan hal demikian. Ia mau hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan produktif. Begitu prinsipnya selama ini. Sudah banyak video yang ia tonton tentang cara melakukan kegiatan yang produktif. Semua itu dilakukan agar hidupnya bisa lebih teratur.

Arif ingat ketika ia terlambat menyelesaikan tugas kuliah. Waktu itu masih semester tiga. Setumpuk tugas berdatangan satu per satu. Arif kebingungan, harus ia kerjakan yang mana terlebih dahulu tugas-tugas kuliah itu. Sejak itu, Arif mulai mencari cara agar bisa melakukan aktivitas secara teratur. Ia telah mempelajari skala prioritas, menyusun agenda atau jadwal, hingga ia telah belajar cara melaksanakan jadwal tanpa mengganggu jadwa-jadwa lain.

Namun, kejadian terlambat itu terulang saat ia baru selesai dari Kuliah Kerja Nyata (KKN). Karena merasa capai, Arif beristirahat. Hingga waktu terus berjalan, ia tidak merasa kalau ia sudah telalu lama beristirahat. Pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan saat-saat kosong seperti itu diabaikan. Salah satunya adalah merencanakan judul untuk skripsi.

Jadi, saat ini Arif berencana ingin memusatkan skripsinya sebagai prioritas utama. Ia tidak ingin terganggu oleh hal lain yang membuatnya bisa menunda-menunda pekerjaan. Arif juga telah memutuskan ingin beristirahat menjadi pengurus LDK Raudhatul Ilmi. Walau ia tidak yakin keputusan itu sudah tepat atau keliru.

Setelah baskom telah terisi penuh, ia memberikan segenggam sabun cuci bubuk. Ia memasukkan pakaian-pakainnya, lalu menunggu lima sampai sepuluh menit. Sementara itu, ia mulai memikirkan cara untuk bisa lebih maksimal fokus dengan skripsi. Busa sabun di dalam baskom itu dibayangkan Arif seperti sekumpulan tugas kuliah yang menutupi bagian air dan pakaian. Busa itu tidak akan habis jika tidak disingkirkan satu per satu, begitu pikirnya. Ia akhirnya menemukan cara agar bisa lebih fokus lagi mengerjakan skripsi. Sepuluh menit telah berlalu. Arif mengambil satu baju pertama di baskom, lalu menyikatnya dengan sikat cuci.

HARI 21 - RENCANA ARIF (Bagian 2)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 312

==============================

Ia mulai mengumpulkan cara untuk bisa tenang mengerjakan skripsi. Di kantin Universitas Selatan, ia menulis semua agenda pada sebuah catatan kecil. Ia memang suka membawa catatan kecil, apalagi bisa dikantongi. Ia mulai menulis semua keperluannya untuk bisa menyelesaikan skripsi sesegera mungkin.

“Hei, Arif.” Seseorang tiba-tiba menyentuh pundak Arif.

Arif refleks balik badan. Satu dua detik ia baru sadar, ternyata yang menyapa adalah Tio, teman SMP Arif. Sudah lama ia tidak bertemu Tio sejak pendaftaran tes masuk kuliah. Dulu Arif dan Tio pergi mendaftar tes bersama. Mereka lulus, tetapi di kampus yang berbeda.

“Tio?” Arif berhenti menulis. “Bikin apa kamu di sini?” Ia tersenyum, tidak menyangka dengan kemunculan Tio.

“Ada yang mau kutemui, orang DKV, desain komunikasi visual,” jawab Tio.

Tio melihat sebuah catatan Arif yang baru dibalik.

“Itu apa, Arif?”

“Oh itu daftar agenda. Sekarang ini saya harus benar-benar fokus kerja skripsi,” kata Arif. Tio duduk di kursi yang sudah ditarik Arif.

“Memang kenapa dengan skripsi kamu? Seperti bapak-bapak kantoran saja. Haha.”

“Ya kamu tahulah, Tio, angkatan kita itu sudah lewat semester delapan. Mau tidak mau, kita harus benar-benar fokus sama yang satu ini. Soal bapak-bapak kantoran, saya memang sering lihat mereka pakai cara ini di video-video Youtube,” jelas Arif. Tio mengangguk pelan.

“Kamu sebenarnya ada masalah apa sama skripsi kamu? Bukannya kamu ini pintar, ya? Teman kelas kita dulu panggil kamu prosesor loh.” Tio mengecek HP sebentar. Ia melanjutkan, “Saya lebih suka menyendiri di kosan, sih.”

“Yang itu sudah saya lakukan, tapi tetap saja saya suka hilang fokus.”

“Oh, jadi masalah kamu di situ?” HP Tio tiba-tiba berdering, panggilan dari orang yang ditunggunya muncul. “Maaf, ya, Rif. Kayaknya saya harus buru-buru. Orangnya sudah ada. Kapan-kapan kita ketemu.” Tio bergegas dari kursi. Arif kembali menyendiri.

Tio adalah teman duduk Arif sejak SMP. Setiap ada tugas kelompok, orang inilah yang sangat antusias memberikan masukan-masukan. Makanya sampai sekarang ia lebih aktif bercerita dibanding mendengarkan.

HARI 22 - RENCANA ARIF (Bagian 3)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 376

==============================

Selang beberapa lama, Arif sudah menulis semua daftar hal yang harus dilakukan agar bisa lebih fokus skripsi. Pertama, di catatan itu tertulis “nonaktifkan semua media sosial”. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa catatan lainnya seperti “kerjakan skripsi di kampung” dan “cari orang yang bisa membantu skripsi”. Ia lalu mengerjakan skripsi di saat-saat kosong.

Arif mendengar suara azan. Waktu asar telah tiba. Ia bergegas memasukkan semua barang-barang ke dalam tas. Ia segera menuju masjid Babussalam, masjid yang berada di area kampus.

Di tempat wudu belum terlalu banyak orang. Arif berwudu di bagian kedua dari kiri. Tanpa disadari, Arif tidak menyadari keberadaan Ikhsan yang berada pada posisi bagian keempat. Namun, mereka terhalangi oleh orang lain di antaranya. Ikhsan juga tidak menyadari hal demikian. Arif juga lupa bahwa masjid itu diurus oleh salah satu ikhwa pengurus LDK Raudhatul Ilmi.

Arif yang lebih dulu selesai segera menuju ke dalam. Ia mengambil posisi saf bagian kedua dari depan. Kondisi masjid masih lengang. Ia masih berdiri karena azan masih belum selesai. Sedangkan Ikhsan berada pada posisi paling depan sebelah kanan. Mereka tidak menyadari keberadaan satu sama lain. Hingga salat selesai, mereka tidak merasakan keberadaan satu sama lain.

Usai salat Asar, seseorang naik di mimbar untuk membacakan satu hadis dari kitab Riyadhus Shalihin. Setiap selesai salat masjid itu memang selalu ada pembacaan hadis. Ketika baru mulai, kepala Arif langsung menghadap mimbar. Ia baru menyadari bahwa orang yang membaca hadis di mimbar adalah Ikhsan. Seketika kepala Arif sesegera mungkin langsung menghadap karpet hijau panjang dengan motif masjid.

Setelah pembacaan hadis selesai, Arif buru-buru keluar. Ia tidak ingin dilihat oleh orang yang dikenalnya. Segera ia memakai kaus kaki, lantas memakai sepatu. Ia segera menuju motor. Motor gagal menyala saat starter pertama. Begitu pula dengan starter kedua dan ketiga. Untungnya, motor sudah bisa menyala pada starter keempat. Arif merasa lega. Di perjalanan, peperangan batin itu kembali datang.

HARI 23 - DIAM (Bagian 1)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 310

- PR

==============================

Arif buru-buru membuka pintu kos, lantas duduk di kursi. Ia mengambil HP. Semua media sosial yang dimiliki dinonaktifkan. Rasa cemas menyelimuti dirinya. Ia tadi sempat melihat notifikasi yang belum dibaca, namun tidak dipedulikannya. HP yang awalnya berstatus getar, kini berubah menjadi hening, tanpa getar dan dering. Hanya satu yang tidak dinonaktifkan, Whatsapp.

Arif baru sadar ketika ia menuju kasur. Ia urung karena sudah sore. Jadi, ia hanya duduk di kasur. Ia kembali mengambil HP. Melihatnya sejenak, lalu diraba-raba bagian layarnya. Apa yang sudah dilakukannya? Begitu pikirnya.

Sementara itu, di masjid Babussalam tampak Ikhsan dan Shidiq sedang duduk di bagian kiri tembok masjid. Suasana tampak lengang karena jamaah masjid sudah keluar satu per satu.

“Bagaimana, Akhi, musyawarahnya jadi dilaksanakan?”

“Insya Allah jadi, Akhi. Sabtu depan kita mulai musyawarahnya.” Shidiq tersenyum.

“Saran saya, kita bahas juga keaktifan pengurus setelah bahas laporan program kerja,” ujar Ikhsan.

“Naam, Akhi. Insya Allah saya masukkan dalam agenda musyawarah.” Shidiq mengambil catatan, menulis agenda ke dalamnya.

Arif tampak masih terduduk di kasur, menatap ke luar jendela. Ia menatap terus-menerus jendela itu sambil memikirkan kerisauannya. Banyak yang ia pikirkan, tidak hanya satu hal. Ia lalu mengambil sebuah bantal untuk dijadikan pelapis punggung yang mulai pegal karena terlalu lama menempel di tembok. Dipegang kepalanya yang sudah pusing. Kepalanya seakan tidak sanggup dengan pikiran-pikiran itu.

Arif kembali menuju kursi. Ia menatap jendela semakin dekat dari sebelumnya. Raut wajahnya tampak menurun. Tidak ada kebahagiaan yang tampak di dalamnya. Gelisah semakin menyelimuti Arif. Dingin mulai menyambar tubuh, panik dengan keadaan. Ia merasa seperti penjahat yang dicari-cari polisi. Ia pikir, dengan berdiam diri di kamar kosan, pikiran jauh lebih tenang. Namun, kecemasan itu seperti tidak ingin melihat Arif tenang.

“Kenapa bisa jadi begini?” gumam Arif. Kedua tangannya diletakkan di atas meja, seperti posisi pelajar sekolah yang sedang memperhatikan guru menerangkan pelajaran. Jendela kembali ditatap. Jendela itu seperti seseorang yang siap mendengarkan keluhan Arif.

HARI 24 - DIAM (Bagian 2)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 306

==============================

Tangannya meraih surat yang pernah dibaca. Disimpannya surat itu ke dalam laci. Ia kembali mengingat momen-momen itu lagi. Namun, kini ia harus menanggung risiko atas dirinya yang ingin menyendiri. Ia tidak ingin mau orang lain tahu akan kabarnya. Semua media sosial miliknya dinonaktifkan untuk sementara sampai keadaan benar-benar pulih. Kadang-kadang perasaan menyesal muncul, tetapi kembali redup ketika rasa ego mulai menyerang.

Terdengar suara orang yang memanggil nama Arif. Ia bergegas dari kursi, lantas menuju suara tersebut.

“Rif, bisa minta tolong bantu angkat kasur ke luar kamar?”

Ternyata suara itu berasal dari tetangga sebelah kosnya yang biasa dipanggil Roki. Namun, nama aslinya adalah Riki, Arif juga bingung dengan panggilan itu. Roki memanggil Arif karena memang mereka bersebelahan kos. Tidak seperti Arif, Roki cenderung lebih terbuka, kelihatan dari keberaninannya memanggil orang yang jarang bicara dengan Arif.

Mereka memegang masing-masing sisi kasur. Roki menyeimbangkan posisi kakinya yang hampir terpeleset. Arif juga hampir terjatuh karena berat kasur tiba-tiba tidak seimbang.

Roki melihat wajah Arif yang tampak gelisah ketika kasur ditaruh di tempat penjemuran. Ia bisa melihat dari raut wajahnya yang tampak menurun, pucat. 

“Ada apa, Arif, kenapa loyo sekali?”

“Tidak, kok.”

“Saya tau, Rif. Muka kamu itu tidak bisa bohong.”

Baru kali ini Arif bicara sedalam ini. Sebelumnya ia sangat jarang berbicara dengan tetangga kosan, terlebih kepada Roki. Roki yang awalnya sibuk dengan jemurannya beralih pada Arif.

“Diam itu boleh, tapi mendiamkan segala hal hanya akan membuatmu tidak tenang. Masalah itu seperti kotoran yang tidak akan bisa keluar kecuali jika pemilik masalah itu mau mengeluarkannya. Jika tidak keluar, maka akan berakhir dengan kegelisahan,” jelas Roki. Arif makin bingung, ternyata Roki sebijak ini. 

Seketika Arif ingat dengan hadis yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).” Ia lantas berpikir, apakah Arif termasuk golongan orang-orang tersebut atau justru masuk ke dalam golongan orang yang kikir?

HARI 25 - DIAM (Bagian 3)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 311

==============================

“Makasih sudah mau bantu.” Roki menggaruk paha. “Kalau ada masalah, bilang saja, tidak usah malu,” tawarnya. Arif mengangguk, kembali menuju kamar.

Ia kembali duduk menatap jendela yang siap mendengarkan kegelisahannya lagi. Arif mengetuk-ngetuk keempat jarinya ke meja secara bergiliran. Tangan kanannya juga sempat menarik laci yang berisi surat itu, tetapi urung. Ia hanya ingin hidupnya tenang tanpa gangguan. Namun, masalah yang berdatangan seakan menghalangi ketenangan.

Gelisah mulai menyelimuti Arif. Keringat dingin dirasakan tubuhnya. Masalah itu makin menghantui Arif. Ia menunduk sambil memegangi kepala, menyesal atas kelalaiannya. Mulut mengucapkan beristighfar secara pelan. Mau sampai kapan Arif diam atas semua masalah yang dihadapi. Mulut tidak berhenti berucap istighfar. Ditatapnya jendela itu sekali lagi, lantas kembali menunduk.

Diam tanpa melakukan apapun hanya akan menghambat menyelesaikan masalah. Kini, masalah itu semakin terasa olehnya. Batinnya kembali merasakan peperangan batin. Keacuhan dan penyesalan tidak bisa akur satu sama lain, saling mempengaruhi pikiran Arif satu sama lain. Di kepalanya hanya ada kata “kenapa” yang berulang kali. Namun, ia sendiri tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan itu seperti berbisik di telinga Arif.

Arif mengambil HP di bawah bantal, lantas kembali duduk di kursi. Ia menyambungkan HP-nya dengan earphone berwarna hitam. Arif membuka Youtube, mencari murottal Al-Qur’an di bagian pencarian. Ia menyentuh tombol download supaya hemat kuota internet. Diputarnya murottal surah Ar-Rahman yang dibacakan oleh Shaikh Mishary Rashid Al-Afasy, murottal yang paling banyak didengarkan orang-orang. Arif yakin, mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dapat menenangkan pikiran.

Setelah tiga puluh menit mendengarkan murottal itu, Arif mengambil mushaf Al-Qur’an di dalam tas. Pita berwarna merah ditarik, halaman terakhir yang dibaca muncul. Ia menarik nafas panjang, bibir dan lidah mulai membaca surah Hud ayat 14. Ia juga masih ingat dengan tajwid yang telah dipelajarinya selama ini. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Al-Qur’an sebagai penenang jiwa. Huruf demi huruf dilafalkan, walau sempat tersendat satu dua kali. Roki juga ikut mendengarkan samar-samar bacaan Arif dari sebelah kamar.

HARI 26 - DIAM (Bagian 4)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 308

==============================

“Wuih, keren juga Arif,” gumam Roki memuji.

Beberapa saat kemudian, mata Arif tiba-tiba agak basah. Ia menumpahkan semua kegelisahan itu dan berserah diri. Saat ini ia hanya bisa berdiam diri, belum mampu melakukan aksi apapun. Peperangan batin lama-kelamaan redup oleh Al-Qur’an yang menenangkan jiwa.

Seketika Arif mengingat kembali orang-orang yang ia kenal. Ia mulai mengingat Ibu yang selalu memanjakan Arif. Ia juga mulai mengingat Ayah yang selalu mencari cara agar kebutuhan keluarga dapat terpenuhi, termasuk kebutuhan Arif. Memori-memori lain juga bersusulan di kepala. Ia mengingat kebersamaan ikhwa yang saat itu hujan sangat deras sehingga Arif tidak bisa pulang ke kosan. Arif sebenarnya hanya ingin semua kembali seperti semula, tidak seperti keadaan sekarang yang begitu sangat disayangkan bagi Arif.

Sementara membaca Al-Qur’an, Arif sedikit merasakan bisikan Ibu yang seolah-olah berada persis di dekatnya.

“Nak, kalau ada masalah, tidak usah takut bicara sama Ibu. Kami tidak akan marah, kok.”

Arif mendengar bisikan itu persis seperti yang waktu itu dibicarakan di telepon. Satu persatu bisikan-bisikan lain juga dirasakannya.

“Akhi, apapun yang terjadi sama kamu, kami akan siap membantu. Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain.”

Bisikan-bisikan itu berulang-ulang di kepala. Arif seperti tidak bisa membedakan mana suara asli dan suara dari khayalan. Kepalanya sudah dipenuhi dengan berbagai memori. Hingga ia menyelesaikan bacaannya pada pukul setengah lima sore.

Setelah salat maghrib, Arif melanjutkan aktivitasnya dengan kembali membaca Al-Qur’an yang telah membuatnya menjadi tenang. Waktu sore yang seharusnya orang lain menghabiskan waktu itu untuk meminum kopi, ia memanfaatkannya untuk mengingat Allah dengan membaca ayat suci Al-Qur’an. Arif yakin, hanya Al-Qur’an yang benar-benar menjadi obat penenang bagi manusia yang punya masalah.

Ia melupakan sejenak masalah-masalah yang dihadapi, fokus dengan rangkaian kalimat yang sangat penuh dengan makna itu. Sebesar dan seberat apapun beban yang dipinggul seseorang, akan terasa ringan jika senantiasa mengingat keberadaan Allah Yang Maha Mendengar segala keluh kesah manusia di waktu gundah.

HARI 27 - DIAM (Bagian 5)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 307

==============================

Di waktu maghrib yang sama, Shidiq juga sedang membaca Al-Qur’an di kamar. Tidak seperti Arif, Shidiq tinggal di rumah sendiri karena jaraknya dekat dengan kampus, jadi tidak perlu menyewa kos. Mulutnya melantunkan surah Al-Kahfi, surah yang dianjurkan dibaca saat hari Kamis dan Jumat. Saat itu Mak Nur, ibu dari Shidiq sedang menyiapkan makan malam. Sedangkan Ipa, adiknya, tengah berada di lantai dua atas.

Ayat demi ayat dibacanya dengan merdu. Ia memang sudah lama memiliki suara yang bagus saat membaca Al-Qur’an. Tak heran jika ia dulu sering juara sewaktu masih SMK. Ia sangat suka dengan irama bacaan Shaikh Mishary Rashid Al-Afasy karena menurutnya sangat mudah untuk ditiru nadanya.

“Didi, Ipa, Ta, ayo makan. Sudah siap ini,” panggil Mak Nur dengan nama panggilan mereka masing-masing. Didi, begitu Mak Nur memanggil Shidiq. Begitu pula dengan panggilan Ta untuk memanggil ayah Shidiq.

Mereka satu persatu datang mengampiri meja makan yang di atasnya telah tersedia ikan bakar jeruk nipis, sayur rebung, dan sambal terasi. Setiap hari Mak Nur memang sering memasak demikian. Bukannya bosan, mereka justru sangat menyukai menu makanan yang satu ini.

Sambil mengambil nasi dan lauk masing-masing, mereka mengobrol beberapa hal.

“Bagaimana kuliah kalian, lancar, kan?” tanya Mak Nur kepada Shidiq dan Ipa.

“Alhamdulillah lancar Mak,” jawab Shidiq.

“Saya juga,” jawab Ipa juga, singkat.

“Alhamdulillah. Mak harap kalian kuliah yang benar, tidak ikut-ikutan sama orang yang sering bentrok di kampus. Dulu bukannya ada bentrok, ya?”

“Iya, Mak. Hampir saja saya terkurung di dalam. Alhamdulillah bisa keluar dengan selamat. Tapi itu dulu, mudah-mudahan sekarang sudah tidak,” jelas Shidiq.

Mereka menikmati hidangan yang dibuat oleh Mak Nur. Shidiq bersyukur karena masih bisa diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga. Ia memikirkan orang-orang yang tidak sempat merasakan kebahagiaan bersama keluarga terdekat, yang selalu memberikan kehangatan kapanpun dan di manapun. Sesendok makanan telah masuk ke dalam mulut Shidiq. Begitu pula dengan Mak Nur, Ta, dan Ipa.

HARI 28 - RENCANA FAJAR (Bagian 1)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 346

==============================

Hujan telah turun. Pekarangan Masjid Ulil Albab tampak basah. Pohon mangga yang berada di dekat pagar masjid itu seperti bersyukur karena telah diberikan air yang melimpah. Sementara itu, Ikhsan dan Fajar yang baru selesai musyarawah departemen (divisi) duduk menunggu di teras depan masjid.

“Kok Arif tidak pernah kelihatan di kampus belakangan ini?” tanya Fajar.

“Mungkin dia ada keperluan di luar sana, jadi tidak sempat ke kampus.” Ikhsan membuka peci, menggaruk-garuk kepala.

“Tapi, kalau kita tinggal diam begini, jelas tidak akan terjadi apa-apa.” Fajar ikut membuka peci, menggaruk-garuk kepala. “Arif butuh dukungan, Akhi. Kita tidak boleh tinggal diam. Bagaimana kalau kita ke kosannya Arif?” ajak Fajar. Ikhsan mengangguk pelan.

Mendengar usulan Fajar, ia jadi teringat dengan sebuah hadits yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).” Ikhsan melihat Fajar, lantas tersenyum atas sikap antusias Fajar. Sekilas Ikhsan menyesal atas dirinya yang tidak mengambil kesempatan berpahala ini. Mengapa tidak dari kemarin kita seperti ini? Begitu pikirnya.

“Naam, Akhi. Tadi saya juga kepikiran seperti itu. Kapan kita bisa berangkat?”

“Sabtu besok bagaimana? Kan besok libur juga,” tawar Fajar.

“Besok tidak ada agenda, kan?”

“Kayaknya tidak ada, sih, Akhi.”

“Besok tunggu saya di kosan kamu. Nanti saya jemput insya Allah.”

“Siap, siap, insya Allah, Akhi.” Ikhsan mengangguk, setuju dengan saran Fajar.

Mereka masih menunggu hujan reda. Namun, mereka manfaatkan waktu itu dengan membaca doa, “Allahumma shayyiban nafi’an”. Hal itu menjadi bukti bahwa hujan bukanlah sebuah pertanda mala petaka, tetapi justru sebuah tanda turunnya berkah dari Allah. Hal itu juga menjadi upaya manusia untuk bersyukur. Betapa banyak orang yang mengeluh ketika hujan turun. Namun, di balik itu semua, terdapat nikmat Allah yang melimpah diberikan kepada bumi dan manusia itu sendiri.

Shidiq yang baru saja keluar melihat mereka duduk. Ia mengampiri.

“Masya Allah. Sekira kalian sudah pulang. Ternyata masih di sini.” Shidiq tersenyum.

“Begini, Akhi. Besok tidak ada agenda, kan?” tanya Fajar. Ikhsan juga bertanya demikian.

“Kayaknya tidak ada, Akhi.”

“Naam. Kamu mau ikut tidak sama kami ke kosannya Arif?”

“Masya Allah. Kapan rencana?”

“Besok. Bagaimana?”

“Hmm. Bisa, bisa, insya Allah.” Shidiq mengangguk sambil tersenyum.

HARI 29 - RENCANA FAJAR (Bagian 2)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 306

==============================

Siang itu telah menjadi saksi bagi mereka. Ditambah lagi dengan hujan yang membasahi daun-daun pohon mangga pekarangan masjid. Hanya ada beberapa motor dan mobil yang berlalu-lalang di depan masjid menuju pintu gerbang fakultas. Beberapa orang lagi tampak sedang menunggu hujan reda di teras masjid. Terdapat juga anak-anak yang membawa sebuah keranjang berisi kerupuk lebar gula merah untuk dijual. Hanya ada suara atap seng yang terkena huja yang terdengar.

“Ayo dulu masuk. Kita sama-sama baca Al-Qur’an di dalam sambil tunggu hujan reda,” ajak Shidiq. Fajar dan Ikhsan mengangguk.

Mereka kembali masuk. Di dalam masjid masih ada orang yang sedang berbaring. Ada juga beberapa mahasiswa lain yang sedang mengetik makalah tugas kuliah. Shidiq menuju pojok kanan. Ikhsan dan Fajar ikut. Dibukanya mushaf Al-Qur’an pada masing-masing tas. Dari pada tinggal duduk menunggu, lebih baik waktu menunggu itu dimanfaatkan untuk melakukan hal yang bermanfaat. Selagi masih diberi kesempatan, maka manfaatkan waktu itu dengan hal yang bermanfaat. Demi masa, begitu bunyi ayat pertama surah Al-Asr. Di ayat-ayat berikutnya dijelaskan bahwa manusia tidak akan mengalami kerugian jika waktunya dimanfaatkan untuk melakukan amal saleh dan saling menasihati sesama manusia.

Mereka masih sibuk dengan mushaf masing-masing. Di belakang mereka ada seorang dosen yang berseragam putih sedang melaksanakan salat tahiyatul masjid. Tidak ada rasa bosan di antara ketiga orang itu yang sedang membaca Al-Qur’an, walau Fajar sempat menguap sedikit karena efek dinginnya hujan yang membuat badan terasa lebih berat. Tidak lama setelah itu, Ikhsan dan Fajar juga ikut menguap pelan secara bergiliran. Namun, mereka masih lanjut.

Lima belas menit tidak terasa telah berlalu begitu saja. Hujan masih belum reda. Atap seng terdengar masih sibuk dengan hujan yang sedang menimpanya. Suara desing angin juga mulai terdengar keras. Ranting pohon mangga di luar menjatuhkan diri, tidak kuat dengan bebannya sendiri. Angin bertiup makin keras. Pohon mangga di depan juga seperti melambai-lambai kepada orang yang berlalu-lalang dengan motornya.

HARI 30 - RENCANA FAJAR (Bagian 3)

0 0

==============================

- Sarapan Kata KMO Batch 40

- Kelompok 25

- Jumlah Kata 336

==============================

Hujan kemarin telah berlalu. Kini telah digantikan oleh sambutan matahari pagi yang menembus celah atap seng. Walau celah itu kecil, tetapi sinar matahari itu bisa memproyeksikan bentuk lingkaran yang beberapa kali lebih besar dari bentuk asal celah tersebut. Proyeksi itu kemudian menyambut Fajar yang sedang bersiap-siap atas rencananya kemarin. Ia mengambil minyak kemiri Marisa, lantas menekan tahan botolnya agar minyak rambutnya bisa keluar. Warna hijau minyak rambut itu seakan memberi pertanda hari-harinya telah dimulai. Ia menuju motornya, menjemput Shidiq.

“Bagaimana, Akhi, jadi?” Fajar meminta konfirmasi.

“Jadi, jadi. Ayo.” Shidiq mengangguk.

Mereka berangkat menuju kosan Arif. Sesampainya, mereka melihat Ikhsan yang juga baru saja tiba dengan motornya. Namun, mereka tidak melihat ada tanda-tanda aktivitas di dalam.

“Di dalam tidak ada orang?” tanya Ikhsan.

“Tidak tahu juga,” jawab Fajar.

“Coba kita ke situ,” ajak Shidiq.

Mereka masuk melewati pagar besi yang digantungi plastik-plastik sampah. Ketukan pertama dilakukan. Namun, tidak ada konfirmasi. Kemudian dilanjutkan ketukan dan salam kedua. Namun, tetap saja tidak terdengar ada tanda-tanda keberadaan Arif. Ketukan terakhir dicoba, tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil.

“Bagaimana ini, Akhi?” Ikhsan menggaruk-garuk kepala.

“Apa kita pergi dulu. Sebentar mungkin Arif sudah ada. Barangkali dia ada keperluan,” ujar Fajar. “Bagaimana, Akhi?”

“Iya. Mungkin sebentar sudah ada. Kita kembali saja dulu,” Shidiq setuju.

Mereka kembali dengan perasaan kecewa. Mereka harap, semuanya bisa berjalan lancar. Namun, waktu belum bisa memberi keputusan. Fajar yang awalnya tampak semangat langsung berubah ketika ketukan dan salam ketiga dilakukan. Rasa kecewanya itu cepat-cepat ia ganti dengan senyuman sebelum Ikhsan dan Shidiq melihatnya. Meski begitu, tampaknya Ikhsan dan Shidiq merasakan hal yang sama.

Kekecewaan itu bertambah ketika mereka mengunjungi kosan Arif pada kali kedua di siang hari. Belum ada tanda-tanda keberadaan Arif. Mereka juga melakukan hal yang sama ketika kunjungan yang pertama. Namun, belum bisa membuahkan hasil. Mereka kembali pulang dengan rasa kecewa.

Harapan akan kembalinya semangat ukhuwah yang hilang itu tidak akan pudar begitu saja hanya karena ketukan dan salah ketiga tidak ada konfirmasi. Mereka tetap optimis, Allah pasti akan menanamkan keistikamahan kepada siapa saja yang masih beriman.

Mungkin saja kamu suka

Eka Huda Mulyat...
Jejas di Penghujung Senja
Aprilia Amadya
Bucket Cokelat
Farina Eka Rama...
Jalani Kenyataan

Home

Baca Yuk

Tulis

Beli Yuk

Profil